Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 03

 Jilid 03

Menyaksikan hal itu buru-buru Lingga Wisnu berseru : "Abang, hati-hati!"

Oleh peringatan Lingga Wisnu, Aruji tersadar akan

kesembronoannya. Cepat-cepat ia menghindarkan kakinya agar jangan sampai menginjak rumpun tetanaman bunga didepannya.

"Adik kecil,gadis itu rupanya tuli! Buat apa kita bicara berkepanjangan dengan dia? Hayolah berangkat !"

Sambil berkata demikian ia melompat ke pengempangan dan meneruskan perjalanan dengan langkah panjang.

Semenjak kanak-kanak Lingga Wisnu hidup dalam kemiskinan dan penuh bahaya. Itulah sebabnya hatinya cepat menaruh iba terhadap orang orang miskin seperti dirinya. Diperlakukan gadis itu dengan sikap dingin, ia tidak menjadi gusar. Ia malah merasa iba kepadanya. Ia menduga tanaman bunga itu merupakan mata pencarihan keluarga gadis itu. Maka tak hentinya ia memberi peringatan kepada Aruji apabila kaki pemuda itu hendak menginjak tanaman.

Tiba-tiba diluar dugaan, gadis itu mengangkat kepalanya dan berseru :

"Hai ! Untuk apa kalian pergi ke Mrepat Kepanasan?"

Aruji menahan langkah kakinya dan menjawab : "Saudaraku ini lumpuh terkena racun. Karena itu kami

hendak menghadap beliau untuk mohon pertolongan."

"Aku hanya pernah mendengar namanya saja. Tapi belum pernah bertemu dengan orangnya." kata gadis itu. "Apa engkau kenal dengannya?"

"Belum!" jawab Lingga Wisnu diatas punggung Aruji sambil memijit pundaknya.

Perlahan gadis itu menegakkan badannya dan menatap wajah Lingga Wisnu dengan sinar mata yang sangat tajam.

"Bagaimana engkau yakin bahwa dia sudi mengobati dirimu?" tanyanya.

Wajah Lingga Wisnu lantas saja menjadi suram.

Jawabnya dengan berduka :

"Ya, sebenarnya akupun hanya main doa saja." Setelah menjawab demikian, tanpa disadarinya Lingga

Wisnu menghela napas. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Pikirnya didalam hati :

'Gadis ini nampaknya kenal tabiat dan perangai tabib sakti Sarapada. Kalau begitu, tentu padepokan Mrepat Kepanasan tidak jauh lagi dari sini.' Memperoleh pikiran demikian, segera ia bisiki Aruji agar menghanpiri gadis itu lagi. Kemudian berkata dengan hormat :

"Itulah sebabnya aku mohon petunjukmu!"

Lingga Wisnu adalah seorang bocah yang memiliki otak cerdas luar biasa. Dengan istilah 'petunjuk' itu, ia mempunyai dua maksud. Yang pertama mohon keterangan kepada gadis itu dimana letak Mrepat Kepanasan. Sedang yang kedua mohon petunjuk tentang cara-cara mengobati lukanya. Akan tetapi gadis itu tidak menyahut. Dengan pandang tajam ia mengamati Aruji berdua Lingga wisnu dari kaki sampai kekepalanya. Be- berapa saat kemudian tiba-tiba ia menuding dua buah pasu berisi kotoran binatang.

Katanya memerint ah :

"Disebelah sana ada kolam berisi kotoran binatang. Ada beberapa pasu pula di tepinya. Penuhilah dua pasu dengan kotoran binatang itu! Lalu siramlah tetanaman ini dengan kotoran binatang itu!"

Setelah memberi perintah demikian, gadis itu membungkuk lagi dan meneruskan pekerjaannya menyabuti rumput.

Baik Aruji maupun Lingga Wisnu terkesiap hatinya. Mereka berdua meskipun selisih umur tetapi memiliki pengalaman hidup yang hebat. Seringkali mereka menjumpai manusia-manusia dengan tabiat aneh. Akan tetapi kata-kata gadis itu sangat aneh. Betapa tidak ? Gadis itu terang seorang dusun yang miskin. Tetapi kata- katanya seolah-olah perint ah majikan terhadap kulinya. Meskipun melarat, semenjak kanak-kanak baik Lingga Wisnu maupun Aruji belum pernah mengerjakan pekerjaan menyiram tetanaman dengan kotoran binatang.

Syukurlah Lingga Wisnu seorang anak yana kenyang digembleng pengalaman hidup pahit.

Setelah hilang kagetnya, dalam hati lantas saja timbul rasa kasihan. Katanya didalam hati :

"Dia begitu kurus kering. Meskipun berkemauan besar, betapa sanggup menyirami tetanaman bunga diseluruh ladang ini dengan seorang diri."

Tepat pada saat itu ia melihat wajah Aruji merah padam. Buru-buru ia berkata :

"Abang! Seorang laki-laki yang kuat menang harus menolong yang lemah. Biarlah kita membantunya. "

"Kau berkata apa?" seru Aruji dengan mendongkol.

"Membantu dia!" sahut Lingga Wisnu dengan tenang.

Tentu saja ARuji tahu maksud Lingga Wisnu. Dialah sesungguhnya yang disuruh membantu pekerjaan gadis itu. Selama dalam perjalanan dia merasakan kecerdikan adik kecilnya ini. Maka sekali lagi ia percaya adiknya mempunyai rencana tertentu. Maka dengan menggelengkan kepalanya ia menurunkan Lingga Wisnu keatas tanah. Kemudian dengan seorang diri ia mencari kolam kotoran binatang.

Setelah mengisi dua pasu penuh air kotoran binatang. Aruji segera kembali dan menyirami tetanaman dengan menggunakan gayung. Tetapi baru saja ia menyiram satu, dua kali, tiba t iba gadis itu berseru : "Salah! Terlalu kental! Bunganya lantas bisa layu nanti

....... "

Menuruti t abiatnya, Aruji pasti akan mendamprat gadis itu, yang berani menegornya demikian. Akan tetapi mengingat bahwa Lingga Wisnu mempunyai rencana tertentu, ia menguasai gejolak hatinya sedapat mungkin. Justru demikian ia menjadi tertegun. Sejenak kemudian ia mengerling kepada Lingga Wisnu.

Bocah itu memberi isyarat agar patuh. Oleh isyarat itu ia segera balik lagi kekolam dan melakukan perintah si gadis dusun. Selagi hendak menyiram tetanaman, lagi- lagi gadis itu menegur :

"Awas, jangan sampai daun dan bunganya kena tersiram!"

Dengan sikap mengalah Aruji menyahut : "Baik!"

Setelah berkata demikian, ia me nyiram tetanaman itu

dengan hati-hati. Justru demikian, ia dapat memperhatikan warna bunga itu. Bentuknya sedang. Warnanya biru tua dan harum luar biasa. Bunga apa itu? Selama hidupnya belum pernah ia melihat. Tak lama kemudian kedua pasunya telah kosong kembali.

"Bagus!" kata gadis dusun itu. "Coba tolong satu pikul lagi!"

Mendengar perint ah itu, Lingga Wisnu yang duduk dipengempangan berseru dengan suara halus :

"Sahabatku itu harus segera berangkat. Malam ini juga kita harus menghadap tabib sakti Sarapada. Baiklah begini saja. Sepulang kami dari Mrepat Kepanasan, kami akan singgah kembali untuk membantumu ! "

"Lebih baik kalian t inggal saja disini menyiram bunga!" kata gadis itu. "Karena kulihat kalian berdua baik-baik, maka aku minta agar kalian menyiram tetanamanku."

Mendengar alasan gadis itu, baik Aruji maupun Lingga Wisnu makin menjadi heran. Mereka berdua saling memandang. Lingga Wisnu konribali memberi isyarat. Dan pada saat itu Aruji berpikir dalam hati :

'Apa boleh buat. Sudah terlanjut membantu maka harus membantu sampai selesai,' Demikianlah ia memikul dua pasu berisi air kotoran binatang dan dengan telaten ia menyiram tetanaman bunga diseluruh ladang.

Dalam pada itu matahari telah turun dibalik gunung. Sinarnya yang kuning keemasan masih menyoroti bunga- bunga bir itu, sehingga memberikan penglihatan yang indah sekali. Aruji seorang pemuda kasar. Tetapi melihat keindahan itu didalam hati ia berkata: 'Benar-benar indah bunga ini.'

Dalam pada itu Lingga Wisnu yang duduk dipengempangan berseru lagi kepada gadis dusun itu :

"Ayunda! Sekarang perkenankan kami meneruskan perjalanan." Sambil berkata demikian, ia menatap wajah gadis itu dengan pandang mohon belas kasihan.

Mendadak saja wajah gadis itu berubah angker.

Katanya tegas :

"Kalian telah membantuku. Kalianpun minta petunjukku, bukan?" Mendengar perkataan gadis dusun itu, Aruji dan Lingga Wisnu berkata didalam hati :

'Memang ! Memang aku membutuhkan petunjukmu. Akan tetapi bantuan menyirami tanamanmu in i terbersit dari hati, menaruh belas kasihan kepadamu. Sudahlah! Rasanya jika kini mohon bantuannya agar menunjukkan tempat Sarapada, agaknya seperti orang menagih hutang.'

Pada saat itu Aruji tertaw a lebar. Katanya :

"Akh, indah benar bungamu ini." Setelah berkata demikian, pemuda berewok itu menghampiri Lingga Wisnu. Selagi hendak meneruskan perjalanan dengan menggendong Lingga Wisnu, t iba- tiba gadis itu berseru memanggil :

"Tahan!"

Aruji mulai tak sabar. Dengan pandang gelisah ia menatap gadis dusun itu. Ia melihat gadis tersebut membungkuk memetik dua kuntum bunga. Katanya :

"Kau tadi berkata, bunga ini indah sekali. Nah, kuberi kalian dua tangkai bungai" Setelah berkata demikian, ia memberikan dua tangkai bunga itu.

"Terima kasih!" kata Aruji dan Lingga Wisnu. Dengan isyarat Lingga Wisnu, Aruji membungkuk dan dimasukkan kedalam sakunya.

"Sebetulnya siapa nama kalian?" tanya gadis dusun itu.

"Aku Lingga Wisnu, dan kakaku ini Aruji." Jawab Lingga Wisnu.

Gadis dusun itu mengangguk dan berkata lagi : "Jika kalian hendak ke Mrepat Kepanasan, lebih baik ambil jalan mengarah ke Timur Laut!"

Sebenarnya dalam hati Aruji mendongkol kepada gadis itu. Tetapi begitu mendengar petunjuknya, lantas saja hilang. Bisiknya kepada Lingga Wisnu sambil tertaw a :

"Adik, benar-benar engkau bisa memandang jauh. Coba, kalau aku tadi menuruti kekasaranku, pastilah aku akan tersesat dipinggang Gunung Merapi ini."

Tapi sebaliknya, hati Lingga Wisnu bercuriga. Pikirnya didalam hati: 'J ika pertapaan Ki Sarapada berada disebelah Timur Laut, sebenarnya ia dapat menerangkan dengan tegas. Kenapa menggunakan kata-kata: lebih baik mengambil jalan ke Timur Laut?'

Lingga Wisnu meskipun baru berumur belasan tahun, akan tetapi pengalamannya terhadap manusia lebih banyak dari pada Aruji. Maklum lah selama delapan tahun ia dikejar musuh musuh ayah dan ibunya terus-menerus. Dan semua musuh musuh itu seringkali menggunakan tipu muslihat berupa jebakan tertentu.

Karena itu setiap kali hendak mengambil keputusan, keluarganya dipaksa untuk memecahkan teka-teki atau menduga-duga tata muslihat lawan terlebih dahulu. Akan tetapi ini kali meskipun dia menaruh curiga, namun segan mendesak lebih jauh lagi. Segera ia memberi isyarat kepada Aruji agar meneruskan perjalanan.

Baru saja mereka melintasi gundukan tanah tinggi, dihadapannya menghadang sebuah telaga yang sangat luas. Jalan satu-satunya yang nampak didepan matanya mengarah ke jurusan Barat. Dengan demikian petunjuk gadis dusun tadi sangat bertentangan. "Kurang ajar perempuan itu!" maki Aruji. "Kalau tak sudi memberi petunjuk, sebenarnya kita juga tak akan memaksa. Biarlah! Kalau kelak kita lewat didusunnya lagi, aku akan menghajarnya!"

Lingga Wisnu pun merasa heran. Baik Aruji maupun dirinya, tadi telah berbuat baik terhadap gadis itu. Apa sebab balasannya demikian buruk?

"Abang," kata Lingga Wisnu. "Kurasa perempuan itu mempunyai hubungan dengan ki Sarapada, atau mungkin pula sanaknya."

"Apa engkau melihat tanda-tanda yang mencurigakan?" sahut Aruji.

"Kedua matanya bersinar luar biasa." kata Lingga Wisnu pula. "Aku merasa bahwa ia bukan seorang perempuan dusun yang belum pernah melihat dunia."

"Benar!" kata Aruji mengamini. "Kalau begitu kubuangnya saja dua tangkai bunga pemberiannya ini."

Aruji segera mengeluarkan dua tangkai bunga dari sakunya. Melihat bunga itu berwarna sangat indah, Lingga Wisnu merasa sayang. Katanya :

"Perempuan itu memang patut kita sesali. Akan tetapi bunga pemberiannya ini sangat indah. Belum tentu bunga ini akan mencelakan kita." Setelah berkata demikian, ia mengambil dua tangkai bunga itu dari tangan Aruji dan dimasuk kannya kedalam kantongnya sendiri. Kemudian memberi isyarat kepada Aruji agar meneruskan jalan menuju ke Barat.

"Hai, hati-hati sedikit! Jalan ini nampaknya licin sekali!" ia memberi ingat dari punggung Aruji. Tetapi Aruji nampaknya sudah uring-uringan karena mendongkol terhadap gadis dusun tadi. Ia berjalan dengan langkah panjang. Makin lama makin cepat.

Waktu itu magrib telah tiba. Semenjak tadi hati mereka sudah khawatir. Pada siang hari, meskipun andaikata perjalanan sangat berbahaya, semuanya dapat dilihat dengan terang-benderang. Sebaliknya, apabila malam hari tiba, suasana alam menjadi gelap-pekat. Teringat pengalamannya kemarin malam, hati mereka

makin menjadi

berdebaran.

Setelah  berjalan setengah jam lagi, suasana alam berubah dengan mendadak. Pohon-pohon   dan

rumput-rumput yang tumbuh dikiri dan kanan jalan makin berkurang. Akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang gundul sama sekali. Dan melihat pemandangan demikian, jantung Lingga

Wisnu maupun Aruji memukul keras. Kata Lingga Wisnu

dengan suara cemas :

"Abang, coba lihat! Selembar rumputpun tiada tampak tumbuh disini. Sungquh mengherankan!"

"Benar," jawab Aruji. "Andaikata semua tumbuh- tumbuhan yang berada disini dibabat manusia, setidaknya masih nampak bekas bekasnya. Jangan- jangan inilah akibat tanah gamping atau lahar Gunung Merapi ..." Ia tidak menyelesaikan perkataannya sebaliknya setelah berdiam sejenak ia berbisik kepada Lingga Wisnu :

"Sesungguhnya adikku, belum pernah aku singgah dirumah paman Sarapada. Tetapi aku yakin bahwa padepokan paman Sarapada sudah berada dekat sekali. Mungkin dialah yang menebari racun, hingga tanah disini tidak dapat ditumbuhi rumputpun."

Lingga Wisnu mengangguk. Teringat kelumpuhan jasmaninya disebabkan karena racun pula, ia menjadi ketakutan begitu mendengar kata-kata racun. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan dua saputangan. Setelah menutupi pernapasannya dengan saputangan itu, ia memberikan saputangan lain nya kepada Aruji.

Katanya :

"Kau tutuplah hidungmu dengan saputangan. Mungkin sekali disini kita akan menghisap asap beracun. Kalau abang mempunyai sehelai kain panjang, bebatlah kedua kakimu agar tidak menginjak tenpat-tempat yang beracun."

Aruji mendengarkan peringatan Lingga Wisnu dengan perasaan kagum. Ia memuji sikap hati-hati adiknya itu. Segera ia menutupi pernapasannya dengan sehelai saputangan pemberian Lingga Wisnu. Kemudian melepaskan ikat pinggangnya dan dibebatkan pada kedua kakinya.

Dengan waspada mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kembali mereka melihat sebuah bangunan atau sebuah rumah yang bentuknya aneh sekali. Rumah itu seperti kuburan besar tanpa pintu dan tanpa jendela. Sedang warnanya hitam mulus, sehingga kelihatannya menyeramkan sekali. Sepuluh meter disekitar rumah itu berdiri pohon-pohon pendek yang daunnya berwarna merah darah.

Aruji seorang pemuda yang tak pernah mengenal takut menghadapi segala kejadian yang menyeramkan. Pengalamannya pun banyak sekali. Seringkali ia menghadapi lawan yang bersenjata racun jahat. DAn kerapkali pula ia melintasi wilayah-wilayah yang berbahaya. Akan tetapi pada saat itu dia yang mempunyai keberanian besar, tak urung mengeluarkan keringat dingin juga, begitu menyaksikan penglihatan yang aneh dan menyeramkan itu. Bisiknya kepada Lingga Wisnu :

"Adik, bagaimana pikiranmu?"

"Apakah rumah itu kira-kira tempat pertapaan tabib sakti Ki Sarapada?" Lingga Wisnu menduga. "Jika rumah tersebut memang pertapaan Ki Sarapada, kita mohon dengan sopan-santun lalu kita mempertimbangkan perkembangan selanjutnya. "

Aruji sudah percaya akan kecerdasan Lingga Wisnu, maka dengan hati-hati ia maju terus. Kemudian dengan sikap sangat hormat ia berseru:

"Kami Aruji. Keponakan paman hari ini datang bersama seorang sahabat bernama Lingga Wisnu. Kami berdua menghaturkan sembah kehadapan paman Sarapada."

Meskipun ilmu kepandaian Aruji punah, akan tetapi tidak berarti tenaganya benar-benar hilang. Masih sanggup ia berseru dengan nyaring sekali. Suaranya tajam dan jelas. Apalagi ia berteriak ditengah alam yang sunyi-sepi. Suara demikian dapat ditangkap lima puluh atau seratus meter dengan jelas. Akan tetapi rumah itu tetap sunyi. Tak terdengar suara apapun juga.

Sekali lagi Aruji berteriak. Tetapi tetap saja tidak memperoleh jaw aban. Pemuda itu jadi agak mendongkol. Segera ia berteriak untuk yang ketiga kali dengan sekuat tenaga. Katanya :

"Aku kena pukulan hebat, dan adikku ini terkena racun jahat. Entah siapa yang melakukan pengeniayaan terhadap kami berdua. Kami sendiri tidak jelas. Itulah sebabnya kami datang kemari mohon pertolongan paman." Tetapi kali in i t iada jawaban.

Dalam pada itu, cuaca semakin gelap. Lingga Wisnu menjadi gelisah. Tanyanya minta pertimbangan kepada Aruji.

"Abang, apa engkau pernah bertemu dengan paman Sarapada?"

Aruji mangangguk. Katanya:

"Tiga kali aku pernah bertemu dengannya." "Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"

Aruji tertegun. Tak berani ia mengambil keputusan.

Rupanya ia terlalu mengenal tabiat pamannya, sehingga apabila kurang hati-hati jerih payahnya akan menjadi sia- sia belaka.

"Apa kita pulang saja dan menyerahkan nasib kepada Tuhan?" ujar Lingga Wisnu lagi. "Kalau demikianlah keputusanmu, biar aku menunggu nasibku. Percayalah, aku t idak akan menyesali siapapun juga."

"Aku sudah berjanji kepada kakekmu, Kyahi Basaman. Meskipun tiba-tiba pamanku menjadi raja iblis yang paling kejam dijagad ini, aku tidak akan mundur. Coba engkau menunggu disini. Biarlah aku sendiri memasuki halamannya. Mungkin pula dia enggan memberi jawaban kepadaku karena melihat dirimu."

Tanpa menunggu persetujuan, ia menurunkan Lingga Wisnu dari punggungnya. Kemudian seorang diri ia memasuki halaman rumah yang aneh itu.

Dalam hatinya la sudah rgengambil kepulasan tetap hendak menggunakan kekerasan apabila perlu. Meskipun pernah menyaksikan kemampuan Ki Sarapada, namun ia percaya bahwa pamannya Itu hanya pandai mengobati sakit saja. Dia yakin dalam hal ilmu berkelahi, kepandaiannya tidak, begitu tinggi .

Pohon-pohon berdaun merah itu ternyata, mempunyai cabang yang lebat sekali. Demikian pula daunnya. Sehingga merupakan sebuah mahkota yang rimbun. Begitu lebat cahang rantihg dan daunnya, sehingga meraba tanah. Maka tidaklah mudah untuk melintasi dengan begitu.saja.

Tanpa berpikir panjang lagi, Aruji segera mengambil keputusan hendak melompati pagar pohon itu saja. Selagi badannya masih terada di tengah udara, tiba-tiba ia mencium bau wangi itu juga kedua matanya menjadi pusing. Dan ia roboh terbanting di antara rimbun pohon.

Peristiw a itu tentu saja mengejutkan hati. Lingga Wisnu. Segera ia hendak menyusul, akan tetapi kaki dan tangannya tidak dapat digerakkan. Setiap kali berusaha akan berdiri, tubuhnya gemetaran dan terasa lemah. Akan tetapi ia anak yang keras hati. Segera timbullah keputusannya hendak mencoba menghampiri Hati-hati ia bertiarap. Kemudian merangkak maju dengan mengisutkan tubuhnya. Ia dapat melakukan gerakan tersebut, akan tetapi tentu saja sangat lambat.

Baru saja ia merangkak beberapa meter jauhnya, tenaga jasmaninya terasa habis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Namun dengan menguatkan diri, ia terus maju sedikit-demi sedikit.

Sekarang ia telah memasuki halaman rumah berbentuk aneh itu. Seperti Aruji, segera ia mencium bau wangi. Dan dadanya lantas saja menjadi sesak. Karena tadi menyaksikan robohnya Aruji, dapatlah ia berlaku lebih hati-hati. Dengan menguatkan diri, kerapkali ia menahan napas. Kemudian dengan menundukkan kepalanya ia maju terus mendekati tubuh Aruji yang tergolek diatas tanah dalam keadaan tidak berkutik lagi. Segera ia memeriksa kedua mata Aruji, ternyata tertutup rapat. Tangan dan mukanya dingin. Akan tetapi napasnya masih berjalan dengan baik.

Lingga Wisnu menjadi bingung berbareng juga khaw atir. Katanya didalam hati :

'Akh, dia datang kemari dengan maksud mulia sekali, untuk menolong diriku. Akan tetapi belum lagi ia bertemu dengan pamannya, sudah terbanting roboh terkena racun. Aku sendiripun sudah menghisap hawa beracun dan tinggal menunggu waktu saja. Tak apalah bila aku yang mati. Tetapi dia? Dia harus hidup! Ki Sarapada adalah pamannya. Seumpama dia datang seorang diri, pastilah dia akan menerima nasib lain.'

Oleh pikiran itu, ia menjadi nekad. Lalu mendekati rumah aneh itu.

"Paman Sarapada!" ia berteriak. "Dengan tangan kosong kami datang kemari untuk memohon pertolongan. Sama sekali kami tidak mengandung maksud kurang baik. Jika paman tetap tak sudi menenui kami, maka kami terpaksa tak dapat menghargai paman lagi ..."

Sambil berteriak ia mengamati bangunan rumah itu. Tatawarna rumah tersebut hitam seluruhnya, sehingga seolah-olah bukan terbuat dari kayu. Kesannya tak ubah sekapan gerombolan liar yang berada diatas gunung. Walaupun demikian sekitar rumah tersebut bersih luar biasa. Tak ada sepotong kayupun atau selembar daun dikiri-kanannya. Bahkan sebutir batu juga t idak nampak. Beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun sambil mengasah otak. Setelah menghampiri rumah itu, tak berani ia menyentuh karena takut terkena racun.

Tiba-tiba teringatlah dia. Didalam sakunya terdapat beberapa potong uang perak. Segera ia mengeluarkan sepotong uang perak dan dipergunakan untuk mengetuk dinding rumah tersebut. Ia heran, tatkala terdengar suara 't ring'. Maka jelaslah sudah, bahwa bangunan tersebut terbikin dari logam.

Setelah memasukkan uang peraknya ke dalam saku kembali, ia menundukkan kepala hendak menyelidiki. Tiba-tiba bau wangi menyambar hidungnya. Dan begitu mencium bau wangi, dadanya terasa lega dan otaknya menjadi lebih terang. Heran dan terkejut ia menundukkan kepalanya lagi. Dan sekali lagi ia mencium bau wangi yang menyegarkan dadanya.

Ternyata bau wangi itu meruap dari kuntum bunga biru pemberian gadis dusun tadi. Katanya didalam hati :

"Akh! Kalau begitu, bunga ini mempunyai khasiat penolak racun. Sekarang terbuktilah bahwa gadis itu tidak bermaksud buruk. Bahkan dengan diam-diam ia memberi pertolongan."

Memperoleh keyakinan demikian, timbullah keberanian Lingga Wisnu. Dengan merangkak ia maju mendekati rumah aneh itu. Benar-benar heran. Rumah tersebut tidak mempunyai jendela maupun pintu. Bahkan lubang kecilpun tidak terdapat disana. Pikirnya: 'Apakah rumah ini tidak ada penghuninya? Kalaupun ada penghuninya bagaimana bisa hidup didalam bangunan yang tidak berhaw a sama sekali?!

Sebenarnya besar kemauannya hendak mengadakan penyelidikan lebih lanjut. Akan tetapi ia sudah tidak bertenaga lagi. Setelah menimbang sejenak, ia menghampiri Aruji dan menempelkan bunga birunya pada lubang hidungnya. Begitu Aruji mencium harum bunga biru itu, ia bersin dan tersadar.

Lingga Wisnu girang bukan kepalang. Dan lantas saja mengambil keputusan untuk kembali kepada gadis dusun yang dijumpainya petang tadi dengan maksud memohon nasehat dan petunjuknya. Setangkai bunga biru lalu ditancapkan pada dada Aruji, sedang yang lainnya digenggamnya erat-erat seolah-olah jimat dari sorga. Kemudian ia menunggu sampai tenaga Aruji pulih koribali. Tak usah menunggu terlalu lama, Aruji telah da- pat berdiri tegak. Karena pemuda itu semakin percaya kepada Lingga Wisnu,, ia tidak membantah tatkala diajaknya kembali kedusun untuk mencari si gadis penilik bunga biru .

Demikianlah sambil mendukung Lingga Wisnu, segera ia melompati pohon-pohon merah yang ternyata sangat beracun itu. Tetapi baru saja kedua kakinya hinggap diatas tanah, mendadak terdengarlah bentakan datang dari dalam rumah aneh itu :

"Heii"

Suara itu terdengar menyeramkan, dan mengandung rasa gusar yang bergolak hebat. Dan mendengar bentakan itu, Lingga Wisnu menolehkan kepalanya. Serunya :

"Kyahi Sarapada! Apa engkau sekarang sudi menerima kami?"

Pe rtanyaan itu tidak memperoleh jawaban, dan tetap tak terjawab meskipun ia mengulangi seruannya beberapa kali lagi.

Tiba-tiba kesunyian malam itu dipecahkan oleh suara gedubrakan seolah-olah benda berat jatuh keatas tanah. Dengan berbareng Aruji dan Lingga Wisnu memalingkan kepalanya. Hati mereka terkesiap tatkala kesiur angin tajam menyambar dirinya. Sebelum dapat berbuat sesuatu, mereka telah terbanting roboh ketanah.

Entah sudah berapa lama mereka terkapar di tanah. Setelah menyenakkan mata, mereka ternyata berada ditengah tegalan bunga tanaman si gadis dusun. Malam hari pada waktu itu sunyi senyap. Diantara kesunyian malam, bunga-bunga biru yang sedang bermekaran menyiarkan bau yang sangat kuat. Dan mencium harum bunga itu, dada Aruji. dan Lingga Wisnu menjadi lega dan semangatnya menjadi pulih kembali.

Mereka berdua masing-masing menderita luka. Lingga Wisnu semenjak turun dari Argapura boleh dikatakan lumpuh, tak bertenaga. Sedang Aruji kecuali menderita luka parah akibat pukulan beracun, kakinya menginjak racun di halaman rumah aneh itu pula. Maka dapatlah dibayangkan, bahwa penderitaan mereka kian menjadi hebat. Akan tetapi aneh, Benar-benar aneh. Setelah sadar penuh, baik Aruji maupun Lingga Wisnu, dapat menggerakkan kaki dan tangannya dengan leluasa, walaupun terasa agak lemas.

Dalam hal in i, Lingga Wisnu nyaris tak percaya kepada perubahannya sendiri. Berkali-kali ia mencoba menggerakkan kaki tangannya. Kemudian mencoba berjalan pula. Semuanya berjalan lancar.

"Hai! Benarkah ini?" serunya.

Dan hampir berbareng dengan seruannya, Aruji pun berteriak kagum penuh sukacita :

"Adik! Kau bisa berjalan?"

"Benar! Aku bisa berjalan. Benarkah ini? Ini bukan mimpi, bukan?"

Aruji tertaw a   sambil   menggelengkan   kepalanya.

Serunya tinggi :

"Bukan! Bukan mimpi! Benar-benar terjadi! Engkau bisa berjalan, adikku!"

Mereka berdua lantas berpelukan hangat. Setelah puas mereka memutuskan, untuk bermalam dirumah si gadis dusun, agar memperoleh pertolongan dan petunjuknya. Sekonyong-konyong rumah gubuk yang berada didepannya terbuka jendelanya, dan muncullah sinar pelita. Brak! Pintu terbuka dan gadis dusun itu kelihatan diambang pintu.

"Kisanak, masuklah!" gadis itu mengundang. "Kampungku sangat melarat dan aku sendiri sangat miskin pula. Tak dapat aku menyuguhkan makanan yang pantas kepadamu. Silahkan kalian minum teh taw ar dan nasi kasar."

Dengan bergandengan tangan, Aruji dan Lingga Wisnu memasuki rumah. Buru-buru Lingga Wisnu membungkuk hormat. Katanya dengan suara merendah :

"Kami berdua sungguh merasa malu, karena di tengah malam buta begini, mengganggu ketenteramanmu."

Gadis itu tersenyum dan berdiri disamping pintu mempersilahkan kedua tetamunya masuk.

Begitu masuk, baik Lingga Wisnu maupun Aruji melihat bahwa perabot gubuk itu sangat sederhana. Tiada bedanya dengan gubuk-gubuk orang miskin. Tetapi ada satu hal yang aneh. Seluruh ruangan luar biasa bersihnya seolah-olah tiada debu menempel. Menyaksikan hal itu, jantung Lingga Wisnu memukul keras. Kebersihan gubuknya mirip benar dengan kebersihan rumah aneh yang berpagar pohon-pohon beracun.

