-->

Pendekar Kidal Jilid 07

Jilid 07

Lekas In Thian-lo k mengiakan, tanpa bicara dia putar tubuh me mbuka jalan. Cepat sekali langkah kedua orang, sekejap saja mereka sudah berada di ka mar buku. Waktu Ji-ping angkat kepala, dilihatnya jendela sudah tertutup semuanya, agaknya In Thian-lo k me mbawa Cin cu- ling hendak me mberi laporan kepada Cu-hujin di belakang. Cara kerja yang dia lakukan sede mikian rapi, kalau kejadian ini tersiar di kalangan Kangouw, tentu ceritanya adalah pintu jendela tak terbuka dan pa mannya lenyap tanpa bekas.

Dari kejadian ini dapatlah di simpulkan bahwa lenyapnya kepala keluarga Tong dan Un pasti dilakukan secara berkomplot oleh orang2 dalam keluarga masing2, demikian pula mata2 sudah menyelundup ke Siau- lim-s i.

Dikala dia meng-a mat2i keadaan, In Thian- lok maju setapak dan katanya lirih: "Ada urusan apa nona, sekarang boleh kau katakan ?"

Kuatir orang mengenali suaranya, maka Ji-ping tahan suaranya: "Tadi aku lupa me mberitahu kepada In congkoan, pa     " ha mpir

saja dan menyebut "pa man", ia pura2 merande k. lalu ber- kata pula sambil me nghela napas: "Yaitu . . . . " dalam gugupnya timbul akalnya, suaranya tetap lirih: "Di ka mar buku cengcu ada sebuah

kamar rahasia, Lok-hun-san tersimpan di ka mar rahasia itu." "Ka mar rahasia?" seru In Thian-lo k me longo.

"Kenapa cayhe tidak tahu?" bersinar biji mata In Thian- lok. tanyanya cepat: "Nona tahu di mana letak ka mar rahasia itu?"

"Aku hanya pernah melihat sekali, yaitu . . . ." sembari berkata dia pura2 mengingat2 sa mbil mengitari rak buku seperti mencar i apa2, lain menyambung: "Agaknya di sini." Dengan badan terbungkuk dia meraba dan menekan rak buku, dalam hati dia menduga2: "Entah pa man sudah ke mbali ke ka mar belum?"

Lekas In Thian- lok mendekatinya dan berdiri di belakang Kwi- hoa samaran Pui Ji-ping, kata-nya lirih: "Sudah puluhan tahun aku ikut Cu-cengcu, nona baru tiga tahun, tapi sudah berhasil sedemikian rupa "

Ji-ping hanya mendengus. Pada saat itulah, terdengar suara getaran lemah, dua rak buku di depannya mendadak terpisah ke sisi samping dan muncul sebuah pintu. Dengan pura2 girang .Ji-ping berseru: "He, kute mukan sekarang"

Mendadak didengarnya suara sang paman dengan ilmu Thoan-im jip-bit (mengirim gelo mbang suara ) mengiang dipinggir kuping: "J i- ping, suruh In Thian-lo k berjalan di depan- Ingat, sedikitnya kau harus lima kaki di belakangnya, jangan terlalu dekat"

Sementara itu, In Thian-lok sudah menga mbil lentera di atas meja dan mengha mpiri mulut pintu la lu berhenti, dengan seksama dia pasang kuping dan lepas pandang ke dala m, tapi ka mar rahasia itu gelap gulita, tiada sesuatu yang dapat dilihatnya. Agaknya dia juga tahu bahwa Cu-cengcu sangat lihay, ma lah seorang ahli pencipta alat2 perangkap. maka ia tidak berani sembarangan masuk.

Melihat orang ragu2 dan jeri,Ji-ping lantas mengejek dingin: "In- congkoan, waktu kita terlalu mendesak."

In Thian- lok menyengir, katanya: "Ya, ya, biar cayhe masuk me lihatnya." dalam keadaan begitu, terpaksa dia keraskan kepala dan melangkah masuk dengan hati kebat kebit.

Ji-ping tertinggal lima kaki lebih dibelakangnya, pelan2 iapun masuk dan pintu di belakang mereka lantas menutup, Betapapun In Thian-lo k sudah puluhan tahun menjadi pe mbantu Cu Bun-hoa, sedikit banyak dia juga tahu tentang segala peralatan rahasia, walau pintu di belakang mereka menutup tanpa menge luarkan suara, tapi nalarnya ternyata sangat tajam, reaksinyapun cepat, sigap sekali dia me mba lik tubuh, pintu dari mana tadi mereka masuk kini sudah menjadi sebuah dinding tebal, entah ke mana letak pintu tadi? Keruan wajahnya yang kelam itu menjadi se makin gelap. tangan yang pegang lenterapun gemetar, tanyanya kepada Ji-ping "Nona yang menutupnya?"

"Tidak." seru Ji-ping pura2 kaget dan gelisah, "aku mengintil di belakangmu, sedikitpun tanganku tak bergerak."

In Thian- lok terbeliak, katanya: "Tak mungkin, setelah pintu ini terbuka, tak mungkin me nutup sendiri, kecuali di dalam ka mar ini ada orang yang menguasai alat rahasianya."

"Orang ini ternyata licik dan licin," demikian batin Ji-ping, tapi dia tetap pura2 ketakutan, katanya: "Memangnya ada siapa pula di dalam ka mar ini?"

Serius wajah In Thian-lo k. kedua matanya jelilatan mengawasi sekelilingnya, akhirnya ia berhenti di arah dipan yang terukir indah itu, bentaknya kereng: "Siapa kau? Lekas bangun"- Di bawah penerangan lentera yang dia angkat tinggi tampak di atas dipan rebah celentang kaki seorang, badannya ditutupi kemul tipis sa mpa i kepalanya sehingga tak diketahui siapa dia?

Me mangnya ka mar ini gelap. tahu2 melihat sesosok tubuh rebah kaku berkerudung rapat begitu, sungguh a mat mena kutkan- Kalau Ji-ping tidak menduga bahwa yang rebah itu pasti paman-nya, tentu ia sudah menjer it kaget.

Orang yang rebah itu diam saja tidak bergeming meski sudah dihardik berulang kali oleh In Thian-lo k. Keruan In Thian-lo k semakin mur ka, katanya geram: "Tuan tidak mau bangun, terpaksa orang she In tidak sungkan2 lagi." tapi orang itu tetap tidak bergerak.

Mata In Thian-lo k mencorong terang laksana obor ditengah keremangan, kelima jari tangan kiri mene kuk laksana cakar me lintang di depan dada, mendadak dia melo mpat maju terus menarik ke mul yang menutupi tubuh orang. Seketika pandangnya yang garang buas terbeliak kaget, tubuhpun tergetar hebat. Pui Ji-ping yang berada dibelakangnya dapat melihat jelas, orang yang rebah di atas dipan ternyata seorang perempuan, rambut panjang awut2an, wajah yang semula putih halus kini sudah berubah hijau mengkilap. matanya mendelik besar ha mpir mencotot keluar. 

Warna hijau sebetulnya warna yang kalem indah, warna yang tidak menakutkan- Tapi kulit muka manus ia dan biji matanya mana ada yang berwarna hijau? Muka hijau yang dilihatnya ini sungguh menyerupai warna setan yang menggir iskan- Perempuan yang rebah itu ternyata adalah Kwi-hoa. Sekali pandang sudah dapat diketahui bahwa dia sudah mati. Mati keracunan-

Belum pernah Ji-ping menyaksikan pe mandangan yang seram ini, kedua kaki seketika menjadi le mas, badan ge metar.

Betapa cerdik In Thian- lok. melihat mayat yang mati keracunan itu adalah Kwi-hoa, segera ia menyadari ganjilnya keadaan ini, mendadak dia putar badan menatap Ji-ping, hardiknya bengis. "Siapa kau?"

Jarak Ji-ping hanya beberapa kaki di belakang, jadi pamannya sudah me mperingatkan supaya dia berdiri saja tanpa bergerak di tempatnya, segera dia me mbusungkan dada, dengusnya, "coba katakan, siapa aku?"

In Thian- lok tidak berani pandang sepele padanya, karena dia tahu racun yang menyebabkan kematian Kwi- hoa adalah Lok-hu- san, racun milik Liong-bun-san yang paling ganas. Bahwa dirinya dipancing masuk ke ka mar rahasia ini, tentu orang sudah punya cara lihay untuk menundukkan dirinya. Maka iapun tidak berani mendesak terlalu dekat, tetap berdiri beringas ditempatnya, pelan2 dia menarik napas lalu berkata: "Kau bukan Kwi-hoa"

Belum Ji-ping me njawab mendadak sebuah suara dingin menanggapi: "Dia me mang bukan Kwi- hoa."

Sejak masuk tadi In Thian- lok sudah yakin kecuali orang yang rebah di pe mbaringan, ka mar ini t iada orang kee mpat. Kini sudah jelas bahwa yang rebah dan mati adalah Kwi hoa, ini berarti tiada orang ketiga yang masih hidup, tapi orang yang menanggapi kata2nya ini jelas berada di dalam kamar juga, malah sela ma puluhan tahun dia sudah sering dan apal mendengar suara orang ini, tanpa meno leh iapun tahu siapa yang berbicara itu. Dalam sekejap itu, laksana disamber geledek kepala In Thian-lo k, darah tersirap. dengan gugup dia berpaling ke arah datangnya suara.

Betul juga, di sa mping almar i sebelah kiri sana, entah kapan tahu2 sudah muncul satu orang. Dia berdiri menggendong kedua tangan, wajahnya mengulum senyum, na mun kedua biji matanya ke milau dingin, tidak kelihatan gusar, tapi wibawanya cukup menggetar nyali In Thian-lo k yang ditatapnya. Siapa lagi dia kalau bukan cia m-liong Cu Bun-hoa adanya.

Pelan2 Cu Bun-hoa berkata: "In Thian-lok. apa pula yang ingin kau katakan?"

Pucat pias seperti kapur wajah In Thian-lo k, keringat dingin gemerobyos, sahutnya me mbungkuk. "A mpun cengcu "

Sebelah tangan mengelus jenggot, tangan yang lain tetap dibelakang punggung, dingin suara Cu Bun-hoa: "coba terangkan, siapa yang jadi biang keladi komplotanmu ini?"

"Harap cengcu maklum, karena ceroboh...", sembari bicara matanya melir ik kearah Ji-ping, la lu menerus kan: "Kwi-hoa lah yang menjadi biang keladinya, siapa sebetulnya orang yang berdiri di belakang layar peristiwa ini ha mba juga t idak tahu."

