-->

Pendekar Kidal Jilid 30

Jilid 30

Dengan gerakan sederhana, tiga kali tusukan lawan yang cukup deras ini berhasil dihindarkan, keruan hati Kun-gi berta mbah senang, tangan kanan tiba2 terayun, maka terdengarlah suara "trang" pedang panjang lawan yang sudah patah ujungnya itu kena ditekannya ke bawah.

Pada saat itulah, tiba2 terlihat sebuah lengan putih halus terjulur keluar dari samping Kun-gi, begitu kelima jarinya terpentang, segumpa l asap berbubuk seketika menya mpuk muka orang itu.

Melihat Un Hoankun menjent ikan bubuk kabut pe mbius, si baju hijau tahu gelagat tidak menguntungkan, tapi pedang sendiri tertindih oleh pedang Ling Kun-gi, jangankan mau mundur, kesempatan menarik pedangpun tak sempat lagi, tahu2 hidungnya mengendus bau harum yang aneh, seketika pandangan menjadi gelap. "Bluk", seketika roboh tersungkur.

Un Hoankun berjingkrak kegirangan. "Syukurlah, akhirnya dapat kita bekuk seorang musuh hi-dup2." demikian teriaknya sambil berkeplok.

"Untuk apa kau me nawannya hidup2?" tanya Kun-gi.

Un Hoankun berseri tawa, katanya: "Lorong sempit ini bercabang serta me mbingungkan, kalau ada petunjuk ja lankan lumayan?" Mendadak Kun-gi teringat akan perkataan Yong King-tiong: "Losiu hanya tahu bahwa di belakang Ceng-liong-tong telah ditambah bangunan rahasia.. Di sanalah para tawanan disekap, tapi tak pernah kuduga   bahwa   di sini ada   tempat,   seperti ini." Me mangnya Tong Bunkhing, Pui Ji-ping berdua disekap di mana? Orang2 Pek-hoa-pangpun terpencar entah ke mana saja di lorong sempit yang me mbingungkan ini,' baru sekarang dia sadar perlunya seorang penunjuk jalan di te mpat yang menyesatkan ini. Maka dengan mengangguk dia berkata: "Untung kau berpikir cer mat, me mang kita perlu bantuannya."

"Se mula aku a mat benci mereka, maka tiada seorangpun yang kua mpuni, setelah obor pada m, seorang diri aku putar kayun kesasar kian ke mari barulah teringat untuk menawan seorang musuh, tapi tiada musuh ,yang muncul lagi, suara bentakan yang kau dengar tadi juga kudengar, maka aku me mburu ke mari, mungkin dia inilah yang sengaja hendak menjebak orang," lalu dia bertanya lebih prihatin: "Toako, kedua te manmu apakah sudah kau temukan?"

"Belum," sahut Kun-gi sa mbil mengge leng.

"Nah, kan kebetulan? Orang ini besar sekali manfaatnya bagi kami."

"Mungkin dia tidak sudi kita paralat. Hayolah adik Hoan, kita gusur dia dulu, biar pa man Yong me mbujuk dia, mungkin dia tidak suka rela menjadi antek musuh."

"Siapakah pa man Yong?" tanya Un Hoankun.

"Dia adalah teman ayahku almarhum, Cong-koan Hek- liong-hwe yang sekarang, dia berada di luar, tadi kudengar suara benturan senjata, maka aku me nerjang masuk ke mar i."

"Luar? Te mpat apa di luar sana?"

"Luar yang kumaksud sudah tentu masih berada di perut gunung Kunlunsan, yang kumaksud adalah bagian luar lorong2 se mpit di sini," lalu Ling Kun-gi mena mbahkan: "Panjang sekali kejadiannya kalau diceritakan, mar ilah ke luar dulu saja," Dengan me ngangkat Leliong- cu dia putar badan terus berjalan balik ke arah datangnya tadi.

Dengan cepat mereka tiba di pintu batu dan ke mbali ke ka mar segi enam. Yong King-tiong sudah menunggu dengan tidak sabar, untunglah akhirnya dilihatnya, Kun-gi muncul dengan me manggul seorang, lekas dia me mapak maju, katanya: "Kenapa Kongcu pergi selama ini? Losiu sudah ingin menyusulmu ke dala m." Belum habis bicaranya dilihatnya pula seorang nona berjalan di belakang Kun-gi, dia mengangguk dan menyapa: "Apakah nona ini yang bentrok dengan musuh?"

Kun-gi tertawa, sahutnya: "Bukan, suara benturan senjata itu semakin menjauh, Wanpwe tidak mene mukannya." Lalu dia perkenalkan Un Hoankun: "Hoanmoay, inilah pa man Yong." Kepada Yong King-tiong dia mena mbahkan: "Dia bernama Un Hoankun, puteri kesayangan Unlocengcu dari Lingla m."

Tertunduk kepala Un Hoankun, sapanya: "Paman Yong!"

Yong King-tiong manggut2, tanyanya heran: "Bagaimana nona Un bisa masuk ke mari?"

"Paman jangan salah mengerti, untuk me mbantu Wanpwe secara dia m2, dia menyamar jadi Bikui dan menyelundup ke dalam Pek- hoa-pang."

"O, kiranya begitu," Yong King-tiong mengangguk.

Sementara itu Kun-gi sudah turunkan tawanannya, tanyanya: "Paman kenal orang ini?"

"Dia berna ma Tu Hong-sing, salah seorang dari tiga puluh enam panglima dulu, sekarang dia salah seorang dari delapan Koan-tai dari Hek- liong-hwe."

"Apa kerja dan tugas seorang Koan-tai?" tanya Kun-gi.

"Sesuai na manya, seharusnya Koan-tai me mimpin banyak orang, tapi Koan-tai dari Hek-lio ng-hwe kira2 setingkat dengan Houhoat, jabatan ini tidak terhitung rendah, tapi tidak punya tugas tertentu, semula jabatan ini hanya merupa kan simbo l dalam kalangan pemerintahan kerajaan, yang terang kedelapan Koan-tai seluruhnya dikerahkan bertugas di Ceng- liong-tong."

"Syukurlah kalau pa man Yong kenal dia, biar kubikin dia mendus in, Ling-toako bilang supaya engkau me mbujuknya, mungkin dia mau insaf dan bertobat, karena tidak secara suka rela menjadi antek musuh," kata Un Hoan- kun.

Yong King-tiong berpaling kepada Kun-gi, tanyanya: "Ling- kongcu ingin Losiu me mbujuk dia?"

Maka Kun-gi menjelaskan keadaan di dalam lorong2 se mpit yang simpang siur seperti sarang labah2, padahal orang2 Pek-hoa-pang terkurung di dalam dan tak bisa keluar, di samping dua temannya lagi yang disekap entah dimana. Kemungkinan Tu Hong-sing bisa bantu me mbereskan soal2 ini, jika dapat me mbujuknya, tentu segala urusan di sini tidak akan mengala mi kesulitan lagi.

Sambil mengelus jenggot Yong King-t iong manggut2, katanya: "Sebagai seorang dari tiga puluh enam panglima sudah tentu Losiu cukup kenal pribadi Tu Hong-sin, orang ini cupet pikiran dan sempit pandangan, tamak harta dan gila pangkat. apalagi sekarang sudah menjadi Koan-tai, jabatan tingkat keenam di istana raja, untuk me mbujuknya meninggalkan pangkatnya mungkin agak sulit."

Setelah menepekur sebentar akhirnya dia menambahkan: "Ada satu hal mungkin dapat me mbuatnya tunduk."

Un Hoan-kun lantas tertawa, katanya: "Wan-pwe tahu, Wanpwe punya cara supaya dia tunduk dan menyerah."

"Kau punya akal apa?" tanya Kun-gi heran.

"Setiap manusia yang gila pangkat dan tamak harta pasti takut mati," ujar Un Hoan-kun.

Yong King-tiong mengangguk, "Ucapan nona me mang betul." Un Hoan-kun t idak banyak bicara lagi, dia mendekati Tu Hong- sing, mendadak dia ulur dua jari tangannya yang lentik putih beruntun menutuk tiga Hiat-to Tu Hong-sing, lalu ia mengeluar kan satu botol kecil, dengan ujung kuku dia menga mbil bubuk obat terus dijentikan ke hidung Tu Hong-s ing.

Sungguh mujarab obat bubuk dalam botol kecil ini, begitu mencium bau obat itu, Tu Hong-s ing yang jatuh pingsan seketika berbangkis dua kali lalu me mbuka mata. Sebentar bola matanya berputar mengerling kian ke mar i, akhirnya melihat Yong King-tiong, Ling Kun-gi, Un Hoan-kun, seketika rona mukanya berubah, mendadak dia bangun berduduk. Begitu duduk baru dia sadar bahwa beberapa Hiat-to di tubuhnya telah tertutuk, kaki tangan hakikatnya tak ma mpu bergerak.

"Tu-heng, sudah siuman kau?" sapa Yong King-tiong.

"Syukurlah Yong-congkoan berada di sini," kata Tu Hong-sing sambil mengawas inya, "beberapa Hiat-toku tertutuk."-Ternyata betul dia manusia yang takut mati, berhadapan dengan Yong King- tiong, nada bicaranya seperti minta tolong dan mohon di kasihani.

Yong King-tiong berdiri kereng, katanya: "Apa-kah Tu-heng tahu bahwa Han Jan-to sudah ma mpus, sementara Cui Kin-in sudah merat setelah keok?" Tu Hong-sing ta mpak kaget, katanya: "Apa betul ucapan Congkoan?"

"Sejak kini aku bukan lagi Congkoan Hek-liong-hwe, maka Tu- heng jangan me manggilku Cong-koan, empat puluh tahun aku berkumpul di sini dengan Tu-heng, ma ka ingin kuberi nasehat, kita kan bangsa Han, sesama anggota Thay-yang-kau dan bersumpah setia di depan cakal-bakal, adalah tidak pantas rela menjadi antek dan cakar alap2 musuh.

Berubah hebat air muka Tu Hong-s ing, serunya dengan terbeliak kaget: "Yong-congkoan, kau telah berontak?"

"Betul, dulu bersa ma Tu-heng kita sama2 me ndapat kebaikan dan bimbingan Lohwecu, tapi sejak Hek-liong-hwe jatuh ke tangan musuh, maka kau lantas diperalat untuk menjadi algojo terhadap sesama pahlawan bangsa, kini t iba saatnya kita harus insaf dan bertobat, tidak pantas selalu tersesat dan diperalat, asal kau mau bekerja sama dengan kami, aku bertanggung jawab, pasti tidak akan me mbikin rugi kau seujung ra mbut."

