-->

Pendekar Kidal Jilid 14

Jilid 14

Kenapa Pek- hoa-pang juga me miliki ketiga jurus ilmu pedang ini? Malah dijadikan ilmu pelindung Pang mereka? Maka timbullah dua pertanyaan, Pek-hoa-pangkah yang mencuri belajar dari keluarganya? Atau keluarganya yang mendapat ajaran ketiga jurus ilmu pedang itu dari Pek hoa-pang?

Dari ketiga jurus ilmu pedang ini Kun-gi dapat menarik kesimpulan, mungkinkah ibunya punya hubungan dengan Pek-hoa- pang? Dari sang ibu dia lantas teringat kepada sang ayah, sebesar ini dirinya belum pernah me lihat wajah ayahnya sendiri, ma lah ibunya tidak pernah bicara soal ayah dengan dirinya. Kalau betul ilmu pedang itu warisan keluarga, tentu warisan dari ayahnya,jadi ayahnya yang ada sangkut paut dengan Pek- hoa-pang?

Pikirannya timbul tenggela m, kalut dan se ma kin ruwet, cangkir diangkat dan kembali dia menghirup seteguk. Ternyata teh dalam cangkir sudah dingin- Teh dingin ini me mbuat pikirannya yang gundah pelan2 mula i tenang ke mbali.

Suhu pernah berpesan, menghadapi urusan harus berpikir dengan kepala dingin- Maka dia lantas berpikir pula mengenai soal pertama getah beracun, seharusnya Pek-hoa pangcu tahu, tapi agaknya nona itu tidak suka banyak bicara. Soal kedua Hwe liong- sam-kia m, kalau ilmu pedang ini di anggap pelindung Pek-hoa-pang, tentu nona itu juga tahu asal usulnya, Hanya kedua persoalan ini saja yang ingin diketahuinya dan kunci kedua persoalan ini terletak pada diri Pek-hoa-pangcu.

Cuaca sudah mulai gelap. Kun-gi masih duduk ter menung. Karena mendapat pesan congkoan di-larang mengganggu Ling- kongcu, ma ka secara diam2 Sin- ih menyalakan pelita di ruang kecil. Hidangan sudah diantar, maka Sin- ih lantas menyiapkan meja makan di ka mar sebelah pula, tapi ditunggu sekian la manya ling Kun-gi masih tenggelam dalam pikirannya, padahal hidangan sudah dingin, ma ka secara dia m2 pula Sin-ih beranjak kepintu mengawas i Ling Kun-gi serta me manggil dengan suara lir ih: "Ling- kongcu, sudah saatnya makan ma la m."

"o," Kun-gi tersentak sadar, lekas dia berdiri, katanya tertawa geli: "begini cepat, tahu2 hari sudah petang."- ia lantas ikut ke kamar makan-

Sin-ih tarik kursi me mpers ilakan Kun-gi duduk. menga mbil poci serta mengisi cangkir dengan arak. Lalu menyiduk se mangko k nasi bagi Kun-gi.

Kun-gi diam saja me mbiarkan orang meladeni, katanya kemudian dengan tersenyum: "Nona agaknya serba pandai."

Usia Sin-ih baru belasan tahun, gadis yang sedang mekar, keruan mukanya menjadi merah di-awasi sede mikian rupa, wajah terasa panas, kepalanya tertunduk dan tak berani bersuara.

Kun-gi menjadi geli, tapi dia tidak hiraukan orang lagi, segera dia sikat seluruh hidangan   yang   diperuntukkan   dirinya.   Setelah me mbereskan mangkuk piring Sin- ih menyuguh secangkir teh pula ke dalam ka mar, Ling Kun-gi lantas berkata: "Nona boleh istirahat saja."

Malam ini Sin- ih tidak berani lagi bantu Kun-gi me nanggalkan jubah dan ganti pakaian segala, demi mendengar perkataan Kun-gi itu tersipu2 dia mengundurkan diri.

Kira2 kentongan pertama, ka mar Kun-gi sudah gelap. tapi dia tidak lantas naik ranjang, ia atur bantal guling yang ditutup selimut hingga menyerupai bentuk tubuh wanusia. Lalu secara diam2 dia buka jendela serta melo mpat keluar, dari luar dia tutup pula jendela pelan2, sesosok bayangan lantas melambung tinggi ke udara, begitu cepat laksana segulung asap yang tertiup angin lalu, melayang ke belakang.

Inilah hasil pemikiran Kun-gi sebelum makan tadi, rahasia getah beracun dan Hwi liong-sa m-kia m tentu diketahui oleh Pek-hoa- pangcu, tapi orang agaknya tidak mau banyak bicara, terpaksa dirinya harus menyelidiki secara dia m2, oleh karena itulah tadi dia berkeputusan mala m ini juga akan beraksi.

Menyelidiki rahasia orang lain sebetulnya merupakan pantangan bagi kaum persilatan, tapi lantaran berkepandaian tinggi dan nyalipun besar, dia beranggapan asal dirinya berlaku hati2, tentu jejaknya tidak akan konangan oleh orang2 Pek- hoa-pang.

Taman keluarga Hoa yang besar dan luas ini merupakan mar kas pusat yang amat penting artinya bagi Pek-hoa-pang. Karena huru- hara tadi siang, maka penjagaan mala m ini jauh lebih keras, pada setiap tempat gelap di sudut2 taman pasti ada pos penjagaan yang diatur sedemikian rupa, sampa ipun pada setiap wuwungan, setiap jendela pada setiap loteng juga ada orang berjaga dan mengawasi. Sudah tentu semua petugasnya adalah gadis re maja.

Sebetulnya tidak sedikit pula jumlah Hou-hoat-su-cia di dalam Pek-hoa-pang, umpa ma Liok Kian-la m dan lain2, semuanya adalah kaum pria, maka mereka tidak berada dalam lingkungan taman luas ini. Jika benar taman keluarga Hoa ini berada di tengah Phoa-yang- ouw, maka tugas Hou-hoat-su-cia itu pasti berada di luar, umpa manya meronda di perairan atau dipesisir.

Karena siang tadi Kun-gi pernah ke mari, jalan sudah apal, dengan menge mbangkan Thian- liong-s iap-Kong-s in-hoat, umpa ma dia berkelebat di depan para petugas yang cantik jelita itu, mungkin mereka pun mengira pandangan mereka sendiri yang kabur.

Di atas loteng Sian-jun-koan, sinar pelita tampak masih menyorot keluar. Tanpa banyak pikir Kun- gi me luncur ke sana, pertama dia mencari batu loncatan pada sepucuk pohon besar, meminja m aling2 bayangan pohon yang berdaun lebat, dia mendeka m serta pasang mata me mperhatikan ke atas loteng.

Sinar la mpu menyorot dika mar pertama disebelah kiri, tempat di mana Kun-gi se mbunyi kebetulan berjarak kira2 tujuh to mbak dari loteng melihat pajangan yang ada di ka mar itu, dia yakin pastilah kamar tidur yang didia mi Pek-hoa-pangcu. Jendela di sebelah selatan tampak masih terbuka, sinar lampu justru menyorot keluar dari sini, cuma teraling oleh kain gordyn yang terbuat dari kain sari kuning sehingga seperti berkabut selapis asap kuning.

Pek-hoa-pangcu dan Giok- lan tampak duduk berhadapan di sebuah meja bulat kecil, gerak-gerik mereka menunjukkan sedang me mbicarakan sesuatu persoalan,jarak cukup jauh, maka tidak terdengar suara percakapan mereka.

Pek-hoa-pangcu kini mengena kan gaun merah baju kuning, rambut panjang terurai diikat benang merah, gerak-geriknya halus, sikapnya anggun berwibawa, potongan tubuhnya begitu indah me mpesona, tapi mukanya tetap mengenakan kedok.

Sebetulnya wajah berkedok itupun cantik jelita, cuma usianya kelihatan lebih tua dari umur sesungguhnya sehingga t idak seayu wajah aslinya.

Giok- lan tetap mema kai pakaian serba putih, pandangan pertama akan menimbulkan kesan keagungan dan kesucian dirinya, sudah tentu tak lepas dari rasa sederhana.

Teraling kain sari mengawasi sang jelita tak ubahnya seperti berada di dalam kabut mengawas i bunga, tapi tujuan Ling Kun gi ke mari bukan untuk mengintip gerak-gerik nona cantik. Tujuannya adalah menyelidiki rahasia getah beracun dan asal usul Hwi liong- sam-kia m, maka dia merasa perlu mencur i dangar percakapan Pek- hoa-pangcu dan Giok- lan.

Taraf ilmu silatnya me mang tinggi sehingga keberaniannyapun luar biasa, dengan tajam diperiksa sekelilingnya, tiba2 ia meloncat mumbul meningga lkan pucuk pohon dan menubruk kearah loteng. Betapa cepat gerakan tubuhnya, dengan lincah dan enteng dia me lo mpat kewuwungan rumah, sekali tutul lagi, dengan jumpalitan tubuhnya lantas hinggap di sera mbi sebelah t imur. Te mpat itu kebetulan adalah pengkolan jalan, sinar lampu tidak menyorot ke sini, maka tempatnya jauh lebih gelap. Ringan dan sebat sekali tubuh Kun-gi berputar terus merunduk ke jendela sebelah timur, didapatinya jendela tidak tertutup letak kamar di ujung sebelah timur, jadi hanya terpaut satu kamar dengan ka mar tidur Pek-hoa-pangcu yang sedang bicara dengan Giok- lan.

Dari pucuk pohon tadi Kun-gi sudah me mer iksa dengan teliti, dengan enteng ia menerobos masuk dan hinggap di dalam ka mar tanpa bersuara. Pada saat dia mendorong jendela dan berkelebat masuk itu hidungnya berbareng dirangsang bau harum, sekali mencium bau harum ini Kun-gi lantas tahu bau harum ini mirip dengan wewangian yang pernah terendus dari badan Pek-hoa- pangcu.

