-->

Pendekar Tanpa Tandingan Jilid 02

 
Jilid 02

Semenjak itu ia melatih murid-muridnya dengan sungguh-sungguh karena ia sadar bahwa para muridnya tidak dapat mengalahkan seekor kerbau sedangkan seorang murid dari Can kauw-su dapat membuat kerbau itu mati dengan hanya sekali pukul saja, menandakan bahwa kepandaian murid-muridnya masih rendah.

Semenyak Kwe Bun secara kebetulan sekali dapat memukul mati kerbau gila di depan Tong-koan Te-it Bu-koan dan dihadapan Sim Kang Bu dan sutee-suteenya, dari mereka ini tidak terjadi lagi peristiwa-peristiwa yang dapat memanaskan hati murid-murid Can kauw-su. Seperti berteriak-teriak dan mengejek-ejek serta menantang sebagaimana mereka sering lakukan di depan Sin-kun Bu-koan tempo hari sehingga persengketaan antara murid dari kedua bu-koan menjadi reda. Hal ini membuat Can Po Goan menjadi puas dan menganggap bahwa orang she Lu dan murid- muridnya kini tidak berani lagi menghinanya. Sementara murid-murid dari kedua pihak tidak beraksi, di kota Tong-koan timbul keonaran lain, yaitu keonaran yang ditimbulkan oleh munculnya kawanan perampok yang kemudian diketahui dikepalai oleh Houw-jiauw Lo Ban Kui dan yang bersarang di hutan sebelah selatan kota. Dan dibarengi pula munculnya gerombolan bajak sungai Huang-ho yang kemudian diketahui bersarang di hutan Siong-lim-nia dan dikepalai oleh Huang-ho Sin-mo Ma Gu Lim.

Seperti sudah diceritakan di bagian depan dalam cerita ini, bahwa gerombolan perampok dan bajak sungai seakan-akan mengadakan kerjasama untuk mengeduk rejeki penduduk, membakar rumah, menculik anak isteri orang dan membunuh siapa yang berani melawan sehingga akhirnya suasana kota Tong- koan sangat menyedihkan.

Dan selagi kota Tong-koan sedang berada dalam cengkeraman dua komplotan gerombolan tersebut, pada suatu sore terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka, yaitu peristiwa persengketaan antara murid-murid Tong-koan Te-it Bu-koan dan Sin-kun Bu-koan, yang semenjak peristiwa di atas seakan-akan sama-sama mengadakan “gencatan senjata”. Pada sore itu telah saling hantam sehingga guru dari kedua pihak turun tangan dan bertempur! Ternyata dugaan Can Po Goan yang menganggap bahwa pihak Lu Sun Pin dan murid-muridnya tidak akan berani menghinanya lagi sama sekali meleset! Guru silat tua yang berwatak sabar ini sama sekali tidak tahu bahwa selama murid-murid seterunya tidak datang berteriak-teriak dan mengejek-ejek di depan bu-koan nya itu adalah karena mereka sedang digembleng hebat oleh guru mereka.

Lu Sun Pin menganggap bahwa peristiwa kerbau gila adalah perbuatan Can kauw-su, karena itu ia ingin melakukan pembalasan total!

Demikianlah sore itu, setelah beberapa pekan lamanya Lu Sun Pin menggembleng para muridnya supaya kepandaian mereka bertambah banyak sehingga dianggapnya cukup kuat untuk mengadakan pembalasan terhadap pihak Sin-kun Bu-koan. Ia memimpin murid-muridnya dan sambil membekal senjata, mereka mendatangi Sin-kun Bu-koan.

Lu Sun Pin menyuruh para muridnya menggedor dan mendobrak pintu rumah perguruan itu dan memerintahkan pula supaya segala apa yang terdapat di dalamnya dirusak dan dihancurkan sebagaimana bu-koan nya dirusak dan dihancurkan oleh kerbau tempo hari. Lu Sun Pin ingin menghancurkan Sin-kun Bu-koan, karena hatinya yang tamak menganggap adanya bu-koan asuhan Can kauw-su ini hanya mendatangkan penyakit saja baginya.

Lu Sun Pin membiarkan murid-muridnya yang merupakan suatu rombongan berjalan terlebih dulu dan ia sendiri berjalan jauh di belakang mereka. Akan tetapi sungguh mereka tidak menduga, bahwa sebelum mereka sempat menggedor dan mendobrak pintu Sin-kun Bu-koan sebagaimana perintah suhu mereka, di depan bu- koan itu mereka disambut oleh serombongan murid Can kauw-su yang ketika itu kebetulan sedang berdiri dan berkerumun di situ, di antaranya terdapat Kwe Bun dan Tan Seng Kiat.

Murid-murid Lu Sun Pin yang dikepalai oleh Sim Kang Bu dan So Ma Tek tidak berani maju terus. Mereka menghentikan langkah dan berdiri seakan-akan merasa ragu untuk melaksanakan tugas gurunya dengan segera.

Sedangkan pihak Tan Seng Kiat dan Kwe Bun beserta beberapa orang suteenya berdiam memandang mereka dengan sikap gagah dan gaya tidak takut serta bersikap siaga. Karena maklum bahwa kedatangan rombongan akan menimbulkan peristiwa yang tidak diinginkan sungguhpun hal ini mereka sudah dapat menduga sebelumnya. Rombongan ini saling mengawasi dalam jarak yang agak jauh, dan setelah sesaat mereka tinggal diam membisu dalam suasana tegang, tiba-tiba dari jauh, yaitu dari belakang rombongan pendatang itu terdengar seruan nyaring: “Serbu !!”

Seruan itu ternyata dari Lu Sun Pin. Dan serempak setelah mendapat komando ini, para muridnya maju dan sambil menggerakkan senjata yang mereka bawa mereka menyerang rombongan murid Can kauw-su.

Biarpun rombongan murid Can kauw-su tidak bersenjata, akan tetapi oleh karena mereka sudah bersiap siaga, maka dengan berani sekali merekapun maju dan menyambut serangan itu. Sedangkan sebagian lagi berlari masuk ke dalam bu-koan untuk mengambil senjata!

Sim Kang Bu dan So Ma Tek menyerbu paling dulu dan menyerang Tan Seng Kiat dan Kwe Bun. Tan Seng Kiat berkelit dari samberan pedang Sim Kang Bu yang menyerang ke arah lehernya dan sambil berkelit ini ia berhasil menendang seorang lawan lain dan berhasil merampas goloknya. Kemudian dengan mempergunakan golok rampasan ia balas menyerang Sim Kang Bu. Adapun Kwe Bun ketika lambungnya diancam tombak yang ditusukkan oleh So Ma Tek, ternyata pemuda ini berlaku cerdik. Sambil berkelit dengan sedikit merendahkan badannya, tangannya diam-diam meraup pasir dari bawah dan pasir yang sudah berada dalam genggamannya segera ditebarkan ke arah mata So Ma Tek sehingga karena tidak menyangka, So Ma Tek jadi kelabakan karena sepasang matanya kemasukan pasir.

Dengan demikian Kwe Bun secara mudah sekali merampas tombak dari tangan lawannya dan sekali kakinya bergerak, tubuh So Ma Tek terguling karena kakinya di “sapu!” Kemudian Kwe Bun mengamuk dan menghadapi Cio Swi Ho, putera tunggal Cio wan- gwe, yang bersenjatakan sebilah golok.

Ketika itu, para murid Can kauw-su yang tadi masuk mengambil senjata kini sudah keluar pula dan dengan gigih mereka terjun ke dalam gelanggang pertempuran sehingga suasana di depan Sin- kun Bu-koan itu menjadi ramai dan kacau.

Can Po Goan yang ketika itu berada di dalam bu-koan, begitu mendengar ribut-ribut segera berlari keluar dan alangkah terkejutnya guru silat tua ketika dilihatnya pertempuran itu. Segera ia berseru: “Berhenti…….!!” Seruan yang bernada menggeledek ini ternyata berpengaruh sekali dan mampu mengatasi suasana pertempuran yang sudah berlangsung sengit itu. Baik murid-murid Lu Sun Pin, maupun murid-muridnya sendiri, serempak melompat mundur dan keluar kalangan sehingga dalam sejenak saja pertarungan tersebut jadi berhenti dan mata mereka memandang kepada guru silat tua yang berjalan menghampiri mereka.

Sebelum sempat Can Kauw-su bertanya kepada muridmya tentang sebab musabab pertempuran ini, tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak-gelak. Dan ketika ia menengok ke jurusan dari mana terdengarnya suara ketawa itu, ia melihat seorang setengah tua, bertubuh tinggi besar dan sepasang matanya yang besar seakan-akan mengeluarkan cahaya kilat.

Pakaian yang dikenakannya tampak mewah seperti seorang hartawan, sedang berjalan mendatangi dengan langkah gagah. Ketika orang ini sudah sampai di depan Can Kauw-su, ia menghentikan langkahnya dan sambil bersenyum mengejek. Ia merangkapkan kedua tangan yang terkepal di depan dada untuk memberi hormat dan menjura.

“Ah, aku sungguh merasa beruntung sekali baru kini dapat bertemu dengan Can kauw-su, maka terimalah penghormatanku sebagai salam pertemuan kita ini,” ujar Lu Sun Pin sambil menjura kepada Can kauw-su.

Akan tetapi orang she Lu tidak menjura dengan sewajarnya. Oleh karena berbareng dengan gerakan menghormat itu, ia mengerahkan tenaga dalamnya ke arah kepalan yang dirangkapkan di depan dadanya dan menyerang dada Can Po Goan yang berdiri sejarak kira-kira tiga langkah di depannya!

Pukulan ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi. Oleh karena serangan macam demikian hanya dapat dilakukan dengan pengerahan tenaga khi- kang yang disalurkan melalui kepalan-kepalan tangan yang diletakkan di depan dada sehingga nampaknya seperti sedang menjura itu.

Padahal dari ke dua kepalan itu keluar semacam tenaga yang tidak kelihatan, yaitu yang disebut tenaga atau hawa pukulan yang sangat dahsyat dan berbahaya sekali. Pukulan ini tidak perlu mengenai tubuh orang, karena memang dimaksudkan untuk menyerang orang dari jarak jauh. Dan orang yang berdiri sejauh setombak lebih dapat dipukul oleh hawa pukulan ini dan dirobohkan dengan menderita luka di bagian dalam tubuh! Akan tetapi Can Po Goan berlaku waspada. Sebagai seorang ahli silat tinggi ia mengerti bahwa dalam menjuranya Lu Sun Pin itu mengandung serangan gelap terhadap dirinya, maka dengan tersenyum sabar sebagaimana biasanya ia tersenyum apabila mendapat penghormatan dari seorang tamu. Lalu merangkapkan kedua kepalan tangannya di depan dada sambil membungkukkan tubuhnya sedikit, lakunya bagaikan membalas penghormatan dari Lu Sun Pin.

Dan dari gerakan “membalas penghormatan” ini, Can kauw-su sekaligus dapat menangkis dan membuyarkan hawa pukulan Lu Sun Pin yang menyerang ke arah dadanya.

“Ah, kiranya aku mendapat kunjungan tuan Lu yang terhormat,” katanya kemudian. “Aku sangat menyesal sekali karena tadi aku menyangka bahwa rombongan yang membuat gaduh di depan bu- koanku ini kukira gerombolan perampok!

