Pendekar Tanpa Tandingan Jilid 09

 
Jilid 09

Keinsyafannya menghidupkan kembali watak jantan dan kegagahannya. Kini anggapannya berobah bahwa kalau mesti mati di tempat ini ia tidak mau menerima kematian ini begitu saja.

Ia akan pertahankan nyawanya dan nyawa calon isterinya sampai titik darah yang terakhir! Oleh karena itu maka sebelum senjata- senjata dari para perampok itu sempat menyerang dirinya, dengan cekatan sekali ia pangku tubuh Yang Hoa dan dipondong di atas pundak kirinya. Pohon kecil tadi lalu digerakkan oleh tangan kanannya, menyampok, menyapu dan menyabet para perampok yang ketika itu sudah menyerang dan mengurung dirinya dengan rapat sambil berteriak-teriak!

Demikianlah, dengan mempergunakan pohon kecil itu sebagai senjata, Bun Liong mengamuk hebat. Biarpun daun-daunnya sudah rontok semua dan ranting-rantingnya sebagian sudah terbabat senjata lawan namun senjata istimewa itu masih cukup ampuh untuk menghajar lawannya sampai menjerit!

Betapapun hebatnya Bun Liong mengamuk, namun karena ia bertempur sambil memondong tubuh Yang Hoa, pergerakannya jadi sangat tidak leluasa. Dan pula beban itu sangat memberatkan sehingga cepat mendatangkan rasa lelah.

Sedangkan serangan senjata para perampok itu datangnya bertubi-tubi, sedikit lengah atau kurang gesit akan celakalah Bun Liong. Para perampok itu berlomba-lomba hendak merobohkan pemuda itu seolah-olah mereka hendak mencari pahala.

Kepungan mereka makin rapat dan serangan-serangan senjata yang mereka lancarkan makin dahsyat. Dan ditambah lagi Ban Kui sendiri ikut mengeroyok dan saban-saban mengirim hawa pukulan Hek-tok-ciang dari jarak dekat, hingga Bun Liong menjadi sangat repot dan keadaannya benar-benar sangat berbahaya!

Namun keadaan Bun Liong benar-benar tidak mengecewakan sebagai murid tunggal dari Bu Beng Lojin yang sakti itu. Biarpun ia sudah merasa ripuh sekali dan tidak melihat jalan keluar dari kepungan yang semakin lama tambah menjepit ini, sambil menggigit bibir ia terus mempertahankan diri. Sampai saat terakhir ia tidak sudi mengalah atau menyerah. Ia sudah bertekad lebih baik mati sahid bersama calon isterinya dalam menjalankan tugas perjuangannya ini!

Kalau saja Bun Liong tidak memundak Yang Hoa, pasti ia takkan serepot ini jadinya, menghadapi pertempuran dan keroyokan semacam ini ia pasti akan dapat mengatasinya dengan mudah. Akan tetapi sekarang benar-benar Bun Liong sudah kewalahan.

Ia tak dapat mengerahkan kepandaiannya secara sempurna. Biarpun gin-kangnya tinggi tapi karena memundak tubuh Yang Hoa, gerakannya menjadi lambat! Dan kalau beberapa saat lagi keadaannya terus seperti ini, pemuda itu pasti akan kehabisan tenaga dan bersama calon isterinya ia akan mati dicincang para lawan yang sudah tidak mengenal ampun itu!

Akan tetapi Thian Yang Maha Kuasa agaknya belum menghendaki pemuda gagah-perkasa ini menemui kematiannya. Oleh karena pada saat segenting itu, ketika nyawa Bun Liong seakan menggantung pada seutas rambut, mendadak terdengarlah suara sorak-sorai gegap-gempita dan suara derap-derap kaki yang berlari gemuruh menyerbu ke situ dari segenap penjuru! Hal ini bagi Bun Liong merupakan sambungan umur sehingga ia merasa seperti mendapat tenaga baru. Sementara itu para perampok menjadi kacau karena mereka yang tadinya enak-enak mengeroyok pemuda itu kini mendapat gempuran hebat dari belakang!

Dengan kaget dan marah, Ban Kui segera mengeluarkan aba-aba supaya para anak buahnya melawan serbuan itu! Ternyata rombongan Pauw-an-tui yang dipimpin oleh Can kauw-su sebagaimana direncanakan semula akan datang belakangan dan mengurung hutan sarang gerombolan dari segenap penjuru, telah datang pada saat yang sangat tepat!

Maka terjadilah perang yang hebat antara para anggauta Pauw- an-tui dan gerombolan itu. Suara beradunya senjata terdengar trang-treng-trong membisingkan. Jerit pekik saling bersahutan dan disusul dengan bergulingannya tubuh-tubuh yang terluka atau binasa, baik di pihak gerombolan maupun di pihak anggauta- anggauta Pauw-an-tui!

Bun Liong jadi terlepas dan bahaya maut karena para pengeroyoknya kini telah kacau balau dan pecah berantakan. Dengan mengerahkan tenaga yang masih ada padanya, pemuda ini terus menghajar perampok-perampok yang dekat dengan senjata istimewanya, yaitu sebatang pohon kecil tadi.

Tiba-tiba Bun Liong mendengar suara orang yang menasehatinya: “Souw sicu, kau terlalu lelah, istirahatlah dan nyawa calon isterimu perlu segera ditolong!”

Bun Liong menoleh dan ternyata orang yang berkata adalah Can kauw-su, golok di tangannya telah merah dilumuri darah dan setelah Bun Liong menyatakan, “Baik!” dengan perasaan terima kasih yang tidak terhingga, orang tua jangkung kurus bekas tentara yang berjuluk Toat-beng-sin-to (Golok Sakti Penyabut Nyawa itu lantas melompat menceburkan diri ke dalam medan pertempuran!

Sambil menarik napas legaan, Bun Liong membawa tubuh Yang Hoa yang sejak tadi terkulai di atas panggulannya itu ke tempat yang teduh yang agak jauh dan tempat pertempuran itu. Di sini Bun Liong merasa tenang karena selain kini kawan-kawannya sudah datang yang jumlahnya jauh lebih besar dari para perampok, juga di sekitar tempat ini di mana kini Bun Liong hendak menolong calon isterinya, telah dijaga oleh tidak kurang duapuluh orang anggauta Pauw-an-itui bersenjata lengkap untuk melindungi ia dari segala kemungkinan! Bun Liong menengkurapkan tubuh nona itu di atas rumput dan kemudian memeriksa bagian pundak si nona di mana sebatang anak panah beracun itu masih menancap. Ternyata kulit pundak yang tadinya putih halus itu kini telah matang biru.

Tapi Bun Liong tidak terlalu cemas karena nadi si nona masih berdenyut, sungguhpun denyutannya tidak normal. Ia merasa beruntung karena tadi masih sempat menutup jalan-jalan darah tertentu sehingga racun itu tidak sampai menjalar ke seluruh tubuh si nona, kalau tidak, besar kemungkinan kini si nona sudah tidak bernyawa!

Sebelum mencabut anak panah itu, terlebih dulu Bun Liong membelek sedikit kulit dekat luka di mana anak panah menancap, dengan menggunakan ujung golok yang dipinjamnya dari salah seorang kawan yang menjaganya. Kemudian dengan hati-hati ia mencabut anak panah itu karena sudah ada jalan dari belekan tadi, maka anak panah tersebut berhasil dicabutnya dengan mudah.

Lalu diurut-urut dan dipijit-pijitlah sekitar bagian yang luka itu dan darah yang kehijauan mengalir keluar. Ia terus mengurut-urut dan memijit-mijit sampai darah yang mengandung racun keluar semua dan akhirnya keluar darah yang berwarna merah. Ia segera mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari saku bajunya, lalu ditaburkan di lobang luka itu. Setelah itu, ia menempelkan telapak tangan di punggung si nona dan mengerahkan hawa sin- kang untuk memunahkan racun di tubuh Yang Hoa.

Perlahan-lahan suhu tubuh si nona yang tadinya sangat panas, mulai menurun dan muka yang kebiruan berangsur-angsur menjadi merah lagi dan Yang Hoa sudah dapat bergerak-gerak sedikit.

Setelah yakin bahwa calon isterinya telah terhindar dari pengaruh racun yang berarti bahwa bahaya telah lewat, lega dan tenteramlah hati Bun Liong. Ia menarik kembali tangannya yang ditempelkan di punggung si nona tadi, mengatur pernapasannya supaya pulih kembali dan terdengarlah keluhan perlahan dari Yang Hoa yang memanggilnya.

“Liong-ko…….!”

Ternyata Yang Hoa kini telah membuka matanya. Cepat akan tetapi hati-hati, Bun Liong meraih dan mendudukkan si nona di dalam pelukannya. “Yang-moay, adikku sayang. Kau telah terhindar dari bahaya maut,” bisiknya di dekat telinga gadis itu, dengan terharu dan girang.

“Liong-ko, bagaimana kau sendiri, selamatkah…….?” Tanya gadis itu berbisik, dan matanya menatap wajah calon suaminya dengan pandangan sayu.

“Selamat, kita sama-sama selamat, Yang-moay…….”

Gadis itu menarik napas panjang. “Syukurlah……. Tapi aku haus sekali, minta minum, Liong-ko ”

Bun Liong maklum betapa hausnya gadis itu setelah mengalami rangsangan racun yang memanaskan tubuhnya tadi, tapi agak bingung karena dari mana bisa mendapatkan air di hutan belantara ini? Selagi ia kebingungan, tiba-tiba salah seorang kawan mereka yang agaknya mendengarkan percakapan mereka itu menghampirinya, memberikan sebotol air minum yang dibekalnya.

Pemuda ini ternyata Kwe Bun, anak muda yang pembaca sudah kenal sejak bagian permulaan cerita yaitu murid kedua dari Can kauw-su, yang ketika masih berselisih dengan murid-murid mendiang Lu Sun Pin, dengan kepalannya pernah memukul pecah kepala seekor kerbau gila yang mengamuk di depan Tong-koan Te-it Bu-koan, yaitu rumah perguruan silat yang didirikan Lu Sun Pin almarhum.

Sambil meminumkan air itu, Bun Liong memasukkan pula ke dalam mulut calon isterinya tiga butir pil merah yang selalu dibawanya bersama obat-obat lainnya. Obat-obat itu adalah pemberian dari Bu Beng Lojin dan ternyata sangat berkhasiat dan luar biasa mustajabnya, sehingga sebentar saja Yang Hoa telah kelihatan segar kembali.

“Liong-ko, mana pedangku?” tanya Yang Hoa sambil celingukan mencari senjata yang ditanyakannya.

Bun Liong ingat bahwa ketika nona itu jatuh pingsan tadi pedangnya jatuh dan ketika ia menyambar tubuh calon isterinya ia tidak sempat mengambil pedang itu. Maka setelah menyatakan hendak mengambil pedang itu, pemuda itu melompat pergi dan sebentar kemudian sudah datang lagi dengan membawa pedang si nona yang diketemukannya di antara sela-sela tumpukan balok- balok. Pedang itu dinodai darah yang sudah mengering.

Sambil menerimakan pedang itu, Bun Liong berkata: “Yang-moay, kau tinggal dan istirahatlah di sini. Aku hendak membantu kawan- kawan kita.” “Akupun mau ikut, Liong-ko!”

“Jangan! Kau tidak boleh banyak bergerak dulu sebelum kau sembuh benar. Diamlah di sini bersama-sama kawan-kawan kita ini.” Setelah berkata begitu, tanpa memperdulikan wajah Yang Hoa yang memperlihatkan rasa menyesal karena tidak diperbolehkan ikut, Bun Liong sudah berkelebat pergi.

Ternyata selama Bun Liong mengobati dan menolong jiwa Yang Hoa tadi, sebagian besar para perampok telah diganyang mampus oleh labrakan para anggauta Pauw-an-tui yang gagah berani di bawah pimpinan guru silat Can Po Goan. Hanya sedikit saja liauwlo-liauwlo yang melemparkan senjata dan menyerah.

Mayat dari kedua belah pihak bergelimpangan tumpang tindih. Rumput-rumput hutan yang tadinya hijau menjadi merah dibanjiri darah. Keadaan sungguh mengerikan…….

