-->

Pendekar Kidal Jilid 23

Jilid 23

Sudah tentu dia tidak berani ayal, untuk menyela matkan jiwa terpaksa dia jatuhkan diri, dengan me meluk pedang dia terus ber- guling2 setombak lebih. Cara yang dite mpuhnya ini ternyata me mbawa hasil. Maklum jurus yang digunakan Loh-bi-jin ini adalah "Naga bertempur di tegalan", serangan ganas yang mematikan untuk menghadapi musuh tangguh, Hoanthianengpun tak ma mpu me matahkan serangan ini, cuma cara dia meniru keledai bergelinding di tanah ternyata berhasil meno long jiwanya, sinar pedang ternyata tidak me lukainya.

Walau jiwanya lolos dari serangan maut, tak urung keringat dingin sudah me mbasahi badannya, setelah berada di luar jangkauan cahaya pedang lawan baru dia me lejit bangun terus me layang jauh ke jalan pegunungan sana.

"Ke mana kau mau lari?" da mprat Loh-bi-jin. Segera iapun menubruk ke sana sepesat anak panah, selarik sinar perak meluncur bagai naga sakti me nga muk di udara, di tengah udara dia menyerang musuh.

Sementara Hoanthianeng sendiri masih terapung di atas, mendadak terasa hawa dingin menganca m dari belakang, kagetnya bukan ma in, batinnya: "Budak ini pandai mengendalikan pedang terbang" Hati berpikir tanganpun terayun ke belakang dengan pedang me mbacok.

"Trang", bentrokan dua pedang mengeluarkan gema suara, bayangan merekapun seketika melorot turun. Tapi gerakan Sinliong jut-hun (naga sakti keluar mega) yang dilancarkan Loh bi-jin dari tengah udara ini   baru setengah gerakan saja,   begitu tubuh me luncur turun, cahaya pedangpun segera menya mber pula.

Sudah tentu hal ini di luar dugaan Hoanthianeng, baru saja kaki hinggap di tanah, seluruh badan seketika terbungkus pula oleh cahaya pedang lawan, di mana mata pedang berkelebat, seketika dia menjerit ngeri seperti ba mbu yang terbelah menjadi dua, tahu2 badan Hoanthianeng roboh ke dua arah, badannya terbelah menjadi dua potong dan terkapar di tanah.

Dengan gampang para dara kembang telah me mbereskan kesembilan Sing-sio k, kini dengan dua jurus perma inanr Tinpang- kia m-thoat Loh-bi-jinq juga telah mena matkan perlawanan Hoanthianeng. Maka kawanan Hek-liong-pang di sebelah barat telah tertumpas habis seluruhnya.

Sementara di sebelah timur, Jianjiu-koanim Liu-s iancu masih tetap bercokol di dalam tandunya, hanya menonton tanpa bergerak. Sementara Kongsun Siang bersa ma Hou-hoat-cu-cia bersenjata lengkap siaga dalam jarak lima tombak. Sudah tentu kalau Liu- siancu benar2 mau turun tangan, Kongsun Siang berlima takkan ma mpu menahannya? Tapi kenyataan sejauh ini di sebelah timur tetap tenang dan damai.

Dalam pada itu Ko-lotoa sudah berhantam ratusan jurus melawan Ci Hwi-bing. Sebagai Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing me mang me miliki kepandaian yang boleh dibanggakan, meski berhadapan dengan teman la ma, na mun dia tidak kenal kasihan lagi, begitu sengit pertempuran kedua orang ini, sinar pedang tampak me libat badan masing2, kesiur angin tajam menda mpar kencang, dalam jarak dua tombak sekeliling terasa arus dingin me-nyamber2.

To mbak gantol Ko- lotoa ternyata bermain dengan hidup sekali, aneh me mang gaya tumbaknya, lain daripada yang lain, disamping menusuk tumbaknya juga digunakan me mbe lah, menutul, menggaruk dan me mapas, Hiat-to lawannya selalu terancam oleh tumbaknya. Malah dua gantolan di ujung tumba knya disa mping dapat menggantel dan menggaruk juga dapat mengunci senjata lawan, begitu tangkas dan gesit dia me mainkan tumbaknya schingga tubuhnya seakan2 terbalut di dalam sa mberan angin kencang.

Dua orang teman la ma dari ke 36 panglima Hek- liong-hwe sekarang harus adu jiwa di medan laga sebagai musuh, kepandaian merekapun se mbabat, sejauh mana sukar dibedakan siapa bakal menang dan kalah. Biarpun ratusan jurus lagi juga sukar diakhiri.

Song Tek-seng dan Thio Lam- jiang masih tetap satu lawan dua, mereka masih bergerak lincah dan cekatan, keadaan masih sama kuat alias setanding. Tapi jarak e mpat orang lawan sangat ber- dekatan, sama2 mengenakan pakaian hitam ketat, bersenjata pedang panjang warna hitam beracun lagi, malah muka merekapun sama2 kuning kaku. La ma kela maan setelah ganti berganti saling serang, akhirnya empat orang bersatu merangsak kedua lawannya. Sudah tentu perke mbangan ini jauh berbeda dengan keadaan semula.

Mereka berkelit kian ke mar i dan berputar ke sana-sini, yang satu maju yang lain mundur silih berganti, sehingga kedua lawannya selalu terkepung di tengah. Secara langsung dua berhadapan dengan empat, kirikanan dan muka-be lakang Song Tek seng berdua selalu terancam senjata lawan, lebih celaka lagi karena kee mpat musuhnya dapat kerja sa ma dengan baik sekali.

Kalau orang lain menghadapi lawan yang main keroyokan, biasanya mereka akan adu punggung untuk me mbendung rangsakan musuh, jadi mereka tetap bisa satu lawan dua,

Sayang Thio Lam-jiang adalah murid Hing-sanpay, Hing-sankia m- hoat harus dike mbangkan secara berlo mpatan, me la mbung ke atas dan menyerang lawan dari atas kepala, kalau dia harus adu punggung dengan Song Tek-seng, itu berarti dia tidak se mpat menge mbangkan ilmu pedang perguruannya.

Karena itu Thio La m- jiang tetap mainkan Hing-sankia m-hoat sambil melo mpat naik turun, tapi berat bagi Song Tek-seng yang harus menghadapi lawan dari depan. Loanbi bong-kia m-hoat Go bi- pay meski juga ilmu pedang lihay dan sukar diraba arah sasarannya, tapi di bawah kepungan kee mpat lawannya, lama2 dia terdesak di bawah angin. Walau Thio Lam jiang selalu me mberi bantuan dengan sergapannya, paling hanya sekedar mengacaukan gerakan musuh, keadaan tetap tidak menguntungkan seperti waktu satu lawan dua tadi. Apalagi ma in lompat dan menukik dari atas paling menguras tenaga, lama2 dia kehabisan tenaga juga. Padahal pertempuran berlangsung se makin sengit, tapi permainan pedang Song Tek-seng dan Thio La m-jiang justeru se makin le mah dan kendur.

Sementara itu Ling Kun-gi sudah berhantam ratusan jurus me lawan Tokko Siu. Sela ma itu La m-sat-sin berpeluk tangan di luar arena, agaknya dia menjaga gengsi, tidak mau main keroyok.. Muka kudanya tampak merengut, dengan tajam mengawasi pertempuran. Cakar tangan Tokko Siu merangsak dengan buas dan liar, tapi Kim- liong- jiu yang dilancarkan dengan kedua tangan Kun-gi gerakannya saling berlawanan, terutama tangan kidalnya menyerang lebih bagus lagi, selalu Hiat-to yang diincar, gerakannya indah dan menakjubkan, betapapun lihay serangan Tokko Siu selalu dipaksanya menarik ke mba li di tengah jalan.

Selama ratusan jurus saling serang ini, belum pernah keduanya mengadu pukulan secara keras na mun demikian mereka toh sa ma2 merasa bahwa tipu serangan lawan amat berbahaya dan cukup mengejutkan siapapun yang menyaksikan.

Di tengah pertempuran seru itulah, mendadak dari arah jauh di sana beruntun berkumandang dua kali sempr itan melengking panjang.

Mendadak Tokko Siu melancar kan dua serangan cepat secara beruntun terus menarik diri melo mpat ke belakang, teriaknya dengan suara sumbang: "Berhenti!"

"Tokko-heng, apakah kau ingin aku maju sekarang?" tanya Dian Yu-hok.

"Tidak," sahut Tokko Siu.

Kun-gi juga sudah berhenti, katanya: "Loheng, masih ada petunjuk apa?"

"Anak muda, kau me mang sudah mendapat warisan kepandaian Hoanjiu-ji-lay, orang yang mampu melawan ratusan jurus dengan Lohu tidak banyak lagi di Kangouw, tapi Lohu yakin dalam 10 jurus lagi pasti dapat merenggut nyawamu "

"O, jadi selama ratusan jurus tadi aku mas ih hidup berkat ke murahan hatimu?" ejek Kun-gi.

"Waktu Lohu bersama Dian heng ke mari, Hwecu telah pesan wanti2 bahwa orang2 Pek-hoa-pang boleh dibabat habis kecuali kau anak muda yang berna ma Ling Kun-gi ini yang harus ditawan hidup2. " Kun-gi me mbatin: "Agaknya Hek-liong-hwe a mat me mperhatikan diriku, mungkin lantaran aku dapat memunahkan getah beracun itu."

Maka dengan tersenyum dia berkata: "Loheng berdua ingin menawanku hidup2?"

"Lohu sudah bergebrak ratusan jurus dengan kau, kudapati Cap- ji-kim-liong-jiu dapat kau ma inkan secara berlawanan dengan tangan kirikanan sehingga banyak tipu2 seranganku terbendung di tengah jalan, baru sekarang kutahu untuk menawanmu hidup2 me mang tidak mudah."

"Loheng terlalu me muji," ucap Kun-gi.

Serius sikap Tokko Siu, katanya: "Lohu bicara sebenarnya, tapi dalam 10 jurus Lohu dapat merenggut nyawamu, oleh karena itu Lohu teringat akan satu hal."

"Loheng punya pendapat apa?"

"Kau bukan tandinganku, hal ini tak perlu di bicarakan lagi, ma ka lebih baik tak usah bergebrak lagi, ikutlah Lohu mene mui Hwecu saja."

"Cayhe memang sangat ingin berte mu dengan Hwecu kalian, apakah sekarang juga kita berangkat?"

Tokko Siu tertawa sambil mengelus jenggot, katanya: "Untuk mene mui Hwecu tidak semudah itu, paling tidak Lohu harus menutuk beberapa Hiat-tomu dulu baru boleh kubawa kau mene mui beliau, tapi Lohu berjanji, kau tidak akan terganggu seujung rambutpun."

"Jadi ma ksudmu supaya Cayhe menyerah dan rela dibelenggu?" ucap Kun-gi.

"Begitulah maksudku, cara ini bukan saja dapat me lindungi nyawamu, ka mi berduapun dapat menunaikan tugas pada Hwecu." Dian Yu-hok me ngangguk, tukasnya: "O mongan Tokko Siu me mang betul. Anak muda, kalau kau mau ikut, soal ke matian mur id2 ka mi boleh tidak usah diperhitungkan lagi."

Kun-gi menengadah sambil ter-bahak2, katanya: "Sayang Cayhe belum kalah, maksud baik kalian biarlah kuterima dalam hati saja."

Tatkala mere ka berbicara, sementara pertempuran di arena lain sudah terjadi banyak perubahan, Loh-bi jin dengan ilmu pedangnya yang sakti telah me mbelah mati tubuh Hoanthianeng Siu Eng yang dipercayakan me mimpin kese mbilan Sing-siok. Sedang sembiian Sing-sio k yang kebal senjata itupun sudah terbakar menjadi abu, ma lah apipun telah pada m. Se mentara Jianjiu-koanim Liut-siancu yang me mbendung arah timur, begitu terdengar suara sempritan me lengking tinggi tadi segera dia mengundur kan diri secara dia m2.

Kini tinggal Ko-lotoa yang masih berhantam sengit me lawan Ci Hwi-bing, demikian juga, empat orang berbaju hitam masih mengepung Song Tek-seng dan Thio La m-jiang dan baku hantam tak kalah serunya.

