Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 11 (Tamat)

 Jilid 11 Tamat

ANUNG DANUSUBRATA dan Prangwedani yang ikut mendengarkan, menganjurkan agar Jaganala menerima taw aran Rara Windu. Dan oleh anjuran itu, akhirnya Warok Jaganala mengangguk .

"Rara Windu. Terimalah dahulu permint aan maafku. Aku sekarang sudah sadar akan kesesatanku." kata Warok Jaganala dengan sungguh sungguh."

“Rara..”

Tiba-tiba Anung Danusubrata berkata:

"Saudara berdua kini bersatu padu. Bila ilmu yang hendak saudara bina kelak menjadi suatu kenyataan, hebatnya tak terlukiskan lagi. Akan tetapi siapakah yang baka! menerima warisan saudara berdua? Apakah di atas gunung terdapat kahyangan bidadari? Atau saudara berdua hendak membaw a ilmu kepandaian saudara keliang kubur?" Itulah suatu pernyataan yang mengejutkan hati mereka berdua. Beberapa saat lamanya, mereka terdiam. Akhirnya Rara Windu berkata:

"Aku berada diatas gunung ini beberapa tahun lamanya. Selama itu, aku berkenalan dan menanam bibit persahabatan Akupun tidak bermaksud-membaw a ilmu kepandaian guru ke liang kubur. Bahkan bila sampai terjadi demikian aku berarti, menghianati dan membunuh cita-cita guru. Hanya saja, untuk menemukan seorang murid memang sangat sulit,"

Arung Danusubrata nampak gelisah. Prangwedani yang semenjak tadi berdiam diri, menyumbangkan pikirannya :

"Hal itu janganlah saudara pikirkan. Percayalah, bahwa didunia ini terdapat suatu perjodohan. Bila perjodohan itu . tiba, Tuhan akan membaw akan seorarg murid untuk saudara berdua. Sebaliknya bila Tuhan menghendaki ilmu kepandaian saudara berdua musna manusia seluruh dunia in i tidak akan dapat beriht iar apapun juga."

Rara Windu dan Warok Jaganala mengucapkan terima kasih. Akan tetapi didalam hati Prangw edani dan Anung Danusufcratatimbul suatu keyakinan, bahwa murid itu sulit diperoleh. Hanya saja mereka berdua tidak menyatakan hal itu, karena akan mementahkan suatu persetujuan yang sudah matang.

Demikianlah, semenjak itu, hilanglah warta berita, tentang Rara Windu dan Jaganala. Mengingat usianya, mestinya mereka berdua sudah wafat. Bila sudah wafat, kenapa di dunia belum terpercik suatu berita tentang seorang pemuda atau pemudi yang berkepandaian  tinggi? Maka benarlah keyakinan pendekar Prangwedani dan Anung Danusufcrata bahwa baik Rara Windu maupun Jaganala akan sulit memperoleh pewarisnya yang tepat,

***0odwo0***

SAMPAI DISITU, selesailah sudah cerita kakek Argajati. Mereka yang mendengar, memperoleh kesannya masing-masing, Yang paling hebat adalah Lingga Wisnu, Berbagai ingatan dan kenangan berkelebat didalam benaknya, Teringatlah dia, betapa ayah bundanya dikejar oleh seluruh pendekar dipenjuru tanah air ini. Mereka terdiri dari pendekar pendekar golongan Parwati dan Ugrasena yang diketuai oleh Prangwedani dan Anung Danusubrata, Pernah pula Kyahi Basaman dikerumuni pendekar pendekar yang menanyakan tentang tongkat mustika. Bukan mustahil, bahwa Prangwedani dan Anung Danusubrata diam-diam tertarik kepada tongkat mustika yang dibaw a bawa Rara Windu.

Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Terus saja ia bertanya kepada kakek Argajati;

"Apakah pendekar Jaganala senang mengenakan jubah abu-abu?"

Kakek Argajati tercengang mendengar pertanyaan itu, Dengan menebak-nebak ia menjaw ab;

"Aku sendiri belum pernah bersua. Tapi menurut kabar, dia senang jubah pendeta tatkala masih malang melintang. Hanya saja apakah jubahnya berw arna abu abu atau hitam aku sendiri kurang jelas. Kenapa anak tertarik soal itu?" Lingga Wisnu tertegun. Mulutnya terbungkam, karena ia teringat kepada ingatannya masa kanak-kanak tentang seorang yang mengenakan jubah. Kakak perempuannya, Sudarawerti hilang musna dengan munculnya seorang pendekar yang mengenakan jubah abu-abu. Pendekar jubah abu-abu yang menyibukkan dan mengherankan ayah-bundarjya pula Sayang waktu itu dia setengah pingsan. Ingatannya kabur antara munculnya tokoh Podang Wilis, paman gurunya, dan pendekar jubah abu- abu. Akan tetapi masih teringat segar dalam otaknya, bahwa dia menyerukan hilangnya Sudaraw erti diatas punggung Podang wilis,

Karena mereka semua menunggu jawabannya maka ia mengisahkan riw ayat hidupnya dan keanehan keanehan yang ditanggung keluarganya. Dan mendengar riw ayat hidupnya, Sekar prabasini tertegun oleh rasa terharu. Baru sekarang ia mendengar riw ayat hidup pemuda yang dipujanya itu. Diluar dugaannya, penderitaannya jauh melebihi penderitaannya sendiri.

"Coba ulangi sekali lagi!" kata Ki Ageng Gumbrek. Orang tua ini agaknya menaruh perhatian besar. "Ulangi sekali lagi seolah-olah kau berada ditengah kancah pertempuran itu!''

Lingga Wisnu meluruskan ingatannya. Kemudian ia mengisahkan peristiw a yang menyedihkan hatinya itu seolah-olah dirinya tak ikut serta memegang peranan.

Katanya tersekat-sekat tapi lancar

"Tak sempat lagi ayah berbicara berkepanjangan. Beberapa orang datang meluruk kebaw ah. Gerak-gerik musuh baru ini, lebih mantap dan perkasa. Namun ayah sama sekali tak gentar. Dengan pandang tajam, ayah mengaw asi mereka. Tiba-tiba diatas ketinggian ayah melihat seorang mengenakan jubah abu-abu. Siapa dia, ayah tak dapat mengenalnya.

"Selagi ayah mencoba mengamat-amati orang berjubah abu-abu itu, kakak Mardanus sudah melompat menerjang sambil berteriak:

"Manusia serigala. Kalian ganas melebihi binatang.

Hayo maju!"

Akupun ikut menyerbu. Sebenarnya aku sama sekali tak berkepandaian. Hanya terdorong oleh hati kesal dan panas, aku ikut ikutan saja. Tentu saja ayah jadi berkhaw atir. Terdengar ayah berteriak nyaring:

"Umardanus! Lingga! Kembali!"

Kakak terperanjat tatkala mendengar bahwa ayah menyebut namaku. Dia menoleh dan melihat diriku. Cepat-cepat ia mengurungkan ke hendaknya dan menyeret aku mundur.

"Dan orang berjubah abu-abu?" potong Ki Ageng Gumbrek.

"Dia berdiam saja. Akupun tidak sempat memperhatikan. Tatkala ayah bunda terbunuh dan kakak Mardanus melompat ke dalam jurang, dia menyambar kakakku perempuan Sudaraw erti. Kakakku Sudarawerti mencoba melawan. Akan tetapi tiada gunanya. Entah bagaimana selanjutnya ingatanku sudah kabur." jaw ab Lingga Wisnu.

Ki Ageng Gumbrek menghela napas. Dahinya berkerut-kerut. Ia mencoba menduga duga. Lalu mengerling kepada Argajati yang berdiri tertegun. Bertanya minta pertimbangan :

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

Kakek Argajati. berbimbang-bimbang. Lalu menjaw ab: "Kalau menilik wilayah pertempuran, kemungkinan

besar dialah warok Jaganala. Apalagi dia mengenakan

jubah abu-abu. Akan tetapi masakah dia masih hidup? Bila hidup, paling tidak sudah berumur seratus tahun lebih."

"Kyahi Basaman sampai sekarang masih hidup segar bugar. Masakan Rara Windu dan warok Jaganala mendahului usianya?"

Kakek Argajati tertaw a. Menyahut:

"Walaupun usia manusia berada di tangan Tuhan, akan tetapi pertimbangan Ki Ageng masuk akal. Namun

..."

"Namun apa?"

"Betapapun juga, aku masih ragu-ragu”, jawab kakek Argajati cepat. "Dalam usia selanjut itu, masakan dia masih senang berkeliaran dan usilan terhadap segala peristiw a di dunia?"

"Menurut tutur katamu, dia berwatak mau menang sendiri. Dia malang melintang tanpa tandingan. Dan jangan lupa, dia membutuhkan seorang murid yang hendak diwarisi kepandaiannya ."

Tiba-tiba Sekar Prabasini menyambung:

"Tapi kenapa dia tidak sudi membantu ayah bunda kakak Lingga?" Ki Ageng Gumbrek tertaw a. Sahutnya:

"Sebenarnya otakmu ce rdas. Tapi kau jadi tolol karena terpengaruh cerita Lingga. Bukankah mereka yang mengeroyok ayah Lingga terdiri dari kaum Parwati dan Ugrasena? Setidak-tidaknya yang paling besar jumlahnya."

"Ya, lantas apa alasannya?"

"Bukankah Anung Danusubrata dan Prangwedani adalah sahabatnya? Menggebuk anjing piaraan samalah halnya menggebuk majikannya.”

Sekar Prabasini sebenarnya dapat menjawab pertanyaannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Akan tetapi ia sengaja berbuat demikian untuk mengesankan kisah hidup Lingga Wisnu kepada Sugiri dan keluarga Argajati.

Dalam pada itu pagi hari telah menyingsing, dengan tak terasa. Masing-masing terlibat dalam diri masing- masing. Akhirnya tuan rumah berkata:

"Mungkin sekali tenaga tuan-tuan sekalian sangat kita butuhkan untuk mengusir serdadu Belanda yang mengepung pertapaan ini. Karena itu, apakah tuan-tuan tidak perlu beristirahat? Kami telah menyediakan kamar peristirahatan walaupun sangat sederhana.

Mereka menerima saran tuan rumah. Dan masing- masing lantas memasuki kamar. Sekar Prabasini berada dalam satu kamar dengan Saraswati. Sedang Rara Witri menemani ibunya.

Sekar Prabasini mencoba menidurkan diri tetapi pikirannya terpancang terus kepada pendekar yang mengenakan jubah abu-abu. Dia seorang gadis berhati keras. Tak mengherankan, ia kena belenggu sifat kekerasan hatinya. Sebaliknya Lingga Wisnu memikirkan tentang tongkat yang diketemukan di dalam goa. Pikirnya:

"Apakah tongkat yang dibawa pendekar wanita Rara Windu bukannya tongkat yang kuketemukan di dalam goa? Bila benar, bagaimana cara Rara Windu memasukkan?"

Hal itu membuat hatinya bimbang sendirl Tetapi tokoh Rara Windu tak pernah hapus dari ingatannya. Ia memikirkan masa depan Sekar Prabasini. Karena jasa Sekar Prabasin i, goa harta karun itu diketemukan. Dalam hal ini, secara kebetulan pula ayahnya ikut mengambil saham yang paling besar. Sekarang dia menemukan tidak hanya t imbunan harta karun, tapipun sebuah kitab himpunan ilmu sakti yang t iada taranya. Menurut pantas, Sekar Prabasini berhak memiliki separohnya.

Dengan berbagai pikiran itu, Lingga Wisnu bergulak- gulik diatas tempat tidurnya. Akhirnya ia tertidur juga dengan tak setahunya sendiri. Tatkala bangun, mereka semua sudah sibuk bersiap-siap.

Ki Ageng Gumbrek menyambut dengan tertaw a lebar.

Serunya riang:

"Hei bocah! Kita tidak boleh terkurung terus dalam goa ini. Kita harus mencoba mendobrak. Mati atau hidup bukan perkara kita. Serahkan saja nasib kita kepada Tuhan diatas kepala kita ..."

"Benar." Lingga Wisnu mengangguk. Kemudian menoleh kepada kakek Argajati yang nampak berenung- renung. Meskipun tak terucapkan, Lingga Wisnu bermaksud minta pertimbangan. Sebab betapapun juga, tuan rumah itu lebih faham liku-liku wilayahnya daripada pihaknya.

"Sebenarnya, ananda Sukesi harus sehat dahulu seperti sediakala." ujar orang tua itu.

"Apakah pertapaan ini kian terkepung rapat?" Sekar Prabasini menegas. Dia seorang gadis yang senantiasa tak bersabar hati.

Kakek Argajati mengangguk. Jaw abnya:

"Menurut laporan, mereka bahkan berusaha membongkari tanah."

Hati Lingga Lingga Wisnu tercekat. Teringatlah dia kepada Musafigiloh yang berotak encer. Kalau memperoleh kesempatan, pemuda itu niscaya dapat menemukan lubang sumur goa harta benda. Dia mempunyai tenaga serdadu yang dapat mendatangkan meriam sewaktu-w aktu. Dan dengan bantuan meriam, pintu goa lambat-laun pasti terbongkar juga. Maka dengan wajah berubaa ia berkata:

"Kalau begitu, biarlah kuselid iki."

Berkata demikian, ia memberi isyarat mata kepada Sekar Prabasini. Dan pada saat itu ia melihat pandang mata Saraswati yang lembut. Gadis itu seperti hendak mengatakan sesuatu, akan tet api segera menahan diri.

Mereka berdua diantarkan seorang petani sampai di mulut goa yang berada di seberang. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya tanpa petunjuk lagi. Seperti kemarin, mereka melalui lorong-lorong yang berliku-liku. Dan selama berjalan, mereka berdiam diri. Perjalanan begini bagi Sekar Prabasini terasa membelenggu dirinya. Maklumlah, dia seorang gadis berjiwa bebas, setengah liar dan panas hati. Maka-meledaklah ucapannya:

"Apakah kau tak sudi berbicara lagi setelah berkenalan dengan Saraswati? Gadis itu memang menarik."

Lingga Wisnu tercengang berbareng geli. Sahutnya bersenyum:

"Adik? Mengintip musuh, kita harus dapat menahan diri meskipun banyak yang hendak kukatakan padamu."

“Kalau mau bicara, berkatalah. Apa sih ruginya? Kalau khaw atir kena didengar musuh, bukankah kita bisa berhenti dulu? Musuh yang mengepung pertapaan ini, kan t idak bakal lari?"

"Benar. Tapi aku memikirkan goa itu. Goa warisan ayaymu," ujar Lingga Wisnu.

Mendengar ayahnya disebut-sebut, Sekar Prabasini terdiam. Betapapun juga, kata-kata Lingga Wisnu mengenai lubuk hatinya dengan jitu. Sahutnya mengalah:

"Apakah kau khaw atir mereka dapat menembus goa kita?"

"Mereka memiliki meriam, sedang kita belum mengambil faedah isi goa itu. Selain tongkat dan pedang ini."

"Pedang? Pedang apa?” Sekar Prabasini tercengang.

Lingga Wisnu merandek. Kemudian memperlihatkan tongkatnya. Katanya: "Lihat! Sepintas lalu hanya tongkat belaka. Tapi sewaktu kuamat-amati, ternyata terdapat lapisan didalamnya. Hal ini baru kuketahui kemarin siang tatkala aku menghunusnya ."

"Apakah kau menghunus pedang?" Sekar Prabasini tertarik.

"Benar. Lihat!" sahut Lingga Wisnu seraya menarik. Dan benar saja. Ia menarik sebilah pedang pendek. Tapi pedang itu guram. Sama sekali tak menarik. Namun di dalam hati Sekar Prabasini tahu bahwa pedang itu niscaya pedang pusaka.

"Kau ambillah! Inilah milikmu," kata Lingga Wisnu lagi.

"Milikku? Akh, tidak, kau yang menemukan, maka engkaulah pemiliknya. Lagipula, kenapa diantara kita masih ada hakku hakmu?” ujar Sekar Prabasini.

Terharu hati Lingga Wisnu mendengar pernyataan Sekar Prabasini, sekarang tahulah dia, bahwa dirinya tidak lagi dianggap insan asing oleh gadis itu. Maka berkatalah dia:

"Adik! Tanpa pertolongan ayahmu, tak mungkin aku menemukan goa itu. Akupun sudah memperoleh bagianku. Itulah tongkat mustika yang berisikan segulung peta perang. Kemudian sebuah kitab himpunan ilmu sakti. Karena itu, pedang ini adalah milikmu. Aku tak mau serakah hingga lupa daratan. Lagi pula, pernah aku menerima pedang warisan ayahmu yang t iada taranya di dunia ini. Kau terima lah! Bila kau menganggap pedang ini tetap milikku, maka sebagai pemilik aku menghadiahkan kepadamu. Bagaimana?" Sekar Prabasini merasa terdesak, maka ia menerima pedang itu dengan berdiam diri. Ia mengamat-amati sebentar, lalu berkata setengah berbisik:

"Apakah kebagusan pedang ini, sebenarnya aku tak tahu. Sarungnyapun tiada. Masakan harus kuselipkan saja dipinggang semacam belati panjang."

Lingga Wisnu tertawa. Sahutnya:

"Untuk sementara biarlah demikian."

Sekar Prabasini tertaw a, lalu menyelipkan pedang pendek itu dipinggangnya. Tiba-tiba seperti teringat sesuatu:

"Hai! Apa nama pedang ini?"

"Akh ya! Belum sempat aku memeriksa pamornya.

Mari kita periksa!" seru Lingga Wisnu.

Tatkala itu matahari telah bersinar terang benderang. Segera mereka memeriksa pamor pedang. Remang- remang mereka melihat sebuah lukisan seekor naga mencengkeram dunia. Inilah pamor yang belum pernah mereka lihat.

"Pernahkah kau melihat pedang berpamor? Lingga Wisnu mencoba minta pendapat gadisnya.

"Kata orang, memang terdapat juga,.akan tetapi jarang sekali," sahut Sekar Prabasini. "Agaknya pedang ini berkeramat seperti sebilah keris pusaka."

"Pedang ini berpamor seekor naga. Apakah bukan Nagasasra?"

"Entahlah. Menurut kabar, pamor Nagasasra hanya pantas disematkan pada sebilah keris." Sekar Prabasini mengerinyutkan dahinya. "Eh, sebentar! Aku pernah mendengar dongeng tentang kepahlawanan Dewa Wisnu tatkala membunuh raksasa sakti bernama Kasjipu. Dewa syiw a dan Dewa Brahmana dikalahkan maka Dew a Wisnu merubah diri menjadi singa dengan nama Bathara Narasinga. Dan matilah raksasa Kasjipu."

"Apa hubungannya dengan pamor pedang ini?" Lingga Wisnu menyela.

"Menurut cerita, tersebutlah Mpu bernama Hanjali. Dia hidup di atas samudra. Untuk memperingati kepahlawanan Dewa Wisnu, ia membuat dua bilah senjata sakti. Yang pertama: sebatang keris. Yang kedua sebatang pedang. Keris itu diberi pamor seekor naga tegak berdiri. Ia menamakan keris Nagasasra. Pedang itupun diberi pamor seekor naga pula. Bedanya mencengkeram dunia. Ia menamakan Naga Sanggabuwana."

Lingga Wisnu berenung sebentar. Kemudian memutuskan:

"Mari kita jenguk goa harta karun. Barangkali kita memperoleh keterangan. Lagi pula, bukankah goa itu yang harus kita selamatkan?"

Sekar Prabasini mengangguk. Dan mereka berdua segra melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Mereka memutar ke arah selatan. Lalu mendaki ketinggian. Maksudnya hendak mengintai dari atas. Dengan demikian t idak semata-mata menghampiri goa. Sebab hal itu akan menarik perhatian lawan. Mereka berlega hati, karena goa ternyata tidak terusik. Hanya saja mereka terkejut tatkala melihat padepokan kakek Argajati. Semua bangunan hancur musna. Lingga Wisnu bergerak mendekati padepokan. Tiba- tiba telinganya yang kini menjadi tajam luar biasa mendengar suatu gerak. Ia merandak seraya berseru:

"Awas! Kita sudah terkepung!"

Sekar Prabasini terperanjat. Ia meloncat kesamping beraling pada sebatang pohon besar. Tepat pada saat itu, berdesinglah sebutir peluru. Dan terdengarlah suara Musafigiloh:

"Hai saudara Lingga! Kalau kau tidak menyerahkan harta itu, tinggalkan kelalamu disini!"

Berbareng dengan gaung suaranya, muncullah puluhan orang. Mereka bersenjata tajam dan tampaklah sebagian besar terdiri dari kaum pendekar. Melihat hal itu, Lingga Wisnu berseru kepada Sekar Prabasini:

"Adik! Apa yang akan terjadi janganlah kau keluar dari tempatmu. Aku masih mampu melawan mereka semua."

Setelah berseru demikian, ia meloncat ketengah lapangan dan menjawab kata-kata Musafigiloh:

"Dimana Genggong Basuki?" Musafigiloh tertaw a. Sahutnya:

"Dia siap menembak tengkukmu. Karena itu, serahkan

harta itu."

Lingga Wisnu tak menjawab. Ia menjiratkan pandang kepada wajah lawannya yang kini berada sepuluh langkah disekelilingnya. Tiba tiba tangannya bergerak. Tiga orang terpental diudara dan jatuh berjungkir balik di atas tanah. Itulah suatu peristiw a di luar dugaan siapapun. Musafigiloh boleh membanggakan otaknya yang cerdas dan cerdik, akan tetapi sama sekali tak menduga bahwa ilmu sakti Lingga Wisnu demikian hebatnya sehingga mampu memukul kawan-kawannya dari jarak jauh. Seketika itu juga, ia seperti tersadar. Sambil melompat ia berteriak nyaring:

"Awas! Serbu!"

Akan tetapi Lingga Wisnu kembali menyerang. Dan kembali lagi terjadi korban. Suara bergedukan terdengar diantara kesibukan mereka. Selanjutnya pertempuran terjadi dengan berserabutan.

Lingga Wisnu dikerubut lebih dari seratus orang. Namun ia tetap gagah dan lincah. Kemana saja pedangnya bergerak, selalu membawa korban. Musafigiloh lantas berteriak penasaran :

"Semua mundur! Jangan terlalu dekat!"

Memang, pertempuran seperti sebentar tadi, akan membaw a korban banyak. Sebab mereka kehilangan sasaran karena berdesak desak. Sekarang mereka mundur. Dengan demikian gerakan Lingga Wisnu kelihatan jelas.

Sekar Prabasini menyaksikan pertempuran itu dari balik pohon. Ia melihat pemuda pujaannya berdiri gagah bagaikan Dewa Wisnu. Dengan gesit pedangnya berkelebat dan empat orang tahu-tahu menggeletak di atas tanah. Seorang laki-laki bertubuh kekar mengayunkan goloknya. Terdengar seruan peringatan kawan nya :

"Awas!"

Lingga Wisnu terkejut. Ia lagi menghadapi tujuh orang yang maju sekaligus. Kemudian mendengar sambaran golok yang membaw a tenaga besar. Tanpa berpikir lagi, ia mengangkat tangan kirinya. Krak! Golok orang itu dapat dipatahkan Bahkan ujungnya terpelanting menikam perut. Dengan sekali menjerit, orang itu terjungkal di atas tanah.

Menyaksikan kematian orang tua itu anak buahnya marah tak kepalang. Dengan serentak mereka maju berbareng. Lingga Wisnu melayani dengan gagah perkasa. Tiba-tiba terdengarlah suatu letusan beberapa senjata. Lingga Wisnu mengerang. Kedua tangannya bergerak cepat dan empat orang mati lagi.

Sekar Prabasini yang menyaksikan Lingga Wisnu terluka kena peluru, tak dapat lagi menahan diri. Ia hendak segera memasuki gelanggang. Tapi sekonyong- konyong ia melihat suatu kejadian aneh. Pada saat itu berkelebatiah sesosok bayangan berjubah abu-abu. Dengan sekali tendang, belasan orang terpental mundur. Lalu melompat menerkam

Lingga Wisnu. Pemuda itu hendak mengadakan perlawanan. Tapi lengannya rupanya kena tembus peluru sehingga gerakannya tak leluasa lagi. Tahu-tahu ia kena disambar dan dibawa terbang keluar kalangan.

"Hei, berhenti!" Sekar Prabasini mengejar.

Tentu saja, ia tidak melintasi daerah pertempuran. Akan tetapi mengambil jalan berputar yang menyekat arah lari si jubah abu-abu. Diluar dugaan, orang itu cepat sekali gerakannya tak ubah siluman. Sebentar saja, tubuhnya teraling deret pepohonan. Sekar Prabasini tak berputus asa. Ia terus mengejar. Melihat orang berjubah abu-abu itu mendaki keatas, ia terus mengejar dengan menghunus pedang Naga Sanggabuwana. Rimba raya makin lama makin padat. Teriakan para serdadu tak terdengar lagi. Yang terdengar hanya gaung suara angin menumbuk jurang-jurang dalam. Waktu itu matahari hampir berada di titik tengah. Dan tatkala ma tahari mulai condong ke barat. Sekar Prabasini tiba-tiba saja berada ditengah lapangan terbuka terselimut aw an putih yang berarak-arak tak henti-hentinya.

