-->

Pendekar Patung Emas Jilid 12

 
Jilid 12

Mendengar kisah itu Wi Ci To menjadi terperanyat.

"Jika begitu" ujarnya sembari menghela napas panjang. "Sekarang semua orang sudah anggap kau orang yang mendapatkan kitab pusaka Ie cin Keng itu ??"

"Benar" sahut Ti Then sambil mengangguk. "Hemmm" dengus Wi Ci To dengan teramat gusar, sepasang kepalannya diremas remas dengan keras. "Tidak kusangka Hong Mong Ling bangsat cilik itu berani cari gara-gara, sungguh manusia terkutuk."

"Tia." seru Wi Lian In menambahkan "Apakah pendekar pedang merah yang kau kirim keluar apa sudah ada berita??"

"Tidak ada . ." sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. "Paman Huang Puh??"

"Dia pun tidak ada beritanya."

"Tia" seru Wi Lian In kemudian dengan perlahan- "Kau keluarkan perintah seratus pedang lagi panggil mereka semua pulang."

"Baiklah" ujar wi Ci To sambil mengangguk. "Tidak sampai lima hari lagi dari pihak Anying langit Rase bumi tentu akan datang mengacau. ."

"Boanpwe sudah bilang dengan jelas kepada Menteri pintu pembesar jendela itu" ujar Ti Then tiba tiba. . "Orang-orang Anying langit Rase bumi boleh datang ke Benteng Pek Kiam Po cari boanpwe tapi tidak diperkenankan mengganggu orang-orang Benteng Pek Kiam Po, karena itu jika tiba waktunya biarlah boanpwe seorang diri yang menghadapi mereka."

"Jika Ti Kiauw tauw bicara begitu malah menganggap kami sabagai orang luar saja, sekarang urusanmu merupakan urusanku juga, siapa yang tidak puas kepadamu sama saja seperti tidak merasa puas kepada Lohu."

Berbicara sampai di sini pada air mukanya tampil suatu senyuman yang teramat dingin, tambahnya:

"Padahal orang-orang dari golongan Anying langit rase bumi seharusnya dibasmi secepat mungkin, dahulu Lohu ragu-ragu untuk turun tangan karena anak buah mereka terlalu banyak. kini ada Ti Kiauw tauw yang membantu boleh dikata sudah waktunya untuk membasmi kejahatan demi keamanan Bu lim." "Boanpwe rasa pihak Anying langit Rase bumi masih mudah untuk dibereskan" Ujar Ti Then perlahan "Sebaliknya hwesio-hwesio dari Siauw lim malah merupakan persoalan yang paling sukar, Boanpwe tidak bisa mengakui kalau sudah dapatkan itu kitab pusaka Ie cin Keng, merasa tidak enak juga untuk melawan mereka

. . ."

"Ti Kiauw tauw tidak usah kuatir" ujar Wi Ci To sambil tersenyum, "Ciangbunyin dari partai Siauw lim, Yuan Kuang Thaysu jadi orang berpikiran luas dan turut aturan bahkan sangat cocok dengan lohu, sampai waktunya biarlah lohu mewakili Ti Kiauw tauw jelaskan duduknya persoalan"

"Aku hanya takut dia tidak mau percaya" Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.

"Jika dia tidak mau percaya" ujar Wi Ci Tao dengan air muka serius.. "Sama saja tidak pandang diri lohu"

"Setiap urusan yang menyangkut harta benda selamanya sukar untuk dijelaskan, jika Yuan Kong Thaysu sampai tidak percaya omongan pocu hal ini tidak bisa salahkan dia. Menurut pendapat boanpwe terpaksa kita harus perlihatkan sedikit bukti."

Dengan pandangan yang amat tajam Wi Ci To memperhatikan wajahnya.

"Bukti dari mana??" tanyanya.

"Tawan si setan pengecut atau Hong Mong Ling"

"Ehmm . . .jika berhasil menawan mereka berdua hal itu sangat tepat sekali" sahut Wi Ci To sambil mengangguk. "Tapi kini mereka bersembunyi dimana?"

"Menurut omongan Nona Wi kepandaian silat dari setan pengecut itu amat tinggi sekali" ujar Ti Then dengan wajah serius. "Untuk menawan dia bukanlah suatu urusan yang gampang. Tapi seluruh pendekar pedang merah dari Benteng kita kini masih berkeliaran diluaran, jika mereka bisa bertemu dengan Hong Mong Ling mungkin bisa berhasil tawan dia pulang" "Jadi maksud Ti Kiauw tauw tidak menyetujui lohu untuk panggil semua pendekar pedang merah pulang?.."

"Benar" sahut Ti Then- "Kita bisa mengganti dengan satu perintah seratus pedang yang lain, perintahkan mereka untuk menyelidiki jejak dari Hong Mong Ling"

"Tapi dengan begitu jika orang-orang Anying Langit Rase Bumi datang menyerbu secara besar-besaran, dengan kekuatan kita beberapa orang mungkin tidak sanggup untuk menahan serangan mereka" bantah Wi Ci To.

"Tujuan dari orang-orang Anying Langit Rase Bumi hanya kitab pusaka Ie Cin Keng serta diri boanpwe, sampai waktunya asalkan Pocu tidak ikut campur aku kira mereka tidak akan berani menyalahi orang-orang Benteng Pak Kiam Po"

"Tapi. ." bantah Wi Ci To lagi, "dengan kekuatan kau seorang mana mungkin melawan mereka suami istri???"

"Boanpwe percaya masih sanggup untuk melawan mereka" seru Ti Then tegas.

"Kalau begitu baiklah" sahut Wi Ci To kemudian sesudah berpikir beberapa saat lamanya. "Nanti Lohu keluarkan perintah seratus pedang lagi suruh mereka menawan Hong Mong Ling kau

sudah makan belum???"

"Belum" sahut Wi Lian In yang berdiri di samping dengan cepat. "Cepat-cepat ingin pulang sampai makan siang pun belum oooh . . .

sungguh lapar sekali"

Melihat tingkah laku putrinya, Wi Ci To tersenyum. "Kalau begitu cepat pergi dahar" ujarnya.

-0000000-

"Ayoh jalan-" ujar Wi Lian In sambil menoleh kearah Ti Then. "Kita pergi dahar."

Dengan jalan berdampingan Ti Then serta Wi Lian In berjalan keluar dari ruangan- Wi Ci To yang melihat kerapatan hubungan mereka mendadak terbayang suatu perasaan yang teramat aneh, air mukanya segera terlintas suatu senyuman yang amat girang sekali.

"Apa ini yang dinamakan jodoh?" pikirnya di dalam hati, " Kalau tidak bagaimana bisa muncul urusan seperti ini? Dengan perlahan lahan, urusan ini tidak bisa cepat- cepat . ."

Dengan perlahan dia berjalan keluar ruangan dan kumpulkan beberapa orang pendekar pedang merah yang masih tersisa di dalam Benteng, perintah seratus pedang segera dikeluarkan dan diumumkan setelah itu memberi peringatan yang tegas kepada pendekar pendekar pedang hitam serta putih untuk siap berjaga- jaga kemungkinan pengacauan orang-orang Anying langit Rase bumi, setelah itu barulah dia kembali ke dalam kamar bukunya.

Ti Then serta Wi Lian In sehabis dahar masing-masing kembali ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.

Itu pelayan tua si Locia ketika melihat dia pulang menjadi amat girang sekali.

"Ti Kiauw tauw" serunya sambil maju memberi hormat, "Kau sudah pulang?"

Ti Then tersenyum. "Ehmmm ..." sahutnya sambil mengangguk. "Kau baik-baik saja bukan Lo-cia."

"Aku dengar Ti Kiauw-tauw berhasil tolong sio-cia pulang??" tanya si Locia sambil tertawa-tawa.

"Tidak salah" sahut Ti Then tersenyum, dengan perlahan dia duduk ke atas pembaringan-"Yang menculik nona adalah seorang yang berkerudung, tujuan orang itu ternyata berada pada diriku karenanya belum sampai beberapa hari aku keluar dari Benteng sudah berhasil menemukan mereka"

Lalu diceritakannya kisah yang sudah terjadi itu sekali lagi. "Heeei . . . Untung saja sio-cia kita belum sampai dijodohkan

dengan dia..." ujar si Lo-cia sambil menghela napas panjang. . "Tidak kusangka Hong Mong Ling adalah seorang manusia berhati binatang."

Ti Then hanya tersenyum tidak ambil komentar.

sekali lagi Lo-cia menghela napas panjang, beberapa saat kemudian dengan wajah penuh senyuman dia mendekati diri Ti Then-

"Ti Kiauw-tauw" Ujarnya dengan perlahan- . "Kali ini kau berhasil tolong nyawa sio-cia kita, pocu kami tentu akan mengucapkan terima kasihnya kepadamu"

"Jika bukannya setan pengecut itu hendak memaksa aku, sio-cia belum tentu diculik pergi" ujarnya perlahan- "Bencana berasal dari aku sendiri maka itu penghargaan dari Pocu tidak bisa aku terima"

"Maksudku bukan begitu . ." Bantah si Lo-cia ketika mendengar Ti Then sudah salah tangkap arti perkataannya. "Menurut dugaan budak tuamu, Pocu kami bisa jodohkan sio cia kepadamu"

Terhadap perkataan dari Lo-cia Ti Then sama sekali tidak merasa diluar dugaan, tapi tidak urung hatinya terasa tergetar juga. "Jangan omong sembarangan" Bentaknya segera dengan serius.

"Hal ini sungguh-sungguh" ujar Lo-cia lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan keras: "Ti Kiauw tauw masih muda lagi berwajah tampan, kepandaian silatnya pun amat tinggi, jika pocu kami mau cari menantu lagi maka pilihannya tentu jatuh pada diri Ti Kiauw tauw"

"Sudah, sudahlah" seru Ti Then sambil tertawa pahit, "Kau tidak usah bilang lagi"

Perkataannya belum selesai mendadak Wi Lian In sudah muncul di depan pintu kamar.

