-->

Perintah Maut Jilid 15

 
Jilid 15

SEPASANG mata Yen Yu San bercahaya terang, ia bisa menduga asal usulnya orang itu, tapi tidak dicetuskan olehnya.

Put-im suthay berkata dingin :

“Baiklah. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi. Aku bisa mencari lengcu Panji Hitam untuk membuat perhitungannya. Keluarkan obat penawar racunmu, agar Kui Hoa bisa siuman. Dan sesudah itu, kalian akan ikut aku ke kelenteng Ceng-lian- sie.”

Sim Siang mempunyai kedudukan yang jauh dibawah sang duta keliling, lagi2 ia menoleh kearah wanita itu.

Duta keliling dari partai Ngo-hong-bun yang memalsukan Cin Siok Tin menganggukkan kepala: “Berikan kepadanya !"

Sim Siang segera mengerjakan sesuatu, dari sakunya mengambil obat penawar, ditaburi didepan hidung Kui Hoa, maka pelayan benteng Penganungan Jaya itu berbangkis, meng-ucek2 mata, ia sadar dan siuman. Ia melihat Put-im suthay disana, cepat2 lompat memberi hormat dan berkata : “Hamba menerima salah, penjahat sudah….”

“Sudahlah !" Yen Yu San turut bicara. “Segala sesuatu sudah menjadi jelas. Dan kini kau mendapat tambahan orang tawanan ! Jaga mereka baik2 ! Bawa ke kelenteng Ceng-lian-sie.” “Baik," Kui Hoa menerima perintah.

Put-im suthay melihat waktu dan berkata : “Sudah waktunya kita berangkat."

Yen Yu San dan Kui Hoa mengiring kedua orang tawanannya meninggalkan tempat itu.

Dibagian depan, mereka disambut oleh Beng-bu dan para jago benteng Penganungan Jaya.

Mereka bingung, karena menyaksikan Put-im suthay dan Yen Yu San masih belum berangkat, lebih bingung lagi mendapat tambahan seorang tawanan baru.

Put-im suthay menoleh kearah Yen Yu San dan berkata: “Apa Yen tayhiap tidak keberatan membawa kedua orang tawanan ini ke kelenteng Ceng-lian-sie ?”

“Kukira lebih baik dibawa saja," berkata Yen Yu San.

“Nah! Aku setuju membawa semua orang. Disini sudah tidak perlu penjagaan."

“Boleh juga," Yen Yu San girang. Memandang kearah Beng-bu dan memberi perintah, “Persiapkan semua orang. Semua turut serta."

Perjalanan kearah kelenteng Ceng-lian sie ditambah beberapa orang.

***

Jarak dari vihara Ciok-cuk-am dan kelenteng Ceng-lian-sie tidak terlalu jauh, sebentar kemudian mereka sudah sampai ditempat tujuan. Waktu baru saja jam satu, kentongan kedua kali belum dipukul. Malam gelap bintang2 berhamburan diangkasa, kabut tipis dan embun pagi menutup pandangan mata.

Kelenteng Ceng-lian-sie dibangun disekitar pohon2 tinggi yang tua, keadaan gelap gulita.

Disaat rombongan Put-im suthay dan Yen Yu San tiba, tampak beberapa bayangan yang bergerak. Ciok Sim taysu dan Ciok Beng taysu menyambut keluar, dibelakang kedua jago itu turut serta juga pendekar baju besi Yen Siu Hiat, dan empat orang padri berjubah biru. Yen Siu Hiat berada ditempat ini atas perintah Yen Yu San, sebelumnya ia sudah memberi keterangan- keterangan yang dibutuhkan orang.

Ciok Sim taysu memberi hormat dan berkata : “Suthay, Yen tayhiap, mengapa baru sampai ?"

Dengan singkat, Put-im suthay memberi jawaban : “Lebih baik kita bicarakan didalam."

Ciok Sim taysu bisa melihat adanya dua tawanan wanita yang digiring oleh Kui Hoa dan jago2 benteng Penganungan jaya, ia tersenyum, katanya: “Mari kedalam ! Masuk ! Kita minum2 dahulu."

Mereka memasuki kelenteng Ceng-lian-sie. Disetiap tempat-tempat yang strategis, terdapat padri-padri dengan senjata lengkap, biasanya padri-padri itu bersemedi dan membaca doa, hari ini mengenakan pakaian-pakaian ringkas, dibawah pantulan cahaya bintang-bintang pagi, senjata itu ber-kilap2. Wajah mereka sangat keren. Di belakang Ciok Beng taysu terdapat empat padri berjubah hijau. Sepintas lalu, bisa dibedakan ketidak-samaan dari padri2 yang ada, keempat padri itu adalah empat padri Siauw-lim-sie yang turut serta didalam perjalanan Ciok Beng taysu.

Melihat adanya penjagaan2 yang ketat, Yen Yu San sangat puas, ia memuji didalam hati :

“Tidak percuma kelenteng Ceng-lian-sie menjadi salah satu cabang dari Siauw lim-pay, para padri ini memiliki tenaga dalam yang hebat. Mempunyai ketenangan yang luar biasa.”

Untuk mempernahkan kedua kawannya, Yen Yu San membisiki sesuatu kepada Yen Siu Hiat.

Yen Siu Hiat menerima perintah, segera menitahkan Beng-bu, Kui Hoa dan lain2nya menggiring duta keliling partai Ngo-hong-bun dan Sim Siang.

Ciok Beng taysu dan Ciok Sim taysu mengawani Yen Yu San dan Put-im suthay menuju ruang tengah.

Diruang tengah telah tersedia meja makan dan beberapa bangku, inilah markas sementara. Tempat memberi komando untuk menghadapi penyerangan2 partai Ngo-hong bun.

Sesudah keempat jago2 itu mengambil tempat duduk masing2, seorang padri kecil membawakan teh wangi.

Diempat penjuru terdapat empat padri yang melakukan penjagaan ketat. Kecuali beberapa gelintir orang itu, ruangan tengah yang besar kosong tiada berisi.

Ciok Sim taysu menoleh kearah Yen Yu San dan bertanya :

“Yen Siu Hiat siecu belum lama saja datang, dikatakan akan adanya penyerangan dari partai Ngo-hong-bun, saat itu segera tiba, tapi kami belum tahu jelas yang lebih terperinci, apakah yang menyebabkan terjadinya hal2 ini ?"

Yen Yu San tidak segera menjawab pertanyaan itu, ia balik bertanya : “Apa taysu telah mengerahkan semua kekuatan yang ada?”

“Kita lebih percaya kepada keterangan, dari pada pikiran sendiri, walau masih ragu2 atas info yang didapatkan itu, tapi seperti apa yang Yen Siecu sudah pesan, semua padri telah dikerahkan, penjagaan pasti ketat."

“Sukurlah." berkata Yen Yu San. Ciok Beng taysu berkata :

“Dari mana Yen tayhiap tahu kalau bakal terjadinya penyerangan mereka? Tentunya Yen tayhiap bisa memberi gambaran yang jelas.”

Yen Yu San berkata:

“Ceritanya sangat panjang.” berkata Yen Yu San, “Pengalaman dipuncak Tay biao-hong tentunya sudah diceritakan oleh Siu Hiat, bukan ?”

“Yen Siu Hiat siecu sudah menceritakan," berkata Ciok Beng taysu menganggukkan kepala.

Yen Yu San berkata: “Hadirnya partai Ngo-hong-bun ditempat ini mempunyai dua maksud tujuan, tujuan mereka adalah mengendalikan empat datuk persilatan untuk memperkuat partai Ngo-hong-bun. Sesudah itu menimbulkan bentrokan2, kekacauan2. Yang terutama adalah huru-hara Siauw-lim-pay dan Ngo bie-pay agar bentrok dengan Partai Baru."

“Oh….?”

“Kemarin mereka menantang diriku di puncak Tay-bio-hong, adalah salah satu rangkaian rencana mereka, sesudah menyingkirkan diriku, mereka lebih mudah dan bebas bergerak. Sesudah itu mereka akan meluruk dan menghancurkan Ciok- cuk-am dan Ceng-lian-sie !"

“Kami masih membutuhkan keterangan- keterangan yang lebih jelas,” berkata Ciok Sim taysu.