Sekar Prabasini celingukan. Penglihatannya tak kuasa menembus duapuluh langkah didepannya. Dan hawa dingin mulai terasa meresapi tubuhnya. Si jubah abu-abu tiada nampak lagi dalam penglihatannya. Kemana arah larinya, hanya setan yang tahu. Walaupun demikian. Sekar Prabasin i berkeputusan akan mencari terus sampai ketemu. Sekiranya harus mati, hatinya ikhlas.

Sekonyong-konyong ia mendengar bunyi langkah. Ia mendekam sambil menajamkan penglihatan. Beberapa saat kemudian ia melihat perawakan seorang laki-laki yang berjalan dengan membaw a tongkat. Rambutnya terurai panjang dan hampir tak mengenakan baju. Sekar Prabasini heran. Pikirnya di dalam hati:

"Orang ini pasti bukan sembarangan. Hawa begitu dingin, namun ia hampir tak mengenakan baju. Kalau bukan orang berjubah abu-abu yang kini menyamar untuk mengelabui mataku? Akh, benar begitu! Lingga terluka, darahnya mungkin membasahi jubahnya. Karena itu, dia terpaksa membuka jubahnya.

Dengan pikiran itu, ia hendak meloncat menghadang. Tepat pada saat itu, ia mendengar orang itu bergumam:

"Kalau memang sudah jodoh. Siapakah yang tersesat diwilayah begini? Anak dara, kau keluarlah"" Sekar Prabasini tertegun Ia kagum bukan main. Orang itu tidak hanya melihat diri nya, tapipun jenis kelaminnya. Tapi berbareng dengan perasaannya itu, rasa curiganya naik pula. Kalau tidak pernah melihat, betapa mungkin dapat mengetahui dirinya seorang gadis? Kata-katanya pasti pula. Maka dengan pikiran itu, ia melompat dan menyahut dengan suara membentak:

"Kemana dia kau baw a?"

Orang itu ternganga. Dengan menggaruk-garuk kepala, dia berkata:

"Siapa yang kubaw a?"

"Jangan berlagak dungu. Kalau tidak maka ujung pedang inilah yang akan berbicara."

Kembali lagi orang itu ternganga-nganga keheranan.

Lalu tersenyum lebar. Sahutnya:

"Kau berbicara mengenai siapa? Kenapa kau menuduh aku?"

"Bagaimana kau bisa tahu, bahwa aku seorang gadis? Kalau belum pernah melihat, tak mungkin!" ujar Sekar Prabasini sengit. "Kau tadi sudah melihat, sewaktu kukejar dari belakang. "

"Setiap orang pasti tahu, bahwa mengejar seseorang pasti dari belakang. Masakan dari depan? orang tua itu mencoba melucu.

"Diam! Tak sempat aku bergurau denganmu” bentak Sekar Prabasini.

Orang tua itu kini tertawa gelak. Katanya seperti kepada diri sendiri: "Benar-benar cocok! Wataknya cocok! Perangainya cocok! Lagak lagunya cocok!"

"Siapa yang cocok?" Sekar Prabasini menegas. Sekarang gadis itu berhati panas ini, ganti kena dilagui orang itu.

Orang itu tertaw a terbahak-bahak sampai kedua pundaknya tergoncang. Ia merasa lucu sekali menyaksikan peribadi Sekar Prabasini yang gampang kena pengaruh. Setelah itu ia berkata:

"Wilayah ini tak pernah terinjak kaki manusia semenjak puluhan tahun yang lalu. Tiba-tiba aku mendengar suatu pernapasan. Jelas sekali, itulah pernapasan seorang insan. Setelah kuamat-amati, tata napasmu tipis. Tak ragu kau pasti seorang wanita yang masih suci bersih. Kalau bukan, niscayalah kau seorang banci. Nah, itulah alasannya kenapa aku dapat menegormu. Apakah yang aneh?"

Sekarang, Sekar Prabasini merasa tertarik. Rasa curiganya hilang sebagian. Namun tak mau ia kalah gertak. Sahutnya:

"Baik. Memang kau berkepandaian tinggi. Tapi jangan harap aku bisa kau gertak. Serahkan dia!"

"Siapa yang harus kuserahkan? Coba jelaskan kepadaku! Mungkin aku bisa menolongmu." kata orang itu. "Dan aku segera memberi keterangan tentang istilah cocok tadi kepadamu. Bukankah kau tertarik apa sebab aku mengulangi kata-kata cocok untukmu?"

Sekar Prabasini mengamat-amati paras orang itu. Mukanya sudah berkerinyut dan rambutnya sudah putih pula. Orang setua dia, pastilah tidak berbohong. Apalagi dia berada di atas gunung yang sunyi. Rupanya sudah hidup berpuluh tahun pula. Maka berkatalah ia:

"Temanku dibawa lari seseorang yang memakai pakaian abu-abu. Apakah bukan engkau?"

Orang itu tertegun sejenak. Lalu tertaw a perlahan sambil memanggut-manggut. Meng- guman:

"Nah, apa kataku. Kalau Tuhan sudah memberinya jodoh, jalan itu pasti ada." Lalu berkata dengan tegas: "Anak, yang jelas orang yang mengenakan jubah abu- abu itu bukan aku."

"Kalau bukan engkau, siapa lagi yang berkeliaran disini?"

"Masih ada dua orang, paling sedikit."

Sekar Prabasini terperanjat. Teringat kisah semalam, hatinya lantas sibuk menduga-duga. Tak terasa ia menyisipkan pedangnya, kemudian minta ketegasan lagi.

"Apakah kau kenal dia?"

Orang itu memanggut. Jaw abnya :

"Benar. Dia termasuk paman guruku."

"Akh, kalau begitu, apakah engkau yang bernama Eyang Kemasan?"

"Hai! Bagaimana kau tahu?" orang tua itu terperanjat hingga ternganga.

Sekar Prabasini bergembira. Terus saja ia membungkuk hormat sambil berkata:

"Kalau begitu maafkan kelancanganku. Tak patut aku menyebut eyang dengan engkau. Maafkan kesalahanku." Orang tua itu yang memang benar bernama Kemasan, masih belum hilang juga rasa herannya. Sekian puluh tahun lamanya ia mengikuti gurunya dan baru hari itu, ia mendengar namanya disebut orang luar.

"Bagaimana kau tahu, aku bernama Kemasan? Anak, kau jawablah pertanyaanku ini mungkin aku bisa menolongmu lebih banyak lagi."

"Eyangku yang memberi keterangan. Eyang Argajati yang kini menjadi pemilik pertapaan Argajati," jawab Sekar Prabasini dengan hati senang. "Semalam, dia mengisahkan tentang riw ayat hidup Eyang Rara Windu. Beliau pernah ditolong guru eyang. Lalu lenyap dari percaturan manusia setelah hidup berdamai dengan eyang Jaganala."

"Bagus! Bagus! Orang yang mengenakan jubah abu- abu itulah Jaganala. Dialah paman guruku!" seru Kemasan.

"Apakah beliau masih hidup?" Sekar Prabasini tak percaya. "Apakah umur manusia bisa melebihi seratus tahun?"

Hajar Kemasan tertaw a perlahan. Sahutnya:

"Lima atau tujuh abad yang lalu, manusia hidup sampai duaratus tahun. Tapi lambat laun makin menjadi pendek. Mungkin satu atau dua abad lagi, manusia sukar mencapai usia tujuhpuluh tahun."

Mendengar keterangan Hajar Semasan, maka Sekar Prabasini yang masih muda belia, menjadi kekanak- kanakan. Serunya kagum: "Apakah eyang Jaganala mempunyai ilmu sakti memperpanjang usia?"

"Kau tanyakan sendiri!" ujar Hajar Kemasan. "Usiaku sendiri sudah melew ati seratus tahun. Kenapa tak kau tak tanyakan kepadaku?"

Lambat laun Sekar Prabasini senang berbicara dengan kakek itu. Hajar Kemasan sebenarnya berkesan demikian pula. Kata Sekar Prabasini:

"Ya, bagaimana seseorang dapat mencapai usia sepanjang itu?"

"Apakah kau senang berumur panjang?"

"Setiap orang niscaya berkeinginan demikian. Apalagi bila hidupnya sejahtera."

"Benar." Hajar Kemasan tertaw a. "T api kau lebih cocok bila bertemu dengan Rara Windu."

"Hai! Apakah beliau pun masih hidup?" Sekar Prabasini tercengang.

Jakar Lefasam mengangguk. Katanya meyakinkan : "Masih segar bugar seperti ibumu sendiri. Bila saja

bertemu dengan dia, niscaya akan cocok. Itulah sebabnya berulangkali aku berkata cocok." kata Hajar Kemasan menerangkan teka-tekinya tanpa diminta.

"Kenapa begitu?" lagi-lag i Sekar Prabasini kagum. Ia seperti mendengar sebuah dongeng tentang bidadari menjadi manusia yang hidup semenjak ratusan tahun yang lalu.

"Puluhan tahun sudah, ia mengharapkan memperoleh seorang murid. Seorang pewaris ilmu saktinya. Bila dia berkesan terhadapmu, maka rezekimu melebihi seorang raja. Didunia in i, siapa lagi'yang dapat melawanmu."

Sekar Prabasin i tahu, bahwa kata-kata Hajar Kemasan tidak hanya terjadi karena hendak membesarkan hatinya atau sekedar untuk penghibur. Maka dengan sungguh- sungguh ia mengucap :

"Sekalipun aku berkemauan demikian, akan tetapi tiada kemampuanku untuk menjadi muridnya ."

"Akh, janganlah berkata demikian. Kulihat kau berbakat dan cocok dengan w atak dan perangai Rara Windu. Niscaya kau akan berhasil mewarisi. Kenapa kau berkata begitu, anak? Hei, siapa namamu? Kau kenal namaku sebaliknya aku tidak."

Sekar Prabasini tertawa. Menjaw ab:

"Sekar Prabasini."

"Bagus nama itu! Kaupun seorang dara yang berhati sederhana!" seru Hajar Kemasan.

Tergetar hati Sekar Prabasini mendengar pujian itu. Dialah orang ketiga yang menganggap dirinya manusia baik. Yang pertama ibu kandungnya. Kedua Lingga Wisnu. Dan yang ketiga Hajar Kemasan. Tak mengherankan, hatinya lantas saja runtuh dan bersedia tunduk. Setelah diam sejenak, ia menyahut dengan nada manja :

"Tapi semua orang mengatakan aku berandalan." Hajar Kemasan tertaw a lebar. Katanya:

"Andaikata di dunia ini tiada Rara Windu, aku

berkenan mengambilmu sebagai murid. Biasanya, seseorang  yang berkeinginan menjadi murid akan berusaha membuat dirinya meyakinkan akan kemampuannya. Akan tetapi kau tadi berkata, bahwa dirimu merasa tak berkemampuan. Itulah tanda kesederhanaanmu dan kejujuran. Dan biasanya rasa jujur sering terdapat pada diri seorang yang disebut berandalan ."

Sekar Prabasini meruntuhkan diri. Dia bersembah.

Berkata:

"Akan tetapi dapatkah aku bertemu dengan beliau?" "Kau berdirilah! Tanah diatas gunung ini sangat dingin

dan jahat!" Hajar Kemasan mengulurkan tangannya. Dan suatu tenaga halus membangkitkan tubuh Sekar Prabasini. Katanya lagi :

"Kau dengarkan perkataanku. Memang tiada mudah bisa bertemu dengan dia. Akupun jarang sekali ditemui. Akan tetapi bila jodoh itu tiba, semuanya seolah-olah memberi jalan kepadamu. Kau terimalah pengikat rambutku. Kau perlihatkan kepadanya. Niscaya ia akan memperhatikan dirimu!"

Sekar Prabasini menerima pengikat rambut Hajar Kemasan. Tatkala hendak membuka mulutnya orang tua itu meneruskan perkataannya,

"Bila kau bertemu dengan dia, panggilah sebagai bunda. Dia pasti senang. Sebab pernah dia bercita-cita ingin menjadi seorang ibu. Tentang orang yang mengenakan jubah abu abu adalah sahabatnya. Dari dia, semuanya akan kau peroleh. 'Kaupun harus menghormati paman guruku itu seperti dia. Bila kau sudah berhasil.mewarisi ilmu kepandaiannya, berjanjilah kepadaku bahwa engkau akan mengamalkan bagi kepentingan umum. Nah, berangkatlah anakku!"

Terharu

"Eyang! Semua kehendak serta harapan eyang, akan kulaksanakan. Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan hati eyang di kemudian hari." sahut Sekar Prabasini. Setelah berkata demikian, ia meneruskan perjalanannya dengan petunjuk-petunjuk Hajar Kemasan.

***0odwo0***

19. ILMU SAKTI GUNTUR DAN BA DAI.

PERTAPAAN RARA WINDU berada diatas laut pasir. Laut pasir yang berada dipuncak gunung Law u, dibentengi dua buah kepundan. Di sana terdapat sebuah makam. Menurut cerita penduduk, itulah makam Putera Mahkota Kerajaan Majapahit penghabisan. Dia melarikan diri dan emoh bekerja sama dengan Tentara Islam (tentara Demak) dan bermukim di atas gunung Law u. Dikemudian hari dia disebut sebagai Sunan Lawu, dan meninggal di atas gunung itu.

Rara Windu bermukim didekat makam itu. Ia mendirikan sebuah rumah dari batu. Tentu saja bentuknya tidak seperti rumah lumrah. Barangkali lebih tepat bila disebut kamar atau rumah petak. Karena letaknya berada di atas gunung bisa dibayangkan betapa dinginnya. Hampir sepanjang hari dan malam tertutup embun aw an dan hujan gerimis tiada hentinya.

Sebelum fajar hari menyingsing, ia keluar rumah untuk berlatih mematangkan ilmunya. Kemudian bersiap-siap berburu binatang. Biasanya ia tiba dirumah sebelum siang hari tiba. Dan kembali lagi, ia memasuki cara hidupnya yang sangat sederhana. Menyekap diri sepanjang malam, setelah berlati lagi di petang hari.

Demikianlah, pada fajar hari itu, ia membuka pintunya. Ia heran tatkala melihat tubuh seseorang menelungkup di atas tanah.

Itulah Sekar Prabasini yang tak ingat dirinya lagi semenjak semalam. Siapa dia? Kenapa langkahnya sama sekali tak terdengar olehnya? Biasanya, pendengarannya sangat tajam. Dalam mimpipun ia masih sanggup menangkap bunyi suara sesuatu yang bergerak di sekitar rumahnya.

Meskipun masih acak-acakan, Sekar Prabasini telah mewariskan ilmu sakti ayahnya lewat Lingga Wisnu. Itulah ilmu sakti Bondan Sejiw an yang pernah menggemparkan jagad belasan tahun yang lalu. Kecuali itu, di atas gunung sunyi senyap semenjak puluhan tahun yang lalu. Karena itu, tak pernah terlint as dalam benak Rara Windu bahwa pada suatu kali pertapaannya akan diinjak kaki manusia. Inilah sebabnya pula, Rara Windu tak mendengar langkah Sekar Prabasini. Atau memang atas kehendak Tuhan untuk membuat Rara Windu terbangun perhatiannya.

Melihat tubuh Sekar Prabasini tertelungkup tak bergerak, Rara Windu membatalkan niatnya hendak berlatih. Tak perduli siapa dia, segera ia memapahnya dan dibawa masuk ke dalam rumah. Ia meletakkannya diatas tempat t idur yang berselimut tebal. Lalu membuat pendiangan api. Kebetulan sekali, api tak pernah padam didalam rumahnya. Maka ia tinggal menyalakan sebesar- besarnya.

Oleh penerangan nyala api, dapat ia mengamat-amati wajah Sekar Prabasini yang cantik menggiurkan. Ia jadi teringat kepada kecantikan sendiri semasa mudanya. Karena itu, hatinya kian tertarik. Pikirnya didalam hati :

"Yang jelas, dia bukan anak bidadari atau keturunan peri (= jin perempuan yang cantik). Lalu, anak siapa sampai tersesat di sin i? Mustahil ia mempunyai masalah seperti diriku, sehingga aku perlu menjauhi dunia ramai."

Untuk memudahkan penghangatan, ia menanggalkan pakaian Sekar Prabasini yang basah. Tiba-tiba ia melihat pengikat rambutnya. Ia terkejut dan tercengang. Serunya tertahan :

"Hei, pengikat rambut Hajar Kemasan! Ah kalau begitu kedatangannya niscaya atas petunjuknya! "

Seketika itu juga, hatinya penuh dengan teka-teki. Apa sebab Hajar Kemasan menyuruh gadis itu datang kepadanya. Selagi demikian, kembali lagi ia terkejut tatkala melihat pedang mustika. Kena cahaya api, pedang itu memantulkan cahaya kemilau.

"Pedang bagus! Pasti bukan pedang sembarangan!"

Ia membawa pedang itu keperdiangan agar memperoleh penerangan tajam. Namun, belum juga ia puas. Hatinya ragu-ragu, karena melihat sesuatu yang meragukan hatinya.

"Ah, masakan benar pedang ..." ia bergumam seorang diri. Kembali lagi ia menatap Sekar Prabasini yang masih belum memperoleh kesadarannya. Maka ia menyelimutinya dan dibawanya mendekati perdiangan api yang menyala besar. Setelah itu, ia lari keluar rumah dengan membaw a pedang.

Tatkala itu matahari mulai bersinar. Dan sinarnya tiba diatas gunung mendahului - sinar terang tanah. Ditengah lapang, ia bisa memeriksa pedang itu secermatnya. Sekarang ia baru percaya, bahwa penglihatannya tadi tak salah.

"Benar-benar pedang Naga Sanggabuwana. Bagaimana bisa berada ditangan gadis itu?" ia heran bukan kepalang.

Rara Windu tercengang beberapa saat lamanya. Karena hatinya belum yakin benar, ia berlari-larian menuju pondok Jaganala. Dengan mengacungkan pedang itu seperti kanak-kanak, dia berkata kepada Jaganala.

"Kau kenal pedang pendek ini? Lihat! Bukankah pedang ini yang selalu membuat hatiku risau?"

Rara Windu memperlihatkan pedang Naga Sanggabuwana. Dan Jaganala mengamat amati. Kena pantulan cahaya matahari, kedua matanya silau. Lalu bergumam seorang diri

"Pedang Naga Sanggabuwana! Benar, ini pedang Naga Sanggabuwana. Dari mana kau peroleh?"

Rara Windu   gembira mendengar pengakuan itu.

Segera berseru : "Usia pedang ini seumur sejarah manusia sendiri. Bukankah begitu? Inilah pedang pusaka dunia yang t iada keduanya. Dan pedang ini berada ditangan anak itu."

"Anak siapa?" Jaganala heran tak kepalang. "Coba ceritakan padaku! Pasti engkau mengalami suatu peristiw a yang hebat."

Kata-kata Jaganala menyadarkan Rara Windu. Bukankah semenjak tadi dia belum menceritakan peristiw anya karena terdesak oleh rasa gembira dan kagum? Maka sambil memperlihatkan pengikat rambut Hajar Kemasan, segera ia menceritakan asal-usul di ketemukan pedang itu. Ia menemukan seorang dara yang tertelungkup pingsan didepan rumahnya.

"Kau maksudkan seorang gadis?" Jaganala menegas. "Kalau begitu niscaya ada hubungannya dengan bocah itu."

"Bocah siapa?" Rara Windu berganti minta keterangan.

"Seorang pemuda yang berkepandaian tinggi. Semula kukira dia tak mampu menghadapi lawannya begitu banyak Setelah kulihat ia kena sambaran peluru, segera dia kutolong. Kubaw a dia kesebuah goa. Kuuji dia. Ternyata dia berkepandaian t inggi. Sebenarnyatak perlu kutolong. Dengan demikian, kaulah yang berbahagia. Kau sekarang mempunyai harapan, sedang aku belum. Tapi bagaimana pedang mustika itu dapat berada ditangan dara itu?"

Rara Windu tak dapat menjawab. Setelah berdiam diri beberapa saat lamanya, akhirnya ia berkata :

"Dalam hal in i ada suatu peristiw a yang berada diluar kekuasaan kita. Bukankah semua peristiw a dunia ada yang mendalangi? Paling baik, mari kita uji pedang ini. Bila benar pedang Naga Sanggabuwana, niscaya terdapat tanda-tandanya ..."

Rara Windu mengajak Jaganala menghampiri sebuah telaga, sambil membawa pasu. Ia mengambil air kedalam pasu. Lalu memasukkan pedang pendek itu kedalamnya. Setelah itu ia mundur lima langkah sambil berkata:

"Kita lihat dari sin i. Tajamkanlah penglihatanmu, agar tak kehilangan pengamatan."

Mereka berdua kemudian meruntuhkan pandangnya kepasu yang berada lima langkah di depannya. Tiba-tiba permukaan airnya menjadi cerah. Lalu berubah merah darah. Permukaannya mulai bergelombang. Dan warna merah itu berubah lagi. menjadi hijau. Tepat pada saat itu, melesatlah segaris cahaya putih melencang keatas sejauh enam depa. Cahaya itu kemudian berlenggak- lenggok tak ubah gerakan ular menyusur di jalan licin. Dan menyaksikan hal itu Rara Windu girang bukan kepalang. Setengah berjingkrak ia berseru:

"Benar! Pedang Naga Sanggabuw ana! Lihat cahaya putih itu! Mula-mula lencang. Kemudian berlenggok. Bayangkan saja, andaikata cahaia itu menikam seorang lawan. Itulah merupakan tikaman yang berbahaya. Kau ingat   pula   perubahan   cahayanya   tadi.   Mula-mula ce merlang, kemudian merah. Lalu hijau. Itulah suatu himpunan tenaga sakti. Himpunan tenaga sakti Wasu Delapan. Menurut cerita, itulah cahaya gapura sorgaloka. Cahaya itu disebut Hasta Pradipta. Artinya cahaya delapan. Cahaya itu bisa pecah menjadi delapan. Juga merupakan cahaya tunggal. Bila manunggal men jadi cahaya cemerlang. Mengandung kekuatan dahsyat tak terbayangkan."

(Depa = dua belah tangan direntangkan. Buwana = dunia).

"Dan yang cahaya merah?" Jaganala minta keterangan.

"Itulah cahaya gelap. Artinya dapat di lepaskan, selagi lawan tak berjaga jaga. Sifatnya rahasia dan dapat dilepaskan dari jarak jauh. Dan tahu-tahu musuh sudah melontakkan darah. Ih, betapa mengerikan!"

Jaganala kagum bukan main mendengar keterangan tentang kesaktian pedang Naga Sanggabuwana. Cahayanya yang lencang naik keangkasa seakan-akan sedang menyangga buwana benar-benar. Kini bahkan pecah berderaian se perti kembang api. Sungguh! Suatu cahaya pedang yang indah luar biasa."

Tiba-tiba suatu pertanyaan timbul di dalam benak Jaganala. Kata pendekar itu:

"Kau merendam pedang kedalam air untuk melihat cahayanya. Maksud air itu, adalah himpunan tenaga sakti, bukan?"

"Masakan kau perlu bertanya demikian?" Rara Windu berkata. "Hal itu sudah jelas. Jika air satu pasu saja b isa membersitkan cahayanya, maka bila saja himpunan tenaga pemiliknya maha dahsyat sudah dapat dibayang kan betapa hebatnya ..."

Jaganala menggelenglan kepalanya. oleh rasa kagumnya. Katanya kepada dirinya sendiri : "Bukan main! Syukurlah, pedang itu tak kulihat tatkala aku masih muda. Sekiranya demikian ... hm ... ah, hebat bukan main! Cahayanya pasti dapat membuat menikam gunung ! "

"Benar! Dan gunung itu akan runtuh berguguran !" Rara Windu menguatkan.

Jaganala menghela napas pargang.

"Kau berkata, bahwa pemiliknya seorang dara, apakah kau tak berniat memperkenalkan kepadaku?"

Rara Windu tertaw a. Sahutnya:

"Mari, ikut padaku!"

Dengan membaw a pedang mustika dunia itu Rara Windu lari pulang. Jaganala ikut berlari larian pula. Begitu tiba didepan pintu, Sekar Prabasini telah berpakaian lengkap dan duduk bersimpuh menyambut kedatangan mereka. Katanya pendek :

"Ibu, perkenankan aku bersembah padamu.”

Rara Windu tertegun dipanggil sebagai ibu. Hatinya terharu dan terasa lu luh. Terus saja ia memeluk dan menciumnya. Sahutnya:

"Anakku! Kau siapa?"

"Aku Sekar Prabasini. Ayah bundaku telah wafat." Rara Windu menatapnya sejenak. Lalu menghibur :

"Tak apalah. Mulai sekarang, kau kuperkenankan menyebut diriku sebagai ibumu."

