Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 08

 Jilid 08

Mendengar kata-kata Botol Pinilis, Sekar Prabasini mendadak saja menjadi bingung. Ia menangis oleh rasa bingungnya itu. Seperti seorang kalap yang membutuhkan pertolongan, ia berkata setengah berseru:

"Lalu bagaimana?"

Botol Pinilis menghela napas. Ia membiarkan Sekar Prabasini sibuk beberapa saat lamanya sampai kemudian ia berkata menyarankan :

"Bila adik setuju, aku mengusulkan agar jenazah ibumu dibakar saja. Nanti dulu ... aku tahu, hal itu bertentangan dengan agama dan adat istiadat kita. Kulihat meskipun kau bukan orang saleh, tapi sedikit banyak mempertaruhkan kepercayaan keharibaan agama kita, Islam."

Sekar Prabasini tercengang. Memang, meskipun belum pernah bersembahyang, akan tetapi leluhurnya memeluk agama Islam. Karena itu, meskipun dia orang acak- acakan, termasuk anggauta rumpun agama tersebut. Dan membakar mayat belum pernah di lakukan orang- orang Islam di bumi Jawa ini. Tapi Jalan lain, tiada lagi. Akhirnya mau tak mau ia menerima saran itu.. Perlahan lahan ia memanggut. Dan pada saat itu air matanya memenuhi kelopak mata.

Botol Pinilis kemudian mengajak Puguh Harimawan mencari kayu bakar. Lingga Wisnu dan Suskandairi mencari rumput-rumput kering. Matahari sudah sepenggalah tingginya, tatkala mereka mulai menyulut api. Dan jenazah Sekarningrum diletakkan hati-hati diatas pancaka.

Sakit hatinya Sekar Prabasini menyaksikan tubuh ibunya dijilat api. Rasanya seperti dirinya sendiri dibakar hidup-hidup. Ia lantas mendekam diatas tanah dan menangis sedih sekali.

Semenjak dilahirkan, ia hidup dipencilkan oleh anggauta-anggauta keluarga lainnya. Meskipun rumahnya besar tak ubah sebuah istana, namun ia merasa asing. Hanya ibunya seorang tempat ia mengadukan gundah hatinya itu. Dan hanya ibunya seorang pula yang sayang dan kasih padanya dengan setulus hati. Sekarang ibunya pergi untuk selama- lamanya. Mati dan kemudian. Dibakar Menurut perasaannya, kepergian ibunya tidak wajar.

Paman-pamannya kerap kali. menyatakan permusuhannya dengan terang-terangan. Ia diejek, disind ir dan dihina. 0leh lingkungan keluarga yang demikian itu, ia tumbuh menjadi seorang gadis yang luar biasa tabiatnya. Sepak terjangnya aneh dan bandel Ia memberontak terhadap sekelilingnya, karena merasa diberlakukan tidak adil. Ia benci dan curiga terhadap siapapun, kecuali ibunya. Hatinya bagaikan bara yang senantiasa siap merangsang pada sembarang waktu.

"Ibu! Kau pergilah! Tapi mengapa harus pergi! Aku jadi terpaksa hidup sebatangkara ...!" ia memekik-mekik.

Botol Pinilis tahu betapa hebat rasa sedih Sekar Prabasini. Tiada gunanya untuk mencoba menghiburnya atau menasehatinya. Untuk meringankan hati, dia justru harus menangis dan menjerit sepuas-puasnya. Karena itu, dia membiarkan gadis itu melolong tanpa terganggu. Sedangkan Lingga Wisnu pun bersikap demikian pula. Hanya Suskandari yang nampak resah. Secara naluriah ikut bersedih hati sampai air matanya bercucuran membasahi pipi.

Hampir mendekati petang hari pembakaran mayat itu selesai. Lingga Wisnu mencari sebuah guci. Apabila api telah padam, ia mengumpulkan abu dan sisa-sisa tulang Sekarningrum dan dimasukkan ke dalam guci itu. Kemudian menutupnya rapat-rapat. Dua kali ia membuat sembah sambil berkata :

"Bibi, tenangkan hatimu! Pasti aku akan memenuhi harapanmu, menguburmu disamping atau didalam satu liang kubur suamimu ..."

Waktu petang hari tiba, semuanya sudah siap untuk berangkat meneruskan perjalanan. Dan berkatalah Botol Pinilis kepada Lingga Wisnu :

"Adik, aku hendak ke Sukaw ati untuk mengantarkan emas ini kepada Panglima Sengkan Turunan. Laskar Raden Mas Said sudah bersiaga penuh disepanjang jalan Karangpandan. Mereka hendak mengadakan pukulan terakhir terhadap serdadu-serdadu Belanda yang bertangsi di dalam kota Surakarta. Akh, sebentar lagi gerakan penyerbuan itu bakal terjadi. Dan emas ini merupakan perbekalan yang menentukan. Syukur, engkau telah menyelamatkan. Sekiranya tidak, perjuangan Raden Mas Said menuntut keadilan untuk kandas ditengah jalan ..."

Mendengar kata-kata Botol Pinilis, Sekar Prabasini jadi perasa. Katanya setengah berbisik seolah-olah kepada dirinya sendiri :

'Akh, tak pernah terbayang dalam hatiku, bahwa emas itu merupakan modal perjuangan yang begitu berharga. Andaikata kakang Botol Pinilis tidak datang, pastilah aku akan mengandaskan perjuangan laskar Panglima Sengkan Turunan ..."

Puguh Harimawan teringat, bahwa gadis itulah yang membuat gara-gara. Tatkala ia ditugaskan mengaw al emas perbekalan itu, tiba-tiba Sekar Prabasini muncul dan merampasnya. Karena itu, mendengar ucapan Sekar Prabasini, hatinya jadi terhibur, Terus saja ia menyambung :

"Syukurlah, asal saja kau insyaf, aku ikut senang." Itulah   sindiran   hebat   bagi   pendengaran   Sekar

Prabasini yang bertabiat luar biasa dan selamanya belum

pernah ia mau mengalah terhadap siapapun. Bukankah terjadinya perampasan itu lantaran Puguh Harimawan tak becus menyelamatkan? Maka ia berkata tak langsung kepada Botol Pinilis :

"Kakang Botol Pinilis hatiku tenteram apabila kakang sendiri yang membawa emas itu ke Sukawati.. dengan begitu tidak akan menerbitkan suatu gara-gara lagi." Mendongkol hati Puguh Harimawan mendengar perkataan Sekar Prabasini. Benar-benar ia dianggap manusia tak berguna. Menuruti kata hati, ingin membalas dengan dampratan. Tapi oleh pandang tajam gurunya, ia batal sendiri.

"Bagaimana kalau adik sekalian ikut pergi ke Sukawati?" Botol Pinilis bertanya.

"Kakang, kurasa lebih baik aku ke Karangpandan dahulu untuk menemui guru," sahut Lingga Wisnu.

"Apakah guru berada disana?" Botol Pinilis menegas. "Benar.   Mula-mula   ke   Sukawati,   Kemudian   ke

Karangpandang. Akupun akan bisa bertemu dengan

kakang Puguh."

"Guru dan adinda Puguh tidak lagi berada di Karangpandan," kata Botol Pinilis. "Kabar yang aku terima, beliau berada di sekitar Wonogiri. Dan adinda Puguh membantu Panglima Sengkan Turunan di Sukawati."  

saat, berkata : Hati Lingga Wisnu tergerak.

Berkata setengah berseru:

"Ha, kalau begitu biarlah aku mencari guru di daerah Wonogiri. Tak jadi aku ke Karangpandan. Bagaimana pendapat kakang?"

Botol Pinilis mendeham dua kali sebelum menjawab. Setelah menimbang-nimbang beberapa "Pada saat ini, Pangeran Sengkan Turunan membutuhkan peribantu-pembantu yang tangguh. Adik mempunyai kepandaian begini sempurna., Bila datang bersamaku kepadanya, pastilah akan membuat gembira hatinya. Akan tetapi dikemudian hari - aku percaya bahwa adik pasti tidak akan tinggal diam dan akhirnya maribantu perjoangan rakyat menuntut keadilan."

Merah wajah Lingga Wisnu mendengar kata-kata kakak seperguruannya itu. Cepat-cepat ia menyahut :

"Kakang, dalam segala halnya, aku taat dan tunduk padamu. Bimbinglah aku agar aku menjadi manusia berharga dikemudian hari."

Botol Pinilis tertaw a. Ia terharu mendengar sikap adik seperguruannya yang halus sekali budi pekertinya.

Katanya

"Hebat budi pekertimu, adik. Aku kagum dan hormat padamu. Baiklah kita berpisah sampai di sin i saja."

Setelah berkata demikian. Botol Pinilis memutar tubuhnya dan berangkat meneruskan perjalanan, Puguh Harimawan dan Suskandari segera berpamit pula. Kata Suskandari :

"Kakang, kau raw atlah dirimu baik-baik." Lingga Wisnu memanggut.

"Kau berjanji?" Suskandari menekankan.

Kembali lagi Lingga Wisnu memanggut. Dan Suskandari nampak puas. Pandang matanya berseri seri. Katanya lagi :

"Aku ingin melihat dirimu selalu dalam keadaan segar bugar." "Akupun mengharapkan agar engkau melatih petunjuk-petunjukku," sahut Lingga Wisnu. "Dengan menekuni petunjuk-petunjukku, artinya kau akan selalu teringat kepadaku."

"Tentu, sejak hari ini aku pasti akan menjadi manusia lain." Suskandari berjanji.

"Bagus! Aku senang mendengar janjimu. Sampaikan salam baktiku kepada bibi. Katakan kepada bibi, bahwa aku senantiasa teringat padanya."

Suskandari tersenyum lebar,   matanya   bercahaya.

Sahutnya :

"Ibupun seringkali menyebut-nyebut dirimu. Akh, bila kini mengetahui bahwa engkau sudah tumbuh menjadi seorang dewasa, pastilah ibu akan sangat bergirang hati. Nah, kakang. Kita berpisah dahulu."

Suskandari kemudian memutar tubuhnya, memisah diri untuk menyusul Botol Pinilis dan Puguh Harimawan yang sudah berjalan mendahului. Mereka mengarah ke barat daya. Beberapa kali Suskandari menoleh. Dan Lingga Wisnu membalasnya dengan lambaian tangan. Pada lambaian tangan yang ketujuh, bayangan mereka bertiga telah lenyap dibalik rimbun dusun.

o-dw-o

"Hmm!" tiba-tiba terdengar Sekar Prabasini mendengus. "Dari pada selalu melambaikan tangan seperti wayang kulit tertiup angin, kan lebih baik menyusul saja!"

Lingga Wisnu tercengang. Inilah ucapan Sekar Prabasini yang tak diduganya sama sekali. Sebagai seorang pemuda yang belum berpengalaman tak dapat ia menebak keadaan hati gadis itu. Sebaliknya, melihat Lingga Wisnu tergugu, Sekar Prabasini berkata dengan suara menekankan :

"Kenapa tak kau susul saja? Sebenarnya, kaupun harus pergi bersama dia. Dengan begitu, perpisahan ini tidak akan mengharukan hatimu, bukan?"

Sekarang barulah Lingga Wisnu tersadar, apa sebab gadis itu tiba-tiba marah padanya. Sama sekali ia tidak mendongkol atau tersinggung. Bahkan ia jadi tertaw a geli. Katanya memberi keterangan ;

"Kau belum tahu hubunganku dengan dia, bukan? Tatkala masih kanak-kanak, pernah aku terancam bahaya besar Ibunyalah yang menolongku. Sejak itu, aku bergaul dan bermain-main dengan dia."

Sekar Prabasini membuang pandang. Hatinya kian mendongkol. Tiba-tiba saja ia mengambil segenggam batu dan dilemparkan asal jadi ke segala penjuru. Sebuah batu menghantam dinding tebing dari hancur. Katanya setengah berseru :

"Bagus! Bagus sekali! ? Kalian berdua sudah sejak kanak-kanak. Jadi. Sudah lama bergaul, bukan?"

Lingga Wisnu mengenal tabiat Sekar Prabasini yang luar biasa. Ia membiarkannya saja. Justru demikian, Sekar Prabasini semakin panas hatinya. Berkata sengit :

"Dengan dia, kau banyak bicara. Dengan dia, kau sering tertaw a. Tetapi aku, kau biarkan saja. Mengapa kau membuatku mendongkol selalu?" "Kapan? Kapan aku membuatmu mendongkol? Kapan aku membiarkan dirimu ..." Lingga Wisnu tercengang.

"Iddih ..." potong Sekar Prabasini. "Dia memang gadis manis. Apalagi sejak kanak-kanak kau sudah.bergaul. Sudah menjadi kawan bermain. Sebaliknya aku? Aku seorang gadis sebatang kara. Tiada berayah-bunda ..." setelah berkata demikian, Sekar Prabasini menangis menggerung- gerung.

Tentu saja, hati Lingga Wisnu jadi tak enak melihat Sekar Prabasini menangis demikian rupa. Katanya mencoba membujuk :

"Janganlah kau menuruti perasaanmu belaka. Marilah kita berdamai. Bukankah kita berdua akan selalu berjalan bersama-sama?"

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, hati Sekar Prabasini agak terhibur. Tangisnya behenti dengan tiba-tiba, dan wajahnya nampak bersemu merah lembut. Sahutnya:

"Apa yang hendak kita damaikan? Kau pergilah menyusul adikmu yang manis itu. Aku seorang anak sebatang kara. Apa perlu kau perhatikan diriku? Biarkan saja aku terombang-ambing dari ujung langit ke ujung langit. Biarkan aku seperti sebuah sampan, tergulung- gulung gelombang dari laut ke laut ..."

Bingung juga Lingga Wisnu menghadapi gadis yang bertabiat luar biasa ini. Ia kehilangan akalnya. Tak tahu lagi ia, apa yang harus dilakukan. Ia jadi membungkam mulut.

Sekar Prabasini menjadi jengkel sekali melihat Lingga Wisnu tertegun-tegun kehilangan akal. Hatinya panas bukan main. Terus saja ia menyambar guci abu ibunya. Dan pergi dengan langkah lebar. Tentu saja Lingga Wisnu tersentak kaget. Serunya gugup :

"Hei! Kau akan ke mana?"

“Hei, hei apa?" sahut Sekar Prabasini sengit. "Kau akan ke mana?"

"Apa perdulimu?"

Mau tak mau Lingga Wisnu terpaksa menyusul. Ia mencoba mengajak berbicara, akan tetapi gadis itu tetap membungkam mulut. Sikapnya sengit dan tak perduli, sampai t iba di sebuah kota kecil.

Karena malam hari telah tiba, Lingga Wisnu mencari sebuah pondokan untuk menginap. Sekar Prabasini membeli seperangkat pakaian laki laki. Ia hendak menyamar sebagai seorang pemuda seperti dahulu. Lingga Wisnu tahu gadis itu tak membekal uang cukup. Dahulu. ia meninggalkan rumah asal pergi saja. Maka ia memberinya dua keping emas. Tetapi Sekar Prabasini menolaknya. Katanya :

"Aku tak butuh uangmu. Kau simpan saja untuk adikmu yang manis. Kau tunggu saja di sin i.. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang hartaw an. Percaya, tidak?"

Lingga Wisnu tak dapat menebak hatinya. Ia segera menutup pintu kamarnya setelah gadis itu mengundurkan diri. Dan baru pada keesokan harinya ia mengerti makna kata-kata Sekar Prabasini. Karena tatkala mereka meneruskan perjalanannya terdengarlah percakapan orang sepanjang jalan, bahwa seorang hartawan di kota itu semalam kebobolan. Sekantong emas dan uang tunai seribu ringgit hilang lenyap digondol maling.

Lingga Wisnu mengerutkan kening. Ia mengerling kepada Sekar Prabasini. Gadis itu sekarang nampak segar-bugar dan gagah perkasa. Ia menyelipkan sebuah kantong dipinggangnya. Dan kedua saku celananya terdengar bergemerincing. Katanya, ia sekarang memiliki uang seribu ringgit, yang diterimanya dari dewa Narada yang semalam turun dari langit. Maka tahulah Lingga Wisnu bahwa kaw annya berjalan itulah yang semalam menjadi maling. Diam-diam ia mengeluh di dalam hati. Gadis in i cerdik dan gagah. Akan tetapi tabiatnya memang luar biasa. Ia merasa diri tak dapat melayani. Ingin ia berjalan seorang diri. Tetapi ia tak sampai hati untuk meninggalkan gadis itu seorang diri. Bukankah gadis itu seorang yatim-piatu? Bukankah ia sudah berjanji pula terhadap almarhum ibunya?

Hari itu, t ibalah mereka di Karang pandan. Masih saja Sekar Prabasini membungkam mulut. Ia berjalan seenaknya sendiri. Kadang-kadang lewat pengempangan sawah. Kadang pula menyeberang sungai, Malahan dua tiga kali memanjat pohon dan tidur beristirahat diatas dahan. Dan Lingga Wisnu terpaksa mengikuti serta menunggu dengan sabar hati. Pikirnya: 'Sampai kapan dia mengumbar adatnya ini? Hum, mudah-mudahan aku dikaruniai Tuhan usus panjang ...’

Tatkala matahari condcng ke barat, tiba-tiba terlihatlah awan hitam datang berarak-arak. Udara cepat sekali menjadi hitam kelam. Hujan deras mulai mengancam. Angin bergulungan menghantam dinding-- dinding gunung, sehingga memantulkan suara beraung- raung. Mereka berdua mempercepat langkah, agar dapat mencapai sebuah dusun tak jauh didepannya. Tetapi baru saja berjalan lima atau enampuluh tindak, hujan telah turun dengan derasnya.

Lingga Wisnu tadi membeli payung. Dengan demikian ia tidak usah khaw atir kehujanan. Sebaliknya, Sekar Prabasini yang sedang mengumbar adatnya, terus saja berlari-lari untuk mencari tempat berteduh. Tetapi sudah sekian lamanya ia berlari-larian, tetap saja tak nampak olehnya sebuah rumah atau gubuk untuk tempat berlindung. Tak mengherankan ia jadi basah kuyup. Namun ia tak sudi menyerah kalah. Masih saja ia berlari- larian kesana kenari seperti seekor tikus hendak membebaskan diri dari sebuah kubang air.

Lingga Wisnu lari menghampiri. Dengan cepat ia dapat menyusulnya, bahkan melewatinya kemudian ia menyerahkan payungnya sambil berkata :

"Pakailah payungku ini."

Sekar Prabasini membandal. Tak sudi ia menerima belas kasih siapapun. Dengan mengatupkan bibir, ia menolak payung itu kesamping.

"Adik," kata Lingga Wisnu membujuk. "Bukankah kita berdua sudah mengangkat saudara? Kita telah bersumpah, hendak mati dan hidup bersama. Senang dan susah akan kita pikul bersama juga. Kenapa engkau bersikap demikian terhadapku?"

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, kekerasan hati Sekar Prabasini luluh. Sahut gadis itu :

"Baik. Jadi kau tidak senang apabila aku marah kepadamu? Jika begitu, engkau harus berjanji kepadaku." "Coba sebutkan!" kata Lingga Wisnu. "Kau boleh mengikat janji kepadaku. Dan aku akan selalu menerima dan taat kepada janji yang mengikatku."

"Benar begitu?" Sekar Prabasini mencibirkan bibir. "Kalau begitu, dengarkan! Semenjak hari ini kau harus berjanji t idak akan berjumpa lagi dengan Suskandari. Bila kau terima syaratku ini, segera aku akan mohon maaf kepadamu." Dan ia tertawa manis. Manis sekali ..

Lingga Wisnu tertegun. Ia merasa diri sulit menerima perjanjian itu. Ia merasa berhutang budi terhadap Suskandari. Juga terhadap ibunya. Kepada mereka berdua ia hendak membalas budinya. Karena itu, tak dapat ia menerima syarat Sekar Prabasini.

"Memang sudah kuduga, bahwa kau takkan dapat mengabaikan adik Suskandari yang manis luar biasa ..." gerendeng Sekar Prabasini. Kemudian dengan mendadak, ia lari menubras ditengah hujan lebat.

"Hai, Prabasini! Prabasini " Lingga Wisnu gugup.

Sekar Prabasini tidak menghiraukan. ia lari terus. Makin lama makin menggila. Syukurlah, pada sebuah tikungan ia melihat sebuah barak kosong. Segera ia berteduh dan bermaksud bersembunyi. Akan tetapi Lingga Wisnu dengan tiba-tiba saja sudah berada dibelakangnya.

Gadis itu dalam keadaan basah kuyup. Padahal ia mengenakan pakaian bahan t ipis. Maka bentuk tubuhnya yang ketat padat nampak menggiurkan.

"Kau memang senang menghina diriku," katanya menggerutu. "Menghina bagaimana?" SJtfe Wisnu heran.

"Sesudah tidak memperoleh perhatianmu - kau senang sekali aku dalam keadaan begini."

Secara wajar Lingga Wisnu meruntuhkan pandang kepadanya. Dan kulit Sekar Prabasini yang hanya teraling sehelai pakaian tipis, tiba-tiba saja mendebarkan hatinya. Ia jadi tahu diri. Terus saja ia menanggalkan pakaian rangkapnya dan diselimut kannya.

Mendadak saja, Sekar Prabasini menangis menggerung-gerung. Dan kembali lagi Lingga Wisnu tercengang-cengang. Kesalahan apa lagi yang diperbuatnya? Ia tak tahu, bahwa dengan tiba-tiba saja Sekar Prabasini teringat akan cinta kasih ibunya, begitu Lingga Wisnu menyelimuti tubuhnya yang basah kuyup dengan kain rangkap yang kering hangat. Dan ibunya kini telah tersimpan rapat didalam guci yang dibaw anya.

Lingga Wisnu membiarkan gadis itu menangis sepuas- puasnya. Menghadapi gadis yang bertabiat luar biasa itu,, ia harus dapat menahan diri. Hanya saja, sampai hujan berhenti, masih saja Sekar Prabasini menangis sedih. Suatu kali ia melihat gadis itu mencuri pandang kepadanya. Anehnya, begitu beradu pandang, tangisnya makin menjadi-jadi.

”Baiklah,” pikir Lingga Wisnu di dalam hati. 'Aku ingin tahu, sampai kapan kau betah menangis. Apakah air matamu melebihi lautan teduh? Hm. Benar-benar aku ingin tahu'

Tentu saja Sekar Prabasini tak mengetahui apa yang terpikir didalam hati pemuda itu. Ia terus menangis dan menangis sampai tiba-tiba terdengar suara langkah terantuk-antuk batu menghampiri barak. Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki memajang seorang perempuan. Nampaknya perempuan itu menderita sakit. Ia merint ih dan mengerang.

Laki-laki itu iba kepadanya. Ia mencoba meringankan penderitaannya dengan kata kata bujukan dan hiburan. Dan oleh munculnya mereka berdua, Sekar Prabasini berhenti menangis. Tak sengaja, ia memperhatikan gerak-geriknya. Juga Lingga Wisnu tak terkecuali. Dan tiba-tiba saja timbullah suatu pikiran didalam hatinya ;

'Laki-laki itu membujuk dan menghibur isterinya yang lagi menanggung sakit. Kalau aku berpura-pura sakit, mungkin sekali Sekar Prabasini menaruh perhatian kepadaku,' pikir pemuda itu didalam hati.

Tak lama kemudian, sepasang suami isteri itu melanjutkan perjalanannya dengan tertatih-tatih. Sebentar Sekar Prabasini mengikuti dengan pandang matanya. Lalu bersiap-siap hendak meneruskan perjalanannya pula. Selagi hendak meninggalkan pintu keluar, sekonyong-konyong ia mendengar Lingga Wisnu memekik tertahan :

"Duh ... aduuuuh!!"

Kaget ia memutar tubuh. Dan pada saat itu ia melihat Lingga Wisnu meliuk-liuk menahan sakit. Kedua tangannya menekan perut dan mengaduh terus- menerus. Oleh rasa kaget, Sekar Prabasini melompat dengan membaw a gucinya. Kemudian diletakkan diatas tanah sambil berseru gugup :

"Kenapa?" Lingga Wisnu tak menjaw ab. Ia rebah terduduk diatas tanah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"'Kenapa? Sakit perut?" Sekar Prabasini menegas.

Tetap saja Lingga Wisnu tak menyahut. Ia rebah terduduk di atas tanah. Keringat dingin terus keluar dan ia meringis kesakitan, terus merint ih. Tetapi di dalam hatinya ia berkata:

'Sekali bermain sandiwara, tidak boleh kepalang tanggung.’

Memperoleh keputusan demikian, ia menahan napas. Sebagai, seorang pemuda yang tinggi ilmunya, dapat ia mengatur napasnya sesuka hatinya. Dan begitu napasnya tertahan, sekujur badannya dingin dengan mendadak.

"Sebenarnya kau kenapa?" Sekar Prabasini gugup tak keruan. Kali ini hatinya benar-benar sibuk. Ia meraba pergelangan tangan Lingga Wisnu. Dingin! Dan ia lantas menangis kebingungan. Maklumlah, selamanya belum pernah ia merawat orang sakit. Bahkan ibunyalah, yang selalu merawat dirinya b ila sakit. Karena itu, cepat sekali ia kehilangan akal

Lingga Wisnu benar-benar tak mau kepalang tanggung. Dengan tersekat-sekat ia berkata :

"Adik ... agaknya sakitku ini tak dapat disembuhkan lagi. Kau berangkatlah seorang diri. Jangan pedulikan aku ..."

'T api kenapa? Kenapa kau mendadak sakit? Kenapa?" Sekar Prabasini setengah menjerit. "Dik, sebenarnya aku mempunyai penyakit turunan," sahut Lingga Wisnu dengan suara lemah, "Setiap kali aku menjadi sedih atau merasa mendongkol, penyakit itu kambuh. Sekarang hatiku pepat, sedih dan mendongkol. Perutku lantas ... adduuh .. adduuuh ..."

Benar-benar Sekar Prabasini kebingungan. Lupa dia kepada adat-istiadat pada zaman itu, terus saja ia menubruk dan merangkul. Lalu mengurut-urut dada dan perut Lingga Wisnu.

Lingga Wisnu jadi kegelian sendiri. Ia malu dan kikuk kena peluk seorang gadis. Apalagi kena peluk seorang gadis basah kuyup yang membuat bentuk badannya jadi jelas dan gairah.

"Kakang Lingga, tak boleh kau mati. Memang akulah yang membuat hatimu sedih, mendongkol dan pepat." Sekar Prabasini meratap. "Memang aku seorang gadis tak tahu diri. Seorang gadis sebatang kara yang berkepala batu. Kakang, aku berjanji tidak akan membuatrnu sedih, pepat dan mendongkol ..."

Mau tak mau Lingga Wisnu tertaw a di dalam hati. Ia berhasil dalam peranannya. Berkata di dalam hati :

'Aku kini kena peluknya. Kalau sandiwaraku bubar tengah Jalan, aku bakal dicap sebagai seorang pemuda kurang sopan ...’ dan ia terus merint ih panjang dan pendek. Kemudian mengeluh mengambil hati :

"Tak dapat aku hidup lebih lama, adik. Kalau aku sampai mati, jangan kau bakar diriku. Aku takut panas. Karena itu kubur saja dengan wajah tengkurap. Lalu .. lalu... carilah..kakang Botol Pinilis dan kabarkan tentang nasibku ini ... adduuuh ..." "Tidak! Tak boleh kau mati!" Sekar Prabasini menangis. "Sebenarnya aku hanya berbohong dan bermain sandiwara kepadamu. Aku tidak marah kepadamu. Yang kuharapkan, agar engkau menaruh perhatian kepadaku. Kakang ... aku sayang padamu ... Jika kau mati, akupun akan bunuh diri dan mati disampingmu ..."

Hati Lingga Wisnu tergetar. Gadis itu berkata dengan sungguhi-sungguh di antara air matanya yang bercucuran. Mustahil dia sedang .bersandiwara seperti dirinya. Maka ia berpikir di dalam hatinya :

"Akh, tak kukira bahwa ia cinta kepadaku.”

