Perintah Maut Jilid 04

 
Jilid 04

“TOA LIT-ING COA KONG" atau cakar elang bertenaga besar, adalah jurus cengkeraman dari ilmu kepandaian tunggal Hay-yang pay yang ditakuti oleh kaum bulim, Jen Pek Coan dijuluki si tangan sakti, maka cengkeramannya mengandung angin pukulan yang luar biasa besarnya.

Si baju hitam tinggi besar dapat menyadari musuhnya ini tentu mempunyai tenaga sinkang yang tidak boleh dipandang enteng dan benar saja ia merasai adanya dorongan angin yang maha hebat dari cengkeraman musuhnya itu, maka ia tidak berani menangkis dengan kekerasan cepat ia menarik tangan kanan untuk menghindari cengkeraman lawan, kemudian tangan kirinya diulurkan memukul bagian atas lengan kanan lawannya.

Jen Pek Coan merendahkan tubuhnya sedikit dan menyelipkan pipa bako itu dipinggangnya kemudian tangan kirinya yang telah kosong itu diulurkannya untuk balas memukul serta melompat mundur. Si baju hitam tinggi besar itupun cepat melompat mundur untuk menghindari dirinya dari bahaya.

Kini saling berhadapan dan masing2 mengakui dalam hati bahwa baru pertama kali inilah mendapat lawan yang tangguh selama hidupnya.

“Jen jihiap, mengapa kau tidak menggunakan senjata ?" tanya si baju hitam tinggi besar itu dengan dingin.

“Dimanakah senjatamu ?" Jen Pek Coan balas tanya dengan dingin pula.

Si baju hitam tinggi besar itu lalu mengeluarkan sebuah kipas bertulang besi dari dalam baju dan ucapnya : “Inilah senjataku." Melihat senjata lawannya yang aneh itu, dalam hati Jen Pek Coan dapat menduga bahwa senjata lawannya itu tentu ada rahasianya, ini tidak boleh dipandang enteng pikirnya. Kemudian iapun mencabut pipa rokoknya pula serta ucapnya :

“Aku menggunakan ini.”

Setelah saling mempersilahkannya, mereka lalu bertempur dengan menggunakan senjata.

Setelah liwat belasan jurus si baju hitam yang bersenjata logam ungu itu dapat merasai bahwa ilmu kepandaian musuhnya ini ada di tingkat yang lebih rendah darinya maka dengan memandang enteng ia memperhebat serangannya untuk mendesak terus. Goloknya yang besar dan berat itu kini ia gerakan dengan sepenuhnya tenaganya hingga membawa angin yang menderu-deru saking cepatnya, nampak Hang Ka Han terdesak hebat dan ia hanya bisa mempertahankan serangan musuh dengan terus menerus mundurkan diri.

Melihat musuhnya terdesak hebat dan serangannya mendapat angin si baju hitam tertawa sinis, ia gerakan goloknya lebih cepat lagi untuk bisa merobohkan musuhnya, ia mengerahkan goloknya ke bagian yang berbahaya, hingga diri Hang Ka Han kini terkurung oleh bayangan putih dan terancam rengutan maut. Tubuhnya kian menjadi basah oleh keringat karena ia maklum bila gerakannya lambat niscaya jiwanya akan melayang maka ia pun mempercepat gerakannya dan mengeluarkan kepandaian yang dimiliki seluruhnya untuk bisa mempertahankan diri. “Hang lote serahkanlah ia padaku." dan berkelebat sebuah bayangan dan langsung menyerang bagian belakang tubuh si baju hitam itu. Diserang demikian hati si baju hitam itu menjadi panas dan marah, cepat ia putarkan tubuhnya sambil goloknya menyapu ke belakang dengan seluruh tenaganya, “Tranggg...” terdengar suara beradunya senjata yang amat keras dan ternyata kedua2nya masing2 merasa tangannya menjadi kesemutan dan sakit, mereka berbarengan melompat mundur tiga langkah.

Hang Ka Han mengetahui orang yang datang ini bukan lain adalah si piauwsu tua she Siang itu maka begitu mereka bergebrakan ia cepat mengundurkan diri dengan napas terengah-engah.

Siang Coan Cing adalah anak murid Sauw lim pay dan senjata yang digunakannya adalah sebuah toya besi yang sangat berat dan panjang. Begitu kedua senjata beradu hatinya diam2 menjadi terkejut, karena ia dapat menaksir betapa hebat senjata yang digunakan si baju hitam ini, paling sedikit mempunyai bobot berat limapuluh kilo keatas, sungguh ia tidak nyana, si baju hitam ini bisa menggerakan senjata yang sedemikian beratnya dengan cepat.

Sementara ia berpaling ke diri Hang Ka Han serta ucapannya, “Hang lote, dapat kau bantu kedua sutemu."

Tanpa me-nunggu2 Hang Ka Han cepat berlari pergi. “Tentu kau adalah si Ta hu Ciong, pemukul harimau Siang Coan Cing." tegur si baju hitam dengan ketawa dingin.

“Memang ! Tidak salah."

“Kaupun menjadi anak buahnya Hay-yang pay pula ?" kata si baju hitam dengan dingin pula.

“Ini bukan urusanmu." ejek Siang Coan Cing. “Ha ! Ha ! Kemauanmu sendiri hendak membela

Hai yang pay dan nanti janganlah menyalahkanku." Sambil mengucapkan demikian dengan 'Li pi Hoa san' atau jurus membelah gunung Hoa San, dengan tenaga penuh si baju hitam membacokkan goloknya kearah kepala Siang Coan Cing.

“Bagus," bentak Siang Coan Cing dan cepat ia palangkan toyanya keatas, memapak datangnya bacokan golok musuhnya dan “Trang….” sekali lagi senjata mereka beradu keras, telapak tangan Siang Coan Cing terasa panas, kedua lengannya kesemutan, kakinya menginjak pecah belasan genting rumah.

Jantung si baju hitampun bergetar hebat, angin pukulan yang amat dahsyat itu mendorong tubuhnya hingga mundur setengah langkah.

Diam2 hati mereka masing2 mengagumi kehebatan lawannya, membuat mereka tidak berani saling pandang enteng, karena maklum ini akan membawa maut bagi dirinya. Setelah itu mereka bertempur pula dengan seru, masing- masing harus keluarkan kepandaiannya untuk bisa menandingi keunggulan lawan.

Semula Cau Yun Tai dan Yan Yuh Sing telah terdesak hebat karena dikeroyok oleh enam orang berseragam hitam, untunglah Hang Ka Han datang membantu, hingga mereka masing2 hanya harus melawan dua orang dan tidak dibuat terlalu repot, walaupun sulit untuk bisa merobohkan musuhnya, tapi keadaan tidak begitu membahayakan, dan cukup untuk mereka bertahan.

Kini hanya tinggal si rajawali bersayap emas Kuo Se Fen yang masih tetap tenang berdiri diserambi rumah dengan si lengcu panji hitam yang berdiri diatas genting masih belum turun tangan, terhadap pertempuran yang sedang terjadi sedikitpun mereka tidak menghiraukannya, bagaikan dua patung yang saling berhadapan di medan pertempuran.

Sementara dari halaman muka, terus menerus terdengar suara bentrokan senjata yang kian menghebat. Ini menandakan bahwa para piauwsu yang berada dibarisan depanpun sedang menghadapi serangan yang hebat dari gerombolan berseragam hitam, maka tidak mungkinlah bagi mereka untuk membantu dibagian halaman dalam. Sedangkan bagian halaman dalam terdapat kekuatan inti dari gerombolan ini dan tentu saja yang berada didalam pun tak bisa membagi kekuatan untuk menolong keluar.

Melihat keadaan yang sangat menguatirkan ini, hati Kuo Se Fen menjadi sangat gelisah, ia maklum bahwa ini sungguh tidak menguntungkan bagi Hai yang pay.

“Kuo congpiauwto ! Tentu kau sudah dapat membayangkan apa akibat dari tindakanmu ini ?" tiba2 si lengcu baju hitam yang berdiri diatas genting mengeluarkan bentakan.

Mata Kuo Se Fen menjadi merah, tangannya memegangi golok Ya yi to dengan melotot sengit ia menjawab :

“Apakah akibatnya ?”

“Ha, Ha ! Kekuatan yang dimiliki oleh Hai yang pay hanya begitu saja apakah kau sampai hati melihat orang2 Hai yang pay jatuh terbunuh satu demi satu ?"

Hati Kuo Se Fen bergetar mendengar ucapan itu, tanyanya pula :

“Apakah kau masih ada bala bantuan ?"

“Ha, Ha ! Yang datang ini hanyalah regu kesatu. Regu kedua dan regu ketiga sebentar pun akan tiba. Kini aku beri peringatan terakhir, lebih baik kau bersedia menghambakan diri dibawah perintah panji hitam, kalau kau menurut peringatanku yang terakhir ini kau akan tetap diangkat sebagai ketua dari Hay yang pay dan orang2mu tetap selamat.”

Golongan panji hitam sedang pasang propaganda !

Mendengar kata2 itu, hati Kuo Se Fen jadi tambah sengit, bentaknya marah. “Diam ! Kau anggap diriku apa? Kini belum tiba waktunya untuk kau membual, siapa yang kalah atau menang belum bisa ditentukan. Kalau memang pihakku yang jatuh kalah, aku tetap akan bertempur sampai titik darah yang terakhir dan jangan kau mimpi aku akan tunduk menghamba dibawah perintah panji hitam yang terkutuk ini. Kalau memang kau mempunyai kepandaian, marilah kita bertempur sampai ada yang binasa."

“Hm ! Hanya dengan mengandalkan kepandaianmu belumlah pantas untuk bertanding denganku. Ha, Ha ! Sayang kau tetap mau memilih jalan yang ke akherat, baiklah kau tunggulah ajalmu sebentar.”

Hati Kuo Se Fen bergejolak panas, sebenarnya ia berniat melompat keatas genting untuk menerjang, tapi terpaksa ia harus urungkan niatnya itu, ia sadar dirinya harus bisa menahan perasaan panasnya untuk tetap berjaga diserambi rumah karena ia kuatir kalau sampai benar2 datang bala bantuan musuh, belum tentu samsutenya yang sedang terluka serta muridnya Goan Tian Hoat bisa menahannya, bukankah ini akan membahayakan diri Kang Han Cing yang sedang menderita lumpuh

?

Melihat keadaan yang sangat genting hatinya kian gelisah dan kuatir, kalau bala bantuan musuh datang tiba ini tentu lebih membahayakan Hai yang pay, dan boleh jadi Hai yang pay akan musnah berantakan. Nampak olehnya Jen Pek Coan sedang bertempur dengan si baju hitam tinggi besar itu, keadaannya belumlah bisa dilihat siapa yang berada diatas angin karena ilmu kepandaian mereka seimbang.