Di tengah tanah lapang berumput itu, tandu hitam yang biasa dinaiki Thay-siang tetap berada di sana terjaga ketat oleh Ting Kiau dan empat rekannya.

Kongsun Siang me ndahului melo mpat maju ikut terjun ke medan laga, sekali tubruk, "sret", pedangnya menyerang miring dari samping ke arah Ci Hwi-bing.

Selama menghadapi Ko-lotoa mas ih setanding, sejak mendengar suara sempritan tadi, perasaan Ci Hwi-bing sudah mulai kalut dan sudah timbul niatnya untuk mundur saja. Kini melihat Kongsun Siang menubruk tiba seraya menyerang, tanpa ayal beruntun tangannya bergerak melancarkan serangan berantai sehingga kedua lawan dipukul mundur, mendadak kedua kaki me nutul, bagai panah me luncur tubuhnya melayang ke arah Ui liong-tong.

Dalam pada itu Loh-bi-jin juga telah me narik dara2 ke mbang ketanah berumput, dara2 ke mbang dia suruh berpencar melindungi tandu, sambil menenteng pedang, beruntun dua kali lompatan dia me mbur u ke arena Song Tek-seng dan Thio La m-jiang, tanpa bersuara pedangnya lantas menyerang,

Untuk mengakhir i pertempuran secepatnya, sekali serang dia gunakan tipu "naga sakti keluar mega", selarik sinar bagai rantai perak terbang melintang, orangnya tiba pedangpun bekerja.

Sinliong-jut-hun (naga sakti keluar mega) adalah salah satu jurus Hwi- liong- kia m-hoat yang ampuh, kekuatannya dahsyat tiada taranya. empat laki baju hitam hanyalah tingkat Sincu yang lebih rendah dari Ui-liong-tongcu, mana ma mpu mereka bertahan atau menangkisnya. Maka terdengarlah jeritan menyayatkan hati, dua orang seketika tersapu roboh dengan badan terpapas kutung menjadi dua tepat sebatas pinggang mereka.

Saat mana Song Tek-seng dan Thio La m-jiang sudah terdesak di bawah angin dan terancam bahaya, kini me mperoleh pertolongan yang sekaligus terbunuhnya dua musuh, keruan berkobar pula semangat tempur mereka. Thio La m-jiang menghardik seraya me lejit ke atas, pedang menabas ke salah seorang baju hitam di depannya. Sementara Song Tek-seng berbareng juga memba lik pedang, bagai hujan badai beruntun ia menusuk tiga kali.

Melihat Tongcu mereka melarikan diri, sementara dua teman mereka roboh binasa, kedua orang baju hitam yang tersisa ini menjadi gugup, berbareng mereka menggertak tapi terus me lo mpat mundur dan lari sipat kuping.

Le mbah gunung yang seluas itu, kini menjadi sepi lengang, di tanah lapang berumput di depan gua hanya tampak orang2 Pek- hoa-pang berdiri berjajar teratur. Entah kapan empat lampu la mpio n yang tergantung di atas ngarai tadipun pada m.

Kongsun Siang, Song Tek-seng, Loh-bi- jin dan la in2, karena Kun- gi mas ih berhadapan dengan kedua kakek, tanpa perintah sang Cong-su-cia betapapun mereka tidak berani sembarang bergerak, terpaksa mereka me nonton saja dari sa mping.

Terlalu panjang beberapa kejadian ini dituturkan deugan kata2, padahal kejadian hanya berlangsung dalam sekejap saja. Tokko Siu yang membujuk Ling Kun-gi tidak berhasil dan malah diejek menjadi naik pitam. biji matanya mernancarkan cahaya dingin, dengusnya: "Anak muda. baik-lah coba kau hadapi dulu satu dua jurus pukulanku, nanti kau akan tahu bahwa o monganku bukan bualan belaka." Tangan bergerak langsung kepalannya menggenjot lurus kedepan.

Pukulan ini jauh berbeda dengan serangan ber-tubi2 tadi, damparan angin yang dingin me mbeku tulang segera menerjang ke depan.

"Hianping-ciang,'' dia m2 Kun-gi berteriak dalam hati. Cepat dia ma inkan jurus Hwi-po-liu-cwan (sumber mengalir muncrat beterbangan), dia sambut pukulan lawan dengan kekerasan. Begitu kedua tangan mereka berada, terdengarlah suara "plak", keduanya lantas berdiri dan tidak berge ming lagi.

Muka Tokko Siu yang pucat memut ih itu tampa k berubah semu hitam gelap, katanya: "Di bawah pukulan, Hianping-ciangku tiada lawan yang sanggup bertahan 10 jurus, sambutlah dua jurus lagi."

Kembali ia me mukul dari depan, tanpa menar ik telapak tangan kanan, tahu2 telapak tangan kiri sudah me mbe lah tiba.

Kun-gi kerahkan Lwekang pelindung badan, dia tertawa lantang dan berkata: "Silakan Loheng keluarkan ilmu pukulanmu sesuka mu, coba saja Cayhe ma mpu melawan atau tidak?" Berbareng ia sa mbut pula pukulan lawan.

Dua pukulan susulan Tokko Siu ternyata lebih dahsyat, bukan saja tenaga pukulannya bertambah lipat, hawa dingin yang teruar dari pukulannya juga bertambah, makin la ma makin dingin, waktu pukulan ketiga dilancarkan, darahpun bisa beku rasanya.

Maka terdengar suara keras "Blang, blang", dengan tenang Kun- gi sambut pukulan lawan. Mata Tokko Siu yang me micing seakan2 me mancarkan bara, serunya menyeringai : "Bagus sekali!" Kedua tangan terangkat ke atas, badannya yang kurus tinggi mendadak mendesak maju, dengan jurus Lui-tiankiau-ki (kilat dan guntur menyerang ber-sama), ia menyerang pula.

Untuk jurus serangan ini, boleh dikatakan dia ha mpir mengerahkan 10 bagian tenaganya. Baru saja tangannya bergerak dan pukulan mulai dilancarkan, gelo mbang dingin seketika me mbanjir seiring gerak pukulannya, betapa hebat serangannya sungguh a mat mengejutkan. Begitu hebat hawa dingin ini laksana arus dingin yang mengalir dari gunung es atau lembah salju, pohon bisa mati me mbeku, demikian air seketika bisa beku menjadi batu, kalau manusia bukan saja badan seketika menjadi kaku, darahpun me mbe ku dan napas sesak dan buntu dengan sendirinya jiwapun me layang seketika.

Di sinilah kehebatan Hian ping-ciang sehingga ilmu pukulan ini dipandang pukulan dingin dari aliran sesat yang paling hebat.

Melihat kehebatan Hianping-ciang ternyata jauh di luar dugaannya, wajah Kun-gi yang semula mengulum senyum kini tampak kaget dan prihatin, pikirnya: "Lwekang orang ini begini tangguh, jika kena keserempet angin pukulannya saja jiwa pasti seketila melayang dengan badan me mbeku.”

Cepat ia menghirup napas, dia mulai mengerahkan kaesaktian Bu siang sin kang untuk me lindungi seluruh badan. Ia berdiri tegak, lengan kanan tegak ke atas, kelima jari bergaya menyanggah langit, sedang tangan kiri menjurus lurus ke bawah, kelima jari seperti menyanggah bumi. Inilah Mo- ni- in, ilmu sakti aliran Hud yang paling hebat untuk menundukkan setan iblis.

Karena Hianping-ciang lawan me mang hebat, otak Kun gi bekerja kilat, dia yakin dalam perbendaharaan ilmu silat yang pernah dia pelajari hanya Mo-ni-in saja kira2 cukup kuat menghadapi Hianping- ciang.

Kun-gi berdiri tegak sekukuh gunung tidak bergeming, hawa pukulan Hianping ciang mener-jang dirinya, tapi arus yang kencang itu seketika tersiak minggir seperti arus sungai yang menerjang batu karang di tengah sungai. Se mentara Tokko Siu yang mendesak maju kini sudah berada di depan Kun-gi.

Tatkala menyadari kekuatan pukulannya yang sedahsyat itu tersiah oleh kekuatan ilmu pelindung badan lawan, Hianping-ciang yang dipandang sebagai ilmu kebanggaannya ternyata tidak ma mpu me lukai pe muda ini, sudah tentu dia tersengat kaget. Tapi sejauh ini dia sudah bergerak, untuk mundur sudah kepalang tanggung dan tak sempat lagi, terpaksa dia nekat, ia kerahkan sepenuh kekuatannya pada kedua tangan terus menepuk ke dada Kun- gi.

Kejadian laksana percikan api cepatnya, melihat Tokko Sin sekaligus melancarkan serangan dengan kedua tangannya yang hebat itu, arus dingin laksana curahan air terjun yang tumpah ke bawah.

Hakikatnya Lansat-sin yang sejak tadi menonton di luar arena tidak perhatikan bahwa Tokko Siu yang mendesak maju di depan Ling Kun-gi ini sudah   menghadapi jalan buntu, tapi dia kira me mpero leh kese mpatan yang baik. Segera dia ke mbangkan Tay- na-ih-sinhoat, gerak langkah yang mengaburkan pandangan mata orang, sekali berkelebat tahu2 dia sudah melejit ke belakang Kun-gi, sejak tadi tenaga sudah dia simpan dan terhimpun di lengan, kini dia angkat tangan kanan, kelima jari dan telapak tangannya berubah biru kelam dan secepat kilat mengecap ke punggung Ling Kun-gi.

Kongsun Siang berdiri agak jauh, bukan main kagetnya melihat kelicikan musuh yang ma in me mbo kong ini, teriaknya cepat: "Awas Cong-coh."

Sekujur badan Kun-gi diliputi hawa pelindung badan, tapi dia toh masih merasa kedinginan seperti kecebur di gudang es. Melihat tekanan berat yang aneh dan luar biasa pukulan Tokko siu sudah menepuk tiba di depan dada, mendadak ia mengge mbor sekeras2nya, tangan kanan yang terangkat lurus ke atas tahu2 me mba lik turun dan balas menepuk ke depan. Kebetulan pada saat yang sama Lansat-sin Dian Yu- hok telah berada di belakangnya dan me mukul dengan seluruh kekuatan Lansat-ciang. Begitu tangan kanan menepuk, seketika Kun-gi sadar bahwa Dian Yu-hok me mbo kongnya dari belakang, tanpa pikir tangan lagi lantas mengebas kebelakang. Gebrakan ini dilakukan tiga orang sekaligus dengan seluruh kekuatan dan secepat kilat.

Mo-ni- in adalah ilmu sakti penakluk setan iblis aliran Hud ( Budha

), ilmu yang tiada taranya ini merupakan lawan me matikan yang paling telak bagi Hianping-cian dan Lansat-ciang.

Waktu melancarkan serangan dengan penuh tenaga, tak terpikir oleh Tokko Siu bahwa Ling Kun-gi bakal balas menyerang dengan bekal ilmu saktinya pula, maka terasa segulung kekuatan terpendam yang tak kelihatan sekeras gugur gunung menindih tiba. Bukan saja seluruh kekuatan Hianping-ciang yang dia lancarkan terbendung sehingga tidak ma mpu dilancarkan lagi, berbareng iapun merasa napas sesak dan hawa murni terbenti, keruan ia terkesiap, saking gugupnya sekuatnya dia meronta terus melo mpat mundur. Bukan lagi mundur, bahkan badannya terdorong mencelat seto mbak lebih, mulut terbuka darahpun menye mbur keluar, badan limbung ha mpir terjungkal roboh.

Agaknya dia berusaha kendalikan badan untuk berdiri supaya tidak jatuh, maka setelah mundur sejauh satu tombak, langkah kakinya mas ih bergerak dengan harapan dapat memberatkan tubuh, tapi usahanya tetap sia2, setelah beberapa langkah lagi, akhirnya dia roboh terkapar. Sesaat dia masih berusaha merangkak bangun, kedua matanya mendelik menatap Ling Kun-gi, suaranya serak, tanyanya: "Kau . . . . . . ilmu apa ini?"