"Kau sudah tahu bahwa anak Ping yang menyamar Kwi hoa, masih berani kau mungkir menumple kkan dosa kepadanya," damprat Cu Bun-hoa, In Thian-lok me mang licik dan banyak mus lihatnya, jelas dia saksikan sendiri Kwi-hoa sudah mati dan rebah di atas ranjang, jawaban itu me mang disengaja untuk mengorek keterangan Cu Bun-hoa siapa sebetulnya orang yang menyaru jadi Kwi-hoa ini? Se mula dia mengira puteri cengcu Cu Ya- khim, sungguh tak diduganya bahwa Pui Ji ping yang menya mar.

Sudah tentu Ji ping juga berguna baginya, karena dia adalah keponakan Cu-cengcu, asal dirinya berhasil me mbe kuk nona itu sebagai sandera, dirinya tetap akan bisa lolos dengan selamat. Maka tanpa terasa ia melirik pula ke arah Pui Ji-ping setelah mendengar keterangan Cu Bun-hoa.

Lirikan ini dia m2 me mperhitungkan jarak kedua pihak. jarak Ji- ping kira2 ada beberapa kaki, sementara cengcu ada di samping almari sebelah kiri sana, jaraknya dengan dirinya ada setombak lebih. Inilah kesempatan baik dan harus mene mpuh bahaya. Ia cukup kenal perangai sang cengcu, jelas jiwanya takkan diampuni. Dia m2 ia berpikir cara bagaimana harus menge labui sang cengcu untuk secara mendadak menyergap Pui Ji-ping. Maka dengan pura2 gelisah dan jeri, berulang kali dia menjura, katanya: "Sukalah cengcu dangarkan penjelasaan .... " mendadak tubuhnya berputar dan melo mpat kesana menerka m Pui J i-ping.

Sergapan ini dilakukan secara mendadak, gerak geriknya cepat dan gesit lagi, jelas Cu Bun-hoa tidak se mpat meno long, sementara Ji-ping sendiri juga tak menduga bahwa orang bakal menerka m dirinya.

Tahu2 orang sudah menubr uk tiba, keruan kaget Ji-ping tidak kepalang, secara refleks dia menjerit seraya mundur selangkah, sementara itu tangan kanan In Thian-lo k sudah berada di atas batok kepalanya.

Pada detik2 gawat itulah mendadak didengarnya Cu Bun-hoa bergelak tertawa, serunya:

"Anak Ping jangan takut"

Belum lenyap suaranya, terdengar dua kali "trang-trang" beradunya barang besi. Lekas Ji-ping tenangkan diri, waktu dia angkat kepala, tampak In Thian-lo k yang menubruk ke arah dirinya itu berdiri tanpa menggunakan kaki, kedua tangannya terbelenggu oleh dua gelang besi yang tiba2 turun dari langit2 rumah sehingga tubuhnya terangkat sedikit, demikian pula kedua kakinya terbelenggu juga oleh dua gelang besi yang timbul dari bawah lantai, baru sekarang dia sadar kenapa pa mannya berseru supaya dirinya tenang dan tak perlu takut. Karena kaki tangan terbelenggu dan tak mungkin berkutik lagi In Thian-lo k. katanya sambil menghela napas panjang, "Hamba tahu diri tidak sepandai cengcu, pantas segala gerak gerikku selalu di bawah pengawasan cengcu."

Cu Bun-hoa tertawa, katanya: "Kau mengorek keteranganku, dia m2 berniat menyergap anak Ping, kalau maksud jahatmu ini tak bisa kuraba, memangnya Liong- bin-san-ceng bisa berdiri di kalangan Kangouw." Setelah menghela napas, ia menambahkan: "Tapi kalau ma lam ini anak Ping tidak keburu pulang me mber i kabar, aku toh tetap akan terjebak olehmu."

Terpancar sorot mata aneh dari mata In Thian-lok. tanyanya sambil mengawasi Ji-ping: "cara bagaimana Piau-slocia bisa mengetahui?"

Pui Ji-ping tertawa dingin dengan bangga, katanya: "Kalau ingin orang lain tidak tahu, kecuali awak sendiri tak berbuat. Waktu aku me lihat kelima blok kain katun yang termuat di depan toko Tek- hong, lantas aku tahu kau adanya."

Berubah air muka In Thian- lok. dia menunduk dan tidak bersuara lagi.

"In Thian-lo k," kata Cu Bun-hoa, "sudah puluhan tahun kau menjadi pe mbantuku, biasanya kau kerja keras dan setia terhadap junjungan, tak pernah melakukan kesalahan pula, bagaimana kau sampai hati timbul niat jahatmu, kalau dipikir sungguh a mat mengecewakan- "

In Thian-lo k tetap menunduk tak bersuara.

Berubah kelam air muka Cu Bun-hoa, katanya sambil menggerung gusar: "orang lain mungkin t idak tahu, tapi kau sudah puluhan tahun mengikutiku, tentunya sudah jelas tindakan apa yang harus kulakukan sekarang."

Pucat muka In Thian-lo k, katanya. "Selama puluhan tahun me mbantu cengcu, ha mba banyak menerima kebaikan cengcu, bukannya hamba berusaha me mbalas kebaikan ini, tapi ma lah me mbantu dan diperalat orang, memang me ma lukan hidupku ini, sekali terpeleset akan menyesal selamanya, biarlah hamba menebus dosa ini dengan ke matian-"

"Mengingat kesetiaanmu sela ma ini, asal kau mau bertobat, Lohu akan me mberi kese mpatan pada mu untuk menebus dosa ini."

Sedih tawa In Thian-lok, katanya: "Sudah terlambat, kalau cengcu katakan hal ini sejak tadi mungkin masih keburu, sekarang sudah terlambat."

Cu Bun-hoa menatap tajam muka In Thian-lo k, tanyanya: "Katakan, kenapa terla mbat?"

"Ha mba sudah menelan racun," sahut In Thian-lok.

Guram air muka Cu Bun-hoa, katanya: "Bahwa kau sudi diperalat orang lain, kenapa tidak mau me mbantuku ma lah?"

"Ya, hamba akan mene mbus kesalahan ini dengan ke matian- "

Mendadak Cu Bun- hoa tanya dengan suara bengis: "Siapa pula mata2 yang berada diperka mpungan kita ini?"

Megap2 mulut In Thian-lo k, matanya melotot, tapi suaranya tidak keluar.

Cu Bun-hoa menatap tajam, dari gerakan bibir dan lebarnya mulut, agaknya In Thian- lok hendak mengatakan "delapan", cepat dia tanya: "Se mua kau yang me mbawanya ke mari?"

Entah dengar atau tidak pertanyaan ini, kepala In Thian- lok seperti mengangguk sedikit, tapi lantas lertunduk lemas tak bergerak lagi.

"Paman, dia sudah mat i?" tanya Pui Ji-ping.

Pelahan Cu Bun-hoa mengha mpir i, ia raba dada In Thian- lok, katanya manggut: "Ya, sudah mati"

Tiba2 kakinya menggentak lantai, terdengariah suara "cret-cret", gelang yang me mbelenggu kaki tangan In Thian-lo k tiba2 lepas, maka tubuh In Thian-lok yang mulai dingin segera jatuh gedebukan di lantai.

Tanpa bicara lagi Cu Bun-hoa me langkah ke sana, dari dalam bajunya dia keluarkan sebuah botol kecil warna hijau, dia cukil sedikit obat bubuk dengan kuku jarinya terus ditaburkan ke muka In Thian-lo k, tepat ke mulut dan hidungnya.

"Paman," tanya Pui Ji-ping, "Budak Kwi- hoa itu juga mati menelan racun?"

"Dia mengaku bukan komplotan Cin-Cu-ling, maka secara sukarela dia menutur kan kejadian sesungguhnya, katanya dia dibeli seorang laki bernama Hoa Thi-jiu, lalu diselundupkan ke mari, tugasnya mengirim kabar keluar, dia minta aku menga mpuni jiwanya, sudah tentu dia takkan menelan racun."

"Jadi pa man yang me mbunuhnya?" tanya Ji-ping.

"Ya, kulihat dia pernah me mperoleh ge mblengan yang meyakinkan- seorang agen yang lihay, sudah tentu takkan kulepaskan dia .... Sekarang lekas kau ikut keluar, kita harus segera menya mar untuk me mbuntuti jejak mereka."

Pui Ji-ping berjingkrak senang, tanyanya: "Maksud paman hendak mengejar jejak Ling toako?"

"Ya, Kwi-hoa dan In Thian-lok tidak mau menerangkan siapa biang keladi dari ko mplotan Cin-Cu-ling ini dan dimana sarangnya? Terpaksa kita kuntit saja jejak Ling-lote secara diam2, setiba di tempat tujuan, kita bisa me mber i bantuan kepada-nya."

"Tapi mere ka sudah pergi sejam yang lalu, ke mana kita harus mengejarnya?"

"Paman sudah suruh orang mengejar me mbawa anjing secara dia m2, sepanjang jalan ini mere ka pasti meningga lkan tanda pengenal, kenapa takut tak mene mukannya? Sekarang kau ber- siap2, aku akan bereskan mata2 yang lain, segera kita akan berangkat." "Bagaimana dengan kedua mayat ini, paman?" tanya Ji-ping. Waktu dia bepaling, seketika dia berseru kaget dan heran, hanya sekejap saja mayat Kwi-hoa dan In Thian-lo k ternyata sudah lenyap. cairan air darah tampa k menggenang lantai.

Cu Bun-hoa berpesan- "Anak Ping, ada satu hal yang harus kau perhatikan, jangan kau usik Piaucimu, si budak Ya- khim itu juga liar seperti kau, kalau dia tahu, tentu dia ma u ikut."

Ji-ping mengangguk, katanya: "Pa man jangan kuatir, aku tidak akan mengajaknya."

00oodwoo00

Fajar telah menyings ing, baru saja Kun-gi turun dari ranjang, Ing-jun, si pelayan montok ini sudah masuk me mbawa basko m, katanya tertawa sambil menger ling: "Cu-cengcu, silakan cuci muka" Sebagai tempat penginapan para tamu agung, sudah tentu semua perabot dan peralatan yang digunakan serba baru.

Inilah hari per mulaan Kun-gi datang dengan maksud tertentu, maka sikapnya tak acuh dan dia m2 melihat gelagat saja.

Menunggu Kun-gi selesai cuci muka, segera Ing-jun bertanya: "Pagi ini cu-cengeu ingin sarapan apa? Ha mba akan segera menyiapkan."

Kun-gi mendapat angin, katanya "Di tempat ini apapun yang kuinginkan pasti akan disediakan?"

