Pendekar Kidal Jilid 20

Jilid 20

Melenggong sejenak. segera Ji Siu-seng. ber-jingkrak girang, serunya: "Kiranya me mang Congcoh, kalau bukan kalian yang menya mar, pasti jiwa ha mba sudah amblas ma lam ini."

Sementara itu Kongsun Siang yang menyaru jadi Ong Ma-cu dengan gerakan Long-sing-poh telah menerjang ke samping Ji Siu- seng palsu, ternyata reaksi Ji Siu-seng palsu juga sebat dan cepat luar biasa, sekali ayun pedang me nusuk ke badan Kongsun Siang. Betapa cepat serangan pedang orang ini, cabut pedang terus menusuk dilakukan serentak dalam waktu yang amat singkat, jelas iapun me miliki Ilmu pedang yang luar biasa.

"Serangan bagus" seru kongsun Siang sa mbil tertawa

"Trang", lelatu api me letik, dua pedang beradu keras dan menerbitkan ge ma suara nyaring panjang. Kedua orang sa ma2 merasakan telapak tangan sakit kese mutan-

Kongsun Siang menerjang ke sa mping, pedang berkisar, serangan jurus ke dua sudah dia lancarkan mendahului musuh.

Ternyata gerakan Ji Siu-seng palsu ini juga tidak lambat, serempak iapun me mutar, kemba li dengung suara keras beradunya dua senjata terdengar, tusukan pedang Kongsun Siang ternyata kena disa mpuknya pergi.

Kongsun Siang tertawa, serunya: "Kau berani menyaru Ji-heng, kenapa Ilmu pedang Bu-tong-pay tidak kau yakinkan sekalian?" Sambil bicara secara beruntun ia mencecar pula t iga kali tusukan-

Lawan tidak berkata sepatahpun, pedang tetap balas menyerang dengan sengit, beruntun iapun balas me nyerang tiga jurus.

Ini merupa kan pertandingan pedang tingkat tinggi yang jarang terlihat, kecuali samberan Sinar pedang bagai kilat berkelebat, Sering pula terdengar suara dering pedang yang beradu secara keras.

Thian-lo ng-kia m-hoat yang diyakinkan Kong-sun Siang me mang menjurus kealiran liar yang ganas dan buas. pedangnya sering menyerang tatkala lawan menyangka dia hendak kabur, tahu2 orang malah dicecar dengan tusukan dan tabasan yang sukar dijaga, Tapi per mainan Ilmu pedang Ji Siu-seng palsu ini ternyata cepat sekali, pedangnya bergerak laksana kit iran, setiap jurus serangan juga mematikan,jadi Ilmu pedang mereka me mang sa ma2 keji dan hebat. Ling Kun-gi ikut menyaksikan dengan seksa ma dan penuh perhatian, demikian pula Ji siu-seng dan kedua anak buah lainnya sama menonton dengan berdebar.

Suatu ketika Ji Siu-seng melirik kearah Cin Te-khong dan Kho Ting-seng yang duduk dan mengge letak tertutuk Hiat-tonya, diam2 dia me mbatin: "Syukurlah kedua orang ini sudah terbekuk lebih dulu oleh Cong-su-cia dan Kongsun-houhoat yang muncul mala m ini, entah bagaimana mere ka bisa tahu akan muslihat musuh yang licik ini?"

Serta merta matanya mengerling ke arah Ling Kun-gi, diam2 hatinya menaruh hor mat dan kagum luar biasa kepada Cong su-cia yang masih muda dan gagah perkasa ini,

Dilihatnya Kun-gi pegang mangkuk sa mbil meneguk arak pelan2, wajahnya mengulum senyum cerah, sikapnya tenang2 saja seakan2 dia sudah yakin bila Kongsun Siang akhirnya pasti menang.

Dia m2 ji Siu-seng keheranan, lekas dia menoleh pula mengawasi kedua orang yang tengah berhantam, keduanya masih tetap saling serang, lingkaran cahaya pedang kini bertambah luas mencakup lima to mbak di sekeliling gelanggang sehingga sukar dia me mastikan siapa bakal menang dan kalah. Padahal kedua orang sudah bergebrak seratus jurus lebih.

Se-konyong2 terdengar Kongsun siang me mbentak. pedang bergerak lebih kencang lagi, beruntun tiga jurus lihay dilancarkan, maka terbit pula dering nyaring beradunya senjata mereka, pedang di tangan Ji siu-seng palsu ta mpak terpukul jatuh di tanah berumput.

Sekali tuding pedang Kongsun Siang menutuk ke dada lawan, serunya dengan gelak tertawa: "Kan sudah kepepet, memangnya tidak terima kalah dan menyerah?"

Lekas Ji siu-seng palsu menar ik napas dan menge mpiskan dada sambil mundur dua langkah, teriaknya beringas: "Siapa bakal ma mpus masih sukar dira maikan." Mendadak tangan kiri ter-ayun dan mulut me mbentak, dia me lenting tinggi me lesat mir ing ke sana. Kiranya dia tahu keadaan cukup gawat, kecUali Kongsun Siang, masih ada dua orang lain yang mencegat jalan mundurnya, ma ka dia pura2 menyerang dan berusaha me larikan diri.

Melihat tangan orang terayun, tapi tidak menimpukkan senjata rahasia, Kongsun Siang me mbade lawan hanya main gertak dan berusaha melarikan diri, ma ka dengan tawa lantang dia berkata: "Kau mas ih ingin ngacir, kukira tidak ga mpang."- Tangan kanan sekali bergerak. pedang ditangannya seketika meluncur dan "crap" menancap a mbles di tanah berumput sana, sementara seringan burung walet badannya me la mbung t inggi berusaha mencegat lawan di tengah udara.

Ji siu-seng palsu semakin mur ka, teriaknya: "Turun kau" ia songsong tubrukan Kongsun Siang dengan pukulan telak. Sudah tentu dikala tubuh terapung Kongsun Siang juga sudah siaga, ma ka iapun melancar kan pukulan keras menyambut hanta man lawan- "Brak", di tengah udara kedua orang adu jotos, kekuatan pukulan mereka sa mpai menerbitkan suara yang me mbisingkan telinga, kedua orang sa ma2 tertolak turun ke tanah pula.

Begitu menginjak bumi, mendadak kaki kiri Kongsun Siang me langkah setapak. tahu2 ia sudah mendesak tiba di samping Ji Siu-seng palsu, serentak dia tutuk siau-you-hiat di pinggang Ji Siu- seng palsu.

Ternyata Ji siu-seng palsu tidak kalah sebatnya, dengan gaya liong-bwe-hwi-hong (ekor naga menerbitkan angin) iapun balas menyerang, Tangkas sekali Kongsun Siang sudah ganti gaya sambil menyingkir ke samping, secara cepat luar biasa dan memberosot ke sebelah kanan Ji Siu-seng palsu, secepat kilat tahu2 tangan kirinya sudah cengkeram pergelangan tangan kanan lawan- Gerak ini sunguh cepat luar biasa, betapa lihay rangsakannya ini sungguh sukar dilukiskan-

Untuk punahkan serangan lawan jelas tidak se mpat lagi, maka Ji siu-seng palsu menggera m sekeras2nya, tangan kiri mengepal, sekuatnya dia genjot muka Kongsun Siang, sementara kelima jari kanan me mba lik balas pegang pergelangan tangan Kongsun Siang. Tapi tiba2 tangan kanan Kongsun Siang juga me mbalik dan lancarkan Kim-na-jiu-hoat, tangan kiri lawanpun kena dipegangnya pula.

Sebelah tangan masing2 sa ma2 kena dipegang lawan, tinggal sebuah tangan yang lain saling serang secara cepat dalam jarak dekat, tiba2 menepuk tahu2 menutuk. mendadak ganti jotosan serta berbagai tipu lihay, keduanya berebut waktu dan mengadu kecepatan-

Betapapun situasi me mang tidak menguntung-kan Ji Siu-seng palsu, dia ingin lari secepatnya, mendadak dia menghardik, serentak kaki kanan menendang ke selangkangan Kongsun Siang, sementara tangan kanan sedang saling serang dengan lawan, tak mungkin Kongsun Siang menghindar atau menangkis tendangan ini.

Namun Kongsun Siang bukan lawan e mpuk. tiba2 dia lepaskan pegangannya, tangan kiri berbareng me mbalik dengan mengerahkan tenaga sehingga tangan sendiri yang dipegang lawan terlepas, dan jari bagai jepitan besi terus menutuk ke kaki lawan yang menendang t iba.

Kedua pihak ha mpir bersa maan me lepas pegangan tangan- Baru saja Ji Siu-seng merasa senang asal pegangan jari lawan terlepas, maka ada harapan dirinya untuk me larikan diri. Tak terduga tiba2 terasa lm-koh-hiat di kaki kirinya kesemutan, tanpa kuasa tubuhnya lantas doyong ke depan- Secepat kilat Kongsun siang lantas susuli pula dan kali tutukan Hiat-to besar diantara tulang rusuknya. "Blang" kontan dia terbanting roboh tak berkutik.

Kongsun siang menyeringa i bangga, dia jemput pedangnya dan dimasukkan keserangkanya, sekali raih dia jinjing tubuh Ji Siu-seng palsu dan mengha mpir i Ling Kun-gi dengan langkah lebar. "Bluk" dia banting tubuh Ji Siu-seng palsu ke tanah terus menjura, katanya: "Syukurlah ha mba telah me nunaikan tugas." Kun-gi manggut2, katanya: "Sudah kuduga Kongsun-heng pasti berhasil me mbekuk musuh, maka sengaja kusediakan secawan arak untuk menyuguh dan merayakan ke menangan Kongsun- heng."

"Terima kasih Cong-coh," ucap Kongsun Siang ia terima mangkuk arak itu terus ditenggaknya habis.

"Marilah Song-heng dan Thio-heng," kata Kun-gi menoleh ke sana, "marilah kita bersa ma2 minum beberapa mangkuk."

Heran Kongsun Siang, katanya: "Bukankah Cong-coh biasanya tidak suka minum arak?"

"Betul, biasanya aku jarang minum arak. semangkuk saja mungkin sudah mabuk, tapi mala m ini Cin- heng ini dengan susah payah menyiapkan perja muan ini, hayolah jangan sia2kan maksud baik-nya." Maka be-rama i2 mereka sama duduk di sekitar Ling Kun- gi.

Song Tek-seng dan Thio La mjiang segera menghapus obat rias di mukanya, sementara Ji Siu-seng mengis i arak ke dalam mangkuk. Kun-gi duduk di tengah antara Cin Te-khong dan Ko-Ting-seng, dengan enteng kedua tangannya bergerak, seperti mengulap saja jari2 tangannya sudah membuka tutukan Hiat-to di tubuh orang. Sedikit bergetar, Cin Te-khong dan Kho Ting-seng sa ma2 me mbuka mata.

Lekas Cin Te-khong menggerakkan kedua tangan berusaha bangun berduduk. tapi beberapa kali bergerak selalu gagal, ternyata didapatinya kaki tangan terasa lunglai, ada Hiat-to yang masih tertutuk, akhirnya dia menghela napas panjang, tapi sorot matanya beringas, bentaknya: "orang she Ling, apa kehendakmu?"

"Cin-heng sudah siuman?" tanya Kun-gi tawar. "Bukankah tadi kau bilang, kapan manusia hidup pernah mabuk. nah silakan minum beberapa mangkuk ini."

"orang she Ling," desis C in Te- khong penuh marah, "jangan kau ber-muka2 di depanku. Mau bunuh atau se mbelih boleh silakan, jangan kira aku akan mengerut kening." Tegak alis Kongsun Siang, katanya dingin: "cin Te-khong, berani kau kurang ajar, kau ingin kuiris sebuah kupingmu. "

Cin Te-khong me nggerung gusar, serunya: "Rahasiaku sudah terbongkar, kecuali mati tiada urusan lain yang lebih besar lagi, kau kira aku ini pengecut yang bernyali kecil? Apalagi umpa ma orang she cin betul2 mati pasti juga ada orang akan me mbalas dendamku."

Kun-gi angkat mangkuk araknya dan meneguk sekali, katanya sambil   menoleh: "Rahasia cin-heng sendiri sudah terbongkar, me mangnya beberapa anak buahmu itu bisa berbuat apa?"

"Aku tidak punya anak buah," kata Cin Tek- hong ketus.

