-->

Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 01

 Jilid 01

1. Perburuan

Suasana alam pada senja hari itu guram lembah. Hujan rint ik turun semenjak pagi. Angin kencang melanda bumi, kemudian naik turun bagaikan gelambang pasang. Tanah lembab yang tergelar didepan Gunung Lawu sunyi senyap. Perkampungan mati tiada bernafas.

Penduduk tiada seorangpun mencongakkan diri diluar rumah. Dalam keadaan demikian, nampaklah lima penunggang kuda berlari-lari menyeberangi lautan lumpur. Mereka tak menghiraukan licinnya jalan, dingin hawa dan hujan rint ik.

Kuda yang berada paling depan membaw a seorang kanak-kanak berumur kurang lebih sepuluh tahun. Anak ini berpakaian biru singsat. Pada pelananya tergantung sebatang pedang pendek.

Yang berada dibelakangnya seorang gadis berumur 16 tahun. Parasnya cantik. Hanya saja wajahnya muram berduka dan kuyu. Jelas sekali, ia menderita suata keletihan luar biasa. Rambutnya kusut setengah terurai. Pakaian yang dikenakan berlepotan lumpur. Sedangkan lengan kirinya terbalut saputangan yang di tambusi darah kental.

Penunggang kuda ketiga t idak jelas warna pakaiannya, karena penuh lumpur. Usianya kurang lebih sembilan belas tahun. Dia seorang pemuda yang gagah tampan. Pandangnya memancarkan suatu keberanian tersembunyi. Agak jauh dibelakangnya berderap dua ekor kuda yang saling susul. Yang pertama ditunggangi seorang wanita setengah umur. Alisnya tebal melengkung melindungi sepasang matanya yang tajam. Pandang wajahnya muram luar biasa oleh susuatu kedukaan yang berlarut . Lehernya terbalut sehelai selendang sutera berw arna kelabu. Melihat darahnya yang menembusi lipatan pembebatnya yang tebal - teranglah sudah - bahwa ia baru saja menderita luka agak parah.

Ia dijajari oleh seorang laki-laki berumur limapuluh tahun lebih. Laki-laki ini bertubuh singsat dan cekatan. Ia membekal sebilah pedang terhunus. Kerapkali ia menoleh ke belakang. Kemudian melambatkan kudanya sambil menebarkan penglihatannya. Ia berjenggot pendek dan rambutnya yang agak gondrong sudah beruban. Walaupun demikian - diantara keampat penunggang kuda - dialah yang nampak gesit dan segar bugar.

Pandang matanya tajam luar biasa, akan tetapi, mengandung air mata yang membasahi kelopak ke dua belah pipinya tergores ampat luka memanjang. Dua diantaranya adalah goresan luka baru.

Melihat cara mereka berlima melarikan kudanya, mudah ditebak bahwa mereka sedang melarikan d iri dari sesuatu peristiw a. Kelima kuda tunggang mereka nampak letih sekali.

Dalam pada itu cuaca senjahari itu makin mendekati petang yang muram. Dan hujan rint ik kian menjadi deras. Buru-buru mereka menikungi jalan pegunungan. Seberang-menyeberang jalan nenghadang jurang dalam dan tanaman liar. Laki-laki beruban yang berada dibelakang, tiba-tiba menghentak tali kendali sehingga kudanya kaget berjingkrak. Lalu menyusul kuda wanita setengah umur yang berada duapuluh langkah didepannya.

"Larasati! Kalau terus-terusan begini, kita akan mati kecapaian. Tak apalah aku mati ditengah perjalanan in i. Tetapi bagaimana ketiga anak kita? Marilah kita beristirahat sebentar!" serunya dengan perkataan ditekan-tekan.

"Malam nanti kita melanjutkan perjalanan. Selanjutnya kita hadapkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Adil. Bagaimana lukamu?"

Setelah berkata demikian, kedua kelopak matanya basah kena air mata. Ia sangat berduka. Hatinya tersayat-sayat. Lalu menangis tertahar-tahan. Untunglah angin meniup kencang, sehirgga suara tangisnya terendap dari pengamatan pendengaran.

Larasati, wanita setengah umur yang muram wajahnya, lalu tersenyum. Sahutnya lembut :

"Tak apa-apa. Kau tak perlu resah hati. Inilah luka ringan yang tiada artinya sama sekali. Kulitku hanya terlecet sedikit. Hanya yang kucemaskan ialah luka ... eh lengan Sudarawerti. Nampaknya ia menderita luka berat. Lenganriya seperti terkulai ..."

Tetapi luka yang diderita Larasati sendiri, sebenarnya parah. Senjata yang melukai lehernya tidak hanya melecet kulit belaka. Tetapi menembus hampir satu senti. Urat nadi nyaris terancam.

Seseorang yang menderita luka demikian, tidak boleh bergerak terlalu banyak Sebaliknya senjahari itu, ia berada diatas kudanya mengarungi badai hujan tiada hentinya.

Sudarawerti yang berada didepan, agaknya mendengar keluh-kesah Larasati. Ia berpaling. Katanya dengan nada riang :

"Ayah!.Jangan dengarkan ibu! Lenganku tak kurang suatu apa.". Ia tersenyum, akan tetapi dua titik air mata jatuh kepelana kudanya. Teranglah; mereka berdua sedang berusaha menghibur dan membesarkan hati laki- laki beruban itu.

"Sudarawerti, janganlah kau membohongi aku, bukankah lukamu ..." tegor laki-laki beruban itu.

"Ayah, benar-benar aku tak kurang suatu apa," sahut: Sudarawerti. "Lihatlah!"

Setelah berkata demikian, ia mengertak gigi. Kemudian nengangkat lengannya yang tadi sarrpai terkulai. Katanya nyaring: "Sekarang, sama sekali tak te- rasa sakit."

Akan tetapi begitu tangannya terangkat, suatu rasa nyeri luar biasa menggigit janttngnya. Peluh dingin meraba jidat dan tengkuk Sudarawerti. Cepat-cepat ia membuang mukanya. Lalu memacu kudanya sambil menurunkan lengannya, hati-hati.

Kedua orang tuanya berkata tajam. Dengan sekilas pandang, tahulah mereka bahwa puterinya sedang menanggung suatu derita yang nengancam. Apabila lengan yang terluka itu tidak segera gemperoleh peraw atan yang balk, Sudarawerti bisa cacat seumur hidupnya. Karena sangat berduka laki-laki beruban itu mendcngak ke udara suram . "Hm Kata orang, aku disebut Arya Udayana seorang ahli pedang murid ketiga guru besar Kyahi Basaman. Selamanya tak pernah aku merasa malu terhadap bumil dan langit yang melindungiku. Melihat kekiri aku berbesar hati. Melihat kekanan aku berbangga hati. Memandang ke depan tiada rasa segan. Menoleh kebelakang tiada rasa kecew a. Kenapa kini, Ya Tuhan, kami bisa menjadi begini? Kenapa aku harus membuat anak-isteriku tersangkut dalam kesengsaraanku yang terpaksa merantau dari tempat ke tempat sekian bulan lamanya? Ya Tuhan, berilah kami cerahmu!"

Larasati menahan kendali kudanya, kemudian menghduipiri suaminya. Setelah lari berjajar, ia menekap lengan kirinya. Katanya lembut :

"Suamiku, jangan engkau terlalu berduka memikirkan kami. Manusia yang suci bersih pasti akan nemperoleh berkat Tuhan Yang Maha Adil. Memang keluargamu lagi menjadi korban suatu fitnah. Kabut gelap menutupi penglihatanmu. Akan tetapi sebentar atau lama, latar belakang peristiw a in i pasti akan tersingkap. Sabarlah untuk beberapa hari saja. Apabila kita sudah bertamu dengan Kyahi Basaman, semuanya akan menjadi beres seperti sediakala."

Lake-laki beruban yang menyebut dirinya Arya Udayana menggelengkan kepala. Sahutnya sedih :

"Hari ini sudah hari yang ke 174     Kita telah melintasi

air, gunung, rimba dan ladang belukar. Tapi tetap saja kita diikut i. Selama seratus tujuh puluh ampat hari, belum pernah kita beristirahat barang sebentarpun. Alangkah sakit hatiku Larasati, tak usahlah engkau menutupi suatu kenyataan! Pendekar-pendekar gagah seluruh penjuru ingin membekuk aku, engkau dan ketiga anak kita. Hidup atau mati. Kalau hal itu sudah terlaksana, barulah mereka mau tidur. Walaupun aku memiliki lidah tajam, setajam Shri Kresna sulit bagiku untuk memberikan penjelasan kepada mereka."

"Kangmas! Janganlah kau terlalu bersedih hati. Salah paham ini pasti ada akhirnya.Tuhan Maha Adil. Waktu masih panjang. Tak perlu kita terburu napsu."

Udayana berpaling menatap wajah isterinya. Ia melihat selendang kelabu membalut lehernya.

Sekarang semua lipatannya sudah menjadi merah semua. Suatu bukti bahwa darah masih saja mengalir. Melihat hal itu, ia malu kepada diri sendiri. Dia yang terkenal sebagai seorang ahli pedang, apa sebab tak mempu melindungi isterinya.