“Ternyata adalah murid-murid tuan dan tuan sendiri yang datang memimpinnya. Ah, benar-benar aku menyesal dan kuharap tuan sudi memberi maaf yang sebesar-besarnya atas prasangkaan yang salah tadi!” Kata-kata Can Po Goan ini, sungguhpun diucapkan dengan nada kata sabar dan seperti benar-benar mengandung penyesalan, akan tetapi dalam pada itu mengandung sindiran yang amat tajam. Hal ini dimengerti oleh Lu Sun Pin sehingga jago dari Bu-tong-pay yang memang berwatak berangasan ini menjadi merah kulit mukanya.

Sungguhpun ia sangat marah mendengar ucapan Can kauw-su yang seakan-akan menyatakan murid-murid yang ia pimpin tak beda seperti gerombolan perampok. Akan tetapi ia tidak berani segera turun tangan karena ia tidak mau disebut seorang yang tidak tahu aturan menyerang lebih dahulu terhadap seorang lawan yang sudah berusia tua. Hanya sepasang matanya saja berapi-api menatap Can Po Goan dan guru silat tua inipun balas menatapnya dengan sinar mata tajam.

Baru sekaranglah kedua guru silat yang belum pernah bertemu muka dan diam-diam saling bermusuhan itu, berhadapan. Keduanya saling memandang bagaikan dua ekor ayam jago yang hendak berkelahi dan lebih dulu berlagak, menaksir dan menduga- duga kekuatan lawan.

Setelah suasana sejenak sepi karena keduanya sama-sama membisu sambil saling memandang. Kemudian Can Po Goan yang dapat mengekang hawa nafsu berkat wataknya yang sabar, terdengar bertanya:

“Maaf kalau aku yang tua ini boleh bertanya. Maksud apakah sebenarnya yang membawa tuan dan murid-murid tuan membuat gaduh di depan bu-koanku ini?”

“Hm, hm! Nyata pandai sekali Can kauw-su ini bersikap pura-pura,” jawab Lu Sun Pin dengan suara nyaring dan tajam. “Sebaiknya kau bicara secara terus terang saja karena aku paling benci kepada orang yang suka berpura-pura!”

Can kauw-su menggeleng-gelengkan kepala dan setelah menghela napas sekali, ia berkata: “Sungguh aneh sifatmu tuan. Aku bertanya kepadamu dengan maksud sesungguhnya, akan tetapi bukannya menjawab, bahkan kau mengatakan aku ini bersikap pura-pura. Ah, sungguh tak nyana bahwa tuan yang segagah ini tidak dapat menerima kebajikan yang kuberikan!”

“Kebajikan……?” Lu Sun Pin mengulang sambil sepasang bulu- alisnya yang tebal itu terangkat naik, “Kebajikan apakah yang telah kau berikan kepadaku? Apakah dengan melepas kerbau gila perusak bu-koanku dan melukai murid-muridku tempo hari kau namakan suatu kebajikan?!” Mau tak mau Can kauw-su jadi tertawa kecil ketika mendengar Lu Sun Pin menggugat soal kerbau gila itu sebagaimana ia telah menduga bahwa hal itu akan menyebabkan Lu Sun Pin salah tafsir. Dan kini benar-benar ia mendapat kenyataan bahwa dugaannya sangat tepat, sehingga sebelum berkata ia jadi ketawa kecil karena merasa geli hati.

“Ah, tuan sungguh salah tafsir! Kerbau gila itu sama sekali tidak ada sangkut paut dengan kami, sedangkan seorang muridku yang kebetulan sekali dapat menaklukkan kerbau itu sehingga bu-koan tuan tidak sampai menjadi lebih rusak lagi dibuatnya.

“Dari pada tuan berterima kasih kepada kami karena kalau misalnya waktu itu tidak datang muridku dan membunuh kerbau gila itu sehingga kehancuran bu-koan dan kebinasaan murid-murid tuan dapat dicegah, malah sebaliknya tuan mengangggap bahwa kami sengaja melepas kerbau gila itu! Ha, ha, sungguh lucu dan menggelikan sekali dan dengan demikian, kesimpulanku jadi bertambah kuat bahwa tuan benar-benar tidak mengenal kebajikan!”

“Persetan dengan segala apa yang kau sebut kebajikan dan memang aku tidak butuh kebajikan darimu!” bentak Lu Sun Pin marah. “Pendeknya, ketahuilah, bahwa aku datang bersama murid-muridku ini kemari, hendak menuntut balas dari kekurang ajaran murid-muridmu dan akan membikin beres persengketaan antara kita ini!”

“Sabar Lu siangseng (tuan Lu), sabarlah! Untuk membikin beres persengketaan kita memang maksudmu sangat baik dan justeru yang selalu kuharapkan. Akan tetapi dengan cara dan jalan bagaimanakah kau hendak membereskan persengketaan kita ini?

“Kalau dengan jalan damai, akan kuterima dengan hati gembira. Dan sebaliknya kalau akan kau gunakan jalan kasar, menyesal sekali aku tak dapat menerimanya.

“Karena aku yang sudah tua ini selalu ingat dan patuh kepada kata- kata orang bijaksana yang menyatakan bahwa, segala persoalan yang betapapun kecilnya kalau dibereskan dengan cara kasar, yaitu

Menurutkan suara hati yang dipenuhi nafsu angkara murka, dari pada menjadi beres bahkan besar kemungkinan akan berakibat lebih buruk. Sedangkan persoalan yang betapapun besarnya, jika dibereskan dengan halus, yaitu berdamai dengan menggunakan persoalan besar itu akan dapat diselesaikan dengan sempurna……” “Phui!” tiba-tiba Lu Sun Pin meludah, “Aku merasa sebal dengan kata-katamu yang bertele-tele dan memuakkan itu! Katakan saja terus terang, bahwa kau merasa takut kepadaku karena memang aku hendak membereskan soal persengketaan kita ini dengan jalan kasar, yaitu dengan kepalan dan senjata bicara!”

Betapapun sabarnya watak Can Po Goan, akan tetapi kalau ia sampai dikatakan orang bahwa dirinya merasa takut untuk menghadapi pertempuran hati kecilnya tersinggung dan dadanya mulai terasa panas. Karena hal ini baginya merupakan suatu penghinaan.

Dan baru kinilah Can kauw-su yang selalu sabar itu harus menelan kenyataan pahit dan yang membuatnya sadar bahwa kesabaran yang ada padanya tidak selamanya mendatangkan ketenteraman batin apabila ia mempergunakan kesabaran itu terhadap orang yang tidak mengenal ke bajikan. Karena kesabaran yang diperlihatkan kepada orang kasar dan dalam segala hal sok mau menang sendiri saja seperti halnya Lu Sun Pin akan membuat orang itu makin sombong dan makin berani menghinanya.

Oleh karena ini, maka suaranya terdengar tajam tatkala berkata: “He, orang she Lu! Rupanya kau ini benar-benar seorang yang tak dapat diajak berdamai! Kau kira aku takut? Hm, jangan takabur kawan! Ketahuilah, aku tidak takut terhadap siapapun, apalagi terhadapmu, asal saja aku berada di pihak yang benar dan demi membela keadilan!

“Aku maklum, bahwa sejak kau datang kemari pertama kali kau memang tidak membawa maksud baik! Maka majulah kau, orang she Lu, kalau memang kau selalu menaruh rasa penasaran dan dendam kepadaku! Akan tetapi ingat, bahwa kaulah yang menghendaki dan menantang perkelahian, bukan aku yang mencari permusuhan!”

“Sudahlah, kau jangan bicara seperti perempuan bawel. Memang aku ingin mencoba kelihayanmu. Maka bersiaplah dan ambillah senjata!” teriak Lu Sun Pin garang seraya menghunus golok yang terselip di pinggangnya.

Can Po Goan hanya ketawa dingin dan mengejek: “Untuk meladeni golokmu, aku rasa tak perlu bersenjata!”

“Bagus! Kau mencari mampus sendiri!” seru Lu Sun Pin dengan penuh kemarahan, karena merasa dirinya dipandang rendah. Maka sambil berteriak: “Jagalah lehermu!” ia menubruk maju sambil goloknya digerakkan dengan tipu Go-houw-pok-yong atau Macan Lapar Menerkam Kambing.

Serangan pertama yang sangat berbahaya ini disambut oleh Can kauw-su dengan tenang. Dan ketika samberan golok yang mendatangkan angin hampir menebas lehernya, maka segesit binatang rusa guru silat tua ini berkelit ke samping dengan tubuhnya sedikit dibungkukkan dan sambil berkelit ini, ia mengirim serangan balasan dengan telapak tangan di miringkan disabetkan ke arah lambung lawan.

Lu Sun Pin merasa kaget dan kagum karena lawannya dalam berkelit sambil balas menyerang, itu suatu gerakan yang luar biasa gesitnya. Dan sebelum telapak tangan Can kauw-su sampai mengenai sasarannya, terlebih dahulu ia rasakan suatu hawa pukulan yang sangat dahsyat.

Sungguh guru tua ini berbahaya sekali, pikirnya! Akan tetapi sebagai seorang jago silat kenamaan Lu Sun Pin ketawa mengejek dan sambil menarik kembali goloknya yang menyambar angin itu.

Ia cepat membalikkan tubuh ke kiri dan dengan kedudukan dirinya membelakangi lawan, tangan kirinya yang juga telapaknya terbuka dan dimiringkan, disabetkan ke belakang untuk menangkis pukulan tangan dari Can Po Goan. Dan untuk kedua kalinya ia terkejut karena ketika ke dua lengan dua jago silat saling bertumbuk, keduanya sama merasakan semacam tenaga beradu dahsyat sehingga keduanya jadi terpental sejauh satu tombak!

Dan justeru ketika ke dua jago silat ini memperbaiki posisi dirinya untuk segera bertempur lebih lanjut, tiba-tiba dari arah selatan kota terdengar jerit pekik disertai suara gaduh dan hiruk pikuk! Baik Lu Sun Pin maupun Can Po Goan dan juga para anak murid mereka, serempak menoleh ke arah terjadinya kegaduhan.

Dan alangkah kagetnya mereka. Di sana, di tempat yang tidak berapa jauh dari mereka, tampak asap hitam mengepul ke angkasa dan berbareng dengan itu, berpuluh-puluh orang yang berpakaian serba hitam dan bersenjata tampak berlari mendatangi dalam keadaan berbondong-bondong dan sambil berteriak-teriak!

Orang-orang yang sejak tadi berkumpul di depan Sin-kun Bu-koan dan hendak menonton dua jago silat tadi bertarung, serempak bagaikan mendapat komando mereka bubar dan lari berserabutan lalu masuk ke rumah masing-masing sambil menutupkan pintu rumah mereka kuat-kuat sehingga karena mereka menutup pintu dalam waktu yang hampir sama, maka terdengarlah bunyi “brak- brik-bruk” yang gaduh sekali! Adapun mereka yang berpakaian serba hitam dan menghunus senjata itu, ialah kawanan perampok yang untuk ke sekian puluh kalinya melakukan “gerakan operasi kilat”. Biarpun hal ini bagi penduduk kota tidak merupakan peristiwa aneh, akan tetapi munculnya gerombolan perampok yang membuat kekacauan ini menimbulkan kekagetan dan ketakutan bukan main!

Demikian juga halnya dengan ke dua jago silat yang sedang bertempur tadi berikut para anak muridnya. Ketika melihat betapa gerombolan perampok lari mendatangi sambil berteriak-teriak seakan-akan air bah datang menyerang mereka menjadi kaget dan ketakutan! 

Kalau dibicarakan memang amat sukar dipercaya. Akan tetapi sudah menjadi kenyataan bahwa baik Lu Sun Pin maupun Can Po Goan yang masing-masing sebagai ahli silat tinggi dan para anak murid mereka yang tadi begitu gagah dan garang, siap bertempur mati-matian untuk membela kehormatan dan nama baik guru serta bu-koan mereka.