Dengan rasa kaget sigap sekali Kun-gi berkisar ke samping sambil bersiaga, dia kira Pek- hoa-pangcu sudah siap menunggu kedatangannya, tapi setelah berdiri tegak dan menga mati sekelilingnya, baru dia sadar bahwa dirinya terlalu takut akan bayangan sendiri.

"Agaknya kamar inilah ka mar tidur Pek-hoa-pangcu," de mikian batin Kun-gi. Sejenak dia me mer iksa keadaan ka mar ini, lalu merunduk ke dinding barat dan bergerak kearah pintu. Itulah pintu berbentuk bulan, sisi kanan kiri terdapat kerai yang tersingkap dan tergantol besi mengkilap, sebelah luarnya tertutup jalur2 manik yang direnteng benang besar. Dari tempat gelap ini dengan jelas dia dapat mengawasi keadaan di luar, ma lah dia bisa sembunyi di belakang kerai yang tersingkap itu.

Maka didengarnya suara Pek-hoa-pangcu sedang berkata: "Kukira apa yang dikatakannya tidak bohong."

Tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Agaknya diriku yang menjadi topik pe mbicaraan mereka."

Terdengar Giok- lan berkata: "Jadi maksud Pangcu kita harus me mber i perintah kepada para saudara yang tersebar luas itu untuk bantu mencar i jejak ibunya yang hilang?" "Tujuannya me mang hanya mencari ibundanya, dia berjanji akan me mbantu kita mene mukan obat penawar getah beracun, betapa besar arti dan pentingnya bantuan ini, kalau kita bantu dia mene mukan ibunya juga setimpa l."

"Pangcu percaya kalau dia betul2 dapat mene mukan obat penawar getah beracun?"

"Seharusnya tidak pantas kita curiga dalam hal ini, laporan Giok- je sudah jelas, bukankah dia sudah mene mukan penawar getah di Coat Sin-san-ceng?"

"Betul, cuma ha mba merasa dia terlalu muda, coba pikir, betapa luas pengalaman Tong Thian-jong, Un-it-kiau dan Lok san Taysu, mereka toh sia2 setelah bekerja tiga bulan, padahal usia Ling- kongcu kukira baru likuran tahun "

"Jangan kau menilai demikian, bahwa getah semangkuk telah dia bikin jadi air jernih kan sudah terbukti?"

"Tapi ha mba kira bukan dia yang berhasil me nawarkan getah beracun itu."

"Bukan dia yang menawarkan getah beracun?" seru Pek-hoa- pangcu kaget dan heran, "maksud Sa m- moay "

"Ha mba kira dia me mbawa sesuatu obat yang khusus dapat menawarkan segala maca m racun, adalah ja mak bagi setiap insan persilatan selalu me mbekal obat2an maca m ini, mungkin secara kebetulan obat yang dibawanya itu bisa menawarkan getah beracun."

Me mang tidak malu Giok-lan diangkat menjadi congkoan Pek- hoa-pang, pandangan dan pendapatnya me mang Cermat dan lebih mengena sasaran daripada orang la in-

Pek-hoa-pangcu manggut, ujarnya: "Betul, kulihat sorot matanya amat tajam, hakikatnya tidak mirip seorang yang terkena racun pembuyar Lwekang, kalau dia selalu bawa obat penawar racun, maka racun pembuyar Lwekang itupun tentu sudah punah dari tubuhnya." Sampai di sini tiba2 dia menepuk meja sambil tertawa, katanya: "Ya, pasti begitu, waktu Giok-je dicegat orang2 Hek- liong- hwe di tengah sungai, katanya ditolong seorang berkedok yang menga lahkan Dian Tiong-pit dan begundalnya, hari ini setelah me lihat dia lantas timbul rekaan dalam benakku bahwa orang berkedok itu pasti dia"

Pada saat itulah, di luar sana seorang pelayan bersuara lantang: "Ha mba menya mbut kedatangan Hu pangcu."

Mendengar yang datang adalah Hu-pangcu atau wakil Pangcu Pek-hoa-pang, cepat Kun gi sedikit menyingkap kerai dan mengintip keluar.

Segera Pek-hoa-pangcu angkat kepala dan berseru: "Apakah Ji- moay yang datang?"

Tampak kerai tersingkap. muncullah seorang gadis remaja berbaju kuning ketat, langsung ia menjura kepada Pek-hoa-pangcu, katanya: "Siaumoay me mberi hor mat kepada Toaci." Lalu ia tanggalkan mantel serta mencopot cadar kuning yang menutup mukanya.

Kini Kun-gi dapat melihat jelas. Usia gadis ini sebaya dengan Pek- hoa-pangcu, wajahnya berbentuk kwaci, alisnya me lengkung laksana bulan sabit, dagunya laksana lebah bergantung, matanya jeli seperti bintang kejora, pinggangnya ra mping diikat sabuk kain merah, di mana terselip sebatang pedang bersarung kulit ikan cucut, sepatunya kulit hitam tinggi, kelihatannya gagah dan angker, itulah seorang gadis yang sudah terlatih dan gemblengan. Ternyata dia tidak mengenakan kedok.

"Silakan duduk Ji- moay," kata Pek-hoa-pangcu.

Sementara itu Giok- lan berdiri menya mbut, katanya sambil menjura kepada gadis baju kuning, "Ha mba me mberi hor mat kepada Hu-pangcu."

Gadis baju kuning mengangguk, katanya tersenyum: "Sa m- moay juga ada di sini, sesama saudara sendiri buat apa sungkan?" Wajahnya kelihatan berseri tawa, tapi sedikitpun tidak kentara rasa simpatik pada nada bicaranya. Dia duduk pada kursi sebelah kiri Pek-hoa-pangcu, lalu berkada pula: "Sam- moay betul2 cerdik pandai me lebihi orang lain, Thay-siang (junjungan maha tinggi) menyerahkan jabatan congkoan pada mu me ma ng sangat tepat."

Tiba2 tergerak pikiran Kun-gi: "Jadi jabatan congkoan ini diperoleh dari Thay-siang, bukan di angkat langsung oleh Pek-hoa- pangcu, jadi masih ada lagi Thay-siang-pangcu. Me mangnya gadis2 remaja yang cantik molek. bukan saja berkepandaian tinggi, malah berani me mbentuk serikat segala, sudah tentu semuanya hasil didlkan seseorang dan orang itu pasti adalah Thay-siang-pangcu yang dimaksudkan itu."

Setelah gadis baju kuning duduk barulah Giok-lan ikut duduk. katanya: "Justeru karena Thay-siang yang menyerahkan jabatan ini padaku, maka sedikitpun aku tidak berani lena dalam menjalankan tugas."

Pek-hoa-pangcu menyela: "Tengah mala m begini Ji-moay ke mari, entah ada petunjuk apa dari Thay-siang?"

"Thay-siang mendapat kabar bahwa orang2 Hek- Liong-hwe telah menimbulkan onar di sini, beliau a mat marah, bahwa markas pusat Pek-hoa-pang sampai dikunjungi orang luar, menimbulkan huru- hara lagi, jelas ini merupakan kecerobohan kita, lebih celaka, musuh masih me loloskan diri lagi . . ."

"Me mang hamba yang tidak becus," kata Giok— lan.

"Ka mi terima kenyataan ini, soalnya penyatron berkepandaian tinggi, beruntung dua diantara tiga musuh dapat kita bunuh," kata Pek-hoa-pangcu.

Dengan kedua tangan me mbetulkan letak ra mbutnya, gadis baju kuning berkata sambil miringkan kepala ke arah Pek-hoa-pangcu: "Letak tempat kita dikelilingi air, orang2 kita juga meronda di atas air, umpa ma tumbuh sayap juga musuh takkan mungkin lolos, me mangnya setelah mene mukan jejak musuh lalu kita t idak suruhan orang menggeledah perairan?" "Begitu tahu ada orang luar menyelundup ke- mar i lantas kuperintahkan orang mengadakan razia, ternyata Ui-Liong-tongcu dari Hek-Liong hwe yang bernama Jik Hwi-bing cukup cerdik, dia tinggalkan dua pembantu di atas perahu, kedua orang itu adalah Dian Tiong-pit dan Hou Thi-jiu, Liok dan Li berdua Sucia yang bertugas disana tertutuk oleh mere ka malah."

"Thay-siang suruh Siau- moay kemar i untuk me meriksa peristiwa ini, Liok dan Li berdua Sucia tidak menunaikan tugas dengan semestinya, cukup setimpal dicurigai ada berko mplot dengan musuh, me mangnya Pek-hoa pang kita boleh me mbiarkan orang luar keluar masuk dimar kas besar ini dengan sesukanya?"

Pek-hoa-pangcu menghela napas, katanya kemudian: "Bicara soal ilmu silat me mang sulit dibedakan, terang kepandaian Liok dan Li berdua sucia me mang terpaut jauh dengan musuh sehingga dengan mudah kena dibekuk musuh, semua kesalahan tak boleh dijatuhkan kepundak mereka."

Gadis baju kuning cekikikan, katanya: "Biasanya Toaci me mang bijaksana, masa engkau tidak pernah menduga, bukan mustahil mereka berdua yang sengaja menolong orang she Jik itu melolos kan diri?"

"Itu tak mungkin, Liok dan Li a mat setia mungkin me mbiarkan musuh lolos," kata Pek-ho-pangcu tegas.

Kembali baju kuning cekikikan, katanya: "Umpa ma betul mere ka biasanya setia dan kerja keras, kenyataan bahwa orang she Jik dibiarkan lolos, kalau yang satu ini tidak dihukum untuk peringatan kepada yang lain, selanjutnya siapa saja boleh menggunakan alasan yang sama untuk me mbebaskan musuh, demi menegakkan undang2 Pang kita, maka pantas kalau kedua orang ini dihukum mati ." Waktu mengucapkan kata2 "Mati" wajahnya tampak diliput i hawa nafsu me mbunuh.

Pek-hoa-pangcu tertawa tawa, katanya. "Seolah2 Ji- moay me mbe la undang2 setegak gunung, sedikit2 lantas main bunuh, umpa ma betul Liok dan Li tidak menunaikan tugas se mestinya, dosa-nya belum setimpal dihukum mati."