Yen Yu San berkata :

“Beberapa hari yang lalu, kita pernah menghadang Kang Han Cing. Itu waktu Kang Han Cing sudah jatuh kedalam tangan Partai Baru. Kita tidak tahu asal usul dari partai baru itu tapi kita kenal pada si Jaksa bermata satu, karena penghadangan itu, maka kita bentrok dengan partai baru, itulah insident kecil, tapi didalam rimba persilatan sudah termasuk salah satu persengketaan. ”

Sesudah menenggak minumannya sebentar, Yen Yu San melanjutkan keterangan : “Partai Ngo-hong-bun menggunakan sedikit insident itu hendak mengadu domba, semua orang sudah tahu, kalau kita tidak puas kepada partai baru, demikianlah rencana mereka dimalam ini, menyamar dari orang2 partai baru, menghancurkan kelenteng Ceng-lian-sie, membunuh mati semua orang yang ada dan membebaskan Ciok Beng taysu seorang, agar taysu bisa kembali ke kelenteng Siauw-lim-pay dan memberitahu bahwa partai baru membuat penyerangan besar2an. Nah! Kalau sampai kejadian yang seperti ini, Ngo-bie-pay dan Siauw lim-pay akan menyerang partai baru. Partai Ngo- hong-bun menonton berpeluk tangan.”

“Tipu keji !" berkata Ciok Beng taysu.

“Tentu Yen tayhiap mendapat keterangan ini dari si pendekar misterius yang bernama Lie Siauw San itu bukan?"

“Ya." Yen Yu San menganggukkan kepala, “Lie Siauw San memiliki kecerdikan otak yang luar biasa, ilmu silatnya hebat. Kukira info tidak akan salah lagi.”

Ciok Beng taysu berkerut alis dan bertanya: “Gerakan mereka hendak dilakukan serentak?

Menyerbu Ciok cuk-am dan Ceng-lian-sie? Berapa

banyakkah orang mereka itu ?"

“Orang2 dari partai Ngo-hong-bun cukup banyak, apalagi sesudah menyatukan golongan Perintah Maut. Menurut apa yang kutahu, golongan Perintah Maut memiliki empat panji berwarna, lengcu Panji Hitam, lengcu Panji Putih, lengcu Panji Merah dan lengcu Panji Hijau, beserta dengan anak buahnya, setiap lengcu itu memiliki belasan anak buah. Sudah pasti lima puluhan orang lebih, diatas mereka masih ada seorang Kwee hu-huat yang mengepalai golongan Perintah Maut. Ilmu silatnya tidak bisa dipandang rendah."

“Huh !" Put-im suthay mengeluarkan dengusan dari hidung. “Apa kita perlu takut kepada mereka

?”

Yen Yu San tertawa, ia memberi keterangan lain: “Partai Ngo-hong-bun adalah partai yang tidak boleh dipandang ringan, ia memiliki sedikit keajaiban."

“Dimana letak keajaibannya?" bertanya Put-im suthay.

“Seperti apa yang suthay tadi sudah saksikan, Sim Siang yang memalsukan Liauw-in nikauw memiliki ilmu kepandaian lihai betul, tidak mungkin ia bisa menandingi suthay sendiri, tapi sudahkah suthay perhatikan gerakan2nya ?”

“Gerakan2 apa?" bertanya Put-im suthay heran. “Kalau penilaianku tidak salah, gerakan yang

dilakukan oleh Sim Siang adalah gerakan ilmu silat yang tercatat didalam pusaka goa siluman !”

“Aaaaa….” “Oh. !"

“Gerakan ilmu silat dari pusaka goa siluman ?”

“Gerakan ilmu silat yang dicatat didalam pusaka goa siluman, tidak ada gerakan yang bisa lebih cepat dari gerakan itu. Adakah gerakan yang bisa menandingi kecepatan suthay ? Perhatikan sekali lagi !"

Wajah Put-im suthay baru berubah, “Gerakan ilmu silat yang tercatat di dalam pusaka goa siluman. ?” tidak henti2nya ia bergumam.

“Omitohud." Ciok Beng taysu menyebut nama budha, “Mungkinkah partai Ngo-hong-bun memiliki hubungan dengan nenek goa siluman ?”

“Inilah celakanya !” berkata Yen Yu San.

“Takut apa !" berkata Put-im suthay berangasan. “Biarpun partai Ngo-hong-bun mempunyai hubungan baik dengan si nenek goa siluman, tapi namanya sudah busuk, kejahatan2 nenek itu sudah meliwati takeran, mengapa takut? Bunuh saja, beres !”

“Lolap setuju," berkata Ciok Sim taysu. “Kekuatan kita juga sudah cukup. Kalau mereka betul berani ! Pertempuran pasti tidak bisa dielakkan.”

Yen Yu San tersenyum, ia berkata: “Apa lagi, mengingat dibelakang kita masih ada suatu kekuatan yang bisa datang memberi bantuan."

Ciok Beng taysu menoleh ke arahnya saking heran bertanya :

“Apa Yen tayhiap sudah meminta bantuan pada pihak lain ?”

“Belum." jawab Yen Yu San. “Siapakah kekuatan baru itu ? Mungkin si pendekar misterius Lie Siauw San ?"

“Tepat !" berkata Yen Yu San. “Semua keterangan tadi kudapat dari Lie Siauw San. Sim Siang juga terpukul jatuh olehnya. Dari bukti-bukti yang ada, tidak mungkin ia berpeluk tangan."

***

Bab 51

“PENYERANGAN MUSUH berjumlah besar. Kalau betul-betul kita tidak tahan, mungkinkah satu Lie Siauw San bisa membendung mereka ?"

“Seorang Lie Siauw San mungkin tidak kuat membendung banyak orang. Tapi kekuatan yang kumaksudkan mungkin kuat untuk membendung mereka?”

“Kekuatan dari mana lagi ?" tanya Put-im suthay.

“Coba suthay pikir baik2, kekuatan yang ada dikota Kim-leng ini, tenaga siapa yang kita bisa minta bantuannya?"

Dengan heran Put-im suthay berkata :

“Jago silat ternama dikota Kim-leng kecuali Datuk Selatan, siapa lagi yang ada ?"

“Bantuan yang kumaksud, bantuan itu datangnya dari keluarga Datuk Selatan,” berkata Yen Yu San. “Keluarga Datuk Selatan ? Maukah mereka membantu ?” bertanya Ciok Sim taysu.

Disaat ini, tiba2 tampak Yen Siu Hiat berlari datang, sikapnya agak gugup.

Hati Yen Yu San tercekat, menduga kepada penyerangan musuh, ia bertanya : “Ada apa ?"

Yen Siu Hiat membungkukkan badan dan memberi hormat kepada semua orang, lalu ia menjawab pertanyaan sang pamannya: “Baru saja kita berhasil menangkap dua mata2 musuh."

“Dua mata2 musuh ? Coba kau ceritakan !” “Disaat kita sedang mempernahkan kedua

tawanan perempuan itu, tiba2 terdengar suara gaduh diatas, terdengar gedubrak...gedubrak...dua orang jatuh dari atas wuwungan rumah. Keadaan mereka sudah tidak sadarkan diri, tentunya kena totokan orang, didalam keadaan jalan darah tertotok, maka kita segera ringkus kedua mata2 itu."

“Apa betul mereka mata-mata musuh ? Sudah kau tanyakan mereka tentang asal usulnya ?"

“Belum. Kedua orang itu tertotok jalan gagunya tidak bisa bicara, sudah kita berusaha membuka totokannya, tapi tidak berhasil...”

Tiba2.....

Terdengar suara genteng pecah, dari atas terbanting jatuh lagi tubuh seseorang.

Wajah semua orang berubah. Put-im suthay menoleh kesana, dengan dingin berkata: “Betul2 banyak mata2 !"

Terjadi sedikit kekalutan, para padri Ceng-lian- sie membuat penyergapan, meringkus orang yang baru jatuh dari atas wuwungan rumah itu. Lagi2 seorang mata-mata musuh yang jatuh tanpa sebab.

Orang yang jatuh dari atas, adalah seorang berpakaian hitam, orang itu mengenakan kerudung hitam.

Dua padri segera meringkus dan dihadapkan kepada pemimpinnya.

Yen Yu San memperhatikan, hatinya berpikir : “Orang ini mengenakan pakaian serba hitam,

tentunya anak buah dari lengcu Panji hitam."