Siang Coan Cing masih bertempur dengan seru, ia menggunakan jurus Ta hu kue hoat dari Sauw lim pay menghadapi si golok ungu itu, karena senjata mereka masing-masing adalah senjata berat, hingga terdengar deruan angin kencang yang menggetarkan. Mereka saling mengeluarkan kemahirannya bergempur seru dari atas genting sampai turun kebawah tanah.

Hang Ka Han bertiga masih bisa paksakan diri untuk bertahan, tapi dikeroyok oleh dua orang masing2 menjadi kualahan, boleh dikatakan mereka bertempur dengan mengadu jiwa saja.

Walaupun situasi pertempuran belum bisa menentukan siapa pihak yang menang tapi Kuo Se Fen dapat membayangkan bahwa pihaknya pasti akan kalah. Walaupun bala bantuan musuh tidak datang.

Sedang ia berpikir2, tiba2 terdengar dua pekikan panjang berdengung diudara !

Mendengar pekikan panjang yang menggema itu wajah Kuo Se Fen berobah, cepat ia mengangkat kepalanya, dan benar saja nampak olehnya diatas genting kini tambah pula dua orang yang berseragam hitam.

Kedua orang berbaju hitam itu, berdiri satu didepan dan seorang lagi dibelakang, orang yang didepan tubuhnya agak pendekan, sepasang tangannya menggenggam Ca liong pang atau pentungan naga, dan orang yang berdiri dibelakang adalah seorang yang bertubuh tinggi dan kurus, tangannya memegang sebuah pedang panjang.

Bersamaan dengan munculnya dua orang itu diatas genting bagian timur dan barat bermunculan pula tujuh delapan orang berseragam hitam yang semua membawa senjata.

Orang yang bertubuh agak pendek itu kemudian menjura memberi hormat pada si lengcu berbaju hitam serta berkata :

“Maafkan hamba datang terlambat. Entah lengcu akan perintahkan apa ?"

Si lengcu berbaju hitam itu mengibaskan tangannya, berkata dengan suara dingin :

“Tangkap Kuo Se Fen !”

Si baju hitam bertubuh pendek tiba2 membalikkan tubuhnya, ia memandang tajam diri Kuo Se Fen sejenak, kemudian ucapnya rendah :

“Sute, mari kita turun !"

Dua bayangan hitam mencelat turun bagaikan burung elang hendak menyambar anak ayam, dengan kecepatan yang tinggi mereka menuju ke serambi rumah. Diikuti oleh ketujuh delapan orang baju hitam lainnya, melompat turun ke tengah2 pertempuran membantu mengeroyok orang2 Hai yang pay.

Saat itu Kuo Se Fen telah siap melangkah ke depan menghadapi serangan dua orang baju hitam yang mencelat menyerang kearahnya dari atas genting. “Aku akan adu jiwa dengan kalian jahanam !” bentaknya sengit. Dengan melintangi goloknya didepan dada bersiap-siap menempuh jalan maut.

Kemarahan Kuo Se Fen telah memuncak, hingga membuat ia tidak segan mengeluarkan jurus2 berbahaya untuk berhadapan dengan dua orang baju hitam itu.

Dua orang berbaju hitam bertubuh agak pendek dan tinggi menghadapi musuh tangguh itu tidak berani memandang enteng, mereka cepat membagi diri dikanan kiri untuk mengempung Kuo Se Fen. Kemudian mereka menyerang dengan ilmu kepandaian yang tidak kalah hebatnya dengan ilmu silat Kuo Se Fen.

Pertempuran berlangsung dengan serunya, masing-masing terkurung oleh bayangan lingkaran putih dari senjata mereka, kian lama diri mereka lenyap dalam gulungan putih, karena makin mempercepat gerakannya.

“Toasuheng, serahkan seorang padaku !” tiba- tiba Cu Siu Hu menerjang keluar dan langsung menuyukan pedang panjangnya ke diri si baju hitam bertubuh tinggi itu.

Si jangkung itu terpaksa menghentikan serangannya pada Kuo Se Fen, dengan cepat mengelak, dengan memutar tubuhnya lalu balas menyerang Cu Siu Hu. Menghadapi seorang lawan membuat Kuo Se Fen tidak begitu repot, kini ia lebih banyak menyerang daripada mengelak.

Dengan turunnya tujuh delapan orang musuh, membuat orang2 Hai yang pay terdesak hebat, keadaan mereka kian berbahaya, kini mereka hanya bisa menangkis dan mengelak saja.

Goan Tian Hoat yang berada di dalam kamar dapat mengintip keluar, hatinya merasa sangat gelisah dan kuatir. Melihat pertempuran- pertempuran yang sangat tidak menguntungkan pihaknya ini, ia bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpa Hai yang pay, sebelah tangannya menggenggam golok dan yang sebelah lagi memegang panah.

Ia berniat keluar untuk membantu, tapi ia kuatir, bila ia melakukannya akan membahayakan keselamatan Kang Han Cing yang harus dijaga. Kongcu kedua dari keluarga Kang itu sedang menderita sakit. Sebaliknya hatinya merasa tidak enak melihat para susiok dan saudara2 seperguruannya menghadapi bahaya.

Keadaan Goan Tian Hoat sungguh bagaikan semut diatas kuali panas, ia berdiri di balik pintu dengan perasaan sangat gelisah, entah apa yang harus dibuat. Sedang dalam keadaan serba salah, tiba2 dari atas udara ia mendengar suara bentakan orang yang sangat mendengungkan telinga. “Keledai dungu ! Benar saja kalian membuat gaduh disini !” dan baru saja suara bentak itu lenyap nampak dari atas udara berkelebat turun sesosok bayangan hitam, bagaikan seekor burung bango melayang turun, belum lagi tubuh bayangan itu memijak tanah kedua tangannya didorongkan kedepan dan “Buk !" dua orang baju hitam terpukul mental lebih dari satu tombak. Walaupun orang2 baju hitam dapat menyaksikan bahwa tenaga sinkang dari orang yang baru muncul ini sungguh luar biasa besarnya, tapi karena mereka merasa berjumlah banyak, hingga mereka tidak terlalu gentar, begitu orang itu menginjakan kakinya diatas tanah lantai sudah ada tiga empat orang mengurung.

Dengan ketawa mengejek, orang itu cepat mendorongkan tangan kirinya kedepan dan terdengarlah desiran angin pukulan sinkangnya yang amat dahsyat, tiga orang baju hitam yang berada di depannya terpental jatuh. Kemudian orang itu menarik tangan kanannya bagaikan tertarik oleh kekuatan besi berani, dua orang baju hitam sempoyongan serta jatuh pula. Berturut- turut ia menggunakan cara demikian, hingga para anggota Panji Hitam yang berada disitu satu persatu dibuatnya terpelanting jatuh dengan mata berkunang-kunang serta senjatanya terlepas dari genggamannya. Kejadian yang aneh dan ajaib ini sungguh bukan saja membuat anggota panji hitam merasa heran, karena dirinya dirobohkan tanpa mengetahui siapa orang yang merobohkan mereka, bahkan para orang2 Hai-yang pay pun menjadi kesima dan melongo atas datangnya pertolongan yang sekonyong-konyong ini.

“Sret !" si lengcu baju hitam tiba2 mencabut keluar pedangnya, lalu bentaknya : “Kau cari mati

!” dan tubuh si lengcu mencelat tinggi kemudian melayang turun sambil memutar pedangnya diatas udara, hingga dirinya lenyap terkurung oleh sinar pedang yang berkilauan dingin. Menyaksikan si lengcu baju hitam menggunakan jurus yang luar biasa itu, membuat orang yang berada disitu menjadi kagum termasuk orang2 Hay yang pay.

“Ha, Hah! Keledai dungu ! Apakah dengan mengandalkan permainan anak2 ini saja kau sudah berani menonjolkan keburukanmu dihadapan si orang tua?" baru saja habis suara kata itu, terdengarlah suara tertahan dan “Buk !" terdengar suara pukulan keras diudara, nampak tubuh si lengcu panji hitam itu terpental ke belakang ter-huyung2, pedang panjangnya jatuh ketanah patah menjadi dua.

Orang yang datang memiliki kepandaian hebat !

Setelah berdiri tegak kembali si lengcu baju hitam itu memandang tajam dan bertanya :

“Siapa kau ?”

Mendengar pertanyaan si lengcu baju hitam membuat semua mata pada menoleh ke diri orang yang ditanya, ternyata ia adalah seorang kakek2 berbaju kelabu, jenggot serta kumisnya yang panjang telah menjadi putih semuanya, nampak punggungnya agak bongkok.

Kakek2 itu mengibaskan tangannya lalu bentaknya mengejek : “Keledai dungu ! Lihatlah mukamu, apakah pantas mengetahui namaku? Cepat merat dari sini, jangan sampai hilang kesabaranku !”

Diejek demikian, si lengcu baju hitam merasa dongkol dan marah tapi ia tidak berani banyak omong, karena ia maklum dirinya bukan tandingan si kakek bongkok, maka cepat ia balikan tubuhnya, dengan kesal mengajak anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu.

Penyerangan Panji Hitam berhasil digagalkan.

Setelah mereka pergi, si kakek berpaling dan ucapnya pada Kuo Se Fen sambil memberi hormat

: “Aku si tua datang terlambat harap Kuo congpiauwto maklum. Kini aku permisi pergi."

Baru saja ia hendak mencelat pergi, Kuo Se Fen bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi cepat2 melangkah, dengan mengepalkan kedua tangannya memberi hormat, katanya :

“Locianpwe, mohon tunggu dulu."

“Ha, Ha ! Aku si tua bangka mendapat perintah dari majikanku untuk pergi kesini membantu kalian mana berani aku menerima penghormatan panggilan locianpwe ini?" tubuhnya lantas mencelat dan sekejap saja dirinya telah melayang diudara kemudian lenyap dari pandangan.

Ternyata si kakek bongkok yang hebat hanya seorang pesuruh ?

Pandangan mata Kuo Se Fen mengikuti melayang tubuh si kakek itu dengan kesima serta kagum, dalam hatinya sungguh membuat ia berterima kasih, karena bila saja tidak ada si kakek itu yang menolong, Hay yang-pay yang telah berdiri ratusan tahun akan musnah dalam tangan si lengcu panji hitam pada malam ini. Ia termenung, bertanya pada dirinya sendiri :

“Siapakah orang yang menyuruhnya ?" Si telapak sakti Jen Pek Coan menghampiri suhengnya dan ucapnya pelahan :

“Toa suheng, dilihat dari ilmu silat yang digunakan orang tua tadi agak mirip dengan ilmu pukulan cung-ku-kin liong sou (Bango membujur menerkam naga) yang pernah didesas-desuskan."

“Jadi pendapatmu orang tua tadi adalah anak murid Kun lun-pay ?" tanya Kuo Se Fen tercengang.

