Perintah Maut Jilid 06

 
Jilid 06

HATI Kuo Se Fen yang menonton jalannya pertandingan juga terkejut, gumamnya :

“Ilmu kepandaian Lengcu Panji Hijau ini cukup hebat, agaknya tidak berada di-bawah Lie Wie Neng.”

Lie Wie Neng menyerang semakin kalap, sayang sekali, betapa hebatpun dia menyerang, tidak satu juruspun yang bisa mengenai sasarannya.

Ilmu meringankan tubuh Lengcu Panji Hijau memang lumayan, dia mengelak lagi dan berkata : “Kipas wasiat memang hebat ! Murid pendekar kipas wasiat Kim Tong telah mendapat kemajuan lumayan. Sampai disini saja kita melakukan pertempuran, sudah waktunya melakukan perundingan, bukan ?"

Lagi2 Kuo Se Fen terkejut, ternyata Lie Wie Neng ini adalah murid kesayangan Kim Tong ! Pantas saja memiliki kipas wasiat, tentu saja memiliki ilmu kepandaian hebat.

Lie Wi Neng bisa mengukur sampai dimana tingginya kepandaian silat si Lengcu Berbaju Hijau. Mengetahui tidak mudah mengalahkan lawan, ia melipat kipas menghentikan serangan. Dengan dingin berkata:

“Perundingan apa lagi yang hendak kau katakan

?"

“Dengarlah baik2." berkata lengcu Panji Hijau,

“Sesudah mengetahui jelas duduknya perkara, kalau kau masih belum puas menghendaki diteruskannya pertempuran, aku bersedia melayanimu !"

“Lekas katakan !" bentak Lie Wie Neng. Dengan tenang Lengcu Baju Hijau berkata :

“Sebelum aku membuka acara perundingan, terlebih dahulu akan kuperlihatkan seseorang."

Setelah itu Lengcu Baju Hijau bertepuk tangan tiga kali.

Bersamaan dengan suara tepukan Lengcu Baju Hijau, dari luar rimba muncul tiga orang, satu adalah tosu berbaju kelabu, diiringi oleh dua orang berseragam hijau.

Lagi2 anak buah Lengcu Panji Hijau !

Ketiga orang itu segera memberi hormat kepada Lengcu Panji Hijau.

Sesudah tampilnya Lie Wie Neng, Tian Hung totiang berdiri ditepi, membiarkan Lie Wie Neng menempur musuh.

Munculnya tosu yang baru datang sangat mengejutkan Tian Hung totiang, tosu itu adalah murid kesayangannya, ia bernama Cin Su Can, mendapat tugas untuk mengambil obat Toh-la didaerah Tien-Nam. Tapi kini keadaan sudah berubah, ia bersama-sama dengan dua orang berbaju hijau yang datang, tentu sudah berkhianat.

Cin Su Can sudah memberi hormat kepada Lengcu Panji Hijau. Suatu tanda bahwa sang murid itu sudah berganti politik.

Alis Tian Hung totiang yang lentik berdentik, ia membentak kearah sang murid durhaka:

“Cin   Su    Can,    berani    kau    berkhianat?

Berkomplot dengan musuh."

Cin Su Can meskipun telah mendapat dukungan kuat, sesudah berkhianat kepada sang guru, tentu saja tidak berani menentang bentakan itu, ia menundukkan kepala diam.

Terdengar suara Lengcu Panji Hijau berkata : “Cin Su Can, ceritakan kesulitanmu." Dari jarak yang cukup jauh, Cin Su Can bertekuk lutut, diarahkan kepada Tian Hung totiang, dia menangis dan berkata :

“Suhu, teecu sangat malu kepada kau si orang tua."

Tian Hung totiang membentak :

“Murid durhaka, sesudah kau menjual rahasia kepada musuh, masih berani kau memanggil suhu segala ?"

Air mata Cin Su Can jatuh berceceran, dia menundukkan kepala semakin rendah, ia berkata :

“Teecu telah menjadi murid selama dua puluh lima tahun, budi suhu belum terbalaskan, teecu sangat menyesal, apa boleh buat, sayang sekali teecu mempunyai kesulitan yang tidak bisa dipecahkan, harap suhu bisa memaafkan kesalahan teecu."

Menyaksikan sang murid yang seperti itu, rasa sedihnya Tian Hung totiang tidak tertahan, sedari kecil ia mendidik sang murid, akhirnya berkhianat dan berdiri dipihak musuh. Kemarahannya menggelora tidak terhingga, ia menggeram dan membentak:

“Murid durhaka, enyahlah kau dari tempat ini !"

Seiring dengan suaranya Tian Hung totiang menyerang, kebutannya diarahkan kearah kepala Cin Su Can, hendak menamatkan riwayat hidup sang murid durhaka. Disaat yang sama, tangan Lengcu Panji Hijau juga bergerak, menahan turun serangan Tian Hung totiang, sambil berkata:

“Sebagai seorang beribadah, mengapa kuancu mengambil langkah yang ter-buru2 ?"

Tian Hung totiang merasakan satu kekuatan yang tidak terlihat menahan datangnya pukulan, membuat tangannya tidak bisa terjulur panjang, hal ini membuat ia terkejut, hatinya mengeluh:

“Kekuatan tenaga dalam orang ini betul2 hebat, ia seorang musuh tangguh."

Tiang Hung totiang mengetahui pengkhianatan sang murid disebabkan oleh Lengcu Panji Hijau yang misterius ini, memancarkan cahaya mata yang beringas, ia membentak :

“Pantas saja ia berani berkhianat. Ternyata mendapat backing kuat, eh ? Baiklah, untuk membikin bersih nama pintu perguruan, sebelumnya aku harus menempur dirimu."

“Bukan maksudku untuk menempur kuancu." berkata Lengcu Panji Hijau sabar. “Tenanglah. Kau harus menggunakan sedikit aturan."

Dengan marah Tian Hung totiang membentak : “Siapa yang tidak menggunakan aturan ?” Lengcu Panji Hijau berkata :

“Walau Cin Su Can itu murid kesayanganmu, sudah selayaknya bertanya dan menyelidiki terlebih dahulu. Dari sebab apa ia tidak menjalankan perintah ? Apakah boleh membunuh orang tanpa alasan?"

“Tanpa alasan ?!" Tian Hung totiang semakin marah. “Dia sudah tidak menjalankan perintah, menjual diri kepada lain golongan, membuka rahasia kepada musuh. Apa belum cukup dengan kesalahan-kesalahan ini ?"

Lengcu Panji Hijau berkata :

“Bukan dia yang tidak menjalankan perintah, dia bernaung dibawah panji kebesaran Panji Hijau, karena desakan dan perintah ibunya."

“Aaaa....." Tian Hung totiang menganggukkan kepala.

Kini jelas sudah, ternyata sang murid adalah seorang anak yang berbakti, sangat taat kepada perintah ibunya, ia hanya memiliki seorang ibu yang sudah tua, mengingat keadaan itu, tentu saja Cin Su Can harus taat kepada perintah ibunya, ternyata ibu Cin Su Can sudah berada dibawah kekuasaan Lengcu Panji Hijau.

“Kau sudah menculik ibunya ?" Tian Hung totiang bertanya.

“Jangan berkata seperti itu." berkata Lengcu Panji Hijau. “Kami memperlakukan ibunya dengan baik. Kami beri kecukupan yang serba mewah, tentu saja lebih enak seribu kali dari pada hidup melarat didaerah pegunungan."

Tian Hung totiang melirik kearah sang murid, menganggukkan kepala berkata : “Hanya karena ibumu, kau telah menelantarkan urusan besar ?"

“Dia tidak pernah menelantarkan urusanmu." berkata Lengcu Panji Hijau.

Tian Hung totiang tidak mau berdebat dengan Lengcu Panji Hijau, memandang kearah sang murid, berkata dengan sabar :

“Baiklah. Mengingat kebaktianmu kepada seorang ibu, aku tidak menarik panjang urusan ini. Mulai saat ini, kau ! Cin Su Can ! Kau sudah kuusir dari pintu perguruan. Kau bukan anak murid dari kelenteng Pek-yun-kuan. Pergilah ! Jangan sekali2 menemuiku lagi."

“Suhu," berteriak Cin Su Can sedih, “Atas desakan ibu, kalau bukan mengingat umur ibuku yang sudah tua, aku bersedia mati didepanmu."

Tian Hung totiang berkata :

“Kau sudah bukan anak murid Pek yun-kuan, jangan panggil aku suhu lagi. Lekas pergi !"

Memberi hormat dan menyoja tiga kali, Cin Su Can mengundurkan diri.

Lengcu Panji Hijau mendongakkan kepala, ia berkata :

“Tian Hung totiang, sudah kukatakan kalau muridmu itu tidak menelantarkan urusanmu. Apa kau masih belum percaya?"

“Aku tidak mengerti." jawab Tian Hung totiang singkat.

Lengcu Panji Hijau berkata : “Kau memberi tugas kepada Cin Su Can untuk mengambil obat Toh-la didaerah Tien-nam, dapat atau tidaknya obat Toh-la itu sudah tidak penting."

Tian Hung totiang berkata :

“Pengambilan obat Toh-la yang begitu jauh memakan waktu yang lama, dan kalau betul obat Toh-la didatangkan ke tempat ini, ludeslah semua obat2anku, hancur tiada guna, sekarang kau sudah datang, kukira. "

Lengcu Panji Hijau menganggukkan kepala dan berkata:

“Tepat ! Kukira Lie tayhiap sudah tidak membutuhkan obat Toh-la lagi."