Dan aneh, memperoleh pikiran demikian, mendadak saja hatinya terselimut perasaan syukur dan bahagia. Ia lantas saja jadi berbimbang bimbang. Apakah dia harus bersandiwara terus?

Dalam pada itu pelukan Sekar Prabasini makin erat. Gadis itu sedih dan cemas bukan kepalang, Ia mengira. Lingga Wisnu benar-benar tak tertolong lagi. Mengeluh sedih

"Kakang, jangan t inggalkan daku! Kau tak boleh mati, atau matilah bersamaku ..."

Hati Lingga Wisnu benar-benar tergoncang. Tiba-tiba saja berkelebatlah bayangan Palupi dan Suskandari. Kemudian ayal-bunda, kakaknya tertua dan saudara perempuannya. Seketika itu juga teringatlah dia kepada darma yang harus dilakukan.

'Kakak perempuanku kini entah berada dimana, mungkin dia menderita hebat kena siksa yang mengiranya mengetahui tentang wasiat peninggalan ayah. Sekarang aku begini, berpeluk-pelukan dengan seorang gadis. Akh! Palupi dahulu menaruh perhatian besar terhadapku. Dia ikut berprihatin mengenai penyakitku. Dia berjanji akan menorrukan obat pemunah racun yang dahulu mengeram didalam diriku. Juga Suskandari kini mungkin sedang memikirkan aku. Kenapa aku justru melupakan mereka semua karena menuruti kata hati sendiri?'

Oleh timbulnya pikiran itu, ia jadi malu kepada dirinya sendiri. Terus saja ia menguraikan pelukan Sekar prabasini. Kemudian berkata:

"Prabasin i, kau mengaku hanya bermain sandiwara terhadapku, dengan berpura-pura marah. Akupun sebenarnya sedang bersandiwara pula terhadapmu. Maafkan ..." Setelah berkata demikian, ia tertaw a

terbahak-bahak untuk meyakinkan gadis itu.

Tentu saja pengakuan itu membuat hati Sekar Prabasini kaget dan malu bukan main. Ia tercengang sejenak. Sekonyong- konyong ia melayangkan tangannya menampar telinga Lingga Wisnu. Kemudian  melompat bangun dan lari lintang pukang dengan membaw a

guci abu.

Telinga Lingga Wisnu pengang. Tamparan itu benar- benar tak terduga olehnya. Lagi pula terlalu dekat. Sebagai seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, sebenarnya bisa ia mengelak atau menangkis. Tapi ia tak sampai hati membuat gadis itu kecewa. Maka ia membiarkan dirinya kena gaplok. Hanya saja tak pernah mengira, bahwa gaplokan Sekar Prabasini terlalu keras. Itulah suatu tanda, bahwa gadis itu benar-benar marah.

"Akh, aku benar-benar semberono. Kalau kali ini dia marah benar-benar, Itulah akibat kesalahanku sendiri." ia mengaku didalam hati.

Cepat ia melompat bangun dan terus mengejar. Dengan himpunan tenaga saktinya yang sempurna, ia tak mengalami kesukaran sedikitpun untuk menyusul. Sebentar saja ia sudah berada satu langkah dibelakang gadis itu.

"Prabasin i, maafkan aku." katanya berulang kali. Tetapi Sekar Prabasini tak sudi mendengarkan.

Hatinya malu, menyesal dan marah. Ia merasa benar- benar dipermainkan. Sebagai seorang gadis adalah tabu apabila membuka rahasia hatinya begitu jelas dihadapan seorang pemuda yang justru menjadi sasaran perhatiannya. Tetapi setelah lari mengumbar adat selint asan lamanya, mendadak saja kekerasan hatinya jadi lemah dengan tak dikehendakinya sendiri. Ia menoleh dan melihat pipi dan telinga Lingga Wisnu merah akibat gaplokannya. Makin ia menjadi perasa. Dan terjadilah suatu pergumulan hebat antara penyerahan dan keangkuhannya. Akhirnya meletuslah perbendaharaan hatinya :

"Kau menjemukan sekali sih ..." Gembira Lingga Wisnu mendengar Sekar Prabasini. Alangkah manis dan Semanis dan sesedap setetes madu. Bukankah kata-kata itu sendiri berarti suatu uluran perdamaian. Maka sahutnya :

"Prabasin i, memang aku keterlaluan. Maafkanlah aku

..."

"Kalau sudah kumaafkan, lalu bagaimana?" Sekar Prabasini merengut.

"Aku senang!"

Sekar Prabasini menundukkan kepalanya. Ia memperlambat larinya. Akhirnya berjalan dengan langkah terantuk-antuk. Dan menjelang magrib, desa Meteseh sudah berada tak jauh didepannya.

Mereka berdua mencari rumah makan. Dan di dalam rumah makan itu, barulah mereka dapat duduk berjajar dengan perasaan damai. Dengan berdiam diri mereka saling pandang. Sekar Prabasini masih agak basah pakaiannya, sedang Lingga Wisnu bersenyum gendeng.

"Hai! Mengapa kau mengumbar mulut?" tegur Sekar Prabasini. "Apa yang kau gelikan?"

"Perutku," sahut Lingga Wisnu sekenanya.

"Kenapa perutmu? Sakit lagi?" Sekar Prabasini sengit. "Bukan, Lapar ... Yang sakit kini adalah pipiku."

Sekar Prabasini tertawa. Tertaw a manis sekali. Lingga Wisnupun tertawa. Akhirnya mereka tertaw a berbareng. Dan pada detik itu pula, hati mereka benar-benar berdamai. Mereka lantas bercakap-cakap dengan ringan sambil, makan dan minum. Malam hari itu mereka menginap di sebuah gubuk yang berada diluar dusun. Puas hati Sekar Prabasini, karena Lingga Wisnu ternyata seorang pemuda yang sopan santun. Sama sekali ia tak menggoda atau mencoba membaw a pembicaraan kearah tertentu. Bahkan, tatkala rasa kantuknya tiba, ia tidur menggeletak diluar gubuk di atas seonggck jerami kering.

Keesokan harinya, mereka mandi di sebuah sungai yang jernih airnya. Setelah ganti pakaian, berkatalah Lingga Wisnu :

"Prabasin i, kurasa tugas kita yang terpenting adalah mengantarkan abu ibumu mendaki gunung Dieng. Bagaimana pendapatmu?"

"Benar," Prabasini membenarkan. "Tetapi bagaimana sih sebenarnya, atau asal-mulanya kau dapat menemukan kuburan ayah?"

"Nanti kuceritakan sambil meneruskan perjalanan," sahut Lingga Wisnu.

Mereka mengisi perut dahulu. Kemudian meneruskan mengarah ke barat. Dan sambil berjalan Lingga Wisnu menceritakan pengalamannya tatkala mula-mula menemukan goa Bondan Sejiw an yang bersembunyi diatas puncak gunung Dieng. Bagaimana ia memperoleh kitab dan peta warisan yang akhirnya dapat dipergunakan untuk menghancurkan ilmu kebanggaan keluarga Dandang Mataun.

Sekar Prabasini girang berbareng duka cita. Ia bergirang hati, karena ayahnya ternyata seorang pendekar besar yang pantas dikagumi. Sebaliknya ia berduka cita mengenangkan nasib ibunya yang malang. Mengapa ibunya dilahirkan hanya untuk menderita? Mengapa ibunya di dunia ini seolah-olah tiada suatu kedamaian. Masing-masing membaw a persoalannya sendiri yang penuh duka cita. Dan tentu sekali dalam hati manusia betapa sempit dan terlalu pendek masa damai yang dapat terteguk oleh insan yang benar-benar merindukan.

Dalam pada itu, Lingga Wisnu tak lupa pula menceritakan sepak-terjang Cocak Obar-abir dan Gemuling. Betapa mereka saling menipu dan akhirnya saling membunuh. Dan mendengar hal itu bulu kuduk Sekar Prabasini meremang

"Eyang Cocak Obar-abir dan eyang Gemuling sebenarnya adalah pinisepuh kita," kata Sekar Prabasini- "Menurut ibu, mereka jahat sekali. Masih ingatkah engkau, perawakan tubuh eyang Gemuling? Dia gemuk, bukan? Mukanya terdapat bekas luka panjang."

"Benar." Lingga Wisnu terbangun ingatannya dan teringat dengan kejadian lama.

"Menurut ibu, semenjak ayah lenyap tiada bekas, seluruh keluarga Dandang Mataun bertebaran untuk mencari jejaknya. Sepuluh tahun lamanya mereka mencari ubek-ubekan. Akan tetapi t idak berhasil. Setelah pulang, hanya eyang berdua itulah yang hilang tiada kabar. Tak tahunya mereka berdua menemukan mautnya diatas gunung Dieng. Tapi mereka berdua memang pantas mati secara demikian. Bukankah mereka saling bunuh-membunuh? Itulah keadilan Tuhan yang benar- benar adil," Sekar Prabasini berhenti sebentar. Kemudian meneruskan : "Ayah ternyata sudah lama meninggal dunia. Walaupun demikian, masih dapat menjebak musuh- musuhnya. Aku benar-benar bangga kepadanya. Dan aku tak malu pula disebut putrinya."

"Memang. Kau tak perlu malu menyebut diri sebagai putri paman Bondan Sejivan." Lingga Wisnu berkata dengan tulus hati. "Akan tetapi tatkala aku terpaksa memperlihatkan peta warisan didepan ibumu, pastilah akan menerbitkan suatu malapetaka baru. Masakan sekalian pamanmu akan berpeluk lutut saja setelah mengetahui dimana peta yang di-impi--impikan itu berada, Mungkin sekali pada saat in i, mereka mengikuti perjalanan kita."

Sekar Prabasini mengerinyitkan dahinya. Kedua alisnya yang lentik tegak. Berkata :

"Meskipun demikian, mereka takkan dapat berbuat apa-apa terhadapmu. Sebaliknya andaikata ayah masih hidup dan sempat menyaksikan betapa engkau menghajar mereka morat-marit, maka alangkah girangnya ..." ia berhenti dengan nada kecewa. Mendadak menghibur diri:

"Tapi ibu sempat menyaksikan. Dialam baka ibu akan mengabarkan hal itu kepada ayah. Dan ayah pasti terhibur hatinya. Sebenarnya bagaimana sih rupanya peta itu? Bolehkah aku melihatnya?"

"Kenapa tidak? Ini adalah warisan ayahmu. Sebenarnya harus kuserahkan kepadamu," Lingga Wisnu. Dan ia menyerahkan peta Bondan Sejiw an.

Sekar Prabasini menerima peta warisan itu dengan tangan gemetaran. Dengan berdiam diri ia merenungi dan mempelajari. Hatinya berduka berbareng girang.. Ia mencoba mengalihkan peta itu kedalam ingatannya. Tentu saja membutuhkan waktu berhari-hari lamanya, Dan pada suatu hari, tiba-tiba ia berkata :

"Kakang Lingga. Lebih baik kita undur dahulu perjalanan kita mendaki Gunung Dieng. Kurasa harta warisan in i sangat penting.”

Lingga Wisnu heran. Menegas :

"Penting bagaimana?"

"Bukankah peta ini menyebutkan tentang harta warisan? Kata ayah, barang siapa memperoleh harta ini, diwajibkan menyerahkan uang sebesar seratus ribu ringgit. Kalau begitu, jumlah harta warisan in i pasti luar biasa banyaknya. Barangkali kita mampu membeli sebagian pulau Jawa."

Lingga Wisnu menarik napas. Diam-diam ia membenarkan ucapan Sekar Prabasini, bahwa harta warisan itu tak bernilai harganya. Ujarnya perlahan :

"Akan tetapi mengantarkan abu ibumu adalah suatu tugas mulia dan yang terpenting. Lagi pula ... sebenarnya aku mempunyai kewajiban mencari saudara- saudaraku yang hilang."

"Saudara-saudaramu?" Sekar Prabasini heran.

Lingga Wisnu manggut. Kemudian ia menceritakan riw ayat hidupnya sejak kanak-kanak sampai berguru kepada Kyahi Sambang Dalan. Dan mendengar riw ayat hidup Lingga Wisnu, gadis itu jadi terharu.

"Akh, tak kusangka bahwa engkau pernah mengalami penderitaan begitu hebat. Kalau begitu kita berdua ini, bertemu dalam penderitaan." ia berkata "Tetapi peta itu sendiri tidak boleh kau abaikan, Apabila kita berhasil mencari harta warisan itu, akan mempermudah dirimu mencari jejak kakak-perempuanmu ..."

Lingga Wisnu tidak menjaw ab. Ia berbimbang sampai dua hari lamanya. Dan pada hari ketiga, Sekar Prabasini berkata mengesankan :

"Kakang. Aku hanya merampas uang perbekalan Panglima Sengkan Turunan sebesar dua ribu keping saja. Walaupun demikian sudah menimbulkan suatu kesibukan luar hiasa. Kakakmu seperguruan sampai ikut turun tangan. Juga dirimu. Alangkah kerdil Panglima Sengkan Turunan itu."

"Tidak, kau keliru." bantah Lingga Wisnu cepat. "Aku pernah melihat beliau selint asan. Dia seorang panglima yang berkeperibadian besar dan bukan manusia berhati kerdil seperti sangkamu. Kalau dia sampai sibuk mengenai uang emas itu, lantaran merasa bertanggung jawab terhadap rakyat. Uang emas itu bukan miliknya pribadi. Wajib ia merebutnya kembali dan memanfaatkan. Pada saat ini, dia sedang menghimpun kekuatan rakyat untuk melabrak tindak sewenang kaum penguasa. Sudah lama Belanda dan para begundalnya membuat sengsara mereka. Dan untuk bisa melabrak mereka dia membutuhkan modal. Sekalipun hanya berjumlah dua ribu keping emas, namun besar sekali artinya. Tidak! Dia bukan manusia berhati kerdil!"

Sekar Prabasini tertawa manja. Sahutnya:

"Dan merebut kenfcali uang emas sejumlah dua ribu keping saja, seorang panglima bersedia turun tangan sendiri. Apalagi uang emas sebesar seratus ribu ringgit! Bukankah jauh lebih berharga? Kenapa kakang tak mau mencontoh kesediaan panglima itu? Hendaklah kakang sadar, bahwa jumlah harta warisan itu mungkin sekali melebihi sepuluh atau duapuluh juta ringgit emas tulen. Alangkah akan berterima kasih dia, manakala kakang bisa membantu memberi modal perjuangan kepadanya, Seratus atau dua ratus ribu keping emas, kurasa belum melarutkan jumlah harta warisan itu."

Mendengar ucapan Sekar Prabasini, Lingga Wisnu terkejut. Mendadak saja ia seperti seseorang terbangun dari tidurnya. Terus saja ia menyambar tangan Sekar Prabasini dan berkata setengah memekik :

"Ya, Allah. Kenapa aku tak bisa berpikir sampai d isitu? Otakku benar-benar lagi keruh! Benar, adikku. Benar! Kita berdua bisa ikut bersaham terhadap perjuangan rakyat ini Kau hebat, adikku! Kau hebat sekali!"

"Tak usah kau menyanjung aku berlebih lebihan," kata Sekar Prabasini dengan tertawa senang. "Cukup sudah, asal kau memperhatikan diriku."

Pemuda itu menggenggam tangan Sekar Prabasini erat-erat. Kemudian menguraikan perlahan-lahan seraya menyahut :

"Tapi kau memang hebat sekali. Seumpama kita bisa menghaturkan sebagian harta warisan kepada Panglima Sengkan Turunan, sungguh sungguh merupakan berkah Tuhan bagiku."

Lingga Wisnu merasa seperti memperoleh semangat baru. Terus saja ia mengajak Sekar Prabasini duduk di tepi jalan. Peta peninggalan Bondan Sertiw an digelarnya di atas rumput. Dan mereka berdua menekuni dengan seksama.

Ditengah-tengah peta itu terdapat bundaran merah. Disampingnya tertera sepata kata KUNCI. Dan ditengah bundaran sederet kalimat yang berbunyi : Naratoma - Kimpurusa. Kimpurusa adalah bahasa Kawi. Artinya: raksasa Apa artinya?

"Naratoma adalah mahapatih Airlangga di zaman Mataram, untuk merebut kerajaannya kembali yang diduduki raja Srivdjaya. Airlangga dan Naratoma menyalakan api perjuangan di sekitar daerah Wonogiri. Apakah Narotama dahulu mendirikan gedung kediaman didaerah ini? Lihat, disini terdapat tulisan: Harta warisan disimpan di dalam istana Narotama. Gali dan akan diketemukan kamar baja. Didalamnya ada petunjuknya. Bagaimana pendapatmu?"

Sekar Prabasini tercengang. Sahutnya:

"Eh, dari mana kau belajar sejarah? Kau seperti menceritakan suatu peristiw a yang baru saja terjadi kemarin lusa! Karena itu, kita urungkan dahulu perjalanan kita ke Dieng. Kita cari istana itu, mumpung kita masih berada di daerah Wonogiri."

Kali ini Lingga Wisnu tidak manbantah atau membangkang. Ia diam bermenung-menung. Kemudian berkata seperti kepada dirinya sendiri

"Daerah Wonogiri in i pada zaman dahulu pastilah merupakan hutan rimba belantara. Coba bacalah Wonogiri itu. Wono artinya hutan. Giri artinya gunung. Jadi hutan gunung atau gunung berhutan. Dan Narotama adalah mahapatih seorang raja besar. Kukira setelah perjuangan selesai, ia balik kemari untuk membangun sebuah istana yang megah. Meskipun andaikata istana itu sudah lenyap, rakyat pasti mengenal riw ayat istana itu dari cerita mulut ke mulut."

"Sekarang ini tak ada gunanya engkau menduga-duga berkepanjangan." potong Sekar Prabasini. "Mari kita ke Wonogiri. Kau bilang, Wonogiri adalah sebuah nama peringatan adanya hutan gunung atau gunung hutan. Kurasa Narotama dahulu membangun istananya di kota itu. Andaikata tidak ... kita. cari di sekitarnya."

Kembali lagi Lingga Wisnu tidak marbantah atau, membangkang. Setelah peta digulung, segera mereka berangkat. Disepanjang jalan, mereka bicara hilir-mudik. Akan tetapi sama sekali tidak menyinggung lagi tentang harta warisan itu. Mereka sadar, bahwa batu-batu mungkin mempunyai telinga.

Pada zaman itu daerah Wonogiri masih tertutup hutan belantara. Tanahnya gampirtg dan berbatu. Kdfcena itu, tidak mengherankan bahwa mereka membutuhkan waktu enam hari untuk mencapai. kota Wonogiri.

Wonogiri sekarang merupakan sebuah kota yang sederhana. Belum boleh disebut kota besar, walaupun merupakan kota penghubung. Maka dapat dibayangkan, betapa penting arti kota itu pada zaman dahulu. Kecuali merupakan sebuah kota yang paling besar diseluruh daerah, juga menjadi urat nadi perdagangan. Di dalamnya terdapat jumlah penduduk yang cukup padat. Toko-toko, pasar dan penginapan.

Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini kali ini menginap disebuah rumah penginapan. Rumah penginapan itu dekat dengan perusahaan gamping. Maka genting dan dindingnya kotor oleh abu gamping. Meskipun demikian, banyak juga pengunjungnya - mungkin sekali,- rumah penginapan itu merupakan tempat penghubung perdagangan yang luwes.

Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini pun mempunyai perhitungan itu pula. Sengaja mereka bercampur dan bergaul dengan para penginap dan pekerja-pekerja penginapan. Mereka mencoba minta keterangan tentang sejarah perjuangan Airlangga dan Narotama. Tapi diluar dugaan, baik penduduk aseli maupun para penginap, asing dengan sejarah itu.

Sekar Prabasini jadi tak sabar hati lagi.

Kepada seorang pelayan, dia berkata penuh penasaran:

"Masakan kau tak tahu? Narotama adalah Mahapatih Airlangga. Kabarnya dia membangun istana di sini."

"Istana? Dimanakah ada sebuah istana di sini?" pelayan itu heran. "Akh. semenjak dilahirkan belum pernah aku melihat istana berada di kota Wonogiri. Kalau di ibu kota tempat raja bersemayam, kabarnya ..."

"Kau bohong!" potong Sekar Prabasini. "Barangkali disekitar kota ini ..."

"Mana ada istana? Kalau tak percaya, silahkan cari sendiri!"

Sekar Prabasini yang berwatak panas hampir saja menggaplok pelayan itu. Kata-katanya dianggapnya menghinanya. Untung, Lingga Wisnu kenal watak kawannya berjalan itu. Segera ia mengajaknya berjalan- jalan keluar penginapan mencari kabar berita. Tetapi sampai pada hari kelima usahanya tetap tak berhasil. Wonogiri menang tak memiliki sebuah istana. Oleh karena kesal hati, mereka berjalan-jalan sejadi- jadinya. Kini mendaki gundukan tanah untuk melihat matahari tenggelam di barat. Namun terdorong oleh rasa masgul, keindahan alam dipetang hari itu sama sekali tak merasuk didalam perbendaharaan hati.

Tiba-tiba Lingga Wisnu yang memiliki pendengaran tajam, mendengar sesuatu yang mencurigakan. Cepat ia memberi kisikan kepada Prabasini :

"Bersembunyi!"

Sekar Prabasini percaya benar kepada kawannya berjalan itu. Terus saja ia meloncat mengikuti dan bersembunyi ditengah pekuburan. Dan tak lama kemudian terdengarlah suara langkah dari dua penjuru yang datang hampir berbareng. Belasan orang jumlahnya dan mereka semua menyandang senjata tajam. Waktu itu matahari telah tenggelam, sehingga mereka nampak bagaikan bayangan yang tiba dengan berduyun-duyun.

Selagi mereka datang saling menghampiri, terdengarlah tepuk tangan sandhi dua kali berturut-turut dari arah barat dan timur. Mereka lantas bergabung menjadi satu, kemudian duduk diatas tanah dengan- membungkam mulut.

Jarak antara mereka San Lingga Wisnu berdua, kira- kira dua puluh langkah jauhnya. Dan karena pendengaran Prabasini tidak setajam Lingga Wisnu, ia bergerak maju mendekat.

"Tunggu!" cegah Lingga Wisnu seraya menarik bajunya. "Tunggu apa lagi?" Prabasini jadi tak senang hati.

"Sst ..." Lingga Wisnu memberi isyarat supaya menutup mulut.

Menuruti kata hati, Prabasini ingin mendanpratnya.. Akan tetapi ia tahu, Lingga Wisnu pasti mempunyai alasan tertentu. Oleh pertimbangan itu, ia menyabarkan diri. Namun, menunggu adalah suatu siksa sendiri.. Detik-detik terasa alangkah lambat. Tak lama kemudian, terdengarlah gelombang angin menyirbuki mahkota daun-daun dan rumput diatas pekuburan nampak seolah- olah bergerak,

Berbareng dengan suara berisik itu, Lingga Wisnu menyambar lengan Prabasini. Dan dibawa berlompat kearah sebuah nisan bertembok keliling. Mereka bersembunyi dibaliknya. Dan pada saat itu nampaklah sesosok bayangan yang tiba-tiba saja sudah berada didepan rombongan. Segera mereka berdua menajamkan penglihatan dan pendengaran.

Dalam hati Prabasin i kagum terhadap kegesitan Lingga Wisnu. Pikirnya didalam hati:

'Hebat tenaganya. Iapun dapat dengan cepat mengambil keputusan. Sopan dan cermat. Sayangnya, agak kering.'

Tentu saja Lingga Wisnu tak dapat mendengar suara hati Prabasini. Seluruh perhatiannya dipusatkan kepada rombongan orang yang berada didepannya. Terdengarlah seseorang yang bersuara parau :

"Saudara-saudara sekalian. Dari jauh kalian datang. Pastilah kalian tidak hanya mengorbankan harta dan waktu saja, tetapi tenaga pula." Seseorang menyahut :

"Guruku sedang sakit. Hampir satu bulan beliau berada diatas pembaringannya. Untuk memenuhi undanganmu beliau mengirimkan paman Tawon Kemit pemimpin kami. Paman Tawon Kamit di perint ah guru untuk mematuhi segala perint ah tuanku Srimoyo."

"Gurumu pendekar Anung-anung benar-benar memperhatikan kesulitanku, Perkenankan aku menghaturkan terima kasih tak terhingga kepada beliau," ujar orang yang bersuara parau. Dan dialah yang disebut dengan nama Srimoyo.

Lingga Wisnu tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Akan tetapi, peraw akan orang itu sesuai dengan namanya yang terdengar agak kewanitaan. Gerak- geriknya nampak gesit. Pastilah dia seorang pendekar yang memiliki kepandaian berarti. Kata Srimoyo meneruskan :

"Saudara Tawon Kemit terkenal dengan pedang Karawelang. Sebilah pedang yang menggetarkan wilayah Banyumas Selatan. Dia sudi datang membantuku. Karena itu, masakan kita tak akan berhasil? Saudara Tawon Kemit, hatiku benar-benar lega melihat kehadiranmu."

"Akh, janganlah memuji aku berlebih-lebihan." terdengar seseorang menyahut. Ia bertubuh kasar, dan memiliki suara laki-laki tulen :

"Kami, anggauta Sekar Ginabung, terlatih hidup sederhana semenjak ratusan tahun yang lalu. Sekarang, kami menocba-ccba diri untuk membantu kesulitan kakang Srimoyo. Tapi yang kukhaw atirkan, jangan- jangan kami semua tak mampu menyelesaikan kesulitan kakang."

Tergetar hati Lingga Wifenu mendengar Tawon Kerrut menyebut-nyebut aliran Sekar Ginabung.

Dahulu, semasa hidup dengan ayah bundanya, bukankah anggauta-anggauta Sekar Ginabung ikut pula mengganggu kedamaian keluarganya? Sekar Ginabung adalah suatu aliran yang mengutamakan tata ilmu pedang. Aliran itu termashur di antara tiga aliran lainnya. Ugrawasa, Sekar Teratai dan Puji Rahayu. Masing-masing aliran tersebut memiliki dasar ilmu saktinya yang diandalkan. Seingatnya, rumah perguruan Sekar Ginabung berada di atas gunung Papandayan. Sekarang, Taw on Kemit dan rombongannya datang dari jauh, sampai memasuki daerah bukit seribu. Maka pastilah persoalan Srimoyo merupakan suatu masalah maha besar. Oleh pikiran itu, segera ia menajamkan pendengarannya agar dapat mengikuti pembicaraan mereka dengan jelas.

Ternyata mereka berdua berbicara dengan kata-kata upacara belaka. Mereka saling segan dan berhati-hati. Dan pada saat itu terdengarlah suara tepukan yang datang dari arah Utara. Kemudian muncullah rombongan ke tiga yang datang saling menyusul. Tak lama lagi muncul dua rombongan pula. dan melihat, kedatangan kedua rombongan itu, mereka berdiri menghormat serta menyebut-nyebut aliran Ugrasawa, Puji Rahayu dan Sekar Teratai. Sedang rombongan ketiga adalah anggauta-anggauta gerombolan yang bermukim di sekitar gunung Slamet. Tak lama kemudian masing-masing ketua rombongan saling memperkenalkan diri. Pendekar Tawon Kemit memimpin rombongan aliran Sekar Ginabung. Pendekar Sastra Demung memimpin rombongan aliran Ugrawasa. Sedang rombongan aliran Puji Rahayu diketuai pendekar Kartolo. Dan seorang yang bernama Kayat Pece adalah pemimpin gerombolan perampok yang bermukim disekitar Gunung Slamet. Rombongan yang kelima nampaknya sebagai tuan rumah. Srimoyo adalah ketuanya.

