Pendekar Kidal Jilid 22

Jilid 22

Tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Kiranya mereka bicara dengan bahasa rahasia."

Waktu dia berpaling ke arah Giok-lan, wajah orang juga menunjuk mimik heran seperti tidak tahu menahu, kebetulan orangpun meno leh ke arahnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Kiranya pembicaraan rahasia Ko-lotoa ini juga tidak diketahui maks udnya oleh Giok-lan.

"O," terdengar perempuan tua di dalam ber-suara, pintu tetap tidak dibuka, tanyanya pula: "Apakah ucapanmu ini dapat dipercaya?"

"Kiap toaciangku dari istana bawah laut yang bilang begitu, me mangnya o mongannya bisa salah?"

"Lalu di mana dia!"

"Dia adalah aku inilah yang tidak becus," ujar Ko-lotoa tertawa. "Hah," lirih suara kaget pere mpuan tua di dala m, "jadi kau inilah

Kiap-toaciangkun, lekas silakan!" Daun pintu segera terpentang lebar, keluarlah seorang nenek beruban dengan muka kuning kurus, me lihat di luar pintu berdiri sekian banyak orang seketika dia berjublek, segera pula dia unjuk tawa sa mbil menjura: "Di te mpat ini serba kekurangan, mar i silakan kalian masuk minum teh."

Bahwa Ko-lotoa mendadak menjadi "Kiap-toa ciangkun", sungguh aneh bin ajaib.

Ko-lotoa tertawa, katanya: "Tidak jadi soal, Lam-hay Koanseim toh sudah ke mari, apa pula yang ditakuti?"

"Kalau begitu terpaksa aku harus me mber i lapor kepada yang berkuasa."

"Betul, lekaslah kau laporan kepada yang berkuasa." Bergegas si nenek lari masuk ke belakang.

Sekilas pandang Kun-gi lantas tahu bahwa si nenek mengenakan

kedok, di waktu me mbalik badan, gerak pinggangnya ge mula i dan langkahnya enteng, tidak mir ip seorang nenek yang sudah tua, bertambah besar perhatian dan rasa curiganya. Tak tahan dia berpaling kepada Ko-lotoa, tanyanya: "Kau kenal baik penghuni biara ini?"

Ko-lotoa tertawa lebar, sahutnya: "Orang sekampung hala man sendiri, sudah-tentu kami kenal baik. Mari silakan Cong-su-ciat dan Congkoan."

Beriring orang banyak lantas masuk ke biara menyusur i sera mbi mereka masuk ke sebuah pekarangan, tampak bangunan biara ini terdiri dari tiga lapis gedung, setiap lapis bangunannya amat lebar dan luas.

Tatkala semua orang lagi mengagumi bangunan megah dipegunungan sepi ini, tampak dari dalam beranjak keluar seorang Nikoh tua berkopiah kain kelabu, jubah aga manyapun kelabu, dengan merangkup tangan dia berkata kepada Ko- lotoa: "Omito- hud! Pinni dengar katanya Ko-toasicu berkunjung, terla mbat menya mbut, harap dimaafkan." Ko lotoa balas hormat ber-ulang2, katanya tertawa: "Sekian tahun tak bertemu. Lo-tang-keh masih baik2 saja, marilah kuperkenalkan dua orang penting dalam Pang kita." Segera dia menunjuk Kun-gi: "Inilah Cong-su-cia!" Lalu menunjuk Giok- lan: "Inilah Congkoan. Atas perintah Thay-siang ia di suruh kemari mengadakan persiapan."

Nikoh tua menga mati mereka berdua, lalu berkata: "Kiranya Cong-su-cia dan Congkoan, maaf pinni kurang hor mat."

Tajam tatapan Kun-gi, didapatinya muka Nikoh tua inipun mengenakan kedok, bertambah tebal rasa curiganya, tapi sedikitpun dia tidak unjuk tanda apa2, bersama Giok- lan dia balas hor mat dan menyapa ala kadarnya.

Lalu Nikoh tua   bertanya   kepada   Ko   lotoa:   "Go-po   tadi me laporkan, katanya Koanseim akan datang sendiri ke mari, apa betul?"

"Tidak salah," ucap Ko-lotoa berseri tawa. "Posat sudah tiba di Cu-than, sebentar juga akan tiba, maka Congkoan disuruh ke mar i mengadakan persiapan."

Baru sekarang Kun-gi dan Giok-lan jelas duduk perkaranya, Koanseim-po-sat yang dimaksud dalam pe mbicaraan kedua orang ini kiranya adalah Thay-siang.

Tampak sikap Nikoh tua menjadi tegang, mulutpun berseru kaget, katanya ter-sipu2 kepada Giok- lan: "Congkoan sekalian silakan ikut Pinni, periksalah perumahan di belakang, supaya dibersihkan dan dipajang se mestinya untuk menya mbut kehadiran sang agung." 

"Silakan Losuhu," ucap Giok- lan tertawa. Lalu ia berkata kepada Kun-gi: "Harap Cong-su-cia duduk saja di sini, biar kuperiksa ke dalam." Ia menggapai Bikui berlima: "Kalian ikut aku."

Sebetulnya Kun-gi hendak me mberitahu Giok- lan bahwa Nikoh tua dan nenek reyot tadi sama mengenakan kedok, supaya dia berlaku hati2, tapi ucapan yang sudah di ujung mulut itu akhirnya batal diucapkan.

Bahwa secara diam2 Thay-siang menyuruh Ko- lotoa menunjuk jalan serta bicara dengan para biarawati ini secara rahasia, nenek tua itupun me manggil Ko- lotoa sebagai. Kiap-ciangkun segala, dari tanda2 ini tidak sukar dianalisa bahwa dalam biara ini termasuk seluruh penghuninya pasti me mpunyai hubungan erat dengan Thay- siang.

Setelah Giok- lan berlalu dalam ruang itu tinggal Ling Kun-gi, Ko- lotoa dan Kongsun Siang, bertiga duduk di kursi yang ada di ruang sembahyang itu, Kira2 kentongan ketiga baru tampak Thay-siang datang diir ingi Bok-tan, So-yok dan sekalian Taycia dan dara ke mbang.

Ling Kun-gi, Giok-lan dan Nikoh tua beramai menyambut kedatangannya serta menyongsongnya ke dalam ruang. Mendadak Nikoh tua berlutut terus menyembah di depan Thay-siang dengan air mata bercucuran, serunya sambil menyembah ber-ulang2:

"Syukurlah akhirnya hamba bisa bertemu pula dengan Tuan Puteri."

Bahwa Nikoh tua berubah me njadi "ha mba" (pelayan) sedang Thay-siang menjadi Tuan Puteri, sudah tentu kata2 ini me mbuat semua hadirin me longo kaget. Terutama Ling Kun-gi, pikirnya dalam hati: "Kiranya Nikoh tua ini adalah pelayan Thay-siang waktu mudanya dulu, entah tuan puteri apa dan darimana Thay-siang asalnya?"

Thay-siang tampak tertawa ramah: "Lekas bangun, ha mpir dua puluh tahun kita tidak bertemu, masih banyak persoalan yang ingin kutanya padamu." Sembari bicara sedikit dia mengangkat tangannya, Teh-hoa dan Liu-hoa segera maju me mbimbing Nikoh tua itu berdiri.

Nikoh tua berdiri sa mbil menyeka air mata, katanya: "Ada pesan apa tuan puteri?" "Coba lihat, ra mbutpun sudah ubanan, jangan kau selalu usil mulut me manggil Tuan Puteri segala," kata Thay-siang.

Dari samping Ko- lotoa ikut menimbrung dengan tertawa: "Sekarang kita me manggilnya Thay-siang, kaupun harus ubah panggilanmu. "

Nikoh tua menghor mat sa mbil mengiakan.

Thay-siang duduk dikursi yang telah disediakan, tanyanya: "Sela ma dua puluh tahun ini tentu kau cukup kepayahan, apakah mereka pernah mencari setori ke sini?"

"Letak te mpat ini hanya seratusan li dari Ui- lionggia m, beberapa tahun permulaan mereka me mang menaruh curiga, beberapa kali mengobra k-abrik tempat ini, malah secara dia m2 kita diawasi dan gerak-gerik dibatasi, syukur tiada yang mengenali ha mba, beberapa tahun belakangan ini ada kalanya juga mereka meronda di perairan sekitar sini, sesuai pesanmu dulu tak pernah hamba me mperlihatkan jejak, maka keadaan tetap aman tenteram."

Dia m2 Kun- gi mulai paha m, pikirnya: "Tak heran dia mengenakan kedok."

"Gak-ko h-tia m apa ada kabar?" tanya Thay-siang.

"Beberapa hari yang lalu mas ih ada kabar, mereka sudah tahu bahwa engkau sudah berangkat kemari lewat jalan air, maka Hwi- liong-tongcu Nao Sa m-Jun diperintahkan mencegat kalian di tengah jalan, di samping itu merekapun mendatangkan jago2 dari berbagai daerah umruk me nghadapi perte mpuran besar2an."'

Thay-siang tertawa dingin, katanya: "Beberapa hari yang lalu Nao Sam-jun dengan Cap-ji-sing-s iok sudah dipukul mundur, kecuali beberapa gelintir cakar alap2 me mangnya jago2 maca m apa yang bisa mereka kumpulkan?"

Kembali Kun-gi melenggong mendengar percakapan ini, pikirnya: "Kiranya Hek liong-hwe juga bersekongkol dengan alat negara." Cakar alap2 yang dima ksud adalah petugas negara. "Agaknya Thay siang terlalu pandang rendah mereka, kabarnya .

. . . " mendadak nikoh tua berhenti tak berani menerus kan ucapannya, lalu menya mbung dengan ilmu gelo mbang suara. Jelas percakapan selanjutnya amat penting dan rahasia, tiada seorangpun yang tahu persoalan apa yang dipercakapkan?

Akhimya terdengar Thay-siang mendengus gusar: "Keparat, biar kuhadapi jago2 Bit-cong andalan mereka, betapa sih lihaynya?" lalu ia menyambung: "Kali ini kita mene mpuh perjalanan lewat air, mereka kurang biasa, menurut rencanaku semula akan istirahat dua hari di smi, bahwa merekapun sudah me mpersiapkan diri, biarlab kita sergap saja sebelum mereka bersiaga." Sa mpai di sini pandangannya menyapu hadirin lalu berkata pula: "Begitu fajar menyings ing kita harus segera berangkat, waktu masih kira2 dua jam, dalam waktu yang singkat ini se mua harus istirahat secukupnya."

Habis berkata dia berdiri, Nikoh tua me mbuka jalan, mereka mengundurkan diri ke belakang bersa ma Bok-tan dan So yok. Giok- lan juga bawa para Tay-cia dan dara kembang istirahat ke belakang. Kecuali mere ka yang ma lam ini tugas jaga, sisanya sama duduk bersimpuh di ruang depan ini. .

