Pendekar Kidal Jilid 05

Jilid 05

Malam itu tak terjadi apa2 pula, Kun-gi tidur dengan nyenyak. waktu dia mendusin hari sudah terang benderang.. Begitu bangun segera dia bungkus ketiga kumbang buatan dan ra mbut itu dengan kertas, lalu buka pintu me manggil pelayan. Setelah me mbersihkan badan serta sarapan pagi, melihat hari sudah cukup siang, cepat ia bebenah dan mau keluar bayar rekening untuk berangkat.

Tiba2 didengarnya langkah orang mendekati dari luar, didengarnya pelayan berkata sambil tertawa ramah: "Mungkin Ling- ya yang tuan cari mene mpati ka mar ini." - Lalu muncul dua orang di depan ka marnya.

Dengan seri tawa lebar, pelayan berlari masuk serta berkata: "Tuan inilah Ling-ya adanya? di luar ada seorang congkoan she Pa hendak mencari tuan."

Pa Thian-gi yang ada diluar lantas melangkah masuk, katanya bersoja: "Atas perintah Lohujin, aku ke mari menyambut Ling-ya ."

Kun-gi mengangguk. sapanya: "Kiranya Pa- congkoan, maaf, cayhe tidak se mpat menyambut."

Pa Thian-gi mengawas i pelayan- Pelayan ini cukup tahu diri, lekas dia mengundur kan diri.

Dengan berseri Pa Thian-gi segera bersoja, katanya: "Kejadian semala m hanya lantaran salah paham, orang she Pa banyak berlaku kasar, atas perintah Lohujin disuruh ke mari untuk menyatakan penyesalan dan minta maaf."

Kun-gi tahu kalau orang ini licik dan banyak akalnya, diam2 dia waspada, katanya dengan tertawa, "Pa- congkoan tidak usah menyesal, cayhe sendiri juga bersalah" "Sejak pagi2 tadi Lohujin suruh ke mar i menyambut Ling-ya, sayang Ling-ya belum bangun, maka kutunggu di luar, kini kendaraan sudah tersedia, kalau Ling-ya tiada urusan la in, silakan berangkat."

"Baiklah, mari berangkat," ujar Kun-gi.

Tanpa sungkan2 lagi, segera dia mendahului melangkah keluar. Seperti melayani majikan sendiri saja, dengan laku hor mat Pa

Thian-gi mengikut i di belakangnya.

Di ruang depan, Kun-gi merogoh kantong hendak bayar rekening hotel, tapi Pa Thian-gi lantas me mburu maju, katanya: "Rekening Ling ya sudah kami bayar lunas."

"Ah, mana boleh begitu?" kata Kun-gi.

"Ai, urusan sekecil ini, Ling-ya tidak usah sungkan, kami diutus menya mbut ke mari, itu berarti Ling-ya dipandang sebagai tamu keluarga Tong, mana ada tamu yang harus membayar rekening hotelnya sendiri."

Hal ini sungguh di luar dugaan Ling Kun-gi, tingkah laku Pa- congkoan sekarang jauh berubah dari sikapnya se mala m, ini betul2 me mbuatnya heran dan ragu. Tapi wajahnya tetap tenang, katanya: "Kalau begitu Lohujin terlalu baik padaku."

"Terus terang Ling-ya , biasanya Lohujin jarang me muji seseorang, tapi terhadap Ling-ya beliau sa-ngat ketarik, maka pagi2 kami sudah disuruh ke mari menya mbut Ling-ya," merande k sebentar, nadanya lantas berubah, sambungnya: "Bicara sesungguhnya, usia Ling-ya masih begini muda, jangankan ilmu silat me mbuat orang she Pa tunduk lahir batin, bahkan sikap dan perbawa Ling-ya juga me mbuat kami kagum betul2." Agaknya dia berusaha menjilat Kun-gi.

Sudah tentu hal ini juga dirasakan oleh Kun-gi, cuma dia tidak tahu untuk apa dan kenapa orang sampai merendah diri menjilat sedemikian rupa? Maka dengan tertawa tawar dia berkata: "Terlalu baik penilaian Pa- congkoan terhadap diriku." Pa Thian-gi jadi kikuk, katanya ter-sipu2: "orang she Pa bicara sejujurnya, bicara soal semala m Ling-ya sudah menang, tapi tidak bersikap congkak dan takabur, kalau orang la in tentu menganca m tenggorokanku dengan pedang untuk menunjuk jalan, tapi Ling-ya cukup bijaksana dan percaya pada kami, jelek2 orang she Pa ini adalah Congkoan keluarga Tong yang disegani, kalau sa mpai harus menunjuk ja lan dengan anca man pedang di punggung, hidup setua ini dikalangan Kangouw aku juga punya sedikit na ma, bukankah habis pa morku ini? Tapi Ling-ya telah me mberi muka dan me mpertahankan gengsiku, sungguh orang she Pa merasa bersyukur dan berterima kasih." Maklumlah, insan persilatan umumnya me mang suka mengejar na ma, apa yang dikatakan Pa Thian-gi me mang beralasan.

Sudah tentu lahirnya saja dia merangka i kata2 halus, bahwa dia menjilat sedemikian rupa tentu mas ih ada udang dibalik batu.

Diluar pintu dua orang Busu dari keluarga Tong menuntun dua ekor kuda, melihat Pa- congkoan keluar, lekas mereka maju mende kat. Setelah Ling Kun-gi mence mplak ke punggung kuda baru Pa Thian-gi naik kuda yang lain, lalu kedua Busu tadipun ikut naik kuda mereka sendiri.

Di atas kudanya Pa Thian-gi me mberi hor mat, katanya: " orang she Pa menunjuk jalan bagi Ling-ya ." - Lalu dia mendahului bedal kudanya. Kun-gi me ngikut di belakangnya, disusul kedua busu itu.

Mereka langsung menuju ke Pa-kong-san. Kira2 setanakan nasi, mereka tiba di bawah Pa- kong-san, tampak di luar hutan berbaris delapan laki2 seragam hita m, melihat Pa- congkoan datang, serentak mereka me mberi hor mat.

Di atas kudanya Pa Thian-gi me mbalas hor mat pula, katanya tertawa: "Sebagai tamu, silakan Ling-ya berjalan lebih dulu."

"Pa-congkoan jangan sungkan, kau saja yang menunjuk ja lan," ujar Kun-gi.

" Ling-ya adalah ta mu, betapapun orang she Pa tidak berani lancang." Kun-gi tidak banyak bicara lagi, segera dia bedal kudanya ke atas gunung, di bawah iringan Pa Thian-gi, cepat sekali mereka sudah tiba di depan puri keluarga Go.

Wakil congkoan Khing Su-kwi sudah menunggu di depan pintu, segera dia suruh seorang busu disa mpingnya masuk me mber i laporan, dua busu maju me megang kendali kuda terus di tuntun ke belakang.

Dengan tertawa lebar Khing su- kwi maju me-nya mbut: "Sejak tadi ka mi ditugaskan menya mbut di sini, Ling ya tentu sudah capai, lekas silakan masuk."

Hanya semala m saja, sikap orang2 keluarga Tong sudah berubah seratus delapan puluh derajat, hal ini betul2 di luar dugaan Ling Kun-gi.

Waktu mereka sa mpai di pintu kedua, tampak me nyongsong keluar seorang pe muda berjubah sutera biru, sa mbil tertawa dia menyapa: "Apakah ini saudara Ling? Tong Siau-khing terla mbat menya mbut, harap dimaafkan."

Pemuda jubah biru ini berusia 25-an, wajahnya cakap. sorot matanya tajam, kedua alisnya tebal kelihatan kereng dan berwibawa, tapi juga ra mah dan le mbut.

Lekas Pa Thian-gi berkata: " Ling-ya, inilah Siaucengcu ( majikan muda ) ka mi."

Lekas Kun- gi me mberi hor mat, katanya: "Kiranya Tong Siaucengcu, sejak la ma cayhe kagum, sela mat bertemu, sela mat bertemu"

"Se mala m Siaute mendengar cerita ibunda bahwa Ling-heng amat perkasa dan berhasil menghancur kan Pat-kwa-to-tin ka mi, sungguh ingin rasanya cepat berhadapan dengan Ling-heng," tampaknya dia bicara jujur dan sesungguhnya, tidak ber-pura2.

Kun-gi unjuk rasa menyesal, katanya: "Harap. Tong-siaucengcu suka me maafkan kekasaran cayhe semala m." Tong Siau-khing tertawa, katanya: "Kenapa Ling-heng bilang demikian? Syukur se ma lam Ling-heng menaruh belas kasihan, yang terang pihak keluarga Tong ka mi yang ma in keroyok, kesalahan tetap berada pada pihak kami."

Terasa oleh Ling Kun-gi majikan muda dari keluarga Tong ini berwatak ramah, gagah dan sopan santun, watak ini amat mencoco ki tabiatnya sendiri, maka katanya: "Ah. semakin tak tenang rasa hatiku mendengar ucapan Tong-s iau cengcu ini."

"Sekali kenal sudah seperti sahabat lama, kalau Ling- heng sudi, bagaimana kalau kita saling me mbahasakan saudara saja?"

"Siaute turut saja atas kehendak Tong-heng," sahut Kun-gi. "Dapat bersaudara dengan Ling-heng, sungguh menyenangkan

sekali"

"Tong-heng. terlalu me muji.."

Sembari bicara mereka terus menuju ke dala m, Tong Siau-khing me mbawa Ling Kun-gi ke ruang belakang.

Tampak Tong-lohujin duduk di sebuah kursi bersula m, dua pelayan berdiri di belakang sedang me mijit punggungnya. Nyonya muda yang semala m berdiri di belakangnya kini tidak kelihatan, mungkin karena kejadian se mala m, ma ka dia merasa rikuh tidak berani unjuk diri.

Setelah Kun-gi merasa cocok dan saling me mbahasakan saudara dengan Tong Siau-khing, maka soal ketiga ekor kumbang dan potongan rambut yang semula hendak dikeluarkan menjadi batal.

Tong Siau- khing melangkah maju me mbungkuk hor mat dan berseru. "Bu, Ling- heng sudah t iba."

Lekas Kun-gi me mberi hor mat juga, katanya: "Wanpwe menghadap Pek bo."

Sambil tertawa Tong-lohujin angkat sebelah tangannya, katanya: "Silakan duduk Ling-kongcu." "Bu," kata Tong simi- khing, "anak baru bertemu lantas merasa cocok dengan Ling-heng,   maka   sudah   setuju   untuk   saling me mbahasakan saudara."

Tong-lohujin me lir ik sekejap kepada anaknya dengan wajah welas asih, katanya. "Begini cepat kau merebutnya, kalian sama2 muda, me mang sepantasnya kalau mencoco ki satu sama yang lain." Setelah Kun-gi dan Tong Siau-khing duduk. air tehpun disuguhkan- Sambil tersenyum lembut Tong- lohujin mengawasi Kun-gi, katanya: "Kejadian se mala m hanya karena salah paham, me mang tepat apa yang sering dikatakan orang2 Kangouw, kalau tidak berkelahi tidak akan kenal. Syukurlah kini Ling siangkong sudah me njadi sahabat baik anak Khing, demikian juga Piaumoay Ling-s iang-kong sudah diserahkan padaku dan kuterima menjadi puteri angkatku pula."

