-->

Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 10

 Jilid 10

17. PE REMPUAN PENUNGGU KEDAI

YANG MENOLONG membebaskan Sekar Prabasini dari ancaman bahaya adalah Lingga Wisnu. Semenjak tadi pemuda ini memperhatikan pertempuran antara Sekar Prabasini dan pengeroyoknya dengan rasa cemas. Menuruti kata hati, ingin ia segera muncul dan melabrak budak-budak kompeni itu. Akan tetapi suatu perhitungan lain menusuk benaknya. Teringatlah dia, bahva selama tadi Mayor De Pool belum memerint ahkan anak buahnya menggunakan senjata bidik. Pikirnya didalam hati. ‘Apakah mereka menunggu kedatanganku? Mungkin begitu. Bila aku muncul, barulah mereka bersenapan. Kalau mereka menggunakan senapan, alangkah bahayanya. Walaupun aku memiliki kepandaian sepuluh kali lipat lagi, susahlah melawan mereka. Mungkin sekali aku bisa menyelamatkan diri, akan tetapi untuk menolong Sekar Prabasini sangatlah sulit ...’

Memperoleh pertimbangan demikian, segera ia menahan diri. Dengan hati-hati ia mengikuti pertempuran itu. Dilihatnya Genggong Basuki membalik pedangnya untuk memukul kepala Sekar Prabasin i. Hati Lingga Wisnu tersirap. Tak usah dijelaskan lagi, bahwa Genggong Basuki bermaksud menangkap Sekar Prabasini hidup-hidup. Untuk apa, bila tidak dipersiagakan sebagai umpan dirinya? Setelah berhasil menangkap dirinya bukankah perkara gampang saja menyelesaikan mereka yang kena tangkap hidup-hidup? Kalau mau diperkosa, mungkin bisa dihidupi. Kalau tidak, tinggal menarik pelatuk senapan. Bukankah mudah? Dan teringat akan kemungkinan-kemungkinan ini, bulu kuduk Lingga Wisnu bergeridik. Dan pada saat itu timbullan tekatnya hendak menolong Sekar Prabasini.

Prabasini dan Suskandari benar-benar dalam bahaya, pikirnya didalam hati. Mereka terancam kehormatan dirinya. Aku sendiri hanya terancam hidupku, bila sampai tertangkap. Tapi mereka berdua akan dirusak dahulu kehormatannya sebelum mati. Ih...

Oleh keputusan itu, segera ia melesat turun dan mendorong pedang Manusama agar memukul gagang pedang Genggong Basuki. Tata himpunan tenaga sakti Lingga Wisnu pada saat itu sudah mencapai t ataran yang tinggi luar biasa, sehingga dapat dengan sesuka hatinya. Sifatnya halus dan dahsyat. Genggong Basuki dan Manusama yang berkepandaian tinggi sampai dapat dikelabuhi tanpa merasa. Setelah pedang mereka terbentrok, masing-masing saling menuduh dan menyalahkan.

Tentu saja Lingga Wisnu tak sudi menyia-nyiakan kesempatan itu.. Sebelum para serdadu sadar akan bahaya, cepat luar biasa menyambar seorang kopral dan dilemparkan keluar pagar tembok. Dia sendiri terus melesat keluar pintu gerbang dengan menggendong Sekar Prabasini,

Sekar Prabasini sebenarnya terkejut, tatkala dirinya kena sambar suatu tenaga dahsyat. Tatkala melihat siapa penolongnya, hatinya tenang luar biasa. Perint ahnya:

"Pulang dahulu! Kita perlu berunding!"

Lingga Wisnu mengangguk. Dan dengan kecepatan kilat, ia membaw a Sekar Prabasini menghilang kegelapan. Setelah berlari larian sekian lamanya, tiba- tiba Sekar Prabasini meniup telinganya sambil berkata:

"Eh! Apakah aku hendak kau gendong terus menerus?"

Lingga Wisnu tersadar, dengan muka merah, ia menurunkan gadis itu ketanah. Lalu bertanya cepat untuk menghalau rasa malunya:

"Sebenarnya apa lagi. yang harus dirundingkan?"

Sekar Prabasini memang seorang gadis yang nakal. Sebenarnya wajahnya terasa panas juga, karena kena gendong. Namun mendengar pemuda itu hendak membelokkan persoalan, ia justeru tidak menghendaki. Sahutnya:

"Aku senang sekali, bila kau gendong terus-menerus. Dengan begitu tak sia-sialah aku bila terpaksa mengorbankan jiwaku."

Terharu hati Lingga Wisnu mendengar ucapan Sekar Prabasini. Ia terhenyak sejenak. Kemudian berkata:

"Kau cepat sekali datang. Apakah kau segera berangkat begitu bertemu dengan guruku?"

Sekar Prabasini mengangguk sambil menggeribiki pakaiannya. Menjawab:

"Tanda-tanda arah kepergianmu sangat jelas, sehingga tidak menyukarkan kami Paman Puguh bergemetaran karena marah, setelah menyaksikan penghianatan Genggong Basuki dengan mata-kepalanya sendiri. Sekarang, kita dapat membaw a persoalan pembunuhan itu kepada mereka berdua. Kurasa paman Gumbrek mempunyai pengaruh besar untuk meyakinkan kedua kakakmu seperguruan.

"Bagus! Kalau begitu biarlah aku menolong Suskandari dahulu. Tentang janjiku terhadap ayunda Sukesi bisa didamaikan, bukan...”

"Eh, kenapa begitu bersemangat? Lagi pula, siapakah yang menjanjikan perdamaian itu?" damprat Sekar Prabasini. "Memang..... Suskandari cantik luar biasa ..."

Lingga Wisnu jadi serba salah. Ingin ia memberi penjelasan betapa bahaya kedudukan Suskandar. Akan tetapi bukankah Sekar Prabasini sudah mendengar sendiri dari mulut Musafigiloh? Walaupun masih samar- samar namun dapat ditebak dengan mudah apakah rencana pihak kompeni terhadap gadis itu.

"Prabadisi! Sudah kukatakan, bahwa gadis itu adalah temanku bermain-main sewaktu masa kanak-kanak," ia mencoba mekeyakinan lagi.

"Apakah kau menyesal berhubungan dengan diriku?" Sekar Prabasini memotong.

"Menyesal? Mengapa menyesal?" Lingga Wisnu heran Sekar Prabasini tertawa nakal. Sahutnya:

“Syukurlah bila kakang tidak menyesal. Dengan begitu hatiku senang."

"Sebenarnya, apakah maksud pertanyaan itu?"

"Aku hanya ingin memperingatkan kakang saja." jawab Sekar Prabasini. "Yang pertama tentang harta warisan itu. Bukankah sudah kita ketemukan tanda- tandanya? Kemudian janji pertemuan dengan kedua kakakmu seperguruan. Kalau kau sibuk menolong si cantik, kukhaw atirkan kakang bakal tenggelam didalam masalahnya."

"Masalah apa?" Lingga Wisnu penasaran.

"Masalah si cantik. Bukankah Suskandari bidadari cantik nomor satu didunia? Kalau tidak, kalau tidak, masakan Genggong Basuki sampai.. sampai..." Sekar Prabasini tidak menyelesaikan perkataannya. Ia lantas lari mendahului. Dan terpaksalah Lingga Wisnu mengiringkan. Meskipun mendongkol, ia tertaw a geli juga didalam hati.

Sekar Prabasini ternyata tidak kerumah Songgeng Mintaraga untuk bertemu dengan Ki Ageng Gumbrek atau tuan rumah. Dia kembali ke penginapan dan terus saja masuk ke dalam kamarnya. Hal itu membuat Lingga Wisnu gelisah.

"Kalau aku menuruti saja kemauannya, bukankah aku jadi kanak-kanak lagi?" pikirnya. "Suskandari berada dalam bahaya. Setiap detik banyak artinya. Kalau aku lalai sedikit saja, akibatnya mungkin sangat parah. Biarlah aku keluar dengan diam-diam."

Lingga Wisnu tak mau berpikir panjang-panjang lagi, apa akibatnya esok hari bila Prabasini melihat dirinya tiada dalam kamar. Setelah berada di luar halaman penginapan, ia berlari-larian kencang seolah-olah di kejar iblis. Perjalanannya mengarah ke barat Bukankah Musafigiloh tadi menyebut nyebut kota Sukaharja?

Tak lama kemudian ia menemukan tanda-tanda jejak sepatu. Niscayalah sepatu-sepatu kompeni Belanda atau serdadu-serdadu bumi-putera. Ia girang bukan kepalang. Tatkala tiba di Sukaharja, fajar hari telah menyingsing. "Niscaya Suskandari berada dalam penjagaan kuat..." pikirnya didalami hati. "Tapi bagaimana nanti akibatnya, aku harus menolongnya. Semalam aku main bersembunyi. Sekarang, biarlah aku terang-terangan saja. Sebab bila lalai sedikit saja Suskandari dalam bahaya besar. Kalau hal itu. sampai terjadi, bagaimana aku harus bertanggung jawalb terhadap ibunya?"

Setelah makan pagi, segera ia mencari benteng yang disebutkan Musafigiloh. Ternyata yang disebut benteng, sebenarnya sebuah gedung milik seorang hartaw an Cina, Mungkin sekali pemiliknya ditangkap atau diancam demikian rupa, sehingga terpaksa menyerahkan kediamannya yang serba mewah.

Dengan sekali pukul saja daun pintu gedung itu terbang dan menimpa dua jambangan emas yang hancur berderai. Hati Lingga Wisnu pagi itu memang sedang mendidih. Ia merasa dipermainkan dan jijik terhadap Genggong Basuki yang mengaku telah membunuh kakaknya seperguruan Purbaya. Walaupun belum pernah berjumpa, akan tetapi sebagai salah seorang adiknya seperguruan sudah sewajarnya wajib ia menuntut balas. Alangkah keji murid khianat itu.. Karena itu, ia bertekad hendak mengadu kepandaian serta melampiaskan hawa amarahnya. Bagaimana akibatnya, ia tak mem-perdulikan lagi.

Dengan langkah lebar ia berteriak:

“Hai orang-orang jahanam! Suruhlah Musafigiloh dan Genggong Basuki keluar menemui aku!"

Tiba-tiba belasan orang datang berlari-larian dari kamar sebelah menyebelah. Waktu itu, hari masih terlalu pagi. Kebanyakan di antara mereka masih menikmati selimut nya masing-masing. Tahu-tahu mereka terkejut, tatkala mendengar hancurnya pintu dan dua jam-bangan ikan. Dengan serentak mereka keluar dan melihat datangnya Lingga Wisnu, segera mereka bersiaga. Bentaknya:

"Siapa kau?"

Lingga wisnu tak sudi membuang buang waktu lagi. Ia mendorongkan tenaga himpunan saktinya dan bagaikan rumput kering belasan orang itu terpental membentur dinding dan jendela. Kemudian Lingga Wisnu melompat meng hampiri pintu tengah. Dan begitu pintu tengah itu hancur berderai, nampaklah Musafi- giloh dan Genggong Basuki sedang makan-minum dengan gembira-

Musafigiloh dan Genggong Basuki sebenarnya mendengar suara hiruk-piruk diserambi depan. Mereka memerint ahkan Cocak Abang untuk menyelidiki. Tetapi Lingga Wisnu sudah tiba didepan mereka. Dengan sekali sambar, Lingga Wisnu melemparkan Cocak Abang yang hendak mencapai pintu tengah kedalam.

Musafigiloh cepat melompat sambil membentangkan kedua tangannya. Tangkapannya tepat. Meskipun demikian ia terhuyung beberapa langkah. Dan menyaksikan hal itu, tokoh-tokoh pendekar rumah perguruan Ugrasawa yang berkhianat terperanjat. Mereka tahu. Cocak abang yang hendak menyelidik itu, bukan tokoh sembarangan. Sedang Musafigiloh adalah pemimpin mereka. Namun dalam satu gebrakan saja sudahlah jelas siapa yang lebih unggul.

Tapi sebenarnya Lingga Wisnu terperanjat juga. Ia sudah menggunakan hampir seluruh himpunan tenaga saktinya. Namun mereka berdua bisa mempertahankan diri dan tak kurang suatu apa. Itulah suatu tanda, bahwa kesaktian Musafigiloh tidak boleh dipandang ringan. Selagi terperanjat, Lingga Wisnu bergirang hati pula. Ia melihat Suskandari berada diantara mereka, duduk disebelah kiri Genggong Basuki dan Manusama. Sejenak ia tertegun melihat Suskandari. Sebaliknya Suskandari berseru girang:

"Kakang Lingga!"

Dengan serentak Suskandari bangkit cari tempat duduknya. Sekonycng-konyong ia bergemetaran dan roboh diatas kursinya kembali. Tahulah Lingga Wisnu, bahwa Suskandari kena siksa tertentu. Dengan hati panas, ia melompat hendak menolong. Tiba-tiba punggungnya terasa kena pukulan Genggong Basuki dan Manusama yang dilontarkan dengan berbareng.

Tetapi Lingga Wisnu tidak menghiraukan Kesaktiannya cukup kuat menahan pukulan mereka. Tangannya terus menyambar. Dan sebentar saja, Suskandari sudah berada dalam pelukannya. Dengan menjejakkan kakinya, ia membawa Suskandari terbang melint asi meja perjamuan.

Tentu saja anak-buah Musafigiloh tidak tinggal diam. Dengan serentak mereka bergerak mengepung. Tetapi Lingga Wisnu tidak sudi memberikan kesempatan. Dengan sebelah tangannya menggempur sambil melompat mundur.

"Suskandari, apakah kau bisa bergerak?" bisiknya. "Kedua kakiku serasa lumpuh." jawab si gadis.

Teringatlah Lingga Wisnu kepada sepak terjang gadis

itu tatkala dahulu melawan keluarga Dandang Mataun.. Sekarang ia nampaknya ia tak berdaya. Maka tak usah dijelaskan lagi, bahwa ia lumpuh akibat siksa Musafigiloh dan kawan-kaw annya,

"Biarlah kakimu kupijat." kata Lingga Wisnu. "Apakah kau sudi kupanggul di atas pundakku?"

Belum gadis itu menjaw ab, paras muka Lingga Wisnu terasa panas sendiri. Meskipun bermaksud baik akan tetapi sangat t idak sedap didalam penglihatan. Apalagi di hadapan orang banyak lagi musuh pula. Maka mengurungkan niatnya. Bisiknya:

"Sebentar lagi aku akan melompat mundur. Carilah pegangan kuat-kuat agar tidak terlempar, apakah kedua tanganmu dapat bergerak dengan leluasa?"

"Dapat." sahut gadis itu. Legalah hati Lingga Wisnu.

Dengan tidak menyia-nyiakan waktu, ia mendorongkan tenaga himpunannya.. Lalu pada saat itu pula, ia berjungkir-balik tinggi diudara dan melesat keluar pintu. Seperti kelelawar ia terbang melintas, tatkala anak buah

Musafigiloh memburu dengan berteriak-teriak, tubuhnya lenyap dari penglihatan.

Itulah salah satu kepandaian warisan almarhum pendekar Bondan Sejiw an.. Ki Ageng Gumbrek berkata bahwa kepandaian Kyahi Sambang Dalan masih berada diatasnya. Akan tetapi bila Kyahi Sambang Dalar. pada saat itu menyaksikan kepandaian muridnya yang bungsu itu, pasti akan tertegun-tegun heran. Dalam tata napas dan pengalaman, mungkin dia lebih berpengalaman. Akan tetapi mengenai kepandaian itu, di dunia ini pada hakekatnya hanya Bondan Sejiw an yang memiliki. Dan kini sudah di warisi Lingga Wisnu dengan sangat sempurna.

Dengan berlari-larian kencang, Lingga Wisnu memanggul Suskandari. Kira-kira menjelang tengah hari, ia sudah berada di penginapan. Tatkala memasuki kamar Sekar Prabasini, gadis itu tiada nampak batang hidungnya.

"Suskandari, baiklah kau beristirahat dahulu dalam kamarku." kata Lingga Wisnu. Ia tidak menunggu persetujuan gadis itu. Setelah merebahkannya diatas tempat t idur, ia segera kembali ke kamar Prabasini. Tadi ia melihat setumpuk kertas diatas meja. Karena itifi segera ia membaw a Suskandari ke dalam kamarnya sendiri agar dapat membaca tumpukan kertas Prabasini tanpa terganggu.

Ternyata isinya hanya suatu corat coret. Setelah di amat-amati mirip sebuah peta penunjuk. Dibawahnya terdapat suatu keterangan pendek :

"Telah kuselidiki rumah it u. Kutemukan peta ini. Aselinya berada padaku. Kalau tetap pada rencana semula, susullah aku. Kalau hat imu berada pada kekasihmu it u, jangan mencoba  menemui  aku lagi."

Lingga Wisnu terpaksa tersenyum pahit. Dan entah apa sebabnya, hatinya tiba-tiba terasa sakit dan iba. Pikirnya: "Latar belakang penculikan Suskandari rasanya tidaklah sederhana. Kalau aku sampai terlibat, akan menyia-nyiakan harapan Prabasini. Suskandari memang temanku bermain semasa kanak-kanak. Ibunya sangat baik kepadaku. Akupun berhutang budi. Sebaliknya Prabasini adalah puteri tunggal pendekar Bondan Sejiw an. Seumpama tidak mewarisi kepandaian ayahnya, jiw aku sudah lama melayang. Kalau ditimbang-timbang aku berhutang jiw a kepada keluarganya. Dia kini menjadi anak yatim pula. Aku, tak boleh aku membiarkan dia pergi seorang diri ..."

Memperoleh pikiran demikian, perlahan-lahan ia memasukkan surat Prabasini ke dalam sakunya. Kemudian bergegas ia menjenguk Suskandani yang masih saja belum dapat bergerak.

Lingga Wisnu segera memeriksanya. Setelah berenung-renung sejenak, ia berpikir didalam hati:

"Agaknya dia dibuat salah urat. Aku harus memijat- mijat pangkal pahanya. Hal ini tidak mungkin terjadi. Kalau begitu, biarlah kuserahkan saja kepada paman Songgeng Minta-raga. Mungkin sekali Ki Ageng Guiribrek masih berada di tempat kediamannya. Dengan pertolongan mereka. Suskandara pasti akan pulih kembali.

Teringat pulalah dia, bahwa Puguh, Harimawan niscaya masih menunggu kedatangannya. Dengan demikian, Suskandari tidak merasa asing sementara ia mengejar Sekar Prabasini

Dengan pertimbangan demikian., berkatalah ia kepada Suskandari "Suskandari! Di kota ini ada seorang sahabat kita.

Bagaimana kalau kau kuserahkan kepadanya?"

"Kemana aku akan kau bawa dan akan kau serahkan kepada siapa, terserah padamu belaka. Asalkan t idak kau serahkan kepada Genggong Basuki," sahut Suskandari.

Teringatlah Lingga Wisnu akan pembicaraan Musafigiloh semalam. Sebenarnya ingin ia memperoleh kabar tentang peristiw a penahanan terhadap gadis itu, akan tetapi hatinya sangat gelisah memikirkan Sekar Prabasini. Maka setelah memperoleh persetujuan Suskandari segera ia mendukungnya ke rumah Songgeng Mintaraga.

Benar saja. Songgeng Mintaraga. Ki Ageng Gumbrek- Aria Puguh dan Harimawan seperti sedang menunggunya. Begitu ia muncuj dengan membaw a Suskandari, mereka berdiri menyambut

"Nah, benar tidak kataku tadi," kata Ki Ageng Gumbrek dengan tertaw a terbahak-bahak. "Lingga pasti mengejar mereka ke Sukaharja untuk menolong gadis Ngrumbini. Sebenarnya mulia hati. Tetapi gadis manakah yang dapat diinsyafkan demikian."

Lingga Wisnu tahu siapa yang dimaksudkan Ki Ageng Gumbrek. Ia hanya membalasnya dengan tersenyum. Dan setelah menyerahkan Suskandari, segera ia berpamit. Katanya kepada Ki Ageng Gumbrek dan Aria Puguh:

"Sebenarnya aku tidak menepati janji terhadap kedua kakakku-seperguruan. Entah hukuman apa lagi yang akan kuterima nanti." "Akh, tentang mereka itu, serahkan saja kepadaku," sahut Ki Ageng Gumbrek. "Malahan ingin aku menyaksikan betapa engkau menghajarnya kalang kabut."

Lingga Wisnu kenal mulut Ki Ageng Gumbrek yang jahil. Kalau dilayani niscaya akan menjadi-jadi. Maka setelah membungkuk hormat, segera ia meninggalkan rumah kediaman Songgeng Mintaraga.

Sebenarnya, Songgeng Mintaraga mencegahnya. Bukankah dia belum makan siang? Tapi ia sudah kehilangan kegembiraan. Walaupun semalam penuh tidak memejamkan mata, namun tiada niatnya hendak beristirahat.

Ia kembali ke penginapan. Setelah membayar beaya penginapan, kembali ia menekuni peta corat-coret Sekar Prabasini. Disebelah timur terlukis sebuah gunung. Kemudian sebuah telaga. Dipojok ke rtas terdapat huruf L dan S„ Tak usah ia berpikir terlalu lama. Gunung dengan huruf L itu pasti Lawu. Sedang telaga S adalah telaga Sarangan.

"Apakah harta karun itu berada disana? pikirnya pulang balik.

Dan dengan kepala berteka-teki ia berjalan mengarah ke t imur. Kalau aku tahu bakal kembali mendaki Gunung Lawu, tidaklah perlu sampai t iba di Wonogiri, pikirnya. Ia berjalan cepat sampai matahari condong ke barat. Dan pada waktu itu barulah teringat bahwa dirinya belum makan siang. Maka segera ia singgah ke kedai sederhana yang kebetulan nenjual nasi. Walaupun lauk-pauknya sangat miskin, namun karena lapar ia makan dengan lahap sekali. Dua hari dua malam, Lingga Wisnu melakukan perjalanan. Dan pada hari ketiga sampailah ia disebuah telaga yang jernih airnya. Segera ia berhenti dan duduk berjuntai diatas batu yang mencongak ditebingnya.

Udara kala itu biru jernih. Matahari bercahaya cerah namun tidak menyakiti tubuh, karena tertahan lapisan hawa gunung yang sejuk.

Sekarang, ia merasa agak lelah. Maka ia mencari suatu keteduhan dan membaringkan diri diatas rerumputan yang hijau muda. Tak terasa ia tertidur. Tatkala menjenakkan mata, matahari sudah condong ke barat Perasaan tubuhnya menjadi segar bugar. Dan cleh perasaan itu, dapatlah ia menikmati pemandangan yang berada disekitarnya. Ia berpaling dan melihat sebuah kuburan tua yang berbatu nisan. Tiba-tiba jantungnya memukul. Dilihatnya batu nisan itu berhuruf berukir. Samar samar ia melihat huruf: P u r b a y a.

Bergegas ia menghampiri Kemudian membersihkan debu dan kotoran yang menutupi. Jelas sekali itulah kuburan yang sudah tua sekali. Dan tulisan itu berbunyi: Disini beristirahat kasatria sakti Purbaya.

"Purbaya?" ia berkomat -kamit. "Apakah makam kakakku-seperguruan Purbaya?"

Mau tak mau ia jadi berpikir keras. Dan berkata didalam hati:

"Purbaya adalah nama kakakku seperguruan. ia diwartakan mati terbunuh Muridnya sendiri mengakui hal itu. Tetapi kuburan ini sudah tua. Apakah kakang Purbaya di makamkan begini rupa agar tidak segera diketahui oleh orang?" Tergoncang hati Lingga Wisnu memperoleh dugaan itu. Tiba-tiba datanglah seorang bocah penggembala kerbau. Bocah itu berada diatas kerbaunya dengan menidurkan diri. Aneh nya lagi, ia sedang sibuk membaca buku. Sama Sekali ia tak menghiraukan arah penggembalaannya, Dibiarkan kerbaunya berjalan sekehendaknya sendiri.

