-->

Pendekar Tanpa Tandingan Jilid 06

 
Jilid 06

Akan tetapi lambat laun Ho Kim Teng bersama Cio Leng Hwat berhasil mendesak lawannya sehingga perampok itu bertempur sambil mundur. Diam-diam Ho Kim Teng merasa girang dan kagum akan kehebatan ilmu toya kawannya, maka dengan bersemangat ia menggerakkan siang-kiamnya karena hatinya yang marah ingin cepat-cepat menjatuhkan lawan itu!

Tetapi akhirnya terjadilah suatu kejadian yang benar-benar di luar persangkaan Ho Kim Teng. Setelah si perampok itu benar-benar kewalahan, tiba-tiba terdengar perampok itu berseru, “Tahan!” dan sambil berjungkir balik tiga kali ia melompat ke belakang, sehingga sekejap kemudian ia telah berdiri sejauh tiga tombak lebih dari dua orang pengeroyoknya.

Sambil melintangkan golok di depan dadanya sebagai tanda siap siaga menghadapi lawan, perampok itu menatap Cio Leng Hwat dengan sinar matanya yang tajam. Kemudian terdengar katanya, “Saudara yang memegang toya, kalau tak salah penglihatanku benarkah engkau ini Cio Leng Hwat bekas kawanku sehaluan?”

Ho Kim Teng tercengang dan kaget mendengar pertanyaan dari si perampok yang diajukan kepada pegawainya itu. Tercengang karena ia tidak mengira bahwa perampok tunggal yang berkepandaian tinggi itu dapat mengenal Cio Leng Hwat dan kaget karena mendengar perampok itu menyatakan bekas kawan sehaluan.

Sehaluan? Sehaluan apakah yang dimaksudkan? Mungkinkah dari hal ilmu silat mereka yang bersumber sama, yaitu dari cabang Bu- tong-pay?! Demikian pikir Ho Kim Teng dan benaknya dipenuhi teka teki yang tak dapat dipecahkannya dengan segera.

Cio Leng Hwat sendiripun agak tercengang ketika mendengar ucapan si perampok itu yang ternyata mengenalnya. Ia tidak segera menjawab, melainkan dengan pandangan menyelidik ditatapnya wajah keren yang dipenuhi cambang bauk itu! Kemudian agaknya wajah keren itu dapat dikenalnya dan terdengar penyahutannya yang diucapkan dalam keadaan tak sadar:

“Ah, kiranya engkau, kawan……! Sejak tadi memang aku sudah agak mengenal suaramu dan mengenal pula permainan golokmu. Kiranya aku telah bertempur dengan kawan sendiri……”

Sambil berkata demikian, Leng Hwat berjalan menghampiri perampok itu dan kemudian kedua orang tersebut saling berangkulan. Ini membuktikan bahwa dua orang ini adalah sahabat lama yang baru bersua kembali setelah lama berpisah. Hal itu benar-benar menyebabkan Ho Kim Teng yang menyaksikannya makin tercengang dan heran.

“Bagaimana keadaanmu selama kita berpisah?” tanya Leng Hwat kepada kawan lamanya itu dengan suara perlahan akan tetapi cukup jelas terdengar oleh Kim Teng yang berdiri terpaku.

“Keadaanku tetap baik-baik saja dan kehidupanku pun tetap sebagai perampok miskin,” sahut perampok itu dan kemudian balas bertanya: “Adapun kau sendiri setelah kini menjadi piauw-su, tentu keadaan kehidupan sudah berubah dan tentu kau sudah kaya, bukan?”

“Ah, kau menyindir, kawan?” kata Leng Hwat setelah menarik napas. “Kehidupanku memang berubah, karena kalau tadinya aku menempuh kehidupan yang oleh umum dianggap sebagai penjahat, maka sekarang aku menempuh hidup dengan jalan halal dan jujur. Namun keadaanku tetap saja seperti dulu, miskim. Karena aku bekerja sebagai piauw-su yang menerima upah sekedarnya. Mana mungkin aku bisa menjadi kaya?”

Kini terjawablah teka teki dibenak Ho Kim Teng, kiranya istilah “bekas kawan sehaluan” yang dikatakan oleh perampok itu tadi telah memberi kenyataan baginya, bahwa Cio Leng Hwat yang tidak diketahui asal usulnya dan yang telah menjadi pegawainya itu adalah bekas perampok! Hal ini benar-benar tidak pernah disangkanya!

Namun dalam pada itu Ho Kim Teng merasa agak lega juga karena mengingat bahwa meskipun Cio Leng Hwat itu bekas perampok tapi kenyataannya telah kembali menempuh jalan yang benar.

Kini ia bertemu dengan kawan “bekas seperjuangannya” yang ternyata sangat lihay itu dan kedua orang itu beramah tamah. Diam-diam Ho Kim Teng mengharapkan bahwa Leng Hwat akan dapat berkompromi dengan sahabatnya itu.

Daripada bermusuhan dengan seorang lihay seperti perampok itu, lebih baik mengambil sikap berkawan. Biarlah aku memberinya sedikit uang, sebagian uang penyewa jalan asal saja barang- barang antaran yang menjadi tanggung jawab bisa selamat, pikirnya.

“Rupanya kita tidak bisa menjadi kaya,” terdengar perampok itu berkata pula seakan-akan menyesali nasibnya. “Dan, masih adakah cita-citamu seperti dahulu itu?”

“Cita-cita ingin menjadi seorang kaya……?” Cio Leng Hwat menegas.

Si begal tunggal itu mengangguk.

Leng Hwat menghela napas dan berkata: “Cita-cita masih tetap menyala di dada, akan tetapi apa daya sang nasib membatasi keadaan diri……”

Tiba-tiba perampok itu tersenyum aneh dan matanya yang liar itu melirik ke arah Ho Kim Teng sebentar, “Kenapa sekarang kau menjadi begini pendek akal? Bukankah harta kekayaan bagi kita sudah berada di depan mata? Bukankah barang yang kau kawal itu cukup untuk membuat kita kaya mendadak?”

Bukan main kagetnya Ho Kim Teng mendengar kata-kata itu, dan ia hanya menanti betapa sikap Cio Leng Hwat selanjutnya. Adapun Cio Leng Hwat sendiri menjadi bengong, seketika mencerminkan bahwa pikirannya sedang bekerja keras menganalisa ucapan kawannya itu, lalu tanyanya: “Apa yang kau maksudkan…….?”

“Kita sikat saja barang itu lalu kita bagi dua, dengan demikian bukankah cita-cita kita yang sejak dulu itu dapat tercapai?!?”

Cio Leng Hwat mengerutkan keningnya dan sesungguhnya hati dan pikiran orang ini sedang bertempur hebat mempertimbangkan saran perampok itu. Pikirannya yang sehat memang tidak menyetujui, akan tetapi hatinya yang dipenuhi napsu ketamakan merasa sangat setuju!

Betapapun juga, pikir Leng Hwat akhirnya disisihkan oleh suara hatinya. Dan memang seorang manusia yang tidak bijaksana dan tidak beriman teguh, lebih banyak mempergunakan suara hati yang dikuasai nafsu jahat daripada pikiran, dari otak yang sehat.

Demikianlah dengan Leng Hwat, seorang bekas perampok yang pada dasarnya memang berakhlak rendah, tentu saja saran dari bekas kawan sehaluannya itu membangkitkan jiwa jahatnya! Setelah keputusannya bulat, berkatalah ia dengan nyaring dan bersemangat sehingga terdengar jelas oleh Ho Kim Teng yang sejak tadi hatinya sudah berdebar-debar.

“Kau benar-benar berotak cerdas dan aku setuju dengan usulmu! Mari sama-sama kita ganyang saja rejeki nomplok ini…..!”

“Manusia bedebah! Sungguh tak kusangka bahwa kau orang she Cio ini adalah seorang berjiwa bejat!”

Makian ini terlompat dari bibir Ho Kim Teng sambil menudingkan pedangnya ke arah Leng Hwat. Pengusaha piauw-kiok ini bukan main marahnya setelah mengetahui bahwa orang she Cio itu, yang tadinya ia harapkan dapat berkompromi dengan si penjahat, ternyata kini berbalik haluan sampai seratus delapanpuluh derajat. Tadi kawan kini terang-terangan menjadi lawan!

Cio Leng Hwat ketawa bergelak, ketawa yang tak pernah diunjukkannya selama ia menjadi pekerja di perusahaan ekspedisi itu. Lalu tanyanya dengan nada mengejek dan sikap menantang:

“Habis, sekarang kau hendak berbuat apa?!” “Bajingan rendah she Cio! Aku telah bersumpah bahwa aku akan menjaga nama perusahaanku, maka mengenai barang yang dipercayakan kepadaku untuk mengantarnya ini sudah tentu akan kujaga dan kubela dengan pertaruhan nya-waku!” balas Ho Kim Teng yang dadanya sudah terasa panas bagaikan dibakar, karena pengusaha piauwkiok ini benar-benar amarahnya sudah meluap menghadapi sikap pegawainya yang khianat itu.

“Ah, saudara Cio……!” tiba-tiba si perampok tunggal itu menukas sambil menyabetkan goloknya ke samping. “Mengapa kita mesti banyak perang mulut seperti perempuan bawel? Lebih baik kita cepat bekerja, bikin beres piauw-thauw yang kepala batu ini dan sikat barang-barang itu! Tidak perlu membuang-buang waktu percuma!”

“Kau betul! Marilah kita selesaikan!” sahut Cio Leng Hwat dan ke dua orang yang memang dulunya merupakan dwi-tunggal ini tanpa memberi peringatan lagi langsung menerjang, mengeroyok Ho Kim Teng yang segera menggerakkan siang-kiamnya sambil berseru marah, dan selanjutnya terjadilah pertempuran seru.

Golok di tangan perampok brewokan itu menyambar-nyambar ganas sekali setiap sabetannya mendatangkan maut. Toya di tangan Cio Leng Hwat pun tak kalah dahsyatnya dan memang orang she Cio yang berakhlak brengsek seorang ahli toya yang lihay sekali, sehingga toya itu bergulung-gulung laksana badai taufan mengancam keselamatan diri majikan yang dikhianatinya!

Namun Ho Kim Teng adalah seorang yang berjiwa gagah dan bersifat satria, meskipun ia maklum bahwa dua orang manusia keji yang mengeroyoknya itu masing-masing berkepandaian jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri sehingga tentu bukan tandingannya. Namun ia sudah berlaku nekad dan tidak mau menyerah mentah-mentah karena ia sudah bertekad lebih baik mati daripada hidup menanggung malu kalau ia tidak dapat menjamin barang antaran yang telah orang percayakan di bawah kawalannya ini.

Maka dengan sepasang pedangnya yang bagaikan kilat menyambar-nyambar ia mengerahkan seluruh tenaga dan semua kepandaiannya, mengadakan perlawanan secara gigih dan mati- matian! Demikianlah sifat seorang gagah, baginya lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.

Artinya bagi Ho Kim Teng selaku penguasa piauw-kiok yang mempunyai rasa tanggung jawab penuh akan barang kawalannya, lebih baik nyawa melayang bersama lenyapnya barang tanggungannya itu dari pada hidup menanggung malu, karena harga diri jatuh dan nama baik tercemar!