Sekar Prabasini girang bukan main. Ucapan Rara Windu itu menyatakan diri, bahwa ia  sudah diterima sebagai anggauta keluarga sendiri. Karena girangnya, air matanya memenuhuhi kelopak. Memang, semenjak ibunya meninggal hatinya pepat dan hancur. Ia merasa dibenci pula oleh semua pamannya. Kini, ia menemukan seseorang yang sudi menjadi ibunya. Bahkan seorang pendekar yang maha sakti pula.

"Nah, berdirilah! Ini kakak bunda. Namanya Jaganala.

Kau panggillah paman."

Sekar Prabasini segera berdiri dan membungkuk hormat. Dan melihat seorang gadis cantik yang gerak- geriknya mengingatkan kepada Rara Windu semasa masih muda, Jaganala tertaw a lebar. Katanya kepada Rara Windu:

"Adik! Kau telah menemukan dirimu sendiri. Kau t idak hanya memperoleh anak angkat, akan tetapi pewaris pula. Berbahagialah!"

Rara Windu mengetahui arti ucapan Jaganala. Cepat ia menyahut:

"Kakak! Aku tak mau serakah. Kau boleh menganggapnya sebagai pewarismu pula. Tegasnya, biarlah kita asuh bersama."

Jaganala girang. Hatinya penuh syukur. Apalagi Sekar Prabasini. Meminta salah seorang diantara mereka berdua sebagai guru, rasanya tak berani. Sekarang mereka bersedia menjadi guru. Bahkan kedua-duanya. Maka hari depannya sudah dapat dibayangkan mulai sekarang.

"Sebenarnya, tak berani aku menjadi gurunya. Aku hanya bersyukur untukmu. Bukankah aku sudah mempunyai seorang pewaris?" kata Jaganala. Rara Windu mengangguk. Menyahut:

"Itulah sebabnya aku mempunyai usul demikian. Muridmu itu, akupun ikut serta mengasuh. Kenapa sekarang kau menolak calon murid dan anakku?"

"Baiklah. Kuharap saja, anakmu ini bisa bergaul rapat dengan pewarisku."

"Tentu saja."

Sebenarnya, ingin sekar Prabasini minta keterangan apakah pewaris ilmu sakti Jaganala. Akan tetapi dia segera menahan diri Rasanya kurang sopan, ia ikut berbicara Bukankah dikemudian hari masih ada waktu panjang untuk mengenal murid Ki Jaganala? Diapun ingin minta keterangan tentang Lingga Wisnu. Sebab siapa lagi si jubah abu-abu itu, kalau bukan Ki Jaganala. Akan tetapi melihat betapa baik sikap Ki Jaganala terhadapnya dia percaya Lingga Wisnu tidak menemui kesukaran. Mungkin sekali bahkan mendapat kemajuan yang perlu diperoleh.

***o0dw 0o***

LINGGA WISNU memang dibaw a lari Jaganala dari medan pertempuran. Hebat cara berlari orang tua itu. Diapun mengenal liku-liku perjalanan yang penuh bahaya. Mula-mula menuruni dan mendaki tebing-tebing yang penuh bahaya, setelah itu melintasi padang belukar dan mendaki terus. warna sekali ia menganggap tubuhnya ringan saja. Diapun sebenarnya sanggup bertenaga seperti orang tua itu, tetapi bahwasanya harus lari begitu cepat sambil membawa orang adalah diluar kemampuannya. Suatu kali, perjalanan terhadang sebuah jurang dalam dan lebar. Orang tua itu kemudian melemparkan seutas tali yang mengubat diseberang. Lalu, dengan sekali lompat ia melayang bagaikan burung bersayap. Akh benar benar hebat! Pikir Lingga Wisnu didalam hati.

Demikianlah, melintasi jurang dalam, Jaganala membaw a Lingga Wisnu menuruni sebuah lembah yang luar biasa sifatnya. Lembah itu terletak diantara dua kepundan. Tiada langit atau matahari. Artinya, mega dan matahari tak terlihat oleh penglihatan karena tertutup kepundan itu. Dan setelah membaw anya kedalam goa lembah itu, Lingga Wisnu di letakkan perlahan-lahan diatas tanah.

Lingga Wisnu berdiri tegak. Setelah membungkuk hormat ia berkata:

"Eyang! Perkenankan aku menghaturkan rasa terima kasih tak terhingga. Bolehkah aku mengenal nama eyang?"

Pandang mata orang tua itu berkilat-kilat. Setelah merenungi wajah Lingga Wisnu beberapa saat lamanya ia menyahut:

"Kau sedang terluka. Kau perlu beristirahat. Disini terdapat makan minum cukup. Kau raw atlah tubuhmu dahulu. Baru kita kelak berbicara."

Lingga Wisnu seorang pemuda yang cerdas. Kalau Sekar Prabasini sudah dapat menduga siapa orang tua itu, diapun demikian pula. Pikirnya, dia mengenakan juba abu-abu. Siapa lagi kalau bukan Ki Jaganala. Tapi biarlah aku berpura-pura tak mengenal namanya. Selagi demikian, sekonyong-konyong Jaganala menempeleng Plak! Plak! Keruan saja Lingga Wisnu terperanjat dan tercengang. Sama sekali tak diduganya, bahwa dia bakal di tempeleng. Selain itu, gerakan Jaganala sangat cepat. Maka tak sempat ia mengelak.

Tapi t atkala Jaganala menempeleng untuk yang kedua kalinya. Lingga Wisnu sudah bersiaga. Walaupun gamparan in i sangat cepat, namun dapat ia mengelak. Hanya saja, dia tak mau menangkis karena Jaganala sudah berusia tua dan diwaktu itu berkedudukan sebagai penolong jiw anya. Ia hanya melencangkan jari telunjuknya untuk menangkis telapak tangan Jaganala.

Jaganala terperanjat. Cepat-cepat ia menarik tangannya. Benar hanya sebuah jari telunjuk, akan tetapi ia tahu apa akibatnya. Ia berkepandaian sangat tinggi. Gerakannya luar biasa cepatnya dan datang dari segala jurusan.

Lingga Wisnu tak sudi mengalah. Dengan cepat pula ia mengadakan perlawanan. Akan tetapi bukan bergebrak. Hanya menggerakkan jari-jari seolah-olah sedang menangkis dengan gerakan pemunahnya.

"Ha, bagus!" seru Jaganala dengan tertawa berkakakan. Seperti diketahui, pada zaman mudanya tak sudi ia mengalah terhadap siapapun. Maka begitu memperoleh perlawanan, timbullah sifatnya yang mau menang sendiri. Segera ia bersiaga bertempur dengan menggerakkan semua anggauta badannya yang cepat luar biasa. Kali ini menahaskan tangannya mengarah punggung dan pinggang. Lalu mendupakkan kakinya. Tapi semuanya dapat ditangkis dan dipunahkan Lingga Wisnu dengan gerakan kaki dan tangannya pula. Lingga Wisnu sedang terluka. Syukur lukanya tidak begitu parah. Walaupun harus memerlukan suatu masa rawatan, namun ia masih dapat menggunakan tenaganya dengan leluasa Syukur, sifat pertarungan itu tidak memukul dengan sungguh-sungguh. Hanya bergerak, pada jarak tertentu.

Jaganala bergerak. dia bergerak pula untuk memunahkan. Gerakan ini, tidak perlu menggunakan tenaga besar. Tapi tak ubah seseorang sedang melakukan gerakan olahraga Meskipun demikian, cepatnya luar biasa dan benar-benar membutuhkan pemusatan seluruh perhatiannya.

Dalam sekejab saja, dua puluh jurus telah lewat. Dan pada saat ini, mendadak Jaganala menarik semua serangannya.Kemudian berkata setengah menggerutu :

"Kalau tahu begini, tak perlu aku menolongmu. Benar- benar tolol aku!"

Lingga Wisnu membungkuk hormat seraya menyahut : "Bagaimana eyang berkesimpulan demikian?"

"Betapa tidak? Ilmu kepandaianmu sudah sangat tinggi. Kuyakin, bahwa di kemudian hari engkau bakal menjadi seorang pendekar tiada bandingnya. Nah, selamat t inggal. Kau boleh meraw at lukamu disini. Makan dan Minuman disin i cukup satu bulan.' ujar Jaganala. Dan setelah berkata demikian, ia memutar tubuhnya keluar goa.

"Eyang!" seru Lingga Wisnu gugup."Eyang keliru. Masih banyak kekurangan yang kuperoleh. Aku masih membutuhkan petunjuk dari eyang." Jaganala menoleh. Dengan pandang tak senang dia menjawab:

"Membutuhkan petunjukku? Jangan bergurau !" "Aku bersungguh-sungguh eyang."

"Bagaimana aku bisa memberi petunjuk kepada seseorang yang berkepandaian setatar dengan diriku sendiri?"

Lingga Wisnu hendak menyatakan, bahwa tanggapan Jaganala salah. Memang dia harus merasa puas setelah memperoleh warisan Bondan Sejiw an. Tapi setelah membaca kitab sakti warisan Ki Sabdapalon, ilmu saktinya mendadak saja menjadi sekecil biji merica. Dan apa yang diperlihatkan tadi, sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari pada bunyi tulisan Kitab Sakti yang baru diperolehnya. Hal itu terpaksa digunakannya, mengingat gerakan Jaganala cepat dan aneh luar biasa.

"Kalau kau tidak memiliki ilmu kepandaian setaraf dengan diriku, betapa mungkin kau dapat melawan serta memunahkan semua seranganku?" kata Jaganala lagi dengan suara tak senang.

Lingga Wisnu hendak menyebutkan Kitab Sakti yang dibawanya serta, akan tetapi suatu pikiran lain menahan dirinya. Maka ia hanya berdiam diri dengan berdiri tegak.

Jaganala merasa tersinggung. Tanpa memperdulikan keadaan hati Lingga Wisnu, segera ia meninggalkan goa. Dan tepat pada saat itu Lingga Wisnu berseru dari dalam goa:

"Eyang! Cucumu Lingga wisnu perkenankan memberi hormat kepadamu." Jaganala merandek sejenak. Kemudian. Meneruskan perjalanannya pulang ke pondoknya. Dan pada hari itu, ia berjumpa dengan Rara Windu. Ia masih mendongkol tarhadap kepandaian Lingga Wisnu. Karena itu tak sudi ia membicarakan atau menyinggungnya. Ia bahkan merasa Irihati terhadap Rara Windu, memperoleh pewarisnya yang tepat.

"Aneh watak orang itu," pikir Lingga Wisnu di dalam hati. "Dia bermaksud menolong diriku. Kemudian membaw aku kemari. Setelah diuji, aku ditinggalkan d isini agar merawat diri. Sebenarnya dia bermaksud jahat atau tidak?"

Ia menghempaskan diri pada sebuah batu. Matanya tertarik kepada sebuah tikungan yang membentuk sebuah bangunan kamar. Segera ia memasuki dan melihat timbunan makanan dan minuman. Ia mencium bau arak pula. Karena hawa dingin, bau arak itu menarik pemapasannya.

"Ah, aku perlu menghangatkan badanku."

Perlahan-lahan ia merembet menyusur dinding. Sebab, lukanya kini mulai mengganggu. Ia memeriksa timbunan makanan dahulu dan melihat terdapat ikan asin, beras dan jagung, setelah itu ia membuka sumbat sebuah guci minuman, lalu meneguk isinya. Perasaannya jadi agak segar. Karena perutnya terasa lapar, ia mengunyah dendeng yang sebenarnya belum matang. Walaupun demikian, sedap juga rasanya. Dan kembali lagi ia memperoleh tenaga hidup. Lalu meraba-raba sebuah kotak. Isinya ternyata ramuan obat luar. Segera ia memborehkan kepada lukanya. Kena boreh ramuan obat itu, darahnya berhenti mengalir. Tatkala malam hari tiba, ia membuat perdiangan. Semuanya sudah tersedia, seperti ranting kering dan batu api. Dalam keadaan luka, tak dapat ia menuruni goa yang berada diatas ketinggian. Apalagi mencoba merangkaki tebing kepundang yang berdiri tegak bagaikan dinding pelindung. Maka satu-satunya, jalan yang terbuka baginya hanyalah berusaha menyembuhkan lukanya.

Himpunan tenaga sakti Lingga Wisnu sudah mencapai tataran sempurna. Kini dia bisa pula membaca isi Kitab yang diketemukan di dalam goa harta. Selain banyak membantu mempercepat kesembuhan, ilmu saktinya maju di luar setahunya sendiri, dan apabila suatu kesenyapan mulai merayapi dirinya, teringatlah dia kepada Sekar Prabasini, sahabat sahabat dan kakak- kakaknya seperguruan. Pikirnya sering:

"Apakah mereka bisa menerobos kepungan kompeni?"

Lingga Wisnu tak tahu bahwa Sekar Prabasini berusaha mengejarnya. Dan secara kebetulan ia kini berada dalam asuhan Rara Windu dan Jaganala. Maka tak mengherankan pemuda itu menjadi resah.

"Sebenarnya siapakah kakek ini. Niscaya dialah eyang Jaganala. Dahulu ayunda Sudarawerti dibawanya. Biarlah kutanyakan kepadanya. Mungkin sekali, peristiwa ini adalah kehendak Tuhan untuk mempertemukan aku dengan ayunda."

Memperoleh keyakinan ini, hatinya mulai tenteram. Dengan sungguh-sungguh ia berlatih diri kini. Berlatih menurut petunjuk petunjuk Kitab Sakti. Ia baru menekuni beberapa lembar, dan hasilnya berada diluar dugaan. Ia merasa memperoleh kemajuan pesat, hingga ilmu sakti warisan Bondan Sejiw an terasa ketinggalan jauh.

"Kakek itu dapat melawan jurusku sampai duapuluh gebrakan. Walaupun demikian belum juga aku mengenal alirannya, suatu kali ia berpikir didalam hati. Dibandingkan dengan kedua guruku, ia berada setingkat atau dua tingkat diatasnya."

Demikianlah ia berpikir, berlatih dan berusaha menyembuhkan lukanya, selama enam hari. Pada hari ketujuh kesehatannya sudah pulih semua. Segera ia berkemas hendak meninggalkan goa. Tapi alangkah terkejutnya tatkala melihat pintu goa tertutup rapat.

"Hei! Kenapa?" ia heran.

Ia mencoba mendorongnya. Akan tetapi pintu goa itu sama sekali tak bergeming. Ia jadi penasaran, dikerahkan seluruh tenaganya dan dipusatkan. Sekali lagi ia mencoba mendorongnya. Pintu goa itu terdengar berderak. Namun tak bergeming juga. Dan menghadapi kenyataan itu, ia lalu berteriak:

"Eyang! Aku sudah sembuh!"

Suaranya bergelora dan bergema di dalam ruang goa. Dan setelah menunggu sekian lamanya, tiada suatu perubahan. Karena itu, dia kini jadi berteka-teki. Katanya didalam hati:

"Dia membawaku kemari dengan maksud menolongku. Tapi setelah mengujiku, ia nampak kecewa. Ia pergi tanpa pamit. Namun membiarkan aku merawat diri dengan persediaan makan minum yang cukup. Sekarang ia menutup goa ini. Sebenarnya apa maksudnya? Kalau dia menghendaki aku mati, tentunya tidak perlu melalui cara begini. Kepandaiannya cukup untuk membunuh diriku, karena aku sedang terluka ..."

Hatinya agak terhibur memperoleh pikiran demikian. Tiba-tiba suatu pikiran lain menusuk benaknya. Bagaimana kalau bukan dia yang menutup pintu goa? Mungkin seseorang yang menghendaki dia mati atau angin dahsyat atau suatu pergeseran tanah. Hal itu mungkin terjadi.

Ia lantas menjadi resah hati. Dua kali sudah, ia kena tersekap sebuah goa. Teringatlah ia tatkala tersekap didalam goa harta. Jalan keluarnya akibat suatu pertolongan dari luar. Itulah kunci emas yang dibawa Sekar Prabasinj. Apakah kinipun dia harus menunggu datangnya Sekar Prabasini. Tapi seumpama dia benar- benar datang, tenaganya pun tidak akan dapat menolongnya.

Ia mencoba memeriksa pintu goa. Mungkin sekali terdapat lubang kuncinya. Alangkah kecewanya. Pintu yang menutup mulut goa hanyalah sebuah batu raksasa. Bentuk bangunannya seperti terukur. Walaupun demikian tidak rapat benar, tetapi yang dapat melalui selanya hanyalah binatang-binatang serangga.

"Apakah mungkin terdapat pintu keluar lainnya?" ia menduga-duga.

Lingga Wisnu kemudian memeriksa seluruh goa. Setelah berputar-putar sekian lamanya, harapannya tiada berhasil. Sama sekali tiada pintu lain, kecuali beberapa lubang kecil yang merupakan lubang angin. Mau tak mau ia menghela napas. Kemudian duduk berjagang dagu diatas batu. "Baiklah, aku berlatih saja seperti dahulu. Nasib manusia bukankah berada ditahan Tuhan? Kenapa aku ikut-ikut an memilir?" ia memutuskan. Semangat hidupnya terbangun lagi dan terus saja ia membalik- balikkan halamannya. Dan setelah belajar satu hari satu malam, harapannya mulai t imbul. Ia menemukan rahasia himpunan tenaga sakti yang hebat. Himpunan tenaga sakti itu terbagi menjadi sembilan bagian. Setelah merasukkan ke dalam ingatannya, mulailah ia bersemadi.

Pada bagian pertama, tubuhnya merasa segar-bugar. Suatu getaran halus mulai meraba seluruh urat nadinya. Hawa bergumpal berputaran seakan-akan menumbuk dinding daging. Dan pada bagian kedua, tubuhnya terguncang-guncang. Tak dapat ia menguasai gerakan kaki dan kedua tangannya. Ia menjadi ketakutan.

Ingin ia memberhentikan. Akan tetapi tubuhnya justru malah terguncang hebat. Kedua tangannya berserabutan dan kedua kakinya menggigil. Tak usah dijelaskan lagi, bahwa dia kini terkuasai o leh suatu tenaga yang membersit dari dirinya sendiri.

"Gerakan apakah ini?" ia kaget.

Tentu saja tiada yang dapat menjaw ab atau yang mendengar. Bahkan dia tak tahu, bahwa wajahnya kini berubah menjadi merah membara. Syukur, dia seorang pemuda berpembaw aan tenang berkat pengalamannya yang pahit semasa kanak-kanak. Selain itu, otaknya cerdas dan pandai berpikir.

"Apakah aku salah menghafal?" pikanya didalam hati.

Dengan kerlingan mata ia menjenguk isi kitab yang berada didepannya. Bunyi kata-katanya sesuai dengan tata napas dan tata- penyalurannya. Karena itu ia memutuskan memasuki bagian yang ketiga. Suatu perubahan yang menggembirakan terjadi. Benar tangan dan kakinya masih bergerak-gerak, akan tetapi dapat menguasai, wajahpun berubah menjadi hijau.

Dengan lega hati, mulailah ia menghirup napas. Sekarang ia mencoba menikmati tata-rasa yang terjadi dalam dirinya. Rasa nyaman menyelimuti seluruh perasaannya. Dan apabila telah cukup ia melanjutkan kebagian empat.

Tubuhnya kini menjadi hangat. Suatu keuntungan terjadi pada dirinya diluar pengetahuannya. Sebab andaikata dia tak memiliki himpunan tenaga sakti yang kuat, tubuhnya sebenarnya akan terbakar hangus dari dalam. Ia merasakan suatu kehangatan, karena hawa dingin diatas gunung. Selain itu, himpunan tenaga saktinya yang lama sedang bertempur hebat melawan tenaga sakti yang baru. Karena itu kepalanya menguap. Sedang warna wajahnya berubah-rubah. Kadang hijau, kadang kuning, merah, hitam putih kebiru-biruan dan hijau lembayung.

Tatkala memasuki bagian kelima, tubuhnya menjadi lemas lunglai. Gerakan tangannya berhenti. Getarannya tiada lagi. Juga kedua kakinya. Yang terasa hanya suatu kelumpuhan. Akan tetapi seluruh tubuhnya terselimut suatu getaran gergeriming yang membuat bulu kuduknya meremang. Dan pada saat itu, warna wajahnya kembali seperti sediakala.

Bagian keenam dapat dimasuki dengan lancar. Tiba- tiba saja ruang benaknya seperti terbuka seolah-olah dapat ia mengetahui rahasia alam yang tergelar didepannya. Pandang matanya kini tajam luar biasa. Dadanya terasa penuh serta teguh. Hatinya tegak dan sikap h idupnya menjadi tegas. Ia merasa diri seolah-olah sanggup menggempur dan menghancurkan segalanya yang merint angi.

Setelah puas merasakan perubahan perasaan itu, ia memasuki bagian ketujuh. Di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk mengembalikan tenaga lontaran dari luar. meniadakan, memunahkan dan menghisap. Karena itu, tubuhnya mendadak, saja menjadi penuh. Semua hawa dan angin dapat disedotnya punah. Tak mengherankan perasaan tubuhnya kini jadi dingin.

Pada bagian delapan, perasaan itu tiada lagi. Kembali lagi ia merasa sediakala hanya saja inderanya menjadi peka. Semuanya dapat dimanunggali. Karena dapat manunggal dengan alam, maka alampun seakan-akan memberi kabar rahasianya masing-masing. Sudah barang tentu ia girang bukan kepalang.

Dan pada bagian kesembilan, ia merasakan suatu ketenteraman. Sekarang, semuanya berkumpul dihati dan manunggal dengan rasanya. Tangan, kaki dan semua inderanya bergerak dan mencapai titik tujuan selaras serta secepat kehendak hati. Karena pikiran bersumber pada rasa, maka kecepatan berpikir masih kalah jauh dengan getaran hatinya.

Merasa sudah tamat. Lingga Wisnu melompat bangun. Gerakan tubuhnya ringan luar biasa. Terus saja ia bersimpuh menyembah kitab itu. Katanya setengah berbisik:

"Entah siapa yang menulis kitab ini. Dengan ini kusampaikan sembah terima kasihku. Semoga kau selalu melindungi. Akupun berjanji takkan menyalah gunakan w aw arahmu."

Ia melompat bangun lagi. Lalu berseru nyaring:

"Ya Tuhanku! Dengan kehendakmu aku memperoleh kemajuan. Terima kasih dan maafkan segala dosa serta kesilapanku."

Hebat gaung suara Lingga Wisnu. Sekonyong-konyong goa itu tergetar. Suatu suara gedebrukan. Ternyata bongkah batu yang menutup goa, terpental hancur dan runtuh di dalam jurang. Keruan saja Lingga Wisnu heran tak kepalang.

"Ah, kalau begitu kitab ini sangat berbahaya! seruan manusia yang bahaya!" serunya di dalam hati. "Pantas ayah dikejar-kejar terus oleh manusia manusia yang menghendaki tongkat mustika. Kalau begitu biarlah kupendam saja. Siapa yang kelak berjodoh, biarlah Tuhan memberi petunjuk padanya."

Akan tetapi dimana dia harus memendam kitab itu. Goa itu pernah terinjak orang. Apakah goa harta karun? Goa itupun kini kena kepung Musafigiloh. Bila harta benda saja yang kena rampas, tak apa. Tapi bila kitab ini jatuh padanya, alangkah bahayanya. Niscaya akan banyak manusia yang mati. Apakah didalam goa Bondan Sejiw an. Goa itupun pernah kena injak keluarga Mataun.

Lingga Wisnu berpikir sejenak. Timbul niatnya hendak dibawanya saja kemana dia pergi. Namun, itupun cara yang kurang sempurna. Suatu kali kitab itu pasti jatuh. Atau dibakar saja? Ia merasa sayang. Baik dan buruknya adalah akibat budi manusia yang menemukan. Demikianlah ia menimbang-nimbang beberapa waktu lamanya. Akhirnya ia memutuskan untuk memendamnya didalam goa itu. Betapapun jaga, letak goa itu sangat sukar. Yang menginjakkan kakinya hanya dua orang saja. Dirinya sendiri dan Ki Jaganala. Ki Jaganala sudah berusia lanjut. Seumpama menemukan kitab itu, tiada gunanya. Kecuali bila dia mempunyai murid.

Setelah memutuskan demikian, ia keluar goa untuk menjenguk sekitarnya. Tiba-tiba ia tertarik kepada suatu tempat yang berada di bawah. Tegasnya dalam jurang kepundan. Samar samar ia melihat suatu lekukan. Segera ia meloncat turun dan hinggap pada batu yang mencongak.

"Ha, inilah tempat yang setepat tepatnya," "pikirnya.

Ia memasuki sebuah terowongan sempit. Setelah memeriksa letak tempatnya, ia memendamnya sangat rapih. Kemudian ia mengukir batu penutupnya dengan kata-kata:

"Dipersembahkan bagi yang menemukan dan berjodoh. Salam dari Lingga Wisnu anak malang yatim piatu."