"Urusan apa yang tidak usah bilang lagi?" sambungnya sambil tertawa. "Tidak apa-apa . . tidak ada apa-apa . ." seru Ti Then dengan gugup, cepat-cepat dia bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan nona itu.

Melihat air muka Ti Then yang amat rikuh serta malu Wi Lian In jadi semakin heran, dia menoleh kearah Lo cia sambil tanyanya: "Lo cia kalian sedang bicarakan soal apa??"

"Ti . . . tidak apa apa hi hi hi . ." Ujar Lo cia sambil goyangkan tangannya berulang kali.

" Cepat bilang. ." bentak Wi Lian In sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah matanya melotot keluar menunjukkan perasaan marahnya, "Jika tidak mau bilang awas aku kasih hukuman mengambil air seratus pikul"

"Aduh" seru Lo-cia sambil leletkan lidahnya. "Ambil air seratus pikul??? am pun . ."

"Seharusnya kau tahu sifatku ini" teriak Wia Lian In sambil bertolak pinggang "Aku bilang satu yah satu."

"Sio cia" seru Lo cia sesudah menelan ludah. "Kau paksa budakmu harus bilang, budakmu tidak berani membantah hanya saja sesudah aku bilang sio cia janganlah marah"

Wi Lian In tersenyum.

"Tentu aku tidak marah, cepat katakan" ujarnya.

si Lo cia melirik sekejap kearah Ti Then, sesudah berbatuk batuk barulah ujarnya sambil tertawa:

"Tadi budakmu sedang bergurau dengan Ti Kiauw tauw, budakmu bilang sesudah dia berhasil menolong nyawa sio-cia, tentu pocu bisa membalas budi ini sebaik-baiknya . ."

"Seharusnya memang begitu" seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya. "Memang tidak salah"

"Lalu bilang apa lagi?" tanya Wi Lian In kurang sabaran. " Kemudian- . Eh mm . . kemudian- ." jawab Lo-cia dengan terputus-putus: "Budakmu bilang pocu .... mungkin bisa . . bisa menjodohkan . . . menjodohkan sio cia . . kepada . . kepadanya. ."

Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam saking malunya.

"Bagus" Bentaknya sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah, "Kau berani omong sembarangan, aku . . aku . ."

Sambil berkata dia meloncat masuk ke dalam kamar dan memperlihatkan gaya mau memukul. Dengan cepat Lo-cia bungkukkan badannya dan lari keluar dengan cepat.

"Aduh . . . am pun . . am pun- ." teriaknya dengan keras. "Aku sudah bilang sungguh-sungguh, kenapa kini mau dipukul?"

" Cepat pergi menyapu bersih halaman luar, kalau tidak aku tidak akan am puni kau" Bentak Wi Lian In lagi dengan merdunya. si Lo cia segera menyahut dan mengundurkan diri dari kamar.

Sesudah itu barulah Wi Lian In menoleh kearah Ti Then, dengan wajah yang sudah berubah merah dadu ujarnya sambil tersenyum malu. "Budak tua itu sungguh . . . sungguh keterlaluan- kau bilang betul tidak?"

"Benar, sedikit pun tidak salah" sahut Ti Then sambii mengangguk.

"Kalau begitu biar aku laporkan urusan ini kepada Tia biar dia dimaki habis-habisan-" ujar Wi Lian In dengan manyanya.

"Baik. ."

Wi Lian In menjadi melengak:

"Tapi. ." ujarnya sambil tertawa paksa, "Mengingat usianya yang sudah lanjut dan selamanya belum pernah melakukan pekerjaan yang salah biar kita am puni satu kali ini, kau bilang bagaimana?"

"Bagus sekali. ." Melihat sikapnya yang seperti kehilangan semangat tak tertahan lagi Wi Lian In tertawa geli.

"Kau kenapa?" tanyanya.

"Tidak apa-apa" seru Ti Then sambil tertawa paksa.

Wi Lian In menoleh untuk melihat sekejap keadaan sekelilingnya setelah itu baru menggape sambil ujarnya dengan suara yang lirih:

"Kau kemarilah, aku ada perkataan yang mau kutanyakan-.." "Urusan apa??" Tanya Ti Then sambil maju dua langkah ke

depan-

"Kau majulah lagi."

Ti Then maju lagi satu langkah, tanyanya sambil tertawa: "Urusan apa ?"

"Kau kemari lebih dekat lagi" seru Wi Lian In sambil tersenyum malu.

Terpaksa Ti Then maju lagi satu langkah ke depan, kini dia sudah berdiri saling berhadapan dengan dia dalam jarak tidak lebih dari satu depan, terasa napasnya yang berbau harum menusuk hidung membuat kepalanya terasa pening.

"Sebetulnya urusan apa?" Tanyanya sambil tertawa malu. sebelum bicara wajah Wi Lian In sudah berubah menjadi merah

padam, mulutnya komat-kamit mau mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi matanya melirik ke wajah Ti Then kemudian ujarnya sambil tertawa malu.

"Aku tidak mau bilang" Selesai berkata dia putar tubuh dan lari keluar.

Ti Then hanya bisa tertawa pahit ketika melihat sikapnya itu, segera dia mengundurkan diri ke atas pembaringan dan merebahkan diri untuk beristirahat. Kini dia berpikir: "Akhirnya aku berhasil menolong Wi Lian In kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po, tapi sekarang juga harus melaksanakan tugas yang diberikan oleh majikan patung emas. Heei,jika . . .jika aku tidak berhasil menolong Wi Lian In kembali, saat itu . . sungguh bagus sekali"

"Tidak. tidak boleh punya pikiran begitu, jika aku tidak menolong Wi Lian In dia tentu akan diperkosa kemudian dibunuh mati oleh Hong Mong Ling. Lebih baik dia diperkosa kemudian dibunuh mati oleh Hong Mong Ling atau dijodohkan kepadaku saja?"

"Sewaktu dia sudah jadi istriku, apa itu perintah kedua dari majikan patung emas??"

Mungkinkah perintah kedua dari majikan patung emas ini jauh lebih hebat dan jauh lebih kejam bagi Wi Lian In dari pada diperkosa kemudian dibunuh oleh Hong Mong Ling? .

"Hei, kau sudah tidur belum?"

Mendadak Wi Lian In mendorong pintu kamar dan berjalan masuk.

Ti Then segera bangkit berdiri.

"Belum." sahutnya gugup. "Aku sedang berpikir . . ." "Pikir apa??" Tanya Wi Lian sambil tertawa.

"Aku sedang pikir perkataan apa yang akan kau katakan tadi kemudian tidak jadi kau ucapkan itu"

Wajah Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam. "Kau tidak tahu?" tanyanya sambil tertawa malu.

"Belum. ."

"Kalau begitu yah sudahlah" sahutnya sambil mencibirkan bibirnya yang kecil mungil itu.

"Apa kau pasti mau bertanya?" "Tidak" xx

Bagian 20

Ti Then menjadi bingung dibuatnya, sahutnya kemudian sambil garuk-garukan kepalanya: " Kalau begitu kau mengharapkan aku bisa menebaknya???"

"Kepalamu adalah kepala dari batu" ujar Wi Lian In sambil tertawa, "Aku tahu selamanya kau tidak akan bisa mengetahui."

"Maaf, otakku kadang kala memang agak tidak normal       "

"Persis seperti seekor itik goblok" sambung Wi Lian In cepat. "Benar. . benar . ."

"Sudahlah, aku tidak mau guyon terus sama kau" Ujar Wi Lian In tiba-tiba: "Aku mau beritahukan suatu urusan kepadamu, Hu pocu baru saja kembali."

Dalam hati Ti Then menjadi tergerak: "Ooooh      serunya cepat.

"Begitu tepatnya. ."

"Aku juga merasa kali ini dia pulangnya begitu bertepatan waktunya" seru Wi Lian In sambil memperendah suaranya. " Karena itu aku kemari untuk mengajak kau pikirkan urusan ini."

"Pikirkan apanya?" tanya Ti Then sambil pandang wajahnya. "Waktu itu ketika masih berada di atas gunung Fan cin san kau

pernah bilang si setan pengecut itu kemungkinan sekali adalah orang dari Benteng Pek Kiam Po kita. ."

"Benar" sahut Ti Then dengan wajah serius. "Hanya hal itu merupakan dugaanku saja, tapi jika bilang yang sesungguhnya orang itu tidak mungkin adalah Hu Pocu kita, karena ketika kau diculik pergi waktu itu dia masih bermain catur dengan aku di dalam ruangan."

"Tapi ketika aku diculik aku berada di dalam keadaan tidak sadar" Bantah Wi Lian In dengan cepat. " Kemungkinan sekali orang yang menculik pergi aku malam itu adalah Hong Mong Ling bukan si setan pengecut itu."

Ti Then mengerutkan keningnya rapat-rapat.

"Kau tidak seharusnya mencurigai Hu Pocu" ujar Ti Then dengan nada memberi nasehat. "Dia adalah sute dari ayahmu, dia tidak punya alasan untuk bersekongkol dengan Hong Mong Ling"

"Sebetulnya aku juga tidak berani menaruh curiga kepadanya" Bantah Wi Lian In dengan perlahan- "Tapi ketika dia pulang di atas kepalanya memakai sebuah kain pengikat kepala, selamanya dia tidak pernah memakai kain pengikat kepala kenapa kali ini bisa begitu kebetulan dan memakai kain itu?"

Teringat ketika malam itu kepala dari setan Pengecut memang berhasil ditabas sebagian olehnya membuat pendirian Ti Then saat ini menjadi goyah.

"Tapi . . ." ujarnya kemudian sesudah termenung sebentar. "Kau pun tidak bisa mendasarkan hal ini saja lalu menuduh dialah setan pengecut itu."

"Lalu jika di atas kepalanya ada bekas luka?" tanya Wi Lian In sedang sinar matanya dengan tajam memandang wajah Ti Then.