Tian Hung totiang berkata :

“Maksudku, sesudah kau berada dikelenteng Pek-yun-kuan, obat Toh-la itu sudah tidak kubutuhkan, mengapa men-cari2 yang jauh, meninggalkan yang dekat?"

“Kedatanganku adalah persoalan tentang urusan ini." berkata Lengcu Panji Hijau.

Tian Hung totiang berkata :

“Maksudku adalah menawan dirimu, maka sama juga untuk pengganti obat Toh-la, bukan?"

Lengcu Baju Hijau menganggukkan kepala dan berkata :

“Untuk mengobati Lie tayhiap, jiwaku memang lebih penting seribu kali dari obat Toh-la." Tian Hung totiang mengedipkan mata kearah Ho-leng-koan-hoang Can Hoa Tosu, mereka siap menyergap lengcu berbaju hijau itu, kalau saja mereka berhasil meringkus Lengcu Panji Hijau, mungkinkah takut tidak bisa mengobati Lie Kong Tie ?

***

Bab10

LENGCU Panji Hijau tidak menjadi tegang, kini dia memandang kearah Lie Wie Neng dan bertanya: “Apakah Kongcu sudah mengerti?"

“Tidak mengerti." berkata Lie Wie Neng singkat. Lengcu Panji Hijau tertawa dan berkata :

“Obat Toh-la sudah tidak dibutuhkan lagi, karena. "

Bicara sampai disini, tiba2 ia menghentikan suara kata2nya.

Dalam hal ini bukan berarti Lengcu Panji Hijau berhenti bicara, hanya pembicaraannya itu tidak diumumkan, ia menggunakan gelombang tekanan suara tinggi, langsung bicara dengan Lie Wie Neng.

Mulut Lengcu Panji Hijau berkemak-kemik, mengucapkan kata2 yang hanya bisa ditangkap oleh Lie Wie Neng seorang.

Sebentar2 terjadi perubahan pada wajah Lie Wie Neng, ragu2, khawatir dan akhirnya dia bertanya : “Apa betul ?"

Lengcu Panji Hijau berkata lagi :

“Inilah maksud tujuanku yang utama. Kalau saja Lie kongcu tidak percaya boleh periksa dahulu. Disini kunantikan jawabanmu.”

Secepat itu pula, Lie Wie Neng membalikkan badan, memberi hormat kepada Tian Hung totiang dan berkata :

“Harap totiang bisa menjaga sebentar boanpwe hendak melihat ke dalam."

Secepat itu pula tubuh Lie Wie Neng melejit masuk kedalam kelenteng Pek-yun-kuan, Tian Hung totiang tidak mengerti apa yang dipercakapkan Lengcu Panji Hijau kepada Lie Wie Neng? Mengapa terjadi perubahan yang seperti itu?

Bahaya masih belum dilenyapkan, Tian Hung totiang tidak berani lengah, membiarkan saja Lie Wie Neng meninggalkan posisi pertempuran.

Kuo Se Fen masih menonton diatas pohon, tentu saja terkejut, hatinya berdesis :

“Betul2 Lengcu Panji Hijau ini mempunyai rencana busuk!"

Tidak lama kemudian, Lie Wie Neng lari balik kembali, tangannya memegang sesuatu, itulah kedok kulit, kedok kulit tipis yang berupa kulit manusia, kedok yang berwajah Datuk Persilatan Lie Kong Tie.

Dibelakang Lie Wie Neng, turut dua orang pengiringnya, mereka menggotong seseorang yang sedang berbaring, seseorang yang terbaring tiada sadarkan diri.

Orang yang digotong dan terbaring tiada sadarkan diri itu adalah Datuk Persilatan Lie Kong Tie.

Tian Hung totiang terkejut, dengan alasan apa Lie Wie Neng menyerahkan ayahnya yang menderita luka? Karena itu cepat2 ia bertanya :

“Bagaimana keadaan Lie siecu ?"

Dengan uring2an Lie Wie Neng berkata : “Dia bukan ayahku !"

“Siapa ?" berteriak Tian Hung totiang terkejut.

Lie Wie Neng mempaparkan wajah kulit ditangannya, dia berkata :

“Dia salah satu dari komplotan orang jahat, mukanya mengenakan kedok kulit manusia, sangat mirip dengan wajah ayah maka kita dikelabui "

Dengan heran Tian Hung totiang berkata :

“Apa betul terjadi kejadian yang seperti ini?

Mengapa aku tidak tahu?"

Hati Kuo Se Fen juga bertanya :

“Ya ! Kang Han Cing juga mengubah wajahnya, tapi hanya sepintas lalu, Tia Hung totiang yang lihay bisa membedakan kalau wajah itu adalah wajah palsu kalau betul Lie Kong Tie dipalsukan orang mengenakan kedok kulit, bagaimana Tiat Hung totiang tidak tahu ?" Disaat ini, Lie Wie Neng sudah berhadapan dengan Lengcu Panji Hijau, dia membentak dengan suara yang sangat marah :

“Hei, dikemanakan ayahku itu ?"

Lengcu Panji Hijau berdiri tenang tersenyum sedikit dan berkata :

“Aku tidak bohong, bukan ?"

Sepasang mata Lie Wie Neng seperti hendak memancarkan cahaya api, ia membentak lebih keras:

“Dimana? Dikemanakan ayahku itu ?" “Bersediakah Lie kongcu membikin sedikit

perundingan?"

Disaat ini, dari dalam berlari pula dua orang, seorang wanita berpakaian hijau dan seorang gadis pelayan. Itulah istri muda Datuk Persilatan Lie Kong Tie dan budak pelayannya.

Langsung menghadapi Lie Wie Neng, istri muda Lie Kong Tie menangis dan berkata :

“Kongcu, apa belum berhasil membekuk musuh? Dikemanakan loya kita?"

Sesudah itu, ia menangis dengan ter-isak2, nyonya itu berkata kepada Tian Hung totiang :

“Totiang kau adalah kawan lama dari loya kami, musuh telah melarikan loya kita diganti dengan yang palsu, tolonglah..........tolong cari kembali loya yang telah lenyap itu." Ternyata Datuk Persilatan Lie Kong Tie sudah lenyap? Diganti dengan Lie Kong Tie palsu ?

Tian Hung totiang cepat2 berkata :

“Harap Hujin bersabar, Lie Wie Neng sedang membikin perundingan."

Nyonya Lie Kong Tie berkata :

“Berapa banyak uang yang hendak diminta oleh mereka, kalau saja loya kita bisa dikembalikan, serahkan sajalah."

Lie Wi Neng menghadapi Lengcu Panji Hijau, ia bertanya dingin.

“Hei, apa yang kau kehendaki ?" Lengcu Panji Hijau berkata:

“Sebetulnya Datuk Persilatan Lie Kong Tie telah menjuarai kedua tepian sungai Hoang-ho, tigapuluh tahun tidak pernah menemukan tandingan. Kini sudah tua, sudah waktunya istirahat, sudah waktunya meninggalkan berkecimpungan didalam rimba persilatan. "

“Maksudmu," berkata Lie Wie Neng, “Ayah mengundurkan diri dari rimba persilatan ?"

“Hanya berupa anjuran." berkata Lengcu Panji Hijau, “Mau tidak mau, bukan urusanku. Seseorang ternama, tidak mudah untuk dipertahankan, kalau sudah mendekati akhir tua lebih baik mengundurkan diri saja, hidup tenang2 dirumah, bukankah lebih enak dari pada main golok dan pedang ?" Kuo Se Fen yang mengikuti pembicaraan itu berkata dalam hati :

“Apa yang dikatakan memang masuk diakal, seseorang yang sudah lanjut usianya ada lebih baik menghindarkan diri dari kericuhan rimba persilatan."

Berpikir sampai disini, tekad Kuo Se Fen semakin bulat, ia sudah hendak membubarkan partai Hai yang-pay.

Terdengar suara Lie Wie Neng berkata: “Ada syarat lainnya ?"

Lengcu Panji Hijau berkata :

“Masih ada satu persoalan lagi, janganlah dikatakan sebagai syarat. Golongan kami pernah mendengar dan memuji kecerdasan ilmu silat Lie kongcu. Golongan kami menghendaki kongcu menjadi wakil ketua. Bagaimana pendapat Lie kongcu?"

“Wakil ketua?" bertanya Lie Wie Neng.

“Ya," berkata Lengcu Panji Hijau, “Bersediakah Lie kongcu menerima jabatan wakil ketua Perintah Maut?"

Ternyata Lengcu Panji Hijau hanyalah salah satu anak buah dari golongan Perintah Maut.

Golongan Perintah Maut adalah golongan yang baru muncul didalam rimba persilatan. Memiliki banyak jago2 sakti. Diantaranya terdapat juga Lengcu Panji Hijau, dan Lengcu Panji Hitam, yang disebut belakangan pernah menyerang Hai yang- pay.

Lie Wie Neng ditawarkan kedudukan wakil ketua golongan Perintah Maut.

Inilah rencana tipu muslihat, kalau saja Lie Wie Neng bersedia menerima tawaran itu, hancurlah nama Datuk2 persilatan.