Ia berdiri tegak dan membungkuk hormat sekali lagi. Kemudian keluar dari terowongan itu dan mendongak keatas. Puncak gunung nampak dengan nyata. Cepat ia menghimpun tenaganya dan meloncat. Suatu tenaga dahsyat luar biasa, sampailah ia didataran goa pertama dan di sini ia bersembah lagi, dan meninggalkan sebaris perkataan untuk Ki Jaganala. Ia menyebut nama itu dengan tak ragu-ragu. Juga menanyakan tentang kakak perempuannya. Ia menyatakan diri sebagai adik kandungnya. Setelah puas, cepat ia melompat mendaki lereng kepundan.

Tatkala tiba disuatu lembah, petang hari telah tiba. Seluruh penglihatan tertutup aw an putih. Namun penglihatannya sama sekali tak terganggu. Juga dingin hawa dan angin tak kuasa mengusik dirinya. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam luar biasa menangkap suara pertempuran. Ia heran. Siapakah yang bertempur diatas gunung yang sunyi ini?

Dengan berlari-larian kecil, Lingga Wisnu mendekati arah suara itu. Benar saja. Di seberang sana nampak dua orang sedang bertempur. Tatkala itu hujan turun agak deras. Namun mereka tidak memperdulikan. Puluhan kali bahkan ratusan kali, Lingga Wisnu pernah menyaksikan suatu pertempuran. Akan tetapi kali ini, hatinya tertarik.

Cara mereka berkelahi luar biasa. Yang satu laki-laki dan yang lain perempuan. Usia mereka sudah lanjut. Bila yang satu menikam, lainnya tiba-tiba lenyap. Beberapa detik kemudian, dia muncul kembali dalam jarak beberapa puluh langkah. Kemudian saling menghampiri, dengan hati-hati.

Mereka membaw a senjata pedang. Bila berbenturan, api meletik. Lalu lenyap. Maka tahulah Lingga Wisnu, bahwa mereka bukan sembarangan orang. Walaupun demikian, Lingga Wisnu seperti mengenal corak perkelahiannya. Apakah bukan yang disebutkan didalam kitab sakti? Hanya saja, bahwasanya mereka pandai menghilang merupakan kelebihannya. Itulah suatu bukti bahwa mereka dapat bergerak begitu sebat melebihi gerakan bidang penglihatan . Tengah mereka saling menyerang, guntur meledak dahsyat. Kilat menyambar menusuk seberang bumi. Tepat pada saat itu, mereka bergerak dengan berbareng. Lingga Wisnu mengguratkan kejapan kilat untuk mengamat amati mereka berdua. Yang laki-laki ternyata si jubah abu-abu. Dan yang perempuan ...

Lingga Wisnu berpikir sejenak. Berkata didalam hati : "Bila orang tua itu benar-benar  Ki Jaganala, maka

yang wanita itu pastilah Rara Windu. Tapi benarkah mereka masih hidup dan masih bertenaga begitu dahsyat?"

Bila tidak menyaksikan sendiri, niscaya Lingga Wisnu tidak ataan percaya bahwa di dunia ini masih terdapat semacam ilmu kepandaian begitu hebat. Dia sendiri rasanya sanggup melakukan. Hanya saja, bila seusia mereka, rasanya belum tentu. Ia belum menyadari, bahwa ilmu kepandaiannya kini sebenarnya masih berada diatas mereka. Iapun akan sanggup berbuat demikian dalam seusia mereka.

Sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba pendengarannya menangkap bunyi halus Siapa lagi yang datang? Hati-hati ia mencuri pandang. Dan nampaklah seorang laki-laki berambut panjang duduk berjuntai di atas batu. Orang itu mengikuti pertempuran dengan penuh perhatian.

"Seorang berkepandaian tinggi lagi ..." pi'kir Lingga Wisnu didalam hati. "Siapa dia? Kenapa tiba-tiba aku dipertemukan dengan beberapa tokoh tinggi diatas gunung sunyi ini? Dalam pada itu, kilat mengejap lagi. Kedua pedang berbenturan. Pedang si jubah abu-abu berw arna merah, sedang yang berada ditangan wanita itu sama sekali tiada cahayanya. Begitu berbenturan, mereka berdiam sejenak. Lalu mundur dengan berbareng dan maju lagi. Demikianlah belulang kali terjadi.

Lingga Wisnu kini tergolong seorang pendekar tokoh tinggi pula. Namun hatinya kagum bukan main. Karena cara bertempur demikian - hanya dapat dibacanya lewat kitab saktinya.- Selama hidupnya belum pernah ia melihat suatu pertempuran yang nampaknya bermain main. Akan tetapi sesungguhnya mengandung suatu benturan adu tenaga yang dahsyat luar biasa.

Pedang yang berada ditangan laki-laki berjubah abu- abu itu, makin lama makin menjadi merah. Setiap kali meletikkan api seolah-olah sedang membakar pedang lawannya. Dan pada saat itu terdengar suara laki-laki berambut rereyapan bernada mengeluh:

"Hei! Bibi bakal kalah juga."

Lingga Wisnu melemparkan pandangnya ke arah pertempuran. Penglihatan orang ini tak salah. Tokoh wanita itu kalah dalam hal senjata. Akan tetapi ilmu kepandaiannyapun berada diatas lawannya.

"Tring!" Pedang tokoh wanita itu kena terlempar tinggi diudara dan runtuh di atas telaga. Dan kena runtuhan pedang, permukaan air muncrat tinggi pula. Lalu berbusa dan berasap. Dalam bebrapa detik saja, pedangnya itu luluh dan lenyap. Yang nampak di permukaan air hanyalah gagangnya. Hal itu membuktikan betapa hebat adu tenaga sakti mereka. Laki-laki berjubah abu-abu melesat hendak memotong perjalanan. Ia tahu, bahwa lawannya akan segera melarikan diri. Gerak-geriknya gesit luar biasa. Sekarang Lingga! Wisnu mulai dapat mengenal wajahnya. Dialah laki-laki yang membawanya ke dalam goa. Tapi pada saat itu, ia nampak sangat berw ibawa dan luar biasa.

Tatkala itu, laki-laki berereyapan datang menghampiri wanita yang disebutnya sebagai bibiknya. Ia melemparkan sebatang pedang. Lalu kembali duduk seperti semula. Dan terdengar wanita itu tertaw a riang. Katanya:

"Kangmas Jaganala! Sekarang cobalah pedang ini!" Mendengar nama Jaganala disebut sebut, hati Lingga

Wisnu   tercekat   walaupun   tadi   ia   sudah   menerka

demikian. Kalau begitu, wanita itu benar-benar Rara Windu. Dugaannya sama sekali tak meleset. Sahut Jaganala dengan tertaw a geli pula.

"Baik! Kau gunakan, Windu! Tapi pedang tak bermata.

Jangan menyesal, BiLa aku nanti melukaimu."

"Masakan kau perlu memperingatkan demikian terhadapku?" kata Rara Windu. Suaranya, menyatakan rasa tak puasnya. Ia kini berdiri tegak dengan pedang bersungguh-sungguh.

Setelah berhadap-hadapan, mereka mulai bertempur lagi. Jaganala menerjang bagaikan badai dan guntur. Sedang Rara Windu mengadakan perlawanan tak ubah kejapan kilat. Pada suatu waktu, dia mengibaskan pedangnya. Cepat bidikannya. Pedangnya bentrok Dan sinar merah pedang Jaganala lenyap dengan mendadak.

"Hei!" Jaganala heran. Dia melesat sambil memasuki kabut. Juga Rara Windu.

Dan keduanya sebentar saja lenyap dari penglihatan.

Lingga Wisnu masih menunggu. Ia mengira, sebentar lagi mereka niscaya muncul kembali. Akan tetapi mereka tak muncul-muncul juga. Karena itu ia menoleh kepada laki-laki rereyapan yang tadi duduk berjuntai. Orang itupun tiada nampak pula. Mau tak mau Lingga Wisnu terpaksa menggaruk-garuk kepalanya. Dia boleh memiliki kepandaian tertinggi di dunia, akan tetapi peristiw a dlemikian belum pernah dialaminya. Karena itu dugaannya masih salah.

"Makin tua orang memang makin gila," katanya didalam hati sambil tersenyum geli.

"Tetapi masakan suatu pertarungan berhenti tanpa penyelesaian? Walaupun mungkin sedang berlatih atau menguji sesuatu, suatu penyelesaian harus terjadi. Tak mungkin begini."

Dalam hal ini, dugaan Lingga Wisnu tepat. Ia hanya salah dalam mentaksir lagak-lagu dan sepak terjang mereka yang masih asing baginya, sebab tak lama kemudian, ia menghampiri. Didepannya kini tergelar suatu petak hutan cemara. Dua sinar pedang bersilangan. Pedang Rara Windu hijau, sedang pedang Jaganala yang bersinar merah masih mampu mengadakan perlawanan.

Pe rtempuran kali ini lain lagi coraknya. Tadi, Rara Windu kena desak sama sekali. Akan tetapi dia kini dapat mendesak. Dan melihat pertempuran itu, benak Lingga Wisnu mencoba membayangkan masa muda mereka. Jaganala seorang pendekar yang angkuh dan t inggi hati. Ilmu kepandaiannya tak terlawan, sehingga dapat malang-melintang tanpa tandingan. Sebaliknya ilmu kepandaian Rara Windu adalah ilmu sakti gabungan. Ilmu saktinya sendiri bergabung dengan ilmu sakti Hajar Pangurakan, kakak seperguruan Jaganala, salah seorang kakak seperguruannya saja. Sebab ilmu yang diberikan adalah ilmu warisan gurunya. Lagipula, tak pernah ia menilik sebagai murid. Hanya sekedar menyempurnakan percobaan penggabungan.

Mereka berdua dahulu pernah bertempur mengadu kepandaian. Dua kali berturut-turut Jaganala dikalahkan sehingga kesombongannya runtuh. Lalu mereka mendaki gunung dan lenyap dari percaturan pergaulan. Ternyata mereka bersatu padu. Masing-masing mendalami kepandaiannya. Akhirnya mereka kini bertempur lagi untuk mencoba-coba ilmu kepandaiannya masing- masing.

Ilmu kepandaian mereka sejajar. Rara Windu menang sedikit. Dia kalah, manakala senjatanya kalah baik. Sebaliknya bila bersenjata bagus, Jaganala kena didesak, pikir Lingga Wisnu didalam hati.

Jaganala masih mencoba melawan. Pedangnya menyambar-nyambar tiada hentinya. Beberapa kali terdengar suara berisik tumbangnya pohon-pohon cemara manakala kena pangkas. Kilat mengejap dan tiba-tiba saja petak hutan itu menjadi gundul tertabas. Dan kembali lagi, Lingga Wisnu tercengang. Meskipun ilmu kepandaiannya kini sangat tinggi, melebihi mereka, namun belum pernah ia mencoba coba. Karena itu belum dapat membayangkan, bahwa tenaga saktinya kini mampu menabas petak hutan dalam selintasan saja. anehnya lagi, baik Jaganala maupun Rara Windu kini lenyap tak keruan. "Biar kususul! Aku harus memperoleh keterangan tentang ayunda Sudarawerti, Kalau aku menyia-nyiakan kesempatan ini, kapan lagi aku dapat melihat mereka berdua?"

Dengan keputusan itu, Lingga Wisnu kemudian mengikuti jejak mereka. Meskipun seluruh alam hitam lekam, akan tetapi inderanya sudah peka. Ia seolah-olah dapat mencium mereka dan masih bisa menerima getaran getaran urat nadi mereka. Tahu pulalah dia, bahwa laki-laki yang berambut rereyapan berada tak jauh didepannya. Bahkan, ia mulai mendengar langkahnya pula.

Tak lama kemudian angin meniup kencang sekali. Seluruh penglihatan tertutup kabut tebal. Namun Lingga tak menghiraukan. Ia bahkan merasa segar-bugar. Disini hujan tiada lagi. Yang mengherankan, hawa terasa kering. Dan samar-samar cahaya bulan nampak semu. 

"Ah, seperti mimpi saja." pikir Lingga Wisnu di dalam hati.

Diantara kabut, ia melihat sebuah bangunan. Bangunan itu seperti berada di atas puncak gunung. Terus saja ia menghampiri dan berlari-lari kencang karena rasa girang. Hebat cara lari Lingga Wisnu. Jurang dan batu-batu dilompatnya dengan mudah. Dan jalan lic in dilalu i tanpa kesukaran sedikitpun.

Sekarang ia melihat sebuah telaga mengitari kepundan. Karena berbimbang bimbang, ia berhenti. Lalu duduk di atas batu. Sebenarnya hawanya luar biasa dinginnya. Akan tetapi ilmu saktinya kini sangat tinggi. Setelah bersemadi beberapa waktu lamanya, tubuhnya menjadi hangat. Dan tatkala menjenakkan matanya, bulan muncul terang benderang.

"Ah, alangkah indahnya! Kepundan itu seperti membungkuki permukaan telaga. Tak mengherankan, bayangannya terpantul kembali o leh cahaya bulan terang benderang. Apalagi air telaga itu jernih luar biasa. Dan dibelakangnya tergelar suatu dataran tanah agak berpasir. Benar-benar merupakan pemandangan indah yang layak diketemukan dalam khayal seorang pelukis."

Lingga Wisnu pernah mendengar kabar tentang dataran tinggi ini. Menurut tutur kata, inilah dataran Jonggring Salaka. Dalam cerita wayang adalah kahyangan para dewa. Kata orang pula, tidak sembarang insan dapat menikmati keindahannya apabila tidak memiliki mata dagma (indera keenam) atau bila manusia itu belum mengendap rasa hidup nya.

Memang! Apalagi yang dapat dilihat, kecuali rerumputan lembut yang tergelar ditepi telaga itu seakan-akan permadani? Ditempat-tempat tertentu terdapat kelompok bunga aneka warna yang jarang sekali hidup di tanah rendah. Hanya itu saja. Bila manusia masih terikat kuat pada duniaw i, tiada sesuatu yang menarik. Sebaliknya bila manusia sudah terbebas dari belenggu keduniawian, pemandangan itu memang sangat menarik.

Kadang-kadang terdengar suara burung. Itulah burung Jalak Emas. Warnanya kuning keemasan. Jarang sekali tidur. Mungkin sekali oleh pengaruh iklimnya. Sebentar nampak dan sebentar hilang dibalik pepohonan. Menurut kisah orang-orang tua, itulah anak keturunan burung pengawal Sunan Lawu yang wafat diatas kepundan gunung.

"Kau datanglah! Kami telah menunggumu semenjak lama," t iba-tiba terdengar suara ramah.

Suara itu belum pernah dikenal Lingga Wisnu. Tetapi ia dapat menebak, bahwa itulah suara laki-laki berambut rerayapan, muncul dari balik pepohonan dengan tertaw a.

"Kau Lingga Wisnu, bukan?"

"Bagaimana paman tahu?" Lingga Wisnu heran. "Salah seorang sahabatmu yang memberi tahu."

"Salah seorang sahabatku? Siapakah sahabatku yang berada disini?" hati Lingga

Wisnu melonjak.

"Dialah murid bibi Rara Windu."

"Hei! Siapa?" Lingga Wisnu sibuk sendiri. Seketika itu juga, beberapa bayangan berkelebatan di dalam benaknya.

"Sekar Prabasini." sahut laki-laki itu.

"Prabasin i!" seru Lingga Wisnu. "Dia berada disini?

Bagaimana caranya?"

Laki-laki itu bersenyum lebar. Lalu memperkenalkan diri. Katanya:

"Aku sendiri bernama Hajar Kemasan. Niscaya kau pernah mendengar nama itu."

"Ya. Eyang Argajati pernah menceritakan kisah paman." "Benar. Diapun berkata begitu, tatkala mula-mula bertemu denganku." kata Hajar Kemasan. Kemudian ia menceritakan peristiw a pertemuan itu. "Sahabatmu itu memang bernasib bagus. Ia cerdas pula. Kepandaiannya kini hampir menyamaiku. Setiap kali, akulah yang berkewajiban menjadi lawannya berlatih. Setiap kali ia mencoba mencari keterangan tentang dirimu kepadaku. Rupanya, segan ia membicarakan dirimu kepada kedua gurunya."

Terharu hati Lingga Wisnu mendengar kata kata Hajar Kemasan. Sekar Prabasini benar benar mencintainya. Ia mendaki gunung, karena berusaha mencarinya. Karena kemuliaan hatinya, dia menjumpai suatu kemuliaan pula. Pikir pemuda itu didalam hati.

"Sekar Prabasini sekarang menjadi murid Rara Windu dan Ki Jaganala. Rasanya tidak mengecewakan. Bila kepandaiannya di kemudian hari dapat setaraf dengan kepandaian kedua gurunya, didunia ini siapa lagi tandingnya? Mudah-mudahan hatinya yang panas dan liar dapat ditenteramkan oleh iklim yang melingkupi. Dengan demikian, dikemudian hari t idak akan membuah: diriku susah.

"Mari kita naik!" ajak Hajar Kemasan. "Sebenarnya bibi dan paman sudah mengetahui kehadiranmu. Karena itu, mereka berdua memperkenankan engkau bertemu."

Lingga Wisnu menangguk. Lalu berjalan mendampingi. Sekonyong-konyong suatu ingatan menusuk benaknya. Bertanya mencoba:

"Paman! Bolehkah aku memperoleh suatu keterangan yang selalu membuat hatiku resah? "Aku bukan dewa, meskipun tempat ini bernama Jonggring Salaka. Tapi cobalah katakan! Barangkali aku dapat menolongmu." sahut Hjaar Kemasan dengan tertaw a lebar.

Lingga Wisnu berbimbang-bimbang sebentar. Lalu berkata dengan tiba-tiba:

"Pernahkah paman melihat seorang gadis selain Sekar Prabasini?"

"Disini?"

"Ya."

"Tidak." Hajar Kemasan bergeleng kepala dan melihat geleng kepala itu, hati Lingga Wisnu seperti kena ditikam suatu benda tajam yang dingin luar biasa. Ia jadi putus asa. Selagi demikian, mendadak Hajar Kemasan melanjutkan perkataannya

"Akan tetapi dipadepokan paman Jaganala dahulu pernah kulihat."

"Apakah Jonggring Salaka bukan padepokan paman Jaganala?" Lingga Wisnu berharap cemas.

"Disini tempat berkumpul kita. Tapi kita mempunyai kediaman masing-masing."

"O, begitu?" Lingga Wisnu girang. "Apakah paman pernah mendengar namanya."

"Tentu saja. dialah adik seperguruanku. Namanya Sudarawerti. Kenapa?"

Mendengar Hajar Kemasan menyebut nama ayundanya, Lingga Wisnu hampir pingsan oleh rasa girang. Sebaliknya Hajar Kemasan Yang tak tahu sebab musababnya jadi terperanjat. Gugup ia meraih pundak sambil bertanya minta keterangan:

"Hai! Kenapa?"

Lingga Wisnu tertarik dan percaya pada kejujurannya Hajar Kemasan. Segera ia nguasai diri dan menceritakan peristiw anya. Dan teringat peristiw a itu, kedua kelopak matanya berkaca-kaca. Maklumlah, pada saat itu, kedua orang tuanya tewas. Juga kakaknya Mardanus.

Hajar Kemasan menghela napas. Berkata seperti pada dirinya sendiri.

"Dunia in i penuh dengan manusia manusia gila. Sudah terlalu banyak, manusia manusia mati oleh kebiadabannya sendiri. Itulah sebabnya, aku lebih senang hidup disini daripada dibawah sana. Walaupun kadangkala terasa suatu kesenyapan yang menyayat."

Sambil berbicara, petak hutan telah terlint asi. Segera nampaklah sebuah bangunan diatas semenanjung kecil. Nampak segerombol pepohonan yang agaknya sengaja ditanam. Itulah biara atau pertapaan Rara Windu. Sebuah pertapaan yang senantiasa terselimut kabut putih.

Hati Lingga Wisnu berdegupan. Sebentar lagi, ia akan mengalami suatu pertemuan yang mengharukan. Tidak hanya akan bertemu dengan Sekar Prabasini saja, tapipun ayundanya.

"Apakah ayundaku sudah mewarisi seluruh kepandaian gurunya?" Lingga Wisnu mencoba bertanya.

"Kau saksikan saja sendiri." sahut Hajar Kemasan. Didepan biara, berdiri Jaganala dengan Rara Windu.

Begitu lihat Lingga Wisnu. Dia berkata menuding :

"Dialah itu! Dia tidak membutuhkan petunjuk petunjuk lagi."

Rara Windu memanggut pendek. Kemudian dengan ramah melambaikan tangannya. Katanya menyambut:

"Kami berdua akan minta maaf, karena membuat hatimu gelisah."

"Ah, bagaimana aku berani menerima permint aan maaf eyang. Justru akulah yang harus berterima kasih atas budi eyang berdua,” sahut Lingga Wisnu dengan membungkuk hormat.

Senang Rara Windu mendengar bunyi perkataan pemuda itu. Wajahnya nampak cerah dan segera mempersilahkan masuk. Katanya memperkenalkan Jaganala:

"Inilah kakakku perguruan. Katanya kau telah memperkenalkan namamu. Akan tetapi dia sendiri tak sudi."

Ki jaganala tertaw a lebar. Diapun menyambut kedatangan Lingga Wisnu dengan ramah dan berkata:

"Kupercaya lukamu telah sembuh, bukan?"

"Berkat bantuan eyang, lukaku telah sembuh," sahut Lingga Wisnu.

"Dan bila kau dapat keluar dari goa tanpa bantuanku, artinya kepandaianmu sudah berada diatas kami berdua."

Lingga Wisnu menundukkan kepalanya. Pujian itu terlalu tinggi baginya. Maka cepat- cepat ia menjaw ab: "Tidak! Hanya secara kebetulan saja aku dapat keluar goa itu. Tadinya aku menangis dan berseru-seru memohon bantuan eyang."

Puas Ki Jaganala mendengar ucapannya. Itulah suatu tanda, bahwa pemuda itu pandai membawa diri. Maka ia membaw a Lingga Wisnu duduk didekatnya. Dan berkatalah Rara Windu:

"Kau ingin bertemu dengan sahabatmu Sekar Prabasini, bukan?"

"Tentu saja." Ki Jaganala mewakili perasaan Lingga Wisnu. Rara Windu dan Hajar Kemasan lantas tertaw a pelahan. Kata Rara Windu lagi:

"Tentang diriku, niscaya engkau pernah mendengar. Juga tentang sepak terjang kakakku seperguruan. Sebab waktu Argajati berkisah, kau berada disamping Sekar Prabasini. Sekarang, baiklah kami terangkan apa sebab kami masih hidup dan berada disini."

"Terima kasih atas kepercayaan eyang." sahut Lingga Wisnu dengan suara merendah.

Rara Windu menghela napas. Lalu melanjutkan perkataannya:

"Kami sengaja mengasingkan diri untuk mensucikan hati kami masing-masing. Karena itu, kami menutup diri untuk berhubungan dengan dunia Luar. Meskipun demikian, kami tetap memperhatikan apa yang terjadi dimuka bumi ini. Hati kami betapapun juga tak rela bila mendengar apalagi melihat suatu kebengisan menguasai kedamaian hidup rakyat jelata. Maka kami memutuskan untuk mencari pewaris. Maksud kami agar pewaris kami dapat mewakili gurunya berdarma terhadap kebajikan manusia. Namun karena sadar pula bahwa ilmu kepandaian itu makin lama makin maju, setiap kali kami mengadakan pertemuan dan latihan seperti yang kau lihat tadi. Selain memperdalam suatu ilmu, banyak juga gunanya untuk memanjangkan umur. Tentu saja hal ini terserah belaka kepada Tuhan diatas kita. Jika Dia yang menghendaki, kamipun tidak berdaya menolaknya. Bukankah begitu?"

Lingga Wisnu mengangguk membenarkan. Ia menganggap ucapan Rara Windu menggelikan hati. Siapapun sadar akan hal itu. Karena itu ia bersenyum. Pikirnya didalam hati:

"Rara Windu pandai merendahkan hati. Sama sekali tak terlihat bekas-bekas w ataknya pada zaman muda menurut tutur kata orang banyak.”

Karena hari sudah cukup malam, Lingga Wisnu dipersilahkan beristirahat dahulu. Dan pemuda itu tak berani menolak, meskipun hatinya berharap dapat bertemu dengan Sekar Prabasini dan sudarawerti dengan segera.

Kamar peristirahatan Lingga Wisnu berada didekat telaga yang jernih. Sedang Hajar Kemasan menempati bilik lain. Dan di mana Ki Jaganala dan Rara windu beristirahat, tak diketahui Lingga Wisnu.

Malam itu terasa sunyi senyap. Teringat pengalamannya tadi, Lingga Wisnu perlu berlatih menghimpun tenaga saktinya. Maka ia duduk bersemadi. Sekonyong-konyong ia mendengar suara dipermukaan air telaga. Ia bangkit dan mengintip dari lubang angin. Dan terlihatlah seorang laki-laki berdandan seperti Ki Jaganala. Karena rambutnya reraya pan, pastilah Hajar Kemasan. Orang tua itu berlari-larian. Hebat cara berlarinya. Tubuhnya berkelebat bagaikan bayangan. Di- dalam sekejap saja, dia sudah berada di tepi telaga. Dan seorang perempuan datang menyambutnya .