"Kita berlari-lari sepanjang malam sampai sekarang," katanya dengan menghela napas. "Rumah Panjalu tak jauh lagi dari sin i. Mari kita beristirahat sebentar. Aku mengharap bisa mencapai rumah Panjalu pada esok pagi."

Dengan pelahan-lahan Larasati mengangguk. sahutnya :

"Benar. Kita perlu menghimpun tenaga kurasa malam nanti kita tak dapat kesempatan beristirahat. Selain itu, kita perlu meraw at luka Sudarawerti. Akh, kasihan anak- anak kita yang t idak berdosa dan yang tak tahu-menahu tentang peristiw a ini. Mereka ikut pula nenanggung derita. Selama tujuh tahun, hampir dikatakan kita tak merasakan suatu ketenangan meski satu haripun ..." Bukan kepalang sedihnya Udayana diingatkan perkara itu, Dengan hati bergetar ia berkata :

"Larasati! Benar-benar tak pantas aku menjadi suami dan ayah ketiga anak kita. Aku tak sanggup melindungi kalian."

"Jangan kau terlalu menyesali diri sendiri," bujuk Larasati.

"Siapa saja takkan sanggup menghadapi lawan yang jumlahnya tidak hanya seratus dua ratus orang. Mereka bisa saling bergiliran. Akan tetapi engkau? Akh! Sebab musabab terjadinya peristiw a ini adalah aku. Aku isterimu yang membuka suatu rahasia besar, karena ketololan dan kecerobohanku. Sebenarnya, akuulah yang harus mati."

Udayana mendongak keudara. Ia menarik napas dalam lagi. Lalu melepaskan pandang dijauh sana. Katanya setengah berseru :

"He! Bukankah itu sebuah rumah? Mari kita kesana untuk beristirahat sebentar. Kita perlu berteduh agar tak kemasukan angin jahat dan dingin hujan!"

Setelah berkata demikian, Udayana menghentak kendali kudanya. Ia mendahului memimpin rambongannya menuju kerumah itu. Isterinya segera mengikuti dengan membedalkan kudanya pula.

Dan ketiga anaknya lantas saja berada dibela- kangmereka.

Rumah yang berada didepan sebenarnya bukan rumah orang. Rumah itu sebuah lumbung desa tempat penyimpan hasil bumi. Pastilah milik seorang berada. Sebab yang mempunyai lumbung di tengah ladang, biasanya seorang kepala Desa, haji atau seorang petani yang makmur hidupnya.

Makin mendekati rumah itu, hujan terasa bertambah deras. Mereka tak menghiraukan deras hujan. Yang ditakuti apabila ada angin jahat menyusup tubuhnya. Syukurlah, rumah itu t idak begitu jauh.

Dalam waktu kurang dari seperempat jam, sampailah mereka.

Lumbung yang dikiranya rumah penduduk, berukuran kecil, akan tetapi bersih. Gentingnya terbuat dari rambut pohon aren. Gelap kelam, namun kokoh. Dindingnya bambu dan masih rapat. Suatu tanda bahwa pemiliknya masih memakainya.

Yang melompat turun dari kudanya terdahulu adalah Udayana. Kemudian merentangkan kedua tangannya untuk menyambut isterinya. Hati-hati ia bermaksud menolong isterinya turun dari kuda.

Akan tetapi isterinya malahan melompat turun dari sisi lainnya. Katanya :

"Kangmas! Tak usahlah kangmas terlalu mem- perhatikan aku. Kau bantulah anak kita Sudarawerti."

Akan tetapi pada saat itu Sudarawerti sudah melompat turun tanpa bantuan siapapun juga. Ia bahkan lari menghampiri ibunya. Itulah sebabnya Udayana mendekati anaknya yang paling bungsu. Baru saja ia hendak menggapainya, Sudarawerti sudah mendahului. Rupanya ia segera berputar arah begitu melihat ayahnya menghampiri adiknya. "Lingga! Biarlah aku yang menolongmu. Ayah hendak beristirahat disini," katanya lembut .

Bocah itu menarik kendali kudanya kencang-kencang. Ia mendengar kata-kata kakaknya perempuan, akan tetapi sama sekali tak bergerak. Dengan w ajah keagung- agungan ia mendongak, melihat udara kelam. Sepasang alisnya berkerut seakan-akan seorang panglima lagi memecahkan suatu persoalan.

Lingga baru berumur delapan tahun. Nama lengkapnya Lingga Wisnu. Suatu nama yang diambil ayahnya dari seorang raja keramat dijaman kerajaan Pejajaran. Selama dilahirkan didunia, ia ikut menderita bersama ayah-ibunya. Merantau dari tempat ketempat. Penghidupan demikian membuat dirinya lekas masak dan berkepribadian penuh. Wajahnya tiada cahaya berseri. Kegembiraan masa kanak-kanaknya lenyap sehingga ia lebih mirip dengan seorang pemuda tanggung yang hen- dak menanjak dewasa.

Sudarawerti meraih lengan adiknya itu dengan sabar.

Katanya lembut lagi :

"Lingga, kau lagi memikirkan apa? Lihatlab hujan kian deras!"

Lingga Wisnu tersentak sejenak. Kemudian melompat turun tanpa bantuan. Ia menolak raihan Sudarawerti dengan tersenyum. Sahutnya ringan:

"Apa yang kupikirkan? Bukankah ayah hendak beristirahat?"

Sudarawerti tertaw a sedih. Katanya menghibur : "Benar, kuda kita sudah lelah. Satu hari satu malam kita berlari-lari terus tiada henti. Kitapun agaknya perlu beristirahat pula." Sambil berkata demikian, ia mengamat-amati Lingga Wisnu. Adik ini sudah setinggi pundaknya.

Dan tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca. Dahulu, tujuh tahun yang lalu, dia masih perlu didukung bergantian, tatkala harus meninggalkan kampung halaman. Ia dibesarkan disepanjang jalan, dari tempat ketempat. Kini sudah mirip seorang pemuda tanggung.

Nasibnya seperti Pinten-Tansen, putera raja Pandu dalam cerita Maha Bharata yang dibesarkan didalam perantauan *). Akh! Ternyata cerita wayang yang nampaknya tak ubah dongeng seribu satu malam benar- benar terjadi dan dialaminya.

Tatkala itu Lingga Wisnupun menatap wajah Sudarawerti. Seperti berjanji, diapun lagi mentaksir-taksir tinggi badannya. Lalu berkata:

"Kak! Satu atau dua tahun lagi, tinggi tubuhku akan melampaui t inggimu."

  -

*) Pandawa diusir dari negeri Hastina selama beberapa tahun.

Sudarawerti tertaw a taw ar Sahutnya:

"Benar, adikku. Kau akan lebih tinggi dari padaku. Setiap matahari muncul dilangit, tinggi tubuhmu selalu bertambah dan bertambah. Jangan-jangan engkau kelak memiliki tubuh seperti Bhima **)" Tujuh tahun lamanya, keluarga Udayana hidup dalam perantauan. Mereka tidak hanya merantau untuk mencari sandang—pangan ***), tetapi pun berlari-larian sambil membela diri terhadap serangan lawan yang datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru mata angin. Selama merantau, mereka kepanasan, kehujanan, kelaparan dan kehausan. Dalam kepahitan hidup merekapun memper- oleh suatu hikmah.

Masing-masing berusaha menghibur dan membesarkan hati. Dan dengan diam-diam mereka menguatkan hati untuk mereguk semua penderitaan yang mereka alami.

Pada saat itu datanglah kakaknya laki-laki menghampiri. Dia seorang pemuda yang berumur kurang lebih sembilanbelas tahun. Dengan tiba-tiba saja ia menyamber kendali kuda Lingga Wisnu. Katanya sambil tertaw a ramah

"Hai! Apakah kalian hendak mandi hujan? Beristirahatlah dengan ayah-bunda! Beliau berdua berada didalam lagi menyalakan api."

"Engkaulah justeru yang paling lelah kali in i. Kita berdua bisa beristirahat dengan perlahan-lahan," sahut Sudarawerti. Suaranya lembut penuh perasaan.

**) Dalam ceritanya ia berperaw akan tinggi besar

***) Makan-minum.

Kakaknya yang bernama Umardanus, tertawa perlahan. Memang dialah satu-satunya anggauta keluarga yang penuh lumpur sehingga warna pakaian yang dikenakan jadi semu. Waktu mendengar ujar adiknya, dia tidak membuka mulutnya. Sebaliknya dengan seorang diri ia membawa kelima ekor kuda keladang rumput yang berada disebelah selatan Lumbung itu.

Melihat rumput, lima ekor kuda itu terus saja mengisi perutnya dengan lahap. Dan Umardanus tetap berada disitu tanpa menghiraukan derasnya hujan.

Udayana nuncul diambang pintu sambil menggeribiki pakaiannya. Melihat putera sulungnya tak berani meninggalkan kuda, ia lantas berseru :

"Mardanus! Tinggalkan saja. Mereka takkan lari. Kau perlu beristirahat!"

"Sebentar, ayah. Lebih baik ayah memeriksa kuda Sudarawerti dan ibu. Aku bisa nengurusi diri." Sahut Umardanus dengan suara hormat.