Mendengar nama-nama mereka, Lingga Wisnu jadi semakin heran. Bukankah mereka adalah pendekar yang kenamaan. Gurunya seringkali menyebut nama-nama mereka. Masing-masing menilai kepandaian tinggi dan keistimewaannya. Sehingga mereka bersikap angkuh dan tak sudi saling mengenal. Tapi apa sebab tiba-tiba pada petang hari itu, mereka berkumpul dan nampak bersatu padu untuk membantu memecahkan kesulitan Srimoyo? Kesulitan apakah yang sedang dihadapi Srimoyo sampai bisa menggerakkan perhatian empat aliran sekaligus?

Srimoyo bersikap mengambil hati terhadap mereka semua. tiada hentinya ia menyatakan rasa terima kasih dengan membungkuk-bungkuk hormat. Maka jelaslah sudah, bahwa kedatangan mereka adalah atas undangannya

Diam-diam Sekar Prabasini heran pula menyaksikan kehadiran mereka. Sebagai seorang nan biasa hidup berkelana untuk mencari mangsa tahulah dia siapa mereka. Meskipun belum pernah melihat orangnya, tetapi ia mengenal nama mereka sebagai pendekar- pendekar kenamaan. Kepandaian mereka pasti tinggi dan tak boleh diremehkan. Sadar akan hal itu, tak berani ia bergerak. Sedikit saja menimbulkan kecurigaan mereka- akan berakibat runyam.

"Saudara-saudara, akulah yang bernama Srimoyo ...” terdengar Srimoyo berkata. "Perkenankan aku mengaturkan rasa terima kasih atas kesediaan saudara- saudara membantu diriku."

Sekar Prabasini mengrernyitkan dahinya dan pikirnya didalam hati: 'Srimoyo ... Srimoyo ... hai! Kapan aku pernah mendengar nama ini?"

Lingga Wisnu sedang mengingat-ingat kembali nama itu pula. Bunyi nama itu tak pernah terlupakan oleh ingatannya semasa kanak-kanak. Karena nama itu berkesan nama seorang wanita. Dan teringat akan kesan itu, teringat pulalah dia kepada nama suatu aliran yang menyematkan nama seorang wanita. Itulah aliran Parwati.

"Akh, ya!" Ia jadi yakin, Srimoyo pernah datang dirumah perguruan eyang-guru. Ya benar, dia datang beserta bibi Damayanti.

Teringat akan pengalamannya dahulu, tatkala rumah perguruan eyang-gurunya didatangi berbagai aliran pendekar kenamaan, bulu kuduknya menggeridik. Bukankah mereka dahulu bersatu padu pula mengadakan pengejaran ayah-bundanya?

"Saudara Srimoyo, janganlah terlalu merendahkan diri terhadap kami," ujar Sastro Demung. "Kami datang atas nama ikrar setia kawan. Beberapa hari lagi, kawan- kawan dari gunung Wilis, Sawungrana dan Bangkalan datang. Malahan beberapa saudara dari Sekar Teratai, akan datang pula ..." "Sekar Teratai? Siapa yang bakal datang?" seru Kartolo. "Akh, bagus sekali! Murid siapa mereka?"

Lingga Wisnu terkejut. Berkata di dalam hati dengan perasaan heran :

'Ya, benar. Murid siapa mereka? Kenapa Sekar Teratai ikut pula didalam persekutuan ini?’

Terdengar jawaban Sastro Demung

"Merekalah rombongan yang dipimpin oleh Naw aw i dan Ayu Sarini. Kabarnya mereka berdua itu adalah murid pendekar besar Purbaya."

"Apakah kakang Tawon Kemit bersahabat dengan mereka berdua?" Kayat Pece minta keterangan.

"Bersahabat sih tidak," jawab Taw on Kemit. "Yang terang, mereka datang atas undangan kakang Srimoyo. Dengan demikian, mereka merasa diri ikut serta memperkokoh bunyi ikrar setia kawan yang menjadi sendi dan cita-cita kita bersama, Bukankah begitu?"

"Ya, benar." ujar Kayat Pece. "Kakak seperguruannya yang bernama Genggong Basuki adalah sahabat karibku. Dialah murid pendekar Purbaya yang tertua. Kabarnya, diapun ikut serta."

"Genggong Basuki?" seru Kartolo. "Bukankah dia seorang ahli pedang yang tiada tandingnya? Kabarnya, dia pernah menalukkan tujuh pendekar pedang dari Jawa Barat."

"Benar. Menang dialah orangnya," Srimoyo meyakinkan. Mendengar serangkaian tanya jawab itu, hati Lingga Wisnu menjadi lega. Rasa tegangnya menurun. Pikirnya di dalam hati :

'Akh, aliranku ikut serta didalam persekutuan ini. Kalau begitu, mereka adalah pendekar-pendekar yang bertujuan mulia. Sebaiknya akupun membantu mereka dengan diam-diam. Sebenarnya, kesuiitan apakah yang diderita oleh Srimoyo sampai mendatangkan bantuan begini banyak?'

Pada saat itu terdengarlah suara Srimoyo;

“Saudar-saudara sekalian, kakakku dahulu meninggal dengan hati penasaran. Sepuluh tahun lamanya aku berkelana hendak menuntut dendam. Tetapi orang yang membunuh kakakku itu lenyap tiada kabarnya, seakan- akan ib lis. Tetapi oleh ketekunanku akhirnya Tuhan membuka mata dan telingaku, Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kisikan dua sahabatku, Bolot dan Ngaeran. Mereka berdua menyebut seorang bangsat bernama Songgeng Mintaraga. Pernahkah saudara mendengar nama itu? Dia seorang banssat berkepandaian tinggi. Karena merasa diri tak ungkulan melawan kepandaiannya, terpaksalah aku mohon bantuan saudara-saudara sekalian. Tolonglah! Rasanya tak layak aku disebut manusia hidup manakala tak dapat menuntut dendam arwah kakakku."

"Siapakah Songgeng Mintaraga itu?" terdengar suara berbareng minta keterangan.

"Dialah seorang bangsat yang memimpin laskar perjuangan. Tadinya, kukira ia seorang pendekar bangsa yang berhati mulia. Tak tahunya, dialah seorang bangsat yang mengotori azas tujuan kita bersama." jawab Srimoyo dengan suara berkobar-kobar. Dan dengan tiba- tiba ia menghunus pedangnya. Dan dihantamkan pada sebuah nisan, untuk menyatakan betapa besar rasa dendamnya.

"Nanti dulu," Sastra Demung berseru sambil mengangkat tangannya. "Meskipun aku bermukim jauh didaerah Jawa Barat, akan tetapi sepak-terjang pendekar Songgeng Mintaraga kudengar jelas. Dia seorang pejuang semenjak zaman mudanya. Benarkah dia pembunuh kakakmu? Dari manakah rekan Bolot. dan Ngaeran memperoleh keterangan tentang tindak jahatnya?"

Mendengar kesangsian pendekar Sastra Demung, Srimoyo segera menjaw ab:

"Kedua sahabatku itu tidak hanya mendengar tetapi mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Merekapun mempunyai bukti-buktinya sehingga keterangannya tidak menyangsikan. Kakang Sastra Demung, percayalah! Aku kenal rekan Bolot dan Ngaeran. Mereka bukan manusia yang senang menfitnah. Apalagi mereka tahu, bahwa si bangsat Songgeng Mintaraga adalah salah seorang pejuang bangsa yang dahulu pernah kukagumi pula."

Sastra Demang nampak berbimbang-bimbang. Setelah menimbang-nimbang sebentar, ia berkata:

"Baiklah. Mungkin engkau mempunyai alasan-alasan yang berdasar. Tetapi Songgeng Mintaraga adalah seorang pejuang yang termashur namanya. Semenjak kanak-kanak, dia bertempat tinggal di kota ini. Pasti]ah pengaruhnya sangat besar dan sudah berakar dalam hati penduduk di sekitar Wonogiri. Sekarang kita berada didalam wilayahnya. Dan justru bertujuan hendak membunuhnya. Aku harap saja saudara-saudara sekalian berhati hati dan waspada."

"Memang kita harus hati-hati," sahut Srimoyo. 'Petaruhnya sangat besar dan berurat- akar disini. Itulah sebabnya, aku merasa diri tak berdaya menghadapinya. Maka kuundang saudara sekalian untuk membantu kesulitanku ini. Kebetulan sekali, besok pagi adalah hari ulang tahunku. Ingin aku merayakan hari ulang tahunku itu di kediamanku yang berada di batas kota."

"Hai, kapan kakang Srimoyo membeli rumah disini?" potong-Tawon Kemit heran. "Bukankah tenpat tinggal kakang di Kartasura?"

"Benar. Tempat tinggalku di Kartasura. Tetapi secara kebetulan aku tertarik untuk membeli rumah disini, yang letaknya berada di tepi hutan di atas ketinggian kaki bukit Gamping. Rumah kuno semacam benteng yang benar-benar menarik perhatian. Dan apa sebab aku membeli rumah itu, pastilah mudah diterka. Itulah sehubungan dengan tujuan balas dendamku untuk memudahkan pelaksanaannya." jawab Srimoyo. Ia berhenti sebentar mencari kesan. Kemudian meneruskan:

"Nah, dengan ini kuundang saudara sekalian menghadiri pesta ulang tahunku. Dan kuharap pula malam in i saudara-saudara bermalam di kediamanku yang baru itu. Bagaimana, apakah saudara sekalian sudi menenuhi harapanku?"

Itulah suatu undangan yang menggembirakan. Mereka datang dari jauh, kecuali sudah kehilangan tenaga, ingin pula menikmati makan minum yang lezat sekedar pelipur hati. Karena itu tak segan-segan mereka menerima undangan odengan segera. Kata Kayat Pece :

"Bagus. Memang kami bangsa anjing yang cepat sekali berliur, apabila mendengar undangan pesta yang menggembirakan. Pastilah kakang Srimoyo tidak akan melupakan menyediakan sekedar minuman keras untuk pelicin tenggorokan bukan? Hanya saja, kita berjumlah cukup banyak. Sedang kita berada didaerah lawan, apakah dengan kedatangan kita beramai-ramai tidak menimbulkan kecurigaan anak buah Songgeng Mintaraga?

"Benar. Hal itu sudah aku pikirkan jauh sebelumnya," sahut Srimcyo. "Karena itu sebaiknya kita menggunakan tanda-tanda sandi. untuk mengenal lawan dan kawan, kita mengadakan gerakan tangan dengan tiga jari. Begitu masuk ke dalam gerbang rumahku, hendaklah saudara mengucapkan kata: 'masa bakti’. Dan anak-anak kami akan menjawa: 'apakah bukan masa pembajaan?”

Saran itu segera memperoleh persetujuan.

Kemudian mereka memutuskan pula untuk menebarkan mata-mata dengan tujuan menyelidiki keadaan keluarga Songgeng Mintaraga. Dan pertemuan rahasia itu berakhir sampai jauh malam.

Sekar Prabasini jadi lega hati. Sekian lamanya ia menahan diri, dan kini dapatlah ia bebas bergerak kembali, meskipun kedua kakinya terasa kejang. Sambil duduk menghempaskan diri di atas batu nisan, ia berkata kepada Lingga Wisnu :

"Wah, besok bakal ada keramaian. Kita nonton, kan?" "Nonton sih, boleh. Akan tetapi kau harus mendengarkan setiap patah kataku," sahut Lingga Wisnu. "Sama sekali kau kularang menimbulkan gara- gara."

"Memangnya aku seorang yang senang membuat gara-gara?" Sekar Prabasin i menggerutu.

Lingga Wisnu tertaw a. Tak berani ia membuat komentar lagi. Dengan pandang berseri ia membawa Sekar Prabasini pulang ke penginapan. Waktu itu malam sudah terlalu larut. Jangan lagi seorang penjual makanan, sedang anjing pun agaknya malas muncul di jalanan.

Keesokan harinya, mereka berusaha kembali untuk menemukan bekas istana Narotama. Seperti beberapa hari yang lalu, usahanya sia-sia belaka. Sekar Prabasini jadi uring-uringan. Ia kini mengutuki seluruh penduduk Wonogiri sebagai gerombolan manusia yang melarat dan tidak berkebudayaan sama sekali. Tapi apabila teringat kepada pertemuan rahasia semalam, rasa gairahnya membersit dalam hati. Tiba-tiba saja ia nampak gembira dan kehilangan kesabaran.

"Kakang Lingga. Apakah kita nanti menyamar sebagai tamu yang diundang?" tanyanya menegas,

"Benar. Kau berani menghadapi mereka?"

"Kenapa t idak? Untukmu aku bersedia mengorbankan jiw aku. Bukankah engkau berbakti pula terhadap ayah- bundaku?"

Terharu Lingga Wisnu mendengar bunyi jawaban Sekar Prabasini. Itulah suatu jawaban yang membersit dari ketulusan hatinya. Terus saja ia menyambar tangannya dan dibawanya berjalan menyusuri pengempangan sawah. Anehnya gadis yang galak itu, jadi penurut pula. Justru demikian, hati pemuda itu bergetar lembut oleh rasa bahagia yang tak tertuliskan.

Petanghari itu tiba dengan diam-diam. Setelah mengenakan pakaian bersih, mereka berangkat meninggalkan rumah penginapan Sekar Prabasini mengenakan pakaian laki-laki berwarna biru muda. Dan ia berubah menjadi seorang pemuda yang cakap luar biasa.

Dengan langkah tenang, mereka mendekati gerbang kediaman pendekar Srimoyo. Segera mereka mengangkat tangan dengan memperlihatkan t iga jarinya. Kemudian membisikkan kata-kata sandi ‘masa bakti’. Dan segera mereka dipersilahkan dengan rasa hormat oleh para penyambut tetamu. Kemudian diantarkan oleh beberapa orang memasuki pendapa rumah yang cukup mewah dan berw ibawa. Setelah duduk, dua orang datang membaw a niru penuh penganan dan minuman. Sama sekali mereka tidak menanyakan nama dan alirannya.

"Silahkan," kata wakil tuan rumah dengan suara ramah. "Sudah lama kami mendengar nama saudara yang besar. Maka maafkan hidangan kami yang sangat sederhana ini"

Geli hati Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini. Bagaimana dia mengenal diri mereka? Tapi mereka membungkam mulut. Setelah memanggut pendek, dengan senang hati mereka meneguk minuman dan menggerumiti penganan yang disediakan diatas mejanya. Sementara itu para tetamu datang tak hentinya. Tak usah menunggu lama, pendapa telah penuh sesak. Para penyambut tamu sibuk melayani makan minum. Hati Lingga Wisnu dan Prabasini bersyukur, karena tiada yang memperhatikan diri mereka.

Pe rtemuan itu dibuka dengan upacara meneguk minuman keras tiga kali. Pendekar Srimoyo lantas berdiri tegak mengucapkan selamat datang kepada para tetamunya. Setelah itu ia duduk lima langkah di depan Lingga Wisnu berdua. Sekarang Lingga Wisnu dapat melihat pribadinya dengan tegas. Perawakannya semampai. Gerak-geriknya cekatan dan gagah, suatu tanda memiliki kepandaian tinggi. Umurnya kurang lebih empat puluh delapan tahun, Roman wajahnya membayangkan suatu kecerdikan. Pandang matanya tajam, tetapi pada saat itu nampak bendul merah. Raut wajahnya mengandung suatu kesedihan tak tertanggungkan. Rupanya ia menangis dan sedih memikirkan nasib kakaknya yang mati penasaran.

"Agaknya dia sangat mencintai saudaranya.. Benar- benar harus dipuji dan pantas dihormati, terhadap seorang laki-laki seperti dia," pikir Lingga Wisnu didalam hati. "Dan untuk membalas dendam kematian kakaknya, ia rela mengorbankan harta-bendanya. Ia. menyelenggarakan pesta undangan dan ternyata memperoleh perhatian para pendekar ternama dari segala penjuru. Pastilah dia seorang yang besar pengaruhnya di dalam tata pergaulan hidup. Sebenarnya, siapakah yang disebut Songgeng Mintaraga? Apakah dia eyang yang besar pengaruhnya pula, sehingga pendekar Srimoyo perlu memohon bantuan para sahabatnya?" Srimoyo berdiri kembali dan membungkuk hormat tiga kali berturut-turut kepada para. Sama sekali ia tak berbicara, kecuali mengucapkan kata-kata rasa terima kasih tak terhingga. Ia mohon hendaknya sekalian hadirin sudi menghabiskan hidangannya. Dan para tetamu segera membalas hormatnya dengan berdiri pula. Karena merasa termasuk golongan muda, Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini ikut serta berdiri membalas hormatnya.

Sekonyong-konyong salah seorang murid Srimoyo datang menghadap gurunya dengan tergesa-gesa. Ia membisikkan sesuatu. Dan wajahnya sang guru nampak cerah. Cepat-cepat ia meletakkan cangkirnya diatas meja. Kemudian berjalan setengah berlari mengarah pintu gerbang. Sebentar kemudian ia kembali mengiringkan tiga orang tetamu yang diperlakukan dengan hormat sekali. Ia msrpersilahkan ketiga tetamunya itu duduk di kursi kehormatan. Dan berpikirlah Lingga Wisnu didalam hati :

'Pastilah mereka bertiga pendekar-pendekar kenamaan..' dan ia lalu mengamat-amati mereka bertiga.

Seorang laki-laki yang hampir sebaya umurnya dengan Srimoyo, duduk menghadap tetamu lainnya. Ia berpakaian seorang pelajar. Pedang panjangnya berada dipinggang kiri. Pandang matanya tajam luar biasa dan sikapnya tinggi hati. Tetamu yang kedua adalah seorang pemuda yang berumur kira-kira tigapuluh tahun. Peraw akannya gagah dan kesan wajahnya agak bengis. Sedangkan tamu yang ketiga adalah seorang wanita yang berparas elok.. "Saudara Genggong Basuki, kedatanganmu benar- benar tepat. Perkenankan aku mengucapkan rasa syukurku," kata Srimoyo.

Orang pertama yang disebut Genggong Basuki tertawa lebar. Sahutnya :

"Kita berdua adalah anak keturunan suatu perguruan yang bersumber tunggal. Saudara adalah salah seorang anggauta aliran Partiwi. Sedangkan kami bertiga adalah anak murid Sekar Teratai. Bagaimana aku bisa berpeluk tangan saja sedangkan saudara berada dalam kesulitan?"

"Terima kasih," kata Srimoyo cepat. 'Terimalah rasa hormatku. Begitu juga terhadap saudara Nawaw i dan Ayu Sarini."

Mendengar nama mereka bertiga, berpikirlah Lingga Wisnu didalam hati :

Kalau begitu, mereka bertiga adalah murid kakang Purbaya. Kenapa murid kakang Purbaya begini sombong dan besar kepala?'

Dalam pada itu, terdengarlah Srimoyo berkata lagi : "Apakah guru saudara bertiga tidak ikut serta?"

"Guruku dari angkatan tua. tentu saja beliau tidak

mempunyai semangat untuk mencampuri masalahmu. Tetapi kami bertiga mempunyai pendapat sendiri. Pendek kata, tak dapat kami bertiga berpeluk tangan saja. Oh, ya. Kedua adik seperguruanku ini sekarang sudah menjadi suami-isteri.!”

"Hei, bagus. Kalau begitu perkenankan aku ikut serta menyambut kabar gembira ini," seru Srimoyo dengan gembira. Kemudian menoleh kepada para hadirin dan berteriak :

"Saudara-saudara sekalian. Inilah suatu berita yang benar-benar tidak kita duga. Ternyata pendekar Naw aw i dan Ayu. Sarini sudah membentuk mahligai bahagia. Hayoo, kita menghabiskan minuman kebahagiaan ini demi kesehatan mereka."

Seruan Srimoyo disambut dengan sorak ramai bergemuruh. Dan suami isteri Nawawi-Ayu Sarini buru- buru berdiri dan memanggut dengan tersipu-sipu.

"Benar-benar nasib bagus sekali!” seru Kayat Pece. - "Inilah yang dinamakan orang sepasang Kamajaya dan Ratih. Di dunia ini, siapakah yang dapat melawan

sepasang pedang mereka?"

"Benar! Benar!   Huraaa

...!" sambut hadirin. Mereka lantas makan-minum dengan sepuas-puasnya.

Nawaw i dan Ayu Sarini sama sekali tidak membantah pujian mereka yang berlebih lebihan. Diam- diam Lingga Wisnu malu hati. Justru pada saat itu,

Sekar Prabasini mencubit lengannya sambil berbisik :

"Ha, tak kukira kemenakan muridmu adalah sepasang pendekar pedang yang bisa malang melintang di seluruh penjuru dunia. Apakah engkau tidak iri? Lihatlah Ayu Sarini Dia cantik jelita dan galak. Bagaimana pendapat mu? Apakah aku lebih galak daripada dia?" Lingga Wisnu tergugu. Tak dapat ia menjawab sindiran Sekar Prabasini. Akhirnya membalas mencubit dengan tertaw a lebar. Merah wajah Sekar Prabasin i kena cubit Lingga Wisnu. Itulah yang pertama kalinya terjadi. Pemuda itu sendiri merasa diri pula. Wajahnya terasa panas. Syukur para tetamu undangan lainnya, pada saat itu sedang sibuk mengurusi perut, sehingga tidak memperhatikan perubahan wajah mereka.

Selagi demikian, seorang murid Srimoyo mendekati gurunya. Ia menyerahkan dua helai kertas. Segera Srimoyo membacanya dan nampak wajahnya berubah. Kemudian berkata setengah berseru :

"Eh, Songgeng Mintaraga benar-benar bermata dewa. Dia tahu kehadiran kita. Dan rupanya ia tak mau pula ketinggalan. Saudara-saudara sekalian, esok malam diapun menyelenggarakan pesta perjamuan. Dia mengundang kehadiran saudara-saudara sekalian," ia berhenti sebentar mencari kesan. Kemudian berkata kepada muridnya:

"Coba panggil pembaw a surat ini!"

Murid itu membungkuk hormat dan mengundurkan diri dengan langkah lebar. Suasana perjamuan lantas saja berubah menjadi tegang. Semua hadirin menunda meneguk minuman bahagia suami-isteri Nawawi-Ayu Sarini. Dan tak lama kemudian masuklah seorang pemuda berpakaian seragam. Pemuda itu berumur kurang lebih dua puluh lima tahun. Sikapnya tenang dan raut wajahnya sama sekali tak berubah menghadapi perbaw a pesta perjamuan. Ia menghampiri Srimoyo dengan hormat dan berkata : "Secara kebetulan saja, guru kami mendengar kedatangan tuan-tuan sekalian. Karena Wonogiri termasuk wilayah perjuangan semesta, maka guru kami mengundang tuan-tuan sekalian untuk menghadiri perjamuan beliau. Kami diutus kemari untuk memperoleh kepastian apakah tuan-tuan besok sudi memenuhi undangan guru."

Srimoyo tertaw a terbahak-bahak. Ia menganggap lucu kata-kata upacara - Katanya :

"Sebenarnya kau siapa?"

"Kami sendiri bernama Pramana, murid guru yang ke sembilan belas. Maafkan, apabila kami terlalu banyak berbicara," sahut Pramana dengan suara sopan santun.

"Hm ..." Srimoyo menggerutu. "Songgeng Mintaraga mengadakan pesta perjamuan. Pastilah bukan karena kebetulan saja. Bukankah begitu?"

Meskipun Pramana diperlakukan agak kasar, namun sikapnya tetap tak berubah. Masih saja ia berdiri hormat dan menjawab pertanyaan tuan rumah dengan suara merendahkan diri:

"Kami hanyalah utusan belaka. Tak dapat kami menjawab pertanyaan tuan."

"Bagus!" tiba-tiba Srimoyo membentak. "Gurumu seorang bangsat, tahu? Dia sedang mengatur tata muslihat untuk menjebak kita, bukan? Eh, coba katakan terus terang, racun apakah yang bakal dibuat ramuan makanan pesta perjamuan nanti?"

Dibentak demikian, Pramana tetap bersikap santun.

Sahutnya : . "Memang guru menyelenggarakan suatu pesta perjamuan yang khusus diperuntukkan sebagai penyambut kedatangan tuan-tuan didaerah ini. Sebab guru kami sangat kagum kepada keperkasaan dan kegagahan tuan-tuan sekalian. Beliau ingin bertemu dan berkenalan dergan tuan-tuan sekalian."

"Eh! Kau pandai berbicara," ejek Genggcng Basuki, murid Purbaya yang tertua. "Coba jaw ablah yang jelas! Sewaktu gurumu menganiaya dan akhirnya membunuh kakak saudara Srimoyo, kau hadir atau tidak?”

"Akh, kami kira masalahnya tidaklah sesederhana itu," jawab Pramana dengan wajah berubah. "Kami kira, pesta perjamuan itu akan memberi kesempatan kepada guru untuk menjelaskan masalahnya."

"Bagus! Gurumu bangsat dan kaupun pandai menarikan lidah!" bentak Genggong Basuki. "Gurumu hutang nyawa, masakan cukup ditebus dengan suatu penjelasan saja? Eh, enak saja kau mementang mulut."

"Pada waktu itu, guru terdorong ke pojok. Tak dapat lagi guru mengelakkan diri. Akhirnya peristiw a itu terjadilah ..." Pramana mencoba memberi keterangan. "Dan semenjak itu, guru selalu nampak bermurung serta bersedih hati. Guru sangat menyesal apa sebab peristiw a itu harus terjadi ..."

"Kalau begitu matamu melihat sendiri peristiw a pembunuhan itu!" tiba-tiba Naw aw i ikut berbicara.

"Tidak. Aku tidak menyaksikan sendiri. Akan tetapi aku percaya, bahwa guruku tidak akan membunuh seseorang tanpa alasan yang berdasar. Guru adalah seorang pejuang yang mengabdikan seluruh hidupnya pada perjuangan bangsa dan negara. Beliau berhati mulia. Jangan lagi sampai membunuh orang, sedang jiw anya sendiri akan rela diserahkan bila perjuangan bangsa memintanya." Pramana membela.

"Setan terkutuk!" maki Ayu Sarini. Tiba-tiba saja ia melesat dari kursinya. Pedangnya berkelebat dan menekan dada Pramana dengan tangan kirinya. Itulah gerakan yang cepat luar biasa. Pramana terkejut. Dengan tangan kanannya ia menolak tangan kiri Ayu Sarini yang menekan dadanya. Kemudian mencoba membebaskan ancaman itu dengan menggerakkan tangan kirinya.

"Hai!" L ingga Wisnu terkejut. "Tangan kanannya bakal tertabas!"

Sebagai seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, tahulah ia sasaran pedang Ayu Sarini berikut nya. Dan pembelaan Pramana sangat lemah. Ia justru kena terjebak.

"Apakah kemenakanmu yang cantik itu benar-benar hendak menabaskan pedangnya?" Sekar Prabasini menegas.

Belum sempat Lingga Wisnu nsenjawab, maka terdengarlah teriak kesakitan Pramana. Ayu Sarini benar- benar menabaskan pedangnya. Dan pundak Pramana terbabat kutung. Sudah barang tentu sekalian hadirin terkejut sehingga berdiri serentak dengan tak dikehendaki sendiri.

Wajah Pramana pucat lesi. Lengan kanannya jatuh terpental diatas lantai. Sekalipun demikian, masih bisa ia menguatkan diri sehingga tidak roboh pingsan. Dengan pandang penuh sesal ia merobek ujung bajunya. Kemudian membebat lukanya. Setelah itu membungkuk memungut lengannya yang kutung. Dan pergilah ia dengan langkah lebar.

Sekalian hadirin tercengang menyaksikan ketangguhannya. Mereka saling pandang dan di dalam hati masing-masing menyesali perbuatan Ayu Sarini yang kejam luar biasa. Bukankah dia seorang utusan belaka? Kenapa kena aniaya?

Ayu Sarini sendiri bersikap acuh tak acuh. Tenang- tenang ia menyusut darah Pramana yang melekat dipedangnya. Kemudian kembali ke tempat duduknya. Wajahnya sama sekali t idak berobah.

"Bangsat itu menjerumuskan muridnya sendiri kedalam lubang harimau," kata Genggong Basuki. "Dia seorang pemuda yang bandel dan tak mengerti tata- santun. Apa sebab diutus mewakili dirinya? Hm — kalau muridnya saja sudah bandel, pastilah gurunya jauh lebih bandel dan galak. Nah, bagaimana? Apakah besok kita menghadiri pesta perjamuannya?"