Akan tetapi betapapun Ho Kim Teng melawan dengan nekad dan mati-matian, perlawanan yang dilakukannya hanya mampu bertahan dalam waktu tigapuluh jurus saja. Menghadapi si perampok tunggal seorang saja tadi sudah membuatnya kewalahan sekali apalagi sekarang melawan dua orang yang bermaksud membunuhnya, karuan saja membuatnya amat ripuh dan payah.

Dan akhirnya piauw-su yang bernasib malang ini terdengar menjerit ngeri dan tubuhnya roboh berlumuran darah serta nyawanya melayang seketika itu juga! Ternyata Ho Kim Teng telah menemui ajalnya karena selain lambungnya terbabat oleh golok si brewok, juga tulang batok kepalanya pecah karena dihantam oleh toya Cio Leng Hwat!

Setelah merobohkan korbannya, kedua manusia keji itu memperdengarkan suara ketawa iblis dan mereka lalu menyambar tali dua ekor keledai yang dibebani harta benda berharga itu. Dua orang anggauta piauw-su yang menjaga dua ekor keledai tadi sama sekali tidak berdaya ketika tubuh mereka dibikin terpental sedemikian rupa karena ditendang oleh kedua perampok itu. Mereka segera menuntun keledai-keledai itu dan kemudian menghilang di antara hutan belukar, diikuti oleh putera Cio Leng Hwat.

Adapun beberapa orang anggauta piauw-su yang bernyali tikus, yaitu mereka yang berlari ketakutan dan menyembunyikan diri tadi, setelah melihat dari tempat pengintaian mereka bahwa manusia dwi-tunggal itu pergi, mereka baru berani keluar dari persembunyiannya dan berlarian menghampiri tubuh majikannya yang sudah menjadi mayat itu. Oleh mereka inilah mayat Ho Kim Teng digotong dibawa kembali ke See-an dan diterima oleh nyonya Ho bersama puterinya dengan tangis sedih yang mengharukan.

Kalau awak sedang sial, azab tidak kepalang dan demikianlah dengan kemalangan yang menimpa nyonya Ho. Di samping kematian suaminya yang merupakan pukulan hebat, ada lagi suatu peristiwa yang membuat nyonya ini dan puterinya menjadi makin sengsara.

Yaitu, baru saja jenazah Ho Kim Teng selesai dikebumikan, nyonya Ho mendapat kunjungan si hartawan pengirim barang itu. Hartawan ini ternyata tidak mau mengerti akan perampokan itu dan ia bersikeras meminta ganti kerugian tanpa mempunyai rasa kasihan sedikitpun terhadap keluarga piauw-su yang malang itu. Akan tetapi nyonya Ho adalah seorang wanita yang bijaksana. Ia merasa bertanggung jawab atas hilangnya barang-barang itu dan ia ingin menjaga nama mendiang suaminya supaya tetap bersih.

Maka dengan hati ikhlas lalu dijualnya segala barang peninggalan almarhum suaminya, termasuk rumah dan tanahnya. Dan uang hasil penjualan ini kemudian diserahkan kepada si hartawan tersebut yang menerimanya dengan puas walaupun menurut anggapannya uang itu masih belum sesuai dengan harga barang yang hilang itu.

Demikianlah, setelah kehilangan suaminya dan sekaligus menjadi miskin benar-benar, nyonya janda Ho bersama puterinya yang ketika itu baru berumur duabelas tahun, dengan membawa azab yang tak terlukiskan, pada suatu hari meninggalkan kota See-an dan pergi merantau tanpa arah tujuan. Kedua ibu dan anak ingin mencari ke dua manusia pembunuh itu untuk melepaskan dendamnya!

Andaikata berhasil bisa diketemukan, apa daya mereka terhadap orang-orang jahat yang berkepandaian jauh lebih tinggi daripada kepandaian mendiang suaminya? Sedangkan Li Lan Eng dan nona Ho Yang Hoa hanyalah wanita-wanita lemah yang sedikitpun tak mengerti ilmu silat! Mereka terlunta-lunta sampai beberapa bulan. Ibu dan anak yang belum pernah melakukan perjalanan jauh, apalagi dengan jalan kaki seperti ini, kaki mereka menjadi bengkak-bengkak. Beberapa stel pakaian yang mereka bawa, satu demi satu telah dijualnya untuk pengisi perut sehingga akhirnya tidak ada secabik pakaian lagi yang tinggal, kecuali pakaian yang melekat di badan mereka, dan ini tentu saja mereka tak dapat menjualnya.

Nyonya janda Ho atau Li Lan Eng sudah berusaha mencari pekerjaan, akan tetapi tidak pernah berhasil sehingga akhirnya keadaan mereka benar-benar menyedihkan. Pakaian mereka compang camping dan kalau perut mereka terasa lapar terpaksa mereka mencari makanan dari belas kasihan orang, yaitu mengemis!

Perjalanan mereka dilakukan tanpa rencana dan tidak memperhitungkan sama sekali sebelumnya, karena hanya menurutkan pengaruh kedukaan dan pikiran gelap saja. Akhirnya pada suatu hari mereka tiba di kaki bukit Tay-pak-san, suatu tempat yang jauh sekali letaknya di sebelah utara See-an!

Waktu itu hari sudah senja dan mendung hitam bergulung-gulung menutupi cakrawala dan disusul dengan hujan lebat yang turunnya secara mendadak sekali! Nyonya janda Ho dan Yang Hoa dengan terseok-seok berlari mencari tempat berteduh dan mereka mendapatkan tempat yang terdekat, di bawah emper sebuah biara wanita yang di atas pintunya terpancang papan bertuliskan tiga buah huruf:

“Thian-an-si.”

Ketika kaki mereka menginjak emper tersebut kebetulan pintu kuil tengah terbuka dan seorang biarawati tampak berdiri di ambang pintu. Agaknya nikouw muda itu hendak menutup pintu supaya percikan hujan yang lebat itu tidak masuk ke dalam kuil.

Dan benar saja! Ketika dilihatnya ke dua ibu dan anak yang nampaknya seperti jembel itu mendatangi dan berteduh di emper bio, biarawati muda itu buru-buru saja menutupkan pintunya, seakan-akan takut kalau dua orang peneduh itu minta masuk dan mengotori lantai kuil yang bersih dan mengkilap itu!

Sampai malam hari, hujan belum juga reda sehingga ke dua ibu dan anak yang hidupnya sudah tidak mempunyai pegangan itu masih tetap berdiam di situ. Lan Eng mendekap puterinya yang kedinginan dan mereka berdiri di sebuah sudut emper untuk menjauhi percikan air hujan yang terhembus angin malam yang agak kencang. Lan Eng mengharapkan hujan itu reda, supaya ia dan anaknya bisa pergi dari situ dan mencari tempat berteduh lagi di lain emper yang lebih luas, di mana mereka akan bisa tidur dengan berbaring.

Ketika malam sudah agak larut dan Lan Eng serta Yang Hoa masih berada di situ, tiba-tiba pintu kuil itu dibukakan orang dari dalam dan tampaklah oleh Lan Eng seorang nikouw tua menyembulkan kepalanya dari ambang pintu dan memandang kepada mereka. Lan Eng menduga pasti nikouw itu akan mengusirnya, akan tetapi tak disangkanya sama sekali bahwa biarawati tua itu lalu menegurnya dengan irama katanya yang ramah:

“Agaknya jiwi (kalian berdua) sudah sejak sore tadi berteduh di sini?”

Lan Eng cepat memberi hormat sambil merangkapkan ke dua tangannya dan menyahut: “Benar Suthay! Maafkanlah kami ibu dan anak yang hina ini, karena hujan belum juga mereda terpaksa kami lama sekali menumpang meneduh di sini dan agaknya kami telah mengganggu Suthay.”

Melihat sikap yang begitu sopan dan mendengar kata-kata yang diucapkan oleh nyonya itu demikian teratur, terlihatlah nikouw tua itu tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Agaknya maklumlah ia bahwa nyonya dan nona kecil yang kelihatannya seperti jembel itu, bukanlah pengemis benar-benar.

Menurut penglihatannya yang tajam dan menurut firasat yang berdasarkan batinnya yang sudah luhur, mereka itu adalah ibu dan anak yang tertimpa nasib malang, sehingga menjadi sengsara dan terlunta-lunta. Maka kemudian katanya:

“Tiada sesuatu yang mesti dimaafkan karena kalian sama sekali tidak mengganggu pinni. Bahkan pinni keluar dan menemui kalian untuk mengundang kalian masuk dan sebaiknya kalian menginap saja di dalam bio kami. Mari, masuk…….!” Nikouw itu berdiri di sisi ambang pintu sambil tangannya menggamiti Lan Eng dan puterinya.

Untuk sesaat Lan Eng merasa ragu, sehingga kemudian nikouw itu mengulangi ajakannya. Oleh karena Lan Eng merasa kurang baik kalau menolak ajakan pendeta wanita yang baik budi itu, maka dengan agak sungkan ia menuntun puterinya masuk ke dalam kuil diiringi oleh nikouw itu setelah menutup kembali dan mengunci pintu kuil dari dalam.

Mereka dibawa ke ruangan tengah dan dengan segala keramahannya yang wajar, nikouw itu mempersilahkan mereka duduk di bangku yang tersedia di situ. Dan nikouw itu sendiri juga duduk menghadapi mereka.

“Kalau tak salah dugaan pinni, agaknya kalian datang dari tempat jauh dan kalau boleh pinni selaku ketua kuil ini mengetahui, kalian dari mana dan hendak pergi kemana?” tanya nikouw tua itu membuka percakapan.

“Terima kasih banyak atas perhatian dan kebaikan Suthay terhadap kami ini,” sahut Lan Eng sambil menekan perasaan terharu di hatinya. Oleh karena selama mereka terlunta-lunta sesungguhnya baru kali inilah mendapat kebaikan dan perhatian dari nikouw ini, yang sudi mengajak bermalam di dalam kuil dan bertanya pula tentang asal-usul serta maksud tujuan mereka.

“Tak salahlah dugaan Suthay, memang kami datang dari tempat jauh, yaitu dari kota See-an. Sedangkan pertanyaan Suthay hendak pergi kemana lagi setelah kami sampai di sini, yah, entahlah…… karena perjalanan kami ini sesungguhnya tidak mempunyai arah tujuan yang tentu. Kami hanya mengikuti ke dua kaki kami saja……”

“Ah, agaknya kalian telah ditimpa peristiwa hebat yang membuat hidupmu menjadi tanpa pegangan,” sela ketua biara itu. “Benarlah, Suthay. Hidupku sudah tidak mempunyai pegangan dan kalau aku tidak ingat dan sayang kepada anakku yang masih kecil ini, agaknya akupun sudah menyusul suamiku ke alam baka.”

Nikouw itu mengangguk-angguk dan matanya yang tajam serta bersinar penuh keagungan dipandangkan ke arah Yang Hoa yang duduk menunduk disamping ibunya. Kemudian ia berkata:

“Memang di dunia ini banyak terjadi peristiwa yang membuat manusia mendapat kebahagiaan, dan juga yang menyebabkan manusia mendapat kesulitan. Dan bagi orang yang kurang kuat imannya, kesulitan tersebut dapat membuatnya cepat putus asa.

“Seperti halnya dengan dirimu ini. Kau mengatakan bahwa kalau tidak ingat dan sayang kepada puterimu yang masih kecil, kau sudah menyusul suamimu ke alam baka. Dengan demikian pinni dapat mengambil kesimpulan bahwa suamimu itu mati dibunuh orang dan kau merasa putus asa sehingga ingin menyusulnya, yaitu dengan melakukan perbuatan nekad atau tegasnya membunuh diri, begitukah…….?”