Udayana mengurut-urut janggutnya. Ia diam sejenak menimbang-nimbang. Kemudian berputar tubuh dengan menarik napas, perlahan-lahan ia memasuki lumbung menghampiri isteri dan anaknya yang lain.

Memang, setiap kali beristirahat, Umardanus selalu mengurus kuda tunggangan terlebih dahulu. Sebab kuda- kuda itu merupakan kaki dan tulang punggung keluarganya. Kalau sampai terjadi sesuatu, semuanya akan lumpuh. Dan kelumpuhan berarti suatu ancaman bahaya sendiri.

Itulah sebabnya selama merantau tujuh tahun tak pernah ia melalaikan tugas pekerjaannya. Malahan kuda- kuda itu baginya jauh lebih berharga dari pada jiw anya sendiri. Itulah sebabnya, demi kuda-kuda itu ia tak menghiraukan hujan atau terik matahari. Kalau perlu ia rela menderita lapar dan dahaga.

Didalam ruang lumbung yang bersih itu, duduklah Udayana dengan isterinya, Sudarawerti dan Lingga Wisnu. Perlahan-lahan ia melepaskan bungkusan yang selalu menggeblok pada punggungnya. Itulah bungkusan makanan kering, nasi tanpa sayur ! .

"Anak-anak, mari kita makan," ajaknya. "Kali ini mungkin sekali merupakan perjalanan kita yang terakhir. Sebab setelah kita bertemu dengan paman-gurumu PanjaIu kemudian eyang gurumu, selanjutnya t iada lagi yang bakal mengganggu kita."

Setelah berkata demikian, ia membuka pula dua botol air minum . Ia mengangsurkan kepada isterinya. Berkata pula :

"Inipun merupakan suguanku yang terakhir kepadamu. Kau minumlah!"

Perlahan suaranya, sehingga mirip orang berbisik. Kemudian dengan pandang lembut ia menatap wajah Sudarawerti. Katanya :

"Coba, kau perlihatkan lukamu!"

"Akh, lukaku tidak parah." sahut Sudarawerti cepat. "Luka ibu perlu mendapat perhatian ayah."

Larasati tertaw a perlahan. Ujarnya :

"Lukaku? Apakah arti lukaku ini! Ibu kan sudah berusia tua. Seumpama, lantaran tidak kena obat, akan meninggalkan cacatpun t idak banyak artinya. Pendeknya bukan soal lagi. Sebaliknya engkau seumpama tanaman sedang mekar mekarnya. Bukankah kau kini sudah berumur enambelas tahun ? Coba, kalau lenganmu sampai cacat, engkau akan menyesal seumur hidupmu. ibupun ikut menderita pula."

"Baiklah, baiklah. Kalian jangan saling bertengkar. Obat lukaku cukup untuk penye mbuh dua orang lagi," tukas Udayana.

Setelah berkata demikian, Udayana membuka pembalut isterinya. Luka itu masih mengeluarkan darah. Hal itu membuat hatinya bercekat. Katanya didalam hati:

" Hebat sabetan golok Rujipinentang. Benar-benar dia merupakan musuh tangguh sampai bisa melukai isteriku. Untunglah t idak sampai memagas urat nadi," dan cepat- cepat ia menaburkan bubuk obat luka yang berwarna kelabu.

"Sekarang giliranmu, anakku," katanya kemudian. Sudarawerti membuka pembalut lukanya sendiri.

Kemudian mengangsurkan lengannya kepada ayahnya.

Luka itu dideritanya tiga hari yang lalu. Karena kurang teraw at dan kena hujan dan angin jahat, kini nampak diseliputi nanah. Melihat nanah itu, Udayana mengerutkan alis. Katanya sambil menghela napas :

"Sudarawerti, kalau kasep dua hari lagi, pastilah lenganmu akan cacat. Kau ... kau ..."

Ia tak meneruskan kata-katanya. Sebenarnya ia menganjurkan agar Sudarawerti meraw at lukanya baik- baik. Akan tetapi selama beberapa hari in i, hampir- hampir tiada suatu kesempatan untuk beristirahat. Musuh yang datang dari semua penjuru angin menyerang secara bergiliran. Apalagi berkesempatan melihat luka, sedangkan untuk menidurkan diri saja sama sekali tiada waktu. Itulah sebabnya, dengan membungkam Udayana menuang sisa obat bubuknya lalu membuang pembungkusnya diatas tanah. Ujarnya setengah berdoa :

"Mudah-mudahan inilah perjalanan kita yang terakhir."

Selagi ia merenungi ucapannya sendiri dengan wajah muram, tiba-tiba Lingga Wisnu minta keterangan diluar dugaan. Katanya anak tanggung itu :

"Ayah, dapatkah aku minta suatu keterangan ? Ada sesuatu yang tidak kumengerti .. "

Udayana tercengang. Segera ia berpaling dan menatap wajah puteranya yang bungsu. wajah Lingga Wisnu nampak muram dan setengah bergusar .

Dan melihat kesan itu, ia menghela napas lagi dengan tak dikehendaki sendiri, sahutnya dengan perlahan :

"Kau hendak minta keterangan apa, anakku ? Kau berkatalah! Sebenarnya, andaikata kau tak mengerti, akhirnya kau akan mengerti sendiri. Aku sendiri sudah memutuskan hendak memberi penjelasan kepadamu. Kukira umurmu kini sudah dapat menangkap suatu keterangan."

Anak lumrah yang berumur delapan tahun ,se- benarnya tidak mungkin dapat diajak membicarakan masalah orang tua. Akan tetapi Lingga Wisnu adalah seorang anak yang dibentuk oleh keadaan.

Pe rtumbuhan akalnya lebih cepat daripada anak lumrah. Dan setelah mendengar kata-kata ayahnya,maka ia berkata: "Ayah, yang kuingat ........ eh, teringatlah aku pada waktu itu. Kita semua berlari sepanjang malam, melew ati gunung dan melintasi hutan. Aku "

"Akh, anakku!" potong ibunya dengan suara mengeluh, lantas meneluk lehernya dengan air mata bercucuran.

"Itulah terjadi t iga tahun yang lalu. "

"Sekarang ini berapa sih usiaku?"

"Delapan tahun," sahut ayahnya dengan suara tegas. "Hai! Jadi aku sekarang sudah berumur delapan!" seru

Lingga Wisnu. "Kata kakak Sudarawerti, kita merantau selama tujuh tahun. Kalau begitu ayah mengajak aku meninggalkan rumah sewaktu aku masih, berumur satu tahun. Ayah, aku telah melihat banyak gunung, hutan, jurang, sungai dan batu. Ayah mengajak aku merantaui padang luas. Kadang-kadang menyeberangi ladang belukar. Teringatlah aku, kalau hujan turun deras dan angin meniup begitu gemuruh. Teringatlah aku, kalau berhari-hari kita berada di tengah terik matahari. Kita lantas mencari mata air untuk meneguk airnya yang bening. Hanya yang kuherankan, apa sebab ayah, ibu, kak Mardanus, kak Sudarawerti mesti harus bertempur setiap, kali bertemu dengan orang ? Apakah kita pernah menyalahi mereka? Ataukah mereka memang orang-- orang jahat yang memusuhi kita? Buktinya, suatu kali kita pernah melintasi kota dan pedusunan. Dan ayah tak perlu menghunus pedang untuk nenikam mereka "

Masih sangat muda usia Lingga Wisnu. Akan tetapi pengalamannya terlalu dahsyat. Dari tahun ke tahun, nalurinya membuat akalnya mulai ingin mengerti semuanya. Tatkala mula-mula melihat keluarganya bertarung dengan orang-orang tertentu, ia bersikap acuh tak acuh. Kemudian rasa takut mulai menggerayangi. Lalu rasa gusar dan girang apabila keluarganya menang.

Setelah itu mulai menebak-nebak apa sebab selalu terjadi suatu pertarungan adu jiw a. Dan pada tiga hari yang lalu, untuk yang pertama kalinya salah seorang anggauta keluarganya kena luka. Dialah Sudarawerti. Dan hal itu membuat akalnya mulai bingung. Lalu ibunya kena sabetan golok seorang musuh yang menamakan diri Rujipinentang. Kalau begitu terjadi suatu pertarungan itu, tidak dikehendaki oleh keluarganya sendiri. Terasa sekali, betapa ayah-bundanya terpaksa melayani lawan untuk suatu pembelaan diri. Mengapa Ayah bundanya di musuhi orang begitu banyak ? Benar-benar ia tak mengerti. Dan dalam tiga hari itu, ingin ia minta penjelasan. Namun rasa lelahnya lebih menguasai dari pada perhatiannya itu . Ia tertidur begitu menggeletakkan badan. Kini dia kehujanan. Pakaiannya basah kuyup. Inilah yang membuat dirinya tak dapat tertidur dengan cepat. Maka ini pula kesempatan baginya untuk minta keterangan kepada ayahnya.

"Lingga, jangan membuat Ayahmu berduka ! " tegur ibunya.

Mendengar teguran ibunya, wajah Wisnu nampak muram luar biasa. Ia jadi bingung, cemas dan sesal. Akhirnya ia ingin menangis dengan perasaan tak menentu. Sejenak kemudian ia mencari kesan wajah ayahnya. Berkata :

"Benarkah ayah berduka dengan pertanyaanku ini?

