Pendekar Tanpa Tandingan Jilid 08

 
Jilid 08

Tanpa ragu-ragu dan sejujurnya Bun Liong menyahut: “Sesungguhnya sangat memalukan sekali untuk dikatakan, akan tetapi karena hal ini atas permintaan tay-ong, maka baiklah ku akui bahwa siauwtee yang bodoh ini bernama Souw Bun Liong yang secara kebetulan sekali mendapat kepercayaan selaku ketua Pauw-an-tui.

“Dan adik ini…..” ia menunjuk kepada Yang Hoa yang berdiri di sampingnya, “adalah pendekar wanita Ho Yang Hoa yang baru- baru ini mendapat gelar kehormatan dengan julukan Pauw-an-tui Sianli sebagai simpati dari seluruh rakyat jelata karena kegagahannya…….”

“Cukup! Cukup obrolanmu!” bentak Go Bang dengan suara tidak senang hingga perkataan Bun Liong terputus karenanya. “Sekarang mari kalian kubawa menghadap tay-ong di pasanggrahan dan kuberani pastikan bahwa tay-ong akan menerima kalian secara baik dan penuh kehormatan!”

Setelah berkata demikian, Go Bang menggapai dengan jari telunjuknya sebagai isyarat supaya kedua anak muda itu mengikuti, lalu ia sendiri membalikkan tubuh dan berjalan mendaki bukit.

Untuk sesaat Bun Liong dan calon isterinya saling berpandangan, dan diam-diam hati mereka merasa geli sekali karena tadi mereka menyangka bahwa perampok tinggi besar itu adalah raja perampok sehingga Bun Liong telah memanggilnya dengan sebutan “tay-ong” (raja besar, istilah “kehormatan bagi kepala rampok), ternyata bukan dia orangnya! Bukan tay-ong sudah memiliki kepandaian tinggi, pikir Bun Liong apalagi kepala perampok itu sendiri, niscaya berkepandaian lebih tinggi lagi!

Namun Bun Liong dan Yang Hoa adalah sepasang calon suami isteri yang mempunyai dasar cerdik sejak mereka kecil. Apalagi setelah mereka menerima petunjuk-petunjuk dari Can kauw-su bahwa mereka harus berdiplomasi dan bersiasat pada saat ini.

Biarpun mereka maklum bahwa ajakan dan kata-kata Go Bang yang terakhir tadi adalah sebuah pancingan, namun sedikitpun mereka tidak merasa takut. Sehingga tanpa ayal lagi sepasang anak muda yang menunaikan dharma bhaktinya untuk kepentingan masyarakat ini lalu berjalan mengikuti si Beruang Lengan Besi.

Biarpun tidak merasa takut, namun perasaan Bun Liong dan Yang Hoa tak urung diliputi ketegangan. Oleh karena keduanya maklum bahwa di mana kaki-kaki mereka berpijak kini adalah tempat yang sangat berbahaya sehingga mereka mesti selalu waspada dan siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang pasti akan terjadi! Tiat-pi-him Go Bang yang berjalan di depan, sebentar-sebentar berpaling ke belakang melihat ke arah sepasang muda mudi itu dan setelah melihat bahwa mereka mengikuti di belakangnya bagaikan dua ekor kambing jinak membuntuti majikannya. Diam- diam hatinya sangat girang karena ia merasa pancingannya berhasil.

Memanglah si Beruang Lengan Besi sengaja mengajak Bun Liong dan Yang Hoa yang sudah terkenal kelihayannya itu menghadap Houw-jiauw Lo Ban Kui dengan maksud apabila sepasang pendekar muda itu setelah berhadapan dengan si Cakar Harimau, baru ia akan bertindak. Ia yakin bahwa dengan bantuan Lo Ban Kui serta para anak buahnya yang saat itu diam-diam bersembunyi mengurung di sekitarnya, niscaya dua ekor kambing muda itu akan dapat dibikin beres dengan mudah!

Dan apabila sepasang kambing yang dikabarkan memiliki ilmu silat hebat ini dapat dibekuk batang lehernya, maka organisasi Pauw- an-tui itu pasti akan lumpuh dan dengan demikian, aku akan dapat memimpin anak buahku beroperasi lagi dengan bebas dan leluasa! Demikian kata-kata Go Bang dihatinya.

Akan tetapi, sebelum mereka tiba di pasanggrahan, tiba-tiba Tiat- pi-him Go Bang berpikiran lain. Ia merasa malu sekali kalau untuk menangkap dua ekor kambing muda itu saja harus menunggu bantuan dari Lo Ban Kui.

Masakan aku sendiri tak dapat membereskan kedua bocah cilik ini? Pikirnya. Biarpun ia sudah maklum bahwa kematian si Srigala Hitam Ciam Tang yang berkepandaian lebih tinggi daripadanya terutama disebabkan karena kelihayan kedua anak muda ini.

Namun Go Bang beranggapan lain. Ia menganggap bahwa hal itu terjadi bukan karena kelihayan dua ekor kambing ini, melainkan karena keroyokan anggauta-anggauta Pauw-an-tui yang banyak membantunya.

Adapun sekarang, dua ekor kambing ini hanya berdua saja, masakan ia tak mampu mengalahkan mereka? Dan kalau aku kemudian ternyata dapat dikalahkan oleh mereka, demikian pikir Go Bang lebih lanjut, apa yang harus kutakutkan karena anak buahku pasti serempak akan membantuku?!

Karena pikiran inilah, maka tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya dan tubuhnya yang besar membalik menghadapi Bun Liong dan Yang Hoa sehingga kedua anak muda inipun otomatis menghentikan langkah mereka sambil memandang dengan penuh curiga ke arah si tinggi besar. Mereka seperti telah menduga apa yang akan diperbuat oleh Go Bang terhadap mereka!

“Mengapa kau tiba-tiba menghentikan langkahmu, tay-ong?” tanya Bun Liong, pura-pura bodoh dan sengaja masih menggunaan panggilan “tay-ong”!

Go Bang mengeluarkan suara ketawa mengejek dan sahutnya: “Dengarlah! Sebenarnya kamu berdua tidak perlu dibawa menghadap kepada tay-ong kami, karena kalau hanya untuk membereskan kamu berdua saja, tak perlu mesti merepotkan tay- ong kami.

“Aku Tiat-pi-him Go Bang sendiri cukup bertindak sebagai wakilnya. Nah, bersiaplah untuk menerima kematian sebagai pembalasan dari kematian Ciam Tang!” Bersamaan dengan ucapannya yang terakhir itu, Go Bang mencabut goloknya dan diputar-putar di atas kepalanya selaku tantangan dan ancaman.

“Kami selaku tamu akan selalu melayani apa yang menjadi kehendak tuan rumah!” ujar Bun Liong tenang, “Majulah!”

Tiat-pi-him merasa mendapat kesempatan baik melihat lawan mudanya yang lelaki itu sama sekali tidak kelihatan membawa senjata. Memang ia sengaja hendak mengganyang pemuda ini terlebih dulu, sedangkan kambing betina yang cantik jelita itu boleh ia urus belakangan dan hal ini menurut anggapannya bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu sulit! Maka, sambil memperdengarkan suara erangan seperti “suara kerbau menguap” si Beruang Lengan Besi ini melompat maju menubruk Bun Liong seraya goloknya menyambar ke arah pemuda itu!

Akan tetapi, sebelum Go Bang dapat menubruk sasarannya yaitu selagi ia melompat itu, tiba-tiba ia dihadang oleh Yang Hoa yang bergerak cepat dan dengan pedangnya menangkis golok itu terpental dan tubuh Go Bang mundur terhuyung-huyung!

“Raksasa hitam keji! Kau tak tahu malu menyerang lawan yang tiada bersenjata! Kalau benar kau hendak bertindak mewakili tay- ong mu, biarlah aku yang bertindak selaku wakil dari pangcu Pauw- an-tui menghadapimu! Pedangku akan melayani golok pemotong babimu!”

Bun Liong yang tadinya sudah bersiap menyambut serangan Go Bang, lalu mundur sambil tersenyum dan membiarkan calon isterinya melampiaskan kemarahannya terhadap si Rakrasa Hitam itu. Adapun Go Bang, mendengar ucapan Yang Hoa yang baginya merupakan satu penghinaan, menjadi marah. Untuk sejenak ia merasa terkejut karena hadangan gadis itu sudah dapat mematahkan tubrukannya terhadap Bun Liong. Bahkan tangkisan pedang dari gadis itu hampir saja menyebabkan goloknya terlepas dari pegangannya, bahkan telapak tangannya terasa pedas dan lengannya tergetar.

Hal ini membuktikan kepadanya, bahwa ilmu silat dan tenaga dalam gadis itu benar-benar tidak boleh dipandang ringan! Meskipun sedikitnya sudah dapat membuktikan kelihayan gadis itu, namun Tiat-pi-him Go Bang tidak menjadi gentar. Sebagai seorang tokoh perampok yang sudah banyak pengalaman, takkan mundur sebelum merasai sendiri keunggulan lawan.

Mengganyang Bun Liong atau gadis itu baginya sama saja, karena kedua-duanya adalah musuh besar yang secepat mungkin mesti dibikin beres! Apalagi ke dua bocah kurang ajar ini sekarang sudah masuk ke dalam perangkapku, hanya kalau mereka dapat terbang saja barangkali dapat lolos dari sini, maka biarpun mereka lihay, apa yang mesti kugentarkan? Demikian pikir Go Bang sambil membuat perhitungan.

Dengan mata melotot, Go Bang memandang marah kepada Yang Hoa yang menantangnya dengan pandangan mengejek. “Bocah sombong, rasakanlah ketajaman golokku karena hari ini merupakan saat yang terakhir dari hidupmu!” serunya. Dengan mengeluarkan angin bagaikan kebutan sayap burung garuda yang besar, goloknya menyambar ke arah Yang Hoa.

“Raksasa hitam pemotong babi! Kaulah yang harus merasakan ketajaman pedangku karena hari ini kau berikut semua kamrat- kamratmu, akan kuhadapkan kepada Giam-lo-ong untuk diadili dosa-dosa di sana dan kuharapkan kalian akan dihukum dalam godokan timah di neraka jahanam!” Yang Hoa membalas memaki sambil mengelak ke samping dan membalas serangan lawan dengan pedangnya.

Cepat sekali gerakan Yang Hoa sehingga Go Bang sekali lagi merasa terkejut dan tidak sempat membalas ejekan nona itu. Goloknya diayun dengan sepenuh tenaga. Dengan mengandalkan goloknya, yang tebal dan berat itu ia hendak menangkis pedang lawan agar terlepas dari pegangan gadis itu.

Akan tetapi Yang Hoa terlalu lincah dan kalau tidak terpaksa sekali, ia tidak mau membenturkan pedangnya dengan golok lawan. Baginya rugi kalau membiarkan pedangnya yang tipis itu dihantam oleh golok besar! Juga nona ini tidak mau mengandalkan ketajaman pedangnya untuk membabat golok lawan. Biarpun pedangnya itu sejenis pedang mustika yang sangat tajam dan ampuh, tetapi tentu akan rusak juga kalau dipakai untuk membabat golok Go Bang karena golok itu tebal dan berat. Juga ada bahayanya yakni kalau ia kalah tenaga, pedangnya akan terlepas dari pegangan.

Inilah sebabnya maka Yang Hoa selalu mencegah pedangnya berbenturan dengan golok lawan. Gadis ini mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk mengelakkan serangan golok lawan, dan dengan kegesitannya yang luar biasa, pedangnya selalu mencari lowongan mengancam lawannya!

Ilmu golok Go Bang cukup hebat serta ganas. Dan dari pergerakan kaki dan tangan kirinya yang kadang-kadang maju pula menyerang dengan tendangan dan cengkeraman, dapat diduga bahwa ia mempunyai ilmu silat dari utara yang dicampur ilmu berkelahi gaya Mongol.