Hanya si Cakar Harimau Lo Ban Kui sendiri saja yang masih melawan dengan gigihnya. Biarpun kakek bungkuk ini sudah letih dan menderita luka dalam akibat pukulan Lui-lek-ciang ketika ia bertempur dengan Bun Liong tadi, namun ia masih dapat melawan Can kauw-su dengan baik dan berlangsung sampai beberapa puluh jurus lamanya. Kalau tadi para liauw-lo mengepung dan mengeroyok Bun Liong, maka sekarang Ban Kui dikepung oleh para anggautanya Pauw- an-tui, akan tetapi mereka ini hanya berdiri mengitarinya sambil berteriak-teriak dan senjata mereka diacung-acungkan ke atas, sedangkan yang menghadapi Ban Kui bertempur adalah Can kauw-su seorang.

Can kauw-su memainkan goloknya sedemikian hebat sehingga patutlah ia mendapat julukan Toat-beng-sin-to (Golok Sakti Pencabut Nyawa). Akan tetapi sebaliknya Ban Kui pun melawannya mati-matian dengan cengkeraman kuku-kuku jari tangan, dan rangsangan kuku-kuku jari kakinya yang beracun itu sebagai senjata ampuhnya.

Kadang-kadang kakek lihay yang mempunyai daya kekuatan luar biasa ini mengirim pukulan hek-tok-ciang terhadap Can kauw-su. Kegagahan Ban Kui benar-benar patut dipuji karena meskipun maklum bahwa di pihaknya hanya tinggal ia seorang dan sembilanpuluh persen sudah terang bakal kalah, namun kakek ini tidak sudi menyerah mentah-mentah!

Kalau dibuat perbandingan tingkat kepandaian antara Lo Ban Kui dan Can kauw-su, sebenarnya dapat dikatakan sangat seimbang. Akan tetapi karena Ban Kui sesungguhnya sudah terlalu lelah dan menderita sakit di dalam dada yang ditahan-tahannya, sedangkan Can kauw-su merupakan lawan baru yang mempunyai tenaga baru baginya, maka kakek bungkuk ini akhirnya menjadi amat kewalahan.

Pada suatu saat, tiba-tiba Can kauw-su melakukan serangan yang luar biasa cepat dan kuatnya, goloknya menyambar bagaikan kilat mengarah batang leher Ban Kui. Ketika itu kedudukan Ban Kui justeru dalam posisi yang sulit, maka kakek ini terkejut sekali dan cepat ia melakukan tangkisan dengan kipratan kuku jari tangan kanannya yang disertai pengerahan tenaga lweekang sepenuhnya.

Akan tetapi begitu senjata golok itu tertangkis, golok terpental miring dan masih terus melanjutkan sambarannya ke arah tenggorokannya! Ban Kui kali ini tak keburu menangkis lagi dan cepat ia memular tubuh untuk mengelak, akan tetapi terlambat…….!

“Bretttttt…….!” Golok Can kauw-su telah mencium pundak kirinya, membabat kulit dan melukai daging pundak yang terobek bersama dengan baju kulit majikannya. Akan tetapi bertepatan dengan itu Ban Kui sempat mengirim hawa pukulan Hek-tok-ciang terhadap lawannya. Baiknya Can kauw-su cukup waspada dan berlaku gesit, cepat ia mengelak dengan tiga lompatan ke samping.

Hal ini merupakan kesempatan baik bagi Lo Ban Kui untuk melarikan diri. Cepat kakek bungkuk itu membalikkan tubuh, melompat sesigap gerakan macan tutul dan ketika dalam lompatannya itu, ia meloncati sebuah batu karang, kuku-kuku jari kedua tangannya mencengkeram batu karang itu.

Melihat betapa Ban Kui hendak meloloskan diri, para anggauta Pauw-an-tui yang mengitari gelanggang pertempuran cepat menggerakkan senjata mereka membendung lari kakek itu! Akan tetapi sekali saja Ban Kui menggerakkan kedua tangannya ke arah mereka yang menghadangnya, tidak kurang dari sepuluh orang anggauta Pauw-an-tui menjerit bersama-sama dan selain mereka jadi kelabakan kesakitan, bahkan sebagian ada juga yang roboh terjungkal!

Ternyata bahwa Ban Kui mencengkeram batu karang tadi adalah untuk keperluan ini. Batu karang itu dicengkeramnya hingga hancur dan kini ia menggunakan hancuran batu karang itu untuk menyerang para lawan yang mencegatnya. Batu karang yang telah hencur dan merupakan kerikil-kerikil kecil ini tidak boleh dipandang ringan, oleh karena tenaga lemparannya yang disertai tenaga lweekang sepenuhnya ini membuat kerikil- kerikil kecil itu dapat menembus kulit dan daging. Dan setiap butir kerikil kecil itu merupakan sebuah senjata rahasia yang lihay!

Itulah sebabnya, maka beberapa orang anggauta Pauw-an-tui itu menjadi kelabakan terkena serangan kerikil-kerikil kecil yang dihamburkan oleh kedua tangan Ban Kui. Senjata rahasia istimewa itu ada yang mengenai mata, muka dan lain-lain anggauta tubuh mereka, sedangkan mereka yang roboh terjungkal adalah karena kerikil-kerikil kecil itu secara kebetulan mengenai jalan-jalan darah yang mematikan!

Akhirnya Ban Kui bisa membobolkan bendungan itu dan melarikan diri. Akan tetapi kembali ia dicegat oleh tiga orang anggauta Pauw- an-tui lainnya. Seorang yang bersenjata tumbak menghadang di depannya, sedangkan yang dua orang di kanan kiri, pedang dan golok dari kedua orang ini membuat gerakan menggunting dari ke dua sampingnya.

Tapi Ban Kui dengan enaknya dan mudah sekali dapat melewati cegatan ke tiga orang yang bersenjata itu. Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga sukar dilihat, tahu-tahu ke tiga orang anggauta Pauw-an-tui itu menjerit dan tubuh mereka roboh berkelonjotan!

Penghadang di depan Ban Kui tadi tubuhnya telah terpental dihantam tendangan geledek kakek itu. Lawan di kanan kirinya setelah senjata-senjata mereka dikelitkan, kuku-kuku dari jari ke dua tangan Ban Kui telah mencengkeram perut mereka, sekali saja direnggutkan pecahlah kulit perut sehingga seluruh isi perut berhamburan keluar dalam keadaan seperti dicabik-cabik!

Ketika Can kauw-su melompat dan mengejar, ternyata Ban Kui telah lenyap, kakek itu telah melarikan diri memasuki kerungkutan hutan belukar! Ketika beberapa orang anggauta Pauw-an-tui hendak mengejar, Can kauw-su melarangnya sambil memberi penjelasan bahwa menurut peraturan kang-ouw, lawan yang telah melarikan diri ke dalam hutan, tidak boleh dikejar karena sangat berbahaya bagi si pengejar.

Bukan main kaget dan sedihnya Can kauw-su tatkala kemudian ia melihat korban yang terkoyak perutnya itu, karena seorang di antaranya adalah muridnya yang paling ia sayangi, yaitu Tan Seng Kiat, suheng dari Kwe Bun, pemuda yang memiliki watak sabar seperti gurunya itu! Ketika Can kauw-su mendekati dan memeriksa, ternyata nyawa murid kesayangannya itu telah putus, seluruh kulit tubuhnya matang biru.

Kasihan, pemuda yang pembaca sudah mengenalnya sejak bagian permulaan dalam cerita ini, kini telah menemui kematiannya dalam keadaan yang mengerikan! Benar-benar kasihan……..

Ketika Bun Liong tiba di tempat itu, hatinya menjadi masygul melihat kawan-kawannya banyak yang menjadi korban dan ia lebih menyesal lagi ketika mendengar keterangan Can kauw-su bahwa Houw-jiauw Lo Ban Kui telah dapat melarikan diri.

Sementara Can kauw-su dengan sebagian anggauta Pauw-an-tui merawat dan mengumpulkan kawan-kawannya yang menderita luka dan yang gugur sebagai patriot, adapun Bun Liong bersama sebagian kawan-kawannya lagi pergi ke atas bukit dan memeriksa pesanggrahan kediaman gerombolan.

Setiap bangunan dan ruangan diperiksa dan digeledah. Dan dalam operasi ini selain mereka menemukan empat buah peti berisi barang-barang berharga hasil penggarongan dan ratusan kwintal bahan makanan, juga mereka melepaskan sembilan orang wanita muda dari sebuah kamar yang berterali besi. Wanita-wanita itu cantik-cantik akan tetapi wajah mereka sangat pucat dan tubuh mereka demikian kurus kering. Kemudian Bun Liong mengetahui bahwa wanita-wanita itu adalah korban penculikan dan dijadikan barang permainan para perampok. Kiranya kesembilan wanita itu adalah sisa yang masih dapat bertahan hidup, sedangkan selebihnya telah membunuh diri atau dibunuh oleh para perampok karena mereka tidak mau melayani keinginan manusia binatang itu.

Demikianlah akhirnya, setelah Bun Liong dan kawan-kawannya membakar pasanggrahan itu dan mengubur mayat-mayat para perampok, mereka pulang meninggalkan hutan itu sambil bersorak-sorak kemenangan. Barang-barang hasil rampasan mereka gotong, mereka yang tewas atau terluka diusung atau digendong oleh kawan-kawannya, yaitu seperti Can kauw-su dan Kwe Bun mengusung jenazah Tan Seng Kiat, dan Bun Liong memondong Yang Hoa karena gadis ini masih terlalu lelah dan lemah untuk berjalan sendiri menuruni bukit, akibat rangsangan racun di dalam tubuhnya tadi…….

Perlu diterangkan, bahwa mayat-mayat anggauta Pauw-an-tui yang gugur selaku patriot pembela rakyat kemudian dikebumikan di sebidang tanah di sebelah barat kota Tong-koan. Tanah tersebut milik seorang hartawan yang diberikan kepada Pauw-an-tui untuk dijadikan tempat penguburan bagi para anggaula Pauw-an-tui yang gugur, semacam taman pahlawan.

Sedangkan barang-barang berharga seperti emas permata sitaan itu tadinya hendak diserah kembalikan kepada pemiliknya masing- masing, tetapi setelah diadakan perundingan antara pemimpin Pauw-an-tui dan mereka yang mengaku pemilik barang-barang itu, akhirnya diputuskan bahwa barang-barang tersebut tidak dikembalikan kepada mereka, melainkan mereka justeru menyerahkannya kepada Pauw-an-tui.

Oleh Barisan Penjaga Keamanan barang-barang sebagian dijadikan perbekalan, sebagian disumbangkan kepada sanak keluarga para korban, dan selebihnya diamalkan kepada rakyat miskin. Cara ini adalah berkat kebijaksanaan dari Cio Song Kang wan-gwe!

Hari itu sungai Huang-ho mengalir tenang dan agak surut. Perahu- perahu nelayan nampak di sana sini, akan tetapi hanya perahu- perahu nelayan miskin tanpa layar. Ada juga di antaranya yang memakai layar, akan tetapi lajar usang penuh tambalan. Sebelum daerah Tong-koan diranjah gerombolan penjahat, keadaan sungai Kuning ramai sekali, banyak dilalui perahu-perahu para saudagar. Akan tetapi semenjak daerah Tong-koan menjadi genting, dan sungai seakan-akan dikuasai bajak sungai yang dikepalai oleh Ma Gu Lin si Iblis Sakti Sungai Kuning. Keadaan lalu lintas di sungai ini menjadi mati, semati kota Tong-koan sebagaimana pernah diterangkan dalam bagian permulaan dari cerita ini.

Kini tidak ada perahu-perahu besar para saudagar yang berani melintasi daerah ini, yang ada hanya perahu-perahu nelayan miskin setempat. Dan merekapun tidak berani berperahu jauh-jauh mudik, karena takut pada kawanan bajak yang bersarang di hutan Siong-lim-nia yang terletak persis pada tapal batas Siam-say Ho- nan, yaitu di sebelah barat kota Tong-koan.