“Memang begitulah, Suthay…….”

Nikouw itu menghela napas dalam sambil menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian katanya: “Membunuh diri karena putus asa adalah suatu jalan yang paling mudah untuk melepaskan diri dari kesulitan hidup. Akan tetapi menghabiskan nyawa sendiri dalam cara demikian adalah perbuatan rendah yang hanya dilakukan oleh seorang pengecut!

“Saudaraku yang baik, betapapun hebatnya peristiwa yang menimpa kita, kita tidak boleh putus asa! Kalau ada sesuatu peristiwa yang menyulitkan keadaan kita, kita harus berusaha untuk memecahkannya, bukan dengan membunuh diri!

“Saudaraku, kau mengatakan sayang kepada anakmu yang masih kecil ini dan justru dia inilah yang memberi daya tahan untuk hidup bagimu sampai ini hari, akan tetapi mana buktinya rasa kasih sayangmu terhadapnya? Apakah dengan membawa ia terlunta- lunta tanpa tujuan ini kau anggap sebagai curahan kasih sayangmu…….?”

Li Lan Eng yang pikirannya sudah sangat pekat, mendengar ucapan biarawati yang merupakan penyesalan itu membuat pikirannya menjadi makin bingung. Namun, dalam pada itu, karena mengingat bahwa sekarang ia sedang berhadapan dengan seorang nikouw yang sudah dikenal kebaikan hatinya, maka di dalam lubuk hatinya timbullah sepercik harapan bahwa nikouw ini akan dapat memberinya jalan keluar dari kesengsaraan lahir batin ini, demi kebaikan hidupnya dan terutama demi kebaikan nasib puterinya yang masih kecil itu.

“Maafkan aku, Suthay! Pikiranku benar-benar seperti sudah mati sehingga aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat untuk melepaskan diri dari jepitan azab ini. Oleh karena aku sangat mohon kemurahan hati Suthay memberi petunjuk supaya sisa hidup yang aku masih jalani ini, tidak demikian gelap gulita…….”

Berserilah wajah biarawati yang sudah berumur kira-kira empatpuluh tahun itu. “Pinni sangat bersyukur kepada Thian kalau pinni dapat memberikan pertolongan berupa moril bagi siapa yang benar-benar membutuhkan.

“Nah, sekarang ceritakanlah asal mula peristiwa yang menimpamu yang menyebabkan keadaan hidup kalian menjadi tidak semestinya ini. Kalau nyata kau sendiri tidak dapat memecahkan kesulitan yang kalian hadapi, mudah-mudahan pinni akan dapat membantumu.”

Legalah hati Lan Eng rasanya karena ternyata maksudnya terkabul, maka kemudian ia menceritakan peristiwa yang dialaminya dari awal sampai akhir yang didengarkan oleh biarawati itu dengan penuh perhatian sambil sering-sering melirik dan menatap kepada Yang Hoa yang ketika itu duduk sambil menyandar kepada ibunya, melenggut karena ngantuk.

Ketika cerita Lan Eng sudah selesai nikouw itu menarik napas sambil menyebut nama Budha Yang Agung dan Thian Yang Maha Kuasa. Kemudian ujarnya:

“Jadi, dengan kematian suamimu itu di dalam dadamu menyala api dendam terhadap orang she Cio, manusia berhati palsu dan begal tunggal kawannya itu, bukan?”

“Demikianlah, Suthay. Akan tetapi, kami yang lemah tidak berdaya ini bagaimana akan mampu membalas sakit hati ini dan justeru hal inilah yang menyebabkan aku menjadi putus asa.”

“Bagus! Sekarang sudah jelas bagi pinni apa yang harus dilakukan untuk memecahkan kesulitanmu. Nah, sekarang, karena hari sudah terlalu malam, hal ini kita bicarakan lebih lanjut esok hari. Kini pinni persilahkan kau dan anakmu pergi mandi, tukar pakaian, makan dan tidur.”

Untuk sejenak Lan Eng bengong karena ia seperti tidak percaya akan apa yang didengarnya. Ia merasa ucapan nikouw itu seperti didengarnya di dalam mimpi karena sepanjang terlunta-luntanya belum pernah ia mendengar dan mendapatkan ucapan dan kebaikan seperti dari ketua kuil ini. Dalam bengongnya Lan Eng tak mampu berkata sesuatu, hanya memandang kepada nikouw itu dengan mata yang berlinang-linang karena terharu.

Demikianlah sejak saat itu, Lan Eng dan puterinya tinggal di kuil itu dengan mendapat perawatan baik dan Goat Im Nionio, yaitu ketua kuil yang baik hati itu. Penghidupan di dalam kuil dan pergaulan dengan para nikouw mendatangkan rasa tenteram di hati Lan Eng.

Ia acapkali menerima pelajaran tentang kebatinan dari Goat Im Nionio sehingga pukulan batin yang ia derita akibat peristiwa rumah tangganya, terasa agak berkurang. Sungguhpun nyala api dendam atas kematian suaminya, tak pernah kunjung padam dan bahkan terasa selalu membakar rongga dadanya.

Kemudian Lan Eng mengetahui bahwa biarawati yang kini menjadi ketua kuil Thian-an-si ini ketika mudanya adalah seorang pendekar wanita dari Thian-san-pay, yang sepak terjangnya pernah menggemparkan dunia kang-ouw sebagai pembela keadilan dan penegak kebenaran.

Dan kini, sungguh pun ia sudah lama sekali mengundurkan diri dari dunia kang-ouw dan menuntut penghidupan  tenteram sebagai ketua kuil, namun kalau mendengar sesuatu peristiwa yang tidak adil, hatinya tergerak untuk menolong sesama manusia yang tertindas.

Peristiwa duka yang menimpa Lan Eng dan keadaan ibu dan anak yang demikian sengsara itu, disamping menimbulkan rasa iba di hati Goat Im Nionio, juga jiwa dan semangat kependekaran ketua kuil ini bangkit sehingga ia berjanji untuk membantu mencari jalan keluar dari penderitaan yang diderita oleh Lan Eng dan juga puterinya.

Goat Im Nionio yang sudah tinggi batinnya maklum akan hasrat yang terkandung di dalam dada Lan Eng, maka pada suatu hari biarawati tua ini berkata kepada Lan Eng, setelah ibu dan anak itu sepekan lamanya tinggal di kuil itu.

“Toanio (nyonya), pinni pernah berjanji bahwa pinni akan membantumu mencari jalan keluar dari penderitaanmu ini. Dari sinar matamu pinni dapat membaca bahwa di hatimu tersimpan rasa dendam terhadap pembunuh suamimu dan kau ingin membalas peristiwa sakit hati ini, bukan?” “Benar Suthay. Akan tetapi sebagaimana pernah kunyatakan bahwa aku ini seorang perempuan lemah, bagaimana maksud hatiku ini bisa terlaksana?”

“Ah, kau ternyata masih diliputi perasaan putus asa, toanio. Bukankah kau sudah maklum, bahwa biarpun secara terbatas sekali pinni pernah mempelajari ilmu silat, maka dengan wariskan kebodohan pinni itulah yang pinni maksudkan membantu kepada kalian, terutama pinni lihat puterimu memiliki bakat-bakat baik untuk mempelajari ilmu silat.”

Hal ini memang diharapkan oleh Lan Eng, maka kini setelah mendengar pernyataan Goat Im Nionio, tanpa banyak pikir lagi ia segera menjatuhkan diri dihadapan nikouw itu seraya katanya: “Suthay, aku sudah terlalu besar berhutang budi padamu, entah bagaimana aku harus membayarnya kelak…….”

“Sudah, sudah. Tak perlu kau melakukan banyak peradatan dan tak usah pula meributkan soal budi,” kata Goat Im Nionio sambil mengangkat tubuh Lan Eng yang berlutut itu.

Dan ketika nyonya ini menoleh kepada puterinya yang tinggal berdiri di sisi dengan wajah berseri-seri dan tidak turut berlutut seperti yang ia lakukan terhadap nikouw itu, maka ia segera menegurnya:

“Yang Hoa, mengapa kau tidak tahu aturan? Berlututlah kau kepada penolong kita yang mulia ini. Karena beliau akan berkenan memberi pelajaran ilmu silat kepada kita!”

Nona cilik itu memang sudah mendengar dari ibunya bahwa perantauan yang mereka lakukan selama ini, disamping perantauan tanpa tujuan, juga mengandung maksud mencari orang pandai supaya dapat membalas dendam terhadap pembunuh ayahnya yang curang dan keji itu. Maka kini setelah mendengar teguran, perintah dan pernyataan dari ibunya bahwa mereka akan diberi pelajaran silat oleh nikouw yang dapat dirasai kebaikannya itu, segera ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata:

“Subo, teecu mohon petunjuk dan bimbingan…….”

Goat Im Nionio cepat membangunkannya, dipandangnya baik-baik wajah gadis kecil yang sudah mengunjukkan kecantikannya dan kemudian tubuh Yang Hoa dipeluknya erat-erat sambil berkata:

“Yang Hoa, sejak pinni bertemu dengan kalian pada malam hari itu, pinni sudah melihat bahwa kau mempunyai bakat baik untuk menjadi muridku, seorang murid yang sudah lama sekali pinni inginkan. Sesungguhnya pinni sudah merasa tipis harapan untuk mendapatkan seorang murid yang berbakat sebaik engkau, sehingga sedikit kebodohanku agaknya akan musnah begitu saja tanpa pewarisnya.

“Akan tetapi sekarang, harapanku terkabul dan pinni yakin bahwa kau akan dapat menjadi muridku yang pertama disamping ibumu yang kuanggap sebagai murid kedua, yang dapat memenuhi segala harapanku ”

Dan begitulah, secara singkat dapat diceritakan bahwa hari-hari berikutnya, dengan amat teliti dan penuh kasih sayang Goat Im Nionio memberi petunjuk-petunjuk dan pelajaran teori ilmu silat dari permulaan kepada Lan Eng dan Yang Hoa. Menerangkan cara-cara gerakan kaki tangan dan cara-cara bersamadhi mengumpulkan tenaga dalam dan melatih pernapasan untuk memperkuat lweekang. Latihan ini dapat diikuti oleh ibu dan anak itu dengan tekun dan rajin dan beberapa bulan kemudian mereka mulai diberi pelajaran ilmu silat pedang Thian-san-pay.

Bagi Lan Eng, pelajaran ilmu silat pedang ini dirasakan suatu pelajaran yang amat berat dan tak mudah. Gerakan-gerakan pedang yang diajarkan oleh Goat Im Nionio baginya dirasakan amat sukar dan oleh karena memang nyonya ini tidak memiliki bakat baik untuk diwarisi ilmu silat dan disebabkan hanya terdorong oleh kemauannya yang keras untuk membalas dendam terhadap pembunuh suaminya saja, maka sukarlah baginya untuk mempelajarinya dengan sempurna.

Goat Im Nionio maklum akan hal ini dan maklum pula bahwa tulang-tulang di dalam tubuh nyonya itu sudah terlalu kaku sehingga tidak dapat menerima pelajaran seperti yang diharapkannya. Oleh karena itu, maka Goat Im Nionio lalu memberi palajaran dalam cara lain, yaitu ilmu menyambitkan senjata rahasia.