Agaknya terjadi perang batin dalam benak Tu Hong-sing, la ma sekali dia sukar a mbil keputusan, kedua matanya mere m me lek, menepekur kebingungan.

Un Hoan kun tahu orang agaknya tengah mengerahkan hawa murni, maka dengan tertawa dingin dia mengejek: "Orang she Tu, ketahuilah, Hiat-to yang kututuk adalah ajaran khas keluarga Un dari Lingla m, kalau kau mengerahkan hawa murni ingin menjebo lnya, awas kalau tersesat dan malah celaka bagi jiwa mu."

Terbeliak Tu Hong-s ing, katanya ke mudian:

"Apa keinginan kalian?"

"Bergantung bagaimana sikapmu terhadap uluran tangan kami," jengek Un Hoan-kun.

"Cayhe sudah jatuh ke tangan kalian, mati hidupku berada di genggamanmu, me mangnya apa lagi yang dapat kulakukan?"

"Hanya ada satu jalan bisa kau te mpuh, yaitu tunduk akan ke mauanku. Nah, mati atau hidup terserah pada pilihanmu sendiri."

Tu Hong-s ing me lir ik ke arah Yong King-tiong, Yong King-tiong pura2 tidak me lihatnya, malah me lengos ke arah lain.

"Se mut saja ingin hidup apalagi manusia, daripada mat i, hidup sengsara juga mending. . ." demikian kata Tu Hong-sin. "Cuma Cayhe ingin tahu soal mati dan hidup tadi, kalau hidup bagaima na? Jika mati bagaimana pula?"

"Soal sederhana. Pertama, seperti yang dikatakan pa man Yong tadi, asal kau mau kerja sama dan tidak mengandung maksud jahat serta tidak berusaha melarikan diri lagi, setelah ka mi keluar dari Kun-lun-san, peduli kau akan berbuat jahat atau bajik, menjadi  lawan atau kawan, kami tetap akan melepas mu, soal kedua "

mendadak dia tutup mulut.

"Bagaimana dengan syarat kedua?" tanya Tu Hong-sing.

"Jalan kedua ialah kau harus tunjukkan keadaan di sini yang simpang siur, di mana pula kalian mengurung tawanan, kalau kau tidak mau menjelaskan, ka mi akan mengo mpes mu dengan kekerasan, menyiksa mu sa mpai mati bila kau t idak me njelaskan."

Terunjuk rasa ngeri pada rona muka Tu Hong-sing, kepala tertunduk, mulutnya berguma m sendiri: "Orang, she Tu sudah hidup sekian la manya, me mangnya harus mati di sini tanpa diketahui orang?"

"Me mangnya, setelah keluar dari sini, kami pasti melepas mu, dari pada kau mati tersiksa dengan sia2, bukankah sayang?" demikian bujuk Un Hoan-kun.

Tu Hong-sing angkat kepala mengawasi Un Hoan- kun, katanya: "Baiklah," coba kau katakan dulu cara bagaimana akan kerja sama itu?"

"Jadi kau sudah terima syaratku? Baik, apa yang dikatakan kerja sama ada dua hal. Pertama, kau menjadi pelopor menunjukkan jalan di sini, cari ke mbali orang2 Pek-hoa-pang yang tercerai berai di sini. Kedua, tunjukkan tempat tahanan, kami akan meno long dua sahabat Ling-toako."

"Hanya dua soal ini saja!" Tu Hong-sing menegas. "Betul," sahut Un Hoan- kun tegas.

"Baik, Cayhe terima se mua syarat itu, bukalah Hiat-toku."

"Paman Yong," tanya Un Hoan- kun kepada Yong King-tiong, "apakah o mongannya dapat dipercaya?"

Sambil me ngelus jenggot Yong King-tiong bergelak tertawa, katanya: "Sukar dikatakan, Losiu dengan Tu-heng dulu me mang sesama anggota tiga puluh enam panglima, tapi setelah dia menjadi cakar alap2, sukar dikatakan apakah dia dapat dipercaya atau tidak?"

Mengawasi Yong King-tiong, bukan kepalang marah Tu Hong- sing, pikirnya: "Yong King-t iong, kenapa tidak kau pikir, dulu kaupun menyerah kepada kerajaan sa mpai sekarang, aku paling2 menjabat Koan-tai kelas enam, kau orang she Yong justeru menjadi Congkoan dengan pangkat lebih tinggi buka mulut tutup mulut kau maki aku sebagai cakar alap2, me mangnya kau ini bukan cakar alap2?"

Sudah tentu hal ini tak berani dia ucapkan, terpaksa hanya menyengir saja, katanya: "Yong-loko, puluhan tahun kita bersahabat, masa kau tidak percaya padaku?"

Sebelum Yong King-t iong bersuara Un Hoan-kun mendahului menya mbung: "Yong- lopek yang kenal kau puluhan tahun juga masih sangsi terhadapmu, bagaimana aku berani percaya padamu?" Sampa i di sini mendadak dia merogoh keluar sebutir pil, katanya: "Begini saja, kau telan obat ini, nanti kubuka Hiat-tomu."

Tu Hong-s ing menatap tangan si nona sekejap, tanyanya: "Apakah obat beracun yang ada di tangan nona?"

Un Hoan-kun tertawa lebar, katanya: "Bukan, keluarga Un dari Linglam sela manya tidak pernah pakai obat racun, pil ini berna ma Sip-hun-wan. setelah kau minum, dalam jangka waktu dua belas jam kalau tidak mme mperoleh obat penawarnya, bila obatnya bekerja, orangnya akan menjadi linglung seperti orang gila yang kehilangan ingatan, segala-nya terlupakan, selamanya tak bisa diohati lagi."

"Jahat juga pil ini," kata Tu Hong-sing.

"Jangan kuatir, aku punya obat penawarnya," ujar Un Hoan-kun, "setelah kau telan Sip-hun-wan ini akan kuberikan sebagian obat penawarnya, kau akan tahan enam jam dalam keadaan segar bugar."

"Setelah enam ja m, harus minum obat penawarnya lagi?" tanya Tu Hong-sing. "Betul, enam jam kemudian, akan kuberikan lagi sisa obat penawarnya."

"Jadi maksud nona, setiap enam jam harus minum obat penawarnya?"

"Bukan begitu halnya, setelah enam ja m, khasiat obat penawar akan lunak, tergantung dari usaha bantuanmu, bila sebelum enam jam kita bisa keluar dari sini, kontan akan kuberi lagi obat penawarnya padamu."

"Itu berarti sebelum Cayhe mme mperoleh seluruh obat penawarnya harus sekuat tenaga melindungi kesela matan kalian."

Mengawasi Ling Kun-gi, Un Hoan-kun tersenyum manis, katanya: "Tak perlu kau melindungi aku, bersa ma dengan Ling-toako, siapapun jangan harap bisa melukai aku." - Dia bicara dengan jujur dan wajar, tapi siapapun bisa merasakan betapa besar cintanya terhadan Ling Kun-gi. .

Un Hoan-kun berkata lebih lanjut: "Baiklah, sudah kujelaskan seluruhnya, sekarang lekas kau telan obat ini."

Mengawasi obat di tangan Un Hoan-kun, se-saat Tu Hong-sing menjadi bimbang.

"Hiat-to mu tertutuk, sebetulnya aku tidak perlu me mbuang waktu dan banyak bicara dengan kau," kata Hoan-kun, mendadak tangan kirinya terulur jari2nya memencet geraham Tu Hong-sing sehingga mulut orang terbuka, sementara tangan kanan menjejalkan obat ke mulut orang, dia tepuk lagi sekali di belakang leher orang, lalu dengan kedua tangan dia menggablok pula kedua sisi pipinya.

Bahwa dirinya menjadi tawanan, hal ini sudah dianggap suatu penghinaan, hati Tu Hong-sing marah dan penasaran, tapi dia hanya berani marah dihati lahirnya dia seperti pasrah nasib, setelah Un Hoan-kun menge mbalikan geraha mnya seperti semula tanpa terasa dia berkata keras: "Nona ma na obat penawarnya?"

"Buat apa ter-gesa2, Sudah kujanji me mberi, nanti tentu kuberi," sembari bicara berbareng dia buka Hiat-to di badan orang, lalu menge luarkan dua butir pil warna merah serta diangsurkan, katanya: "Inilah ini obat penawarnya."

Tu Hong-s ing bergegas bangun, begitu terima obat langsung dia jejalkan ke dalam mulut, tapi sebelah tangannya dengan kecepatan kilat tahu2 menyambar pergelangan tangan Un Hoan-kun, sekuatnya dia tarik mundur pula tiga langkah. Badan orang dia buat tameng di depannya, bentaknya dengan bengis: "Siapa di antara kalian berani maju orang she Tu segera bunuh dia lebih dulu,"

Kejadian berlangsung terlalu cepat dan mendadak, Ling Kun-gi dan Yong King-t iong tak sempat bertindak, terpaksa mereka mende long mengawasi Un Hoan-kun di seret mundur oleh Tu Hong- sing.

"Tu Hong-sing, tidak salah bukan o monganku?" jengek Yong King-tiong, "barang siapa terima menjadi cakar alap2, jangan harap dapat dipercaya lagi."

"Terhadap kalian kaum pe mberontak ini, buat apa bicara soal kepercayaan segala?" de mikian ejek Tu Hong-sing.

Un Hoan-kun diam saja dan me mbiarkan urat nadi pergelangan tangannya dipegang serta diseret,   cuma   mulutnya   berteriak me lengking: " Apa yang hendak kau lakukan?"

"Budak manis," kata Tu Hong-sing sa mbil ce-ngar-cengir, asalkan kau serahkan seluruh obat penawarnya, aku akan ampuni jiwa mu."

"Jangan kau lupa aku ini orang dari marga Un di Ling- la m," kata Un Hoan- kun kale m.

Seperti diketahui keluarga Un dari Ling- lam terkenal sebagai keluarga pencipta obat bius di kalangan Kangouw, oleh karena itu orang2 Kangouw suka bilang: "Setiap anggota marga Un, sekujur badannya mengandung obat bius."

Pada saat itulah terdengar seorang menanggapi: "Tu-heng tutuk dulu Hiat-tonya." "Belum lenyap suaranya, serempak dari enam sudut pintu sana berbareng muncul enam laki2 seragam hijau yang menenteng pedang.

Kedua mata Yong King-tiong mencorong terang, hardiknya kereng: "Nyo Ci- ko, bagus sekali kedatanganmu."

Dalam pada itu, tiba2 terdangar suara "bluk" entah mengapa tiba2 Tu Hong-s ing terbanting jatuh se maput.