"Kisanak, duduklah." kata gadis itu lagi mempersilahkan kedua tetamunya. Ia masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian ia keluar dengan membaw a dua tempurung kosong. Setelah itu sebakul rasi, sepiring sayur, semangkok kuah dan tempuruk berisi air teh taw ar. Hidangan yang di sajikan sangat sederhana, akan tetapi masih mengepul asap panas. Begitu ruap asap hidangannya tercium hidung, Lingga Wisnu dan Aruji lantas tergugah rasa laparnya.

Tak usah dikatakan lagi, setelah mengarungi perjalanan yang begitu jauh mereka berdua sangat lapar.

"Terima kasih," kata Lingcra Wisnu sambil tertaw a. Segera ia mengisi tempurung kosongnya dengan nasi putih yang masih mengepul asap hangat. Setelah menaruhkan sayur serta kuahnya, segera ia makan dengan bernapsu sekali.

Sebaliknya tidaklah demikian dengan Aruji. Pemuda berewok ini tidak berani bergerak karena hatinya menaruh curiga. Katanya didalam hati:

'Semua makanan in i tentunya sudah disiap kan terlebih dahulu. Kalau tidak, masakan masih begini hangat. Aku tadi jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Mengapa dia bisa menduga dengan tepat bahwa aku tersadar pada jam begini? Akh,aku-harus hati-hati dan waspada terhadap penduduk sekitar Mrepat Kepanasan ini. Biarlah aku menderita lapar, daripada mampus kena racun orang,'

Memperoleh pikiran demikian, tatkala si gadis masuk kedalam bilik segera ia berbisik ke pada Lingga Wisnu :

"ssti Lebih baik kau jangan makan apa-apa, dusun Ini sangat berdekatan dengan Mrepat Kepanasan. Dan paman Sarapada bertabiat aneh sekali apa engkau lupa? Jangan-jangan semuanya ini beracun'.

Akan tetapi Lingga Wisnu berpendapat lain Ia mengira gadis dusun itu tidak mengandung hati kurang, baik. Apabila dia. bermaksud jahat, apa sebab tadi menghadiahkan dua kuntum bunga kepada mereka berdua? Dan ternyata sangat besar faedahnya. Disamping itu, jikalau hidangan yang disediakan ini tidak dimakan, gadis itu tentu merasa tersinggung. Selagi ia hendak menyatakan pendapatnya itu, si gadis sudah keburu keluar dari dapur. Kali in i ia membawa sebuah niru kayu. Dan diatas niru itu terdapat sebakul nasi lagi yang masih mengepulkan asap hangat. Lingga Wisnu bangkit dari duduknya. Berkata :

"Terima kasih atas budi baik Ayunda. Dapatkah kami berdua menyampaikan hormat kepada ayah-bundamu?"

"Kedua orang tuaku sudah meninggal dunia." jawab gadis itu. "Aku hidup sebatang kara di sini."

"Akh !" Lingga Wisnu berseru tertahan. Terus ia jadi teringat kepada nasibnya sendiri. Pada hari ini dia pun hidup sebatang kara disini. Tetapi dia tidak berkata sesuatu apa. Setelah kembali duduk, ia meneruskan makannya .

Hidangan yang disajikan berupa sayur-mayur segar yang rasanya lezat sekali. Dengan tiada sangsi lagi, Lingga Wisnu menyapu semua hidangan yang disuguhkan kepadanya. Untuk menyenangkan hati gadis itu, sambil makan tiada hentinya ia memuji lezatnya santapan.

Keruan saja Aruji tambah prihatin. Dengan menghela napas perlahan ia mengaw askan Lingga Wisnu yang terus menjejali mulutnya dengan tidak mengenal bahaya. Katanya didalam hati :

'Baiklah jika engkau tidak mendengarkan nasehatku. Akupun tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimanapun juga kita berdua tidak boleh mati berbareng karena racun.'

Walaupun kasar, Aruji mempunyai pengalaman pergaulan yang luas dalam masyarakat. Maka agar tidak menyinggung hati gadis itu, ia berkata :

"Nona, harap engkau memaafkan aku. Tatkala aku mendekati rumah aneh itu, aku kena racun. Sehingga perutku terasa tidak enak sekali. Napsu makanku lenyap sama sekali."

Mendengar perkataannya, si gadis lantas menuangkan teh pada tempurung kosong dan diangsurkan kepada Aruji. Katanya :

"Kalau begitu, minumlah air teh ini saja."

Aruji menerima perberian air teh yang di tuang ke dalam tempurung tadi. Dengan sudut matanya, ia menjenguk kedalam tempurung Warna air teh itu ternyata kehijau-hijauan. Sebenarnya ia haus sekali. Akan tetapi begitu melihat warnanya, napsunya lantas hilang. Seperti orang yang punah tenaganya, ia menaruh tempurung teh keatas meja dengan lemah-lunglai.

Si gadis tidak merasa tersinggung. Sikapnya tenang tenang saja. Sama sekali ia t idak menunjukkan rasa kesal atau jengkel. Melihat Lingga Wisnu menyapu habis semua hidangan yang disajikan seperti macan kelaparan, ia menjadi girang. Sinar matanya lantas berseri-seri .

Lingga Wisnu, meskipun bocah lagi berumur belasan tahun, namun memiliki otak cerdas luar biasa. Sekali melirik, pandang mata gadis itu, tak luput dari perhatiannya. Ia makan sekenyang kenyangnya, karena sudah diperhitungkan untung ruginya. Semenjak turun dari Argapura, hatinya sudah menjadi putus asa terhadap hidup dan kehidupan. Seluruh tubuhnya sudah berlumuran racun berbahaya. Itulah sebabnya ia tak takut lagi menghadapi segala macam racun didunia ini. Dan apabila hidangan yang disajikan kepadanya itu mengandung racun, makan sedikit ataupun banyak, akibatnya sama saja. Maka ia malah membuka perutnya sebesar-besarnya dan menghabiskan ampat tempurung nasi dan menyikat semua santapan yang berada diatas meja.

Setelah selesai, gadis itu lalu hendak mengundurkan bekas-bekas hidangan. Akan tetapi Lingga Wisnu telah mendahuluinya. Dengan rapih ia menyusun perabot makan minum diatas niru dan dibaw anya ke dapur. Kemudian dicucinya sekali. Setelah bersih, perabotan itu lalu dimasukkannya kedalam lemari.

Melihat persediaan air dalam jembangan tinggal sedikit, segera ia me ngambil tahang dan mengambil air diselokan yang berada disamping rumah. Dalam pada itu gadis Pemilik rumah menyapu sisa-sisa makanan yang tercecer ditanah.

Sebenarnya Lingga Wisnu tidak boleh bergerak terlalu banyak. Betapapun juga tenaganya yang datang tiba-tiba sehingga bisa menggerakkan kaki-tangannya itu adalah untuk sementara saja. Ia sadar akan hal itu. Justru demikian, ia mau menggunakan kesempatan sebaik- baiknya untuk membuat jasa. Demikianlah, setelah mengisi jambangan itu penuh-penuh, ia kembali ke ruangan depan. Aruji ternyata sudah tidur sangat nyenyak mendekam di tepi meja. "Maaf, adik." kata gadis itu. "Aku tidak mempunyai kamar tamu, untuk pelepas lelah adik hanya bisa merebahkan diri diatas bangku panjang itu."

"Terima kasih atas segala budimu ini." jawab Lingga Wisnu sambil tertaw a. “Janganlah kau bersegan-segan lagi kepadaku."

Gadis dusun itu tidak berkata apa-apa lagi. Setelah menutup pintu depan, ia segera masuk kedalam. Ternyata pintu itu tidak dikuncinya. Diam-diam Lingga Wisnu kagum terhadap sikap sigadis itu.

Meskipun hidup seorang diri di tempat yang begini sepi, namun masih berani ia menerima dua tetamu laki- laki semua. Perlahan-lahan ia mendorong pundak Aruji dan berbisik :

"Abang, pindahlah kebangku panjang itu."

Diluar dugaan, begitu kena dorong Lingga Wisnu, badan Aruji miring dan terguling diatas tanah. Kaget Lingga Wisnu meraih dan mencoba membangunkannya. Begitu tangannya menyentuh paras Aruji, hatinya tercekat. Ternyata paras muka pemuda berewok itu panas seperti api. Dengan suara tertahan ia mencoba menyadarkan :

"Abang, kau kenapa?"

Ia menjadi bingung. Buru-buru ia mengambil pelita dan menyelidiki keadaan Aruji. Muka Aruji nampak merah membara. ia mirip seorang tertidur karena mabuk.

Anehnya mulutnya   menebarkan   ruap   arak   pula.

Pikirnya didalam hati : 'Aneh. Kapan ia minum arak? Jangan lagi arak, air tehpun yang disuguhkan ia tidak berani menyentuhnya. Tetapi apabila ia tidak minum arak, kenapa mulutnya bau arak begini keras? Iapun mabuk pula ...'

Dalam keadaan tak sadar Aruji mengigau :

"Tidak! Aku tidak mabuk! Mari, mari kita minum tiga mangkok lagi!"

Lingga Wisnu jadi prihatin. Besar dugaannya bahwa mabuknya pemuda itu disebabkan perbuatan si gadis yang mungkin tersinggung hatinya. Bukankah Aruji menolak makanan dan minuman yang dihidangkan tadi? Ia berkhawatir dan heran. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Harus membangunkan si gadis untuk memohon pertolongan? Atau membiarkan saja Aruji sampai tersadar sendiri? Sekonyong-konyong ia mempunyai pikiran. 'Akh, apakah benar begitu? Aruji takut kena racun. Justru demikian, gadis itu malah meracunnya, karena hatinya tersinggung. Ya benar begitu. Nampaknya Aruji bukan mabuk sewajarnya. Pastilah ia telah terkena racun.'

Selagi hatinya berbimbang-bimbang, dikejauhan sekonyong-konyong terdengar salak binatang liar yang sangat menyeramkan. Di tengah kesunyian malam suara itu membangunkan bulu roma. Salak itu memekik tinggi seolah-olah jerit seseorang yang kena aniaya. Teringatlah ia akan tutur kata ayah-bundanya bahwa jeritan demikian adalah salak serigala kelaparan. Tetapi masakan dipinggang Gunung Merapi ini ada kawanan serigala? Andaikata memang ada, mestinya hanya satu dua ekor saja. Dan t idak merupakan rombongan besar.  Dengan hati berdebaran Lingga Wisnu memasang telinganya. Semakin lama salak itu semakin dekat. Kadang-kadang diseling dengan jerit kambing hutan yang kesakitan. Selagi hendak menengok keadaan Aruji, tiba- tiba pintu ruang dalam terbuka dan nampak si gadis membaw a lentera. Wajahnya nampak ketakutan. Katanya :

"Itulah kawanan serigala ..."

Lingga Wisnu mengangguk. Ia mengaw askan gadis itu dan berkata sambil menunjuk kepada Aruji :

"Ayunda ..."

Sebenarnya ia hendak minta pertolongan tetapi pada saat itu salak kawanan serigala terdengar makin dekat.

Mendengkur hiruk-piruk salah serigala hati Lingga Wisnu tergoncang. Tak dikehendaki sendiri wajahnya menjadi pucat. Aruji sedana dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedang sikap gadis itu masih meragukan. Apakah dia kawan atau lawan? Lingga Wisnu belum dapat menentukan. Apa yang harus dilakukannya? Selagi berada dalam kebingungan, ia mendengar bunyi derap kaki kuda di antara salak anjang yang kacau-balau. Derap kaki kuda itu terdengar cepat luar biasa.

Buru-buru Lingga Wisnu membungkuk dan menyeret Aruji kebawah bangku panjang. Ia sendiri lantas melompat kedapur mencari golok. Tetapi karena gelap- gulita, golok itu tak mudah dicarinya. Bahkan untuk memperoleh sebilah pisau dapurpun tidak dapat.

"Apakah engkau suruhan keluarga Sarapada?" terdengar gadis dusun itu membentak. "Apa perlu engkau datang ditengah malam buta begini?" Mendengar bentakan gadis itu yang sangat angker, hati Lingga Wisnu menjadi lega. Sekarang, sedikitnya mengetahui bahwa penunggang kuda itu bukan kaw an si gadis. Dengan cepat ia menerobos keluar dan masuk

kedalam pekarangan belakang. Setelah mencari batu-batu kecil, ia. segera melompat keatas pohon dan memanjatnya tinggi-tinggi .

Seperti kemarin malam, malam itu bulan muncul dilangit. Hanya kali ini sinarnya nampak suram. Dibawah sinar bulan ronang-remang ia mengamati penunggang kuda yang tiba-tiba berada didepan pintu. Dia seorang

laki-laki. Pakaiannya abu-abu. Mungkin warna abu-abu itu disebabkan oleh sinar bulan yang remang-remang. Ia diikut i belasan serigala yang selalu menyalak dan menjerit menyeramkan. Terang sekali binatang itu sedang kelaparan.

Sepintas lalu, orang itu lagi diubar binatang buas itu. Tetapi setelah diamati, ternyata sipenunggang kuda menyeret seekor kambing putih yang diikatkan pada tunggangannya. Karena terseret kuda yang berlari sangat cepat, kambing putih itu mengembik kesakitan.

Dan menyaksikan hal itu Lingga Wisnu heran bukan main. Apakah dia seorang pemburu yang lagi memberi umpan pada belasan serigala yang memburu dibelakangnya ? "Akh!" Lingga Wisnu tersadar. "Nampaknya orang itu sengaja hendak merusak kebun bunga ini! Kalau begitu tak dapat aku berpeluk tangan saja."

Segera ia mempersiapkan batu-batu yang. di- genggamnya. Akan tetapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terdengar suara erangan.

"Aduuuuh!"

Berbareng dengan suara mengaduh itu, sipenunggang kuda mengaburkan kudanya kearah utara dan kambing yang tadi diseretnya itu ditinggalkan ditengah-tengsh kebun. Keruan saja kambing putih itu lantas menjadi mangsa belasan serigala yang kelaparan. Dengan mengeram, menyalak dan menggerung, belasan serigala lapar itu menerkam dan merobek-robek perut kambing putih itu.

'Jahat benar orang tadi,' pikir Lingga Wisnu sambil menimpukkan dua butir batu. Oleh timpukan itu dua ekor anjing serigala roboh terguling. Sekali lagi Lingga Wisnu menyambilkan dua butir batu. Kali in i batu yang di sambit itu agak kecil. Yang satu mengenai perut serigala dan yang lain menghajar kaki depan serigala yang sedang merobek perut kambing. Meskipun tak sampai mati, kedua serigala itu lantas memekik kesakitan.

Kawanan binatang buas itu agaknya mengerti bahwa musuh mereka berada diatas pohon. Mereka mendongak dan menggeram sambil memperlihatkan taringnya. Pandang matanya berapi-api seperti bara api. Dan menyaksikan keganasan dan kegalakan kawanan binatang buas itu, tak terasa Lingga Wisnu jadi bergidik. Tanpa bersenjata ia merasa tak ungkulan melawan kawanan serigala ganas itu. Apalagi sesungguhnya tenaga yang diperoleh hanya untuk sementara saja.

Sekali lagi ia mengayunkan tangannya untuk menimpuk serigala jantan yang paling besar. Bagaikan kilat batunya menyamber tenggorokan serigala ganas itu. Terkena sambitannya, binatang itu terguling dengan mengiang. Kemudian kabur sekencang-kencangnya. Sedang serigala lain yang perutnya sudah kenyang lantas turut kabur. Kemudian serigala ketiga menyusul. Lantas yang berikut nya dan begitu seterusnya.

Dalam, sekejab mata saja mereka semua telah lenyap dari penglihatan. Akan tetapi kebun bunga itu sudah gugur hancur.

Lingga Wisnu segera turun dari pohonnya. Ia mendongkol dan mengutuk. Katanya berulang- kali :

"Sayang, sayang! Sungguh sayang!"

Betapa tidak? Jerih payah gadis dusun itu hilang musnah dalam beberapa saat saja. Pastilah gadis itu gusar bukan kepalang menyaksikan kebun bunganya hancur terinjak-injak kawanan serigala. Syukurlah kalau hanya bergusar saja. Kalau sampai turun semangat, pastilah ia tidak sudi lagi menanam bunga-bunga yang sangat berkhasiat itu.

Tetapi diluar dugaan, gadis itu sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang kerusakan kebunnya. Malahan ia tertawa sambil berkata :

"Adik, terima kasih atas bantuanmu tadi."

"Aku sungguh sangat malu," jawab Lingga Wisnu. "Aku sangat menyesal. Beradanya aku disini ternyata tiada gunanya. Seumpama aku ini seorang perkasa, semenjak tadi tentu telah kurobohkan penunggang kuda yang biadab itu. Jika dia dapat kurobohkan, tanaman bunga ini tentu dapat diselamatkan."

Gadis itu bersenyum manis. Berkata dengan suara tenang :

"Andaikata tidak dirusak oleh kawanan anjing liar itu, beberapa hari lagi bunga-bunga itupun akan layu sendiri."

Mendengar kata-kata gadis itu, Lingga Wisnu heran berbareng tercekat hatinya. Gadis itu seolah-olah mengerti segalanya. Keakhliannya melebihi gadis-gadis yang hidup dikota. Karena itu ia jadi tertarik hati. Dengan membungkuk hormat, Lingga Wisnu minta keterangan :

"Ayunda, budimu sangat besar terhadapku. Bolehkah aku mengetahui namamu?"

Wajah gadis itu lantas berubah menjadi angker.

Jawabnya :

"Orang memanggilku si Gawuk. Tetapi dihadapan orang lain, janganlah engkau sekali-kali memanggil Gawuk kepadaku!" Karena dia berbicara seperti kepada anggauta keluarganya sendiri, hati Lingga Wisnu menjadi girang dan bersyukur bukan main. Ia maju selangkah lagi. Bertanya :

"Kalau aku tidak boleh memanggilmu Gawuk, lantas aku harus memanggil bagaimana? Tak sudikah engkau memperkenalkan namamu sebenarnya?"

"Kau sangat baik, adik." ujar gadis itu dengan tersenyum manis. "Baiklah, karena sudah terlanjur, biarlah aku memperkenalkan namaku kepadamu. Nama lengkapku Palupi."

Orang Jawa sering memberi nama anaknya dengan suatu nama yang mengandung makna. Tetapi Lingga Wisnu lagi berumur belasan tahun. Tentu saja ia tidak mengetahui makna Palupi. Yang terasa dalam hatinya nama itu sangat nyaman dalam pendengaran dan perasaan. Ia makin yakin bahwa gadis dusun itu bukanlah seorang gadis sembarangan.

"Kalau begitu aku akan memanggil nama lengkap saja," kata Lingga Wisnu dengan tertawa.

Palupi membalas tertaw a pula. Menyahut : "Kau sungguh ramah."

Dan oleh kata-kata itu entah apa sebabnya, jantung Lingga Wisnu berdebar. Palupi bukan seorang gadis

cantik. Juga bukan gadis kota yang mengerti tentang kemajuan jaman. Namun demikian, lagu kata-kata dan suara tawanya sangat manis dan meresapkan hati. Kedua modal ini merupakan daya tarik luar biasa baginya.

Selagi Lingga Wisnu hendak membicarakan keadaan Aruji, Palupi sudah mendahului. Katanya dengan acuh tak acuh :

"Sebenarnya siapakah kalian berdua ini?"

"Aku sendiri bernama Lingga Wisnu. Dan Abangku itu bernama Aruji." jawab Lingga Wisnu dengan cepat.

"Oh, begitu? Keadaan Aruji sama sekali tidak berbahaya. Sekarang ingin aku menemui beberapa orang. Apakah engkau mau turut?" Sekali lagi Lingga Wisnu heran. Siapakah yang hendak dijumpainya pada larut malam begini? Meskipun ia ing in memperoleh keterangan, namun tak berani ia membuka mulut. Satu hal ia merasa pasti, bahwa tindakan Palupi tentu mempunyai maksud yang penting sekali. Maka tanpa berpikir panjang lagi ia menyahut :

"Baik. Aku ikut!"

"Tetapi sebelum berangkat, engkau harus berjanji t iga hal. Yang pertama engkau tak boleh berbicara kepada lain orang ..."

"Setuju ! " sahut Lingga Wisnu cepat. "Aku akan berlagak bisu."

"Itupun tak usah," ujar Palupi dengan tertaw a lebar. "Apakah engkau akan berlagak bisu pula terhadapku?

Engkau boleh berbicara secara wajar kepadaku. Hanya terhadap orang lain engkau kularang membuka mulut. Dan yang kedua: kau tak boleh bertempur serta tak boleh melepaskan senjata macam apapun juga. Juga engkau tidak boleh memukul orang. Pokoknya, semuanya tak boleh! Ketiga, kau tak boleh berpisah lebih tiga langkah dari sampingku!"

0ooo-dw-ooo0

6. Nyala Lentera Dimala m Hari

Lingga Wisnu merasa mendapat kepercayaan. Dengan sangat girang segera ia mengiakan. Ia yakin bahwa gadis itu akan membawanya kepada Ki Sarapada. Terus saja ia bertanya :

"Apakah kita berangkat sekarang juga?" "Sebentar! Kita harus membawa barang sedikit." ujar Palupi. Dan gadis itu lantas masuk kedaiam. Kira-kira setengah jam kemudian, ia keluar dengan membaw a dua keranjang bambu yang tertutup rapat, hingga tak dapat diketahui apa isinya.

"Biarlah aku yang memikulnya," kata Lingga Wisnu menyambut.

Gadis itu tersenyum, tetapi tidak menolak kehendak Lingga Wisnu. Ia meletakkan kedua keranjang beserta pikulannya keatas tanah. Lingga Wisnu sebenarnya masih termasuk kanak-kanak, w alaupun delapan tahun ikut ayah-bundanya hidup dari tempat ketempat, akan tetapi selama itu belum pernah ia memikul sesuatu. Hanya terdorong oleh rasa tata-santun belaka, ia menawarkan diri. Padahal tenaganya belum pulih seluruhnya. Ia tahu bahwa keadaan dirinya yang kini b isa menggerakkan tangan dan kaki, , semata-mata suatu keajaiban belaka. Bukankah Kyahi Basaman yang terkenal maha sakti menyatakan putus asa tentang keadaan dirinya? Begitulah ia mencoba mengangkat kedua keranjang bambu tersebut. Ia jadi sempoyongan tatkala mencoba memikulnya, karena berat sebelah. Yang sebelah seberat tujuh puluh kilo sedang yang lainnya ringan sekali. Ia heran. Akan tetapi t idak berkata sepatah katapun.

Melihat Lingga Wisnu sempoyongan, gadis itu lantas meraihnya. Katanya dengan tersenyum mengerti :

"Biarlah aku yang memikulnya. Kesehatanmu belum pulih seperti sediakala, bukan?"

Menghadapi kenyataan demikian, meskipun Lingga Wisnu ingin menyenangkan hati gadis itu, tak berani menolak. Ia menyerahkan keranjang dan pikulan itu kembali kepada pemiliknya.

Palupi mengunci pintu dari luar. Lingga Wisnu masih sempat menengok kearah Aruji yang terus tidur menggeros, sedang mulutnya masih menebarkan ruap arak. Kemudian ia berjalan mengikuti Palupi.

"Ayunda Palupi!" seru Lingga Wisnu. "Bolehkah aku menanyakan sesuatu hal kepadamu?"

"Boleh saja, asal aku dapat menjawabnya."

"Jikalau engkau tak dapat menjaw ab, didalam dunia ini tiada seorangpun yang dapat memberi jawaban." kata Lingga Wisnu lagi. "Kau sendiri tahu, bahwa abang Aruji tidak minum air setetespun. Dan juga tidak makan sebutir nasi pun. Tetapi mengapa ia sampai mabuk begitu rupa?"

Palupi tertaw a geli. Jawabnya:

"Dia mabuk, justru karena tak makan dan tak minum!"

Jawaban ini sangat diluar dugaan. Lingga Wisnu jadi heran, lalu katanya tak mengerti :

"Akh! Inilah benar-benar suatu kejadian yang sama sekali tak kumengerti. Abang Aruji seorang pejuang yang banyak pengalamannya. Ia berkepandaian tinggi pula. Bertahun-tahun lamanya ia berada didalam laskar perjuangan Raden Mas Said. Didalam segala hal ia cukup berw aspada dan berhati-hati. Sebaliknya aku, anak kemarin sore yang belum pandai beringus. Kepandaianku sangat dangkal. Apa sebab abang Aruji yang selalu berw aspada dan bersikap hati-hati justru ..." ia tak meneruskan kata-katanya. "Bicaralah terus terang!" kata Palupi. "Kau tentu ingin mengatakan bahwa ia roboh ditanganku meskipun telah bersikap waspada dan hati-hati, bukan? Apakah engkau mengira bahwa yang berhati-hati selalu selamat? Justeru orang seperti dirimulah yang jarang sekali mendapat celaka."

"kenapa begitu?" Lingga Wisnu semakin heran. "Karena engkau penurut. Disuruh memikul kotoran

binatang, engkau tak menolak. Disuruh makan, engkau makan dengan lahap. Selesai makan engkau beresi sendiri pula. Kau isi jambangan kosong meskipun tidak ada yang menyuruh. Kau ingin bantu pula memikul keranjang, meskipun tenagamu tidak mengijinkan." jawab Palupi dengan tertaw a lebar. "Terhadap bocah yang begitu penurut, masakan ada orang yang tega menurunkan tangan jahat kepadamu?"

"Oh, kalau begitu manusia hidup didunia sebaiknya menjadi seorang penurut." ujar Lingga Wisnu sambil tertaw a.

"Tetapi bagaimana caramu mencelakakan dia? Benar- benar luar biasa. Sampai sekarang aku belum bisa menduga."

Gadis itu tidak segera menjawab. Sejenak kemudian barulah ia berkata :

"Baiklah, biarlah rahasia in i kukatakan kepadamu. Apa engkau melihat kembang putih kecil yang berada di ruang tengah?"

Lingga Wisnu mengerinyitkan dahinya. Ia mengingat- ingat kembali keadaan ruang tengah di rumah Palupi. Memang, disamping meja makan terdapat sebuah meja kecil. Dan diatas meja kecil tersebut terdapat jambangan kembang dengan sekuntum kembang putih. Karena kembang itu tidak menyolok mata, ia menganggap hanya sebagai perhiasan belaka.

"Orang menamakan kembang itu, kembang layar mega!" kata Palupi. "Kembang itu dapat membikin mabuk orang. Karena baunya yang sangat harum. Barang siapa mengisap harum baunya, pasti akan roboh dengan tanda-tanda orang mabuk minuman keras. Aku telah mencampurkan obat pemunahnya didalam air teh dan nasi putih yang aku hidangkan untukmu berdua."

Mendengar keterangan Palupi, Lingga Wisnu kagum berbareng takut. Biasanya, seseorang yang hendak meracun, akan menaruh racunnya didalam minuman atau mengaduknya dalam makanan yang disajikan. Akan tetapi cara gadis itu diluar dugaan siapapun juga, sehingga Aruji yang senantiasa bersikap waspada, masih kena dirobohkan.

"Tetapi engkau tidak usah cemas, adik. Begitu pulang aku akan memberi obat pemunahnya." ujar Palupi dengan suara menghibur.

Mendengar perkataan Palupa, t iba-tiba timbullah suatu pikiran didalam hati Lingga Wisnu:

"Kalau begitu, kecuali pandai menggunakan racun, ia pandai pula mengobati orang yang keracunan. Apakah kesembuhanku dengan mendadak ini oleh pertolongannya pula? Jika benar demikian, maka tak usah lagi aku bersusah payah menemui Ki Sarapada." Memperoleh pikiran demikian, lantas saja ia bertanya mencoba : "Ayunda Palupi, dapatkah engkau menyembuhkan orang yang kena racun Pacarkeling?"

"Hmmm." dengus gadis itu. "Hal itu rasanya sulit kukatakan."

Mendengar jaw aban Palupi, Lingga Wisnu tak berani mendesak lagi. Maka benarlah prasarannya bahwa kesembuhannya ini hanya untuk sementara saja. Sambil berjalan mengikuti, ia kini memperhatikan hal-hal yang luar biasa baginya. Tubuh Palupi kurus kering. Meskipun demikian dengan langkah yang ringan sekali ia berjalan sambil memikul keranjangnya.

Sedangkan gerakan- gerakan tubuhnya bukan berdasarkan ilmu sakti.

Dengan sekejap mata saja mereka berdua telah melampaui tujuh kilometer lebih. Arah perjalanannya mengarah ke Timur dan bukan ke jurusan Mrepat Kepanasan. Mendadak saja suatu ingatan menusuk kedalam benak Lingga Wisnu. Lantas saja bocah itu bertanya :

"Ayunda Palupi, bolehkah aku menanyakan satu pertanyaan lagi? Tapi petang tatkala aku dan abang Aruji hendak ke Mrepat Kepanasan, engkau berkata bahwa lebih baik kami berdua mengarah ke Timur laut. Ternyata engkau menyesatkan perjalanan kami, sehingga kami harus berjalan me mutar. Artinya kami terpaksa melampaui jarak perjalanan duapuluh kilometer lebih jauh. Kenapa engkau berbuat begitu? Aku masih belum mengerti maksudmu."

Mendengar pertanyaan Lingga Wisnu, Palupi tertawa geli. Jawabnya :

"Sudahlah ! Janganlah engkau bertanya melit-melit. Kau ingin berkata: rumah Ki Sarapada letaknya di Barat daya, sedang kita berdua kini mengarah ke Timur. Bukankah perjalanan in i yang membuatmu bertanya demikian?"

Keadaan hati Lingga Wisnu kena tebak gadis itu. Dan muka Lingga Wisnu lantas saja bersemu merah. Untunglah pada saat itu malam hari sehingga perubahan air muka itu tak nampak si gadis. Sahutnya dengan suara perlahan :

"Benar. Engkau menebak tepat sekali ..."

"Jalan yang kita lalui ini bukan mengarah kepadepokan Ki Sarapada. Karena kitapun tidak bermaksud menemui Ki Sarapada." kata Palupi.

"Akh!"

"Apakah engkau tahu apa sebab siang tadi aku minta kepadamu menyiram tanaman bungaku?" Palupi memotong seruannya. "Sesungguhnya aku lagi menguji kepadamu. Pertama, ingin aku mengetahui nilai hatimu berdua. Kedua, aku sengaja memperlambat perjalanan kalian. Dengan sengaja pula aku menyesatkan kalian. Dengan mengarah ke timur-laut jarak perjalanan kalian menjadi bertambah duapuluh kilometer lebih. Dengan sengaja aku hendak memperlambat perjalanan kalian, agar kalian tiba d i Mrepat Kepanasan pada waktu malam hari."