Kalau begitu, patutlah aku ayah hukum." Udayana menoleh kepada isterinya. Berkata:

"Larasati, mengapa dia kau tegur demikian ? Dalam hal in i bukan dia yang salah. Sebaliknya akulah manusia yang tiada gunanya hidup sebagai ayah dan suamimu. Tujuh tahun lamanya, aku membuat engkau sengsara. juga ketiga anakku "

Ia berhenti menelan ludah. Kanudian meraih leher Lingga Wisnu dan nengusap-usap kepalanya dengan perasaan kasih-sayang. Katanya lagi dengan suara agak parau:

"Lingga, kau tak salah! Sama sekali tak salah. Mengapa aku mesti menghukummu? Selama tujuh tahun ini, ayahmu mencoba mengatasi kesulitan ini, untuk mengkikis suatu salah paham. Akan tetapi, ayahmu t idak berdaya sama sekali menghadapi lawan-lawan yang bersikap sangat ganas."

Lingga Wisnu mengangkat kepalanya memandang wajah ayahnya. Berkata seperti merajuk :

"Ayah, dapatkah ayah menjelaskan tentang salah paham itu?"

Udayana mengangguk seraya tertawa sedih. Jaw abnya pasti :

"Tentu. Tentu saja. Saat ini justeru saat kita yang terakhir. Semenjak tadi, ayah sudah berkeputusan untuk menjelaskan kepadamu, walaupun otakmu mungkin belum dapat mengerti persoalan latar-belakangnya. Kalau ayah tidak menjelaskan sekarang, kapan lagi ayahmu memperoleh kesempatan lagi ? Kau duduklah baik-baik. Kemudian dengarlah setiap patah kata ayahmu. Sebab setelah ini, ayahmu tidak akan berkata- kata lagi."

Sudarwerti yang semenjak tadi berdiam diri sambil membalut lukanya, menyambung :

"Ayah! Selama tujuh tahun merantau, baru kali ini ayah membawa kami melarikan diri. Aku tahu sebenarnya. Itulah lantaran aku dan ibu terluka. Ibu mahir sekali menggunakan pedang. Kak Umardanus makin tangguh. Akupun merasa mendapat kemajuan pula. Setelah lukaku sembuh, tak perlu ayah membawa kami lari-lari begini. Hanya saja, ada satu hal yang tidak kumengerti. Ayah terlukai musuh. Mengapa ayah tak mau membalas, sedangkan sebenarnya ayah mampu berbuat begitu.?"

Sambil bertanya demikian, Sudarawerti mengawasi luka ayahnya yang menggarit kedua belah pipinya. Lingga Wisnupun demikian pula. Berkata menguatkan pertanyaan kakaknya :

"Benar ayah. Apa sebab ayah membiarkan musuh melukai pipi ayah ? "

"Lingga! Jangan kurangajar!" bentak ibunya .

"Larasati, biarlah!" kata Udayana membujuk. Akan tetapi wajahnya nampak muram luar biasa. Walaupun demikian, pandang matanya tiba-tiba bersinar tajam. Dengan suara bernada menghibur ia berkata kepada kedua anaknya :

"Tak dapat ayahmu melakukan kesalahan lagi setelah pernah berbuat suatu kekeliruan. Sekarang in i ayahmu sudah berusia lebih dari setengah abad. Kalau hari ini harus mati, hati ayah rela benar. Akan tetapi bagaimana dengan kamu sekalian. Kalau ayah menggali tanah lebih dalam lagi, kamulah yang bakal memikul akibatnya. Dapatkah dibenarkan apabila seorang ayah mening- galkan suatu warisan penderitaan kepada anak keturunannya? Tidak! Tak dapat aku menanamkan bibit permusuhan yang berlarut -larut tiada habisnya untuk kamu sekalian."

"Akh, ayah terlalu bermurah hati kepada mereka." ujar Sudarawerti. "Sebaliknya mereka tak mau tahu. Mereka mengejar kita terus menerus selama tujuh tahun. Setiap gerakan senjata mereka mengancam maut tak terampun kan. Selama beberapa tahun, entah sudah berapa kali ayah dan ibu menderita luka ringan dan berat. Tetapi ke- relaan ayah dan ibu menanggung derita itu, tak dapat merubah hati mereka. Bahkan mereka bertambah ganas dan ganas. Kenapa semangat ayah tiba-tiba menurun deras?"

Udayana menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. Katanya perlahan:

"Tidak, anakku. Tidak. Sama sekali tidak. Semangat ayahmu bukan runtuh dengan deras. Tetapi karena mempertimbangkan keadaan. Tegasnya ayahmu ini dipaksa oleh suatu keadaan. Memang merubah sikap mereka, kini tiada harapan lagi. Satu-satunya jalan hanyalah membela diri mati-matian. Kita membunuh atau dibunuh. Akan tetapi anakku, musuh-musuh kita ini luar biasa banyaknya. Barangkali kau masih ingat, tatkala mula-mula kita meninggalkan rumah. Dari Sumedang aku membaw a kalian lari kebarat sampai mencapai pantai barat. Kemudian menembus hutan belukar, balik ke timur. Melint asi Cirebon. Berbelok keselatan. Menyeberang pegunungan Banyumas. Akhirnya sampai disini. Dilembah Gunung Law u. Akan tetapi musuh- musuh kita tetap mengejar. Setiap kali memasuki suatu wilayah, musuh-musuh berganti orang. Kau tahu, siapakah musuh kita sebenarnya?"

"Itulah yang hendak kutanyakan," sahut Sudaraw erti. "Benar ayah, agar kita menjadi jelas siapa musuh-

musuh kita." Lingga Wisnu menguatkan.

Udayana menundukkan kepalanya. Setelah diam sejenak, dengan muka berkerut lalu ia berkata:

"Musuh kita adalah seluruh pendekar di dunia ini yang mempunyai angan-angan hendak nencapai langit."

Baik Sudarawerti maupun Lingga Wisnu menggeridik mendengar keterangan ayahnya. Sudarawerti delapan tahun lebih tua daripada Lingga Wisnu. Karena itu dapat ia berpikir dan menimbang. Katanya lagi minta penjelasan :

"Seluruh pendekar didunia ini? Masakan begitu, ayah? Bagaimana mereka memusuhi ayah. Apakah ayah pernah mengenal mereka?"

"Tidak. Tidak semuanya," jawab ayahnya.

" Mengapa mereka bersatu padu ayah?" Sudarawerti heran.

" Itulah karena ........ karena ... " jawab ayahnya nya sulit. Ia menimbang-nimbang sebentar.

Kemudian mengalihkan pembicaraan:

"Mereka mencanangkan ayah sebagai seorang pencuri mahabesar yang harus dibekuk hidup atau mati. Barang siapa dapat menangkap ayahmu ini hidup-hidup, memperoleh tiga bagian mustika dunia. Sebaliknya apabila menangkap ayahmu mati, hanya peroleh sebagian. Tetapi sebagian itu sudah cukup untuk membuat namanya tenar di dunia. Karena apa yang disebut mustika itu merupakan ilmu sakti tertinggi didunia. Konon dikatakan dapat melawan jin, setan, iblis dan dewa sendiri. Ia akan merajai segenap manusia didunia. Dia akan dihormati dan dipuja sebagai malaikat."

"Akh! Itulah kabar berlebih-lebihan saja," gerutu Sudarawerti. "Kita hidup pada jaman in i. Pernahkah Tuhan melahirkan seorang yang bisa mengalahkan dewa atau malaikat? Itulah suatu dusta besar!"

"Benar. Itulah suatu dusta. Namun ayahmu tidak berdaya melawan anggapan demikian," kata ayahnya.

"Jadi, mereka mengejar ayah sampai di Lembah Gunung Law u ini semata-mata lantaran menginginkan iImu sakti t iada taranya didunia in i?"

" Benar."

"Inilah suatu kegilaan," bisik Sudarawerti dengan terlongong. "Ya, benar-benar gila!"

" Kau boleh berkata demikian, anakku. Tetapi buktinya, keluarga ayahmu menjadi buruan mereka. Cobalah pertimbangkan masak-masak, dapatkah ayahmu melawan demikian banyaknya?" kata Udayana dengan menghela napas sedih.

"Itulah sebabnya, tiada jalan lain kecuali melarikan diri. Kemudian berusaha mencari paman gurumu dan ....

kalau Tuhan melindungi, kita akan berlindung kepada eyang-gurumu Kyahi Basaman. Ia adalah seorang guru besar, dihormati dan disegani orang. Setidak-tidaknya pendekar-pendekar Jawa Tengah mengenal namanya. Karena itu anakku, meskipun penderitaan kita berlarut - larut, namun aku tak percaya bahwa suatu penderitaan tiada akhirnya. Belum pernah manusia menyaksikan awan hitam menutupi langit cerah sepanjang masa. Dan sebaliknya pula, matahari yang perkasa terbatas pula kekuasaannya ..."

"Seluruh pendekar nemusuhi ayah," Lingga Wisnu berkomat-kamit, memotong perkataan ayahnya. "Mereka berbuat begitu, semata-mata karena ingin memiliki warisan ilmu sakti. Kata ayah, barangsiapa yang dapat menangkap ayah hidup atau mati akan mendapat ilmu sakti mustika dunia. Sebenarnya apakah yang disebutnya mustika dunia itu, ayah?"