Ketika melihat betapa gerombolan perampok datang, bukan saja mereka tidak mengunjukkan kegagahan dan kegarangan yang biasa mereka tonjolkan dan melabrak para perampok itu. Tetapi juga dengan lucu sekali mereka meniru orang-orang yang “brak- brik-bruk” tadi, yang bubar dan lari terbirit-birit mencari tempat perlindungan!

Dan seperti biasa, gerombolan perampok itu terus beraksi, beranjah dan menyikat harta benda penduduk, tanpa ada yang berani meng-halang-halanginya. Can kauw-su dan para anak muridnya lari memasuki bu-koan mereka, sementara Lu Sun Pin dan murid-muridnya, juga lari menudiu ke bu-koan mereka.

Mereka ini, baik pihak Can kauw-su maupun Lu Sun Pin, yang tadinya begitu galak dan garang kini setelah secara tiba-tiba mereka “kepergok” oleh kawanan perampok yang mereka ketahui kekejaman dan keberutalannya, semangat dan kegagahan mereka seakan-akan lenyap dengan serempak, sehingga tingkah laku mereka tak ubahnya seperti sekawanan kambing yang didatangi harimau!

Dan sejak sore itulah, yaitu sejak pertempuran Lu Sun Pin dan Can Po Goan “dibatalkan” oleh kedatangan gerombolan perampok yang lalu berpesta pora, bentrokan-bentrokan antara anak murid maupun guru-guru dari ke dua bu-koan itu tidak terjadi lagi. Seakan-akan permusuhan mereka sudah habis hanya sampai di sore itu saja. Sebenarnya, betulkah situasi antara mereka ini sudah aman? Tidak! Walaupun tidak terjadi lagi bentrokan, itu bukan berarti permusuhan mereka sudah beres karena pada kenyataannya, Lu Sun Pin menaruh dendam dan rasa penasaran yang semakin hebat, sedangkan Can Po Goan maklum akan isi hati Lu Sun Pin.

Guru silat tua inipun sudah bertekad bulat, apabila dari pihak Lu Sun Pin datang menyerbu lagi, ia akan memperlihatkan kepada lawannya itu bahwa ia adalah seorang yang sungguhpun berwatak sabar dan selalu mengalah, akan tetapi tidak boleh diperlakukan semaunya saja! Demikianlah, untuk sementara waktu agaknya mereka mengadakan “gencatan senjata” dan menanti suatu kesempatan untuk membuktikan siapa yang lebih unggul!

Akan tetapi untuk selanjutnya ternyata bentrokan mereka itu benar- benar tidak pernah terjadi. Sedangkan keadaan kota Tong-koan kian hari bertambah menyedihkan. Kekacauan dan keonaran selalu terjadi baik siang maupun malam.

Gerombolan perampok dan komplotan bajak sungai menjalankan aksinya. Kalau semula mereka hanya berani beraksi di waktu malam saja, sekarang siang haripun mereka acapkali menunjukkan “kekuasaannya”, sehingga keadaan kota dan penderitaan penduduk sangat menyedihkan sebagaimana sudah dituturkan di bagian depan dari cerita ini.

<>

Dan kemudian, seperti sudah diceritakan pula di bagian depan timbullah ide bagus dari Cio wan-gwe untuk mengganyang komplotan perampok itu. Cio wan-gwe teringat akan Lu Sun Pin dan Can Po Goan yang diketahuinya masing-masing mempunyai anak murid yang tidak sedikit, dan yang sudah sekian lama saling bersaingan.

Menurut pendapat hartawan Cio ini, alangkah baiknya kalau mereka dipersatukan dan diorganisir untuk dijadikan barisan penjaga keamanan. Maka kemudian, Cio wan-gwe lalu mengundang Lu Sun Pin dan Can Po Goan dan ke tiganya lalu berunding dan setuju untuk membentuk suatu badan atau barisan penjaga keamanan sebagai konfrontasi menghadapi komplotan garong yang sudah nyata sekali tak boleh dibiarkan saja terus menerus ber”pesta pora” di kota Tong-koan ini.

Hasil dari perundingan tersebut ialah organisasi penjaga keamanan itu mereka namakan “Pauw-an-tui” atau “Barisan Penjaga Keamanan.” Segala biaya ditanggung oleh Cio wan-gwe yang mendapat dukungan penuh dari para hartawan yang menjadi kawannya.

Adapun sebagai pemimpin Pauw-an-tui ini sudah tentu harus dipilih seorang yang berkepandaian tinggi. Dan untuk menentukan hal ini, jalan satu-satunya yang paling baik dan adil ialah mengadakan pibu.

Dalam perundingan tersebut Cio wan-gwe menambahkan keterangan dan memberi penjelasan kepada dua orang jago silat itu:

“Jiwi harap maklum, bahwa pibu ini bukan sekali-kali untuk memperuncing keadaan antara kalian, akan tetapi sebaliknya justeru setelah melalui pibu ini kita mengetahui siapa orangnya yang berkepandaian tinggi sehingga pantas menjadi pang-cu atau ketua. Aku yakin bahwa kalian dapat bekerja sama dengan baik, tanpa ada persaingan maupun rasa penasaran.”

Demikianlah, untuk keperluan pibu itu Cio wan-gwe lalu membangun sebuah panggung, lui-tay, di depan rumah gedungnya. Dan seperti sudah diceritakan di bagian depan, bahwa hari itu penduduk kota Tong-koan berbondong-bondong dan kemudian berkumpul mengitari lui-tay itu untuk menyaksikan pertandingan silat yang menurut ketentuan akan berlangsung dengan acara pibu antara Lu Sun Pin dan Can Po Goan untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan untuk merebut kedudukan selaku pang-cu.

Acara pibu ini disambut dengan gembira oleh Lu Sun Pin, oleh karena dengan jalan ini berarti ia akan dapat menguji kepandaian Can kauw-su secara terang-terangan. Jago silat dari Bu-tong-pay ini yakin bahwa kedudukan pang-cu pasti akan didapatkan olehnya dan dengan demikian ia akan membuktikan bahwa nama Tong- koan Te-it Bu-koan yang dipimpinnya benar-benar sesuai dengan kenyataannya!

Sedangkan Can Po Goan, sungguhpun guru silat tua ini maklum bahwa pibu ini bukan untuk memperuncing persengketaan seperti yang dikatakan oleh Cio wan-gwe, akan tetapi ia maklum bahwa Lu Sun Pin yang bakal dihadapinya di sana akan berupaya sekuat tenaga untuk mengalahkannya. Lu Sun Pin akan berusaha untuk merebut jabatan pang-cu Pauw-an-tui.

Terdengarlah suara riuh dari orang yang berjubel-jubel mengitari panggung lui-tay sejak tadi, bahkan di antara mereka ada yang sorak dan bertepuk tangan karena merasa gembira, sebab kedatangan pihak Can kauw-su ini, berarti bahwa pertandingan silat yang sejak jadi mereka nantikan, kini akan segera dimulai.

Can Po Goan dan kedua muridnya disambut oleh Cio wan-gwe dan rombongan yang jumlahnya sangat sedikit ini dipersilahkan mengambil tempat duduk pada kursi-kursi yang sudah disediakan untuk mereka. Ternyata si hartawan Cio Song Kang ini adalah seorang yang sangat aktif, karena selain ia menjadi organisator Pauw-an-tui, menjadi promotor pibu yang menentukan siapa-siapa harus bertanding, juga dalam pertandingan silat ini ia bertindak selaku panitia.

Can Po Goan dan ke dua muridnya lalu duduk. Dan ketika guru silat tua ini melayangkan pandang ke arah rombongan Lu Sun Pin, pemimpin Tong-koan Te-it Bu-koan kebetulan sekali sedang melemparkan pandang kepadanya sehingga dalam sesaat dua pasang mata dari dua jago silat bertemu.

Dan sungguhpun ke duanya sama-sama menganggukkan kepala sambil tersenyum, sebagai tanda mereka sudah berkenalan dan menandakan perhubungan mereka sudah baik berkat pertemuan ramah tamah ketika mereka berunding dengan Cio wan-gwe tempo hari. Akan tetapi sinar mata mereka tetap membayangkan permu-suhan atau setidak-tidaknya mencerminkan bahwa di dada mereka masih mengandung rasa penasaran yang belum dilampiaskan!

Sementara itu, Cio wan-gwe tampak menaiki tangga dan menuju ke atas panggung lui-tay. Dan orang-orang yang berjubel-jubel di bawah panggung itu berdesakan maju dan keadaan menjadi riuh karena penonton yang sekian banyaknya itu ada yang bertepuk tangan, yang bersorak-sorak dan bersuit-suit karena gembira pertandingan silat yang sangat menarik perhatian mereka ini, akan dimulai!

Ketika ke dua lengan Cio wan-gwe diangkat ke atas sebagai isyarat supaya para penonton tenang, maka serempak suara riuh dan berbisik tadi lenyap dan keadaan menjadi sunyi. Semua mata ditujukan kepada si hartawan yang bertubuh tinggi besar dan beroman agak keren itu. Setelah keadaan tenang benar, maka Cio wan-gwe menjura ke arah para penonton dan suaranya ternyata nyaring dan lantang sekali tatkala berkata,

“Cuwi Lay-ping (para hadirin) yang terhormat. Sebagaimana cuwi ketahui, pertandingan pibu yang diselenggarakan pada hari ini ialah untuk memilih pemimpin atau ketua dari perkumpulan Pauw- an-tui yang kita bentuk guna menjaga keamanan kota Tong-koan ini.

“Sebagaimana kita sekalian sebagai penduduk kota Tong-koan sudah sama merasakan, bahwa segala sesuatu yang kita miliki sekarang, yaitu baik harta benda maupun raga dan jiwa kita, seakan-akan sudah berada dalam cengkeraman tangan-tangan jahat yang seperti kalian sudah maklum, yaitu gerombolan perampok dan gerombolan bajak sungai! Kami merasa tidak perlu menguraikan panjang lebar betapa keberutalan dan kekejaman dua macam komplotan penjahat ini oleh karena bagi warga kota Tong-koan umumnya, hal ini bukan rahasia lagi.

“Hanya yang kami rasa penting untuk disampaikan kepada saudara-saudara sekalian sekarang ialah, bahwa mulai hari ini dengan resmi kota Tong-koan ini telah mempunyai sebuah organisasi yang kami namakan Pauw-an-tui atau Barisan Penjaga Keamanan, yang gunanya untuk menjaga dan berusaha memulihkan kembali keamanan kota kita ini. Dan dengan demikian berarti bahwa Pauw-an-tui ini ialah suatu badan konfrontasi untuk menghadapi komplotan-komplotan penjahat musuh kita yang harus diganyang itu! “Kami maklum, bahwa di kota Tong-koan ini banyak terdapat orang-orang gagah, akan tetapi oleh karena tidak ada persatuan maka pihak kita menjadi sangat lemah sekali sehingga seakan- akan merupakan barang empuk yang dengan seenaknya dicaplok oleh para serigala murtad itu. Oleh karena ini, maka setelah kami mendapat wewenang dari pembesar negeri dan persetujuan kawan-kawan, kami membentuk organisasi penjaga keamanan ini dengan harapan setelah organisasi Pauw-an-tui ini berdiri akan merupakan badan persatuan dimana para orang gagah akan turut serta menjadi anggauta dan kita bekerja sama dengan haluan bersatu padu, yaitu mengganyang komplotan penjahat…….!”

Tiba-tiba terdengarlah suara tempik sorak dari para penonton yang menandakan bahwa mereka sangat setuju dan menyambut dibentuknya Pauw-an-tui ini dengan gembira.