Lie Wie Neng harus berpikir lama, disitu menyangkut jiwa ayahnya.

Terdengar lagi suara Lengcu Panji Hijau : “Bagaimana keputusan kongcu ?"

Sebelum Lie Wie Neng memberi jawaban, terdengar suara nyonya muda Lie Kong Tie berteriak :

“Kongcu, penuhilah permintaannya."

Sikap Lie Wie Neng semakin serius, memandang ke arah Lengcu Panji Hijau, berkata dengan sepatah demi sepatah :

“Bebaskan ayahku. Sesudah itu, akan kuusahakan agar ayah bisa melepaskan diri dari kancah kencana kerusuhan rimba persilatan."

“Bagaimana dengan kedudukan wakil ketua kami?"

Lie Wie Neng berkata :

“Tentang soal ini, lebih baik kita rundingkan dikemudian hari."

Dengan dingin Lengcu Panji Hijau berkata : “Kongcu, ingat baik2, bukan waktunya tawar menawar."

Sepasang sinar mata Lie Wie Neng bercahaya terang, ia membentak :

“Maksudmu, kalau aku tidak menyetujui kau tidak membebaskan ayahku ?"

“Mana berani." berkata Lengcu Panji Hijau. “Nama besar Lie kongcu sudah disegani oleh ketua kami, kami dilarang berlaku kurang ajar kepada Lie kongcu."

Nyonya Lie Kong Tie segera menubruk Lie Wie Neng, bertekuk lutut dihadapan sang anak tiri itu, dengan masih menangis sedih ia berkata :

“Kongcu, tolonglah

ayahmu.......tolonglah......lulusi saja perminta- annya.....umur loya sudah terlalu tua, kalau sampai terjadi sesuatu apa..."

“Bangun !" berkata Lie Wie Neng penuh wibawa. “Aku mempunyai pendirian sendiri."

Dengan masih menangis, nyonya itu me- ninggalkan Lie Wie Neng dan mem-bujuk2 Tian Hung totiang.

Terdengar Lengcu Panji Hijau berkata :

“Kalau saja Lie kongcu bersedia menerima anjuran2 tadi, kujamin ayahmu segera kembali dalam keadaan segar bugar."

Masih terjadi tarik urat, Lie Wie Neng tidak mau melulusi secara cepat. Disaat ini, lagi2 terdengar suara bentakan- bentakan ditempat jauh.

Wajah Tian Hung totiang berubah, memandang kearah Lengcu Panji Hijau dan membentak :

“Hei, berapakah rombongan kalian yang menyergap kelenteng Pek yun-kuan ?"

Lengcu Panji Hijau berkata tenang :

“Legakan hatimu, kujamin tidak ada orang lain yang menyerang kelenteng Pek-yun-kuan."

Betul saja, suara bentakan2 itu lenyap dan mereda segera.

Kuo Se Fen berada diatas pohon, daya pendengarannya lebih hebat, ia sudah bisa menduga dari mana datangnya suara2 bentakan itu, ia lebih jelas. Itulah tempat kamar2 yang tersedia untuknya.

Teringatnya kepada Kang Han Cing yang masih berada didalam bahaya, segera ia merosot perlahan, dan balik kembali ke kamarnya.

Tiba didalam kamarnya, hati Kuo Se Fen semakin terkejut, ia tidak mendapatkan jejak Jen Pek Coan.

“Kemana pula kepergian jiete itu?" ia bertanya didalam hati.

Keadaan Kuo Se Fen menjadi sangat tegang, beruntung dia lekas2 meninggalkan medan pertempuran didepan dan memeriksa kamarnya.

Tokh ia sudah terlambat, ia tidak bisa melihat jejak Jen Pek Coan. Tentu ada sesuatu yang terjadi, hatinya berpikir

:

“Sesudah jiete mengetahui kembalinya aku,

mengapa tiada suara?"

Kuo Se Fen melintangkan golok didepan dada untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan. Ber- indap2 ia memeriksa ruangan itu.

Memeriksa lagi ruangan sebelah, hati Kuo Se Fen tergetar, disana menggeletak dua orang, dua orang itu mengenakan seragam berbaju hitam, mengenakan kerudung berwarna hitam. Itulah anak buah dari Lengcu Panji hitam.

Seperti apa yang dia sudah ketahui, dibawah ketua golongan Perintah Maut terdapat dua kekuatan yang hebat, Lengcu Panji Hijau dan Lengcu Panji Hitam.

***

Bab 11

LENGCU Panji hijau sedang bersitegang dengan Lie Wie Neng.

Ternyata Lengcu Panji Hitam menyatroni kamarnya. Tentu bertujuan menculik Kang Han Cing.

Tapi......

Bagaimana dua anak buah Lengcu Panji Hitam itu bisa menggeletak ditanah ? Kuo Se Fen memeriksa dengan lebih teliti, tiga orang berseragam hitam pula menggeletak dikamar sebelah, mereka sudah berada didalam keadaan tidak berdaya. Ditotok orang.

Kecuali lima orang berseragam hitam itu, Kuo Se Fen juga menemukan Jen Pek Coan, tapi Jen Pek Coan duduk melenggut, tiada bersemangat. Juga sudah ditotok orang.

Cepat2 Kuo Se Fen mendatangi jitenya, meng- urut2 jalan darah Jen Pek Coan.

Tidak berhasil ! Jalan darah Jen Pek Coan yang tertotok masih membeku, totokan itu adalah totokan istimewa dia tidak berhasil menghidupkannya.

“Heran !” bergumam Kuo Se Fen. “Siapa yang datang ? mengapa menotok Jen jietee? mengapa menotok orang2 berbaju hitam itu ?"

Sesudah tidak berhasil menolong Jen Pek Coan, Kuo Se Fen menghampiri ke kamar Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat.

Sama dengan keadaan Jen Pek Coan, Goan Tian Hoat juga tertotok orang ! Berada didalam keadaan tidak berdaya.

Yang lebih mengejutkan Kuo Se Fen lagi adalah diatas pembaringan Kang Han Cing duduk seorang berbaju putih, tangan orang berbaju putih itu diletakan di-ubun2 Kang Han Cing, dia duduk bersila. Kuo Se Fen menduga kepada musuh, goloknya diselorongkan kedepan, menusuk kearah orang berbaju putih yang berada didepan Kang Han Cing.

Gerakan Kuo Se Fen boleh dikata sangat cepat, tapi gerakan orang berbaju putih lebih hebat lagi, tanpa menoleh kebelakang tanpa melepas sebelah tangannya yang menempel di ubun2 Kang Han Cing, dengan lain tangannya, orang itu menyentil golok Kuo Se Fen.

Traaangg............

Tangan Kuo Se Fen dirasakan kesemutan. Ia terpukul mundur.

Hebat ! Hanya menggunakan jarinya saja dia berhasil memukul pergi ketajaman golok. Inilah ilmu istimewa.

Kuo Se Fen tidak mau mengalah, sebagai ketua Hai-yang-pay yang ternama, ia tidak mau menyerah mentah2. Memegang kuat goloknya lebih erat, maju dan menyerang lagi.

Sekarang dengan menggunakan ilmu Sembilan golok maut.

Golok ditangan Kuo Se Fen berubah bercahaya, dan berubah menjadi sembilan buah bayangan, itulah ilmu golok tercepat menyerang ke arah si orang berbaju putih.

Orang berbaju putih itu tahu sampai dimana ilmu permainan golok Kuo Se Fen. Dia mengelak kekanan dan kekiri, menghindari sembilan serangan golok Kuo Se Fen, tapi lain tangannya yang masih menempel pada ubun2 Kang Han Cing tetap tidak terlepas.

Lebih dari pada itu, tampak kekuatan yang tidak terlihat menyerang kearah Kuo Se Fen.

Sang ketua Hai-yang-pay terkejut, inilah tenaga dalam yang hebat. Lagi2 ia terdesak mundur.

Siapakah orang berbaju putih ?

Kuo Se Fen berdiri dipintu dengan golok masih ditangan, ia bingung menghadapi situasi yang seperti itu. Bagaimana harus menolong Kang Han Cing ?

Disaat ini, dikala Kuo Se Fen masih berada dalam kebingungan, muncul pula seorang gadis kecil, dengan kepang dua yang panjang, menghampiri Kuo Se Fen dia berteriak :

“Cong piauwtouw apa yang hendak kau kerjakan ?"

Gadis berkepang dua itu adalah gadis yang pernah membongkar rahasia penyamarannya Than Hoa Toh palsu. Itulah gadis berkepandaian tinggi yang bernama Ce Mei.

Kuo Se Fen masih berada didalam keadaan bingung, kedatangan Ce Mei sangat mengejutkan dirinya.

Lagi2 terdengar suara Ce Mei yang garing merdu

:

“Cong piauwtouw, apa yang hendak kau

lakukan ?" Dari munculnya Ce Mei ditempat ini Kuo Se Fen bisa menduga, orang berbaju putih adalah kawan, bukan lawan. Dengan ilmu silat yang begitu tinggi, orang berbaju putih itu bisa saja menjatuhkannya dengan mudah, tapi kenyataan tidak.

Orang berbaju putih sedang menolong Kang Han Cing.

“Congpiauwtouw..............." lagi2 suara Ce Mei memanggil.

Kuo Se Fen menghela napas, dia berkata : “Kedatangan nona tepat pada waktunya,

maksudku. "

Betapa luaspun pengalaman Kuo Se Fen, didalam keadaan yang seperti itu, berat juga untuk mencurahkan isi hatinya.

