-->

Pendekar Patung Emas Jilid 04

 
Jilid 04

“Kalau begitu” ujar Wi Lian In sambil tersenjum, “Kita dapat menjadi kawanmu sedang kau pun dapat menjadi kawan kami, benar tidak ?”

“Tidak salah” sahut Ti Then sambil tersenjum. Wi Lian In tersenjum lagi, ujarna:

“Tetapi sajang sekali sekali pun kau memandang kami sebagai kawan tetapi sebaliknya kami tidak bisa menganggap kau kawan”

Dengan terburu-buru bentak Wi Ci To:

“In ji, jangan ngomong sembarangan ?”

“ Ha . . ha .. ha ha . ha “ udiar Ti Then sambil tertawa terbahak- bahak, “Perkataan dari nona Wi ini tentu mem punyai maksud yang sangat mendalam, dapat kah nona menjelaskan lebih teliti lagi?”

“ Kami senang berkawan dengan seorang teman yang suka berterus terang, sedang kau sekali pun memandang kami orang- orang dari Benteng Pek Kiam Po sebagai teman tetapi tidak mau berterus terang kepada kami ?

“Ha .. ha.. . lalu nona Wi ingin cayhe berterus terang dalam hal apa sehingga bisa menjadi teman ?

“Bilamana kau merasa kalau kami merupakan kawan-kawan yang dapat dipercaya dan merupakan kawan-kawan karib, maka seharusnya kau memberi tahukan kepada kami asal usul serta nama dari suhumu”

“Ooh . . begitu?” sahut Ti Then sambil tertawa. Ha... ha benar ?

Nona memang seharusnya menyalahkan diri cayhe . . ?”

“Ehm Ti-heng harap jangan marah atas kelancangan dari putriku ini.” ujar Wi Ci To sambiftertawa paksa.

“Tidak” ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya. “Boanpwe memang seharusnya memberitahukan nama dari suhuku, kemarin malam boanpwe tidak mau menyebutkan dikarenakan boanpwe merasa sekali pun disebut Wi Pocu juga tidak akan percaya.”

“.Ha, ha, ha . mata Lohu belum sampai kabur, perkataan dari siapa pun dapat mempercayainya tetapi perkataan dari siapa pun juga bisa tidak dipercaya masih bisa melihatnya sendiri

-Kalau begitu Wi Pocu mau percaya atas perkataan dari boanpwe?”

“Sudah tentu” sahut Wi Ci To sambil mengangguk.

“Baiklah, sekarang juga boanpwe akan beritahu nama dari suhuku

Dengan perlahan dia angkat cawannya yang berisikan arak dan diteguknya dengan perlahan-lahan. Lagaknya mirip sedang menceritakan suatu cerita biasa ujarnya kemudian “Jika boanpwe katakan mungkin saudara sekalian tidak akan percaya, suhu cayhe adalah seorang Bu Beng Lojin atau orang tua tanpa nama.

“Bu Beng Lojin?” tanya Wi Ci To dengan keheran-heranan sedang sinar matanya dengan, tajam memandang wajahnya.

“Benar” sahut   Ti   Then   sambil   menundukkan   kepalanya.

...Boanpwe belajar silat selama delapan tahun darinya tetapi selama ini dia tidak pernah mengijinkan boanpwe untuk mengetahui namanya...

"Kenapa dia berbuat demikian? “

Ti Then tertawa pahit, sahutnya

“Siapa yang tahu, setiap kali boanpwe mohon dberi tahu nama besar dari dia orang tua maka setiap kali pula dia bilang kalau

„Nama"nya sudah binasa beberapa tahun yang lalu, agaknya dia orang tua pernah mengalami peristiwa menjedihkan yang menimpa dirinya pada masa yang lalu”

“Lalu kenapa dia menerima kau sebagai muridnya?”

“ Dia bilang manusia boleh mati tetapi kepandaian silat tidak boleh musnah, dia tidak tega melihat kepandaiannya ikut terkubur bersama tubuhnya oleh karena itulah menerima boanpwe sebagai muridnya, bahkan dia sudah membuat peraturan yang sangat keras bagi diri boanpwe asalkan boanpwe berani berbuat kejahatan maka dengan tanpa am pun dia akan mencabut nyawa boanpwe."

"Wajah dari suhumu apakah Ti-heng mau juga melukiskan? ujar Wi Ci To.

“Boleh” sahutnya sambil tersenjum.

“Rambutnya sudah berubah dan memutih semuanya, sedang usianya kurang lebih delapan puluh tahun lebih bentuk tubuhnya sedengan hanya saja matanya yang sebelah sudah cacad, agaknya terluka oleh semacam benda semasa mudanya." Wi Ci To menundukkan kepalanya her pikir, kemudian tanyanya lagi

“Apa suhumu sendiri yang bercerita kalau matanya itu terluka semasa dia masih muda?”

“Tidak, hanya dugaan dari boanpwe sendiri “

“Selain sebelah mata dari suhumu yang cacad, apa masih terdapat anggota badan lain yang cacad?” timbrung Huang Puh Kian pek.

“Tidak ada” sahutnya sambil menggelengkan kepalanya. “Telinganya juga tidak cacad?”

“Tidak” sahutnya sambil menggeleng kan kepalanya kembali. “Suhumu apa sering memakai tangan kiri mengambil barang?” “Ha . . ha ... ha .." sahut Ti Then sambil tertawa tergelak.

“Huang Puh cianpwe apa mencurigai suhuku adalah sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan? Bukan, bukan . .. suhuku bukan sipendekar tangan kiri Cian Pit Yuan. “

Air muka Huang Puh Kian pek segera berubah menjadi merah padam sambil angkat bahu ujarnya:

“Maaf, maaf sekali, di dalam dugaan Lohu hanya tahu bahwa di dalam Bu-lim saat ini selain sipendekar tangan kiri Cian Pit Yuan sebenarnya tidak mungkin ada orang lain yang bisa melatih kepandaian silat setinggi apa yang dimiliki Ti-heng saat ini."

“Ada satu kali” ujar Ti Then, “Suhu pernah bercerita kalau dia orang tua sudah mengundurkan diri dari kalangan dunia kangouw pada lima puluh tahun yang lalu, maka bilamana Huang Puh cianpwe ingin mengetahui dengan jelas siapakah suhuku itu seharusnya pergi mencari jago-jago yang terkenal pada lima puluh tahun yang lalu”

“Ha . ha . . lima puluh tahun yang lalu Lohu masih ingusan" “Lohu ini tahun juga baru berusia enam puluh satu.- sambung Wi Ci To sambil tertawa ”pada lima puluh tahun yang lalu baru berusia sebelas tahun, saat itu lohu belum belajar silat”

“Lalu dimana tempat tinggal dari suhumu ?” ujar Hong Mong Ling dengan cepat.

“Sejak dia orang tua menerima siauwte sebagai muridnya selalu tinggal bersama dengan siauw-te di dalam sebuah gua di atas gunung Kwua Cang San, pada tiga tahun yang lalu dia memerintahkan siauw-te turun gunung berkelena di dalam dunia kangouw, pada tahun kedua siauwtle pernah satu kali naik ke atas gunung tetapi sudah tidak tampak dia orang tua berdiam di dalam gua, maka tempat tinggal dari dia orang tua sekarang ini sekali pun siauw-te sendiri juga tidak tahu”

Jika demikian adanya suhumu sudah tidak ingin bertemu lagi dengan Ti-heng, “ ujar Hong Mong Ling..

“Jika dilihat keadaannya memang begini” sahut Ti Then dengan sedih.

“Tadi Siauw-te pernah bilang bahwa dia mewarisi Siauw-te ilmu silat semuanya adalah dikarenakan dia tidak tega melihat kepandaian silatnya turut dengan tubuhnya, jika bicara dalam perhubungan antara guru dengan murid boleh dikata sangat tawar sekali. “

Dengan wajah yang sangat serius ujar Wi Ci To.

“Jika didengar dari perkataan ti-heng suhumu pada usia tiga puluh tahun sudah mengundurkan diri dari Bu-lim agaknya pernah mengalami suatu peristiwa yang menjedihkan hatinya sehingga di dalam keadaan yang putus asa dia berbuat demikian”

Ti Then hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Kepandaian silat dari suhumu apakah mengandalkan ilmu pedangnya yang paling lihay?” tanya Wi Lian In tiba-tiba. “Tidak,Kepandaiannya di dalam ilmu pukulan, telapak serta ilmu meringankan tubuh baru boleh dikata merupakan ilmu tunggalnya”

“Seluruh kepandaiannya sudah kau kuasai?” “Benar.” Sahut Ti Then mengangguk.

“Hanya bakat cayhe ada batasnya sekali pun sudah berhasil mempelajari seluruh ilmu silat dari suhuku tetapi belum mencapai pada kesempurnaan.”

Teringat oleh Wi Lian In akan ilmu pedangnya sudah demikian mengejutkan bilamana ilmu pukulan serta ilmu meringankan tubuhnya jauh lebih lihay dan lebih hebat dari ilmu pedangnya sudah tentu sukar ditandingi lagi, untuk sesaat lamanya tak tertahan ujarnya:

“Maukah kamu mendemonstrasikan sedikit permainan pukulan serta ilmu meringankan tubuh yang pernah kau pelajari ?”

“Hei Budak" bentak Wi Ci To sambil tertawa, ternyata makin lama kau semakin tidak karuan.

“Tia” ujar Wi Lian In sambil tertawa. “Ti Toako juga sangat mengharapkan bisa mengetahui siapakah suhunya kini minta dia memperlihatkan beberapa jurus kepandaiannya kemungkinan sekali dari permainan silatnya itu Tia bisa mengetahui asal usul dari suhunya.”

“Sekali pun memang benar tetapi.”

“Perkataan dari putrimu memang benar.” potong Ti Then, “Apabila Pocu tidak memandang rendah diri cayhe maka boanpwe akan sedikit mempertunjukkan kepandaian cakar ajam yang boanpwe miliki.”

Dia bisa dengan demikian cepat dan gembiranya menerima permintaan dari Wi Lian In ini semuanya dikarenakan pertama dia ingin menarik simpatik dan kegembiraan dari Wi Lian In sedang kedua, dia ingin sedikit gujon-gujon dengan Wi Ci To (Menurut perkataan dari Shia Pek Tha kepadanya katanya Wi Ci To pernah meninggalkan Benteng selama empat lima bulan lamanya sehingga di dalam hati dia menganggap Wi Ci To adalah majikan Patung Emas) …dengan mempertunjukkan sedikit kepandaian silat yang diajarkan oleh Wi Ci To di hadapan Wi Ci To sendiri bukankah merupakan permainan yang sangat menarik sekali?

Terlihat Wi Ci To mengerutkan alisnya ujarnya,

“Ilmu pedang yang Ti-heng perlihatkan pagi tadi saja sudah cukup membuat Lohu bingung dan tidak tahu asal usulnya apalagi di dalam pukulan, Lohu kira juga sama saja?”