Udayana tercengang mendengar pertanyaan puteranya yang bungsu itu. Terus saja ia meraih dan mengusap-usap kepalanya. Katanya perlahan:

"Kau begini cerdas. Kau ... kau ..." Ia berhenti tak meneruskan.

Hatinya meneruskan : 'Kau tumbuh terlalu cepat     ’.

Dan hatinya lantas saja terasa pedih.

Lalu berpaling kepada isterinya. Berkata :

"Larasati! Meskipun kita kini hampir memasuki wilayah perguruan, namun hidup atau mati belum dapat kita pastikan. Oleh karena itu, kalau kini aku tidak segera memberi penjelasan kepada anak-anak kita, jangan- jangan aku tidak mempunyai kesempatan lagi. Bagaimana menurut pendapatmu?"

Larasati menatap wajah suaminya. sabar : "Kalau demikian pertimbanganmu, terserahlah

padamu."

Segera 

Udayana 

menghirup napas 

segar. la

melepaskan raihannya. Kemudian memandang wajah Lingga Wisnu dan Sudarwerti. Berkatalah dengan hati- hati:

"Anakku, inilah soal yang sulit untuk kau pahami. Mungkin sekali karena umurmu belum cukup kuat untuk menanggapi. Terus terang saja, sampai kini ayahmupun tetap berada dalam suatu teka-teki pelik. Sebenarnya bagaimana asalmula terjadinya suatu fitnah ini, masih kurang jelas. Hanya anehnya, mengapa mereka semua tahu belaka tentang diri ayahmu. Pastilah ada seorang yang meniup-niupkan suatu kabar tentang diriku. Benar dan tidak bercampur-aduk tak keruan. Aku mempunyai dugaan. Tetapi selama tujuh tahun lebih, tak dapat aku membuka mulutku. Akh, seumpama ayahmu t idak terlalu sibuk menghadapi orang-orang yang datang memusuhi tanpa alasan permusuhan, siang-siang ayahmu pasti sudah dapat membekuk biang keladinya ..."

Sanpai disini Udayana berhenti berbicara. Mulutnya membungkam dengan mendadak. Giginya berceratukan seolah-olah sedang menggigit sesuatu yang ulat luar biasa.

Sudarawerti seorang gadis perasa. Terus saja berkata

:

"Ayah sangat bersakit hati. Biarlah ayah tak

meneruskan saja keterangan tentang peristiw a yang memedihkan ini" "Tidak, anakku. Ayahmu harus berbicara terus. Hanya saja ..." ia berhenti lagi.

Tiba-tiba berdiri dan berjalan keluar ambang pintu. Menyeru putera sulungnya: "Mardanus, kemarilah! Ayah hendak berbicara dengan kamu semua."

Umardanus masih mengawasi kelima ekor kudanya. Mendengar seruan ayahnya, segera ia menambatkan tali- tali kendali menjadi seonggok. Kemudian bergegas memasuki lumbung. Minta keterangan :

"Ayah hendak berbicara perkara apa?"

"Kau duduklah dahulu diantara kedua adikmu!" perint ah Udayana.

Umardanus menggeribiki pekaiannya. Kemudian menghampiri kedua adiknya. Tak dapat ia segera duduk, karena pakaian yang ia kenakan sudah basah kuyup.

"Baiklah, kau berdiri saja. Kau panaskan tangan dan kakimu, sambil mendengarkan," kata Udayana memutuskan.

"Cobalah kau terka, apa sebabnya seluruh pendekar dunia ini memusuhi ayahmu sekeluarga ! "

Umardanus menatap wajah ayahnya dengan hati tercekat. Lalu menjaw ab perlahan :

"Yang kuketahui, sepak terjang mereka membuat ayah sangat berdendam dan penasaran."

"Yang kumaksudkan sebab-sebabnya," tukas Udayana. Umardanus bimbang. Hati-hati ia menjawab:

"Menurut yang kudengar, ayah dituduh menyimpan

sebatang tongkat mustika dunia. Atau setidaknya ayah tahu rahasianya dan tahu pula dimana tongkat mustika itu tersimpan."

"Benar. Sebatang tongkat mustika. Itulah gara- garanya. Tahukah engkau apa sebenarnya tongkat mustika itu?" ayahnya seperti guru nguji muridnya.

Sebelum Umardanus menjawab pertanyaan sang ayah, tiba-tiba Lingga Wisnu memotong dengan pertanyaan pula:

"Kak Mardanus! Kenapa mereka mengira ayah yang menyimpan tongkat itu?"

Mendengar pertanyaan itu, Umardanus tercengang. Justeru hal itu pulalah yang membuat dirinya terus berteka-teki selama tujuh tahun lebih.

"Entahlah ..." jawabnya. "Aku sendiri ku rang jelas." Setelah menjawab demikian, ia berpaling ke ayahnya.

Meneruskan :

"Orang-orang yang datang mengejar kita ini, pada suatu hari dipanggil seseorang yang membaw a warta tongkat mustika tersebut. Mereka dikisiki dimanakah tongkat mustika itu berada. Mereka diberi penjelasan pula, bahwa tongkat mustika itu tidaklah hanya meng- genggam suatu rahasia ilmu sakti yang sangat tinggi tetapipun menyimpan sebuah gunung emas dan berlian yang tak ternilai harganya. Pendek kata, barangsiapa dapat mamperoleh tongkat mustika itu akan bisa memerint ah dunia. Benar tidaknya, aku tak tahu. Ayah, benarkah itu?"

Pandang mata Sudarawerti dan Lingga Wisnu mengarah kepada ayahnya. Tiba-tiba mereka melihat kedua mata ibunya mereteskan air mata. Mereka jadi terkejut. Lingga Wisnu terus saja meloncat dari duduknya. Ia memeluk ibunya dan berkata

"Ibu, kalau keterangan ayah akan menyusahkan ibu, biarlah ayah t idak usah menjaw ab pertanyaan kakak."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, air mata Larasati menetes kian deras. Ia berpaling kepada suaminya. Kemudian menunduk memandang kepala anaknya yang bungsu. Katanya perlahan :

"Memang semuanya ini ibumu ikut bersalah. Bahkan ibumulah yang menjadi bibit permusuhan ini ..."

"Larasati! Pengakuanmu tidak benar!" potong suaminya setengah membujuk. "Aku sendiri belum memperoleh pegangan yang kuat."

"Tidak! Aku, selama tujuh tahun engkau mem- bungkam demi untukku," ujar Larasati dengan suara pasti.

"Sekarang tak boleh lagi engkau memendam persangkamu. Betapa rapat seseorang membungkus ikan busuk, akhirnya akan tercium juga. Selama merantau tujuh tahun ini, jangan lagi engkau, aku sendiri telah memperoleh tanda tandanya. Dialah ..."

"Larasati!" potong suaminya dengan suara keras.

Tetapi berbareng dengan itu, ia menghela napas.

Dengan menundukkan kepala ia berkata mendesah : "Baiklah, aku akan berbicara. Akan tetapi, sama sekali

tiada maksudku, aku mencelamu. Bahkan selama in i, aku

sangat berbahagia. Aku berhutang budi padamu, Larasati. engkaulah pelita hidupku, mercu hidup anak- anakku yang lahir lew at rahimmu. Kalau malapetaka ini terjadi juga, bukankah sudah semestinya aku harus me- nyadari jauh sebelumnya."

Larasati mengusap air matanya. Ia menatap wajah suaminya dengan pandang lembut. Kemudian berkata lembut :

"Katakan saja! Aku adalah bagian hidupmu. Tiada sesuatu kekuatan yang bisa memisahkan kita, kecuali maut ... Kau katakan saja, suamiku "

Udayana meruntuhkan pandang keperdiangan Ia menyalakan api lebih besar lagi. Kemudian melemparkan pandang keluar pintu. Udara lembah Gunung Law u telah menjadi guram. Dingin hawa mulai merayapi tujuh.

Perlahan-lahan ia mengembarakan pandang dan berhenti pada wajah ketiga anaknya. Dan diantara gemercik hujan, mulai ia berkata :

"Semasa kanak-kanak, aku hidup di wilayah ini. Di wilayah Gunung Law u yang dianggap keramat oleh penduduk Jawa Tengah. Aku hidup di pinggang gunung sebelah timur laut, didalam dia mempunyai pertalian darah dengan seorang kesatria sakti yang bermukim dipuncak gunung. Kabarnya salah seorang putera Raja Brawijaya terakhir pada jaman keruntuhan kerajaan Majapahit.

"Pedepokan eyang gurumu disebut orang Wukir Baji. Tempatnya berada dibewah kepundan sebelah utara. Memencil dari semua kesibukan dunia. Siang dan malam hari hanya berselimut awan putih yang dingin luar biasa.

"Eyang gurumu mempunyai tujuh murid. Ayahmu ini termasuk murid kelima. Paman-gurumu yang tertua bernama: Ugrasena. Lalu: Dewabrata, Tawangalun, Podang Wilis, kemudian ayahmu. Setelah itu Panjalu dan Samtanus. Guru tidak menerima murid perempuan. Itulah sebabnya, sekalian muridnya adalah laki-laki.