Selama ini Kun-gi me matuhi pesan gurunya, jika tidak terpaksa dan terancam bahaya dilarang se mbarang me nggunakan Mo-ni-in, kali ini lantaran serangan Hianping-ciang Tokko Siu sedemikian hebat, maka iapun kerahkan kekuatan Mo-ni-in untuk menghadapinya. Sungguh tak pernah terbayang dalam ingatannya bahwa perbawanya begitu dahsyat, Tokko Siu dibuatnya mencelat setombak lebih. Dalam keadaan sekarat setelah terluka parah, Tokko Siu mas ih mendongak bertanya ilmu apa yang dia gunakan untuk melawan Hianping-clang, maka ia pun menjawab: "Cayhe menggunakan Mo-ni- in."

"Mo-ni-in. . . . . " terbeliak mata Tokko Siu, beberapa kali mulutnya berkomat-ko mit, mendadak napasnya me mburu dan kepalanya tergentak ke belakang, tubuhpun ambruk telentang dan tak bergerak lagi.

Dalam pada itu Lan sat-sin Dian Yu- hok yang melancarkan Lansat-ciang me mbo kong Ling Kun-gi dari belakang, waktu telapak tangannya hampir saja mengenai punggung orang, mendada k dilihatnya Kun-gi mengipatkan tangan kiri ke belakang. Dalam hati ia tertawa dingin: "Seorang diri betapa tinggi kekuatanmu? Masakah ma mpu me lawan gabungan serangan ka mi berdua dari depan dan belakang?"

Lan sat-ciang adalah ajaran sesat yang diciptakan oleh tokoh bernama Umong, siapapun yang terkena pukulan ini akan mat i seketika dengan badan hangus, tapi Mo-ni-in yang dikerahkan Kun- gi kali ini ibarat air di dalam belanga yang sudah mendidih dan hampir beludak, kekuatannya sudah mencapai puncaknya, apalagi dia gunakan kipatan tangan kidal, itulah ajaran tunggal yang diciptakan Hoanjiu-ji- lay sendiri.

Ketika Lansat-sin Dian Yu- hok merasa kegirangan itulah, mendadak terasa bahwa kipatan tangan kiri Ling Kun-gi menimbulkan kekuatan yang tiada taranya, sekokoh tembok baja yang tak tembus, lebih celaka lagi kekuatan lunak me mbaja ini seketika juga menerjang dirinya seperti gelombang badai dahsyatnya. Pertahanan lawan yang ma mpu menyerang balik ini sungguh di luar dugaannya.

Tapi karena La m-sat-sin terlalu yakin bila Lansat-ciang mengenai tubuh lawan jiwa orang pasti melayang keracunan, sudah tentu iapun tidak mau mundur meski menghadapi perlawanan yang hebat ini, tenaga malah dipusatkan sementara telapak tangan kanan tetap menepuk, serangan yang semula dia arahkan punggung Ling Kun-gi sekarang malah dia ubah arahnya me mapak telapak tangan Ling Kun-gi yang mengipat ke belakang itu. Jelas tujuannya amat keji dan jahat.

Sayang dia tidak tahu bahwa Mo-ni-in adalah ilmu mukjijat aliran Hud yang sakti, waktu dilancarkan kekuatannya tidak kelihatan besar, bila sudah mengadu pukulan secara telak baru kekuatannya timbul berlipat ganda.

Setelah Lansat-sin menyadari adanya gejala tidak enak, na mun sudah terlambat, kekuatan   lunak sekokoh   baja itupun sudah me mukul dadanya. Lansat-ciang yang dilatihnya sela ma berpuluh tahun kali ini sa ma sekali tak ma mpu dilancarkan, tahu2 terasa sekujur badan mengejang dan bergetar, seperti orang yang didorong mendadak tanpa kuasa dia terhuyung mundur beberapa langkah.

Melihat dia me mbokong Ling Kun-gi, sudah tentu Kongsun Siang tidak berpeluk tangan, meski pertolongannya terlambat, tapi dia tetap menubruk maju, me mang hatinya lagi gusar kebetulan dilihat lawan tergetar mundur, segera dia menubruk miring berbareng pedang menusuk, Kalau dalam keadaan biasa, dengan tingkat kepandaian Dian Yu-ho k pasti dengan mudah dia dapat berkelit, apa daya sekarang dia sudah terkena getaran pukulan Mo-ni- in yang hebat itu, badan sendiri sudah tak kuasa dikendalikan, mana dia sanggup berkelit lagi.

"Bles", ujung pedang yang runcing ge milapan tahu2 mene mbus dada dari belakang. Lansat-sin hanya merasakan badan tertembus oleh sesuatu yang dingin, matanya terbeliak, waktu menunduk, dilihatnya ujung pedang tembus keluar dari dadanya, tampang kudanya seketika pucat pias, teriaknya tertahan: "Siapakah yang menusuk Lohu?" Pelan2 badan menjadi le mas dan jatuh terkulai.

Dengan bebrseri tawa Loh-bi-jin mengha mpir i, katanya: "Hebat benar ilmu Cong-su cia."

Kun-gi ma lah mengerut kening, katanya: "'Mungkin Cayhe terlalu keras me mukulnya." Belum habis bicara, tiba2 ia sendiri terhuyung mundur. Loh-bi jin kaget, tanpa hiraukan adat laki-pere mpuan lagi lekas dia me mapah, tanyanya penuh perhatian: "Cong-su-cia, kenapa kau?"

Dilihatnya muka Kun-gi pucat dan agak gemetar pula, serunya gugup: "Hai, lekas kalian ke mari, mungkin Cong-su-cia terbokong oleh musuh?"

Ko lotoa, Song Tek seng, Kongsun Siang, Thio La m-jiang segera merubung datang.

Kata Kongsun Siang: "Cong-su cia, cobalah kerahkan hawa murni, di mana letak salahnya."

Mata Ling Kun-gi terpeja m, dia berdiri dia m, sesaat lamanya baru air mukanya tampak bersemu merah, pe-lahan2 dia mengirup napas panjang dan me mbuka mata. Melihat Loh-bi-jin me mapahnya, sorot matanya menunjuk rasa kaget dan keheranan, iapun merasa rikuh, katanya: "Terima kasih nona, aku tidak apa2."

Jengah Loh-bi- jin, katanya dengan mengerling: "Sebetulnya apa yang terjadi Cong su-cia?".

"Hianping-ciang Tokko Siu me mang lihay sekali," demikian ucap Kun-gi," sedikit lena, badanku terembes hawa dingin, seluruh badan seketika terasa me mbeku "

"Sekarang sudah baik bukan?" tanya Loh bi-jin penuh perhatian. "Untung segera aku me nyadari kelalaianku, sekarang sudah

baik."

Ko-lotoa menyelutuk: "Tokko Siu berjuluk Ping-sin (mala ikat es), entah betapa banyak tokoh2 Kangouw yang kecundang oleh Hianping-ciang, mala m ini ia kebentur Cong coh, tamatlah r iwayat kejahatannya yang kelewat takaran"

Kun-gi meno leh ke sekitarnya, tanyanya: "Musuh sudah mundur seluruhnya?"

"Mendengar suara sempritan, Liu-s iancu di arah timur tiba2 mengundurkan diri, se mentara kesembilan Sing-sio k di sebelah barat telah dibereskan oleh dara kembang dan terbakar me njadi abu oleh peluru Bik-ya m-tan."

Kun-gi menghelar napas lega, katanya: "Thay-siang me mang serba tahu, ramalannya tidak pernah meleset, segala gerak-gerik musuh sudah tergenggam di telapak tangannya, sungguh amat mengagumkan.”

Ko-lotoa berkata: "Ui- liong-tongcu Ci Hwi-bing juga segera mengundurkan diri setelah mendengar suara sempr itan tadi, karena Cong-coh tidak me mberi perintah, kami t idak berani bergerak. Sukalah Cong coh segera a mbil tindakan."

Kun-gi me mandang ke arah Ui-liong-tong di kejauhan sana, tampak gua itu ber mulut besar dan tinggi, pintu gua terbuka lebar, seperti tiada penjagaan, keadaan gelap pekat tak kelihatan keadaan di dala m, diam2 timbul rasa curiganya, katanya setelah tepekur sebentar: "Ui-liong-tong adalah pusat pimpinan Hek-liong-hwe, kalau pintunya terbuka lebar tentu ada perangkapnya, lebih baik kita bekerja menurut pesan Thay-siang saja."

Loh-bi jin me ngiakan, segera dia me mber i tanda, empat dara ke mbang segera pikul tandu kecil itu mengha mpiri. Inilah bunyi tulisan Thay-sian dalam surat rahasianya: "Terjang ke bawah Ui- lionggia m, le mparkan tandu ini ke Ui- liong- tong."

Kun-gi suruh orang banyak berpencaran mencari tempat masing2 dan mengepung Ui- liong-tong dengan ketat, sementara, empat Hou-hoat-su-cia yang angkat tandu itu segera diayunnya bolak-balik terus dilemparkan ku Ui liong- tong. Karena lemparan yang kuat, tandu itu meluncur kencang ke mulut Ui-liong-tong yang menganga lebar, tertampaklah api tepercik terus terdengar ledakan keras yang mengge legar menggetarkan bumi.

Bumi laksana ge mpa keras, sementara ledakan masih terus berbunyi saling susul schingga tebing di puncak atas sana retak dan batu2 besar sama mengge lindang berjatuhan tercampur dengan padas2 yang terlempar keluar dari dalam gua, terdengar suara jerit tangis dan pekik orang di sana-sini. puluhan tombak disekitar le mbah diliputi asap dan debu yang tercampur dengan batu yang beterbangan, jari tangan sendiri sampai tidak terlihat jelas apa lagi mengawasi te man2 yang la in.

Kiranya tandu itu berisi bahan peledak yang beratnya hampir sekwintal, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat daya ledakannya, ternyata Ui-liong tong telah diledakkan hingga rata dengan tanah.

Ngarai le mbah naga kuning di atas sanapun telah gugur rata me menuhi le mbah.

Waktu me mbaca surat rahasia Thay-siang tadi sebetulnya Kun-gi sudah mendapat firasat bahwa yang tersimpan di dalam tandu pasti obat bakar yang amat lihay kekuatannya, baru tandu dile mpar ke dalam gua pasti menimbulkan kobaran api besar, karena tak bisa menye mbunyikan diri pasti kawanan bangsat Hek- liong-hwe akan terjang keluar. Oleh karena itu dia suruh 8 Hou-hoat-su-cia dan 20 dara kembang berpencar mengepung Ui- liong-tong, musuh yang lari keluar akan ditumpas atau ditawan hidup2.

Dia sudah perintahkan se mua orang berse mbunyi agak jauh dari mulut gua, supaya senjata api sendiri tidak melukai mereka, tapi tak pernah terduga olehnya bahwa tandu itu me mbawa sekwintal bahan peledak, betapa dahsyat kekuatannya, gua sebesar itu serta ngarai diataspun dibikin gugur dan lebur.

Begitu mendengar suara ledakan Kun-gi lantas merasakan getaran hebat mirip ge mpa bumi, le mbah dan ngarai seperti berguncang, keadaan amat ga-wat sekali, lekas dia kerahkan Lwekang serta me mbentak sekeras guntur: "Se mua mundur!"

Walau dia berseru dengan kekuatan Lwekang yang tinggi, kalau dalam keadaan biasa suaranya mungkin bisa terdengar cukup jauh, tapi kini gunung gugur bumi berguncang hebat, suara ledakan masih terus berkumandang saling susul sehingga seruannya tak terdengar sama sekali.

Melihat gelagat jelek, sekali raih Kun-gi pegang tangan Ko-lotoa yang berdiri disa mpingnya se mbari me loncat mundur sejauh mungkin Kong-sun Siang berdiri di sebelah kiri, mulutnyapun berteriak: "Song-heng, Thio heng, lekas mundur!" Begitu bergerak, dengan gaya serigala menubruk sekaligus dia me lo mpat mundur sejauhnya. Waktu dia berdiri tegak dan meno leh, batu2 sebesar gajah sedang bergelundungan dari atas ngarai, debu beter-bangan dan batu berlo mpatan menguruk le mbah.