Ti Then menganggukan kepalanya perlahan:

"Jika di atas kepalanya ada bekas luka, sudah tentu bisa membuktikan kalau dialah setan pengecut itu" sahutnya.

"Kini dia sedang berbicara dengan ayah di dalam kamar buku, bagaimana kalau kita pergi membuktikan?"

"Baik, tapi harus menggunakan sedikit kepandaian.Janganlah sekali-kali berbuat gegabah"

Demikianlah akhirnya kedua orang itu berjalan keluar dari kamar dan berjalan menuju kekamar bukunya Wi Ci To. sesampainya diluar kamar terlihatlah Wi Ci To serta Hu Pocu Huang Puh Kian Pek sedang berjalan keluar dari dalam kamar. Dengan cepat Ti Then bertindak maju untuk memberi hormat.

"Ooh . . . Hu Pocu sudah kembali"

"Benar" sahutnya sambil tertawa, dari air mukanya jelas memperlihatkan perasaan girangnya. "Lohu sudah cari selama puluhan hari lamanya sedikit pun tidak memperoleh berita sebetulnya mau pulang untuk cari- cari berita, tidak tahunya Ti Kiauw tauw sudah berhasil menolong Wi Lian In kembali, sungguh menggembirakan- sungguh menggembirakan"

Ternyata tidak salah di atas kepalanya di ikat dengan sekerat kain persegi empat. Ujar Ti Then kemudian.

"Mengenai boanpwe berhasil menolong nona Wi kembali tentunya Hu Pocu sudah mendapat tahu dari Pocu sendiri bukan?"

"Benar" sahut Huang Puh Kian Pek sambil mengangguk. "Pocu serta lohu sedang siap mencari kau."

"Ha ha ha ha . . ." seru Wi Ci To mendadak sambil tertawa, "kita bicara di dalam ruangan saja."

Tua muda empat orang masuk ke dalam ruangan dalam dan duduk. sekali lagi Huang Puh Kian pek menanyakan peristiwa yang sudah terjadi. setelah mendengar kisah dari Ti Then ini dengan perasaan amat serius ujarnya:

"Heei    satu gelombang belum reda gelombang yang lain sudah

mendatangi, kini hwesio dari Siauw lim si serta Anying Langit Rase Bumi mungkin sudah mulai bergerak . ."

"Mungkin juga berpuluh puluh jago dari kalangan hitam akan ikut datang juga" tambah Ti Then .

"Kalau begitu" ujar Huang Puh Kian Pek dengan nada yang amat serius.

"Kita harus cepat-cepat persiapkan diri, hwesio-hwesio dari siauw lim pay mungkin masih mau mendengarkan nasehat dari pocu tetapi dari pihak Anying Langit Rase Bumi bukanlah manusia yang bisa diajak berunding."

"Heei . . ." ujar Ti Then kemudian sambil menghela napas panjang. "Boanpwe merasa sangat menyesal sekali sudah memancing berbagai macam urusan ke dalam Benteng ini.

"Ti Kiauw-tauw jangan bicara begitu" ujar Huang puh Kian Pek sambil tertawa.. "Ini bukanlah kesalahanmu, yang patut dibunuh seharusnya Hong Mong Ling, bangsat cilik itu tidak berbudi seorang laknat yang harus dibunuh, seharusnya kita pergi tangkap dia, kemudian dijatuhi hukuman mati."

"Paman Huang puh" timbrung wi Lian In secara tiba-tiba: "selamanya kau orang tua tidak pernah pakai ikat kepala, kenapa ini hari secara tiba-tiba memakainya??"

Huang puh Kian Pek mengusap usap kain pengikat kepalanya dengan perlahan.

"Orang bila melakukan perjalanan jauh lebih baik menggunakan kain pengikat kepala untuk menahan serangan angin dan pasir" ujarnya sambil tertawa paksa.

"Beli ditempat mana ???" "Kota Hoa Yang."

"Sungguh indah sekali" seru Wi Lian In sembari berjalan mendekati samping tubuhnya, dia tersenyum " Bolehkah keponakanmu melihat sebentar ?"

"Bukan dengan begitu sudah jelas??" ujarnya sambil tertawa. "Tidak" sahut Wi Lian In sembari mengulur tangannya untuk

melepas kain pengikat kepalanya itu. "Keponakanmu mau melihat lebih teliti lagi, pada kemudian hari aku pun akan buatkan Tia sebuah."

Dengan perlahan Huang puh Kian pek mendorong tubuhnya ke samping. "Jangan bergurau ...." ujarnya sambil tertawa terbahak bahak "Tiamu tidak akan mau menggunakan kain pengikat kepala ini."

"Jika keponakanmu sendiri yang menyahit, Tia tentu suka untuk menggunakannya, paman yang baik biar aku pinyam sebentar."

Melihat kelakuan putrinya ini Wi Ci To segera melerai, ujarnya sambil tertawa. "In-ji sejak kapan kau belajar menyahit?..."

-0000000-

"Tia kau jangan memandang rendah putrimu" seru Wi Lian In dengan manyany a. "Hanya membuat sebuah kain pengikat kepala saja apanya yang sukar?"

"Lohu selamanya tidak pernah lihat kau menggerakkan jarum, heee . . . heee . . . sudah, sudahlah, Cepat kau duduk yang tenang, jangan bergurau lagi. Kita harus merundingkan urusan yang lebih penting"

Wi Lian In tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa dia balik ketempat duduknya semula, secara diam-diam dia kirim suatu tanda apa boleh buat kepada diri Ti Then.

Ti Then pura-pura tidak melihatnya, tanyanya kepada Wi Ci To: "Sebelum peristiwa ini apakah Pocu berdua pernah menaruh

ganyalan dengan orang-orang dari Anying langit Rase bumi?"

"Belum pernah" seru Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. "Tapi menurut data-data yang pernah kita terima, kepandaian silat dari Anying langit Rase bumi memang sangat lihay sekali"

"Bagaimana jika dibandingkan kepandaian dari Majikan ular Kakek kura-kura?" Tanya Ti Then lagi.

"Jika majikan ular serta Kakek kura-kura harus bertempur melawan Anying langit rase bumi paling banyak hanya bisa menerima seratus jurus saja."

"Tidak perduli melawan berapa banyak orang apa mereka suami istri selamanya turun tangan bersama-sama??" "Benar" sahut Wi ci To sambil mengangguk.

Pada wajah Ti Then segera terlintaslah suatu perasaan yang amat girang.

"Jika begitu" ujarnya "Dengan kekuatan boanpwe seorang mungkin belum sanggup untuk memperoleh kemenangan-"

Wi Ci To yang melihat pada wajah Ti Then malah muncul perasaan girang, dalam hati menjadi sangat bingung, ujarnya sambil tertawa:

"Dengan kekuatan Ti Kiauw tauw seorang sudah tentu belum bisa melawan Anying langit rase bumi, tapi Lohu tidak akan membiarkan Ti Kiauw tauw seorang diri pergi melawan mereka suami istri berdua"

"Tidak" bantah Ti Then dengan cepat "Boanpwe akan melawan mereka suami istri sendirian"

"Apa Ti Kiauw tauw tidak pandang diri Lohu dan menganggap Lohu tidak berani berbuat dosa kepada mereka?" tanya Wi Ci To dengan perasaan kurang senang.

"Bukan begitu, pocu jangan salah paham"

" Kalau tidak, kenapa Ti Kiau tauw begitu ngotot hendak melawan mereka suami istri berdua secara pribadi? Bukankah Ti kiauw tauw tahu dengan seorang diri sukar untuk melawan dua musuh?"

Ti Then dibuat melengak untuk beberapa saat lamanya, dia berdiam diri untuk berpikir:

"Walau pun boanpwe tidak berhasil mendapatkan kemenangan" ujarnya kemudian- "Tapi boanpwe percaya masih sanggup bertahan untuk beberapa waktu lamanya"

"Itukah alasan Ti Kiauw tauw kenapa mau melawan mereka suami istri secara pribadi"

Ti Then terdesak. terpaksa sahutnya dengan sembarangan. "Mereka Anying langit Rase bumi merupakan jago jago berkepandaian tinggi yang sudah menggetarkan dunia persilatan, sedang boanpwe hanya seorang yang masih keroco, masih cetek pengalamannya tentang Bu lim, jika mereka tak bisa kalahkan boanpwe secepatmya sama saja sudah mengorek selapis kulit muka mereka.".

"Tidakperduli bagaimana pun juga" potong Wi Ci To dengan tegas "Lohu tidak akan membiarkan kau pergi melawan mereka berdua secara sendirian kau tidak usah bicara lagi."

Ti Then tersenyum. "Inilah kesempatan boanpwe untuk mencari nama." ujarnya "Harap pocu mau meluluskan." Wi Ci To menjadi melengak.

"Kau ... kau ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari nama?"

"Benar" sahut Ti Then sembari mengangguk "Boanpwe tidak berani bilang pasti bisa mengalahkan Anying langit Rase bumi, juga tidak berani mengharapkan bisa bertanding seimbang dengan mereka tapi bisa bertahan ratusan jurus tanpa bisa dikalahkan mungkin sudah cukup mengangkat nama boanpwe."

Wi Ci To menggelengkan kepalanya.

" Untuk melawan mereka suami isteri berdua lohu sendiri pun juga bisa bertahan delapan sembilan puluh jurus saja." ujarnya sambil menghela napas.

Agaknya dia masih belum tahu kalau kepandaian silat dari Ti Then sudah mencapai pada taraf nomor tiga di dalam dunia, dia mengira kepandaian silat dari Ti Then walau pun lebih tinggi tak mungkin bisa melampauinya karena ambil kata-kata ini sebagai peringatan dia ingin membuat Ti Then sadar kalau dia seorang diri tidak mungkin bisa bertahan seratus jurus saja di dalam melawan Anying langit Rase bumi.