Bahkan yang mengejutkan dan mengagumkan Yang Hoa dan Bun Liong adalah kehebatan lengan kiri Go Bang yang dapat menangkis pedang lawan tanpa mendapat luka. Agaknya lengan kiri itu mempunyai kewedukan yang luar biasa dan karena keistimewaan inilah agaknya maka Go Bang mempunyai nama julukan si Beruang Lengan Besi! Dan yang lebih mengagumkan lagi, setiap kali setelah lengan kiri itu membuat tangkisan serangan pedang lawan, secepat kilat dan seperti gerakan otomatis tangan kirinya mengulur ke depan dan hendak menangkap pedang yang pasti akan terampas oleh cengkeraman jari-jari tangannya apabila Yang Hoa tidak cepat menarik kembali senjatanya! Diam-diam Bun Liong memuji kepandaian Go Bang ini, akan tetapi ia percaya akan ketangguhan dan kehebatan calon isterinya.

Ditilik dari tingkat kepandaian, harus diakui bahwa Yang Hoa memang kalah pengalaman dan kalah tenaga. Akan tetapi dalam hal ilmu pedang, dara yang telah mewarisi ilmu pedang Thian-san- pay dari Goat Im Nionio ini, ternyata masih menang setingkat.

Juga oleh karena lawannya sudah berusia setengah tua, dan ditambah lagi tubuhnya yang tinggi besar itu membuat kegesitannya berkurang sungguhpun setiap pergerakan Go Bang selalu bersifat mematikan!

Berbeda dengan Yang Hoa, yang memiliki gin-kang yang cukup sempurna sehingga tubuh dan pergerakannya begitu gesit yang membuat gadis ini seperti seekor burung walet yang menyerang seekor gajah yang berat tubuhnya dan lambat gerakannya! Pertempuran itu sudah berlangsung kurang lebih tigapuluh jurus dan Bun Liong melihat bahwa Yang Hoa sudah mulai mendesak lawannya. Akan tetapi, oleh karena Go Bang bertempur dengan nafsu besar dan kemarahan yang berapi-api sehingga membuatnya nekad, maka untuk beberapa lama Yang Hoa belum mendapat kesempatan merobohkannya.

Pada suatu saat, yaitu ketika pertempuran sudah menjelang jurus yang keempatpuluh, sekali lagi lengan kiri Go Bang dijadikan tameng menangkis sabetan pedang Yang Hoa sehingga pedang itu untuk kesekian kalinya terpental seakan-akan membacok sebatang karet yang kuat, sementara goloknya disabetkan ke arah leher gadis itu.

Yang Hoa cepat menarik kembali pedangnya dan dengan gerakan tidak terduga gadis ini berjongkok hingga sabetan golok lawan menyamber di atas kepalanya. Dan sambil berjongkok demikian, dengan luar biasa cepatnya si nona mengirim tusukan ke arah perut lawannya!

Dan tak kalah cepat pula, Go Bang memutarkan gerakan goloknya dari kiri ke kanan hendak menindih pedang si nona. Namun Yang Hoa sudah mempunyai perhitungan masak mengenai untung ruginya dalam gebrakan ini. Ia cepat sekali mengalihkan pedangnya yang tadi hendak ditusukkan ke perut lawan itu diputarkan ke samping sebelah kiri. Dan karena ini, selain pedangnya terhindar dari babatan golok, juga gadis ini mempunyai kesempatan yang tidak terduga oleh lawan, yakni sambil berjongkok, dengkul kaki kiri ditekuk dan kaki kanan agak diluruskan ke belakang, serentak pedang yang tadi diputarkan ke sebelah kirinya disabetbalikkan lagi ke kanan, membabat kaki Go Bang!

Sungguhpun Go Bang terkejut mendapat serangan kilat yang sama sekali tidak diduganya ini, tapi karena ia memang ulung maka tidak gugup. Dengan seenaknya saja ia mengangkat kedua kakinya dengan sebuah loncatan kecil sehingga pedang Yang Hoa mendesing dan membabat rumput-rumput di bawah kakinya!

Akan tetapi Yang Hoa sungguh terlalu cerdik dan cepat bagi Go Bang. Selagi si Beruang Lengan Besi ini membuat loncatan kecil tadi, tiba-tiba kaki kanan si nona melayang ke atas dan karena gerak tendang ini demikian cepat seakan-akan melebihi kilat dan pula terjadi di luar dugaan, maka tak ampun lagi ujung sepatu si nona telah menghantam pergelangan lengan kanan Go Bang dan terdengar bunyi “Krak…..!” Terdengarlah Go Bang mengaduh kesakitan karena ternyata tendangan kilat itu telah membuat tulang sambungan di pergelangan tangan kanannya terlepas sehingga goloknya terlepas dari pegangannya! Ketika ke dua kaki Go Bang telah menginjak bumi lagi dan sebelum ia sempat berbuat sesuatu karena menahan rasa sakit yang luar biasa pada pergelangan tangan kanannya, tahu-tahu Yang Hoa telah maju dan menggerakkan tangan kirinya dengan jari telunjuk dan jari tengah terbuka, menusuk ke arah mata lawan!

Sambil mengeluarkan seruan marah dan penasaran, Go Bang mempergunakan lengan kirinya menangkis dan hendak menangkap tangan si nona dengan cengkeraman jari-jari tangannya, dibarengi kaki kanannya menggirim tendangan geledek ke arah tubuh si nona yang begitu dekat berada di depannya!

Akan tetapi Yang Hoa bukanlah seorang murid dari Goat Im Nionio seorang tokoh silat dari Thian-san-pay yang berkepandaian tinggi kalau ia tak dapat melepaskan diri dari serangan yang berbahaya ini. Serangan Yang Hoa yang seakan-akan hendak menculik biji mata lawannya tadi hanya sebuah gerakan pancingan belaka agar lawan mencurahkan perhatian kepada serangannya itu, dan iapun tidak begitu bodoh kalau dirinya begitu dekat dengan lawan tanpa perhitungan yang matang.

Maka begitu tangan kirinya hendak ditangkap oleh tangan kiri Go Bang yang berlengan kebal itu dan melihat kaki kanan lawan bergerak menendang ke arah dirinya, nona Ho Yang Hoa cepat menjatuhkan tubuhnya ke samping kanan sehingga tubuhnya setengah bertiarap dan miring di atas tanah. Sambil menghindarkan diri dari serangan lawan si nona tidak mau membuang waktu percuma.

Karena di dalam gerakan menjatuhkan diri tadi, cepat ia mengirim serangan dengan sabetan pedangnya ke arah paha kiri si Beruang Lengan Besi itu. Dan serangan ini, Yang Hoa anggap adalah serangan yang terakhir untuk merobohkan lawannya!

Akan tetapi ternyata Tiat-pi-him Go Bang berkepandaian tinggi, biarpun ia sudah amat terdesak dan serangan dari gadis itu membuatnya sangat terkejut, namun ia masih dapat mengelakkan diri dengan cara yang benar-benar mengagumkan! Karena kini ia sudah tidak bersenjata dan tak ada waktu lagi untuk menangkis pedang si nona yang mengarah pahanya itu dengan mempergunakan lengan kirinya yang luar biasa kebalnya, maka ia terpaksa menjatuhkan diri ke samping kanan dan melakukan jungkir balik tiga kali di atas tanah sehingga dirinya jadi terpisah dengan Yang Hoa sejauh tiga tombak lebih!

Dan ketika ia berdiri lagi setelah berjungkir balik tadi, tepat ia berada di dekat Bun Liong. Mungkin karena ia sudah merasa kewalahan oleh si nona, maka ia hendak menyerang Bun Liong secara mendadak, atau mungkin juga kemarahannya terhadap si nona hendak ia timpakan kepada pemuda yang kelihatannya diam- diam dan tenang-tenang saja itu!

Sekali samber saja tangan kirinya telah menangkap lengan kiri Bun Liong dan terus diputarkannya ke belakang sehingga lengan pemuda itu tersengkilit!

Karena sama sekali tidak menyangka bahwa si tinggi besar itu akan menyerang dan menangkap lengannya sehingga tersengkilit demikian rupa, Bun Liong tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak lagi. Dan ia terpaksa tinggal mandah saja.

Lengan kirinya terketuk di belakang punggungnya dengan bagian pergelangannya dicekal oleh jari-jari tangan Go Bang yang dirasakannya bagaikan sebuah jepitan baja dan mendatangkan rasa sakit bukan main! “Kambing muda, lebih baik kau menyerah saja dan serahkan kambing betina galak itu kepadaku. Kalau tidak lenganmu ini akan patah-patah,” kata Go Bang mengancam dan ia merasa yakin pemuda itu sudah tidak berdaya, karena memang Bun Liong kelihatannya seperti benar-benar tidak berdaya!

“Raksasa hitam busuk! Benar-benar kau tidak tahu selatan!” seruan marah ini adalah dari Yang Hoa yang ketika itu sudah meloncat dan agaknya gadis ini hendak menolong calon suaminya.

Akan tetapi gadis ini serentak menarik gerakan pedangnya yang semula hendak disabetkan ke arah punggung si tinggi besar itu ketika ia melihat isyarat dari Bun Liong yang mengedipkan matanya, yang dapat ditangkap maksudnya bahwa pemuda itu tidak perlu ditolong!

Oleh karena itu, Yang Hoa mau tak mau mesti mengindahkan isyarat calon suaminya dan ia mundur ke belakang tiga langkah dengan dada berdebar tegang. Karena meskipun percaya bahwa calon suaminya berkepandaian tinggi namun tak urung hati dara ini merasa cemas dan khawatir.

“Sebelum pedangmu dapat mendekati tubuhku, bakal suamimu ini akan mampus dengan menderita lengannya terlepas dari pundaknya. Mengerti?!” Go Bang mengancam lagi sambil tangan kanannya yang sudah setengah lumpuh itu digerak-gerakkan ke arah Yang Hoa sehingga nona ini jadi semakin cemas dan gelisah.

Apalagi ketika dilihatnya Bun Liong memperlihatkan wajah meringis seakan-akan menderita kesakitan. Bukan main bingungnya Yang Hoa, isyarat dari calon suaminya tadi membuatnya serba salah.

Sambil menanti betapa perlawanan yang akan diperbuat oleh Bun Liong, diam-diam gadis itu merogoh kantong bajunya dimana selalu tersimpan beberapa batang senjata rahasia. Maksudnya ia hendak mengirim serangan terhadap si tinggi besar itu dengan menggunakan senjata rahasianya, kalau terpaksa!

“Heh! Kambing dogol, kenapa kau masih belum memberikan penyahutan atas permintaanku tadi?! Apakah kau benar-benar menginginkan tulang lenganmu remuk dan patah-patah?!” berkata lagi Go Bang sambil ketawa penuh kemenangan.

Dan cekalan pada pergelangan tangan pemuda itu dipererat dan sengkilitannya diperhebat sehingga tubuh Bun Liong jadi membungkuk ke depan dan menggeliat-geliat! Go Bang ketawa makin besar ketika melihat pergerakan pemuda seperti seekor kelinci menggeliat-geliat dalam cengkeraman harimau. Ia merasa yakin bahwa pemuda itu akan menyerah mentah-mentah di dalam tangannya!

Benarkah Bun Liong demikian lemah tak berdaya? Benarkah pemuda ini sama sekali tidak dapat melepaskan tangannya dari cekalan si Beruang Lengan Besi itu?!

Tidak! Bun Liong bukanlah seorang murid tunggal dari Bu Beng Lojin kalau ia tidak mampu berbuat sesuatu sebagai reaksi balasan terhadap Go Bang. Jangankan si Beruang Lengan Besi itu hanya mempergunakan tangan kirinya saja, meskipun kalau tangan kanannya belum teklok ditendang oleh Yang Hoa tadi dan mempergunakan sepasang tangannya meringkus Bun Liong, pemuda ini tidak mungkin akan menyerah begitu saja!

Nah, lihatlah reaksi yang diperbuat dengan diam-diam oleh pemuda itu!