"Sudah tentu kita harus memenuhi undangannya," sahut Srimoyo. "Kalau t idak, kita tidak berharga lagi."

"Kalau begitu, kita sudahi saja pesta perjamuan ini," usul Kayat Pece yang berpengalaman. "Malam ini lebih baik kita pergunakan untuk menyelidiki keadaan mereka. Siapa tahu, dengan kejadian ini, mereka benar-benar hendak meracun kita ..."

"Rekan Kayat benar," Srimoyo membenarkan. "Tak usah diragukan lagi. Songgeng Mintaraga pasti membuat persiapan-persiapan di luar dugaan kita. Nah siapakah diantara hadirin yang sudi mengorbankan tenaga untuk menyelidiki keadaan mereka?"

"Akulah yang akan menyelidiki keadaan mereka," sahut Genggong Basuki dengan suara yakin sekali.

Srimoyo menuang segelas minuman keras. Kemudian dibawanya menghampiri ahli pedang Sekar Teratai itu. Katanya dengan mengangguk hormat:

"Saudara Genggong Basuki, terimalah hormatku."

Senang Genggong Basuki memperoleh penghormatan dari tuan rumah. Dengan sekali teguk ia mengeringkan minuman keras yang diperseribahkan kepadanya. Dan pesta perjamuan itu berakhir dengan cepat.

Lingga Wisnu membawa Sekar Prabasini menyelinap diantara para tetamu yang sedang bubar dan secara diam-diam mengikuti Genggong Basuki dari jarak tertentu. Niatnya hendak menguntitnya.

Waktu itu kira-kira pukul dua malam. Genggong Basuki kembali ke rumah penginapannya. Setelah mengenakan pakaian serba hitam, ia melesat keluar jendela dan berlari-lari mengarah ke barat daya. Gesit gerakannya. Sebentar saja ia lenyap di tikungan jalan. Akan tetapi Lingga Wisnu tak sudi kehilangan sasarannya. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dapat ia mengikuti gerakan Genggong Basuki. Sekar Prabasini yang berada disandingnya, terus dibimbingnya agar dapat menyertai gerakannya.

Pada pagar tembok sebuah gedung, Genggong Basuki berhenti sebentar. Ia menebarkan penglihatannya. Kemudian melompati tembok pagar itu dengan gerakan ringan dan cekatan. Menyaksikan hal itu, berkatalah Lingga Wisnu didalam hati:

"Ia dikabarkan sebagai seorang ahli pedang tanpa tandingannya. Nyatanya, benar-benar sebat dan gesit. Kakang Purbaya patut berbangga hati mempunyai seorang murid yang berkepandaian begitu tinggi. Setidak-tidaknya kepandaiannya bisa menjaga pamor rumah perguruan Sekar Teratai. Akan tetapi kenapa dia berhati kejam? Kedua adiknya seperguruannya pun benar-benar manusia tercela. Kenapa murid-murid kakang Purbaya begitu kejam dan bengis?'

Dengan membimbing tangan Sekar Prabasini, Lingga Wisnu melompati pagar tembok itu pula. Ia menyelinap dibelakang pohon mangga. Masih sempat ia melihat Genggong Basuki melintasi sebuah kamar yang nampak terang benderang. Timbullah rasa ingin tahu Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini tentang kamar itu. Segera mereka berdua menghampiri jendela dan mengintai lew at cela-cela dinding. Dan nampaklah seorang laki- laki berusia lebih kurang limapuluh lima tahun duduk menghadap ke utara. Wajahnya bermuram durja. Dengan suara parau ia berkata :

"Bagaimana keadaan Pramana?"

"Beberapa kali kakang Pramana tak sadarkan diri. Tetapi sekarang darahnya sudah mampat tak keluar lagi," sahut seseorang dengan suara hormat.

Orang tua itu menghela napas. Dan Lingga Wisnu lantas saja dapat menebak, bahwa orang tua adalah yang bernama Songgeng Mintaraga. Ia berada didalam kamarnya bersama dua orang muridnya. Agaknya ia sedang membicarakan luka Pramana yang tadi diutusnya membaw a surat undangan kepada pendekar Srimoyo.

Muridnya yang kedua berkata :

"Guru. Bagaimana kalau kita mengadakan perondaan malam in i? Aku khaw atir, bahwa mereka tengah mengintai rumah kita ..."

Songgeng Mintaraga menghela napas kembali, seraya menjawab dengan bergeleng kepala:

“Diduga atau t idak akhirnya toh sama saja. Pada saat ini, aku sudah menyerahkan nasibku kepada takdir. Esok pagi, hendaklah kamu berdua membaw a bibimu mengungsi ke Sokawati. Carilah panglima Sengkan Turunan, Dan katakan kepada beliau, bahwa bibimu membutuhkan perlindungannya. Sedangkan kedua adikmu, Para Witri dan Gagak Baka, antarkan mendaki gunung Law u, ke rumah perguruan Kyahi Basaman. Aku percaya, pendekar sakti itu pasti mau melindungi kedua adik mu itu."

Tergetar hati Lingga Wisnu mendengar Songgeng Mintaraga menyebut-nyebut nama eyang gurunya. Benarkah orang tua itu seorang bangsat kejam seperti yang dikatakan Srimoyo? Pikirnya di dalam hati. Nampaknya, ia seorang tua yang saleh. Rasanya sukar dimengerti, apa sebab dia dahulu sampai membunuh seseorang. Selagi berpikir demikian, terdengarlah murid Songgeng Mintaraga berkata manbujuk :

"Guru, hendaklah guru jangan berputus asa. Kedudukan guru di wilayah in i bagaikan seorang panglima perang. Guru mempunyai murid dua ribu orang lebih yang tersebar dimana-mana. Merekapun sudah terlatih menjadi seorang pejuang semenjak beberapa tahun yang lalu. Dengan sepatah kata saja, guru dapat memanggil mereka. Bilamana kita mengadakan perlawanan, pastilah musuh kita tak berdaya."

Tetapi Songgeng Mintaraga tetap saja bermuram durja. ia seolah-olah kehilangan semangat dan untuk yang ketiga kalinya ia menghela napas lalu berkata :

"Lawan kita bukan manusia lumrah. Mereka adalah pendekar-pendekar kenamaan. Kecuali kepandaiannya sangat tinggi, pengaruhnya meliputi seluruh Nusantara. Tiada gunanya sama sekali kita melawan mereka. Bila sampai terjadi banyak korban, adalah sia-sia belaka. Bukankah kini masa perjuangan yang justru membutuhkan tenaga mereka? Seandainya mereka bersatu-padu membantu perjuangan Gusti Said melawan Belanda, pastilah akan besar artinya. Bila terpaksa gugur, maka gugurlah mereka sebagai ratna. Sebaliknya, perselisihan in i adalah masalah perorangan. Baik kamu atau mereka, akan mati yang tiada harganya sama sekali. Sudahlah, jangan kau berpikir berkepanjangan. Bila aku mati sudilah kalian meraw at bibi dan kedua adikmu. Aku serahkan mereka bertiga kepada kalian. Dan di alam baka, arwahku akan tenteram sejahtera ..." dan setelah berkata demikian, orang tua itu mengucurkan air mata. Itulah suatu perpisahan yang tidak dikehendaki, tetapi harus terjadi.

"Guru, janganlah guru mengucapkan kata kata itu," ujar muridnya yang duduk disebelah kanan. "Ilmu kepandaian guru sangat t inggi. Sekiranya t idak demikian, mustahil guru dapat menguasai wilayah seluas in i. Baik panglima Sengkan Turunan maupun Gusti Said, mengandal kepada ketangkasan guru. Karena itu, guru dapat mengadakan perlawanan. Seumpama kalahpun guru tidak akan mati ditangan mereka. Masakan panglima Sengkan Turunan dan Gusti Said akan berpeluk tangan saja melihat kematian guru?" ia berhenti mengesahkan. Kemudian meneruskan

"Pada saat ini kita berjumlah dua puluh lima orang. Tepatnya duapuluh empat orang, karena kakang Pramana belum sanggup bangun dari pembaringan- Masakan kita tidak sanggup melawan mereka? Bila guru tidak yakin, sahabat sahabat guru banyak pula. Pastilah mereka akan datang bila guru mengundangnya. Dan kami yakin, mereka akan membantu guru secara sukarela."

Songgeng Mintaraga mendengus. Kemudian ia tertawa perlahan melalui dadanya. Berkata:

"Semasa mudanya dahulu, aku berdarah panas seperti kamu. Dan inilah kesudahannya. Inilah akibatnya. Justru dimasa perjuangan meminta seluruh perhatian kita, aku menerbitkan huru hara. Bukankah secara langsung, aku mengacaukan jalannya perjuangan semesta? Aku memang berhutang nyawa, maka sudah sepantasnya aku membayar nyawa pula. Dengan begitu persoalan ini jadi selesai dan arah perjuangan semesta tidak lagi terhambat oleh persoalan pelarangan."

Terharu hati Lingga Wisnu mendengar ucapan Songgeng Mintaraga. Pikirnya didalam hati :

'Ia seorang yang berjiwa besar dan jujur. Alangkah jauh kesannya dengan kabar yang ditiup tiupkan Srimoyo. Mungkin pada zaman mudanya ia pernah salah. Sekarang ia penuh sesal terhadap dirinya sendiri. Kalau dipikir, siapakah orang hidup di dunia ini yang tidak pernah salah?'

"Guru!" tiba-tiba seru seorang murid.

Songgeng Mintaraga menegakkan pandang. Sahutnya: "Kau hendak berkata apa lagi?"

"Begini ... karena guru tidak sudi melawan mereka,

marilah kita lari pada malam ini juga. Guru bisa bersembunyi dengan aman sentausa ..."

"Kau berkata apa?" potcng Songgeng Mintaraga. "Bersembunyi? Akh, betapa kita berbuat begitu? Terhadap peleton serdadu Belanda, tak pernah kita undur setapak. Kenapa harus takut menghadapi maut?"

"Ya, benar," sahut murid lainnya. "Tak dapat guru mengambil tindakan demikian. Guru seorang pendekar kenamaan. Masakan harus lari terbirit-birit oleh ancaman musuh."

"Hm ... pendekar kenamaan," gerutu Songgeng Mintaraga. "Apakah arti kemashuran dan kenamaan itu. Pada saat ini, aku justru t idak memikirkan soal nama dan segala semboyan semboyan kosong. Menyingkir atau melarikan diri, kurasa tiada gunanya. Umurku sudah lanjut. Apalagi yang ku angan-angankan? Seumpama aku bersembunyi sepuluh tahun, usiaku sudah, enampuluh- lima tahun. Hm, berapa tahun lagi aku betah menyembunyikan diri? Mati sekarang atau besok, bukankah t iada bedanya bagi aku yang sudah pikun ini? Karena itu, biarlah besok aku menghadapi mereka seorang diri. Kamu sendiri, kuharap cepat-cepat meninggalkan kota!" Kedua muridnya itu menjadi sibuk. Kata mereka hampir berbareng :

"Guru; kami akan mati dan hidup disamping guru."

"Apa?" bentak Songgeng Mintaraga. "Dalam keadaan terdorong ke pojok, apa sebab kalian membangkang perint ahku?"

Kena bentak gurunya, kedua murid itu membungkam mulut. Mereka jadi gelisah.

"Dalam saat seperti begini, dengarkanlah perint ahku. Dengarkanlah permohonanku," kata Songgeng Mintaraga.

"Memohon?" kedua muridnya terkejut.

"Ya, memohon. Aku memohon kepadamu berdua, agar taat dan patuh pada perint ahku," kata Songgeng Mintaraga dengan suara tertekan-tekan. "Selagi kita masih mempunyai kesempatan, maka bantulah bibimu berkemas-kemas. Jangan lupa pula kereta perjalanan."

Kedua murid itu mengangguk, akan tetapi tidak bergerak dari tempat duduknya. Menyaksikan hal itu, Songgeng Mintaraga menghela napas berulangkali. Akhirnya berkata kalah :

"Baiklah, kamu kumpulkan seluruh anggauta laskar 'Lawu Selatan'. Biarlah aku berbicara yang penghabisan kali dihadapan mereka."

Kedua murid itu segera berdiri melakukan perint ah itu. Cepat-cepat Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini mundur dari dinding kamar dan bersembunyi dibalik gerombol dedaunan. Tepat pada saat itu, mata Lingga Wisnu melihat sesosok bayangan mendekam didekat pagar dinding sebelah barat. Melibat peraw akan tubuhnya, segera Lingga Wisnu mengenalnya. Dialah Genggong Basuki yang tadi lenyap melint asi kamar. Dan di sebelah belukar terdapat sesosok bayangan lagi, berpakaian biru semu. Dialah Ayu Sarini Sekarang tahulah Lingga Wisnu, apa sebab Genggong Basuki tadi melintasi kamar menuju ke arah barat. Rupanya dia sedang menjemput adiknya seperguruan yang datang dari arah barat. Dan pada saat-saat itu Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini mengintai kamar Songgeng Mintaraga. Seumpama Genggong Basuki dan Ayu Sarini datang kembali, pastilah mereka berdua akan ketahuan.

Geram hati Lingga Wisnu teringat akan kekejaman Ayu Sarini tadi. Begitu enak saja menabas lengan Pramana seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. Sebagai anak murid aliran Sekar Teratai, sebenarnya tidak boleh berbuat sekejam demikian. Maka timbullah niatnya hendak memberi pelajaran kepadanya. Berkata membisik kepada Sekar Prabasini :

"Jangan mengadakan suatu gerakan sedikitpun juga.

Aku hendak ..."

Sekar Prabasini memotong perkataannya dengan pandang bersenyum. Sahut gadis itu nakal

"Kau melarang, tapi aku justru ingin bergerak. Kau lihat!"

Dan benar-benar gadis bandel ini membuktikan ucapannya. Tiba-tiba saja ia menyelinap di balik gerombol dan berjalan mengendap-endap memutari rumah. Tahulah Lingga Wisnu menebak maksudnya. Dia hendak menyerang Genggong Basuki dan Ayu Sarin i dari belakang punggung. Genggong Basuki dan Ayu Sarini berkepandaian t inggi. Jauh lflb ih tinggi dari pada Prabasin i. Walaupun kena diserang dari belakang, belum tentu mereka tak dapat mengelak, pikir Lingga Wisnu. Dan memperoleh pikiran demikian, ia melepaskan pandang tajam kepada kedua murid Purbaya itu.

Genggong Basuki dan Ayu Sarini sedang memusatkan seluruh perhatiannya kepada gerak gerik Songgeng Mintaraga yang kini duduk seorang diri didalam kamarnya. Gesit luar biasa Lingga Wisnu melesat mengitari taman, kemudian menghampiri Genggong Basuki dan Ayu Sarini dengan suatu kecepatan yang tak terlukiskan. Dengan sekali gerak, ia berhasil menyambar pedang Ayu Sarini yang tergantung dipinggangnya. Anehnya, pendekar wanita itu sama sekali tak tersadar.

Sekar Prabasini merandek melihat gerakan kaw annya itu. Tatkala Lingga Wisnu datang padanya dengan membaw a pedang Ayu Sarini, hatinya terbakar oleh rasa cemburu.

“Kau simpanlah pedang ini," bisik Lingga Wisnu seraya menyodorkan pedang curian.

Sekarang tahulah Sekar Prabasini akan maksud Lingga Wisnu. Pasa ce mburunya sirna larut. Dan dengan gembira ia menerima pemberian itu. Kemudian mengikuti Lingga Wisnu mengintai dari jendela sebelah utara.

*** o0dw0o***

15. Adu Kepand aian Duapuluh ampat orang memasuki kamar Songgeng Mintaraga. Mereka membungkuk hormat apabila melintasi ambang pintu. Kemudian berdiri berdesakan menghadap gurunya. Songgeng Mintaraga sendiri hanya memanggut-manggut kecil. Wajahnya muram dan pandangnya resah. Dua t iga kali ia menghela napas, lalu berkata dengan suara pedih :

"Anak-anaku, semasa mudaku, aku hidup sebagai seorang penyamun. Benar, aku seorang penyanun. Pastilah ucapanku ini mengejutkan hatimu.. Akan tetapi pada saat begini ini, aku harus berbicara terus-terang kepadamu sekalian."

Lingga Wisnu mengalihkan pandang kepada sekalian murid Songgeng Mintaraga. Pandang mata mereka gelisah. Itulah suatu tanda, bahwa sesungguhnya mereka tidak mengira sama sekali bahwa gurunya dahulu seorang penyamun pada masa mudanya. Dan memperoleh kesan demikian, ia jadi menaruh perhatian pula. Pada saat itu, ia melihat Songgeng Mintaraga menghela napas untuk yang kesekian kalinya.

"Daerah operasiku berada disekitar gunung Merbabu," kata Songgeng Mintaraga melanjutkan tutur katanya. "Pada suatu hari, aku memperoleh kabar dari anggauta- anggautaku bahwa suatu rombongan yang datang dari Salatiga akan lew at tak jauh dari kaki gunung. Itulah rombongan Pangeran Adiningrat yang pulang dari Semarang setelah mengadakan perundingan dengan pihak kempeni. Bagi seorang penyamun, berita itu sangat menggembirakan. Betapa tidak? Pastilah mereka membaw a harta benda jauh lebih banyak dari pada rombongan saudagar. Lagi pula, membegal seorang ningrat, mempunyai harta sendiri. Seumpama meng harapkan uang tebusan, jumlahnya tidak ternilai lagi. Harta pangeran itu sendiri, berasal dari darah rakyat lew at tindak sewenang-wenang kompeni Belanda, dengan demikian, tidak terlalu jahat rasanya bila merampas harta bendanya. Maka bulatlah tekadku untuk menghadangnya. Segera aku mengumpulkan anak buahku. Dan kubaw a menghadang perjalanan mereka. Diluar dugaan, rombongan pangeran Adiningrat dikawal oleh seorang pendekar ahli pedang kenamaan. Namanya Kuncaraningrat. Salah seorang pendekar dari aliran Parwati. Dialah kakak pendekar Srimoyo ..."

Sampai disini, Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini lantas saja dapat menduga-duga peristiw a balas dendam itu. Pikir Lingga Wisnu :

'Jadi. beginilah terjadinya. Songgeng Mintaraga hendak membegal. Dan Kuncaraningrat adalah yang mengaw al harta benda itu. Kedua-duanya lantas bertempur. Dan rupanya Kuncaraningrat mati terbunuh. kalau begitu, inilah persoalan lumrah yang terjadi dalam gelombang penghidupan.'

Sambil mendengarkan, Lingga Wisnu tak lupa membagi pandang kepada Genggong Basuki dan Ayu Sarini. Ia me lihat tangan Ayu Sarini bergerak meraba pinggang. Dia nampak terkejut, karena pedangnya hilang tanpa diketahui. Begitu kaget dia, sampai berjingkrak. Segera ia memberi tanda gerakan tangan kepada Genggong Basuki. Lalu keduanya melesat keluar pagar tembok meninggalkan rumah Songgeng Mintaraga. Dan menyaksikan hal itu, Lingga Wisnu tertaw a geli didalam hati. Dalam pada itu, terdengarlah suara Songgeng Mintaraga lagi :

"Telah kukatakan tadi, bahwa Kuncaningrat adalah seorang ahli pedang kenamaan aliran Parwati. Seperti kalian ketahui, aliran Parwati merupakan salah satu cabang yang sama besar pengaruhnya dengan aliran- aliran Ugrasawa dan Aristi. Itulah sebabnya, pengaruh lingkungan Kuncaraningrat sangat luas. Banyak sekali handai taulan dan sahabat-sahabatnya." Ia berhenti sebentar. Kemudian meneruskan :

"Oleeh pertimbangan itu, mula-mula tak berani aku turun tangan. Kebetulan sekali, rombongan itu bermalam di selatan Salatiga. Segera aku datang menyelidiki. Malam itu, aku berada diantara rombongan itu. Tiba-tiba aku mendengar suatu pembicaraan yang membuat hatiku mendongkol dan jijik bukan main. Siapa mengira, bahwa Kuncaraningrat seorang ahli pedang kenamaan itu adalah seorang pemuda bongor. Rupanya selama dalam perjalanan, ia menaruh hati kepada puteri Pangeran Adiningrat. Karena merasa diri seorang pemuda dari kalangan orang biasa, maka mustahil sekali untuk dapat memeluk gadis itu, dengan jalan melamar. Apalagi, puteri Pangeran Adiningrat sangat cantik. Dan kabarnya akan dipersembahkan dan dipersunting Susuhunan. Maka diam diam ia merencanakan suatu pembunuhan keji Ia bersekutu dan mengadakan perundingan rahasia dengan seorang kepala begal bernama Sondong Ucek-uce k. Esok hari, apabila rombongan lewat di tikungan jalan Ngapel Sondong Ucek-ucek harus menghadangnya, kuncaraningrat akan berpura-pura melawan. Ia nanti akan mundur jauh meninggalkan rombongan. dan saat itu, anak buah Sondong Ucek-ucek hendak membunuh seluruh keluarga Pangeran Adiningrat, kecuali putrinya. Menyaksikan pembunuhan itu, Kuncaraningrat akan menjadi kalap. Ia akan balik kembali memberikan pertolongan. Sondong Ucek-ucek dan anak buahnya harus mundur berantakan. Dengan demikian akan mengesankan hati putri Adiiningrat betapa sungguh- sungguh Kuncaraningrat melindungi dan membelanya. Putri akan merasa hutang budi. Akhirnya pasti bersedia diperisteri. Sondang Ucek-ucek menyetujui perundingan dan persetujuan itu karena yang penting baginya adalah perampasan harta benda itu sendiri. Mendengar perundingan itu, bukan main panas hatiku. Segera aku balik dan mengajak anak buahku mengadakan pengintaian disekitar jalan Ngampel. Bulatlah tekadku hendak menggagalkan rencana mereka yang busuk itu"

"Ha, in ilah lain jadinya," pikir Lingga Wisnu didalam hati. Tadinya ia mengira, bahwa pembunuhan itu terjadi lantaran perebutan harta benda saja. Tak tahunya, terselip suatu cerita latar belakang yang menentukan.

"Memang aku termasuk seorang pemuda berdarah

panas. Meskipun hidup sebagai penbegal, belum pernah

aku curang. Semuanya kulakukan dengan terang- terangan dan berhadap-hadapan. Kalau berhasil, itulah rezekiku Kalau gagal, biarlah mampus. Apalagi seorang pendekar sebagai Kuncaraningrat. Ia sudah bersedia menjadi pengaw al rombongan. Apa sebab berhianat sebagai seorang pengecut?" Songgeng Mintaraga melanjutkan tutur katanya.

"Sebagai seorang pengaw al, ia sudah melanggar kewajiban. Sebagai seorang pendekar, ia merendahkan derajat kaumnya. Demikianlah, aku menunggu terjadinya sandiwara itu. Tatkala rombongan Pangeran Adiningrat memasuki tikungan jalan Ngampel, Sondong Ucek-ucek benar-benar muncul dengan anak-buahnya. Pertempuran segera terjadi. Kuncaraningrat berkaok-kaok dan berpura-pura sibuk mengatur suatu pembelaan. Ia lari kesana kemari dengan pedang terhunus. Justru hal itu, membuat hatiku mendongkol dan muak bukan main. Mengingat akan terjadinya suatu pembunuhan, tak dapat lagi aku bersabar lebih lama lagi. Segera aku membaw a anak buahku menyerbu gelanggang pertempuran. Dan terlibat dalam suatu pertempuran seru Kuserukan kepada rombongan Pangeran Adiningrat, bahwa telah terjadi suatu penghianatan keji. Dan sudah barang tentu, seruanku itu membuat Kuncaraningrat menjadi. kalap. Dengan pedangnya ia menerjang.

"Alangkah dahsyat! Benar-benar ia seorang ahli pedang kenamaan yang tak mengecewakan. Syukur ia sedang kalap. Dengan begitu, tak dapat ia mengendalikan diri sebaik-baiknya. Dan kesempatan bagus itu, segera kupergunakan. Akhirnya aku berhasil menabarkan pedangku. Dan ia roboh menghembuskan napasnya yang penghabisan ..."

"Guru, manusia sekeji itu sudah selayaknya mati!" seru seorang murid memotong tutur-kata Songgeng Mintaraga. "Kenapa kita takut menghadapi rencana balas dendam adiknya? Bila dia datang, kita bongkar rahasia keji itu dihadapan sahabat-sahabatnya. Mungkin sekali, dia pantang mundur dan tetap menuntut balas. Akan tetapi mustahil sekali diantara rombongannya tiada terdapat beberapa orang yang jujur."

"Benar," kata Lingga Wisnu didalam hati. "Asai saja keterangan Songgeng Mintaraja in i benar, pantas mendapat penghargaan. Jangan jangan masih terselip suatu «Malah lagi diantara mereka ..."

Songgeng Mintaraga menghela napas lagi. Ia berenung-renung sejenak. Kemudian meneruskan tutur katanya :

"Setelah berhasil membunuh Kuncaraningrat, sadarlah aku. akan ancaman bahaya. Kuncaraningrat berasal dari perguruan Parw ati. Itulah suatu aliran ilmu pedang yang tak teralahkan. Aliran Parwati adalah pewaris pendekar sakti Roma Harsana yang hidup pada abad yang lampau. Pastilah tidak mudah aku mence ritakan peristiw a yang sebenarnya dihadapan sekalian para saudara seperguruannya. Bila mereka bersatu padu menuntut balas, bagaimana aku dapat melawannya? Sedang menghadapi seorang Kuncaraningrat saja, aku sudah kewalahan. Untung dia sedang kalap. Apalagi hendak mencoba berlawan-lawanan dengan dua orang Kuncaraningrat atau tiga ampat. lima Kuncaraningrat. Untunglah, pada saat itu rekan-rekanku dapat menangkap Sondang Ucek-ucek dalam keadaan hidup. Aku paksa dia agar menulis surat pernyataan persekutuannya. Bahw asanya Kuncaraningrat bermaksud mengganggu putri Pangeran Adiningrat. Ternyata Sondong Ucek-ucek tidak berkeberatan.. Didalam surat kesaksiannya, ia bahkan berani mengangkat sumpah pula." Ia berhenti sebentar mengesankan, melanjutkan : "Pangeran Adiningrat merasa berhutang budi kepadaku. Mendengar kesulitanku, dengan sukarela ia menulis sehelai surat pernyataan mence ritakan peristiw a yang sebenarnya. Beliau memaksa dua hambanya pula yang bernama Bolot dan Ngaeran untuk menandatangani surat kesaksian itu. Mereka berdua sama sekali tak mengira, bahwa pendekar Kuncaraningrat mempunyai rencana keji demikian. Seumpama tiada kehadiranku, pastilah mereka berdua sudah t idak bernyaw a lagi. Maka semenjak itu, mereka berdua menjadi sahabatku. Kemudian aku membaw a dua helai surat kesaksian itu ke Surakarta untuk menghadap pendekar besar Prangwedemi ketua aliran Parwati.

"Akh, benar-benar tak kuduga, bahwa berita pembunuhan itu telah terdengar oleh Prangwedemi beberapa hari sebelum aku memasuki Surakarta. Ditengah perjalanan, aku berpapasan dengan rombongan mereka. Sama sekali aku tak diberi kesempatan untuk memberi peringatan. Untunglah pada saat aku terdorong kepojok, datanglah seorang pendekar luar biasa. Dengan pedang yang istimewa ia dapat melumpuhkan mereka semua. Kemudian aku diantarkan menghadap Prangwedemi dan dengan bantuan pendekar luar biasa itu, dapatlah aku memberi keterangan kepada Prangwedemi tentang peristiw a terjadinya pembunuhan. Ternyata Prangwedemi adalah seorang pendekar besar pula serta jujur. Akan tetapi, demi menjaga nama baik aliran Parwati, ia minta kepadaku agar jangan membocorkan perangai Kuncaraningrat. Aku bersedia dan berjanji. Dan semenjak itu, benar-benar aku menutup mulut. Itulah sebabnya, tiada seorangpun yang mengetahui peristiw a matinya Kuncaraningrat dan siapa pembunuhnya. Pada waktu itu, pendekar Srimoyo masih berumur belasan tahun. Sudah barang tentu, ia tidak mengetahui keadaan hati Kuncaraningrat yang sebenarnya. Sebagai seorang adik yang tahu menghormati kakaknya, sudah selayaknya kuhargai. Pantaslah ia menuntut dendam. Hanya saja ..."