"Sekali pun tidak sanggup" ujar Ti Then sambil tertawa. "Pocu bolehlah turun tangan sewaktu melihat boanpwe sudah tidak tahan" Wi Ci To masih ingin membantah lagi, tapi keburu dicegah oleh Huang puh Kian Pek ujarnya:

"Suheng, kalau memangnya Ti Kiauw tauw punya semangat demikian, biarkanlah dia pergi coba-coba, perkataannya sedikit pun tidak salah, menanti dia sudah tidak tahan kita masih punya kesempatan untuk menolong dia dari bahaya."

"Baiklah" sahut Wi Ci To kemudian sambil mengangguk sesudah termenung berpikir sebentar. "sampai waktunya baru kita bicarakan lagi." segera dia bangkit berdiri, sambungnya sambil tertawa:

"Tadi lohu sudah perintahkan orang untuk mempersiapkan perjamuan guna menyambut kedatangan Hu Pocu serta Ti Kiauw tauw, kini mungkin sudah disiapkan marilah .... kita pergi dahar dulu."

Tua muda empat orang segera bangkit berdiri dan menuju ke ruang dalam, terlihatlah di sana sudah disiapkan meja perjamuan beserta hidangan yang lezat, karenanya mereka segera cari tempat dan mulai bersantap.

Wi Lian In yang duduk di samping Huang puh Kian Pek selama ini terus menerus mengincar kain pengikat kepalanya, ujarnya kemudian sambil bersantap:

"Tia, kepandaian dari majikan ular Kakek kura-kura itu apakah jauh lebih tinggi dari kepandaian pendekar pedang merah kita?"

"Tidak salah." sahut Wi Ci To sambil mengangguk. "Mungkin satu tingkat lebih tinggi."

"Tapi sewaktu hari itu putrimu melawan kakek kura-kura, rasanya dia tidak punya kesabaran yang luar biasa"

Wi Ci To tersenyum simpul mendengar omongan putrinya ini. "Kau berhasil menangkan dia?" tanyanya.

"Tidak" sahutnya sambil menggerakkan sumpit yang berada ditangannya "Hanya saja sewaktu putrimu menggunakan jurus "Coan Lin sih In" atau memutar badan memanah elang . . sembari berkata sumpit ditangan kanan secara mendadak menyambar kearah sebelah kanan menarik kain penutup kepala dari Huang puh Kian Pek itu.

Siapa tahu ketajaman perasaan Huang puh Kian Pek pun amat tinggi, tangan kirinya dengan cepat diangkat menangkis pergelangan tangannya: "Awas" serunya sambil tertawa.

Melihat serangannya tidak mencapai sasaran dengan gugup Wi Liam In berkata: "ooh . . . maaf, paman Huang puh keponakanmu tidak sengaja"

"Haa ... ha ... ha . . tidak mengapa tidak mengapa" sahut Huang puh Kian Pek sambil tertawa terbahak-bahak "Paman Huang puh masih belum tua, hanya menghadapi segala perubahan secara mendadak masih sanggup"

"Lian In" seru Wi Ci To dengan nada memaki sedang keningnya dikerutkan rapat-rapat "Kau sudah jadi seorang nona dewasa segala gerak geriknya harus sedikit genah, jika waktu bicara jangan gerakan tangan kaki seperti itu"

"Baiklah Tia" sahut Wi Lian In sambil menggerutu. "Ehmm. . teruskan- ."

"Aku tidak mau membicarakan lagi"

"Hmm" dengus Wi Ci To sambil tertawa "Kau budak ini sungguh pandai bergurau."

"Tidak usah bicara tentang majikan ular kakek kura-kura lagi, lebih baik kita bicarakan soal setan pengecut itu saja" sambung Huang puh Kian Pek dengan cepat, "Kau serta Ti Kiauw tauw pernah berdekatan dengan setan pengecut, dapatkah kau menduga siapakah orang itu?"

Wi Lian In memandang sekejap kearah Ti Then, kemudian barulah sahutnya sambil tersenyum:

"Kepandaian setan pengecut itu sangat tinggi, mungkin berada diantara kepandaian paman Huang Puh siok" "Oooh, begitu?" ujar Huang Puh Kianpek sambil tertawa.

"Kemungkinan sekali orang itu adalah salah satu orang diantara kita orang-orang dari Benteng Pek Kiam po."

Semula Wi Ci To dibuat melengak oleh perkataan ini tapi dengan cepat sudah berubah menjadi amat keren.

"Inyie" ujarnya. "Kau jangan omong sembarangan."

“Perkataan dari putrimu semuanya beralasan, jika setan pengecut itu bukan orang yang sudah putrimu kenal baik dia tidak mungkin akan berkerudung, lagipula nada ucapannya walau pun sengaja diganti dengan logat yang lucu tapi suara itu sepertinya sangat dikenal”

“Siapa?” potong Huang Puh Kian Pek dengan cepat.

Wi Lian In ragu-ragu sejenak, kemudian barulah sahutnya. “Keponakanmu tidak bisa menduga siapa dia sebetulnya, hanya

saja suara itu agaknya sangat dikenal”

“Hmm” dengus Wi Ci To dengan keren, “Hanya berdasarkan alas an itu saja kau sudah menuduh dia adalah salah seorang diantara kita?”

“Benar, tapi selama setengah tahun ini putrimu tidak pernah meninggalkan benteng barang selangkah pun, jika setan pengecut itu adalah orang luar sesudah terpaut waktu yang lama mana mungkin putrimu masih sangat mengenal suara itu”

Mendengar omongan putrinya yang sangat beralasan itu Wi Ci To hanya bisa gelengkan kepalanya saja.

“Putrimu tidak berani memastikan orang itu adalah orang di dalam benteng kami,” ujar Wi Lian In lagi, “Tapi untuk kebaikan kita semua harus mengadakan pemeriksaan”

“Ehmmm…mau diperiksa dengan cara bagaimana?” tanya Wi Ci To. “Ti Kiauw tauw sudah melukai kulit kepalanya, asalkan Tia melihat diantara pendekar pedang di dalam Benteng kita ada bekas luka di atas kepalanya dialah Si Setan Pengecut itu”

Mendengar sampai di sini mendadak Huang Puh Kian Pek tertawa terbahak-bahak.

“Paman Huang Puh, kau tertawakan apa?” tanya Wi Lian In dengan perasaan teramat heran.

Huang Puh Kian Pek tidak menyawab, dia menoleh kearah Wi Ci To lalu ujarnya sambil tertawa:

“Suheng, sekarang aku tahu kenapa Wi Lian In mau melihat kain pengikat kepalaku ini?”

Pikiran Wi Ci To amat tajam dan cerdik, sekali dengar tahulah sudah maksud perkataan sute-nya itu, tanpa terasa air mukanya berubah, dengan gusarnya dia melotot kearah Wi Lian In sembari ujarnya dengan suara berat:

“In-ji, bagaimana kau berani mencurigai paman Huang Puh-mu?”

“Am pun” seru Wi Lian In tidak mau mengaku. “Kapan aku mencurigai paman Huang Puh? Sekali pun putrimu lebih bodoh juga tidak akan berani mencurigai Huang Puh-siok”

“Kalau tidak kenapa kau rebut kain pengikat kepalanya?” tanya Wi Ci To dengan nada gusar.

“Suheng kau jangan marah dulu” timbrung Huang Puh Kian Pek sambil tertawa.

“Selamanya siauwte tidak pernah memakai kain pengikat kepala, ini hari pulang ke dalam Benteng dengan kepala diikat, kain pengikat kepala ini sudah tentu tidak bisa menyalahkan Lian In menaruh curiga kepadaku…Nah, sekarang kalian lihatlah”

Sembari berkata dengan perlahan dia melepaskan kain pengikat kepalanya.

Di atas batok kepalanya tidak tampak sedikit bekas luka pun. Sesudah melihat hal itu dengan perlahan Wi Ci To baru menoleh kearah putrinya.

“Sudah lihat jelas belum?” ujarnya dengan mata mendelik.

Wajah Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam, dengan menggerakkan bibirnya dia berkata:

“Sejak semula putrimu sudah bilang tidak menaruh perasaan curiga kepada Huang Puh siok, jika Huang Puh-siok betul-betul adalah si Setan Pengecut, hal..hal itu bukankah suatu omong kosong?”

“Sekali pun kau menaruh curiga kepada pamanmu, aku tidak akan marah” ujar Huang Puh Kian Pek sambil mengenakan kait pengikat kepalanya kembali, “Siapa suruh pamanmu memakai kain pengikat kepala ini”

Dengan perlahan Wi Ci To mengalihkan pandangannya kearah Ti Then.

“Ti Kiauw tauw, kau kira siapa sebetulnya si Setan Pengecut itu?” tanyanya.

“Boanpwe tidak tahu” sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. “Apa bisa si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan?”

“Mungkin bukan!” jawab Ti Then sambil gelengkan kepalanya, “Hari itu boanpwe masuk ke dalam goa melalui pintu goa di belakangnya setelah dia sadar pernah melancarkan satu serangan secara tergesa-gesa, tangan yang melancarkan serangan adalah tangan kanan bukan tangan kirinya, tangan kiri di dalam keadaan tergesa-gesa tidak mungkin bisa berganti menggunakan tangan kanan”

“Tidak salah” seru Wi Ci To sambil anggukkan kepalanya, “Kita tidak usah urus soal itu lagi, ayoh minum arak saja”

Sehabis berkata dia mengangkat cawan araknya dan dengan sekali teguk menghabiskan isinya. Selesai bersantap tua muda empat orang bercakap-cakap lagi beberapa saat lamanya, akhirnya Ti Then pamit terlebih dahulu untuk kembali ke dalam kamarnya beristirahat.

Sesampainya di dalam kamar dia perintahkan si Lo-cia menyiapkan sepikul air panas untuk mandi. Sesudah semuanya selesai barulah dia menyulut lampu dn mengetuk jendela tiga kali…saat itulah mendadak pintu kamar diketuk orang.

“Siapa?” “Aku..!”

Mendengar suara itu adalah suara Wi Lian In, Ti Then segera berjalan membuka pintu kamar.