"De mi menyesuaikan selera para tamu yang ada di sini, sengaja cengcu mengundang koki kena maan, apapun yang diinginkan para tamu pasti bisa disediakan," sahut Ing-jun.

Tergerak hati Kun-gi, sambil menge lus jenggot, dia bertanya: "Dari apa yang barusan nona katakan, jadi tamu2 yang diundang cengcu kalian bukan hanya Lohu seorang?"

"Ha mba juga kurang jelas," sahut Ing-jun tertawa sambil menutup mulut dengan lengan baju, "beberapa kamar di sekitar sini me mang diperuntukkan tempat tinggal para tamu." Lalu dengan gerakan menantang dia bertanya pula: "cengcu pesan hidangan apa, hamba segera menyediakan."

"Licin juga budak ini," demikian batin Kuni-gi, dengan tertawa dia lantas berkata: "Kalau pagi Lohu suka ma kan bubur."

Cemerlang biji mata Ing-jun, katanya tertawa, "Bubur selalu tersedia, hamba akan siapkan pula beberapa lauk-pauk yang lain-" Lalu dia putar tubuh hendak pergi.

"Tunggu dulu nona," seru Kun gi.

"Ha mba Ing-jun, harap Cu-cengcu panggil nama hamba saja, kalau cengcu dengar hamba di-panggil nona, tentu hamba akan di caci ma ki," tanpa menunggu Kun-gi bicara lagi, segera ia bertanya pula: "Cu-cengcu masih ada pesan apa?"

"Setiap bangun tidur, Lohu punya kebiasaan jalan2 di kebun, apa aku boleh keluar?"

"Te mpat kita ini dikelilingi air, di luar air terkurung gunung lagi, dalam kebun ada tanaman yang terus berke mbang sela ma e mpat mus im, panorama sangat permai, sebagai tamu undangan, sudah tentu Cu-cengcu boleh pergi ke mana saja, nanti kalau Cu-cengcu ke mbali ke ka mar, hidangan-pun sudah kuantar ke mar i."

Kemanapun boleh pergi, me mangnya mereka tidak takut tamu agung yang diundang secara paksa ini me larikan diri? Kun-gi lantas berkata: "Baik, Lohu akan jalan di luar."

Ing-jun menyingkap kerai, Kun-gi lantas melangkah keluar kamar, kini dia berada di sebuab ruang tamu yang luas dan serba mewah, pekarangan mungil di luar sana, berderet dan puluhan pot ke mbang berbagai jenis sedang me kar se merbak, harum me mabukkan-.

Ing-jun mendahului me mbuka pintu besar yang bercat merah, sembari melangkah keluar dia berkata: "Cu-cengcu baru datang, keadaan di sini masih asing perlukah ha mba me mberi sekedar penjelasan?" Lalu dia tuding ke tempat jauh, katanya: "Kebun ini luasnya ada beberapa hektar, air mengelilingi te mpat ini di bagian timur, selatan dan barat, sebelah utara adalah puncak gunung yang terjal dan mencakar langit, tepat di sebelah selatan, di mana bangunan gedung2 bertingkat itu adalah letak dari Coat Sin-san- ceng, cengcu kita bertempat tinggal di sana. "

"Dari Coat Sin-san-ceng kearah timur adalah Hiat-ko-cay. Menuju ke utara tiba di Kwi-ping- kip. di mana ada lima bilangan, tempat kita ini adalah bilangan ketiga yang bernama Lan-wan- Dari sini ke barat, itulah Thian-oe-tong, menuju ke selatan akan tiba di A m- hung- ih, maju lagi adalah Goa-kia m-khe k dan Hiat-ko-cay yang terletak secara berhadapan, tepat di tengah2 ada sebuah gunungan palsu besar dengan puncak Kok-hun-ting, dari sini dapat melihat pemandangan di sekitarnya, begitulah kira2 keadaan di sini."

Kun-gi manggut2 ber-ulang2, katanya tersenyum: "Terima kasih atas petunjuk nona," Lalu dia menyusuri jalanan kecil bertabur batu2 putih. Ta man bunga ini ternyata amat luas, di mana2 pepohonan tumbuh subur dan lebat, teratur dan terawat baik, bau bunga semerbak, burung berkicau, suasana pagi hari ini sungguh cerah dan segar.

Berjalan ditengah taman nan indah perma i ini, orang akan lupa segala2nya, me mang siapa akan percaya bahwa di tengah2 taman ini merupakan sumber kekacauan di kalangan Kangouw dan menjadi pusat ko mplotan Cin-Cu-ling.

Sedikit banyak Kun-gi sudah mendapat gambaran dari keterangan Ing jun mengenai seluk-beluk taman ini, pikirnya: "Aku baru datang, lebih baik kupanjat gunung buatan menuju ke Kek- hun-ting, ingin kulihat denah dari keseluruhan ta man ini."

Langsung dia menyusuri ja lanan kecil di tengah2 itu. Tak la ma ke mudian, betul tiba di depan gunung buatan itu.

Gunung buatan ini dibangun dari tumpukan batu2 yang diuruk tanah, tak ubahnya seperti bukit2 umumnya, di atas gunung buatan inipun tumbuh pepohonan, na mun yang terindah adalah pohon2 bambu kuning, berbagai jenis kembang juga tumbuh se merbak. jauh lebih teratur dan terawat, undakan dan jalan liku2 menanja k tinggi ke atas, untuk membangun gunung buatan yang beberapa puluh to mbak tingginya ini terang menghabiskan biaya dan pikiran yang tidak sedikit. Tepat di puncak bukit terdapat sebuah gardu, itulah Kek-hun-t ing, "gardu sekuntum mega ".

Dengan berlenggang Kun-gi telah menuju ke atas, lain dengan gardu umumnya yang berbentuk petak. gardu di sini dipagari kayu2 merah setinggi pinggang yang berbelak-belok. pajangannya cukup megah, ke arah manapun me nghadap. seluruh pe mandangan ta man ini dapat terlihat jelas.

Begitu Kun-gi melepas pandangannya,   seketika   ia   berdiri me longo. Sema lam waktu turun kereta, walau kedua matanya ditutup kain, tapi ketika dia diturunkan oleh Hou Thi-jiu, pernah dia mengintip sebentar, kereta benar2 berhenti di depan sebuah pintu gerbang perkampungan- Tapi te mpat sekarang dirinya berada justeru di bangun di tengah pegunungan- Dia ingat le laki baju abu2 menggendongnya turun kereta, lalu me mbe lok ke kiri masuk pintu seperti me lewati beberapa pekarangan dan rumah baru sa mpa i di taman belakang. Dari pintu taman yang bersuara berat itu terang terbuat dari besi tebal, lalu Hou Thi jiu sendiri yang menjinjing diri- nya menyelusuri lorong berbatu ke Kwi-pin koan. Meski tidak me lihat dengan mata terpentang, namun se mua itu diingatnya betul2.

Menurut rekaannya, letak dari ta man belakang ini pasti berada paling belakang dari perka mpungan- Karena orang2 yang di "undang" ke mari sudah di bius, malah di dalam obat bius dica mpur obat yang dapat membuat seseorang kehilangan tenaga, betapapun tinggi ilmu silat seseorang, setelah minum obat itu, kekuatannya paling tersisa tiga bagian saja dari keadaan biasanya.

Untuk lari me lo mpat pagar tembo k yang a mat tinggi terang mustahil, apalagi penjagaan dari jago2 berkepandaian tinggi tentu juga sangat ketat, yang terang setiap gerak-gerik dirinya tentu diawasi secara diam2. Tapi kenyataan yang dilihat dan dihadapi Kun-gi sekarang justeru berlainan. Apa yang dijelaskan oleh Ing-jun si pelayan tadi me mang tidak salah, taman bunga ini di kelilingi air, hanya bagian utara berdiri puncak gunung tinggi mencakar langit yang curam dan terjal. Jadi perka mpungan besar sebetul-nya terletak di bagian selatan, tapi yang dia lihat sekarang hanyalah Coat Sin-san-ceng, di selatan Coat Sin-san-ceng adalah sungai yang lebarnya puluhan tombak pepohonan Yang-liu tampa k me la mbai2 di seberang sana, mana ada perkampungan besar lain?

Jelas semalam kereta berhenti di depan perkampungan dan dirinya digusur turun, kalau letaknya terpaut sebuah sungai, cara bagaimana kereta bisa sampai di sini? jelas dirinya melihat bangunan tembo k yang tinggi, pintu gerbang perka mpungan begitu angker, lalu ke mana pula sekarang perka mpungan besar itu?

Sejak dirinya masuk ke mari sa mpa i sekarang, keadaan dirinya tetap segar bugar, terang tak mungkin dipindah ke te mpat lain- Begitulah Kun-gi berdiri menjublek di te mpatnya.

Waktu dia berpaling ke utara, puncak mencakar langit yang terjal itu seperti sudah amat dikenalnya, itulah puncak gunung tinggi yang semala m dilihat berada di belakang perka mpungan itu. Dan di sini letak keanehannya, perkampungan besar itu lenyap. namun puncak tinggi ini tetap bercokol di te mpatnya. Ini me mbuktikan bahwa apa yang dilihatnya semala m tentu tidak salah. Hati se makin heran dan bingung, terasa pula bahwa urusan rada ganjil.

Coat Sin-san-ceng (perkampungan yang lepas dari kera maian dan kotoran duniawi), na ma ini me mang tepat dan tidak berkelebihan, karena tiga bagian sekelilingnya dilingkari per mukaan air yang luas, me mang merupa kan tempat yang terasing dan terpencil dari luar.

Tujuan Kun-gi hanya ingin me lihat dan me meriksa keadaan sekeliling, kini keadaan sudah dilihatnya dengan jelas, maka me lalui jalan datangnya tadi dia me nuju ke Lan- wan- Masih ada suatu hal yang membuatnya heran, di tempat ini tiada seorangpun yang dijumpa inya, se-akan2 pemilik tempat ini tidak merasa kuatir, sehingga tidak perlu mengutus orang mengawas i dirinya secara dia m2.

Hal ini ma lah mena mbah rasa curiga Ling Kun-gi, dengan susah payah, menggunakan berbagai daya upaya mengundang para tamu agung ini ke mari, apakah ma ksud tujuannya?

oo 0dwoo

Lan-wan, sesuai dengan na manya, yang ada di tengah2 lingkungan ta man ini seluruhnya adalah bunga anggrek melulu, ratusan pot2 bunga tersebar dan diatur begitu rapi, terbagi menjadi kelo mpo k dari berbagai jenis2 yang berlinan, di bawah pot bunga ditaruh tatakan berisi air bening untuk me ncegah se mut menggerogoti akarnya.