Heran Kun-gi, tanyanya: "Piaumoay Wanpwe?" dalam hati dia bertanya2: "Kapan aku punya Piaumoay?"

"Begini persoalannya," Tong-lohujin menje laskan, "belakangan ini semua orang sa ma2 mengunt it seorang misterius, konon dia me mbawa sebuah kotak kecil, di dala mnya mungkin ada suatu mestika, Sampaipun orang2 Siau-lim dan keluarga Un di Ling-la m juga menguntit secara diam2, entah dari siapa Lo-cit mendapat berita ini, dia kira Ling-siangkong adalah orang misterius itu, maka dia salah menahan Piaumoay mu. Soal ini se mala m sudah kudengar dari Piaumoay mu, kini kita terhitung sekeluarga, Ling-s iangkong tidak perlu merahasiakan diri pula, lekas kau cuci muka, ingin kulihat wajah aslimu."

Tong siau- khing melenga k. serunya: "Jadi Ling-heng mer ias mukanya, kenapa anak sedikit-pun tidak bisa me mbedakannya?"

Tong-lohujin tertawa., katanya: "Ling-s iang-kong adalah murid kesayangan Hoan-jiu-ji-lay, puluhan tahun Hoan-jiu-ji- lay ma lang me lintang di Kangouw, tapi beberapa orangkah yang pernah melihat wajah aslinya?"

Sudah tentu Kun-gi belum tahu siapa Piau-moay yang dimaksud oleh Tong-lohujin? Tapi peduli siapa dia, kini dirinya sudah mengikat persaudaraan, sementara Tong-lohujin mener imanya sebagai keponakan pula, setelah kedok mukanya diketahui orang, demi kehor matan dirinya pula, apa boleh buat, tidak enak dia meno lak. katanya, "Perintah Pekbo t idak berani Wanpwe me nolaknya." Dari kantong bajunya dia keluarkan sebutir obat pencuci muka, setelah dire mas dan di-gosok2 ditelapak tangan terus diusap ke muka, lalu dikeluarkan pula sepotong handuk kecil untuk me mbers ihkan muka.

Wajahnya yang semula berwarna lega m, setelah dicuci dengan obat, seketika Tong-lohujin, Tong Siau-khing serta kedua pelayan terbeliak matanya.

Sungguh tak pernah mere ka bayangkan Ling   Kun-gi yang me miliki ilmu silat begini tinggi ternyata adalah pemuda cakap ganteng tak terhingga. Bukan saja bagus, juga le mah seperti pemuda yang tidak pandai ma in silat.

Sebetulnya Tong Siau-khing sudah terhitung cakap. tapi sekarang dia merasa kalah dibanding Kun-gi. Serunya ter-gelak2: " Ling-heng, cakap benar kau ini."

Seperti mengawasi menantunya saja, semakin dipandang semakin r iang hati Tong- lohujin, dia manggut2 senang dan berkata dengan tersenyum puas: "Ling-siangkong betul2 seorang pe muda yang serba unggul dibanding pe muda2 umumnya," Lalu dia berpaling serta mena mbahkan: "Jun-lan, Ling-s iangkong sudah datang, lekas kalian suruh Toa-slocia danJi-slocia keluar."

Pelayan bernama Jun- lan mengiakan dan berlari pergi.

Kemudian Tong- lohujin bertanya: "Berapa usia Ling-siangkong tahun ini?"

"Tahun ini Wanpwe genap 21," sahut Kun-gi sa mbil me mbungkuk hormat.

Berseri girang wajah Tong-lohujin, sekilas dia me lir ik kepada Tong Siau- khing, katanya: " Ling-s iangkong lebih muda tiga tahun daripada mu, lebih tua dua tahun daripada adikmu." Lalu kata2nya di-tujukan kepada Ling Kun- gi: " Kudengar ibumu juga menghilang, apakah di culik oleh ko mplotan cin- cu-ling?"

"Wanpwe sendiri belum tahu, tapi Suhu suruh Wanpwe terjun ke Kangouw, tujuannya me mang mengejar jejak cin-cu-ling, dari sini dapatlah Wanpwe simpulkan kalau peristiwa hilangnya ibu pasti ada sangkut pautnya dengan ko mplotan ini."

Tong-lohujin manggut2, katanya: "Ling-s iang-kong mas ih punya keluarga la in di ruma h?"

"Tiada lagi, Wanpwe masih kecil ayah sudah meninggal, ibu yang me mbesarkan Wanpwe."

Tong-lohujin manggut2 dan tak bicara lagi. Terdengar langkah le mbut mendatangi, dari belakang pintu angin teruar bau harum semerbak. la lu muncul dua gadis jelita yang me mpesonakan.

Yang sebelah kanan berperawakan t inggi se ma mpai, mengenakan pakaian warna ungu ketat, wajahnya halus pipinya bersemu merah, sepasang  matanya  nan  bening  ke milau me mancarkan sinar tajam ke arah Ling Kun gi.

Seorang lagi bertubuh agak kecil ramping, mengenakan gaun panjang warna cokelat muda dengan baju panjang warna hijau pupus, dia bukan lain adalah nona she Pui, gadis jenaka yang lincah itu.

Kun-gi hanya tahu nona nakal ini she Pui, na manya siapa tidak tahu, yang terang dia suka mengenakan pakaian warna coklat.

Kejadian hanya sekejap belaka, begitu melihat Kun-gi, wajah nona Pui yang molek seketika tertawa lebar bak bunga mekar, dia me mbur u maju seringan angin dan serunya riang: "Toa-piauko, ternyata kau telah datang, kemarin anak buah Tong -citya menculik aku dan minta keterangan tentang diri Piauko, me mangnya aku tidak tahu ke mana kau sela ma ini? Se mala m Tong citya me mbawa ku ke mari dan aku mengangkat Lohujin ini sebagai ibu angkatku."- Mulutnya nerocos dengan nyaring dan cepat, sembar i bicara berulang kali dia mengedip kepada Ling Kun-gi, maksudnya sudah tentu minta Kun-gi mengakui dirinya sebagai Piau- moay.

Baru sekarang Kun-gi mengerti bahwa perempuan yang diculik Tong-cit-ya adalah gadis she Pui ini. Nona yang belum diketahui namanya kini ternyata menjadi adiknya, sungguh brutal dan lucu.

Sudah tentu Kun-gi me lihat kedipan mata si nona dan tahu maks udnya. Wajah nan cerah bak bunga me kar di musim se mi, walau kelihatan malu2, tapi ta mpaknya minta dikasihani dan mengandung permoho nan yang sangat. Maka dengan tertawa segera dia berdiri, katanya: "Surat Tong-cit-ya kemarin mengatakan bahwa dia menculik adikku dan supaya aku menukarnya dengan barang yang kubawa, semula aku tidak mengerti siapa adikku yang dia maksud? Kiranya kau yang tidak mau pulang, buat apa selalu mengikut i diriku? Anak perempuan tidak baik keluyuran di Kang- ouw." Kata2nya me mang persis nada seorang kakak me mber i nasihat kepada adiknya.

Nona Pui tertawa riang, tawa yang manis lalu mele let lidah, katanya: "Memangnya aku ini anak kecil, kenapa tidak boleh main2 di Kangouw? Banyak orang Kangouw yang menguntit mu sepanjang jalan, aku hanya ingin tahu barang apa sebetulnya yang kau bawa itu."

Sampa i di sini, dia mengeluarkan sebuah kotak perak gepeng, lalu diacungkan di depan Ling Kun-gi, katanya sambil cekikikan: "inilah oh tiap-piau (piau kupu2 ) pember ian ibu, bila ditimpukan bisa pentang sayap dan terbang seperti kupu2 asli, inilah salah satu dari tiga maca m senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihay, cici Bun-khing biasanya menggunakan ci- hong-piau (piau kumbang ungu) "

Merah muka si nona baju ungu, serunya gu-gup: "Adik Ping, jangan usil kau."

Tergerak hati Kun-gi me ndengar "cici Bun- khing biasanya menggunakan ci-hong-piau", batin-nya: Jadi nona yang menantangku bertanding pedang se mala m adalah nona baju ungu ini."

Berkedip2 mata nona Pui lalu mengerling ke arah nona baju ungu, katanya: "Piauko, hampir saja aku lupa, inilah Bun-khing cici." lalu dia me mbalik dan berkata kepada nona baju ungu: "Inilah Toa- piaukoku, Ling Kun-gi." Lekas Kun-gi me mberikan hor mat kepada nona Tong.

cerah wajah Tong-Lohujin, katanya: "Bun-khing, Ling-s iangkong sudah mengikat saudara dengan engkohmu, dia bukan orang luar lagi, kau-pun harus me manggil Ling-toako padanya."

Sekilas mata TongBun- Khing melirik. katanya malu2: "Ling- toako"- Se mala m dia begitu keras kepala, dingin dan me nantang. Tapi sekarang sikapnya ma lu2, suara panggilannya merdu dan le mbut.

Me mandangi Ling Kun-gi lalu mengawasi puteri sendiri, saking senangnya Tong-lohujin tertawa lebar, katanya: "Bun-khing, kenapa kau ini? Biasanya kau tidak takut langit tidak gentar bumi, seperti kuda liar yang tidak terkendali, Ling-toako kan bukan orang luar lagi, kenapa harus ma lu2 segala?"

Nona Pui tertawa geli, katanya, "Bu, asal kaupasang tali kendali pada diri cici pasti dia t idak akan binal dan liar lagi "

Sudah tentu Tong Bun- khing tahu ke mana tujuan kata2 ini, seketika dia merengut sambil menuding. "Adik Ping, kau berani menggoda ku?" -Segera ia hendak meng-kili2 ketiak nona Pui.

cepat nona Pui menyingkir ke belakang Ling Kun-gi, katanya cekikikan: "Aku toh ber maksud baik, kuda yang binal harus diikat dengan kendali yang kokoh, apakah perlu aku bantu mencarikan seutas tali?" dia se mbunyi di belakang Kun-gi, se mbar i bicara jarinya menuding anak muda itu, mukanya unjuk mimik lucu dan me lelet lidah segala. Malu dan gugup juga Tong Bun-khing, serunya membanting kaki: "Me mangnya aku seperti kau, buka mulut "Piauko", tutup mulut "Piauko" tiada henti2nya, mesra sekali."

Nona Pui bertolak pinggang, serunya sambil me mbusungkan dada: "Memang dia Piaukoku, apa salahnya aku memanggil dia Piauko? Nah, dengar-kan aku me manggilnya lagi. Piauko, Piauko

....."

"Piaumoay," tukas Kun-gi sa mbil mengerut kening "sebesar ini kau masih bertingkah seperti kanak2 ? Me mangnya kau tidak malu ditertawakan Tong-pekbo?"

Nona Pui mencibir, katanya bersungut: "lbu justeru tidak akan menertawakan aku. Me mangnya kau saja yang suka ngo me l."

Sementara itu dua pelayan sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan- Tong Siau-khing lantas berdiri, katanya: "Bu, perjamuan sudah siap. marilah kita makan bersama."