“Kau belum pulang untuk beristirahat?” tanyanya sambil tertawa. “Belum waktunya untuk tidur” sahutnya sambil tertawa, “Kau

berbuat apa membawa lampu berjalan bolak-balik di depan jendela

?”

“Coba kau lihat seekor laba-laba yang sangat besar” ujarnya sambil menunjuk kedinding samping jendela, “Aku pingin pukul dia jatuh akhirnya dia berhasil melarikan diri”

“Oooh..aku boleh masuk?”

Ti Then menyingkir ke samping. “Silahkan..silakan!” serunya.

Dengan langkah lemah gemulai Wi Lian In berjalan masuk ke dalam kamar, ujarnya dengan nada kemalu-maluan.

“Kau jangan rapatkan pintu kamar, sekarang sudah malam”

Ti Then segera meletakkan kembali lampu itu ke atas meja, sesudah mengangkat sebuah bangku ujarnya sambil tertawa.

“Silakan duduk, dengan berbuat begini jika ada orang yang lewat di depan pintu bisa melihat keadaan di dalam kamar dengan amat jelas” “Ehmm..Lo-cia dimana?” tanyanya dengan suara rendah. “Ooh..pergi bersantap”

Segera Wi Lian In duduk di atas bangku yang sudah disediakan.

“Heeei..dugaan kita ternyata meleset sama sekali” ujarnya sambil menghela napas panjang, “Agaknya paman Huang Puh memang bukan si Setan Pengecut itu”

“Sejak semula bukan aku sudah bilang tentu bukan dia” seru Ti Then sembari tertawa.

“Tapi aku merasa Si Setan Pengecut itu pasti salah seorang anggota Benteng kita”

“Belum tentu perasaan itu pasti benar”

Wi Lian In tidak berbicara lagi, dengan berdiam diri dia duduk di sana.

Ti Then pun merasa tidak ada perkataan lain lagi yang hendak disampaikan, karena itu terpaksa dia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar.

Semakin lama Wi Lian In merasakan suasana tidak begitu enak. “Aku mau kembali ke dalam kamar” ujarnya kemudian sambil

bangkit berdiri.

“Eh eh..tidak duduk lagi?” tanya Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya.

“Tidak usah, aku mau pulang kamar beristirahat, perjalanan beberapa hari ini membuat aku sangat lelah”

“Benar”

Dengan pandangan penuh perasaan cinta ujar Wi Lian In lagi: “Kau tentu lelah bukan?”

“Aaah..masih lumayan” “Kepandaianmu sangat tinggi sekali, sudah tentu tidak begitu merasa lelah”

Ti Then hanya tersenyum saja tanpa berbicara apa-apa lagi.

Wi Lian In dengan perlahan putar tubuhnya siap pergi, mendadak seperti teringat akan sesuatu ujarnya kemudian sembari menoleh kearah Ti Then.

“Ooh benar, kau lihat Anying langit Rase bumi bisa datang tidak?”

“Mungkin mereka tidak berani secara terang-terangan bentrok dengan orang-orang Pek Kiam Po, tapi mereka bisa datang mencari aku”

“Lalu kau kira kapan mereka bisa datang? Tanya Wi Lian In sambil memandang wajahnya.

“Sukar untuk ditentukan”

“Mungkin mereka akan mengajak kau bertempur diluaran”

“Ooh itu lebih bagus lagi” seru Ti Then sambil menganggukkan kepalanya.

“Tidak” seru Wi Lian In dengan keras, “Jika mereka manantang kau bertempur ditempat luaran kau tidak boleh menyanggupi, Rase bumi jadi orang banyak akal dan licik, paling gemar membokong orang dengan serangan kejam. Kau tidak boleh pergi”

Ti Then tersenyum saja tanpa mengucapkan kata-kata.

Melihat dia berdiam diri Wi Lian In segera maju mendekati tubuhnya sambil menarik ujung bajunya.

“Maukah kau menyanggupi untuk tidak ikut mereka keluar?” mohonnya dengan suara perlahan.

“Baiklah!”

Wi Lian In menjadi amat girang. “Aku sudah tahu tentu kau bisa menyanggupi permintaanku ini” ujarnya tertawa.

“Padahal jika aku berjanyi dengan Anying langit Rase Bumi untuk bertanding disatu tempat tertentu, ayahmu pasti akan ikut campur juga, urusan ini ayahmu sudah bilang mau ikut serta”

“Jika kau bekerja sama dengan Tia untuk melawan Anying langit Rase bumi sudah tentu jauh lebih punya pegangan lagi tapi bila kau mau bertempur mereka suami istri seorang diri mungkin…yah mungkin sukar mengharapkan menang”

Ti Then segera tersenyum mendengar omongannya itu.

“Aku punya keinginan untuk tempur mereka suami istri seorang diri terlebih dulu” ujarnya, “Aku mau lihat kelihayan mereka suami istri bagaimana hebatnya”

“Hemm…keinginanmu untuk peroleh kemenangan sungguh amat hebat”

“Benar” jawab Ti Then sembari tersenyum.

Dengan pandangan yang amat mesrah dan penuh perasaan cinta Wi Lian In memandang wajah Ti Then beberapa saat lamanya, mendadak air mukanya berubah menjadi merah dadu serunya sambil putar balik badannya:

“Aku mau kembali ke kamar!”

Perlahan-lahan dia berjalan keluar, sesaat hendak merapatkan pintu kamar kembali lagi sambil putar tubuhnya.

“Kau mau pergi tidur?” “Tidak ada urusan bukan?”

“Kenapa tidak pergi cari Tia bermain catur?” ujar Wi Lian In dengan suara perlahan. “Besok saja, kini aku terasa amat lelah”

“Kepandaian ayahku di dalam permainan catur amat lihay sekali, waktu dia orang tua sudah mengalah Sembilan biji kepadaku aku masih tidak sanggup untuk mengalahkan dirinya”

“Oh…”

“Coba kau terka, Tia bisa mengalah berapa biji catur kepadamu?” Tanya Wi Lian In lagi.

“Entahlah”

“Aku kira Tia bisa mengalahkan biji kepadamu, ketika bermain dengan Huang Puh-siok dia juga sering mengalah tiga biji kepadanya”

“Oh..”

“Tetapi..” ujarnya Wi Lian In sembari tersenyum, “Jika kau bisa pegang kelemahan permainan Tia, untuk menangkan dia tidaklah sukar..”

“Apa kelemahan dari permainan catur ayahmu?”

“Permainannya sih tidak ada kelemahannya. Tia paling tidak sabaran. Jika kau main dengan dia orang tua jangan sekali-kali bermain cepat, semangkin lambat semangkin baik..”

Ketika dia berpamit kembali untuk kembali kekamarnya akhirnya sudah membuang waktu setengah jam lagi, setelah dilihatnya si Lo- cia itu pelayan tua datang baru dia sungguh-sungguh kembali ke kamarnya.

Setelah melihat bayangannya lenyap dari pandangan barulah ujar Ti Then kepada diri Lo-cia:

“Hey lo-cia, sediakan the untukku kemudian kau boleh pergi tidur”

Si Lo-cia segera menyahut kemudian meninggalkan kamar untuk mengambil the dari dalam dapur, sesudah diletakkan kembali ke atas meja, ujarnya sembari tertawa: “Ti Kiauw tauw, rejekimu sungguh bagus sekali!” “Jangan omong kosong lagi”

“Budakmu tahu, sio-cia kita punya perhatian khusus terhadapmu”

Sehabis berkata dia putar tubuh berjalan keluar dari dalam kamar.

Ti Then segera menutup kembali kamarnya, buka pakaian dan naik ke atas pembaringan untuk tidur.

Dia tahu Majikan patung emas baru akan muncul setelah tengah malam, karenanya dia ingin tidur terlebih dulu, sesudah mendekati kentongan kedua baru bangun untuk menanti munculnya-Dia”

Tapi keadaan mala mini pun seperti juga pada malam-malam yang lalu, dia tertidur dengan amat pulasnya sampai terasa, ada orang yang menepuk-nepuk badannya bru sadar kembali dari pulasnya dengan amat terkejut.

Dengan cepat dia buka matanya lebar-lebar, Patung emas itu sudah muncul tepat di samping pembaringannya.

Terhadap beberapa kali dirinya tertidur dengan amat pulas Ti Then merasa sangat heran sekali, segera dia bangkit berdiri, ujarnya sambil membelai patung emas yang sedang berdiri di hadapannya:

“Hey patung emas, kau jangan kurang ajar!”

Majukan Patung emas yang bersembunyi di atas atap rumah segera menggerak-gerakkan patung emasnya.

“Akhirnya kau berhasil menolong Wi Lian In kembali ke dalam Benteng, aku merasa sangat girang sekali..” ujarnya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.

“Hem..” dengus Ti Then sembari tertawa tawar, kepalanya diangkat ke atas memandang sepasang tangan yang sangat buram, “Sudah tentu kau amat girang”

“Lalu kau sendiri apa tidak merasa girang?” “Bisa menolong dia kembali dalam keadaan selamat sudah tentu sangat gembira sekali” ujar Ti Then sambil tertawa pahit, “ Tapi mendatangkan kesukaran juga bagi diri kita sendiri”

“Otak kau bocah cilik sungguh sedikit aneh, nona yang begitu cantik seperti Wi Lian In di dalam sejuta sukar untuk mendapatkan seorang, sebaiknya kau malah tidak gembira, sungguh mengherankan sekali, sungguh mengherankan sekali”

“Jika hal ini bukan dikarenakan tugas yang dipaksakan sudah tentu aku merasa sangat girang dan sangat puas sekali”

“Hemmm..sudahlah” seru Majikan Patung emas sambil mendengus dengan amat dingin, “Tidak usah banyak omong kosong lagi, cepat kau ceritakan pengalamanmu sewaktu menolong Wi Lian In”

T

i Then segera menceritakan pengalamannya dengan cara bagaimana menolong Wi Lian In lolos dari tangan Setan Pengecut itu kemudian bagaimana ditengah jalan menemui halangan, dengan jelasnya diceritakan semua.

