-->

Pendekar Kidal Jilid 31

Jilid 31

"Ke ma mpuan Ling-ko ngcu yang luar biasa ini sungguh mengagumkan " puji Tu Hong-sing.

Belum habis dia bicara kini iapun mendengar suara lambaian pakaian orang, lalu tampak empat sosok bayangan orang berkelebat keluar dari kanan-kiri persimpangan jalan di depan. Lalu menyusul suara seorang gadis me mbentak: "Pendatang berhenti, kalau ma u hidup lekas buang senjata dan tinggalkan orangnya, kalau tidak kalian bertiga bangsat ini jangan harap bisa hidup!" - Agaknya dia sudah melihat tiga orang Hek-liong-hwe, ucapannya supaya meninggalkan orang mungkin dia mengira Ling Kun-gi menjadi tawanan musuh yang sengaja di gusur ke mari.

Maklumlah di depan Ling Kun-gi adalah Tu Hong-sing yang menenteng pedang, di belakangnya adalah dua laki2 baju hijau, jadi se-olah2 Kun-gi adalah tawanan mereka.

Begitu mendengar suara orang, berdegup girang hati Kun-gi, segera dia me lo mpat maju dan berseru: "Pangcu, Cayhe me mang sedang mencar i kalian."

"Hah. . . . . . " dari lorong di depan terdengar teriakan tertahan, nada yang mengandung rasa kaget dan kegirangan luar biasa, sesosok bayangan langsing segera melejit maju, teriaknya: "Ling- heng, . . . . . . " karena hati senang, seperti seorang yang sudah la ma tersesat kini bertemu dengan sanak familinya, maka dia berlari menubruk datang.

Maklumlah seorang remaja yang sekian la manya tersesat di lorong gelap ini, kini bertemu dengan perjaka pujaannya, maka dia ingin me limpahkan seluruh perasaannya, kini dia perlu bujuk dan hibur manja. Na mun betapapun dia adalah Pek-hoa-pang Pangcu, dihadapan orang luar, apalagi di depan dayangnya, betapapun dia tetap harus pegang gengsi sebagai Pangcu yang berwibawa dan disegani. Untunglah seruan "Pangcu" Kun-gi telah menyentak sanubarinya.

Kira2 beberapa kaki di depan Kun-gi dia berhenti, matanya yang jeli tampa k berkaca2, wajahnya berseri girang, katanya: "Ling-heng, bagaimana kau bisa mene mukan te mpat ini? Kau tidak apa2? Rombongan kami telah tercerai berai." - Meski mas ih tertawa, tapi wajahnya sudah basah air mata, katanya pula: "Lihatlah, kini tinggal kami berlima orang sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus me mber i pertanggungan jawab kepada Suhu?"

"Pangcu tidak usah sedih," bujuk Kun -gi, "lorong sesat di Ceng- liong-ta m ini me mang a mat berbahaya, orang2 yang tercerai-berai pasti dapat kita temukan, Cayhe memang sedang mencar i kalian." Bok-tan melirik Tu Hong-sing bertiga, tanyanya: "Bukankah mere ka orange Hek-liong-hwe kenapa . ."

"Hek- liong-hwe sudah hancur lebur . . . . . " tukas Kun-gi tertawa.

Kaget dan senang hati   Bok-tan,   sepasang bola   matanya me mancarkan sinar aneh, katanya dengan mesra: "Ke mbali Ling- heng me mbuat pahala besar. Ai, aku sungguh me nyesal."

Tak enak dia banyak bicara, terpaksa ia mendesak : "Syukurlah kami berhasil mene mukan Pangcu, cuma lorong sesat ini banyak cabang yang simpang siur, kami me mbagi dua ro mbongan untuk mencari kalian, tugas kami belum lagi selesai, waktu amat berharga, kini silakan Pangcu ikut dalam rombongan ini."

Bok-tan me mbetulkan rambutnya, katanya tertawa: "Entah berapa lama kita ubek2an di tempat ini, obor yang kami bawapun telah padam kehabisan minyak, sudah tentu ka mi harus ikut kau."

Kun-gi angkat sebelah tangannya, katanya: "Tu-heng bertiga me mbawa obor, silakan berjalan di depan saja."

Maka Tu Hong-sing bertiga lantas jalan di depan, Bok-tan dan Kun gi di tengah, e mpat dayang ikut di belakang mereka.

Bok-tan jalan berendeng dengan Kun-gi, tanyanya sambil berpaling: "Siapa pula dalam ro mbongan kedua?"

Kun-gi ragu2 sebentar, dia sadar cepat atau lambat persoalan ini harus dibicarakan, lebih baik sekarang saja dibicarakan sama dia, maka dengan tertawa ia berkata: "Sebetulnya Pangcu sudah kenal dia, tapi kenyataan sekarang sudah bukan dia lagi."

"Siapa yang Ling-heng maksudkan?" tanya Bok-tan heran. "Bi- kui."

"Kiu- moay ma ksudmu?" Bok-tan tertawa geli. Tiba2 seperti ingat

apa2, dia bertanya pula: "Bagaimana mungkin bukan dia lagi?"

"Bi- kui asli adalah salah satu agen kalian yang diselundupkan ke Hek-liong-hwe, padahal jejaknya sudah diketahui musuh dan kini sudah ajal, yang menyamar jadi Bi-kui sekarang adalah Un Hoan- kun "

Berubah air muka Buk-tan: "Dia adalah orang Hek-liong-hwe?- " "Bukan," sahut Kun-gi, "Dia anak keluarga Un dari Ling- la m,

sebelumnya sudah kenal baik dengan Cayhe. tanpa sengaja dia

mene mukan Giok-je dan lain2 me masukan Cayhe ke dalam karung, maka dia menyaru jadi Bi- kui terus mengunt it . "

Bok-tan meliriknya, tawanya mengandung arti, katanya: "Kalian berhubungan baik sekali, benar tidak?"

Teringat pesan Thay-siang sebelum ajal, berdegup keras jantung Kun-gi, lekas dia berkata: "Dengan dia Cayhe hanya "

"Tak perlu kau jelaskan," tukas Bok-tan, "aku tidak salahkan kau." - Suaranya begitu lir ih, mungkin hanya Kun-gi saja yang bisa mendengar, tapi selebar mukanya sudah merah jengah.

Kun-gi juga merasa panas mukanya, hatinya baru dan lega, katanya lirih: "Terima kasih "

Selanjutnya mereka terus maju ke depan tanpa bersuara, beberapa kejap lagi baru Kun-gi berkata: "Pangcu, ada satu hal mungkin juga di luar dugaanmu."

Berkedip2 Bok-tan: tanyanya: "Soal apa?"

"Kau tahu pernah apakah Thay-siang dengan Cayhe?"

Hal ini me mang betul2 me mbuat Bok-tan melengak di luar dugaan, tanyanya: "Pernah apamu?"

"Dia adalah Bibiku, beliau adik ibu kandungku."

"Apa betul?" Bok-tan berteriak kaget dan senang. "Ya, kuingat sekarang, kau pernah bilang ibumu she Thi, darimana kau tahu akan hal ini?" Maka Kun-gi lantas bercerita secara singkat bagaimana kakek luarnya dulu mendir ikan Hek- liong-hwe, tatkala ibunya menikah dengan ayahnya, Thay-siang minggat tak keruan parannya, akhirnya Han Jan-to menjual Hek-liong-hwe kepada kerajaan.

"Kiranya begini liku2nya," ucap Bok-tan, "tak heran kau suruh Sam- moay (Giok- lan) jangan bilang padaku tentang ibumu she Thi. O, ya, apa-kah Pekbo juga datang?"

"Ibuku sudah berangkat, mungkin sekarang berada di Gak-koh- bio, beliau minta Cayhe bawa Pangcu menghadapnya."

"Em," Bok-tan bersuara pelahan, wajahnya yang semula pucat tampak merah malu, tapi sorot matanya tampak senang dan bersemangat, tanyanya riang: "Apakah Suhuku juga di Gak-ko h- bio?"

Sesaat Ling Kun-gi jadi serta salah untuk menjawab, hanya secara samar2 mengiakan. Untung mereka sudah tiba di ujung lorong dan t iba di ka mar segi ena m.

Pui Ji-ping segera berteriak menyambut: "Ling-toako, sudah kau- ketemukan Pek-hoa "

Belum habis bersuara dilihatnya di belakang Kun-gi berjalan keluar seorang gadis berwajah je lita mengenakan pakaian ketat, dasar kainnya warna kuning, tepat di depan dadanya tersulam sekuntum Bok-tan, dengan leher tinggi bertitik warna e mas, di pinggangnya tergantung pedang. rambutnya digelung mir ip puteri keraton yang diberi bermacam perhiasan, meski agak semrawut dan wajahnya kelihatan kotor, mungkin sudah tiga hari tak pernah berdandan, tapi sikapnya kelihatan anggun.

Berhadapan dengan Pek-hoa-pangcu yang agung dan berwibawa sekilas Pui Ji-ping jadi me lenggong, kata2 selanjutnyapun lupa terucapkan.

"Ling-heng," tanya Bok-tan tertawa, "dia inikah adik dari keluarga Un?"

Dalam hati Tong Bun-khing juga menggerutu, lagi nona yang begitu mesra dan ale man pada Ling-toakonya ini. Lekas Pui Ji ping menggeleng kepala, katanya: "Aku bukan Un- cici, aku berna ma Pui Ji-ping, Cici ini . . . . . . " tiba2 dia menuding ke sudut pintu di depan sana serta mena mbahkan dengan tertawa: "Nah, itu Un-cici sudah keluar."

Dari sudut pintu bagian tengah sedang beranjak keluar sebarisan orang, paling depan adalah dua laki2 baju hijau penunjuk jalan diikuti Yong King-tiong Un Hoan-kun, Giok-lan, Ci-hwi dan seorang Nikoh tua dengan pedang dipunggungnya, dia inilah Bing-gwat Suthay.

Melihat Bok-tan sudah berada di sini, tanpa janji Un Hoan- kun, Giok- lan dan Ci-hwi sa ma berteriak girang: "Pangcu!" - Seperti berlo mba saja mereka berebut maju serta me mberi hor mat.

Mendengar orang banyak sama memanggil "Pangcu", dia m2 Pui Ji-ping me lengak heran.

Bok-tan maju selangkah me megang kedua tangan Un Hoan- kun, katanya haru dan penuh nada terima kasih: "Nona Un, berkat pertolonganmu sepanjang jalan ini, kau telah menolong Sa m- moay bertiga lagi, entah bagaimana aku harus berterima kasih pada mu."

Un Hoan- kun me lengak sejenak, tanyanya: "Pangcu sudah tahu?"

Bok-tan manggut, katanya:   "Barusan   Ling-heng   sudah menje laskan padaku." - Sebentar matanya menje lajah la lu berkata: "Dalam ro mbo ngan kita masih ada Coh-houhoat Leng Tio-cong, serta Liang Ih-jun dan Yap Kay-sian, apakah mereka tidak di temukan?" 