Dengan cepat haripun mulai terang, semua orang berbaris tegak di pekarangan depan siap menunggu perintah Thay-siang selanjutnya.

Tak la ma ke mudian, dibawah iringan Bok-tan dan So-yok beranjak keluarlah Thay-siang berdiri di undak2an, sorot matanya yang berkilat tajam tampak mencorong dibalik cadar hita m, sekilas dia menyapu pandang seluruh hadirin, lalu berkata dengan suara lantang: "Sekarang kita akan berangkat, musuh kita adalah Hek- liong hwe, dengan banyak jago kosen merekapun sudah siap menya mbut kedatangan kita, oleh karena itu kita harus sergap mereka untuk merebut ke menangan dengan jumlah kita yang sedikit ini, melumpuhkan mere ka yang berjumlah berlipat ganda. Sepatah kata pesanku ini harus kalian camkan dengan baik, setiap kali berhadapan dengan orang2 Hek-liong-hwe kalian harus turun tangan lebih dulu bunuh seluruhnya dan habis perkara, sekali lena dan kalah cepat me mperoleh kese mpatan, jiwa kalian sendiri yang akan melayang dan tiada liang kubur untuk kalian."

Semua hadirin mendengar kan dengan khidmad dan patuh, tiada yang buka suara. Sudah ribuan li mereka tempuh perjalanan inti, tujuannya menyerbu Hek liong-hwe, medan laga sudah di depan mata, maka berkobarlah se mangat tempur scmua orang. Apalagi kata2 Thay siang cukup tajam dan me mba kar se mangat, semakin besar gairah tempur mereka.

Habis bicara dari lengan bajunya yang lebar itu Thay-siang menge luarkan sepucuk sa mpul tertutup, teriaknya: "Bok tan!"

Pek-hoa-pangcu Bok-tan mengiakan sa mbil tampil ke depan, serunya: "Guru ada, pesan apa?"

"Kau pimpin Giok- lan, Bikui, Ci-hwi dan Coh-houhoat Leng Tio- cong, Houhoat Liang Ih-jun, Yap Kay-sian dan Bing-gwat sebagai petuntuk jalan, bekerjalah menurut catatan dalam surat rahasiaku ini," Lalu ia serahkan sa mpul surat itu.

Setelah terima sa mpul surat itu, Bok-tan menjura, katanya : "Tecu terima perintah."

Thay-siang mengulap tangan: "Kalianpun boleh pergi. "

Giok- lan, Bing-gwat ( Nikoh tua ), Leng Tio-cong dan lain2 mengiakan bersa ma, lalu mereka mengintil cepat di belakang Pek- hoa-pangcu Bok-tan keluar biara.

Kembali Thay-siang keluarkan sa mpul surat kedua serta berseru: "So-yok!"

"Tecu ada," sahut So-yok tampil ke depan.

"Kau bawa Hu-gong, Hong-sian, Giok-je, Yu-houhoat Coa Liang, Houhoat Toh Kanling, Lo Kunhun dan Bing-cu akan menunjukkan jalan, bekerjalah menurut petunjuk dalam suratku ini," la lu diapun serahkan sampul surat itu. Setelah mener ima sa mpul So-yok terus mengundurkan diri beserta orang2 yang ditunjuk Thay-siang barusan.

Untuk ketiga kalinya Thay-siang mengeluarkan pula sa mpul ketiga, teriaknya: "Ling Kun-gi!"

"Ha mba ada," sahut Kun-gi.

Thay-siang serahkan sampul surat itu, sorot matanya menatap tajam ke muka Ling Kun-gi, katanya dengan suara tandas: "Ling Kun-gi, dalam tiga rombongan ini, ro mbonganmu merupa kan pusat kekuatan penyerbuan kita kali ini, apakah Pek-hoa-pang dapat menga lahkan Hek- liong- hwe, tugas berat ini terletak di atas pundakmu, oleh karena itu kau harus me matuhi pesanku di dalam sampul ini, jangan lena dan jangan ragu, tahu tidak?"

"Ha mba akan bekerja sekuat tenaga," sahut Kun-gi.

"Baiklah" ujar Thay-siang. "Sisa orang2 yang ada di sini boleh kau pimpin seluruhnya, Ko-lotoa akan menjadi petunjuk jalan, laksanakan perintahmu di dalam sa mpul, hanya boleh berhasil pantang gagal" habis berkata baru dia serahkan sa mpul surat itu.

Waktu Kun-gi terima sa mpul itu, tampak di bagian depan sa mpul tertulis sebaris huruf yang berbunyi: "Sebelum jam 8 harus tiba di Lim-cu-say dan surat ini baru boleh di buka."

Entah dimana letak Lim-cu-say? Tapi Ko- lotoa akan menunjukkan jalannya, maka dia tidak perlu banyak tanya. Segera dia simpan sampul itu ke dalam saku, terus menjura dan serunya: "Ha mba terima perintah dan segera me laksanakannya"

"Loh-bi-jin," ucap Thay-siang lebih lanjut, "20 dara ke mbang yang kau pimpin tinggal 19, biarlah Teh-hoa menggenapi jumlah ini, kau tetap pimpin 20 orang." Teh-hua adalah salah satu pelayan pribadi Thay- siang.

"Tecu terima perintab," seru Loh-bi-jin.

Kata Thay-siang: "Suruhlah mereka menggotong tandu yang ada di belakang itu keluar, kalian boleh segera berangkat." Kembali Loh bi-jin mengiakan terus ke belakang me mbawa empat dara ke mbang, tak la ma ke mudian dia sudah keluar, keempat dara kembang itu me mikul sebuah tandu, warna tandu ini juga serba hita m.

Dia m2 Kun-gi me mbatin: "Tandu ini tentu buat Thay-siang." Thay-siang mengulap tangan, katanya: "Untuk me mburu waktu,

sekarang juga kalian boleh berangkat!?` lalu dia berpaling kepada Liu-hoa di belakangnya: "Bawalah ji-gi itu dan jalanlah selalu mengiring di sa mping tandu." Liu-hoa mengia kan.

Heran Kun-gi, semula dia kira Thay-siang akan naik tandu ini, tak kira dia me mbagi seluruh kekuatan Pek-hoa-pang menjadi tiga rombongan, ketiga ro mbongan dilepasnya pergi berarti seluruh kekuatan dikerahkan. Lalu dia sendiri bagaimana? Me mangnya seorang diri dia akan tinggal di biara ini? Atau sengaja dia me mbagi tugas kepada orang banyak, sementara dia sendiri menuju ke suatu tempatb tertentu? Tapid Thay-siang sudaah memerintahkabn berangkat, kecuali berangkat menunaikan tugas, tak mungkin dia mengajukan pertanyaan lagi.

Maka lekas dia menjura kepada Thay-siang, ia me mbawa Ko- lotoa, Kongsun Siang, Song Tek seng, Thio La m-jiang dan kedelapan Hou-hoat-su-cia mendahului keluar. Sementara Loh-bi-jin mengintil dengan barisan 20 dara ke mbang yang me m- bawa tandu kosong, sementara Liu-hoa mengiring di sa mping tandu hita m.

Setelah rombongan mereka itu meninggalkan Ciok-santhan barulah Kun-gi bertanya kepada Ko-lotoa: "Ko-lotoa, Thay-siang suruh kita tiba di Lim-cu-say sebelum jam 8 pagi, apakah keburu waktunya?"

"Lim-cu-say terletak di kaki gunung Kunlun sebelah depan, dari sini kira2 ada 50 li, kini baru jam 6, kalau jalan cepat, kukira masih sempat me mburu waktu."

"Baiklah, silakan Ko-lotoa tunjukkan jalan, kita jalan cepat2," demikian ucap Kun-gi. Di bawah petunjuk Ko lotoa, mereka berjalan cepat menuju ke arah utara. Daerah yang mereka lalui adalah pegunungan rendah, jalan2 gunung yang berliku sukar dilalui, untung mere ka sa ma me miliki kepandaian tinggi, dengan menyusuri kaki gunung mere ka maju terus, ada kalanya mereka harus melintas jurang atau menyeberang sungai. Sela ma sejam lebih mereka mene mpuh perjalanan dengan sangat payah, tapi tapi tiada yang mengeluh, untungnya sepanjang perjalanan yang serba sukar ini mereka tidak menga la mi aral rintang berarti, tepat pada jam yang ditentukan mereka t iba di Lim-cu-say.

Itulah sebuah tanah datar yang cukup luas di bawah gunung, hutan bambu me magari tanah lapang, berumput di depan sana, kiranya ada beberapa petak bangunan gubuk bambu yang dihuni beberapa keluarga.

Tiba2 tergetar pikiran Kun-gi, pikirrrya: "Agaknya beberapa gubuk ba mbu itu ada sembunyi para mata2 Hek- liong-hwe." Serta merta dia merogoh keluar sa mpul surat itu dan dibukanya, tampak di atas secarik kertas tertulis:

"Pertama, kalian belum sarapan pagi, ma ka boleh istirahat di sini sambil me ngisi perut yang tersedia di dalam tandu.

Kedua, dari Lim-cu-say menuju ke utara, sepanjang jalan hendaklah kibarkan panji Pang kita, para dara kembang sebagai pelopor jalan.. Liu-hoa tetap beriring di samping tandu, kalian menyebar mengelilingi tandu, gerak langkah kalian harus hati2 dan selalu waspada, tapi juga tidak perlu cepat2, hal hal ini harus diperhatikan, berbuatlah supaya pihak lawan mengira kalian akan menyerbu setelah tabir mala m mendatang, tentang situasi perjalanan boleh berunding dengan Ko-lotoa.

Ketiga, sebelum magrib harus tiba di Ui-lionggia m, di depan Ui- liong giam ada sebuah tanah lapang, kalian harus sembunyi dan aturlah jebakan di sini, sementara perintahkan Loh-bi-jin menaruh tandu di tengah lapangan dan berjaga mengelilinginya. Keempat, kalau berhadapan dengan Cap-ji-sing-siok dari Ui liong- tong, suruhlah para dara ke mbang menghadapinya.

Kelima, di antara musuh yang muncul, bila kedapatan La ma berkasa merah, jangan dihadapi dengan kekuatan, biarkan dia berusaha menerjang ke dekat tandu, kalau tidak kesa mplok La ma kasa merah, tandu harus dijaga seketat mungkin, setelah tiba di Ui- lionggia m, baru lemparkan tandu ini ke gua Ui-liong-tong, sarang para penjahat itu.

Enam, sa mpul tertutup yang kedua ini baru boleh dibuka setelah kalian berhasil, menduduki Ui-Liong-tong."

Setelah habis me mbaca tulisan dalam sa mpul, Ling Kun-gi berpaling kepada Ko- lotoa, tanyanya: "Berapa jauh dari sini menuju ke Ui- lionggia m?"

"Lima sa mpai enam puluh li," sahut Ko- lotoa.