Ternyata bagi Lan Eng ilmu menyambit piauw (senjata rahasia) ini dapat dipelajari dengan lebih berhasil. Memang mempelajari ilmu ini jauh lebih mudah daripada ilmu pedang yang banyak gerakan- gerakannya yang sangat memusingkan kepalanya itu, maka ia terus melatih diri dalam hal pelajaran menyambit piauw ini sehingga akhirnya nyonya ini dapat dan pandai sekali menyambitkan lima batang piauw sekali gus dan mengenai sasarannya secara jitu!

Adapun Yang Hoa sendiri, ternyata penglihatan Goat Im Nionio cukup tajam, maklum bahwa gadis kecil itu memiliki dasar yang amat baik dan mempunyai bakat yang luar biasa sekali dalam hal ilmu silat. Segala pelajaran yang dipelajarkan oleh Goat Im Nionio, secara mudah sekali oleh gadis ini “dilalapnya!”

Apalagi setelah Goat Im Nionio memberikan kitab pelajaran ilmu pedang yang bernama Thian-san-kiam-hoat. Yang Hoa yang pandai membaca sejak kecil atas ajaran ibu dan mendiang ayahnya dahulu, dapat menangkap inti sari ilmu pedang dari kitab itu sehingga ia memperoleh kemajuan yang amat pesat dan hal ini tentu saja sangat menggembirakan hati gurunya!

Di dalam kehidupan barunya, disamping memperhebat latihan menyambit senjata rahasia dan sambil menyaksikan kemajuan- kemajuan gin-kang, lweekang dan kiam-hoat (ilmu pedang) yang telah dicapai puterinya, Lan Eng tak pernah melupakan bayangan musuh besarnya, yaitu piauw-su khianat yang bernama Cio Leng Hwat dan seorang konconya, seorang begal tunggal yang belum diketahui namanya itu.

Selalu diingatnya baik-baik bagaimana bentuk tubuh dan corak wajah kedua orang, musuh besarnya itu supaya kelak bilamana ia bersama puterinya mengadakan perhitungan terhadap mereka, tidak salah alamat. Pendeknya, selama berdiam di dalam kuil Thian-an-si, Lan Eng diam-diam selalu membuat rencana dan selalu menanti tibanya waktu untuk pergi mencari, menyelidik dan memberi hajaran kepada kedua musuh besarnya itu.

Kitab Thian-san-kiam-hoat yang dipelajari oleh Yang Hoa dengan tekun dan semangat itu, selain memuat pelajaran ilmu pedang, juga di bagian terakhir dimuat pula pelajaran yang disebut “mempersatukan pedang dengan diri” yakni bagian pelajaran yang paling sukar dan sulit. Pelajaran ini selain harus sudah memiliki ginkang yang tinggi, juga berdasarkan latihan lweekang yang amat kuat dan disertai latihan siu-lan (samadhi) dan latihan napas.

Dengan ilmu ini, maka pedang yang dipegang di tangannya dan dimainkannya, baginya seakan-akan tidak merupakan pedang lagi, melainkan merupakan sebagian daripada tubuhnya, merupakan anggauta tubuh seperti tangan dan kaki. Dengan penyaluran tenaga lweekang dari gagang sampai ke ujung pedang yang dipegangnya, maka gerakan pedang menjadi lebih hebat dan tepat serta tiap serangan atau tangkisan pedang mengandung tenaga lweekang sepenuhnya sehingga seakan-akan bukan pedang, melainkan lengan tangan yang menyerang atau menangkis. Bagian yang tersulit dari kitab Thian-san-kiam-hoat ini, dapat dipelajari oleh Yang Hoa secara baik sekali! Demikianlah dengan singkat dapat diceritakan bahwa kurang lebih enam tahun kemudian setelah apa yang dituturkan di atas, maka di dunia kang-ouw muncullah dua orang pendekar wanita baru yang sering melakukan perbuatan mulia terhadap sesama manusia yang hidupnya tertindas.

Dua pendekar wanita itu, yang seorang adalah wanita setengah tua dan mahir sekali menyambitkan senjata rahasia dan yang seorang lagi seorang dara jelita yang hebat sekali ilmu pedangnya. Seperti pembaca tentu sudah menduganya bahwa kedua lihiap yang baru muncul di dunia kang-ouw ini tidak lain daripada Lan Eng dan Yang Hoa.

Setelah kurang lebih enam tahun bermukim di kuil Thian-an-si, mendapat perawatan dan gemblengan ilmu silat dari Goat Im Nionio, akhirnya mereka diperkenankan melanjutkan perantauannya oleh karena sekarang selain Yang Hoa sudah menjadi seorang dara dewasa yang cantik jelita, merupakan pula dara perkasa yang mewarisi hampir seluruh kepandaian Goat Im Nionio.

Disamping itu, biarpun Lan Eng tidak mewarisi ilmu kepandaian setinggi puterinya, namun nyonya ini telah memiliki kepandaian istimewa, yakni menyambitkan senjata rahasia yang sanggup membidik seekor burung yang sedang terbang secara jitu! Dengan demikian, Lan Eng sekarang tidak merupakan seorang wanita lemah lagi seperti dahulu.

Dari Goat Im Nionio selain mereka dibekali nasihat-nasihat yang berguna juga mereka menerima bekal berupa mata uang, beberapa stel pakaian, beberapa potong senjata rahasia untuk Lan Eng. Dan Yang Hoa menerima sebuah pedang pendek yang bersinar hijau dan walaupun pedang pendek ini bukan pedang mustika, namun mempunyai ketajaman luar biasa dan ringan sehingga sangat serasi bagi dara itu sendiri.

“Toanio dan Yang Hoa, muridku. Hanya sekianlah bantuan yang pinni pernah janjikan untuk menolong kalian. Semoga seperginya kalian dari sini cita-cita kalian akan cepat terlaksana. Pinni doakan supaya Thian selalu memberi berkah kepada kalian,” Ujar Goat Im Nionio yang terakhir ketika mengantar mereka sampai di luar pintu kuil.

Untuk yang terakhir kali, Lan Eng dan Yang Hoa berlutut untuk penghormatan tanda pamit sambil menghaturkan terima kasih yang tak terhingga dan berjanji pula bahwa kelak bilamana tugas membalas sakit hati terhadap kedua pembunuh Ho Kim Teng sudah selesai, mereka akan kembali berkunjung ke kuil Thian-an- si lagi.

Begitulah, Nyonya Lan Eng dan nona Yang Hoa mulai melanjutkan perantauannya lagi. Kalau dahulu mereka melakukan perantauan tanpa arah tujuan yang tentu dan membawa azab sengsara yang membuat mereka terlunta-lunta, adapun sekarang mereka melakukan perjalanan dengan hati besar dan bersemangat karena kini mereka bukan wanita-wanita lemah seperti dulu lagi!

Pula, kini mereka mempunyai tujuan. Karena akhir-akhir ini Lan Eng teringat kepada seorang kenalan lamanya, yaitu keluarga Souw Cian Ho yang telah pindah ke daerah Tong-koan, yaitu di dusun Lo-kee-cun.

“Sebaiknya sekarang kita menjumpai dulu calon mertuamu, Yang- jie, siapa tahu mereka akan dapat memberi bantuan kepada kita dalam hal mencari musuh besar kita itu. Ah, kalau saja sedari dulu kuingat kepada mereka, boleh jadi kita tidak sampai mengalami nasib yang begitu sengsara!” kata Lan Eng mengutarakan pikirannya dan menyesali tindakannya waktu dulu yang dianggapnya keliru. Yang Hoa tak dapat berbuat lain daripada menyetujui dan ketika ia mendengar bahwa mereka akan menemui calon-mertuanya, tiba- tiba wajah dara ini menjadi merah. Ho Yang Hoa kini telah menjadi seorang gadis dewasa, hingga ia dapat menggunakan pengertiannya dalam sesuatu masalah.

Maka ketika ia mendengar bahwa ibunya bermaksud hendak menemui calon mertuanya, di samping hendak minta bantuan dalam hal mencari musuh-musuh besar pembunuh ayahnya, juga dara ini tahu pasti bahwa ibunya dengan keluarga Souw hendak merundingkan suatu masalah, yaitu masalah pertunangan antara dirinya dengan putera Souw Cian Ho. Pertunangan yang telah dipertalikan ketika ia masih kecil yang sampai saat ini masih dapat diingatnya.

Dengan adanya tujuan itulah, maka seperginya dari kuil Thian-an- si, Lan Eng dan Yang Hoa langsung menuju ke arah kota Tong- koan. Perjalanan ini biarpun jauh sekali, mereka tempuh tanpa mengenal lelah.

Apalagi mereka sering menggunakan ilmu lari cepat yang pernah dipelajarinya. Biarpun ilmu lari cepat Lan Eng jauh di bawah kepandaian puterinya, namun perjalanan kali ini dapat mereka lakukan jauh lebih cepat! Sepanjang perjalanan yang jauh itu, tentu saja mereka selalu memasang telinga dan membuka mata untuk mencari dan menyelidik kalau-kalau saja mereka dapat menemukan musuh besar mereka. Dan disamping itu tentu saja mereka acapkali bertemu dengan penjahat-penjahat kecil yang mencoba mengganggu mereka. Akan tetapi semua tantangan itu selalu dapat diganyang oleh piauw Lan Eng dan terutama sekali diamuk oleh pedang di tangan puterinya.

Yang Hoa ternyata seorang gadis yang keras hati dan telengas terhadap para bicokok yang hendak mengganggunya. Hal ini mungkin disebabkan karena ayahnya telah dibunuh oleh penjahat, maka ia merasa benci dan gemas sekali terhadap kaum penjahat umumnya, sehingga ia selalu mempergunakan pedangnya untuk mengganyang mereka tanpa mengenal ampun lagi.

Akan tetapi, bilamana pedang itu tidak kelewat perlu digunakan, maka senjata tersebut selalu disimpannya di dalam buntalan pakaiannya, sehingga kadang-kadang mereka tidak kelihatan seperti wanita-wanita yang memiliki ilmu kepandaian, melainkan lebih mirip wanita biasa yang sedang melakukan perjalanan jauh!

Dan akhirnya, pada suatu hari mereka tiba di kota Tong-koan dan kebetulan sekali pada hari tersebut penyelenggaraan pibu untuk menghabiskan persaingan antara Can Po Goan dan Lu Sun pin dan sekaligus untuk memilih ketua Pauw-an-tui, dilangsungkan.

Sebagai orang-orang yang mengerti ilmu silat, tentu saja penyelenggaraan pibu itu merupakan pertunjukkan sangat menarik. Maka Lan Eng dan Yang Hoa mau tak mau jadi turut berdesak-desakan dangan orang banyak, untuk menonton.

Mereka menyaksikan penyelenggaraan pibu yang diadakan di depan gedung Cio Song Kang atau yang lazimnya disebut Cio wan-gwe dari awal sampai akhir, yaitu mulai dari Cio wan-gwe selaku panitia menyampaikan kata pembukaan dan menyatakan maksud dan tujuan pibu tersebut.

Lalu para murid dari kedua pihak yang bermusuhan itu bertempur, kemudian si Pagoda besi Lu Sun Pin dikalahkan oleh Po-thauw- sin-kun Can Po Goan. Sampai akhirnya pemuda Souw Bun Liong dinyatakan sebagai ketua Pauw-an-tui dan mendapat gelar Tong- koan Ho-han.