"Inilah yang dina makan bunuh yang dua ini untuk peringatan bagi yang lain, Siau- moay sudah hukum mati mere ka," kata gadis baju kuning.

"Ji- moay telah bunuh mereka?" seru Pek- hoa-pangcu kaget. Gadis baju kuning tertawa lebar, katanya: "Itulah maksud Thay-

siang, para Hou-hoat-sucia ini sudah biasa ma kan kenyang kerja ma las2an, sudah biasa hidup senang, maka perlu diberi peringatan supaya selalu waapada dan hati2 setiap menjalankan tugas."

Peh-hoa-pangcu tampak serba kikuk. katanya kemudian sambil manggut: "Thay-siang me mang bijaksana, tindakan demikian me mang tepat"

"Thay-siang juga bilang, Toaci me mang cocok menjadi Pangcu pada waktu da mai, kalau ja man kalut dan perlu mengguna kan tindakan keras, maka harus pakai cara keja m, oleh karena itu Toaci selalu menjadi orang baik, dan biarlah Siaumoay jadi orang jahat." 

Sampa i di sini tiba2 dia angkat kepala dan bertanya: "o,ya, orang yang menyaru Cu Bun-hoa itu sudah berada dite mpat kita, Thay- siang amat perhatikan obat penawar getah beracun itu, apalagi setelah orang Hek-liong- hwe mencari setori ke mar i maka obat penawar harus diusahakan secepatnya, sebetulnya dia yakin tidak akan mene mukan obat itu . . .?"

"Ka mi sudah bekerja sesuai petunjuk Thay-siang, semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, nama asli orang ini adalah Ling Kun-gi, menurut laporan Giok-Je, dia sudah berhasil mengubah getah beracun jadi air bening, pagi tadi akupun sudah bicara sa ma dia supaya secepatnya bekerja, maka boleh Ji- moay sa mpaikan semua ini kepada thay-siang supaya beliau berlega hati."

Agaknya dia tidak berani berterus terang kepada Thay-siang, maka se mua persoalan yang menyangkut diri Ling Kun-gi tidak dia jelaskan seluruhnya. . . "Thay-siang suruh Siau- moay menya mpaikan perintahnya kepada Toaci, dalam jangka tiga hari, dia harus sudah berhasil menyelesaikan tugasnya" de mikian kata si gadis baju kuning.

"Apa?" seru Pek-hoa-pangcu bergidik: "Dalam tiga hari harus menuna ikan tugas?"

"Bagaimana?." Gadis baju kuning cekikkan. "Tiga hari masih belum cukup?, Di Coat Sin-san-ceng, dia sudah berhasil di situ, cukup dia meracik obat2nya sekali lagi, kukira sehari juga sudah bisa selesai."

"Tiga hari mungkin tidak bisa, Ling Kun-gi bilang, secara tidak sengaja dia berhasil punahkan getah beracun jadi air bening, untuk benar2 mene mukan racikan obatnya yang   tulen,   mungkin me mer lukan tenaga dan pikirannya pula, jadi harus diusahakan ke mbali dari per mulaan, hal ini tidak boleh didesak, apa lagi harus buru2, nanti, kalau Ji-moay pulang bolehlah kau mohon kepada Thay-siang agar suka undurkan lagi batas waktunya beberapa hari?"

Giok- lan menimbrung: "De mikianlah, Ling Kun-gi juga berjanji akan bekerja sekuat tenaga untuk mene mukan obat itu, hasil permulaan sudah dicapai, asal Thay-siang sudi me mber i kelonggaran beberapa hari,   pasti   hasilnya   akan   jauh   lebih me muas kan."

"Wah, cara kalian bicara, Toa-ci dan Sa m- moay, se-olah2 akulah yang me mutuskan waktu tiga hari ini, kalian kan tahu juga , setiap perintah Thay-siang harus segera dilaksanakan, me mangnya siapa yang berani me mbantah? Toa-ci,  suruhlah  Sa m- moay menya mpaikan hal ini kepada orang she Ling supaya dia selekasnya menyelesaikan tugasnya, sebaiknya jangan lewat batas waktu yang ditentukan," walau dia tertawa, namun wajahnya tidak kelihatan berseri, nada suaranyapun dingin, kalau tak berhadapan tentu orang tidak mau percaya bahwa dia bicara sa mbil tertawa.

Sambil me ngawasi Giok- lan, akhirnya Pek- hoa-pangcu manggut2, katanya: "Sam-moay, besok kau beritahukan padanya, coba saja apakah dalam jangka t iga hari dia bisa menyelesaikan? " Giok- lan manggut sa mbil mengiakan.

Mendadak gadis baju kuning berseri tawa, matanya yang indah mengawasi Pek-hoa-pangcu tanyanya: "Kudengar orang she Ling itu muda, malah sangat cakap. apa benar? Sayang waktu sudah larut ma la m, kalau tidak ingin siau- moay mene muinya," lalu dia berdiri sambungnya pula: "Toaci, perintah sudah kusa mpa ikan, aku harus lekas ke mbali me mber i laporan kepada Thai-siang" cadar dia kenakan pula, lalu mengenakan mantel lagi, setelah menjura dia lantas me langkah pergi.

Setelah gadis baju kuning berlalu, tiba2 tergerak hati Ling Kun-gi, batinnya: "Agaknya dia akan pulang memberi laporan kepada sang Thay-siang".

Thay-siang mendidik sedemikian banyak gadis2 remaja dan mendirikan Pek-hoa-pang, tentu punya suatu rencana dan tujuan tertentu. Apa lagi dia ingin selekasnya mengguna kan obat penawar getah beracun, naga2nya bukan hanya untuk menghadapi senjata orang2 Hel-Lio ng-hwe yang dilumur i getah beracun tentu masih ada maks ud lainnya lagi? "

Pek hoa-pangcu dan lain2 mahir menggunakan Hwi Liong-sa m- kia m, sudah tentu ilmu pedang ini hasil didikannya pula Tapi dirinya ke mari me mang hendak me nyelidiki kedua hal ini, kini setelah tahu di atas Pek-hoa-pangcu masih bercokol lagi seorang Thay-siang- pangcu, ma ka sasaran yang diincarnya ikut beralih pula.

Sekilas berpikir cepat dia bertindak. kese mpatan baik ini tak boleh di-sia2 kan, sekali berkelebat sebat sekali dia me luncur ke luar jendela, di atas wuwungan paling tinggi matanya menjelajah ke tempat jauh, dilihatnya bayangan ramping gadis baju kuning yang bermantel mela mbai2 tengah meluncur cepat di kejauhan sana. Segera Kun-gi melayang turun, dengan alingan bayangan semak2 bunga, dia menguntit dari kejauhan-

Sudah tentu gadis baju kuning tidak pernah berpikir di belakangnya dikuntit orang, apa lagi Kun-gi selalu menguntit dalam jarak tertentu sehingga lebih sulit diketahui. Bagai dua titik bintang meluncur keduanya terus menyusuri tanaman bunga, yang terbentang luas, akhirnya tiba di ujung taman. Tanpa berhenti gadis baju kuning melejit ke atas melo mpati pagar tembok dengan gaya yang indah ge mula i.

Waktu Kun-gi melejit ke atas tembok dilihatnya bayangan gadis baju kuning sudah puluhan to mbak jauhnya, gerak-geriknya cepat bagai terbang, tujuannya ke arah danau.

Tempat itu berada sebuah semenanjung tepi Phoa-yang-ouw, taman bunga keluarga Hoa letaknya di bawah sebuah bukit kecil, luasnya ada dua tiga li persegi.

Seringan mega menga mbang Kun-gi terus me-ngunt it, Kira2 setengah li ke mudian, gadis baju kuning tiba dipinggir danau disana terdapat sebuah batu cadas, dengan enteng dia melo mpat ke atas batu lalu ke bawah, dibalik sana sebuah perahu sudah me nunggu, di situ, seorang laki2 baju hijau di atas perahu segera kerjakan penggayuhnya, perahupun laju ke tengah danau.

Kun-gi jadi berpikir: "Agaknya Thay-siang-pangcu tidak tinggal di sini," dengan rasa kecewa terpaksa dia putar balik langsung masuk kamar terus tidur.

Esoknya baru saja Kun-gi selesai berdandan didangarnya suara Sin-ih berkata di luar pintu: "Ling- kongcu congkoan datang."

Ling Kun- gi tahu maksud kedatangan orang, maka dia me ngiakan dan menyambut keluar. pakaian Giok-lan tetap serba putih laksana salju, dia sudah me nunggu di ruang ta mu, melihat Kun-gi keluar, segera dia berdiri, katanya dengan tersenyum manis: "Sela mat pagi Ling kongcu, hamba mengganggu."

Lekas Kun-gi menjura, katanya: "Selamat pagi nona, silahkan duduk"

Setelah sama duduk. Sin-ih menyuguh teh, lalu menyiapkan sarapan pagi, katanya: "Ling- kongcu silakan sarapan."

"o, Ling-kongcu belum sarapan, silakan saja, tidak usah sungkan," kata Giok- lan. Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Tidak apa, nona datang begini pagi, entah ada pesan apa, silahkah bicara saja"

Mata Giok- lan yang hitam bening mengerling kearah Kun-gi, katanya tertawa: "Ling-kongcu sepandai dewa mera mal, me mang ada dua persoalan yang akan hamba bicarakan"

Heran dan ketarik Kun-gi, katanya dengan tersenyum: "ada urusan apa silahkan nona katakan saja."

Ragu2 sesaat dia awasi orang lalu berkata: "Bentrokan Pang kita dengan Hek-Liong-hwe sudah terjadi, yang harus kita kuatirkan adalah senjata mereka yang beracun, setiap korban takkan tertolong jiwanya, petaka mungkin bisa menimpa Pang kita, ma ka hamba perlu ke mari pagi2 untuk merundangkan soal ini dengan Kongcu, mungkinkah obat penawar itu dapat dihasilkan lebih cepat?"