“Walaupun Kun-lun-pay telah puluhan tahun tidak menampakkan diri dalam dunia kangouw, tapi ini bukanlah berarti Kun-lun-pay tidak mempunyai ahli waris."

Kuo Se Fen mengangguk dan sahutnya : “Memang ada kemungkinan ! Oh ya ! Tadi sebelum pergi ia mengatakan bahwa ia diperintahkan oleh majikannya, tapi entah siapakah majikannya itu ?”

“Itio, siaute pernah melihat majikannya." tahu2 Goan Tian Hoat telah berada ditempat itu dan turut bicara.

Kuo Se Fen berpaling dan ucapnya dengan heran.

“Cepat kau jelaskan !"

“Silahkan itio masuk dahulu, akan siaute terangkan kelak !” bisik Goan Tian Hoat perlahan.

Sambil mengeluskan jenggotnya Kuo Se Fen lalu berkata pada muridnya Hang Ka Han dan tanyanya

: “Ka Han, apakah dipihak kita ada jatuh korban ?" “Yang berada dibagian belakang hanya Cau sute mendapat luka ringan dan lainnya selamat. Segera tecu pergi kedepan untuk memeriksanya."

Kuo Se Fen mengangguk kemudian katanya : “Loji, losam, Siang, saudara marilah kita masuk kedalam !"

“Silahkan congpiauwto istirahat dahulu aku hendak melihat-lihat keluar." Siang Coan Cing menjura memberi hormat dan permisi pergi bersama Hang Ka Han.

Setelah berada dalam kamar, Kuo Se Fen bertanya pada muridnya Goan Tian Hoat :

“Apakah Kang hianti telah pergi tidur ?” “Maafkan karena kuatir ia dapat mendengar

keadaan diluar, maka tecu menotok jalan darahnya

supaya ia tertidur, hingga kini belum sadar."

Kuo Se Fen mengangguk lalu duduk diatas sebuah kursi, lalu berkata :

“Loji, losam, kalian duduklah."

Sementara itu datang seorang pelayan mengantarkan teh. Setelah menenggak secangkir teh, Jen Pek Coan bertanya :

“Tian Hoat, dimanakah pernah kau melihat kakek tua itu ?”

“Dikota Kua Cou." Kemudian ia menceritakan pengalamannya di kota Kua Cou dimana si kakek tua itu mendayung sebuah perahu dan penumpangnya adalah seorang pelajar muda yang berpakaian serba putih. Setelah mendengar ceritera Goan Tian Hoat, Kuo Se Fen bertanya : “Kira2 berapa tahunkah usianya si pelajar berbaju putih itu ?"

“Kurang lebih berusia delapan sembilan belas tahun, orangnya sangat gagah, mempunyai wajah tampan."

Mendengar keterangan itu, Kuo Se Fen diam saja, hanya sebelah tangannya mengelus-elus jenggot.

Ketika itu nampak Hang Ka Han ter-gesa2 melangkah masuk, kemudian menjura memberi hormat pada gurunya serta ucapnya : “Suhu, yang menyerang bagian depan kira2 berjumlah tiga puluh orang lebih, Sun piauwsu dan Lie piausu berdua mendapat luka, para pembantu yang luka ringan berjumlah belasan orang dan yang agak parah lima orang. Disamping ini terdapat tiga mayat musuh yang terkena oleh panah kita dan mati terkena racun."

Mendengar laporan dari muridnya itu Kuo Se Fen agak tercengang, dia heran lalu bertanya : “Ah

! Panah yang kita gunakan semua kan tidak ada racunnya."

“Maafkan teecu kurang menjelaskan pada suhu. Setelah mereka terluka kena panah mungkin karena tidak dapat berkutik hingga mereka menelan racun bunuh diri. Untuk menutup rahasia golongannya.”

“Ai ! Bisa dibayangkan betapa kejamnya peraturan mereka terhadap bawahan. Takut kalau rahasia golongannya terbongkar keluar, maka para bawahan diancam dengan siksaan yang tidak berperikemanusiaan, bila terbukti memberitahukannya pada orang luar. Maka mereka masing2 pada menyediakan obat racun untuk bunuh diri, bila dirinya akan tertawan. Mereka lebih rela mati dengan bunuh diri dari pada disiksa serta dibunuh oleh atasannya."

“Masih ada sesuatu yang belum teecu laporkan pada suhu.”

“Apakah itu ?"

“Musuh yang menyerang bagian depan terdiri dari jago2 kelas satu, semuanya mempunyai ilmu kepandaian tinggi, maka walaupun para piauwsu dan pembantu melawannya dengan gigih, tidak bisa juga menahan amukan mereka. Menurut keterangan para piauwsu, ada seseorang yang membantu secara diam2 dari tempat gelap. Orang itu membantunya dengan menyambitkan batu sebagai senjata rahasia, bilamana diantara pihak kita ada yang terdesak, ia lalu menyambitkan batu secara diam2 dari tempat gelap, hingga akhirnya semua musuh terkena serangan. Kalau bukan di bagian otaknya, tentu hidungnya pada bercucuran darah, tanpa mereka ketahui siapa yang menyerangnya. Untung ada orang yang membantu secara diam2 hingga pihak kita tidak sampai jatuh korban lebih besar."

Jen Pek Coan tertawa lalu berkata: “Orang yang membantu kita itu tentu adalah si gadis berbaju hijau." “Menurut keterangan Lie piauwsu orang yang menolong secara diam2, tidak hanya seorang saja, ia melihat dari kedua sisi genting rumah, ada orang yang menyambit batu kebawah."

“Toasuheng, menurut pandangan siauwte, si pemuda sasterawan serta si kakek bongkok dengan si gadis baju hijau itu tentu dari satu golongan." Kata Cu Siu Hu.

Jen Pek Coan mengangguk serta katanya, “Rupanya mereka telah mengetahui gerak gerik musuh, hingga dapat membantu kita secara diam2."

Kuo Se Fen mengerutkan keningnya kemudian katanya :

“Telah beberapa kali mereka mengulurkan bantuan pada kita, tapi sebaliknya kita belum juga dapat tahu sedikitpun mengenai diri mereka."

“Menurut pendapat teecu, si pemuda sasterawan baju putih itu ada kemungkinan bertujuan hendak menjaga keselamatan jikongcu, kalau tidak, mengapa ia mengikuti perahu kami hingga kemari ?” berkata Goan Tian Hoat.

Mendengar suara Goan Tian Hoat Hang Ka Han merasa heran ia mengamat-amati diri Goan Tian Hoat sambil bertanya : “Bukankah kau adalah samsute ?"

Kuo Se Fen mesem2, menggoyangkan tangannya sambil berkata :

“Siapapun tidak boleh diberitahukan bahwa ia berada disini." Kemudian dengan menganggukkan kepala ia berkata pula : “Kata-kata Tian Hoat memang tidak salah, terhadap diri si kakek bongkok serta si gadis itu hingga kini belum juga bisa kuketahui asal usulnya, dengan sendirinya mereka tidak mempunyai hubungan apa2 dengan Hai yang pay. Tapi sebaliknya mereka selalu membantu kita, dari sini kita bisa ketahui bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk menjaga keselamatan jikongcu secara diam2." Setelah bicara habis, ia lalu bangkit berdiri serta sambungnya :

“Loji, losam kalian istirahatlah karena besok pagi ada sesuatu yang harus kita kerjakan."

“Toasuheng, urusan apakah itu ?" tanya Cu Siu Hu ingin tahu.

“Sampai waktunya kau akan tahu sendiri."

“Ka Han, mari kita menengok Sun piauwsu dan Lie piauwsu." Kata Kuo Se Fen pula.

***

Besok paginya, nampak sebuah perahu dengan muatan sayur mayur berlabuh ditepian sungai yang terdapat dibelakang Hai yang piauwki. Nampak beberapa orang petani sedang mengangkut sayur2an itu ke dalam piauwki. Sayur2an itu adalah bekal makanan orang-orang piauwki yang jumlahnya banyak, memang tiap pagi para petani dari luar kota pada mengantar sayuran ke piauwki untuk dijual.

Hari kian menjelang siang. Kang Han Cing terbangun dari tidurnya, karena kupingnya mendengar suara desiran air. ia menjadi heran dan cepat membuka mata, betapa terkejutnya karena mendapatkan dirinya kini berada dalam sebuah perahu !

Nampak olehnya tidak jauh darinya duduk tiga orang yang berpakaian seperti petani, baru saja ia hendak duduk bangun, terdengar suara Kuo Se Fen pelan :

“Hiante kau baru bangun ?"

Kang Han Clng terkejut, ia mengamati diri ketiga orang petani itu dan ternyata mereka adalah ketua Hai yang pay, si rajawali bersayap emas Kuo Se Fen serta sutenya Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat bertiga.

Hati Kang Han Cing bertambah heran dan tidak mengerti, pelan2 ia bangun duduk kemudian ia bertanya :

“Susiok, sebenarnya apakah yang telah terjadi ?" Sambil mengeluskan jenggotnya yang panjang

Kuo Se Fen berkata mesem :

“Hiante kau tentu telah lapar, makanlah dahulu kelak akan kujelaskan."

Goan Tian Hoat mengambil sebuah bungkusan lalu disodorkannya sambil berkata : “Ini memang disediakan untuk saudara Kang sarapan, silakanlah makan selagi masih hangat !"

Ternyata didalam bungkusan itu berisi santapan yang wangi dan lezat yang merupakan makanan kenamaan dari kota Hai yang. Melihat ketiga orang itu pada menggunakan pakaian seperti petani, hatinya jadi menduga-duga apakah malam tadi telah terjadi sesuatu yang dilakukan oleh perkumpulan berseragam hitam ? Kalau ternyata demikian jangan2...... Berpikir sampai disini hatinya merasa tergetar hebat, cepat ia menanya penuh gelisah : “Susiok, bagaimanakah akibatnya akan kejadian semalam ?”

“Janganlah hiante kuatir ! Walaupun mereka mengerahkan kekuatan yang besar tapi syukurlah kita dibantu oleh orang yang berkepandaian tinggi hingga serangan mereka dapat digagalkan dan dipukul mundur. Karenanya korban yang jatuh di pihak kita tidak seberapa." jawab Kuo Se Fen mesem.

Setelah mendengar keterangan itu getaran hati Kang Han Cing lenyap, kemudian tanyanya pula :

“Kalau begitu, mengapakah susiok mengenakan samaran demikian dan kini hendak pergi kemanakah ?"

“Ha, Ha ! Menurut dugaanku, rencana serangan mereka tadi malam tidak berhasil maka sementara waktu mereka tentu tidak berani datang kembali. Untuk mempercepat sembuhnya penyakit hiante, aku menggunakan kesempatan ini untuk menemani pergi berobat ke biara Pak yun kuan diatas gunung Pek sia san."