"Itulah suatu balas dendam yang kurang tepat," potong salah seorang muridnya. "Kakaknya patut mengalami nasib demikian. Guru, apakah ke dua surat kesaksian itu masih berada di tangan guru?"

"Justru hal itulah yang kini menjadi kunci kesulitanku," sahut Songgeng Mintaraga. Kedua surat itu kini tiada lagi ada padaku. Hilang"

"Hilang?" seru muridnya menegas.

Songgeng Mintaraga mejenak napas dan me-manggut.

Kemudian memberi keterangan :

'"Pertama-tama aku harus menyesali diriku sendiri. Mataku lamur dan buta sampai tak dapat mengenal wajah manusia. Satu tahun yang lalu, salah seorang sahabatku menyampaikan berita kepadaku tentang sepak-terjang pendekar Srimoyo, Menurut kabar, Srimoyo mencari pembunuh kakaknya. Itulah aku sendiri. Merasa diri masih belum cukup tangguh untuk menuntut dendam, ia menyempurnakan kepandaiannya. Sekarang ia sudah siap segala-ga lanya dan mulailah ia mencari diriku. Tentu saja segera aku mencari daya upaya untuk menyelamatkan diri. Teringatlah aku kepada dua orang sahabatku yang mempunyai hubungan dekat dengan aliran Parwati. Merekalah Suramerto dan Mangun Sentono, abdi dalam atau hamba kerajaan istana Surakarta. Bila mereka berdua sudi menjadi perantaraku, pastilah perselisihan itu akan selesai. Maka berangkatlah aku mencari mereka berdua ..."

"Akh, teringatlah aku," sela seorang murid. "Jadi tatkala guru pergi selama satu bulan dahulu, sebenarnya lagi mencari mereka berdua?"

"Benar," Songgeng Mintaraga memanggut. "Aku mencari mereka dirumahnya yang terletak di wilayah Palur. Sayang, mereka tiada dirumah. Menurut keterangan, mereka ke ibukota untuk memenuhi panggilan Gusti Patih Pringgalaya. Karena sudah terlanjur berada dirumahnya, aku memutuskan untuk menunggu mereka. Lebih kurang satu minggu, kalau tak salah, mereka datang. Rasa girangku bukan main besarnya, karena bertemu dengan dua sahabat lama. Demikian pulalah mereka berdua.

"Segera kusampaikan maksud perjalananku menemui mereka berdua. Itulah masalah perselisihan antara diriku dengan keluarga Kuncaraningrat. Dan aku memohon pertolongan mereka berdua agar bisa memberi penjelasan kepada pendekar Srimoyo. Suramerto dan Mangun Sentcno dengan penuh semangat menyatakan kesediaan mereka untuk menjadi perantaraku Bahkan mereka meyakinkan diriku, bahwa masalah itu pasti dapat dibereskan manakala aku mempunyai bukti-bukti cukup. Alasannya sangat nalar, maka kuserahkan dua helai surat kesaksian kepadanya. Akh, bagus kata mereka. Bila Srimoyo melihat dua surat kesaksian itu, pastilah dia akan membatalkan niat nya untuk balas dendam. Sebaliknya dia akan mencari perantara pula untuk mohon maaf kepadaku, demikianlah mereda meyakinkan diriku. Hanya saja mereka berpesan, agar aku tidak menceritakan hal in i kepada siapapun juga. Dan aku berjanji akan membungkam mulut.

"Dua hari dua malam aku menginap di rumah mereka. Dan aku memperoleh pelayanan yang memuaskan sekali. Kebetulan sekali didesanya sedang terjadi sedekahan atau keramaian untuk memperingati desa. Aku ikut menonton wayang dan menandak-nandak pada malam tayub atau tarian bebas itu. Pendek kata, puaslah hatiku. Kemudian pada hari aku hendak berangkat pulang, Suramerto membaw a aku beromong-emong kosong, mengenai panca-roba zaman. Katanya bintang kejayaan Susuhunan Surakarta, pada saat itu sudah mulai surut. Ia mencela habis-habisan perjuangan Gusti Said dan Mangkubumi I. Beliau berdua dikatakan sebagai manusia-manusia goblok dan buta. Sudah jelas, kata mereka bahwa kunci kesejahteraan bangsa berada di tangan pemerintah Belanda. Bukankah pemerint ahan Kasuhunan terw ujud berkat bantuan pemerint ah Belanda? Karena itu, kita harus bisa melihat gelagat. Selagi huru-hara sedang hebat-hebatnya, inilah suatu kesempatan yang bagus bagi orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi. Dengan menjual tenaga sedikit;, kemuliaan hidup sudah terbentang di depan mata kita. Sekiranya aku sudi berhamba, mereka berdua bersedia pula menjadi perantara untuk membaw a diriku ke gerbang Gunung Emas. Dan mendengar sasaran pembicaraan mereka berdua, aku menjadi tercengang. Jadi kemana aku harus berhamba, tanyaku. Lewat Gusti Patih Pringgalaya, jawab mereka. Gusti Said tidaklah lebih seorang berandal rumput yang tiada mempunyai masa depan. Dan mendengar ucapannya, tiba-tiba aku menjadi marah. Kucela sikap dan cara berpikir mereka berdua. Kenapa sudi menjadi budak bangsa asing yang sebenarnya sedang merantau di tanah air kita in i. Kukesankan kepada mereka berdua, betapa besar dosanya kepada anak cucu dikemudian hari bila sampai berhianat terhadap bangsa dan negara. Apakah arti kemuliaan hidup sekeluarga, sedangkan ribuan orang hidup sengsara akibat penghianatan kita. Itulah hidup berdansa diatas tumpukan mayat. Hidup demikian, sebenarnya suatu siksa sendiri."

Mendengar ucapan Songgeng Mintaraga, hati Lingga Wisnu tergetar. Katanya di dalam hati:

'Orang ini mempunyai penglihatan jauh. Jiwanya luhur pula. Akh, tak pantas dia mati terajang oleh sekumpulan manusia yang terbakar oleh rasa dendam kesumat saja

...' Dan diam-diam ia mengagumi orang tua itu.

"Beberapa saat lamanya, kami bentrok karena perselisihan pendapat," Songgeng Mintaraga meneruskan. "Tapi pada sore harinya, mereka berdua bersedia mengalah. Kembali lagi mereka ramah-tamah terhadapku. Bahkan mereka mohon maaf atas kehilafannya. Kata mereka: ? Janaanlah di masukkan hati semua kata-kataku tadi pagi. Itulah ucapan seorang yang lagi kekurangan uang belanja ...

"Mereka berdua pandai meredakan rasa tegang, sehingga hatiku tegar kembali Tapi, ya Aliah, sama sekali tak kuduga, bahwa mereka ber dua sesungguhnya dua ekor anjing yang benar- benar bersedia menghamba kepada pemerint ah Belanda. Hal ini baru kuketahui dikemudian hari. Sebenarnya apa yang mereka katakan adalah sungguh-sungguh. Dengan begitu. sebenarnya kepergianku kepadanya tak ubah seseorang menggali lubang kematiannya sendiri. Betapa tidak? Aku mengharapkan bantuan mereka Tak tahunya, mereka berdua justru ditugaskan patih Pringgalaya menghancurkan diriku. Sebab rupanya patih Pringgalaya tahu, bahw aku seorang pemimpin Laskar Lawu yang menghambat gerakan kompeni Belanda semenjak beberapa tahun yang lalu."

"Apa yang mereka lakukan?" teriak seorang murid yang berdiri dipojok.

"Mereka memutar balik peristiwa yang terjadi dihadapan Srimoyo." Songgeng Mintaraga menyahut. "Sehingga hati Srimoyo bertambah panas terhadapku. Hal itu benar-benar tak kuketahui selama delapan bulan yang lalu."

"Akhl Mengapa mereka berbuat sekejam itu? Bukankah mereka tadinya bersedia membantu kesukaran guru?"

"Benar. Tapi setelah aku menolak ajakannya agar membantu majikannya menghancurkan laskar Gusti Said, mereka lantas berbalik memusuhiku. Siapa bisa menduga demikian? Meskipun bentrok, bukankah pada sore harinya sudah damai kembali? Sekarang, dua helai surat kesaksian itu berada ditangan mereka. Dengan begitu tak dapat aku membela diri didepan pendekar Srimoyo. Pangeran Adiningrat sudah lama wafat. Kedua abdinya, Bolot dan Ngaeran yang ikut pula menanda tangani surat kesaksian, demikian pula. Juga puterinya yang menjadi pokok persoalan. Puteri ini wafat tatkala melahirkan puteranya yang pertama. Dengan begitu, tiada lagi peganganku. Yang mengherankan mereka berdua berada pula dengan Srimoyo. Kalau begitu laskar Lawupun terancam bahaya. Tegasnya tidak hanya aku seorang yang terancam kematian. Tetapi Laskar Lawu akan mereka musnakan pula."

Mendengar ucapan Songgeng Mintaraga, sekalian muridnya marah bukan kepalang. Dengan serentak mereka menyatakan hendak bertempur sampai titik darah penghabisan. Mereka memaki dan mengutuk perbuatan Suramerto dan Mangun Sentono. Benar-benar dua ekor anjing buduk yang pantas dibinasakan.

"Sabarlah!" kata Songgeng Mintaraga mengatasi rasa marah mereka. "Aku tak mengidzinkan kalian menuruti perasaanmu belaka. Yang penting aku sudah membuka rahasia perbuatan Kuncaraningrat terhadap kalian semua. Artinya aku sudah menginkari janjiku kepada pendekar besar Prangwedemi. Karena itu, kuminta sekalian jangan meniup-niupkan berita kebusukan Kuncaraningrat. Biarlah mereka berbicara apa saja tentang diriku. Tapi aku sendiri jauh lebih senang diperlakukan begitu, dari pada aku menginkari janji. Kalau kini aku membuka rahasia ini juga, lantaran Laskar Lawu terancam perbuatan terkutuk Suramerto dan Mangun Sentono. Kepada mereka berdualah sasaran kalian yang benar," ia berhenti menghela napas. "Sekarang, panggillah kedua adikmu Rara Witri dan Kondang Kasiani"

Dengan wajah murung, sekalian murid keluar kamar. Dan tak lama kemudian masuklah seorang gadis berumur kurang lebih tujuhbelas tahun dengan seorang pemuda tanggung berumur sebelas atau duabelas tahun. Merekalah Para Witri dan Kondang Kasian, putera-puteri Songgeng Mintaraga. "Ayah!" Jerit Para Witri sambil menubruk pangkuan Songgeng Mintaraga. Dan gadis itu lantas menangis sedu-sedan.

Songgeng Mintaraga terbungkam mulutnya. Ia mengusap-usap rambut Para Witri dengan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya memeluk Kondang Kasian yang berdiri didampingnya.

"Apakah ibumu sudah siap?" Para Witri memanggut.

"Bagus," kata Songgeng Mintaraga. "Sekarang,

dengarkan pesan ayahmu. Jika adikmu sudah mendekati usia dewasa, hendaklah kau ajari bekerja yang layak. Jadikanlah dia seorang petani atau pedagang. Jangan kau bawa dia memimpikan kedudukan tinggi atau pangkat yang mentereng. Kularang dia mempelajari ilmu kepandaian atau ilmu sakti macam apapun juga. Dengan begitu, hidupnya akan damai dan tenteram."

"Tidak, ayah!" bantah Para Witri. "Dia justru harus belajar ilmu kepandaian agar dapat menuntut dendam ayah.”

"Kau bilang apa?" bentak Songgeng Mintaraga. Wajahnya menjadi merah padam. Akan tetapi hanya sedetik dua detik. Setelah itu kembali muram dan penyabar. Katanya dengan suara rendah:

"W itri, dengarkan baik-baik pesan ayahmu ini. Semuanya ini kupesankan kepadamu, agar anak keturunan kita selamat. Sebab didalam pergaulan hidup ini, seringkali terjadi penyakit angkara manusia yang tiada habis-habisnya. Itulah rasa dendam kesumat, iri hati, jelus, cemburu dan dengki. Karena itu, aku menghendaki Kondang Kasian hidup sebagai rakyat jelata, kelak. Lagi pula adikmu tidak memiliki bahan bagus. Seumpama belajar ilmu kepandaianpun tidak akan dapat mencapai setengah kepandaian. Tegasnya dia tidak akan dapat mencapai setengah kepandaianku. Apa yang bisa dilakukan dengan bekal sekerdil itu? Lihatlah ayahmu sendiri in i! Meskipun memiliki kepandaian agak berarti, akhirnya tidak berdaya juga mempertahankan hidup damai sejahtera. Mati itu sendiri, tidaklah begitu mengusik hatiku. Sebab setiap orang hidup, pasti akan mati. Tapi alangkah besar sesalku, bahwa aku tidak diberi kesempatan melihatmu membangun rumah tangga Setelah kepergianku, hendaklah kau menghadap Panglima Sengkan Turunan. Katakan pada beliau, bahwa aku menunjuk muridku Anjar Tahunan sebagai penggantiku. Dan mulai detik ini pula, sekalian murid dan laskarku harus tunduk dan patuh padanya. Mengerti?"

Lingga Wisnu heran. Pikirnya didalam hati:

'Laskar Lawu berjumlah ribuan orang. Dan Songgeng Mintaraga pemimpinnya. Meskipun Srimoyo memperoleh bantuan pendekar-pendekar kenamaan, dapatkah mereka melawan Laskar Lawu yang berjumlah ribuan orang itu? Mustahil! Kompeni Belanda yang bersenjata senapanpun, tidak berdaya. Kenapa Songgeng Mintaraga bersikap begini lemah menghadapi ancaman Srimoyo? Benar benar aneh!

"Apakah aku harus memanggil paman Anjar Tahunan menghadap ayah?" Para w itri menegas.

"Apakah kau belum jelas menanggapi kata-kataku ini?" Songgeng Mintaraga menyesali. "Pamanmu itu keras tabiatnya. Dia sedang pulang ke kampung. Bila kau panggil dia untuk menghadap ayahmu dan mengetahui masalahnya, apakah dia akan berpeluk tangan saja melihat diriku terhina begini rupa? Sekali ia bertindak maka pertempuranpun akan terjadi. Berapa banyak jiw a yang akan melayang? Dan aku, tak menghendaki mereka mati demi untukku. Didepan mereka menunggu suatu gerbang yang pantas sekali menuntut tenaga dan jiw a mereka. Itulah gerbang kesejahteraan bangsa. Karena itu, aku hanya menghendaki, agar engkau menghadap panglima Sengkan Turunan membaw a pesanku ini. Kemudian umumkan keputusanku ini kepada sekalian murid-muridku. Jadi aku tidak menyuruhmu memanggil Anjar Tahunan menghadapku pada saat ini. Terang?"

Para Witri mengangguk. Sedu sedannya naik.

Kemudian dengan membimbing tangan adiknya, ia mundur sampai ke pintu. Berkata mencoba :

"Ayah, apakah tiada jalan lain untuk menghindari ancaman mati ini?"

Hal itu sudah kupikirkan semenjak beberapa hari yang lalu." sahut Songgeng Mintaraga menghela napas. "Apakah kau kira aku t idak bergirang hati serta bersyukur apabila terhindar dari kematian? Di dalam dunia in i, hanya ada seorang saja yang bisa menolong diriku. Itulah pendekar luar biasa yang dahulu pernah menolongku dari kepungan orang-orang Parwati. Tetapi kukira pendekar luar biasa itu sudah tiada lagi dalam dunia ini ..."

Mendergar kata-kata Songgeng Mintaraga, wajah Rara Witri berseri dengan tiba-tiba. Ia menghampiri ayahnya dua langkah. Bertanya menegas "Ayah, siapakah orang itu? Siapa tahu, barangkali dia belum meninggal dunia."

"Bondan Sejiwan, begitulah namanya. Ia di sebut pula dengan julukan Pendekar Kebo Wulung" sahut Songgeng Mintaraga. "Dialah yang kusebut pendekar luar biasa. Dia pulalah yang mengetahui masalahku. Ketika duabelas murid Prangwedemi menghadangku di tengah perjalanan, ia mengundurkan mereka seorang diri. Dengan seorang diri pula ia berhadap-hadapan dengan Prangwedemi untuk menjelaskan masalahku. Sekarang Prangwedemi kabarnya sudah wafat. Penggantinya bernama Yudana. Pendekar Kebo Sulungpun mengalami aniaya

Wew :P hal 92-93 gak adaaaaaaaaaa !!

Para Witri tertegun keheranan. Ia kagum menyaksikan betapa gesit Lingga Wisnu. Segera ia mengkisiki adiknya agar menunggu dikamar ibunya. Kemudian ia melcmpat pagar tembok itu pula, menyusul Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini. Ia mengejar beberapa rint asan. Melihat Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini sudah meninggalkannya sangat jauh, ia menghentikan langkah. Lalu memutar tubuh hendak balik kembali Tapi baru saja ia berpaling, sekonyong-konyong lengannya teraba sesuatu. Tahu-tahu pedangnya telah terampas.

Dan Lingga Wisnu sudah berada disampingnya.

Sudah barang tentu Para W itri terkejut bukan kepalang. Betapa mungkin, seseorang bisa bergerak begitu cepat. Selagi tertegun keheranan, terdengarlah Lingga Wisnu berkata meyakinkan : "Adik, janganlah kau sangsi kepadaku, seumpama aku berniat mencelakaimu, dapat kulakukan dengan mudah sekali. Akulah salah seorang sahabat ayahmu. Maka dengarlah semua perkataanku."

Para Witri menganggut, meskipun hatinya masih berbimbang-bimbang. Lingga Wisnu agaknya dapat menebak keadaan hati gadis itu. Berkata meyakinkan lagi

:

"Ayahmu terancam bahaya maut. Beranikah engkau menempuh bahaya untuk menolongnya? Sanggupkah engkau?"

"Asal ayah tertolong, aku bersedia hancur lebur," sahut Rara W itri.

"Bagus. Ayahmu sesungguhnya seorang mulia hati. Ayahmu lebih senang mengorbankan diri sendiri dari pada mengorbankan beberapa Jiwa demi persoalannya. Dialah benar-benar seorang pendekar yang jarang terdapat di dunia ini. Karena itu, aku hendak membantunya. Maka dari itu jangan sangsi "

Sekarang Bara Witri tidak sangsi lagi. Pemuda yang berada didepannya itu benar-benar meyakinkan hatinya. Maka ia membungkuk hormat sambil menyatakan rasa terima kasihnya

"jangan begitu," Lingga Wisnu mencegahnya. "Belum tentu pula aku dapat menolong. Semuanya ini tergantung pada nasib yang baik. Sekarang, bawalah aku ke kamarmu. Dapatkah engkau menyediakan alat tulis?"

Rara Witri terhenyak sejenak. Tapi melihat Sekar Prabasini berada didamping pemuda itu, kecurigaannya pudar. Pikirnya didalam hati: 'Dia membawa seorang teman. Mustahil ia hendak berbuat tak senonoh terhadapku. Lagi pula tenaga sambarannya dahsyat luar biasa diwaktu mencegah gerakanku menyatakan hormat padanya. Kalau saja dia benar-benar hendak menolong ayah, pastilah mampu.’ Dan dengan pertimbangan ini ia bertanya mencari keyakinan :

"Sebenarnya siapakah kakak berdua?"

"Waktu kita sangat sempit. Hayo, kau sediakan saja alat tulis dan kertas. Aku hendak menulis surat kepadanya. Bila ayahmu membaca surat itu, kuharap saja tidak berputus asa lagi jadinya," sahut Lingga Wisnu menyimpang.

Rara Witri sudah berada dalam pengaruh pemuda itu, maka berkatalah gadis itu :

"Baiklah. Mari!"

Ia berjalan mendahului. Dan Lingga Wisnu berjalan mengikuti dengan didampingi Sekar Prabasini. Berkata :

"Kau ingin mengetahui nama kami berdua, bukan? Biarlah tetap merupakan rahasia dahulu. Bahkan kupinta padamu, agar merahasiakan pula pertemuan kita ini. Kau sanggup?"

Para Witri memanggut. Ia sekarang mengerti maksud Lingga Wisnu. Dan wajahnya lantas saja menjadi cerah. Dengan penuh gairah, ia membawa Lingga Wisnu berdua melintasi taman bunga memasuki kamarnya. Cepat ia menyediakan alat tulis dan kertas. Kemudian duduk berjarak ampat langkah didekat pintu masuk.

Lingga Wisnu membubuki kertas yang berada diatas meja. Ia menulis. Sekar Prabasini yang berada disampingnya terkejut melihat apa yang ditulisnya, Akan tetapi oleh isyarat mata, ia membungkam.

"Adik," kata Lingga Wisnu kepada Rara W itri. "Esok pagi pergilah kau menemui kami di rumah penginapan Praci, jam sembilan. Kami akan menunggumu."

Rara Witri mengangguk sambil menerima lipatan kertas yang diberikan kepadanya. Kata Lingga Wisnu lagi:

"Sampaikan surat ini kepada ayahmu secepat mungkin. Hanya saja kau harus berjanji kepadaku."

"Katakanlah!"

"Hendaklah kau rahasiakan pertemuan kita ini. Bila ayahmu minta keterangan tentang diriku, jangan kau katakan. Kularang engkau melukiskan perawakanku dan usiaku. Kau mengerti?"

Para Witri heran. Menegas:

"Apabila kau sebutkan kesan diriku, aku tidak akan membantumu lagi." Lingga Wisnu mengesankan.

Sebenarnya Rara W itri masih ingin memperoleh penjelasan. Akan tetapi karena melihat Lingga Wisnu bersungguh-sungguh, ia terpaksa memanggut. Katanya berjanji :

"Baiklah. Aku berjanji."

Lingga Wisnu menarik lengan Sekar Prabasini. Dengan membaw a gadis itu, ia melesat keluar melalui jendela. Gesit gerakannya, sehingga untuk kedua kalinya Rara Witri kagum bukan main. Sebentar kemudian, ia tersentak oleh lipatan kertas yang berada di tangannya. Cepat ia berlari-larian menuju ke kamar ayahnya. Hatinya memuku!, tatkala melihat pintu dan jendela kamar ayahnya tertutup rapat. Dengan menghimpun tenaga ia menggempur jendela sampai terbuka. Ia melompat kedalam sambil mengacungkan surat.

"Ayah!" serunya. "Lihat!"

Ia melihat ayahnya sedang memegang sebuah caw an. Tahulah dia apa isi cawan itu. Pastilah ayahnya hendak menghabisi jiwanya dengan meminum racun. Karena itu, wajahnya jadi pucat dan suaranya menggeletar tatkala mengulangi seruannya:

"AyahI Lihat surat ...!"

Songgeng Mintaraga menurunkan cawannya. Ia menoleh dengan pandang kosong. Dan Para Witri berkata lagi sambil membuka lipatan kertas :

"Ayah, surat. Bacalah dahului"

Songgeng Mintaraga menyadarkan pandang matanya. Ia melihat lukisan sebuah pedang. Dengan tiba-tiba saja cawannya terlepas dari tangannya dan hancur berantakan diatas lantai.

Kaget dan heran Rara Witri menyaksikan hal itu. Kenapa ayahnya sampai kehilangan tenaga

pengamatan? Tapi setelah melihat perubahan wajah ayahnya, hatinya bersyukur bukan main. Wajah ayahnya yang suram, mendadak berubah berseri-seri penuh cahaya gairah hidup.

"Siapa .... siapa yang memberimu surat ini? Siapa ...?" Songgeng Mintaraga menegas dengan suara bergemetar. Dengan kedua tangannya ia meraih surat di tangan Rara Witri. "Apakah dia datang? Apakah benar-benar ia datang?"

Rara Witri tak dapat menjaw ab dengan segera. Ia mendekatkan pelita untuk memperoleh penglihatan lebih jelas. Kemudian ikut mengamat-amati surat Lingga Wisnu. Sama sekali tiada hurufnya, kecuali lukisan sebatang pedang yang aneh bentuknya. Pedang itu seperti berlidah Berlidah dua. Mirip seekor ular yang siap menerkam mangsanya. Ia tidak mengerti, apa sebab ayahnya kegirangan begitu melihat gambar itu. Bertanya:

"Gambar pedang. Pedang siapa?"

"Asal dia datang, ayahmu bakal tertolong. Inilah pedang Kebo Wulung Apakah dia datang menemuimu?"

"Dia siapa?" Rara Witri heran.

"Pemilik pedang ini. Maksudku yang melukis pedang ini," kata Songgeng Mintaraga.

Sekarang barulah Rara Witri mengerti maksud ayahnya. Ia memanggut seraya menyahut :

"Besok pagi aku disuruh mencarinya disuatu tempat," "Dimana?"

"Dirumah penginapan Praci."

"Akh! Apakah dia tidak berkata, bahwa akupun perlu ikut serta?" "Tidak. Dia tidak berkata begitu," jawab Rara Witri.

Songgeng Mintaraga menarik napas. Tetapi wajahnya cerah. Katanya setengah berbisik seperti kepada dirinya sendiri :

"Orang gagah luar biasa itu memang aneh perangainya. Kalau dia tidak berkata sesuatu, pasti ada maksudnya. Sebaliknya bila membuka mulutnya, siapapun harus taat dan mendengarkan setiap patah perkataannya dengan sungguh sungguh. Baiklah, kau pergilah esok pagi mencarinya. Akh, sedetik saja kau kasep, ayahmu kini sudah berada ditengah aw an ..."

Mendengar ucapan ayahnya, keringat dingin membasahi tengkuk Rara Witri. Maka berkatalah dia dengan hati-hati :

"Sekarang, sebaiknya ayah tidur saja."

Songgeng Mintaraga memanggut. Ia kini menjadi seorang penurut dengan mendadak. Dan kabar yang menggirangkan itu sebentar saja telah tersiar luas diantara murid-murid dan Laskar Lawu. isteri Songgeng Mintaraga girang dan bersyukur bukan kepalang. Hanya saja ia masih berbimbang-bimbang terhadap pendekar luar biasa yang hendak datang menolong. Benar- benarkah dia akan datang esok hari? Tapi melihat kecerahan wajah suaminya, |a percaya bahwa bahaya maut telah teratasi. Karena itu, ia tak jadi berkemas- kemas lagi.

Tatkala itu Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini sudah jauh meninggalkan rumah Songgeng Mintaraga. Sekar Prabasini tadi melihat Lingga Wisnu menggambar sebatang pedang yang aneh bentuknya, Waktu itu tak berani ia membuka mulut untuk minta keterangan. Sekarang tak perlu ia khawatir akan diint ip orang, Maka bertanyalah ia :

"Sebenarnya pedang apakah yang kau lukis tadi?" "Bukankah   engkau   telah   mendengar   tutur   kata

Songgeng Mintaraga tentang seorang pendekar luar

biasa yang memiliki pedang aneh? Itulah pedang Kebo Wulung milik almarhum ayahmu. Dia yakin, bila ayahmu datang pastilah jiw anya bakal tertolong. Dengan melihat bentuk pedang itu, dia akan teringat ayahmu."

Terharu hati Sekar Prabasini mendengar keterangan Lingga Wisnu. Namun ia heran apa sebab Lingga Wisnu bermaksud menolong jiw a Songgeng Mintaraga. Tanyanya :

"Kau hendak menolong jiw anya. Apakah keuntunganmu?”