Perjalanan sejauh lima puluh li harus dite mpuh dari pagi sa mpai maghib, pantas Thay-siang mene kankan supaya kita tidak usah bergerak terlalu cepat. Kini baru Kun-gi paham bahwa rombongannya ini meski merupakan kekuatan utama untuk menyerbu Ui-lionggia m, tapi kenyataan juga hanya merupakan barisan yang main gertak belaka. Apalagi mereka tidak perlu bergerak cepat, para dara kembang sebagai pelopor barisan jelas tujuannya untuk menarik perhatian pihak lawan saja.

Yang pasti ro mbongan Bok-tan dan So-yok baru boleh dikatakan sebagai barisan penyerbu, terang tugas mereka jauh lebih berat, karena ke mungkinan tugas mereka adalah menyerbu Ui- liong-tong dan Hwi- liong-tong. Dari sini dapatlah dia mbil kesimpulan bahwa Thay-siang pasti masih me mpunyai rahasia la innya yang sengaja dise mbunyikan. Dan yang membuatnya paling heran adalah Cap-ji- sing siok dari Hwi-liong tong itu kebal segala maca m senjata, tapi kenapa para dara kembang itu yang diharuskan mengadapi mere ka? Dari mana pula Thay siang bisa tahu kalau La ma ber-kasa merah akan muncul di antara para musuh? Kenapa pula kalau berhadapan dengan para Lama kasa merah boleh me mbiarkan mereka menubruk ke tandu? Kalau t idak bersua La ma kasa merah, tandu harus dipertahankan ma lah?

Bolak-ba lik Kun-gi berusaha me mecahkan berbagai persoalan ini, tapi tetap tidak me mperoleh jawaban yang me muaskan, terpaksa dia simpan sa mpul surat itu, lalu berkata kepada seluruh rombongan, "Thay-siang suruh kita istirahat di hutan ba mbu ini, setelah mene mpuh perjalanan sejauh 50 an li, belum ma kan pagi lagi, di dalam tandu ada disediakan rangsum, marilah kita istirahat di sini saja."

"Cong-coh" kata Ko-lotoa, "apakah perlu kita mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk istirahat?"

"Begitupun boleh," sahut Kun-gi.

Ko-lotoa berseri senang, katanya. "Kalau demikian marilah ikut aku." Agaknya dia amat apal akan daerah ini, dia bawa orang banyak me mutar ke kaki gunung, di mana kebetulan ada tanah lekukan di balik hutan yang cukup tersembunyi, maju lagi beberapa jauh mereka tiba di sungai besar di sebelah belakang adalah hutan yang subur dan rimbun. tanah lekukan itu ditumbuhi rumput menghijau, di sinilah te mpat yang cocok untuk istirahat banyak orang.

Tandu diletakan di tengah tanah lapang, laki perempuan duduk menjadi dua kelompok di kanan kiri me lingkari tandu. Loh-bi-jin segera suruh dua dara ke mbang mengeluarkan rangsum di dalam tandu dan dibagikan kepada orang banyak.

-odw0o-

Untung Ui-lionggia m sejauh 50-an li. Thay-siang berpesan supaya mereka t idak perlu buru2, cukup asal mere ka tiba di te mpat tujuan sebelum senja, jadi waktunya masih cukup luang untuk istirahat.

Setelah semua kenyang, Kun-gi suruh Loh-bi-jin maju dan suruh dia me mbaca pesan Thay-siang secara lantang dihadapan orang banyak. habis me mbaca Loh-bi-jin terus menyingkap tutup tandu, betul juga di tempat duduk tandu me ma ng ada panji yang dilipat rapi. Maka dia suruh dua dara ke mbang me motong ba mbu dan dibuat tiang panji. Bukan saja panji2 itu berwarna warni menyolok, sula mannya juga indah Ada yang berbentuk segi panjang, panji ini bertuliskan Pek-hoa-pang dengan huruf besar. Ada pula yang berbentuk segi tiga, di tengahnya bersulam huruf "Hoa" yang besar. Ada pula panji panjang se mpit berwarna dasar putih bertulisan hitam, hurufnya berbunyi-"Tumpas habis Hek- liong-hwe" dan sebuah lagi bersemboyan "Lenyapkan sa mpah persilatan".

Setelah panji2 ini dipasang di ujung ba mbu panjang hingga mirip barisan panji diwaktu pawai, menarik dan mengesankan.

Setelah segala persiapan selesai dilakukan, Kun-gi mendekati Loh-bi-jin, tanyanya: "Apakah nona tahu apa yang harus dilakukan sepanjang perjalanan ini?"

"Wah, agaknya Cong-su-cia hendak menguji aku," ucap Loh-bi-jin "dalam pesan Thay-siang suruh para dara kembang menjadi pelopor barisan dengan panji2 serba aneka ragam ini, tapi gerak-gerik kita sedapat mungkin harus tetap dirahasiakan, ku-kira maksud Thay- siang supaya kita menggulung panji2 itu, barisan maju ke depan dengan dia m2, entah betul t idak gambaranku ini?"

"Nona me mang cerdik," ujar Kun-gi mengangguk, "kukira me mang de mikianlah ma ksud Thay-siang."

"Aku sangat bangga dapat seperjalanan dengan Cong-su-cia dan berada di bawah perintahmu lagi, segalanya terserah kepada Cong- su-cia saja."

"Jangan nona sungkan, baiklah kita bekerja sesuai pesan beliau saja," kata Kun-gi pula. Setelah cukup la ma mereka istirahat, Ko- lotoa tetap berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan. Kali ini barisan dibagi menjadi beberapa kelo mpok, maka jalannya jauh lebih teratur.

Ko-lotoa sebagai penunjuk jalan berada paling depan, lalu Cong- su-cia Ling Kun-gi, Kongsun Siang, Song Tek-sing, Thio La m-jiang dan disusul para dara ke mbang yang me mbawa panji2. Cuma panji yang mere ka bawa sama digulung, ada yang masih me la mbai dan sebagian gambar kelihatan, siapapun yang me lihatnya pasti akan tahu bahwa mereka adalah barisan orang Pek hoa-pang.

Yang berada dibelakang barisan dara2 kembang adalah Loh-bi-jin sang pimpinan, lalu Liu-hoa yang me megang mistar kebesaran, di belakangnya lagi baru tandu, dibelakang tandu adalah delapan Hou- hoat-su-cia yang mengenakan seragam hijau pupus.

Barisan tampak megah dan merupa kan kekuatan utama Pek-hoa- pang, siapapun bila melihat tandu serba hitam itu pasti akan mengira orang yang duduk didalamnya Thay-siang adanya. Memang siapa yang tahu bahwa tandu ini sesungguhnya kosong? Barisan ini me mang dima ksud untuk menggertak musuh belaka.

Ternyata Ko-lotoa juga cukup cerdik dan pintar, dia meninggalkan jalan raya, sengaja dia pilih ja lan pegunungan yang jauh lebih sulit dilewati. Malah ada kalanya sengaja ma in se mbunyi dan menggere met maju seperti takut jejaknya konangan musuh.

Yang benar, waktu berada di Lim-cu-say, jejak mereka sudah selalu diawasi oleh mata2 Hek-liong-hwe, dengan burung dara pos mata2 itu sudah kirim berita ke markas pusat, ma lah sepanjang perjalanan ini ada juga orang menguntit, setiap saat gerak-gerik mereka selalu dilaporkan lewat burung pos. Oleh karena itu pihak Hek-liong-hwe a mat jelas akan jejak dan gerak-gerik mereka. Tapi maks ud tujuan Thay-siang akan ro mbo ngan yang dipimpin Ling Kun-gi ini me mang hanya untuk menggertak musuh, supaya pihak Hek-liong hwe merasa yakin sudah menguasai situasi.

Menjelang senja sesuai pesan Thay-siang mereka sudah berada di belakang gunung, tapi mereka bergerak sembunyi2, mereka harus menunggu hari menjadi gelap baru akan beraksi, secara mendadak menyergap Ui- lionggia m.

Hari mulai re mang2, ro mbongan yang dipimpin Ling Kun-gi dibawah petunjuk ja lan Ko lotoa akhirnya tiba di tanah lapang berumput di luar Ui- lionggia m. Inilah te mpat yang sudah di tentukan oleh Thay-siang, setiba di te mpat ini mere ka tidak perlu main sembunyi lagi.

Dara2 kembang dengan mengacungkan panji2 mereka berderap me masuki tanah lapang serta menduduki tanah berumput datar ini, tandupun diturunkan tepat di tengah lapangan.

Sungguh aneh, dari depan sampai belakang gunung tak pernah mereka kesamplok dengan seorang musuhpun sehingga barisan pelopor Pek-hoa-pang yang merupakan kekuatan inti ini seolah2 me masuki daerah yang tidak dihuni lagi, Tapi Kun-gi cukup mengerti, bila pihak lawan diam saja dan tidak me mberikan sesuatu reaksi, ini berarti bahwa mereka me mang sudah sejak la ma me mpers iapkan diri dan mengekang anak buahnya secara keras dan me mbiarkan pihak Pek-hoa-pang masuk jebakan yang telah diatur.

Maka Kun-gi berpesan kepada seluruh anak buahnya agar selalu siaga dan waspada. Delapan Hou-hoat-su-cia, 20 dara kembang semua sudah melo los senjata siap me mbentuk ancang2 barisan di tengah tanah rumput itu. Tandu tetap berada di tengah, tirai menjuntai menutup rapat sehingga tak kelihatan siapa yang ada di dalam, Liu-hoa berdiri tegak di sa mping tandu sambil me me luk mistar kebesaran.

Jumlah mereka tidak sedikit, tapi gerak-gerik mereka cukup lincah dan tangkas, langkah tidak berbunyi dan tidak menimbulkan kepulan debu.

Sementara panji2 Pek-hoa-pang sudah dipancang di sekeliling tanah lapang, panji berkibar tertiup angin. Empat dara kembang yang ditugaskan mengurus ko msumsi segera mengeluar kan rangsum dan dibagikan. Setelah mala m se makin berlarut nanti mereka akan menghadapi suatu pertempuran besar yang akan menentukan mati dan hidup, ma ka mereka harus mengisi perut untuk menunjang se mangat dan kekuatan fisik.

Pada saat mereka istirahat itulah tiba2 terdengar dari arah barat di mana tadi mereka datang berkumandang suara ledakan mengge legar. Terlihatlah serombongan bayangan orang muncul dari balik batu2 besar dan mencegat jalan mundur mereka.

Yang terdepan adalah seorang kakek tua bertubuh kurus kering, bermata satu sebelah kanan. Di belakangnya berbaris sembilan orang, dari kaki sampa i kepala di bungkus pakaian seragam. ketat warna hitam, hanya kedua biji mata mereka yang kelihatan, itulah sisa dari Cap ji-sing-s iok yang berpakaian kebal senjata.

Kun-gi tertawa dingin, jengeknya. "Kukira siapa, rupanya kalian yang pernah kecundang di bawah pedangku, mana Kim kao cian Nao Sa m-jun, kenapa tidak  kelihatan batang   hidangnya? Me mangnya sudah pecah nyalinya?"