Tong-lohujin tertawa, ujarnya: "Ling-siangkong adalah ta mu, kau harus mengundangnya lebih dulu." Lalu dia berpesan kepada pelayan di sa mpingnya: "Ling-siangkong bukan orang luar, kau panggil nyonya muda keluar."

seorang pelayan lantas masuk ke belakang.

Tak la ma kemudian nyonya muda atau isteri Tong Siau- khing pun keluar.

"Silakan Ling-heng," kata Tong Siau-khing.

"Mana aku berani, silakan Pek-bo dulu," sahut Kun-gi.

Dengan ramah Tong-lohujin berkata: "Di sini mes ki ka mi hanya menumpang, tapi juga terhitung tuan rumah, Ling- siangkong silakan, tak usah sungkan-sungkan-"

"Toa-piauko," timbrung nona Pui, "hari ini kau betul2 seorang tamu agung yang serba ko mplit." -Mulut bicara sementara matanya menger ling ke arah Tong Bun- khing. Merah wajah Tong Bun-khing, tapi hatinya senang dan mesra. Setelah basa-basi ala kadarnya, akhirnya Tong-lohujin duduk paling atas, Ling Kun-gi duduk di tempat tamu, selanjutnya beruntun Tong Siau khing suami isteri, lalu kedua nona jelita itu. Dua pelayan me layani mereka ma kan minum.

Tiba2 nona Pui rebut poci arak sambil berdiri, katanya: "Bu, kuaturkan secawan padamu serta kuaturkan selamat pula.". Dia habiskan secangkir arak.

Pelayan kemba li mengis i cangkir mereka, nona Pui tidak lantas duduk. ia angkat cangkir dan acungkan ke arah Tong Siau- khing suami isteri, katanya:

"Toako, Toaso, Siaumoay juga aturkan secangkir kepada kalian," sekali tenggak dia habiskan pula secangkir.

Dia tetap tidak mau duduk. setelah pelayan mengis i pula cangkirnya, dia tertawa kepada Kun-gi, katanya: "Toa-piauko, kau tahu aku tidak bisa minum arak. Tapi dalam perja muan ini, usiaku paling muda, seharusnya satu persatu kuaturkan arak kepada kalian semua, tapi paling banyak aku hanya sanggup minum tiga cangkir, terpaksa kuaturkan secangkir terakhir ini kepada Toa-piauko bersama Bun-khing cici saja." Segera ia acungkan cangkir kepada mereka berdua terus ditenggaknya habis.

Tong-lohujin mengawasi Kun- gi lalu berpaling kepada puterinya, kedua muda- mudi me mang pasangan setimpal kurnia Thian. Karena hati senang, tak henti2nya dia a mbil lauk-pauk dan diangsurkan ke mangkuk Kun-gi. Tong Siau-khing suami-isteri saling pandang, keduanya tersenyum penuh arti.

Biasanya Tong Bun-khing lincah dan suka bergerak. nakal lagi, entah kenapa hari ini dia pendiam dan malu2, tapi sering matanya me lir ik Kun-gi.

Sejam ke mudian perja muan ini telah usai, boleh dikatakan tuan rumah dan ta mu sa ma2 senang dan puas. Setelah kenyang langsung Kun-gi mohon diri. "Toa-piauko," kata nona Pui, "akupun ingin pergi"

"Piaumoay," ujar Kun-gi "Kau sudah punya ibu, tinggal saja beberapa hari lagi, aku ada urusan penting."

"Ling-siangkong juga tidak usah ter-gesa2" kata Tong- lohujin, " urusan yang hendak kau kerjakan sudah kusuruh Lo-cit bantu mengawasi, selekasnya akan datang berita."

"Adik Ping, kau tidak boleh pergi," kata Tong Bun- khing.

Nona Pui me mbisikinya: "Yang benar kau melarang dia pergi bukan?"

Malu dan gugup Tong Bun- khing, Serunya: "Eh, minta diajar kau" tangannya segera meng-kili2 ketiak orang.

Nona Pui berjingkrak geli sa mbil cekikikan, serunya: "cici yang baik, a mpunilah aku."

Lalu Kun-gi berkata kepada Tong- lohujin: "Wanpwe betul2 ada urusan, tak bisa la ma2 di sini."

"Kalau Ling-siangkong me ma ksa, Lo-sin tak enak menahanmu lagi," lalu dia berpaling kepada pelayan, katanya berpesan: "Pergilah kau a mbil pedangku itu"

cepat pelayan itu berlari masuk. sekejap saja dia sudah keluar pula me mbawa sebatang pedang kuno dan dipersembahkan kepada Lohujin-

Setelah me megang pedang berkatalah Tong- lohujin: "Tiada apa2 yang bisa kuberikan, biarlah pedang ini kuhadiahkan kepada Ling siangkong."

Kun-gi tahu bahwa pedang ini barang mestika, belum lagi Tong- lohujin bicara habis, lekas dia menyela, "Begini besar pember ian Pekbo, Wanpwe mana berani menerimanya?"

"Kau sudah bersaudara dengan Siau-khing, Piaumoaymu juga kuangkat menjadi puteriku, Lo-sin jadi terhitung orang tua mu, pedang ini kuberikan sebagai hadiah pertemuan ini, lekaslah kau menerima nya."

"Me mangnya kenapa kau Piauko", timbrung nona Pui, "kalau kau tidak terima, ada orang tidak senang dan gelisah hatinya, apalagi maks ud baik ibu masa kau tolak mentah2."

" Ling-siangko ng," ujar Tong- lohujin mendesak. "kalau kau tidak menerima nya berarti kau tidak me mberi muka kepadaku,"

Nona Pui segera ambil pedang dari tangan Tong-lo hujin dan disisipkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya lirih: "ibu nanti marah, Toa-piauko, lekas kau aturkan terima kasih kepada ibu."

Didesak sede mikian rupa, terpaksa Kun-gi mener imanya, ia menjura, katanya sungguh2: "Terpaksa Wanpwe terima hadiah Pekbo ini."

Berseri wajah Tong lohujin, katanya manggut2: "Ya, beginikan baik." entah sengaja atau ti-dal dia berpaling kepada puterinya, katanya pula: "pedang ini dulu dibeli oleh ayah almarhum dengan harga tinggi dari luar perbatasan, waktu itu usiaku. baru genap setahun, menurut adat istiadat, anak2 yang genap setahun harus dirayakan secara meriah. Hari itu, dihadapanku penuh berbagai barang, ada pupur, gincu, pakaian, mainan dan perhiasan, ada pedang, panah dan lain2, aku diberi kesempatan untuk me milih satu diantaranya, tak terduga aku hanya menga mbil pedang pendek ini, ayah almarhum waktu itu bilang anak sekecil ini sudah suka main pedang, biarlah pedang ini kelak menjadi mas kawinnya setelah dewasa. Sejak itu, pedang ini sudah puluhan tahun mendampingi aku."

Sambil melirik Tong Bun- khing, nona Pui tertawa, katanya. "o, kiranya pedang ini mas kawin ibu di waktu muda."

Jengah wajah Tong Bun-khing, dia tidak berkata, cuma matanya me lotot kepada nona Pui. Kembali Kun-gi minta diri. Mendengar Kun-gi hendak pergi, merah mata Tong Bun-khing, sakapnya yang malu2 tadi lenyap. kini berganti rasa berat untuk berpisah.

Tong-lohujin manggut2, katanya kepada Tong Siau-khing: "Nak. bersama adikmu antarkan Ling -s iangkong dan budak nakal ini berangkat."

Nona Pui maju kehadapan Tong-lohujin dan me mberi se mbah sujut, katanya: "Bu, anak pergi, harap engkau orang tua jaga diri baik2."

"Nak setiba di rumah, jangan lupa sampaikan salamku kepada ibumu," pesan Tong- lohujin.

"Terima kasih Bu," kata nona Pui.

"Dijalan kau harus dangar petunjuk Piauko, jangan turuti adat sendiri, aku tahu kau sudah biasa disayang dan aleman, belum tentu mau dengar petunjuk Piaukomu. Sepanjang jalan ini banyak kaum persilatan yang berlalu lalang, kukira lebih baik Piau-ko mu mengantar mu pulang lebih dulu."

Nona Pui manggut2, bersama Ling Kun-gi mereka keluar diantar Tong Siau- khing dan Tong Bun-khing. Pa Thian-gi sudah menyiapkan dua ekor kuda.

Sambil berjalan keluar Tong Siau-khing bertanya: "Entah kapan kita bakal berkumpul lagi?"

"Setelah urusan selesai, pasti aku pergi keSujwan menjenguk kalian," kata Kun-gi.. Urusan sudah sejauh ini, Tong Bun- khing me lepaskan rasa malu lagi, segera dia me nimbrung. "Ling -toako, sebutkan saja tanggalnya, kapan kau akan ke rumah ka mi?"

Berpikir sebentar baru Kun- gi me mutuskan, "Paling cepat tiga bulan, paling lambat setengah tahun."

"Wah, setengah tahun apa tidak terlalu la ma," kata Tong Siau- khing. "Ling toako," sela Tong Bun.khing. "kukira tiga bulan sudah cukup la ma, hari ini bulan e mpat tanggal dua belas, jadi tanggal dua belas bulan tujuh kami menunggu kedatanganmu." Lalu dia tanya kepada nona Pui "Dan kau adik Ping, kapan kau juga ke rumahku?"

"Setelah aku pulang dan minta izin pada ibu, segera aku menyusul kalian," sahut nona Ping.

Kun-gi berdua segera cempla k ke punggung kuda, katanya: "Saudara Tong, nona Tong, selamat tinggal." Lalu dia me mber i salam pula kepada Pa Thian-gi dan Khing Su- kwi: "Pa-congkoan, Khing-hucongkoan, sa mpai bertemu."

Ter-sipu2 Pa Thian-gi berdua me mbalas hor mat, serunya: " Ling- ya, hati2lah dijalan, kami tidak mengantar."

Kun-gi bedal kudanya berlari kencang turun gunung, nona Pui mengikut inya sambil mela mba i tangan ke belakang.

Berlinang air mata Tong Bun-khing, iapun mela mbaikan sapu tangan, terlaknya: "Ling-toako, tiga bulan lagi kau harus datang ... .

. .." padahal kuda sudah lari jauh,

tapi Tong Bun- khing masih berdiri me longo dengan dua ja lur air mata me mbasahi pipi.

"Dik, hayolah masuk." kata Tong siau-khing dengan tertawa, "jangan kuatir urusanmu serahkan padaku, tanggung beres."

Merah muka Tong Bun- Khing, katanya: "Aku tak tahu apa yang Toako ma ksudkan?" lalu dia berlari masuk lebih dulu.

ooooooooooo

Sekejap saja kuda Ling Kun-gi sudah sa mpa i dijalan raya. "Nona mau ke mana?" tanyanya berpaling ke belakang.

Nona Pui me mbedal kudanya dan berjalan sejajar, katanya tertawa geli: "Toa-piauko, dengan siapa kau bicara?"

"Sudah tentu dengan kau." "Ya, setelah meningga ikan mereka, kau lantas tidak anggap aku sebagai Piaumoay lagi."

"Kalau akupunya adik selincah dan secantik kau, tentu bukan ma in senang hatiku. cuma sayang aku punya adik yang tidak diketahui na manya."

"Hah, jadi kau mengore k keteranganku, Tidak akan kuberitahu." "Me mangnya pantas seorang kakak tidak tahu na ma adiknya?" "Kau terka sendiri saja."