Hati Kang Han Cing menjadi terharu dan ucapnya sedih :

“Betapa besar kasih sayang susiok terhadap siauwte, sungguh membuat siauwte " “Terhadap sesama kaum kangouw,” potong Kuo Se Fen, “Harap hiante janganlah berlaku sungkan."

“Budi ini siauwte tidak akan melupakan untuk seumur hidup !"

Kemudian Kang Han Cing memakan santapan itu, memang ternyata masakannya sangat lezat dan wangi, sebentar saja ia menghabiskan makanan itu sampai bersih.

Kuo Se Fen menjadi mesem melihatnya sambil mengelus jenggotnya ia berkata lirih, “Ada sesuatu yang hendak kutanyakan pada hiante. "

“Silahkan susiok !" jawab Kang Han Cing. “Selagi ayah hiante masih hidup, pernahkah ia

menyebut2 nama Tian Hung totiang ?”

Setelah berpikir sejenak, Kang Han Cing berkata

: “Sedari kecil siauwte sering sakit, maka selama itu tinggal dirumah nenek, hingga nenek meninggal pada tahun yang lalu, baru hiante pulang kembali kerumah. Tapi belum pernah mendengar ayah menyebut2 diri Tian hung totiang."

Tapi tiba2 ia teringat sesuatu maka sambungnya : “Oh ya ! hampir siauwte lupa, pada tahun yang lalu, ketika ayah merayakan ulang tahunnya yang kelima puluh, ada seorang hwesio kecil mengantarkan dua butir pil obat yang katanya adalah antaran dari Tian-hung totiang."

Mendengar keterangan itu Kuo Se Fen tertawa girang : “Ha Ha! tidak salah lagi pil obat itu tentu adalah Lin ci tan." “Apakah Lin ci tan itu sangat berharga ?" tanya Kang Han Cing.

“Menurut kabar pada beberapa tahun yang lalu Tiang hung totiang dengan sangat kebetulan mendapatkan dua buah Sia lianci (kembang terate salju) yang telah berusia lima ratus tahun diatas gunung Tian san, belakangan diatas gunung Huang San ia mendapatkan sebatang pohon Lin Ci pula. Hatinya sangat girang mendapatkan kedua pusaka yang luar biasa berharganya itu, setelah memakan waktu beberapa tahun lamanya, dengan mencampurkan bahan2 obat lain, akhirnya ia berhasil mengolah jadi sekwali banyaknya obat yang diberi nama Lin ci tan. Pada mulanya ia beranggapan bahwa obat yang ia bikin itu yaitu Lin ci tan tentu mempunyai khasiat membuat orang yang memakannya tidak bisa mati, akan tetapi setelah ia coba beberapa kali dengan memakan obat pil itu, ternyata dugaannya meleset, karena kenyataan pil itu hanya bisa untuk menambah tenaga dalam serta membuat orang yang memakannya panjang umur saja. Walaupun demikian, ia tetap menganggapnya sebagai barang pusaka, dan tidak sembarang orang ia berikan. Ia telah memberikan dua butir kepada ayah hiante inipun sangat beruntung.”

Mendengar cerita Kuo Se Fen, Jen Pek Coan tertawa dan turut bicara :

“Dari sini kita menarik kesimpulan bahwa hubungan persahabatan antara Tian hung totiang dengan Kang Siang Fung almarhum tentu sangat erat." Kuo Se Fen memanggut serta ucapnya, “Syukurlah kalau demikian adanya, aku kuatir setibanya di Pak yun kuan nanti kedatangan kita akan ditolaknya mentah-mentah.”

“Bagaimanakah tabiatnya Tian hung totiang itu

?” tanya Kang Han Cing.

“Sebenarnya ia adalah suhengnya Tian yen totiang dari gunung Lo san. Seharusnya ia adalah ahli waris dari golongan Losiantu, karena se-hari2 ia kecanduan dan mabok dalam ilmu pengobatan saja, maka ia menolak untuk menggantikan kedudukan suhunya sebagai ketua dari golongan Lo san itu. Setelah suhunya wafat, dia menghilang tanpa bekas. Hingga duapuluh tahun kemudian, baru ada orang menemukan sebuah biara di suatu lembah gunung yang sunyi, gunung Pek siak san. Di sekeliling biara itu terdapat tanaman pohon- obat dan akhirnya baru diketahui bahwa kaucu dari biara itu adalah Tian hung totiang."

Kuo Se Fen menghentikan ceritanya sejenak, menenggak air teh kemudian sambungnya pula:

“Ia mempunyai tabiat yang aneh, selalu mengasingkan diri dari pergaulan dan juga sangat jarang berkecimpungan dalam dunia kangouw. Walaupun ia mahir dalam ilmu obat2an karena memang sepanjang hidupnya digunakan untuk memperdalam pengetahuan dibidang pengobatan, tapi jarang sekali mau mengobati orang. Alasannya ia tidak mau sampai terlibat dalam suka dan duka dunia kangouw. Dahulu, ketua golongan Pat kuat men yang bernama Men Ku Hun Ce terluka oleh ilmu pukulan Hian yin kiu coan cang, pernah mendatanginya untuk minta pengobatannya, tapi Tiang hung lotiang menolak dan tidak mau menemuinya."

“Menurut ceritera kaum bulim, walaupun pada waktu itu Thian-hung totiang tidak mau menemuinya, tapi anak murid Ku Hun Cu itu berhasil mendapatkan obat Kiu-coan-huan hun- cau dari kamar penyimpanan obat Pak yung koan itu. Sebenarnya ini adalah atas petunjuk Tian hung totiang sendiri yang diberikan secara diam2. Betapa tidak, seorang anak murid golongan Pat kuat-men, mana bisa mengenali serta mengetahui obat untuk menyembuhkannya itu ?" selak Jen Pek Coan.

“Pergaulan susiok sangat luas, entah apakah kenal dengan Tian hung totiang itu ?” tanya Kang Han Cing.

Kuo Se Fen menggeleng kepala serta sahutnya : “Telah lama aku mendengar namanya tapi

belum pernah melihat orangnya."

“Kalau memang tabiatnya dingin dan angkuh, maka terhadap siauwtepun tentu ia tidak mau mengobatinya." Kata Kang Han Cing mengeluh.

“Sayang Than Hoa Toh telah ditawan oleh lengcu panji hitam, kalau tidak, ia pun seorang ahli dalam ilmu pengobatan. Kini selain Tian hung totiang, aku belum terpikir siapa pula yang dapat menyembuhkan penyakit hiante. Kali ini kita pergi kesana, sebenarnya aku pun tidak berani memastikan bahwa Tian hung totiang mau memberi pertolongan. Tapi bila mengingat ketika ayah hiante berulang tahun ia ada memberikan dua butir pil Lin ci tan, tentu ia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan ayah hiante, kalau tidak, mana mungkin ia mau mengantarkan barang yang dianggapnya pusaka itu sebagai kado? Maka dari itu hal ini sedikit banyak telah membesarkan hatiku."

Setelah tiba di luar kota, nampak terdapat sebuah kereta kuda dipinggir jalan. Mereka melabuhkan perahu dan kemudian ganti naik kereta itu, langsung melarikannya ke barat menuju kota An Wie.

Gunung Pek siak-san terletak dekat sebelah utara kota Tung-seng. Ada juga orang yang menyebutnya Kuo-siak-se. Puncak gunung itu sangat tinggi dan curam. Untuk menuju keatas gunung harus melalui lorong jalan yang kecil sempit dan penuh dengan batu karang dikiri kanannya.

Kereta itu dikemudikan oleh si tangan sakti Jen Pek Coan. Walaupun jalanan itu sempit serta berbahaya, tapi ini tidak membuat ia merasa sulit dan takut. Ia melarikan kereta itu dengan sangat cepatnya diatas jalanan gunung yang berliku-liku. Selain kedua matanya mengawasi jalanan, ia juga meng-amat2i disekelilingnya, untuk mengetahui keadaan dari pegunungan yang sunyi itu. Hatinya merasa lega karena tidak nampak sesuatu yang mencurigakan hingga perjalanan mereka tidak terganggu.

Menjelang tengah hari, mereka telah sampai dekat kaki gunung Pek-siak-san dan menitipkan kereta kuda itu pada seorang penghuni disitu. Kemudian mereka mendaki gunung dan Goan Tian Hoat menggendong Kang Han Cing untuk mempercepat waktu.

Pemandangan sekitar gunung itu sangat indah menakjubkan, disini-sana penuh dengan perumputan yang baru tumbuh, hingga gunung itu seperti dihiasi oleh selimut hijau menyegarkan. Udara tidak begitu panas, karena musim semi belum berganti, angin meniup sepoi2 dengan sejuknya membuat perjalanan mereka tidak merasa lelah.

Pegunungan Pek-siak-san menjulang tinggi dan berjejer dari arah timur ke barat, nampak seperti sebuah rantai raksasa terpentang diatas jagat.

Setengah jam kemudian, mereka telah tiba disebuah lembah yang mulai penuh dengan batu2 karang, batu2 itu meruncing dan tinggi, jalanan kini bertambah sulit, penuh bahaya, tapi bagi yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi seperti mereka, hal ini tidaklah berarti apa2. Walaupun berjalan diatas batu karang yang runcing, mereka tetap seperti berjalan diatas tanah datar saja.

Tidak lama kemudian, tibalah mereka di ujung lembah.

Nampak Kuo Se Fen berhenti sejenak, sambil menunjuk keatas puncak gunung, ia berkata :

“Disebelah kiri dari puncak gunung itu terdapat sebuah jurang yang berhubungan dengan gunung lainnya, dan disitulah letaknya lembah Pak Yun Siak." Mereka mendongak keatas dan nampak puncak gunung itu menjulang tinggi keangkasa, seperti sebuah tiang besar yang menancap keatas langit. Batu karang dari puncak itu licin dan rata seperti diraut saja dan penuh dengan kabut hingga tidak kelihatan ujungnya. 

“Apakah Pak Yun Koan terletak dalam kabut itu?" tanya Jen Pek Coan.

“Ya. Menurut kata orang, ada beberapa macam tetumbuhan obat2an yang harus ditanam dalam tempat yang sangat dingin. Puncak gunung itu sepanjang masa tertutup oleh kabut, hanya pada jam duabelas tengah hari, kabut bisa dibuyarkan oleh sorotan sinar matahari. satu jam kemudian, kabut itu menebal kembali. Maka Tian Hung totiang memilih puncak itu untuk mendirikan Pak Yun Kuan."

“Menurut cerita orang, dulu ada seorang berkepandaian tinggi dari golongan hitam yang pernah ditolong olehnya kemudian ia insyaf dan menjadi pembantunya untuk menjaga kelentingnya, melarang kaum bulim memasuki Pak Yun Siak, kita. ”

“Ia adalah si muka angker Oey Can Hoa. Tapi kaum bulim tidak ada seorangpun yang mengenal, mungkin nama itu hanyalah samaran saja."

