-->

Pendekar Kidal Jilid 03

Jilid 03

"Tuan ingin supaya kami pakai kekerasan?"

"Me mangnya harus kuperse mbahkan dengan kedua tanganku?" jengek Kun-gi.

"Bagus, keluarkan senjatamu."

"Kalian punya kepandaian apa boleh keluarkan se mua, tak perlu aku pakai senjata."

Sadis sorot mata penjual bakpau, katanya menyeringai: "Baik, hati2lah kau"

Mendadak kakinya bertindak selangkah, golok baja ditangannya terayun, selarik sinar biru bagai kilat menya mber ke dada Ling Kun- gi.

Berdiri alis Ling Kun-gi, katanya: "Kau masih terlalu jauh. Nah, berdirilah yang betul" Badan sedikit miring, tahu2 tangan kirinya sudah pegang pergelangan tangan penjual bakpau yang pegang golok terus dia entakkan pula ke depan.

Penjual bakpau me njerit kaget, golok jatuh ke tanah, orang nyapun sempoyongan mundur dan ha mpir saja terperosok jatuh. Kedua temannya juga kaget, ditengah bentakan mereka serempa k menubruk ma ju, dua golok me mbacok bersa ma dari kanan kiri.

Kun-gi tertawa dingin, bagai terbang tiba2 badannya berputar, tak kelihatan bagaimana dia turun tangan, tahu2 kedua laki2 penyerang mengerang, disusul suara golok jatuh berkerontangan.

Kedua laki2 itu me lo mpat mundur dengan muka pucat dan berkeringat dingin, tangan kiri pegang tangan kanan- Kiranya tangan mereka yang pegang golok kena ditabas oleh telapak tangan Ling Kun-gi, sakitnya bukan kepalang, walau mereka menggertak gigi tidak sa mpa i menjer it kesakitan, na mun otot diataS jidat kelihatan merongkol keluar karena menahan sakit. Seperti tidak terjadi apa2, Kun-gi berkata:

"Kalian masih ingin barang yang kubawa?" Mendadak sorot matanya menatap penjual bakpau, muka berubah kereng, katanya dingin: "Diantara kalian bertiga, mungkin kau adalah pimpinannya, kau pura2 menjual bakpau, dengan senjata rahasia membokong secara keji, main cegat dan minta bekal pula, dari senjata kalian yang beracun itu cukup me mbuktikan bahwa setiap hari kalian pasti kenyang melakukan kejahatan, kini kebentur ditanganku, seharusnya akan kupunahkan kepandaianmu, tapi mungkin kalian hanya di peralat orang lain, maka cukup sebelah lengan masing2 kubikin cacat sebagai hukuman-"

Belum lagi mereka gebrak satu jurus, tahu2 sebelah lengan masing2 sudah dibikin cacat, keruan pucat pias muka ketiga orang, namun sorot mata mereka menjadi buas dan denda m, kata si penjual bakpau dengan menggreget dan me lotot: "Sebutkan nama mu."

"Kalian belum setimpa l untuk mengetahui na maku."

Insaf kepandaian mereka bertiga terlalu jauh dibandingkan orang, akhirnya sipenjual bakpau menggerung marah, cepat dia bawa kedua temannya pergi. Tapi baru saja mereka putar badan, lalu ber-diri tegak me matung dengan laku sangat hor mat.

Kiranya dari jalanan kecil di tengah hutan sana tampak mendatangi seorang laki2 tua baju hitam. Muka orang tua yang kurus ini hitam kering, ke-lihatannya kaku me mbeku, dingin tidak menimbul-kan perasaan- Setelah dekat, matanya yang berbentuk segi tiga berputar, akhirnya berhenti pada ketiga laki2 itu, suaranya seperti keluar dari kerong-kongan jenazah: "Bagaima na? Kalian tidak ma mpu bereskan dia, malah dia yang bereskan kalian?"

Penjual bakpau tadi me mbungkuk hor mat, dia yang bersuara: " Lapor cit-ya, bocah ini sukar di layani, lengan ka mi bertiga dibikin cacat olehnya." "Kalian me mang tidak becus" semprot laki2 tua kurus itu, matanya melirik ke arah Ling Kun-gi, katanya pula: "Anak muda, siapa na ma mu?"

Dingin dan angkuh sikap Kun-gi, ia berdiri menggendong tangan sambil me nengadah, sahutnya: "cayhe ingin tahu lebih dulu siapa nama mu."

Terbayang rona kejam pada wajah laki2 kurus, katanya: "Bagus, anak muda mulut mu ternyata keras juga, pernahkah kau dengar Kwi - kian - jiu Tong cit-ya?"

"cayhe belum pernah dengar" ujar Ling Kun-gi.

Kwi- kian jiu (setanpun sedih melihatnya) Tong cit-ya menyeringai: "Agaknya kau bocah ini baru keluar kandang."

"Kaukah yang mengutus ketiga orang ini?" tanya Kun-gi.

"Betul," sahut Kwi- kian-jiu Tong cit-ya. "Lohu suruh mereka menunggu di sini supaya kau tinggal-kan barang yang kau bawa."

"Sayang mereka tidak berhasil."

"oleh karena itu, terpaksa Lohu susul ke mar i.." "Kau sendiri me mangnya bisa berbuat apa?"

"Pertanyaan bagus," Kwi-kian jiu Tong cit-ya ter-kekeh2. "Lohu, boleh menjawab pertanyaanmu, kalau ingin hidup tinggalkan barangmu itu."

"Enak betul kau bicara."

"Maksud Lohu," kata Tong cit-ya, "kau melukai ketiga orangku, ini boleh tidak usah diperhitungkan, tapi diantara jiwa dan barang yang kau bawa itu kau harus pilih satu."

"Setan sedih melihat mu (Kwi- kian-jiu), tapi manus ia belum tentu takut me lihat mu," Kun - gi menyindir.

"Anak muda, kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi," habis kata2nya tiba2 Tong cit-ya berkelebat maju, tangan kiri bergerak secepat percikan api, pundak Kun-gi dijadikan sasaran ceng-keraman jarinya.

cengkeraman ini me mbawa kesiur angin kencang, tapi hanya sekali kelebat lantas lenyap. aneh dan cepat serta lihay sekali gerak serangan ini.

Sejak tadi Ling Kun-gi sudah siaga dan menunggu, waktu tangan Tong cit-ya beberapa senti dari pundaknya, mendadak kaki menggeser dan badan berkelit, cengkeraman lawan dia hindari, berbareng tangan kiri menabas miring balas menyerang.

Bahwasanya Tong cit-ya tidak pandang sebelah mata pada Ling Kun-gi, ia yakin Cengkera mannya yang lihay itu biar jago2 silat Bu- lim umum-nya jarang yang ma mpu menghindarnya, apalagi lawan hanya seorang bocah yang baru berusia dua puluhan, sekali pegang pasti teringkus dengan mudah?

Tak Nyana lawan hanya sedikit mir ing dapatlah mengela k dengan mudah, keruan ia terkejut, lekas dia kerahkan tenaga dala m, siap untuk me lancarkan kepandaian kebanggaannya Ngo-ting-kay-san- clo (pukulan telapak tangan gugur gunung), sekali gebrak ia ingin bikin ma mpus bocah ini.

Kejadian berlangsung teramat cepat, dlkala timbul niat jahatnya itu, tahu2 Ling Kun-gi sudah menepuk dengan jurus Liong gi- hunjong (Awan bergerak mengikuti langkah naga), damparan angin kencang tahu2 menerjang dadanya.

Betapapun Kwi-kian-jiu Tong cit-ya seorang kawakan Kangouw yang banyak berpengalaman, melihat gaya pukulan lawan serta merasakan terjangan angin kencang ini, lekas dia kerahkan tenaga di lengan kanan terus didorong me mapak maju.. Dua gelombang angin beradu di udara, maka terdengarlah suara benturan keras.

Sedikitnya Tong cit-ya telah kerahkan tujuh bagian tenaganya, tak nyana hasil dari adu pukulan ini, pergelangan tangan sendiri tergetar kesakitan dan kaku, "badanpun limbung hampir tak kuasa berdiri tegak. jubah hitam yang dipakainyapun me-la mba i, tertiup angin pukulan lawan, keruan ia terkesiap. Kulit mukanya yang semula kaku dingin dan seram itu, kini berubah kaget dan heran,

dua biji matanya mencorong bagai sinar kilat, dia pandang Ling Kun-gi dari kepala sa mpai ke kaki, akhirnya menyeringai dingin. " Hebat jugakau anak muda." Tepat pada kata "muda" diucapkan, tangan kiripun terayun, kembali telapak tangannya me mukul dada.

"Mari anak muda," ujarnya menye-ringai sadis, "sa mbutlah sejurus pula pukulan lohu?" nadanya menantang dengan pongah, seakan2 Ling Kun-gi tidak akan kuat menghadapi pukul-annyaini.

Ling Kun-gi masih muda, berdarah panas, sudah tentu dia tak mau kalah? Tegak alisnya, katanya tertawa lantang: "Memangnya, kenapa kalau kulayani pukulanmu?" Lengan kanan terangkat, dia bergerak dengan tipu Sin- liong-to-sin (naga sakti menggerakkan kepala), tangan diayun ke depan dari sa mping.

Gerak pukulan Tong cit-ya amat la mban, gayanya juga enteng, tapi begitu Ling Kun-gi menggerakkan lengan kanan, gaya pukulannya mendada k didorong maju dengan kecepatan berlipat ganda. Pada detik2 kedua tangan orang itu hampir beradu mendadak dia tarik tangan kanan, dengan sendirinya tenaga pukulannyapun batal ditengah ja lan-

Gerakannya amat cepat, tapi menariknya juga tangkas, keruan Ling Kun-gi keheranan, tapi pada saat itu pula mendadak dia merasakan telapak tangannya kesakitan seperti ditusuk jarum, kelima jari2nya seketika kaku.

Didengarnya Tong cit-ya tertawa sinis, kata-nya: "Anak muda, kau sudah terkena jarum telapak tangan Lohu, kuhitung, satu sampai tujuh, kau akan terjungkal roboh."