"Hai, siapa?" Lingga Wisnu te rtarik.

Perempuan itu berperaw akan sedang semampai. Tubuhnya montok dan berkesan teguh Sayang malam hari membuat penglihatan jadi tak jelas, meski bulan bersinar cukup cerah.

"Kakang Kemasan! Apa sebab kau berlari-larian di malam hari?" perempuan itu minta keterangan.

Hajar Kemasan tertaw a lebar. Sahutnya:

"Kalau kau mendengar berita ini, niscaya akan pingsan. Tapi biarlah kusimpan dahulu. Sekarang aku harus lapor dahulu kepada gurumu."

"Apakah ada suatu kesulitan?" "Mari!" ajak Hajar Kemasan.

Mereka kemudian mendaki ketinggian dan sebentar saja telah melintasi petak hutan. Lingga Wisnu tertaik mendengar percakapan itu. Meskipun pendek, tapi cukup mengesankan baginya. Yang pertama, perempuan itu memanggil kakak terhadap Hajar Kemasan. Yang kedua agaknya terjadi suatu peristiw a penting.

Dengan menggunakan ilmu ajaran kitab sakti, ia mengikuti mereka berdua. Hasilnya diluar dugaan. Sama sekali mereka tak mendengar bunyi langkahnya. Itulah suatu kemajuan yang hebat. Meskipun demikian, tak berani ia menghampiri terlalu dekat. Sebab betapapun juga, mereka berdua bukan tokoh-tokoh sembarangan. Kalau sampai ketahuan, rasanya t idak enak.

"Mereka itu sebenarnya sahabat gurumu semasa mudanya. Yang berperaw akan gemuk, pemimpin golongan Ugrasawa. Yang berperaw akan jangkung, pemimpin aliran Perwati." Kata Hajar Kemasan.

"Aku tahu siapa mereka, bukankah Anung Danusubrata dan Prangwerdani?" sahut perempuan itu cepat. "Kabarnya Prangwedani sudah meninggal dan mempercayakan jabatannya kepada salah seorang muridnya. Ah, rupanya dua-duanya masih saja jadi sember keruwetan."

"Bagaimana kau tahu?" suara Hajar Kemasan meninggi. Lalu tertaw a lebar. Katanya lagi: "Ya, aku tahu. Aku telah mendengar riwayat hidupmu."

"Dari siapa?" perempuan ini ganti bertanya .

Lingga Wisnu mendengar Hajar Kemasan tertawa melalu i dadanya. Dan pada saat tahu lah dia, siapa perempuan yang diajak berbicara Hajar Kemasan. Pastilah kakak perempuannya. Sudarawerti.

Seketika itu juga, seluruh tubuhnya menggigil. Dadanya jadi penuh dan ingin saja ia menyerunya. Syukur, dapat ia menguasai diri. Bukankah sudah lama dia berpisah? Lagi pula dimalam hari. Niscaya akan menimbulkan salah duga walaupun Hajar Kemasan. Maka ia menghibur diri. "Biarlah esok hari saja. Dengan saksi Ki Jaganala dan Rara Windu, rasanya lebih mengesankan. Akupun takkan kena salah."

"Danusubrata dan Prangwedani memang sumber keruw etan." terdengar Hajar Kemasan mengalihkan pembicaraan. "Barangkali mereka masih penasaran terhadap tongkat Bibi. Tapi nyatanya, tongkat itu kena dialahkan parang gurumu. Sebentar tadi, aku menyaksikan. Baru setelah bibi bersenjata pedang mustika milik muridnya, parang paman Jaganala lu luh dibuatnya. "

Diam-diam Lingga Wisnu meraba tongkatnya sendiri. Kalau begitu, tongkat yang dibawanya lain dengan tongkat Rara Windu yang terkenal dengan sebutan tongkat mustika.

Tongkatnya dan pedang Sekar Prabasini berasal dari goa harta karun. Jika pedang Sekar Prabasini dapat meluluhkan parang Ki Jaganala, maka tongkat yang dibawanya niscaya setangguh pedang itu. Kalau begitu, Tongkatnyalah yang layak disebut tongkat mustika bukan tongkat Rara Windu yang menjadi perebutan orang, karena dimashurkan sebagai tongkat mustika dunia.

Teringat hal itu, ia jadi bersedih hati karena sudah berapa orang mati dalam perebutan itu. Diantaranya termasuk ayah bunda dan kakaknya tertua. Belum terhitung mereka yang kena dibunuh ayah-bundanya.

"Sebenarnya siapakah murid bibi itu?"

"Seperti dirimu. Sama-sama perempuan. Hanya saja namanya lain." sahut Hajar Kemasan dengan tertaw a.

"Siapa namanya?"

"Sekar Prabasini. Nah, bukankah lain bunyinya dengan Sudarawerti?" ujar Hajar Kemasan. Tergetar hati Lingga Wisnu. Benar-benar Sudarawerti perempuan itu. Dan pada saat itu, Sudarawerti tertaw a geli. Katanya:

"Apakah usianya set ataran pula denganku?"

"Tidak. Dia masih muda belia. Akan tetapi dengan cepat ia dapat menerima ajaran-ajaran bibi. Aku yakin, dalam waktu dua tahun saja dia sudah dapat mewarisi kepandaian gurunya."

"O begitu?"

"Besuk atau lusa, bibi akan melantiknya sebagai muridnya. Dia harus mengangkat sumpah. Diapun akan diuji. Itu sebabnya, kau dipanggil datang kemari untuk menghadiri."

Lega hati Lingga Wisnu mendengar percakapan mereka. Akan tetapi bagaimana halnya dengan Anung Danusubrata dan Prangwedani? Mereka berdua tidak mempercakapkan lagi. Karena mereka segera memasuki pertapaan Rara Windu. Lingga Wisnu merasa tak sopan bila terus mengikuti. Maka ia balik ke peristirahatannya .

Keesokan harinya ia bangun sebelum pagi hari cerah. Hawa gunung terasa sangat segar. Setelah bersemadi menghimpun tenaga saktinya, segera ia keluar. Dan Hajar Kemasan telah berdiri tegak didepan pintu menunggunya.

"Anak! Bibi dan paman guru telah menunggumu semenjak fajar hari tadi."

"Ah! Kenapa eyang tak mau membangunkan aku?" "Sebenarnya tidak sebagai biasanya bibi dan paman

membangunkan tetamunya   sepagi ini.   Tapi karena semalam terjadi sesuatu, maka beliau berdua ingin mendengarkan pendapatmu.” kata Hajar Kemasan dengan sungguh-sungguh.

“kenapa aku? Apa yang harus kupersembahkan kepada beliau berdua?"

Hajar Kemasan tertaw a melalu i dadanya. Sahutnya : "Anak, kau membaw a dirimu. Sebenarnya bibi sudah

mengetahui siapa dirimu."

"Pastilah Prabasini yang bercerita."

"Benar," kata Hajar Kemasan. "Perhubungan mereka tak ubah ibu dan anak kandung belaka. Apalagi setelah mendengar kabar, bahwa Sudarawerti adalah ayundamu."

"Hei! Pastilah eyang yang berkabar," seru Lingga Wisnu bersyukur.

Hajar Kemasan mengangguk. Katanya lagi:

"Disini, semuanya harus terang benderang. Tak boleh diantara kita menyimpan suatu rahasia atau sesuatu yang harus disembunyikan ."

Lingga Wisnu mengangguk mengerti. Ia kemudian mengikuti Hajar Kemasan. Sekarang pemandangan pertapaan Jongring Salaka menjadi jelas. Dataran ketinggian itu benar benar sedap dipandang dan seolah- olah merupakan dunia sendiri yang terpisah dari dunia luar. Hajar Kemasan mengikuti pandang Lingga Wisnu kemudian berkata sambil menuding:

"Kami dapat melihat sekitar wilayan ini Lihat, semua yang bergerak dibawah dataran ini segera dapat kita ketahui." Lingga Wisnu menjengukkan penglihatan. Benar semuanya nampak jelas. Teringat percakapan Hajar Kemasan dan Sudarawerti semalam tentang Anung Danusubrata dan Prangwedani dapatlah ia mengerti delapan bagian. Rupanya dua tetamu itu sudah diketahui, sebelum mereka tiba. Nyatanya sampai pada pagi hari itu, kedua tetamu itu belum nampak.

Lingga wfcsnu dibawa masuk ke sebuah ruangan mirip pendapa. Dari jauh ia melihat Sekar Prabasini dan Sudarawerti duduk bersimpuh menghadap Rara Windu dan Ki Jaganala. Mereka mengungkurkan pendapa, sehingga tak melihat kedatangannya. Tapi andaikata melihatpun, mereka pasti takkan berani mencoba menoleh atau menegor. Rara Windu dan Jaganala kelihatan angkar berwibawa. Terdengar suara Rara Windu samar-samar:

"Betapapun juga, kita tak boleh membiarkan mereka berbuat seenaknya sendiri di

sin i. Bukankah mereka yang

datang kemari dengan maksud buruk?"

"Hal  itu  harus  kita buktikan  dahulu." Jaganala seakan-akan mempertahankan. "Mengingat ikrar persabatan, biarlah aku nanti yang memberi penjelasan."

"Bagaimana bila mereka mau menang sendiri? Apakah kita hanya t inggal berpeluk tangan saja?" Jaganala kelihatan berbimbang bimbang. Sejenak kemudian menjawab:

"Bila demikian halnya, memang tak dapat kita berbuat lain. Hanya saja kuharap jangan dilukai. Aku percaya mereka akan mau mengerti ."

Tentu saja Lingga Wisnu tak dapat membaca persoalannya sangat jelas. Ia hanya dapat menarik kesimpulan bahwa baik Rara Windu maupun Ki Jaganala sudah memperoleh sikap.

Syukur! Ketegangan wajah Rara Windu tidak berjalan lama. Setelah berenung renung sebentar, raut wajahnya berobah. Suatu keserian mulai cerah. Dengan mengulum senyum ia menggapaikan tangannya kepada Lingga Wisnu. Katanya:

"Anak! Sebentar lagi aku akan mengangkat Sekar Prabasini menjadi murid resmi. Bagaimana? Apakah kau setuju?"

Itulah-pertanyaan diluar dugaan. Setelah duduk, Lingga Wisnu menjaw ab:

"Bila eyang berkenan dan dia senang, aku ikut syukur."

Rara Windu meruntuhkan pandang kepada Sekar Prabasini. Katanya :

"Kau berdirilah, anakku! Apakah kau tak sudi menyambut kedatangan sahabatmu?"

"Tentu saja aku gembira. Tapi bukankah aku sedang melakukan upacara?" jawab Sekar Prabasini.

Rara Windu tertegun sejenak. Lalu berkata memutuskan: "Biarlah kita tunda dahulu. Sebentar lagi kita akan menerima tetamu."

Sekar Prabasini kemudian berdiri dan berputar menghadap Lingga Wisnu. Dan begitu bertemu pandang, wajahnya berubah. Jelaslah sudah, bahwa ingin ia berbicara banyak. Hanya saja keadaan yang tak mengizinkan.

Sudarawerti yang ikut berdiri pula. Melihat Lingga Wisnu ia bergemetaran. Hanya saja kesannya lain dari pada Sekar Prabasini Setelah tertegun-tegun beberapa saat lamanya, ia berjalan menghampiri seraya berseru:

"Lingga! Benarkah kau Lingga Wisnu? Coba kemari!

Biar kuperiksa keningmu."

Lingga Wisnu lantas saja merasa diri seorang anak yang baru saja pandai beringus. Suara Sudarawerti alangkah mengharukan dan menyedapkan hatinya. Itulah suara ibu kandungnya sendiri. Tanpa menghiraukan apapun juga, ia lari menghampiri dan memeluk ayunda nya.

"Ayunda! Kau tak lupa padaku, bukan?"

"Bagaimana aku bisa melupakan? Siang malam aku memikirkan dirimu. Hanya setelah kuperoleh dari guru bahwa engkau berada dalam asuhan paman-paman guru kita, legalah hatiku. Akan tetapi setiap kali besar harapanku dapat melihatmu. Ah, banyaklah yang akan kuceritakan kepadamu. Sekarang, biar kuperiksa bekas lukamu."

Lingga Wisnu mempunyai cacad bekas luka pada keningnya. Itulah cacad, tatkala dia kena luka dalam masa perburuan. Dan apabila melihat cacad itu, Sudarawerti mendekati dengan air mata berlinang.

"Guru!" katanya. "Tak dapat lagi aku menemukan suatu kalimat untuk menyatakan betapa besar rasa terima kasihku kepada guru. Karena guru, aku masih hidup. Karena guru aku menjadi manusia agak berarti. Karena guru aku dapat bertemu dengan adik kandungku. Karena guru ..."

Jaganala tertegun-tegun. Hatinya terharu bukan main. Terharu bercampur rasa bahagia. Selama hidupnya baru kali itu ia mengalami perasaan demikian. Tak terasa ia menoleh kepada Rara Windu. Rara Windu bersenyum kepadanya. Kata pendekar wanita itu:

"Kau mengerti sekarang apa arti kebajikan itu. Karena kebajikanmu in ilah, semua kehilafan lebur punah. Selamat! Selamat!"

"Kau pun merasakan rasa bahagia in i?” Jaganala menegas dengan suara tak jelas.

"Tentu."

"Kaupun akan memperoleh kebahagiaan pula. Kaupun mempertemukan bocah itu dengan Sekar Prabasini." kata Jaganala.

Mendengar ucapan Jaganala, merah wajah Lingga wisnu. Iapun lantas mundur satu langkah menghadap padanya. Tatkala hendak membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara memotong:

"Hei saudara Jaganala! Kau sudah mempunyai istana, kenapa tak pernah mengundang padaku?" Mereka yang berada dalam ruang pendapa, menoleh. Dan nampaklah dua orang berpakaian jubah memasuki dataran ketinggian. Gesit gerak-gerik mereka. Sebentar saja mereka telah t iba dipendapa.

Usia mereka rata-rata delapan puluh tahun lebih. Walaupun demikian, usia itu tidak membelenggu diri mereka. Yang berperaw akan gemuk pendek adalah Anung Danusubrata. Dan yang agak kekurus-kurusan Prangwedani. Dengan Anung Danusubrata, Lingga Wisnu pernah melihat. Itulah tatkala dia dengan Kyahi Basaman diantarkan menghadap padanya. Sedangkan Prangwedani hanya mendengar namanya belaka. Mereka jadi tak senang hati mendengar ucapannya. Alangkah sombong dan memuakkan.

Rara Windu dan Jaganala berdiri menyambut. Dan setelah mempersilahkan duduk, bertanyalah Rara Windu:

"Sebenarnya apakah maksud kedatangan saudara berdua? Jaganala adalah kakakku. Tapi kukira saudara berdua datang demi untukku silahkan berbicara!"

Prangwedani menoleh kepada Anung Danusubrata.

Lalu menyahut:

"Benar. Memang kami datang untukmu. Di manakah tongkat itu?"

"Tongkat?" Rara Windu tercengang. Lalu tertaw a geli. "Apakah tongkatku dahulu? Apanya yang menarik?"

"Jangan bergurau!" bentak Anung Danu- subrata. "Sudah banyak korban dipihakku."

"Juga pihakku." Prangwedani menguatkan. "Kenapa sampai jadi korban? Korban apa? Rara Windu heran.

"Korban tongkat mustika." Aba-tiba Sudarawerti menyambung.

"Eh, Sudarawerti. Didepan kedua tamu kita yang agung, janganlah ikut berbicara." tegur Rara Windu. Akan tetapi suaranya tidak bersungguh-sungguh. Karena itu, Sudarawerti berkata lagi:

"Merekalah penyakitnya. Merekalah sumber malapetaka keluarga kami."

"Keluarga yang mana?" bentak Prangwedani dan Anung Danusubrata dengan berbareng.

Sudarawerti melemparkan pandang kepada Lingga Wisnu. Ia nampak bersedih hati. Lalu menjawab terpaksa.

"Duapuluh tahun yang lalu, bukankah ada anak buah kalian ikut memburu keluarga kami?

"Keluarga kami yang mana?" mereka menegas lagi. Sudarawerti menggigit bibirnya. Menjaw ab.

"Pernahkah kalian mendengar nama pendekar Udayana?"

"Hai!" mereka terkejut seperti kena sengat. Dan diluar kehendaknya sendiri, mereka sampai berbangkit dari tempat duduknya. Kemudian Anung Subrata menuding Sudarawerti dengan gemetaran. Membentak:

"Kau siapa? Janganlah sembarang menuduh orang. Kau belum cukup dewasa, akan tetapi kenapa pandai memfitnah orang?" "Akulah salah seorang anaknya yang masih hidup."

Mendengar jawaban Sudarawerti mereka saling pandang beberapa saat lamanya. Kemudian menoleh kepada Rara Windu. Kata Prangwedani :

"Nah kau dengar sendiri kini. Tongkat mustikamu yang membuat malapetaka itu."

"Kenapa tongkatku? Selamanya tak pernah aku meninggalkan tempatku." jawab Rara Windu dengan penasaran.

"Coba tongkatmu dahulu kau berikan kepada kami, takkan terjadi korban begitu banyak" gerutu Prangwedani seenaknya sendiri.

Percakapan itu membuka pikiran Lingga Wisnu. Sekarang, ia agak dapat memahami terjadinya peristiw a itu. Rupanya setelah menyaksikan betapa tangguh Rara Windu tatkala bertempur melawan Jaganala, tertariklah mereka pada senjata tongkatnya yang tak mempan oleh senjata tajam. Ingin mereka memiliki. Tapi dengan cara apa? Mereka percaya, bahwa dengan jumlah banyak akan dapat merebut tongkat itu. Namun setelah dipikirnya panjang-panjang, cara demikian t idak tepat.

Sekarang mereka teringat kepada masalah hubungan antara Rara Windu dan Kyahi Basaman dizaman muda. Satu-satunya orang yang dapat meluluhkan kekerasan hati Rara Windu, hanyalah Kyahi Basaman. Tetapi orang tua itu terlalu saleh. Apa akal? Maka mereka hendak menempeleng dengan meminjam tangan Kyahi Basaman. Korban yang mereka pilih ialah Udayana yang hidup diluar rumah perguruan. Mereka berharap dengan matinya Udayana akan membangkitkan semangat tempur orang tua itu.

Udayana digiring terus sampai ke Gunung Lawu. Disinilah dia baru dibunuh dengan segenap keluarganya. Gunung Lawu tempat Kyahi Basaman bertapa. Gunung Lawu tempat Rara Windu bersemayan. Dan Ki Jaganala yang mengetahui peristiw a itu, tak dapat mengulurkan tangan mengingat tali persahabatan. Satu satunya jalan, hanya menyelamatkan salah seorang anggauta keluarga Udayana. Dan peristiw a selanjutnya yang dialami Lingga Wisnu diatas gunung Cakrabuwana adalah dalam rangka merebut tongkat mustika Rara Windu.

"Prangwedani! Anung Danusubrata!" tiba-tiba Ki Jaganala meledak. "Pada zaman mudaku memang aku seorang jahanam. Tapi sama sekali tak pernah mengira, bahwa kalian jauh lebih jahanam daripadaku. Tatkala aku menyaksikan anak buahmu membunuh suatu keluarga dilereng gunung ini, tak sudi aku mengetahui latar belakangnya. Aku hanya tahu diri. Bahwasanya tak boleh aku merint angi anak buahmu mengingat tali persahabatan kita dizaman muda. Tapi andaikata aku tahu latar belakangnya takkan kubiarkan anak buahmu mengganas begitu jahat."

"Jaganala! Apakah dalam hal ini kau sudah berbalik memusuhi kami?" teriak Anung Danusubrata.

"Segala permusuhan dapat didamaikan. Dahulu aku pernah bentrok dengan Rara Windu. Tapi akhirnya dapat berdamai. Sekarangpun aku berharap demikian pula. Apalagi usia kita sudah lanjut. Sebelah kaki kita sudah masuk keliang kubur," jawab Jaganala dengan suara tenang. "Hm jelek-jelek akupun mempunyai tongkat. Jika Rara Windu tidak menyerahkan tongkat itu, biarlah tongkatku yang menggebuknya," ujar Anung Danusubrata tak menghiraukan. Kemudian ia mengedipi Prangwedani yang segera berdiri bersiaga.

Lingga Wisnu lantas teringat kepada pengalamannya dahulu. Anung Danusubrata semenjak dahulu angkuh dan tak memandang siapapun sampai eyang gurunya bersedia mengalah demi kepentingannya. Kenangan itu senantiasa membuat hatinya berterima kasih terhadap eyang gurunya yang saleh. Ia berjanji kepada diri sendiri, hendak membalas budi.

Rara Windu mengangkat kedua tangannya seperti menolak sesuatu. Lalu berkata:

"Kakang Danusubrata dan kakang Prangwedani. Kita bukan anak kecil lagi. Kenapa mati-matian memperebutkan tongkat yang t iada harganya. W alaupun tongkat itu sangat ampuh, tapi sama sekali tak berarti bila yang menggunakan tak berkepandaian. Kurasa dalam hal in i sangat terletak pada ilmu kepandaian seseorang. Dan bukan tongkat itu sendiri."

"0, begitu? Kau menganggap tingkat itu tak berharga? Nah, berikan kepada kami." potong Anung Danusubrata dengan mengejek.

Anung Danusubrata dan Prangwedani sengaja bersikap angkuh menghadapi Rara Windu. Dahulu mereka menyaksikan betapa Jaganala kena digebah gampang olehnya. Peristiw a itu tak pernah terlupakan. Mengetahui bahwa hal itu terjadi berkat ilmu gabungan, maka kedua pendekar itu membuat suatu persekutuan untuk saling tukar ilmu saktinya masing masing dengan tujuan hendak menghancurkan ketangguhan Rara Windu.

Ilmu sakti mereka berdua, memang berasal dari satu sumber. Sayang, mereka tak dapat minta bantuan Kyahi Basaman. Sebab Kyahi Basaman dahulu kekasih Rara Windu. Walaupun demikian, mereka percaya akan dapat menghadapi Rara Windu dengan bekal dua per tiga ilmu gabungan Ugrasawa dan Parw ati. Seperti diketahui, ilmu sakti itu berasal dari Resi Roma Harsana dizaman Majapahit. Kemudian pecah menjadi tiga bagian. Ugrasawa, Parw ati dan Aristi. Ugrasawa mencintai Parwati, sedang Parw ati mencintai Aristi. Untuk menghindari suatu malapetaka kemudian hari Roma Harsana memecah ilmunya menjadi bagian. Masing- masing dapat berdiri sendiri, akan tetapi tak dapat saling membunuh. Kecuali bila mereka saling tukar ilmu kepandaian bagiannya masing-masing. Karena itu, Resi Roma Harsana melarang penggabungan itu. Dia mengutuki atas kehendak Dewa, bahwa barangsiapa melanggar pantangan itu akan bernasib buruk.

Secara kebetulan, Kyahi Basaman yang menjadi ahliwaris aliran Aristi yang ketujuh terpaksa memohon bantuan Anung Danusubrata akan tetapi. kelinci percobaannya justeru mengambil salah seorang anak murid Kyahi Basaman. Dialah Udayana ayahanda Lingga Wisnu dan Sudarawerti. Dengan demikian, terpaksa ia menolak agar tak memberi jejak pada maksud sebenarnya.

Sementara itu, Anung Danusubrata diam-diam bekerja sama dengan Prangwedani meletakkan jabatannya agar terbebas dari ketentuan tata-tertib rumah perguruannya. Dia bahkan berkabar bahwa dirinya sudah meninggal. Dan kursi plmpinnan diserahkan kepada salah seorang anak muridnya yang pandai.

Adapun tujuan mereka berdua hendak meyakinkan sejarah, bahwa ilmu sakti rumah perguruannya adalah yang tersakti dan terhebat. Pendek kata, tak sudi mereka melihat dua matahari dalam dunia. Demikianlah, sete-lah merasa kuat, mereka kini hendak mencoba ilmu gabungannya melawan Rara Windu.

Rara Windu bukan manusia goblok. Semenjak semula ia menaruh curiga terhadap mereka berdua. Waktu mengadu kepandaian melawan Jaganala, mereka berdua hadir. Tak mengapa. Mungkin secara kebetulan saja. Tapi yang kedua kalinya, kenapa justru mereka berdua yang mengajak Jaganala mendatangi pertapaannya? Niscaya ada udang dibalik batu. Karena itu, ia menantang mereka pula. Tapi tatkala itu Anung Danusubrata dan Prangwedani merasa diri tak ungkulan. Itulah sebabnya mereka berjanji hendak hadir sebagai saksi semata.