“Apakah ilmu kepandaiannya luar biasa ?" tanya Goan Tian Hoat.

“Menurut cerita, tidak ada orang yang bisa bertahan sampai sepuluh jurus melawannya.” Sebentar saja mereka telah tiba dikaki puncak gunung, begitu menuju kearah kiri, tiba2 dari balik sebuah batu besar terdengar suara tegoran.

“Tunggu dulu !" nampak keluar dua orang laki2 pertengahan umur berbaju biru menghadang didepan mereka.

Setelah mengamat-amati diri mereka, laki2 yang berdiri disebelah kiri menanya sambil menjura:

“Apakah kalian hendak menuju ke Pak-yun kuan ?”

Kuo Se Fen balas menghormat dan sahutnya : “Ya. Kalian adalah. "

“Kalian tidak usah kesana, karena Kuancu sedang bepergian." ucap laki2 sebelah kanan.

Kuancu adalah panggilan kepada seorang penanggung jawab kelenteng, disini berarti ketua kelenteng Pak yun kuan.

Mendengar keterangan itu Kuo Se Fen agak tercengang, katanya :

“Kuancu sedang bepergian ?”

Tiba2 terpikir olehnya, bukankah Lie Kong Tie sedang berobat disana ? Mana mungkin Tian hung totiang pergi meninggalkannya, tentu ini hanya alasan belaka. Maka kemudian ia berkata sambil mengelus jenggot :

“Ha, Ha ! Pinto dengan dia adalah kenalan lama, karena keponakan sakit berat, maka pinto mengantarkan kesini untuk minta pertolongannya. Kalau ia sedang pergi, biarlah pinto menunggu." Kedua orang itu agak tercengang, seperti ada sesuatu kesukaran, hingga hanya bisa memandangi diri Kuo Se Fen, sambil menjura, laki laki sebelah kiri itu berkata :

“Setelah sebulan ia baru kembali, lebih baik nanti datang pula."

Mendengar ia sebutkan waktunya maka hati Kuo Se Fen menjadi curiga, katanya :

“Pinto datang dari jauh, sebulan tidak begitu lama, lebih baik pinto tunggu disini saja."

Wajah kedua orang itu jadi berubah, mereka saling berpandangan, karena merasa serba susah.

“Harap loenghiong bisa memaafkan, sebenarnya kami mendapat tugas untuk melarang siapapun memasuki lembah dalam sebulan ini. Walaupun loenghiong adalah kawan baiknya juga tidak ada terkecuali."

Hati Kuo Se Fen menjadi panas dan sengit, katanya dengan suara tertekan :

“Siapa yang menugaskan kalian ?"

“Sudah tentu atas perintah Kuancu." sahut laki laki sebelah kanan dingin.

Dengan memandang tajam Kuo Se Fen berkata : “Kalian bukan orang Pak Yun Kuan."

Wajah mereka berubah merah, ucap laki2 sebelah kanan itu sengit :

“Kami hanya jalankan perintah, lebih baik kalian balik kembali." “Ha, Ha, Ha, Ha ! Kalau pinto tetap pergi kesana?"

Kedua laki2 itu mundur setindak, sahutnya: “Boleh cobalah kalau memang hendak berkeras

kepala !"

lalu mereka mencabut senjata masing2, ternyata senjata orang yang sebelah kiri adalah sepasang kaitan yang lainnya adalah sepasang tongkat pendek.

Melihat senjata mereka, hati Kuo Se Fen bisa menduga siapa adanya mereka ? Karena senjata sepasang kaitan, sepasang tongkat pendek beserta sepasang cambuk dan sepasang garpu merupakan empat pasang senjata terkenal yang digunakan olah empat pengawal keluarga Lie di Ho Peh.

Kedua orang itu bukan orang Pek yan-koan ! Mereka adalah anak murid dari keluarga besar

Lie. Keluarga Lie adalah salah satu dari 4 datuk

persilatan dimasa itu. Ketuanya terluka dan meminta obat di Pek-yan-koan. Mereka melarang orang mengganggu !

Tapi Kuo Se Fen tidak mau membuka kedok mereka, ia hanya mengerutkan kening saja. Jen Pek Coan tidak sabar lagi, sambil menudingkan senjata pipa rokoknya berkata sengit :

“Kalian berkacalah dulu apakah ada kemampuan berngomong besar ?”

Tiba2 tubuhnya mencelat setindak, sambil memukulkan pipa rokoknya kearah pundak laki2 sebelah kiri. Laki2 itu cepat menangkis serangan dengan kaitan yang berada ditangan kiri, disaat yang bersamaan, tangan kanannya menyabet kearah pinggang lawan.

Senjata yang digunakan oleh Jen Pek Coan bukanlah hanya pipa rokok saja, karena tempat bako yang tergantung dipipa itu pun ternyata dibuat dengan bahan besi, sebenarnya pukulannya tadi hanyalah pancingan saja. Hatinya girang karena pancingannya berhasil, begitu lawannya menangkis, tubuhnya mencelat tinggi dan tempat bako itu memukul keras ke kaitan lawan.

“Tranggg…." Laki itu merasa tangannya panas dan kesemutan, cepat ia melompat kebelakang.

Jen Pek Coan tertawa girang, berbarengan telapak tangannya memukul kearah laki2 sebelah kanan, “Wutt" sungguh luar biasa angin pukulan yang mengandung tenaga sinkang sangat besar itu, laki2 itu dapat merasai betapa hebatnya pukulannya hingga ia tidak berani menangkis, hanya mengelak dengan miringkan sedikit tubuh saja.

Sebetulnya ilmu kepandaian kedua laki2 itu juga tinggi karena dalam segebrakan saja Jen Pek Coan telah dapat membuat mereka terdesak, hingga mereka dibuat melongo. Sebentar saja mereka menjadi tenang kembali dan dengan membentak keras maju menyerang pula. 

“Trang......Trang…..” dengan tenang Jen Pek Coan menyambut senjata kedua lawannya itu, pipa dan tempat bako itu menyambar kesini kesana dengan disertai angin pukulan sangat dahsyat, hingga berulangkali terdengar suara aduan senyata.

Kuo Se Fen hanya mesem sambil mengelus- eluskan jenggotnya yang panjang, ia menontonnya dari pinggir.

Kang Han Cing sudah diturunkan dari gendongan, duduk diatas sebuah batu karang.

Sebentar saja mereka telah bertanding puluhan jurus. Nampak gerakan Jen Pek Coan makin lama makin cepat hingga tubuhnya terkurung oleh gulungan putih. Ia mendesak terus kedua lawannya itu dengan pukulan2 serta totokan2 yang luar biasa. Serangannya sungguh membuat kedua lawan itu kualahan dan dibikin tidak berdaya.

Walaupun kedua orang itu masing2 mempunyai sepasang senjata, tapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang, hanya bisa mengelak dan menangkis, hingga acap kali terdengar suara benturan senjata yang disertai percikan-percikan kembang api.

Tiba2 terdengar suara 'Pek, Pek', nampak seekor burung dara warna kelabu terbang ke luar dari balik batu karang yang kemudian lenyap kearah lembah itu.

Melihat itu, hati Kuo Se Fen menjadi curiga. Benar saja, terlihat olehnya dari belakang batu karang itu berkelebat dua bayangan hitam yang cepatnya bagaikan burung elang menyambar anak ayam. Dua bayangan itu dalam sekejap saja telah ikut mengeroyok Jen Pek Coan. Ternyata kedua orang itu adalah laki-laki yang masing2 menggunakan senjata sepasang cambuk dan sepasang garpu besar.

“Suhu, mereka adalah dari......?” bisik Goan Tian Hoat.

Belum habis bisikannya cepat Kuo Se Fen mengedipkan matanya mencegah ia meneruskan kata-katanya.

Nama keluarga Lie pantang disebut.

Mendapat bantuan baru, kedua orang itu jadi mendapat angin. Mereka bukanlah kaum bulim yang rendahan, tapi masing2 mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Begitu mereka bergabung dan mengeroyok Jen Pek Coan, bagaikan tembok besi, terus mendesak lawannya dengan hebat.

Melihat jisutenya dikeroyok hingga terdesak hebat, hati Kuo Se Fen menjadi panas. Ia mengerutkan keningnya, memandang Goan Tian Hoat dan berkata :

“Tian Hoat, aku akan menggantikan susiokmu, jagalah Kang hiantite baik-baik !”

Ia mencabut senjatanya, ucapnya pula :

“Jisute, kau ngasolah dahulu, serahkan mereka padaku !"

Hati Jen Pek Coan gelisah, ia masih penasaran karena bertempur sekian lama belum juga berhasil, bahkan dirinya malah terdesak hebat.

Betapa tidak, keempat orang itu sebenarnya hanyalah bujang dari keluarga Lie di Ho Peh, karena telah bekerja lama, hingga mendapat kepercayaan keluarga Lie untuk sekedar diberi pelajaran ilmu silat. Walaupun demikian, karena yang mereka dapatkan adalah ilmu silat tinggi, maka dalam dunia kangouw diri merekapun disegani oleh kaum bulim, hingga mendapat julukan empat jendral keluarga Lie.

Jen Pak Coan menyadari bila dapat menundukkan keempat bujang keluarga Lie ini juga bukan hal yang boleh dibanggakan. Toasuheng adalah ketua dari suatu partay besar dan berpengaruh, tidaklah pantas serta memalukan kalau sampai turun tangan sendiri menghadapinya.

Maka terhadap ucapan suhengnya, ia pura-pura tidak mendengar, sambil mengertakkan gigi, ia mempercepat gerakannya untuk balas menyerang lawan dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Dalam hati, bukan ia tidak tahu dirinya tidak akan bisa memenangkan pengeroyokan ini, untuk memukul mundur desakan empat orang itu pun sangat sulit.

Tapi tiba2 ia dapat merasai laki2 yang bersenjata sepasang cambuk itu serangannya berobah kendor. Bagi kaum bulim yang telah berpengalaman seperti Jen Pak Coan, kesempatan ini tidak disia-siakan, cepat ia memutar tubuhnya, sambil mengulurkan senjata kearah dada lawan.

Laki2 bersenjata sepasang cambuk tidak menyangka kepada gerakan lawan yang begitu cepat, maka ia tidak keburu untuk bisa mengelak, “Buk !” dadanya kena ditotok, hingga ia terpental kebelakang, robohnya tidak bisa ditawar.

Kawannya yang bersenjata sepasang tongkat hendak menolong, tapi terlambat. Dengan membentak marah ia menghadang dengan senjata disimpangkan.