Mudah dibayangkan, sebagai seorang ketua Hai- yang-pay yang ternama, bagaimana Kuo Se Fen tidak merasa malu kalau harus bertanya kepada seorang gadis kecil yang seperti Ce Mei, meminta penjelasan tentang situasi ditempat itu?

Bagaimana ia mempunyai muka untuk me- ngemukakan ke-ragu2annya.

Tapi keadaan sudah memaksa Kuo Se Fen, dia bertanya kepada Ce Mei :

“Orang berbaju putih itu. ”

Tidak menunggu sampai ucapan Kuo Se Fen selesai dikatakan, Ce Mei tertawa cekikikan, dia berkata : “Congpiauwtouw salah paham, ia adalah kongcu kami."

Lagi2 Kuo Se Fen terkejut, ternyata orang berbaju putih yang berada diatas tempat tidur Kang Han Cing adalah kongcu Ce Mei? Dengan heran ia berteriak :

“Kongcumu ?"

Ce Mei menutup mulutnya yang kecil, tidak tahan ia mengeluarkan tertawa gelinya, ia berkata :

“Ya......kongcu kami sedang berusaha mengusir racun jahat yang bersarang didalam tubuh Kang jikongcu, jauh2 ia pergi kedaerah Tong-hay mengambil obat penawar racun, akhirnya berhasil. "

Si baju putih yang masih meletakan sebelah tangannya pada pundak Kang Han Cing membalikkan kepala, dengan sepasang matanya yang tajam memandang Ce Mei sebentar, itulah suatu isyarat bahwa Ce Mei sudah waktunya untuk menutup mulut.

Betul2 Ce Mei dimengkerutkan, ia tidak meneruskan keterangannya.

Si baju putih meneruskan usahanya untuk menyembuhkan Kang Han Cing.

“Nona Ce Mei . . . ." panggil Kuo Se Fen perlahan.

Ce Mei juga berkata dengan suara yang perlahan sekali : “Majikanku sudah memberi obat kepada Kang jie-kongcu, kini sedang membenarkan peredaran jalan darah yang tersesat, lebih baik jangan diganggu. Mari kita istirahat didepan saja.”

Kuo Se Fen malu kepada diri sendiri, tidak seharusnya ia curiga pada si baju putih, dengan ilmu kepandaian si baju putih yang begitu tinggi, mana mungkin mencelakakan Kang HanCing dengan cara yang seperti itu?

Tangan si baju putih yang diletakan di-jalan darah Pek-hie-hiat adalah cara penyembuhan yang terbaik. Dia harus merasa lega dan bersyukur.

Dan seperti apa yang Ce Mei sudah katakan, cara2 pengobatan yang seperti itu pantangan besar kalau terganggu, bisa saja mengalami peredaran jalan darah Masuk Api.

Kuo Se Fen pun menyadari akan hal itu, dan ia juga bisa maklum mengapa si baju putih tiada mengucapkan suara.

Ber-sama2 dengan Ce Mei, mereka me- ninggalkan tempat itu.

Diluar, baru ia teringat kepada Jen pek Coan dan Goan Tian Hoat.

Jalan darah Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat telah dibekukan orang, tidak tahu siapa yang membekukan jalan darah mereka.

Karena itu Kou Se Fen bertanya :

“Ada sesuatu yang harus meminta keteranganmu." “Katakanlah." berkata Ce Mei ramah. Kuo Se Fen berkata :

“Jie-suteku dan muridku telah ditotok orang, cara2nya agak mirip dengan cara2 yang kongcu baju putih itu lakukan, mungkin. "

Ce Mei memotong pembicaraan itu : “Cong piauw touw hendak melihat mereka ?"

“Inilah harapanku."

Ce Mei meng-goyang2kan siolo putih di tangan kemudian berkata :

“Tunggu sebentar. Biar kuserahkan obat Swat- ci-tan ini kepada kongcuku, dan setelah itu kita pergi ber-sama2." setelah berkata begitu ia pergi meninggalkan Kuo Se Fen.

Didalam hati Kuo Se Fen mengeluh, obat Swat- ci-tan adalah obat kesayangan Tian Hung totiang, dari mana Ce Mei bisa mendapatkan obat itu ?

Menyolong ?

Tidak baik terlalu banyak mengajukan pertanyaan, teka-teki itu disimpan didalam hati.

Ce Mei bisa bekerja gesit, cekatan, dia telah balik kembali, dengan lincah merendengi Kuo Se Fen berjalan bersama-sama.

“Cong piauw touw," katanya, “Mungkin kau tidak tahu, kalau kami selalu membayangi dibelakangmu."

Hati Kuo Se Fen bergerak, ia bisa mengerti, pantas saja sering terjadi keanehan-keanehan, seperti ketika Jen Pek Coan bertempur melawan empat jendral keluarga Lie, didalam keadaan terjepit mendadak bisa berbalik menang, tentunya mendapat bantuan gelap dari Ce Mei. Ia menganggukkan kepala dan berkata :

“Betul2 aku tidak tahu kalau kongcumu juga turut membayangi kita.”

“Tidak." Ce Mei menyelak, “Kongcu kami tidak mengikutimu, selama ini berpergian ke Tong-hay meminta obat, dia memberi perintah kepada aku dan cici Ce Tong berdua membayangimu untuk menjaga sesuatu kemungkinan."

“Apakah kongcumu itu baru kembali tadi ?" bertanya Kuo Se Fen.

“Ya." jawab Ce Mei. “Begitu kongcu tiba, cici Ce Tong segera berangkat pergi, mendapat tugas baru."

“Hanya kau sendiri yang mendampinginya ?" “Begitulah. Racun2 yang bersarang didalam

tubuh Kang Han Cing kongcu bukan racun biasa,

jumlahnya tidak sedikit, karena itu membutuhkan aneka macam obat yang banyak juga, diantaranya terdapat obat Swat-ci-tan, di tempat ini aku ber- hasil mendapatkannya, sedangkan kongcu menghadapi keroyokan2 banyak orang, masing- masing telah ditotok mati." 

“Ditotok mati ?" hati Kuo Se Fen tercekat. Ce Mei tertawa dan berkata :

“Yang diartikan ditotok mati adalah para kurcaci itu, bukan Jen Pek Coan tayhiap dan Goan tayhiap." Mereka berjalan sambil ber-cakap2.

Sebentar kemudian, mereka sudah berada disamping Jen Pek Coan, jago Hai-yang-pay itu menggeletak di tanah.

Per-lahan2 Ce Mei menepuknya, menghidupkan jalan darah Jen Pek Coan yang tertutup.

Jen Pek Coan menggeliat, matanya dibukakan, tampak sang toasuheng berdiri di depannya, cepat2 ia berkata :

“Toa suheng, apakah musuh sudah terusir pergi

?" Kuo Se Fen tertawa dan berkata : “Kukira sudah."

Ya ! Itu waktu sudah tidak terdengar suara pertempuran.

Sesudah menolong Jen Pek Coan, Ce Mei lari kebelakang, menghidupkan totokan Goan Tian Hoat.

Jen Pek Coan memandang ke arah gadis yang sedang berlari ke arah Goan Tian Hoat, ia berkata heran :

“Itulah gadis yang menolong diriku di luar kota Yang-ciu."

“Namanya Ce Mei." sang toako memberi keterangan. “Hari itu, dialah yang membuka rahasia penyamaran Than Hoa Toh palsu. Dialah yang sering membantu usaha kita."

Jen Pek Coan memandang orang2 berbaju hitam yang menggeletak, ia bertanya:

“Apakah mereka jatuh didalam tangan Ce Mie?" Kuo Se Fen berkata:

“Mereka rubuh dibawah tangan majikannya yang juga sudah datang. Kini sedang mengobati Kang Han Cing."

Jen Pek Coan semakin heran, dia bertanya: “Siapa majikan Ce Mie?"

Sebelum Kuo Se fen menjawab, Ce Mie sudah mengajak Goan Tian Hoat mendatangi ke arah mereka.

Jen Pek Coan memberi hormat dan berkata: “Nona Ce Mie, dengan ini aku mengucapkan

banyak terima kasih."

Ce Mie membalas hormat itu dan berkata : “Sama2, sudah menjadi kuwajiban kita untuk

saling tolong menolong." Kuo Se Fen berkata :

“Ada sesuatu yang hendak kutanyakan, siapakah nama majikanmu ?"

Ce Mei tertawa kecil dan berkata : “Cong piauwtouw langsung saja bertanya kepada orang yang bersangkutan. Urusan ini aku tidak berani banyak mulut."

Tidak menunggu pembicaraan Kuo Se Fen lagi, Ce Mei berkata :

“Mungkin majikanku masih membutuhkan bantuanku, aku harus kembali kesana melayaninya." Sesudah itu, Ce Mei meninggalkan mereka.

Goan Tian Hoat menundukkan kepala, dia merasa malu atas kejadian yang baru saja berlangsung, berkata dengan suara rendah.

“Teecu tiada guna, sehingga dibokong oleh musuh. Betul2 memalukan nama suhu saja."

Jen Pek Coan berkata :

“Kau tidak perlu merasa rendah diri, aku sebagai pamanmu pun ditotok orang tanpa bisa melihat orang yang menotokku itu."