Hambar senyum Kun-gi, tanyanya: "Lalu ma ksud Pangcu dan congkoan, berapa hari kiranya cayhe harus menyelesaikan tugas ini?"

Agaknya   pertanyaan   ini   diluar   dugaan   Giok-lan,   katanya ke mudian: "Kau minta aku sebutkan jangka waktunya?"

"Pengarang kalau tidak didesak takkan rampung hasil karyanya, apalagi cayhe sudah biasa bermalas2an, kalau nona tentukan waktunya, cayhe akan bekerja giat dan rajin, tentu hasilnyapun akan lebih cepat."

Giok- lan tersenyum, katanya: "Bagaimana kalau tiga hari?"

Dia m2 Kun-gi geli, tapi dia pura2 mengerut kening, katanya:" Waktu tiga hari sebetulnya terlalu buru2, tapi baiklah, tiga hari juga boleh.".

Giok- lan ragu2 malah, katanya sambil menatap tajam: "Ling- kongcu t idak bergurau bukan?"

"Me mangnya nona minta aku menulis surat perjanjian?" "Tidak, aku percaya padamu," katanya sambil me ngerling penuh arti. "Kuyakin Kongcu pasti berhasil, akupun tak perlu kuatir lagi."

"Tadi nona bilang ada dua persoalan, lalu ada soal apa lagi?" tanya Kun-gi.

"Mohon keterangan Kongcu, kedatanganmu ke mari apakah sepanjang jalan ada te man yang mengunt it?"

Kun-gi melenggong, katanya: "cayhe kan di-se lundup keluar dan diblus nona Giok-je serta di-bawa kemari, mana mungkin ada teman yang mengunt it ke mari? Me mangya Ada..."

"Baiklah, ingin ha mba tahu apakah Kongcu punya saudara?"

Semakin heran tapi juga ketarik hati Kun-gi, jawabnya: "Aku sebatang kara."

"Jadi beberapa orang itu tidak kau kenal?" "Siapa mereka, coba nona sebutkan na manya."

"Mereka berlima, mas ing2 bernama Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa, Cu Jing, Tong Bun- khing dan Ling Kun-ping..

Ketiga na ma yang pertama t idak dikenal oleh Kun-gi, tapi waktu mendangar na ma Tong Bun- khing, tergerak hatinya setelah Giok-lan menyebut na ma Ling kun-ping, ia melonjak kaget, pikirnya:

"Tong Bun-khing tentu nona dari keluarga Tong itu, sedangkan Ling Kun-ping adalah sa maran Pui Ji-ping, mungkinkah mere ka sedang mencariku?" Dengan gelisah segera dia bertanya: "Mereka ditawan oleh Pang kalian?"

Giok- lan menggeleng, katanya: "Bukan, mereka ditawan orang2 Hek-liong-hwe."

Kun-gi betul2 kaget, serunya: "Ditawan pihak Hek-liong-hwe?

Darimana nona tahu?" "Kau kenal mere ka?" "Ling Kun-ping adalah adik angkatku, Tong Bun- khing adalah sahabat karibku, bagaimana merce ka bisa jatuh ke tangan Hek- liong-hwe? Sudikah nona menje laskan?"

Dari lengan bajunya Giok-lan keluarkan sepucuk surat, katanya sambil diangsurkan:."inilah surat dari Hek- liong-hwe kepada Pang kita, mereka kira kelima orang itu adalah Hou-hoat su-cia kita, maka syaratnya adalah menukar Ling- kongcu dengan jiwa mereka." 

Setelah me mbaca surat itu, berkeringat telapak tangan Kun-gi, Pui Ji-ping dan Tong Bun-khing adalah pere mpuan, kalau dia tertawan kawanan jahat itu bagaimana baiknya. Karena gelisah dia gosok2 telapak tangan, katanya: "Bagaimana baiknya sekarang?"

Giok- lan tertawa, katanya: "Buat apa gugup, Hek- liong-hwe minta mere ka di tukar Cu Bun-hoa, dalam waktu dekat terang tak perlu dikuatirkan, jadi tit ik tolak persoalannya terletak pada usaha Ling- kongcu sendiri dalam mengerjakan obat penawar getah beracun, kalau secara mendadak kita sergap mereka tentu dengan mudah dapat menolong mereka."

Cara ini me mang tidak jelek. yang jelas Ling Kun-gi hanya me miliki Pi tok-cu, me mangnya dia punya cara meracik obat pemunah?

Jadi Pek-hoa pang sudi me mbantu dengan syarat Ling Kun-gi harus cepat menyelesaikan pe mbuatan obat pe munah getah beracun, Sebenarnya soal menolong orang tidak jadi soal bagi Ling Kun-gi, cuma di mana letak sarang Hek- liong- hwe, untuk ini dia perlu bantuan Pek- hoa-pang.

Maka persoalan hanya bergantung dari obat penawar itu, sebelum obat penawar diserahkan pada Pek-hoa-pang, mereka takkan me mberi tahu dimana letak sarang Hek-liong-hwe. Untuk ini cukup la ma Kun-gi me meras otak. sambil merentang tangan dia mondar- mandir di dalam kumar, akhirnya dia duduk me nepekur.

Mendadak timbul suatu ilham aneh dalam benaknya. cepat2 ia berdiri menuju ke almar i di sebelah utara, membuka almari bawah serta mengeluarkan buli2 berisi getah beracun, diambilnya sebuah mangkuk porselen, dengan hati2 dia tuang getah beracun ke dalam mangkuk kecil ini, lalu dia pergi ke belakang menga mbil segayung air jernih, semua dia taruh di atas meja. Lalu dia buka beberapa laci menco mot berbagai maca m obat, dan dimasukkan ke dalam lumpang besi dan menumbuk obat2 itu menjadi bubuk. dituangnya ke dalam sebuah guci kecil. Se mua kerja ini sudah tentu me mang sengaja dia lakukan karena waktu berjongkok me nga mbil buli2 berisi getah beracun tadi, dia dapati seorang berse mbunyi di belakang almar i mengintip gerak-ger iknya. Terang Pek-hoa-pang suruhan orang mengawasi dirinya secara dia m2.

Siang hari belong me ngintip gerak-geriknya terang hanya ada satu tujuan, yaitu memperhatikan dan mencatat semua obat2an yang dia mbilnya, cara bagaimana meraciknya hingga bisa menawarkan getah beracun.

Maka Kun-gi pura2 tidak tahu, dia tetap bekerja, di waktu me mba lik badan, Pik-tok cu sudah dia keluarkan dan dimasukkan ke dalam air jernih yang diambilnya, ia berpindah ke sebelah, dengan sendok perak dia mengaduk bubuk obat tadi di dalam guci hingga kira2 sepe mpat jam ke mudian baru berhenti.

Dia keluar ke mba li ke ka mar buku, duduk dikursi serta menuang secangkir teh la lu di   minumnya pelan2.   Kira2 setengah jam ke mudian dia kembali dengan gayung berisi air jernih, waktu me mutar tubuh secepat kilat Pi-tok-cu di dalam gayung dia jemput dan disimpan ke dalam lengan baju.

Waktu di Coat Sin-san-ceng dia pernah mencoba mutiara mestika itu, ternyata berhasil mengubah getah hitam kental itu menjadi air jernih. Maka timbul ilhamnya yang aneh yaitu coba2 merenda m mut iara ini di dalam air, dengan air rendaman mutiara ini mungkin berkasiat untuk menawarkan getah beracun. Kalau berhasil berarti obat penawar getah beracun yang dituntut Pek-hoa-pang tidak akan jadi persoalan lagi, Sela ma urusan jadi beres.

Dengan menjinjing gayung berisi air jernih pelan2 dia tuang ke dalam guci berisi bubuk obat serta diaduk beberapa kali, ke mudian air obat ini ia saring sedikit la lu dituang kedalam mangkok berisi getah beracun.. Kali ini t idak terjadi perubahan drastis seperti tempo hari waktu dia masukkan mut iara   kedalam   getah   yakni menge luarkan suara serta mengeluarkan asap kuning. tapi setelah dituangi air obat, getah kental hitam sekarang pelan2 mulai cair dan berubah warnanya, berubah bening seperti air jernih.

Dengan tajam Kun-gi ikuti perubahan ini, tanpa terasa sorot matanya me mancar kan cahaya terang, Wajahnya nan cakap mengulum senyum puas kemenangan. Dia berhasil. Sebetulnya dia tidak yakin akan ilhamnya yang aneh dan hanya ingin coba2, tapi ternyata berhasil dengan baik, keruan bukan kepalang senang hatinya.

Tapi dia tahu, ada orang mengawasi gerak geriknya dari pintu rahasia. Maka dengan wajar dia la lu pindah mangko k berisi getah beracun tadi kete mpat yang agak jauh, ke mbali dia a mbil cangkir teh serta   menghirupnya   seteguk.   lalu   menengadah   seperti me mikirkan sesuatu. Tiba2 dia letakan cangkir dengan cara terburu2, dengan langkah lebar menuju ke almari obatan, dari sini

,sekenanya pula dia menco mot dua tiga puluh maca m obat2an, kali ini dia tidak me numbuknya dengan lumpang besi, tapi diusap di telapak tangannya, obat2an itu segera diusapnya jadi bubuk yang le mbut.

Tiba2 di luar ada orang mengetuk pintu, lalu terdengar Sin-ih berteriak: "Ling-ko ngcu"

Tanpa berpaling Kun-gi menjawab: "Masuklah"

Pelan2 daun pintu terbuak. Sin-ih me langkah masuk, biji matanya yang jeli mengawasi Kun-gi, katanya heran: "Ling- Kongcu apa yang sedang kau lakukan"

Kun-gi sebarkan bubuk obatnya ke atas meja sambil menjawab tertawa: "Malas aku menumbuknya, maka ku-usap2 saja."