Bagi penduduk di sepanjang tepian sungai, Huang-ho merupakan sumber nafkah, mereka dapat menjala ikan sepuas-puasnya dan ikan-ikan itu takkan habis selama air sungai itu masih mengalir. Dan air sungai yang berwarna kekuning-kuningan itu membawa air lumpur yang merupakan pupuk baik sekali bagi para petani, menyuburkan tanaman-tanaman di sawah ladang mereka. Para penduduk yang bertempat tinggal dan mempunyai sawah ladang di sepanjang tepian sungai, sangat berterima kasih kepada Huang-ho karena dari sungai ini mereka seperti mendapatkan berkah bagi penghidupan mereka. Akan tetapi di samping itu adakalanya mereka mengutuk sungai ini apabila airnya meluap melewati batas sehingga menimbulkan banjir besar dan merusak sawah ladang mereka.

Karena inilah maka orang mengatakan bahwa sungai Kuning mempunyai pengaruh yang amat gaib, yaitu merupakan berkah diwaktu tenang sehingga penduduk berterima kasih. Tapi sebaliknya merupakan bencana besar diwaktu banjir sehingga penduduk yang dirugikan mengutuknya!

Seperti sudah diceritakan tadi, bahwa hari itu air sungai Huang-ho agak surut dan mengalir tenang. Di antara perahu-perahu nelayan yang tengah menjala ikan itu tampaklah sebuah biduk kecil yang maju mudik dengan cepatnya.

Biduk kecil itu dinaiki oleh dua orang, yaitu seorang laki-laki setengah tua yang mengayuh dayung dan yang di kepalanya mengenakan topi bambu berdaun lebar sebagaimana umumnya topi nelayan, bergerak-gerak dan di dekat ujung depan biduk duduk seorang pemuda yang berpakaian seperti seorang putera hartawan. Tangan kanannya memegangi gagang payung yang menaungi tubuhnya dari sinar matahari yang sebenarnya masih belum terik.

Adapun tangan kirinya memegang sejilid buku tebal yang asyik, dibacanya. Dan di antara kedua orang yakni di tengah-tengah biduk terletak sebuah peti besar berbentuk indah.

Setiap nelayan yang bertemu atau berpapasan dengan kedua orang itu, mengangkat tangan memberi salam dan kakek pendayung dan pemuda yang membaca buku itupun membalasnya dengan lambaian tangan atau anggukan kepala.

Kakek setengah tua yang mendayung dan pemuda yang berpakaian seperti seorang putera hartawan itu adalah Can kauw- su dan Bun Liong yang hari itu, setelah dua hari berselang mereka mengganyang kawanan garong, akan pergi mengganyang komplotan bajak sungai di hutan Siong-lim-nia. Mereka menempuh perjalanan melalui sungai dan membawa sebuah peti besar itu adalah sesuai dengan rencana dan siasat.

Bila kemarin dulu Bun Liong pergi bersama Yang Hoa, maka kini ia pergi bersama Can kauw-su karena Yang Hoa kesehatannya belum pulih benar dan dicegah oleh Bun Liong, sungguhpun nona itu sebenarnya ingin ikut serta dengan calon suaminya melakukan tugas yang terakhir dalam rangka berkonfrontasi dan mengganyang komplotan penjahat. Ternyata ada baiknya bagi Bun Liong kali ini pergi bersama Can kauw-su, karena guru silat yang kini menyamar sebagai nelayan ini selain sudah hapal akan letak hutan Siong-lim-nia melalui perjalanan sungai juga sangat mahir dalam hal mengemudikan biduk.

Perjalanan di atas biduk sangat menyenangkan hati Bun Liong, apalagi kalau ia menaiki biduk bersama Yang Hoa maka akan terasa lebih romantis.

Makin lama biduk kecil itu meluncur makin ke hulu dan perahu- perahu nelayan tadi sudah tertinggal jauh di belakang. Di permukaan air sungai di mana kini Bun Liong dan Can kauw-su berada, tidak tampak lagi perahu-perahu nelayan karena tempat itu sudah merupakan daerah genting dan sudah tidak berapa jauh lagi dari hutan Siong-lim-nia.

Ternyata menempuh perjalanan dengan biduk di permukaan air sungai ini tidak semudah perjalanan di darat, karena makin mudik, selain keadaan makin sepi dan bentangan sungai makin sempit lantaran diapit tebing batu karang di kedua tepinya yang tinggi, juga disebabkan air sungai agak surut sehingga batu-batu karang besar dan tajam tampak menonjol di permukaan air.

Bun Liong memandang ke depan dan mau tak mau pemuda ini merasa ngeri melihat betapa berbahayanya perjalanan yang ditempuhnya kini. Akan tetapi biduk itu meluncur dengan sangat cepat melawan arus karena terus dikayuh oleh Can kauw-su yang menggerakkan dayungnya disertai tenaga lweekang. Dan kemudian Bun Liong pun membantu mendayung, sehingga biduk kecil itu maju makin kencang bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Hati Bun Liong berdebar-debar bimbang karena pemuda yang baru sekali ini melakukan perjalanan di atas air, merasa bingung betapa biduk yang didudukinya dapat melewati batu-batu karang yang makin ke depan makin banyak malang-melintang di tengah sungai. Juga arus sungai terasa amat deras karena batu-batu itu telah memecah-belahkan aliran sehingga terjadi aliran-aliran kecil bagaikan solokan yang arusnya sangat kencang dan berbelok- belok!

Selagi Bun Liong berpikir-pikir bagaimana caranya supaya biduknya maju lebih lanjut di antara sela-sela batu-batu itu, tiba- tiba ia mendengar Can kauw-su yang duduk dibelakangnya berkata:

“Souw sicu, kau jangan mendayung, akan tetapi gunakanlah dayungmu sedemikian rupa supaya biduk kita tidak terbentur pada batu-batu itu!”

Walaupun Bun Liong sama sekali belum paham betapa mesti mengendalikan biduk supaya tidak menabrak batu-batu itu, namun perkataan Can kauw-su itu dapat segera ia tangkap maksudnya dan ia mengerti betapa ia harus berbuat.

Maka sementara Can kauw-su terus mendayung untuk melawan aliran air kencang yang bisa menghanyutkan biduk mereka ke hilir, Bun Liong lalu menggunakan dayungnya untuk menolak batu-batu di kanan kiri yang mengancam hulu biduk sehingga biduk sebentar membelok ke kanan, sebentar membelok ke kiri. Berkat Bun Liong yang “memegang stir” dan Can kauw-su yang “menancap gas” akhirya biduk itu dapat melalui batu-batu penghalang itu.

Bun Liong menarik napas lega. Dan ia jadi mengerti bahwa menaiki biduk tidak hanya mesti pandai mendayung saja, akan tetapi apabila biduk harus menempuh arus di antara batu-batu penghalang seperti tadi harus menggunakan akal, membutuhkan ketabahan, kecekatan, kekuatan, keberanian dan ketelitian yang luar biasa.

Setelah mereka melewati batu-batu penghalang tadi, kembali biduk mereka meluncur di atas arus sungai yang tenang dan bentangan sungai pun tidak terlalu sempit seperti tadi. Akan tetapi tebing di kanan kiri kini merupakan hutan dan jauh di depan mereka tampak sebuah bukit kecil yang banyak ditumbuhi pohon siong dan di bawah kerimbunan pohon-pohon itu terlihat banyak gubuk- gubuk sehingga merupakan sebuah pedusunan kecil di atas dan di lereng bukit itu.

“Souw sicu, itulah tempat tujuan kita,” kata Can Po Goan sambil menunjuk ke depan, ke arah bukit itu.

Bun Liong mengangguk tanda mengerti dan berbareng dengan itu tiba-tiba dari atas tebing sebelah kanan meluncur sebatang tombak ke arah mereka. Akan tetapi Can kauwsu sangat waspada dan memang mereka bukan tidak mengetahui bahwa puluhan pasang mata mengintai di kedua tebing sungai, di atas batu-batu karang yang tinggi di antara rungkutnya tumbuh-tumbuhan hutan.

Cepat Can Pa Goan menggerakkan dayungnya ke dalam air sebelah kanan dari biduknya sehingga biduk itu jadi meluncur ke samping seakan-akan terdorong dari sisi kanan oleh tenaga yang kuat sekali. Tombak itu jadi meluncur dan masuk ke dalam air karena biduk itu seperti berkelit! Dan Can Po Goan segera berbisik:

“Souw sicu, berbuatlah seperti apa yang kita telah rencanakan.”

Maka dengan suara nyaring Bun Liong berseru sambil menengadah ke atas tebing dari mana tombak tadi datang: “Sahabat yang baik di atas tebing, kalian jangan ganggu kami karena aku adalah utusan dari seorang hartawan yang hendak mengirim barang melalui sungai ini, dan kedatanganku ke mari tak lain adalah hendak bertemu dengan Ma tay-ong!”

“Mengapa dan apa maksudmu hendak bertemu dengan tay-ong?!” terdengar balasan yang merupakan pertanyaan dari atas tebing.

“Aku hendak memberikan ini,” sahut Bun Liong sambil menuding ke peti yang dibawanya dengan biduk itu dan ia melanjutkan: “Jelasnya, aku hendak membayar uang sewa jalan kepada Ma tay- ong!”

Untuk beberapa saat sepi, agaknya laskar bajak di atas tebing berunding dulu dengan kawan-kawannya, kemudian terdengar: “Teruskan perahumu! Ma tay-ong ada di tempatnya, di bukit yang di depan itu!” “Kita berhasil lolos dari lobang jarum yang pertama, Souw sicu!” bisik Can Pa Goan sambil menggerakkan dayungnya dan biduk mereka meluncur lagi ke depan.

Ketika Bun Liong menoleh ke belakang, maksudnya hendak membicarakan sesuatu kepada tukang perahu palsu itu. Pemuda ini melihat enam orang laskar bajak yang menaiki dua buah sampan, entah dari mana datangnya, tahu-tahu mereka telah berada tidak jauh di belakang biduk.

“Ada dua sampan masing-masing dinaiki tiga orang laskar bajak membuntuti kita, Can lopeh,” bisik Bun Liong dan perkataannya jadi menyimpang dari maksud semula.

Can Po Goan mengangguk, “Agaknya mereka mencurigai kita,” katanya tanpa menoleh ke belakang seakan-akan guru silat tua yang bersemangat muda itu sudah maklum.

Ia terus mendayung dengan gerakan wajar dan sikapnya amat tenang. Sedangkan Bun Liong yang biasanya bersikap tenang dalam menghadapi bahaya kini berdebar tegang karena ia berada di atas air, mengingat bahwa ia tidak bisa berenang, maka akan celakah ia kalau dalam pertempuran yang bakal dihadapinya nanti biduknya sampai digulingkan oleh para bajak dan ia akan mati konyol tenggelam ke dalam air!

Memang para bajak itu telah dipesan kepalanya bahwa mereka tidak boleh mengganggu para pembayar uang sewa jalan dan bahkan harus melindunginya. Akan tetapi oleh karena sudah lama sekali tidak ada saudagar hartawan yang berani melakukan perjalanan melalui sungai yang menjadi daerah kekuasaan mereka, maka mereka menaruh curiga terhadap penumpang biduk kecil yang menyatakan hendak membayar uang sewa jalan itu!

Suatu hal yang untuk pertama kalinya terjadi lagi sejak beberapa waktu yang sudah lama berselang. Maka mereka segera menurunkan dua buah sampan dari atas tebing dan enam orang membuntuti biduk kecil itu.

Kemudian, Bun Liong dan Can Po Goan dengan biduknya telah tiba di tepi sungai di bawah bukit Siong-lim-nia itu.

Sebelum mereka sempat mengetepikan biduk, tiba-tiba mereka mendengar suara siulan dari salah seorang laskar bajak yang membuntuti mereka tadi dan bersamaan dengan itu, tahu-tahu di depan biduk kini muncul dua buah sampan yang masing-masing ditumpangi oleh tiga orang laskar bajak pula yang kesemuanya mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna serba hitam dan berbekal senjata tajam yang berkilauan terkena sinar matahari. Dua buah sampan ini dikayu secara melintang merupakan penghadang dan mendekati biduk Bun Liong.