"Kenapa begitu?" Lingga Wisnu minta keterangan. "Sebab pohon-pohon merah itulah! Pohon-pohon

merah itu yang memagari rumah Ki Sarapada kurang racunnya pada waktu malam hari. Dengan demikian, bunga biru yang kuberikan kepada kalian masih sanggup melawan."

Mendengar keterangan Palupi, bukan main kagum Lingga Wisnu. Sekarang ia merasa takluk berbareng terima kasih kepada gadis dusun itu. Ternyata Palupi bermaksud menolong dirinya dengan sesungguh hati. Kini hatinya yakin sepenuhnya, maka tanpa berkata lagi ia mengikuti terus perjalanan Palupi dengan hati mantap.

Setelah berjalan lima kilo meter lagi, mereka masuk kedalam hutan yang lebat. Tiba-tiba Palupi berkata :

"Nah, sekarang kita sudah sampai, tetapi mereka belum datang. Biarlah kita menunggu di sini. Maukah engkau menolong meletakkan keranjang ini dibawah pohon itu?" sambil berkata demikian ia menuding sebuah pohon besar. Lingga Wisnu lantas saja mengerjakan apa yang dipinta gadis itu.

Setelah Lingga Wisnu meletakkan keranjang dibawah pohon, Palupi menghampiri semak belukar yang berumput tinggi terpisah kira-kira lima belas langkah jauhnya. Kemudian berkata sambil memasuki belukar itu:

"Tolong bawakan keranjang yang satu ke mari."

Tanpa berkata sepatah katapun Lingga Wisnu membaw a keranjang lainnya ke dalam belukar, menyusul Palupi. Ia mendongak menatap udara. Dan mengamati bulan yang kini sudah doyong kebarat. Teranglah sudah, bahwa hari telah larut malam. Keadaan hutan itu sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah suara margasatwa dengan bunyi burung hantu sebagai selingan.

Kemudian Palupi memberi sebutir obat sebesar telur burung, sambil membisik :

"Kulum ini, tapi jangan kau telan!"

Tanpa ragu-ragu lagi Lingga Wisnu memasukkan obat itu ke dalam mulutnya. Rasanya sangat pahit.

Dengan menahan napas mereka menunggu. Hanya apa yang sedang ditunggu, Lingga Wisnu sama sekali tidak mengetahui dan tidak dapat menduga. Alangkah ajaib pengalamannya, selama berada dipinggang Gunung Merapi. Hanya dalam waktu satu hari satu malam saja ia memperoleh pengalaman luar biasa. Dalam kesunyian itu teringatlah ia kepada Sitaresmi. Tak terasa ia menghela napas. Katanya didalam hati :

'Aku mendaki gunung Merapi karena mengikuti abang Aruji. Dan sementara itu ia ikut eyang kembali ke Gunung Lawu. Akh. Pada saat ini, entah apa yang dilakukannya.'

Memperoleh pikiran demikian, tanpa disadari ia memasukkan tangannya kedalam saku, meraba raba saputangan yang bersulamkan bunga melati, pemberian Sitaresmi.

Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba Palupi menarik ujung baju Lingga Wisnu. Ia menuding kearah barat-laut. Serentak Lingga Wisnu berpaling kearah itu. Dikejauhan ia melihat sinar lentera. Aneh warna sinar lentera itu.

Biasanya sinar lentera berwarna kuning agak merah.

Tetapi kali ini tidak. Sinarnya hijau.

Lentera itu bergerak cepat sekali dan dalam sekejab saja telah berada belasan langkah di depannya. Oleh pantulan cahaya rembulan dan sinar lentera itu, Lingga Wisnu dapat melihat dengan jelas bahwa pembaw anya seorang wanita bongkok. Jalannya terpincang-pincang dan diikut i seorang laki-laki dibelakangnya. Dan melihat mereka, hati Lingga Wisnu memukul keras. Teringatlah dia, Mrepat Kepanasan terletak di barat-daya. Dan mereka berdua datang dari barat daya pu la. Maka kuat dugaannya, mereka ini suami isteri Ki Sarapada.

Oleh dugaan itu Lingga Wisnu berpaling kepada Palupi untuk memperoleh kayakinan. Akan tetapi dimalam hari tak dapat ia melihat kesan wajah Palupi dengan jelas. Apa yang dilihat hanya sepasang mata Palupi tiba-tiba nampak berkilat. Dengan penuh perhatian ia mengawasi kedatangan kedua orang itu. Terasa sekali hatinya menjadi tegang.

Menyaksikan hal itu, timbullah rasa kasatria dihati Lingga Wisnu. Meskipun hanya memiliki kepandaian yang dangkal, namun hatinya berkata :

'Jika Ki Sarapada sampai mengganggu ayunda Palupi, meskipun mati aku akan menolongnya.'

Kedua orang itu berjalan semakin dekat. Sekarang jelaslah walaupun wanita itu bercacad, namun paras wajahnya cantik. Tetapi laki-laki yang berada dibelakangnya beroman buruk dan agaknya bersifat ganas. Usia mereka sebaya, kira-kira ampatpuluh tahun.

Oleh pengalaman hidupnya, belum pernah bocah itu berdebar hatinya menghadapi segala hal yang mengancam dirinya. Akan tetapi menghadapi mereka berdua, entah apa sebabnya t iba-tiba hatinya berdebar- debar. Nalurinya berkata bahwa dia lagi menghadapi sepasang suami isteri yang aneh dan gerak-gerik mereka sukar diduga. Kurang lebih delapan langkah didepan persembunyian Palupi, tiba-tiba mereka berdua membelok ke kiri dan berjalan lagi belasan langkah jauhnya. Kemudian barulah mereka menghentikan langkah kaki mereka., Laki-laki yang berada di belakang wanita bongkok itu lantas berseru dengan suara nyaring:

"Kakang! Kakang Panjisangar ! menurut suratmu, kami suami-isteri pada malam hari ini harus datang kemari untuk berjumpa denganmu. Hayolah keluar!"

Seruan itu tak memperoleh jawaban. Karena itu beberapa saat kemudian wanita bongkok itu berseru nyaring pula :

"Kakang Sangar! Jika engkau tak sudi keluar, terpaksa kami berlaku kurang ajar terhadapmu. "

Juga kali ini tak mendapat jaw aban.

Mendengar seruan yang tak berjawab itu, hati Lingga Wisnu menjadi geli sendiri. Katanya di dalam hati:

'Nah, rasakan sekarang! Inilah yang dinamakan balas membalas. Tadi engkau tak melayani aku. Sekarang engkau tak digubris oleh orang yang kau panggil!' Mereka berdua menunggu kira-kira seperempat jam lagi. Wanita bongkok itu meraba sakunya, kemudian mengeluarkan seikat rumput yang segera dinyalakan dengan api lentera. Dalam sekejab mata saja, sekeliling tempat itu penuh dengan asap putih yang menebarkan bau wangi.

Teringat akan kata-kata, terpaksalah kami berkurang ajar, Lingga Wisnu segera sadar bahwa asap itu tentulah asap beracun. Iapun mengerti pula, apabila tidak memperoleh obat peminah racun dari Palupi, tentulah ia kena akibatnya dan ia mengerling kepada Palupi yang kebetulan sedang mengerling pula kepadanya. Lingga Wisnu sangat berterima kasih kepadanya. Ia bersenyum dan memanggut beberapa kali. Sebaliknya pandang mata gadis itu berkesan mengandung rasa cemas.

Makin lama asap itu makin tebal. Sekonyong konyong terdengarlah seseorang bersin dari arah bawah pohon besar tempat menaruh keranjang. Dan mendengar bersin itu, hati Lingga Wisnu terkesiap. Barulah ia tahu, bahwa isi keranjang tersebut orang hidup. Bahw asanya ia tak mengerti soal racun adalah wajar. Akan tetapi bahwasanya ia tetap tak mengerti bahwa dalam keranjang itu tersekap seseorang, benar-benar mengherankan dirinya sendiri.

Sekian lamanya ia berjalan mengikuti gadis itu. Mengapa ia tak mendengar pernapasannya sama sekali.

Sementara itu orang yang berada di dalam keranjang bersin beberapa kali lagi. Kemudian tutup keranjang itu terbuka dan keluarlah orang itu. Ternyata dia seorang laki-laki mengenakan jubah panjang serta berikat kepala. Umurnya kurang-lebih limapuluh tahun. DAn dialah orang tua yang terlihat oleh Aruji dan Lingga Wisnu sedang memacul ditengah tegalan.

Begitu kakinya menginjak bumi, dengan pandang melotot ia menatap suami-isteri itu. Bentaknya mengguruh :

"Bagus. Kiranya kau Janggel dan Poha. Telah lama kita tak bertemu. Kiranya tanganmu makin lama makin kejam!"

Suami isteri itu mengawasi si orang tua yang berpakaian tak rapih dan berikat kepala miring.

"Kakang Sanggar! Kau menuduh kami sangat kejam," kata Janggel dengan suara dingin. "Siapa tahu, engkau justru bersembunyi di dalam keranjang. Kakang Panji Sanggar ..."

Baru saja ia berkata demikian, laki-laki yang disebut Panji Sangar mengendus-endus udara beberapa kali.

Kemudian dengan wajah berubah ia buru-buru mengeluarkan sebutir obat ramuan yang lalu dikulumnya. Poha, wanita bongkok itu lalu memadamkan rumput beracunnya yang lantas dimasukkan ke dalam sakunya kembali. Katanya :

"Sayang tak ... tak keburu lagi. Sudah terlambat ..."

Wajah Panji sangar itu lantas nampak pucat bagaikan mayat. Tiba-tiba ia lalu duduk ditanah dan beberapa saat berselang, barulah ia berkata :

"Baiklah, aku kalah. Mulai sekarang tak lagi aku membuntuti kalian berdua ..." Janggel, laki-laki beroman sangat jelek itu segera mengeluarkan sebuah botol kecil berw arna merah. Ia mengangsurkan botol kecil itu seraya katanya :

"Inilah obat pemunah racun rumput Badui, anakku telah kau celakakan dengan racunmu. Maka dari itu kalau engkau menghendaki bebas dari akibat racunku, berilah obat pemunah racunmu pula! Tegasnya, marilah kita saling menukar obat pemunah!"

"Fitnah!" bentak Panji sangar. "Kau maksudkan aku meracuni anakmu Sukasah? Sudah lima enambelas tahun aku tak bertemu dengan dia. Jangan memfitnah sambarangan!"

Wanita bongkok itu terbatuk-batuk. Berkata dengan suara gusar :

"Jadi engkau meminta kami menemui hanya untuk mendengarkan ocehanmu itu saja?" Setelah berkata demikian, ia berpaling kepada suaminya. Berkata lagi :

"Janggel! Hayolah kita pulang saja!" Berbareng dengan kata-katanya ia memutar badan dan segera hendak pergi.

Akan tetapi Janggel tidak bergerak dari tempatnya. Ia masih nampak bersangsi. Katanya tak jelas :

"Tapi Sukasah. Sukasah bagaimana?"

Wanita bongkok   itu   menghentikan   langkahnya.

Menengok sambil berkata menyahut :

"Kakang Panjisangar sangat membenci kita berdua. Dia agaknya lebih suka mati dari pada mengampuni Sukasah. Apakah engkau belum sadar juga akan hal itu?" Masih juga Janggel belum bergerak dari tempatnya. Ia menatap Panjisanger beberapa saat lamanya. Kemudian berkata setengah membujuk:

"Kakang Panjisangar! Duapuluh tahun lamanya kita saling mendendam. Apakah sekarang belum tiba waktunya untuk melenyapkan permusuhan ini ? Aku ingin mengajukan sebuah usul kepadamu. Marilah kita saling menukar obat pemunah dan mengakhiri permusuhan kita."

Kata-katanya itu diucapkan dengan penuh perasaan, sehingga rasa hati Panjisangar terpengaruh juga. Katanya dengan suara sabar:

"Roha, adikku. Sebenarnya Sukasah kena racun apakah?"

Mendengar ucapannya, Roha tertawa dingin. Sahutnya mendongkol :

"Kakang Panji sangar ! Sampai pada saat ini engkau masih berpura-pura saja. Baiklah dengan ini kami berdua menghaturkan selamat atas berhasilnya kakang menanam bunga Badjrarinonce."

"Siapa yang menanam Badjrarinonce?" teriak Panji sangar tersinggung. Tiba-tiba meledak :

"Apakah Sukasah kena racun Badjrarinonce? Kalau begitu bukan aku ! Tentu saja bukan aku! Benar, sungguh mati bukan aku!" Ia berteriak dengan suara tinggi.

Dan wajahnya mendadak bertambah pucat. Jelaslah sudah, ia terserang rasa takut. Akan tetapi Roha seolah- olah tidak menghiraukan keadaan dirinya. Katanya mengejek :

"Sudahlah, kakang Panji sangar! Tak usahlah kita membicarakan hal itu lagi! Hanya satu hal yang ingin kutanyakan padamu: untuk apa engkau minta kami datang ke mari?"

"Aku yang memint a kalian datang kemari?" teriak Panjisangar keheranan. "Tidak! Sama sekali aku tak pernah memint amu datang ke mari. Tuduhanmu ini benar-benar tak kumengerti! Bahkan kalian berdualah yang membaw aku kemari. Apa sebab engkau malah memutar balikkan kenyataan ini?"

Tadinya ia menggelengkan kepalanya untuk mengesahkan bahwa dalam hal in i, bukan dia yang meminta mereka berdua datang ke tempat itu. Setelah selesai berbicara, tiba-tiba ia menjadi gusar dan menendang keranjang bambu itu yang lantas saja terpental beberapa langkah jauhnya.

"Huh!" dengus Roha dengan suara bersakit-hati. "Apakah surat ini bukan kau tulis dengan tanganmu sendiri? Ah kakang Panjisangar, mataku belum lamur! Aku masih cukup aw as untuk mengenal kembali gaya tulisanmu!"

Setelah berkata demikian, ia meraba sakunya dan mengeluarkan sehelai kertas yang diangsurkannya kepada Panjisangar. Panjisangar segera mengulurkan tangannya hendak menyambut kertas itu, tiba-tiba suatu ingatan menyadarkannya. Segera ia mengibas dengan telapakan tangannya. Dan kertas itu terpental tinggi melayang diudara. Hampir berbareng dengan itu, jari- jarinya menyentil sebatang paku. Dan paku itu menyambar serta memaku kertas itu pada sebatang pohon.

Menyaksikan adegan itu, hati Lingga Wisnu tergoncang. Katanya di dalam hati :

'Sungguh berbahaya! Bermusuhan dengan mereka ini. Setiap detik kita harus berhati-hati dan berw aspada. Orang tua itu tidak berani menyambut kertas perberian Roha, ia khaw atir kalau ada ramuan racunnya.'

Roha kemudian mengangkat lenteranya tinggi tinggi, dan diatas kertas terlihat beberapa deret huruf-huruf besar yang berbunyi :

Dua saudaraku seperguruan, Janggel dan Poha!

Haraplah engkau datang di hutan Pengalapan setelah jam tiga malam. Aku ingin mendamaikan suatu perkara yang maha penting.

Huruf-huruf itu berbentuk panjang-kurus sedikit melengkung, sehingga mirip perawakan tubuh Pan- jisangar. Dan melihat huruf-huruf itu, Panjisangar berteriak heran :

"Akh!"

"He-he-he. Kau kenapa?" ejek Janggel dengan suara mendongkol.

"Itu bukan tulisanku!" seru Panjisangar.

Kedua suami-isteri itu saling memandang dan mencibirkan bibirnya. Berkata dengan berbareng :

"Kau bilang apa?"

"Heran, sungguh heran!" kata Panjisangar. "Bentuk huruf-hurufnya memang mirip dengan tulisanku. Akan tetapi ..." Panjisangar mengusap jenggotnya dan tiba- tiba saja berteriak dengan suara kalap. "Binatang! Sama sekali tak kuduga bahwa sampai pada saat ini, kalian masih main f itnah saja kepadaku. Dengan maksud apa kalian memasukkan aku ke dalam keranjang dan membaw a kemari? Aku sudah bersumpah, bahwa selama hidupku tak sudi aku melihat moncongmu berdua!"

"Sudahlah, jangan berpura-pura!" bentak Roha si wanita bongkok itu. "Sukasah kena racun Badjrarinonce. Katakan saja, kau mau memberikan obat pemunahnya atau tidak?"

"Kau tahu dengan pasti bahwa, anakmu Sukasah kena bunga Badjrarinonce?" kata Panjisangar dengan suara tak jelas.

Tatkala mengucapkan Badjrarinonce, suaranya bergemetaran seperti ketakutan. Lambat laun Lingga Wisnu mengerti duduk persoalannya. Ia mendoga bahwa seorang berkepandaian t inggi memegang peranan dalam peristiw a ini. Tetapi siapakah orang itu? Tanpa di kehendaki sendiri ia mengerling kepada Palupi. Mungkinkah gadis kurus kering ini yang memerankan mereka bertiga?

Selagi Lingga Wisnu merasa bimbang, mendadak terdengar suara bentakan :

"Uuh!"

Suara itu terdengar aneh dan menyeramkan hati. Dengan meremang Lingga Wisnu menoleh. Ternyata suara tersebut meloncat dari mulut Panjisangar dan kedua suami isteri Jenggel Roha. Ketiganya mendorongkan kedua belah tangannya masing-masing kedepan. Dalam sekejapan saja malam yang sunyi menjadi makin hening. Tidak ada sesuatu yang terdengar, kecuali suara: UUhh-uuhh-uuhh-uuhh yang tiada hentinya.

Mendadak saja suara uh-uh itu berhenti. Kemudian berkejaplah secercah sinar dingin dan lentera hijau itu padam seketika. Lingga Wisnu tahu, bahwa padamnya lentera itu adalah akibat paku Panji sanger yang dilepaskan dengan mendadak. Beberapa saat kemudian terdengar suara meremang. Itulah suara erangan si Jenggel laki-laki bermuka jelek. Rupanya ia kena senjata paku Panjisangar. Alangkah menyeramkan suasana pada malam hari itu. Udara dan bumi seolah-olah terancam suatu bahaya maut. Dan menyaksikan hal itu, darah kasatria Lingga Wisnu meluap dengan tak dikehendaki sendiri. Ia memegang tangan Palupi dan ditariknya ke belakang. Ia sendiri lantas bersedia berkorban untuk melindungi jiwa gadis kurus kering itu.

Begitu suara rint ih dan erangan lenyap,keadaan sekitar hutan itu lantas menjadi sunyi-senap kembali. Yang terdengar hanyalah bunyi margasatwa dan burung- burung hantu dikejauhan. Tiba-tiba terasa ada tangan kecil halus memegang tangan Lingga Wisnu. Dan bocah itu terkejut sekali. Tangan anak kecil yang minta perlindungan. Tadi ia menduga bahwa yang memerankan mereka bertiga adalah Palup i. Akan tetapi setelah Palupi memegang tangannya, tahulah dia bahwa gadis itupun berada dalam ketakutan.

Di tengah kesunyian itu, mendadak muncullah dua gulung asap. Yang satu berasap putih dan yang lain berasap abu-abu. Seperti dua ekor binatang ular, kedua gumpalan asap itu saling menyambar. Munculnya kedua gumpalan asap itu tersusul suara orang seperti meniup api.

Lingga Wisnu membuka matanya lebar-lebar untuk memperoleh penglihatan yang lebih jelas lagi. Samar- samar ia melihat dua sinar api berada disebelah kiri dan kanan. Di belakang sinar api duduk Panjisangar sedang di belakang sinar api yang lain, Roha berjongkok dan membungkukkan badannya ketanah. Ternyata mereka berdua sedang berusaha meniup titik api yang seger meruapkan asap. Tahulah Lingga Wisnu kini bahwa mereka berdua tengah menggunakan senjata asap beracun untuk merobohkan.

Kira-kira seperempat jam kemudian, sekitar hutan tersebut sudah penuh dengan asap beracun. Lingga Wisnu menekap pergelangan tangan Palupi erat-erat. Dan tangan Palupi terasa bergemetaran. Mendadak dari sebuah pohon terdengar suara aneh. Cepat Lingga Wisnu berpaling dan mengaw asi pohon itu. Itulah pohon tempat menancap kertas Roha yang terpantek paku beracun Panjisangar. Ia terkesiap karena kertas itu mendadak saja menyinarkan cahaya terang. Dan dengan pertolongan sinar tersebut, kelihatanlah beberapa deretan huruf. Melihat hal itu Panjisangar dan Roha berpaling berbareng. Dengan sendirinya mereka berhenti meniup api beracun. Dan dengan terbengong mengamati huruf-huruf yang mendadak muncul dengan tegar. Hampir berbareng mereka membaca :

Surat ini kualamatkan kepada ketiga muridku: Panjisangar, Janggel dan Roha

Dengan melupakan ikatan rasa cinta kasih antara sesama saudara seperguruan, kamu bertiga saling mencelakakan. Peristiw a ini benar-benar sangat menyedihkan hatiku. Itulah sebabnya mulai saat ini, aku mengharap dengan sangat agar kalian bertiga cepat- cepat memperbaiki pekerti yang sesat. Dan hendaklah kalian bertiga menuntut penghidupan yang sesuai dengan cita-citaku. Segala sesuatu mengenai kepulanganku ke alam baka, kamu bertiga bisa mengetahui dari muridku: Palupi. Inilah pesanku yang terakhir.

Gurumu:

Resi NGESTI TUNGGAL.

Setelah membaca bunyi surat itu Panjisangar dan Roha berseru kaget. Dengan serentak mereka berseru berbareng :

"Apakah guru sudah wafat? Palupi ! Dimana kau?"

Perlahan-lahan Palupi menarik tangannya dari genggaman Lingga Wisnu. Ia menyalakan sebatang lilin. Kemudian berjalan dengan tenang menghampiri mereka bertiga.

Melihat Palupi muncul, Panji sangar dan Roha berubah wajahnya. Dengan serentak mereka membentak :

"Adik! Apakah engkau menyimpan kitab Pangusadan? Ya, pastilah himpunan ilmu ketabiban guru diwariskan kepadamu. Sekarang dimana kau simpan?"

"Kang mas Panjisangar dan ayunda Roha," kata Palupi dengan sabar. "Kamu berdua benar benar tidak mempunyai perasaan. Nilai budi kamu berdua sungguh mengecewakan guru. Dengan susah payah almarhum guru mengasuh, meraw at dan mendidikmu. Budi sedemikian besarnya, bagaimana kalian hendak membalasnya? Sebaliknya, kalian tidak pernah

memperhatikan kesejahteraan guru. Bahkan mati-

hidupnya gurupun luput dari perhatian kalian. Yang kalian ingat hanya buku warisannya belaka. Benar-benar mengecewakan. Kangmas Janggel, bagaimana menurut pendapat mu?"

Janggel yang rebah ditanah akibat paku beracun Panjisangar menegakkan kepalanya dan berteriak dengan suara gusar :

"Janganlah engkau mengoceh dan berkotbah seperti gurubesar. Hayo kau perlihatkanlah kitab warisan itu secepat mungkin kepada kami! Bukankah Sukasah engkau yang melukai? Ya, ya tak bisa salah lagi. Semua peristiw a yang terjadi pada malam in i, tentu hasil pekerjaanmu pula!"

Dengan menutup mulut, Palupi menjiratkan pandang kepada ketiga kakak seperguruannya.

"Benar-benar guru pilih kasih!" teriak Panjisangar dengan hati dengki. "Sudah pasti bahwa guru menyerahkan kitab sakti tersebut kepadanya."

"Adik, coba perlihatkan kitab sakti Pangusadan guru," bujuk Roha dengan suara halus, dan menambahkan lagi: "Marilah kita beramai-ramai mempelajarinya."

Dengan pandang mata tajam, Palupi menatap mereka bertiga. Akhirnya berkata :

"Benar. Memang benar garu mewariskan kitab saktinya kepadaku." Setelah berkata demikian, ia segera mengangsurkan selembar kertas kepada Roha. Mereka bertiga jadi kecewa. Tadinya mereka mengira Palupi hendak memperlihatkan buku warisan gurunya. Tak tahunya, yang diperlihatkannya hanya selembar kertas dan diangsurkan kepada Roha. Tatkala Roha hendak menerimanya, tiba-tiba Janggel berteriak memperingatkan :

"Awaaas!"

Dan oleh peringatan itu, sadarlah Roha, akan kesemberonoannya. Dengan cepat ia melompat mundur sambil menunjuk kearah pohon.

Menyaksikan pekerti ketiga kakak seperguruannya, Palupi menghela napas. Dengan berdiam diri ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari bahan perak. Ia menusuk kertas itu. Dan dengan sekali mengayun tangannya, tertancap pada pohon.

Lingga Wisnu kagum menyaksikan timpukan itu.

Katanya dalam hati:

'Benar-benar tak terduga, bahwa gadis dusun yang kurus kering in i mempunyai kepandaian tinggi.' Ia ikut memperhatikan kertas yang tertancap pada pohon itu. Dan dengan bantuan sinar lilin Palupi, mereka semua dapat membaca tulisannya dengan jelas. Bunyinya begini:

"Surat pusaka ini kutulis untuk muridku: Palupi. " Anakku-

Setelah aku meninggal dunia engkau boleh menceritakan semua peristiw a yang terjadi kepada ketiga kakak seperguruanmu. Engkau kuijinkan memperlihatkan kitab himpunanku kepada salah seorangnya,yang benar- benar memperlihatkan rasa cinta kasihnya kepadaku. Siapa saja diantara mereka bertiga yang tidak memperlihatkan rasa duka-cita dan rasa kasih-sayang kepadaku sebagai murid maka perhubungan diantara guru dan murid terputuslah. Inilah pesanku kepadamu.

Surat terakhir dari gurumu :

Resi Ngesti Tunggal.

Dua kali sudah Lingga Wisnu membaca nama Ngesti Tunggal. Sesungguhnya siapakah yang disebut Resi Ngesti Tunggal itu? Apakah dia Pane mbahan Bondan Sejiw an, cikal-bakal aliran Ngesti Tunggal? Pada saat itu dapat ia memperoleh keterangan. Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah memperhatikan mereka berempat.

Demikianlah, setelah membaca surat wasiat itu, Panjisangar, Janggel dan Roha saling memandang dengan mulut ternganga. Tak dapat mereka menginkari bahwa sepak terjang mereka tadi benar-benar keterlaluan dan tidak pantas sebagai murid terhadap gurunya. Betapa tidak? Setelah mengetahui gurunya wafat, sedikitpun mereka tidak mengatakan kata-kata dukacita. Bahkan mereka hanya menanyakan kitab warisannya. Untuk beberapa saat lamanya mereka termenung seperti kehilangan diri. Tiba-tiba seperti saling berjanji, mereka berteriak dan menerjang dengan serentak.

"Ayunda Palupi, aw as!" seru Lingga Wisnu sambil melompat dari persembunyiannya.

Pada saat itu kedua tangan Roha menyambar muka Palupi. Menyaksikan ancaman bahaya itu, kembali lagi Lingga Wisnu berteriak memperingatkan : "Ayunda Palupi, awas!" Dan cepat bagaikan kilat ia menangkis dengan sebelah tangannya: Plaak!

Seperti diketahui, Lingga Wisnu mewarisi ilmu sakti Panembahan Larasmojo, kakeknya sendiri. Ilmu sakti Panembahan Larasmojo yang diwariskan kepada anak perempuannya, Larasati dan kemudian diajarkan sejurus dua jurus kepada Lingga Wisnu, pernah mengejutkan Kyahi Basaman. Sebab cara mengatur tata pernapasan dan tata peredaran darah sangat bertentangan dengan ajaran aliran Aristi. Apa yang diw arisi Lingga Wisnu itu sebenarnya termasuk golongan ilmu sakti yang luar biasa dahsyatnya. Akan tetapi sangat memakan tenaga, sehingga aliran itu merupakan aliran sesat. Seseorang yang dapat mewarisi ilmu sakti Panembahan Larasmojo, akan menjadi orang yang mempunyai tenaga sehebat rasaksa. Karena itu Lingga Wisnu meskipun berumur belasan tahun, sudah memiliki pukulan pukulan sakti yang hebat pula dayanya. Maka begitu kena tangkisan tangan Lingga Wisnu, Roha terpental dengan menjerit keras.

Begitu berhasil, Lingga Wisnu membalikkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangan Janggel. Kemudian dengan menggunakan pukulan ilmu sakti warisan kakeknya, ia mendorong dengan meminjam tenaga lawan. Tubuh Janggel tinggi besar. Akan tetapi kena pukulan sakti warisan Panembahan Larasmojo, lantas saja terpental tujuh langkah lebih dan roboh terguling di atas tanah. Maka tahulah Lingga Wisnu kini, bahwa kedua suami isteri itu memang ahli dalam meng- gunakan racun, akan tetapi dalam hal tata berkelahi mereka tidak mempunyai kepandaian yang berarti. Dengan hati mantap, ia kemudian memutar badannya menghadapi Panjisangar. Akan tetapi belum lagi ia bergerak, mendadak saja orang itu bergoyang-goyang tubuhnya, kemudian roboh sendiri. Aneh sekali, begitu roboh badannya lantas saja tak bergerak sama sekali.

"Adik!" kata Roha dengan meringis menahan rasa nyeri. "Benar-benar hebat kawanmu ini. Dia masih kanak-kanak yang belum pandai beringus, akan tetapi pukulannya bukan main hebatnya. Siapa dia?"

"Namaku Lingga Wisnu!" sahut Lingga Wisnu cepat dengan suara nyaring, mendahului Palupi. "Jika kamu suami isteri merasa penasaran, carilah aku saja."

Sebenarnya Lingga Wisnu hanya menirukan cara para pendekar menantang lawannya. Sama sekali ia tidak memikirkan akibatnya dikemudian hari. Sebaliknya, Palupi lantas saja membentak dengan suara penuh sesal:

"Sudah! Mengapa engkau usilan?" sambil berkata demikian, gadis itu membanting banting kakinya.

Heran dan terkejut Lingga Wisnu menyaksikan pekerti Palupi, sehingga ia tergugu. Meskipun cerdas, pada saat itu tak dapat ia menebak pekerti Palupi yang membanting-banting kaki.

Dalam pada itu, Janggel dan Roha sudah dapat bangkit kembali. Dengan pandang berkilat-kilat, mereka menatap wajah Lingga Wisnu. Kemudian memutar tubuh dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah panjang.

Dengan membungkam mulut, Palupi meniup lilinnya. Lalu dimasukkan kembali ke dalam sakunya. Pada saat itu, Lingga Wisnu minta keterangan kepadanya. Katanya: "Ayunda Palupi! Kenapa Panjisangar roboh sendiri?" Palupi menggerendeng. Ia tak segera menjawab.