Kuo Se Fen mengurut jenggotnya dan berkata : “Orang yang menotok jalan darah kalian adalah

majikan gadis Ce Mei tadi, kini dia sedang menyembuhkan luka2 Kang Han Cing."

Jen Pek Coan memandang Goan Tian Hoat dan berkata :

“Coba kau lihat, bagaimana keadaan orang itu

?" Ia menujuk kearah lima orang berbaju hitam yang menggeletak di tanah.

Satu persatu Goan Tian Hoat memeriksa mereka, orang2 itu sudah dingin dan beku, mereka sudah kehabisan napas, mati disana.

“Mereka sudah mati semua." Goan Tian Hoat memberi laporan.

Kuo Se Fen menganggukkan kepala dan berkata

:

“Betul2 sudah ditotok jalan darah kematiannya." Kini dia memandang kearah Jen Pek Coan dan bertanya :

“Apakah jiete melihat wajah kongcu itu ?" “Tidak." jawab Jen Pek Coan, “sesudah

toasuheng berangkat, siaote menunggu ditempat ini, sehingga tadi ada bayangan musuh mendatangi, siaote takut mereka menerjang masuk. Musuh2 yang datang pada hari ini berjumlah besar, ilmu kepandaian mereka sangat tinggi. Disaat siaote hendak memapaki kedatangan mereka, entah bagaimana tiba2 satu persatu jatuh menggeletak, dan disaat itu pula, siaote merasa kesemutan kemudian hilang ingatan, apapun tidak ingat lagi."

Kuo Se Fen menganggukkan kepala, ia memuji kehebatan ilmu kepandaian si baju putih itu.

“Majikan Ce Mei menotok dari jarak jauh, ilmu kepandaiannya memang betul2 hebat! Dia adalah tokoh silat super sakti."

Jen Pek Coan berkata :

“Tentunya lengcu Panji Hitam itu telah menderita kekalahan."

Kuo Se Fen menggoyangkan kepala dan berkata

:

“Yang datang pada malam ini adalah lengcu

Panji Hijau, kukira keluarga besar Lie sudah bertekuk lutut dibawah kekuasaan mereka."

Jen Pek Coan terkejut, ia memandang kearah sang toako dan bertanya : “Lengcu Panji Hijau? Begitu hebatkah ilmu kepandaian mereka? Hingga bisa mengalahkan keluarga besar Lie?"

Kuo Se Fen berkata :

“Lie Kong Tie yang istirahat dikelenteng Pek- yun-kuan adalah Lie Kong Tie palsu, dia adalah penyamaran musuh, Lie Kong Tie yang asli sudah jatuh kedalam tangan orang2 itu, bagaimana keluarga Lie tidak mau menyerah ?”

Secara singkat, diceritakan pula kejadian2 yang belum lama terjadi.

Hati Jen Pek Coan semakin terkejut, dua keluarga besar dari empat datuk persilatan disaat itu, yaitu keluarga Kang dari daerah Kanglam, keluarga Lie dari daerah utara telah mengalami kehancuran.

Kang Sang Fun sudah mati ! Lie Kong Tie menjadi tawanan musuh.

Maka dua datuk dari dua keluarga besar tokoh rimba persilatan yang ternama mulai kucar kacir.

Begitu hebatkah ilmu kepandaian Lengcu berbaju Hijau? Begitu hebat pulakah ilmu kepandaian lengcu berbaju hitam ?

Dengan munculnya lengcu berbaju hitam dan lengcu berbaju hijau membuktikan mereka hanya pion2 terdepan, dibelakang mereka masih ada yang memegang peranan, siapakah dalang dibelakang layar itu?

Ketua Perintah Maut ! Siapa yang mengepalai rombongan baru ini ?

Goan Tian Hoat sedang mengasah otak, memikirkan ilmu kepandaian Lie Kong Tie yang hebat.

Lie Kong Tie adalah pemimpin dari keluarga besar Lie didaerah utara, sebagai salah satu dari empat datuk rimba persilatan disaat itu, ilmu kepandaiannya belum pernah mendapat tandingan, sulit untuk mengalahkannya, pengalamannya juga luas, tidak mudah diracuni.

Karena itu, siapa yang bisa menawan Lie Kong Tie?

Kalau didalam kehancuran keluarga Kang terdapat musuh dalam selimut, Kang Puh Cing yang berkhianat kepada keluarga sendiri, mungkinkah didalam keluarga Lie tidak ada pengkhianat pula?

Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat sedang memikir2 kemisteriusan itu.

Pintu kamar yang berada dibagian sebelah kiri terbuka, disana tampil seorang sastrawan berbaju putih, dibelakang sastrawan itu mengintil pelayannya Ce Mei, Ce Mei masih membawa buli2 putih.

Mengetahui kepada tuan penolongnya, cepat- cepat Kuo Se Fen menyongsong menyambut memberi hormat dan berkata:

“Terima kasih kepada bantuan kongcu. Terima kasih kepada bantuan kongcu yang sudah menyembuhkan Kang Han Cing hiantit. Tadi, aku banyak kesilafan, maafkan kesalahanku."

Sastrawan berbaju putih itu tersenyum kecil, membalas hormat dan berkata.

“Sama2."

Disaat Kuo Se Fen menempur sastrawan berbaju putih ini, orang hanya menggunakan sebelah tangannya melawan, hanya tampak dari samping, tidak bisa melihat tegas wajahnya.

Kini mereka berhadap2an, Kuo Se Fen memperhatikan bentuk raut dan wajah si baju putih itu.

***

Bab 12

UMURNYA belum cukup dua puluh tahun, mukanya putih, bibirnya merah, sangat cantik dan menarik, apalagi dia mengenakan pakaian putih, semakin membawa suatu perasaan yang tidak mudah dihilangkan.

Disaat itu, Kuo Se Fen hampir lupa kepada diri sendiri. Hampir ia tidak percaya sastrawan yang begini muda, memiliki ilmu yang luar biasa hebat !

Tentunya murid keturunan jago silat super sakti tanpa tandingan.

“Bisakah kami mengetahui gelar nama dan sebutan kongcu yang mulia ?" bertanya Kuo Se Fen. Tiba2 selembar wajah kongcu berbaju putih itu menjadi merah, ia berkata :

“Namaku Tong Jie Peng."

Sikap si-sastrawan berbaju putih sangat angkuh dan agung, tapi wajahnya bisa bersemu dadu, manakala ia membicarakan sesuatu.

Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat juga menghaturkan rasa terima kasih mereka.

Sastrawan berbaju putih Tong Jie Peng membalas hormat itu, tersenyum sebentar baru ia berkata:

“Maafkan atas kelancanganku tadi yang sudah menotok jiwie berdua."

Goan Thian Hoat bertanya :

“Bagaimana keadaan saudara Kang Han Cing?" Sastrawan berbaju putih itu menjawab :

“Kang jie-kongcu menderita racun yang dalam, beruntung racun2 itu sudah terusir pergi. Hanya kondisi badannya masih lemah, terlalu lama dia menderita, kini sudah kupercepat peredaran jalan darahnya, tapi harus membutuhkan waktu istirahat yang cukup. "

Berkata sampai disini, ia mengambil buli2 arak dan diserahkan kepada Kuo Se Fen dan berkata :

“Inilah obat Suat-ci-tan Tian Hung totiang, betul2 obat mujijat, obat ini sangat dibutuhkan oleh Kang jie-kongcu, dengan bantuan obat2, kukira Kang-jie-kongcu bisa sembuh. Didalamnya berisi seratus duapuluh butir, tiap kali makan sepuluh butir, satu hari tiga kali. Mungkin didalam empat hari ia bisa sembuh seperti sedia kala.”

Kuo Se Fen menerima buli2 arak putih itu, berkata :

“Obat Swat-ci-tan adalah milik Tian Hung totiang, bagaimana. "

Tong Jie Peng berkata :

“Aku sudah menyuruh Ce Mei memberikan pesan kata2 kepadanya, katakan saja aku yang mengambil, ia tidak berani banyak cingcong."

Suara ini menandakan betapa tinggi hatinya si sastrawan berbaju putih.

Kuo Se Fen tidak mengetahui asal-usul Tong Jie Peng, hanya kesannya kepada orang ini terlalu agung. Apa yang diucapkan tidak boleh dibantah.

“Baiklah." berkata Kuo Se Fen. “Akan kujaga baik2 Kang Han Cing."

Tong Jie Peng berkata lagi :

“Tadi, jalan darah tidur Kang-jie kongcu sudah kutotok, ia akan siuman besok pagi sebelum matahari terbit, tolong saja sampaikan salamku."

Sesudah itu ia memberi hormat dan meninggalkan tempat itu. Diikuti oleh Ce Mei.

Kuo Se Fen, Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat mengantar sampai kedepan.

Sehingga sampai dipintu depan Tong Jie Peng membalikan kepala, memandang ke-arah ketiga orang itu dan berkata: “Keadaan rimba persilatan sudah jauh berubah, adanya penyergapan2 yang teratur itu membuktikan betapa bagusnya rencana mereka, kuharap saja Cong piauw-touw bisa ber-hati2."

Sepintas lalu, Tong Jie Peng seperti tidak berpengalaman kang-ouw yang luas. Disaat Kuo Se Fen bertanya nama dan gelar pemuda itu, ia tidak menjawab, wajahnya berubah merah kemalu- maluan. Disaat dikala ia memberi petuah, sifatnya sangat gagah, suatu bukti kalau ia mempunyai pengalaman luas.