"Kulihat Songgeng Mintaraga seorang ksatria yang luhur budi," jawab Lingga Wisnu. "Dia kena fitnah dua sahabatnya yang dipercayai. Kalau sampai mati, itulah mati sia-sia belaka. Dapatkah kita menyaksikan dia mati penasaran? Apa lagi ternyata dia adalah sahabat ayahmu."

"Oh, begitu? Kukira kau sud i menolong karena melihat puterinya yang cantik jelita,” kata Sekar Prabasini berlega hati

"Prabasin i, sebenarnya aku kau golongkan manusia apa sampai kau mempunyai pikiran demikian," Lingga Wisnu mendongkol. "Hai, kenapa kau marah, sayang? Siapa pun akan curiga kepadamu. Kau seorang pemuda dan dia seorang gadis cantik. Kenapa kau suruh mencarimu dipenginapan?"

Tepat kata-kata Sekar Prabasini, sehingga Lingga Wisnu tak kuasa menjawab. Akhirnya mau tak mau ia tertaw a geli juga. Katanya:

'Pandang matamu cupat benar. Hm, bagaimana aku harus mengobatimu? Baiklah, mari kutunjukkan padamu, apa sebab aku menyuruhnya mencariku dipenginapan"

Sekar Prabasini menggerutu. Hendak ia membuka mulutnya, akan tetapi Lingga Wisnu menyambar tangannya. Pemuda itu lari pesat mengarah ke timur. Dan terpaksalah ia lari sekuat-kuatnya untuk bisa menjajari.

Tak lama kemudian, sampailah mereka di gedung kediaman Srimoyo. Dengan menarik tangan Sekar Prabasini, Lingga Wisnu melcrnpati pagar tembok batu. Dan dibalik gercmbolan tetanaman, ia membawa gadis itu bersembunyi. Bisiknya:

"Didalam rumah ini banyak terdapat orang-orang pandai. Karena itu kita harus berhati-hati, Sekali mereka melihat kedatangan kita, akan gagallah rencanaku."

"Baik.." sahut Sekar Prabasini memberengut. "Tapi kau harus berjanji, bahwa tujuanmu menolong Songgeng Mintaraga bukannya disebabkan pandang puterinya. Kalau kau menolong orang tua itu demi Rara Witri, aku akan berteriak teriak biar gagal usahamu."

Lingga Wisnu tertaw a mendongkol. Akan tetapi ia percaya. Sekar Prabasini hanya mengancam dimulutnya saja. Dan hati-hati ia membawa gadis itu mendekati rumah penginapan. Tatkala itu suasana sudah sunyi senyap. Maklumlah, hari hampir mendekati fajar. Walaupun demikian, perlu ia berhati-hati. Tiba-tiba ia melihat seorang pelayan lewat melintasi taman bunga. Cepat ia me lompat dan menyambar mulutnya. Berkata mengancam :

"Dimana letak kamar para tetamu yang datang menginap disin i?"

Pelayan itu ketakutan melihat pandang mata. Lingga Wisnu yang berwibawa. Segera ia memberi keterangan.

"Bukan semuanya yang kumaksudkan," potong Lingga Wisnu. "Tapi dua orang tetamu bernama Suramerto dan Mangun Sentono."

Pelayan itu menuding kearah sebuah kamar yang terletak disebelah barat. Lingga Wisnu berterima kasih. Katanya :

"Tapi maaf. Kau terpaksa kut aw an juga di sini. Menjelang pagi hari, engkau akan bebas sendiri tanpa pertolongan."

Setelah berkata demikian, ia memijat salah suatu urat tertentu. Kemudian memondongnya dan diletakkan dibalik gerombol belukar. Setelahnya itu dengan hati-hati ia mendekati kamar sebelah barat.. Sudah barang tentu, Sekar Prabasini tidak sudi ketinggalan. Tatkala Lingga Wisnu membongkar jendela, ia ikut berperihatin.

Hebat cara kerja Lingga Wisnu. Dengan tenaga himpunan saktinya yang sempurna, ia menempelkan tangannya. Tiba-tiba saja jendela itu terbuka dengan sendirinya. Kemudian ia melompat masuk. Sekar Prabasini melompat masuk pula.

Sebenarnya, gerakan mereka tiada membersitkan suara sedikitpun juga. Akan tetapi Surome rto dan Mangun Sentono benar-benar tajam telinganya. Begitu mendengar desir angin, mereka tersentak bangun. Tetapi begitu bergerak, Lingga Wisnu mendahului. Dan mereka rebah tak berdaya.

Dengan leluasa Lingga Wisnu menggeledah isi kamar. Lemari, laci, bawah bantal dan tempat tidur dibongkarnya. Pakaian, uang dan senjata diaduk- aduknya sehingga bertebaran di atas lantai. Sekar Prabasini lantas menyalakan lilin dan ia membantu menyuluhi. Namun apa yana dikehendaki Lingga Wisnu belum juga diketemukan. Tiba-tiba terdengarlah langkah kaki diseberang kamar. Cepat ia memadamkan lilin. Dan di dalam gelap, Lingga Wisnu terus mengadakan penggeledahan.

Akhirnya, ia menggerayangi saku Suramerto. Hatinya girang, karena menemukan segumpal kertas. Terus saja ia memasukkannya didalam sakunya. Bisiknya kepada Sekar Prabasini :

"Sudah kutemukan."

"Bagus!" sahut Sekar Prabasini girang dengan berbisik pula. "Mari kita keluar. Di luar kudengar langkah kaki."

"Tunggu sebentar." kata Lirfgaa Wisnu masih dengan berbisik. Ia lantas menghampiri. meja. Dengan mengerahkan himpunan tenaga sakti, ia menulis dengan jari penunjuk. Pendek bunyinya: Hormat dan salam dari sahabatmu, Songgeng Mintaraga. Tetapi yang mengagumkan adalah bekas jari penunjuk itu. Alas meja seperti melesak ke dalam.

Berbareng dengan mereka melompat ke luar jendela, bulan sip it tiada lagi sehingga malam jadi gelap gulita. Tiba-tiba saja sebatang pedang menyambar dada Lingga Wisnu. Lingga Wisnu sama sekali tak gentar sedikitpun. Sebat ia menyambar pergelangan tangan penyerangnya. Di luar dugaan, penyerangnya dapat bergerak dengan cepat pula. Tahu-tahu ujung pedang menikam ulu hati

Lingga Wisnu tidak menghiraukan. Ia mengandalkan pada baju mustika pemberian Ki Ageng Gumbrek yang tak mempan senjata betapa tajampun. Ia tak takut akan terluka. Tangannya terus bergerak mencengkeram lengan.

Sudah barang tentu penyerangnya kaget bukan kepalang. Benarkah di dunia ini terdapat seseorang yang benar-benar kebal?

Selagi dalam keadaan demikian, tahu-tahu lengannya tercengkeram. Hebat cengkeraman itu. Maka cepat-cepat ia mengerahkan tenaga hendak membebaskan diri. Tapi suatu tamparan mengarah mukanya. Gugup ia melonpat mundur. Diluar kehendaknya sendiri, pedangnya terairpas. Oleh rasa kaget dan takut, ia lari dengan jumpalitan dan sebentar saja tubuhnya lenyap dibalik dinding kamar.

Lingga Wisnu membiarkan penyerangnya kabur dengan selamat. Ia tahu siapa dia. Dialah pendekar pedang Taw on Kemit, adik Anung-anung aliran Sekar Ginabung. Tawon Kemit pernah malang-melint ang tiada tandingnya semenjak belasan tahun yang lalu. Pedangnya yang bernama Korowelang, belum pernah terkalahkan. Sekarang pedang andalannya itu terampas orang dalam satu gebrakan saja. Keruan saja ia mendongkol bukan kepalang. Kecuali malu, gentar juga

Ayu Sarini mengalami nasib seperti Tawon Kermit pula. Sewaktu ikut mengintai rumah Songgeng Mintaraga, ia kehilangan pedangnya. Pendekar wanita yang genit itu; hampir saja menangis oleh rasa marah dan penasaran. Meskipun perampas pedangnya tidak berniat jahat namun perampasan itu sendiri cukup menghinanya.

Malam itu, baik Ayu Sarini maupun Taw on Kemit, tidak sanggup menidurkan diri. Mereka berdua diamuk berbagai dugaan dan pikiran. Pendekar dari manakah yang sanggup merampas pedangnya? Hampir-hampir saja mereka tidak mau percaya, bahwa pedang andalan masing-masing sesungguhnya kena terampas.

Sebenarnya Tawon Kemit keluar kamar tanpa tujuan. Ia berjalan mondar-mandir di halaman mencari angin segar. Tiba-tiba ia melihat cahaya menyala dalam kamar Suromerto dan Mangun Sentono. Segera ia menghampiri dan bersembunyi di belakang gerombol tetanaman. Telinganya yang tajam mendengar suatu kesibukan didalam kamar itu. Cepat ia menghunus pedangnya. Inilah pencuri yang bosan hidup, pikirnya didalam hati. Ia percaya akan dapat merobohkan pencuri itu dalam satu gebrak saja. Diluar dugaan, ia gagal bahkan pedang Korowelang kena terampas.

Dengan sesungguhnya, Taw on Kemit adalah seorang ahli pedang. Di dalam aliran Sekar Ginabung, keahliannya tiada yang dapat menandingi. Bahkan kakaknya seperguruan, Anung-anung, kalah setingkat. Tak mengherankan, ia disegani lawan dan kawan. Pedangnya Korowelang, termasuk sebatang pedang pusaka pula. Belum pernah pedang itu gagal menembus sasarannya. Tapi malam itu, pedang Korowelang terpental balik. Apakah bukan hantu? Maka bisa dimengerti, apa sebab ia lari lintang-pukang. Dan begitu memasuki kamarnya segera ia membangunkan teman-tenannya.

**0odw—kzo0**

Dalam pada itu, Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini cepat-cepat lari mendekati pagar tembok. Mereka tak usah takut bakal terlihat, karena sekitar pagar tembok gelap pekat. Halaman gedung kediaman Srimoyo luas pula Banyak pohon pohonan yang tumbuh dengan suburnya, sehingga menutupi penglihatan. Tapi.t atkala hendak melompati pagar, kaum Sekar Ginabung sudah terbangun. Dan kesibukan itu menjalar dari tempat ke tempat. Dan terpaksalah Lingga Wisnu mengurungkan niatnya.

"Kita bersembunyi dahulu," ajak Lingga Wisnu. Ia tak berani semberono. karena gedung Srimoyo penuh dengan pendekar-pendekar berilmu tinggi. Maka perlahan-lahan ia membawa Sekar Prabasini mendekati tembok dan mendekam rendah di atas tanah.

Prarasa Lingga Wisnu memang tajam luar biasa. Tiba- tiba saja diatas genting bermunculan beberapa orang peronda. Coba, seumpama tadi tergesa-gesa melompati pagar tembok, mereka akan kepergok dengan peronda- peronda yang berada diatas genting sebelah depan. "Hai, apakah in i?" tiba-tiba Sekar Prabasini berkata. "Coba., rabalah!"

Gadis itu membaw a tangan Lingga Wisnu ke tempat yang dikehendaki. Mula-mula pemuda itu tak mengerti maksud Sekar Prabasini. Tapi setelah meraba beberapa saat lamanya, hatinya mulai tertarik. Kaki pagar tembok itu berlumut sangat tebal. Tapi aneh! Diantaranya banyak terdapat lubang-lubang ukiran huruf. Ia terus meraba dan meraba.

Sekar Prabasini mengikuti titik-tolak rabaan Lingga Wisnu.. Ia lantas mengejah. Eh, benar benar terbaca, pikirnya didalam hati. Dan setelah sekian lamanya meraba, akhirnya membaca:

NAROTAMA - KIMP URASA .

"Hai! Bukankah tanda sandi in ilah yang kita cari?" seru Sekar Prabasini berbisik.

Hampir sepuluh hari lamanya, mereka mencari istana Mahapatih Narotama. Mulai matahari

terbit sampai jauh malam. Sekarang, tiba-tiba - mereka menemukan secara kebetulan sekali Keruan saja, mereka girang dan bersyukur bukan main.

Narotama hidup pada zaman Airlangga hendak merebut negerinya. Raja itu terusir oleh kekuasaan raja Sriwijaya- Ia memasuki hutan dan mendaki gunung. Dan Narotama mengikuti dengan setia. Dengan tekun ia menyusun laskar perjuangan disekitar Wonogiri. Ia mendirikan markas gerilya diantara pegunungan seribu. Karena peristiw a itu terjadi pada abad kedua belas, maka tidaklah mengherankan bila gedung markas besarnya lenyap ditelan sejarah. Lingga Wisnu terpaku oleh rasa girangnya. Tiba-tiba tengkuknya kena hembusan halus hangat. Ia menoleh dan melihat Sekar Prabasini tersenyum lebar. Ia jadi sadar, meskipun kesadaran itu sendiri belum dikehendaki. Gerutunya:

"Dalam keadaan begini, masih saja kau bergurau ..." "Bergurau? Justru tidak!" Sekar Prabasini melotot.

"Apakah engkau akan membiarkan diri kena tangkap?"

"Akh, ya." Kini Lingga Wisnu tersadar benar-benar. "Mari kita pergi!"

Mereka mendekam beberapa saat lamanya, Setelah yakin tiada lagi peronda diatas genting, cepat mereka melompati pagar tembok dan lari secepat-cepatnya. Tepat jam empat pagi, sampailah mereka dirumah penginapan dengan selamat.

Tiba di kaomar penginapan, Sekar Prabasini segera menyalakan lilin. Lingga Wisnu mengeluarkan gumpalan kertas dari dalam sakunya.

Kertas itu sudah kuning kotor oleh usianya. Setelah diperiksa, ia bergembira. Benar-benar dua helai surat yang dikehendaki. Yang pertama surat kesaksian Pangeran Adiningrat dengan diperkuat oleh tanda ibu jari Ngaeran dan Bolot. Dan yang kedua surat kesaksian Sondong Ucek-ucek, pemimpin gerombolan yang tadinya hendak bekerja sama dengan Kuncaraningrat. Tegasnya, itulah dua helai surat kesaksian Songgeng Mintaraga yang jatuh di tangan Suramerto dan Mangun Sentono. Dengan hilangnya surat itu, Songgeng Mintaraga jadi berputus asa. Betapa tidak? Karena dia tidak mempunyai pegangan lagi untuk menghadapi kekalapan Srimoyo yang mengundang begitu banyak pendekar-pendekar kenamaan.

"Kau benar-benar berhasil menolong jiw anya ayah digadis yang cantik jelita," seru Sekar Prabasini menyindir. "Entah dengan apa gadis itu hendak membalas budimu ..."

"Gadis siapa?"

"Iddiiih ... pura-pura lagi. Bukankah Rara Witri?" Sekar Prabasini mendengus.

Lingga Wisnu tertaw a geli. Tak sudi ia melayani sifat Sekar Prabasini yang masih kekanak kanakan. Ia lantas mengalihkan perhatiannya kepada bunyi surat kesaksiannya itu. Katanya setelah membaca surat kesaksian itu :

"Benar-benar Songgeng Mintaraga tidak berjusta. Apa yang dikatakan benar belaka. Bacalah sendiri! Hm, seumpama dia berjusta sedikit saja tak sudi aku membantunya. Apa keuntungannya bentrok dengan beberapa pendekar angkatan tua dan yang sebaya dengan usiaku. Bahkan diantara mereka terdapat pula murid-murid kakang Purbaya."

Sekar Prabasini tertawa. Tertaw a geli. "Kenapa kau tertaw a?" Lingga Wisnu heran.

"Bagaimana pendapatmu? Cantik atau t idak pendekar wanita yang bernama Ayu Sarini?"

"Akh!" Lingga Wisnu tersadar seperti tersengat semut. "Cantiknya si cantik. Akan tetapi dia kejam. Kesannya seperti iblis. Hm, apa sebab dengan tiba-tiba saja ia mengutungi lengan orang. Seumpama tak teringat kakang Purbaya, pada saat itu aku sudah turun tangan," ia berhenti sebentar. "Inilah sebabnya pula, aku memanggil Rara Witri kemari agar mencariku. Aku hendak mengikat janji kepadanya. Dia kularang membocorkan beradaku disini. Sebab diantara mereka terdapat sesama anggauta aliran Sekar Teratai."

Setelah berkata demikian, ia memeriksa lagi lembaran kertas lainnya. Sekonyong-konyong wajahnya berubah menjadi merah padam. Heran Sekar Prabasini melihat perubahan itu. Biasanya pemuda itu selalu tenang wajahnya, meskipun hatinya panas dan marah bukan main. Apa sebab kali in i t idak demikian?

"Surat apa?" tanyanya ingin mengetahui. "Bacalah sendiri," jawab Lingga Wisnu.

Itulah surat tugas rahasia Suramerta dan Mangun Sentana. Surat tugas yang ditanda tangani Patih Pringgalaya dan Komandan Kompeni Belanda. Surat tugas itu terbagi menjadi tiga bagian. Yang pertama, membunuh Songgeng Mintaraga dengan jalan apapun. Yang kedua menyusup dan menghancurkan laskar Lawu. Ketiga, mempengaruhi dan menghimpun mereka agar mau menjadi hamba-sahaya pemerint ah Kasunanan atau bersedia menjadi kaki-tangan kompeni Belanda. Dengan demikian, diharapkan dapat melumpuhkan perjuangan Gusti Said. Biaya-biaya untuk tujuan itu disediakan sepenuhnya. Akhirnya dijanjikan bahwa Suramerta dan Mangun Sentana akan diangkat menjadi bupati mancanegara, manakala dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Inilah penghianatan terkutuk! Sekar Prabasini adalah seorang gadis yang semenjak kanak-kanak hidup terasingkan dari percaturan masyarakat. Meskipun demikian, membaca surat tugas rahasia itu, nalurinya berontak. Tiba-tiba saja dadanya serasa hendak meledak oleh rasa marahnya. Terus saja, hendak merobek surat rahasia itu. Cepat-cepat Lingga Wisnu merebutnya. Cegahnya :

"Jangan! Kenapa kau begini sembrono? Kalau sampai terobek, kita tak mempunyai bukti penghianatannya lagi."

"Akh, ya." Sekar Prabasini tersadar. "Hampir saja aku merusak pekerjaan besar. Tapi kenapa Suramerta dan Mangun Sentana membaw a-bawa surat tugas ini? Bukankah surat ini dapat mencelakan dirinya?"

"Maksudnya untuk mempengaruhi Srimoyo dan pendekar-pendekar lainnya. Tegasnya, peristiw a Srimoyo-Songgeng Mintaraga, hanyalah suatu dalih belaka. Yang penting, inilah suatu kesempatan untuk bisa mengumpulkan para pendekar dari segala penjuru." jawab Lingga Wisnu. "Bila mereka sudah berada dalam genggamannya, adalah mudah sekali untuk menghancurkan laskar Lawu."

"Tadinya aku hanya hendak menolong paman Songgeng Mintaraga karena tertarik keluhuran budinya. Setelah itu, aku tak mau tahu menahu lagi persoalannya. Tak tahunya, terseliplah suatu latar belakang persoalan yang maha besar. Sekarang telah menjadi keputusanku. Jangan lagi akan bentrok dengan kakang Purbaya. Meskipun aku terpaksa berlawan-lawanan dengan pendekar-pendekar dari segenap tanah air, tak akan-aku mundur setapak. Untuk bangsa dan tanah air, aku bersedia mengorbankan jiw aku," kata Lingga Wisnu dengan penuh semangat.

Bukan main kagum Sekar Prabasini terhadap pemuda ini. Katanya membantu :

"Memang benar keputusanrnu. Andaikata kakak seperguruanmu itu mengadu kepada gurumu, aku percaya, gurumu akan memihak kepadamu. Apalagi gurumu adalah sahabat panglima Sengkan Turunan. Kakang Lingga, kalau begitu perkenankan aku minta maaf kepadamu."

"Kau salah apa kepadaku?"

"Karena aku selalu menggoda dan menyindirmu yang bukan-bukan." jawab Sekar Prabasini.

Lingga Wisnu tertaw a. Katanya mengalihkan pembicaraan :

"Sudahlah. Kau perlu istirahat kini. Biarlah aku memikirkan daya upaya seorang diri, bagaimana caraku menghadapi kawanan penghianat itu."

Kali ini Sekar Prabasin i tidak membantah. Ia menjadi jinak dan penurut. Segera ia memasuki kamarnya dan sebentar lagi tiada terdengar suaranya. Tatkala ia terbangun pada keesokan harinya, matahari sudah sepenggalah tingginya.

Ia melihat Lingga Wisnu duduk bersemedi di atas pembaringan. Wajah pemuda itu nampak cerah. Ia tak mau mengganggunya. Setelah membersihkan badan, ia menyediakan makan pagi dan minuman hangat.

Kira-kira pukul sembilan, Lingga Wisnu turun dari pembaringan. Ia gembira karena merasa dirinya memperoleh kemajuan. Jalan darahnya terasa lancar dan sempurna. Segera ia mandi, dan berganti pakaian. Melihat makan pagi telah tersedia diatas mejanya, hatinya bersyukur. Terasa suatu kemanisan meresap didalam perasaannya Tatkala tangannya hendak meraih gelas, tiba-tiba saja Sekar Prabasini muncul diambang pintu sambil tertaw a manis. Kata gadis itu :

"Kyahi, apakah sudah selesai bersembahyang?" "Sudah, nyai. Apakah nyai sudah segar kernbali?"

Lingga Wisnu membalas menggoda dengan tertaw a.

"Sudah, kyahi. Akupun sudah berganti pakaian pula," ujar Sekar Prabasin i. "Apakah aku benar-benar mirip seorang pemuda?”

"Seorang pemuda yang terlalu cakap," jawab Lingga Wisnu dengan wajah merah,

Sekar Prabasini diam-diam menyesali pertanyaannya sendiri. Wajahnya terasa panas. Akan tetapi hatinya senang Entah apa sebabnya.

Mereka berdua lantas bersantap berbareng tanpa berkata sepatah kata lagi. Masing masing seperti lagi berusaha menyembunyikan perasaan hatinya. Belum selesai mereka bersantap, datanglah seorang pelayan mengantarkan seorang gadis. Dialah Para Witri yang segera membungkuk hormat begitu melihat Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini.

Lingga Wisnu buru-buru membalas hormat. Sedang Sekar Prabasini lantas saja memegang tangannya dan diajaknya duduk berdamping. Rara Witri tak mengetahui bahwa pemuda yang mengajaknya duduk berdamping, sebenarnya seorang gadis seperti dirinya. Keruan saja ia malu dan segan bukan main. Akan tetapi tak berani ia membangkang, mengingat mereka berdualah nanti yang hendak menolong menyelamatkan jiwa ayahnya.

"Benarkah namamu Rara Witri?" Sekar Prabasini menegas.

"Benar," jaw ab Rara Witri dengan wajah berobah merah'. "Dan kakang sendiri?"

Sekar Prabasini membuang pandang sambil tertawa lebar. Katanya mengarah kepada Lingga Wisnu:

"Kau tanyalah padanya. Sudah beberapa hari ini dia sangat galak kepadaku. Aku dilarangnya memperkenalkan nama sendiri."

Rara Witri mengira Sekar Prabasin i sedang bergurau dengan kawannya. Maka tak berani ia mendesak.

Katanya mengalihkan pembicaraan

"Kakang berdua hendak menolong menyelamatkan jiw a ayahku. Bukan main besar budi ini untukku. Meskipun tubuhku hancur lebur, rasanya kurang termadai sebagai penebus."

"Ayahmu seorang pendekar yang luhur budi” sahut Lingga Wisnu. "Sudah seharusnya kami berdua berbuat sesuatu untuk ayahmu. Tak usahlah kau pikirkan sebagai suatu jasa yang berlebih-lebihan. Bukankah ayahmu sebentar sore hendak menyelenggarakan pesta perjamuan?"

"Benar. Akan tetapi pesan ayah, semuanya terserah kepada kakang berdua." jaw ab Para Witri.

"Begitukah pesan ayahmu? Kalau begitu sampaikan pesanku, agar ayahmu melanjutkan maksudnya untuk menyelenggarakan pesta perjamuan itu. Kami berdua mempunyai dua bungkus sebagai hadiah ... atau katakan sebagai barang sumbangan. Hendaklah dua bungkus ini dibukanya dihadapan para tetamu, manakala suasana sudah menjadi genting. Kurasa, akan bagus hasilnya. Karena kedua bungkus ini berisikan benda sangat berharga, maka-jagalah jangan sampai kena hadang orang!"

Para Witri menerima kedua bungkus perberian Lingga Wisnu dengan hormat. Heran, ia mengamat-amati bentuk dua bungkusan yang diterimanya itu. Yang pertama berbentuk panjang dari berat . Mirip sebatang senjata. Sedang yang kedua, kecil dan ringan. Tapi tak berani ia minta keterangan. Setelah menghaturkan rasa terima kasih, segera ia mengundurkan diri.

"Mari kita ikuti dia. Kita lindungi dia dengan diam- diam," ajak Lingga Wisnu. "Kita harus menjaganya agar tak terampas kembali oleh pemiliknya. "

Sekar Prabasini mengangguk. Dan demikianlah, setelah pintu dan jendela kamar tertutup kuat-kuat, mereka segera terangkat. Sanpai di ruang tengah, t iba- tiba mereka melihat Rara Witri masih berada di ruangan depan. Entah apa sebabnya, gadis itu tidak segera pulang. Maka cepat mereka berdua bersembunyi dibalik dinding lalu mengintai. Terdengar Para Witri berkata kepada pengurus penginapan

"Panggillah pemilik rumah penginapan. Majikanmu, maksudku. Katakan padanya, Umbul-umbul Kyahi Tambur turun dari celah kepundan Lawu. Dan dia pasti akan segera datang kemari" Heran Lingga Wisnu memandang Sekar Prabasini Katanya berbisik mengulangi :

"Dia berkata apa?"

Sekar Prabasini adalah seorang gadis yang mempunyai pengalaman luas dalam perantauan. Segera ia menyahut:

"Itulah kata-kata sandi. Masakan kau tak tahu?"

Pengurus rumah penginapan tadi bersikap angkuh. Ia- tidak begitu mengacuhkan terhadap seorang gadis seusia anaknya. Tapi begitu mendengar kata-kata gadis itu, berubahlah sikapnya. Gugup ia membungkuk hormat sambil mengiakan beruntun. Kemudian cepat-cepat melintasi pekarangan, dan memasuki sebuah rumah yang berada di seberang rumah penginapan. Tak usah menunggu lama, datanglah ia kembali mengantarkan majikannya menghadap Rara Witri.

"nDorojeng memanggil kami? Paduka hendak memberi titah apa kepada hambamu?"

"Aku Rara Witri, putri Songgeng Mintaraga," jawab Rara Witri. "Pergilah engkau ke markas besar laskar Lawu. Katakan kepada penjaga markas, bahwa aku memerlukan tenaga beberapa orang."

Berubah wajah pemilik rumah penginapan begitu mendengar gadis itu menyebutkan namanya. Sama sekali tak dikiranya bahwa gadis yang berada dihadapannya adalah putri Songgeng Mintaraga. Kaget ia, sampai hatinya tergetar. Segera ia membungkuk hormat dua kali. Kemudian memberi perint ah dua pelayannya agar menyediakan seekor kuda balap. Begitu kuda balapnya siap, ia melompat keatas punggung kuda dan membedalnya bagaikan terbang.

Heran dan kagum Lingga Wisnu menyaksikan peristiw a itu. Sama sekali tak diduganya, bahwa pengaruh Songgeng Mintaraga sangat besar. Pikirnya di dalam hati :

'Kalau begitu, tak perlu aku melindunginya lagi.'