“Ha ... ha , ha . ha.” Potong Huang Puh Kian Pek. “Tidak perduli dibagaimana pun semuanya tidak mendatangkan bahaja, hanya melihat-lihat saja juga tidak mengapa bukan?”

Wi Ci To melihat semua orang demikian tertariknya terpaksa bangkit dari tempat duduknya sambil ujaraja

“Baiklah mari kita pergi ke lapangan latihan silat.”

Lapanqan latihan silat dari Benteng seratus pedang ini terletak ditengah Benteng, luasnya kurang lebih tiga puluh kaki, pada saat tua muda enam orang tiba ditengah lapangan latihan silat itu terlihatlah ditengah lapangan sedang terdapat puluhan orang dari Pendekar pedang hitam yang sedang melatih ilmu pedangnya.

Ujar Ti Then sesudah melihat hal itu:

"Pendekar-Pendekar pedang dari Benteng kalian sungguh amat rajin sekali sampai saat ini masih juga melatih ilmu pedangnya"

“Ha.. ha ...Lote telah salah menduga” ujar Shia Pek Tha: “Beberapa pendekar pedang hitam ini pada hari biasa amat malas berlatih sehingga kini kami sengaja menghukum mereka untuk berlatih ilmn pedang satu hari penuh.”

“Ooh.. . kiranya demikian.”

Wi Lian In yang sudah kepingin melihat kepandaian silat dari Ti Then segera mendepakkan kakinya ke atas tanah, ujarnya : “Sudahlah, Ti Toako harus mendemonstrasikan kepandaiannya dulu”

Dengan perlahan Ti Then menyapu sekeliling tempat itu, terlihatlah di sebelah kiri dari lapangan terdapat sebuah rak senyata segera ujarnya:

“Baiklah sekarang cayhe akan memperlihatkan ilmu meringankan tubuh terlebih dulu.”

Sambil berkata dengan langkah yang lebar dia berjalan mendekati rak senyata tajam itu.

Terlihatlah setiap senyata tombak yang terdapat di dalam rak itu runcing-runcing sekali bahkan kelihatannya sangat tajam diam-diam dalam hatinya sangat kagum, pikirnya.

“Kepandaian dari Wi Ci To sungguh sebanding dengan apa yang disiarkan di dalam dunia kangouw, hanya cukup dengan senyata- senyata tajam yang terdapat di dalam rak senyata ini saja sudah sangat berlainan dengan tempat. Biasanya, apabila pada satu setengah tahun yang lalu menjuruh aku meloncat melalui atas senyata mungkin sukar untuk melaksanakannya sebaliknya kini bilamana aku tidak menggunakan sedikit kembangan mungkin belum bisa memperlihatkan kelihayanku”

Pikirannya dengan cepat berputar, kemudian kepada Hong Mong Ling sambil tertawa ujarnya.

“Hong heng, tolong ambillah beberapa batang hio (alat sembahjangan orang Tionghoa) untuk siauwte”

Air muka Hong Mong Ling segera berubah, tanyanya dengan kaget-

-Ti-heng menghendaki hio untuk apa? Untuk sedikit permainan dalam ilmu meringankan tubuh?"

Hong Mong Ling melihat dia tidak mau memberikan penjelasan yang tegas terpaksa mengangguk dan berlalu dari lapangan. Tidak lama dia sudah kembali dengan membawa beberapa batang hio. Ti Then segera mengucapkan terima kasih dan mengambil benda itu dari tangannya.

Setelah itu dengan perlahan-perlahan dia medekati rak senyata dan meloncat naik ke atas ujung senyata yang sangat tajam tersebut.

Wi Ci To serta Huang Puh Kian Pek yang melihat kepandaiannya ini dimana menancapkan hio ke atas ujung senyata tajam tidak tertahan lagi pada berubah wajahnya.

Sudah tentu dalam hati mereka tahu kalau Ti Then hendak memperlihatkan ilmu meringankan tubuh di atas hio itu tetapi yang membuat hati mereka kini merasa sangat terkejut adalah menancapkan hio di atas ujung tombak itu, haruslah diketahui alat sembahjangan yang terbuat dari bambu yang sangat tipis itu merupakan benda yang mudah putus sedang ujung tombak merupakan benda dari baja tetapi dia bisa dengan mudahnya menancapkan ke atas ujung tombak, kepandaian ini boleh dikata sudah mencapai pada taraf memetik daun melukai orang, melukai orang di balik gunung,

Sebaliknya dia hanya merupakan pemuda yang baru berusia kurang lebih dua puluh tahunan.

Diam-Diam Wi Lian In menarik ujung baju ajahnya, ujarnya dengan perlahan.

“Tia, kepandaiannya sungguh amat tinggi”

Wi Ci To mengangguk..dengan suara yang setengah berbisik ujarnya,

“Benar, sekali pun ajahmu juga tidak bisa melakukan hal seperti itu”

“Bukankah dia akan memperlihatkan permainan ilmu meringankan tubuhnya di atas hio” tanya Wi Lian In Lagi. “Benar, kepandaian ini tidak terhitung ajahmu di dalam dunia kangouw saat ini juga hanya si kakek pemalas Kay Kong Beng serta si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan dua orang yang bisa melakukan”

Wi Lian In menjadi sangat terkejut, tanyanya dengan cepat: “Apa mungkin dia murid dari si kakek pemalas Kay Kong Beng?”

“Bukan, “ sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya, “Sejak dua puluh tahun yang lalu sesudah si kakek pemalas Kay Kong Beng menerima muridnya yang tidak berbakti itu pernah bersumpah bahwa selamanya tidak akan menerima murid lagi, bahkan jika dilihat dari kepandaian yang dimiliki Ti Then sekarang agaknya sekali pun si kakek pemalas juga tidak mungkin bisa mengajari hingga demikian lihay.”

Pada saat ajah beranak berbisik dengan perlahan itulah Ti Then sudah selesai menancapkan hionya ke ujung tombak.

Terdengar Huang Puh Kiam Pek sambil menghela napas panjang pujinya:

“Kepandaian sakti, kepandaian sakti, cukup melihat permainan dari Ti-heng ini saja Lohu tidak lihat sudah tahu kalau kepandaian lainnya pun tentu sangat menarik sekali”

Ti Then hanya tersenjum saja, setelah memberi hormat kepada Wi Ci To dan Huang Puh Kiam Pek ujarnya:

“Boanpwe akan memperlihatkan sedikit kejelekan, harap Pocu berdua suka beri petunjuk ?”

Sehabis berkata tubuhnya melayang ke atas dan berdiri dengan kaki sebelah di atas ujung hio yang menancap pada ujung tombak itu, jurus yang, digunakan ini adalah jurus Kim Ki Tok Lie atau ajam emas berdiri disatu kaki.

Hio itu sendiri sebenarnya hanya terkena sedikit tenaga saja maka segera okan putus, kini di atasnya diinyak oleh seorang dengan ratusan kali beratnya ternyata sedikit melengkung pun tidak hal ini memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai pada kesempurnaan, bahkan tubuhnya yang berat itu bisa diubah menjadi sangat ringan bagaikan kapas,

“Bagus…”

“Ilmu meringankan tubuh yang sempurna…” “Kepandaian yang sangat lihay…”

Suara pujian dan seruan kagum dengan cepat berkumandang dari seluruh penjuru lapangan membuat suasana menjadi sangat ramai.

Kiranya beberapa puluh orang pendekar pedang hitam yang sedang berlatih ilmu pedang itu ketika melihat Ti Then menancapkan hio di ujung tombak tadi sudah mulai memperhatikan dengan penuh kekaguman dari tempat jauh, saat ini begitu TiThen meloncat naik dan berdiri di ujung hio yang kecil dan mudah putus itu tidak tertahan lagi pada bersorak memuji.

Ditengah suara sorakan memuji yang sangat ramai itulah terlihat Ti Then sedikit memutar tubuhnya bagaikan segulung asap yang sangat ringan telah mumbul ke tengah udara kemudian bersalto beberapa kali dan melayang turun pada ujung Hio yang kedua sedang benda yang diinyak ini sedikit pun tidak melengkung atau bergerak.

Setelah itu tubuhnya dengan gerakan yang sama melayang pula pada ujung yang ketiga.

Demikianlah dia mulai berlari dengan kecepatan yang luar biasa di atas ujung tombak yang ditancapi Hio itu, semakin lari semakin cepat sehingga akhirnya hanya terlihat segulung bajangan manusia yang menari dan berkelebat diantara ujung Hio disekeliling lapangan itu.

Suara tepukan tangan, suara sorakan memuji semakin lama semakin keras sehingga menggetarkan seluruh lapangan, Selama hidupnya Wi Lian In juga belum pernah melihat ilmu meringankan tubuh yang demikian saktinya, sehingga saking girangnya air mukanya berubah menjadi merah padam, dengan penuh kegirangan dia bertepuk tangan dan bersorak sorai.

Sebaliknya Hong Mong Ling sekali pun ikut bertepuk tangan tetapi wajahnya semakin lama berubah semakin membesi. Ditengah suara tepukan serta sorakan yang ramai itulah berturut-turut Ti Then mengitari lapangan puluhan kali banyaknya, mendadak tubuhnia menerjang ke atas udara setinggi tiga kaki lebih kemudian dengan sangat ringannya melayang turun ke atas tanah kepada para badirin sambil merangkap tangan memberi hormat ujarnya:

“Permainan yang jelek. Permainan yang jelek”

“Heei..”puji Wi Ci To sambil menghela napas panjang: “Bilamana bukannya Lohu melihat dengan mata kepala sendiri sesungguhnya sukar untuk mempercayai.”

“Benar” -sambung Huang Puh Kiam Pek. “Dengan usia Ti-heng yang masih demikian mudanya ternyata sudah berhasil melatih kepandaiannya hingga sedemikian sempurnanya sungguh sukar untuk diduga"

Ti Then hanya mengucapkan banyak terima kasih berulang kali, ujarnya kemudian

“Boanpwe akan mempertunjukan ilmu pukulanku yang masih cetek, harap Po cu berdua suka beri petunjuk”

Sesudah mengucapkan kata-kata itu dia menoleh memandang kearah Hong Mong Ling, sambil tertawa ujarnya,

“Hong-heng, kali ini merepotkan kau lagi” Terpaksa Hong Mong Ling tersenjum, tanyanya: "Kali ini Ti-heng membutuhkan barang apa lagi ?"

"Hanya ingin meminyam pakaian longgar yang Hong-heng pakai itu” Sekali pun dalam hati Hong Mong Ling merasa tidak puas tetapi dia juga tidak berani menolak terpaksa dengan hati yang mangkal dia melepaskan pakaiannya dan di angsurkan kearah Ti Then.

Dengan segera Ti Then menyambut sambil mengucapkan terima kasih, kepada Wi Ci To kemudian ujarnya lagi,

“Entah Po cu mengijinkan tidak kedua orang saudara Pendekar pedang hitam untuk membantu boanpwe ?