Bun Liong segera mengetahui bahwa di antara enam laskar bajak itu terdapat Huang-ho-ji-go (Sepasang buaya Sungai Kuning) Bu Kiam dan Bong Pi! Sepasang buaya Sungai Kuning itupun agaknya dapat segera mengenal pemuda yang berpakaian seperti seorang putera hartawan seorang pemuda yang pernah mengalahkan mereka mula-mula di atas panggung lui-tay, kemudian bersama seorang dara cantik (Yang Hoa) menghadang dan mengobrak- abrik mereka ketika mereka hendak melakukan penyerbuan ke dalam kota ketika fajar baru menyingsing pada beberapa hari yang lalu!

Para komplotan bajak sudah mendengar bahwa kemarin dulu sarang komplotan perampok sudah ditempur-ludaskan oleh Barisan Penjaga Keamanan (Pauw-an-tui) di bawah pimpinan pemuda yang sudah mereka rasakan kelihayannya itu. Maka setelah mengenal siapa pemuda itu, Bu Kiam ketawa bergelak- gelak. “Hahaha……. kau, bocah yang menjadi jago Pauw-an-tui, mengapa kau menyamar sebagai putera hartawan? Biarpun kau menyamar sebagai siluman sekalipun, kedatanganmu kemari tetap berarti mengantar nyawa! Hahaha !”

“Kau terburu nafsu, Bu Kiam,” balas Bun Liong sambil berdiri di atas biduknya. “Kedatanganku kemari disamping kau anggap mengantar nyawa, tapi juga mengantar isi peti yang kubawa untuk Ma tay-ong, maka sebelum banyak bicara, terimalah dulu peti ini dan sesudah Ma tay-ong melihat isinya, barulah kalian mengetahui tentang maksud kedatanganku ini!”

Baik Bu Kiam maupun Bong Pi yang memang sudah banyak pengalaman sudah mengetahui bahwa pemuda itu selain berkepandaian lihay juga memiliki kecerdikan yang luar biasa sehingga mereka tidak boleh berlaku ceroboh. Dan ketika itu tiba- tiba salah seorang laskar bajak yang membuntuti biduk kecil itu tadi, berkata nyaring, ditujukan kepada Bu Kiam dan Bong Pi,

“Jie-tay-ong dan Sha-tay-ong (Raja kedua dan ketiga), anak muda tadi mengatakan bahwa ia selaku utusan hartawan yang akan lewat di daerah ini hendak membayar uang sewa jalan!” “Hmm…….!” Bu Kiam memperdengarkan suara dari hidungnya. “Kau telah diingusi oleh setan cilik yang banyak tipu muslihatnya ini……!”

Tiba-tiba perkataannya terputus oleh ucapan Bong Pi yang mempunyai pikiran lain: “Bu-ko sebaiknya kita periksa dulu isi peti itu, baru kemudian kita bertindak.”

Bu Kiam tidak cepat menjawab, agaknya benak di tempurung kepalanya tengah membuat pertimbangan antara keragu- raguannya. Akhirnya ia berkata:

“Jangan kita berlaku semberono, Bong-te! Betapapun juga setan cilik itu adalah musuh besar kita, maka berbahaya sekali kalau kita lekas percaya omongannya. Lebih baik maksud bohongnya ini jangan kita hiraukan, dan seranglah dia!”

Kata-kata yang terakhir ini ternyata merupakan aba-aba karena seiring dengan mereka berenam masing-masing melontarkan sebatang tombak dalam waktu yang hampir bersamaan. Tiga batang tombak mengarah Can kauw-su yang cepat berdiri di atas biduknya dan yang tiga batang lagi mengarah Bun Liong dan enam batang tombak itu meluncur luar biasa cepatnya! Baik Bun Liong maupun Can Po Goan maklum bawa rencana sebagaimana yang disiasatkan semula, berkat kewaspadaan Bu Kiam, kini telah gagal. Tapi kejadian seperti inipun memang sudah masuk perhitungan semula, maka begitu mereka diserang oleh luncuran enam batang tombak berarti saat pertempuran sudah tiba!

Can Po Goan memutarkan dayung di tangannya dan tiga batang tombak ditangkisnya sekaligus sehingga tombak-tombak menjadi patah dan jatuh ke air. Sementara Bun Liong ternyata tidak mau berlaku sungkan. Pemuda itu sambil mengeluarkan makian keras:

“Kawanan bajak tak tahu diuntung…….!”

Sejilid buku yang dibacanya tadi dan kini dipegang di tangan kirinya digunakan untuk menyampok luncuran tombak yang pertama sehingga tombak mencong dan masuk ke dalam air. Tombak kedua yang mengarah dadanya sambil miringkan tubuhnya sedikit ke kiri ia tangkap dengan tangan kanannya dan tombak ketiga yang menyerang perutnya ia tendang hingga terpental ke atas.

Dan ketika tombak ini meluncur turun, ia sabet dengan tombak yang dipegang tangan kanannya tadi hingga meluncur cepat kembali ke tempat pelepasnya. Dan terdengarlah pekikan mengerikan dari seorang laskar bajak yang berada di sisi Bu Kiam dan tubuhnya terjengkang dengan dada ditembus tombak dan kecebur ke dalam air!

Tentu saja ketangkasan pemuda ini tak disangka laskar bajak, kecuali Bu Kiam dan Bong Pi yang berkepandaian tinggi, maka seorang laskar bajak tidak keburu berkelit sehingga ia dimakan tombaknya sendiri.

“Bagus…….!” Can Po Goan berseru kagum dan ia sendiri membalikkan tubuh menghadap ke belakang biduk untuk menjaga serangan dari laskar bajak yang membuntutinya tadi.

Bu Kiam berseru marah: “Jahanam! Pembalasanku akan membuat darahmu mengalir bersama air sungai ini!” Dan ia segera terjun ke dalam air, berenang sambil menggigit pedangnya, menghampiri biduk Bun Liong dengan cepat sekali.

Bun Liong kagum akan cara berenang orang ini, begitu cepat sehingga benar-benar seperti gerakan seekor buaya berenang. Pantaslah dijuluki Buaya Sungai Kuning!

Bun Liong cepat melemparkan sejilid buku yang dipegang tangan kirinya tadi, diarahkan kepada kepala Bu Kiam yang berenang mendatangi itu. Lemparan ini, biarpun yang disambitkan hanya sejilid buku, tapi karena lemparannya dilakukan oleh seorang berilmu silat tinggi seperti Bun Liong, maka bila mengenai sasarannya, berarti suatu bahaya yang tidak kecil!

Akan tetapi ternyata Bu Kiam awas luar biasa. Ketika maklum kepalanya disambit, ia cepat menyelam sehingga Bun Liong tidak dapat melihat ke arah mana ia berenang karena dalamnya ia menyelam.

Dikala itu Bong Pi sudah terjun pula mendatangi seperti lakunya Bu Kiam. Dan bersamaan dengan itu pula sampan di depan tadi sudah mendekat dan seorang laskar bajak sambil menghunus golok lalu melompat ke atas biduk Bun Liong.

Dan pemuda ini segera dengan sebelah kakinya menekan kepala perahu sehingga biduknya miring dan mencong ke samping, membuat laskar bajak yang hendak melompat ke atas perahunya jadi nyebur ke dalam sungai karena biduk kecil itu oleh perbuatan Bun Liong seperti berkelit! Tetapi dilain saat, biduk itu terguncang- guncang hebat dan di sisi biduk tampaklah kepala Bu Kiam yang dengan menggunakan sepasang lengannya hendak membalikkan biduk kecil itu. “Celaka…….!” pikir Bun Liong karena apa yang dikhawatirkannya tadi, yaitu bila biduknya digulingkan dan ia akan mati kelelap karena tidak bisa berenang, ternyata kini sedang diusahakan oleh Bu Kiam.

Namun sementara pemuda ini diamuk kekhawatiran, tiba-tiba terdengar Bu Kiam berteriak, pegangan kedua tangannya di sisi biduk dilepaskan dan ia segera menghilang lagi ke dalam air! Ternyata jari-jari tangannya yang mengganduli pingiran biduk itu telah dihantam oleh dayung di tangan Can Po Goan!

“Bagus, Can lopeh!” kini Bun Liong yang memuji kesigapan Can kauw-su dan pemuda ini segera mengajak: “Mari kita mendarat!”

Ajakan ini disetujui oleh Can kauw-su dan setelah sekali lagi ia mengemplang sebuah kepala yang tersembul dari dalam air di sisi biduknya itu, yaitu kepala seorang bajak yang jatuh kecemplung tadi. Mereka serta merta mendayung mengetepikan biduk.

Dan sebelum sampan para bajak sempat mengejarnya, kira-kira biduk mereka tiga tumbak jauhnya dengan tepi sungai, Bun Liong dan Can Po Goan telah dapat melompat ke darat. Dan tepat dikala itu, biduk yang mereka tinggalkan itu terbalik sehingga peti yang mereka bawa tenggelam, hal ini adalah perbuatan Bong Pi! Para bajak itu segera mengetepikan sampan mereka dan mengejar sambil berteriak-teriak. Bu Kiam dan Bong Pi juga sudah mendarat dan berlari mengejar dengan pedang sudah siap di tangan dalam keadaan basah kuyup.

Adapun Bun Liong bersama Can Po Goan berlari terus menaiki lereng bukit Siong-lim-nia dan mereka menuju gubuk-gubuk perumahan bajak sungai itu. Tengah berlari kebetulan sekali mereka melewati sebuah api unggun yang masih menyala, agaknya bekas menghangatkan tubuh para laskar bajak pagi tadi.

Seperti sudah berjanji lebih dulu Bun Liong dan Can kauw-su menyambar sebatang kayu dari unggun itu yang apinya masih menyala merupakan obor dan dengan menggunakan api itu mereka lalu membakar gubuk-gubuk yang terdekat. Mereka bermaksud hendak membakar gubuk-gubuk itu semua supaya para bajak kacau karenanya.

Akan tetapi baru saja mereka sempat membakar empat buah gubuk dan api mulai berkobar karena atap gubuk-gubuk itu terdiri dari rumput alang-alang yang kering sehingga mudah dimakan api, tiba-tiba sambil memperdengarkan suara teriakan-teriakan dan bentakan-bentakan nyaring dari gubuk-gubuk lainnya berlompatan banyak sekali laskar bajak dan serempak Bun Liong dan Can kauw-su diserbu.

Can Po Goan lalu menghunus goloknya yang tadi disembunyikan di dalam bajunya dan dengan goloknya ini ia mengamuk hebat. Sedangkan Bun Liong sendiri juga tidak mau kalah mengunjukkan kelihayannya. Ia mengeluarkan senjata cambuknya yang segera memperdengarkan suara bagaikan petir berkali-kali.

Laskar bajak yang mengeroyoknya bergulingan sambil menjerit- jerit sehingga sebentar saja di tempat itu ramai dengan suara senjata beradu, teriakan-teriakan dan makian dari para laskar bajak serta jeritan mereka yang terluka baik oleh golok Can kauwsu yang mengamuk maupun terkena hajaran oleh cambuk di tangan Bun Liong, disusul oleh tubuh mereka yang jatuh bergulingan ke bawah lereng! Dan suara gubuk runtuh serta api yang berkobar- kobar menambah kekacauan di tempat itu.

“Bunuh saja dua setan Pauw-an-tui ini!” bentak Bu Kiam yang ketika itu sudah tiba di situ dan bersama Bong Pi lalu maju ke depan, mengeroyok Bun Liong dan Can kauw-su dengan ilmu pedang mereka yang hebat! Dalam pengeroyokan itu Bun Liong dan Can kauw-su mengadakan perlawanan gigih sambil saling membelakangi dengan demikian cara mereka merupakan kerjasama yang baik sekali, tidak usah menjaga diri terhadap serangan lawan yang datangnya dari belakang.