"Dua orang yang kau suruh menaruh air teh di ka marku, bukankah mere ka anak buahmu?"

Berubah air muka Cin Tek-hong, dingin katanya: "Aku tidak tahu apa katamu."

"Setelah kita puas makan minum dan pulang, Cin-heng akan tahu duduk persoalannya."

Kongsun Siang heran, tanyanya: "Cong-coh bilang bahwa di kapal kita masih ada komplotan mere ka?"

Ling Kun-gi tersenyum penuh arti, katanya: "Sudah tentu masih ada, kalau mala m ini kita tidak me mbekuk Cin-heng, beberapa hari lagi mungkin ko mplotan mereka akan berta mbah banyak lagi, jabatan Cong-su-cia yang kududuki ini juga pasti harus kuserahkan kepada Cin-heng ini."

Song Tek-seng menimbrung: "Benar Cong-coh, umpa ma mala m ini bila rencana mereka berhasil baik, ko mplotan mereka akan bertambah seorang lagi di atas kapal kita."

Kun-gi tersenyum padanya, katanya: "Syukurlah kalau Song-heng tahu, tapi tiga hari yang lalu waktu Song-heng pulang ronda, kau pernah me mbawa pulang orang mere ka." Song Tek-seng berjingkat kaget, tanyanya: "Hamba me mbawa pulang orang mereka?" Lalu dia berpaling ke arah Kho Ting-seng: "Apakah dia yang Cong-coh maksud?"

"Kho-heng ini ikut datang dari Hoa-keh-sanceng," ujar Kun-gi. "O, Kho Ting-seng, kaukah yang mencelaka i jiwa Ho Siang-

seng?" teriak Song Tek-seng murka.

"Orang she Ling," dengus Cin Tek- hong, "agaknya kau sudah tahu seluruhnya, tentu Li Hek- kau yang me mbeberkan se mua ini." Li Hek-kau dan Ong Ma-cu adalah kedua kelasi disa mpan C in Tek- hong.

Kun-gi me neguk araknya pula, katanya tertawa: "Apa yang diketahui Li Hek-kau dan Ong Ma-cu a mat terbatas, tanpa tanya mereka aku sudah tahu lebih banyak lagi."

"Darimana kau bisa tahu?" tanya Cin Tek- hong.

Sekali me ngebas tangan Ling Kun-gi bebaskan tutukan hiat-to di lengan orang, lalu angsurkan se mangkuk padanya, katanya: "Silakan minum Cin-heng."

Cin Tek-hong me mang setan arak, tanpa sungkan dia terima mangkuk itu terus di tenggaknya habis, katanya sambil ber-kecap2: "Kukira rencanaku hari ini cukup rahasia dan teliti, tak nyana terbongkar juga oleh Cong-coh, terus terang aku me ngaku kalah, cuma cara bagaimana Cong-coh bisa tahu?"

"Aku orang baru, semua mas ih serba asing, sudah tentu Cin-heng sendiri yang me mberitahu padaku," ucap Kun-gi tertawa.

Terbeliak mata   Cin   Tek-hong,   katanya   keras: "Aku yang me mber itahukan padamu?" Nadanya heran tak percaya dan penasaran.

"Malam ini aku ingin bicara blak2an dengan Cin-heng, untuk itu terpaksa aku menyamar jadi Li Hek-kau dan ikut ke mar i, marilah sambil habiskan arak kita mengobro l," lalu Kun-gi a mbil poci arak, serta mengis i, mangkuk se mua orang. Cin Tek-hong terkekeh, katanya: "Cong-coh menceko k aku dengan arak untuk mengorek keteranganku??

"Segalanya sudah kuketahui, untuk apa minta keterangan padamu. Tapi me mang ada beberapa persoalan ingin aku minta penjelasan Cin-heng, nanti setelah kukatakan, terserah Cin-heng mau menjelaskan atau tidak, aku takkan me ma ksa."

Cin Tek-hong raih mangkuk araknya terus ditenggaknya, katanya: "Baiklah, coba Cong-coh ka-takan, dalam hal apa aku telah me mber itahukan Cong-coh."

Kun-gi angkat mangkuk arak se mbari berka-ta: "Silakan semua minum, tak usah sungkan."

Lalu berkata kepada Cin Tek-hong: "Malam harinya setelah Cin- heng diangkat menjadi Houhoat, kau mengira aku mabuk dan tertidur pulas, maka kau  gunakan  So m- lo-ling  berusaha me mbunuhku secara gelap '

"Darimana Cong-coh tahu kalau itu perbuatanku?" tukas Cin Tek- hong.

"Se mula me mang sukar kuraba dan bukan Cin-heng yang kucurigai, soalnya orang itu terlalu apal mengenai keadaan dan seluk-beluk Hoa-keh-ceng, jadi jelas dia bukan orang luar, sementara dua orang kita yang bertugas ditepi danau terpukul mat i oleh getaran tenaga dalam dari aliran Lwekeh yang dahsyat, dari keadaan kematian kedua orang ini dapat kusimpulkan mere ka terpukul dalam jarak satu sampai dua tombak dengan getaran Bik- khong-ciang, dan orang yang me miliki pukulan telapak tangan sedahsyat itu dalam Pang kita hanya Coh-houhoat dan Cin-heng berdua, sudah tentu Yu-houhoat sendiri juga me miliki kekuatan yang seimbang, tapi dia ahli ilmu kepalan bukan pukulan telapak tangan, perawakan Leng-heng kurus tinggi, jelas tidak cocok dengan perawakan orang itu, oleh karena itu aku lebih cenderung untuk mencur igai Cin-heng." Cin Tek-hong tenggak beberapa teguk araknya, katanya menyeringai: "Analisa Cong-coh sungguh teliti dan cer mat, agaknya aku me mang terlampau rendah menila imu."

Kun-gi melirik ke arah Kho Ting-seng, katanya: "Waktu aku ke mbali, kebetulan kesamplok dengan Kho-heng, dia berjaga di tenggara Hoa-keh-ceng, merupakan jalan satu2nya yang harus di- lewati siapapun kalau pulang dari danau, kalau jejakku bisa konangan dia, kenapa kedatangan Cin-heng tidak diketahui? Hal ini sudah menimbulkan kecurigaanku, disamping itu dia berjuluk Gintancu (si pelor perak), seorang yang kesohor mengguna kan senjata rahasia di kalangan Kangouw tentu me miliki kepandaian khusus yang betul2 lihay dan tinggi, tapi waktu dia menimpuk diriku, tenaganya lemah dan sasaran kurang telak, kepandaian rendah begini tak mungkin bisa kesohor dengan julukan Gintancu, mau tak mau aku dipaksa untuk sedikit me mperhatikan dirinya, maka kudapati pula wajahnya telah dirias, karena itu aku menarik kesimpulan kalau dia mungkin sekongkol dan sekomplotan dengan Cin-heng, orang ini terang adalah sa maran yang menyelundup ke Pek-hoa-pang kita."

Berubah air muka Kho Ting-seng, tanyanya: "Jadi sejak mula Cong-coh sudah tahu kalau wajahku ini riasan?"

"Wajah yang dirias mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi tak mungkin mengelabui kedua mataku. Te mpo hari waktu Nyo Keh- cong dan Sim Kiansin ke mbali dengan terluka, akupun mendapatkan wajah mereka juga riasan, hari kedua waktu ro mbongan Song-heng pulang ronda, muka Ho Siang-seng juga telah dirias pula, oleh karena itu dapat kusimpulkan, setiap kalian keluar bertugas dengan cara bergilir satu persatu kalian me nculik orang kita lalu menukarnya dengan seorang lain yang telah kalian rias mirip wajah orang aslinya dan diselundupkan ke mar i, bila kapal kita tiba di Hek- liong-hwe, maka seluruh Houhoat dan Houhoat-su-cia telah kalian ganti dengan begundal kalian sendiri" Cin Tek-hong menarik napas panjang, katanya lemas: "Inilah yang dinamakan sekali salah langkah seluruh rencana porak- poranda. Saudara Ling, me mang hebat kau!"

"O, pantas waktu mala m itu aku giliran tugas, Cong-coh pesan wanti2 supaya aku berlaku hati2 " kata Kongsun Siang.

"Ya, waktu itu aku kira sasaran berikutnya adalah kau, karena sampan yang kau gunakan hari itu adalah sa mpan yang digunakan Sim Kian sin, tapi akhirnya kuketahui hanya kedua anak perahu yang telah diganti," merandek sebentar la lu Kun-gi melanjutkan: "Malam itu dengan mengguna kan So m- lo-ling seseorang berusaha me mbunuh Thay-siang, malah me mfitnahku pula dengan menyelundupkan barang bukti keka marku "

Me mang peristiwa itu tiada buntutnya, padahal barang bukti sudah tergeledah dari kamar Ling Kun-gi dan dia sudah digusur ke hadapan Thay-siang, kenyataan dia masih me mbawa Ih Thiankia m, tanda kebesaran jabatannya sekarang, dia tetap menduduki Cong- su-cia. Bagaimana kelanjutan dan akhir dari peristiwa itu? Sudah tentu semua orang mengharap untuk mengetahui. .

Kini Ling Kun-gi menyinggung peristiwa mala m itu, ma ka Kongsun Siang, Song Tek-song, Thio La m-jiang dan Ji Siu-seng sama pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian. Sampa ipun Cin Tek-hong, Kho Ting-seng tiruan juga terbelalak menunggu cerita lanjutannya.

Kun-gi tersenyum, tuturnya: "Malam itu juga, di antara para Taycia kute mukan juga orang yang telah dirias."

Kongsun Siang tanya: "Ke12 Taycia semuanya mengenakan kedok, cara bagaimana Cong-coh bisa tahu?"

"Karena kudapati salah seorang mereka mengunjuk aksi yang mencur igakan, ma ka hal ini kulaporkan kepada Thay-siang, atas persetujuan beliau kusuruh mereka mencopot kedok dan kutemukan kepalsuannya." Song Tek-seng   tertawa   riang,   katanya:   "Cong-coh   telah me mbe kuknya?"

"Orang ini berna ma Ci Gwat-ngo, salah seorang pimpinan orang2 Hek-liong-hwe yang dipendam dalam Pek-hoa-pang kita."

Berubah rona muka Cin Tek-khong, tanpa bersuara dia teguk lagi araknya.

"Malam itu juga berhasil kuringkus seorang dara kembang tiruan, orang inilah yang biasa menjadi kurir antara Cin-heng dengan Ci Gwat-ngo, mala m itu kusuruh dia mondar- mandir di dek tingkat kedua sebelah kanan untuk me mberi kabar kepada Cin-heng."

"Kalau mereka sudah mengakui segala lakonnya, kenapa aku tidak ditangkap pada waktu itu juga?" tanya Cin Tek- hong.

Kalem senyum Kun-gi, katanya: "Sepanjang perjalanan kapal kita ini kalian berusaha mengganti orang2 kita satu persatu, maka kugunakan pula cara dan akal yang sa ma untuk balas menipu kalian, sepanjang perjalanan akan kutangkap setiap orang utusan kalian yang diselundupkan ke atas kapal."

Cin Tek-hong a mbil mangkuk araknya dan ditenggaknya habis pula, dengusnya: "Saudara me mang lihay, bukan saja jaringan rahasia kami terbongkar seluruhnya, malah orange kita akan kau jaring pula satu persatu sepanjang jalan ini, orang yang licik dan licin seperti ini, mana boleh kubiarkan kau hidup." Tiba2 mangkuk ditangannya mencelat, telapak tangan besinya secepat kilat menekan ke dada Ling Kun-gi.

Cin Tek-hong duduk di sebelah kiri Kun-gi, pukulan ini sudah sejak tadi dia siapkan, sebetulnya sudah bisa turun tangan sejak tadi, tapi dia harus menunggu kesempatan. Dikala Kun-gi tidak siaga baru akan menyerangnya secara mendadak dengan pukulan me matikan. Seperti diketahui dia meyakinkan Hansi- ciang, pukulan aliran sesat yang dingin beracun dan jahat sekali, sedikit hawa dingin meresap ke badan dan cukup untuk menewaskan jiwa Ling Kun-gi. Maka dapatlah dibayangkan bila pukulan telak ini dikerahkan setaker kekuatannya. Ketika Kun-gi habis bicara, tangan kanan angkat mangkuk menghirup arak, baru saja arak masuk ke mulut, belum lagi mangkuk arak diturunkan, sementara tangan kirinya lagi menje mput telur asin, sudah tentu sedikitpun dia t idak siaga.