"Bocah, ini berlagak seperti seorang pendekar besar atau seorang pelajar yang kutu buku." pikir Lingga Wisnu geli didalam hati. Namun perasaannya menyuruhnya agar berhati-hati dan berwaspada terhadap bocah itu. Maka tegurnya Halus:

"Gus! *) Telaga ini bernama apa? Dan kuburan siapakah ini?"

(* = panggilan untuk anak laki-laki).

Bocah itu memandangnya sejenak. Kemudian tertawa panjang. Setelah itu, barulah ia menyahut:

"Niscaya tuan datang dari jauh. Telaga itu kami sebut Telaga puteri. Dan kuburanran itu adalah kuburan keluarga kami."

Heran Lingga   Wisnu   mendengar   keterangannya.

Kuburan kami? Tak terasa ia menegas : "Apa? Kuburan keluargamu?"

Bocah itu tidak segera menjaw ab. Ia tertaw a geli.

Sejenak kemudian berkata:

'Walaupun dari jauh, nampaknya tuan bukan, seorang yang goblok. Pastilah pula bisa membaca bunyi huruf pada batu nisan itu.. Masakan tuan belum kenal nama: Purbaya?" Hati Lingga Wisnu seperti kena ditebak. Memang ia justru lagi disibukkan oleh nama yang dibacanya. Selagi sibuk mencari kata- kata untuk menjawab ucapan bocah itu, berkatalah dia lagi:

"Sepanjang ingatan tuan, kasatria siapa saja yang mengenakan nama Purbaya?"

Mau tak mau, kehormatan Lingga Wisnu tersinggung juga. Namun ucapan bocah itu justru menggugah dirinya. Sahutnya:

"Adik agaknya hendak menguji aku. Sepanjang ingatanku hanya dua orang. Yang pertama adalah salah satu nama tokoh Wayang Gatutkaca. Dia dipanggil atau disebut sebagai Aria Purbaya. Dan yang kedua, panglima perang Mataram dijaman Sultan Agung. Dialah yang memimpin penggempuran terhadap benteng Jan Pieter Zoon Coen di Jayakart a."

"Ya, benarlah begitu." bocah itu lalu duduk tegak diatas kerbaunya. "Tetapi sebenarnya masih ada seorang lagi. Itulah leluhur kami yang datang dari Kartasura. Beliau bertapa dipuncak Gunung Law u. Bertapa terus- menerus sampai ajalnya sampai. Dan jenazahnya dimakamkan disini. Nama lengkapnya leluhur kami; Pangeran Purbaya dari Kartasura. Beliau dikuburkan disini, ditepi telaga yang bernama Telaga Puteri. Sebab isteri beliau musna tatkala mandi di telaga itu ..."

Setelah berkata demikian, bocah itu melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan Lingga Wisnu. Sekarang dia tidak membaca buku lagi. Akan tetapi meniup seruling yang berbunyi sangat merdu. "Bocah itu pasti berpendidikan." pikir Lingga Wisnu clida lam hati. Dia mengaku anak keturunan Pangeran Purbaya yang bermakam di sini. Agaknya, dia tidak berdusta. Sayang aku belum mengenal namanya. Eh ..„ apakah kakang Purbaya sebenarnya termasuk salah seorang kerabatnya? Jangan-jangan dia anak kakang Purbaya,

Hendak ia mengejar, tetapi bocah itu sudah menghilang dibalik anak bukit. Maka ia menghempaskan diri lagi diatas rerumputan yang dipilihnya tadi. Ia seperti merasakan sesuatu. Tetapi apa itu; ia sendiri tidak tahu. Perasaan itu hanya berkelebat di dalam benaknya.

Setelah cukup beristirahat, ia bangkit dan melanjutkan perjalanannya. Ia memasuki sebuah dusun yang berada di tengah lapangan terbuka. Karena pikirannya masih terpancang pada nama Purbaya, ingin ia memperoleh keterangan lebih luas lagi. Siapa tahu, keluarga kakaknya seperguruan itu berada didusun itu. Tetapi nama Purbaya memang terlalu banyak dikenakan orang. Siapapun berhak menyematan nya. Tiada larangan dan tiada hukumnya.

"Akh, sudahlah," ia memutuskan. "Aku kemari untuk menyusul Prabasini Kenapa aku terlibat dalam soal itu. Biarlah begitu saja ... Nanti bila sudah jelas, barulah aku ikut campur .

Ia tahu bunyi keputusannya itu, hanya untuk menghibur dirinya yang sudah jadi usilan. Karena itu ia tertaw a seorang diri. Mentertaw ai dirinya sendiri.

Waktu itu matahari masih panas, meskipun sudah condong kebarat. Sekarang ia merasa lapar dan dahaga. Dilayangkan pandangnya mencari sebuah kedai, Tetapi dusun itu terlalu miskin. Sama sekali tiada terdapat seorang penduduknya yang berjualan. Bahkan penduduknya seperti bersembunyi di dalam rumahnya masing-masing.

"Aneh," pikir Lingga Wisnu di dalam hatinya. "Dusun ini seperti berada dalam keadaan perang. Sunyi sepi Terlalu sunyi, malah”

Ia sudah melalui dua petak sawah. Masih saja ia belum melihat seorang penduduk yang dapat diajaknya berbicara. Apalagi membayangkan sebuah kedai yang menjual makanan-dan minuman.

Leher dan perutnya kini benar-benar mulai mengganggu. Ia layangkan matanya kekanan dan kekiri Siapa tahu, mungkin diantara rumah-rumah penduduk yang terlindung oleh kerindangan pohon-pohon terselip sebuah kedai yang menjual makanan dan minuman. Syukurlah setelah melampaui sepetak sawah lagi, samar- samar nampaklah sebuah kedai yang berada ditepi jalan» Kedai itu berbentuk seperti paseban seorang hamba kerajaan. Atapnya dari jerami kering dan dindingnya terbuat deri bambu dan setengah papan. Penunggu seorang perempuan tua kira-kira berumur tujuhpuluh tahun. Dan melihat semuanya, legalah hati Lingga Wisnu.

"Aneh! Sekian lamanya aku melintasi dusun dusun pegunungan. Rasanya seperti kisah seorang pengembara mengarungi samudera pasir, kata Lingga Wisnu didalam hati.

Lingga Wisnu segera singgah. Di depan halaman terdapat sebuah pasu air tempat pencuci kaki. Itulah salah satu adat istiadat pada zaman itu yang dikenalnya dengan baik. Kaka segera ia membasuh kakinya. Dan terdengarlah perempuan tua itu berteriak ke dalam rumah:

"Nok! ada tamuuu ...!"

(Nok = panggilan untuk seorang gadis kecil).

Dari dalam rumah, muncullah seorang gadis kira-kira berumur tujuhbelas tahun. Ia datang dengan membaw a secangkir air teh dan sepiring penganan diatas niru yang seolah-olah sudah disediakan jauh sebelumnya. Dan dengan tersenyum pendek, ia meletakkannya di depan meja Lingga Wisnu.

Lingga Wisnu memperhatikan gadis itu. Dia tidak begitu cantik. Akan tetapi serasi dan lembut. Pakaian yang dikenakan dari bahan kasar. Berbaju cerah dan berkain batik Parangkusuma. Kulitnya lunak berwarna kuning keputih-putihan. Jelaslah sudah, bahwa dia bukan keturunan seorang penduduk aseli. Paling tidak, ia berdarah priyayi. Apalagi gerak-geriknya lembut dan sopan.

Setelah menyajikan hidangan itu, dia kembali masuk ke dalam. Diam-diam Lingga Wisnu melongokkan matanya. Ternyata gadis itu sedang duduk menyulam sepunting bunga.

Semenjak zaman dahulu, lembah lawu ini seringkali dilintasi para bangsawan. Mungkin sekali dia salah seorang keturunannya. Atau memang anak keturunan bangsawan Purbaya yang disebut sibocah tadi: Pangeran dari Kartasura?

Teringat akan hal itu, ia mencoba mengajak berbicara dengan nenek penunggu kedai. Kemudian bertanya: "Sebenarnya bagaimana aku harus memanggilmu?" Nenek itu tertaw a. Menjawab:

"Aku tidak mempunyai nama. Orang-orang kampung menyebutku nenek. Nah, panggil saja aku nenek tua. Atau simbah!"

Sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah Lingga Wisnu bahwa nenek itu tak senang memperkenalkan namanya. Segera ia mengalihkan pembicaraan dan sama sekali tidak menyinggung-nyinggung tentang makam atau nama yang dimakamkan di dekat Telaga Puteri.

Selagi demikian, datanglah empat orang menunggang kuda. Mereka bertubuh kasar. Gerak geriknya seperti bajingan murah. Dengan berbareng mereka meloncat dari atas kudanya dan langsung menghampiri si nenek. Kata seorang yang bertubuh kekar:

"Hai, nek! Apakah kau kemarin melihat seorang gadis menunggang kuda lewat disini?"

Nenek itu memiringkan kepalanya. Menyahut : "Kau berkata apa?"

Orang itu nampak mendongkol. Lalu membentak :

"Aku bertanya padamu, apakah kau kemarin melihat seorang gadis menunggang kuda lew at disini?"

Nenek itu tertaw a terkekeh-kekeh sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. Dan Lingga Wisnu terkesiap hatinya. Pikirnya:

"Apakah bukan Sekar Prabasini yang dimaksudkan?"

Memperoleh dugaan demikian. Lingga Wisnu memperhatikan mereka berempat Melihat dandanannya mereka seperti anak-buah pendekar Srimoyo. Mengapa mereka mengejar Sekar Prabasini ?

"Bagaimana? Kau lihat t idak?" bentak oraing itu-. Nenek itu masih saja tertaw a. Jawabnya:

"Kupingku ini memang aneh. Kalau diajak bicara perlahan-lahan, bisa mendengar Tetapi kalau mendengar suara kasar, malan buntu.”

Lingga Wisnu tahu, bahwa nenek itu hanya berpura- pura tuli. Maka tahu pulalah ia, bahwa nenek itu menggenggam suatu rahasia. Sebaliknya empat orang itu jadi tidak bersabar lagi. Kata yang bertubuh besar:

"Gadis itu merampok rumah kami. Ia membongkar sumur. Kemudian minggat. Setelah kami periksa sumur itu, belasan batang panah beracun berloncat dari dalam Dua orang teman kami, mati sekaligus. Karena itu kami datang hendak menangkapnya. Taruhkata engkau tuli, pasti matamu dapat melihatnya."

Tetapi nenek itu masih saja tertaw a ketolol-tololan. Dan orang bertubuh kekar itu kehilangan kesabarannya. Tiba-tiba saja ia maju dan hendak menghantam nenek itu.

Menyaksikan hal itu. Lingga Wisnu tak tinggal diam. Ia melompat dan menghalangkan tangannya. Suatu bentrokan tak dapat dihindarkan lagi. Dan orang itu mundur sempoyongan dengan mata. terbelalak.

"Siapa kau?" bentaknya

"Nenek itu kurang pendengarannya Kenapa kau hendak main pukul?" Lingga Wisnu membalas membentak. "Lagipula bagaimana kalian tahu, bahwa gadis yang kalian cari itu lewat disini?”

"Gadis itu meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan ke mana dia hendak pergi. Karena itu kami mengejarnya." sahut orang bertubuh kekar itu. Tapi karena ia merasakan kehebatan tenaga Lingga Wisnu, ia lantas membalik tubuh. Dengan suatu isyarat mata, ia mengajak ketiga temannya meninggalkan warung.

"Hai!" tiba-tiba nenek tua itu memanggil. "Kau tadi bertanya apa? Sudah kukatakan telingaku ini aneh Kalau diajak berbicara keras, tidak mendengar. Terlalu perlahan juga tuli Sebaliknya kalau sedang, pandai ia mengangkat tiap patah perkataanmu. Coba ulangi pertanyaanmu dan berbicaralah dengan suara sedang"

Orang bertubuh kekar itu membalikkan badannya.

Berkata dengan suara sedang:

"Kami mencari seorang gadis menunggang kuda.

Apakah engkau melihat dia lewat di sini?"

"Oh, gadis cantik menunggang kuda ...?" ulang nenek itu. "Benar .. kemarin kulihat dia pada waktu begini in i. Dia malahan singgah disini„ Dia berpesan padaku, bila ada yang mencarinya diharapkan menyusul ke Telaga Sarangan."

Hati Lingga Wisnu tergetar. Tiada sangsi lagi, bahwa gadis itu niscaya Sekar Prabasini. Ia meninggalkan pesan untuk dirinya. Dan orang bertubuh kekar itu lantas melompat ke atas pelana kudanya. Kemudian dengan berderap, ia membaw a ketiga temannya mengarah ketimur, "Nok! Catat!" seru nenek itu kepada gadis itu yang sedang menyulam.

"Sudah. Nih, lihat!" sahut gadis itu sambil perlihatkan sulamannya. Ternyata jumlah bunga sulamannya sudah menjadi tujuh. Siapa yang dua orang lagi, pikir Lingga Wisnu

Pemuda itu sibuk sendiri Dalam hatinya ia merasa heran. Pastilah gadis dan nenek itu bukan tokoh-tokoh sembarangan. Akan tetapi ia tidak takut. Ia percaya pada kepandaiannya sendiri. Andaikata mereka berdua musuh dalam selimut yang akan merugikan dirinya, rasanya ia tak perlu gentar menghadapinya,

"Sebenarnya siapakah gadis yang dicarinya itu?" ia bertanya minta keterangan.

Nenek tua itu tertaw a ramah. Sahutnya,

"Anak! Kau seorang baik hati. Biarlah aku memberi keterangan kepadamu. Gadis itu tidak memperkenalkan namanya. Ia cantik, tapi sepak terjangnya kejam Kemarin ia melukai dua orang tetamu."

"Salahnya sendiri," sambung gadis itu. "Mereka mengganggu Malahan tak tahu diri Merekalah yang mencoba menggerayang. Dan gadis itu lalu menghajarnya. Hebat caranya. Dengar sekali gerak, kedua musuhnya kena di lukai Kemudian berkata: Kalau masih ingin menuntut dendam carilah aku disekitar Telaga Sarangan!"

Heran Tangga Wisnu mendengar keterangan gadis itu.

Pikirnya: "Sekar Prabasini hendakmembongkar harta karun atas petunjuk peta ayahnya.. Mestinya harus dilakukan dengan diam-diam. Tapi apa sebab ia justru menghendaki agar diikut i orang?"

Lingga Wisnu mencoba memahami, tetapi tetap tak mengerti maksudnya. Ia tahu. Sekar Prabasini jauh berpengalaman dalam masalah hidup liar dari pada dirinya. Iapun cerdik pula. Gerak-geriknya sulit diduga dan sering kali mengandung maksud yang dalam.

"Baiklah, nek Akupun akan segera pergi" akhirnya ia berkata.

Nenek itu memanggut. Ia mengerlingkan matanya ke dalam. Lingga Wisnu mengikuti pandang nenek itu dengan diam-diam. Sekarang jumlah bunga itu menjadi delapan. Tahulah dia, bahwa dirinya sudah tercatat pula.

Ia lantas berangkat. Setelah meninggalkan dusun itu, segera ia berlari-lari mengarah ke t imur. Memang, dalam perjalanan jarak jauh, menunggang kuda lebih menguntungkan tetapi kuda tak dapat diajak menerobos atau memotong perjalanan dengan melewati jurang atau hutan gerumbul yang padat. Sebaliknya, Lingga Wisnu yang memiliki kepandaian tinggi dapat dengan leluasa memotong arah perjalanan. Dengan ilmu saktinya, dapat ia melompati jurang-jurang dan mendaki bukit dengan cepat. Ia tak merasa canggung, karena sudah biasa hidup diatas gunung. Dan sebentar saja Telaga Sarangan sudah nampak didepan matanya

Ia beristirahat sejenak ditepi telaga memperhatikan pemandangan sekitarnya. Pada dewasa itu, telaga Saiangan belum seindah sekarang. Telaga itu masih tertutup rimbun belukar. Disana-sini masih terdapat gugusan-gugusan liar sehingga kesannya menyeramkan. Hutan padat memagarinya. Dan sekali-kali terdengar aum binatang buas yang mencari mangsa.

Lingga Wisnu kemudian membuat sebuah rakit Setelah selesai, ia naik di diatasnya dan mengayuhnya tak ubah sebuah perahu. Tiba-tiba ia. melihat sesuatu yang gemerlap tergantung diatas sebatang pohon. Apa itu? Bergegas ia membawa rakitnya menepi. Setelah diperhatikan ternyata sebuah kunci terbuat dari emas murni

Keruan saja Lingga Wisnu merasa heran. Pikirnya: "Kunci siapakah in i?"

Ia membolak-balikkannya kunci itu. Sama sekali tiada tanda-tandanya. Lalu memberanikan diri untuk menciumnya. Ia kaget. Itulah bahu w angian yang dikenalnya. Katanya didalam hati:

"Kunci Prabasini, Apa maksudnya? Kenapa kunci ini sengaja digantungkan diatas pohon ini? Bagaimana kalau sampai diketemukan lain orang? Atau ,.. atau ia berada dalam bahaya?"

Memperoleh pikiran   demikian,   hatinya   tergetar.

Perasaan gugup menyelimut i dirinya. Pikirnya lagi:

"Kunci Prabasini ini berada disini. Niscaya Prabasin i tak jauh dari tempat ini pula."

Segera ia memperbaiki letak pakaiannya. Tatkala hendak melangkahkan kakinya, ia melihat suatu corat- coret diatas sebuah batu.

Begini bunyinya:

Ditetaga Sarangan Diat as Gunung Lawu Dengan kunci emas Mencari harta leluh ur

"Hei! Kenapa Prabasini sengaja memancing kedatangan orang?" seru Lingga Wisnu heran didalam hatinya. "Apakah maksudnya?"

Dengan terlongong-longong ia duduk di atas batu. Ia mencoba memahami dan memecah teka-teki Sekar Prabasini, Katanya di dalam hati:

"Tempat beradanya harta karun itu masih merupakan teka-teki besar. Sekarang Prabasini menambah teka-teki baru lagi. Apa maksudnya?'

Tak usah disangsikan lagi, bahwa harta karun itu berada diatas gunung. Akan tetapi dimana letaknya? Gunung Law u termasuk gunung raksasa. Bukankah dirinya tak ubah sebatang jarum diatas permukaan laut? Harta itu sendiri, baginya tidak terlalu penting. Yang dikhawatirkan bila jatuh ditangan para penjahat atau penghianat negeri

Lingga Wisnu kemudian naik ke atas rakitnya lagi. Dalam hai ini, ia tak boleh gegabah. Pasti ada liku-likunya yang pelik. Lagi pula siapa tahu, kalau dirinya sedang diint ip orang.

Ia mengayuh perahunya, ke tengah telaga. Maksudnya agar memperoleh penglihatan yang luas. Seberang menyeberang telaga, terasa indah dan agung. Meskipun seram, akan tetapi lebih aman dan damai bila dibandingkan dengan kesibukan kota-kota besar. "Biarlah aku mengelilingi telaga ini agar lebih mengenal letak tanahnya. Di atas permukaan air, siapakah yang akan mengganggu diriku. Malahan, aku akan segera melihat orang-orang tertentu yang berkeliaran disekitar telaga." pikirnya didalam hati,.

Perlahan-lahan ia menyimpan kuncinya. Kemudian berlagak sebagai seorang yang tengah berpesiar, Dilayangkan penglihatannya dari seberang keseberang. Apabila petanghari tiba, ia mendarat dan tidur diatas pohon.

Hawa gunung luar biasa dinainnya. Untunglah tadi ia membekal penganan dari kedai si nenek. Dan sambil menggerumuti penganan, Dia memperhatikan alam sekitarnya. Berjam jam ia memperhatikan. Tahu-tahu ia tertidur. Tatkala hawa dingin membangunkannya, matahari sudah muncul dilangit timur.

Dengan sekali loncat, Lingga Wisnu mendarat diatas tanah, Bertiduran di tengah alam terbuka bagi Lingga Wisnu bukan merupakan suatu hal yang asing.. Dahulu semasa masih berada diatas Gunung Dieng, seringkali ia bertiduran diatas dahan pohon. Begitu turun diatas tanah, keadaan tubuhnya menjadi segar bugar.

Ia menunggu sampai matahari sepengalah tingginya. Setelah mandi segera ia mencari bekas jejak kaki Prabisini, Tak lama kemudian sampailah ia disebuah ketinggian.

Dengan berlari-larian, ia mendaki bukit itu. Begitu tiba di atasnya, ia heran. Di-bawah sana tergelar petak saw ah yang indah. Nampak pula taman bunga yang teratur. Harumnya semerbak memasuki hidungnya. "Milik siapa sawah dan taman bunga itu? ia menebak- nebak. "Apakah seorang pertapa?"

Ia menuruni bukit itu dan mendaki bukit lagi yang berada disebelahnya. Sambil berjalan, ia mencoba mencari kemungkinan-kemungkinannya. Setelah ubek- ubekan beberapa saat lamanya, ia melihat dua kanak- kanak sedang menggembala kerbau. Teringat kepada bocah penggembala kerbau kemarin, ia lantas bersikap hati-hati dan waspada.

Dua penggembala kerbau itupun memperhatikan dirinya. Pandang matanya keheran-heranan dan penuh curiga. Mereka saling memandang dan saling memberi isyarat mata. Lingga Wisnu kemudian menghampiri. Bertanya:

"Adik berdua! Aku datang kemari untuk berpesiar.

Apakah ada jalan untuk mendaki ke atas?"

Kedua penggembala kecil itu saling memandang.

Salah seorangnya menyahut dengan suara nyaring: "Aku tak tahu."

Mendongkol hati Lingga Wisnu mendengar dan melihat sikapnya yang acuh tak acuh. Bila dibandingkan dengan sikap nenek dan gadis kemarin, alangkah jauh. Meskipun nenek dan gadis itu bersikap rahasia, akan tetapi mereka ramah-tamah.

Tiba-tiba ia merasa heran Kedua bocah itu mendadak melompat turun dari kerbaunya masing-masing.. Kemudaan saling memaki. Setelah itu saling melempari tanah basah. Bahkan kedua kerbaunya diadu dan membiarkan merusak tanaman “Lucu kedua bocah ini," pikir Lingga Wisnu didalam hati "Mereka tadi nampak bersatu padu dan aman damai. Dengan mendadak mereka bertengkar, saling memaki dan saling melempari tanah." Ia lantas maju dua langkah hendak melerai.

Tetapi kedua bocah itu telah terlanjur berkelahi. Tidak hanya sampai disitu saja, mereka bahkan menghardik- hardik kerbaunya agar berkalahi dengan sungguh- sungguh. Keadaannya lantas menjadi kacau balau.

Celakalah Lingga Wisnu. Jalan yang sedang diambilnya terlalu sempit. Sekarang, kedua kerbau itu saling seruduk dan saling menguber. Tiba-tiba saja larinya mengarah padanya. Kedua bocah itu nampak terkejut. Kedua- duanya segera melompat keatas kerbaunya masing- masing. Mereka berteriak teriak dalam usahanya hendak menguasai binatangnya. Tetapi kerbau mereka bahkan makin menggila.

Lingga Wisnu terperanjat. Tak terasa ia memekik. Secara wajar, himpunan tenaga saktinya dikerahkan untuk menahan lajunya dua kerbau yang menyeruduk kearahnya. Mengingat kedua bocah itu, tak berani ia menggunakan sepenuh tenaga. Ia hanya mengerahkan tenaga tiga bagian saja. Walaupun demikian, kedua kerbau itu dapat ditolaknya ke kiri dan ke kanan hingga roboh membentur tebing gunung. Ia sendiri membarengi dengan berjongkok di antara kedua perutnya.