Biarpun marah bukan main, namun si Sepasang Buaya Sungai Kuning tidak berani menghadapi kedua lawannya itu terlalu dekat, karena maklum akan kehebatan cambuk di tangan anak muda itu dan golok di tangan Can kauw-su pun menyambar-nyambar laksana halilintar. Dan setiap golok itu berkelebat berarti satu nyawa laskar bajak melayang, sehingga tidak berkelebihanlah di masa mudanya ia mendapat nama julukan Toat-beng-sin-to atau si Golok Sakti Pencabut Nyawa!

Tiba-tiba dalam keributan terdengar suara bentakan nyaring, bentakan ini begitu berpengaruh dan nadanya mengatasi kehiruk pikukan!

“Tahan senjata dan kalian mundurlah…….!!!”

Para bajak yang mengeroyok Bun Liong dan Can kauw-su itu melompat mundur, demikian juga Bu Kiam dan Bong Pi mentaati perintah itu. Mereka berlompatan mundur mengurung dari kejauhan dan memandang ke arah orang mengeluarkan bentakan itu!

Bun Liong dan Can kauw-su pun menoleh ke arah suara bentakan tadi dan mereka melihat seorang lelaki setengah tua bertubuh tinggi besar berpakaian dan mengenakan kain pengikat kepala berwarna serba hitam seperti laskar-laskar bajak tadi. Wajahnya bersemu merah dengan cambang bauknya lebat sekali seperti rumput hutan yang tumbuh semau-maunya, matanya tajam berkilat-kilat mencerminkan kejahatan wataknya, tangan kanannya memegang sebatang dayung besar yang terbuat dari besi.

Dengan langkah yang sangat antep, ia berjalan dari atas bukit dan menghampiri Bun Liong dan Can kauw-su. Di belakangaja tampak dua orang laskar bajak menggotong sebuah peti yang membuat Bun Liong serta Can kauw-su heran, karena peti itu bukan lain adalah peti yang mereka bawa, yang telah tenggelam ke dalam sungai bersama biduknya tadi.

Mereka sangat heran bagaimana peti itu kini dibawa dari atas bukit. Sebenarnya tidak perlu diherankan karena selagi mereka ribut bertempur tadi, dua orang laskar bajak yang melihat peti itu tenggelam segera berenang menyelam ke dalam sungai dan mengangkat peti yang ternyata sangat berat sekali itu. Lalu mereka membawanya ke atas bukit dengan melalui jalan di luar kalangan pertempuran dan melaporkannya kepada Ma Gu Lin yang ketika itu masih tidur di dalam gubuknya yang terletak paling atas di puncak bukit Siong-lim-nia.

Setelah raja bajak itu mendengar keterangan dari anak buahnya tentang hal ikhwal peti tersebut, ia hendak membukanya tapi ternyata tutupnya terkunci. Dan akhirnya ia menyuruh anak buahnya tadi membawa peti itu ke tempat pertempuran bersama ia sendiri setelah mengambil senjatanya sebatang dayung besi yang sangat berat.

Ma Gu Lin berdiri tegak di tengah-tengah gelanggang pertempuran yang dihentikan oleh bentakannya tadi. Sekilas matanya yang menyeramkan melirik ke arah Bun Liong dan Can Po Coan yang berdiri tak jauh di depannya, kemudian ia menoleh ke arah Bu Kiam dan Bong Pi dan kemudian terdengar tegurnya terhadap Huang- ho-ji-go itu:

“Bu-te dan Bong-te, mengapa kau bertindak terhadap kedua orang pembawa peti ini di luar perintahku?!” ujarnya dengan nada kata angker dan berpengaruh. Si Sepasang Buaya Sungai Kuning itu sebentar saling pandang dan kemudian Bu Kiam memberi penyahutan: “Ma-ko, memang kami bertindak tanpa seijinmu terlebih dulu. Akan tetapi kiranya tindakan kami terhadap kedua orang ini tidaklah dapat terlalu disalahkan, karena mereka adalah benggolan-benggolan dari Pauw-an-tui musuh kita dan sudah terang sekali kedatangan mereka ke mari tidak membawa maksud baik!”

Ma Gu Lin kembali melirik ke arah Bun Liong. Agaknya ia masih kurang percaya bahwa pemuda yang berpakaian seperti putera hartawan dan kelihayannya lemah itu bersama kawannya, seorang kakek nelayan, adalah benggolan dari Pauw-an-tui seperti yang dikatakan oleh Bu Kiam. Memang biarpun seorang kepala bajak yang terkenal kejahatan dan kebengisannya, Ma Gu Lin adalah seorang yang berwatak gagah.

Ia melarang para anak buahnya bertindak sembarangan tanpa perintahnya yang biasanya direncanakannya dulu dengan perhitungan masak. Oleh karena itu ia amat menyesalkan Bu Kiam dan Bong Pi yang telah mengeroyok pemuda putera hartawan dan kakek nelayan tanpa menyelidiki dulu maksud yang sebenarnya, sedangkan menurut keterangan dua anak buahnya yang melaporkannya tadi pemuda putera hartawan itu adalah selaku utusan dari seorang hartawan yang akan membayar uang sewa jalan.

“Heh, anak muda, siapakah sebenarnya kau ini?” tegur Ma Gu Lin kemudian kepada Bun Liong.

Bun Liong cepat menjura dan dengan ketenangannya yang luar biasa ia menjawab: “Maafkanlah kalau kedatangan siauwte berdua kemari telah menimbulkan keributan yang sebenarnya diluar kehendak kami. Dan sebenarnya, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara Bu tadi, kami berdua ini memang adalah selaku utusan dari Pauw-an-tui dengan maksud selain hendak menyampaikan bingkisan yang berupa isi peti itu sebagai salam perkenalan dan tanda penghormatan terhadap tay-ong, lebih lanjut kami ingin mengadakan perundingan dengan tay-ong demi kebaikan kita bersama bagi hari-hari yang akan datang!”

“Jadi Pauw-an-tui hendak mengadakan kompromi denganku?” Ma Gu Lin menegaskan dengan hati gembira karena bagi anggapannya kalau Pauw-an-tui sudah mempunyai maksud hendak “bersahabat” dengan pihaknya, ini berarti bahwa Pauw-an- tui merasa jerih terhadapnya.  “Begitulah, tay-ong. Dan sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih atas kemurahan tay-ong sekiranya tay-ong memahami maksud kami,” sahut Bun Liong dengan sikap tetap menghormat dan gaya sungguh-sungguh.

Ma Gu Lin kelihatan berpikir sejenak, entah apa yang dipikirkannya. Lalu bertanya pula menyelidik, “Tapi, mengapa kau tadi mengaku selaku utusan seorang hartawan yang hendak melalui sungai daerahku ini dan tidak terus terang kau mengatakan sebagai utusan dari Pauw-an-tui?!”

“Kalau tidak demikian, siauwte pasti tidak mungkin dapat bertemu dengan tay-ong karena bawahan tay-ong niscaya akan merintanginya, seperti halnya peristiwa yang baru saja terjadi.”

Akan tetapi Huang-ho-sin-mo bukanlah seorang bodoh dan sebagai kepala bajak yang banyak pengalaman, tentu saja kurang percaya akan omongan dari pemuda yang ia dengar sangat lihay dan cerdik ini.

“Bolehkah kuperiksa dulu isi peti yang kau katakan berisi bingkisan itu?” katanya mensiasati.

“Mengapa tidak?! Tentu saja boleh dan hal ini memang sudah semestinya,” kata Bun Liong. “Cobalah kau bukakan!” kepala bajak itu setengah menyuruh, “aku sendiri tidak bisa membukanya karena dikunci!”

“Baik!” ujar Bun Liong sambil melangkah maju menghampiri peti itu dan dari saku bajunya ia mengeluarkan sebuah anak kunci dan dengan itu ia membuka tutup peti itu.

Sebelum tutup peti itu terbuka, Ma Gu Lin mundur ke belakang tiga langkah karena ia menduga bahwa begitu tutupnya dibuka, dari dalam akan melayang senjata-senjata rahasia yang dapat mencelakakannya bila ia terlalu dekat. Akan tetapi kemudian sepasang matanya jadi terbelalak lebar demi dilihatnya bahwa begitu tutup peti tersebut dibuka oleh Bun Liong ternyata isinya bukan senjata-senjata rahasia seperti yang ia duga.

Potongan-potongan uang mas bercampur batu-batu permata yang tak ternilai harganya dan yang berkilauan terkena cahaya matahari yang menembus daun-daun pohon siong sehingga menyilaukan mata dan menarik hatinya.

Sesudah membuka tutup peti itu, Bun Liong lalu mundur dan kembali ke tempat berdirinya semula. Wajah kepala bajak itu berseri-seri dan kembali mendekati peti itu dan demikian juga Bu Kiam dan Bong Pi menggoyang-goyang kepalanya sambil memandang isi peti itu dengan mata tidak berkedip dan mulut ternganga.

Tiba-tiba terdengar Ma Gu Lin ketawa bergelak-gelak seraya katanya: “Hahaha ! Bu Kiam dan Bong Pi, ternyata perbuatan

kalian kali ini tidak dapat kubenarkan! Orang mengantar rejeki dan mengandung maksud   baik,   kalian   telah   berlaku   salah terima ”

“Akan tetapi tay-ong……. Siapa tahu kalau barang-barang dan uang itu palsu dan ia menipu kita ?” tukas Bu Kiam yang tetap

tidak mau percaya akan maksud kedatangan dari pemuda yang sudah ia rasai kelihayannya itu.

Ma Gu Lin lalu mengulur tangannya dan mengambil beberapa potong uang mas itu dan setelah ditelitinya dengan saksama, yang ternyata semuanya adalah uang mas tulen dan permata-permata asli, lalu berkata penuh keyakinan:

“Tidak, tidak palsu!”

Si Sepasang Buaya Sungai Kuning itu saling berpandangan dengan wajah bengong dan mulut melongo! Sungguhpun mereka percaya akan keyakinan raja bajak itu, namun disamping itu mereka amat menyangsikan apakah mata si Iblis Sakti Sungai Kuning itu tidak mendadak menjadi lamur?

Dengan kegembiraan yang luar biasa, Ma Gu Lin membenamkan tangannya ke dalam peti yang penuh itu lebih dalam untuk meraup guna mendapat kepastian bahwa harta itu tidak palsu semua dan yang kemudian hendak diyakinkannya terhadap semua anak buahnya yang ketika itu melihatnya dengan mata tak berkedip dan berdiri seperti tonggak! Akan tetapi mereka menjadi terkejut ketika melihat betapa Ma Gu Lin tiba-tiba menggulingkan tubuhnya menjauhi peti itu sambil berteriak:

“Hayaaa………!”

Memanglah, di dalam peti itu, di bagian bawahnya, tersimpan semacam senjata rahasia yang terbuat dari pegas. Apabila alat ini tersentuh dapat bekerja secara otomatis dan menghamburkan barang-barang yang ditaruh di atasnya dengan dahsyat sekali.

Alat ini dibuat secara istimewa oleh salah seorang ahli dari anggauta-anggauta Pauw-an-tui. Dan maksud Bun Liong bersama Can Po Goan membawa peti alat tersebut dengan di bagian atasnya sengaja ditaruhi potongan-potongan uang mas dan barang-barang permata sehingga memenuhi peti itu gunanya untuk menipu dan menyerang Ma Gu Lin tanpa mereka turun tangan.

Oleh karena itu, ketika si raja bajak tadi menyodokkan tangannya ke dalam potongan-potongan uang mas dan butiran-butiran permata itu, maka perkakas yang berupa pegas itu tersentuh dan bekerja, membuat potongan-potongan uang mas dan butiran- butiran permata yang sekian banyak itu tersembur dan beterbangan merupakan senjata-senjata rahasia yang berbahaya sekali!

Sebenarnya Ma Gu Lin sudah merasa curiga tentang isi peti itu, akan tetapi ketika dilihatnya bahwa isi peti itu benar-benar barang bingkisan yang tak ternilai harganya, hatinya demikian girang sehingga ia jadi kurang waspada. Akan tetapi kepala bajak ini ternyata mempunyai gerakan yang sangat gesit.

