-->

Pendekar Kidal Jilid 01

Jilid 01

Cuaca cerah, udara terang, tiada badai, tidak ada ombak di tengah sungai atau danau, namun demikian gelombang o mba k tetap mendampar, yang di belakang mendorong ke depan, air tetap menga lir tak ter-putus2. Demikian pula suasana Kangouw (sungai- telaga), mengejar na ma, berebut rejeki, yang kuat mencaplo k yang le mah kelaliman, kesadiaan kejahatan tetap merajalela, liku kehidupan dunia persilatan penuh diliputi muslihat, kapan insan per- silatan pernah mengenya m kehidupan a man dan da mai?  Sepanjang musim se mi tahun ini suasana Kangouw atau dania persilatan me mang agak tenteram, na mun keadaan ini tidak bertahan lama, karena kabar yang mengejutkan tiba2 me mbikin keadaan yang aman tenteram menjadi ge mpar dan bergolak.

Kabar pertama yang mengejutkan adalah lenyapnya Tong-Thian- jong, tertua keluarga Tong di Sujwan yang terkenal dengan ilmu senjata rahasia dan racunnya. Kabar kedua yang mengge mpar kan adalah hilangnya Un It-hong, tertua keluarga Un di Ling lam yang terkenal dengan obat bius dan wewangian yang memabukkan, Keduanya menghilang secara beruntun tak keruan parannya .

Konon periatiwa ini terjadi pada per mulaan tahun lalu, soalnya keluarga yang kehilangan ketuanya ini tutup mulut dan merahasiakan hal itu sehingga urusan baru bocor setelah berselang tiga bulan ke mudian, sudah tentu berita ini menjadi topik pembicaraan setiap insan persilatan.

Keluarga Tong di Sujwan berada di utara, se-mentara keluarga Un di Ling-la m ada di selatan- Sebetulnya kejadian hilangnya ketua dari kedua keluarga ini betapapun tiada sangkut pautnya satu sama yang lain- Soalnya peristiwa ini berlangsung sebelum dan sesudah tahun baru, sehingga orang mau tidak ma u menganggap kejadian itu suatu kebetulan, apalagi kabar yang tersiar luas di dania persilatan bersimpang siur sehingga umum merasa urusan ini agak miaterius.

Kabarnya setelah kedua tokoh ini hilang secara aneh, orang2 dari kedua keluarga ini mene mukan sebutir mutiara sebesar kacang di bawah bantal mereka. Menemukan mutiara di bawah bantal sebetulnya bukan suatu hal yang aneh, cuma mutiara yang mereka temukan ini terukir sebuah huruf "LING" (perintah atau firman) sebesar kepala lalat bewarna merah menyolok. Dan karena adanya huruf "LING" yang terukir di atas mutiara inilah menjadikan urusan menarik perhatian orang banyak.

"cin-cu- ling" (fir man mutiara), hampir setiap insan persilatan tiada yang pernah dangar nama ini di Kangouw. Lambang seseorang ataukah golongan? Soal ini simpang siur dan tiada scorangpun   yang   bisa menje laskan secara ga mblang dan pasti. .

Yang terang cin-cu-ling menyebabkan dua orang tertua dari keluarga besar yang tersohor di dania persilatan lenyap. Kini tiga bulan sudah lalu, soal ini masih ra mai dibicarakan orang, namun kejadian masih terselubung, bagai batu kece mplung laut, sejauh itu masih menjadi teka-teki.

Yang terang orang2 dari kedua keluarga ini mas ih terus mencari dan menyelidiki.

cin-cu-ling me mang me nimbulkan gelo mbang besar di dania persilatan untuk beberapa la manya tapi la mbat laun hal inipun dilupakan orang.

Thay goan-tang merupakan pegadaian terbesar di kota Kayhong, letaknya dijalan besar di timur kota. Huruf "Tang" (gadai ) bagai poster raksasa menghias tembo k tinggi yang me lintang di depan rumah setinggi dua to mbak. Begitu masuk, pintu angin lebar dari papan tebal mengadang dijalan- pintu angin inipun dihiasi huruf gadai yang melebihi besar manusia sehingga keadaan di dalam tidak kelihatan dari luar. Me mangnya siapa yang tidak malu menggadaikan barang miliknya kalau tidak kepepet karena "tongpes" alias kantong ke mpes?

Hari sudah lewat lohor, keadaan rumah gadai Thay-goan sudah sepi, pada saat itulah seorang pemuda me masuki pintu pegadaian itu. Pemuda ini berjubah hijau, usianya likuran tahun, mukanya cakap. alia tegak. mata besar bersinar taja m, sikap-nya ra mah dan halus mir ip seorang pelajar, tapi sebuah buntalan panjang tiga kaki me lintang di punggungnya, tidak mirip payung, mungkin senjata yang selalu dibawanya untuk me mbela diri.

Pemuda jubah hijau langsung menuju ke loket terdekat, sebentar dia berdehe m, lalu bersuara le mbut. "Mana petugasnya"

Seorang laki2 tua berkaca mata berlari2 dari sebelah dala m, sekilas diawasinya pemuda jubah hijau ini, lalu berseri tawa sambil menyapa: "Siangkong (tuan) hendak menggada i barang apa." Pemuda jubah hijau manggut2, tangan mero-goh kantong dan menge luarkan sebutir mut iara terus diangsurkan- Mutiara ini sebesar telur burung puyuh, lapat2 berse mu kuning, sinarnya mencorong benderang, orang awampun tahu bahwa benda ini adalah barang mestika yang tak ternilai harganya.

Petugas tua ini mener ima serta di-timang2 di telapak tangan, lalu tanyanya: "Mau digadaikan berapa, Siang kong?"

"Lima ribu tahil perak." sahut pemuda jubah hijau.

Sebetulnya nilai mutiara ini sedikitnya laksaan tahil, tapi petugas ini tak berani se mbarangan bertindak, dengan seksama dia a mat2i mut iara serta memer iksanya dengan lebih teliti. Akhirnya ditemukan sebuah ukiran huruf "LING" warna merah di atas mutiara yang menguning terang itu Seketika jantungnya berdetak keras seperti hendak meloncat keluar dari rongga dadanya.

Sekilas ta mpak berubah air muka petugas tua ini, Tapi kejap lain rona mukanya berobah pula seperti kegirangan- sudah tentu semua perubahan ini tak lepas dari pengamatan si pe muda jubah hijau. Tapi pe muda itu anggap tidak tahu saja.

Sengaja petugas tua ini me mer iksa dan menimang2 sekian la manya, habia itu baru berkata dengan tertawa lebar: "Mutiara Siangkong ini tak ter-nila i harganya, hanya digadai lima ribu tahil saja "

"Ya, baiklah kugadaikan," ujar pe muda jubah hijau.

"Tapi lima r ibu tahil juga bukan jumlah yang kecil, ma ka "

"Lho, kenapa, kau t idak mau terima?"

"Tidak. tidak. kami buka pegadaian, mana tidak terima gadai? Soalnya lima ribu tahil, kami tiada uang kontan sebanyak itu, dan lagi mutiara ini harus di unjukkan dulu kepada majikan kami."

"Boleh saja," ujar si pe muda, "silakan undang majikanmu." "Sebagai langganan, mari silakan Siang kong duduk didalam dan

minum secangkir teh, segera kusuruh orang mengundang majikan," sembari bicara dia me mbuka pintu di ujung sana, lalu menya mbut dengan munduk2: "silakan duduk. Siang kong."

Si pe muda tidak sungkan dengan tegap ia masuk ke dala m. Petugas tua menyilakan duduk. seorang kacung menyuguhkan secangkir teh.

Petugas tua menge mbalikan mutiara dengan ke dua tangannya, katanya. "Siangkong, simpan dulu mutiara ini, setelah berhadapan dengan majikan boleh kau perlihatkan kepada beliau." lalu ia bisik2 kepada si kacung sekian la manya, kacung itu mang-gut2 terus berlari keluar.

"Majikan tinggal di pintu selatan, sebentar be-liau akan datang, Entah siapakah she Siang kong"

"Aku she Ling" sahut si pemuda. "Siangkong kelahiran mana?" "Ing-ciu," agaknya dia sungkan bicara, maka jawabannya

pendek2 saja.

"Te mpat bagus," ujar si petugas tua. Si pe muda hanya tersenyum saja.

Pembicaraan terputus sampai sekian saja, sipetugas lalu menge luarkan pipa cangklong dan mengiaap te mbakaunya. Kira setanakan nasi kemudian, tampak dari luar datang seorang laki2 setengah baya berpakaian ketat warna biru, laki2 ini beralis tebal,

mukanya kasar kereng, badannya tegap kuat. Kacung cilik tadi tampak ber-lari2 di belakangnya.

Lekas si petugas tua menurunkan pipa sambil berdiri, serunya tertawa: "Nah, sudah datang." Si Pe muda ikut berdiri.

Sementara laki2 setengah baya sudah beranjak masuk. matanya langsung menatap si pemuda jubah hijau, sekedar menyapa pada si petugas, katanya: "Apakah saudara ini yang hendak menggadaikan?"

Si petugas manggut2, sahutnya: "Ya, ya inilah Ling-s iangkong dari Ing-ciu." Kepada si pe muda segera ia me mperkena lkan: "Inilah mur id terbesar majikan ka mi The Si- kiat The-toaya, belakangan majikan jarang menca mpur i urusan perusahaan, semuanya The- toaya inilah yang me mberes-kannya."

" Kiranya The-ya," si pe muda me mberi sala m.

The Si- kiat me mbalas hor mat, katanya: "Tidak berani, cayhe diperintahkan guru ke mari untuk mengundang saudara ke sana untuk bicara."

" cayhe hanya menggadai barang saya," sahut si pe muda.

Umumnya gadaian hanya mengenal barang tanpa kenal orang, kalau harganya cocok boleh di bayar, kalau tidak boleh ditolak.

The Si- kiat tertawa, ujarnya: " Guruku berkata, mutiara yang tak ternilai harganya hanya digadai lima ribu tahil, menurut aturan, jumlah ini mer upakan nilai yang besar, maka kedua belah pihak perlu bicara langsung, oleh karena itu harap saudara sudi terima undangan ini."

Si pe muda tertawa tawar, katanya: "Kalau de mikian, terpaksa aku terima undangan ini."