Ia selamat Tapi sekonyong-konyong ia mendengar kedua anak memekik tinggi. Jantungnya berdegupan. Pikirnya selintas: "Celaka! Apakah aku menggunakan tenaga terlalu besar sehingga melukai mereka? Kalau benar demikian, aku melukai dua bocah yang tidak berdosa."

Cepat ia berputar. Dilihatnya kedua kerbau itu lari meubras-nubras menuruni bukit. Tapi kedua anak itu, tak nampak. Apakah mereka terlempar?

"Hai!' kemana mereka?" ia heran berbareng terkejut. Tatkala ia melayangkan matanya hendak mencari dimana mereka kini berada, muncullah dua orang petani dari tikungan. Mereka lalu berseru nyaring:

"Setan! Masakan dihari terang benderang ada penjahat masuk kemari?"

Mendengar seruan mereka, Lingga Wisnu menjadi gugup. Cepat-cepat ia berteriak:

"Eh, kang! Nanti dulu. Aku bukan penjahat”.

Lingga Wisnu merasa, bahwa seruan dua orang petani itu dialamatkan kepadanya. Maka ia hendak memberi keterangan siapa dirinya.

Tetapi kedua petani itu tidak menggubris. Bentak salah seorangnya:

“Kau bukan penjahat? Kenapa kau lukai kerbau kamj dan kau culik anak-anak kami?"

Lingga Wisnu heran. Dengan terbata-bata ia menyahut:

"Aku menculik anakmu? Kapan .... mereka ... mereka

.. " Dua petani itu memotong perkataan Lingga Wisnu dengan tertawa merendahkan. Dengan nada mengejek mereka menirukan ucapan Lingga Wisnu:

"Mereka ... mereka ... mereka kenapa? Kalau bukan kau culik, apa sebab mereka lenyap?"

“Untuk apa aku menculik anakmu?" Lingga Wisnu mendongkol,.

"Siapa tahu hatinya orang? Bisa saja kau jual."

Mau tak mau, Lingga Wisnu te rtaw a geli juga. Dengan sabar ia berkata :

“Coba kau periksa dahulu kerbaumu. Luka atau t idak! Setelah itu, carilah kedua anakmu. Jangan lantas menuduh orang”

Kedua petani tiba-tiba saja menjadi marah„ Dengan paculnya masing-masinp mereka maju dan menyerang berbareng. Sudah barang tentu, Lingga Wisnu heran berbareng terkejut la heran menahadapi dua orang petani yang berw atak begitu ganas. Sebaliknya ia terkejut menyaksikan kesehatan dan tenaganya, Walaupun seorang petani biasa bekerja berat, namun tenaga mereka melebihi kekuatan petani lumrah. Karena itu tak berani Lingga Wisnu memandang ringan.

Terpaksa Lingga Wisnu mengelak sambil menyambarkan tangannya hendak merampas kedua pacul mereka. Diluar dugaan kedua petani itu melolong- lolong seperti sedang kebakaran rumah ,

"Tolong! Tolong! Ada pembunuh! Perampok !"

Lingga Wisnu mendongkol dan geli hati. Katanya kepada mereka, "Mengapa kalian menyebut aku seorang pembunuh. Jika aku benar-benar berniat hendak mengambil jiwamu, sudah semenjak tadi kalian tak bernapas ?”

Dengan sekali sambar, kedua pacul itu dapat dirampasnya kemudian dilemparkan ke atas tebing. Tepat pada saat itu datanglah delapan orang yang membaw a pacul pula. Sedang kedua petani tadi lari mengundurkan diri, mereka berdelapan menyerang dengan berbareng.

Mau tak mau hati Lingga Wisnu jadi kesal juga.

Pikirnya mendongkol;

"Akh, aku jadi berkelahi tak keruan-keruan. Kalau menang, apakah yang kumenangkan.. Kalau kalah, celaka benar .,,"

Karena delapan orang itu menyerang dari kiri kekanan, belakang depan terpaksalah ia bergerak dengan gesit. Tujuannya hanya hendak melarikan diri. Ia melompat mundur. Tiba-tiba ia menjadi heran. Kedelapan orang itu telah mengurung rapat. Kemana saja ia bergerak, salah seorang diantara mereka telah menghadangnya dengan menyabatkan paculnya.

Agaknya mereka telah berlatih semenjak lama, pikirnya. Teringatlah dia kepada cara berkelahi keluarga Dadang Mataun, Meskipun berbeda jauh, akan tetapi pada dasarnya tidaklah beda. Maka terpaksalah ia berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Tentu saja mereka biakan tandingnya Lingga Wisnu. Sebentar saja, ia telah dapat memecahkan kepungan mereka. Hanya saja, karena tidak menggunakan kekerasan, masih saja mereka dapat mengurung rapat. Lebih hebat lagi mereka t idak tahu diri. Walaupun sudah dapat dibobolkan masih saja mereka mengotot.

Lambat laun Lingga Wisnu mendongkol juga. Tengan sekali menjejakkan kakinya ia melesat sejauh sepuluh langkah. Kemudian berseru:

"Janganlah kalian memaksa aku untuk berkelahi dengan sungguh-sungguh. Bila aku menggunakan pukulanku, pastilah kalian akan menderita luka."

"Apa yang kau maksudkan dengan sungguh-sungguh itu!" bentak seorang yang rupanya menjadi pemimpinnya. "Kau anjing bangsat! Apakah kau kira kami takut?"

Mendongkol hati Lingga Wisnu. Pikirnya didalam hati. "Mereka ini bandel. Biar kukutungkan pacul mereka.

Ingin kutahu apelkah mereka takut atau tidak." Memperoleh keputusan demikian, ia meraba hulu pedangnya. Mendadak terdengarlah seseorang berseru dari ketinggian:

"Hei! Kenapa kalian berkelahi?"

Lingga Wisnu mendongak dan melihat seorang berusia tua. Rambut dan jenggotnya telah memutih, dandanannya mirip seorang petani, akan tetapi wajah- dan pandang matanya jernih. Maka tahulah Lingga Wisnu, bahwa erang itu niscaya memiliki kepandaian tinggi

"Penjahat ini melukai kerbau dan menculik anak kami." sahut seorang. "Kerbau yang mana? Kerbau kita tak kurang suatu apa. Juga anak-anak kita." ujar orang tua itu. Kemudian ia memanggil:

"Sidin! Samijo!"

Lingga Wisnu mengerlingkan matanya dan melihat dua ekor kerbau datang dengan langkah tenang. Dan dibawah perutnya, mendadak muncul dua bocah tadi yang tertaw a cekikikan.

"Eh, kurang ajar!" maki Lingga Wisnu dalam hati "Pantaslah kerbau-kerbau lari berputaran seperti terkendalikan, Alihkan, mereka berada dibawah perutnya. Kepandaiannya menunggang kerbau melebihi kepandaian se orang prajurit berkuda. Dan kedelapan petani ini datang menyerang dengan tiba-tiba. Disengaja atau tidak? Kalau begitu baiklah aku berwaspada.

Orang tua yang berada diketinggian itu lalu berkata kepada kedelapan petani yang mengerubut Lingga Wisnu:

"Kamu benar-benar petani-petani biadab yang tak tahu tata-sopan. Hampir-hampir saja kalian melukai seorang pesiar yang tak berdosa. Hayo Kenapa kalian

tidak mohon maaf?"

Kedelapan petani dan kedua penggembala kecil yang sudah mempersatukan diri itu, lalu menghadap Lingga Wisnu. Dengan berbareng mereka membungkuk hormat. Kemudian meninggalkan tempat itu dengan berdiam diri..

"Apakah tuan datang untuk berpesiar?" tanya orang tua itu.

"Benar” sahut Lingga Wisnu singkat. "Gunung Lawu adalah gunung bersejarah semenjak zaman dahulu. Takkan tammat tuan mengagumi. Juga sawah ladangnya yang indah permai, takkan dapat menghilangkan duka cita tuan. Kecuali bila tuan berada di gunung ini beberapa hari lamanya." kata orang tua itu dengan ramah.

Lingga Wisnu merasakan keramahan itu. Nampaknya dia sopan pula. Maka tanyanya dengan hormat:

"Bolehkah aku menyebut nama eyang?" (Eyang = kakek).

"Akh, tak usah tuan menyebut aku eyang atau tuan. Lebih baik kita saling mengengkau Dengan demikian perasaan kita jadi lebih bebas. Dan pergaulan kita akan terasa lebih akrab"

Lingga Wisnu menyetujui saran itu. Jaw abnya : "Benar.”

"Selama hidupku, aku berdiam di atas gunung ini."

kata orang tua itu. "Dusun tempat kediamanku disebut orang: Karang Teleng. Bila tuan hendak menginap beberapa hari di gunung ini, silahkan menginap dirumahku, ''

"Kau baik sekali, eyang. Terima kasih. Hanya saja aku khaw atir akan mengganggu saja,"

Orang tua itu tertaw a lebar. Sahutnya:

"Kenapa tuan berkata begitu? Inilah peristiw a yang sederhana saja. Tuan datang kemari untuk berpesiar. Kebetulan sekali aku mempunyai sebuah gubuk. Lalu, tuan berkenan menginap digubukku. Bila cocok, kita berdua akan jadi sahabat. Bila tidak tuan dapat pergi dengan bebas merdeka.. Apakah yang mengganggu diriku?"

Lingga Wisnu heran dan girang mendengar kata-kata orang tua itu. Tak usah disangsikan lagi, bahwa pelajar atau seorang yang berpendidikan. Maka segera ia menghampiri dan membungkuk hormat.. Ia merasa puas dapat berkenalan dengan dia. Memang, didalam hatinya, ia bermaksud mencari seseorang yang dapat menemani atau memberi petunjuk petunjuk yang berharga dalam pencarian mencari harta warisan Bondan Sejiw an Syukurlah, bila bisa memberi kabar tentang beradanya Sekar Prabasini.

Orang tua itu menunjuk kearah lereng gunung sambil berkata:

"Desa Karang Teleng terletak di lereng gunung itu. Disana tiada terdapat sesuatu yang berharga, kecuali sayur-mayur dan sekedar ikan kering. Bila tuan hendak berpesiar, silahkan dahulu. Sebentar malam hendaklah tuan singgah digubukku. Kami akan berusaha menyediakan ikan segar dan minuman hangat. Mungkin sekali kita dapat berbicara berkepanjangan. "

"Terima kasih," sahut Lingga Wisnu bergembira.

Didalam hatinya ia berkata

"Orang tua ini luar biasa. Bila sikapnya tidak mengandung maksud, pastilah dia seorang pendekar yang berkepandaian tinggi. Sekiranya tak berhasil menemukan harta warisan leluhur Sekar Prabasini, berkenalan dengan dia sudah merupakan suatu keuntungan besar bagiku. Delapan petani-petani tadipun bukan manusia lumrah. Perlu aku berkenalan dan bersahabat dengan mereka .. " Lingga Wtsnu kemudian mendaki gunung. Lagak- lagunya benar-benar seorang pesiar. Tetapi sebenarnya ia selalu memasang matanya. Setiap tempat dicarinya dengan teliti dan selalu dirasukkan kedalam perbendaharaan ingatannya.

Sampai tengah hari; Lingga Wisnu berjalan berputaran.. Kadang-kadang ia melihat seorang petani sedang mengharap sawah dan beberapa orang penebang pohon. Mereka memperhatikan dirinya dengan diam- wdiam seolah-olah sedang menyelidiki. Ia heran dan merasa syak. Namun ia tak takut. Dengan diam-diam pula, ia memperhatikan tempat dan kelilingnya, Dan memberi tanda-tanda tertentu dengan jari atau geseran kakinya.

Tatkala matahari hampir memasuki petang hari, ia duduk berjuntai diatas batu, Agar tak dicurigai, ia berpura-pura merokok. Dan batu koreknya (batu letikan) disimpannya di dalam sakunya. Semenjak hendak mendaki gunung, ia sudah mempersiapkan batu letikan. Siapa tahu akan banyak faedahnya dimalam hari.

Matahari telah tenggelam kini. Segera kita kembali ke rumah orang tua itu, hendak menepati janji. Ternyata rumah tua itu seperti rumah seorang kepala kampung- Serambi depannya lebar dan luas. Berpagar batu dan berpintu gerbang.

Begitu tiba didepsn pintu gerbang, seseorang membuka pintu itu dengan perlahan-lahan. Lalu muncullah seorang gadis yang cantik luar b iasa. Pandang matanya bersinar tajam.   Kulit   wajahnya   halus. Peraw akan tubuhnya padat semampai. "Akh!” Lingga Wisnu terkejut. "Kecantikan dan kemanisannya merupakan gabungan perw atakan Sekar Prabasini dan Suskandari. Heran ... benar-benar mengherankan. Di atas gunung yang sunyi senyap begini, berdiam seorang gadis cantik jelita tiada taranya."

Lingga Wisnu hendak membuka mulutnya atau gadis itu telah mendahului. Dia tertaw a manis sekali sambil berkata lembut:

"Apakah tuan yang datang kemari untuk berpesiar? Ayah telah membicarakan diri tuan “

Lingga Wisnu

mengucapkan terima kasih. Lalu mengikuti gadis itu masuk ke dalam, pekarangan rumah yang dilalu inya, penuh bunga aneka-warna yang semerbak

harumnya. Bila pemilik rumah tidak berpendidikan, mustahil dapat mengatur petamanan itu demikian serasi serta indah. Rasanya t idak kalah dengan taman bunga di kota besar.

Orang tua - ayah gadis itu - sudah menghadang diserambi depan dengan tertaw a ramah. Diatas meja benar-benar telah tersedia beberapa botol minuman keras dan beberapa piring ikan segar.

"Bagaimana kesan tuan tentang Telaga Sarangan kami?" "Benar hebat dan agung." jawab Lingga Wisnu dengan sungguh-sungguh. "Keindahannya, lebih menarik daripada Telaga Puteri ."

"Apakah tuan pernah melihat Telaga Puteri juga?" potong orang tua itu.

"Secara kebetulan aku lew at dan berkesempatan menikmati keindahannya." ujar Lingga Wisnu. Dan orang tua itu tertaw a lebar„ Katanya;

"Hanya sayang sekali. Seseorang jarang sekali dapat menghargai keindahan gunung dan telaganya. Mereka lebih tertarik kepada jabatan tinggi, pangkat besar dan logam yang berwarna kuning. Sayang, bukan?"

Mendengar ucapan orang tua itu, Lingga Wisnu terperanjat. Pikirnya didalam hati:

"Ia menyebut-nyebut logam kuning. Bukankah emas yang dimaksudkan? Apakah dia sudah dapat menduga maksud kedatanganku kemari? Akh, aku terlalu curiga. Walaupun harta warisan itu berada digunung ini, belum tentu dia mengetahui. Sekiranya mengetahui, masakan dia t inggal diam?"

Memperoleh pertimbangan demikian, hatinya jadi tenteram kembali. Tatkala tuan rumah mempersilahkan meneguk minuman keras, ia dapat melayani dengan baik dan wajar. Kemudian berbicara tentang kesenian, kebudayaan, wayang kulit- dan sejarah. Ternyata orang tua itu dapat berbicara banyak tentang semuanya itu. Terutama masalah seni wayang kulit dan sejarah..

Dengan demikian mereka berbicara seperti dua sahabat yang akrab. Hanya saja masing masing tidak menanyakan nama dan asal usul seolah-olah suatu pantangan besar.

Setelah meneguk beberapa gelas minuman, orang tua itu nampak menjadi pusing. Dengan tertawa mohon maaf, ia berkata:

"Tenagaku tidak sekuat zaman dahulu. Kepalaku sudah pusing. Perkenankanlah aku mendahului beristirahat. Pemandangan sekitar dusun ini sangat indah diwaktu bulan purnama. Bila tuan ingin menikmati keindahannya, silahkan Tuan tak usah bersegan-segan. Pintu depan tidak akan kami tutup. Dengan demikian, tak perlu tuan mengetuk. Tolak saja, dan pintu akan terbuka, Apakah tuan membutuhkan seorang teman? Biarlah anak kami menyertai tuan"

"Baik sekali orang in i," Pikir Lingga Wisnu, "ia seolah- olah mengetahui isi hatikuku. Memang, ingin aku menikmatr malam bulan purnama. Siapa tahu aku memperoleh petunjuk-petunjuk yang berharga,"

la lantas mengucapkan terima kasih. Dan tatkala orang tua itu mengundurkan diri, anak gadisnya telah berada disisinya Berkata manis:

"Apakah tuan untuk yang pertama kali ini datang kemari?"

"Ya." sahut Lingga Wisnu kaku.

"Ayah berkata, bahwa tuan datang dari arah Telaga Puteri. Mungkin tuan datang dari Kartasura. Tetapi entah dimana dan kapan „.. aku seperti pernah melihat wajah tuan." "Akh, kau pandai berkelakar." sahut Lingga Wisnu dengan tertaw a. "Sebenarnya aku ingin berkenalan denganmu pada tahun-tahun sebelumnya, Sayang, baru sekarang aku mengenalmu. "

Gadis itu tertaw a. Tetapi tidak menanggapi ucapan Lingga Wisnu. Katanya mengalihkan pembicaraan:

"Silahkan! Kamar untuk tuan   tidak begitu baik.

Maklum, rumah pegunungan,"

Lingga Wisnu menjenguk kamarnya, Ternyata bersih dan menyenangkan. Jendelanya menghadap sebuah kolam ikan yang ditanami berbagai tetanaman bunga. Harum bunganya menusuk lubang hidung.

Gadis itu kemudian mengundurkan diri. Katanya dengan lembut:

"Pemandangan sekitar rumah ini menggairahkan. Makin mendalami makin terasa keindahannya yang abadi. Tapi entahlah. Orang kota biasanya lebih tertarik kepada harta benda."

Lingga Wisnu terkejut. Pikirnya didalam hati:

Dia pun menyebut-nyebut harta benda seperti ayahnya. Apakah keluarga in i benar-benar sudah mengetahui maksud kedatanganku."

Kalau begitu aku harus berwaspada.

***0odwo0***

Lingga Wisnu tidak segera menidurkan diri. Teringatlah dia kepada Sekar Prabasin i Kemana perginya gadis itu? Aku tersesat kemari, akan tetapi setidak- tidaknya memperoleh kamar dan pelayanan yang baik. Sedang dia mungkin sekali menginap ditengah alam. Akh

.. ia mengeluh didalam hatinya.

Tak terasa ia melemparkan pandangnya keluar jendela. Bulan gede sedang memancarkan cahayanya. Hatinya tertarik. Segera ia mengerubungi dirinya dengan pakaian tebal, kemudian keluar halaman mereguk keindahan malam.

Ia mendengar desah gelombang Telaga Sarangan. Lalu berjalan mendaki bukit dan berdiri didekat batu. Telaga Sarajgan yang kena pantulan cahaya rembulan amat indah bila dijenguk dari atas. Kegedeannya dipantulkan kembali oleh permukaan air. Kesannya agung dan menyedapkan perasaan.

Selagi ia tertaw an keindahan telaga itu tiba-tiba ia mendengar suara tembang (nyanyian) seorang gadis yang berbunyi begini:

Samengko kang t inutur.

sembah kat ri kang sayekti katur mring Hyang Sukema,

suksmanen sehari-har i

arahen dipun kacukup

sembahing jiwa sut eng ngong.

alih bahasa:

Sekarang yang akan dikatakan

tentang sembah ketiga yang benar Kepada Hyang Su ksma

Hendaklah kau lakukan setiap hari Resapkanlah dalam perasaanmu

Kedalam a lam j iwamu.

Itulah lagu gambuh yang menganjurkan kepada tiap Insan agar bersembah kepada Yang Maha Kuasa dengan bersungguh-sungguh. Kalau diartikan lebih mendalam, mengandung peringatan pula terhadap siapapun yang terlalu condong kepada harta benda dan kesenangan lahiriah.

Dalam hal ini, Lingga Wisnu merasa diri menjadi sasarannya. Walaupun pencarian harta itu semata-mata untuk menuruti kehendak Sekar Prabasini, namun siapakah yang dapat rnembaca hatinya. Maka ia merasa perlu untuk memberi keterangan tentang dirinya. Sahutnya:

Didalam dunia ini

ada juga seorang laki-laki

Berdiri t egak dengan sebilah pedang ditangan Apakah art i permata dan kesenangan lahiriah Bila dibandingkan dengan t ugas suci

pada t iap kasatria sejati

Sekali hidup kemudian mati

Bertempur menghancurkan angkara murka.

Begitu kata-kata Lingga Wisnu bergaung hilang diantara celah-celah bukit, muncullah gadis, puteri pemilik rumah, diantara batu-batu yang mencongak dipermukaan bumi. Dengan bersenyum ia memandang Lingga Wisnu. Kemudaan melambaikan tangannya dengan perlahan,

Lingga Wisnu menghampiri Tatkala berada didepannya sekira lima langkah, berkatalah gadis itu:

"Apakah benar-benar engkau bercita cita hendak menghancurkan angkara murka?"

"Tak tahulah aku," sahut Lingga Wisnu. "Tapi kukira, bila laki-laki itu sudah mengutuhkan pilihannya, tidakkan mungkin mengundurkan diri. Kata pepatah bahasa, lebih hidup satu hari menjadi harimau dari pada satu tahun menjadi kambing sembelih."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, gadis itu berubah wajahnya. Dengan tertaw a dingin melalui dadanya, ia berkata:

"Kau datang kemari hendak mencari harta bukan?

Janganlah bermimpi yang bukan bukan..! "

Dengan sekonyong-konyong gadis itu menghunus pedang pendek yang bersinar hijau. Kemudian menikam Lingga Wisnu dengan gerakan cepat luar biasa. Sudah barang tentu Lingga Wisnu kaget bukan main. Ia mengelak cepat pula. Menegas:

"Hai! Kenapa?"

Gadis itu tidak menyahut. Ia menikam. Kali in i sangat gesit. Karena dia bersungguh sungguh, tak berani Lingga Wisnu semberono. Segera ia mengimbangi dengan gesit pula. Hanya saja ia tidak melakukan perlawanan. Setiap kali d itikam, ia melompat mundur. Karena itu ia terdesak sampai dengan tiba-tiba berada ditengah-tengah kubu batu.

"Tahan! Berilah aku kesempatan berbicara Dengarkan dahulu . "

Belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, muncullah beberapa orang dari balik batu. Diantara mereka tampak orang tua pemilik rumah. Ia bersenjata cempuling Tatkala melompat keatas batu, dengan ganas ia menyerang.

Hebat sambaran ce mpulingnya Maka tahulah Lingga Wisnu bahwa orang tua itu sudah cukup terlatih dan pandai menguasai senjatanya, Tenaganya pun cukup tinggi.

***0oodwo00***

"Eyang!" seru Lingga Wisnu. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa sikapmu mendadak berubah?"

"Hm!,; dengus orang tua itu "Apakah engkau tidak merasa sendiri? Mulanya kusangka engkau tetamu terhormat. Tak tahunya engkau seorang penjahat yang gila harta benda."

Dalam pada itu, delapan petani tadi, ikut muncul pula. Beberapa orang diantara mereka berkata hampir berbareng:

"Memang semenjak pagi tadi, sudah kami ketahui siapa engkau sebenarnya. Kau manusia jahat yang gila harta. Hayo, bunuhlah dia "

Sekarang, mereka tidak hanya bersenjata pacul belaka. Tetapi pedang, golok, cagak dan tongkat besi. Dengan serentak mereka menerjang. Lingga Wisnu mengeluh. Ia tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Maka terpaksa ia mengadakan perlawanan. Dengan sekali hunus pedang Kebo Wulung berkelebat. Dan dua senjata mereka terkutung dengan mudah.

