-->

Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 02

 Jilid 02

Kyahi Basaman tidak begitu mempedulikan tikaman pedang yang diarahkan kepadanya. Аkал tetapi begitu melihat berkelebatnya pedang yang satunya menyabet kearah kaki Lingga Wisnu, hatinya tercekat. Dan mendadak timbullah sepercik rasa gusarnya. Katanya didalam hati :

"Bocah ini ара dosanya sampai hendak dikutungi kedua kakinya? "

Cepat ia memiringkan dadanya dan mengebas pedang pendeta yang berperaw akan ramping tipis. Kena benturan tenaga sakti Kyahi Basaman, pedang yang mengarah kaki lingga Wisnu terpental balik dan menghantam pedang pendeta yang berperawakan gemuk pendek. Kedua pendeta itu lantas saja matang biru mukanya, karena terpaksa mengadu tenaga sendiri yang berimbang.

Ilmu memukul balik tenaga seseorang itu bernama: Tripurusa. Konon kabarnya, ciptaan Dewa Wisnu pada jaman purba, tatkala dunia in i masih kosong dan hanya terisi o leh tiga cahaya hidup. Jangan lagi hanya menghadapi dua orang saja, seumpama Kyahi Basaman dikerubut tiga puluh orang sekaligus, ia masih dapat melontarkan semua tenaga mereka dengan sekaligus.

Tidak mengherankan pergelangan tangan mereka yang sudah bengkak terasa nyeri luarbiasa. Buru-buru mereka mamijat tangannya sambil melototi Kyahi Basaman. Betapapun juga mereka sangat kagum. Tetapi mereka adalah anak-murid Anung Danudibrata pewaris ilmu sakti Ugrasawa. Semenjak menanjak dewasa, mereka digembleng dalam hal ketabahan dan keuletan. Maka mereka tak sudi mengalah. Dengan menggerung mereka menyerang lagi.

Kyahi. Basaman khawatir akan keselamatan jiw a Lingga Wisnu. Cepat ia menyambar tubuh bocah itu dan dibawanya menyingkir. Berkata dengan sabar :

"Saudara! Haraplah sabar sebentar. Coba, kalian bawalah aku menghadap gurumu. Pastilah dia akan segera mengenal aku."

"Hm ... siapa sudi mendengarkan ocehanmu. sekalipun kau menggunakan nama Resi Romaharsana jangan harap kau bisa mengelabuhi mataku!" bentak yang berperawakan ramping.

Kyahi Basaman benar-benar tak mengerti, ара sebab dua pendeta itu bersikap bandel dan garang sekali. Syukurlah, dia seorang petapa yang sudah bisa mengendalikan diri. Tetap saja ia membawa sikapnya yang manis. Apalagi ia teringat bahwa kedatangan kepertapaan Argapura, semata-mata untuk keselamatan jiw a Lingga Wisnu. Kalau belum-belum sudah bentrok, tidak baik akibatnya bagi Lingga Wisnu yang harus belajar bagian ilmu sakti yang diwarisi Resi Ugrasawa. Маkа sekali lagi ia hendak membuka mulut untuk mencoba menjelaskan. Tetapi kedua pendeta itu sudah lari mendaki. Pastilah mereka akan mengadu kepada atasannya.

Beberapa saat kemudian, nampaklah lima orang berpakaian pendeta keluar dari gapura biara Argapura. Mereka berlima diiringkan dua puluh orang berpakaian jubah kuning. Kyahi Basaman kenal corak susunan rumah-perguruan Ugrasawa yang tidak pernah berubah semenjak dahulu.

Yang berjalan didepan itu, pastilah Anung Danudibrata. Ia didampingi keampat adik seperguruannya. Saptawita, Jarot, Hasan Hidayat dan Saroni. Keampat adik seperguruan Anung Danudibrata ini, merupakan ampat tiang agung rumah perguruan Argapura. Kedudukannya sangat tinggi. Selain menjadi penasehat juga merupakan ampat panglima yang tangguh. Mereka berampat inilah sesungguhnya yang mewarisi ilmu sakti Resi Ugrasawa.

Kyahi Basaman segera menduga ара sebab mereka datang beramai-ramai. Pastilah dua orang pendeta tadi sudah melaporkan kedatangannya. Sekalipun kedudukannya masih kalah setingkat dengan kedudukan mereka, namun agaknya mereka perlu menyongsong kunjungannya, mengingat dia adalah seorang ahli waris Aristi, adik seperguruan Resi Ugrasawa.

Cepat Kyahi Basaman melangkah maju. Dan dengan membungkuk hormat ia berkata menyambut:

"Sungguh tak dapat kukatakan betapa besar rasa terima kasihku atas kesudian rekan Anung Danudibrata menyambut kedatanganku bersama adik adik seperguruan padepokan Argapura."

Dengan dipimpin Anung Danudibrata para pendekar itu membalas hormat Kyahi Basaman. Kata Anung Danudibrata:

"Dari jauh rekan Kyahi Basaman datang mendaki gunung kami. Entah hendak memberi petunjuk ара kepada kami."

"Bukan petunjuk, tetapi satu permohonan," sahut Kyahi Basaman.

"Akh, begitu? Silahkan duduk! Mari!"

Para pendeta Argapura mendahului berjalan memasuki gardu penjagaan. Dan digardu penjagaan itu, Kyahi Basaman dan Lingga Wisnu disuguh air teh. Juadah keras yang tadi disodorkan penjaga, kini tiada nampak dihidangkan.

Diam-diam Kyahi Basaman mendongkol dalam hati.

Pikimya :

‘Jelek-jelek, akupun seorang ahliwaris dari Resi Aristi. Kedudukanku setingkat dengan ia. Ара sebab aku hanya dipersilahkan duduk didalam gardu penjagaan dan nampaknya tiada niatnya menerima kunjunganku didalam biaranya? Benar-benar keterlaluan! Jangan lagi aku yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat, seumpama tetamu biasapun rasanya tidak wajar diterima di dalam gardu penjagaan.

Tetapi Kyahi Basaman seorang petapa tulen. Setelah timbul gagasan itu, segera ia bisa menguasai d iri. Pikiran serta hatinya sekaligus menjadi jernih kembali seperti permukaan sebuah telaga diatas gunung sunyi sepi.

"Rekan Basaman!" Anung Danudibrata membuka suaranya. "Menurut tata santun, sebenarnya engkau harus kami terima didalam biara akan tetapi mengingat leluhur kita dahulu melarang adanya pertamuan ini, maka kami tidak berani melanggar pantangan itu. Malahan didalam rumah perguruan kami terjadi suatu peraturan keras. Barangsiapa sudah meninggalkan rumah perguruan, tidak diperkenankan lagi memasuki pertapaan. Siapa yang melanggar pantangan ini, akan dihukum tabas kaki. Karena itu maafkan kami."

"0, kiranya begitu." sahut Kyahi Basaman dengan tertaw a gelak. "Rumah perguruan kami tidak mengenal peraturan demikian. Siapa saja boleh keluar masuk dengan hati bebas sebagai manusia wajar. Siapa saja boleh belajar ilmu warisannya dengan bebas merdeka. Seumpama ditengah jalan tiada tahan lagi, diperkenankan mengundurkan diri. Sebab memaksa seseorang untuk berbuat kebajikan demi mengabdi kepada kepentingan golongannya sendiri, bukanlah hak kami."

"Akh, saudara Basaman pandai bergurau!" seru Anung Danudibrata dengan tertaw a. "Resi Aristi mewarisi sepertiga bagian ilmu sakti Brahmandaprana. Sayang sekali hatinya kotor sehingga sampai hati merebut kekasih orang."

Betapa sabar Kyahi Basaman, akan tetapi begitu leluhurnya difitnah orang, timbullah rasa panas dalam hatinya. Menurut kata hati, ia ingin mendamprat. Syukur, pada saat itu ia mempunyai pertimbangan lain. Katanya didalam hati:

'Dipandang dari sudut Ugrasawa, memang leluhurku seakan-akan merebut Parwati yang sesungguhnya tidak demikian. Biarlah dia berkata begitu. Aku datang kemari demi untuk merebut jiw a Lingga. Kalau belum-belum sudah bentrok, alangkah buruk jadinya'

Dengan pertimbangan demikian, ia lantas bersenyum.

Kemudian berkata:

"Perkataan rekan Anung Danudibrata tepat sekali.

Justru itulah, aku datang kemari."

Tercengang Anung Danudibrata mendengar perkataan Kyahi Basaman. Ia jadi tak mengerti. Pikirnya di dalam hati: 'Apakah maksudnya justru oleh alasan itu, ia datang kemari.' Karena tak dapat memperoleh jawaban, ia menoleh kepada Saptaw ita, Saroni, Hasan Hidayat dan Jarot untuk minta pendapatnya. Tetapi ke ampat adik- nya seperguruanpun tidak dapat mendjaga maksud Kyahi Basaman sesungguhnya. Karena itu, Anung Danudibrata yang tabiatnya tidaklah sesabar Kyahi Basaman, segera berkata :

"Silahkan, berilah kami keterangan maksud kunjungan saudara!"

Kyahi Basaman tertaw a gelak. Setelah diam sejenak, ia memberi keterangan dengan hati hati:

"Rekan Anung Danudibrata tadi sudah menyinggung leluhur kami Resi Aristi yang mewarisi sepertiga bagian ilmu sakti Brahmandaprana. Hal ini menang benar belaka. Tetapi apabila dibandingkan dengan Resi Ugrasawa dan Bhiksuni Partiwi, pihak kamilah yang paling rendah ilmunya. Mungkin lantaran Resi Aristi adalah murid Resi Romaharsana yang paling muda. Itulah sebabnya pula, maka setelah melampaui ratusan tahun lamanya dan akhirnya jatuh ditanganku, kesaktian ilmu Brahmandaprana jadi bertambah merosot pamornya.

"Hm., itupun belum tentu." potong Anung Danudibrata dengan mendengus. "Pada jaman itu, bhiksuni Parwati menaruh hati kepada Resi Aristi, sehingga bukan mustahil mereka saling melengkapi kekurangannya masing-masing. Hari ini rumah perguruan saudara, termashur seumpama bintang conerlang diangkasa. Bukankah itu suatu bukti?"

Kyahi Basaman mengkerutkan dahi. Lalu tertaw a gelak sambil mengurut jenggotnya. Sekilas itu ia berkata didalam hati: 'Udayana mati karena dituduh menyimpan tongkat mustika. Apakah alasan sesungguhnya bukankah perkara jelus? Jangan-jangan begitu.' Tetapi. segera dia berkata dengan suara sabar :

"Rekan Anung Danudibrata tadi berkata bahwa leluhur kita dahulu melarang ada suatu pertamuan. Masakan beliau melanggar pantangannya sendiri? Lagipula, sewaktu beliau bertiga berumur enampuluh tahunan, gurunya Sang Maharsi Romaharsana masih hidup, sehingga pertamuan demikian t idak mungkin terjadi."

Diantara kelima ketua rumah-perguruan Argapura, Sapt aw ita adalah yang paling luas pergaulannya. Budi- pakertinya agung pula. Akan tetapi agaknya ia menempatkan diri dibawah kedudukan Anung Danudibrata. Walaupun tahu kata-kata kakaknya seperguruan banyak yang saling bertentangan, namun ia bersikap diam. Kyahi Basaman dapat menghargai sikapnya.

Hasan Hidayat sebaliknya seorang banyak pula pertimbangannya. Ia seorang sabar dan saleh. Dengan begitu wajahnya nampak terlalu tenang, sehingga sukar ditebak keadaan hatinya. Terhadap pendekar ini, Kyahi Basaman bersikap hati-hati.

Saroni dan Jarot merupakan dua sejoli yang terlalu polos hati, sehingga mereka berkesan kekanak-kanakan dalam suatu pembicaraan tingkat tinggi. Sebaliknya Anung Danudibrata seorang pendekar berpikiran sempit dan agak dengki. Lantaran kurang bergaul, kerapkali ia lebih banyak menggunakan perasaan daripada pertimbangan.

Karena jalan pikirannya sempit, timbullah kecurigaannya. Ia menganggap kedatangan Kyahi Basaman bersangkut-paut dengan kematian Udayana. Belum-belum ia sudah berjaga-jaga terhadap kemungkinan tamu itu melancarkan suatu penuntutan dendam. Sebab, meskipun dia sendiri tidak ikut-serta mengejar-ngejar Udayana, akan tetapi anak-anak muridnya banyak yang mengambil bagian. Betapapun juga, ia harus memikul tanggung jaw ab.

Terhadap orang luar, dapat ia bertindak keras. Sebaliknya terhadap anggautarya sendiri, ia bersikap melindungi. Inilah suatu kesalahan besar dimata umum.

Dua tahun yang lalu, semenjak Udayana mati kena keroyok, pertapaannya sering didatangi tetamu untuk minta keterangan tentang wasiat tongkat mustika. Sudah tentu tak dapat ia memberi keterangan. Ia berkata bahwa pihaknya ikut mengejar Udayana semata-mata demi setia kawan belaka. Tentu saja, alasan ini tak dapat meyakinkan para tetamunya. Mereka menuduh bahwa pihak Argapura sudah mengetahui tentang rahasia tongkat mustika tersebut dan bermaksud hendak mengangkangi sendiri.

Karena pepat, dalam hati Anung Danudibrata lantas timbul rasa uring-uringan. Ini semua gara-gara murid Kyahi Basaman. Coba seumpama tiada cerita tentang tongkat mustika, pastilah pertapaannya akan tetap aman sentausa seperti sediakala. Tidak seperti sekarang! Setiap kali, orang dapat memasuki dan menginjak halamannya. Sebab setelah udayana mati, perhatian orang-orang yang bernapsu hendak memiliki tongkat mustika beralih kepada rumah perguruannya. Mereka menaruh curiga, lantaran rumah pertapaan Argapura merupakan bintang cemerlang di bumi Priangan.

Kebetulan sekali, Kyahi Basaman datang tanpa diundang. Ini namanya ular mencari gebuk. Kesempatan bagus ini akan dipergunakan untuk melampiaskan rasa mendongkol yang disimpannya selama dua tahun didalam perbendaharaan hatinya. Maka Anung Danudibrata lantas berteriak:

"Saudara Basaman bilang, leluhur kita berpantang tidak akan saling bertemu. Itupun benar, juga tidak benar. Bukankah pada hari tuanya, mereka sadar dan kemudian saling mencatat bagian ilmu saktinya masing- masing? Dan masing-masing bagian ilmu saktinya itu lantas dikumpulkan menjadi satu dan disimpan didalam sebatang tongkat. Bukankah begitu? Sekarang dimanakah tongkat itu?" Kyahi Basaman tertaw a perlahan. Sahutnya:

"Itulah suatu dongeng belaka. Rekan Anung Danudibrata sebenarnya tidak percaya pula kepada dongeng itu."

"Belum tentu ! " potong Anung Danudibrata dengan bernapsu. "Karena Bhiksuni Parwati dekat hubungannya dengan leluhurmu, kemungkinan besar tongkat itu diserahkan kepada Resi Aristi."

"Akh, itupun baru dugaan. Justru karena itu, aku datang kemari untuk memohon petunjuk." kata Kyahi Basaman dengan sabar.

Anung Danudibrata terperanjat mendengar istilah mohon petunjuk. Apakah Kyahi Basaman dengan terang- terangan hendak menantangnya? Sebab kata-kata mohon petunjuk itu berarti hendak menguji. Maka ia jadi tergugu.

Pendekar Saroni yarg berwatak berangasan lantas mendamprat :

"Bagus! Terang-terangan leluhurmu berlaku curang. Setelah memperoleh gabungan ilmu sakti Brahmanda prana sampai lengkap, ia lantas mengangkangi untuk para ahliwarisnya. Hm .... kau anak pencuri, kini berani menantang kami."

"Bukankah lantaran kau mengandal kepada ilmu sakti Brahmandaprana yang sudah lengkap? Coba bantahlah bukti ini ! Tetapi aku Saroni, tidak akan gentar menghadapimu. Hayo, kau boleh menguji kami. Kami disini tidak hanya berlima atau berenam. Dibelakang kami masih berderet ratusan orang anggauta pertapaan Argapura. Apakah kau sanggup membasmi mereka?" Kata-kata tidak akan gentar, sebenarnya justru membuktikan, bahwa dalam hati kecil Saroni sudah timbul rasa jeri. Маkа belum-belum ia sudah memberi aba-aba kepada ratusan anak buahnya agar main keroyok.

Kyahi Basaman segera berkata dengan sabar:

"Akh, kiranya saudara-saudaraku salah terima dan salah faham akan kedatanganku ini. Kata-kataku 'mohon petunjuk' benar-benar bukan berarti hendak menguji kepandaian. Dan cerita tentang tongkat mustika itu, sebenarnya hanya cerita khayal belaka. Andaikata benar, tongkat mustika itu berada ditanganku, ара perlu aku datang kemari? Padahal kedatanganku kemari ini justru merasa diri kurang. Dan kini hendak memohon petunjuk- petunjuk."

Penjelasan Kyahi Basaman itu diluar dugaan mereka. Mereka jadi bungkam berbareng heran. Benarkah demikian? Kyahi Basaman kini sudah berumur 93 tahun. Betapa tinggi ilmu kepandaiannya, siapapun takkan bersangsi. Kalau sekarang datang mendaki Gunung Cakrabuwana untuk memohon petunjuk-petunjuk pastilah beralasan kuat. Tetapi apakah alasannya?

"Akh, saudara hanya bergurau saja," kata Anung Danudibrata. "Usia kami berada dibawah saudara. Baik pengalaman maupun pengetahuan masih sangat dangkal. Saudara hendak minta petunjuk kami. Petunjuk ара?"

Oleh jaw aban itu, Kyahi Basaman jadi sadar. Memang kedatangannya itu, kalau dipikir sangat aneh. Kalau t idak menerangkan alasannya dengan jelas sukarlah mereka percaya. Maka dengan perlahan-lahan ia menceritakan penderitaan Lingga Wisnu dan ара sebab bocah itu sampai kena hawa berbisa yang kini meresap kuat dalam tubuhnya. Dikesankan pula bahwa Lingga Wisnu adalah putera Udayana satu-satunya.

Tak peduli bagaimana alasannya, ia wajib menyelamatkan. Dan satu-satunya jalan, kecuali dengan ilmu sakti Brahmandaprana yang berada ditangannya.

Sebagai timbal-balik, iapun mengharapkan bagian Brahmandaprana yang berada dipertapaan Argapura. Dengan demikian, kedua pihak mempunyai hak untuk mempelajari.

Mendengar penjelasan Kyahi Basaman, Anung Danudibrata termangu, setelah menimbang sebentar ia berkata:

"Saudara Basaman 1 Bagian ilmu sakti Brahmandaprana yang berada ditangan leluhur kami Resi Ugrasawa terdiri 72 macam ilmu kepandaian. Selama ratusan tahun anak-anak muridnya mencoba mempelajari, akan tetapi tiada seorang pun yang sanggup mewarisi lebih daripada 14 macam saja. Karena itu, maksud baik saudara Basaman hendak menyerahkan bagian ilmu sakti Brahmandaprana kepada golongan kami, sebenarnya tiada gunanya. Akhirnya, kamipun tak ada waktu serta tak sanggup mampelajari." ia berhenti sebentar mengesankan.

Berkata lagi: "Kecuali itu, semua orang tahu Resti Aristi adalah adik seperguruan Resi Ugrasawa. Seumpama kami lantas menerima bantuan saudara bukankah berarti merosotkan pamor leluhur kami? Padahal Resi Ugrasawa menang setingkat dari kedudukan Resi Aristi. Sebagai seorang yang kini memegang tampuk pimpinan pertapaan Ugrasawa, tak dapat kami memikul tanggung jaw ab ini."

Kyahi Basaman tertegun mendengar kata-kata Anung Danudibrata. Ia jadi kecewa dan kesal. Katanya didalam hati: 'Kau terkenal sebagai seorang pendekar sakti. Tetapi penglihatanmu ара sebab begini sempit?'

Akan tetapi lantaran merasa d iri bahwa kedudukannya kini hendak memohon sesuatu, terpaksalah ia mengalah untuk mengelakkan suatu perdebatan. Katanya :

"Rekan Anung Danudibrata dengan keampat adik- seperguruan yang bermukim diatas Gunung Cakrabuwana ini merupakan lima-serangkai ulama yang mengutamakan cinta-kasih diatas segala-galanya. Semenjak dahulu terkenal sebagai lima serangkai yang ringan kaki dan ringan tangan dalam usaha menolong sesama hidup. Sekarang kami memohon suatu pertolongan. Dapatkah kiranya kalian berlima. mengulurkan tangan? Dengan ini aku sangat berterima kasih."

"Hm. Walaupun kami hidup berlandaskan rasa c inta- kasih, akan tetapi keluarga Udayana pulang dengan tangan berlumuran darah. Entah sudah berapa puluh orang, Udayana mambunuh orang-orang tak berdosa. Dipihak kami saja, kehilangan ampat puluh orang. Kami sekarang tidak mengusut sepak-terjangnya lagi, hal itu karena mengingat dia sudah mati. Menurut faham kami, akan terkutuklah seseorang yang mengganggu- gugat yang sudah mati. Karena itu, perkaranya kami sudahi saja. Pada saat ini, datanglah anak nya hendak mohon pertolongan. Seumpama dia terpaksa mati, rasanya memadailah sebagai penebus keganasan ayah- bundanya." kata Anung Danudibrata dengan suara merendahkan.

Menuruti hati, Kyahi Basaman mendongkol bukan main. Namun demi tujuan, ia menguasai diri sebaik- baiknya. Sebaliknya, Lingga Wisnu yang semenjak tadi berdiri didamping kakek gurunya, gusar bukan kepalang. Apa lagi ia mendengar nama ayah-ibunya diungkat- ungkat seolah-olah orang-tuanya yang berlumuran dosa. Маkа tak sanggup lagi ia membungkam. Lalu berkata keras:

"Eyang! Pendeta-pendeta ini justru membuat ayah-ibu mati dengan penasaran. Tetapi mereka seakan-akan memikulkan seluruh tanggung jaw abnya kepada ayah- ibu. Aku tahu sendiri, baik ayah maupun ibu tak habis- habis mengerti, ара sebab diburu-buru terus-menerus selama delapan tahun. Karena itu eyang, lebih balk aku mati daripada memohon-mohon pertolongan mereka. Mari kita pulang saja, eyang."

"Akh, angger ! " Kyahi Basaman mengeluh. "Kematian ayah-bundamu, sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan para pendeta ini."

Mendengar ucapan Kyahi Basaman, Lingga Wisnu tercengang. Ia jadi bingung. Akhirnya mendongkol berbareng marah. Karena gejolak perasaannya yang tak menentu itu, mulutnya jadi tergugu. Akan tetapi didalam hatinya sudahlah timbul keputusannya, tidak sudi menerima belas kasih pendeta-pendeta itu. Katanya didalam hati 'Meskipun eyang berhasil rrembujuk mereka untuk menurunkan ilmu sakti Brahmandaprana yang berada di perguruan Argapura ini, aku emoh mempelajari. Biarlah aku mati kering daripada menerima budi-baik musuh ayah-bunda ...'

Dalam pada itu Kyahi Basaman tak bosan-bosan berusaha membujuk dan membuat mereka mengerti tanpa menyinggung persoalan Udayana. Berjam-jam ia berbicara sanpai mulutnya terasa kering. Dan para pendeta itupun tak bosan-bosan menolak segala bentuk permint aannya.

Selagi demikian, sekonyong-konyong terdengarlah derap kuda mendatangi gardu penjagaan. Dan tampaklah lima penunggang kuda muncul di antara debu jalan. Yang berada didepan seorang laki-laki berperawakan kekar, gagah perkasa. Sesampainya didepan gardu penjagaan ia menahan kudanya sambil berseru bagaikan guntur :

"Ha ... kebetulan sekali. Inilah orangnya"

Mendengar suaranya yang keras bagaikan guntur itu, semua orang terkejut. Sementara itu laki-laki berperawakan gagah tersebut sudah turun dari atas kuda sambil menebarkan penglihatannya. Kemudian berkata kepada Anung Danudibrata :

"Sadat Satir utusan golongan Sekar Ginabung datang menghadap tuanku Anung Danudibrata. Harap saudara sudi mengantarkan kami."

Rupanya orang itu belum pernah bertemu muka dengan Anung Danudibrata, sehingga mengira dirinya sedang berhadapan dengan salah seorang pendeta dari padepokan Argapura.

Dalam pada itu, mereka yang mendengar suara Sadat Satir menjadi pengang telinganya. Orang itu wajar saja sewaktu berbicara. Akan tetapi suaranya bukan main kerasnya. Itulah suatu tanda, bahwa dia memiliki himpunan tenaga sakti yang dahsyat sekali. Merekapun terperanjat pula dengan disebutnya golongan Sekar Ginabung.

Sekar Ginabung adalah nama suatu perkumpulan yang bersarang diatas Gunung Papandayan. Tak jelas, bagaimana sepak terjang golongan itu, akan tetapi menurut kabar, mereka jarang sekali berhubungan dengan orang luar apabila tidak sangat penting. Gerak- gerik mereka sangat sukar diamat-amati. Namun merajai suatu wilayah yang mempunyai sumber hidup makmur. Mereka yang memasuki daerahnya atau melintasi, harus membayar pajak. Dengan demikian, cara hidup mereka tak beda dengan tata-tertib seorang raja memerint ah daerah kerajaannya.

Lingga Wisnu lantas saja teringat kepada peristiw a dua tahun yang lampau. Ayah bundanya sangat segan menghadapi dua tokoh pengejarnya. Mereka bernama Lemah Ijo dan Ruji Pinentang. Dua pendekar itu menyebut diri sebagai anak-murid Panembahan Padang Bulan yang berkedudukan sebagai Ketua golongan Sekar Ginabung. Tatkala Lemah Ijo dan Ruji penentang mendadak memasuki gelanggang pertempuran, ayah dan ibunya kena dilukai. Akan tetapi merekapun menderita luka tak ringan pula. Tak mengherankan bahwa mereka berdua berdendam terhadap keluarganya.

Lemah Ijo dan Ruji Pinentang merupakan tetamu yang amat garang, tatkala ikut datang ke paseban rumah- perguruan Kyahi Basaman. Sekarang Lingga Wisnu melihat seorang tokoh lain yang gagah perkasa dan garang. Diam-diam hatinya meringkas. Terus saja ia bersembunyi di belakang punggung eyang-gurunya.

Dalam pada itu Anung Danudibrata berkerut keningnya. Berpikir didalam hati: 'Eh, kembali lagi ada orang yang ingin mengusut perkara tongkat mustika. apalagi alasannya kalau perkara tongkat mustika. Benar- benar anak murid Basaman ini membuat susah saja ...'

"Kau mencari ketua kami. Apakah sangat penting?" teriak pendekar Saroni.

Dengan membungkuk hormat, Sadat Satir menjawab :

"Sebenarnya kami tak berani mengganggu ketua tuan. Cukuplah asal kami diberi kabar, di manakah sebenarnya tongkat mustika itu berada."

"Kami disini adalah sekumpulan tulang belulang yang hanya pandai bersemedi atau berdoa. Karena itu, sama sekali tidak mengerti tentang peristiw a-peristiw a yang terjadi diluar pertapaan. Silahkan tuan pergi saja."

Mendongkol hati Sadat Satir diusir dengan cara demikian. Menyahut agak keras:

"Sebenarnya siapakah tuan sampai berani mewakili suara golongan Argapura?"

Saronipun seorang pendekar yang rnudah tersinggung pula. Sahutnya pedas :

"Akh, nama hanyalah semacam sebutan bentuk luar.

Ара perlu kami perkenalkan?"

Keruan saja hati Sadat   Satir   kian   mendongkol.

Sekarang kedua alisnya berkerut. Lalu membentak : "Hm, selagi mohon mendengar nama tuan yang agung saja tidak berhasil. Apalagi mengharapkan yang bukan- bukan. Apakah kedatanganku kemari sia-sia belaka?"

"Itupun belum tentu," tiba-tiba timbul suatu pikiran lain didalam hati Saroni. "Bukankah engkau datang kemari untuk mengusut rahasia tongkat mustika?"

"Akh, benar!" seru Sadat Satir dengan suara keras. "Jika tuan sudi memberi kabar, alangkah besar rasa terima kasih kami. Golongan kami akan bersedia bersahabat sepanjang masa dengan golongan tuan."

"Benarkah demikian?" Saroni tertaw a terbahak-bahak. "Kunjunganmu hari in i benar-benar merupakan suatu karunia Tuhan. Coba, seumpama lambat satu hari saja atau mendahului satu hari, akan sia-sia."

"Mengapa demikian?" Sadat Satir heran. Tapi pada wajahnya terbayang rasa syukur yang meluap. Keampat temannya segera menghaturkan rasa terima kasih berulang kali sebagai penyambut ke sediaan pihak golongan Argapura.

"Mengapa demikian? Karena satu-satunya orang yang mengetahui dimanakah beradanya tongkat mustika itu, sekarang ada disini. Itulah dia, putera tunggal Udayana." kata Saroni sambil menuding kearah Lingga Wisnu yang bersembunyi dibelakang Kyahi Basaman.

Keruan saja hati Lingga Wisnu tercekat. Akan tetapi begitu mendengar nama ayahnya disinggung, serentak timbullah rasa jantannva. Teringat betapa ayah- bundanya mati dengan penasaran, terus saja ia maju sambil merribentak: "Kedua saudara-seperguruanmu Ruji Pinentang dan Lemah Ijo dengan tak menghiraukan harga diri, ikut mengeroyok ayah dan ibuku. Hari in i aku akan membuat perhitungan."

Ucapan anak kecil itu mengejutkan dan menggelisahkan hati. Mereka semua berpaling kepadanya seakan-akan berjanji. Menilik wajahnya yang pucat lesi. pantasnya ia harus dikasihani. Akan tetapi ternyata bocah itu menpunyai kegarangan hati yang berlebih-lebihan. Masakan dia bisa membuat perhitungan terhadap Sadat Satir, seorang pendekar yang berkesan begitu perkasa.

"Akh, anak kecil Mulutmu kenapa gampang bocor? Apakah kau bosan hidup?" bentak Sadat Satir dengan suara menggeledek.

Dlbentak dengan suara yang keras bagaikan geledek itu, betapapun juga hati lingga Wisnu menjadi meringkas.

Tetapi dia seorang anak yang keras hati. Dengan mati- matian ia mencoba menghimpun semua keberaniannya. Lalu membalas bentak dengan suara sekeras-kerasnya :

"Dua tahun yang lalu, golonganmu pernah ikut mengeroyok ayah-bundaku. Yang memimpin dua orang, bernama Lemah Ijo dan Ruji Pinentang. Ke duanya mengenakan pakaian pendeta seolah-olah manusia suci. Tak tahunya mereka haus darah dan beraninya hanya main keroyok. Apakah kau tak malu?"

Kembali mereka semua terkejut mencengar ucapan Lingga Wisnu. Benar-benar mereka tak menyangka, bahwa bocah cilik itu mempunyai keberanian berlebih. Sebaliknya Sadat Satir dan keampat kaw annya gusar bukan main, karena kena ditelanjangi oleh seorang anak kemarin sore di hadapan para pendekar. Lantaran sangat malu, tanpa berpikir panjang lagi Sadat Satir melompat maju menggampar kearah muka Lingga Wisnu.

Namun, betapapun juga ia seorang pendekar yang merasa diri bertenaga kuat. Khaw atir kalau tenaganya bisa memecah kepala sibocah, Sadat Satir hanya menggunakan tenaga satu bagian saja. Walaupun demikian, apabila mendarat pada sasarannya, Lingga Wisnu akan bisa dibuatnya jungkir balik dengan muka pengap.

Melihat berkelebatnya tangan, Lingga Wisnu hendak melompat mundur dengan segera. Akan tetapi tangan Sadat Satir terlalu cepat baginya. Ia merasa diri seakan- akan kena kurung sangat rapat. Tiada jalan lain kecuali menangkis. Maka dengan nekat-nekatan, ia mengangkat kedua tangannya untuk melindungi mukanya. Dan pada saat itu mendadak suatu tenaga yang halus dan hangat terasa memasuki punggungnya dan terus berkumpul pada telapak tangannya.