Tatkala itu Kun-gi berada di antara deretan rak bunga, sambil menggendong tangan, dengan seksama dia me lihat2 bunga. Sifatnya bebas dan rileks, se-olah2 dialah tuan rumah dari se mua yang ada di ta man ini.

Waktu itu hari sudah menje lang lohor, tampak seorang pelayan baju hijau sedang mendatangi dari jalanan kecil berbatu krikil sana. Dari gerak langkahnya yang enteng, sekali pandang orang akan tahu bahwa pelayan ini me miliki dasar Ginkang yang a mat bagus.

Tiba di depan pintu Lan- wan, pelayan itu hanya bicara beberapa patah kata dengan Ing-jun.

Tampak Ing-jun mengantarnya me masuki taman menuju ke arah Ling Kun-gi. Tapi Kun-gi pura2 tidak tahu, dengan tekun dia me mer iksa tana man bunga. Setelah mereka dekat di belakangnya baru Ing-jun bersuara: "Cu-cengcu"

"o." Kun gi bersuara sekali, pelan2 dia me mba lik tubuh. Ing-jun berkata, "cengcu sudah menunggu di ruang depan Jun hiang ci-ci sengaja diutus ke mari untuk mengundang Cu-cengcu ke sana."

Jun- hiang, pelayan baju hijau, lantas maju selangkah dan me mber i hor mat, katanya: "Hamba Jun-hiang me mber i hor mat kepada Cu-cengcu."-Gadis pelayan ini ternyata berparas elok laksana puteri kahyangan dalam lukisan-

Kun-gi manggut2, katanya: "Lohu me mang ingin me ne mui cengcu kalian, silakan nona menunjukkan ja lan-" Jun-hiang mengiakan, lalu dia mendahului jalan di muka.

Jalan yang menuju ke Coat Sin-san-ceng dari Lan-wan cukup lebar beralas batu2 gunung, kedua pinggir jalan dipagari tana man pohon yang tidak diketahui apa namanya, angin menge mbus sepoi2, dahan pohon sama bergoyang menerbitkan paduan suara yang mengasyikkan.

Berjalan di belakang Jun-hiang, tiba2 tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Se mala m waktu Hoa Thi-jiu me mbawa ku ke mari juga kudengar suara lirih dari gesekan dedaunan pohon, mir ip sekali dengan keadaan sekarang yang kulewati ini, jadi jalan yang menuju ke kebun kiranya berada di dalam Coat Sin-san-ceng. Ya, kebun ini dikelilingi air tiga jurusan, Coat Sin-san-ceng tepat berada di selatan kebun bunga, mungkin sekali harus mela lui lorong bawah tanah untuk keluar masuk, ma ka pintunya harus menggunakan papan besi yang berat."

Coat Sin-san-ceng terdiri dari lima lapis bangunan gedung yang menghadap ke utara tanah-nya luas, bentuknya megah dan angker, tembok dan pilar2 gedungnya bercat dan terhias dengan berbagai warna lukisan berbagai corak. hanya di bilangan gedung besar inilah Kun-gi merasakan adanya gaya hidup kaum persilatan-

Diatas undakan lebar setinggi puluhan t ingkat itu, di samping empat saka merah besar berdiri e mpat laki2 yang me mbusungkan dada dengan seragam hijau menyoreng golok. Jun-hiang bawa Kun-gi naik ke atas undakan langsung menuju ke serambi. Tepat di depan sebuah pendopo besar berdiri seorang berperawakan sedang berjubah sutera.

Begitu melihat Kun-gi, segera ia bergelak tertawa sambil menyongsong maju, katanya sambil menjura: "Sudah la ma siaute mendengar na ma besar Cu-cengcu, hari ini dapat mengundang ceng-cu ke mari sungguh merupakan kehor matan besar yang tiada taranya, semala m tak se mpat menya mbut selayaknya, harap dimaafkan dan jangan Cu-cengcu berkecil hati"

Orang ini le laki setengah baya, wajahnya bersih, tulang pipinya menonjo l, sorot matanya tajam, perawakannya sedang, tapi suaranya keras bergema seperti genta, di antara sikapnya yang ramah ta mpak kereng dan berwibawa.

Mendengar nada ucapannya, Kun-gi lantas tahu orang inilah cengcu dari Coat Sin-san-ceng. Lekas dia balas menjura, katanya tertawa: "Tuan ini tentunya Cek-cengcu pemilik te mpat ini? Berun- tung Siaute bisa berkunjung ke sini."

Berulang kali laki2 jubah sutera me mbungkuk badan, katanya: "Tidak berani, Siaute sendiri Cek Seng-jiang adanya."

"Tak pernah dengar seorang tokoh Bu lim yang berna ma Cek Seng-jiang," de mikian batin Ling Kun-gi, "kalau dia tidak menggunakan na ma palsu, tentunya karena dia jarang muncul di kalangan Kangouw." .

Tanpa menunggu Kun-gi buka suara, Cek Seng-jiang berseri tawa sambil angkat tangan: "Silakan, silakan Harap Cu-cengcu duduk di dalam."

Di bawah ir ingan tuan rumah, Kun-gi masuk ke ruang pendopo yang penuh ukiran ini, dilihatnya tiga orang sudah di tengah ruang pendopo sana. Ketiga orang ini adalah seorang paderi tua berjubah abu2, alisnya panjang matanya sipit, usianya sekitar 60, duduk tegak menunduk kepala, tangannya me megang serenceng tasbih. Dua orang yang lain adalah kakek berjubah biru, alisnya tebal matanya lebar, muka persegi kuping besar, jenggot hitam menjuntai di depan dada, usianya mende kati setengah abad. Seorang lagi laki2 berjubah coklat, wajahnya putih, tubuhnya sedang tapi rada gemuk. dagunya tumbuh ja mbang yang lebat, usianya lebih 50 tahun.

Waktu Cek Seng-jiang mengiringi Kun-gi me langkah masuk- sorot mata mereka lantas menatap ke arah Ling Kun-gi. Dari sorot mata mereka dia m2 Kun-gi tahu bahwa ketiga orang ini sebetulnya me miliki dasar Lwekang yang tangguh, sayang sinarnya redup buyar.

Sembari tertawa Cek Seng jiang angkat tangan, katanya: "Cu- heng pertama kali datang, silakan duduk di te mpat atas."

Kun-gi tidak sungkan2, dengan sewajarnya dia lantas duduk di tempat yang di tunjuk. Cek Seng-jiang mengir ingi duduk. dua pelayan segera maju mengis i dua cangkir arak. Sa mbil me ngangkat cangkirnya Cek Seng-jiang berkata: "Mari, silakan minum"

Setelah minum dan me letakkan cangkirnya, Cek Seng-jiang lantas berdiri, katanya: "Tuan2 tentunya sudah lama saling dengar nama masing2, tapi belum pernah berkenalan. Nah, marilah kuperkenalkan satu persatu. Lalu dia menunjuk Ling Kun-gi, katanya: "Inilah cengcu dari Liong-bin-san-ceng. Di kalangan Kangouw mendapat julukan cia m-liong, tentunya, tuan2 bertiga tidak asing akan na manya."

Lekas Kun-gi berdiri seraya menjura. Ketiga orang yang duduk segera berdiri juga dan me mbalas hor mat, sorot mata mereka me mbayangkan rasa heran dan tidak habis mengerti. Paderi tua jubah abu2 segera bersabda: "Kiranya cu- tayhiap. sudah lama Lolap ingin berkenalan-"

Cek Seng-jiang tuding padri tua, katanya: inilah Lok-san Taysu." Tergetar hati Kun-gi, Katanya: "Kiranya Taysu adalah paderi sakti

Siau-lim-si." Melihat wajah orang mengunjuk kaget dan heran, tanpa terasa Cek Seng-jiang mengulum senyum, katanya pula sambil me nunjuk kakek tua berjubah biru: "Inilah Tong Thian-jong, Tong-toako dari Sujwan-" Lalu dia tunjuk laki2 Jubah coklat pula. "Yang ini adalah Un It- hong, Un- lauko dari Ling-la m."

"Ketiga orang ini sudah hadir di sini, lalu di mana ibuku? Pasti berada di dalam taman ini pula," demikian Kun-gi me mbatin.

Karena pikiran ini, mendadak berubah air mukanya, katanya dingin menatap Cek Seng-jiang: "Jika demikian, jadi Cek-cengcu adalah pemimpin Cin-cu- ling yang me mbikin geger dunia persilatan?"

Cek Seng-jiang tertawa lebar, ujarnya: "Mana berani, mana berani. soalnya kawan2 Kangouw tidak tahu duduknya perkara sehingga timbul salah paham terhadap Siaute "

Kata Kun-gi tegas: "Lalu apa ma ksud tujuan Cek-cengcu me nculik kami berama i ke mar i?"

"Cu-heng jangan salah paha m," ujar Cek Seng jiang tertawa, "Sudah la ma Siaute mengagumi na ma besar kalian bere mpat, bahwa para pendekar kami undang ke mari adalah untuk menghindarkan suatu petaka yang bakal menimpa Bu-lim, se-kali2 tiada terkandung maksud2 pribadi, soal ini panjang kalau dijelaskan- Nah marilah, hidangan sudah tersedia, marilah sa mbil ma kan minum kita mengobro l."

Kun-gi menge mban tugas dari gurunya untuk menyelidiki peristiwa Cin-Cu-ling, sudah tentu dia tidak boleh bersikap keras terhadap si tuan rumah, maka sambil mendengus dia duduk ke mbali ke tempatnya, walau wajah masih mena mpilkan rasa gusar, tapi dia tekan amarahnya. Sikap pura2nya me mang tepat, seperti masih menaruh curiga terhadap Cek Seng jiang, tapi iapun ingin mendengar penjelasannya.

Dua pelayan mengisi pula cangkir mereka dengan arak. hanya Lok san Taysu yang minum teh. Cek Seng jiang angkat cangkirnya lebih dulu, katanya: "Cu-heng tiba diperka mpungan kita, demi keselamatan Bu- lim, Siaute aturkan dulu secangkir arak ini kepada Cu-heng." Demi kesela matan Bu-lim, tidak kecil arti kalimat yang dia ke mukakan ini.

Setelah hadirin sa ma mengeringkan cangkirnya, maka pembicaraan selanjutnya menjurus pada soal pokok. Kun-gi buka suara lebih dulu: "Tadi Cek-cengcu bilang bahwa Siaute diundang ke mari de mi untuk melenyapkan petaka Bu-lim yang sudah ada di depan mata, bagaimana duduk persoalannya, bolehkah cengcu menerangkan saja?"