Selesai mendengarkan kisah itu dengan dinginnya Majikan patung emas mendengus lagi.

“Hemmm..kau mendatangkan kerepotan saja”

“Apa itu disebabkan aku?” tanya Ti Then dengan nada kurang senang.

“Jika bukannya kau turun tangan terlalu ringan sewaktu berada di atas gunung Fan Cin San kau tidak akan mendapatkan kesukaran seperti begini, sedang setan pengecut itu pun tidak akan lolos”

“Ha.ha..kau terlalu pandang tinggi kemampuanku”

“Pernahkah kau punya pikiran siapa itu Setan Pengecut yang sebetulnya?”

“Siang malam aku pikirkan tapi tetap tidak kuketahui juga” Majikan Patung emas mendengus lagi dengan amat dingin. “Pernah teringat akan Huang Puh Kian Pek?” tanyanya. “Pernah, tapi dia tidak mungkin Setan Pengecut itu”

“He..hee..dengan andalkan apa kau berani bilang dia bukanlah Setan Pengecut itu?” Tanya Majikan Patung Emas lagi sembari tertawa dingin.

“Batok kepala Setan Pengecut itu berhasil kutabas segumpal kulitnya, sebaliknya di atas kepala Huang Puh Kian Pek sama sekali tidak kelihatan adanya bekas luka”

“Bekas luka bisa ditutupi”

“Sekali pun begitu bisa” ujar Ti Then dengan tenang, “Tapi kulit kepala Setan Pengecut itu berhasil kutabas sebesar telapak bocah cilik, setelah luka itu sembuh tidak mungkin akan tumbuh kulit kembali untuk menutupi bekas luka itu”

“Tapi dia bisa memapas kulit beserta rambut orang lain, sesudah kering kemudian ditempelkan pada kepalanya sendiri”

Mendengar perkataan itu dalam hati Ti Then merasa sedikit bergerak, tanpa merasa lagi dia sudah menganggukan kepalanya.

“Kau sudah menemukan kalau Huang Puh Kian Pek itulah Setan Pengecut itu?” tanyanya kemudian.

“Belum” seru Majikan patung emas dengan perlahan, “Tapi menurut pandanganku mungkin dialah si Setan Pengecut itu”

“Asalkan melihat bagian kepalanya dengan teliti aku baru berani pastikan”

“Kau boleh pikir satu cara toh?” ujar Majikan Patung emas. “Sewaktu di dalam perjamuan malam tadi dia pernah buka kain

pengikat kepalanya di hadapan kita, aku tidak   punya cara lagi untuk melihat bagian kepalanya” “Kau boleh tantang dia bertanding ilmu silat, pada kesempatan itu kau bisa cengkeram bagian kepalanya”

“Hal ini tidak bagus” teriak Ti Then tidak mau menyetujui usulnya ini.

“Atau secara diam-diam memasuki kamarnya kemudian memasukkan obat pemabok pada secawan tehnya”

“Tapi aku tidak punya obat pemabok itu” “Kau bisa pergi ke kota untuk membelinya”

“Ti Then tidak bisa berbuat apa-apa lagi terpaksa mengangkat bahunya sambil mengalihkan pokok pembicaraan.

“Jika dia betul-betul adalah Setan Pengecut, maka apa tujuan yang sebetulnya? Kenapa dia sampai bersekongkol dengan Hong Mong Ling untuk menculik Wi Lian In?”

“Kau!”

“Aku?”

“Tidak salah!” jawab Majikan Patung Emas dengan tegas, “Bukankah sewaktu berada di atas gunung Fan Cin San dia pernah memaksa kau untuk menulis seluruh kepandaian silatmu kemudian minta kau potong sebuah lenganmu”

“Tidak salah” ujar Ti Then sembari mengangguk, “Bahkan katanya dia punya suatu barang yang hendak disampaikan kepada suhuku, dia anggap kaulah suhuku”

“Ha ha ha..semua itu hanya omong kosong belaka, tujuan mereka yang sebetulnya ingin membasmi dirimu”

“Hong Mong Ling ingin bunuh aku memang dia punya alasan itu” ujar Ti Then selanjutnya, “Tapi dia tidak punya alas an untuk bersekongkol dengan Hong Mong Ling”

“Ooh..kau sudah salah tanggap” seru Majikan Patung emas, “Dia bisa bersekongkol dengan Hong Mong Ling bukannya dikarenakan dia merasa simpatik terhadapnya, yang penting dia ingin menyingkirkan dirimu”

“Dia mau bunuh mati aku seharusnya punya alasan bukan?” “Mungkin dia punya suatu rencana terhadap suhengnya Wi Ci

To, sebaliknya karena kau masuk Benteng Pek Kiam Po maka dia merasa kau bisa menghalangi rencananya, karena itu dia punya minat untuk menyingkirkan dirimu”

“Dia punya rencana apa terhadap diri Wi Ci To?” tanya Ti Then lagi.

“Entahlah”

“Apakah sama dengan rencanamu?” tanya Ti Then dengan nada memancing.

“Urusan ini kau tidak perlu tahu”

“Jika dia betul-betul adalah Setan Pengecut itu, kau punya rencana mau berbuat apa terhadap dirinya?”

“Kau boleh laporkan urusan ini dengan Wi Ci To” jawab Majikan patung emas itu, “Sudah tentu Wi Ci To tidak akan melepaskan dirinya”

“Baiklah” sahut Ti Then kemudian sembari mengangguk, “Untuk sementara kita ke sampingkan urusan ini terlebih dahulu, kini biar kita bicarakan soal anying langit rase bumi itu, tentunya kau kenal Anying langit Rase bumi sepasang suami istri ini bukan?”

“Benar” jawab Majikan Patung emas itu singkat.

“Aku dengar kepandaian mereka suami istri berdua amat tinggi” “Tidak salah” sahut Majikan Patung emas itu lagi, “Tapi jika satu

lawan satu masih kalah satu tingkat dengan kepandaian Wi Ci To”

“Kita tidak bisa mengatakan satu lawan satu” bantah Ti Then cepat, “Karena mereka suami istri berdua selamanya melawan musuhnya dengan berbareng, musuhnya seorang mereka juga melawan bersama-sama, musuhnya seratus mereka pun turun tangan bersama-sama, makanya sejak kini kita harus menganggap mereka berdua sebagai ‘satu orang’ saja”

“Hmmm” dengus Majikan Patung emas itu dengan dingin, “Buat apa kau bicarakan urusan itu dengan aku?”

“Sebelum aku menyanggupi kau untuk menjadi patung emasmu, kau pernah bilang akan membuat aku menjadi orang nomor tiga di dalam dunia ini, selain kau serta Kay Kong Beng asalkan bisa bertemu dengan orang yang bisa mengalahkan diriku segera aku bisa batalkan perjanyian ini, sejak saat itu tidak perlu jadi patung emasmu lagi, bukan begitu?”

“Benar” sahut Majikan patung emas itu singkat.

“Bagus sekali, mungkin aku masih punya kesempatan untuk meloloskan diri dari belenggumu”

“Hmmm…hmmm..siapa yang bisa kalahkan dirimu?” Tanya Majikan patung emas itu sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.

“Anying langit Rase bumi” jawab Ti Then sambil tersenyum simpul, di dalam anggapannya Majikan patung emas tentu tidak akan bisa berkata lagi.

Siapa tahu begitu Majikan Patung emas itu selesai mendengar jawabannya ini dia tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.

“Haa..ha..haa…satu lawan satu mereka tidak mungkin bisa mengalahkan dirimu” serunya.

00

Bagian 21

“Sejak tadi aku sudah bicara jelas” ujar Ti Then dengan tidak kalah kerasnya, “Kita harus memandang mereka suami istri berdua sebagai satu orang, sedang jika misalnya aku dikalahkan mereka berdua maka sama saja kita harus pandang aku sudah dikalahkan satu orang saja”

“Kentutmu!” teriak Majikan patung emas dengan amat gusar, “Dengan jelas mereka adalah dua orang, mana mungkin bisa dikatakan satu orang saja?”

“Tapi mereka..”

“Aku mau tanya padamu,” potong Majikan patung emas itu dengan cepatnya.

“Jika diantara mereka suami istri ada yang sakit kemudian mati, apakah yang lainnya juga bersamaan waktu ikut mati?”

“Ini…”

“Makanya..,” sambung Majikan patung emas itu lagi dengan cepat, “Mereka adalah dua orang bukan satu orang”

“Tapi mereka selamanya turun tangan secara bersama-sama” “Itulah karena mereka dari aliran sesat, seluruh gerak-gerik serta

perbuatannya bertentangan dengan pihak lurus, kau anggap mereka turun tangan bersama-sama merupakan pekerjaan yang benar?”

“Sekali pun tidak benar” sahut Ti Then tidak mau kalah, tapi mereka tidak mau melawan aku satu lawan satu, sedang dengan berduaan melawan aku seorang sukar bagiku untuk memperoleh kemenangan”

“Wi Ci To bisa membantumu” seru Majikan patung emas itu singkat.

“Begitu dia turun tangan maka sejak itu juga antara pihak Benteng Pek Kiam Po serta Istana Thian the Kong akan mengikat suatu permusuhan yang tidak ada habisnya”

“Hmm..hmm..” dengus Majikan Patung emas itu dengan dinginnya, “Kau bisa bekerja sama dengan Wi Ci To untuk membunuh mati mereka suami istri berdua, dengan begitu bukannya menjadi beres?” “Aku bisa bekerja sama dengan Wi Ci To untuk mengalahkan mereka suami istri berdua, tapi untuk membereskan nyawanya aku kira merupakan suatu urusan yang agak sukar”

“Kalau bisa merebut kemenangan kenapa tidak bisa bunuh mereka?” bantah Majikan patung emas itu dengan amat dingin.