Orang yang muncul dari sudut kiri atas sana adalah laki2 setengah umur bermuka putih berperawakan sedang, dialah Nyo Ci- ko, salah seorang kepercayaan Cui Kin-in yang dia bawa dari kotaraja, Dari sorot matanya yang gemeredep dapatlah diketahui bukan saja Kungfunya tinggi, diapun seorang cerdik pandai yang bekerja dengan cekatan.

Baru saja Nyo Ci-ko muncul lantas melihat Tu Hong-sing terbanting roboh, keruan ia kaget, lekas dia me mbentak:,"Tida k lekas kalian me mbantunya?" - -Dua laki2 seragam hijau segera mengiakan dan menubruk ke arah Un Hoan- kun.

Un Hoan- kun menyeringa i, jengeknya: "Siapa berani maju?" - Sekali tangan berayun, segumpal asap segera menabur ke arah musuh.

Kedua orang berseragam hijau ini tadi sudah mendengar bahwa nona ini adalah anggota keluarga Un dari Lingla m, kini melihat orang menaburkan asap, sudah tentu mereka tak berani ayal, padahal mereka tengah menubruk maju, terpaksa menahan napas sambil mengere m sekuatnya luncuran tubuh serta menjejak balik ke belakang.

"Hihi, sungguh menggelikan, hanya segenggam pasir saja sudah bikin kalian ketakutan," demikian ejek Un Hoan- kun. Yang dia taburkan me mang segenggam pasir, tapi orang tak berani mende kati-nya lagi.

Un Hoan-kun tidak hiraukan orang banyak, dia keluarkan botol kecil, dengan kuku dia a mbil sedikit bubuk obat terus dijentikan ke hidung Tu Hong sing. Setelah berbangkis sekali Tu Hong-s ing lantas me mbuka mata dan kucak2 mata serta melo mpat berdiri.

Mengawasi orang, Un Hoan-kun tertawa geli, katanya: "Tu- tay- koantai, kau akan pegang tangan-ku lagi dan paksa aku menyerahkan obat penawarnya?"

Setelah mengala mi pahit getirnya baru Tu Hong-sing betul2 kapok, sekarang mana berani dia bertingkah pula? Apalagi dia sudah menelan Sip-hun- wan dan baru menelan dua butir obat penawarnya, jika Un Hoan-kun sampa i marah dan tak mau me mber i obat penawarnya kan diri sendiri bisa celaka malah?

Terhadap jiwa sendiri dia pandang jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini, maka dengan menyengir ia berkata: "Obat bius nona me mang lihay, Cayhe sudah kapok betul2, tadi kita sudah berjanji, ma ka harus sa ma2 ditepati, benar tidak?"

"Kau tidak usah kuatir, kalau dalam enam jam kita bisa keluar sini, pasti kuberi lagi e mpat butir obat pada mu. Tapi berada di sini, kau harus tunduk akan perintahku."

"Baiklah," Tu Hong-sing setuju.

Sekilas menger ling Un Hoan-kun berkata lirih pula: "Mereka akan segera turun tangan, mari kau ikut aku ke sana." - Lalu dia me langkah ke arah orang banyak,

Tu Hong-sing betul2 sudah kapok merasakan kelihayan obat bius Un Hoan-kun, kali ini dia betul2 tidak berani bertingkah pula, dengan jinak dia mengintil di belakang Un Hoan-kun.

Ternyata dalam sekejap ini keadaan sudah me munca k tegang, kedua pihak sudah sa ma2 me lolos pedang dan siap tempur. Kun-gi paling perhatikan kesela matan Un Hoan-kun, maka sejak tadi dia perhatikan gerak-gerik pihak lawan, kini setelah melihat Hoan-kun ke mbali dalam ro mbongan legalah hatinya. Yong King-tiong merupakan pemimpin ro mbongan, dia telah berhadapan dengan Nyo Ci-ko, mereka sedang saling cercah dan nista. Terdengar Nyo Ci-ko berkata lantang: "Yong King-tiong, pihak kerajaan me mberi pangkat setinggi itu pada mu, ternyata kau berani menghasut orang dan berbuat jahat untuk me mberontak?"

Yong King-tiong tergelak2, katanya: "Nyo Ci-ko, kau juga bangsa Han, kau lupa asal usul leluhur, bangsat kau angkat jadi ayah, kaulah yang khianat dan me mberontak. Ketahuilah, Hek- liong- hwe adalah milik Thay-yang-kau, dua puluh tahun kalian kangkangi dan kuasai, menjadi alat kerajaan untuk me mberantas sesama golongan Kangouw,"

Setiap orang Bu-lim yang berdarah patriot patut menghukummu, kini Han Jan-to si durjana penjual Hek-liong-hwe sudah ma mpus mene mbus dosa-nya, cukong kalian Cui Kin-in utusan istana raja juga sudah melar ikan diri, dengan kekuatanmu Nyo Ci- ko me mangnya bisa berbuat apa, Lohu malas bergebrak dengan kau, lebih baik kau menyerah saja"

Han Jan-to sudah ma mpus, Cui Kin- in melar ikan diri, dua kalimat ini sungguh me mbikin darah Nyo Ci-ko tersirap, me lihat sikap Yong King-tiong jelas bukan me mbual. Tapi kejap lain dia merasa ganjil pula, me mangnya Yong King-tiong dan pe muda jubah hijau ini dapat menandangi Cui Kin- in? Apalagi Cui Kin- in masih dida mpingi seorang La ma kasa merah yang me miliki ilmu Yoga tingkat tinggi tiada tandingan. Lekas sekali otaknya bekerja, akhirnya dia tertawa keras, "Yong king-tiong, jangan kau me mbual, kalian sudah masuk ke daerah terlarang Ceng-lio ng-tam, me mangnya mas ih ingin keluar."

Ternyata tempat ini berna ma Ceng-liong-tam.

"Baik, tiada gunanya putar lidah, mar ilah kita tentukan dengan kepandaian saja." - "Sreng", Yong King-tiong lantas me lolos pedang.

Ling Kun-gi me langkah maju setindak, katanya: "Paman Yong, me mbunuh ayam masa pakai golok? Biar Wanpwe saja yang menghadapinya."

"Tunggu sebentar, Ling-toako," seru Un Hoan- Kun. "Ada apa Hoan- moay?" tanya Kun-gi sa mbil berpaling.

"Apakah orang she Nyo ini setimpa l menjadi lawanmu?" ucap Hoan-kun tertawa, "kupikir biar saudara Tu saja yang menjajalnya bebarapa jurus." - Lalu sambil me mbetulkan sanggulnya Un Hoan- kun berpaling, katanya: "Saudara Tu, babak pertama ini terpaksa kau saja yang menghadani orang she Nyo beberapa jurus."

Karena jiwa sendiri tergenggam ditangan orang, Tu Hong-sing tak berani me mbangkang, terpaksa dia melolos pedang dan maju ke hadapan Nyo Ci-ko.

Sudah tentu Nyo Ci ko naik darah, matanya mendelik tajam mengawasi Tu Hong-sing, bentaknya: "Kau kenapa Tu Hong-sing? Me mangnya kau sudah ter-gila2 oleh pere mpuan siluman itu?"

Tu Hong-sing menjura, katanya: "Lapor Cong-koan, hamba baik2 saja."

Ternyata Nyo Ci-ko adalah Congkoan yang berkuasa di Ceng- liong-ta m ini. "Baiklah, kau minggir saja ke samping," teriak Nyo Ci- ko.

Tu Hong-s ing menyengir, katanya: "Maaf Cong-koan, aku terpaksa oleh keadaan "

Nyo Ci-ko betul2 kaget, hardiknya: "Kau juga mau berontak?"

Keringat menghiasi jidat Tu Hong-sing, katanya: "Aku disuruh menelan Sip-hun- wan dari ke- luarga Un, terpaksa harus menurut perintahnya."

"Orang she Tu, buat apa putar bacot me lulu? Hayo labrak dia, kalau hari ini kau biarkan dia lolos, setelah keluar dari sini apa dia mau menga mpuni jiwa mu?" demikian desak Hoan-kun.

Seperti dipalu jantung Tu Hong-s ing, katanya mengertak gigi: "Betul, Nyo-congkoan, kecuali mengadu jiwa dengan kau tiada jalan lain bisa kupilih." - "Cret", kontan dia menusuk lebih dulu.

Gusar Nyo Ci-ko, "trang", sekali tangan me mbalik dia tangkis pedang Tu Hong-sing, teriaknya beringas: "Tu Hong- sing, mereka hanya berapa orang, berapa lama lagi mereka kuat bertahan di tempat terlarang ini? Kenapa kau ga mpang dihasut kaum pemberontak?"

Tu Hong-s ing menarik pedangnya, katanya sambil menggeleng2: "Tidak mungkin, kalau aku tidak mme mperoleh obat penawar, hidupku takkan sa mpai besok."

"Kau tunduk pada pe mberontak, me mangnya hari ini kau bisa hidup?" bentak Nyo Ci- ko. Sembari angkat pedang ke mbali dia me mbentak: "Hayo kalian maju, ringkus beberapa pe mberontak ini?"

Pada setiap sudut pintu itu berdiri seorang laki2 seragam hijau yang menghunus pedang, jelas mereka mendengar perintah Congkoan, tapi mereka tetap berdiri tegak, tiada satupun yang bergeming.

Keruan Nyo Ci-ko semakin murka, mukanya me mbes i hijau, bentaknya: "Kalian sudah ma mpus, Hayo sikat mereka!"

Hoan-kun tertawa tawar, katanya:   "Walau   mereka   belum ma mpus, tapi mereka takkan mau turut perintahmu lagi."

Seperti disengat lebah Nyo Ci-ko tersentak mundur, serunya gusar: "Apa yang kau lakukan terhadap mereka?"

"Betul, mereka terkena obat biusku, sengaja kusisakan kau seorang, supaya saudara Tu ini bisa me mbereskan kau."

Serasa pecah nyali Nyo Ci-ko, tapi lahirnya dia tetap beringas, katanya mendesis: "Perempuan siluman, keji juga cara kerjamu." - Mulut bicara kepada Un Hoan-kun, "Wuut", tiba2 tangan kiri menghanta m ke arah Tu Hong-s ing, berbareng ke-dua kaki menjejak tanah terus melejit mundur ke arah salah satu pintu.

Kejadian sebetulnya amat cepat dan mendadak apalagi serangan kepada Tu Hong-sing cepat sekali sehingga dia tak mungkin mer intangi, dia pikir dengan mudah dapat lari masuk ke balik pintu sana. Sekali dia berada di lorong gelap itu, jalan yang simpang siur di sana lebih me mudahkan melar ikan diri. Tak tahu baru saja dia bergerak, didengarnya Kun-gi me mbentak keras: "Lari ke mana kau?" -Dari kejauhan tangan kirinya menghanta m.