Bres !

Gamparan Sadat Satir kena tertangkis kedua tangan Lingga Wisnu. Hanya saja, bukan Lingga Wisnu yang terpental, melainkan Sadat Satir yang gagah perkasa terhuyung mundur beberapa langkah. Tatkala terasa kaki nya hendak tergeser lagi, ia mempertahankan diri. Sebab tumitnya sudah meraba tangga gardu penjagaan. Kalau mundur setengah langkah saja, ia akan rebah terjengkang. Akan tetapi maksud itu tidaklah mudah. Ia menjadi kelabakan, begitu tubuhnya terdoyong ke belakang. Setelah dengan mati-matian menghimpun tenaga saktinya, barulah dia dapat berdiri tegak. Akan tetapi wajahnya merah padam oleh rasa malu. Sedang rasa hatinya runyam tak karuan.

Dengan mata melotot ia mengaw askan Lingga Wisnu. Didalam hati, ia heran bukan kepalang. Pikirnya: Ruji Pinentang dan Lemah Ijo memuji ilmu kepandaian Udayana setinggi langit. Agaknya bukan bualan kosong. Anaknya saja sudah memiliki tenaga lumayan sanpai b isa mengundurkan tenaga pukulanku.

Sadat Satir tidak tahu ара sebab ia sampai kena terpukul mundur. Ia mengira bocah itu tidak bertenaga, mengingat wajahnya pucat dan tubuhnya kurus kering. Maka ia hanya menggunakan sebagian saja. Diluar dugaan, bocah itu ternyata memiliki tenaga sakti yang tak boleh dipandang ringan.

Sebaliknya Anung Danudibrata dan keampat saudara- seperguruannya mempunyai penglihatan lain. Dengan matanya yang tajam, mereka tahu ара sebab Sadat Satir kena terpukul mundur oleh tangan Lingga Wisnu. Itulah disebabkan Kyahi Basaman berada dibelakang punggung sibocah. Dengan demikian ilmu sakti Dudu Kasyapa ia menggempur tenaga pukulan Sadat Satir lewat pung- gung Lingga Wisnu. Dengan demikian, kedua tangan Lingga Wisnu sebenarnya hanya merupakan sebatang tongkat belaka.

Ilmu sakti Dudu Kasyapa, merupakan pecahan ilmu sakti Brahmandaprana. Semua pendeta golongan Ugrasawa kenal akan kehebatan ilmu sakti itu. Akan tetapi ilmu sakti tersebut sangat sukar dipelajari. Mereka yang dapat menggunakan ilmu sakti Dudu Kasyapa hanya mereka berlima. Akan tetapi kalau dikatakan atau dibanding dengan kesanggupan Kyahi Basaman menggempur musuh tanpa terlihat, mereka semua mengakui kalah.

Sebaliknya, Sadat Satir yang kurang waspada, hanya menuruti gejolak hatinya yang mendongkol. Pikimya didalam hati, aku terpental mundur karena kegoblokanku sendiri. Coba aku tadi menggunakan tenaga penuh, tak usah aku menanggung rasa malu dihadapan para pendeta Argapura. Sekarang kalau aku tidak memperlihatkan gigi, bukankah pamor Sekar Ginabung menjadi suram? Biarlah aku tak dapat mengetahui dimana beradanya tongkat wasiat lew at mulut bocah itu. Yang pentmg sekarang, aku harus bisa menggempur bocah itu sampai mampus. apa boleh buat!

Setelah memperoleh keputusan demikian, Sadat Satir tertaw a penuh ancaman seraya maju menghampiri. Lalu membentak :

"Monyet cacingan! Kau terimalah lagi pukulanku ! "

Ia melompat dan terus menghantam dada si bocah. Kali in i Sadat Satir tak segan-segan lagi. Tenaga sakti yang digunakan, penuh-penuh. Таk mengherankan, belum lagi pukulannya mendarat pada sasarannya, suatu angin dahsyat sudah t iba bergulungan. Lengan baju para pendeta berkibaran dan gardu penjagaan nampak tergetar.

Mereka adalah pendeta-pendeta yang merupakan tiang agung pertapaan Argapura. Mereka disebut lima pendeta sakti. Ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Meskipun demikian, kena samberan angin pukulan Sadat Satir, dada mereka terasa menjadi sesak. Маkа cepat- cepat mereka menghimpun tenaga penolak.

Dalam pada itu, hati Kyahi Basaman tergoncang, menyaksikan hebatnya tenaga pukulan yang digunakan Sadar Satir. Pada detik itu ia berpikir sengit didalam hati: Ah, kenapa untuk melampiaskan rasa mendongkol saja, engkau menggunakan tenaga begini dahsyat terhadap seorang anak kecil? Hm, kalau aku tidak kebetulan berada disini, bukankah kepala Lingga pecah berantakan kena hantamannya ini?

Karena sengit, Kyahi Basaman tidak lagi menyalurkan ilmu sakti Dudu Kasyapa ke dalam urat nadi Lingga Wisnu, akan tetapi langsung menggunakan int i-sari ilmu sakti Brahmandaprana Tripurusa yang pernah dipergunakan untuk merebut jiw a Lingga Wisnu dahulu. Seperti diketahui, titik tolak ilmu sakti Tripurusa bersandar pada tenaga murni.

Kyahi Basaman selama hidupnya belum pernah bersintuhan dengan wanita. Karena itu tenaga murninya masih penuh dan suci bersih. Dan tenaga murni ini dituangkan habis-habis ke dalam urat nadi Lingga Wisnu untuk melindungi. Dan akibatnya hebat sekali.

Begitu dua tenaga raksasa berbenturan, maka genting gardu penjagaan rontok berhamburan. Suatu debu tebal meledak dan melambung keudara. Lalu terdengarlah suara gemeretakan. Ternyata gardu penjagaan yang berada didepan pagar biara ambrol kena tubuh Sadat Satir yang terpental akibat gempuran tenaga sakti Tripurusa. Karena Sadat Satir memiliki tubuh yang kebal dari senjata, ia bisa merobohkan gardu penjagaan yang terbuat dari batu pegunungan. Begitu ambrol, tubuhnya terus melayang terbang bagaikan bola keranjang kena pukulan keras. Dan tahu-tahu tubuhnya terkait pada sebatang dahan cemara yang berada ditepi jurang.

Sadat Satir kaget bukan kepalang. Karena terdorong rasa kaget, ia sampai berkaok-kaok. Sedangkan kedua kakinya berkeroncalan di udara dalam usahanya melepaskan diri dari dahan pohon yang menggaetnya.

Untunglah, tenaga sakti yang dipergunakan Kyahi Basaman memunahkan tenaga sakti Sadat Satir yang kejam, adalah himpunan tenaga sakti yang murni. Walaupun dahsyat luar biasa, namun sifatnya lurus dan halus.

Tenaga itu tidak untuk merusak, akan tetapi hanya menolak. Itulah sebabnya, tubuh Sadat Satir sama sekali tak terluka. Seumpama Sadat Satir sempurna ilmu saktinya, tak sampai ia terkait batang pohon. Sebaliknya kini, apabila sampai terlepas dari kaitan itu, malah besar bahayanya. Dia bisa terjatuh ke dalam jurang yang penuh dengan batu-batu tajam. Sadar akan hal itu, dengan menahan napas ia memutar tubuhnya menghadap pangkal pohon. Lalu memeluk erat-erat. Benar-benar suatu kejadian yang lucu mengharukan.

Menyaksikan kejadian itu, semua orang terkejut, heran dan geli. Sedang dua orang bawahan Sadat Satir segera menghunus goloknya. Berbareng mereka melompat dan berusaha mematahkan dahan pohon dengan goloknya. Tetapi dahan pohon itu terlalu tinggi. Golok mereka tak sampai. Maka dengan berjumpalitan mereka turun ketanah. Setelah menyimpan goloknya, mereka memanjat pohon tanpa mempedulikan senyum simpul para pendeta Argapura.

Kyahi Basaman lantas menbisiki Lingga Wisnu. Bocah itu nampak memanggut. Ia membungkuk memungut sebutir batu kecil. Setelah diincer baik-baik segera jari- jarinya menyentil. Dengan suara bersuling, batu itu menyambar dahan pohon. Krak! Dahan itu patah dan runtuh ketanah berikut tubuh Sadat Satir yang memeluk erat-erat. Kedua pembantunya kaget. Seperti berjanji, mereka berdua melompat dengan berbareng. Tangan mereka menyambar dalam usahanya menghindarkan Sadat Satir jatuh kedalam jurang. Tapi celakanya mereka kena daya tekan tubuh Sadat Satir yang terbanting dengan tiba-tiba dari atas udara, mereka berdua malahan kena tindih. Dan dengan suara berkedubrakan, ketiga-tiganya terbant ing diatas tanah saling t indih.

Kejadian inipun mengherankan semua yang menyaksikan. Mereka tak pernah menduga, bahwa sebutir batu kecil bisa mematahkan dahan pohon cemara yang cukup besar dengan suatu sentilan dari jauh. Selagi mereka ternganga-nganga keheranan, kembali lagi Kyahi Basaman menunjukkan kepandaiannya. Tiba-tiba tangan Lingga Wisnu terangkat. Suatu kesiur angin dahsyat bergelungan menyendok tanah tenpat Sadat Satir bertiga jatuh saling tindih. Tahu-tahu tubuh mereka terangkat naik keudara dan terlempar balik. Dengan demikian, mereka bebas dari ancaman tebing jurang yang meluruk berguguran kena benturan berat badannya.

Walaupun danikian Sadat Satir bertiga tak kurang kagetnya, tatkala tubuhnya kena terangkat naik. Mereka bertiga mengira bahwa Lingga Wisnu hendak menceburkannya ke dalam jurang mengingat kedua orang tuanya mati kena keroyok. Walaupun yang membunuh Udayana tidak hanya golongan mereka sendiri, namun oleh rasa dendam bocah itu bisa kalap. Diluar dugaan, mereka justru berada dalam sebaliknya. Setelah dapat menancapkan kaki, ternyata mereka berada agak jauh dari tebing jurang yang sedang berguguran. Kemudian suatu hawa hangat yang nikmat luar biasa merayapi seluruh tubuhnya. Akh, bocah ini bermaksud baik sekali, pikir mereka. Apakah dia menghendaki kepergiannya? Tiba-tiba mereka teringat, bahwa pendeta-pendeta Argapura pun ikut memikul tanggung jawab. Memperoleh pikiran demikian, segera mereka mengangkat kaki.

"Anak muda, kami benar-benar kagum. Sungguh kagum !" kata mereka dengan membungkuk hormat. Setelah itu dengan isyarat mata Sadat Satir menghampiri kudanya dan mendahului turun gunung. Dan keampat pembantunya segera menyusul cepat-cepat.

Mereka belum juga sadar, bahwa semuanya itu tadi adalah berkat ilmu sakti Kyahi Basaman yang tersalur pada tubuh Lingga Wisnu. Lingga Wisnu hanya merupakan sebuah boneka belaka. Sebaliknya, para pendeta Argapura yang bermata lebih tajam, kagum luar biasa terhadap Kyahi Basaman. Pikir mereka, pada jaman ini orang memashurkan nama Kyahi Basaman, sebagai seorang pendekar nomor satu tiada bandingnya. Setelah menyaksikan sekelumit kepandaiannya, ternyata kepandaiannya orang tua itu melebihi kabar berita orang.

Akh, kalau begitu, ilmu saktinya cukup berharga untuk dipelajari — Sebenamya Anung Danudibrata berlima sudah mengambil keputusan tidak sudi tukar-menukar ilmu sakti Brahmandaprana bagian mereka masing-masing. Akan tetapi setelah menyaksikan kepandaian Kyahi Basaman, mereka jadi sibuk mempertimbangkan. Pikir mereka lagi : 

'Sekalipun aku berlatih limapuluh tahun lagi, takkan mampu aku mencapai t ingkatan kepandaian setinggi dia. Ini suatu bukti, bahwa himpunan tenaga sakti kaum Aristi memiliki keistimewaannya sendiri. Karena itu, apabila aku bersedia menukar rahasia ilmu sakti Ugrasawa, rasanya tidaklah rugi.'

Memperoleh pertimbangan demikian Anung Danudibrata lantas berkata dengan suara agak sabar:

"Apakah ilmu sakti tadi saudara peroleh rahasia ilmu Brahmandaprana?"

"Bukan," sahut Kyahi Basaman. "Kepandaian itu tadi adalah ciptaanku sendiri. Namanya Tripurasa. Masih ada lagi cabangnya yang kusebut: Trinetra. Trinetra terdiri dari 14 jurus. Tetapi kedua-duanya bersumber kepada rahasia titik-tolak Ilmu Brahmandaprana yang berada di tanganku. Apabila rekan-rekan disini bersedia menolong jiw a cucuku ini, tak berani aku menyimpan semua kepandaianku yang kumiliki. Semuanya akan kupaparkan kepada rekan-rekan yang sudi mempelajari."

Sungguh menarik taw aran Kyahi Basaman. Meskipun demikian, Anung Danudibrata belum berani mengambil keputusan. Sebab ia mengira, bahwa yang tertarik hanya dia seorang diri. Maka ia melemparkan pandang kepada sekalian adik seperguruannya. Apabila mereka memanggut pendek, segera ia berkata : "Baiklah. Kami akan mengajarkan rahasia ilmu sakti Brahmandaprana yang berada ditangan kami. Hanya saja, saudara Basaman harus berjanji, bahwa yang berhak mempelajari seorang saja. Dialah sibocah ini. Selain dia, tidak kami perkenankan. Sebab ilmu ini kami relakan kepadanya semata-mata untuk menyembuhkan penyakitnya. Dengan begitu, diapun tidak kami perkenankan mengajarkan kepada orang lain. Juga tidak kami perkenankan, menggunakan ilmu sakti ajaran kami untuk bermusuhan dengan anak-murid keluarga Argapura. Syarat ini berlaku dibawah sumpah. Nah, bagaimana?"

Bukan main girang hati Kyahi Basaman. Sahutnya cepat :

"Rekan Anung Danudibrata! Akulah saksinya, bahwa dia menerima dua syarat tersebut. Yang pertama: tidak boleh mengajarkan kepada orang lain. Yang kedua: t idak boleh menggunakan ilmu sakti tersebut untuk bermusuhan dengan keluarga Argapura. Nah, angger Lingga Wisnu! Cepatlah kau bersumpah!"

Diluar dugaan Lingga Wisnu menggelengkan kepalanya. Katanya dengan suara tegas :

"Tidak! Tak sudi aku bersumpah. Karena aku pun tak sudi menpelajari ilmu kepandaian mereka."

Kyahi Basaman tercengang. Tak segera ia memaklumi keadaan Lingga Wisnu yang terlalu sedih memikirkan kenatian ayah-bundanya. Disepanjang jalan, tidak henti- hentirya ia memberikan pengertian yang mendalam dan mencoba membimbing kearah penglihatan yang lebih luas. Akan tetapi w atak Lingga Wisnu terlalu keras. Tidak mudah dia menyerah. Malahan lebih baik mati tak terkalang tanah daripada menerima belas-kasih lawan.

Teringat hal ltu, cepat-cepat Kyahi Basaman membaw a Lingga Wisnu keluar gardu penjagaan. Kemudian berkata dengan suara perlahan :

"Angger, tatkala aku membawamu kemari, bukankah engkau sudah setuju untuk mohon belajar ilinu ajarannya pendeta Argapura? Kenapa kau kini mengingkari kesanggupanmu sendiri?"

"Aku harus bersumpah t idak boleh menggunakan ilmu ajarannya untuk bermusuhan dengan keluarga Argapura." jawab Lingga Wisnu dengan suara sungguh- sungguh. "Bagaimana mungkin aku lakukan, eyang? Bukankah mereka ikut serta membunuh ayah-bunda dan sekalian saudaraku?"

"Benar." sahut Kyahi Basaman dengan menghela napas. "Tetapi kalau kau kini menolak ajarannya, dalam waktu satu tahun jiw amu akan melayang. Lantas bagaimana caramu hendak membalas dendam orang tua dan saudaramu yang mati penasaran? Karena itu yang paling penting sekarang, adalah menyelamatkan jiw amu dahulu. Kemudian engkau berlatih ilmu sakti yang banyak ragamnya didunia ini. Masakan engkau tak sanggup mengalahkan musuh-musuhmu dengan ilmu sakti yang lain? Kenapa kau hanya menganggap hanya ilmu sakti Brahmandaprana saja yang bisa mengalahkan mereka ? "

Suatu cahaya berkelebat didalam benaknya. Samar- samar ia seperti mengerti, ара sebab eyangnya bersikap mengalah dan sama sekali tak mau menyinggung kematian muridnya. Mungkin sekali, inilah perhitungannya. Yang penting: menyelamatkan jiw anya dahulu. Setelah itu, perkara penuntutan dendam, dapat dilaksanakan dengan perlahan-lahan. Sepuluh tahun rasanya belum kasep. Dan memperoleh pengertian demikian, lantas saja ia menjawab:

"Baiklah, eyang. Lingga patuh kepada kebijaksanaan eyang."

"Bagus!" kata Kyahi Basaman dengan setengah berteriak. "Kau mengerti maksud eyang, bukan? Sekarang, cepatlah kau berlutut dihadapan mereka, sebelum mereka berubah pendirian. Kau bersumpahlah akan menetapi janji."

Kyahi Basaman kemudian membawa Lingga Wisnu memasuki gardu penjagaan kembali. Waktu itu Anung Danudibrata berampat, sudah berdiri tegak menunggu keputusannya. Dengan pandang berkilat-kilat ia menatap wajah Lingga Wisnu yang pucat dan peraw akannya kurus kering.

"Bagaimana?" kata Anung Danudibrata dengan suara tak sabar.

Lingga Wisnu kemudian membungkuk hormat. Dengan berdiri berjajar Anung Danudibrata menatap

Lingga Wisnu seakan-akan lima dewa sakti turun  dari

langit hendak menebarkan maut. Kemudian berkata memutuskan :

"Kalau begitu, mari kita masuk ! "

Setelah berkata demikian, ia mendahului berjalan memasuki pertapaannya tanpa memperdulikan tetamunya. Dan Kyahi Basaman yang sudah bebas dari semua bentuk ikatan t ata-tertib keduniawian dengan tak merasa tersinggung membimbing tangan Lingga Wisnu mengikuti mereka. Sebaliknya hati Lingga Wisnu semakin menjadi mendongkol. Namun melihat eyang-gurunya bersikap sabar dan tenang, lambat-laun ia menjadi tenang pula.

Diserambi depan Lingga Wisnu diharuskan bersumpah. Ia berlut ut didepan Anung Danudibrata. Karudian bersumpah :

"Aku, Lingga Wisnu, berkat kedermaw anan serta keluhuran budi para pendeta pertapaan Argapura menerima petunjuk-petunjuk ilmu sakti Brahmandaprana warisan Resi Ugrasawa pada hari ini. Ilmu sakti ini bertujuan untuk menyembuhkan tubuhku yang menderita sakit runyam. Karena itu, aku tidak akan mengajarkan ilmu sakti ini, kepada siapapun. Juga tidak akan menggunakan untuk memusuhi anak-murid pertapaan Argapura. sampai melanggar sumpah in i, biarlah aku terajang seperti ayah-bundaku."

Tatkala mengucapkan perkataan ayah-bunda, hatinya tergetar. hampir saja ia mengucurkan air mata. Dengan sekuat tenaga ia menahan perasaannya yang bergolak itu. Akan tetapi mendadak ia jadi sakit hati. Dan terletuslah sumpahnya didalam hatinya: Ayah dan ibu mati kena keroyok mereka. Dikemudian hari, masakan aku tak mampu membalas dengan menggunakan ilmu sakti lainnya. Hm, mudah-mudahan kalian masih hidup agar bisa merasakan betapa besar rasa dendamku ini.

Tentu saja kelima pemimpin pertapaan Argapura t idak mendengar gelora hati Lingga Wisnu. Setelah dapat menerima bunyi sumpah Lingga Wisnu, ia berpaling kepada Kyahi Basaman. Berkatalah Anung Danudibrata dengan suara merasa menang:

"Baiklah, sekarang juga kami akan menbaw a bocah ini masuk kedalam pertapaan. Dia akan memperoleh petunjuk-petunjuk rahasia ilmu sakti kita dari seorang yang kami wajibkan menurunkan ilmu warisan kami. tetapi ilmu sakti warisan Resi Aristi ..."

"Pinjami kami alat tulis," potong Kyahi Basaman. Sekarang juga akupun hendak menulis seluruh rahasia ilmu sakti warisan Resi Aristi. Malahan, akupun hendak menulis pula rahasia ilmu sakti Dasasila ciptaanku sendiri, sebagai bunganya. Nah, biarlah aku menulis didalam gardu penjagaan saja."

"Baiklah." sahut Anung Danudibrata. "Kalau begitu, silahkan saudara menunggu digardu penjagaan, sementara kami menyediakan alat tulis dan beberapa hidangan sederhana."

Lingga Wisnu kala itu sudah berdiri. Mendengar maksud eyang-gurunya hendak menulis pula ilmu sakti ciptaannya sebagai bunga semacam hutang-piutang, ia menjadi penasaran. Katanya didalam hati:

'Ilmu sakti aliran Ugrasawa belum tentu lebih unggul daripada warisan Pesi Aristi. Tukar menukar itu sudahlah adil. Masing masing tidak rugi. Ара sebab eyang-guru hendak menambahi dengan rahasia ilmu sakti ciptaan nya sendiri ? Mereka bisa mempelajari dan menggunakan bilamana perlu. Sebaliknya, ilmu sakti mereka sama sekali tak boleh kugunakan. Apabila menggunakan, sedang mengajarkan kepada orang lain tidak boleh diperkenankar. Benar-benar tidak adil! Dengan menyerahkan rahasia ilmu sakti Resi Aristi tanpa suatu ikatan, bukankah membuat aliran Argapura menjadi lebih tinggi ? Dengan demikian, aliran eyang-guru akan berada dibawah telapak kakinya. Akh, eyang, demi untuk merebut jiw aku, eyang-guru mengorbankan masa depan paman    Ugrasena,    paman    Dewabrata,     paman Taw angalun, paman Podang Wilis, kedua paman Panjalu dan Samtanus. Sejak hari ini, sekalian paman guru tidak dapat menegakkan kepalanya lagi. Hanya karena aku! Ya, Allah ... bagaimana baiknya? '

Lingga Wisnu bukanlah seorang pemuda yang goblok. Kepintaran dan keenceran otaknya bahkan melebihi anak-anak sebayanya. Tetapi usianya masih terlampau muda. T atkala itu, tak dapat ia menemukan jalan keluar. Maka ia hanya patuh saja, sewaktu diperint ahkan mengikuti seorang pendeta, memasuki pertapaan.

Rumah pertapaan Argapura bersandar pada sebuah pinggang bukit yang mempunyai penglihatan sangat luas. Tempatnya tenang dan berhaw a bersih. Dlbandingkan dengan rumah pertapaan Kyahi Basaman di Gunung Lawu keindahannya menang beberapa kali lipat.

Halamannya luas dan ditanami berbagai macam bunga. Kebetulan sekali pada waktu itu musim bunga. Maka sambil berjalan, hidung Lingga Wisnu menghirup udara semerbak wangi. Sesungguhnya hal itu dapat menyegarkan perasaan. Akan tetapi Lingga Wisnu sedang murung. Ia mengikuti pendeta pengantarnya dengan kepala kosong.

Setelah berjalan serintasan, mulailah dia dibawa menyeberangi lapangan rumput. Kemudian memasuki petak hutan yang tampaknya sengaja di tanam. Apabila semak-belukar yang berada didepannya tersibakkan, maka nampaklah batu yang berbentuk panjang. Bangunan itu mempunyai beberapa jalan batu yang bersih. Kiri kanannya sunyi lenggang. Tiada sebatang hidungpun yang nampak. Akan tetapi Lingga Wisnu yang biasa di bawah serta orang tuanya menyingkiri puluhan bentuk bahaya, memiliki pancaindera yang tajam. Ia merasa diri selalu diikuti suatu pandang mata yang bersembunyi entah dimana, sehingga bulu romanya meremang.

Вenаг saja, tatkala memasuki ruang dalam, tiba-tiba terdengarlah suara bergelora dari balik dinding :

"Siapa yang kau baw a kemari?"

Pendeta pengantar Lingga Wisnu lantas saja menjatuhkan diri. Kemudian memberi keterangan siapa Lingga Wisnu dan ара maksud kedatangannya, dengan berlutut menghadap dinding. Setelah itu ia menunggu. Dan kesunyian terjadi sangat lama, sehingga Lingga Wisnu yang berdiri di

belakangnya menjadi gelisah.

"Kau berlututlah!" bisik pendeta itu setengah menghardik. "Kalau kau berdiri seperti patung, masakan beliau sudi meladeni."

"Siapa dia!" Lingga Wisnu minta keterangan sambil berlutut. "Beliaulah Рanembahап Panjingkir. Beliau lah yang bakal mengajari engkau ilmu sakti kami."

Mendengar keterangan pendeta itu, mau tak mau Lingga Wisnu merasa diri harus bersikap mengambil hati. Maka dengan takzirrnya, ia menghadap dinding. Dan benar saja. Setelah Lingga Wisnu pandai membaw a diri, barulah terdengar suara lagi dibelakang dinding. Kata suara itu kepada pendeta pengiring :

"Dia sudah menghadap padaku. Tetapi engkau tak lekas-lekas menyingkir. Apakah kau minta aku bertindak kasar?"

Selagi pendeta itu hendak mengiakan dengan suara gugup, tiba-tiba Lingga Wisnu merasakan suatu kesiur angin lew at disampingnya. Dan pendeta pengantar itu mendadak saja terbuncang keluar dan jatuh menelungkupi tanah. Begitu bangun, ia lantas lari tunggang-langgang dengan wajah ketakutan.

Menyaksikan kejadian itu, Lingga Wisnu jadi gentar juga. Ia kaget, kagum dan akhirnya tercekam rasa takut sehingga hatinya meringkas dengan tak dikehendaki sendiri.

"Bocahl" kata seorang yang bersembunyi di balik dinding. "Aku tak kenal, siapakah dirirnu. Aku tak tahu pula siapakah ayah-bundamu. Juga aku tak minta keterangan padamu, kau berasal dari golongan mana atau aliran ара. Sebaliknya kaupun tak perlu tahu siapakah namaku. Pendek kata antara aku dan engkau tetap asing untuk selama-lamanya. Kau mengerti? Nah, mengangguklah manakala kau setuju, dan gelengkan kepalamu bila kau tak setuju. Aku melarang engkau berbicara, kecuali aku yang memberi perint ah. Mengerti?"

Karena tak diperkenankan membuka mulut, Lingga Wisnu lantas mengangguk.

"Bagus!" kata orang itu lagi. "Kau datang kemari untuk minta petunjuk-petunjuk tentang ilmu warisan leluhur kami Ugrasawa, semata-mata demi mengobati lukamu. Bukankah begitu? Nah, sekarang kemari!"

Dengan merangkak Lingga Wisnu menghampiri dinding arah datangnya suara itu. Kemudian duduk bersimpuh sambil menebarkan matanya.

"Kemari!" perint ah suara itu.

Lingga Wisnu memutar kepalanya dan melihat sebuah lobang sebesar lengan seorang dewasa pada dinding kamar didepannya. Segera ia menggeser tubuhnya mendekati.

"Ulurkan tanganmu biar kuperiksa." perint ah suara itu lagi.

Dengan menutup mulutnya, Lingga Wisnu memasukkan kedua tangannya kedalam lobang dinding. la merasa kera raba pada pergelangan tangan lalu didorongnya mundur. Dan kena tenaga dorong itu, ia terpental mundur seperti terseret dari belakang. Kira-kira sepuluh langkah jauhnya dari dinding kamar, tubuhnya berhenti dengan tetap duduk bersimpuh.

"Sekarang, dengarkan baik-baik. Aku akan membacakan tiap pasal dan tiap ayat ilmu sakti Brahmandaprana bagian Ugrasawa. Tetapi aku hanya membaca satu kali saja. Kau bisa mengingat-ingat samanya atau t idak, tergantung kepada nasibmu belaka."

Sejarah hidup ini ternyata mempunyai tabiatnya sendiri. Dalam segala halnya, manusia yang dikehendaki seakan-akan telah dipersiapkan untuk menghadapi masa depan. Demikian pulalah Lingga Wisnu. Semenjak bayi, dia dibawa berlari lari oleh orang-tuanya dari tempat ketempat sampai berumur delapan tahun lamanya. Selama delapan tahun itu, terus-menerus, perasaannya peka dibangunkan oleh suatu ancaman bahaya yang mengancam setiap saat. Itulah sebabnya ара yang didengar dan dilihatnya segera melekat dalam ingatannya, karena pancainderanya selalu berwaspada. Selalu terbangun dan selalu bekerja. Tegasnya, ia seumpama sebatang pedang yang digosok terus- menerus sehingga menjadi tajam luar biasa.

Orang yang bersambunyi dibelakang dinding itu benar-benar hanya membaca ayat-ayat dan pasal-pasal int isari ilmu Brahmandaprana warisan Ugrasawa sekali saja. Walaupun demikian, ingatan Lingga Wisnu yang terlatih terus menerus semenjak delapan tahun tidak mengalami kesulitan sama sekali. Daya tangkap dan ingatannya dengan serta merta melengkatkan t iap patah kata orang itu kedalam perbendarahaan hati. Tatkala orang itu selesai membaca ayat dan pasal ilmu Brahmandaprana, ingatan Lingga Wisnu sudah mencakup keseluruhannya.

"Nah, aku sudah menurunkan ilmu Brahmandaprana yang tersimpan dalam pertapaan Argapura in i." kata orang itu. "Sekarang terserah kepadamu. Coba, aku ingin mendengar apakah engkau sudah berhasil menghafalkan bunyi kitab Brahmadaprana!" Lingga Wisnu merasa wajib mematuhi perintah orang itu. Bukankah eyang-gurunya menghendaki agar dia mempelajari dengan sungguh sungguh? Maka segera ia mambaca bunyi ilmu Brahmandaprana yang didengarnya tadi diluar kepala, mulai dari permukaan sampai akhir, dan tiada sepatah katapun yang terlampaui.

Seketika itu juga, kesunyian terjadi dengan mendadak. Kemudian terdengarlah orang di belakang dinding itu menghela napas. Katanya :

"Aku sudah berkata, bahwa aku hanya membaca satu kali saja. Benar atau salah hafalanmu tadi, hendaklah kau cari sendiri. Kuharap janganlah engkau mempersalahkan siapapun. Sekarang, mendekatlah! Aku ingin. memeriksa penyakitmu sekali lagi!"

Lingga Wisnu kala itu sudah berumur sepuluh tahun lebih. Anak seusia dia, walaupun memiliki otak cerdas luar biasa, namun tiada pernah terlint as dalam pikirannya, bahwa kata-kata orang dibelakang dinding itu sesungguhnya mengandung duri berbisa. Mendengar Lingga Wisnu dapat menghafalkan kalimat-kalimat ilmu Brahmandaprana tanpa salah sedikitpun, diam-diam hatinya tercekat. Betapa mungkin seorang anak bisa terus hafal begitu mendengar bunyi kalimat kallmat ilmu Brahmandaprana sukar di mengerti dan difahami oleh seorang dewasa meskipun sudah sudah kenyang makan garam.

Orang dibalik dinding itu lantas mencemaskan masa depan golongannya sendiri. Betapa tidak? Lantaran Lingga Wisnu adalah orang luar. Kalau pada umur sepuluh tahun saja sudah mempunyai kesanggupan demikian mengagumkan, maka masa depannya sudah dapat dibayangkan kehebatannya. Dan terdorong oleh rasa jelus dan cemas mаka ia mencoba mengesankan kepada Lingga Wisnu bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan diluar kepala itu, masih belum tentu benar tidaknya.

Dalam pada itu, Lingga Wisnu telah mengangsurkan kedua tangannya. Seperti tadi, kedua tangannya lantas kena sintuh kedua tangan yang kuat luar biasa.