Sudah barang tentu, para petani terperanjat sehingga mundur dengan tergesa gesa. Syukur, Lingga Wisnu tidak mengejar. Serunya :

"Tahan!"

"Apa yang harus ditahan?" teriak orang tua pemilik rumah dengan tertaw a terbahak-bahak. "Walaupun engkau memiliki pedang mustika, tetapi kami sudah mengurungmu. Percayalah, tidak akan dapat engkau berbuat banyak!"

Lingga Wisnu biasa bergaul dengan orang-orang tua yang aneh tabiatnya seperti gurunya sendiri dan Ki Ageng Gumbrek. Selamanya ia menghormati dengan hati tulus. Juga kali ini.. Meskipun diserang orang tua itu bertubi-tubi, tak mau ia membalas atau mendesaknya. Arah sasarannya kepada orang lain.

Akan tetapi gerakan mereka gesit dan aneh luar biasa. Kalau diserang ia mundur dan yang lain menggantikan. Tegasnya, mereka menyerang den mundur dengan bergantian. Merekapun tidak sudi membiarkan senjatanya kena bentrok pedang mustika Lingga Wisnu yang tajam luar biasa. Karena itu, lambat laun Lingga Wisnu mendongkol juga.

Sekarang ia memperhatikan kesepuluh lawannya, Kecuali orang tua dan gadis itu, kepandaian kedelapan petani itu t idaklah seberapa. Hanya karena mereka maju mundur dengan bergantian, tak pernah seorangpun kena dilukai,

"Coba, kuarahkan seorang saja. Ingin ku tahu, bagaimana cara mereka mempertahankan diri." pikir Lingga Wisnu didalam hati,

Memperoleh pikiran demikian, Lingga Wisnu segera ijendesak seorang petani. Petani itu berlari-larian sekeliling batu. Lalu lenyap„ Sebagai gantinya, gadis putera pemilik rumah menyerang dengan pedang pendeknya. Selagi Lingga Wisnu menghadapi gadis itu dengan ragu-ragu, ia diserang dari belakang dan samping. Cepat-cepat ia mendesak dan menyerang gadis itu dengan gesit. Mereka semua menghilang dibalik batu. Sebagai gantinya adalah orang tua pemilik rumah.

"Hai!" pikir Lingga Wisnu. "Merekapun pandai bertempur seperti keluarga Dandang Mataun."

Memperoleh ingatan itu, ia segera memperhatikan gerak-gerik mereka. Benar-benar tiada bedanya. Apakah mereka mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Dandang Mataun?"

Sekali lagi ia mencari keyakinan. Setelah yakin benar segera ia bersuit nyaring. Pedangnya berkelebat keberbagai penjuru.. Sekali bergerak, sasarannya tiga tempat. Dan mereka lantas saja menjadi gempar dan terperanjat.

Sebenarnya, bila mau Lingga Wisnu dapat merobohkan mereka dengan mudah. Akan tetapi ia tak sampai hati melukai mereka. Tujuannya kini hanya hendak menerobos keluar dari kepungan, Ujung pedangnya bergerak gerak tiada hentinya. Dan ia menyerang tiga sasaran sekaligus. Malahan pada suatu kali, ia menyerang tujuh sasaran dengan berantai. Seketika itu juga, garis pertahanan mereka kacau balau.

Lingga Wisnu sengaja mengarah kepada gadis itu. Dengan gesit ia memburu, setiap kali memunahkan serangan yang lain. Sebentar saja gadis itu. terdesak sampai dipintu luar. Ia memekik ketakutan. Dan mendengar pekiknya Lingga Wisnu menghentikan serangannya,

Itulah suatu kesalahan besar bagi Lingga Wisnu. Hal itu diketahuinya benar. Sebab ia takut melukai gadis itu, Justru pada saat itu, bumi yang diinjaknya amblong. Gadis itu membarengi dengan pekikan tinggi ..

Lingga Wisnu kaget. Ia kaget karena tubuhnya terjebur kedalam lubang. Iapun kaget dan tertegun sejenak mendengar pekikan gadis itu untuk yang kedua kalinya. Kenapa? Pada detik itu, ia membagi perhatian. Kepada bumi yang diinjak dan gadis itu. Tahu-tahu Rubuhnya telah terbanting masuk ke dalam lubang.

Sekarang barulah ia teringat untuk menolong dirinya sendiri. Tetapi telah kasep. Walaupun mempunyai kepandaian tinggi, tetapi karena gerakannya terhenti, membuat dirinya kehilangan pegangan. Tak keburu lagi, ia menolong dirinya sendiri.

Satu-satunya perbuatan yang dapat dilakukan in i,, hanyalah mencoba menghambat lajunya, Ia kemudian berjungkir balik. Tatkala kedua kakinya meraba dasar tanahnya, ternyata lembab seperti berlumpur. Tahulah ia kini, bahwa dirinya jatuh kedalam sumur yang sangat dalam. Sumur itu gelap gulita sehingga penglihatannya tak dapat melihat kedua tangannya. Teringatlah dia, bahwa di dalam sakunya tersimpan sebuah batu letikan. Maka ia menyalakannya. Dan dengan bantuan letikan batu api itu, dapatlah ia melihat sekelilingnya

Ia merobek lengan bajunya dan membakarnya. Api lantas menyala. Tetapi baunya sangat tajam serta nyaris menyesakkan napas. Selintasan, ia melihat betapa dalam dasar sumur yang diinjaknya itu. Tiada harapan untuk dapat merayap keatas. Dasar tanahnya pun tidak rata. Untunglah, didepan matanya terlihat sebuah lubang, Doanya:

"Mudah-mudahan sebuah terusan,"

Karena mempunyai penerangan istimewa, ia lantas memasuki terusan itu. Ternyata sebuah terow ongan mirip lorong dibawah tanah. Selangkah demi selangkah, ia maju akhirnya tibalah dia kepada dinding batu buntu.

Lingga Wisnu menghela napas panjang. Ia berkata perlahan:

"Hai! Tak pernah kusangka, bahwa disinilah ajalku sampai ... Semua orang memang mati. Tapi aku akan mati sangat kecewa. Mati tersekap didalam lubang sumur diatas Gunung Law u , .."

-0ooo0dw0ooo0-

18. TONGKAT MUSTIKA

TETAPI Lingga Wisnu bukan seorang pemuda yang mudah berputus asa. Semenjak kanak-kanak ia pernah mengalami penderitaan-penderitaan hebat melebihi manusia lainnya. Begitu ia berputus asa bangkitlah rasa amarahnya. Hal itu terjadi, karena ia merasa dipermainkan nasib. Menurut nasehat orang-orang tua, ia wajib berhati mulia. Sekarang ia korban dari kemuliaan hatinya sendiri.

Coba andaikata tadi ia tidak mengenal iba terhadap gadis itu, tidakkan mungkin ia sampai terperosok ke dalam sumur.

Tiba-tiba ia menghantam dinding yang menghalang didepannya. Kena hantamannya dinding itu tergetar dan nampak bergerak-gerak. Melihat hal itu sepercik harapan timbul didalam hatinya

"Apakah ini dinding buatan?" serunya didalam hati.

Oleh harapan itu segera ia bekerja. Sekarang ia tidak menggunakan tinjunya. Akan tetapi pedang Kebo Wulung yang tajam luar biasa. Ia membongkar den mengoiek- ngorek dinding itu gempur sedikit demi sedikit dan meluruk kebawah.

Sekarang ia yakin. Dinding sumur itu benar-benar dinding buatan. Tambalan dan lapisannya selalu bergerak-gerak. Maka harapan Lingga Wisnu kian menjadi besar. Segera ia mengerahkan seluruh himpunan tenaga saktinya. Lalu dilepaskan dengan dibarengi teriakan nyaring. Inilah yang pertama kalinya, in menggunakan seluruh himpunan tenaga saktinya, yang meledak bagaikan dinamit. Dinding sumur itu ambrol dan ternyata berlubang mirip terowongan.

Tanpa bersangsi lagi. Lingga Wisnu masuk merangkak. Sebentar saja sampailah ia di dalam ruang lain. Hatinya tergetar dan heran, tatkala kedua matanya menjadi silau. Ia memejamkan matanya sejenak. Kemudian menjenakkan dengan perlahan-lahan. Beberapa saat lamanya ia membuat penelitian dan penyelidikan. Diperhatikan apa yang membuat matanya menjadi silau. Setelah memperoleh penglihatan. tegas, ia gembira bukan kepalang. 

Disana terdapat sebuah terowongan. Dan cahaya itu datang dari terowongan tersebut. Bergegas ia memasuki terowongan itu yang tidak begitu panjang bila dibandingkan dengan terowongan yang telah dilalu inya. Tapi kembali lagi ia tiba pada dinding pembatas. Ia memperhatikan sebentar. Samar-samar ia melihat bentuk dinding itu seperti pintu,

Pintu itu terbuat dari batu pualam yang termashur liat luar biasa. Tajam senjata biasanya tak dapat merusaknya. Biasanya batu pualam berw arna hijau. Tapi pintu itu berw arna putih. Dengan demikian, termasuk batu pualam yang jarang terdapat didunia Melihat bentuknya yang luar biasa, maka harganya tak ternilai lagi.

Lingga Wisnu menyimpan Pedang Kebo Wulung. Hati- hati ia meraba pintu pualam itu. Halus dan licin. Ia meraba-raba sampai akhirnya diketemukannya lubang kunci. Melihat lubang kunci itu, harapannya menjadi semakin besar. Teringatlah dia kepada kunci emas. Dan dengan berdoa ia mengeluarkan kunci emas dari dalam sakunya.

Hati-hati ia memasukkannya. Ternyata tepat sekali. Dan dengan bersorak gembira di dalam hati, ia memutar. Klik! Pintu didorongnya terbuka. Dan begitu terbuka kedua matanya Benar-benar silau.. Meskipun belum melihat dengan tegas, namun hatinya sudah dapat menebak. Itulah harta karun. Harta warisan yang diketemukan pendekar Bondan Sejlw an .

Segera ia masuk dan menutup pintunya kembali- Kemudian, ia menyimpan kuncinya kembali didalam sakunya. Sekarang ia membuka matanya lebar-lebar. Akh, benar. Di depannya terdapat timbunan permata dan emas tak ubahnya sebagai bukit. Meskipun ruang itu sebencinya gelap gulita, tetapi bercahaya terang benderang oleh pantulan cahayanya. Seketika itu juga, ia tertegun. Perasaannya seperti di alam mimpi. Benarkah ia kini berada dide-pan bukit harta karun yang tak terhitung lagi jumlahnya?

Lingga Wisnu menghampiri dan mengaduk-aduknya, tiba-tlba tangannya menyentuh suatu benda panjang. Tatkala ditarik, ternyata sebatang tongkat yang terbuat dari pualam murni berlapis emas dan Bertabur berlian. Samar samar ia melihat ukiran huruf yang berbunyi:

tongkat mustika penguasa dunia. ,

Membaca huruf itu, ia tersenyum. Pengukir huruf ini terlalu rendah menilai budi manusia. Benarkah kehidupan manusia ini berada dalam pengaruh harta benda semata? Tetapi tatkala ia memutar-mutar hulunya, penutupnya terlepas. Tongkat itu ternyata berlubang seperti serubung. Ia melongoknya dan menemukan segulung lontar yang terbuat dari kulit. Entah kulit apa.

Segera ia membebernya. Ternyata sebuah peta. Ia lantas memeriksanya dengan teliti. Peta itu melukiskan tempat-tempat dan gunung gunung dengan jelas. Terdapat pula sungai sungai dan letak tanah. Dan dibawahnya terdapat petunjuk-petunjuknya. Bagaimana cara mempertahankan dan menyerang.

***dw***

Teringatlah Lingga Wisnu, bahwa itulah peta pada zaman Airlangga merebut negeri dari kekuasaan laskar Sriwijaya. Tiba-tiba ia heran sendiri, apa sebab dia dapat membaca dan memahami bahasanya. Bukankah Airlangga hidup pada abad kedua belas?

Tatkala pandang matanya sampai di sudut peta, terukirlah huruf yang berbunyi Trunajaya . Dan membaca itu, ia heran dan kaget. Pikirnya didalam bati:

"Trunajaya? Bukankah pahlawan Madura yang dapat meruntuhkan tahta raja Kartasura? Bagaimana petanya dapat berada dalam ruang ini? Sebenarnya harta benda ini warisan Trunajaya atau Airlangga?"

Ia menjadi bingung sendiri. Tiba-tiba teringatlah dia kepada ayah bundanya. Bukankah keluarganya hancur akibat perebutan tongkat mustika ini? Tak terasa ia mengucurkan air mata

"Entah sudah berapa jiw a korban untuk memperoleh peta ini. Peta yang sesungguhnya tiada gunanya lagi. Lihatlah, peta ini hanya melukiskan sebagian daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, Daya gunanya tidak begitu menarik lagi.

Ia memperhatikan sederet tulisan lagi yang belum dibacanya, Bunyinya:

Bila tongkat ini muncul, tanah Jawa akan cerah bagai kan sinarnya matahari

“Hem' Lingga Wisnu mendengus. "Peta terkutuk! Ayah terpaksa mengorbankan jiw anya dengan sia-sia, Kabarnya, tongkat mustika ini berada diatas kepundan Gunung Lawu di seberang jembatan Jala Angin, Tak tahu mendekam disini. Sekarang telah kutemukan. Untuk apa

. . ?"

Sekonyong-kcnyong teringatlah dia, bahwa disekitar Surakarta sedang berkecamuk peperangan yang menentukan antara Gusti Said dan pihak Belanda, Bila peta ini dipersembahkan kepadanya, alangkah akan banyak artinya.

Memperoleh pikiran demikian, segera ia bangkit, Maksudnya hendak kemulut sumur lagi dan berteriak- teriak minta pertolongan. Ia akan menjelaskan, bahwa harta benda telah diketemukan. Baginya yang penting hanyalah hendak menyerahkan peta itu kepada para pejuang.

"Kalau paman Songgeng Mintaraga memperoleh peta ini, Musafigiloh bukan berarti apa apa lagi„" pikirnya lagi

Tatkala tiba dipintu pualam, ia terperanjat. Ternyata pintu yang tadi ditutupnya kini terkancing rapat. Ia mencoba memasukkan kunci emasnya. Ternyata lubang kunci tidak cocok. Sekarang tahulah dia, bahwa pintu itu mempunyai dua lubang kunci. Kunci dari luar dan kunci dari dalanu Itulah suatu hal yang tak pernah terlint as dalam pikirannya„

"Aduh, celaka" ia mengeluh. Kali ini ia mengeluh hebat. Sebab pintu itu tak dapat digempurnya seperti pintu batu tadi, "Didalam ruangan memang tersedia permata, emas dan perak. Tetapi t iada sebutir beras dan seteguk air. Apakah gunanya harta- benda itu semua?

Kini ia terancam bahaya kelaparan dan dahaga. Eila perut kosong dan tenggorokan kering akan merupakan suatu siksa yang hebat luar biasa. Dalam kesedihan dan kepiluannya, ia jadi berputus asa. Katanya:

"Akh! Agaknya aku ditakdirkan mati di Gunung Lawu. Di Gunung Law u ini ayahku terdidik. Di Gunung Law u ini pula, ayah bundaku dan sekalian saudaraku mati dengan hati penasaran. Di Gunung Lawu ini, aku menderita luka parah. Sekarang akupun bakal mati di Gunung Lawu juga. Mati ditengah harta benda dan sebatang tongkat mustika ..."

Menghadapi ancaman maut, secara naluriah Lingga Wisnu lantas berteriak teriak. Harapannya, semoga suaranya terdengar dari luar goa. Sepuluh lima belas kali ia berteak... sehingga telinganya terasa pengang dan tuli akibat pentalan suaranya sendiri. Namun hasilnya sia-sia belaka.

Akhirnya ia duduk bersimpuh di depan pintu pualam itu. Katanya kepada dirinya sendiri:

"Kata orang, seseorang dapat bertahan satu minggu dengan perut kosong. Tetapi aku sudah berlatih semadi. Barangkali masih dapat aku bertahan sampai sepuluh hari. Selama sepuluh hari itu, biarlah aku berusaha melari jalan keluar. Siapa tahu ...?" Tentu saja perkataannya itu lebih condong kepada kata-kata hiburan untuk diri sendiri. Walaupun demikian, hatinya agak tenteram. Ia lantas bangkit dan berjalan perlahan lahan, menghampiri timbunan harta benda, Pada saat itu berbagai kenangan berkelebat di benaknyac Teringatlah dia kepada ayah bunda dan kelucirganya. Kepada kakek seperguruan dan paman seperguruan yang sayang kepadanya. Kepada Palupi gadis ajaib dilereng Gunung Merapi. Kepada Aruji, kakak angkatnya. Paman Ganjur, gurunya Kyahi Sambang Dalan dan Ki Ageng Gumprek. Dan yang terakhir Sekar Prabasini.

"Akh, Prabasini. Tiada harapan kita bakal dapat bertemu kembali ..." keluhnya.

Boleh dikatakan belum lama berselang ia berkenalan dengan Prabasini, Dalam kebanyakan hal, ia selalu berselisih pendapat. Dia berhati keras dan bengis. Akan tetapi kadang kala menjadi lemah lembut. Teringat akan nasibnya yang sama dengan dirinya, ia jadi tertarik. Malah merasa diri senasib sepenanggungan.

***0odwo0***

"Sekarang dia bakal hidup sebatang kara benar. Tiada ayah-bunda. Tiada saudara, Mungkin sekali ia akan berusaha mencarimu, tetapi dimanakah dia akan mencari diriku?" pikirnya lagi Justru dia berpikir demikian teringatlah dia kepada gadis puteri pemilik rumah. Sifat gadis itu lain lagi. Dia seorang yang lemah lembut, akan tetapi berani bertanggung jawab. Pikirnya lagi didalam hati: "Bila kedua sifat itu bergabung menjadi satu, aku akan mempunyai seorang gadis yang sempurna w ataknya. Apalagi bila ditambah dengan sifat-sifat Suskandari, Barangkali di dunia ini tiada bandingnya.”

Terkurung didalam goa itu, perasaan Lingga Wisnu tergoncang sehingga bersifat liar. Ia jadi mengada-ada. Sadar akan hal itu, ia mencoba mengatasi. Digerayanginya tongkat mustika yang berada ditangannya. Maka tiba-tiba ia menyentuh sebongkok lembaran lontar lagi. Kali ini sudah tersulam rapi, sehingga berbentuk sebuah kitab.

"Hai, Kitab apakah ini?" ia tertarik

Ia hendak membalik-balik lembaran lemrannya„ Tiba- tiba ia tertarik kepada setumpuk kertas minyak buatan Tiongkok. Setelah dibaca ternyata meriw ayatkan perjalanan dan perjuangan Trunajaya merebut kekuasaan Belanda. Tentu saja, ia tak merasa berkepentingan. Sebab isinya hanya elan-elan perjuangan bangsa dan petunjuk-petunjuk caranya melawan kesatuan Belanda.

Sekarang ia menekuni kitab lontar itu. Judulnya: Rahasia Ilmu Manunggal , Ia membalik lembarannya yang pertama. Kemudian membacanya. Beginilah bunyi tulisan itu:

"Hidup ini bergerak. Rasa ini tent eram. Angan- angan it u kebijaksanaan. Budi seumpama  j iwa* Dan pakerti merupakan saluran."

"Apakah artinya ini?" ia berpikir. Ia seolah-olah pernah menyentuh pengertian demikian. Maka ia membaca terus. Lambat laun ia tertarik. Setelah tammat ia menarik napas dalam. Berkata kepada diri sendiri:

"Akh, barulah aku kini mengenal diriku. Dibandingkan dengan penulis kitab ini, diriku tak lebih dari pada cahaya kunang kunang,

Ia mencoba mencari nama penulisnya. Hanya. terdapat nama sandi yang berbunyi: Sabda Palon . dibawahnya terdapat keterangan: Sabda itu wewengan. Palon itu palu atau kepastian yang tak dapat ditaw ar- taw ar. Barang siapa bisa menyelami kitab ini. akan memperoleh keyakinan yang tak tergoyahkan lagi.

Tertarik oleh bunyi elan itu, ia mengulangi membaca lagi. Sedikit demi sedikit ia mencoba mendalami dan memahami. Ternyata isi nya melingkupi seluruh ilmu jasmani dan ilmu sakti. Keruan saja ia girang bukan kepalang. Serunya didalam hati:

"Bila aku memahami isi kitab ini, maka aku akan mengerti dan mengetahui seluruh int i ilmu-ilmu sakti yang terdapat didunia ini “

Sekarang, samar samar ia mulai mengerti apa sebab tokoh-tokoh sakti memperebutkan tongkat mustika in i. Ternyata isinya luar biasa dahsyat dan luas. Pantaslah bila disebut Kitab Ilmu Manunggal. Sebab semua sarwa sakti yang terdapat didunia ini tercakup didalamnya.

Tetapi tiba-tiba teringatlah dia, bahwa dirinya kini terkurung didalam sebuah goa yang dindingnya tak dapat tertembus oleh senjata tajam macam apapun juga. Semangatnya jadi runtuh. Namun Lingga Wisnu seperti sudah terlatih. Semasa kanak-kanak ia senantiasa terancam bahaya maut. Didalam rasa putus harapan, masih bisa ia tertaw a. Maka kini pun begitu juga. Walaupun tiada gambaran dan pegangan bagaimana caranya dapat keluar dari kurungan goa. perasaannya menyuruhnya agar membaca dan menekuni kitab tertersebut. Katanya kepada dirinya sendiri:

"Dahulu aku hidup dengan tak setahuku. Masakan aku perlu memikirkan cara matiku?"

Ibarat pelita yang hendak padam karena kehabisan minyak, tiba-tiba ia memperoleh percikan minyak tanah. Seketika itu juga, dia jadi acuh tak acuh terhadap dirinya sendiri seperti dahulu semasa kanak-kanak. Ia lantas membaca dan membaca.

Mula-mula rasa lapar dan

dahaga mengganggu dirinya Lambat-laun perasaan itu menipis dan menipis. Tahu-tahu ia tertidur nyenyak sekali. Tatkala terbangun, tak tahulah sudah berapa jam tertidur demikian. Bukit permata yang didepannya tetap menyala terang-benderang seperti t adi.

"Sekarang aku akan mencoba berlatih mengikuti petunjuk-petunjuk kitab ini," katanya kepada diri sendiri.

Ia lantas membaca bagian pakarti yang mengutamakan tenaga himpunan. Setelah menarik napas panjang, ia menghampiri dinding goa. Kemudian tenaga himpunan itu dilepaskan. Di luar dugaan, dinding batu itu rontok beberapa bongkah. Menyaksikan hal itu, ia jadi gembira. "Tenagaku bertambah. Tapi aku masih merasakan suatu kekurangan. Apakah aku harus bergerak dengan hati tenteram?" pikirnya.

Memperoleh pikiran demikian, segera ia melakukan. Dipusatkan seluruh tenaganya. Kemudian dilepaskan dengan hati tenang. Dan hatsilnya sungguh-sungguh diluar dugaan, Dinding yang terbuat dari batu pualam itu rompal sebagian.

Puas hati Lingga Wisnuc Ia yakin, bila rahasia pengendapan itu sudah dapat dikuasai pasti akan dapat merobohkan batu pualam itu. Akan tetapi hebatnya adalah soal rasa dahaga. dengan mengeluarkan tenaga himpunan, keringatnya terhisap keluar. Ia jadi merasa dahaga sehingga tenggorokannya terasa kering, Menahan rasa lapar, rasanya ia masih sanggup untuk satu atau dua hari lagi-Tetapi menahan rasa dahaga kesulitannya sekian kali lipat..