"Na ma orang masa kah boleh diterka segala.."

"Tak mau terka ya sudahlah, jangan harap kuberitahu."

Berpikir sejenak Kun-gi berkata: "Na ma anak perempuan biasanya pakai Hong, Lan, sian, Ho dan maca m2 lagi "

"Se mua itu bukan na maku," tukas nona Pui. "Aku belum habis bicara, kau menimbrung saja."

"Baiklah, teruskan."

"Nona secantik kau ini, bak sekuntum bunga sehalus batu jade, adalah ja mak kalau me miliki na ma yang indah pula."

Girang hati nona Pui karena dirinya dipuji matanya yang besar ber-kedip2, katanya cekikikan: "Barusan sudah ada satu yang telah kau sebut."

"Tunggu sebentar, apa yang kukatakan tadi?

Ling Kun-gi mengingat2 ke mba li, "tadi aku bilang bak bunga (Ji- hoa) dan seperti jade (Ji-gio k), apakah satu diantaranya?"

Nona Pui manggut2 sa mbil gigit bibir.

"Kudengar nona Tong me manggilmu adik Ping, cantik le mbut dan lincah bak bunga dan seperti batu jade, lala ditambah satu huruf Ping lagi ......... mendadak bersinar matanya, serunya tertawa: "Ji- ping, betul tidak?" Merah muka nona Pui, serunya kaget dan senang: "Bagaima na kau bisa menebaknya?"

"Soalnya nama yang serasi dan cocok dengan huruf Ping hanya huruf Ji saja.jadi kau bernama Pui Ji-ping. Nona Pui, sebetulnya kau mau ke mana?" tanya Kun-gi.

"He, kau tidak me manggilku Piaumoay lagi?" "Aku bicara dengan sungguh2."

"Me mangnya me manggil Piaumoay lantas tidak sungguh2?" katanya sedih, matapun merah dan ha mpir meneteskan air mata.

sepatah kata salah diucapkan menimbulkan salah paham orang, sudah tentu Kun-gi jadi gugup, lekas dia berkata sambil unjuk tawa: "Tanpa sengaja kata2ku menyinggung perasaanmu, kenapa lantas keki? Kutanya kau mau ke mana, kan ber ma ksud baik juga?"

"Peduli kan aku mau pergi ke mana?"

"Tong- lohujin sudah berpesan, aku disuruh me ngantarmu pulang."

Monyong mulut Pui Ji-ping, jengeknya: "Memangnya pesan mertua, sudah tentu kau harus me matuhinya."

"Apa katamu?" seru Kun-gi me lenggong bingung.

"Tidak apa2," ucap Pui Ji-ping dengan cekikikan pula, "anggaplah kau tidak mendengar"

"Jadi kau mau pulang t idak?" -

"Se mula ingin menengo k ibu, tapi sekarang tidak. Aku ingin ikut kau."

"Ikut aku? Mana boleh"

"Kenapa tidak boleh? Kau menguntit si mata satu menyelidiki barang yang dibawanya, aku juga mau ikut." "Tidak boleh, nona belia seperti kau tidak boleh keluyuran di Kangouw yang penuh bahaya, dua kali kejadian telah kau alami me mangnya belum kapok."

"Soalnya aku tidak siaga, anak buah Tong citya juga kurobohkan semua."

"Piaumoay yang baik, kau pulang saja, kalau kau anggap aku sebagai Piauko, kau harus turut nasihatku."

"Kenapa aku tidak boleh ikut kau?" "Kau anak pere mpuan "

"Aku tahu kau sudah punya si dia, mana aku ini kau taruh dalam hati? Mertua me mang lebih sayang kepada me nantu? Kau takut berjalan dengan aku, kuatir diketahui oleh dia?"

"Kau ini me mbua l apa?" seru Kun-gi gugup dan ma lu.

Pui Ji-ping tertawa geli, katanya: "Memang-nya salah? Kenapa aku tidak boleh ikut? Begini saja, besok aku akan menya mar jadi laki2, kan beres?" Apa boleh buat, Kun-gi ma nggut2.

Pui Ji-ping berjingkrak senang, serunya: "Toa--piauko, kau sungguh baik,"

Setiba di Siu sian, Pui Ji-ping lantas beli pakaian laki2, topi, sepatu dan segala keperluan.

Sepanjang jalan Kun-gi tidak mene mukan tanda2 rahasia yang ditinggalkan anak mur id Kim Kay-thay, agaknya si mata satu tidak lewat jalan ini. Maka dia ber maksud lekas2 balik ke Thay-ho saja. Hari itu juga mereka meninggalkan Siu-s ian, belum jauh mere ka meninggalkan kota, di sebelah depan me mbentang hutan yang lebat.

Pui Ji-ping per mis i masuk ke hutan untuk ganti pakaian, Ling Kun-gi terpaksa menunggu di luar hutan sambil duduk di sebuah batu besar. Dengan cepat Pui Ji-ping sudah keluar pula dengan berdandan laki2, mengenakan jubah hijau, sepatu kulit, tangan me megang kipas, sambil berjalan keluar, katanya dengan tertawa lucu: "Toa-piauko, mir ip tidak?"

Kun-gi geli, katanya tertawa: "Ya, sedikit mirip. cuma perawakanmu pendek, terlalu muda lagi."

"Asal mirip saja, kau Toako, aku Siaute." ujar Pui Ji-ping sambil mengikik.

Kemudian Pui Ji-ping berkata pula: "Sejak kini aku me manggilmu Toako, dan kau panggil aku adik,"

"Ya, kau harus she Ling juga," kata Kun-gi, "maka kau harus bernama Ling Kun "

Tiba2 terbeliak mata Pui Ji-ping serunya menya mbung: "Ling Kun-ping saja, baik tidak?"

"Baik," Kun-gi manggut2, " Kun-ping sungguh bagus na ma ini." Pui Ji-ping bertolak pinggang, katanya dengan tertawa: "Ya,

sejak kini aku berna ma Ling Kun-ping."

Magrib hari itu mereka tiba di Cing yang-koan. Pada sudut sebuah tembok di luar kota Kun-gi mene mukan tiga tanda segi t iga dari goresan arang, di bawahnya lagi sebelah kanan ada satu lingkaran pula, itulah tanda2 rahasia Kim Kay-thay yang mengadakan kontak dengan dirinya.

Sejenak Kun-gi melongo mengawas i tanda itu, batinnya: "Kiranya Kim- loyacu datang sendiri."

Ternyata ketiga tanda itu mengga mbarkan hiolo (berkaki tiga), lingkaran sebelah kanan me mber itahu bahwa dia datang dari kiri, me mbe lok ke kanan, ada sebuah tanda kepala panah pula menuding ke selatan, itu berarti jurusannya ke selatan-

Duduk dipunggung kudanya Kun-gi menerawang keadaan dan merancang perjalanan selanjutnya. Kim-loyacu datang dari Thiat-ho, letaknya kebetulan di barat laut Cing yang-koan, kalau me mbelo k ke kanan jurusannya jadi ke selatan, itulah jalan besar yang menuju ke Liok-an, jadi sekarang Kim-loyacu menuju ke arah Liok-an- Pui Ji-ping keheranan melihat tingkah Ling Kun-gi, katanya: "Toako, soal apa yang sedang kau pikir?"

Kun-gi tersentak sadar, sahutnya: "o, tidak apa2, mari berangkat."

Cin-yang-koan adalah sebuah kota yang cukup rama i, hari sudah menje lang petang, tiba saatnva cari hotel untuk bermala m, tapi Kun-gi keprak kuda me mbedalnya kejalan besar. Terpaksa Pui Ji- ping larikan kudanya pula, tanyanya "Toako, apa yang kau temukan?"

"Kute mukan tanda rahasia Kim- loyacu, dia sudah menyusul ke mari."

"Siapakah Kim-loyacu?"

"Kim-loyacu adalah pejabat Ciangbun mur id2 preman Siau lim- pay."

"Jadi kau sudah berjanji mengadakan kontak dengan dia?"

Kun-gi me ngangguk. Tanpa bicara mereka terus mene mpuh perjalanan cepat sejauh 40-an li, setiap tiba di simpang ja lan selalu mereka mene mukan tanda rahasia Kim-loyacu, setelah petang mereka t iba di Ing-ho.

Ing-ho adalah sebuah dukuh kecil, umumnya orang desa biasa tidur lebih dini, jangankan men- dapatkan te mpat untuk ber mala m, mencari warung makanpun sukar.

Terpaksa Kun-gi menghentikan kudanya di tepi jalan, mereka duduk istirahat, Pui Ji-ping keluarkan bekal makanan yang dibawakan oleh keluarga Tong, me mang perut sudah lapar, dengan lahap mereka ganyang habis dua bungkus nasi dan lauk yang lezat.

"Sudah kenyang, mari berangkat," kata Ji-ping sa mbil berdiri, "di luar In-hiap-kip di depan sana ada sebuah rumah perabuan keluarga ong yang besar sekali, kita istirahat di sana saja."

"Dari mana kau tahu?" tanya Ling Kun-gi. "Aku sering lewat jalan ini, sudah tentu apal keadaan sekeliling sini."

Mereka mene mpuh perjalanan 20-an li lagi batu sampai di In- hiap-kip. Waktu itu sudah kentonganpertama, mereka langsung menuju ke arah barat kota, di sana memang terdapat sebuah rumah perabuan marga ong.

Mereka tambat kuda di ujung te mbo k sana, lalu melo mpat ke dalam lewat pagar tembok, setelah menyusur pekarangan dan sampai di ruang tengah. Biara marga ong ini agaknya dari keluarga besar dan bangsawan, keadaan di sini terawat bersih dan teratur.

Kun-gi me milih tempat sebelah kanan, duduk di lantai terus mulai samadi, betapapun Pui Ji-ping adalah anak pere mpuan, nyalinya rada kecil, dia duduk dekat Kun- gi.

Karena iseng Pui Ji-ping ajak bicara terus untuk menghilangkan lelah, sebaliknya Ling Kun-gi merasa sebal, katanya: "Adik jangan banyak bicara, lekaslah samadi menge mbalikan semangat dan tenaga dalam dua hari ini mungkin bisa menyusul si mata satu lagi, gerak-gerik mere ka begini misterius, ingin kutahu barang apa yang mereka bawa itu?"

"Lho si mata satu kan sudah me ninggal?"

"Tidak. yang mati itu picak mata kiri, yang sekarang ini picak mata kanannya."

Pui Ji-ping ketarik, katanya: "Kenapa mereka selalu menugaskan si mata satu untuk tugas pengantar barang ini? Kuduga pasti ada rahasia apa2 di balik persoalan ini."

Kun-gi tidak bersuara, selincah kucing tiba2 dia me lo mpat berdiri, desisnya lir ih: "Ssst, ada orang datang, lekas sembunyi."

Hakikatnya Pui Ji-ping t idak dengar apa2, Baru dia akan tanya, mendadak Kun-gi menghardik tertahan: " Lekas naik." Lengan Ji- ping dipegang terus dibawa lo mpat ke atas dan hinggap di belandar, katanya lirih: "Lekas se mbunyi di belakang pigura." Lengan dipegang orang, terasa badan mumbul seringan asap. tahu2 sudah menyelinap ke belakang pigura besar. Kejadian terlalu mendadak dan berlangsung a mat cepat, jantung ji-ping sa mpa i berdetak keras.

