Pendekar Tanpa Tandingan Jilid 03

 
Jilid 03

Ilmu totok ini berbeda dengan thiam-hoat dari Siauw-lim-pay yang disebut Thiam-hwe-louw atau dengan cabang persilatan lainnya yang kalau digunakan harus mengarah sasaran pada jalan darah yang penting, sedangkan ilmu totok Coat-meh-hoat dari cabang Bu-tong tidak perlu mencari jalan darah yang tepat sehingga di mana saja totokan ini mengenai tubuh akan melumpuhkan lawan.

Pertempuran itu sudah berlangsung limapuluh jurus dan selama itu, Lu Sun Pin sudah tiga kali berhasil “memasukkan” ilmu totoknya ke tubuh lawan. Akan tetapi ia merasa sangat kecewa, terkejut dan juga kagum akan kekuatan tubuh lawan sehingga Coat-meh-hoat yang terkenal ini seakan-akan hilang keampuhannya.

Tentu saja Lu Sun Pin tidak mengetahui bahwa Can Po Goan, seorang ahli silat bekas tentara yang mewarisi ilmu silat dari cabang Siauw-lim. Selain mempunyai kepalan bertenaga dahsyat yang pernah memecahkan banyak dada dan kepala musuh semasa dalam peperangan dahulu sehingga ia mendapat julukan Po-thauw Sin-kun atau Kepalan Sakti Pemecah Kepala disamping julukan Toat-beng-sin-to atau Golok Sakti Pencabut Nyawa berkat ilmu goloknya yang lihay dan hebat, juga guru silat tua ini memiliki ilmu weduk yang disebut Tiat-pou-san (Baju besi) yang membuat tubuhnya kebal menghadapi ilmu totokan dan hal ini sangat tepat sekali untuk menghadapi ilmu totok dari Lu Sun Pin yang sangat berbahaya itu!

Ilmu weduk Tiat-pou-san ini selain kebal terhadap totokan, juga terhadap senjata tajam yang mengenai badannya, asal datangnya tidak mengenai bagian badan yang lemah dan tidak dilakukan dengan tenaga dalam yang tinggi! Dan karena itu, maka ilmu totok dari Lu Sun Pin itu baginya tidak mendatangkan kelumpuhan maupun rasa sakit, apa yang dirasakannya hanya sedikit sesemutan saja!

Can Po Goan maklum bahwa lawannya telah berhasil “memasukkan” tiga kali totokan terhadap dirinya dan sungguhpun totokan itu tidak melukainya, namun dengan demikian berarti ia kalah set atau kalah angka karena ia masih belum berhasil memberi “hadiah” terhadap lawannya meski satu kalipun! Akan tetapi dalam jurus-jurus berikutnya kekalahannya ini ternyata dapat ditebusnya dengan baik.

Kepalan saktinya pernah dua kali mampir di pundak dan lambung lawan, akan tetapi tidak mendatangkan akibat yang berarti karena Lu Sun Pin yang menerima pukulan itu hanya terhuyung sebentar dan kemudian sambil ketawa mengejek:

“Huh, hanya demikian macam saja kepalan saktimu itu?!” ia lalu maju lagi.

Can Po Goan tidak terlalu heran akan kekuatan lawannya karena ketika ia mengirim dua kali pukulan tadi, sengaja ia hanya mengerahkan enam bagian saja dari tenaga dalamnya. Kalau dilakukannya dengan sepenuh tenaga ia khawatir lawannya itu akan menderita hebat atau bisa juga tewas.

Sebagai seorang yang berwatak sabar tentu saja ia tidak sampai hati untuk membuat lawannya itu tewas! Akan tetapi, ketika lawannya itu bahkan mengejek, betapapun juga sabarnya ia, tak urung hatinya merasa mendongkol juga, maka ia berusaha pula mencari kesempatan untuk mengirim pukulan yang benar-benar akan mematikan lawannya itu! Lu Sun Pin yang berangasan dan keras hati, yang ilmu totoknya telah menjatuhkan banyak lawan semasa ia malang melintang dalam dunia perantauan, dan yang belum pernah bertempur sampai enampuluh jurus tanpa menjatuhkan lawan seperti sekarang ini, jadi sangat gemas dan marah.

Demikian juga Can Po Goan, melihat lawannya demikian tangguh, menjadi jengkel dan penasaran dan karena itu, maka keduanya terus bertempur dan makin lama makin sengit! Setelah menjelang jurus ketujuhpuluh dan mereka masih tetap sama-sama tangguh, maka mereka maklum bahwa sukarlah merobohkan lawan tanpa memberi pukulan yang mematikan dan yang berbahaya.

Kini mereka menyadari bahwa pertandingan pibu ini bukanlah pengukuran tenaga dan kepandaian masing-masing lagi akan tetapi lebih tepat disebut pertempuran mati-matian yang dikendalikan oleh nafsu ingin membunuh lawan! Mereka merasa sudah kepalang untuk mundur, karena siapa yang mundur berarti mengaku kalah dan hal ini sama sekali tidak dikehendaki oleh dua orang guru silat yang sedang membela nama dan kehormatan masing-masing itu.

Apalagi bagi Si Pagoda Besi Lu Sun Pin, setelah dua orang muridnya berturut-turut kalah dalam babak pertama dan kedua tadi maka dalam babak terakhir ini. Ia ingin menebus kekalahan- kekalahan muridnya, karena kalau dalam pertandingan ini ia berhasil mengalahkan Can kauw-su si guru silat tua itu, maka kekalahan murid-muridnya dapat ditutup dan ia takkan malu mempunyai bu-koan yang namakannya nomor wahid di Tong- koan.

Sedangkan Can Po Goan sendiri, biarpun sejak semula hatinya sangat bertentangan dengan adanya pibu ini, kini ia bertempur mati-matian, bukan untuk mencari nama, bukan karena ingin menjadi ketua Pauw-an-tui dan mendapat gelar kehormatan Tong- koan Hohan, melainkan ia berjuang guna menjaga nama dan kehormatan semata. Supaya dirinya tidak dipandang rendah oleh lawan dan kalau dalam pibu ini ia keluar sebagai pemenang, maka nama rumah perguruan yang diasuhnya, — yang mengalami kesuraman bagaikan sinar bulan yang menyuram dan lenyap dikalahkan oleh sinar matahari berupa Tong-koan Te-it Bu-koan yang baru muncul itu akan menjadi terang dan gemilang kembali!

Yah, hanya untuk inilah Can Po Goan bertempur. Bukan untuk mencari nama, karena segala kedudukan dan gelar kosong itu baginya yang sudah berumur setua itu sama sekali tidak berarti! Pertempuran sudah memasuki jurus kesembilanpuluh dan pada suatu saat, Can Po Goan dapat “mencuri” suatu kesempatan baik dan berhasil mengirimkan pukulan dengan kepalan saktinya yang dilakukan dengan sepenuh tenaga dalam gerak tipu Pay-in-cut-sui atau Mendorong Awan Keluar Puncak! Pukulan kali ini benar-benar tidak keburu ditangkis atau dikelit oleh Lu Sun Pin dan ia hanya dapat mengerahkan segenap tenaga khi-kangnya ke bagian dada!

“Dukk!!” Demikian suara yang terdengar ketika kepalan, yang berlweekang dahsyat menghantam dada yang berkhi-kang tinggi itu! Can Po Goan yakin bahwa dengan pukulannya ini, lawannya akan terpental jauh dan nyawanya akan sukar ditolong lagi! Akan tetapi kenyataannya……? Benar-benar guru silat tua ini menjadi kaget dan kagum.

Lu Sun Pin si Pagoda Besi itu benar-benar memiliki kekuatan tubuh seperti pagoda besi karena setelah dadanya yang sama sekali tanpa penjagaan itu dibentur oleh kepalan yang dilepas oleh Can kauw-su dengan sepenuh tenaga dan yang mematikan. Ia sama sekali tidak terpental maupun jatuh seperti yang diduga oleh guru silat she Can tadi. Melainkan ia hanya terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan setelah itu kelihatan limbung sesaat, tiba- tiba ia melompat maju lagi biarpun kini wajahnya meringis-ringis. Benar-benar Can kauw-su merasa kaget dan kagum melihat kekuatan dan kegagahan lawannya ini, dan disamping itu iapun sangsi. Apakah benar-benar lawannya demikian kuat sehingga dapat bertahan terhadap pukulannya yang sedikitnya bertenaga seratus kati ini tanpa terguling roboh? Ataukah tenaga kepalannya sendiri yang sudah berkurang karena umurnya yang makin tua ini?

Akan tetapi Can kauw-su tak sempat berpikir terus. Oleh karena sambil meringis-ringis itu dan setelah melompat maju mendekati, tiba-tiba dan dengan kecepatan kilat dan sambil menggereng seperti harimau terluka, Lu Sun Pin menyerang hebat dengan tangan kanannya.

Karena serangan ini datangnya cepat sekali, maka dengan tak kalah cepatnya, Can Po Goan menggerakkan tangan kanannya yang tadi digunakan untuk memukul itu, ke atas dan menangkis serta mencengkeram tangan lawan itu. Ternyata maksudnya pun sama dengan maksud si Pagoda Besi yang merobah pukulannya itu dengan sebuah cengkeraman serupa Eng-jiauw-kang (pukulan cakar garuda)!

Maka secara tepat dan cepat sekali kedua, tangan kanan mereka saling mencengkeram dan saling memegang hingga jari-jari tangan mereka saling menggenggam. Karena gerakan ini dilakukan berbareng, maka kini mereka tak dapat melepaskan tangan lagi dan ke duanya mengerahkan tenaga lweekang untuk menjatuhkan lawan!

Tubuh mereka diam bagaikan patung, tangan kiri diacungkan ke atas guna mengimbangi tenaga dan ke dua mata mereka yang seakan-akan mengeluarkan cahaya api, saling memandang dengan tak berkedip! Kedua orang ini seperti sedang berpanco sambil berdiri menunggu siapa yang menjerit lebih dulu karena jari- jari dan telapak tangannya diremas oleh tangan yang ber lweekang lebih tinggi!

Sungguh tegang dan mengkhawatirkan sekali keadaannya kedua orang ahli silat tinggi yang sedang mengadu kepandaian dan lweekang ini, sehingga semua orang yang melihatnya menahan napas. Memang sukar bagi kedua pihak untuk mundur lagi, karena kalau mengalah sedikit saja selain jari-jari dan telapak tangan mereka akan hancur, bahkan akan menderita luka dalam yang berbahaya!

Tiba-tiba Cio Wan-gwe melompat ke atas panggung, sambil mengucapkan, “Maaf!” Ia berdiri ditengah-tengah dua jago yang bertempur itu dan tahu-tahu Lu Sun Pin dan Can Po Goan terhuyung mundur seperti ditolak oleh suatu tenaga besar! Orang-orang yang melihat perbuatan Cio wan-gwe ini kaget dan tercengang. Kaget karena keberaniannya menghampiri dan memisah dua jago yang sedang bertempur mati-matian dan tercengang karena mereka selama mengenal Cio wan-gwe, baru kali ini mereka menyaksikan bahwa hartawan itu ternyata pandai ilmu silat!

Memang, selama menjadi penduduk kota Tong-koan, Cio wan-gwe baru kali ini memperlihatkan bahwa dirinya memiliki ilmu silat. Hal ini agaknya dilakukannya tanpa disadarinya atau mungkin karena terpaksa sebab ke dua jago silat itu kalau tidak dapat dilerai, niscaya salah seorang akan celaka dan hal ini bertentangan dengan maksud pibu.