Kembali Cek Seng-jiang tenggak habis secangkir arak. katanya: "Tanpa Cu-heng tanya juga Siaute akan menerangkan" Setelah merandek sebentar, lalu ia menyambung: "Soal ini harus dibicarakan dari diriku sendiri. Keluarga cek kami sebetulnya mengikat persaudaraan kental sejak beberapa keturunan dengan keluarga Ui, dulu badanku terlalu le mah, kesehatan sering terganggu, ma ka pernah aku menye mbah guru kepada Seks-poh Lojin, beliaupun kuangkat sebagai ayah angkat "

Guru Kun-gi me mang pernah bercerita bahwa ayah Ui-san Tayhiap Ban Tin-gak bergelar sekpoh, pada tujuh puluh tahun yang lalu pernah dijuluki Ui-san- it-kia m,jadi Cek-cengcu ini adalah anak angkat Sek-poh Lojin.

Sampa i di sini Cek Seng-jiang mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya: "Permulaan tahun yang lalu, mendadak kuperoleh kabar bahwa saudara angkatku telah wafat, tentunya Cu-heng juga dengar kabar ini. Dia terluka oleh semaca m pukulan beracun yang jahat, akhirnya muntah darah dan meninggal."

"o", Kung-gi pura2 mengunjuk rasa kaget.

"Sebab dari kematiannya itu lantaran dia mene mukan suatu mus lihat keji yang bakal menimbulkan malapetaka bagi kaum persilatan "

"Muslihat apa?" tanya Kun-gi pura2 ketarik. "Pada suatu tempat di sebuah pegunungan yang tersembunyi, tanpa sengaja saudara angkatku itu mene mukan t iga ge mbong iblis yang dulu terkenal jahat, telah mendir ikan perkumpulan bersa ma Sam-goan-hwe, mereka sedang me mpersiapkan diri dan mengirim kartu hitam mencari hubungan dengan gembong2 aliran hitam secara rahasia ..."

"Kartu undangan hita m?" Kun-gi menegas.

Cek Seng-jiang mengangguk sa mbil meno leh kepada tiga orang yang lain- "Betul, di atas kartu undangan hitam itu mereka lumur i semaca m racun, yang amat jahat dan aneh, setiap orang yang menerima undangan pasti terkena racun, maka mereka harus tunduk dan menyerahkan jiwa raga sendiri kepada Sam- goan-hwe untuk menerima obat penawarnya dalam waktu terbatas, kalau tidak jiwa takkan tertolong lagi."

"Apa tujuan mereka?" tanya Kun-gi.

"Mereka punya dua langkah kerja yang sempurna, pertama, mengumpulkan semua tokoh2 aliran hita m, supaya menjadi anggota dan terikat   dengan Sam-goan hwe.   Langkah kedua, mereka me mbuat rencana jangka tiga tahun, semua aliran putih serta tokoh2 silat siapa saja yang menentang Sam-goan- hwe akan diracun satu persatu "

Setengah percaya setengah curiga Kun-gi mendengarkan cerita ini, katanya bimbang "Betulkah ada kejadian ini?"

Lok-san Taysu sejak tadi mendengarkan sambil pejam mata tiba2 bersabda Buddha dua kali.

"Mereka telah berhasil menciptakan semaca m getah beracun yang amat jahat, setetes saja orang kena jiwanya pasti melayang, tiada obat yang dapat menolo ngnya. Mendengar muslihat keji ini, tidak kepalang kaget saudara angkatku itu. Maka secara diam2 dia berhasil mencuri sebotol kecil getah beracun itu, sayang pada saat dia hendak meninggalkan te mpat, jejaknya konangan, sebetulnya saudara angkatku cukup cerdik, tapi sepasang tangan sukar me lawan empat kepalan, akhirnya dia terkena hantaman Bu-sing- ciang lawan, dengan me mbawa luka2 dia me larikan diri."

Sampa i di sini dia mengunjuk rasa sedih, katanya lebih lanjut: "Dia tahu lukanya tidak ringan, tapi mengingat sebotol getah beracun yang dicurinya ini teramat besar artinya bagi keselamatan kaum Bulim umumnya, tanpa menghiraukan kesela matan sendiri, dengan luka parah akhirnya dia- berhasil mencapai te mpatku ini, setelah habis mengisahkan pengala mannya, dia minta kepadaku supaya getah beracun ini di kirim ke Siau-lim atau Bu-tong. Mendadak dia muntah darah tak henti2-nya, melihat keadaannya yang gawat, mala m itu juga aku me mbawanya pulang ke Ui-san, tapi dia sudah tak bisa bicara, karena tiada obat, akhirnya dia meninggal."

Hatinya tampak berduka, sesaat kemudian baru mena mbahkan: "Sejak pulang dari Ui-san, belum berhasil kuperoleh langkah yang tepat untuk menghadapi peristiwa ini, pertama lantaran Siaute tak pernah muncul di Kangouw, umpa ma botol getah itu kuantar ke Siau-lim atau Bu-tong, kukuatir ke dua aliran besar itu belum percaya kepadaku. Kedua botol getah itu diperoleh saudara angkatku dengan me mpertaruhkan jiwa raganya, kejadian menyangkut seluruh Bu- lim, jiwa ribuan orang, jika ciangbunjin dari kedua aliran tidak menaruh perhatian, bukankah sia2 saja jerih payah saudara angkatku itu?"

Kun-gi hanya mendengarkan dengan tenang2, tidak bersuara. "Oleh karena itu," tutur Cek Seng-jiang lebih lanjut, "kuputuskan

akan mencari sendiri obat penawarnya serta memikul tugas ini, waktu itu Siaute lantas teringat kepada Ko-hi Ko Put-hwi dari ciong- la m-san, dia pandai dan ahli dalam bidang obat2an, julukannya saja Yok-su (juru obat) tapi Siaute sudah menje lajahi seluruh pegunungan ciong - lam tanpa mene mukan jejak Ko Put- hi, kudengar dari seorang penebang kayu bahwa Ko Put-hi telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu, maka perjalananku ke cong- lam itu hanya sia2 belaka." Setelah meneguk secangkir arak baru dia me lanjutkan ceritanya: "Ke mbali dari cong- la m-san Siaute lantas teringat kepada Tong- heng dan Un-heng, yang seorang ahli racun yang lain ahli obat bius, mungkin mereka ma mpu menawarkan getah racun itu"

"Terima kasih atas perhatian besar Cek-cengcu, tapi kami berdua amat mengecewakan ........" Tong Thian-jo ng dan Un It-hong bersuara bersama.

"Kedua saudara tidak usah merendah hati, disamping itu siaute juga teringat kepada Lok-san Taysu dari Siau lim-si yang sudah puluhan tahun mengetuai Yok-ong tian ...... " demikian sa mbung Cek Seng-jiang.

"Pinceng juga a mat mengecewakan," ujar Lok-san Taysu.

Cek Seng-jiang tertawa tawar, katanya: "Sudah dengar bahwa Cu-cengcu dari Liong-bin-san-ceng juga ahli racun "

Kun-gi tertawa sambil menge lus jenggot, katanya: "Mungkin Cek- cengcu salah dengar. Dulu ayahku almarhum pernah menolong seorang tua yang terluka sela ma t iga tahun sa mpai se mbuh, sebelum pergi dia meninggalkan secarik resep obat, ayahku dipesan untuk me mbuatnya menurut resep itu dan disebarkan tiga li di sekeliling ka mpung, kawanan penjahat dapat dicegah menyerbu kampung ka mi, tapi sejak ayah meningga l, resep obat itu tak kutemukan lagi "

Belum habis dia bicara Cek Seng-jiang sudah menyela sa mbil goyang tangan: "Cu-heng jangan curiga, tujuanku hanya mencari penawar getah racun itu, bukan niatku mengincar resep obat itu."

Lalu dia melanjutkan: "Sebetulnya siaute hendak bawa getah itu dan berkunjung ke tempat kalian bere mpat, tapi setelah ku-pikir2 lagi, bila perist iwa ini sa mpai bocor, tentu jiwa siaute bakal menjadi incaran Sam-goan-hwe, jiwaku tidak jadi soal, kuatirnya kalau getah racun ini tak kuasa kupertahankan lagi, maka setelah kupikir dengan seksama, terpaksa kugunakan akal untuk me ngundang kalian ke mari, atas kesalahan dan kekasaran mana harap Cu-heng suka maklum dan me mberi maaf," lalu ia me mberi hor mat kepada Ling Kun-gi.

Tergerak hati Kun-gi, lekas dia balas hor mat, katanya sungguh2: "De mi kesela matan insan persilatan umumnya, Cek-cengcu berjerih payah sungguh Siaute amat kagum, me mang Siaute ada sedikit mengenal sifat obat2an, tapi entah dapat tidak me mbantu kesulitan Cek-cengcu ini."

Melihat cerita panjang lebarnya berhasil mengetuk hati Cu Bun- hoa, sudah tentu bukan kepalang senang hati Cek Seng-jiang, katanya ter-gelak2: "Kabarnya getah itu merupa kan kombinasi berbagai racun jahat dari seluruh jagat ini, apakah kita bisa mendapatkan penawar obatnya itu soal lain, yang terang Thian punya kuasa manusia punya usaha, asal kita mau berusaha, umpa ma tidak berhasil juga tidak mengapa, bahwa Cu-heng sudi bekerja sama sungguh Siaute teramat senang dan berterima kasih"

"cengcu-jangan terlalu sungkan," ujar Kun-gi. Segera ia bertanya lagi: "Kecuali ka mi bere mpat, entah adakah orang lain yang Cek- cengcu undang ke mari?"

Tanpa pikr Cek Seng- jiang menjawab: "Tiada, terhadap soal ini Siaute amat hati2, memang tidak sedikit ahli racun yang punya nama di Kang-ouw, tapi kalau aku mengundang mereka se mua, terlalu banyak orang, urusan tentu bisa bocor, oleh karena itu orang lain t idak kuundang ke mari."

Dia m2 Kun-gi bertanya dalam hati: "Agak-nya dia tidak membual, jadi ibu bukan terculik olehnya." Sa mbil ma nggut2 iapun berkata: "Me mang betul ucapan Cek-cengcu."