Begitu alat rahasia di dalam peti itu bekerja, ia cepat menarik tangannya dan menggulingkan tubuhnya sambil mengeluarkan seruan kaget dan marah! Potongan-potongan serta butiran-butiran barang berharga itu beterbangan ke udara tanpa mengenai sasaran dan yang kemudian jatuh bertebaran bagaikan hujan lebat! “Setan alas! Kau berani bermain-main dengan Huang-ho-sin-mo? Rasakan senjataku!!” Ma Gu Lin membentak marah sambil bangun dari bergulingnya dan tahu-tahu dayung besi di tangannya telah menyambar ke arah kepala Bun Liong dengan dahsyat luar biasa. Sekiranya dayung besi ini mengenai sasaran, maka pasti kepala itu akan pecah!

“Bagus! Dua setan benggolan Pauw-an-tui ini mencari mampus sendiri!” bentakan ini adalah ucapan Bu Kiam yang bersama Bong Pi langsung menubruk Can Po Goan dengan serangan pedang mereka.

Melihat Ma Gu Lin menyerang Bun Liong, si Sepasang Buaya Sungai Kuning ini diam-diam merasa girang karena dengan demikian berarti mereka hanya menghadapi Can kauw-su. Melawan Bun Liong yang mereka sudah merasakan kelihayannya di atas panggung lui-tay dulu, ada bahayanya menderita kalah, akan tetapi menghadapi Can kauw-su yang mereka ketahui kepandaiannya lebih rendah dari Bun Liong, sangat mustahil kalau mereka sampai kalah, demikian pikir mereka.

Di lain pihak, baik Bun Liong maupun Can Po Goan memang sudah siap siaga menghadapi serangan lawan yang tiba-tiba. Maka begitu melihat Ma Gu Lin mengirim serangan dahsyat dengan dayungnya yang mendatangkan angin santer, Bun Liong cepat berkelit sambil balas membentak:

“Orang she Ma, kedatanganku justeru untuk mengganyang kau dan kutu-kutu busuk kaki tanganmu!”

Sambil berkelit, cambuk di tangannya melecut nyaring, menyabet dada lawannya. Dan ketika itu juga Can Po Goan sudah memutarkan goloknya menyambut serangan bersama dari si Sepasang Buaya Sungai Kuning!

Maka terjadilah pertempuran hebat dan para laskar bajak ramai berteriak-teriak menyemangati pemimpin-pemimpin mereka sambil berhadir mengelilingi gelanggang pertempuran. Ada beberapa orang di antara mereka yang mulutnya turut ribut berteriak-teriak, tetapi diam-diam mereka memunguti uang-uang mas dan butiran permata yang berserakan di tanah, dan kemudian dimasukkan ke dalam saku baju mereka!

Segera Bun Liong mendapat kenyataan bahwa Huang-ho-sin-mo Ma Gu Lin itu ternyata seorang yang memiliki tenaga besar sehingga dapat menggunakan dayung yang berat itu sebagai senjata dengan tipu serangannya yang amat hebat. Hati Bun Liong mengeluh karena ia sama sekali tidak berani menangkis dayung itu dan cambuknya pun ternyata sedikit sekali gunanya, karena setiap serangan cambuknya selalu dipatahkan oleh tangkisan dayung yang berat itu.

Akan tetapi pemuda ini tidak merasa gentar sedikit pun. Berkat gin- kangnya yang tinggi, ia selalu berhasil mengelakkan diri kadang- kadang sambil membalas menyerang dengan cambuknya, sekalipun serangan balasan ini selalu dipatahkan oleh dayung lawannya.

Seperti ketika bertempur dengan Houw-jiauw Lo Ban Kui tempo hari kali inipun Bun Liong hendak melihat dulu betapa inti gaya dari serangan lawannya. Maka sambil matanya yang tajam memperhatikan gerak gerik lawannya, ia selalu berloncat-loncatan kian kemari, dan kadang-kadang juga ia main mundur.

Ma Gu Lin ketawa mengejek dan ia terus mendesak dengan mengerahkan dayung besinya sedemikian hebat dan cepat hingga setiap detik merupakan bahaya maut bagi pemuda itu. Ujung dayung yang berat dan lebar itu kadang-kadang menghantam tanah karena dapat dikelit oleh Bun Liong dan pemuda ini merasakan betapa bumi yang kena hantaman dayung itu jadi tergetar. Bahkan, baru limabelas jurus pertempuran itu berlangsung sudah ada dua batang pohon siong besar yang roboh terhantam oleh senjata Ma Gu Lin. Benar-benar dayung di tangan kepala bajak itu sangat lihay dan kekuatannya seperti seekor gajah mengamuk!

Bertubi-tubi Ma Gu Lin melancarkan serangan hebat dengan dayungnya yang berat itu, akan tetapi selalu tidak mengenai sasarannya oleh karena Bun Liong lincah sekali dan selalu berusaha menjauhinya agar dapat mengirim serangan dari jarak jauh dengan ujung cambuknya yang panjang itu.

Pada suatu saat Bun Liong berhasil memecutkan cambuknya dengan tepat, yaitu ketika Gu Lin mengemplangkan dayungnya dengan santer ke arah kepala pemuda itu dengan gerak tipu Pohon Tumbang Menimpa Bukit. Pemuda itu cepat mengelak ke kanan sambil mengayunkan cambuknya ke arah muka lawan!

Tangan kiri Gu Lin mencoba hendak menangkap ujung cambuk yang menyabet ke arah mukanya. Akan tetapi cambuk itu tiba-tiba bergerak sedemikian rupa seakan-akan mengelak dari tangkapan dan melengkung ke atas seperti seekor ular hidup yang tidak mau ditangkap, dan ujungnya yang panjang dan kecil itu berkelebat di atas kepalanya dengan mengeluarkan bunyi nyaring yang memekakkan anak telinga Gu Lin. Kepala bajak itu cepat membungkukkan punggungnya dan tangan kanannya menggerakkan dayungnya ke atas untuk menghalau cambuk itu. Akan tetapi ia kalah cepat karena ujung cambuk itu telah memecut punggungnya sehingga bajunya di bagian punggung menjadi robek dan ia merasakan kulit punggungnya sakit dan pedas sekali!

Kalau tadi Ma Gu Lin memandang rendah pemuda yang main mundur saja itu sehingga ia terus mendesaknya, ada pun kini setelah ia mendapat hajaran di punggungnya, sedangkan dayungnya sama sekali belum berhasil mengenai tubuh lawannya yang sangat lincah itu, menjadi penasaran dan amat marah. Maka sambil mengerang gusar, kepala bajak yang tinggi besar ini melancarkan serangan dayungnya dengan semakin ganas, dan kadang-kadang lengan kirinya bergerak-gerak hendak menangkap ujung cambuk untuk dibetot dan dirampasnya!

Akan tetapi, oleh karena Ma Gu Lin sudah tua dan dayung itu sangat berat, tambahan lagi dalam melancarkan serangannya sangat bernafsu, maka ketika pertempuran ini sudah memasuki jurus yang kelimapuluh, kepala bajak ini sudah mulai lelah dan gerakan-gerakan dayungnya tidak lagi sedahsyat tadi. Bahkan dapat dikata berobah menjadi lambat disebabkan tenaganya sudah berangsur-angsur surut. Hal inilah yang dinanti-nantikan oleh Bun Liong. Setiap menghadapi lawan tangguh, pemuda itu selalu main mengelak saja pada permulaannya, disamping untuk meneliti taktik serang lawan, juga untuk membuat lawannya kehabisan napas dan tenaga. Melihat Ma Gu Lin sudah ripuh sendiri, hati Bun Liong menjadi girang karena kini tiba gilirannya untuk melancarkan serangan-serangan dengan ilmu cambuknya yang istimewa!

Sementara itu, Bu Kiam dan Bong Pi mengeroyok Can Po Goan. Akan tetapi guru silat itu sangat gagah dan merupakan lawan berat juga bagi mereka, sehingga apa yang mereka kira semula, yakni bahwa guru silat itu akan mereka robohkan dengan mudah, ternyata meleset!

Diam-diam mereka mengakui bahwa guru silat itu memiliki tenaga lweekang yang lebih tinggi dari mereka, karena pedang-pedang mereka apabila beradu dengan golok lawannya itu, pedang mereka terpental dan telapak tangan mereka terasa sakit dan pedas serta seluruh tangan yang mencekal pedang itu tergetar hebat.

Akan tetapi Can Po Goan sendiri mengakui bahwa untuk dapat merobohkan dengan segera kedua pemimpin bajak itupun tidak mudah karena si Sepasang Buaya Sungai kuning itu bukanlah orang-orang yang lemah, apabila ilmu pedang mereka yang dimainkan secara kerjasama itu benar-benar amat mengagumkan!

Namun, Can Po Goan adalah seorang bekas tentara yang sudah banyak pengalaman dan akan tidak tepatlah nama julukan si Golok Sakti Penyabut Nyawa itu kalau ia sampai dirobohkan oleh si Sepasang Buaya Sungai Kuning ini. Apalagi ia pernah melihat mereka mengeroyok Bun Liong di atas panggung lui-tay, jadi ia sudah dapat memahami betapa cara tempur si Sepasang Buaya Sungai Kuning ini.

Maka kini meskipun ia mengakui ketangguhan kedua orang itu. namun ia dapat menghadapinya dengan baik! Dengan tangkas ia mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan ilmu golok dari cabang Siauw-lim yang dimilikinya, untuk menahan serangan dari kedua lawannya dan balas menyerang!

Golok di tangannya merupakan sambaran kilat yang mengundang maut, membuat Bu Kiam dan Bong Pi terkejut dan perlahan-lahan mereka menjadi kewalahan. Hati kedua pemimpin bajak ini mulai gentar!

Ketika pertempuran ini menjelang jurus yang keempatpuluh, ketika Bu Kiam dan kawannya hanya dapat mempertahankan dan menjaga diri dari serangan guru silat yang lihay itu sehingga Can Po Goan kini menjadi pihak penyerang, guru silat she Can yang gagah ini telah berhasil merobohkan kedua lawannya dengan sekaligus!

Yaitu ketika Bu Kiam yang berada di sebelah kirinya menyabetkan pedangnya hendak dibabatkan ke arah pinggangnya, Can Po Goan cepat menangkis dengan goloknya sehingga pedang nyeleweng ke bawah dan tertindih oleh golok dan pada waktu itu juga tinju tangan kiri guru silat ini melayang ke arah dada.

Bu Kiam gugup karena ia sama sekali tidak menyangka kalau lawannya akan menggerakkan pedangnya karena senjata itu justeru ditindih oleh golok lawan, maka untuk menyelamatkan diri dari tonjokan ia lalu merendahkan tubuhnya. Akan tetapi ia kalah cepat dan justeru karena ia membuat kelitan dengan merendahkan tubuhnya, maka tonjokan Can Po Goan jadi menghantam batok kepalanya!

“Krakk……!!” Walaupun dilakukan dengan tangan kiri, pukulan tinju Can Po Goan bukanlah sembarang pukulan, melainkan pukulan yang disertai pengerahan tenaga lweekang sepenuhnya dan yang telah mendapat julukan Pho-thauw-sin-kun (Pukulan sakti Pemecah Kepala). Maka tak ampun lagi tubuh Bu Kiam roboh terjungkal tanpa mengeluarkan jeritan, karena sebelum terjungkal nyawanya sudah melayang, tulang batok kepalanya sudah remuk dihantam pukulan sakti itu!

Ketika Can Po Goan merasakan angin serangan dari belakang karena Bong Pi yang sudah marah itu menjadi nekad dan menyerang. Dengan gerakan seenaknya Can Po Goan menyabetkan goloknya ke belakang dan setelah pedangnya membentur pedang lawan, sambil mengeluarkan bunyi nyaring dan menimbulkan bunga api berpijar, guru silat yang sudah berada “di atas angin” ini membalikkan tubuh.

Ketika itu Bong Pi sudah mengirim serangan susulan dengan pedangnya, tapi satu tangkisan keras dari golok lawannya membuat pedangnya terlepas dari cekalannya. Ia cepat mengelak ke samping ketika melihat betapa golok lawan setelah menangkis pedangnya tadi meneruskan serangan langsung berupa bacokan yang mengarah pinggangnya.