Bola mata si kakek yang ber mata tunggal ini mendelik besar seperti kelereng berapi, sesaat lamanya dia menatap Kun-gi, katanya kemudian: "Usia muda bermulut besar, kau inikah Cong-su- cia Pek-hoa-pang yang bernama Ling Kun-gi itu?"

Kun-gi bertolak pinggang dengan angkuh, katanya: "Sebutkan juga na ma mu?"

Si mata tunggal mencibir, dengusnya: "Cari urusan tidak tahu diri, me mangnya siapa Lohu ini tidak pernah kau dengar orang bilang?"

Kun-gi tertawa lantang, katanya: "Terlalu banyak sampah persilatan, mana mungkin orang she Ling tahu akan orang2 tersisa ini."

Seketika si mata tunggal menarik muka, teriaknya gusar: "Anak keparat yang tidak tahu diri, nanti akan Lohu bikin kau tahu betapa lihaynya orang tersisa ini."

Ko-lotoa berdiri di belakang Ling Kun-gi, tiba2 dia berkata lirih: "Dia inilah yang dipanggil Hoanthianeng Siu Ing, salah satu dari ke 36 panglima Hek-liong-hwe dulu "

Mata tunggal Hoanthianhwe Siu Ing me mancarkan cahaya dingin tajam, sesaat dia tatap Ko-lotoa, akhirnya ter-gelak2, katanya: "Kau ini Ko-ciangkun, haha, tak heran kau segera tahu asal usul saudaramu ini."

Ko-lotoa segera menjura, katanya: "Ya, memang inilah orang she Ko, silakan Siu-ciangkun."

Dia m2 Kun-gi mengangguk, pikirnya: "Ternyata Ko-lotoa juga salah satu dari ke36 panglima Hek- liong hwe dulu."

Tatkala dia ber-pikir2 inilah, dari arah jalan pegunungan sebelah sana juga berdentum suara ledakan keras. Muncul bayangan dua pasang orang berbaju hitam dari jalanan hutan sana. Empat orang bergerak laksana setan gentayangan, pelan2 mereka beranjak keluar dari hutan, lalu berdiri terpencar ke kirikanan, tegak laksana patung, kedua tangan lurus ke bawah, muka kalihatan putih kaku seperti mayat.

Lalu disusul munculnya dua buah lampion warna merah, dua gadis baju hijau menentengnya keluar dengan langkah le mbut dari hutan.

Menyusul muncul sebuah tandu yang di pikul dua laki2 kekar. hanya sebentar saja sudah berada di luar hutan dan berhenti di ujung jalan. Kedua gadis pembawa La mpion berdiri di kirikanan tandu, keempat laki2 serba hitam berwajah seperti mayat tadi juga merapat ke dekat tandu.

Dia m2 Kun-gi menerawang: "Ramalan Thay-siang me mang tepat, Hek-liong-hwe ma in pancing musuh ke daerah terlarang ini untuk turun tangan tapi pihak musuh tidak tahu se mua ini sudah dalam perhitungan beliau."

Maka dapatlah diduga kalau Hek- liong-hwe mengerahkan kekuatan dan me mbuat perangkap di sini, jelas ro mbongan Pek- hoa-pangcu Bok-tan dan Hupangcu So-yok yang bertugas menyerbu dari sayap kirikanan atas perintah Thay siang itu belum diketahui pihak musuh.

Apa yang dikatakan Thay-siang me mang tidak salah, rombongan yang dipimpinnya ini merupakan pusat kekuatan dari barisan penyerbu Pek-hoa-pang yang paling tangguh, agaknya Hek-liong- hwe mengira Thay-siang berada di dalam tandu yang mere ka pikul dan dijaga ketat ini, maka merekapun mengerahkan kekuatan untuk mencegat dan me numpasnya di sini.

Sambil menimang2 itulah secara dia m2 dia me mberi kedipan mata kepada Loh bi-jin, maksudnya supaya si nona bekerja sesuai petunjuk Thay-siang yang tertera di surat rahasianya itu, dia harus pimpin para dara kembang menghadapi Cap-ji-sing-sio k dari Hwi- liong-tong.

Loh-bi jin mengerti, dia mengangguk, lalu me mberi tanda dengan la mbaian tangan ke arah dara2 ke mbang. Melihat aba2 serentak dua puluh dara kembang menggerakkan tangan, sekali tangan me mba lik, dari pinggang mas ing2 mereka menge luarkan sepasang golok me lengkung, mereka menghadap ke barat dan berbaris rapi.

Walau tidak tahu cara bagimana para dara ke mbang ini akan menghadapi Cap ji-s ing-s iok, tapi Kun-gi tahu bahwa Thay-siang sudah me mperhitungkan pihak Hek- liong-hwe pasti me masang perangkap di sini, dengan menunjuk dara2 ke mbang ini menghadapi Cap-ji-sing-sio k, tentu hal ini tidak perlu dikuatirkan.

Musuh dibagian barat sudah dia serahkan pada Loh -bi-jin, ini menurut pesan Thay-siang di dalam surat rahasianya, maka urusan selanjutnya dia boleh tidak usah mengurusnya.

Mengenai ro mbongan musuh yang berada di arah timur, jumlahnya me mang tidak banyak, tapi tandu hitam yang mungil itu tidak asing lagi bagi Kun-gi, dia tahu itulah tandu yang biasa dinaiki Hianih- lo-sat. Perempuan yang satu ini pandai menggunakan obat bius, sampa i Lam-kiang- it-ki Thong-pi-thianong Tong Ji-hay yang me miliki kepandaian tinggi itupun kecundang olehnya, tapi dia tidak usah gentar menghadapinya karena me miliki Jing-s intan buatan keluarga Un dari Ling-la m pe mberian Un Hoankun.

Maka pelan2 dia me mutar ke arah timur sembari tangan meraba gagang pedang, serunya tertawa lantang: "Apakah yang datang Hianih- lo-sat Coh-siancu? Sungguh tak nyana kita berjumpa lagi di sini."

Maka berkumandanglah suara seorang nyonya dari dalam tandu hitam itu: "Aku bukan Hianih- lo-sat Coh-siancu."

Mendengar logat suara orang Kun-gi tahu memang bukan suara Coh-siancu, sekilas dia melengak, tanyanya: "Kalau kau bukan Hianih-s iancu, me mangnya kenapa kau gunakan panji2 miliknya?"

Orang dalam tandu mendengus, katanya: "Buat apa Losin harus me ma kai panji miliknya?" Sa mpa i di sini suaranya tiba2 meninggi: "Junhoa, Jiu-gwat, buka tirai."

Dua pelayan baju hijau yang berdiri di kanan-kiri tandu mengiakan terus menyingkap t irai yang menutup tandu.

Kini Kun-gi bisa melihat jelas. Di dalam tandu duduk seorang nyonya baju hijau bergaun putih, wajahnya putih, rambutnya sudah beruban, sorot matanya berkilat, me mang dia bukan Hianih-lo-sat.

"Anak muda," ucap nyonya baju hijau, "kau kenal Coh-s iancu?" Gagah perkasa sikap Ling Kun-gi dengan jubah yang me la mbai2,

katanya sambil mengangguk: "Cayhe pernah bertemu dengan Coh-

siancu."

"Bagus sekali" ucap nyonya baju hijau sambil mengawasinya lekat2, tanyanya: "Siapa na ma mu?"

"Cayhe Ling Kun-gi."

Agaknya nyonya baju hijau rada melengak, beberapa saat dia mengawasi pula, katanya ke mudian: "Jadi kau inilah Cong-su-cia dari Pek-hoa-pang itu.."

"Ya, betul, me mang akulah yang rendah ini."

"Baiklah musuh uta ma yang kita hadapi mala m ini adalah Thay- siang dari Pek-hoa-pang, untuk itu Losin boleh me mber i keringanan padamu, asal kau tidak menerjang ke arahku sini, Losin t idak akan me mpersulit pada mu." Tegak alis Kun-gi, katanya lantang: "Banyak terima kasih akan kebaikanmu, Cayhe juga ada sepatah dua kata untuk disampaikan. Pertempuran ma lam ini pihak mana bakal gugur sulit dirama lkan, tapi asal engkau suka mengundurkan diri dari asalmu datang tadi, Cayhe juga boleh me mberi keringanan pada mu, pasti tidak akan menyentuh seujung ra mbut mu."

Junhoa dan Jiu-gwat yang berdiri di kanan-kir i tandu seketika menarik muka, sambil menuding Kun-gi mereka me maki: "Berani, kau kurangajar terhadap Liu siancu, biar kuringkus kau lebih dulu."

Liu-s iancu, kiranya nyonya berbaju hijau yang duduk di dalam tandu adalah Jianjiu- koanim Liu-s iancu yang terkenal itu. '

Mencorong terang bola mata Ko- lotoa mendengar na ma orang, dilihatnya tangan kedua budak perempuan yang menuding itu menge luarkan selarik sinar e mas berkelebat, segera ia berteriak: "Cong-coh, hati2 serangan mereka." Sayang peringatannya ini sudah terlambat.

Di tengah hardikan suara Junhoa dan Jiu gwat, dua batang jarum emas tanpa bersuara menya mber ke kirikanan pundak Ling Kun-gi.

Tapi Kun-gi tetap menggendong tangan dengan sikapnya yang gagah perkasa tanpa bergerak, kedua jarum emas lawan dibiarkan saja mengenai pundaknya, malah dia unjuk senyum manis dan berkata: "Kalau jarum nona berdua bisa melukai Cayhe, jabatan Cong-su-cia di Pek-hoa-pang me mangnya bisa kududuki." Belum habis dia bicara, kedua jarum e mas lawan yang mengena i pundaknya, pelan2 jatuh ke tanah.

Terbeliak Junhoa dan J iu-gwat, muka mere kapun pucat pasi. Tapi Jiu-hoa masih bandel, dengusnya: "Jangan takabur? Hm, coba rasakan yang ini "

Lekas Liu-s iancu bersuara: "Jiu-gwat, jangan turun tangan, dia meyakinkan ilmu sakti pelindung badan, kalian tidak akan ma mpu me lukai dia." Pandangannya beralih dan berkata pada Ling Kun-gi: "Usia mu masih begini muda, tapi sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti pelindung badan, sungguh kagum dan harus dipuji, tak heran kau berani bersikap angkuh dan ber mulut besar, ketahuilah ilmu silat tiada batasnya, kepandaian seorang bisa lebih tinggi daripada yang lain, tentunya kau pernah dengar penuturan gurumu tentang nama Kinsianyang Jianjiu- koanim bukan? Ilmu sakti pelindung badanmu itu hanya ma mpu meno lak senjata rahasia biasa, tapi menghadapi Thay yangsinciam (jarum sakti matahari) milikku ini, ilmu saktimu itu tidak akan berguna lagi.".