"Leng Tio-co ng dan Yap Kay-sian sudah gugur, beruntung Liang Ih-jun lolos dari barisan pedang, badannya terluka delapan belas goresan pedang, sekarang di luar sedang menyembuhkan luka2nya Ling Kun-gi me mberi keterangan singkat.

Guram wajah Bok-tan, katanya: "Rombongan kita sungguh bernasib amat jelek." - Lalu dia ang-kat kepala bertanya kepada Kun-gi: "Ling-heng, apa kau me lihat Jimoay dan ro mbongannya?" "Waktu Cayhe kemari di sebuah lorong bertemu dengan Coa Liang, lukanya a mat parah, dia cuma bisa me nuding ke suatu arah dan tak ma mpu bicara, belakangan dari mulut Han Jan- to dapat kuduga bahwa Hupangcu terjebak di Hwi-liong-tong, dari sini kita bisa maju lebih lanjut untuk mencari mere ka di Hwi- liong-tong." - Lalu satu persatu dia perkenalkan seluruh hadirin.

Berkata Yong King-t iong dengan mengelus jeng-got: "Ling- kongcu, urusan di sini sudah beres, marilah kita lekas lanjutkan tugas yang lain."

Di bawah pimpinan Yong King-tiong mereka meninggalkan ka mar segi enam dan me mbalik ke arah datangnya semula. Waktu lewat lorong barisan pedang, tiada seorangpun yang me lelet lidah dan mengkir ik dibuatnya. Kini Tu Hong-sing berjalan paling depan, dia bertugas me mbuka pintu rahasia.

Liang Ih-jun segera menyambut ke hadapan Bok-tan dan Kun-gi, katanya sambil hor mat: "Pangcu, hamba sudah gelisah tak karuan, ribuan barisan pedang terpasang di dalam pintu ini, entah bagaimana perjalanan Congcoh mencar i Pangcu, kini syukurlah kalian telah kembali dengan sela mat "

"Luka2 Liang-heng apa sudah se mbuh?" tanya Kun-gi

"Berkat pertolongan Congcoh, jiwa Cayhe-ter-tolong, kini sudah jauh lebih baik,"

"Sejak kini aku bukan Cong-hou-hoat-su-cia segala, selanjutnya Liang-heng tak usah me manggilku de mikian."

Giok- lan melir ik Bok-tan, katanya keheranan: "Ling-kongcu kan baik2 saja, kenapa "

Kun-gi tertawa kecut, katanya: "Kalau dibicarakan sungguh a mat menyesal, dikala Cayhe me masuki Ui- liong tong seluruh ro mbo ngan tertumpas habis, waktu Cayhe bertemu Thay-siang di Hek- liong- tam, beliau sudah terima pengunduran diriku sebagai Cong-ho u- hoat-su-cia, belakangan kuketahui bahwa Pangcu dan rombongan Hupangcu terperangkap di Ceng- liong-tong dan Hwi- liong-tong, maka Cayhe mengajukan diri moho n persetujuan Thay-siang untuk meno long orang banyak, setelah meninggalkan lorong2 di perut gunung ini, selanjutnya Cayhe sudah bukan anggota Pek-hoa-pang lagi." - karena Thay-siang adalah bibinya, maka peristiwa ledakan dahsyat oleh bahan peledak yang tersimpan dalam tandu sehingga seluruh anak buahnya gugur t idak enak dia ceritakan.

Bok-tan tertawa wajar, katanya: "Meski bukan Cong-su-cia, tapi Ling-heng tetap adalah keluarga Pek-hoa-pang, betul t idak?"

Rombongan kali ini jumlahnya lebih banyak, sambil jalan mere ka mengobro l  serta  mengagumi  bangunan  lorong2  yang me mbingungkan di sini, tanpa terasa mereka sudah berada di sebuah lorong lurus dan lebar.

Yong   King-tiong    menghentikan   langkah,   serunya   sambil me mba lik badan: "Perhatian, sekarang kita sudah keluar dari lingkungan Ceng-liong-tam, di luar pintu batu di luar sana sudah termasuk Hwi- liong-tong. Di Hwi-liong-tong ada Cap-coat-kiam-tin dan Cap-ji-sing-sio k, meski kedua barisan lihay ini sudah tertumpas habis, tapi kelo mpo k mereka yang berdinas di luar mas ih punya jago2 kosen yang lihay, maka kalian harus hati2 dan selalu siaga." - Habis berkata dia melangkah lebar ke depan. Tidak jauh mereka sudah tiba di ujung lorong, di mana mengadang sebuah dinding. Yong King-tiong langsung mene kan sebuah tombol di dinding, ma ka terbukalah sebuah pintu, dia mendahului me langkah masuk.

Di luar pintu adalah lorong panjang pula, tapi kira2 lima to mbak Yong King-tiong beranjak, Tu Hong-sing lantas mengerut kening, katanya lirih: Yong- congkoan, harap berhenti dulu!"

"Ada apa?" tanya Yong King-t iong.

"Mungkin Yong-congkoan belum pernah datang di Hwi- liong koan?"

"Hwi-liong-koan?" Yong King-tiong balas tanya. "Lohu me mang belum pernah ke sana? Me mangnya di mana letak Hwi- liong- koan??? "Setelah dipugar barulah kedua te mpat itu dina ma kan Ceng- liong-ta m dan Hwi-liong koan, ke duanya dibawah pengawasan langsung Cui Kin-in, merupakan dua te mpat yang paling rahasia dalam Hek-liong-hwe, bila engkau berjalan lurus ke depan itu berarti langsung menuju Ceng-liong-tong".

"Kalau begitu, sia2 Lohu menjabat Congkoan di Hek- liong-hwe selama dua puluh tahun ini," de mikian ujar Yong King-tiong dengan gegetun. Lalu dia bertanya: "Coba katakan, lalu ke mana arahnya untuk pergi ke Hwi-liong-koan?"

"Pintu rahasia yang mene mbus ke Hwi- liong-koan berada di sini, cuma bila pintu di sini terbuka, maka kedua lorong yang menjur us ke dalam ini akan buntu dengan sendirinya, jumlah orang kita kali ini lebih banyak, untuk ini perlu kita berdiri saling berhimpitan sedikit," setelah suruh orang banyak kumpul di satu te mpat yang ditunjuk, baru Tu Hong-sing mendekati kaki dinding sebelah kiri, di sana dia menggagap sebentar, lalu berpindah ke dinding sebelah kanan, di sana iapun meraba sekian la manya. Kemudian terdengarlah suara gemuruh seperti   roda   raksasa   yang mengge lindang pelan, dua lapis dinding di kiri-kanan pelan2 terbuka sendiri, tapi bertepatan dengan itu, tepat pada mulut lorong yang mene mbus ke depan dan belakang itu melorot turun pelan sebuah daun pintu pe misah yang tebal dan berat menutup lubang lorong, seperti pintu dam saja kedua lorong ini tertutup rapat takkan bisa dibuka lagi untuk sela manya.

Yong King-t iong terbeliak kagum, katanya: "Sejak kapan tempat ini dibangun?"

"Ha mpir sepuluh tahun yang lalu," sahut Tu Hong-s ing, "waktu itu Ki Seng jiang masih menjabat Congkoan di sini."

Ia tuding lorong sebelah kanan serta menambahkan: "Kalau orang2 Pek-hoa-pang menyerbu ke Hwi- liong-tong, orang2 Hek- liong-tong tak perlu me lawan, mereka akan masuk perangkap dan terpancing masuk ke Hwi-liong- koan, siapapun bila masuk ke Hwi- liong- koan, seperti juga masuk ke Ceng-liong-ta m, cukup asal pintu dinding ini diturunkan dan jangan harap mereka bisa keluar." "Kalau kita sudah masuk ke sana, lalu bagaimana?" tanya Yong King-tiong.

"Untuk ini Congkoan tak usah kuatir, tombol rahasia pintu ini berada di bawah daun pintu, setelah lorong di sini beralih dan berubah bentuk, dari luar takkan bisa dibuka lagi, cukup asal kita me mbagi beberapa orang berjaga di sini, segalanya tidak perlu dibuat kuatir."

Bok-tan pandang seluruh hadirin lalu berkata: "Sam- moay, Cap- moay, Bing- gwat Suthay dan Bak- ni boleh berjaga saja di sini."

Kuatir kee mpat orang ini kurang tenaga, maka dengan tertawa Kun-gi pandang Bok- tan dan Tong Bun-khing bera mai, katanya: "Tujuan kita masuk ke sana untuk meno long orang, kalau te mpat itu dina makan Hwi- liong- koan, pasti di sana terpasang perangkap lihay dan berbahaya, kalau terlalu banyak orang malah kurang le luasa, menurut pendapatku. Pangcu, nona Tong, nona Cu dan Pui- siaumoay beserta Siau-tho tetap ikut berjaga di sini saja."

"Tidak," sela Bok-tan tegas, "sebagai Pek- hoa-pang Pangcu, aku wajib ikut masuk mencari orang."

"Baiklah kalau begitu, sisanya yang lain harap tetap berada di sini, mar ilah kita masuk bersa ma," demikian Yong King-t iong ambil keputusan. Maka Tu Hong-sing tetap bertugas jadi penunjuk jalan, Yong King-tiong, Ling Kun- gi, Bok-tan, Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa, Liang Ih- jun dan tiga jago pedang baju hitam bersepuluh orang beriring mas uk ke lorong sebelah kiri.

Sepuluh to mba k ke mudian keadaan mendadak berubah, lorong itu menjadi luas dan lebar, bentuknya seperti sebuah aula panjang, di depan kemba li mereka diadang lapisan dinding besar, tepat di bagian tengah bertatahkan dua huruf besar warna merah yang menyolo k berbunyi "Hwi Liong" di bawah tulisan adalah dua sayap pintu yang bercat merah darah. Sudah tentu daun pintu besar ini juga terbuat dari batu, cuma daun pintu dicat, maka kelihatannya mirip daun pintu umumnya. Malah pada daun pintu ada sepasang gelang besi yang berukir binatang pula, kelihatan a mat angker. Hwi- liong- koan me mang sesuai na manya, bentuknya memang seperti sebuah benteng. Bagi orang yang tidak tahu pasti mengira tempat ini adalah Hwi- liong- tong.

Rombongan kedua yang dipimpin Hupangcu So-yok bertugas menyerbu ke mar i, pastilah mereka terpancing masuk ke Hwi- liong koan ini.

Tiba di bawah benteng Yong King-tiong menga mati keadaan sekelilingnya, lalu berpaling dan bertanya: "Apakah Tu-heng tahu bagaimana keadaan di dalam Hwi-liong-koan?"