Wi Ci To segera mengangguk, kepada para pendekar pedang hitam yang sedang menonton itu teriaknya:

“Teng Eng Kiat Kauw Huan Tiong kalian kemari”

Dua orang pendekar pedang hitam segera menyahut dan meloncat datang.

Ti Then segera menjerahkan pakaian itu kepada mereka dan menjuruh mereka berdiri masing-masing disatu pojok mementangkan pakaian itu kemudian dirinya mundur lima enam langkah ke belakang.

Tiba-Tiba Hong Mong Ling tertawa tanyanya:

“Ti-heng apa hendak melancarkan serangan menghancurkan pakaian itu?”

“Tidak salah”

Hong Mong Ling tertawa lagi„ ejeknya

-Dengan menggunakan batu cadas bukankah malah bisa memperlihatkan kepandaian asli dari Ti-heng? “

Ti Then hanya tersenjum tanpa mengucapkan sepatah kata pun punggungnya membelakangi kedua orang pendekar pedang hitam itu sesudah memusatkan seluruh tenaga dalamnya mendadak tubuhnya berputar setengah lingkaran ditengah udara dan melancarkan serangan yang dahsyat kearah depan.

“Sreeet ?-- pakaian yang dibentangkan itu sudah terpukul hingga berlubang. Win Ci To yang melihat kepandaian itu diam-diam mengerutkan alisnya rapat-rapat sedang hadirin lainnya pun dibuat melongo dan memandang terpesona ke atas pakaian yang berlubang itu lewat beberapa saat kemudian baru terdengar suara sorakan yang sangat ramai,

Dengan satu pukulan tangan membuat pakaian berlubang sebenarnya bukan merupakan suatu peristiwa yang aneh tetapi ‘lubang’ yang dihasilkan dari angin pukulan Ti Then ini sangat berbeda dengan keadaan lainnya.

Dia bukannya memukul pakaian itu hingga hancur dan berlubang-lubang melainkan hanya membuat pakaian itu berlubang tidak besar tidak kecil persis sebesar kepalannya.

Hal ini sama saja artinya kekuatan pukulannya berhasil dipusatkan pada satu tempat saja bukan menjebar keseluruh tangan bahkan kecepatan pukulannya pun laksana sambaran kilat yang sedang berkelebat.

Hong Mong Ling mimpi pun tidak pernah menyangka kalau Ti Then bisa memiliki kepandaian yang demikian menakutkan teringat akan kata-kata ejekan yang tadi dia lontarkan tidak tertahan lagi wajahnya berubah menjadi merah padam dengan sangat malu dia menundukkan kepalanya rendah.

Ti Then segera maju ke depan mengambil pakaian dari tangan kedua orang pendekar pedang hitam itu dan diserahkan kembali kepada Hong Mong Ling, ujarnya:

“Sungguh maaf sekali telah merusak pakaian dari Hong-heng “

Hong Mong Ling segera menyambut pakaiannya, sambil tertawa tawar sahutnya:

“Tidak mengapa, hanya untung cuma melubangi sebuah pakaian saja dan bukan melukai hati siauwte"

-Hong-heng tadi bilang batu cadas, bagaimana kalau minta tolong Hong heng mengambilkan sebuah batu cadas kemari?” Hong Mong Ling mengangguk tetapi bukannya dia mengambil sendiri tetapi menoleh ke salah seorang pendekar pedang hitam serunya:

“Huan Tiong, ambil sebuah batu cadas kemari”

Pendekar pedang hitam itu menyahut dan pergi, tidak lama dia sudah kembali dengan membopong sebuah batu cadas berbentuk persegi panjang setebal lima cun dan diletakkan di hadapan Ti Then.

Ti Then memberi hormat kembali kepada Wi Ci To dan Huang Puh Kian Pek sambil ujarnya:

"Boanpwe sekali lagi akan mempertunjukkan permainan yang jelek, bilamana sampai tidak baik harap jangan ditertawakan”

Wi Ci To hanya tersenjum sambil mengangguk sepatah kata pun tidak diucapkan.

Dengan tangan kirinya Ti Then mengangkat batu cadas itu dan dilemparkan ke atas kemudian telapak tangannya disertai dengan tenaga dalam menekan di atas permukaan batu itu, baru saja terdorong setengah depa batu cadas itu sudah jatuh ke atas tanah.

Dari permukaan batu cadas hancuran kapur beterbangan mengikuti arah bertiupnya angin dan muncullah sebuah bekas telapak tangan yang sangat jelas sedalam satu cun lebih.

Kali ini tidak ada orang yang bertepuk tangan atau bersorak memuji semuanya membisu seribu bahasa hanya sepasang matanya melotot keluar sebesar-besarnya agaknya mereka sudah dibuat terkejut oleh kelihayan dari tenaga dalamnya.

Lama sekali Wi Ci To termenung memandang terpesona kearah Ti Then kemudian barulah dia menoleh kearah para pendekar pedang hitam yang sedang mengerumun itu, ujarnya:

“Kalian sudah melihat sendiri Pendekar baju hitam Ti Then ini masih sangat muda dan usianya sebanding dengan kalian ternyata sudah berhasil melatih kepandaiannya hingga mencapai demikian sempurnanya, bilamana kalian ingin berubah seperti dia maka mulai ini hari harus lebih giat lagi berlatih. “

Agaknya dia tidak punya bahan percakapan untuk dibicarakan maka dengan mengambil dalih memberi nasehat menutupi kesunyian itu,

Ujar Wi Lian In tiba-tiba:

“Tia, kau sudah berhasil melihat asal usul dari perguruan Ti Toako ??.

Wi Ci To tidak menyawah hanya dengan langkah yang perlahan berjalan meninggalkan lapangan.

Semua orang terpaksa mengikuti dia juga berjalan kembali ke dalam ruangan tamu tanya Wi Lian In lagi:

-Tia, kau sudah tahu belum ??.

Wi Ci To gelengkan kepalanya, sambil tertawa pahit sahutnya: “Belum.”

“Hei..” ujar Hong Mong Ling sambil menghela napas, “Kepandaian Ti heng sungguh amat tinggi sekali, untung merupakan kawan dari benteng kami, bilamana merupakan musuh dari benteng Pek Kiam Po maka saat itu entah harus dengan cara bagaimana untuk menghadapi diri Ti-heng.”

“Ha . ha . ha “ ujarnya sambil tertawa, “ Bilamana Hong-heng mencurigai kedatangan Siauw-te ini mem punyai maksud buruk lebih baik sekarang juga Siauw-te mohon diri. “

Sehabis berkata dia bangkit berdiri dari kursinya.

“Ti-heng harap duduk kembali.” ujar Wi Ci To dengan gugup ketika melihat tamunya akan pergi.

“Baiklah” ujar Ti Then dengan sangat hormat dan duduk kembali ketempat semula. Wi Ci To dengan wajah yang gusar menoleh kearah Hong Mong Ling, makinya

“Mong Ling, Ti-heng merupakan tuan penolongmu bagaimana sekarang kau berani mengeluarkan kata-kata semacam ini. “

Air muka Hong Mong Ling segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus sambil tertawa paksa ujarnya:

"Suhu, tecu sedang bergurau dengan Ti-heng sama sekali tidak mem punyai maksud lain. “

Wi Ci To hanya mendengus dengan dinginnya, sambil tertawa dia menoleh kearah Ti Then kembali ujarnya:

“Ti-heng maukah menceritakan asal usulmu kepada Lohu ??” “Baiklah” sahut Ti Then sesudah berpikir sebentar. “Boanpwe

berasal dan Kay Hong sejak kecil sudah ditinggal mati oleh orang tuaku, kehidupan sehari hari hanya tergantung dari Sam-siokku. Pada usia sepuluh tahun Sam-siok ternyata menjual boanpwe kepada seorang hartawan didesa itu untuk bekerja sebagai kacung buku di samping putra hartawan. Dua tahun kemudian ada suatu hari mendadak Toa Sauvv-ya mendapat serangan penyakit dan meninggal karena sedihnya kematian putranya itu kegusaran ini ditimpakan kepada diri boanpwe dengan demikian boanpwe diusir dari rumahnya. Saat itu karena takut dimaki oleh Sam Siok maka boanpwe tidak berani pulang kerumah sesudah. meninggalkan rumah hartawan itu berkelana diseluruh tempat akhirnya kalau sesudah lewat setengah tahun baru bertemu dengan suhu dan diterima sebagai muridnya. “

“Jika demikian adanya.” ujar Wi Ci To “Sejak kini Ti-heng sudah merupakan sebatang kara saja di dalam dunia ini?”

“ Benar. “

Tiba-Tiba Shia Pek Tha tertawa terbahak bahak, ujarnya. “Perkataan dari Lote ini apa sungguh-sungguh?

“Sudah tentu sungguh-sungguh. “ “Kalau begitu kemarin Lote bilang kalau harta dari leluhur sudah kau habiskan, tolong tanya Lote mendapat harta dari leluhur yang mana?”

Sama sekali Ti Then tidak pernah menyangka kalau dia bisa mengingat-ingat perkataannya dengan demikian telitinya, segera dia pura-pura memperlihatkan perasaan malunya, sambil tertawa sahutnya:

-Sungguh maaf kemarin malam siauwte hanya membual saja, perkataannya sekarang ini barulah merupakan perkataan yang sesungguhnya”

“Kalau begitu” ujar Shia Pek Tha lagi, “Kali ini apa sebabnya Lote berkelana dan berkeliaran di dalam dunia kangouw?”

“Tiga tahun yang lalu sesaat Siauwte meninggalkan suhu dia orang tua pernah memberi siauwte ratusan tail emas tetapi pada waktu-waktu mendekat ini sudah digunakan hingga ludas”

-Tetapi dengan kepandaian Lote yang demikian sempurnanya untuk mencari uang, bukanlah merupakan pekerjaan yang sulit”

“Behar” sahut Ti Then sambil tertawa. -Siauwte memang bisa bekerja sebagai guru silat atau sebagai pengawal barang tetapi kedua macam pekerjaan ini siauwte tidak ada yang senang”

Wi Ci To batuk-batuk ringan, tanyanya mendadak: “Sesudah ini Ti-heng punya rencana hendak kemana?”

“Heei.. saat ini keadaan sudah sangat mendesak terpaksa Siauwte menerjunkan diri sebagai pengawal barang saja.”

“Dari pada Ti-heng menjadi pengawal barang lebih baik tinggal saja di dalam Benteng kami”

Sesudah mendengar perkataan dari Wi Ci To ini dalam hati Ti Then semangkin menganggap dia adalah majikan patung emas, segera pura-pura tertegun oleh perkataannya, ujarnya: -Bagaimana hal ini bisa jadi, sekali pun boanpwe tidak punya kepandaian apa-apa tetapi boanpwe percaya masih sanggup untuk mencari hidup bagi diriku sendiri"

-Ha ha ha ha” potong Wi Ci To, “Lohu minta Ti-heng tinggal di dalam benteng kami bukannya menjuruh Ti-heng makan minum dengan tanpa bekerja”

“Ooh….” dia menguncak-uncak matanya kemudian tanyanya lagi dengan keheran-heranan. Kalau tidak lalu Po cu menginginkan boan pwe bekerja apa ? “,

Wi Ci To termenung berpikir sebentar kemudian barulah sahutnya:

“Sebelumnya Lohu ingin tanya sesuatu apa suhumu pernah memberi wanti wanti kepada Ti-heng untuk melarang kau menurunkan ilmu silat kepada orang lain ?,-

“"Tidak ?