Sama sekali Kun- gi seperti tidak merasakan bahwa telapak tangan Cin Tek-hong telah menganca m ulu hatinya, tiba2 ia berpaling sa mbil berkata dengan tertawa kepada Cin Tek-hong: "Kenapa Cin-heng hanya minum saja tanpa makan? Telur asin ini enak rasanya." Karena menoleh, dengan sendirinya badan bagian atas ikut bergerak hingga telapak tangan Cin Tek-ho ng yang mengincar ulu hati menjadi nyasar beberapa senti. Gerak tangan Ling Kun-gi kelihatan kalem dan tak acuh, dengan tepat dia jejalkan telur asin itu ke telapak tangan Cin Tek-hong.

Telapak tangan Cin Tek-hong penuh kekuatan Hansi-ciang waktu tangannya hampir mengena i ulu hati lawan, dia m2 ia telah bersorak girang, tak nyana mendadak terasa adanya benda bulat licin menahan telapak tangannya. Benda itu je las adalah telur, ma ka pukulan telapak tangan yang terjulur keluar itu menjadi mati kutu dan berhenti begitu saja karena tertahan oleh telur asin.

Kiranya dari telur asin ini terasa olehnya adanya tenaga besar yang lunak tak kelihatan menyetop tenaga pukulannya sehingga Hansi-ciang yang telah terpusat ditelapak tangannya menjadi macet.

Baru sekarang Song Tek-seng, Thio La m-jiang yang duduk di sekitarnya melihat Cin Tek-hong me mbokong, karena mereka duduk di depan dari jarak agak jauh, mereka t idak se mpat mencegah, hanya mulut saja yang berseru kaget.

Tapi Kongsun Siang menggerung gusar, hardiknya dengan alis berkerut: "Orang she Cin, kau ingin ma mpus!" Serta merta tangannya terayun, "plak", pundak kiri orang telah dipukulnya, badan Cin Tek-hong sa mpa i mence lat beberapa kaki jauhnya.

Ling Kun-gi hanya tertawa tawar padanya, katanya: "Sebetulnya Kongsun-heng tidak perlu turun tangan, me mangnya Hansi-ciang bisa melukai aku? Kalau tidak tentu takkan kubebaskan hiat-to dilengannya." Sembari bicara dia berdiri, sambungnya: "Sebetulnya ingin aku me maksanya tahu diri dan mundur teratur dan jiwanya dapat diselamatkan, tapi pukulan Kongsun-heng ini telah me mbikin hawa murninya nyasar dan buyar!"

Mendengar keterangan Ling Kunggi ini, serta merta pandangan semua orang tertuju ke arah Cin Tek-khong, me mang wajah Cin Tek-hong ta mpak pucat, rebah celentang kaku tak bergerak, ternyata semaput.

Heran Kongsun Siang, katanya: "Melihat dia me mbokong Cong- coh, tanpa pikir akupun menyerangnya, pukulanku hanya pakai lima bagian tenaga, kenapa dia terluka separah itu?"

Kun-gi mengha mpir i Cin Tek-ho ng dan me meriksa tubuh orang, dia bebaskan Hiat-to orang yang tertutuk lalu direbahkan mendatar, katanya:

"Kecuali Hiat-to lengan kanannya yang sudah bebas, yang lain tetap buntu, untuk mela kukan pe mbo kongan, sejak tadi dia sudah menghimpun kekuatan pada telapak tangan kanan, karena ditahan oleh telur asinku tadi, kalau mau merenggut jiwanya, cukup kugunakan tenaga keras dan menggetar putus urat nadinya tentu dia mati seketika, tapi aku hanya tahan tenaga di telapak tangan supaya tidak terlontar keluar, tujuanku supaya dia tahu diri dan mundur teratur."

Belum habis dia bicara, terlihat Cin Tek-hong sudah siuman, tampak kulit mukanya ber-kerut2 dibasahi butiran keringat dingin sebesar kacang, matanya mende lik, suaranya gemetar: "Saudara Ling, keji . . . . keji betul cara mu "

Dengan tersenyum Kun-gi berkata: "'Hawa murninya menyungsang balik, Hiat-to yang tertutuk sudah kubebaskan, rebahlah dulu dan jangan bergerak, akan kubantu kau mengerahkan tenaga mengemba likan hawa murni ke tempat asalnya." Lalu dia berkata kepada Kongsun Siang: "Ada tiga Hiat-to kaki tangannya masih tertutuk, hanya tangan kanannya yang mengerahkan tenaga, pukulannya kena kubendung lagi sehingga tak ma mpu dilontarkan, maka pukulanmu itu walau hanya setengah2 saja, tapi lantaran gempuran tenaga dari luar inilah sehingga hawa murninya menjadi buyar dan jatuh semaput."

Kongsun Siang kagum sekali,   katanya:   "Uraian   Cong-coh me mang betul, jadi akulah yang gegabah, tapi Cin Tek-hong sudah terbukti adalah mata2 Hek-liong-hwe, umpa ma dia ma mpus juga setimpal dengan perbuatan jahatnya, kenapa Cong-coh malah akan me mbantunya?"

"Dia sudah tertawan hidup2, maka tak boleh kita menganiayanya, mati atau hidup biarlah Thay-siang yang menjatuhkan hukuman padanya, oleh karena itu aku harus bantu dia me mulihkan kesehatan."

Kongsun Siang   masih   ingin bicara, tapi. dilihatnya Kun-gi me mber i kedipan mata padanya, segera dia mengerti, maka katanya manggut2 "Ucapan Cong-coh me mang betul."

Sudah tentu Cin Tek-hong ma klum, hawa murni dalam tubuhnya yang nyungsang dan buyar kalau tidak secepatnya dihimpun ke mbali tentu dirinya akan menga la mi "Cap-hwejip- mo" atau menga la mi kelumpuhan total, itu berarti masa depan kehidupannya akan suram dan tiada artinya lagi. Maka cepat dia merangka k berduduk dan merangkap kedua tangan mulai se madi.

Tangan kiri Kun-gi segera menekan Pek-hwehiat di kepalanya, katanya: " Bersiaplah saudara Cin." Sejalur hawa murni panas pelan2 mere mbas ke Pek-hwehiat melalui telapak tangannya. Terasa oleh Cin Tek-ho ng hawa panas ber-gulung2 mulai mengalir ke sekujur badan.

Kira2 satu jam ke mudian, terdengar Kun-gi menghela napas serta menarik tangan, katanya: "Cukuplah, sekarang Cin-heng bisa mengerahkan tenaga keseluruh tubuh."

"Cong-coh," tanya Song Tek-seng, "apakah kita tidak segera pulang?" Kun-gi mendongak lihat cuaca, katanya: "Sekarang baru kentongan ketiga, dari sini kita bisa mengawasi putuhan li sekitar perairan sini, menjelang fajar baru saatnya ganti piket, lebih baik kita istirahat saja di sini, untuk apa pulang pagi2?" Lalu ia ambil mangkuk dan menengga k arak pula.

Kongsun Siang, Song Tek-seng, Thio La m-jiang juga jagoan minum, mendengar anjuran Kun-gi, tanpa sungkan mereka lantas minum sepuasnya.

Setelah hawa mur ni kumpul ke mbali Cin Tek-hong merasakan kesehatan telah pulih ke mbali, segera dia berdiri mengha mpir i Kun- gi, sikapnya hor mat dan patuh, katanya menjura: "Berkat pertolongan Cong-coh jiwa orang she Cin selamat, sungguh tak terhingga rasa terima kasihku."

Kun-gi meno leh, katanya: "Cin-heng sudah pulih ke mbali, marilah duduk minum arak."

"Cong-coh," kata Cin Tek-hong, "kenapa tidak kau tutuk Hiat- toku?"

Kun-gi berkata: "Apakah Cin-heng yakin dapat melar ikan diri?"

Sungguh2 sikap Cin Tek-hong dan katanya: 'Di depan Cong-coh me mang orang she Cin takkan ma mpu melo loskan diri."

"Kalau begitu, silakan C in-heng duduk dan menghabiskan semangkuk arak ini."

Cin Tek-ho ng segera duduk kcrnbali ke tempatnya se mula. Setelah menghabis kan semangkuk arak Cin Tek- hong co mot sekerat daging terus dijejalkan ke mulut, katanya sambil angkat kepala: "Cong coh tadi bilang ada persoalan yang ingin di tanyakan padaku, entah persoalan apa?"

"Aku hanya ingin tanya sedikit keadaan Hek-liong-hwe, kalau Cin- heng ada kesulitan, tidak usah- lah kau jelaskan."

Melirik sekejap ke arah Kho Ting-seng baru Cin Tek-hong berkata: "Rahasia perkumpulan kami dilarang bocor sesuai peratutan, bagi yang me mbocorkan mendapat hukuman mati, tapi jiwa orang she Cin tadi ditolong Cong-coh, soal apa yang ingin Cong-coh tanyakan, asalkan tahu pasti kujelaskan."

"Me mangnya Cin-heng sudah tidak ingin ke mba li?" timbrung Kho Ting-seng.

Song Tek-seng duduk di sebelahnya, hardiknya: "Tutup bacotmu!"

Tenggak se mangkuk arak pula baru Cin Tek-hong berkata kepada Kho Ting-seng dengan tertawa: "Kita sudah terjatuh ke tangan orang2 Pek-hoa-pang, kau mas ih ingin ke mbali?"

Kho Ting-seng diam saja.

"Tiada maksudku untuk mengorek rahasia Hek- liong-hwe secara berlebihan, soalnya ada dua temanku yang terjatuh di tangan orange Hek-liong-hwe, maka aku hanya ingin tahu keadaan Hek- liong-hwe selayang pandang saja, umpamanya di mana letak markas Hek liong-hwe? Siapa pemimpinnya? Di mana mere ka menyekap para tawanan? Apakah Cin-heng dapat menjelaskan?" Rupanya inilah tujuan Kun-gi menceko k arak pada Cin Tek-hong serta menyembuhkan luka2nya.

Kata Cin Tek-hong: "Hek-lio ng-hwe dibagi jadi dua seksi, yaitu seksi luar dan seksi dala m, aku di bawah Ui-liong-tong, tugasku di luar, maka keadaan dalam Hek- liong-hwe sebenarnya sedikit sekali yang kuketahui "

"Di mana letak Hek-liong-hwe, tentunya kau tahu?" tanya Kun- gi. "Aku hanya tahu Ui-liong-tong ka mi didirikan dibelakang gunung

Kunlun diatas Ui-lionggia m."

"Kunlunsan di Shoatang ma ksudmu?" Kun-gi menegas. "Lalu siapa pe mimpinmu?"

"Kalau kukatakan mungkin Cong-coh t idak percaya, walau sudah tiga tahunan aku menjadi anggota Ui-liong-tong, tapi hanya sekali pernah kulihat Hwecu kami, hakikatnya tiada yang tahu siapa dia sebenarnya?"

"Dia tidak punya she dan na ma?'`

"Se mua orang hanya me manggilnya Hwecu, entah siapa namanya."

"Cong-coh," sela Kongsun Siang dengan nada sinis, "tiga tahun jadi anggota, tapi siapa na ma pe mimpinnya tidak tahu, apakah kau percaya ?"

"Kenyataan me mang de mikian, buat apa aku me mbual?" Cin Tek- khong me mbela diri, "kau Kongsunhouhoat sudah setahun menjadi Houhoat-su-cia, tahukah na ma dan she Thay-siang?"

"Bukankah Cin- heng pernah me lihatnya sekali?" sela Kun-gi.

"Ya, aku hanya melihat seraut wajah hitam dengan jambang legam, seorang laki2 tua kekar yang berjubah hitam pula, tapi terasa olehku bahwa mukanya itu bukan wajah aslinya."

"Cin-heng di bawah perintah Ui-liong-tong, tugas bagian luar, lalu bagaimana bagian dala m?"

"Hwi liong dan Ui- liong termasuk seksi luar, hanya Ceng-liong- tong bertugas bagian dala m."

"Apa bedanya seksi luar dan seksi dala m?"