Tadi masih terdengar beberapa kali jeritan kaget dan kesakitan di sana sini, kini kecuali batu gunung yang masih bergelindingan dengan suara gemuruh, suara orang tak terdengar lagi. Agaknya semua orang sudah teruruk di bawah reruntuhan.

Kaget Kongsun Siang, ia coba berteriak: "Cong-coh, Cong-su-cia .

. . . . . . . "

Didengarnya suara Kun-gi juga sedang berteriak: "Kongsun-heng, kau tidak apa2?"

"Ling-heng," teriak Kongsun Siang berjingkrak girang, secepat terbang dia melo mpat ke arah datangnya suara.

Di tanah lapang berumput agak jauh sana keadaan masih gelap berkabut debu, tampak Ling Kun-gi tengah berjongkok, sebelah tangannya menekan punggung Ko-lotoa, kiranya tengah menyalur kan hawa murni ke badan orang.

Tiba di sa mping orang Kongsun Siang lantas bertanya: "Cong- coh, kenapa, Ko lotoa?"

Sebelah tangan Kun-gi tetap tak bergerak, katanya gegetun: "Waktu kutarik dia lo mpat ke belakang dada Ko-lotoa keterjang batu terbang, mungkin . . ."

Belum habis dia bicara, dilihatnya Ko-lotoa telah me mbuka matanya, sinar matanya pudar, bibir bergerak mengeluarkan suara le mah, kata2nya ter-putus2.

"Terima kasih, . . . . Cong. . . . . coh, aku tak. . . , tak tahan. . . .

. lagi, Ui-liong . .. . . tong. . . . . . . di belakangnya ada ada

sebuah. . . . . .. jalan rahasia . . . . . . menembus '.' darah segar tahu2 menyembur keluar dari mulutnya, sehingga dia tak ma mpu meneruskan kata2nya.

Lekas Kongsun Siang berkata: "Ko- lotoa, tenangkan hatimu, apakah maksudmu bahwa di belakang Ui-liong-tong ada ja lan rahasia yang tembus ke mana?"

Kun-gi lepaskan telapak tangan yang menekan punggung orang, katanya rawan: "Dia sudah mangkat." Pelan2 dia berdiri, matanya menje lajah sekitarnya, tanpa terasa dia berkata dengan nada, sedih: "Kongsun-heng, agaknya tinggal kita berdua saja yang masih ketinggalan hidup dalam ro mbongan besar kita tadi."

"Mungkin masih ada yang s mpat lolos, debu masih mengepul setebal ini dan sukar melihat keadaan," ujar Kongsun Siang.

Kun-gi me nggeleng dan berkata setelah menghela napas: "Peristiwa ini terjadi a mat mendadak, kita berdiri lima to mba k di luar Ui-liong-tong, begitu me lihat gelagat jelek aku segera menarik Ko- lotoa me lo mpat ke belakang, tapi Ko- lotoa tetap keterjang batu, padahal dara2 kembang dan Houhoat-su-cia tersebar disekeliling Ui- liong-tong dalam jarak t iga to mbak, mana mungkin mereka se mpat me loloskan diri? Kese mbronoanku yang harus disalahkan, sejak mula harus kuduga bila dalam tandu pasti tersimpan bahan peledak yang amat lihay, seharusnya kusuruh semua orang berdiri lebih jauh lagi."'

Kongsun Siang berkata: "Hal ini tak bisa menyalahkan Cong-coh, kalau Thay-siang me mbawa dina mit di dalam tandu seharusnya dia jelaskan dalam surat petunjuknya, menurut dugaanku, dinamit yang dapat menggugurkan separo gunung ini kalau tidak sekwintal pasti ada delapan atau sembilan puluh kati beratnya, kalau memang tidak tahu menahu, umpa ma berdiri jauh dan berilmu silat tinggi juga takkan se mpat menghindarkan diri, apalagi menurut petunjuk kita harus menerjang masuk ke Ui- liong-tong, bahwa Cong-coh sudah suruh mereka menyebar sejauh tiga tombak, ini sudah cukup cermat juga." Secara langsung dia salahkan Thay-siang yang tidak menje laskan persoalannya sehingga jatuh korban sebanyak ini. Kun-gi diam sejenak tanpa bersuara, pelan2 kepalanya terangkat dan berkata: "Kongsun heng, marilah kita berpencar me meriksa keadaan, mungkin masih ada yang cuma terluka parah dan belum ajal, perlu segera kita menolongnya.

Kongsun Siang mengangguk, katanya: "Benar Cong-coh."

Mereka lantas berpencar ke kanan kiri dan me meriksa sekitar Ui- liong tong, debu yang beterbangan sudah mula i reda, keadaan sudah mulai terang. Maka puluhan to mbak sekeliling Ui- liong-tong bisa terlihat jelas, ternyata batu2 padas melulu yang berserakan me mbukit di tempat itu, keadaan sudah berubah bentuk dan tak dikenal lagi.

Pertama Kun-gi mene mukan jenazah Song Tek-seng, dia sudah berada tujuh tomba k jauhnya dari Ui- liong-tong, punggungnya tertindih batu besar dan mati tengkurap. Bergidik seram Kun-gi, dia m2 ia berkata: "Song-heng, tenangkanlah dirimu dalam istirahatmu, nanti akan kukebumikan bersama dengan kawan2 yang lain."

Lalu dia maju lebih lanjut, ditemukan pula Loh-bi-jin, tadi dia berdiri tepat di mulut Ui- liong-tong, badannya gepeng tertindih batu besar yang jatuh ke bawah, hanya sebelah tangannya saja yang kelihatan menjulur keluar, ke matiannya amat mengenas kan.

Dari lengan bajunya Kun-gi mengenali Loh-bi-jin yang tertindih di bawah batu2 ini, mengingat kebaikan orang yang telah me mapah dirinya tanpa hiraukan perbedaan laki pere mpuan waktu dirinya sempoyongan setelah mengadu kekuatan dengan Hianping-ciang Tokko Siu, sungguh ia berterima kasih dan terharu, kini berta mbah lagi sedih dan pilu, kejadian baru berselang beberapa kejap, tapi jiwa orang sudah mangkat mendahului nya.

Pada saat itulah, mendadak seorang berteriak serak di sebelah kiri sana: "Lekas ke mari, tolonglah aku!"

Cepat Kun-gi me mburu ke sana seraya berteriak: "Dimana kau?" Mendengar suara Kun- gi, agaknya terbangkit se mangat orang itu, teriaknya lebih keras: "Cong-coh, inilah aku Ting Kiau, tertindih di celah2 batu besar ini."

Belum habis dia bicara Kun-gi sudah melo mpat tiba, tampak olehnya Ting Kiau tertindih di bawah sebuah batu raksasa yang ribuan kati beratnya. Waktu batu raksasa ini me nggelundung dari puncak, kebetulan me mbentur batu padas yang menonjol dari dinding gunung sebelah belakang dan Ting Kiau kebetulan se mbunyi di bawah batu padas yang menonjol ini sehingga batu raksasa tadi tidak menindihnya hancur, dia terjepit di celah2 batu tanpa bisa bergerak, hanya kepalanya saja yang menongol keluar.

"Ting-heng tidak terluka bukan?" tanya Kun-gi.

Badan Ting Kiau mer ingkal, sahutnya: "Hamba tidak apa2, tempat ini kebetulan cukup untuk sembunyi, kalau tidak badanku tentu sudah hancur lebur."

Mengawasi batu raksasa ini, Kun-gi me mperkirakan batu ini ada seribu kati beratnya, maka dia kerahkan tenaga, pelan2 kedua tanganya menyanggah batu serta mendorongnya ke samping, katanya: "Awas Ting-heng." Sekali gentak, batu besar itu kena digeser ke atas.

Tanpa ayal Ting Kiau me mberosot keluar, katanya sambil me lo mpat berdiri: "Cong-coh, ha mba sudah keluar."

Pelan2 Kun-gi lepaskan batu raksasa itu, katanya ke mudian: "Ting-heng, lekas sa madi sebentar, apakah kau terluka?"

Ting Kiau menggerakkan kaki tangannya serta menghirup napas panjang, katanya tertawa: "Hamba baik2 saja, sedikitpun tidak terluka. . ."

"Sela mat Ting-heng, syukurlah kalau tidak terluka, mar ilah ikut mencari yang la in mungkin ma-s ih ada yang perlu ditolong."

Mereka maju terus ke sekelilingnya, tapi batu melulu yang tertumbuk, kaki tangan manusia berserak di antara himpitan batu2, jadi sukar dibedakan jasat siapa yang telah tak berbentuk itu, semuanya mati dalam keadaan yang mengerikan.

20 dara kembang tiada satupun yang hidup, delapan Hou-hoat- su-cia hanya Ting Kiau seorang yang sela mat tiga Houhoat ketinggalan Kongsun Siang saja yang lolos dari elma ut. Barisan yang me luruk datang ber-bondong2 dengan mengerek panji2 segala kini sudah tertumpas habis oleh ledakan tandu yang dibawa sendiri, jadi bukan mati di medan laga dan gugur bersama musuh. Peledak itupun sedianya untuk menghancurkan sarang musuh, tak nyana orang sendiripun ikut me njadi korban. Me mangnya ini sudah suratan nasib?

Lama Kun-gi berdiri di depan Ui-liong-tong, tak terbilang betapa berat perasaannya Kongsun Siang mengha mpir i, katanya lirih: "Cong-coh, bagaimana kita harus bertindak lebih lanjut'?"

"Kecuali kita bertiga agaknya tiada yang hidup lagi, tugas kita sekarang yang utama adalah mengumpulkan jenazah mereka sebrta menguburnyad."

"Cong-coh mea mang benar," tibmbrung Ting Kiau, "berapa banyak yang dapat kita temukan kita kuburkan bersama supaya mereka tenteram di alam baka."

Mereka segera bekerja keras, mengeduk liang lahat dan mengumpulkan jenazah yang berserakan. setelah dua liang lahat besar mereka gali, Kun-gi mengha mpiri jenazah Loh-bi-jin, dia singkirkan batu besar yang menindih tubuhnya serta mengusung jenazahnya ke dalam liang lahat, sementara Kongsun Siang dan Ting Kiau juga sibuk menggotong jenazah dara2 kembang yang lain, kaki tangan yang terputus berserakan di mana2 mere ka kumpulkan serta di-uruk menjadi satu.

Pada liang lahat kedua, mereka kebumikan ber-sama Song Tek- seng, Ko-lotoa serta mencari pula, yang lain. se muanya dalam satu liang lahat.

Berdiri di depan pusara massal itu Kongsun Siang terlongong sekian la manya, katanya: "Thio-heng (Thio La m-jiang) tadi bersamaku waktu tandu dile mpar ke dalam Ui- liong-tong, meski tempat ka mi berdiri tepat di depan Ui- liong-tong, tapi jaraknya sekitar lima to mbak, Thio-heng meyakinkan ilmu pedang yang menguta makan kelincahan mengapung di udara, Ginkangnya cukup tinggi dan me lebihi aku, bahwa jiwaku bisa sela mat, seharusnya Thio-heng pun bisa lolos dari maut, kenapa jenazahnya tidak kita temukan?"

Maklum, hubungannya dengan Thio La m- jiang paling int im, tak tertahan air matapun bercucuran, memikir kan nasib teman baiknya itu.

"Jangan berduka Kongsun-heng, takdir menghendaki de mikian, kita terima saja musibah ini dengan lapang dada," kata Kun-gi.

"Cong-coh," ucap Ting Kiau, "bukankah Thay-siang masih ada sepucuk surat rahasia, entah apa petunjuknya? Cobalah sekarang dibuka." '

Baru Kun-gi teringat akan hal ini, lekas dia menge luarkan sa mpul surat itu serta merobeknya, dilolos keluar secarik hertas putih dan dibebernya. begitu kertas terbeber, seketika berubah air muka Kun- gi.

Surat kedua yang dikatakan petunjuk ini   hanya merupakan le mbaran kertas putih me lulu tanpa tulisan sehurufpun. Apakah arti kertas putih po- los ini?