"Kenapa tidak serahkan pada ha mba untuk menumbuknya?" "Pekerjaan ringan saja kenapa harus menyusahkan orang lain- Baiklah nona bantu aku ambil segayung air hujan saja, lalu masukkan se mua bubuk obat yang dime ja ini."

"Ha mba tahu, hidangan makan siang sudah tersedia, hamba ke mari me manggil kongcu untuk ma kan," lalu dia kumpulkan bubuk obat yang terserak di atas meja dan dibungkusnya kertas terus di bawa ke belakang.

Lekas Kun-gi ambil mangkok berisi getah beracun yang sudah menjadi air jernih itu dan dibuang keluar taman, lalu ia ke mbali ke kamar buku.

Hidangan me mang sudah tersedia. Setelah berhasil me mbuktikan air bekas rendaman Pi tok-cu juga berkhasiat menawarkan getah beracun, legalah perasaan Kun-gi, maka makannya jadi ta mbah lahap.

Sin-ih keluar dari ka mar buku, katanya: "Hamba sudah rendam racikan obat di dalam air."

Kun-gi mengangguk, Sin-ih lalu meladeni dia ma kan- Selesai makan Sin- ih angsurkan handuk pada Kun-gi untuk cuci muka. Setelah me mbersihkan muka dan cuci tangan Kun-gi berkata: "Aku perlu ist irahat, nona tidak usah me ladeni lagi."

"Ha mba ditugaskan me mbantu Ling Kongcu, kalau nanti di tanya congkoan, bagaimana ha mba harus menjawab?"

"Baiklah, setelah kau makan, ada satu hal boleh kau kerjakan." "Tugas apa yang Kongcu serahkan pada ha mba?"

"Dua maca m racikan obat yang direndam air harus diaduk dengan sendok perak. tugas ini kuserahkan padamu," habis bicara dia melangkah ke ka mar buku.

"Ha mba terima tugas," seru Sin- ih berseri sengan.

Belum la ma Kun-gi duduk di kursi ma las, Sin-ih sudah datang menyuguhkan teh, "Letakkan saja di me ja, kau boleh pergi makan," katanya.

Manis tawa Sin-ih, katanya: "Ha mba sudah makan, sekarang juga mulai bekerja," setelah me letakkan cangkir dan poci teh lantas berlari keluar.

Pelan2 Kun-gi pejamkan mata, ia istirahat di kursi ma las sambil menenangkan pikiran, di dengarnya suara lir ih di belakang almari, kiranya orang yang sembunyi dan mengawas i dirinya sedang mengundurkan diri.

Kun-gi tersenyum, lekas dia berdiri, lalu menuang setengah mangkuk getah beracun pula ditaruh di meja. Lalu cepat2 dia tarik setiap laci, 72 maca m obat2an yang ada tanpa ukuran asal comot terus di-gosok2 di telapak tangan sehingga jenis obatnya sukar dibedakan lagi, se muanya dia bagi menjadi tujuh tumpuk, lalu disingkirkan satu persatu, setelah itu di ke mbali ber- malas2an di kursi ma las.

Tak la ma ke mudian di dengarnya langkah pelahan masuk. terang Sin-ih yang masuk. Kun-gi bertanya: "Apakah Sin- ih?"

"Ya, inilah ha mba," sahut Sin-ih, sekilas dia me lir ik, ma ka dilihatnya tujuh kelompo k obat2 di atas meja, dengan suara heran dia bertanya: "Ling-ko ngcu mau diapakan ketujuh tumpuk obat bubuk ini?"

Kun-gi menggeliat la lu berbangkit, katanya:

"Boleh nona merendam ketujuh, kelo mpo k obat bubuk itu dengan air hujan, di dalam tujuh guci yang berbeda," Lalu dia berbangkit dan katanya pula:

"Setelah obat2 ini direndam nona harus mengaduknya dengan sendok perak. aku terlalu penat, ingin ke mba li keka mar, kalau tiada urusan, jangan ganggu aku" lalu dia ke mbali ke ka mar tidurnya..

Sin-ih mengia kan. Sesuai pesan Kun-gi, dia masukkan tumbukan obat bubuk itu ke dalam tujuh guci, kecil, lalu direndam dengan air hujan dan pada setiap guci dia mengaduk sekian la manya secara bergiliran. .. Pada saat dia sibuk mengaduk. terdengar suara Giok-lan sang congkoan me manggil: "Sin-ih"

Lekas Sin-ih letakkan sendok. serta menyahut:

"Ha mba ada di sini." Buru2 dia berlari keluar, dilihatnya sang congkoan Giok- lan mengir ingi Hu-pangcu So-yok (bunga melur ) sudah masuk ka mar buku. Ter-sipu2 dia menekuk lutut me mber i hormat seraya berkata: "Hamba menya mbut kedatangan Hu-pangcu dan congkoan."

"Berdirilah." kata Giok-lan "sedang apa kau barusan?"

Sin-ih berdiri lurus, sahutnya: "Atas pesan Ling kongcu hamba sedang mengaduk obat"

"Mana Ling Kun-gi?" tanya So-yok. sang Hu-pangcu.

"Ling-kongcu ke mba li ke ka marnya, katanya mau tidur" sahut Sin-ih.

So-yok berdehem keras2, jengeknya "Memangnya dia ke mari untuk tetirah?" merandek sebentar, dia berpesan: "Pergi kau panggik dia, katakan aku sengaja ke mari menengo knya."

Sin-ih mengiakan, lalu me mbungkuk badan dan berkata dengan serba susah: "Lapor Hu-pangcu, Ling- kongcu sudah tidur, tadi dia berpesan, kalau tiada urusan penting dilarang mengganggu dia."

"Huh, bertingkah, besar kepala," jengek So-yok uring2an

"Dia tidak tahu kalau Hu-pangcu akan datang, ia pesan Sin-ih supaya tidak mengganggu, betapapun dia adalah ta mu kita, silahkan Hu-pangcu duduk di ka mar buku untuk menunggu sebentar," lalu Giok- lan berpaling me mberi kedipan mata pada Sin- ih, katanya: "Lekas seduhkan secangkir teh untuk Hu-pangcu."

Sin-ih mengiakan dan buru2 mengundur kan diri. So-yok tersenyum, katanya: "Sam- moay me mang pintar jadi tuan rumah, teramat sayang pula kepada ta mu," kata2nya bernada menyindir. Merah muka Giok-lan, katanya serba salah: "Kita mengundang Ling- kongcu untuk me mbuat obat penawar getah beracun, urusan menyangkut kepentingan Pang kita, adalah jama k kalau kita me layaninya sebagai tamu terhormat."

So-yok mendekati rak obat, dia melihat getah beracun yang ada di dlam mangkuk, katanya: "Thay-siang minta dia di dalam tiga hari menyelesaikan obat penawarnya, kalau setiap siang dia harus tidur, kapan dia bisa menunaikan tugas?"

"Ha mba sudah sampaikan perintah ini kepada Ling- kongcu, dia berjanji akan menyelesaikan tugasnya dalam t iga hari."

"Sa m- moay juga katakan kalau gagal Thay-siang akan me mengga l kepalanya?"

"Ha mba pikir dia berjanji menyelesaikan tugas dalam tiga hari, jadi tidak kukatakan perintah ini."

"Me mangnya kuduga Sa m- moay tenntu rikuh mengatakan hal ini kepadanya, maka sengaja aku ke mari untuk me mbereskan soal ini."

Waktu mereka bicara Sin-ih sudah datang me mbawa dua cangkir teh yang masih mengepul, katanya: "Hu-pangcu, congkoan, silahkan minum."

"Sin- ih.." tanya So-yok, "Ling Kun-gi menyuruhmu mengaduk kedua guci air obat ini?"

"Ya, semuanya ada se mbilan guci."

"Apa sembilan guci?" seru So-yok heran, "Giok-je bilang perta ma kali dia me nga mbil enam belas maca m obat lalu a mbil dua puluh tiga maca m, semua hanya direndam jadi dua guci, bagaimana bisa jadi se mbilan?"

Kiranya yang sembunyi di belakang almar i mengintip gerak- gerik Ling Kun-gi adalah Giok-je,

"Se mula me mang merenda m dua guci, akhirnya ditambah lagi sembilan guci, ini dilaksakan setelah ma kan Siang, Sin-ih menerangkan" So-yok melengak, tanyanya: "obat apa saja yang dia ambil, apa kau masih ingat?"

"Ling-kongcu sendiri yang menga mbilnya, dari laci, waktu hamba masuk. semua sudah dibagi menjadi tujuh kelo mpok. semuanya sudah jadi bubuk. jadi sukar diketahui obat apa yang telah dia ambil"

"Me mangnya perma inan apa yang sedang dia lakukan?" kata So- yok bingung.

"Hakikatnya Ling-kongcu tanpa menggunakan lumpang besi, dia hanya menggosok2an obat ditelapak tangannya, semua lantas hancur jadi bubuk"

Berubah air muka So-yok, katanya sambil berpaling pada Giok- lan- "orang ini ma mpu menggoso k obat menjadi bubuk, Lwekangnya tentu tidak le mah. "

"Menggosok batu jadi bubuk. sudah teramat sukar dilakukan kaum persilatan umumnya, tapi di hadapan Hu-pangcu kepandaian sepele ini tentu tidak jadi soal" de mikian Giok-lan mengumpa k.

"Kepandaian setaraf itu, Sam- moay sendiri kan juga sanggup" kata So-yok.

Terdengar pintu di seberang sana berkeriut di buka orang lalu terdengar suara berkumandang : "Sin- ih, siapa yang datang?"

"Ling-kongcu," seru Sin- ih berjingkrak girang, "Inilah Hu-pangcu dan congkoan yang ke mari menengokmu."

Terdengar langkah cepat mendatang, tampak pe muda cakap gagah melangkah masuk.

Seketika terbeliak mata So-yok. dengan tajam dia tatap wajah Kun-gi, la lu berkata dengan tertawa lebar: "Sa m- moay, inikah Ling- kongcu?"