Cepat2 Kuo Se Fen memberi hormat dan berkata :

“Nasehatmu akan kami ingat baik2."

Mengajak Ce Mei, Tong Jie Peng meninggalkan tempat itu.

Mengantarkan kepergian Tong Jie Peng dan Ce Mei, Kuo Se Fen menambah pengalaman baru, pemuda berbaju putih yang misterius, ilmu kepandaiannya yang tidak bisa diukur, asal usulnya yang penuh rahasia.

Hanya didalam beberapa waktu saja, dia telah menemukan dua jago muda yang tiada tara.

Orang pertama adalah putra Lie Kong Tie yang bernama Lie Wi Neng, ilmu kepandaian jago muda itu begitu hebat, sulit dijejaki.

Sebagai seorang ketua partai, Kuo Se Fen masih belum bisa menandingi Lie Wi Neng.

Tokoh kedua adalah Kang Han Cing, walau ia sudah lama berkenalan dengan keluarga Kang, tapi belum diketahui kalau Kang Han Cing itu memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Hanya memberi beberapa petunjuk kepada Goan Tian Hoat, dia berhasil memecahkan ilmu kipas Lie Wi Neng.

Orang berikutnya adalah Tong Jie Peng, umur Tong Jie Peng tidak lebih tua dari Lie Wi Neng dan Kang Han Cing, tapi ilmu kepandaiannya berada diatas dua tokoh yang kita sebut lebih dahulu.

Ketiga anak muda ini adalah tokoh2 silat kelas satu yang pernah dijumpai olehnya.

Betul2 generasi muda jaya !

Berpikir sampai disini, bila dibayangkan dan dibandingkan dengan keadaan dirinya yang sudah tua, Kuo Se Fen menghela napas.

Jen Pek Coan selalu mendamping Kang toasuheng, dia juga merasakan betapa lunturnya jago2 tua sebangsa mereka, sudah waktunya menyerahkan kekuasaan kepada generasi yang lebih muda.

Ter-batuk2 sebentar, Jen Pek Coan berkata : “Tong Jie Peng tadi seperti menganjurkan agar

kita mengundurkan diri dari kancah kekalutan didalam rimba persilatan."

Kuo Se Fen menoleh kearah sang sute dan berkata :

“Ya. Petuahnya itu cukup beralasan. Sudah kubayangkan selama kita membuka perusahaan Hai-yang-piauw-kiok, selama sepuluh tahun, belum pernah menemukan kegagalan, bukan karena kita memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, hanya karena kita mengandalkan bantuan2 dari para sahabat rimba persilatan. Maka bisa dipertahankan keadaan sampai disaat ini. Kalau melihat ilmu kepandaian orang2 yang bermunculan, betul2 mengerikan. Ilmu silat kita tidak ada artinya."

Jen Pek Coan bisa memaklumi apa yang dimaksud oleh sang toasuheng, maka ia bertanya :

“Menurut pandangan suheng, bagaimanakah kita harus menghadapi soal ini?"

Kuo Se Fen berkata :

“Kekalutan rimba persilatan samar2 mulai pecah, empat datuk persilatan, dua diantaranya sudah mulai rontok. Keluarga Kang hancur, keluarga Lie ditangkap orang. Sesudah selesai urusan pengobatan Kang jikongcu, aku ada niatan untuk membubarkan perusahaan piauwki kita. Agar kita tidak terpecah belah, kita tidak menimbulkan iri hati yang bukan2. Apa lagi mengingat kekuatan lengcu Panji Hitam, tidak mungkin mereka mau menyudahi perkara ini, lebih baik kita menyatukan kekuatan, membikin persiapan untuk menghadapi mereka !"

Jen Pek Coan berkata :

“Apa yang toasuheng kemukakan memang masuk diakal, sayang urusan sudah berkembang seperti ini, lengcu berbaju hitam telah menyatroni kita, mungkinkah Hai-yang-pay menyerah begitu saja ?"

Kuo Se Fen berkata : “Hai yang-pay belum pernah takut kepada orang. Selama sepuluh tahun, pernahkah kita takut, atau gentar? Yang jelas, musuh2 berada di tempat gelap, kita berada ditempat terang. Musuh bisa mencari kita, kita tidak bisa menemukan jejaknya. Karena itu, kita harus membubarkan perusahaan piauwki kita, dan menggelapkan diri, sesudah itu kita berkutet melawan Perintah Maut. Apalagi mengingat keadaan keluarga Kang yang sudah terjatuh ke tangan musuh walaupun Kang Han Cing sudah bebas dari keracunan. Hanya kekuatan seorang, kukira belum cukup, dengan ditutupnya perusahan kita, kita bisa menggabungkan diri, memberi bantuan yang se- besar2nya. Membikin bersih musuh, yang lebih penting masih ada dua urusan lagi. "

“Dua urusan penting apa?" bertanya Jen Pek Coan.

Kuo Se Fen menengadahkan kepalanya ke langit, perlahan ia berkata :

“Urusan penting yang pertama adalah mencari jejak orang yang mendalangi lengcu berbaju hitam, siapakah orang yang menjadi pemimpin komplotan jahat itu ? Kita harus bisa membeberkan rahasianya, memberitahu kepada rimba persilatan.”

“Urusan penting yang kedua?" bertanya lagi Jen Pek Coan.

Wajah Kuo Se Fen semakin tegang, kedua tangannya di-kepal2kan, dengan suara geram ia berkata perlahan : “Kita harus bisa mencari tahu siapa yang menyebabkan kematian Kang Sang Fung.”

“Aaaa….." Jen Pek Coan berteriak. “Maksud toa suheng, Kang Sang Fung mati dianiaya orang?"

“Tidak salah," Kuo Se Fen menganggukkan kepala. “Sedari aku pergi ke Kim-lin dahulu, aku sudah menaruh banyak curiga kematian Kang Sang Fung sangat misterius. Sesudah itu, kedatangan Kang Hang Cing ke tempat kita sudah menambah kecurigaanku. Dan membuat aku menjadi pasti, disusul dengan kejadian yang menimpa keluarga Lie. Keluarga besar Kang hancur, kini kemalangan menyusul pada keluarga Lie, tidak bisa disangkal lagi, tentu ada satu kekuatan yang hendak menghancurkan empat datuk persilatan."

“Oh. "

“Ingat," berkata Kuo Se Fen. “Urusan ini hanya diketahui oleh kita berdua, jangan sampai diketahui oleh Kang Han Cing."

“Aku tahu."

Mereka balik keruang dalam, disana mayat kelima orang berbaju hitam itu sudah meleleh mencair.

Goan Tian Hoat berdiri disamping dengan tangan diturunkan kebawah.

Kuo Se Fen memandang kearah Goan Tian Hoat, mengkerutkan alis dan menegur :

“Hei, bilakah kau mempelajari ilmu hitam ?

Menghancurkan mayat2 seperti ini ?” Goan Tian Hoat tertegun sebentar, dengan hormat ia menjawab:

“Bukan teecu. Disaat teecu hendak mengebumikan jenazah2 ini, tiba2 saja merasa bau busuk, daging2 itu sudah mencair, per-lahan2 menyusut.”

Jen Pek Coan berkata :

“Kukira gadis yang bernama Ce Mei itu yang mengerjakannya. Sukur sajalah, ia tidak membikin susah orang."

Kuo Se Fen mengurut jenggot dan berkata :

“Ce Mei hanya seorang pelayan, tapi ilmu kepandaiannya sudah jauh diatas kita, betul2 majikan yang misterius."

Jen Pek Coan menyalakan pipa bakonya disedotnya beberapa kali, memandang ke-arah Goan Tian Hoat dan bertanya :

“Bagaimana keadaan Kang Han Cing ?” Goan Tian Hoat berkata :

“Ia masih tidur nyenyak."

“Apa betul racunnya sudah dipunahkan ?" “Tentu saja sudah dipunahkan." jawab Kuo Se

Fen tanpa ragu2. Dia bisa menduga hasilnya.

Dengan heran Jen Pek Coan bertanya :

“Dengan ilmu ketabiban Tian Hung totiang yang luar biasa, juga tidak mempunyai pegangan kuat untuk menyembuhkan racun Kang Han Cing. Dengan cara bagaimana kongcu berbaju putih yang bernama Tong Jie Peng itu bisa menyembuhkannya secara cepat?"

Kuo Se Fen berkata :

“Lupakah kepada ceritera si Ce Mei, bahwa obat yang dibawa oleh majikannya berasal dari daerah Tong-hay ?"

“Aku tahu. Di daerah Tong-hay, kecuali sepasang manusia ajaib, mana ada orang lain lagi yang memiliki obat itu ?"

Kuo Se Fen mengurut jenggot dan berkata : “Kecuali obat Ban-ing-hui-tian-tan, mana ada

obat lain yang bisa menyembuhkan racun Kang

Han Cing?"

“Obat Ban-ing-hui-tian-tan ?" berseru Jen Pek Coan. “Tidak mungkin! Sepasang manusia ajaib dari daerah Tong-hay hanyalah merupakan desas- desus orang saja, sesudah berselang empat puluh tahun siapa yang bisa menemuinya, apalagi obat mujarab yang seperti obat Ban-ing-hui tian-tan, dimana dia bisa mendapatkannya ?”