Mencelos hati Ling Kun-gi, lekas dia berusaha merogoh kantong. Hanya dalam waktu sesingkat ini, Kun-gi merasakan sikutnya kaku tak ma mpu bergerak lagi, keruan kejutnya bertambah besar, pikirnya: "Entah pakai racun jahat apa orang she Tong ini, begini lihay dan cepat bekerjanya?" Untung dia merasakan kegawatan ini, kelima jarinya sudah berhasil menggengga m mut iara penawar racun di dalam kantongnya.

Gurunya pernah me mberitahu, Pi-tok-cu harus selalu dige mbo l di atas badan, segala racun tidak akan bisa melukai dirinya, kalau terluka oleh senjata beracun cukup me letakkan mut iara ini di te mpat luka2 itu dan racun akan tersedot habis dengan sendirinya.

Melihat lawan merogoh kantong, Tong cit-ya kira orang hendak menge luarkan obat, maka dia tertawa lebar dan senang, katanya: "Jarum di telapak tangan Lohu ini hanya bisa dipunahkan dengan obatku, anak muda, jiwa mu tak tertolong lagi."

Sementara itu, tangan kanan Ling Kun-gi meng-gengga m Pi-tok- cu, terasa hawa dingin merembes dari telapak tangannya, rasa kaku kelima jarinya seketika berkurang, maka legalah hatinya. Demi mendengar kata2 Tong cit-ya, alisnya menega k. bentaknya: "cayhe tak bermusuhan dengan kau, kenapa kau menyerang dengan jarum beracun-"

Tong cit-ya ter-gelak2 sambil mendongak. katanya: "Selamanya Lohu tidak suka ngobrol dengan orang yang bakal ma mpus, inilah yang dina makan bunuh ayam menga mbil telurnya." Yang dimaksud sudah tentu barang yang tersimpan di kantong Ling Kun-gi.

Semakin gusar hati Kun gi, sorot matanya semakin taja m, bentaknya pula: "Bangsat tua, kau kejam, licik dan hina pula, kalau tidak diberi ajaran, me mangnya kau kira orang lain takut terhadap jarummu yang beracun?". Tiba2 dia berkelebat maju, berbareng telapak tangan kiri me nghantam ke pundak Tong cit-ya.

Mimpipun tak pernah di duga Tong cit-ya bahwa seseorang yang telah terkena jarum berbisa-nya dan racun sudah bekerja di dalam badan masih ma mpu me nyerang dirinya dengan gerakan setangkas dan selihay ini? Maka terdengarlah suara "plak", telapak tangan Kun-gi dengan telak mengenai pundak kirinya.

"Huaaak" Tong cit-ya mengerang kesakitan, kerongkongan terasa amis, mata ber-kunang2, tak tertahan mulutnya menyembur kan darah segar, dengan sempoyongan dia terhuyung kebelakang dan hampir terjungkal roboh. Ketiga laki2 itu kaget bukan kepalang, serempak mere ka berlomba maju me mayang dari kanan kiri.

Pucat muka Tong cit-ya, darah berlepotan disekitar mulutnya, matanya yang segi tiga mendelik ngeri dan keheranan, katanya: "Anak muda, terhitung jiwamu yang mujur, jarum Lohu sela manya tidak pernah gagal, agaknya seranganku tadi tidak mengena i sasaran"

Pelan2 Ling Kun-gi ulurkan tangan kanan, katanya dengan sikap pongah: "Sudah kena, tapi sebatang jarummu itu me mangnya ma mpu melukai aku?"

Ditengah telapak tangannya me mang masih kelihatan bekas lubang kecil warna kehitaman, jelas itulah bekas tusukun jarum Tong cit-ya tadi.

Berubah kelam air muka Tong cit-ya, serunya kaget: "Kau . .. ..

kau    kebal racun?"

Dengan angkuh Ling Kun-gi mengulap tangan, katanya^ " Kalian boleh pergi, cayhe masih ada urusan" Selesai berkata dia mendahului tinggal pergi.

Gemertak gigi Tong cit-ya, teriaknya beringas: "Anak muda, sebutkan na ma mu" Tanpa meno leh Ling Kun-gi bersuara dingin: "Ling Kun-gi "

Mengawasi bayangannya yang semakin jauh, Tong cit-ya mendengus: "Anak muda, Lohu tidak akan telan kekalahan ini demikian saja."

ooooooooooo

Karena tertunda oleh peristiwa kecil ini, sementara itu hari sudah lewat lohor. Di pinggir jalan Ling Kun-gi beli beberapa buah bakpau untuk isi perut, dalam hati masih terus men-duga2 siapa kiranya pengganti si mata satu? Untuk ini dia harus mene mukan dulu si baju biru dan pe mbantunya yang mengantar secara se mbunyi. Sebelum petang dia tiba diThiat-ho, tak jauh setelah dia masuk kota, secara kebetulan dilihatnya bayangan orang berkelebat di ujung jalan sana, tahu2 seorang berbaju abu2 mendatang ke arahnya. Sesaat lamanya orang ini mengawasi Ling Kun-gi, tiba2 dia bersuara lirih: "Kau ini Ling-ya?"

Melengak Kun-gi, ia balas tanya: "Saudara siapa? Darimana kenal aku?"

"Tidak keliru kalau begitu," kata laki2 itu girang. "cayhe mendapat perintah Loy acu, sejak tadi menunggu Ling- yadi sini."

"Siapa Loy acu yang kau katakan?" tanya Kun-gi.

"Loyacu ada di Ting-sun- lau, setiba di sana Ling-ya akan tahu sendiri," laki2 itu menerangkan-

Berkepandaian tinggi, besar juga nyali Ling Kun-gi, sambil sedikit manggut2 dia berkata:. "Baik.. tunjukkan jalannya"

Laki2 itu mengia kan, ia putar tubuh terus berjalan pergi dengan cepat. Kun-gi ikut di belakangnya. Setelah me mbelo k dua kali menyusuri jalan raya, tampak dipersimpangan jalan sana ternyata betul terdapat sebuah Ting-sun-lau, restoran besar dan mewah pelayanannya. Laki2 itu bawa Ling Kun-gi masuk dan me lewati sebuah pekarangan.

akhirnya mereka tiba di pekarangan belakang, di sini, terurus dengan rapi, pohon dan bunga sama tumbuh subur dan me kar semerbak. Laki2 baju abu2, terus me mbawanya putar kayun me lewati jalan berbelak-belo k hingga tiba di depan sebuah ka mar barulah berhenti, seru laki2 itu sa mbil me mbungkuk: "Loyacu, Ling- ya sudah tiba"

Maka terdengarlah suara serak. berseru dari dalam: " Lekas silakan masuk" Waktu pintu di buka, menyongsong keluar seorang laki2 tua berkepala botak, wajah merah, jenggot ubanan, serunya sambil tertawa: "Ling- lote, lekas silakan ma-suk."

Laki2 botak muka merah ternyata adalah ketua murid2 pre man Siau-lim-pay, yaitu Kim-ting Kim Kay-thay. Di dalam ka mar sudah duduk seorang laki2 tua berbaju panjang ringkas, dia berdiri sa mbil tersenyum, agaknya mereka barusan sedang ngobrol.

Lekas Kim Kay-thay berkata: "Ling-lote, mari kuperkenalkan. Inilah Suteku, Au siok-ha m, dulu dia dijuluki To-pit-wah (lutung banyak lengan), kini dia me njadi majikan dari Ting-sun- lau ini."

Lalu dia berkata kepada: Au siok-ha m "Inilah Ling- lote yang tadi kuterangkan pada mu."

Dia m2 Kun gi perhatikan Au siok-ha m, wajahnya bersih dan ramah, usianya sekitar 55 tahun, Thay-yang-hiat (pelipis) meno njol, sorot matanya terang, sekali pandang dapat diketahui dia pasti seorang ahli kekuatan luar-dalam. .Lekas Kun-gi menjura serta menyapa: "Nama besar Au-ya sudah lama kukagumi, beruntung hari ini dapat berkenalan."

"Tidak berani, tidak berani" lekas Au siok-ha m merendah hati, "Ling lote gagah berani, tadi Kim-suheng sudah menjelaskan, Silakan duduk"

"Kita semua bukan orang luar," ujar Kim Kay-thay "Silakan duduk untuk bicara." Bertiga mereka lantas duduk mengelilingi meja bundar kecil.

Lalu Kun-gi bertanya: "Kim- loy acu sampai perlu datang keThat- ho, apakah cin-cu- ling sudah ada tanda2nya?"

Kim Kay- thay menggeleng, katanya: "Tanda me mang ada, tapi boleh dikatakan juga tidak ada."

"Bagaimana ma ksud ucapan Kim- loy acu?" tanya Kun-gi

" Ling- lote tentu masih ingat, hari itu losiu pernah me mber itahu bahwa kecuali keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di Ling- la m, di dunia Kangouw masih ada suatu keluarga yang terkenal mahir juga menggunakan racun?"

Ling kun-gi manggut2, katanya: " Kim- loy acu me mang pernah menyinggungnya, yaitu Liong- bin--san- ceng . " "Betul, Liong-bin-san- ceng, selama t iga bulan, tiga tokoh kenamaan dari tiga cabang dan keluarga persilatan sama lenyap. namun belum terdangar bahwa Cu cengcu dari Liong-bin-san- ceng juga lenyap. itu berarti bahwa komplotan cin-cu-ling belum lagi turun tangan terhadap Liong-bin-san-ceng. Dengan sendirinya kita menduga bahwa cin--cu- ling ada hubungan dengan Liong-bin-san- ceng, oleh karena itu tempo hari sudah kupesan kepada Ling- lote supaya me mperhatikan hal ini."

"Pendapat Kim- loy acu me mang tepat," kata Ling Kun-gi "Waktu itu cayhe juga sudah pikir-kan hal ini."