Habis ma kan, dibawah iringan tuan rumah, mere ka keluar dari coat sin- san-ceng, menyusuri serambi menuju ke timur, berjalan kira2 seratusan langkah, mereka tiba di Hiat-ko cay. Sesuai dengan namanya, Hiat-ko-cay adalah kamar buku tempat menyimpan kitab2 kuno, di mana terdapat sebuah ruang tamu dan empat petak ka mar baca. Letak kamar tamu di tengah, pajangannya serba antik, semua perabot serba ukiran, tata warnanya serasi, dihias lukisan2 kuno pula di dinding sehingga suasana tampa k se marak.

Cek Seng-jiang persilakan para tamunya masuk. lalu katanya kepada Ling Kun-gi: "Di sinilah te mpat kalian bekerja, ruang tamu ini tempat kalian ist irahat."

"Ruang kerja?" tergerak hati Kun-gi, batinnya: "ruang kerja yang dimaksud te mpat untuk menyelidiki getah racun dan mencari obat pemunahnya."

Dua pelayan lain berpakaian hijau pupus muncul me mbawa nampan berisi masing2 dua cangkir teh.

"Leng hong dan Long-gwat," kata Cek Seng-jiang, "ke marilah mene mui Cu-cengcu ini."

Lekas kedua pelayan itu maju ke depan Ling Kun- gi, sedikit menekuk lutut dan me mber i hormat, sapanya dengan suara aleman, "Ha mba menghadap Cu-cengcu."

"Mereka adalah pelayan yang ditugaskan melayani ta mu di sini," ujar Cek Seng jiang, "selanjutnya bila ada keperluan apa2 boleh Cu- cengcu berpesan kepada mereka."

"Siaute mohon petunjuk Cek-cengcu," kata Kun gi, "bagaima na keadaan sebenarnya dari cara kerja yang akan ka mi lakukan?"

"Me mang akan kuterangkan," kata Cek Seng-jiang, "te mpat kaliau menginap anggap saja rumah kalian se mentara, pagi bekerja sore kembali, tempat ini hanya khusus untuk menyelidiki racun serta mencari obat penawarnya. Siaute berpikir kerja ini adalah tugas luhur dan mulia bagi kesela matan jiwa kaum persilatan umumnya, padahal getah racun itu adalah racun yang teramat ganas dijagad ini, supaya kalian bisa saling tukar pikiran, sengaja kami sediakan kamar ini untuk kalian"

"Mungkin sela ma kerja kalian ini tidak suka diganggu orang, maka kami sediakan pula mas ing2 - ka mar untuk bekerja, bukan saja bisa saling berkunjung, bisa pula menyelidiki secara tersendiri, semoga mencapai hasil yang ge milang, semua ini demi kesejahteraan insan persilatan umumnya . "

Kun-gi manggut2, katanya: "Sempurna sekali persiapan Cek- cengcu.."

Cek Seng jiang berdiri, katanya: "Kamar Cu-heng adalah yang pertama di sebelah   kanan,   mari silakan periksa." Lalu iapun me mber i hor mat kepada tiga orang yang lain, katanya: "Taysu, Tong-heng dan Un-heng boleh silakan-"

Ketiga orang itupun secara balas menghor mat lalu mengundurkan diri masuk ke ka mar masing2, Kun-gi coba menga mati, ka mar Lok- san Taysu adalah paling kiri, sementara kamar Thong Thian-jong ada di belakang sebelah kiri, sedangkan kamar Un It-hong ada di sebelah kanan bagian depan .Jadi kamarnya sendiri di belakang ka marnya Un It-hong, seberang menyeberang dengan ka mar Tong Thian-jong.

Cek Seng-jiang angkat tangan, katanya: "Di belakang ruang ta mu ini adalah ka mar obat, di sana ada seorang pelayan bernama Hing hoa yang menguasai dan me ngurusnya, semua obat2an yang diperlukan di sini adalah bahan obat2an yang sengaja siaute kumpulkan dari berbagai te mpat aslinya ......." sembari bicara mereka sudah me masuki ka mar petak seluas dua to mbak persegi ini, tiga sisi ruangan me mang dipajang le mar i dan rak obat-obatan

Seorang pelayan baju hijau melihat kedatangan cek cungcu dan Ling Kun-gi segera me mapa k maju dan me mber i hor mat.

Cek Seng-jiang mengulap tangan, katanya: "inilah tamu agung kita Cu-cengcu yang baru saja ku undang ke mari."

"Ha mba Hing-hoa," pelayan itu menjura kepada Ling Kun-gi, "terimalah hor mat ha mba."

Menuding le mari obat2an Cek Seng-jiang ber-kata: "Setiap petak dari laci yang ada di sini sudah dibubuhi na ma2 obatnya, obat apa saja yang Cu-heng perlukan boleh menga mbilnya sendiri atau boleh juga suruh Hing-hoa me nga mbilkan, umpa ma obat2an perlu digodok. boleh serahkan kepadanya pula, sudah tentu umpa ma cu- cengcu punya cara tersendiri dari warisan keluarga dan tak ingin di- ketahui orang lain, boleh silakan kerja sendiri, semua perabot dan peralatan tersedia lengkap." Dari sini Cek Seng jiang ajak Kun-gi ke kamar tugas, yaitu kamar di mana dia harus menyelidiki getah racun itu, setelah me mberi penjelasan ala kadarnya, sebelum berialu dia berkata pula : "Siaute doakan semoga Cu-heng mencapa i sukses yang kita harapkan sehingga petaka yang menganca m jiwa kaum persilatan dapat kita lenyapkan, mewakili berlaksa jiwa kaum persilatan Siaute mendahului mengucapkan terima kasih. Nah, Cu- cengcu terimalah hor matku."

Lekas Ling Kun-gi balas menghor mat, katanya tertawa: "Jangan Cek-cengcu lupa, Siaute juga se-orang persilatan-"

Cek Seng-jiang tertawa keras, katanya: "Mendengar ucapan Cu- cengcu ini, legalah hati Siaute:"

Setelah Cek Seng-jiang pergi, Kun-gi me mbuka sebuah almari kecil, di mana tadi Cek Seng-jiang menunjuk sebuah cupu2 kecil yang berisi getah beracun itu, sebentar dia me longo mengawas i cupu2 hijau itu lalu dike mbalikan serta menutup dan menguncinya pula. Pelan2 dia mundur lalu duduk kursi malas yang beralas kasur empuk. terasa nyaman duduk di kursi malas ini.

"Sedemikian se mpurna segala keperluan yang disediakan bagi para tamu yang diundang ke mari," de mikian batin Ling Kun-gi, "apa yang dikisahkan Cek Seng-jiang sudah tentu bisa dipercaya, tapi orang yang diculik ke mari bukan dipaksa menyerahkan resep rahasia dari keluarga masing2, bukan dipaksa untuk me mbikin semaca m racun jahat lagi, tapi hanya diminta jerih payah kami berempat untuk mene mukan obat penawar dari getah racun itu, agaknya tiada maksud mencela kai orang, lalu di ma na letak mus lihatnya?"

"Kalau tidak mencela kai orang, sudah tentu tak bisa dikatakan mus lihat. Tapi Suhu berpesan sewaktu diriku akan berangkat bahwa dibalik peristiwa Cin-Cu-ling ini pasti ada suatu muslihat jahat, supaya diriku menyelidiki dengan seksama. Apa yang dikata guru tentu tidak akan salah, lalu bagaimana tindakan diriku selanjutnya?" inilah tugas berat dan rumit yang direnungkan Kun- gi pula..

oooodwoooo

Halaman 61/62 Hilang

--ganas, dalam jangka satu jam si korban akan se maput keracunan, setengah jam kemudian, kalau tidak di obati sekujur badan akan gatal2 dan linu sampa i ajal, kalau tidak kepepet, kularang kau menggunakannya."

"Paman, mana obat penawarnya?" tanya Ji-ping.

"Ada di dalam kantong kulit itu, ditelan dan dibubuhkan pada luka mas ing2 cukup satu butir, di sa mping itu pa man juga menyediakan 120 batang yang lain, tersimpan pula di dalam kantong itu."

Ji-ping kegirangan, serunya "ibu angkatku me mberi satu stel oow-tiap-piau (piau kupu2 ), dita mbah bumbung ini, betapapun lihaynya musuh tak perlu kutakuti lagi."

Tiba2 Cu Bun-hoa menarik muka, katanya serius: "Seperti Ya- khim, kaupun punya cacat, yaitu tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, betapa banyak orang2 lihay di Bu-lim, me mangnya dengan senjata rahasiamu itu saja lantas boleh sembarangan bertindak?   berkelana   di   Kangouw   yang   penting   adalah menye mbunyikan keaslian diri sendiri, sedapat mungkin jangan pamer. "

"Baiklah pa man, marilah berangkat," desak Ji-ping.

"Nanti dulu pa man juga perlu berdandan ala kadarnya," lalu dia buka ka mar rahasia serta masuk kedala m. Tak la ma ke mudian dia sudah keluar mengenakan pakaian ketat dengan mantel segala, kepala ditutupi topi lebar, wajahnya yang semula putih bersih mendadak berubah kelam dan tua penuh keriput, jenggot yang hitam kini menjadi ubanan- Melenggong Ji-ping, serunya. "Hah,jadi paman juga pandai mer ias diri, sela ma ini kau mengelabuhi kita se mua."

"Ini hanya cara menyamar yang paling gampang, kaum persilatan umumnya juga bisa, kalau dibandingkan Ling-lote, jauh sekali bedanya,." ujar Cu Bun- hoa.

Teringat kepada Ling-toako, Ji-ping menjadi gelisah, serunya mendesak: "Pa man, hayolah lekas berangkat"

"Nanti dulu, paman masih ada pesan padamu, setelah meninggalkan Liong-bin- san-ceng kita tidak boleh jalan bersama, kau harus di belakangku, kuntitlah aku dari kejauhan, umpa ma makan atau menginap di hotel, pura2 tidak kenal saja."

"He kenapa?" tanya Ji-ping.

"Menurut dugaan pa man, sepanjang jalan ini mata2 musuh pasti tersebar di mana?, maka kita harus ber-hati2," sa mpai di sini dia menggerakkan tangan- "Baiklah Ji-ping, sekarang kita berangkat, akan kusuruh mengeluarkan dua ekor kuda"

"Tidak usah paman, waktu datang bersama Ling-toako aku sudah mena mbat dua ekor kuda di luar hutan sana."

"Bagus kalau begitu," seru Cu Bun-hoa.

Sinar cemerlang mulai terpancar di ufuk timur, fajar telah menyings ing. Cu Bun-hoa keprak kudanya ke timur menuju ke Sau- thian-tin.

Orang2 desa ber-bondong2 jalan cepat menuju ke kota, tapi Cu Bun-hoa tidak masuk kota, sorot matanya bersinar tajam dan melirik ke arah kaki te mbo k dari sebuah gubuk reyot, lalu keprak kuda-nya menuju ke arah barat.