"Kami bertujuh hidup sebagai keluarga sendiri. Saling menolong dan saling membantu. Pendek kata saling bahu-membahu. Setelah masing-masing mempunyai keluarga lantas berpisah. Diantara kami, kabarnya t inggal dua orang saja yang belum kawin. Merekalah pamanmu Panjalu dan Samtanus.

"Semenjak kami berpisah, eyang gurumu mendaki puncak gunung. Kabarnya beliau ingin melew ati jembatan Jalu Angin agar bisa bertemu dengan kasatria Majapahit itu. Syukur masih hidup. Seumpama tidak, makampun bolehlah."

"Bukankah kerajaan Majapahit runtuh beberapa ratus tahun yang lalu?" sela Sudarawerti.

"Benar. Hanya saja diluar terjadi suatu kepercayaan yang keras sekali, bahwa putera Majapahit itu sesungguhnya tidak mati. Dia pernah minum air hidup yang membaw a suatu kekekalan. Dan kabarnya, dia membangunkan kerajaan jin yang berbakti kepada Tuhan." jaw ab ayahnya. "Biarlah kita ikuti saja dongeng rakyat itu ..."

"Ayah agaknya menganggap suatu dongeng belaka.

Masakan eyang guru tidak?"

"Kabar, bahwasanya dia hendak melintasi jembatan Jala Angin untuk bisa bertemu dengan kasatria sakti tersebut, sebenarnya hanya satu dalil semata. Yang benar, eyang gurumu hendak mencoba memecahkan teka-teki tentang jembatan Jala Angin itu."

Umardanus, Sudarawerti dan Lingga Wisnu heran mendengar keterangan ayahnya itu. Tatkala mereka hendak minta keterangan tentang jembatan tersebut, ayahnya telah mendahului berkata :

"Kitapun akan menuju kesana pula, apabila keadaan sangat memaksa."

Mendengar pernyataan itu, mereka bertiga menoleh kepada ibunya. Larasati nampak mengucurkan air mata. Hal itu membuat mereka berteka-teki.

Dalam pada itu, Udayana memandang tiga anaknya, seorang demi seorang. Berkata menguji :

"Pernahkah engkau mendengar kabar, apa sebab jembatan itu bernama Jala Angin ? "

" Belum pernah aku mendengar," jaw ab Umardanus. "Itulah suatu tempat yang sangat berbahaya dan

sukar dicapai," Udayana menerangkan. "W alaupun demikian, banyak orang-orang gagah yang ingin menyeberangi. Apa sebabnya ? Sebenarnya aku sendiri belum mengetahui jelas, kecuali suatu kabar angin belaka. Dan kabarnya sudah lebih seribu jiw a yang mati terperosok ke dalam jurang, yang dalamnya entah berapa ratus ribu kaki."

"Jika jembatan itu sangat berbahaya, apa sebab mereka datang kesana seolah-olah sedang berlomba?" ujar Sudarawerti sambil menundukkan kepala.

Udayana menjaw ab : "Itulah karena mereka ingin memiliki sebatang tongkat mustika dunia yang katanya menggenggam rahasia ilmu sakti tertinggi dan harta karun yang luar biasa banyaknya."

"Akh!" seru Sudarawerti dan Lingga Wisnu berbareng dengan suara tertahan. Kemudian kesunyian terjadi dengan sejenak. Dan hujan setengah deras diluar lumbung terdengar gemersak.

"Ayah!" Sudaraw erti berkata. "Sebatang tongkat mustika berada diseberang jembatan. Mengapa ayah dikejar-kejar ribuan orang perkara tongkat itu pula?"

"Nah, inilah soalnya." sahut Udayana. "Guruku terkenal sebagai seorang sakti yang tinggi ilmunya. Mengingat kepandaiannya, mereka yakin eyang gurumu berhasil menyeberangi jembatan maut dan berhasil pula memdliki tongkat mustika tersebut. Karena setiap setahun sekali guru muncul dipadepokan, mereka mengira bahwa tongkat mustika itu telah diserahkan kepada salah seorang muridnya."

"Mengapa justeru ayah yang kena fitnah?"

"Karena paman gurumu bertempat tinggal disekitar Gunung Lawu, sebaliknya hanya ayahmu seorang yang merantau sampai di Jawa Barat. Sebab ibumu berasal dari Sumedang. Di Sumedang, ibumu mempunyai warisan tanah dan perumahan. Tak tahunya ..." Udayana bimbang. Ia mengerling kepada Larasati. Melihat air mata isterinya mengucur bertambah deras, ia lantas manbungkam.

"Kau katakan saja, suamiku," ujar Larasati diantara sedannya. Dengan hati berduka Udayana meneruskan kata katanya:

"Tak tahunya justeru ayahmu bertempat t inggal jauh, maka mereka mengira bahwa tongkat itu ayahmulah yang menyimpan ..."

"Kalau begitu, kesalahan in i tak dapat ditimpakan kepundak ibu!" seru Sudarawerti.

"Tidak. Memang ibumu yang menjadi bibitnya," kata Larasati. "Coba ayahmu bertempat t inggal ditempat lain, atau katakan saja berdekatan dengan saudara-saudara seperguruannya, bukankah mereka tak mempunyai alasan menuduh ayahmu yang bukan-bukan ? "

"Aneh! Benar-benar aneh!" Sudaraw erti meledak. "Sebenarnya apa sih tongkat mustika Aku sendiri menganggapnya sebagai dongeng. sebaliknya mereka menganggapnya sebagai sesuatu sungguh-sungguh ada. Bukankah ayah tak pernah melihat tongkat itu ? "

"Benar. Tak pernah aku melihat tongkat tersebut, " sahut Udayana.

"Kalau begitu, apakah mereka gila?" teriak Sudarawerti.

Udayana tertaw a menyeringai. Suatu kepedihan terbayang pada wajahnya. Katanya kepada isterinya :

"Larasati, lihatlah! Sedangkan anak-anak kita saja tidak percaya kepada keteranganku bahwasanya aku benar-benar tak pernah melihat tongkat tersebut. Apalagi mereka ..."

Mendengar ucapan ayahnya, Sudarawerti terkejut. Ucapannya tadi dimaksudkan untuk mengutuk mereka. Dan bukan menyangsikan keterangan ayahnya. Memang perkataan itu mempunyai dua arti. Mengutuk dan menyangsikan keterangan ayahnya. Masakan ribuan pengejar ayahnya gila semua dan memusuhi tanpa alasan yang berdasar ?

"Ayah, sama sekali aku bukan menyangsikan keterangan ayah. Aku percaya benar. Aku mengatakan mereka gila, karena perbuatannya itu benar benar tak ubah rombongan orang gila ! "

Udayana tersenyan lebar. Sahutnya :

"Bukan karena mereka gila, tetapi karena engkau masih terlalu muda untuk bisa mengerti. "

Sudarawerti menoleh kepada Umardanus mencari pengertian. Tapi pada saat itu, Umardanus menundukkan kepalanya sambil memeras pakaiannya yang basah kuyup.

"Baiklah, kujelaskan." kata Udayana menutuskan. "Mula-mula latar belakangnya dahulu. Itulah perkara jembatan maut yang bernama Jala Angin. Jembatan itu sebenarnya berbentuk sebuah batu memanjang yang menghubungkan puncak gunung dengan dataran ketinggian. Seperti kalian ketahui, Gunung Lawu mempunyai tiga kepundan. Masing masing kepundan dibatasi oleh jurang dalam.Dan batu itu melint ang dari kepundan satu ke lainnya. Sepanjang tahun, batu penghubung itu diliputi awan tebal dan kabut hitam. Selain itu angin yang datang dari dasar jurang luar biasa derasnya. Jangan lagi manusia atau binatang, sedangkan batu raksasa bisa dilontarkan tinggi-tinggi seumpama dapat mencapai bintang. Batu itupun sangat licin, karena lumutnya sudah berumur ratusan ribu tahun. Barang  siapa melalui jembatan itu dan sampai tergelincir, jangan harap lagi dapat melihat matahari atau bulan. Tubuhnya akan musnah ditelan kegelapan jurang yang dalam entah berapa ribu kaki. Walaupun demikian, karena d iseberang jembatan terdapat sebuah mustika dunia yang harganya melebihi seribu jiw a, banyak juga para pendekar mengadu untung. Sepanjang cerita, selama ratusan tahun itu hanya ada dua orang yang berhasil mencapai seberang jembatan. Merekalah yang disebut orang Ki Ageng Branjangan dan Ki Ageng Tapak Angin. Pada masa mudanya, mereka merupakan bintang kasatria gagah tiada tandingnya."

"Apakah mereka berdua menyeberangi jembatan itu demi tongkat mustika itu? " sela Sudarawerti.

"Benar. Seumpama tidak mungkin sekali hanya untuk mengangkat nama," jawab Udayana "Mereka dapat menyeberang akan tetapi tak dapat balik kembali. Karena itu cerita tentang tongkat mustika tetap merupakan suatu rahasia besar."

"Sebenarnya siapakah yang menyebarkan, cerita tentang tongkat mustiks itu, ayah?" tanya Lingga Wisnu.

"Kata orang pemiliknya sendiri " "Siapa dia?"