Tiba-tiba suara ketawa besar Go Bang tadi berhenti. Berbareng tangan kiri si tinggi besar ini melepaskan cekalannya dan ia meloncat ke belakang seperti disengat kalajengking sambil mulutnya mengeluarkan seruan kaget dan wajahnya yang hitam itu nampak pucat! Ia merasakan telapak tangannya yang tadi digunakan mencekal pergelangan tangan pemuda itu sakit dan panas sekali bagaikan mendapat sengatan berpuluh-puluh binatang kalajengking yang berbisa dan seluruh lengan sampai ke pundaknya terasa sakit dan panas pula! Ia menggerak-gerakkan lengan kirinya sambil mengerahkan lweekang untuk coba memunahkan perasaan apa yang dideritanya itu.

Akan tetapi pada detik berikutnya Go Bang sekali lagi mengeluarkan seruan kaget dan setengah mengeluh dan keringat dingin mengucur. Tulang-tulang jari tangannya mengeluarkan bunyi berkerotokan dan di dalam lengan kirinya seperti banyak sekali benda-benda tajam menusuk dan menyayat-nyayat dagingnya.

Dan saat selanjutnya lagi, lengan-kirinya jadi tergantung saja di bawah pundaknya tanpa dapat bergerak sedikitpun seperti sehelai daun layu yang patah tangkainya. Tangan kanannya sudah teklok dan lumpuh, ditambah lagi kini lengan kirinya seakan-akan sudah menjadi mati, benar-benar bagi Go Bang merupakan penderitaan hebat!

Inilah pukulan membalik dari tenaga cekalannya yang dihantam oleh sin-kang yang disalurkan melalui pergelangan tangan Bun Liong yang dicekalnya erat-erat tadi! Ternyata Bun Liong yang tadi kelihatannya seperti tidak berdaya itu, telah mengirim serangan balasan dengan diam-diam dan akibatnya hebat sekali!

Sebenarnya, selagi pergelangan tangannya ditangkap dan lengannya ditekuk sengkilitkan sedemikian rupa oleh Go Bang yang benar-benar memiliki tenaga raksasa tadi, tentu saja pemuda ini dapat menghantam lawan yang berada di belakang punggungnya itu dengan mudah. Dengan sebuah pukulan yang mematikan, yaitu menggunakan pukulan Lui-lek-ciang dengan tangan kanannya yang tinggal bebas ke arah belakang.

Tetapi ia tidak mau mengobral pukulan ampuhnya itu jika tidak keliwat perlu. Sambil berpura-pura menggeliat dan kelihatannya tidak berdaya sehingga Go Bang ketawa besar, pemuda ini diam- diam mengerahkan sin-kangnya ke arah pergelangan tangan kirinya yang membuat apa yang dicekal oleh lawannya itu menjadi panas seperti baja membara dan bulu-bulu lengan menjadi tegak berdiri serta mengeras bagaikan jarum!

Ilmu yang berdasarkan lweekang tinggi ini dinamakan ilmu pukulan “Melepas Tulang dan Memutuskan Urat”. Warisan dari gurunya yang baru pertama kali ini dipraktekkan oleh Bun Liong, yang akibatnya telah dapat melepas-lepaskan tulang-tulang dari setiap sambungannya dan memutuskan urat-urat dalam anggauta tubuh yang berdekatan dengan bagian yang terkena serangan sin-kang ini seperti halnya yang dialami Go Bang.

Selain tulang-tulang dari tangannya berlepasan dari sambungannya, bahkan seluruh urat di dalam lengan kirinya putus semua dan membuatnya lumpuh seketika itu juga!

Setelah serangan balasannya berhasil, dengan perlahan dan tetap tenang seperti tidak pernah terjadi suatu peristiwa apapun yang barusan mengancam keselamatannya, Bun Liong membalikkan tubuh dan memandang kepada Go Bang yang berdiri dengan wajah meringis, kedua lengannya menggantung terkulai seperti lengan-lengan wayang yang tidak digerakkan oleh dalang.

“Eh, Beruang Lengan Besi, tadi kau bilang hendak meremuk dan mematah-matahkan lengan tanganku, tapi mengapa kau tiba-tiba membatalkannya?! Agaknya kau menaruh kasihan terhadapku, sehingga atas kemurahan hatimu benar-benar aku merasa berterima kasih kepadamu…….,” kata Bun Liong sambil tersenyum menyindir dan wajahnya yang tampan sengaja ditunjukkannya seperti seorang tolol! Akan tetapi, baru saja kata-katanya itu habis, sebagai penyahutannya Go Bang mengerang marah! Rasa sakit pada kedua lengannya bagi Go Bang tidak seberapa kalau dibandingkan rasa sakit di hatinya mendengar sindiran pemuda yang tidak disangkanya memiliki ilmu kepandaian sedemikian tinggi dan hebat itu!

Sindiran itu membuat dadanya sangat panas karena marah dan hatinya merasa malu! Baginya sindiran pemuda itu merupakan penghinaan dan oleh karena memang si Beruang Lengan Besi ini selama malang melintang di kalangan Liok-lim belum pernah dihina orang, apalagi oleh anak muda seperti Bun Liong, maka daripada hidup menanggung malu dihina orang. Inilah sebabnya maka ia mengerang marah dan menjadi nekad.

Sambil mengerang tiba-tiba Go Bang melompat maju dan menubruk Bun Liong. Biarpun sepasang lengannya tidak mampu bergerak lagi ternyata ia masih mempunyai ilmu silat simpanan yang tak kepalang hebatnya!

Sambil melompat dan menubruk, Go Bang mengirim serangan dengan kedua kakinya dalam gerakan Loan-hong-tui (Tendangan Angin Puyuh)! Tubuhnya yang tinggi besar dari udara menubruk ke bawah sambil kedua kakinya melakukan tendangan dahsyat bertubi-tubi ke arah Bun Liong. Tendangan ini begitu hebat dan mendatangkan angin seperti amukan angin puyuh, sekali saja mengenai sasaran, berarti maut!

Menghadapi serangan dari lawan yang telah nekad ini, dan yang sangat berbahaya, Bun Liong sudah mempunyai persiapan yang sangat sempurna untuk menyambutnya. Pemuda ini tidak berkisar dari tempatnya, dan juga tubuhnya sama sekali tidak berkelit, melainkan dengan dada terpentang lebar seakan-akan sengaja dibuka dan diumpankan bagi serangan lawan, ia menggerakkan kedua tangannya, yang kiri dari atas dan yang kanan dari bawah.

Ketika tubuh Go Bang turun ke bawah dengan tubrukan tendangannya, tahu-tahu kaki kirinya yang melakukan tendangan telah ditangkap oleh tangan kanan Bun Liong dan tangan kiri pemuda itu sudah memegang ikat pinggangnya. Kemudian, dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, tanpa menggerakkan kedua kakinya, tubuh yang tinggi besar itu sudah diangkatnya ke atas lalu dibanting ke bawah.

“Brukkk!” Saking kerasnya tenaga bantingan dan ditambah daya berat dari tubuh yang dibantingkan, telah menimbulkan suara dahsyat seperti gempuran seekor banteng ketika tubuh Go Bang membentur sebatang pohon besar dan pada saat itu juga nyawa si Beruang Lengan Besi sudah melayang meninggalkan raganya!

“Hebat dan luar biasa……!” Seruan memuji tetapi bernada marah tiba-tiba menggema di hutan dan berbareng dengan itu, dari belakang rumpun keluar tubuh seorang kakek kerdil yang kelihatannya benar-benar menyeramkan. Bajunya terbuat dari kulit macan loreng, celananya berwarna hitam dan kakinya tidak mengeluarkan suara sedikitpun, benar-benar seperti gerakan seekor harimau!

Ketika kakek ini sudah berdiri di depan Bun Liong dan Yang Hoa, maka kedua orang muda ini maklumlah bahwa mereka berhadapan dengan si Cakar Harimau Lo Ban Kui, yaitu si raja perampok! Melihat rupa kakek itu diam-diam bulu kuduk Yang Hoa meremang karena tampaknya benar-benar menyeramkan.

Punggung kakek itu agak bungkuk, kepalanya setengah botak dan kumis serta jenggotnya jarang-jarang, hidungnya panjang bengkok seperti paruh burung rajawali. Matanya bersinar sangat tajam dan selalu bergilar liar seperti mata srigala lapar.

Dan yang hebat adalah jari-jari tangannya, karena seluruh jari tangannya itu berkuku panjang dan runcing serta berwarna coklat kehitam-hitaman. Demikian juga kuku seluruh jari kakinya yang telanjang itu, semuanya tajam dan panjang meruncing seperti kuku-kuku kaki harimau!

Houw-jiauw Lo Ban Kui ketawa terkekeh aneh dan matanya yang liar itu bergilar memandang kepada Bun Liong dan Yang Hoa, kemudian ia berkata dengan suara yang besar dan parau:

“Dua ekor kerbau muda yang baru tumbuh tanduk, tunggu apa lagi? Mengapa berhadapan denganku kalian tak cepat berlutut?”

Mendengar ucapan ini, Bun Liong bersikap tenang saja biarpun dadanya berdebar tegang. Ia maklum bahwa kakek itu berilmu tinggi, maka ia mesti berlaku hati-hati.

Akan tetapi Yang Hoa yang beradat keras, menjadi marah hingga karenanya, tanpa mengucapkan sesuatu perkataan lagi, gadis yang memiliki keberanian luar biasa ini melompat maju dan dengan gerakan secepat kilat, pedangnya berkelebat menyerang kakek itu! Serangan ini tidak boleh dibuat permainan, karena si nona mempergunakan ilmu pedang Thian-san-pay yang lihay dengan gerak tipu Naga Hijau Menyabetkan Ekor! Si kakek hanya ketawa terkekeh lagi dan tangan kirinya bergerak ke atas menyambut pedang si nona, dengan kuku jari telunjuknya membuat sekali sentilan, pedang itu telah ditangkisnya.

“Criiiinnnggg……..!” demikian bunyi kuku yang menyentil pedang itu.

Pedang di tangan Yang Hoa terpental dan gadis itu terkejut sekali karena telapak tangannya yang memegang gagang pedang menggetar seperti kesemutan. Namun Yang Hoa tidak gentar karenanya, bahkan gadis yang berwatak keras ini cepat mengirim serangan susulan.

Pedangnya meluncur ke depan hendak menusuk dada kakek itu, dan kembali terdengar suara “criiinnggg!” Ternyata Lo Ban Kui, tanpa mengisarkan kedua kakinya sedikitpun, telah menyentil pula pedang itu dengan kuku jari tangan kanannya!

Bun Liong yang melihat itu, kagum sekali. Menangkis pedang yang tajam hanya dengan sentilan kuku jari, benar-benar hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya. Ia maklum bahwa kakek kerdil itu merupakan lawan berat, berbahaya dan terlampau tangguh bagi Yang Hoa, maka ia segera berseru kepada calon isterinya, “Yang-moay, jangan kau borong sendiri orang hutan ini, berilah giliran bagiku untuk menghadapi monyet tua ini! Kau istirahatlah…….!”

Houw-jiauw Lo Ban Kui mengerang seperti seekor harimau marah mendengar dirinya disebut monyet tua oleh pemuda itu. Agaknya ia hendak menyerang akan tetapi ia mesti meladeni serangan dari Yang Hoa yang saat itu telah melancarkan pula serangan selanjutnya.

Bun Liong sebenarnya menghendaki supaya nona itu mengundurkan diri dari lawan yang lihay dan ia mengharapkan agar si raja rimba hijau itu langsung menyerang terhadapnya. Biarpun ia sendiri belum yakin benar dapat mengalahkan si Cakar Harimau, namun dengan demikian berarti secara tidak langsung menghindarkan diri calon isterinya dari lawan yang amat tinggi ilmu silatnya itu.

Inilah pengorbanan dari hati yang mencinta. Biar bahaya dialihkan kepadanya asal orang yang dicintainya terhindar dari malapetaka!

Akan tetapi, gadis seperti Ho Yang Hoa yang keras hati dan sepanjang pertempuran yang pernah dialaminya belum pernah dikalahkan, mana mau mengalah begitu saja? Pengalamannya yang belum banyak dan ditambah lagi perangainya yang menaruh benci terhadap kaum penjahat, membuat hatinya panas sehingga seruan dari calon suaminya tadi sama sekali tidak dihiraukannya.