"Setelah kau pergi," tutur Kim Kay-thay, "beruntun Losiu mendapat laporan dari para penyelidik bahwa di kota Kayhong secara serentak di-temukan beberapa kelo mpo k orang persilatan, jejak dan gerak-gerik mereka a mat mencur igakan, malda m itu juga, seorang mur id keponakanku berna ma Liau Ngo datang dari Loh- yang, ia melihat dua majikan dan pelayan yang menunjukkan gerak- gerik mencur igakan, ilmu silat mereka a mat mengagum-kan, menurut dugaan, kedua orang ini pasti erat hubungannya dengan cin-cu-ling, dari Loh-yang kedua orang ini terus menuju ke mari, maka dengan dia m-dia m mengunt itnya, di tengah jalan ku- utus seorang lagi untuk me ne maninya "

Kun-gi tahu, dua orang yang dimaksud tentu si baju biru dan laki2 berlengan besi. Sementara kedua murid Kim Kay-thay yang ditugaskan me-nguntit tentu kedua orang yang jadi korban di luar biara itu. Kim Kay-thay sedang asyik bicara, maka dia tidak enak menyela.

Terdengar Kim Kay-thay bicara lebih lanjut. "Tak terduga, pagi2 hari kedua, beruntun aku mendapat laporan pula bahwa beberapa kelo mpo k orang persilatan yang menginap di hotel pagi2 sudah berangkat seluruhnya, arah mereka sama, maka Lo siu menduga dalam hal ini pasti ada sebabnya yang amat penting artinya. Hari itu juga ditemukan Un- loji dari Ling-la m dengan lima pe mbantu-nya, setelah menginap se mala m di Kayhong secara ter-buru2 mereka me lanjutkan ke Tan-liu. Un--leji me mang sering mondar- mandir di Kangouw, tapi kali ini dia mene mpuh perjalanan ke Tionggoan secara tergesa2, Losiu duga perjalanannya ini pasti ada hubungan juga dengan cin-cu- ling. oleh ka-rena itu Losiu berpendapat harus ke mari untuk me lihat keadaan dari dekat."

Setelah orang habis bicara barulah Kun-gi berkata: "cayhe ada sesuatu hal yang membingung-kan, mohon Kim- loy acu suka menje laskan-"

" Ling- Lote jangan sungkan, kita terhitung satu keluarga, ada pertanyaan apa, silakan katakan saja."

"sela ma perjalanan ini cayhe tiga kali menyamar dengan wajah berbeda, entah dari mana Kim- loy acu dapat mengenali diriku?"

Kim Kay-thay ter-gelak2, katanya: "Kau diaembleng oleh seorang cianpwe kosen, bekal kepandaian silat mu sekarang, siapa pula yang kuat menandingi."

"Itu hanya pujian Kim- loy acu saja," Ling Kun-gi merendah diri. "Apalagi Ling- Lote pandai menyamar dan tentu takkan

menga la mi kesulitan, cuma kau baru keluar kandang, pengalamanmu mas ih terlalu cetek."

"Me mang benar, pengalaman cayhe terlalu sem-pit, cara bagaimana Kim- loy acu dapat mengenali cayhe?"

Kim Kay-thay tertawa, katanya: "Sepanjang jalan ini tentu kau pernah bersua dengan pihak mereka serta ketahuan jejakmu, oleh karena itu, diluar tahumu ada orang me mber i tanda rahasia pada buntalan bawaanmu, walau kau menya mar tiga kali bagi seorang ahli, sekali pandang keadaanmu tetap dikenali."

Kun-gi tertegun, katanya: "Ada orang member i tanda gelap di kantongku?, hanya sebuah buntalan kain hijau yang selalu di bawanya, di dalamnya ber-isi pedang panjang yang menongo l keluar keluar adalah gagang payung, di samping itu dia me mbawa bun-talan kecil berisi pakaian, ia coba me meriksa bun-talannya, katanya keheranan: "Di mana, cayhe kok t idak me lihat apa2?" Kim Kay-thay menunjuk ujung kantong bagian bawah, katanya tertawa,   "Beberappa   titik putih dari   kapur inilah,   kau tidak me mperhatikan sudah tentu t idak tahu."

Setelah ditunjukkan baru Kun-gi mene mukan tujuh titik putih sekecil mata jarum di ujung kantong, keruan merah mukanya katanya: "Tanpa mendapat petunjuk Kim- loy acu. cay tetap tidak akan tahu walau sudah keselo mot orang "

Sampa i di sini percakapan mereka., terdengar dari luar ada langkah orang, mendatangi dan berhenti di luar pintu.

"Thing-ing, ada urusan apa?" seru Au-s iok-ha m. Dari luar berkumandang suara seorang anak muda: " Lapor Suhu, pelayan dari Siang-goan-can mengantar surat untuk Ling- ya."

Ling Kun-gi me lengak, batinnya: -" Aku baru tiba di sini, siapa yang mengirim surat kepadaku?"

sikap Kim Kay-thay pun ta mpak prihatin: "Masuklah" seru Au siok-ha m.

Waktu pintu terpentang, maka masuklah seorang pe muda baju ungu, tangannya me megan sepucuk surat

"Mana pelayan Siang-goan-can?" tanya Au siok-ha m. "Sudah pergi," sahut pe muda itu

"Apa dia tidak me nerangkan, siapa pengirim surat ini?" tanya Au siok-ha m.

Pemuda baju ungu me mbungkuk, sahutnya:

"Tecu sudah tanya, katanya seorang, tamu yang menyuruhnya."

Au siok -ham terima surat itu, lalu mengulap tangan menyuruhnya pergi. Si pemuda me mberi hor mat lalu mengundur kan diri. Langsung Au siok--ha m angsurkan surat itu kepad Ling Kun-gi, katanya: " Ling- lote, inilah suratmu."

Kim Kay-thay ikut bertanya: "Kau punya kenalan di Sian-goan- can?" Kun-gi terima surat itu, seraya menjawab: "cayhe seorang diri dan baru saja tiba di Thay-hong, Kim- loy acu lantas suruh orang menje mputku, dari mana ada kenalan di sini."

Bertaut alis tebal Kim Kay-thay, katanya: "Aneh kalau begitu." Lalu mena mbahkan: "coba kau lihat apa is i surat itu?"

Ling Kun-gi robek sa mpulnya dan menarik secarik kertas, tampak di atas kertas tertulis dua   baris   huruf2   yang   berbunyi:   " Disa mpaikan kepada Ling-tayhiap. Adikmu sedang berta mu di rumahku, harap tidak usah dikuatirkan, syukur kalau tuan mau datang dengan me mbawa barang yang kau simpan sebelum matahari terbenam besok. Ka mi tunggu kedatangan tuan di depan Pat-kong-san".

Gaya tulisannya amat kuat, tapi surat ini tidak bertanda tangan, sekian la ma Ling Kun-gi me longo mengawasi surat ditangannya tanpa bersuara. Surat ini bernada me meras, mereka me nahan Adik perempuannya, dirinya harus menebus jiwanya dengan barang yang menjadi incaran mereka. Waktu-nya ditentukan besok sore, tempatnya di Pat-kong-san, Agaknya mereka mengincar Pi-tok-cu ( mut iara penawar racun ) warisan keluarganya, tapi dirinya sebatang kara, selamanya pergi datang seorang diri, dari mana punya adik perempuan?

Melihat dia diam saja, Kim Kay-thay berdehem tanyanya: "Siapa yang mengirim surat itu?"

Ling Kun-gi angsurkan surat itu, katanya "Silahkan Kim- loyacu baca."

Kim Kay-thay tidak lantas menerimanya, tanyanya ragu2: "Boleh kumelihatnya?"

"Silakan baca, nama pengirimnya tidak tertulis, mereka me nculik orang hendak me merasku."

Terbeliak mata Kim Kay- thay mendengar istilah culik dan peras, tanyanya heran: "Ada kejadian be-gitu?" Segera dia terima surat itu. Hanya sebentar dia membaca dan air muka lantas berubah, katanya mendengus- " Orang golongan mana berani bertingkah dan se- wenang2 Au-sute, coba kau lihat, ada berapa kelo mpok golongan hitam di daerah sini? Terang tujuan mereka adalah kita bersaudara."

Setelah me mbaca surat itu, berkerut kening Au siok-ha m, katanya kemudian setelah termenung: " Menurut yang Siaute ketahui, daerah ini tiada orang dari golongan hita m, diatas Pat- kong-san hanya ada sebuah rumah milik keluarga Go. Go-si-siang- hiong me mang anggota dari perkumpulan dagang, selamanya mereka berdagang secara halal, begitu besar usaha dagang mereka hingga di setiap ibu kota propinsi tentu ada cabang mereka, tak mungkin mereka main culik dan peras segala "

"Go-si-s iang-hiong," pikir Kim Kay-thay, "maksudmu Bun-bu-cay- sin Go Bun-hwi bersaudara?"

Au siok-ha m mengangguk sa mbil me ngiakan-

"Bukankah Au-sute kenal baik mereka? Lekas kau suruh Thing- ing menanyakan, apakah tempat mereka di Pat kong-san sekarang dalam keadaan kosong?"

"Kim suheng mengira bila rumah itu kosong ke mungkinan akan dibuat menyekap adik Ling- lo-te oleh kawanan penclik itu?" tanya Au siok ha m.

"Tentunya de mikian- ujar Kim Kay-thay.

"Kim- loy acu," sela Ling Kun-gi, "aku sebatangkara, selamanya tidak pernah punya adik perempuan, "

Kim Kay-thay jadi heran, katanya- "Jadi perempuan yang mereka culik bukan adikmu"

Sampa i di sini mendada k dia mena mbahkan dengan nada serius: "Sebetulnya barang apakah yang mereka minta dari Ling- lote untuk menebus perempuan itu?"

"Mungkin mereka mengincar Pi-tok-cu warisan keluargaku," sahut Kun-gi. "Pi-tok-cu?" seru Kim - Kay-thay, " mutiara yang hendak kau gadaikan itu?"

"Benar. mutiara itu sejak kecil me njadi barang hiasan dibadanku, setelah ibu hilang, sebelum cayhe mene mpuh perjalanan barulah Suhu me mber itahu bahwa mut iara ini dapat menawarkan racun."

"Dijalan apakah pernah kau perlihatkan kepada orang lain?" tanya Kim Kay-thay.

"Tidak pernah, sejak meninggalkan Kayhong, cayhe selalu menyimpannya di dalam kantong ...." mendadak dia teringat peristiwa tengah hari tadi, di perbatasan propinsi pernah bentrok dengan Kwi--kianjiu Tong cit-ya, tanpa terasa mulutnya meng- guma m: "Mungkinkah Tong cit ya adanya?"