Benar saja. Tak lama kemudian datanglah duapuluh laskar bersenjata lengkap. Mereka diantar oleh pemilik rumah penginapan menghadap Rara Witri. Dan melihat kedatangan mereka, maka Lingga Wisnu segera kembali

ke kamarnya. Katanya kepada Sekar Prabasini :

"Siapa mengira, begini besar pengaruh paman Songgeng Mintaraga. Kalau begitu, benarlah ucapan muridnya. Bila saja paman Songgeng Mintaraga mau, dengan sepatah katanya seluruh laskar Lawu siap dibelakangnya. Kalau sampai terjadi demikian, betapa Srimoyo mampu menuntut

balas dendam. Bahkan dia dan kawan-kawannyalah yang terancam kemusnaan."

"Lalu, apa yang hendak kau lakukan sekarang?" Sekar Prabasini minta ketegasan. "Tidur. Bukankah engkau semalam kurang tidur pula? Sebentar sore kita dapat hadir dalam keadaan segar bugar."

Benar-benar mereka memasuki kamarnya masing masing, sementara Rara Witri pulang dengan membaw a bungkusan pemberian Lingga Wisnu. Dua puluh orang anggauta Laskar Lawu mengaw alnya dengan rapat dan berw aspada. Menyaksikan hal itu baik Lingga Wisnu maupun Sekar Prabasini puas. Dengan hati lapang, mereka merebahkan diri diatas pembaringannya. Dan tak lama kemudian mereka tertidur lelap.

0o0-dw -0o0

Sore hari itu tiba dengan diam-diam. Sebelum mandi, Lingga Wisnu bersemadi dahulu diatas pembaringan. Jalan darahnya terasa lancar, pernapasannya lega dan untuk kesekian kalinya selalu saja ia merasa memperoleh kemajuan. Rasa segar bugar menyelimuti hatinya, sehingga ruang benaknya menjadi jernih. Terus saja ia melompat turun dari pembaringan. Dan tiba-tiba saja Sekar Prabasini telah berada didekatnya,

"Baru saja aku membelikan seperangkat pakaian untukmu." katanya.. "Bukankah kita perlu mengenakan pakaian agak mentereng sebagai tetamu undangan? Mungkin pula, kita berdua akan merupakan tetamu yang istimewa sebentar malam.”

Lingga Wisnu te rtawa. Meskipun ia tidak menghendaki menjadi tetamu yang istimewa namun pakaian itu sendiri tiada celanya untuk dikenakan. Demikianlah, setelah mandi benar-benar ia mengenakan pakaian yang disediakan Sekar Prabasin i. Pandai benar Sekar Prabasini mengukur bentuk dan perawakan tubuhnya, sehingga enak dikenakan. Ia jadi kagum dan terharu oleh kecermatannya.

"Kita makan dahulu. Kemudian berangkat." katanya. Sekar Prabasini tidak menolak. Dan seperti tadi pagi,

mereka berdua berbareng makan. Sebenarnya jenis makan siang itu, tidaklah mewah. Akan tetapi karena makan siang itu baru dimakannya setelah sehari tiba, mereka berdua jadi bernapsu oleh rasa lapar dan dahaga. Sebentar saja semua makanan dan minuman ikut tersapu bersih pula.

Tatkala mereka memasuki serambi rumah Songgeng Mintaraga, semua tetamu undangan sudah lengkap. Srimoyo, Taw on Kemit, Genggong Basuki Ayu Sarini,. Suramerto, Mangun Sentono dan lain-lainnya duduk dimeja pertama. Mereka mendapat perlayanan istimewa dari tuan rumah sendiri.

Kesan perjamuan jauh berlainan dengan pesta perjamuan yang diselenggarakan Srimoyo. Semuanya serba teratur dan sopan. Maklumlah; tuan rumah atau Songgeng Mintaraga adalah seorang pemimpin laskar. Persediaan makan minum serba lengkap. Dan anak buahnya biasa terlatih cekatan, sopan dan pandai bergaul. Maka suasananya terasa cerah serta meyakinkan. Tatkala lampu-larrpu mulai dinyalakan, serambi depan rumah itu berubah layak sebuah istana raja kecil.

"Saudara-saudara, silahkan minum!" kata Songgeng Mintaraga dengan hormat. Srimoyo berdiri mengangkat tempat minumnya. Tiba- tiba saja, ia membantingnya diatas lantai hingga hancur berantakan. Lalu berteriak dengan bengis :

"Songgeng Mintaraga! Enak saja kau memper-silahkan kami meneguk minumanmu. Apakau kau bermaksud menyuap kami ? Masakan harga jiwa kau samakan dengan segala minuman dan makanan in i? Disini telah berkumpul beberapa belas pendekar kenamaan. Bicaralah didepan mereka, bagaimana cara kita menyelesaikan masalah hutang jiw a ini. Bicaralah yang jelas! Jangan lagi perkara makan minum dan segala tetek-bengek!"

Itulah suatu serangan tiba-tiba yang tak terduga sama sekali. Meskipun Songgeng Mintaraga tahu, bahwa perjamuan itu akhirnya akan menjadi tegang, namun ucapan Srimoyo yang garang itu membuat mulutnya terbungkam.

Gagak Pengasih, murid Songgeng Mintaraga tak senang melihat gurunya terdorong kepojpk. Terus saja ia berdiri tegak dan berteriak mewakili gurunya :

"Saudara Srimoyo! Benar-benar engkau manusia yang tak mengenal tata-santun. Kita lagi makan minum. Sama sekali belum sampai pada acara kata-kata. Apa sebab engkau lantas saja membuka mulut begitu besar? Apakah pekertimu itu tidak akan merosotkan derajat kaum pendekar lainnya? Lagipula, dengarkanlah baik- baik bagaimana peristiwa kakakmu terjadi. Kakakmu mati karena perbuatannya yang keji. Dengan licik ia hendak mengadakan pembunuhan, semata-mata tergiur paras cantik belaka. Guruku ..." Sekonyong-konyong terasa ada segumpal angin menyambar. Cepat-cepat Gagak Pengasih menundukkan kepalanya. Ia melihat sesuatu yang berkerepan diatas pandang matanya. Tatkala menoleh, di lihatnya tiga batang paku berbulu tertancap pada dinding dalam. Ia kaget dan gusar. Lingga Wisnu pun demikian pula. Sebab segera ia mengenal siapakah pembidiknya. Itulah paku Cundamanik, senjata bidik kaum Sekar Teratai. Siapa lagi kalau bukan milik Ayu Sarin i, Nawawi atau Genggong Basuki.

"Bagus benar!" teriak Gagak Pengasih sambil menghunus goloknnya. "Wajahmu memang cantik. Kabarnya kau kaum Sekar Teratai. Kenapa begini keji? Kau pulalah yang menguntungi lengan kanan adikku- seperguruan. Benar-benar perempuan bangsat!"

Dengan menghunus goleknya, Gagak Pengasih hendak melompat maju menghampiri Ayu Sarini. Tapi Songgeng Mintaraga buru-buru mencegahnya Katanya mengalah :

"Jangan! Aku tak mengidzinkan kau berbuat begitu!" Setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Ayu Sarini. Berkata lagi dengan suara hormat:

"Neng, kau murid aliran Sekar Teratai. Kenapa perangaimu tiada beda dengan muridku?"

Halus ucapan Songgeng Mintaraga, akan tetapi tajamnya tiada beda dengan suatu tikaman pedang. Keruan saja Srimoyo tidak rela membiarkan tetamu undangannya kena hina. Tiba-tiba saja ia menyerang dengan sambitan dua batang pisau, sambil memaki :

"Bangsat! Enak saja kau mengumbar mulut!" Songgeng Mintaraga sama sekali, tak gugup kena serangan tiba-tiba. Dengan tenang, ia menyambut dua batang pisau itu dengan jepitan dua jarinya. Kemudian meletakkan kedua pisau itu diatas meja dengan sabar sekali. Katanya:

"Kenapa saudara Srimoyo sangat marah kepadaku? Kista masih cukup mempunyai waktu untuk berbicara sambil makan minum. Perbuatan yang tergesa-gesa seringkali tak ada faedahnya.."

Srimoyo kaget menyaksikan kepandaian Songgeng Mintaraga. Pikirnya, pantaslah kakang Kuncaraningrat mati ditangannya. Akan tetapi ia tak gentar. Selagi henti- membuka mulut, Taw on Kemit yang berada dekat Songgeng Mintaraga melompat. Pendekar itu menyambar lengan kanan Songgeng Mintaraga. Teriaknya :

"Saudara Mintaraga! Kau hebat! Ingin aku menjabat tanganmu ..."

Songgeng Mintaraga yang berpengalaman, dapat menebak maksud lawan. Apabila membiarkan lenganya kena sambar, tulang sendinya akan patah. Maka cepat luar biasa ia mengelak sambil melompat mundur. Itulah gerakan yang sama sekali tak terduga. Maksud Taw on Kemit hendak menjangkau. Tapi yang kena tersambar tangannya ada lah sebuah kursi. Kena gempuran tenaga saktinya, kursi itu patah berantakan.

Mau tak mau Songgeng Mintaraga sibuk juga menyaksikan tetamunya begitu galak. Kawan-kaw an Srimoyo dengan serentak mencabut senjatanya masing- masing. Murid-muridnya dan beberapa sahabatnya demikian pula. Ia khawatir pertempuran akan segera terjadi, sedangkan pendekar Bondan Sejiw an yang diharapkan belum tiba. Ia percaya, pendekar luar biasa itu pasti dapat melerai perselisihan itu. Dengan demikian, tidak akan terjadi korban sia-sia. Oleh pikiran itu, ia mengerlingkan mata kepada Rara Witri dengan pandang penuh pertanyaan.

Rara Witri mengerti maksud ayahnya. Ia jadi sibuk pula. Dua bungkusan yang diperolehnya dari Lingga Wisnu dipeluknya dengan erat-erat. Diluar kehendaknya sendiri, ia mengharapkan terjadinya suatu keajaiban yang membersit dari dua bungkusan itu. Keajaiban apa, ia tak tahu sendiri. Tadi pagi Lingga Wisnu berpesan kepadanya, bahwa dua bungkusan itu baru boleh dibukanya, apabila suasana berubah menjadi tegang. Hal itu telah dikatakan pula kepada ayahnya. Karena itu, sikapnya kini hanya menunggu perint ah ayahnya. Tiba- tiba pada saat itu ia melihat ayahnya memberi isyarat mata. Terus saja ia bangkit sambil membuka dua bungkusan pemberian Lingga Wisnu. Ternyata bungkusan itu adalah yang pertama berisikan dua batang pedang. Dan segera ia meletakkan dua batang pedang itu diatas meja.

Songgeng Mintaraga heran melihat dua batang pedang itu. Tak dapat ia menangkap maksud Bondan Sejiw an. Pikirannya jadi sibuk menebak-nebak. Sebaliknya, dipihak Srimoyo terjadi suatu kesibukan. Taw on Kemit dan Ayu Sarini yang segera mengenal pedangnya masing-masing malu bukan kepalang. Mereka sampai berseru tertahan.

Ayu Sarini adalah seorang pendekar wanita yang mudah sekali tersinggung. Terus saja ia menyambar pedangnya. Kemudian menantang : "Kalau engkau memang seorang pendekar, marilah kita bertempur mengadu kepandaian dengan berhadap- hadapan. Bukan mencuri seperti bangsat kesiangan. Hayo, siapa yang berani mengadu pedang denganku?"

Songgeng Mintaraga tergugu. Benar-benar ia tak mengerti liku-likunya. Dengan pandang minta keterangan, ia menatap wajah puterinya. Sebaliknya Ayu Sarini tidak mau mengerti. Sekali bergerak, pedangnya menusuk dada.

Mintaraga mundur selangkah sambil menjeblak. Setelah seorang muridnya datang mengantarkan sebatang golek. Ia menerima goleknya itu, akan tetapi sama sekali tak membalas. Dan diperlakukan demikian, Ayu Sarini merasa dirinya direndahkan. Terus saja ia menusuk pundak kiri.

Songgeng Mintaraga mengeluh. Mau tak mau ia harus menangkis. Dengan suatu tabasan pendek, tiba-tiba goleknya berbelok dan menyapu dari samping diluar kehendaknya sendiri. Itulah ancaman bahaya bagi Ayu Sarini. Kalau dia berani menangkis, pedangnya pasti tergempur runtuh.. Alangkah ia akan malu. Tetapi ia salah seorang murid pendekar Purbaya. Cepat luar biasa, ia mengendakan diri. Dan pada detik itu pula, pedangnya menikam perut mengadakan pembalasan.

Songgeng Mintaraga terkejut. Inilah serangan balasan yang hebat. Walaupun ia sudah kenyang makan garam, namun serangan itu sendiri diluar perhitungannya. Tak sempat lagi ia mengadakan pembelaan. Satu-satunya jalan hanya melompat. Maka dengan mengerahkan tenaga, kakinya menjejak lantai.. Tubuhnya lantas terbang tinggi melintasi kepala Ayu Sarini. Ia berhasil menyelamatkan perutnya. Sekalipun demikian, celananya kena terebek juga. Untung hanya sebesar ujung pedang..

"Benar-benar berbahaya ..." pikirnya didalam hati. Ia menabaskan goloknya beberapa kali untuk berjaga-jaga. Siapa tahu, Ayu Sarini menyusuli serangan baru. kemudian turun di atas lantai dengan memutar tubuhnya. Indah dan ringan gerakkannya.

Sebenarnya, tepat dugaan Songgeng Mintaraga. Ayu Sarini benar-benar menyusuli serangan baru. Kemudian ia kena pegat dua orang murid Songgeng Mintaraga. Terus saja pendekar wanita itu gusar bukan kepalang. Dengan bengis ia menikam, menusuk dan membabat. Akan tetapi dua murid Songgeng Mintaraga bukan makanan empuk baginya. Apalagi mereka berdua dendam terhadapnya, karena Pramana terkutung lengannya akibat pedangnya. Walaupun ilmu kepandaian mereka kalah tinggi, akan tetapi betapapun tak mudah diundurkan.

Pada saat itu, sempat Songgeng Mintaraga memperhatikan Rara Witri. Gadis itu sedang membuka bungkusan yang kedua. Ia heran tatkala melihat dua helai kelompok kertas.

"Ayah, apakah ini?"

Melihat kertas itu, Songgeng Mintaraga girang bukan kepalang. Itulah warna kertas yang dikenalnya seperti warna tangannya sendiri. Terus saja ia menyambar kertas itu. Kemudian berteriak-teriak :

"Tahan. Tahan! Aku hendak berbicara dahulu ..."

Mendengar teriakan gurunya, kedua muridnya yang sedang mengkerubut Ayu Sarini menunda gerakan senjatanya. Mereka mundur dengan berbareng. Sebaliknya, Ayu Sarini yang penasaran tidak menghiraukan seruan penundaan. Melihat dua pengeroyoknya mundur, segera ia melayangkan kakinya. Duk! Salah seorang murid Songgeng Mintaraga kena dupak. Dan murid itu terjungkal dengan melontakkan darah.

"Bangsat! Pe rempuan tak punya malu!" maki rekannya.

Ayu Sarini tidak menggubris. Hatinya terlalu mendongkol, mengingat pedangnya kena terampas lawan semalam. Itukah suatu penghinaan besar baginya. Rasa penasaran dan mendongkolnya dialamatkan kepada Songgeng Mintaraga. Selagi memperoleh kesempatan, gerakan pedangnya kena dirintangi mereka berdua. Keruan saja ia menjadi jengkel. Mereka berdua harus mendapat hajaran yang setimpal. Demikianlah ia berhasil mendupak salah seorang diantara mereka, sewaktu bergerak mundur oleh seruan gurunya.

Songgeng Mintaraga tahu, perlakuan Ayu Sarini terhadap muridnya adalah keterlaluan. Tetapi sedapat mungkin ia menguasai diri. Dialihkan pandangnya kepada rombongan Srimoyo. Berseru :

"Saudara-saudara, tolong! Dengarkan permohonanku ini."

Pada waktu itu suasana tegang sekali. Kedua belah pihak seakan-akan tidak sudi lagi lagi suara ketiga. Karena itu. Songgeng Mintaraga harus mengulangi seruannya beberapa kali. Baru, setelah ia menggunakan himpunan tenaga saktinya, suasana dapat di tindihnya. Dan berkatalah ia lagi : "Saudara Srimoyo! Dengan ini perkenankan diriku menyatakan rasa sesalku karena dahulu aku membunuh kakakmu. Percayalah, aku benar-benar menyesal. Nah, saudara-saudara sekalian dan sahabat-sahabatku dari segenap penjuru, kuakui bahwa pendekar Kuncaraningrat kakak saudara Srimoyo benar-benar mati oleh tanganku ini ...”

Mendengar perkataan Songgeng Mintaraga, maka suasana pesta perjamuan menjadi sunyi senyap dan tiba- tiba Srimoyo meledak,

"Bagus! Jadi engkau telah mengakui.. Karena engkau berhutang jiw a, maka wajiblah engkau membayarnya dengan jiw a pula!"

"Benar! Benar! Hutang jiw a harus dibayar dengan jiw a!" seru beberapa teman-temannya. Dan makin lama makin riuh sehingga suasana pesta perjamuan kembali jadi berisik.

"Sahabat-sahabatku, sabarlah barang sebentar!" Songgeng Mintaraga mencoba mengatasi.. Kemudian sambil memperlihatkan dua helai surat yang sudah kekuning-kuningan, ia berseru nyaring :

"Lihatlah! Aku membaw a dua helai kertas yang sudah tua. Inilah surat kesaksian. Sudikah diantara sahabat- sahabat membaca surat kesaksian in i? Setelah itu, adililah diriku! Bila aku diharuskan tetap membayar jiw a, segera aku akan bunuh diri. Percayalah, meskipun aku bukan seorang pendekar, tidak akan kusesali perbuatan bunuh diri in i sampai diakhirat."

Keterangan Songgeng Mintaraga tentang dua helai surat itu membuat mereka heran dan ingin tahu. Surat apa itu? Masing-masing lantas memberi tafsiran dan dugaan. Dan untuk kesekian kalinya suasana pesta perjamuan menjadi berisik.

"Bagaimana kalau aku saja yang menunjuk?" Songgeng Mintaraga minta pertimbangan. "Atau biarlah saudara Srimoyo menunjuk tiga orang untuk membaca surat ini."

Srimoyo tidak tahu menahu tentang surat kesaksian itu. Apakah tuan rumah hendak mengulur waktu? Meskipun denikian dan betapapun juga, t idak akan luput dari tangannya. Biarlah ia memberi kesempatan untuk menunda kenatiannya. Maka berkatalah ia dengan lega hati :

"Baiklah. Sekarang atau nanti, engkau harus membayar jiwamu juga. Aku akan memenuhi permint aan terakhirmu. Kakang Genggong Basuki, kakang Sastra Demung dan saudara Kayat Pece! Sudikah saudara bertiga mengabulkan permohonannya? Coba, bacalah bunyi surat itu dengan berbareng. Kami semua ingin mendengarnya."

Selagi Genggong Basuki bertiga-bangkit dari kursinya, Suramerta dan Mangun Sentana saling berbisik dengan wajah pucat-lesi. Mereka berdua segera mengenal surat kesaksian Songgeng Mintaraga yang semalam kena rampas orang. Mereka lantas saja merasa diri terjepit dipojok. Tak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan, mirip persakitan menunggu keputusan hakim.

Sastra Demung yang mula-mula membaca, lalu berkata kepada Srimoyo: "Menurut pendapatku, lebih baik kita sudahi saja permusuhan ini. Kamu berdua mulai saat in i justru harus bersahabat."

Sastra Demang adalah utusan pihak Ugrasawa. Ilma kepandaiannya sudah mencapai tataran kesempurnaan. Usianya hampir sebaya dengan Songgeng Mintaraga. Kecuali rohaniahnya sudah matang, kepandaiannya disegani orang. Itulah sebabnya, mereka sonua tercengang mendengar ucapannya. Beberapa orang yang duduk dikursi setengah bangkit, sibuk menduga-duga.. Sebenarnya surat kesaksian apakah yang membuat Sastra Demung tiba-tiba berubah pendiriannya?

Srimoyo heran berbareng penasaran. Ia sendiri lantas maju untuk membaca dua lembar surat itu. Membaca bunyi surat pengakuan kakaknya, ia masih bersangi. Sebab dia mungkin bisa dipaksa. Akan tetapi begitu membaca surat kesaksian Pangeran Adiningrat, hatinya terpukul. Perasaan malu, kecewa dan bingung berkecamuk dalam dadanya. Ia jadi tertegun dengan resah.

Tiba-tiba Genggong Basuki yang ikut membaca dari belakang punggung Sastra Demung berteriak :

"Palsu! Siapapun dapat membuat surat semacam ini. Saudara-saudara, jangan sampai kena di kelabui manusia terkutuk ini! Dan setelah berkata demikian, tiba-tiba ia menyambar dua helai surat kesaksian itu dan dirobeknya berkeping-keping.

Bukan kepalang terkejutnya Songgeng Mintaraga melihat kedua surat kesaksiannya kena terobek tangan Genggong Basuki. Pada saat itu gelaplah pandang matanya. Maklumlah, kedua surat kesaksian itu merupakan senjata satu-satunya untuk mengatasi f itnah. Dengan terobeknya surat kesaksian itu, tiada lagi ia mempunyai pegangan. Serentak ia menekam hulu goloknya erat-erat dan berteriak bengis :

"Genggong Basuki! Kau datang kemari membawa nama rumah perguruanmu. Kenapa kau merobek surat seseorang yang bukan milikmu sendiri? Benar benar kau manusia tak beradab."

“Tak beradab?" Genggong Basuki tertaw a terkekeh- kekeh. "Sebenarnya aku atau engkau yang pantas disebut manusia tak beradab? Terang-terangan, kau telah membunuh kakak rekan Srimoyo. Lalu kau mengada-ada dengan membuat surat kesaksian palsu. Coba bilang, apakah kau tidak malu pada diri sendiri? Surat kesaksian semacam ini, siapapun dapat membuat. Andaikata aku mengeram satu hari saja didalam kamar, aku bisa membuat puluhan lembar yang sama rupa dan sama bentuknya. Apakah kau kira, aku tak dapat meniru bentuk huruf-hurufnya?"

Tatkala membaca surat kesaksian, baik Sastra Demung maupun Kaya Pece tersadar bahwa Srimoyolah yang terburu napsu dalam masalah balas dendam itu. Akan tetapi setelah mendengar ucapan Genggong Basuki yang masuk akal, mereka jadi berbimbang-bimbang. Apakah dua helai surat kesaksian itu benar-benar asli atau palsu? Adalah sulit sekali untuk membuktikannya palsu dan tidaknya. Maka mereka berdua mendadak terbungkam mulutnya, sehingga tertegun-tegun kehilangan pegangan.

Seketika itu juga, suasana serambi depan rumah Songgeng Mintaraga sunyi senyap. Rasa tegang menggerayangi perasaan setiap orang. Dan Rara Witri yang mengharapkan terjadinya suatu keajaiban, menjadi putus asa. Ia tahu, dalam kekalahannya, ayahnya akan nekat atau melakukan bunuh diri.

"Ayahi" jeritnya putus asa.

Gagak Pengasih semenjak tadi menahan diri. Sekarang menyaksikan gurunya dihina demikian rupa, meluaplah darahnya. Terus saja ia menabaskan goloknya kepada Genggong Basuki. Hebat dan dahsyat serangannya. Tetapi Genggong Basuki pun bukan sembarang pendekar pula. Tiba-tiba saja tangan dan pedangnya berkelebat. Tahu-tahu golok Gagak Pengasih terlempar dan jatuh bergemelontangan di atas lantai. Dan ujung pedang Genggong Basuki mengancam tenggorokannya.

"Hm, kau ingin menccba-coba ilmu pedang Sekar Teratai. Jangan bermimpi!" bentak Genggong Basuki. "Sekarang bertekuk lututlah. Kalau tidak, terpaksa Kau harus membayar lelucon ini dengan jiwamuI"

Menyaksikan Gagak Pengasih terancam jiw anya, rekan-rekannya tentu saja tidak berpeluk tangan saja. Dengan serentak, mereka menghunus senjatanya masing-masing. Kemudian menyerbu berbareng.

Serbuan murid-murid Songgeng Mintaraga itu seolah- olah aba-aba bagi pihak Srimoyo. Mereka pun dengan serentak menyongsong gegap gempita. Dan pertempuran kacau segera terjadi. Kursi dan meja pesta perjamuan hancur berserakan. Piring dan gelas terpental berhamburan, sehingga terdengar berisik sekali.

Gagak Pengasih terus mundur sampai beberapa langkah. Ia mencoba membebaskan diri. Akan tetapi ujung pedang Genggong Basuki terus menempel tenggorokan seakan-akan tak sudi terenggang serambutpun.

"Eh! Kau jangan bermimpi yang bukan bukartl" ejek Genggong Basuki. "Kuhitung sampai tiga. Kalau kau masih membandel, tenggorokanmu bakal tertikam."

"Kau tikamlah aku!" teriak Gagak Pengasih. "Kau kira murid Songgeng Mintaraga takut mati? Manusia boleh mati, tapi tak boleh kau hina. Hayo, bunuhlah aku!"

Panas hati Genggong Basuki. Iapun tak sudi kalah gertak. Tapi selagi hendak menusukkan pedangnya, ia melihat Songgeng Mintaraga melompat ditengah-tengah gelanggang sambil berteriak:

"Semua mundur! Biarlah aku yang bertanggung jawab!"

Setelah berkata demikian, ia mengancamkan goloknya ke lehernya sendiri. Berseru kepada murid-muridnya :

"Kalian mundurlah! Aku t idak menghendaki kalian ikut serta mengorbankan jiw a. Masalah balas dendam ini adalah masalahku sendiri. Karena aku berhutang jiw a, biarlah aku sendiri yang membayarnya. Nah, mundurlah!”

Sekalian muridnya patuh padanya. Walaupun hatinya pedih, namun mereka mundur juga. Seketika itu juga, ruang serambi depan menjadi sunyi tegang. Mereka tahu, gurunya sudah mengambil keputusan karena sudah merasa terdorong kepojok.

Memang, Songgeng Mintaraga sudah putus asa. Tadinya ia mengharapkan dapat mengatasi ketegangan setelah memperlihatkan dua helai surat kesaksiannya. Ternyata harapannya gagal, karena Genggong Basuki merobek-robeknya hingga hancur berkeping-keping. Ia masih bisa mengendalikan diri. Siapa tahu, pendekar Bondan Sejiw an akan muncul oleh peristiw a. Sebab, bukankah dua helai surat kesaksian itu dialah yang mengembalikan? Dengan terobeknya surat kesaksian itu; pastilah dia tersinggung kehormatannya. Ia tahu Bondan Sejiw an aneh w ataknya. Setiap patah katanya harus didengar siapapun. Siapa yang berani mencoba-coba membangkang, pasti terenggut jiw anya. Tapi nyatanya, sampai pertempuran kacau itu terjadi, pendekar luar biasa dan aneh itu tidak muncul juga. Karena itu demi membatasi terjadinya korban yang sia- sia, ia memutuskan untuk mengakhiri persoalan. Tiba- tiba selagi ia hendak menggorok lehernya sendir^ terdengarlah suara Rara Witri :

"Ayah! Bukankah ayah menyimpan surat itu? perlihatkan kepada mereka! Dia pasti datang!"

Untuk membuat lega puterinya, Songgeng Mintaraga merogo sakunya dengan kepala kosong.. Ia mengeluarkan sehelai kertas berisikan yang berisikan sebuah lukisan sebatang pedang aneh. Itulah surat Lingga Wisnu. Kemudian diperlihatkan kepada hadirin. Didalam hatinya, sama sekali ia tak mengharapkan sesuatu. Hal itu dilakukan semata-mata untuk membuat puterinya senang dan berlega. Lalu berseru nyaring :

"Tuanku Bondan Sejiw an! Kau datang terlambat! Tapi sama sekali aku tidak menyesalimu. Semuanya ini harus terjadi, karena nasibku yang buruk!" Tentu saja hadirin tidak mengerti apa hubungannya lukisan pedang aneh itu dengan disebutnya nama pendekar Bondan Sejiw an. Mereka hanya tercengang sejenak. Dan selint asan mencoba menebak-nebak apa maksud pendekar tua itu.Tiba-tiba mereka terkejut oleh suatu perubahan yang membuat hatinya tergetar. Golok yang hampir saja menabas leher, sekonyong-konyong terpental dan runtuk bergenrontangan. Dan pada saat itu, berdirilah seorang pemuda cakap disamping Songgeng Mintaraga. dialah Lingga Wisnu yang tak lama kemudian disusul Sekar Prabasini yang mengenakan pakaian laki- laki.