"Kalau memangnya begitu Lohu akan mengangkat Ti-heng sebagai pimpinan di dalam Benteng kami ini yang bertugas memberi petunjuk ilmu silat kepada para pendekar pedang merah pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam dari Benteng Pek Kiam Po, setiap bulan kami akan membajar tiga ratus tail uang perak, bagaimana ?"

Perkataan ini begitu keluar dari Wi Ci To sampai air muka dari Shia Pek Tha pun kelihatan berubah dengan sangat hebat, karena kesembilan puluh sembilan pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po semuanya merupakan jago-jago pedang kenamaan di dalam Bu-lim bahkan selain Hong Mong Ling seorang lainnya sudah merupakan orang-orang yang sudah lanjut, kini ternyata Wi Ci To akan mengangkat Ti Then yang usianya masih sangat muda sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang di dalam Benteng Pek Kiam Po sebenarnya merupakan suatu pandangan rendah terhadap diri mereka pendekar pedang merah. Air muka Hong Mong Ling pun kelihatan berubah menjadi sangat jelek yang semakin lama semakin tegang dan membesi, sejak semula dia sudah tahu kalau Ti Then sebenarnya merupakan "Lu kongcu” yang memukul rubuh dirinya di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu, tetapi karena urusan ini menyangkut nama baik dirinya dia diuga tidak berani menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada bakal mertuanya, dia takut karena hal itu perkawinan antara dirinya dengan Wi Lian In bisa dibatalkan tetapi kini bilamana Ti Then menyanggupi menyabat sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Po sama saja dengan sebuah pedang panjang yang ditusuk ke dalam hatinya, membuat dia selamanya akan sukar tidur njenyak sukar makan dengan nikmat.

Ti Then sendiri pun sudah tahu perubahan „Aneh" dari air muka Shia Pek Tha, dalam hati diam-diam merasa sangat geli pikirnya:

“Ha ha ha ....orang She Hong rasakanlah, sekali pun dalam hatimu punya maksud untuk berbicara tetapi tidak berani untuk mengutarakan keluar.

Dalam hatinya dia berpikir demikian tetapi pada air mukanya sengaja memperlihatkan perasaan menjesal, sahutnya:

“Terima kasih atas kebaikan Pocu, boanpwe tidak berani menerimanya.”

“Kenapa ???.

Pertama, dengan kepandaian dari boanpwe agaknya tidak punya hak untuk menjadi pimpinan pendekar pedang merah”

“ Sembilan puluh sembilan pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po semuanya merupakan didikan langsung dari Lohu, sedang kepandaian dari Ti-heng sudah sangat jelas jauh di atas kepandaian Lohu sendiri maka jika berbicara dalam berhak atau tidak Ti-heng sudah tidak ada persoalan lagi -Kedua,-, ujar Ti Then, “usia boanpwe masih sangat muda sedang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po hampir seluruhnya jauh lebih tua usianya dari boanpwe, maka..”

“Belajar kepandaian tidak memandang tua muda” Potong Wi Ci To lagi: “siapa yang mencapai dahulu sebagai guru tentang hal ini semakin tidak ada persoalau lagi"

Sehabis berkata dia menoleh kearah Shia Pek Tha, tanyanya

“Pek Tha, suhumu akan mengangkat Ti heng sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang di dalam Benteng kita, menolak tidak?-

Dalam hati Shia Pek Tha merasakan serba susah tetapi dia pun merasa tidak punya alasan yang kuat untuk menolak terpaksa dengan serius sahutnya:

-'Tecu tidak menolak? -

Dengan perlahan sinar mata Wi Ci To beralih ke atas wajah Hong Mong Ling tanyanya pula.

“Mong Ling, kau bagaimana??-, “Tecu juga tidak menolak hanya “ “Hanya apa ?

“Ti-heng merupakan kawan dari Benteng kita tetapi dengan Benteng kita sama sekali tidak mem punyai ikatan perguruan mau pun aliran, bilamana suhu mengundang Ti-heng sebagai pimpinan dari para pendekar Benteng Pek Kiam Po kita bilamana sampai diketahui orang luar bukankah hanya akan dibuat sebagai bahan ejekan saja”

“Hmm ,” Dengus Wi Ci To dengan keren, “Aku mendirikan. Benteng Pek Kiam Po hanya bertujuan melindungi keselamatan dari Bu-lim selamanya tidak punya niat untuk mengagungkan nama besar sendiri mau pun nama besar dari Benteng kita bahkan di dalam ilmu silat semuanya juga berasal dari satu aliran aku selamanya tidak pernah memikirkan soal aliran mau pun perguruan, bilamana mereka mau mengejek biarkanlah mereka mengejek ?

Dengan perlahan dia menoleh kearah Ti Then kembali tanyanya: “Bagimana pendapat Ti-heng sendiri?”

Sengadia Ti Then memperlihatkan sikapnya yang serba salah ujarnya dengan gugup:

“Tentang ini . . ini -

“Bilamana Ti-heng merasa tiga ratus tahil perak terlalu kurang, lohu bisa menambah satu kali lipat lagi ?

“Bukan… bukan…”sahut Ti Then dengan gugup, “Bukan soal uang ..bukan soal uang , “

Ti-heng masih punya kesulitan apa lagi ? Boan pwe ingin berpikir dulu…”.

“Itu sangat bagus, sesudah Ti-heng berpikir harulah beri jawaban kepada Lohu,.. Pek Tha ? tadi pagi kalian pesiar kemana saja ?

“ puncak seribu Buddha”

--Untuk berpesiar ke puncak emas serta Ban Hud Teng waktunya sudah tidak cukup lebih baik kau ajak Ti-heng pesiar ke gua Kiu Lo Tong juga tidak jelek”

Ti Then segera bangkit berdiri dan memberi hormat ujarnya “Baiklah, boan pwvee minta ijin untuk pesiar ke atas gua Kiu Lo

Tong dan sekalian memikirkan maksud hati dari Pocu ini”

Shia Pek Tha segera ikut dan memberi hormat kepada kedua orang Pocu kemudian bersama-sama Ti Then berjalan keluar dari ruangan tamu.

Menanti sesudah bajangan punggung dari Ti Then serta Shia Pek Tha hilang dari pandangan mata dengan perlahan barulah Huang Puh Kian Pek menoleh ke atas Wi Ci To sambil tanyanya: “Apa benar Toako akan mengundang dia sebagai pimpinan para pendekar pedang dari Benteng kita?”

“Benar "

_Tetapi musuh atau kawan kita masih belum jelas, bagaimana toako bisa berbuat"

“ Ha . ha .ha… " aku mengundang dia sebagai Cong Kiauwtouw atau pimpinan sebenarnya memang sedang menjelidiki asal usul serta maksud hati nya “

“Bagaimana maksudnya ? tanya Huang Puh Kiam Pek dengan termangu-mangu.

“Bilamana dia menyanggupi untuk menjadi pimpinan para pendekar pedang kita, tidak sampai satu bulan kita sudah akan tahu dengan jelas dia kawan atau lawan"

Dia berhenti sejenak kemudian tambahnya:

“Bilamana dia punya tujuan terhadap Benteng kita tentu tidak akan bersungguh-sungguh memberi pelajaran silat kepada para pendekar pedang sebaliknya bilamana dengan bersungguh-sungguh hati dia memberi petunjuk kepada para pendekar kita maka hal ini membuktikan kalau apa yang diutijapkan memang benar-benar, saat itu di dalam Benteng punya pimpinan seperti dia bukankah sangat untung sekali?"

“Tidak salah. tidak salah” sahut Huang Puh Kian Pek sambil mengangguk.

"Jika ditinyau dari kepandaian silatnya, bilamana sampai terjadi suatu gerakan dari dirinya agaknya dua orang pendekar pedang dari Benteng kita masih belum cukup untuk menahan dirinya, menanti sesudah dia pulang dari pesiar kirim lagi dua orang pendekar pedang merah untuk mengawasi seluruh gerak geriknya setiap saat “

"

Baiklah, nanti aku perintahkan.” “Masih ada, loteng penyimpanan kitab kirim juga dua orang untuk menyaganya, siang malam.”

Malam semakin larut udara begitu dinginnya sedang angin pun bertiup dengan kencangnya saat itulah Ti Then serta Shia Pek Tha baru saja pulang dari goa Kiu Lo Tong. Huang Puh Kian Pek segera menunjuk seorang pelajan tua khusus melajani keperluan Ti Then, membantu dia mengambil air teh, dahar serta lain-lainnya membuat dia yang bertindak sebagai „patung emas" makin lama merasa semakin senang dan kerasan.

Baru saja dia selesai membersihkan badan dan berganti pakaian Shia Pek Tha sudah datang mengundang dia lagi, ujarnya:

“Lo-te, Pocu sedang menanti kedatanganinu di dalam ruangan dalam”

-Pocu demikian memperhatikan diriku sungguh membuat Siauw- te merasa tidak enak hati”

.-Ha..ha… tidak perlu mengucapkan kata-kata begini, marilah !”

Kedua orang itu berjalan mendatangi ruangan dalam, tampak di dalam ruangan itu sudah disediakan meja perjamuan, Wi Ci To, Huang Puh Kian Pek, Hong Mong Ling serta Wi Lian In sudah hadir di dalam meja perjamuan begitu melihat Ti Then berjalan masuk ke dalam ruangan segera mereka besama sama berdiri menyambut kedatangannya.

Dengan tersenjum Ti Then memberi hormat kepada semua orang.

Ujar Wi Ci To sambil. tersenjum.

“Ti-heng silahkan duduk, bagaimana pemandangan gua Kiu Lo Tong ?"

-Bagus, bagus sekali, hanya burung waletnya sangat banyak sehingga permukaan tanah penuh dengan kotoran burung dan merusak pemandangan bagus.' “Di dalam gua ada patung dewa Cau Kong Beng yang katanya sangat cocok, apa tadi Ti-heng sudah bersembahjangan menanyakan rejeki ?

Tidak -" sahut Ti Then sambil tersenjum, “Manusia hidup semuanya tergantung Thian, buat apa menanyakan rejeki atau tidak terhadap sebuah patung?”

Begitulah mereka tua muda enam orang duduk kembali ke tempat masing-masing dan mulai bersantap.

Ujar Ti Then lagi:

“ Goa Kiu Lo Tong disebut sebagai Kiu Lo, tetapi kenapa di dalamnya hanya terdapat patung dewa Cau Kong Beng seorang saja?