"Marilah, kutunjukkan jalannya," ujar The Si-kiat terus melangkah keluar lebih dulu. Si pemuda mengikut di belakang meninggalkan rumah gadai ini.

Mereka jalan beriring, The Si- kiat me mbawa-nya berputar menyusuri dua jalan raya panjang dan ramai. Kira2 setengah li ke mudian, mereka me m- belok ke sebuah lorong lebar yang beralas batu besar dan bersih mengkilap. pohon2 tua dan tinggi berderet di kedua pinggir jalan-.

Entah sengaja atau tidak The Si- kiat seperti hendak menjajal si pemuda, begitu me masuki lorong ini langkahnya tiba2 dipercepat, kelihatannya langkahnya lambat tidak ter-gesa2, namun tubuhnya bergerak bagai terbang, orang biasa umpa ma berlari sekencang2nya juga takkan biaa menyusulnya. Pemuda jubah hijau mengikut di belakang, langkahnya juga la mban saja seperti tidak ingin berlo mba lari, berlangsung seperti tidak terjadi apa2, na-mun jaraknya dengan The Si- kiat tetap sama, hanya beberapa kaki, sedikitpun tak pernah ketinggalan-

Jalanan batu mengkilap ini panjangnya ada dua li, sepanjang jalan ini The Si-kiat melangkah dengan amat pesatnya, hanya sekejah saja sudah tiba di depan sebuah gedang besar dan berhenti. Dia kira sipe muda tentu ketinggalan jauh dibelakang, tak tahunya waktu dia berpaling, ternyata si pemuda dengan sikap wajar juga berhenti di belakangnya, -Keruan ia kaget, batinnya: "Di antara murid Siau-lim-pay dari kaum pre man, aku diberi julukan Sin- hing thay-po (malaikat jalan pesat), kecuali orang mengerahkan tenaga dan menggunakan Ginkang, rasanya tidak sembarang orang bisa menyusul diriku, tapi bocah ini a mat lihay juga Ginkangnya. sedikitpun tidak mau ketinggalan di belakang." Segera dia menghe la napas panjang serta berkata dengan tertawa: "Sudah sa mpai"

Si pe muda angkat kepala, dilihatnya gedang besar memakan tanah yang amat luas, rumahnya ber-lapia2 me manjang ke belakang, bentuknya megah serta mewah. Kedua pintu besar yang bercat hitam sudah terbentang lebar, di depan pintu berdiri dua laki2 muda berpakaian jubah hijau, sikapnya gagah dan kereng. Kiranya adalah Kim- ing-ceng yang tersohor di kalangan persilatan-

Locengcu atau pemilik perka mpungan tua ini bernama Kim Kay- thay, dia pula yang menjabat ciangbunjin dari murid pre man Siau- lim-pay. Kaum persilatan sa ma me manggilnya Kim- ting, Kim loyacu.

"Kim-ting" (hianglo e mas te mpat dupa) adalah julukan Kim loyacu, konon dulu dua dijuluki It-kun-cui- kim-ting (sekali pukul menghancur kan Hianglo), tapi karena kelima huruf ini kurang enak dibaca, maka orang lebih suka me manggilnya Kim-ting saja. Dan lagi Kim-ting secara kiasan juga mengandang arti dapat dipercaya katanya.

Di bawah ir ingan The Si-kiat, si pe muda terus me masuki pintu besar, melewati pekarangan luas dan panjang, me masuki pintu kedua, di sini terjaga oleh dua pemuda baju hijau. begitu The Si-kiat datang, segera mereka me mbungkuk hor mat dan menyapa: "Suhu sudah menunggu di ruang barat, silakan Toasuheng bawa ta mu ke kamar barat."

The Si- kiat mengiakan saja terus me mbelok ke arah kiri, setelah menyusuri serambi panjang yang ber-belo k2, mereka tiba di ka mar di sebelah barat.

Itulah sebuah ka mar tersendiri yang berjendela kaca, sekeliling kamar dipagari tanaman bunga aneka warna, gunung2an dan kolam ikan, pajangan di sini sangat per ma i, terang ditangani seorang ahli.

Undak2an di depan pintu ka mar berdiri pula dua laki2 jubah hijau, kiranya mereka adalah mur id Kim- loyacu.

Mengikuti langkah The Si-kiat, si pe muda langsung me masuki kamar bunga itu, tampak di atas sebuah kursi besar me mbe lakangi dandang sebelah timur sana duduk seorang laki2 tua berkepala botak. berjenggot putih ber muka merah, sorot matanya bersinar tajam. begitu melihat muridnya me mbawa si pemuda masuk. segera dia unjuk tawa serta berdiri menya mbut.

Setelah dekat The Si-kiat berhenti serta berkata pada tamunya: "Inilah guru kami."

Si Pe muda maju me langkah, kedua tangan terangkap me mberi hormat, katanya lantang: "Sudah lama kudengar na ma besar Kim- loyacu, atas undangan ini, Wanpwe amat bersyukur dan beruntung." Lekas The Si-kiat berkata lirih kepada gurunya: "Suhu, inilah Ling-s iangkong . "

Kim Kay-thay bermata panjang, dengan seksama dia awasi pemuda jubah hijau ini, sudah tentu yang menar ik perhatiannya adalah buntalan panjang di belakang punggung si pemuda, bagi seorang ahli tentu segera tahu bahwa buntalan ini berisi pedang panjang.

Sambil mengawasi orang, tangan kanan Kim- loyacu terangkat sambil berkata: "Tamu agung, tamu agung Silakan duduk. Silakan duduk" Si pe muda juga tidak sungkan2, dia duduk di kursi depan orang. Seorang pemuda la in berbaju hijau lantas menyuguhkan minuman-

Kim Kay-thay berdehem kecil, lalu berkata dengan tertawa: "Ling-siangkong, siapakah na ma leng- kapmu "

"cayhe bernama Kun-gi." "Tinggal di ma na?"

"Di Ing- Ciu," sahut si pe muda alias Ling Kun-gi.

Kim Kay-thay manggut2, katanya: "Lohu dangar Ling-s iangkong punya sebutir mutiara hendak digadaikan lima ribu tahil perak? Bolehkah kuperiksa?"

Ling Kun-gi merogoh kantong dan mengeluar-kan mutiara yang terikat benang e mas dan di- angsurkan-

Kim Kay-thay menerimanya serta menga mati-nya dengan teliti, katanya kemudian: "Lohu ingin mohon sedikit keterangan dari Ling- siangkong, entah sudikah menerangkan?"

Ling Kun-gi tertawa tawar, ujarnya: "Kim- loyacu ingin tanya soal apa?"

Tajam tatapan mata Kim Kay-thay, katanya: "Apakah Ling- siangkong tahu asal-usul mutiara ini?"

"Inilah barang peninggalan leluhur ka mi," jawab Ling Kun-gi. Jadi mut iara itu adalah warisan leluhurnya.

"Siapakah na ma gelaran ayah Ling-s iangkong?" tanya Kim Kay- thay.

"Ayah almarhum sudah meningga l sejak beberapa tahun, Kim- loyacu tanya soal ayah, apa-kah beliau ada sangkut pautnya dengan mut iara ini?"

"Lohu hanya tanya sambil lalu saja, Ling- kongcu me mbekal pedang ke mana2, tentunya kaupun dari kalangan persilatan?" "cayhe hanya belajar beberapa jurus pukulan dan ilmu pedang, baru saja mula i berkecimpung di Kangouw."

Sekilas terpancar sinar terang dari kedua biji mata Kim Kay-thay yang sipit, katanya sambil manggut2: "Ling-siangkong gagah dan cakap. tentunya dari keluarga persilatan ternama juga."

"Ayah almarhum dan ibu sama2 tak mahir ilmu silat, kepandaian rendah yang cayhe miliki kuperoleh dari didikan guru."

"o, entah siapa na ma crelaran guru Ling-s iangkong?"

"Guruku tidak punya gelaran, namanya juga tidak ingin diketahui orang lain."

Kim Kay-thay mengelus jenggot, katanya: "Guru Ling-s iangkong mungkin seorang tokoh persilatan lihay dan aneh tabiatnya."

"Dari mutiara wariaan keluarga ka mi ini, Kim- loyacu tanya asal- usul dan riwayat hidupku, apakah engkau menaruh perhatian atau curiga terhadap mu-tiara milikku ini"

Sejenak Kim Kay-thay melengak. katanya ke-mudian sa mbil tertawa: " Ling-s iangkong jangan salah paha m."

"Apa yang ingin Kim- loy acu ketahui sudah kujawab terus terang. kini cayhe juga ingin tanya satu hal, entah Kim- loy acu sudi me mber i penjelasan t idak?"

Kim Kay-thay tetap tersenyum simpul, katanya: "Boleh Ling- siangkong katakan."

"Kukira Kim- loyacu tentu pernah melihat mu-tiara yang mirip dengan mutiara milikku ini?" kata Ling Kun-gi.

Sedikit berubah air muka Kim Kay-thay, ka-tanya tertawa: " Ling- siangkong adalah kaum persilatan, tentunya juga sudah mendangar peristiwa cin-cu-ling di kalangan Kangouw?"

"Ya, cayhe datang ke Kayhong memang ingin cari tahu tentang cin-cu-sing yang mengge mpar kan dania persilatan itu." Terunjuk rasa heran pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya: "Apakah Ling-siangkong sudah tahu?"

Menegak alis Ling Kun- gi, katanya sambil ter-tawa keras. "Itu terserah kepada Kim- loyacu. apakah sudi mengunjukkannya kepada cayhe"

Tak urung berubah juga ro man muka Kim Kay-thay, katanya: " Ucapan Ling-s iangkong tidak beralasan, darimana lohu biaa me mpunyai cin-cu-ling itu?"

"Waktu cayhe berangkat, sudah kudangar bahwa Lok-san Taysu, pimpinan ruang Yok-ong-tian di Siau lim-si mendadak hilang, di tempatnya tertinggalkan sebutir cin-cu-ling, Hongtiang ketua Siau- lim-s i sudah serahkan cin cu-ling itu kepada Kim- loyacu, me mangnya kabar ini hanya berita angin belaka?"

Dingin sikap Kim Kay-thay, katanya: "Semula kukira guru Ling- siangkong adalah tokoh aneh yang mengasingkan diri dan jarang berkecimpung di dunia persilatan- .... "jelas nadanya penuh sindiran-

Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Guruku me ma ng suka menca mpur i urusan tetek-bengek, sejak tiga puluh tahun yang lalu sampai sekarang, tabiat ini tak pernah berubah."