Kisah duka yang diceritakan oleh Lan Eng secara panjang lebar ini didengarkan oleh nyonya janda Souw dengan sangat terharu, sedangkan hati Bun Liong menjadi marah sekali mengingat kecurangan Cio Leng Hwat yang mengkhianati Ho Kim Teng sehingga menyebabkan ibu dan anak itu menjadi demikian sengsara! Maka begitu Lan Eng selesai bercerita pemuda itu segera bertanya:

“Bibi, dalam ceritamu tadi aku hanya mendengar nama Cio Leng Hwat, sedangkan yang menjadi biang keladi dari manusia curang itu, yaitu si begal tunggal itu, tak kudengar bibi menyebut namanya. Siapakah nama si begal tunggal itu?”

Lan Eng menghela napas. “Kamipun sangat menyesal, karena para anggauta piauw-su yang mengantarkan mayat suamiku dan menceritakan hal tersebut kepadaku, juga tidak mengetahui namanya. Mereka hanya menerangkan tentang bentuk tubuh dan wajah si begal tunggal itu yang senantiasa kuingat dan bayangkan, dan terutama sekali ilmu goloknya dari cabang Bu-tong, maka jika aku bertemu dengan orangnya, rasanya tak sulit bagiku untuk mengenalnya.”

Kini Bun Liong yang menarik napas, karena pemuda inipun turut menyesal tidak mengetahui nama begal tunggal sehingga baginya agak sulit untuk membantu mengadakan penyelidikan. “Yah, bibi, mudah-mudahan Thian memberikan petunjuk pada kita, supaya manusia-manusia durjana yang berhutang jiwa dari mendiang paman Ho itu dapat kita ganyang. Aku berjanji akan membantu mengamat-amati ”

“Sekali lagi kami ucapkan banyak terima kasih atas kesediaanmu untuk membantu kami Liong,” tukas Lan Eng yang lalu melanjutkan: “Dan memang setelah kini kami bertemu dengan kalian, kamipun bermaksud hendak melakukan penyelidikan di daerah Tong-koan ini, barangkali saja kedua musuh besar kami itu bersembunyi dan dapat kami jumpai di sini!”

“Kalau demikian,” tiba-tiba In Hoa berkata, “lebih baik kalian tinggal di pondokku saja dulu. Pondokku cukup besar dan satu kamar selalu kosong. Aku sangat gembira kalau kalian tidak menolak permintaanku ini.”

“Tetapi, aku khawatir kehadiran kami ini akan merupakan gangguan bagi enci ”

“Huss! Mengapa kau begitu sungkan? Bukankah kita ini sudah menjadi saudara sendiri sebagaimana halnya mendiang suami kita saling mengangkat saudara? Nah, itulah sebabnya maka aku berani meminta supaya kalian tinggal saja di pondokku sini kalau kalian memerlukan banyak waktu untuk menyelidiki musuh-musuh besarmu, siapa tahu kalau mereka benar-benar diam di dalam daerah Tong-koan ini!”

Mendengar permintaan nyonya rumah yang demikian sungguh- sungguh dan seperti memaksa, Lan Eng merasa kurang baik untuk menampiknya. Dan lagi memang kedatangannya ke tempat ini, ia mempanyai maksud hendak merundingkan suatu masalah kekeluargaan dengan nyonya rumah itu, yakni untuk mendapat ketegasan tentang tali pertunangan Bun Liong dan puterinya yang sudah diikrarkan semenjak kedua anak muda itu masih kecil.

Oleh karena itu, maka dapatlah diceritakan bahwa Lan Eng dan puterinya, mulai hari itu tinggal di rumah nyonya janda Souw. Mereka menempati sebuah kamar tersendiri yang sejak dulu memang dijadikan kamar tamu.

Hal ini tentu saja membuat hati Bun Liong bersorak saking girangnya! Hati pemuda manakah yang takkan merasa girang kalau di rumahnya yang menumpang dara jelita? Apalagi bagi Bun Liong. Karena dara itu telah mencuri hatinya, maka pemuda ini merasakan bahwa di rumahnya yang berkeadaan demikian miskin dan prihatin itu seakan-akan mendadak kejatuhan rembulan…….! Ketika senja menjelang malam, Bun Liong duduk seorang diri di ruangan depan dengan punggung dan kepalanya disandarkan pada dinding rumah. Ibu pemuda ini, ketika itu tengah asyik bercengkerama di kamar tamu dengan Lan Eng dan Yang Hoa.

Sebenarnya Bun Liong sangat ingin turut serta, bercakap-cakap dengan mereka. Akan tetapi oleh karena ia merasa kurang sopan kalau masuk ke dalam kamar tamunya itu di mana terdapat seorang dara, maka mau tak mau ia lalu duduk seorang diri di ruangan depan. 

Benak pemuda ini dipenuhi berbagai macam pikiran. Mula-mula ia membayangkan pertemuan besar pada esok harinya dengan Cio wan-gwe, Lu Sun Pin, Can Po Goan dan lain-lainnya.

Mereka tentu akan berkumpul untuk memperbincangkan dan menyusun organisasi yang diberi nama Pauw-an-tui dengan tujuan untuk berkonfrontasi dan mengganyang komplotan garong yang menggentingkan daerah Tong-koan itu! Ia sudah terlanjur turut serta dalam pertandingan pibu tadi siang sehingga ia terpilih dan secara resmi oleh panitia diangkat menjadi ketua Organisasi Barisan Penjaga Keamanan itu, maka maklumlah bahwa di atas pundaknya terletak beban yang sangat berat! Biarpun ilmu silatnya tinggi, namun Bun Liong dalam hal pengalaman masih sangat mentah, apalagi sebagai ketua dari organisasi massa, maka “jabatan” dan pekerjaan yang bakal dihadapinya ini benar-benar menegangkan pikirannya!

Kemudian ia membayangkan pula, betapa hebatnya pertempuran- pertempuran dengan komplotan garong yang bakal ia alami. Sungguh suatu “jabatan” yang amat berat tanggung jawabnya, berat pula pekerjaannya, karena selain memerlukan tenaga dan pikiran, bahkan nyawapun menjadi taruhan!

Sungguhpun demikian, dan betapa pun berat dan berbahayanya pekerjaan yang harus dihadapinya, namun ia berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan melakukan kewajiban ini dengan sungguh- sungguh tanpa merasa kecil hati. Oleh karena pekerjaan ini adalah demi kepentingan masyarakat dan juga harapan dari suhunya, Bu Beng Lojin!

Kemudian bayangan pekerjaan dan tanggung jawab yang bakal dihadapinya mulai hari besok itu buyar, karena dadanya tiba-tiba berdebar-debar ketika teringat kembali kepada nona Yang Hoa yang menginap dan yang akan tinggal di rumahnya untuk sementara itu. Ah, alangkah gembiranya kalau ia dapat membantu mendapatkan manusia-manusia jahat yang telah membunuh ayah dara itu dan alangkah lebih senang hatinya kalau nona itu bukan tinggal hanya untuk sementara saja di rumahnya, melainkan untuk……. selama-lamanya!

Bun Liong kini sudah menjadi dewasa. Biarpun tiada orang yang memberitahukan kepadanya, namun hatinya telah mendapat bisikan bahwa meski baru sehari saja ia bertemu kembali dengan bekas kawan bermainnya sewaktu kecil yang sudah berpisah hampir sepuluh tahun lamanya, ia telah “jatuh hati” padanya.

Ia masih ingat benar, bahwa betapa manis dan akrabnya persahabatan antara ia dan gadis itu semasa masih sama bocah berusia tujuh delapan tahun. Dan memang, tiada kenangan yang lebih indah dan menyenangkan daripada kenangan semasa kita masih merupakan, bocah cilik yang belum tahu apa-apa tentang keruwetan penghidupan!

Semenjak kecilnya, Bun Liong sudah mempunyai sifat gagah atau sedikitnya bercita-cita ingin menjadi seorang gagah. Ia sering meniru ayahnya menunggang kuda manakala orang tua itu pergi mengawal barang, maka sering kali ia membuat kuda-kudaan dari ranting pohon, lalu berlari-lari congklang sambil menunggangi “kuda” itu dengan lagak seorang Piauw-su berangkat mengantar barang kawalan, seperti ayahnya. Ia lewat di depan rumah Yang Hoa dan apabila bocah perempuan yang dikuncir rambutnya itu kebetulan berada di depan rumahnya, ia melambai-lambaikan tangan kepada gadis cilik itu yang membalasnya dengan lambaian tangan pula sambil tertawa-tawa kecil.

Sering pula ia mengajak Yang Hoa untuk “dibonceng” di atas “kuda” itu, nona cilik itu berdiri di belakangnya kedua tangannya berpegang erat-erat kepada bahu Bun Liong karena takut jatuh dari “kuda” yang mereka “tunggangi” itu. Kemudian berlari-larianlah mereka hilir mudik dengan wajah berseri-seri dan napas terengah- engah.

Tidak jarang ketika sedang berlarian seperti itu Yang Hoa benar- benar jatuh dari “kuda”nya sehingga menangis menjerit-jerit dan mengaduh, lalu Bun Liong memapah teman baiknya yang mendapat “celaka” itu untuk dibawa ke rumahnya sambil membujuk dan menghiburnya. Lalu meminta kepada orang tuanya supaya mengobati baret kecil yang tampak menggores di lutut nona itu.

Mungkin karena suka jatuh seperti itu, Yang Hoa kadang-kadang tidak mau kalau diajak “membonceng” lagi, dan penolakan ini membuat Bun Liong marah. Dengan gemas ia membetot kuciran rambut Yang Hoa yang menyebabkan gadis cilik itu menangis menjerit dan berlari ke dalam rumah untuk mengadu kepada orang tuanya.

Kalau sudah demikian, Bun Liong merasa bersalah dan karena ia takut kalau orang tua gadis cilik itu akan segera “membalas dendam,” maka ia segera berlari pontang panting memasuki rumahnya, dan bersembunyi di kolong tempat tidur sambil menahan napas!

Teringat akan kenangan indah itu, Bun Liong jadi tersenyum sendiri! Gadis yang dahulu suka ditarik-tarik rambut kucirnya itu sekarang telah berada di rumahnya dan hatinya merasa suka sekali kepada nona bekas kawan bermainnya itu. Ah, alangkah senangnya hatiku kalau aku sekarang dapat bermain-main dengan dara jelita itu seakrab dahulu, kata hatinya setengah mengeluh dan kembali ia tersenyum-senyum.

“Eh, Liong! Mengapa kau tersenyum sendiri seperti orang setengah gila?!”

Mendengar teguran yang tiba-tiba ini Bun Liong tersentak dari lamunannya. Ia menjadi tergagap dan agak jengah ketika melihat ibunya telah berdiri disampingnya, dan ia tak segera dapat menjawab tegurannya yang bersifat menggoda itu.

Agaknya Kho In Hoa telah lama meninggalkan tamunya, dan ia berdiri di situ sambil memperhatikan puteranya yang sedang asyik melamun sambil tersenyum-senyum seorang diri. Tapi nyonya janda ini cukup bijaksana dan dapat membaca apa yang sedang dilamunkan oleh Bun Liong, maka dengan berpura-pura tidak melihat kegagapannya, orang tua ini lalu duduk berhadapan dengan putera tunggalnya itu.

“Liong, aku akan bertanya kepadamu, bagaimanakah kesan dan pendapatmu tentang kedatangan kedua tamu kita yang pada hakekatnya sudah bukan orang lain itu?” tanya nyonya itu kemudian sambil matanya menatap kepada puteranya.