Ketika ia melompat ke atas panggung, orang hanya melihat bayangan berkelebat di antara ke dua orang yang bertanding itu dan gerakan tangannya cepat sekali tatkala ia memisahkan, sehingga tidak terlihat oleh para penonton!

Sebenarnya, dengan mempergunakan ilmu totok yang tinggi, Cio wan-gwe telah melakukan penotokan dengan tangan kanan dan kirinya ke pergelangan tangan masing-masing dan setelah itu, ke dua lengannya mendorong tubuh yang bertempur itu ke belakang. Baik Lu Sun Pin, maupun Can Po Goan ketika pergelangan mereka ditotok merasa tenaga mereka lenyap dan tangan mereka yang saling genggam dan saling cengkeram itu lumpuh tak bertenaga, maka mudah saja mereka dipisahkan oleh Cio wan-gwe dan didorong ke belakang hingga genggaman masing-masing terlepas.

“Maafkan kelancanganku mengetengahi dan memisahkan perkelahian kalian ini. karena kulihat pertempuran kalian tidak bersifat pibu, akan tetapi seperti dua harimau yang hendak saling membunuh! Sedangkan sebenarnya, seorang di antara kalian ini harus berlaku jujur dan mengaku kalah!” demikian kata Cio wan- gwe terhadap kedua jago yang baru dipisahkannya itu.

Can Po Goan melihat kepada hartawan dengan sinar mata heran karena guru silat tua pun merasa tercengang akan kepandaian si hartawan yang baru kali ini dilihatnya. Dulu ia menyangka, seperti juga sangkaan orang-orang lain, bahwa si hartawan itu tidak mengerti ilmu silat. Diam-diam Can Po Goan merasa kagum dan maklumlah ia bahwa Cio wan-gwe selama ini sengaja menyembunyikan kepandaiannya.

Adapun Lu Sun Pin ketika itu, tiba-tiba menjura kepada Can kauw- su dan berkata dengan suara seperti orang yang menahan rasa sakit: “Can kauw-su, kau benar-benar lihay dan aku Lu Sun Pin secara jujur mengaku kalah!”

Kemudian tanpa menanti jawaban, dengan wajah meringis ia melompat turun ke bawah panggung, akan tetapi sebelum tiba di tempat duduknya, ia memuntahkan darah merah dan roboh pingsan. Para muridnya bukan main kagetnya, mereka serempak menghampirinya dan menolong guru mereka yang ternyata sudah dikalahkan oleh Can kauw-su ini!

Cio wan-gwe pun terkejut melihat betapa Lu Sun Pin muntah darah, maka ia cepat berseru kepada murid-murid kawannya itu, “Cepat bawa ke dalam, ke kamar obat dan beri tiga butir kim-tan (obat)!”

Tubuh Lu Sun Pin lalu digotong oleh para muridnya dan dibawa ke dalam rumah gedung Cio wan-gwe di bagian kamar obat-obatan dengan Cio Swi Ho, putera tunggal Cio Wan-gwe sebagai petunjuk jalan dan juga yang mengambilkan obat dari lemari tempat obat.

Benar-benar obat kim-tan itu sangat mujarab. Sesaat kemudian setelah tiga butir kim-tan itu dimasukkan ke dalam mulut dan dibantu dengan semangkok air sehingga tertelan, maka Lu Sun Pin siuman dari pingsannya. Wajahnya yang tadi pucat dan agak biru, kini berangsur-angsur segar kembali.

“Suhu, agaknya suhu mendapat luka dalam. Dan atas kekalahan suhu ini, perkenankanlah teecu membuat perhitungan terhadap si guru tua itu.” Kata-kata ini diucapkan oleh Sim Kang Bu, murid kepala dari Lu Sun Pin yang berwatak kasar dan yang marasa malu dan panas hati sekali setelah ternyata dalam pibu itu pihaknya kalah semua.

Akan tetapi alangkah tercengang dan kecewa hati Sim Kang Bu dan juga sebagian para suteenya ketika mendengar suhunya menyahut sambil membentak marah.

“Diam kau! Kau jangan membuat gara-gara dan hendak memperpanjang lagi permusuhan yang tiada artinya itu. Dengarlah, permusuhan ini sudah kita habisi melalui pibu yang adil dan jujur, sehingga luka atau tewas sudah sewajarnya dan tak perlu dibuat malu dan panas hati!

“Maka, mulai sekarang, setelah aku dikalahkan oleh Can kauw-su, aku harus mengakui bahwa kepandaian Can kauw-su jauh tinggi daripada kepandaianku dan karena ini, aku harus menerima kekalahan ini dengan rela. Aku peringatkan kepadamu, Kang Bu dan juga kepada kalian, murid-muridku semuanya, jangan menaruh dendam dan rasa penasaran terhadap pihak Can kauw- su, supaya peristiwa seperti yang sudah-sudah, jangan sampai terulang lagi!”

Setelah berkata demikian, Lu Sun Pin bangkit dan berjalan menuju panggung lui-tay 1alu duduk pula di kursinya yang tadi, diikuti oleh para muridnya yang diam-diam merasa heran akan sikap guru mereka yang di luar kebiasaan ini. Mereka pun memuji bahwa guru mereka benar-benar seorang yang berhati jujur dan berjiwa gagah, dapat menerima kekalahan dengan hati puas dan bahkan melarang mereka menyimpan dendam maupun hati penasaran!

Ketika itu, Cio wan-gwe masih berdiri di atas panggung dan ketika melihat Lu Sun Pin sudah hadir pula di tempatnya dalam keadaan segar bugar berkat kemanjuran kim-tannya, maka ia mengangguk sambil tersenyum dan berkata:

“Lu-tee (adik Lu), kau sudah baik?”

Lu Sun Pin hanya tersenyum sambil mengangguk dan Cio wan- gwe yang agaknya maklum akan jawaban sambil membisu ini, berkata pula: “Syukurlah dan tadi, selagi kau berada di dalam, telah kuumumkan bahwa pertandingan antara kau dengan Can kauw-su telah dimenangkan oleh Can kauw-su. Bagaimana, kau setuju?”

Sambil tetap tersenyum, Lu Sun Pin kembali mengangguk dan kemudian mata jago silat yang sudah mengakui kekalahannya sendiri ini dipandangkan ke arah Can Po Goan, yang ketika itu sedang duduk bersila, dikursinya. Ternyata guru silat she Can itu setelah melihat lawannya tadi digotong ke dalam rumah Cio wan- gwe dan mendengar dirinya dinyatakan menang, ia menjura kepada hartawan itu sambil mengucapkan terima kasih dan kemudian menjura kepada para penonton yang bersorak riuh rendah menyambut kemenangannya.

Akhirnya ia turun dari panggung dan duduk bersila dikursinya, kedua matanya dipejamkan dan kedua lengannya diletakkan di atas pangkuannya. Dalam keadaan begini ia mengatur napas untuk memulihkan kembali tenaganya yang telah banyak dikerahkan.

Selama Can kauw-su beristirahat, Cio wan-gwe tinggal berdiri di atas panggung dan kadang-kadang berjalan mondar mandir sambil mendengarkan riuh dan ramainya pembicaraan para penonton yang umumnya memuji kegagahan Can kauw-su. Kemudian setelah dilihatnya Lu Sun Pin keluar lagi dalam keadaan tidak kurang suatu apa dan dilihatnya pula Can Po Goan masih duduk bersamadi, sedangkan suara para penonton yang berisik itu kini sudah berkurang, maka Cio wan-gwe lalu menghadap ke arah para penonton dan berkata lantang:

“Saudara-saudara sekalian yang terhormat! Seperti sudah kami katakan tadi, bahwa apabila pertandingan babak ketiga selesai, akan diadakan acara bebas, yakni memberi kesempatan kepada orang gagah untuk turut serta dalam sayembara ini.

“Pibu bebas boleh diikuti oleh setiap orang dan harus ingat, asal saja yang menjadi penduduk wilayah kota Tong-koan. Untuk mempersingkat waktu kami beri ketentuan sebagai berikut:

“Barang siapa yang berhasil memperoleh kemenangan sampai tiga kali maka ia diwajibkan bertanding dengan pemenang dari babak ketiga tadi, yakni Can Po Goan sianseng. Kemudian, pemenangnya nanti bila benar-benar tidak ada yang mengajukan diri lagi untuk mencoba-coba, maka dengan secara mutlak dialah yang berhak menjadi pang-cu Pauw-an-tui dan mendapat gelar kehormatan Tong-koan Hohan atau Pahlawan gagah kota Tong- koan yang dalam arti kata benar gagah dan tanpa tandingan di daerah Tong-koan ini! Maka sekarang, kami persilahkan peserta atau dapat juga disebut sebagai penantang pertama, naik ke panggung!”

Setelah ditunggu sesaat, tiba-tiba terdengarlah suara gelak tertawa dibarengi berkelebatnya bayangan hitam dan tahu-tahu seorang laki-laki yang wajahnya menyeramkan, matanya yang besar seperti mata ba-rong-say dan cambang bauknya yang tumbuh seperti rumput-rumput liar di hutan. Pakaian juga hitam, dan serangka golok yang tergantung di pinggangnya pun berwarna gelap pula, telah berdiri di atas panggung dan berhadapan dengan Cio wan-gwe, ia masih tertawa berkakakan!

“Ha, ha, ha! Akulah penantang pertama. Siapa yang hendak berolahraga denganku dan coba-coba mengadu kepunsuan untuk menjadi ketua Pauw-an-tui dan menjadi Tong-koan Ho-han, hayo, naiklah!” demikian kata orang itu sambil bertolak pinggang menghadap kepada para penonton dan matanya yang menakutkan itu bergilar-gilar ke sana ke mari seakan-akan mencari lawan yang ditantangnya.

Semua orang, yaitu para penonton, Cio wan-gwe, Lu Sun Pin dan Can Po Goan, bukan main terkejutnya karena mereka umumnya sudah mengenal bahwa orang itu adalah Ji Tay-ong (Raja Kedua) atau wakil kepala dari gerombolan perampok, yang bernama Ciam Tang berjuluk Srigala Hitam, yang sering memimpin anak buahnya melakukan “operasi” di kota Tong-koan selama ini.

Seperti diketahui, gerombolan perampok yang bersarang di hutan sebelah selatan dari kota Tong-koan dipimpin oleh Si Cakar Harimau (Houw-jiauw) Lo Ban Kui. Adapun Si Srigala Hitam ini adalah tangan kanannya atau selaku wakil yang setiap kali melakukan “gerakan operasi” selalu turun gunung memimpin anak buahnya, sehingga wajah yang menyeramkan dari si Srigala Hitam ini sudah dikenal oleh sebagian besar penduduk daerah Tong- koan, yaitu mereka yang pernah disatroni dan dimintai “sokongan” dengan paksa!

Hari itu agaknya Cim Tang kebetulan melihat pertandingan pibu tersebut, maka ketika diadakan acara pertandingan bebas, ia sengaja naik ke panggung dan sesumbar karena ia yakin, bahwa semua orang yang sudah mengenalnya pasti takut atau sedikitnya tidak berani “main-main” dengannya.