"Pernah aku mme mpero leh tugas dua kali masuk ke mari, tapi hanya berhenti di bawah benteng saja, bagaimana keadaan di dalam aku sendiri t idak jelas, cuma pernah kudengar pembicaraan Hwi- liong- koancu Oh Coan-oh, katanya di dalam banyak terdapat rumah2 batu."

"Oh Coan-oh dulu pernah menjadi anak buah-ku, pernah menjabat Sincu (ketua barisan ronda), coba kau panggil dia keluar mene mui aku."

Tu Hong-sing menyengir, katanya: "Ya, kenapa aku lupa bahwa engkau dulu petuah menjabat wakil ko mandan ronda Hwi- liong- tong, Oh Coan-oh me mang bekas anak buahmu."

Yong King-tio ng menghela napas pelahan, katanya: "Waktu itu Hek-liong hwe mas ih menentang kerajaan yang sekarang, kini Hek- liong-hwe sudah dijadikan alat untuk menumpas dan menjebak para pahlawan bangsa yang menentang kerajaan, situasi dan keadaan sekarang sudah jauh berbeda."

Dalam pada itu Tu Hong-sing telah maju mendekati pintu, gelang pintu dia putar ke kanan-kiri t iga kali. Maka dari mulut binatang yang terukir pada gelang besi berkumandang suara bertanya: "Siapa di luar?"

"Hek- liong-ta m Yong-congkoan minta Oh-koan-cu keluar menjawab pertanyaannya," kata Tu Hong- sing lantang... Orang di dalam segera menyahut: "Baik, Cayhe akan segera me laporkan." - Keadaan kembali menjadi sunyi. Lekas sekali kedua daun pintu besar terbuka pelan2 tanpa mengeluarkan suara, dua laki2 baju hitam ketat menenteng la mpio n beranjak ke- luar bersama. Di belakangnya pula seorang laki2 berusia lima puluhan berjubah hijau.

Orang ini, adalah Hwi-liong-koan Koan-cu Oh Coan oh, sekilas dilihatnya Yong King- tiong berdiri di depan ro mbongan orang banyak, lekas dia maju lagi dua langkah serta menjura, sapanya: "Ha mba tidak tahu akan kedatangan Yong cong-koan, maaf akan keterlambatan penya mbutan ini."

Yong King-t iong tertawa sambil mengelus jenggot, katanya:, "Oh-heng tak usah banyak adat, kini aku sudah bukan Hek- liong- tam Congkoan lagi." Oh Coan-oh me mbungkuk badan, katanya dengan tertawa: "Kalau demikian, Yong-congkoan tentu naik pangkat."

Tiba2 Yong King-tiong menarik muka, katanya sedikit mendengus "Me mangnya kecuali mengejar pangkat dan kedudukan, apakah benak Oh-heng tak pernah me mikirkan soal lain?"

Oh Coan-oh tampak tertegun, ia mengawasi Yong King-tiong, suaranya kedengaran sumbang: "Yong- congkoan "

"Oh Coan-oh," bentak Yong King-tiong, "ingin kutanya padamu, dulu waktu kau menjabat Sincu Hek- liong-hwe, bukankah kau anggota setia dari Thay-yang-kau?"

Tergagap Oh Coan-oh, katanya dengan ragu2:     "

"Baik, sekarang Lohu beritahu padamu, Han Jan-to sudah mati, Cui Kin- in sudah melar ikan diri, Hek- liong-hwe juga sudah dihancurkan, impianmu untuk naik pangkat sudah sirna sama sekali, maka sadarlah kau."

Pucat muka Oh Coan oh saking kaget dan jeri, katanya sambil menyeka keringat: "Kau orang tua " "Lepaskan orang Pek- hoa-pang yang masuk perangkap, mengingat hubungan baik kita dulu Lohu boleh me nga mpuni jiwa mu, setelah meninggalkan te mpat ini "

Belum habis dia bicara dari dalam Hek-liong-koan tiba2 berkumandang gelak tawa seseorang, katanya: "Yong-heng ternyata ada di sini, agaknya kedatanganku belum terla mbat."

Belum habis bicara, muncul dua orang dari balik pintu sana. Yang di depan adalah seorang kakek berperawakan kecil kurus, dial bukan la in adalah Hwi- liong-tong Tongcu Nao Sa m-jun, orang di belakangnya adalah Ui-lio ng-tong Tongcu Ci Hwi-bing. Di belakang mereka mengint il pula sebaris laki2 baju hitam ketat, semuanya menenteng pedang panjang warna hita m.

"Ha mba menya mbut kedatangan Tongcu," lekas Oh Coan-oh me mber i hor mat.

Dengan menyeringai Nona Sa m-jun berkata: "Yong-heng minta kau me mbebaskan orang2 Pek-hoa-pang yang masuk perangkap, bagaimana pen-dapat Oh heng?"

Oh Coan-oh bergidik ketakutan, jawabnya: "Hamba tidak berani." Jelilatan sorot mata Ci Hwi-bing, katanya dengan tertawa: "Eh,

Pek-hoa-pang Pangcu kiranya juga datang."

Bok-tan tertawa dingin, katanya: "Me mangnya kenapa kalau aku datang? Kau kira perangkap kalian ma mpu mengurung aku?"

Melihat dandanan lima orang laki2 di belakang Nao Sam jun tergerak hati Ban Jin-cun, katanya berpaling ke arah Kho Keh-hoa: "Kho-heng, kau lihat, dandanan beberapa bangsat ini bukankah sama dengan penyamun yang menyerbu Ciok-bun-san-ceng dulu?"

"Betul," sahut Kho   Keh-hoa   mengangguk,   "bangsat   yang me mbunuh keluargaku, semuanya juga mengenakan seragam seperti itu." Ban Jin-cun mengertak gigi, katanya: "Tidak salah lagi kalau begitu, me mang de mikianlah kejadiannya, bukan mustahil mere ka inilah penyatron. . ."

Kho Keh-hoa tak tahan lagi, sa mbil angkat pedang sebat sekali dia me lo mpat maju, bentaknya: "Orang she Nao, apakah mereka anak buahmu?"

Ban Jin-cun tidak kalah cepat, segera iapun melo mpat maju.

Melihat kedua orang, Nao Sam-jun- tertawa, katanya- "Eh, kalian juga sudah keluar."

"Jawab pertanyaanku dulu," bentak Kho Keh hoa, "apakah mereka anak buahmu?"

Sekilas Nao Sa m-jun pandang kelima anak buahnya, lalu menjawab: "Betul, mereka adalah jago pedang dari Hwi- liong-tong, untuk apa kau tanya hal ini?"

Me mbara mata Ban Jin-cun, pedang ditangannya diobat-abitkan, tanyanya: "Yang menyerbu ke Ui-san dan keluarga Kho di Ciok- mui dan me mbunuh seluruh angota keluarganya apakah perbuatan Hwi- liong-tong kalian?"

Nao Sam-jun tatap kedua anak muda itu sebentar, katanya dengan mendengus: "Untuk apa kalian tanya soal ini?"

"Katakan, apakah kau orang she Nao yang pimpin mere ka me mbunuh keluargaku?" hardik Ban Jin-cun.

"Betul, ka mi diperintahkan atasan, keluarga Ban di Ui-san dan keluarga Kho di Ciok-bun adalah keturunan pe mbesar dinasti Bing dahulu yang sekongkol dengan pe mberontak, maka baginda me mer intahkan untuk menumpas kedua keluarga besar ini "

Mendidih darah Ban J in cun dan Kho Keh-hoa, tanpa berjanji keduanya menghardik bersa ma: "Anjing bangsat, serahkan jiwamu! "

- Dua bayangan orang menubr uk bersa ma, dua pedang panjang mereka serentak me nyambar ke badan Nao Sa m-jun. Sudah tentu Kim-kau-cian Nao Sam jun tidak pandang sebelah mata pada kedua lawannya, dengan menyeringai dia berkata: "Anak muda, bicaralah baik2, kenapa ma in senjata?" - Sebat sekali kedua tangannya terpentang, dengan jari telunjuk dan jari tengah ia berhasil menjepit ujung pedang kedua orang.

Agaknya dia sengaja mau pamer ilmu sakti Kim- kau cian, tapi dia tidak menjepit putus ujung pedang, cuma me njepitnya saja dan tidak dilepaskan, katanya dingin: "Siapa kalian sebetulnya? Lohu belum lagi me mbuat perhitungan dengan Yong-congkoan, tahu?"

Bahwa pedang tusukan mereka kena dijepit hanya dengan dua jari oleh lawan, sungguh kaget dan gugup Ban Jin-cun dan Kho Keh- hoa bukan main, lekas mereka menarik, tapi kedua jari Kim-kau-cian Nao Sam- jun sekeras tangga m, usahanya tidak me mbawa hasil yang diharapkan.

Setelah Nao Sam-jun habis bicara, sedikit ang-kat dan sendal, mendadak terasa oleh Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa dari ujung pedang tiba2 tersalur segulung tenaga yang menerjang tiba sehingga mereka tertolak se mpoyongan.

Berhadapan dengan musuh besar, Ban Jin-cun dan Kho Keh- hoa seperti orang kalap, apalagi terbukti bahwa orang dihadapan mereka adalah musuh pe mbunuh ayah bunda dan keluarganya maka mereka tidak hiraukan kepandaian sendiri yang rendah, dengan nekat mereka menyerbu maju pula, bentaknya beringas: "Bangsat tua, serahkan nyawamu! Tuan muda ini adalah Ban Jin- cun dari Ui-san"

Dan aku Kho Keh-hoa dari Ciok- bun!" Dia larik sinar terang serentak menya mber dari kanan kiri.

"Hahaha," Nao Sam-jun bergelak terlawa. "jadi kalian buronan dari keluarga pe mberontak? Bagus juga, me mbabat rumpat harus se-akar2nya, biar hari ini Lohu bereskan kalian pula." - Mulut bicara, tanpa menyingkir atau berkelit, tiba2 dia malah berkelebat maju dan menyelinap di antara sambaran sinar pedang kedua orang. Ui-san-kia m-hoat biasanya menguta makan ke-tenangan dan mantap, dada Ban Jin-can diliputi dendam darah yang tak terlampias, sekali tusuk ingin rasanya dia tamatkan jiwa Nao Sa m- jun, maka begitu turun tangan dia lantas iancarkan serangan me matikan.

Sebaliknya Liok-hap kia m-hoat kebanggaan ke-luarga Kho terkenal gesit dan cepat, bila ilmu pedang ini dike mbangkan, ma ka bertebaranlah bintik2 sinar berha mburan melingkar tubuh musuh. Konon bila Liok-hap-kia m-hoat berhasil diyakinkan mencapai puncak kesempur naan, sekali menyendal pedang, sekaligus dapat menusuk tiga puluh enam Hiat-to besar di badan manus ia, dari sini dapatlah dibayangkan betapa cepat gerakan pedangnya.