“Aku harus mampuskan macan jadi-jadian kaki dua ini!” serunya dengan hati panas seperti terbakar karena pedangnya ditangkis orang dua kali hanya dengan sentilan kuku jari saja, berarti bahwa lawan itu memandangnya sangat rendah!

Pedangnya membuat gerakan memutar sehingga tampak berkelebat dan berkilau bagaikan sambaran halilintar dan agaknya hendak membabat pundak kakek bungkuk itu. Tetapi ketika lawan lihay ini menggerakkan tangan kanannya hendak menangkis pedang si nona dengan sentilan jari tangannya seperti tadi pula, Yang Hoa telah cepat merubah gerakan pedangnya yang lalu diluncurkan ke depan mengarah dada lawan.

Pedang itu umumnya menusuk secara lurus seperti luncuran tombak, akan tetapi Yang Hoa tidak demikian cara menusukkannya karena gadis ini membuat pedangnya bergerak ke atas dan ke bawah. Gerakan ini dilakukan cepat sekali sehingga ujung pedang itu kelihatannya seperti bercagak. Maksudnya untuk membingungkan lawan supaya tidak mengetahui bahwa ke mana pedang itu hendak menusuk, ke tenggorokan atau ke arah ulu hati! Inilah sebuah jurus dari ilmu pedang Thian-san-pay yang disebut gerak tipu Sian-li-yauw-san (Dewi menggoyangkan kipas).

Akan tetapi Houw-jiauw Lo Ban Kui benar-benar bukan orang sembarangan! Melihat tusukan pedang yang sekaligus mengarah dua jurusan ini sama sekali tidak gugup bahkan dengan gerakan wajar dan tenang sekali kedua tangannya membuat penjagaan.

Kesepuluh jari tangannya yang berkuku macan menjaga di depan dada yang kiri menjaga tenggorokan dan yang kanan diletakkan di depan ulu hatinya. Dan pada detik pedang si nona menerobos benteng penjagaan itu menghunjam ulu hatinya, kakek ini menggerakkan kuku jari tangan kanannya, menyentil.

“Cringgg…….!” Pedang terpental dan jadi mencong arahnya, akan tetapi ujung pedang yang runcing dan tajam itu setelah kena tangkisan istimewa barusan, kini menusuk tenggorokannya.

Kembali ia menangkis, tangkisan yang dilakukan dengan sentilan kuku jari tangan kirinya yang sudah dipersiapkan itu. Begitu mudah dan tepat ia menyentil, bagaikan menyentil daun telinga seorang anak kecil saja layaknya.

“Cringgg…….!” Untuk keempat kalinya pedang di tangan Yang Hoa terpental oleh sentilan kuku jari yang panjang dan kuat itu.

Ketika kuku jari tangannya menyentil pedang untuk keempat kalinya ini, kaki kanan Ban Kui yang panjang dan berkuku panjang melayang melakukan tendangan ke arah perut si nona. Tapi baiknya Yang Hoa cukup gesit, sebelum tendangan berbahaya itu mengenai perutnya, terlebih dulu ia telah mengerahkan tenaga pada kedua kakinya dan sambil berseru keras, tubuhnya yang langsing padat telah melesat ke atas dengan gerak tipu Sin-liong- cui-cu (Naga Sakti Mengejar Mustika) sehingga karenanya, tendangan Ban Kui hanya menghantam tempat kosong!

Ketika tubuhnya mumbul di udara, dara ini menukik dengan lawannya menengadah melihat kepadanya, secepat garuda menyambar Yang Hoa melayang turun dengan tubuhnya tetap dalam keadaan menukik sedangkan pedangnya digerakkan sedemikian rupa hingga sinarnya tampak bergulung merupakan kitiran yang ditiup angin kencang menyambar-nyambar ke arah lawannya dari atas! Serangan yang dilakukan Yang Hoa kini lebih dahsyat dan ganas daripada yang tadi. Karena gadis ini sudah marah sehingga mengeluarkan jurus yang hebat dan yang disebut tipu Pak-hong- pho-liu (Angin Utara Menyerang Cemara)!

Houw-jiauw Lo Ban Kui memperdengarkan seruan kaget karena ia tidak menyangka bahwa dara lawannya itu dalam mengelak dari tendangannya sekaligus dapat melakukan serangan demikian hebat. Kini ia tidak dapat mempergunakan kuku-kuku jari tangannya lagi untuk menangkis, karena maklum sambaran- sambaran pedang si nona di atas kepalanya itu sangat berbahaya.

Juga untuk mengelak sukar sekali karena serangan datang dari atas secara bertubi-tubi dan gulungan sinar pedang itu mengurung dirinya, maka terpaksa ia menggulingkan tubuhnya ke tanah. Sambil bergulingan ke dua tangannya bergerak-gerak ke atas melindungi tubuh sehingga ketika Yang Hoa turun dan dengan gemas sekali pedangnya membuat gerakan membabat, membacok dan menusuk secara beruntun, kembali terdengar suara nyaring “cring, cring, crinnng…..!” dan ternyata, pedang si nona telah ditangkis pula oleh sentilan kuku jari kedua tangannya dan kini pertemuan antara pedang dan kuku jari tangan itu bahkan menimbulkan bunga api berpijar! “Lihay sekali…….!” Bun Liong berkata perlahan dan disamping rasa kagumnya akan kelihayan si kepala perampok itu, di dalam hatinya sangat menyesalkan kebandelan calon isterinya.

Tetapi Yang Hoa yang berwatak keras dan tidak pernah mengenal arti takut, hawa amarahnya telah memuncak sehingga gadis ini menjadi nekad. Dan ketika melihat kesempatan dikala lawannya masih bergulingan, kaki kirinya bergerak dan sebuah tendangan yang disertai pengerahan tenaga lweekang menyamber ke arah lambung Ban Kui!

Akan tetapi kakek bungkuk itu benar-benar lihay, biarpun sedang bergulingan dan kelihatannya seperti terdesak, namun ketika melihat kaki si nona ditendangkan ke arah lambungnya, sambil berbaring miring menghadapi lawannya, sebelah kakinya bergerak ke atas dan telapak kakinya yang telanjang itu cepat sekali memapak tumit sepatu di kaki Yang Hoa yang menendang itu.

Beradunya dua kaki yang saling tendang ini hebat sekali akibatnya! Tubuh Ban Kui jadi terpental dan tergulingan sejauh dua tombak, sedangkan tubuh Yang Hoa jadi melayang ke belakang karena kakinya yang menendang dan dipapak oleh telapak kaki lawannya tadi seperti terkena tenaga dorongan yang kuat sekali yang membuat tubuhnya mencelat ke atas seperti dilempar oleh tenaga raksasa!

Baiknya nona ini memiliki gin-kang tinggi. Biarpun peristiwa ini membuat hatinya kaget tetapi ia masih dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, sehingga di udara ia melakukan salto tiga kali dan kemudian tubuhnya melayang turun dalam keadaan berdiri.

Dan ketika ia memandang kepada lawannya, ternyata kakek itu sudah berdiri sambil ketawa terkekeh-kekeh mengejeknya dan jarak antara mereka itu kini ternyata kurang lebih sejauh lima tombak!

Sejenak Yang Hoa menggerak-gerakkan kaki kirinya karena agak sesemutan. Baiknya ia melakukan tendangan tadi disertai pengerahan tenaga lweekang pada kakinya, sehingga setelah beradu dengan tendangan dari kakek itu yang disertai tenaga lweekang pula, tidak mendatangkan sesuatu akibat, kecuali terasa kesemutan saja.

“Pauw-an-tui Sianli, benar-benar lihay, hehehe…..” kata si Cakar harimau dalam tawa kekehnya sambil mengangkat sulingnya yang bengkok itu dengan sikap mengejek. Kalau hati sudah dikuasai nafsu amarah, sukar sekali bagi sang otak untuk mempertimbangkan baik buruknya tindakan yang akan dilakukannya. Demikianlah dengan Yang Hoa, karena marahnya, gadis ini tak sadar bahwa kakek itu terlalu tangguh baginya, bahkan sebaliknya kakek yang hanya melawan dengan sentilan- sentilan belaka, dianggapnya memandang rendah padanya.

Pada hakekatnya, memanglah Houw-jiauw Lo Ban Kui terlalu tangguh dan tingkat kepandaiannyapun jauh lebih tinggi dari Yang Hoa, sehingga betapa pandainya nona itu memainkan pedangnya, namun kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu kepandaian kakek ini, boleh dikata Yang Hoa masih sangat hijau. Selain kalah pengalaman, Yang Hoa mempunyai kelemahan, yakni adatnya yang keras selalu membuat ia berlaku nekad dan seorang yang telah nekad pikirannya jadi gelap dan berlaku ceroboh.

Baiknya bagi Yang Hoa, kebaikan yang tidak disadari oleh nona itu sendiri, ialah bahwa kakek bungkuk kepala garong yang luar biasa lihaynya itu masih menaruh rasa kasihan terhadapnya, sehingga tidak melawan dengan sungguh-sungguh, hanya mendemonstrasikan sentilan-sentilan kuku jari tangannya saja dan sama sekali tidak balas menyerang. Agaknya kalau Houw-jiauw Lo Ban Kui menghendaki kematian nona itu, dalam dua gebrakan saja Yang Hoa akan roboh binasa. Atau sedikitnya akan terkena cengkeraman kuku jari tangannya yang beracun itu, yang akibatnya juga bisa mendatangkan maut!

Namun kakek ini hendak menangkap si nona hidup-hidup. Oleh karena, seperti Tiat-pi-him Go Bang yang telah mampus tadi, kakek inipun nafsu binatangnya telah bergolak melihat kecantikan nona dan itu dan inilah alasan utama mengapa ia tidak mau mencelakakan Yang Hoa.

Harus diketahui bahwa kuku-kuku jari tangan Ban Kui selain dapat menangkis senjata lawan hanya dengan sentilan, juga dapat mencengkeram dan merampas pedang lawan. Dan kalau cengkeraman ini dilakukan terhadap pedang si nona tadi, sekali renggut saja pedang itu pasti dapat dirampasnya!

Setelah kesemutan di kakinya tadi hilang, tanpa tidak membuang waktu lagi nona yang dadanya telah dibakar api kegusaran ini melompat maju pula dan pedangnya ditodongkan ke depan mengarah Ban Kui yang ketika itu masih memperdengarkan suara tawa ejekannya. Akan tetapi tiba-tiba: “Traannng…….!” pedang Yang Hoa yang diacungkan ke depan itu ada yang membentur dari samping. Dan seirama dengan itu, tahu- tahu Yang Hoa telah dikurung oleh lima orang liauw-lo berdiri di belakang, dua orang di kiri kanan dan yang seorang lagi menghadang di depan si nona dan orang inilah yang barusan membentur pedang si nona dengan goloknya.

Ke lima liauw-lo ini memang sejak tadi sudah mengintai di balik semak-semak dan batang-batang pohon sekitar tempat itu. Dan ketika mereka dari tempat pengintaiannya melihat tanda dari pemimpin mereka, tanda yang tidak diketahui oleh orang luar, maka serempak mereka berlompatan keluar dan kini mengurung Yang Hoa dengan golok dipersiapkan di tangan dan sikapnya sangat garang!

“Tangkap si cantik itu hidup-hidup dan aku hendak memberi hajaran kepada kerbau jantan yang bernyali besar berani memasuki sarang harimau ini!” seru Ban Kui kepada ke lima orang anak buahnya dan waktu itu juga kakek ini melompat dan menubruk Bun Liong dengan gerak tipu Macan Lapar Menerkam Kambing.

Mendengar perintah dari Ban Kui, serempak lima orang liauw-lo bergerak maju, tapi golok mereka tidak digerakkan hanya kepungan mereka makin rapat. “Menyerahlah dan lepaskan pedangmu, nona manis!” kata liauw-lo yang berdiri di depan Yang Hoa sambil menyengir kuda.

Yang Hoa yang sudah marah, kini bertambah marah. Dan sebagai jawaban, pedang dara ini bergerak ganas dan dipusatkan sedemikian rupa ke sekitar dirinya.