"Akh, bocah ! Otakmu cemerlang. Sayang penyakitmu ini, belum tentu bisa disembuhkan." kata orang itu dengan suara berduka. "Biarlah aku menolong menyalurkan jalan darahmu. Dengar aku tidak kenal siapa dirimu, siapa orang tuamu dan tidak kenal pula golonganmu, kaupun tidak perlu kenal siapa diriku dan siapa namaku. Inilah perkenalan kita yang pertama dan yang penghabisan kali. Kau tak perlu mengenal wajahku dan akupun tak perlu melihat wajahmu pula. Nah, pejamkan matamu ! "

Lingga Wisnu menurut. Ia memejamkan matanya. Mendengar ucapan orang dibalik dirding itu tak tahulah dia, apakah orang itu bermaksud jahat atau baik. Selagi mencoba menduga-duga suatu hawa kuat luar biasa, memasuki tubuhnya lalu urat-uratnya terasa kena ditembusi, dan suatu rasa nyaman menyelimuti seluruh tubuhnya. Setelah itu, ia tak ingat dirinya lagi ..

Waktu menjenakkan mata, ia sudah berada di paseban pertapaan Argapura. Ia mendengar beberapa orang sedang sibuk berbicara seperti lagi merundingkan suatu masalah yang pelik. Cepat ia memejamkan matanya kembali dan mencoba mengintip dari celah-celah bulu mata. Anung Danudibrata dengan keampat saudara seperguruannya duduk berhadapan. Mereka memeriksa bunyi tulisan yang dibawa masuk oleh seorang pelayan.

"Basaman seorang pemimpin aliran Aristi. Meskipun orangnya tak keruan macamnya, akan tetapi kata- katanya pasti dapat dibuat pegangan. Kata Anung Danudibrata. "Dia berjanji hendak tukar-menukar dengan ilmu warisan kita. Kukira ара yang ditulisnya in i adalah ilmu warisan Resi Aristi. Memang susah sekali mentafsir arti kalimat-kalimatnya yang bersembunyi dibelakangnya. Akan tetapi aku percaya, didalam waktu singkat saja, kita semua dapat menyelami."

Mendengar ucapan Anung Danudibrata, hati Lingga Wisnu tergerak. Dasar berotak cerdas, timbullah pikirannya :

'Agaknya aku sengaja dibius setelah memperoleh pertolongan. Mengapa tidak segera diserahkan kembali kepada eyang? Akh, tahulah aku. Eyang belum selesai menulis semua rahasia ilmunya, sehingga aku dijadikan semacam sandera.'

Sebenarnya, Lingga Wisnu kena bius berat sekali. Menurut perhitungan, ia akan tersadar kembali setelah melampaui ampat jam. Ilmu bius aliran Argapura terkenal sejak seratus tahun yang lalu. Jangan lagi seorang anak seusia Lingga Wisnu, sedang orang dewasa pun apabila kena dorong tenaga sakti tertentu, akan kehilangan kesadarannya selama yang dikehendaki. Tadinya, pukulan bius itu berasal dari suatu pukulan yang dikurangi sembilan bagian. Penemunya bernama: Musafigiloh, salah seorang tokoh aliran Argapura pada abad kelima belas. Pada suatu malam, padepokannya digerayangi seorang pencuri. Dalam usahanya menangkap pencuri itu, terpaksalah ia melepaskan suatu pukulan. Akan tetapi karena tidak berniat membunuhnya, ia hanya melepaskan pukulan dengan tenaga sakti sepersembilan bagian. Ternyata pukulan seringan itu sudah cukup melumpuhkan. Pencuri itu jatuh terkapar tak sadarkan diri.

Dan semenjak itu, anak-anak murid Argapura menggunakan pukulan ringan untuk membuat pingsan seseorang. Mereka menanamkan ilmu pukulan bius. Lama tidaknya seseorang kehilangan kesadarannya, tergantung belaka pada berat tidaknya pukulan sakti yang di lepaskan.

Lingga Wisnu kena pukulan sakti yang dapat membius dirinya selama ampat jam. Akan tetapi ilmu sakti yang berada didalam bocah itu berada diluar ketentuan hukum. Itulah akibat ilmu sakti warisan Panembahan Larasmaja yang dapat merubah letak urat apabila kena dorong suatu tenaga sakti yang kekuatan berada diatasnya. Ilmu sakti inilah yang dahulu mengejutkan Kyahi Basaman, karena bisa mengadakan perlawanan.

Demikianlah, bocah itu kena pukulan sakti seorang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir. Seketika itu dia tertidur pulas. Mestinya ia tertidur ampat jam lamanya, akan tetapi Lingga Wisnu hanya tertidur setengah jam saja. Tatkala darahnya lancar kembali dan urat-uratnya bergeser tempat, ia tersadar.

Sebenarnya Anung Danudibrata dan keampat saudara seperguruannya adalah pendeta-pendeta agung Argapura yang terpuji budi pekertinya. Walaupun diantara aliran Kyahi Basaman dan Argapura terdapat perselisihan, tetapi betapapun juga mereka tidak akan menggunakan tipu muslihat licik terhadap Kyahi Basaman. Sebab apabila sampai terjadi demikian akan meruntuhkan pamor padepokan Argapura yang lebih dari seratus tahun terkenal sebagai suatu aliran yang penuh kebajikan serta amal suci terhadap Tuhan dan manusia.

Pada saat itu Kyahi Basaman sedang bertekun menulis pokok-pokok rahasia ilmu sakti dari Brahmandaprana warisan Resi Aristi dan ilmu tenaga dalam mumi Dasasila didalam gardu penjagaan. Tengah ia menulis, datanglah seorang bidal kecil manbawa minuman keras dan pangan.

Beberapa saat kemudian bidal kecil itu membaw a kertas tulisan Kyahi Basaman yang diserahkannya kepada Anung Danudibrata. Rupanya dialah yang ditugaskan Anung Danudibrata sebagai pesuruh untuk datang-pergi membaw a naskah yang ditulis Kyahi Basaman. Sepanjang jalan bidal kecil itu melihat, memeriksa dan membaca tulisan Kyahi Basaman. Kyahi Basaman tentu saja mengetahui hal itu, akan tetapi dia tidak menghiraukan. Sebab menurut jalan pikirannya, ia sudah menyerahkan rahasia ilmu sakti Brahmandaprana warisan Resi Aristi dengan suka rela sebagai penukar ilmu warisan Ugrasawa yang pada saat itu sedang diberikan kepada Lingga Wisnu. Tak peduli siapa yang membaca, baginya sama .

Lingga Wisnu yang berpura-pura tidur nyenyak melihat betapa bidal kecil itu berkemat-kamit menghafalkan kalimat-kalimat sakti Kyahi Basaman. Selang sejenak selesailah sudah Kyahi Basaman menulis naskah rahasia ilmu sakti Brahmandaprana warisan Resi Aristi. Dan bidal kecil itu membaca sekali lagi tumpukan- tumpukan naskah. Kemudian dengan menbungkuk hormat diserahkan kepada Anung Danudibrata. Katanya :

"Paman, ilmu kepandaian sakti yang dikatakan milik aliran kaum Aristi, sebenarnya adalah asli kepunyaan leluhur kita Resi Ugrasawa. Ара yang ditulis orang tua itu sudah pernah kami pelajari."

"Omong kosongl" bentak Anung Danudibrata. Keampat saudara seperguruan Anung Danudibrata membentak pula. Katanya :

"Musafigiloh Busih! Engkau menyematkan nama leluhur kita pada zaman seratus tahun yang silam. Almarhum Musafigiloh Basih adalah seorang pendekar yang tidak hanya sakti tapipun berhati suci-bersih. Engkaupun kami harapkan demikian pula. Mengapa selagi umurmu belum masuk lima belas tahun hatimu sudah pandai memfitnah? Ketahuilah, naskah ini adalah hasil jerih payah Kyahi Basaman. Yang disusun dan diciptakannya sebagai ilmu w arisan aliran Resi Aristi. Dan ilmu tenaga murni Dasasila benar-benar khas ciptaan Kyahi Basaman. Hanyalah anak anak muridnya saja yang berkesempatan mempelajari. Mengapa kau bisa berkata bahwa dirimu telah mempelajarinya ? Dimana ? "

Tetapi wajah bidal kecil itu tetap tenang- tenang saja. Sambil menuding kepada tunpukan naskah yang berada didepan Anung Danudibrata ia berkata kepada keampat paman gurunya :

"Baiklah jika sekalian paman tidak percaya kepada kami. Silahkan paman memeriksa bunyi naskah itu dan kami akan mengucapkan bunyi kata-katanya dari sini." Setelah berkata demikian bidal kecil yang bernama Musafigiloh Busih itu terus mengucapkan bunyi naskah Kyahi Basaman diluar kepala. Mula-mula Anung Danudibrata berlima, bersikap dingin terhadap perkataan Musafigiloh Busih. Akan tetapi setelah mendengar bidal itu dapat mengucapkan kata-kata bunyi naskah Kyahi Basaman pada halaman satu dan dua dengan lancar, tertariklah mereka. Terus saja mereka seakan-akan, berebutan membalik-balik lembaran-lanbaran naskah. Dan kemudian saling diangsurkan, diperiksa dan dibaca dengan bergantian, serta dicocokkan dengan ucapan- ucapan Musafigiloh Busih diluar kepala. Sejenak kemudian pendekar Saroni berkata kepada Anung Danudibrata:

"Benar, benar! " katanya. " Memang ара yang ditulis oleh rekan Basaman ternyata adalah kalimat ajaran kami."

Tidaklah mudah Anung Danudibrata mempercayai pernyataan itu. Akan tetapi, Musafigiloh Busih dapat membuktikan. Ара yang diucapkannya diluar kepala, sepatah katapun t iada yang salah atau terlampaui. Mau tidak mau ia harus percaya penuh. Setelah menimbang- nimbang sebentar, ia berkata memerint ah :

"Saroni, sadarkan bocah itu ! Mari kita bawa bocah itu dan naskah ini kepada rekan Basaman. "

Setelah Lingga Wisnu disadarkan, yang sebenarnya tidak perlu lagi, mereka bergegas menemui Kyahi Basaman dengan langkah panjang. Di hadapan Kyahi Basaman, Anung Danudibrata menuduh sikap orang tua itu yang kurang baik. Ternyata ара yang ditulisnya adalah kalimat-kalimat sakti warisan Resi Ugrasawa. Tentu saja Kyahi Basaman terkejut dan gusar bukan kepalang. Pikirnya didalam hati:

'Ilmu sakti Brahmandaprana warisan Resi Ugrasawa memang belum pernah kulihat, kubaca atau kupelajari. Mungkin pula ada kemiripannya dengan ilmu sakti Brahmandaprana warisan Resi Aristi. Sebab kedua- duanya bersumber satu. Dengan demikian bukan tidak beralasan bahwa int i sarinya tidak merupakan hal baru bagi pendekar-pendekar Argapura. Tetapi ilmu tenaga murni Dasasila adalah hasil jerih payahku sendiri selama duapuluh tahun lebih. Dan baru tiga tahun yang lalu kususun dan kuperbaiki. Ilmu sakti Dasasila adalah ilmu sakti yang mengajarkan sarwa lemah melaw an sarwa kuat. Bergerak lambat akan tetapi mendahului lawan. Gerakan begini terang sekali berlawanan dengan ilmu sakti aliran Ugrasawa. Kenapa bisa dikatakan adalah kalimat ilmu Ugrasawa? Bahkan ilmu warisan Resi Aristi sendiri yang sudah berada ditanganku semenjak delapan puluh tahun yang lalu, telah kutambahi dan kurubah gerakan-gerakannya.'

Dalam pada itu Anung Danudibrata menyerahkan tumpukan naskah kepada Kyahi Basaman, dan berkata dengan taw ar :

"Memang leluhur kami murid tertua guru besar Resi Romaharsana. Sehingga betapapun juga beliaulah yang mewarisi ilmu sakti Brahmandaprana terbanyak. Bagian yang berada pada Resi Aristi, nyatanya tidak berarti sama sekali."

Pikiran Kyahi Basaman tiba-tiba tergetar. Tahulah dia maksud. Anung Danudibrata. Pendekar Argapura itu takut bahkan kejadian ini akan disiarkan luas dalam pergaulan hidup, bahwasanya kaum Argapura telah mempelajari rahasia ilmu sakti aliran Resi Aristi. Dan peristiw a ini akan sangat merugikan nama baik kaum Argapura. Itulah sebabnya Anung Danudibrata mengesankan bahwa bunyi naskah tulisannya sudah diketahui-nya semenjak lama. Memperoleh pikiran demikian Kyahi Basaman tertaw a memaklumi. Katanya :

"Saudara Anung Danudibrata ! Ilmu kepandaian ini memang hanya ilmu kasaran saja. Tiada artinya sama sekali bagi para ahli seperti saudara saudara sekalian. Baiklah dibuang saja."

Karena berkata demikian, maka tumpukan naskah itu dibiarkan saja berada didepannya. Ia tak sudi menyentuhnya. Seolah-olah tumpukan sampah belaka. Betapapun juga hati nurani Anung Danudibrata berlima tertusuk. Khaw atir apabila hal itu akan menerbitkan ekor panjang di kemudian hari, Anung Danudibrata perlu memperbaiki kata-katanya. Setelah memanggil Musafigiloh Busih menghadap, ia berkata meyakinkan Kyahi Basaman. Katanya dengan suara ditekan-tekan:

"Agaknya rekan Basaman tidak percaya pernyataan kami. He, Musafigiloh Busih, kemarilah! Ilmu sakti Brahmandaprana dan Dasasila yang pernah kuajarkan kepadamu dahulu, coba hafalkan dihadapan Kyahi Basaman. Biar beliau mengetahui dengan mata kepala sendiri, apakah ada bedanya atau tidak."

"Ya," sahut pemuda itu. Lalu ia menghafalkаn dengan suara nyaring: "Bumi bulat, lautan bergelombang. Sekali bergerak, seluruh badan gesit dan enteng ... " Demikianlah ia terus menghafal tanpa sehurufpun yang kelompatan. Setelah selesai menghafal bunyi ayat-ayat dan pasal pasal ilmu Brahmandaprana, beralihlah ia menghafal bunyi ilmu tenaga murni Dasasila dengan tepat.

Mendengar anak itu bisa mengucapkan bunyi dua naskah yang ditulisnya tanpa salah sedikitpun, Kyahi Basaman tercengang sehingga berbuka mulut. Hampir- hampir saja ia tak mempercayai pendengarannya sendiri. Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba Lingga Wisnu berkata dengan suara bernapsu :

"Eyang ! Anak itu telah membaca dan menghafal semua tulisan eyang dengan baik. Kemudian berkata kepada paman-paman gurunya bahwa tulisan eyang adalah bunyi ayat-ayat dan fatsal-fatsal ilmu warisan Argapura. Sungguh tebal mukanya."

"Ha? Bagaimana kau tahu?" Kyahi Basaman minta keterangan dengan berbimbang-bimbang.

"Dalam keadaan tak sadar aku berada di antara mereka. Tengah mereka membalik-balik lembaran naskah tulisan eyang, sesungguhnya aku telah tersadar kembali. Hanya saja mereka tak tahu. Pada saat itu aku sempat memperhatikan anak itu berkomat -kamit menghafal bunyi naskah eyang."

Sekarang Anung Danudibrata dengan keampat saudara seperguruannya уang berganti tercengang cengang. Bagaimana mungkin Lingga Wisnu bisa tersadar dalam waktu yang sesingkat itu. Padahal sentuhan tenaga sakti yang membuat Lingga Wisnu pingsan, paling t idak bertahan ampat jam lamanya.

Sampai disini jelaslah sudah bagi Kyahi Basaman. Kiranya murid Anung Danudibrata yang bernama Busafigiloh Busih ini mempunyai daya ingatan luar biasa tajamnya. Boleh dikatakan ара yang pernah dibacanya dapat dihafalkan pada saat itu juga. Maka Anung Danudibrata dengan meminjam otaknya yang cemerlang menyuruhnya mengingat dan menghafalkan semua naskah yang ditulis Kyahi Basaman. Lalu naskah yang ditulisnya itu dikembalikan kepada Kyahi Basaman untuk menunjukkan bahwa Argapura tidak mendapatkan sesuatu tambahan dari Resi Aristi.

Demikianlah jalan pikiran Kyahi Basaman. Pada umumnya adalah benar. Hanya satu hal yang kurang tepat. Ialah bahwasanya Anung Danudibrata sendiri belum mengetahui kemampuan otak muridnya itu yang bisa menghafal dengan cepat semua tulisan yang pernah dibacanya.

"Ha-ha-ha," Kyahi Basaman tertaw a perlahan melalui dadanya sambil mengurut jenggotnya dan berkata:

"Saudara-saudara memberi hadiah kepadaku sembilan cawan minuman keras. Tak pernah kukira bahwa dalam waktu sesingkat itu saudara kecil in i dapat menghafal semua tulisanku dengan tepat sekali. Betapa pintar dan tajamnya otaknya, sungguh-sungguh aku merasa kalah. Dapatkah aku mengetahui namamu, saudara kecil yang terhormat?"

"Kami bernama Musafigiloh Busih," sahut bidal kecil itu. "Orang mananggilku dengan si Giloh atau si Busih."

"Saudara Giloh atau saudara BusihI" kata Kyahi Basaman dengan suara sungguh-sungguh. Dan ia menyambung lagi: "Dengan kepintaranmu ini dan berbekal dengan ketajaman otakmu, segala cita-citamu kelak rasanya akan mudah tercapai. Moga-moga janganlah engkau sampai tersesat, anakku. Perkenankan аku pendeta dekil dan tua in i menghadiahkan suatu pesan kepadamu: Jujurlah terhadap orang lain! Biasakanlah berendah hati untuk mengatasi nafsu diri sendiri!"

Ketika sinar mata Musafigiloh Busih terbentur dengan sinar mata Kyahi Basaman yang meletup bagaikan kilat itu, tanpa merasa tergetarlah hatinya. Tetapi dalam benaknya timbullah suatu pikiran: 'Hm, kau pendeta degil telah kena kutipu. Karena malu engkau lantas pura pura berlagak memberi nasehat. Tetapi meskipun berpikir demikian ia menyahut dengan hormat :

"Terima kasih atas petuah Kyahi Basaman. Tetapi kami adalah murid Argapura. Dengan sendirinya yang berhak mengajar kami hanyalah guru dan paman-paman guru kami."

Tertegun Kyahi Basaman sejenak mendengar jawaban yang licin dan beracun. Anak sekecil itu, betapa sudah memiliki lidah setajam demikian. Namun Kyahi Basaman adalah seorang petapa yang saleh. Dengan tertaw a perlahan sekali ia mendongak keudara sambil mengurut- ngurut bagian jenggotnya, berkata diantara tertaw anya:

"Benar, saudara kecil. Kalau begitu anggaplah saja bahwa mulutku yang keropos ini terlalu lancang dan usil."

Tatkala itu pendekar Saroni yang berw atak berangasan mengangsurkan tumpukan naskah kepada Kyahi Basaman dengan tidak berkata. Maksudnya jelas sekali. Ia hendak berkata kepada Kyahi Basaman bahwa orang tua itu jangan mengoceh berkepanjangan. Tentu saja Kyahi Basaman mendongkol bukan main. Tiba-tiba saja ia mengerahkan tenaga saktinya yang tak tampak dari penglihatan. Dengan melalui tumpukan naskah cli depannya hinpunan tenaga saktinya menghantam tubuh Saroni. Dan kena hantaman hinpunan tenaga sakti Kyahi Basaman, tubuh Saroni tergoncang keras dan roboh terjengkang kebelakang.

Musafigiloh Busih yang berdiri disanping pendekar Saroni, dengan cepat melarpat maju hendak menahan. Tak terduga daya roboh Saroni - keras luar biasa. Meskipun Musafigiloh Busih seorang bidal yang pintar luar biasa, namun ilmu kepandaiannya masih terpaut sangat jauh dibandingkan dengan kesaktian Kyahi. Basaman. Kena tertumbuk tubuh paman gurunya, seketika itu juga ia terpental keluar gardu penjagaan dan jatuh terbanting diatas tanah.

Saroni sendiri betapapun juga seorang pendekar yang tiada mengecewakan. Limapuluh tahun ia berlatih menghimpun tenaga sakti warisan ilmu Brahmandaprana Ugrasawa. Kedahsyatannya dan kekuatannya seunpama tegaknya sebuah bukit. Kecuali itu, tenaga sakti yang dilontarkan Kyahi Basaman sesungguhnya tidak berniat merobohkannya benar-benar. Kyahi Basaman hanya sekedar hendak mempamerkan ilmu saktinya warisan Resi Aristi yang dikatakan tadi jiplakan dari ilmu Resi Ugrasawa. Apabila dia hendak membuat pendekar Saroni benar-benar menanggung malu, maka tenaga sakti yang dilontarkannya pasti tidak kepalang tanggung. Itulah sebabnya pada saat Saroni terjengkang hendak roboh, tiba-tiba lenyap. Dengan demikian Saroni dapat menegakkan kakinya kembali tak kurang suatu ара.

"Nah, inilah yang dinamakan ilmu picisan, Dasasila." kata Kyahi Basaman dengan tersenyum. "Saudara Saroni tadi berkata, bahwa sudah hafal benar bunyi kalimat-kalimatnya. Sayang, agaknya saudara Saroni belum sempat mempelajari. Selamat tinggal!" Setelah berkata demikian, tumpukan naskah didepannya disambarnya dan berhamburan diudara bagaikan abu.

Mematahkan pohon sebesar pelukan orang, banyak yang melakukan. Menghancurkan batu sebesar raksasa atau menghantam dinding benteng sampai rcboh, banyak pula yang sanggup Akan tetapi menyambar tumpukan kertas yang ringan menjadi berhamburan bagaikan abu, merupakan suatu tontonan ilmu kepandaian yang jarang sekali terdapat. Kalau seseorang belum mencapai tataran kesempurnaan, tidak akan mampu.

Anung Danudibrata dan ketiga adiknya seperguruan tertegun karena tercekat hatinya. Mereka saling pandang dengan bingung. Dan pada saat itu, dengan tenang- tenang saja seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu, Kyahi Basaman menggandeng tangan Lingga Wisnu berjalan meninggalkan gardu penjagaan.

"Bukan main! Kalau begitu ilmu ciptaan pendeta degil itu benar-benar ada harganya." kata Anung Danudibrata dengan suara menggeletar. Dan diam-diam ia menjadi girang. Bukankah ilmu Dasa sila sudah kena dihafalkan muridnya? Untuk meyakinkan diri, ia bertanya menegas kepada Musafigiloh Busih.

"Giloh, masihkah engkau sanggup menghafal ilmu Dasasila?"

"Masih." jawab muridnya dengan mengangguk. "Bagus !" seru Anung Danudibrata girang. "Kalau begitu, cepat tulislah kembali. Dikemudian hari tak usah kita berkecil hati menghadapi segala murid pendeta degil itu."

Dalam pada itu, Kyahi Basaman dan Lingga Wisnu sudah meninggalkan kaki Gunung Cakrabuwana. Setelah memperoleh penginapan, Kyahi Basaman segera menyuruh Lingga Wisnu melatih diri menurut ajaran- ajaran ilmu sakti Brahmandaprana warisan Resi Ugrasawa yang diperolehnya dari seorang yang menamakan diri Pananbahan Panyingkir dipertapaan Argapura.

Karena tak ingin melihat gaya latihan Wisnu, Kyahi Basaman mengambil dua kamar, yang letaknya berpisahan. Dasar ilmu sakti Kyahi Basaman sudah mencapai puncaknya. Meskipun tidak mendengar istilah- istilahnya, akan tetapi asalkan melihat cara duduk Lingga Wisnu dan cara tata bernafasnya, dengan sendirinya ia dapat menangkap int i rahasianya. Apalagi dia melihat pula caranya menjalankan peredaran darahnya. Inilah yang tidak dikehendaki. Sebagai seorang yang memegang tanpuk pimpinan suatu aliran tersendiri, tak boleh berbuat danikian. Itulah sebabnya pula, betapa cara Lingga Wisnu memperoleh kemajuan melalui ilmu ajaran Panembahan Panyingkir, tak ditanyakan pula.

Kyahi Basaman memang seorang petapa yang saleh dan jujur hati. Karena kejujurannya, ia mengukur keadaan hati orang lain dengan keadaan hatinya sendiri. Maka ia percaya benar kepada kelima tokoh pimpinan aliran Argapura. Ia уakin mereka pasti memegang janjinya. Walaupun mereka agak sempit pikiran dalam menghadapi persoalan harga diri mengenai rumah perguruannya, akan tetapi betapapun juga mereka adalah tokoh-tokoh tertinggi dalam percaturan masyarakat. Kata-katanya seumpama undang-undang. Karena itu, ара yang mereka katakan, tentulah dapat dipercaya. Kalau sudah berjanji mengajarkan ilmu sakti, pasti pula t idak akan melakukan suatu tipu muslihat atau berdusta.

Kyahi Basaman menjadi girang tatkala disepanjang jalan melihat wajah Lingga Wisnu makin hari makin men jadi segar dan bersemumerah. Itulah suatu tanda bahwa bocah itu telah memperoleh kemajuan. Diam-diam ia berpikir, bila Lingga Wisnu telah mendapat ajaran asli ilmu Brahmandaprana dari kedua aliran Argapura dan Aristi sehingga bisa saling mengisi kekurangannya masing-masing, tentu daya gunanya dikemudian hari akan banyak bertambah.

Dengan berbekal dua bagian ilmu sakti Bramandaprana pastilah racun Pacarkeling yang mengeram didalam sungsumnya akan bisa terhapus sirna.

Pada hari keampat mereka telah sampai ditepi sungai Serayu. Untuk mengurangi lelah, mereka menumpang sebuah perahu dagang. Sedang kudanya dijual sebagai penambah bekal.

Sepanjang perjalanan Kyahi Basaman terkenang pada masa mudanya waktu dia masih sebagai seorang pendekar. Seringkali ia dikejar-kejar lawan kebanyakan tertolong oleh perahu-perahu yang berada ditepi sungai. Tatkala itu ia masih muda belia. Dan sama sekali tidak pernah diduganya sendiri, bahwa pada hari ini ia menjadi tokoh utama malahan pendiri aliran Aristi yang derajatnya sama besar dan sama tinggi dengan aliran Argapura Sedangkan pada hari in i Lingga Wisnu malah sudah berhasil merangkap ilmu kepandaian dua aliran itu. Maka sudah dapat dibayangkan, bahwa masa depan bocah itu pasti akan lebih gilang-gemilang dari pada dirinya sendiri.

Oleh rasa puas, ia mengelus jenggotnya.

Selagi ia mengelus jenggotnya sambil tersenyum sendiri, tiba-tiba Lingga Wisnu berteriak dengan suara gemetar :

"Eyang! aku, aku .."

Dan wajah anak itu berubah hebat. Merah membara seperti terbakar. Dan diantara warna merah membakar tersembullah warna hijau semu pula.

Rasa terkejut Kyahi Basaman tak terkirakan. Setengah menjerit ia bertanya :

"Kau ... kenapa?"

"Aduh ... aduh ... sakit! Tak tahan aku..!! " sahut Lingga Wisnu dengan menggigil setelah ia berkata demikian. Tubuhnya bergeliat dan terlemparlah ia keluar perahu.

o))0oo-dw-oo0((o

4. Pert empuran Disepanjang Sungai

Cepat Kyahi Basaman mengulurkan tangan kirinya menyambar pergelangan tangan Lingga Wisnu, sedang tangan kanannya terus menahan bagian punggung. Segera ia menyalurkan tenaga saktinya membantu Lingga Wisnu melawan serangan hawa berbisa yang mengamuk didalam tubuh.

Tak terduga tenaga sakti Kyahi Basaman yang disalurkan lewat punggungnya, ternyata menembus seluruh urat nadi pada detik itu juga. Keruan saja Lingga Wisnu menjerit tinggi dan jatuh pingsan.

Sungguh terkejutnya Kyahi Basaman tidak kepalang. Dengan cepat kesepuluh jari-jarinya, bekerja menutup aliran darah yang penting. Di dalam hati ia menjadi heran:

'Mengapa seluruh urat nadinya dapat kutembus dengan mendadak. Padahal seluruh tubuhnya terkena gumpalan gumpalan hawa berbisa yang luar biasa dahsyatnya. Betapa mungkin urat nadinya yang penting penting dapat tertembus dengan sekaligus! Kalau urat- urat nadinya menjadi begini lancar, hawa berbisa yang mengeram dalam sungsumnya akan segera merangsang jantung. Hai, sekarang dan untuk selamanya hawa berbisa yang sudah meruap begini hebat terang sekali tidak dapat dihilangkan lagi.'

Menghadapi keadaan demikian walaupun Kyahi Basaman sudah berusia 90 tahun lebih, kesadaran dan ketenangannya sudah terlatih sampai ke puncaknya namun tidak urung ia merasa bingung juga hingga keringat dingin membasahi jidatnya. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa ilmu sakti Brahmandaprana aliran Argapura begitu hebat luar biasa.

Tak pernah pula diduganya bahwasanya seseorang yang baru saja terlatih beberapa hari saja sudah dapat terbuka seluruh urat nadinya. Menurut pendapatnya hal itu tidak mungkin terjadi. Sedangkan Panjalu dan Samtanus saja yang sudah berlatih belasan tahun lamanya belum dapat juga menembus urat nadinya sampai aliran darahnya menjadi lancar. Masakan ilmu sakti Ugrasawa lebih bermujijat daripada ilmu warisan Aristi yang sudah terlatih belasan tahun lamanya?

Harus diketahui, apabila Kyahi Basaman mau membantu dengan tenaga saktinya kepada kedua muridnya itu, sudah tentu bukan soal sulit untuk menembus seluruh urat nadi peredaran darah mereka. Tetapi tenaga bantuan yang datangnya dari luar, betapa baikpun tidaklah sebaik dan sesempurna tenaga yang timbul dari badannya sendiri yang sesungguh nya jauh lebih kuat, jauh lebih murni dan dapat diandalkan. Itulah sebabnya Kyahi Basaman tidak mau membantu murid- muridnya menghimpun tenaga saktinya. Ia berharap murid-muridnya akan mencapai kemajuannya sendiri setindak demi setindak dengan berbekal kemauannya sendiri. Meskipun hal itu terjadi sangat lambat.

Tatkala itu perahu mereka telah laju sampai ditengah sungai. Baik arus maupun gelombang tidak terlalu keras. Meskipun demikian perahu kecil mereka tetap tergoyang- goyang.

Sebaliknya hati Kyahi Basaman tergoncang jauh lebih hebat dari pada ombak-ombak kecil yang menggoncang perahunya.

Beberapa waktu lewatlah sudah. Perlahan-lahan Lingga Wisnu memperoleh kesadarannya kembali. Keduabelas tempat peredaran darahnya sudah tertutup. Hawa berbisa Pacarkeling untuk sementara dapat tertahan, sehingga tidak sampai menjalar ke jantung. Tetapi tangan dan kakinya tak bisa berkutik lagi. Dalam keadaan demikian, Kyahi Basaman tak perduli lagi akan pandang orang. Iapun tidak menghiraukan bahwa gerak- gerik maupun kata-katanya dapat menimbulkan kecurigaan orang. Segera ia bertanya kepada Lingga Wisnu :

"Angger, ilmu Brahmandaprana yang kau peroleh dari Argapura itu sesungguhnya bagaimana macamnya? Apa sebab seluruh urat nadimu dan peredaran darahmu menjadi lancar semuanya seolah-olah ada tenaga besar yang telah menembusnya?"

"Eyang," sahut Lingga Wisnu. "Yang menembus jalan darahku ini bernama Panembahan Panyingkir. Dia berkata akan bisa membantu aku mempercepat meyakinkan ilmu Brahmandaprana golongan Argapura."

"Bagaimana cara dia menolongmu?" Kyahi Basaman minta keterangan.

Maka berceriteralah Lingga Wisnu tentang semua pengalamannya didalam pertapaan Argapura. Bagaimana mula-mula dibawa pendekar pengantar sampai dia mengetahui nama orang sakti yang bersembunyi dibalik dinding. Menurut pendekar pengantar ia bernama Panembahan Panyingkir. Diterangkan pula bagaimana cara Panembahan Panyingkir melancarkan seluruh peredaran darahnya.