Hanya berkali-kali ia mendengus. Lingga Wisnu hatinya menjadi tak enak sendiri. Beberapa waktu kemudian, ia

berkata dengan perlahan:

"Ayunda Palupi, engkau tak menjawab pertanyaanku. Mengapa? Apakah ayunda tidak senang lagi kepadaku?"

Mendengar ujar Lingga Wisnu, Palupi mengangkat kepalanya. Dengan suara menyesal ia me nyahut :

"Mengapa engkau tidak menetapi janji? Bukankah engkau telah berjanji tiga hal kepadaku sebelum ikut kemari? Kenapa engkau langgar semuanya?"

Diingatkan tentang janjinya, Lingga Wisnu terkejut. Benar! Ia melanggar semua janjinya. Pertama, ia tak boleh berbicara. Akan tetapi nyatanya ia berbicara juga. Kedua, ia tak boleh bertempur atau melepaskan jenjata rahasia apapun atau melukai siapapun. Juga janji yang kedua ini dilanggar pula. Dan ketiga, ia tak boleh pisah lebih tiga langkah dari Palupi. Nyatanya karena bertempur, ia tidak hanya berpisah tiga langkah saja, tetapi malahan lebih sepuluh langkah jauhnya. Itulah sebabnya Lingga Wisnu menjadi tertegun. Dengan perasaan malu, ia berkata memohon belas kasihan :

"Ayunda Palupi, benar. Aku melanggar semua janjiku. Maukah engkau memaafkan kesalahanku ini? Karena melihat engkau dalam bahaya semata-mata, hatiku tak tahan lagi. Aku takut, engkau akan kena dilukakan mereka. Karena di dalam diriku in i telah penuh racun, mati dan hidup belum memperoleh kepastian, lebih baik aku yang menerima pukulan mereka dari pada ayunda. Dengan begitu, engkau memperoleh kesempatan pula untuk melarikan diri. Tetapi agaknya aku telah salah terhadap ayunda. Karena itu maafkan semua kecerobohanku ini."

"Hmm!" dengus Palupi, tetapi kali ini ia tertaw a. "Kalau begitu, semua yang kau lakukan tadi semata-mata karena engkau mence maskan diriku. Pandai benar engkau mencari-cari alasan. Kau yang salah, akan tetapi akibatnya nanti kau bebankan di atas pundakku. Kau tak percaya? Coba jawab pertanyaanku, apa sebab engkau menyebutkan namamu kepada mereka? Tentu saja mereka sangat dendam kepadamu. Tak mungkin mereka melupakan dendam ini. Pada suatu hari mereka pasti akan mencarimu. Dalam hal berkelahi, mereka tidak akan menang. Tetapi dalam menggunakan racun, apa engkau bisa menjaga diri? Karena itu, mulai sekarang hendaklah engkau selalu waspada dan berhati-hati!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba sikap Palupi menjadi lemah lembut. Dan suaranya yang paling akhir diucapkan dengan penuh kecemasan atas keselamatan Lingga Wisnu.

Mendengar keterangan Palupi, entah apa sebabnya bulu rama Lingga Wisnu terbangun serentak. Akan tetapi dia anak seorang pendekar berjiwa kasatria. Lantas saja ia dapat menetapkan hatinya. Dan pada saat itu, Palupi menegas lagi :

"Kenapa engkau tadi menyebutkan namamu kepada mereka?"

Lingga Wisnu menjawab pertanyaan Palupi dengan tertaw a lebar. Palupi kemudian berkata lagi : "Akh, adik yang baik! Rupanya engkau tidak juga menyadari ancaman bahaya dikemudian hari. Sebaliknya engkau bersikap seperti seorang pahlawan hendak melindungi diriku. Kenapa engkau begitu baik kepadaku?"

Ucapan Palupi yang terakhir ini dinyatakan dengan penuh perasaan, sehingga hati Lingga Wisnu terpengaruh karenanya. Halus budi pekerti gadis dusun ini, p ikirnya. Oleh pikiran itu, ia menyahut dengan penuh terima kasih:

"Ayunda, bukan aku yang memperhatikan keselamatanmu. Tetapi sebaliknya, engkaulah yang sangat memperhatikan keselamatanku, sehingga siap melindungiku semenjak tadi." Ia sebentar menunda untuk mengesankan kata-katanya itu. Kemudian melanjutkan: "Berkat perlindunganmu, aku lolos dari bahaya. Ayah-bunda selalu berkata kepadaku, bahwa kebajikan orang hidup ini harus baik kepada orang yang berbuat kebaikan kepada kita. Karena itu sudah wajar pula, kalau aku memandangmu sebagai sahabat sejati."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, Palupi nampak girang bukan main. Katanya menegas :

"Benarkah engkau sudi menganggapku sebagai sahabatmu?" Ia lalu tertaw a manis. Manis sekali. Meneruskan:

"Kalau begitu, biarlah aku menolong selembar jiw amu terlebih dahulu ..."

"Apa?" Lingga Wisnu heran.

"Coba nyalakan dulu lentera ayunda Roha." perint ah Palupi. Kemudian ia menebarkan pandangnya sambil bertanya: "Haii Mana lentera tadi?" Ia membungkuk mencari-cari lentera Roha yang ketinggalan. Tetapi karena gelap, tak dapat ia menemukannya.

"Bukankah dalam sakumu masih ada lilin?" Lingga Wisnu mengingatkan.

"Kau mau mati?" kata Palupi dengan tertaw a, serta masih tetap membungkuk mencari lenteranya Roha. Berkata meneruskan: "Lilin itu kubuat dari bahan kembang Bandjrarinonce. Haai Ee, inilah dia !" Oleh ketekunannya, akhirnya ia dapat menemukan juga lentera itu yang segera dinyalakan.

Sesudah mendengar pembicaraan antara suami isteri Janggel-Roha, dan Panjisangar, Lingga Wisnu tahu bahwa bunga Badjrarinonce pastilah merupakan bunga beracun yang sangat dahsyat. Pada saat itu oleh cahaya lentera, Lingga Wisnu melihat Panjisangar masih menggeletak di atas tanah seperti mayat. Dan melihat keadaan Panjisangar, tiba-tiba Lingga Wisnu jadi mengerti sebab-musababnya. Terus saja ia berseru tertahan :

"Akh! Sekarang barulah aku mengerti. Jika aku tadi tidak semberono menerjang keluar tak keruan macam, pastilah suami-isteri Janggel dan Roha akan dapat kau taklukkan pula."

Palupi tersenyum, agaknya ia puas mendengar kata- kata Lingga Wisnu. Katanya :

"Tetapi kelakuanmu tadi karena terdorong oleh maksud yang sangat baik. Adik yang baik, biar bagaimanapun juga aku merasa berhutang budi kepadamu." Lingga Wisnu menatap gadis dusun yang bertubuh kurus-kering itu dengan perasaan kagum berbareng malu.

Pikirnya didalam hati :

'Umurnya paling banyak terpaut lima tahun denganku. Akan tetapi otaknya yang penuh tipu-tipu daya, seratus kali lipat dari pada aku. Kukira aku sudah berotak lumayan, tak tahunya dia jauh melebihi aku.'

Walaupun merasa tidak berarti apabila dibandingkan dengan kecerdasan gadis itu, tetapi sesungguhnya Lingga Wisnu sendiri memiliki otak yang cemerlang pula. Dengan sekali melihat ia dapat menebak sebab-sebab Panji sangar jatuh tak berkutik di atas tanah. Hal itu disebabkan karena sesungguhnya lilin yang dinyalakan Palupi mengandung racun yang hebat. Asapnya tidak berbau dan tidak berw arna. Hal itu membuktikan betapa pandai Palupi mengelabui orang. Jangan lagi manusia biasa. Sedangkan suami-isteri Roha dan Janggel serta Panjisangar yang terkenal sebagai ahli racun, masih dapat diingusi terang-terangan. Dengan demikian, apabila Lingga Wisnu tidak semberono, dalam waktu yang cepat suami-isteri itu beserta Panjisangar akan roboh tak berkutik dengan sendirinya. Akan tetapi sebelum suami-isteri Jenggel dan Roha dirobohkan dengan hawa racun itu, mereka tadi sudah menyerang dengan pukulan-pukulan kilat yang sangat hebat. Maka kemungkinan besar sebelum mereka roboh, Palupi pun akan kena malapetaka terlebih dahulu. Oleh pertimbangan itu, Lingga Wisnu tidak mau terlalu menyalahkan diri sendiri. Akan tetapi Palupi rupanya dapat menebak pikiran bocah itu. Katanya sabar :

"Adik yang baik, coba pukul pundakku dengan tanganmu."

Lingga Wisnu tak mengerti maksud gadis dusun itu. Akan tetapi karena percaya bahwa gadis itu mempunyai rencana tertentu yang berada di luar dugaannya sendiri, segera ia memukul pundak Palupi dengan jari tangannya. Dan begitu ujung jarinya menyentuh pundak Palupi, jari- jari Lingga Wisnu mendadak terasa panas seperti terkena bara. Tak sekehendaknya sendiri bocah itu melompat mundur menjauhi beberapa tindak.

Palupi tertaw a geli. Katanya :

"Nah, engkau rasakan sekarang. Begitulah, apabila mereka menghantam diriku dengan sekuat tenaga, akan roboh begitu menyentuh pakaianku."

"Benar-benar hebat dan berbahaya!" kata Lingga Wisnu kagum sambil memijit-mijit jari-jarinya. "Racun apa yang kau gunakan?"

"Sebenarnya bukan racun luar biasa. Hanya campuran bubuk ular hijau dan ular welang yang kucampurkan dengan bubuk ketonggeng biru," jawab Palupi dengan sederhana.

Dengan pertolongan cahaya lentera, Lingga Wisnu melihat betapa jari-jarinya melepuh dengan mendadak. Katanya:

"Akh, masih untung aku tadi tidak menyentuh pakaianmu!" "Adik yang baik," kata Palupi dengan suara mohon maaf. "Aku bukan bermaksud hendak menyakiti dirimu. Maksudku hanyalah agar engkau selalu berhati-hati dan waspada menghadapi saudara seperguruanku dikemudian hari. Dalam ilmu kepandaian, mereka jauh ketinggalan darimu. Tetapi lihatlah telapakan tanganmu, yang tadi kau gunakan untuk menangkis pukulan mereka."

Lingga Wisnu mengamati tangan kirinya. Tetapi tidak melihat sesuatu yang luar biasa.

"Coba dekatkan kemari," kata Palupi sambil mengangsurkan

lenteranya.

Dan begitu mendekatkan tangannya pada lentera, Lingga Wisnu terkejut. Pada saat itu ia melihat telapakan tangannya bergaris-garis  hitam. Serunya tak mengerti :

"Apa ini? Apa aku kena racun?"

"Hmm!" dengus Palupi. "Apa kau kira murid Ki Sarapada t idak mempunyai ilmu pukulan beracun?"

"Akh ! " Lingga Wisnu terkejut berbareng heran. "Kalau begitu, orang yang menyebut dirinya Ngesti Tunggal, sesungguhnya Ki Sarapada yang tulen. Tetapi kenapa kalian saudara-saudara seperguruan saling bertengkar?" Palupi tidak menjawab. Ia hanya menghela napas. Kemudian ia mencabut tusuk kondenya yang tadi dipakai untuk memantek kertas tulisan Ki Sarapada yang terkait oleh paku beracun Panji sangar di pohon. Kemudian ia memasukkan kedua benda itu ke dalam sakunya. Dan waktu itu huruf huruf yang bercahaya pada surat pertama sudah lenyap.

"Apakah ayunda yang menulis sama surat-surat itu?" tanya Lingga Wisnu.

"Benar," sahut Palupi. "Guru nampaknya sayang benar kepada kangmas Panjisangar pada masa mudanya. Hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan kangmas Panjisangar yang terdapat dalam kumpulan naskah dalam   peti peninggalan guru. Umpamanya catatan- cat atan mengenai nama-nama kembang, tumbuhan dan ramuannya. Dengan demikian aku paham benar akan bentuk tulisannya dan itulah sebabnya dapat aku meniru bentuk hurufnya. Akan tetapi aku belum berhasil dengan sempurna, karena melupakan pengucapan hatinya."

"Tentu saja engkau tidak dapat meniru dengan sempurna, karena w atakmu dan tabiatnya." potong Lingga Wisnu cepat. "Ayunda seorang jujur dan bersih hati. Sebaliknya kakakmu Panjisangar penuh dengan fitnah, kekejian dan kelicikan. "

Palupi tidak membenarkan ataupun membantah, ia berdiam sejenak. Kemudian meneruskan:

"Surat wasiat guru ditulis dengan larutan taw as. Orang harus memanggang terlebih dahulu di atas api, apabila hendak membacanya. Kemudian setelah aku melakukan percobaan percobaan maka aku mengaduknya dengan sumsum harimau dan bubuk cacing phospor. Karena itu, apabila surat itu berada di dalam gelap, akan menyala sendirinya. Kau lihatlah!" setelah berkata demikian ia memadamkan lenteranya dan benar saja tulisan yang berada diatas kertas lantas bercahaya mengkilat. Dan begitu lentera dinyalakan kembali sehingga kegelapan malam dikalahkan o leh cahaya lentera, nyala huruf-huruf itu lantas lenyap tak kelihatan lagi. Dengan demikian pada kertas itu terdapat dua bentuk tulisan. Yang pertama tulisan Palupi yang terbaca apabila keadaan terang. Dan yang kedua tulisan Ki Sarapada yang terbaca apabila keadaan gelap pekat.

Sebenarnya hal itu sangat sederhana saja. Baik Panjisangar maupun Janggel dan Roha pasti mengerti pula rahasia demikian. Akan tetapi mereka tadi sedang bertempur mati-matian, sehingga kaget bukan main begitu melihat tulisan gurunya yang muncul dengan mendadak di pohon. Sudah begitu mereka terperanjat lagi dengan munculnya Palupi setelah menyalakan lilinnya. Mereka bertiga yang memusatkan seluruh perha- tiannya kepada persoalan kitab sakti warisan gurunya, sedikitpun tidak sadar bahwa waktu itu adik seperguruannya sedang menebarkan hawa beracun melalu i lilinnya.

Setelah mengetahui latar belakangnya, maka Lingga Wisnu ikut bergembira dan bersyukur seolah-olah iapun ikut menang dalam persoalan ini. Sebaliknya Palupi heran melihat kegirangan Lingga Wisnu. Tanyanya menegas :

"Kenapa engkau begitu girang? Bukankah tanganmu terkena racun jahat kakak seperguruanku?"

"Kau tadi berjanji hendak menyembuhkan aku," sahut Lingga Wisnu cerdik. "Dan aku tahu, ayunda Palupi adalah seorang bidadari yang jujur. Aku kira duduk dekat anak murid terkasih Ki Sarapada, seorang tabib maha sakti tak ubah malaikat. Karena itu meskipun andaikata aku kena pukulan dewa maut, murid Ki Sarapada pasti sanggup menolong jiw aku. Apa perlu aku takut?"

Mendengar perkataan Lingga Wisnu yang kekanak- kanakan , Palupi tertaw a geli. Tiba-tiba ia memadamkan lenteranya. Kemudian terdengar suara gemersik dari tempat keranjang diletakkan. Dan ternyata Palupi sudah berganti pakaian. Kini ia mengenakan kebaya hijau dan berkain batik parangrusak.

"Lihatlah, sekarang aku berganti pakaian baru. Kau tak perlu takut akan racun yang kulumurkan di pakaianku tadi," kata Palupi dengan tertawa lebar.

"Ayunda, kau dapat memikirkan segala sesuatunya dengan cermat terlebih dahulu sebelum bertindak. Hai ! Apabila aku dapat mewarisi sepersepuluh bagian saja dari kepandaianmu ini, aku sudah bersyukur setinggi- tingginya kepada Tuhan serta sekalian alam." kata Lingga Wisnu bersungguh-sungguh.

Mendengar kata-kata Lingga Wisnu, mendadak Palupi berkilat-kilat kedua matanya. Dengan suara mengandung penuh penyesalan ia berkata :

"Kau berkata ара? Ара kau bisa jadi manusia bahagia apabila mengenal racun? Huh ! Orang yang mengenal racun, akan selalu tergoda oleh pikirannya terus menerus untuk mengadakan berbagai percobaan penebaran racun-racunnya. Setiap detik yang dipikirkan hanyalah bagaimana dapat mennbuat racun sehebat-hebatnya melebihi yang sudah-sudah. Lihatlah aku ini, setiap saat manakala aku bangun tidur sampai nanti menjelang tidur kembali, dalam hatiku terus bergumul satu perjoangan hebat antara hawa napsuku sendiri. Karena itu apabila dapat aku memohon kepada Tuhan serta sekalian alam, agar aku dilahirkan kembali sebagai manusia biasa seperti dirimu. Alangkah bahagianya!"

Setelah berkata demikian, ia menghela napas berulangkali. Kemudian menarik lengan Lingga Wisnu. Segera ia menusuk jari-jari Lingga Wisnu dengan tusuk kondenya. Kemudian mengurut-ngurutnya sehingga tak lama kemudian, darah merah meleleh keluar.

Lingga Wisnu semenjak tadi membiarkan tangannya ditarik dan ditusuk dengan tusuk konde perak Palupi. Ia heran, karena tusukan itu sama sekali tidak terasa sakit. Bahkan tatkala darah mengalir keluar, ia merasakan suatu hawa yang nyaman sekali meresap kedalam peredaran darahnya. Ia jadi kagum luar biasa. Pada saat itu mendadak saja ia mendengar suara Panjisangar mengeliat. Ia terperarrjat dan lantas berseru :

"Hei, dia tersadar! "

"Таk mungkin!" sahut Palupi yakin. "Paling cepat, t iga jam lagi!"

Memperhatikan keadaan Panjisangar, Lingga Wisnu menjadi teringat kepada pengalamannya tadi. Terus saja minta keterangan :

"Tadi sewaktu aku mengangkat keranjang, sama sekali dia tak bergerak sehingga aku tak tahu bahwa dalam keranjang itu ada manusianya. Akh, benar-benar tolol aku ..."

Palupi tersenyum lebar. Menjawab: "Hemm! Orang yang menyatakan dirinya tolol, biasanya justru orang pinter luar biasa."

Lingga Wisnu tidak menjawab. Ia hanya tertaw a. Akan tetapi di dalam hatinya puas. Sesaat kemudian ia berkata lagi :

"Eh, mereka tadi berebutan kitab sakti warisan gurumu. Apakah mengenai ilmu pengetahuan ketabiban atau sarwa racun?"

"Dugaanmu tepat sekali," jawab Palupi senang. "Itulah hasil jerih payah almarhum guruku. Semua ada dua buku. Yang satu tentang ilmu ketabiban, dan yang lain tentang rahasia ramuan sarwa racun. Ара engkau ingin melihat?"

Heran Lingga Wisnu mendengar taw arannva. Bukankah dia tadi menolak keinginan ketiga kakak seperguruannya untuk membaca kitab warisan gurunya barang sebentar saja? Melihat Palupi mengeluarkan sebuah bungkusan kain putih yang disimpan dalam sakunya, Lingga Wisnu jadi terharu. Dalam bungkusan kain putih itu terdapat bungkusan kertas minyak. Dan setelah kertas minyak itu dibuka, terlihatlah dua jilid kitab kuning dan hitam yang panjangnya enam senti dan lebar ampat senti. Dengan menggunakan tusukkonde Palupi membuka-buka lembaran kitab yang penuh tulisan-tulisan huruf Jawa kuno. Таk usah dikatakan lagi, bahwa setiap lembar kertas itu pasti lah sangat beracun. Orang akan celaka apabila berani dengan sembarangan menyentuh atau membuka-buka dengan tangannya.

Memperoleh kepercayaan Palupi yang begitu besar terhadap dirinya, Lingga Wisnu merasa sangat bersyukur dan girang sekali. Dengan mengangguk, ia memberi isyarat bahwa sudahlah cukup ia melihat buku warisan Ki Sarapada itu. Маkа Palupi kembali membungkusnya dengan rapih. Dan dimasukkannya ke dalam saku. Kemudian ia mengeluarkan sebotol bubuk berwarna ungu. Ia menuang di atas telapak tangan dan mamborehkan pada telapak tangan Lingga Wisnu yang tadi ditusuknya dengan tusuk-konde perak. Sebentar ia mengurut jari-jari itu dan tak lama konudian bubuk ber- warna ungu tadi lantas saja terhisap masuk melalui lubang-lubang bekas tusukan Palupi.

"Benar-benar hebat engkau, ayunda!" Lingga Wisnu memuji dengan setulus hati. "Seumurku belum pernah aku menyaksikan seorang tabib seperti dirimu ! "

"Kepandaianku in i tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan kepandaian guruku," sahut Palupi. "Guru pandai membedah perut dan dada serta ahli menyambung tulang. Apabila engkau telah menyaksikan kepandaiannya, barulah engkau pantas merasa kagum."

"Benar," kata Lingga Wisnu. "Gurumu mahir menggunakan racun. Tetapi pasti ahli pula dalam menyembuhkan penyakit. Pantaslah eyangku pernah memuji gurumu setinggi langit."

"Siapa eyangmu?" tanya Palupi penuh perhatian. "Eyangku bermukim di atas Gunung Law u. Namanya

Kyahi Basaman." jawab Lingga Wisnu.

Mendengar jawaban Lingga Wisnu, Palupi jadi terperanjat. Agaknya ia mengenal nama Kyahi Basaman yang termashur itu. Terus saja ia berseru girang:

"Akh! Jika guru masih hidup dan mendengar pujianmu ini, pastilah beliau akan girang bukan kepalang. Hanya sayang, beliau sekarang sudah tiada di dunia in i." Perkataannya yang penghabisan diucapkan dengan nada penuh duka.

"Kakak seperguruanmu, Roha, tadi berkata bahwa gurumu pilih kasih. Beliau agaknya hanya sayang kepadamu belaka." kata Lingga Wisnu dan manambahkan : "Kurasa kata-katanya benar belaka. Tetapi hal itu terjadi karena engkaupun mencintai gurumu dengan sepenuh hati. Dengan demikian terjadi timbal balik yang sewajarnya."

Palupi tertaw a melalui dadanya. Ia menundukkan kepala. Dan beberapa saat kemudian ia berkata :

"Guru mempunyai ampat murid. Keampatnya sudah kau ketahui semua. Yang tertua Kangmas Panjisangar, kemudian kangmas Janggel dan ayunda Roha. Dan yang keampat adalah aku sendiri. Sebenarnya setelah mempunyai tiga orang murid, guru tidak ingin menerima murid lagi. Akan tetapi melihat ketiga kakak seperguruanku itu saling bermusuhan dan mendendam, guru menjadi cemas juga. Kalau nanti guru sudah meninggal dunia, siapa yang dapat menguasai mereka bertiga? Маkа dalam usianya yang lanjut, beliau menerima aku sebagai muridnya yang termuda."

Palupi berdiam sejenak. Kemudian meneruskan sambil menatap wajah Lingga Wisnu :

"Mereka bertiga sebenarnya bukanlah orang jahat. Permusuhan itu terjadi semata-mata karena ayunda Roha kawin dengan kangmas Janggel. Kangmas Panjisangar jadi sakit hati. Dan samenjak itu mereka saling bermusuhan sehingga tak dapat didamaikan lagi." Lingga Wisnu manggut. Tanyanya :

"Kakakmu Panjisangar apakah mencintai ayunda Roha? Kukira demikian bukan?"

"Bagaimana kisah asmara itu terjadi sesungguhnya aku tidak menyaksikan. Sebab pada waktu itu mungkin sekali aku belum lagi dilahirkan di dunia ini," sahut Palupi dengan tertaw a manis. "Aku hanya mengetahui dari guruku, bahwa kangmas Panjisangar dahulu sudah beristeri. Akan tetapi rupanya ayunda Roha diam-diam mencintai kangmas Panjisangar. Pada suatu hari ayunda Roha meracun isteri kangmas Panjisangar hingga mati."

Mendengar sepak-terjang Roha yang sampai hati meracun isteri Panjisangar, bulu romanya Lingga Wisnu terbangun. Terasa dalam hatinya, bahwa orang yang pandai menggunakan racun, pasti kejam pula hatinya. Sehingga apabila ada persoalan kecil saja, mereka lantas main bunuh dengan racunnya itu.

"Karena gusar, kangmas Panjisangar lantas membalas meracun ayunda Roha, sehingga menjadi orang cacad seumur hidup. Ia menjadi wanita bongkok dan kakinya pincang pula." kata Palupi. "Akan tetapi kangmas Janggel yang menyintai ayunda Roha dengan segenap hati, tidak berubah cinta kasihnya, meskipun ayunda Roha telah cacad tubuhnya. Маkа mereka berdua lantas kawin. Entah bagaimana alasannya, setelah ayunda kawin dengan kangmas Janggel, mendadak kangmas Panji- sangar teringat akan hubungannya pada masa lampau. Ia kembali baik hati kepada ayunda Roha dan mulai mengganggu cinta kasih mereka berdua. Dengan demikian, kalau tadinya ayunda Roha yang salah, kini kangmas Panjisangar yang tercela. Sebab yang membuktikan cinta kasih sejati adalah kangmas Janggel. Dan menyaksikan peristiwa itu, guru menjadi jengkel. Berulangkali guru mencoba menasehati mereka bertiga agar teringat akan nilai-nilai budi pekerti. Akan tetapi nasehatnya sama sekali tiada guna. Mereka menganggap seperti segumpal awan berserakan di tengah udara. Makin lama permusuhan mereka makin hebat. Masing- masing mempersiapkan kubu-kubu pertahanan. Kangmas Janggel yang sangat menyintai ayunda Roha membangun sebuah rumah dari besi. Bentuknya setengah bulat seperti bola. Rumah itu dilumuri racuh penyepuh, dan ia menanam pula pohon-pohon Bangaspati disekitar rumahnya. Itulah pohon-pohon racun yang sangat berbahaya, karena tiada pemunahnya. Semula rumah itu di maksudkan sebagai kubu pertahanan menghadapi kangmas Panjisangar. Akan tetapi karena merasa diri terancam bahaya terus- menerus, akhirnya mereka bertempat tinggal dalam rumah tersebut. Hanya sekali-kali mereka mengadakan perjalanan untuk mengintai dimana kangmas Panjisangar berada. Demikian pula yang dilakukan kangmas Panjisangar terhadap mereka berdua. Dengan demikian, karena mereka bertiga menggunakan nama guru, masyarakat dibuat bingung oleh munculnya tiga tokoh yang berbeda peraw akan tubuhnya tetapi nama yang dikenakan sama. Маkа banyaklah cerita dan kisah-kisah mengenai diri pribadi guruku Sarapada. Penduduk disebelah selatan yakin bahwa Ki Sarapada adalah seorang laki-laki berjubah. Sedangkan sebenarnya dialah kangmas Panjisangar. Sebaliknya penduduk yang bermukim di sebelah barat Gunung Merapi berkata, bahwa Ki Sarapada sebenarnya seorang perempuan. Sedang penduduk sebelah timur Gunung Merapi mengabarkan bahwa Ki Sarapada adalah seorang laki-laki berperawakan kasar dan nampak dungu. Itulah kedua kakak seperguruanku kangmas Janggel dan ayunda Roha."

"Oh begitu?" kata Lingga Wisnu sambil memanggut- manggutkan kepalanya. "Tetapi sebenarnya diantara mereka bertiga, siapakah yang berhak memakai nama Ki Sarapada?"

"Aku sendiri tidak tahu." jawab Palupi dan menairibahkan lagi: "Tetapi satu hal yang pasti. Betapapun alasan mereka bertiga, guru tidak merestui. Hal itu disebabkan karena permint aan racun mereka. Apa yang mereka lakukan benar-benar bertentangan dengan panggilan hidup guruku. Berulangkali guru berkata kepadaku, begini:

"Aku mampelajari sarwa racun demi untuk menolong sesama hidup. Sekarang kakakmu bertiga menyematkan namaku untuk melampiaskan dendamnya masing- masing. Tidak segan-segan mereka membunuh sesama umat dengan menggunakan racun. Walau pun aku sama sekali t idak melakukan hal itu, akan tetapi karena mereka murid-muridku, maka kesalahan itu akan ditimpakan diatas pundakku juga.. Apakah engkau mengira bahwa Ngesti Tunggal ini tadinya seorang biadab yang senang membunuh sesama hidup? Tidak, anakku. Ilmu pengetahuanku ini kuperoleh dari padanya. Dia seorang maha mulia yang bijaksana. Setiap saat yang dipikirkan ialah bagaimana menolong orang dari lembah kesengsaraan hidup ...

"Akan tetapi racun kami memang sangat dahsyat, sehingga tiada seorang saktipun di dunia in i yang sanggup menghadapinya. Sayang sekali, ketiga kakak seperguruanku itu meracun orang baik-baik. Karena mereka murid-murid guru, maka nama Ki Sarapada menjadi bulan-bulanan orang. Hampir setiap orang mengutuk dan menyumpah sampai langit ketujuh. Akh ! Benar-benar menyedihkan sekali. Adik yang baik, bagaimana menurut pendapatmu?"

Lingga Wisnu menghela napas. Sebagai anak yang baru berumur belasan tahun, belum dapat ia membuat pertimbangan. Tetapi secara naluriah ia tahu pekerti baik dan buruk. Maka ia menjawab:

"Sepak terjang kakakmu bertiga memang ke-terlaluan. Pastilah orang akan segera teringat pada gurumu manakala orang-orang sekitar Gunung Merapi ini salah tafsir dan salah terka mengenai pribadi gurumu Ki Sarapada. Mereka menyangka bahwa ketiga kakak seperguruanmu itulah Ki Sarapada. Herannya, ара sebab gurumu tidak turun gunung untuk membereskan dan membersihkan namanya?"

"Hal itu gampang dikatakan tetapi sukar di lakukan." sahut Palupi. "Apabila guru sampai turun gunung, maka salah pengertian akan jadi semakin parah ...... " gadis itu lantas menghela napas dalam. Ia memeriksa luka-luka Lingga Wisnu sekali lagi. Kemudian menyatakan bahwa racun telah larut sirna. Ia bangkit berdiri dan berkata :

"Malam in i aku masih harus menyelesaikan dua tugas lagi. Yang pertama, kita harus mengambil obat pemunah racun rumput Baiduri. Dan, yang kedua mengobati Sukasa, puteri kangmas Janggel. Apabila tidak ..." ia tersenyum dan tidak menyelesaikan perkataannya.  "Semua ini terjadi karena kesemberonoanku saja ..." Lingga Wisnu menghela napas pula, dan menyambung lagi:

"Jika aku tadi tidak mencampuri urusanmu, pastilah engkau telah dapat membereskan mereka berdua. Bukankah engkau ingin berkata demikian kepadaku?"

"Ya ! " jawab Palupi dengan tegas. "Baguslah jika engkau tahu, marilah kita berangkat sekarang."