Jaganala yang berwatak berangasan semasa mudanya menjadi tak senang hati. Walaupun mereka berdua termasuk sahabat sahabatnya, namun dengan Rara Windu ia sudah hidup damai puluhan tahun lamanya. Lagipula dia salah seorang adik seperguruannya. Puluhan tahun pula, dia senantiasa berlatih bersama. Dan tatkala mengambil Sudarawerti sebagai murid, Rara Windu ikut pula menyumbangkan kepandaiannya. Oleh pikiran itu, tak terasa ia mengerling kepada Sudarawerti.

Semenjak tadi, Sudarawerti mendongkol terhadap mereka berdua. Apalagi, mereka adalah sumber malapetaka orang tuanya. Maka begitu menerima kerlingan gurunya, ia salah terka. Ia mengira, gurunya memberi kisikan padanya agar menghajar mereka berdua. Tak mengherankan rasa dendamnya meledak memenuhi dadanya.

Ia sadar, bahwa mereka berdua bukan tokoh-tokoh sembarangan. Kepandaiannya mungkin setaraf dengan kedua gurunya. Akan tetapi ia tak gentar. Ia percaya, kedua gurunya tidak akan tinggal diam bila dia berada dalam bahaya. Dengan pertimbangan demikian, mendadak saja ia melompat kedepan Prangwedani sambil berkata :

"Maaf. Biarlah aku yang mewakili."

Gesit gerakan Sudarawerti. Berbareng dengan perkataannya, tangannya menekuk. Tatkala kedua kakinya mendarat, kedua tangannya diajukan kedepan. Jelas sekali ia melontarkan tenaga himpunan. Suatu gumpalan tenaga tiba dengan dahsyat.

Prangwedani baru saja bangkit dari kursinya. Sama sekali ia tak menduga bakal diserang demikian. Ia tertolak mundur hingga terjengkang. Tentu saja Rara windu dan Jaganala terperanjat. Namun tak sempat lagi mereka mencegah.

Wajah Prangwedani merah padam. Ia terperanjat dan malu sekali. Dengan serta merta ia bangun. Tanpa menghiraukan lagi siapa yang menyerangnya, ia membalas dengan pukulan tenaga. Dialah ketua aliran Parwati. Tak usah dijelaskan lagi, bahwa himpunan tenaga saktinya luar biasa hebatnya. Apalagi ilmu saktinya kini sudah bergabung dengan ilmu sakti aliran Ugrasawa. Seketika itu juga, tempat duduk Sudarawerti yang terbuat dari batu pualam, hancur berhamburan. Sudarawerti sudah bersiaga. Kedua kakinya menjejak tanah dan tubuhnya mental tinggi. Dengan demikian, tempat duduk yang hancur berhamburan itu sama sekali tak mengenai dirinya. Lalu mendarat dihalaman dejpan dengan tak kurang suatu apa.

Prangwedani mendongkol. Selama hidupnya belum pernah ia terhina demikian rupa. Murid muridnya dahulu yang seusia Sudarawerti ratusan orang jumlahnya. Kecuali anak seorang yang berkedudukan baik, kini sudah berumur diatas limapuluh tahun. Walaupun demikian tak berani mereka beradu pandang dengannya Apalagi mencoba-coba menyerang berhadap-hadapan. Dapat dibayangkan betapa panas hatinya. Dengan serentak ia mengejar Sudaraw erti sambil melontarkan pukulan. Bentaknya:

"Budak kurang ajar! Kau hendak lari ke mana?"

Sudarawerti berputar dan menangkis. Tenaga mereka berdua berbenturan. Bres! Dan pada saat itu, tubuh Sudarawerti terbang ke udara dan hinggap diatas pohon. Indah dan cekatan gerakan Sudarawerti. Ia sudah mewarisi kepandaian gurunya. Gerak-geriknya wajar dan kecepatannya mengingatkan Prangwedani pada Rara Windu semasa mudanya. Tapi justru demikian, ia makin mendongkol. Kembali lagi ia menyusul dan membarengi dengan pukulan haw a.

Sudarawerti tak sudi mengadu tenaga lagi. Ia mengelak dan meloncat kesana kemari memperlihatkan kelincahannya. Dan tak terasa tigapuluh jurus telah lew at. Selama itu pula pukulan Prangwedani yang dahsyat bagaikan guntur tak pernah menyentuh dirinya. Sekarang Prangwedani yang jadi kelabakan. Betapapun juga, usianya sudah lanjut. Inilah suatu, hal yang berada diluar perhitungannya. Meskipun ragam ilmu kepandaiannya bertambah sekian kali lipat, akan tetapi tenaga saktinya sebagai dasarnya tidak sekuat dahulu lagi. Tak dikehendaki sendiri, tenaganya makin terasa berkurang. Dan justru pada saat itu, Sudaraw erti mulai melancarkan serangan balasan. Diapun berani mengadu tenaga pula.

Prangwedani terpaksa membela diri dan bertahan sebisa-bisanya. Dengan tangan kiri ia melindungi dadanya dan dengan tangan kanannya ia mencoba menyerang serta melakukan t ata muslihat. Kelima jarinya mencengkeram. Maksudnya hendak menangkap kemudian meremukkan.

Tentu saja Sudarawerti tak sudi menjadi korban Dengan cerdiknya, ia menukar serangannya. Tangan kirinya menyapu dan dua jari tangan kanan, tiba-tiba menyelonong mengarah mata.

Prangwedani terperanjat. Terpaksa ia mengangkat tangan kanannya untuk melindungi wajahnya sambil menundukkan kepalanya. Ia bermaksud melindungi mata dan menangkis. Tapi dengan demikian, ia menutupi bidang penglihatannya sendiri.

Sudarawerti cerdik. Ia membatalkan serangannya. Dengan mendadak ia kini yang mencengkeram. Yang dicengkeram pergelangan tangan kanan Prangwedani yang terangkat melindungi wajahnya. Prangwedani kaget sampai ia berjingkrak, tatkala pergelangan tangannya kena tangkap. Tahu-tahu tenaganya menjadi punah. Sudarawerti tak mau kehilangan kesempatan yang bagus itu. Ia tahu pula, bahwa tenaga himpunan lawannya punah kena cengkeramannya yang tepat mencengkeram urat nadi. Terus saja ia mengangkat tubuh Prangwedani tinggi di udara dan dibawanya berputar. Dengan sekali menghentak, tubuh Prangwedani terbang bagaikan layang-layang putus dan jatuh tercebur didalam telaga.

Lingga Wisnu tersenyum dan puas. Kepandaian ayundanya ternyata berada diatas semua kakak-kakak seperguruannya. Mungkin sekali sejajar dengan kepandaian kedua gurunya. Betapa tidak? Kedudukan Prangwedani sejajar dengan kedua gurunya. Bahkan setingkat lebih-tinggi. Dan tak beda dengan eyang gurunya (Kyahi Basaman) yang memimpin aliran Aristi. Dan dalam suatu pertempuran yang cepat, dapat melemparkan Ketua aliran Parwati sangat mudah.

Jaganala jadi tak enak hati. Ia khaw atir persoalan akan menjadi tambah rumit. Ia menjejak tanah dan tubuhnya terbang kepermukaan air telaga. Dan dengan sekali sambar ia membawa Prangwedani kedarat. Justeru pada saat itu, Anung Danusubrata datang menyerang.

"Kau menghianati persahabatan. Maka kau pun harus mandi didalam telaga." serunya.

Lingga Wisnu merasa berhutang budi terhadap Jaganala. Kecuali ayundanya, dirinyapun pernah diselamatkan. Maka tanpa berpikir lagi ia melompat dan memunahkan tenaga pukulan Anung Danusubrata. Dan akibatnya hebat sekali sehingga membuat siapapun tercengang. Termasuk dirinya sendiri. Betapa tidak? Ia hanya mengebaskan tangannya. Tapi suatu gelombang himpunan tenaga yang dahsyat luar buasa, mengangkat tubuh Anung Danusubrata tinggi diudara. Untung sekali ia tak bermaksud jahat. Maka setelah dibawa jungkir balik oleh arus tenaga yang berputaran, ketua golongan Ugrasawa itu didaratkan dengan tak kurang suatu apa.

Anung Danusubrata begitu terperanjat sampai beberapa saat lamanya, berdiri tertegun. Tapi setelah melihat siapa yang melemparkan, ia malu penasaran dan tercengang. Dengan tongkatnya ia menuding. Kemudian membentak :

"Kau siapa?"

"Siapa namaku tak penting. Tapi biarlah aku yang mewakili. Sebab dalam hal in i aku langsung tersangkut." jawab Lingga Wisnu.

"Kau siapa?" kali ini suara Anung Danusubrata bergetaran.

"Akupun dahulu pernah datang kebiaramu.”

"Siapa?" Anung Danusubrata tertegun. Dan ia nampak berpikir keras. "Janganlah kau sembarangan saja menjawab pertanyaanku. Apakah kau kira aku kena kau gertak dengan ...

"Waktu itu aku masih kanak-kanak. Aku datang dengan eyang gifiuku untuk minta pertolonganmu. Tapi jangan lagi menolong, bahkan aku sengaja kau racuni. Padahal eyang guruku sudah mau mengalah dengan menyerahkan int i rahasia ilmu sakti Alirannya. Meskipun kurang jelas karena eyang guru tidak dapat hadir, tapi sebagai seorang pandai niscaya engkau sudah mengantongi. Sungguh hebat tipu muslihatmu. Kau bekerja sama dengan Prangwedani, tapi dia hanya memperoleh ilmu sakti aliran Ugrasawa. Sedangkan engkau tidak hanya memperoleh rahasia ilmu sakti Parwati tapi lengkap dengan aliran Aristi. Dengan demikian, kaulah yang sebenarnya berhak menyematkan diri sebagai pengganti cikal bakal tritunggal."

"Hei, sebenarnya kau siapa?" Anung Danusubrata penasaran dan bingung.

Lingga Wisnu sudah terlanjur menelanjangi orang. Tak sudi lagi ia kepalang tanggung. Katanya lagi:

"Bukankah orang tua yang bersembunyi di dalam tembok itu adalah Prangwedani? Dialah yang menghancurkan aku atas perint ahmu. Setidak-tidaknya atas sepengetahuanmu. Kenapa dia tidak memperoleh bagian? Sekiranya dia memperoleh bagiannya, tidaklah mudah kakakku perempuan menceburkannya kedalam telaga. Jadi apabila ditelusur, maka engkaulah yang menceburkan Prangwedani didalam telaga. Bukan kakakku perempuan."

Seketika itu juga, Anung Danusubrata tertegun kebingungan. Mendadak saja teringat lah dia kepada sibocah yang berpenyakitan Serunya diluar kemauannya sendiri:

"Jadi kaulah dahulu yang datang dengan Kyahi Basaman?"

"Benar. Akulah Lingga Wisnu."

"Kau kenapa adikku?" tiba-tiba Sudarawerti memotong percakapan mereka. "Panjang ceritanya. Biarlah aku menghajar pendeta ini dahulu. Sebentar kukabaskan pengalamanku itu." jawab Lingga Wisnu.

Sudarawerti tak mengira bahwa adiknya dapat melontarkan Anung Danusubrata demikian mudah. Maka ia percaya akan ketangguhannya hanya sampai dimana masih merupakan teka teki besar.

Rupanya, baik Jaganala maupun Rara Windu menaruh perhatian besar terhadap Lingga Wisnu. Ia heran menyaksikan pemuda itu dapat melemparkan Anung Danusubrata dengan sekali kebas. Apalagi Anung Danusubrata menyinggung nyinggung nama Kyahi Basaman. Sedang pemuda itu mengakui diri sebagai cucu muridnya.

Dalam pada itu wajah Anung Danusubrata merah padam karena kena dibongkar rahasianya dan Prangwedani yang sempat pula mendengar ucapan Lingga Wisnu nampak terlongong longong. Ia tertolong Jaganala meskipun pakaiannya tetap basah kuyup. Lalu menegas:

"Hei Anung! Benarkah ucapan bocah itu?"

"Kau tunggulah barang sebentar! Biarlah aku menutup mulutnya yang liar tak keruan!” jawab Anung Danusubrata mengelakkan pertanyaan Prangwedani.

"Hm ..." dengus Lingga Wisnu. Lalu berputar mengaw asi Prangwedani. Berkata:

"Kaupun nanti harus menerima bagian pula. Hutang nyawa haruslah dibayar dengan nyawa. Hutang uang harus dibayar dengan uang dan hutang tenaga harus dibayar dengan tenaga." "Hutang tenaga bagamana?" Prangwedani tak mengerti.

"Bukankah engkau yang meracuni diriku? Bila saja aku tak tertolong, saat ini aku sudah menjadi kerangka. Engkaulah yang menyebabkan. Nah, kau rasakan nanti pembayarannya. Dan jangan coba berpikir hendak melarikan diri! Aku, Lingga Wisnu, akan memburumu meskipun kau mengungsi ke ujung neraka."

Makin berbicara banyak, hati Lingga Wisnu makin menjadi panas. Itulah berkat pengalaman hidupnya yang terlalu pahit. Ia bahkan merasa pasti pula, bahwa Prangwedani, yang memukul dirinya tatkala ayah bundanya kena kerubut. Hal itu ingin dilontakkan sekaligus, tapi pada saat itu Anung Danusubrata sudah menyerang dengan tongkat andalannya yang dianggap sakti.

Memang ilmu kepandaian Anung Danusubrata ternyata berada diatas Prangwedani. Tenaganya dahsyat luar biasa. Apalagi ia bersenjata tongkat. Tak mengherankan mereka yang menyaksikan menjadi cemas. Hanya Sekar Prabasini seorang yang tetap tenang.

"Apakah kawanmu sanggup berlawan lawanan dengan Anung Danusubrata?" tanya Rara Windu mencoba.

"Guru! Dia pernah dikerubut berpuluh musuh. Namun seorang diri, dia sanggup mentaklukkan." jawab gadis itu.

Sebenarnya jawabannya kurang tepat. Dikerubut berpuluh orang, bukan suatu ukuran. Rara Windu sendiri akan sanggup menundukkan berpuluh-puluh orang. Sebaliknya ilmunya dan kesaktiannya Anung Danusubrata bukan olah-olah tingginya. Menurut titur kata Lingga Wisnu, dia kini sudah memiliki ilmu sakti tritunggal. Gabungan ilmu sakti Ugrasawa dan Parwati serta Aristi yang sudah dapat berdiri sendiri dengan tegaknya semenjak puluhan tahun lamanya. Rasa Rara Windu sendiri akan dapat dibuatnya repot.

Pendekar wanita tua itu berpikir didalam hati : "Dapatkah   aku   berlawan-lawanan   dengan   tenaga

gabungan Anung Danusubrata, Prangwedani dan

Basaman?"

Rara Windu menghela napas. Ia menggigil dengan sendirinya. Maka ia menganggap Sekar Prabasini bermulut besar. Atau jawabannya sebenarnya sebuah doa bagi sahabatnya yang mungkin istimewa. Sebaliknya Sekar Prabasini makin tenang. Rara Windu tak tahu, bahwa pemuda itu telah menemukan sebuah kitab sakti yang tiada bandingnya di dunia. Dalam hal ini Sekar Prabasini tak mau membuka rahasia itu walaupun kepada gurunya sendiri yang sudah mengangkatnya sebagai anak kandung.

Tatkala itu terdengar suara Lingga Wisnu :

"Jangan tergesa-gesa mengadu tenaga. Tenangkan hatimu! Aku akan membuatmu puas."

"Apakah kau malekat?" bentak Anung Danusubrata penasaran.

"Kita membuat perjanjian dahulu." Lingga Wisnu tak menghiraukan.

"Perjanjian apa?" "Mari kita bertempur diatas permukaan air. Bukankah kau tadi berpenasaran melihat sahabatmu jatuh tercebur didalam telaga tak ubah ayam terondol? Setidak-tidaknya didalam hatimu niscaya timbul suatu tekat hendak membalas dengan menceburkan diriku kedalam telaga. Legakan hatimu, aku akan memberi kesempatan. Lagi pula bertempur dengan cara demikian jauh lebih berharga dari pada bertempur semacam anak kampung."

"Jangan mengoceh tak keruan. Siapa tak tahu bahwa kau sedang mengulur umurmu?" bentak Anung Danusubrata.

Lingga Wisnu tertawa. Menyahut:

"Jadi kau setuju bukan? Nah, siapa yang mendarat lebih dahulu, dialah yang kalah. Seumpama aku, kau boleh mengemplang diriku sesuka hatimu. Sebaliknya bila kau kalau kau harus keluar dari dataran ketinggian ini dengan bergelundungan. Bagaimana?"

Anung Danusubrata mencuri pandang ke arah telaga, dilihatnya beberapa helai daun kering mengambang diatas permukaan air. Maka berkatalah dia angkuh:

"Baik. Jadi kau ingin mampus di dalam air? Itulah kehendakmu sendiri."

Lingga Wisnu kemudian menghunus sesuatu dari balik pinggangnya. Itulah sebatang tongkat yang diketemukan didalam goa harta karun - dan melihat tongkat itu, mereka semua berseru tertahan :

"Tongkat! Hei, tongkat apa?"

"Inilah tongkat mustika yang kalian perebutkan. Nah, ambillah tongkat ini. Kepadaku kalian berdua harus menuntut dan bukan kepada pemilik wilayah ini." sahut Lingga Wisnu dengan mengangkat kepala, dia sengaja, berlagak oleh rasa mendongkol dan benci. kemudian dengan menjejakkan kakinya ia terbang tinggi dan mendarat diatas daun kering.

Sudah barang tentu Anung Danusubrata tidak sudi membiarkan pemuda itu mendarat dengan aman sentausa. Dengan tongkatnya ia menggebuk permukaan air. Seketika itu juga, air teraduk dan berputar-putar. Bahaya besar segera mengancam. Sebab mau tak mau Lingga Wisnu terpaksa mendarat. Dan bila sampai mendarat, artinya kalah. Karena itu Sudarawerti sampai memekik. Diluar dugaan, Lingga Wisnu dapat melesat mundur dan mendarat pada daun kering lainnya.

Anung Danusubrata tak mau kalah pamor. Segera ia meloncat pula kedalam air. Meskipun gemuk, tetapi Anung Danusubrata sudah berhasil menggabungkan tiga aliran sakti menjadi satu. Gerak-geriknya luar biasa gesit dan bertenaga dahsyat. Ia menyabetkan tongkatnya menghajar lawannya yang masih muda.

Lingga Wisnu terpaksa mundur lagi. Menyaksikan hal itu, timbul rasa girang dalam hati Anung Danusubrata. Ia hendak main desak, bila didesak terus menerus, bukankah Lingga Wisnu terpaksa melompat undur kedarat ... ?

Akan tetapi dugaan Anung Danusubrata meleset. Lingga Wisnu kini tak sudi mundur lagi. Ia menghalangkan tongkatnya dan mulai mengadakan perlawanan. Manakala melihat bahwa Anung Danusubrata mendesak terus, ia menabas permukaan air. Air lantas saja berputaran cepat sekali. Berkelahi diatas air tidaklah semudah didaratan. Kecuali harus mahir meringankan tubuh, harus pula lincah. Susahnya lagi bila hendak menghajar lawan mau tak mau terpaksa mengerahkan tenaga. Dengan tekanan tenaga itu, kaki yang berada diatas daun kering akan melesak kedalam.

Sekarang Anung Danusubrata menghadapi air berputar. Selagi demikian, air itupun menghisap pula. Dalam kagetnya, ia memukulkan tongkatnya. Ia berharap dapat memperoleh arus tenaga berbalik. Akan tetapi kedua kakinya sudah terlanjur melesak kedalam permukaan air. Cepat-cepat ia meloncat ke arah daun kering yang berada didepannya.

Tatkala itu, ia melihat Lingga Wisnu bergerak hendak menghalangi. Buru-buru ia menghimpun tenaga dan meniup sekeras kerasnya. Hebat tenaga tiupannya. Permukaan air bergelombang dan hampir saja membuat Lingga Wisnu kehilangan keseimbangan. Selagi demikian, iapun menyerang pula.

Lingga Wisnu tentu saja tak tinggal diam. Tongkatnya menabas. Dan pada detik itu, tubuhnya membal keatas.

"Hei! Kau mau apa?" teriak Anung Danusubrata.

Ia menghajarkan tongkatnya. Justru demikian, ujung tongkat Lingga Wisnu menikam dari udara dan tepat sekali mengenai ujung tongkatnya. Ia kaget, sebab tongkat Lingga Wisnu seakan-akan menempel. Dengan mati-matian ia mencoba membebaskan diri. Tapi ia kena tekan. Tak mengherankan, berat tubuhnya menjadi dua kali lipat. Kedua kakinya lantas saja melesak kedalam sebatas dengkul. "Hei!" ia memekik terkejut.

Lingga Wisnu tersenyum. Sebenarnya Anung Danusubrata harus mengaku kalah. Tapi orang tua itu agaknya tak sudi mengalah. W ataknya selamanya mau menang sendiri. Agar membuat hatinya puas, Lingga Wisnu menyongkelkan tongkatnya. Seketika itu juga, tubuh Anung Danusubrata terangkat naik dan di lemparkan kedaratan. Dia sendiri lantas berjungkir balik dan mendarat pada daun kering disebelah sana.

Anung Danusubrata tak dapat menguasai diri lagi. Entah apa sebabnya, tiba-tiba saja saluran perasaannya macet. Tahu-tahu, ia terbanting diatas tanah bergedebukan.

"Danusubrata! Kau kalah!" terdengar suara Jaganala. "Sudahlah! Kau harus mengaku kalah."

Merah padam wajah Anung Danusubrata. Memang ia harus merasa kalah. Akan tetapi hatinya belum puas. Bagaimana kalau mengadu kepandaian didarat? Tiba-tiba saja t imbullah rasa jahatnya. Ia berpura-pura berseru:

"Anak muda! Aku kalah. Aku pantas menjadi muridmu."

Lingga Wisnu tertaw a. Ia lantas mendarat. Diluar dugaan, tiba-tiba Anung Danusubrata membuang tongkatnya. Lalu menyerang dengan tangan kosong. Lingga Wisnu menyambut serangan itu dengan tangan kiri sambil menyimpan tongkatnya pula. Suatu gelombang dahsyat mulai berbenturan.

Sebentar saja, wajah Anung Danusubrata nampak merah padam. Dengan megap-megap ia berseru kepada Prangwedani : "Inilah saat-saat pertaruhan kita. Apakah kau akan tinggal diam?"

Prangwedani seperti kena sihir. Terus saja ia melompat dan menempelkan tangannya pada punggung Anung Danusubrata. Lingga Wisnu kemudian merasakan betapa tenaga Anung Danusubrata jadi bertambah sekian lipat.

Sudarawerti dan Sekar Prabasini jadi tak senang hati. Inilah pertempuran. kerubutan seperti kanak-kanak. Sekar Prabasini yang berwatak panas, lantas saja mengejek:

"Bagus! Inilah Ketua Aliran besar Ugrasawa dan Parwati yang kepandaiannya hanya mengkerubut seorang pemuda yang pantas menjadi cucu muridnya. Bagus!"

Tentu saja, mereka berdua mendengar belaka kata- kata Sekar Prabasini. Akan tetapi pada saat itu, mereka seumpama berada diatas punggung seekor harimau. Tak dapatlah mereka mengalah atau meleng sedikit saja. Bahaya mengancam akan bertambah besar.

Dalam pada itu berkatalah Rara Windu :

"Tenangkan hatimu, anak! Himpunan tenaga sakti sahabatmu itu masih lebih dari pada cukup."

Sekar Prabasin i menoleh. Mendengar ucapan gurunya, hatinya mau percaya. Maka sekarang ia dapat mengikuti adu tenaga sakti itu dengan hati mantap.

Anung Danusubrata berdua Prangwedani mengeluh ketika merasa himpunan tenaga sakti mereka seperti terkuras. Mereka terperanjat dan berusaha mati-matian hendak membebaskan diri. Akan tetapi jasmaninya seperti kena arus aliran listrik yang mahabesar. Tak dapat lagi mereka bergerak. Karena itu mereka mengeluh. Sekarang mereka hendak berteriak. Akan tetapi setiap kali hendak membuka mulut kerongkongannya seperti kena gumpalan darah yang akan segera keluar.

Selama hidupnya, belum pernah mereka takut, berkecil hati atau gentar terhadap siapapun. Kini mereka merasakan hal itu. Hatinya meringkus ciut. Dan suatu bayangan mati tercetak didepan kelopak matanya. Keruan saja wajah mereka pucat lesi.