Seperti diketahui, pibu itu diselenggarakan untuk membentuk dan memilih ketua barisan keamanan yang pada hakekatnya guna mengganyang gerombolan perampok dan gerombolan bajak sungai. Maka ketika semua orang melihat Ciam Tang si wakil kepala garong itu naik panggung dan sesumbar, mereka terkejut karena kehadiran orang ini benar-benar diluar keinginan mereka. Ciam Tang adalah musuh rakyat, karena terkenal kekejaman dan kebiadabannya.

Namun kini ia berani terang-terangan muncul di atas lui-tay yang justeru tengah mengadakan pemilihan ketua untuk memimpin sebuah organisasi guna mengganyangnya. Hal ini membuktikan betapa besar nyalinya si Srigala Hitam itu!

“Eh, sahabat! Bukankah kau ini wakil kepala garong yang bergelar si Srigala Hitam?” demikian tegur Cio wan-gwe dengan dada berdebar-debar, bukan karena merasa takut, akan tetapi karena sangat marah melihat kekurang ajaran orang itu yang terang- terangan menghinanya.

Ciam Tang menghentikan suara ketawanya dan sambil tetap bertolak pinggang, ia menoleh tanpa menghadap, tatkala memberi penyahutan: “Tak salah, tuan Cio yang terhormat dan kaya raya. Aku merasa beruntung sekali berkesempatan mengikuti sayembara pibu ini dan barangkali saja aku bisa menjadi ketua Pauw-an-tui…… Ha, ha, ha!”

Sudah sikapnya menghina, kini jawabannya pun sangat menghina pula, maka Cio Wan-gwe yang biasa menerima penghormatan dan sanjungan dari orang, bukan main murkanya sehingga ia membentak: “Bedebah! Siapa yang memberi kau izin mencampuri urusanku ini?”

“Hahaha! Aduh galaknya tuan Cio ini kalau siang hari dan dihadapan orang banyak, tapi kalau setiap kali aku bertamu ke rumahmu, mengapa badanmu menggigil seperti orang diserang penyakit demam mendadak……?

“Eh, tuan Cio, kau bertanya bahwa siapa yang memberi izin aku turut serta dalam pibu ini? Lupakah bahwa kau tadi menyerukan bahwa setiap penduduk dalam daerah Tong-koan, berhak menjadi pang-cu dan Tong-koan Hohan melalui sayembara yang kau selenggarakan ini. Karena akupun penduduk daerah Tong-koan, maka aku pun berhak memperebutkan kedudukan pang-cu dan gelar kehormatan yang hebat itu! Ha, ha, ha…….!”

Kemarahan Cio wan-gwe sudah sampai dipuncaknya dan hartawan ini segera membuka jubah luarnya yang merah itu yang lalu dilemparkan ke bawah panggung dan ditanggap oleh puteranya, Cio Swi Ho yang kebetulan waktu itu sedang berdiri di bawah panggung! Ternyata setelah baju luarnya ditanggalkan, tampaklah pakaian hartawan itu serba ringkas yaitu pakaian seorang ahli silat. Dan sambil bertolak pinggang, ia melampiaskan hawa amarahnya:

“Manusia iblis! Kau dan kawan-kawanmu adalah musuh kami, maka kau tidak berhak menyertai lomba yuda ini dan sebelum kau kuusir, kuminta dengan hormat supaya kau turun panggung!”

Si Srigala Hitam yang bengis itu kembali ketawa bergelak. “Ha, ha, ha! Cio wan-gwe, kenapa kau melanggar peraturan yang kau keluarkan sendiri? Bukankah tadi telah kau katakan bahwa setiap orang penduduk Tong-koan boleh turut serta dalam lomba yuda tanpa pengecualian?!

“Kalau sejak tadi kau terangkan bahwa dalam hal ini ada pengecualian, yakni tegasnya aku dan orang-orang dari golongan kami tidak diperbolehkan, sudah tentu akupun tidak sudi naik panggung sandiwara badut ini! Namun, sekarang, setelah aku berdiri di atas lui-tay ini, tidak nanti aku mau turun begitu saja dan agaknya kau sendiri hendak mengusirku? Boleh, cobalah……! Ha, ha, ha!”

Saking marahnya terhadap orang yang terang-terangan datang dengan membawa maksud tidak baik itu, Cio wan-gwe tidak berkata pula. Melainkan dengan sebat ia mengirim tendangan kilat ke arah selangkangan Ciam Tang sambil berseru:

“Enyahlah!!”

Kini secara terang-terangan Cio wan-gwe memperlihatkan bahwa ia sebenarnya memiliki kepandaian silat dan tingkat kepandaiannya memang lebih tinggi setingkat dari Lu Sun Pin. Akan tetapi mengapa selama ini ia menyembunyikan kepandaiannya itu, adalah sebuah rahasia yang menarik dan akan diceritakan kemudian.

Tendangan yang dilakukan olehnya itu adalah semacam ilmu tendang yang lihay dan berbahaya dari cabang Bu-tong yang disebut Lian-hoan-twi. Tendangan ini dilakukan sambil melompat dan gerakan kedua kakinya secara berantai.

Tendangan pertama yang dilakukan oleh Cio wan-gwe sambil berseru, “Enyahlah!” tadi, merupakan gerakan kilat yang dilancarkan oleh kaki kiri dengan lutut ditekuk, dan segera dengan gerakan kilat pula disusul oleh samberan kaki kanan dan terus ke dua kaki bergantian dan berulang-ulang melakukan tendangan bertubi-tubi ditujukan ke arah anggauta berbahaya si Srigala Hitam itu. Inilah serangan pertama yang berbahaya dan sekali saja tendangan ini mengenai sasaran, jiwa yang diserang sukar ditolong lagi! Dilihat dari gerak tendangan Lian-hoan-twi ini, maka jelaslah bahwa ilmu silat yang dimiliki oleh Cio Wan-gwe adalah sama dengan Lu Sun Pin, yaitu dari cabang Bu-tong!

Terdengar kembali suara yang bergelak-gelak dari Ciam Tang ketika menghadapi tendangan Cio Wan-gwe itu, “Ha, ha, ha! Tendangan Kudamu sungguh hebat, Cio Wan-gwe,” katanya sambil tiba-tiba ia merendahkan diri setengah berjongkok dan ketika tendangan kaki si hartawan itu melayang ke arah mukanya, Ciam Tang segera mengulurkan kedua tangannya dan secara tepat sekali ia menangkap kaki Cio wan-gwe itu.

“Celaka……!” demikian terdengar Cio wan-gwe berseru karena sama sekali tidak menduga bahwa Ciam Tang akan menerima tendangannya secara demikian rupa, bukan berkelit atau balas menyerang, akan tetapi justeru menangkap kakinya!

Dan sebelum Cio Wan-gwe sempat melakukan gerakan lain dan dapat menguasai keseimbangan badan karena sebelah kakinya ditangkap itu, tiba-tiba terdengar Ciam Tang berseru keras dan ternyata orang ini setelah menangkap kaki yang menendang itu lalu berdiri dan mendorongnya sekuat tenaga ke depan hingga Cio wan-gwe tidak ampun lagi terlempar ke bawah panggung. Cio wan- gwe sudah memiliki gin-kang tinggi dan ketika tubuhnya dilontarkan, ia membuat salto di udara, sehingga ketika jatuh di bawah panggung, ia dalam keadaan berdiri!

Bukan main kagetnya semua orang, apalagi Cio wan-gwe sendiri, karena hanya dalam segebrakan saja ia dilemparkan oleh Ciam Tang ke bawah panggung. Suatu bukti yang nyata bahwa si Srigala Hitam itu berkepandaian sangat tinggi!

Biarpun Cio wan-gwe tidak mendapat celaka, namun terlempar ke bawah panggung berarti bahwa ia sudah dikalahkan oleh lawan maka sungguhpun hatinya sangat marah sekali, akan tetapi ia tidak ada muka untuk naik ke atas lui-tay lagi. Hanya dengan wajah pucat ia memandang Ciam Tang dengan rasa kaget, marah dan juga kagum akan kelihayan lawan!

“Ha, ha, ha! Lawanku yang pertama sudah kuterbangkan ke bawah panggung! Hayo, siapa yang hendak menjadi lawanku yang kedua, naiklah……!” Ciam Tang sesumbar dan menantang, lagaknya amat menyebalkan, akan tetapi wajahnya yang bengis itu sungguh menakutkan. Tiba-tiba tampak seorang pemuda melompat ke atas panggung, tangannya memegang pedang dan berseru: “Eh, manusia biadab, akulah lawanmu dalam babak kedua ini!”

Ciam Tang memandang pemuda ini dan setelah ketawa pula, berkata: “Oh, kiranya yang muncul wan-gwe muda atau Cio Swi Ho kongcu yang ketika tempo hari aku datang ke rumahmu meminta derma, kencing di celana?!”

Benarlah pemuda itu adalah putera Cio wan-gwe. Dan meskipun maklum bahwa ia bukan tandingan Ciam Tang, namun karena melihat ayahnya dikalahkan hanya dalam segebrakan saja, maka pemuda ini telah melupakan kepandaian sendiri, yang masih rendah saking marahnya, dan tanpa memperdulikan cegahan ayahnya, ia melompat ke atas panggung sambil tangan membawa pedang!

Pada suatu kali rumahnya didatangi Ciam Tang dan kamrat- kamratnya melakukan penggarongan, pemuda ini sangat ketakutan sekali sehingga kaki tangannya menggigil hebat dan celananya basah karena tanpa dirasa lagi, ia telah ngompol…..! Maka ketika soal ngompol itu dikatakan oleh Ciam Tang di muka umum, Cio Swi Ho merasa amat malu dan marah, maka tanpa banyak cakap lagi ia maju menubruk sambil menyabetkan pedangnya ke arah leher Ciam Tang.

“Ha, ha! Ayahnya harimau anaknya harimau pula, biarpun harimau yang masih sangat muda dan belum bergigi dan tumbuh kukunya, tapi nyata lagaknya ganas benar!” Ciam Tang mengejek dan dengan tenang tapi amat cepat, ia miringkan tubuhnya dan ketika tangan kirinya bergerak, ia telah menepuk pergelangan tangan pemuda itu yang memegang pedang hingga pedang tersebut terlepas dan lalu ditangkap oleh Ciam Tang yang mempergunakan tangan kanannya.

Cio Swi Ho merasa betapa tangannya menjadi kaku karena tepukan perlahan itu dan tahu-tahu pedangnya telah berpindah tangan, maka maklumlah kalau Ciam Tang, mau dalam seketika juga akan dibalas dengan serangan sambil mempergunakan pedang rampasan itu. Ia melangkah mundur dengan kaget dan tanpa melihat lagi kepada lawan, ia segera melompat turun dengan wajah merah karena jengah dan lengan kanan dalam keadaan setengah lumpuh!

“Ha, ha, ha! Segala macam cacing pisang, mana bisa bermain- main denganku!” kata Ciam Tang dan tiba-tiba terdengar suara “pletakk!” ternyata pedang yang dirampas tadi telah dipatahkan menjadi dua potong dan yang hebat sekali, ia mematahkan pedang itu hanya dengan menggunakan tekanan jari telunjuk dan ibu jari saja.

Hal ini membuktikan bahwa Ciam Tang memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi! Ia lemparkan potongan pedang ini ke tempat kosong di belakang panggung. sambil ketawa besar dan nyaring.

“Mana lawanku yang ketiga?” katanya dan matanya yang bergilar liar itu melirik ke arah Can Po Goan.