Memang, menurut pengalaman seseorang, dapat menahan lapar sampai seminggu lamanya. Kemudian baru mati. Sebaliknya orang tak dapat menahan rasa dahaga lebih dari tiga hari. Ia akan mati dengan tiba- tiba. Sekarang ia mencoba menahan rasa lapar dan dahaga, Hebatnya tak terkatakan. Untuk sekedar melupakan, ia kembali menekuni kitab lontar itu. Kemudian tertidur dengan tak setahunya. Tatkala terbangun, kembali ia menghafal. Dan Dan pada saat itu ia dapat, membaca bunyi kitab lontar itu diluar kepala Pikirnya didalam hati:

“Ilmu sakti warisan pendekar Bondan Sejiw an sudah hebat luar biasa. Tetapi bila dibandingkan dengan isi kitab ini, rasanya hanya, sebesar biji asam. Sayang ... walaupun hebat luar biasa, tak dapat aku memperlihatkannya kepada para ahli.

Selagi berpikir demikian, tiba-tiba telinganya yang kini menjadi tajam luar biasa, menangkap suatu bunyi. Terlalu perlahan bunyi itu. Setelah diperhatikan, rasanya seperti seseorang sedang menggali tanah, diluar dinding.

"Siapa diluar?" ia berseru gembira. Ia yakin, orang itu pasti mendengar suaranya, mengingat dirinyapun dapat menangkap suara dari luar. Hal itu berkat dinding pualam itu yang telah rompal sebagian. Tetapi ia lapa, bahwa pendengaran orang itu kini berbeda jauh dengan pendengarannya, meskipun telinga seorang pendekar

"Siapa?" ia mengulang seruannya,

Tetap saja tiada jawaban. Sekarang ia yakin benar, bahwa orang itu sedang membongkar dinding bagian luar. Dengan bernapsu ia mengerahkan tenaganya dan menggempur pintu. Kali in i, pintu batu pualam sama sekali tak bergeming. Bahkan tangannya menjadi sakit dan nyeri,

"Akh, ya ..." ia menyadari kesalahannya. "Aku terlalu bernapsu sehingga hanya bersumber kepada kekuatan jasmaniah. Sebaliknya kalau aku berlaku tenang, sumbernya berada pada HIDUP yang tak terbatas.

Ia hendak mengulangi, akan tetapi takut kehilangan tenaga terlalu banyak. Maka ia mencoba berseru untuk yang ketiga kalinya. Tetapi tetap saja hening tak terjawab.

"Akh," ia mengeluh "Rupanya hanya seorang. apa artinya tenaga seorang melawan batu pualam in i? Kutaksir paling cepat sepuluh hari lagi baru sampai dilap is dinding. Dan pada saat itu, aku sudah .,,"

Tengah ia melamun, t iba-tiba dilihatnya sepercik sinar masuk ke dalam. Sinar itu datang dari baw ah pintu batu pualam. Tak usah dijelaskan lagi! bahwa orang itu sudah berhasil membongkar tanah berbatu sebesar jari. Bagaimanapun juga, hati Lingga Wisnu lega juga.

"Apakah maksudnya? Apakah dia hanya bermaksud membuat lobang untuk saluran makanan dari luar? Ya, kukira begitu. Sebab, tenaga manusia saja tidakkan mampu membongkar pintu pualam ini. Sekiranya demikian, sudah semenjak dahulu goa ini kena bongkar orang dari luar. Tapi mengapa lubang, terlalu kecil? Untuk terowongan segenggam nasipun sudah sulit, apalagi sepiring nasi atau semangkok air .."

Ia memasang kupingnya. Usaha membongkar tanah berbatu dari luar berhenti. Sebagai gantinya, ia mendengar sebuah benda keras didorong dari luar melalu i lubang sebesar jari tangan itu. Ia lantas menunggu.

Tak lama kemudian percikan sinar dari luar itu padam. Tetapi suara dorongan kian terdengar tajam. Tiba-tiba klint ing!

Ia melihat sebuah benda berw arna kuning. "Hai, kunci!" serunya didalam hati,.

Teringatlah dia kepada kunci emasnya. Segera ia memungutnya dan membandingkan. Bentuk dan panjangnya sama. Karena Berotak cerdas, lantas saja ia dapat menebak. Pikirnya didalam hati; "Entah siapa yang memiliki kunci itu. Barangkali inilah kunci yang bertentangan,"

Segera ia memasukkan kelubang kunci. Benai-benar tepat. Tak sabar lagi ia memutar dan daun pintu batu pualam itu terbuka. Dan didepannya berdiri seorang gadis yang membuat penglihatannya hampir tak percaya,

"Sekar Prabasini!" serunya bergemetaran

Gadis itu tidak segera menjawab. Kedua matanya nampak berlinang Waktu itu matahari hampir condong kebarat. Sinarnya lembut di atas pegunungan. Air mata Sekar Prabasini yang kena cahayanya jadi berkemilauan.

Dia membawa pedang ditangan kirinya. Sedang tangan kanannya membaw a sebatang linggis, Pada ujung pedangnya masih nampak sisa lumpur. Tetapi yang paling indah bagi penglihatan Lingga Wisnu adalah senyumnya yang membayangkan kebahagiaan hati.

'Sekar Prabasini!" kata Lingga Wisnu mengulangi seruannya.. "Siapakah yang membaw amu kemari? Perkenankan aku mengucapkan terima kasih kepadamu"

"Berterima kasih kepadaku?" sahut Sekar Prabasini. "Hampir saja aku membunuhmu. Kenapa engkau berterima kasih?"

Setelah berkata demikian, ia memasuki ruang goa dengan langkah perlahan lahan. Dengan pandang mata berkilat-kilat ia melayangkan matanya. Tatkala melihat timbunan permata yang cemerlang, ia berkata perlahan:

"Aku bersedih hati, tatkala kau meninggalkan aku dengan begitu saja. Hatimu alangkah kejam! Kemudian aku membongkar petunjuk petunjuk sandi di halaman rumah Srimoyo. Kuketemukan dua buah kunci emas, dan keterangannya yang menyebutkan kunci luar dan kunci dalam. Maka sudahlah dapat aku mengira ngira bagaimana tempat penyimpanan harta ini

"Kenapa engkau memancing anak buah pendekar Srimoyo agar mengikuti perjalananmu?” Lingga Wisnu menyela.'

"Karena aku khawatir, engkau akan kehilangan jejakku," jaw ab Sekar Prabasini cepat. Aku Pe rcaya., bila mereka membicarakan dirku, pasti engkau tidak akan tinggal diam mereka akan mengikuti jejakku. Sebaliknya engkau akan mengunt itnya. Mereka berjumlah seribu dua ribu orang. Tetapi apa artinya bagimu? Bila engkau berkemauan menyapu mereka, dengan mudah pasti berhasil"

'"Akh!" Lingga Wisnu terharu. Pikirnya didalam hati: "Sebenarnya yang penting, ia berusaha merenggut

diriku dari Suskandari, Apabila ia dalam bahaya, masakan aku akan tinggal diam. Bukankah aku meninggalkannya karena hendak, menolong Suskandari yang berada dalam bahaya pula?"

"Keluarga yang memiliki rumah itu sebenarnya salah seorang kakekku." kata Sekar Prabasini meneruskan perkataannya. "Dialah satu-satunya keluarga yang bermusuhan dengan keluarga Dandang-Mataun. Hal itu baru kuketahui. setelah bertemu dan berbicara.”

"Akh, pantas! Mereka mempunyai ilmu tata berkelahi mirip keluarga Dandang Mataun'" potong Lingga Wisnu. "Siapakah namanya?" "Eyang Argajati," sahut Sekar Prabasini. Kemudian meneruskan dengan tersenyum:

"Dan puteri satu-satunya itu, bernama Saraswati.

Cantik, bukan?"

Panas wajah Lingga Wisnu mendengar ucapan Sekar Prabasini. Gadis itu seperti dapat menebak hatinya. Teringat akan lamunannya sebentar tadi, ia merasa malu sendiri.

"Oleh persetujuannya, aku sengaja meletakkan kunci bagian luar ditepi telaga. Sekar Prabasini meneruskan perkataannya lagi: "Bila sampai diketemukan orang, diapun tidak akan dapat keluar lagi. Bukankah dia akan mati terkunci didalam?"

"Tetapi bagaimana kalau dia t idak menutup pintu?" "Hal itu sudah kita pikirkan masak-masak. Kita semua

sudah bersiaga di luar goa w"

"Lalu bagaimana kau tahu, bahwa akulah yang membaw a kunci itu?!"

"Sebenarnya mula-mula tidak kuketahui. Aku hanya menyebut namamu dan sama sekali tidak menggambarkan perawakan tubuhmu. Nah, hampir saja aku membuatmu susah." sahut Sekar Prabasini dengan nada menyesal.

Lingga Wisnu menghela napas. Berkata: "Waktu itu engkau berada dimana?"

"Aku berada diluar goa sebelah in i dan sedang berusaha membongkar. Sebab jalan masuk belum kuketahui. Tatkala engkau terperosok didalam lubang sumur yang seolah olah jebakan itu, barulah terbuka pikiranku."

"Pantas. Saraswati berteriak terkejut. Kiranya dia pun tidak mengetahui." pikir Lingga Wisnu didalam hati.

Sekarang mereka berdua berada di dalam goa harta karun. Masing-masing seperti telah memperoleh bagiannya. Sekar Prabasini puas karena dapat mencari harta peninggalan ayahnya Sedangkan Lingga Wisnu puas dengan Tongkat Mustika yang diketemukan,

"Sekarang akan kita mengapakan harta sebanyak ini?" Lingga Wisnu mencoba memahami jalan pikiran Sekar Prabasini..

Gadis itu tersenyum manis. Jaw abnya:

"Benarlah kata sepercik perkataan ayah didalam surat wasiatnya. Bila harta karun, in i kita ketemukan, kita akan menjadi manusia baru. Semua orang akan tunduk. Betapa tidak? Harta in i seumpama dapat membeli bumi tanah Jaw a. Dan engkau memiliki kepandaian tinggi. Siapakah yang dapat melawan?"

Lingga Wisnu tersenyum. Katanya:

"Adik! Ilmu kepandaian ayahmu memang hebat. Tetapi disini aku menemukan sebuah kitab lontar yang rremuat seluruh rahasia int i ilmu sakti. Memang ,,. setelah kubaca, kitab itu, rasanya ..."

Lingga Wisnu tidak perlu menyelesaikan ucapannya. Sekar Prabasini sudah dapat menebaknya. Pastilah kitab itu merupakan mustika yang tak ternilai harganya, sebab kitab itu akan merupakan pedoman hidup. Nilainya jauh letih tinggi dari pada bukit harta itu sendiri Demikianlah, setelah puas memeriksa harta peninggalan itu, mereka menutup pintu goa kembali. Masing-masing membaw a sebuah kunci sebagai hak milik. Meskipun tidak terucapkan, masing-masing sadar bahwa salah seorang tidak akan dapat memasuki goa itu, Sebab kunci yang satu merupakan alat pembuka dari luar. Sedang yang kedua kunci pembuka dari dalam. Seumpama yang seorang dapat membuka pintu goa, ia akan terhalang sebuah pintu yang melindungi timbunan harta itu. Sebab sekatan pintu itu hanya dapat dibuka dengan kunci kedua.

"Mari kuperkenalkan dengan keluarga eyang Argajati." kata Sekar Prabasini. "Kau pun dapat nanti berbicara sepuas puasmu dengan Saraswati. Kaupun dapat mengaw ininya malahan sekaligus Suskandari pula ..."

"Hai! Mengapa demikian?" seru Lingga Wisnu tak mengerti.

"Bukankah engkau kini sudah menjadi manusia terkaya didunia? Jangan lagi hanya beristerikan dua atau tiga orang. Seratus orangpun dapat. Akupun tak usah khaw atir tidak akan mendapat bagian cinta kasih. Sebab kau kini telah menemukan rahasia ilmu tersakti didunia. Pastilah tenagamu melebihi tenaga seribu kuda."

Lingga Wisnu menggelitik pinggang Sekar Prabasini.

Dan Prabasin i lari kegelisahan.

***o0dw 0o***

DENGAN BERGANDENGAN tangan, mereka mendaki ketinggian. T atkala tiba diatas tebing mereka mendengar suara berisik. Itulah suara beradunya beberapa senjata tajam. Karena itu mereka terkejut. Kemudian lari kencang seakan-akan sedang berlomba. Dan benar saja. Dari kejauhan nampaklah delapan orang sedang terkurung rapat diantara dua tebing ketinggian Tatkala tiba diatas tebing mereka mendapatkan dua tebing ketinggian yang pernah menyulitkan kedudukan Lingga Wisnu tatkala kena serbu kerbau.

Letak tebing itu seperti pagar alam yang mengurung satu petak seluas dua ratus persegi. Sebenarnya masih cukup leluasa untuk gerakan delapan orang. Akan tetapi karena luas petaknya tersekat onggok onggok batu, bidang geraknya terasa sempit. Gerakan jasmani seseorang seakan-akan mudah ditentukan oleh letak tanah.

Kakek Argajati. pemilik rumah padepokan berdiri tegak dibelakang sebuah batu raksasa. Dia membekal sepucuk senjata yang luar biasa bentuknya. Sebatang tongkat panjang yang dilengkapi dengan penggaet. Sedang pangkalnya berbentuk bula. Bulatan itu terbuat dari baja putih. Apabila tongkat digerakkan, cahayanya berkejap- kejap kena pantulan cahaya matahari.

Ia menghadapi seorang musuh yang bergerak sangat gesit. Musuh itu bersenjata pedang. Gerak-geriknya luar biasa cepat. Setiap gerakan pedangnya membaca suara berdengung, hingga membuat kakek Argajati berkecil hati juga. Dia lebih perkasa dari pada laki-laki lainnya; Pedangnya terus menerus menyambar-nyambar tiada hentinya.

Sekar Prabasini berhenti berlari. Dengan tegak ia memperhatikan mereka dengan seksama. Ia melihat kakek Argajati terkuiung musuh, akan tetapi nyaris pertahanannya masih kuat, ingin membantu kakek itu, karena dialah satu-satunya leluhur yang berpihak pada ibunya. Bila sampai tewas, ia akan kehilangan semuanya. Oleh pertimbangannya itu, dengan serentak ia menghunus pedangnya. Tapi waktu hendak melompat memasuki gelanggang ia melihat Lingga Wisnu berdiri terpaku dengan pandang terlongcng-longong,

"Hei! Kenapa?" tegornya. "Kau tadi yang bersemangat memburu kemari. Sekarang kau melihat kakekku dalam bahaya, kenapa justeru tertegun? Sebenarnya kau mau membantu atau tidak?"

"LihatlahI" Lingga Wisnu mengeluh."Siapa mereka!"

Sekar Prabasini melemparkan pandang ke arah telunjuk Lingga Wisnu. Hatinya tercekat melihat siapa mereka berdua. Ternyata mereka Sugiri dan Sukesi, kedua kakak seperguruan Lingga Wisnu.

"Aku sudah berjanji hendak datang padanya. Tapi karena terlibat persoalan ini, tak sempat lagi aku mengingat-ingat perjanjian itu, Sekarang mereka datang kemari. Bukankah mereka hendak melabrak diriku?" ujar Lingga Wisnu berkhaw atir.

"Tidak. Mereka datang kemari semata-mata karena kemaruk harta karun ini," bantah Sekar Prabasini.

"Kedua kakakku itu bukan manusia rendah," potong Lingga Wisnu tersinggung,

"Siapa bilang mereka manusia rendah?" kata Sekar Prabasini tak sudi mengalah. "Tapi ingatlah kepada Genggong Basuki, Ayu Sarini dan lainnya. Bukankah mereka biasa berbuat demikian? Bagi mereka, harta benda adalah tujuan utamanya.

Lingga Wisnu terdiam. Dalam hati ia mengakui kemungkinan itu. Bukankah dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan perundingan antara pemuda itu dengan Musafigiloh? Teringat hal itu, hatinya bergeridik.

"Saudara seperguruanmu itu bertabiat mau menang sendiri. Cara berpikirnya pendek dan cupat. Kalau Genggong Basuki bisa bekerja sama dengan Musafigiloh, kenapa dia tak bisa mengambil-ambil hati kedua gurunya itu?' kata Sekar Prabasini, .

"Benar," sahut Lingga Wisnu setengah menggerendeng. Walaupun demikian belum juga ia bergerak. Masih ia berbimbang bimbang. Pikirnya didalam hati; "Mereka berkesan tak baik terhadapku sehingga mengesankan salah paham. Bila aku berpihak kepada paman Argajati, bukankah rasa permusuhan ini kian menjadi besar?

Tepat pada saat itu, ia melihat berkelebatnya pedang pendekar Srimoyo menikam seorang tua. dialah perempuan penjual kedai yang dahulu berpura-pura tuli, tubuhnya lemah dan kakinya terantuk-antuk bila sedang berjalan. Akan. tetapi gerak-geriknya kini bagaikan langit dan bumi perbedaannya. Dengan gesit, ia mengadakan perlawanan. Dia bersenjata tongkat pula. Tapi baru dua gebrakan, Sugiri datang menolong. Hampir saja nyonya itu terpapas kepalanya. Syukur, dia masih berkesempatan berlindung dibalik batu besar. Dan menyaksikan hal itu, hati Lingga Wisnu tercekat.

"Bukankah penunggu warung yang baik hati terhadapku?" serunya tertahan. "Benar, Dialah isteri kakek Argajati, Dan yang bergerak disampingnya itu, puterinya kedua. Namanya Rara Witri," sahut Sekar Prabasini,

Ya Nama Rara Witri masih teringat segar dalam benaknya, seorang gadis sederhana yang menyulam kembang, apabila sudah melayani teh dan penganan terhadap tetamunya,

"Sebenarnya ilmu kepandaiannya tidak rendah. Hanya saja, ia kini menghadapi pendekar-pendekar yang sudah mempunyai nama. Tentu saja, dia jadi kerepotan."

"Kalau kau senang padanya, kenapa t idak cepat-cepat menolong?" tegor Sekar Prabasini tak sabar.

Gadis itu melihat Rara Witri terdesak. Dengan mati- matian dia bertahan sedapat dapatnya. Dia timbul dan hilang dari balik batu seakan-akan sedang bermain kucing kucingan. Melihat ancaman bahaya. Sekar Prabasini tidak memperdulikan Lingga Wisnu lagi, Serentak ia melompat memasuki gelanggang dan merabu seorang laki-laki yang mendesak Rara Witri.

Pada waktu itu Lingga Wisnu sudah memperoleh ketetapan hati. Ia berdoa semoga dengan perkelahian ini kedua kakak seperguruannya dapat disadarkan. Maka dengan menghunus pedangnya, dia berteriak nyaring:

"Hai! Kiranya tuan-tuan yang pernah kukenal”

Setelah berteriak demikian, ia melesat dan memukul mundur penyerang Rara Witri. Berseru dengari gembira:

"Adik! Kau jagalah keblat barat daya. Sekar Prabasini akan berada ditenggara. Dan adik Saraswati akan menjaga keblat timur laut. Jangan biarkan mereka lolos!" Dengan menjejakkan kakinya, ia melesat kesana kemari. Enam pendekar yang pernah di kenalnya dalam pesta perjamuan, dibuatnya bingung. Betapa tidak? Karena tubuhnya mendadak saja berubah seumpama sesosok bayangan yang dapat bergerak kesana kemari dengan leluasa. Sebentar ia membantu kakek Argajati,- Sebentar pula menolong nyonya tua. Kemudian mengulurkan tangan terhadap kerepotan Saraswati dan Rara Witri, Setelah merabu segerombolan musuh yang membuat repot barisan petani yang sebenarnya belum pandai berkelahi,

***0odwo0***

Sukesi dan Sugiri mendongkol. Lagi-lagi bocah itu! Sebenarnya tiada niatnya datang kepinggang Law u itu. Mereka tiba di tempat perjanjian menjelang petanghari menunggu Lingga Wisnu. Akan tetapi Lingga Wisnu tidak datang. Sebagai gantinya, Genggong Basuki yang datang, Dengan memutar balikkan kenyataan, mereka dibujuk untuk mengejar Lingga Wisnu kepinggang Gunung Law u sambil mencari obat sakti dikabarkan, bahwa disekitar telaga Sarangan seringkali terdapat akar akar obat y»ng luar biasa mustajab. Kyahi Basaman yang sakti menggunakan waktu senggangnya menjelajah wilayah itu. Karena disibukkan perkara anak dan Lingga Wisnu, Sukesi segera menerima ajakan Genggong Basuki, Dan demikian, ia tiba di tempat itu dengan suaminya Srimoyo serta pendekar-pendekar lainnya.

Sedang Genggong Basuki yang menggengam maksud lain akan segera menyusul. Srimoyo mendongkol terhadap nyonya tua penunggu kedai. Dengan menudingkan jari telunjuknya, ia berteriak kepada Taw on Kemit:

"Hai! Bukankah 'Dia sipenunggu kedai? Dimanakah anak perempuannya yang menyulam bunga? Benar dia, kan?"

“Benar," sahut Tawon Kemit. "Tatkala kita lew at, dialah yang menyuruh anaknya perempuan menyulam bunga yang kesepuluh. Dia mencoba pula memperoleh keterangan tentang Lingga Wisnu. Agaknya dia kenal pemuda itu. Kalau begitu, dialah kawan anak jadah itu!"

Lingga Wisnu tahu, bahwa nyonya rumah itu mengenal namanya berkat kisikan Sekar Prabasini. Karena itu tak mengherankan, ia mencoba memperoleh keterangan diantara pengunjung kedainya.

"Dia menyuruh menyulam bunga. Tapi sebenarnya sedang mencat at kepala-kepala kita. Lihat', tuding Srimoyo dengan gemetar.

Taw on Kemit menebarkan penglihatan. Di atas tiap batu yang nampak berserakan itu, nampak sebuah kepala seolah-olah muncul di baliknya. Setelah diperhatikan, kepala kepala itu tidak bergerak. Dan hatinya memukul tatkala mengenal wajah-wajahnya, Bukankah itu kepala-kepala mereka yang pernah datang di pesta pertemuan?

"Bangsat!" teriak Tawon Kemit dengan dada serasa hendak meledak.

Delapan teman-temannya yang mendengar teriakan Taw on Kemit segera mengerti peristiw a yang sudah terjadi delapan kawannya yang mendahului perjalanan, ternyata mengalami nasib buruk. Kepalanya kena pancung dan kini diletakkan diatas batu-batu kubu pertahanan .

Sekarang hawa amarah mereka, ditumpukkan kepada nyonya tua itu. Dengan serentak mereka menyerbu. Akan tetapi kakek Argajati tentu saja tidak membiarkan isterinya kena ancaman.. Dengan melambaikan tangannya, kedua anak serta petani-petani bergerak menghalangi. Dan terjadilah pertempuran seru tak kenal ampun lagi

Hebat cara berkelahinya kakek Argajati. Kumis dan jenggotnya yang sudah putih berkibaran kena angin. Tangannya memutar senjatanya yang berbentuk aneh. Sebentar ia melabrak kesana dan sebentar lagi kemari» Ia dibantu oleh barisan petani yang membaw a pacul dan linggis sebagai senjata. Dan apabila

kena desak, petani-petani itu cepat cepat bersembunyi

dibalik kubu-kubu batu.

Sukesi yang berdarah panas, penasaran menghadapi cara pertahanan yang licik itu. Dengan penuh dendam ia berseru:

"Kalian bekuklah perempuan itu dahulu. Janganlah kalian kena dikacaukan oleh jumlah lawan yang banyak.'