Syukur, Lingga Wisnu dapat menguasai diri. Walaupun hatinya tadi benci dan terbakar rasa ingin membalas dendam, tapi dia sudah biasa hidup terhina dan direndahkan. Dapat ia memaafkan dan memaklum i. Oleh pertimbangan itu, perlahan-lahan ia menarik tenaganya kembali. Lalu meloncat undur beberapa langkah. Dan pada saat itu, Anung Danusubrata dan Prangwedani roboh lunglai. Mulutnya menyemprotkan darah. Dan seluruh himpunan tenaga saktinya terkuras habis. Benar, pengetahuannya tidak hilang, akan tetapi untuk bisa memperoleh himpunan tenaga sakti sedahsyat sekarang, akan membutuhkan waktu, dua atau tigapuluh tahun lagi. Padahal umurnya kini sudah mendekati seratus tahun. Masih adakah harapan untuk memperoleh gerak hidup lagi? Mereka jadi berputus asa. Semua jerih payahnya jadi sia-sia. Entah apa sebabnya tiba-tiba teringatlah dia kepada kutuk leluhurnya. Siapa yang berani menggabungkan tiga ilmu saktinya yang sudah dibagi akan hancur seluruh hidupnya. Dan kutuk itu benar-benar terjadi kini. ***0dewi-kz0***

20. SELAMAT TINGGAL SEMUANYA

DENGAN MENGHELA napas Ki Jaganala merenungi dua sahabatnya yang roboh terkulai di atas tanah. Ia jadi teringat kepada w atak serta perangai diri sendiri dikala mudanya. Diapun dahulu besar kepala dan mau menang sendiri. Syukur dia sadar serta insyaf terhadap kebajikan manusia sesungguhnya. Seumpama tidak, diapun mungkin akan mengalami nasib demikian.

"Kemasan! Maukah kau menolong mereka?" ia menoleh kepada kemenakan muridnya.

Tak dapat ia minta bantuan terhadap Sekar Prabasini maupun Sudarawerti. Karena mereka gadis, mereka pun bermusuhan dengan dua sahabatnya itu. Juga, ia tak dapat minta bantuan Lingga Wisnu yang justru bermusuhan langsung. Tapi diluar dugaan, Lingga Wisnu menghampiri dan terus memondong Anung Danusubrata.

Menyaksikan hal itu, Ki Jaganala kagum bukan main. Sedang Rara Windu memanggut puas dan teringat kepada Basaman waktu mudanya. Diapun memiliki hati lapang. Selapang hati Lingga Wisnu.

Ki Jaganala kemudian menggendong Prangwedani. Tatkala Hajar Kemasan buru-buru hendak menggantikan, ia menolak. Dengan lembut ia berkata:

"Kata orang, kanak-kanak harus belajar mewarisi pengalaman orang tua. Tapi sesungguhnya, pada waktu ini orang tua harus belajar kepada pengucapan hati kanak-kanak. Sekarangpun aku sedang menjadi murid anakku Lingga Wisnu."

Sudah barang tentu, Lingga Wisnu tersipu. Sahutnya: "Eyang! Tak berani aku menerima penghargaan

demikian tinggi. Kalau sampai terjadi begini, sesungguhnya karena terpaksa saja. Hatiku tadi, sangat sakit. Sekarang setelah melampiaskan, apa guna aku berkepanjangan. Siapapun berhak dan diberi kesempatan untuk mencari jalan kesadaran."

Anung Danusubrata dan Prangwedani kemudian ditempatkan didalam bilik sebelah. Mereka masih belum memperoleh rasa sadarnya kembali. Luka yang diderita terlalu parah. Andaikata tidak memiliki himpunan tenaga

sakti yang sudah mencapai tataran kesempurnaan, niscaya jiw anya  sudah terenggut.

Lingga   Wisnu kemudian menceritakan latar belakang peristiw a pertemuannya dengan Anung Danusubrata dan Prangwedani. Rara

Windu dan Jaganala

menghela napas panjang. Sedang Sekar Prabasini dan Sudarawerti merah padam karena mendongkol dan benci.

"Sekarang, perkenankan aku mohon penjelasan agar tenteramlah hatiku." Akhirnya Lingga Wisnu berkata. "Eyang Jaganala adalah tokoh berjuba abu-abu yang menolong dan menyelamatkan ayunda. Tapi seingatku, aku melihat tiga tokoh yang berpakaian jubah. Yang pertama eyang. Yang kedua paman Podang Wilis dan yang ketiga samar-samar. Waktu itu, aku kena dipukulnya. Apakah bukan pendekar Prangwedani?"

"Benar." Jaganala mengangguk membenarkan. "Itulah sebabnya tak dapat aku mengulurkan tangan tatkala melihat ayah bundamu kena keroyok. Satu-satunya jalan yang dapat kulakukan hanyalah menyelamatkan ayundamu. Maklumlah, mereka adalah sahabat sahabatku. Aku terikat pada arti persahabatan itu."

Diingatkan peristiw a itu, Sudarawerti menangis sedih.

Lingga Wisnu kemudian menghibur :

"Ayunda! Ayah bunda sudah terkubur baik baik. Eyang dan paman-paman guru yang melakukan upacara penguburan. Akupun dahulu menangis sedih diantara kesadaranku yang bentar ada dan tiada. Hal itulah yang membuat hati eyang guru runtuh. Eyang guru sampai mengorbankan pantangan rumah perguruan demi merebut hidupku. Akan tetapi ternyata kebaikan eyang guru disalah gunakan Anung Danusubrata dan Prangwedani."

"Kenapa tak kau bunuh saja?" Sudarawerti menyahut diantara sedu sedannya.

"Mereka kini sudah punah seluruh himpunan tenaga saktinya. Seorang penggembalapun dapat memukulnya roboh. Mudah-mudahan, mereka menjadi sadar. Dan kuharapkan saja bisa merubah diri dalam menghabiskan sisa hidup nya." Ki Jaganala dan Rara Windu mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa maksud Lingga Wisnu. Kemudian bertanyalah Rara Windu:

"Anak! Jika kau tak berkeberatan, maukah kau menerangkan tentang asal usul tongkatmu itu? Dan siapakah gurumu?"

Lingga Wisnu berbimbang-bimbang sebentar. Kemudian ia menyebutkan nama: Kyahi Sambang Dalan dan Ki Ageng Gumbrek. Setelah itu pengalamannya merint au dengan Sekar Prabasin i. Karena percaya bahwa baik Rara Windu dan Ki Jaganala sudah menjauhi serba duniawi, ia menyebut tentang goa penemuannya. Hanya saja tidak menyinggung tentang harta karun. Didalam goa itulah ia menemukan tongkat sakti dan pedang Naga Sanggabuwana. Juga kitab sakti yang kini dipendamnya menunggu jodohnya.

Rara Windu dan Jaganala menghela napas kagum. Mereka saling pandang. Kemudian berkata hampir berbareng:

"Inilah yang dinamakan jodoh. Benar-benar kehidupan ini ada yang mendalangi."

Kemudian berkatalah Rara Windu:

"Anak! Ilmu saktimu kini berada jauh di atas kami.

Bagaimana dengan sahabatmu Sekar Prabasini?"

"Eyang ... kitab sakti itu telah kupendam. Kalau aku bisa mewarisi adalah karena aku telah memiliki bekal sebelumnya. Himpunan tenaga sakti Sekar Prabasini kini masih rendah. Bila kelak sudah dapat mewarisi kepandaian eyang berdua, akulah yang akan menjemputnya. Dan selanjutnya akulah yang akan menyempurnakan. Maksudku, barulah aku dapat mengisikkan ajaran-ajaran yang terdapat didalam kitab sakti itu."

"Baik." Rara Windu mengangguk. "Tapi kenapa kau rela berkabar kepadanya?"

"Sebab kitab sakti itu, kami berdua menemukannya. Seperti tongkat dan pedang. Aku tongkatnya dan dia pedangnya." jawab Lingga Wisnu cepat.

"Dan kakakmu Sudarawerti. Bagaimana?" tiba-tiba Jaganala ikut berbicara. "Dia sudah selesai pelajarannya. Apa yang kumiliki sudah kuwariskan kepadanya."

Lingga Wisnu menoleh kepada kakak perempuannya.

Dengan girang ia menyahut:

"Sudah barang tentu, ingin aku hidup berkumpul lagi seperti dahulu."

"Ya, begitulah baiknya. Dengan demikian pelajaran Sekar Prabasini tidak akan terganggu." Rara Windu membenarkan.

Itulah keputusan yang menggembirakan meskipun berat hatinya berpisah, namun kesediaan guru mereka berdua merupakan suatu rezeki yang luar biasa besarnya. Karena itu, dengan ikhlas ia mengangguk. Lalu Sekar Prabasini menghampiri Lingga Wisnu menyerahkan pundi-pundi. Katanya:

"Kau masih sanggup membaw a ini, bukan?"

Mereka semua tak mengerti apa isi pundi pundi itu. Mereka hanya mengira, niscaya bersangkut paut dengan suatu perjanjian. Lingga Wisnu merasa perlu memberi penjelasan. Katanya : "Inilah abu jenazah ibunya. Sebelum wafat beliau minta kepadaku agar mempersatukan dengan kerangka suaminya. Itulah ayah Sekar Prabasini berbareng guruku."

"Guru yang mana?" Jaganala menegas.

"Yang memberikan aku sejilid kitab warisannya, disamping kitab yang kutemukan."

"Bondan Sejiwan?" "Benar."

"Dialah ayah Sekar Prabasin i?"

"Benar."

"Hm.” Jaganala menjenak napas, “aku mendengar nama itu. Nama yang menggoncangkan jagad. Ternyata dia pendekar yang benar-benar hebat."

Puas hati Sekar Prabasini mendengar Ki Jaganala memuji ayahnya. Dan tatkala ia hendak menyatakan terima kasih, t iba-tiba Sudarawerti berkata:

"Adik. Aku seorang perempuan. Meskipun belum jelas, tapi aku tahu arti hubunganmu. Kau serahkan dia kepadaku! Aku akan mewakili dirimu. Selama kau menyelesaikan pelajaranmu, akulah yang mengawal dan mengamat amati - kalau dia nyeleweng, akulah yang akan menarik telinganya. Karena itu, legakan hatimu."

Sekar Prabasini tertaw a lebar. Ia menundukkan pandangnya. Sedang wajah Lingga Wisnu menjadi panas. Tapi ucapan itu, benar-benar mengenai sasarannya. Hal itulah yang sesungguhnya membuat hati Sekar. Prabisini gelisah. Apa arti segala kepandaian, bila kehilangan kekasih hati? Gurunya, Rara Windu adalah contoh yang jelas."

Demikianlah, pada keesokan harinya Lingga Wisnu dan Sudarawerti berpamit turun gunung. Baik Ki Jaganala maupun Rara Windu menyertai doa restunya. Sedang Sekar Prabasini melepaskan dengan ikhlas.

Sepanjang jalan mereka berbicara tak berkeputusan. Sudarawerti menceritakan pengalaman hidupnya selama berpisah. Tiada yang dapat diceritakan, kecuali hanya perasaan sedihnya dan rasa sunyinya. Maklumlah ia hidup tersekap di atas gunung. Sedang Lingga Wisnu mengulangi kisah perjalanan hidupnya yang berlarat- larat. Kali ini lebih cermat dan bersungguh-sungguh. Maka tak terasa mereka telah t iba dipinggang gunung.

Hari itu, tiada hujan tiada kabut. Matahari bersinar cerah, sehingga pemandangan terasa segar. Petak-petak hutan nampak tegak berw ibawa serta agung. Kadang- kadang angin meniup membungkuk-bungkukkan puncak mahkotanya. Lalu suara gemeresah dan bergaungan saling menyusul dan mengendapkan.

Pada waktu itu sepak terjang kompeni memang kejam. Mereka tidak hanya membunuh saja tapi menawan, menyiksa, memperkosa dan merampas harta- benda milik rakyat. Kaum pujangga menyebutnya sebagai 'wedon putih (=hantu putih). Kecuali menggambarkan warna kulitnya yang putih, juga sebagai makhluk menakutkan.

"Ayunda! Akan kubaw a engkau melint asi rimba dan celah-celah jurang untuk mengintip mereka." kata Lingga Wisnu. "Apakah kau kira aku orang kota sampai kau perlu menyebut rimba dan jurang?" sahut Sudarawerti.

Lingga Wisnu tertaw a. Maksud perkataan itu menggambarkan betapa besar perhatiannya terhadap kakaknya perempuan satu satunya. Kemudian ia mendahului berjalan. Makin lama makin cepat. Setelah itu berlari-larian sedang dan kencang. Dan selama itu, Sudarawerti dapat menjajari bahkan seringkali mendahului. Sama sekali napasnya tak mengangsur, itulah suatu tanda, bahwa himpunan tenaga saktinya telah mencapai t ataran sempurna.

Tatkala tiba didekat padepokan Argajati petang hari hampir tiba. Suasananya sunyi senyap. Hal itu bahkan membuat hati Lingga Wisnu berdegupan. Cepat mendaki ketinggian. Merasa kurang puas, ia memanjat pohon. Dan begitu melihat kebawah, darahnya tersirap.

Pe rtapaan telah menjadi abu. Disana-sini tanah terbongkar. Syukur, dengan sekali pandang tahulah dia, bahwa goa harta karun agaknya belum tergerayangi. Maka bergegas ia turun sambil berkata:

"Niscaya telah terjadi suatu perubahan yang mengerikan. Pe rtapaan menjadi abu serata tanah. Mari kita lihat goa peninggalan gurumu."

Dengan melalui jalan yang telah dikenal Lingga Wisnu membaw a Sudarawerti melompati jurang dan memasuki terowongan. Dalam goa itupun, kosong melompong. Karuan saja Lingga Wisnu terperanjat sampai tertegun. Dengan wajah setengah pucat, dia berseru: "Ayunda! Kalau sampai terjadi sesuatu mengenai keluarga eyang Argajati, aku akan menanggung malu selama hidupku."

Sudarawerti ternyata dapat berpikir cepat. Tatkala menghadapi malapetaka keluarga, ia sudah cukup dewasa sehingga apa yang di alaminya merasuk dalam perbendaharaan hati - setelah menatap wajah adiknya, dia berkata:

"Biarlah aku yang menyelidiki. Aku seorang perempuan. Bila pandai membawa diri, takkan terjadi suatu halangan atau hambatan.”

Sudarawerti tak menunggu pembenaran Lingga Wisnu, dengan gesit tiba-tiba tubuhnya melesat keluar goa. Sebentar saja, bayangannya lenyap dibalik rimbun pepohonan.

Lingga Wisnu kemudian mulai membuat penyelidikan. Ia menyalakan lentera, dan dengan lentera itu ia memeriksa seluruh ruang goa. Walaupun sunyi tapi t iada yang rusak. Itulah suatu tanda, bahwa goa belum pernah terinjak kaki musuh. Memperoleh kesimpulan demikian, dia berlega hati. Setelah itu memasuki bilik-bilik penginapan. Di belakang terdapat sisa makanan dan minuman. Sedang bilik penginapan Botol Pinilis kosong. Tiba-tiba teringatlah dia bahwa kakaknya seperguruan yang seorang ini pandai berpikir seperti meramal. Maka ia menyelidiki kamarnya dengan teliti dan cermat. Tapi sekian lama ia meneliti dan memeriksa, sama sekali tiada di ketemukan tanda-tanda yang menggembirakan.

"Apakah mereka memutuskan untuk menyerbu musuh dengan tiba-tiba?" pikir Lingga Wisnu. "Mungkin sekali mereka memikirkan diriku dan Sekar Prabasini." Teringat akan peristiw anya, ia jadi sedih. Andaikata mereka adalah dirinya, tentu akan gelisah dan bingung pula. Memperoleh pikiran itu, tiba-tiba timbullan semangat juangnya. Katanya kepada diri sendiri:

"Kalau mereka sampai celaka, akulah yang berdosa."

Dia bergegas keluar. Tepat pada saat itu Sudarawerti melayang masuk sambil berseru:

"Semuanya sepi. Tapi kuketemukan sebuah kuburan baru. Entah kuburan siapa."

Tercekat hati Lingga Winsu mendengar warta itu. Bergegas ia keluar menjenguk kuburan itu. Ia bermenung beberapa saat lamanya. Lalu berkata:

"Bila ada yang dikubur, pasti ada pula yang mengubur.

Mari kita cari."

Lingga Wisnu masih asing terhadap wilayah itu.

Karena itu usahanya sia-sia.

"Bagaimana kalau kita ikuti jejak kompeni? Setelah itu kita mencari keterangan pa da penduduk yang hidup. Kukira mereka bisa memberi keterangan."

"Akh benar." seru Lingga Wisnu.

Hari masih gelap. Untung sekali dalam usaha musim hujan. Jejak kaki manusia dan binatang belum terhapus, karena air hunan senantiasa mengalir ke bawah. Dua jam kemudian bulan muncul dilangit. Hal itu memudahkan pengamatannya. Tapi setelah sekian lama tetap siasia.

"Kau dikenal oleh beberapa orang disini - kenapa kau tak menyulut obor saja dan mendatangi padepokan? Kukira akan menarik perhatian orang." kata Sudarawerti mengemukakan pendapatnya. "Akh, benar." seru Lingga Wisnu tertahan. "Kenapa tidak semenjak tadi?"

Oleh pikiran itu segera ia mencari rumput kering dan ranting-ranting. Kemudian ia membakarnya. Beberapa saat saja obor istimewa itu terbakar. Dan dengan obor itu mereka memasuki padepokan lagi membuat pemeriksaan.

Dugaan Sudarawerti ternyata benar. Pendengaran mereka berdua yang tajam melebihi manusia lumrah, mendengar pernapasan orang. Napas orang itu kian mendekat. Dia berhenti, lalu mengintip. Tiba-tiba berseru ragu:

"Apakah angger Lingga?"

"Eyang puteri! Benar, aku Lingga."

"Akh, kau membuat kami bingung dan membuat segala perubahan." kata nenek Argajati mendekat. "Mari ikut aku. Sebentar kau akan mendengar semuanya."

Mereka dibaw a memasuki celah tebing dan tak lama kemudian tiba disebuah pedusunan yang terletak ditengah hutan. Selama perjalanan, mereka tidak berbicara sepatah kata-pun. Baru setelah memasuki batas dusun itu, nenek Argajati berkata:

"Ayah Saraswati telah pulang dengan tenteram dua hari yang lalu."

"Kenapa? Apakah sakit?" Lingga Wisnu terbelalak.

"Akibat lukanya. Tapi tak mengapa. Dia puas karena sudah selesai menunaikan darma baktinya." Lingga Wisnu merasa tak enak hati. Ia merasa berdosa. Maka dengan wajah berubah ia minta keterangan :

"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"

Nenek   Argajati menatap wajah   Lingga   Wis   nu.

Kemudian menjawab:

"Mari masuk. Anak-anak ingin bertemu denganmu."

Mereka dibawa memasuki sebuah rumah beratap alang-alang. Lingga Wisnu kemudian memperkenalkan Sudarawerti pada Saraswati juga Rara W itri. Mereka nampak gembira begitu melihat Lingga Wisnu.

"Eyang! Kulihat padepokan hancur menjadi abu. Dengan uang itu, biarlah adik-adik membangunnya kembali. Juga perkampungan ini.

"Terima kasih, angger." sahut nenek Argajati. "Tapi coba kisahkan kembali, kemana saja angger pergi selama ini."

Lingga Wisnu kemudian menceritakan kepergiannya dengan singkat tapi jelas. Juga tentang diri Sekar Prabasini yang kini sudah menjadi murid Rara Windu dan Ki Jaganala.

Mendengar disebutnya kedua tokoh tua itu yang ternyata masih hidup segar bugar, keluarga Argajati nampak berbahagia dan terhibur. Setelah itu nenek Argajati ganti berkabar. Katanya :

"Kami semua percaya, angger tidak akan mendapat halangan. Sebab kami percaya rezeki angger sanget besar. Sekiranya tidak demikian, angger sudah meninggal sewaktu terjungkal dalam sumur itu. Tentang padepokan itu sendiri, sebenarnya kami sendiri yang membakar. Dengan tidak memperoleh tempat meneduh, kompeni akhirnya mengundurkan diri. Tetapi tentang gurumu dan ketiga kakakmu seperguruan, angger harus segera menyusul."

"Kenapa?" Migga Wisnu terperanjat.

"Pada hari itu juga, kami berhasil menembus kepungan kompeni. Lalu mengungsi kemari. Pada malam harinya kami membakar padepokan itu. Eyangmu Argajati terluka. Disini dia kami rawat. Dan disini pula dia meninggal." kata nenek Argajati dengan suara tenang. "Setelah kompeni mengundurkan diri, ketiga kakakmu seperguruan dan Ki Ageng Gumbrek berusaha mencarimu. Tiga hari mereka pergi lalu memutuskan hendak mengikuti gerakan kompeni. Dua hari yang lampau angger Botol Pinilis datang kemari. Dia berkabar bila Lingga wisnu datang kemari katakan bahwa dia sudah berada dipadepokan Kyahi Basaman untuk menyelamatkan dari sasaran kompeni yang kian menjadi biadab. Hanya itu pesannya."

"Apakah dia t idak memberi keterangan lain lagi?" "Tidak."

"Apakah kompeni akan menyerbu padepokan eyang

guru?"

"Kalau mereka bisa menyerbu kemari, kenapa tidak dapat kesana?" jaw ab nenek Argajati.

"Aku merasa berhutang kepada eyang guru bila sampai terjadi malapetaka, hidup berumur panjangpun rasanya tak senang. Biarlah malam ini juga, kita menyusul mereka." "Bila diperkenankan, kamipun akan ikut serta." tiba- tiba Saraswati dan Rara Witri memohon.

Lingga Wisnu berbimbang sejenak. Lalu memutuskan:

"Terima kasih, adik. Akan tetapi adik masih dalam suasana berduka. Lagipula padepokan eyang guru t iada sangkutannya dengan padepokan Argajati. Walaupun dalam hal ini adik bersiaga penuh demi memunahkan kompeni yang sewenang terhadap rakyat kita."

Alasan Lingga-Wisnu masuk akal. Maka nenek Argajati dapat menahan lagi. Waktu terasa amat berharga. Terpaksa mereka melepaskan Lingga Wisnu dan Sudarawerti melanjutkan perjalanan.

Untuk mencapai padepokan Kyahi Bafeman harus mengambil jalan berputar. Perjalanan demikian, membutuhkan waktu t iga atau empat hari pada dewasa itu. Sebab harus melalui perbatasan Wengker, Walikukun dan Ngrambe. Angkatan bersenjata tak dapat mengambil jalan memotong, mengingat letak tanahnya. Kecuali itu, akan dihadang jurang dan tebing yang tinggi. Apalagi bila mereka membawa per lengkapan senjata berat. Hal inilah menguntungkan Lingga Wisnu. Karena tidak membaw a sesuatu dan hanya berjalan dengan Sudarawerti seorang, dapat ia menembus hutan rimba, melalu i jurang dan mendaki tebing tinggi tanpa kesukaran sedikitpun. Tapi, karena ia kalah tempo, betapapun rasa hatinya jadi gelisah. Memikir demikian, larinya kian pesat.

Sampai dibawah suatu tanjakan, mereka melihat serombongan orang. Jelas sekali mereka salah satu rombongan kompeni. Hanya saja mereka terdiri dari rombongan pekerja bayaran. Kata Lingga Wisnu: 'Ayunda! Mereka membaw a beberapa obor kuda. Mungkin sekali persediaan bahan makanan. Meskipun mereka hanya pekerja lepas namun tak boleh kita biarkan sampai di tujuannya. "

"Kita gebah saja kudanya. Atau harus kita bunuh?" sahut Sudarawerti.

"Jangan! Jangan melakukan pembunuhan da hulu." "Baik."

Mereka menghampiri dan dengan tiba-tiba menyergap. Tanpa berkata sepatah katapun juga. Sudarawerti melemparkan beberapa penunggang kuda dan menggebah kudanya. Sudah barang tentu mereka terkejut. Tatkala terbanting diatas tanah, mereka mengerang sambil berteriak:

"Perampok! Perampok!"

Satu rombongan lain datang hendak memberi pertolongan akan tetapi kena dicegat - dengan sekali kebas mereka terpental balik dan kuda-kuda lari berjingkrakan. Tak mengherankan, pemiliknya memaki kalang kabut. Namun mereka harus merasa untung, karena tak perlu kehilangan jiw a.

Lingga Wisnu dan Sudarawerti kemudian melanjutkan perjalanan. Baru saja melintasi tanjakan, muncullah beberapa orang dari balik tikungan jalan. Mereka lantas saja menghadang. Ternyata mereka bersenjata senapan.

"Minggir!" bentak Sudaraw erti. Ia mengayunkan cemiti hasil rampasannya.

Gugup mereka menangkis dengan senapannya. Dan tepat pada saat itu Lingga Wisnu mengebas. Suatu gelombang angin dahsyat mementalkan tubuh mereka. Lalu terdengar jerit mereka, karena terhunjam senjatanya masing-masing.

Sebenarnya Lingga Wisnu tiada bermaksud membunuh atau melukai mereka. Ia mengibaskan tangannya, karena mengkhaw atirkan Sudarawerti. Maklum, selama hidupnya atau sebagian besar hidupnya ia tersekap diatas gunung. Niscaya masih asing terhadap daya tembak sepucuk senapan.

Tatkala tiba dibawah padepokan, Lingga Wisnu merasa lapar. Ia mengajak Sudarawerti menghabiskan sisa bekalnya. Lalu mulai mengatur rencana. Karena padepokan Kyahi Basaman tak mempunyai anggauta wanita, maka Sudarawerti harus menyamar.