Mendengar keterangan Lingga Wisnu, beberapa saat lamanya Kyahi Basaman termangu mangu. Setelah berenung-renung dia berkata :

"Jika demikianlah syarat untuk mempercepat peresapan ilmu Brahmandaprana, masakan aku tak bisa? Sebenarnya menurut perasaanmu, orang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir bermaksud baik atau buruk?"

"Beberapa kali ia berkata kepadaku begini: Aku tak kenal engkau bernama siapa (Lingga Wisnu memberi keterangan). Akupun tidak tahu kau datang dari aliran dan golongan apa. Sebaliknya engkaupun tak perlu mengetahui namaku. Juga, tidak perlu mengenal wajahku! Akupun tidak perlu mengenal wajahmu pula."

Heran Kyahi Basaman mendengar penjelasan Lingga Wisnu tentang sikap Panembahan Panyingkir. Sejenak kemudian Kyahi Basaman berkomat-kamit kepada dirinya sendiri :

'Panyingkir! Panyingkir! Agaknya belum pernah aku mengenal nama seseorang yang berbunyi Panembahan Panyingkir diantara tokoh-tokoh sakti Padepokan Argapura. Dia mau menolong engkau tanpa mengenal namamu tanpa mengetahui pula dari golongan atau aliran apa engkau datang. Jika begini, rasanya ia memang tidak tahu hubunganmu dengan aku. Untuk menolong dirimu, dia harus mengorbankan tenaga murni yang dihimpunnya paling tiada sepuluh sampai duapuluh tahun lamanya. Kalau pengorbanan ini tidak timbul dari hati nuraninya yang bersih, mustahil dia rela berkorban.'

Setelah itu Kyahi Basaman minta kepada Lingga Wisnu agar mengucapkan kembali kalimat-kalimat sakti ilmu Brahmandaprana golongan Argapura. Lingga Wisnu segera mengucapkan kalimat kalimat sakti ilmu Brahmandaprana yang pertama sampai yang ketiga diluar kepala. Sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, dengan sekali dengar saja Kyahi Basaman segra tahu betapa hebat intisari ilmu Brahmandaprana golongan Argapura. Cepat ia memotong :

"Sudalah, tak usah kau teruskan! Angger, maksudku tadi hanya ingin menguji palsu atau tulennya ilmu sakti yang diajarkan kepadamu. Itulah sebabnya aku minta kepadamu engkau menghafalkan kembali kalimat-kalimat saktinya. Selanjutnya ilmu ajarannya tadi janganlah kau kabarkan kepada siapapun. Ingatlah sumpah yang pernah kau ucapkan. Seorang kesatria sejati pantang melanggar sumpah yang sudah diucapkan!"

"Ya, Eyang," sahut Lingga Wisnu.

Tatkala dilihatnya kata suara eyang gurunya agak bergemetar apalagi kedua matanya basah berkaca-kaca, tahulah Lingga Wisnu menebak keadaan hati orang tua itu. Ia seorang anak yang dianugerahi alam suatu kepintaran luar biasa, cerdik dan cerdas bukan main. Pada saat itu sadarlah dia bahwa hidupnya tinggal waktu-w aktu singkat saja sehingga walaupun tidak mengucapkan sumpah kepada para pendekar Argapura artinya sama saja. dia toh tidak mempunyai waktu lagi untuk mengajarkan ilmu Brahmandaprana golongan Argapura kepada orang lain. Sejenak kemudian pikirannya tergerak. Katanya kepada Kyahi Basaman :

"Eyang, apakah jiw aku tak dapat dipertahankan lagi sampai aku bisa pulang ke gunung?"

"Jangan engkau berkata demikian! Betapapun hebat lukamu, eyangmu pasti berusaha menolong dirimu," sahut Kyahi Basaman dengan menahan air matanya. "Eyang, aku tidak mengharapkan apa-apa lagi, asal saja aku bisa melihat paman Podang Wilis untuk sekali saja." ujar Lingga Wisnu.

"Apa sebab?" Kyahi Basaman heran.

"Eyang, paman Podang Wilis adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa aku masih mempunyai seorang kakak perempuan. Ingin aku membeberkan rahasia ilmu sakti Brahmandaprana golongan Argapura kepadanya lewat paman Podang Wilis. Dengan berbekal ilmu kepandaian ajaran ayah dan dilengkapi dengan ilmu Brahmandaprana warisan Ugrasawa, dia akan menjadi seorang pendekar wanita yang kelak dapat menuntut balas ayah bunda. Aku sendiri, setelah mengabarkan ajaran ilmu sakti Brahmandaprana warisan Ugrasawa kepada paman Podang Wilis, segera bunuh diri. Dengan demikian aku bertanggung jaw ab atas pelanggaran janjiku ini kepada para pendeta Argapura. Maka sedikit banyak aku t idak terlalu mengecewakan pesan ayah dan ibu."

Mendengar kata-kata Lingga Wisnu, Kyahi Basaman terperanjat bukan kepalang. Kemudian ia kagum dan terharu. Sama sekali tak terlint as dalam benaknya, bahwa anak sekecil itu ternyata sudah pandai menjangkau hari depan begitu jauh. Oleh rasa terperanjat, kagum dan terharu, Kyahi Basaman menyahut sejadi-jad inya :

"Angger, janganlah engkau berkata yang bukan- bukan!"

"Eyang, tiap kali aku membuka mata, dan setiap kali aku tertidur lelah, serasa aku mendengar suara ayah dan ibu yang selalu memperingatkan daku, agar aku menuntut balas kepada lawan sebenarnya. Juga aku selalu mendengar teriakan kangmas Umardanus yang begitu menyayatkan hati, tatkala ia mati terjungkal ke dalam jurang entah berapa ribu meter dalamnya." kata Lingga Wisnu dengan suara gemetaran.

Ucapan Lingga Wisnu ini membuat hati Kyahi Basaman hancur. Dengan tidak dikehendaki sendiri, terbayanglah masa muda ayah Lingga Wisnu. Dan diingatkan kenangan lama itu, air matanya meleleh membasahi pipi. dan jubahnya. Cepat-cepat ia memutar badan lalu membentak dengan suara parau :

"Angger! Tak boleh lagi engkau berpikir yang tidak- tidak!"

Orang tua itu kemudian berusaha menenangkan diri. Apabila ketenangan diri sudah bisa di kuasai, ia berkata lagi :

"Seorang kasatria sejati, harus bersih hati dan jujur kepada diri sendiri. Semua sepak terjangnya harus terang-terangan. Ia harus memperlihatkan dadanya pada saat apa saja, dimanapun berada dan dalam keadaan betapa sulitpun. Kau sudah berjanji kepada para pendeta sakti pertapaan Argapura, bahwa kau t idak akan menga- jarkan ilmu yang diberikan kepadamu pada orang lain. Maka sejak saat itu engkau harus dapat memegang teguh janjimu sendiri sampai detik terakhir!, sebab saksinya adalah dirimu sendiri."

Ucapan Kyahi Easaman terdengar penuh semangat dan berwibawa. Sehingga Lingga Wisnu tertegun. Tanpa merasa ia mengangguk. Sebenarnya semenjak ia sadar hidup diantara ayah bunda dan kedua saudaranya, ia terlatih menjadi seorang kasatria sejati. Namun didalam pengalaman hidupnya selama delapan tahun, ia menghadapi manusia manusia muslihat yang bertentangan dengan anggar-anggar jiw a kasatria. Janji belum tentu harus ditepati. Semuanya tergantung kepada keadaan. Baru setelah ia berada dipadepokan Gunung Lawu, semua paman-pamannya memberi contoh bagaimana sepak-terjang seorang kasatria sejati. Dan bahwasanya janji bagi seorang kasatria harus dipegang teguh sampai mati barulah untuk yang pertama kali didengarnya lew at mulut Kyahi Basaman.

Walaupun demikian, ucapan Lingga Wisnu itu menusuk kalbu Kyahi Basaman. Pikir orang tua itu didalam hatinya :

'Bocah ini tahu, bahwa beberapa hari lagi jiwanya akan melayang. Akan tetapi sama sekali ia tak gentar atau menjadi kecil hati. Malahan, lantas teringatlah dia kepada pesan ayah bundanya, bahwa ia harus bisa membalas dendam terhadap musuhnya yang benar. Demi berbakti kepada ayah-bundanya, ia rela membunuh diri setelah mengabarkan rahasia suatu ilmu sakti yang dianggapnya bisa mencapai angannya itu kepada Podang Wilis. Dan Podang Wilis diharapkan meneruskan kepada kakaknya perempuan. Kalau dipertimbangkan, sesungguhnya hal itu sesuai dengan panggilan jiwa kasatria. Akh, mengapa Tuhan t idak melindungi seorang yang memiliki jiwa demikian besar in i ...'

Selagi orang tua itu memuji jiwa Lingga Wisnu didalam hati, tiba-tiba terdengarlah suatu kumandang suara di jauh sana. Nyaring benar suara itu :

"Hoooooee ...! Kau serahkan saja bocah itu! Dan engkau akan kami ampuni. Kalau membangkang, janganlah mengutuk kami, seolah-olah kami seorang makhluk yang kejam dan bengis!"

Suara itu terbaw a oleh angin. Tiap patah katanya terdengar sangat jelas. Itulah suatu tanda, bahwa pemilik suara tersebut pastilah memiliki tenaga sakti terhimpun baik. Dan mendengar bunyi kata-katanya, Kyahi Basaman tertaw a di dalam dada. Katanya kepada dirinya sendiri:

"Eh, siapa dia, sampai berani memerint ah aku agar menyerahkan bocah ini kepadanya ... "

Kata-kata itu diucapkan sangat perlahan, sehingga telinga Lingga Wisnu tidak mendengar. Dengan perlahan- lahan ia memutar badannya. Dan pada saat itu ia melihat sebuah perahu kecil meluncur sangat deras. Penumpangnya seorang laki laki berberewok lebat. Usianya duapuluh tahunan. Ia berada diantara dua kanak-kanak yang melindungkan dirinya didepan dadanya. Sedang pemuda berberewok lebat itu, dengan semangat menyala-nyala mendayung perahu kecilnya bagaikan kalap.

Hebat peraw akan pemuda berberewok itu. Tubuhnya tegap. Dadanya bidang, sehingga dapat melindungi dua bocah yang bersembunyi didepan-nya. Kyahi Basaman segera mengamat-amati dua bocah itu. Yang satu laki- laki dan lainnya seorang perempuan berw ajah cantik mungil.

Perahu yang ditumpangi Kyahi Basaman berada diluar tikungan, sehingga setiap perahu yang datang harus muncul terlebih dahulu dari balik tikungan. Demikianlah setelah perahu pemuda berberewok lebat itu masuk kedalam tikungan, muncullah sebuah perahu lagi. Perahu yang memasuki tikungan in i berukuran besar sehingga jalannya agak lambat. Penumpangnya berjumlah delapan orang. Mereka menyandang pakaian serdadu. Perahu ini agaknya hendak mengejar perahu si berewok.

Dengan berteriak-teriak nyaring, seorang laki-laki. yang berada didepan mengancam dan memperingatkan. Akan tetapi pemuda berberewok itu tidak mengindahkan. Dengan, suatu tenaga luar biasa kuatnya, ia menggayuti cepat sekali dan sebentar saja, perahunya hampir melewati perahu Kyahi Basaman.

Melihat perahu pemuda itu makin lama makin menjauh, pengejarnya lantas menghujani anak-panah. Diantara puluhan anak-panah yang menyambar pemuda berbereweok itu, terdengarlah sebatang panah yang mendesing sangat tajam. Itulah suatu tanda, bahwa pembidiknya bertenaga kuat.

'Akh!' kata Kyahi Basaman didalam hati. 'Kiranya mereka menyuruh pemuda itu meninggalkan atau menyerahkan kedua bocah yang dilindungi. Kukira seruannya tadi dialamatkan kepada ku.'

Sebenarnya Kyahi Basaman hanya sebagai penonton saja. Akan tetapi, semenjak mudanya ia benci terhadap gerombolan manusia yang menyandang serdadu. Apalagi manakala itu ternyata merupakan serdadu Belanda. Sebab mereka yang menyandang serdadu biasanya mengagul-agulkan wewenangnya. Kerapkali membuat susah rakyat kecil atau terhadap orang-orang tertentu yang lemah. Maka Kyahi Basaman bermaksud hendak menolong pemuda berberewok itu.

Tetapi selagi hatinya bergerak hendak menolong, tiba- tiba teringatlah dia kepada masalah sendiri. Lingga Wisnu yang tidur menggeletak disampingnya terancam pula jiw anya. Meskipun jiw anya tidak bakal terenggut oleh suatu senjata, akan tetapi bila tidak memperoleh pertolongan dengan segera, ia akan mati pula. Teringat akan hal itu, hati Kyahi Basaman menjadi terharu dan berduka. Ia jadi berbimbang-bimbang hendak menolong pemuda berbe rewok yang terancam keselamatannya.

Dalam pada itu, pemuda berberewok yang melindungi kedua bocah didepannya, menangkis hujan anak panah yang menyambar padanya, dengan tangan kanan. Sedang tangan kirinya tetap menggayuti dengan sekuat tenaga. Gerak-geriknya nampak tangkas dan berani.. Diam-diam Kyahi Basaman menaruh perhatian.

Pikirnya didalam hati :

"Ilmu kepandaian bocah ini tidak rendah. Ia berani dan tenang menghadapi bahaya. Masakan aku akan tetap berpeluk tangan menyaksikan dia mati tertembus panah?" Memperoleh pikiran demikian, segera ia memberi perint ah kepada pemilik perahu: "Kang, potong perjalanan mereka!"

Tentu saja pemilik perahu itu kaget mendengar kehendak penyewanya. Memotong jalan? Inilah bunuh diri. Sebab perahu besar yang berada dibelakangnya sedang menghujani anak panah bagaikan hujan turun kedada perahu pemuda berberewok yang berada didepannya. Maka dengan suara bergemetaran ia berkata :

"Kakek, apakah maksudmu hanya bergurau saja?"

Sebenarnya Kyahi Basaman ingin mengesankan bahwa ia bermaksud menolong pemuda berberewok itu. Akan tetapi sebagpi seorang pendekar yang sudah kenyang makan garam, tahulah dia bahwa pemilik perahu dalam ketakutan. Tatkala menoleh keadaan pemuda berberewok itu berada dalam bahaya. Sedikit terlambat, jiw anya takkan tertolong lagi. Maka tanpa berbicara lagi, Kyahi Basaman merebut penggayuh dan terus meluncurkan perahunya memotong perjalanan. Lalu ia berputar menyongsong kedatangan perahu besar.

Tepat pada saat itu, ia mendengar suatu jerit melengking menyayatkan hati. Anak laki-laki yang berlindung didepan dada pemuda berberewok kena terbidik. Sebatang anak panah yang kuat luar biasa, menembus punggungnya. Bukan main kagetnya pemuda berberewok itu. Gugup ia menelungkup hendak melindungi berbareng memeriksa. Akan tetapi pada saat itu pula, beberapa batang anak panah menancap pada lengan dan pundaknya. Ia tak menghiraukan sama sekali. Sayang sewaktu hendak meraih anak laki-laki yang dilindungi, penggayuhnya jatuh terkulai didalam permukaan air. Seketika itu juga perahunya yang sudah berada didepan perahu Kyahi Basaman, berputar arah. Kemudian berputar-putar bagaikan sebuah gangsing. Dalam sekejab saja, perahu besar yang mengejarnya sudah berhasil menghampiri. Ampat serdadu melompat kedalam perahu itu. Akan tetapi pemuda berberewok itu, tak sudi menyerah mentah-mentah. Walaupun tidak bersenjata, ia melawan dengan tinju dan kakinya.

Kyahi Basaman terhenyak sebentar tatkala mendengar jerit bocah itu yang mati tertembus anak panah. Ia sampai lupa kepada tujuannya semula. Setelah perahu besar lew at disampingnya dan kemudian merabu perahu pemuda berberewok itu barulah ia tersadar. Terus saja ia berseru nyaring :

"Anakku! Jangan berkecil hati! Aku akan menolongmu!"

Tanpa berpikir lagi, ia mengangkat dua papan dari dalam perahunya. Lalu dilemparkan ke dalam air. Begitu dua papan terapung di atas permukaan air, Kyahi Basaman berlompat turun. Jarak antara perahunya dan perahu mereka yang sedang bergulat t idak begitu jauh. Maka setelah Kyahi Basaman melompat-lompat dari papan ke papan bagaikan mengambah papan jembatan, sampailah dia diburitan perahu. Ia lantas melompat tinggi diudara. Jubahnya berkibar-kibar tak ubah sepasang sayap burung garuda.

Dua serdadu yang berada didalam perahu, kaget melihat kedatangannya. Mereka lantas melepaskan panahnya. Akan tetapi dengan sekali mengebaskan lengan bajunya, Kyahi Basaman mementalkan dua batang anak panah itu, runtuh ke dalam sungai. Dan begitu mendarat diatas geladak perahu tangannya memukul. Seorang serdadu yang berperawakan tinggi besar terpent al kena pukulannya dari jauh. Dan dengan berjungkir-balik, serdadu yang sial itu tercebur di dalam sungai.

Kedatangan Kyahi Basaman benar-benar tak ubah malaikat turun dari langit. Dengan sekali bergerak, ia bisa mementalkan dua batang panah dan melontarkan seorang serdadu yang berperawakan tinggi besar. Inilah suatu kepandaian yang sudah dibayangkan. Maka tak mengherankan, tujuh serdadu yang berada didalam perahu itu tertegun seperti kena pukau. Sejenak kemudian, seorang serdadu yang menyandang seragam perw ira berteriak keras :

"Hai, kakek! Tiada geledek tiada angin apa sebab engkau mencampuri urusan ini? Pergi sebelum kasep!"

"Hm ..." gerendeng Kyahi Basaman. "Kau anjing Belanda berani benar membuka mulut besar didepanku. Entah sudah berapa kali, kalian mencelakai rakyat jelata. Hayo, perintahkan kawan-kaw anmu pergi secepat mungkin!"

"Eh, kakek! Hatimu sebenarnya mulia. Akan tetapi kau-salah alamat. Tahukah engkau siapakah mereka bertiga in i? Mereka anak-anaknya si penghianat Pringgalaya."

Mendengar disebutnya nama Pringgalaya, hati Kyahi Basaman tercekat. Serentak ia berpaling mengamat- amati pemuda berberewok dengan dua bocah yang dilindungi.

Pikirnya didalam hati: 'Benarkah mereka anak Pringgalaya?'

Pringgalaya adalah patih Paku Bhuwana II. Dialah biang keladinya yang membuat Pangeran Mangkubumi I berontak. Tatkala Pangeran Mangkubumi ditugaskan kakaknya merebut daerah Sukaw ati, dengan diam-diam ia bersekutu dengan Belanda karena iri hati.

Tatkala itu yang memerint ah V.O.C., Gubernur Jendral Baron van Imhoff. Dialah seorang Gubernur Jendral yang lic in dan bengis. Mula-mula ia dapat menggunakan Ratu Banten Syarifah Fatimah untuk memadamkan pemberontakan Ratu Bagus Boang dan Ki Tapa. Setelah tidak terpakai lagi,  ratu itu dibuang ke Saparua. Akan tetapi ratu Fatimah mati ditengah perjalanan. Bagi Belanda, ratu itu mati atau tidak samalah halnya.

Setelah Banten dapat ditenteramkan, pada tahun 1746 Gubernur Baron van Imhoff melawat ke Surakarta mengadakan perjalanan pemeriksaan terhadap daerah- daerah bekas huru-hara dan hendak pula memperbaiki perjanjian-perjanjian Mataram. Perlawatan Gubernur Jendral itu benar-benar di rid loi Tuhan. Secara kebetulan didalam negeri pemerint ahan Kasunanan, timbul suatu percecokan antara Paku Bhuwana II dan Pangeran Mangkubumi.

Sebenarnya, belumlah boleh disebut suatu percecokan atau suatu perselisihan, apabila Patih Pringgalaya tidak ikut campur dalam hal in i dan kemudian mengipasi unggun bara didepan   timbunan   kapuk.Adapun peristiw anya sebagai berikut :

Daerah Sukawati semenjak lama dikuasai dua orang pemberontak: Raden Mas Said dan Martapura. Paku Bhuwana I tidak sanggup mengatasi. Sedang Patih Pringgalaya hanya pandai bicara dan menjilat majikan, sama sekali tak berdaya.

Pangeran Mangkubumi tidak sampai hati melihat kakaknya dalam kesedihan. Ia lantas mengajukan diri untuk memadamkan pemberontakan itu. Sudah barang tentu kesanggupan Pangeran Mangkubumi ini diterima dengan hati penuh syukur oleh kakaknya (Paku Bhuwana II) . Oleh rasa sukacitanya, Paku Bhuwana II berjanji hendak menyerahkan daerah Sukaw ati kepada Pangeran Mangkubumi apabila pemberontak dapat dikuasainya. Pikirnya daripada dikangkangi pemberontak, lebih baik menjadi milik adik sendiri. Pangeran Mangkubumi adalah sahabat Kyahi Basaman dalam pergaulan masyarakat. Seperti Kyahi Basaman, dia seorang pendekar yang berkepandaian sangat tinggi. Maka dengan bantuan Kyahi Basaman, ia dapat mengalahkan Raden Mas Said dan Martapura yang terkenal dengan sebutan Panembahan Puger Martapura Waridan. Tapi justru ia dapat mengalahkan dua pemberontak itu, timbullah t iupan desas-desus.

Pada suatu hari Patih Pringgalaya menghadap Paku Bhuwana II. Dengan terang-terangan patih itu menaruh curiga kepada Pangeran Mangkubumi, karena dapat mengalahkan dua pemberontak sakti dengan mudah. Ia menuduh bahwa telah terjadi suatu persekutuan rahasia yang teratur rapih. Buktinya, Pangeran Mangkubumi membiarkan dua pemberontak itu lolos dari cengkeramannya sehingga dengan penuh yakin ia berkata, bahwa daerah Sukaw ati sebenarnya hendak dijadikan pangkal penyusunan kekuatan baru dengan bantuan dua pemberontak dari luar.

Paku Bhuwana II adalah seorang raja yang lemah, baik soal peribadinya maupun dalam pemerintahan.

Mendengar alasan Patih Pringgalaya,ia terpengaruh. Akan tetapi tak bersedia bertindak. Akhirnya persoalan itu dipercayakan kepada Patih Pringgalaya.

Patih Pringgalaya segera menerima pertanggungan jawab itu. Katanya dengan suara berapi-api :

"Sri Baginda! Hambamu ini sudah terlalu kenyang menerima anugerah kerajaan. Karena itu, berilah hambamu kesempatan untuk berbuat suatu kebajikan demi pembalas budi keluhuran Sri Baginda dan kerajaan. Belasan tahun lamanya, hamba hanya makan-minum dan tidur. Selama itu pastilah Sri Baginda mengira bahwa hamba tidak sanggup mengerjakan sesuatu. Itulah sebabnya, Sri Baginda lalu menitahkan Pangeran Mangkubumi memadamkan pemberontakan Said dan Martapura. Hm! Kalau cara menyelesaikan pemberontakan itu dengan membiarkan mereka berdua lolos, siapapun dapat melakukannya. Sekarang persoalannya kian menjadi ruwet, pelik dan rumit! Sri Baginda di kepung lawan dari dalam dan luar. Pangeran Mangkubumi yang berpura-pura membantu Sri Baginda adalah musuh dalam selimut. Sedang Said dan Martapura yang dibiarkan berkeliaran diluar dengan bebas, sesungguhnya merupakan perw ira-perwira cadangan.

"Alangkah jahat persekutuan ini. Walaupun keadaan sudah menjadi berlarat begini, hambamu akan memperlihatkan sedikit kebajikan kehadapan duli tuanku. Sri Baginda tidak perlu beresah hati. Serahkan saja persoalan ini kepada hamba."

Gembira dan penuh syukur Paku Bhuwana II mendengar ucapan hambanya yang menyatakan kesetiaannya itu. Raja itu menjadi terharu sehingga kedua matanya berlinang air mata. Ia lantas memeluk dan memujinya.

"Pringgalaya yang baik hati!" kata Paku Bhuwana II dengan suara berduka. "Tiada suatu peristiw a yang lebih hebat dan yang lebih menyedihkan apabila terjadi suatu perselisihan antara sesaudara sendiri. Dimas Mangkubumi terlalu kuat bagi kami. Bagaimana cara mengatasinya?"

Patih Pringgalaya lalu menganjurkan, agar meniru cara Pangeran Mangkubumi menyusun kekuatan. Pangeran Mangkubumi, menurut Patih Pringgalaya, menyandarkan kekuatannya kepada Raden Mas Said dan Pane mbahan Martapura. Maka Paku Bhuwana II seyogyanya mencari suatu sandaran kuat pula. Dan sandaran yang maha kuat adalah kompeni Belanda.

"Kebetulan sekali, Gubernur Jendral Baron van Imhoff berada di Semarang. Inilah suatu kesempatan bagus yang diberikan Tuhan kepada Sri Baginda," kata Pringgalaya menganjurkan. "Maka janganlah Sri Baginda siasiakan. Serahkan dan t itipkan kerajaan ini kepadanya! Serahkan, artinya menyerahkan persoalan dalam negeri tentang tertibnya. Titipkan, artinya Gubernur Jendral harus bertanggung jawab keutuhannya. Seumpama seseorang menitipkan barangnya, maka orang yang dititipi harus dan akan bertanggung jaw ab meraw at dan memelihara barang titipan itu dengan utuh."

Paku Bhuwana II menganggap buah pikirannya Patih Pringgalaya sangat cemerlang. Maka segera ia menyetujui. Dan istilah menyerahkan dan menitipkan in i, dikemudian hari akan menerbitkan suatu ekor panjang dan salah tafsir yang membawa nasib kerajaan ke dasar bumi.

Patih Pringgalaya berbesar hati memperoleh kepercayaan Paku Bhuwana II. Ia segera datang ke Semarang, menemui Gubernur Jendral Belanda Baron van Imhoff. Ia menyarankan kepada Gubernur Jendral Belanda itu, agar memperlihatkan kekuasaannya di Mataram, dengan turut campur urusan dalam negeri. Demikianlah kedatangan van Imhoff yang sebenarnya hanya untuk mengadakan pemeriksaan daerah, menjadi kebetulan sekali. Sebab sebenarnya Belanda belum merasa puas tentang perjanjian Mataram yang terjadi pada tahun 1743.

Tatkala Paku Bhuwana II datang ke Semarang segera ia mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik- baiknya. Ia sanggup menerima kepercayaan Paku Bhuwana II dengan suatu perjanjian :

1. Tegal, Pekalongan harus diserahkan kepada Belanda sebagai daerah jajahan.

2. Bea cukai jalan di daerah hulu dan bea barang yang diangkut sepanjang jalan atau sungai di wilayah Mataram harus diserahkan kepada Belanda.

3. Bea keluar-masuk diseluruh kerajaan d iatur Belanda dan diserahkan kepada V.O.C. Bea keluar-masuk ini meliputi ampat hal, yakni :

a. Bea di kali Solo

b. Bea di pasar-pasar

c. Bea tembakau di Kedu

d. Hak penjualan, hak memungut sarang burung.

4. Susuhunan menerima uang yang sudah ditetapkan jumlahnya sebagai pengganti pemungutan bea-bea itu, ialah 9000 real.

5. Belanda mengakui putera Paku Bhuwana II yang ditunjuk olehnya, sebagai putera mahkota yang syah.

Perjanjian yang demikian itu sebenarnya memerosotkan derajat Paku Bhuwana II. Akan tetapi Paku Bhuwana II nyatanya sangat bersyukur dan bergembira. Karena kecuali mendapat jaminan kedudukan puteranya sebagai putera mahkota, juga mendapat jaminan pemasukan uang bea tanpa bersusah payah lagi.

Perselisihan tentang daerah Sukaw ati, diajukan pula oleh Patih Pringgalaya kepada Gubernur Jendral Baron van Imhoff. Pengaduan ini bertambah membuka mata Belanda bahwa Paku Bhuwana II sesungguhnya tidak dapat mengemudikan negaranya sendiri, sehingga perlu dapat atau minta bantuan kepihaknya.

Dalam pertemuan di istana yang dihadiri o leh segenap bangsawan, maka punggawa dan wakil-wakil Belanda Patih Mangkubhumi dipanggil menghadap. Dan para hadirin, Pangeran itu disemprot habis-habisan oleh Gubernur Baron van Imhoff.

Inilah suatu peristiw a yang menusuk hati Pangeran Mangkubhumi. Sebab sesungguhnya ia tidak berselisih dengan kakaknya. Semuanya ini akibat rasa irihati Patih Pringgalaya. Maka pada hari itu juga, Pangeran Mangkubhumi meninggalkan istana. Dia lantas menggabungkan diri dengan Raden Mas Said dan Panembahan Martapura. Kyahi Basaman berada dipihak Pangeran Mangkubumi. Dia merupakan tulang punggung Pangeran itu. Itulah sebabnya ia menjadi musuh Patih Pringgalaya pula.

Maka seraya berpaling kepada pemuda berberewok itu, Kyahi Basaman menegas :

"Apakah betul yang me reka tuduhkan kepadamu?"

Seluruh badan pemuda itu sudah berlumuran darah, namun tangannya masih memondong bocah laki-laki yang tertembus panah tadi. Sambil menahan air matanya, ia berkata : "Benar, benar! Inilah majikanku. Ia tewas kena panah," dengan kata-kata itu ia mengakui, bahwa dirinya sesungguhnya adalah hamba sahaja Patih Pringgalaya.

Keruan saja Kyahi Basaman kaget. Katanya lagi : "Jadi bocah itu putera Pringgalaya?"

"Benar," sahut pemuda berberewok itu. "Aku telah

gagal memikul tanggung jawab. Biarlah mereka mencabut jiw aku sekalian." setelah berkata deniikian ia meletakkan mayat majikan kecilnya itu, lalu menubruk kearah perw ira tadi.

Tetapi karena lukanya terlalu parah, ia gagal, karena anak panah yang menancap dipundak dan punggungnya belum dapat dicabutnya. Baru ia meloncat, tahu-tahu tubuhnya jatuh terbanting diatas perahunya sendiri. Tangan anak perempuan itupun terkena panah pula. Ia menangis sambil berteriak-teriak:

"Kangmas! Kangmas!"

Kyahi Basaman menjadi serba salah. Pikirnya:

"Akh, jika tadi aku tahu bahwa mereka ini putera- puterinya Pringgalaya, lebih baik aku tak ikut campur. Sekarang aku sudah mengulurkan tangan. Masakan harus menarik diri ditengah jalan. Setelah berpikir demikian, ia berkata kepada perw ira tadi :

"Saudara! Bocah laki-laki itu sudah mati. Sekarang tinggal dua orang saja yang masing-masing kena panah pula. Mereka in ipun nampaknya akan segera mati. Jasa kalian sudah cukup. Kalian boleh pergi dengan rasa syukur." "Tidak bisa!" sahut perw ira itu. "Kepala tiga orang itu harus kupenggal dahulu."

"Kenapa mesti mendesak mereka begitu habis- habisan?" ujar Kyahi Basaman.

"Sebenarnya engkau ini siapa? Apakah alasanmu sampai engkau berani merint angi kami?" bentak perw ira itu dengan mendongkol.

Kyahi Basaman tertaw a. Sahutnya :

"Kulihat saudara agaknya orang beragama pula. Pernahkah saudara mendengar suatu pepatah yang berbunyi begini: peristiw a-peristiw a di dunia ini manusia boleh ikut serta. Tetapi apabila engkau masih dapat mengampuni seseorang, hendaklah engkau ampuni."

Tiba-tiba perwira itu memberi isyarat mata kepada dua bawahannya. Lalu berkata :

"Sebenarnya siapa engkau in i? Agaknya engkau seorang pendeta. Dimana padepokanmu?"

Pada saat itulah mendadak dua orang baw ahan yang diberi isyarat tadi terus mengangkat goloknya, lalu membabat pundak Kyahi Basaman.