Lima orang liauw-lo itu secara berbareng melompat mundur dan ketika Yang Hoa hendak membabat seorang liauw-lo yang berada paling dekat dengan dirinya, gadis ini terkejut dan terpaksa menyabetkan pedangnya ke belakang karena telinganya yang tajam mendengar ada dua batang golok yang menyerang punggungnya!

“Trang, trang…..!” dua batang golok dari dua orang liauw-lo yang menyerang di belakangnya itu ditangkis oleh pedangnya sehingga menimbulkan bunga api berpijar dan dua liauw-lo tersebut cepat melompat mundur!

Yang Hoa mendesak salah seorang yang melompat mundur itu akan tetapi tiba-tiba pedangnya ditangkis oleh seorang perampok yang berada di sebelah kirinya. Yang Hoa gemas dan kakinya menendang ke lambung perampok ini, tetapi lagi-lagi ia mesti mengurungkan serangannya oleh karena pada saat itu dua orang lawan di belakangnya melakukan tubrukan sehingga gadis ini cepat membalikkan diri dan menyabetkan pedangnya.

Kembali dua perampok yang disebut belakangan ini melompat mundur menghindarkan diri dari samberan senjata si nona dan begitulah selanjutnya. Setiap kali pedang Yang Hoa menyerang seorang perampok yang berada di depannya, maka salah seorang perampok yang berada di kiri atau kanannya menangkis pedangnya dan dua atau tiga orang liauw-lo lainnya lagi, yang berada di belakangnya, lalu menyerangnya dari belakang dengan tubrukan karena hendak menangkap nona itu hidup-hidup sebagaimana perintah pemimpin mereka!

Dalam marahnya, diam-diam Yang Hoa terkejut oleh karena tak disangkanya sama sekali bahwa ke lima perampok ini memiliki taktik tempur dan sistim mengepung sedemikian teratur, dibandingkan dengan liauwlo-liauwlo yang pernah diganyangnya tadi yang baginya merupakan makanan empuk. Adapun ke lima orang anak buah perampok yang mengepungnya kini, membuat gerakan pedangnya tidak leluasa dan tidak menurut ilmu pedang secara semestinya disebabkan lain yang diserang, lain yang menangkis dan lain pula yang melakukan serangan dari belakangnya. Belum pernah Yang Hoa menghadapi dengan taktik serangan yang seaneh ini. Setiap serangannya selalu dipatahkan oleh lawan yang berada disampingnya dan dibarengi dengan sedikitnya dua serangan lain dari belakang, sungguh-sungguh merupakan keroyokan yang amat berbahaya sekali!

Sudah dua kali Yang Hoa melompat tinggi dari atas tubuhnya berjungkir balik dengan gerakan Sin-eng-coan-in (Garuda Sakti Menembus Awan). Dan pedangnya diputarkan ke bawah mengarah kepala ke lima lawan yang tetap mengadakan posisi kepungan itu.

Akan tetapi tidak seorang lawanpun yang terkena sasaran pedangnya dan bahkan ketika kakinya kembali berdiri di atas tanah, justeru ia kembali dan berada di dalam kepungan ke lima lawannya pula seperti semula! Oleh karena ini, Yang Hoa menjadi bingung sekali dan sama sekali ia belum mengerti dan mengetahui ilmu kepungan itu.

Ilmu kepungan dan taktik tempur dari ke lima orang perampok itu ialah yang disebut Ngo-heng-tin dan ilmu sesungguhnya sangat asing bagi Yang Hoa dan baru sekarang ia menghadapinya. Ternyata Houw-jiauw Lo Ban Kui disamping mempunyai pembantu si Srigala Hitam Ciam Tang dan Tiat-pih-im Go Bang, yang kedua- duanya sudah pulang ke akherat, juga mempunyai anak buah yang paham mainkan ilmu Ngo-heng-tin (Ilmu Kepung Lima Daya) yang terdiri dari ke lima orang yang mengepung Yang Hoa itu.

Selain masing-masing memiliki kepandaian silat yang tidak boleh dipandang rendah, mereka berlima kalau maju berbareng melakukan penyerangan dan kepungan merupakan sebarisan yang amat tangguh. Karena mereka menggunakan sistim kerjasama secara berantai yang disebut Ngo-heng-tin itu.

Apabila mereka berlima bersama-sama mengepung dan melakukan penyerangan, maka mereka merupakan barisan Lima Daya yang mengepung lawan dari lima jurusan. Dan dalam kedudukan mereka yang amat kuat ini, jarang sekali ada lawan yang dapat meloloskan diri dari kepungan mereka.

Di samping bisa merobohkan lawan dengan senjata mereka, juga Ngo-heng-tin ini dapat menangkap lawan hidup-hidup, yaitu dengan menubruk dan menangkap lawan dari arah belakangnya. Karena Yang Hoa hendak mereka tangkap hidup-hidup, maka mereka menggunakan sistim serang yang disebut belakangan.

Dengan menggunakan sistem yang kedua ini, selama mereka mengabdi kepada Houw-jiauw Lo Ban Kui sejak mereka masih di daerah utara, tidak kurang dari lima orang pendekar wanita muda, yang semula hendak mengobrak-abrik komplotan perampok ini dibikin kewalahan dan akhirnya ditangkap hidup-hidup oleh barisan Lima Daya ini. Kemudian setelah tawanan itu tidak berdaya, lalu dijadikan barang permainan mereka secara bergilir!

Melihat betapa Yang Hoa tampak kebingungan dalam kepungan, ke lima orang liauw-lo yang melakukan Ngo-heng-tin itu girang dan mereka merasa pasti bahwa nona pendekar yang cantik inipun akan dapat mereka tawan hidup-hidup! Akan tetapi Yang Hoa adalah seorang gadis yang amat pemberani dan keras hati dan ditambah lagi sekarang ia dalam keadaan marah, maka tanpa mengingat keadaan diri sendiri, ia lalu mengamuk dan menyerang membabi buta.

Siapa saja yang paling dekat dengan dirinya diserangnya dengan hebat. Ia berusaha hendak menjatuhkan seorang lawan dulu yang berada di depannya untuk kemudian menghadapi empat lawan.

Namun kelima liauw-lo pengepungnya itu telah dapat menangkap maksudnya, maka mereka melakukan penjagaan keras. Dan dari belakang gadis datanglah serangan bertubi-tubi seperti tubrukan, pukulan atau totokan ke arah jalan darah tiap kali Yang Hoa menggerakkan pedangnya ke depan. Sehingga terpaksa dara ini tidak dapat mencurahkan seluruh perhatian dan kepandaiannya karena ia harus pula menjaga diri terhadap serangan yang datangnya dari belakang. Karena terpecah-pecahnya perhatian dan tenaga ini, betapapun lincah dan tingginya gin-kang Yang Hoa dan ditambah lagi dalam keadaan kebingungan serta pula sebelum menghadapi lima orang liauw-lo ini sudah bertempur dengan Go Bang dan Ban Kui, maka kini ia menjadi cepat lelah dan seluruh pakaiannya sudah menjadi basah kuyup oleh peluhnya!

Yang Hoa merasakan kepalanya pening ketika tiba-tiba terdengar salah seorang pengepungnya berseru nyaring dan otomatis mereka merubah cara mengepung dan menyerangnya. Kalau tadi mereka mengepung dan menyerang dari lima jurusan dalam kedudukan masing-masing, maka sekarang mereka mengepung sambil berlari-lari mengitari si nona.

Yang membuat Yang Hoa pening adalah dikarenakan mereka berlari mengelilinginya ia secara berlawanan, yakni tiga orang berlari memutari gadis dengan arah dari kiri ke kanan, sedangkan yang dua orang lagi berlari dari kanan memutar ke kiri. Dan sementara itu, serangan mereka datangnya lebih gencar dan kepungan makin rapat sehingga Yang Hoa jadi seperti terjepit dalam sebuah lingkaran yang makin lama makin mengecil. Keadaan gadis itu benar-benar sudah berbahaya sekali. Gerakan pedangnya makin kacau, dan dalam keadaan demikian lima orang pendekar wanita muda seperti yang sudah diterangkan tadi dapat ditawan hidup-hidup karena lelah, bingung dan kepala pening sehingga benar-benar tidak berdaya!

Walaupun kepalanya sudah pening dan tenaganya hampir habis, namun hatinya yang keras membuat Yang Hoa tidak mau menyerah begitu saja. Sambil menggigit bibir dan pedangnya diputarkan dengan mengandalkan tenaga yang masih ada padanya, ia mengambil keputusan untuk mengadu jiwa.

Demi membela nama Pauw-an-tui dan demi tugasnya untuk kepentingan masyarakat ia rela mati dalam pertempuran ini asal saja sedikitnya ia dapat membunuh dulu seorang atau dua di antara lima pengepungnya. Akan tetapi ternyata usahanya selalu sia-sia…….

Adakalanya seorang yang sudah sangat kebingungan dan putus asa, tiba-tiba mendapat akal untuk lari dari penderitaan yang menyiksanya dan demikian pula dengan Yang Hoa, yang agaknya beberapa detik lagi akan jatuh menjadi korban dalam kepungan yang benar-benar hebat itu. Tiba-tiba ia teringat akan senjata rahasia yang dibawa dalam saku bajunya! Mengapa tidak sejak tadi aku menggunakan piauw, demikian dara itu menyesali dirinya. Meskipun menggunakan senjata rahasia itu adalah cara yang curang, namun kalau sangat terpaksa kiranya tidak pantas disebut satu perbuatan pengecut.

Apalagi perbuatan ke lima perampok itu. Lima orang lelaki mengeroyok seorang wanita, lebih-lebih pengecut dan curanglah perbuatan mereka!

Setelah mendapat pikiran ini sambil tangan kanan mengamukkan pedangnya, diam-diam Yang Hoa merogoh saku bajunya. Dan ketika pedangnya ditangkis oleh dua golok lawan yang berada di depannya dan bersamaan dengan itu ia merasakan datangnya serangan dari lawan-lawan yang berada di belakangnya.

Tiba-tiba ia berseru nyaring dan pedangnya diputarkan di sekitar tubuhnya dengan menggunakan gerak tipu Thian-sang-sauw-seng (Menyapu Bintang Di Atas Langit). Sambil memutarkan pedangnya, tubuhnya turut berputar pula dan tangan kirinya kelihatan tiga kali mengayun…….

Ke lima orang perampok yang dapat membentuk barisan kepung sedemikian kuatnya itu, sama sekali tidak menyangka bahwa dara yang mereka kepung itu akan melakukan penyerangan mempergunakan senjata rahasia. Sehingga karena ini dua orang di antara mereka dengan terkejut dapat berkelit dari samberan pedang si nona yang digerakkan secara nekad itu, sedangkan tiga orang lainnya lagi dalam waktu yang hampir bersamaan telah mengeluarkan suara jeritan yang sama nyaringnya dan tubuh mereka segera terjungkal roboh.

Karena tiga batang piauw yang disambitkan Yang Hoa barusan telah bersarang di lambung, dada dan tenggorokan masing- masing!

Setelah melihat akalnya berhasil sebagaimana yang diharapkan, Yang Hoa merasa seperti mendapat semangat baru dan rasa pening di kepalanya pun otomatis hilang setelah putaran “korsel” yang memutari dirinya tadi berhenti.

Sedangkan dua orang liauw-lo sisa dari barisan Ngo-heng-tin itu, setelah melihat betapa ke tiga kawannya telah roboh mampus timbullah nyali tikusnya dan dalam waktu bersamaan bagaikan mendapat komando. Serentak mereka membalikkan tubuh dan lari.

Akan tetapi sebelum mereka menghilang ke dalam semak-semak, mereka berpekik nyaring dan tubuh mereka terguling dengan hidung mencium tanah dan di punggung mereka menancap dua batang senjata rahasia yang di”tembak”kan oleh Yang Hoa! Nona ini menarik nafas lega dan baru kini ia ingat kepada calon suaminya yang lalu ditengoknya……. Dan ketika itu tiba-tiba, ia mendengar suara suitan yang nyaring sekali…….