Can Po Goan yang ketika itu sudah pulih kembali tenaga dan semangatnya, maklum bahwa si Srigala Hitam itu sudah menantangnya. Seperti sudah diterangkan, bahwa guru silat tua ini tidak mempunyai maksud untuk merebut kedudukan ketua Pauw- an-tui. Setelah mengalahkan Lu Sun Pin ia sudah merasa cukup puas dan apabila dari pertandingan acara bebas yang menyusul ini keluar seorang gagah dan bertanding dengannya, ia sengaja akan mengalah!

Akan tetapi, kenyataannya kini yang selalu menang dari lomba yuda bebas ini adalah seorang yang justeru menjadi musuh rakyat dan kalau ia tidak dapat menjatuhkan orang ini pasti komplotan garong akan lebih kurangajar lagi. Dia berdiam diri lagi sesaat lamanya sambil menanti kalau-kalau ada orang lain yang akan menghadapi si Srigala Hitam itu.

Tetapi ternyata tiada orang yang muncul ke atas lui-tay berarti tiada orang yang berani bertanding dengan wakil kepala perampok yang sudah diketahui kelihayannya ini, sedangkan sementara itu si Srigala Hitam sudah berkali-kali melirik kepadanya yang dimakluminya sebagai tantangan. Guru silat tua ini beranjak dari tempat duduknya dan sekali saja tubuhnya bergerak, dalam sekejap ia sudah berada di atas panggung dan berhadapan dengan Ciam Tang yang menyambutnya dengan ketawa besar.

Ketika melihat Can kauw-su muncul, para penonton bersorak dengan gembira dan dari mereka terdengar seruan-seruan seperti: “Menanglah Can kauw-su! Bikin mampus si Srigala Hitam itu! Ganyanglah segala bentuk kaum pengacau!!!”

“Oh, kiranya yang naik ini adalah Can locianpwee?! Mengapa kau terburu-buru naik? Bukankah tuan panitia tadi menentukan bahwa peserta lomba yuda bebas ini harus menangkan perkelahian dulu sampai tiga kali, dan baru bertanding dengan Can locianpwee, padahal aku baru saja bertanding dua kali?!” Ciam Tang bertanya kepada Can kauw-su dengan sikap seperti orang yang sungguh-sungguh menghormat. Sedangkan wajahnya jelas sekali berseri-seri sombong.

“Sahabat she Ciam, kedatanganmu jelas sekali tidak membawa maksud baik bagi kami.” Can kauw-su menjawab dengan suara ketus karena merasa sebal akan sikap dan pembicaraan peserta lomba yuda yang tidak diharapkan ini.

“Aku mengerti bahwa kau baru saja mendapat kemenangan dua kali, akan tetapi karena untuk ketiga kalinya ini ternyata setelah kutunggu tiada orang yang muncul menghadapimu, maka terpaksalah aku si orang tua yang tak berguna ini coba-coba bermain-main denganmu untuk membuktikan siapa sebenarnya yang keluar menjadi juara dari pertandingan silat ini!”

“Bagus locianpwee! Biarpun sudah tua tapi ternyata kau masih bersemangat muda, maka aku yang rendah ini merasa berterima kasih sekali akan menerima pelajaran darimu. Nah, silahkan mulai, Can locianpwee!”

Hati Can kauw-su berdebar tegang karena melihat gerakan orang ini tadi sudah pasti ia berkepandaian sangat tinggi dan ia merasa bahwa tak mungkin dapat merobohkannya. Akan tetapi Can kauw- su bukan seorang pengecut, betapapun juga ia akan mengandalkan kepandaian yang dimilikinya dan berusaha merobohkan lawan yang sudah nyata sekali ketangguhannya itu, demi kebaikan nama dan kehormatannya dan demi kepentingan Pauw-an-tui!

“Tidak! Kau lebih muda dariku dan juga karena kau sebagai penantang, maka sepantasnya kaulah yang maju lebih dulu!” balas Can kauw-su sambil memasang kuda-kuda yang teguh.

Menyuruh lawan maju dan ia sendiri menanti, ini adalah tata cara yang sopan dalam pibu maupun dalam saat memulai perkelahian. Memberi kesempatan kepada lawan untuk bergerak lebih dulu dianggap kelakuan sopan dan penghormatan, karena pada umumnya di kalangan persilatan, yang menyerang lebih dulu dianggap telah menang setingkat atau boleh juga disebut menang set.

Akan tetapi bagi para yang sudah tinggi ilmu kepandaiannya, hal ini bahkan sebaliknya. Mereka tahu bahwa sikap yang terbaik ialah menanti lawan bergerak lebih dulu, oleh karena pihak yang diserang dapat berlaku lebih waspada dan hati-hati, dapat melihat permulaan gerakan lawan lebih dulu. Sehingga dengan demikian, ia dapat membuat perhitungan secara tepat betapa untuk menyambut serangan lawan itu, yaitu menangkis, mengelak dan kemudian dapat melancarkan serangan balasan yang lebih berbahaya karena sukar dijaga oleh si penyerang yang bergerak lebih dulu itu. Hal ini diketahui baik oleh Can kauw-su, ia selalu menyuruh pihak lawan membuka serangan lebih dulu.

Ciam Tang kembali ketawa bergelak ketika melihat guru silat tua itu sudah memasang kuda-kuda dan sambil tertawa-tawa mengejek ia melangkah dua tindak mendekati Can kauw-su serta mulai menyerang dengan pukulan tangan kanannya ke arah pelipis orang tua itu, sambil membentak, “Awas pukulan geledekku!”

Can Po Goan dapat merobah kedudukan kuda-kudanya dan merendahkan tubuh sambil mengangkat lengan kirinya menangkis dan tangan kanannya yang mempunyai kepalan sakti itu menyerang dengan sodokan ke arah perut Ciam Tang. Si Srigala Hitam berlaku sebat dan mengelak dari kepalan sakti pembawa maut itu dan kemudian ia menggunakan gerakan lain pula menyerang. Dan demikianlah, pada detik berikutnya ke dua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertempuran yang bukan sekadar mengukur kepandaian, akan tetapi lebih tepat disebut usaha pembunuhan!

Can kauw-su bergerak lincah berkat gin-kangnya yang tinggi, dengan semangat tuanya yang ulet dan dengan mengandalkan kepalan saktinya yang ampuh. Ia bertempur secara gigih sekali.

Sebaliknya Ciam Tang lebih hebat lagi. Setiap serangannya sangat ganas dan gerakannya lebih cepat daripada lawannya dan yang hebat lagi, sambil bertempur ia dapat terus ketawa-tawa!

Ternyata pertempuran ini tidak berlangsung lama, oleh karena ketika menjelang jurus kelimabelas, Can Po Goan sudah mulai terdesak hebat dan sungguhpun guru silat ini sudah mengerahkan seluruh kepandaian simpanannya dalam pertarungan yang sebentar itu, akan tetapi kenyataannya ia harus mengakui bahwa wakil kepala perampok itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi! Gerakan-gerakannya demikian cepat dan sukar diduga dan pula sangat ganas sekali.

Can kauw-su maklum, bahwa selain ia kalah napas karena ia sudah bertempur dengan Lu Sun Pin tadi sehingga membuatnya cepat lelah, juga tingkat lweekangnya kalah jauh oleh lawannya. Sudah beberapa kali ia mencoba mengukur tenaga dalam, dan kenyataannya ia selalu terpental dan terhuyung-huyung!

Dalam pertempuran itu ternyata Ciam Tang lebih banyak menggunakan totokan-totokan yang sangat hebat hingga ilmu weduk yang dimiliki Can kauw-su seakan-akan lenyap daya tahannya. Biarpun Can kauw-su seorang ahli silat tinggi dan sudah banyak pengalaman, akan tetapi menghadapi ilmu silat dan totokan dari si Srigala Hitam ini benar-benar ia merasa kewalahan dan ia tidak tahu ilmu silat lawannya itu dari cabang mana!

Tiga jari Ciam Tang itu, yakni telunjuk, jari tengah dan jari manisnya, baik dari tangan kanan maupun kiri, biarpun tidak runcing akan tetapi dapat menembus kulit dan daging. Dan celakalah Can kauw-su kalau sampai terkena secara telak oleh totokan yang dapat menembus dinding bata dengan sekali tusuk itu.

Apalagi Ciam Tang berhati kejam dan ganas sekali. Terbukti dari serangan-serangannya yang selalu ditujukan ke bagian-bagian yang berbahaya dari tubuh lawannya, yakni jari tangan yang kuat itu ditusukkan secara bertubi-tubi ke arah leher, lambung, perut, mata dan pusar secara sambung menyambung sehingga Can kauw-su menjadi sibuk sekali menangkis, mengelak dan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas.

Dan diam-diam orang tua ini hatinya mengeluh karena segala ilmu kepandaian yang dimilikinya ternyata sama sekali tidak berdaya menghadapi kelihayan Ciam Tang! Biarpun Can kauw-su sudah kewalahan dan napasnya sudah terempas-empis dan ia terus terdesak mundur, akan tetapi ia masih belum menerima kalah. Juga tidak ada kesempatan untuk mengaku kalah, karena Ciam Tang sambil tertawa-tawa mengejek terus mendesak dengan serangan-serangan maut!

Akhirnya detik-detik yang sangat berbahaya bagi Can kauw-su tibalah, yaitu ketika tusukan jari tangan dari Ciam Tang mengarah matanya. Can kauw-su cepat mengelit akan tetapi ternyata kelitan yang cepat ini masih kurang cepat karena jari-jari tangan si Srigala Hitam yang kuat itu telah menyerempet pipinya sehingga kulit pipi itu terobek-terobek dan darah merah segera memenuhi bagian pipi yang terluka dan terus ngucur ke dagunya!

Can kauw-su terhuyung-huyung karena selain pipinya dirasakan sakit dan perih. Juga totokan itu agaknya dikerahkan dengan tenaga dalam yang dahsyat sehingga membuat kepalanya menjadi pening dan pandangan matanya berkunang-kunang! Akan tetapi Ciam Tang tidak mau berhenti dan terus maju menyerang dengan tusukan jari tangan kanannya ke arah uluhati yang tentu akan mendatangkan maut apabila terkena. Can kauw- su cepat menjatuhkan dirinya untuk mengelak dari serangan maut ini, akan tetapi pada saat itu, kaki kanan Ciam Tang menyamber sehingga tubuh guru silat tua ini terguling di atas panggung.

Untung tendangan itu hanya mengenai pahanya, dan ia melihat Ciam Tang maju mengejar dan hendak menendangnya pula, maka cepat Can kauw-su mengadakan pembelaan diri. Ia bergulingan dengan gerakan Naga bermain-main dengan mustika. Tubuhnya bergulingan dengan cepat di atas papan panggung sehingga sepakan-sepakan kaki Ciam Tang beberapa kali dapat dielakkan.

Akan tetapi Ciam Tang benar-benar kejam, sepatunya yang bersol besi itu terus dilayangkan dan pada suatu saat, sambil tertawa- tawa besar ia hendak mengirim tendangan yang terakhir, yaitu hendak membuat tubuh Can kauw-su ditendangnya sampai terlempar ke bawah panggung! Dan benar-benar, jiwa Can Po Goan terancam hebat, karena tendangan itu ditujukan ke arah lambungnya!

Para penonton menahan napas, bahkan ada yang berteriak karena mengkhawatirkan keselamatan Can kauw-su! Akan tetapi tiba-tiba Ciam Tang mengerang dan kakinya yang ditendangkan itu sebelum mengenakan sasaran ditarik kembali. Sambil menggigit bibir menahan sakit, ia melihat ke arah sepatunya dan ia melihat bahwa sepatunya berlubang dan kakinya luka, biarpun hanya luka kecil saja, akan tetapi mendatangkan rasa sakit bukan main! Dan tidak jauh dari kakinya, ia melihat sebutir batu kecil.