Dengan sejujurnya Bun Liong menjawab: “Sebagaimana halnya Mama sendiri, akupun merasa gembira dengan kedatangan dan kesudian mereka menginap di rumah kita ini.”

Nyonya janda itu tersenyum, “Memang aku merasa girang dapat berjumpa kembali dengan mereka. Akan tetapi aku yakin, bahwa perasaan gembira di hatimu jauh lebih besar dan mendalam daripadaku, bukan……?” Kata-kata ibunya ini benar-benar merupakan pukulan yang sangat jitu bagi hati Bun Liong, sehingga pemuda ini untuk sejenak tak dapat berkata-kata wajahnya kemerah-merahan karena malu.

Nyonya janda itu bersenyum tatkala berkata pula: “Liong, sebenarnya aku mempunyai maksud penting yang ingin kusampaikan kepadamu sekarang juga. Ketahuilah, semenjak kau masih kecil, kami orang-orang tua telah mengadakan persetujuan mempertunangkan kau dengan nona Yang Hoa dan persoalan ini memang sama sekali belum pernah kukatakan kepadamu.

“Tapi sekarang kau sudah cukup besar, sedikitnya tentu sudah dapat menerima dan mempertimbangkan persoalan-persoalan yang layak dihadapi oleh orang yang sudah dewasa seperti kau ini, maka dengan kedatangan bibimu yang sengaja membawa puterinya kemari, kuanggap sudah tibalah saatnya persoalan penting ini kubicarakan denganmu. Tadi aku dan bibimu berunding dan kami telah bermufakat untuk menyandingkan kau dan nona Yang Hoa sebagai suami isteri.”

Mendengar pernyataan yang demikian terus terang dan tanpa tedeng aling-aling ini, Bun Liong hampir saja tidak percaya pada pendengarannya sendiri dan ia khawatir kalau hal ini hanya terjadi di dalam mimpi saja. Namun sekarang hal ini terjadi sebenarnya dan memang ibunya bicara seperti apa yang didengarnya tadi.

Bun Liong tidak berani mungkir bahwa ia sudah jatuh hati atau jelasnya merasa cinta kepada gadis itu dan tentu saja ia mengharapkan bahwa kelak gadis itu bisa menjadi jodohnya. Apa yang telah bersemi di lubuk hatinya, khayalan indah yang mengganggunya sejak tadi kini menjadi kenyataan.

Hanya saja sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa kenyataan ini akan terjadi demikian cepat dan tiba-tiba sehingga akan terjadi demikian cepat dan karenanya, jalan pikirannya menjadi kalut. Untuk sejenak ia membisu saja sambil menunduk, hatinya berguncang keras karena……. girang!

“Liong, bukankah kau seorang laki-laki yang telah menerima gemblengan lahir batin dari suhumu? Jawablah, bagaimana pendapat dan pendirianmu tentang persoalan penting yang kusuguhkan kepadamu ini?” ujar ibu itu yang agaknya telah dapat menyelami emosi puteranya.

“Anakku, percayalah, aku sudah mengenal Yang Hoa sejak kecil dan menurut penglihatanku, Yang Hoa adalah gadis yang baik sekali baik mengenai rupa dan tabiatnya maupun mengenai ilmu silatnya. Pendapatku sangat cocok sekali dijadikan mantuku, apalagi perjanjian pertunangan itu telah menjadi kemauan dari mendiang ayah nona itu dan ayahmu sendiri dan yang tentu saja telah mendapat persetujuan dari pihak para isterinya, yakni aku sebagai ibumu dan bibimu, ibu dari Yang Hoa itu……

“Akan tetapi, Liong, walaupun aku maklum akan ketulusan dan kebaktian hatimu terhadap ibumu ini, namun betapapun juga sekali-kali aku takkan memaksa atau menyuruh kau untuk melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendak hatimu sendiri. Apalagi soal perjodohan, karena bukan aku yang akan menjalani, melainkan kau sendiri yang bakal mengecap manis pahitnya. Maka sebelum kau menyatakan betapa pendapat dan pendirianmu, hatiku takkan merasa puas.”

Kini Bun Liong sudah dapat menguasai perasaan dan pikirannya lagi. Ia mengerti bahwa gagasan ibunya yang sungguh-sungguh dan setengah mendesak adalah berdasarkan rasa kasih sayang orang tua yang ingin melihat anaknya berbahagia. Maka, biarpun ia makin merasa jengah, akhirnya dapat juga menjawab dengan suara agak gemetar dan sember,

“Mama, kalau hal ini sudah menjadi kehendak mendiang ayah dan menjadi kehendakmu pula dan juga telah bermufakat dengan keluarga paman Ho Kim Teng……. baiklah, anak….. anakmu ini menerima gagasanmu dan merasa setuju serta……. merasa berterima kasih……”

Berserilah wajah Kho In Hoa jadinya. “Bagus, Liong, demikianlah sikap seorang kesatria, jujur dan terus terang. Dengan demikian, terikrarlah sudah kehendak dari mendiang ayahmu,” katanya kemudian dengan irama kata terharu karena nyonya ini tiba-tiba teringat kepada mendiang suaminya.

“Tetapi, Mama…….” kata Bun Liong, “Tidakkah kita telah berlaku keliru. Selagi keadaan kita begini miskin dan aku belum bisa bekerja untuk mencari nafkah, kita sudah berani membiarkan soal perjodohan? Mama, hidup kita demikian melarat dan sengsara dan anakmu masih belum dapat menanggulangi keadaan kita ini.

“Kalau Yang Hoa menjadi isteriku, berarti beban kita makin berat dan mungkinkah dia dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kita seperti ini? Ah, tidak! Aku takut kasihan kalau aku tak dapat memberikan kebahagiaan kepadanya…….”

Hati Kho In Hoa makin terharu ketika mendengar ucapan Bun Liong yang ternyata dapat berpikir panjang dan mempunyai rasa tanggung jawab dalam hal kehidupan suami isteri yang bakal dihadapinya. Akan tetapi, sebelum ibu yang bijaksana ini sempat berkata untuk menghibur puteranya yang sangat berkecil hati memikirkan hari depannya itu, tiba-tiba ia dan juga Bun Liong tersentak kaget karena saat terdengar suara orang yang menyahuti perkataan pemuda itu tadi.

Ketika ibu dan anak itu menoleh, ternyata Li Lan Eng telah muncul dari ruangan dalam dan karena nyonya janda Ho ini mendengarkan percakapan In Hoa dan Bun Liong, maka ketika ia mendengar ucapan yang terakhir dari pemuda itu, yang mencerminkan bahwa calon mantunya itu berkecil hati karena keadaannya yang miskin dan sengsara, lantas saja nyonya ini menukas:

“Liong-jie, tak perlu kau berpikir begitu jauh dan tidak semestinya,” kata Lan Eng sambil berjalan menghampirinya dan duduk di dekat mereka, lalu lanjutnya: “Ketahuilah, pernikahan tergantung kepada umur dan sekali-kali bukan bersandarkan kepada kaya miskin keadaan seseorang. Ibarat bunga mekar pada musimnya, barulah selaras dengan kemauan alam!

“Pula, bagiku dalam hal perjodohan tak perlu memandang keadaan calon menantu, maksudku keadaan kekayaannya. Yang terpenting adalah keadaan batinnya! Liong-jie, watak dan tabiatmu sudah kukenal sejak kau masih kecil dan sekarang kupercaya bahwa kau akan menjadi teman hidup Yang Hoa yang baik.

“Sekarang, setelah kudengar pernyataanmu yang menyetujui maksud kami, benar-benar hatiku sangat puas dan merasa berterima kasih. Tadinya, sebelum kudengar pernyataanmu itu, aku sangat khawatir kau akan menampik anakku yang bodoh itu. Tapi sekarang, ketegasan soal perjodohanmu dengan anakku ini, ternyata sudah beres…….

“Mengenai rasa berat menanggung beban seperti yang kaukatakan tadi, memang harus kuakui bahwa kalau orang sudah beristeri, apalagi kalau sudah mempunyai anak, kewajiban dan beban yang ditanggungnya menjadi bertambah berat. Akan tetapi hal ini menurut pendapatku tak perlu kau pusingkan sekarang, karena pernikahanmu boleh dilangsungkan kapan saja, misalnya kelak setelah kau merasa mampu. Yang dipersoalkan sekarang, tak lebih hanya penegasan ikatan jodoh saja.”

“Nah, Liong, kata-kata dan pendapat calon besanku ini sangat benar dan bijaksana, tak usahlah kau terlalu berkecil hati memikirkan masa depanmu,” kata Kho In Hoa membesarkan hati puteranya, “Dan sekarang, kau tidak cepat memberi hormat kepada calon ibumu, mertuamu ini, mau tunggu kapan lagi??” Pikiran dan perasaan Bun Liong kini menjadi tenang dan lega setelah mendengar ucapan Lan Eng tadi yang alasannya dapat diterima. Tanpa ragu-ragu lagi dan bahkan dadanya berdebar- debar girang, ia bangkit dari tempat duduknya dan berlutut dihadapan Lan Eng sambil katanya; “Gak-bo (ibu mertua)!”

Lan Eng menerima penghormatan dari calon menantunya itu dengan perasaan terharu dan bahagia. Ia membangunkan Bun Liong dan menyuruhnya duduk kembali di tempatnya. Kemudian dengan mata berlinang-linang namun wajahnya berseri bungah, ia berkata kepada nyonya janda Souw,

“Ah, enci Hoa, arwah-arwah suami kita tentu merasa puas melihat rencana mereka sudah kita laksanakan dengan lancar…….”

“Memang begitulah agaknya, adik Eng…….” sahut In Hoa, dan mata nyonya janda inipun membasah pula, karena kata-kata calon besannya itu mengingatkannya akan suaminya yang, sudah tiada.

Bun Liong pun merasa pilu juga hatinya, akan tetapi pemuda ini segera menemukan jalan keluar dari pada suasana yang sedih itu, dengan berkata,

“Ah! Gak-bo dan mama ini bagaimana sih? Masa persoalan perjodohan ini hanya dilakukan antara kita bertiga saja dan kalian hanya mendesak persetujuanku sepihak saja, sedangkan pihak yang terpenting, yaitu adik Yang Hoa, sama sekali tidak didengar persetujuannya. Adakah dia merasa setuju dijodohkan denganku yang bodoh ini…….?”

“Kau benar Liong-jie,” sahut nyonya janda Ho. “Perkataanmu itu dapat kutangkap maksudnya yaitu kau ingin mendengar sendiri betapa reaksi dari calon isterimu dalam persoalan ini. Sungguhpun ia sudah menurut dan sependapat denganku ketika kami berunding di kamar tadi, namun untuk memunahkan rasa sangsimu, baiklah kupangil dia kemari untuk kau buktikan sendiri.” Dan nyonya ini memanggil puterinya yang masih “bersembunyi” di kamarnya.

Terdengar suara daun pintu dikuak dan ditutup kembali dan bersamaan dengan itu, terdengarlah suara tindakan kaki yang perlahan. Hal ini membuat Bun Liong menahan napas dan lebih dan tiga kali meneguk air liur, karena menahan kedak-dik-duk-an hatinya.