Betapa cepat dan hebatnya samberan golok itu, tidak dapat terlukiskan lagi. Kecuali jaraknya sangat dekat, tenaga dua orang itu besar pula. Pada hakekatnya susah untuk dihindarkan.

Akan tetapi dengan manis sekali Kyahi Basaman dapat mengelakkan. Tadinya ia menghadap haluan perahu. Tiba-tiba ia sudah menghadap kekiri.

Elakan in i nampaknya biasa saja. Akan tetapi sebenarnya, karena jitu menggunakan waktu serta tempat. Maka babatan kedua golok itu menumbuk udara kosong. Sebaliknya, kedua tenaga Kyahi Basaman sudah menempel punggung

mereka.

"Enyahlah kalian!" bentak Kyahi Basaman.

Dan terbanglah tubuh kedua laskar itu kena sodokan Kyahi Basaman. Dengan diikut i suara bergedubrakan mereka jatuh tertelungkup

didalam perahunya sendiri.

Sudah puluhan tahun Kyahi Basaman tidak pernah bergebrak. Kini

dengan menguji kepandaian kembali, ternyata segala- galanya dapat dimainkan dengan sesuka hati. Meskipun laskar-laskar itu sebenarnya jago-jago pilihan, akan tetapi menghadapi ilmu sakti Kyahi Basaman yang tiada bandingnya itu boleh dikatakan mereka mati kutu. Oleh rasa terkejut, perw ira itu sampai ternganga-ngana mulutnya. Katanya dengan suara tak lancar :

"Apakah kau ... kau ..."

Tetapi pada saat itu Kyahi Basaman sudah mengebaskan lengan bajunya lagi. Bentaknya :

"Selama hidupku aku paling gemar membunuh kaum penjajah!" Berbareng dengan perkataannya, dua perw ira merasa sesak dadanya. Untuk sejenak mereka tak dapat bernapas. Apabila Kyahi Basaman menarik kembali pukulannya, wajah mereka menjadi pucat lesi. Terus saja mereka berebutan mencari penggayuh dan cepat-cepat menjauhkan perahunya. Kaw an kaw annya yang tercebur kedalam sungai segera ditolongnya. Sebentar lagi perahu mereka hilang di kelokan sungai.

Melihat panah-panah yang menembus pemuda berewok dan anak perempuan itu, Kyahi Basaman segera mengeluarkan obat pemunah racun. Setelah ditelankan ke mulut mereka, ia menolong mencabut panah-panah itu. Segera ia mendayung perahu kecil itu menghampiri perahu tambangannya. Setelah berdempetan, ia lalu membungkuk hendak memajang pemuda berewok itu pindah keperahunya.

Tak terduga, pemuda berewok itu seorang yang luar biasa. Tiba-tiba ia bangkit, sebelah tangannya memondong mayat anak laki-laki tadi dan yang lain mengempit anak perempuan. Dengan satu lompatan enteng, ia sudah menyeberang ke perahu Kyahi Basaman.

Diam-diam Kyahi Basaman menjadi memuji di dalam hati:

'Bocah ini terluka parah akan tetapi masih begitu setia terhadap majikannya. Benar benar seorang laki-laki sejati. Aku tadi begitu sembrono mengulur tangan. Akan tetapi menimbang kegagahannya, pantaslah rasanya aku menolongnya ...'

Iapun melompat kembali kedalam perahunya. Setelah memeriksa luka panah pemuda berewok dan anak perempuan itu, segera ia membubuhi obat luar. Dalam pada itu perahunya sudah menepi di seberang, diam- diam Kyahi Basaman berpikir dalam hati :

"Seluruh tubuh Lingga Wisnu sekarang lumpuh, ia sama sekali tidak dapat menggerakkan kakinya. Jika aku meneruskan perjalanan, rasanya kurang menguntungkan. Pemuda berewok dan kedua majikannya ini menjadi buronan pemerint ah Belanda. Jika aku harus melindungi mereka bertiga, rasanya agak susah juga.’

Ia merenung sejenak. Kemudian memberi uang sewa kepada pemilik perahu. Katanya :

"Kang! Apakah engkau masih sanggup membaw a kami pada suatu tempat yang kira-kira terdapat sebuah penginapan?"

Tukang perahu tadi menyaksikan betapa tangkasnya Kyahi Basaman menghajar dan mengusir laskar Belanda yang bersenjata lengkap. Hatinya kagum luar biasa. Dengan sendirinya ia menaruh hormat sekali. Sekarang ia mendapat uang sewa. Jumlahnya terlalu banyak pula. Maka tak mengherankan ia segera memanggut dan cepat-cepat meneruskan perjalanan.

Dalam pada itu sipemuda berewok terus berlut ut didepan Kyahi Basaman sebagai pernyataan terima kasih. Katanya dengan suara terharu:

"Atas budi pertolongan eyang dengan ini aku menghaturkan terima kasih. Eyang, aku bernama Aruji. Semenjak ini aku bersumpah demi bumi dan langit bahwa selama hidupku aku takkan melupakan budi eyang." Cepat-cepat   Kyahi   Basaman   membangunkannya.

Sahutnya :

"Akh, engkau tak perlu berlutut begini terhadapku." Tiba-tiba tatkala ia menyentuh telapak tangan pemuda itu, ia menjadi kaget. Telapak tangan pemuda itu terasa sangat dingin bagaikan es. Cepat-cepat ia bertanya:

"Apakah kau mendapat luka juga?"

"Benar, eyang. Aku membaw a kedua majikanku ini dari Pekalongan. Sepanjang jalan aku bertempur sampai empat kali berturut-turut. Aku kena terhajar punggung dan dadaku. Apakah aku terluka berat?"

Dengan berdiam diri Kyahi Basaman memegang urat nadinya. Denyutannya sangat lemah. Dengan hati tercekat, Kyahi Basaman membuka baju pemuda itu dan memeriksa lukanya. Begitu melihat luka yang dideritanya, orang tua itu makin tercekat hatinya. Bekas- bekas pukulan nampak bengkak hebat. Itulah suatu tanda bahwa luka pemuda itu bukan luka enteng. Apabila orang lain yang kena pukulan demikian, pastilah sudah tidak tahan lagi. Tetapi nyatanya pemuda ini masih kuat melarikan diri sejauh itu dengan membaw a kedua majikan mudanya. Disepanjang jalan ia mengadakan perlawanan dengan sekuat tenaga. Benar benar harus dipuji ketangkasan dan jiw anya yang penuh keperw iraan. Maka ia tidak mengajak berbicara lagi kepadanya. Ia hanya mempersilahkan agar pemuda itu merebahkan diri didalam perahu, beristirahat.

Kira-kira menjelang tengah malam, sampailah perahu tambangan itu di sebuah kota kecil. Kyahi Basaman mencoba mencari ramuan obat. Pada masa itu, seluruh wilayah Jawa Tengah dalam keadaan perang. Karena penduduk kebanyakan berpihak kepada Pangeran Mangkubumi, apa bila mereka mendengar seseorang mencari obat luka, segera menolong dengan sukarela. Demikian maka Kyahi Basaman dapat memperoleh ramuan obat yang dikehendaki dengan mudah.

Anak perempuan majikan pemuda berewok itu berumur kurang lebih sembilan tahun. Ia sangat cantik jelita. Waktu itu ia duduk disamping mayat kakaknya tanpa bergerak. Dan menyaksikan hal itu, hati Kyahi Basaman tersayat-sayat. Ia bertanya dengan suara lembut :

"Siapa namamu, angger?"

"Aku bernama Sitaresmi." sahut anak perempuan itu sambil berdiri dengan sopan santun. "Apakah aku boleh mengetahui nama eyang?"

Heran dan kagum Kyahi Basaman mendengar pertanyaan itu. Gadis cilik itu belum boleh dikatakan cukup umur. Akan tetapi didalam keadaan yang begini kusut, masih dapat ia berlaku sopan dan beradat. Tiba- tiba saja terbesitlah rasa sayang dalam dada Kyahi Basaman. Sahutnya dengan tersenyum :

"Aku bernama Basaman."

"Ha!" seru Aruji dengan terkejut. Waktu itu ia masih rebah diatas geladak perahu. Mendadak saja bangkit, meneruskan dengan suara setengah berseru :

"Jadi, eyang inilah yang bernama Kyahi Basaman? Pantaslah ilmu sakti eyang tiada tandingnya. Hari in i aku benar-benar berbahagia dapat berjumpa, bertemu dan berhadap-hadapan dengan eyang." "Mengapa? Apakah aku malaikat?" potong Kyahi Basaman dengan tertaw a. "Aku manusia biasa. Bedanya dengan engkau, karena usiaku sudah lanjut. Selebihnya adalah sama. Anak lebih baik kau rebahkan saja agar lukamu cepat sembuh."

Dalam hati Kyahi Basaman merasa senang terhadap kedua orang yang ditolongnya itu. Aruji, seorang pemuda gagah perkasa. Dan Sitaresmi gadis cantik, ramah- tamah, sopan santun dan lembut tak ubah rembulan. Akan tetapi mengingat mereka berdua adalah keluarga Pringgalaya, hati orang tua itu menjadi dingin. Tak ingin lagi ia berbicara berkepanjangan. Lalu berkata setengah memerint ah :

"Kalian terluka berat. Lebih baik jangan berbicara lagi.

Nah, beristirahatlah selagi ada kesempatan yang baik!"

Hati Kyahi Basaman sebenarnya cukup lapang. Terhadap golongan lawan, ia tidak berpikiran sempit. Ia selalu bersedia mengampuni, bilamana perlu diampuni. Baginya, seorang yang boleh dianggap lawan ialah, apabila dia berada di tengah gelanggang mengadu jiw a. Akan tetapi Patih Pringgalaya terlalu licik dan terlalu menyakitkan hati orang-orang yang sadar akan negara dan bangsa serta tanah air. Karena orang itulah yang membuat perpecahan besar antara keluarga raja. Karena orang itu pulalah yang membuat Paku Bhuwana II menulis surat wasiat pada tahun 1749 kepada V.O.C. yang menyebutkan, bahwa kerajaan dan tahta diserahkan serta dititipkan.

Alangkah merosotnya derajat bangsa, negara dan tanah air. Kini pihak kompeni merasa agak terdesak. Lalu merubah sikap untuk mengambil hati. Patih Pringgalaya menjadi sasarannya. Mungkin sekali Patih itu kena dibunuhnya. Akan tetapi, Kyahi Basaman kenal kelic inan dan kelicikan V.O.C. Baik terhadap Pringgalaya maupun V.O.C., semua kaum pejuang harus selalu berw aspada.

Pada hari itu, Kyahi Basaman menolong keluarga Pringgalaya yang dibencinya sampai ke-bulu-bulunya. Itulah terjadi karena kemuliaan hati nuraninya. Sebagai seorang mahaguru, ia harus dapat memberi contoh kepada siapapun, bahwasanya dalam hidup ini seseorang harus saling mengulurkan tangan kepada yang perlu diberi pertolongan. Dalam hal menolong, seseorang t idak perlu mengetahui atau mengenal pihak yang ditolong.

Akan tetapi, setelah mengetahui siapa mereka sesungguhnya, bet apapun juga membuat suatu masalah besar didalam hatinya.Karena sesungguhnya bertentangan dengan panggilan hidupnya. Tiba t iba saja teringatlah dia kepada Udayana yang mati kena kerubut. Mengapa selama menjadi buronan delapan tahun lamanya, tiada seorangpun yang mengulurkan tangan untuk menolongnya? Apakah sesungguhnya didalam dunia ini, hanya dia seorang yang mempunyai panggilan hidup berdasarkan cinta-kasih?

Sekarang anak satu-satunya Udayana, menggeletak didalam perahu. Jiwanya tinggal beberapa saat saja. Tapi teringat bahwasanya didalam pertapaan Argapura terdapat seseorang yang mengulurkan tangan tanpa mengenal terlebih dahulu siapa dia dan dari golongan mana dia datang, Kyahi Basaman agak terhibur.

'AkhI Setidaknya aku mempunyai teman,' kata Kyahi Basaman didalam hatinya. 'Tetapi Aruji dan Sitaresmi ini bisa menimbulkan masalah ruwet, apabila aku kurang berhati-hati. Sebab mereka berdua menjadi buronan kompeni dan kaum pejuang. Tak terasa orang tua yang berhati mulia itu menghela napas.

Dalam pada itu, pemilik perahu sudah selesai memasak hidangan malam. Kyahi Basaman mempersilahkan Aruji dan Sitaresmi makan dahulu, sebab ia hendak menyuapi Lingga Wisnu yang tak dapat bergerak itu.

"Sebenarnya dia menderita sakit apa?" Aruji minta keterangan dengan penuh perhatian.

Segera Kyahi Basaman memberi keterangan, bahwa Lingga Wisnu kena racun jahat yang kini menyerang bagian perut. Itulah sebabnya ia terpaksa menghentikan peredaran darahnya untuk menyelamatkan jiwanya.

Lingga Wisnu ikut mendengarkan keterangan kakek- gurunya itu. Ia makin sadar, bahwa jiw anya takkan tertolong lagi. Dan diam-diam ia jadi terharu terhadap jerih-payah eyang gurunya itu yang berjuang untuk menyelamatkan jiw anya. Oleh rasa haru, ia tak sanggup makan lagi. Kerongkongannya serasa tersumbat.

Tatkala Kyahi Basaman hendak memasukkan suapan yang ketiga kalinya, ia menggelengkan kepala.

Tiba-tiba Sitaresmi yang selama itu menaruh perhatian kepadanya, melompat menghampiri. Ia merebut mangkok nasi yang berada ditangan Kyahi Basaman. Katanya dengan lembut :

"Eyang, biarlah aku yang menyapinya. Semenjak siang hari tadi, eyang bekerja keras. Silahkan makan dahulu!" Tercengang Kyahi Basaman melihat sikap gadis cilik itu yang begitu pandai membaw a diri. Tatkala itu ia mendengar Lingga Wisnu menyangga kepada Sitarismi :

"Terima kasih. Aku sudah kenyang. Tak bisa aku makan lagi."

Sitaresmi menoleh kepada Kyahi Basaman. Minta keterangan :

"Eyang, siapakah namanya?"

Dengan tersenyum Kyahi Basaman menjawab: "Ia bernama Lingga Wisnu."

Setelah mendengar nama Lingga Wisnu, Sitaresmi menoleh kepadanya. Berkata dengan suara halus:

"Kangmas Lingga, jika engkau tidak mau makan, pastilah eyang akan sedih. Dan eyangpun tidak akan bernapsu makan pula. Bukankah engkau membuat eyang lapar?"

Lingga Wisnu diam menimbang-nimbang. Pikirnya, benar juga alasan anak perempuan itu. Maka tatkala Sitaresmi menyapkan nasi kemulut-nya, ia lantas menelannya. Sitaresmi ternyata sangat telaten menyuapi. Sebelum menyuapkan, ia membuangi tulang-tulang ikannya dahulu. Dan setiap suapan ditambahinya dengan sedikit kuah. Oleh pelayanan yang begitu sempurna Lingga menjadi doyan makan, sehingga dengan tidak diket ahui sendiri telah menghabiskan semangkok nasi.

Selama itu Kyahi Basaman menaruh perhatian kepada mereka. Melihat Lingga Wisnu dapat menghabiskan semangkok besar nasi, ia menjadi agak lega. Pikirnya didalam hati: 'Lingga Wisnu ini benar-benar anak yang bernasib malang, la tidak hanya ditinggalkan kedua orang tuanya, tetapi-pun oleh kedua saudaranya pula. Sekarang ia menderita sakit begini berat. Memang, untuk menghibur dirinya mestinya harus ada seorang peraw at yang sebaya dengan umurnya.

Ia menoleh kepada Aruji. Meskipun sedang terluka parah, akan tetapi pemuda itu menyambar makan malamnya dengan lahap dan bernapsu. Dalam sekejab saja ia telah menghabiskan tiga piring, nasi penuh- penuh. Kena pandang Kyahi Basaman, pemuda itu berhenti mengunyah, menengadah sambil berkata :

"Akh, hampir aku menghabiskan persediaan makan eyang. Eyang, silahkan makan!"

"Tidak. Aku mempunyai persediaan sendiri. Anger, senang hatiku engkau dapat menghabiskan tiga piring nasi dengan sekaligus. Hal itu perlu untuk menjaga kesehatanmu. Kulihat tenagamu hebat pula. Dikemudian hari, engkau bisa mengembangkan tenagamu itu."

Aruji meletakkan piringnya. Menyahut:

"Akh, eyang. Sekalipun andaikata aku mempunyai tenaga sebesar gajah, kurasa tiada gunanya. Sebab aku ini orang kasar."

Dengan pandang penuh perhatian, Kyahi Basaman menatap wajahnya. Kemudian berkata sambil mengurut jenggotnya :

"Aruji! Berapa umurmu?" Dengan cepat Aruji menjawab: "Duapuluh tahun tepat." Dibandingkan dengan usia Kyahi Basaman, umur Aruji baru seperlimanya. Akan tetapi karena ia berewok, maka nampaknya seram luar biasa. Apabila dilihatnya sekilas pandang, kesannya seperti sudah berumur tigapuluh tahun lebih. Dalam pada itu Kyahi Basaman manggut dan berkata dengan hati lapang :

"Hmmm, kau masih sangat muda angger. Sayang, mengapa engkau salah jalan. Engkau terjerumus angger. Orang yang angger sebut sebagai majikan sebenarnya seorang penghianat besar. Akan tetapi hal itu belum terlambat. Aku mempunyai suatu pendapat yang sebenarnya tidak pantas kuucapkan kepada angger. Sebab pendatat ini berkesan sebagai suatu nasehat. Andaikata kuucapkan juga, apakah angger tidak merasa tersinggung?"

"Tersinggung?" kata pemuda itu. "Bila memang eyang sudi memberi petunjuk-petunjuk atau pendapat, apalagi nasehat kepadaku, sudah pasti nilainya bagaikan gunung emas. Bagaimana aku malahan merasa tersinggung?"

"Baik." ujar Kyahi Basaman. "Ingin aku menasehati angger, agar cepat-cepat meninggalkan jalan sesat in i. Jika angger tiada menganggap aliran kami berkepandaian rendah, aku bersedia menyuruh muridku Ugrasena menerimamu sebagai murid. Kelak, angger bisa bergaul lebih luas lagi untuk mengangkat nama sendiri. Siapapun tidak akan berani memandang hina lagi kepadamu. Mungkin sekali apabila nasib angger baik angger akan diterima dengan tangan terbuka oleh Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Said, atau Panembahan Martapura Waridan." Ugrasena adalah murid tertua Kyahi Basaman. Namanya sudah menggoncangkan jagad. Para pendekar biasa yang belum mempunyai nama, tidak dapat menemuinya dengan mudah. Pada akhir-akhir in i, para pendekar aliran Resi Aristi, telah murid. Akan tetapi syarat pilihannya sangat berat. Apabila seseorang tidak mempunyai bangun tubuh, dan nilai watak serta kelakuan yang dikehendaki, pasti t idak akan dapat masuk rumah perguruan Kyahi Basaman. Sedangkan Kyahi Basaman tahu, bahwa pemuda itu adalah bekas anak buah Patih Pringgalaya yang terkenal sebagai penghianat besar. Karena itu sesungguhnya Aruji mempunyai nasib sangat bagus.

Tak terduga Aruji menjaw ab dengan tegas:

"Akh, eyang mengira bahwa aku in i budaknya Patih Pringgalaya. Sebenarnya tidaklah demikian. Ayahku memang salah seorang abdinya. Tatkala ia meninggal, ayah berpesan kepadaku hendaklah aku membaw a dua putera-puteri asuhannya. Karena aku sudah menyanggupkan diri, maka aku membawanya pergi pada suatu tempat demi keamanan dan keselamatan putera- puteri Patih Pringgalaya in i. Eyang, aku sendiri sebenarnya laskar Raden Mas Said. Sekali aku sudah menyanggupkan diri, selama hidupku takkan berani menghianati nya."

Kagum Kyahi Basaman mendengar pendirian pemuda itu. Pikirnya didalam hati: 'Kukuh benar pendirian anak ini. Sebenarnya bahan bagus sekali, apabila anak ini diabdikan kepada Pangeran Mangkubumi.'

Seperti diketahui, kyahi Basaman pernah membantu Pangeran Mangkubumi memadamkan pemberontakan Raden Mas Said dan Panembahan Martapura yang menduduki daerah Sukaw ati. Itulah sebabnya meskipun kini Pangeran Mangkubumi sudah bekerja sama dengan Raden Mas Said dan Panembahan Martapura, sesungguhnya masih ia menganggap sebagai lawan. Maka dengan pikiran demikian, segera ia membujuk Aruji agar meninggalkan majikannya. Ia berjanji setelah mewariskan kepandaiannya akan membawa menghadap Pangeran Mangkubumi. Ia menjamin bahwa kedudukannya dikemudian hari akan baik. Akan tetapi pemuda itu tetap kokoh pendiriannya. Berulangkali ia mengesankan, bahwa sekali ia sudah mengabdikan diri pada seseorang, dia tidak akan menghianati.

Waktu itu fajar hari telah t iba. Kyahi Basaman hendak melanjutkan perjalanannya. Ia mengambil jalan darat. Maka segera ia memondong Lingga Wisnu dan berkata kepada Aruji :

"Baiklah, kita berpisah sampai disini saja. Mudah- mudahan angger dapat mencapai tujuan dengan selamat sejahtera." Setelah berkata demikian, ia melompat kedarat hendak meninggalkan perahu.

Dengan berdiri tegak, berulangkali Aruji dan Sitaresmi mengucapkan terima kasih tak terhingga. Sedang Sitaresmi berkata dengan lemah lembut kepada Lingga Wisnu :

"Kangmas Lingga ! Tiap hari kau harus makan yang kenyang! Dengan demikian kangmas tidak akan membuat sedih eyangmu."

Terharu Lingga Wisnu mendengar kata-kata Sitaresmi. Entah apa sebabnya tiba-tiba saja air matanya meleleh dikedua pipinya. Sahutnya : "Terima kasih atas perhatianmu. Tetapi ... tetapi beberapa hari lagi aku akan tidak bisa makan nasi atau meneguk air ..."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu hati Kyahi-Basaman seperti tersayat. Dengan terharu ia mengusap air mata bocah itu.

"Kau berkata apa? Kau ... kau .. kenapa?" Sitaresmi kaget.

Lingga Wisnu tak kuasa menjawab pertanyaan Sitaresmi. Kyahi Basaman segera menjawabnya :

"Angger, hati nuranimu sangat baik. Mudah-mudahan Tuhan memilihkan jalan yang benar bagimu. Aku sendiri selalu berdoa, agar engkau jangan terjerumus ke jalan yang sesat."

"Terima kasih, eyang," sahut Sitaresmi dengan tulus. Tiba-tiba Aruji berkata setengah berseru:

"Eyang! Ilmu sakti eyang sangat tinggi. W alaupun

ribuan racun berada dalam tubuh anak kecil ini, pastilah eyang dapat menyembuhkan."

"Ya, tentu!" sahut Kyahi Basaman singkat. Akan tetapi sebelah tangan yang berada dibaw ah tubuh Lingga Wisnu nampak digoyang goyangkan beberapa kali. Terang sekali maksudnya, bahwa luka yang diderita Lingga Wisnu terlalu berat, sehingga tiada harapan untuk dapat disembuhkan kembali. Hanya saja tak pernah ia memberitahukan hal itu kepada Lingga Wisnu.

Melihat goyangan tangan Kyahi Basaman, maka Aruji kaget. Katanya lagi : "Eyang, luka yang kuderita tidak enteng pula. Aku bermaksud hendak mencari pamanku yang pandai mengobati. Pamanku terkenal sebagai seorang tabib sakti. Tidakkah lebih baik apabila adik kecil in i bersama- sama aku menghadap kepadanya?"

Kyahi Basaman mendengarkan ucapan Aruji dengan sungguh-sungguh. Sejenak kemudian ia goyang kepala dan berkata :

"Urat-urat nadi sudah tertembus, sehingga racun yang jahat meresap kedalam perutnya. Kurasa obat dewa sekalipun susah sekali menyembuhkannya."

"Tetapi pamanku mempunyai kepandaian menghidupkan orang mati," ujar Aruji dengan sungguh sungguh.

Kyahi Basaman tercengang. Mendadak teringatlah dia kepada seseorang. Katanya mencoba:

"Apakah yang kau panggil pamanmu itu bernama Kyahi Sarapada?"

"Benar! Memang dialah!" seru Aruji dengan suara bersorak. "Kiranya eyang kenal sama paman."

Kyahi Basaman diam merenung-renung. Ia berbimbang-bimbang. Memang pernah ia mendengar nama Kyahi Sarapada. Orang itu terkenal sebagai seorang tabib sakti. Ia bermukim dilereng gunung Merapi. Dan ia mempunyai kisah hidup begini :

Kerajaan Mataram dibawah Sultan Agung dahulu pernah mengalami suatu kegoncangan dengan munculnya seorang yang aneh dan sakti bernama Bondan Sejiw a. Bondan Sejiwa mendirikan semacam ilmu kebatinan tunggal bernama Ngesti Tunggal. Ia membuat tata sembah sendiri serta tata tertib yang dianggap bertentangan dengan agama. Itulah sebabnya anggauta- anggauta Ngesti Tunggal tidak mendapat tempat dalam masyarakat Mereka dibenci dan disingkiri. Dan Kyahi Sarapada ini kabarnya masuk menjadi anggauta mashab Ngesti Tunggal tersebut.

Ia seorang yang fanatik. Artinya tidak sudi membuka pintu terhadap faham-faham yang lain Kepandaiannya mengobati orang hanya diperuntukkan kawan-kaw an sefahamnya sendiri tanpa memungut bayaran. Sebaliknya terhadap orang luar, meskipun teruruk harta benda setinggi bukit, sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Itulah sebabnya walaupun Lingga Wisnu kini terancam maut karena racun jahat yanq merumun dalam tu- buhnya, akan tetapi Kyahi Basaman tidak rela bahwa penyakitnya itu dikemudian hari menyebabkan dirinya terjerumus dalam suatu mashab tersesat.

Melihat Kyahi Basaman berbimbang bimbang, segera Aruji dapat menebak. Katanya membujuk:

"Eyang, paman Sarapada meskipun selamanya tidak sudi mengobati orang-orang diluar fahamnya, akan tetapi eyang sudah menanam budi demikian luhur menolong jiw a kami. Kurasa pamanpun akan melanggar kebiasaan sendiri. Sebaliknya kalau ia benar-benar tidak mau menolong, aku, Aruji bersumpah kepada eyang, akan terus berusaha sehingga berhasil. Apabila ia tetap menutup pintu, aku akan menggedornya sehingga ter- buka. Jika membangkang aku akan menyudahi dengan cara kekerasan. "Ilmu kesaktian Kyahi Sarapada in i memang juga pernah kudengar," ujar Kyahi Basaman kemudian. "Hanya saja racun yang berada dalam tubuh Lingga Wisnu ini sungguh luar biasa hebatnya."

Aruji dapat menebak jalan pikiran Kyahi Basaman. Ia sendiri salah seorang anggauta Ngesti Tunggal yang dibenci dan disingkiri masyarakat. Pastilah orang tua itu mengkhaw atirkan hari kemudian Lingga Wisnu. Pikirnya dalam hati, pastilah eyang mengira paman akan memaksa adik kecil ini memasuki    Ngesti    Tunggal.

Biarlah    kuterangkan    bahwa

dugaannya itu tidak benar. Dengan pikiran demikian ia kemudian berkata kepada Kyahi Basaman :

"Eyang, dengarkan. Aku mempunyai sebuah usul ..."

o)))oo-dw-oo((o

5. Mendaki Gunung Merapi

Dengan menengadahkan muka dan dengan wajah sungguh-sungguh, Aruji berkata:

"Eyang ! Kalau aku tidak salah tangkap maksud eyang hendak mengatakan kepadaku, bahwa adik kecil ini tiada harapan lagi. Katakan saja dibawa kesana mati, tidak dibawa mati pula. Kenapa tidak diserahkan kepadaku saja? Manusia in i pastilah kalau tidak hidup ya mati. Sebelum mati benar, biarlah aku berusaha. Siapa tahu, berangkali adik kecil ini bisa ditolong."

Mendengar perkataan: Manusia itu kalau tidak hidup ya mati, hati Kyahi Basaman tergetar. Katanya didalam hati: 'Bocah ini berwatak terus terang. Apa yang terpikir olehnya segera dinyatakan tanpa pertimbangan lagi. Meskipun kasar, ada benarnya juga. Tampaknya jiw a Lingga Wisnu tak akan tahan satu bulan lagi. Baiklah, biarlah jalan ini kutempuh, dengan kuserahkan nasibnya kepada bocah ini.'

Lalu berkata :

"Jika demikianlah kata-katamu, aku terpaksa memohon bantuanmu. Hanya saja aku ing in berbicara terus terang kepadamu. Kyahi Sarapada tidak boleh memaksa Lingga Wisnu memasuki fahamnya. Jika oleh usahanya Lingga Wisnu dapat disembuhkan, kamipun tidak akan merasa hutang budi kepada alirannya."

Disini bertambah jelas, bahwa Kyahi Basaman menyangsikan mutu rohaniah orang-orang Ngesti Tunggal. Seperti orang-orang tekun kepada agamanya, ia berpendapat bahwa faham Ngesti Tunggal adalah semacam aliran iblis yang sangat berbahaya karena meracuni jiwa seseorang.

Jika Lingga Wisnu sampai terlibat, entah bagaimana nasibnya dikemudian hari. Ia tidak hanya disingkiri dan dibenci masyarakat saja, akan tetapi didalam alam bakapun tidak akan mendapat tempat yang semestinya.

Aruji menjawab dengan tegas : "Agaknya eyang terlalu memandang rendah aliran kami." Tiba-tiba ia berpaling kepada Sitaresmi dan berkata :

"nDorojeng Sitaresmi, untuk sementara, maukah engkau ikut Kyahi Basaman pulang ke Gunung Lawu?"

"Apa katamu?" tukas Kyahi Basaman dengan tak mengerti. Sebelum Sitaresmi sempat menjaw ab dan Aruji menerangkan maksudnya :

"Alasan eyang tidak sudi menemui pamanku cukup terang bagiku. Memang semenjak dahulu sesat dan suci tidak dapat hidup berdampingan. Eyang adalah seorang pemimpin besar yang tidak hanya berkepandaian sangat tinggi akan tetapi pun mempunyai kewajiban memuliakan agama. Sebagai seorang beragama yang saleh, betapa mungkin eyang membiarkan diri memohon bantuan kepada pamanku yang beraliran sesat. Tabiat paman Sarapada memang aneh pula. Belum tentu ia bisa menerima kedatangan eyang dengan semestinya. Apabila sampai terjadi hal demikian, kedua-duanya akan susah. Maka biarlah adik kecil ini aku yang membaw anya seorang diri saja. Namun aku tahu, eyang menyangsikan nilai budi aliran kami. Karena itu aku mohon kepada eyang, biarlah ndorojeng Sitaresmi ini mengantarkan eyang pulang ke Gunung Lawu sebagai jaminan. Kelak apabila adik kecil ini sudah sembuh, aku akan menjemputnya kembali. "

Selama hidup Kyahi Basaman belum pernah mencurigai seseorang. Akan tetapi mengingat Lingga Wisnu adalah keturunan satu-satunya dari Udayana, maka ia bersikap sangat hati-hati. Sebab jika keturunan anak muridnya itu dikemudian hari sampai masuk kedalam aliran ib lis, bagaimana ia mempertanggung jawabkan kepada arw ah ayahnya. Itulah sebabnya masih saja ia ragu.