"Tong cit-ya?" Kim Kay-thay melenggong.

" ma ksud mu saudara ke 7 dari keluarga Tong? Bagaimana kau bisa mengira dia?"

"Tengah hari tadi dia mencegatku diperbatasan, terpaksa aku me lukainya," tutur Ling Kun-gi.

Kim Kay-thay berkata sambil menoleh pada Au siok-ha m: "Jadi keluarga Tong juga mengutus orang kemar i, orang2 itu bermunculan di Kangouw, tentu- nyabukan secara kebetulan." Lalu dia bertanya pada Kun-gi: "Bagaima na kau bisa bentrok dengan pihak keluarga Tong dari Sujwan?"

"Tiga orang suruhannya mencegat dan menyerangku, mereka menuntut barang yang kubuwa, secara singkat Kun-gi lalu mencer itakan pengala mannya. Mendadak Kim Kay-thay ter-gelak2 katanya:

"Mungkin hanya salah paha m, Tong cit-ya mungkin salah mengenali orang.."

"Salah mengena li orang" Kun-gi menegas.

"Bukankah Losiu tadi bilang, Liau Ngo, keponakan muridku sejak dari Loh-yan mengikuti dua orang, kabarnya kedua orang ini me mbawa barang sesuatu, gerak-geriknya mencur igakan- Menurut apa yang Lohu tahu, ada beberapa kelo mpok orang Kangouw yang menguntit mereka secara sembunyi, kebetulan kau berada di sana sehingga orang2 keluarga Tong menaruh perhatian pada mu dan terjadi salah paham ini."

"Terus terang cayhe juga ketarik akan hal ini, maka secara diam2 menguntitnya pula," kata Kun-gi. Bercahaya mata Kim, Kay-thay, katanya sambil ketawa keras: "Jadi kau juga menaruh perhati-an akan hal ini?"

"Kejadiannya di mulai dari Kayhong, waktu itu cayhe juga belum tahu apa2, soalnya pesuruh mereka yang salah menyerahkan surat padaku." selanjutnya dia tuturkan pengalaman sepanjang jalan ini, cuma soal kantong sulam pe mberian Un Hoan-kun tidak dia singgung..

"Apa yang Ling- lote ketahui kira2 sa ma dengan aku," ujar Kim Kay-thay,

" menurut dugaan Losiu, barang itu tentu sudah diantar ke tempat tujuan terakhir."

" Kim- loy acu me merlukan datang sendiri, tentunya sudah tahu ke mana barang itu akan diantar?"

Kim Kay-thay manggut2, katanya tersenyum^ "Lote tidak usah terburu nafsu, mala m ini Losiu panggil Lote ke mari, pertama karena jejak Lote su-dah terbongkar tanpa Lote sadari, untuk berkelana di Kangouw lebih lanjut sungguh amat berbahaya. Kedua, Losiu sudah mengutus beberapa murid dan secara bergilir menguntit dan mengawasi si mata tunggal yang me mbawa barang itu, maka Lote selanjutnya tidak perlu unjukkan diri."

"Bukankah si mata satu sudah mati, di luar Liong- ong-bio?" tanya Ling Kun-gi.

"Betul, pengganti si mata tunggal adalah si mata tunggal pula, cuma orang yang satu ini picak mata kanannya."

"o, kiranya begitu" Tengah bicara, tampak pemuda yang tadi datang ke mbali lagi, dan langsung me mber i hor mat kepada Au Siok-ha m, katanya: "Suhu, hidangan sudah siap. silakan Kim-supek dan Ling-yaini makan- "

Au Siok-ha m segera persilakan Kim Kay-thay dan Ling Kun-gi makan, mereka keluar ke ruang ma kan, sebuah meja pat-sian yang besar sudah penuh berbagai maca m hidangan yang lezat.

Ditengah ma kan minum itu, Au-Siok-ha m bertanya: "Ling- Lote, bagaimana kau akan menyelesaikan surat yang kau terima tadi?"

Kim Kay-thay tertawa sambil menge lus jenggot, katanya: " Kenyataan Ling-lote tidak punya adik, kemungkinan mereka salah menangkap orang pula. Belakangan ini orang2 keluarga Un dari Ling- lam dan keluarga Tong sa ma muncul di wil-ayah ini, menurut rabaanku,jika orang Kangouw mendengar kabar ini pasti akan sa ma me luruk datang, oleh karena itu dalam beberapa hari ini mungkin akan terjadi bentrokan besar, surat itu tidak menyebutkan na ma pengirimnya, kukira Ling- Lote tidak usah menghiraukannya."

"Tidak!! cayhe sebaliknya berpendapat lain, surat sudah kuterima, maka aku harus menghadapinya . "

"Tong cit-ya selamanya bertindak kejam dan culas, licik dan banyak mus lihatnya lagi, maka dia dijuluki Kwi-kian-jiu (setan sedih me lihatnya ) Ling- lote tidak perlu ikat permusuhan dengan keluarga Tong."

"Peduli soal ini salah paham atau bukan, yang terang Tong cit-ya menyerangku lebih dulu, bahwa aku hanya sedikit me lukai dia seharusnya dia tahu diri, kesalahan bukan padaku. Kini dia menculik orang ma in peras pula, menurut he mat cayhe walau perempuan itu bukan adikku, jelas mereka me mang telah menculik, perbuatan kotor dan hina ini kebentur ditanganku, tak bisa kuberpeluk tangan? Kalau Tong cit-ya sampai kebentur lagi di tanganku, bukan saja akan kupunahkan ilmu silatnya juga akan kubuat dia rebah setahun la manya." Melihat orang bicara dengan nada tegas, wajuh kereng berwibawa, Kim Kay- thay menjublek mengawas inya, katanya ke mudian: "Kalau Ling- lote me maksa hendak menepati undangan, biar kuiringi- mu ke Pat-kong-san, Losiu kenal dengan keluarga Tong, bahwa urusan ini lantaran salah paha m, tentu persoalan bisa dibereskan dengan ja lan da mai."

" Urusan sekecil ini cayhe tak berani me nyusahkan Kim- loy acu, kalau Kim-   loy   acu   kenal   mereka,   biarlah nanti aku tidak me lukainya."

Kim Kay-thay adalah ciangbunjin murid2 pre man Siau- lim-pay,, selamanya kata2nya dipercaya dan disegani di kalangan Kangouw, namanya cukup beken, maka dia dijuluki Kim Ting, selama beberapa tahun ini, tiada orang berani bicara ang- kuh dihadapannya.

Maklumlah Ling Kun-gi berusia muda dan berdarah panas, tanpa sadar dia telah banyak buka mulut. Tapi Kim Kay-thay tidak ambil perhatian, dia hanya tersenyum, soalnya dia tahu keluarga Tong ahli ma in senjata rahasia beracun, dia kuatir Ling Kun-gi mengala mi cidera. Setiap insan yang berkelana di Kangouw, sekali kena dirugikan sekali tambah pengala man, tapi jangan sekali2 kena dirugikan oleh pihak keluarga Tong, kerena racun yang mereka pakai teramat jahat, kena darah lantas menyumbat pernapasan, setelah dirugikan pengala man selanjutnya tentu mengenaskan, salah2 tentu jiwa me layang dengan percuma.

Selesai makan minum, mereka lantas berdiri. Kun-gi segera menjura, katanya: "Beruntung mala m ini cayhe mendapat petunjuk yang berharga, tidak sedikit hasil yang kuperoleh, waktu sudah mendesak, biarlah cayhe mohon diri."

Au siok-ha m tertegun, katanya: " Kapan Ling-- lote bisa berkunjung lagi ke te mpatku ini, harap menginap sema lam di sini, besok pagi boleh berangkat, kenapa buru2?"

"Malam ini aku sudah kenyang makan, banyak terima kasih. Bahwa surat itu dikirim ke mari, ini me mbuktikan bahwa jejakku telah diikuti, ma ka kupikir mala m ini juga aku harus berangkat, pertama supaya jejakku selanjutnya tidak mereka ketahui, kedua aku ingin pergi ke Pat-kong-san lebih dulu, akan kuselidiki asal-usul mereka, apa pula tujuan mereka me nulis surat ini? Siapa pula yang mereka culik? Daripada tidak tahu apa2, kukira perlu ku-bertinda k cepat."

"Me mang betul," ujar Kim Kay-thay, "kalau begitu kita tidak perlu sungkan kepada Ling- lote," lalu dia berpaling pada Ling Kun-gi, katanya lebih lanjut, "Soal si mata satu itu, walau kita belum tahu barang apa yang mereka antar? Tapi pihak keluarga Un dan Tong juga menaruh perhatian, kuyakin ada sangkut pautnya dengan cin- cu-ling. Jejak mere ka sudah berada dalam gengga manku, untuk ini Losiu ada tiga maca m kode untuk me ngadakan kontak dengan mur idku, Ling- lote, boleh mempe lajarinya agar dijalan kau dapat mengadakan kontak dengan murid2 ku," lalu dia menerangkan ketiga tanda2 rahasia itu.

Ling Kun-gi mengingatnya terus mohon diri, "Tunggu sebentar Ling- lote" kata Au siok-ham "Pat-kong-san ada 200 lijauhnya, biar kusuruh Thing- ing menyiapkan seekor kuda untukmu."

"Perjalananku ini secara dia m2, aku harus menye mbunyikan jejak, naik kuda malah kurang leluasa," setelah pamitan dia lantas meninggalkan Ting-sun- lau langsung menuju ke hotel Siang-goan- can-

Tiba2 dilihatnya sepuluhan to mbak di depan sana ada bayangan seorang tengah meluncur dengan enteng danter-gesa2. Gerak- g erik orang ini cekatan dan pesat, setelah meluncur tiba di kaki tembok. sedikit menjejak kaki, tubuhnya terus mengapung ke atas dan dengan ringan hinggap di atas tembok sekali berkelebat, bayangannya tahu2 menghilang.