Akan tetapi Can Po Goan tidak memberi kesempatan sama sekali, ia cepat menubruknya sambil mengirim dua serangan sekali gus. Tinju tangan kirinya menghantam dada sedangkan kaki kanannya menendang lambung. Bong Pi menjerit dan roboh tak bernapas lagi! Ternyata Can Po Goan telah merobohkan kedua lawannya tanpa pertumpahan darah!

Lalu guru silat ini menoleh ke arah Bun Liong, maksudnya hendak membantu pemuda itu, akan tetapi ternyata lawan pemuda itupun sudah roboh…….

Setelah Bun Liong memainkan ilmu cambuk Shan-kong-jwan-pian- hoatnya Ma Gu Lin jadi repot sekali. Kalau tadi kepala bajak ini dipermainkan oleh kelincahan Bun Liong yang memiliki gin-kang tinggi, adapun setelah pemuda itu membalas menyerang, ia jadi seperti dipermainkan lagi oleh cambuk lawannya yang masih muda itu.

Seperti halnya yang terjadi satu kali ujung cambuk pemuda itu menyabet ke arah kaki dan agaknya hendak menjerat kaki itu untuk menggulingkan tubuh Gu Lin. Kepala bajak itu cepat menendangkan kakinya sambil berseru keras dan sekalipun kakinya tidak sampai terjerat oleh ujung cambuk akan tetapi tahu- tahu sepatu kaki kanannya telah terlepas seakan-akan dikait oleh ujung cambuk. Bun Liong menggentakkan cambuknya sehingga ujungnya meluncurkan ke atas sambil “membawa” sepatu itu dan kemudian sepatu itu terlepas dari libatan ujung cambuknya. Tapi benda tersebut tidak jatuh, melainkan terus melayang ke udara seperti dilontarkan dan akhirnya nyangkut di antara ranting-ranting dan daun-daun pohon siong!

Bun Liong tidak dapat menahan kegelian hatinya, ia ketawa sambil berkata: “Hayaa……. lihay sekali…….! Jangankan si Iblis Sakti Sungai Kuning sendiri, sedangkan sepatunya saja ternyata bisa terbang dengan gerak tipu Burung Bangau Melesat Ke Angkasa dan akhirnya hinggap dan bersarang di atas pohon siong!”

Mendengar ucapan yang lucu ini, para laskar bajak yang mendengarnya mau tak mau mesti menahan rasa geli yang mengitik-ngitik hati mereka. Akan tetapi Gu Lin menjadi amat marah dan ia segera menubruk sambil menyodokkan dayungnya. Akan tetapi terpaksa ia mesti cepat menarik kembali sodokan dayungnya dan membuat gerakan memutar seperti kitiran untuk menangkis cambuk lawannya yang ketika itu sudah melecut-lecut di atas kepalanya.

Dayungnya menyampok cambuk yang disampok itu telah membelit dayungnya dan Ma Gu Lin mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan senjatanya yang dibetot oleh lawannya. Kepala bajak ini berusaha keras untuk menarik kembali senjatanya yang hendak dirampas oleh lawannya dengan libatan cambuknya yang luar biasa itu, sebaliknya pemuda itu terus membetot cambuknya untuk mempertahankan dan dengan demikian, terjadilah saling betot dan mengadu tenaga lweekang!

Perlahan-lahan dayung yang semula tegak ke atas itu jadi mendoyong ke depan, tertarik oleh cambuk dan hal ini membuktikan bahwa tenaga lweekang pemuda itu lebih kuat. Tapi kepala bajak itu tidak mau melepaskan senjatanya begitu saja, ia terus berusaha hendak menarik kembali senjatanya sambil mengerahkan segenap tenaga yang masih ada padanya.

Tiba-tiba saja Bun Liong melepaskan libatan cambuknya dan hal ini sama sekali diluar dugaan Gu Lin, sehingga dayung yang dibetotnya itu jadi tersendal membalik. Dan celaka sekali baginya karena tanpa dapat dicegah lagi dayung besi yang besar serta berat itu dengan keras sekali telah mementung jidatnya sendiri.

Dayung terlepas dari pegangannya dan jatuh ke tanah sambil mengeluarkan suara berdebukan. Mata Ma Gu Lin mendelik ke atas dan tubuhnya terhuyung-huyung, sesaat kemudian roboh dalam keadaan semaput! Adapun para laskar bajak yang sejak tadi mengurung dan menonton pertempuran itu, tatkala melihat bahwa secara beruntun dan dalam waktu yang hampir bersamaan kepala serta pemimpin- pemimpin mereka telah dirobohkan oleh kedua orang itu, mereka terkejut dan marah sekali. Dan bagaikan mendapat komando, mereka serempak menyerbu Bun Liong dan Can Po Goan!

Baik Bun Liong maupun Can Po Goan merasa kagum akan kegagahan para laskar bajak itu. Biarpun kepala dan pemimpin- pemimpin mereka telah roboh, ternyata mereka tetap setia dan membela kekalahan itu tanpa memperdulikan nyawa sendiri!

Terpaksa Bun Liong melecut-lecutkan lagi cambuknya dan Can Po Goan juga mengerjakan goloknya menghadapi serbuan mereka. Akan tetapi kedua orang pendekar ini sengaja tidak menurunkan tangan maut, karena maklum bahwa para laskar bajak itu hanyalah manusia-manusia kasar yang diperalat oleh pemimpin mereka!

“Setelah pemimpin-pemimpin kalian kami robohkan, kalian masih tidak mau menyerah?!” Bun Liong membentak para anggauta bajak itu yang terus merangsek sambil melancarkan serangan secara membabi buta. Sebagai jawaban, dua orang laskar bajak itu memperlihatkan sesuatu ke arahnya, yakni benda bulat hitam. Bun Liong mengira bahwa mereka mempergunakan senjata rahasia pelor besi dan melihat sambitan pelor itu tidak kencang, Bun Liong ketawa mengejek.

Ada tiga butir pelor besi yang menyambar ke arahnya. Pelor pertama disanggapnya dengan tangan kirinya kemudian dilemparkan dan secara tidak sengaja lemparannya ini membuat pelor itu melayang ke arah tubuh Ma Gu Lin yang menggeletak pingsan. Pelor yang kedua ia sambut dengan towelan jari tangan kanannya, karena towelan ini disertai pengerahan tenaga lweekang, maka pelor itu lalu meluncur kembali ke depan dan membentur pelor yang ketiga!

“Darr! Darr! Darrr……!” Tiga ledakan keras yang hampir bersamaan telah menggetarkan bukit Siong-lim-nia itu.

Ternyata pelor-pelor itu mengandung bahan peledak dan meletus sambil mengeluarkan api apabila membentur benda-benda yang keras! Pelor pertama tadi telah jatuh membentur tanah, persis di dekat perut Ma Gu Lin yang menggeletak pingsan itu dan meledak sehingga kulit perut kepala bajak itu pecah dan isinya ambrol! Pelor kedua meledak bersama pelor ketiga yang saling bertumbuk tak jauh di depan Bun Liong! Baiknya Bun Liong tadi hanya menyanggap dan menowelnya saja, andaikata ia menyampok dengan menggunakan tenaga kasar pasti pelor-pelor itu akan meledak didekatnya dan celakalah ia.

Walaupun demikian, Bun Liong bukan main kagetnya. Ia menggulingkan tubuh ketika merasa percikan hawa panas dan pecahan-pecahan kecil berupa kepingan-kepingan besi yang muncrat dari pelor-pelor yang meledak itu, menyambar ke arahnya, sehingga kepingan-kepingan besi itu berlesatan di atas tubuhnya dan ia selamat, tiada sekepingpun pecahan pelor itu yang melukainya.

Can Po Goan pun mengalami nasib sama, bahkan ada lima butir pelor besi yang dilontarkan ke arahnya. Akan tetapi guru silat ini sudah berpengalaman ketika masih dinas dalam ketentaraan ia sering menggunakan pelor-pelor besi semacam itu, maka sama sekali ia tidak berani menyentuh pelor-pelor yang berbahaya itu.

Sepasang kakinya segera menghentak bumi yang dipijaknya dan tubuhnya melesat ke udara dengan gerakan yang indah sekali. Cara melompat guru silat ini benar-benar menakjubkan para laskar bajak yang menyaksikannya, karena ia melompat demikian tinggi dan tubuhnya melesat jauh, melayang di atas kepala-kepala para bajak itu dan akhirnya ia turun di luar kepungan!

Dan karenanya, lima butir pelor besi tadi meledak di tempatnya tadi dan sungguh mengerikan. Karena lima ledakan itu telah menghancurkan mayat-mayat si Sepasang Buaya Sungai Kuning yang berada di tempat itu!

Bun Liong jadi marah sekali. Tadinya ia masih merasa enggan dan menaruh kasihan untuk membunuh para laskar bajak itu. Akan tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa mereka berlaku curang dengan mempergunakan senjata rahasia yang nyaris saja mencelakakan dirinya.

Ia cepat bangkit dari “tiarapnya”, cambuknya digerak-gerakkan sedemikian hebat sehingga merupakan seekor ular sakti yang mengamuk dengan ganas. Terdengarlah jerit pekik susul menyusul ketika seorang demi seorang laskar-laskar bajak itu terkena sabetan dan totokan yang mematikan dari ujung cambuknya!

Ketika itu tiba-tiba terjadi keributan di atas bukit, gubuk-gubuk para bajak telah menjadi lautan api dan seiring dengan itu terdengarlah sorak sorai orang banyak di antara gemuruhnya gubuk-gubuk yang terbakar itu. Ketika Bun Liong menoleh dan sekilas saja ia memandang, kawan-kawannya, sebagaimana telah direncanakan, telah datang!

Mereka berlari-lari dari atas bukit mendatangi. Akan tetapi apa yang membuat pemuda ini sangat heran, di antara kawan- kawannya yang baru datang itu, tampaklah olehnya calon isterinya yang berlari bagaikan terbang mendatanginya mendahului kawan- kawannya yang jauh tertinggal di belakangnya.

Datang-datang Yang Hoa mengamukkan pedang di tangannya secara ganas sekali sehingga beberapa kali saja pedang itu berkelebat, robohlah beberapa orang laskar bajak dengan tubuh menderita luka hebat. Bahkan tiga orang di antaranya, menemui ajalnya seketika itu juga, karena tubuh mereka telah terbabat putus menjadi dua potong!

Melihat keganasan nona itu dan melihat betapa kawan-kawan dari musuhnya telah muncul dalam jumlah yang sangat banyak ditambah lagi gubuk-gubuk mereka sudah menjadi lautan api, maka kacaulah semua laskar bajak itu, mereka kebingungan dan ketakutan! Akan tetapi ada juga beherapa belas orang di antara mereka yang hendak melarikan diri ke arah sungai, akan tetapi kemudian mereka terpaksa mesti membatalkan maksud ini, karena ketika itu juga dari sungai itu berlompatan ke darat sepasukan bala bantuan Pauw-an-tui yang datang dengan sampan! Maka makin bingung dan ketakutanlah semua anggauta bajak.

“Yang-moay! Jangan kau menyebar maut terlalu banyak, karena pemimpin-pemimpin mereka telah kami robohkan!” seru Bun Liong ketika melihat calon isterinya masih terus mengamuk.

Walaupun maklum bahwa nona itu sangat membenci segala penjahat, namun pemuda ini merasa ngeri juga menyaksikan sepak terjang calon isterinya. Kembali hatinya yang penuh belas kasihan itu mempengaruhi perasaannya, sehingga seketika ia melupakan kemarahannya terhadap kecurangan para lasykar bajak tadi.

Nona itu melirik sebentar ke arah calon suaminya sambil pedangnya menangkis golok seorang lasykar bajak yang nekad.

“Liong-ko, kejahatan adalah seperti tumbuh-tumbuhan liar dan untuk membasminya kita harus membersihkannya sampai ke akar- akarnya!” sahutnya sambil mengayunkan pedangnya memenggal batang leher lasykar bajak yang nekad.