"Apakah dia dimasukkan ke dalam keranjang lagi?" tanya Lingga Wisnu sambil menunjuk Panjisangar yang masih menggeletak di tanah.

"Benar, kau tolonglah." kata Palupi.

Lingga Wisnu menghampiri Panjisangar dan mencoba mengangkatnya. Tentu saja tak dapat ia mengangkat tubuh Panjisangar dengan seorang diri. Maka Palupi membantunya. Dengan gabungan tenaga mereka berdua, tubuh Panjisangar terangkat dengan mudah dan dimasukkannya ke dalam keranjang kembali. Palupi kemudian mencari pikulannya.

Setelah diketemukan, seperti tadi ia memikul kedua keranjangnya dan berjalan mengarah ke jurusan barat- daya. Berjalan kira-kira tiga kilometer, t ibalah mereka di sebuah gubuk. Palupi lantas berteriak :

"Paman Mawas! Hayolah!"

Pintu terbuka, dan muncullah seorang laki-laki hitam legam memikul beban pula. pandang matanya berkilat- kilat. Dengan tak mengeluarkan sepatah katapun, ia segera mengikuti Palupi.

0ooo=dw=ooo0 7. M embongkar Rumah Aneh

Melihat munculnya orang hitam lekam itu, me- remanglah bulu rana Lingga Wisnu. Pikirnya di dalam hati:

'Lagi-lagi orang aneh    '

Akan tetapi melihat kesungguh-sungguhannya dan Palupi menanggapi dengan sikap wajar pula, tak berani Lingga Wisnu minta keterangan kepadanya. Iapun segera mengikuti Palupi dalam jarak tiga langkah. Ampat-lima kali Palupi menengok dan menghadiahkan suara tertaw amanis. Itu adalah suatu tanda bahwa kini ia merasa puas terhadap si bocah yang mendengar kata.

Dari gubuk orang hitam itu, Palupi terus berjalan mengarah ke utara. Dan

selama berjalan mereka bertiga membisu. Kira-kira jam ampat pagi, tibalah mereka didepan rumah aneh yang bentuknya seperti topi

ditengkurupkan. Itulah rumah suami-isteri Jenggel dan Roha.

Palupi kemudian mengeIuarkan tiga ikat bunga biru dari dalam keranjang. Yang seikat

diberikan nya kepada Lingga Wisnu, yang lain di berikan kepada orang hitam tersebut dan seikat lagi dipegangnya sendiri. Setelah melompati pagar pohon Bangaspati, ia berteriak nyaring :

"Kangmas Janggel! Ayunda Rolla! Apakah kalian berdua sudi membuka pintu bagiku?"

Tiga kali ia berseru, akan tetapi sama sekali tak memperoleh jaw aban.

Setelah nenunggu beberapa saat lamanya,Palupi memberi isyarat anggukan kepada Mawas. Orang itu segera meletakkan bebannya di atas tanah, dan mengeluarkan alat-alat besi terdiri dari sebuah alat penyemprot api, tungku dapur, bubuk besi, timah dan perabot pengebor. Ia membuat api dan mulai melumerkan bubuk besinya. Setelah bubuk besi lamer, ia lalu memateri bagian-bagian yang renggang dari rumah aneh tersebut.

Lingga Wisnu yang selama in i mengikuti gerak-gerik orang hitam-lekam itu segera mengetahui bahwa dia sedang menutup pintu-pintu dan jendela-jendela rumah besi Janggel dan Roha. Rupanya karena merasa diri t idak dapat mengatasi kepandaian adik seperguruannya, Janggel dan Roha tak berani lagi menongolkan kepalanya.

Tak ubah seperti kura-kura sembunyikan kepala, mereka lantas saja menutup semua pintu dan jendelanya. Dengan demikian, seperti halnya yang dilihat oleh Lingga Wisnu, rumahnya yang aneh itu nampak seperti tidak berpintu maupun berjendela.

Setelah semua lubang ditutup rapat, Palupi menggapai Lingga Wisnu. Dengan isyarat mata gadis itu memberi perint ah kepada si bocah agar mengikutinya. Dia berjalan mendahului dan melompati barisan pagar pohon-pohon Bangaspati. Arahnya ke jurusan barat-laut dan setiap kali mengalahkan kakinya, ia selalu menghitung dengan cermat. Setelah berjalan beberapa puluh langkah, is membelok ke timur lima langkah lagi dan ke kiri ampat langkah. Kemudian berkata memutuskan :

"Di sinilah!" Lalu ia menyalakan lilinnya. Dengan matanya yang tajam Lingga Wisnu mengamati dua batu besar yang berada di depannya. Ternyata di antara dua batu besar tersebut terdapat sebuah lubang kira-kira sebesar piring dan teraling sebuah batu.

"Inilah lubang tempat bernapas mereka," kata Palupi sambil terus berjongkok.

"Mereka tak dapat keluar lagi dari rumah itu, karena semua lubang angin maupun pintu dan jendela telah tertutup rapat. Maka sebentar lagi pastilah mereka akan menghampiri lubang ini."

Lilin yang telah dinyalakan tali didekatkan ke mulut lubang dan dengan bantuan angin perlahan-lahan asapnya masuk ke dalam.

Menyaksikan t indakan Palupi yang dianggapnya sangat kejam, Lingga Wisnu jadi bergidik. Tiba-tiba saja ia jadi merasa iba terhadap mereka yang terkurung di dalam rumah besi tersebut. Apakah perbuatan begini dapat dibenarkan? .

Beberapa saat kemudian, Palupi bahkan mengeluarkan kipas bambunya, dan dengan kipas itu ia mulai mengipasi asap lilin ke dalam lubang pernapasan. Dan Lingga Wisnu tak dapat bersabar lagi kini. Dengan berdiri tegak ia berkata menegor : "Ayunda Palupi! Apakah engkau sangat berdendam terhadap kedua kakak seperguruanmu itu? Tak dapatkah mencari jalan damai lain lagi?"

"Tidak!" jawab Palupi dengan suara taw ar.

"Apakah gurumu memberi perint ah kepadamu agar engkau membersihkan rumah perguruanmu?"

"Belum sampai sebegitu jauh. Hanya mirip mirip saja." sahut Palupi acuh tak acuh.

"Tapi tapi ..." kata Lingga Wisnu terputus-putus. Tak tahulah ia bagaimana hendak nenyatakan perasaan hatinya. Palupi mendongak mengaw askan dan berkata dengan suara dingin :

"Kenapa engkau jadi begitu bingung?"

"Jika kedua kakak seperguruanmu mempunyai dosa yang sangat besar, biarlah kali ini diberi kesempatan agar mereka dapat merobah sepak terjangnya yang telah lampau untuk menebus dosadosanya." ujar Lingga Wisnu dengan suara memohon.

"Ya!" sahut Palupi. "Gurukupun pernah berkata begitu." Ia berdiam sejenak dan berkata lagi: "Sayang sekali, guruku kini sudah berada di alam baka. J ika beliau masih hidup, pasti beliau merasa cocok dengan cara berpikirmu."

Sedang mulutnya berkata demikian, tangannya tetap mengipasi asap lilin yang makin lama makin banyak yang masuk ke dalam lobang. Lingga Wisnu menggaruk-garuk kepalanya. Dengan menuding lilin berasap itu ia berkata:

"Bukankah asap beracun itu dapat membunuh manusia?" "Oh, kalau begitu, hatimu yang mulia ini menyangka aku hendak mengambil jiw a mereka?" seru Palupi dengan tersenyum.

Wajah Lingga Wisnu lantas saja menjadi merah. Sebab oleh jawaban itu, Palupi hendak meyakinkan kepada Lingga Wisnu, bahwa ia tidak berniat hendak membunuh kakak seperguruannya. Maka bocah itu merasa malu sendiri.

Palupi sendiri t idak menghiraukan keadaan hati Lingga Wisnu. Dengan kukunya ia menggores lilinnya sambil berkata :

"Adikku Lingga, tolonglah engkau menggantikan aku. Tetapi jaga, jangan sampai lilin ini padam. Kau boleh memadamkan lilin ini, apabila apinya sudah membakar sampai d igoresan ini."

Segera ia menyerahkan kipas bambunya kepada Lingga Wisnu dan kemudian bangkit berdiri sambil menebarkan penglihatannya ke sekitar rumah aneh itu serta memasang telinga. Tanpa berkata sepatah katapun lagi. Lingga Wisnu lantas saja melakukan tugasnya.

Apabila keadaan sekitar rumah aneh itu tetap sunyi dan tiada terjadi sesuatu diluar perhitungannya, Palupi lantas duduk di atas sebuah batu besar dekat Lingga Wisnu.

"Orang berkuda yang menghancurkan kebun bungaku adalah Sukasah, puteri kangmas Janggel" ujar Palupi dengan tiba-tiba.

"Akh!" Lingga Wisnu berseru heran. "Bukankah dia seorang laki-laki?" "Apakah orang perempuan tidak bisa menyamar sebagai laki-laki?" sahut Palupi membalas pertanyaan Lingga Wisnu dengan pertanyaan pula.

Lingga Wisnu tergugu sejenak. Minta keterangan : "Apakah dia pun berada dalam rumah ini?"

"Benar!" jawab Palupi dengan  tertaw a lebar. "Apa

yang kita lakukan sekarang ini justru untuk menolong dia. Kita harus merobohkan kedua kakak seperguruanku terlebih dahulu, agar mereka berdua tidak merint angi pekerjaan kita."

Sekali lagi Lingga Wisnu berseru tertahan. Di dalam hati ia berkata :

'Benar-benar diluar dugaanku semua gerak geriknya. Dia membakar lilin yang sama. Akan tetapi dia tidak bermaksud membunuh orang. Sebaliknya malah hendak menolong. Sepak terjangnya ini yang sukar diduga hanya setan dan iblis yang bisa menebaknya.'

"Sebenarnya kangras Janggel dan ayunda Roha mempunyai seorang musuh bernama Anung Sukahar." ujar Palupi. "Anung Sukahar sudah berada ditempat ini kira-kira setengah tahun yang lalu. Akan tetapi masih belum mampu ia menerjang rumah. Bangaspati ini Itulah disebabkan karena pohon Bangaspati yang sangat beracun. Di dunia ini tak ada orang yang mampu melawan racun dahsyatnya. Hanya bunga biru itulah satu satunya pemunah racun Bangaspati. Mula-mula kangmas Janggel dan ayunda Roha tidak mengetahui khasiat bunga biruku. Akan tetapi begitu kuberikan kepadamu berdua, mereka lantas tersadar. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya mereka berdua, begitu menyaksikan engkau dapat melawan pohon-pohon racun nya."

"Benar!" Lingga Wisnu memotong. "Tatkala aku dan abang Aruji datang ke mari, lapat-lapat aku mendengar suara mereka, kaget berbareng gusar dari dalam rumah ini."

Palupi manggut dan berkata lagi :

"Seperti kataku tadi, racun Bangaspati sebenarnya tak dapat dipunahkan oleh ramuan pemunah yang terdapat di dunia in i. Sebaliknya kita bisa kebal terhadap racunnya, apabila sering makan buahnya. Untunglah, meskipun besar bahayanya, tanda-tanda Bangaspati mudah sekali dikenal. Jika pohon itu tumbuh di suatu tempat, disekitarnya dalam jarak sepuluh atau dua puluh meter, tiada terdapat seekor semut atau sebatang rumputpun."

"Benar katamu!" Lingga Wisnu mengamini.

"Tadinya aku heran sekali melihat sekitar rumah ini tiada terdapat tumbuhan apapun juga. Akh! jika aku tidak kau hadiahkan bunga birumu itu ..." berkata sampai disitu, Lingga Wisnu bergidik dengan sendirinya karena teringat pengalamannya yang seram bersama Aruji.

"Bunga biru itu bernama Badjrarinonce. Dan Baru saja berhasil aku tanam." Palupi memberi keterangan. "Aku merasa syukur terhadap kalian berdua yang bisa menghargai jerih payahku. Mengapa tidak kau lemparkan saja ditengah jalan?"

"Bunga itu sangat indah!” kata Lingga Wisnu. "Hemm Karena indah, maka engkau tidak membuangnya, bukan?" Palupi menegas.

Lingga Wisnu tergugu. Ia mendeham beberapa kali karena tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Berkata di dalam hati:

'Benar. Jika bunga itu t idak indah, barangkali tak sudi aku menyimpannya di dalam saku. Dengan begitu yang menolong aku dan abang Aruji sesungguhnya adalah keindahannya.'

Selagi ia mendengarkan kata hatinya sendiri, angin mendadak meniup keras sehingga memadamkan nyala lilin. Lingga Wisnu terperanjat bukan main sampai setengah berteriak :

"Hai! Bagaimana ini?"

"Sudahlah! Kira-kira sudah cukup!" kata Palupi menghibur.

Hati Lingga Wisnu tercekat mendengar suara Palupi agak kurang senang. Ia jadi malu sendiri karena segala yang dimint a Palupi berakhir dengan kejadian-kejadian yang tidak memuaskan hati. Maka segera ia berdiri dengan membungkuk penuh sesal. Katanya :

"Maaf, mbakyu! Entah sudah berapa kali aku minta maaf kepadamu. Entah kenapa, malam ini pikiranku menjadi kusut begini."

Palupi tidak menyahut. Karena itu Lingga Wisnu meneruskan :

"Aku tadi sedang menimbang-nimbang, tiba-tiba angin kencang meniup mBakyu Palupi! Tatkala engkau menghadiahi aku bunga biru itu, sama sekali tak kuketahui bahwa bunga itu menolong jiw aku. Meskipun demikian, aku tetap menyimpannya, karena aku pikir segala hadiah dari seseorang itu, harus dan wajib disimpan dengan sebaik-baiknya."

Sekali lagi Palupi membungkam mulut. Ia hanya mendengus beberapa kali. Dan hati Lingga Wisnu jadi pedih. Beberapa saat kemudian, ia mencoba berkata lagi:

"Belum lagi umurku mencapai sepuluh tahun, aku sudah tiada berayah-bunda lagi. Jarang sekali orang menghadiahi sesuatu kepadaku ..."

"Akupun begitu," tiba-tiba Palupi memotong. "Akan tetapi semua orang dewasa di dunia ini berasal dari bocah yang belum pandai beringus lambat laun, seseorang akan bisa menjadi dew asa ..." sambil berkata demikian ia turun dari batu. Ia menyerahkan lilinnya kembali dan mencari sebuah batu.

Kemudian ditutupkan ke lubang pernapasan rumah aneh itu.

Dengan menghela napas ia berkata memerint ah : "Hayooooolah!"

Ia mendahului berjalan dan Lingga Wisnu segera

mengikuti dengan menbungkam mulut. Bocah itu tak berani lagi mengumbar pikirannya yang ternyata selalu salah. Dan ternyata tatkala mereka t iba di rumah Janggel

- Roha, si tukang besi berkulit hitam-lekam itu sedang duduk di atas tanah sambil merokok.

"Paman Mawas! Tolong sekarang buka kembali semua!" perint ah Palupi sambil menunjuk bagian rumah yang tadi dipateri. Tanpa berkata sepatah katapun juga, tukang besi itu segera mengambil alat-alatnya. Lalu ia melakukan perint ah Palupi dengan sesungguh hati. Kira-kira seperempat jam kemudian semua yang dipateri tadi selesai dibuka kembali.

"Sekarang bongkarlah pintunya, papan!" perint ah Palupi.

Mawas segera bekerja. Setelah mengetukngetuk beberapa kali, ia kemudian menyentak dengan martilnya. Dan dengan suara berkerontangan sepotong papan besi jatuh ke bawah, dan terbukalah sebuah pintu yang tingginya enam kaki dan lebarnya tiga kaki.

Lingga Wisnu heran menyaksikan cara kerja pandai besi itu. Ia benar-benar paham akan pekerjaannya, perlengkapan rumah dikenalnya dengan baik. Dengan cekatan ia menarik sebuah tombol yang ada dibalik pintu, lalu muncullah sepasang tangga kecil.

"Sekarang buanglah semua bunga biru!" perintah Palupi. Ia mendahului melaksanakan perint ahnya sendiri, yang segera diikut i Mawas dan Lingga Wisnu. Tatkala hendak mendaki tangga penghubung, ia menebarkan penciumannya. mendadak menoleh kepada Lingga Wisnu. Katanya:

"Adik. Dalam sakumu masih tersimpan bunga biru pemberianku, jangan kau bawa masuk."

"Akh!" seru Lingga Wisnu heran sambil menggerayangi sakunya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain dan dibukanya. Katanya lagi :

"Penciumanmu benar-benar tajam! Meskipun didalam bungkusan, masih saja tercium olehmu." Lingga Wisnu membungkus bunga biru tersebut dalam saputangan pemberian Sitaresmi. Bunga itu ternyata telah layu. Dengan hati-hati ia menaruhkannya di luar pintu.

Melihat cara menaruh dan menyimpan, terharu hati Palupi. Benar-benar Lingga Wisnu menghargai bunga pemberiannya. Tadi ia tidak yakin akan kejujuran bocah itu, akan tetapi kini hatinya menjadi girang dan bersyukur. Ia berpaling menatap wajah Lingga Wisnu dan memberi hadiah senyum. Katanya kemudian :

"Adik yang baik, kau benar tak berdusta!"

Lingga Wisnu tak mengerti, apa sebab Palupi berkata demikian. Serunya tersinggung:

"Dusta! Kenapa aku berdusta kepadamu?"

Palupi tidak menjawab. Ia mendahului me langkahkan kakinya ke duhang pintu sambil berkata :

"Mereka yang berada di dalam tak tahan dengan bunga biruku. Karena mereka biasa makan buah pohon Bangaspati." Setelah berkata demikian, ia meneruskan perjalanan memasuki rumah aneh tersebut dengan membaw a lenteranya. Lingga Wisnu dan Mawas segera mengikuti di belakang.

Tiba di kaki tangga terakhir, mereka berada di sebuah terowongan yang sangat sempit. Setelah membiluk dua kali, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan kecil berdinding penuh lukisan dan perabot rumah tangga dari bambu. Menyaksikan hal itu diam-diam Lingga Wisnu heran didalam hatinya. Sama sekali diluar dugaan, bahwa Janggel yang nampaknya begitu kasar mempunyai perasaan halus sampai dapat menghiasi rumahnya dengan lukisan-luk isan serta perabot meja kursi yang sedap dipandang mata.

Palupi terus berjalan tanpa membuka mulut. Beberapa saat kemudian mereka bertiga tiba dibagian dapur. Dan apa yang terjadi didalam dapur itu sangat mengejutkan Lingga Wisnu.

Janggel dan Roha nampak menggeletak diatas lantai. Mereka berdua tidak berkutik, entah mati entah masih hidup. Akan tetapi bukan keadaan mereka itulah yang mengherankan hati Lingga Wisnu. Ia tahu, mereka roboh akibat racun bunga Badjrarinonce. Apa yang mengherankan hatinya ialah, ia melihat seorang dewasa berada didalam sebuah kuali benar. Sedang air didalam kuali itu nampak mengepulkan uap. Walaupun belum mendidih, akan tetapi sudah pasti panas sekali.

Dan melihat hal itu, secara naluriah Lingga Wisnu mempercepat langkahnya. Ia bergegas mendahului Palupi yang berjalan didepannya. Maksudnya sudah terang hendak menolong orang itu yang tersiksa digodok dalam kuali. Dia menduga bahwa orang itu terjatuh dalam kuali tatkala pingsan akibat asap beracuh bunga Badjrarinonce memasuki lubang pernapasan.

"Hai, kau mau ke mana?" tegor Palupi samba menarik lengan baju Lingga Wisny. "Coba lihat, dia laki-laki atau perempuan?"

"Dia laki-laki atau perempuan, bukan soal", sahut Lingga Wisnu dengan suara gemetar.

"Oh begitu? Coba lihat yang jelas, dia me makai celana atau tidak?" kata Palupi dengan muka merah. "Apakah ...... apakah," Lingga Wisnu ragu-ragu tatkala melihat perobahan wajah Palupi. "Apakah dia tidak memakai celana?"

Pada waktu itu, orang perempuan tidak memakai celana panjang. Maka begitu mendengar keterangan Palupi bahwa orang yang berada di dalam kuali besar itu seorang perempuan bertelanjang bulat, Lingga Wisnu merandak. Hatinya terce kat dan wajahnya terasa papas. Dia bukan anak bodoh, sekarang jelaslah sudah persoalan yang timbul antara Janggel dan Roha dengan Panjisangar. Anaknya, Sukasah terkena racun Badjrarinonce. Maka sadar dia, bahwa wanita yang terendam dalam kuali besar itu tentu Sukasah. Itulah sebabnya ia jadi bimbang. Selagi demikian, terdengar Palupi berkata lagi memerint ah:

"Bungkukkan saja badanmu dan mendekatlah! Tolong tambah kayunya, agar airnya cepat mendidih!"

Lingga Wisnu percaya akan kecerdasan otak gadis itu. Akan tetapi ia perlu meyakinkandiri. Tanyanya menegas :

"Apakah dia Sukasah?"

"Ya!" jawab Palupi. "Kangmas Janggel dan Ayunda Roha ingin melarutkan racun yang berada dalam diri Sukasah dengan jalan menggodoknya dalam kuali. Akan tetapi tanpa bantuan bubuk racun Badjrarinonce, jerih payahnya t idak akan berhasil. "

Mendengar keterangan Palupi, Lingga Wisnu menjadi berlega hati. Tanpa ragu-raqu lagi ia menambah beberapa potong kayu bakar ke dalam tungku api. Akan tetapi tak berani ia menambah terlalu banyak, karena khaw atir Sukasah tidak akan tahan. Terdengar Palupi berkata memerint ah lagi :

"Tambah lagi! Kenapa engkau begitu pelit?"

Dengan ragu-ragu Lingga Wisnu menatap wajah Palupi, dengan pandang menyelidik.Palupi berkata meyakinkan : "Percayalah, dia t idak akan mati!".

Dengan kepala penuh teka-teki ia menambah sepotong kayu bakar lagi ke dalam tungku itu. Kemudian mundur dengan tetap membungkuk. Setelah mundur lima langkah, ia memutar badan menjauhi. Melihat pekerti Lingga Wisnu, Palupi tersenyum dengan muka bersemu merah.

Tak lama kemudian, Palupi menghampiri kuali besar itu. Ia mencelupkan jari telunjuk untuk mengukur suhu air yang nampak mulai mendidih. Ia menunggu kira-kira sepuluh menit lagi, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil yang herisi bubuk berw arna ungu. Itulah bubuk bunga biru Badjrarinonce. Ia menaburkan ke dalam air mendidih dan kemudian mengaduknya. Setelah itu ia menghampiri Janggel dan Roha.

Dengan jari telunjuk ia mengambil bubuk pemunah racun kemudian dise lomotkan ke hidung mereka ber dua. Dan begitu menyedot obat pemunah racun yang ditem- pelkan Palupi, lantas saja mereka bersin. Pada saat itu juga mereka menjenakkan mata ..

Dalam pada itu, Palupi mulai bekerja. Ia menyenduk air mendidih dalam kuali besar dengan sebuah gayung. Air mendidih itu dibuangnya dan diganti dengan air dingin. Sembari menuang air dingin, tak lupa ia mena burkan bubuk bunga birunya. Menyaksikan hal itu, paras muka Janggel - Roha yang tadinya guram lantas saja berubah girang. Mereka tahu bahwa Palupi sedang menolong puterinya. Serentak mereka bangun berdiri mengaw asi gerak-gerik adik seperguruannya itu dengan membungkam mulut.

Lingga Wisnu menoleh dan mengamati wajah mereka. Nampaknya masih bimbang. Hal itu dapat dimengerti. Puterinya kena racun adik seperguruannya, dan kini gadis yang meracuni anaknya datang menolongnya. Inilah pekerti yang tak pernah terlint as dalam benak mereka.

Janggel dan Roha tadi sudah berusaha mati-matian untuk menolong jiw a puterinya itu dengan hati kurang yakin. Sekarang Palupi dapat memunahkan racun dengan cekatan dan pasti. Tentulah gadis itu sudah mewarisi seluruh kepandaian gurunya. Menyadari hal itu, mereka berdua nampak jelas. Akan tetapi mereka mati kutu, bukankah dalam waktu singkat saja mereka berdua dan kakak seperguruannya Panjisangar roboh ditangan adik seperguruannya itu ? .

Palupi tidak menghiraukan kesan mereka, ia tetap bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh. Seperti tadi, setiap kali air mendidih, ia me nyendok dengan gayung dan membuanqnya. Kemudian diganti dengan segayung air dingin. Direbus secara begitu, racun yang mengeram di dalam tubuh Sukasah terhisap perlahan- lahan oleh bubuk pemunah. Setelah beberapa lama, Palupi kemudian berpaling kepada Mawas. Berkata memerint ah :

"Paman Mawas, hayolah turun tangan! Tunggu sampai kapan lagi? Bukankah sekarang saat yang paling baik? " "Baiklah," jawab si tukang pandai besi sambil mengambil sepotong kayu bakar. Dan selagi Lingga Wisnu sedang merasa heran, tiba-tiba tangan Mawas yang menggenggam kayu bakar terayun memukul kepala Janggel.

"He, gila kau!" bentak Janggel dengan suara gusar. Segera ia hendak menggerakkan tangannya, tetapi isterinya mencegah .

"Kangmas Janggel, saat ini adik kita sedang menolong jiw a anak kita satu-satunya. Budi ini bukan main besarnya. Menerima pukulan beberapa kali tanpa membalas, rasanya bukan apa-apa. Kau terima saja dengan ikhlas, orang itu hanya melaksanakan perintah adik kita."

Mendengar kata-kata isterinya, Janggel jadi tercengang. Akan tetapi

akhirnya ia nenundukkan

kepala. Lalu berkata dengan suara menahan rasa gusar:

"Baiklah."

Dan ia menyerahkan dirinya kepada situkang besi untuk digebuk pulang-balik sampai babak belur.

"Anjing!" teriak Mawas, situkang besi itu. "Kau

sudah merampas sawah ladangku, rumahku dan kau

paksa pula aku membangun rumah besi ini. Jangankan, kau merasa hutang budi atau memberi upah kepadaku. Bahkan kau gebuki aku sampai nyaris mati. Lihatlah, tulang igaku patah tiga! Dan hampir satu tahun aku terpaksa rebah tidak berdaya. Karena saw ah ladangku kau injak dan rumahku kau rampas, aku terpaksa mengobati luka itu dengan sisa-sisa barangku yang masih ada. Anjing! Aku ini orang miskin, kenapa engkau begitu kejam dan biadab? Apa aku pernah mengganggu selembar rambutmu? Oh, Tuhan ...! Akhirnya pada hari ini aku bisa bertemu dengan kalian berdua!"

Sambil terus memaki, tukang besi itu memukul, menghantam dan menendang kalang kabut tubuh Janggel. Meskipun tidak memiliki himpunan tenaga sakti, akan tetapi pukulannya cukup keras, karena tangannya terlatih sebagai tukang pandai besi. Kayu pembakar yang digunakan sebagai alat penggebuk, patah dalam tujuh- delapan kali sabetan saja.

Dapat dibayangkan, bahwa Janggel sangat menderita karenanya. Namun dengan mengertak gigi ia menerima pukulan-pukulan pandai besi itu tanpa membalas atau mengelak. Sekarang tubuhnya serta mukanya tidak hanya babak belur, tetapi mulai berdarah.

Dalam pada itu Lingga Wisnu yang berotak cerdas, lantas saja dapat menebak latar belakang peristiw a itu. Tukang besi itu rupanya menyimpan dendam begitu rupa kepada suami isteri Janggel - Roha. Oleh pertolongan Palupi, dapatlah ia melampiaskan dendamnya. Dia sendiri adalah seorang anak yang mendendam pula terhadap lawan-lawan ayah-bunda dan saudaranya yang mati penasaran. Karena itu, menyaksikan betapa si tukang besi dapat melampiaskan dendamnya, hatinya mendadak ikut bersyukur pula. Tak sekehendaknya sendiri ia memanjatkan doa syukur kepada Tuhan yang Maha adil.

Dalam waktu yang pendek saja, tiga potongan kayu bakar sudah patah untuk alat penggebuk. Muka dan seluruh tubuh Janggel berlumuran darah, tukang besi itu lalu menghentikan gebukannya. Betapapun juga dia bukan manusia kejam. Segera ia melemparkan kayu bakarnya ke tanah. Lalu menghadap Palupi. Sambil membungkuk hormat ia berkata :

"Nona Palupi. Pada hari ini engkau telah menolong aku melampiaskan dendam. Budimu ini takkan kulupakan selama-lamanya. Entah dengan cara bagaimana aku dapat membalas budimu."

"Paman Mawas. Tak usah kau berkata demikian," sahut Palupi. Kemudian menoleh kepada Roha. Katanya:

"Ayunda, kembalikanlah sawah ladang dan rumahnya. Aku mohon kepadamu, agar mulai saat ini ayunda berdua jangan membalas sakit hati kepadanya lagi. Maukah ayunda berdua berjanji?"

"Selama hidupku, tak akan lagi menginjak daerahnya," jawab Roha dengan angkuh. "Akan tetapi jangan harap aku akan melupakan peristiw a yang terjadi pada hari in i."

"Baiklah," sahut Palupi memaklumi. "Paman Mawas, kau pulanglah dahulu. Di sini tiada lagi sangkut-pautnya dengan perkaramu. Semuanya sudah beres, bukan?"

Dengan muka berseri-seri, tukang besi itu memungut beberapa potongan kayu bakar yang berlumuran darah. Berkata: "Orang itu sangat jahat. Tetapi aku telah dapat melampiaskan dendamku. Perkenankan aku menyimpat alat penggebuk pembalas dendam ini,sebagai kenang- kenangan."

Setelah berkata demikian, kembali ia membungkuk hormat kepada Palupi kemudian memutar tubuhnya meninggalkan ru angan itu dengan langkah panjang.

Melihat pandang rata tukang besi yang berseri-seri itu, jantung Lingga Wisnu tergoncang. Itulah suatu keserian yang membersit dari rasa syukur luar biasa. Ia jadi ingat dirinya sendiri. Apabila dikemudian hari ia juga berhasil melampiaskan dendamnya, pastilah akan segirang dia pula. Teringat pula ia kepada musuh musuhnya yang kejam. Kekejaman mereka tiada beda dengan kebengisan Janggel dan Roha. Mengingat pekertinya yang busuk, bukanlah suatu hal yang mustahil, akan mengejar si tukang besi untuk menganiaya sekali lagi, begitu Palupi meninggalkan rumahnya. Memperoleh pikiran demikian, segera Lingga Wisnu lari mengejar Mawas sambil berseru ia berkata :

"Paman Mawas, menurut pendapatku, Janggel dan Roha bukanlah manusia baik, karena itu, lebih baik paman mengungsi jauh-jauh. Sawah dan ladang serta rumah paman segera dijual saja dan dengan bekal uang hasil penjualan itu, hendaklah paman mencari daerah yang jauh dan aman dari perbuatan mereka."