Melengak Ling Kun-gi, batinnya: "Entah siapa orang ini, lihay juga Ginkangnya." Hati berpikir kaki me mpercepat larinya, setiba di kaki te mbok, dengan gaya Pek-ho-jong-thian (bangau putih menjulang ke langit), dia mengejar ke atas tembo k, waktu dia angkat kepala, bayangan itu sudah melayang turun keluar tembok. dalam sekejap orang sudah me luncur dua puluhan to mbak. cepat iapun me luncur turun, dengan kencang ia me ngudak.

Gerakan bayangan hitam di depan itu secepat terbang, lekas Kun gi menghimpun tenaga murni, iapun ke mbangkan Ginkangnya, tapi jarak tetap dipertahankan dua puluhan to mbak. Hatinya heran, batinnya: "Ginkang orang ini agaknya lebih unggul daripadaku."

Kedua orang meluncur dengan kecepatan tinggi, se mula menyusuri ja lan besar, bayangan di depan dua kali berpaling ke belakang, tapi dengan sigap Kun-gi selalu menye mbunyikan jejaknya.Jarak mereka tetap dua puluhan tombak. mala m gelap gulita lagi, sudah tentu sukar orang di depan itu me lihatnya.

Lo mba lari ini berlangsung kira2 satu jam, tem-bo k kota Po-yang di depan sana dari kejauhan sudah kelihatan, bayangan di depan itu mendadak meninggaikan jalan besar, me mbelok kejalanan kecil di sebelah kiri.

Bahwa orang me miliki Ginkang setinggi itu, Kun-gi menduga ilmu silatnya tentu juga lihay, supaya jejaknya tidak konangan, dia tidak berani mengejar terlalu dekat. Setelah bayangan itu meluncur sekian saat baru dia berputar dari arah lain sambil main se mbunyi di antara bayang2 pohon-Jalanan kecil ini me mbe lok ke arah timur, karena sedikit merandek ini, bayangan di depan tadi sudah tidak kelihatan ke mana perginya.

Kun-gi gunakan mata kupingnya, dengan saksama dia terus merunduk maju, kira2 setengah li kemudian, dari sebelah kirija lanan kecil sana, di antara lebatnya pepohonan tampak me mancar secercah cahaya lampu.

Mengikuti arah sinar la mpu Kun-gi me masuki hutan- Kira2 seratus langkah kemudian, ia mendapatkan sebuah kuil, di atas pintu bergantungan papan na ma yang bertuliskan "Jap-hoa-bio " (kuil tancap bunga)..

Ling Kun- gi celingukan. dilihatnya tiada bayangan orang di sekitarnya, dengan merunduk dia melo mpat ke te mbok terus sembunyi di tempat gelap. dari te mpatnya ini dia me mandang ke dalam kuil.

Di tengah ruangan besar sana tampak menyala sebatang lilin merah, dua orang laki perempuan tengah duduk di kursi di depan- meja se mbahyang. Perempuan yang duduk di sebelah kiri berusia 23-24, wajahnya molek berdandan seperti puteri keraton, pakaiannya serba putih halus sambil ber-cakap2 matanya selalu menger ling me mpesona.

Duduk dihadapannya, di sebelah kanan adalah laki2 baju biru yang sudah dikenalnya itu. Di serambi luar sana berdiri seorang lagi, dialah laki2 baju hijau berlengan besi beracun- Dari gaya dan letak duduk kedua orang ini jelas kedudukan perempuan cantik lebih tinggi, daripada laki2 baju biru, jadi orang yang barusan dia kuntit kiranya perempuan cantik rupawan ini?

Tengah dia men-duga2 didengarnya suara laki2 baju biru tengah berkata lantang: "Bibi coh sa mpa i menyusul ke mar i, entah GihU (ayah angkat) ada petunjuk apa?"

Perempuan cantik tertawa manis, katanya: "Ayahmu menguatir kan dirimu, maka aku di suruh menyusulmu ke mar i."

" Kebetulan bibi coh ke mar i, ada urusan yang perlu kulaporkan-," kata si baju biru.

Mengerling kenes mata si perempuan cantik, tanyanya tertawa- manis: "Kau ada urusan apa?"

"Di dekat Hoay-yang cayhe menemukan orang2 keluarga Un dari Ling lam "

"Un It-kiau ma ksudmu: "

Laki2 baju biru me lengak. katanya: "Bibi coh juga melihatnya?" "Masih ada yang lain?"

"De mikian juga orang ketiga dan ketujuh dari persaudaraan keluarga Tong." Perempuan cantik mengangguk. katanya cekikikan: "Ternyata kaupun telah me lihat mereka, na mun mas ih ada yang la in yang tidak ku sebutkan-"

"Masih ada orang dari golongan mana?" tanya si baju biru me lenggong.

"Pihak Siau- lim."

"o," laki2 baju biru tertawa. " Kepala gundul itu hanya murid kelas tiga dari Siau- lim-si, sejak dari Loh-yang dia sudah menguntit kami, sudah kusuruh Hou Thi-jiu (si tangan besi) me mbereskam dia." - Rupanya si baju hijau berna ma Hou Ti- jiu.

Nyonya muda cantik itu cekikikan, katanya: "Dian-toa siauya (tuan muda Dian), kukira kau melalaikan sesuatu lagi, betul t idak?"

Si baju biru me lengak pula, katanya: "Masih ada seorang bernama Ling Kun- gi, ilmu silatnya tinggi, sukar cayhe mene mukan asal-usulnya."

"Ling Kun-gi?" pere mpuan cantik menepekur, "Kalau Dian-toa siauya maksudkan ilmu silatnya tinggi, tentunya tidak salah lagi, cuma orang apakah dia?, Belum pernah aku melihatnya."

"Usianya baru likuran tahun, wajahnya cakap."

Berkelebat sinar aneh dan biji mata nyonya cantik itu, seperti tidak acuh dia berkata: "Hanya seorang angkatan muda yang tidak ternama." Mendadak dia tertawa serta menambahkan- "Yang kumaksudkan adalah Kim Kay-thay." .

Berjingkrak si baju hitu, teriaknya: "Kim Kay-thay juga datang?" "Dian-toa siauya tidak percaya? Sekarang dia berada diTing-sun-

lau di kota That-hao"

Terkesiap hati Ling Kun-gi, batinnya: "Lihay juga nyonya muda ini, jejak Kim-loyacu ternyata sudah diketahui olehnya." Si baju hijau bersungut marah, katanya: "Agaknya meluruk ke mari lantaran aku, kalau tidak di-beri ajaran sekarang, bila sampai ketempat tujuan mungkin bisa menggagalkan usaha kita."

"Dian-toa siauya, ketiga rombongan orang2 ini sukar dilayani, jangan kita menghadapinya secara terang2an, Dian-toa siauya boleh silakan tetap urus tugasmu, soal ini serahkan padaku, kutanggung takkan terjadi apa2"

"Janji bibi coh a mat meyakinkan, tidak perlu aku berkuatir" kata si baju biru. "Kalau t iada urusan lain, cayhe mohon diri saja."

Si baju biru me mber i hor mat, lalu dengan langkah lebar keluar dari ruang besar. . Hou Thi - jiu mas ih berdiri di depan sera mbi, segera dia mengikuti langkah si baju biru.

Setelah si baju biru dan pengawalnya pergi jauh, Kun-gi hendak mundur secara teratur, tak terduga dalam sekejap saja si nyonya muda yang berada di ruang besar ternyata sudah menghilang. Keruan ia terperanjat, batinnya: " Kepandaian perempuan ini sungguh hebat, dari tempat tinggi sini akupun tidak melihat kapan dia berlalu? Kalau berte mu dia kelak aku harus hati2."

Pada saat itulah mendadak didengarnya seorang tertawa dingin di belakangnya. Menyusul sebuah suara merdu bergema di tepi telinganya: "Berdiri-lah, ada pertanyaan yang akan kuajukan padamu."

Mendengar sutra orang, seketika mengkirik Ling Kun-gi, lekas dia berpaling, tampak nyonya muda rupawan itu sudah berdiri di belakangnya. Wajahnya molek bak bidadari, air mukanya dingin seperti dilapisi saiju yang sudah me mbe ku, sorot matanya tajam laksana pisau mengawasi dirinya.

Berdegup jantung Kun-gi, lekas dia kerahkan hawa   murni me lindungi seluruh Hiat-to dan memba lik badan, katanya sambil tertawa tawar: "Hebat benar Ginkang nyonya."

" Kau siapa? Siapa yang mengutusmu ke sini?" dingin pertanyaan si nyonya muda. "cayhe kebetulan lewat," ujar Ling Kun - gi, "me lihat sinar la mpu, maka kucari ke sini."

"Sejak dari Thay-ho kau menguntit aku, kau kira aku tidak tahu? Kalau Hian-ih- lo-sat secero-boh yang kau duga, mana bisa aku berkecimpung di dunia persilatan?"

Kiranya bayangan orang yang Ginkangnya tinggi tadi adalah dia, julukannya ternyata "Hian- ih-losat" (setan buas berbaju merah).

"Betul, cayhe me mang datang dari kota Thay--ho, kulihat bayangan nona berkelebat di depanku, gerak-gerikmu enteng dan cekatan, karena ketarik kususul kau ke mari, untuk kesalahan ini mohon di maafkan,"

lalu ia menjura. Hian-ih- lo-sat mencibir, katanya: "Enak betul kau bicara"

"Maksud nona ......" suaranya dia tarik panjang sambil mengawasi tajam.

Mendadak Hian- ih-lo-sat unjuk senynum manis menggiurkan, katanya: "Aku ingin kau ikut aku."

"Ha, nona jangan berkelakar"

Hian-ih- lo-sat menar ik muka, dengusnya: "Selamanya tidak pernah aku berkelakar."

Menghadapi sikap Hian- ih- lo-sat yang sebentar tawa lain saat dingin ini, ragu2 hati Ling Kun-gi. Pada saat dan berdiri melongo itulah, mendadak terasa olehnya seperti ada dua orang diam2 mende kati dirinya dari belakang. Gerakan kedua orang ini amat cepat,

waktu Kun-gi menyadari kehadiran mereka, jaraknya hanya setombak lebih, keruan ka-getnya bukan main, secepat kilat dia putar badan-

Sekilas dilihatnya Hian-ih- lo-sat mengulum senyum se mbari mengulap tangan, bentaknya lirih: "Bukan urusan kalian" - Kejadian laksana kilat berkelebat, gerak memba lik tubuh Kun gi sebetul-nya amat cepat. Tapi setelah dia me mbalik badan, yang dilihatnya dua sosok bayangan hitam secara bergegas berkelebat lenyap seperti hantu.