Serangkum tenaga dahsyat seketika timbul dari tepukan telapak tangannya, sasaran pukulannya ternyata tidak langsung ditujukan pada Nyo Ci-ko, tapi me nuju ke pintu yang terletak kira2 lima kaki di belakangnya.

Lwekang Ling Kun-gi a mat tangguh, pengala man te mpur sela ma ini mena mbah banyak perbendaharaan menghadapi musuh, pukulan yang dilancarkan ini sungguh tepat perhitungan waktunya, dikala tenaga pukulannya menerjang ke depan pintu, badan Nyo Ci- ko yang mundur ke belakang itupun kebetulan melejit turun.

Sebagai Siwi kelas tiga istana raja, sudah tentu Kungfu Nyo Ci-ko tidak rendah, waktu badannya melejit mundur, terasa adanya kesiur angin mencur igakan di belakang, lekas ia menarik napas, badan yang terapung di udara itu secara mentah2 lantas berputar kearah kiri, tangan kiri yang se mula melindungi dada secepat kilat terayun keluar.

Reaksinya cukup cepat,   ayunan   tangannya   kebetulan mengge mpur sa mping tenaga pukulan Ling Kun-gi yang menerjang ke pintu sudut, begitu dua tenaga saling terjang, karena dia me lancarkan pukulan waktu badan masih terapung, seketika ia terpental mundur beberapa langkah. Tapi hal ini sudah dalam perhitungannya, tujuannya untuk meluputkan diri dari terjangan telak pukulan Ling Kun-gi, ma ka badannya cuma terpental beberapa kaki lantas dapat berdiri tegak pula. Tapi hanya sekali adu pukulan saja dia sudah mme mpero leh bukti bahwa Lwekang pe muda ini sungguh tidak kepalang tingginya, betul2 di luar dugaannya.

Sekali adu pukulan ini, terasa juga oleh Ling Kun-gi bahwa Nyo Ci ko adalah mus uh tangguh, Nyo Ci-ko yang melejit, mundur dan keterjang angin pukulan, umpa ma dia kuat bertahan juga pasti akan kerepotan, tapi kenyataan dikala angin pukulan ha mpir mengena i dirinya, badan yang masih terapung itu mendadak masih se mpat berputar sembari balas me mukul sekali, dengan daya bentrokan pukulan itu dia me mbal mundur menyelamatkan diri, jelas tak mungkin dilakukan. Untung setelah me lancarkan sekali pukulan jarak jauh, Kun-gi tidak menyusuli lagi dengan pukulan la in.

Sambil mengelus jenggot Yong King-t iong tergelak2 dengan menengadah, katanya:, "Nyo Ci-ko, tentunya kau sudah dapat me mperhitungkan situasi di depan mata, kalau tidak mau menyerah, untuk bisa keluar dengan sela mat, sukarnya seperti manjat ke langit."

Wajah Nyo Ci-ko ,yang semula putih, halus kini me mbara kela m, pedang di tangan dibolang- balingkan, bentaknya bengis: "Yong King-tiong, beranikah kau perang tanding me lawanku?"

"Belum lagi kau bertanding me lawan saudara Tu ini," de mikian sela Un Hoan-kun, "Kau sudah berusaha lari, kini berani kau menantang pa man Yong?"

Bahwa Tu Hong sing masih bimbang adalah karena Nyo Ci-ko berpangkat Siwi kelas tiga, kalau dirinya ingin mera mbat ke atas, sekali2 tidak boleh berbuat salah padanya. Tapi kenyataan jauh berbeda. Dari nada Yong King-tiong dia yakin bahwa Nyo Ci-ko sudah tiada harapan keluar dan lolos dengan sela mat. Bahwa Nyo Ci-ko sudah bukan merupa kan anca man baginya, apalagi pihak Yong King-tiong sudah menguasai keadaan, kalau sekarang tidak lekas turun tangan, tunggu kapan lagi?

Maklumlah, bagi seorang ta mak yang selalu me mikirkan pangkat dan mengejar kedudukan, tiada yang tidak ma in licik dan selalu me mungut keuntungan dikala lawan kepepet, demikian juga keadaan Tu Hong-sing sekarang.

Apalagi diumpak oleh o mongan Un Hoan- kun, sambil me mutar pedang, segera dia melangkah maju, dengan me masang kuda2 dan pedang menuding ke depan, dia berkata: "Nyo-congkoan, aku dipaksa oleh keadaan, terpaksa menyalahi kau, silakan."

"Baik, sekongkol dengan pe mberontak sa ma dosanya, orang she Nyo akan mula i menjagal kepala mu lebih dulu," - Sreet, cepat sekali pedangnya menyabat. "Bagus," sa mbut Tu Hong-s ing, Mendadak tubuhnya berputar ke pinggir Nyo Ci-ko, pedang lantas menyerang dengan tipu Kim-tau- jan-ci (garuda emas pentang sayap), sinar pedangnya tahu2 laksana kilat menyerampang dan menusuk le-ngan dan pundak.

Tapi gerak Nyo Ci- ko a mat tangkas dan gesit, setiap pedang bergerak, posisi kakinya selalu berubah, sebat sekali pedangnya me mba lik me matahkan serangan lawan. "Trang", dua pedang beradu, keduanya sama2 tergentak mundur selangkah.

Tu Hong-sing rasakan telapak tangannya pedas linu, pedangnya tertolak balik, dia m2 ia terkejut. Mulut Nyo Ci-ko menjengek, mendadak dia balas merangsak, pedang berputar dengan kencang menge mbangkan serangan gencar, beruntun dia menusuk lima kali. Sudah tentu Tu Hong-sing tidak mau kalah, iapun ke mbangkan ilmu pedang andalannya dan balas menyerang serta me mpertahankan diri dengan rapat, sekaligus lima tusukan lawan dapat dia tangkis, ma lah se mpat balas menyerang tiga kali.

Tujuan Nyo Ci-ko ingin secepatnya mengakhir i pertempuran, maka begitu berpencar lantas menubruk maju pula dengan serangan lebih keji.

Setelah bentrok pendahulnan tadi, kini kedua-nya sama tidak berani me mandang enteng lawan, Nyo Ci-ko menge mbangkan ilmu pedang ajaran Tiang-pek-pay, gerak pedangnya mengutama kan keras dan kencang, setiap pedang menyamber laksana naga menga muk dan seperti elang berputar di udara hendak menubruk mangsanya, perbawanya cukup meyakinkan.

Ilmu pedang Tu Hong sing justru berbeda, dia menge mbangkan gerak lincah dan tangkas disertai perubahan yang berbelit2, sekujur badannya seperti terbungkus oleh cahaya sinar pedang.

Lekas sekali pertempuran sudah berlangsung tiga sa mpai lima puluh jurus. Semula Nyo Ci-ko terlalu mengagulkan diri dan percaya akan tingkat ilmu pedangnya, dia anggap Tu Hong-s ing sebagai anak buahnya, gampang dan pasti bisa dirobohkan. Apalagi dia ingin lekas mengakhir i pertempuran, maka serangannya selalu mendahului dan t idak segan2 mene mpuh bahaya untuk merobohkan lawan.

Tak tahunya Tu Hong sing cnkup cerdik, gerak geriknya lincah dan tangkas, penjagaanpun ketat, setelah lima puluhan jurus, bukan saja Nyo Ci-ko t idak berhasil menarik keuntungan, ma lah beberapa kali karena terburu nafsu hampir saja dia dilukai pedang Tu Hong- sin, keruan ia se makin gelisah, marah dan gugup, pula.

Nyo Ci-ko tidak tahu bahwa Tu Hong-sing hakikatnya jauh lebih payah daripada dia.. Ilmu pedang Tu Hong-s ing me mang lincah dan banyak perubahan, tapi Lwekangnya lebih rendah, untuk bertahan sekian la ma ini dia sudah keluarkan seluruh kekuatannya, apalagi setiap kali dua senjata beradu, selalu dia rasakan dadanya seperti digodam oleh getaran keras yang timbul dari benturan senjata itu. Maka dia harus bertahan mati2an, demikianlah tiga puluh jurus telah berselang pula.

Kini baru Nyo Ci- ko melihat meski ilmu pedang Tu Hong-sing tidak le mah, tapi Lwekang orang bukan tandingannya. Penemuan ini seketika mena mbah keyakinan Nyo Ci-ko dan mengobar kan semangat tempurnya, sambil tertawa dingin, gerak pedangnya tiba2 berubah, diam2 dia kerahkan tenaga dalam sehingga batang pedangnya diliputi tenaga murni yang hebat.

"Trang," ke mbali dua senjata beradu, meski Tu Hong-sing berhasil menahan beberapa kali rangsakan lawan, tapi dia sendiripun ditolak mundur beberapa langkah. Dengan hasil itu sudah tentu Nyo Ci-ko semakin senang, ia mengejek : "Ingin kulihat berapa jurus pula kau kuat bertahan?"

Hanya beberapa gebrak lagi Tu Hong-sing telah terdesak di bawah angin, serangan Nyo Ci ko se ma kin gencar, pedangnya hanya naik turun menangkis dan bertahan belaka.

Kini setiap serangan setiap jurus, kedua pedang selalu beradu "trang-tring" dengan keras, sudah tentu la ma kela maaa Tu Hong- sing kehabisan tenaga, keringat sudah me mbasahi badan, langkahnya menyurut mundur, boleh dikatakan dia sudah tidak ma mpu balas me nyerang lagi.

"Toako," kata Hoan-kun lirih, "Tu Hong- sing sudah tidak becus lagi, lekas kau turun tangan."

"Tidak apa," sabut Kun-gi "dia masih kuat bertahan tiga jurus lagi."

Di sini tengah bicara, di sana terdengar pula benturan pedang, "bret", lengan baju kiri Tu Hong-sing terbabat robek oleh pedang Nyo Ci- ko.

Tu Hong-sing ta mpak kaget serta melo mpat mundur. Mendadak Nyo Ci-ko juga me nubruk maju, pedangnya ke mbali menyapu miring. Lekas Tu Hong-sing angkat pedang menangkis, "trang", lengan kanan seketika terasa ke meng, pedangnya terpental pergi. Sudah tentu pertahanannya menjadi terbuka lebar.

Mata Nyo Ci-ko tampak merah me mbara, tanpa bersuara pergelangan tangannya memutar sambil menggentak pedang, selarik sinar terang laksana kilat menya mber tahu2 menusuk lurus ke dada orang.

Pada detik2 menentukan itulah, tiba2 Nyo Ci-ko merasakan adanya kesiur angin tajam di sebelah seperti ada orang melejit tiba. Belum lagi dia se mpat berpikir, tiba2 terasa pergelangan tangan kanan mengencang dan sakit, tahu2 sudah terpegang oleh orang, disusul segulung tenaga raksasa menyalur ke luar telapak tangan orang itu, sehingga kelima jari sendiri yang me megang pedang menjadi kendur, tanpa kuasa dia kena disengkelit jungkir- balik ke belakang.