Dugaan Yen Yu San tidak salah. Orang yang hendak menyelidiki keadaan Ceng-lian sie sudah jatuh di hadapannya, itulah anak buah dari lengcu panji Hitam.

Seorang padri berusaha membuka totokan tawanan baru itu, tapi tidak berhasil, segera ia memberi laporan.

“Taysu, orang ini mendapat totokan2 berat.”

Disaat ini, Ciok Sim taysu yang mengejar keatas genting sudah balik kembali, Put-im suthay memandang dan bertanya: “Ada sesuatu yang dicurigakan ?"

Ciok Sim taysu menghela napas panjang, ia berkata: “Gerakan orang itu terlalu gesit, tidak terlihat bayangannya !" “Kukira Lie Siauw San." Put-im suthay mengemukakan pendapat.

Ciok Beng taysu menganggukan kepala. Ia menduga kepada Lie Siauw San yang membantu mereka.

Ciok Sim taysu menghampiri orang tawanannya dan menotok beberapa jalan darah. Maka laki2 berpakaian serba hitam itu membuka mata, wajahnya berubah. Segera ia membentak :

“Hei, seorang suci juga melakukan serangan bokongan?"

Ternyata orang itu jatuh tanpa mengetahui siapa yang menotok dirinya, ia menduga kepada rombongan dari kelenteng Ceng-lian-sie. Maka ia membentak seperti tadi.

Yen Yu San mengurut jenggot dan berkata : “Sahabat, tengah malam buta kau mendatangi

kelenteng   ini,   menggunakan   tutup   kerudung

muka, mengapa terbalik menyalahkan orang ?"

Dengan bangga dan congkak, orang berkerudung hitam itu menjawab : “Aku mendapat tugas untuk mengirim surat tantangan."

“Oh, begitu ?” berkata Yen Yu San, “Sahabat dari jauh hendak mengantarkan surat tantangan, seharusnya menggunakan pintu depan. Kelenteng Ceng-lian-sie sudah menjadi salah satu cabang dari partai Siauw-lim-pay, mana bisa membiarkan orang beterbangan diatas wuwungan rumahnya begitu saja ?" Orang berbaju hitam itu menoleh ke arah Yen Yu San, ia merangkapkan tangan, memberi hormat dan berkata : “Bukankah tuan adalah pengurus dari penganungan jaya, Yen Yu San tayhiap?"

Hati Yen Yu San bergumam: “Oh ! Ya ! Ia menganggap aku sebagai komplotannya yang diselundupkan !"

Karena itulah, menganggukkan kepala dan berkata : “Tepat ! Aku Yen Yu San."

Lak¡2 berbaju dan berkerudung hitam itu berkata : “Aku bernama Tong Jin Gie, mendapat perintah dari lengcu untuk mengirim surat tantangan untuk kelenteng Ceng-lian-sie."

lnilah code2 tertentu dengan maksud mendapat penyambutan dari Yen Yu San. Tentu saja sangka orang itu, ia sedang berhadapan dengan Yen Yu San palsu, Yen Yu San asli sudah di”bawah” mereka, dan kini 'sedang' disamarkan oleh Han Sie Yong.

Yen Yu San menunjuk ke arah Ciok Sim taysu dan berkata :

“Inilah ketua kelenteng Ceng-lian-sie Ciok Sim taysu, surat saudara boleh diserahkan kepadanya."

Laki2 berbaju hitam berkata : “Surat tantangan tidak berupa surat. Hanya merupakan berita lisan saja."

Alasan ! Datangnya hendak menyelidiki kesiap- siagaan kelenteng Ceng-lian-sie. Tapi ia tertotok jatuh, karena itu menggunakan alasan mengirim tantangan. Ciok Sim taysu merangkap kedua tangan dan bertanya :

“Siecu datang tengah malam, jelaskan apa maksud kunjungan yang sebenarnya?"

Laki2 berbaju hitam yang bernama Tong Jin Gie berkata :

“Kami mendapat tugas untuk menyampaikan berita bahwa lengcu kami segera tiba pada jam tiga nanti."

“Sudah lama kami menantikan kedatangannya,” berkata Ciok Sim taysu.

“Oh! Kalau begitu, selamat tinggal.” orang berpakaian hitam itu berkata sambil membalikkan badan, siap meninggalkan ruangan itu.

Put-im suthay bergerak, tubuhnya melayang dan menghadang kepergian Tong Jin Gie, ia membentaknya: “Eh, begitu saja kau hendak kabur

!"

Dua padri berjubah hijau juga sudah bergerak, masing2 mengerahkan tenaga dalam, menekan pundak Tong Jin Gie dan berkata : “Tunggu dulu !"

Bersamaan dengan saat itu, lenyaplah kekuatan Tong Jin Gie, wajahnya berubah memandang kearah Ciok Sim taysu dan membentak :

“Kami hanya sebagai utusan, sesudah menyampaikan berita, kami hendak meminta diri kembali melapor pada lengcu !"

Ciok Sim taysu berkata: “Apa siecu lupa kepada dua kawan siecu ?" Wajah Tong Jin Gie berubah, ternyata dua kawannya juga sudah ditangkap.

“Dua negara yang berperang tidak akan mengganggu utusan. Kami datang hanya untuk menyampaikan berita. Tentu saja berkedudukan sebagai utusan. Tidak layak kalau kalian mengganggu utusan2.”

Ciok Sim taysu dengan tenang berkata:

“Kedua kawanmu itu tertangkap ketika sedang celangak celinguk dibelakang kelenteng, ia hendak menyelidiki keadaan kelenteng kami, kukira tindakannya yang demikian bukanlah selaku seorang utusan."

“Apa yang kalian hendak lakukan?" Tong Jin Gie mengeluarkan suara menantang.

Ciok Sim taysu balik bertanya: “Kami hendak mengetahui, apa langkah2 yang berikutnya dari gerakan partai Ngo-hong-bun ?”

Wajah laki2 berbaju hitam Tong Jin Gie berubah, ia membentak: “Hendak menahan orang?"

Ciok sim taysu tidak biasa menghadapi persoalan yang seperti ini, ia menjadi kikuk juga, katanya: “Bukan itu maksudku."

“Maka segera bebaskan kami." berkata laki2 berbaju hitam Tong Jin Gie.

Put-im suthay tidak perduli apapun yang terjadi, ia segera memberi jawaban: “Huh! Kalian bertiga menggunakan tutup kerudung muka datang secara menggelap, inilah penyelidik, bukan utusan. Sesudah tertangkap, men-cari2 alasan sebagai utusan menyampaikan berita. Aku tidak perduli dengan kalian. Kalau kau tidak mau memberi sedikit keterangan tentang apa yang kau ketahui, jangan harapkan bisa bebas dari siksaanku, betapa kuat pun tubuhmu, kau bisa merasakannya sendiri.”

Laki berbaju hitam itu menoleh kearah Put im suthay dan berkata: “Nikauw tua, meskipun kau bunuh diriku, jangan harap bisa mengorek rahasia."

Wajah Put-im suthay menjadi matang biru, ia menghadapi orang tawanan itu dan berkata :

“Tentu saja aku tidak mau membunuhmu terlalu pagi, aku bisa menggunakan ilmu Ngo-im- ciat-meh, didalam sekejap mata, kau akan menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan."

Wajah laki2 berbaju hitam itu menjadi bergemerinding, ia menoleh dan memandang kearah Yen Yu San, mengedip-ngedipkan mata, memberi isyarat, inilah meminta bantuan.

***

Bab 52

YEN YU SAN bisa mengerti, ia tawa heheeh, lalu berkata : “Suthay, tunggu dulu !" Disaat ini, Put-im suthay sudah siap menjalankan ancamannya, tapi keburu dicegah oleh Yen Yu San, ia menoleh dan bertanya: “Yen tayhiap mempunyai usul baru?"

Yen Yu San berkata :

“Dia menyebut dirinya sebagai utusan Ngo- hong-bun. Terlepas dari benar tidaknya keterangan itu, lebih baik kita jangan mengganggu, urusan ini serahkan kepadaku, kalau saja dia bersedia memberikan sedikit keterangan, kita bebaskan dirinya, bagaimana pendapat suthay ?"

“Apa dia mau membuka rahasia golongannya ?" bertanya Put-im suthay.