Belum la ma mereka sembunyi di belakang pigura, betul juga di luar pekarangan sudah terdengar suara percakapan orang dan langkahnya yang mendatangi. Terdengar seorang berkata dengan suara serak: "Silakan Siau-heng" Rupanya setiba di ruang tengah mereka saling me mpersilakan mas uk lebih dulu.

Maka terdengar pula suara tawa lantang, seorang lagi berkata: "Un-jiko kenapa sungkan2 padaku." Lenyap suaranya, tampak muncul dua orang berjajar masuk ke dala m.

Betapapun tempat pigura sempit, terpaksa nona Pui harus mende kam dan bersentuhan badan dengan Ling Kun-gi, baru pertama kali ini dalam hidupnya berada dalam pelukan laki2. Kedua orang di bawah sudah dekat, maka dia tidak berani berseru sedikitpun. Yang terang jantungnya berdebur seperti o mba k menga muk. pikirannya melayang2 entah ke mana.

Walau mencium bau harum dan bau badan anak perawan yang me mabukkan, tapi perhatian Ling Kun-gi tumplek ke bawah pada dua orang yang baru datang, maka pikirannya tidak menjadi linglung.

Malam gelap. tapi dia dapat melihat jelas kedua orang di bawah, yang di sebelah kiri kira2 berusia 50-an, mengenakan jubah panjang warna hijau kebiru2an, mengenakan topi beludru warna hita m, sepatunya berlapis kulit tebal, lima jaiur jenggot hitam menjuntai turun menghias i dadanya. orang di sebelah kanan berpakaian panjang warna kuning kela m, mengenakan ikat pinggang sutera merah, wajahnya kereng cerah, tulang pipinya menonjol, sudah cukup tua juga, perawakannya agak pendek. orang kedua ini pernah dilihat oleh Ling Kun- gi, dia adalah pa man kedua nona Un Hoan- kun, yaitu Un It- kiau dari Ling- la m. Tiba2 didengarnya Un It-kiau bersuara heran, katanya dengan suara serak: "Tiada orang di sini, kenapa diluar ada dua ekor kuda?"

Lalu di sa mpingnya tertawa lebar, katanya: " Keluarga ong di In- hian-kip ini sebetulnya adalah keluarga bangsawan suku Bong, rumah abu ini adalah te mpat umum, mena mbat kuda di luar adalah biasa, kenapa Un-jiko curiga segala?"

Un It kiau manggut2. Dari belakang kedua orang melangkah masuk pula seorang pe muda berpakaian warna kuning, Ling Kun-gi juga mengenalnya, dia adalah Kim-hoan-liok- long Siau Kijing, me lihat pe muda ini Ling Kun-gi lantas menduga bahwa orang tua, yang mengir ingi Un It-kiau pasti bapaknya, yaitu Kim- hoan-s iang- coat Siau Hong- kang. Di belakang siau Ki jing ikut pula dua pembantu rumah tangganya, saat mana lilin sudah dinyalakan di dalam ruangan, keadaan semula gelap kini menjadi terang benderang. .

Kun-gi berdua yang mende kam di belakang pigura t idak berani mengintip keluar pula.

Terdengar laki2 wajah merah itu berkata, "Bukankah Un jiko juga mengundang Thong Thian-ong, kapan dia tiba?"

"Ya, sebelum Siaute ke mar i sudah kusuruh mengirim surat kepada Tong Thian-ong, dia sudah setuju untuk me mbantu, dua hari yang lalu ada orang pernah melihat dia muncul di sekitar Poh- yang."

"Aneh, kalau dua hari yang lalu dia sudah tiba di Poh-yang, sepantasnya dia sudah mengadakan kontak dengan kita," kata si muka merah.

Kun-gi me mbatin: "Thong Thian-ong yang mereka bicarakan ini mungkin adalah Thong-pi--thian-ong? "

"siaute juga merasa heran, sepanjang jalan ini kita sudah me mber ikan tanda2 petunjuk. seharusnya dia sudah me lihatnya." Sambil mengelus jenggot, laki2 muka merah berkata pula: "Watak Thong Thian-ong terlalu berangasan, mungkin terjadi apa2 di tengah jalan?"

"Wataknya me mang kasar, tapi bekal kepan-daiannya cukup tinggi, jarang ada tandingannya di Bu-lim, mana mungkin terjadi apa2 atas dirinya?" kata Un It-kiau tertawa.

"Sukar dikatakan," kata laki2 muka merah, "Sepanjang jalan ini kutemukan Kim Ting Kim Kay-thay, itu ketua murid2 preman Siau- lim-pay juga telah datang ke Thay-ho, demikian pula Lo-sa m dan Lo-cit dari keluarga Tong di Sujwan juga ada di sekitar sini ."

"Betul, kecuali itu ingin kuberitahukan kepada Siau-heng bahwa masih ada pula beberapa kelo mpok orang yang patut diperhatikan-"

"Siapakah yang Unjiko ma ksudkan?"

" Kelo mpok pertama adalah dua orang majikan dan pembantunya, majikannya berusia 25-an berjubah biru, mirip anak orang berada, pembantunya me makai lengan besi, ilmu silatnya tinggi, sejak dari Kay-hong kedua orang ini terus menguntit ke mar i."

Laki2 muka merah ta mpak prihatin, tanyanya: "Adakah orang yang pernah menyaks ikan kepandaian pembantunya itu?

"Anak sendiri pernah menyaksikan," t imbrung Siau Ki-jing.

" Kiranya dia benar adalah Kia m-hoan-siang coat (ahli pedang dan gelang) Siau Hong- kang," de mikian batin Ling Kun-gi.

"Kau sendiri melihat dia bergebrak?" tanya si muka merah.

Siau Ki-jing menerangkan: "Beberapa hari yang lalu, anak melihat dia merobohkan murid pre man Siau-lim hanya dalam sekali gebrak saja."

"Kepandaian murid2 Siau-lim ada yang kuat dan yang le mah, kalau paderi agak lumayan, mur id2 pre man kebanyakan adalab anak2 orang berada." "Kelo mpo k kedua adalah seorang muda berusia likuran tahun, bernama Ling Kun-gi, diapun menguntit sejak dari Kay-hong, kadang muncul tiba2 lenyap. dia mengaku sebagai mur id Hoan jiu ji-lay, dari gerak-gerik dan kepandaiannya kelihatan me mang tidak salah."

Terbelalak mata Siau Hong- kang, katanya., "Hoan jiu-ji-lay juga sudah terima mur id."

"Kelo mpo k ketiga muncul di sekitar Sha-cap--li-but, kelihatan seperti keluarga pejabat, kabarnya majikannya orang perempuan, tapi pengikutnya semua berkepandaian tinggi, gerak-geriknya juga ma in sembunyi, sampa i sekarang Siaute masih men-car i2 jejak mereka, anak buah yang bertugas menyelidiki ternyata tiada yang ke mbali, se mua lenyap tanpa keruan paran."

Siau Hong- kang berpikir sejenak, katanya: "Unjiko tidak tahu asal usul kelompok terakhir ini?"

"Laporan kudapat dari dua pembantuku di Sha-cap-li-but, hanya begitu saja laporan mere ka," sahut Un It-kiau.

"Agaknya kerama ian bakal terjadi, dari beberapa kelompok itu, kukira kita harus mengadakan kontak dengan pihak keluarga Tong dari su-wan ......" sampai di sini dia termenung, lalu mena mbahkan: "orang2 Siau - lim juga terjun ke dalam kancah kerama ian ini? Mungkin "

"Trak." tiba2 terdengar suara seseorang melompati pagar tembok dan turun di tengah pekarangan-

"Siapa?" bentak Un It- kiau sa mbil angkat kepala.

"Wanpwe akan keluar me lihatnya" ujar Kim--hoan- Liok-long Siau Ki-jing. Dengan langkah lebar dia berlari keluar. Kejap lain tampa k dia sudah kembali, di belakangnya mengint il seorang laki2 baju abu2.

"Un Lok." seru Un it- Kiau segera, "apa yang telah kau te mukan" Laki2 baju abu2 yang berna ma Un Lok segera me mber i hor mat, katanya: "Lapor Ji-cengcu, disekitar ma-thau-kip.  ha mba mene mukan tanda rahasia tinggalan Thong-thian-o ng."

"Ga mbar apa yang dia tinggalkan?" tanya Un It-kiau.

"Tanda gambar itu diukir pada sebatang pohon di pinggir jalan, hamba pernah mendengar penjelasan Ji-cengcu, ma ka mengenalnya, kini hamba telah mengupas kulit pohon itu dan kubawa pulang," dengan hati2 lalu dia keluarkan sekeping kulit pohon-

Menerima kulit pohon, hanya sekilas pandang air muka Un it-kiau lantas berubah, katanya dengan terbelalak: "Di mana   kau mene mukan ga mbar ini?"

"Di sebuah persimpangan jalan di dekat Ma--thau-kip." "Men jurus ke mana persimpangan jalan itu?" "Simpang jalan itu menuju ke Sa m- kak si."

"Keterangan apa yang dibubuhkan pada tanda gambar ini?" tanya Siau Hong-kang.

"Inilah tanda gawat bahwa dia mengikuti seseorang, mungkin seorang musuh tangguh, dia me mberitahu kepadaku untuk segera menyusulnya."

"Siaute sependapat dengan Siau-heng," kata Un it-kiau, segera dia mengulap tangan kepada Un Lok. katanya: "Tunjukan jalannya"

Un Lok mengiakan, cepat dia berjalan pergi, -Un It-kiau dan Siau Hong-kang lantas beranjak keluar. Cepat sekali ro mbongan mere ka sudah pergi jauh.

"Mereka sudah pergi, mari turun," kata Pui Ji-ping. Setelah turun di bawah dia mengebut pakaian me mbersihkan kotoran yang me lekat di pakaiannya, katanya: "Toako, perlukah kita menguntit mereka?" "Kita punya urusan sendiri, peduli dengan urusan mereka, lebih baik istirahat, besok pagi mene mpuh perjalanan lagi."

Pui Ji-ping tidak banyak bicara pula, mereka ke mba li ke te mpat semula, duduk samadi sampai pagi hari. Belum sinar surya menongo l keluar mereka sudah melanjutkan perjalanan-Jalan raya ini langsung menuju ke Liok-an, di sepanjang jalan ini me mang ada tanda peninggalan Kim Kay-thay, mereka terus bedal kuda sampa i hari menjelang lohor baru tiba di Liok-an.

Diluar kota Liok-an Kun- gi mene mukan tanda peninggalan Kim Kay-thay pula, arahnya seperti menuju ke sok-seng, maka mereka makan ala kadarnya di luar kota terus menempuh perjalanan pula. Sore hari sa mpai di Tho-sip. di sini mere ka tidak mene mukan tanda2 peninggalan Kim Kay-thay.