Kejadian seperti dalam impian belaka, belum lagi dia melihat jelas bayangan orang, tahu2 dirinya sudah terbanting jatuh.

Tapi jelek2 Nyo Ci-ko adalah jago kosen dari istana raja, Kungfunya tinggi, dengan daya sengkelitan lawan, sigap sekali ujung pedangnya menutul bumi, kedua kaki me mbalik terus hinggap ditanah dan berdiri tegak. Waktu dia angkat kepala, ternyata Ling Kun- gi sudah berdiri dihadapannya dengan sikap gagah.

Nyo Ci-ko tidak tahu siapa pemuda jubah hijau ini? Hatinya kaget dan gusar pula, me lihat anak muda ini bertangan kosong, ma ka kumatlah a marah-nya, sekali ia menghardik, "Wut", pedang menyapu kencang dengan deru keras. Serangan yang dilancarkan diburu ke marahan ini sudah tentu tidak kepalang hebatnya, sinar pedang menjulur panjang, dia kira lawan bertangan kosong tentu sukar mengegos. Jika lawan dapat dibabat kutung sebatas pinggang bukankah terla mpias penasarannya?

Tak nyana begitu pedangnya menyapu, ternyata menabas tempat kosong, berapa licin dan lincah gerakan tubuh Ling Kun-gi, entah bagaimana telah berkelit pergi? Tapi kenyataan dia masih berdiri di tempat semula, tidak kelihatan menggeser kaki barang satu sentipun.

Nyo Ci-ko melenggong, sungguh dia tidak habis percaya, selama tiga puluh tahun dia meyakinkan ilmu pedang, tapi lawan muda bertangan kosong ini tak ma mpu menyentuh ujung pakaiannya, sedangkan musuh2 tangguh mas ih berada disekelilingnya, anak buahnya mati kutu oleh obat bius perempuan siluman itu, kalau dirinya tidak menyerang dengan sergapan mendadak, sedikitnya dua tiga orang harus dirobohkan baru bisa meloloskan diri, kalau tidak hari ini pasti gugur dite mpat ini.

Karena itu tanpa ayal pedang ke mbali bekerja, "sret, sret" dua kali, ia me mbelah dan me mbacok, Kali ini Nyo Ci-ko dapat menyaksikan dengan jelas, pada jurus serangan pertama, Ling Kun- gi tampak sedikit miring ke sa mping, sinar pedang menyerempet lewat sisi kanan badannya.

Jurus kedua sudah tentu lebih cepat lagi, sasarannya adalah badan sebelah kiri di mana kebetulan Kun-gi sedang berkelit ke kiri juga, tapi badan Kun-gi seperti bermata saja, belum lagi pedang lawan menyerang tiba, badannya kembali bergontai miring ke samping sehingga serangan kedua kembali mengena i tempat kosong. Nyo Ci-ko sungguh kasihan, seperti berhadapan dengan setan, sejak dia malang melintang di Kangouw belum pernah dia melihat lawan dengan gerakan tubuh seaneh dan ajaib begini, sesaat dia me lenggong kaget tidak tahu apa pula yang harus dia lakukan.

Mendadak Kun-gi tertawa panjang, tangan kanan terangkat, tahu2 tangannya sudah pegang sebilah pedang panjang empat kaki, ujung pedang me nuding ke arah Nyo Ci- ko, katanya lantang: "Orang she Nyo, kalau sekarang kau turunkan pedang dan menyerah, paling2 aku me munahkan kepandaian silat mu, jiwa mu tetap boleh dia mpuni, kalau berani "

Nyo Ci-ko sudah nekat, dengan mendelik dia me mbentak: "Biar tuanmu adu jiwa denganmu."

Kembali pedang berputar, kali ini me mancarkan bint ik sinar berkelip bagai bintang terus menusuk.

Kun-gi tertawa dingin, pedangnya menyilang balik dan "trang", sengaja dia mengetuk batang pedang Nyo Ci- ko. Kontan lengan kanan Nyo Ci-ko, terasa kemeng, jarinya kesakitan luar biasa, pedangpun tak kuasa dipegang lagi dan "trang", jatuh ke tanah.

Ujung pedang Kun-gi yang kemilau tahu2 sudah menganca m tenggorokan Nyo Ci-ko, katanya dengan menjengek: "Orang she Nyo, apa pula yang ingin kau katakan?"

Nyo Ci-ko tidak bersuara, dia pejamkan mata.

Yong King-t iong melihat gelagat jelek, lekas dia melo mpat maju dan menutuk beberapa Hiat-to di tubuh orang, la lu dengan keras dia pencet geraham Nyo Ci- ko, tampa k darah hitam kental mele leh dari ujung mulutnya.

Yong King-tiong me mbant ing kaki, katanya gegetun: "Keparat ini bunuh diri dengan menelan racun." Waktu dia lepaskan pegangannya, badan Nyo Ci-ko lantas roboh tersungkur.

"Lihay benar racun yang dia gunakan," seru Hoan-kun bergidik. "Itulah racun khusus yang di buat oleh istana, cukup menjilat dengan ujung lidah dan ma lam pembungkusnya akan pecah, racun akan segera bekerja dan jiwapun me layang seketika. Losiu agak lena sehingga dia se mpat bunuh diri."

Melihat Nyo Ci- ko mati mene lan racun, dia m2 Tu Hong-sing merasa lega, lekas dia maju mende kat dan berjongkok di pinggir tubuh orang, ia merogoh kantong orang, lalu dikeluarkan tiga biji uang emas terus diangsurkau kepada Yong King-tiong, katanya: "Yong-congkoan, inilah kun-ci untuk me mbuka pintu batu Ceng- liong- tam, harap engkau suka terima."

Yong King-tiong menerima ketiga mata uang itu, bobotnya ternyata lebih berat daripada mata uang umumnya, lebih tebal dan kadar emasnya juga lebih murni, maka dia bertanya: "Pintu batu Ceng-liong-ta m? Di mana letak Ceng-liong-ta m?"

Sebagai Hek-liong-hwe Congkoan, ternyata dia tidak tahu menahu adanya Ceng-liong-ta m.

"Ceng-liong-ta m berada di tempat tahanan tawanan Ceng-liong- tong, yang dikurung di sana se muanya adalah pesakitan penting . . . "

Sebelah tangan mengelus jenggot, Yong King-tiong bertanya heran: "Sebagai Hek-liong-hwe Cong- koan, kenapa Lohu tidak tahu akan hal ini?"

"Ceng-liong-ta m dibangun di bawah pimpinan Nyo Ci-ko setelah kedatangan Cui-congka m, tempat sekitar sini dina makan Ceng- liong-ta m, Nyo Ci-ko adalah Congkoan daerah terlarang ini."

"Coba terangkan, dimana letak ka mar batu itu?" "Letaknya tepat di bawah ruangan segi enam ini" "Cara bagaimana untuk turun ke bawah?"

Untuk me mbuka pintu pertama harus dilakukan enam orang sekaligus, keenam kursi batu di sini, berbareng didorong ke tengah sampai masuk ke bawah meja, pintu akan segera tampak." "Yong King-tiong berpaling, pihaknya ada lima orang, ketambahan Tu Hong-sing kebetulan enam orang, maka dia berkata: "Kebetulan kita ada enam orang, marilah kita kerja bersama."

Un Hong - kun me lir ik kelima orang yang di biusnya itu, katanya: "Paman Yong, bagaimana kelima orang ini?"

"Biarlah, kita bereskan dulu urusan di bawah, setelah berhasil meno long orang baru putuskan nasib kelima orang ini."

Maka di bawah pimpinan Yong King-tiong, Ling Kun-gi, Un Hoan- kun, Siau-tho, jago pedang baju hitam serta Tu Hong-s ing, enam orang masing2 pegang satu kursi, di bawah aba2 Yong King-tiong serempak mere ka mendorong kursi batu ke tengah.

Kalau seorang diri hendak mendorong keenam kursi ini secara bergantian tidak mungkin, karena kursi batu ini seperti berakar di dalam bumi, tapi bila sekaligus didorong keenamnya, aneh me mang, dengan mudah kursi bergeser maju masuk ke bawah meja. Pada saat lain terdengar suara gemuruh, meja bundar bersa ma keenam kursi batu itu tiba2 bergerak dan pelan2 a mbles ke bawah.

"Yong-pongkoan," lekas Tu Hong-sing menjelaskan, "meja bundar ini, adalah alat angkut naik turun ke kamar batu di bawah, sekaligus enam orang bisa turun bersama, setelah meja bundar ini sejajar dan rata dengan lantai baru kita boleh beranjak ke tengah meja."

"Baiklah, " Yong King-tiong berkeputusan, "Ling-kongcu bersa ma Losiu dan Tu-heng. bertiga turun lebih dulu, nona Un harap tunggu dan jaga di atas saja."

Tengah bicara meja itupun sudah rata sejajar dengan lantai, Yong King-tiong lantas mendahului me langkah keper mukaan meja diikuti Ling Kun-gi dan Tu Hong-sing.

Semula meja bergerak la mban, tapi setelah dimuati tiga orang, ternyata daya amblesnya semakin cepat. Un Hoan-kun merasa kuatir, sengaja ia ang-kat obor menerangi ke bawah, ia berdiri di pinggir lubang bundar dan me longok ke bawah"

Ling Kun-gi keluarkan Le- liong-cu, dia amati keadaan sekelilingnya, tempat di ma na meja itu me lorot turun bentuknya mirip sebuah sumur, mereka bertiga terus dibawa turun ke bawah. Tak la ma kemudian me ja itu sudah berada di tengah2 sebuah ka mar batu, lalu berhenti sendiri.

Dia m2 Kun-gi me mperhitungkan jarak turun meja dari atas kira2 ada sepuluhan to mbak dala mnya.

"Sudah sampai," kata Tu Hong-sing mendahului melo mpat turun, "Silakan kalian turun."

Yong King-tiong cukup cer mat dan hati2, setelah Tu Hong-sing me lo mpat turun di lantai baru dia ikut me lo mpat turun. Kini mere ka berada di sebuah ka mar batu segi e mpat, luasnya ada lima enam tombak, tapi kecuali meja bundar yang turun dari atas bersama kursinya, keadaan di sinipun kosong melo mpong tiada perabot lainnya.

Setelah melo mpat turun Tu Hong-sing bergegas maju menarik sebuah kursi dan dipindahnya keluar terus menduduki kursi itu.