“Biar aku yang membujuk, mungkin juga ia mau." berkata Yen Yu San.

Sesudah itu Yen Yu San menoleh ke-arah Ciok sim taysu dan Ciok Beng taysu dan kawan2. Semua hweeshio tidak memberi komentar. Setuju dan acc.

Sesudah itu Yen Yu San memandang kepada dua padri berjubah hijau, yang masih memegangi pundak Tong Jin Gie, ia berkata : “Jiwie, didepan kita, tidak mungkin dia bisa melarikan diri."

Kedua padri itu memandang ke arah pemimpinnya, Ciok Sim taysu menganggukkan kepala. Maka mereka membebaskan laki2 berbaju hitam itu.

“Sahabat." berkata Yen Yu San. “turut dibelakangku. Ada beberapa yang hendak kuketahui.” Betul-betul Yen Yu San menjauhkan diri dari orang, turut serta ia mengajak orang tawanannya.

Sesudah jauh dari rombongan orang2 kelenteng Ceng-lian sie dengan suara perlahan Yen Yu San berkata : “Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke hati.”

Inilah code dari partai Ngo-hong-bun, Yen Yu San bisa mengetahui code2 itu dari Sim Siang yang menyamar menjadi Liauw-in nikauw. Code tertentu dari partai Ngo-hong bun, code untuk mengadakan hubungan kontak.

Betul2 laki2 berbaju hitam itu memberi penyahutan yang spontan. “Dimana orang kita berada, disitulah musuh binasa !"

Mengetahui jawaban yang tepat, Yen Yu San segera berkata perlahan : “Aku Han Sie Yong."

Tong Jin Gie berkata : “Lengcu pernah berpesan, agar aku bisa menghubungi saudara Han.”

“Apa lagi yang lengcu perintahkan ?” bertanya Yen Yu San.

Membelakangi orang2 banyak, laki2 itu mengeluarkan sesuatu bungkusan, diserahkan kepada Yen Yu San dan berkata : “Perintah lengcu, benda ini harus ditaburkan didalam dupa pembakaran, sebelum jam tiga pagi."

Yen Yu San menerima pemberian tadi, walau dengan hati kebat-kebit, ia menganggukkan kepala dan berkata : “Aku tahu. Berapa orang yang akan datang nanti ?" Laki2 berbaju hitam Tong Jin Gie berkata : “Tugas saudara Han adalah melempar benda ini kedalam dupa pembakaran, lain hal tidak perlu tahu !”

Hati Yen Yu San memaki. “Manusia licin."

Tapi ia tidak mengutarakan perasaannya dengan perlahan bertanya :

“Ada baiknya kalau saudara memberi tahu sedikit dari gerakan2 kita. Agar aku bisa membujuk mereka untuk membebaskan dirimu.”

“Ng.   " laki2 itu menjadi ragu2.

“Jangan khawatir," berkata Yen Yu San, “mereka hendak mengetahui rahasia2 gerakan kita, sedikit banyak harus kita bocorkan."

“Apa betul kau hendak membocorkan rahasia kepada mereka ?"

“Sedikit banyak harus. Maka aku mempunyai alasan untuk membebaskan dirimu."

Berdiam beberapa saat, laki2 itu bisa terbujuk, ia berkata :

“Malam ini gerakan di bawah pimpinan Kwee hu-huat, tapi info kami telah mendapat tahu kalau Ciok Beng taysu telah balik kembali, karena itulah gerakan diperlambat. Diperlambat satu jam. Kita bergerak pada jam tiga tepat."

Yen Yu San bertanya : “Mungkinkah empat lengcu panji berwarna dan kita semua tidak cukup untuk menghadapi mereka?" Laki2 itu menjawab: “Malam ini kita kurang kekuatan, Lengcu Panji merah dan Lengcu panji hijau tidak turut serta didalam gerakan ini!"

“Eh," Yen Yu San menjadi heran. “Mengapa kedua lengcu itu tidak turut serta?"

Laki2 itu berkata: “Lengcu Panji Hijau sudah pergi ke utara, menghadapi Datuk Utara, lengcu panji merah juga mendapat tugas untuk menghadapi duta barat."

“Mengapa harus mengundurkan waktu penyerangan sampai satu jam ?"

“Kita menunggu kedatangan seorang kuat sambil menunggu reaksi obat ini,” berkata Tong Jin Gie sambil menunjuk bungkusan yang diserahkan kepada Yen Yu San.

Yen Yu San tidak perlu meragukan berita ini, mengingat kalau laki2 berbaju hitam itu tidak tahu kalau dirinya adalah Yen Yu San asli, dengan tidak hadirnya lengcu panji hijau dan panji merah, sedikit banyak tekanan kepada kelenteng Ceng- lian-sie agak berkurang.

Laki2 berbaju hitam Tong Jin Gie berkata lagi: “Sudah hampir jam dua, aku harus cepat

kembali memberi laporan, lebih baik saudara Han berusaha membebaskan diriku."

Untuk membebaskan Tong Jin Gie tidak terlalu sulit, tapi bagaimana akibatnya kalau dua kawannya juga diminta pulang? Bagaimana kalau sampai terjadi Cin Siok Tin palsu dan Sim Siang juga minta dibebaskan pasti rahasia pertukaran Yen Yu San palsu akan terbongkar.

Berpikir beberapa saat, Yen Yu San berkata : “Kalau membebaskan seseorang mungkin

mudah, kalau harus membebaskan tiga orang sekaligus kukira sulit. Begini saja kuatur, aku mohon kepada mereka agar bisa membebaskan dirimu saja.”

“Begitu juga boleh." Tong Jin Gie harus mengalah. “Tapi jagalah alat2 kerahasiaan kita."

“Tentu....tentu. " berkata Yen Yu San.

Sesudah itu, Yen Yu San berkata: “Mari kita balik ketempat mereka !”

Dengan mengajak Tong Jin Gie, Yen Yu San kembali ke ruang tengah, ia disambut oleh Put im suthay, dan tanyanya dengan tidak sabaran : “Apa yang dikatakannya ?"

Yen Yu San memberi keterangan :

“Tong Jin Gie ini memang kawan baik, dikatakan olehnya, jumlah orang dari partai Ngo- hong-bun yang datang berada dibawah pimpinan Kwee hu-huat, jumlah mereka belasan orang. Dan penyerangan akan dilakukan pada jam tiga tepat !"

“Eh !" Ciok-sim taysu memperlihatkan sikap terkejut. “Tadi dikatakan jam dua malam ?"

“Penyerangan diundurkan. Kedudukan Kwee hu-huat jauh berada diatas panji2 berwarna."

“Bagaimana kita harus mempernahkan orang tawanan ini ?" bertanya Ciok Sim taysu. Yen Yu San mengurut jenggot dan berkata :

“Dia adalah seorang utusan saja. Lebih baik bebaskan. Dengan nama Ceng-lian-sie, mungkinkah takut kepada kurcaci2 biasa ?"

“Baiklah," Ciok Sim taysu bisa diberi mengerti. Memandang ke arah Tong Jin Gie dan berkata: “Siecu boleh berangkat."

Laki2 berbaju hitam Tong Jin Gie membalikkan badan, siap meninggalkan semua orang itu.

Tiba2 terdengar Ciok Sim taysu membentak : “Tunggu dulu !"

Tong Jin Gie terhenti, menoleh dengan pandangan mata heran : “Apa lagi ?" ia bertanya.

Ciok Sim taysu berkata : “Kelenteng Ceng-lian- sie bukanlah tempat biasa yang boleh pergi dan datang begitu saja, lebih baik siecu jalan dari pintu depan."

Laki2 berbaju hitam Tong Jin Gie berjalan diawasi oleh beberapa orang itu.

Setelah Tong Jin Gie berlalu, Ciok Sim taysu bertanya : “Yen tayhiap, apa lagi yang dikatakan olehnya ?”

“Ha, haa…” Yen Yu San tertawa, “Sangkanya aku adalah samaran Yen Yu San, semua dijelaskan kepadaku."

“Siapa yang datang nanti ?” bertanya Put-im Suthay.

“Pemimpin tetap Kwee hu-huat, hanya waktunya saja yang diundurkan. Seharusnya jam dua. Mengingat Ciok Beng taysu sudah balik kembali, kini mereka menggunakan waktu penyerangan tepat jam tiga, dibantu oleh seorang sancu dari partai Ngo-hong-bun.”