"Ceng-liong-tong berkuasa atas segala rahasia Hek liong-hwe, anak buahnya semua perempuan, dinama kan seksi dalam dan merupakan seksi yang paling berkuasa dari seksi lainnya. Hwi- liong dan Ui-liong dikhususkan mengerjakan tugas luar, sedang Hwi- liong juga boleh dina makan Hou hoat-tong, anggotanya terdiri dari jago2 kelas wahid, hari2 biasa tiada tugas rutin bagi mereka, jarang pula beraksi, bila orang2 Ui-liong-tong yang menjalankan tugas di luar menghadapi kesukaran, orang2 Hwi-liong-tong yang akan member i bantuan."

"Di mana Hwi- liong-tong didirikan?" tanya Kun-gi. "Entah aku tidak tahu, tapi bila orang2 Ui-liong-tong menghadapi bahaya, entah di mana saja, bila menge luarkan tanda bahaya maka dari jauh atau dekat orang2 Hwi-liong-tong pasti akan segera datang me mberi bantuan, oleh karena itu tiada orang tahu di mana sebenarnya Hwi-lio ng-tong didirikan."

"Sunggub Hek-liong-hwe yang serba rahasia dan misterius." ucap Kun-gi la lu tanyanya pula: "Lalu Ui- liong-tong?"

"Tugas Ui- liong-tong menghadapi persoalan luar, anggotanya scluruhnya laki2, terdiri orang2 dari golongan hitam atau putih, bila dia seorang persilatan dan ada seorang perantara, siapapun boleh di terima me njadi anggota.."

Mendadak Kun-gi bertanya: 'Jadi Ci Gwat-ngo orangnya Ceng liong-tong?"

"Ya, dia utusan Cui-tongcu, ka mi se mua di bawah perintahnya.". "Tak heran setelah Ci Gwat-ngo suruh Bi Kui menya mpaikan

berita mana, dia gigit putus lidah dan bunuh diri, ternyata dia takut

me mbocor kan rahasia Hek-liong-hwe," demikian batin Kun-gi, lalu katanya sambil menepekur: "Jadi Cin-heng juga tidak tahu di mana mereka menyekap para tawanan?"

"Tergantung kedua teman Cong-coh itu ditawan oleh seksi mana, kalau ditangkap orang2 Ui- liong-tong, pasti dikurung di Ui- lionggia m. Kalau dibekuk orang2 Hwi- liong- tong atau Ceng-liong- tong, tak bisa aku me nerangkan," kemudian ia berkata pula: "Sebelum aku diselundupkan ke Pek-hoa-pang pernah bertugas cukup la ma di Ui- liong-tong, ada kalanya Cui-tongcu mengutus orang menya mpaikan perintah, dari cara mereka pergi datang leluasa dan lancar, kukira jaraknya tidak terlalu jauh, pernah aku dia m2 me mperhatikan, 10-an li di sekitar Ui- lionggiam me mang tidak kelihatan adanya bayangan, Ceng-liong-tong."

Kembali Kun-gi me mbatin: "Gadis cilik yang menyaru jadi Cu-cu katanya semula adalah pelayan pribadi Cui-tongcu, tentunya dia tahu di mana letak sebenarnya Ceng-liong tong itu" ia angkat mangkuk dan meneguk arak, lalu tanyanya: "Apa jabatan Cin-heng di dalam Ui-liong-tong?"

"Dalam Ui- liong-tong kecuali Tongcu yang berkuasa penuh, di bawahnya terbagi dua tingkat pula, yaitu Sincu dan Kia m-su, aku menjadi anggota Sincu."

"Lalu di antara orang kalian sendiri, me maka i kode rahasia apa?"

Cin Tek-hong sudah terlalu banyak tenggak arak, keadaannya sudah setengah sinting, ia menaruh mangkuk araknya, dari sanggul kepalanya ia menga mbil sebuah benda, telapak tangannya di buka, dia berkata: "Biarlah ma lam ini kubeber segalanya kepada Cong- coh, kode rahasia kami menggunakan benda ini," Di tengah telapak tangannya menggelinding kian ke mari sebutir mutiara sebesar kacang tanah, mutiara ini berlubang tengahnya dan disunduk seutas benang kuning.

Betapa tajam mata Kun-gi, sekilas pandang di lihatnya mutiara yang kemilau itu ada terukir sebuah huruf "Ling" atau firman, tanpa terasa mulutnya ber-suara kaget : "Cincu ling!"

"Ternyata Cong-coh sudah tahu," ujar Cin Tek- hong.

"Aku juga punya sebutir, silakan Cin-heng me lihatnya juga," ucap Kun-gi, dari kantong bajunya dia merogoh keluar sebutir mutiara pula.

Cin Tek-hong menyipit mata menga mati penuh perhatian, katanya tertawa: "Inilah tanda peringatan berasal dari Hek-liong- hwe, jadi Cong-coh me mang sejak mula menyelidiki Hek- liong- hwe?"

"Sa ma2 CinCu-ling, entah apa bedanya?" tanya Kun-gi.

"Dalam Hek- liong-hwe ka mi hanya anggota yang berkedudukan lebih tinggi dari Sin cu boleh menggunakan CinCu-ling ini, para Sincu me maka i mutiara sebesar kacang tanah, kalau mutiara seperti yang ada di tangan Cong-coh besarnya seperti buah kelengkeng seharusnya milik Tongcu, dan lagi benang sunduknya juga berlainan, Ceng-liong-tong pakai benang hijau, Hwi-liong-tong pakai benang merah, untuk Ui-liong-tong me ma kai benang kuning, hanya Hwecu saja yang mema kai benang emas. Benang mutiara milik Cong coh ini bewarna kuning e mas, pertanda yang mewakili Hwe kami, Cuma mutiara milik Hwe kami adalah mutiara asli, hanya tanda2 kebesaran, diperuntukan pihak luar digunakan mutiara tiruan, sekali pandang orang akan bisa me mbedakan."

"Ternyata masih sebanyak itu perbedaannya," ucap Kun-gi. "Malah mas ih ada lagi," Cin Tek-ho ng ngoceh sendiri, "bagi ka mi

orang2 yang bertugas di luar, huruf 'Ling' yang terukir di mutiara ini

menggunakan goresan tunggal, sebaliknya ukiran huruf 'Ling' pada mut iara yang dipakai orang2 seksi dalam menggunakan goresan dobel."

Tergerak hati Kun-gi, pikirnya: "Leliong-cu warisan keluargaku itu juga diukir dengan goresan dobel, me mangnya Hek-liong-hwe ada hubungannya dengan diriku?" Terpikir olehnya Hwi- liong-sam- kiam warisan keluarganya kenyataan menjadi Tinpang-sa m-kia m Pek- hoa-pang, kini diketahuinya pula bahwa Leliong-cu warisan keluarganya juga ada sangkut pautnya dengan Hek-liong-hwe. Kalau dikatakan kebetulan, masakah kedua persoalan bisa terjadi secara kebetulan, terang terlalu jauh untuk dapat dipercaya.

Sekejap ini pikirannya jadi gundah dan resah, tanpa mengisi mangkuknya langsung dia angkat poci terus tuang arak ke dalam mulut.

Kongsun Siang juga tidak sedikit minum arak, keadaannya sudah seperempat mabuk, lekas dia ber-kata: "Song-heng, Thio-heng dan Ji-heng, mari kita iringi se mangkuk pula dengan cong-coh." Sembari berkata dia m2 dia me mberi tanda kepada tiga te mannya ini. Maksudnya bahwa Ling Kun-gi sudah takkan kuat minum lagi, sisa arak tidak banyak lagi, marilah kita bagi rata dan minum bersama sa mpai habis.

Song Tek-seng, Thio La m-jiang dan Ji Siu-seng tahu maksud Kongsun Siang, lekas Ji Siu-song angkat guci arak terus tuang ke mangkuk se mua orang, lalu me nenggaknya bersama. "Ji-heng," kata Cin Tek-hong, "sisanya biar kuhabiskan saja." Dia angkat poci itu serta tuang sisa isinya ke mulut sendiri.

Kun-gi tertawa, katanya tersenyum: "Kalian kuatir aku mabuk?" Belum lenyap suaranya, mendadak Cin Tek-hong menjerit sekali,

badannya mengejang terus terkapar roboh ke belakang. Kejadian

amat di luar dugaan, keruan orang2 yang duduk berkeliling ini sa ma kaget, Gerakan Kun-gi paling sigap, cepat dia melo mpat bangun serta memapah Cin Tek-ho ng, sementara jari kanan menekan Bing- bunhiat orang, teriaknya gugup: "Cin-heng, kenapa kau?"

Kongsun Siang, Song Tek-seng, Thio La m-jiang dan Ji Siu-seng berempat me lo mpat berdiri, Kong-sun Siang berbisik apa2 pada tiga orang lainnya, Song Tek-seng manggut2 terus berpencar siap siaga.

Pada saat itulah mendadak Kun-gi me mbentak sa mbil berpaling: "Siapa itu di dalam hutan?"

"Lohu!" seiring dengan suaranya dari hutan melangkah keluar seorang kakek kurus yang menggelung kuncir ra mbutnya di atas kepala.

Kakek ini mengena kan baju biru, celana kencang terikat bagian bawahnya, tangan kiri me mbawa pipa cangklong sepanjang satu setengah kaki, roman mukanya kaku kelabu, dalam kegelapan, bola matanyapun tampa k berwarna kelabu bersinar kemilau.

Karena me mpero leh saluran hawa murni dari Ling Kun-gi, sementara itu pelan2 Cin Tek- hong sudah me mbuka mata. seketika ia terbelalak waktu me lihat kakek kurus ini, bibirnya bergetar, suaranya merinding serak: "Hwi . . . . . liong. . . . . liong "

agaknya sebisanya dia sudah kerahkan setakar tenaganya untuk berucap ketiga patah kata ini, tapi akhirnya suaranya semakin le mah, pelan2 kelopak matanya tertutup, darah kental hitam seketika mele leh keluar dari mulutnya, agaknya dia tertimpuk semaca m senjata rahasia kecil, racun telah merenggut jiwanya.

Kun-gi me lepaskan tangannya, seraya berdiri tanyanya menatap kakek kurus: "Apakah tuan dari Hwi- liong-tong?" Kata kakeh muka kelabu: "Lohu malah sudah tahu kau ini Cong su-cia yang baru dalam Pek-hoa-pang, betul tidak?"

"Betul, Cayhe Ling Kun-gi, sebutkan na ma tuan." "Lohu Nao Sa m-jun," jawab si kakek.

Ling Kun-gi t idak tahu Kim-kau-cian Nao Sa m-jun ini adalah Hwi-

liong-tong Tongcu, tanyanya: "Apa maksud kedatangan tuan?"

Sambil mengelus jenggot ka mbing yang sudah ubanan, Nao Sam-jun terkekeh, katanya: "Ada tiga tugas Lohu kemari, pertama me mbunuh anggota yang murtad dan menolo ng orang yang tertawan."

"Hanya dua yang kau sebutkan."

"Betul, dan yang ketiga kami mohon Ling-co ng-sucia suka mer ingankan langkah ikut pergi ber-sa ma Lohu."

"Ke mana tuan hendak me ngajakku?'' tanya Kun-gi.

'Sudah tentu ma mpir ke mar kas ka mi, kalau t idak ingin mengundang Ling- lote buat apa Lohu melur uk ke mari," nadanya congkak dan so mbong.

Kun-gi tatap orang lekat2, katanya: "Sepongah ini tuan bicara, me mangnya kau inikah Hwi- liong- tong Tongcu?"

"Betul, Lohu me mang Hwi-liong-tongcu, Ling- lote mau ikut Lohu bukan?"

"Sungguh sangat beruntung dapat bertemu di sini, maksud Cayhe malah sebaliknya, bagaimana kalau Nao-tongcu saja yang ma mpir ke kapal kami?"

Berkedip bola mata Nao Sa m-jun yang kelabu dingin, mendadak dia ter-bahak2, katanya: "Ling-lote, kesempatanmu sudah tiada lagi."

"Jago2 kosen2 Hwi-lio ng tong me mang banyak, tentunya tidak sedikit jago2 yang mengir ingimu." "Ling-lote me mang pandai menebak, Lohu me mang bawa Cap ji- sing- siok (dua belas bintang kelahiran), mereka sudah tersebar di sekeliling sini, umpa ma satu lawan satu belum tentu kalian bisa menang, paling2 sa ma kuat, tapi keadaan sekarang berbeda, kalian harus satu melawan tiga, belum lagi terhitung Lohu, bagaimanapun juga kalian tak ada kese mpatan untuk menang."