Ternyata tanpa diketahui oleh Ciam Tang dan semua orang, kakinya telah disambit orang dan karena batu itu kecil sekali, maka dapat menembus sepatu dan melukai kaki. Ciam Tang maklum bahwa si penyambit tentulah seorang yang berkepandaian tinggi.

Kesempatan itu digunakan oleh Can Po Goan untuk cepat-cepat melompat turun dari panggung.

Bukan main marahnya Ciam Tang. Mukanya yang menyeramkan menjadi merah bagaikan warna kepiting direbus dan matanya bergilar liar kepada para penonton.

“Bangsat keji yang curang!” ia memaki, “Orang yang menyambitku, naiklah untuk membuat perhitungan denganku!”

Semua orang merasa bersyukur karena Can kauw-su telah terhindar dari bahaya maut, akan tetapi sekarang Ciam Tang menjadi demikian marah. Karena mereka maklum bahwa si wakil kepala perampok itu bila sudah marah akan mengumbar kekejaman dan kebengisannya!

Dan semua orang merasa heran sekali, mengapa si bengis itu tiba- tiba menjadi marah?!

Sebagai sambutan pada makian Ciam Tang itu tiba-tiba dari bawah panggung, yaitu dari para penonton, tampak bayangan biru dengan gerakan gesit sekali seperti seekor burung walet. Dan tahu-tahu di depan Ciam Tang telah berdiri seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Pakaian yang dikenakannya berwarna biru langit dan pinggangnya diikat dengan tali pengikat semacam tali yang panjang dan agaknya terbuat dari benang sutera berwarna kuning emas. Topinya juga berwarna biru dihias ronce-ronce benang emas dan pemuda ini sambil tersenyum lebar berdiri di depan Ciam Tang yang memandangnya dengan mata terbelalak.

“Kaukah yang menyambitku dengan batu kerikil tadi?” tegur Ciam Tang sambil memandang tajam wajah tampan dari pemuda yang paling banyak berusia duapuluh tahun itu. “Tidak salah dan memang akulah yang menyambitmu, Ji-tay-ong!” jawab pemuda itu dan dengan wajahnya tetap berseri-seri berkata lagi: “Ji-tay-ong, tadi kau memakiku dengan menyebut bangsat keji yang curang, sebenarnya kekejian dan kecurangan manakah yang telah kulakukan terhadapmu?!”

Bukan main herannya hati para penonton mendengar ucapan pemuda yang luar biasa beraninya ini. Dan bukan main marahnya hati Ciam Tang melihat sikap dan mendengar ucapan si anak muda yang seakan-akan memandang rendah sekali kepadanya sehingga ia menggertakkan gigi menahan marah.

“Hm! Kau bocah cilik ini benar-benar bernyali besar! Caramu menyambit tadi bukankah sudah membuktikan perbuatan keji dan curang yang pantas dilakukan oleh seorang, pengecut?!”

“Kau bicara dan memaki orang menurut seenaknya goyangan lidahmu saja, Ji-tay-ong!” pemuda itu mengadakan bantahan sambil mengedikkan kepalanya dengan gaya penuh ejekan.

“Baru kau kusambit dengan sebuah kerikil saja kau telah memakiku curang, keji dan pengecut! Akan tetapi sebaliknya kau sendiri, yang sok mengepalai perampokan, pembunuhan, pembakaran, dan penculikan, dapatkah perbuatanmu itu disebut perbuatan gagah dan terhormat?!”

“Bangsat kecil, jagalah mulutmu karena kalau aku sudah marah, kepalamu bisa kuhancurkan!”

“Bangsat besar, jangan terlalu sombong, karena kalau aku sudah marah bisa membikin si Srigala hitam menjadi si Srigala buntung!”

Orang-orang yang berada di sekelilingnya mulai merasa gembira mendengar ucapan dan melihat sikap pemuda yang lucu dan berani itu. Dengan sikapnya yang lucu dan sama sekali tidak memperdulikan kemarahan orang yang diganda senyum-senyum mengejek saja itu, pemuda yang mereka belum kenal itu melenyapkan suasana tegang dan menimbulkan kegembiraan dalam hati para penonton.

Sungguhpun mereka sangat cemas akan keselamatan si pemuda mengingat kelihayan dan kekejaman si Srigala hitam Ciam Tang itu.

Selama menjadi wakil kepala perampok, belum pernah Ciam Tang dihina dan diperlakukan kurangajar oleh seorang bocah cilik seperti anak muda yang kini berdiri di hadapannya itu! “Kau siapakah maka berani benar kau berlaku kurang ajar terhadapku? Siapakah namamu?” bentak Ciam Tang dengan tangan terkepal karena menahan marahnya.

Pemuda baju biru itu tersenyum lucu dan menjawab sambil miringkan kepalanya dan memandang penuh ejekan:

“Kau ingin mengetahui namaku? Baiklah, aku bernama Souw Bun Liong dan sebagai penduduk daerah Tong-koan, maka aku berhak turut serta dalam sayembara pemilihan ketua Pauw-an-tui itu!

“Ketahuilah, ji-tay-ong, rakyat Tong-koan sudah bangkit semangatnya untuk mengganyang gerombolanmu dan aku selaku rakyat, terlebih dulu aku akan mengusirmu dari panggung ini, karena kedatanganmu ke sini dan turut sertanya kau dalam acara pibu ini sudah terang hanya mengandung maksud mengacau!”

“Bangsat kecil, rupanya kau mempunyai sedikit kepandaian hingga kau berani menjual kesombongan di depanku!” Biarpun sangat marah, akan tetapi karena memandang rendah terhadap pemuda itu, maka Ciam Tang masih dapat mengejek sambil tertawa.

“Garong tua! Memang aku mempunyai sedikit kepandaian, karena kalau tidak, sudah tentu takkan berani berdiri dihadapanmu lantaran melihat wajahmu yang seperti ba-rong-say dan kedua matamu yang besar seperti mata kerbau sudah cukup membuatku lari ketakutan!”

Para penonton ketawa riuh karena hati mereka merasa gembira sekali mendengar sindiran si pemuda yang sangat berani dan tepat itu. Akan tetapi suara ketawa mereka serempak terhenti ketika tiba- tiba terdengar bentakan yang nyaring sekali dari Ciam Tang:

“Bocah gila! Agaknya benar-benar kau sudah bosan hidup!” bentakan ini disusul oleh tangannya yang mengirim serangan kilat.

Souw Bun Liong ketawa mengejek dan tangannya bergerak menangkis. Kemudian dengan tangannya yang sebelah lagi ia balas menyerang tanpa merobah kedudukan kakinya yang berdiri tetap pada tempatnya yang tadi.

Si Srigala Hitam terus melancarkan serangan-serangan dengan jari-jari tangannya dan seperti tadi ketika ia bertempur dengan Can Po Goan, setiap serangannya sangat cepat, kuat dan ganas! Dengan mengandalkan kepandaiannya yang lihay, Ciam Tang yang sangat memandang rendah terhadap lawan mudanya yang seperti anak sekolahan itu, tadinya hendak menjatuhkan lawannya dalam waktu yang singkat. Can kauw-su yang tangguh tadipun dapat dibikin tidak berdaya hanya dalam belasan jurus saja, maka bocah yang masih ingusan ini masak tidak dapat dirobohkan hanya dalam beberapa gebrakan saja, pikirnya.

Akan tetapi, benar-benar Ciam Tang tidak mengerti dan juga tidak mengenal ilmu silat apa yang dimainkan oleh pemuda itu. Memang Souw Bun Liong cara bersilatnya aneh sekali.

Meskipun ia menghadapi serangan yang bertubi-tubi dan sangat berbahaya sekali dari Ciam Tang, namun pemuda itu hanya menggerakkan tubuh bagian atasnya saja, yaitu kedua tangannya bergerak-gerak secara tidak keruan akan tetapi dapat melakukan tangkisan atau sampokan dengan jitu sekali. Sedangkan sepasang kakinya yang berdiri di atas papan panggung itu tanpa sedikitpun berpindah dari tempat, kecuali hanya bergerak seperlunya untuk melayani lawan yang melancarkan serangan sambil mengitari tubuhnya itu.

Ciam Tang telah melakukan segala macam serangan yang serba cepat, ganas dan mematikan. Akan tetapi selalu dapat ditangkis dengan tepat oleh lawan mudanya yang tersenyum-senyum dan karena anak muda ini tidak mau berpindah dari tempat berdirinya, maka Ciam Tang harus selalu menghampirinya! Ciam Tang, dengan segala kegesitannya tak ubahnya seperti sedang melawan sebuah patung saja. Tidak bergerak, tidak mengejar, namun tidak dapat didekati karena selain tangkisannya yang selalu jitu, juga pukulan balasan yang dilakukan pemuda itu sangat berbahaya sekali walaupun seakan-akan dilakukan sambil berdiri diam saja!

Telah tiga kali Ciam Tang mencoba mengadu tenaga, ternyata ia merasa betapa lengannya sesemutan! Ia terkejut dan maklum bahwa anak muda ini ternyata ahli lweekeh yang mempunyai tenaga lweekang sangat tinggi, maka setelah maklum bahwa lawannya “berisi”, ia berlaku lebih hati-hati!

Sesudah sekian jurus berlangsung dan pemuda itu hanya menangkis sambil berdiri hingga merupakan benteng yang amat kokoh, Si Srigala Hitam menjadi gemas dan pikirnya kalau pemuda itu menyerang, tentu akan ada kesempatan baginya untuk merobohkannya. Kalau hanya bertahan, tentu saja anak muda itu kuat sekali karena seluruh perhatian dan tenaganya dikerahkan untuk bertahan dan membela diri.

Kalau ia membalas menyerang tentu harus bergerak kian kemari sehingga sepasang kakinyapun mesti berpindah-pindah pula, dan dengan demikian tenaga serta perhatiannya terpecah. Maka setelah benaknya menelurkan siasat ini, Ciam Tang berseru marah:

“He, anak sambel. Kenapa kau licik, tidak membalas menyerang dan hanya menangkis saja?!”

“Oho! Jadi kau ingin kubalas?” balas pemuda itu sambil mengangkat hidungnya, semacam sikap mengejek.

“Ya, balaslah menyerang, kalau kau benar-benar berani melanjutkan pertempuran ini!”

Kembali Souw Bun Liong tersenyum tatkala menjawab: “Baiklah, dan karena ini adalah permintaanmu, maka jangan menyesal kalau sebentar lagi tubuhmu kubikin jatuh menggelinding ke bawah panggung!” Begitu cepat ucapannya selesai, secepat itu pula tubuhnya bergerak.

Sebentar saja ia berkelebat ke sana ke mari dengan kecepatan yang melebihi lawannya sehingga si Srigala hitam menjadi terkejut sekali. Dan tak lama kemudian, dengan menggunakan gerak tipu Liok-tee-heng-houw (Menolak Perahu di Darat) Souw Bun Liong berhasil mendorong dada lawannya sehingga sambil berseru kaget, marah dan kesakitan Ciam Tang terdorong hingga tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa itu bergulingan di atas panggung kemudian menggelinding dan jatuh ke bawah!