Sekilas terpancar perasaan aneh pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya prihatin: "Siapakah sebetulnya gurumu?"

"Tadi sudah cayhe jelaskan, guruku tidak punya gelar, kalau Kim- loyacu ingin tahu, boleh selidiki dari per ma inan beberapa jurus pukulanku"

Kim Kay-thay naik pitam, katanya kereng: "Jadi maksud kedatanagnmu bukan ingin me nggadai mutiara mu itu?"

"Sa ma2," ujar Ling Kun-gi tertawa: "Kim-loyacu mengundangku ke mari, tentunya juga bukan ingin bicara soal nilai gadai mutiaraku, bukan?" "So mbong benar kau anak muda" dangus Kim Kay-thay. Sudah banyak tahun tiada orang berani bertingkah dihadapan Kim- loyacu, tak heran dia naik pita m.

Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Setua umur guruku, selamanya tak ada yang terpandang olehnya, cayhe adalah ahli waris guruku satu2nya, me mangnya siapa pula yang bisa terpandang dalam mataku?"

Berubah gusar wajah Kim Kay-thay, serunya tertawa: "Bagus sekali, Lohu ingin tahu mur id siapa kau sebetulnya?" lalu ia letakkan mut iara itu diatas meja, katanya pula: "Kalau Ling siangkong tidak menggadaikan mutiara ini, silahkan a mbil kembali."

"Me mang betul ucapan Kim-loyacu." Kata Ling Kun-gi, segera tangan di ulur menga mbil mutiara itu terus dimasukkan ke kantong bajunya. Berkilat biji mata Kim Kay-thay, serunya berat: "Si-kiat"

"Tecu siap" sahut The Si-kiat me mbungkuk.

Kim Kay-thay berpesan: "Tujuan Ling-siang- kong adalah gurumu, boleh kau minta belajar beberapa jurus padanya, dari permainannya nanti, mungkin aku bisa mengenal perguruannya. "

"Tecu mengerti," sahut The si- kiat, lalu dia menjura kepada Ling Kun-gi, katanya: "Ling-siangkong ingin me mber i petunjuk. mar i silakan bergebrak di luar, di sana lebih luas."

"Menjajal kepandaian bukanlah main to mbak di atas kuda, cukup dua-tiga langkah saja cukup, kalau bergebrak di sini Kim- loyacu tentu bisa dapat menyaksikan lebih jelas."

The Si- kiat tertawa dingin, katanya: "Kalau Ling-s iangkong berpendapat demikian, bolehlah gebrak di sini saja." ke mba li dia menjura serta mena mbahkan: "Silakan Ling-siangkong me mber i pelajaran,"

Sambil mengawasi orang Ling Kun-gi mengulum senyum lebar, katanya: "Selamanya cayhe tidak pernah menyerang lebih dulu, harap The-ya tidak usah sungkan-" terang dia sangat meremehkan The Si- kiat. The Si-kiat adalah mur id tertua Kim-t ing Kim-loyacu, di antara mur id2 pre man Siau-lim-pay, dia merupakan jago yang berkepandaian tinggi, kini ia dipandang hina sede mikian rupa oleh Ling Kun-gi yang masih muda belia dan pupuk bawang lagi, sudah tentu hatinya geram setengah mati, namun dia hanya mendengus, katanya: "Baiklah bila aku berlaku kasar" dia m2 dia menghirup napas panjang dan mengerahkan tenaga, tangan kanan melindungi dada, serangan segera siap dilancarkan.

"Si- kiat," tiba2 Kim Kay-thay me mbentak. "tunggu sebentar."

Lekas The Si- kiat me mbatalkan dan menar ik kuda2nya, sahutnya me mbungkuk: "Ada pesan apa, suhu?"

"Betapapun Ling siang kong adalah ta mu kita, jangan se-kali2 berlaku kasar padanya," kata sang guru.

Berlaku kasar artinya tidak boleh mencabut nyawanya tapi boleh kau beri ajaran setimpal biar kapok.

"Tecu mengerti," sahut The Si-kiat. ia membalik badan dan telapak tangan kiri terbuka, kepalan tangan kanan melingkar di depan dada, serunya: " Ling-siangkong, hati2lah" begitu telapak tangan kiri bergerak. tahu2 kepalan tangan kanan mendahului menggenjot pundak Ling Kun-gi, yang dilancarkan adalah ilmu coan- hoa-kun (pukulan menyelinap bunga)... .

Ling Kun-gi pun tidak menyingkir, ia tunggu kepalan The si- kiat hampir mengenai pundaknya, mendadak sedikit mir ingkan badan, kaki kiri me langkah setengah tindak. di ma na tangan kiri terangkat, dia tepuk pundak kanan The si-kiat, serangan balasan ini datang lebih dulu ma lah. Justru yang dimainkan ini aneh dan lucu tampaknya, walau tepukannya enteng seperti tidak mengguna kan tenaga, tapi pukulan The Si-kiat mengenai te mpat kosong, gerakannya sukar dihentikan lagi, dia terhuyung ke depan lima langkah.

Berubah air muka Kim Kay-thay karena gerakan Ling Kun-gi mirip sekali dengan Tui-liong-jip- hay (dorong- naga masuk laut), salah satu jurus cap-ji-kim-liong jiu dari perguruannya, cuma Ling Kun-gi me lancarkan jurus ini dengan tangan kiri, jadi berlawanan dengan kebiasaan-

cap-ji-kim-liong-jiu (dua belas jurus tangkap naga) adalah salah satu dari 72 ilmu silat Siau-lim-pay. Termasuk 12 tingkatan teratas dari deretan ilmu lihay Siau-lim- pay, ilmu ini diciptakan oleh cikal bakal Siau- lim- pay yaitu Bodhi Dhar ma setelah dia menyela mi Ih Kin- keng, kecuali mur id2 Hou-hoat atau pe mbela biara, ilmu ini tidak pernah di ajarkan kepada murid2 pre man-

Sebagai murid tertua dan berkepandaian paling tinggi di antara mur id2 Kim Kay-thay, ternyata dalam gebrak per mulaan saja dirinya sudah kecundang, sudah tentu The Si-kiat malu bukan main, mulut menggerung, tiba2 badannya berputar cepat, berbareng kedua tangan menyerang secara me mbadai.

Karena sudah kecundang, maka jurus per ma inan selanjutnya tidak kepalang tanggung lagi, ia me lancarkan Hak hou cio hoat (ilmu pukulan penakluk harimau) dari Siau lim-pay. Ilmu ini cukup terkenal dalam bu- lim dengan kekuatan dan kekasarannya, begitu dike mbangkan perbawanya ternyata bukan olah2 hebatnya, setiap gerakan jurus tangannya membawa deru angin kencang seperti badai menga muk, kekuatannya cukup menghancur kan pilar batu.

Tak tahunya Ling Kun-gi melayaninya seperti tidak terjadi apa2, sikapnya adem aye m, kedua kaki tetap berdiri di te mpat tak bergeser sedikitpun, hanya badannya saja yang bergontai kian ke mari, namun setiap serangan lawan dapat dihindarinya dengan mudah. 

Dirangsang a marah, tentu saja serangan The Si-kiat sema kin bersemangat dan tumple k seluruh kepandaian silatnya, jurus ketiga adalah Jiu kip-pau-tan (tangan merogo h ulu harimau), jari2nya berbalik merogoh ke bawah dari bawah pergelangan tangan yang lain, bagai kilat tahu2 serangannya mengincar ulu hati Ling Kun-gi.

Begitu cepat dan ganas serangan ini. Jarak keduanya dekat lagi, pula badan Ling Kun-gi mas ih miring ke sa mping karena menghindari jurus kedua tadi, gerakannya jadi sukar berubah dan tak mungkin berkelit lagi. Dia m2 The Si- kiat mendengus hina, tenaga dia kerahkan ketangan kanan, gerakanpun dipercepat.

Tatkala jari tangannya menyentuh baju Ling Kun gi itulah, mendadak terasa pergelangan tangan kanan mengencang sakit, tahu2 tangan orang sudah mencengkera m pergelangan tangannya. keruan hatinya mencelos kaget, baru saja dia hendak meronta, namun sudah terla mbat.

Kejadian berlangsung begitu cepat dalam sekejap saja, Ling Kun- gi tetap mengulum senyum. sedikit dia gerakkan tangan kiri. badan The Si- kiat yang tinggi tegar itu tiba mencelat dan terbanting jatuh..

Sebagai murid pre man angkatan kedua dari Siau- lim-pay. kepandaian The Si-kiat sebetulnya tidak le mah, di tengah udara dia sempat mengarahkan Jian-kin-tui, kedua kakinya hinggap di atas tanah dan berhasil me mpertahankan diri. Sehingga tidak jatuh namun mukanya yang sudah merah kelam menjadi se ma kin gelap seiring malu, katanya dengan tertawa tawa: " Ling-siangkong me mang hebat." Segera dia hendak menubruk maju lagi.

Betapa tajam pandangan Kim Kay-thay, dari jurus kedua yang dimainkan Ling Kun-gi ini dia sudah yakin bahwa ilmu itu adalah cap ji-kim-liong-Ciu, tipu yang dinamakan Ih- kim- ko-Yong (hendak ditangkap sengaja menurut   saja),   cuma   bedanya dia   tetap me lancarkan jurus secara terbalik, dengan tangan kiri, keruan hatinya terkesiap. diam2 ia me mbatin: "Mungkinkah dia murid beliau?" Tanpa menunggu The Si-kiat bergerak lebih lanjut, cepat ia me mbentak: "Si-kiat berhenti"

Mendangar seruan gurunya, lekas The Si-kiat melurus kan kedua tangan, sahutnya mengangkat kepala:

"Suhu, ini ". dia ingin bilang "Tecu belum kalah."

Namun Kim Kay-thay segera menyela: "Tak usah dilanjutkan, kau bukan tandingan Ling-lote. "

The Si-kiat tak berani banyak bicara, namun batinnya tidak terima dan penasaran sekali. Kim Kay- thay tidak hiraukan sikap muridnya, ia berdiri dengan muka berseri ia berkata kepada Ling Kun-gi: " Ling-lote, silakan duduk."