Ciok Beng taysu merangkapkan kedua tangan menyebut nama budha dan berkata:

“Dia begitu takut kepada lolap?"

“Bagus. Hendak kulihat, bantuan siapa yang ditonjolkan mereka?" berkata Put-im suthay.

“Kukira Sam kiongcu," Yen Yu San berkata. “Lengcu Panji Hijau dan Lengcu Panji Merah telah mendapat tugas lain, karena itulah, orang2 yang datang hanya barisan lengcu Panji putih dan lengcu panji hitam. Kukira kekuatan mereka tidak banyak orang."

“Oh....kalau begitu kekuatan kita bisa seimbang

?” kata Ciok Beng taysu.

“Pihak mereka telah bertambah seorang kuat.

Mungkin Sam kiongcu."

“Sam kiongcu, Kwee hu-huat, lengcu Panji putih dan lengcu Panji hitam. Jumlah mereka hanya empat orang. Kita disini juga berjumlah empat orang. Satu lawan satu ! Tidak perlu ditakutkan."

“Ya ! Dan anak buah lengcu panji hitam dan lengcu panji putih bisa saja kita hadapi dengan anak buah kita sendiri.”

Yen Yu San tidak sependapat dengan mereka, ia telah melihat dengan mata sendiri, bagaimana lihainya orang2 dari partai Ngo-hong-bun. Karena itu ia tidak mempunyai pegangan kuat. Ciok Beng taysu menengadahkan kepala, memandang langit dan berkata :

“Waktu baru jam dua. Masih ada satu jam. Sesudah mengetahui penyerangan mereka dilakukan pada jam tiga, lebih tidak mungkin sekarang membikin persiapan2. Inilah pertarungan yang menentukan, menggunakan waktu sebelum mereka menyerang, lebih baik kita orang istirahat. Kita bisa menggunakan waktu yang kuat."

Sesudah itu, mengebut lengan bajunya, mematikan api penerangan.

Ruangan besar itu menjadi gelap gulita, hanya sinar rembulan dari pekarangan yang mencorot masuk, samar2 mempetakan bayangan-bayangan orang disana.

Ciok Beng taysu sudah merapatkan kedua mata, duduk bersila dan bersemadi.

Didalam hati Yen Yu San memuji: “Diambang pertempuran yang menentukan, hweeshio tua ini mempunyai ketenangan yang luar biasa. Sungguh hebat!"

Semua orang menunggu datangnya penyerangan dari partai Ngo-hong-bun, ber-siap2 dan mengatur politik pertahanan.

Berbeda dengan Ciok Beng taysu, Yen Yu San dan Put-im suthay tidak bisa menekan gejolak hati mereka, inilah pertempuran yang menentukan, pertempuran yang menentukan mati hidup mereka, pertempuran yang akan menentukan ketenangan rimba persilatan. Ampat padri berjubah hijau berdiri di ke empat sudut, menjaga keamanan dari para pemimpin mereka.

Detik2 berlalu....

Kecuali suara angin malam yang meniup daun, tiada terdengar suara lain. Seluruh kelenteng Ceng-lian-sie diliputi oleh ketegangan.

Sang waktu menjelang jam tiga, seorang padri berjubah abu2 berlari datang memasuki ruangan itu.

Tidak menunggu sampai si padri memberi laporan, Ciok-sim taysu bertanya: “Apa melihat gerakan musuh?"

“Hongtiang," berkata padri itu. “Dari laporan kelenteng terdepan, di bawah gunung telah terdapat serombongan orang2 berbaju hitam, dan lain rombongan berbaju putih."

“Berapa jumlah mereka ?" bertanya Ciok Sim taysu.

“Untuk sementara belum jelas," lapor padri itu. “Selidiki lagi." perintah Ciok-sim taysu, “selidiki

berapa jumlah orang yang datang." “Baik." padri itu mengundurkan diri.

Put-im suthay juga turut bicara, memandang Ciok-sim taysu dan bertanya: “Mereka sudah datang?"

“Masih dibawah gunung." Jawab Ciok-sim taysu. Hening lagi untuk beberapa waktu.

Tidak seberapa lama, padri yang tadi tampil kembali, tentu mendapat berita baru, langsung menghampiri Ciok-sim taysu membungkukkan badan dan memberi laporan:

“Hongtiang, dua rombongan dari pihak penyerang telah berada didepan kelenteng.”

“Berapa jumlah mereka?" “Empat puluh delapan orang." “Bagaimana gerakannya ?"

“Masing2 memecah diri. Satu diutara, dan satu diselatan. Mereka berbaris rapi, diam dan tegak2, tidak bergerak."

“Sebelum mereka bergerak, kita juga jangan bergerak lebih dahulu." memberi perintah Ciok Sim taysu. “Awas2i saja mereka."

“Baik.” pelapor itu menjalankan tugas dan mengundurkan diri.

Put-im-suthay berkata : “Mungkin Sam-kiongcu mereka belum tiba."

Dengan tertawa Yen Yu San berkata : “Sekarang belum jam tiga."

Yang paling tidak sabaran adalah Put-im suthay, sesudah itu Yen Yu San dan Ciok Sim taysu. Kecuali ketiga tokoh silat tadi, Ciok Beng taysu masih tetap bersemadi. Se-olah2 ketegangan2 itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan dirinya. Diluar kelenteng Ceng-lian-sie lampu2 telah dipadamkan keadaan gelap gulita.

Dibelakang balik2 pohon, telah berbaris dua rombongan, dua puluh empat orang berbaju hitam dengan kerudung tutup muka berwarna hitam. Dilain bagian ada duapuluh empat orang berbaju putih dengan seragam kerudung putih. Mereka adalah barisan lengcu panji putih.

Tidak jauh dari barisan mereka masing2 berdiri sang pemimpin, itulah lengcu Panji Hitam dan lengcu Panji Putih.

***

Bab 53

KEDATANGAN kedua rombonga itu membuat suasana mendadak panas, keadaan agak panik. Hati para padri yang menyaksikan serangan hendak disiapkan mulai ber-debar2, siap menantikan pertumpahan darah.

Para padri Ceng-lian-sie menunggu serangan- serangan dari orang2 berseragam putih dan berseragam hitam itu, tapi dua rombongan tadi telah memecah diri, tidak bergerak, mereka menunggu kedatangannya Sam-kiongcu, pemimpin mereka.

Kedua belah pihak menunggu, masing2 menunggu !

Yang akan menentukan situasi itu adalah Sam- kiongcu ! Tong......Tong......Tong...

Kentongan malam tiga kali dipukul, akhirnya keteganganpun memecah.

Sam-kiongcu akhirnya tiba, entah bagaimana caranya, mendadak saja disana telah bertambah seorang bertopeng perunggu, topeng itu berhidung lancip, bermata besar, topeng yang sangat menyeramkan. Itulah tokoh misterius Ngo-hong- bun !

Rombongan panji hitam dan panji putih menyongsong kedatangan mereka.

Sam-kiongcu tidak datang seorang diri, tak jauh dibelakangnya berlerot empat dayang perempuan, masing2 dua dikanan dan dikiri.

Kecuali keempat dayang perempuan itu turut juga seorang kakek tua berpakaian putih, hidungnya bengkong, inilah Kwee hu-huat.

Sam-kiongcu memandang kepada orang2nya, mendekati lengcu panji hitam dan berkata beberapa patah kata.

Lengcu panji hitam membungkukkan badan, ia mengundurkan diri, kini ia berdiri menghadapi kelenteng Ceng-lian-sie, mulutnya dipentang dan berkoar:

“Dengar ! Seluruh orang2 Ceng-lian-sie diminta perhatian ! Kepada seluruh penghuni Ceng-lian-sie. Pemimpin kami tiba, segera suruh Ciok Beng dan Ciok-sim keluar membuat penyambutan."

Suaranya lengcu panji hitam berkumandang lama. Diruang besar, Ciok Beng taysu membuka kedua matanya memandang ketiga jago lain berkata kepada mereka: “Mari kita menyambut penyerangan-penyerangan itu.”

Ciok Beng taysu, Ciok-sim taysu, Yen Yu San dan Put-im suthay meninggalkan ruangan, mereka siap menghadapi penyerang-penyerang dari partai Ngo-hong-bun.