"Ling-kongcu" sa mbut Giok lan: "Inilah Hu-pangcu, kami sengaja datang mene mui kongcu." Kun-gi tertawa ramah, dia menjura kepada So-yok, katanya: "Hu- pangcu sudi berkunjung, cayhe terlambat menyambut, sungguh kurang hor mat, harap di maafkan "

Gemer lap biji mata So-yok, katanya sambii menba las hor mat: "Ling kongcu cakap ganteng dan gagah perwira, beruntung aku dapat bertemu"

"Hu-pangcu terlalu me muji," ujar Kun-gi.

"Kabarnya Kongcu berhasil menyelesaikan tugas dalam tiga hari di Coat Sin-san-ceng, tentunya mahir dan ahli dalam ilmu obat2an, entah siapakah guru besar mu?" biasanya sikapnya dingin dan angkuh terhadap siapapun, tapi setelah berhadapan dengan Ling Kun-gi, entah kenapa sikap dinginnya lantas berubah, wajahnya dihiasi senyuman ge mbira.

"Guruku, seorang pelancongan yang suka mengembara di Kangouw, beliau tidak suka diketahui na manya harap Hu-pangcu maaf."

"Tidak apa2," "ujar So-yok. "gurumu seorang kosen, kalau tidak boleh diketahui na manya, kongcu tidak usah merasa r ikuh."

Dia m2 Giok- lan me mbatin: "Entah kenapa hari ini J i ci berubah sikap?"

Tiba2 So-yok. menegurnya "Sa m- moay, kenapa kau diam saja dan me mbiar kan aku ngoceh?"

Lalu dengan tertawa dia mena mbahkan: "silakan duduk Ling- kongcu." setelah berduduk: So-yok mengawasi Kun-gi dan berkata: "Kudengar dari Sa m- moay bahwa Kongcu berjanji dalam tiga hari akan me mbuatkan obat penawarnya, entah bagaimana hasil usahamu?"

Kun-gi tertawa, katanya: "cayhe sudah meracik tujuh maca m obat, terbagi menjadi tujuh guci dan direndam air, apakah bisa untuk menawarkan getah beracun, besok baru dapat diketahui setelah dicoba" Mata So-yok mengerling, katanya: "Agaknya Ling-kongcu sudah punya persiapan dan yakin akan berhasil."

Kun-gi tertawa dan katanya. "Kalau cayhe tidak yakin ma na berani berjanji tiga hari menuna ikan tugas?"

"Syukurlah kalau begitu," ujar So-yok, "kalau Ling-ko ngcu betul2 dapat membuat obat penawar dalam tiga hari, betapa senang hati suhu."

Tergerak hati Kun-gi, tanyanya: "Entah cianpwe siapa kah guru Hu-pangcu?"

So-yok tertawa, katanya: "Suhu adalah Thay-siang-pangcu dari Pang kita, setelah kau berhasil me mbuat obat penawar, akan kubawa kau menghadap beliau."

"Setelah cayhe menyelesaikan tugas hanya satu keinginanku," ujar Kun-gi.. .. .

"coba katakan keinginanmu," tanya So-yok berseri.

"cayhe harap Pang kalian suka me mber itahu di mana sarang Hek-Liong-hwe sebenarnya."

"Apa?" seru So-yok terbeliak heran, "Kau ingin pergi ke sarang Hek-Liong-hwe.?"

Giok- lan segera menimbrung "Dua teman Ling- kongcu ditawan orang2 Hek- Liong-hwe."

Sesaat So-yok menepekur, lalu bersuara lagi:

"Jejak orang2 Hek- Liong-hwe a mat rahasia dan terse mbunyi, sudah tentu sarang merekapun sukar diketahui, jangan kata Pang kita, orang? Hek- Liong-hwe sendiripun hanya beberapa gelint ir saja yang tahu, dipihak kita kecuali Thay-siang mungkin tiada orang kedua yang tahu." Lalu dengan cekikikan dia mena mbahkan: "Jangan kuatir, setelah kutanya kepada Thay-siang, nanti kuberitahukan padamu." "Terima kasih atas bantuan Hu-pangcu, soal ini tidak perlu ter- buru2, Bila cayhe berhadapan dengan Thay-siang belum terla mbat kuajukan pertanyaan ini."

"Begitupun baik, akan kunanti kau bicara, asal Suhu mengangguk, seluruh Pek-hoa-pang akan bantu kau meluruk ke Hek-liong-hwe dan meno long kawanmu."

"cayhe hanya ingin tanya alamat mereka saja, soal menolong orang tak berani aku bikin repot Pang kalian-"

"Kalau begitu Ling- kongcu kurang simpatik," ujar So-yok. "kau telah bantu kesulitan kami, kan ja mak kalau kami Bantu kau meno long te manmu?" Tanpa menunggu Kun-gi bersuara segera dia mena mbahkan, "Baiklah, hal ini diputuskan begini saja, besok aku datang untuk me lihat Ling- kongcu mela kukan percobaan, entah kehadiranku diperbolehkan t idak?"

"Berat ucapan Hu-pangcu," jawab Kun-gi. "Mencoba obat bukan soal rahasia, Hu-pangcu dan congkoan kalau berminat boleh saja datang dan akan kusa mbut dengan senang hati"

"Baik besok aku pasti datang" kata So-yok dengan tertawa, lalu ia berbangkit, serunya: Sam- moay hayolah kita pergi." Giok- lan lantas iringi So-yok keluar.

Kun-gi mengantar sampai depan pintu, katanya: "Maaf cayhe tidak mengantar lebih jauh."

Setelah kedua orang itu pergi, Sin-ih unjuk tawa lucu penuh arti, katanya: "Ling-kongcu baru pertama kali ha mba melihat Hu-pangcu bersikap begini ra mah terhadap tamu."

Kun-gi tertawa, katanya: "Apakah biasanya Hu-pangcu galak?". "Dalam Pang kita hanya Hu-pangcu saja yang sukar diajak bicara,

semua orang tak berani banyak bicara sama dia, kuatir kalau kelepasan o mong."

Mendadak dia merendahkan suara, katanya: "Kabarnya semalam Hu-pangcu menjatuhkan hukuman mati kepada dua Hou-hoat-sucia lantaran seorang Hek-Liong-hwe, berhasil lolos, tapi sikapnya tadi ramah dan gembira terhadap Kongcu, baru hari ini dia betul2 tertawa."

"Me mangnya tertawa saja ada betul dan salah?" goda Kun-gi. . "Me mang ada, biasanya kalau Hu-pangcu tertawa suaranya

terasa dingin kaku, tidak seperti tadi"

XXdewiXX

Kentongan pertama baru saja lewat, Kun-gi bersimpuh di atas ranjang mulai berse medi, mendada k indranya merasakan sesuatu di luar. Setiap insan persilatan dikala berse madi mengerahkan kekuatan batinnya, dalam jarak dua puluhan to mbak umpa ma ada jarum jatuh di atas tanah juga dapat didengarnya dengan jelas. Maka dalam perasaannya sayup2 ada sesosok bayangan orang me lo mpat masuk ke dalam pekarangan. Tergerak pikirannya, segera dia pasang kuping mendengarkan lebih cer mat, terasa gerak- gerik orang ini a mat hati2 dan waspada.

Malah me-runduk2 maju mepet dinding, kalau dirinya tidak selalu waspada tentu takkan mendengar apa2, setelah berada di pekarangan orang itu lewat ka mar tengah dan cepat menuju ke rumah kecil di belakangh taman

Kun-gi me mbatin: "Rumah kecil di belakang itu adalah tempat tinggal nenek tua yang bekerja di dapur bersama Sin-ih, orang ini dia m2 masuk kesana untuk apa?" Se mbari berpikir sekenanya dia raih jubah luarnya, baru saja hendak buka pintu untuk periksa keluar, tiba2 didengarnya pula suara lambaian pakaian orang tertiup angin, orang itu sudah bergerak keluar pintu pula dari belakang, kali ini gerak-ger iknya lebih berani, agaknya tidak main se mbunyi lagi, arahnya ke ka marnya.

Sudah tentu Kun-gi tidak tahu orang itu kawan atau lawan? Tapi dia berani pastikan bahwa orang diluar adalah seorang gadis. ini dapat dibedakan dari langkahnya yang lembut dan ringan, malah ginkang orang ini a mat tinggi, rasanya lebih unggul daripada Giok- je,

Tangan Kun-gi yang terulur hendak me mbuka pintu tak bergerak. soalnya dia hendak melihat gerak-gerik orang selanjutnya, maka dia berdiri diam menunggu. Setelah sa mpai di depan pintu, orang itu juga menghentikan langkah dan lantas mengetuk pintu dua kali, ketukan yang a mat pelahan serta me manggil lirih: "Ling-s iangkong."

Melenggong Kun-gi mndengar panggilan ini, batinnya: "Siapa dia? Kukenal suaranya." Segera iapun me mbuka pintu.

Tampak seorang gadis berperawakan ramping sema mpa i, padat dan menggiurkan berdiri anggun di depan pintu, kedua bola matanya tampak bersinar bak bintang kejora di mala m gelap. Begitu ma la saling pandang, timbul suatu perasaan aneh dalam benak Kun- gi, terasa olehnya sorot mata inipun sudah a mat dikenalnya, sekilas dia melenggo ng, tapi segera ia bertanya: "Nona "

Tanpa bersuara gadis itu menyelinap masuk ka mar.

Cepat Kun-gi putar badan seraya membentak dengan suara tertahan, "Siapa kau?".

Mungkin teramat gelap. kalau Kun-gi dapat melihat jelas orang, tapi nona itu tidak jelas me lihat keadaan ka mar.

Terdengar nona itu telah menyalakan sebatang obor kecil, katanya dengan suara lembut: "Kalau mau bicara, tunggulah setelah aku menyulut api." Dia mendekati meja menyulut lentera, lalu me mba lik, suaranya tetap lembut: "Aku berna ma Bi-kui (bunga mawar)." 