"Tu-heng, apa yang kau lakukan?" tanya Yong King-tiong, Dia m2 dia sudah kerahkan tenaga pada telapak tangan kiri, bila Tu Hong- sing menunjukkan gerak-gerik yang mencuriga kan, segera dia akan me mukulnya ma mpus.

Tu Hong-s ing tertawa getir, katanya: "Jiwaku sudah tergenggam di tangan nona Un, sementara Cayhe sendiri belum ingin mati, meja batu ini setelah turun ke bawah, jika kursi ini tidak segera dipindah, dia akan bergerak naik sendiri pula, bila begitu kecuali di atas ada enam orang sekaligus mendorongnya pula dan menunggu lagi meja ini turun, kalau tidak kita sela manya tidak akan bisa naik ke atas."

"O, begitu," ucap Yong King-tio ng. Lalu diapun menarik sebuah kursi serta diduduki, tanyanya:

"Ka mar batu ini tiada pintu, cara bagaimana bisa terbuka?" "Di sini ada tiga lapis pintu, Yong-congkoan sudah empat puluh tahun berada di Hek-liong-hwe, berbagai pintu batu yang terpasang di lorong2 itu pasti sudah apal sekali, demikian juga untuk me mbuka ketiga lapis pintu di sini, setiap orang Hek-liong- hwe cukup angkat tangan saja untuk me mbukanya "

"Lalu untuk apa ketiga keping mata uang e mas ini?" tanya Yong King-tiong.

Tu Hong-sing tertawa, katanya: "Ini untuk menjaga bila di dalam Hek-liong-hwe ada pengkhianat atau mata2 musuh, atau para tawanan penting Hek-liong-hwe yang berani menyelundup ke mar i untuk meno long orang, tentu dia pikir akan bisa me mbuka pintu di sini, tapi diluar tahunya dengan caranya itu sekaligus akan menyentuh alat rahasia yang merupakan perangkap keji, hujan anak panah atau senjata rahasia lainnya akan terjadi, meski orang yang me mbuka pintu me miliki kepandaian setinggi langit juga jangan harap bisa lolos dari mara bahaya."

"Keji benar perangkapnya," dengus Yong King-tiong, "apa pula gunanya ketiga keping mata uang mas ini?"

"Untuk menjaga supaya alat perangkap itu bekerja, sebelum kita menekan to mbol me mbuka pintu, kita harus masukkan dulu sekeping uang mas ini, alat rahasia itu dibikin bungkam barulah dengan leluasa pintu terbuka dan kita bisa masuk dengan sela mat:" "

"Di depan Lohu, kuharap Tu-heng tidak bertingkah me lakukan sesuatu yang me mbahayakan jiwa mu sendiri," demikian ancam Yong King-tiong.

"Untuk ini Yong-congkoan tak usah kuatir, tadi sudah kubilang, aku belum ingin mati," demikian Tu Hong-sing me mberikan janjinya.

"Syukurlah kalau kau tahu diri," ucap Yong King-tiong.

Lalu kepingan uang emas terus diangsurkan kepada Tu Hong- sing, katanya: "Baiklah tolong Tu-heng melakukannya, bukalah ketiga lapis pintu itu satu persatu." Tu Hong-sing terima ketiga keping uang mas itu dengan tertawa, katanya: "Yong-congkoan terlalu banyak curiga."

"Itulah yang dina makan lebih baik berhati2 menjaga segala ke mungkinan, watakmu Lohu cukup tahu."

Tu Hong-s ing angkat pundak, katanya: "Yong-congkoan tidak percaya padaku, ya, apa boleh buat." - Sekali tarik dia putuskan tali emas yang merenteng uang e mas itu la lu dia mengha mpiri dinding di sebelah depan.

Yong King-tiong segera berdiri, tangan terangkat siap siaga, tenaga sudah dia pusatkan pada kedua telapak tangan, setiap waktu siap melontarkan pukulan.

Tanpa ayal Ling Kun-gi juga ikut maju me ndekat. Tiba di kaki dinding, Tu Hong-sing berkata:

"Ka mar batu di sini untuk mengurung orang2 yang lebih penting dan berkedudukan tinggi, semuanya ada dua kamar, tempatnya juga lebih nya man, di sini pesakitan tidak perlu diborgol, karena berada di kamar ini mes ki punya kepandaian juga jangan harap bisa lolos keluar."

Sembari bicara iapun berjongkok. Ternyata di bawah dinding ada sebuah garis lubang kecil, kalau tidak dia mati sukar dite mukan. Tu Hong-sing masukkan sekeping uang e mas itu ke lubang se mpit itu, terdengar suara "tring" di dalam dinding, lalu tak terdengar apa2 pula. Tu Hong-sing berdiri tegak lalu menekan dua kali pada bagian dinding, maka ta mpak dua daun pintu pelan2 terpentang.

Di balik pintu batu itu terdapat dua kamar yang berjeruji besi sebesar lengan bayi di bagian depannya, tempatnya tidak begitu besar, tapi di dalam ada dipan, meja kursi, bentuk kedua ka mar ini sama, tapi tiada penghuninya.

"Tu-heng, di sini t iada orang," ucap Yong King-t iong.

"Tadi sudah kujelaskan, kamar ini khusus untuk mengurung orang2 penting, sudah tentu sekarang tiada penghuninya, tapi aku ingin me mbukanya dan tunjukkan pada kalian," sembari bicara dia tutup pula daun pintu seperti sedia kala.

"Bagaimana dengan ka mar lainnya?" tanya Yong King-tio ng.

"Dua ka mar di kedua samping ini adalah ka mar tahanan biasa, lelaki di sebelah kiri, kanan untuk kaum wanita."

"Coba kau buka dulu pinto sebelah kanan," kata Kun-gi.

"Apakah kedua sahabat Ling-kongcu adalah pere mpuan?" tanya Tu Hong-sing.

"Benar," sahut Kun-gi.

Tanpa bicara lagi Tu Hong-sing mendekati dinding, lalu menceploskan sekeping mata uang ke dalam lubang se mpit, lalu menekan to mbol dan me mbuka pinto. Baru saja daun pintu terbuka, dari dalam lantas terdengar suara nyaring galak orang sedang me ma ki: "Cis, kalian bangsat keparat, kawanan anjing buduk, me mangnya kalian bisa berbuat apa pada nonamu? Akan datang suatu ketika nonamu bikin hancur sarang kalian ini, satu persatu kuse mbelih kalian . . . . . . " agaknya nona yang me maki dengan menerocos nyaring ini bukan saja galak tapi juga binal, meski me ma ki orang tapi suaranya kedengaran merdu.

Tanpa melihat orangnya, mendengar suaranya, Kun-gi lantas tahu bahwa yang mencaci maki ini adalah Pui Ji-ping. Seketika perasaan Ling Kun-gi jadi bergolak, dia lekas berteriak: "Ping- moay, inilah aku datang menolongmu, apakah kau berada sama nona Tong?" - Dengan Le liong cu diangkat ke atas cepat dia masuk ke dalam.

Di balik pintu sudah tentu adalah ka mar tahanan berjeruji besi pula, cuma ka mar tahanan di sini tiada dipan, juga tidak ada meja kursi. Di ka mar depan terkurung tiga nona, rambut ta mpa k semrawut, ketiganya sama2 mengenakan pakaian pria, jubah hijau sutera dengan sepatu kulit rendah, wajah mereka kelihatan kuyu pucat, keadaannya tampak lucu menggelikan. Me mang waktu mereka di tawan semuanya mengenakan pakaian laki2, kemudian diketahui bahwa mere ka perempuan, maka di pisah di ka mar ini. Ketiga orang ini adalah Tong bun-khing, Pui Ji-ping dan Cu Ya-khim.

Mendengar suara Ling Kun-gi, Pui Ji ping ta mpak berdiri me longo. Suara ini amat dikenalnya, betapa dia telah berharap akan kedatangannya? Entah berapa ribu kali saking iseng dalam tahanan ini mereka me mbicarakan hari2 yang a mat mereka da mba kan ini, me mang hanya Ling Kun-gi seoranglah yang menjadi titik sinar harapan mereka. Kini kenyataan sang perjaka yang diharapkan betul2 sudah berdiri dihadapan mereka.

Sepasang mata Tong Bun-khing bagai mata burung Hong itu tampak berkaca2 lalu me neteskan air mata," suaranya gemetar haru: "Ling-toako, ini bukan mimpi bukan?"

Pu Ji-ping juga meneteskan air mata, teriak-nya keras: "Toako, kau betul2 telah datang, kutahu kau pasti akan meno long ka mi, kenyataan sekarang kau betul telah kemari." - Dari balik terali dia masih kelihatan lincah, dengan mengembeng air mata, bicara sambil tertawa bak sekuntum bunga mekar yang ditaburi air e mbun, jernih dan tetap segar, cuma kelihatan agak kurus.

Sungguh bukan main senang hati Ling Kun-gi, tapi juga merasa kasihan. Sejak mulai berkelana di Kangouw, nona yang dia jumpa i pertama kali adalah Pui Ji-ping, sela ma ini dia pandang nona lincah ini sebagai adik kecilnya sendiri, ia kira tak pernah dirinya menaruh hati kepadanya. Tapi di luar sadarnya bibit asmara akan tumbuh dan bersemi di dalam sanubari orang, sudah tentu hal ini tak pernah dia pikir. Baru sekarang dia sadar Pui Ji.-ping juga telah menempati sesuatu sudut tersendiri, ma lah menduduki te mpat yang cukup penting dalam hatinya. Selama beberapa bulan ini, siang mala m selalu dia rindukan si dia, kini setelah berhadapan, bila tidak teraling jeruji besi mungkin dia sudah menubruk maju serta me meluknya.

Tapi se mua ini hanya gelora perasaan yang sekejap saja, dia sadar masih ada Yong King-tio ng dan Tu Hong-s ing di sa mpingnya, maka dengan mengerut alis dia bertanya: "Bagaimana kalian bisa sampai tertawan oleh orang2 Hek- liong-hwe?" Pui Ji-ping mengo mel: "Pere mpuan keparat yang bernama Liu- siancu itulah sebabnya. Hm, Siancu apa? Dia mena makan dirinya Siancu (dewi) segala, yang terang dia itu lebih patut dina ma kan siluman centil, ingin rasanya ka mi menusuk badannya biar ma mpus baru terlampias penasaran kami"

"Tu-heng," kata Yong King-tiong, "pintu besi ini bagaimana cara me mbukanya?" - Pintu berjeruji itu t iada, gembo k atau kunci, terang dikendalikan dengan alat rahasia juga.

"Terus terang aku sendiri tidak tahu cara me mbukanya, kecuali Nyo Ci-ko mungkin t iada orang lain yang bisa me mbuka pintu ini."