Keempat padri berjubah hijau mengiring mereka.

Tiba didepan kelenteng, memandang ke arah rombongan2 penyerang, Ciok Beng taysu berkata: “Siapa yang bernama Kwee-hu-huat ?"

Kwee-hu-huat tampil kedepan, menudingkan jari ke arah Ciok Beng taysu, kakek tua itu membentak: “Siapa yang menjadi pemimpin kelenteng Ceng-lian-sie?"

Ciok-sim taysu tampil kedepan, memberi hormat dan berkata :

“Omitohud. Lolap Ciok sim, bagaimana sebutan Siecu yang mulia ?"

“Huh !" Kwee hu-huat mengeluarkan dengusan dari hidung. “Sesudah berada didepan Sam- kiongcu kami, mengapa tidak menunjuk hormat ?"

“Apa maksud kalian mendatangi kelenteng Ceng-lian-sie dimalam buta?" tanya Ciok-sim taysu.

“Kalian semua memang mencari penyakit sendiri." berkata Kwee hu-huat. “Kematian sudah berada diambang mata, tapi tiada satupun yang bertekuk lutut."

“Manusia gila !" tiba2 Put-im suthay tampil kedepan, sreet, ia mengeluarkan pedangnya, di- acung2kannya kearah Kwee hu-huat dan membentak. “Kakek bangkotan, sekali lagi kau mengucapkan seperti itu biar kutabas dahulu batang lehermu."

Tiba2 terdengar suara Sam-kiongcu : “Eh, dari mana munculnya orang yang berani berkoar seperti ini dihadapanku ?”

Kwee hu-huat memberi laporan : “Dia adalah ketua Ciok-cuk-am, Put-im suthay."

“Tangkap !" Sam-kiongcu memberi perintah.

Kwee hu-huat segera menoleh ke arah lengcu panji hitam, dan ia berkata:

“Lengcu Panji Hitam, kau mendapat kesempatan pahala pertama."

Lengcu Panji Hitam tampil kedepan menghadapi Put-im suthay dan berkata: “Nikouw tua, mau nyerah begitu saja? Atau harus diringkus dengan kekerasan?"

Memandang ke arah lengcu Panji Hitam, sepasang mata Put-im suthay ber-kilat2, ia berteriak: “Kau inikah lengcu Panji Hitam?"

“Tidak salah." berkata lengcu Panji Hitam. “Sesudah mengetahui usulku, menunggu apa lagi, atau masih hendak memberi perlawanan ?" Tanpa gemetar sama sekali, Put-im suthay membentak:

“Aku mempunyai seorang murid yang bernama Yen Siu Lan, dia sudah mati. Tidak diketahui siapa yang membunuh dirinya. Tapi ada yang mengatakan ia mati dibawah tanganmu, betulkah ada kejadian yang seperti itu ?”

“Eh, dari mana kau tahu ?" berkata lengcu Panji Hitam.

“Apa masih mau disangkal ?" bentak Put-im suthay.

“Betul. Muridmu itu mati dibawah tanganku.

Mau apa?"

“Kau harus ganti jiwa muridku dengan jiwamu !" bentak Put-im suthay. Berbareng pedangnya disabetkan, tanpa perduli kalau lawan itu belum siap sedia, tidak menggunakan peraturan- peraturan rimba persilatan, Put-im suthay menyerang dan membacok kearah leher lengcu Panji hitam, gerakannya sangat hebat dan cepat, gesit laksana kilat.

Lengcu Panji Hitam juga bukan orang biasa, secepat itu tubuhnya mundur kebelakang, maka pedangpun keluar dari serangkanya, dilintangkan didepan, trang.........membentur serangan lawan. Sesudah itu, dengan dingin ia berkata:

“Jangan sok jago! Sinar matahari pagi menyingsing, kalian segera menjadi bangkai, satu persatu berjatuhan di tanah, dan orang pertama yang menjadi sasaran utama adalah dirimu." Put-im suthay pernah malang melintang dirimba persilatan selama puluhan tahun, jarang sekali mendapat tandingan, belum lama dipermainkan oleh Kang Han Cing, tapi muncul pula seorang panji hitam, ia memiliki ilmu kekuatan yang tidak berada dibawah dirinya, benturan tadi membuat ia termundur sedikit, betul2 ia harus memuji kekuatan lawan. Tapi adatnya agak berangasan, tanpa banyak bicara ia mengayunkan pedang tadi dan menyabetnya pula. Kini mengarah pundak lawan.

Trangggg....

Terjadi lagi benturan yang kedua, kali ini lengcu Panji hitam terdorong satu langkah.

Hawa pembunuhan telah meliputi Put-im suthay, tidak memberi kesempatan kepada orang setapak, beruntun sampai lima kali menyerang kearah lengcu panji Hitam.

Cahaya pedang telah mengurung di sekitar tubuh lengcu Panji Hitam, ber-kilat2 dan berkilauan. Inilah ilmu pedang Ngo-bie-pay yang ternama !

Sejurus demi sejurus lengcu Panji Hitam melayani serangan2 Put-im suthay.

Ini waktu, Hakim bermuka merah Yen Yu San mengurut jenggot menggunakan suara gelombang tekanan tinggi, ia mendekati Ciok Beng Taysu, berkata: “Taysu, awas kepada orang yang bernama Kwee hu-huat itu, aku akan menghadapi lengcu Panji putih."

Kecuali Ciok Beng taysu, tidak ada orang lain yang tahu kalau Yen Yu San itu berbicara kepadanya.

Ciok Beng taysu bisa memahami keadaan dan maksud tujuan Yen Yu San, ia menganggukkan kepala suatu tanda mengerti, juga menggunakan suara tekanan tinggi menjawab: “Yen tayhiap harus ber-hati2."

Dengan langkah lebar, Yen Yu San tampil kedepan, langsung menghadapi lengcu panji putih, memberi hormat dan berkata :

“Lengcu Panji putih, dunia ini terlalu sempit bagi kita, baru kemarin malam bertemu dipuncak Tay-biao-hong, tidak disangka, malam ini kita berjumpa kembali.”

Lengcu Panji putih tertegun, pikirnya: “Apa maksud tujuan Han Sie Yong yang seperti ini ? Wah ! Tentu ada laporan penting !"

Pikirannya bekerja cepat, segera ia berkata kepada Kwee hu-huat dengan suara perlahan.

“Han Sie Yong menantang perang, tentu ada berita baru."

“Ajaklah ke tempat yang agak sepi." Kwee-hu- huat memberi perintah.

Lengcu Panji putih menganggukkan kepala. Han Sie Yong adalah anak buahnya, dengan rencana memalsukan Yen Yu San dan menghancurkan Ceng-lian-sie dan Ciok-cuk-am, kini Yen Yu San maju kedepan, ia tidak tahu kalau Yen Yu San itu masih berupa Yen Yu San asli, sangkanya adalah samaran Han Sie Yong Yen Yu San palsu, maka ia tampil ke depan memberi hormat dan berkata: “Yen tayhiap hendak menjajal ilmu kepandaian."

Dengan suara lantang Yen Yu San berkata: “Apa lengcu tahu sedang berhadapan dengan siapa?”

Sekali lagi lengcu panji putih termekmek, apa pula maksud kata2 yang seperti ini? Ia belum bisa menduga tepat, karena itu menjawab dengan sekenanya.

“Menurut berita orang, Yen tayhiap pernah mendapat didikan dari Siauw-lim pay, apa betul ?"

“Ha, ha.....” Yen Yu San tertawa. “Tepat ! Karena itulah dalam keadaan yang terdesak seperti ini, aku tidak bisa berpeluk tangan membiarkan Siauw-lim-pai dirundung kemalangan. Ceng-lian- sie termasuk salah satu cabang Siauw-lim-pai, masakan aku bisa duduk saja? Semalam, aku sebagai wakil benteng Penganungan Jaya membuat janji perdamaian dengan partai Ngo-hong-bun, masing2 tidak akan menyerang tapi. ”

***

Bab 54

LENGCU Panji Putih berkerut alis, ia bertanya : “Mengapa ?" “Langkah di hari ini tidak ada sangkut pautnya dengan benteng Penganungan Jaya. Benteng Penganungan Jaya bisa berdamai dengan partai Ngo-hong-bun, tapi Ceng-lian-sie berada di dalam kesusahan maka atas nama pribadi, aku Yen Yu San harus membela Ceng-lian-sie ! Tidak ada hubungan dengan benteng Penganungan Jaya, bisakah Lengcu menyelami kesulitanku ??”