Dari luar kepungan, Can Po Goan juga melihat kekejaman nona itu dan orang tua ini menganggap perbuatan si nona sangat keterlaluan. Untuk melarangnya secara langsung ia merasa kurang enak hati karena maklum bahwa si nona amat keras hati dan khawatir kalau tersinggung karenanya. Maka ia cepat berseru nyaring:

“Hai…….! Lasykar-lasykar bajak sekalian, pemimpin kalian sudah mampus dan kalian tidak cepat menyatakan takluk, mau tunggu apa lagi ?!”

Seruan Can Po Goan ini terbukti “keampuhannya,” karena para anak buah bajak yang masih hidup lalu melempar senjata mereka dan berlutut, seorang di antaranya terdengar berkata memohon ampun:

“San-tayhiap (Tiga pendekar besar), mohon sudi mengampuni jiwa kami yang rendah dan hina ini!”

Yang Hoa menghentikan amukan pedangnya. Bun Liong tersenyum lega sambil menyusut keringat di dahinya. Sedangkan Can Po Goan manggut-manggut dengan wajah berseri karena ternyata maksudnya berhasil. Ke tiga tokoh Pauw-an-tui ini merasa gembira karena dengan demikian tugas mereka berarti sudah selesai.

“Untung ada Can Lo-enghiong yang budiman, yang mencegah amukan pedangku yang haus darah ini. Kalau tidak, boleh dipastikan pedangku akan membuat nyawa kalian menyusul nyawa-nyawa pemimpin kalian ke neraka!” kata Yang Hoa kemudian terhadap para lasykar bajak yang bertekuk lutut itu.

Kemudian nona ini memandang kepada Can Po Goan sambil berkata: “Can lopeh, hendak dibagaimanakan mereka ini. Selanjutnya, kuserahkan kepada kebijaksanaanmu karena ku yakin bahwa kau orang tua lebih mengerti betapa harus mengurus mereka!”

Sebelum Can Po Goan menjawab, terdengarlah teriakan-teriakan dari beberapa orang anggauta Pauw-an-tui yang merasa benci dan gemas terhadap lasykar-lasykar bajak itu.

“Bunuh saja mereka……! Mereka telah banyak berbuat kejam terhadap kita, maka sebaiknya kita jangan mengampuni jiwa anjing mereka…..! Jatuhi hukuman potong kepala saja, beres……!!!”

Can Po Goan cepat mengangkat tangannya, sehingga teriakan- teriakan kegemasan itu berhenti seketika.

“Saudara-saudaraku sekalian, aku mengerti betapa kemarahan kalian terhadap mereka ini, karena memang selama ini mereka telah banyak merugikan, merusak dan melumpuhkan kehidupan kita, sehingga rasanya pantaslah kalau mereka dijatuhi hukuman yang setimpal dengan kejahatan dan kekejaman mereka! Akan tetapi kalian harus ingat bahwa mereka ini hanya orang bodoh yang diperalat oleh pemimpin mereka.

“Dan sekarang setelah pemimpin-pemimpin mereka kami ganyang ludas dan mereka sudah menyatakan takluk, masih ada harapan bagi mereka untuk kapok dan menyadari perbuatan-perbuatan mereka yang sesat, untuk kemudian sangat diharapkan mereka dapat kembali kepada jalan yang benar.”

Untuk sejenak suasana di tempat itu sepi, semua orang mengakui kebenaran kata-kata orang tua she Can itu. Tetapi di atas bukit masih ramai dengan suara gubuk-gubuk yang runtuh menjadi puing dan sorak-sorai beberapa anggauta Pauw-an-tui yang menyuluti beberapa buah gubuk yang belum “dibereskan”!

Kemudian terdengar Can Po Goan berkata pula, kini ucapannya ditujukan kepada para lasykar bajak:

“Hai, para anggauta bajak sekalian! Hari ini dan saat ini adalah detik penentuan bagi nasib kamu sekalian. Bagaimanakah pendirian kamu selanjutnya setelah para pemimpinmu yang membuat kamu ikut dalam kesesatannya menemui nasib seperti sekarang? Kalian mau insyaf dan merobah jalan hidup kalian, ataukah mau tetap menjadi bajak-bajak dan perampok- perampok?!”

Keadaan kembali sunyi, semua lasykar bajak membisu sambil menunduk dalam berlututnya sehingga kemudian Can Po Goan jadi membentak:

“Heh! Mengapa kamu diam saja?! Apakah kamu memang ingin menemukan ajal seperti para pemimpinmu itu?!”

Semua bajak menjadi pucat karena betapapun juga mereka ini masih menyayangi jiwa mereka, maka terdengar seorang di antara mereka yang agaknya menjadi pemimpin bawahan, memberi penyahutan dengan menggagap:

“San-tayhiap, hamba sekalian bersumpah akan meninggalkan pekerjaan yang sesat ini.”

“Bagus!” seru Bun Liong menyela, “Kami percaya pada sumpah kalian. Dan hendaknya kalian selalu ingat bahwa tiada kejahatan yang akhirnya tidak mendapat hukuman. Tegasnya, orang jahat tidak akan selamat hidupnya, seperti pribahasa setinggi-tinggi terbang bangau, akhirnya akan jatuh ke tanah jua! “Oleh karena itu, kalian harus sadar, bahwa lapangan penghidupan masih membentang lebar di hadapan kalian dan banyak sekali pekerjaan halal yang semestinya kalian lakukan. Pekerjaan halal betapapun rendahnya tidak akan hina seperti penjahat dan sebaliknya betapapun jayanya seorang penjahat ia tetap merupakan seorang yang hina dan rendah!

“Nah, sekarang kalian harus bersyukur ada Can Lo-enghiong yang murah hati dapat membebaskan kalian. Akan tetapi hati-hati, kalau kalian kelak ternyata tidak merobah hidup kalian dan kami mengetahuinya, pohon siong ini menjadi contohnya!” kata pemuda ini sambil memperlihatkan kelihayannya, selaku ancaman.

Tangan kanannya bergerak seperti melakukan dorongan ke arah sebatang pohon siong yang berjarak tiga tombak di depannya. Terdengar suara keras dan pohon itu tumbang karena patah dihantam oleh hawa pukulan Lui-lek-ciang.

Semua mata bajak-bajak itu terbelalak lebar karena kaget dan kagum, dan mereka mengangguk-angguk menyatakan taat pada pesan pemuda yang sudah mereka ketahui kehebatannya itu.

“Hamba sekalian akan mentaati perintah tayhiap dan tidak berani melanggarnya,” kata beberapa orang. “Nah, ambillah uang mas dan permata-permata itu sebagai bekal kalian untuk menempuh hidup baru dan sebelum meninggalkan tempat ini kalian harus mengurus dulu mayat-mayat para pemimpin yang menyesatkan kalian itu!” ujar Bun Liong akhirnya.

Para lasykar bajak itu pada bengong karena mereka seakan-akan tidak percaya pada perkataan yang mereka dengar, selain dibebaskan juga dihadiahi uang mas dan permata-permata?! Sungguh ketua Pauw-an-tui yang masih muda belia ini, selain gagah perkasa dan murah hati juga murah rejeki, pikir mereka.

Inilah sebabnya mengapa mereka jadi bengong. Bagi mereka kejadian seperti ini dalam mimpipun tak mungkin terjadi!

Akan tetapi, sekali saja seorang di antara mereka bergerak memungut barang-barang berharga tersebut yang kini tersebar di atas tanah dan di sela-sela rumput, maka otomatis mereka semuanya jadi bergerak pula. Dengan wajah berseri-seri mereka berebutan memunguti barang-barang berharga bagaikan anjing- anjing yang memperebutkan tulang-belulang.

Melihat perbuatan mereka itu, Can Po Goan menggeleng- gelengkan kepala. Hati orang tua itu sama sekali tidak menyesali keroyalan Bun Liong yang membuang-buang uang mas dan permata-permata begitu saja, satu hal yang belum pernah dan takkan terjadi dalam sejarah manapun! Keroyalan ini memang sudah direncanakan oleh tokoh-tokoh Pauw-an-tui dalam perundingan mereka sebelum mengadakan penyerbuan yang terakhir ini.

Sebagaimana diketahui, Pauw-an-tui itu selain barisan penjaga keamanan yang merupakan pasukan pengganyang musuh-musuh rakyat, juga merupakan badan sosial yang sangat kuat. Tokoh- tokoh Pauw-an-tui sependapat bahwa apabila menghendaki memindahkan atau merobah pekerjaan segolongan orang yang dianggap hina ke bidang pekerjaan lain yang dianggap patut dan terhormat, harus disediakan bidang-bidang pekerjaan bagi mereka. Atau kalau tidak, sedikitnya harus diberi uang, bekal untuk nafkah sementara sebelum mereka mendapat pekerjaan, seperti yang dilakukan terhadap para lasykar bajak itu!

Bun Liong tidak begitu memperdulikan tingkah laku para lasykar bajak karena ia lalu menghampiri Yang Hoa dan bertanya heran: “Mengapa kau memaksakan diri datang ke mari, bukankah keadaanmu masih belum mengizinkan…….?”

Nona itu mengerling tajam ketika menjawab, “Aku khawatir kau mendapat celaka, Liong-ko. Hatiku sangat gelisah melepasmu, maka dengan melanggar pesanmu aku menyusul dan datang bersama kawan-kawan. Tapi syukurlah, kau selamat dan tidak kurang suatu apa, bukan?!”

Bun Liong mengangguk dan berbareng dengan anggukkan ini semua orang jadi kaget, karena tiba-tiba terdengar suara ledakan yang amat dahsyat di atas bukit yang membuat bumi jadi terguncang hebat seketika dibarengi suara jeritan-jeritan yang mengerikan. Semua orang cepat menengok ke arah bukit dan terlihatlah sebuah gubuk hancur dalam keadaan terbakar dan kepingan-kepingan bangunan itu beterbangan ke udara disertai asap hitam yang membubung tinggi!

“Celaka! Gudang pelor meledak…….!!” kata seorang lasykar bajak yang berada di dekat Bun Liong.

Bersama kawan-kawannya Bun Liong segera berlari ke tempat ledakan tadi dan hati mereka sangat khawatir kalau-kalau kawan- kawannya ada yang celaka, karena tadi terdengar suara jeritan- jeritan yang mengerikan.

Ternyata tanah bekas ledakan itu kini merupakan lubang yang sangat besar dan asap akibat ledakan membuat pernapasan mereka sesak sehingga mereka terpaksa menutupi hidung. Lima mayat dari anggauta Pauw-an-tui tampak bergelimpangan tak jauh di sekitar lubang.

Dan keadaan mayat-mayat itu sungguh mengerikan, ada yang tubuhnya koyak-koyak dan ada juga yang tinggal sebagian anggauta tubuhnya saja. Ketika mayat-mayat yang tak keruan rupanya itu mereka kumpulkan, Bun Liong dan kawan-kawannya melihat bahwa dua di antara ke lima mayat itu yang masih dapat dikenal mukanya, adalah ke dua murid kesayangan mendiang Lu Sun Pin, yaitu Sim Kang Bu dan suteenya, So Ma Tek!

Gubuk yang meledak itu adalah tempat penyimpanan pelor-pelor seperti yang dilemparkan kepada Bun Liong dan Can Po Goan. Dan karena gubuk dibakar, pelor-pelornya meledak sehingga ke lima anggauta Pauw-an-tui tersebut menjadi korban!

Sementara itu para anggauta Pauw-an-tui yang lain sudah berkumpul di tempat bekas ledakan itu dan semua orang merasa ngeri melihat mayat ke lima kawan mereka itu.

Yang Hoa menutup mukanya karena tak tahan melihat pemandangan itu. Can Po Goan tak henti-hentinya menggeleng- gelengkan kepala sedangkan Bun Liong menundukkan muka sambil menggigit bibir. Ketiga tokoh Pauw-an-tui ini agaknya sama-sama kecewa, tadinya mereka merasa lega karena penyerbuan ke sarang bajak sungai tidak sampai meminta korban seorangpun dari pihak mereka, akan tetapi tahu-tahu kini lima orang telah menjadi korban ledakan!

“Sudahlah, tugas kita sudah beres. Bungkus dan usunglah kawan- kawan yang gugur itu dan marilah kita pulang…..” ujar Can Po Goan akhirnya.