Dia m2 tergetar hati Ling Kun-gi, me mang gurunya pernah bilang bahwa Jianjiu-koan im Liu-siancu yang berte mpat tinggal di Kiu- sianyang me miliki ilmu senjata rahasia yang menjago i Bu-lim, selama berpuluh tahun malang melintang tak pernah mene mukan tandingan, terutama "jarum sakti matahari" yang dia yakinkan itu khusus untuk me mecahkan Khikang atau ilmu sakti kekebalan pelindung badan yang tangguh bagi tokoh2 persilatan umumnya. Sungguh tak pernah terpikir oleh Kun-gi bahwa Jianjiu-koanim Liu- siancu yang tersohor juga mau menjadi kaki tangan musuh dan bersekongkol dengan Hek-liong-hwe.

Dengan tertawa Kun-gi berkata: "Memang Cay-he pernah dengar dari Suhu tentang na ma besar Liu-siancu, tapi kalau Liu-s iancu yakin bahwa jarum sakti mataharimu itu ma mpu me mbobo l pertahanan ilmu pelindung badanku, nah boleh silakan coba."

"Suhu," teriak Junhoa gusar," usil mulut orang ini, kalau tidak diberi tahu rasa, dia kira jarum sakti matahari Suhu tidak ma mpu menga lahkan dia."

Liu-s iancu tersenyum, katanya: "Anak muda, sekali hawa murni pertahanan badanmu pecah, maka ta matlah jiwa mu, jangan kau me mpertaruhkan jiwa mu sendiri, perlu kuperingatkan pada mu, asal nanti kau tidak menerjang ke arahku, aku tetap tidak mengganggu dirimu."

Pada saat itulah, suara ledakan ketiga menggelegar lagi. Maka muncullah delapan la mpu yang besar terang dari ngarai batu te mpat ketinggian sana, sehingga seluruh Ui- lionggiam ini menjadi terang benderang seperti siang hari. Dari sebuah mulut gua besar yang menganga di bawah Ui- lionggiam sana muncul sebarisan orang dengan langkah la mban. Orang yang berjalan paling depan adalah laki2 tua berjubah hita m, wajahnya merah beralis tebal, jenggot dibawah dagunya sudah me mut ih, pedangnya panjang beronce kuning tampak tersandang dipundaknya, sorot matanya berkilat menghijau dingin.

Orang ini pernah dilihat Kun-gi di Pek-hoa-pang dulu, dia adalah Ci Hwi-bing Tongcu dari Ui-liong-tong. Di belakangnya ada dua orang tua lagi, seorang berpakaian kain kaci kasar, berperawakan agak pendek, tapi raut mukanya me manjang, mirip ta mpang kuda sehingga kelihatannya amat lucu. Seorang lagi bermuka tirus, tulang pipinya menonjo l, rona mukanya pucat seperti kertas, kedua matanya me micing seperti mera m tapi juga melek sekilas pandang orang akan segera tahu bahwa kedua orang tua ini berasal dari aliran jahat. Di belakang kedua orang tua ini diikuti pula empat laki2 kekar berpakaian hitam ketat dengan pedang panjang di punggung mereka, paling t idak kee mpat orang ini adalah para Sincu dari Ui- liong- tong yang ber-pangkat tingkat dua.

Dia m2 Kun gi menerawang situasi yang dihadapinya, pihak lawan sekaligus muncul tiga ro mbo ngan jago2 kosen, musuh di timur dan barat terang akan mencegat jalan mundur pihaknya, sementara rombongan yang dipimpin Ui- liong-tongcu Ci Hwi-bing sendiri berhadapan langsung dengan dirinya.

Hoanthianeng Siu Ling yang me mimpin sisa Cap ji-sing-s iok akan dihadapi Loh-bi-jin dengan dara2 kembang sesuai yang dipesan oleh Thay-siang, sementara untuk menghadapi ro mbongan musuh di sebelah barat dan di depan ini, dia sendiri harus berdaya upaya. Maka dia berbisik kepada Kongsun Siang supaya me mimpin e mpat Hou-hoat-su-cia menghadapi ro mbongan musuh di sebelah timur yang dipimpin Liu-s iancu. Sementara empat Hou-hoat-su-cia yang lain di bawah pimpinan Ting Kiau di serahi tugas untuk melindungi tandu.

Sementara Kun- gi, Ko- lotoa, Song Tek sing Thio La m-jiang berhadapan langsung dengan kekuatan utama musuh yang dipimpin Ci Hwi-bing. cara pembagian ini kalau dinila i kekuatannya jelas pihak sendiri terla mpau le mah, Tapi dalam keadaan kepepet pada saat genting ini, cara yang ditempuhnya ini sudah merupa kan pilihan yang terbaik.

Bersinar tajam mata Ui- liong-tongcu, dengan kalem satu persatu dia awasi, setiap insan Pek-hoa-pang yang ada di tengah lapangan, ke mudian terkulum secercah senyuman riang, congkak dan rasa ke menangan, dalam jarak dua tomba k dia berdiri, suaranya bergetar keras: "Siapakah yang berna ma Ling Kun-gi, Cong-su-cia dari Pek-hoa-pang?'

Dengan kalem Kun- gi melangkah maju, katanya: "Cayhe inilah Ling Kun-gi, Ci-tongcu ada petunjuk apa?" Pedang tersoreng dipinggang, jubah hijau yang dipakainya mela mbai tertiup angin, sikapnya tenang dan wajar, sungguh tak ubahnya seorang panglima perang yang sudah berpengalaman dan tabah menghadapi segala lawan. Ko-lotoa, Song Tek-seng dan Thio Lam- jiang tetap beriring di belakangnya.

Seperti mata harimau yang buas dan liar so-rot mata Ci Hwi-bing, katanya, menyeringai: "Kau inikah Cong-su-cia itu?". Di ta man belakang Pek-hoa-pang dulu dia pernah me lihat Kun-gi duduk berjajar dengan Pek-hoa-pangcu, maka dia kenal Kun-gi. "Mana Thay-siang kalian?" tanyanya pula.

"Ya, beliaupun datang."

"Kenapa menyembunyikan diri dalam tandu, persilakan dia keluar!'

"Apakah Hwecu kalian juga akan keluar?" balas tanya Kun-gi. "Dengan kekuatan ka mi yang tangguh ini, me mangnya perlu

Hwecu sendiri yang keluar?" ejek Ci Hwi-bing.

Tawar tawa Kun-gi, ucapnya: "Kalau Hwecu kalian tidak mau keluar, Thay-siang ka mi juga tidak sudi mene muimu." Ci Hwi- bing terbahak sambil mendongak, serunya: "Kalian sudah terjatuh ke dalam gengga man tanganku, ingin Lohu lihat sampa i kapan dia bisa se mbunyi di dalam tandu."

"Jadi Ci-tongcu sudah yakin kalau pihakmu pasti akan menang?" jengek Ling Kun-gi.

"Me mangnya kalian ma mpu keluar dari sini dengan masih bernyawa?"

"Kukira belum tentu," demikian ucap Kun-gi dengan so mbong, "orang kuno ada bilang, orang bajik tidak akan datang, yang datang tidak mungkin bajik, kalau Pek-hoa-pang cuma maca mnya orang2 segampang tahu dicacah me ma ngnya bisa me luruk sejauh ini sampai di Kunlunsan ini?"

Berubah rona muka Ci hwi-bing, sebelah tangan mengelus jenggot dia tatap Ling Kun- gi sesaat la manya, katanya: "Tapi keadaan di depan mata sudah merupakan bukti, kalian masuk perangkap dan terkepung dari tiga jurusan, jelas berada dalam situasi yang kepepet, inilah kenyataan yang tak bisa diperdebatkan lagi, kau bukan orang bodoh, me mangnya tidak bisa menilainya sendiri."

"Tidak, Cayhe tetap berpendapat pihak mana yang bakal gugur masih sukar dira ma lkan," Kun-gi tetap me mberi tanggapan tegas.

Terkekeh mulut Ci Hwi-bing, senyum sinisnya semakin tebal disertai rasa gusar, suaranya berubah kereng berat: "Lohu dengar, katanya kau adalah mur id Hoanjiu-ji-lay Put-thong Taysu?"

"Me mangnya perlu kuterangkan lagi?" jengek Kun-gi.

"Mengingat gurumu Put-thong Taysu, Hwecu tidak ingin bermusuhan dengan kau, maka Lohu di perintahkan untuk menasihati kau bahwa permusuhan Hek- liong- hwe dengan Pek-hoa- pang tiada sangkut pautnya dengan kau, tak perlu kau ikut basah dalam air keruh ini, terutama mengingat ilmu silat yang kau pelajari begitu tinggi, masa depanmu gilang ge milang, jika kau sudi ma mpir ke Hek-liong-hwe kami, Hwecu juga bisa me mberi kedudukan Cong- hou-hoat yang lebih agung pada mu."

Kun-gi tertawa, katanya: "Kebaikan Hwecu kalian, Cayhe terima di dalam hati saja.”

"Jadi kau tidak mau terima undangan ka mi?"

"Sekarang Cayhe adalah Cong-hou-hoat-su-cia dari Pek- hoa- pang, sebagai seorang ksatria me mang bisa aku harus ber muka dua, pagi berpihak sini dan mala m berpihak sana, sekarang, kata2 Ci-tongcu tadi kuputar balik dan kuperse mbahkan ke mbali pada mu, kalau sekarang aku me mbujuk Ci-tongcu me nyerah dan berpihak pada Pek-hoa-pang bagaimana?"

Ci Hwi-bing manggut2, katanya: "Maksud Hwecu, jika Ling- lote tidak mau menyerah, beliau pun mengharap kau mengundur kan diri saja dari keterlibatanmu ini, jangan sampai diperalat oleh Pek-hoa- pang, asal kau mengangguk segera kusuruh orang mengantarmu turun gunung, bagaimana pendapat mu.

Kun-gi tertawa, katanya: "Jika Thay-siang kita juga me mbujuk umpa ma Ci-tongcu tidak mau takluk kepada Pek-hoa-pang, silakan selekasnya kau mengundurkan diri saja, bagaimana pendapat Ci- tongcu?"

Wajah Ci Hwi-Ling berubah kela m: "Jadi kau tetap me mbande l." "Seperti kau Ci-tongcu, masing2 orang me mpunyai tekadnya

sendiri2"

"Ling Kun-gi, kebodohanmu ini akan menghancur kan masa depanmu sendiri."

"Cayhe tidak habis pikir, dalam hal apa aku akan menghancurkan masa depanku sendiri?"