“Oh !” lengcu panji putih meng-angguk2kan kepala, “Kami bisa memaklumi kesulitan Yen tayhiap. Karena sifat pertempuran ini bersifat prive, dan tidak ada hubungan dengan benteng penganungan jaya."

“Itulah ! Yen Yu San datang untuk membela Ceng-lian-sie, apa boleh buat harus meminta pelajaran silat dari lengcu.”

Hati lengcu baju putih bergumam:

“Betul juga ia menyamar sebagai Yen Yu San, didalam keadaan seperti ini ia wajib membantu Ceng-lian sie. Harus juga bertempur dalam beberapa jurus."

Sambil menganggukan kepala lengcu panji putih berkata : “Apa Yen tayhiap tidak salah memilih lawan ?"

“Kukira tidak." berkata Yen Yu San.

“Baiklah." berkata lengcu panji Putih, “Kami selalu siap menerima tantangan yang datangnya dari manapun juga. Bagaimana Yen tayhiap hendak bertanding?" “Menurut pendapatku, salah satu dari kita harus mendapat ketentuan."

“Silahkan !" berkata lengcu Panji Putih.

“Tempat disini terlalu sempit, bisa mengganggu usaha banyak orang. Bagaimana kalau kita mencari tempat yang agak luas ? Biar bisa bergerak lebih leluasa."

Lagi2 lengcu panji putih salah menerima, ia bergumam : “Betul saja ! Ia hendak mengucapkan sesuatu yang amat penting !"

Karena itu lengcu panji putih memandang ke tempat disekitar mana mereka berada, menuju ke arah pelataran timur yang agak luar, ia berkata : “Disana saja kita bertanding ! Setuju ?"

Yen Yu San tidak banyak bicara, ia sudah lompat dan menuju kearah tempat yang ditunjuk. tempat itu agak jauh dengan tempat jalannya pertempuran.

Lengcu Panji putih mengikuti ke belakangnya.

Di suatu tempat yang terpisah Yen Yu San berkata geram : “Silahkan lengcu mengeluarkan senjata !"

Dari lubang tutup kerudungnya, sepasang sinar mata lengcu panji putih memancarkan cahaya berkelebatan, ia berkata dengan suara perlahan : “Lekas katakan, ada perobahan apa yang terjadi?"

Yen Yu San berkata, “Lengcu, keluarkan senjata. Sambil bertempur, kita banyak mempunyai kesempatan bicara." Lengcu panji putih tidak menduga sesuatu, ia mengeluarkan pedang.

Yen Yu San mengacungkan senjata menyerang ke arah lengcu panji putih. Teriaknya keras : “Awas serangan !"

Lengcu Panji Putih mengelak serangan itu, mendekati Yen Yu San dan berkata perlahan : “Nah! Apa ada perobahan baru ?"

“Menyeranglah," berkata Yen Yu San, “Agar tidak dicurigai orang."

Mau tak mau lengcu Panji Putih mengangkat pedang, kini ia menyerang kearah Yen Yu San. Caranya menyerang itu tentu bukan secara menyerang sungguh2, seenaknya saja ia menusukkan pedang. Sangkanya Yen Yu San ini adalah samaran Han Sie Yong. Maka ia tidak menduga sesuatu yang baik.

Lain Lengcu panji putih, lain pula maksud Yen Yu San. Begitu serangan itu datang, ia menangkis keras.

Traannggg....

Terdengar suara benturan pedang, lengcu Panji Putih kesemutan, hampir saja senjata itu terlepas, kalau ia tidak buru2 memperkokoh pegangannya.

Tidak memberi kesempatan lagi, Yen Yu San membentak keras: “Nah ! Terima seranganku.”

Membayangi gerakannya, lagi2 Yen Yu San menyerang, menusuk ke arah tenggorokan. Berbeda dengan serangan lengcu panji putih yang berupa serangan main2, serangan Yen Yu San adalah serangan maut. Betul-betul bisa menjatuhkan lawan.

Sreeeet...sreeet....sreeet... lagi-lagi ia menyerang tiga kali.

Hati lengcu Panji putih tercekat, ia menerima serangan2 itu, menangkis dengan gelagapan.

“Hei !!" Ia berteriak kaget.

Yen Yu San bertarung sungguh2, tenaganya dikerahkan penuh mengemplang ke arah lengcu panji putih.

Lengcu Panji putih menangkis datangnya serangan itu, trang.....tergentar keras, menatap Yen Yu San, ia berteriak : “Kau ????!!!"

Dengan tertawa kecil Yen Yu San berkata perlahan :

“Kalau kita tidak bertempur secara sungguh, bagaimana bisa menipu mata mereka ?”

“Mengapa takut ?” berkata lengcu panji putih. “Hari ini tidak seorangpun yang bisa hidup lagi."

Yen Yu San mengirim satu serangan, dan mendekati lengcu panji putih, dengan perlahan berkata: “Lengcu, sesudah menyuruh orang menyamar membuat Cin Siok Tin palsu, mengapa tidak memberi tahu kepadaku ?"

Lengcu Panji Putih terkejut, membelalakan mata, katanya: “Bagaimana kau tahu ?" Rencana Partai Ngo-hong-bun memang hebat. Rencananya adalah memalsukan Yen Yu San palsu, juga memalsukan Cin Siok Tin palsu, tapi tidak saling memberi tahu, hal ini mengingat pentingnya rahasia mereka, menjaga sesuatu yang terjadi diluar dugaan. Dimisalkan salah satu dari mata-mata yang diselundupkan itu berkhianat, masih ada seorang lagi yang mengawasinya. Betul2 hebat.

“Bagaimana kau tahu kalau Cin Siok Tin itu Cin Siok Tin palsu ?” bertanya lagi Lengcu Panji Putih.

Yen Yu San berkata: “Penyamarannya kurang sempurna, mengalami kegagalan."

“Bagaimana bisa gagal ?" bertanya lengcu panji putih.

Yen Yu San berkata : “Asal mula kejadian dari murid Liauw-in nikauw, ia kebobolan. Dipaksa oleh Put-im suthay, maka menceritakan penyamarannya. Itu waktu Duta Keliling bersiap sedia melepas burung merpati, memberi tahu, meminta bantuan, tapi gagal pula….” 

“Bagaimana keadaannya?" bertanya lengcu panji putih.

“Sudah kubunuh mati !” berkata Yen Yu San. Lengcu Panji putih semakin marah,

membantingkan kaki membentak :

“Duta keliling adalah orang kepercayaan Sam kiongcu, mendapat tugas menyamar Cin Siok Tin memimpin seluruh mata2 yang berada ditempat ini, kau juga berada di bawah kekuasaannya, mengapa....mengapa kau membunuh dirinya, berapa cadangan jiwa yang kau miliki berani membunuh orang begitu saja?"

Yen Yu San berkata :

“Put-im suthay bukan seorang yang mudah dikelabui, kalau tidak kubunuh, bisa berantakan semua rencana kita."

“Gila ! Gila !" mengoceh lengcu panji putih. “Aku tidak bisa mengambil keputusan, hayo ikut aku menemui Kwee hu-huat, biar dia yang mengambil putusan."

Dengan suara perlahan Yen Yu San berkata : “Malam ini kelenteng Ceng-lian-sie mendapat

dukungan dari jago kuat, keadaan kita sangat

lemah, kalau begitu saja aku turut pada lengcu, mungkin bisa menimbulkan kecurigaan mereka."

“Siapa yang mendukung kelenteng Ceng-lian- sie?" bertanya lengcu Panji Putih.

Yen Yu San berkata : “Kurang jelas. Menurut logat suara Ciok Beng taysu, pendukung dibelakang layar ini mempunyai ilmu silat hebat. Kita harus waspada."

“Rencanamu bagaimana?"

Yen Yu San berkata : “Boleh saja kalau lengcu ber-pura2 kalah, dan memberi kesempatan kepada Kwee hu-huat agar menempur diriku. Demikianlah seperti kita begini, sambil bertempur sambil cerita, akan kulaporkan segala kejadian yang lebih terperinci kepadanya." Berpikir beberapa saat, lengcu panji putih bisa menyetujui usul itu, melintangkan pedang, menangkis, memutar satu lingkaran dan akhirnya mengundurkan diri.