Melihat serangannya berhasil, Jen Pak Coan jadi bersemangat. Tiba-tiba ia merasa ada endusan angin menyerang bagian belakang tubuh, cepat ia membalik, berbareng menangkis dengan memakai tempat bako itu kearah datangnya serangan.

“Trangg.

Ternyata yang menyerangnya adalah si laki2 bersenjata sepasang garpu, karena senjatanya terpukul oleh senjata musuh, hingga jari tangannya terasa sakit, tubuhnya terpental kebelakang.

Ketika terpental, karena kedua lengannya terasa kesemutan hingga laki2 bersenjata sepasang garpu itu tidak dapat mengangkat senjata untuk berjaga diri. Sebenarnya tidak mungkin laki2 itu tidak mengetahui kalau dirinya terbuka lowongan yang dapat mendatangkan bahaya. Dikata hendak memancing lawannya pun bukan !

Ketika tadi, disaat ia memukul senjata lawan, Jen Pak Coan hanya bermaksud untuk menangkis serta memukul mundur serangan orang itu baru kemudian balik menghadapi dua orang lainnya. Sungguh ia tidak menduga kalau lawan yang terpental itu tidak berjaga diri dengan senjatanya. Walaupun hanya dalam sekejap, tapi ia tidak mau me-nyia2kan kesempatan baik, maka sambil menangkis, tubuhnya menerobos dari rintangan senjata dua orang lainnya, dengan jurus Anak Panah Menerobos Awan, ia menerjan maju, dengan menudingkan pipa rokok yang terbuat dari baja murni. Terhadap serangannya laki2 itu bagai orang yang sedang melamun, tidak mengelak atau menangkis hingga pundaknya kena tertotok, senjata yang dipegangnya terlepas dan ia jatuh duduk seperti balon kempes.

Kejadian ini sungguh diluar dugaan siapa pun. Jen Pak Coan sendiri juga tidak menyangka, dalam sekejap mata, ia bisa merobohkan dua orang lawan sekaligus. Ia tertawa girang, lalu dengan sangat cepat, tubuhnya mencelat dan menyerang kearah laki2 yang bersenjata sepasang kaitan.

Melihat ia berhasil merobohkan dua orang rekannya dalam segebrakan, hati laki2 itu jadi merasa jeri, maka begitu kini dirinya diserang, ia jadi kelabakan gugup, seperti tersandung, ter- huyung2 hendak mengelak, tapi sial nasibnya, karena senjata lawan telah berhasil bersarang diatas pinggang, gedubrakk Dia juga jatuh.

“Ha, Ha, Ha, Ha ! Tidak disangka si empat jendral dari keluarga Lie hanya mempunyai nama kosong belaka !” Jen Pak Coan tertawa mengejek. Ia telah lupa bahwa dirinya barusan terdesak hebat serta dibuat kualahan oleh si empat jendral dari keluarga Lie. Melihat tiga rekannya telah dibikin tidak berdaya, hati laki2 yang memegang senjata sepasang tongkat itu jadi terkejut serta gelisah.

“Akan kuadu jiwa denganmu !" bentaknya serta tubuhnya menerjang maju sambil memukul sepasang tongkatnya ke atas kepala lawan, ia menyerang tanpa memperdulikan dirinya seperti orang yang telah kalap lupa daratan, kedua tongkat itu dimainkan dengan sangat gesitnya, hingga tubuhnya lenyap dalam gulungan putih yang terus mendesak kearah diri lawannya.

Menghadapi serangan yang kalap itu hati Jen Pek Coan jadi terkejut, tubuhnya berkelebat kesamping menyerang serta mengancam lawannya dengan menghujani totokan2 kearah jalan darah bagian pundak serta bawah pusar laki2 itu.

Tadi ketika sutenya dikeroyok hingga terdesak hebat, hati Kuo Se Fen merasa cemas serta kuatir. Ia hendak maju turun tangan sendiri. Tapi ternyata sutenya tidak mau digantikan serta mengundurkan diri, maka ia hanya bisa mengawasi pertandingan itu dari samping. Karena untuk menghadapi keempat lawannya itu sebagai seorang ketua dari suatu partay yang besar, ia tidak mau turun berbareng dengan sutenya.

Di luar dugaannya dalam sekejap saja, suteenya berhasil merobohkan tiga orang pengeroyoknya. Hatinya merasa heran dan tidak bisa mengerti, karena kalau dilihat dari ilmu kepandaian empat jago keluarga Lie itu, tidak mungkin Jen Pek Coan dapat memenangkannya demikian mudah. Kalau untuk menghadapi dua orang diantaranya bagi jisutee bukanlah hal yang sulit, tapi dikeroyok oleh empat orang, jangankan bisa memenangkan, untuk mempertahankan diripun tidak gampang.

Pandangan mata Kuo Se Fen menoleh ke kiri kanan, tapi tidak nampak ada sesuatu yang mencurigakan.

Mungkinkah kemenangan Jen Pek Coan mendapat bantuan gelap?

Kini pertempuran kedua orang itu bertambah hebat, walaupun senjata pipa rokok Jen Pek Coan berukuran pendek, karena gerakannya sangat cepat, hingga se-olah2 lawannya terkurung oleh bayangan kelebatan senjatanya.

“Berhenti !" tiba2 terdengar suara seruan orang dari dalam lembah muncul dua bayangan orang mendatangi.

Ketika dari balik batu karang beterbangan keluar seekor burung dara kelabu, dalam hati Kuo Se Fen telah menduga kemungkinan ini, maka munculnya dua bayangan itu tidak terlalu mengejutkan.

Ia menoleh kearah dua orang itu, mereka mengenakan pakaian berwarna kelabu, memakai ikat pinggang yang lebar dan sepatu yang umumnya digunakan untuk jalan jauh. Kedua orang itu mempunyai tampang yang brangasan.

Orang yang berdiri disebelah kiri mempunyai bentuk tubuh yang tinggi besar, paras mukanya panjang seperti kuda, diatas pundaknya terselip sebuah pedang lebar. Yang satunya bertubuh sedang dan wajahnya kuning keijo2an, diatas pinggangnya terselip dua potong tombak.

Setelah mengetahui jelas orang yang baru muncul itu, Kuo Se Fen jadi mengerutkan kening.

“Sepasang jago dari gunung yea san !” Kuo Se Fen mengeluh didalam hati.

Benar saja orang dari keluarga Lie pula ! Mungkin bentrokan dengan keluarga Lie dari Ho Peh tidak dapat dielakan.

Hati ketua Hay-yang pay mengeluh.

Memang tidak salah, mereka adalah Yen San Suang Kiat yang merupakan pembantu terpercaya dari datuk persilatan Lie Kuan Tie.

Si muka kuda bernama Gan Bun Hui, ia adalah anak murid dari golongan Pat Kuat Men, ilmu kepandaian sangat tinggi dan ilmu silat Liong Hui Pat Kuat Kiam yang ia pelajarinya jarang mendapatkan tandingan.

Si muka kuning itu bernama Yang Si Kiat. Ilmu silat “I Kang Yang Ka Ciang" yang dipermainkannya pun sangat hebat, sangat disegani oleh kaum bulim.

Mendengar seruan mereka, kedua orang yang sedang bertempur itu lalu berhenti.

*** Bab 5

SETELAH mengamat-amati Kuo Se Fen serta Jen Pek Coan, si muka kuda Kang Bun Hui jadi tergetar hatinya lalu ia memberi hormat dengan mengepalkan kedua tangannya, katanya :

“Bukankah kalian adalah Kuo tayhiap dan Jen jihiap, dua pendekar yang sangat menggetarkan daerah utara ?”

Melihat ia dapat mengenali dirinya, Kuo Se Fen pun tidak berlaku sungkan pula, dengan wajah pura2 merasa heran ia membalas hormat :

“Aku Kuo Se Fen memberi hormat pada kalian !

Kalian tentu adalah Yen San suang kiat !"

Setelah membebaskan ketiga orang yang kena totokan itu, Yang Si Kuat memandang ke arah Jen Pek Coan, katanya :

“Jen jihiap, sungguh hebat ilmu totokanmu.” “Sungguh memalukan kepandaianku yang tidak

seberapa ini sangat minim sekali, orang2 yang

kukalahkan tentunya adalah si empat jendral dari keluarga Lie."

“Kalian sudah tahu !" saut laki bersenjata sepasang tongkat itu sengit, “Mengapa masih meneruskan tangan jahat itu ?”

Sorot mata Jen Pek Tioan berkelelepan, katanya tertawa :

“Aku tidak tahu, apakah yang kau bilang baik itu ?" Alis Kan Bun Hui berkerut, sambil menghormat ia berkata :

“Kuo tayhiap, Jen jihiap, kalian jauh2 datang kesini, apakah mempunyai urusan penting ?"

Dengan berpaling dan menunjuk pada diri Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat yang sedang duduk diatas batu karang, Kuo Se Fen berkata :

“Gan toako bertanya, akupun tidak perlu menutup-nutupi hal ini, mereka berdua adalah keponakanku. Yang tua bernama Ong Ka Siong, pada tiga bulan yang lalu ia kena dicelakai oleh orang hingga mendapat cidera dalam, karena telah berobat ke mana2 belum juga sembuh, maka aku sendiri mengantarnya untuk minta pertolongan pada Pak Yun Kuan koancu."

Mendengar keterangan Kuo Se Fen, wajah Gan Bun Hui nampak serba susah, ia menoleh pada Yang Si Kiat lalu ucapnya :

“Sayang kedatangan Kuo taihiap ini terlambat !"

Kuo Se Fen memang telah menduga, tentunya mendapat jawaban yang seperti itu, tapi ia pura- pura tercengang dan tanyanya kemudian :

“Gan toako, mengapakah terlambat ?"

“Tian hung totiang sedang keluar, belum pulang kembali.”

Kuo Se Fen ketawa getir dan sahutnya : “Barusan, dari keterangan keempat pengurus

keluarga Lie, aku telah mengetahui. Biarlah ! Aku

hendak   menunggu,   karena   disamping   hendak minta pertolongannya, aku telah lama kangen dan ingin ketemu."

“Ini sungguh membuat diriku serba susah," ucap Gan Bun Hui.

“Apa yang membuat kalian merasa serba susah

?”

“Kuo taihiap mungkin tidak mengetahui bahwa

Lie coancu kini sedang berobat dan untuk ini tidaklah boleh terganggu."

Hati Jen Pek Coan menjadi panas tapi ia tahan kemarahannya.

“Ha, Ha ! Memang aku ada mendengar bahwa Lie coancu sedang berobat disini tapi ini bukan urusanku. Dan kami pun tidak akan mengganggunya." ucap Kuo Se Fen dengan mengelus jenggot.

“Selama Lie coancu ada disini siapapun tidak boleh memasuki Pak Yun Kuan !” ujar Yang Si Kiat dingin.