"Baiklah Lohu terangkan padamu, Pek-hoa-pang main pikat terhadap insan persilatan dengan paras elok anggotanya, paling2 mereka hanya perkumpulan orang2 durhaka dan khianat, sekarang kau sudah mengerti bukan?" Bahwa Pek-hoa-pang dituduh sebagai khianat mau tak mau bergetar hati Ling Kun-gi, semakin tebal rasa curiganya. Dia masih ingat Thay-siang pernah berkata demikian: "Mereka (maksudnya Hek-liong-hwe) kecuali me ngerahkan beberapa anggota cakar alap2, me mangnya bisa mengerahkan jago2 silat dari mana?" Semula Kun-gi mengira permusuhan antar Pek-hoa-pang dan Hek- liong-hwe hanya pertikaian biasa antara sesama perkumpulan yang berkecimpung dalam percaturan Kangouw, tapi dari ucapan Ci Hwi- bing tadi dia menarik kesimpulan bahwa per musuhan kedua perkumpulan ini juga ada hubungannya dengan pihak penguasa.

Ko-lotoa tetap berdiri di belakang Ling Kun-gi, dia hanya berdiri diam mendengar kan percakapan kedua pihak. Maklumlah, dia hanya sebagai penunjuk jalan, tiada hak untuk ikut bicara dihadapan Cong- su-cia. Apalagi Ling Kun-gi tidak termakan oleh bujuk rayu Ci Hwi- bing yang akan menariknya ke pihaknya, maka dia anggap tak perlu ikut berbicara.

Tapi kini persoalan sudah   lain, kaum persilatan umumnya me mang mengala mi kehidupan pahit di ujung senjata, tapi sekali urusan menyangkut pihak yang berkuasa, siapapun tak berani me mikul akibatnya dituduh sebagai pengkhianat negara.

Melihat Kun-gi mendadak terdia m, Ko lotoa mengira dia keder karena dituduh sebagai "pengkhianat". Sejauh ini urusan telah berkembang, ma ka dia tidak hiraukan kedudukannya sekarang sebagai penunjuk jalan lagi, segera ia menghardik: "Ci Hwi-bing, kau bangsat keparat, pengkhianat bangsa kau anggap sebagai bapak, paling2 kau hanya diangkat sebagai Tongcu, me mangnya kau punya masa depan pula"

Melotot mata Ci Hwi-bing, bentaknya dingin: "Kau Ko Wi-gi. Haha, memangnya Hwecu sedang mencari kalian kawanan pengkianat ini, ternyata kau berani antar jiwamu ke sini, ini namanya sorga ada pintu kau tak mau masuk, neraka buntu justeru kau terjang."

Ko-lotoa menarik muka, katanya sinis: "Kalau aku berani datang, me mangnya gentar berhadapan dengan kalian cakar alap2 antek kerajaan ini? Lihatlah panji yang berkibar? Tujuan ka mi adalah menyapu bersih Hek-liong-hwe dan menumpas sa mpah persilatan . .

. . . . . ."

Muka Ci Hwi-bing yang merah seketika diliputi a marah yang me luap2, bentaknya mengguntur: "Pengkhianat, ke matian sudah di depan mata mas ih berani bertingkah."

"Ci-tongcu," laki2 tua bermuka tirus di sebelah kanannya buka suara, "Lohu ingin bertanya beberapa patah kata kepada bocah she Ling ini."

Ci Hwi-bing segera berubah sikap, katanya berseri tawa: "Tokko- heng silakan bicara." Lalu dia mundur selangkah.

Mendelik kedua mata kakek muka tirus, tatapannya yang beringas se-olah2 hendak menelan Ling Kun-gi bulat2, katanya: "Anak muda, Lohu ingin bertanya padamu, kau harus menjawab dengan baik."

Melihat Ci Hwi- bing terhadap kakek kurus ini begitu hor mat, Kun- gi tahu kalau kedudukan si kakek mungkin di atas Ci Hwi-bing, tapi sikapnya tetap tak berubah, jawabnya dengan tertawa: "Bergantung soal apa yang kau tanyakan."

"Lohu Tokko Siu, tentunya sudah pernah kau dengar dari gurumu?" ucap si kakek kurus.

"Kiranya bangkotan tua yang sukar dilayani," demikian batin Kun- gi, Tapi dia tetap tertawa, katanya: "Ada pertanyaan apa, boleh Loheng katakan."

Terunjuk rasa kurang senang pada wajah Tokko Siu, katanya: "Pernah Lohu bertemu beberapa kali dengan gurumu, usia mu masih semuda ini, tua bangka seperti aku berani kau pandang sebagai Loheng (saudara tua)?"

Kun-gi tertawa lantang, katanya: "Suhu pernah me mber itahu padaku, beliau sela ma hidup tidak pernah punya sahabat, maka Wanpwe juga tidak pernah pandang siapapun sebagai angkatan tua, selama berkelana di Kangouw tak pernah kupandang diriku sebagai angkatan muda, bahwa kupanggil kau Loheng, ini cocok dengan ajaran Nabi bahwa di empat penjuru lautan semuanya adalah saudara, memangnya ucapanku salah?"

"Ada guru pasti ada murid," dengus Tokko Siu, "anak muda, orang yang bermulut besar dan kurangajar harus betul2 me miliki kepandaian sejati."

"O, jadi Loheng ingin menjajal betapa besar bobotku?" "Masih ada persoalan yang ingin Lohu tanyakan lebih dulu." "Katakan saja."

"Lohu punya dua murid, se mua mati di tangan Pek-hoa-pang, kau sebagai Cong-su-cia Pek-hoa-pang, tentunya tabu siapa yang me mbunuh mere ka?"

"Siapa mur idmu itu?"

"Kedua murid Lohu itu masing2 berna ma Pek Ki-han dan Cin Tek- hong."

Ling Kun gi melengggong mendengar kedua nama ini, kiranya kedua orang ini adalah saudara seperguruan, dari sini dapatlah dimengerti bahwa Tokko Siu tentu mahir menggunakan ilmu yang serba dingin. Sekilas berpikir dia mengangguk, katanya: "Sudah tentu Cayhe tahu jelas akan ke matian kedua mur idmu itu."

"Lekas katakan," beringas muka   Tokko   Siu,   "siapa   yang me mbunuh mere ka?"

Dia m2 Kun-gi me mbatin: "Ci Hwi-bing sendiri yang me mbawa Pek Ki-han dan Lan Hau me luruk ke Pek-hoa-pang, akhirnya hanya dia seorang yang berhasil lolos, agaknya dia tidak mencer itakan duduk persoalan yang sebenarnya'" Segera katanya:   "Waktu mur idmu Pek Ki-han melur uk ke Pek-hoa-pang, karena tidak sudi ditawan, dia rela bunuh diri, Ci-tongcu berada di sini, boleh kau tanya padanya."

Tokko Siu berpaling, tanyanya: "Ci-tongcu, apa betul demikian?" "Betul, tapi ke matian Pek-heng betapapun harus diperhitungkan pada pihak Pek-hoa- pang."

"Me mang masuk akal. Lalu, Cin Tek-hong?"

"Cin Tek-hong berhasil menyelundup ke Pek-hoa-pang, malah diangkat jadi Houhoat, di Gu-cu-ki rahasianya terbongkar oleh Cayhe, kebetulan Hwi- liong-tongcu Nao Sa m-jun me mburu datang bersama Cap-ji sing-sio k dan mengepung ka mi, Nao Sam-jun beranggapan mur idmu telah me mbocor kan rahasia Hek-liong-hwe, maka Cin Tek-ho ng dibunuhnya dengan senjata rahasia beracun . . .

. "

"Jadi ma ksudmu, bukan kalian yang me mbunuh Cin Tek-ho ng?" teriak Tokko Siu marah2.

Tegak alis Kun-gi, katanya lantang: "Tadi Cing-tongcu sudah bilang, sudah tentu perhitung-an ini harus dibereskan dengan Pek- hoa-pang."

Muka tirus Tokko-Siu yang se mula pucat seputih kertas pelan2 bersemu hita m, hardiknya bengia: "Katakan, kepada siapa Lohu harus me mbuat perhitungan?" Kedua tangannya sudah terangkat di depan dada, sorot matanya yang mencorong dingin menatap Ling Kun-gi, setiap saat dia sudah siap turun tangan.

"Awas Cong-coh," Ko lotoa me mper ingatkan. Song Tek-song dan Thio La m- jiang yang berdiri di kanan- kirinya serentak me megang gagang pedang dan siap te mpur.

Sebaliknya Kun-gi bersikap kale m, wajar seperti tanpa persiapan, katanya tawar: "Bahwa kita sudah berhadapan dimedan laga, kalau kau mau me mbuat perhitungan dengan aku boleh saja."

"Bagus sekali" dangus Tokko Siu.

Tiba2 kakek ber muka kuda di sebelah kiri berteriak: "Tunggu sebentar Tokko heng, akupun ingin tanya siapa pula yang telah me mbunuh muridku? Nah, orang she Ling, mur idku Lan Hau siapa yang me mbunuhnya?" "Cayhe sudah bilang, kalau toh kita sudah berhadapan di sini, urusan apapun dan berapa banyak yang akan kalian bereskan, semua tujukan saja pada orang she Ling ini."

"Anak  muda,  besar  a mat  mulut mu,  kau  ma mpu me mbereskannya?" jengek kakek muka kuda.

"Kalau Cayhe tidak dapat me mbereskannya, memangnya aku bisa diangkat sebagai Cong-su-cia Pek-hoa-pang?"

"Usia mu begini muda, kau me mang pe mberani, tapi kalau Thay- siang kalian sudah datang, sudah tentu kami akan mencar i perhitungan padanya."

"Tidak sulit untuk kalian mene mui Thay-siang, lalui dulu diriku ini."

Kakek muka kuda menarik muka, serunya gu-sar: "Keparat, kau ingin ma mpus."

"Menang kalah belum ada ketentuan, me mangnya pasti Cayhe yang akan ma mpus?"

Dengan angkuh kata si muka kuda: "Aku Dian Yu-ho k, pernah dengar tidak?" Mulut bicara kakipun melangkah maju.

Dian Yu-ho k dijuluki orang Lam-sat-sin (mala ikat maut), sudah tentu Kun-gi pernah mendengar na manya, kebesaran namanya tidak lebih rendah daripada Ping-sin (ma laikat es) Tokko Siu.

Kedua tokoh Kosen dari aliran jahat yang termasuk kelas top ini, me mang merupakan golongan tersendiri dalam percaturan dunia persilatan, kehebatan mereka pernah menggetarkan delapan penjuru, kebanyakan perguruan silat dari aliran besar kecil segan mencari setori pada mere ka.

Melihat Dian Yu-hok sudah menga mbil ancang2 hendak menyerang Kun-gi, lekas Tokko Siu berteriak: "Dianheng, tunggu sebentar, bocah ini serahkan padaku,"

Lam sat-sin Dian Yu- hok menar ik mukanya yang panjang seperti tampang kuda, katanya dingin: "Bukan soal serahkan atau berikan pada siapa? Yang terang dia me mbunuh mur idku dan sudah berani me mikul tanggung jawab, me mangnya aku tidak pantas menuntut balas padanya?"

Kurang senang Tokko Siu, katanya: "Paling tidak aku kan sudah bicara lebih dulu padanya."