Pui Ji-ping mengusulkan untuk langsung ke Sok-seng, mungkin Kim Kay-thay sudah menunggu di sana. Tapi la in pendapat Ling Kun-gi, kalau Kim Kay-thay pergi ke sok-seng pasti dia meninggalkan tanda yang menjurus ke sana, di Tho-sip mereka sudah tidak mene mukan tanda2 lagi, itu berarti kemungkinan Kim- loyacu mene mukan apa2 di sini sehingga tidak se mpat meninggalkan tanda2 dan tak mungkin menuju ke sok-seng.

"Lalu bagaimana menurut pendapat Toako?" tanya Pui Ji-ping. "Kau kenal je las keadaan di sekitar sini?"

"Aku tahu, dari sini ke t imur menuju ke Jau--ouw, ke selatan ke

sok-seng, ke utara pergi ke Hoaji-kang, Thong- keh- kang, langsung ke Hap-pui."

Tengah mereka bicara, tiba2 didengarnya suara tapal kuda berdetak. suaranya ringan dan cepat. Waktu mereka berpaling, tampak dari arah utara sana membedal lari seekor keledai, dipunggung keledai bercokol seorang tua berbaju hijau dan celana panjang kuning luntur, badan terbungkuk, mata terpejam, dia biarkan saja keledainya lari sesukanya. Sekilas Ling Kun-gi pandang orang tua itu tanpa me mperhatikan lebih lanjut. Tak terduga pada saat dia me mandang orang, entah sengaja atau tidak- orang tua itupun melirik sekejap ke arah mereka. Betapa tajam pandangan mata Kun-gi, sekilas saja terasa olehnya kedua biji mata yang melirik itu hanya sebelah kiri yang bercahaya. Hanya mata kiri yang bercahaya, bukankah itu berarti mata kanannya picak?

Mendadak tergerak hati Ling Kun-gi, dilihatnya orang tua itu menuju ke Sok-seng, ma ka dia berkata kepada Pui Ji-ping: "Dik, hari sudah petang, kita harus lekas masuk kota, kalau terla mbat pintu kota mungkin ditutup." - Se mbari bicara dia me mberi kedipan mata kepada Pui Ji-ping.

Ji-ping merasa heran, tapi dia tahu diri, tanyanya lirih: "Me mang benar." Kendali dia tarik ke kiri sehingga kudanya jalan merendeng lebih dekat dengan suara lebih lir ih dia bertanya pula: "Siapakah dia? Toako mengena lnya?"

"Kukira dia adalah orang yang ingin kita cari, si mata satu. cuma betul atau tidak perlu dibuktikan-"

"Asal kita kuntit dia, nanti juga pasti ketahuan-" sembari bicara mereka jalankan kuda pelan2 dari kejauhan mengunt it keledai itu masuk ke kota.

Hari sudah petang, banyak orang buru2 masuk kota, maka suasana menjadi ramai. Berbeda dengan si mata satu kiri yang telah ajal itu, sipicak kanan ini bergerak secara terang2an, dia berhenti di depan warung bakmi, ia me lo mpat turun dan masuk dengan ter- bungkuk2

Waktu itu me mang t iba saatnya makan mala m, setelah letih mene mpuh perjalanan me mang perlu istirahat dan mena ngsel perut, terutama orang yang berdandan seperti orang desa, adalah jamak kalau makan di warung kecil dengan tarip murah.

Melihat orang ma mpir di warung bakmi, Kun-gi berdua me masuki warung arak di seberang jalan, letaknya kebetulan berhadapan- Mereka me milih te mpat duduk ditepi jendela, dari sini mere ka dapat mengawasi gerak-gerik orang diseberang.

Kun-gi me mesan makanan ala kadarnya, lalu dia berkata setengah berbisik, "Dik, kau tunggu di sini dan a mati gerak- geriknya, aku pergi sebentar."

"Toako ma u ke mana?" tanya Ji-ping.

"Tugas mu menjaga di bagian luar sini, aku Keh- hoa akan putar ke belakang, kalau benar dia si picak kanan yang bertugas mengantar barang, kemungkinan bisa merat lewat pintu belakang, hal ini harus kita jaga sebelumnya. Kalau dia pergi lewat depan, kau harus menguntitnya dan perhatikan ke mana atau di tempat mana dia menginap. Di sini pula kita nanti bertemu."

Mendengar dirinya di beri tugas, riang hati Pui Ji-ping, katanya tertawa: "Tugas seringan ini, Toako tak usah kuatir, pasti kulaksanakan dengan baik,"

"Baiklah sekarang aku pergi," bergegas Kun--gi keluar menuju ke pengkolan jalan sana, di belakang deretan rumah seberang sana me mang terdapat sebuah lorong se mpit, cepat Kun-gi menyelinap masuk dan menghitung ruma h ke lima, itulah pintu belakang warung bakmi di depan, setelah memperoleh te mpat yang gelap. dia berdiri mepet tembok, matanya memperhatikan pintu belakang rumah ke lima itu.

Dengan sabar dia menunggu kira2 satu jam, betul juga dilihatnya sesosok bayangan orang tiba2 menongo l keluar dari pintu belakang warung bak- mi itu, me lihat tiada bayangan orang, dengan langkah buru2 dia berlari ke arah kiri sana.

Mata Kun-gi yang tajam dapat melihat bahwa bayangan orang itu adalah laki2 tua berbaju hijau, punggung yang tadi bungkuk kini sudah tegak. langkahnya ringan-

Dengan sigap seperti anjing pelacak Kun-gi terus menguntit ke mana laki2 tua itu pergi. Ternyata laki2 tua ini juga cukup cerdik dan licin, agak la ma dia ber-lar i2, mendadak dia menghentikan langkah se mbar i berpaling ke belakang, betapa tangkas gerakan Kun-gi, mana mungkin jejaknya dilihat olehnya?

Melihat tiada orang yang menguntit di belakangnya, si tua baju hijau ke mbali berlari ke depan, keluar dari jalan raya, dia menyelinap ke jalan me lintang di sebelah depan sana, langkahnya tidak pernah berhenti, kecepatan sedang, arahnya ke selatan-Lama kela maan dia menuju ke daerah sepi.

Tak la ma ke mudian dia sa mpa i di tempat pe mbarkaran genteng, di sini dia berpaling pula, setelah longak- longok ke belakang, dengan langkah cepat dia lewati tempat2 pe mba karan genteng yang tersebar luas itu terus me masuki sebuah pekarangan yang dipagari tembok pendek. Di depan pintu terdapat sepucuk pohon, dia berjongkok menghitung setumpukan batu yang ada di bawah pohon lalu me ngha mpir i pintu serta mengetuknya tiga kali.

Maka terdengarlah ada orang bertanya: "Malam selarut ini, siapakah yang menggedor pintu?"

Laki2 tua baju hijau unjuk tawa, sahutnya: "Belum ma la m, belum ma la m, akulah Lo-to (bungkuk) yang me ngetuk pintu."

"Kau cari siapa?" tanya orang di dalam pintu.

"Mencari orang yang menumpuk batu di batu di bawah pohon-" "Kau sudah menghitungnya?"

"Sudah, seluruhnya 18 biji, agaknya saudara kurang menumpuk satu biji."

orang di dalam tidak bersuara, pelan2 daun pintu terbuka. Tampak seorang laki2 tua yang mengikat kuncir rambutnya di atas kepala, me mbawa pipa cangklong, menyambut keluar, katanya: "silakan duduk di dala m."

Si tua baju hijau tidak segera masuk, katanya mengerut kening: "Kenapa kau tidak menyalakan la mpu di dala m?" Laki2 tua bergelak tawa, katanya: "Saudara tidak bisa melihat dengan jelas tidak menjadi soal, asal aku dapat menghitungnya dengan baik saja."

Melihat kata2 rahasia yang ditanyakan terjawab seluruhnya, laki2 tua baju hijau tidak banyak bicara lagi. segera dia angkat langkah masuk ke rumah.

Laki2 bergelung kuncir cepat menutup pintu, katanya sambil berpaling: "Mana barangnya, boleh kau keluarkan-"

Laki2 baju hijau merogoh kantong dan menge luarkan sebuah buntalan kain kasar terus diangsurkan, lalu katanya: "Saudara tentu sudah capai, ini-lah perintah dari atasan, malam ini saudara dilarang menginap di dalam kota, kau harus segera mene mpuh perjalanan pula."

Tertegun laki2 baju hijau, katanya, "Aku sudah menunaikan tugas "

"Pihak atas menghenda ki kau segera berangkat, maaf aku tidak bisa meno longmu lagi," tiba2 tangan kanan dia ulur, tangannya sudah me megang sebuah bumbung hitam, "sret" segulung cahaya biru segera menyembur keluar dari dalam bumbung melesat ke dada laki2 baju hijau.

"Hah" terpentang mulut si laki2 baju hijau, tapi sebelum dia menyadari apa yang terjadi, cahaya biru itu sudah nancap ke dalam dadanya, badannya seketika terjengkang roboh.

Laki2 bergelung kuncir menyimpan ke mbali bumbung jarumnya, katanya menyeringai sa mbil mengawasi mayat laki2 baju hijau : "Pihak ataslah yang me mber i perintah, jangan kau salahkan aku

......" sampai di sini dia bicara, tampak kepala mayat laki2 baju hijau mengepulkan asap kuning, dengan cepat sekali jasadnya berubah, ternyata yang disambitkan tadi adalah Hoa-hiat-sian-tong (bumbung jarum pengluluh darah). Bergidik juga laki2 bergelung kuncir melihat hasil karyanya sendiri, tiba2 terasa punggungnya kese mutan- Pada saat itulah di belakangnya tahu2 sudah bertambah sesosok bayangan orang, tangan merogoh kantongnya dan mengeluar kan buntalan kain biru tadi.

orang ini adalah Ling Kun-gi yang menguntit laki2 tua baju hijau. Setelah menutuk Hiat-to laki2 bergelung kuncir, segera dia buka buntalan kain biru itu, di dala mnya

berisi kotak persegi. Setelah kotak dibuka, di dala mnya dilapisi kain saten warna kuning, di tengah2 terjahit sebutir mutiara sebesar kacang dengan benang merah.

Walau gelap di dalam ruma h, tapi Kun-gi dapat melihat jelas, di tengah2 mutiara terdapat ukiran huruf "Ling". Ternyata cin-cu-ling adanya. Mutiara ini mir ip dengan yang pernah dilihatnya di tempat Kim Kay-thay itu, "Kemanakah mereka hendak mengantar cin-cu- ling ini?" demikian Ling Kun-gi ber-tanya2 dalam hati.

Sejenak dia termenung, lalu menutup dan me mbungkus pula cin- cu-ling itu seperti se mula dan dike mba likan ke kantong baju laki2 bergelung kuncir, sebelum berlalu dia me mbuka tutukan tadi dan cepat dia menyelinap sembunyi di te mpat gelap.

Laki2 tua bergelung kuncir menguap sekali lalu menggeliat badan, sebentar dia kucek2 mata, lalu menjura ke arah tanah, katanya dengan tertawa getir: "Saudara mati penasaran, Tapi aku bekerja menjalankan perintah, harap saudara tidak menyalahkan aku." Dia sangka   arwah laki2 baju hijau itu tidak   menerima ke matiannya, barusan dirinya telah ditenung sebentar, maka setelah bicara bergegas dia berlari keluar sipat kuping.