Jen Pak Coan tidak dapat menahan hati sahutnya sengit : “Peraturan siapakah ini? Apakah Pek Yun Kuan kepunyaan keluarga Lie?"

“Jite kau diam saja." ucap Kuo Se Fen pelahan lalu ia menjura pada kedua orang itu.

“Lie coancu dan kami masing2 mempunyai urusan sendiri dan tidak ada hubungannya. Sesama kaum bulim segalanya mudah dirundingkan."

Gan Bun Hui balas menghormat, katanya : “Harap Kuo tayhiap Jen jihiap bisa memaklumi soal ini."

Kuo Se Fen mengetahui bagaimana omong pun tidak ada guna, katanya dengan sabar :

“Ha, Ha ! Dari jauh2 aku kesini, apakah harus pulang kembali hanya karena Lie cuancu ? Katakanlah, bagaimana sebaiknya ?”

Gan Bun Hui bukan tidak mengerti arti dari kata2nya. Sambil menjura ia berkata :

“Kami yang rendah mana berani menghalang- halangi seorang ketua suatu partay besar yang disegani didaerah Hay yang. Harap Kuo tayhiap maklum, karena kami hanya menjalankan tugas untuk menjaga serta melarang siapapun memasuki Pek Yun Siak. Bagi Kuo tayhiap, hanya ada satu jalan, yaitu harus mengalahkan kami supaya tidak disalahkan Lie cuancu."

Lie cuancu adalah sebutan yang lazim kepada Datuk Persilatan Lie Kuan Tie

“Kalau memang tidak ada jalan lain, terpaksa kami menuruti kehendak kalian !"

“Harap Kuo tayhiap dapat memaafkannya !"

“Ha, Ha ! Janganlah Gan toako berlaku sungkan. Entah bagaimanakah caranya ?”

“Kita bertanding ? Satu lawan satu ?”

“Baiklah ! Silahkan keluarkan senjata." lalu Kuo Se Fen keluarkan golok pusaka.

Gan Bun Hui turut mencabut pedang, serta mendongakan didepan dada memberi hormat : “Silahkan Kuo tayhiap !” “Silahkan Gan toako mulai !”

Melihat lawannya tidak mau menyerang dulu, Gan Bun Hai pun tidak berlaku sungkan, menusukan pedang lebarnya, yang diarah pundak lawan.

Melihat gerakan serangan lawan itu, dalam hati Kuo Se Fen dapat menduga, ini hanya untuk menunjukan bahwa ia tidak mempunyai maksud bermusuhan dengan dirinya. Ia maju setindak sambil mengelak lalu dengan gerakan yang gesit ia putarkan senjatanya menyerang kesisi tubuh lawan.

Gan Bun Hui cepat memutar tubuh dan menangkis dengan pedang dipalangkan keatas berbarengan pedangnya tiba2 meluncur ke arah iga kanan lawan.

Walau baru dua gebrakan Kuo Se Fen telah dapat merasai betapa hebatnya ilmu pedang dari anak murid Patkuat Men ini. Maka ia tidak berani memandang enteng lawannya.

Dengan sebilah golok Yah Ling To di-tangan, Kuo Se Fen memainkan ilmu silat "Kiu Kung To Hoat" dari Hay-yang-pay yang hebat. Berkelebatnya sinar golok yang kesana-sini, bagai amukan badai, menderu deru diudara, disertai deruan angin dingin mengancam lawannya.

Menghadapi ketua Hay-yang-pay yang namanya telah menggetarkan daerah Kang Hai itu, Gan Bun Hui pun tidak berani memandang enteng, maka terpaksa ia keluarkan ilmu silat "Liong Sin Pat Kuat Kiam Sut" yang tidak sembarang digunakan untuk mengimbangi ketangguhan lawannya.

Seperti seekor naga menari, tubuhnya bergerak cepat, dengan putarkan pedangnya. Sebenarnya pedangnya bukan diputarkan, melainkan dikibaskan, menurut bentuk pat kuat atau delapan persegi, karena gerakannya cepat luar biasa hingga bila dilihat seperti bundaran. Sedangkan langkahan kakinyapun menurut pat kuat.

Mereka bertanding dengan seru dan hebat!

Puluhan jurus telah liwat tapi belum juga kelihatan mana yang lebih unggul.

Melihat kawannya bertanding, tangan Yang Si Kiat jadi gatal, ia mencabut senjatanya yang berupa sepasang tombak pendek, kemudian disambungkan hingga menjadi sebuah tombak panjang yang berkepala dua.

“Ngung..........” ia putarkan tumbaknya diudara, bagaikan roda jari2 berputar siam, senjatanya menjelma jadi suatu lingkaran putih.

“Jen jihiap, marilah kitapun menguji kepandaian !" tantangnya memandang enteng.

Melihat orang memandang enteng pada dirinya, hati Jen Pek Coan jadi panas, betapa sombongnya orang ini, kalau tidak diberi pelajaran, tentu tidak tahu diri dan memandang enteng pada Hay-yang- pay.

Tapi ia senyum2 saja, sautnya : “Ha, Ha ! Terserahlah ! Kalau Yang toako menghendakinya !"

Yang Si Kiat menudingkan tombaknya, katanya dingin :

“Silahkan Jen jihiap !”

Pelan2, dari pinggangnya Jen Pek Coan keluarkan pipa rokok itu, ucapnya :

“Silahkan Yang toako !"

Melihat senjata pipa yang demikian pendek, Yang Si Kiat semakin memandang enteng, maka katanya mengejek :

“Apakah Jen jihiap memakai pipa rokok itu sebagai senjata ?"

Jen Pek Coan mengangkat-angkat bahunya : “Sudah sepuluh tahun aku menggunakan pipa

rokok, belum pernah ada kekurangan apa2. Tapi kalau dibandingkan dengan tombak Yang toako, agaknya terlalu pendek."

“Lebih baik Jen jihiap ganti senjata yang lain saja !"

“Pendek    sedikit     tidaklah     menjadi     soal.

Walaupun pendek, asal bisa dipakai."

“Dalam pertandingan tentu akan timbul korban, hanya janganlah Jen jihiap kuatir, aku tidak akan merengut jiwamu paling hanya melukaimu." ucap Yang Si Kiat dingin. Mendengar ucapannya ia tidak menjadi marah, hanya menyahut dengan menjura. “Banyak terima kasih atas kemurahan hati Yang toako !"

“Hati2lah !" tiba2 tombaknya berputaran berobah menjadi sebuah lingkaran putih, berkilauan menerjang ke-diri Jen Pek Coan.

“Trangg…”

Jen Pek Coan menyambarkan senjatanya, hingga dua senjata beradu, mengeluarkan suara keras. Dirinya terhuyung, nampak seperti terdorong oleh getaran senjata yang amat keras tadi.

“Ha, ha! Hanya demikianlah kehebatan si telapak sakti yang kesohor ini,” ejek Yang Si Kiat dingin.

Ia jadi lebih memandang enteng, timbul nafsunya untuk bisa menundukan lawan dalam waktu yang cepat. Ia menerjang lawannya pula, menghujankan tusukan2 yang sangat gencar.

Melihat lawan masuk perangkap, Jen Pek Coan merasa girang, cepat tubuhnya direndahkan kebawah dengan miring sedikit, ia mencelat maju nampak suatu bayangan hitam bagaikan kecepatan bintang jatuh dari langit meluncur kearah dada Yang Si Kiat.

Serangannya sungguh diluar dugaannya, hatinya sangat terkejut, karena ia dapat merasai berkelebatnya suatu bayangan mengancam dadanya. Untuk mengelak sudah tidak mungkin, maka cepat ia tangkis dengan tombak dipalangkan depan dada.

“Trangg. "

Serangan tempat bakonya dapat tertangkis hingga lagi2 terdengar beradunya senjata yang keras.

Pundak Yang Si Kiat terasa sakit dan nyeri, ia terkejut dan menyesal, karena orang yang dipandang enteng itu ternyata mempunyai lweekang demikian hebatnya, hingga dirinya kena terpancing.

Begitu tempat bakonya dapat ditangkis, berbarengan pipa rokok itu menyambar ke-arah batok kepalanya !

Yang Si Kiat jadi kualahan, untuk mengelak serangan itu sudah tidak mungkin, maka cepat menyedot napas, ia mengenjotkan kaki, hingga tubuhnya mencelat kebelakang !

Jen Pek Coan tertawa kecil, tubuhnya pun mencelat, mengubar sambil menghunyam pukulan2 serta totokan2 yang membuat lawannya tidak berdaya.

Yang Si Kiat terdesak hebat !

Sebenarnya, senjata tombaknya dapat dibuka menjadi dua, tapi karena didesak terus oleh lawan, hingga Yang Si Kiat tidak mempunyai kesempatan untuk ini, memang, bila bertanding dengan jarak jauh, ia dapat keuntungan dari lawannya yang menggunakan senjata lebih pendek dari pada senjatanya. Tapi Jen Pek Coan bukanlah kaum bulim tingkat rendah, ia adalah seorang yang berilmu kepandaian tinggi dan luas pengalamannya, maka dalam sekejap saja, ia bisa merasakan kelemahan2 yang terdapat pada diri lawannya. Hingga ia menggunakan kelemahan lawannya untuk bikin ia tidak berdaya.

Sebentar saja, diri Yang Si Kiat terdesak hebat, hanya bisa mengelak serta menangkis sambil mundur kebelakang.

Ketika Yang Si Kiat menusukan tombaknya kearah iga, ia memutarkan tubuh, hingga tombak itu menusuk di tempat kosong, berbarengan tangan kirinya diulurkan memukul kearah pundak lawan.

Sedangkan tempat bako itu yang berada ditangan kanannya menyambar kearah muka lawan.

Begitu tombaknya menusuk ketempat kosong, Yang Si Kiat cepat miringkan tubuhnya sedikit, mengelak pukulan yang mengancam pundaknya, tangan kiri mendorong ke depan, menangkis tempat bako itu.

Disaat yang sama, pipa rokok Jen Pek Coan pun menusuk kearah dengkul kaki kirinya dengan sangat cepatnya !

“Duk !"

Serangan pipa itu mengenai sasarannya, hingga dengkul kiri Yang Si Kiat kesemutan nyeri, tubuhnya terhuyung kedepan ! Jen Pek Coan tidak meliwati kesempatan yang baik, cepat kakinya menendang kedepan ! “Bruk !"

Tubuh Yang Si Kiat terpental dan jatuh keatas tanah !

Dari pertama bertanding hingga roboh terpelanting, Yang Si Kiat tidak mempunyai kesempatan untuk melawan dengan ilmu tombaknya yang sangat disegani oleh kaum bulim. Maka begitu tubuhnya berdiri, hatinya jadi sangat marah bercampur malu dengan muka merah padam serta mata melotot besar serunya sengit :

“Keparat ! Biarlah aku mengadu jiwa !”