“Ooh . . " ujar Wi Ci To. “patung dewa Cau Kong Beng ini entah akhirnya secara bagaimana bisa ikut masuk di dalam goa itu, padahal nama dari Kiu Lo itu masih mem punyai arti lain: “

Sambil menjumpit sajur ujarnya:

“ Menurut dongeng ketika Kaisar mengunjungi Thian Huang Cinyien ditempat itu pernah bertemu dengan seorang pertapa tua ketika Kaisar bertanya kepada pertapa itu ada berapa orang yang ikut bertapa maka jawabnya ada sembilan orang maka sejak itu orang-orang menamakan goa itu sebagai Kiu Lo Tong”.

Di dalam dunia ini banyak pemandangan yang menggunakan nama yang aneh-aneh, misalnia saja dengan gunung Lo Cin san..Pocu pernah berpesiar ke atas gunung Lo Cin san ??” tanya Ti Then.

“ Belum pernah ! “ sahutnya sambil gelengkan kepalanya.

“Ha.. ha. . ha “ di dalam gunung Lo Cin San itu ada sebuah gua cupu-cupu itu hanya punya nama gua cupu-cupu saja padahal sama sekali tidak mirip dengan sebuah cupu-cupu, sungguh tidak tahu dia sedang jual jamu apa di dalam cupu-cu punya.”

Wi Ci To tertawa terbahak-bahak tetapi sama sekali tidak memperlihatkan pendapat apa pun.

Sesudah semua orang selesai mendahar dengan diam-diam Wi Ci To menggojangkan kakinya memberi tanda kepada Huang Puh Kian Pek yang ditendang dengan kaki itu segera merasa tanyanya:

“Terhadap undangan pocu tadi siang apakah Ti-heng sudah ngambil keputusan?”

“..,Benar “ sahut Ti Then sambil mengangguk.

-,Bagaimana?”

“Boanpwe mau menerimannya tetapi ada beberapa syarat…” “Silahkan beri petunjuk”

“Boanpwe punya sifat suka bergerak dan dolan bilamana Pocu berdua mengijinkan boanpwe untuk keluar masuk maka boanpwe akan menyanggupi juga menyabat sebagai pimpinan dari Para pendekar pedang”

"Apa yang dimaksud dengan keluar masuk dengan bebas?”tanya Huang Puh Kian Pek_

“Misalnya boanpwe gemar berjalan-jalan keluar dari benteng, harap Pocu berdua tidak melarang”

Wi Ci To tersenjum, sahutnya:

“Sesudah Ti-heng menerima jabatan sebagai pimpinan para pendekar pedang dalam Benteng kami sudah tentu kita semua merupakan orang scndiri sedang Lohu saja sama sekali tidak melarang keluar masuk dari para pendekar pedang merah apalagi diri Ti-heng ?”

“ Kalau memangnya demikian, boanpwe menerimanya hanya saja bilamana tidak baik dalam cara memberi petunjuk harap Pocu mau memaafkan !”- -Ha ha ha ha . asalkan Ti-heng bisa menurunkan kepadaian silat dari sepuluh bagian menjadi tiga bagian saja kepada para pendekar pedang di dalam Benteng kami ini Lohu sudah merasa sangat puas sekali?”

Berbicara sampai di sini sepasang tangannya mengangkat cawan arak, dan bangkit berdiri ujarnya:

“Marilah Lohu akan menghormati Ti Cong Kauw-tauw secawan?” Dengan tergesa-gesa Ti Then bangkit membalas hormatnya,

sahutnya.

“Tidak berani Pocu terlalu memandang tinggi diri Boanpwe !” Maka Huang Puh Kian Pek, Shia Pek Tha, Hong Mong Ling serta

Wi Lian In berturut turut berdiri memberi hormat, membuat Ti Then menjadi repot juga untuk membalasnya.

Sudah tentu Hong Mong Ling suka diluarnya, gemas di dalam hatinya melihat hal ini.

Wi Ci To sendiri juga mungkin sengaja atau tidak mendadak ujarnya kepada putrinya Wi Lian In sambil tersenjum.

“In-ji, selanjutnya kau pun harus sering minta petunjuk dari Ti Cong Kiauw tauw ?”

Dengan tersenjum malu-malu sahut, Wi Lian In.

“Kepandaian silat Ti toaku sangat tinggi, sudah tentu putrimu harus belajar dari dirinya?”

-Mulai besok pagi" ujar Wi Ci To lagi, “lohu akan mengumpulkan seluruh jago pedang dari seluruh Benteng untuk mengumumkan Ti- heng sebagai pimpinan seluruh pendekar dari benteng kita, tetapi, tetapi. ”

Dia termenung berpikir sebentar, kemudian barulah ujarnya lagi:

- Kini sekali pun pendekar pedang merah yang berada di dalam Benteng hanya dua puluh orang saja tetapi pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam hampir mencapai dua ratusan, bilamana Ti Kiauwtauw seorang harus memberi petunjuk berapa ratus orang banyaknnya mungkin akan terlalu payah, baiklah demikian saja, Lohu akan menunjuk sepuluh orang pendekar pedang merah belajar terlebih dulu dari Ti Kiauw-tauw kemudian dengan menggunakan tenaga dari kesepuluh orang pendekar pedang merah menurunkan ilmu itu kepada para pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam”

“Lalu Tia akan menunjuk siapa saja diantara sepuluh orang itu?” tanya Wi Lian In.

“Yuan Ci Liong, Pan Kia Yang, Tay Tiauw Eng, Njoo Ceng Bu, Tong Shit le, Lan Liang Kim, Lak Hong, Kian Ceng Haan, Hong Ling dan kau”

Air muka Hong Mang Ling segera berubah menjadi merah padam, ujarnya:

“Suhu, tecu punya rencana akan pergi ke Tiang An pada masa sekarang ini, maka…”

Wi Ci To menjadi tidak senang, bentaknya:

“Kau tidak ingin belajar silat dari Ti heng?”

-Bukan . . bukan” ujar Hong Mong Ling dengan gugup” tecu pernah menyanggupi In Moay untuk membelikan barang dikota Tiang An.”

“Soal ini tidak perlu kau sendiri pergi beli, perkawinan kalian juga tinggal tiga bulan lagi barang-barang yang In ji inginkan biarlah beberapa hari lagi Lohu kirim orang untuk pergi membeli ?”

“Tetapi … tetapi…” ujar Hong Mong Ling lagi dengan terputus putus. ““Tecu ,.tecu juga . ..juga ingin sekalian menengok .”

Wi Ci To segera mengulap tangannya memutuskan pembicaraan selanjutnya ujarnya :

“Tidak usah bilang lagi tidak ada urusan yang jauh lebih penting lagi dari pada belajar ilmu silat dari Ti Kiauw-tauw ?” Hong Mong Ling tidak berani berbicara lagi, dengan berdiam diri dia menghabiskan daharnya.

Sesudah semuanya merasa kenyang maka bahan pembicaraan pun beralih pada soal-soal remeh kehidupan sehari-hari saja, saat malam semakin kelam itulah perjamuan baru bubar sedang Ti Then pun bangkit mohon diri dan kcmbali kekamarnya sendiri.

Pelajan tua yang melajani dirinya begitu melihat dia sudah kembali segera mengikuti dirinya masuk kadalam kamar, tangannya diluruskan ke bawah dengan sangat hormatnya menanti perintah.

Tanya Ti Then dengan perlahan:

“Orang tua, siapa namamu?-.

“Lapor kongcu”- sahut pelajan tua itu dengan sangat hormat. “Budakmu she Ci bernama Tiang Siang, pocu selamanya memanggil budakmu dengan sebutan Lo Cia, lebih baik kongcu pun memanggil budakmu dengan sebutan ini saja”

“Sudah berapa lama kau berdiam di dalam Benteng Pek Kiam Po ini? “ tanya Ti Then lagi sambil tersenjum.

-,Sudah puluhan tahun lamanya sebelum pocu kami mendirikan benteng Pek Kiam Po ini budakmu sudah mengikuti dirinya, jika dihitung kurang lebih hampir mendekati empat puluh tahun lamanya.-

“Kau mengikuti Pocu sudah demikian lamanya, sudah tentu kepandaian silatnya tidak lemah?”

“Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi” sahut Locia sambil gelengkan kepalanya.. “Budakmu tidak mem punyai bakat untuk belajar silat, pernah Pocu menjuruh budakmu ikut dia belajar silat tetapi selamanya tidak bisa berlatih dengan baik”

“Kali ini Pocu yang mengirim kau untuk melajani aku? “Bukan” sahut Locia lagi sambil gelengkan kepalanya. “Wakil Pocu yang mengirim budakmu kemari karena usia yang sudah tua maka pada beberapa tahun ini budakmu berganti bekerja di samping wakil Pocu-.

Ti Then mengangguk dengan perlahan dengan langkah yang kalem dia berjalan mendekati jendela dan mendorong hingga terpentang lebar, sambil menunjuk kesebuah bangunan berloteng tanyanya.

“Ruangan itu sangat besar sekali siapa yang tinggal di sana?”

Dia teringat kembali akan pesan dari majikan patung emas, bilamana hendak mengadakan hubungan dengan dia, pasang lampu didekat jendela dan ketuk tiga kali kini dia harus memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, dia mengira bahwa bila mana diam memasang lampu sebagai tanda hendak berhubungan dengan majikan patung emas maka orang yang bisa melihat dengan sangat jelas tandanya itu seharusnya orang yang berdiam di dalam loteng itu, karena itulah dia sengaja menanya dengan sangat jelas.

Dengan cepat Lo-cia berjalan mendekati tubuhnya, sambil menunjuk kearah bangunan loteng itu tanyanya.

“Kongcu menanyakan bangunan itu?”

¬-Benar.”

“Itu tempat kamar buku Pocu kami”

“Ooh.”kemudian dia menunjuk pula kearah bangunan loteng yang berada disebetah kiri dimana bangunan itu berdiri sendiri, tanyanya lagi:

“ Lalu yang itu?”

-Ooh, itu loteng penyimpanan kitab"

-Loteng penyimpanan kitab?” tanya Ti Then dengan penuh keheranan.

-Benar, loteng penyimpanan kitab dari Pocu kami." -Kalau sudah ada kamar baca buat apa mendirikan sebuah loteng penyimpan kitab lagi ?”

-Pocu kami gemar membeli dan menyimpan kitab” ujar Lo-cia, “Karena jumlah buku yang terlalu banyak hanya sebuah kamar baca saja tidak cukup untuk menam pungnya maka sengaja mendirikan sebuah loteng penyimpanan buku untuk menjmpan kitab-kitab tersebut.

“Ooh..kiranya begitu, pada kemudian hari bilamana ada kesempatan tentu aku akan pergi ke dalam untuk melihat-lihat kitab, aku kira buku yang Pocu kalian simpan tentu merupakan benda-benda yang sangat berharga... “

“Kiranya tidak mungkin bisa. “ potong Lo-cia.

“Kenapa ?” tanya Ti Then yang dibuat tertegun oleh perkataannya

“Loteng penyimpanan kitab itu selamania pocu kami melarang orang lain memasukinya, termasuk wakil Pocu kami serta nona Wi sendiri:

“Mungkin di dalamnya menyimpan banyak rahasia ?