Kembali mencelos hati Kun-gi, batinnya: " Entah siapa kedua bayangan orang ini? Begitu cepat dan tangkas gerakannya."

Terangkat alis lentik Hian-ih- lo-sat, sekilas dia mengerling ke arah Kun-gi. sikapnya berubah ra mah, katanya lembut: "Baiklah, apakah kau menya mar?^

Kun-gi tidak me ladani orang, dengan congkak dia berkata: "Tiada yang perlu kubicarakan, maaf, aku pamit saja." - Kedua kaki menutul, tubuh terus melayang pergi.

"Tunggu sebentar," Hian-ih-lo-sat cekikikan, "pertanyaanku belum kaujawab, kenapa terus per-gi?" Seiring dengan suaranya, tiba2 dan ayun tangan kiri ke udara, dari lengan bajunya melesat ter-bang seutas bayangan halus dan meluncur ke arah kaki Kun-gi.

Kala itu badan Ling Kun-gi tengah terapung di udara, pada saat badannya hampir mela mpaui pagar tembok. mendadak terasa kakinya seperti di tarik orang, badan yang meluncur tiba2 tertahan terus anjlok ke bawah tanpa kuasa. Kesiur angin berbau wangi lantas merangsang hidung, tahu2 Hian-- ih-lo-sat sudah melayang lewat di depannya, gerak-geriknya lemah ge mulai bak tangkai bunga tertiup angin, katanya tertawa manis. " Kenapa tidak jadi pergi?"

Begitu berhenti dan berdiri tegak. langsung Kun--gi me meriksa kakinya, tapi tiada sesuatu perubahan, namun jelas waktu dirinya me lo mpat ke atas tadi kaki terasa ditarik turun oleh sesuatu tenaga raksasa. Tanpa terasa dia menjengek dingin, tanya-nya: " Dengan apa kau me mbo kong aku?"^

Bersinar biji mata Hian-ih- lo-sat, katanya cekikikan genit: "Kuserang kakimu dengan benang sutera merah." Tiba2 tangan kanannya terayun pula, "serrr", bayangan hitam halus yang ha mpir tidak kelihatan mendada k menya mber ke batok kepala Ling Kun-gi. Jarak mereka a mat dekat, melihat orang mendadak turun tangan, keruan kejutnya bukan main, tapi untuk berkelit sudah tidak sempat lagi, maka terasa ikat rambut di atas kepalanya seperti ber- gerak sedikit, kiranya senjata rahasia, orang telah mengena i gelungan ra mbutnya, keruan bertambah kejut hatinya.

Terdengar Hian- ih-lo-sat tertawa, katanya: "Jangan takut, kau tanya aku menyerang dengan senjata apa bukan? Kenapa tidak kau ambil dan periksa sendiri saja?"

Kun-gi meraba gelung ra mbut sendiri serta menurunkan sebatang jarum sulam panjang se-tengah dim, di belakang lubang jarum terikat se-utas benang le mbut warna merah, ujung benang yang lain mas ih terpegang di tangan Hian- ih-to sat.Jarum ini sangat le mbut, namun seluruh batang jarum berwarna mengkilap. terang pernah direndam di dalam racun.

Sekali sendal benang ketarik, jarum itupun mencelat balik dan ditangkap oleh Hian-ih- lo-sat, katanya berseri lebar: "Sudah jelas bukan, jarumku ini mengandung racun, sedikit tertusuk saja segera darah keracunan dan kerongkongan akan tersumbat, tapi kau tidak usah kuatir, tadi aku hanya me mbentur jarum pada sepatumu, soalnya aku masih ingin bertanya padamu, maka jangan kau pergi."

"Apa yang ingin kau tanyakan?,"

Mata Hian-ih-lo-sat mengerling, katanya mesra: "Banyak sekali, umpa manya siapa na ma mu, murid siapa ? Siapa mengutus mu ke mari? Setelah kau jawab terus terang, kau boleh pergi."

"Tiada yang perlu kujelaskan-"

"Berani kau bandel dihadapanku? " bentak Hian-ih- lo-sat. " Kenapa t idak berani," tantang Kun-gi.

Hian- ih-to sat ter-loroh2, katanya:. "Agaknya kau belum tahu siapa diriku?"

"Kenapa aku tidak tahu, kau adalah Hian- ih--lo-sat." "Siapa yang me mber itahu pada mu?" "Kau sendiri yang bilang tadi, kalau tidak da-rimana kutahu."

"Setelah tahu siapa diriku, tentunya kau tahu bahwa aku bertangan gapah dan berhati keji, dan sukar dilayani."

"Sungguh menyesal, baru sekarang aku men-dengarnya."

Hian-ih- lo-sat me lenggong, mendadak dia tertawa, katanya: "O, tampaknya kau ini mas ih pupuk bawang."

Merah wajah Kun-gi, katanya: "cayhe tiada tempo buat mengobro l dengan kau."

cepat Hian-ih-lo-sat mengadang di depannya, katanya dingin. "Sebelum kau bicara terus terang, jangan harap kau bisa pergi."

Bertaut alis Kun-gi, dia mendongak sa mbil ter-gelak2: "Kalau aku mau pergi boleh pergi se-suka hatiku, siapapun tak dapat menga langiku." Alis Hian- ih-lo-sat menegak. suaranya ketus: "Baik, cobalah"

"Nona ingin berkelahi?" "Kau bukan tandinganku." "Belum tentu."

Hian-ih- lo-sat angkat tangannya, jari2nya tampak putih halus, katanya: "Marilah, boleh kau coba beberapa gebrak."

"Nona ingin menjajal kepandaianku, silakan nona turun tangan lebih dulu."

"Begitupun baik, bila kau ma mpu menya mbut 10 jurus seranganku, boleh segera kau pergi," berbareng tangan kiri terangkat, dengan enteng ia menepuk ke pundak Kun-gi. Gerak tangannya se-perti menepuk laksana mencengkera m, aneh dan lihay, satu gerakan se-akan2 mengandung banyak perubahan-

Ling Kun-gi menggeser ke sa mping, telapak tangan terangkat, ia siap melancarkan tipu Thian-g-wa-lay-bun (me ga tiba dari luar langit

) untuk menahan gerak serangan lawan- Tiba2 badan Hian- ih-lo-sat menubruk maju, telapak tangan kanan menabas iga kiri Ling Kun-gi. Gerakan belakangan menya mbung serangan tadi, sehingga tebasan ini menimbulkan kekuatan berlipat ganda.

Tanpa pikir, punggung telapak tangan kiri Kun-gi juga me mbalik, secepat kilat mengebas pergelangan tangan Hian-ih-lo-sat. Terpaksa Hian--ih- lo-sat menar ik ke mba li serangannya, maka telapak tangan Kun-gi yang sempat menyelinap masuk, gerakan ini dilandasi Lwekang tinggi, telapak tangan setajam golok dan mengeluar kan suara menderu, perbawanya tidak kalah hebatnya.

Agaknya tak pernah terpikir oleh Hian- ih-lo-sat bahwa lawan yang dihadapinya ini me miliki Lwekang dan kepandaian setinggi ini, sekilas dia tertegun, sebat sekali dia berkelit mundur, mulut menggerung gusar, teriaknya^ "Tak nyana kau berisi juga"

Setelah bergebrak dua kali, Kun-gi insaf bah-wa Hian-ih- lo-sat betul2 lawan tangguh, na mun Hian- ih- lo-sat juga menyadari bahwa Ling Kun-gi me miliki ilmu silat yang tinggi diluar perhitungannya. Begitu terpencar kedua orang terus menubruk maju lagi, tangan mereka bergerak turun naik dengan kecepatan luar biasa, dalam sekejap mereka telah saling serang pula tiga jurus.

Mendadak per mainan Hian- ih-lo-sat berubah, gerakan tipunya menjadi aneh dan sukar ditebak arahnya, sehingga Kun-gi terdesak mundur ber-ulang2, hampir saja dia tak kuasa me mpertahan-kan diri.

Meski terkejut, dia m2 Kun-gi menghimpun semangat dan mengerahkan tenaga, sebat sekali ia balas menyerang, Lwekangnya me mang t idak le mah, ma ka setiap gerakannya pasti menimbulkan pergolakan angin kencang, serangannya sukar terduga juga, entah tutukan atau pukulan telapak tangan, kadang2 keduanya dilancarkan bersa ma, perubahan banyak ragamnya, sukar dibendung lagi, Hlan-ih-- lo-sat kena didesaknya mundur ma lah sehingga kedudukan tetap seimbang dan sa ma kuat.

Sejak menge mbara di dunia persilatan, entah betapa banyak pertempuran sengit pernah diala mi IHian- ih lo-sat, namun belum pernah dia melihat apalagi menghadapi gerak serangan tangan kosong seaneh Kun-gi sekarang ini, sema kin te mpur se makin terkejut hatinya,

dengan gemulai tiba2 ia mundur dua langkah, kedua tangan me lintang bersiaga, ta-nyanya sambil mengawasi Kun-gi: "Siapa sebetulnya gurumu?"

" Guruku tidak suka diketahui orang, aku pantang menyebut namanya," sahut Kun-gi.

Bersungut marah Hian-ih- lo-sat, bentaknya: "Jangan bertingkah dihadapanku, kau kira aku tidak bisa mengorek keterangan dirimu?" Mendadak ia melo mpat maju, kedua tangan mencengkera m dengan jari2 bagai cakar. Begitu le mas kedua lengannya seperti tidak bertulang, cengkeraman-nya ini mengandung lima-enam perubahan serangan me matikan, terutama kesepuluh ujung jarinya yang runcing, baunya amis, warnanya merah darah me-nyolok dan menggiris kan, bukan mustahil jari2 tangannyapun beracun

cepat Kun-gi mundur setengah langkah, telapak tangan kanan terayun menjojoh dengan keras, tangan kiri menangkap dengan kecepatan luar biasa sasarannya adalah tangan kanan Hian-ih-lo-sat yang terkembang jari2nya. Hian-ih lo- sat kaget seketika, cepat dia tarik tangannya. Tak terduga perubahan gerakan, Ling Kun-gi teramat cepat, baru saja dia menarik tangan, kelima jari Kun-gi lak- sana cakar besi tahu2 sudah meny amber tiba meremas tulang pundaknya.

cepat Hiah-ih- lo-sat berkelit ke sa mping, ber-bareng telapak kanan me mbacok punggung tangan Ling Kun-gi, terdengar suara nyaring, tangannya berhasil menyampuk punggung tangan anak muda itu.