Betapapun juga, Sukesi termasuk seorang pendekar yang berpengalaman dan berkepandaian tinggi. Pengliatannya tajam dan meyakinkan. Ia bahkan mendahului menyerang Argajati untuk memecah kekuatan. Pedangnya berkelebat menangkis cempuling Kemudian hendak membalas menikam. Akan tetapi baru satu gebrakan saja, kakek itu telah lari bersembunyi dibalik batu. Sebagai gantinya, isterinya menusuk dari belakang.

Segera ia memutar dan membabatkan pedangnya. Lagi-lagi ia kecewa. Setelah ia menyerang, nyonya tua itu lari bersembunyi di balik batu yang berada disebelahnya.

.Sedang demikian, ia mendengar angin berdesir dari arah samping. Ia berbalik dan tiba-tiba saja sebatang pedang berkelebat didepan matanya. Cepat ia mengendapkan diri sambil menangkis.

"Bagus!" terdengar suara pujian.

Itulah pujian seorang gadis yang gagal menyerang dirinya,

"Siapa kau?" bentaknya.

"Aku Saraswati. Kau sendiri siapa?"

"Aku Sukesi. Nah, terimalah pembalasanku!" "Hm. Masakah begitu mudah?" ejek Saraswati .

Kedua pendekar wanita itu lantas saja bertempur dengan serunya. Akan tetapi Sukesi seorang ahli pedang murid Kyahi Sambang Dalan, Saraswati bukan lawannya yang setimpal. Dalam dua gebrakan saja, pedang Saraswati hampir saja terlepas dari genggamannya.

Syukur, waktu itu nyonya tua muncul lagi dan membantu anaknya. Dengan demikian Sukesi dikerubut dua orang. Namun kepandaiannya masih jauh dari cukup untuk menghadapi mereka berdua. Justeru dalam keadaan demikian, Sugiri datang membantu. Sudah barang tentu, nyonya tua dan Saraswati hampir tak dapat bergerak lagi.

"Jangan takut!" terdengar seru seorang, Dialah Sekar Prabasini yang masuk ke dalam arena pertarungan dengan pedangnya.

Sugiri terperanjat. Namun dia adalah guru Genggong Basuki. Walaupun sedang menggendong anaknya, dapat ia bergerak dengar, leluasa Dengan tongkatnya, ia menangkis. Dan kena tangkisannya, pergelangan tangan Sekar Prabasini tergetar.

"Hati-hati!" ia memperingatkan Argajati dan Rara Witri yang datang membantu.

Sekarang, pertarungan mati-matian terjadi pada satu tempat. Anak-anak buah Argajati berjumlah jauh lebih banyak. Akan tetapi mereka kena dikurung Sukesi berdelapan.

Maklumlah, pengikut Sukesi dan Sugiri, masih terdapat Taw on Kemit, Srimoyo, Kajat Pace dan Kartala, Sedangkan yang dua adalah pembantu Srimoyo yang terpercaya, Walaupun kepandaiannya agak lemah, namun jauh diatas ke pandaian para petani anakbuah Argajati.

Sukesi yang cerdas,   melihat   kekacauan   mereka.

Segera ia mengerti apa sebabnya. Teriaknya

"Perhatikan letak batu-batu itu. Rupanya batu-batu yang mereka sengaja atur demikian rupa sehingga menjadi kubu-kubu pertahanan. Bila terdesak mereka akan segera bersembunyi dibaliknya. Mungkin sekali ada terowongan penghubungnya. Karena itu, jangan beri kesempatan kepada mereka untuk dapat melarikan diri Kita berjumlah delapan. Rasanya cukup untuk mengurung mereka seorang demi seorang."

Petunjuk Sukesi benar-benar tepat. Pengikutnya segera mentaati. Masing-masing men cari lawan. Karena itu, kakek Argajati dan semua anak buahnya tak dapat berkutik lagi atau berusaha saling membantu seperti tadi.

Syukur pada saat itu, datanglah Lingga Wisnu. Dengan pedang Kebo Wulung yang tajam luar biasa, pemuda itu merabu mereka sekaligus. Untunglah, dia tak bermaksud melakukan pembunuhan. Bila mempunyai niat demikian, mereka semua bukan lawannya.

Sukesi dan Sugiri yang merasa dipermainkan Lingga Wiliiu dengar serentak maju berbareng Sebaliknya Lingga Wisnu tak sudi melayani kedua saudara seperguruannya itu dengan sungguh-sungguh. Ia hanya memutar pedangnya kencang-kencang tak ubah kitiran. Lalu melesat kekiri kekanan, maju dan mundur untuk menggebu lainnya. Pedangnya menikam, menusuk dan membabat. Karena mereka semua kenal kepandaian pemuda itu, tiada seorang pun yang berani mencoba- coba menangkis. Hanya Sukesih dan Sugiri saja yang berani menghadapi .

"Akh, bagus! Bagus sekali!" seru Saraswati dengan kagum. Ia sekarang mau mengerti bahwa kepandaian Lingga Wisnu sesungguhnya jauh sekali berada diatasnya. Kalau dahulu bertempur dengan sungguh- sungguh, dia dan ayahnya bukan musuhnya yang setimpal. Kakek Argajatipun diam-diam bergembira pula. Dengan hati lega ia memandang, Sekar Prabasini- Serunya:

"Prabasin i! Kalau begitu, aku rela mati. Kau memperoleh perlindungan seorang pendekar yang berkepandaian sangat t inggi. Hidupmu akan aman damai tak kurang suatu apa."

Sekar Prabasini menoleh. Ia membagi senyumnya dengan perasaan bahagia. Memang, dengan masuknya Lingga Wisnu semua musuh dapat diundurkan. Bahkan Sukesi dan Sugiri. yang berkepandaian tinggi menjadi bingung pula,

"Prabasin i!" seru Saraswati. "Mari kita Ikut menghajar salah seorang diantara mereka.."

Sekar Prabasini tertaw a lebar. Dasar ia seorang gadis yang berhati liar, maka ajakan itu sangat menggembirakan. Sahutnya penuh semangat;

"Mari! Tapi rezeki ini harus kita bagi pula kepada Rara Witri. Diapun harus membuktikan bahwa dirinya sesungguhnya pandai menyulam."

Sekar Prabasini tidak begitu senang terhadap suami isteri Sugiri. Maka mereka berdualah yang dijadikan sasaran. Tetapi begitu terbentur pedang pendekar wanita itu, senjatanya nyaris terpental keudara: Syukur selain gesit ia memperoleh bantuan Saraswati dan Rara Witri, Dengan demikian, ia memperoleh bantuan Saraswati dan Rara Witri. Demikian, ia memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kedudukannya,

Sukesi seorang wanita pendekar pedang. Dialah murid pendekar besar Kyabi Basaman. Gagal merabu Sekar Prabasini, dapat ia bergerak dengan gesit dan cekatan,. Menghadapi serangan Saraswati dan Rara Witri, sama sekali ia tak gentar atau gugup Dengan lincahnya ia mengelak.

Saraswati pun tidak mau kalah. Dia pun dapat bergerak dengan cepat pula. Setelah menarik pedangnya, ia maju merangsak. Tikamannya mengarah muka, dada dan pinggang. Sedang Rara Witri menyerang kaki,. Dan diserang demikian, terpaksalah Sukesi mundur karena bidang geraknya sangat sempit. Kecuali lapangan penuh manusia, batu kubu-kubu merupakan penghalang pula.

Namun sebenarnya Sukesi dapat melawan mereka berdua dengan mudahnya. Ia bergerak mundur untuk menghimpun tenaga dan memusatkan pikiran. Diluar dugaan, Saraswati dan Rara witri yang sudah terlatih menghadapi lawan tangguh diantara batu-batu kubunya mendesak dari kiri kanan. Tiba-tiba sebilah pedang memotong gerakan pedang mereka. Itulah pedang Lingga Wisnu yang tak rela menyaksikan kakaknya seperguruan kena desak.

"Hai! Kenapa begitu?" seru Saraswati heran..

"Biarlah aku sendiri yang membereskan, sahut Lingga Wisnu dengan tersenyum manis .

Saraswati tetap tak mengerti apa maksud pemuda itu. Akan tetapi melihat senyumnya, hatinya jadi lapang. Ia percaya, pemuda itu niscaya mempunyai tujuan tertentu. Maka itu dengan mengedipkan matanya ia memberi isyarat kepada adiknya agar mundur. Kakek Argajati yang menyaksikan pertempuran itu dari luar gelanggang, heran pula. Bertanya kepada. Linggu Wisnu:

"Sebenarnya siapakah dia?"

"Malah yang mengira aku sebagai musuhnya," sahut Lingga Wisnu dengan tertawa.

Sukesi mendongkol mendengar ucapan Lingga Wisnu.

Dengan suara nyaring ia berkata:

"Hmm, Siapa kesudian menerima jasa-jasa baikmu. Nanti atau esok, kau harus mencoba-coba merasakan ujung pedangku. Kenapa kau tak menepati janji?"

"Sebentar lagi ayunda akan mengerti apa sebabnya.." "Sebab apa?" Sukesi mendongkol.

"Itulah gara-gara muridmu yang sangat kau cintai dan kau agul-agulkan." Jawab Lingga Wisnu.

"Kenapa muridku Genggong Basuki?" "Kau lihat sajalah nanti."

Makin mendongkol hati Sukesi. la merasa dipermainkan pemuda itu. Maka dengan sungguh sungguh ia menyerang. Lingga Wisnu tidak mau melayani. Akan tetapi ia diserang. Karena itu terpaksa pula ia menangkis. Hanya saja, ia tak mau pergunakan pedangnya yang tajam luar biasa. Sebab bila pedang Sukesi sampai terbabat kutung, rasa permusuhannya akan bertambah-tambah. Maka ia mengulurkan tangan kirinya dan membentur pergelangan. Dan kena benturan himpunan tenaga saktinya, Sukesi terpental mundur hingga terhuyung beberapa langkah. Kali in i, Sukesi benar-benar terkejut. "Hai!" serunya heran didalam hati "Itulah ilmu tenaga sakti rumah perguruan Dieng, Benar-benarkah dia murid guru?"

Lingga Wisnu tak mau memperlihatkan keunggulannya, Iapun berpura-pura mundur tiga langkah. Lalu berkata menasehati:

"Lebih baik ayunda mundur.Ayunda masuk dalam perangkap musuh,"

Mendengar kata-kata Lingga Wisnu, hati Sukesi terbakar. Dengan gusar ia membentak

"Ayunda? Kau menyebut diriku   dengan ayunda?

Siapakah ayundamu?"

Setelah berkata demikian, ia menyerang lagi dengan hebat. Lingga Wisnu mengelak sambil berkata lagi:

"Ayunda! Sebenarnya apakah kepentinganmu datang kemari?"

"Aku mencari dirimu. Kenapa kau mengingkari janji?" "Bila hanya soal itu, kita nanti dapat membicarakan,"

Tiba-tiba Srimoyo ikut membuka mulutnya. Seru

pendekar itu::

"Saudara Lingga! Aku sudah kau kalahkan, sehingga rumahku jatuh ditanganmu. Sekarang serahkan harta yang berada disin i."

"Harta? Harta apa? Siapakah yang memberi keterangan padamu, bahwa aku mempunyai harta disini?" Lingga Wisnu berpura pura dungu.

"Hm. Janganlah kau mengingusi diriku lagi. Semua gerak-gerikmu tak luput dari pengamatan kami." "Kami siapa?"

Belum lagi Srimoyo sempat menjaw ab, sekonyong- konyong terdengarlah suara berisik. semua penjuru muncullah puluhan serdadu, Dan diantara mereka nampak Genggong Basuki dan Musafigiloh.

"Ha, apakah mereka yang mengkisiki dirimu?" Lingga Wisnu menegas.

Srimoyo tertegun sejenak. Kemudian berseru setengah tak percaya:

"Memang dia.. Genggong Basuki. Tapi kenapa dia berada ditengah-tengah serdadu kumpeni?"

Dengan munculnya puluhan serdadu itu, kedua belah pihak menghentikan pertarungan. Lingga Wisnu mengarahkan perhatiannya kepada Musafigiloh. Pendekar itu sudah dikenalnya semenjak beberapa hari yang lalu. Ia belum mengenal tataran kepandaiannya. Akan tetapi ia teringat, bahwa pendekar itu berotak ce merlang sampai pernah membuat Kyahi Basaman kagum.

Genggong Basuki yang berada di sampingnya seperti menjadi taw anannya. Rambutnya awut-awutan. Dahinya pucat pandang matanya kuyu. Ia disampingi pula oleh seorang perw ira Maluku yang berkulit hitam.

Menyaksikan hal itu. Lingga Wisnu menghela napas. Ia jadi kasihan berbareng mendongkol. Pikirnya didalam hati:

"Rendah benar martabat pemuda itu. Rumah perguruan kemasukan seorang penghianat. Alangkah menodai nama guru. Dia pasti tahu pula, bahwa Sukesi dan Sugiri hadlir pula. Kenapa dia berani memperlihatkan dirinya? Akh, pastilah dia kena cekuk Musafigilch dan perw ira itu.

Musafigiloh yang selama itu belum pernah mengadu kepandaian dengan Lingga Wisnu berpanas hati mengingat peristiw a di benteng beberapa hari yang lalu. Segera ia berseru nyaring:

"Hai, bangsat Lingga! Syukur kau berada disini, pinggang gunung ini memang pantas untuk menjadi tempat kuburmu."

Setelah berseru demikian, dia melambaikan tangannya. Dan duapuluh orang serdadu segera mendekam membidikkan senapannya. Menyaksikan hal itu, Sukesi dan Sugiri saling pandang. Kenapa Genggong Basuki ikut serta, dalam rombongan itu, pikirnya.

"Genggong!" seru Sukesi mencari keyakinan. "Apakah kau kena taw an mereka? Berkatalah terus terang! Jangan takut, kami akan se era menolongmu,"

Kedua bibir Genggong Basuki bergerak-gerak. Akan tetapi Musafigiloh mendahului, kata pendekar cerdik itu:

"Saudara Genggong Basuki adalah anggauta kami semenjak beberapa tahun yang lalu.. Dia kini berada dalam dinasnya. Karena itu, tak dapat lagi mengenal siapa guru dan siapa kawan,"

Sudah beberapa tahun? Sukesi tercengang Selagi tercengang-cengang. Sekar prabasini menyahut:

"Memang hebat muridmu. Sudah sekian tahun kau diingusi, namun belum sadar. Malahan mencurigai adik seperguruan sendiri. Hebat! Sungguh!" Merah padam wajah Sukesi mendengar dampratan Sekar Prabasini. Sugiri suaminya yang menggendong anak satu-satunya, tertegun-tegun. Tak terasa ia menoleh kepada Lingga Wisnu, T atkala itu Lingga Wisnu sedang menegor Sekar Prabasini Kata pemuda itu:

"Adik, Siapapun takkan mengira. Karena ini jangan kau persalahkan ayundaku.."

"Hm." dengus Sekar Prabasini. "Siapa ayundamu? Bukankah dia tak sudi kau panggil ayunda. Inilah hebat! Saudara seperguruan diingkari, sebaliknya mengakui musuh menjadi murid yang harus dipercaya. Sungguh bagus! Itulah pahlawan sejati."

Hebat benar sindiran Sekar Prabasini. Dada Sukesi seperti meledak. Akan tetapi tak dapat melampiaskan rasa amarahnya kepada nona itu. Sebab ia menghadapi suatu kenyataan Namun masih ia mencari suatu keyakinan. Serunya:

"Hai, Genggong Basuki! Benar-benarkah engkau bekerja padanya?"

Wajah Genggong Basuki nampak kian pucat. Jelas sekali, bahwa hatinya menderita hebat. Namun disampingnya berdiri Musafigiloh yang berbisik padanya:

"Jawablah terus-terang! Seorang laki-laki sejati bukan seorang banci. Ataukah aku harus mengabarkan tentang paman gurumu Purbaya?"

Mendengar nama Purbaya disebut sebut, tubuh Genggong Basuki menggigil. Maka dengan memaksakan diri, ia menjawab :

"Ya ... memang ... aku ..." Belum lagi ia menjelaskan jawabannya, Sukesi sudah menjerit. Dengan pedang terhunus pendekar wanita itu melompat menyerang. Lingga Wisnu terkejut. Gugup ia berteriak:

"Ayunda! Jangan terburu napsu!'*

Peringatan Lingga Wisnu tepat sekali. Pada detik itu, tiba-tiba terdengarlah suara meletus, Sukesi mengerang, Lengannya kena sambar peluru, sehingga mencicirkan darah segar

"Semua bersembunyi dibalik batu!” seru Lingga Wisnu.

Sekar Prabasini meloncat dibalik batu sambil berseru : "Hai,    pendekar-pendekar   gagah!   Apakah    kamu

golongan mereka?"

Srimoyo dan T awon Kemit berbimbang bimbang. Tiba- tiba terdengar Genggong Basuki berteriak:

"Saudara Srimoyo dan Tawon Kemit, jangan lepaskan bocah itu! Rampas hartanya!"

Mendengar teriakan Genggong Basuki. Srimopyo dan Taw on Kemit tertegun-tegun. Sebaliknya Sukesi dan Sugiri gusar bukan kepalang. Tak peduli apakah seruan Genggong Basuki itu akibat kena ancaman Musafigiloh, akan tetapi Ucapannya benar-benar memuakkan. Teriak Sukesi nyaring kepada Sugiri:

"Kakang! Jangan pedulikan diriku. Aku hanya luka luar. Biarlah kugendong sibuyung. Bunuh dia!"

Sugiri menyerahkan anaknya kepada Sukesih- Kemudian melompat dengan pedang terhunus. Lingga Wisnu yang senantiasa memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, cepat menyanggah. "Kangmas, jangan terburu napsu! Menyingkirkan lawar yang terang adalah mudah. Akan tetapi mengelakkan panah dari balik punggung sangat susah. Mari, kita bereskan dahulu laknat laknat ini!"

Sugiri pandai berpikir. Memang, semenjak melihat sepak terjang dan gerak gerik Lingga Wisnu, dalam hatinya ia sudah setengah mengakui. Karena itu, dapat ia menerima saran pemuda itu. Apalagi, nampaknya bermaksud baik dan lebih dapat dipercayai daripada Genggong Basuki. Maka serentak ia berbalik menghadap Srimoyo dan Taw on Kemit.

Inilah kejadian diluar dugaan dua pendekar itu. Buru- buru mereka melompat Akan tetapi gerakan Sugiri sangat cepat. Dengan t iba-tiba saja pedang Sugiri sudah berkelebat didepan matanya. Dalam seribu kerepotannya, mereka masih bisa berdaya dengan mengorbankan anak-buahnya. Seperti sudah berjanji, mereka melemparkan dua orang anakbuahnya. Seketika itu juga terdengarlah suara jerit menyayatkan hati. Dua orang itu mati terpotong tubuhnya„

Sekarang pertempuran menjadi serabutan. Diantara meletusnya senapan-senapan serdadu yang mengepung rapat, empat orang lagi terpotong pedang Sugiri, Dengan demikian, kini tinggal Srimoyo dan Tawon Kemit yang bertahan sedapat-dapatnya. Syukur, Musafigiloh tidak tinggal diam. Beberapa orang ahli pedangnya datang membantu. Kecuali itu senapan terus meletus tiada hentinya.

Lingga Wisnu menjadi gelisah juga meskipun belum ada yang jatuh menjadi korban selain Sukesi. Hal itu disebabkan, karena letak lapangan pertempuran sangat menguntungkan, Batu-batu raksasa yang merupakan kubu-kubu pertahanan membantu melindungi. Juga lempeng pegunungan dan semak belukar. Akan tetapi bila diberondong terus menerus dan terkepung rapat, lambat-laun akan terjepit pula. Maju menyerbupun tak dapat. Maka satu-satunya jalan, hanyalah menunggu.

"Akh, menghadapi pertempuran jarak jauh semua kepandaian jadi tak berarti” ia mengeluh. Ia jadi teringat kepada peta di dalam goa. Sekarang iapun jadi mengerti betapa besar faedah peta itu menghadapi suatu pertempuran jarak jauh. Maka berkatalah ia didalam hati

:

"Bila kesukaran in i dapat kuatasi. segera aku akan mencari guru untuk menyerahkan peta warisan."

Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba terjadilah suatu perubahan yang mengherankan serdadu-serdadu yang mengepung lereng pegunungan mendadak jadi kacau balau. Dua bayangan berkelebat kesana kemari Gerombolan serdadu yang diserbu roboh berserakan. Karena serangan dua bayangan itu sangat cepat, tak sempat lagi mereka mengisi bubuk mesiu, apalagi mencoba-coba menembak.

Lingga Wisnu mengangkat kepalanya. Begitu memperhatikan, segera ia dapat mengenal dua bayangan itu, Dengan gembira dia berseru kepada Sekar Prabasini:

"Adik! Lihat, siapa mereka berdua, Ki Ageng Gumbrek dan kakang Botol Plnilis,"

Sukesi yang sedang menderita luka, terkejut- mendengar seruan Lingga Wisnu. Dengan memeluk anaknya, ia berdiri tertatih tatih. Begitu melihat Botol Pinilis ia tertegun keheranan. Apalagi, Lingga Wisnu menyebutnya sebagai kakak. Dan ucapannya benar- benar terpancar dari hati yang tulus. Seketika itu juga, delapan bagian rasa mendongkolnya terhadap Lingga Wisnu sirna,

"Paman! Paman Gumbrek!" seru Sekar Prabasini. "Kau datanglah kemari!"

Ki Ageng Gumbrek tak bersakit hati di panggil dengan sebutan paman. Dengan tertawa lebar ia menyahut :

"Eh, anak nakal. Kau tunggulah saja! Sebentar lagi aku akan datang padamu. Suruhlah muridku mendaki kemari, agar kekunyuk-kekunyuk ini cepat mampus!"

Lingga Wisnu yang mendengar seruan Ki Ageng Gumbrek segera melesat keatas. Tahulah dia, bahwa orang ini pasti menemukan suatu kesulitan. Tatkala tiba diatas, Botol Pinilis segera menyambut :

"Adik! Kau baik-baik saja, bukan?"

"Berkat doa restu kakak. Bahkan ayunda Sukesi dan kangmas Sugiri berada disin i pula." sahut Lingga Wisnu.

"Ha, justru karena mereka berada disini, membuat aku harus menyusulmu kemari." kata Botol Pinilis. Dan selama dia berbicara, senjatanya terus-menerus menggebu musuh,

"Anak. Lingga!" sambung Ki Ageng Gumbrek "Wilayah ini sudah terkepung rapat Kau bicaralah yang banyak., Bukankah sebentar lagi kita akan berangkat bersama ke neraka?"

Lingga Wisnu kenal perangai gurunya yang satu ini. Dibalik sendau-guraunya, terdapat masalah sebenarnya Dan selamanya dia tak pernah membicarakan sesuatu, bila keadaan tidak terlalu sungguh-sungguh. Tak heran hatinya tercekat. Segera ia berkata :

"Guru! Wilayah in i milik eyang Argajati."

“Siapa Argajati?!” potong Ki Ageng Gumbrek cepat. "Dengan sendirinya pemilik wilayah ini. sahut Sekar

Prabasini yang tiba-tiba saja sudah ikut pula menyusul. "Bukankah kakang Lingga sudah ,.."

"Sst, Jangan bergurau" tegor Lingga Wisnu. Kemudian meneruskan perkataannya kepada Ki Ageng Gumbrek :

"Apakah guru sudi menemui, Mungkin sekali dia mempunyai jalan keluar"

"Akh! Apakah dia mempunyai minuman keras dan kecapi?" ujar Ki Ageng Gumbrek dengan tertaw a. Kemudian kepada Botol Pinilis:

"Hai, anak muda! Mari turun. Kita diundang tuan rumah."