~Tentang hal ini budakmu tidak tahu' sahut Lo-cia sambil gelengkan kepalanya.

“Budakmu hanya tahu bahwa Pocu tidak mungkin akan mengijinkan orang lain ikut dia memasuki loteng penyimpanan kitabnya itu”

“Dia sendiri sering masuk ke sana?”

“Setiap lewat beberapa hari tentu dia masuk satu kali ke dalam, dia senang seorang diri membaca buku di dalam tempat itu.

“Bagaimana kau bisa tahu dia membaca buku?” tanya Ti Then sambil tersenjum.

“Tidak membaca buku, buat apa dia masuk ke dalam?” “Mungkin juga di dalam loteng penyimpan kitab itu bersembunyi seorang yang sangat misterius” sahut Ti Then dengan tersenjum.

Lo-cia menjadi tertawa terbahak-bahak sahutnya :

“Kongcu suka gujon, bilamana di dalam sana berdiam seseorang saat ini tentu dia sudah mati kelaparan.

“Mana mungkin ?”

“Selamanya kami tidak pernah melihat Pocu membawa makanan masuk ke dalam bilamana di dalam sana ada orang bukankah sudah mati kelaparan ?”

Ti Then tertawa terbahak-babak, sambil menepuk bahunya ujarnya lagi:

“Ha.ha ha ha , : . orang itu akan mati kelaparan karena dia disebut Yan Yu Giok”

Lo-cia menjadi termangu-mangu beberapa saat kemudian barulah menjadi sadar, sambil tertawa terbahak-bahak sahutnya:

“Tidak salah ? tidak salah ? di dalam buku memang ada yang disebut Yan Yu Giok..ha..haa.ha..”

Dengan perlahan Ti Then menutup jendela dan kembali ketempat pembaringannya ujarnya.

“Di sini sudah tidak ada urusan, kau boleh beristirahat

Lo-cia segera menangkap tangannya memberi hormat, sahutnya

:

“Baiklah, budakmu berdiam dikamar sebelah bilamana kongcu

punya perintah silahkan mengetuk dinding tembok maka budakmu akan mendengarnya”.

Sehabis berkata din mengundurkan diri dari dalam kamar.

Ti Then pun segera melepaskan pakaiannya dan berbaring dengan tenang di atas pembaringan memikirkan berbagai persoalan yang sangat rumit. Menurut bukti yang dia dapatkan sampai saat ini dia merasa bahwa Wi Ci To memang merupakan majikan patung emas itu, maka sekarang yang dia ingin ketahui adalah selain Wi Ci To menginginkan dirinya memperistri putrinya apa mungkin masih ada„rencana” lainnya ? Loteng penyimpan kitab itu sampai wakil Pocu serta putrinya sendiri pun tidak boleh masuk, mungkinkah di dalamnya tersimpan berbagai macam barang yang berharga atau menyimpan rahasia yang mem punyai hubungan yang sangat erat dengan urusan ini?”

Di dalam suasana pemikiran yang sangat ruwet itulah tidak terasa lagi dia jatuh pulas dengan sangat njenyaknya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek sudah mengumpulkan seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng ketengah lapangan latihan silat.

Sebenarnya „Pendekar Pedang Merah" dari Benteng Pek Kiam Po berjumlah sembilan puluh sembilan orang, tetapi ada tujuh puluh empat orang sedang berkelana di dalam dunia kangouw karena itulah saat ini yang berada ditengah lapangan termasuk Wi Liam In serta Hong Mong Ling hanya berjumlah dua puluh lima orang.

Mereka berbaris dipaling depan kemudian disusul dengan ratusan pendekar Pedang putih dan ratusan pendekar pedang hitam sehingga seluruhnya berjumlah dua ratusan orang dengan sangat rapinya berdiri berjajar ditengah lapangan, pada pinggang setiap orang tersoren sebilah pedang panjang keadaannya sangat angler dan gagah sekali. Tidak berselang lama sipedang naga emas Wi Ci To beserta Ti Then sudah berjalan masuk ke dalam lapangan.

Wi Ci To langsung naik ke atas mimbar yang disediakan, sesudah menerima penghormatan dari seluruh muridnya ujarnya dengan suara yang sangat lantang :

“Saudara-Saudaraku sekalian ini hari lohu mengumpulkan kalian di sini bertujuan hendak mengenalkan kepada kalian seorang pendekar aneh dari Bu-lim yang masih sangat muda, orang itu adalah pendekar baju hitam Ti Then yang sekararig berdiri di hadapan Lohu.”

Dari tengah lapangan segera gemuruh suara tepukan serta sorak sorai yang sangat ramai, sudah tentu suara tepukan dari pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam yang paling ramai.

Ti Then menjadi repot untak membalas hormat kepada semua hadirin. Menanti sesudah suara tepukan serta sorak sorai itu mereda sambung Wi Ci To lagi :

“Nama besar dari pendekar baju hitam Ti Then tentunya kalian sudah lama mendengar, dia merupakan seorang pendekar yang suka menolong sesamanya berlaku adil bijaksana dan bersifat jantan, apa lagi kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada tarap kesempurnaan, kemarin sudah ada beberapa orang pendekar pedang hitam yang dengan mata kepala sendirt melihat kelihayan dari Ti Siauwhiap, mungkin mereka pun sudah menceritakan keadaan itu kepada kalian oleh sebab itulah tentang bagaimana kelihayan dan kepandaian yang dimiliki Ti siauwhiap tidak perlu lohu ceritakan lagi di sini. Sekarang lohu akan mengumumkan suatu berita baik kepada kalian jaitu Ti siauwhiap sudah menerima tawaran lohu untuk menyabat sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po kita”

Suara tepukan dan sorak sorai sekali memecahkan kesunyian. Sedang Ti Then pun dengan repot memberi hormat kepada semua orang. Sambung Wi Ci To lagi,

“Kemungkinan sekali diantara kalian ada yang merasa bahwa Ti Siauwhiap bukan orang Benteng kita sehingga tidak seharusnya menyabat pimpinan ini, bilamana diantata kalian ada yang berpikir secara demikian maka kalian sudah salah besar, pada saat Lohu mendirikan Benteng ini pernah baca suatu keputusan bahwa Benteng Pek Kiam Po yang Lohu dirikan ini bukanlah melulu untuk mencari nama yang terkenal di dalam Bu-lim, semakin tidak punya maksud untuk menduduki pucuk pimpinan diseluruh Bu-lim dan tidak ingin bentrok atau saingan dengan partai-partai lainnya. Lohu hanya ingin mengumpulkan para ahli ilmu pedang untuk bersama- sama menjelidikinya, dengan semangat yang berkobar kobar bersama sama menjelidiki kepandaian silat bersama-sama, membasmi kejahatan berbuat baik, .berbuat amal menolong sesamanya dan bersikap pendekar dimana pun, oleh karena itulah asalkan orang yang berhati luhur dan mem punyai bakat di dalam ilmu silat boleh menjadi anggota Benteng kita, diantara kalian pun ada banyak yang bcrasal dari suatu perkumpulan atau partai yang bcrbeda, dengan bakal ilmu yang lalu masuk ke dalam Benteng karena itulah ini hari Lohu mengangkat Ti siauw hiap sebagai pimpinan diantara kalian juga mengunakan alasan yang sama”

Dia berbenti sejenak sedang pada bibirnya pun tersungging suatu senjuman, sambungnya:

“Sudah tentu diantara kalian ada yang merasa bahwa usia Ti siauw-hiap masih sangat muda sedang usia kalian jauh iebih tua kini diharuskan belajar silat dengan dia tidak urung akan merasa malu juga soal ini merupakan suatu soal yang sangat biasa tetapi kalian haruslah memahami suatu kenyataan yang dikatakan belajar ilmu tidak mengingat tua atau muda yang mencapai terdahulu dialah guru. Kepandaian silat dari Ti siauwhiap jauh melebihi kepandaian kalian sudah tentu kalian harus menghormati dia sebagai guru-

Dia berhenti sejenak.lagi, sesudah memandang setiap pendekar pedang yang berdiri di sana ujarnya lagi sambil tersenjum

“Untuk membuktikan kalau Ti siauwhiap punya hak dan punya alasan yang kuat bertindak sebagai pimpinan kalian maka muiai sekarang Lohu akan memberikan suatu kesempatan kepada kalian, bagi siapa yang merasa tidak puas boleh keluar minta pelajaran dari Ti Siauwhiap, Lo hu tidak akan marah, ada tidak?”

“Tidak ada”

Kedua puluh lima orang pendekar pedang merah tidak ada yang bergerak dari tempatnya, sejak semula mereka sudah mendengar kalau kemarin pagi dengan tidak melancarkan serangan apa pun Ti Then sudah berhasil mengalahkan seorang pendekar pedang putih, kemudian tidak sampai sepuluh jurus berhasil rnengalahkan si naga Hong Mong Ling pula, di samping itu ada pula yang secara sembunyi-sembunyi melihat Ti Then ketika dia sedang mendemontrasikan ilmu meringankan tubuh serta ilmu pukulan karena itu mereka merasa bahwa dirinya masih belum apa-apanya jika dibandingkan dengan Ti Then, sudah tentu tidak ada yang berani mengajukan dirinya.

Para pendekar pedang putih dan pendekar pedang hitam yang berdiri di belakang sudah tentu semakin tidak berani bergerak lagi:

Senjuman yang menghiasi bibir Wi Ci To dengan pelahan menghilang dari wajahnya dengan serius ujarnya.

“Bilamana tidak ada orang yang berani keluar untuk minta pelajaran dengan Ti siauw-hiap maka sejak hari ini kalian semua harus menghormati dirinya dan mengikuti petunjuknya, barang siapa yang berani kurang ajar dengan Ti siauw-hiap maka Lohu tidak akan mengam puni lagi”

Perkataannya barn saja selesai dari antara pendekar pedang merah tiba-tiba terlihat seseorang mengacungkan tangan kanannya agaknya dia hendak mengatakan sesuatu.

Orang itu merupakan seorang kakek tua berusia lima puluh tahunan dengan bentuk tubuh yang kurus kecil tetapi kedua belah pelipisnya menonjol keluar sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam agaknya dia merupakan seorang jago berkepandalan tinggi yang sempurna

Melihat hal itu ujar Wi Ci To de ngan cepat

“Ki Kiam-su apa mau minta pelajaran dari Ti siauw-hiap ? “Benar“ sahut pendekar pedang merah she-Ki itu. “Baiklah, kau kemarilah ?