Di sini dia bicara, tahu2 tanah lapang berumput ini sudah terkepung oleh 12 orang berpakaian serba aneh.

"Tuan siap perintahkan mereka turun tangan?" jengek Kun-gi dengan tersenyum.

Nao Sam-jun menyeringai, katanya: "Sudah tentu Lohu tidak ingin bergebrak dengan kalian supaya tidak merusak persahabatan, sebab sebelum Lohu ke mar i Hwecu ada pesan " mendadak dia

tutup mulut. meski kata2nya tidak dilanjutkan, tapi ke mana juntrungnya sudah bisa ditangkap:

"Apa kata Hwecu kalian?" desak Ling Kun-gi.

"Hwecu sudah dengar, katanya Ling-lote telah berhasil menawarkan getah beracun itu?"

"Benar," ucap Kun-gi singkat .

Berkelebat cahaya di wajah Nao Sa m-jun yang kelabu itu, suaranya berat: "Oleh karena itu beliau suruh Lohu ke mari untuk mengundangmu, kalau Pek-hoa-pang bisa me mber i jabatan Cong- su-cia, Hwe kita juga bisa me mberi jabatan Cong-houhoat kepadamu."

Tawar tawa Kun-gi, katanya: "Wah, Cayhe menjadi tertarik rasanya."

"Me mangnya, asal Ling-tote telah betul2 dapat menawarkan getah beracun, Hwe kita tidak akan kikir, betapapun besar pengorbanan yang harus dipertaruhkan, pasti akan mengundangmu." Dia m2 Kun-gi merasa heran, pikirnya: "Pek-hoa-pang me mang bermusuhan dengan Hek-liong-hwe, setiap macam senjata dan senjata rahasia orang2 Hek-liong-hwe dilumuri racun getah, adalah jamak dan dapat dima klumi kalau Pek-hoa-pang begitu getol me mpero leh obat penawarnya, bahwa Hek-liong-hwe sendiri juga ingin me miliki obat pena-warnya, entah apa pula gunanya? Ya, waktu Coat Sinsanceng me nculik Tong Thianjong, Un It-hong, Lok- san Taysu dan Cu Bunhoa, bukankah tujuannya juga untuk menciptakan obat penawar getah beracun itu." Segera ia bertanya: "Getah beracun kan milik kalian, me mangnya kalian tidak punya obat penawarnya?"

"Untuk ini Ling- lote tidak usah urus," jengek Nao Sa m-jun.

"Kalau Nao-tongcu tidak mau je laskan, bagaimana Cayhe harus percaya padamu?" ejek Ling Kun- gi.

"Setelah Ling-lote berhadapan dengan Hwecu, segalanya akan kau ketahui."

"Nao-tongcu bicara seenak sendiri, seakan2 aku harus ikut kau pergi begitu saja."

"Ya, me mang Ling- lote harus pergi bersamaku," tandas perkataan Nao Sa m-jun.

Kun-gi tersenyum, katanya: "Kalau Cayhe tidak mau pergi?" Mengelus jenggot, tambah kelam rona muka Nao Sa m-jun,

katanya dengan menyeringai: "Ka-lian berlima sudah berada

digengga manku, mau pergi atau tidak kau tidak kuasa menentukan pilihanmu, cuma perlu Lohu peringatkan, sukalah Ling-lote pertimbangkan dulu dengan masak."

"Peringatan apa coba katakan, aku ingin dengar."

Nao Sam-jun menyapu pandang ke muka Kongsun Siang berempat, lalu katanya sinis: "Kalau Ling- lote dan saudara2 ini ma u ikut Lohu. itulah paling baik, kalau menola k dan melawan malah, tujuan pertama Lohu ke mari kecuali harus menawan Ling-lote hidup2, e mpat orarg yang la in, hehe " Kongsun Siang jadi murka, teriaknya: "Katakan saja terus terang:"

Nao Sam-jun melirik tak acuh, dengusnya: "Tumpas seluruhnya dan habis perkara."

Berdiri alis Kongsun Siang, sa mbil me nengadah dia ter-bahak2, katanya: "Tumpas habis? Suruhlah mereka maju, boleh coba apakah pedang di tangan Kongsun Siang ini tajam atau tumpul."

Song Tek-seng, Thio Lam-jiang dan Ji Siu-seng juga naik pitam, mereka melotot kepada Nao Sa m-jun, tangan sudah siap me me gang gagang pedang. Sebaliknya Nao Sa m-jun seperti jijik mes ki hanya me lir ik kepada mereka, dingin suaranya: "Ling- lote, sudah kau pertimbangkan?"

Cin Tek-hong tadi sudah bilang bahwa anak buah Hwi- liong-pang semua tergolong jago2 kosen, melihat situasi sekarang dan sikap Nao Sam-jun yang begitu yakin pula, mau tak mau Kun-gi merasa was2, Cap-ji-sing-siok yang dibawa orang tentu hebat dan lihay sekali. Tapi dia tetap tersenyum simpul, sikapnya tenang dan wajar, katanya kalem; "Cayhe juga, sudah me mikir kan suatu hal "

"Hal apa?" tanya Nao Sa m-jun.

"Tadi Cayhe me mbekuk seorang Sincu dari perkumpulan kalian, jiwanya sudah melayang di tanganmu sendiri, kalau pulang nanti Cayhe jadi kebingungan cara bagaimana me mberikan pertanggungan jawab kepada Pangcu, tapi tuan adalah Hwi- liong- tongcu, kedudukanmu jauh lebih tinggi daripada Sincu, kebetulan kalau kuringkus kau hidup2, kini yang me mbuatku bimbang adalah apakah Cap-ji-sing-sio k yang kau bawa ini harus dibabat habis atau ditawan semua "

Kengsun Siang ter-gelak2, katanya: "Cong coh tidak perlu pusing, me mbe kuk seorang Tongcu sudah jauh lebih cukup, sisa yang lain sudah tentu babat saja sampai habis."

Song Tek-seng ikut menimbrung: "Betul, Cong-coh tangkap saja Nao tongcu ini, yang lain serahkan kepada kami untuk me mbereskannya." Di tengah kata2nya terdengarlah suara berdering, Kong-sun Siang, Song Tek-seng, Thio La m-jiang dan J i Siu-seng sa ma me lolos pedang.

Mengernyit dahi Nao Sa m-jun, katanya: "Bila Cap-ji sing-s iok yang kupimpin ini sega mpang itu untuk me numpasnya tentu mereka takkan berguna dalam Hwi-liong-tong, kalau Ling- lote tidak percaya, boleh kau suruh seorang maju mencobanya."

Sebelum Kun-gi buka mulut, Kongsun Siang telah menyela: "Cong-coh, biar ha mba me nghadapi mere ka."

Nao Sam-jun tertawa angkuh, tangannya menggapai ke atas. Mungkin itu tanda gerakan mereka, 12 orang yang semula berdiri beberapa tombak di kejauhan sana serempak bergerak maju menge lilingi tanah lapang.

Dari dekat Ling Kun-gi dan lain2 dapat melihat je las, kiranya mereka mengenakan kerudung kepala warna hitam, seragamnya ketat kencang warna hitam mengkilap, bahan bajunya agaknya teramat tebal, sekujur badan serba lega m, hanya kelihatan kedua biji matanya saja.

Melihat dandanan mereka yang aneh dan lucu, diam2 Kun-gi me mbatin: "Cap ji-s ing-sio k berpa-kaian seaneh ini, terang bukan gertakan belaka untuk menakuti orang, bisa jadi mere ka meyakinkan se maca m ilmu gabungan yang aneh dari aliran sesat" Cepat Kun-gi berpaling ke arah Kongsun Siang, katanya: "Kau harus hati2."

"Ha mba tahu," sahut Kongsun Siang.

Sambil menenteng pedang Kongsun Siang me mapa k maju, hardiknya: "Kalian siapa yang maju, hayolah bertanding denganku."

Nao Sam-jua mendangus: "Sebelum ajal tentu kau takkan kapok." Segera ia menuding orang di ujung kanan.

Laki2 baju hitam yang dituding segera melesat ke depan menubruk Kongsun Siang. Gerak-gerik orang ini aneh cekatan, tanpa bicara, jari2 kedua tangannya yang tertekuk seperti cakar segera mencengkera m.

Kongsun Siang meyakinkan Thianlong-kia m-hoat dan Long-hing- poh, begitu badan bagian atas doyong ke depan, tahu2 ia berkelebat ke sa mping baju hita m, mulutpun me mbentak: "Lihat pedang!" Sinar pedang berkelebat, tahu2 ujung pedang sudah menusuk ke bawah rusuk si baju hita m.

Tanpa berkelit dan menghindar si baju, hitam malah me mbalik badan, kelima jarinya terpentang mencengkeram pergelangan tangan Kongsun Siang yang me megang pedang.

Sigap dan cepat gerak serangan Kongsun Siang. "Trang", pedangnya dengan telak menusuk rusuk kanan si baju hita m, tapi terasa ujung pedangnya seperti menusuk batu yang keras sekali. Entah terbuat dari bahan apa pakain orang ini? ternyata tidak me mpan senjata, padahal pedang Kongsun Siang terbuat dari baja pilihan, ternyata tak ma mpu me lubangi badan lawan.

Baru saja mencelos hati Kongsun Siang, tampak sedikit menggerakkan badan, kelima jari lawan tahu2 sudah mengincar pergelangan tangannya, sekilas dilihatnya kuku jari lawan berwarna hitam mengkilap, jelas dilumur i racun jahat.

Kaget dan gusar Kongsun Siang, lekas ia berkisar ke sa mping dan sekali berkelebat dia me mutar ke belakang lawan. "Sret", ke mbali pedangnya menusuk.

Walau mengenakan pakaian yang kebal senjata, tapi gerak gerik orang berbaju hitam ternyata lincah sekali, mengiringi gerakan Kongsun siang, iapun sudah putar tubuh dan ganti posisi, tangan ter-ayun dan segera menabas.

Pukulannya ternyata menerbitkan sa mbaran angin keras, malah terasa sambaran angin pukulan ini berbau busuk amis.

Guru Kongsun Siang, yaitu Lo long-s in merupa kan ge mbong aliran "liar", setiap hari dia mendidik mur idnya secara keras, sudah tentu iapun ceritakan segala persoalan Bu-lim pada muridnya termasuk segala maca m ilmu silat yang aneh2.

Begitu mencium bau bacin dan amis dari angin pukulan lawan, tergerak hati Kongsun Siang, pikirnya: "Agaknya mereka sa ma meyakinkan Ngo-tok-ciang (pukulan lima bisa)." Maka dia tidak berani menandangi secara keras, badan menubruk kedepan, segesit belut tahu2 dia terjang ke sebelah kiri, pedang menusuk bagian belakang musuh ma lah.

Dua kali menubruk te mpat kosong, tiba2 orang baju hitam bersiul rendah, kedua tangan menari naik turun lebih kencang dibarengi tubruk dari terjang.

Kongsun Siang ke mbangkan langkah bentuk serigala, kelit ke timur menghindar ke barat, dengan kelincahannya dia menandingi lawannya, tapi kenyataan dia sudah lebih banyak bertahan daripada balas menyerang. Maklumlah, pakaian musuh kebal senjata, sia2lah serangan dan tusukan pedangnya, hanya peras keringat dan menguras tenaga belaka.

Mereka bergebrak depgan sengit, pandangan Ling Kun-gi me lulu tertuju ke arah orang berbaju hita m, sudah tentu hanya dia yang bisa melihat dengan jelas, akhirnya alisnya berkerut, bentaknya tiba2 "Mundurlah Kongsun-heng."

Mendengar itu Kongsun Siang segera melo mpat mundur. Ternyata si baju hitam tidak merangsak lebih lanjut, iapun berdiri dia m.

Kongsun Siang ke mba li ke sa mping Kun-gi, katanya dengan suara tertahan: "Cong-coh, pakaian yang mereka pakai agaknya kebal senjata."

"Ya, aku sudah lihat,” sahut Kun-gi.