“Misalkan saja setan pengecut itu, sewaktu berada di selat sempit malam itu jika dia mau melawan aku terus sudah tentu aku bisa bereskan dirinya, tapi dia sudah melarikan dirinya”

“Hmmm…walau pun tidak bisa membereskan nyawa Anying langit Rase bumi seketika itu juga, hal ini bukanlah suatu urusan yang patut dirisaukan” seru Majikan Patung emas, “Walau pun jumlah anak buah dari Benteng Pek Kiam Po tidak bisa memadahi banyaknya anggota dari pihak Thian The Kong tapi istana Thian The Kong hanya merupakan sarang burung saja, untuk membasmi mereka bukanlah suatu urusan yang amat sulit”

“Omonganmu terlalu ringan” ujar Ti Then sesudah mendengar perkataannya itu.

“Hmmm” Majikan Patung emas itu mendengus lagi dengan amat dinginnya. “Urusan ini belum terjadi karena itu tidak perlu dirisaukan lagi. Sejak kau memasuki Benteng Pek Kiam Po hingga saat ini sudah ada satu bulan lamanya, sedang waktu yang sudah aku tentukan buatmu untuk menikah dengan Wi Lian In adalah tiga bulan, kini hanya tinggal satu setengah bulan lagi kau harus melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya”

“Hey Majikan patung emas” seru Ti Then dengan agak gusar, “Kau mau aku suruh aku lari ke hadapannya lalu bilang, Nona Wi, cepat kau kawin dengan aku!”

“Kenapa tidak?”

“Sungguh suatu omong kosong”

“Aku lihat Wi Ci To sama sekali tidak menaruh perasaan curiga terhadap dirimu” ujar Majikan patung emas lagi, “Sedang Wi Lian In sendiri agaknya juga punya perhatian terhadap dirimu, kau boleh memperlihatkan permainanmu yang berbeda di hadapan mereka ayah beranak, tidak perduli bagaimana pun juga di dalam satu setengah bulan mendatang kau harus selesai dengan tugasmu ini”

“Usaha yang tergesa-gesa tidak akan mencapai pada tujuan, kau pernah mendengar perkataan ini belum?” seru Ti Then sembari tertawa.

“Jika kau tidak berhasil menjadi suami Wi Lian In di dalam jangka waktu saru setengah bulan ini, hal ini merupakan suatu kerugian yang amat besar bagiku”

“Urusan perkawinan merupakan suatu urusan yang besar” bantah Ti Then lagi, “Urusan ini harus ditentukan oleh ayah ibu kita, sedang ibu dari Wi Lian In sudah lama tidak berada di dalam dunia ini lagi, dia harus mendengarkan perkataan dan keputusan dari ayahnya tapi Wi Ci To merupakan seorang yang sangat teliti dan tidak terlalu percaya terhadap orang lain, hanya dalam jangka waktu satu setengah bulan saja tidak mungkin dia bisa mengawinkan putrinya kepadaku”

“Hemm..”

“Kau bilang betul tidak?” desak Ti Then itu lagi.

Majikan patung emas itu membungkamkan diri tidak bicara lagi.

Majikan patung emas itu segera menarik kembali patung emasnya, lalu menutup kembali atap rumah dan meninggalkan tempat itu secara diam-diam.

Ti Then tersenyum, segera dia susupkan diri ke dalam selimut dan tidur dengan nyenyaknya.

Kokokan ayam jago membising telinga dipagi hari, sinar matahari dengan tajamnya memancarkan sinar keseluruh ruangan, suatu pagi yang cerah menjelang kembali.

Agaknya keadaan Wi Lian In terhadap Ti Then saat ini sudah tidak bisa ditinggal barang sekejap pun, baru saja Ti then selesai mencuci muka dia sudah datang untuk mengundang Ti Then sarapan pagi.

Selesai sarapan pagi, dia pun minta Ti Then bertindak sebagai Kiauw tauw untuk menurunkan kepandaian selat kepadanya.

Dengan perasaan amat girang Ti Then memenuhi semua ajakannya, bersama dirinya berjalan menuju ke lapangan latihan silat.

Ujar Wi Lian In kepada diri Ti Then:

“Kita kaum wanita jika disuruh latihan ilmu telapak atau ilmu pukulan kiranya tidak sesuai, lebih baik Ti Kiauw tauw ajari aku main ilmu pedang saja”

“Baiklah” sahut Ti Then sembari mengangguk, “Biar aku mainkan satu kali buatmu”

Selesai berkata dia mencabut keluar pedangnya dan mainkan satu gerakan dengan amat perlahan.

Pada siang harinya mereka menyelesaikan latihan untuk hari itu, ujar Wi Lian In kemudian dengan suara perlahan:

“Selesai makan siang, bagaimana kalau kita pesiar ke atas gunung?”

“Tidak” jawab Ti Then menolak ajakannya itu, “Dalam beberapa hari ini aku harus tetap tinggal di dalam Benteng untuk menanti kedatangan hwesio-hwesio dari Siauw lim Pay serta Anying langit Rase bumi”

Mendengar ajakannnya ditolak Wi Lian In mencibirkan bibirnya: “Mereka tidak akan datang begitu cepat!” serunya.

“Hal ini sukar untuk kita bicarakan sekarang”

“Aku tidak mau bicara sama kau lagi” seru Wi Lian In mengambek, kakinya dijejakkan ke atas tanah dengan keras, “Aku mengundang kau berpesiar ke atas gunung kau menolak, lain kali jika kau mengundang aku saat itu aku juga tidak mau” “Bagaimana kalau begini saja, kita jangan pergi terlalu jauh, hanya cukup duduk-duduk di atas tebing Sian Ciang saja” ujar Ti Then kemudian sembari tertawa, “Di atas tebing Sian Ciang kita bisa mengawasi pemandangan seluruh Benteng, jika terlihat sedikit situasi yang tidak baik kita masih punya waktu untuk lari turun”

Wi Lian In hanya ingin pergi berduaan dengan dia, karena itu terhadap usulnya ini tidaklah terlalu rebut.

“Bagus” teriaknya kegirangan sesudah mendengar perkataan itu, cepat kita pergi bersantap”

Tapi sewaktu mereka bersantap siang itulah mendadak Wi Ci To tersenyum sambil ujarnya:

“Ti Kiauw tauw, lohu dengar dari hu-pocu katanya permainan caturmu amat tinggi?”

“Mana, mana..” seru Ti Then tetap merendah, “Sewaktu boanpwe bermain catur dengan Hu-pocu kedua-duanya boanpwe memegang biji hitam sedang hasilnya pun satu kali menang satu kali seri”

“Tidak salah” sambung Huang Puh Kian Pek sembari tertawa, “Tapi lohu bisa melihatnya kalau sewaktu permainan kedua Ti Kiauwtauw sengaja mengalah”

“Tidak..tidak..” bantah Ti Then cepat, “Selamanya jika boanpwe bermain dengan orang lain jika makan terus makan, selamanya belum pernah mengalah dengan siapa pun”

“Wi Ci To tersenyum.

“Tinggi atau rendah nanti lohu sekali pandang segera akan tahu” ujarnya, “Nanti biarlah lohu mengalah tiga biji catur terlebih dulu kepada Ti Kiauw tauw”

“Baiklah” sahut Ti Then menyanggupi, “Boanpwe dengar permainan catur dari Pocu amat tinggi dan merupakan jago tak terkalahkan dalam dunia saat ini, harap pocu banyak memberi petunjuk kepada boanpwe” “Tidak bisa!” mendadak teriak Wi Lian In. “Kenapa tidak bisa?” tanya Wi Ci To melengak.

“Tadi Ti Kiauw tauw sudah berjanyi kepadaku untuk mengajak aku berpesiar ke atas tebing Sian Ciang sehabis bersantap”

Wi Ci To memandang sekejap kearah putrinya kemudian memandang pula kearah Ti Then, dalam hati dia tahu, yang mau adalah siapa, segera dia tersenyum.

“Kalau memangnya begitu” ujarnya kemudian, “Biarlah sesudah kembali dari tebing Sian Ciang baru kita main catur”

Demikianlah, sesudah habis bersantap siang Wi Lian In dengan perasaan amat girang membawa Ti Then keluar benteng untuk kemudian mendaki ke atas tebing Sian Ciang.

Tebing Sian Ciang merupakan sebuah bukit tebing dengan tinggi mencapai puluhan kaki tingginya, dari atas puncak tebing itu dapat melihat seluruh pemandangan dari Benteng Pek Kiam Po dengan teramat jelasnya.

Kedua orang itu setelah mencapai puncak tebing segera duduk berjajar di sebelah tebing yang berlatarkan Benteng Pek Kiam Po, ujar Ti Then kemudian sesudah memandang sekejap sekeliling tempat itu.

“Benteng kalian bisa berdiri di samping gunung merupakan suatu keangkeran yang luar biasa, hanya saja ada satu kekurangannya”

“Kekurangan apa?” tanya Wi Lian In dengan cepat.

“Jika ada orang yang mau menyerang Benteng bisa naik dari atas tebing ini”

“Hal ini tidak mungkin bisa terjadi” potong Wi Lian In dengan cepat sembari tertawa, “Sekali pun kepandaian silat orang itu lebih tinggi pun tidak mungkin bisa meloncat turun dari sini”

Ti Then tersenyum. “Yang aku maksud bukanlah manusia, tetapi batu besar serta panah berapi”

“Ooh..benar!” teriak Wi Lian In kaget, sedang air mukanya sudah berubah sangat hebat.

“Jika musuh melontarkan batu-batu besar dari sini maka seluruh Benteng Pek Kiam Po akan hancur, jika memanahkan panah-panah berapi maka seluruh Benteng Pek Kiam Po akan terbakar hangus” tambah Ti Then lagi.

Wi Lian In menarik napas panjang.

“Selamanya kita belum pernah memikirkan akan hal ini, kau kira mereka berani tidak melakukan hal ini?” tanyanya.