Kun-gi mengunt itnya dari kejauhan- Laki2 tua bergelung kuncir di kepala itu berjalan cepat sekali, tak lama kemudian dia sa mpai pada sebuah tempat pemujaan di pinggir jalan yang dibangun menyerupai gundukan tanah, tempat pemujaan ini bukan kuil bukan biara, tapi hanyalah sebuah barak yang beratap rumput alang2 kering, bentuknya kecil dan pendek. di dalamnya dipuja dewi bumi suami-isteri, tanpa meja, hanya terdapat sebuah hiolo, setiap orang yang sembahyang menancapkan dupa di sana, keadaannya amat sederhana.

Dengan langkah ter-gopoh2 laki2 itu me mas uki barak berdinding tanah liat itu, sejenak dia celingukan, me lihat tiada orang lain, tiba2 dia mencincing lengan baju terus ulur tangan meraba ke dalam hiolo, akhirnya dia meraba keluar sebuah bumbung ba mbu. Setelah me mbers ihkan abu di kedua tangannya, dia membuka sumbat bumbung dan menuang keluar gulungan secarik kertas.

Pada saat itulah Kun-gi muncul di belakangnya pula, dengan sekali kebas dia tutuk jalan darah penidur orang, lalu ambil gulungan kertas itu serta merentangnya. Tampak di atas kertas ada tulisan yang berbunyi: "Besok sebelum matahari terbenam, antarkan kepada seorang yang membe li lima blok kain katun di toko kain Tek-bong di kota Thung-seng, tak usah bicara, segera mengundurkan diri saja."

Kun-gi menggulung pula kertas itu, lalu dike mbalikan ke tangan si orang tua, kembali ia mengebas, me mbuka Hiat-to orang. Laki2 tua bergelung kuncir bcrbangkis sekali, cepat dia masukkan gulungan kertas itu ke dalam baju, seenaknya saja dia buang bumbung ba mbu itu ke sema k rumput di luar pintu, dengan langkah cepat dia mene mpuh perjalanan lagi.

Kejadian ini kira2 makan waktu setengah jam, cepat2 Kun-gi ke mbali ke warung arak. ma kanan yang dipesannya tadi sudah dingin se mua. Untung saat itu keadaan warung ramai dikunjungi orang, yang hendak mengisi perut, orang mengira Pui Ji--ping sedang menunggu seseorang, maka tiada yang me mperhatikan-

Melihat Kun-gi kembali, Pui Ji-ping tertawa senang, cepat dia menyongsong sa mbil bertanya: "Toako, kenapa pergi begini la ma?"

Melihat hidangan se meja penuh belum disentuh sedikitpun, timbul rasa prihatin Ling Kun-gi, katanya: "Dik, kenapa kau tidak makan dulu?"

"Toako ada urusan, sudah tentu aku harus menunggumu untuk makan bersa ma" Ji-ping menyuguh secangkir teh kepada Kun-gi, katanya: "Bagaimana urusannya Toako? Kau pergi begini la ma, aku tidak me lihat dia keluar."

Kun-gi minum seteguk, katanya, "Sesuai dugaan, dia merat daripintu belakang. Hasil yang kucapai a mat me muas kan-" Lalu ia ceritakan pengalamannya secara ringkas. Heran dan kaget Pui Ji- ping, katanya lir ih:

"orang yang me mbeli lima blok kain katun di toko Tek- hong, di kota Thung-seng?Jadi sudah sa mpa i te mpat tujuan terakhir?"

"Belum bisa diraba, kalau tidak pindah tangan lagi, itu berarti me mang sudah mencapa i te mpat tujuan terakhir."

"Lalu bagaima na tindakan kita selanjutnya, Toako?" tanya Ji- ping.

"Sa mpai besok sore, waktunya masih cukup panjang, aku akan cari Kim-loyacu untuk berunding dulu dengan dia."

"Tapi di Tho-sip kita tidak mene mukan tanda2 yang dia tinggalkan-"

"Ya, tapi di San-la m- koan aku me lihat tanda2 Kim- loyacu," alis Kun-gi berkerut, katanya mene-pekur: "Jelas mas ih ada tanda2 rahasia itu di San-- la m-koan, tapi setiba di Tho-s ip tanda2 itu lenyap, mungkinkah dia mengala mi sesuatu di sekitar Sa m--la m- Koan..

Tengah mereka bicara, pelayan sudah antar kembali makanan pesanan mereka. Mereka makan cepat2, setelah bayar rekening terus keluar, dengan menuntun kuda mereka berjalan kaki cukup jauh dijalan raya. Dalam hati Ling Kun-gi menimang2, semula banyak orang menguntit si mata satu, tapi di Sok-seng tiada seorangpun kaum persilatan yang kelihatan, sementara sipicak ini tahu2 muncul dari arah Hoa-ji- kang. datang dari utara, agaknya ko mplotan cin-cu-ling tahu bahwa mereka dibuntuti, entah dengan cara apa, semua orang yang menguntit itu satu persatu dipancing ke arah la in, Demikian pula Kim- loyacu tiba2 putus hubungan, ke mungkinan juga terkena mus lihat mereka. Maka besar tekad Kun- untuk selekasnya menyusul ke Sa m-La m Koan.

Tengah berjalan, seorang yang berdandan pelayan hotel mengadang mereka sa mbil munduk2, katanya tertawa: "Kongcu berdua apa cari penginapan, hotel ka mi serba bersih dan nya man teduh, service tanggung memuaskan, kuda kalian boleh serahkan kepada ha mba." 

Waktu Kun-gi angkat kepala, dilihatnya di depan sana me mang ada sebuah hotel sok-seng, maka dia berpaling, katanya: "Dik, biar kita menginap saja se mala m di sini."

Panas muka Pui Ji-ping, dia mengia kan sa mbil ma nggut sekali. Segera Kun-gi serahkan kudanya, lalu mendahului melangkah masuk. Pelayan lain segera datang menyambut serta antar mereka me milih ka mar, akhirnya mereka me milih sebuah ka mar besar yang terdiri dua ruangan berdampingan, mas ing2 ada sebuah ranjang, jadi mereka t idur di dua ka mar terpisah.

Menjelang kentongan kedua Kun-gi siuman dari se madi, dia pasang kuping, tiada suara apa2 di kamar Pui Ji-ping kecuali deru pernapasannya yang teratur, terang si nona sudah tidur nyenyak. Pelan2 dia berdiri me mbuka jendela terus melo mpat keluar, dia tutup pula jendelanya dari luar, terus meloncat ke wuwungan rumah.

Dengan menge mbangkan Ginkang dia meluncur dengan kecepatan luar biasa, hanya setanakan nasi dia sudah tiba di Tho- sip. dari sini ke San-la m-koan dia terus me meriksa dengan teliti, namun tiada tanda2 apapun yang dia temukan, tapi pada sudut sebuah tembok di San- la m-koan mas ih ada tanda peninggalan Kim- loyacu, jelas arahnya menuju ke Tho-sip. Ini me mbuktikan bahwa Kim- loyacu sudah meninggalkan San- la m- koan, tapi tujuannya bukan ke Tho-s ip. Lalu ke mana dia? Tiba2 tergerak pikirannya: "Sipicak datang dari Hoaji- kang yang letaknya di sebelah utara Tho- sip. terang mereka sengaja dipancing ke jurusan lain oleh kawan2 si picak." Maka dia menuju ke utara, pada setiap persimpangan jalan dia mengadakan penelitian- Tapi dari Kang- keh-tia m, Han-siau-tia m, Hok- ma-tia m sa mpai Thong- keh-kang, sejauh puluhan li dia terus mengadakan pe meriksaan tanpa menemukan apa2, se-olah2 Kim- loyacu tak pernah datang ketempat2 ini.

Dia tahu Kim- loyacu sudah banyak pengalaman dan berpengetahuan luas, kalau dia sudah me- ninggalkan tanda2 di San- la m-koan, umpa ma ter

Hala man 5/6 Hilang

Keluar dari hutan, mereka naik kuda mene mpuh perjalanan pula. Lewat lohor baru mereka tiba di Thong-sengJi-ping apal keadaan kota ini, ma ka dia menunjuk ja lan, setelah membelok kejalan raya sebelah timur sana dia menuding ke depan: "Toako, waktu masih pagi, mar ilah istirahat di restoran itu?"

"Baik, rumah makan berloteng itu ternyata cukup besar bangunannya."

"Te mpo hari bersa ma Piauci kami menyamar laki2 dan pernah me lancong ke mari. Ketika itu In-congkoan juga naik ke loteng minum teh, tapi dia t idak mengenali kami lagi."

"Siapakah In-congkoan?" tanya Kun- gi.

"In-congkoan berna ma In Thian-lok, kepala keluarga pa man, katanya berilmu silat tinggi."

Waktu itu mereka sudah tiba di depan restoran, pelayan menya mbut mereka ke loteng. ji-ping lantas menuding meja dekat jendela: "Te mpo hari kami duduk di meja itu."

Setelah Kun-gi duduk. waktu dia angkat kepala, dilihatnya di seberang jalan sana adalah sebuah toko kain "LEK HONG".

"Kebetulan kau mencar i te mpat di sini," katanya tertawa. "Te mpo hari ka mi berbelanja juga di toka kain di depan itu, ma la mnya kami jalan2 melihat kerama ian kota," kata Ji-ping. "Toako, jalanan di sini aku lebih apal, nanti biar aku yang menguntit orang yang beli lima blok kain itu. Kau tunggu saja di sini." Ling Kun-gi manggut2 menyetujui usulnya.

Pada saat itulah, muncul seorang dari anak tangga, dia mengenakan topi kulit berbulu, me manggul sebuah kotak kayu warna merah, kumis nya panjang, usianya belum 50, dandanannya mirip penge mbara, tapi juga seperti pedagang perhiasan-.

Matanya menjelajah sekelilingnya terus mengha mpiri meja di sebelah kanan Ling Kun-gi yang berdekatan dengan jendela, peti kayu dia letakan di atas meja, sambil me me lint ir kumis dia duduk me mandang ke arah toko kain di depan sana. Pelayan datang me layani pesanannya.

Sejak orang ini masuk Kun-gi sudah lantas me mperhatikan, ma ka dia berbisik kepada Pui Ji--ping, "Sejak kini jangan bicara soal itu pula."

Ji-ping melengak. dia berpaling, namun yang dilihat hanya bayangan punggung orang, segera ia bertanya sambil mende katkan tubuh: "Siapa dia?"^

Kun-gi menggeleng, lalu dengan ilmu mengirim belo mbang suara dia berkata, "Nanti kujelaskan."

Selanjutnya mereka bergurau dan bicara panjang lebar mengenai ini itu sa mbil me mperhatikan pria bertopi di sebelah.

Menjelang sore, terdengar suara derap kaki kuda yang ra mai mendatang dari kejauhan, tampak lima ekor kuda berjalan ke arah sini. orang yang duduk di kuda paling depan berperawakan besar, alis tebal mata cekung, wajahnya kelabu, berpakaian jubah biru, iapun nengenakan topi kecil berbulu burung, kumis di atas bibirnya terawat baik dan rapi, wajahnya kereng berwibawa, betapa gagah dia duduk di atas kudanya. Di belakangnya adalah orang2 yang berpakaian serba ketat, golok tergantung di pinggang masing2, kelihatan angker dan bersemangat barisan lima kuda ini. orang2 yang berlalu lalang sama minggir me mber i jalan-

Melihat laki2 muka kelabu yang bercokol di punggung kuda ini, tak terasa ber-gerak2 bibir Pui Ji-ping, dilihatnya laki2 muka kelabu itu mendahului mengha mpir i toko kain Tek-heng dan berhenti. Empat orang pengikutnya ter-sipu2 turun, seorang pegang kendali, seorang bantu dia me lo mpat turun, dua orang yang lain melangkah ke dalam toko sebagai pembuka jalan-Jelas toko kain Tek-hang hari ini kedatangan tamu yang akan me mborong dagangannya.