Tandu itu me muat bahan peledak, setelah Ui-liong-tong diledakkan, sudah tiada lagi tugas mereka selanjutnya, jadi tidak perlu pakai petunjuk segala? Tapi bila orang banyak tidak mati karena ledakan tadi, umpama me mang tiada tugas lainnya lagi, mestinya diberitahu ke mana dan bila mana mereka harus berkumpul atau mundur ke mba li ke Ciok-sinbio untuk menunggu perintah selanjutnya. Tanpa petunjuk, itu berarti bahwa rombongan besar yang dipimpinnya ini sudah tiada lagi, sudah ta mat seluruhnya.

Rupanya Thay-siang sudah me mperhitungkan bahwa ro mbongan besar ini seluruhnya akan mene mui ajalnya di tempat ini. Se makin dipikir se ma kin berkobar a marah Kun-gi, tanpa terasa ia menggera m dan berkata: "Muslihat yang keji!"

"Apakah Cong-coh perlu ketikan api?" tanya Ting Kiau. "Tidak usah." kata Ling Kun-gi.

"Lwekang Cong-coh amat tinggi," ucap Kongsun Siang, "di

tempat gelap dapat melihat dengan terang, entah petunjuk apa yang tertulis disurat Thay-siang?"

"Surat rahasia ini tanpa satu hurufpun," kata Kun- gi geram. "Mana mungkin?" teriak Ting Kiau heran. "Tanpa petunjuk Thay-

siang, ke mana kita harus berkumpul dengan ro mbongan yang lain?"

"Jadi kalian masih ingin mene mui Thay-siang?' tanya Kun-gi sengit.

"Rombongan besar kita tertinggal kita bertiga yang mas ih hidup, kukira perlu segera mengadakan kontak dengan dua ro mbo ngan yang lain," demikian usul Kongsun Siang.

Tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Maklumlah mereka sa ma terbius oleh Bi-sinhiang-wan, jadi bahan peledak yang dipasang dalam tandu itu melulu untuk menyingkir kan diriku seorang? Ya, melihat taraf kepandaian yang kuyakinkan, jelas dia sendiri takkan ma mpu kendalikan diriku, maka bersa ma dengan tugas menyerbu ke Ui- liong-tong ini dia hendak me mbunuhku dengan kekuatan ledakan dahsyat itu, maksudnya untuk menghindar kan bencana di ke mudian hari. Ai, demi diriku seorang, tak segan2 dia mengorbankan jiwa orang banyak untuk me ngiringi ke matianku, nenek ini sungguh kejam dan mena kutkan."

Melihat Kun-gi tepekur sekian la ma tanpa bersuara, Ting Kiau lantas bertanya: "Cong-coh, Ui-liong-tong sudah hancur, apakah kita perlu kembali dulu ke Ciok-s inbin?"

Kun-gi diam saja, dari sakunya dia merogoh keluar kantong sulam pemberian Un Hoankun tempo hari serta me mbuka ikatannya dan menge luarkan botol porselin kecil, ia menuang enam butir pil Jing-sintan sebesar kacang hijau serta diangsurkan, katanya: "Kongsun-heng, Ting-heng, kalian masing2 telan t iga butir obat ini..."

Kongsun Siang terima tiga butir obat itu dan ditelannya tanpa pikir, tanyanya sambil celingukan: "Apakah Cong-coh melihat gejala2 yang tidak beres?"

Ting Kau juga terima obat itu, dia sedikit ragu2, pelan2 baru menelannya, tanyanya juga: "Cong-coh, obat apakah ini?"

Kedua orang bertanya dalam waktu yang ha mpir sama. Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Apakah kalian pernah dengar Bi-sinwan?"

Kongsun Siang me lengak, katanya: "Pernah hamba dengar cerita Suhu, Bi-sinwan adalah sejenis obat bius yang paling keras daya kerja racunnya, konon dulu kaisar Gui-bunto yang mengembang biakannya dari daerah barat, baunya harum semerbak, orang yang menciumnya akan mabuk, malah yang berat bisa mati sesaat ke mudian."

Terpentang kedua mata Ting Kiau, katanya dengan rasa curiga: "Jadi obat yang Cong-coh berikan kepada hamba tadi adalah Bi- sinwan?"

Kun-gi tertawa, ujarnya: "Obat yang kalian makan tadi justeru adalah obat penawar Bi-sinwan itu."

"Obat penawar Bi-sinwan? Sejak kapan ha mba terkena racun Bi- sinwan?" tanya Kongsun Siang heran.

"Kadar racun Bi-sinwan me mang a mat keras, orang bisa mati bila menciumnya teramat banyak, tapi kalau dapat me manfaatkannya dengan racikan obat lain dan dijadikan pil serta dica mpur dalam makanan, ma ka kau akan me makannya tanpa sadar, khasiatnya secara langsung dapat me mpengaruhi daya pikir orang, me mang kau kelihatan segar bugar dan jernih pikiran, tapi di luar sadarmu kau telah kehilangan tekad perlawanan dan selalu tunduk setia kepada orang yang telah memberi minum itu, sampai mati takkan berubah haluan."

Terbeliak mata Kongsun Siang, katanya: "Maksud Cong-coh bahwa Pek-hoa-pang telah me mber i Bi-sinhiang kepada kami?" sampai di sini tiba2 dia mangut2, katanya pula: "Betul, setelah hamba ingat2, selama dua tahun ini, peduli apapun yang dilakukan Pek-hoa-pang selalu kurasakan betul, terutama terasa bahwa Thay- siang adalah junjungan yang maha agung dan suci, umpa ma dia menghenda ki ha mba segera mati, ha mba tidak akan ragu me mbunuh diri dihadapannya."

"Dan sekarang? Bagaimana perasaan Kongsun-heng?" tanya Kun-gi.

"Sekarang perasaan hamba nyaman dan lapang, timbul rasa curigaku terhadap Thay-siang dan Pek-hoa-pang, gerak-gerik dan sepak terjang mereka serba misterius, bukan mustahil ada sesuatu hu-bungan rahasia dengan Hek- liong-hwe "

"Betul," timbrung Ting Kiau, "hambapun merasakan de mikian, Pek-hoa-pang hanya me mperalat kita se mua."

Kun-gi tersenyum, katanya: "Syukurlah kalau kalian sudah mengerti.'

Kertas putih pemberian Thay-sang dia angkat dan dilambaikan ke atas, katanya: "Surat ini tanpa tulisan sehurufpun, inilah bukti mus lihatnya kalau burung kaget busurpun harus disembunyikan, kelinci mat i anjing ikut hangus`

"Bahwa Thay-siang biarkan kita mati lantaran kita orang luar, tapi Ko-lotoa adalah anak buahnya yang sudah berbakti puluhan tahun padanya, Loh-bi-jin adalah murid didik asuhannya, demikian pula ke20 dara kembang itu apa pula dosanya? Kenapa merekapun harus ikut menjadi korban ledakan ini?"

"Ko-lotoa adalah salah satu dari tiga puluh enam panglima Hek- liong-hwe, banyak rahasia pribadi Thay-siang diketahuinya, kini ada kesempatan untuk me lenyapkan dia, bukankah rahasianya selamanya takkan lagi diketahui orang? Celakalah Loh-bi-jin dan dara2 kembang itu, lantaran bersama kita dia sa mpai hati mengorbankan mereka pula."

"Kenapa Thay- siang hendak me mbunuh kita semua?" tanya Ting Kiau tak mengerti.

"Hek liong-hwe punya tiga seksi, yaitu Hwi-liong-tong, Ui- liong- tong dan Ceng-liong-tong. Pangcu Bok-tan dari Hupangcu Sbo- yok telah diperintahkan untuk menyergap kesana dengan tugas sendiri2, ke mungkinan Thay-siang sendiripun sudah meluruk ke sana. Rombongan kita sepanjang jalan ini kelihatan ber-bondong2, padahal hanya untuk menarik perhatian musuh dan menggertaknya, bahwa kita berhasil me nerjang tiba di depan Ui- liong-tong ini me mbuktikan bahwa kita telah mengge mpur segala aral rintang dari musuh yang mencegat kita, peledak yang ada di dalam tandu dan dile mpar ke dalam Ui- liong-tong sehingga hancur lebur, ma ka orang2 seperti kita ini dirasa tidak perlu lagi, me mang inilah cara sekali tepuk me mbunuh dua lalat." Kata Kongsun Siang gusar: "Mendengar uraian Cong-coh, hamba seketika sadar dan mengerti, rencana dari tujuan Thay-siang ternyata amat keji dan keja m."

Ting Kiau menghela napas, katanya: "Lalu bagaimana rencana Cong-coh selanjutnya?"

"Selanjutnya kalian tak usah me manggil Cong-coh segala, jabatanku sudah ikut terpendam di bawah reruntuhan ledakan tadi," demikian ucap Kun-gi.

Ting Kiau tertawa getir, katanya: "Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Racun dalam tubuh kalian sudah ditawarkan, inilah kese mpatan baik untuk me mbebaskan diri dari pertikaian ini, supaya selanjutnya tidak diperalat lagi oleh Pek-hoa-pang, maka menurut pendapatku, lebih baik selekasnya kalian me ninggalkan te mpat ini saja."

"Pernah kudengar Ling-heng bilang ada dua temanmu yang tertawan Hek-liong-hwe, kehadiranmu adalah untuk menolong mereka, untuk ini aku dengan senang hati ingin me mbantu Ling- heng, meski menerjang lautan api juga aku akan me mbantumu."

"Nyawa hamba ini juga berkat pertolongan Cong-coh, hambapun takkan pergi begini saja," de mikian Ting Kiaupun berkukuh pendapat.

"Betapa luhur persahabatan ini, sungguh aku amat berterima kasih . . " kata Kun-gi.

Kongsun Siang menyela: "Bahwa Ling-heng tidak pandang rendah diriku dan sudi bersahabat denganku, ini sudah mengangkat pamor ku pula, kini Ling-heng hendak menyelundup ke Hek- liong- hwe seorang diri, mes ki kepandaian Ling-heng cukup tinggi, tapi jago2 Hek- liong-hwe juga t idak sedikit jumlahnya, di sa mping meno long teman harus menghadapi musuh lagi, betapapun tenaga seorang terlalu merepotkan, kalau sekarang aku tinggal pergi, me mangnya terhitung persahabatan apalagi? Apapun kata dan sikap Ling-heng, aku sudah bertekad untuk mengir ingi kepergian Ling- heng."

"Apa yang diucapkan Kongsun-heng merupakan isi hatiku pula," demikian sa mbung Ting Kiau. "kalau Cong-coh tidak terima keinginan kami berarti pandang rendah ka mi berdua."

Melihat betapa besar dan teguh keinginan kedua orang ini, tak enak Kun-gi meno laknya lagi, iapun tahu untuk meluruk ke sarang Hek-liong-hwe seorang diri terlalu terpencil, apalagi nanti harus menghadapi pertempuran sengit. Apa yang diucapkan Kongsun Siang me mang tidak salah, di samping berusaha meno long teman, dia harus sibuk menghadapi musuh lagi, keadaan tentu serba repot dan mendesak.

Maka dia manggut dan berkata "Kalau de mikian aku takkan banyak omong lagi, cuma Hek- liong- hwe berada di sarang sendiri, bukan saja kita asing keadaan di sini, keadaan musuhpun buta sa ma sekali, sebetulnya untuk meno long te man kita bisa bekerja secara dia m2 dan main se mbunyi la lu menyergap pada saat lawan tidak siaga, tapi setelah Ui-liong-tong kita  hancurkan, sementara  dua rombongan lain dari Pek-hoa-pang juga telah menyerbu ke Hwi- liong-tong dan Ceng-liong-tong, tentu pihak Hek- liong- hwe sudah meningkatkan penjagaan, kita menyelundup ke sarang naga, bukan saja berbahaya, setiap saat kemungkinan kita akan mene mui ajal di dalam sana."