Aruji ternyata tidak hanya seorang gagah perkasa, akan tetapi cerdik pula. Segera ia main paksa. Katanya :

"Eyang, ndorojeng Sitaresmi ini merupakan puteri satu-satunya dari gusti Patih Pringgalaya yang masih hidup. Sekarang ini kuserahkan kepada eyang. Gusti Patih Pringgalaya terkenal sebagai seorang penghianat besar. Dahulu beliau kawan kompeni Belanda. Akan tetapi karena kompeni Belanda terdesak oleh perlawanan Gusti Pangeran Mangkubumi dan Gusti Said, mendadak berbalik arah. Gusti Patih Pringgalaya dimusuhinya. Itulah sebabnya baik fihak kompeni maupun fihak Gusti Pangeran Mangkubumi dan Gusti Said, ingin sekali menangkap ndorojeng Sitaresmi in i. Maka kuharap setelah berada di Gunung Lawu, eyang harus berhati-hati menjaganya. "

Diam-diam Kyahi Basaman tertaw a geli di-dalam hatinya. Belum lagi ia menyanggupi menerima atau tidaknya Sitaresmi didalam tangannya, Aruji yang berw atak jujur dan tulus itu lantas saja sudah memberi pesan-pesan gawat. Memang orang yang ingin mengarah jiw a Sitaresmi sangat banyak. Akan tetapi orang yang ingin mengarah nyawa Lingga Wisnupun tak terhitung banyaknya.

Namun racun yang mengamuk didalam tubuh Lingga Wisnu sudah terlalu hebat. Betapapun juga, akhirnya kalau tidak hidup ya mati. Bahaya yang bakal mengancam dirinya, apa perlu diperpanjang dan dipertimbang kan lagi. Oleh pertimbangan itu segera Kyahi Basaman menjawab:

"Aruji, baiklah kita saling janji. Aku akan meraw at Sitaresmi in i baik-baik. Dan tolong kau raw at Lingga Wisnu sebaik-baiknya pula. Kelak apabila racun yang mengamuk didalam dirinya sudah sirna, hendaklah engkau membaw anya sendiri ke Gunung Lawu!"

"Memperoleh kepercayaan seseorang apalagi nendapat tugas demikian mulia, aku harus bersedia," sahut Aruji. "Eyang, legakan hatimu, aku akan menjaganya dengan mempertaruhkan jiwaku sendiri."

Setelah berkata demikian, ia melompat ke darat. Ia menggali liang kubur dengan sebatang golok. Liang itu berada dibaw ah pohon besar. Setelah selesai ia menghampiri mayat majikan kecilnya. Mayat itu ditelanjangi bulat-bulat. Kemudian ditaruhnya dengan hati-hati kedalam liang kubur. Cara meletakkannya ditengkurapkan sehingga hidungnya mencium bumi. Setelah selesai, dengan penuh haru mayat itu mulai ditimbuni tanah.

Kyahi Basaman menyaksikan upacara itu dengan berdiam diri. Sedikit banyak ia pernah mendengar faham Ngesti Tunggal. Karena orang ini lahir dengan bertelanjang bulat, maka pulangpun harus bertelanjang bulat pula. Sedang apa sebab mayatnya harus ditengkurapkan mencium bumi, karena bumi ini adalah sumber hidup jasmaniah manusia. Tegasnya asal dari bumi kembali ke bumi.

Sitaresmi menangisi kuburan kakaknya dengan sedihnya. Sedang Aruji hanya berdiri tegak tanpa berkata sepatah katapun. Ia tidak berdoa atau bersembahyang. Demikianlah, setelah puas menyatakan rasa duka- citanya, perlahan-lahan mereka memutar badannya dan menghampiri Kyahi Basaman.

Kala itu pagihari telah tiba. Kyahi Basaman hendak segera meneruskan perjalanan pulang ke Gunung Lawu dengan membaw a Sitaresmi. Arahnya tepat ketimur. Sedang Aruji membaw a Lingga Wisnu keselatan. Setelah tiada berayah bunda lagi, Lingga Wisnu menganggap Kyahi Basaman seperti kakeknya sendiri. Itulah sebabnya perpisahan pada pagi hari itu sangat mengharukan hatinya, sehingga air matanya bercucuran. Sebelum berangkat, Kyahi Basaman mencoba membesarkan hati Lingga Wisnu. Katanya :

"Lingga ! Aku percaya, penyakitmu akan sembuh. Apabila penyakitmu sudah sembuh kembali pastilah kakakmu Aruji membaw amu pulang kembali ke Gunung Lawu. Angger, hanya beberapa bulan saja kita berpisah. Karena itu tak perlu engkau bersedih hati."

Lingga Wisnu belum dapat menggerakkan anggauta badannya. Ia hanya mengangguk. Namun air matanya mengucur makin deras. Tiba-tiba saja Sitaresmi kembali keperahunya. Lalu balik kembali dengan membaw a saputangan bersulam sekuntum bunga melati. Saputangan itu dimasukkan ke dalam baju Lingga Wisnu. Lalu menghampiri Kyahi Basaman, siap untuk berangkat.

Tergerak hati Kyahi Basaman menyaksikan sepak terjang Sitaresmi. Pikirnya: 'Bocah ini begini cantik. Kelak apabila sudah dewasa, pastilah akan tumbuh menjadi seorang gadis yang elok luar biasa. Apabila Lingga Wisnu dapat disembuhkan, aku pasti tidak akan mengijinkan pertemuannya dengan gadis ini. Sebab apabila kedua- duanya sampai saling jatuh cinta, bukankah Lingga Wisnu akan dapat terseret memasuki aliran sesat?

Demikianlah dengan pandang mata yang berat, Lingga Wisnu menyaksikan Kyahi Basaman membawa pergi Sitaresmi. Tiada hentinya dara c ilik itu menoleh dan melambaikan tangan sampai tubuhnya hilang teraling gerombol pohon-pohon yang lebat.

Pada saat itu, terasa didalam hati Lingga Wisnu, bahwa dirinya hidup sebatang kara. Alangkah sunyi dan hampa rasanya. Oleh rasa itu kembali ia menangis sedih.

"Lingga Wisnu. Berapa umurmu sekarang?" tanya Aruji tiba-tiba dengan mengkerutkan kening.

"Mungkin duabelas tahun," sahut Lingga Wisnu. "Bagus, seorang yang sudah berumur dua belas tahun

tiada boleh dibilang anak kecil lagi. Masakan engkau menangis demikian rupa hanya disebabkan suatu perpisahan saja? Apa engkau tidak malu?" seru Aruji dengan sungguh-sungguh. "Dahulu sewaktu aku berumur duabelas tahun, entah sudah berapa ratus kali aku kena hajar orang. Akan tetapi selama itu setetespun tak pernah aku mengeluarkan air mata. Seorang laki-laki sejati, hanya mengalirkan darah, tidak air mata. Jika engkau terus menangis lagi begini manja, aku akan segera menghajarmu."

Pandang wajah Aruji nampak bersungguh hati, hingga kelihatan bengis. Hati Lingga Wisnu merasa gentar juga. pikirnya diam-diam: 'Huh, baru saja eyang berangkat, engkau sudah berlagak-lagak kepadaku. Apalagi dikemudian hari. Entah penderitaan bagaimana lagi yang akan kut anggung. ' Meskipun hatinya gentar dan takut, akan tetapi tak sudi ia mengalah. Sahutnya :

"Aku menangis sebab berpisah dengan eyangku. Tetapi kalau aku dipukul orang, tidak bakal aku menangis. Kau hendak memukul aku, hayo pukullah aku. Hari ini boleh engkau memukul aku. Akan tetapi satu kali engkau memukulku, dikemudian hari aku akan memukulmu kembali sepuluh kali ..."

Aruji tercengang. Sejenak kemudian tertaw a terbahak- bahak dengan mata berseri, serunya penuh syukur :

"Adikku yang baik! Beginilah engkau baru dapat disebut seorang laki-laki sejati. Engkau begini hebat, terus terang saja aku tak berani memukulmu."

"Kau tahu aku tak dapat bergerak sama sekali. Kenapa kau bilang aku hebat? Hayo pukullah aku!" seru Lingga Wisnu dengan kalap.

"Jika sekarang aku memukulmu, aku takut akan pembalasanmu dikemudian hari. Sebab dengan berbekal ilmu sakti eyangmu tadi, bagaimana aku sanggup melawanmu?" sahut Aruji dengan tertaw a.

Mendengar dan melihat Aruji terus tertaw a, mau tak mau Lingga Wisnu terpaksa turut tertaw a geli juga.

Sekarang tahulah dia, meskipun kakak ini berwajah bengis, tetapi sesungguhnya hatinya baik sekali. Ia nampak bengis karena mukanya penuh berewok tebal.

Karena pertolongan orang-orang kampung, Aruji memperoleh seekor kuda. Dengan menunggang kuda ia membaw a Lingga Wisnu mengarah keselatan. Siang dan malam Aruji meneruskan perjalanannya. Hampir-hampir boleh dikatakan tidak mengenal istirahat.

Kurang lebih delapan tahun lamanya, Lingga Wisnu mengikuti orang tuanya berkuda dari tempat ketempat. Walaupun selalu diancam bahaya, hatinya selalu tegar karena berada di tengah keluarga. Sekarang, benar masih hidup, tetapi ia tak dapat menggerakkan anggauta tubuhnya. Lagi pula dibawa oleh seseorang yang baru saja dikenalnya. Tak mengherankan, hatinya terasa menjadi hampa dan sedih luar biasa. Sebenarnya ingin ia menangis, akan tetapi takut kena marah Aruji. Setiap hari, diwaktu matahari berada dititik tengah, racun Pacar keling yang berada ditubuhnya mengamuk hebat. Dan diwaktu kumat, rasa deritanya luar biasa. Ia harus mem- pertahankan diri dan mengkuatkan hatinya kurang lebih setengah jam lamanya. Untuk mengenyahkan, rasa sakit ia selalu menggigit bibir. Setelah setengah jam berkutat mati-matian, sedikit demi sedikit rasa sakit itu berkurang. Sekarang ia telah melepaskan gigitannya. Akan tetapi bibirnya sudah terlanjur matang biru. Tak setahunya, serangan racun itu makin lama semakin sering dirasakan. Malahan tidak hanya selama setengah jam. Kadang- kadang sampai hampir mencapai satu jam.

Sepuluh hari kemudian, sampailah Aruji di kota Magelang. Dikota ini ia menjual kudanya yang sudah kelelahan. Kemudian menyewa sebuah kereta besar, yang lebih kokoh dan sentausa. Beberapa hari lagi sampailah mereka dikaki gunung Merapi.

Aruji cukup mengenal tabiat pamannya yang sangat aneh. Pamannya adalah seorang tabib sakti yang tidak senang apabila diketahui tempat tinggalnya. Itulah sebabnya, setelah sampai di kaki gunung Merapi segera ia membayar sewa kereta. Kemudian memanggul Lingga Wisnu. Dan dengan langkah lebar, ia melanjutkan perjalanan.

Pamannya Sarapada bermukim di sebuah lembah. Dia menyebut lembah itu dengan nama Mrepat Kepanasan.

Dengan demikian ia mengumpamakan dirinya sebagai dewa yang tinggal di Kahyangan Mrepat Kepanasan, seperti diketahui, dalam cerita wayang, Mrepat Kepanasan adalah lapangan perang dewa-dewa Suralaya. Mrepat Kepanasan berada di belakang bukit yang berada ditimur. Jauhnya kira-kira duapuluh kilometer. Aruji mengira bahwa sebelum menjelang malam hari, ia sudah tiba dilembah Mrepat Kepanasan. Tak pernah terlintas dalam benaknya, bahwa luka yang dideritanya sesungguhnya menjadi rintangan yang amat menentukan.

Diluar kemauannya sendiri, mendadak langkahnya makin lama semakin menjadi perlahan. Seluruh badannya merasa linu, napasnya tersengal-sengal. Mengapa jadi begini? pikirnya. Lingga Wisnu walaupun masih berumur duabelas tahun, akan tetapi kaya dalam pengalaman. Segera ia mengetahui apa yang menyebabkan langkah Aruji makin lama semakin perlahan. Dengan lemas ia berkata :

"Abang! Tak apa engkau berjalan perlahan. Apa perlu engkau berkutat untuk berjalan cepat? Bukankah dengan demikian dirimu akan cepat lelah pula?"

Aruji ternyata seorang pemuda yang mudah sekali tersinggung kehormatannya. Ia menjadi gopoh. Serunya mengandung gusar : "Sehari aku sanggup berjalan sejauh duaratus kilometer. Dan sedikitpun tak pernah aku merasa letih. Masakan karena cuma kena dua kali pukulan pendeta bangsat itu, bisa membuat langkahku makin lama semakin pendek?"

Oleh rasa penasarannya ia mencoba mempercepat langkahnya, dengan mengerahkan seluruh tenaga penuh-penuh. Akan tetapi sebenarnya hal itu merupakan pant angan besar bagi seseorang yang mendapat luka dalam. Ia t idak boleh menjadi gopoh atau marah. Apalagi sampai mengerahkan tenaga secara berlebih lebihan. Apabila hal itu sampai terjadi, maka luka dalam yang dideritanya akan menjadi lebih parah lagi.

Tak mengherankan, baru saja ia melangkah seratus meter, seluruh sendi-sendi tulangnya terasa seakan-akan mau lepas. Namun masih saja ia tak sudi menyerah. Tak sudi pula ia beristirahat dahulu. Selangkah demi selang- kah ia memaksa diri untuk maju terus.

Dengan demikian perjalananya menjadi lambat sekali. Cuaca sudah mulai gelap. Akan tetapi belum juga ia mencapai setengah perjalanan. Sedangkan jalan pegunungan yang berada didepannya, nampak melingkar-lingkar penuh dengan batu tajam. Hal itu membuat hati Aruji semakin gugup. Sekali lagi ia memaksa dan memaksa untuk berjalan secepatnya. Apabila malam hari tiba, sampailah ia ditepi sebuah rimba.

Segera ia memasukinya dengan tak ragu-ragu lagi. la meletakkan Lingga Wisnu ketanah dengan hati-hati. Dan barulah ia beristirahat, untuk meluruskan napasnya. Sambil mengunyah bekal makanan, ia segera memberi keterangan kepada Lingga Wisnu bahwa seorang yang menyandang sebagai pendeta telah memukulnya dua kali berturut-turut. Yang pertama pada dadanya, yang kedua menghantam punggungnya. Tatkala bertempur, ia tidak memikirkan akibat pukulan itu. Ia menganggap sebagai suatu pukulan yang lumrah. Tak tahunya kini benar- benar menyita tenaganya.

Setelah beristirahat kira-kira satu jam lamanya, Aruji bermaksud hendak melanjutkan perjalanan. Akan tetapi Lingga Wisnu segera menyanggahnya.  Ia menyarankan agar bermalam saja dalam rimba itu. Esok pagi setelah matahari terbit, barulah melanjutkan perjalanan.

Aruji mempertimbangkan saran Lingga Wisnu. Benar.

Meskipun malam ini aku dapat tiba di lembah Mrepat Kepanasan, akan tetapi tabiat paman terlalu aneh. Jangan-jangan karena gusar, ia lalu memutuskan tidak mau menolong. Apabila dia sudah menolak, bukankah persoalan akan menjadi runyam? Dan memperoleh pikiran demikian, ia menerima saran Lingga Wisnu. Demikianlah mereka saling bersandar pada sebuah pohon dan tertidur dengan aman dan tenteram.

Kira-kira tengah malam, tiba-tiba penyakit Lingga Wisnu kumat menggigil tiada hentinya. Ia khaw atir akan membuat kaget Aruji, maka ia mempertahankan diri dengan membungkam mulut sambil menggigit bibir agar tidak sampai mengeluarkan suara. Pada saat-saat itulah dari jauh terdengar beradunya senjata tajam. Kemudian teriak suara beberapa orang.

"Hayo! Mau lari kemana kau?"

"Cegat sebelah timur! Kurung dia didalam rimba itu."

"Jaga dia dan jangan beri kesempatan melarikan diri!"

Hampir berbareng dengan hilangnya kumandang suara itu, terdengarlah langkah seseorang yang cepat sekali. Kemudian beberapa orang memasuki rimba. Oleh suara berisik itu Aruji terjaga. Segera ia menghunus goloknya. Dengan sebelah tangan membopong Lingga Wisnu, ia bersiaga bertempur.

"Abang! Agaknya bukan kita yang diarah," bisik Lingga Wisnu.

Aruji mengangguk. Akan tetapi didalam hati ia sudah mengambil keputusan hendak melindungi jiw a Lingga Wisnu meskipun dengan mempertaruhkan nyawa sendiri. Hanya saja ia dalam keadaan luka parah. Tiba-tiba terasalah bahwa ilmu ke pandaiannya sudah punah semua. Maka ia menjadi gugup dan khaw atir.

Dengan cepat ia membawa Lingga Wisnu bersembunyi dibelakang pohon besar. Dengan mata penuh kecemasan, ia mengintip segala yang bergerak didepannya. Dan terlihatlah berkelebatnya tujuh atau delapan sosok bayangan, sedang mengkerubut orang yang mengenak jubah abu-abu. Dalam cuaca gelap, wajah mereka semua tidak nampak dengan jelas. Dengan demikian, baik Lingga Wisnu maupun Aruji, tidak segera dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya. Yang mereka ketahui dengan jelas adalah orang yang berada di tengah-tengah mereka. Tanpa bersenjata orang itu mempertahankan diri dari pengeroyokan mereka. Kedua tangannya bergerak cepat luar biasa, sehingga para pengeroyoknya tidak berani bertindak sembarangan.

Tak lama kemudian, pertarungan mereka makin lama semakin mendekati pohon tempat bersembunyi Aruji dan Lingga Wisnu. Kebetulan sekali pada saat itu cahaya bulan menembus mega-mega putih. Sinarnya yang cerah memasuki celah-celah mahkota daun, sehingga Aruji dan Lingga Wisnu kini dapat melihat dengan jelas seperti penglihatan mereka yang pertama. Orang yang kena keroyok itu menyandang sebagai pendeta. Ia berjubah abu-abu. Peraw akannya tinggi kurus, kira-kira berusia limapuluh tahunan. Sedangkan para pengeroyoknya terdiri dari bermacam-macam golongan. Ada yang menyandang pendeta, ada pula yang mengenakan pakaian singsat, dan ada pula yang mengenakan pakaian

- Malahan terdapat dua orang wanita.

Sesudah memperhatikan pertarungan sengit itu, Aruji nampak terkejut. Segera ia mengetahui, bahwa para pengeroyok ternyata memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, yang berada diatasnya. Dua orang yang menyandang sebagai pendeta, menggunakan senjata tongkat dan golok. Dua orang lainnya bersenjata seutas rantai panjang dan penggada. Dua orang ini bergulingan diatas tanah. Mungkin sekali mereka hendak menyerang kaki orang berjubah abu-abu itu. Hebat gerak-gerik mereka. Semua pukulan mereka membaw a angin keras yang menggoncangkan daun-daun kering sehingga rontok berguguran.

Salah seorang pengeroyok yang bersenjata Pedang, gesit luar biasa. Kecuali cepat, gerakannya aneh pula. Kadang-kadang ia melesat ke kanan, kadang-kadang ke kiri. Pedangnya berke-redep di antara cahaya bulan. Sedang kedua w anita yang bersenjata pedang pula, berperawakan langsing. Ilmu pedangnya ternyata sangat ringan dan gesit. Dalam pertarungan semakin sengit, tiba-tiba salah seorang wanita itu memalingkan kepalanya. Wajahnya kena sinar cahaya bulan nan terang-benderang. Dan melihat wajah wanita itu, hampir saja Lingga Wisnu memanggil :

"Bibi Damayanti!"

Memang, wanita itu adalah Damayanti, puteri Prangwedhani. Dialah seorang dari aliran Parwati yang pernah datang kerumah perguruan Kyahi Basaman.

Mula-mula tatkala melihat tujuh-delapan orang mengeroyok seorang yang menyandang jubah abu-abu, Lingga Wisnu diam-diam mengutuk didalam hati. Inilah suatu pertarungan yang tidak adil. Maka ia berdoa, mudah-mudahan orang berjubah abu-abu itu dapat membobolkan kepungan mereka dan segera melarikan diri. Akan tetapi setelah melihat bahwa salah seorang pengeroyoknya adalah Damayanti, ia jadi berpikir lain.

Damayanti ikut pula mendaki Gunung Lawu dan datang kerumah Perguruan Kyahi Basaman karena hendak memperoleh keterangan dimana tongkat mustika berada. Walaupun demikian ia berkesan baik terhadap pendekar wanita itu. Itulah sebabnya, kini ia berada dipihaknya.

Dalam pada itu, Aruji juga berpenasaran, melihat suatu perkelahian yang tidak adil itu. Perlahan-lahan ia menggerendeng : "Hmm, delapan orang mengeroyok seorang. Benar- benar memalukan. Entah siapa mereka ini."

Lingga Wisnu mendengar gerendeng Aruji. Segera ia membisiki :

"Dua wanita itu adalah golongan Parw ati. Dan dua pendeta itu, pastilah orang-orang Argapura." Setelah mengamat-amati sebentar, ia berkata lagi: "Dan orang yang berpedang itu, mungkin sekali pendekar Sekar Ginabung. Lihatlah, betapa keji tipu-tipu serangannya. Akan tetapi tiga orang lainnya entahlah. Mereka entah dari golongan mana ..."

"Apakah mereka bukan orang-orang Madura?" ujar Aruji.

"Bukan," sahut Lingga Wisnu dengan menggelengkan kepala. "Orang-orang Madura biasanya senang menggunakan belati. Meskipun sebelah tangannya memegang senjata panjang, tapi tak pernah ia meninggalkan belatinya."

Mendengar alasan Lingga Wisnu yang sangat nalar itu, diam-diam Aruji kagum akan kepandaiannya. Pikirnya didalam hati: 'Anak macan, mesti melahirkan macan pula. Dia cucu Kyahi Basaman. Tidak mengherankan bahwa pengetahuannya tak mengecew akan.'

Akan tetapi sebenarnya pengetahuan Lingga Wisnu bukan diperoleh dari rumah perguruan sang kakek. Itulah berkat pengalamannya selama delapan tahun dibawa merantau ayah-bundanya dari tempat ketempat. Dan selama delapan tahun itu, entah sudah berapa ratus kali ia dibawa bertempur dan secara wajar ia faham serta mengenal baik segala tipu-tipu serangan musuh-musuh ayah bundanya. Itulah sebabnya pula dengan yakin ia memberi kisikan kepada Aruji, bahwa tiga orang yang bersenjata rantai serta penggada bukanlah orang-orang Madura.

Mereka bertempur belasan jurus lagi. Tiba-tiba kawan Damayanti menjadi gelisah. Maklumlah sekian lamanya mereka berdelapan mengeroyok seorang lawan, akan tetapi belum juga berhasil. Bahkan tenaga pukulan orang berjubah abu-abu itu makin lama makin dahsyat. perubahannya sukar sekali diduga. Kadang-kadang cepat, telapak tangannya seakan-akan tak kelihatan. Sebaliknya apabila bergerak lambat, mereka semua merasakan seperti tertindih sebuah batu sebesar gubuk.

Sejenak kemudian terdengarlah salah seorang berseru:

"Serang saja dengan senjata bidik!"

Dua orang laki-laki lantas keluar gelanggang. Pada saat itu, nampak berkeredepnya berpuluh senjata bidik menghantam orang berjubah abu-abu itu. Menghadapi serangan ini orang berjubah abu-abu itu nampaknya kewalahan juga. Sedangkan orang yang bersenjata pedang lantas membentak :

"Mayang-seta! Kami bukan bermaksud hendak mengambil jiw amu. Mengapa engkau berkelahi mati matian? Asal saja engkau sudi menyerahkan anak perempuan yang kau bawa dua tahun lalu, bernama Sudarawerti, segera kami akan pergi. Bukankah urusan lantas saja menjadi beres?"

Mendengar orang itu menyebut nama Mayang-seta, Aruji kaget. Bisiknya perlahan : "Oh, jadi dialah paman Mayang-seta?"

Lingga Wisnu mendengar bisik Aruji. Tetapi ia sibuk dengan pikirnya sendiri. Itulah disebabkan orang menyerukan nama Sudarawerti. Kalau begitu, Sudan werti masih hidup. Sudarawerti adalah kakak perempuannya, yang dahulu masih nampak berkelahi mati-matian mempertahankan diri. Jadi dia masih hidup! seru Lingga Wisnu di dalam hati. Pada saat itu berbagai pikiran menusuk benaknya.

Pikirnya lagi di dalam hati:

'Benar. Waktu itu aku melihat seseorang mengenakan jubah abu-abu. Apakah dia? Abang Aruji ini menyebut namanya dengan Mayangseta. Agaknya dia kenal. Apakah Mayang seta juga salah seorang anggauta Ngesti Tunggal?'

Segera terdengar Mayangseta menjawab dengan suara lantang :

"Keluarga Udayana yang kalian ubar-ubar semenjak delapan tahun yang lalu, telah mati semua. Mengapa engkau menyebut-nyebut seorang yang bernama Sudarawerti? Siapa dia?"

"Akh, jangan engkau berlagak pilon!" bentak orang itu. "Bukankah perempuan yang kau bawa bernama Sudarawerti? Dialah anak satu-satunya Udayana yang masih hidup."

Mayang seta tertaw a terbahak-bahak. Serunya dengan suara tetap lantang:

"Benar-benar kalian ini sudah kalap. Aku tahu, aku tahu. Kalian menghendaki jiw a anak perempuan Udayana, bukankah kalian berharap dapat mengompes mulutnya dimana tongkat mustika itu berada? Bah! Kalian yang menamakan diri orang-orang suci, sebenarnya berhati iblis!"

Mendengar orang-orang itu mengungkat ungkat nama ayahnya, dan menyebut-nyebut nama saudara perempuannya, hati Lingga Wisnu jadi berduka. Ia belum tahu pasti bagaimana kedudukan orang berjubah abu- abu itu yang menyebut dirinya Mayangseta. Akan tetapi, hatinya tiba-tiba berpihak kepadanya. Katanya didalam hati:

'Dahulu aku melihat dia muncul didekat jembatan maut. Menilik pembicaraan para pengeroyoknya ini, agaknya dia membawa ayunda Sudarawerti. Kalau ayunda berada ditangannya, agaknya lebih terjamin keselamatan jiwanya.'

Tanya-jawab itu tidak membuat mereka berhenti berkelahi. Dengan tetap gesit, Mayangseta melayani mereka. Gerakan tangannya tidak pernah ayal. Lawannya yang bersenjata pedang itu, sengaja mengajak berbicara dengan maksud memecah perhatiannya. Tak terduga, ilmu kepandaian Mayangseta memang sangat tinggi, kecerdasannya juga melebihi orang lain. Kalau hanya karena t ipu-tipu semacam itu, betapa bisa menjebaknya. Hanya saja para pengeroyoknya itu adalah jago-jago terkemuka dari berbagai aliran. Beberapa kali ia berusaha menerjang keluar, akan tetapi masih saja gagal.

Tiba-tiba dua orang yang berada diluar gelanggang bidik berteriak kaget dengan berbareng:

"Aduh, celaka! Senjata bidik habis!" Mendengar seruan mereka, keenam rekan lainnya lantas menelungkupkan badan serata tanah. Dan pada detik itu, lima sinar berkeredepan menyambar diudara. Itulah lima pisau terbang yang dengan kecepatan luar biasa membikik Mayangseta. Kiranya seruan senjata bidik habis merupakan kata-kata sandi mereka. Itulah sebabnya mereka lantas saja mendekam serata tanah begitu kedua temannya nenyerukan tanda sandi.

Kelima pisau terbang menyambar dengan cepatnya.

Sasarannya membidik menyambar dada Mayangset a.

Dalam keadaan biasa, asal Mayangseta membungkukkan badannya, mendoyongkan badan kebelakang, pisau-pisau itu akan dapat dihindarinya. Akan tetapi dia harus riemperhitungkan keenam lawannya yang berada diatas tanah. Mereka semua menyerang berbareng mengarah kaki. Maka tak dapat ia bergerak dengan leluasa.

Hati Lingga Wisnu cemas bukan kepalang. Tiba-tiba ia melihat Mayangseta melompat tinggi diudara dan lima pisau terbang yang menyambar padanya lewat dibaw ah kaki. Dengan demikian ia dapat menghindari ancaman maut. Akan tetapi pada saat itu tongkat dan golok kedua pendeta dari Argapura menyerang dengan berbareng. Juga pedang pendekar Sekar Ginabung sudah menikam kedua kakinya.

Dalam keadaan terapung diudara, terpaksalah Mayangseta mengeluarkan gerak tipu untung-untungan. Telapak tangannya lantas menghantam kepala seorang pendeta Argapura dengan tepat sekali. Kemudian tangan kanannya menyambar golok. Setelah dapat merampas senjata itu, ia menangkis tongkat. Dan dengan meminjam tenaga pentalan ia melesat manjauhi.

Pendeta Argapura yang kena terhantam kepalanya mati seketika itu juga. Tentu saja kawan-kawannya yang lain berteriak penuh kegusaran. Terus saja mereka melesat merubung dengan berbareng. Mendadak pada saat itu nampak langkah

Mayangseta tidak wajar lagi. Ia seperti kena terkait sesuatu. Hairpir-hampir ia terpeleset jatuh. Karena itu ketujuh lawannya kembali dapat mengepungnya rapat- rapat.

Yang paling kalap ialah pendekar dari Argapura. Ia bertempur bagaikan kerbau edan. Senjatanya menyamber tak hentinya sambil berteriak teriak.

"Mayangseta! Mayangseta! Engkau berani membunuh adikku. Karena itu malam ini aku hendak mengadu jiw a denganmu."

Dalam pada itu berkali-kali pendekar Sekar Ginabung berteriak :

"Kakinya kena tikaman pedangku. Kawan-kaw an, pedangku ini beracun. Sekejab lagi racun itu tentu menjalar keseluruh tubuhnya. Dan dia akan mampus terjengkang."

Benar saja. Tidak lama kemudian langkah Mayangseta nampak sempoyongan. Pukulannya lantas menjadi kacau. Terdengar Aruji berteriak tertahan :

"Celaka! Paman Mayangseta adalah tokoh penting dalam Ngesti Tunggal. Bagaimana aku dapat menolongnya?" Lingga Wisnu tahu, bahwa Aruji berhati mulia. Meskipun dirinya sendiri terluka parah, namun nampaknya ia hendak menerjang keluar untuk menolong Mayangseta. Apabila hal ini   sampai terjadi, kecuali jiw anya sendiri bakal melayang guna faedahnyapun tak ada.

Tiba-tiba pikiran bocah ini tergerak. Katanya cepat :

"Abang! Engkau hendak menolong paman Mayangseta?"

"Benar. Dia harus ditolong. Lihatlah. Dia kena pedang beracun. Sebentar lagi dia bakal .. akh aku ... sendiri, rasanya t idak mampu menggerakkan tanganku."

"Legakan hatimu. Aku mempunyai akal....." ujar Lingga Wisnu.

"Begini, maukah engkau kuajar salah satu ilmu ajaran aliran kami? Ilmu itu kuperoleh dahulu dari eyang. Gunanya untuk memulihkan tenaga yang hilang karena luka. Tenagamu akan menjadi berlipat ganda. Akan tetapi setelah itu keadaan tubuhmu akan menjadi rusak. Itulah sebabnya eyang melarang jangan sekali-kali menggunakan ilmu tersebut. Bagaimana? Kau mau menggunakan ilmu itu atau tidak?"

Tadi Aruji mengagumi kepandaian Lingga karena dapat mengenal berbagai tipu muslihat dalam suatu pertempuran cepat. Ia percaya, bahwa semuanya itu berkat ilmu warisan Kyahi Basaman. Sekarang iapun yakin, bahwa ilmu kepandaian yang dikatakan itu pastilah bukan ilmu isapan jempol belaka. Lingga Wisnu menerangkan, bahwa setelah menggunakan ilmu tersebut badannya akan menjadi rusak. Pikirnya, tak apalah demi menolong jiw a paman Mayangseta. Bukankah paman Mayangseta jauh lebih berharga daripada aku? Memperoleh pikiran demikian, dengan girang ia menyahut :

"Akh, adikku yang baik. Katakanlah dengan cepat. Menolong orang paling perlu. Sekalipun badan sendiri bakal rusak. "

"Kalau begitu carilah sepotong batu yang berujung tajam!" kata Lingga Wisnu.

Segera Aruji meraba-raba tanah dan memungut sebuah batu sekenanya saja.

"Coba pegang. Apakah batu ini cukup?" tanyanya.

Lingga Wisnu meraba-raba bentuk batu itu. Kemudian menyahut :

"Dapat. Nah, sekarang kau tutuklah kedua pinggangmu sendiri dengan ujung batu itu. Letak nya diatas kedua paha."