Dari Ling-siangkong mendadak dia menyebutnya Ling-lote (saudara Ling), nadanyapun jauh lebih ra mah dan hor mat.

Dia m2 The Si-kiat menggerutu dalam hati, na mun dia juga dapat mengira gurunya berpengalaman luas, dari dua gebrakan tadi, tentu beliau sudah tahu asal-usul Ling-s iangkong ini.

Ling Kun-gi tersenyum penuh arti, tanpa bicara ia ke mbali ke tempat duduk se mula.

Mengawasi Ling Kun-gi, berkatalah Kim Kay-thay dengan tulus: "Ingin kutanya suatu hal, entah sudikah Ling-lote me mber itahu?"

Dari nada ucapannya jelas berubah jauh sekali pandangannya terhadap anak muda ini, walau dirinya lebih tua, sedikitpun ia tak berani angkuh lagi. "Kim-loyacu ingin tanya apa?" jawab Ling Kun gi.

"Gurumulah yang ingin kutanyakan, apakah beliau seorang beribadat?"

Ling Kun-gi hanya tertawa, katanya: "Tadi sudah kukatakan, guruku tidak punya gelar dan tidak mau disebut na manya, terpaksa tak bisa kujawab pertanyaan Kim loyacu."

"Tidak apa, kalau Ling-lote tidak mau me mber itahu, akupun tidak me ma ksa," sebentar Kim Kay-thay merandek lalu bertanya pula dengan tatapan tajam: "Jadi Ling-lote ke mar i lantaran cin-cu- ling itu"

"Betul," Ling Kun-gi mengangguk.

"Bolehkah Ling- lote bicara sedikit lebih je las?"

"Baiklah akan kujelaskan- Akhir tahun yang lalu, secara mendadak ibuku menghilang. ." "o," Kim Kay-thay bersuara kaget, "apa-kah ibumu juga orang persilatan?"

"Tidak. ibu sedikitpun t idak mahir ilmu silat."

"lbumu tidak bisa silat?" seru Kim Kay-thay penuh keheranan. "Aneh sekali, jadi Ling- lote, kira hilangnya ibumu ada sangkut pautnya dengan cin-cu-ling?"

"Aku sendiripun tidak tahu, tapi begitulah kata guruku. Loh-san Taysu, pimpinan Yok-ong-tian di Siau- lim-si mendada k lenyap. di tempatuya konon ditinggalkan sebutir cin- cu-ling, ma ka cayhe disuruh ke sini mene mui Kim-loyacu untuk mencoco kkan apakah cin-cu-ling itu mirip dengan mutiara warisan keluargaku atau tidak?"

"Peristiwa hilangnya Loh-san suheng amat dirahasiakan, hanya beberapa orang saja dari pihak Siau-lim-si yang mengetahui, boleh dikatakan tiada seorang kangouwpun yang tahu, bahwa Ling-lote ke mari atas perintah gurumu, baiklah tak perlu kumain sembunyi lagi, Waktu Loh-san Suheng hilang, di tempat tinggalnya me mang ditemukan sebutir cin-cu-ling, karena para paderi Siau-lim-si jarang yang keluyuran di Kangouw, maka tugas mencari jejak Loh-san Suheng ini oleh ciangbun Hong-t iang diserahkan kepadaku, ma ka mut iara itupun kini berada ditanganku"- Sa mpa i di sini dia berdiri dan menambahkan, "Harap Ling-lote   tunggu   sebentar,   biar kua mbilkan mutiara itu."

"Kim- loyacu boleh silakan," sahut Ling-Kun gi sa mbil berdiri. .

Bergegas Kim Kay-thay masuk ke dala m, tak lama ke mudian keluar pula sa mbil menenteng sebuah bungkusan kain warna kuning, ia duduk ke mbali di kursinya terus me mbuka bungkusan kain kuning itu, isinya adalah sebuah kotak persegi kecil dari kayu. Dengan hati2 dia buka kotak kecil itu, lalu mengeluar kan sebutir mut iara sebesar telur burung dara, katanya: " Ling-lote, inilah cin- cu-ling itu." Ling - Kun-gi menerimanya serta meng-amat2i dengan seksama, mutiara inipun bolong tengahnya dan disisipi benang emas, sebelah atasnya ada ukiran huruf "Ling" warna merah menyolo k, bentuknya mir ip sekali dengan mutiara warisan keluarganya, cuma besar kecilnya saja yang berbeda, sampaipun ikatan benang emas itu satu sama lain juga sama. Ling Kun-gi angkat kepala dan bertanya:

"Apakah Kim- loyacu sudah mendapatkan hasil penyelidikan yang diharapkan?"

Kim Kay-thay menggeleng kepala, katanya tertawa getir: " Walau Ling- lote tidak mau katakan asal-usul perguruan, bahwa gurumu suruh kau ke Kayhong untuk mene muiku, itu pasti ada hubungan intim ada diantara kita. maka biarlah kuterus terang, anak murid preman Siau-lim si tersebar luas di- mana2, dan banyak diantaranya yang membuka Piaukiok, cabang kitapun tersebar ke segala pelosok. dalam jangka tiga bulan ini sudah kuberi instruksi kepada mereka untuk menyelidikinya secara ketat. di samping mengada kan sergapan bila mana yang dianggap mencurigakan, na mun bukan saja jejak Loh-san Suheng tetap tidak dite mukan, soal cin-cu- ling inipun nihil hasilnya, cuma aku jadi ingat akan suatu hal"

Sambil mengelus jenggotnya, tiba2 dia berhenti. "Kim loyacu ingat akan hal apa?" tanya Ling Kun-gi.

Kim Kay-thay tidak segera menjawab, dia merenung sebentar, lalu balas bertanya: "Apakah ibumu pandai mengguna kan racun?"

Ling Kun-gi tertegun, sahutnya tertawa: "Tadi sudah kukatakan, ibu bukan kaum persilatan, sudah tentu beliau tidak bisa menggunakan racun."

"Kalau demikian apakah ibumu pandai tata rias atau.. pengobatan?"

Tanpa pikir Ling Kun-gi menjawab, "ibu t idak tahu soal obat2an-" "Aneh kalau begitu," Kim Kay-thay, "sebetulnya tiada alasan

mereka menculik ibumu."

Ling Kun-gi ta mpak bingung, tanyanya: "cayhe tidak tahu, apa maks ud ucapan Kim-loyacu." "Itu dasarnya pada analisa dari tiga peristiwa yang baru2 ini terjadi di Kangouw. Tapi ibumu bukan kaum persilatan, tidak tahu obat2an, juga tidak mengerti soal racun, na mun juga lenyap tak keruan parannya, kini gurumu suruh kau ke mari mene muiku pula, kalau gurumu anggap soal ini ada sangkut pautnya dengan cin-cu- ling, tentu urusan tidak akan me leset sama sekali analisaku tadi menjadi harus diragukan-"

"Bagaimana analisa Kim- loyacu, bolehkah diterangkan?" tanya Ling Kun-gi.

"Setelah Loh-san Suheng lenyap. tersiar pula berita di kalangan Kangouw bahwa ketua keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di Linglam juga lenyap secara aneh, keluarga mereka juga mene mu- kan cin-cu-ling di ka marnya, ini me mbuktikan bahwa ketiga orang ini pasti dikerjai orang dari suatu golongan-"

"Kenapa mereka tidak meninggalkan cin-cu-ling dikala ibuku lenyap?" tanya Ling Kun- gi.

"Tiga orang yang lenyap itu, keluarga Tong di Sujwan adalah ahli dibidang ilmu senjata rahasia dan racun, keluarga Un di Ling lam tersohor karena obat2 bius, sedang Loh-san Suheng menguasai ilmu obat2an, karena itu aku menduga, bahwa ketiga orang ahli dibidang masing2 ini sengaja diculik dan tidak terlepas dari dua kemungkinan

. ... ..."

"Dua ke mungkinan apa?" tanya Ling Kun-gi tak sabar.

"Pertama, di antara komplotan orang2 itu pasti terdapat salah seorang tokoh penting yang terluka oleh sesuatu racun jahat, mungkin sudah diobati berbagai maca m obat dan tetap tak sadarkan diri. oleh karena itu terpaksa mereka menculik kedua ahli racun dan obat bius dari keluarga Tong dan Un itu, demikian pula Loh san Suheng yang ahli dalam bidang pengobatan, dugaan ini menjurus pada dar ma bakti de mi kesela matan jiwa orang, jadi mereka diculik untuk meno long jiwa ma nusia."

"Lalu bagaimana dugaan yang menjurus ke kejahatan?" "Itulah dugaan kedua, komplotan ini me mpunyai maksud2 tertentu dengan ambisi besar, bahwa ketiga orang ini diculik untuk alat pemeras kepada keluarga Tong dan Un agar menyerahkan catatan rahasia dari ilmu mas ing2 yang sudah turun te murun sejak leluhur mereka."

"Lalu apa pula tujuan mereka menculik Loh--san Taysu?" tanya Ling Kun-gi.

Kim Kay-thay menghela napas, katanya: "Kak-tam-wan buatan Siau-lim-si dapat mengobati segala maca m racun, resep pembuatannya sudah turun temurun sejak ratusan tahun lumanya, hanya pimpinan di Yok-o ng-thian saja yang tahu akan resep ini, bahwa Loh-san suheng juga mereka culik, tujuannya sudah tentu untuk me mbuat Kak-ta m-wan. Ini sih urusan kecil, sebab kecuali tiga orang ini bukan mustahil mereka juga menculik tokoh2 lain yang ahli dalam bidang ini? Hal inilah jauh lebih menger ikan-"

" Kenapa?" Ling Kun-gi menegas.

"Ini me mbuktikan bahwa komplotan ini sedang merancang suatu mus lihat yang besar. Mereka khusus menculik orang2 ahli di bidang racun, obat bius dan obat2an, tujuannya tentu hendak- me mbuat suatu obat yang mengerikan untuk mencela kai jiwa kaum persilatan" Sampa i di sini nadanya jadi lebih tandas: "Gerak-gerik ko mplotan ini serba misterius dan sangat rahasia, kalau mereka tidak meningga lkan cin-cu- ling, bukankah kita lebih sukar lagi untuk menyelidiki hal ini?" mendadak sorot matanya menjadi berkilau, tanyanya: "Apakah Ling-lote tahu asal-usul dari mutiara warisan keluarga mu itu?"