<>

Untuk melihat apa yang terjadi antara Bun Liong dan Ban Kui sementara Yang Hoa dikepung tadi, marilah kita mundur sebentar.

Oleh karena pada waktu yang hampir bersamaan sejak Yang Hoa dikepung oleh kelima liauw-lo yang membentuk barisan Ngo-heng- tin itu, Bun Liong sudah bertempur sengit dengan kakek bungkuk kepala rampok yang berilmu silat tinggi itu.

Seperti sesudah diceritakan bahwa setelah Ban Kui mengeluarkan perintah kepada ke lima anak buahnya untuk menangkap Yang Hoa hidup-hidup, ia sendiri lalu melompat dengan gerak tipu Macan Lapar Menerkam Kambing, menerkam Bun Liong. Kakek ini marah sekali terhadap pemuda itu karena ia dimakinya “monyet tua”.

Selama menjadi kepala rampok belum pernah ia dimaki orang sekurang ajar itu, apa lagi oleh seorang pemuda semuda Bun Liong. Itulah sebabnya maka setelah ia melihat Yang Hoa sudah berada dalam kepungan Ngo-heng-tin yang ia andalkan itu, maka ia menubruk Bun Liong sambil menyerang seperti harimau marah!

Adapun Bun Liong pada saat itu sudah siap siaga. Ia tidak mau membuat kesalahan dua kali, yaitu berlaku agak lengah sehingga kena diterkam dan ditangkap seperti oleh Go Bang tadi, baiknya ia memiliki kepandaian lebih unggul dari si Beruang Lengan besi, kalau tidak, sejak tadi ia sudah celaka!

Sekarang ia maklum bahwa lawan yang menubruknya sangat lihay sehingga ia harus berlaku hati-hati. Maka cepat ia mengelak ke samping dengan satu loncatan, menghindari terkaman kakek itu.

Akan tetapi tak disangkanya bahwa gin-kang Ban Kui begitu tinggi dan gerakkannya luar biasa. Tubuhnya yang seperti melayang ketika melakukan tubrukan lurus ke arah pemuda itu tiba-tiba dapat berganti haluan, membelok dan mengikuti ke arah tempat pemuda itu berpindah, dan kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing itu mencengkeram ke arah pundak dan leher.

Cepat sekali datangnya serangan ini sehingga Bun Liong tidak sempat untuk mengelak lagi. Maka sambil mendoyongkan tubuhnya sedikit ke belakang, kedua tangannya bergerak ke atas menyambut serangan lawan yang datangnya dari udara itu!

“Plak!” tangan kiri Bun Liong dapat menangkis lengan kanan lawan dengan sebuah kepretan sehingga cengkeraman yang semula hendak menerkam pundaknya itu jadi nyeleweng. Sedangkan tangan kanannya yang hanya mempergunakan jari telunjuk menyambut cengkeraman kuku jari tangan Ban Kui yang mengarah lehernya.

Melihat ini Ban Kui girang. Kuku jari tangan kirinya yang semula diarahkan ke leher, kini sengaja mencengkeram dengan maksud hendak mematahkan jari telunjuk pemuda itu.

Jari-jari tangan yang berkuku seperti harimau itu ternyata hanya mencengkeram angin saja, karena tiba-tiba telunjuk Bun Liong telah membuat gerakan memutar. Ketika jari tangan Ban Kui yang tadi mengembang bagaikan cakar setan itu kini menutup merupakan sebuah tinju dan hanya angin saja yang dicengkeramnya, maka jari telunjuk Bun Liong setelah membuat gerakan memutar tadi langsung ditotokkan ke arah pergelangan tangan kiri lawan. Dan pada detik berikutnya terdengarlah Ban Kui menjerit, sedangkan tubuhnya terpental sejauh empat tombak. Akan tetapi kakek itu benar-benar mempunyai gerakan luar biasa, karena tubuhnya yang terpental itu, ketika jatuh, dalam keadaan berdiri!

Ternyata Bun Liong dalam waktu yang sama telah mendapat dua kesempatan yang sangat menguntungkan baginya. Dengan telunjuknya yang disertai pengerahan lweekang, pemuda itu berhasil menotok jalan darah di pergelangan lawan, yaitu jalan darah yang menjadi saluran ke arah nadi dan semua jalan darah asli.

Dan bersamaan dengan itu, tubuh Ban Kui yang seperti melayang di udara tadi ketika mulai turun dan kakinya hendak menginjak bumi, telah disambut oleh sebuah tendangan geledek kaki kanan Bun Liong yang tepat mengenai lambungnya. Itulah sebabnya maka tak ampun lagi, Ban Kui menjerit dan tubuhnya terpental!

Hal ini terjadi selain karena ketabahan, keberanian dan kecerdikan Bun Liong, juga karena Ban Kui terlalu memandang rendah lawannya yang dikiranya tak beda dengan si nona yang dapat dipermainkan dengan seenak hatinya, sehingga ia berlaku ceroboh! Totokan jari telunjuk Bun Liong yang mengenai jalan darah di pergelangan lawan itu, akan mengakibatkan seluruh lengan menjadi lumpuh seketika. Apalagi tendangan geledeknya yang menyodok lambung lawan, kalau tidak putus nyawa karenanya, maka sedikitnya pasti akan menderita luka di bagian dalam tubuh.

Akan tetapi Bun Liong benar-benar merasa heran dan kagum akan kekuatan tubuh kakek bungkuk itu. Karena ternyata setelah tubuhnya terpental dihantam tendangan yang sedikitnya berkekuatan seratus kati, masih bisa mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga ia jatuh dalam keadaan berdiri tegak. Dan anehnya, baik totokan maupun tendangan tadi, seakan-akan tidak mendatangkan akibat sedikitpun bagi kakek itu!

Maklumlah Bun Liong bahwa Ban Kui memiliki sin-kang yang luar biasa kuatnya! Dan yang lebih mengagumkan lagi, yaitu dengan cepat Ban Kui dapat maju dan menyerang lagi.

Kini serangannya lebih hebat dan ganas. Karena sebelum orangnya datang mendekat, hawa pukulannya sudah terasa karena ia sudah maklum bahwa pemuda lawannya itu mempunyai “isi” tidak memberi banyak kesempatan dan terus menyerang dan merangkak dengan hebat. Sepuluh kuku jari tangannya merenggang seperti cakar harimau dan digerakkan cepat sekali pergi datang melakukan serangan bertubi-tubi dan bergantian, mencakar dada, perut, leher dan muka Bun Liong. Tidak hanya kedua tangannya yang bergerak-gerak seperti cakar harimau, bahkan kedua kakinya yang telanjang serta berkuku panjang dan runcing itupun menendang-nendang seperti kaki harimau mencakar!

Setiap serangan yang dilakukan, dari kedua tangan dan kakinya menyambar hawa pukulan yang amat kuat menandakan bahwa serangan-serangan dilakukan dengan tenaga lweekang yang tinggi.

Baiknya Bun Liong memiliki gin-kang yang sudah sempurna, maka dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya pemuda ini mengelak dan berkelit ke sana ke mari di bawah serangan lawan. Biarpun Bun Liong berkepandaian tinggi akan tetapi ia masih kurang pengalaman dan belum pernah melihat ilmu silat macam ini.

Memang ia pernah mendengar dari gurunya bahwa di dunia ini terdapat ilmu bertempur yang tak dapat dihitung banyak macamnya. Dan menghadapi seorang lawan yang mempergunakan gaya serang yang belum dikenalnya, ia harus berlaku hati-hati sekali! Ia belum tahu bagaimana perubahan serangan ini dan dimana letak kelihayan serta kelemahannya, maka sampai beberapa jurus lamanya biarpun didesak terus. Ia main mundur dan mengelak saja disamping ia memperhatikan gaya tempur lawan dengan seksama.

Tigapuluh jurus telah lewat dan dari tenggorokan Ban Kui mulai terdengar suara gerengan-gerengan seperti suara harimau tulen. Inilah menandakan bahwa kakek ini sudah marah sekali karena merasa dipermainkan oleh pemuda itu yang selalu mengelak belaka.

Padahal ia sangat mengharapkan serangan balasan atau tangkisan dari pemuda seperti dalam permulaan pertempuran ini tadi. Ia mengakui bahwa tadi ia telah berlaku terlalu ceroboh, tapi kini ia ingin mencoba lagi mempergunakan ilmu cengkeramannya tanpa berbuat kesalahan seperti tadi.

Biasanya jarang sekali ia merobohkan lawan dalam pertempuran sampai melampaui duapuluh jurus! Ia selalu dapat merobohkan lawan dalam kesempatan apabila tangannya beradu dengan tangkisan lengan lawan, maka dengan gerakan dan kecepatan yang tak dapat diduga oleh pihak lawan, ia dapat membalikkan lengan dan mempergunakan cengkeramannya menangkap lengan lawan dan celakalah lawan yang dapat dicengkeram lengannya! Inilah keistimewaan ilmu silatnya, yaitu ilmu silat yang dinamakan Houw-jiauw-kun-hwat dan karena Ban Kui sangat mahir dalam ilmu silat ini, maka ia mendapat nama julukan si Cakar Harimau!

“Bangsat kecil! Kalau benar kau menjadi ketua Pauw-an-tui dan mendapat nama julukan Tong-koan Ho-han, cobalah lawan seranganku dan jangan main kelit saja seperti lakunya seekor tikus!” Ban Kui membentak marah sambil terus memberondongkan serangan-serangannya.

Dengan bentakan ini ia sengaja membuat pancingan untuk memanaskan hati lawan yang ia harapkan balas menyerang. Kakek ini memang sangat bernafsu ingin membunuh pemuda itu yang dianggapnya sebagai Kepala barisan penghalang bagi pekerjaannya, dan pula ia ingin membalas dendam terhadap Pemuda itu atas kematian Ciam Tang berikut sejumlah anak buahnya dan ditambah lagi kematian Go Bang tadi!

Serangan-serangannya makin diperhebat dan saking cepatnya ke dua tangan dan sepasang kakinya itu seakan-akan berubah menjadi banyak! Bahkan kedua telapak tangan kakek bungkuk ini sekarang sudah berubah menghitam dan pukulan-pukulan yang ia lancarkan kini mengandung hawa panas dan berbau amis memuakkan yang keluar dari sepasang telapak tangan itu. Bun Liong bukan main kagetnya. Ia pernah mendengar dari gurunya tentang orang-orang ahli silat yang memiliki ilmu silat jahat yang disebut Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam), Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) atau Hek-see-ciang (Tangan Pasir Hitam) yang berbahaya sekali.

Dari kedua telapak tangan yang kini berubah hitam serta angin pukulannya mengandung hawa panas dan berbau amis itu maklumlah Bun Liong bahwa lawannya memiliki tangan yang “berisi”, yaitu tangan yang sudah dilatih lebih dulu untuk melakukan pukulan istimewa yang berbisa, yang disebut Hek-tok-ciang!

Sungguhpun kaget bukan main, akan tetapi pemuda ini sedikitpun tidak gentar karena setelah memperhatikan gaya tempur dari lawan yang semula sangat membingungkannya, kini ia telah dapat menangkap intinya bahwa ilmu silat lawannya itu tidak jauh bedanya dengan ilmu silat yang ia miliki sendiri, yaitu ilmu silat Sin- wan-pek-houw-kun-hoat warisan dari gurunya Sin-kun Butek Ong Kim Su atau Bu-beng Lojin.

Sejak tadi Bun Liong mainkan ilmu kelitnya yang disebut Sin-wan- tiauw-bu (Lutung sakti menari) yang berhasil membuat lawannya merasa seperti dipermainkan. Dan setelah ia mendengar dampratan dari lawannya yang sudah panas perut dan disertai pukulan Hek-tok-ciang, maka pemuda ini segera merubah gerakannya.

Kalau tadi ia selalu main kelit saja, maka sekarang ia segera mainkan ilmu Harimau Putih Mengunjukkan Lagak, mencoba melakukan perlawanan dan melancarkan serangan balasan. Ternyata Pek-houw-kun-hoat (Ilmu silat harimau putih) ini, merupakan ilmu yang sesuai dan tepat untuk menghadapi ilmu cakar harimau dari kakek bungkuk yang lihay luar biasa itu.