Cepat ia menusukan tombaknya kearah dada Jen Pek Coan serta menerjang maju.

“Aiiiih ! Jangan marah Yang toako, jatuh sedikit kan tidak apa2 !" ejek Jen Pek Coan sambil mengegoskan tubuhnya mengelak serangan.

“Anjing tua! Hayo kita bertanding tiga ratus jurus pula !”

Ia menusukan tombaknya pula yang lantas dielakan oleh Jen Pek Coan.

“Ha, Ha! Harap Yang toako jangan gusar. Kalau menang merupakan hal biasa, terhadap sesama kaum bulim, kalau dalam pertandingan bukanlah hal yang memalukan seorang enghiong harus berani mengakuinya secara jantan bila kalah dalam pertandingan !"

Yang Si Kiat jadi bertambah marah mendengar ucapan yang separo ngejek. “Diam kau anjing tua ! Aku belum kalah ! Barusan kau mendapat keuntungan, karena menggunakan tipu muslihat saja dan bukan bertanding secara jantan !" bentaknya.

Ia menerjang pula kearah lawan, Jen Pek Coan mengelak lalu lari kebalik batu karang, katanya tertawa:

“Sudahlah Yang toako, kehebatan ilmu tombakmu telah kumengujinya ! Hebat.....

hebat..... Memang luar biasa hebatnya ! Ha, ha, ha, ha !"

Diolok demikian Yang Si Kiat merasa dadanya se-akan2 hendak meledak saking sengitnya. Tapi ia hanya bisa me-maki2 sambil mengubar dengan me-nusuk2kan tombak ke balik batu karang.

Jen Pek Coan tidak meladeni kekalapan lawannya. Ia ber-lari2 menghindarkan diri dengan mengejek terus.

Pertandingan antara Kuo Se Fen dengan Gan Bun Hui makin lama makin menjadi seru. Setelah liwat duaratus jurus hati Gan Bun Hui dapat menyadari, betapapun ia tidak kalah dalam ilmu silat, tapi dalam kekuatan tenaga sinkang, dirinya berada di bawah kekuatan lawan. Lambat laun dan akhirnya, ia tentu harus mengaku kalah.

Hati Gan Bun Hui tambah gelisah, ketika melihat kawannya berhasil ditendang roboh oleh Jen jihiap. Sewaktu pikirannya kalut, disaat perhatiannya terpecah, kesempatan ini digunakan se-baik2nya oleh Kuo Se Fen.

Gan Bun Hui merasa tangannya bergetar hebat, pedangnya telah berhasil tertangkis, ditekan kesamping oleh lawan. Hatinya terkejut nampak sebuah bayangan hitam berkelebat kearah dadanya.

Ternyata bayangan hitam itu adalah lima jari tangan Kuo Se Fen - Inilah ilmu "Yin Cau Kung" atau ilmu cakar elang yang sangat disegani oleh kaum bulim.

Gan Bun Hui terkejut, baru saja hendak mengelak. Terlambat ! Karena seketika dadanya teraba ditekan oleh jari tangan lawan. Cepat tubuhnya mencelat kebelakang.

Si Cakar elang Kuo Se Fen berdiri tenang dihadapannya sambil tersenyum.

Gan Bun Hui dapat menyadari, andai si Cakar elang itu hendak mencelakainya dengan mudah cakar maut itu dapat bersarang diatas dada !

Wajahnya berobah merah, ia menyimpan pedangnya serta katanya menjura:

“Banyak terima kasih atas kemurahan hati Kuo tayhiap! Aku mengaku kalah !"

“Ilmu pedang Gan toako sungguh membuat hatiku kagum !"

Gan Bun Hui menoleh kearah diri kawannya, nampak ia sedang menguber-nguber lawannya sambil me-maki2. Ia jadi mengerutkan alis serta membentak.

“Sudahlah Yang jietee !"

Ditegor demikian Yang Si Kiat berhenti menguber, sahutnya penasaran :

“Toako, aku tidak kalah ditangannya !"

“Mari kita pergi !" ucap Gan Bun Hui dengan menekuk muka.

Setelah ia menjura pada Kuo Se Fen kemudian berlalu masuk kedalam lembah, diikuti oleh Yang Si Kiat serta keempat orang pengawal itu.

Para jago dari keluarga Lie itu berhasil dikalahkan !

Setelah bayangan mereka lenyap dari pandangan, Kuo Se Fen menghela napas dan berkata:

“Marilah kita berangkat !"

Jen Pek Coan mengisikan bako kedalam pipa lalu menyalakannya, ia mengisap dua kali kemudian berkata:

“Mungkin dikemudian hari, keluarga Lie akan dendam hati pada kita."

“Aih ! Terserahlah pada mereka ! Karena mereka yang memaksa kita !" sahutnya tegas.

Goan Tian Hoat menggendong Kang Han Cing pula, lalu mereka meninggalkan tempat itu menuju kedalam lembah. Tidak lama, mereka tiba disuatu jalan kecil serta sempit. Mereka mendongak nampak kedua sisinya batu2 karang yang pemukaannya licin dan rata, menjulang tinggi keangkasa, hingga dari jauh nampak jalan kecil itu seperti retakan gunung saja.

Jalan kecil itu ber-liku2 serta menanjak tinggi. Angin meniup sangat kencangnya membuat pakaian mereka ber-kibar2 bagai bendera dan mengeluarkan suara deruan.

Setelah beberapa lama jalan itu mulai lebar, ternyata mereka kini berada dibalik puncak gunung. Kabut tebal menutupi sekeliling puncak membuat baju mereka basah.

Kuo Se Fen meng-amat2i keadaan disekelilingnya, kemudian berkata sambil menunjuk kedepan :

“Mungkin Pek-yun-kuan berada didepan sana.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju suatu lereng gunung. Benar saja, mereka melihat sekelilingnya lereng itu penuh dengan pohon- pohon bahan obat yang ditanam oleh Tian Hung totiang.

Angin sepoi-sepoi meniup pohon-pohon obat yang telah berbunga membuatnya berbuah, hingga hidung mereka terangsang bau harum yang menyegarkan.

Ditengah-tengah pohon-pohon obat terdapat sebuah jalan kecil berliku yang pada ujungnya nampak sebuah bangunan kecil. Dalam bangunan kecil itu terdapat meja serta bangku-bangku yang terbuat dari batu.

Dibawah wuwungan nampak sebuah papan merek berbunyi "Cia-ci-teng" atau depot mengaso.

Tidak jauh dari situ terdapat sebuah bangunan yang dikelilingi oleh pagar bambu, tembok dari bangunan itu berwarna kuning, inilah Pek-yun kuan, tempat kediaman Tian Hung totiang.

Baru saja mereka tiba didepot itu, dari dalam Pek-yun-kuan berkelebat beberapa bayangan menuju kearah mereka.

Alis Kuo Se Fen berkerut, dalam hati men- duga2, apakah mereka orang2 dari keluarga Lie pula?

“Toa-suheng, apakah mereka itu dari keluarga Lie pula ?" tanya Jen Pek Coan melangkah dekat.

“Biarlah, kita mengaso dahulu sejenak !" Setelah duduk, Kang Han Cing berkata terharu :

“Sungguh membuat hati siauwtee merasa tidak enak, kalau saja bukan karena urusan siauwtee, paman berdua tidaklah sampai bermusuhan dengan keluarga Lie !"

“Sungguh keterlaluan mereka ini, masakan karena Lie Kang Tie berobat saja lalu melarang lain orang datang kesini !" ucap Jen Pek Coan sengit.

“Janganlah jitee berkata demikian, mungkin mereka mempunyai kesulitan hingga terpaksa berbuat demikian !" Nampak oleh mereka seorang pemuda, wajahnya putih bersih, berjalan menghampiri.

Pemuda itu mengenakan pakaian panjang warna biru yang terbuat dari bahan sutra, berumur dua puluh lebih, alisnya kereng serta lentik, pandangan matanya terang tajam. Bentuk wajahnya agak kurus serta membayangkan sifatnya yang tinggi hati.

Yang berada di belakang pemuda itu adalah keempat pengawal keluarga Lie.

Setelah tiba dihadapan rombongan Kuo Se Fen, pemuda itu memandang tajam sambil tersenyum dingin. Tiba2 sambil menudingkan kipas ditangannya berkata dingin:

“Mereka orangnya ?" “Ya !"

Wajah pemuda itu berubah terbayang tidak senang, ia me-nuding2kan kipasnya serta ucapnya dingin :

“Kalian dari Hai-yang-pay, yang mana bernama Kuo Se Fen ?"

Melihat tingkah lakunya yang sangat congkak serta kurang ajar dari pemuda ini, lebih2 memanggil suhengnya tidak hormat, hati Jen Pek Coan jadi panas, baru saja ia hendak mendampratnya....

“Aku bernama Kuo Se Fen. Siapakah siauwko ini ?" sahut Kuo Se Fen bangkit dari duduknya dengan memberi hormat. “Ia adalah tuan muda kami !" ujar seorang dari empat pengawal itu.

“Oh ! Lie kongcu ! Terimalah hormatku !" kata Kuo Se Fen dengan menjura.

“Mungkin kau telah mengetahui ayahku sedang berobat disini !"

Dia putra Lie Kong Tie !

“Ya. Gan toako telah memberitahukannya.” “Kalau begitu, kalian pulang kembali saja !

Karena ayahku tidak boleh terganggu !" katanya

dingin.

Betapa sombongnya pemuda berwajah putih itu, ucapannya se-olah2 suatu perintah.

Kuo Se Fen sebagai seorang ketua partai biarpun mempunyai ketabahan yang luar biasa, mendengar ucapan dingin yang memandang rendah serta menghina itu, hatinya menjadi panas. Walaupun demikian, Kuo Se Fen tetap bersabar, katanya :

“Tubuh keponakanku ini terkena racun dan hanya Tian Hong totianglah yang dapat menyembuhkannya "

“Aku tidak suka banyak omong ! Lebih baik kalian meninggalkan tempat ini !" ucap pemuda itu tidak sabar dan dingin.

Jen Pek Coan jadi tidak sabar pula, ucapnya sengit :

“Ha, Ha, Ha, Ha ! Apakah Pek-yun-kuan sudah dibeli kalian ?" Pemuda itu memandang dingin tajam dan tanyanya menoleh kebelakang : “Siapakah dia ?"

“Dia adalah wakil ketua Hai-yang-pay bernama Jen Pek Coan, mempunyai julukan si tangan sakti." ucap seorang pengawal.

“Tidak salah ! Aku bernama Jen Pek Coan."

Dengan wajah dingin dan congkak, sambil meng-goyang2kan kipas ditangan, pemuda itu berkata :

“Hm ! Memang didaerah utara agak disegani orang. Tapi bagi keluargaku sedikit pun tidak dipandang !”

(Bersambung 5)