Dengan langkah yang mantap pendekar pedang merah she-Ki itu berjalan ke depan kemudian memberi hormat kepada Wi Ci To. Dengan perlahan Wi Ci To menolak memandang Ti Then, sambil tersenjum ujarnya:

“Lohu akan memperkenalkan dahulu pada Ti siauwhiap, dia merupakan pendekar pedang merah yang paling tua diantara lainnya yang disebut sebagai To Hun Kiam Khek atau pendekar pedang pencabut sukma Ki Tong Hong” “

Ti Then segera merangkap tangannya memberi hormat ujarnya: “Sudah lama mendengar nama besar dari saudara ini hari bisa

bertemu sungguh sangat beruntung sekali”

Si pendekar pedang pencabut sukma Ki Tong Hong pun membalas hormat, sahutnya:

“Tidak berani Ti siauw-hiap terlalu sungkan”

Dengan perlahan dia menoleh kearah Wi Ci To ujarnya sambil tersenjum:

“Pocu, hamba tahu bahwa hamba bukan tandingan dari Ti siauw- hiap tetapi dalam hal kepandaian silat yang diutamakan adalah pengalaman di dalam menghadapi musuh, dengan memberanikan diri hamba ingin mencoba-coba pengalaman dari Ti slauwhiap.”

“Baik., mau mencoba dengan tiara apa..”

Sahut si pendekar pedang pencabut sukma Ki Tong Hong dengan perlahan.

“Kepandaian silat dari Ti siauw-hiap sudah mencapai pada taraf kesempurnaan hal ini hamba dengar dari saudara saudara sekalian, di dalam demonstrasi sudah tentu berbeda dengan pertempuran- yang menentukan mati hidup seseorang, bilamana bisa memperoleh kemenangan ditengah pertempuran dengan senyata tajam yang sungguh-sungguh dapat dihitung liehay”

“Jadi maksudmu akan bertempur dengan Ti siauwhiap di dalam suatu pertempuran yang menentukan mati hidup?” tanya Wi Ci To dengan nyaring. “Benar” sahut Ki Tong Hong, “Dengan memggunakan seluruh kekuatan berusaha mengalahkan pihak lain, dalam turun tangan tidak boleh menaruh belas kasihan sedang bilamana salah satu menerima luka juga tidak diperkenankan menyalahkan”

Mendengar perkataan itu Wi Ci To mengerutkan alisnya, sambil menoleh kearali Ti Then tanyanya,

“Bagaimana pendapat dari Ti siauwhiap ?

-Bagus” boanpwe akan menggunakan nyawaku sebagai jaminan untuk menemani saudara ini”

Wi Ci To menoleh lagi kearah Ki Tong Hong tanyanya :

“Kau siap hendak menggunakan kepandaian apa bertempur melawan Ti Siauw- hiap ?

“Yang terutama sudah tentu harus menggunakan pedang, tetapi hamba tadi sudah bilang kalau pertempuran ini merupakan suatu pertempuran yang menentukan mati hidup seseorang sehingga harus menggunakan seluruh kepandaian yang dimilikinya untuk bertempur tidak perduli dengan menggunakan kepandaian yang ganas atau kejam macam apa pun boleh digunakan”

“Baiklah” ujar Wi Ci To “ bilamana kau mem punyai kemungkinan untuk membinasakan Ti siauw-hiap Lohu tentu tidak akan menyalahkan kau tetapi bilamana sampai kau dikalahkan oleh Ti Siauw¬hiap sehingga menderita cacad jangan sampai mendendam di dalam hati”

“Hal ini sudah tentu”

Dengan perlahan Wi Ci To mengangkat kepalanya serunya dengan keras:

-Hong Ling, pinyamkan pedangmu kepada Ti Siauw-hiap ?

Mendengar perkataan itu dalam hati Hong Mong Ling menjadi sangat girang segera dia melepaskan pedangnya dari pinggang dan berjalan ke depan menjerahkan pedang berikut sarungnya kepada Ti Then. Pada wajahnya menampilkan perasaan yang sangat girang sekali. Bagaimana dia bisa girang ?

Ti Then menyambut pedang itu sedang dalam hati pikirnya :

“Orang ini begitu mendengar Wi Ci To menjuruh dia meminyamkan pedangnya kepadaku pada air mukanya segera memperlihatkan perasaan girang, apa mungkin dia sudah bersekongkol dengan Ki Tong Hong untuk melaksanakan sebuah rencana keji untuk mencelakai diriku ?”

Berpikir sampai di sini segera dia mencabut pedangnya dan memeriksa dengan teliti.

Sesudah memeriksa seluruh bagian dari pedang itu ternyata sedikit pun tidak menemukan tempat-tempat curiga apa pun.

Akhirnya dia menyingkirkan sarung pedang itu ke samping kemudian bergeser tiga langkah ke samping, kepada Ki Tong Hong ujarnya sambil tertawa :

“Ki cianpwe silahkan melancarkan serangan.”

Ki Tong Hong pun mencabut keluar pedangnya dengan nyaring sahutnya : Ti siauw-hiap harap berhati-hati, cayhe dalam dunia kangouw terkenal sebagai orang yang suka mengadu jiwa, banyak akal dan jadi orang licik bahkan pekerjaan yang paling rendah juga bisa aku keluarkan.”

Sekali pun perkataannya ini diucapkan dengan nada bergurau tetapi cukup membuat orang yang mendengar merasa ngeri dan bergidik: Kiranya si pendekar pedang pencabut sukma ini merupakan seorang jago „tanpa am pun” yang sangat terkenal, hanya saja dia khusus turun tangan terhadap orang-orang dari golongan Hek-to saja sehingga dengan demikian Wi Ci To juga tidak bisa mengambil tindakan atau hukuman terhadap dirinya.

Dengan sangat tenang Ti Then tersenjum ujarnya :

“Terima kasih atas peringatanmu, kan melancarkan serangan.” “Maaf” mendadak tubuhnya maju tiga langkah ke depan pedangnya diputar setengah lingkaran ditengah udara kemudian menusuk ke depan dengan kekuatan yang sangat luar biasa.

Gerakan ini dilakukan begitu cepatnya sehingga mirip dengan berkelebatnya sinar kilat, sungguh tidak malu disebut sebagai seorang pendekar pedang yang kenamaan.

Sebaliknya Ti Then sudah bisa melihat kalau serangan yang dilancarkan ini merupakan suatu jurus serangan tangan kosong maka tubuhnya sama sekali tidak bergerak atau menghindar bahkan pedangnya pun tidak diangkat untuk balas melancarkan serangan.

Ki Tong Hong melihat dia tidak mau juga melancarkan serangan segera menarik. kembali serangan kosongnya itu ditengah jalan, jurus serangan segera berubah dari menusuk mendiadi gerakan menabas, tubuhnya mendesakmaju lagi ke depan dari arah dada kini berubah menyambar pinggang Ti Then.

Diantara berkelebatnya sinar pedang tahu-tahu pedang itu sudah mencapai pinggang Ti Then tidak lebih sejauh tiga cun.

Saat itulah Ti Then baru bersuit nyaring, mendadak tubuhnya melonyak ke atas dengan menggunakan jurus 'Yan Cu Can Swi” atau burung walet menyapu air, sedang pedangnya ditekan ke bawah memusnahkan jurus serangan itu.

Jurus serangan ini diika dilihat dari depannya sekali pun mirip dengan sebuah jurus untuk menangkis serangan musuh tetapi di belakang dari jurus serangan selandutnya secara diam-diam tersembunyi sebuah serangan dahsyat yang mematikan.

Dia percaya bahwa Ki Tong Hong akan sukar untuk menghindarkan diri dari jurus serangan yang mematikan ini hanya saja dia tidak ingin mematikan nyawa dari Ki Tong Hong dalam hati dia hanya  punya niat melukai Ki Tong Hong saja

Siapa tahu, begitu pedangnya digunakan untuk menangkis serangan pihak lawan suatu peristiwa yang diluar dugaan telah terjadi terhadap dirinya. “Criiiing . “ dengan menimbulkan suara yang sangat nyaring pedang yang digunakan untuk menangkis serangan pedang dari Ki Tong Hong menjadi terasa sangat ringan sekali.

Pedangnya sudah terputus…??

Bahkan putusnya dari ujung gagang pedang hingga ujung pedangnya sendiri.

Terhadap setiap jago berkepandaian tinggi dari Bu-lim peristiwa ini boleh dikata merupakan suatu peristiya yang sangat menakutkan sekali.

Sesaat Ti Then sedang merasa tertegun itulah dia hanya merasakan pinggangnya terasa amat sakit ternyata dia sudah berhasil dilukai oleh pedang Ki Tong Hong yang tidak mau menyia- nyiakan ke sempatan yang sangat baik itu.

Darah segar segera memancar keluar membasahi seluruh pakaiannya.

“Tahan ?” bentak Wi Ci To dengan cepat.

Dengan cepat Ki.Tong Hong mengundurkan diri ke belakang hingga beberapa kaki jauhnya dari tempat semula:

-Pocu, kenapa ?” ujar Ti Then sambil tersenjum: “Lukamu tidak mengapa bukan ?” tanya Wi Ci To. “Ha ha ha ha , tidak sampai binasa”

“Hal ini merupakan suatu peristiwa yang diluar dugaan, bilamana bukannya pedang itu terputus kau pun tidak sampai menderita luka, biarlah sekarang ganti sebilah pedang lagi untuk melanjutkan bertempur”-

Pada saat dia bilang “Peristiwa yang di luar dugaan itu dengan tanpa sadar dia sudah melirik sekejap kearah Hong Mong Ling agaknya dalam hati dia sudah tahu kalau hal ini merupakan permainan licik dari Hong Mong Ling.

“Tidak bisa ganti pedang baru- “Kenapa” tanya Wi Ci To dengan tercengang.

“Tadi Ki cianpwe sudah memberi penjelasan dengan sangat jelas sekali, dia bilang dia mau bertempur di dalam pengalaman bertempur dengan diri boanpwe sedang putusnya pedang sekali pun merupakan suatu peristiwa yang berada diluar dugaan bilamana boanpwe tidak segera bisa mengubah keadaan bahaja menjadi keadaan yang menguntungkan hal ini mengertikan kalau pengalaman boanpwe masih sangat cetek

-Jika demikian adanya kau sudah mengakui kalau sudah dikalahkan?” ujar Wi Ci To keren sedang air mukanya berubah menjadi demikian seriusnya.

“Tidak” sahut Ti Then tegas, “Boanpwe juga tidak akan mengakui kalah karena sebelumnya Ki ciatipwe sudah beri penjelasan bahwa pertempuran ini merupakan suatu pertempuran yang menentukan mati hidup sedang kini boanpwe hanya menderita suatu luka sangat ringan, ha ha ha belum sampai terbinasa”,

“Kalau memangnya demikian kau boleh ganti dengan sebilah pedang lainnya”

“Tidak bisa” ujar Ti Than sambil menggelengkan kepalanya”Kedua belah pihak dengan menggunakan nyawanya bertempur mati-matian bilamana satu pihak terputus pedangnya sudah tentu pihak yang lain tidak akan mengijinkan pihak yang terputus pedangnya berganti dengan pedang baru, maka itulah bilamana boanpwe sampai bertukar dengan pedang yang baru ini namanya tidak adil”

Sehabis berkata dia membuang gagang pedang itu ke atas tanah dan berjalan mendekati Ki Tong Hong, ujarnya tersenjum.