"Entah, sejak kecil mutiara ini sudah selalu berada dibadanku," Ling Kun-gi me njelaskan-

"Gutumu juga tidak pernah menjelaskan"

"Tidak." jawab Ling Kun-gi, tiba2 dia berdiri serta menjura: "Terima kasih atas petunjuk dan kete-rangan Kim- loy acu, sekarang cayhe mohon diri saja." "Harap Ling- lote duduk lagi sebentar, masih ada suatu hal perlu kusa mpaikan- "

"Kim-loyacu masih ada petunjuk apa?."

"Menurut apa yang kuketahui, kecuali keluarga Tong dan Un, di kalangan Kangow mas ih ada satu keluarga yang pandai dan ahli juga menggunakan racun "

" Keluarga mana," tanya Ling kun-gi.

"Llong-bin-san-ceng (perka mpungan gunung naga tidur), tapi mereka jarang bergerak di kalangan Kangouw), maka jarang orang tahu akan kehadiran   mereka,   menurut   apa   yang kuketahui, ko mplotan cin-cu- ling agaknya belum bertindak terhadap Liong-bin- san-ceng, tidak ada ruginya Ling- lote me mperhatikan juga soal ini."

"Terima- kasih atas petunjuk ini" habis menjura Kun-gi panggul buntalannya serta melangkah Keluar. Ter-sipu2 kim Kay-thay mengantar sampai undakan. lalu dia suruh The si-kiat antar tamunya sampai diluar pintu. Sudah puluhan tahun The Si kiat mendapat bimbingan gurunya, dia tahu bahwa pemuda she Ling ini punya asal usul yang bukan se mbarangan, setelah Ling Kun-gi pergi, lekas dia kembali keka mar dan bertanya pada gurunya: "Suhu, apakah engkau sudah tahu asal usulnya?"

Prihatin air muka Kim Kay-thay, katanya sungguh2 "Dua jurus yang dia tunjukan tadi adalah tipu2 dari cap-ji-kim-liong-jiu, cuma dia bergerak secara kidal, kalau dugaan gurumu tidak me leset, ke mungkinan dia adalah "

The Si-kiat terperanjat, serunya: "Maksud suhu, dia murid Susiokco?" Kim Kay-thay tidak bicara lagi, dia hanya manggut2.

Konon 50 tahun yang lalu pernah muncul seorang ma ling pendekar. Maling pendekar maksudnya dia mencuri untuk pihak yang lemah, bukan saja dia me mberantas kelaliman dan kejahatan, iapun me mbantu kaum miskin dan le mah melawan yang kuat dan batil, karena dia bekerja secara terbuka dan terang2an, ilmu silatnya teramat tinggi lagi, biasanya jejaknya sukar ditemukan, hanya sering mendengar na manya tapi tidak pernah melihat orangnya, sudah tentu jarang ada orang yang tahu asal-usulnya. Maka orang banyak lantas member i julukan It-tin-hong (angin la lu) kepadanya. Maksudnya dia pergi datang seperti angin lalu.

It-tin-hong punya tabiat aneh, yaitu dia pandang kejahatan sebagai musuh kebuyutan, pejabat korup dan kikir, buaya darat dan tuan tanah yang me meras rakyat jelata semua disikatnya habis2an. Kaum persilatan dari golongan hitam yang sudah berlepotan darah kedua tangannya karena kejahatan yang kelewat batas juga diganyang olehnya, mending kalau hanya dipunahkan ilmu silatnya, bagi yang berdosa di luar batas, kalau tidak terluka parah tentu jiwa me layang.

Entah bagaimana ke mudian jejaknya menghilang dari kalangan Kangouw, It tin- hong lenyap tak karuan paran, ternyata ia telah cukur ra mbut dan menjadi pendeta di kuil Siau-lim-si di Hoala m, setelah jadi Hweslo gelarannya adalah Tay-thong.

Sekejap mata 20 tahun telah berlalu, umumnya ajaran agama menguta makan welas asih dan bijaksana, setelah dia insyaf tindak kekerasannya dan patuh kepada ajaran agama, tak terduga pada suatu hari seorang musuh yang pernah dipunahkan ilmu silatnya dapat mengenali dia bahwa Tay-thong Hwesio adalah It-tin-ho ng.

Tata tertib siau lim si a mat keras, begitu para Hweslo dalam kuil agung itu tahu bahwa Tay-thong Hweslo adalah It-tin-hong yang dosanya bertumpuk2, mereka anggap kehadirannya dibiara besar itu menodai dan merusak kesucian aga ma mereka, maka t imbul keributan dan pertentangan, ada yang mengusulkan supaya punahkan saja ilmu silatnya serta mengusirnya pergi dari kuil. sudah tentu Tay-thong Hweslo marah, katanya:

"Kalau sang Budha tidak meluluskan aku me letakkan golok pembunuh, akupun tidak pingin menjadi seorang Budhis lagi, tapi ilmu silat yang kumiliki tidak melulu kupelajari dari siau- lim-si saja, kalian tidak berhak me munahkan ilmu silatku. Soal apa yang pernah kupelajari di Siau- lim-si ini, setelah meninggalkan Siau- lim-s i pasti tidak akan kugunakan lagi." Begitulah akhirnya Tay-thong Hweslo meninggalkan Siau- lim-si.

Sudah tentu ada juga para Hweslo yang ingin menahan dan mer intangi kepergiannya, tapi selama dua puluhan tahun mengge mbleng diri di biara agung itu, pelajaran silat yang diyakinkan sudah tera mat tinggi, tiada seorangpun yang ma mpu menahannya.

Sejak itu, muncul pula di kalangan Kangouw seorang pendekar aneh yang menyebut dirinya Tay-thong Hwesio, sifanya tidak pernah berubah, kejahatan dipandangnya sebagai musuh, ilmu silat yang dima inkan sudah tentu ada yang berasal dari Siau-lim-pay, cuma setiap jurus yang dia gunakan dengan tangan kiri, jadi jurus permainannya terbalik dan berlawanan dengan silat Siau-lim-pay. Maka orangpun me mberinya na ma Hoan-jiu- ji- lay (Buddha Kidal).

Itulah peristiwa tiga puluh tahun yang la lu. Maka bicara soal tingkatan, Hoan jiu-ji-lay masih terhitung Susiok dari It-wi Taysu, Hongtiang siau-lim-si sekarang, juga dengan sendirinya Susiok dari Kim-ting Kim Kay thay.

Hari belum gelap. namun rumah2 penduduk Kayhong sudah sama pasang la mpu. Lalu lintas masih ra ma i dija lan raya. Tampak diantara sekian yang mengayun langkah itu ada seorang pemuda baju hijau me manggul buntalan panjang melintas jalan menuju ke ujung jalan sana, di mana terdapat sebuah gang kecil yang se mpit, di mulut gang sempit ini berdiri seorang, tak terlihat wajahnya. Umumnya orang2 yang berdiri di mulut gang kalau bukan begal, tentu juga bukan orang baik2 yang sedang mengincar mangsanya.

Begitu me lihar pe muda jubah hijau mengha mpiri orang itu segera me me luk kedua tangan di depan dadanya, kedua biji matanya dengan nanar mengawasi gerak-geriknya, lekas sekali si pemuda sudah mende kat dan lewat di mulut gang, dalam sekejap orang itupun sudah mene mukan apa2 yang diincar dari badan pe muda jubah hijau, ternyata pemuda jubah hijau mengenakan ikat pinggang atau sabuk yang terbuat dari kain sutera warna kelabu. . tepat di ujung kiri pinggangnya dihiasi sebutir mutiara dengan seutas benang mas. Mutiara itu sebesar telur burung dara. Maka orang itu tidak sangsi lagi, bergegas dia melo mpat keluar serta mengejar dua langkah, katanya sambil unjuk tawa lebar: "Siangkong, inilah surat untukmu."

Si pe muda me lengak dan berhenti, dengan tajam ia menatap muka orang di depannya.

Dengan gugup orang itu menyetahkan sepucuk surat kepada si pemuda terus tinggal pergi dengan langkah tergopoh2.

Pemuda jubah hijau ini ialah Ling Kun-gi, sekian la manya ia me longo mengawasi sa mpul surat ditangannya, walau merasa heran, akhirnya dia buka sa mpul itu dan me mbaca is i surat yang tertulis di atas secarik kertas kuning, bunyinya demikian: "Serahkan kepada si mata satu di luar Ho-s ing-bio di Hek-kang."

Ling Kun-gi tertegun me mbaca surat ini, cepat otaknya berpikir: "Jelas surat ini salah ala mat, mungkin orang tadi salah mengenali aku." Waktu ia angkat kepala, orang yang menyerahkan surat tadi sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

Mau tak mau tergerak juga hati Ling Kun-gi, batinnya: " Dari nada surat ini, agaknya seorang persilatan hendak mengirim sesuatu barang. Memangnya aku sedang menyelidiki cin cu-ling, kenapa tidak kupergi ke Hek-kang menunggu di luar Ho-sio-bio untuk me lihat apa yang akan terjadi di sana"

Tapi segera dia berpikir pula:" Dalam surat sudah dijelaskan untuk menyerahkan entah barang apa kepada seorang yang buta sebelah matanya di luar Ho-sin-bio. Liu apa gunanya ku pergi ke sana. toh aku tidak punya barang yang dimaksud? Sedangkan surat pengantar ini sudah terjatuh ke tanganku, orang yang harus menyerahkan barang tak mungkin menuju ke ala mat yang ditentukan tanpa me mbawa surat ini."

Sampa i di sini tiba2 dia menduga kalau orang tadi telah salah menyerahkan sampul surat ini kepada dirinya, pasti orang yang seharusnya menerima sampul surat ini berperawakan mirip dirinya, kenapa tidak kutunggu saja di sini, kalau nanti ada orang yang mirip diriku datang ke mar i? Bukankah lebih baik kalau dia yang menyerahkan barang itu ke Ho-s in-bio ?

Dengan bibirnya dia basahi sampul surat serta menutup rapat pula sampul surat itu, kini ganti dia yang berjaga di ujung gang sempit tadi, buntalan panjang dipunggungnya dia turunkan dan diletakkan di kaki te mbo k yang gelap. Tak lupa dia meraih segenggam tanah kering lalu mengusap muka sendiri dengan debu tanah itu lalu ia berdiri bertopang dinding dan menunggu dengan sabar.