"Putera raja Majapahit itu sendiri," jawab Udayana. "Tegasnya begini. Tatkala kerajaan Majapahit runtuh, raja putera itu melarikan diri kemari. Karena dia menjadi perburuan, akhirnya dengan memberanikan diri ia melintasi jembatan Jala Angin dan selamat. Dia lenyap dari percaturan. Akan tetapi tongkat mustika milik kera- jaan Majapahit yang dibawanya semenjak melarikan diri dari Majapahit terbaw a hilang pula. Dan semenjak itu tersebarlah dongeng perkara tongkat mustika tersebut. Banyak orang ingin memiliki. Sebab barangsiapa dapat nemiliki tongkat mustika tersebut akan menjadi seperti raja, seumpama raja Majapahit sendiri yang pernah me- nguasai seluruh kepulauan Nusantara sampai Ma- dagaskar. Selain itu, dia akan mewarisi rahasia ilmu sakti leluhur kita semenjak dunia ini ada,"

"Apakah manusia-manusia pada waktu ini tiada yang sakti?" tanya Lingga Wisnu.

"Banyak terdapat orang-orang sakti, tetapi dibandingkan dengan kesaktian orang pada jaman dahulu sangat jauh terpautnya. Dahulu orang bisa membuat sebilah keris hanya dengan tangan. Bisa duduk diatas api unggun seolah-olah berada di atas tanah yang dingin. Bisa menghilang, dapat merubah diri. Mampu mentaklukkan kerajaan jin dan ib lis. Bisa berhubungan dengan dewa dan bidadari. Mampu menggempur gunung dengan tumbukan kaki dan tangannya. Bisa mendorong lantang sampai mundur seribu kaki. Seperti Empu Beradah di kabarkan bisa menyeberangi pulau Bali, hanya menginjakkan kakinya diatas selembar rumput alang alang. Pendek kata ragam kesaktian yang kita mi- liki sekarang in i hanyalah merupakan sisa-sisa butirannya belaka. Sedangkan yang inti-patinya lenyap ditelan sejarah. Peristiw a ini samalah halnya yang pernah terjadi dinegeri Mesir. Pe radaban bangsa Mesir yang bisa membangun bangunan agung lenyap tak keruan hingga tak dapat diwarisi oleh angkatan yang mendatang. Bagaimana bisa terjadi demikian, masih merupakan raha- sia dunia yang sangat besar dan sampai kini masih saja merupakan teka-teki tak terpecahkan. Orang-orang tua pernah berkata bahwa dunia dahulu pernah mengalami kiamat sehirgga melenyapkan peradaban jaman Purba.”

Mendengar tutur kata itu, Lingga Wisnu yang masih berumur delapan tahun tertarik bukan main sehingga mulutnya terlolong-lolong.

"Demikianlah oleh keyakinan itu orang-orang gagah tidak menghiraukan masalah persambungan jiw a. Akan tetapi seorang demi seorang, mereka runtuh ditelan jurang. Dan habislah riwayat hidupnya yang pernah ce merlang. Maka tak mengherankan pula, apa sebab ribuan orang datang mengejar ayahmu ..." Udayana meneruskan.

Sudarawerti terpekur sejenak. Berkata :

"Tetapi soalnya apakah benar ayah menyimpan tongkat mustika itu ? "

"Sudah kukatakan tadi bahwa sampaipun detik ini ayahmu belum pernah melihat. Apalagi menyimpan atau memiliki," jawab Udayana dengan suara tegas. "Kalau hal itu difitnahkan kepada ayahmu adalah disebabkan eyang gurumu nenghampiri jembatan Jala Angin setelah ketujuh muridnya mengundurkan diri dari rumah perguruan. Eyang gurumu seorang sakti yang melebihi orang-orang gagah lainnya. Semua orang percaya bahwa eyang gurumu pasti berhasil. Buktinya Ki Ageng Branjangan dan Ki Ageng Tapak Angin bisa melintasi jembatan Jala Angin dengan selamat. Celakanya eyang gurumu setiap tahun sekali datang kembali kepadepokan untuk menerima sujud murid-muridnya yang terdekat. Dan hal ini dikabarkan orang bahwa eyang gurumu sudah berhasil pulang dari seberang jembatan dengan membaw a tongkat mustika tersebut. Terang sekali, itulah suatu fitnah. Akan tetapi jalan pikiran mereka bisa dimengerti. Cobalah pikir, eyang gurumu datang dipadepokan satu tahun sekali untuk beberapa hari, kemudian balik kembali di jembatan Jala Angin. tahun berikutnya datang lagi. Lalu balik kembali. Demikianlah sampai lima enam kali. Kalau tidak memiliki tongkat mustika, bagaimana mungkin bisa menyeberangi jembatan maut tersebut."

"Apakah eyang guru benar-benar berhasil memiliki tongkat mustika tersebut?" Sudarawerti menegas.

Udayana bimbang. Sejenak kemudian menjawab pertanyaan anaknya :

"Itulah sebabnya ingin aku membaw a semuanya kesana untuk membuktikan. Seumpama eyang gurumu berhasil menyeberangi jembatan Jala Angin akupun akan membaw a kalian menyeberangi pula."

"Apakah ...... apakah kita akan berhasil ? "

Udayana nampak gelisah. Ia mendongak merenungi atap. Beberapa saat ia berdiam diri. Kemudian menundukkan kepalanya dan berkata :

"Memang aku tak mengharapkan bisa berhasil menyeberangi jembatan maut itu. Yang kuharapkan salah seorang keluarga kita harus bisa menyeberang. Dengan begitu keturunan kita tidak akan terputus. Sebab kalau engkau bisa melintasi jembatan Jala Angin, tiada seorangpun berani mencoba menyeberangi embatan tersebut ..."

"Ayah, kalau jembatan itu Memang sangat berbahaya, mengapa ayah tidak mengungsi kapedepokan saja ? " Sudarawerti menegas dengan suara gemetar. "Sudah kukatakan tadi, bahwa eyang gurumu lebih sering berada di jembatan maut itu, dari pada dipadepokan. Syukurlah bilamana eyang gurumu berada dirumah perguruan. Seumpama tidak, mereka bisa membakar padepokan karena gusar dan marah. Dan ini merupakan dosa tak terampunkan untuk ayahmu. Matipun rasanya belum dapat menebus noda tersebut." jawab Udayana.

Kesunyian lantas terjadi lagi. Gemericik hujan terdengar nyata kembali. Sekonyong konyong Larasati berkata :

"Mengapa engkau mash sembunyikan satu hal lagi, suamiku? Katakanlah! Katakanlah terus terang ! Bukankah kita berdua telah menemukan pula tanda- tandanya ? "

Mendengar perkataan isterinya, bukan main sedih hati Udayana. Ia lantas nampak duapuluh tahun lebih tua dari pada usianya sekarang. Mukanya nampak kusut sayu dan guram. Akan tetapi ia mencoba menguatkan diri. Setelah menatap wajah isterinya beberapa saat lamanya, ia berkata perlahan :

"Sebenarnya, aku sendiri masih bimbang. Benarkah dia yang menerbitkan huru-hara ini?"

"Kalau bukan dia, siapa lagi?" sahut isterinya.

Udayana menghela napas panjang sekali seraya bergeleng kepala. Ia keberatan untuk meluluskan anjuran isterinya.

"Apakah harus aku sendiri yang menceritakan?" desak Larasati. "Dua anak diantara ketiga anak kita sudah menanjak dewasa. Masih perlukah engkau sembunyikan masalah kehidupan muda-mudi?"

"Tetapi apa perlu mengungkat soal lama? Apakah keuntungannya?"

Larasati menatap wajahnya, lalu berkata :

"Aku tahu engkau seorang pendekar yang mengutamakan budi luhur. Demi kebajikan itu, kau rela hancur lebur tanpa kubur. Akan tetapi, aku t idak! Sebab disini kupertaruhkan kesucian hatiku. Karena aku tak rela engkau mengalami malapetaka sebesar ini. Itulah karena gara-gara masa mudaku. Engkau khaw atir menyinggung perasaanku. Karena itu, engkau mencoba menutupi. Tetapi justeru demikian, aku jadi tersinggung. Sebab artinya engkau mencurigai kesetiaan dan kesucianku."

"Larasati, nengapa kau berkata begitu? Demi Tuhan tak pernah aku berkata yang bukan bukan terhadapmu," potong Udayana.

Umardanus, Sudarawerti dan Lingga wisnu berprihatin menyaksikan orang tuanya bertengkar kata. Inilah kejadian yang disaksikan untuk yang pertama kali. Mereka jadi terpaku.

"Baiklah anakku, biarlah aku yang memberi keterangan kepada kalian," kata Larasati dengan tabah.

"Pada masa mudaku, aku seperti engkau, Sudarawerti. Cukup menarik dan cukup menaw an perhatian orang. Ayah bundaku mempertunangkan aku dengan seorang pemuda yang belum pernah kukenal. Itulah adat-istiadat jaman kuno. Pemuda itu bernama Dara Petak. Dia anak seorang yang berpengaruh. Selain itu, ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Menurut orang, tiada celanya. Akan tetapi setelah bertemu dengan ayahmu, aku berkeputusan untuk membangkang kehendak eyangmu, inilah jadinya. Walaupun ayahmu tadi menyatakan masih bimbang namun aku mengira bahwa semuanya ini adalah perbuatannya. Kau ingat-ingatlah namanya Dara Petak. Aku mengharapkan agar dikemu- dian hari kalian bisa menyelidiki benar tidaknya."