Ting Kiau tertawa, katanya: "Pendapatku justeru sebaliknya, Ui- liong-tong sudah hancur, ini kenyataan, rombongan Pangcu dan Hupangcu mas ing2 menyerbu Hwi-liong-tong dan Ceng- liong-tong, sekarang kemungkinan mereka masih dalam ajang pertempuran sengit, marilah kita masuk secara diam2, umpa ma kepergok para penjaga, tentu dengan mudah dapat kita sikat, inilah kese mpatan paling baik untuk menolo ng te man."

Kongsun Siang manggut2, katanya: " Usul Ting-heng me mang baik, Ling-heng, hayolah jangan buang2 waktu, marilah berangkat"

Berkerut alis Kun-gi, katanya: "Usul kalian me mang masuk akal, tapi kita tidak tahu di ma na letak pusat markas Herk-liong-hwe, datlam waktu sesinqgkat ini, ke mana kita akan me ne mukannya?"

"Kenapa Ling-heng lupa," kata Kongsun Siang, "sebelum ajal bukankah Ko- lotoa bilang di belakang Ui-liong-tong ada jalan rahasia, dia hanya mengatakan `tembus', kemungkinan jalan rahasia di belakang Ui-liong-tong itu bisa te mbus ke markas pusat Hek-liong-hwe, kenapa tidak kita coba untuk me ncarinya?"

Berpikir sejenak akhirnya Kun-gi mengangguk, katanya: "Apa boleh buat, marilah kita berusaha."

"Marilah segera kita masuk," kata Ting Kiau senang.

"Nanti dulu, Ui- liong tong sudah hancur, kemungkinan jalan rahasia itupun teruruk, kita "

"Tapi mungkin juga karena ledakan ini jalan rahasia itu malah terbuka," kata Ting Kiau dengan tertawa.

"Me mang mungkin," ujar Kun-gi, "Kita harus tetap hati2. Pertama, jarak di antara kita bertiga harus tetap dipertahankan untuk menjaga segala kemungkinan. Kedua, aku akan berjalan didepan, Ting-heng di tengah dan Kongsun-heng di belakang, jika diperjalanan terjadi sesuatu di luar dugaan, harus secepatnya mundur, jadi aku akan jaga bagian belakang, untuk ini kalian harus perhatikan betul2."

Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiakan, katanya berbareng: "Ling-heng tak usah kuatir, ka mi mengerti." . .

"Baiklah, hayo berangkat," ujar Kun-gi, belum habis bicara ia sudah melayang ke arah Ui- liong-tong.

Ui-liong-tong atau gua naga kuning terletak di bawah ngarai, semula merupa kan gua besar yang lebar dan luas. Kini setelah diledakkan gua itu sudah runtuh, ngarai di atasnya yang berpuluh tombak tingginya sama menguruk di depan gua, maka batu2 besar berserakan di mana2 sehingga mulut gua yang besar itupun hampir tersumbat.

Ling Kun gi menyingsing lengan baju dan mengerahkan tenaga, beberapa batu raksasa dia singkirkan, lalu dengan me mir ingkan tubuh dia dapat menyelinap masuk ke dala m. Sudah tentu Ui- liong- tong seluruhnya juga sudah ambruk dan tidak berbentuk semula, lorongnya penuh batu dan debu, Untunglah dinding batu Ui- liong- tong cukup kuat, meski banyak te mpat yang a mbruk, tapi bentuk guanya masih tetap ada.

Kecuali bahan peledak kiranya di dalam tandu juga tersimpan minyak bakar, begitu meledak seketika terjadi kebakaran hebat, kobaran api me ngikuti aliran minyak menjurus ke arah belakang.

Mata Kun-gi dapat melihat di tempat gelap, tapi Ting Kiau dan Kongsun Siang yang ada di belakangnya sukar lagi menggerakkan kaki karena gelap gulita tidak terlihat apa2, terpaksa Kun-gi keluarkan Leliong-cu dan diangkat tinggi di atas kepala. Maka me mancar lah cahaya kemilau dari mutiara mestika itu, sejauh dua tombak dapat mereka pandang walaupun rada sa mar2.

Langkah Kun-gi a mat pelan dan hati2, dia periksa dinding batu dari bekas ledakan dan kebakar-an. Sudah tentu di banyak tempat ke mbali dia harus kerahkan tenaga untuk me mindah batu besar supaya bisa maju lebih lanjut.

Ting Kiau terus berada di belakang Kun-gi, katanya dengan suara lir ih: "Cong-coh, biarlah hamba bantu me mindahkan batu2 ini."

Kongsun Siang t idak mau ketinggalan. "Mari kubantu juga."

Dengan kerjasama tiga orang dapatlah wereka maju semakin jauh, kini sudah ada di gua belakang. Ternyata Ui-lio ng-tong me mang a mat besar dan panjang lorongnya, bercabang lagi, te mpat mereka berada terang berada di perut gunung, kalau gua di depan rusak kena ledakan, tapi keadaan di sini hanya beberapa tempat yang gugur sebagian, beberapa deret kamar yang mereka te mukan masih terhitung utuh, tapi ada dua puluhan mayat yang bergelimpangan tanpa luka apa2, rupanya mereka mati pengap karena terjadi ledakan keras di depan gua tadi.

Tanpa terasa Kun-gi menghentikan langkah, katanya: "Agaknya jalan sudah buntu sa mpai di sini."

"Tapi Ko- lotoa bilang di sini ada lorong rahasia," ujar Kongsun Siang.

"Kalau betul ada lorong rahasia, orang2 ini tidak akan mati pengap."

"Marilah kita cari," ajak Ting Kiau.

Sementara mereka berbicara Kun-gi sudah beranjak ke arah sebuah ka mar batu di ujung kanan sana.

"Ling-heng," seru Kongsun Siang tertahan, "di atas dinding ada tulisan."

Kun-gi anggkat mutiara di tangannya menyinari dinding, me mang dinding di depan pintu ada sekeping papan persegi, di atas papan ada sebaris huruf yang berbunyi "Ka mar se madi dilarang masuk".

"Mungkin di sinilah biasanya Ci Hwi-bing meyakinkan ilmunya," ujar Ting Kiau. Tergerak hati Kun-gi, segera dia masuk ke situ. Ka mar batu ini dipasang pintu kayu, bagian dalamnya ternyata amat luas, empat dinding sekeliling ka mar ditabiri kain layar warna kuning, di ujung atas mepet dinding sana terdapat sebuah dipan yang bercat kuning pula, kasur, bantal guling dan sepreinya masih utuh. Kecuali dipan itu, tiada benda lain lagi di dalam ka mar besar ini, terasa keadaan kosong melo mpong. Mungkin karena getaran ledakan, debu pasir tampak berhamburan dari atap ka mar.

Kongsun Siang me ma ndang sekeliling ka mar, pedang panjang ditangan seeara iseng menyingkap kain layar di depannya. Ting Kiau juga tidak berpeluk tangan, "sret", kipas besinyapun bekerja, layar kuning di sebelah dipan juga dia tarik sa mpai sobek. Mendadak dia menjer it kaget: "Nah, di sini!"

Tanpa bersuara Kun-gi mendekat, betul di dinding me mang ada bekas garis sebuah pintu.

Ting Kiau sudah me ndahului maju serta mendorongnya.

Kun-gi mengira di sekitar pintu rahasia ini tentu dipasang alat rahasia, ingin mencegah Ting Kiau sudah tidak keburu, untunglah meski Ting Kiau sudah mendorong sekuat tenaga, pintu batu tetap tidak berge ming:

Kongsun Siang segera maju, dengan teliti dia periksa sekitar pintu lalu me ngetuk dan meraba sekian la manya, akhirnya berkabta: "Inilah pintu rahasia, kukira t idak akan salah."

"Mestinya ada tombol rahasianya untuk me mbuka pintu ini, tombol tentu berada di ka mar ini, marilah kita cari dengan teliti, mungkin bisa kete mu,"

"Ting heng me mang benar, pintu batu rahasia terang dikendalikan oleh alat rahasia untuk buka tutup sehingga orang leluasa keluar masuk, seharusnya orang tidak akan mudah mene mukannya dan meninggalkan garis2 persegi yang berbentuk pintu ini, tapi karena ledakan dahsyat tadi menimbulkan ge mpa yang cukup keras dan menggoncangkan gunung ini sehingga pintu inipun menjadi retak, ke mungkinan alat2 rahasianya juga ikut rusak karenanya."

"Jadi ma ksudmu jalan rahasia ini sudah buntu dan tak mungkin terbuka lagi?" Ting Kiau menegas.

"Mungkin de mikian," ujar Kongsun Siang.

"Kalau betul di sini ada pintu, marilah kita coba mendorongnya," ajak Kun-gi.

"Pintu rahasia ini dikendalikan alat2 rahasia pula, setelah menga la mi goncangan keras tadi, ku-kira alat2nya sudah rusak, tenaga siapa mampu menjebolnya?" Tapi bagaimana juga Kun-gi adalah bekas atasannya, kepandaian orang juga sudah pernah disaksikannya, maka   ia   berkata   pula:   "Kukira   sukar   untuk me mbukanya."

"Biar kucoba," ucap Kun-gi. Lalu ia menyerahkan Leliong-cu kepada Ting Kiau, katannya: "Ting-heng, kau pegang mutiara ini."

Ting Kiau terima mutiara itu, katanya kuatir: ”Cong-coh, berat pintu ini sedikitnya ada ribuan kati, kalau dikendalikan alat rahasia berarti sudah berakar dengan dinding gunung ini, bagaimana mungkin bisa me mbukanya?"

Kun-gi tersenyum, katanya: "Me mang sulit me mbuka pintu yang dikendalikan alat rahasia, tapi ucapan Kongsun-heng t idak salah, karena goncangan ledakan tadi sehingga pintu ini menunjukkan bekas, kalau alat rahasianya sudah rusak, mungkin lebih mudah mendorongnya terbuka."

Habis bicara segera ia melangkah setapak, telapak tangan menahan pintu, pelan2 dia mengirup napas dan mengerahkan tenaga mendorong sekuatnya ke depan.

Melihat dia betul2 hendak mendorongnya Kong-sun Siang berseru dari sa mping: "Awas Ling- heng, jangan patah se mangat."

Kun-gi meno leh, katanya tertawa: "Tidak apa2, aku akan mencobanya." Ting Kiau mengacung tinggi2 mutiara di atas kepalanya, dari samping dia mengawasi gerak-gerik Ling Kun-gi, kedua tangan orang sudah mene mpel pintu dan berdiri tegak tak bergeming, tapi jubah hijaunya yang longgar itu kini pelan2 mula i mele mbung seperti terisi angjn, mirip balon yang penuh gas. Dalam hati diam2 dia merasa kaget dan heran, batinnya: "Usia Cong-coh lebih muda daripadaku, tapi kepandaian silat yang dibekalnya entah berapa tingkat lebih tinggi."

Dikala Ting Kiau termenung itulah tiba2 Kun- gi menghardik sekeras guntur menggelegar, sepenuh tenaga kedua tangan mendorong ke depan. Maka terdengarlah suara keriat keriut makin la ma sema kin keras seperti ada rantai besi putus dan benda menjeplak, pelan tapi pasti pintu batu itu mulai terdorong mundur dan terbuka.

Terbeliak mata Kongsun Siang, teriaknya kejut girang: "Tenaga sakti Ling-heng sungguh tiada bandingannya di kolong langit."

Ting Kiau juga terkesima, katanya sambil menjulur lidah: "Ilmu sakti apakah ini, Cong-coh? Begitu hebat kekuatannya, pintu batu ini betul2 terdorong terbuka."

Sementara itu pintu batu yang tebal dan berat itu sudah terbuka seluruhnya oleh Ling Kun-gi, pelan2 dia menarik turun kedua tangannya, hawa murni atau tenaga dalam yang me mbikin jubahnya mele mbung juga mula i sirna dan ke mpes, air mukanya ternyata tidak berubah dan napaspun tidak me mburu, katanya ke mudian sa mbil menghe la napas panjang. "Hanya mendorong pintu sa mpai terbuka, masa terhitung ilmu sakti segala?"

Ting Kiau serahkan ke mba li mut iara kepada Kun-gi, katanya: "Cong-coh, hari ini hamba betul2 terbuka matanya, tapi Kungfu apakah yang barusan kau gunakan, sukalah kau me mberitahu?"