Tak la ma ke mudian, betul juga dari ujung jalan raya sebelah barat   sana muncul sesosok bayangan orang,   ternyata iapun me manggul sebuah buntalan panjang, perawakannya tinggi lencir, karena jarak masih jauh, tak terlihat jelas wajahnya. Langkahnya tampak tenang2, tidak gugup dan mantap, se-akan2 dijalan raya itu hanya dia sendiri yang berjalan-

Sekejap saja si baju biru ini sudah tiba di ujung gang. Kini Ling Kun-gi dapat me lihat jelas, laki2 ini berusia e mpat- lima likuran, wajahnya me mang cakap. cuma sikapntya angkuh, dingin dan kaku.

Ling Kun-gi tunggu orang berjalan sa mpa i di mulut gang dan segera me mburu maju serta berkata: "Siangkong, inilah surat untukmu" Dengan kedua tangan dia angsurkan sa mpul tadi.

Langkah si baju biru merandek. dengan sebelah tangan dia terima sampul itu tanpa berpaling, sekenanya tangan yang lain tiba2 menggablok ke belakang.

Tak pernah terpikir oleh Ling Kun-gi orang akan menyerang dirinya dengan cara ganas ini, ada niat menangkis, tapi cepat sekali otaknya bekerja, pikirnya: "Dia ingin me mbunuhku untuk menutup mulutku, ma ka aku jangan menangkis."

Dia m2 ia kerahkan hawa mur ni untuk me lindungi Hiat-to dan terima pukulan keras orang.

"Blang", walau tidak berpaling, namun gerakan tangan orang mengincar sasaran secara tepat, pukulannya tepat mengenai dada Ling Kun-gi. Dengan mengeluar kan keluhan tertahan Ling Kun-gi terjengkang roboh. Tanpa berhenti atau meneliti korbannya si baju biru terus beranjak ke depan tanpa menoleh.

Dia m2 Ling Kun-gi tersirap darahnya setelah menerima pukulan keras laki2 baju biru ini, pikirnya: "Tak nyana pukulannya ini mmggunakan Jong-jiu-hoat dari aliran Lwekeh."

Sudah tentu tak pernah terpikir oleh si baju biru kalau ada orang menguntit dirinya, dengan langkah berlenggang dia terus beranjak ke depan, setiba di pintu utara, di depannya mengadang tembok kota yang beberapa tombak tingginya.

Sekali kaki menutul, si baju biru segera melayang naik laksana luncuran anak panah ke atas tembok kota yang tinggi, sekali kaki menutul pula dengan enteng, badannya me layang turun keluar tembok kota.

Dari tempatnya Ling Kun-gi dia m2 kaget me myaksikan kepandaian orang, batinnya: "Bagi jago kosen Bulim bukan soal untuk melo mpat setinggi e mpat-lima to mbak, tapi orang ini masih begini muda, namun sudah me miliki kepandaian setinggi ini" Karena merasa curiga, bertambah besar pula hasratnya untuk menguntit laki2 baju biru untuk me-nyaksikan barang apa pula yang hendak di antar ke Ho-sin-bio

Segera iapun melayang ke atas tembok kota, dari tempat ketinggian dilihatnya sesosok bayangan meluncur di kejauhan sana secepat terbang, arahnya ke utara. Ling Kun-gi tidak berani ayal, dia menghirup napas panjang dan melayang turun sa mbil menge mbangkan Ginkang terus menguntit laki2 baju biru dari kejauhan-

Kira sepuluh li ke mudian, di depan sana adalah sebuah bukit kecil, kiranya itulah Hek- kang atau bukit tandus hitam. Setiba di bawah bukit, gerakan laki2 baju biru menjadi la mbat, ke mbali dia berjalan dengan langkah lebar, lambat tapi mantap. terus menanjak ke atas bukit. Dla m2 Ling Kun-gi geli, pikirnya: "Orang ini pandai berpura2 dan ber-muka2, sungguh terlalu angkuh dan so mbong." Setelah tiba di Hek-kang, sudah tentu sebentar lagi akan sa mpai di Ho sin-bio.

Ingin Ling Kun-gi mengetahui barang apa yang hendak diserahkan kepada orang buta satu itu? Maka jaraknya tidak boleh terlalu jauh. Untung se makin dekat puncak bukit, tetumbuhan pohon juga lebih lebat, sebat sekali Ling Kun-gi menyelinap masuk ke dalam hutan, dari balik bayang2 pohon dengan cepat dia me luncur ke atas bukit. cepat sekali dilihatnya bayangan tembok merah dan ujung wuwungan, sebuah kelenteng terselubung di balik lebatnya pepohonan di atas sana, ternyata dirinya berada di belakang kelenteng, jadi Ho sin-bio ini di bangun menghadap utara.

Ling Kun-gi t idak tahu siapa dan bagaimana asal-usul orang buta sebelah yang akan menerima barang, maka dia tidak berani gegabah, dengan menge mbangkan Ginkang dia berlo mpatan di pucuk pohon terus berputar dari arah kanan me nuju ke depan-

Ho-sin-bio terdiri dari tiga lapis bangunan ke-lenteng, waktu Ling Kun-gi tiba di sebelah kanan, betul juga dilihatnya seorang tua buta sebelah mata berpakaian hitam telah berdiri menunggu dengan laku hormat di luar kelenteng. . Tak lama kemudian laki2 baju birupun muncul dengan langkah pelan2.

Ter-sipu2 laki2 tua mata satu menyongsong ma ju, sambil munduk2 dia menyambut dengan tawa lebar, katanya: "Atas perintah Ho-sin-ya, sejak tadi ha mba sudah me nunggu disini"

Laki2 baju biru berkata dingin: "Mata kirimu picaku ternyata mata kananmu mas ih awas"

Si mata satu munduk2 lagi, katanya tertawa: "Ya, ya, hamba picak mata kanan bukan mata kiri."

"Bagus sekali" kata si baju biru, tangan merogoh kantong dan menge luarkan sebuah bungkusan kertas terus diangsurkan, katanya: "Barang ini a mat penting, kau harus ber-hati2 " Si mata satu menyambut dengan kedua tangannya, sahutnya tetap munduk2: "Ya, hamba tahu"

"Baiklah, setiba kau di Hoay-yang, ada orang memberi petunjuk padamu ke mana kau harus antar barang ini."

"Ha mba mengerti" orang tua mata satu menjawab.

Laki2 baju biru mendengus kereng, dimana dia jejak kedua kakinya, tlba2 badannya mela mbung tinggi ke udara, bayangan tubuh secepat kilat meluncur turun ke bawah bukit.

Ling Kun-gi se mbunyi di te mpat yang cukup dekat, maka percakapan mereka di dengarnya dengan jelas, batinnya " Entah apa isi bungkusan kertas itu. begitu besar perhatian mereka, sampai harus dikirim secara rahasia lagi, si mata satu adalah pesuruh, namun dia sendiri juga belum tahu ke mana dan kepada siapa dia harus serahkan barang itu?" lalu dia berpikir lebih lanjut: "Kalau laki2 baju biru tadi tidak mener ima surat rahasia dariku tadi, iapun tak tahu ke mana dan kepada siapa dia harus serahkan barang yang terbungkus di kertas itu?"

Dari sini lebih mudah diraba, kalau bukan barang pusaka yang tak ternilai harganya, tentu bungkusan itu berisi suatu barang yang amat rahasia dan penting artinya. Setelah hati merasa curiga, sudah tentu Ling Kun gi tidak abaikan kejadian ini, dia bertekad menyelidiki hal ini sa mpai terang duduk persoalannya meski harus mene mpuh bahaya dan maca m2 kesulitan-

Di kala dia menerawang tindak lanjut diri sendiri, sementara si mata satu sudah beranjak pergi dengan langkah tergesa-gesa.

Dari langkah orang Ling Kun-gi dapat menila i kepandaian silat orang ini tidak seberapa tinggi, kalau dibanding laki2 baju biru tadi, jaraknya terlampau jauh. Untuk menguntit seorang keroco seperti laki2 tua mata situ ini bagi Ling Kun-gi merupa kan kerja sepele.

Tapi Ling Kun-gi cukup cerdik dan teliti, dari pengala man mala m ini yang penuh liku2 dia ingat bahwa ko mplotan orang ini serba misterius, diduganya bungkusan itu sangat penting dan a mat besar artinya, teramat ganjil kalau diserahkan dan dipercayakan kepada si mata satu yang berkepandaian silat begitu rendah, maka ia menduga secara sembunyi pasti masih ada orang la in yang berkepandaian tinggi melindunginya. oleh karena itu dia tidak berani gegabah, setelah si mata satu pergi jauh dan me nelit i sekelilingnya me mang t iada orang lain yang berse mbunyi, barulah dia berkelebat keluar hutan, menyusul ke bawah gunung.

Si mata satu menempuh perjalanan dengan langkah cepat, Ling Kun-gi tetap menguntit dari kejauhan- Supaya tidak menimbulkan perhatian orang, maka mut iara yang dia ikat dipinggang kiri seperti pesan gurunya dia simpan dalam kantong baju.

Malam itu si mata satu mene mpuh tujuh li perjalanan, setelah hari terang tanah, ia sa mpai di Kip-s ian dan langsung masuk kota.

Tak jauh di belakangnya Ling Kun-gi juga ikut masuk kota, agaknya si mata satu sudah apal jalanan dalam kota ini, di pinggir jalan dia minum dulu se mangkuk bubur kacang serta makan beberapa kue untuk mengganjal perut, lalu menuju ke ujung ja lan dan me masuki hotel Hin-liong, sebuah penginapan kecil.

Setelah sema lam suntuk mene mpuh perjalanan, Ling Kun-gi duga orang perlu istirahat, maka ia-pun masuk ke warung yang letaknya di seberang hotel, disini dia sarapan pagi. Dia m2 dia perhatikan setiap orang yang hilir mudik, dilihatnya seorang laki2 yang bertopi bulu dengan pakaian abu2 datang dari sana dan langsung masuk ke dalam hotel Hin- liong. Dari langkahnya yang enteng, Ling Kun-gi tahu kalau orang ini adalah seorang jagoan, kalau hari sudah seterang ini baru masuk penginapan, tentu diapun mene mpuh perjalanan di waktu ma la m.