Maka ributlah keadaan toko kain itu, pelayan sibuk melayani, pemilik toko bersa ma tuan kasir keluar menya mbut. Sudah tentu Kun-gi dan Ji--ping me nyaksikan semua ini dengan jelas dari tempatnya yang tinggi di atas loteng.

Setelah laki2 muka kelabu duduk. seorang pelayan toko menyuguhkan air teh. Tanpa sungkan2 si muka kelabu angkat cangkir dan minum seteguk. lalu berbicara kepada tuan kasir, tuan kasir tampak munduk2 sa mbil tertawa lebar seperti mengiakan, cepat dia berpesan apa2 kepada pelayan di sampingnya. Beberapa pelayan toko segera bekerja penuh semangat dan sibuk sekali, mereka me mbawa beberapa contoh kain sutera ke hadapan si muka kelabu.

Dengan seksama laki2 muka kelabu me milih, lalu menuding beberapa di antaranya, barang yang terpilih itu segera di kumpulkan di meja tersendiri. Kemba li laki2 muka kelabu berkata kepada tuan kasir seperti ingin me mbeli kain corak lain- Tuan kasir munduk2 lagi, dia pimpin beberapa pelayan

me mbuka almari dan menge luarkan lima blok kain katun warna hijau pupus, pelayan toko langsung membawanya keluar dan diserahkan anak buah laki2 muka kelabu, lalu diikat di punggung kuda. Melihat lima blok kain katun hijau pupus ini, hampir saja Pui Ji- ping berteriak kaget.

Laki2 bertopi di meja sebelah segera merogoh saku me mbayar uang teh terus berlari turun loteng sa mbil me manggul peti kayunya.

Melihat orang pergi ter-gesa2, Ji-ping bertanya, "Toako, siapakah dia?"

Kun-gi pandang sekelilingnya baru menerangkan dengan suara rendah: "Dia adalah laki2 tua bergelung kuncir yang mengantar cin- cu-ling itu, baru hari ini dia me makai topi."

"dia turun ter-gesa2, jadi mau menya mpaikan barang itu?"

"Lima blok kain katun hijau pupus sudah diikat di punggung kuda, itu tanda yang sudah jelas, sudah tentu dia harus lekas2 mengantarkan barangnya."

Sedang mereka bicara, tampak laki2 bertopi itu sudah menyeberang jalan langsung menuju ke toko kain itu.

Seorang pelayan segera menyambutnya, maksudnya supaya dia tidak serampangan masuk toko yang sedang sibuk melayani pe mbeli besar. Laki2 bertopi manggut2 minta maaf, dia menuding laki2 muka kelabu di dalam toko serta mengucapkan beberapa patah kata, seperti mengatakan mau menyampa ikan sesuatu barang padanya.

Pelayan manggut2 serta me mpersila kan dia masuk. Menjinjing peti kayunya laki2 bertopi beranjak ke dala m, langsung dia mende kati laki2 muka kelabu dan me mber i hor mat. Si muka kelabu hanya sedikit mengangguk dan mengajukan beberapa patah pertanyaan- Laki2 bertopi unjuk tawa lebar sambil me langkah maju, peti kayu dia taruh di atas meja, ia mengeluarkan anak kunci dan me mbuka petinya itu, dari dalam kotak dia keluarkan serenceng kalung mutiara, tusuk kundai, ke mbang berlian, gelang dan lain2 maca m perhiasan, bersama dua buah kotak kecil berlapis kain, sutera biru, satu persatu dia aturkan ke hadapan laki2 muka kelabu, mulutnya tak berhenti menerangkan ini itu seperti penjual perhiasan layaknya yang memuji barang dagangannya.Jadi Cin-cu-ling yang dibawanya itu berada di dalam kotak itu.

Seenaknya saja laki2 muka kelabu me milih delapan maca m perhiasan, sudah tentu kedua kotak itupun dipilihnya, lalu dari lengan bajunya dia keluarkan selembar uang kertas dan diserahkan kepada laki2 tua bertopi itu.

Berseri girang laki bertopi, setelah terima uang kertas (sebangsa cek) itu, dia bereskan dagangannya, sambil munduk2 dan berucap terima kasih terus keluar.

Sementara itu pelayan sudah me mbuntal beberapa blok kain sutera lainnya di atas kuda yang la in pula.

" Toako, hayo lekas berangkat," tiba2 ji-ping berkata gugup, "Mau ke mana?" tanya Kun- gi heran-

"Lekaslah, kalau terla mbat, tidak ada kesempatan lagi," desak Ji- ping.

Cepat2 mereka turun terus larikan kuda keluar kota menuju ke utara, di luar kota ji-ping me larikan kudanya terlebih kencang.

Semula Kun-gi kira dia hendak menguntit si tua bergelung kuncir yang menyaru pedagang perhiasan, dari uang kertas yang dia terima dari laki muka kelabu itu pasti bisa diselidiki siapa sebetulnya laki2 muka kelabu itu. Tapi sekarang dia baru menyadari bahwa dugaannya ternyata meleset jauh. Ji-ping bukan mengejar atau menguntit orang, tapi dia me mbedal kudanya seperti orang kesetanan sampai lima li jauhnya, lalu me mbelok ke sebuah ja lan kecil yang berlapis batu.

Waktu itu sudah magrib, sang surya hampir terbenam, burung2 berkicau ke mbali ke sarangnya, jauh di antara gunung gemunung di antara lebatnya pepohonan sana tampak asap mengepul di angkasa. Betapapun sabar hati Kun-gi, setelah heran sekian la manya, kini tak tahan lagi, dia bedal kudanya me mburu ke depan serta bertanya: "Dik, hendak ke mana kau sebetulnya?"

Ji-ping berpaling, sahutnya tertawa: " Kubawa kau mene mui seorang."

"Siapa dia?" tanya Kun-gi.

"Setelah berhadapan pasti kuperkenalkan."

"Orang ini ada hubungannya dengan tujuan perjalanan kita?"

Sambil me mecut kudanya Ji-ping me njawab: "Toako tak usah banyak tanya, setelah tiba saatnya kau akan tahu sendiri."

Kuda mereka adalah milik keluarga Tong yang terpilih, ma ka larinya kencang sekali, 20 li sudah mereka te mpuh, pegunungan di sini berpanora ma indah per mai, pohon Siong dan hutan bambu me magari jalanan, keindahan ala mnya laksana dalam impian-

Tiba2 tergeraklah hati Ling Kun-gi, dia ingat Kim Kay- thay pernah menyinggung Liong-bin-san- ceng kepadanya, letaknya di utara kota Thung-seng, mungkinkah Liong-bin san-ceng terletak dipegunungan ini?

Sementara itu Pui Ji-ping di sebelah depan sudah tiba di kaki gunung, mendadak dia belokkan kudanya ke dalam hutan serta me mper la mbat larinya, beberapa jauhnya, dia lo mpat turun dengan menuntun kuda ia menyelinap semak2 pepohonan yang lebih dalam. Ling Kun-gi ikuti si nona, tanyanya: "Sudah sa mpai belum?"

"Belum, kita se mbunyikan dulu kuda2 ini."

"Apa kita mau pergi ke Liong-bin-san-ceng?" tanya Kun-gi.

"Darimana Toako tahu?" balas tanya Ji-ping kaget dan heran. "Aku hanya menduga, gunung ini adalah Liong-bin-san (gunung

naga tidur) kecuali pergi ke Liong-bin-san-ceng, ke mana lagi?" "Em," hanya itu suara yang keluar dari teng-gorokan J i-ping, dia tetap menuntun kuda me masuki hutan. Akhirnya mereka mena mbat kuda di hutan yang agak gelap dengan pepohonan lebat.

Berkata Kun-gi dengan nada serius: "Dik, me mang jarang orang2 Liong- bin-san-ceng bergerak di kalangan Kangouw, tapi kabarnya kepandaian sang cengcu, cia m- liong Cu Bun-hoa a mat tinggi, iapun pandai me mbangun berbagai alat perangkap. demikian pula racun dan senjata rahasia, jangan kau se mbarangan ma in2 di sini."

"Toako t idak usah kuatir, kita tidak akan mengusik mere ka." "Jadi siapa sebetulnya yang kau cari?"

"Toako ikuti saja diriku" Ji-ping tetap tidak mau menerangkan-

Terpaksa Kun-gi mengikut i ke ma na saja Ji-ping me mbawanya, mereka mendaki bukit tandus di sebelah kiri, lalu menyusur i selokan, lo mpat ke atas pematang dan tiba di sebuah te mpat yang banyak pohon siong, tampak sebuah jalan besar yang dibangun dari papan batu hijau menjurus lurus ke arah sebuah perkampungan, agaknya letak perkampungan itu masih satu li jauhnya... Hari sudah mulai gelap. dilihat dari kejauhan hanya kelihatan bayang2 gelap yang bertutup genteng, itulah Liong-bin san-ceng adanya.

"Marilah kita turun," ajak Ji-ping, dia bawa Kun-gi menuruni jalanan kecil dan berputar ke belakang gunung, mene mbus hutan, tak lama kemudian mereka sudah berada di kiri perka mpungan "naga tidur." Pagar tembok yang tebal dan tinggi dari Liong-bin-san- ceng sudah ta mpak jelas.

Ji-ping berhenti, dia menggape ke arah Kun-gi menyuruhnya mende kat. "Ada apa dik ?" Kun-gi tanya.

Ji-ping menuding dinding, katanya: "Masuk dari sini, di balik tembok ada sebuah jalan besar yang mengitari seluruh perkampungan untuk masuk ke perka mpungan harus me lewati jalan besar beralas batu hijau itu, maka penjagaan sepanjang jalan ini amat ketat dan keras, seluruhnya ada delapan pos penjagaan, setiap pos ada dua orang, ditambah seekor anjing pelacak yang amat galak. kalau kita masuk dari sini harus melewati pos perta ma

....."

"Kita akan masuk?" tanya Kun- gi.

"Sudah tentu, buat apa sejauh ini kita ke mari." "Untuk apa kita masuk ke sana ?"

"Untuk apa kau tidak usah tahu," kata Ji-ping,   "bila   kita me lo mpat naik ke atas tembok, kau harus menggunakan kecepatan luar biasa untuk menutuk Hiat-to kedua orang yang berjaga dipos pertama, kalau anjing datang, biar aku yang menghadapi, cepat kau harus me mbebaskan pula tutukan Hiat-to kedua orang itu, tapi jangan sampai mereka mengetahui jejakmu, dengan kecepatan gerakanmu, se mbunyilah di te mpat gelap. di antara deretan rumah di seberang."

"Bagaimana kau akan menghadapi anjing galak itu?" tanya Kungi.