Setelah suara tempik sorak itu lenyap dan keadaan menjadi sepi kembali maka Cio wan-gwe melanjutkan pengumumannya.

“Sebagaimana tadi telah kami katakan, bahwa diselenggarakannya pibu ini adalah untuk memilih atau merebut kedudukan pangcu. Jadi tegasnya pibu ini merupakan sayembara! “Perlu kami umumkan bahwa pertama-tama yang mengikuti sayembara terdiri dari kedua guru silat yang membuka bu-koan di kota ini, ialah Lu Sun Pin, si Pagoda Besi, pemimpin dari Tong- koan Te-it Bu-koan dan Can Po Goan, si Kepalan Sakti Pemecah Kepala, kauw-su dari Sin-kun Bu-koan…….!”

Kembali terdengar pula tempik sorak dari para penonton sehingga pidato Cio wan-gwe jadi terganggu dan dihentikan sebentar. Dari para penonton yang sekian banyaknya terdengar teriakan- teriakan:

“Hidup Lu kauw-su! Si Pagoda Besi pasti menang…….”

Dan dibarengi teriakan-teriakan dari mereka yang berpihak kepada Can Po Goan:

“Hidup Can kauw-su dan pasti ia menjadi pangcu dari Pauw-an-tui ini…….!”

Teriakan-teriakan ini membuat Lu Sun Pin jadi berseri-seri wajahnya karena merasa bahwa daripada penonton ternyata ia mendapat dorongan semangat yang hebat, berarti bahwa mereka menaruh simpati kepadanya. Akan tetapi Can kauw-su yang mendengar bahwa dirinya diseru-serukan oleh para penonton yang berpihak kepadanya hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas karena baginya seruan-seruan mereka itu hanya memperuncing suasana dan menyebabkan hati mereka yang bersangkutan semakin panas!

Cio wan-gwe mengacungkan sepasang lengannya pula sebagai isyarat supaya para penonton jangan gaduh, dan ketika suasana sudah tenang kembali hartawan ini melanjutkan kata-katanya:

“Saudara-saudara sekalian, sebagai penduduk kota Tong-koan ini tentu sudah maklum atau sedikitnya pernah mendengar bahwa antara murid-murid dan guru dari kedua bu-koan ini telah terjadi peristiwa-peristiwa bentrokan! Maka sayembara ini disamping untuk mengakhiri bentrokan-bentrokan antara kawan sendiri dan untuk memilih pang-cu, juga dapat diartikan bahwa diselenggarakannya lumba yuda ini untuk menentukan siapakah yang memiliki ilmu silat terbaik di kota Tong-koan ini, yang dilakukan dalam suasana persahabatan, saling mengisi kekurangan, menambah pengalaman guna kerja sama dalam sebuah organisasi Pauw-an-tui ini!

“Adapun acara pibu ini dapat kami terangkan sepagai berikut:

“Pertandingan dilakukan tiga kali di antara tiga calon atau jago yang diajukan dari kedua pihak. Dan pertandingan diserahkan kepada mereka yang bertanding untuk mengadakan perjanjian sendiri, hendak pakai senjata atau tangan kosong dan karena pibu bersifat persahabatan dan bahkan justeru guna kerja sama dalam sebuah organisasi maka bagi mereka yang bertanding tidak boleh sampai menjatuhkan tangan maut!

“Menang atau kalah harus diakui sendiri misalnya siapa merasa sudah tidak tahan menghadapi lawannya, harus secara gagah dan jujur menyatakan kekalahannya dan mesti turun dari panggung ini dengan segera. Dan siapa yang menang, dilarang keras melakukan penyerangan terhadap lawannya yang sudah mengaku kalah itu!

“Dari pihak Tong-koan Te-it Bu-koan akan keluar bertanding So Ma Tek, Sim Kang Bu dan gurunya sendiri, ialah Lu Sun Pin sianseng! Dan dari pihak Sin-kun Bu-koan ialah Kwe Bun, Tan Seng Kiat dan Can Po Goan sianseng!

“Ke tiga calon atau jago dari kedua pihak ini akan berlumba merebut kedudukan Pang-cu, dan selain ia berhak pula mendapat gelar Tong-koan Hohan atau Orang gagah dari kota Tong-koan ini…….!” Kembali terdengar suara riuh pula dengan teriakan-teriakan dan seruan-seruan seperti tadi, bahkan di antara mereka ada yang berteriak supaya pibu ini segera dimulai! Agaknya ia merasa jengkel dengan pidato Cio Wan-gwe yang dianggapnya membuang-buang waktu itu.

Cio wan-gwe memberi tanda pula dengan lengannya meminta ketenangan publik dan kemudian, hartawan ini menyatakan pengumuman yang terakhir:

“Saudara-saudara sekalian! Sehubung dengan ini ada sebuah pengumuman penting yang mesti kalian ketahui, ialah mengingat bahwa organisasi Pauw-an-tui adalah untuk kepentingan kita bersama, maka ujian untuk memilih pang-cu atau yang berhak mendapat julukan Tong-koan Hohan ini tidak terbatas hanya bagi ke dua pihak yang sudah kami sebutkan tadi. Akan tetapi terbuka bagi umum, asal saja yang menjadi penduduk kota Tong-koan atau dusun-dusun yang menjadi wilayahnya!

“Jadi tegasnya, nanti, manakala kedua pihak yang disebutkan tadi sudah selesai bertanding dan siapa yang menjadi pemenang terakhir, seperti misalnya Can sianseng maupun Lu sianseng, maka jika di antara saudara-saudara sekalian ada yang berminat menjadi pemimpin dari Barisan Penjaga Keamanan dan mendapat gelar kehormatan Tong-koan Hohan, kami persilahkan.

“Dan justru inilah yang kami sangat harapkan, supaya naik ke panggung ini dan coba-coba berolah raga, dengan harapan barangkali saja menjadi pemenang terakhir dalam lomba yuda ini sehingga benar-benar ia merupakan seorang yang berharga menjadi ketua dan pantas mendapat gelar kehormatan Tong-koan Hohan!

“Disamping itu, jika di antara kalian ada yang tidak mengerti ilmu silat akan tetapi mempunyai minat menjadi anggauta Pauw-an-tui, kami menyambutnya dengan gembira dan justru dengan jalan ini kami serukan.

“Hai……. segenap penduduk daerah Tong-koan, kami minta perhatian dan kesadaran saudara, mengingat bahwa Pauw-an-tui adalah sebuah badan untuk kepentingan kita bersama, maka kekuatan dan kelemahan Pauw-an-tui ini terletak dalam tangan saudara sendiri!

“Tegasnya ialah kalau Pauw-an-tui beranggauta sedikit, maka diselenggarakannya pibu untuk memilih pemimpin atau ketua ini akan siapa saja ketua dan para anggautanya merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan.

“Dapat kami tegaskan bahwa dalam segala apapun, lebih penting anak buahnya dari pada kepalanya. Tanpa jenderal, sepasukan perajurit masih merupakan kekuatan hebat. Tanpa pemimpin, rakyat masih merupakan massa yang kuat!

“Sebaliknya, tanpa pasukan, jenderal hanya seorang yang tidak berdaya menghadapi lawan. Tanpa rakyat, pemimpin hilang sifatnya sebagai pemimpin.

“Dan demikian juga dengan Pauw-an-tui kita ini, biarpun pemimpinnya gagah berani, akan tetapi kalau anggautanya hanya sedikit sekali, maka kekuatan apakah yang ada padanya untuk menanggulangi dan memulihkan kembali keamanan kota kita daripada gangguan gerombolan penjahat yang beranak buah demikian banyak itu?! Oleh karena itulah, maka sekali lagi kami serukan kepada saudara-saudara bahwa Pauw-an-tui ini adalah sebuah organisasi milik saudara, maka sudah sewajibnyalah bila saudara-saudara mendukungnya!

“Bagi mereka yang berkepandaian ilmu silat, jangan melewatkan saat ini untuk mengikuti sayembara guna menjadi pemimpin dan mendapat gelar kehormatan Tong-koan Hohan. Sementara bagi saudara-saudara yang tidak mengerti ilmu silat jadilah anggauta Pauw-an-tui supaya organisasi kita ini benar-benar merupakan sebuah Barisan Keamanan yang kuat dan dapat mengganyang gerombolan penjahat musuh kita itu!

“Nah, sekarang pertandingan dapat dimulai dan seperti sudah dijelaskan tadi, bahwa pibu ini selain untuk memilih pang-cu, juga merupakan lomba yuda persahabatan untuk mengakhiri persaingan antara pihak Tong-koan Te-it Bu-koan dan Sin-kun Bu- koan. Dan setelah dari kedua pihak ini keluar pemenang terakhir yang dapat juga disebut sebagai juara pertama, maka baru kami persilahkan para hadirin untuk mengikuti sayembara ini! Jelas?!”

Dari para penonton terdengar teriakan-teriakan yang menyatakan bahwa pidato dan pengumuman yang panjang lebar serta seruan dari si hartawan itu telah jelas dan disetujui.

“Terima kasih!!!” kata Cio wan-gwe, sambil menjura dan sebelum mengundurkan diri dari panggung, ia berkata lagi: “Maka sekarang kami persilahkan calon atau jago dari kedua pihak yang akan bertanding dahulu, naik ke panggung!” Setelah itu, Cio wan-gwe membalikkan diri dan turun dari panggung melalui tangga dari mana ia naik tadi. Lalu duduk si sebuah kursi yang masih kosong, yaitu di deretan kursi dimana Can Po Goan dan kedua muridnya duduk.

Dari pihak Lu Sun Pin keluarkan seorang peserta pibu, yaitu So Ma Tek dibarengi munculnya Kwe Bun dari pihak Can Po Goan sebagai pasangan yang akan bertanding dalam babak pendahuluan. Kedua anak muda ini menaiki tangga dan terus ke atas panggung dengan tindakan gagah yang disambut oleh para penonton dengan sorakan dan tepuk tangan yang riuh sekali karena lomba yuda yang mereka tunggu sejak tadi, kini dimulai tentu saja mereka sangat gembira.

Ke dua orang muda itu saling berhadapan dan saling memberi hormat sambil bersenyum mengejek.

“Saudara, kalau tak salah dugaanku. benarkah aku berhadapan dengan Kwe Bun, murid kedua dari Can kauw-su?” demikian So Ma Tek bertanya kepada calon tandingannya karena memang kedua pemuda dalam peristiwa yang lalu, belum pernah saling bertemu, kecuali ketika dari pihak Tong-koan Te-it Bu-koan mengadakan penyerbuan tempo hari dimana So Ma Tek ada turut serta. “Benar! Dan kalau tak salah ingat, benarkah saudara ini bernama So Ma Tek yang ketika kalian menyerbu kami tempo hari menyerang dengan tombak kepadaku?” sahut Kwe Bun dengan suara tandas oleh karena pemuda yang berwatak kurang sabar ini merasa benci sekali terhadap orang-orang dari Tong-koan Te-it Bu-koan.

“Tak salah, kawan,” balas So Ma Tek dengan suara kurang senang karena hatinya merasa sangat tersinggung, karena dianggapnya calon tandingannya ini membangkit-bangkit peristiwa yang memalukan, “Saudara Kwe, aku tahu bahwa kau adalah murid kepala kedua dari Sin-kun Bu-koan sehingga kedudukan kita jadi setingkat, maka aku ingin mengetahui dalam pertandingan ini kita menggunakan ataukah tanpa senjata?”

“Terserah kepadamu, saudara So. Aku selalu bersedia melayanimu!” jawab Kwe Bun sambil sepasang kakinya dipentangkan ke depan dan ke belakang, tubuhnya agak dimiringkan, yaitu semacam posisi yang merupakan kuda-kuda atau dapat juga disebut bahwa kedudukan demikian ini berarti suatu tantangan.