Sebenarnya Lingga Wisnupun mengharap akan terjadi, suatu perubahan, setelah pihak Srimoyo melihat dua helai surat kesaksian. Lalu, persengketaan itu akan dapat diatasi. Dengan demikian, tak usah ia muncul. Diluar dugaan, Genggong Basuki yang justru mengacaukan harapannya. Genggong Basuki anggauta alirannya sendiri. Ia mendongkol. Dan mau tak mau terpaksa muncul juga, karena melihat Songgeng Mintaraga benar- benar hendak melakukan bunuh diri. Tepat t atkala golok hampir menyentuh tenggorokan, ia menyentil Cunduk Trisula, senjata bidik warisan Bondan Sejiw an. Kemudian melesat ketengah gelanggang setelah memberi isyarat mata kepada Sekar Prabasini.

Selagi hadirin tercengang-cengang oleh kehadirannya, ia berkata sambil menunjuk Sekar Prabasini :

"Tuanku Bondan Sejiw an berhalangan datang. Kami berdualah yang diutus menghadiri pertemuan ini. Dialah putera tuanku Bondan Sejiw an. Dan aku saudara mudanya.” Sengaja ia tak memperkenalkan diri sebagai murid Bondan Sejiw an, karena banyak diantara pihak Srimoyo berumur sebaya dengan ayahnya sendiri. Dengan begitu dapatlah ia berbicara sama tinggi dengan mereka, apabila menyebut diri sebagai adik Bondan Sejiw an. Bukankah Bondan Sejiw an seangkatan dengan guru-guru mereka? Bahkan menurut tutur-kata Songgeng Mintaraga, Bondan Sejiw an dapat berbioatra bebas dengan Prangwedemi, ketua aliran Parwati.

Beberapa orang baik diantara pihak Srimoyo maupun Scnggeng Mintaraga, pernah mendengar sepak-terjang Bondan Sejiw an yang aneh dan luar biasa. Tetapi merekapun pernah mendengar kabar, bahwa pendekar itu akhirnya kena aniaya. Dan mati dengan penasaran. Sekarang tiba-tiba ia muncul dalam percaturan hidup lagi dengan mengirimkan kedua wakilnya. Apakah berita kematiannya tidak benar?

Rara Witri menghampiri ayahnya. Berkata secara berbisik :

"Ayah, dialah yang datang menemuiku."

Songgeng Mintaraga tertegun-tegun. Melihat usia Lingga Wisnu, ia jadi berbimbang bimbang. Ia kecewa dan geli. Dapatkah ia mempertaruhkan kepercayaannya kepadanya? Apakah yang dapat di lakukan oleh seorang bocah dalam menghadapi masalah yang pelik ini?

Ayu Sarini yang berdarah panas, lantas saja membentak i

"Hai! Siapakah kau Siapa yang menyuruh kau kemari?" Sakit hati Lingga Wisnu kena tegur Ayu Sarini, karena pendekar wanita itu justru salah seorang anggauta rumah perguruannya. Di dalam hati ia berkata :

'Meskipun usiamu lebih tua dari padaku, namun kau harus menyebut diriku paman. Bukankah kau murid kakang Purbaya? Baik, tunggulah sebentar. Apabila aku sudah memperkenalkan diri, apakah kau masih bersikap kurangajar terhadapku ...’

Kemudian berkatalah dia dengan tenang :

"Aku bernama Lingga. Kakang Bondan sejiw an lah yang memberi perint ah padaku, agar aku datang kemari. Sayang, karena terhenti oleh suatu soal di tengah jalan, aku datang agak terlambat. Saudara Songgeng Mintaraga, maafkan kelambatanku ini."

Ayu Sarini baru berumur sekitar dua puluh lima tahun. Karena itu; belum mengenal siapakah pendekar Bondan Sejiw an. Iapun bertabiat tinggi hati dan bengis sepak terjangnya. Maka kembali lagi ia membentak :

"Bondan Sejiw an siapa? Didepan para pendekar janganlah kau bergurau. Enyahlah, sebelum aku bertindak. Apakah kau.kira aku bisa kau gertak dengan nama putera Majapahit segala?"

Bondan Sejiw an memang sebuah nama yang terkenal diantara tutur-kata rakyat sebagai putera Majapahit. Dia seorang ksatria yang tersisihkan dan berperangai aneh luar biasa. Dan rupanya ayah Sekar Prabasini sengaja memilih nama itu untuk menyebut diri sendiri seolah- olah hendak menyatakan kepada setiap orang, bahwa dirinyapun tersisihkan oleh masyarakat seperti Bondan Sejiw an dizaman Majapahit. Lingga Wisnu masih dapat menyabarkan diri terhadap ketajaman lidah Ayu Sarin i, meskipun hatinya kian mendongkol. Sebaliknya Sekar Prabasini merasa tersinggung kehormatannya, karena Bondan Sejiw an adalah ayah-kandungnya. Dasar ia bertabiat panas pula, maka tanpa memikirkan akibatnya ia membalas mengejek :

"Kau sendiri menyematkan nama Ayu Sarini. Apakah kau benar-benar ayu? Huh”

Dan tiap wanita akan terbakar hatinya, begitu mendengar ejekan demikian. Begitu pulalah hati Ayu Sarini. Betapa tidak? Karena soal kecantikan mengambil tempat sebagian besar dalam lubuk hati setiap wanita. Itulah modal kehormatan yang pokok. Modal naluri hati seorang wanita. Maka seketika itu juga, mendidihlah darah pendekar wanita itu. Seperti iblis ia melompat sambil menusukkan pedangnya dengan tipu muslihat jurus ciptaan Kyahi Sambang Dalan yang dahsyat dan berbahaya luar biasa.

Sebagai murid Kyahi Sambang Dalan, sudah barang tentu Lingga Wisnu kenal jurus itu. Dahulu, gurunya selalu mengesankan bahwa jurus itu tidak boleh dipergunakan dengan sembarangan saja. Kecuali apabila sangat terpaksa. Sebab jurus itu mengancam maut. Dan susah sekali dielakkan. Sekarang, hanya soal selisih kata- kata saja, Ayu Sarini sudah menggunakannya. Lingga Wisnu tak tahu, bahwa menyinggung soal kecantikan adalah tabu bagi setiap wanita. Wanita yang kena hina demikian, bersedia mati dan bila berontak akan mempertaruhkan segenap jiw anya. Karena itu, betapa Sekar Prabasin i dapat mengelakkan jurus yang luar biasa tersebut. Meskipun andaikata dengan tiba-tiba kepandaiannya naik sepuluh kali lipat, masih belum tentu dapat mengelak tanpa menderita luka.

"Akh, benar-benar jahat perenpuan ini," pikir Lingga Wisnu didalam hati. Kenapa menyerang seseorang yang bukan musuhnya dengan jurus itu? Dan kali ini Lingga Wisnu tak dapat lagi bersabar diri

“Kau terlalu,” katanya. Terus saja ia mengangkat kakinya dengan ilmu warisan Bondan Sejiw an. Dan t iba- tiba saja ujung pedang Ayu Sarini sudah kena diinjaknya.

Semua hadirin heran dan tercengang menyaksikan kegesitan pemuda itu. Dengan jurus apakah dia berhasil menindih serangan Ayu Sarini yang berbahaya itu? Songgeng Mintaraga pun kagum bukan main. Dia sendiri tidak sanggup berbuat demikian.

Tentu saja yang paling terkejut dan penasaran adalah Ayu Sarini sendiri. Dengan jurus itu entah sudah berapa kali ia membunuh musuhnya. Selama itu, belum pernah ia gagal, meskipun kepandaian musuhnya berada diatasnya, Tapi kali in i kenapa tiba-tiba macet? Kenapa dengan sekali gerak saja Lingga Wisnu dapat menginjak- ujung pedangnya? Dengan mengerahkan tenaga, ia mencoba menarik pedangnya. Akan tetapi usahanya sia- sia belaka. Pada saat itu, tangan kiri Lingga Wisnu justru menyambar mukanya. Tak dapat ia menghindar dengan membuang mukanya saja, karena lengan Lingga Wisnu dapat menjangkaunya dengan leluasa. Maka terpaksalah ia melepaskan pedangnya dengan melompat mundur. Dengan demikian, dua kali sudah pedangnya kena rampas lawan!

Lingga Wisnu benar-benar mendongkol. Ia sambar pedang itu. Dan dengan kedua tangannya, mematahkan menjadi beberapa bagian. Kemudian dilemparkan kelantai bergemelontangan. Setelah itu ia menyapu hadirin dengan pandang matanya yang berkilat-kilat.

Genggong Basuki dan Naw aw i adalah dua kakak seperguruan Ayu Sarini. Dengan mata kepalanya sendiri, mereka menyaksikan betapa adik seperguruannya itu kalah dalam segebrakan saja. Keruan saja mereka marah, karena pamor rumah perguruannya terbaw a runtuh oleh kekalahan itu. Seketika itu juga Nawaw i hendak melompat ke gelanggang. Akan tetapi Genggong Basuki yang berpengalaman mencegahnya. Bisiknya :

"Tunggu. Semenjak tadi, dia belum berbicara. Biarlah dia menerangkan maksud kedatangannya. Setelah itu kita bertindak."

Benar dugaan Genggong Basuki. Lingga Wisnu lantas membuka mulutnya. Kata pemuda itu ;

"Kakak pendekar Srimoyo dahulu, adalah seorang ksatrya yang tercela tabiat dan perangainya. Karena itu, terpaksalah Songgeng Mintaraga membunuhnya. Hal itu demi menjaga martabat dan kehormatan golongan ksatrya lainnya. Peristiw a itu, diketahui dengan jelas sekali o leh kakakku seperguruan Bondan Sejiwan. Kecuali itu Pangeran Adiningrat dan Sondong Ucek-ucek menulis surat kesaksiannya pula. Kemudian kakang Bondan Sejiw an membaw a rekan Songgeng Mintaraga menghadap pendekar Prangwedemi, ketua aliran Parwati untuk menjelaskan persoalannya yang benar. Dan semenjak itu, persoalan atau persengkataan itu disudahi. Dua helai surat itulah, merupakan surat kesaksiannya. Bukan surat palsu seperti yang dituduhkan tuan Genggong Basuki. Bukankah yang merobek-robek kedua helai surat itu bernama Genggong Basuki?" demikian kata Lingga Wisnu sambil menuding kearah Genggong Basuki.

Puas dan tergetar hati Songgeng Mintaraga mendengar kata-kata Lingga Wisnu. Sekarang ia percaya, bahwa pemuda itu benar-benar utusan pendekar Bondan Sejiw an. Kalau bukan utusannya, betapa mungkin mengetahui peristiw a persengkataan itu dengan jelas? Tanpa merasa, ia menekap pergelangan tangan Rara Witri erat-erat.

Genggong Basuki tertaw a melalui dadanya. Dengan suara menggertak, ia berkata :

"Aku berkata: itulah surat kesaksian palsu. Dan sekali aku berkata demikian, akan tetap berlaku sepanjang zaman. Itulah hasil tipu daya Songgeng Mintaraga yang lic ik untuk mengelabui kita semua. Apakah keberatannya apabila aku robek-robek berhamburan?"

Lingga Wisnu menatap keponakan muridnya itu.

Menyahut dengan tersenyum :

"T atkala kami berdua hendak berangkat ke mari, kakang Bondan Sejiw an telah membaca surat itu dihadapan kami berdua. Tadi, saudara Sastra Demung dan Kaya telah manbacanya. Aku kira mereka berdua masih ingat bunyi surat kesaksian itu. Nah, biarlah putra kakang Bondan Sejiwan ini, membacanya di luar kepala."

Setelah berkata demikian, Lingga Wisnu membungkuk hormat kepada Sastra Demung dan Kayat Pece. Dengan maksud mengangkat mereka berdua sebagai saksi. Kemudian berkata kepada pendekar Srimoyo : "Saudara Srimoyo, maafkan kami. Terpaksa aku membuka rahasia almarhum kakakmu, di depan umum."

"Kakakku adalah seorang pendekar berhati bersih. Rahasia apakah yang hendak kau beberkan didepan kami? Silahkan!" sahut Srimoyo dengan membusungkan dadanya.

Lingga Wisnu bersenyum. Ia menoleh kepada pendekar Sastra Demung dan Kayat Pece untuk minta idzin. Kata mereka berdua hampir berbareng :

"Silahkan. Barangkali otak kami tidak terlalu tumpul., sehingga gampang sekali lupa mengingat-ingat bunyi surat kesaksian itu."

Lingga Wisnu menyatakan terima kasih. Kemudian berpaling kepada Sekar Prabasini. Kemarin malam, teringatlah dia betapa gadis itu berkali-kali membaca bunyi surat kesaksian. Mengingat otak Sekar Prabasini tajam luar biasa, pastilah dia hafal akan bunyi kata- katanya di luar kepala. Ia bersyukur dan mantap setelah melihat wajah Sekar Prabasini yang membalas pandangnya dengan yakin.

"Kau masih ingat bunyi surat kesaksian itu tatkala ayahmu membaca didepan kita, bukan?"

Sekar Prabasini mengangguk; Terus saja ia membaca bunyi surat kesaksian itu diluar kepala dengan lancar. Selagi membaca, hatinya memuji dirinya sendiri. Coba, andaikata ia tak usilan membaca berulangkali dan menghafalkan bunyi surat kesaksian itu, pastilah akan menanggung malu dihadapan hadirin. Diam-diam ia mengerling kepada Lingga Wisnu. Pemuda itu nampak puas sekali. Dan menyaksikan hal itu, mendadak saja sifat keperempuannya timbul diluar kehendaknya sendiri. Ia lantas membaca dengan suara, merdu, halus dan jelas seolah-olah sedang menyanyikan lagu cinta kasih.

Hebat adalah kesan Srimoyo. Ia melihat pendekar Sastra Demung dan Kayat Pece tertegun keheranan. Akhirnya memanggut-manggut kecil membenarkan. Hadirin lantas berbicara kasak-kusuk mengadili sepak- terjang dan perangai Kuncaraningrat. Keruan saja Srimoyo jadi malu bukan main. Belum selesai Sekar Prabasini membaca, lantas saja ia memekik :

"Berhenti! Bocah, sebenarnya siapakah engkau?" Belum sartpat Sekar Prabasini menjawab, atau

Genggong Basuki sudah menyambung :

"Saudara Srimoyo dan kawan-kawan sekalian. Bocah ini pasti salah seorang anak buah sibangsat Songgeng Mintaraga. Sekiranya bukan, pastilah pula salah seorang sahabat undangannya. Siapa tahu, diantara mereka sudah memperbincangkan kemungkinan- kemungkinannya? Jauh sebelumnya, bocah itu nampaknya sudah bersedia-sedia.”

Srimoyo tersadar oleh kata-kata Genggong Basuki. Lalu berseru sambil menentang mata kepada Lingga Wisnu berdua

"Akh, ya! Kau bilang, bahwa Bondan Sejiw an yang menyuruhmu datang kenari. Bagaimana akan kau buktikan, benar tidaknya terhadap kami?"

"Sebenarnya, apa yang kau kehendaki, agar kau percaya?" Lingga Wisnu mendongkol. Srimoyo menghunus pedangnya yang panjang dan dibolang- balingkan didepan matanya. Katanya menantang: "Aku sendiri belum pernah bertemu dengan pendekar yang menamakan diri Bondan Sejiw an. Tetapi menurut kabar Bondan Sejiw an berkepandaian sangat t inggi. Huh, betapa aku bisa percaya begitu saja sebelum menyaksikannya sendiri? Karena kau berdua menyatakan diri sebagai adik seperguruan dan putranya, kalau begitu kamu berdua pasti sudah mewarisi ilmu kepandaiannya dan kini, ccba tangkislah pedangku. Bila dapat menangkis pedangku, barulah aku mau percaya."

Srimoyo memandang enteng Lingga Wisnu, mengingat usia pemuda itu jauh berada dibawahnya. Juga terhadap Sekar Prabasini yang menyatakan diri sebagai putra Bondan Sejiw an. Taruh kata, mereka benar-benar telah mewarisi kepandaian Bondan Sejiw an, masa latihannya pun terlalu pen dek. Mustahil mereka berdua sudah berlatih semenjak dalam kandungan. Sebab sesuatu ilmu kepandaian baru mencapai taraf kesempurnaan apabila sipew aris sudah memiliki masa latihan paling tidak tiga puluh tahun lamanya. Maka ia yakin, akan dapat merobohkan mereka berdua dalam beberapa gebrakan saja. Dengan demikian, ia akan dapat meyakinkan kawan-kawannya bahwa dua helai surat kesaksian itu memang palsu.

Pada saat itu Lingga Wisnu duduk di atas kursi, begitu mendengar tantangan Srimoyo, ia meneguk minumannya beberapa kali. Kemudian memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Lalu berkata sambil mengunyah ;

"Untuk melawan pedangmu, kurasa t idak perlu sampai menggunakan warisan kakang Bondan Sejiw an. Kau telah dipegnainkan dan diperalat seseorang. Namun tidak menyadari juga. Sungguh sayang sekali ..." "Siapa yang memperalat aku? Siapa yang mempermainkan aku?" teriak Srimoyo dengan mendongkol. "Hai, bocah. Benar-benar kau tak tahu diri. Kau enyahlah sebelum aku menghajarmu benar benar."

Lingga Wisnu tetap saja bersikap acuh tak acuh. Dengan meram-melek ia mengunyah daging gorengnya. Sambil menelan, ia menyahut dengan tenang meyakinkan :

"Sebentar lagi aku akan membuktikan betapa engkau kena diperalat oleh hamba-sahaya mata-mata musuh. Sekarang biarlah aku membicarakan ilmu pedang Parw ati menurut tutur-kata kakakku Bondan Sejiw an. Memang ilmu pedang Parw ati hebat tak terkatakan. Tapi hm —"

"Siapa kesudian mendengarkan ocehanmul" potong Srimoyo panas hati.

"Baiklah. Tapi selamanya aku tak mau menggerakkan pedangku sebelum merundingkan pertaruhannya ."

"Pertaruhan apa yang kau kehendaki?"

"Bila kau kalah, hendaklah kau menyudahi persengkataanmu dengan rekan Songgeng Mintaraga dan kalau kau setuju, nah berkatalah dengan suara nyaring dihadapan para pendekar kenamaan yang kau bawa hadir disini." kata Lingga Wisnu.

"Itulah pasti!" teriak Srimoyo dengan suara penuh. "Biarlah mereka semua menyaksikan! Sebaliknya, bagaimana kalau kau tak dapat melawan pedangku?"

"Kalau kalah, segera aku akan membungkuk hormat beberapa kali di hadapanmu. Kemudian aku tak mau campur tangan lagi masalah in i." sahut Lingga Wisnu sambil terus mengunyah sisa gumpalan daging goreng yang menyumbat sebagian mulutnya.

"Baik!" seru Srimoyo. "Nah, majulah. Jangan hanya mengumbar mulut yang bukan-bukan."

Berkata demikian, Srimoyo memutar pedangnya sehingga memperdengarkan suara berdesing-desing. Tak usah dikatakan lagi, bahwa hatinya sangat sengit dan sengaja hendak mempertontonkan himpunan tenaga saktinya. Didalam hatinya ia berpikir :

'Jikalau aku tidak memberi tanda mata kepadanya, pastilah engkau akan memandang rendah terhadap i]mu pedang Parw ati. Hmm. Jangan engkau berteriak mengiang-ngiang seperti babi apabila ujung pedangku menikam tubuhmu.’

Tetapi Lingga Wisnu masih tetap duduk bercokol di atas kursinya. Berkata seperti kepada salah seorang sahabatnya.

"Kakang Bondan Sejiw an pernah membicarakan ilmu pedang aliran Parwati. Sebenarnya hebat juga. Hanya sayang ilmu pedang Parw ati hanya merupakan sepertiga ilmu pedang Resi Romaharsana pada zaman Majapahit. Bukankah ilmu pedang kebanggaan Parwati bernama Sapta Prahara? Berpesanlah kakang Bondan Sejiw an kepadaku. Bila Srimoyo tetap membandel sehingga pertempuran tak dapat dicegah lagi, aku harus memperhatikan ilmu pedang kebanggaannya itu. Tata muslihat gerakan pedang dan lainnya, tak usah kau perhatikan. Lalu aku diajari beberapa tipu-tipu pukulannya untuk memunahkan. Kau tak percaya? Biarlah nanti kubuktikan." Selagi berkata demikian, tiba-tiba berkelebatlah sesosok bayangan. Berkatalah bayangan itu :

"Baik. Ingin aku menyaksikan, bagaimana cara Bondan Sejiw an memunahkan jurus Sapta Prahara."

Dia ternyata seorang laki-laki berumur lima puluh tahun. Dengan sebilah pedang terus saja ia menikam Lingga Wisnu yang masih tetap bercokol diatas tempat duduknya Dengan sebat, Lingga Wisnu melompat ketengah gelanggang sambil berkata :

"Sabar, tuan. Sebenarnya siapa tuan? Tanpa memperkenalkan nama lantas menyerangku?"

"Iblis laknat! Kau ingin tahu namaku? Akulah Amir Hamzah. Murid aliran Parwati  angkatan ketigapuluh dua. Akulah kakak seperguruan Srimoyo."

"Bagus!" Seru Lingga Wisnu. "Dahulu kakang Bondan Sejiw an pernah bertemu berhadap hadapan dengan pendekar

Prangwedemi. ketua aliran Parwati. Dia berkesempatan membicarakan tentang jurus-jurus ilmu pedang Sapta Prahara yang kabarnya tiada tandingnya dijagad ini. Waktu itu kakang Bondan Sejiw an hanya tertaw a saja. Tak mau ia membantah atau mencelanya, mengingat kedatangannya adalah semata-mata untuk mendamaikan persengkataan rekan Songgeng Mintaraga dengan adikmu. Sungguh berbahagia. Kita berdua adalah murid- murid mereka berdua yang dahulu memperbincangkan. pedang Sapta Prahara. Kau murid Prangwedani, dan aku pewaris ilmu kepandaian kakang Bondan Sejiw an. Malam ini, kita berdua bisa mencoba-coba dan membuktikan benar tidaknya ucapan kakang Bondan Sejiw an terhadap gurumu."

Amir Hamzah seperti malas membuka mulutnya. Ia hanya berkata pendek :

"Kalau begitu, kau tahu bahwa ilmu pedang Sapta Prahara harus dilakukan oleh dua orang?" Setelah berkata denikian, ia memberi isyarat mata kepada Srimoyo. Kemudian dengan sengit mereka berdua- menyerang berbareng.

Gesit luar biasa Lingga Wisnu mengelakkan serangan mereka. Belum sempat ia menghunus pedangnya, mereka berdua sudah merangsak lagi. Sekar Prabasini tidak mengenal corak ilmu pedang Sapta Prahara yang memang harus dilakukan oleh dua orang berbareng. Ia memandang pertempuran. itu berat sebelah. Maka berserulah dia:

"Tahan! Kakang Lingga tadi bersedia bertempur seorang lawan seorang. Kenapa kamu berdua main kerubut?"

Amir Hamzah melototkan matanya, dibentak:

"Kalau begitu, kau memalsu nama Bondan Sejiw an. Kau mengaku sebagai anaknya. Apakah ayah mu tidak pernah berkata kepadamu, bahwa ilmu pedang Sapta Prahara harus dilakukan oleh dua orang? Sebenarnya, ayahmu tahu atau t idak tentang int i ragam ilmu pedang  Sapta Prahara? Atau engkau hanya manusia jahanam yang mengaku sebagai anaknya?"

Merah wajah Sekar Prabasini didamprat demikian. Memang, ilmu pedang yang harus dilakukan oleh dua orang, baru untuk pertama kali itu didengarnya. Untunglah, Lingga Wisnu berpengetahuan luas. Ia pernah membaca buku warisan pendekar Bondan Sejiw an. Maka berkatalah pemuda itu :

"Saudara Amir Hamzah dan Srimoyo, ilmu pedang Sapta Prahara berdasar kepada himpunan tenaga kosong dan berisi. Karena itu harus dilakukan oleh dua orang. Tetapi, siapa yang telah mahir himpunan tenaga saktinya, bisa melakukan dengan seorang diri. Karena itu, seruan putera kakang Bondang Sejiw an sebenarnya tidak terlalu salah. Dia mengira, himpunan tenaga sakti kalian berdua sudah sempurna. Sehingga masing-masing dapat menggunakan ilmu pedang Sapta Prahara seorang diri saja."

Itulah jawaban Lingga Wisnu yang sama sekali tidak terduga oleh Amir Hamzah dan Srimoyo berdua. Didalam hati mereka berkata :

'T idak pernah guru memberi penjelasan bahwa jurus ilmu pedang Sapta Prahara Sesungguhnya dapat dilakukan oleh seorang saja. Apakah bocah ini sengaja ngoceh tak keruan?'

Memang dugaan mereka berdua terhadap Lingga Wisnu itu setengah benar. Buku warisan Bondan Sejiw an menyebutkan pula bahwa tata jurus ilmu pedang Sapta Prahara harus dilakukan oleh dua orang. Kalau Lingga Wisnu tadi bisa memberi alasan, sesungguhnya terdorong semata mata untuk menutupi ketololan Sekar Prabasini. Sebaliknya, melihat Amir Hamzah dan Srimoyo berbimbang hati-gadis itu mendapat angin. Ketenangan dan kepercayaannya kepada diri sendiri timbul kembali.

Dengan membusungkan dada, maka kembali ia berkata

"Karena pertempuran harus kalian lakukan dengan berdua, maka syarat taruhannya harus berlipat pula."

"Kau hendak bertaruh apa?" damprat Amir Hamzah mendongkol.

"Aku tak sudi berbicara dengan tampangmu", Sekar Prabasini membalas darnpratannya. "Prakarsa persengkataan ini adalah Srimoyo. Maka aku juga ingin berbicara dengan dia. Hai! bagaimana?"

"Bilanglah!" sahut Srimoyo pendek.

Sekar Prabasini tertaw a menang. Berkata seperti seorang guru terhadap muridnya :

"Bila kalian kalah, kecuali harus menyudahi persengkataan ini, harus menyerahkan pula gedungmu, lengkap dengan petamanan dan isinya. Bagaimana? Berani tidak?"

Panas hati Srimoyo mendengar ucapan Sekar Prabasini. Pikirnya didalam hati :

'Biarlah kuterima saja permint aannya. Masakan ilmu pedang Sapta Prahara dapat dia kalahkan? Seumpama mereka tidak mati diujung pedangku, setidaknya aku bisa melukai.'

Oleh pertimbangan itu, ia lalu menjawab :

"Baik. Aku terima pertaruhan ini. Seumpama masih merasa belum puas, kau boleh juga maju Dengan begitu kau t idak akan merasa kami kerubut!" Dalam perdebatan, betapa Sekar Prabasini mau mengalah. Sahutnya dengan sengit :

"Aku maju atau tidak, soal gampang. Yang harus dibicarakan ialah gedung itu sendiri. Benar-benarkah itu gedung milikmu sendiri atau sebenarnya engkau hanya salah seorang penunggunya? Coba sebutkan, berapa harga gedung itu?" '

Bukan main mendongkol hati Srimoyo kena hina demikian. Dengan mata merah, ia berpaling kepada Lingga Wisnu. Kemudian membentak :

"Hai, bocah. Apakah kau sepaham pula dengan kawanmu itu? Benar-benarkah engkau tidak menghargai gedung milikku itu?"

0oo0dwooo0