Pui Ji-ping hanya tertinggal setengah li di belakang, tidak la ma setelah Cu Bun-hoa berlalu ia-pun tiba di luar kota Sau-thian-tin terus menuju ke arah barat pula.

Daerah ini termasuk pegunungan Hoa-san, dengan pegunungan Pak-say-san dari Tay-piat-san merupakan daerah segi tiga, tiada tanah datar, aliran sungai bercabang lintang melintang, antara kota dan kampung hanya dihubungi sebuah jalanan kecil, tiada jalan raya.

Sebelumnya Cu Bun-hoa mengirim dua anak buahnya me mbawa anjing pelacak mengejar dan mengikuti Ling Kun-gi, sepanjang jalan ini sudah ditinggaikan tanda2 rahasia. Sesuai tanda inilah Cu Bun- hoa mene mpuh perjalanan-

Kira2 tengah hari dia tiba di Tay-hoat-ping. Dia cukup teliti, setelah me lakukan pengejaran setengah hari ini, akhirnya ditemukan suatu rahasia olehnya. Yaitu sepanjang jalan yang dilaluinya ini dia mendapatkan rumput2 liar dipinggir ja lan ada bekas tergilas roda kereta, bekas roda kereta ini menjur us ke arah yang sama dengan jalan yang harus dite mpuhnya ini.

Dalam wilayah ini umum mengetahui hanya ada kereta dorong beroda tunggal selain gerobak keledai atau menunggang kuda, jarang yang mengguna kan kereta kuda. Darinya ia kuda yang dia temukan sepanjang jalan ini, dia dapat menganaliaa bahwa kereta itu ditarik oleh dua ekor kuda.

Terutama diantara kampung dengan kampung banyak persimpangan jalan, tapi bekas2 rumput tergilas roda itu terus muncul di depan kudanya, Hakikatnya dia tidak perlu lagi mene lit i tanda2 peninggalan kedua anak buahnya lagi, cukup asal mengikut i bekas2 roda itu, pasti tidak akan salah lagi.

Maklumlah untuk menculik dirinya (yang disamar Ling Kun gi), supaya tidak menimbulkan curiga orang lain, jalan paling baik adalah dimasukan ke dalam kereta yang tertutup.

Dia berhenti dan sarapan di sebuah warung di luar kota. Warung ini hanya dikuasai seorang laki2 tua, setelah persilakan ta munya duduk dia antar teh la lu bertanya: "Tuan mau ma kan apa?"

Cu Bun-hoa minta sekati arak. dimintanya pula sepiring sayur asin dan kacang goreng, serta satu porsi mi. Baru saja pemilik kedai mengiakan dan mengundurkan diri, segera Cu Bun-hoa mendengar suara kelentingan kuda, cepat sekali seekor kuda berlari mendatang ke warung kecil ini..

Semula Cu Bun-hoa kira Ji-ping telah menyusul tiba, tapi waktu dia angkat kepala, yang masuk adalah laki2 berbaju kelabu bercelana biru, golok   terselip   di   pinggang,   sebelah   tangan me megang pecut terus duduk di meja dekat jalan, seru-nya ke arah dalam: "Hai, si tua, lekas beri rumput kepada kudaku, setelah aku makan akan segera me lanjutkan perjalanan. "

Si tua tadi mengiakan sa mbil munduk2, bergegas dia lari keluar menyediakan yang diminta.

Sekilas pandang Cu Bun-hoa lantas tahu, laki2 baju kelabu yang bermuka tirus dan bermata tikus ini adalah orang yang menga mati gerak-geriknya di Mo-cu-t iam tadi, tadi dia berjongkok di kaki tembok, kini ternyata berani terang2an me-nguntitnya. Diam2 Cu Bun-hoa tertawa dingin.

Waktu itu Pui Ji-ping juga sudah datang menunggang kuda, dia berpakaian pelajar, tangan pegang kipas, langkahnya me mang mirip anak sekolahan, dia duduk di meja tengah, tanyanya: "Tia m-keh, kalian jual apa? Keluarkan yang enak2."

Pemilik kedai yang sudah tua itu lekas me-nyambut, katanya tertawa: "Siangkong harap sabar, kami hanya menyediakan sayur asin, daging rebus, telur pindang juga ada, kacang dan bakmi juga lengkap. minum ada arak, teh dan wedang kacang, Siangkong pesan yang mana?"

"Aku minta arak saja, seporsi daging rebus, usus babi dan dua telur, satu porsi bakmi," demikian pesan Ji-ping.

Dia m2 Cu Bun-hoa mengerut kening, pikirnya: "Anak perempuan juga minum arak segala?"

Pemilik kedai menjadi repot lari kian ke mari me layani permintaan ketiga tamunya, sebentar ke luar, lain kejap berlari ke dapur lagi.

Sembari minum arak. lelaki baju abu2 sering melirik ke arah Cu Bun-hoa. Kalau dia ini ko mplotan penjahat, paling2 dia hanya seorang keroco, maka Cu Bun-hoa anggap tidak tahu, sikapnya tetap wajar dan ma kan minum seenaknya.

Tak la ma ke mudian le laki baju abu2 sudah kenyang makan minum, sa mbil mengusap mulut, dia merogoh uang dan digabrukan ke atas meja, serunya: "Hai si tua, hitung rekeningnya"

Lekas pemilik kedai me mburu datang, katanya: "Semuanya 32 ketip."

Setelah me mbayar, dengan langkah lebar laki2 itu lantas keluar menceplak kuda terus dikeprak pergi.

Cepat Cu Bun-hoa juga bayar rekening, kudanyapun dibedal me mbur u dengan kencang. Kuda tunggangannya se mula milik Ling Kun-gi, pember ian keluarga Tong, merupakan kuda pilihan yang larinya pesat, sekejap saja kuda di depannya itu sudah diausulnya.

Waktu meno leh dan me lihat Cu Bun-hoa mengejar datang, lelaki baju abu2 segera pecut kuda-nya supaya lari lebih kencang lagi. Cu Bun-hoa tertawa dingin, mendadak d ia jepit perut kuda dan kuda itu segera berlari lebih cepat, tahu2 sudah menyusul beriring diaampingnya. Secepat kilat Cu Bun-hoa ulur lengan mencengkera m baju kuduk laki2 itu serta dijinjingnya dari punggung kuda tunggangannya.

Menghadapi jago lihay seperti Cu Bun-hoa, sudah tentu seperti kambing berhadapan dengan harimau, kecuali mencak2 dan meronta, mulutpun ber-kaok2 seperti babi hendak diaembe lih, orang itu tak ma mpu berbuat apa2.

Begitu Cu Bun-hoa kendorkan kakinya, kuda tunggangannyapun berlari semakin la mban. Dengan tangkas Cu Bun-hoa lantas me lo mpat turun, sekilas matanya memandang sekelilingnya, kebetulan dilihatnya tak jauh di sana ada sebuah batu besar, dengan tangan kanan menjinjing si baju abu2 dia mengha mpiri ke sana. "Blang", laki2 itu dia banting ke atas tanah, saking keras laki2 itu sa mpai sekian la ma hanya mengge liat saja tak ma mpu bangun. Terdengar Cu Bun-hoa yang duduk di atas batu bertanya dingin, "Kenapa kau menguntit aku?"

Laki2 itu mer ingia kesakitan, katanya: "cayhe tidak tahu apa maks ud perkataanmu?"

Mendelik mata Cu Bun-hoa, desisnya: "Ya, sebentar akan kuberitahu apa ma ksudku."

Selagi dia bicara, mendadak laki2 itu melo los golok di pinggangnya, sembari menyeringai, goloknya terus me mbaco k kepala Cu Bun-hoa. Gerak-annya ternyata tangkas dan cepat, "Trang", ke mbang api terpercik, Cu Bun-hoa yang duduk di atas batu tetap tidak bergeming, tapi golok itu me mbacok lewat disa mping badannya mengenai batu.

Keruan sibaju abu2 kaget, dia kira saking terburu nafsu sehingga serangannya kurang mantap. mendadak dia menghardik, pergelangan tangan me mbalik, golok menyamber pula melintang me mbabat pundak Cu Bun- hoa. Kali ini dia sudah mengincar betul baru melancar kan serangan, kalau sampai sasarannya kena, batok kepala Cu Bun-hoa pasti dipenggalnya putus.

Tapi sa mberan goloknya hanya mengeluarkan deru angin belaka tanpa rintangan, itu berarti babatan goloknya mengenai te mpat kosong. . Kini baru dia betul terperanjat, tapi untuk mengere m gerakannya sudah tak sempat lagi, terasa sejalur tenaga maha dahsyat tiba2 menindih punggung goloknya terus dibetot keluar sehingga golok tak kuasa dipegangnya lagi, goloknya mence lat dan jatuh ke se mak2 rumput di kejauhan sana, telapak tangan terasa linu dan lecet.

Cu Bun-hoa tetap duduk di atas batu tanpa -bergerak. suaranya kereng dingin: "sekarang mau percaya tidak- jatuh ke tangan Lohu, mau lari atau adu jiwa hanya sia2, demi jiwa mu lebih baik menyerah dan menga ku terus terang, Siapa suruh kau mengunt it Lohu, kepada siapa pula kau hendak   laporan? Mungkin Lohu akan me mber i a mpun pada mu" Si baju abu2 menjublek. sekian la ma dia mengawas i dengan mata mendelong, sesaat kemudian baru tertawa getir, katanya, "Tiada gunanya kalau cayhe mengaku, jiwaku tetap takkan selamat."

"Asal kau mengaku terus terang, Lohu pasti akan melindungi jiwa ragamu."

Laki2 itu menggeleng, katanya: "Percuma, walau ilmu silat mu tinggi "

Mendadak badannya mengejang, terus jatuh tersungkur.

Melihat keadaan orang agak ganjil. lekas   Cu   Bun- hoa me mer iksanya, setelah berkelejetan sebentar, laki2 itu tak bergerak lagi, darah kental hitam me leleh dari ujung mulutnya,

Prihatin wajah Cu Bun-hoa, katanya menghela napas: "Bunuh diri pakai racun, orang2 ini berani mati, tapi tak berani me mbeber rahasia untuk cari hidup?" Ia mengge leng dan melo mpat ke sana menje mput golok orang lalu mengga li liang dan mengubur mayat laki2 itu, setelah selesai baru meneruskan perjalanan-

Sepanjang jalan ini tanda2 rahasia tinggalan anak buahnya masih terus dia temukan, jalur bekas roda kereta juga masih kelihatan, setelah melewati Lui-clo k-ho, dia terus maju ke Wan-cui-ho, haripun sudah petang. Maju lebih lanjut Cu Bun-hoa sudah akan berada di pegunungan Tay-piat- san-

"Mungkinkah sarang penjahat ada di Tay-piat-san?" demikian ia me mbatin.