Berdegup jantung Ling Kun-gi, pikirnya: "Mungkinkah orang ini sekomplotan dengan si mata satu?"

Setelah perut kenyang dan membayar rekening makanan, Ling Kun-gi juga masuk ke hotel Hin-liong di seberang, biasanya yang menginap di hotel sekecil ini adalah tukang kereta atau kuli angkutan yang me mbawa barang dari te mpat jauh, begitu hari terang tanah mereka lantas berangkat, maka keadaan hotel sekarang terasa sepi.

Melihat ada ta mu datang, pelayan menyambut dengan sikap hormat: "Tuan ta mu, kau akan..."

"Menginap." sahut Ling Kun-gi.

Pelayan kegirangan, katanya sambil munduk2: "Ya, ya, silakan tuan ikut ha mba." lalu ia bawa Ling Kun-gi ke dala m.

Sambil jalan Ling Kun- gi bertanya kepada si pelayan: " Hotel kalian ini apa ra ma i dikunjungi tamu."

"Tarip hotel ka mi murah, maka ra ma i juga tamu2 yang suka menginap di sini," sahut pelayan- "Kalau setiap pagi ada tamu masuk hotel seperti tuan sekarang. penghasilan hotel ka mi tentu bertambah besar."

Sementara itu mereka sudah sa mpa i di depan sebuah ka mar, pelayan me mbuka pintu serta bertanya sambil me langkah masuk: " Kamar ini bagaima na tuan?"

Sebentar Ling Kun-gi celingukan, lalu menjawab: "Ya, bolehlah.

Biasanya apakah jarang ta mu yang menginap di pagi hari?"

"Orang yang menginap pagi tentu semalam suntuk mene mpuh perjalanan, belakangan ini kea manan dijalan banyak terganggu, sudah tentu jarang orang mau mene mpuh perjalanan ma lam hari

......" mendadak dia cekikikan, serta menambahkan: "Pagi hari ini, termasuk Siang kong kami telah kedatangan tiga ta mu"

Ling Kun-gi mengiakan secara tak acuh tanyanya seperti tidak ambit perhatian: "Mereka tinggal ka mar mana?"

"Hotel kami hanya me miliki enam ka mar, diseberang sana adalah ruang umum, ka mar tuan no mor t iga, dua tamu yang lain mene mpati ka mar satu dan dua."

Ling Kun-gi me mbatin: "Jadi si mata satu mene mpati ka mar ke satu, lelaki baju abu2 tinggal di ka mar no mor dua." Sementara itu pelayan telah keluar dan kembali me mbawa sepoci air teh, katanya tertawa sam-bil menyuguh: ."Tuan, silakan minum?"

Sengaja Ling Kun-gi menggeliat dan menguap. katanya: "Aku ingin t idur, tutuplah pintu dari luar, tak usah kau layani aku lagi." Pelayan mengiakan terus keluar sa mbil merapatkan pintu.

Ling Kun-gipasang kuping sebentar, didengarnya laki2 baju abu2 di sebelah agaknya belum tidur, pikirnya: "Kalau orang ini bukan sekomplotan dengan si mata satu, tentu iapun seperti diriku sedang menguntit si mata satu."

Setelah meneguk habis secangkir teh, tanpa buka pakaian dia rebahkan diri. Dengan bekal kepandaian silatnya, umpa ma dia tidur pulas, asal kedua orang di ka mar sebelah ada sedikit ulah pasti tidak dapat mengelabui kupingnya, karena untuk keluar hotel mereka harus lewat depan ka marnya betapapun derap langkah mere ka tetap bisa didengarnya. Maka dengan hati lega ia pejamkan mata sebentar saja sudah pulas.

Tak terduga belum la ma dia tertidur, tiba2 didengarnya orang di kamar sebelah mengumpat marah2: " Keparat, cukup licin juga kau."

Kata2nya tidak keras, menyerupai orang berguman, tapi cukup mengejutkan Ling kun-gi dari pulasnya, bergegas dia duduk serta pasang kuping, didengarnya laki2 di ka mar sebelah mendorong jendela terus melo mpat keluar . . .. "Mungkinkah si mata satu sudah merat?" de mikian batin Ling Kun- gi.

Ketiga ka mar berjajar in masing2 ada jendela belakang, waktu masuk ka mar tadi Ling Kun-gi sudah me mer iksanya, di luar jendela adalah sebuah gang sempit, agaknya lelaki baju abu2 sudah mengejar lewat gang dibelakang itu.

Bergegas Ling Kun-gipun turun dari ranjang dan buka jendela, ia me lo mpat keluar, betul juga dilihatnya jendela di kedua ka mar sebelah sudah terpentang lebar, jadi si mata satu sudah merat dan dikejar lelaki baju abu2. Dia m2 Ling Kun-gi ma lu diri, kalau le laki baju abu2 tidak mengumpat, diri-nya tentu juga kena dikelabui, dari sini terbukti bahwa pengala man dirinya masih terlalu cetek untuk bekal kelana di Kangouw.

Lekas dia ke mbali ke ka mar menje mput buntalannya terus buka pintu. Melihat Ling Kun-gi keluar, lekas si pelayan menyongsong maju, tanyanya keheranan: " Katanya tuan mau tidur, kenapa buru2 berangkat ma lah?"

"Sudan tidur sejenak. masih ada urusan- Nah, inilah uang rekeningku, masukkan juga rekening ka mar ke satu," ternyata sebelum pergi le laki baju abu2 di ka mar kedua meningga lkan uang di atas meja, tapi si mata satu menginap dengan gratis.

Karena sudah dengar si baju biru berpesan "Ada orang menunggumu di Hoay-yang," ma ka Ling Kun-gi t idak perlu buru2, dari sini ke Hoay-yang sudah dekat, maka dia me ne mpuh perjalanan ke selatan dengan langkah seenaknya. Kira2 tengah hari ia tiba di Liong- ki.

Liong- ki adalah sebuah kota kecil, hanya ada sebuah warung bakmi yang terletak di ujung ja lan raya, maka pejalan kaki atau orang yang menempuh perjalanan jauh suka ma mpir di warung bak- mi ini.

Karena saatnya orang makan, ma ka meja warung kecil ini penuh sesak. Waktu Ling Kun- gi me masuki warung ini, sekilas dia menjadi tercengang, maklumlah warung kecil, hanya ada enam meja dengan masing2 empat kursi, setiap meja diduduki tiga atau empat orang. Sekilas matanya menjelajah maka dilihatnya di meja sebelah timur sana duduk seorang diri si mata satu, dia pesan sepoci arak dan semangko k kuah sayur asin, dengan lahapnya dia tengah melahap makanannya. Lelaki baju abu2 terlihat duduk di meja dekat pintu, mungkin takut dikenali orang, maka topi bulu di atas kepalanya ditarik serendah mungkin sa mpai menutup muka, tapi Ling Kun-gi tetap mengenalinya. Baru   saja   Ling   Kun-gi   masuk   pintu,   pelayan   sudah menya mbutnya dan menunjuk te mpat duduk yang masih kosong, setelah menyuguh secangkir teh dia tanya mau pesan makanan apa, Ling Kun-gi minta sepoci arak dan beberapa maca m masakan-

Setelah pelayan mengundurkan diri, Ling Kun-gi coba mengawasi orang sekelilingnya, semua adalah kaum pedagang yang kebetulan lewat dan mampir, hanya si mata satu dan laki2 bertopi bulu itu termasuk kaum persilatan- Pada saat itulah dilihatnya dari luar masuk pula seorang berjubah hijau pupus.

Perawakan orang ini tinggi kurus, kulit mukanya kuning ke hijau2an, begitu melangkah masuk sorot matanya menjelajah ke seluruh ruangan, akhirnya dia pilih tempat duduk dekat pintu keluar, tiga jari tangan kirinya mengetuk meja, mulutpun berkaok keras: "Hai, pelayan"

Kelihatan ketukan ketiga jari tangan di atas meja enteng saja, tapi piring mangkuk yang berisi makanan diatas meja seketika berloncatan semua.

Si baju abu2 tengah menunduk menikmati hidangannya, selebar muka dan dadanya menjadi basah kuyup oleh kuah makanannya sendiri yang muncrat.

Keruan tidak kepalang marah si baju abu2, topi bulu dia angkat keatas, tangannya mengusap muka, bentaknya marah, sambil mende lik kepada laki2 baju hijau: "Saudara tidak lihat kalau aku sedang ma kan di sini? kenapa ma in kasar begini rupa?"

Tidak terunjuk sedikit perobahan mimik wajah laki2 baju hijau, sahutnya dingin, "Kalau kau anggap aku kasar, kenapa tidak pindah ke meja lain saja?"

Bukan saja tidak minta maaf malah dirinya disuruh pindah ke meja lain, keruan si baju abu2 naik pita m?, hardiknya mur ka: "Kau ma in tepuk meja, sampa i ma kanan muncrat mengotor i badanku, me mangnya aku yang salah?" "Kusuruh kau pindah ke meja la in, me mangnya aku juga salah?"jengek laki2 baju hijau pupus.

Mendengar ada keributan, semua tamu yang hadir sa ma berpaling ke arah sini.

Mencorong biji mata si baju abu2, katanya tertawa lebar: "Saudara bertingkah dan main kayu, agaknya sengaja hendak cari perkara padaku?"

"cari perkara?" dengus laki2 baju hijau. " Kau setimpal?"

Lelaki baju abu2 berjingkrak berdiri, dari kantong kain yang terselip dipahanya dia lolos sebilah Yap-hap-to, bentaknya: "Mari keluar, aku ingin belajar kenal kepandaianmu."

Laki2 baju hijau tetap bersikap dingin dan menghina: "Kau berani ma in senjata dengan aku? Me mangnya kau sudah bosan hidup?"

"Entah siapa yang bosan hidup?" jengek si baju abu2.

"Aku sudah me mper ingatkan, kau sendiri yang ingin ma mpus, maka jangan aku yang disalahkan-" se mbari bicara tiba2 laki2 baju hijau sedikit angkat tangan kirinya, selarik sinar hijau t iba2 melesat ke arah tenggorokan si baju abu2, bukan saja luncurannya cepat, tidak bersuara lagi.

Pada waktu yang sa ma, tampak dari arah samping   sana me luncur pula sebuah cangkir arak. "Tring", dengan tepat me mbentur sinar hijau itu sehingga sinar hijau melayang ke samping laki2 baju abu2 dan "crat" terpaku di atas te mbok.