Kuo Se Fen ter-senyum2, dia berkata :

“Orang berbaju putih yang bernama Tong Jie Peng tadi, memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, tiada satu yang melekat pada tubuhnya yang istimewa. Kalau saja dugaanku tidak salah, dia mempunyai hubungan erat dengan sepasang manusia ajaib dari daerah Tong-hay."

Baru sekarang Jen Pek Coan menganggukkan kepala, menyetujui pendapat sang toa suheng, dia berkata : “Aku tahu, asal-usulnya Tong Jie Peng tadi bukan asal-usul biasa. ”

Kuo Se Fen sudah menoleh kearah Goan Tian Hoat, berkata kepada sang murid :

“Waktu sudah cukup malam. Pergilah istirahat."

“Baik." berkata Goan Tian Hoat mengiyakan perintah itu. Kemudian seperti terpikir sesuatu, ia berkata :

“Teecu terpikir sesuatu, bisakah teecu beritahu?"

Kuo Se Fen menoleh kearah murid itu, ia bertanya :

“Apa yang kau pikirkan ?"

“Menurut cerita suhu tadi, terjadi pertukaran Datuk persilatan Lie Kong Tie yang asli dan yang palsu, teecu mempunyai pandangan yang lain, bolehkah teecu mengutarakan pendapat itu ?”

“Katakanlah," berkata Kuo Se Fen, “Bagaimana kesanmu kepada kejadian itu ?"

Goan Tian Hoat berkata :

“Seharusnya, Datuk persilatan Lie Kong Tie yang sedang istirahat ditempat ini adalah Datuk persilatan yang asli, tapi lengcu berbaju hijau sengaja mengatakan bahwa orang itu adalah Lie Kong Tie palsu kukira adalah suatu tipu muslihat yang luar biasa. "

Kuo Se Fen bisa memaklumi betapa cerdiknya murid ini, ia lebih percaya kepada keterangan Goan Tian Hoat, mendapat keterangan itu, ia tertegun sebentar dan bertanya :

“Maksudmu ?"

Goan Tian Hoat berkata lagi :

“Sebagai salah satu dari empat Datuk persilatan, kedudukan Lie Kong Tie sangat tinggi, kedudukan Datuk persilatan Lie Kong Tie bukan kedudukan biasa, tokh masih bisa masuk kedalam perangkap jebakan golongan Panji Hitam dan Panji Hijau itu, terbukti musuh mempunyai dasar-dasar kekuatan yang hebat, tentunya sudah menyembunyikan mata2 didalam keluarga Lie itu, kalau tidak, tidak mungkin Lie Kong Tie bisa terjerumus masuk.”

Pasti salah satu orang kepercayaan Lie Kong Tie yang berkhianat !

Kuo Se Fen menganggukkan kepala berkata : “Penilaianmu benar."

Goan Tian Hoat berkata lagi:

“Datuk persilatan Lie Kong Tie jarang keluar rumah, sesudah menderita keracunan, dia mendapat penjagaan yang ketat, datang ke kelenteng Pek-yun-koan ini untuk meminta pengobatan, disampingnya masih ada sang putra yang lihai Lie Wi Neng. Juga ada empat jendralnya yang lihai, betapa kuatpun musuh, tidak mungkin bisa menyelundup masuk, tidak mudah untuk menyolongnya, dan menggantikan dengan seorang manusia palsu. Hal ini betul2 tidak mungkin terjadi." Kuo Se Fen mengurut2 jenggot dan berkata :

“Tepat! Tapi Lie kongcu tadi sudah mencopot wajah sang Datuk persilatan Lie Kong Tie, betul terdapat selembar kedok tipis, dan itulah Lie Kong Tie palsu, bentuk dedak perawakan Lie Kong Tie palsu dan Lie Kong Tie asli memang sama, tapi orang itu bukan Lie Kong Tie."

“Menurut dugaan teecu," berkata Goan Tian Hoat. “Orang itu adalah Lie Kong Tie yang asli."

“Alasanmu ?"

Goan Tian Hoat mengemukakan alasannya :

“Lie Kong Tie terjaga ketat oleh jago2 kelas satu, siapakah yang bisa menukarnya ? Dimisalkan betul ada seseorang musuh dalam selimut yang berani berlaku seperti itu, bagaimana menyeret tubuh Lie Kong Tie yang cukup besar ?"

“Aku tidak mengerti." berkata Jen Pek Coan. Kuo Se Fen berkata lagi :

“Rimba persilatan telah muncul satu kekuatan baru, satu kekuatan baru yang mau menghapuskan kekuatan2 empat Datuk rimba persilatan, karena itu rencana mereka yang pertama adalah membunuh mati Datuk Kang Sang Fung, rencana kedua membunuh Datuk Lie Kong Tie, Lie Kong Tie sudah menderita luka parah, keracunan, karena itu ia istirahat dikelenteng ini tapi mereka belum puas, mereka telah menyiapkan satu rencana tipu muslihat yang lihai, mereka mencari seseorang yang mempunyai dedak perawakan yang seperti Lie Kong Tie, diubahnya wajah itu seperti betul2  Lie  Kong Tie, disembunyikannya lebih dahulu. "

“Kemudian.

“Karena mereka mempunyai banyak kaki tangan didalam keluarga besar Datuk Li Kong Tie, karena itu pada wajah Datuk persilatan Lie Kong Tie yang asli diubah menjadi wajah lain, kemudian ditutupnya dengan selembar kedok tipis Lie Kong Tie, jadi Datuk persilatan Lie Kong Ti yang sudah sakit itu menjadi bulan2an orang, diatas wajahnya terdapat wajah lain, diatas wajah itu terdapat wajah Lie Kong Tie pula, mereka hendak menyomot Lie Kong Tie, tapi tidak berdaya, sengaja mengatakan bahwa Lie Kong Tie itu palsu. Lie Wi Neng masuk perangkap, dia mencopot kedok kulit tipis itu, maka terpetalah satu wajah, satu wajah yang bukan wajah asli Lie Kong Tie, tapi wajah itu adalah wajah buatan, kalau saja Lie Wi Neng bisa memperhatikannya betul-betul, wajah itu masih bisa disingkap pula, dibalik wajah itu masih terdapat wajah asli Lie Kong Tie, tapi Lie Wi Neng dalam keadaan bingung, bingung karena menghadapi situasi yang seperti ini, bingung menghadapi penyakit ayahnya yang tidak bisa disembuhkan, akhirnya ia tertipu menyerahkan sang ayah kepada musuh begitu saja. "

“Tipu muslihat lihay !"

“Ya! Tipu muslihat lihay ! Maka Lie Kong Tie yang asli dikatakan palsu, diserahkan kepada musuh. Jatuhlah ke tangan komplotan orang jahat." “Yang benar dikatakan yang palsu ! Yang palsu itu adalah manusia aslinya !”

Goan Tian Hoat masih nyerocos terus :

“Lie Wi Neng yang masih berada didalam kesibukan tentu saja mudah terjerembab, cepat2 ia balik kembali, menyingkap kedok kulit tipis, betul2 bukan wajah ayahnya getaran jiwanya bergelora, tanpa periksa kembali dibiarkan saja musuh menggotong ayah sendiri. Dia menyerahkan ayahnya ke dalam komplotan jahat. Oh Maka

menyusul tragedi keluarga Datuk Kang Sang Fung, maka Datuk Lie Kong Ti juga jatuh kedalam tangan musuh."

***

Bab 13

“SESUDAH kematian Datuk Kang Sang Fung sesudah tertangkapnya Datuk Lie Kong Tie, sebagian besar dari dunia persilatan sudah berada dibawah kekuasaan musuh."

Jen Pek Coan berkata : “Toa suheng, sesudah kita mengetahui rencana busuk ini, mungkinkah bisa berpeluk tangan ?"

Kuo Se Fen berkata :

“Sudah terlambat ! Ini waktu, sudah tidak ada gerakan musuh. Komplotan jahat itu sudah pergi jauh."

Jen Pek Coan berkata : “Lie Wi Neng kongcu telah menerima syarat- syarat yang ditetapkan, bagaimana kita harus memberitahu kepadanya agar ia bisa ber-siap2 ?"

Kuo Se Fen meng-geleng2kan kepala dan berkata :

“Kecuali kita bisa membentangkan fakta-fakta didepannya, hanya dugaan2 seperti ini, kita tidak mempunyai bukti kuat. Siapa yang harus kita beritahu, siapa musuh yang bersembunyi di balik selimut datuk keluarga Lie ? Lebih baik kita diam2 agar musuh tidak mengetahui rencana kita dan tidak lebih bersiap siaga."

“Langkah apa yang bisa kita ambil?"

“Mari kita temukan Tian Hung totiang beri sedikit kisikan kepadanya, dengan hubungan baik Tian Hung totiang dan datuk Lie Kong Tie, kita serahkan pada Tian Hung totiang yang memberi tahu saja, sedang keluarga Datuk Lie Kong Tie tidak mempunyai hubungan baik dengan Hai-yang pay."

Demikian persepakatan itu diputuskan.

Suasana kelenteng Pek-yun-kuan sudah tenang kembali.

Pada hari keduanya ......