“Bagus!” kata So Ma Tek yang sudah maklum akan sikap lawan, “Karena kita naik tanpa membawa senjata, maka baiklah kita berpibu tanpa senjata oleh karena memang aku ingin merasakan kelihayan kepalanmu yang dapat memukul mati seekor kerbau itu!”

Kwe Bun memang mudah sekali marah, maka mendengar ucapan yang agaknya memandang ringan ini, ia sudah naik pitam, “Baiklah! Dan majulah, kau kawan!”

So Ma Tek cepat memasang kuda-kuda, kemudian berseru: “Awas serangan!” sambil menubruk maju dengan tangan kanan yang dikepalkan menyodok lambung, diberengi tangan kirinya dengan jari-jari terbuka mengarah mata lawan.

Kwe Bun menyambut serangan ini dengan menggunakan sepasang tangannya yang digerakkan ke atas dan ke bawah sehingga serangan dari lawan yang dalam sekali gebrak mengarah kedua sasaran itu, dapat ditangkisnya sekaligus, dan kemudian pemuda ini lalu balas menyerang. Suara penonton yang tadinya berisik menjadi diam dan sunyi karena kini semua mata dan perhatian ditujukan ke arah mereka yang berkelahi di atas panggung.

Ketika sepasang lengannya beradu dengan ke dua lengan Kwe Bun yang menangkis, So Mak Tek merasa terkejut sekali karena sama sekali tidak disangkanya bahwa lawannya benar-benar memiliki tenaga hebat. Akibat beradunya lengan itu ia merasakan kedua lengannya sakit sekali sehingga tanpa disadarinya, wajahnya jadi meringis karena menahan rasa sakit.

Maka dalam jurus selanjutnya ia berlaku sangat hati-hati dan tidak berani pula mengadu kekuatan tenaga karena ia maklum bahwa tenaga lawan lebih besar dari tenaganya, sehingga kalau terus- terusan ia mengadu tenaga, terang sekali ia akan rugi sendiri. Dalam jurus-jurus berikutnya ia mempergunakan kegesitannya, serangan-serangan yang dilancarkannya demikian gesit dan tangkas dan apabila serangannya tampak akan ditangkis oleh lawan, cepat ia menarik kembali tangan mau pun kakinya dan berbareng dengan itu ia mengirim serangan pula dari lain jurusan dengan menggunakan tangan atau kakinya yang menganggur.

Kwe Bun maklum bahwa lawannya ini berlaku cerdik, maka iapun mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk meladeninya sehingga keduanya bertempur secara sebat dan gesit serta seru sekali. Dan ternyata kepandaian mereka sangat seimbang.

Setelah bertempur beberapa belas jurus, maka Kwe Bun mendapat kenyataan bahwa So Ma Tek ini ternyata memiliki kepandaian yang lumayan juga. Dan ketika ia melihat betapa lawannya melakukan serangan dengan hebat dan bertubi-tubi secara nafsu sekali, diam-diam ia merasa girang karena ia maklum bahwa untuk menghadapi lawan yang bernafsu, ia mempunyai siasat untuk melayaninya dan akan membuat lawan itu cepat dikalahkan.

Memanglah, So Ma Tek sesungguhnya mempunyai ilmu silat yang tidak boleh dipandang ringan, kepandaiannya dengan Kwe Bun adalah setingkat. Hanya sayang sekali So Ma Tek kurang tahan uji dan dalam bertempur ia tak dapat mengekang hawa nafsu yang ingin merobohkan lawan dengan secepat mungkin.

Ketika ia mengetahui bahwa Kwe Bun ternyata sangat sulit untuk dapat dikalahkannya dengan segera ia melakukan serangan dengan nekad dan bernafsu sekali dan justru inilah kesalahannya.

Melihat betapa So Ma Tek berkelahi secara nekad dan bernafsu sekali, Kwe Bun sengaja menghadapinya tanpa membalas serangannya. Akan tetapi secara cerdik sekali ia mengganti siasat, yaitu hanya berkelit saja kian kemari sehingga serangan-serangan lawan selalu mengenai angin saja.

Pada suatu kali, kaki So Ma Tek terpeleset setelah ia menubruk tempat kosong karena lawannya yang akan diterkam telah berpindah tempat, sehingga hampir saja ia terjatuh karenanya. “Kau sungguh hebat, saudara So. Akan tetapi hati-hatilah, jangan kau jatuh sendiri sebelum keinginanmu hendak merasakan kelihayan kepalanku, kupenuhi!” Kwe Bun menyindir sambil ketawa-tawa ketika melihat betapa lawannya itu hampir jatuh.

Untuk sejenak So Ma Tek kehilangan keseimbangan badan karena terpeleset, ia mengira Kwe Bun akan menyerangnya dan celakalah ia. Namun hatinya merasa lega karena lawannya tidak mempergunakan kesempatan itu untuk menyerangnya dan diam- diam ia sangat berterima kasih.

Akan tetapi ketika ia merasa disindir, ia menjadi malu dan sangat marah sehingga segera saja ia mengirim serangan dahsyat yang dilakukannya dengan sepenuh tenaga. Papan panggung itu bergerak-gerak tergetar oleh gerakan kakinya yang cepat dan berat.

Kwe Bun masih ketawa-tawa dan dengan kegesitannya ia membuat lawannya berputar-putar karena ia selalu berkelit sambil berputar-putar mengelilingi panggung itu. Setelah mengetahui bahwa lawannya yang nekad dan bernafsu itu menjadi pusing, Kwe Bun membesarkan ketawanya sehingga terdengar suaranya bergelak-gelak nyaring dan ketika lawannya yang makin panas hati itu memukul keras dari depan ke arah dadanya, ia meloncat ke samping.

Dan sebelum So Ma Tek keburu menarik kembali kepalanya, Kwe Bun sudah berada di belakangnya sambil mengayunkan kepalannya ke arah punggung So Ma Tek, yaitu sebuah pukulan yang keras sekali hingga terdengar suara “Buuukkk!”

Karena kepalanya telah pening dan kini ditambah lagi punggungnya dijotos dengan dahsyatnya kini So Ma Tek benar- benar merasakan kelihayan kepalan lawannya seperti .yang kehendaknya dalam ketakburannya tadi. Pemuda ini terloncat ke depan dan tidak ampun lagi tubuhnya terpelanting ke luar panggung dan jatuh ke bawah dalam keadaan pingsan!

Terdengar tempik sorak gegap gempita menyambut kemenangan Kwe Bun ini. Di bawah panggung, tubuh So Ma Tek digotong oleh kawan-kawannya untuk kemudian diberi pertolongan dan bersamaan dengan itu tampak berkelebatan sesosok tubuh yang melayang ke atas panggung dan ketika sudah berdiri berhadapan, ternyata yang melompat naik ini adalah murid kepala dari Lu Sun Pin, yaitu Sim Kang Bu! “Eh! Kwe Bun! Lupakah kau akan peraturan pibu ini yang telah diumumkan oleh Cio Wan-gwe tadi bahwa dalam lomba yuda ini tidak boleh saling mencelakakan?! Akan tetapi mengapa kau berlaku begitu kejam terhadap suteeku?!” Demikian sambil bertolak pinggang, Sim Kang Bu menegur Kwe Bun dengan sangat marah!

Melihat sikap musuh lamanya ini Kwe Bun mengangkat dada dan kemudian katanya: “Saudara Sim yang gagah. Kau datang-datang menyalahkan aku dan kau menganggap bahwa aku melanggar peraturan pibu yang sudah ditentukan?! Sungguh seenakmu saja kau bicara! Tidakkah kau dengar tadi bahwa kepalanku mampir di punggung suteemu itu adalah atas kehendaknya sendiri?!”

“Hm, sombong benar!” dengus Sim Kang Bu marah dan kemudian ia membentak nyaring: “Orang she Kwe, kau harus mengerti akan kekurang ajaranmu yang melanggar peraturan ini!”

Kemudian, tanpa memberi peringatan lagi terhadap lawannya sebagaimana biasanya orang gagah yang mulai membuka serangan, Sim Kang Bu mengirim serangan kilat dengan gerak tipu Go-houw-pok-yong (Harimau lapar menubruk kambing)! Akan tetapi sebelum serangannya ini dilanjutkan, tiba-tiba dari bawah panggung terdengarlah seruan nyaring: “Kang Bu tahan! Jangan serang dia!!!”

Seruan ternyata dari Lu Sun Pin dan mau tak mau Sim Kang Bu harus mentaati seruan suhunya sehingga ia segera “mengerem” serangannya dan memandang ke arah suhunya dengan sinar mata heran.

Ketika Lu Sun Pin tampak menggapaikan tangannya sambil berseru pula: “Kau turun dan kemari dulu, Kang Bu!”

Pemuda she Sim itu melompat turun dan mendapatkan suhunya yang kemudian ternyata memberi teguran kepadanya karena dalam babak kedua ini,

“Ia tidak boleh menyerang pemenang dari babak pertama, karena kalau kau sampai menyerang pemenang babak pertama, berarti kau sendiri melanggar peraturan! Lawan bertandingmu bukan murid kedua si Kwe Bun itu, melainkan adalah murid kepala dari pihak lawan, yaitu yang kedudukannya setingkat denganmu.”

Demikian dalam tegurannya itu Lu Sun Pin memberi keterangan kepada muridnya. Kini Sim Kang Bu mengerti mengapa ia dilarang menyerang Kwe Bun dan ia merasa malu sekali karena telah berlaku keliru dalam tata cara lomba yuda yang ditonton oleh masyarakat kota Tong- koan ini.

Sementara itu Kwe Bun pun sudah turun dari panggung karena pemuda ini juga dipanggil oleh gurunya supaya mengundurkan diri dari gelanggang.

Ketika itu tampak Cio wan-gwe naik ke atas panggung dan sebagai panitia yang merangkap juri dalam pertandingan yang diselenggarakannya ia lalu menyatakan pengumuman dengan suara nyaring:

“Saudara-saudara yang terhormat! Babak pertama sudah selesai dengan kemenangan murid kedua dari Sin-kun Bu-koan sehingga dengan demikian bu-koan tersebut menang satu biji atau tegasnya kosong-satu untuk Sin-kun Bu-koan……”

Tiba-tiba pecahlah tempik sorak yang riuh sekali dari para penonton yang berpihak kepada Can Po Goan sehingga pengumuman Cio wan-gwe yang belum habis itu terputus karenanya. Kemudian, setelah publik tenang kembali, Cio wan- gwe berkata pula. “Sekarang babak kedua segera akan dimulai maka kami persilahkan murid kepala dari kedua pihak naik ke atas panggung!” Setelah itu, Cio wan-gwe turun dan duduk lagi di tempatnya semula.

Kemudian tampaklah Sim Kang Bu naik ke atas panggung. Pemuda ini sekarang tidak meloncat biasa seperti tadi, akan tetapi dari bawah, yaitu dari tempat dimana ia berdiri menerima peringatan dari suhunya tadi.

Ia sengaja memperlihatkan aksinya dengan gaya lompat yang indah sekali sambil mempergunakan gerak tipu Yan-cu-tui-oh (Burung Walet Pulang ke Sarang). Tubuhnya melayang cepat dan tiba di atas panggung dengan ringan bagaikan seekor burung hinggap di atas cabang pohon.