Kemudian nona itu tampil di antara mereka dan berdiri menghadap ibunya sambil menunduk seakan-akan untuk menyembunyikan warna merah yang menjalari seluruh muka dan telinganya. Karena ia sebenarnya sudah maklum akan maksud dari panggilan ibunya. “Yang Hoa, seperti kau telah ketahui, perundingan kita dengan nyonya rumah tadi adalah mengenai pertunanganmu dengan Bun Liong. Sejak masih kecil kalian telah kami pertalikan.

“Kau tentunya sudah mendengar sendiri dari kamar tadi tentang pernyataan setuju dari pemuda tunanganmu maka sekarang wajiblah kau mengeluarkan pernyataanmu dihadapan kami. Bagaimana pendapat dan pendirianmu mengenai soal ikatan jodoh ini? Setujukah kau? Jawablah!”

Yang Hoa adalah seorang wanita, maka dalam hal ini tentu saja baginya amat berat untuk menjawab. Biarpun sudah maklum bahwa sejak kecil sudah dipertunangkan dengan Bun Liong, kawan bermainnya dan meskipun kini ia mendapat kenyataan bahwa bekas kawan bermainnya yang dahulu suka menarik-narik rambut kucirnya itu telah menjadi seorang pemuda tampan, gagah dan berkepandaian silat tinggi.

Dan ia telah mendengar pula suara pernyataan pemuda itu di dalam kamarnya tadi dengan diam-diam, sehingga hatinya merasa girang dan setuju dengan ikatan jodoh ini. Akan tetapi mulutnya tak sanggup menyatakannya. Ia hanya berdiri diam bagaikan patung, mukanya yang menjadi makin merah ditundukkan, dan kalau saja jari-jari dari kedua tangannya tidak bergerak memintal-mintal ujung sabuk pengikat pinggangnya, ia akan benar-benar tampak seperti sebuah patung. Sampai lama keadaan menjadi sunyi oleh karena semua orang, terutama Bun Liong yang sudah menahan napas menanti jawaban nona ini yang tak kunjung terdengar.

Namun akhirnya, Lan Eng ketawa terkekeh, wajah In Hoa berseri dan Bun Liong hampir bersorak saking girangnya dan merasa hendak menubruk dan memeluk tubuh calon isterinya itu ketika melihat Yang Hoa yang biarpun dari mulutnya tidak terdengar sepatah kata, namun telah mengunjukkan pernyataannya, yang positip ketika gadis itu menjatuhkan diri berlutut dihadapan In Hoa!

“Nah, Liong-jie, jelaslah sudah bagimu kini apa jawaban dari puteriku dengan memberi hormat kepada ibumu, bukan?” kata Lan Eng sambil tersenyum puas kepada Bun Liong yang tak dapat memberikan penyahutan karena rongga dadanya serasa sesak saking…… girangnya!

Begitulah, sebagai peresmian pertunangan itu, pada malam harinya mereka mengadakan pesta kecil. Mereka mengundang beberapa orang tetangga yang terdekat untuk dijadikan saksi pada peristiwa bahagia tersebut.

In Hoa dan Lan Eng menyatakan kepada para tamu, bahwa perkawinan kedua orang muda itu masih belum dapat ditentukan waktunya yang dijadikan patokan oleh mereka, perkawinan baru dapat dilangsungkan setelah keamanan daerah Tong-koan pulih kem bali. Jadi tegasnya, Bun Liong harus menyelesaikan dulu pekerjaannya.

Dan apabila Pauw-an-tui yang dipimpinnya dapat berkonfrontasi dan mengganyang komplotan penjahat sampai keakar-akarnya, sehingga keadaan daerah Tong-koan normal kembali seperti sediakala, barulah pernikahan itu dapat dilangsungkan. Demikianlah sifat orang-orang gagah, kepentingan umum jauh lebih utama daripada kepentingan diri sendiri!

Malamnya, setelah pesta kecil itu selesai dan para tetangga sudah pada pulang, In Hoa, Lan Eng dan nona Yang Hoa membereskan piring mangkok bekas perjamuan sederhana tadi. Adapun Bun Liong yang seharusnya membantu mereka, pergi dan berjalan ke arah belakang rumahnya. Ketika ia hendak keluar dari pintu belakang, kebetulan ia bertemu dengan calon isterinya yang membawa seember air yang diambilnya dari perigi di belakang rumah itu. Untuk sejenak mereka tertegun dan sepasang calon suami isteri ini saling berpandangan. Bun Liong memandang dengan sinar mata yang penuh kasih mesra dan berkata dengan suara perlahan:

“Yang-moay, bila pekerjaanmu sudah beres, sangat kuharapkan kau dapat menjumpaiku di kebun belakang. Aku ingin bicara denganmu dibawah empat mata.”

Sebagai jawaban Hoa hanya mengangguk sambil bibirnya menyungging senyuman dan berjalan masuk membawa seember air yang dijinjingnya itu. Agaknya gadis ini hendak mencuci segala perabotan kotor bekas pesta kecil tadi.

Sementara Bun Liong berjalan seorang diri menuju halaman belakang rumahnya. Halaman ini dulunya, semasa Souw Cian Ho masih hidup, dijadikan kebun yang ditanami sayur mayur. Tapi sekarang tanah itu menjadi kering karena sudah lama tidak terurus. Bun Liong lalu duduk di bawah sebatang pohon siong.

Malam itu walaupun tidak berbulan, langit sangat cerah dan dihiasi bintang-bintang gemerlapan bagaikan ribuan intan permata yang tersebar. Bun Liong menengadah ke angkasa dan memandang bintang-gemintang seakan-akan hendak mencari dan menilai binang mana yang paling indah.

Akan tetapi ia tidak berhasil menemukan bintang yang paling indah di langit karena bintang-bintang yang gemerlapan dan yang sebenarnya sangat indah itu baginya tiada yang menarik dan semuanya menjadi suram dalam penglihatannya. Karena terkalahkan oleh keindahan bintang hatinya, yaitu nona Yang Hoa.

Pengalamannya di siang hari tadi, benar-benar merupakan pengalaman yang patut dibanggakan dan paling indah. Pada hari itu ia telah berhasil membuat nama besar di antara masyarakat Tong-koan dan pada hari itu pula ia bertemu dengan seorang dara jelita bekas kawan bermainnya semasa kecil.

Dan begitu bertemu ia sudah merasa jatuh hati, dan tahu-tahu gadis itu adalah tunangannya dan kini dengan resmi telah menjadi calon isterinya! Bukankah kejadian-kejadian yang sama sekali tidak disangka ini, layak dibanggakan dan dianggap indah oleh pemuda ini?

“Ah, betapa suhuku akan gemhira dan bangga kalau aku berhasil menunaikan tugas yang diletakkan di pundakku ini, mengganyang segolongan manusia yang menuntut penghidupan sewenang- wenang, yaitu komplotan penjahat yang menimbulkan huru hara, merusak dan merugikan rakyat jelata dan yang menyebabkan daerah Tong-koan ini menjadi demikian tak aman dan genting! Dan apabila komplotan penjahat sudah diganyang habis dan keadaan menjadi aman kembali, maka aku dapat melangsungkan perkawinanku dengan Yang Hoa, alangkah manisnya hidupku…….”

Demikian Bun Liong berkata di dalam hatinya, sambil memandang bintang-bintang di langit. Pemuda ini sedang dilamun khayalan yang muluk-muluk.

Akan tetapi lamunan ini kemudian berganti dengan rasa cemas ketika ia teringat bahwa betapa berat dan berbahayanya tugas yang ia harus tunaikan, sehingga hatinya mengeluh,

“Bagaimana kalau dalam pekerjaanku yang tentunya penuh dengan pertempuran-pertempuran hebat itu aku mendapat celaka dan tewas…….?!”

“Ah, betapa takkan relanya hatiku harus meninggalkan Yang Hoa yang sangat kucintai…..” Teringat akan hal yang sangat mencemaskan hatinya ini, Bun Liong menghela napas panjang, batinnya seakan-akan menjerit meminta perlindungan Tuhan, supaya peristiwa yang sangat mengecilkan hatinya tidak sampai terjadi.

Tiba-tiba terdengar suara lemah dan halus dibelakangnya: “Koko ”

Bun Liong segera sadar dari lamunannya. Ia cepat berdiri dan menengok ke belakang. Melihat gadis tunangannya telah datang yang berarti telah memenuhi permintaannya tadi.

Bun Liong dapat segera menekan perasaan cemasnya dan ia tersenyum sambil berkata lirih: “Yang-moay, agaknya kau sudah lama datang dan berdiri diam-diam di belakangku ?”

Dalam malam yang hanya disinari oleh cemerlangnya bintang- bintang di angkasa cerah, mata Bun Liong yang memang sudah terlatih untuk melihat di tempat gelap, melihat gadis tunangannya yang mengenakan pakaian tidur berwarna putih tersenyum manis, sebagian rambutnya terurai ke jidat menambah kemanisannya.

Kemudian terdengarlah dara itu menyahut: “Lama sih belum, akan tetapi sempat juga kudengar kau mengeluh demikian dalam. Apakah yang membuatmu mengeluh sedemikian rupa, Koko?”

“Duduklah, Yang-moay!” kata Bun Liong dan mereka duduk berdampingan di atas rumput hijau yang bagi mereka merupakan permadani indah. Kemudian ia berkata: “Sebenarnya, yang membuatku mengeluh, adalah karena aku membayangkan bahwa kalau-kalau aku mendapat celaka dan tewas dalam pekerjaanku itu…….”

“Agaknya kau takut mati koko…….?”

“Aku bukan takut mati, adik Yang! Bagi orang yang pernah mempelajari ilmu silat seperti kita soal celaka dan tewas dalam pertempuran adalah soal biasa saja.”

“Habis, apa yang kau keluhkan?”

“Aku mengeluh karena merasa sedih, kalau aku sampai menemukan ajal, aku tidak jadi kawin denganmu…….”

Yang Hoa ketawa kecil dan berkata: “Jadi itulah yang membuatmu mengeluh? Kukira…….” “Kau kira apa, adikku?”

“Kukira bahwa kau……. tak suka dengan perkawinan kita yang akan datang ini…….”

Tangan kanan Bun Liong bergerak dan cepat ia memegang lengan Yang Hoa. Gadis itu agak terkejut oleh karena baru sekali inilah ia merasakan tangannya dipegang oleh seorang pemuda. Mengingat bahwa pemuda itu bukan orang lain tetapi justeru bakal suaminya, maka Yang Hoa tinggal diam saja, sungguhpun ia merasa sangat canggung dan dadanya berdebar-debar.

“Jangan kau menyangka yang, tidak-tidak, Yang-moay,” kata Bun Liong. “Ketahuilah, ketika tadi ibuku membicarakan hal perjodohan kita aku hampir bersorak kegirangan, karena sesungguhnya, semenjak kita berjumpa siang tadi, aku…… aku sudah merasa jatuh cinta kepadamu……”

Yang Hoa hanya menundukkan kepalanya dengan cara ini agaknya ia hendak menyembunyikan rasa malu dan girang yang membayang di wajahnya yang dalam pandangan Bun Liong yang mencinta, cantik bagaikan bidadari.

“Dan, kau bagaimana adik Yang? Sukakah kau akan pilihan ibumu ini?” tanya Bun Liong dengan irama kata menggetar dan sementara tangannya yang memegangi tangan tunangannya, digenggamkan semakin erat.