Setelah berkata demikian, Ki Ageng Gumbrek mendahului turun. Gesit sekali gerakannya, sehingga Sekar Prabasini tak dapat menyusulnya, Syukur, ia ditemani Botol Pinilis yang meninggalkan musuh- musuhnya. Katanya :

"Hanya adik Lingga yang dapat menjajari kegesitan gurunya. Biarlah kita melindungi dari belakang."

Gerombolan serdadu yang kena serbu Ki Ageng Gumbrek dan Botol Pinilis tak dapat berbuat sesuatu kecuali hanya berteriak teriak dengan penasaran. Sedang Musafigiloh dan Genggong Rasuki tiada nampak lagi batang hidungnya. Dengan demikian, Botol Pinilis dan Sekar Prabasini tiba didataran bawah dalam keadaan selamat tak kurang suatu apapun.

Lingga Wisnu segera memperkenalkan Ki Ageng Gumbrek kepada Argajati.. Setelah mendapat keterangan siapa Ki Ageng Gumbrek, orang tua itu cepat-cepat membungkuk hormat. Lalu berkata,

"Bila wilayah ini sudah terkepung rapat, mari kita mencari jalan keluar, Kebetulan wilayah ini banyak goanya. Leluhur kami dahulu membuat sebuah tembusan secara iseng saja. Tak tahunya, pada hari ini ada gunanya.”

Sugiri dan Sukesi terkejut tatkala melihat datangnya kakaknya seperguruan Botol Pinilis. Cepat-cepat mereka membungkuk hormat. Seru Botol Pinilis :

"Adik Sugiri dan Sukesi, Aku datang untuk kamu berdua. Sebenarnya banyak yang hendak kubicarakan. Tapi untuk sementara, kita tunda dahulu. Mari kita ikuti dahulu petunjuk petunjuk tuan rumah,"

Gunung Law u terletak di atas wilayah Madiun dan Surakarta. Dan telaga Sarangan berada diwilayah Madiun atau Wengker. Pada dewasa itu, letak tanahnya belum seindah sekarang. Juga jalannya sulit penuh kerikil tajam dan batu-batu licin. Semak belukar menutupi letak tanah. Dan petak hutan yang tak pernah, teraba kaki manusia, hampir menyerupai rimba raya yang menakutkan. Manakala matahari nyaris condong kebarat, awan putih menutupi persada gunung. Lalu embun dan titik hujan mulai turun dan memuramkan seluruh penglihatan. Argajati segera memimpin perjalanan ke goa persembunyian, sedang Saraswati menghampiri Sukesi dengan pandang keibuan. Katanya lembut :

"Bibi, bolehkah aku menolongmu?"

Sukesi seorang pendekar wanita yang angkuh. Apalagi Saraswati tadi berada di pihak lawannya. Meskipun lengannya terluka, ia menyahut :

"Biarlah! Aku bisa menolong diriku sendiri."

Tapi Saraswati tak mau mengalah. Dengan suara tetap lembut, ia mengambil hati. Katanya :

"Adik kecil itu, biarlah aku yang menggendongnya,"

Saraswati mengarahkan perhatiannya kepada si anak. Hal itu menyentuh hati nuraninya si ibu. Sukesi lantas saja melemparkan

pandang kepada Sugiri untuk minta pertimbangan. Sugiri bersenyum seraya mengangguk kecil. Memperoleh isyarat itu, dengan bersenyum pula ia menyerahkan anaknya. Dan dengan hati lega Saraswati menerima sianak dalam gendongannya. Kedua matanya berseri- seri. Bukankah dalam hal ini, ia menang? Dan semuanya itu tidak luput dari pengamatan Lingga Wisnu. Pemuda itu jadi terharu Dalam hati, ia kagum terhadap puteri kakek Argajati, Lagak lagunya memang berbeda jauh dengan Sekar Prabasini yang beradat panas dan liar. Argajati tiba-tiba mendekam dan menempelkan kupingnya ditanah. Ia hendak mengetahui, apakah sekitar lembah itu terdapat seseorang atau tidak. Setelah memperoleh keterangan keamanan, ia mengajak semua pengikutnya melintasi rimba. Beberapa saat kemudian. sampailah rombongan itu pada sebuah jurang yang curam. Jurang curam yang tertutup semak belukar dan rerumputan yang lebat. Sebuah batu menjarok diantara tebing jurang, Dan berkatalah orang tua itu .

"Bukankah hanya mirip sebuah jurang yang berbatu terjal? Mari! Kita lintasi batu itu. Dibaliknya, tuan-tuan akan melihat peninggalan leluhur kami," ,

Mereka semua golongan pendekar yang berkepandaian tinggi. Maka dengan mudahnya, mereka dapat meloncati seberang jurang. Kemudian melintasi batu itu. Dan dibalik batu itu, nampaklah sebuah goa yang tertutup rumpun rotan. Argajati menyibakkan rumpun rotan itu, Lalu masuk kedalam goa. Lingga Wisnu, Botol Pinilis, Ki Ageng Gumbrek dan lain- lainnya segera menyusul pula.

Menarik benar bentuk goa itu. Kecuali panjang terdapat undak-undakan. Dan setelah melintasi tangga yang penghabisan, sampailah mereka pada sebuah terowongan yang sempit. Banyak sekali terdapat tikungan-tikungan dan simpangan-simpangannya. Dengan demikian, manakala seseorang dapat memasuki goa itu niscaya takkan mudah mencapai akhir tujuan. Dan bila sampai tersesat, belum tentu dapat menemukan jalan yang diambahnya tadi.

Demikianlah, setelah berjalan berliku-liku, sampailah mereka diujung terowongan. Dan begitu tiba diujung terowongan, mereka semua kagum. Mereka menghadapi sebuah goa lebar dan luas. Sebuah goa tanpa langit.

Atau beratapkan langit. Tegasnya, sebenarnya merupakan suatu bidang tanah, yang bertebing tinggi, bila orang mendongak, ia akan melihat awan bergerak. Dan bila meruntuhkan pandang, ia akan melihat suatu bidang tanah rendah, Dlsana terdapat sebuah terowongan lagi.

Kedalam terow ongan itu mereka masuk. Empat orang menyandang petani datang menyambut. Ruang goa terang benderang oleh nyala api buah jarak dan obor bambu. Didalaranya terdapat sebuah meja panjang dan panjang dan belasan kursi terbuat dari batu tergosok halus.

"Mari duduk." Argajati mempersilahkan. "Sekarang kita bisa berbicara seleluasa leluasanya, "

Mereka segera duduk diatas kursi masing masing. isteri Argajati segera melayani Sukesi yang terluka. Walaupun tidak senang memperoleh kemanjaan itu, akan tetapi Sukesi tidak menolak. Ia tahu, bahwa nyonya rumah sedang melakukan jasa-jasa baik terhadapnya. Apalagi pandang mata Botol Pinilis yang berwibawa, membuat hatinya jadi segan juga.

"Sukesi! Kau dengarlah kata-kataku," Botol Pinilis mulai membuka suaranya,

"Bagus! Bagus!" tungkas Ki Ageng Gumbrek dengan tertaw a terbahak-bahak, "Sebentar lagi akan terjadi suatu pameran adu tinju, Memang, sudah lama aku ing in melihat bagaimana cara kalian bertanding mengadu otot. Pada hari ini aku bakal melihat siapa diantara sesama murid Sambang 'Dalan yang paling jempolan,

Lingga Wisnu tercekat hatinya. Ia kenal adat dan perangai gurunya yang satu ini. Di balik sendau guraunya bersembunyi suatu sindiran yang tajam luar biasa. Bukankah di hendak berkata, bahwa diantara sesama murid Kyahi Sambang Dalan sebenarnya terjadi suatu salah paham yang bisa mengakibatkan keretakan? Lingga Wisnu lantas mengerti, apa sebab Ki Ageng Gumbrek dahulu menganjurkan supaya melawan tantangan Sukesi dan Sugiri. Syukur, dia tidak jadi mengadu kepandaian dengan kedua kakaknya seperguruan itu. Bila sampai terjadi, niscaya ia akan diejek terus menerus oleh Ki Ageng Gumbrek.

Botol Pinilis berdiri dari kursinya dengan serentak. Buru-buru ia membungkuk hormat kepada Ki Ageng Gumbrek sambil berkata:

"Sama sekali kami tidak akan bertengkar. Kami hanya ingin memberi keterangan atas dasar petunjuk-petunjuk Ki Ageng."

Botol Pinilis menyebut Ki Ageng Gumbrek dengan Ki Ageng. Artinya, dia menghormati dan menjunjung tinggi. Apabila dia membawa alasan, bahwa kata-katanya terjadi atas dasar petunjuknya. Betapapun juga, hati Ki Ageng Gumbrek puas juga. Orang tua itu lantas mengangguk perlahan.

Botol Pinilis kemudian berputar kepada Sukesi dan Sugiri:"

"Sukesi! Hampir saja kalian berdua meruntuhkan nama perguruan kita. Bukankah kalian sudah mendengar, bahwa guru mengambil seorang pewaris baru? Pewaris guru seorang pemuda yang masih sangat muda usianya. Kenapa kalian tidak dapat menduga sebelumnya? Bukankah gerak-gerik dan gaya ilmunya akan segera mengingatkan kepada rumah perguruan kita? Syukur, aku mendapat kisikan dari Ki Ageng. Kalau tidak, kita bisa runyam."

Memperoleh tegoran Botol Pinilis. Sukesi dan Sugiri berdiri dengan gugup. Kemudian dengan berbareng, mereka membungkuk hormat kepada kakaknya seperguruan. Kata mereka hampir berbareng :

“Maaf. Mata kami benar-benar lamur."

"Kenapa lamur? Kukira, kalian sengaja menutup penglihatan. Apakah dibelakang peristiw a ini terjadi suatu unsur yang menjahati?" Botol Pinilis menegas.

"Benar," sahut Sukesi dengan menghela napas. "Itulah anak didik kita Genggong Basuki.”

"Ya, Genggong Basuki." ujar Botol Pinilis dengan nada mengeluh. "Tak pernah kusangka. bahwa dia ... Untunglah, lagi-lagi Ki Ageng yang berjasa dalam hal ini Apalagi kita tadi sudah melihat buktinya.

Lingga Wisfm jadi tak enak sendiri.. Segera ia menyambung

"Kakang Botol Pinilis, Tersesatnya Genggong Basuki ada sebabnya. Dia harus berkata begitu karena tekanan”

"Tekanan seseorang belum merupakan alasan yang tepat," tiba-tiba Sekar Prabasini memotong, Dia berlagak seorang pendekar yang berani dan berkepandaian tinggi seumpama tak pernah gentar terhadap tingginya angkasa dan perkasanya sebuah gunung. Kenapa dia mendadak bisa tunduk oleh suatu tekanan seorang manusia yang terdiri dari darah daging? Kalau aku, lebih baik mati dari pada ditekan begitu."

Tajam ucapan Sekar Prabasini, Akan tetapi dibalik ketajamannya mengandung unsur kebenaran. Dan yang paling tersinggung di antara mereka adalah Sugiri dan Siukesi. Sebab didepan gadis itu, mereka berdua pernah memperlihatkan keangkuhannya,

"Sudahlah.. Hatiku kini sudah lega, karena aku sudah berhasil mendamaikan adik-adikku seperguruan. Kau sendiri bagaimana Sukesi?" kata Botol Pinilis mengalihkan pembicaraan.

Tanpa berkata lagi, ia menghadap Lingga Wisnu dan membungkuk hormat. Sikapnya itu segera diikut i pula oleh suaminya. Keruan saja yang keripuan adalah Lingga Wisnu. Maka itu cepat-cepat ia membalas hormat sambil berkata:

"Ayunda sekalian. Tak berani adikmu menerima penghormatanmu. Biarlah untuk selama hidup», aku berbakti kepada ayunda berdua."

"Terima kasih. Akan tetapi di dalam hal ini, kami berdua pantas meminta maaf."

"Sama sekali ayunda berdua tidak bersalah terhadapku. Sebab siapapun dapat bersikap demikian," jawab Lingga Wisnu dengan sungguh-sungguh,

"Sudahlah, Sudahlah!" tungkas Ki Ageng Gumbrek. "Hatiku senang sudah, karena kalian kini sudah saling mengenal. Akupun menjadi saksinya pula. bahwa bocah itu benar benar murid Sambang Dalan. Bahkan dia menerima pula beberapa jurus dariku. Apakah kalian tidak percaya atau mau menguji diriku?"

Botol Pinilis tertaw a. Sahutnya mewakili,

"Siapa yang berani mencoba-coba dengan Ki Ageng? Guru kami sendiri tidak akan sanggup berlawan-lawanan dengan Ki Ageng,"

"Bohong! Bohong! Itu sanjung puji berlebih-lebihan." seru Ki Ageng Gumbrek dengan menggoyang-goyangkan tangannya.

Sampai disitu selesailah sudah suatu jurang salah paham Sugiri, Sukesi dan Lingga Wisnu sudah dapat didamaikan. Sekarang mereka membicarakan masalah Genggong Basuki, Suskandari dan Harimawan. Sementara itu tuan rumah telah menyajikan makan minum dan minuman keras yang sangat memuaskan,

"Suskandari sebenarnya bukan muridku," kata Botol Pinilis. "Hanya saja, ia rapat berhubungan dengan muridku Harimawan.. Tadinya mereka kusuruh menunggu disuatu tempat. Tapi t atkala aku t iba ditempat itu. mereka berdua tiada. Apakah adik Lingga mendengar kabar beritanya?"

Lingga Wisnu kemudian menceritakan semua pengalamannya. Ia melihat Puguh Harimawan kena taw anan tentara Belanda. Walaupun Suskandari hanya dipercakapkan, akan tetapi jelas bahwa diapun kena taw an pula. Bahkan dijadikan sandera demi kelancaran mencapai maksud kumpeni.

“Akh, kenapa tidak kau katakan dengan terus terang saja?" tungkas Sekar Prabasini tidak senang. "Bukankah dia dijadikan alat pemikat pendekar besar Genggong Basuki ?"

Merah wajah Lingga Wisnu kena tegor Sekar Prabasini. Sebagai seorang pemuda yang berperasaan halus, tak dapat dia berkata dengan demikian dihadapan orang banyak. Tapi karena Sekar Prabasini sudah menegor demikian, terpaksa ia menyatakan dugaannya.

Semua orang yang mendengar tutur-kata Lingga Wisnu menghela nafas. Dan pada hari. itu juga, mereka bersepakat hendak mencari Suskandari dan menganggap kumpeni Belanda sebagai musuhnya utama

***ooodwooo***

PA DA MALAM hari itu, mereka masih berada didalam goa. Karena goa mirip ruang rumah, kesedapan mulai meresap didalam hati. Apalagi, dalam goa itu terdapat beberapa bilik lengkap dengan alat tidurnya.

Isteri kakek Argajati, Saraswati dan Rra Witri sibuk melayani para tamu. Mereka dibantu oleh beberapa orang penduduk yang memakai pakaian petani. Maka makan minum sangat lancar. Dalam hal ini, Ki Ageng Gumbrek yang merasa gembira. Ia jadi teringat kehidupan diatas Gunung Dieng tatkala bertemu untuk pertama kalinya dengan Lingga Wisnu.

Sukesi segera mengundurkan diri didalam bilik persediaannya. Ia mulai merasa demam. Apalagi anaknya yang kesakit-sakitan perlu untuk dibawa tidur siang-siang. Syukur, keluarga Argajati mempunyai obat mujarab. Walaupun belum merupakan obat mustika dunia, akan tetapi menolong menidurkan sianak, De ngan demikian agak meringankan penanggungan orang tuanya.

Sugiri yang pendiam menyertai isterinya masuk kedalam kamar. Akan tetapi tatkala malam hari tiba, ia keluar juga dan duduk di antara hadirin. Dengan penuh minat, ia memperhatikan setiap pembicaraan orang, Dan dengan diam-diam pula ia memperhatikan gerak gerik Lingga Wisnu yang halus dan sopan. Tanpa merasa, ia mulai berkenan terhadap adik seperguruannya yang bungsu itu

"Eh, saudara Argajati! Kau tadi menerangkan, bahwa leluhurmu yang membangun goa ini. Sebenarnya untuk apa?" kata Ki Ageng Gumbrek minta keterangan.

Kakek Argajati tersenyum lebar sambil meraba-raba jenggotnya. Setelah diam menimbang-nimbang, ia menyahut :

"Panjang ceritanya. Apakah saudara-saudara sekalian sudi mendengarkan peristiwanya?

"Malam in i, hatiku sedang tegar, Meskipun kita terkepung musuh, akan tetapi aku bergembira karena menyaksikan anak-anak murid sahabatku sudah damai dan rukun kembali." ujar Ki Ageng Gumbrek dengan tertaw a.

Argajati mengangguk. Lalu membagi pandangnya kepada Botol Pinilis, Sugiri, Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini. Mereka semua menyatakan sependapat dengan Ki Ageng Gumbrek Kata Botol Pinilis :

"Bila kisah itu terlalu panjang, biarlah kami bergadang sepanjang malam. Aku tidak berkeberatan." "Kalau begitu, aku mempunyai waktu panjang, biarlah kami bergadang sepanjang malam ..." ujar kakek Argajati. Kemudian mulai bercerita :.

"Leluhurku bernama Pita Wahyu Absari,"

"Hai! Bukankah dia yang terkenal dengan gelar Rara Windu?" Ki Ageng Gumbrek memotong.

"Benar, bagaimana saudara mengenal nama gelarnya?" pandang mata kakek Argajati berseri-seri.

"Pada zaman mudaku, siapapun kenal nama yang menggetarkan jagad itu. Dialah seorang pendekar wanita tanpa tanding pada zamannya. Bahkan, mungkin sampai sekarangpun belum ada yang sanggup melawan kesaktiannya andaikata dia masih hidup.” sahut Ki Ageng Gumbrek lancar

Pernyataan Ki Ageng mungkin tidak berlebih lebihan. Akan tetapi leluhurku itu mungkin wafat. Dialah bibiku." kata kakek Argajati dengan bangga.

"Apakah dia yang membangun goa ini?" "Benar,"

"K&Iatf begitu, wajib aku menghormati." ujar Ki Ageng Gumbrek,. Diluar dugaan orang tua itu lantas saja berdiri tegak dan membungkuk hormat ke setiap penjuru dinding. Keruan saja. Botol Pinilis, Sugiri dan Lingga Wisnu jadi keripuhan. Bila orang tua yang berwatak angin-anginan bisa berbuat demikian niscaya tokoh Rara Windu itu bukan sembarangan. Maka seperti berlomba mereka bertiga ikut berdiri dan membungkuk hormat pula. Menyaksikan peristiw a itu, pandang mata kakek Argajati kian berseri-seri. Setelah mereka duduk kembali diatas kursinya masing-masing, segera ia melanjutkan ceritanya yang telah terpotong. Katanya :

"Leluhurku Pita Wahyu Absairi yang kelak bernama Rara Windu, berasal dari Jawa barat. Dia bergaul rapat dengan seorang pemuda bernama Kesaw a. Mereka berdua pemuja pemuja pahlawan negara seperti Raden Wijaya pendiri kerajaan Majapahit Ciung Wanara, Panembahan Senopati dan lain-lainnya. Karena mereka ahli-ahli pedang, masing-masing dilambungkan angan- angannya hendak ikut serta mendirikan suatu jasa besar bagi negara dan bangsa.

Tatkala itu Jawa Barat sedang dilanda kancah peperangan. Itulah sepak terjang pahlawan pahlawan Banten melawan kumpeni Belanda. Mereka menggabungkan diri dan berjuang dengan tujuan hendak merebut dunia. Dalam beberapa waktu saja, mereka berhasil membentuk laskar pejuang yang setia dan setujuan. Mereka bergerak disekitar Sukabumi dan Jayakarta. Seringkali mereka berhasil menumpas begundal-begundal kumpeni yang didatangkan dari negeri seberang. Bahkan pula pernah menghancurkan satu peleton serdadu Belanda,

"Sayang, sejarah menghendaki bangsa Belanda menang perang. Daerah demi daerah bersedia tunduk dan takluk pada panji-panji ben dera Eelanda. Rara Windu terdesak mundur sampai disekitar wilayah Gunung Cakrabuwana. Walaupun demikian, dia tak kenal payah. Dengan semangat yang tak terluntur, masih saja dia melakukan perlawanan. Anak-buahnya kini terdiri dari pemuda-pemuda Parahiyangan yang bersemangat kebangsaan.

Kasawa berasal dari Jawa Tengah. Dia bersedih hati karena mendengar warta tentang kemajuan tentara Belanda melanda-hampir seluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ingin sekali ia pulang ke kandang untuk membendung pasukan pejuang penentang tentara Belanda. Hal itu disampaikan kepada Kara windu dengan maksud agar mendapat bantuan, Akan tetapi Rara Windu bersikap dingin saja. Jawab Rara Windu :

"Kau sendiri tahu, bahwa akupun sedang sibuk mengatasi masalahku sendiri. Bagaimana mungkin aku mengulurkan tangan keseberang sedang ruhah sendiri lagi kebakaran hebat,”

Sedih hati Kesaw a memperoleh jawaban kekasihnya itu.. Kemudian ia mencoba minta pendapat pemuda- pemuda Jawa Barat. Tapi mereka bahkan mengejek dan sama sekali t idak menghargai. Kata mereka serentak,

"Uruslah urusanmu sendiri. Kami rakyat Pasundan pernah dikecewakan manusia Gajah Mada. Dahulu Gajah mada menghancurkan raja dan rakyat kami. Kenapa kini kau mengharapkan bantuan kami?"

Semenjak itu, Kesaw a seringkali berselisih paham dengan Rara Windu. Iapun melihat suatu pergaulan terlalu bebas antara pemuda dan pemudinya bila dibandingkan dengan adat istiadat Jaw a Tengah yang tertutup. Rara Windupun tak terkecuali Maka ia mencoba memperingatkan. Dan oleh peringatan itu, lagi Rara Windu memperlihatkan giginya. Mereka berdua lantas bertengkar untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya, Kesawa mengambil keputusan pulang kekandang dengan seorang diri. Ia melintasi hutan belukar dan mendaki gunung Beberapa tahun kemudian, ia bermukim di gunung ini. Gunung Law u dan merubah namanya dengan Kyahi Basaman „„."

"Akh, eyang Basaman!" seru Lingga Wisnu. "Dialah kakek guruku. Guru almarhum ayahku,"

Kakek Argajati mengangguk dengan tersenyum manis.

Sahutnya :

"Jadi, dialah kakek gurumu? Kalau begitu, kita termasuk keluarga sendiri,"

Lingga Wisnu hendak berbicara, karena berbagai kenangan berkelebatan didalam otaknya. Ia teringat kepada ayah bunda dan saudara saudaranya. Teringat kepada jembatan Jala Angin yang berada dipuncak gunung. Teringat kepada pendekar berjubah kelabu yang membaw a kakaknya perempuan, Sudarawerti ,.., Akan tetapi ia segera menahan diri.. karena tak mau memotong cerita kakek Argajati yang mulai menarik hati.

"Sepuluh tahun lamanya mereka berdua berpisah," kakek Argajati meneruskan ceritanya. Karena Rara Windu adalah seorang wanita yang berhati keras seumpama baja. Tak sudi ia mencari atau menyusup. Dalam hal keperibadian tak mau ia mengalah Tetapi setelah berpisah sepuluh tahun, barulah ia sadar bahwa insan yang sangat dicintainya hanyalah pemuda itu.. Banyak ia bergaul dengan pemuda-pemuda lain Akan tetapi tiada yang menyamai Kesawa. Baik dalam hal kepandaian, maupun sepak terjangnya Sadar akan hal in i, barulah ia menyesal Dengan menutup telinga dan membungkam mulut., ia meninggalkan tanah Pasundan. Semua ejekan, sindiran dan caci maki tak dihiraukan, Angin, hujan badai, hutan rimba diterjangnya. Dan setelah berputar--putar beberapa lamanya, diketemukan tempat beradanya Kesawa.. Akan tetapi pada saat itu Kasawa sedang turun gunung membantu perjuangan Trunajaya melawan kumpeni Belanda.