Penonton menyambut demonstrasi ini dengan tepuk tangan memuji. Ternyata kini Sim Kang Bu telah memiliki ginkang yang lumayan dan jauh lebih baik daripada ketika ia pertama kali meloncat pagar di belakang Sin-kun Bu-koan yang menjadi gara- gara timbulnya permusuhan antara Can Po Goan dan Lu Sun Pin ini. “Yang hendak bertanding denganku, diminta naik dengan segera!” kata Sim Kang Bu dengan suara jumawa dan sikap sombong sambil memandang ke arah tempat duduk pihak Can kauw-su.

Sebagai jawabannya, tampak Tan Seng Kiat berdiri dari tempat duduknya di samping Can kauw-su dan sekali sepasang kakinya digerakkan, maka tubuhnya melompat ke atas panggung dengan kedua tangan dipentang lebar. Kemudian selagi tubuhnya mengapung dan sudah berada di atas panggung, ia melakukan gerakan jungkir balik dua kali dan kakinya tiba di atas papan panggung tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Gerak lompat yang disebut Sin-liong-jip-hay (Naga sakti turun ke laut) ini memang kelihatannya indah sekali, karena itu para penonton kembali bertepuk tangan dan bersorak memuji ketangkasan pemuda itu.

Begitu berhadapan dengan Sim Kang Bu, Seng Kiat membungkukkan tubuhnya sedikit memberi hormat sambil menjura dan berkata: “Selamat bertemu di gelanggang lomba yuda ini, saudara Sim. Dan bagaimana, pundakmu yang kudengar diseruduk kerbau gila itu, sudah baik?!”

Sim Kang Bu yang beradat berangasan, ketika mendengar pertanyaan yang diucapkan dengan nada halus dan sikap sungguh-sungguh akan tetapi mengandung ejekan itu, hatinya mendongkol sekali dan ia menjadi marah, maka dengan sangat. nyaring dan ketus ia berkata:

“Sudahlah, jangan banyak cakap! Marilah kita mulai untuk menentukan ilmu silat siapa yang sebenarnya lebih unggul!?”

“Boleh! boleh! Dan karena kau yang ingin terburu-buru, maka kupersilahkan kau maju dan membuka serangan terlebih dahulu!” balas Tan Seng Kiat dengan tersenyum. Pemuda sabar ini sama sekali tidak kelihatan memasang bhesi (kuda-kuda), sungguhpun ia maklum bahwa lawannya itu akan segera maju menyerangnya.

Akan tetapi ternyata pemuda she Sim itu tidak segera menerjang, melainkan berdiam diri saja seperti ragu. Memang, Sim Kang Bu merasa sangsi untuk bertempur dengan tangan kosong karena dalam ilmu silat ini, dahulu ia pernah merasakan kelihayan Tan Seng Kiat. Oleh karena itu ia ingin bertanding dengan mempergunakan senjata sekalian mencoba ilmu silat senjata lawan.

“Sahabat! Mengapa kau diam saja?” tanya Tan Seng Kiat ketika melihat sikap orang yang dihadapinya itu. “Setelah pertandingan babak pertama tadi dilakukan dengan tangan kosong, maka babak kedua bagi kita ini lebih baik dengan bersenjata, karena Pauw-an-tui ini selain merupakan Barisan Penjaga Keamanan merupakan barisan tempur karena harus mengganyang gerombolan penjahat.

“Jadi tentu saja jauh lebih baik sambil mempergunakan senjata daripada bertangan kosong. Untuk kepentingan kita bersama ini, beranikah kau berpibu sambil memainkan senjata?”

Kini Tan Seng Kiat yang bersikap seperti ragu dan untuk sesaat ia tidak menjawab, ia merasa ragu bukan karena takut berpibu dengan senjata, melainkan karena pihaknya datang tanpa membawa senjata dan ia tidak berani mengambil keputusan sebelum mendapat izin dari suhunya, maka dari atas panggung ia memandang ke arah suhunya dengan sinar mata minta keputusan. Can kauw-su yang juga mendengar pertanyaan pemuda she Sim tadi dan mengerti akan keraguan muridnya lalu berkata:

“Seng Kiat, berpibu sambil memainkan senjata yang memang sangat penting sekali bagi kita sebagai anggauta Pauw-an-tui, harus mau terima. Akan tetapi karena pihak kita datang kemari sengaja tidak membawa senjata, maka kupikir pihak Lu sianseng akan memberi pinjam senjata untuk kau pakai sebentar!” Kata-kata Can Po Goan ini selain memberi jawaban kepada muridnya, juga merupakan permintaan kepada Lu Sun Pin, yaitu minta pinjam senjata.

Dan Lu Sun Pin ketika mendengar hal ini, segera berseru dari tempat duduknya: “Boleh, boleh!” dan sambil mendongak memandang ke arah Tan Seng Kiat yang berdiri di atas panggung, ia bertanya: “Senjata apakah yang hendak kau gunakan, anak muda?!”

Tan Seng Kiat membungkuk memberi hormat dan menjawab dengan sopan: “Boanpwee (aku yang rendah) biasa menggunakan senjata golok.”

“Bagus! Sebagai murid kepala dari si Golok Sakti Pencabut Nyawa (Toat-beng Sin-to) tentu saja mewarisi ilmu golok dari gurunya dan kebetulan sekali muridku, Sim Kang Bu juga mahir sekali mempermainkan goloknya!”

Setelah berkata demikian, Lu Sun Pin menyuruh para muridnya yang duduk di belakang untuk mengeluarkan dua batang golok, dan setelah dua batang golok itu berada di dalam tangannya segera ia berseru:

“Kang Bu, terimalah golok untukmu ini!” Tangan kanannya bergerak dan sebatang golok yang dipegangnya tadi, tampak melayang karena dilontarkan dengan gerakan Lutung Sakti Melontar Buah. Dengan bagian pangkal terlebih dulu, golok itu meluncur cepat ke arah muridnya.

Dan ketika Sim Kang Bu hendak menyambut golok yang melayang di atas kepalanya itu, ia menggunakan gerakan Lutung Sakti Menyanggap Buah sebagai imbangan gerak lontar dari suhunya. Kaki kirinya, dengan sedikit dijingkikkan berdiri di atas papan panggung dan kaki kanannya diangkat dan ditekuk ke depan, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka diletakkan di depan dada, adapun tangan kanannya diulurkan ke atas dan menangkap golok yang datang meluncur bagaikan anak panah dan dengan cepat sekali, ia menangkap bagian pangkalnya!

Sorak sorai dan tepuk tangan memuji terdengar riuh sekali sebagai pernyataan kagum akan caranya Sim Kang Bu menyambut golok itu. Dan sementara itu, dari bawah panggung terdengar seruan Lu Sun Pin yang hendak “mengirimkan” golok yang sebatang lagi kepada Tan Seng Kiat:

“Tan siauw-ko (engko cilik she Tan), coba kaupun terima golok ini!” lalu seperti tadi, golok dilontarkannya pula ke atas panggung dan langsung mengarah Tan Seng Kiat, persis ke bagian ulu hatinya! Para penonton menahan napas karena kaget dan bahkan berapa orang kedengaran berseru ngeri. Karena golok yang dilontarkan oleh Lu Sun Pin kali ini bukan bagian pangkalnya yang meluncur terlebih dahulu, akan tetapi sebaliknya golok itu dilontarkan dengan bagian ujungnya yang runcing dan tajam itu terlebih dulu hingga tak ubahnya seperti sebatang tombak yang meluncur dan menyerang.

Untuk menangkap golok terang sukar dan berbahaya dari pada Sim Kang Bu tadi. Apalagi golok mengarahkan bagian ulu hati dan bukan ke atas kepala seperti yang dilakukan terhadap Sim Kang Bu tadi, inilah sebabnya maka para penonton merasa kaget dan ngeri.

Can Po Goan Yang lihat muridnya diperlakukan demikian rupa oleh Lu Sun Pin, maklum bahwa pihak lawan itu mempunyai dua maksud. Pertama bermaksud menguji, akan tetapi kalau pemuda yang “diuji” ternyata tak dapat menangkap atau berkelit dari serangan golok itu, niscaya ia akan celaka, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Lu Sun Pin mempunyai maksud keji.

Namun sungguhpun Can Po Goan maklum betapa bahayanya keselamatan muridnya ketika itu. Sama sekali ia tidak cemas, bahkan sikapnya tetap tenang saja, karena guru silat tua ini yakin bahwa muridnya itu dapat berbuat sebagaimana mestinya!

Benar saja, ketika melihat betapa golok itu dilontarkan kepadanya secara demikian maka maklumlah Tan Seng Kiat bahwa dirinya sedang diancam bahaya. Karena golok tersebut dilontarkan dengan sepenuh tenaga oleh seorang ahli silat tinggi dan lagi berjarak demikian dekat sehingga meluncurnya seperti kilat dan sukar sekali untuk dikelit apalagi menangkapnya!

Akan tetapi Tan Seng Kiat harus merasa malu mengaku murid kepala dari Can kauw-su kalau ia tidak mampu menyelamatkan diri dari luncuran golok yang mengarah bagian ulu hatinya. Kalau hanya berkelit saja, memang tidak susah, akan tetapi disamping menyelamatkan diri ia harus menangkap golok.

Hal ini benar-benar tidak mudah dilakukan. Namun justru inilah yang hendak didemonstrasikan oleh Tan Seng Kiat untuk memperlihatkan kepandaiannya dan untuk mempertinggi gengsi suhunya bagi mata pihak lawan dan masyarakat Tong-koan umumnya.

Demikianlah, Tan Seng Kiat yang sikapnya selalu tenang namun sangat waspada itu, ketika melihat golok meluncur cepat mengarah dadanya, ia sekali-kali tidak menjadi gugup karena ia sudah mempunyai perhitungan yang tepat untuk gerakan yang dilakukannya. Ia tidak berusaha melompat atau berkelit, melainkan dadanya sengaja dipentangkan seakan-akan hendak membiarkan ujung golok itu menancap di ulu hatinya!

Akan tetapi ketika ujung golok yang tajam dan mengerikan hampir menghunjam dadanya kira-kira sejengkal lagi, pemuda itu membuat gerakan sedikit yang dilakukannya sangat cepat sehingga tidak kelihatan. Tubuhnya digoyangkan ke arah kanan dan lengan kirinya sebatas ketiak agak dipentangkan.

Oleh karena pergerakkannya yang sedikit ini maka golok yang tadinya mengarah dada kini meluncur dan molos melewati ketiak kiri yang lengannya tidak dipentangkan itu, dan tiba-tiba Tan Seng Kiat merapatkan lengan kirinya sehingga luncuran golok jadi “macet” dan terhenti di bawah jepitan ketiaknya! Ini suatu perbuatan yang berani akan tetapi sangat tepat dan gerakan yang dilakukan oleh Tan Seng Kiat ini disebut gerak tipu Dewa Mabok Menggepit Guci Arak!

Para penonton yang tadi merasa cemas akan keselamatan Tan Seng Kiat kini melihat betapa berani dan mengagumkannya pemuda itu “menyambut” golok. Mereka gembira sekali dan tepik sorak mereka lebih gemuruh menandakan bahwa pujian dan kekaguman mereka terhadap Tan Seng Kiat lebih besar.

Memang diam-diam para penonton merasa simpati kepada Tan Seng Kiat. Karena mereka mengetahui bahwa pemuda ini biarpun memiliki kepandaian silat tinggi sikapnya tidak sombong dan wataknya yang sabar itu menyebabkan orang menyukainya.

“Bagus!” tanpa terasa Lu Sun Pin juga turut memuji dan kemudian ia merasa malu karena muridnya belum tentu dapat berbuat seperti itu.