“Ki cianpwe silahkan melanjutkan serangan selanjutnya”

Ki Tong Hong melihat pinggangnya terluka dan darah segar masih terus menerus mengalir keluar dengan derasnya tetapi dia sama sekali tidak melihatnia barang sekejap pun tak terasa hatinya menjadi tergetar, juga, sambil mundur satu langkah ke belakang ujarnya sambil tersenjum

“Ti siauw-hiap sudah terluka, biarlah sampai di sini saja pertempuran kita kali ini”

Ti Then tertawa dingin ujarnya:

“Kau tak .mau turun tangan, cayhe akan turun tangan terlebih dahulu.”

“Baiklah” ujar Ki Tong Hong sambil tertawa serak. “ Kau dengan menggunakan tangan kosong melanjutkan pertempuran ini, baiklah kau terlebih dahulu yang menjerang. “

Ti Then hanya mengangguk dengan perlahan, mendadak tubuhnya mendesak maju ke depan dua langkah tangaanya dengan sangat perlahan ditepuk kearah depan.

Ki Tong Hong tidak berani berlaku gegabah dengan tergesa-gesa dia menggeserkan diri ke samping, dari sebelah samping segera melancarkan satu serangan dahsyat menusuk jalan darah “Yu Bun Hiat" di bawah dada Ti Then.

Pada saat dia melancarkan serangan tusukan yang sangat dahsyat itulah mendadak tubuh Ti Then berkelebat dengan sangat cepat dan tahu-tahu Ki Tong Hong te!ah kehilangan bajangan musuhnya.

Menanti dia merasakan kalau Ti Then sudah berada di belakang tubuhnya saat itulah belakang lehernya sudah bérhasil dicengkeram oleh Ti Then dan dilemparkan seluruh tubuhnya ketengah udara.

Kecepatan gerakannya demikian dahsyatnya sehingga Wi Ci To sendiri pun belum sempat melihat dengan jelas gerakan apa yang dilakukan tubuh dari Ki Tong Hong sudah terlempar ketengah udara.

“Bluuk…” dengan mengeluarkan suara yang keras tubuh Ki Tong Hong yang dilemparkan Ti Then itu terjatuh ke atas tanah beberapa kaki dari tempat semula, untuk beberapa saat lamanya tidak sanggup untuk berdiri: Setiap hadirin di dalam lapangan itu dibuat menjadi pada melongo, air mukanya berubah menjadi pucat pasi siapa pun tidak pernah menyangka dan siapa pun tidak akan percaya kalau Ti Then berhasil menguasai seorang pendekar pedang merah yang tertua dari Benteng Pek Kiam Po hanya di dalam satu jurus saja dengan menggunakan tangan kosong, Tetapi peristiwa yang sesungguhnya telah terjadi di hadapan mata mereka semua.

Untuk beberapa saat lamanya seluruh lapangan menjadi sunyi senyap, secara samar-samar diliputi oleh selapis napsu untuk membunuh yang sangat hebat.

Para pendekar pedang merah lainnya dari perasaan terkejut kini berubah menjadi perasaan gusar yang meluap-meluap karena mereka rasa kalau Ti Then terlalu menghina Ki Tong Hong yang dibantingnya dengan demikian kerasnya.

Seat itulah agaknya Wi Ci To pun merasakan keadaan yang aneh itu segera bentaknya dengan keren:

“Njoo Kiam-su, cepat bangunkan Ki Kiam-su dan bawa ke samping

Seorang pendekar pedang merah segera menyahut dan membangunkan tubuh Ki Tong Hong, dengan perlahan dia membimbing dirinya mengundurkan diri dari la¬pangan untuk beristirahat dihalaman belakang.

Air muka Wi Ci To berubah menjadi sangat keren, sambil menyapu sekejap kearah para pendekar pedang merah ujarnya lagi dengan keren

“Saudara sekalian, ini semua adalah keluhuran dari hati Ti Kiauw- tauw yang tidak menggunakan akal licik apa pun juga, dia menggunakan kepandaian silat yang sesungguhnya mengalahkan Ki-kiam-su, diantara kalian bilamana ada yang masih tidak puas boleh minta pelajaran darinya saat ini juga”

Para pendekar pedang merah yang melihat wajah Pocu mereka sudah berubah menjadi demikian serius serta kerennya tidak terasa pada merasa jeri apalagi mereka pun merasa kalau kepandaian silat dari Ti Then sudah mencapai pada taraf yang sangat tinggi, sehingga dengan demikian tak seorang pun yang berani keluar untuk men coba-coba.

Setelah menanti beberapa seat lamanya Wi Ci To melihat tak adaseorang pun yang berani keluar minta pelajaran segera ujarnya:

“Kalau memang sudah tidak ada lagi tetap dengan perkataan lohu tadi sejak ini hari kalian harus menghormati dan menurut perkataan dari Ti siauw-hiap, bilamana ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadap dirinya maka lohu akan segera mengusir dia dari dalam Benteng Pek Kiam Po ini”

Sehabis berkata dia turun dari mimbar ujarnya kepada Ti Then: “Ti Kiauw-tauw silahkan naik mimbar untuk menerima

penghormatan “

“Buat apa harus demikian” ujar Ti Then sambil tersenjum.

“Harus berbuat demikian, ini merupakan peraturan dari Benteng kami”

Terpaksa dengan langkah yang periahan Ti Then berjalan naik ke atas mimbar sesudah menerima penghormatan dan sorak sorak dari seluruh pendekar pedang yang ada ditengah lapangan dia merangkap tangannya membalas hormat, ujarnya

“Saudara-Saudaraku sekalian, dengan mendapatkan perhatian dari Pocu terpaksa cayhe menerima jabatan sebagal pimpinan dari saudara-saudara sekalian, semoga saja saudara-saudaraku sekalian jangan terlalu memandang tinggi kepada diri cayhe, cayhe harap kalian dengan menggunakan kedudukan sesama saudara saling hormat menghormati, saling belajar ilmu silat dan saling bantu membantu disegala bidang, sejak ini bilamana cay he melakukan kesalahan harap sandara-sandara sekalian mau memberi petunjuk”

Sehabis berkata dia memberi hormat lagi dan turun dari atas mimbar. Sesudah itu Wi Ci To lah yang angkat bicara ujarnya:

“Sejak besok pagi Ti Kiauw-tauw akan mulai memberikan petunjuk-petunjuk dalam ilmu silat, untuk ini yang akan menerima petundiuk adalab Yuan Ci Long -Fan Kia Yong, Tay Tiauw Eng, Njoo Ceng Bu Tong Shu In Lin Liang, Kim Lok Hong, Kian Ceng Haan, Mong Ling serta Lian In dari pendekar pedang merah, kalian sepuluh orang setiap pagi harus sudah berkumpul di sini tanpa ada alasan untuk meninggakannya”

Sehabis berkata dia menoleh kearah si pedang naga perak Huang Puh Kian Pek sambil tanyanya:

- Sute kau punya urusan ? “Tidak ada ?

“Baiklah, sekarang kalian boleh bubar”

Sekembalinya Ti Then ke dalam kamarnya sebentar kemudian Shia Pek Tha sudah datang lagi dengan membawa dua stel pakaian berserta obat luka, ujarnya sambil tertawa:

-Ti-heng cayhe mendapat perintah dari pocu sengaja datang untuk mengobati luka dari Ti-heng--

-Aah , tidak berani, hanya suatu luka yang sangat kecil biarlah siauw-te turun tangan sendiri”

Dia melepaskan pakaian bagian atasnya terlihatlah pada pinggangnya tergores sebuah luka sepanjang empat cun dengan dalam setengah cun, sedang darah segar masih terus mengalir keluar dengan derasnya tak terasa dia tertawa pahit, ujarnya:

“Heei . . untung saja nyawaku belum dipanggil oleh Thian, bilamana tergurat setengah cun lebih dalam lagi kiranya sejak tadi sudah binasa”

Sambil membantu Ti Then membalut lukanya ujar Shia Pek Tha: “Memang sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh,

sekali pun pedang dari Mong Ling bukan merupakan pedang kuno yang antik tetapi merupakan suatu pedang yang bagus, bagaimana secara mendadak bisa putus sendiri ?”

“Mungkin pedang itu ada kekuatan gaibnya sehingga lebih baik putus dari pada aku yang memakainya ?”

Shia Pek Tha menoleh memandang keluar pintu kamar kemudian ujarnya dengan suara perlahan:

“Ti-heng tidak akan mencurigai hal itu perbuatan licik dari Mong Ling bukan?”

-.Tidak ! tidak” ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya. - Mong Ling heng merupakan seorang budiman bagaimana bisa melakukan pekerjaan semacam ini”

Siauw-te kira hal itu hanya merupakan suatu peristiwa diluar dugaan saja”

- Aku pikir dia tidak mungkin bisa berbuat demikian, kau sudah menolong dia kembali ke dalam benteng kenapa dia harus membalas suatu budi dengan dendam ?

Sesudah lukanya dibalut dan berganti dengan sebuah pakaian semangat Ti Then telah pulih kembali, ujarnya:

“Mari pergi, kita pergi lihat Ki Kiam su itu”

“Sesudah terbanting dengan keras oleh kau kini dia masih terlentang di atas pembaringan, bilamana sekarang kita pergi menengok dirinya, kiranya…”

“ Dia akan berpikir secara bagaimana pun sesukanya, pokoknya hal ini merupakan kejujuran dari hati siauw-te.”

- Baiklah” ujar Shia Pek Tha sambil mengangguk, “Cayhe akan membawa Ti-heng ke sana.”

Ketika mereka berdua sampai di depan kamar Ki Tong Hong terlihatlah pintu kamar terbuka lebar-lebar, Ki Tong Hong berbaring di atas pembaringan sedang di depan pembaringan berdirilah empat orang pendekar pedang merah Hong Mong Ling merupakan salah satu diantaranya, entah mereka waktu itu sedang membicarakan soal apa tetapi begitu melihat kedatangan Ti Then segera bersarna- sama menutup mulutnya rapat-rapat sedang pada air mukanya memperlihatkan perasaan terkejutnya.

Dengan langkah perlahan Ti Then berjalan masuk ke dalam kamar, kepada Ki Tang Hong yang berbaring di atas pembaringan dia merangkap tangannya memberi hormat, ujarnya:

“Maaf tadi sudah melukai Ki toako, entah kini merasa bagaimana?"

“Untung masih baik” sahut Ki Tong Hong dengan tawar, “Atas kemurahan

Kiauw-tauw yang tidak turun tangan jahat cayhe merasa sangat berterima kasih”

“Heei . . . tadi siawwte tidak sempat menahan diri sehingga mambuat Ki toako terluka, dalam hati merasa tidak enak”-

“Kiauw-tauw terlalu sungkan, cayhe belajar ilmu tidak rajin bagaimana harus menyalahkan diri kiauwtauw”

“Semoga Ki Toako jangan sampai memasukkan peristiwa hari ini ke dalam hati”

-ooo0dw0ooo-