Sekarang pihak Ban Kui lah yang kaget, karena setiap serangan yang dilancarkannya selalu dibayangi oleh gerakan-gerakan pemuda yang dapat melakukan serangan-serangan dalam gerakan yang hampir sama, sehingga dapat dikata lawannya itu seolah-olah merupakan bayangannya sendiri. Bahkan ketika lengan si Cakar Harimau ini beradu dengan lengan Bun Liong yang melakukan tangkisan kakek ini kagetnya makin menjadi karena dari benturan lengan lawan yang berkulit bertulang masih sangat muda itu, ia merasai rasa panas yang menjalar terus ke kulit lengannya sendiri sehingga kulit lengannya serasa terbakar!

Dalam beberapa jurus saja Bun Liong melakukan perlawanan, Ban Kui jadi mengeluh dalam hatinya. Dan diam-diam ia mengakui kepandaian ketua Pauw-an-tui yang masih sangat muda itu! Akan tetapi Si Cakar Harimau yang sudah banyak pengalaman merasa malu sekali kalau tidak dapat merobohkan pemuda lawannya itu. Kakek ini bertekad mengadu jiwa dan dalam kepenasaran dan kenekadannya ia terus bertempur mati-matian.

Bun Liong pun maklum bahwa kepala perampok lihay ini mesti dihadapinya dengan pertarungan nyawa, pertempuran ini baru bisa berakhir kalau salah seorang diantara mereka telah binasa. Maka ia bertempur dengan hati-hati dalam kesengitannya, setiap gerakan kaki tangannya merupakan perlawanan yang baik dan berupa serangan maut bagi lawan.

Pertempuran tangan kosong antara Bun Liong dan Ban Kui ini tidak kalah sengit dan serunya kalau dibandingkan dengan pertempuran Yang Hoa yang ketika itu sedang dikurung dan dikeroyok oleh barisan kepung Ngo-heng-tin. Pakaian biru Bun Liong di beberapa bagian sudah koyak akibat cengkeraman kuku si Cakar Harimau.

Baiknya gin-kang dan kegesitan pemuda itu sudah sangat sempurna sehingga cengkeraman kuku lawan yang berbisa tidak sempat menyentuh kulit tubuhnya. Hanya berhasil menerkam pakaiannya saja sampai robek-robek. Kalau sekali saja kuku-kuku yang beracun itu menerkam kulitnya, dapat dibayangkan betapa bahayanya! Untuk menghindarkan diri dari serangan si Cakar Harimau, Bun Liong tetap memainkan langkah-langkah dan gerakan Sin-wan-tiauw-bu dan karena ia menguasai ilmu ini dengan sempurna tubuhnya demikian gesit dan lincah sehingga sukar diserang lawan.

Akan tetapi setiap kali ada kesempatan, maka ilmu silat Harimau Putihnya segera ia “suguhkan” kepada lawan. Namun pukulan atau tonjokan yang disertai pengerahan tenaga lweekangnya, meskipun mengenai sasarannya dengan tepat, Ban Kui hanya sedikit terhuyung-huyung dan batuk beberapa kali. Berarti belum cukup kuat untuk merobohkannya atau mungkin juga disebabkan kakek itu memiliki tubuh yang luar biasa kuatnya.

Betapapun lihaynya Houw-jiaw Lo Ban Kui, namun karena ia sudah tua dan juga karena kesehatan tubuhnya kurang dipelihara, maka bertempur menghadapi lawan muda yang demikian licin, ulet dan lihaynya akhirnya merasa letih juga. Ketika pertempuran menjelang jurus yang keenampuluh, kakek ini bukan main mendongkol dan gemasnya.

Karena selama ia bertualang di kalangan rimba hijau, belum pernah ia menghadapi lawan yang sedemikian tangguhnya sehingga sampai jurus yang keenampuluh masih belum dapat dirobohkannya. Apalagi lawan yang masih demikian muda dan yang dianggapnya seperti anak kerbau baru tumbuh tanduk!

Akan tetapi dalam jurus keenampuluh lima, Ban Kui melihat kesempatan baik ketika anak muda itu berkelit dari serangannya. Dengan sedikit menjengkangkan tubuh dan dadanya dalam keadaan terbuka, maka ia segera mengirim serangan susulan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.

Kakinya membuat lompatan mengarah Bun Liong yang tubuhnya sedang mendoyong ke belakang itu. Tangan kirinya dipentang hendak mencengkeram lehernya sedangkan tangan kanannya mengirim pukulan Hek-tok-ciang ke arah dada dan dibarengi pula kaki kanannya melakukan tendangan kilat kebagian selangkangan pemuda itu.

Ternyata, dalam kemarahannya itu Ban Kui telah melancarkan tiga serangan sekaligus, serangan yang terakhir dan mematikan! Cengkeraman itu kalau mengenai leher, tentu akan menghancurkan daging dan tulangnya.

Kalau pukulan Hek-tok-ciang itu mengenai dada, dapat dipastikan bahwa nyawa si pemilik dada itu akan melayang seketika itu juga. Dan kalau tendangan yang dilakukan dengan lweekang sepenuhnya itu mengenai sasarannya, maka pemuda itu pasti terlempar ke udara dengan anggauta badan di bagian selangkangan pecah!

Akan tetapi Bun Liong benar-benar tidak mengecewakan sebagaimana anak muda gemblengan Bu Beng Lojin. Tiga macam serangan maut yang dilancarkan sekali gus itu tidak membuat pemuda ini gugup.

Terlebih dulu Bun Liong menghindarkan tendangan kaki lawan yang datangnya lebih cepat dari pada dua macam serangan lainnya. Ia melompat ke atas dengan gerak kaki Sin-wan-tiauw-ki (Lutung Sakti Loncati Cabang), kemudian tangan kirinya dengan telapak tangan miringkan menyabet dan menindih lengan kiri lawan yang semula hendak mencengkeram lehernya tadi.

Dan selaku imbalan pukulan Hek-tok-ciang dari lawan, maka tangan kanannya dengan jari-jari terbuka membuat gerakan seperti mendorong ke depan, yaitu mengirim pukulan Lui-lek-ciang warisan gurunya yang paling diandalkan! Lengan kiri dari ke dua pihak beradu, pukulan tangan kanan masing-masing yang sama- sama mendatangkan tenaga raksasa dan mengandung hawa maut saling bertumbukan. Akibatnya, tubuh Bun Liong yang sedang melompat itu terpental sejauh dua tombak dan jatuh dalam keadaan terhuyung-huyung. Tetapi pemuda ini cepat mengatur pernapasan serta mengerahkan sin-kang di dalam badannya.

Sebentar kemudian ia merasa lega karena benturan pukulan dengan lawannya tadi tidak mendatangkan bahaya apa-apa baginya. Sedangkan sementara itu, tubuh Ban Kui juga telah terjengkang roboh ke belakang dan bergulingan di atas tanah sampai empat tombak jauhnya.

Ternyata pukulan Hek-tok-ciang nya kalah kuat oleh hawa pukulan Bun Liong sehingga selain hawa pukulan sendiri jadi membalik sama halnya seperti “senjata makan tuan”, ditambah lagi dorongan hawa pukulan dari lawannya yang demikian hebat dan dahsyatnya, sehingga tubuhnya bergulingan sedemikian rupa! Akan tetapi Lo Ban Kui benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa.

Hawa pukulan Lui-lek-ciang yang dapat menghancurkan batu karang itu tidak demikianlah bagi kakek bungkuk yang lihay itu, karena setelah bergulingan seperti sebatang balok menggelinding tadi ia dapat segera bangun dan berdiri pula. Sungguhpun kedua tangannya menekan dada dan melihat ke arah Bun Liong dengan wajah meringis-ringis. Melihat ini, Bun Liong dapat menduga bahwa kakek itu telah menderita luka di dalam dadanya akibat pukulan ampuhnya tadi. Pemuda ini menarik napas lega dan sambil menyusut peluh yang membasahi wajahnya dengan lengan bajunya, dan matanya ditatapkan kepada kakek yang berdiri agak didepannya itu, ia berkata, “Monyet tua berbaju macan, ajalmu sudah berada di depan mata dan…….”

Sebelum Bun Liong melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Ban Kui bersuit nyaring. Suara suitan inilah yang terdengar oleh Yang Hoa tadi ketika ia menengok ke arah calon suaminya setelah menghadapi kepungan Ngo-heng-tin. Seperti sudah diceritakan tadi ke lima orang liauw-lo pengeroyoknya yang mengepung dengan barisan Lima Daya itu akhirnya diganyang habis oleh sambitan lima batang senjata rahasianya.

Suara suitan dari Ban Kui itu adalah aba-aba bagi para anak buahnya yang sejak tadi tetap bersembunyi di balik semak-semak belukar. Dan seirama dengan itu berlompatanlah dari tempat- tempat rungkut berpuluh-puluh liauw-lo dan langsung menyerbu Bun Liong dan Yang Hoa yang ketika itu berada di tempat yang agak jauh dari calon suaminya. Serbuan para liauw-lo yang entah berapa puluh orang banyaknya itu terbagi menjadi dua dan terjadilah kepungan dan pengeroyokan di dua tempat yang ramai sekali. Para liauw-lo yang mengepung dan mengeroyok sambil berteriak-teriak riuh rendah tak seperti datangnya air bah yang memecahkan bendungan, hingga suasana di situ menjadi hiruk pikuk dan amat berisik!

Sambil menggigit bibir nona Yang Hoa lalu memutarkan pedangnya menghadapi sebagian para perampok yang menyerbu dirinya. Dan nona ini mendapat kenyataan bahwa kepungan yang dihadapinya sekarang tidak teratur seperti Ngo-heng-tin tadi. Mereka menyerang menurut kemauan masing-masing saja dan karena ini, maka sejumlah orang-orang kasar itu merupakan makanan empuk bagi si nona.

Dalam lima jurus saja Yang Hoa menggerakkan pedangnya, robohnya lima orang perampok dengan menderita luka-luka hebat! Hebatnya, para pengeroyok lainnya tidak menjadi gentar melihat kelihayan dara itu. Seakan-akan mereka tidak takut mati atau memang tolol. 

Melihat kawan-kawan mereka sudah dirobohkan demikian cepat dan mudah oleh pedang si nona, mereka tidak menjadi jerih, bahkan sebaliknya bagaikan singa mencium darah, mereka makin nekad dan merangkak terus. Benar-benar keadaan mereka tidak beda seperti serombongan nyamuk yang tidak takut api, menyerbu terus sampai akhirnya mereka roboh binasa.

Yang Hoa mengamuk bagaikan singa betina. Pedangnya berkelebatan ke sana ke mari bagaikan samberan halilintar dan membabat tubuh-tubuh para liauw-lo itu bagaikan membabat rumput-rumput muda saja!

Adapun Bun Liong sementara sudah menghadapi keroyokan pula, bahkan para pengeroyoknya jauh lebih banyak kalau dibandingkan dengan para liauw-lo yang mengeroyok calon isterinya. Maklum bahwa akan merepotkan sekali kalau meladeni sekian banyak pengeroyok bersenjata itu hanya dengan tangan kosong saja, maka Bun Liong mengeluarkan senjata istimewanya, yaitu seutas cambuk yang merupakan tali pengikat pinggangnya itu.

Sekali renggut saja, tali pengikat pinggang itu sudah berada di tangannya dan terdengar bunyi seperti suara petir kecil memecah angkasa. Maka terdengarlah jerit pekik para liauw-lo yang berdekatan dengannya karena dihantam lecutan cambuk itu yang merobek dan memecahkan baju dan kulit tubuh mereka! Cara Bun Liong menghadapi para pengeroyoknya sangat berbeda dengan Yang Hoa. Kalau nona itu seperti seekor singa menghadapi keroyokan sekawanan kambing, pedangnya menyambar-nyambar dan setiap saat terdengar jerit kesakitan, atau golok lawan terputus menjadi dua potong.