Kemudian rasa malunya bertambah lagi ketika ia melihat betapa Tan Seng Kiat dari atas panggung memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan bibir menyunggingkan senyuman sindir tatkala pemuda itu berkata kepadanya sambil menjura dan golok itu masih berada di dalam jepitan ketiak kirinya:

“Terima kasih atas kebaikanmu meminjamkan golok ini, tuan Lu!”

Kemudian tangan kanan Tan Seng Kiat mengambil golok yang dijepitnya itu dan memandang ke arah Kang Bu yang ketika itu ternyata sudah bersiap sedia sambil menimangkan goloknya di depan dada. “Marilah, kita mulai kawan!” katanya.

“Kau yang menantang, maka bergeraklah kau lebih dulu,” balas Tan Seng Kiat dengan sikapnya yang tenang sekali dan bahkan goloknya dipegang secara sembarangan saja seakan-akan tidak akan bertempur.

Dan sebelum kedua orangmuda bergerak, tiba-tiba dari bawah panggung terdengar seruan dari Cio wan-gwe yang memberi peringatan:

“Kedua orang muda, ingatlah senjata yang kalian pegang itu tidak bermata, maka kalian harus hati-hati, jangan sampai menimbulkan kerugian antara kita sendiri!”

“Baik……! Baik!” jawab Sim Kang Bu dan Tan Seng Kiat hampir bersamaan, tanda keduanya maklum akan peraturan pibu yang sudah ditentukan. Dan pada detik berikutnya keduanya telah saling serang.

Sim Kang Bu bergerak lebih dulu sambil berseru: “Awas serangan!” goloknya disabetkan ke arah leher lawan.

Tan Seng Kiat menggerakkan goloknya dengan tenang dan menangkis. Kemudian setelah menangkis itu, secepat kilat goloknya disabetkan ke bawah menyambar ke arah kaki Sim Kang Bu dan pemuda ini terkejut sekali karena dalam menangkis, lawannya dapat melanjutkan gerakan goloknya sedemikian rupa, sehingga kalau ia tidak cepat meloncat, pasti sepasang kakinya akan terbabat putus!

Dan demikianlah selanjutnya, mereka sudah bertempur seru. Masing-masing mengeluarkan geraktipu-geraktipu yang berbahaya dan mematikan. Golok mereka berkelebatan sedemikian rupa dan kadangkala ke dua senjata ini saling bentrok, menimbulkan suara nyaring dan mengeluarkan bunga-bunga api berpijar.

Bagi para penonton yang tidak mengerti ilmu silat, tentu saja pertandingan ini membuat hati mereka berdebar dan cemas karena khawatir kalau-kalau seorang di antara kedua pemuda itu akan menjadi korban.

Setelah kedua pemuda itu bertempur selama duapuluh jurus lebih, maka bagi mata Lu Sun Pin dan Can Po Goan dan juga Cio wan- gwe yang melihat pertempuran itu, ternyata bahwa gerakan golok Sim Kang Bu lebih kuat dan ganas, serangan-serangannya selalu bersifat mematikan! Sedangkan Tan Seng Kiat bertempur dengan tenang dan lebih banyak melakukan pertahanan daripada menyerang, setiap gerakan goloknya selalu diatur dengan perhitungannya yang tepat.

Akan tetapi hal ini tentu saja tidak diketahui oleh para penonton yang tidak mengerti ilmu silat tinggi karena mereka hanya melihat betapa sinar golok di tangan Sim Kang Bu sangat mengerikan, bagaikan gelombang samudera yang bergulung-gulung memukul pantai. Sedangkan golok di tangan Tan Seng Kiat berkelebatan laksana halilintar dan bergulung bagaikan sebuah benteng pertahanan yang kuat!

Kalau diukur, kepandaian kedua orang muda ini memang seimbang. Sim Kang Bu boleh dikatakan menang tenaga, akan terapi dalam hal ginkang, pemuda ini kalah oleh Tan Seng Kiat. Oleh karena Sim Kang Bu beradat berangasan, melancarkan serangan-serangannya secara bernafsu, beda dengan Tan Seng Kiat yang berwatak sabar dan selalu tenang itu. Sengaja ia mengambil kedudukan bertahan saja, karena ingin mengetahui besar tenaga lawan dan siasatnya.

Melihat bahwa lawannya hanya bertahan saja, Sim Kang Bu maklum bahwa ia sedang disiasati. Ia menjadi mendongkol dan penasaran sekali, karena itu ia segera mengeluarkan tipu-tipu yang paling diandalkan warisan dari suhunya. Sambil berseru keras, pemuda ini tiba-tiba melakukan serangan yang luar biasa ganasnya, yakni dengan gerak tipu Hong-sauw- pay-yap atau Angin Menyapu Daun Rontok. Goloknya benar-benar merupakan angin taufan yang menderu-deru dan menyambar- nyambar dengan kuat serta cepat sekali sehingga golok itu seakan- akan menjadi empat batang yang mengancam tubuh lawan dari empat penjuru!

Melihat perobahan yang tiba-tiba dan hebat ini, diam-diam Tan Seng Kiat merasa kagum, akan tetapi oleh karena ia memiliki sifat tenang maka dalam menghadapi serangan ini ia tidak gugup. Dengan ketenangan disertai kegesitannya yang mengagumkan berkat gin-kangnya yang sudah tinggi, serangan lawan yang dahsyat itu ditangkisnya dengan memainkan tipu silat dalam jurus yang disebut Seng-siok-hut-si atau Musim Panas Mengebut Kipas. Goloknya diputar bagaikan kitiran untuk melindungi seluruh tubuhnya sehingga tiap tusukan atau babatan golok lawannya selalu tertangkis dengan kuatnya.

Setelah merasa cukup mengetahut “isi” lawan, ia lalu mengganti taktiknya. Kalau sejak tadi hanya bertahan saja, maka sekarang ia mulai mengadakan serangan balasan. Dan demikianlah, tiba-tiba Tan Seng Kiat berseru nyaring sambil melompat ke depan, golok di tangannya berkelebat menyambar dengan serangan Hui-pau- liu-coan atau Air terjun Bertebaran.

Dan benar saja, serangan ini membuat Sim Kang Bu terkejut dan gugup dan justeru karena emosinya inilah sebentar saja pemuda she Sim ini menjadi kewalahan dan mulai mundur, bertempur sambil mundur berputar-putar. Tan Seng Kiat tidak memberi hati lagi. Ia terus menghujani dengan serangan yang bertubi-tubi, sehingga lawannya terdesak dan setiap saat bisa tergelincir jatuh ke bawah panggung!

Para penonton yang menyaksikan pertandingan ini, menjadi tegang dan cemas sekali. Biarpun tidak mengerti ilmu silat mereka dapat merasakan bahwa pertandingan ke dua pemuda itu tidaklah secara pibu lagi, melainkan sudah menjadi pertempuran yang sungguh-sungguh dan tidak akan selesai kalau salah seorang belum roboh.

Menurut aturan, Sim Kang Bu yang sudah terdesak itu semestinya melompat dari kalangan dan mengaku kalah, akan tetapi karena ia bersifat berangasan dan angkuh, maka baginya lebih baik mati di bawah golok lawan dari pada ia mesti mengaku kalah. Oleh karena inilah, maka biarpun sudah terdesak sehingga mundur terus, namun ia terus saja mengadakan serangan secara nekad dan mati-matian!

Tan Seng Kiat merasa penasaran dan gemas juga melihat kebandelan lawan yang tidak tahu diri itu sehingga ia maklum bahwa pertandingan ini tidak akan cepat selesai selama kawannya ini belum dibikin luka atau dirobohkan. Dan karena serangan- serangan Sim Kang Bu yang sambil mundur berputaran itu juga amat berbahaya, maka terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak lebih hebat sambil mengirim serangan-serangan yang mematikan.

Akan tetapi, ternyata Sim Kang Bu terlalu keras hati. Meskipun keadaannya sudah payah sekali dan napasnya terengah-engah, sedangkan harapan menang dalam pibu ini sudah setipis kulit bawang, namun ia pantang menyerah dan mengaku kalah, lakunya bagaikan seorang pahlawan yang mempertahankan nyawanya sampai titik darah terakhir!

Pada suatu saat, serangan Tan Seng Kiat demikian cepat datangnya sehingga ketika Sim Kang Bu dengan terkejut menangkis, api memancar keluar dari ke dua batang golok yang saling bentur. Sim Kang Bu merasa betapa lengannya gemetar dan telapak tangan yang mencekal gagang golok, terasa sakit dan pedas!

Dan ketika ia hendak menggerakkan senjatanya untuk menyerang, Tan Seng Kiat mendahuluinya dengan serangan kilat ke arah batang leher! Sim Kang Bu masih dapat menangkis serangan ini, akan tetapi karena ia sudah lelah maka ketika ia menggerakkan goloknya untuk menangkis ia terhuyung hampir jatuh, sedangkan pada saat itu Tan Seng Kiat tidak mau memberi hati dan menubruk dengan goloknya yang berkelebat seperti halilintar!

Tepat dalam detik yang sangat berbahaya bagi Sim Kang Bu, tiba- tiba terdengar suara keras: “Kang Bu, kau sudah kalah!”

Dan Tan Seng Kiat merasa betapa pundaknya ditolak orang hingga ia terdorong mundur sampai tiga langkah, sedangkan orang yang datang memisah itu, sekali memegang tangan Sim Kang Bu telah berhasil menarik pemuda itu turun dari panggung. Kemudian orang yang memisah itu melompat kembali ke atas panggung dan berdiri di muka Tan Seng Kiat sambil berkata:

“Siauw-ko, harap kau maafkan muridku yang ngotot itu!”

Tan Seng Kiat memandang dan setelah melihat bahwa orang itu adalah Lu Sun Pin, maka ia menjura sambil berkata: “Terima kasih, Lu Sianseng, aku merasa kagum akan kegagahan saudara Sim itu!”

Setelah berkata demikian, Tan Seng Kiat melompat turun dan duduk di dekat suhunya yang menyambutnya dengan wajah gembira dan bangga. Lu Sun Pin juga sudah turun lagi dan sementara itu, tempik sorak para penonton gegap gempita membelah angkasa menyambut kemenangan Tan Seng Kiat, pemuda yang mereka sangat sukai itu.

Kemudian sang juri, yaitu Cio wan-gwe tampil ke atas panggung dan menyatakan bahwa pertandingan babak kedua sudah berakhir dan dimenangkan oleh murid Can kauw-su pula, hingga dengan demikian kedudukan berobah menjadi kosong-dua untuk kemenangan pihak Sin-kun Bu-koan.

“Sekarang kami persilahkan peserta babak terakhir ini naik ke panggung!” kata Cio wan-gwe selanjutnya.

Yang terlebih dulu tampil adalah Lu Sun Pin, guru silat dari Tong- koan Te-it Bu-koan. Ia naik ke atas panggung dengan melakukan gerak lompat Sin-eng Seng-thian atau Garuda sakti melayang ke langit, sebuah gerakan yang amat indah dipandang. Sambil melompat, ia membuka kedua tangannya ke kanan dan ke kiri bagaikan sayap garuda, kedua kakinya ditekuk ke atas seakan- akan cakar garuda hendak menyambar dan siap mencengkeram mangsa, tubuhnya seakan-akan telungkup di udara.

Ketika tubuhnya yang tinggi besar itu turun ke atas papan panggung, ke dua kakinya diturunkan dan hinggap di atas papan demikian ringannya bagaikan seekor kupu-kupu yang menclok di atas setangkai bunga mawar. Tentu saja gerakannya ini disambut dengan tempik sorak penonton yang merasa kagum sekali.

Dengan lagak seorang jago nomor satu guru silat yang menamakan bu-koannya Nomor Satu di kota Tang-koan ini menjura ke arah para penonton. Kemudian berdiri mengangkat dada, bertolak pinggang, menanti kedatangan lawan.