"Mereka tidak pakai senjata, tapi jari2nya berlumuran racun," demikian Kongsun Siang mena m-bahkan, "angin pukulan juga bacin dan amis, mir ip pukulan Ngo-tok-ciang dan sebangsanya, tak boleh dilawan secara kekerasan." "Ya, aku juga tahu, kalau mereka tidak punya bekal kepandaian yang menjadi andalan orang she Nao itu takkan berani takabur dan secongkak itu," merandek sejenak, lalu Kun gi berkata kepada empat temannya: "Kalian berdiri di tempat masing2 dan jangan sembarangan bertindak, biar kujajalnya sendiri." Se mbari bicara pelan2 dia melangkah maju.

Kepandaian Kun-gi sudah sejak la ma bikin para Houhoat dan Hou-hoat-su-cia sa ma kagum dan tunduk lahir batin, jika diapun tidak ma mpu mengalahkan Cap ji-sing-siok, apa yang bakal terjadi ma lam ini dapatlah dibayangkan. Dengan suara rendah mendada k Kongsun Siang berkata: "Hati2- lah Cong-coh."

Kun-gi me ngangguk, pelan2 dia berjalan ke depan Nao Sa m-jun, kira2 setomba k jaraknya dia berhenti, katanya: "Anak buah Nao- tongcu ternyata memang lihay."

Mata    Nao    Sam-jun   yang   kelabu   seperti   mata    mayat me mancarkan sinar dingin. katanya sambil menyeringai: "Jadi Ling- lote mau terima ajakanku? Haha, seorang ksatria harus bisa melihat gelagat, tidak malu Ling-lote sebagai tokoh yang menonjo l."

Tidak terlihat secercah senyumpun pada wajah Ling Kun-gi, katanya dengan nada berat: "Tidak sulit untuk me ngajakku pergi, cuma orang she Ling ingin menjajal dulu sa mpai di mana tingkat kepandaianmu, tentunya Nao-tongcu tidak menolak keinginanku?"

Berkelebat pula sinar kelam pada bola mata Nao Sam-jun katanya: "Sebetulnya Lohu menerima perintah Hwecu untuk mengundang Ling-lote, lebih baik kalau di antara kita tidak merusa k persahabatan, apalagi ditimbang situasi ma lam ini Lohu yakin berada di atas angin, ke menangan jelas tergenggam di tanganku, kalau harus bertempur lagi dengan me mpertaruhkan jiwa, bukankah aku jadi kehilangan kontrol pada diriku?"

Mendelik mata Kun-gi, katanya sambil ter-bahak2: "Kalau orang she Ling sudah menantang, mau atau tidak kau harus melayaniku ma in beberapa jurus." Dia sudah berkeputusan: "menangkap rampo k harus menawan pentolannya", ma ka lenyap suaranya tangan kanannya tiba2 terangkat, "Sreng", pedang dilolos keluar. Ih-thiankia m me mancarkan sinar kemilau dingin, hardiknya sambil menuding Nao Sam jun: "Nao-tongcu, keluarkan senjatamu." Jarak ujung pedang yang ditudingkan ke dada Nao Sa m- jun hanya beberapa kaki saja, maka hawa pedang yang dingin tajam langsung menerjang ke dadanya.

Julukan Nao Sa m-jun adalah Kim- kau-cian ( gunting e mas ), yang diyakinkan adalah Kim-kau-ciansinkang, jari tangannya laksana gunting baja, umpa ma pedang terbuat dari baja murni juga akan terjepit putus, dengan mengandalkan kedua jari yang hebat, selamanya dia t idak pernah menggunakan senjata la in. Tapi serta me lihat pedang Kun-gi, bukan saja bentuknya amat kuno dan aneh, hawa pedangnya dingin tajam, jelas bukan se mbarangan pedang pusaka. Walau Kim-kau-ciansinkang sudah diyakinkan se mpurna, tapi menghadapi senjata sakti setajam ini, tak berani ia pandang enteng dan yakin akan kekuatan jari sendiri, mendadak ia ber-siul sekali, tiba2 badan bagian atas meliuk doyong kebelakang, kaki menjejak tanah, dia berjumpa litan mundur.

Kun-gi tidak menduga orang akan lari sebelum bertempur, ia ter- bahak2 sa mbil mengeje k:

"Apakah   Nao-tongcu   jeri    dan    tidak   berani    bertempur me lawanku?" Belum habis bicara, tiba2 terasa angin berkesiur di belakang mencuriga kan. Menyusul dia dengar teriakan peringatan Kongsun Siang: "Cong-coh, awas belakang!"

Sebetulnya tak usah Kongsun Siang me mperingatkan, tangan kiri Kun-gi sudah terayun, secepat kilat seperti percikan api tahu2 menepuk sekali, serentak badanpun berputar me mbalik.

Kiranya siulan rendah dari mulut Nao Sam- jun tadi merupakan tanda aba2 kepada Cap-ji-sing-siok, serempak dua belas orang bergerak, dua bayangan orang bagai "elang menubruk anak ayam" dari kirikanan terus menyergap Ling Kun-gi.

Sebagai murid Hoan jiu-ji- lay, kepandaian "mendengar kesiur angin me mbedakan senjata" Kun-gi sudah tentu telah mencapai puncaknya, terutama menyerang dengan tangan kiri ke belakang meru-pakan ajaran tunggal perguruannya. Tepukan tangankiri dia lancarkan sebelum badannya me mutar, sa-sarannya adalah musuh yang menubruk dari arah kiri.

Sebetulnya orang berbaju hitam itu sudah menubruk tiba, kelima jari2nya yang seperti cakar ayam itu ha mpir saja mencakar pundak kiri Kun-gi, mendadak terasa segulung angin kuat menerjang dadanya, tanpa kuasa berkelit sedikitpun, "blang" dengan telak dadanya kena dihantam dengan keras.

Kun-gi sudah kerahkan enam bagian tenaganya, bukan saja daya tubrukan si baju hitam yang kuat itu terhenti malah dia terdampar mundur lagi tiga t indak. Begitu melancarkan tepukan tangan kiri ini baru Kun-gi berputar, kebetulan berhadapan dengan orang berbaju hitam yang menyerang dari sebelah kanan, dilihatnya sorot mata orang ini mencorong buas, kelima jari2nya berwarna hitam legam seperti kaitan baja, hanya beberapa senti lagi ha mpir mencengkeram pundaknya, betapa ganas serangan ini sungguh sangat mengejutkan. Dalam seribu kerepotan lekas dia tarik pundak ke bawah, berbareng pedang menusuk ke depan, badanpun lantas doyong miring dan berkisar ke sa mping.

Gerakan kedua pihak tera mat cepat, keduanya me mberosot lewat hampir bersentuhan badan, tahu2 jarak keduanya sudah terpisah lagi.

Waktu sinar pedang Kun-gi berkelebat tadi, orang berbaju hitam mendadak menjerit tajam, ternyata jari2 tangannya yang hampir mencengkeram pundak Ling Kun-gi itu telah tertabas kutung, darah muncrat ke mana2.

Nao Sa m-jun terkejut, tak pernah terpikir oleh nya Kun-gi dapat bergerak segesit dan stengkas itu, padahal Cap-ji-sing-sio k yang dipimpinnya sudah ma lang melintang di Kangouw dan jarang ketemu tandingan, tak nyana dalam segebrak saja dua di antaranya sudah terjungkal. Kalau anak muda ini tidak dibunuh, kelak pasti merupakan bibit bencana yang bakal menganca m orang2 Hek liong- hwe. Tapi sebelum berangkat kemari Hwecu telah pesan wanti2 bahwa orang ini hanya boleh ditawan hidup2. Sekilas berpikir mulutnya lantas bersiul dua kali, nada suaranya berbeda dari siulan tadi. Kini empat bayangan prang bergerak serempak, bagai anak panah cepatnya mereka terus menubruk ke tengah gelanggang.

Dalam segebrak tadi Kun-gi me mukul mundur seorang lawan dan me lukai tangan seorang lagi, seketika bangkit se mangatnya, meskipun pakaian mereka kebal senjata dan dibuat khusus toh hanya begini saja kekuatannya.

Kejadian hanya berlangsung sekejap saja, dan si baju hitam yang dipukul mundur Kun-gi sudah menubruk maju lagi, kedua tangan terpentang sam-bil menerka m. Malah si baju hitam yang terpapas jari2nya itu tampak menjadi liar dan buas, matanya mendelik, tanpa hiraukan darah yang bercucuran di tangan kanannya, dia menjerit seram dengan menyeringa i sadis, kelima jari tangan kanan bagai ganco meraih ke dada Ling Kun-gi.

Kedua orang ini ha mpir menyerang bersama, sengit dan me mbabi buta, Kun-gi tidak berani lengah, lekas jari kanan menuding, "sret" meluncur sejalur panah air mengincar biji mata orang di sebelah kiri.

Ih-Thiankia m dia pindah ke tangan kiri, kaki bergerak mengikuti gerakan pedang, segera dia lancarkan jurus Heng-sau-liok-ha m, sinar pedangnya bagai rentengan rantai perak menyabet ke arah orang di sebelah kanan.

Nao Sa m-jun bersiul pendek dua kali, e mpat orang baju hitam lain segera menubruk maju dari e mpat penjuru. Biasanya mereka tidak gentar meng- hadapi senjata musuh, tapi Ih-thiankia m di tangan Ling Kun-gi merupakan anugerah Thay-siang, bukan saja sakti, berada di tangan Ling Kun-gi getaran pedangnya saja segera menimbulkan kesiur -angin yang cukup menggetar nyali setiap lawannya, sinar kemilau tajam menyilaukan mata, perba-wanya sungguh amat hebat. Keempat orang baju hitam yang menubruk maju terpaksa menahan gerak-annya. Celakalah si baju hitam yang kutung tangannya tadi, meski dia sudah kapok dan me lo mpat sejauh mungkin ke samping, tapi panah air yang meluncur dari jari tengah Kun-gi itu adalah arak yang tadi diminumnya, menghadapi musuh2 tangguh ini, jika dengan kekuatan Lwekangnya dia desak arak, itu keluar untuk menyerang musuh lewat jarinya. Bagi Kun-gi senjata rahasia ini hanya merupakan bantuan tidak berarti dikala menghadapi sergapan kalap para musuhnya, tapi sebaliknya untuk lawannya sasaran yang diincarnya itu justeru merupakan titik le mahnya.

Maklumlah seluruh tubuh orang itu terbungkus dalam pakaian khusus yang tak me mpan senjata tajam, hanya kedua biji matanya saja yang tidak terlindung dan merupakan titik sasaran terlemah. Betapa kuat dan keras daya tubrukannya ini, tak di duganya Kun-gi menyongsongnya dengan semburan arak yang dilandasi Lwekang lagi, betapa hebat pula daya luncurnya, jadi keduanya saling songsong dengan kecepatan seperti kilat menyamber, dikala dia sadar Ling Kun-gi me mapaknya dengan se mburan arak, untuk mengere m dan mundur sudah tak mungkin lagi, malah untuk me meja mkan mata juga tidak sempat pula, tahu2 rasa sakit pedas merangsang ke dua matanya, sambil me njerit kedua tangan terus menutup kedua mata, sudah tentu dia tidak se mpat pikir untuk me lo mpat mundur lagi.

Sementara sabetan pedang Ling Kun-gi telah bikin kelima orang baju hitam menghindar mundur, dilihatnya orang yang tersembur panah araknya sedang mencak2 kelabakan, tapi agaknya lukanya tidak fatal, sekali berkelebat dia menyerbu ke depan orang, telapak tangan pelan2 dia dorong kedepan.

Pukulan ini dina makan Mo-ni- in, ilmu pukul-an dari aliran Hud yang sakti, betapa dahsyat kekuatannya terbukti dengan suara erangan si baju hitam yang mengenakan pakaian kebal senjata badannya terpental jungkir balik beberapa tomba k jaubnya dan ma mpus seketika.

Lima orang baju hitam lain yang tersapu mundur oleh pedang Ling Kun-gi juga tidak mundur jauh, mereka sudah terlatih baik menghadapi situasi yang terburuk sekalipun, mereka seolah2 sudah kehilangan kesadaran akan awak sendiri, tapi rasa setia kawan ternyata masih berkobar dalam sanubari mereka, me lihat kawannya terpukul ma mpus, sorot mata mereka menjadi buas dan liar, semuanya menggerung gusar, tangan sama terpentang terus menu- bruk maju bersa maan. Terutama si orang yang terkutung jari tangannya, meski tinggal tangan kiri yang masih bekerja, tapi dia bersuit melengking tinggi, bagai serigala kelaparan dia menerjang lebih dulu dengan cakarnya yang berbahaya.