Tetapi kerena ia memang berkepandaian tinggi, ketika tubuhnya menggelinding ke bawah ia masih dapat menguasai keseimbangan tubuh sehingga jatuh dalam keadaan berdiri. Ia merasa kesakitan sambil tangannya mengusap-usap dadanya. Dan setelah mengawasi pemuda itu sebentar dengan sinar mata bernyala-nyala, ia berjalan menyelinap dan akhirnya menghilang di antara orang banyak.

Gegap gempitalah suara sambutan dari para penonton melihat kemenangan pemuda yang baru muncul secara tak disangka- sangka ini. Can Po Goan dan Lu Sun Pin juga bersorak dan bertepuk tangan di tempat duduknya, sementara Cio wan-gwe cepat melompat ke atas panggung dan menjura kepada Souw Bun Liong,

“Souw sicu, kau benar-benar gagah dan aku berterima kasih sekali kau dapat mengalahkan si Srigala Hitam yang muncul ke sini hendak mengacau upacara yang kita selenggarakan ini!” Pemuda she Souw itu balas menghormati dan berkata, “Cio tayjin, siauwtee tidak berani menerima pujian dan ucapan terima kasihmu itu, oleh karena hal yang terjadi tadi hanya secara kebetulan saja.”

Cio wan-gwe merasa senang melihat pemuda yang tampan, berkepandaian tinggi, tapi bersikap sopan dan sangat merendah ini dan memang demikianlah seharusnya sifat yang dimiliki oleh seorang gagah, sederhana, dan merendah.

“Ah, kau jangan berlaku sungkan dan terlalu merendah, karena kepandaian tinggi yang tersimpan di dalam dirimu tidak dapat disembunyikan, Souw sicu, Dan jika boleh aku bertanya, siapakah yang menjadi guru dari Souw sicu ini?”

“Jangan tayjin terlalu memuji, oleh karena sebenarnya siauwtee tak lebih hanya pernah mempelajari beberapa macam ilmu pukulan kampungan warisan dari seorang tua yang tidak bernama.”

Jawaban ini yang bagi orang lain hanya berupa jawaban biasa saja dari seorang pemuda yang tidak mau menyombongkan kepandaian dan menonjolkan nama gurunya. Akan tetapi bagi telinga Cio Wan-gwe, Can Po Goan dan Lu Sun Pin yang juga mendengarnya, jelaslah pemuda itu sudah memberikan penyahutan yang selengkapnya. “Oh…… kiranya Souw sicu ini adalah murid dari Bu Beng Locianpwee!” kata Cio wan-gwe menegaskan dengan wajah berseri karena hatinya dipenuhi perasaan kagum, sambil menatap wajah pemuda yang tampan itu.

“Tak salah, tayjin, Bu Beng Lojin (Orang tua tidak bernama) yang Bu-pun-su (tidak berkepandaian) itu memang suhu siauwtee, maka harap tayjin sudi memaafkan siauwtee yang bodoh telah lancang turut serta dalam acara pibu bebas yang tayjin selenggarakan ini.”

Cio Wan-gwe ketawa bergelak karena hatinya gembira, ke dua tangannya memegang ke dua pundak pemuda itu sambil tatapnya baik-baik, lalu katanya:

“Souw sicu, sudah lama aku mendengar nama gurumu yang pernah menggetarkan dunia kang-ouw pada beberapa belas tahun yang lalu. Akan tetapi sebelum aku sempat bertemu dengan beliau, ternyata beliau sudah mengundurkan diri dari pergaulan dunia yang selalu penuh huru hara ini, sehingga hatiku merasa menyesal sekali!

“Namun, sekarang, secara tidak dinyana aku sudah bertemu dengan engkau dan sebagai murid dari Bu Beng Locianpwee, maka sangat pantaslah kedudukan ketua Pauw-an-tui dan gelar Tong-koan Hohan menjadi milikmu, Souw sicu! Hal ini benar-benar akan membuat kami gembira bila kau tidak menampiknya.”

“Tayjin,” kata Souw Bun Liong setelah bungkam sejenak, “Sebenarnya kelancangan siauwtee tampil ke atas lui-tay ini, bukan maksud siauwtee ingin menjadi ketua Pauw-an-tui maupun gelar yang mentereng itu. Kalau saja si Srigala Hitam tadi ada yang mengatasi kecongkakannya, niscaya siauwtee yang bodoh ini takkan berani mengunjukkan kebodohan. Maka sekali lagi siauwtee harap tayjin memberi maaf se-banyak-banyaknya karena siauwtee tidak berani menerima tawaran tayjin yang sangat mulia ini.”

“Ah, kau jangan terlalu merendah selalu, Souw sicu! Kenyataan sudah tak dapat dipungkiri dan berani kupastikan bahwa di dalam wilayah Tong-koan ini, kepandaianmu sukar mendapat tandingan.

“Maka, Souw sicu, biarpun hatimu menampik kedudukan namun sebagai seorang warga kota Tong-koan, pasti kau merasa berkewajiban mendukung organisasi yang kami bentuk demi kepentingan kita bersama ini, maka sekali lagi kuharapkan kau jangan terlalu berlaku sungkan.” Setelah berkata begitu dan sebelum Souw Bun Liong sempat mengajukan sanggahan lebih jauh terhadap kata-kata si hartawan yang bersifat menyanjung itu, Cio wan-gwe telah menghadap ke arah para penonton dan berkata nyaring:

“Saudara-saudara sekalian! Seperti kalian sudah saksikan tadi bahwa si Srigala Hitam yang terkenal tinggi ilmu kepandaiannya dan sengaja hendak mengacau serta mempermainkan pembentukan Pauw-an-tui ini, telah digulingkan oleh pemuda gagah kawan kita ini. Maka menurut hemat kami, Souw sicu murid dari Bu Beng Locianpwee ini pantaslah menjadi ketua Pauw-an-tui dan mendapat gelar kehormatan Tong-koan Hohan! Bagaimana, menurut pendapat dan pandangan saudara-saudara sekalian, setujukah??!”

Serempak terdengar sambutan dari para penonton riuh rendah, “Setuju…..! Setuju!! Akuur…….!!!”

“Bagus!!!” seru Cio Wan-gwe dengan hati puas dan tanpa menoleh lagi kepada Souw Bun Liong yang berdiri di belakangnya, hartawan itu lalu berpidato pula:

“Akan tetapi, saudara-saudara, sebelum kita mengangkat Souw sicu menjadi ketua Pauw-an-tui dan memberikan gelar Tong-koan Hohan dengan resmi. Demi menjaga dan untuk mencegah kerewelan nantinya, yaitu kerewelan dari orang-orang yang masih merasa penasaran karena belum menjajal kepandaian Souw sicu ini.

“Maka baiklah sekarang kami membuka suatu kesempatan bagi para ho-han yang hadir di sini untuk mengajukan diri dan coba bermain-main dengan Souw sicu dengan harapan barang kali saja dapat merebut kedudukan pang-cu dan mendapat gelar kehormatan seperti yang sudah disebutkan berkali-kali tadi.

“Kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir, jadi pibu bebas ini hanya tinggal satu babak lagi berhubung waktu yang sudah kami tentukan, sudah hampir habis! Kami beri waktu dengan sepuluh hitungan, yaitu dari satu sampai sepuluh dan apabila hitungan sudah habis, namun tiada orang yang tampil dan berpibu dengan calon pang-cu ini, maka pengangkatan ketua dan gelar Tong-koan Hohan secara mutlak menjadi hak Souw sicu dan tak dapat diganggu gugat lagi oleh siapapun.

“Kecuali kalau hal ini dikehendaki oleh Souw sicu sendiri dan mendapat persetujuan kami selaku ketua panitia pembentukan organisasi massa ini. Sekian, harap cuwi maklum dan sekarang kami mulai menghitung: Satu…..! Dua…..!! Tiga…..!!! Dan seterusnya Cio wan-gwe menghitung sambil menggerak- gerakkan lengan kanannya ke atas dan ke bawah, seakan-akan seorang wasit sedang menghitung bagi seorang petinju yang roboh dalam keadaan semaput di atas gelanggang!

Dan, manakala Cio wan-gwe sudah meneriakkan kalimat: “Sepuluh……!!!!!!” akan tetapi ternyata tiada orang yang muncul, maka serempak hagaikan suara gunung roboh, para penonton bersorak:

“Hidup Souw pang-cu!” “Hidup Pauw-an-tui……!!!”

“Ganyang komplotan perampok…..!!” “Hancurkan gerombolan bajak sungai……!!!”

Akan tetapi oleh karena seruan-seruan ini mereka lakukan dalam waktu yang sama dan secara serempak pula, maka apa yang terdengar hanya sorak-sorak saja yang gegap gempita memekakkan anak telinga!

Souw Bun Liong maklum bahwa sorak sorai itu adalah berupa pujian baginya, maka ia lalu menjura terhadap mereka. Akan tetapi, mendadak, sorak sorai berhenti dan semua orang memandang ke atas panggung dengan mulut setengah ternganga karena hati mereka terkesiap dan terkejut!

Ternyata selagi para penonton bersorak-sorak itu, tiba-tiba tampak berkelebat dua bayangan hitam dan tahu-tahu di depan Souw Bun Liong dan Cio wan-gwe telah berdiri dua orang yang tak asing lagi bagi penduduk Tong-koan.

Dua orang itu, yang seorang berbadan tinggi kurus dan berwajah kecil lancip seperti potongan muka kambing gunung. Pakaiannya serba hitam dan di pinggangnya menyoren pedang. Dan yang seorang lagi, baik pakaian yang dikenakan maupun senjata yang dibawanya sama seperti kawannya, hanya bedanya orang ini tubuhnya tegap kekar dan wajahnya tampak angker apalagi karena kulit mukanya berwarna sedemikian hitam seperti pantat kuali, maka benar-benar orang ini tampaknya sangat menyeramkan!

Kedua orang, ini adalah dua tokoh dari bajak sungai yang mempunyai nama julukan Huang-ho-ji-go (Sepasang Buaya Sungai Kuning) dan masing-masing bernama Bu Kiam dan Bong Pi. Huang-ho-ji-go ini dalam kedudukan “pangkat” dalam bajak sungai, setingkat lebih bawah dari si Raja Bajak Huang-ho Sin-mo Ma Gu Lim. Dan sepasang Buaya Sungai Kuning ini dalam melakukan “operasi”, tak kalah jahat, kejam dan tinggi ilmu silatnya dari pada si Srigala Hitam Ciam Tang tadi! Itulah sebabnya. maka ketika semua orang melihat dua orang penjahat ini muncul serempak menghentikan sorak sorai mereka dan hati mereka terkesiap serta terkejut!

Tampilnya si Huang-ho-ji-go ini tentu membawa maksud yang sama dengan si Srigala Hitam tadi, yaitu hendak mengacau dan membuat gara-gara pikir mereka.

Cio wan-gwe mundur setindak lalu menjura terhadap dua bajak sungai itu: “Maaf, jiwi tampil terlambat, maka betapapun juga jiwi tak dapat mengganggu gugat keputusan yang telah kami jatuhkan!”

Bu Kiam si Muka Kambing balas menghormat dan menyahut: “Kami mengerti bahwa sesudah hitungan tadi habis, kami tidak berhak untuk coba-coba merebut kedudukan pangcu. Dan oleh karena kami sendiri pun maklum bahwa betapapun juga kami takkan diterima menjadi pangcu Pauw-an-tui lantaran kami justeru terdiri dari kaum yang kalian musuhi dan akan diganyang. “Maka tampilnya kami ke sinipun bukan bermaksud hendak merebut sesuatu kedudukan, melainkan kami hanya ingin menjajal betapa kosennya pangcu yang masih muda ini, maka inilah sebabnya kami sengaja tampil sesudah hitungan wan-gwe tadi habis!”