Adapun pemuda ini hanya melukai, menotok jalan darah atau merampas senjata para pengeroyoknya dengan mempergunakan ujung cambuknya saja oleh karena merasa tidak tega untuk membunuh sekian banyak para liauw-lo yang pada hakekatnya hanya diperalat oleh ketua mereka belaka.

Sambil menghadapi sekian banyak pengeroyoknya, Bun Liong mencari-cari Houw-jiauw Lo Ban Kui dengan sudut matanya. Akhirnya ia melihat kakek bungkuk itu sedang berdiri di atas sebuah batu besar di tempat yang agak jauh, mulutnya berteriak- teriak memberi aba-aba pada para anak buahnya.

Bun Liong maju mendesak dan hendak membobolkan bendungan pengepungnya. Cambuknya melecut-lecut dan tangan kirinya pun bergerak membuat dorongan atau pukulan terhadap liauw-lo yang menghadangnya. Akan tetapi usahanya hendak mendekati kepala rampok itu ternyata tidak begitu mudah karena para pengeroyoknya amat banyak. Roboh tiga orang maju penggantinya sehingga pemuda ini terus menerus dikeroyok, tetapi setiap liauw-lo yang berani mendekatinya itu roboh juga akhirnya.

Kemudian Bun Liong berhasil juga membobolkan bendungan pengepungannya sehingga ia dapat mendekati Ban Kui. Akan tetapi, kakek ini segera memberi aba-aba sehingga pemuda ini tidak dapat segera mengirim serangan oleh karena kembali dihadang dan dikeroyok oleh para liauw-lo yang begitu setia kepada junjungannya.

Ketika mata Bun Liong melihat pula ke arah batu besar di mana tadi Ban Kui berdiri, ternyata kakek itu tidak kelihatan lagi, sudah pindah ke lain tempat yang tidak diketahui oleh Bun Liong. Dengan hati gemas Bun Liong mencari-cari lagi dengan sudut matanya di mana kakek itu berada, sehingga ia sempat melihat betapa ketika itu calon isterinya sedang mengamuk, dan pekik kesakitan terdengar saling susul dan tubuh para liauw-lo bergelimpangan tumpang tindih!

Tiba-tiba terdengar suara Ban Kui memberi aba-aba! “Mundur semua, turunkan balok-balok dan hujani anak panah!”

Bukan main terkejutnya Bun Liong mendengar aba-aba ini, karena hal inilah yang mengkhawatirkannya. Selama ia dikeroyok oleh para liauw-lo yang bersenjata, ia masih merasa aman karena tentu saja ia tidak takut menghadapi serangan-serangan dari dekat dan dapat merobohkan lawannya.

Akan tetapi kalau ia diserang oleh badai balok dan hujan anak panah, ia tak dapat berbuat lain kecuali melindungi dirinya, tanpa dapat membalas sama sekali!

Para liauw-lo itu ternyata sudah terlatih dan setelah mendengar aba-aba Ban Kui, serentak mereka mundur dan berlompatan sambil membawa kawan-kawan mereka yang sudah tidak berdaya ke tempat yang agak tinggi, meninggalkan Bun Liong dan Yang Hoa yang ketika itu berada di sebuah lereng bukit.

Kemudian tiba-tiba dari kanan kiri datang balok-balok besar menggelundung ke arah sepasang anak muda itu dibarengi serangan anak panah yang datangnya dari empat penjuru! Bun Liong berlaku cerdik menghadapi bahaya ini, ia cepat melompat ke tempat yang agak tinggi sambil tangannya menjambret sebatang pohon kecil yang banyak ranting-ranting dan daun-daunnya dan bersembunyi di balik sebuah batu sebesar gubuk.

Balok-balok tidak sampai menggelundung ke tempat ini dan karena belakangnya terlindung batu besar itu, maka ia hanya menghadapi serangan anak panah dari satu jurusan saja. Anak panah-anak panah itu dapat ia tangkis dan rontok semua oleh batang pohon di tangannya yang diputarkan sedemikian rupa sehingga merupakan benteng yang melindungi dirinya.

Akan tetapi lain halnya dengan nona Yang Hoa yang terlalu mengandalkan kepandaian dan keberaniannya ketika menghadapi serangan badai balok dan hujan anak panah itu. Nona ini berseru keras dan tubuhnya mencelat ke udara dengan gerakan Ceng- liong-cut-thong (Naga Hijau Keluar Gua) sambil pedangnya diputarkan untuk melindungi tubuhnya dari hujan anak panah dengan menggunakan gerak tipu Hek-hong-koan-goat (Bianglala Hitam Menutup Bulan), sehingga balok-balok itu menggelundung di bawahnya dengan mengeluarkan suara gemuruh dan hiruk pikuk karena berbenturan dengan balok-balok yang mengelundung dari lain jurusan.

Tempat itu menjadi penuh dengan balok-balok yang ternyata batang-batang pohon besar yang telah disediakan oleh para perampok itu untuk dipergunakan dalam keperluan seperti peristiwa ini. Beberapa kali tubuh Yang Hoa naik turun, yaitu setelah melompat dan tubuhnya meluncur ke bawah kembali, kakinya menyentuh balok yang membuat tubuhnya mumbul ke udara lagi selama balok-balok itu masih tetap membadai.

Sedangkan pedangnya terus diputarkan sehingga merupakan segulungan sinar putih melindungi tubuhnya, membuat serangan anak panah yang bagai hujan derasnya itu tersapu semua. Akhirnya badai balok itu berhenti, agaknya persediaan balok-balok itu sudah habis dan Yang Hoa berdiri tegak di atas tumpukan balok-balok yang menggunung itu sambil bertolak pinggang.

“Perampok-perampok hina dina! Kenapa berlaku curang, kalau kalian mengaku laki-laki keluarlah dan keroyoklah aku lagi, karena pedangku ini masih haus darah!” teriaknya marah, menantang para perampok yang kini telah bersembunyi lagi seperti tadi.

Sebagai jawaban dari tantangan si nona, tiba-tiba meluncurlah lima batang anak panah menyerang si nona lagi dan karena serangan kali ini datangnya hanya dari satu jurusan, maka sambil ketawa mengejek Yang Hoa menggerakkan pedangnya dan tiga batang anak panah dapat dibabatnya sekali gus, sebatang dapat ia kelitkan dan yang sebatang ia tangkap dengan tangan kirinya. Akan tetapi pada waktu itu juga anak panah dalam jumlah yang sama menyerang dari belakangnya, dan detik berikutnya datang lagi anak-anak panah dari kanan kirinya.

Kembali Yang Hoa membuat lompatan dan tubuhnya mumbul di udara sehingga semua anak panah itu menancap pada balok- balok di bawahnya. Akan tetapi ternyata para liauw-lo dari tempat persembunyian mereka tidak melakukan serangan sebegitu saja, melainkan secara beramai, maka ketika tubuh Yang Hoa tengah mumbul di udara, kembali anak panah menghujani tubuh nona itu.

Terpaksa Yang Hoa memutarkan pedangnya lagi seperti tadi sambil tubuhnya melakukan pok-say (salto) di udara. Akan tetapi kali ini merupakan saat, yang sial baginya, oleh karena biarpun pedangnya berhasil meruntuhkan sekian banyak anak-anak panah itu, namun sebatang di antaranya telah menerobos gulungan sinar pedangnya dan menancap di pundak kirinya bagian belakang!

Akibat tancapan sebatang anak panah itu Yang Hoa rasakan pundaknya sakit dan panas bukan main dan ia cepat meluncurkan tubuhnya ke bawah. Akan tetapi nona ini tidak kuasa menjejakkan kedua kakinya terlalu lama, karena setelah mengeluarkan keluhan: “Liong-ko…..!” yang berarti merupakan panggilan dan minta tolong kepada calon suaminya, tubuhnya lalu roboh tak sadarkan diri…….

Terdengarlah sorak-sorak kemenangan dari para liauw-lo, dan suara ketawa terkekehnya Ban Kui dari tempat persembunyiannya, lalu terdengar aba-abanya: “Keluar, dan bawalah si dewi Pauw-an- tui yang cantik jelita itu ke pasanggrahan…….!”

Dan berlompatanlah keluar beberapa orang liauw-lo, hendak berebutan memondong tubuh si nona. Akan tetapi tiba-tiba tampaklah bayangan biru berkelebat dan tahu-tahu beberapa liauw-lo itu roboh terjungkal sambil menjerit dan mengaduh-aduh serta pada detik lainnya tubuh si nona telah disamber dan dibawa oleh bayangan biru tadi ke balik sebuah batu besar!

Seperti pembaca tentu sudah menduga, bahwa bayangan biru yang menolong Yang Hoa itu bukan lain adalah Bun Liong yang ketika itu melihat calon isterinya mendapat celaka dan akan ditawan oleh para perampok. Maka tanpa memikirkan bahaya yang akan menimpa dirinya, pemuda ini dengan gerakan yang luar biasa cepatnya segera melompat dari balik batu pelindungnya dan dengan sebatang pohon kecil yang banyak ranting dan daunnya itu ia menyapu beberapa orang perampok tadi sekali gus. Tubuh calon isterinya lantas dipondong dan ia berlari pula ke tempat semula, yaitu di balik batu besar yang baginya merupakan tempat perlindungan yang aman.

Bun Liong kaget sekali ketika dilihatnya wajah gadis itu menjadi kebiruan, matanya mendelik dan mulutnya berbusa serta seluruh tubuhnya amat panas! Sekali pandang saja maklumlah ia bahwa calon isterinya itu telah menjadi korban racun yang berbahaya.

Tanpa memperdulikan suara sorak sorai dari para perampok yang ketika itu tengah berlari-lari mendatangi dan hendak menyerbunya atas perintah Ban Kui, Bun Liong segera membaringkan tubuh Yang Hoa yang harus ditolong secepat mungkin sebelum pengaruh racun itu mendatangkan maut.

Disamping mewarisi ilmu silat tinggi dari Bu Beng Lojin, Bun Liong juga pernah mempelajari ilmu pengobatan sekalipun sangat terbatas, maka ia cepat merobek baju di bagian pundak calon isterinya yang tertancap anak panah, yang ternyata beracun. Bun Liong bergidik setelah mengingat bahwa anak-anak panah yang dilepaskan oleh para perampok itu tentunya beracun semua, racun ini demikian keras sehingga menyebabkan Yang Hoa sebentar saja menjadi pingsan dan keadaannya berbahaya sekali! Ia cepat menotok jalan-jalan darah tertentu di beberapa bagian tubuh nona itu untuk menutup aliran darah dan mencegah rangsangan racun. Akan tetapi sebelum sempat ia mencabut anak panah ini dari pundak si nona yang mesti dilakukan amat hati-hati dan tidak boleh tergesa-gesa karena salah sedikit saja, mata anak panah itu bisa menjadi patah dan tertinggal di dalam daging yang mana akan tambah membahayakan, seakan-akan ia baru tersadar bahwa bahaya maut mengancam dirinya ketika para perampok yang dipimpin oleh Ban Kui sudah datang dan langsung menyerbunya!

Tadinya memang Bun Liong berpikir bahwa lebih penting menolong calon isterinya tanpa memperdulikan bahaya lain. Andaikata ia tidak keburu menolong sehingga calon isterinya itu mendahului mati, iapun rela mati bersama-sama calon isterinya di tempat perjuangan ini.

Demikian besar rasa kasih Bun Liong kepada Yang Hoa, sehingga ia rela berkorban untuk mati bersama. Oleh karena baginya apa arti hidup ini kalau tanpa Yang Hoa?

Akan tetapi setelah ia menotok jalan-jalan darah di tubuh Yang Hoa yang berarti kalaupun maut hendak merengut nyawa nona itu, maka takkan terjadi begitu cepat seperti sebelum jalan-jalan darahnya ditutup, masih ada kesempatan untuk kemudian melanjutkan pertolongannya. Itulah sebabnya maka ketika para perampok itu dengan ganas karena marah dan hendak melakukan pembalasan sakit hati atas kematian kawan-kawan mereka tadi sudah datang menyerbu, barulah ia insyaf bahwa pikirannya seperti tadi itu sama sekali keliru.