Tepat pada saat itu, ia mendengar derap kuda ramai. Serombongan serdadu berkuda lewat. Segera Lingga Wisnu dan Sudaraw erta melesat mendahului. Karena cepatnya, t iada seorangpun yang mengetahui. Kemudian ia menggelundungkan beberapa batu pegunungan. Celakalah mereka. Tatkala itu mereka sedang memasuki celah tebing. Kena gelundung batu, mereka mati kena gencet.

Makin lama Sudarawerti makin tertarik menyaksikan gerak-gerik Lingga Wisnu yang cekatan serta sebat. Segala tindakannya pasti dan meyakinkan. Dibandingkan dengan dahulu, ia kagum luar biasa.

Tak sempat lagi ia bermenung. Lingga Wisnu telah mengajaknya mendaki gunung. Tak jauh didepannya nampak serombongan orang lagi. Kali ini mereka bersenjata tajam. "Jika begini halnya, niscaya telah ada rombongan yang mendahului. Pada saat ini mungkin mulai bergebrak. Tapi kenapa tak terdengar letusan senapan sekalipun?" Lingga Wisnu menjadi gelisah.

"Untuk mengurangi kekuatan mereka, biar lah kusingkirkan dahulu manusia-manusia itu. kata Sudarawerti.

Tanpa menunggu persetujuan adiknya,

Sudarawerti melompat. Hebat gerakannya. Tahu tahu mereka semua sudah tak bersenjata lagi. Berbareng dengan runtuhnya senjata mereka, terdengar jeritan memilukan. Mereka terpental tinggi di udara dan runtuh, sebagian besar jatuh ke dalam jurang. Sedang lainnya - terkapar pingsan.

"Bagus!" puji Lingga wisnu. Sekarang barulah dia menyaksikan kepandaian Rara Windu dan Ki Jaganala yang rupanya sudah diwarisi kakaknya perempuan. Jika kelak Sekar Prabasini demikian pula, ia tinggal menyempurnakan saja.

Mereka meneruskan perjalanan lagi. Kembali lagi ia melihat berkelebatnya sesosok bayangan mengenakan jubah. Ia sedang diubar delapan orang yang berteriak- teriak:

"Hei, kau mau apa? Jangan harap kau bisa memberi bantuan kaw anan berandal disin i."

Terang sekali, bayangan berjubah itu berada dipihak Kyahi Basaman. Dan Lingga Wisnu bersakit hati mendengar orang-orang itu menyebut padepokan Kyahi Basaman sebagai sarang kawanan berandal. Terus saja ia melesat dan mencegat mereka. "Kalian menyebut sarang berandal? Nah, inilah berandalnya." seru Lingga wisnu.

Mereka terperanjat, karena kena hadang dengan tiba- tiba. Sebelum sempat berbuat apa pun, mereka terlanda angin dahsyat. Tiba-tiba saja tubuh mereka terangkat tinggi. Dan tanpa ampun lagi mereka terpelanting jatuh.

"Lingga!" seru bayangan berjubah yang balik dengan mendadak.

Lingga Wisnu menoleh. Ia kaget bercampur girang karena mengenal suara itu. Sahutnya :

"Kakang Botol Pinilis!" "Kau baca pesanku?"

"Lewat nenek Argajati."'

"Bagus! Kau nanti harus mengabarkan semuanya. Sekarang, marilah kita lintasi tebing itu! Mungkin sekali Kyahi Basaman sedang menghadapi keroyokan. Untung, gurumu sudah tiba disana."

"Guru yang mana?"

Lingga Wisnu minta ke terangan.

"Kedua-duanya. Guru kita dan gurumu Ki Ageng Gumbrekz." jaw ab Botol Pinilis. Karena keadaan tak memungkinkan untuk berkepanjangan, mereka melanjutkan perjalanan dengan berdiam diri. Tebing yang menghadang didepan, segera mereka rangkaki. Dan sampailah mereka disebuah Ketinggian yang datar.

"Kakang! Biar aku yang masuk. Kakang dan ayunda berjaga-jagalah disini. Barangkali mereka menyembunyi- kan penembak penembak jarak jauh." kata Lingga Wisnukz.

"Benar. Majulah!" Botol Pinilis menyetujui .

Lingga Wisnu kenal liku-liku pertapaan. Ia mengambil jalan memutar. Tatkala sampai dibelakang gunung- gunungan, ia melihat seseorang lari ketakutan. Ia menduga dan mengamati. Kiranya si Samin salah seorang pekerja dapur pertapaan. Dia dahulu sering membaw akan makanan, tatkala ia berebah sakit didalam kamar. Seringkali dia bercanda dengan maksud menghiburnya. Maka segera ia menegor dan mendekapnya"

"Mau kemana?"

Kena dekapan Lingga Wisnu, Samin bergemetaran.

Katanya mohon dikasihani: "Ampun, tuan."

"Minta ampun?" Lingga Wisnu tertaw a. "Coba lihat, siapa aku!"

Perlahan-lahan Lingga Wisnu menguraikan tangannya. Sekarang Samin memutar tubuhnya dan mengamat- amati. Agaknya tak segera ia mengenal. Mungkin karena malam hari atau masa perpisahan yang terlalu lama. "Bukankah kau Samin?" tanya Lingga. "Terdengarnya seperti suara gus Lingga. Benar?" "Benar. Aku Lingga Wisnu."

"Masya Allah!" seru Samin. Lalu melompat memeluk.

"Min! Padepokan ini sudah terkepung. Kau hendak lari kemana? Dari pada kau tertangkap seorang diri, bukankah lebih baik bersama-sama aku?"

"Benar. Tapi apa sebab bila memasuki pendapa itu, siapapun lantas rebah tak berdaya? Menurut bunyi ajaran paman pamanmu dahulu, itulah obat bius. Apakah bukan pengaruh roh jahat?"

Lingga Uilnu perlu cepat-cepat. Maka ia mendahului berjalan. Didebat persimpangan, penciumannya yang tajam menangkap bau yang mencurigakan. Ia merandek. Lalu berbisik kepada Samin:

"Kau bersembunyilah disin i!"

Samin mengangguk. segera ia menyesapkan tubuhnya kedalam gerumbul. Dan seorang diri Lingga wisnu memasuki bangunan padepokan. Segera ia mengenakan ilmu saktinya tingkat tujuh. Seketika itu juga, nalurinya menyibakkan jalan. Ia seolah-olah dibawa menghampiri sesuatu. Lalu berhenti dengan tiba-tiba. Dan tatkala itu ia melihat gelombang asap.

"Hai! Apakah asap ini yang menyebabkan?” pikirnya didalam hati.

Memang, itulah asap hashish, semacam tetumbuhan yang mengandung asap pelumpuh. Tetumbuhan itu berasal dari negeri Cina dan dibawa masuk ke Timur Tengah. Pada zaman dari Omar Khayam, daun pelumpuh itu sangat termashur dan ditakuti orang. Terutama para wanita dan gadis-gadis. Siapapun akan roboh tak berdaya bila menghisap asapnya. Apalagi sampai memakannya atau minum. Tak mengherankan murid- murid Kyahi Basaman kena terobohkan. Mereka bersedia berkelahi sampai mati, namun tiba-tiba seluruh sendi tulangnya lemah lunglai. Lalu lumpuh dan akhirnya kehilangan kesadaran.

Syukur Lingga Wisnu sudah memiliki tingkatan ilmu manunggal dengan sarwa alam seakan-akan mendapat petunjuk. Ia melihat empat orang menutupi hidungnya dengan sehelai kain. Mereka sedang meniup-niup suatu persediaan yang berasap tebal. Lingga Wisnu menaruh curiga. Terus saja meloncat dan menerkam mereka. Perdiangan itu kemudian di padamkan.

"Siapa yang perintah?" bentaknya.

Mereka berempat sama sekali tak mengira, bahwa seseorang akan menerkamnya dan ternyata tahan menghisap asap. Karena itu, mulutnya seperti terkunci. Selagi demikian, Lingga Wisnu membelejeti kain penutupnya.

"Jangan!" mereka mencegah dengan ketakutan. "Masih berasap."

Mereka menuding kearah sisa asap yang masih mengepul tebal. Seketika itu juga timbullah pikiran Lingga Wisnu hendak mengetahui tentang cara kerja asap yarg menyebarkan bau tak sedap. Ia melemparkan mereka berempat. Ke arah asap. Mereka megap-megap dan tersendat. Tahu-tahu mereka roboh tak berdaya. Lingga wisnu memeriksa keadaan mereka. Walaupun kehilangan kesadarannya, namun peredaran darah, denyut nadi dan pernapasan masih berjalan wajar. Ia jadi girang. Kalau begitu, paman-paman gurunya yang kena asap jahat itu, masih bisa disadarkan kembali bila asap bius yang dihadapannya hilang. Maka ia menginjak- injak. Setelah itu, ia membuat mereka berempat lumpuh.

Lingga Wisnu tak mau kepalang tanggung lagi. Ia menanggalkan pakaian salah seorang yang berperawakan besar. Kemudian dikenakan pada dirinya sebagai pakaian rangkap. Setelah itu menyelungdup lew at dapur menuju serambi depan. Danjpada saat itu, ia mendengar suara beberapa orang bersahut-sahutan :

"Jika tua bangka itu tak mau tunduk, kita sembelih saja beramai-ramai. "'

"Ya, padepokan inipun kita bakar saja."

"Jangan! Jangan kita bakar! Anjing tua itu akan mati terbakar. Terlalu nyaman. Biar kita seret dahulu, lalu kita kuliti."

Merah telinga Lingga Wisnu mendengar suara mereka. Ia melihat empat orang berdiri didepan serambi yang sudah penuh dengan manusia. Hal itu mengingatkan dia kepada peristiw a yang pernah dialami dahulu. Tapi kali ini penuh dengan manusia-manusia berseragam. Terdiri dari suku-suku bumiputera dan beberapa orang serdadu Belanda.

Lingga Wisnu memasuki ruang depan dengan hati- hati. Karena ia berseragam seorang serdadu bawahan, tiada orang yang memperhatikan. Ia melihat Kyahi Basaman duduk di atas meja bundar berkaki rendah. Wajahnya pucat dan pandang matanya kuyu. Suatu tanda bahwa dia sedang sakit keras. Walaupun demikian ia tak rebah, kena asap bius.

Sebaliknya mereka semua mengenakan kain penutup. Karena itu bisa bergerak dan berbicara dengan bebas. Apalagi empat orang tadi yang mempunyai tekanan suara bernada nyaring dan kuat.

"BasamanI" kata seorang murid Mayor Belanda. "Semua muridmu sudah berada ditanganku. Mereka hanya luka sedikit."

"Luka? Apakah bukan keracunan?" sahut Kyahi Basaman dengan tenang.

Mayor itu terhenyak sedetik seakan akan kena tusuk.

Lalu berkata terpaksa:

"Benar. Terpaksa kami menggunakan alat pertolongan, karena ilmu kepandaian kalian sangat tinggi. Karena itu kini perkenankan aku menasehatimu. Hendaklah kau ikut kami semua."

"Apakah hanya itu nasehatmu?"

"Kau dengarkan dahulu. Seluruh penduduk kini sudah mau mengerti maksud baik kompeni Jakarta. Kami datang untuk meninggikan kebudayaan kalian. Agar keludukar kalian sejajar dengan bangsa lainnya."

"O, begitu?"

"Maksud kami datang kemari semata mata untuk menyadarkan dirimu. Kami jamin, bahwa murid-muridmu akan mendapat kedudukan yang layak. Lihatlah contohnya kaum Parwarti dan Ugrasena." "Hm. Walaupun kaum Parwati dan Ugrasena mempunyai semangat bertempur demi napsunya, namun selamanya berlawanan dengan kompeni. Karena itu aku heran, apa sebab tiba-tiba dua kaum itu takluk kepada Belanda." ujar Kyahi Basaman. Tubuhnya tiba-tiba bergoyang dan menyaksikan hal itu, mereka semua bergembira. Jagonya sudah tak berdaya. Lain-lainnya adalah mudah. Jika semuanya ini tidak atas kehendak Tuhan, siapa lagi yang mengatur serba kebetulan itu?

Mayor itu tersenyum. Sekarang ia tak perlu takut lagi. Apa yang dapat diperbuat seseorang yang lagi sakit. Maka dengan menegakkan dadanya, ia menjaw ab:

"Benar. Mereka itulah orang-orang yang pandai melihat cahaya terang dan segeta meninggalkan dunia gelap."

"Hm." Kyahi Basaman mendengus. "Semenjak dahulu manusia yang pernah hidup, mati. Siapa yang takkan mati? Apa yang akan diw ariskan kepada angkatan mendatang? Hanya ini. Semangat pahlawan. Nah, biarlah semangat pahlawan dan keadilan orang-orang yang mendahului terpancang di bumi ini sebagai panji-panji hidup."

Mayor itu tertegun. Tiba-tiba seorang yang sangat dikenal Lingga Wisnu berkata nyaring :

"Jika Kyahi Basaman kukuh pendiriannya, tak perlu lagi berbicara berkepanjangan. Mari kita ringkus saja."

Dialah Musafigiloh. Dan dibelakangnya, berdiri tiga. orang yang menghampiri Kyahi Basaman dengan gerakan gesit. Tak usah dikatakan lagi, bahwa mereka berkepandaian sangat tinggi. Lingga Wisnu heran. Dari mana manusia hianat itu memperoleh anggauta anggautanya begitu hebat?

"Mereka bukan golongan pendekar. Tapi sekumpulan serdadu. Tak ada kamus angger-angger pertarungan kasatria sejati. Seumpama dapat aku mengalahkan beberapa orang, lainnya tidak sud i mengaku kalah." pikir Lingga Wisnu didalam hati.

Selagi hendak bergerak, tiba-tiba terdengar suara tertaw a panjang. Sesosok bayangan berjubah kekuning- kuningan menyelinap masuk. Gerakannya bagaikan kilat. Dalam sekejab saja sudah berada dibelakang Musafigiloh dan langsung melontarkan pukulan.

Musafigiloh bukan seorang pendekar berkepandaian rendah. Tahu dirinya diserang, ia memutar tubuhnya sambil menangkis. Maksudnya hendak mengadu keras lawan keras. Akan tetapi bayangan itu tak sudi kena bentrok. Sama sekali tak terduga, ia beralih sasaran. Yang diserang kini orang yang berdiri mengepung Kyahi Basaman. Lalu pindah kelainnya setelah itu yang keempat. Luar biasa cepat gerakannya. Walaupun tidak mengenai sasaran, akan tetapi gerakan perpindahannya itu cepat bagaikan iblis. Keruan saja yang diserang tertegun sejenak.

Orang berjubah kuning itu kemudian membungkuk hormat kepada Kyahi Basaman. Berkata dengan suara ramah:

"Kakang Basaman. Selama hidupku baru untuk yang pertama kali ini, aku menginjak pertapaan ini. Walaupun sudah lama aku mengenal namamu yang cemerlang, namun Tuhan baru mempertemukan pada hari in i. Terimalah sebuah sungkem adikmu Gumbrekz. Jelek- jelek aku ikut mengasuh cucumu Lingga Wisnu."

Memang orang itu Ki Ageng Gumbrek. Ia muncul pada saatnya yang tepat. Dan mendengar namanya, Kyahi Basaman tertaw a lebar. Sahutnya sambil memanggut :

"Ah, Ki Ageng Gumbrek. Sudah lama pula aku mengagumi dirimu. Kau berkata tentang cucuku? Apakah dia masih hidup?"

"Cucumu masih segar bugar." jaw ab Ki Ageng Gumbrek. Akan tetapi didalam suaranya mengandung kebimbangan. Sebab sebenarnya ia tak tahu apakah Lingga Wisnu pada saat itu masih hidup. Yang diketahui, Lingga Wisnu lenyap tak keruan.

"Kalau Ki Ageng yang mengasuh cucu muridku, matipun hatiku ikhlas." kata Kyahi Basaman.

Itulah suatu pujian yang luar biasa. Ki Ageng Gumbrek sudah lama kagum kepada Kyahi Basaman. Kepandaiannya memang terkenal. Tapi bahwa Kyahi Basaman ikut menaruh perhatian benar-benar diluar dugaan. Tak mengherankan pandang matanya berseri- seri. Dengan suara rendah ia menyahut :

"Kyahi Basaman merupakan panji panji pendekar bangsa. Pujianmu terhadapku merupakan suatu kehormatan tak ternilai harganya."

Setelah berkata demikian, ia berputar mengarah kepada Musafigiloh. Membentak :

"Ketuamu Danusubrata betapapun seorang yang mempunyai kehormatan Kenapa kau malahan sudi menjadi begundal kumpeni? Apakah kau bercita-cita ingin jadi raja"

Mayor Belanda yang berada didekat Musafigiloh membuka mulut. Ia mendahului Musafigiloh membuka mulut :

"Dia memang pantas menjadi raja. Apa sangkut pautnya dengan tampangmu."

Pada saat itu, sekonyong-konyong masuklah suatu benda bulat yang terbang menghantam opsir Belanda itu. Keruan saja ia kaget. Cepat dia berputar dan menghantam benda itu sehingga terpukul kesamping dan jatuh ke lantai bergelundungan. Mereka semua tak tahu benda apakah itu. Akan tetapi begitu kena pukulan, terdengar jerit memilukan.

"Hai! Siapa main gila ini?" bentak Musafigiloh.

Seorang laki-laki bertubuh jangkung melesat masuk seraya menjawab:

"Aku, Sambang Dalan. Kenapa?"

Lingga Wisnu bergembira, dialah gurunya yang dirindukan siang dan malam. Oleh rasa gembira itu, hampir saja ia meloncat.

"Hai!" teriak Mayor Belanda. Kenapa manusia manusia tak keruan macamnya ini, di biarkan masuk?"

"Kenapa tak boleh? Laskar Panglima Sengkan Turunan kini mengepung dan menelanjangi begundal- begundalmu."

Mayor itu tertaw a. Sahutnya: "Aku bukan anak kemarin sore yang dapat kau buali.

Hayo buka! Siapa yang berada dalam karung itu."

Mayor itu mendongkol. Sama sekali la tak percaya apa yang dikatakan Kyahi Sambang Dalan. Ia hanya percaya, bahwa mereka yang datang orang-orang berkepandaian tinggi.

Yang mengherankan, kenapa mereka bisa datang tanpa penutup hidung? Apakah pengaruh asap bius tak mempan lagi.

Sambil menunggu karung itu dibuka salah seorang sersannya, ia melayangkan pandangnya, Alam pegunungan itu berkabut, tetapi bukan berasap. Hai kenapa? Mendadak ia melihat murid murid Kyahi Basaman yang rebah di atas lantai mulai menjenakkan matanya.

"Musafigiloh, lihat!" ia terkejut.

Musafigiloh hendak mengalihkan pandangnya. Mendadak pada detik itu, ia mendengar suara sersan yang membuka karung:

"Genggong! Saudara Genggong!"

Lingga Wisnu terkejut, ia sampai melongokkan penglihatannya. Genggong Basuki berdarah mukanya. Napasnya kembang kempis.

Menyaksikan hal itu, Mayor Belanda itu membentak kepada Kyahi Sambang Dalan:

"Hei! Kau berani menyiksa salah seorang anggauta kami yang baik?"

Kyahi Sambang Dalan tertegun. Ia seperti tak mempercayai pendengarannya sendiri. Berkata menegas: "Benarkah dia termasuk anggautamu?"

"Dia seorang pembantu yang baik," teriak Mayor itu.

Sebenarnya Musafigiloh hendak mencegah, tapi kasep.

"Ha, pernyataanmu itu justru memantapkan hatiku," ujar "Kyahi Sambang Dalan. "Aku hanya memusnakan kepandaiannya. Sayang dia membunuh paman gurunya pula . . . "

Tenang kata-kata Kyahi Sambang Dalan.

Tapi bagi Lingga Wisnu cukup tegas, bahwa gurunya marah benar. Biasanya jarang sekali d ia berbicara.

Pada saat itu pula muncullah Sukesi dan Sugiri. Mereka muncul seperti iblis. Dengan berbareng mereka berkata:

"Guru! Kamilah yang salah. Sebenarnya adik Lingga sudah mengkisiki, tapi aku kena dibakarnya. Genggong Basuki membunuh guru sendiri. Sudah sepatutnya ia mati karena hutang jiwa."

Dalam pada itu Mayor Belanda pemimpin penyerbuan menjadi penasaran. Kenapa makin banyak muncul tokoh- tokoh pandai. Dimanakah anak buahnya? Mustahil laskar Panglima Sengkan Turunan benar-benar tiba.

Lagi-lagi muncul dua orang. Kali ini seorang berjubah.

Merekalah Sudarawerti dan Botol Pinilis. Teriaknya:

"Adik Lingga! Kau sekarang boleh menghajar mereka. Seluruh Kompeni sudah berhasil kita rampas senjatanya."

"Lingga!" hampir semua hadirin berseru.

Ki Ageng Gumbrek tertawa. Sedang Kyahi Basaman dan Kyahi Sambang Dalan menatapnya dengan berbagai pertanyaan. Lingga Wisnu kemudian berkata kepada Musafigiloh:

"Musafigiloh! Maaf, terpaksa aku memusnakan semua kepandaianmu, demi kebaikanmu sendiri dikemudian hari. Gurumu pada saat in i, sudah menjadi manusia lumrah pula."

"Hai Lingga!" Kyahi Basaman memotong. "Kaulah anak yang berpenyakitan dahulu?"

"Benar." Lingga Wisnu segera datang bersembah.

"Tuhan Maha Adil." ujar Kyahi Basaman. "Tapi hendaklah kau jangan menyebut rekan Anung Danusubroto dan Prangwedani dengan begitu saja. Kalau kau mau memanggil diriku eyang. Merekapun rekan eyangmu."

"Eyang, panjang ceritanya. Tapi demi Tuhan, pada saat ini mereka berdua berada di bawah asuhan eyang Jaganala dan eyang Rara Windu."

Kyahi Basaman seorang yang saleh. Tapi mendengar Lingga Wisnu menyebut nama Rara Windu, betapapun hatinya bergetar sampai tertegun. Mustahil Lingga Wisnu mengarah kisah bohong. Sebab Rara Windu lahir sebelum ia dilahirkan. Maka berpikirlah dia.

"Ya, biarlah dia menyelesaikan peristiw a ini. Masih sempat aku minta keterangan."

Dan Lingga Wisnu kemudian melayangkan pandangnya kepada Musafigiloh:

"Bagaimana? Aku akan mengampuni jiw amu, bila kau mau menjelaskan tentang dua hal. Yang pertama, peristiw a terbunuhnya kakakku seperguruan Purbaya. Yang kedua, dimanakah adikku Suskandari, Harimawan kau t aw an?"

Musafigiloh kelihatan pucat, dan dia menyahut:

"Aku ... Basuki yang memikat Purbaya dia dibawa kesuatu tempat. Karena hubungan guru dan murid, Purbaya tak curiga.. ia kena Kami bius. Selanjutnya Genggong Basuki sediri yang membunuh ..."

Sampai disitu Botol Pinilis, Sukesi dan Sugiri memekik karena marah. Kyahi Basaman nampak menguasai diri. la menundukkan kepala dan Musafigiloh berkata lagi:

"Tentang Suskandari dan Harimawan mereka berada disini. Suskandari kami sekap didalam kereta sebab Genggong Basuki tak mau berpisah dengannya. Ia tidak hanya gandrung, tapipun sudah gila. sedang Harimawan kami... ikat dibawah pohon gerumbul itu. Dia ..."

Belum selesai ia bicara, peluru senapan meletus, Musafigiloh roboh terkulai dengan dada tertembus. Mayor Belanda yang berdiri dibelakangnya yang menembaknya, lalu melarikan diri.

Tepat pada itu sekalian anak murid Kyahi Basaman tersadar. Mereka melompat bangun dan hendak menegejar.

00oodwoo00

PA DA MALAM harinya, pesta terjadi di serambi pertapaan Kyahi Basaman. Suskandari dan Harimawan sudah terbebaskan. Dan Lingga Wisnu kemudia mengisahkan riw ayat hidupnya kepada Kyahi Basaman semenjak berpisah. Mereka yang mendengarkan. bergeleng kepala. Sungguh-sungguh ajaib. Lingga Wisnu sendiri merasa sangat berbahagia. Ia bertemu dengan tokoh-tokoh yang dikenalnya dan yang dihormati. Tinggal seorang saja, ialah Palupi. Dalam hati ia berjanji hendak menyambangi dalam perjalanan mendaki gunung Dieng untuk mengubur kerangka pendekar Bondan Sejiw an bersama abu istrinya.

Setelah itu ia akan bebas mengarahkan seluruh perhatiannya ke arah Gunung Lawu, karena seumpama orang hutang, semuanya sudah dibayarnya lunas. Kini tinggal menunggu turunnya Sekar Prabasini. Bila terasa terlalu lama, ia dapat menyusulnya.

Kenapa tidak?

( t a m a t )