“Selain dari pada itu,” Bong Pi si Muka Hitam menyambung, “kami anggap dalam pibu tadi ada sesuatu yang kurang adil, yaitu kekalahan yang diderita oleh si Srigala Hitam tadi bukan semata- mata karena kepandaiannya lebih rendah dari Souw sicu ini, melainkan mungkin karena si Srigala Hitam sudah terlalu lelah karena sebelum berhadapan dengan Souw sicu ini, ia sudah berkempur dengan tiga lawan.

“Maka, supaya dapat dikatakan adil, Souw sicu ini seharusnya bertempur menghadapi tiga lawan lagi dan kalau ternyata ia menang, benar-benarlah ia seorang yang pantas mendapat julukan Tong-koan Hohan! Bagaimana menurut pendapat wan- gwe selaku panitia dan juri, gagasanku ini ceng-li (beralasan) atau tidak?”

Cio wan-gwe tak dapat menjawab dengan segera, melainkan ia berpaling kepada Souw Bun Liong dengan maksud menyerahkan gagasan si muka hitam itu kepada pertimbangan pemuda itu sendiri. Souw Bun Liong maklum akan apa yang dimaksud oleh hartawan itu, maka dengan sinar mata tajam, ditatapkan kepada kedua orang itu, ia berkata,

“Gagasanmu kuterima dengan hati gembira, saudara Bong. Dan kalau tak salah dugaanku, penantangku adalah kalian berdua, bukan?”

“Benar, saudara Souw yang gagah. Dan kalau kau benar-benar dapat mengalahkan kami, baru kami mau mengakui bahwa kau benar-benar pangcu yang gagah dan Tong-koan Hohan yang patut disegani,” sahut Bu Kiam dengan pandang mata mengejek.

“Kita coba saja, saudara Bu,” balas Souw Bun Liong sambil bibir mengunjukkan senyum sindir, “Dan supaya dikatakan benar-benar adil seperti kata saudara Bong tadi, bahwa aku mesti bertempur menghadapi tiga orang lawan lagi, maka untuk mempercepat wakku, sebaiknya kau panggil seorang kawanmu lagi dan kalian boleh maju bersama-sama!”

Cio wan-gwe merasa kaget juga mendengar tantangan Souw Bun Liong yang biarpun diketahui berkepandaian tinggi, akan tetapi menurut anggapannya pemuda itu terlalu sembrono oleh karena maklum bahwa si Sepasang Buaya Sungai Kuning itu hebat sekali ilmu pedangnya, apalagi bila mereka maju bersama-sama. Demikian juga semua orang merasa tercengang dan hati mereka menjadi cemas, karena mereka pun menganggap bahwa pemuda itu terlalu gegabah.

“Souw sicu, menurut kabar, Huang-ho-ji-go ini hebat sekali ilmu pedangnya apabila mereka maju berbareng, maka kau hati-hatilah terhadapnya,” Cio wan-gwe berbisik di telinga Bun Liong.

“Terima kasih atas peringatanmu, tayjin,” ujar pemuda itu lalu sambungnya: “Sebaliknya silahkan tayjin turun saja dan sambil duduk beristirahat, tayjin boleh saksikan kebodohanku.”

Tanpa banyak cakap lagi Cio wan-gwe turun dari panggung lalu duduk di kursi dengan perasaan tegang dan dada berdebar.

“Nah, Huang-ho-ji-mo yang terkenal akan kehebatan ilmu pedangnya, sekarang kita boleh mulai main-main. Akan tetapi, mana kawanmu yang seorang lagi?” tantang Bun Liong kemudian.

Bu Kiam ketawa mengejek sambil tangannya meraba gagang pedangnya: “Kau jangan terlalu sombong dan takbur, anakmuda! Jangankan kami maju bertiga atau berdua, sedangkan melawanku seorang saja belum tentu kau dapat menjadi Tong-koan Hohan yang patut dibanggakan! Hayo, keluarkanlah senjatamu kalau kau benar-benar mempunyai kepandaian yang sesuai dengan kesombonganmu!”

“Kebetulan sekali aku tidak membawa senjata, akan tetapi oleh karena tangan dan kaki adalah senjata yang kita bawa sejak lahir dan kegunaannya tidak kalah oleh pedang atau golok, maka baiklah kugunakan tangan dan kaki saja untuk melayani pedangmu!”

“Hm! Mentang-mentang kau sudah dinobatkan menjadi ketua Pauw-an-tui dan berjuluk Tong-koan Hohan, maka kau merasa paling pandai. Baiklah, dengan melupakan pantangan orang gagah tidak boleh menghadapi lawan yang bertangan kosong dengan bersenjata, aku hendak mencoba kemampuanmu. Nah, awas serangan pedang!”

Bu Kiam merasa dihina sekali oleh pemuda itu, maka ketika ia berbicara tadi, ia telah menghunus pedangnya dan begitu ucapannya habis, ia segera mengirim serangan kilat dengan tusukan pedang ke arah dada Bun Liong tanpa memperdulikan bahwa pemuda itu masih belum mengadakan persiapan, yaitu belum memasang kuda-kuda. Akan tetapi ternyata Souw Bun Liong cukup waspada. Sambil berseru, “Bagus!” secepat kilat ia miringkan tubuhnya ke kiri, sehingga tusukan pedang Bu Kiam meleset di sisi tubuhnya. Dan sambil dengan menggunakan dua jari tangannya yang terbuka, yaitu jari telunjuk dan jari tengah, diluncurkan dengan gerakan hendak mencokel ke dua mata Bu Kiam.

Melihat serangan balasan dari lawan yang dianggapnya sangat remeh ini, Bu Kiam ketawa mengejek sambil menggunakan gerak tipu Hong-hong-thiam-tauw (Burung Hong Menganggukkan Kepala). Kepalanya ditundukkan ke bawah sehingga tusukan dua jari tangan si pemuda yang hendak mencokel keluar biji matanya itu jadi nyasar ke tempat kosong di atas kepalanya.

Dan ketika ia hendak menarik kembali pedangnya untuk melanjutkan serangan berikutnya, tiba-tiba tangan Bun Liong yang sebelah kanan telah bergerak cepat dan menghantam pergelangan tangan Bu Kiam yang mencekal pedang, sambil menggerakkan kaki kirinya, yaitu dengan menggunakan ujung sepatunya yang runcing menotok jalan darah di bagian sambungan tulang dengkul si Muka Kambing!

Maka terdengarlah tiga macam suara yang berbeda-beda, “Plak! Trang!! Blug!!!” Ternyata suara “Plak!” itu adalah suara tangan Bun Liong yang menghantam pergelangan Bu Kiam secara jitu dan keras sekali sehingga pedang terlepas dari cekalan si muka kambing dan jatuh di atas papan panggung. Adapun suara “Blug” itu adalah tubuh Bu Kiam yang jatuh dalam keadaan duduk sambil menggereng nyaring dan tangannya mengurut-urut lutut yang di”cium” oleh sepatu pemuda tadi.

Untuk sejenak suasana sepi saja oleh karena semua orang diam keheranan. Mereka tidak mengerti bagaimana pemuda baju biru itu hanya dalam segebrakan saja telah berhasil melepaskan pedang lawan dari cekalan si pemiliknya dan bahkan membuat pula si Muka Kambing yang terkenal kelihayannya itu jatuh sambil mengurut dengkul.

Namun keadaan sepi itu hanya sebentar saja, karena pada detik berikutnya, ketika melihat Bu Kiam mengurut-urut dengkulnya dengan wajahnya yang seperti kambing meringis-ringis sehingga kelihatan lucu sekali, maka pecahlah sorak sorai mereka disertai suara ketawa yang terbahak-bahak.

Sambil berdiri dan “menggendong” tangan, dan badannya agak dibungkukkan, Souw Bun Liong memandang kepada Bu Kiam dan sambil senyum-senyum simpul, katanya: “E-eh! Kenapa kau ini, saudara Bu? Agaknya kau pelelah benar, sehingga baru bermain-main segebrakan saja kau sudah melepaskan pedang dan duduk istirahat! Coba kalau kau menurut kata-kataku tadi kau maju berdua, boleh jadi rasa lelahmu takkan datang secepat ini!”

Orang-orang yang berada di dekat panggung dan mendengar perkataan pemuda yang lucu ini jadi tertawa terpingkal-pingkal. Memanglah kata-kata lucu itu sengaja diucapkan oleh Bun Liong untuk mempermainkan lawannya. Dan sikapnya pun lucu sekali, yaitu sambil menggendong tangan dan agak membungkuk, seakan-akan lagaknya seorang kakek yang sedang memberi teguran kepada cucunya yang bandel dan nakal.

Bu Kiam merasa malu sekali dan karena rasa malunya, ia telah melupakan rasa sakit didengkulnya. Ia berdiri dan dengan tindakan agak pincang ia berjalan dan memangut pedangnya. Tanpa malu- malu lagi ia segera memberi tanda kepada kawannya dan si muka hitam segera mencabut pedangnya. Sepasang Buaya Sungai Kuning ini lalu mengambil kedudukan di kanan kiri pemuda itu.

Souw Bun Liong memandang kepada kedua lawannya berganti- ganti dan kemudian katanya: “Bagus, dua buaya maju bersama- sama pasti aku akan mendapat pelajaran yang berharga dan aku akan membuktikan sendiri betapa hebatnya ilmu pedang kalian yang sudah tersohor itu. Nah! Mulailah!”

Muka Bu Kiam yang lancip kecil itu menjadi merah, mungkin saking mendongkol atau marahnya. “Baiklah, orang muda she Souw, kami berdua maju bersama-sama adalah atas kehendakmu dan bukan karena kami ingin mengeroyokmu!”

Bun Liong ketawa menyindir karena kata-kata Bu Kiam itu sebenarnya hanya untuk menutupi kelemahannya sendiri. Kemudian terdengar Bu Kiam berseru dan pedangnya berkelebat menyamber ke arah leher Bun Liong dengan maksud sekali tebas ia hendak mendapatkan batang leher pemuda itu.

Dan dalam saat yang sama pula, pedang di tangan Bong Pi mengirim serangan pula, yaitu ditujukan ke arah sepasang kaki pemuda itu.

Dua macam serangan yang dilakukan dengan arah yang berlawanan dan dalam waktu yang sama benar-benar tampaknya sukar untuk dikelit, apalagi yang menghadapinya bertangan kosong saja, maka benar-benar hal ini sangat mengerikan bagi penonton. Akan tetapi Souw Bun Liong sungguh tidak memalukan kalau ia mendapat gelar Tong-koan Hohan. Karena sekalipun tidak memasang kuda-kuda sebagaimana biasanya seorang ahli silat hendak bertempur, ia sudah mempunyai perhitungan yang seksama betapa untuk menghadapi serangan itu.

Guna mengelak dari dua serangan atas dan bawah itu, dengan sesigap kijang melompat, ia melompat ke depan yang selain hendak menyelamatkan diri dari ke dua serangan yang berbahaya tadi. Juga ia bermaksud akan mengambil kedudukan berhadapan dengan ke dua lawannya.