Mawas, si tukang besi tercengang. Sejenak kemudian ia terperanjat. Benar, plkirnya. Mereka berdua, suami isteri Janggel dan Roha adalah manusia-manusia beracun. Kemungkinan besar mereka akan datang kembali untuk menyakiti dirinya. Akan tetapi menjual sawah ladang dan rumah yang telah didiami belasan tahun alangkah sayang. Rasa c inta kepada kampung halaman sudah demikian meresap di dalam dirinya. Maka berkatalah dia mencoba minta pertimbangan :

"Tetapi, bukankah mereka berdua sudah berjanji kepada nona Palupi? Masakan mereka akan melanggar janjinya sendiri?"

Palupi tadi menyesali Lingga Wisnu, nengapa ia memperkenalkan namanya terhadap suami isteri Janggel dan Roha. Pastilah hal itu ada alasannya yang kuat. Itulah sebabnya begitu ia mendengar ucapan Mawas, Lingga Wisnu lalu berkata meyakinkan :

"Mereka berdua adalah manusia beracun, kataku tadi. Apakah paman percaya kepada janji janji orang seperti mereka?"

Mawas seperti tersadar dari tidurnya. Dengan suara nengeluh ia berkata:

"Benar, benar! Baiklah, kalau begitu aku harus nenyingkir jauh-jauh."

Setelah berkata demikian, dengan bergegas ia nenuju ke ambang pintu. Sekonyong-konyong pula ia berhenti lalu menoleh dan berkata kepada Lingga Wisnu :

"Terima kasih, anakku. Siapa namamu?" "Lingga Wisnu," jawab Lingga Wisnu pendek.

"Lingga Wisnu, alangkah bagus namamu!" sera Mawas

si tukang besi.

Tiba-tiba ia tersenyurn. Kemudian berkata setengah berbisik : " Aku harap dengan sangat, hendaklah engkau memperhatikan nona Palupi selama hidupmu." Mendengar ucapan Mawas, Lingga Wisnu terce kat hatinya berbareng heran. Bertanya menegas :

"Apa maksud paman?"

"Anakku, Lingga," kata Mawas dengan sungguh sungguh. "Selama hidup aku ini hidup sebagai pandai besi. Tetapi meskipun tolol, tidaklah setolol kerbau. Umurmu ampat atau limatahun lebih muda dari dia. Meskipun demikian, ia sangat memperhatikan dirimu. Dia seorang gadis yang suci bersih, berhati mulia dan berkepandaian tinggi. Tahukah engkau siapa dia sebenarnya, selain kau kenal sebagai murid Ki Sarapada? Sebenarnya dia anak seorang maha sakti. Karena itu baik-baiklah engkau bergaul dengan dia."

Setelah berkata demikian, Mawas memutar tubuh dan keluar ambang pintu dengan tertaw a.

Keruan saja Lingga Wisnu tak dapat menyelami arti kata-katanya. Secara naluriah tiba-tiba ia merasa malu seperti melihat seorang perempuan bertelanjang bulat dihadapannya. Untuk mengatasi perasaan naluriahnya itu, ia berseru membalas :

"Paman, sampai bertemu lagi ! "

"Anakku, sampai bertemu kembali!" jawab Mawas.

Ia lalu mengumpulkan alat-alat besinya ke dalam keranjang. Setelah lengkap semua, segera ia memikulnya berjalan pulang ke kampungnya dengan hati lega. Kira- kira sepuluh langkah berjalan, ia bersenandung. Itulah suatu bukti kesederhanaan hatinya. Ia menangis sewaktu sedih, ia membungkam mulut sewaktu prihatin, dan tertaw a serta bersenandung tatkala hatinya tegar. Seperti seorang hukuman melihat salah seorang sahabatnya memperoleh kebebasannya kembali, Lingga Wisnu menghela napas karena jelus, irihati atau ikut bersyukur. Dan dengan langkah perlahan ia berjalan kembali ke dapur.

Tatkala itu Sukasah telah sadar dari pingsannya, ia sudah berdiri di atas lantai dengan berkerebong selimut kain panjang.

Terhadap Palupi, keluarga Janggel dan Roha jelus, dengki dan benci. Akan tetapi menyaksikan kepandaian gadis itu dalam hal menggunakan obat dan racun. Mau tak mau, mereka merasa sangat kagum. Dengan berdiri tegak mereka menatap pandang Palupi seakan-akan persakitan menunggu keputusan hakim dengan membungkam mulut. Sama sekali mereka bertiga tidak menghaturkan rasa terima kasihnya.

Palupi sendiri tak menghiraukan sikap mereka yang dingin itu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga ikat rumput obat kering berw arna putih. Diletakkannya ketiga ikat rumput obat kering itu diatas meja, kemudian berkata:

"Rumah kalian tidak lagi merupakan rumah tertutup. Sekalian pohon-pohon racunmu sudah kupunahkan. Karena itu pada suatu kali musuh kalian Anung Sukahar, sewaktu-w aktu dapat memasuki rumah in i. Karena itu kalian bisa memilih, keluar atau tetap berada di dalam rumah ini. Kedua-duanya sama saja bahayanya bagi kalian bertiga. Inilah rumput Kalajana, yang dahulu kutanam diantara bunga Badjararinonce. Dengan membakar rumput ini, kukira kalian sanggup mengundurkan gangguan Anung Sukahar, akan tetapi semenjak ini, janganlah engkau mengambil jiw a orang dengan sesukamu sendiri. Kuharapkan pula agar permusuhan kalian dengan keluarga Anung Sukahar dapat diselesaikan dengan damai."

Paras muka Janggel dan Poha berubah-rubah. Kadang merah-padam. Kadang pula nampak berseri. Mereka merasa girang dan bersyukur karena memperoleh pertolongan. Sebaliknya mereka mendongkol karena harus mendengarkan segala petuah dan ceramah adik seperguruannya yang masih kanak-kanak.

Itulah suatu penghinaan luar biasa bagi mereka. Meskipun danikian, mereka tak dapat memungkiri kenyataan. Janggel segera mengatasinya dengan berkata:

"Adik Palupi, terima kasih atas segala perhatianmu ini."

"Hmm." dengus Lingga Wisnu di dalam hati. "Engkau berterima kasih terhadap alat pemunah lawan, dan bukan karena tertolongnya jiwa anakmu."

Setelah suaminya menghaturkan terima kasih, Roha mengeluarkan sebuah botol kecil, yang kemudian diserahkan kepada Palupi. Katanya :

"Adikku, inilah obat pemunah racun Pacarkeling. Aku percaya, engkau bisa membuatnya sendiri. Akan tetapi kukira tak keburu lagi untuk menolong temanmu itu."

Mendengar disebutnya racun Pacarkeling, hati Lingga Wisnu te rce kat. Ia girang tercampur heran. Bagaimana ia dapat melihat racun Pacarkeling yang mengeram di dalam dirinya dengan sekali melihat saja? Sedang hatinya penuh pertanyaan demikian, ia melihat Palupi menerima botol pemberian Roha. Gadis itu segera memeriksanya dan kemudian menoleh kepada Lingga Wisnu. Katanya lembut :

"Adik yang baik, orang yang berhati mulia di mana tempat mudah memperoleh pertolongan Tuhan. Terimalah!"

Setelah berkata demikian kepada Lingga Wisnu, gadis itu berputar arah kepada Sukasah. Katanya dengan suara angker :

"Sukasah! Kenapa engkau memberikan racun Pacarkeling kepada orang luar?"

Sukasah terkesiap. Ia heran bukan main,bagaimana Palupi bisa mengetahui rahasia itu yang ditutupnya rapat-rapat. Karena ditanya secara mendadak, ia menjawab dengan gugup :

"Aku aku ..."

"Adik Palupi," kata Janggel. "Sukasah memang keterlaluan. Dan aku sudah menghajarnya."

Setelah berkata demikian, ia berjalan mendekati puterinya. Kemudian memutar tubuh Sukasah sehingga memunggungi Palupi dan Lingga Wisnu. Dibukanya selimut kain panjang yang menutupi punggung puterinya, dan begitu selimut kain tersibak, nampak punggung Sukasan penuh jalur bekas sabetan cambuk yang bersemu darah.

Sebenarnya tatkala menolcng melarut kan racun yang mengerarn di dalam tubuh Sukasah, Palupi melihat bekas sabetan cambuk tersebut. Tetapi mengingat bahwa perbuatan Sukasah melanggar undang-undang gurunya, merupakan kesalahan sangat besar, ia wajib menegor. Bahwasanya Sukasah telah memberikan racun Pacarkeling kepada orang luar, diketahui Palupi tatkala Roha menyerahkan obat pemunahnya. Ia teringat pula bahwa racun Pacarkeling yang mengeram di dalam tubuh Lingga Wisnu. Pada saat itu serasa ia dengar suara gurunya mengiang dalam telinganya :

"Jika engkau sendiri yang meracuni orang, andaikata kesalahan tangan, segera engkau dapat memberi pertolongan. Sebaliknya apabila racun itu jatuh ke tangan orang lain yang kemudian menggunakannya untuk mence lakakan orang baik-baik, maka korban itu takkan tertolong lagi. Dosa ini sepuluh lipat besarnya dari pada meracuni orang dengan tangan sendiri."

Palupi percaya bahwa larangan demikian itu pastilah sudah sering dikatakan kepada Sukasah, oleh kedua orang tuanya. Kenapa dia masih melanggar juga? Pastilah ada latar belakangnya yang beralasan kuat. Sebenarnya Palupi ingin minta keterangan lebih jelas lagi. Akan tetapi karena anak itu sudah dihajar keras oleh kedua orang tuanya, ia merasa tak sampai hati. Segera ia mengambil keputusan untuk berangkat saja. Katanya sambil membungkuk hormat kepada kedua kakak seperguruannya.

"Kangmas Janggel berdua, maafkan aku. Pada akhir- akhir in i aku banyak melakukan kesalahan kepada kangmas berdua. Sampai bertemu lagi."

Janggel segera membalas hormat, akan tetapi tidak demikian halnya Roha. Perempuan bongkok itu hanya mendengus. Sudah barang tentu Palupi tahu akan arti itu, namun ia tidak menghiraukan. Dengan memberikan isyarat mata kepada Lingga Wisnu, ia mendahului bertindak keluar ruangan. Baru saja ia hendak melangkah ambang pintu, Janggel mengejar berseru :

"Adik! Adik!"

Palupi memutar tuhuhnya. Dan begitu melihat paras muka kakak seperguruannya penuh rasa bimbang dan guram, segera ia mengetahui apa yang berkutik di dalam hatinya. Dengan tertaw a manis Palupi berkata :

"Kangmas Janggel, apakah yang menyulitkan hatimu?"

"Keluarga Anung Sukahar berjumlah tiga orang. Himpunan ilmu saktinya sangat tinggi dan untuk mengundurkan mereka bertiga, kami membutuhkan bantuan seorang lagi," sahut Janggel.

"Himpunan tenaga sakti dalam tubuh Sukasah, kemenakanmu, masih terlalu dangkal. Karena itu ingin aku memohon kepadamu ..." ia tak dapat menyelesaikan perkataannya, karena tiba-tiba hatinya menjadi segan.

Palupi tersenyum. Dan segera menunjuk ke keranjang bambu yang menggeletak di luar pintu.

"Kangmas Panjisangar berada di dalam keranjang itu! Bubuk bunga biru Badjrarinonce ada ditangan ayunda Roha dan cukup untuk memunahkan racun yang mengeram di dalam tubuh kangrnas Panjisangar. Kangmas Janggel, kenapa engkau tak mau menggunakan kesempatan sebagus ini untuk memperbaiki hubunganmu dengan kangmas Panjisangar? Jika engkau memberikan pertolongan kepadanya ia tentu akan membantu kesulitanmu juga." Mendengar keterangan Palupi, bukan main girang hati Janggel. Belasan tahun lamanya ia bermusuhan dengan kakak seperguruannya sendiri. Sebenarnya ingin ia memperoleh kesempatan untuk damai, akan tetapi selalu gagal. Bahkan makin lama makin mendalam. Sama sekali tak pernah di duganya, bahwa adik seperguruannya yang masih belum pandai beringus itu dengan mudah saja dapat mengatur siasat yang mengagumkan. Kecuali mengundurkan lawan berbareng memperbaiki perhu- bungan antara sesama saudara seperguruan. Keruan saja hati Janggel jadi terharu. Setelah menghaturkan terima kasihnya, segea ia mengambil keranjang bambu itu.

Dalam pada itu Lingga Wisnu sudah memungut bunga birunya lagi yang tadi diletakkan di luar .

Palupi mengalihkan perhatiannya kepadanya. Kemudian ia berpaling lagi kepada Janggel dan berkata:

"Kangmas Janggel. Kepala dan hampir seluruh tubuhmu mengalirkan darah. Tetapi begitu hawa racun yang mengeram di dalam tubuhmu ikut merembes keluar pula. Kuharap janganlah engkau menaruh dendam terhadap perbuatanku yang kurang ajar tadi."

Lagi-lagi Janggel terkejut seperti orang yang tersadar dari t idur nyenyak. Pikirnya di dalam hati:

'Akh, baru sekarang aku tahu, bahwa perint ahnya agar pandai besi itu memukul aku sebenarnya, kecuali menghukum kesalahanku, juga mengandung maksud baik. Racun yang mengeram di dalam tubuhku kini sudah hilang, sebaliknya pada Roha masih ada. Kalau begitu aku harus mengeluarkan darahnya pula agar ia terhindar dari keracunan.' Memperoleh pengertian itu, ia merasa benar benar takluk terhadap adik seperguruannya yang jauh lebih muda dari dirinya. Benar-benar si kecil itu banyak akal dan lebih unggul dari pada dirinya sendiri. Segera lenyaplah napsunya untuk merebut atau merampas buku warisan gurunya yang berada di tangan Palupi.

Dengan berdiam diri Palup i dan Lingga Wisnu meninggalkan rumah aneh itu. Di dalam benak Lingga Wisnu berkecamuk banyak persoalan yang berkelebatan tiada hentinya. Ia menggeridik tatkala mereka bertiga tadi membicarakan perkara racun Pacarkeling. Berbagai pertanyaan timbul dalam hatinya:

'Aku terkena racuh Pacarkeling. Siapa yang melukai aku, agaknya setan dan iblis yang tahu. Kini setitik cahaya menyingkap kabut tebal itu. Sukasah memberikan racun kepada seseorang. Sayang, ayunda Palupi tidak minta keterangan kepadanya, siapa orang itu. Ia kecewa dan menyesali Palupi. Akan tetapi tiba-tiba suatu pertimbangan lain menusuk benaknya. Katanya didalam Kati:

'Dalam semua sepak terjangnya, gadis in i selalu mengandung dua maksud yang saling bertentangan. Dia menggebuk sambil menolong. Dia tak mau minta kete- rangan yang lebih jelas lagi tentang orang yang membaw a racun Pacarkeling dari tangan Sukasah. Apakah dia bermaksud melindungi aku? Memang hatiku penuh dendam terhadap orang itu dan semua yang membunuh ayah-bunda dan saudaraku. Tetapi aku belum mempunyai kepandaian yang berarti. Kalau mendadak hatiku panas dan ingin melampiaskan dendamku, bukankah sama saja artinya aku mengantarkan jiwaku sendiri?' Dan memperoleh pertimbangan demikian, hatinya menjadi lega.

Tatkala itu fajar telah menyingsing. Mereka berdua sudah bekerja berat dan semalaman suntuk tidak memejamkan mata. Meskipun demikian karena terselimut kesejukan hawa pegunungan yang segar, sarna sekali rereka t idak merasa letih.

"Ayunda Palupi, bagaimana engkau tahu bahwa Sukasah kena racun Badjrarinonce?" tanya Lingga Wisnu. "Dalam kegelapan malam, mataku tak dapat melihat tegas."

"Mula-mula sewaktu melihat kawanan anjing hutan itu, kukira yang datang adalah salah seorang keluarga Anung Sukahar," sahut Palupi. "Akan tetapi begitu melihat pada leher orang itu terikat seikat rumput obat, segera aku mengetahui bahwa ia adalah Sukasah."

"Apakah sebeIumnya kau pernah melihat Sukasah?" potong Lingga Wisnu.

"Belum pernah aku melihat orangnya, tetapi kenal namanya." jawab Palupi dengan sederhana. Kemudian meneruskan: "Kemudian kuserang dia dengan paku beracun milik kangmas Panjisangar dan paku itu sangat terkenal diantara kita sesama rumah perguruan. Itulah salah satu senjata guruku yang diajarkan kepadanya. Namanya paku Yomani. Sudah barang tentu kangmas Janggel berdua menemukan surat tulisan kangmas Panjisangar yang sebenarnya tulisanku sendiri. Itulah sebabnya pula mereka berdua menuduh kangmas Panjisangar meracuni anaknya." "Dari mana kau peroleh senjata rahasia kakakmu Panjisangar?" tanya Lingga Wisnu.

"Adik yang balk, engkau bukan anak tolol. Pastilah engkau bisa menebaknya," jawab Palupi dengan tertaw a lebar.

Lingga Wisnu berdiam sejenak, kemudian ia berkata nyaring seperti baru tersadar:

"Akh, sekarang tahulah aku. Pada saat itu kakakmu Panjisangar telah kau bekuk dan kau masukkan ke dalam keranjang. Bukankah begitu? Dan engkau mengambil sebuah paku Yomaninya."

"Benar," sahut Palupi. "Melihat bunga biru itu kangmas Panjisangar sudah menaruh curiga. Ia mengikuti dirimu tatkala engkau berdua minta keterangan jalan yang menuju ke rumah guru. Dan akhirnya ia masuk ke dalam keranjangku."

Mereka berdua lantas tertawa gembira. Tiba tiba wajah Palupi berubah menjadi sungguh-sungguh. Katanya :

"Adik Lingga, racun Pacarkeling yang mengeram di dalam dirimu itu belum larut seluruhnya. Sewaktu-w aktu engkau masih akan terserang hawa yang dingin luar biasa. Karena itu obat pemunah hadiah ayunda Roha harus kau telan secepat mungkin."

Diingatkan tentang racun Pacarkeling yang mengeram di dalam dirinya, Lingga Wisnu segera menceritakan bagairnana terjadinya. Maksudnya ia hendak memperoleh keterangan pula siapakah orang yang memukul dirinya dengan racun Pacarkeling. Akan tetapi Palupi hanya bersikap diam saja. "Ayunda Palupi, kemarin aku menerangkan kepadamu bahwa orang tua dan sekalian saudaraku tiada lagi. Mereka sesungguhnya coati terbunuh oleh lawan-lawan yang belum kuketahui dengan jelas." kata Lingga Wisnu menambahi. Dan sekali lagi, tanpa diminta Palupi dengan sukarela mengisahkan riw ayat hidupnya.

Dan mendengar riw ayat hidup Lingga Wisnu, Palupi nampak menundukkan kepalanya. Tetapi gadis itu tetap membungkam mulut.

Tak terasa mereka berdua sudah tiba kenbali ke gubuk Palupi. Aruji masih nampak tidur nyenyak. Palupi segera mengeluarkan obat pemunah dan diberikannya kepada Lingga Wisnu. Kemudian ia mencari cangkulnya dan berangkat ke ladang untuk mengatur kembali bunga- bunga birunya yang semalam terinjak-injak kuda Sukasah dan kaw anan anjing liar.

Menyaksikan hal itu, segera Lingga Wisnu menjejalkan obat pemunah ke dalam mulut Aruji. Kemudian ia mencari cangkul pula dan menyusul ke ladang untuk membantu Palupi.

Semalam penuh ia bekerja berat, dan sama sekali tidak memicingkan mata. Namun begitu, ia berangkat ke ladang juga untuk meraw at kembali bunga-bunga birunya. Dia sudah begitu memperhatikan diriku, kalau aku tidak membantu apa yang menjadi perhatiannya, maka aku adalah manusia yang tak mengenal budi, pikir Lingga Wisnu sambil bekerja dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi sebenarnya dia tak boleh bekerja menggunakan tenaga yang berlebihan. Karena racun Pacarkeling yang masih mengeram dalam tubuhnya. Meskipun Palupi seorang gadis yang kurus kering, akan tetapi kesehatannya menang seratus kali lipat apabila dibandingkan dengan Lingga Wisnu. Inilah perhitungan yang tak pernah terpikirkan oleh Lingga Wisnu. Bocah itu hanya menuruti luapan perasaannya belaka yang penuh dengan tata susila dan kemanusiaan.

Matahari sudah sepenggalah t ingginya tatkala tiba-tiba seseorang nenegor dirinya :

"Hai, adik Lingga! Kau sudah bisa bergerak bahkan mencangkul pula, apakah aku sedang mimpi?"

Serentak Lingga Wisnu menoleh dan melihat Aruji berdiri di pengempangan ladang dalam keadaan segar bugar. Wajahnya nampak bersemu merah, satu tanda kesehatannya telah pulih kembali. Tetapi justru pada saat itu suatu gumpalan hawa dingin bergolak hebat di dalam perut Lingga Wisnu. Ia terkejut, buru-buru diletakkannya cangkulnya dan menbungkukkan tubuhnya. Dengan mengertak gigi ia menahan rasa sakit luar biasa sedangkan tubuhnya lantas saja menggigil dan kanudian roboh terguling ke atas tanah.

Keruan saja hal itu membuat Aruji kaget setengah coati. Dengan sekali menjejak tanah ia melesat mengham piri dan memeluk Lingga Wisnu. Teriaknya :

"Adik! Adik! Kau kenapa? Apakah kau kumat lagi?"

"Abang Aruji ......... aku bersyukur karena kau telah sehat kembali," sahut Lingga Wisnu dengan suara lemah.

Aruji jadi kebingungan. Tubuh Lingga Wisnu terasa dingin sekali. Dengan sekehendaknya sendiri ia menoleh kepada Palupi. Gadis itu berhenti mencangkul dan berkata : "Bawa masuk saja ke dalam rumah!"

" Sebenarnya bagaimana? Sejak kapan ia bisa menggerakkan kaki dan tangannya? Dan kenapa tiba-tiba ia roboh kembali?" Aruji menegas dengan suara menggeletar.

"Aku bilang, bawa dia masuk ke dalam rumah!" sahut Palupi dengan suara dingin. Kanudian ia berjalan mendahului mengarah ke rumahnya. Meskipun dalam hati Aruji masih penuh pertanyaan, tetapi pemuda itu tak berani membuka mulut lagi. Segera ia memondong tubuh Lingga Wisnu dan dibaw anya berjalan mengikuti Palupi.

"Kau berkata, engkau keponakan Ki Sarapada, bagaimana engkau memanggil padanya?” tanya Palupi setelah Aruji meletakkan Lingga Wisnu diatas dipan.

Aruji terkesiap. Menyahut "Paman." "Apakah dia kakak ibumu?"

"Bukan. Aku memanggil paman padanya, karena aku

termasuk sealiran dengan dia."

"Hem!" dengus gadis dusun itu. "Apakah kau seorang anggauta Ngesti Tunggal?"

"Benar."

"Engkau sudah tahu, tatkala dia kau bawa menginap ke mari, sudah dapat menggerakkan kaki dan tangannya. Mengapa hal itu kau tanyakan padaku?" tanya Palupi dengan wajah bersungguhsungguh.

Aruji bercekat hatinya. Mendadak pikirannya yang seperti diliputi kabut menjadi terang kembali. Terus saja katanya sambil menepuk kepalanya : "Akh, benar! Kenapa pikiranku menjadi kacau begini? Tatkala dia kembali dari rumah aneh itu, kaki tangannya sudah dapat digerakkan. Ia bahkan berseru dan menegas kepadaku, apakah hal itu hanya suatu mimpi belaka. Aku menegaskan bahwa dia bisa bergerak benar-benar. Hanya saja aku tak tahu, bagaimana dia bisa menggerakkan kaki dan tangannya dengan tiba-tiba saja?"

Palupi tidak segera menjawab. Ia memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan Lingga Wisnu. Sejenak kamudian berkata :

"Tahukah engkau, racun apakah yang mengeram di dalam tubuhnya?"

"Aku hanya mendengar keterangan dari kakek gurunya Kyahi Basaman. Dia terkena pukulan tangan jahat yang beracun. Racun itu racun Pacarkeling." jaw ab Aruji.

Palupi tersenyum. Agaknya ia puas. Kemudian memanggut kecil. Katanya :

"Apakah bocah ini anggauta Ngesti Tunggal pula?" "Bukan," sahut Aruji dengan suara tegas. "Tatkala

kubawa dia mendaki gunung Merapi, aku berjanji kepada kakek gurunya. Bahw asanya tujuanku hendak membalas budi dengan mengandalkan kesaktian paman Sarapada. Dan apabila dia dapat disembuhkan kembali, tak perlu merasa berhutang budi. Aku berkata kepada Kyahi Basaman bahwa untuk kesemuanya itu tak perlu dia masuk ke dalam golongan kita."

Palupi menatap wajah Aruji dengan pandang heran.

Tanyanya tak mengerti : "Kakek bocah ini mengapa begitu picik pandangannya terhadap golongan kita?"

"Entahlah," sahut Aruji dengan tertawa melalui dadanya. Kemudian meneruskan:

"Golongan kita ini disebut aliran ib lis. Mereka yang menamakan diri orang yang berTuhan, jijik bersentuhan dengan orang dari golongan kita."

"Oh, begitu?" dengus Palupi dengan suara kecewa. Dan hati Aruji bercekat. Ia, khaw atir Palupi tidak mau menolongnya lagi, setelah mendengar bahwa kakek guru Lingga Wisnu memandang aliran Ngesti Tunggal sebagai golongan iblis Yang menjijikkan. Maka buru-buru ia berkata dengan suara memohon :

"Sebenarnya setelah aku bertemu dengan paman Sarapada, segera aku akan membicarakan hal in i. Sayang sekali sampai hari ini, aku belum berhasil menghadap beliau. Apakah engkau masih sudi menunjukkan di manakah tempat tinggalnya?"

"Hmmm!" dengus Palupi. Ia diam beberapa saat lamanya. Kemudian berkata: "Engkau menyebut beliau paman, bukan?"

"Benar!"

"Beliau adalah guruku." "Akh ! "

Aruji kaget sampai berjingkrak. Tetapi dia seorang

pemuda berpengalaman dan cerdas. Kemarin, meskipun dapat berjalan seperti sediakala, namun tenaga saktinya belum pulih kembali. Tetapi pada pagi hari ini, ia merasa diri sehat benar. Bahkan di dalam tubuhnya terasa segumpal hawa hangat yang nyaman luar biasa berputar-putar menembus peredaran darahnya. Itulah suatu tanda bahwa dirinya sudah pulih. Padahal dia belum bertemu dengan pamannya Ki Sarapada. Kalau begitu, siapa lagi yang menolongnya, selain gadis di depannya ini? Maka segera ia menjatuhkan diri dan bersimpuh di hadapannya. Katanya dengan suara memohon :

"Dengan sekali melihat tahulah sudah kau bahwa anak ini terkena pukulan jahat PacarKeling. Maka aku yakin, pastilah engkau mempunyai pegangan untuk menyembuhkannya. Aku sendiri yang menderita pukulan jahat dapat kau sembuhkan hanya dalam waktu satu malam saja. Ini semua membuktikan, bahwa engkau sudah mewarisi kepandaian paman Sarapada. Teringatlah aku akan suatu pepatah: menolong jiw a orang lebih penting dari pada menolong rumah tingkat tujuh yang terbakar api. Memang sekali menolong orang, seyogyanya jangan setengah-setengah."

"Hmmm! Rupanya engkau pandai berkhotbah di hadapanku," potong Palupi dengan memberengut.

"Bukan begitu! Aku telah berhutang budi terhadap kakek gurunya, maka dengan ini aku mohon kepadamu agar engkau menolong cucunya."

"Tak kukira engkau ternyata seorang bajik. Engkau tahu pula membalas budi," kata Palupi dengan suara dingin. "Yang berhutang budi adalah engkau, bukan aku!"

Cepat-cepat Aruji membungkukkan badan dan menundukkan kepala sampai mencium bumi. Katanya dengan suara putus asa: "Adik yang baik, adik kecil ini anak seorang pendekar sejati. Aku percaya bahwa darah ayahnya mengalir dalam dirinya. Kita boleh kehilangan ribuan orang yang tiada gunanya. Akan tetapi apabila sampai kehilangan seorang berjiwa kasatria, sesungguhnya sangat disayangkan"

"Apakah seorang pendekar sejati mesti baik hatinya? Haih, di dalam jagad in i berapa jumlahnya orang yang berhati baik? Kalau aku harus menyembuhkan orang- orang berhati baik diseluruh dunia in i, mestinya aku harus mempunyai tangan seribu dan kaki seribu pula," kata Palupi lagi.

Kemudian ia menghela napas panjang. Berkata meneruskan:

"Sekiranya dia salah seorang anggauta golongan kita, masih mau aku berusaha menolong jiw anya. Sebaliknya, dia adalah cucu seorang pendekar yang mengaku dirinya seorang kasatrya sejati dan memandang hina kepada golongan kita. Kenapa dia tidak mencari seorang dukun pandai lain saja?"

"Sebenarnya akulah yang membaw a adik kecil in i ke mari,” sahut Aruji.

“Oh, begitu?” Palupi mengerutkan kening.

o))0oodwoo0((o

8. Mimpi Lingga Wisnu

Lingga Wisnu sendiri kala itu kehilangan kesadarannya . Satu kekuatan yang berada diluar kemampuannya merenggut dirinya. Ia di bawa terbang tinggi ke udara menyusupi gumpalan gumpalan awan, kemudian dibanting ke atas tanah sehingga debu lantas saja membubung tinggi dan matanya menjadi gelap. Selagi demikian, tiba-tiba ia mendengar deru angin melanda bumi. Dan debu yang menutupi penglihatannya dibawa buyar berderai. Segera ia mengucak matanya. Dan t iba- tiba saja ia sudah berada di dalam sebuah ruangan besar.

Aruji berada disampingnya. Dan didepannya berdiri seorang laki-laki berusia kurang lebih tujuh puluh tahun. Peraw akan orang itu tinggi kurus-kering. Kepalanya setengah botak sehingga dahinya menonjol ke depan dan matanva kelihatan sipit. Hidungnya kecil akan tetapi lobangnya terlalu besar. Melihat dirinya, orang itu ter- taw a lalu berkata dengan suara parau :

"Hai, tahukah engkau siapa aku? Akulah Sarapada, tabib sakti tak ubah malaekat yang sanggup menghidupkan manusia yang sudah terkubur di dalam bumi seribu tahun. Kau percaya, tidak?"