Di Wan-cui-ho dia cari, sebuah rumah makan, cukup la ma dia berhenti dan menunggu, tapi tidak tampak Ji-ping menyusul datang, hati sedikit was2 tapi sepanjang jalan ini ia sudah meninggalkan tanda2 rahasia, si nona pasti akan terus mengikuti jejaknya sesuai petunjuk tanda2 itu. Maka dia lantas meneruskan pengejarannya ke depan-

Menuju ke barat lagi ja lanan tidak rata, jalan kecil yang harus ditempuhpun ber- liku2 me lingkar di antara pegunungan yang turun naik, tat-kala itu sudah petang, di antara lebatnya hutan di tengah pegunungan terdengar ge ma suara burung kokok beluk yang seram, namun bagi cia m- liong Cu Bun-hoa yang berkepandaian tinggi, semua itu bukan soal. cuma sejak keluar dari Wan-cui-ho, sejauh ini tanda rahasia yang dia harapkan ditinggalkan oleh kedua anak buahnya ternyata tak kelihatan lagi, keruan ia heran dan mula i curiga.

Me mang untuk meninggalkan tanda rahasia tak mungkin ditempat yang terang dan menyolok mata, umumnya kalau tidak di ujung atau di kaki tembo k. akar pohon, kalanya di bawah batu atau tempat yang agak tersembunyi. Kini hari sudah petang, tempat2 yang tersembunyi ini jadi lebih sukar dite mukan-

Tapi ini hanya bagi orang2 biasa, bagi jago silat seperti si naga terpendam Cu Bun-hoa yang me miliki Lwekang tinggi, walau di tengah udara gelap. dalam jarak setombak masih dapat dilihat-nya dengan jelas. Tapi tanda rahasia yang di tinggalkan oleh kedua anak buahnya yang menguntit kereta pengangkut Ling Kun-gi telah putus, sementara bekas roda kerota itu masih tetap kelihatan jelas.

Kalau kedaan anak buahnya itu kesasar, ini tidak mungkin, karena untuk menuju ke barat, sejak dari Wan cui-ho sudah tiada jalan lain kecuali jalan pegunungan kecil yang melingkar turun naik ini.

Kembali 20 li sudah dite mpuhnya, keadaan jalan sema kin menanjak dan sukar dite mpuh. maju lebih jauh lagi dia akan tiba di Liong-bun-kiu. Liong-bun- kiu adalah sebuah jalan pegunungan yang sempit dan diapit batu2 cadas yang runcing dan semrawut letaknya, kecuali pohon2 ce mara yang tersebar jarang2, hanya pepohonan rambat saja yang me menuhi sekitarnya, jalan pegunungan se mpit ini ada lima lijauhnya, setelah keluar dari daerah Liong-bun kin barujalanan akan ke mbali agak datar.

Pada saat cu Bun-boa berjalan itulah, agak jauh di depan sana kelihatan mer ingkuk segulung benda hita m, lari kudanya cukup kencang, begitu dia me lihat gundukan hitam ini, se mentara kuda- nyapun sudah berlari dekat, lekas Cu Bun-hoa tarik tali kendali menghentikan kudanya. Waktu dia mengawasi gundukan bayangan hitam yang menggeletak ditengah jalan itu, kiranya seekor anjing, mengge letak tanpa bergerak.

Betapa tajam mata Cu Bun-hoa, sekali pandang dia lantas mengenali anjing ini adalah anjing pelacak peliharaannya, seketika dia menjublek. Lalu dia melo mpat turun, waktu diperiksa anjing ini sudah dingin kaku, namun seluruh badannya utuh tidak kelihatan luka apa2, mungkin terpukul mati oleh se macam pukulan lunak yang maha kuat, atau mungkin juga mati terkena racun jahat.

Bahwa anjing pelacak ini sudah mati, bukan mustahil jejak kedua anak buahnya pasti sudah konangan oleh mus uh, pantas sejak dari Wan-cui-ho sa mpai sini dirinya tidak mene mukan lagi tanda2 rahasia peninggalan mere ka.

cepat ia Cempla k kudanya lari beberapa tombak ke depan pula, seekor anjing yang lain dite mukan pula meringkuk di jalan, jelas nasib anjing yang ini mirip juga kawanannya tadi, maka dia tidak turun me mer iksanya pula. Kuda dia keprak me mbeda l terus ke depan, jarak lima li hanya ditempuh beberapa kejap saja, akhirnya dia me masuki mulut le mbah, maka dilihatnya dila mping gunung kira2 tiga tomba k tingginya, diatas pohon cemara kanan kiri masing2 mengge lantung sesosok tubuh.

Waktu Cu Bun- hoa mengawasi, siapa lagi kalau bukan kedua Centingnya yang dia suruh mengunt it jejak musuh? Kedua tangan mereka menjulur turun, kontal-kantil tertiup angin mala m tanpa meronta lagi, jelas jiwa merekapun sudah me layang.

Sudah tentu tidak kepalang gusar Cu Bun-hoa, dada terasa hampir meledak. dua anjing dibunuh dan dibiarkan mengge letak di tengah jalan, kedua centingnya juga dibunuh dan digantung di atas pohon, jelas musuh sengaja hendak pa mer kekuatan dan merupakan anca man terhadap dirinya.

Cu Bun-hoa kerahkan tenaga murni, sekali jejak dengan gaya cia m-Liong-siang thian (naga terpendam naik ke langit), dia me lo mpat tinggi ke atas dari punggung kudanya, di tengah udara dia me lolos pedang me luncur ke kiri, dimana pedang berkelebat, tali pengikat jenazah orang telah di babat putus, Dengan enteng kakinya menutul dinding gunung, badannya mela mbung mir ing ke sebelah kanan, di mana pedangnya bekerja, tali yang mengikat jenazah disebelah kananpun dia tusuk putus, lalu dia anjlok ke bawah. Gerakannya tangkas dan cepat luar biasa, waktu dia menginjak tanah baru terdengar suara "bluk", mayat kedua centingnya juga berjatuhan pula.

Kuda tunggangannya itu me mang kuda pilihan dari keluar Tong, begitu merasakan penunggangnya meloncat ke atas, segera dia berhenti sendiri tanpa diperintah, agaknya kuda ini me mang sudah terlatih baik sekali.

Cu Bun-hoa simpan ke mba li pedangnya, dengan seksama dia periksa keadaan mayat kedua centing, kematian mereka mirip dengan kedua ekor anjing itu. tiada bekas luka apa2 yang ditemukan- -cuma kulit anjing tumbuh bulu rada sukar diperiksa, tapi kulit muka kedua centing ini berwarna kelabu, jelas mereka mati oleh pukulan se macam Tok-sat-ciang yang lihay dan beracun, kadar racun menyerang jantung, maka jiwapun melayang.

Di tempat itu juga dia kubur kedua centingnya, mulutnya berkata lir ih: "Lohu akan menuntut balas bagi ke matian kalian-" Segera dia cemplak kuda dan dibedal ke mulut le mbah.

Sejak keluar dari le mbah se mpit, timbul kewaspadaan Cu Bun- hoa, matanya menjelajah dengan teliti keadaan sekitarnya, tanah berumput yang luas dan datar tampak sunyi di tengah kegelapan, tapi bayangan orang tampa k berdiri di sana.

Semuanya ada empat orang, tak bersuara dan tak bergerak. empat orang berseragam hitam, mereka seperti empat pucuk pohon, se-olah2 dirinya sudah terkepung di antara mereka .Jelas keempat orang inilah pe mbunuh kedua anjing dan kedua centing nyaitu, dari posisi mereka berdiri, agaknya me mang sedang menunggu kedatangan dirinya. Agaknya mereka sudah memperhitungkan dengan cer mat, sekeluar dari lembah dirinya pasti akan menghentikan kuda di tengah tanah berumput yang lapang ini, maka posisi berdiri mere ka tepat mengepung sehingga dirinya tidak diberi kese mpatan untuk me loloskan diri.

Sudah tentu belum tentu Cu Bun-hoa punya niat melarikan diri. Keempat orang itu mengenakan jubah hitam yang kedodoran, dan yang lebih aneh lagi, mereka sa ma me miliki wajah yang kaku dingin, tak ubahnya muka mayat hidup. Mereka sama menjulur kan tangan ke bawah, berdiri kaku seperti tonggak kayu.

Tampaknya mereka tidak me mbe kal senjata, tapi dari punggung kuda Cu Bun-hoa dapat melihat jelas keempat orang tengah mengumpulkan se mangat, mata merekapun berkilauan dite mpat gelap. kepandaian keempat orang ini agaknya tidak kepalang lihaynya. Ginkang merekapun tidak le mah. Di kala Cu Bun-hoa mengawasi mere ka, serentak keempat orang jubah hitam itu me langkah ber-sa ma mengha mpiri, kira2 seto mbak disekitar dirinya baru berhenti.

Sudah tentu Cu Bun-hoa pandang enteng keempat musuhnya ini, dengan Celingukan seperti melihat suatu benda aneh layaknya, dia berkata: "Kalian mencegat jalan Lohu, apa ma ksud kalian?"

Terdengar orang yang tepat di depannya bersuara dingin: "Tua bangka, turunlah kau."

Cu Bun-hoa menjawab: "Lohu masih akan meneruskan perjalanan, kenapa harus turun?"

"Karena kau sudah sa mpai akhir jalanmu," ketus suara orang itu. Sambil mengelus jenggot, Cu Bun-hoa terseyum, katanya:

"Kukira kalian keliru, ke utara aku mas ih bisa sa mpai Say-gong-kiu, ke barat bisa mencapai ceng-thay-koan, kenapa kau bilang sudah sampai di akhir jalan?"

"Maksudku kau sudah mencapai akhir hidupmu," jengek laki2 jubah hita m. Cu Bun-hoa ngakak sa mbil menengadah, katanya: "Kalian sendiri belum mencapai akhir hidup kalian, bagaimana tahu kalau Losiu sudah mencapai akhir hidup?"

Tajam dingin sorot mata orang itu, dengusnya: "Nada dan sikap bicara tuan kelihatan bukan kaum keroco, sebutkan na ma mu."

"Di kalangan Kangouw ada pa meo yang bilang, di atas langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai. Siapa na ma Lohu, biar kukatakan juga kalian tidak mengenalnya"