Perasaan Kho Keh hoa sekarang diburu dendam kesumat, dua puluh delapan jiwa keluarganya harus menuntut balas, kini berhadapan langsung dengan musuh, apapula yang harus dia takutkan, dengan gigi ge merutuk menahan gelora amarah, Nao Sam-jun dicecar dengan serangan gencar.

Dari kiri-kanan kedua orang bekerja sa ma me lancarkan serangan, kalau yang satu me mbabat, yang lain main tusuk, ternyata dua aliran pedang yang berlainan dapat kerja sa ma dengan baik.

Nao Sam-jun tetap bertangan kosong, perawakannya yang kurus kecil tampa k bergerak se-lincah kera, terjang sana kelit sini di antara sambaran dan tusukan pedang, seakan2 dia kerepotan dan hanya ma mpu berkelit saja di bawah rangsakan pedang kedua lawan. Tapi betapapun gencar dan lihay serangan kedua orang tetap tak ma mpu me lukainya, sampaipun menyentuh ujung baju orangpun tidak bisa.

Maklumlah Nao Sa m-jun berjuluk Kim- kau-cian (gunting e mas), Kungfu yang dilatihnya selama hidup justeru terletak pada kee mpat jari tangannya, setiap kali gebrak dengan musuh, peduli golok, pedang, ruyung atau tombak, sekali kena jepit kedua jarinya pasti patah seketika. Dendam, Ko Keh-hoa dan Ban Jin-cun sudah lama terpendam, yang mereka pikirkan hanya mengadu jiwa demi menuntut balas sakit hati keluarga, sampaipun ujung pedang sendiri yang selalu terjepit putus dan semakin pendekpun tak dihiraukan lagi, mereka tetap mengge mpur dengan sengit dan nekat.

Sudah tentu Kun-gi dapat me lihat gelagat jelek ini, baru saja dia hendak bersuara, didengarnya, Nao Sam-jun me mbentak sambil tertawa: "Nah, kalian anak muda terimalah serangan balasanku." - Di mana kedua tangan terayun, dari celah2 jarinya melesat keluar delapan bint ik sinar dingin mengincar kedua lawan.

Ternyata Ban Jin-cun dan Ko Keh-hoa tidak menyadari bahwa pedang mereka sudah terjepit putus se makin pendek, sehingga jarak pertempuran kedua pihak sema kin dekat, sehingga jarak ketiga pihak kini t inggal tiga kaki saja. Maka serangan mendada k Nao Sam-jun ini boleh dikatakan dilancarkan dalam jarak yang amat dekat, umpa ma di dunia ini ada manus ia me miliki ilmu Ginkang maha tinggi juga tidak mungkin dapat meluputkan diri dari serangan telak ini, untuk berkelitpun sudah tidak se mpat lagi. Apalagi serangan ini merupakan ilmu kebanggaan Nao Sa m-jun pula. Me mangnya apa gunanya bertangan kosong melawan senjata musuh yang terjepit putus itu telah digunakan sebagai senjata rahasia untuk ma kan tuannya.

Dengan gerak tipu "Lau Hay menaburkan uang e mas", peduli musuh dalam jarak jauh atau dekat, sela ma dua puluh tahun ini, belum pernah ada tokoh Bu-lim yang lolos dari tangannya, jangankan sela mat, luka parahpun sudah untung.

Dikala Nao Sa m-jun mengayun tangan, sementara delapan bintik sinar dingin hampir hinggap di badan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, mendadak sesosok bayangan orang menyelinap di depan Ban Jin- cun dan Kho berdua.

Sekali lengan baju menyendal, delapan bintik kemilau itu seketika kena digulungnya, berbareng tangan kiri me mba lik, "plak", dengan telak punggung telapak tangannya mengenai dada Nao Sa m-jun. Sungguh mimpipun Nao Sa m-jun tidak pernah me mbayangkan gerak tubuh pendatang ini bisa se-gesit dan secepat itu, sudah tentu dia tidak se mpat berkelit, kontan mulutnya mengerang tertahan, pandangan seketika menjadi gelap, kakipun terhuyung mundur.

Orang yang menyelinap maju ini adalah Ling Kun-gi. Begitu me lihat gelagat cukup gawat, dengan gerak kecepatan luar biasa segera dia lompat ke depan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, sekaligus dia lancarkan Kian-kun-siu menggulung kutungan pedang yang ditimpukkan Nao Sa m-jun serta persen orang sekali tamparan. Dikala Nao Sa m- jun terhu-yung mundur sa mbil mengerang kesakitan, sementara Ling Kun-gi sudah berkelebat balik ke tempatnya pula.

Bok-tan terbeliak lebar me mandanginya penuh kasih mesra, katanya lirih: "Cepat benar gerakan Ling-heng."

Belum habis dia bicara terdangar Nao Sam-jun menjer it kesakitan pula, kontan badannya terjungkal roboh. Ternyata Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa sa ma merasakan kutungan senjata rahasia yang me- nyerang mereka mendadak lenyap, Nao Sam-jun pun se mpoyongan mundur, agaknya terluka tidak ringan, sudah tentu kesempatan ini tidak di sia2kan, tanpa janji keduanya terus menubruk maju, yang satu menusuk dan yang lain menabas.

Kelima laki2 seragam hitam-sa ma kaget, serem-pak mere ka me mbentak terus menubruk maju hendak meno long. Ban Jin-cun sudah beringas, pedang kutungnya membawa sinar ke milau me mapak tubrukan dua laki2 baju hitam. Kho Keh-hoa juga tidak kalah garang, ia me mbalik badan dan pedang-pun bekerja, tiga laki2 baju hitam yang lain disa mbutnya dengan sengit.

Bok tan tahu kepandaian kelima orang baju hitam cukup tinggi, Ban dan Kho berdua kalau satu lawan satu masih mending, bila dikeroyok pasti celaka akhirnya, maka dia berpaling, katanya: "Liang- houhoat, marilah kita maju me mbantu."

"Ha mba terima perintah," sahut Liang Ih-jun. Bok-tan segera mendahului menubruk maju, Liang Ih-jun segera menyusul, bayangan jarinya yang merah secepat kilat menjojoh ke punggung seorang baju hitam yang mengeroyok Kho Keh-hoa. Hiat- ing-ci merupa kan ilmu jari yang lihay, serangannya tidak menge luarkan suara, siapa yang terserang tiada obat yang dapat meno longnya.

Pada hal laki2, itu sedang mengerubut Kho Keh-hoa dengan pedangnya, kedua kaki berdiri tegak kokoh, Kho Keh-hoa sudah terkepung di tengah samberan sinar pedang mereka, tak pernah di duga bahwa serangan jari Liang Ih-jun yang tidak bersuara ini sudah menyerang tiba di punggungnya, seketika mulutnya mengua k keras, dan kontan roboh tersungkur dan tak bernyawa lagi.

Melihat kawannya mendadak roboh binasa, laki2 baju hitam yang satu lagi amat kaget, lekas dia tinggalkan Kho Keh-hoa dan mengayun pedang me nabas Liang Ih-jun yang menerjang tiba. Liang Ih-jun tak kalah gesitnya, ia mendak miring me luputkan diri sembari balas menyerang dengan telapak tangan kanan dan tutukan jari tangan kiri.

Dalam pada itu, Pek-hoa-pangcu Bok-tan juga melo los pedang, dengan mendelik hardiknya: "C i Hwi-bing, keluarkan pedangmu! "

Melihat Nao Sam- jun sudah ajal, beberapa jago kosen lawan belum lagi turun gelanggang, dia m2 Ci Hwi-bing menerawang situasi dan jelas pihak sendiri bakal kalah total, kalau dirinya tidak bertindak cepat mengundurkan diri, mungkin jiwa sendiri bakal me layang percuma. Di kala dia menimang2 itulah didengarnya Pek- hoa-pangcu menantangnya, terpaksa katanya: "Pangcu ingin bergebrak dengan orang she Ci, baiklah kulayani." - Tangan diulur ke belakang, melolos pedang yang terselip di punggung, kaki kiri me langkah setengah tindak, pedang me lintang dan badan berdiri miring, tampaknya dia sudah pasang kuda2 siap tempur. Padahal dengan gaya ini dia bersiap2 untuk lari masuk ke Hwi-liong- koan.

Bok-tan tertawa dingin, segera ia menerjang maju. Jarak kedua pihak ada tiga to mbak, jurus meluncur lurus dengan sinar pedang bertaburan ini adalah jurus Sin-liong-jut-hun, jurus lihay pertama dari Hwi-liong-sa m-kia m.

Sin-liong-jut-hun sebetulnya ada dua gerakan, gerakan pertama me mba lut badan dengan cahaya pedang sambil me lesat ke depan, setelah badan ter-apung baru melancarkan gerak susulannya, pedang menyerang musuh. Sejak kecil Bok-tan dige mbleng Thay- siang, sebagai Pek-hoa-pangcu hanya dia seorang yang pernah diajarkan ketiga jurus ilmu pedang naga terbang ini.

Gerak lurus meluncur ke depan ini adalah untuk mengejar musuh yang melarikan diri, atau bila jarak kedua pihak terlalu jauh untuk dijangkau pedang, tapi baik mengejar musuh atau menubruk maju dengan serangan dari atas, jurus ini tetap merupakan serangan lihay yang me matikan.

Ci Hwi-bing adalah ahli pedang, waktu di Hoa-keh-ceng dulu, dia pernah merasakan kelihayan jurus pedang ini, kini melihat Bok-tan me lancarkan serangan ini, hawa pedangnya tampak lebih keras dan kuat, keruan hatinya terkesiap, pelan2 dia menarik napas, seluruh kekuatan dia pusatkan ke lengan, baru saja dia akan angkat senjata balas menyerang, tak nyana Bok-tan yang meluncur datang tahu2 seperti berhenti di tengah jalan, serangan pedangpun telah dilancarkan dengan cahayanya yang terang.

Di mana sinar terang menyambar, laksana kilat cepatnya, jeritan orang segera me lengking, salah seorang baju hitam yang mengeroyok Ban Jin-cun tahu2 terkapar mati dengan pinggang putus, darah muncrat berceceran. Sinar pedang ternyata tidak berhenti, dengan kecepatan yang tidak berkurang tetap menerjang ke arah Ci Hwi- bing..

Ci hwi- bing sadar kena dikecoh Bok-tan, untuk me mbantu Ban Jin-cun sengaja Bok-tan menantang dirinya, padahal sasaran utama adalah kedua jago pedang baju hitam anak buahnya yang mengroyok Ban Jin-cun itu.