Sudah tentu Kun-gi tidak kenal siapa Bunga mawar, jelas iapun orang Pek-hoa-pang, namun sorot matanya yang me mancar kan kasih mesra ini se makin dipandang se makin mengetuk hatinya, katanya kemudian: "Mala m2 nona datang ke mar i, entah ada keperluan apa?"

Tiba2 gadis itu tertawa, katanyanya: "Lantaran kau maka aku ke mari, me mangnya Ling-siangkong t idak ingat padaku lagi?" Kikuk juga Kun-gi, katanya: "cayhe memang seperti kenal sorot mata nona, tapi nona pakai topeng, bagaimana aku bisa tahu? Silahkan duduk nona."

"Aku tidak mau duduk." sahut gadis baju hitam.

"Kurasa kedatangan nona tentu ada urusan, betul tidak?"

"Kalau tidak ada urusan, untuk apa aku ke mari?" kata gadis tiu cekikikan-

Kali ini Kun-gi merasa kenal suaranya, sekilas ia tertegun, dengan tajam dia tatap orang, katanya: "Kau "

Gadis baju hitam sudah angkat sebelah tangan me mbuka topengnya, katanya tertawa manis: "Sekarang tentu Ling-s iangkong dapat mengenalku?"

"Ternyata betul kau" seru Kun-gi kaget dan heran. Gadis baju hitam ini ternyata Un Hoan- kun adanya, lekas dia menutup pintu.

"Siangkong tak usah kuatir," kata Un Hoan-kun, "Sin-ih berdua takkan siuman sebelum terang tanah."

Kun-gi me ndekati nona itu, tanyanya pelahan: "pulau ini dikelilingi air dan penjagaan a mat ketat, bagaimana kau bisa menyelundup ke mar i?"

Dengan kedua tangan Un Hoan-kun me mbetulkan rambut dipelipisnya, katanya tertawa dengan kepala mendongak: "Aku punya lencana dan paham sandi rahasia mereka, sudah tentu dapat keluar masuk dengan leluasa."

"Apa tujuanmu menyelunduk ke Pek- hoa-pang" tanya Kun-gi.

Merah muka Un Hoan-kun, katanya sambil menger ling: "Apa tujuanku? Soalnya kau disekap dalam karung dan dibawa masuk ke Pek-hoa-pang ini, aku. . . kuatir, maka kuikut ke mari."

Terharu hati Kun-gi, kedua tangan terulur me megang pundak orang, katanya halus: "Me mang cayhe sengaja me mbiar kan mereka mengangkut ke mari. Terus terang hanya karung saja takkan mampu mengurungku, kenapa nona harus me ne mpuh bahaya begini besar."

Un Hoan-kun biarkan saja orang pedang pundaknya, katanya: "Aku tahu Pek-hoa-pang takkan kuasa menahanmu, tapi aku tetap kuatir, maka kuikuti kau ke mari dengan adanya aku di antara mereka, sedikit banyak bisa me mbantumu juga ."

Kini Kun-gi ganti pedang kedua tangan orang, katanya le mbut: "Betapa haru dan terima kasihku akan kebaikan nona, tapi kau lihat aku tidak kurang suatu apapun, kalau nona berada di antara mereka, rasanya juga berbahaya, bila jejakmu konangan pasti menggagalkan urusan, lebih baik nona cepat meninggalkan tempat ini."

Pelas2 Un   Hoan-kun   tarik   tangannya,   katanya:   "Mereka me ladenimu sebagai ta mu terhor mat lantas tidak berbahaya bagimu?"

"Paling tidak. dalam waktu dekat ini aku tidak akan menga la mi bahaya."

"Kalau tidak ada bahaya, memangnya untuk apa mala m2 begini aku mengunjungimu?"

Ling Kun-gi me lengak. tanyanya: "Nona mendengar khabar apa?"

"Tujuan mereka menculikmu ke mari supaya kau me mbuatkan obat penawar getah beracun bukan?, Thay-siang suruh kau menyelesaikan tugas dalam tiga hari, betul tidak?"

"Betul, kenapa?"

"Ketahuilah, Thay-siang sudah me mber i perintah kepada Hu- pangcu, kalau dalam tiga hari kau tidak bisa menyelesaikan tugasmu, dia harus me mbawa kepala mu menghadap beliau?"

"Hal ini aku me mang tidak tahu," kata Kun-gi, "tapi tidak perlu tiga hari, besok juga aku sudah berhasil menyelesaikan tugas."

Kini ganti Un Hoan-kun yang tertegun, katanya dengan suara ragu2: "Kau sudah berhasil me mbuat obat itu?" "Belum," sahut Kun-gi meng-geleng2, "tapi aku sudah ada akal," Lalu dia jelaskan cara bagaimana dia merendam mutiara ke dalam air dan ternyata bisa menawarkan getah beracun itu..

"Kau pernah bilang mau mencari jejak bibi yang hilang, kini kenyataan bahwa bibi t idak berada di Pek-hoa-pang ini, buat apa kau harus me mbuat obat itu pula?"

"Nona hanya tahu yang satu dan tak tahu yang lain, bahwa aku rela disini se mentara, maksudku hendak mencari tahu asal usul getah beracun dan Hwi-Liong sa m- kia m."

"Hwi-Liong sa m- kia m?" Hoan-kun menegas.

"Hwi-liong-sa m-kia m sebetulnya ilmu pedang warisan keluargaku, tapi Tin-pang-sa m-kia m (tiga jurus pelindung Pang) dari Pek-hoa- pang ternyata Hwi-liong-sam- kiam keluargaku."

"Bisa demikian?" seru Un Hoan- kun heran, "Ehm, sudah kau selidiki?"

"Belum se mpat, tapi sekarang ketambahan lagi suatu kejadian." "Kejadian apa?" tanya Hoan-kun.

"Beberapa temanku khabarnya ditawan orang2 Hek-Liong-hwe, disangka bahwa mereka dijadikan sandera disangka bahwa mere ka adalah Hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang, maka mereka dijadikan sandera supaya Pek-hoa-pang menyerahkan diriku sebagai imbalannya."

Bertaut alis Un Hoan- kun, tanyanya: "Lalu apa tindakanmu? "Kecuali Thay-siang, tiada orang kedua yang tahu letak sarang

Hek-Liong-hwe, terpaksa aku harus tanya kepada Thay-siang."

Un Hoan- kun kaget, serunya: "Kau mau mene mui Thay-siang?" "Hu-pangcu sudah berjanji, bila aku selesai me mbuat obat, dia

akan me mbawaku mene mui Thay-siang." "Kudengar Hu-pangcu So-yok, pere mpuan yang berdarah dingin, cantik rupanya, kejam hatinya, banyak curiga dan ga mpang berubah pendirian, kau harus hati2"

"Aku dapat melayaninya."

Un Hoan-kun melirik. mencibirnya serta berkata dengan tertawa: "Kelihatannya kau banyak akal, kudengar Pek-hoa-pangcu Bok-tan amat ra mah terhadapmu, mungkin So-yok juga."

"Kiranya Pek-hoa-pangcu berna ma Bok-tan."

Merah muka Kun-gi, katanya lirih: "Nona jangan kuatir, aku bukan laki2 bergajul."

Pipi Hoan-kun jadi merah, tapi hatinya merasa bahagia, kepala terunduk mulutpun menggerutu: "Me mangnya aku peduli pada mu." Lalu ia mena mbahkan: "Waktu sudah larut, aku harus lekas pergi."

"Kuharap nona selekasnya meninggalkan tempat ini saja," bujuk Kun-gi.

Hoan-kun sudah melangkah beberapa tindak. tiba2 berpaling: "Setelah kau menanyakan sarang Hek-Liong- hwe, aku akan pergi bersama mu." Begitu pintu terbuka, cepat ia berkelebat keluar.

Setelah Un Hoan-kun pergi, sementara sudah mendekati kentongan kedua, Kun-gi dorong pintu ka mar buku langsung menuju ka mar masak obat, ia mengeluarkan Pi-tok-cu terus dimasukkan ke dalam guci yang merendam obat bubuk. lalu ke mbali menutup pintu dan masuk ke ka mar t idur.

Ooo d-w ooO

Matahari sudah tinggi, Kun- gi masih tidur nyenyak.

Pagi2 Hu-pangcu So-yok bersama congkoan Giok- lian sudah datang, mereka duduk menunggu di ka mar buku.

Giok- lan mondar- mandir tidak sabar, katanya kepada Sin-ih: "coba dilihat apakah Ling- kongcu sudah bangun?" So-yok menggoyang tangan, katanya tertawa: "Sam- moay, kenapa tabiatmu sekarang lebih gopoh daripadaku, kita sudah menunggu, lebih la ma sedikit tidak jadi soal Sin- ih, biarkan Ling- kongcu t idur lebih la ma, jangan ganggu dia."

Sin-ih mengiakan lalu berdiri meluruskan tangan

Sudah tentu Giok-lan tahu Hu-pangcu yang biasanya bertabiat kasar, angkuh dan tinggi hati serta suka aleman ini, ternyata sekarang begini sabar, rupanya dia telah jatuh hati pada Ling Kongcu

Dia cukup kenal Thay-siang, kalau Ling Kun-gi tidak berhasil me mbuat obat, jiwanya tentu amblas. Umpa ma betul dia berhasil me mbuat obat, Thay-siang juga takkan gampang me mber i kebebasan padanya untyuk meninggalkan Pek-hoa-pang. Maka sejak mula dia sudah berpikir, pemuda seperti Kun- gi, jalan paling baik adalah mela marnya menjadi Huma, kalau tidak nasibnya tentu akan menyedihkan.

Tentunya hal ini juga sudah terpikir oleh Toaci (Pekshoa-pangcu), ini dapat dilihat sikapnya waktu dia menya mbut dan me nja mu Ling Kun-gi. Pada hal dia baru merancang cara bagaimana untuk merangkap perjodohan ini, tahu2 sekarang dilihatnya Ji-ci (So-yok) juga kepincut pada Kun-gi, sudah tentu urusan bisa runyam. Dikala hatinya gundah itulah, didengarnya pintu ka mar Kun-gi berkeriut dan pelan2 terbuka.