“Semoga saja tidak”

“Dugaanmu ini sangat tepat sekali, nanti aku mau laporkan urusan ini kepada Tia, biar dia kirim beberapa orang pendekar pedang untuk menyaga di atas tebing ini”

“Ehmm..seharusnya memang begitu” sahut Ti Then mengangguk.

“Coba kau lihat” seru Wi Lian In tertawa sambil menuding kearah Benteng Pek Kiam Po, “Di situlah letaknya kamarmu, nomor tiga dari sebelah kiri deretan ketiga..sudah terlihat belum?”

“Ehmm..sudah”

Dia masih melihat juga atap kamarnya, karena di dalam otaknya tanpa terasa sudah memikirkan dengan cara bagaimana Majikan patung emas itu bisa muncul di atas atap kamarnya tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, sedangkan para pendekar pedang yang menerima perintah untuk mengawasi dirinya secara diam-diam pun tidak aka nada yang melihat.

Wi Lian In yang melihat dia dengan termangu-mangu sedang memandangi keadaan Benteng segera menyenggol tangannya.

“Hey, kau sedang pikirkan apa?” tanyanya sambil tertawa. Ti Then menarik kembali pandangannya.

“Aku tidak sedang berpikir” sahutnya sambil tertawa, “Sebaliknya sedang melihat..”

“Melihat kamarmu itu?” Tanya Wi Lian In sembari tertawa manis. “Tidak, melihat ruangan lainnya, ruangan di hadapan kamar buku

ayahmu”

“Loteng penyimpan kitab?”

“Benar” jawab Ti Then sambil mengangguk, “Si Lo-cia pernah beritahu padaku untuk jangan mendekati loteng penyimpan kitab itu, dia bilang ayahmu melarang siapa pun juga untuk memasuki loteng penyimpan kitab itu termasuk kau serta Hu-pocu”

“Benar..” ujarnya dengan serius.

Dengan pandangan tajam Ti Then memandangi wajahnya, kemudian tanyanya.

“Kenapa?”

“Aku sendiri juga tidak jelas, Tia hanya bilang di dalam loteng itu disimpan berbagai kitab yang sangat berharga sekali”

“Kau percaya?”

“Aku…aku tidak percaya, tapi aku tidak berani Tanya” sahut Wi Lian In dengan terputus-putus.

“Bukankah ayahmu sangat sayang padamu?”

“Benar” jawab Wi Lian In, “Urusan apa pun dia mau menyanggupi diriku, tapi dia melarang aku memasuki loteng penyimpan kitab itu, dengan serius dia pernah memberi peringatan kepadaku untuk jangan mendekati loteng tersebut. Pernah dua kali secara diam-diam menyelundup masuk ke sana akhirnya diketahui oleh Tia. Untuk pertama kalinya dengan sangat gusar dia hanya memaki dan memarahi aku tapi ketika kedua kalinya bukan saja memaki dan memarahi aku, bahkan memukul diriku” “Kau dipukul?” tanya Ti Then dengan amat terkejut.

“Benar” sahutnya sambil tertawa, “Untuk pertama kalinya dia pukul aku bahkan memukul dengan keras sekali membuat aku hampir-hampir setengah mati”

“Itulah sangat aneh sekali, bagaimana ayahmu bisa pandang harta kekayaan itu jauh lebih tinggi daripada dirimu?”

Dengan sedihnya Wi Lian In menghela napas panjang.

“Aku pikir di dalam sana tentunya tidak disimpan barang-barang berharga saja” serunya dengan sedih, “Di sana tentu disimpan suatu rahasia yang punya hubungan sangat erat dengan Tia”

“Apa bisa suatu barang pusaka yang amat berharga?” “Seharusnya bukan” sahut Wi Lian In sambil gelengkan

kepalanya, Tia tidak begitu gemar menyimpan harta, jika memiliki suatu pusaka yang amat berharga dia tentu akan beritahukan kepadaku”

Dia berhenti sejenak, kemudian sambungnya lagi.

“Waktu itu sesudah memukul aku dengan amat keras agaknya dia merasa sangat menyesal, dia lari kekamarku untuk menghibur diriku bahkan dengan melelhkan air mata minta aku jangan sampai memasuki loteng penyimpan kitab itu lagi, waktu itu aku secara tiba-tiba merasa Tia begitu kasihan lalu menyanggupinya, bahkan sudah angkat sumpah untuk selamanya tidak memasuki loteng penyimpan kitab itu lagi, demikianlah sejak hari itu aku tidak berani mendekati sana lagi”

“Bagaimana dengan Hu pocu?” tanya Ti Then kemudian. “Selamanya dia pun tidak pernah menanyakan loteng penyimpan

kitab itu, terhadap hal itu agaknya dia tidak mau ambil perduli”

“Para pendekar pedang di dalam Benteng juga tidak ada seorang pun yang berani untuk menyelidiki?” “Dulu memang pernah ada seorang pendekar pedang merah secara diam-diam sudah menyelundup masuk ke dalam loteng, tapi baru saja satu langkah memasuki pintu segera terjirat mati oleh alat-alat rahasiai yang dipasang di sana”

“Benar” jawab Ti Then dengan bergidik, “Aku dengar si Lo-cia juga pernah berkata kalau di dalam loteng penyimpan kitab itu memang dipasang alat-alat rahasia yang teramat lihay”

Dengan perlahan Wi Lian In mengulurkan tangannya yang putih mulus untuk mencekal pergelangan tangannya.

Dengan mesrahnya Wi Lian In menyandarkan badannya ke atas dada Ti Then, dengan suara yang penuh perasaan cinta ujarnya:

“Aku tahu kau sangat baik sekali..”

“Tidak!” teriak Ti Then dengan perasaan menyesal, “Aku tidak baik, mungkin pada suatu hari kau bisa merasa aku jauh lebih jahat dari Hong Mong Ling”

“Aku tidak percaya” sahut Wi Lian In sembari tertawa. “Lebih baik kau jangan terlalu percaya kepada diriku”

Pada wajah Wi Lian In terlintaslah suatu sinar kebahagiaan, ujarnya dengan perlahan:

“Jika kau bukan seorang yang patut dipercayai, maka di dalam dunia ini tidak aka nada orang yang bisa dipercayai lagi”

“Bukankah dahulu kau sangat percaya terhadap Hong Mong Ling?” ujarnya sambil tertawa pahit.

Wi Lian In mengerutkan keningnya rapat-rapat ketika mendengar perkataan itu.

“Itulah karena aku sudah dibuat buta, tapi aku hanya bisa buta untuk satu kali saja” ujarnya.

Ti Then tersenyum kembali. “Mungkin aku masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po memang mem punyai suatu rencana tertentu seperti yang dikatakan oleh Hong Mong Ling dahulu”

“Jangan sebut dia lagi!” teriak Wi Lian In dengan gemas, “Aku tidak mau dengar namanya lagi”

Dengan perlahan Ti Then hanya bisa menghela napas panjang saja, kemudian bungkam di dalam seribu bahasa.

“Kenapa kau menghela napas panjang?” Tanya Wi Lian In dengan heran ketika mendengar Ti Then menghela napas.

“Tidak mengapa” sahutnya sembari gelengkan kepala.

Dengan pandangan yang tajam Wi Lian In memandang wajahnya tanpa berkedip.

“Apakah kau menganggap karena aku punya ikatan jodoh dengan dia lalu aku adalah..”

“Bukan..bukan..” bantah Ti Then dengan amat gugup, “Aku tidak punya pikiran begini, aku tahu kau masih suci bersih”

“Semua orang menganggap jika seorang nona sudah dijodohkan dengan orang lain maka mati hidupnya termasuk orang keluarga itu, apa kau  punya pandangan begini?”

“Tidak”

“Kalau begitu…”

Tetapi ketika dilihatnya wajah Ti Then amat murung maka tanyanya dengan cepat.

“Lalu kenapa kau tidak genmbira?”

“Siapa bilang aku tidak gembira?” tanya Ti Then sembari tertawa paksa.

“Kau jangan menipu aku, aku bisa melihatnya kalau di dalam hatimu ada urusan” “Aku sedang berpikir, loteng penyimpan kitab ayahmu bisa mendatangkan banyak bencana bagi dirinya”

“Kau boleh legakan hati” ujar Wi Lian In tersenyum, “Sejak adanya Benteng Pek Kiam Po Loteng penyimpan kitab itu sudah ada, tapi selama puluhan tahun ini belum pernah terjadi orang luar ada yang datang menyelidiki tempat itu”

“Musuh luar bisa dicegat tapi musuh dalam selimut sukar ditahan”

“Tidak ada musuh dalam selimut” seru Wi Lian In dengan keras. "Semoga saja begitu."

Dengan pandangan yang tajam Wi Lian In mengawasi wajahnya kembali. "Kau kira ada tidak?" tanyanya.

"Jika aku sudah mengemukakan dugaanku, harap kau jangan marah dan jangan ada orang ketiga yang mendengar." ujar Ti Then dengan serius.

"Baiklah." sahutnya sambil mengangguk, "Mau bicara. . bicaralah"

"Kemarin sewaktu aku berbaring di atas pembaringan sudah berpikir sangat lama sekali, aku merasa Hu Pocu memang patut kita curigai."

Wi Lian In menjadi terkejut bercampur heran.

"Bukankah sewaktu makan malam kemarin dia sudah buka kain pengikat kepala untuk kita lihat?" ujarnya

"Tidak salah, tapi hanya sepintas lalu saja tidak bisa dilihat lebih jelas."

"Tapi aku bisa melihatnya teramat jelas" jawab Wi Lian In dengan pasti. "Di atas kepalanya memang tidak terlihat sedikit bekas lukamu."

Ti Then tersenyum tawar. "Dia bisa memotong kulit kepala orang lain sesudah kering kemudian ditempelkan pada bekas lukanya sendiri, hal itu hanya bisa dilihat dengan jelas jika kita memeriksa dengan lebih teliti." ujarnya.

-ooo0dw0ooo-