Kuo Se Fen sudah bangun dari tempat tidurnya, sesudah ber-kemas2, dan memasuki kamar Kang Han Cing, Kang Han Cing masih mengatupkan kedua mata, duduk bersila mengatur jalan pernapasan. Goan Tian Hoat menyongsong kedatangan sang guru dan memberi hormat :

“Teecu Goan Tian Hoat mengucapkan selamat pagi kepada suhu."

“Bagaimana keadaan Kang Han Cing?" bertanya Kuo Se Fen.

Goan Tian Hoat menjawab pertanyaan sang guru :

“Pagi-pagi sudah bangun, sudah diberi makan obat, kini sedang mengatur peredaran jalan darahnya."

Kuo Se Fen meng-angguk2an kepala, dan ia berjalan meninggalkan ruangan itu.

Racun jahat yang mengeram didalam tubuh Kang Han Cing per-lahan2 mereda, selama empat hari beruntun, dia telah memakan obat Swat-ci- tan, harus disertai dengan penyempurnaan tenaga dalam, mengusir sisa2 racun yang ada.

Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan bermakan pagi, membiarkan Goan Tian Hoat menjaga Kang Han Cing dikamarnya.

Mereka masih menunggu kedatangan Tian Hung totiang.

Siang harinya, dua tosu kecil membawakan nampan, berkata kepada Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan :

“Para siecu silahkan minum." Kuo Se Fen bertanya : “Dimana kuancu kalian ? Apa masih repot ?" Seorang tosu kecil menjawab :

“Kuancu kami ada urusan penting, sudah turun gunung."

Kuo Se Fen tertegun. “Kapan kepergiannya ?" ia bertanya.

Tosu kecil itu menjawab :

“Kuancu pergi pada malam hari, karena ter- buru2, maka tidak bisa memberitahukan lagi, dikatakan agar para siecu tidak kuwatir, anggaplah seperti rumah sendiri. Tinggal disini tenang2.”

Hati Kuo Se Fen tergetar, ia berpikir sebentar, lalu bertanya :

“Orang2nya Datuk persilatan dari daerah utara Lie Kong Tie apa sudah berangkat semua ?"

Tosu kecil itu menganggukkan kepala menjawab

:

“Betul. Mereka sudah berangkat pergi semua.

Pagi2 sekali mereka meminta diri dan turun gunung."

Sesudah itu, tosu pelayan menganggukkan kepala meninggalkan mereka.

Empat hari berikutnya sedari kejadian tadi, kelenteng Pek-yun-kuan sudah sepi dan sunyi. Tiada gangguan lain.

Dan selama empat hari itu, Tian Hung totiang yang turun gunung juga tidak balik kembali. Kang Han Cing mendapat pengobatan dari sastrawan berbaju putih Tong Jie Peng, juga mendapat makan seratus duapuluh butir obat Swat-ci-tan, obat Swat-ci-tan adalah obat buatan Tian Hung totiang yang sangat mujarab, selama empat hari itu keadaan ber-angsur2 menjadi baik.

Tentu saja, obat Swat-ci-tan dihasilkan oleh Tian Hung totiang yang memakan jerih payahnya belasan tahun, tokh hanya mentelorkan duaratus empatpuluh butir, separuh jumlah ini telah dimakan oleh Kang Han Cing. Bagaimana ia tidak menjadi segar cepat?

Menurut cerita tokoh2 rimba persilatan, sebutir obat Swat-ci-tan saja cukup untuk menjaga kesehatan seumur hidup, penyakit tidak bisa dikambuhkan.

Memakan dua butir obat Swat-ci-tan, berarti memelihara kesehatan lebih kuat, rambut tetap hitam, tidak berubah. Selama tiga tahun, orang itu bertahan tetap seperti sediakala.

Orang yang melatih ilmu silat, kalau bisa mendapatkan hadiah dua butir obat Swat-ci-tan dari Tian Hung totiang, maka tenaga latihannya bertambah tiga tahun.

Obat Swat-ci-tan adalah obat pusaka Tian Hung totiang, lebih disayangi dari apapun juga.

Dimisalkan dia hendak memberi obat Swat-ci- tan kepada orang, orang itu pasti orang penting, atau orang yang terdekat. Tapi Kang Han Cing telah menelan habis setengah dari apa yang dihasilkan olehnya.

Tentu saja mendapat menyembuhan yang lebih cepat.

Tenaga Kang Han Cing yang sudah disusutkan oleh racun lunak itu pulih kembali.

Pada hari kelima.............

Disaat mereka melihat matahari terbit diufuk timur, disaat bunga2 Lam-hoa memancarkan bau semerbak yang menyedapkan, disaat angin berselir bertiup membawa bau harum daerah pegunungan itu, pemandangan daerah kelenteng Pek-yun-kuan semakin indah.

Kuo Se Fen menenggak secangkir teh hangat dipenepian.

Jen Pek Coan menyedot pipa rokoknya berulang kali, menyaksikan keindahan panorama kelenteng Pek-yun kuan.

Mereka sedang ber-cakap2.

Disaat itu Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat menghampiri mereka.

“Selamat pagi." berkata Kang Han Cing.

Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan menolehkan kepala, wajah Kang Han Cing yang tadinya pucat pasi sudah merah kembali, sinar matanya mencorong bercahaya. Telah terjadi perobahan yang luar biasa. “Ha, ha....." Jen Pek Coan tertawa. “Hanya dalam waktu yang singkat, kau telah berhasil sembuh dari penyakit yang terberat."

Kang Han Cing berkata :

“Boanpwee mendapat menyembuhkan yang hebat berkat obat yang mujarab, juga atas hasil bantuan2 dari para cianpwee, dengan ini boanpwe menghaturkan banyak terima kasih."

Dengan heran Kuo Se Fen bertanya :

“Apa kau belum tahu, kalau obat yang terpenting adalah obat pemberian dari sastrawan berbaju putih yang bernama Tong Jie Peng itu ? Dari daerah Tong-hay dia meminta obat, diberi makannya kepadamu baru dibantu dengan obat Tian Hung totiang. "

Kang Han Cing menyipitkan matanya panjang2, dia berkata :

“Sastrawan berbaju putih yang bernama Tong Jie Peng ? Dari daerah Tong-hay meminta obat ?”

Kang Han Cing tidak kenal kepada Tong Jie Peng, tentu saja dia heran.

Kuo Se Fen mengelus jenggot dan berkata :

“Ya. Tong Jie Peng itu adalah sastrawan berbaju putih yang pernah kau temui di telaga Koa-cao, dialah si sastrawan berbaju putih diperahu."

Kang Han Cing semakin heran, dia bertanya : “Dia   ?   Boanpwee   tidak   kenal   mengenal,

bagaimana    begitu    menyusahkan    diri    jauh2

memberi pertolongan ?” Jen Pek Coan menyedot asap pipanya dan melepus panjang2, baru dia berkata :

“Menurut perkiraanku, hubungan keluarga kalian cukup rapat."

Kang Han Cing menganggukkan kepala, suatu tanda ia bisa mengerti akan penjelasan itu. Sebagai salah satu dari Datuk persilatan Kang Sang Fun, ayah Kang Han Cing adalah tokoh silat yang disegani, pengalamannya banyak, pergaulannya luas, mungkin juga salah satu dari sahabat2nya dikala itu menghasilkan jago muda yang seperti Tong Jie Peng.

Jen Pek Coan berkata :

“Tian Hung totiang kini sedang turun gunung, entah urusan apa yang sedang dikerjakan, mengapa lama sekali ?"

Kuo Se Fen berkata :

“Racun yang mengeram dalam tubuh Kang Han Cing sutit sudah dapat diusir keluar, kukira kita sudah boleh turun gunung, tidak perlu menunggu Tian Hung totiang lagi."

Menoleh kearah Kang Han Cing, ia berkata lagi :

“Racun2 yang mengganggu tenaga dalammu sudah sembuh, tapi masih membutuhkan waktu untuk istirahat. Maksudku lebih baik kita balik ke perusahaan piauwki, disana tinggal untuk beberapa waktu, tunggu aku menyiapkan semua kekuatan2 Hai-yang-pai membantu hiante….”

Tidak menunggu sampai orang selesai bicara, Kang Han Cing menyelak, katanya : “Atas bantuan dan jasa2 para paman, sebelum dan sesudahnya disini Kang Han Cing mengucapkan banyak terima kasih. Bantuan itu sangat berharga. Yang diluar dugaan, saudaraku sendiri yang seperti Kang Puh Cing yang meracuni aku, dan dari berapa tanda2, lengcu panji hitam itu juga jelmaan Kang Puh Cing. Perbuatan ini adalah suatu perbuatan terkutuk. Mungkin pula didalam keadaan terpaksa. Inilah betul2 yang sangat memilukan hati. Kini racun yang mengeram di tubuhku sudah tiada, tenagaku juga sudah pulih kembali, ingin sekali segera pulang ke rumah. Atas kesetiaan para saudara dan paman2, sekali lagi Kang Han Cing mengucapkan terima kasih."

Kang Han Cing menolak untuk tinggal dan bersembunyi didalam perusahaan Hai yang- piauwki, ia hendak membongkar rahasia keluarganya, siapa yang membunuh sang ayah? Mengapa Kang Puh Cing bisa berbuat seperti itu ?

Kuo Se Fen ragu-ragu, tapi akhirnya ia berkata :

“Baiklah. Semua orang kangen kepada rumah, semua orang akan terkenang kepada kampung halaman. Kau hendak kembali ke Kang-lam, baik kita kawani kesana."

(Bersambung 7)