Aruji lantas saja menjatuhkan diri. Setelah bersembah sampai mencium bumi, ia berkata dengan suara minta belas kasihan :

"Paman, meskipun ayahnya murid Kyahi Basaman yang mengaku diri dari aliran suci dan memandang jijik kepada aliran kita, akan tetapi ibunya adalah puteri Panembahan Larasmaya yang sealiran dengan kita."

Mendengar kata-kata Aruji, Ki Sarapada yang pada mulanya bersikap kaku lantas saja kelihatan berubah. Katanya menyahut : "Jika begitu, bangunlah engkau! Jadi dia putera Larasati? Itulah lain perkara," setelah berkata demikian, ia menghampiri Lingga Wisnu. Dengan suara lemah lembut dia berkata :

"Anakku, di dalam dunia ini tak terhitung jumlahnya orang-orang yang mengaku dirinya suci akan tetapi sesungguhnya jahat sekali. Mereka yang mengaku dirinya suci kebanyakan hanya mementingkan diri sendiri. Lihatlah, selagi kancah peperangan di tanah air begini bergolak, mereka berebut nama kosong agar diakui masyarakat sebagai aliran suci-bersih yang mengerti perkara Tuhan. Kami yang berada dipihak Gusti Pangeran Mangkubumi, tidak memperdulikan suci atau kotor dan baik atau buruk. Perkara in i berada didahului mereka, maka kami terpaksa juga membuat peraturan. Bahwasanya kami tidak akan menolong orang-orang yang menganggap dirinya kasatrya dari aliran suci dan golongan baik. Engkau adalah cucu Pane mbahan Larasmaya yang sealiran dengan kami. Baiklah, aku akan menyembuhkan penyakitmu. Asal saja engkau berjanji, setelah sembuh engkau akan meninggalkan rumah perguruan Kyahi Basaman yang menganggap dirinya golongan kasatrya suci dan baik. Bagaimana?"

"Itu tidak boleh, paman!" tiba-tiba Aruji menjawab mewakili Lingga Wisnu yang belum sempat membuka mulutnya. "Sudah kukatakan tadi bawa sebelum berangkat ke mari aku telah berjanji kepada Kyahi Basaman. Sekali-kali paman Sarapada tidak boleh mamaksa adikku Lingga Wisnu ini memasuki aliran kita sebagai suatu jual beli. Bahkan kyahi Basaman tidak sudi pula mengakui menerima budi dari aliran kita." "Hmm. Orang yang bernama Kyahi Basaman itu manusia macam apa? sampai berani menghina golongan kita? Kalau begitu apa perlu aku menolong menyembuhkan penyakit cucunya? Tetapi mengingat bocah ini cucu Panembahan Larasmaya, biarlah aku ingin mendengar ucapannva sendiri. Nah, bagaimana?"

Lingga Wisnu sadar, bahwa racun Pacarkeling sudah mengamuk ke seluruh jalan darahnya. Demikian hebat penderitaannya sampai kakek gurunya, Kyahi Basaman yang berkepandaian t inggi, merasa tak berdaya. Jiwanya kini hanya tergantung kepada tabib Ki Sarapada belaka. Kalau tabib itu mau mengulurkan tangannya, dia bakal hidup. Sebaliknya apabila tidak sudi menolong, dia akan segera mati. Tetapi tatkala berpisah dengan kakek gurunya, ia dipesan berulang kali jangan sampai memasuki aliran sesat. Orang boleh mati tak berkubur di dalam dunia in i, akan tetapi dalam menghadap Tuhan jangan sampai tersesat, demikianlah pesan Kyahi Basaman. Sebaliknya, bagaimana sesungguhnya aliran Ngesti Tunggal itu, belum ia ketahui dengan jelas.Apakah benar aliran sesat atau tidak? Namun terhadap Kyahi Basaman ia menaruh hormat karena orang tua itu sangat kasih kepadanya, tak ubah ubah cucu kandung sendiri. Ia berpesan demikian karena terdorong oleh rasa kasih sayangnya dan bukan bermaksud jahat atau hendak menjerurnuskan dirinya ke dalam jurang. Oleh pertimbangan demikian, ia berpikir di dalam hati: 'Tabib ini nampaknya galak dan memang aneh adatnya. Baik- lah, meskipun dia akhirnya tak sudi menolong jiw aku, tetapi rasanya adalah suatu dosa besar apabila melanggar pesan kakek guru.' Dengan keputusan itu Lingga Wisnu menjawab dengan lantang:

"Paman Sarapada, ibuku anak Panembahan Larasmaya yang sealiran dengan paman. Pastilah ibuku seorang yang baik hati pula. Hanya saja eyangku berpesan kepadaku, agar aku tidak masuk aliran Ngesti Tunggal. Aku sudah sanggup. Dan kalau sekali sudah sanggup, bagaimana mungkin aku melanggar perkataanku itu sendiri? Kalau sampai terjadi demikian, aku bukan laki-laki lagi. Bukankah ucapan seorang laki- laki berharga seribu gunung? Dengan pendirian in i, apabila paman tidak sudi rnengobati aku, tidak apalah. Seumparna aku berhasil kau sembuhkan tetapi kemudian masuk aliran Ngesti Tunggal, maka di dunia ini hanya ketambahan seorang laki-laki dengan mulut tidak dapat dipercaya lagi. Apakah gunanya hidup demikian dan apakah keuntungannya dunia menghidupi aku?"

Mendengar jawaban Lingga Wisnu, diam-diam Ki Sarapada terkejut. Pikirnya: 'Setan cilik ini besar mulutnya. Ia berlagak seperti seorang kasatria sejati yang tidak butuh nasi dan pakaian. Hmm, kalau aku tidak mau mengobati, masakan dia tidak berlutut memohon belas kasihan ku?'

Memperoleh pikiran demikian, ia berkata lantang kepada Aruji: "Aku sudah mendengar pendirian bocah ini. Dia tidak sudi memasuki aliran kita. Karena itu bawalah dia keluar! Tak sudi aku menyaksikan orang mati di dalam rumahku."

Aruji kenal tabiat pamannya itu. Sekali ia berkata tidak, dia tetap akan mempertahankannya pendiriannya itu. Sebaliknya kalau sudah sanggup, meskipun yang berkepentingan akan lari, akan dikejarnya sampai dapat ditangkapnya kembali.

Maka segera ia berkata kepada Lingga Wisnu :

"Adikku, meskipun aliran Ngesti Tunggal tidak mempunyai Nabi, akan tetapi tujuannya sama dengan agama lain yang menyembah Tuhan yang Maha Esa. Banyak di antara anggautanya adalah kasatrya sejati yang tak usah kalah dengan golongan eyangmu. Eyangmu, Panembahan Larasmaya membuktikan hal itu. Bukankah ibumu seorang wanita sejati pula? Karena itu, apakah jeleknya engkau masuk aliran Ngesti Tunggal? Kelak dihadapan kakek gurumu, aku yang bertanggung jawab ."

"Baik." jawab Lingga Wisnu diluar dugaan. "Nah, pukullah punggungku beberapa kali. Disini, tulang punggung ke delapan dan ke sebelas!"

"Baiklah!" sahut Aruji girang.

Dengan cepat ia melakukan apa yang diminta Lingga Wisnu. Dengan seketika itu juga kedua kaki Lingga Wisnu bisa bergerak.

"Abang!" kata Lingga Wisnu sambil menggerakkan kakinya. "Benar, aku percaya kepada perkataanmu. Apabila engkau berani bertanggung jaw ab, pastilah eyang guru tidak akan marah. Tak kukira, bahwa engkaupun berpendirian seperti pamanmu Ki Sarapada," setelah berkata demikian, dengan angkuh Lingga Wisnu keluar ruangan.

Keruan saja Aruji sangat terkejut. Serunya kepada Lingga Wisnu : "Hai, hai! Engkau mau ke mana?"

"Jika aku mati di depan rumah Ki Sarapada, seorang tabib sakti, tak ubah malaekat, bukankah akan mengotori namanya yang menjulang tinggi di atas gumpalan awan?" jawab Lingga Wisnu dengan suara mengejek. "Karena itu, biarlah aku mati di jalan saja."

Dan setelah itu, ent ah dari mana datangnya kekuatan, Lingga Wisnu lari kencang bagaikan melesatnya anak panah!

"Bagus! Orang boleh mati di luar kandangku dan apa peduliku?" kata Ki Sarapada dengan tak kurang angkuhnya.

Aruji tidak menggubris ujar pamannya. Dengan mati- matian ia mengejar Lingga Wisnu. Meskipun dia terluka pula, akan tetapi lukanya lebih ringan dari pada luka yang diderita Lingga Wisnu.

Dalam hal ilmu kepandaian, Aruji pun menang seratus kali lipat dari pada Lingga Wisnu. Kecuali gerak-geriknya lebih gesit, langkahnya panjang pula. Maka tak mengherankan, lengan Lingga Wisnu kena disambernya dan dibawanya kembali ke pondok Ki Sarapada. Kedua tangan Lingga Wisnu bergerak ingin merenggutkan diri. Akan tetapi tenaganya terlalu lemah, sehingga ia menjadi mati kutu.

"Oh, paman!" seru Aruji dengan tersengal-sengal. "Apakah paman benar-benar tak sudi menolong bocah ini?"

"Sekali aku menolak, tiada lagi yang bisa merobah pendirianku. Kalau kau tidak percaya boleh engkau minta bantuan seribu dewa untuk menggugurkan pendirianku ini dan aku tidak akan bergerak meski serambutpun." sahut Ki Sarapada dengan angkuhnya.

Aruji lalu berkata lagi :

"Tetapi paman akan menolong menyembuhkan lukaku, bukan?"

"Ya," jawab Ki Sarapada.

"Balk," kata Aruji setelah menghela napas. Meneruskan: "Karena aku pernah berhutang budi kepada kakek guru bocah ini, maka idzinkan aku menolong cucunya. Hal in i demi menjaga nama Ngesti Tunggal. Kalau salah seorang anggauta Ngesti Tunggal tak dapat dipercaya lagi mulutnya, dimanakah pamor Ngesti Tunggal hendak paman sembunyikan? Karena itu, biarlah paman tidak usah menyembuhkan aku lagi, sebaliknya tolonglah bocah ini. Dengan begitu idzinkan aku menukar jiw a. Satu jiw a ditukar dengan satu jiw a. Paman tidak rugi, bukan?"

Ki Sarapada mengerutkan dahinya. Menyahut:

"Jantungmu kena pukulan Rajah Pideksa, itu adalah pukulan beracun yang sangat berbahaya. Dalam satu minggu ini, apabila engkau bisa mencari tabib pandai, jiw amu masih dapat tertolong tetapi apabila sampai lew at satu minggu, hanya jiw amu saja yang dapat diselamatkan, sedangkan himpunan ilmu saktimu akan musnah. Kalau sampai dua minggu sedang engkau kumat dan belum menemukan tabib pandai, jiw amu akan melayang."

"Hal itu janganlah paman hiraukan. Inilah urusanku sendiri. Mati sekarang atau besok bukankah sama saja? Tetapi mati untuk satu kebajikan, sarna sekali aku tidak akan menyesal," ujar Aruji dengan suara tegas.

Mendengar kata-kata Aruji, Lingga lantas berseru nyaring :

"Aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku tidak mau kau tolong!" setelah itu ia berpaling pada Aruji, serunya nyaring pula: "Abang! Apakah kau kira Lingga Wisnu ini manusia hina dina? Kenapa engkau menukar jiw amu sendiri dengan jiw aku ? Sekalipun aku hidup, rasanya dunia tiada untungnya. Duapuluh, t igapuluh tahun yang lalu, bukankah di dunia ini tiada seorang manusia kecil bernama Lingga Wisnu? Dan dunia tidak pernah merasa rugi. Karena itu tak perlu abang menukar jiw a dengan jiw aku."

Akan tetapi Aruji adalah seorang laki-laki sejati. Sekali dia berkata, tidak sudi ia menarik kembali. Dengan kedua tangannya yang kuat ia menyamber Lingga Wisnu dan didudukkannya di kursi. Kemudian ia mencari tali dan Lingga Wisnu diikatnya erat-erat pada sandaran kursi itu.

Keruan saja Lingga Wisnu gugup setengah mati.

Teriaknya :

"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Kalau tidak , engkau akan kumaki habis-habisan!" dan tatkala melihat Aruji tidak menggubris teriakannya, ia terus mencaci kalang kabut. Mula mula ia mengutuk Ki Sarapada, kemudian Aruji.

Teriaknya kalap :

"Kau bangsat Sarapada! Kepalamu kecil seperti kelapa! Perutmu gendut seperti kerbau. Benar benar kau seperti kutu busuk! Katanya kau seorang tabib pandai, akan tetapi nyatanya gigimu kuning semua! Kau begitu bangga kepada aliranmu Ngesti Tunggal, nyatanya engkau adalah seorang yang tak punya perikemanusiaan. Engkau iblis! Engkau siluman! Engkau setan! Dan engkau Aruji, engkau kerbau berewok! engkau juga setan busuk!"

Makian Lingga Wisnu makin lama makin tajam dan ia tidak sembarang memaki saja, tetapi bersajak pula. Dan mendengar Lingga Wisnu bisa memaki dengan bersajak, Ki Sarapada dan Aruji merasa aneh luar biasa.

Beginilah sajak makian Lingga Wisnu :

- Ting tong ting prut,

Ada singkong dirubung semut Sarapada otaknya berlumut

Tabib sakti tukang kentut.

Bang beli getuk Setalen dua tumpuk Aruji seperti kunyuk

Kalau kencing keluar masuk!

Mereka berdua jadi tercengang dan saling memandang, akhirnya Aruji membuka mulut :

"Paman, sekarang idzinkan aku mencari seorang tabib pandai."

"Di pinggang gunung Merapi ini tiada seorang tabib pandai," sahut ki Sarapada dengan suara dingin. "Dan engkau tak dapat mencapai kaki gunung Merapi dalam waktu tujuh hari, karena itu sebe Ium engkau kembali ke mari mayatmu sudah dimakan busuk gagak."

Aruji tertaw a. Sahutnya: "Kalau di dunia in i hidup seorang tabib sakti yang tidak mau menolong apabila sekali berkata tidak sudi menolong, maka di dunia ini pun terdapat seorang laki- laki yang t idak takut mati di tengah jalan."

Setelah berkata demikian penuda itu melangkahkan kakinya keluar.

"Oh, Sarapada!" teriak Lingga Wisnu yang sudah terikat erat di atas kursi. "Jika engkau tidak mau mengobati abang Aruji, pada suatu hari aku akan datang kemari untuk membunuhmu. Aku aku ..." Karena diamuk gejolak hatinya, ia terkulai tak sadarkan diri.

"Hmm, Mrepat Kepanasan adalah satu Padepokan yang suci bersih. Tak bisa ada orang yang mati di atas tanahnya." kata Ki Sarapada seperti pada dirinya sendiri. Kenudian ia mengambil sepotong tandung menjangan muda yang terletak di atas meja. Terus ditimpukkan ke arah Aruji yang sedang berjalan membelakanginya.

Tepat timpukan itu tanduk menjangan itu mengenai belakang lutut Aruji, yang lantas saja roboh di tanah tak berkutik lagi.

W atak Sarapada memang benar benar aneh.

Kalau dia sudah menolak, tak perduli siapa yang nemohon kepadanya, ia takkan merubah keputusannya tadi. Sebaliknya apabila dia mau menolong meskipun orang yang berkepentingan tidak sudi ditolongnya, pasti ia akan memaksa menyembuhkannya juga. Kecuali itu ia bisa berpikir panjang pula. Tadi ia mendengar ancam Lingga Wisnu. Dan ucapan bocah itu benar benar berkesan di dalam lubuk hatinya. Ia melihat Lingga Wisnu, seorang bocah yang masih berumur belasan ta- hun. Namun demikian bocah itu berjiwa kasatria sejati.

Sesungguhnya bukan bocah sembarangan. Dialah cucu murid Kyahi Basaman. Di kemudian hari apabila bocah ini sampai mati di dalam rumahnya, pasti akan menerbitkan ekor panjang.

Setelah menimbang beberapa saat lamanya, akhirnya ia nengambil keputusan. Katanya didalam hati:

'Akh, buat apa aku bersusah payah menolong mereka berdua? Biarlah kedua-duanya mati di luar rumahku. Ada baiknya, Mrepat Kepanasan in i bertambah dua setan penasaran '

Setelah mengambil keputusan demikian, ia menghampiri Lingga Wisnu dan melepaskan tali pengikatnya. Maksudnya setelah bocah itu dilepaskan, akan dilemparkan keluar pintu. Mati atau hidup, apa perduliku, pikirnya. Akan tetapi tatkala tangannya menyentuh pergelangan Langan Lingga Wisnu, ia tertegun. Dirasakan urat nadi Lingga Wisnu berdenyut dengan sangat aneh.

Hatinya tercekat. Ia mengulangi lagi dengan cermat.

Kini ia jadi heran. Pikirnya:

'Masakan bocah seumur dia sudah bisa menembusi seluruh peredaran darah dan urat nadinya? Sedang aku sendiri yang dengan susah payah melatih diri berpuluh tahun lamanya, belum mampu berbuat demikian. Mengapa bocah belasan tahun ini sudah dapat menembusi seluruh peredaran darah dan urat nadinya. Oh, ya! Kini aku mengerti, pastilah in i perbuatan kakek gurunya, Kyahi Basaman yang terlalu sayang kepadanya. Begitu sayang dia kepada cucunya ini, sampai dia rela membuang tenaga himpunan saktinya untuk membantu menembusi seluruh jalan darahnya.'

Sekali lagi Ki Sarapada memegang urat pergelangan Lingga Wisnu. Kemudian memeriksa seluruh urat-urat bocah itu dengan terlebih cermat. Benar-benar urat nadi dan jalan darah si bocah berjalan sangat lancar tanpa rint angan. Segera ia nembuka pakaian Lingga Wisnu dan memeriksa seluruh tubuhnya. Bagian perut, dada dan lain sebagainya, setelah memijit pada tempat tempat tertentu, maka tahulah dia untungnya maupun ruginya si bocah. Katanya dengan tertaw a dingin :

"Kyahi Basaman berlagak pandai. Dia terlalu sayang kepada cucunya. Akan tetapi malah bocah ini jadi celaka. Kalau peredaran darah belum tertembus semua, masih ada harapan untuk memperoleh pertolongan. Kini racun Pacarkeling sudah merayap ke seluruh isi perutnya, kecuali oleh malaikat, jiw anya tak dapat ditolong lagi, he- he-he! Orang memashurkan ilmu kepandaian Kyahi Basaman setinggi langit, akan tetapi menurut pendapatku, dialah seorang tua yang paling bodoh di dunia ini!"

Kira-kira seperempat jam kemudian, perlahan lahan Lingga Wisnu menjenakkan matanya. Ia telah sium an kembali. Ia melihat Ki Sarapada di atas kursinva yang berada di pojok ruangan. Dan Aruji masih tetap menggeletak di rumput di luar rumah. Ketiga orang itu membungkam mulut dengan pikiran masing-masing.

Ki Sarapada memang seorang tabib sakti.

Seluruh hidupnya dipersembahkan untuk ilmuketabiban. Segala macam penyakit aneh dapat di atasinya. Itulah sebabnya namanya termashur ke seluruh penjuru Nusantara. Racun jahat yang berada dalam tubuh Lingga Wisnu adalah semacam racun yang paling berbahaya. Apalagi sekarang urat nadi bocah itu sudah tertembus.

Dengan demikian, menjadi arus yang sangat baik bagi menjalarnya racun Pacarkeling. Inilah suatu persoalan pelik dalam ilmu ketabiban.

Seorang ahli catur, merasakan sulit sekali mencari tandingan setimpal. Seorang ahli ilmu pasti akan melupakan makan dan minumnya sebelum soal soal yang berada didepan matanya dapat di jawabnya. Begitu pula Ki Sarapada pada saat itu. Ia menemukan suatu masalah pelik dalam diri Lingga Wisnu. Tentu saja ia ing in dapat mengatasi. Setelah menimbang setengah harian, akhir- nya ia memperoleh suatu akal. Katanya kepada dirinya sendiri :

'Baiklah, aku akan menyembuhkan dahulu. Kemudian baru kubunuh.'

Akan tetapi menolak racun yang berada di dalam isi perut bocah itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Ki Sarapada dipaksa untuk memeras otak dan pengalamannya. Lama sekali ia berdiam diri. Akhirnya ia mengeluar kan alat-alat ketabibannya. Lantas ia bekerja membendung aliran-aliran racun menjadi bagian-bagian yang kecil. Ia hendak merebut jiw a Lingga Wisnu sedikit demi sedikit dengan melalui bagian-bagian racun yang disekatnya.

Mula-mula ia mengikat pergelangan tangan Lingga Wisnu. Tiap-tiap ruas tulang diikatnya erat-erat. Dengan demikian darah jadi terbendung. Setelah itu ia mulai menggunakan pisaunya yang terbuat dari baja dan perak.

Kemudian ia menyelomoti bocah itu dengan bara yang telah ditaburi ramuan obat pemunah tertentu. Karena terdesak oleh obat pemunah itu, racun Pacarkeling yang mengeram di dalam urat nadi Lingga Wisnu lantas saja meruap keluar dan merembet melalu i pisau-pisau baja yang tertancap di antara daging dan urat. Ki Sarapada tidak perduli apakah Lingga Wisnu kesakitan atau tidak.

Untungnya Lingga Wisnu seorang bocah yang tidak gampang menyerah. Kalau ia merasa disakiti, ia makin menjadi gigih mempertahankan diri. Itulah berkat pengalamannya delapan tahun terus menerus hidup dikejar-kejar musuh. Pikir Lingga Wisnu di dalam hati:

'Hemm, engkau hendak membuat aku mengeluh atau merint ih, bukan? Kau memang iblis! Kau memang setan!'

Dan untuk membuat jengkel Ki Sarapada, ia malah mengajaknya berbicara dan bergurau dengan bebas. Ia malah mengajaknya berdebat pula dengan persoalan ilmu hayat dan anatomi.

Meskipun Lingga Wisnu tidak paham dengan berbagai azas ilmu ketabiban, tetapi ayah dan ibunya didalam perantauannya selama delapan tahun, berusaha mengobati luka-luka yang dideritanya dengan kemampuannya sendiri. Sedikit banyak mereka semua memreroleh pengalaman. Tak terkecuali Lingga Wisnu. Tentu saja pengetahuan Lingga Wisnu apabila dibandingkan dengan tabib sakti Ki Sarapada bedanya seperti langit dan bumi. Akan tetapi karena soalnya mengenai ilmu ketabiban, yang menjadi kegemaran Ki Sarapada, maka orang tua itu pun mau juga mendengarkan dan membicarakan.

Sudah berpuluh tahun Ki Sarapada hidup mengasingkan diri di atas Gunung Merapi. Dia tak mempunyai teman bergaul kecuali para pelayannva sendiri. Dalam banyak hal para pelayan itu hanya bersikap menghamba. Jangan lagi berani berdebat, membantah perint ah saja merupakan pantangan besar baginya. Kini bocah itu berani berdebat dengan dirinya. Meskipun pengetahuannya ngawur belaka, akan tetapi menarik juga karena sekian tahun lamanva tidak pernah berbicara secara bebas dari hati ke hati, maka kehadiran Lingga Wisnu itu sedikit banyak menggembirakan hatinya juga.

Demikianlah, berbareng dengan tibanya petang hari, selesai sudah babak pertama Ki Sarapada merebut jiw a Lingga Wisnu. Dalam padanya itu dua orang pelayan telah merrpersiapkan makan malam di atas neja dan membaw a sepiring nasi dengan lauk pauknya ke luar rumah, untuk Aruji yang masih menggeletak di atas rumput. Pada malam itu juga Aruji tetap berada di luar rumah berselimut hawa gunung Merapi yang dingin luar biasa.

Sementara itu anggauta badan Lingga Wisnu sudah dapat digerakkan lagi. Melihat Aruji tak bergerak di luar rumah, bocah itu datang menghampiri. Ia lantas tidur disampingnya sebagai kawan sepakat dan sefaham.

Ki Sarapada sama sekali tidak menggubris sepak terjang Lingga Wisnu. Hanya saja diam-diam ia kagum dalam hati. Betapa pun juga bocah itu memang lain dari pada bocah umumnya. Pada keesokan harinva Ki Sarapada melanjutkan pengobatannya terhadap Lingga Wisnu. Tetapi racun Pacarkeling yang merayap di dalam tubuh bocah itu sudah terlalu luas. Untuk menolaknya keluar, sesungguhnya sudah sangat sulit. Setelah berpikir sekian lamanya, akhirnya Ki Sarapada membuat ramuan obat pemunah. Ia hendak menggunakan dingin untuk menghilangkan dingin, karena racun Pacarkeling bersifat dingin. Begitu obat pemunah masuk kedalam tubuh Lingga Wisnu menggigil sampai setengah harian lamanya. Namun setelah rasa dingin lenyap, semangat bocah itu maju sangat baiknya.

Kira-kira matahari sudah doyong ke barat, kembali lagi Ki Sarapada mengobati Lingga Wisnu dengan menyelomotkan bara. Berulangkali Lingga Wisnu mencoba memancing tabib itu agar sudi menolong Aruji yang masih menggeletak di luar rumah, akan tetapi usahanya siasia belaka. Ki Sarapada tetap tidak menggubris.

Benar benar ia tabib berkepala batu.

Lingga Wisnu agaknya dilahirkan sebagai anak yang cerdas luar biasa. Tiba-tiba saja suatu pikiran menusuk benaknya. Katanya diluar dugaan Ki Sarapada:

"Paman, sebagai tabib pastilah paman paham akan urat-urat manusia. Umpamanya urat samping yang terletak di tubuh manusia in i paling aneh, bukan? Akan tetapi pernahkah paman mendengar bahwa ada seorang yang tidak mempunyai urat samping itu?"

Mendengar perkataan Lingga Wisnu, Ki Sarapada tergugu. Inilah buah pikiran luar biasa. Bentaknya kemudian : "Omong kosong! Betapa mungkin orang tidak mempunyai urat itu?"

Lingga Wisnu memang sengaja membual untuk memancing tabib sakti yang aneh adatnya itu. Sahutnya:

"Dunia in i terlalu luas, paman. Segala keanehan mungkin saja terjadi. apalagi perkara urat samping."

"Urat itu memang agak aneh. Akan tetapi tidak dapat dikatakan bahwa tiada gunanya sama sekali. Kau tak percaya? Baiklah? Aku mempunyai sejilid buku tentang ilmu urat yang kutulis dengan tanganku sendiri. Kalau kau sudah membacanya, barulah kau akan paham tentang liku-liku urat ditubuh manusia." kata Ki Sarapada.

Lalu ia masuk ke kamarnya dan kembali membawa sejilid buku tipis berwarna hitam. Dan buku itu kemudian diserahkan kepada Lingga Wisnu.

Lingga Wisnu segera membalik-batik lembaran buku itu. Ternyata isinya sangat luas. Masalah urat nadi yang berada dalam tubuh manusia dibahasnya dengan cermat dan tertib sekali. Ki Sarapada membandingkan penemuan-penemuan orang kuno dan kekinian. Dengan tekun Lingga Wisnu membacanya. Setiap halaman ia hafalkan dengan baik. Tiba-tiba saja teringatlah dia kepada Musafigiloh Busih, salah seorang murid Argapura yang berot ak ce merlang. Dengan hanya sekali Baca Musafigiloh Busih dapat menghafalkan seluruh tulisan himpunan sakti eyang gurunya, Kyahi Basaman.

Dibandingnya dengan liku-liku ilmu sakti tulisan Ki Sarapada in i, jauh lebih mudah sebab sebab setiap soal dibahas secara jelas sekali. Maka setelah membaca isi kitab tersebut sampai selesai, Lingga Wisnu mengembalikan buku itu kepada Ki Sarapada saMbil menggelengkan kepala dan berkata :

"Kitab ini telah pernah kubaca. Sewaktu eyang guru berumur tigapuluh tahun. Beliau telah mengarang sebuah kitab 'pengantar dan tuntunan ikhtisar urat-urat nadi manusia'. Kitab karangan eyang guru itu isinya serupa benar dengan karangan mu ini. Dengan demikian, semenjak tadi aku heran, entah siapa yang menjiplak. Engkau ataukah eyang guru."

"He-he-he," Sarapada tertaw a dengan mendongkol. Kemudian menatap wajah Lingga Wisnu dengan tercengang. Tapi lantas saja ia menjadi gusar tak kepalang. Katanya di dalam hati:

'Usiaku kini baru mencapai 60 tahun, dan Basaman kalau tak salah sudah berumur 90 tahun. Dan aku mengarang buku ini sewaktu berumur 30 tahun. Maka benarlah kalau anak setan itu menuduh aku yang menjiplak Sebab tatkala itu Basaman sudah berumur 60 tahun. hm. kurang ajar! Padahal semua uraian dan persoalan yang kutulis di dalam buku itu, benar-benar hasil keringatku sendiri. Tetapi bagaimana anak setan itu bisa berkata, bahwa apa yang kutulis itu hanyalah kata pengantar karangan Basaman? Eh, benar-benar anjing budak setan cilik in i. Kalau tidak diberi hajaran sedikit, mulutnya makin besar.' Dan setelah berpikir demikian, kembali lagi ia memperdengarkan suara tawa, lalu membentak :

"Baik, jadi kau bilang buku itu hanyalah kata pengantar buku karangan kakekmu ? Kalau begitu, kau sudah pahan benar. Hayo, bacalah diluar kepala! Kalau salah sehuruf saja, jiw amu akan kucabut dengan kedua telapak tangan ini, kayo, mulai!"

Semenjak berumur ampat-lima tahun, Lingga Wisnu dipaksa oleh keluarganya untuk menghafalkan semua ilmu pengetahuan dengan cepat.

Apabila sampai terdapat kesalahan sedikit saja, segera ia dihadiahi cubitan atau gamparan. Hal itu disebabkan oleh keadaan yang memaksa. Sejak bayi, Lingga Wisnu dibawa merantau dari tempat ke tempat untuk menghindari pengejaran lawan. Kesempatan dalam memberikan pendidikan sangat sempit.Karena itu dalam hal ingatan, Lingga Wisnu boleh dikatakan sudah terlatih dan menjadi keistimewaannya. Walaupun demikian, ancaman Ki Sarapada benar-benar sangat menakutkan.

Maklumlah, apabila sampai salah satu huruf saja, jiw anya akan dicabut. Dia percaya, bahwa Ki Sarapada benar-benar akan melakukan apa yang telah dikatakan, mengingat tabiatnya yang sangat luar biasa. Memperoleh pikiran demikian ia jadi menyesal di dalam hati, apa sebab tadi ia membuat tabib Sarapada menjadi marah dan penaran. Inilah suatu senda gurau yang lewat batas.

Tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur maka terpaksa ia mengumpulkan semua ingatannya. Lalu mengucapkan isi buku yang telah dibacanya tadi dengan suara lantang. Untunglah, sepatah kata pun tiada yang salah.

Ki Sarapada heran bukan kepalang. Hampir-hampir ia percaya bahwa bocah itu memang pernah membaca buku ciptaan Kiayi Sarapada yang sama sekali tiada bedanya dengan buku ciptaannya sendiri. Akan tetapi karena buku itu memang ciptaannya sendiri, akhirnya ia menjadi kagum akan kecerdasan Lingga Wisnu. Pikirnya di dalam hati :

"Setan kecil ini benar-benar hebat. Dengan hanya membaca sekali, dia sudah sanggup menghafalkan semua isi buku di luar kepala. Inilah bakat yang tiada bandingnya di jagad ini."

Ia tak tahu bahwa di dalam biara Argapura masih terdapat seorang bernama Musafigiloh Busih yang daya ingatannya tidak berada dibawah Lingga Wisnu.

"Pintar, benar-benar pintar!" Ki Sarapada memuji. Lalu ia melanjutkan usahanya mengenyah racun yang mengeram di dalam tubuh bocah itu. Setelah beristirahat sebentar, sengaja ia hendak menguji sekali lagi kepintaran Lingga Wisnu dengan berkata :

"Aku masih mempunyai duabelas jilid kitab ketabiban.

Entah siapa yang menjiplak, Kyahi Basarnan atau aku."

Setelah berkata demikian, ia mengambil buku ciptaannya sendiri yang terdiri dari duabelas jilid. Lingga Wisnu kagum, tatkala membuka lembaran buku itu. Sudah tentu tak mudah untuk dihafalkan dalam sekali baca saja.

Mendadak saja suatu ingatan menusuk benaknya.

Pikirnya :

'Meskipun isi buku ini sangat luas, akan tetapi masih sanggup aku menghafalkan. Hanya saja aku membutuhkan waktu sepuluh hari. Biarlah aku mencari saja bab-bab yang ada sangkutpautnya dengan urusan penyembuhan luka abang Aruji.' Karena berpikir begitu, dengan cepat ia membalik- balik kitab dan membuka bagian uraian penyembuhan luka-luka akibat pukulan sakti dalam jilid ke sembilan. Uraiannya sangat jelas sekali. Disitu terdapat uraian tentang menangkis pukulan-pukulan beracun seperti Brajamusti, Esmugunting, Rajah Pideksa dan lain-lain. Keruan saja Lingga Wisnu girang bukan main. Segera ia membacanya dengan cermat.

Tanda-tanda kena pukulan sakti diuraikan dengan jelas sekali. Akan tetapi cara menyembuhkannya hanya di sebutkan sangat ringkas, dengan berbagai petunjuk singkat saja. Pada halaman terakhir, terdapat pula uraian tentang akibat pukulan beracun Pacarkeling. Akan tetapi cara pengobatannya hanya ditulis pendek saja.

Bunyinya: tidak ada.

Semenjak turun dari Argapura, sadarlah ia, untuk mengobati racun yang mengeram di dalam tubuhnya memang sangat pelik. Bahkan tiada harapan lagi. Sekiranya tidak demikian, eyang gurunya yang mempunyai kesaktian luar biasa pasti dapat menolongnya. Karena itu ia menjadi acuh tak acuh. Perhatiannya kini tertuju kepada ba-gaimana caranya dapat menolong Aruji. Maka kembali lagi ia mernbuka lembaran yang memuat racun pukulan Rajah Pideksa yang melukai Aruji. Pikirnya:

'Baiknya pikiranku kini kupusatkan untuk menyembuhkan abang saja. Dan jangan sampai aku membuat Ki Sarapada mendongkol lagi.'

Segera ia meletakkan semua kitab itu di atas meja. Kemudian dengan hormat ia berkata kepada Ki Sarapada: "Ilmu sakti paman Sarapada menang kalah jauh bila dibandingkan dengan ilmu sakti eyang guruku. Akan tetapi didalam hal pengobatan, paman menang jauh. Kedua belas buku ini sangat dalam isinya. Betapa tinggi ilmu kepandaian kakek guruku, pastilah beliau tak sanggup mengarangnya. Akan tetapi berbicara tentang cara mengobati luka akibat pukulan beracun, kukira kemahiran paman Sarapada belum bisa menyamai kemahiran eyang guruku."

"Heng!" dengus Ki Sarapada. "Jangan coba membakar hatiku."

"Paman tak percaya? Dengar. Aku akan menghafalkan kitab karangan eyang guruku." sahut Lingga Wisnu dengan suara tegas. Lalu ia mulai menghafalkan bunyi ajaran-ajaran eyang gurunya tentang cara penyembuhan luka-luka akibat pukulan beracun. Akan tetapi semuanya itu sebenarnya adalah hasil hafalannya setelah membaca bukunya Ki Sarapada. Setelah menghafal di luar kepala tanpa salah sedikitpun juga, berkatalah dia :

"Tentang menyembuhkan luka akibat pukulan beracun Pacarkeling, eyang guru menyerah kalah. Akan tetapi paman Sarapada ternyata demikian pula."

"Hmm! Tak perlu engkau memancing hatiku." sahut Ki Sarapada dengan suara dingin. Kau sendiri akan menjadi saksi, apa aku benar-benar tidak mampu melawan racun Pacarkeling. Hanya saja apabila aku sudah berhasil menyembuhkan lukamu, jiw amupun tak akan berumur panjang."

Meskipun Lingga Wisnu cerdik dan pintar luar biasa, akan tetapi tak dapat ia menangkap maksud kata-kata Ki Sarapada. Sama sekali tak pernah terlint as dalam pikirannya, bahwa maksud Ki Sarapada untuk menyembuhkan dirinya adalah semata-mata untuk membuktikan bahwa dia sanggup menaklukkan racun Pacarkeling. Setelah rengesankan bahwa dirinya benar- benar seorang tabib sakti dan pandai, segera ia hendak membunuh Lingga Wisnu.

Itulah sesuai dengan peraturan yang dibuatnya sendiri bahwasanya aliran Ngesti Tunggal tak diperkenankan menolong yang tidak sealiran.

Lingga Wisnu sendiri sebenarnya tidak memikirkan dirinya sendiri. Semenjak turun dari biara Argapura. Pada saat itu perhatiannya penuh ditujukan kepada usaha menyembuhkan Aruji. Maka berkatalah dia :

"Sekiranya umurku tak dapat dipertahankan, perkenankan aku memohon kepada paman untuk membaca kitab buah pena paman sendiri. Tentu saja boleh, bukan?"

Ki Sarapada yakin bahwa bocah cilik itu tak akan hidup lebih lama lagi. Walaupun sanggup menghafalkan seluruh rahasia ilmu ketabibannya, apakah gunanya? Paling-paling hanya akan dibawanya pulang ke neraka. Maka tanpa pikir panjang lagi ia manggut menperkenankan. Katanya :

"Kau boleh membaca semua kitab-kitab karanganku." Pengetahuan Ki Sarapada sebenarnya sangat luas.

Seseorang yang tak berhati lapang pula, pasti t idak akan sanggup mengarang ilmu ketabiban yang demikian besar. Akan tetapi setelah memasuki aliran Ngesti Tunggal, ia menjadi seorang pejoang yang membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi I. Karena itu dia sangat membenci sekalian hamba-negeri, hartaw an- hartawan rakus dan orang-orang yang menganggap dirinya sok suci. Terhadap golongan, yang paling belakang dia sangat benci. Apalagi terhadap para pende- kar, yang memusuhi haluan perjuangannya. Itulah sebabnya tak sudi ia menolong orang-orang yang tidak sepaham dan sealiran dengan keparcayaan yang dianutnya.

Akan tetapi ilmu pengetahuan yang dimiliki olehnya memang terasa sia-sia saja, sebab selama hidupnya bakal tiada seorangpun yang dapat di ajaknya saling bertukar pikiran. Apalagi diapun tak mengharapkan mempunyai seorang ahli waris. Itulah sebabnya ia senang hidup di atas gunung seorang diri. Tetapi setelah berpuluh tahun hidup seorang diri, lambat laun ia merasa sunyi juga dan ingin mencari iseng. Kebetulan sekali Lingga Wisnu datang. Walaupun masih bocah kemarin sore, akan tetapi dia pandai dan bisa diajak berbicara mengenai ilmu ketabiban, diam-diam ia berkenan terhadap bocah itu. Sayang sekali, mengapa si bocah tak sudi memasuki alirannya.

Dalam pada itu Lingga Wisnu dengan tekun mempelajari kitab-kitab ketabiban siang malam tiada mengenal lelah. Begitu tekun sampai lupa makan dan kurang tidur. Tadinya dia hanya bermaksud mempelajari bagian-bagian yang bersangkutan dengan luka Aruji, akan tetapi setelah membaca kitab-kitab tulisan Ki Sarapada hatinya lambat laun kian tertarik. Sekarang tidak hanya beberapa bagian saja yang dibacanya, akan tetapi ratusan macam buah karya Ki Sarapada.

Melihat si bocah begitu tekun mempelajari kitab-kitab ketabiban buah karyanya, diam-diam Ki Sarapada girang bukan main. Hatinya menjadi puas karena kini bisa mentaklukkan anak setan itu. Pikirnya di dalam hati :

'Kau bilang bahwa kitab-kitab karyaku ini hasil jip lakan kakekmu. Huh! Kau berlagak pandai dan yakin bisa mengingusi aku. Sekarang rasakan betapa luas ilmu pengetahuanku mengenai ketabiban.'

Tatkala itu Ki Sarapada melihat Lingga Wisnu bersunggut-sungut. Dan ia mengira bocah itu tentu tak dapat memahami Inti sari uraian uraian tertentu yang terdapat di dalam kitab karangannya. Sebenarnya Ki Sarapada seorang cendekiaw an yang cerdik dan cerdas. Apabila dia mau berpikir agak mendalam lagi, pastilah dapat menebak maksud Lingga Wisnu sesungguhnya. Hanya saja karena terpengaruh oleh rasa girang yang meluap, prasangkanya tak begitu peka lagi. Puas hatinya melihat anak setan itu, dengan mati-matian menekuni hasil karyanya.

Beberapa hari lewat sudah. Karena kesungguhannya, Lingga Wisnu berhasil menghafalkan semua resep-resep pengobatan tertentu yang ribuan macamnya. Walaupun kadarnya mungkin sekali asal jadi saja, akan tetapi kesanggupannya itu benar-benar mengagumkan. Seorang tabib yang sudah berpengalamanpun mungkin sekali tak dapat meniru kemampuan Lingga Wisnu yang dapat menghafalkan duabelas jilid kitab ketabiban dalam waktu enam hari saja di luar kepala.

Diwaktu siang pada hari keenam, kembali Lingga Wisnu membalik-balik lembaran kitab yang memuat tentang luka yang diderita Aruji. Ki Sarapada pernah menyatakan, apabila dalam waktu tujuh hari dapat menemukan seorang tabib pandai, lukanya mungkin sekali masih dapat disembuhkan. Sebaliknya apabila sampai melampaui batas waktu, meskipun sembuh akan tetapi himpunan tenaga saktinya tak akan bisa pulih seperti sediakala.

Itulah sebabnya, karena pukulan Rajah Pideksa sangat beracun, dan mulai menembus ke seluruh tulang dan carat nadi.

Selama enam hari, Aruji terus rebah tak berkutik di atas rumput di luar rumah. Pada hari keenam, tiba-tiba hujan turun pula setelah matahari bersinar sangat teriknya di siang hari. Sudah barang tentu Ki Sarapada tahu, bahwa Aruji terpaksa tidur di lumpur. Tetapi nampaknya ia tak perduli.

Menyaksikan hal itu Lingga Wisnu gusar tak kepalang.

Kutuknya di dalam hati :

'Manusia ini benar-benar anak kambing. Aku pernah mendengar ayah berkata bahwa seorang tabib harus mengamalkan pengetahuannya yang luas dan mulia untuk mengabdi kepada manusia di seluruh dunia. Tak perduli apakah manusia itu sepaham dengan dia atau justru bermusuhan. Sebaliknya orang ini tidak demikian. Dia benar benar seorang cendekiawan, tetapi semua ilmu kepandaiannya hanya diamalkan ke dalam kitabnya melulu. Sedang amal perbuatannya justru bertentangan dengan apa yang ditulisnya. Kalau bukan keturunan iblis, mustahil rasanya Tuhan melahirkan manusia seperti dia.'

Pada malam hari ke tujuh, hujan turun semakin lebat. Kilat mengejap-ngejap dengan diseling suara guntur. Dengan mengertak gigi, Lingga Wisnu berkata di dalam hati: 'Biarlah aku akan mencoba menolong abang Aruji sedapat-dapatku. Barangkali caraku mengobatinya akan salah, akan tetapi dari pada mati ditengah hujan badai, lebih baik aku berusaha atas nama Tuhan.'

Dengan alat perlengkapan tertentu dari dalam peti penyimpan alat-alat ketabiban Ki Sarapada. Kemudian keluar menghampiri Aruji.

"Abang," kata Lingga Wisnu terharu. "Selama beberapa hari ini adikmu berusaha mati-matian untuk mempelajari rahasia kitab ketabiban Ki Sarapada. Hanya saja aku masih belum dapat memahami seluruhnya. Karen terdesak oleh keadaan, aku nemberanikan diri untuk main coba-coba. Sebab racun yang mengeram di dalam tubuhmu tak dapat ditunda-tunda lagi pengobatannya. Esok pagi, sudah kasep. Maka apabila cara penyembuhanku ini akan mencelakakan abang, akupun tak akan hidup seorang diri lagi dalam dunia in i. Segera aku akan bunuh diri dihadapan mayatmu."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu,   Aruji tertaw a.

Sahutnya :

"Adik, kenapa engkau berkata demikian? Nah cepatlah engkau berusaha menancapkan semua alat penyembuhanmu ke dalam tubuhku, moga-moga kau berhasil sehingga paman akan merasa malu sendiri. Tetapi apabila usahamu itu justru akan merengut jiwaku, lebih baik begitu dari pada mati di dalam lumpur begini seperti babi cacingan."

Dengan tangan bergemetaran Lingga Wisnu meraba- raba urat nadi Aruji dengan cermat. Kemudian mengambil pisau tajam untuk membedah. Sudah barang tentu, selama hidupnya belum pernah Lingga Wisnu menbelah seseorang. Bahkan menyembelih babipun belum pernah. Kalau kini ia berbuat demikian, adalah semata-mata dipaksa oleh keadaan. Sebab menurut cat atan ilmu ketabiban Ki Sarapada, cara melawan pukulan beracun yang kini sudah bercampur baur dalam darah, hanya dengan cara membedah urat-urat nadi tertentu.

Tetapi karena selama hidupnya belum pernah menancapkan pisau belati pada tubuh seseorang, tangannya nendadak menggigil. Bidikannya justru meleset, sehingga ia harus mengulangi beberapa kali.

Keruan saja Aruji lantas saja mand i darah.

Membedah di tempat dekat urat nadi, sangatlah berbahaya. Hal itu disadari oleh Lingga Wisnu setelah hafal dengan bunyi kitab ilmu ketabiban Ki Sarapada. Itulah sebabnya ia menjadi gugup. Dan melihat darah Aruji yang membanjir keluar, kini tidak hanya gugup akan tetapi bingung pula.

Tiba-tiba pada saat itu terdengarlah suara seseorang tertaw a di belakang punggungnya. Lingga Wisnu menoleh, dan melihat Ki Sarapada berjalan sambil menggendong tangan. Dengan berpayung ia bebas dari air hujan, ia nampak puas nenyaksikan Lingga Wisnu mencoba menolong Aruji dengan cara yang salah. "Paman Sarapada," kata Lingga Wisnu dengan suara mohon belas kasihan. "Darah terus mengalir, bagaimana caranya aku menghentikan?"

"Tentu saja aku tahu. Tetapi apa perlu aku beritahukan kepadamu?" sahut Ki Sarapada dengan suara dingin. Setelah itu ia tertaw a perlahan melalui hidungnya .

Mendengar taw a Ki Sarapada, seluruh tubuh Lingga Wisnu menjadi dingin. Apalagi tatkala itu ia berada di tengah hujan badai. Lantas saja ia menggigil, dengan menguatkan imannya ia berkata lagi :

"Baiklah begini saja, kita mengadakan penukaran secara adil. Satu jiw a ditukar dengan satu jiw a. Kau tolong abang Aruji, setelah sembuh aku segera akan bunuh diri dihadapanmu."

Kembali Ki Sarapada tertawa melalui hidungnya.

Sahutnya :

"Sekali aku telah berkata tidak sudi mengobati, selama hidup tak akan sudi mengobati. Dia hidup atau mati tiada sangkut pautnya dengan aku. Kalau dia hidup oleh pertolonganku, apakah malaikat akan menggendongku masuk ke sorga? Sebaliknya kalau dia mampus, apakah aku lantas menjadi setan berkeliaran? Juga aku tidak perduli dengan dirimu. Meskipun sepuluh Lingga Wisnu mati dihadapanku, tidak bakal aku sudi menolong Aruji."

Mendengar jawaban Ki Sarapada, hati Lingga Wisnu menjadi berputus asa. Tahulah sudah, bahwa tiada gunanya lagi untuk berbicara berkepanjangan dengan tabib itu. Keberaniannya mendadak saja terhimpun dengan tak setahunya sendiri. Itulah disebabkan oleh rasa dengki benci dan dendam terhadap Ki Sarapada. Lantas saja ia bekerja sedapat-dapatnya, berdasarkan ingatannya belaka. Ia seperti lagi membalik balik lembaran kitab ilmu ketabiban Ki Sarapada di depan matanya.

Dan sesuai dengan petunjuk di dalamnya, tangannya bergerak membedah ke sana ke mari dan menyekat meluas nya racuh Rajah Pideksa. di luar dugaan, tiba-tiba saja aliran darah Aruji terhenti. Pemuda berewok itu tidak lagi mengeluarkan darahnya. Hal itu melegakan hati Lingga Wisnu. Beberapa saat ia menunggu. Tiba-tiba saja Aruji melontakkan darah kental beberapa kali.

Melihat Aruji melontakkan darah hitam kental, tak tahulah Lingga Wisnu apakah dia berhasil, atau justru sebalik nya. Tak heran hatinya menjadi berdebar-debar. Ia sudah mengambil ketetapan, apabila Aruji mati diapun akan segera menyusul mati bunuh diri. Tiba-tiba teringatlah dia Ki Sarapada berada belakang pung- gungnya. Terus saja ia menoleh, masih saja Ki Sarapada nampak bersenyum mengejek. Akan tetapi samar-samar wajahnya memperlihatkan rasa kagum dan heran. Maka tahulah ia, bahwa usahanya tidak gagal seluruhnya. Artinya juga belum tepat sekali. Walaupun demikian, hatinya agak terhibur.

Dengan cepat ia lari masuk ke dalam rumah dan membalik-balik buku kadar ramuan obat. Setelah bertekun beberapa saat lamanya, dapatlah ia membuat kadar ramuan obat. Akan tetapi sesungguhnya jenis ramuan obat yang ditulisnya itu merupakan obat penyembuh racun Rajah Pideksa. Setelah menimbang sebentar ia memberanikan diri untuk menyerahkan kepada seorang pelayan agar membuat ramuan obat yang ditulisnya.

Pelayan itu segera membaw a surat resep Lingga Wisnu kepada Ki Sarapada. Dia mohon izin kepada majikan nya apakah diperkenankan melayani bocah itu. Setelah bunyi resep itu dibaca Ki Sarapada, ia mendengus beberapa kali. Kemudian dia berkata :

"Kau buatkan saja menurut bunyi resep ini. Biarlah diminumkan. Kalau tidak mati seketika, anggap saja memang berumur panjang."

Mendengar kata-kata Ki Sarapada, dengan cepat Lingga Wisnu meminta kembali surat resepnya. Kadarnya lantas dikurangi. Setelah itu di serahkan kepada si pelayan yang segera rembuat ramuan obat menurut resepnya sehingga menjadi semacam obat kental.

Dengan mata berkaca-kaca Lingga Wisnu membaw a obat ramuannya kepada Aruji. Katanya dengan bingung:

"Inilah obat ramuan hasil jerih payahku mencuri bunyi kitab paman Sarapada. Setelah abang minum obat ini, entah sembuh, entah malah celaka. Adikmu tak tahu."

"Bagus!" seru Aruji penuh semangat. " Inilah namanya orang buta menuntun kuda buta. Apabila sampai tergelincir ke dalam jurang, kedua-duanya akan jatuh saling t indih."

Setelah berkata demikian Aruji tertaw a terbahak bahak. Kemudian dengan memejamkan matanya ia meneguk ramuan obat Lingga Wisnu.

Semalam suntuk perut Aruji sakit bukan kepalang. Ususnya melilit seperti tersayat. Dan tiada hentinya melontakkan darah. Lingga Wisnu menunggunya semalam suntuk pula dibawah hujan lebat. Menjelang esok hari barulah terang. Matahari muncul di udara dengan cahayanya yang lembut.

"Adik, aku belun mati!" seru Aruji tiba-tiba dengan girang. "Ranuan obatmu benar-benar manjur. Penyakitku jadi berkurang."

Keruan saja Lingga Wisnu girang bukan kepalang.

Sahutnya :

"Kalau begitu resepku semalam boleh juga, bukan ? " "Benar, tak pernah kuduga bahwa pada hari ini dunia

melahirkan seorang tabib sakti yang masih belum pandai

beringus. Biarlah aku menamakan engkau 'Dukun Malaikat'. Sebab resepmu ternyata bisa menyembuhkan babi. Hanya saja ramuan obatmu terlalu keras, usus baku sepertinya tersayat-sayat oleh ratusan pisau kecil."

"Ya, kadar ramuan obatku memang agak berat." Lingga Wisnu menyesal.

Ramuan obat yang dibikin Lingga Wisnu, sebenarnya sesuai dengan iImu Ki Sarapada. Boleh dikatakan tepat sekali. Akan tetapi kadarnya terlalu berat, sehingga merupakan obat pemunah racun Rajah Pideksa yang kuat luar biasa. Apabila Aruji tak mempunyai tenaga jasmani melebihi manusia biasa, pastilah dia akan mati.

Pada pagi hari itu, Ki Sarapada datang memeriksa. Melihat wajah Aruji bersemu merah dan bersemangat, ia terkejut. Diam-diam ia berpikir di dalam hati: "Yang satu pandai, dan yang lain berani. Berkat kerja sama mereka berdua, ternyata racun Rajah Pideksa bisa disembuhkan."

Pada keesokan harinya, Lingga Wisnu membuat racikan obat-kuat untuk mengembalikan tenaga Aruji. Ia membongkar semua simpanan obat kuat Ki Sarapada dan tanpa menghiraukan apakah sipemilik menggerutu atau tidak, lantas saja ia berikan kepada Aruji. Pikirnya di dalam hati:

'Kalau dia marah, paling-paling aku hanya dibunuhnya. Akan tetapi tenaga abang Aruji harus pulih seperti sediakala.'

Dengan pertolongan obat-obat simpanan Ki Sarapada, tenaga Aruji tidak hanya pulih seperti sediakala akan tetapi himpunan tenaga saktinya malah menjadi bertambah. Maka dengan rasa penuh terima kasih ia berkata kepada Lingga Wisnu :

"Adik, lukaku kini sudah sembuh, tenaga saktiku pulih pula. Setiap hari engkau menemani tidur di atas tanah terbuka ini, tanpa menghiraukan kesehatanmu sendiri. Inilah cara yang kurang baik. Biarlah sekarang berpisah dulu."

Satu bulan mereka bergaul. Dalam hati masing-masing sudah terikat rasa persahabatan, seia sekata dan sehidup semati. Kini mereka terpaksa berpisah, dengan sendirinya hati Lingga Wisnu menjadi terharu. Tak ingin ia memperkenankan Aruji meninggalkan dirinya. Akan tetapi ia ingat pula bahwa Aruji tak mungkin mengawa- ninya terus menerus di atas gunung Merapi. Maka dengan sedih dan pilu terpaksalah ia mengucapkan selamat jalan kepada abangnya itu. "Kaupun tak perlu bersedih hati, adik. Setiap tiga bulan sekali aku pasti datang menjengukmu. Mungkin sekali racun yang mengeram di dalam tubuhmu sudah dapat dibuyarkan. Apabila engkau sudah sembuh seperti sediakala, aku segera menghantarkanmu kembali kepada kakek gurumu di gunung Law u," Aruji menghibur.

Setelah berkata demikian, pemuda itu menghadap Ki Sarapada untuk mohon diri. Katanya:

"Berkat kitab iImu ketabiban paman, akhirnya aku tertolong. Tak sedikit aku menghabiskan obat simpanan paman, yang sangat berharga"

"Akh, hal itu t iada artinya," sahut Ki Sarapada dengan manggut-manggut. "Lukamu kini memang telah sembuh benar, hanya usiamu menjadi berkurang enampuluh tahun."

"Apa? Usiaku?" Aruji tak nengerti.

"Menilik kesehatan tubuhmu yang tetap kuat itu, sedikitnya engkau bisa hidup seratus duapuluh tahun lagi," ujar Ki Sarapada. "Akan tetapi bocah itu keliru membuat kadar ramuan obatnya. Kadarnya sangat kuat, karena itu obat pemunah racun Rajah Pideksa justeru berbalik meracuni umurmu. akibatnya, apabila engkau berada ditengah hujan dalam cuaca yang lembab Pula, seluruh tubuhmu akan menjadi nyeri. Dan kira-kira pada umur tujuh puluh tahunan, riw ayatmu akan tamat."

Mendengar keterangan Ki Sarapada, Aruji tertaw a.

Sahutnya dengan hati ikhlas :

"Seorang laki-laki memperoleh kesempatan untuk beramal dan berbuat kebajikan kepada negara dan bangsa serta umat mdi seluruh dunia, sudahlah cukup apabila dapat berumur limapuluh tahun saja. Sekarang aku mendengar bahwa aku bisa berumur tujuhpuluh tahun. Itulah lebih dari cukup. Sebaliknya apa perlu sese- orang hidup sampai seratus tahun lebih apabila, tiada mempunyai kebajikan sesuatu ? Hidup demikian hanyalah menghabiskan beras dan sayur mayur saja."

Ki Sarapada manggut, akan tetapi ia tidak berkata- kata lagi . Melihat hal itu, Aruji lantas mengundurkan diri. Dan Lingga Wisnu mengantarkan sampai di mulut lembah Mrepat Kepanasan. Di sini mereka berdua berpisah dengan mencucurkan air mata. Tadi Lingga Wisnu mendengar perkataan Ki Sarapada, bahwa umur Aruji kurang enampuluh tahun. Ia sangat berprihatin. Katanya di dalam hati:

'Dengan asal jadi saja aku mengaduk ramuan obat. Kini usianya rusak karena tanganku. Biarlah sisa hidupku kupergunakan untuk menekuni segala ilmu rahasia ilmu sakti paman Sarapada. Siapa tahu, akan kuperoleh suatu uraian tentang memperpanjang umur.'

Bagaikan patung tak berjiwa, Lingga   Wisnu mengaw asi kepergian Aruji sampai bayangan pemuda itu hilang dari penglihatan. Kemudian perlahan-lahan ia nemutar tubuhnya dan balik pulang ke pondok. Sepanjang jalan ia menghela napas dengan hati duka, alangkah pedih perpisahan itu. Perpisahan yang tak dikehendaki sendiri.

Selagi bermenung-menung, tiba-tiba ia mendengar suara menggelegar. Ia mendongak mengaw asi udara. Awan hitam mendadak saja menutupi seluruh penglihatan. Guruh berdentuman seperti sedang berlomba, dan kilat mengejap-ngejap menusuk cakrawala.

Kemudian hujan turun sangat deras. Hujan deras di tengah gunung Merapi bukan suatu kejadian yang perlu diherankan. Selama di pondok Sarapada, hampir sepuluh kali ia melihat hujan turun. Akan tetapi hujan kali ini lain sifatnya. Hujan itu mengandung lumpur. Tak mengherankan sebentar saja hujan, lumpur itu telah menbenam bukit-bukit yang berada disekitar gunung Merapi. Dan tanah-tanah yang membenam ikut longsor pula.

Menyaksikan kejadian itu Lingga Wisnu terkejut bukan main. Segera ia memanjangkan langkah lari menyingkir.

Akan tetapi baru saja me langkah beberapa tapak, guntur meledak di atas kepalanya. Kilat mengejap dan menembus dadanya. Dan ia jatuh terkapar di atas tanah. Dalam keadaan lupa diri, tiba-tiba ia melihat berkele- batan sebongkah batu turun dengan sangat deras dari angkasa.

Tak mengherankan, hatinya jadi tergetar karena rasa takutnya. Pada detik itu tubuhnya merasa panas dingin tak menentu. Dalam keadaan putus asa, ia memejamkan kedua belah matanya menunggu maut.

“Bres!”

Bongkahan batu itu menimpa dadanya. Dan ia berteriak bangun dari mimpinya.

Iapun siuman kembali …...

o)00oodwoo00(o 9. P ersiapan Balas Dendam

Mimpi tak ubah wanita yang terus-menerus membuat teka-teki dunia, setiap orang yang pernah hidup dapat menceritakan pengalamannya tentang keajaibannya mimpi. Dan setiap bangsa mempunyai perbendaharaan cerita khayal tentang keragaman mimpi pula, lantaran ajaibnya serta sulit diterima akal. Keajaiban dan tiadanya masuk akal itu, lantaran mimpi persoalan bawah sadar. Dia mempunyai dunianya sendiri. Mempunyai kehidupannya sendiri. Mempunyai persoalannya sendiri. Tetapi anehnya, mempunyai hubungan erat sekali dengan dunia kenyataan.

Seorang laki-laki pernah bemimpi menjadikan dirinya seorang gadis tatkala tercebur di dalam telaga iblis. Kemudian datanglah seorang sakti yang bisa menolong mengembalikan jenis semula, asal saja mau dikawinkan. Kelak apabila sudah beranak lima orang, ia akan kembali pulih seperti sediakala. Lantaran terpaksa, ia menerima syarat itu. Demikianlah ia mengandung sampai lima kali berturut-turut. Anak-anaknya terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan. Dan t atkala tersadar dari mimpinya oleh rasa girang, masih sempat ia melihat asap penghabisan lilinnya yang tadi dihembuskan padam sebelum tidur. Dengan demikian mimpinya hanya berlangsung dalam detik-detik saja. Padahal dalam mimpinya ia tercebur di dalam telaga sakti. Berunding dengan laki-laki sakti. Mengandung serta berturut-turut melahirkan lima orang anak. Paling t idak, kisahnya berjalan selama lima tahun.

o)00oodwoo00(o