Berkerut alis Yong King-tiong, katanya berpaling kepada Kun-gi: "Ling-kongcu, Pokiam yang kau bawa apakah bisa digunakan?"

Baru sekarang Kun-gi teringat akan pedang pusakanya, lekas dia berkata: "Ya, biar Wanpwe menco banya" Lalu dia mengeluar kan Seng-ka-kia m dan berkata pula: "Adik Ping, kalian mundur agak jauh."

Tong Bun- khing, Pui Ji-ping dan Cu Ya-khim segera mundur berjajar mepet dinding dala m.

Kun-gi mende kat, dan pelan2 menghirup napas mengerahkan tenaga di lengan kanan, pedang diangkatnya terus memapas terali besi. "Trang", di mana sinar pedangnya berlalu, besi sebesar lengan bayi itu dengan mudah telah dipapasnya putus. Sekali berhasil bertambah keyakinan Ling Kun-gi, beruntun beberapa kali tabasan pula dia bikin suatu lubang besar pada terali besi yang mengurung ke-tiga nona itu.

Ling Kun-gi simpan pedangnya, sambil berteriak senang girang Pui Ji-ping mendahului menerobos keluar. "Toako," teriaknya, selama dua bulan ini dia cukup mender ita, kini suka-duka sa ma merangsang perasaannya, tanpa hiraukan orang banyak segera dia menubruk ke arah Ling Kun-gi. Lekas Kun-gi me mapahnya, katanya lirih: "Pingmoay, berdirilah tegak, jangan seperti anak kecil , di hadapan orang banyak kau bisa ditertawakan."

Pui Ji-ping Jadi merah ma lu dan lekas mundur. Se mentara Tong Bun-khing dan Cu Ya- khim juga sudah menerobos keluar.

"Ji- moaycu ( adik kedua )," kata Kun-gi kepada Tong Bun-khing, "cukup la ma kalian sa ma mender ita."

Tong Bun-khing menahan isak tangisanya, tangannya sibuk me mbetulkan sanggulnya, katanya dengan tersenyum rawan: "Setiap hari kami berharap akan kedatangan Ling-toako, syukurlah hari ini harapan ka mi terkabul."

Tidak seperti Pui Ji-ping main tubruk dan peluk tapi mimiknya yang mesra dan harus dikasihani sungguh me mbuat orang terharu.

Kun-gi me mandang Cu Ya-khim, katanya: "Ji-moaycu, nona ini

......."

Pui Ji-ping segera menyela: "Toako, inilah Piau-ci Cu Ya-khim yang sering kusebutkan padamu itu." - lalu dia berpaling dan berkata pula: "Piauci, dia "

Merah muka Cu Ya- khim mendengar Pui Ji -ping bilang "sering kusebutkan pada mu", tapi sikapnya tampa k wajar dan tertawa, katanya: "Tak usah kau jelaskan, kutahu dia adalah kau punya . . . .

. . Piauko".

Balas digoda, Pui Ji-ping uring2an, serunya tak mau kalah: "Kau punya berada di depan sana, jangan kuatir "

Kun-gi sendiri ikut merah mukanya digoda ke-dua nona, lekas dia menyela: "Marilah kuperkenalkan, inilah Pa man Yong, sahabat karib ayahku almarhum, inilah Tu-tayhiap. Dapat menolong kalian dengan leluasa adalah berkat pertolongan mereka berdua."

Lekas Tong Bun-khing, Pui Ji- ping dan Cu Ya- khim me mberi hormat kepada Yong King-tio ng dan Tu Hong-sing, katanya serempak: "Terima kasih Yong-lope k, Tu-tayhiap," Yong King-tiong dan Tu Hong-s ing sa ma mengangguk. Lalu Kun- gi menerangkan asal usul ke-tiga nona.

Tong Bun-khing berkata: "Ling-toako, yang tertawan bersama kami waktu itu ada puluhan orang " Dari keluarga Ban dari Ui-san dan keluarga Kho dari Ciok- mui, mereka dikurung di ka mar sebelah lekaslah kau tolong mereka sekalian.

Tu Hong-sing tertawa, katanya: "Nona tak usah kuatir, segera kubuka pintunya."

Pui Ji-ping melirik kepada Cu Ya-khim sambil mencibir, katanya: "Ya Piauci, legakan saja hatimu."

"Setan kecil," maki Cu Ya- khim dengan muka merah, "takkan kua mpuni kau nanti," - Se mbar bicara dia me mburu ke arah Pui J i- ping.

Dengan cekikikan lekas Pu Ji-ping lari se mbunyi ke belakang Ling Kun-gi, teriaknya: "Piauci a mpun, tak berani lagi."

Sudah tentu Cu Ya-khim jadi r ikuh, katanya "Ya, sekarang kau punya tempat untuk bersembunyi, apa kau dapat bersembunyi selamanya."

Pui Ji-ping segera unjuk muka setan, katanya tertawa: "Segera kaupun akan punya te mpat untuk bersembunyi."

Dalam pada itu Yong King-t iong dan Tu Hong-s ing telah beranjak ke ka mar sebelah, Kun-gi ajak ketiga nona maju ke sana. Tampa k Tu Hong-sing sedang masukan mata uang mas ke dalam lubang kecil, lalu mene kan tombo l, lekas sekali daun pintu lantas terbuka, seperti keadaan di kamar sebelah tadi, kamar di sinipun berterali besi. Dalam ka mar tahanan yang re mang2 ta mpak terkurung dua orang, mereka me mang Ban Jin-cun dan-Kho Keh-hoa.

Melihat keadaan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, kecut hati Cu Ya- khim, baju yang mereka pakai ternyata lebih ro mbeng, ra mbut awut2an keadaannya lebih runyam daripada mereka bertiga, dengan menge mbeng air mata lekas dia me mburu ke depan terali, teriaknya: "Ban-toako, lihatlah, Ling-toako datang menolong kalian." Ban Jin-cun ta mpak me lengak, tanyanya: "Nona, kau siapa?"

Sambil me mbetulkan letak ra mbutnya Pui Ji-ping cekikikan, katanya: "Dia adalah Cu Jing sahabatmu alias Piauciku, kenapa Ban- heng melupa kan dia?"

Kembali Ban Jin-cun me lenggong, teriaknya: "Nona adalah. . . . ..

."

"Siaute Ling Kun-ping," sela Ji-ping menggoda dengan tertawa

jenaka. "Inilah Tong- jiko Tong Bun-khing."

Kho Keh-hoa lantas mengerti, katanya sambil menghe la napas: "Kiranya kalian adalah nona2."

"Sekarang baru kalian tahu," seru Pui Ji-ping terpingkal2. Lalu dia tuding Ling Kun-gi, katanya: "Dia ini adalah Toakoku Ling Kun-gi, dia sengaja ke mar i meno long kita."

Lekas Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa me mberi hor mat. Sejak tadi Ling Kun-gi sudah siapkan Seng-ka-kia m, katanya: "Ban- heng, Kho- heng harap mundur dua langkah, biar kurusak dulu pintu terali ini, setelah kalian keluar baru bicara lagi"

Ban dan Kho berdua segera mundur, maka dengan mudah terali besi itu dirusak oleh Ling Kun-gi, dengan leluasa kedua orang lantas menerobos keluar,  kembali mereka satu sama la in saling me mper kenalkan diri.

Untuk naik ke atas mereka me mbagi dua ro mbongan, ro mbongan pertama Ling Kun- gi diiringi ketiga nona, setelah Tu Hong-sing mendorong maju kedua kursi, meja bundar itupun mulai bergerak naik ke atas, kejap lain kee mpat orangpun telah berada di ka mar segi enam, Waktu meja kembali pada keadaan semula, keenam kursi itupun bergerak sendiri berpencar ke te mpat masing2.

Maka Kun-gi pimpin orang banyak mendorong kursi ke tengah pula, supaya meja kursi ke mba li turun ke bawah, Sudah tentu Tong Bun-khing, Pui Ji-ping dan Cu Ya-khim sa ma kagum dan tidak habis mengerti akan segala peralatan yang bergerak serba oto matis ini. Setelah kursi a mbles ke bawah, maka Kun-gi perkenalkan Tong Bun-khing bertiga kepada Hoan-kun. Antara nona dan nona lebih gampang bergaul, cepat sekali merekapun sudah bergaul dengan akrab dan intim.

Tak la ma ke mudian ro mbongan keduapun telah naik ke atas, Un Hoan-kun keluarkan obat penawar dan satu persatu dia oles hidang kelima laki2 baju hijau, setelah berbangkis sekali kelima orang itupun siuman.

Sorot mata Yong King-tiong tajam berwibawa, katanya kereng: "Kalian dengarkan, Heng- liong-hwe kini telah lebur, Han Jan-to sudah ma mpus, Cui Kin-inpun telah merat, Ceng-liong-ta m Congkoan Nyi C i-ko juga ma mpus, mengingat kalian biasanya jarang me lakukan kejahatan, hari ini Lohu tidak ingin main bunuh, asal kalian mau bersumpah selanjutnya tidak menjadi antek musuh dan cakar alap2 kerajaan, sekarang tugas kalian mengumpulkan orang2 Pek-hoa-pang yang terjebak di lorong2 sesat, setelah keluar dari sini, kalian bebas me milih jalan hidup sendiri2, apa kalian mau terima kebijaksanaan ini?"

Melihat Nyo Ci-ko me mang sudah mati, situasi jelas tidak menguntungkan, maka serentak mereka menjura dan menyatakan setuju dan tunduk.

"Syukurlah kalian mau insaf, nah inilah Sip-hun-wan buatan khusus dari keluarga Un kami di Lingla m, dalam dua belas jam kalau tiada obat penawarnya. selama hidup kalian akan menjadi orang pikun dan gila, tapi bila kalian menuna ikan tugas dengan baik sesuai dengan perintah pa man Yong tadi, setelah keluar dari sini, obat penawarnya akan kubagikan pula kepada kalian," de mikian pesan Un Hoa-kun. Lalu dia keluarkan lima butir pil dan ditaruh di meja.

Bahwa mereka harus menelan Sip- hun-wan, sudah tentu kelima orang ragu2 dan saling pandang dengan bingung. Tu Hong-sing segera menghardik: "Apa pula yang kalian ragukan? Bukankah tadi akupun telah menelan sebutir? Jangan kuatir, nona Un pasti menepati janji, sekarang lekas a mbil dan telan, jangan membuang waktu lagi." Kelima laki2 baju hijau tidak berani ayal lagi, setiap orang maju menga mbil sebutir pit terus ditelannya.