Keruan tidak kepalang marah Ci Hwi-bing, tapi iapun seorang yang cerdik, licik dan licin, me lihat Bok-tan tetap menerjang dirinya, tapi jurus ini terang sudah banyak berkurang kekuatannya. Atau dengan kata lain, Bok-tan hanya mau me nggertak dengan jurus lanjutan "naga terbang keluar dari mega" ini, padahal untuk menyerang dan merobohkan dirinya orang harus melancarkan jurus kedua. Untung dia sudah kerahkan setaker tenaga di lengan untuk menghadapi serangan Bok-tan, cuma belum se mpat dilancarkan. Kini kebetulan malah dengan kekuatan yang segar ini untuk menundukkan serangan lawan yang sudah kehabisan tenaga. Kesempatan baik ini tidak di sia2 kan, sebelum Bok-tan menginja k tanah dia mendahului menghardik: "Perempuan hina, lihat pedang."

- Pedang segera menabas.

Jurus ini dilancarkan dengan sekuat tenaga, menurut perhitungannya, serangan ini dilancarkan dikala lawan berada pada posisi yang kepepet, betapapun tinggi ilmu silat Bok-tan juga pasti kelabakan, umpa ma tidak bisa me mbunuhnya seketika, paling tidak akan me mbikin orang terluka parah.

Tak terduga dikala serangan dia   lancarkan,   Bok-tan yang me luncur t iba dan belum lagi kaki menyentuh tanah, badannya tiba2 me layang naik pula dengan sekali pusaran, betapa indah dan gemulai gerak tubuhnya, pedang di tangan mengikuti putaran tubuhnya me mbawa lingkaran sinar ke milau, sebaris cahaya pedang segera bentrok dengan tabasan pedang Ci Hwi-bing. "Tring", suara nyaring senjata beradu me mekak telinga.

Ci Hwi-bing merasakan pedangnya seperti sekaligus dipukul delapan batang pedang, betapapun tinggi Lwekangnya, tak urung seluruh lengannya terasa ke meng. Padahal hanya barisan sinar pedang bagian depan saja yang tertangkis buyar oleh sapuan pedang Ci Hwi-bing, sisa cahaya di sekelilingnya masih tetap berhamburan laksana ombak menggulung mangsanya.

Keruan kaget Ci Hwi-bing, ke mbali dia sadar telah kena tipu mus lihat Bok-tan. Nyata Bok-tan sekaligus secara berantai telah me lancarkan Hwi-liong-sa m-sek, gerak pedangnya sambung menya mbung, setelah dia me lancarkan Sin- liong-jut-hun, dikala gerakannya menjadi la mban dan seperti ha mpir kehabisan tenaga, dia susuli pula dengan jurus kedua Liong-jan-ih-ya. Jurus kedua ini merupakan gerakan menghadapi serangan lawan, bila musuh hanya seorang, segera jurus ini dikembangkan dan musuh pasti terkurung dalam cahaya pedangnya.

Untuk menangkis dan balas menyerang terang tidak se mpat lagi bagi Ci Hwi-bing, dalam sibuknya mendadak dia menggentak kedua kaki, ia me lo mpat mundur ke belakang dan berusaha lari masuk ke Hwi- liong-koan.

Kejadian bagai percikan api cepatnya, tahu2 dia melejit mundur lolos dari libatan sinar pedang musuh, tapi tiba2 dia rasakan kedua kakinya silir2 dingin, ternyata kedua kakinya sudah terpapas putus oleh tajam pedang musuh, dengan mengeluarkan jeritan, panjang badannya terjungkir balik ke dalam pintu batu.

Bok-tan me lejit me mburu ke depan orang, dengan tertawa dingin sambil menudingkan ujung pedang: "Ci Hwi bing, ke mana pula kau mau lari?"

Dikala Bok-tan me mburu maju, tiba2 Ci Hwi-bing ayun telapak tangan menghanta m batok kepala sendiri, seketika kepalanya hancur dan nyawapun me layang.

Sementara itu Liang Ih-jun juga telah berhasil merobohkan lawannya, Hiat-ing-ci dengan gaya ti-punya yang aneh berhasil menutuk Thian-toh-hiat lawan, tanpa mengeluarkan suara laki2 baju hitam itu roboh tak bernyawa.

Kini tinggal kedua jago pedang baju hitam, melihat Nao Sam jun binasa, Ci Hwi bing mati bunuh diri, mana kedua orang ini berani bertempur lagi, mulut sama bersiul saling me mber i tanda terus me lo mpat mundur hendak melarikan diri.

Orang yang melawan Kho Keh-hoa berlalu ter-gesa2, mungkin karena terlalu tegang dan ketakutan, dikala me lo mpat mundur paha kanannya tergores luka oleh pedang kutung Ko Keh-hoa, ma ka langkahnya jadi sempoyongan. Ko Keh-hoa menubruk maju sambil susuli dengan tabasan. dengan telak dada orang telah dikoyaknya, orang itu menjerit ngeri, setelah ter-guling2 dan berkelejetan, akhirnya jiwapun me layang.

Laki2 yang bertempur melawan Ban Jin-cun sudah tentu semakin ketakutan, dia coba menyerang dengan gerak gertakan, sebat sekali dia putar tubuh terus lari, tak tahunya belum lagi dia sempat angkat langkah seribu, dilihatnya Liang Ih-jun sudah mencegat di belakangnya, jengeknya dingin: "Kau mas ih mau lari ke mana?" pelan2 jarinya bergerak, jari   tangannya   yang   merah   tahu2 me mapak mukanya. Keruan orang itu mengkeret kaget, belum sempat dia pikir, pedang Ban Jin-cun sudah a mbles di punggungnya.

Kejadian hanya berlangsung beberapa kejap saja Nao Sam jun, Ci Hwi-bing dan kelima jago pedang telah dibinasakan. Kini tinggal Hwi- liong- koancu Oh Coan-oh dan kedua laki2 pe mbawa la m-pio n yang masih berdiri terlongong seperti patung, bergerakpun tidak berani, pecah nyali mereka.

Yong King-t iong pandang mayat Ci Hwi-bing dengan terharu, katanya sambil menghela napas: "Ci Hwi-bing adalah laki2 sejati, sayang dia mene mpuh ja lan yang salah."

Bok-tan melenga k, katanya: "Kalau Wanpwe tahu dia punya persahabatan akrab dengan paman, pasti t idak kubinasakan dia."

Yong King tiong menggeleng, katanya: "Tidak, dulu dia me mang salah satu panglima bersamaku, keadaan me maksa dia menyerah pada kerajaan, tapi perbuatannya beberapa tahun terakhir ini me mang pantas dia mme mperoleh ganjarannya, cuma Lohu sendiri tidak tega turun tangan." -Sampai di sini tiba2 dia berpaling, bentaknya ke-reng: "Oh Coan oh!"

Oh Coan oh tersentak kaget, ter-sipu2 dia menghor mat, "Hamba di sini."

"Apa yang Lohu katakan tadi kau mas ih ingat?"

"Ya, hamba masih ingat, masih ingat," sahut Oh Coan-oh dengan menyengir. "Baik sekali, sekarang lekas kau lepaskan orang2 Pek-hoa pang yang terperangkap di dalam Hwi-liong- koan."

Terunjuk sikap serba salah pada muka Oh Coan-oh, katanya takut2: "Pesan engkau orang tua pasti akan ha mba laksanakan, cuma . . . . . cuma "

"Cuma apa?" bentak Yong King tiong dengan tatapan tajam.

Bergidik Oh Coan-oh, dia munduk2 dan menjawab: "Kau orang tua harap jangan marah, hamba perlu me mberi sedikit penjelasan"

"Baik, coba katakan, lekas!"

"Dalam Hwi-liong- koan terdapat tujuh puluh dua kamar batu, keadaan ka mar di dalam tidak jauh berbeda dengan lorong2 sesat, bila masuk ke sana seketika akan kehilangan arah, makin putar kayun semakin tersesat, bila tiada orang yang tahu seluk beluk di dalam, sela manya takkan bisa keluar. Orang Pek hoa pang semuanya berkepandaian tinggi, Nao-tongcu pernah utus puluhan jago pedang masuk ke sana untuk me mancing mereka masuk perangkap lalu akan dibekuk satu persatu, tak nyana jago2 pedang yang masuk beruntun mengala mi kekalahan yang mengenaskan, tiada seorangpun yang keluar lagi, karena kewalahan terpaksa Nao- tongcu mengubah siasat, hamba diperintahkan untuk me matikan jalan keluarnya, supaya mereka mati kelaparan di dala m, padahal setiap kamar batu itu saling bergandengan dan tembus kian ke mari, entah orang2 Pek-hoa-pang kini berada di mana? Kalau ha mba masuk pasti akan menimbulkan salah paham, lebih baik engkau orang tua mengutus satu-dua orang yang kenal dengan orang2 Pek- hoa-pang dan ikut ha mba mas uk ke sana untuk meno long mere ka."

"Yong-lo pek," kata Kun gi, "biarlah Wanpwe saja yang masuk, kalian harap tunggu di sini saja."

"Biar kuiringi Ling-heng masuk ke sana" seru Bok- tan. "Ha mba saja ikut masuk," kata Liang Ih jun. "Tak usahlah, kau tunggu di sini, sudah ada Oh-koancu sebagai penunjuk ja lan, kita kan mau cari orang, banyak orang ma lah repot."

"Begitupun baik," ucap Yong King-tiong, "Ling-kongcu dan Pangcu saja yang masuk, biar kita tunggu di luar sini saja." - Lalu dia tatap Oh Coan-oh dan bertanya: "Oh Coan oh, ada perangkap apa pula di dalam benteng? Kalau dihadapan Lohu berani kau bertingkah, awas batok kepala mu."

Ou Coan-oh munduk2, sahutnya: "Ha mba tak berani, berapa sih batok kepalaku, masa berani menipu kau orang tua." - Lalu dia menge luarkan secarik kulit ka mbing yang terlempit rapi, dengan kedua tangan dia persembahkan, katanya: "Inilah peta Hwi-liong- koan, pada setiap pintu rahasia ada keterangannya, silakan engkau orang tua melihatnya ."

Waktu Yong King-tiong me mbuka kulit itu, sekilas dia pandang gambar peta Hwi- liong- koan ini, lalu dia serahkan pada Kun-gi, katanya: "Biar kau saja yang bawa ga mbar peta ini."

Kun-gi terima peta itu dan disimpan dalam bajunya, Oh Coan-oh berputar menghadapi Kun- gi dan Bok-tan, katanya: "Silakan kalian ikut." - Lalu dia mendahului me langkah masuk.

"Silakan Pangcu," ucap Kun-gi.

Bok-tan tertawa manis, katanya: "Perjalanan ini dipimpin Ling heng, silakan kau saja yang di depan."

Oh Coan-oh sudah beranjak masuk, terpaksa Kun-gi tidak bicara lagi, dia me langkah kedala m, Bok-tan ikut dibelakangnya.

Hwi- liong- koan ternyata merupakan sebuah ruangan batu besar, bentuknya mirip sebuah aula. Pada ujung kamar besar ini terdapat lima-ena m undakan batu yang dipagari balok2 batu, tepat di tengah terdapat sebuah pintu besar, daun pintunya yang terukir bunga warna warni terbentang lebar.