Kun-gi tertawa, katanya: "Tak usah kalian berdebat, Cayhe hanya seorang diri dan tidak ma mpu me mbelah tubuh untuk sekaligus menghadapi kalian. Nah, kailan maju bersama saja, akan kuhadapi sekaligus."

Sementara Kun-gi bicara, Dian Yu-ho k dan Tokko Siu sudah berebut maju, sa ma2 tak mau mengalah sehingga jarak mere ka sudah dekat di kirikanan Kun-gi. Tokko Siu me mbentak: "Anak muda, keluarkan senjata mu."

"Sret", Kun-gi melo los keluar Ih-thiankia m dan me lintang di depan dada, ia pandang bergantian kedua musuh, katanya: "Silakan kalianpun keluarkan senjata."

"Peduli senjata maca m apapun selalu kuhadapi pula dengan kedua telapak tanganku ini," demikian ujar Tokko Siu.

Kun-gi tertawa angkuh, pelan2 dia masukkan ke mbali Ih- thiankiam ke serangkanya, katanya: "Kalau kalian tidak mau pakai senjata, biarlah ku layani dengan kedua telapak tanganku pula."

Dian Yu hok melenggong, katanya: "Anak muda dengan bertangan kosong, kau ma mpu menghadapi kami berdua?"

"Kalian tidak perlu urus," ejek Kun-gi, "kalau   tetap   ingin me mbuat perhitungan dengan Pek-hoa-pang, Cayhelah yang akan menghadapi, kalau Cayhe beruntung menang, maka perhitungan kalian harap dianggap impas, kalau Cayhe kalah, anggaplah aku tidak becus, matipan aku t idak menyesal, setelah kalian berhasil menagih utang, maka bolehlah pulang saja.”

Sekilas Tokko Siu melirik ke arah Dian Yu-ho k, katanya mengangguk: "Bagaimana pendapat Dianheng?" Lansat-sin Dian Yu-ho k mengangguk, katanya: "Baiklah, kita turuti saja kehendaknya."

Kun-gi maklum pertempuran hari ini baik menang atau kalah akhirnya pasti me mbawa akibat yang luas artinya, sudah tentu dia tidak berani gegabah, dia m2 ia kerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya, cuma lahirnya tetap tenang, wajahnya tersenyum lebar malah.

Dia m2 Ko-lotoa mengerut kening, tanyanya lirih: "Cong-su-cia betul2 hendak me layani kedua bangkotan ini?"

Sebagai seorang kelasi dari Pek-hoa-pang yang bertugas penunjuk jalan, kedudukannya a mat rendah, tapi dari percakapan Hoanthianeng Siu Eng dan Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing tadi, Kun gi tahu bahwa Ko-lotoa adalah salah satu dari tiga puluh enam panglima Hek- liong- hwe dulu, maka ia menduga bahwa Thay-siang mengutus dia sebagai penunjuk ja lan mungkin, me mpunyai maksud yang besar artinya, selama ini dia tidak anggap orang sebagai penunjuk jalan belaka, maka de mi mendengar pertanyaan orang, segera ia menjawab dengan suara lirih pula: "Betul, situasi rada genting, terpaksa aku harus layani mereka, Ko-heng bertiga harap mundur beberapa langkah, perhatikan Ci Hwi-bing dengan kee mpat anak buahnya, jangan biarkan mereka menerjang ke mari sehingga kedudukan kita menjadi kacau."

Ko-lotoa mengangguk, katanya: "Cong-su-cia tak usah kuatir, tugas ini cukup dimaklumi olehku, cuma Tokko Siu dan Dian Yu-ho k meyakinkan ilmu silat yang beracun jahat, dengan satu lawan dua Cong-coh harus hati2."

Tengah mereka bicara, Ping-sin Tokko Siu sudah tak sabar lagi, selanya dingin: "Sudah selesai kalian berunding?"

Lekas Kun-gi berpaling, katanya tersenyum "Baiklah, silakan kalian me mberi petunjuk."

"Kau berani menghadapi kami berdua, mungkin tiada kesempatan balas menyerang," kata Tokku Siu, kontan tangan terayun terus menepuk ke depan. Gaya tepukan tangannya seperti tidak menggunakan tenaga. tapi segulung angin keras segera menda mpar.

Dalam seleksi adu kepandaian di Pek- hoa-pang tempo hari Ling Kun-gi pernah saksikan pukulan telapak tangan Cin Tek-hong yang kuat, Tokko Siu adalah gurunya, sudah tentu juga mahir dalam ilmu pukulan, maka sejak tadi dia sudah siaga, melihat lawan me mukul segera dia melejit ke sa mping menghindarkan diri.

Melihat lawan menyingkir, Lansat-sin Dian Yu-ho k segera me mbentak: "Awas." Tangan kanan lantas me mukul dari samping, segulung angin keras kontan menerjang tubuh Ling Kun-gi.

Tanpa menoleh lekas Kun-gi ayun tangan kiri ke sa mping.

Setelah me mukul sebetulnya Dian Yu- hok hendak mendesak maju lebih dekat dan mena mbahi pukulan lain, tapi mendada k terasa segulung kekuatan yang tidak kentara langsung menahan tubuhnya, keruan kagetnya bukan main, batinnya: "Ilmu silat bocah ini, ternyata tidak boleh dipandang enteng."

Terpaksa pukulan telapak tangannya segera dia tarik kemba li serta didorong pula keluar, dengan de mikian barulah tenaga dorongan lawan yang tidak kentara itu dapat dibendungnya.

Kejadian berlangsung dalam sekejap mata, setelah pukulan Tokko Siu berhasil dihindarkan Ling Kun-gi, sambil terkekeh dia gentak lengan bajunya, jari2 tangan yang kurus panjang mir ip cakar burung lantas menongol keluar serta menca kar2 ke udara dua kali.

Mendadak dia menubruk maju, tutukan dan pukulan dilancarkan sekaligus me nyerang Kun-gi.  Kali ini Kun-gi tidak berkelit lagi, dia ke mbangkan Cap-ji-kim-liong-jiu, tutukan jari dan pukulan telapak tanganpun dilancarkan tak kalah lihaynya, malah variasinya lebih banyak, sekarang kanan, lain kejap tahu2 kiri, jadi kanan kiri saling berlawanan, secara sengit serta cepat dia hadapi rangsakan Tokko Siu, Hiat-to besar dan urat nadi orang menjadi sasaran serangannya. Ca-ji-kim- liong- jiu diciptakan dari Ih-kin king yang disela mi secara mendalam, sebetulnya merupakan ilmu pusaka Siau-lim-pay yang tak diajarkan kepada orang luar, kini dike mbangkan tangan kiri Ling Kun-gi, perbawanya sungguh hebat, umpa ma setan iblispun tak ma mpu menghadapinya.

Waktu Kun-gi berkelit tadi, Lansat sin Dian Yu -hok pernah menyerangnya sekali, tapi setelah itu dia berpeluk tangan dan berdiri me nonton saja.

Maklumlah, dia sudah menjajaki bahwa kepandaian Kun-gi ternyata tidak lebih rendah daripada kepandaian sendiri, Dian Yu- hok berasal dari suku Miau yang punya watak suka curiga, di samping sela ma puluhan tahun berkelana di Kangouw, pengala man me mber itahu padanya sebelum tahu jelas seluk beluk kepandaian Ling Kun-gi, dia takkan se mbarangan turun tangan.

Kini dia berdiri di pinggir gelanggang dan mengawasi dengan penuh perhatian kedua orang yang lagi berhanta m.

0odwo0

Di sini Ling Kun-gi tengah menghadapi rangsakan Tokko Siu, sementara Ui-lio ng-tongcu Ci Hwi-bing telah menggerakan pedang, dengan keempat anak buahnya segera dia menerjang ke arah Ko- lotoa bertiga, bentaknya: "Ko Wi gi, dua puluh tahun lebih kita tak bertemu, biarlah hari ini aku mohon pnngajaranmu."

Setelah Kun gi turun gelanggang, maka Ko-lotoa merupakan pentolan di antara mereka bertiga, maka Ci Hwi-bing lantas mengincarnya lebih dulu. Ko- lotoa tertawa, mendadak dari sa mping badan dia menge luarkan sebatang besi, mendadak kedua batang besi dia sa mbung terus diputar ke kanan- kiri menjadi sebatang tumbak besi, hardiknya, "Memang aku juga ingin moho n pengajaranmu."

"Lihat pedang, Ko Wi-gi!" bentak Ci Hwi-bing terus mendahului ayun pedang menusuk la mbung Ko- lotoa. Ujung tumba k Ko-lotoa ternyata bergantol, bentaknya dengan suara keras: "Serangan bagus!" Berbareng tumbak menyampuk dan menarik. Kedua orang segera saling serang dengan cepat, pertempuran mereka cukup sengit dan menegangkan.

Melihat Tongcu mereka melabrak Ko lotoa, empat anak buahnya berpakaian hitam di belakang Ci Hwi-bing segera ikut menyerbu maju. "Sret", Song Tek seng segera cabut pedang, katanya dengan tertawa: "Thio heng, kebetulan kita masing2 kebagian dua orang. Hayo kita berlomba, coba siapa merobohkan mereka lebih dulu."

Mulut bicara, pedangpun bekerja,   sekali   tutul   pedangnya ma mancarkan bintik sinar ke milau bagai rantai perak tahu2 me luncur ke tenggorokan kedua lawan yang menyerbu tiba.

Sekali bergerak, Loanbi-hong-kia m hoat dari Go-bi-pay segera dia ke mbangkan dengan sengit.

Thio La m-jiang ter-bahak2, serunya: "Baiklah, marilah kita berlo mba menga lahkan musuh." Tangan kanan meraih, badanpun bergerak, sebelum lawan menerjang tiba dia sudah mela mbung ke atas, sinar pedang menya mber ke batok kepala kedua lawan.

Serangan pedang yang dilancarkan dengan badan menukik ini ternyata bukan olah2 lihaynya, Kiranya Thio Lam-jiang juga telah keluarkan ilmu pedang Hing-sanpay yang ganas.

Tapi kee mpat orang berbaju hitam yang menjadi lawan mereka adalah empat diantara ke12 Sin Ciu dari Ui- liong-tong yang me miliki kepandaian kelas satu. Apalagi pedang merekapun berwarna hitam gelap dan tak me mancarkan sinar, jangankan di tengah mala m gelap, umpa ma di tengah siang hari juga sukar untuk mengikut i permainan pedang mereka, jelas kondisi mereka lebih menguntungkan.

Untung ilmu pedang angin badai ajaran Go-bi-pay yang dilancarkan Song Tek-seng segencar hujan lebat, lawan merasa seperti disa mpuk ribuan jarum tajam yang sukar dijajaki. Sedangkan Hing-san kia m-hoat yang dike mbangkan Thio La m- jiang mendenging nyaring, badan berlompatan naik turun, ada kalanya dia me la mbung ke udara dan menerka m laksana elang menerka m anak aya m.