Waktu semua hadirin berpaling ke sana, Itulah sebatang panah kecil sepanjang dua dim berwarna hijau, dasar cangkir tertembus bolong, dan tergantung di atas panah yang terpaku di dinding.

Beringas si baju abu2, bentaknya: "Berani kau melukai orang dengan panah gelap." Mendadak ia menubruk maju, tangan kiri terus mencengkeram ke pundak laki2 baju hijau.

Sibaju hijau menjenge k. sekali tangan kiri me mba lik, belum lagi orang lain melihat gerakannya, tahu2 si baju abu2 tersentak mundur dua langkah. punggung tangan kirinya ternyata tergores luka, darah yang meleleh berwarna hitam, kulit dagingnya hangus berwarna hijau. Seketika ia megap2, ternyata dia tak sanggup bwrsuara lagi, pelan2 badannya roboh tersungkur.

Kejadian berlangsung dalam waktu yang amat singkat. tanpa hiraukan korbannya, laki2 baju hijau ma lah me lotot dan berpaling ke arah Ling Kun-gi, tanyanya dingin, "Kaukah yang menimpuk cangkir itu?"

"Betul," sahut   Ling Kun-gi,   "aku tak senang melihat   kau me mbo kong orang."

"Anak muda," laki2 baju hijau mendengus "Jangan kau turut campur."

Ling Kin-gi berdiri pelan2, sekilas matanya me lir ik kearah si baju abu2, tanyanya: "Bagaimana keadaan saudara itu?"

"Setanakan nasi lagi, jiwanya takkan tertolong," kata laki2 baju hijau.

"Kau mence lakai jiwanya?" tanya Ling Kun-gi gusar.

Menyeringai lebar laki2 baju hijau, jawabnya: "Betul, dia terkena racun jahat, sudah tentu jiwanya takkan tertolong lagi."

Ling Kun-gi menarik muka, tanyanya dingin: "Mana obat penawarnya?"

"Benar, me mang ada obat penawarnya padaku." "Lekas keluarkan," desak Ling Kun-gi

Si baju hijau tergelak, katanya: "Sungguh lucu, kalau harus me mber i obat penawarnya, buat apa tadi kukerjai dia?"

"Utang jiwa bayar jiwa, utang uang bayar uang setelah kau mence lakai dia, maka harus  keluarkan obat penawarnva, me mangnya hanya karena adu mulut, kau lantas mencabut jiwanya?"

"Dia me mang pantas ma mpus," jengek si baju hijau. "Keluarkan obat penawarnya?" bentak Ling Kun-gi.

Laki2 baju hijau hanya melirik saja kepada Ling Kun-gi, katanya dingin: "Janganlah kau cari kesulitan sendiri, usia mu mas ih muda, kalau jiwa me layang percuma, apakah tidak sayang?"

Melotot gusar biji mata Ling Kun-gi, bentak-nya: "Jiwa manusia di buat ma in2, hayo, keluarkan obat penawarnya." .

"Anak muda,"^ ujar laki2 baju hijau manggut2, "agaknya kau me mang usil, ketahuilah obat penawarnya ada di dalam kantongku, kalau kau ma mpu boleh menga mbilnya sendiri."

"Baiklah kalau begitu," pelan2 Ling Kun -gi mengha mpiri..

Laki baju hijau menyeringa i di mana tangan kanan terangkat, "Wut" tiba2 ia layangkan kepalannya ke muka si pe muda. Tujuan Ling Kun-gi hendak menawannya hidup2, me lihat tangan orang menggenjot tiba, tangan kiri segera menapak maju mencengkera m pergelangan tangan lawan- Gerakan mencengkera m ini mengandung beberapa perubahan yang lihay, gerakan laki2 baju hijau juga tidak kalah aneh dan lihaynya, baru kepalan kanan sampai di tengah jalan, terus ditarik balik, sementara tangan kiri segera ganti mencengkeram tulang iga Ling Kun-gi. Lekas Kun-gi turunkan tangan kanan, gerakan mencengkera m dia ubah mengebas turun- Tangan mereka segera beradu, keduanya sama bertolak mundur selangkah.

Terasa oleh Ling Kun-gi tangan si baju hijau sekeras baja sedingin es, pegangannya seperti mencengkera m tongkat besi yang keras, keruan hatinya terkejut.

Begitu mundur laki2 baju hijau ternyata tidak segera merangsak pula, katanya dingin sa mbil mengulap tangan: "Anak muda, kau sendiri yang paksa aku turun tangan, sekarang lekas kau pulang mengurus keberangkatanmu ke alam baka."

"Ah, kenapa?" tanya Ling Kun-gi tak acuh- "Hidupmu tinggal 12 jam lagi, setelah itu jiwamu bakal me layang, sekarang masih keburu kalau kau pulang ke rumah," ujar laki2 baju hijau.

Menegak alis Ling Kun- gi,jengeknya sambil me natap tajam: "Kau gunakan racun atas diriku?"

"Kau sendiri yang menyentuh tanganku."

"Jadi tanganmu beracun?" sekilas mencorong sorot mata Ling Kun-gi. "Berulang kali kau menggunakan racun mencela kai orang, hari ini terpaksa aku tak bisa melepaskanmu pergi..." Habis kata2nya tiba2 ia me langkah maju, kelima jari tangan kirinya laksana cakar terus mencengkera m bahu kanan si baju hijau.

Melihat orang sudah keracunan mas ih bergerak cekatan dan menyerang, bukan kepalang kejut si baju hijau. Teruta ma usia Ling Kun-gi mas ih begini muda, tapi serangan dan sikapnya begini berwibawa seperti jagoan angkatan tua layaknya, sudah tentu dia tidak mau lengannya terpegang, cepat ia putar tubuh sam-bil merendahkan pundak. ia meluputkan diri dari serangan tangan kiri Ling Kun-gi.

Ling Kun-gi tetap menggunakan tangan kiri. sementara tangan kanan me lindungi dada, gerakan- menggunakan Kim-na-jiu (gerakan me megang dan me muntir), yang diincar adalah Hiat-to penting tubuh lawan, serangan aneh dan la in daripada yang lain- Dari gerakannya yang begitu tangkas, siapapun pasti ma klum bahwa dia pasti didikan seorang guru yang.

Beruntun laki2 baju hijau berkelit tiga kali, pikirnya setelah merangsak beberapa jurus, racun di badan Ling Kun-gi pasti sudah bekerja, tak perlu dia melayani orang lebih lanjut. Tapi pada jurus ke empat ia merasa tak ma mpu berkelit lagi, terpaksa dia ulurkan lengan kiri sendiri ma lah. Sekali pegang Ling Kun-gi lantas pencet pergelangan tangan laki2 baju hijau, terasa yang dipegang itu dingin dan keras, tak ubahnya me megang besi.

Waktu dia awasi, dilihatnya tangan kirinya sudah berubah warna menjadi kehijauan, kelima jari orang setajam pisau seruncing duri landak. nyata tangannya me mang terbuat dari besi baja. Kiranya lengan kiri orang ini me mang tangan palsu yang terbuat dari besi, ma lah dilumur i racun lagi.

Ling Kun-gi kerahkan tenaga dan pegang tangan besi orang, jengeknya dingin: "Ternyata kau pakai senjata lengan besi dan beracun lagi. sungguh kejam kau."

Si baju hijau meronta sekuatnya, namun pegangan orang sedikitpun tidak bergeming, keruan hatinya mencelos, tanpa bicara tangan kanannya tiba2 menggenjot ke dada Ling Kun-gi. Tak terduga Ling Kun-gi juga angkat kepalannya me mapak genjotan lawan, "Blang", kepalan lawan kepalan, sibaju hijau tergentak mundur selangkah.

Gusar dan gelisah si baju hijau, se mbari me mbentak. tubuhnya ma lah menumbuk maju, tangan kanan bergerak turun naik, dalam sekejap mata, tangan kanannya sudah menyerang tiga kali.

Ketiga jurus ini rapat dan cepat laksana kilat, tak urung Ling Kun- gi terdesak mundur dua langkah, tapi pegangan tangan kirinya tetap tidak terlepas sehingga si baju hijau ikut terseret maju dua langkah,

Mendapat sedikit kese mpatan, Ling Kun-gi segera balas merangsak. iapun menyerang berantai tiga jurus, jari menutuk telapak tangan menabas serangannya semua merupakan jurus2 yang me matikan, karena sebelah tangannya memegang lengan lawan, maka kedua orang hanya bergerak dari jarak. dekat, masing2 hanya mengguna kan sebelah langan-

Beberapa gebrak jarak dekat ini kelihatan masing2 tidak menunjukkan ilmu2 silat yang mengejutkan, tapi bagi seorang ahli pasti dapat merasakan betapa hebat dan bahayanya, karena mati- hidup hanya terpaut serambut saja. Betapa cepat serangan dan betapa tangkas pula perubahan gerak serangan masing2, se mua hanya berlangsung dalam sekejap mata belaka.

Mungkin karena me mandang rendah lawan, si baju hijau tak pernah pikir bahwa lawannya yang masih begini muda ternyata me mbe kal ilmu silat kelas tinggi. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah pemuda ini tak gentar menghadapi racun jahatnya, orang lain cukup kesere mpet saja, dalam sekejap racun akan menjalar, tapi Ling Kun-gi mas ih terus me megangi lengan besinya yang beracun tanpa kurang apa2 dan tetap segar bugar, oleh karena itu tanpa terasa dia menjadi kerepotan dicecar oleh serangan Ling Kun- gi yang ber-tubi2.

Untunglah pada detik gawat itu, mendadak sebuah suara dingin kereng me mbentak. "Berhenti"

Mendengar bentakan itu, lekas sibaju hijau me mbentak tertahan: " Lepaskan"

Ling Kun-gi me nghentikan, serangan tangan kanan, tapa tangan kiri tetap me megang tangan besi si baju hijau, lalu tanyanya: "Siapa itu?"

Sibaju hijau meronta sekuat tenaga, dampratnya gusar: "Lekas lepaskan"

"Setelah kau me mberi obat penawarnya, segera kulepaskan tanganmu."

Karena usahanya tidak berhasil, si baju hijau me njadi gugup, "Wes" tangan kanan tiba2 menepuk ke dada Ling Kun- gi.