Tapi pada detik2 singkat laksana percikan api itu, tiba2 terasa oleh Hian- ih- lo-sat telapak tangan lawan telah me mbalik terus terangkat naik. Dari telapak tangan Ling Kun-gi terdorong kekuatan luar biasa melalui lengannya, begitu keras getaran ini sampa i lengannya terasa kesemutan, tanpa kuasa dia tergentak mundur tiga langkah. Gebrakan ini berlangsung tera mat cepat dan mereka sa ma menyurut mundur. Terunjuk secercah senyum pada wajah Hian-ih- lo-sat, ia tatap Ling Kun-gi sekian la manya, akhirnya ia menghe la napas pelahan tanyanya: "Kau berna ma Ling Kun-gi, betul tidak?"

Kun-gi me lengak. sebetulnya dia ingin balas tanya: "Darimana kau tahu?" na mun dia lantas berpikir pula. "Tadi si baju biru pernah me mber itahu bahwa diriku biasa mengguna kan tangan kiri. "

Karena itu ia tertawa, katanya: "Betul, cayhe me mang she Ling." Berkedip sepasang mata Hian- ih- lo-sat yang me mpesona itu,

mendadak dia cekikikan, katanya: "Jangan kau anggap dirimu luar biasa, ketahuilah, punggung tanganmu sudah tergores luka oleh kuku jariku"

Sejak mula Kun-gi sudah tahu bahwa  kuku orang rada ganjil, ke mungkinan beracun, namun dia pura2 bodoh, katanya: "Me mangnya kenapa kalau tergores? Kau kira telah mengalahkan aku?"

06

Hin- ih- lo-sat angsurkan kedua tangannya, ke-sepuluh jari2nya yang putih halus itu pelan2 ter-angkat, katanya tertawa riang. " Lihatlah kuku jariku"

Kuku jarinya yang terpelihara baik itu ternyata masing2 dicat warna berbeda, ada merah, putih, hijau, biru, ungu dan lain2, siapapun yang menyasikannya pasti ketarik.

"Kau pandai ma in racun?" tanya Kun-gi ngeri.

"Syukurlah kalau kau tahu," ujar Hian-ih- lo-sat, "racun yang ada dikuku jariku ini cukup menggores luka kulit daging orang, kena pagi tidak lewat siang, kena siang tidak lewat petang,"

Tapi Kun-gi hanya mendengus: "Hm, me mang ganas, tak heran kau berjuluk Hian- ih-lo-sat."

"Aku telah melukai punggung tanganmu, nanti pasti kuberi obat penawar, namun " "Tidak perlu, aku tidak takut segala maca m racun," tukas Kun-gi. "Kalau begitu boleh silakan pergi."

"Baik, cayhe mohon diri," dengan beberapa lompatan dia sudah berlari kencang menyusup ke-hutan-

Sekaligus dia menuju kejalan besar, baru saja dia ayun langkahnya, tiba2 dibelakangnya seorang berteriak. "Anak muda, tunggu sebentar"

Waktu Kun-gi berpaling, tidak jauh di belakangnya berlari sesosok bayangan tinggi besar, langkahnya enteng, seperti lambat gerakannya, namun kecepatan luncuran tubuhnya sungguh a mat mengagumkan, se-olah2 kedua tapak kaki tidak menyentuh tanah.

Perawakan orang ini tinggi besar, wajahnya legam seperti besi, alisnya pendek go mbyok. matanya sipit, hidung singa mulut lebar, jubah warna kuning tua sudah luntur dan sepanjang lutut, kaki telanjang, tampang dan dandanannya sangat aneh, nyentrik. kata orang jaman kini.

"Tuan me manggilku?" tanya Kun-gi dengan angkuh.

Bersinar tajam mata si gede menatap Kun- gi, katanya sambil manggut2: "Kalau bukan aku, me mangnya siapa lagi?" .

"Tuan siapa, ada perlu apa me manggil cayhe?" tanya Kun-gi. Terkekeh si gede, katanya dengan suara rendah: "Anak muda,

besar nyalimu, menurut kebiasaan Lohu, kau hanya boleh menjawab tapi tidak boleh bertanya, tahu tidak?"

Melihat sikap orang yang sok berlagak tua, Ling Kun-gi menjadi geli, sikapnya semakin angkuh, katanya: "Itukan kebiasaanmu sendiri, tuan tahu peraturanku?"

Terbeliak mata si gede, tanyanya. "Kau juga punya peraturan segala?"

"Betul,   menurut   aturanku,   peduli    siapapun    dia    harus me mper kenalkan na manya lebih dulu, setelah kupertimbangkan apakah dia setimpa l bicara dengan aku barulah aku ma u me ladaninya," sudah tentu omongannya ini sengaja hendak me mancing ke marahan orang.

Tak terduga setelah mendengar uraian Kun-gi, bukan saja tidak marah, si gede malah ter-bahak2. Gelak tawanya seperti suara gembreng pecah, begitu keras me meka k telinga, semakin tawa suaranya semakin tinggi dan berge ma laksana guntur menggelegar di le mbah pegunungan-

Sedikit berobah rona muka Kun-gi, dia berdiri tegak tidak bergeming, na mun hatinya kaget dan me mbatin: "Lwekang orang ini a mat tinggi."

Lenyap gelak tawanya, mata sipit si gede me lotot kereng dingin, katanya: "Kita sama mengukuhi peraturan sendiri, nah mar i kita tentukan peraturan siapa lebih berguna ?"

Pelan2 lengan kanannya terangkat, dari lengan bajunya yang longgar itu terjulur keluar sebuah tangan aneh berwarna kuning legam, kelima jarinya mene kuk laksana cakar elang, setiap jari2 tumbuh kuku sepanjang satu dim, runcing dan tajam laksana pisau, kiranya itulah sebuah tangan te mbaga.

Ling Kun-gi pernah me lihat tangan besi Hoa Thi-jiu, bentuknya menyerupai cakar. gunanya seperti alat senjata tajam umumnya, kelima jari2nya sudah tentu tidak bisa bergerak seperti jari2 tangan manus ia umumnya. Tapi tangan tembaga yang dilihatnya sekarang ternyata tak berbeda dengan tangan manusia umumnya, kelima jarinya dapat terkembang dan mencengkeram dengan leluasa.

Pada saat2 genting itulah, mendadak sebUnh suara merdu berseru dipinggir telinganya: "saudara cilik, lekas mundur "

Kun-gi mengenali yang berseru me mberi peringatan itu adalah Hian-ih- lo-sat, namun sebelum me mbukt ikan apa yang akan terjadi, mana dia mau mundur ? la berdiri tegak tidak bergerak. ia tunggu sampai cakar te mbaga lawan yang aneh itu ha mpir mencengkera m dirinya, mendadak ia kerahkan tenaga pada telapak tangan kanan terus menangkis ke depan- Gerak serangan tangan tembaga lawan me mang pelan2, sedang tangkisan Kun-gi bergerak cepat, Tak tahunya begitu telapak tangannya menindih pergelangan tangan lawan terasa seperti me mbentur sebatang besi, sedikitpun tidak berge ming, cakar tembaga orang tetap bergerak pelan mengincar pundaknya.

Tangan kanan Ling Kun-gi yang menangkis terasa kesakitan, rasa linu kesemutan sampai me njalar ke atas pundak. keruan kagetnya bukan kepalang, sungguh dia tidak habis mengerti bahwa sebuah tangan tembaga bisa begini lihay, cepat dia menarik napas se mbar i me lo mpat mundur.

Si gede tidak mengejarnya, wajahnya menyeringai puas, matanya melirik ke arah hutan, bentaknya: "Siapa itu di dalam hutan? Apa yang kau katakan kepada bocah ini?"

Tiba2 terendus bau harum terbawa angin le mbut, waktu Ling Kun-gi menoleh, tahu2 Hian- ih-lo-sat sudah berdiri di sebelahnya.

"Untuk apa kau ke mari?" se mprot si gede.

"Apa aku tidak boleh ke mari?" Hian- ih-lo-sat cekikikan, matanya menger ling tajam, tanyanya pula: "Kau mengenalku?"

"Lohu tidak kenal," ujar si gede.

Hian-ih- lo-sat tertawa, katanya: "Kau tak kenal aku, sebaliknya aku mengenalmu."

"Kau tahu siapa Lohu?"

"Kau adalah La m- kiang- it-ki Thong-pi-thian--ong, betul tidak?" "Thong-pi-thian-ong (raja langit lengan te mbaga) ? Tak pernah

Suhu menyinggung na ma orang ini" de mikian Kun-gi ber-tanya2 dalam hati.

Terbeliak mata Thong-pi-thian-ong, sesaat lamanya   dia menga mati Hian-ih- lo-sat, katanya ke-mudian- " Kaum persilatan di Tionggoan ternyata ada juga yang kenal Lohu." -Sampai di sini tiba2 dia manggut2, katanya pula: "Baiklah, Lohu tidak akan berurusan denganmu, boleh kau menyingkir." "Kalau aku mau pergi, takkan kumuncul di sini," ujar Hian- ih-lo- sat.

"Kau mas ih ada urusan apa?" Thong-pi-thian--ong menegas.

Hian-ih- lo-sat tidak menghiraukan pertanyaan orang, katanya berseri tawa kepada Kun- gi: "Agak-nya kau me ma ng tidak gentar pada racunku."

"cayhe tidak mati, kau merasa di luar dugaan?" ejek Kun-gi. "Aku ber maksud baik, mengantar obat untukmu."

Merah muka Kun- gi, lekas dia menjura, katanya: "Kalau begitu,

aku yang salah paha m."