"Apakah disini?" tanpa berpikir lagi Aruji minta keterangan sambil menunjuk paha bagian atas.

"Turun lagi sedikit," ujar Lingga Wisnu. "Nah, disitulah. Kekiri sedikit! Bagus. Nah, sekarang tutuklah. Satu, dua, tiga. Yang keras!"

Aruji bukanlah seorang bodoh. Dia sudah berumur duapuluh tahun. Selama itu entah sudah berapa kali ia memperoleh pengalaman dalam satu pertempuran. Sedikit banyak ia tahu juga ilmu urat. Didalam hati ia menyangsikan kata-kata Lingga Wisnu. Seseorang yang kena tutuk urat nadi diatas pahanya, akan bisa melumpuhkan kedua kakinya. Akan tetapi terlalu percaya kepada Lingga Wisnu. Pikirnya waktu itu: Ilmu sakti Kyahi Basaman tidak dapat dipersamakan dengan ilmu sakti lainnya. Pastilah ilmu menutuk urat di atas paha ini merupakan salah satu ilmu simpanan aliran Aristi yang hebat. Dan tanpa ragu lagi ia lantas menghantam urat diatas pahanya sendiri dengan sekuat tenaga.

Duk!

Tetapi ia kaget bukan kepalang. Begitu pahanya terhantam batu, seketika itu juga kedua kakinya lantas lumpuh. Tepat pada saat itu ia melihat Mayangseta melompat sepuluh langkah jauhnya, akan tetapi segera terbanting roboh ke atas tanah. Keruan saja hati Aruji gugup bukan kepalang. Segera ia bermaksud hendak menerjang memberi pertolongan, akan tetapi kedua kakinya tak dapat berkutik. Bertanya dengan cemas kepada Lingga Wisnu :

"Hai! Kenapa jadi begini?"

Diam-diam Lingga Wisnu tertaw a geli didalam hati.

Pikirnya:

'Aku telah menipumu, abang! Tentu saja kau tak dapat bergerak, karena urat nadimu kini tergeser dari tempatnya.' Akan tetapi ia berpura-pura kaget dan heran. Menyahut tak jelas :

"Hai! Mungkin sekali engkau salah menutuk-nya. Tenaga yang kau gunakan kurang tepat. Baiklah jangan kuatir, tunggu saja barang setengah jam, pastilah engkau bisa berjalan kembali."

Tentu saja Aruji mendongkol bukan main. Ia kena diakali dan ditipu bocah cilik dengan mata membelalak. Tetapi ia tahu akan maksud baik Lingga Wisnu. Dalam khaw atir dan gugup, terbintik rasa geli juga.

Dalam pada itu Mayangseta menggeletak di atas tanah. Racun yang berada dalam tubuhnya mulai bekerja. Kemudian ia tak bergerak. Tetapi ketujuh lawannya belum juga berani mendekati.

"Saudara Habib, jangan maju dulu! Biar rekan Mukmin menikamnya dari jauh." kata pendekar Sekar Ginabung yang menggenggam pedang panjang.

Orang yang disebut Mukmin lantas mengayunkan tangannya. Dan pundak kiri serta paha kanan Mayang seta tertancap dua pisau tajam. Kena tikaman pisau itu tubuh Mayangseta tidak bergerak. Itulah suatu tanda bahwa ia sudah mati kena racun.

"Sayang, sayang. Dia terlanjur mati." pendekar Sekar Ginabung mengeluh. "Sekarang kita tidak tahu dimana ia sembunyikan Sudarawerti. Eh, nanti dulu. Biasanya ia selalu disertai bidalnya yang bernama Kumambang. Hayolah kita cari orang itu. Pasti dia berada tak jauh dari sin i." Akan tetapi kawan-kaw annya menghampiri mayat Mayangseta. Ia merasa tertarik pula dan ikut menghampiri.

Baik Lingga Wisnu maupun Aruji, sedih menyaksikan kematian Mayangseta. Mendadak saja terdengarlah suara barang jatuh lima kali. Dan pada saat itu lima orang yang merubung mayat Mayangseta terpental dan terbanting keatas tanah. Setelah itu dengan gagah perkasa Mayang seta bangkit berdiri dengan pundak dan paha masih tertancap dua pisau tajam. Kiranya, kakinya tadi memang kena tikaman pedang beracun. Ia sadar bahwa tenaganya tidak akan dapat merpertahankan diri. Maka ia pura-pura mati untuk memancing ketujuh lawannya.

Begitu mereka mendekat, ia lantas melontarkan pukulan sakti yang dipergunakan apabila menghadapi lawan banyak. Dahsyatnya tak dapat diperkirakan. Maka tak mengherankan lawan-lawannya lantas saja roboh dengan memuntahkan darah. Hanya dua orang saja yang ketinggalan. Itulah Damayanti dan kaw annya.

Kawan Damayanti bernama Linggarsih. Dialah kakak tiri Damayanti. Dalam kagetnya, mereka berdua melompat mundur. Tatkala menoleh, mereka melihat kelima kawannya menyemburkan darah segar.

Malahan dua diantara mereka yang berkepandaian agak rendah roboh menggeletak di tanah. Sebaliknya, karena mengeluarkan tenaga yang berlebihan, Mayangseta nampak terhuyung. Berdirinya agak tegak lagi.

"Nona Damayanti dan Nona Linggarsih! Tikam saja dengan pedang kalian!" seru pendekar Sekar Ginabung yang menderita luka parah.

Sembilan orang yang bergebrak itu, yang satu mati, ialah seorang pendekar dari Argapura. Kini Mayang seta dan kelima musuhnya juga terluka parah dengan berbareng. Hanya tinggal Damayanti dan Linggarsih yang masih segar bukar. Mendengar seruan pendekar Sekar Ginabung, di dalam hati Linggarsih berkata :

'Masakan aku sendiri tak bisa membunuhnya. Apakah aku harus menunggu perintahmu? Iddih! Lagakmu ...!' Pedangnya lantas bergerak hendak memotong betis Mayangseta. Pada saat itu Mayangseta tak bisa berkutik lagi. Melihat berkelebatnya pedang, ia hanya dapat menghela napas panjang. Di dalam hati ia berkata :

'Karena kalian berdua adalah wanita, maka aku tidak sampai hati memukul dada kalian. Itulah sebabnya kalian berdua selamat tak kurang suatu apa. Eh, sama sekali tak kuduga bahwa kebajikan in i justru mengakibatkan malapetaka sendiri.' Dengan kata hati itu, ia memejamkan mata menunggu nasibnya.

Mendadak saja ia terkejut berbareng heran, tatkala mendengar suara nyaring beradunya dua senjata. Segera ia menjenakkan matanya. Masih sempat ia menyaksikan pedang Damayanti menangkis pedang Linggarsih.

"Adik, kenapa?"

"Ayunda, Mayangseta tidak menghendaki kita berdua mati. Bahkan ia tak mau melukai kita. Karena itu kitapun jangan keterlaluan." sahut Damayanti.

"Aku tidak akan membunuhnya. Aku hanya mau menahannya disini, agar ia menerangkan dimana Sudarawerti kini berada." kata Linggarsih dengan suara tajam.

"Ia terkena tikaman senjata berbisa. Lukanya sudah cukup berat. Lebih baik kita mengobati dulu. Dengan demikian kita bisa mendapat keterangan lebih leluasa lagi." Damayanti memberi saran. Setelah berkata demikian, ia menghampiri pendekar Sekar Ginabung. Berkata kepadanya: "Kakang Lemah Ijo, dia kena tikaman pedang beracunmu. Berilah dia obat pemunahnya. Dengan demikian aku bisa mengharapkan keterangannya lebih leluasa."

Memang pendekar berpedang panjang itu, sesungguhnya Lemah Ijo. Dia termasuk tokoh aliran Sekar Ginabung. Dahulu dengan dua rekannya, Sadat Satir dan Ruji Pinentang, ikut mengejar-ngejar Udayana sekeluarga sampai dilereng Gunung Lawu. Keruan saja Lingga Wisnu kaget mendengar Damayanti menyebut namanya. Badannya tiba-tiba menggigil, karena diamuk rasa dendam. Akan tetapi ia tak dapat berbuat sesuatu. Kecuali badannya tidak dapat bergerak, andaikata dalam keadaan segar bugarpun, belum bisa berbuat sesuatu apa untuk membalaskan dendam ayah bunda dan sekalian saudaranya.

Tatkala itu ia mendengar Lemah Ijo berkata menyahut:

"Ringkus dia dahulu agar tidak bisa melarikan diri. Orang-orang Ngesti Tunggal banyak tipu muslihatnya. Kita harus berjaga-jaga terhadap manusia-manusia iblis."

Lemah Ijo berkata dengan napas tersengal-sengal. Setelah sengal. Setelah berkata demikian, ia menyembur- kan darah segar lagi dari rongga dadanya. Pukulan Esmugunting Mayangseta benar-benar melukai dadanya cukup berat.

Damayanti merenung sejenak menimbang perkataan Lemah Ijo. Kemudian menunduk. Setelah melepaskan ikat pinggangnya, ia menghampiri Mayangseta dan berkata dengan lemah lembut :

"Paman Mayangseta! Maaf, terpaksa aku mengikatmu sebentar." Kedua kaki Mayangseta terasa pegal luar biasa. Ia tahu, apabila tidak segera mendapat obat pemunahnya, sebentar iagi tentulah jiw anya melayang. Pada saat itu ia berpikir: 'Dari pada kena tabasan pedang Linggarsih, lebih baik kena ringkus Damayanti. Kalau mau, ia bisa membunuh Damayanti dengan sekali pukul. Akan tetapi disana masih berdiri seorang yang segar bugar. Ia adalah Linggarsih yang tadi hendak menabas kedua kakinya. Maka apabila ia membunuh Damayanti maka pendekar wanita itupun bakal menabas kakinya juga. Terpaksalah sekarang ia membiarkan dirinya kena ringkus Damayanti dengan tersenyum getir.

Melihat Mayangseta sudah kena ringkus, barulah Lemah Ijo mengeluarkan obat pemanahnya. Dengan napas tersengal-sengal ia memberi tahu Damayanti, bagaimana menggunakan obat tersebut. Mula-mula Damayanti harus mencabut kedua pisau yang menancap pada punggung dan paha Mayangseta. Setelah itu barulah ia membubuhi obat pemunah.

Linggarsih yang selama itu mengawaskan gerak gerik adiknya, segera berseru kepada Mayang seta:

"Mayangseta, lihatlah. Hati adikku penuh cinta kasih. Itulah sebabnya kini jiwamu tertolong. Maka bukankah sudah pada tempatnya apabila engkau membalas budi dengan menerangkan dimana engkau sembunyikan Sudarawerti?"

Sebagai jawaban, Mayangseta tertaw a. Sahutnya : "Linggarsih! Kau benar-benar terlalu   me mandang

rendah padaku. Aku Mayangseta meski terkenal sebagai

anggauta aliran iblis, tetapi aku tidaklah serendah sangkamu. Lihatlah, pendekar Udayana, murid kelima Kyahi Basaman. Dengan rela ia mengorbankan anak isterinya karena ia tidak mau dipaksa orang-orang seperti dirimu untuk memberikan keterangan dimana tongkat mustika berada. Walaupun aku tidak bisa menyamai sifat kesatria Udayana, akan tetapi ingin aku mencontohnya."

Kata-kata Mayangseta membuat darah Lingga Wisnu bergolak hebat. Seketika itu juga rasa simpati kepada Mayangseta menjadi bertambah. Setelah delapan tahun ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa ayahnya dikejar orang dari berbagai aliran. Dan setiap pengejarnya selalu memaki-maki. Sekarang ia mendengar seorang bernama Mayangseta memuji dan mengagumi ayahnya. Keruan saja ia menjadi terharu.

Pada saat itu terdengarlah Linggarsih berkata dengan nada mengejek :

"Hmm Udayana! Apakah ada harganya untuk dibicarakan? Apalagi untuk ditiru. Cih. Ia mati akibat kebodohannya!"

"Ayunda!" potong Damayanti.

"Jangan khawatir adikku," kata Linggarsih dengan mengulum senyum. "Aku tidak akan merembet Panjalu dan sekalian saudara seperguruannya”. Setelah berkata demikian, pedangnya menuding mata kanan Mayangseta. Mengancam:

"Hei iblis! Jika engkau tidak sudi mengaku, pada saat ini juga kedua matamu akan kubutakan. Mula-mula akan kutembus mata kananmu. Kemudian mata kirimu. Setelah itu telingamu akan kupangkas. Mula-mula dari telinga kanan kemudian telinga kiri. Lalu aku akan  memotong hidungmu. Pendek kata aku akan membuat dirimu seperti iblis benar-benar."

Ujung pedang Linggarsih kini sudah berada satu senti didepan mata kanan Mayangseta. Akan tetapi Mayangseta sama sekali tidak nampak gentar. Kedua matanya bahkan dipantangnya lebar-lebar tanpa berkedip sekejappun. Sahutnya dengan suara tawar :

"Sudah lama aku mendengar sepak terjang Prangwedani yang berhati kejam dan bertangan gapah. Engkau adalah salah seorang muridnya. Sudah tentu engkau serupa benar dengan dia. Pada malam in i aku Mayangseta jatuh ditanganmu. Nah coba tunjukkanlah kebesaranmu. Hayo butakan mataku. Tidak akan aku berkedip sedikitpun."

"Bangsat gundul!" maki Linggarsih dengan suara bengis. "Engkau berani mengolok-olok nama ayahku?" setelah berkata demikian, pedangnya didorong dan seketika itu juga mata kanan Mayangseta buta.

Setelah matanya tertusuk ujung pedang, mata kirinya segera terancam pula.

Akan tetapi lagi-lagi Mayangseta tertaw a bergelak. Mata kirinya dibelalakkannya lebar-lebar, memelototi Linggarsih, sehingga gadis itu bergidik bulu kuduknya. Untuk mengatasi rasa ngeri, Linggarsih berkata membentak :

"Engkau toh bukan pengikut Said. Bukan pula budak Mangkubumi. Atau menantu Kyahi Basaman. Apa sebab engkau melindungi Sudarawerti sampai engkau rela mengorbankan jiwamu?" "Aku adalah seorang laki-laki," sahut Mayangseta. "Perbuatan seorang laki-laki sejati, sekalipun aku terangkan kepadamu, engkau tidak bisa memahami. Karena engkau seorang wanita."

Bukan main gagahnya jawaban Mayangseta sehingga membuat gadis itu mendongkol. Betapa tidak, Mayangseta sudah tiada berdaya lagi. Mata kirinya sudah buta pula. Sekalipun demikian mulutnya masih tajam, sehingga masih mampu menghina dan merendahkan dirinya. Maka dengan kalap ia menusukkan ujung pedangnya mengarah mata kiri Mayangseta.

Syukurlah pada saat itu Damayanti menangkis ujung pedangnya, sambil berkata :

"Ayunda, pendekar Ngesti Tunggal in i memang berkepala batu. Andaikata kau bunuhpun tidak ada gunanya."

"Ia memaki ayahku, berhati keji dan bertangan gapah. Karena itu biarlah aku tunjukkan kekejaman dan kegapahan tanganku." sahut Linggarsih dengan suara berkobar-kobar. "Manusia siluman aliran iblis ini, kalau dibiarkan hidup akan merusak peradaban manusia saja. Kalau aku bisa membunuhnya, artinya aku bisa sekedar memberi sedekah kepada angkatan mendatang."

"Tetapi ayunda, meskipun ia anggauta aliran sesat, akan tetapi nyatanya dia seorang laki-laki sejati. Menurut pendapatku, ampunilah jiwanya!" bujuk Damayanti.

"Tetapi rekan kita dari Argapura yang berada disini mati seorang. Dan lainnya menderita luka parah. Lihatlah, paman Lemah Ijo, paman Caraka, paman Mukmin dan paman Gobyok! Mereka semua menderita luka berat. Masakan dengan membutakan kedua matanya, aku berlaku keji terhadapnya?" teriak Linggarsih dengan suara keras.

"Karena itu biarlah aku membutakan mata kirinya lalu kita memaksa untuk mengaku dimana dia sembunyikan Sudarawerti." Setelah berkata demikian secepat kilat pedangnya kembali menusuk mengarah mata kiri Mayangseta.

Namun dengan cepat pula Damayanti menangkis tikaman pedangnya. Katanya membujuk:

"Ayunda, orang ini sudah tak berdaya lagi. Menganiaya secara demikian kalau tersiar dalam masyarakat, nama aliran Parwati akan terce mar."

Linggarsih gusar bukan kepalang, karena kehendaknya selalu dirint angi adiknya. Dengan sepasang alis berdiri tegak ia membentak :

"Minggir! Kau minggir atau tidak? Jangan perdulikan diriku ! "

"Ayunda, kau ..."

"Apa?" potong Linggarsih dengan cepat. "Engkau memanggilku ayunda? Bagus, kalau engkau memanggilku dengan ayunda, maka engkau harus patuh kepada perkataanku. Nah, minggirlah!"

"Ya, ayunda," sahut Damayanti dengan suara merendah.

Pedang Linggarsih bergerak lagi mengarah kemata kiri Mayangseta. Akan tetapi lagi-lagi Damayanti menangkisnya. Karena melihat t ikaman Linggarsih kali ini sangat ganas dan berbahaya, maka Damayanti menangkisnya dengan sungguh-sungguh pula. Ia menggunakan tenaga tujuh bagian. Pada saat itu terdengarlah suara gemerincing. Api meletik dari perbenturan itu. Dan keduanya tergetar mundur dua langkah.

Keruan saja   Linggarsih   gusar   bukan   kepalang.

Bentaknya dengan sengit :

"Damayanti. Kenapa berulangkali engkau melindungi jiw a pendekar iblis ini? Apakah maksudmu sesungguhnya?"

"Aku tidak mempunyai suatu tujuan, aku hanya berharap agar engkau tidak menyiksanya dengan cara demikian." sahut Damayanti. "Bukankah kita mengejarnya semata-mata hendak memperoleh keterangan dimana beradanya Sudaraw erti? Nah,kita tanyakan kepadanya dengan perlahan lahan dan sabar."

"Hem, apa kau kira aku tiada tahu apa yang terkandung didalam pikiranmu?" tiba-tiba Linggarsih mengalihkan pembicaraan secara tak langsung. "Cobalah engkau bertanya kepada dirimu sendiri. Seringkali engkau berhubungan dengan murid-murid Kyahi Basaman yang bernama Raden mas Panjalu. Bukankah sudah terang latar belakangnya? Apa sebab setiap kali ayah mendesak agar engkau mengejar laskar Mangkubumi selalu engkau mengingkari?"

"Ayunda! Ini adalah urusan adikmu sendiri, dalam hal ini tiada sangkut pautnya dengan persoalan yang sedang kita hadapi. Kenapa kau mencampurkan?" kata Damayanti. "Eh, mari kita bicara dengan terus terang saja," sahut Linggarsih dengan cepat. "Dihadapan banyak orang ini, kitapun t idak perlu mencakar borok kita masing-masing. Tetapi perlu kukatakan kepadamu, meskipun engkau berada di tengah-tengah kami, tetapi hatimu berada pula pada gerakan Mangkubumi. Benar atau tidak?"

Seperti diketahui, Prangwedani mengabdikan diri pada Paku Buwana II. Dialah pendekar andalan Patih Pringgalaya, yang bermusuhan dengan Pangeran Mangkubumi. Prangwedani adalah pewaris aliran Parwati. Meskipun dengan Kyahi Basaman satu aliran, akan tetapi nyatanya masing-masing pihak saling bermusuhan dengan tidak terang-terangan. Hal itu disebabkan Kyahi Basaman berpihak pada Pangeran Mangkubumi. Sedang Prangwedani sebagai abdi Paku Buw ana II, secara wajar berpihak kasununan.

Demikianlah karena diejek terang-terangan dihadapan para pendekar berbagai aliran itu, wajah Damayanti menjadi pucat. Katanya sulit :

"Biasanya, biasanya aku menghormatimu sebagai kakak. Kurasa belum pernah aku menyalahi kepadamu. Kenapa engkau sekarang menghinaku dengan cara begini?"

Linggarsih mendengar suara Damayanti agak gemetar.

Ia lantas berkata dengan suara gagah:

"Baiklah. Aku tidak mengusut hal ini berkepanjangan. Sekarang aku minta bukti dirimu. Kau tahu, bukan. Bahwa aliran Ngesti Tunggal membantu perjuangan Mangkubumi. Jika engkau benar-benar berada dipihak kami, nah tolonglah, wakili diriku menusuk mata kiri pendekar iblis itu!" "Ayunda," kata Damayanti dengan suara tegas. "Aku belajar ilmu pedang bukan untuk membunuh orang yang tidak berdaya atau menyiksa yang lemah. Karena itu aku menolak permint aanmu."

Mendengar jawaban Damayanti, Linggarsih tertawa tinggi. Katanya dengan mencemoh :

"Bagus. Didengar sepintas lalu kata-kata bernilai besar yang pantas diucapkan seorang pendekar yang bernama kosong melompong. Maka dengan sangat menyesal aku membeberkan rahasia hatimu sepatah kata demi sepatah kata didepan para orang-orang gagah yang berada disini."

Rupanya tuduhan Linggarsih kepada Damayanti mengandung kebenaran. Pada waktu itu Damayanti seperti terdorong kepojok. Ia nampak tak berani melawan dengan keras. Ia menjawab halus :

"Ayunda, hendaklah kau ingat, bahwa aku dan engkau kecuali satu perguruan, juga sesama saudara. Janganlah engkau terlalu mendesakku."

"Sebenarnya bukan aku yang mendesakmu. Tetapi engkau sendiri yang minta kudesak," ujar Linggarsih dengan tertaw a menang. "Ayah berbareng gurumu memberi perint ah kepada kita berdua agar mencari jejak Sudarawerti, anak Udayana yang kena terbaw a lari oleh iblis itu. Sekarang iblis yang berada didepan matamu itu sudah tidak berdaya, tinggal kita mendengar pengakuan- nya. Akan tetapi mengapa engkau melindungi? Lihatlah dengan matamu yang terang! Lima orang rekan kita kena dilukai dengan berat. Entah jiwanya tertolong atau tidak. Kalau aku hanya membutakan kedua matanya, bukankah aku sudah berlaku murah terhadapnya?" "Tetapi ingat, ayunda! Bukankah dia tadi menyelamatkan jiw a kita berdua? Andaikata dia tadi melepaskan pukulannya terhadap kita berdua pastilah jiw a kita sudah melayang semenjak tadi." Damayanti memperingatkan.

"Hemm ..." dengus Linggarsih. "Sering sekali ayah memuji ilmu pedangmu yang hebat, keji dan gapah. W atakmu dipujinya jujur pula, karena berani terus terang menghadapi segala hal, karena itu ayah bermaksud hendak mengangkat kau sebagai ahliwarisnya. Kenapa sekarang engkau berhati selemah cacing begini?"

Semenjak tadi semua orang yang berada di situ tertegun menyaksikan pertengkaran mereka yang tak keruan. Mereka mencoba menebak-nebak. Apakah latar belakang sesungguhnya? Setelah Linggarsih menyinggung sikap Prangwedani terhadap Damayanti, barulah mereka dapat menduga duga sebagian.

Agaknya Linggarsih dengki dan irihati terhadap Damayanti karena oleh Prangwedani dicalonkan sebagai ahliwaris. Sebagai seorang ahliwaris Prangw edani dikemudian hari Damayanti tidak hanya akan memiliki ilmu kepandaian dan kedudukannya, tapipun harta benda yang tak terhitung jumlahnya. Prangwedani adalah tangan kanan Paku Buwana II disamping Patih Pringgalaya. Kata-katanya seperti undang-undang negara.

Oleh perhitungan ini sekarang Linggarsih bermaksud menggeser kedudukan Damayanti dengan membuka boroknya didepan para pendekar yang berpihak pada Paku Buwana II. Dengan demikian kecuali mencoreng muka Damayanti didepan rekan-rekan seperjuangannya, juga untuk mengangkat diri sebagai seorang pejuang yang bersih dan dahsyat.

Pembaw aan jiw a Lingga Wisnu meletakkan nilai budi diatas segala-ga lanya. Ia mempunyai kesan baik terhadap Damayanti tatkala berada di rumah perguruan. Itulah sebabnya menyaksikan betapa gadis itu kena didesak oleh Linggarsih, hatinya ikut menjadi panas. Ingin sekali ia melompat dan menghantam kepala Linggarsih sepuas-puasnya.

"Damayanti, tiga tahun yang lalu tatkala ayah mengumpulkan semua murid-muridnya, untuk merundingkan siasat memotong perjalanan mundur Pangeran Mangkubumi dari daerah Sukawati, kau tidak menampakkan batang hidungmu. Dimana kau waktu itu berada?" kata Linggarsih dengan suara ditekan.

"Waktu itu aku lagi sakit disuatu tempat, sehingga tidak dapat hadir." jawab Damayanti dengan suara agak merasa takut.

"Hmm," dengus Linggarsih dengan mulut mengulum ejekan. "Ayah memang sangat sayang kepadamu. Sehingga alasanmu tidak direntangnya panjang. Akan tetapi aku mempunyai pendapat lain. Baiklah aku akan membatasi diri t idak mengajukan sebuah pertanyaan lagi kepadamu. Tetapi asal saja engkau sekarang membutakan mata kiri pendeta iblis itu ! "

Damayanti menundukkan kepalanya. Tampaklah ia berada dalam keadaan serba susah. Akhirnya dengan suara perlahan ia berkata :

"Ayunda, benar-benarkan engkau memaksa diriku, untuk melakukan pekerjaan hina ini?" "Engkau mau menusuk atau t idak?" bentak Linggarsih dengan suara kaku.

"Sudahlah begini saja," ujar Damayanti dengan suara mengalah. "Aku berjanji dan bersumpah kepadamu, meskipun ayah hendak mengangkatku sebagai ahliwarisnya, aku t idak akan menerimanya."

"Apa kau bilang? Apa kau bilang? Bagus sekali!" berteriak Linggarsih dengan muka merah padam. Ia nampak makin mendongkol dan gusar bukan main. Meneruskan dengan kata-kata sengit :

"Jadi engkau mengira aku beririhati kepadamu? Heh! Apanya yang kuirikan? Apakah karena engkau diangkat menjadi ahliwaris ayah? Sekalipun aku ini bukan anak kandungnya, akan tetapi bila aku mau dengan sepatah kataku akan bisa menggugurkan kedudukanmu. Hayo, kau mau mencukil mata kiri iblis itu atau tidak?"

Damayanti nampaknya tidak sudi melayani lagi. Ia memutar tubuhnya dengan sekonyong konyong. Terus melarikan diri. Akan tetapi Linggarsih sudah menduga demikian. Cepat ia mencegat dengan pedang dilantangkan didepan dadanya. Katanya pula :

"Aku tadi sudah bilang. Lebih baik kau tusuk mata kiri iblis itu! Kalau engkau menolak, pastilah rahasiamu akan kubeber dengan terus-terang didepan para pendekar gagah ini. Baiklah. Karena engkau terus menerus membangkang, maka terpaksalah aku bertanya kepadamu. Sudah beberapa kali engkau selalu meninggalkan kota dan masuk kedaerah pedalaman. Ternyata engkau mengadakan pertemuan rahasia dengan seorang pemuda gagah-manis dan ganteng. Dan pemuda itu bernama Pramusint a. Bukankah begitu? Semua orang tahu siapakah Pramusinta itu. Dialah budak dalam Mangkubumi. Akh, rupanya selain engkau berhubungan dengan antek-antek Mangkubumi, engkaupun mengadakan hubungan istimewa yang mesra sekali. Bukankah demikian nona manis? Uah, sedap sekali ..."

Mendengar kata-kata Linggarsih, tak dapat lagi Damayanti menyabarkan diri. Terus saja ia mengibaskan pedangnya sambil membentak :

"Minggir!"

Akan tetapi Linggarsih tak mengacuhkan. Dengan ujung pedang menuding kedadanya, ia membentak lagi :

"Damayanti, akh sayang. Semua orang mengira bahwa Damayanti seorang puteri yang suci dan bersih. Tak tahunya setelah berhubungan dengan salah seorang penghianat pengikut Mangkubumi, t iba-tiba mengandung dan melahirkan hubungan diluar perkawinan. Sayang sekali!"

Ucapan Linggarsih itu bagaikan bumi ter-goncang oleh suatu gempa. Tidak hanya Damayanti saja yang terkejut, tetapi semua orang yang mendengar tercekat hatinya. Benarkah tuduhan linggarsih yang keji itu?

0odwo0

Usia Lingga Wisnu belum duabelas tahun penuh. Delapan atau sepuluh tahun ia berada di Jawa Barat. Tidak mengherankan, ia asing dalam persoalan negara. Tetapi andaikata diapun berada di Jawa Tengah, belum tentu dapat mengikuti apa yang terjadi didalam pemerint ahan Susuhunan. Tegasnya, sama sekali ia buta terhadap pertentangan antara Paku Buw ana II dan Patih Pringgalaya d isatu pihak, dengan Pangeran Mangkubumi. Kala itu belum dapat ia menerima tuduhan Linggarsih terhadap Damayanti yang menyatakan bahwa gadis itu seorang penghianat. Seumpama Damayanti benar-benar seorang penghianat, iapun belum dapat mengadili bahwa perbuatannya itu suatu kesalahan besar. Sebaliknya yang terasa didalam hati ialah tuduhan Linggarsih yang kedua, yaitu bahwa Damayanti pernah melahirkan seorang bayi diluar perkawinan. Ia ikut tersakit hati karena Damayanti berkesan baik terhadapnya.

Meskipun belum pernah berbicara dengan Damayanti sepatah katapun juga, akan tetapi tatkala gadis itu naik ke atas gunung Lawu, ia bersikap lunak.

Lingga Wisnu selalu menjungjung tinggi nilai budi- pakerti diatas segala-ga lanya. Hal itu disebabkan pengalaman hidupnya. Selama delapan tahun, terus- menerus ia dikejar bahaya. Didalam keadaan terjepit, serinokali ia memanjatkan doa kepada Tuhan agar menurunkan pertolongan. Maka apabila dalam keadaan demikian ia memperoleh pertolongan dari seseorang, ia sangat berterima kasih sampai ke dasar hatinya. Sementara itu pikirnya didalam hati :

"Benarkah Damayanti berhubungan dengan seorang laki-laki diluar perkawinan dan kemudian sampai melahirkan anak?"

Sudah barang tentu seorang bocah berusia belasan tahun belum mengenal masalah penghidupan laki-laki dan perempuan. Ia hanya bisa me rasakan secara naluriah belaka, bahwa kejadian demikian itu sangat tercela. Akan tetapi apabila mengingat kesan baiknya terhadap Damayanti, ia membantah segala tuduhan Linggarsih didalam hati. Karena tak dapat mengambil suatu sikap, ia jadi bingung sendiri. Akan tetapi sesungguhnya yang menjadi bingung dan heran tidak hanya Lingga Wisnu seorang. Bahkan Mayangseta yang sudah kenyang makan garam, Aruji dan yang lain demikian pula.

Tatkala itu wajah Damayanti nampak pucat. Dengan membungkam mulut ia menerjang kedepan dengan maksud hendak meninggalkan persoalan. Sama sekali tak terduga bahwa ancaman Linggarsih bukan merupakan gertakan belaka. Dengan sungguh-sungguh ia menggerakkan pedangnya menikam lengan kanan Damayanti. Cret! Hebat tikaman itu, sampai menembus ketulang.

Kena tikaman tak terduga itu, Damayanti kehilangan kesabarannya. Tangan kirinya segera meloloskan pedang. Katanya mengancam :

"Ayunda! Jika terlalu mendesak, jangan persalahkan aku sampai berani melawanmu!"

Semenjak tadi Linggarsih sadar akan perbuatannya. Ia sudah terlanjur membuka rahasia adiknya didepan umum. Dan seseorang yang telah kena bongkar rahasianya didepan umum pastilah akan membunuh sipenuduh untuk menghilangkan saksi. Tentu saja pakerti demikian itu diukur dengan cara berpikirnya sendiri. Ia tahu, ilmu kepandaian Damayanti berada diatasnya. Itulah sebabnya selagi Damayanti tidak berjaga-jaga, ia menikam lengan kanannya. Setelah berhasil melukai lengan Damayanti, ia menikam lagi ampat kali berturut- turut dengan tertaw a menang.