"Sekarang tenaga kita di sini cukup banyak," demikian Yong King-tiong sa mbil menyapu pandang seluruh hadirin, "tapi yang kenal dengan orang Pek-hoa-pang hanya Ling-kongcu dan nona Un", kalau satu la ma lain tidak saling kenal, pasti bisa menimbulkan salah paham dalam usaha pencarian mereka, maka Losiu berpendapat lebih baik Ling-ko ngcu bersama nona Un berdua saja yang masuk mencari mereka."

"Ucapan Yong-lopek me mang beralasan," ujar Kun-gi, "soal meno long orang me mang adalah kewajiban Wanpwe sesuai pesan bibi, sekarang biarlah Wanpwe saja yang mencari mereka."

Sudah tentu berbeda perasaan antara tiga nona demi mendengar Kun-gi bilang "kami berdua". Tong Bun-khing berwatak le mbut dan tidak usil mulut, tapi tidak demikian dengan Pui Ji-ping yang binal dan suka usil, segera dia menyeletuk: "Ling-toako, aku mau ikut,"

"Adik Ping, dalam lorong sana banyak anak cabang yang berbelit2, keadaan gelap pula, sembarang waktu menghadani bahaya, lebih baik kau ikut orang banyak menunggu dan istirahat saja di sini, setelah mene mukan orang2 Pek-hoa-pang kita akan cepat keluar dan kumpul pula di sini, kalau terlalu banyak orang ma lah kurang le luasa."

"Betul," sela Yong King-tiong, "lebih baik kalian tunggu saja di sini, ketahuilah di sini ada enam sudut pintu, pada hal kita hanya bisa me mbagi dua kelo mpok, setelah setiap sudut pintu diperiksa harus segera mundur dan keluar me meriksa sudut pintu yang lain, kalau kalian tinggal di sini se mbarang waktu kan bisa me mber i bantuan dan menjaga jalan mundur mereka."

"Yong-congkoan," timbrung Tu Hong-s ing, agaknya kau belum jelas akan keadaan di sini, walau te mpat ini mer upakan mulut atau jalan keluar Ceng- liong-ta m, tapi keadaan di dalam keenam sudut pintu situ sa ma la in tiada bedanya, kita cukup me mbagi dua kelo mpo k masuk ke dalam mencar i mereka, cuma perlu dijanjikan dulu jalan2 mana yang harus ditempuh masing2 kelompok, setelah sampai pada suatu te mpat dapat berkumpul lalu ke-luar bersa ma."

"Kiranya begitu," ujar Yong King-tiong. "Kalau begitu tentu bisa menghe mat tenaga dan waktu. Ling-kongcu jangan me mbuang waktu lagi, bersama Tu-heng pimpinlah mereka (kelima laki2 baju hijau) dalam satu ro mbongan, Lohu akan bawa sia yang la in dalam rombongan kedua, cuma kita harus me mbawa obor lebih banyak Nah, sekarang berangkat,"

"Wanpwe terima petunjuk," kata Kun-gi.

Tu Hong-sing berkata: "Setiap orang yang bertugas di Ceng- liong-ta m harus me mbawa obor khusus, jalan yang mesti dite mpuh masing2 kelo mpo k harus diatur dan direncanakan dulu, supaya tiada yang ketinggalan dalam usaha mencari mere ka."

"Kalau begitu, tolong Tu- heng saja yang me mbagi tugas," ucap Yong King-tiong..

Tu Hong-sing lantas me mber i pesan pada kelima orang baju hijau: "Kelo mpo k pertama harus masuk dari Thian- mui, me mbelo k kanan keluar dari Te- mui. Kelompok yang lain masuk dari Te- mui, belok kanan keluar dari Thian- mui."

Kelima orang baju hitam mengiakan bersa ma. Yong King-tiong lantas pimpin Un Hoan- kun dan tiga laki2 baju hijau me masuki Thian- mui dari sebelah kiri setelah menyulut obor. Se mentara Kun- gi bersama Tu Hong-sing dengan dua laki2 baju hijau masuk me lalui Te-mui dari sebelah kanan, merekapun me mbawa obor. Sia yang lain tetap berjaga di ka mar segi ena m.

Setelah kedua kelompo k orang itu masuk, tanpa terasa Pui Ji- ping mengerut kening, tanyanya: "Tong-cici, entah orang2 Pek-hoa- pang apa yang dicari oleh Ling-toako?"

"Bukankah Hek- liong-hwe anggap kita orang Pek-hoa-pang? Mungkin kedua kelo mpo k Pang dan Hwe ini terjadi bentrokan sengit, Ling-toako bantu pihak Pek-hoa-pang mengge mpur Hek- liong-hwe, maka dia bisa menolong kita," lalu Tong Bun- khing berpaling ke arah Siau-tho dan bertanya: "Nona, betul tidak terkaanku?"

"Ah, hamba hanya seorang pelayan yang melayani keperluan Congkoan, apa yang kuketahui hanya sedikit saja, kalau tak salah Ling- kongcu adalah Cong-hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang, Han- hwecu dari Hek-liong-hwe adalah pe mbunuh ayahnya. sedang Yong-congkoan adalah sahabat karib ayah Ling- kongcu, maka dia, bantu Ling- kongcu mengge mpur Hek- liong-hwe."

"Lalu siapa itu nona Un?" tanya Ji-ping.

"Kudengar tadi Ling- kongcu pernah bilang, sejak mula nona Un me mang sudah kenal baik dengan Ling- kongcu. waktu Ling-kongcu menyelundup ke Pek-hoa-pang, nona Un ikut me mbantu dengan menya mar Bi-kui dalam Pek-hoa-pang, untung tadi dia tertolong oleh Ling- kongcu dari lorong2 sesat di dala m."

"Kalau Ling-ko ngcu menyelundup ke dalam Pek-hoa-pang. bagaimana mungkin bisa diangkat menjadi Cong-hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang?" demikian tanya Cu Ya-khim.

"Entahlah, ha mba sendiri juga tidak tahu." sahut Siau-tho.

"Kukira dalam hal ini ada banyak persoalan yang berbelit," timbrung Tong Bun- khing, "Biarlah kita tunggu setelah Ling-toako keluar baru kita tanya padanya."

Bersungut Pui Ji-ping, katanya dengan tertawa: "Kalau mau tanya, kau saja yang tanya padanya."

-000-0dw0-000-

Kini kita ikuti rombongan Ling Kun- gi, Tu Hong-s ing me mbawa obor berjalan di depan diikuti Kun- gi, lalu kedua orang baju hijau yang juga membawa obor. Di bawah penerangan tiga batang obor lorong yang gelap gulita itu menjadi cukup terang, dalam jarak sepuluh to mbak keadaan sekitarnya dapat terlihat dengan nyata.

Tadi Kun-gi baru masuk puluhan to mbak saja di dalam lorong2 sesat ini, ma ka dia belum tahu di mana letak rahasia int i lorong2 sesat ini. Kali ini Tu Hong-sing jadi penunjuk jalan, setelah belok kanan tikung kiri, di antara lorong2 se mpit itu banyak pula cabangnya sehingga mirip sarang labah2. Banyak jalan cabang yang berliku2 setelah dite mpuh sekian la manya baru diketahui bahwa lorong itu buntu, terpaksa harus putar balik. Tapi bukan mustahil ke mbalinya akan salah jalan ke cabang yang lain pula. Bila tiada penunjuk jalan, sekali salah langkah besar sekali akibatnya, mungkin selamanya takkan bisa keluar dari te mpat yang menyesatkan ini.

Tapi tugas Kun-gi kini harus menje lajah seluruh lorong2 ini untuk mene mukan dan meno long orang2 Pek-hoa-pang yang terkurung, maka setiap lorong cabang kudu diperiksanya, umpa ma mene mukan lorong-lorong buntu juga harus diperiksa.

Dia m2 Kun-gi menaruh perhatian, sepanjang jalan ini ma kin banyak cabang yang simpang siur, putar sana belok sini, dan me mbuat orang pusing tujuh keliling, tapi setiap kali bila tiba pada lorong yang agak lebar dan merupakan lorong penting, maka selalu ada belokan ke kanan dan ini berarti tidak salah jalan lagi.

Semula dia masih was-was dan menaruh curiga pada Tu Hong- sing, la mbat laun dia yakin Tu Hong-sing dapat bekerja jujur dan betul2 me meras keringat.

Setelah terbukti Tu Hong-s ing bekerja sekuat tenaga, maka Kun- gi juga pusatkan perhatiannya, mata kuping dipasang tajam, pikiran dia tumplek dalam usaha pencarian orang2 Pek-hoa-pang. Sebetulnya jalan lurus yang penting dalam lorong ini hanya ada enam jalur, tapi lantaran pada jarak tertentu ada cabang yang rumit dan me mbingungkan, adakalanya setelah menyusur pergi datang ternyata masih tetap berada dilorong yang sa ma, maka kerja mencari orang ini sungguh a mat berat dan menghabiskan tenaga, apalagi setiap pelosok harus mereka je lajahi.

Tengah mereka berjalan, tiba2 Kun-gi mendengar kira2 sepuluh tombak di sebelah depan lapat2 seperti ada suara keresekan. Suara itu sangat itu lirih seperti daun jatuh, meski seorang persilatan yang me miliki Lwekang t inggi juga harus tumplek perhatian mendengarkan dengan cer mat baru dapat mendengar suara itu. Maklum derap langkah mereka bere mpat sendiri sudah menimbulkan suara yang ramai, tapi Kun-gi dapat mendengar suara geseran sesuatu itu diantara derap kaki mereka, Mungkin seekor tikus yang lari ketakutan. Pendek kata suara itu a mat lir ih, tapi sekilas pasang kuping Kun- gi lantas menghentikan langkah, katanya dengan suara tertahan: "Tu-heng, berhenti dulu, apa di depan ada persimpangan jalan pula?"

Tu Hong,-sing berhenti, sahutnya: "Betul, tapi dari sini ke persimpangan jalan masih sepuluh to mbak."

"Di persimpangan jalan depan ada orang bersembunyi, entah dia kawan atau lawan?" demikian kata Kun-gi.

"Ada orang sembunyi didepan? Bagaimana Ling- kongcu bisa tahu?" tanya Tu Hong-sing heran.

"Lapat2 kudengar dalam jarak sepuluh to mbak di depan ada suara napas pelahan empat-lima orang, tapi jalan yang kita tempuh ini jalan lurus, bayangan manusia tidak kelihatan, maka kuduga pasti mereka se mbunyi di persimpangan jalan."

Tu Hong-sing kaget, katanya heran: "Jadi Ling-kongcu sudah dengar suara pernapasan mereka."

"Dalam lorong ini mudah menimbulkan ge ma suara, apalagi mereka se mbunyi dite mpat gelap, karena hati merasa tegang hendak menyergap musuh, meski menahan napas tapi deru napasnya menjadi lebih berat dari biasanya."