Oh Coan-oh bawa kedua orang naik undakan dan masuk ke dalam pintu, itulah sebuah pendopo besar, di tengah atas sebelah depan terpancang sebuah pigura besar yang bertulisan "Hwi- liong- koan" berwarna emas. Tepat di bawah pigura ada sebuah meja batu dan kursi batu pula, di kanan-kirinya masing2 terdapat sebuah kamar batu, daun pintunya juga terbuka lebar.

Kun-gi me ngerling, tanyanya: "Apa pula yang ada di dalam pintu ini?"

Oh Coan-oh tersenyum, katanya : "Agaknya Ling-kongcu belum periksa peta benteng besar ini.   Ketahuilah,   kedua pintu ini dina makan pintu me mancing musuh, siapapun yang menerjang masuk ke dalam pasti takkan bisa keluar."

"Kenapa setelah masuk tak bisa keluar?" tanya Kun-gi.

"Kelihatan ka mar batu ini tiada pintu lain lagi, tapi sekali berada di dala m, pintu batu akan terdorong keluar dari dinding sehingga pintu tertutup, bertepatan dengan itu tiga muka dinding yang lain sekaligus muncul pula tiga buah bentuk pintu yang serupa, pintu manapun bila dimasuki tentu akan terjeblos se makin dala m."

"Lalu dari mana kita harus masuk?" tanya Bok-tan.

Oh Coan-oh tertawa pula, katanya: "Cara untuk me mbuka pintu serta bagaimana keluar masuknya sudah tertera dipeta "

Bok-tan menar ik muka, katanya: "Aku tahu kalau ada keterangan di atas peta, tapi kau adalah Hwi-liong- koancu, penunjuk jalan pula, sekarang kau buka se mua jalan tembus yang harus kita la lui dan jalanlah di depan untuk menunjukan jalan, ada kau sebagai petunjuk jalan, buat apa ka mi harus periksa peta segala?"

Oh Coan-oh tahu bahwa Pek-hoa-pangcu ini galak dan sukar dilayani, sambil mengiakan cepat dia me langkah maju, pada sebuah papan batu di atas meja yang berukir bunga teratai dia dorong dan tarik, lalu ditekan tengahnya, kemudian dia mundur dan berdiri tegak menunggu.

Cepat sekali meja batu di depannya itu bergeser ke kanan, tepat di bawah dinding depan pelan2 terbelah dan muncul sebuah pintu: "Silakan kalian masuk," ucap Oh Coan-oh sa mbil munduk2. Bok-tan merasakan sorot mata orang jelilatan dan sikapnya terlalu dibuat2, tapi dia diam saja dan waspada, maka sebelum Ling Kun-gi berbicara dia sudah mengulap tangan, katanya: "Kau masuk lebih dulu."

Oh Coan-oh tidak banyak bicara, segera dia me langkah masuk lebih dulu. Kun-gi dan Bok-tan ikut di belakangnya, kamar batu di sini t idak besar, bentuknya juga ta mpak lonjong. Tepat di tengah depan sana di atas dinding terdapat sebuah ukiran bunga Boh-tan dari berbagai jenis dengan warnanya yang berbeda pula, hampir seluruh dinding dipenuhi ukiran bunga ini, begitu indah dan hidup ukirannya, terang buah karya seorang seniman terna ma.

Bahwa Hwi- liong-koan merupakan perangkap untuk menjebak musuh. sudah tentu di sini tidak perlu pakai pajangan apa2, terutama kamar batu ini luasnya tidak lebih dua to mbak, tiada perabot apa-pun, maka lukisan di dinding ini kelihatan agak ganjil. .

Sekilas Pandang Ling Kun-gi lantas merasakan keganjilan pada lukisan di dinding ini, karena lukisan lima kuntum bunga Bok-tan itu kecuali yang di tengah bentuknya rada besar dan empat lain yang bentuknya agak kecil mengelilingi sekitarnya, jadi terbagi atas dan bawah, kanan dan kiri, kedudukan ini jelas tidak ditatah secara kebetulan.

Tengah dia mereka2, didengarnya Oh Coan-oli berkata dengan tertawa: "Ling-kongcu, ga mbar bunga Bok-tan ini adalah pusat dari kunci seluruh peralatan rahasia yang ada di dalam Hwi-liong- koan ini." - Tangannya, menuding kelima kuntum Bok-tan serta menje laskan lebih lanjut: "Setiap ka mar batu di dalam pada keempat penjuru, dindingnya pasti terpasang pintu rahasia, sekarang menurut tanda yang ada di pusat ini semuanya sedang terbuka, tapi pintu setiap ka mar batu itu selalu berubah sehingga orang yang terkurung di dalam sana akan lari kian ke mari, se-olah2 sudah mene mbus i ratusan kamar, tapi tetap tidak mene mukan jalan keluarnya. . ."

"Apakah pintu setiap ka mar batu itu bisa menutup sendirinya?" tanya Bok-tan. "Ya, bunga Bok-tan di tengah yang besar itulah letak kuncinya, empat bunga disekelilingnya yang agak kecil merupakan kunci setiap pintu ka mar, asal kunci pusatnya ini dibuka, lalu kee mpat kuntum yang la in juga dibuka pula, maka pintu di kee mpat dinding setiap kamar itu tidak akan buka-tutup secara bergiliran lagi," sampai di sini dia mena mbahkan: "Kita akan masuk menolong orang, terpaksa tiga pintu di setiap kamar itu harus kita tutup, tinggal satu lagi yang masih terbuka untuk me mudahkan usaha pencarian ini."

"Lalu kunci pusatnya itu apakah t idak perlu ditutup?" tanya Bok- tan.

"Kalau kunci pusatnya yang di tengah itu ditutup juga, seluruh peralatan rahasia di dalam akan berhenti bekerja, seluruh pintu takkan bisa dibuka lagi, lalu bagaimana kita bisa masuk?" Oh Coan- oh menjelaskan.

"Baik. lekas kau kerjakan," perintah Bok-tan, "kita harus lekas2 meno long orang."

Oh Coan-oh mengiakan, dia me mutar ke kanan tiga kali pada kuntum bunga Bok-tan yang agak kecil yang terletak di atas, bawah dan sebelah kanan, lalu kuntum kee mpat yang terletak di sebelah kiri dia putar ke kiri tiga kali, katanya: "Beres, sekarang tinggal pintu kiri setiap ka mar itu yang terbuka, umpa ma kita tidak masuk mencari mere ka, maka orang2 yang terperangkap di dalam akan bisa mencari jalan keluarnya."

"Baik, lekas kau buka saja pintunya," kata Bok-tan pula.

Oh Coan-oh mengia kan, dia mengha mpiri dinding kiri dan menekan dua kali, dinding di depannya lantas terbukalah sebuah pintu.

"Pangcu," ucap Kun-gi, "marilah kita masuk,"

"Kau sudah dengar, keadaan seperti di dalam lorong sesat itu, biarlah Oh- koancu menunjukkan jalannya," sahut Bok-tan. "Kalian tunggu sebentar," kata Oh Coan-oh sambil mengha mpiri dinding sebelah kanan.

"Apa yang kau kerjakan?" tanya Bok-tan.

"Seluruh peralatan di sini sudah kubereskan, sekarang tiada tugasku yang lain, maaf aku mohon diri saja. . . . . " badannya mepet dinding, maka terdengar "crat", dinding segera menjeplak, badan Oh Coan-oh terus terjungkir ke dala m, sekali berkelebat lantas lenyap.

Bok-tan gusar, makinya: "Keparat!" - Tangan terayun, dilontarkan pukulan jarak jauh. Tapi pintu di sini mirip pintu jeblakan yang dapat memantul balik dengan cepat, waktu pukulan Bok-tan tiba se mentara pintu sudah tertutup pula. "Blang", pukulannya mengena i dinding.

Kata Bok- tan dengan gegetun: "Sudah ku-sangsikan dia pasti bukan manus ia baik2."

"Sudahlah, biar dia me larikan diri," ujar Kun- gi:

"Ling-heng lekas keluarkan peta Hwi-liong- koan, jangan kita tertipu olehnya".

Kun-gi keluarkan peta kulit ka mbing itu, segera mereka me mer iksa dengan teliti. Apa yang diterangkan Oh Coan-oh ternyata tidak salah, dia me mang sudah me mbereskan segala peralatan rahasia dalam Hwi- liong-koan ini. Jadi hanya pintu di sebelah kiri pada setiap kamar batu saja yang terbuka, tiga pintu lain sudah buntu. Asal keluar atau masuk mengikuti pintu2 yang terbuka itu, dengan sendirinya akan mudah mene mukan orang dan keluar lagi dengan leluasa.

Setelah me meriksa sekian la manya, Bok-tan berkata heran: "Ling-heng, peta ini merupakan keterangan seluruh peralatan dalam Hwi- liong- koan, kenapa pintu dari Oh Coan-oh lari tadi tidak ada keterangannya di sini?" Kun-gi berpikir sejenak, katanya: "Mungkin ja lan ini merupakan sebuah lorong rahasia tersendiri yang tidak termasuk dalam lingkungan Hwi-liong-koan, maka di sini tidak diberi keterangan,"

Berkedip mata Bok-tan, tanyanya tidak paham: "Penjelasanmu belum kumengerti."

"Hwi-liong-koan merupa kan salah satu seksi berkuasa dari Hwi- liong-tong, lorong rahasia ini mungkin mene mbus langsung ke Hwi- liong-tong, maka tidak ter masuk dalam lingkungan rahasia di Hwi- liong- koan ini, tadi waktu kita tiba di luar benteng, tahu2 Nao Sam jun dan Ci Hwi-bing menyusul datang, tapi mereka keluar dari Hwi- liong- koan, ini dapat dijadikan bukti."

"Ling-heng me mang cerdik," puji Bok-tan tertawa, "Siau-moay selamanya tak mau kalah dari orang lain, tapi terhadang Ling-heng, sungguh tunduk lahir hatin."

Panas muka Kun-gi, katanya tertawa: "Pangcu terlalu me muji."

Bola mata Bok-tan yang jernih menatap Kun-gi lekat penuh kasih mesra, katanya lir ih: "Ling-heng, jangan panggil aku pangcu, kalau dalam hatimu ada te mpat untuk diriku, lebih baik kalau kau panggil aku Bok-tan saja," agaknya dia me mberanikan diri me limpahkan is i hatinya, tak urung wajahnya merah jengah, tapi dengan berani dia tetap me mandang dengan malu2 harap.

"Kebaikan Pangcu sungguh me mbuat Cayhe amat terharu . . . . .

. . "

Bok-tan tertunduk lalu angkat kepala pula, katanya cemas: "Ling- heng, kau tahu aku tidak menginginkan rasa harumu saja."