Memang, ilmu kepandaian Damayanti menang setingkat dengan Linggarsih. Akan tetapi lengan kanannya telah tertikam. Maka terpaksa ia membela diri dengan tangan kirinya. Menghadapi serangan Linggarsih yang kejam itu, hati Damayanti tercekat. Dengan memusatkan seluruh kepandaiannya segera ia memper tahankan diri dan menyerang. Lantas terjadi dengan cepat sekali, dalam, sekejab mata saja telah berlangsung dua puluh jurus lebih.

Mereka yang menonton, kecuali Lingga Wisnu adalah pendekar-pendekar terkemuka. Diam-diam mereka kagum menyaksikan ilmu pedang Damayanti dan Linggarsih. Pikir mereka dengan berbareng :

'Akh, benar-benar aliran Parwati bukan nama kosong belaka. Pantaslah ilmu pedangnya merupakan mercu suar untuk Jaw a Tengah.'

Sebagai pendekar-pendekar terkemuka, sudah barang tentu mereka tahu belaka, bahaya yang saling mengancam mereka berdua. Akan tetapi mereka semua terluka parah sehingga tak dapat berdaya untuk melerai. Juga merekapun tak dapat membantu salah seorangnya. Dan terpaksalah me reka hanya menyaksikan belaka dengan mata terbelalak.

Kedua saudara seperguruan itu mengenal akan kepandaian masing-masing. Pada saat menyerang dan bertahan mereka bergerak sangat cepat dan gesit. Maka tak mengherankan pertarungan mereka makin lama makin menjadi seru. Sayang, lengan kanan Damayanti terluka dan mengalir darah terus. Makin ia menggerakkan pedangnya, darah makin mengucur deras. Sadar akan kelemahannya itu, ia bermaksud mendesak Linggarsih ke pinggir. Setelah itu ia bermaksud meninggalkan gelanggang secepat mungkin. Akan tetapi karena ia terpaksa menggunakan lengan kirinya, apalagi sudah terluka, kemampuannya menggerakkan pedang tinggal sebagian saja.

Bahwasanya sudah sekian jurus lamanya masih belum tertikam lagi, adalah karena Linggar-sih masih segan terhadapnya. Tak berani ia terlalu mendesak, karena takut adiknya itu masih mempunyai simpanan tipu muslihat yang belum diketahuinya. Dalam usahanya untuk memenangkan pertarungan itu, ia melibat Damayanti terus-menerus agar menjadi letih karena darahnya terus keluar dengan sangat derasnya.

Apabila Damayanti kehilangan darah terlalu banyak, pasti ia akan roboh dengan sendirinya.

Perhitungan itu memang benar belaka. Beberapa saat kemudian langkah kaki Damayanti kelihatan tak tetap lagi. Gerakan pedangnya mulai kacau. Teranglah sudah bahwa ia tak tahan lagi. Menyaksikan hal itu Linggarsih girang bukan kepalang. Dengan penuh semangat ia melancarkan serangan-serangan berangkai. Yang dibidik adalah lengan kanan Damayanti yang berlumuran darah. Karuan saja Damayanti sangat sukar mempertahankan diri.

"Nona Damayanti!" tiba-tiba Mayangseta berteriak. "Silahkan butakan saja mataku! Terima kasihku tak terhingga kepadamu!"

Betapa sulit kedudukan Damayanti dapat disadari Mayangseta. Karena membela dirinya maka Damayanti terpaksa menerima fitnah yang menodai namanya sebagai seorang gadis yang suci bersih. Akan tetapi meskipun Damayanti meluluskan permint aan Mayangseta untuk membutakan matanya, pastilah Linggarsih tidak akan mengampuni juga.

Dan menyaksikan gerakan pedang Linggarsih yang makin lama makin keji dan tak kenal ampun itu, Mayangseta menjadi gusar. Dengan suara menggeledek ia memaki kalang kabut :

"Hei Linggarsih! Kau perempuan tak tahu malu! Pantas saja orang-orang gagah menyebutmu sebagai sundal! Sekarang dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan betapa keji dan kejam hatimu, melebihi ular berbisa. Mukamu jelek, persegi dan kasar. Untunglah wanita di seluruh dunia in i tiada yang mirip dengan mukamu yang persegi itu. Seumpama demikian, pastilah laki-laki diseluruh muka bumi rela menjadi pendeta terkebiri. Ha-ha-ha!"

Padahal wajah Linggarsih meskipun belum terhitung cantik, akan tetapi lumayan juga. Namun Mayangseta yang sudah kenyang makan baram, mengetahui kelemahan jiw a wanita pada umumnya. Tak peduli dia cantik atau memang jelek wajahnya, apabila kena maki demikian pastilah akan timbul dengkinya. Ia berharap, terdorong oleh rasa gusar dan dengki itu, Linggarsih akan mengalihkan perhatian kepadanya. Dalam keadaan kalap gadis kejam itu pasti akan membunuhnya. Dengan demikian Damayanti memperoleh kesempatan untuk melarikan, diri atau setidaknya bisa membalut lukanya terlebih dahulu. Sama sekali tak terduga, bahwa Linggarsih bukan gadis bodoh. Pada saat itu ia berpikir, bahwa yang terpenting ialah membunuh Damayanti terlebih dahulu. Bukanlah pendekar iblis yang jail mulut itu sudah terluka berat? Hendak lari kemana lagi dia? Itulah sebabnya ia berlagak tuli dan tidak menggubris makian Mayangseta.

Akan tetapi Mayangseta bukan sembarang pendekar. Selain gagah, ia licin pula. Merasa pancingnya yang pertama gagal, segera ia berseru lantang :

"Damayanti terkenal sebagai seorang gadis suci- bersih. Sebaliknya tidak demikian dengan nona Linggarsih yang bermuka persegi dan berbulu itu. Dialah seorang sundal benar-benar. Sadar bahwa kini umurnya sudah duapuluh delapan tahun, hatinya menjadi ciut dan takut pada masa depannya. Maka setiap kali bertemu dengan laki-laki, ia segera berusaha memancingnya dan menjilatnya. Demikian pula terhadap pendekar Panjalu anak murid Kyahi Basaman yang termashur itu. Biasanya dengan menawarkan tubuhnya yang berbuluh itu tiap laki-laki iseng menerima taw arannya. Tetapi kali ini ia menumbuk batu. Pendekar Panjalu tidak menggubris. Bahkan menolak dengan kasar. Nona Linggarsih yang cantik manis lantas ce mburu terhadap nona Damayanti yang berhati suci-bersih. Maka ia hendak membunuhnya! Eh, nona Linggarsih yang cantik manis bermuka persegi dan berbulu! Cobalah, sekali-kali engkau bercermin yang terang! Lihat yang terlihat dengan kedua matamu! Bukankah selain wajahmu persegi juga berbulu dan hitam seperti serabi hangus? Ha-ha-ha!"

Mendengar ejekan dan olok-olok Mayangseta benar- benar dada Linggarsih hampir-hampir meledak. Oleh rasa gusar, tubuhnya sampai bergetar tetapi masih saja ia berusaha menguasai diri. Sebaliknya mata Mayangseta yang berpengalaman segera mengetahui hal itu. Terus saja ia mementang mulutnya lagi dan berpidato kepada para pendekar yang berada dikiri-kanannya. Serunya lantang :

"Saudara-saudara! Saudara tadi menyebut aku sebagai iblis ! Memang aku in i iblis. Bahkan raja iblis. Kegemaranku berpesta diantara kaum wanita cantik. Pada suatu hari, aku melihat nona Linggarsih yang bermuka persegi dan berbulu itu lagi memancing pendekar Panjalu. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat betapa ia sakit hati tatkala ditolak pendekar Panjalu. Dengan uring-uringan ia menghunus pedangnya dan memanjangkan langkah hendak mencari nona Damayanti untuk melampiaskan rasa sesalnya. Karena uring-uringan ia kurang waspada. Didekat t ikungan jalan ia kusergap dari belakang. Kemudian kuperkosa sampai ampatkali berturut-turut. Ha-ha-ha! "

Tentu saja olok-olok Mayangseta itu bualan kosong belaka. Akan tetapi keterlaluan. Betapa cerdik dan sabar seseorang, pasti akan meledak dadanya begitu mendengar olok-olok yang beracun itu. Demikian pula Linggarsih. Dengan menjerit tinggi ia meninggalkan Damayanti dan melompat menikamkan pedangnya kemulut Mayangseta yang jahil itu.

Melihat Linggarsih keluar gelanggang, masih sempat Mayangseta tertaw a syukur. Memang itulah harapannya. Dengan demikian ia memberi kesempatan kepada Damayanti untuk melarikan diri atau membalut terlebih dahulu untuk mengadakan balasan. Itulah sebabnya ia menunggu ujung pedang Linggarsih dengan dada terbuka dan hati ikhlas. Hanya saja pada saat itu peristiw a di luar dugaan siapapun.

Dari rumpun belukar melompatlah seorang secepat kilat sambil membentak nyaring Perawakan tubuhnya pendek-bulat. Ia menghadang di depan Mayangseta menunggu datangnya tikaman. Oleh gerakannya yang cepat dan datangnya tidak terduga, Linggarsih tak dapat membatalkan tikamannya. Dengan cepat sekali pedangnya menikam dan menancap di jidat orang itu. Pada detik bersamaan, orang berperaw akan pendek- bulat itupun melontarkan pukulan yang tepat mengenai dada Linggarsih. Bluk! Tanpa ampun lagi Linggarsih, terpental dan terbanting ditanah dan melontakkan darah segar. Dan dengan berbareng pula orang itu roboh ketanah berkelojotan. Pedang Linggarsih masih menancap dijidatnya.

"Kumambang! Hei, bukankah dia Kumambang!" teriak Mukmin, Gobyok dan Carakan dengan berbareng.

Memang benar. Orang berperawakan pendek-bulat itu Kumambang, bidal Mayangseta yang setia.

Semenjak tadi ia bersembunyi dibelakang-belakang belukar menyaksikan gurunya dikeroyok delapan orang. Ia percaya, gurunya pasti bisa memenangkan pertempuran itu. T atkala gurunya terluka parah, hampir saja ia keluar dari persembunyiannya. Tetapi ia melihat perkembangan baru tatkala Damayanti bertempur melawan kakak angkatnya. Ia menunggu. Dan begitu gurunya dalam ancaman bahaya, dengan cepat ia keluar dan mewakili menerima tusukan pedang Linggarsih. Walaupun ilmu kepandaiannya terpaut jauh dengan gurunya, akan tetapi ia memiliki pukulan dahsyat. Begitu mengenai dada Linggarsih, beberapa tulang iga gadis itu patah.

Setelah menenangkan diri, Damayanti mencobek kain bajunya dan membalut luka di lengannya. Kemudian menolorg melepaskan tali pengikat Mayangseta pada kaki-tangannya. Dan tanpa berkata sepatahpun ia memutar tubuhnya hendak pergi.

"Nanti dulu, nona Damayanti! Terimalah hormatku!" seru Mayangseta sambil membuat sembah.

Cepat Damayanti mengelakkan sembah Mayangseta. Pendekar Mayangseta lalu memungut pedang Lemah Ijo yang tadi jatuh ketanah. Katanya :

"Linggarsih ini memfitnah namamu yang suci bersih. Karena itu tidak ia dibiarkan hidup terus!" Setelah berkata demikian pedangnya lantas menusuk leher Linggarsih. Tetapi dengan cepat Damayanti menangkisnya. Katanya :

"Dia kakak angkatku. Meskipun budinya terce la, tetapi aku tak sampai hati menghianati-nya."

"Urusan sudah begitu jauh. Kalau dia tak dibunuh, dikemudian hari pasti akan merugikan nama pribadi nona," ujar Mayangseta.

Damayanti mengucurkan air mata. Sahutnya:

"Aku memang gadis malang. Mungkin pula bakal membaw a alamat jelek. Biarlah aku menerima nasibku. Paman Mayangset a, jangan engkau mencelakainya."

Mayangseta menghela napas. Berkata :

"Baiklah, jika memang demikian keinginannya. Aku akan mematuhi." "Ayunda," kata Damayanti dengan suara terharu kepada Linggarsih. "Harap engkau menjaga dirimu baik- baik." setelah berkata demikian ia memasukkan pedangnya kedalam sarungnya. Kemudian meninggalkan gelanggang pertempuran dengan seorang diri.

Apabila Damayanti hilang dari penglihatan, Mayangseta berkata kepada sekalian pendekar yang mengeroyoknya. Katanya dengan suara tegas:

"Aku Mayangseta, sebenarnya tiada mempunyai permusuhan kepada kalian. Seumpama pendekar Udayana hidup kembali, beliaupun tidak akan menaruh dendam kepada kalian. Sebab beliau tahu bahwa kalian hanya begundal-begundal belaka. Akan tetapi pada malam ini kalian mendengar perempuan Linggarsih itu memfitnah nona Damayanti begitu keji. Kalau hal itu kalian siarkan, nasib nona Damayanti yang berhati suci bersih bakal menjadi gelap di kemudian hari. Itulah se- babnya, terpaksa aku meniadakan saksi-saksi hidup. Aku mohon maaf kepada kalian. Kelak apa bila kalian menghadapi malaikat-malaikat yang akan menghantarkan kalian kesorga, tolong katakan kepadanya, bahwa aku membunuh kalian karena terpaksa saja."

Setelah selesai berkata demikian ia tidak menunggu reaksi mereka seorang demi seorang di bunuhnya dengan tangannya sendiri. Setelah itu ia menghampiri Linggarsih. Dan wajah Linggarsih digarisnya dengan ujung pedang lima sampai tujuh kali. Dengan demikian wajah Linggarsih yang tadinya agak lumayan kini menjadi cacad seumur hidupnya. Hati gadis itu hampir- hampir pecah tetapi dalam keadaan luka parah tak dapat ia mengadakan perlawanan. Ia hanya bisa memaki kalang kabut. Serunya lantang :

"Bangsat gundul! Janganlah engkau menyiksaku cara begini. Kalau mau bunuh, bunuhlah aku segera!"

Mayangseta tertaw a lebar. Sahutnya :

"He-he-he! Pe rempuan jelek semacammu ini, setanpun enggan mendekati. Sebaliknya kalau kini engkau kubunuh, humm. Mungkin setan setan jahat dan roh roh yang tidak karuan dosanya akan lari kalang kabut karena ketakutan melihat tampangmu. Boleh jadi malaikat Jibril akan lari ketakutan pula!"

Berkata demikian ia tertaw a gelak beberapa kali. Kemudian melemparkan pedangnya dan mendukung jenazah Kumambang. Setelah menangis menggerung beberapa saat lamanya, dengan mendukung jenazah Kumambang ia berjalan perlahan-lahan meninggalkan gelanggang pertarungan.

Linggarsih berusaha menolong diri. Dengan napas memburu ia mencoba merayap bangun. Dan dengan bertongkat pedangnya ia berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.

Pe rtarungan yang menggoncangkan hati itu mendebarkan jantung Aruji dan Lingga Wisnu. Setelah Linggarsih tiada nampak bayangannya lagi, barulah mereka menghela napas lega.

"Abang!" kata.Lingga Wisnu kemudian. "Belum pernah aku berbicara dengan bibi Damayanti. Aku hanya melihatnya t atkala ia mendaki Gunung Lawu. Nampaknya ia menaruh perhatian besar kepada pamanku Panjalu. Apakah mereka berdua benar-benar pernah bertemu dekat, aku tak tahu. Apa ... apakah menurut pendapatmu benar-benar bibi Damayanti pernah melahirkan seorang anak di luar perkawinan?"

"Hmm! Pe rempuan Linggarsih itu mengacau-balau tak keruan. Janganlah engkau percayai" sahut Aruji.

Mendengar jaw aban Aruji, hati Lingga Wisnu bergembira. Serunya :

"Benar! Benar! Biar kelak kuadukan fitnah itu kepada paman Panjalu, agar dihajarnya dia. Aku benci pada mulutnya yang kotor!"

"Jangan! Jangan!" cegah Aruji cepat. "Sekali-kali jangan engkau ceritakan peristiw a ini karena bisa jadi runyam malah!"

"Apa sebab begitu?" tanya Lingga Wisnu heran.

"Kata-kata kotor yang tak sedap didengar ini, janganlah engkau ceritakan kepada siapapun juga!" ujar Aruji.

"Oh!" sahut Lingga Wisnu. Meskipun dia baru berumur belasan tahun tetapi otaknya sangat -cerdas. Setelah berenung sejenak, segera ia berkata :

"Abang, apa abangpun merasa bahwa fitnah perempuan busuk itu benar-benar terjadi? Tidak bukan?"

"Entahlah, aku sendiri t idak tahu." sahut Aruji.

Setelah terang tanah, jalan darah Aruji menjadi lancar kembali. Ia segera menggendong Lingga Wisnu meneruskan perjalanan. Dengan perlahan-lahan ia melintasi mayat-mayat yang bergelimpangan. Timbullah suatu pertanyaan besar dalam hatinya. Mereka bertempur mati-matian karena persoalan seorang gadis yang bernama Sudarawerti. Sesungguhnya apa latar belakang gadis itu?

Sebaliknya Lingga Wisnu yang berada digendongannya berpikir pula. Katanya dalam hati dengan terharu :

'Ayah-ibu sendiri belum tahu pasti tentang tongkat mustika. Akan tetapi mereka bersedia mengorbankan jiw a demi memperoleh keterangan tentang rahasia tongkat mustika tersebut. Nampaknya tongkat mustika itu merupakan sumber bencana, entah berapa orang lagi yang akan mati bergelimpangan '

Setelah beristirahat satu malam tanpa bergerak didalam rimba, tenaga Aruji menjadi pulih kembali.

Langkahnya cekatan. Akan tetapi karena perjalanannya terpotong oleh kejadian semalam ia menjadi tersesat. Tiba-tiba saja dibawah bukit nampak tergelar lembah ngarai yang berpen-duduk. Pikir Aruji didalam hati :

'Paman Sarapada bertempat tinggal disebuah pertapaan bernama Mrepat Kepanasan. Tempatnya sangat terpencil. Mengapa justru disini nampak tergelar beberapa dusun? Apa aku tersesat?'

Aruji lantas memasuki perkampungan. Maksudnya hendak mencari penduduk untuk minta keterangan-. Tiba-tiba ia mendengar suara derap kuda riuh dibelakangnya. Ampat serdadu Belanda datang mengaburkan kudanya. Mereka bersenjata pedang dan senapan. Terdengar mereka membentak:

"Hayo, pergi dari sini! Cepat ...!" sewaktu berada duapuluh langkah dibelakang Aruji mereka mencabut pedangnya dan mengancam punggung pemuda itu. Diam-diam Aruji mengeluh dalam hati:

'Celaka! Baru saja lolos dari bahaya, kini bertemu dengan bencana lain lagi. Yang terancam bukan hanya aku seorang, tetapi Lingga Wisnu pula.'

Ia merasa ilmu kepandaiannya telah punah. Jangan lagi bertempur melawan ampat orang, meskipun menghadapi seorang, rasanya tidak mampu lagi. Maka melihat ancaman bahaya itu, terpaksa ia menyerah kan dirinya kepada nasib .

Selagi meneruskan perjalanan dengan menyerahkan diri kepada nasib, tiba-tiba ia melihat beberapa kompeni Belanda mengganas terhadap penduduk kampung. Melihat hal itu Aruji mempunyai setitik harapan. Katanya:

"Rupanya serdadu-serdadu Belanda itu sedang mengumpulkan penduduk desa, dan tidak bermaksud menangkap aku!"

Tahulah Aruji apa sebab serdadu Belanda itu mengumpulkan penduduk. Mereka hendak merampok barang milik penduduk. Karena merasa diri tak mampu melawan, segera Aruji menggabungkan diri dengan penduduk yang dikumpulkan itu.

Sampai disimpang tiga ia melihat seorang perwira Belanda memimpin serdadunya. Jumlah mereka kira-kira enampuluh orang. Mereka semua menghunus pedang. Pe rw ira itu lantas berseru kepada semua penduduk dengan lantangnya :

"Hai! Kalian manusia atau binatang? Kalau kalian manusia, lekas berlut ut dihadapan kami!" Penduduk desa yang ketakutan itu segera mematuhi perint ah tersebut. Mereka menjatuhkan diri berlut ut. Melihat hal itu Lingga Wisnu yang berpengalaman segera membisiki telinga Aruji :

"Abang, lekas lemparkan pedangmu! Pastilah serdadu itu akan menggeledah mereka. Dan biasanya, siapa yang bersenjata akan dibunuhnya."

Aruji seperti diingatkan. Segera ia berpura-pura tergelintir sambil melemparkan senjatanya kedalam semak-belukar. Setelah itu dengan merintih ia berjalan tertatih-tatih.

"Hai, kau yang berberewok!" teriak perw ira itu kepada Aruji. "Mengapa engkau tidak berlutut?"

Aruji seorang pemuda angkuh hati. Meskipun ayannya menjadi abdi Patih Pringgalaya, tetapi dia sendiri tidak. Ia seorang pemuda yang hidup dengan bebas. Ia ikut menjadi anggauta laskar Raden Mas Said. Dan Raden Mas Said berada di pihak Pangeran Mangkubumi. Itulah sebabnya terhadap kompeni Belanda ia benci tujuh turunan! Sekarang ia mendengar perint ah agar berlut ut. Karuan saja ia berontak. Dalam hati ia sudah mengambil keputusan, lebih baik mati dari pada berlut ut dihadapan lawan.

Melihat Aruji membangkang, seorang serdadu menghampiri dan mendupak lututnya. Karena ilmu kepandaian Aruji telah punah, ia roboh begitu kena dupak serdadu itu. Dengan sendirinya ia jadi berlut ut.

"Kau siapa?" bentak serdadu itu. "Kami berdua hidup mengemis. Ini abangku. Ia tuli. Itu sebabnya ia tidak mendengar perint ah tuan." sahut Lingga Wisnu cepat.

"Bangsat ! " bentaknya lagi. Kaki serdadu itu dilayangkan, dan Aruji kena dupak untuk kedua kalinya. Ia roboh terjungkal. Dengan sendirinya Lingga Wisnu ikut terbanting pula.

Keruan saja Aruji gusar bukan main. Tetapi sadar bahwa dirinya tak sanggup melawan, ia hanya dapat memaki didalam hati. Pada detik itu pula ia bersumpah :

'Aku bersumpah demi bumi dan langit, akan menghabiskan setiap serdadu berserta begundalnya, seorang demi seorang, sampai mereka lenyap dari muka bumi. Kalau aku tak sanggup menghabiskan mereka, aku bukan seorang laki-laki ! '

Karena mereka dianggap pengemis, maka Aruji dan Lingga Wisnu dapat melanjutkan perjalanannya. Selagi mendekati bukit yang berada didepan dusun itu, tiba-tiba mereka mendengar teriakan yang menyayatkan hati.

Ternyata penduduk kampung itu disembelih serdadu Belanda seorang demi seorang.

Pada dewasa itu perjuangan Pangeran Mangkubumi sangat termashur. Ia dibantu oleh sekalian penduduk Tak mengherankan pihak Belanda mengalami kekalahan total. Karena sudah tiga tahun lamanya tidak dapat menangkap Pangeran Mangkubumi, maka Belanda mencari biang keladi. Penduduk menjadi sasaran kini.

Setiap kali mereka mengadakan perondaan, segera mengumpulkan penduduk kampung dengan dalih hendak mencari para gerilyawan. Apabila maksudnya tidak tercapai, segera mereka mengadakan pembunuhan masal.

Menyaksikan hal itu, dendam dan rasa gusar Aruji kian membara. Ia mengeluh, mengapa menyaksikan peristiw a demikian, justeru ilmu kepandaiannya dalam keadaan punah. Seumpama ilmu kepandaiannya belum punah, sudah semenjak tadi ia melabrak serdadu itu meskipun jumlahnya cukup besar. Aruji memangnya seorang pemuda yang gagah perkasa. Akan tetapi pada saat itu ia merasa diri tidak berdaya. Itulah sebabnya setelah mengeluh sambil membanting kaki, ia lalu melanjutkan perjalanan.

Menjelang tengah hari ia bertemu dengan seorang penebang kayu. Ia segera menghampiri dan minta keterangan dimanakah letak padepokan Mrepat Kepanasan, tempat tinggal pamannya Sarapada. Tetapi penebang kayu itu menggelengkan kepalanya. Katanya: "Selama hidupku belum pernah mendengar nama dusun tersebut."

Dan mendengar keterangan penebang kayu itu, sejenak Aruji tergugu. Tetapi ia yakin, bahwa padepokan pamannya Sarapada tentu tidak jauh lagi. Dengan sabar ia melanjutkan perjalanan kembali.

Pemandangan seberang-menyeberang jalan sangat indah kini. Bunga-bunga sedang bermekaran dan mahkota dedaunan hijau meresapkan penglihatan.Tetapi baik Aruji maupun Lingga Wisnu masih belum bisa melepaskan diri dari penglihatan yang disaksikan tadi. Itulah penglihatan serdadu Belanda menyembelih penduduk kampung. Karena itu, betapa mereka berdua dapat menikmati pemandangan yang bagaimanapun indahnya. Kata anak itu :

"Abang, Padepokan pamanmu bernama Mrepat Kepanasan. Kalau tidak salah, Mrepat Kepanasan adalah lapangan perang para Dew a-dewa. Menurut cerita ibuku, kahyangan itu sangatlah indahnya. Sekarang kita melihat seberang-menyeberang jalan ini sangat indah pula. Apakah tidak mungkin pamanmu itu bertempat tinggal disekitar sin i?"

Mendengar kata-kata Lingga Wisnu, benar-benar Aruji kagum. Pikirnya didalam hati:

'Sungguh, anak ini cerdas luar biasa! Mengapa aku tidak dapat berpikir demikian sejak tadi?'

Ia segera menyeberang kedalam gerombolan bunga. Setelah berjalan selintasan, timbullah setitik harapan. Serunya kepada Lingga Wisnu:

"Dugaanmu agaknya benar, adik. Bunga-bunga ini seperti ada yang mengatur."

Dengan menuruti jalan pegunungan yang berliku-liku, mereka menuju ke utara. Selagi melayangkan pandangnya, mereka melihat suatu tebing disebelah barat. Disitu nampak seorang tua sedang mencangkul.

Mereka segera mendekati. Dengan sekali pandang, tahulah mereka bahwa orang itu berusia hampir mencapai limapuluh tahun. Perawakan tubuhnya jangkung kurus.

Entah apa sebabnya melihat orang itu hati Lingga Wisnu berdebar-debar. Katanya didalam hati : 'Apakah dia yang bernama Ki Sarapada?'

Selagi hendak minta keterangan kepada Aruji, pemuda itu telah menghampiri dan berkata dengan membungkuk hormat :

"Aku bernama Aruji. Dapatkah aku mohon petunjukmu? Jalan manakah yang harus kami tempuh, agar dapat bertemu dengan tabib sakti Sarapada? Kami berdua ingin bertemu untuk mohon pertolongan. "

Mendengar pertanyaan Aruji, tahulah Lingga Wisnu, bahwa orang itu bukan Ki Sarapada. Maka dengan penuh perhatian ingin ia mendengar jaw aban orang itu. Sama sekali tak terduga, orang tua itu tetap menundukkan kepalanya dan terus mencangkul. Beberapa kali Aruji membuka mulutnya untuk mohon keterangan, akan tetapi agaknya orang tua itu tuli.

Selagi Lingga Wisnu hendak membantu bertanya, tiba- tiba Aruji mencubit pahanya. Maka ia segera membatalkan niatnya. Dan Aruji yang biasanya mudah tersinggung, kali ini tidaklah demikian. Ia melanjutkan berjalan dengan langkah sabar. Kira-kira satu kilometer barulah ia berkata :

"Adikku. Paman mempunyai tabiat yang aneh sekali. Ia mempunyai murid dan pengikut yang setia. Dan tabiat mereka mirip majikannya pula. Kita telah memasuki wilayahnya, karena itu tiada boleh gegabah. Sekali kita melanggar pantangnya, tiada lagi harapan. Sekarang tiada jalan lagi selain mencari padepokan paman Sarapada dengan menyerahkan nasib kepada Tuhan Yang Maha Agung." Setelah menikung beberapa kali, tiba-tiba mereka melihat sebidang taman bunga yang terpisah beberapa puluh meter dari pinggir jalan. Ditengah ladang itu tampak seorang gadis dusun mengenakan pakaian hijau sedang meraw at tanaman bunga sambil membungkuk.

Lingga Wisnu berada diatas punggung Aruji. Karena itu ia memperoleh penglihatan lebih luas dari pada Aruji. Nampak gadis itu membelakangi tiga rumah atap berdiri sejajar. Dan disekitar rumah itu sunyi-sepi.

Dengan masih menggendong Lingga Wisnu, mereka menghampiri gadis itu. Sambil membungkuk hormat ia berkata :

"Adik, eh, mbakyu. Bolehkah kami bertanya kepadamu? Jalan manakah yang harus kami tempuh agar dapat bertemu dengan paman Sarapada?"

Gadis itu mengangkat kepalanya, memandang Aruji dan Lingga Wisnu dengan kedua matanya bersinar tajam, sehingga membuat Aruji maupun Lingga Wisnu terkejut.

'Akh ! ' kata Lingga Wisnu dan Aruji didalam hati. 'Mengapa sinar matanya begitu luar biasa? Lingga Wisnu menatap paras muka gadis itu. Dibandingkan dengan Damayanti atau Linggarsih, gadis itu kalah cantik.

Kulitnya kering, kuning. Dan mukanya agak pucat seperti kekurangan makan. Rambutnya jarang dan berw arna agak kuning. Pundaknya tinggi dan tubuhnya kurus. Hal itu menunjukkan bahwa dia seorang gadis dusun yang miskin.

Dilihat dari pandang muka gadis itu, kira-kira berumur enambelas atau tujuhbelas tahun. Tetapi karena tubuhnya kurus-kering dan kecil, nampaknya seperti kanak-kanak berumur tigabelas atau empatbe las tahun.

Meskipun demikian, oleh rasa hati-hati, Aruji tidak berani berlaku sem-berono. Ia memanggil adik dan mbakyu dengan berbareng, karena takut menyinggung perasaannya.

"Adik, eh mbakyu," ulang Aruji. "Numpang tanya, dimanakah letak Mrepat Kepanasan? Apa kami harus ke Timur atau ke Barat apa ke sebelah utara?"

Dengan suara dingin gadis itu menjaw ab:

"Tak tahu ! " setelah menjaw ab demikian, ia menundukkan kepalanya lagi.

Melihat sikap yang agak sombong dan kasar itu, hati Aruji mendongkol. Tetapi mengingat tempat itu sangat berdekatan dengan Mrepat Kepanasan, sedapat- dapatnya ia menahan rasa mendongkol nya. Katanya kepada Lingga Wisnu :

"Saudara kecil, hayolah kita berangkat. Mrepat Kepanasan adalah sebuah pertapaan sangat terkenal. Biar bagaimanapun juga kita pasti akan dapat mencari sendiri."

Tetapi Lingga Wisnu tidak sependapat dengan Aruji. Menimbang bahwa matahari sudah condong ke Barat, ia harus menemukan petunjuk yang pasti. Rasanya akan mengalami kejadian yang tidak enak apabila sampai tersesat diwaktu malam hari. Maka dengan sabar ia bertanya :

"mBakyu, apa ayah dan ibumu ada dirumah? Mereka tentu tahu jalan yang menuju ke Mrepat Kepanasan." Akan tetapi gadis itu tetap saja tidak melayani. Ia terus mencabuti rumput sambil menundukkan kepalanya.

Hati Aruji yang mudah tersinggung jadi semakin panas. Dengan membuang muka ia melanjutkan perjalanan. Hati Aruji t idak jahat, tetapi ia kasar.

Oleh rasa mendongkolnya ia berjalan menyeberang taman bunga itu dan menginjak beberapa rumput tetanaman.

o))00oodwoo00((o