Cepat Sin-ih berlari kesana, serunya: "Ling-s iangkong sudah bangun, sebentar hamba a mbilkan air buat Cuci muka "

Kun-gi mengge liat, katanya tertawa: "Hampir tengah hari, hari ini tiada kerja apa2, lebih baik tidur lebih la ma " Habis berkata dia putar ke mbali ke ka marnya.

Sin-ih sudah dipesan oleh Hu-pangcu agar jangan bilang mere ka berdua sudah menunggu di ka mar buku, ma ka dia tidak berani banyak mulut, dia me mbawa sebaskom air dan melayani Kun-gi me mbers ihkan badan- Lalu dia menyuguhkan sarapan pagi. Setelah ma kan Kun-gi mendo ngak me lihat cuaca, katanya: "Waktu hampir tiba, nona Sin-ih, siang nanti mula i meracik obat, pergilah kau panggil Hu-pangcu dan congkoan ke mari."

Sin-ih tertawa, katanya: "Hu-pangcu dan congkoan sudah sejak tadi menunggu di ka mar buku."

"Apa?" Kun-gi pura2 berjingkrak bangun dengan kaget, "Hu- pangcu dan congkoan sudah datang, kenapa kau tidak bilang?" Bergegas dia me langkah ke ka mar buku.

Terdengar tawa So-yok semerdu kelinting dan berkata: "Jangan Ling- kongcu salahkan Sin-ih, akulah yang suruh dia jangan mengganggu tidurmu."

Bayangan merah menyala tahu2 berdiri se ma mpai di depan pintu, bau harum seketika merangsang hidung pula, Hari ini So-yok mengenakan gaun panjang berke mbang sakura berwarna dasar merah mulus, buatannya sopan, tepat didepan dadanya bersulam sekuntum bunga me lur yang indah hingga mena mbah asri dandanannya, wajahnya nan ayu dihiasi senyum manis, ternyata hari ini dia bersolek lebih daripada biasanya.

Ber-ulang2 Kun-gi menjura, katanya: "Maaf Hu-pangcu, soalnya obat yang direndam barus menunggu waktu baru bisa dica mpur, karena kerja sampa i jauh ma lam dan mengingat pagi ini tiada pekerjaan, maka t idurku sa mpai kesiangan-"

Dengan berani So-yok mengawas i Ling Kun-gi muda belia, gagah dan tampan, "kulihat kau terlalu hati2 dan me mbatasi diri, selanjutnya tidak perlu kau bicara begini sungkan kepadaku."

Giok- lan berdiri di belakang, segera dia menimbrung: "Hu-pangcu seorang yang terbuka dan suka blak2an, harap Ling kongcu tidak usah sungkan-"

Setelah berada di kamar buku, mas ing2 mene mpati te mpat duduknya, So-yok lantas buka suara lebih dulu: "Mendapat laporanku, Thay-siang sangat senang, beliau bilang kalau percobaan berhasil aku disuruh segera me mbawa mu me me mui beliau." "Hari ini baru akan diadakan percobaan pertama, bagaimana hasilnya belum diketahui, kenapa buru2 dilaporkan, kalau gagal, bagaimana cayhe harus bertanggung jawab?"

"Kau pernah berhasil sekali, aku yakin Kongcu pasti akan berhasil pula, kalau pertama gagal boleh diulangi sa mpa i berhasil, kepada Thay-siang akan kubantu me mber i penjelasan."

"Terima kasih Hu-pangcu" Kun-gi menjura pula.

"Kapan Ling- kongcu akan mulai?" tanya Giok- lan, "apa yang harus dipersiapkan?"

"Tiada yang perlu dipersiapkan, waktunya sudah tiba, cukup asal menuang getah beracun didalam ma ngkuk saja."

"Biar ha mba yang menuangnya," kata Sin-ih.

"Jangan nona, getah itu amat beracun, biar aku sendiri yang turun tangan-" Kata Kun-gi, "sekarang kau kumpulkan seluruh wadah yang tersedia disini dan dijajar di atas meja."

"He, di almar i ada seratus wadah porselen, apa semua harus dikeluarkan?" tanya Sin-ih.

"Se mbilan guci, kalau satu sa ma lain se muanya begiliran harus dica mpur, seluruhnya berjumlah 9x9 - 81, cukup kau keluarkan 81 saja."

Sin-ih mengia kan, segera dia bekerja. Sementara Kun-gi keluarkan buli2 berisi getah beracun, So-yok dan Giok-lan tidak bersuara, mereka ikut mondar- mandir mengikuti Kun-gi. Sementara itu, sesuai pesan Kun-gi, Sin-ih sudah keluarkan wadah dan dibaris di atas meja.

Kun-gi me mbuka tutup buli2, dengan hati2 ia pegang buli2 serta menuang ke dalam se mbilan wadah, masing2 diisi setngah getah beracun, lalu dia taruh buli2, menga mbil sendok perak mengaduk guci obat yang pertama, lalu mengedus baunya, mulutnya berguma m: "Ya,sudah boleh" Dia taruh sendok ganti menya mbar cangkir kecil, dari dalam guci dia menyendok sedikit air obat terus dicicipi dengan mulut seperti me mbedakan kadar obatnya. So-yok, Giok- lan dan Sin- ih me nyaksikan dengan diam saja dan terbeliak.

Lalu Kun-gi berpaling, katanya "Sembilan guci obat ini adalah hasil yang kucapai waktu berada di coat- sin-san-ceng untuk me munahkan getah beracun, cuma waktu itu aku belum punya keyakinan,jadi sudah lupa obat2 apa saja yang kuracik dan akhirnya berhasil menawarkan getah beracun? Kalau mala m itu nona Giok-je tidak menyelundupkan diriku keluar, satu dua kali percobaan lagi mungkin obat penawarnya sudah kuperoleh. Jadi tidak perlu mengulang lagi seperti sekarang."

So-yok manggut2, ujarnya: "Memang, kenapa Giok-je terburu nafsu waktu itu."

"Ini tak bisa salahkan Giok-je," sela Giok-lan, "mala m itu juga coat-sin-san-ceng dige mpur bobol oleh gabungan kekuatan para Hwesio dan orang2 keluarga Tong, kalau tidak, mana kita bisa mengundang Ling kongcu ke mar i?"

Sementara Ling Kun-gi sedang menggunakan sendok yang terbuat dari Giok untuk menga mbil air obat, lalu pelan2 dituang ke dalam wadah yang berisi getah beracun. Getah beracun itu kental gelap. setelah dituangi sesendok   air   obat,   sedikitpun   tidak me mper lihatkan sesuatu perubahan.

Serta merta So-yok dan Giok-lan angkat kepala, me mandang Ling Kun-gi. Tapi yang dipandang tetap tak acuh, seperti apa yang dikatakannya, untuk mene mukan obat penawar getah yang tulen paling tidak dia harus mengadakan delapan puluh satu kali percobaan. Kini baru yang pertama, sudah tentu belum berarti gagal.

Dengan sendok perak yang lain Kun-gi kembali mengaduk guci obat kedua seperti cara se mual, percobaan kedua inipun tidak berhasil. Sudah tentu semua ini me mang disengaja diatur oleh Kun- gi.

Sebetulnya dalam hati dia sudah punya perhitungan matang, cuma sengaja dia hendak menggunakan beberapa guci obat itu untuk mencoba supaya permainan sandiwaranya kelihatan sungguh2.

Getah beracun dalam buli2 berturut telah dia tuang kedalam beberapa wadah pula, semua dia masih gunakan cangkir kecil untuk menciduk air obat, belakangan karena tak sabar dia angkat gucinya terus dituang kesana ke mari, beruntun puluhan kali telah dia lakukan, betapapun cerdik otak So-yok dan Giok-lan juga sukar pula untuk   mengingatnya campuran obat2 dari guci yang   mana? Me mangnya inilah tujuan Kun-gi supaya mereka kebingungan sendiri.

Setengah jam telah berselang, getah beracun yang digunakan percobaan sudah 36 wadah, kini Kun-gi ke mbali me megangi buli2, sedang mengadakan percobaan ulang yang kelima kalinya, dia isi sembilan wadah dengan getah kental hitam itu. Lalu dengan cangkir kecil dia menciduk sedikit air obat, setelah diaduk dengan sendok lalu pelan2 dituang ke dalam getah beracun pada wadah ke 37. Kali ini dia sudah perhitungkan air obat pada guci inilah yang pernah dia rendam mutiara.

Jika khasiat mutiara untuk menawarkan getah beracun masih bekerja, maka percobaan kali ini pasti berhasil. cuma satu hal yang me mbuatnya kuatir, yakni apakah air bekas renda man mut iara ini setelah bercampur dengan racikan obat2an itu masih berkhasiat seperti semula.

Dengan tegang dan seksama So-yok, Giok-lan dan Sin-ih mengawasi setiap tetes aitr obat itu masuk kedalam wadah, napas tertahan jantungpun ikut berdebar keras. Tetes pertama air obat tetap tidak membawa perubahan- Kini tetes kedua telah jatuh. Jidat Kun-gi sendiri juga telah dibasahi keringat. Ketika tetes ketiga jatuh, terlihat seperti setetes air kece mplung diper mukaan cat ber minyak. tetes air obat ketiga seketika menjadi bening dan bergerak2 kian ke mari diper mukaan getah kental itu.

"Nah, kali ini takkan salah lagi," seru So-yok terbelalak tegang. "Se moga de mikian," ujar Kun-gi, tetes ke empat dia jatuhkan pula kedalam wadah, perubahan kini semakin nyata dan kerja perpaduan obat dengan getahpun cepat sekali, getah kental hitam itu kini sudah mulai cair dan berubah warnanya, dengan cepat berubah menjadi air bening.

So-yok bersorak girang sa mbil berkeplok: "Ling-kongcu, kau berhasil."

Kun-gi menengadah sa mbil tertawa, katanya: ”Akhirnya cayhe mene mukan obat penawarnya".