Menyaksikan pukulan Kun-gi merobohkan seorang musuh, seketika terbangkit se mangat te mpur Kongsun Siang, melihat musuh main keroyok, segera dia angkat pedang seraya berseru: "Song-heng, Thio-heng, mari kita maju!"

Song Tek seng dan Thio La m-jiang mes ki tahu pakaian lawan kebal senjata, tapi serentak mereka pun angkat senjata hendak terjun ke arena.

Tapi Kun-gi keburu berseru: "Kalian tak usah maju." Lenyap suaranya, tangan kanannya mengebut sekali, tahu2 cahaya kemilau hijau berkelebat,   entah kapan ternyata tangan kirinya sudah me megang sebilah pedang pandak (pedang pemberian Tong- lohujin).

Tampak kedua pedang pusaka panjang pendek ditangannya itu berkelebat kian ke mari mengha mburkan lingkaran sinar terang yang menge lilingi tubuhnya.

Kelima orang itu tetap mengge mpur dengan teratur, walau amat ketat dan kuat gaya gabungan ini, tapi mereka tahu senjata di tangan Ling Kun-gi ini adalah pusaka yang tajam luar biasa, pakaian kebal senjata mereka tidak akan tahan menghadapinya, mau tidak mau mereka menjadi jeri sehingga tak berani mendesak terlalu dekat, sembari menggerung dan meraung mereka berkelebat kian ke mari menge lilingi Ling Kun-gi.

Melihat lima anak buahnya masih tak ma mpu merobohkan Ling Kun-gi, ke mba li Nao Sa m-jun yang berdiri tiga to mbak di luar arena bersuit pula dua kali, orang2 berbaju hitam baru akan bertindak bila mendengar aba2 siulan ini, maka enam orang baju hitam yang tersisa serentak bergerak ke arah Kongsun Siang bere mpat.

Kongsun    Siang    cukup     cerdik,     segera     dia     berseru me mper ingatkan: "Kalian awas!" Segera dia mendahului menggerakkan pedang, sementara tangan kiri mencengkera m Kho Ting-seng yang mengge letak di tanah, hardiknya beringas dengan menganca m: "Siapa di antara kalian berani maju!"

Sementara Thio La m-jiang, Song Tek- seng dan Ji Siu-seng me lo mpat maju ke kanan kiri orang, semua siap te mpur.

Karena tertutuk Hiat-tonya Ji Siu-seng palsu menggeletak tak dapat bergerak, hanya kedua biji matanya saja masih ber-kedip2 dan tak bisa bersuara. Sementara Kho Ting-seng hanya tertutuk Hiat-to kedua pundaknya, begitu badannya dijinjing Kongsun Siang dan dijadikan ta meng, seketika pucat mukanya, teriaknya mendelik: "Kongsun houhoat, lepaskan, mereka sudah kehilangan kesadaran!"

Keenam orang itu merubung maju se makin dekat, mereka meyakinkan ilmu sesat yang beracun sehingga watak mereka menjadi ganas dan liar, hahikatnya mereka tiada punya kesadaran seperti manusia biasa. Kini melihat kawan sendiri yang menyaru Kho Ting-seng berada di cengkera man musuh, sesaat mereka merande k bimbang untuk turun tangan.

Maka didengarnya Nao Sam-jun me mbentak dingin: "Lekas turun tangan, bunuh semua dan habis perkara."

Keruan kejut dan takut luar biasa Kho Ting-seng, teriaknya: "Nao-tongcu. kalian kan datang untuk meno long ka mi, me mangnya mati hidup ka mi t idak kau pikirkan lagi. . . ?”

Mendengar desakan Nao Sa m-jun tadi, enam orang baju hitam serentak bersiul bersama, serempak mereka menubruk kee mpat musuhnya. Sembari mengangkat tubuh Kho Ting-seng Kongsun Siang menubruk maju dengan langkah gaya serigala, sementara pedang panjang ditangan kanan bergetar, sinar kemilau berkelebat terus menusuk kedua biji mata si baju hitam yang menyerbu tiba. Serangan pedang ini dina ma kan Kim-cianjut-hong (jarum e mas menusuk ular sanca), ujung pedangnya menaburkan bintik2 sinar ke milau, ternyata lawannya segera mendongak ke belakang berbareng sikut kanannya menyampuk pedang lawan.

Serangan Kongsun Siang ini hanya gertakan, begitu sinar pedangnya bertaburan tahu2 badannya meliuk ke sebelah kanan dan me mutar ke belakang si baju hita m.

Berada di belakang lawan sebetulnya dia bisa menyerang, tapi mengingat pakaian lawan kebal senjata, ditusuk atau dibabat hanya menghabiakan tenaga sia2, tujuan me mutar ke belakang ini hanya untuk menghindar sementara dari sergapan lawan. Maklumlah enam musuh sekaligus menubruk tiba, sementara pihak sendiri hanya empat orang, betapapun dia harus melawan dengan mengguna kan akal dan perhitungan yang tepat.

Baru saja dia berada dibelakang lawan, mendadak terasa sesosok bayangan hitam lainnya telah menerka m dirinya dari arah kiri.

Belum lagi me lihat jelas bayangan orang, cakar hitam bagai baja tahu2 sudah mencengkera m pundak Kho Ting-seng, sementara tangannya yang lain me mbelah ke muka Kongsun Siang. Sementara si baju hitam lawannya tadi juga telah putar balik, dalam keadaan kepepet dan terdesak ini Kongsun Siang terpaksa lepas tangan, segesit belut dia menyelinap keluar dari gencetan kedua lawannya.

Ketika merasa pundaknya kesakitan, Kho Ting-seng menjer it ketakutan: "Nao-tongcu, ampun . . . ." belum habis dia berteriak, orangnya sudah jatuh semaput.

Dalam pada itu Song Tek-seng, Thio La m-jiang dan Ji Siu-seng juga sedang menghadapi bahaya. Melihat perintah Nao Sam-jun yang tak segan2 membunuh kawan sendiri, semula Song Tek-seng hendak menir u Kongsun Siang dengan mencengkeram Ji Siu-seng palsu sebagai ta meng, tapi mengingat orang akan menjadi beban belaka, terpaksa dia batalkan niatnya, malah sekali tendang dia bikin orang mencelat jauh ke pinggir sana, dengan mengembangkan Loanpah-hong-kia m-hoat dari Go-bi-pay segera dia bendung serbuan musuh.

Ilmu pedang Go-bi-pay me mang terkenal acak2an, kelihatan ngawur dan tidak teratur, tusuk ke timur potong ke barat, kian ke mari tidak menentu, sudah tentu gerak langkahnya harus menyesuaikan gaya pedangnya, gemulai pergi datang dan berkisar kian ke mari. 

Betapapun aneh dan lihay ilmu pedang seseorang juga tidak berguna menghadapi orang yang mengenakan pakaian kebal senjata, tapi ilmu pedang yang dike mbangkan Song Tek-seng ini menguta makan kelincahan, gerak langkahnya berkisar ke sana-sini, ternyata besar sekali manfaatnya bagi diri sendiri, paling tidak sementara dapat menghindar dari sergapan orang2 berbaju hitam.

Thio Lam jiang dari Hing-sinpay, Hing-sankia m-hoat menguta makan gerak me la mbung ke udara lalu menyerang sambil menukik seperti burung elang menya mbar anak ayam, tapi manus ia bukan sebangsa burung yang punya sayap dan bisa tetap terapung di udara, dia mengandalkan kekuatan Lwekang dan Ginkangnya saja, setiap kali senjatanya membentur lawan, meski hanya sentuhan yang pelahan saja sudah cukup untuk membuatnya mence lat tinggi pula ke alas. Me mangnya orang2 berbaju hitam itu kebal senjata, tatkala menubr uk turun cukup pedangnya sembarangan menusuk badan lawan dan ke mbali ia dapat pinjam tenaga pantulan itu untuk me la m-bung keatas pula.

Tapi kalau seseorang harus selalu tahan untuk mengentengkan badan agar bisa me la mbung ke atas, hal ini sudah tentu terlalu banyak makan tenaga. Tapi berseliweran di antara orang berbaju hitam yang aneh dan kebal senjbata, cara tempurnya ini justeru paling berhasil dan menguntungkan.

Di antara keempat hanya Ji Siu-seng saja yang paling rugi. Dia mur id Bu-tong-pay, Lianggi- kia m-hoat Bu-tong-pay punya gaya tersendiri, setiap gerakan pedangnya selalu melingkar2, ilmu pedang yang menguta makan kele mbutan mengatasi kekerasan, gerak tubuh dan langkah kaki mengikuti gaya pedang menurut perhitungan Pat-kwa.

Kini menghadapi musuh yang main sergap dan tubruk, bersenjata cakar jari beracun dan berilmu silat tinggi lagi, maka ilmu pedangnya yang lihay menjadi mati kutu, lebih celaka lagi gerak langkahnya yang harus dikembangkan menurut i gerak pedangnya juga susah bekerja. Hanya beberapa gebrak saja dia sudah kehilangan kontrol dan terdesak di bawah angin.

Sudah tentu tiga kawannya juga kehilangan inis iatif untuk balas menyerang, semua berada dalam bahaya, cuma keadaan dan situasi yang dihadapi Ji Siu-seng lebih berat. Tatkala Kho Ting-seng menjer it, minta a mpun kepada Nao Sa m-jun itulah Ji Siu-seng juga menjer it kaget, pergelangan tangan kanan yang pegang pedang tahu2 sudah terpegang oleh seorang berbaju hita m.

Pedang panjang dan pendek di tangan Ling Kun-gi menari2, dia asyik mene mpur lima lawannya. Walau mengguna kan sepasang pedang pusaka, tapi kelima musuhnya juga teramat tangguh, apalagi mereka sudan tahu senjata Ling Kun-gi tajam luar biasa, kekebalan baju mereka sudah tak berguna lagi, ma ka tiada seorangpun yang berani menghadapinya secara langsung. Kelima orang ini menduduki posisi tertentu, satu maju, yang lain segera mundur secara bergantian, satu sama lain saling bantu dan mengisi. sehingga pertempuran berlang-sung cukup la ma, tapi tetap dalam keadaan bertahan sama kuat.

Lama2 Kun-gi hilang sabar, demi mendengar jeritan Ji Siu-seng, dia berpaling dan dilihatnya pergelangan orang telah di tangkap musuh dan sedang meronta, keruan ia me njadi gelisah.

Sudah tentu dia tak tahan lagi, dengan gusar sambil menghardik tiba2 kedua pedangnya berpencar, sinar kemilau dengan hawa pedang yang dingin tajam bertaburan bagai badai menerjang ke empat penjuru. Lebih dahsyat lagi di antara bergulungnya sinar dan hawa pedang itu diselingi suara gemuruh, itulah salah satu jurus Hwi- liong- kia m-hoat warisan keluarganya, jurus kedua yang dina makan Liong-cancay-ya (naga bertempur di tegalan), kekuatan dan perbawanya bukan olah2 hebatnya.

Tak se mpat lagi berkelit dan mengundur kan diri, kelima musuh yang mengepung dirinya sama jungkir balik, seorang terbabat putus kedua kakinya dua tertabas buntung sebuah lengannya, sedang dua lagi yang berdiri agak jauh sa ma ter-guling2 keterjang sambaran angin.

Setelah melancar kan jurus pedang yang tiada taranya ini, Kun-gi tidak sempat lagi menyaksikan hasil kerjanya, segera ia melejit terbang ke sana, kembali ia menge mbangkan jurus Sinliong-jut-hun, pedang mendahului orangnya laksana bianglala me nerjang orang berbaju hitam yang me megang Ji Siu-seng itu.

Orang yang pegang pergelangan tangan Ji Siu-seng itu rada kewalahan karena Ji Siu-seng meronta sekuatnya dengan kalap, dua jarinya dengan tipu Siang-liong-jiang-cu (dua naga berebut mutiara) mendadak mencolo k kedua mata lawan, berbareng kedua kakinya bergantian menendang secara berantai, Betapapun dia adalah murid Bu-tong-pay, kalau tidak tentu Pek-hoa-pang tidak akan menyaringnya dan mengangkatnya menjadi Hou-hoat su-cia. Bahwa ilmu pedangnya tadi sukar dike mbangkan, tapi kedua serangan menyolo k dan tendangan dilancarkan dalam keadaan kalap, ternyata perbawanya cukup hebat juga.