Dengan kerja sama mereka berdua yang ketat ini, ternyata rangsakan lawan berhasil dibendung, untuk beberapa kejap la manya mereka sa ma kuat dan tiada yang lebih unggul atau asor.

Bayangan orang lari kian ke mari, se mentara sinar pedang saling berseliweran, di sana-sini mulai terjadi perte mpuran yang gaduh dan sengit.

Begitu pertempuran kalut berlangsung di depan Ui- lionggia m, maka Hoanthianeng Siu Eng yang me mimpin sisa Cap-ji-sing siok segera berhadapan dengan 20 dara kembang di bawah pimpinan Loh-bi-jin, mata tunggalnya kelihatan beringas, tiba2 ia angkat tangan seraya membentak: "Serbu!" Belum lenyap suaranya, sembilan orang yang seluruh tubuh terbalut dalam kulit anjing laut segera berlompatan maju, sisa Cap ji-sing-s iok ini segera menyerbu dengan nekat.

Ke 20 dara kembang sejak tadi sudah siaga, jarak kedua pihak sebetulnya ada empat tombak, begitu me lihat kesembilan Sing-sio k menubruk maju, 18 orang di antara para dara ke mbang t iba2 berpencar menjadi dua kelo mpo k, gerakan mereka begitu rapi dan terlatih, orang berada di ujung kanan mendadak mengayun tangan dan menimpukkan setit ik sinar biru, sementara yang berada di ujung kiri juga mengayun tangan, entah darimana tahu2 tangan kedua orang sudah me megang seutas rantai sebesar ibu jari, begitu pinggang mereka me liuk, badanpun tiba2 me ndekam ke tanah. Gerakan ini boleh dikatakan dilakukan sere mpak oleh delapan belas dara kembang, jelas bahwa mereka sudah la ma terlatih dan dige mbleng.

Tatkala sembilan Sing-s iok itu menubruk tiba, Loh-bi-jin sedikit mendak, segesit burung ia me layang kedepan. Sementara sembilan musuh sudah menerjang tiba, tapi mereka dipapak timpukan titik biru dari para dara ke mbang,  mereka mengapung di udara, untuk berkelit jelas tidak mungkin, soalnya mereka terlalu yakin akan pakaian yang kebal senjata, maka merekapun tidak berusaha menghindar. Betapa cepat luncuran kedua pihak yang saling tubruk dan timpuk ini. Tahu2 se mbilan t itik sinar biru dengan telak mengenai tubuh se mbilan Sing-siok dan meledak, seketika asap biru mengepul dan apipun berkobar dengan ganasnya.

Pakaian yang dikenakan para Sing-sio k itu menutupi seluruh anggota badan dari kaki sa mpai kepala, yang kentara hanya kedua mata mereka, maka kobaran api yang panas disertai asap tebal biru ini seketika berkobar di depan dada mereka, kecuali kobaran api, pandangan mata merekapun tertutup oleh asap sehingga tidak bisa me lihat keadaan sekitarnya lagi.

Kepandaian silat kese mbilan Sing siok ini jelas tidak le mah, tapi berada di udara, tahu2 dia terbakar, keruan kaget mereka bukan ma in, dalam gugupnya mereka berusaha me mada mkan api sa mbil menepuk2 dada sendiri. Se mbilan orang mela kukan gerakan yang sama.

Maklumlah, siapapun kalau dada terjilat api, secara otomatis pasti berusaha me mada mkannya dengan tepukan kedua tangan.

Tapi di luar dugaan mereka bahwa ledakan api ini buatan khusus dari Pek-hoa-pang untuk me nghadapi mereka, begitu besar daya bakarnya, menyentuh barang apapun api pasti berkobar, sebelum menjadi abu daya bakarnya tidak akan pada m, siapapun takkan ma mpu me mada mkannya.

Karena berusaha memada mkan api, maka lengan baju mereka yang lebar menimbulkan kesiur angin yang ma lah mena mbah besar kobaran api sehingga lengan baju merekapun ikut terbakar.

Sembilan Sing-s iok jadi mencak2 sa mbil ber-teriak2 panik seperti manus ia api, siapapun yang dekat mereka, sekali terpegang dan dipeluk, tentu jiwa akan ikut melayang dan terbakar ma mpus bersama mereka.

Tapi delapan belas dara ke mbang sudah siaga, dua orang satu kelo mpo k, masing2 me megang ujung rantai yang cukup panjang dan siap mendeka m di tanah. Karena sekujur badan terjilat api, pandanganpun terganggu asap tebal, hakikatnya para Sing-siok yang panik terbakar itu tak melihat keadaan sekitarnya lagi, baru saja kedua kaki mereka hinggap ditanah, dua dara kembang segera mengayun tangan, dengan rantai panjang mereka menjirat kedua kaki orang

Sudah tentu para Sing-s iok tak pernah pikir bakal kecundang begini rupa, satu persatu mereka terjungkal roboh, belum lagi para Sing-sio k itu berbuat banyak, segesit kera para dara ke mbang sudah me lejit bangun dan berlompatan menyilang sehingga kaki orang betul2 terbelenggu oleh rantai dan ditarik ke kirikanan dengan kencang.

Begitu roboh dengan kaki terbelenggu oleh rantai, kesembilan Sing-sio k meronta2 dan bergulingan di tanah. Sementara api berkobar semakin besar. Hanya beberapa kejap saja sembilan orang aneh yang berpakaian kebal senjata itu hanya meronta beberapa kali, akhirnya tak bergerak lagi, dengan cepat api me mbiru itu menge luarkan bau hangus terbakarnya badan manusia yang tak sedap,

Cap-ji-sing-sio k yang selama ini dibanggakan oleh Hwi- liong- tong, bukan saja kebal senjata, malah sudah malang me lintang di Kangouw tak pernah kecundang, tak nyana hari ini tertumpas habis begitu saja oleh para dara2 cantik yang cekatan ini, belum gebrak semuanya sudah roboh dan mati terbakar menjadi abu.

Dalam pada itu waktu kese mbilan Sing-sio k menubruk maju tadi, Loh-bi-jin juga me luncur ke depan me mapa k Hoanthianeng Siu Ing, bentaknya menuding: "Orang she Siu, hari ini adalah hari ajalmu, lihat pedang!" Dari depan segera pedangnya menusuk.

Mimpipun Hoanthianeng Siu Ing tak pernah menduga bahwa kesembilan Sing-sio k baru saja ke luar, tahu2 Loh-bi jin juga menubruk ke arahnya. Keruan dia kaget, sedapatnya dia mir ingkan tubuh sambil me lo mpat meluputkan diri dari tusukan orang berbareng tangan kirinya tahu2 mencakar dan menangkap pergelangan tangan Loh-bi jin yang pegang pedang. Gerakan mundur sa mbil menyerang ini dibarengi tangan lain me lolos sebatang pedang warna hitam legam, dengan senjata di tangan dia kelihatan beringas, teriaknya bengis: "Budak !"

belum lagi lanjut, pada saat itulah didengarnya suara ledakan ramai disertai percikan api yang segera ber-kobar.

Waktu dia berpaling, dilihatnya kesembilan Sing-s iok yang dipimpinnya telah terjilat api, badan masih me ngapung di udara, kaki tangan menca k2 gugup dan takut. Tentu saja kagetnya tidak kepalang.

Menyurut   mundur    sedikit,    Loh-bi-jin    unjuk    rasa    puas ke menangan, pedang tetap menuding musuh, katanya dingin: "Orang she Siu, kau sudah lihat bukan? Cap ji-sing siok yang kalian banggakan dalam sekejap akan menjadi setumpukan abu, dan kau juga takkan lolos dari ke matian."

Gusar Hoanthianeng bukan ma in, hardiknya mur ka: "Budak, akan kubelah badanmu hidup2." Pedangnya bergetar turun naik, segera dia hendak menubruk maju.

Tapi Loh-bi-jin telah me mbentak sa mbil menganca m dengan pedang, serunya: "Berdiri, dengarkan dulu bicaraku sa mpai habis."

Mata tunggal Hoanthianeng seperti me mancarkan bara, bentaknya gusar sekah: "Budak keparat, omong apa, lekas katakan.'

"'Baiklah kuberitahu padamu, bukankah dibelakangmu berdiri dua orang dara ke mbang? Cukup aku me mber i tanda kepada mereka. kaupun segera akan terjilat api dan ma mpus menjadi abu, tapi nona ingin kau ma mpus tanpa menyesal, marilah kita bertanding sampai titik terakhir dengan pedang."

Ternyata dua puluh dara kembang mas ih ada dua orang yang menganggur, delapan belas orang menghadapi se mbilan Sing-s iok, dua orang lain secara diam2 telah mencegat jalan mundur Hoanthianeng.

Mendengar jerit ngeri se mbilan Sing-sio k yang terbakar mati itu, perasaan Hoanthianeng sudah tidak keruan, baru sekarang dia sadar bahwa Pek-hoa-pang meluruk ke mar i dengan persiapan matang. Mendengar Loh- bi-jin menantang dirinya bertandang pedang, diam2 dia bergirang, batinnya. "Budak keparat, kau sendiri yang cari ma mpus."

Mata tunggalnya menatap Loh bi-jin, katanya dengan menyeringai beringas: "Baik, ingin Lohu saksikan betapa tinggi ilmu pedangmu?" Se mbari bicara segera tangan kanannya bergerak, pedang seketika bergetar menimbulkan bayangan berlapis, bentaknya: "Awas!" Belum lenyap suaranya, pedang sudah bergerak secepat angin, sekaligus dia menusuk tiga kali.

Me mang tidak ma lu kalau orang ini dulu merupa kan salah satu dari 36 panglima Hek- liong- hwe, serangan pedangnya cepat dan keji, yang terlihat hanya bayangan hitam yang berputar menusuk.

Melihat dara2 ke mbang sudah sukses, besar hati Loh-bi jin lebih mantap, tanpa menyingkir ia menghardik: "Serangan bagus!" Pedang terayun, badan bergerak mengikuti gaya pedang, serangan Hoanthianeng yang ketat itu diterjangnya.

Sudah tentu Hoanthianeng me lengak heran dan ber-tanya2: "Me mangnya budak ini ingin ma mpus ?" Tapi pada detik yang gawat itulah, seketika dia menyadari gelagat kurang wajar. Di tengah gerakan Loh-bi-jin yang me mutar itu, pedangnya me mancar kan ke milau yang berpencar seperti puluhan banyaknya dan sekaligus merangsak kearahnya dari berbagai arah, cahaya yang terang itu menyilaukan matanya, sayup2 kupingnya juga mendengar suara gemuruh, seto mbak sekelilingnya seperti sudah terkurung oleh hawa pedang lawan yang dingin taja m.

Kaget dan berubah hebat air muka Hoanthianeng, puluhan tahun dia berkecimpung di Kangouw, belum pernah dia menyaksikan ilmu pedang sedahsyat ini.