Rara Windu salah paham. Ia mengira dirinya ditolak mentah-mentah oleh Kesaw a. Maka ia bersumpah akan memusuhi Kesaw a sepanjang hidupnya dan tak sudi meninggalkan tempat beradanya. Demikianlah, maka Rara Windu mendirikan pertapaan di tempat ini. ia menamakan pertapaan Argajati. Dan nama pertapaan ini kusematkan pada diriku sebegai batu peringatan.

Akan tetapi pada suatu hari ia didatangi seorang pendekar yang menamakan diri Warok Jaganala. Warok Jaganala tak senang melihat seorang w anita bermukim di Gunung Lawu. itulah suatu penghinaan dan mengotori kesucian gunung. Maka dia datang hendak mengusir Tentu saja, Rara Windu yang berhati keras bersitegang. Dia justru kian mantap hendak bermukim digunung. Rupanya, hendak ia membawa pengaruh pergaulan di Jawa Barat itu yang lebih bebas daripada disini Katanya :

"Apakah dunia ini diciptakan hanya untuk laki-laki saja?"

Kedua orang itu lantas bertempur dengan sengitnya. Akan tetapi Warok Jaganala adalah keturunan anak murid Warok Suramenggala. Ilmunya hebat tak terkatakan. Setiap gerakannya membaw a angin berderun-derun sehingga ilmu parangnya terkenal dengan sebutan. Ilmu Hujan Badai. Rara Windu kena tikam dan roboh kedalam jurang. Syukur, dia bernasib baik. Dia tertolong seorang sakti bernama Hajar Pangurakan,

Hajar Pengurakan sebenarnya kakak seperguruan Warok Jaganala. Waktu itu dia sedang berpesiar ke telaga Sarangan dengan salah seorang muridnya bernama Kemasan. Tepat pada saat itu, ia mendengar suara berderunya pedang Warok Jaganala yang terkenal dengan nama parang. Bergegas ia menghampiri dan melihat melayangnya tubuh Rara Windu jatuh kedalam jurang. Bagaikan burung, ia melesat dan masih sempat menolongfeeira Windu.

"Jaganala adalah adik seperguruanku," kata Hajar Pangurakan. "Dia memilih jalan sesat. Merampok, memberandal dan berwatak mau menang sendiri. Sebenarnya ingin aku memberantasnya. Akan tetapi guru tidak memperkenankan, Karena itu, aku hanya dapat mengeluh dari kejauhan. Sekarang engkau berada di sin i. Biarlah aku mematangkan ilmu pedangmu. Harapanku semoga dikemudian hari, kau dapat membatasi malang melintangnya Jaganala.”

“Rara Windu kemudian dibawa ke pertapaannya yang berada diseberang Jembatan Jala Angin, Sepuluh tahun lamanya dia melatih diri. Setelah itu, tiada kabar beritanya, Akan tetapi sebenarnya dia balik kemari dengan membangun sebuah goa persembunyian. Dan inilah goa buah karya leluhurku, Rara Windu.

Dipertapaan ini, ia mengambil seorang laki-laki yang diangkatnya menjadi saudara tua. Itulah ayahku. Karena Rara Windu sangat, baik, maka ayah menyematkan nama pertapaannya kepadaku,"

"Oh, jadi ayahmu yang menyematkan nama Argajati?" Ki Ageng Gumbrek menegas.

"Benar. Apakah ada celanya?"

"Tidak! Sama sekali tidak. Artinya kau menyematkan nama Argajati bukan atas kemauan sendiri. Sebaliknya terjadi untuk mengakrabkan suatu pergaulan "

"Benar." sahut kakek Argajati,

"Dan ayahmu itu niscaya yang bernama Kemasan.

Bukankah begitu?"

"Kenapa Ki Ageng bisa menetak tepat?" kakek Argajati heran,

"Mudah sekali," sahut Ki Ageng Gumbrek dengan tertaw a menang. "Menurut ceritamu, Rara Windu seorang wanita yang berhati sangat keras. Dalam hatinya hanya ada seorang manusia yang kebetulan bernama Kesawa. Karena itu, tidaklah mudah dia mengangkat seorang saudara. Apalagi saudara itu diakuinya sebagai saudara tua. Siapa yang dapat kebagian rezeki demikian besar, selain Kemasan murid Hajar Pangurakan yang kebetulan saja ikut serta menolong dirinya tatkala jatuh ke dalam jurang."

"Akh, benar-benar tepat penglihatan Ki Ageng,” kakek Argajati tertawa kagum. lalu ia meneruskan ceritanya:

"Dalam pada itu Warok Jaganala telah merajai dunia. Ia merupakan seorang pendekar tanpa tanding. Tiada seorangpun yang berani mencoba-coba, Sebab selain berkepandaian sangat tinggi, diapun bersahabat dengan Kesawa atau Kyahi Basaman. Juga dua saudara seperguruan Kyahi Basaman yang bernama Anung Danusubrata dan Prangwedani,

Pada suatu hari. Warok Jaganala, Anung Danusubrata dan Parangwedani datang mengunjungi Kyahi Basaman, Diluar dugaan, ia dicegat Rara Windu ditengah jalan. Pendekar wanita itu berdiri dengan gagah ditengah jalan dengan pedang panjang dipinggangnya, Ia tersenyum manis Dan hal itu membuat Warok jaganala dan dua kawannya tercengang-cengang. Bagaimana mungkin, Rara Windu berkeliaran di tengah jalan dengan pedang diwilayah Kyahi Basaman yang dengan demikian bukankah berarti menantang Kyahi Basaman yang berkepandaian tinggi? Mereka tak tahu, bahwa antara Rara Wifldu dan Kyahi Basaman tersulam peristiw a hubungan yang istimewa.

"Jaganala! Aku tahu, pada suatu kali kau niscaya datang kemari. Karena itu aku sudah menghadangmu semenjak beberapa waktu lamanya. Bukankah kau mengira aku sudah mati?"

"Siluman perempuan! Benar-benarkah kau masih hidup?” Jaganala heran berbareng terperanjat

"Aku benar-benar hidup. Semula aku menunggumu dipertapaanku. Tapi kau tak datang-datang juga. Maka tahulah aku, bahwa kau menganggap diriku sudah mati di dasar jurang. Itulah sebabnya aku menghadangmu kemari, karena mendengar kabar persahabatanmu dengan pemilik wilayah in i." sahut Rara Windu.

"Bagus! Jadi kau masih berpenasaran terhadapku? Baiklah, mari kita uji kepandaian kita masing-masing. Kebetulan sekali aku bawa dua sahabatku. Mereka bisa menjadi saksiku. Nah, hunuslah pedangmu!"

"Aku tidak bersenjata pedang, tapi hanya sebatang tongkat. Lihatlah yang jelas!" seru Rara Windu sambil menghunus sebatang tongkat yang dari sebuah sarung pedang. Ternyata sarung pedang yang berada di pinggangnya itu sebenarnya pembungkus sebatang tongkat yang merupakan senjata andalannya,

"Hm. Tongkat apa itu?" Warok Jaganala mendengus. "Inilah sebatang tongkat mustika," jawab Rara Windu.

"Kau mencari matimu sendiri, hah? Bagaimana caramu bisa membunuh aku?"

"Jaganala! Bukannya, aku takut padamu, tetapi aku menerima tongkat ini sebagai warisan leluhurmu. Karena itu, meskipun kau pernah menikam diriku dan merobohkan aku ke dalam

jurang, tapi aku tak berniat menuntut dendam untuk membalasmu. Cukuplah sudah, bahwa didunia in i masih ada aku yang dapat melawan kepandaianmu,"

Warok Jaganala tertawa» Ia mengira Rara

Windu takut kepadanya. Maka dengan senjata parangnya yang termashur, ia maju selangkah sambil menggertak :

"Perempuan iblis, hayo majulah!" Mereka berdua bertempur dengan sengit. Warok Jaganala bersenjata parang. Gerakan parangnya membaw a angin beiderun-derun. Sebaliknya, Rara Windu melayani dengan cekatan. Walaupun hanya bersenjata tongkat, namun parang tak dapat menahasnya. Setelah bertempur kurang lebih dua ratus jurus, Warok Jaganala mulai terdesak. Akhirnya parangnya kena terpental miring dan terlepas dari tangannya.

"Nah, pergilah! Kau boleh mencari aku lima tahun iagi, untuk mencari keputihan. Dengan demikian, aku memberi kesempatan padamu agar hatimu puas. Tapi pada saat itu, aku tidak akan mengampuni kau lagi." kata Rara Windu.

Setelah berkata demikian Rara Windu melesat meninggalkan gelanggang. Baik Anung Danusubrata dan Prangwedani heran tak kepalang menyaksikan ketangguhan Rara Windu. Sebaliknya Warok Jaganala amat penasaran. Hatinya panas, bagaikan seorang kebakaran jenggot. Dia menyumpah-nyumpah dan memaki-maki. Akhirnya memutuskan hendak, mencari Rara Windu lagi setelah berlatih lima tahun.

Demikianlah, tahun berganti tahun. Hari yang dijanjikan tiba. Anung Danusubrata dan Prangwedani berkunjung kerumah Warok Jaganala. Kemudian mereka bertiga mencari Rara Windu. Kali ini, mereka mendaki pertapaan Argajati. Begitu bertemu berkatalah Warok Jaganala i

"Windu! Ai<u sudah berlatih lima tahun. Apakah kau masih hendak bersenjata sebatang tongkat? Walaupun mengenai diriku, niscaya tiada gunanya sama sekali. Kulitku takkan mempan oleh semua senjata tajam dipersada bumi ini. Percayalah!

Jawab Rara Windu :

“Dengarkanlah kata-kataku. Lima tahun yang lalu, aku telah mengampuni, Kedua teman mu itu pula yang merjadi saksinya. Aku mengampuni karena mengingat leluhurmu. Aku tidak membunuhmu atau melukaimu, karena aku dahulu ditolong oleh kakakmu Hajar Pangrakan. Tapi kita sekarang sudah cukup tua. Umur kita masing-masing sudah melampaui limapuluh tahun, Karena itu, kalau dapat, biarlah kita habisi saja permusuhan ini. Sebab tongkat mustika ini sebenarnya merupakan hadiah leluhurmu. Hal ini kukemukakan bukan karena aku takut padamu, Tapi demi tujuan hidup manusia yang sejati."

Warok Jaganala tertawa terbahak bahak. Sahutnya : "Benar-benar kau pandai berbicara. Kau berkata,

bahwa umurku sudah melampaui lima puluh tahun. Justru demikian, kau harus sadar bahwa umur setinggi itu tidak akan mudah terkecoh. Siapa yang sudi mendengar ocehanmu kecuali kau harus meninggalkan gunung Law u. Inilah pertapaan guruku turun menurun. Kau manusia dari barat, nah pulanglah kekandangmu,"

Panas hati Rara Windu mendengar ucapan Warok Jaganala.   Meskipun   sudah   lanjut    usianya,   namun w ataknya yang keras masih saja melengket pada sanubarinya. Maka dengan sengit ia membentak :

"Jaganala! Benar-benar kau manusia jahat, Apakah kau kira tongkat ini tak dapat memunahkan kesaktianmu? Karena kau menolak maksud baikku, terpaksalah aku menghajarmu benar-benar. Nah, berkatalah teras terang. Kau hendak melawan aku seorang diri atau dengan bantuan dua orang temanmu itu?"

Membentak demikian, Rara Windu menyiratkan pandang kepada Anung Danusubroto dan Prangwedari. Anung Danusubrata kemudian menyahut,

"Rara windu! Aku bernama Anung Danusubrata. Jelek- jelek, akulah ketua golongan Ugasrawa yang berkedudukan diatas gunung Cakrabuwana. Tegasnya, aku dan kau berasal dari Jawa Barat- Belum pernah aku bermusuhan denganmu. Juga untuk selama-lamanya tidak. Aku datang kemari semata-mata menemani saudara Jaganala. Sekarang kau dan saudara Jaganala hendak menguji diri. Tapi bila saudara Jaganala kalah, berilah aku kesempatan mencoba-coba kepandaianmu."

Mendengar kata-kata Anung Danusubrata, Rara Windu membungkuk hormat. Katanya gembira :

"Oh, jadi engkau berasal dari Jawa Barat? Sudah sering aku mendengar namamu Sekarang aku diperkenankan untuk dipertemukan dan dikenalkan. Baiklah, aku menerima usulmu ,

Prangwedani yang belum memberi keterangan, segera membuka mulutnya. Berkata :

"Aku Prangwedani, Ketua golongan Parwati yang berkedudukan di Kartasura. Dalam hal ini, aku tak ikut serta. Biarlah aku menjadi saksi saja. Kalau pada hari ini aku berada difeini semata-mata karena Kyahi Basaman termasuk sesama rumah perguruan dari leluhur kami." Rara Windu mengangguk„ Kemudian menatap Warok Jaganala kembali. Serunya nyaring :

"Nah, mari kita mulai. Kau menghendaki apa? Aku bersedia meluluskan semua permint aanmu ."

Sebenarnya, dalam hati, Anung Danusubra tak ingin membantu Jaganala. Akan tetapi teringatlah dia, bahwa kegesitan, para Windu lima tahun lewat, la kagum dan mengakui kalah. Sekarang lima tahun lew atlah sudah. Niscaya kehebatannya jadi bertambah. Maka ia hendak melihat dahulu. Bila rasa-rasanya dapat melawan, ia akan mencoba

Dalam, nada itu, Warok Jaganala menjawab tancangan Rara Windu :

"Aku ingin kalah dengan hati puas. Kembalilah mengambil pedangmu. Tak mau aku kau lawan dengan sebatang tongkat "

Rara Windu tersenyum lebar. Jaw abnya,

"Aku sudah berkeputusan hendak melayani kau dengan sebatang tongkat. Jika kau memaksa aku harus bersenjata pedang, cobalah usir aku dari tempatku!"

"Perempuan siluman!" bentak Jaganala sambil menghunus senjata parangnya.

"Bukan aku menghinamu. Tapi dengan pernyataanmu jelaslah sudah, bahwa kau tidak memperoleh kemajuan berarti selama lima tahun. Tak dapatkah engkau menyadarkan diri, bahwa sebatang rumputpun dapat digunakan sebagai senjata tajam melebihi sebatang pedang?" "Hm, kau hendak menyatakan diri sudah mencapai tingkatan setinggi itu? Kau perempuan siluman bermulut besar!"

Hati Jaganala mendongkol bukan main. Terus saja ia melompat menikam, Akan tetapi itulah gerakan tipu muslihat belaka. Yang benar adalah gerakannya yang kedua. Tiba-tiba saja dengan suara mengaung, parangnya membabat pinggang.

Itulah serangan yang hebat luar biasa. Terus saja biasanya tak pernah ia gagal. Lima tahun sudah, ia melatih dan mencobanya. Tikamannya itu berhasil dalam satu kali jadi. Akan tetapi menghadapi Rara Windu, ia menumbuk batu. Tiba-tiba saja ujung parangnya kena tangkis tongkat. Ia kaget, tatkala parangnya kena tergempur miring. Namun sama sekali ia tidak menjadi gugup. Gesit luar biasa ia memutar parangnya. Seketika itu juga, tubuh Rara Windu kena terkurung rapat,

Rara Windu ternyata tak bergeming dari tempatnya. Sama sekali ia tak menghiraukan serangan yang berbahaya itu. Tongkatnya berputar pula dan menangkis setiap titik bidang gerak, Dengan demikian, parang Warok Jaganala tergempur miring pada saat-saat tertentu.

"Bagus! Ada juga kemajuanmu. Hanya saja kau terlalu bernapsu." serunya dengan tertaw a.

Setelah berseru demikian, benar-benar ia dapat membuktikan. Ia mundur selangkah kemudian meloncat miring dan melesat kedepan sambil menikamkan tongkatnya. Dan pada detik itu, Warok Jaganala nampak terhuyung huyung mundur langkah. Ia heran karena Rara Windu mengetahui tata muslihatnya. Seketika itu juga, wajahnya pucat dan bersemu merah.

"Janganlah kau cepat-cepat berbesar hati. Jaganala adalah gudang semua rahasia ilmu sakti dibumi Jawa in i. Awas!" bentaknya dengan hati geram.

Rara Windu melayani serangannya yang kedua. Kali ini lebih hebat. Akan tetapi dengan tenang, Rara Windu mengejek :

"Lima tahun kita berpisah. Ternyata kepandaianmu sama saja. Sama sekali tiada kemajuanmu, Apakah ilmumu hanya berpangkal pada tata muslihat belaka? Mustahil kau dapat mengalahkan aku,"

Rara Windu tidak hanya mengejek. Berkali-kali ia memperlihatkan kelebihannya. Maka mau tak mau, Jaganala jadi berputus asa. Baru kali ini, ia kalah. Inilah pengalaman nya yang pahit selama malang-melintang tiada tandingnya. Karena merasa t idakkan dapat merebut kemenangan, sekonyong-konyong ia melompat keluar gelanggang dan membuang parangnya, la menghela napas dan kepalanya tunduk.

Para Windu tidak memburu. Ia menatap wajah Jaganala yang pucat lesi berbareng merah padam. Terang sekali, ia berputus ask dan mendongkol. Seketika itu juga, teringatlah dia kepada Hajar Pangurakan kakak seperguruan Jaganala. Dialah yang memberi petunjuk petunjuk berharga kepadanya, sehingga dapat mengalahkan Jaganala dengan mudah. Sebenarnya ilmu sakti rumah perguruan Jaganala tak terlawan. Kepandaian Jaganala pun tidak rendah. Andaikata ia tak memperoleh petunjuk kakaknya seperguruan belum tentu dia dapat merobohkannya. Hanya saja Jaganala terlalu berkepala tinggi. Dan ketinggian hatinya itu membuat dirinya terlalu menggampangkan lawan.

"Sayang! Andaikata hatinya lapang dan tidak bengis, kemajuannya sekarang ini bukan main besarnya," Rara Windu mengakui di dalam hati.

Selagi Rara windu bermenung-menung, ia melihat wajah Jaganala kian pucat. Tubuhnya bergemetaran pula. Itulah akibat rasa mendongkol dan penasaran yang luar biasa. Terdorong oleh rasa itu, dia tadi menyerang dengan mengerahkan seluruh kebisaannya. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tak mengherankan, ia menggigil karena tubuhnya tak tahan lagi kena dingin hawa gunung.

"Mari masuk!" ajak Rara Windu.

Dengan berdiam diri, Jaganala mengikuti Rara Windu masuk kedalam rumah pertapaan. Di dalam ruang pertapaan terdapat pendiangan. Dapat ia memanaskan badannya. Apabila rasa hangat mulai merayap tubuhnya, ia nampak menjadi segar. Kemudian berkata dengan suara menyesali diri sendiri

"Sebenarnya hatiku harus terbuka tatkala kau menyebutkan asal tongkatmu itu. Betapa gilanya aku berlawan-lawanan dengan tongkat, leluhurku. Aku merasa malu dan berdosa. Maafkanlah aku."

"Janganlah kakak bersedih hati”. Rara Windu menghibur. "Usia kita sudah mendekati tiga perempat abad. Karena itu, tiada gunanya kita dibelenggu oleh persoalan yang sudah lampau. Terus terang kukatakan padamu, bahwa ilmu kepandaianmu sebenarnya maju jauh,”  "Hm." Jaganala mendengus.

"Benar." kata Rara Windu meyakinkan. Hanya saja kakak terlalu kena pengaruh watak pribadi yang kurang cermat. Hal itu disebabkan, karena kakak masih dibelenggu napsu mau menang sendiri sehingga tidak memperhatikan asal-usul perlawanan musuh, Kau lupa bahwa aku berasal dari Jawa Barat Sedikit banyak aku pernah belajar ilmu pedang, sebelum memperoleh pelajaran dari Hajar pengurakan, .Dengan demikian, ilmu pedangku merupakan ilmu gabungan antara rumah perguruan kakak dan rumah perguruanku. Ilmu kepandaianku sama dengan ilmu kepandaian kakak Hajar Pangurakan. Itulah sebabnva, mula-mula aku kalah melawan dirimu. Selelah aku menerima petunjuk- petunjuk dari kakak Hajar Pangurakan, segera aku menggabungkan, akibatnya kau kena kukalahkan. Sekarang kau mencoba melawan diriku dengan ilmu kepandaianmu sendiri yang kau coba menggabungkan dengan petunjuk-petunjuk dua sahabatmu ini. Usaha penggabungan itu bagus sekali. Hanya saja terlalu pendek. Kau hanya mempunyai waktu lima tahun. Sedangkan aku sudah mahir, kakak baru mencoba-coba. Inilah letak rahasia kekalahan kakak. Tapi apabila kakak tidak terlalu terburu napsu lagi dan sudi. menekuni sepuluh tahun lagi, hatsilnya akan mengagumkan. Pada waktu itu aku pasti dapat kau kalahkan."

Warok Jaganala memanggutkan kepalanya. Lima tahun memang cukup lama untuk menggertak kepandaian seorang pendekar berkepandaian sedang. Tapi menghadapi Rara Windu sebenarnya ia harus mempunyai perhitungan lain. Dia bukan seorang pendekar sembarangan. Dan biasanya wanita lebih cermat dari pada laki-laki. Memperoleh pertimbangan demikian, segera ia membungkuk hormat sambil berkata

"Kalau begitu, biarlah adik yang mewarisi ilmu kepandaian rumah perguruan kita. Biarlah aku pergi saja

..."

"Kakak hendak kemana?" Rara Windu terperanjat,

"Yang terang, aku tidak akan kembali ke wilayah ini. Aku malu kepada guru yang mengasuh aku dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta kasih” jawab Jaganala dengan suara penuh sesal

Mendengar jawaban Jaganala, Rara Windu berkata sungguh-sungguh dengan lembutnya

"Kakak! Aku memanggilmu dengan kakak, karena petunjuk-petunjuk kakak kita Hajar Pangurakan Menurut urutan tingkatan, aku berada dibawahmu. Walaupun aku berasal dari Jawa Barat, tapi aku merasa hidup kembali semenjak bertemu dengan kakak Hajar Pangurakan. Bagaimana kalau kita sekarang hidup di atas Gunung Lawu ini demi melanjutkan patilasan guru? Menurut kakak Hajar Pangurakan, guru bermukim diseberang Jembatan Jala Angin. Mungkin sekali, kita belum dapat mencapai pertapaannya mengingat kepandaian kita masih rendah. Tapi bila kita bertekun dengan sungguh dan mau menekuni semua warisan guru, niscaya kita berdua akan dapat menyusul guru, Kakak kita Hajar Pangurakan sekarangpun sudah sanggup berada disana. Untuk sementara biarlah kita bermukim dibawahnya. Bagaimana? Apakah kau sudi menerima taw aranku?"

Selama hidupnya, Warok Jaganala tak pernah berkeluarga. Karena itu, ia terharu mendengar tawaran Rara Windu. Itulah suatu tawaran yang timbul dari hati yang tulus bersih. Maka ia menatap adiknya seperguruan yang sakti itu dengan penuh pertanyaan,

Anung Danusubrata dan Prangwedani yang ikut mendengarkan, menganjurkan agar Jaganala menerima taw aran Para Windu, Dan oleh anjuran itu akhirnya Warok Jaganala mengangguk.

--ooo0dw 0ooo--