Wajah Kun-gi menunjukan perasaan kurang tenteram, seperti mau bicara tapi urung,

Tiba2 sorot mata Bok-tan menjadi rawan, katanya lembut: "Ling- heng tidak menjelaskan juga aku sudah tahu, apakah kau sudah punya kekasih?" tanpa me mberi kesempatan Ling Kun-gi bersuara dengan tertawa dia menambahkan: "Dengan karakter dan kepandaian silat Ling- heng, adalah jamak kalau banyak gadis yang kasmaran kepada mu, hal ini tidak menjadi soal bagiku, karena kita berkenalan agak la mbat, asal kau sudi menerima ku, aku sudah a mat puas." Tidak kepalang haru Kun-gi, dengan kencang dia genggam pundak Bok-tan, katanya dengan suara tersendat: "Pangcu "

Semakin jengah muka Bok-tan, dia balas genggam lengan Kun- gi, sambil bersuara aleman, katanya: "Nah, lagi2 kau panggil Pangcu." lalu dia angkat kepala dan bertanya: "Siapakah kekasih Ling-heng? Apakah yang menya mar Kiu- moay "

"Blang", tiba2 suara gedebrukan berkumandang dari ka mar sebelah kanan. Dua orang sama tersentak kaget, lekas mereka berpaling ke sana, tampak pintu jeplakan di sebelah kanan itu ke mbali terbalik, dari luar menerjang tiba seorang dengan langkah sempoyongan, sekujur badannya berlepotan darah, tiga empat langkah saja dia gentayangan lalu jatuh tersungkur. Karena orang gentayangan sambil menopang badan dengan pedang, terang orang ini terluka a mat parah.

Mata Kun-gi a mat tajam, sekilas pandang dia sudah jelas muka orang ini, ia berteriak: "Kong-s un-heng!" - Sebat sekali dia me mbur u maju.

Lekas Bok tan ikut me mburu maju, katanya: "Bagaimana mungkin Kongsun houhoat keluar dari lorong rahasia ini?"

"Betul, dia terpencar denganku waktu mas ih berada di Hwi- liong tong, tadi Oh Coan-oh keluar dari sini, mungkin karena terburu2 sehingga lupa menutup pula pintunya, maka dengan leluasa Kongsun-heng bisa keluar ke mar i," sembar i bicara Kun- gi periksa keadaan Kongsun Siang.

Bok-tan berdiri di sa mpingnya, tanyanya: "Apa-kah lukanya berat?"

Bertaut alis Kun-gi. katanya: "Ada tiga luka bekas tabasan pedang dan satu luka kena piau, mungkin juga terluka dala m, umpa ma tidak terluka, dalam sehari semala m tanpa ma kan minum dan tidak tidur lagi, pula harus mengala mi pertempuran sengit, badannya juga pasti loyo." - Sembari bicara dia keluarkan obat luka dan dijejalkan ke mulut Kongsun Siang, lalu sebelah tangan menekan Ling-tai hiat dari pelan2 salurkan hawa murninya.

Keadaan Kongsun Siang betul2 a mat gawat, untung Kun-gi segera me mberi saluran hawa murni sehingga jiwanya direnggut balik dari perjalanan ke akhirat, sesaat kemudian matanya mula i me lek, la ma dia pandang muka Kun- gi, mendada k dua titik air mata menetes dari kelopak matanya, katanya dengan lemah: "Congcoh . .

. . aku . . . . aku . . . . mungkin . . . . tak kuat . . . " "Kongsun-heng jangan bicara," bujuk Kun-gi.

"Sehari se mala m ini . . . . .aku bertemu     delapan belas jago

. . . . Hek-liong hwe . . . . badanku terluka pedang beberapa tempat

. . . . tapi mereka berhasil kubunuh . . . . seluruhnya Barusan

ada seorang lagi . . . . lari dari sini, aku mene mpurnya pula . . . .

sampai la ma, aku kena dipukulnya sekali di Bong-hwe-hiat di belakang pundak . . . . tapi diapun . . . . kutusuk luka "

"Kau terlalu letih, terluka luar dan dalam lagi, darah keluar terlalu banyak, beruntung dasar Lwekangmu a mat kuat sehingga dapat bertahan sekian la ma, barusan kau sudah kuberi minum Po bing- hing-kang-san buatan guruku, sekarang jangan banyak bicara, biar obat bekerja, tanggung kau takkan apa2."

Kongsun Siang batuk2, katanya dengan tertawa muram: "Congcoh berulang kali meno long jiwaku, sungguh tak terperikan rasa terima kasihku, cuma . . . . aku sendiri tahu, kali ini mungkin aku tidak tertolong lagi, ada suatu hal . . . . sudah lama terpendam dalam sanubariku, sudah la ma, cuma tak berani kukemukakan,

tapi sebelum ajal harus . . . . harus kukatakan pada mu       "

"Nanti saja Kongsun-heng jelaskan, sekarang istirahat saja."

Kongsun Siang me nggeleng, katanya: "Tidak, kalau tidak segera kututurkan, sekali aku tarik napas, selamanya takkan ada orang tahu akan kejadian itu."

"Ling-heng," sela Bok-tan dari sa mping, "biarlah dia bicara." Dua butir air mata menetes pula me mbasahi pipi Kongsun Siang, jari2 kedua tangannya dengan kencang mere mas baju dada sendiri, dengan keras tiba2 ia berteriak: "Berulang kali Congcoh menyela matkan jiwaku, aku . . . . aku bukan manusia, aku binatang, aku pantas ma mpus, aku bersalah pada mu "

Mendadak tergerak hati Kun-gi, katanya: "Kongsun-heng, jangan terlalu emos i, ada omongan apapun boleh kau bicarakan setelah luka mu se mbuh."

Gemeretak gigi Kongsun Siang, katanya tegas: "Tidak, kalau tidak kukatakan sekarang matipun aku tidak tenteram. Congcoh . . .

. kejadian ini, jelas aku berdosa padamu, beberapa kali ingin aku berterus terang padamu, tapi kata2 yang sudah di mulut selalu urung kuucapkan, aku tidak berani berterus terang, kini aku sudah akan mangkat, tiada yang perlu kukuatirkan lagi          " sekuatnya

dia menarik napas lalu meneruskan: "Malam itu, waktu Congcoh pertama kali menduduki jabatan Cong-hou-hoat-su-cia, karena congcoh terlalu banyak menengga k arak, aku ingin menengo kmu . .

. . "

"Tak usah kau jelaskan lagi," lekas Kun-gi me ncegah.

"Aku harus berterus terang, hanya setelah melimpahkan ganjalan hatiku, aku   akan   mati   dengan   tenteram," dia   tidak berani me mandang ke arah Bok-tan, katanya dengan pedih: "Waktu itu sudah mendekati kentongan kedua, tiada penerangan dalam ka mar Congcoh, hanya jendela di sebelah selatan yang masih terbuka, aku masuk lewat jendela, kudapati Congcoh sudah tiada di kamar, tapi kudengar derap langkah Hupangcu di sera mbi muka, agaknya karena Congcoh mabuk iapun hendak menengokmu diwaktu

itu aku terlalu sembro no dan diburu nafsu setan, aku me malsukan Congcoh melakukan perbuatan terkutuk "

Bok tan pernah mendapat laporan kejadian ini dari Giok- lan cuma sejauh ini dia belum tahu siapa gerangan pemalsu Ling Kun-gi itu, tapi karena soal ini menyangkut kesucian dan na ma baik So-yok maka sejak dulu hal ini tak pernah dia laporkan kepada Thay-siang. Kini setelah mendengar pengakuan Kongsun Siang, dia m2 dia me mbatin: "Karakter dan jiwa Kongsun Siang yang jujur kiranya setimpal juga berjodohkan Jimoay, cuma sekarang lukanya begini berat, entah dapat tertolong tidak?"

Dikala dia ter mangu itulah, mendadak sesosok bayangan orang menerjang t iba dari pintu sebelah kiri, gerakannya sebat dan aneh, langsung dia menubruk kearah Kongsun Siang seraya berteriak beringas: "Kau bangsat keparat ini, kau bikin aku merana sela ma hidup?" - Mendadak pedang berkilau menyamber menabas Kongsun Siang.

Orang yang muncul mendadak ini adalah Hu-pangcu So-yok yang terkenal keras kepala, suka menang dan berwajah cantik.

Bok-tan terperanjat, teriaknya: "Jimoay, jangan!"

Kun-gi juga tidak menduga urusan bisa terjadi secara begini kebetulan, So-yok mendengar sendiri pengakuan Kongsun Siang. Bahwa orang muncul secara tiba2 sudah me mbuatnya kaget, tak pernah terpikir pula olehnya bahwa orang muncul sambil menyerang, apalagi telapak tangan kanannya masih menekan Ling- tai-hiat Kongsun Siang. . me lihat sinar pedang menya mber tiba, dalam seribu kerepotannya tangan kirinya lantas menjentik pedang.

Sayang usahanya terlambat. "Tring", batang pedang memang terjentik, tapi jentikannya hanya sedikit menyerempet dan bikin pedang menceng sedikit pula, di mana sinar pedang menabas turun, darah kontan muncrat, lengan kiri Kongsun Siang tertabas kutung.

Muka So-yok tampak me mbesi hijau, matanya mendelik, tanpa bicara setelah membanting kaki dia terus putar tubuh dan berlari keluar.

Setelah minum Po bing- hing- kang-san buatan Hoan-jiu ji lay, dibantu saluran hawa murni Ling Kun-gi lagi, luka Kongsun Siang boleh dikatakan sudah makin me mbaik. Mendadak dilihatnya So-yok muncul tiba2 sa mbil mengayun pedang, maka dia peja mkan mata, dia rela menerima ke matian, bahwa hanya lengan kirinya yang tertabas kutung, sedikitpun dia tidak menge luh kesakitan. Kini me lihat So-yok berlari pergi malah, ma ka tanpa perdulikan lengannya yang kutung dan keluar darah serta sakit luar biasa, mendadak dia melo mpat bangun seraya berteriak: "Hupangcu . . . .

. " dengan sebelah tangan mendekap lukanya, dengan kencang dia menguda k keluar.

"Kongsun-houhoat . . . . . " tanpa sadar Bok-tan berteriak mencegah.

Kun-gi menghela napas, katanya: "Biarlah dia pergi, Pangcu." "Tapi lukanya belum sembuh, tangannya buntung lagi."

"Kongsun-houhoat sudah minum Po bing-hing-kang-san buatan

guruku, luka2nya sudah tidak jadi soal lagi, kalau dia berhasil mengejar Hupangcu, setelah a marahnya reda, Kongsun-heng mau berlutut dan minta maaf, mungkin Hupangcu mau menga mpuni dan me maafkan kesalahannya."

Mengawasi kutungan lengan di lantai, Bok-tan berkata: "Jimoay suka menang dan kepala batu, biasanya suka mengumbar adat, kalau Kongsun-houhoat berhasil mengejar dia, mungkin bisa ditabas mati malah."