"Kalau Ting-heng ingin tahu," ujar Kun-gi, "biarlah kuberitahu, Kungfu yang kugunakan tadi adalah Kim-kong-s im-hoat."

"Kim-kong-s im-hoat? Belum pernah kudengar na ma ini," ajar Ting Kiau. "Bekal kepandaian Ling-heng mendapat didikan langsung dari Put-thong Taysu, sudah tentu Kim-kong-s im-hoat merupa kan Kungfu yang hebat dari Siau- lim-pay," kata Kongsun Siang.

Di balik pintu batu kiranya adalah sebuah lorong yang gelap gulita, tidak lebar, tiba cukup untuk dua orang berjalan sejajar. Kun- gi mendahului me langkah keluar, ternyata banyak liku2 dan ber- cabang pula lorong panjang gelap ini, bukan saja tidak terasa adanya bau apek dan le mbab, ma lah hawa terasa dingin silir dan segar. Dengan me megang mutiara Kun-gi maju terus ke depan, kira2 20-30 tombak jauhnya, angin dingin yang meng-he mbus dari arah depan terasa semakin dingin dan kencang, kiranya mereka sudah tiba di ujung lorong, di depan mengadang undakan batu.

Ling Kun-gi me mpercepat langkah terus naik ke undakan, kira2 ratusan undak telah dila luinya, akhirnya mereka tiba di sebuah pintu, di luar pintu lapat2 seperti ada cahaya matahari.

Dia m2 Kun- gi me mbatin: "Mungkin sudah sa mpai di te mpat tujuan?" segera dia simpan mutiaranya.

Lekas Kongsun Siang me mburu naik menda mpinginya, katanya lir ih: "Apakah Ling-heng me lihat sesuatu?"

"Tidak," kata Kun-gi, "di sini ada sebuah pintu, di luar ta mpak cahaya matahari, mungkin sudah dite mpat tujuan, kita harus lebih hati2, jangan sampa i mengejutkan pihak musuh."

Kongsun Siang me ngiakan. Kun-gi lantas beranjak maju, Kongsun Siang dan Ting Kiau mengir ingi dari belakang.

Ternyata di luar adalah sebuah le mbah kecil yang luasnya puluhan to mbak, bentuk lembah ini mir ip sumur, sekelilingnya dipagari dinding gunung yang curam dan ratusan to mbak tingginya. Kalau mendongak me lihat langit seperti duduk dalam sumur melihat angkasa, langit nan biru kelihatan hanya sejengkal saja. Ternyata inilah le mbah sumur ciptaan ala m.

Dasar lembah ternyata datar dan tersapu bersih dan licin, di bawah kaki te mbok di kanan- kiri masing2 terpasang bangku panjang terbuat dari balok batu. Di bawah-kaki tembok seberang sana terdapat dua mulut gua yang terbuka lebar. Gua tidak berpintu, keadaannya gelap tak terlihat barang apa yang ada di dalamnya, suasana sunyi senryap tak terdengar suara apapun, dari lorong bawah tanah Ui-liong-tong sa mpai di sini, kini mere ka diadang oleh dua mulut goa, kedua goa ini tentu menuju ke Ceng- liong-tong dan Hwi- liong-tong.

Kun-gi merandek, tujuannya hendak menolong orang, entah di mana Pui Ji-ping dan Tong Bunkhing sekarang disekap? dia m2 ia cemas.

Kongsun Siang melangkah maju setapak, katanya lirih: "Ling- heng, kedua gua ini ke mungkih-an menjurus ke Ceng-lio ng-tong dan Hwi -liong- tong."

Kun-gi manggut, sesaat dia merenung, katanya kemudian: "Aku sedang berpikir, gua mana yang harus kita pilih?"

"Tujuan Cong-coh adalah meno long orang," de mikian kata Ting Kiau, "kalau dalam gua yang satu tidak ketemu boleh kita keluar dan masuk ke gua yang lain, yang terang kita harus berusaha sampai berhasil me nolong orang," sembar i bicara ia menudang gua sebelah kiri dan melangkah kesana. "Cong-coh, sekarang biar hamba jadi pelopornya, di dalam lorong gua ini ke mungkinan dipasang alat2 rahasia, untuk permainan ini sedikit banyak ha mba pernah me mpelajarinya."

Terpaksa Kun-gi biarkan orang jalan di depan, dia keluarkan mut iaranya serta disodorkan, katanya: "Ting-heng bawalah mutiara ini, apapun kau harus hati2." '

Ting Kiau terima mutiara itu se mbari berkata: "Ha mba mengerti, tanggung takkan terjadi apa2." "Sret", dia keluarkan kipas besi serta me mbukanya untuk melindungi dada terus menyelinap masuk ke gua sebelah kiri.

Kuatir orang mengala mi bencana lekas Kun-gi mengikut inya, Kongsun Siang tidak mau ketinggalan, ia berada di belakang Ling Kun-gi. Mereka terus maju ke depan, setelah membelok dua kali, keadaan lorong gua ini se makin gelap. Tapi Ting Kiau mengacung tinggi mutiaranya di atas kepala, cahaya mutiara kemilau bagai sinar api di tempat gelap dan dapat terlihat tempat agak jauh. Segera Kun-gi berpesan pula: "Ting-heng, kerahkan hawa murni dan selalu siaga, jagalah kalau disergap musuh dari te mpat persembunyiannya."

Ting Kiau tertawa, katanya: "Cong-coh jangan kuatir, begitu kulihat ada orang, segera akan kulumpuhkan dia lebih dulu.”

Lahirnya dia bersikap riang dan tak acuh, sebetulnya iapun maklum bahwa mereka sudah berada di sarang musuh, setiap saat mungkin sekali menghadapi mara bahaya, setiap langkah mereka berarti semakin dekat pada tujuan, bukan mustahil akan kesamplok dengan penjaga atau barisan ronda mu-suh. Sebagai pelopor yang jalan di depan dengan penerangan mutiara, berarti musuh di tempat gelap dan awak sendiri di tempat terang dan gampang menjadi sasaran musuh. Maka sepanjang jalan setiap gerak langkahnya amat hati2 dan diperhitungkan dengan seksa ma, kipasnya dipegang kencang, mata dan kuping digunakan dengan tajam, dengan pelan mereka terus maju ke depan.

Kira2 puluhan tombak lagi telah mereka capai, tapi tidak kunjung tiba musuh me nyergap atau rintangan apapun. Mendadak Ting Kiau menghentikan langkah, katanya lirih: "Cong-coh, hamba rasa keadaan di sini kurang wajar."

"Bagaimana pendapat Ting- heng?" tanya Kun-gi.

"Lorong di bawah tanah ini, peduli mene mbus ke manapun, yang jelas merupakan te mpat penting dan rahasia di pusat musuh, seharusnya dijaga dan diadakan ronda, tapi kenyataan keadaan di sini kosong dan tanpa penjaga, masa begitu cerobohnya pihak musuh, kan tidak masuk akal."

Kun-gi mengangguk, katanya: "Pendapat Ting-heng betul, akupun merasakan." Kongsun Siang me nimbrung: "Mungkin ro mbongan Pangcu dan Hupangcu sudah bentrok berhadapan dengan musuh, mereka tidak sempat me mikirkan kea manan lorong rahasia ini."

Kata Ting Kiau pula: "Ke mungkinan Ci Hwi-bing sudah lari ke mari, tahu kita mengejarnya, maka sengaja dia me mancing kita ke sini."

"Se mua mungkin, tapi kita sudah berada di sini, umpa ma ada perangkap juga tidak perlu takut, hayo terjang saja!" demikian Kun- gi mendorong se mangat mereka.

"Cong-coh benar," ujar Ting Kiau, "umpa ma sarang harimau dan kubangan naga juga harus kita terjang." Lalu dia me langkah ke depan.

Tak la ma ke mudian lorong berbelok ke kiri, dan tiba di ujung, keadaan di depan ternyata lebar dan terbentang luas. Mendadak keadaanpun menjadi terang genderang.

Ting Kiau a mat cerdik dan hati2, se mula dia menggre met maju mepet dinding, begitu melihat di depan ada cahaya segera dia menghentikan gerakan serta menggengga m kencang mutiara di tangannya lantas mundur, katanya lirih: "Cong-coh, simpanlah mut iara ini, di depan sudah ada cahaya la mpu."

Kun-gi terima mutiara itu terus disimpan.

Sementara Ting Kiau sudah bergerak pula ke depan, sekali kelebat dia melo mpat ke depan mepet dinding dan me lihat keadaan di luar. Kiranya di ujung lorong gelap ini adalah sebuah ruang batu seluas puluhan to mba k, tapi keadaan ruang batu ini mirip sebuah lapangan. Karena di depan sana terdapat sepasang pintu besi, dua gelang besi besar yang mengkilap tergantung di tengah pintu. Pintu besi tertutup rapat, empat la mpu gelas tampa k tergantung di kanan kiri pintu, di bawah lampu berdiri e mpat busu muda yang bersenjata pedang.

Lampu itu me mancarkan cahaya redup, tapi di dalam gua bawah tanah yang gulita seperti ini terasa besar sekali manfaat cabaya la mpu, puluhan tomba k sekeliling lapangan itu menjadi terang dan jelas.

Dia m2 Ting Kiau mengerut kening, menur ut perhitungannya, dari tempat bersembunyinya ini kira2 ada 12 tombak jauhnya dengan keempat jago pedang itu, kalau untuk menyergap dan menyerangnya secara mendadak, kecuali menggunakan panah dan alat jepretan yang kuat, senjata apapun sukar untuk mencapa i musuh.

Dalam pada itu Kun-gi juga sudah menggeremet maju, katanya lir ih: "Bagaimana keadaan di luar?"

"Agaknya kita sudah sa mpai te mpat tujuan, ada empat orang menjaga pintu besi itu, Cong-coh tunggu saja di sini, biar ha mba yang bereskan mereka," habis bicara sebat sekali ia sudah meluncur keluar gua dan hinggap di tengah lapangan. Batu saja bayangannya berkelebat keluar, keempat jago pedang yang berdiri di depan pintu besi sana segera mengetahui jejaknya, seorang lantas me mbentak. "berhenti!"

Gerakan Ting Kiau cepat luar biasa, di tengah bentakan orang bayangannya sudah menerjang tiba, kira2 tiga tombak jaraknya dari pintu besi itu, dua jago pedang berbaju hijau dikanan-kir i segera me mapak kedatangannya. orang di sebelah kiri me mbentak, "Darimana kau?"

Ting Kiau menghentikan langkah, dia senga-ja pura2 bernapas ngos2an seperti habis lari kencang, lalu katanya sambil menjura: "Para Saudara, Cayhe hendak menya mpaikan laporan "

"Apa jabatanmu?" tanya orang di sebelah kanan.

Sambil pegang kipas le mpitnya Ting Kiau menjura kepada kedua orang itu, katanya: "Cayhe Ting Kiau, Sincu dari Ui-liong-tong . . . .

" belum habis dia bicara mendada k dua bintik sinar menya mber keluar tanpa bersuara dari ujung kipasnya mengincar tenggorokan kedua orang. Kedua jago pedang itu agaknya tidak kira kalau Ting Kiau bakal me mbo kong, apalagi jarakpun sangat dekat, waktu sadar elmaut menganca m jiwa, hendak berkelit atau menangkis sudah tak sempat lagi, kontan mere ka roboh terjengkang dan jiwa me layang.

Melihat kedua temannya mendadak roboh binasa, sudah tentu kedua orang yang lain a mat ka-get dan me mbentak gusar: "Keparat, berani kau main gila di sini." Sa mbil melo los pedang, kedua orang lantas menubruk bersama.

Ting Kiau tertawa ngakak, sambil mundur setengah tapak, "stet", kipasnya terbentang, katanya tersenyum: "Kebetulan kalian maju bersama."

Kipas le mpitnya terbikin dari batangan besi. di dalam setiap batangan besi tersimpan jarum2 sele mbut bulu kerbau yang beracun, begitu kipas terbentang dan sekali kebas, serumpun jarum2 seketika menya mber keluar dengan bentuk me mbundar mirip lingkaran kipas le mpitnya itu.