Perlahan-lahan Yang Hoa mengangkat kepalanya dan matanya yang indah jeli bagaikan mata burung Hong menatap kepada Bun Liong dengan pandangan penuh arti, kemudian ia menunduk kembali sambil menyahut lemah:

“Koko, semenjak kusaksikan kesederhanaan, kesopanan dan kegagahanmu di atas lui-tay siang tadi dan sementara itu belum kuketahui bahwa kau adalah tunanganku sejak kecil, sebenarnya hatiku sudah terpikat sehingga diam-diam aku merasa suka kepadamu. Dan sekarang setelah aku mendapat kenyataan bahwa kita sejak kecil sudah dipertunangkan oleh orang-orang tua kita, maka sebagai seorang anak yang mencinta dan berbakti kepada orang tua, tentu saja aku menurut kepada segala yang menjadi kehendak orang tuaku, dan dalam perjodohan kita ini……. tentu saja akupun setuju…..”

“Akan tetapi……. kalau pilihan orang tuamu jatuh kepada seorang yang tidak kau sukai, apakah kau akan menurut juga?” tanya Bun Liong seakan-akan ingin menyelami isi hati tunangannya. Yang Hoa menggelengkan kepalanya dan suaranya penuh kepastian tatkala ia berkata, “Tidak! Betapapun besarnya rasa baktiku terhadap orang tua yang segalanya harus dipatuhi, akan tetapi dalam hal perjodohan, kalau aku sendiri tidak setuju, pasti kutentang!” 

“Kalau begitu…… jadi…… jadi kau suka padaku?” tanya Bun Liong sambil menggeserkan duduknya sehingga rapat dengan si gadis dan pegangan tangannya tambah dipererat.

Kembali Yang Hoa menunduk.

Bun Liong tak sabar menunggu jawaban si nona yang hanya menunduk dan membisu maka ia mendesak dengan suara gemetar dan lirih: “Yang Hoa, adikku, bilanglah terus-terang. Cintakah kau padaku? Jawablah dengan geleng atau angguk!”

Yang Hoa mengangkat mukanya lagi, matanya yang indah itu ditatapkan kepada mata tunangannya dan kemudian ia mengangguk perlahan.

“Betul-betulkah kau cinta padaku dan rela menjadi isteriku? Ingat adikku, aku seorang miskin dan jika kau menjadi isteriku, maka kau akan hidup serba kekurangan dan sengsara.” “Koko, jangan kau berkata begitu! Apakah kau anggap aku ini gadis mata duitan yang cintanya hanya berdasarkan atas harta kekayaan? Koko, orang bijaksana pernah mengatakan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak semata-mata bergantung pada banyaknya harta kekayaan. Oleh karena itu, koko, biarpun akan menderita hidup miskin, percayalah bahwa di sampingmu aku akan berbahagia!”

Bun Liong menarik lengan Yang Hoa sehingga gadis itu tersentak dan jatuh bersandar ke dadanya yang bidang.

Dengan sangat mesra ia berbisik di dekat telinga tunangannya,

“Adikku yang kucinta, adikku yang bijaksana dan berhati mulia! Tahukah kau bahwa ketika tadi ibuku membicarakan perjodohan kita ini aku merasa amat kecil hati karena takut kalau-kalau kau akan sengsara. Sekarang, setelah kudengar pernyataanmu, hatiku puas dan aku menjadi berani, karena dengan kau disampingku, aku berani menempuh gelombang penderitaan yang bagaimanapun hebatnya…….”

Yang Hoa meramkan matanya, dan dengan hati berdebar-debar penuh kebahagiaan, ia menyandarkan punggung dan kepalanya di dada tunangannya. Angin malam berhembus sepoi-sepoi basah, memberi kesejukan kepada sepasang calon suami isteri yang duduk rapat berdampingan dengan penuh kehangatan itu. Untuk beberapa saat mereka tidak berkata-kata karena keduanya sedang hanyut dalam alunan asmara, dibuai kasih yang mesra. Kedua teruna itu membisu dalam seribu basa.

Si gadis bersandar di dada tunangannya sambil memeramkan mata. Si perjaka duduk sambil tangan kanannya menggenggam tangan si gadis dan jari-jari tangan mereka saling meremas, sedangkan lengan kirinya dipelukkan kepada pinggangnya yang ramping. Wajahnya menengadah ke angkasa cerah memandang bintang-bintang yang berkilau-kilau.

Tetapi tiba-tiba Bun Liong tersentak kaget karena dilihatnya di ufuk timur dari langit yang cerah itu, membayang cahaya merah seakan- akan kaki langit terbakar!

“Adikku, lihatlah di kaki langit sebelah timur itu!” desisnya segera.

Yang Hoa yang sedang meram menikmati hikmahnya kemesraan asmara, tersentak dan segera memandang ke arah timur.

“Kebakaran……. koko?” “Benar! Rupanya gerombolan garong mendatangi kota Tong-koan dan malam ini entah berapa rumah lagi yang dibumi hanguskan oleh mereka!”

“Benar-benar komplotan garong itu harus segera diganyang!” desis Yang Hoa sambil mengertakkan giginya mencerminkan hatinya yang dipenuhi kegemasan.

“Ya, mulai besok, setelah Pauw-an-tui dibentuk dan barisannya diatur, pengganyangan dapat segera dilakukan…..! Mudah- mudahan kekuatan Pauw-an-tui akan dapat mengatasi kekuatan komplotan manusia-manusia biadab itu……! Tetapi……” tiba-tiba Bun Liong menghentikan kata-katanya dan ia mengeluarkan keluhan…….

“Tetapi, apa koko? Dan mengapa pula kau mengeluh?” tanya Yang Hoa yang merasa heran ketika melihat sikap tunangannya berubah dan wajahnya tiba-tiba muram.

“Hatiku kembali merasa cemas seperti tadi, adikku. Kalau-kalau aku tidak bisa kawin denganmu karena siapa tahu, kalau dalam menjalankan tugas yang penuh bahaya itu, aku…….”

“Ah, kembali kau dimomoki oleh perasaan cemasmu,” tukas Yang Hoa dan ia meneruskan kata-katanya untuk memberi semangat dan membesarkan hati calon suaminya yang sangat menyintanya itu: “Dan misalnya kau benar-benar sampai gugur di medan tugas yang penuh bahaya maut itu, biarlah, kitapun akan mati bersama!”

“Apakah yang kau maksudkan, adikku?” tanya Bun Liong yang belum mengerti maksud perkataan tunangannya. Ia memandang wajah dara itu dengan mengerutkan dahinya.

“Kumaksudkan ialah, bahwa aku akan turut berjuang di sampingmu. Besok, aku akan pergi bersamamu menghadap Cio wan-gwe dan menyatakan bahwa aku akan menjadi anggauta Pauw-an-tui.

“Siapa tahu, kalau disamping kusumbangkan sedikit kepandaianku dalam perjuangan mulia ini, aku berhasil juga menemukan pembunuh-pembunuh ayahku yang sangat boleh jadi terdapat di antara gerombolan yang akan kita ganyang itu!”

“Tekadmu sangat kupuji, adikku!” kata Bun Liong gembira. “Sungguh aku harus merasa bangga dan berterima kasih, karena selain cantik jelita calon isteriku berhati bijaksana, bahkan merupakan pula seorang lihiap (pendekar wanita) yang gagah perkasa!” Yang Hoa menyambut kegembiraan dan kebanggaan tunangannya hanya dengan senyum manis.

Keesokan harinya, hari masih agak pagi ketika Souw Bun Liong bersama Ho Yang Hoa sudah duduk dalam pertemuan dengan Cio Song Kang wan-gwe, Can Po Goan kauw-su dan Lu Sun Pin si Pagoda Besi. Mereka ini yang dapat disebut sebagai tokoh-tokoh penting dalam organisasi yang dinamakan Pauw-an-tui, duduk mengitari sebuah meja bundar di ruangan tamu dalam gedung Cio wan-gwe yang besar dan mewah. Di atas meja bundar tersebut sudah dihidangkan oleh beberapa orang pelayan hidangan- hidangan pagi yang masih hangat dan persis di tengah-tengah meja, terdapat sebuah guci, berisi arak wangi yang mahal.

Mula-mula ketiga orang tua itu heran melihat Bun Liong hadir bersama seorang wanita yang masih begitu muda dan cantik jelita, akan tetapi kemudian setelah Bun Liong menerangkan kepada mereka bahwa gadis yang, kini duduk di sebelahnya itu adalah calon isterinya yang juga ingin menyumbangkan tenaganya dalam Pauw-an-tui, maka mereka menjadi gembira dan puas.

“Nona, aku merasa berterima kasih sekali atas perhatianmu kepada organisasi ini yang akan segera kami bentuk supaya mulai hari ini juga dapat segera bekerja. Mudah-mudahan turut sertanya kau dalam Pauw-an-tui ini dapat menjadi teladan bagi para lihiap- lihiap agar organisasi kita bertambah kuat,” demikian ujar Cio wan- gwe selaku panitia, kepada Yang Hoa.

Yang Hoa yang sejak tadi memperhatikan wajah Cio wan-gwe, Lu Sun Pin dan Can Po Goan karena pada kesempatan inipun nona itu selalu mencoba mencari pembunuh ayahnya, ketika mendengar perkataan Cio wan-gwe yang ditujukan kepadanya tadi, segera bangkit dari duduknya dan memberi hormat dengan menjura.

“Tayjin yang mulia, tiada yang harus diterimakasihkan dengan turut sertanya siauwli dalam Pauw-an-tui karena siauwli yang lemah sangat mungkin sama sekali tidak berguna dalam menghadapi konfrontasi dan mengganyang komplotan garong itu,” kata nona itu.

Cio wan-gwe ketawa puas mendengar ucapan yang merendah dari Yang Hoa, dan sebagai ahli silat yang mempunyai penglihatan tajam, ia maklum bahwa dibalik kecantikannya, gadis itu memang berisi.

Akan tetapi Lu Sun Pin yang mempunyai sifat jumawa berlainan pendapat dengan Cio wan-gwe, si Pagoda Besi memandang rendah sekali kepada Yang Hoa, dara yang tampaknya lemah lembut sikapnya itu.

“Nona,” kata si Pagoda Besi, “Kalau memang kau sudah merasa bakal tiada berguna dalam organisasi kami ini, maka kunasehatkan bahwa sebaiknya kau tidak usah turut serta dalam pekerjaan kami yang penuh bahaya ini.”

Dari cerita calon suaminya semalam, Yang Hoa sudah maklum bahwa orang she Lu ini bertabiat kasar dan sombong. Maka ketika mendengar ucapan si Pagoda Besi yang kedengarannya menasehati dan bermaksud baik, namun disamping itu dapat juga diartikan sangat menghinanya.

Yang Hoa yang memang berhati keras jadi agak mendongkol. Tetapi dara ini dapat menekan perasaan hatinya dan menyahut ramah:

“Lu sianseng, terimakasih atas nasehat dan rasa selempang dari hatimu. Akan tetapi, siauwli akan merasa kecewa sekali kalau tak dapat menjadi anggauta Pauw-an-tui dan turut berjuang bersama- sama dengan calon suamiku.

“Tentang bahaya, memang telah kumaklumi, sehingga tak usahlah Lu sianseng terlalu mengkhawatirkan.” “Tetapi pekerjaan kami jadi tambah repot, oleh karena selain harus bertempur dalam pengganyangan kaum gerombolan, kamipun harus pula melindungimu, nona,” kata Lu Sun Pin yang tetap memandang remeh kepada gadis itu.