Terus menerus Yen Yu San membentak dan menyerang panji putih.

Lengcu Panji Putih mundur secara sengaja, Yen Yu San menyerang secara hebat tentu saja lengcu panji putih terdesak dijepit.

Menerima serangan itu beberapa kali, akhirnya Lengcu Panji Putih berteriak: “Hei kau bukan Han Sie Yong !"

“Aku Yen Yu San." berkata Yen Yu San tertawa. “Ya. Bukan Yen Yu San yang palsu.”

“Tentu saja bukan Yen Yu San palsu."

Dan pertempuran dilangsungkan, kali ini betul- betul pertarungan sengit.

Dilain gelanggang, Put-im suthay masih menempur lengcu panji hitam, masing-masing mengeluarkan ilmu kepandaiannya, pertempuran berlangsung lebih dari tigaratus jurus, belum ada tanda2 siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Orang bertopeng perunggu hijau memperhatikan jalannya pertempuran itu, melihat waktu dan menoleh kearah Kwee-hu-huat.

Inilah suatu tanda, dan Kwee-hu-huat mengeluarkan teriakan panjang: “Serang !!"

Maka orang2 partai Ngo-hong-bun mulai berlompatan keluar dari tempat persembunyian mereka, mengurung ke arah kelenteng Ceng-lian- sie.

Ciok Beng taysu sudah siap sedia, memberi komando kepada para hweeshio dan berkata :

“Siapkan barisan Lo-han-tin !”

***

Bab 55

BARISAN Lo han-tin adalah salah satu nama dari barisan Siauw-lim-pay yang terkenal, terbagi menjadi barisan Lo-han-tin besar dan barisan lo- han-tin kecil. Barisan Lo-han-tin besar digerakkan oleh seratus delapan orang, dan barisan Lo-han-tin kecil digerakkan oleh delapan belas orang. Menurut keadaan dan kondisi masing2 siap untuk melakukan penyerangan menghadapi serangan musuh. Dalam pertempuran ini jumlah mereka sangat terbatas, maka menggunakan barisan Lo- han-tin kecil.

Mulai terjadi perang besar2an ! Ciok Sim taysu langsung berhadapan dengan Kwee hu-huat, Kwee hu-huat menyodok, menyerang Ciok Sim taysu dan membentak : “Serahkan jiwamu !"

Kali ini, Kwee hu-huat menggunakan gembolan besi, gembolan itu bercahaya terang, membuat Ciok Sim taysu terkejut, mengenali benda tadi, ia bisa menduga asal usul Kwee hu-huat, segera ia berteriak : “Aaaa..siecu adalah….” Sebelum Ciok Sim taysu bisa menyebut nama Kwee hu-huat, tiba2 satu gulungan bergulung2 datang, melewati barisan Lo-han-tin, meliwati orang2 partai Ngo hong-bun, menerjang kearah rombongan menangkap gembolan Kwee hu-huat.

Orang itu tertawa ringan dan berkata : “Benda ini banyak permainannya, lebih baik jangan digunakan."

Ternyata senjata Kwee hu-huat adalah senjata istimewa yang bisa menyemburkan racun dan bisa mengeluarkan senjata rahasia.

Terkejutnya Kwee hu-huat tidak kepalang, disaat ia memperhatikan orang tersebut gulungan hijau itu sudah meluncur lagi membuang senjatanya.

Kemarahannya Kwee hu-huat me-luap2, ia membentak :

“Manusia kurang ajar, jangan lari !" Dan dia mengejar gumpalan bayangan hijau tadi, meninggalkan Ciok Sim taysu.

Dua bayangan saling ber-gulung2 saling kejar, yang didepan adalah orang yang baru datang, Kwee hu-huat mengejar dibelakangnya.

Orang yang baru datang itu mempunyai kecepatan yang luar biasa, tiada tara, sebentar kemudian sudah berkeliling satu lingkaran dan mendatangi ke arah gelanggang arena pertempuran yang terjadi diantara lengcu Panji hitam dan Put- im suthay, tidak hentinya orang itu berteriak:

“Awas....awas. !” Pertarungan yang terjadi antara Put-im suthay dan lengcu panji hitam sudah sampai pada detik2 yang sangat menentukan, lengcu Panji hitam mempunyai permainan ilmu pedang yang luar biasa, aneh diluar dugaan, galak dan sengit. Put- im suthay agak terdesak.

Betul2 hari naas bagi Put-im suthay, walau mempunyai pengalaman yang luar biasa, ia tidak bisa menduga dari mana aliran ilmu pedang yang dimainkan oleh lengcu Panji hitam ini, karena itu ia tidak mempunyai daya untuk menangkis.

Disaat ini, orang berbaju hijau itu sudah berlari datang, langsung menerjang diantara kedua jago yang sedang bertempur.

Lengcu Panji Hitam menggencar dengan serangan2 yang mematikan, tiba2 mendapat terjangan baru, ia tersentak kaget. Belum mengetahui apa yang terjadi, tiba2 saja pedangnya sudah direbut orang, cepat2 dia lompat ke belakang, menjauhi dan mengelakan serangan2 yang berikutnya.

Saat itu, pada waktu saat yang hampir bersamaan, terdengar suara dua pedang beradu, trang...........ternyata orang yang baru merebut pedang lengcu Panji Hitam itu sudah menggunakan senjata tadi menangkis serangan Put-im suthay.

Hal ini sudah wajib terjadi, mengingat cepatnya perubahan situasi, Put-im-suthay tidak menyangka kalau ada orang yang berani menyelak diantara kedua jago yang sedang sengit bertempur, maka ia masih menyerang ke arah lengcu Panji Hitam, dan disaat itu lenyap bayangan orang, digantikan oleh segumpalan uap hijau.

Orang berbaju hijau ini berhasil merebut pedang lengcu Panji Hitam, berhasil menangkis pedang Put-im suthay, ia bergerak lebih cepat lagi. wingg.....tubuhnya melejit, tanpa menghentikan geraknya, ia meluncur kearah arena pertempuran lain. Itulah gelanggang pertempuran yang terjadi diantara si hakim bermuka merah Yen Yu San yang masih menempur lengcu panji putih.

Yen Yu San menang dengan kekuatannya yang tebal, pengalamannya yang luas, tapi lengcu panji putih memiliki ilmu pedang yang luar biasa, mereka telah bertempur lebih dari tiga ratus jurus.

Mulut orang berbaju hijau masih tidak henti2nya berteriak : “Awas! .... Awas!. "

Bayangannya pun tiba, lagi-lagi ia menerjang kedua jago yang masih sengit bertempur itu. Trang...trang...memukul dua pedang, mendesak lengcu panji putih, dan menyingkirkan Yen Yu San.

Maksudnya adalah mengacau situasi, menghentikan pertempuran2, tanpa berhenti, orang berbaju hijau ini berganti haluan, dari selatan ke tenggara, dan menuju kearah utara, berputar terus dan masuk ke arah kelenteng Ceng- lian-sie.

Dibelakang orang berbaju hijau, masih mengejar Kwee hu-huat, ia masih sakit hati dan penasaran, ia membentak: “Mau lari kemana ?" Orang berbaju hijau itu menghentikan langkahnya, semua terpeta wajah seorang pemuda yang tampan, dia menggunakan kerudung tipis yang berwarna hijau, kini ia melempar pedang rebutan, ditujukan ke arah Kwee hu-huat, dan berkata: “Terima pedangmu !"

Kemudian ia berbalik badan lagi dan masuk kedalam kelenteng Ceng-lian-sie.

Lemparan pedang orang berbaju hijau itu berakibat panjang, bagaikan bianglala putih, meluncur kearah Kwee hu-huat, tidak tara dan tanpa bisa ditangkis, pedangnya hendak memantek Kwee hu-huat di tempat.

Orang berkedok perunggu menyeramkan Sam- kiongcu cepat lompat maju menyentil tangan, trang.....pedang itu meleset kesamping, dengan cara demikianlah Kwee hu-huat terhindar dari mara bahaya.

Disaat yang sama Ciok Beng taysu tampil kedepan, maka ia berhadap2an dengan Sam- kiongcu.

(Bersambung 16)