Setelah ditunggu sesaat lamanya, baru Can Po Goan kelihatan berdiri dari tempat duduknya dan dengan langkahnya yang tenang ia mendekati panggung. Dan cara guru silat tua ini menaiki panggung, sungguh di luar dugaan siapapun.

Ia bukan melompat sebagaimana yang diakukan oleh Lu Sun Pin atau menaiki tangga seperti halnya Cio wan-gwe, melainkan menggunakan tangan dan kakinya untuk memanjat balok tiang yang tegak di sebuah sudut lui-tay itu. Seperti seekor monyet memanjat pohon!

Tentu saja cara Can kauw-su ini kelihatannya lucu dan penonton pada ketawa ramai. Tetapi mereka yang berpihak kepadanya menjadi kecewa sekali karena kalau meloncat ke atas panggung saja tidak becus, bagaimana pula hendak melawan kauw-su dari Tong-koan Te-it Bu-koan yang benar-benar gagah itu?

Akan tetapi Lu Sun Pin dan Cio wan-gwe yang berdiri di atas panggung, melihat gerakan yang dilakukan oleh Can Po Goan itu menjadi kagum dan terkejut. Karena mereka mengetahui bahwa guru silat tua itu sedang menunjukkan ilmu memanjat Pek-houw- yu-chong (Cecak merayap tembok) yang hanya dapat dilakukan oleh seorang yang sudah mempunyai tenaga lweekang tinggi!

Kedua telapak tangan dan kaki Can kauw-su bagaikan kaki tangan binatang cecak dapat lengket di balok yang bundar licin itu tanpa terpeleset sedikit juga! Ilmu ini sesungguhnya sepuluh kali lipat lebih sukar dipelajari daripada meloncat panggung yang tingginya dua kali panggung ini!

Setelah tiba di atas panggung, Can kauw-su berdiri menghadapi Cio wan-gwe dan berkata: “Ah, Cio wan-gwe. Kau keterlaluan sekali membuat panggung ini semakin tinggi, sehingga aku yang sudah tua ini bersusah payah menaikinya!”

Para penonton yang berdiri di dekat panggung dan mendengar ucapan ini, tertawa riuh rendah karena menganggap guru silat tua itu sangat lucu dan benar-benar tidak bisa melompati panggung:

“Ah, Can toako, jangan kau terlalu merendahkan diri,” ujar Cio wan- gwe. Kemudian hartawan ini berseru kepada para penonton:

“Saudara-saudara semua, seperti sudah kukatakan tadi, bahwa pertandingan yang akan dilakukan antara kedua guru silat ini adalah babak terakhir dari acara yang sudah ditentukan. Jadi tegasnya, setelah keluar pemenang dari babak terakhir ini maka pibu ini merupakan acara bebas, artinya siapa saja, asal warga kota Tong-koan, dipersilahkan mengajukan diri untuk menandingi si pemenang.

“Acara bebas ini diselenggarakan tanpa batas, atau jelasnya dilakukan terus menerus selama satu hari ini sehingga akhirnya terdapat orang yang benar-benar terpandai dan pantas menjadi ketua Pauw-an-tui serta mendapat gelar Tong-koan Hohan! Nah, sekarang Lu kauw-su dan Can kauw-su yang sudah tampil ini akan segera berlomba yuda untuk membuktikan siapa yang lebih unggul dan juga untuk mengakhiri persaingan dan permusuhan yang tiada gunanya itu.

“Sekian, dan kini panggung ini kami serahkan ke dalam kekuasaan Lu kauw-su dan Can kauw-su yang pasti akan menarik perhatian saudara-saudara sekalian!” Akhirnya Cio wan-gwe turun, kini di atas panggung tinggal Lu Sun Pin dan Can Po Goan yang sudah saling berhadapan.

Semua penonton menahan napas. Semua mata dengan tegang ditujukan ke arah dua jago silat yang hendak bertanding itu.

Kedua jago tua itu tampak saling menjura, dan seperti yang sudah pernah terjadi dalam pada saling memberi hormat keduanya sudah sama-sama menunjukkan kepandaian mereka. Hanya hal ini tidak dapat dilihat oleh para penonton yang tidak paham ilmu silat tinggi.

Dalam saling “manjura” itu, diam-diam mereka sudah bergebrak mengadu tenaga lweekang yang mereka kerahkan melalui kepalan-kepalan tangan mereka yang bersikap seperti menjura itu. Akan tetapi karena tenaga dalam mereka dapat dikatakan seimbang dan serangan dari yang lain sebelum mengenai sasaran, maka adu tenaga dalam ini tidak kelihatan oleh para penonton. Yang mereka lihat hanya ialah kedua jago silat itu saling memberi hormat biasa.

“Can kauw-su, mari kita tua sama tua mencari penentuan dari pibu ini. Keluarkanlah senjatamu!” kata Lu Sun Pin kemudian dengan sikap menantang.

Can Po Goan tersenyum sabar ketika menjawab: “Lu kauw-su, terus terang kukatakan bahwa suara hatiku sangat berlawanan dengan adanya pibu ini. Oleh karena kita yang sama-sama saling menunjukkan kebodohan di atas panggung ini tidak ubahnya seperti badut-badut sandiwara!

“Akan tetapi karena kuingat bahwa pibu ini demi kepentingan Pauw-an-tui dan kepentingan kita penduduk kota ini semuanya maka secara terpaksa sekali aku harus tunduk kepada syarat dan saran yang sudah ditentukan Cio wan-gwe. Dan karena pibu ini hanya bersifat persahabatan, maka sebaiknya kita bermain-main dengan tangan kosong saja!”

Lu Sun Pin ketawa bergelak dan terang sekali mencemoohkan kata-kata Can Po Goan itu, “Ah, agaknya kau ngeri terluka dan takut mati, Can kauw-su,” katanya. Dikatakan dirinya “takut mati.” Can kauw-su menghentikan senyumnya.

“Sahabat Lu, kau jangan salah raba! Kau sebagai seorang ahli silat tinggi tentu maklum bahwa bagi seorang yang masih rendah kepandaiannya, kalau mematahkan sebatang kayu mesti menggunakan golok atau kampak. Sebaliknya bagi orang yang ilmunya sudah sempurna, kayu dapat dipatahkan tanpa mempergunakan senjata tajam apa pun!

“Perkelahian dengan tangan kosong tidak kurang berbahayanya daripada mempergunakan senjata, bahkan tidak jarang orang- orang gagah di kalangan bulim (rimba persilatan) yang tewas dengan menderita luka hebat di bagian dalam tubuhnya. Padahal ia hanya diserang dengan tangan kosong saja!

Sahabat Lu, tadi kau mengatakan bahwa aku merasa ngeri mendapat luka dan takut mati, dan kalau kau tetap menghendaki pibu ini bersenjata, maka berani kukatakan bahwa masih rendah sekali tingkat kepandaianmu. Dan sungguh memalukan kalau kau menamakan bu-koanmu itu Tong-koan Te-it Bu-koan itu!”

Panas dada Lu Sun Pin mendengar kata-kata ini dan sambil tersenyum masam ia berkata sebagai balasan: “Oh, agaknya kau hendak mempertontonkan kepalan saktimu. Baiklah, kita berpibu tanpa senjata dan kita buktikan kepada umum kepalan siapa yang lebih ampuh. Memang aku ingin membuktikan betapa hebatnya julukanmu Po-thauw Sin-kun itu! Maka, Can kauw-su, majulah kau dan kita bertanding…….!”

“Tidak, Lu kauw-su dari Tong-koan Te-it Bu-koan yang berjuluk si Pagoda Besi, sejak semula kau hendak menjajalku maka semestinya kau yang mulai menyerang!” tukas Can kauw-su sambil memasang bhesi yang biasa dilakukannya sejak masa mudanya, yaitu kedua kaki dipentang ke kanan kiri, kedua lengannya bersidakap di depan dada sambil menghadap lawan.

Melihat betapa lawannya telah memasang bhesi Gunung Thay-san Menjulang Kokoh, Lu Sun Pin tidak sungkan lagi, maka sambil berseru “Awas pukulan!” Ia majukan kakinya dan menyerang dengan tipu pukulan Ki-hok-sauw-thian atau Mengangkat Obor Membakar Langit!

Tangan kirinya mengacung ke atas seakan-akan sedang memegang obor dan hendak membakar langit. Gerakan ini sebenarnya sebuah pancingan belaka untuk mengalihkan perhatian lawan supaya dicurahkan kepada tangan kirinya itu. Akan tetapi berbareng dengan itu tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka membuat gerakan mendorong ke arah tubuh lawan. Semacam dorongan yang mengandalkan lweekang tinggi hingga sebelum tangan yang mendorong ini mengenai tubuh yang menjadi sasaran, angin dorongan itu telah terasa kekuatannya oleh Can Po Goan.

Guru silat she Can itu dapat memiringkan tubuhnya sedikit ke samping dan sepasang lengannya yang bersidakap itu lalu bergerak, yakni telapak tangan kanannya yang terbuka diletakkan di depan dada untuk menolak hawa pukulan lawan, sedangkan tangan kirinya juga dengan telapak dibuka membalas dengan pukulan dalam gerak tipu Hong-tan-tiam-ci atau Burung Hong Rentangkan Sebelah Sayap. Pukulan ini walaupun tampaknya perlahan saja, akan tetapi di dalamnya mengandung tenaga lweekang dahsyat yang menggetarkan dada Lu Sun Pin meski pukulan itu belum mengenai tubuhnya!

Maklum bahwa lawannya juga membalas serangan dengan tenaga lweekang hebat, Lu Sun Pin tidak berani berlaku ayal. Dengan cepat ia mengelak dan mempergunakan tangan kirinya yang diangkat ke atas tadi menyampok lengan kiri Can Po Goan. “Dukk!” dua lengan yang sama-sama sebelah kiri dari dua jago silat ini beradu dengan dahsyatnya yang menyebabkan mereka terpental mundur sampai tiga langkah. Ke duanya terkejut dan maklum akan kehebatan tenaga dalam lawan. Ke duanya merasakan lengan kiri masing-masing sangat sakit dan linu!

Kemudian mereka saling serang dan saling gempur pula dengan dahsyatnya dan karena ke duanya ahli silat tinggi, maka gerakan mereka sangat sebat dan cepat dan makin lama makin sukar diikuti oleh mata para penonton.

Bukan main ramai dan hebatnya pertempuran ini, sehingga murid- murid ke dua pihak sendiri menjadi pening kepala, gelisah dan tegang! Belum pernah mereka menyaksikan kelihayan suhu masing-masing dalam sebuah pertempuran yang sungguh- sungguh seperti kali ini.

Para penonton yang ketika menyaksikan pertandingan pibu babak pertama tadi merasa gembira dan selalu bersorak-sorai. Dalam babak kedua merasa ngeri karena pibu dilakukan dengan bersenjata. Dalam babak ketiga ini, dilangsungkan tanpa senjata, mereka tidak lagi bergembira dan bersorak, melainkan kini mereka menonton dengan tidak bergerak, mata terbelalak, hati berdebar- debar dan napas seakan-akan berhenti! Sebagaimana sudah diketahui oleh pembaca, bahwa kepandaian yang dimiliki oleh Lu Sun Pin si Pagoda Besi itu adalah ilmu silat dari cabang Bu-tong dan karenanya, selain kaki dan tangannya selalu merupakan bahaya dalam setiap gerakannya, terutama sekali Lu Sun Pin sangat mahir dalam ilmu thiam-hoat (menotok jalan darah) model cabang Bu-tong yang disebut Coat-meh-hoat.