Kedua jari yang menyolok mata orang sangat lihay, terpaksa lawan berusaha punahkan serangan ini, pada hal tangan kirinya dibuat pegang tangan Ji Siu-seng, dia gunakan sikut tangan kanan untuk menya mpuk jari Ji Siu-seng yang menyolok mata. Maka terdengarlah suara "blang-blang" dua kali, tendangan Ji Siu-seng dengan telak mengena i perut orang, Sayang orang itu me maka i baju yang kebal senjata, walau tendangannya mengenai sasaran dengan telak tapi tidak ma mpu me lukainya.

Sebetulnya Ji Siu-seng juga tahu bahwa mata orang tidak akan berhasil dicoloknya, maka tendangan kedua kakinya mengguna kan seluruh kekuatannya, meski seluruh badan kebal senjata, tak urung orang itu tergentak mundur juga sambil mer ingis kesakitan. Pada saat itulah, sinar pedang Ling Kun-gi bagai bianglala menya mbar kearahnya. Terasa oleh orang itu sinar kemilau menukik turun dari udara, hakikatnya dia tak sempat melihat jelas, begitu sinar pedang tiba seketika dia menjerit ngeri, kelima jarinya terlepas, orangnyapun terjengkang jatuh ke belakang.

Rasa kaget Ji Siu-seng juga belum lenyap, badannya sempoyongan dan akhirnya jatuh terduduk.

Dua jurus ilmu pedang yang dilancarkan Ling Kun-gi. boleh dikatakan dilancarkan sekaligus dan telah me mbikin orang2 berbaju hitam itu mati satu tiga terluka, sungguh bukan kepalang hebat perbawanya sehingga orang2 lainnya sama berdiri me longo dan jeri.. 

Menyusul segera terdengar suara siulan melengking mengge ma di udara, orang2 berbaju hitam ber-sama2 berlo mpatan mundur menyelinap masuk ke dalam hutan dan menghilang dengan cepat.

"Nao Sa m-jun!" bentak Kun-gi mendadak sa mbil me mbalik badan.

Ternyata Kim-kau-cian Nao Sam jun dari Hwi- liong-tong sudah tidak kelihatan lagi mata hidungnya, orang2 berbaju hitampun sudah tidak kelihatan pula bayangannya.

Menyeka keringat di jidatnya Kongsun Siang menuding ke sana sambil me mbentak beringas: "Kejar!" ,

Baru saja dia angkat langkah, Kun-gi telah berteriak: "Berhenti Kongsun-heng, jangan mengejar!"

Terpaksa Kongsun Siang urung me ngejar, katanya dengan gregetan: "Menguntungkan orang she Nao itu."

Lekas Kun-gi me mer iksa keadaan Ji Siu-seng yang matanya terpejam, untung kecuali pergelangan tangan yang dipegang si baju hitam itu tiada luka2 la in, pergelangan tangannya meninggalkan lima jalur bekas jari berwarna hita m, walau tangannya keracunan, rasanya juga tidak terlalu payah, ma ka dia tutuk dua Hiat-to di badan orang supaya racun tidak menjalar. Sementara itu Song Tek-seng, Thio La m-jiang telah merubung datang, melihat keadaan Ji Siu-seng mereka sangka Ji Siu-seng terluka parah, tanyanya berbareng: "Cong-coh, bagaimana luka Ji- heng!"

Luka2 hitam ini jelas karena keracunan dari tangan si baju hitam, untuk menye mbuhkan harus me nggunakan Le liong-pi-tok-cu warisan keluarganya itu, tapi mutiara ini pantang diperlihatkan kepada orang lain, maka dia pura2 berpikir sebentar, lalu katanya: "Lukanya me mang tidak ringan, terpaksa harus kubantu dengan saluran hawa murni baru jiwanya bisa tertolong, untuk itu sedikitnya me mer lukan waktu satu jam, pada saat menyembuhkan luka2nya jangan sampai ada gangguan dari luar." Sa mpai di sini dia lolos Ih- thiankiam dan diserahkan kepada Kongsun Siang, katanya: "Kongsun-heng boleh pakai pedang ini, berdirilah tiga tombak ke sana, jagalah arah utara." Lalu dia serahkan pedang pandak kepada Thio La m- jiang, katanya pula: "Thio-heng pakai pedang ini, berdiri tiga tomba k sebelah sana, jagalah arah barat laut."

Kedua orang terima pedang dan beranjak ke te mpat yang dltunjuk. Ling Kun-gi menambahkan: "Song-heng ada me mbawa kotak So m- lo-ling, jagalah di pinggir danau."

Song Tek-seng melenga k, katanya membant ing kaki. "Wah kalau tidak Cong-coh katakan, hamba benar2 lupa kalau lagi me mbawa kotak So m-lo- ling, Ai, sungguh sayang, mestinya tadi bisa kugunakan untuk menghadapi mereka."

Kun-gi tertawa, katanya: "Tiada gunanya, betapapun kuat dan jahatnya Som-lo-ling tetap takkan bisa melukai orang2 yang kebal senjata itu, kecuali kau mengincar mata mereka, apalagi mereka belum tentu me mberi kesempatan padamu, celaka ma lah kalau sampai terebut oleh mereka."

"Cong-coh me mang benar," ucap Song Tek-seng. Dia rogoh keluar So m- lo-ling terus beranjak ke pinggir sungai.

Setelah ketiga orang ini disingkirkan, lekas Kun-gi keluarkan mut iara penawar racun itu digilindingkan pergi datang di tangan kanan Ji Siu-seng. Hanya semasakan teh ke mudian lima jalur hitam ditangan kanan Ji Siu-seng telah lenyap. Kun-gi simpan mutiaranya, lalu kedua tangan me mijat dan mengurut beberapa kali di leher Ji Siu-seng untuk me lancarkan ja lan darahnya.

Tiba2 Ji Siu-seng me mbuka mata, dilihatnya Ling Kun-gi duduk bersimpuh di sa mpingnya, segera dia berlutut di depan orang, katanya sambil menyembah beberapa kali: "Dua kali Cong-coh meno long jiwa ha mba, cara bagaimana ha mba harus me mbalas."

Lekas Kun-gi me mapahnya bangun, katanya: "Ji-heng, berbuat apa kau?"

"Ayah-bunda melahirkan, aku, tapi Cong-coh dua kali telah meno long jiwaku . . . "

''Jangan berkata demikian Ji-heng, sebagai Cong-hou-hoat adalah tugasku untuk me mberantas anasir2 jahat ini, demikian pula meno long kau adalah kewajibanku "

Ji Siu-seng ingin bicara, lekas Kun-gi berkata pula: "Jangan bicara lagi Ji-heng, marilah kita periksa keadaan, mereka mengundurkan diri tanpa me mbawa Kho Ting-seng dan orang yang menyaru dirimu, entah dia sudah mat i atau masih hidup?"

Dari samping tiba Song Tek-seng bersuara tertahan: "Lapor Cong-coh, muncul lima sampan cepat di sana, kelihatan lajunya arah kita."

Waktu Kun-gi me mandang kesana, me mang dilihat lima sa mpan laju pesat menerjang ombak menuju ke arah mereka. Cuma jaraknya masih terla mpau jauh, jadi sukar me mbedakan yang datang kawan atau lawan?

Sejenak Kun-gi berpikir, katanya ke mudian: "Song- heng, coba nyalakan ke mbang api sebagai tanda, kalau sampan, itu milik Pang kita, mereka pasti akan menyalakan ke mbang api pula."

Song Tek-seng mengiakan, segera   dia   keluarkan sebatang ke mbang api dan dipasang, "Sreng", sejalur kembang api meluncur ke udara dan akhirnya ""Tar-tar-tar" me letus tiga kali di angkasa, tampak bola api berwarna hijau menyala menerangi langit sa mpa i la ma sekali baru padam.

Baru saja ke mbang api yang diluncurkan di sini hampir pada m, dari salah satu sampan yang mendatangi itu juga meluncur sejalur api yang sa ma meletus di angkasa.

Song Tek-seng bertepuk girang, serunya: "Kiranya orang sendiri, aneh sekali, Liang-heng dan kawan2nya hanya me miliki t iga sampan, dari ma na di peroleh, dua sa mpan lagi?"

"Waktu kita melawan Cap-ji-sing-s iok tadi, sinar pedang berkelebatan, tentunya orang2 di kapal juga melihatnya, kelima sampan cepat ini mungkin sengaja menyusul. ke mari hendak me mber i bantuan," demikian ucap Kun-gi.

"Kalau Cong-coh tidak unjuk kesaktian, bila kita harus menunggu datangnya bala bantuan, mungkin sejak tadi kita semua sudah mat i konyol," de mikian kelakar Kongsun Siang.

Kun-gi terima ke mba li kedua pedangnya, katanya: "Ilmu silat Cap-ji-sing-sio k me mang tidak le mah, tapi mereka mengutama kan kekebalan baju terhadap segala maca m senjata, beruntung aku me miliki kedua maca m senjata pusaka ini yang kebetulan dapat me mecahkan kekebalan mereka."

Mereka lantas me mer iksa kedaan sete mpat, ternyata orang yang menyaru jadi Kho Ting-seng yang tadi direbut oleh orang2 berbaju hitam telah menggeletak di atas rumput dan tak bernyawa lagi, kepalanya pecah terpukul, keadaannya amat mengerikan.

Jelas orang2 baju hitam juga berlaku kejam terhadap orang sendiri. Malah Ji Siu seng palsu yang menggeletak tertutuk Hiat- tonya di semak rum-put sana ternyata masih hidup, tadi Song Tek- seng me le mparnya, agak jauh dari arena pertempuran, sehingga tidak menjadi perhatian orang berbaju hita m. Disa mping itu masih ada pula tiga sosok mayat.

Seorang mati terpukul oleh Mo- ni- in Ling Kun-gi. Seorang lagi adalah orang yang melawan Ji Siu-seng, kena terbabat putus pinggangnya menjadi dua oleh pedang Ling Kun-gi. Orang ketiga adalah yang buntung kedua kakinya karena terbabat oleh jurus Liong-cancay-ya yang dilancarkan Ling Kun-gi, menginsafi kedua kakinya buntung dan tak mungkin melarikan diri, dari pada tertawan musuh, dia pukul remuk kepalanya sendiri, mati bunuh diri atau mungkin juga dipukul mati temannya sebelum mengundur kan diri.

Pendek kata dalam pertempuran singkat ini Cap ji-sing-siok telah kecundang, pantas kalau Nao Sam-jun cepat2 melarikan diri dengan anak buahnya.

Sementara itu kelima sampan tadi sudah menepi. Orang pertama yang lompat ke daratan adalah Hupangcu So-yok, disusul Hwehoa, Lianhoa, Giok- li dan Bikui. Di belakangnya lagi baru Coh-houhoat Leng Tio-cong, Houhoat Liang Ih- jun dan kedua pe mbantunya Ban Yu-wi dan Sun Ping-hian.

Lekas Kun-gi pimpin Kongsun Siang, Song Tek-seng, Thio La m- jiang dan Ji Siu-seng me nyambut di tepi sungai, dia menjura dan katanya: "Kenapa Hupangcu juga ikut ke mari?" .

Lekat tatapan So-yok, katanya, dengan heran: "Apa yang terjadi di sini?"

Kun-gi tersenyum, jawabnya: "Hwi- liong- tongcu dari Hek- liong- hwe me mbawa anak buahnya mengada kan sergapan di sini, tapi kejadian sudah usai."

"Hwi-liong-tongcu?" seru So-yok heran sa mbil celingukan. "Mana mereka? Tiada yang tertawan?"

"Sudah dipukul mundur, mereka meninggalkan tiga mayat," ucap Kun-gi.

So-yok banting kaki, katanya gegetun: "Kalau datang lebih dini, tentu mereka dapat kita jaring seluruhnya."

"Cap ji sing- siok yang datang mala m ini se muanya kebal senjata, kalau Cong-coh t idak berada di sini, hanya kita beberapa orang ini, pasti sudah ditumpas habis, me mangnya ma mpu kami me mbekuk mereka?"