Karena menghadapi dua orang lawan secara berhadapan memang jauh lebih praktis dan mudah daripada dua orang lawan berada di kanan kirinya. Akan tetapi dengan cepat pula Bu Kiam melompat ke sebelahnya dan kembali pemuda itu berada di tengah-tengah Huang-ho-ji-go yang mengurungnya di kiri kanan.

Berkali-kali Bun Liong mencoba mengambil kedudukan seperti yang dikehendakinya. Namun Bu Kiam dan Bong Pi ternyata tidak mau melepaskan dan secara bergantian dan teratur sekali, mereka selalu mengurung dari dua sisi pemuda itu sambil pedang mereka terus melakukan serangan yang tak sama arahnya. Kalau pedang Bu Kiam misalnya menyerang dari atas, maka pedang Bong Pi menyerampang ke bawah, dan kalau yang seorang mengarah dada, maka tentu yang lainnya menghantam punggung dan demikianlah seterusnya, sehingga benar-benar pemuda itu selalu terkurung serta dihujani serangan pedang yang selalu hendak “menggunting” tubuhnya!

Memang inilah macam ilmu pedang yang mereka andalkan dan terkenal kehebatannya apabila mereka berdua maju bersama seperti sekarang ini. Bagi seorang yang berkepandaian biasa saja, apalagi hanya bertangan kosong, maka sukarlah untuk lolos dari kepungan kedua bajak sungai yang agaknya mempunyai ilmu kepandaian dwi-tunggal ini.

Akan tetapi Souw Bun Liong akan mengecewakan hati suhunya kalau ia tidak mampu menanggulangi ilmu pedang ke dua lawan itu. Setelah maklum bahwa ilmu pedang yang dilakukan bersama- sama oleh Bu Kiam dan Bong Pi tidak boleh dipandang enteng, ia segera mengerahkan gin-kangnya yang luar biasa sehingga tubuhnya seakan-akan tubuh seekor burung walet yang amat gesitnya, menyambar-nyambar di antara kedua sinar pedang yang berkelebatan bagaikan dua ekor naga mengamuk dan yang tidak memberi jalan keluar kepada lawannya yang amat lincah dan sebat itu. Para penonton menahan napas menyaksikan pertempuran hebat ini. Mereka kagum sekali karena dengan tangan kosong saja pemuda yang tampan itu berani menghadapi serangan dua batang pedang yang demikian lihaynya, dan sebentar kemudian, yaitu tatkala pemuda itu mulai mengerahkan gin-kangnya yang luar biasa, para penonton menjadi melongo karena kini mereka tak dapat melihat tubuh pemuda itu. Ia telah merubah menjadi sesosok bayangan biru berkelebat kian kemari yang membuat penglihatan menjadi kabur!

Kulit muka Bu Kiam semakin merah padam dan wajah Bong Pi yang berwarna pantat kuali itu bertambah hitam. Karena hati si Sepasang Buaya Sungai Kuning ini merasa penasaran sekali karena setelah bertempur sampai duapuluh jurus lamanya, masih belum juga dapat melukai atau menyentuh pemuda itu dengan pedang mereka, apalagi merobohkannya!

Diam-diam mereka merasa menyesal sekali telah iseng ingin menjajal kepandaian anak muda itu, yang ternyata bukan “makanan empuk” baginya tapi mereka pun jadi merasa penasaran sekali, maka keduanya lalu menyerang dengan lebih gencar dan sengit. Akan tetapi setelah Bun Liong menggunakan gin-kangnya berkelit ke sana ke mari dengan secara lincah dan gesit sekali, maka Bu Kiam dan Bong Pi jadi rikuh sendiri. Berkelebatnya bayangan biru dari tubuh pemuda yang luar biasa gesitnya itu membuat penglihatan mereka kabur, kepala mereka mulai pening dan karena itu maka cara mereka melancarkan serangan pun kini menjadi tak teratur lagi! Akan tetapi dasar Huang-ho-ji-go ini keras kepala, sudah mengetahui bahwa dan hanya melakukan gerakan berkelit saja pemuda itu sudah membikin mereka kewalahan, apalagi kalau pemuda itu mengadakan perlawanan, agaknya sudah dari tadi mereka mesti meninggalkan panggung ini dengan menanggung malu!

Namun karena melihat pemuda itu tidak bersenjata mereka beranggapan bahwa pemuda itu tak mungkin mengalahkan mereka, sedangkan mereka yang bersenjata dan mempergunakan ilmu pedang yang paling mereka andalkan, mustahil sekali tak dapat merobohkan pemuda itu! Demikian pikir dua tokoh bajak sungai ini.

Ke dua orang ini lalu melancarkan serangan-serangan dengan tipu-tipu yang mematikan. Mereka telah melupakan bahwa dalam pertempuran ini, mereka hanya ingin menjajal ilmu kepandaian pemuda she Souw itu saja!

Ternyata Souw Bun Liong pun bukan seorang muda yang bodoh. Ia maklum bahwa kalau dalam pertempuran ini ia terus menerus main berkelit saja, tentu sukar sekali akan mencapai kemenangan, bahwa banyak sekali bahayanya ia akan terluka oleh pedang yang menyerang bertubi-tubi bagaikan hujan lebat itu.

Sebenarnya kalau ia mau, sejak tadipun ia dapat memperoleh kemenangan, tapi ia ingin mengukur sampai di mana tingkat kepandaian kedua orang ini. Setelah ia mempergunakan kegesitan dan gin-kangnya yang tinggi untuk meladeni kedua lawannya sampai empatpuluh jurus, ke dua lawannya itu tampak sudah keripuhan, maka hati pemuda ini menjadi girang.

Pada suatu ketika ia dapat “mencuri” satu kesempatan baik yang digunakannya secara cepat dan tepat. Tiba-tiba terdengar ia berseru nyaring:

“Kalian berdua, rebahlah !”

Sungguh sukar untuk dipercaya kalau diceritakan, akan tetapi kenyataannya begitu terdengar seruan pemuda itu, tahu-tahu tubuh Bu Kiam dan Bong Pi telah jatuh dan rebah di atas lantai panggung dan pedang mereka terlepas pula!

Ternyata dengan gerakan yang seakan-akan melebihi kilat cepatnya. Dalam “mencuri” kesempatan itu Bun Liong telah mengerjakan ke dua tangannya, yaitu tangan kanannya berhasil menotok jalan darah Ceng-pek-hiat di pinggang Bong Pi, dan dalam waktu yang hampir sama, tangan kirinya menotok jalan darah kian-keng-hiat di pundak kanan Bu Kiam.

Masih untung ke dua orang itu karena Bun Liong tidak bermaksud mencelakakan mereka. Maka serangan yang seharusnya dilakukan dengan kepalan ke dua tangannya itu telah sengaja dirobah menjadi totokan yang jitu sekali mengenai sasarannya dan membuat kedua “buaya” itu menjadi lemas dan seluruh tubuh mereka seperti mendadak menjadi lumpuh.

Kedua orang ini walaupun tubuhnya roboh terguling di atas panggung, namun tidak menderita luka-luka. Melainkan keadaan mereka benar-benar tidak berdaya karena pengaruh totokan yang dilakukan oleh pemuda itu tadi!

Para penonton yang sejak tadi menyaksikan pertempuran yang mengerikan itu sambil menahan napas kini mereka bersorak-sorai, lebih nyaring dan gegap-gempita daripada yang sudah-sudah. Karena kemenangan si pemuda kali ini adalah kemenangan yang terakhir!

Setelah suara tempik sorak agak reda dan sementara tubuh Bu Kiam dan kawannya masih rebah di hadapan Bun Liong dan masih dalam keadaan tidak dapat bergerak, maka Bun Liong yang memang tidak bermaksud jahat terhadap ke dua “buaya” ini, lalu menghampiri mereka. Dan dua kali tangannya bergerak menepuk tubuh mereka di bagian yang ditotoknya tadi, maka Bu Kiam dan Bong Pi lalu bangun sambil meringis-ringis.

Bukan main malunya ke dua tokoh bajak sungai yang selama mereka malang melintang di dunia liok-lim belum pernah mendapatkan tandingan sehingga julukan mereka Huang-ho-ji-go jadi sangat dikagumi kawan dan ditakuti lawan. Akan tetapi sekarang……? Mereka dibikin roboh oleh pemuda yang agaknya baru saja lulus dari gemblengan gurunya, yang semula mereka pandang ringan itu!

Alangkah malunya ke dua orang ini, terutama ketika mendengar suara tempik sorak penonton yang menyambut kemenangan Bun Liong dengan kagum dan gembira. Dengan menanggung malu yang bukan main hebatnya seakan-akan wajah mereka dipopoki najis, setelah dapat berdiri mereka lalu memungut pedang yang terlepas dari pegangan mereka tadi dan kemudian dimasukkan ke dalam serangka yang tergantung di punggung mereka dan Bu Kiam menjura kepada Bun Liong. “Souw sicu, kau sungguh gagah dan kepandaianmu benar-benar lihay, maka pantaslah kau menempati kedudukan ketua Pauw-an- tui dan menjadi Tong-koan Hohan! Kekalahan kami berdua kali ini, kami terima dengan perasaan tidak menyesal sedikitpun, hanya kami masih ingin mencoba dan menjajal pertempuran kita dalam bentuk barisan, yaitu kami akan memimpin anak buah kami dan kau memimpin anggauta Pauw-an-tui mu, kita akan bertemu dalam suasana yang lebih ramai di tempat yang akan kami tentukan kemudian.”

Setelah mengucapkan kata-kata yang bersifat menantang, dan mengancam ini, ia lalu mengajak si muka hitam melompat turun dan kemudian menghilang di antara orang banyak yang berjubel- jubel itu.

Ketika itu tampak Cio wan-gwe, Can Po Goan dan Lu Sun Pin yang melompat naik ke panggung untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Souw Bun Liong. Akhirnya setelah pemuda ini menerima pesan dari Cio wan-gwe supaya pada keesokan harinya datang lagi untuk mengadakan perundingan selanjutnya, dan setelah diajak singgah dulu ke rumah gedung barang sebentar yang ditolaknya dengan halus, maka pemuda itu lalu minta diri dan meninggalkan mereka. Souw Bun Liong berjalan pulang di antara sekian banyak orang yang mulai bubar. Wajah mereka berseri-seri mencerminkan harapan bahwa dengan terbentuknya Pauw-an-tui yang dikepalai oleh seorang muda tampan serta berilmu kepandaian yang sangat tinggi itu, mereka yakin bahwa kesulitan penghidupan dan keamanan kota mereka yang sudah sangat menyedihkan akibat dari gangguan gerombolan perampok dan bajak sungai, akan segera dapat ditanggulangi!

<>

Souw Bun Liong berjalan dengan tindakan tenang menuju ke arah barat, yaitu ke dusun Lo-kee-cun, di mana ia bersama ibunya tinggal. Dari percakapan orang-orang yang berjalan searah dengannya, yaitu orang-orang yang habis menyaksikan pertandingan pibu tadi, Bun Liong mendengar banyak pujian-pujian terhadap dirinya.

Namun karena mereka bercakap di antara mereka sendiri dan tidak langsung berbicara dengan pemuda itu, maka Bun Liong pura-pura tidak mendengarnya dan terus melangkahkan kakinya dengan perlahan dan tenang, sungguhpun pujian-pujian itu sangat membanggakan hatinya. Akan tetapi ketika Bun Liong mendengar suara wanita yang memanggil namanya, pemuda ini mau tak mau jadi menoleh. Dan kemudian menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap orang yang memanggilnya itu.