"Syukurlah," ujar Hian- ih-lo-sat, lalu mena mbahkan- "kau me mang tidak keracunan, lekaslah pergi saja."

"Lohu tidak menyuruhnya pergi, siapa yang berani pergi?" bentak Thong-pi-thian-ong.

Hian-ih- lo-sat cekikikan, katanya: "Me mang-nya kau tidak dengar, aku yang menyuruhnya pergi?"

"Nyonya sudah tahu julukanku, tapi masih bertingkah dihadapanku, me mangnya kau sudah mene lan nyali harimau."

"Betul, kalau aku tidak punya nyali, mana berani kusuruh dia pergi."

Lekas Kun-gi bersuara: "Kalau cayhe mau pergi segerapun bisa pergi, peduli a mat dengan orang lain"

Hian-ih- lo-sat mengedip seraya berkata dengan Thoan-im-jip-bit (ilmu mengirim gelo mbang suara): "Thong-pi-thian-ong meraja i Lam- kiang (wilayah selatan), saudara cilik, bukan aku merendahkan kau, tapi kau me mang bukan tandingannya, biarlah aku mengadangnya sesaat, lekas kau pergi."

Jelilatan mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya mur ka: "Dihadapan Lohu, kalian berani main bisik2, apa yang kalian perbincangkan?" "Kudesak dia lekas pergi," ujar Hian- ih-lo-sat.

"Tidak boleh," bentak Thong-pi-thian-ong, " bocah ini akan kutahan-"

"Untuk apa kau me nahannya?"

"Lohu ingin tanya seseorang kepadanya." "Siapa yang kau tanyakan?" tanya Kun-gi, "Hoan-jiu- ji- lay Di mana dia?"

"cayhe tidak tahu." "Kau bukan muridnya?"

"Kalau benar mau apa?Jika bukan kenapa pula?"

"Waktu kau bergebrak sama dia tadi, jelas yang kau mainkan adalah ilmu ajaran bangsat gundul itu, me mangnya Lohu salah lihat?" Thong--pi-thian-ong terkekeh dingin-

Ternyata dia menyaksikan beberapa jurus gebrakan Kun-gi me lawan Hian-ih- lo-sat tadi, maka dia mencegatnya di sini.

Kun-gi naik pitam mendengar orang me manggil gurunya 'bangsat gundul', katanya gusar: "Me mang tidak salah, beliau me mang guruku, ada urusan apa kau mencari beliau? Boleh kau bicara saja dengan aku."

Mendengar Ling Kun-gi adalah murid Hoan-cjiu- ji-lay, tanpa terasa Hian-ih-lo-sat mengawasi lekat2.

Thong-pi-thian-ong tergelak2, katanya: "Ternyata betul kau mur id bangsat tua itu, bagus sekali, lekas katakan, bangsat tua itu sekarang berada di mana?"

"Jejak beliau tidak menentu, tak mungkin cayhe menjelas kan," sahut Kun-gi.

Thong-pi thian-ong mendesak selangkah, katanya sambil menuding Kun-gi: "Kau murid bangsat tua itu, masakah tidak tahu dia sembunyi di mana? Kalau tidak berterus terang, jangan salahkan Lohu tidak me mber i a mpun pada mu."

Kun-gi gusar, serunya: "Anggaplah aku tidak mau menerangkan, kau bisa berbuat apa terhadap diriku?"

Thong-pi-thian-ong terkekeh2, jari2 tembaga yang runcing tajam tiba2 mencengkera m, hardik-nya beringas: "Maka Lohu harus menahanmu, ka-lau yang cilik kuringkus, masakah yang tua tidak akan keluar dari kandangnya?"

"Nanti dulu" lekasi Hian- ih-lo-sat mencegah.

Tangan tembaga Thong-pi-thian-ong yang sudah terulur berhenti di tengah jalan, bentaknya sa mbil berpaling: "Ada apa kau?"

"Kau ingin mencari gurunya, kalau ma mpu pergilah cari sendiri, nama Thong-pi-thian-ong cukup beken, me mangnya kau tidak malu berkelahi dengan anak murid orang?"

"Sela manya Lohu tidak peduli soal tetek- bengek. sudah 30 tahun Lohu mencari bangsat tua itu, kebetulan muridnya kebenturku di sini, betapapun Lohu takkan melepaskan dia pergi"

"Tidak bisa,"jengek Hian-ih- lo-sat, "tadi aku sudah suruh dia pergi, ma ka dia harus pergi."

Mendelik Thong-pi-thian-ong, dengan gusar dia tatap Hian-ih-lo- sat, katanya ter-kekeh2: "Nyonya muda, kau berani campur tangan

. ." tangan yang bergerak dan sedianya hendak me nye-rang Ling Kun-gi tadi tiba2 bergerak pula pelan2 beralih ke arah Hian-ih- lo-sat.

Sementara itu Kun-gi sudah keluarkan pedang panjang dari buntalannya, hardiknya: "Tahan"

"Kau mau ajak Lohu mencar i gurumu?" tanya Thong-pi-thian- ong.

Kun-gi berdiri kereng menenteng pedang, katanya: "Soal ini tiada sangkut pautnya dengan nona ini. Tidak sukar me mbawa mu mene mui guruku asal kau bisa menga lahkan pedang ditangan-ku

....." Thong-pi-thian-ong coba pandang pedang di tangan Ling Kun-gi, mendadak ia tertawa lebar, katanya dingin: "Lohu ingin menahan- mu, sudah tentu harus mengalahkan kau lebih dulu."

"Adik cilik," seru Hian-ih- lo-sat, "kau bukan tandingannya, lekas menyingkir."

"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan nona. lekas kau pergi saja," sahut Kun-gi.

"Anak muda, kau sudah siap?" Thong-pi--thian-ong tidak sabar lagi, kelima jarinya terkembang terus mencengkera m ke arah Kun- gi.

Sejak kecil Ling Kun- gi meyakinkan ilmu pedang warisan keluarganya. cuma waktu dia hendak berangkat Suhunya pernah berpesan wanti2, kecuali terpaksa ilmu pedangnya dilarang sembarang ditunjukkan di depan umum. Sekarang dia menghadapi Thong-pi-thian-ong yang berilmu silat serba aneh, lengan tembaga dan telapak tangan tembaga pula, kerasnya laksana baja, kalau dirinya melawan dengan   bertangan   kosong,   mungkin   untuk me mpertahankan diri saja sukar, maka terpaksa dia keluarkan pedangnya.

Kini melihat cakar te mbaga lawan mencengkera m tiba, secepat kilat otaknya bekerja: " Lengan tembagamu me mangnya tidak takut senjata tajam, tapi anggota badanmu yang la in, apa juga kebat senjata?" Sebat sekali ia berkelebat maju, pergelangan tangan menggentak. pedangpun menabas miring. Serangan ini dilancarkan dengan badan miring sa mbil mendesak maju, orangnya tiba pedangpun menganca m. Walau jurus yang dan gunakan hanya tipu biasa Sian-niao-hoa-se (burung dewa menggores pasir), namun dilancarkan oleh seorang ahli seperti Ling Kun-gi, bukan saja lebih lincah dan hidup, gerakannyapun teramat cepat dan berbahaya.

Sepasang mata Hian- ih-lo-sat me mancarkan sinar terang menyaksikan ilmu pedang yang tiada taranya ini. Selama hidup Hoan-jiu ji-lay tidak pernah menggunakan pedang, namun murid tunggalnya ini ternyata me miliki ilmu pedang yang tinggi dan lihay sekali.

Kelima jari te mbaga Thong-pi-thian-ong terpentang, gerakannya seperti amat lamban, tujuannya semula hanya mau mer ingkus bocah kurang-ajar ini, tapi serta melihat gerakan pedang Ling Kun- gi yang hebat, tiba2 ia mendengus,jari2nya malah mencengkera m pedang yang menyamber t iba. Sungguh per mainan aneh, perubahannyapun cepat tak terduga, lengan sedikit me lint ir, tahu2 batang pedang sudah berhasil dipegangnya, sementara jari tangan kiri berbareng menutuk ke pundak Kun-gi.

Terasa batang pedang mendada k tergetar, pergelangan tangan anak muda itupun kese mutan, telapak tangan lecet kesakitan, tahu2 kelima jari lawan yang beruji runcing juga menyerang tiba. Keruan bukan main kaget Kun-gi, kalau dirinya tidak lepas pedang serta me lo mpat mundur, pundak sendiri pasti kena tertusuk, terpaksa dia le mparkan pedangnya, lalu dengan gerakan Hu-kong liang-in (cahaya mengambang me la mpaui bayangan) dia meloncat mundur ke belakang.

Dengan mencengkera m pedang di tangan kanannya, tutukan jari tangan kiri Thong-pi-thian--ong masih tetap mengarah ke depan, mulutpun me mbentak: "Anak muda, robohlah kau!!"

Jarinya yang menuding ke depan tetap diacungkan, tahu2 sarung jari tembaga yang terpasang diujung jarinya melesat ke depan me mbawa kesiur angin kencang, sasarannya tetap tidak berubah, pundak kiri Ling Kun-gi.

"Adik cilik, awas" Hian-ih- lo-sat berseru me mperingatkan-

Hanya sekali gebrak. pedang terampas, dikala dia merasa bingung dan kaget, tahu2 selarik sinar kuning kemilau me lesat ke arahnya, keruan Kun-gi ta mbah berang, serunya dengan tertawa lantang:

"Bagus" - Tangan kiri terangkat, dia incar selong-song jari tembaga itu terus menjentiknya sekali. Kali ini dia gunakan Tan-ci- sin-thong (selentikanjari sakti) salah satu dari 72 ilmu silat Siau lim- pay. "creng", selongsong jari tembaga itu kena dijentiknya mencelat beberapa tombak jauhnya.

Selama puluhan tahun belum pernah tutukan jari terbangnya ini menga la mi kegagalan, kini kecundang di tangan seorang muda yang dianggapnya mas ih ingusan, tapi ternyata me miliki ilmu silat tinggi, sekilas dia me lengak. dengan pandangan liar dia tatap Ling Kun-gi, jengeknya sambil terkekeh: "Bagus, anak muda, agaknya seluruh kepandaian si bangsat tuapun telah diturunkan pada mu."