Baru saja kedua jago pedang itu menubruk maju, belum lagi kaki mereka berdiri tegak, keduanya sudah dima kan jarum terbang yang tak terhitung banyaknya itu, tanpa bersuara keduanya roboh binasa menyusul temannya.

Dengan tertawa bangga dan puas Ting Kiau le m-pit pula kipasnya, katanya sambil bergetak tawa: "Kiranya kaum keroco yang tak becus."

Kun-gi dan Kongsun Siang segera me mburu keluar. Kun-gi pandang keempat korban itu, tanyanya; "Apakah mereka sudah mati?"

"Mereka sa ma kena bagian yang me matikan, racun bekerja dengan cepat, jiwa mereka me layang seketika," demikian sahut Ting Kiau.

"Tadi kulupa me mberi tahu kepada Ting-heng, kita harus mengorek keterangan dari salah satu di antara mereka." "Wah, ya, kenapa akupun tidak ingat," demikian kata Ting Kiau gegetun.

Kongsun Siang sedang mengawas i kedua daun pintu, katauya: "Kalau bukan Ceng-lio ng-tong, tempat ini pasti Hwi-lio ng-tong, Ting- heng terlalu cepat turun tangan sehingga mereka tidak se mpat menya mpaikan peringatan bahaya kepada rekan2nya, pintu besar ini tertutup rapat, kemungkinan orang2 disebelah dalam belum tahu kejadian di luar sini."

Ting Kiau tertawa, katanya: "Itu gampang tugas mereka berjaga di luar pintu, kalau terjadi sesuatu yang gawat sudah tentu di sini ada peralatan untuk menyampaikan peringatan bahaya, marilah kita periksa bersa ma secara teliti."

Lalu dia rnendahului me langkah ke sana, dengan seksama dia periksa kedua dinding di kanan-kir i serta tatakan tempat kee mpat la mpu kaca ditaruh, tapi tiada sesuatu yang mencurigakan.

Sedang Kongsun Siang langsung menuju gelang tembaga, gelang di sebelah kiri dia pegang terus dia putar ke kanan- kiri. Ternyata gelang tembaga ini dapat bergerak, keruan ia girang, serunya: "Nah, di sini!"

Dia coba2 me mutar ke kiri tiga kali lalu me mba lik putar ke kanan tiga kali, lapat2 ia mendengar suara gemuruh dari benda2 keras yang saling gesek dari balik pintu.

Kongsun Siang juga cerdik, segera dia lepas tangan serta mundur, katanya lirih. "Mundur Ting-heng, ke mungkinan ada perangkap di balik pintu besi ini” Sebat sekali dia melo mpat mundur sejauh dua tombak. Ting Kiau juga sudah mundur beberapa tomba k jauhnya.

Sedang Kun-gi tetap berdiri di te mpatnya, dengan tersenyum dia awasi pintu besi di depannya. Betul juga tatkala Kongsun Siang dan Ting Kiau mundur, dinding di kanan-kir i kedua lapis pintu besi segera berkeresekan menimbulkan getaran keras kedua daun pintu besi itupun pelan2 terbuka. Keadaan di dalam gelap gulita, dari ketajaman pandangan Kun-gi samar2 melihat seperti sebuah pekarangan. Kini pintu besi sudah terbuka lebar, tapi tiada senjata rahasia atau perangkap apapun yang menye mprot keluar.

Kongsun Siang me ngha mpir i Kun-gi dan berdiri di sebelahnya, ditunggu pula sesaat dan keadaan tetap tenang2, tanpa terasa mulutnya bersuara heran, katanya: "Ini tidak beres."

"Terasa di mana yang tidak beres,. Kongsun-heng?" tanya Ting Kiau.

"Kedua daun pintu besi ini ada dua gelang te mbaga, seharusnya kedua gelang itu di putar dan digerakkan baru pintu besi bisa terbuka, tapi tadi aku hanya me mutar gelang sebelah kiri, seharusnya malah menggerakkan alat2 perangkap dan senjata yang menye mprot keluar."

Ting Kiau tertawa, katanya: `Mungkin secara serampangan kita ma lah mengena i sasaran, gelang kiri itu me mang alat untuk me mbuka pintu besi,  kalau kau me mutar  gelang  kanan, ke mungkinan kita bakal terperangkap ma lah."

Melihat sekian la ma tetap tiada reaksi apa2 dari dalam baru Kongsun Siang mau percaya, katanya mengangguk: "Pendapat Ting-heng me mang betul."

Kun-gi tertawa, katanya: "Aku hanya tahu guru Ting-heng bergelar Sinsincu (si kipas sakti) dan ahli mengenai ilmu bangunan dan pertarungan, tak nyana Kongsun heng ternyata juga ahli dalam bidang peralatan perangkap dan jebakan segala."

Konsun Siang berkata: "Ling-heng terlalu me muji, guruku punya seorang teman ahli dalam bidang ilmu mekanik, dulu waktu jayanya juga amat tersohor dikalangan Kongouw, belakangan untuk meng- hindarkan pertikaian yang lebih dalam dengan para musuhnya, terpaksa dia buron jauh ke padang pasir di luar perbatasan, suatu ketika bersua dengan gu-ruku dan sering ber-bincang2, waktu itu aku selalu mengiringi guru, ma ka tidak sedikit manfaat yang kuperoleh dari pe mbicaraan mereka." Ting Kiu juga berkata dengan tertawa: "Mung-kin Cong-coh belum tahu, walau dulu guruku ma lang me lintang di Kangouw dengan kipas lempit bertulang besi, tapi beliau me mang benar2 berilmu silat tinggi, hakikatnya   di   dalam   kipasnya   tidak menye mbunyikan sesuatu. Konon suatu hari beliau pernah dirugikan oleh sepasang senjata Cu-bo-cuan lawan, maka sejak itu beliau me meras otak menciptakan berbagai peralatan rahasia, terutama dalam bidang perma inan senjata rahasia, mempero leh ke majuan pesat, pada rangka besi kipas le mpitnya sekaligus beliau dapat menyimpan 36 batang senjata rahasia lembut sehingga orang biasa tak mungkin tahu, ma ka beliau me mperoleh julukan "Si-Kipas Sakti", sayang hamba berotak tumpul, ajaran paling cetek dari beliaupun tak berhasil kupelajari.

Kun-gi tertawa, katanya: "Umpa ma betul de mikian, yang jelas kalian lebih tahu dalam bidang ini daripadaku", sembar i bicara ia tetap menatap ke dalam, karena dia dapat melihat di tempat gelap, lapat2 masih dapat dilihatnya keadaan di dalam sana.

Di belakang pintu adalah sebuah pekarangan kecil, maju lebih lanjut adalah undakan batu tiga tingkat, di atas undakan adalah sebuah pendopo yang agak luas, karena jaraknya agak jauh, di dalam juga lebih gelap lagi, lapat2 hanya kelihatan meja kursi dan beberapa perabotanya saja.

Sekian la manya keadaan tetap sunyi dan tiada reaksi apa2 dari dalam.

Kun-gi tersenyum, katanya: "Tanpa menerobos ke sarang harimau bagaimana dapat menangkap anak harimau, kita harus masuk ke sana, cuma harus hati2," lalu dia mendahului melangkah ke dala m.

Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiringinya me masuki pintu besi. Karena keadaan di dalam me mang teramat gelap, terpaksa Kun-gi keluarkan pula mutiaranya langsung menuju ke ruang pendopo. matanya menyapu pandang sekelilingnya. Walau kini mere ka berada di dalam perut gunung, tapi peka-rangan diluar itu tak ubahnya seperti pekarangan umumnya di rumah orang2 berada, baru saja dia hendak melangkah lebih lanjut, tiba2 didengarnya suara"blang" di belakang, kedua daun pintu besi itu mendada k menutup sendiri, keadaan seketika me njadi lebih gelap pula.

Sambil meno leh Kongsun Siang mendengus, jengeknya: "Agaknya kita me mang sudah masuk perangkap." Belum habis bicara, dari atas pekarangan itu tiba2 menungkrup jatuh sebuah jala raksasa, mereka bertiga seketika terjaring di dala mnya.

Reaksi Kongsun Siang dan Ting Kiau cukup sebat, dikala jaring raksasa, melayang turun mereka sudah sa ma2 mengeluar kan senjata dan me mbacok. Tak nyana jala ini terbuat dari kawat2 baja murni yang kuat dan ulet, celakanya lagi pada setiap lubang atau mata jalanya dipasanyi duri2 tajam yang me mbengko k terbalik. Bila meronta di dalam jala, duri bengkok itu malah akan menusuk kulit daging sehingga akan terbelenggu se makin kencang dan kesakitan.

Hanya Kun-gi yang tetap berdiri diam saja tanpa bergerak, walau sekujur badan terjaring di dalam jala raksasa, namun badannya paling sedikit tertusuk oleh gantolan tajam itu, akibat Kong-sun Siang ;dan Ting Kiau mero nta2 sehingga badannya ikut terluka di bagian pundak dan punggung.

Gugup dan gusar Ting Kiau, tapi apapun juga dia adalah murid Ginsancu, begitu me lihat gelagat se makin tidak menguntungkan segera dia berhenti meronta, serunya: "Congcob, bagaimana baiknya?"

Kongsun Siang berteriak gusar: "Hek- liong-hwe bangsa tikus celurut! Kalau berani hayo unjuk tampangmu mengadu jiwa secara jantan, main ser-gap cara licik dengan perangkap terhitung ksatria maca m apa?"

Kun-gi tetap diam saja, katanya tertawa tawar: "Kongsun-heng, Ting-heng kenapa kalian terburu nafsu? Walau kita terjaring, di sini tiada orang lain, sampai pecah tenggorbokan kalian juga percuma, sekarang lebih penting tabahkan hati menghadapi kenyataan dengan kepala dingin." '

"Hahaha! . . . . Memang je mpol kau bocah bagus!" tiba2 gelak tawa keras berkumandang dari pendopo disusul keadaan menjadi terang benderang, delapan lampu kaca muncul bersama di ruang pendo-po. Di undakan batu sana juga muncul tiga orang. Orang di tengah adalah Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing, di kanan-kir inya diapit dua laki2 berjubah sula man naga terbang di bagian dadanya, usia kedua orang ini di atas empat puluhan. Di kanan- kiri undakan beruntun muncul pula delapan laki2 kekar berseragam hijau, menghunus pedang yang berlumuran racun.

Ci Hwi- bing tertawa lantang, katanya: "Ling Kun-gi, kau dapat me luruk sa mpa i di sini, sungguh harus dipuji, tapi kau tetap takkan lolos dari cengkera man tanganku." Saking senang ke mbali dia ter- bahak2.

Kepala, pundak dan beberapa bagian tubuh Kun-gi sudah tentu terancam oleh duri2 gantolan, tapi dia tetap berdiri tak bergerak, katanya dingin: "Ci Hwi-bing, kau kira orang she Ling bertiga sudah kau kurung dengan jaringmu ini"?

Ci Hwi-bing tertawa, katanya: "Memangnya kau pikir masih bisa lolos?"

Seketika terpancar sinar mata Ling Kun- gi, katanya tertawa lantang: "Jaring besi begini, kau kira dapat berbuat apa terhadap orang she Ling?" Sa mbil bicara, jubah hijaunya tiba2 mele mbung seperti balon yang di tiup penuh berisi hawa. Karena jubahnya me le mbung, maka duri2 gantolan itupun kena disanggah ke atas, cepat sekali tangan kanannya menarik keluar sebilah pedang.

Maka terdengarlah suara mender ing nyaring beruntun, di ma na sinar kemilau itu me nggaris na-ik turun terus me lingkar sekali, jaring kawat baja di depannya tahu2 sudah berantakan di bobolnya, sekali lagi pedang bergerak me lingkari badan, benang jala yang terbuat dari kawat baja le mas itupun sa ma berjatuhan. Bukan kepalang kaget Ci Hwi-bing, serunya: "Pedang ditangannya itu adalah senjata pusaka."