"Alasan Pangcu me mang benar, kalau tidak mati, mungkin juga Kongsun-houhoat akan berhasil me mbujuknya, terserah kepada takdir. tapi soal ini menyangkut masa depan dan kebahagian hidup mereka berdua, orang lain tak mungkin menca mpur inya, dan lagi bila kita mencegah Kongsun-houhoat mengejarnya, mungkin selamanya dia takkan me ne mukan Hupangcu."

Bok-tan manggut2,   katanya menghela napas: "Ai,   asmara me mang suka me mper mainkan orang." - Sambil mengusap ra mbut yang terurai, mendadak dia berpaling, katanya: "Ling heng, Jimoay sudah bisa keluar, orang lain yang terperangkap di dalam mungkin juga akan selekasnya keluar, marilah kita masuk menje mput mereka."

Kun-gi, agak bimbang, sebentar dia pikir lalu sodorkan gambar peta itu kepada Bok-tan, katanya: "Te mpat ini adalah pusat dari Hwi- liong-koan, ada lorong rahasia pula di balik dinding kanan yang mene mbus ke Hwi-liong-tong, bila ada orang masuk ke mari, asal dia menutup seluruh inti pesawat rahasia di sini, selamanya kita takkan bisa keluar, maka menurut hemat Cayhe, Pangcu boleh bawa peta ini dan tunggu di sini, biar Cayhe sendiri masuk mencari mere ka."

Bok- tan dapat menerima alasan yang masuk akal ini tapi dia meno lak peta itu, katanya: "Kau yang akan masuk ke sana, lebih baik kau yang bawa ga mbar ini, kalau tersesat, kau bisa mencoco kkan peta ini supaya tidak me ngalami kesulitan."

Kun-gi simpan peta itu, katanya:, "Baiklah, harap Pangcu tunggu di sini saja, Cayhe akan segera masuk." - Lalu dia beranjak lewat pintu kiri.

Lekas Bok-tan me mburu maju, teriaknya nyaring: "Ling-heng!"

Ling Kun-gi sudah tiba di ambang pintu, segera dia berhenti sambil me noleh: "Ada apa Pangcu?"

Jengah muka Bok-tan, katanya lirih: "Kau harus hati2."

Melihat sikap orang yang malu2 kucing dan mimiknya yang kasih mesra dan betapa besar perhatian terhadapnya, hati Kun-gi terasa manis dan berdenyut kencang jantungnya, lekas dia alihkan tatapannya serta mengangguk, sahutnya: "Cayhe tahu!" - Dengan mengacungkan Le-liong-cu, dia lantas masuk kedala m.

-oooo-" 0 <<-oooa-

Oh Coan-oh ternyata tidak menipu mereka. Tujuh puluh dua kamar batu dalam Hwi-liong-koan ini ternyata tidak kalah rumit dan me mus ingkan seperti lorong sesat di Ceng-liong-tong. Walau tiga pintu telah dia tutup, kini pada setiap ka mar segi e mpat itu tinggal satu pintu saja yang terbuka, tapi bentuk kamar batu itu mir ip satu dengan yang lain, seperti sebuah kotak belaka, yang terbuka juga hanya pintu kiri, bila mas uk terus satu ka mar demi satu ka mar akhirnya pasti akan mene mukan jalan keluarnya, Tapi bila sudah me lewati dua puluh kotak ka mar yang serupa itu, mau tidak ma u setiap orang akan pusing juga.

Kun-gi sangat sabar, dia maju terus dengan mudah dia mene mukan Hu-yong, Hong-sian dan Giok-je, demikian pula dua pelayan pribadi So-yok yang bernama Bok-hung dan Bok- bin. Pelopor jalan Go-bo, Houhoat Toh Kian-ling dan Lo Kun-hun. Hanya Yu-houhoat Coa-liang ketika me masuki Hwi-liong-tong telah menghilang, (nasibnya sudah dituturkan dibagian depan), anggota rombongan boleh dikatakan sudah diketemukan seluruhnya. Kecuali Go-bo, Toh Kian- ling yang mengala mi sedikit luka, yang lain tiada kurang suatu apapun.

Sejak mereka me masuki Hwi- liong-tong belum pernah bentrok langsung dengan musuh, tapi setelah mereka dipancing masuk ke Hwi- liong- koan, musuh pernah mengutus delapan belas jagonya untuk menyergap mereka sehingga terjadi perte mpuran sengit, tapi dengan kerja sama mereka, akhirnya musuh dapat ditumpas seluruhnya, dan karena orang banyak tidak terpencar lagi, maka rangsum yang mere ka bawa masih tersedia lengkap, jadi tiada yang kelaparan, cuma air minum saja yang kehabisan.

Dikala mereka terkurung dalam ka mar kotak2 ini. tengah ubek2an kian ke mari tanpa mene mukan ja lan keluarnya, mendadak ketemu Ling Kun-gi, sudah tentu tidak kepalang kejut dan senang mereka, seperti ketiban rejeki dari langit rasanya.

Di antara dua belas pelayan hanya Giok-je yang paling dulu berkenalan dengan Ling Kun-gi, malah dia pula yang menyelundupkan Kun-gi ke-luar dari Coat-ceng-san-ceng dan dibawa ke Pek-hoa pang, maka dia pula yang berjingkrak kegirangan dan me mburu maju lebih dulu, teriaknya girang:

"Cong-su-cia, bagaimana kau bisa masuk ke mari?" Mata Kun-gi menger ling, katanya dengan tertawa: "Syukurlah kalian berada di sini se mua, Hek-liong-hwe sudah hancur lebur, Cayhe sengaja mencari kalian." Hong-sian bertanya: "Apakah Cong su- cia pernah bertemu dengan Hupangcu?"

Sudah tentu tak enak Kun gi menje laskan, dia mengangguk, katanya: "Waktu pintu batu terbuka Hupangcu sudah mendahului keluar."

Lo Kun hun ikut bicara: "Waktu pertama kali ka mi masuk ke mari, mendadak Coa heng menghilang, apakah Cong-su-cia tahu jejaknya?"

Guram wajah Kun-gi, katanya rawan: "Coa-heng terluka parah, sekarang sudah meningga l." Mendengar Coa Liang sudah meninggal, seketika tertekan perasaan semua orang.

Kata Kun-gi: "Kalian se mua ada di sini, tak perlu kita masuk lebih jauh lagi, biar Cayhe tunjuk jalannya, Pangcu sedang menunggu kalian di luar." - Lalu dia pimpin orang banyak keluar. .

Bahwa sebentar lagi bakal keluar dari te mpat yang menyesatkan ini, sudah tentu langkah se mua orang bertambah cepat, hanya sebentar mereka sudah keluar  dari  ka mar    kotak    yang me mbingungkan itu.

Bok-tan sambut keluarnya orang banyak dengan berjingkrak girang, sudah tentu banyak adegan lucu yang terjadi dalam pertemuan ini.

Begitulah di bawah pimpinan Ling Kun-gi, ke mudian mere ka mengundurkan diri dari Hwi- liong- koan dan bergabung dengan rombongan Yong King-tiong, selanjutnya beramai2 mereka keluar dari lorong serta berkumpul pula dengan rombongan besar. di mana Giok- lan dan lain2 sedang menunggu dengan gelisah.

Kini tugas Tu Hong-s ing yang pimpin ro mbongan besar ini keluar dari lorong panjang yang menembus ke Hwi- liong-tong setelah terlebih dulu me matikan ja lan yang menuju ke Hwi-liong-koan.

Tengah berjalan, lapat2 terdengar suara benturan senjata keras di depan, Yong King tiong merandek, katanya:. "Seperti ada orang bergebrak, mari lekas kita tengok." Kun   -gi ingat   So-yok   yang   lari dikejar   Kong-sun   Siang, ke mungkinan mereka kepergok musuh dan kini tengah berhantam. Apalagi luka Kongsun Siang belum se mbuh, lengan buntung lagi, maka ia sangat kuatir, ia berkata: "Biar Wanpwe ke sana lebih dulu." - Sebelum Yong King- trong bersuara, sekali me lejit dia mendahului lari ke lorong di depan sana.

Di ujung lorong adalah sebuah pintu gerbang yang besar tinggi, bentuknya bundar, di luar pintu dihadang sebuah pintu angin yang terbuat dari batu mar mer warna hijau setinggi satu to mba k, Kun-gi belok ke sebelah kiri pintu angin serta mendapatkan sebuah ruang pendopo yang besar, bagian depan dan belakang sama berundakan batu, tepat di tengah adalah sebuah pelataran, sudah tentu letak pelataran ini masih berada di perut gunung. Tapi keluar dari pendopo besar itu, melalui lorong yang tidak begitu panjang, bagian luarnya lagi sudah kelihatan sinar matahari dan pe mandangan alam pegunungan yang menghijau per ma i.

Di pelataran itulah tengah terjadi baku hantam sengit antara lima. laki2 baju hitam yang tengah mengeroyok seorang laki2 baju hijau. Sekali pandang Kun-gi lantas kenal laki2 baju hijau yang dikeroyok itu adalah Ting Kiau yang terpencar di dalam lorong.

Meski dikeroyok lima musuh, tapi kipas besinya itu ternyata dapat ma in dengan gencar dan hebat, begitu keji cara per mainannya sehingga kelima musuh yang bersenjata lebih panjang tidak berani mende kat, namun mereka maju mundur kerja sama dengan rapi, sedikitpun Ting Kiau tidak diberi peluang, seakan2 sengaja hendak menguras tenaganya.

Girang hati Kun-gi, cepat ia me lejit ke tengah pendopo serta me mbentak: "Berhenti!"

Bentakan keras ini laksana guntur menggelegar di siang bolong sehingga orang2 yang lagi berhantam merasa kaget, lekas mereka tarik pedang dan melo mpat mundur seraya menoleh.

Melihat yang datang adalah Ling Kun gi, sudah tentu bukan main girang Ting Kau, teriak-nya: "Cong-coh!" Nyata kelima orang baju hitam itu juga me- lengak heran karena me lihat Lang Kun-gi mendadak menerobos keluar dari dalam Hwi liong-tong.   Seorang   di   antaranya    angkat    pedang    seraya me mbentak: "Lekas cegat dia, jangan biarkan dia lari." - Dua orang kawannya segera menubruk ke arah Ling Kun- gi.

Kun-gi berdiri tegak, ia tertawa, katanya lantang: "Kalian berdiri di te mpat masing2, ketahuilah bahwa Hek liong hwe sudah lebur, Han Jan-to sudah ma mpus, Hwi-liong-tongcu Nao Sam jun dan Ui- liong-tongcu Ci Hwi-bing sudah mati, kalian kaum keroco ini masih berani bertingkah. Hayo letakkan senjata dan menyerah, nanti kua mpuni jiwa kalian?"

Laki2 baju hijau yang jadi me mimpin kelima orang itu tambah beringas, serunya: "Jangan kalian percaya ocehannya, hayo bekuk dia,"