Sederhana keterangan Larasati, akan tetapi cukup merangkum keseluruhannya. Dan mendergar cara ibunya menekan-nekan setiap patah katanya membuat hati mereka bertiga bercekat.

Mendadak pada saat itu, terdengarlah suara derap kuda diantara gemericik hujan. Wajah Udayana berubah hebat. Serunya setengah mengeluh:

"Akh! Benar-benar mereka tidak membiarkan kita bisa beristirahat sebentar. Kalau begitu anak-anakku tiada jalan lain kecuali menyeberangi jembatan Jala Angin. Sebab untuk lari mengungsi dipadepokan eyang gurumu, rasanya tak sempat lagi."

Mendengar ucapan Udayana, Larasati mencelat keambang pintu dengan menghunus pedangnya .

"Biarlah aku mengambil kuda kita," katanya

"Ibu! Tak usah ibu bersusah-payah. Biarlah aku!" seru Umardanus.

Udayana melesat menghadang. Cegahnya:

"Biarkan ibumu yang pergi. Sekarang yang penting dengarkan kata-kataku ini. Aku tak tahu apakah kata- kataku ini merupakan pesan ayahmu yang penghabisan." Umardanus mundur selangkah. Ia berdiri tegak didepan kedua adiknya dengan memancarkan pandang berapi.

"Umardanus, Sudarawerti, Lingga Wisnu! Dengarkan. Siapa saja diantara kamu bertiga, harus bisa melintasi jembatan. Jika harapan ayahmu ini terkabulkan, itulah sudah cukup, yang kelak wajib menyambung asal keturunan keluarga kita. Kau dengar?" kata Udayana dengan suara gemetar.

"Ya, ayah," mereka bertiga menjawab berbareng dengan suara tertahan.

"Tetapi apabila kita semua terpaksa gugur sebelum mencapai jembatan Jala Angin, ya sudahlah. Itulah diluar kekuatan dan kekuasaan kita. Artinya Tuhan yang menghendaki. Walaupun demikian sampai detik kini, masih aku berdoa semoga Tuhan memberkahi ayah- ibumu, semoga salah seorang diantara kamu bertiga bisa selamat sampai keseberang jembatan. Oh Tuhan, Kau dengarkanlah suaraku kali ini! Kemudian, apabila Tuhan mengabulkan sehingga salah seorang diantara kamu bertiga bisa menyeberangi jembatan maut, pergilah engkau kedusun Karang teleng. Letak dusun itu disebelah selatan Kartasura. Carilah seorang buta yang bernama: Ki Waluja. Tanyakan kepadanya apakah dia masih menyimpan barang titipan keluarga Udayana. Dia nanti akan menjawab: Sekarang waktu apa ? Maka engkau harus menjawab katu-kata sandi itu: Hari sudah lew at lohor. Matahari bersinar pare-anom. Apabila dia mendengar jawabanmu, ia akan berkata: Dimanakah ja- lan yang bisa membawa manusia ke ketenteraman abadi? Jika dia berkata demikian, maka benarlah dia Ki Waluja. Maka engkau harus menjawab: KUNCI. Nah, kau ingatlah kata-kata sandi itu. Umardanus, kau lindungi kedua adikmu itu. Cepat!"

Udayana nampak gugup. Sebab ia mendengar beradunya senjata. Alangkah cepat gerakan musuh itu. Pastilah dia bukan sembarangan.

"Umardanus! Kau lepaskan panah berapi biru itu! Disini dekat rumah perguruan ayahmu. Barangkali salah seorang paman gurumu melihat api tanda bahaya," kata Udayana.

Setelah berkata demikian ia melesat keluar pintu. Setelah    Udayana    hilang    dikegelapan    malam,

Umardanus menyambar lengan Lingga Wisnu. Katanya

dengan suara dalam:

"Adikku selama tujuh tahun belum pernah sekali jua engkau terluka. Karena itu, engkau satu-satunya harapan kita. Aku akan membaw amu lari dan melindungimu sampai mencapai jembatan Jala Angin. Aku tahu dimana arah jembatan tersebut, karena ayah mengabarkan kepadaku. Aku, Sudarawerti, ayah dan ibu mempertaruhkan harapan kepadamu seorang. Engkaulah kelak yang harus dapat menyambung asal usul keluarga kita. Karena itu dengan tubuhmu yang masih utuh moga- moga Tuhan mengabulkan permohonan keluargamu. Kami sekeluarga berharap agar dikemudian hari engkau bisa mencuci bersih rasa penasaran keluargamu Terutama rasa sakit hati ayah bundamu yang pernah mendukungmu kesana kemari menempuh bahaya dan melindungi dirimu. Adikku, cepatlah kau melompat diatas kudamu dan kaburlah dengan segera. Kesana!" Setelah berkata demikian dengan menghumus pedang Umardanus berjalan menghampiri ambang pintu, melindungi kedua adiknya.

Tiba diluar, Sudarawerti segera memberi contoh melompat keatas kudanya dengan gesit sekali. Dan setelah Lingga Wisnu berada pula diatas pelana kudanya, Umardanus menjajari dan menghentak kendalinya.

"Mari!" ajaknya.

Limapuluh meter didepannya, ibunya sedang bertempur melawan seorang yang mengenakan jubah pendeta. Pendeta itu bersenjata sepasang golok. Dialah yang mengenalkan diri dengan nama Ruji Pinentang. Gerakannya gesit dan membaw a angin bergulungan. Larasati dengan sebentar saja dapat dikurungnya rapat-

rapat.

Melihat ibunya kena kurung. Umardanus me- ngurungkan  niatnya mengaburkan kudanya. Ter- ingatlah dia kepada pesan ayahnya. Cepat ia menarik anak panah dan dinyalakan. Kemudian dilepaskan keudara.

Seketika itu juga terdengarlah suara bersuling diudara   tinggi.    Kemudian

dengan suara ledakan kecil, apinya yang biru pecah berantakan merayapi keseluruh penjuru. Indah sekali pemandangan itu dimalam gelap gulita, tetapi mereka samua t iada kesempatan untuk menikmati keindahan itu. Setelah melepaskan anak panah, Umardanus melompat dengan menyambarkan pedangnya. Tangan kirinya menggenggam pula sebilah belati tajam .

Begitu memasuki gelanggang dengan mengerahkan tenaga ia menangkis golok Rujipenentang berbareng menikamkan belatinya.

Rujipenentang kaget sampai undur dua langkah. Dan pada saat itu, mendadak Lingga Wisnu melompat pula dari kudanya sambil menarik pedang pendeknya yang selalu tergantung dipelananya.

"Hai! Kau hendak kemana7" cegah Sudarawerti. "Kakak! Jangan halangi aku!" teriaknya seperti kalap.

“Mereka sangat kejam dan sama sekali tak sudi memberi ampun. Mereka selalu mengejar kita seperti barisan iblis. Kalau aku tidak ikut membasmi mereka, sampai kapan kita bisa hidup tenteram? Aku harus membasmi mereka! Aku harus membasmi mereka!"

"Lingga! Jangan menuruti perasaanmu sendiri. Kau ingat pesan kakak atau tidak ? Cepat! Pergilah! Lihat musuh makin banyak! Aku akan membantu ayah ibu menahan mereka, sementara kau perai menjauhi."

Memang benar. Pada saat itu muncullah belasan orang berkuda yang langsung mengepung Udayana dan Larasati dengan segera. Melihat datang musuh, Udayana sama sekali tak gentar. Seperti Umardanus, kedua tangannya menggenggam pedang dan belati yang berkilat karena tajamnya. Dengan cepat ia mendampingi isterinya yang tak sudi mundur walaupun selangkahpun. Untuk sejenak mereka tak berdaya menghadapi perlawanan yang rapih itu. Udayana suami isteri merupakan sepasang pendekar semenjak memasuki Jenjang perkawinan. Mereka bisa bekerja sama. Sekarang mereka berdua ditambah dengan pengalamannya yang pahit dan berbahaya selama tujuh tahun berturut turut. Tak mengherankan, pembelaan diri mereka rapih dan rapat. Walaupun kena kerubut belasan orang, namun gerak gerik mereka tidak kacau.

Sudarawerti menjadi sibuk sendiri. tak dapat ia membiarkan kedua orang tuanya dikeroyok demikian. Perlahan-lahan ia menguraikan pedang lemas yang membelit pinggangnya. Pedangnya itu terbuat dari emas sangat tua. Sifatnya lemas dan ulat. Begitu kena ditarik, pedang itu lencang seperti berpegas. Tepat pada saat itu, kilat mengejap. Dan kena kejapan kilat, pedang emas meletikkan cahaya kemilau.

Umardanus yang sedang melayani musuh, Kaget melihat kejapan cahaya itu. Dengan menjejak tanah, ia mundur jumpalitan sambil berteriak:

"Adik, kau tak usah maju! Bawalah Lingga menjauh cepat-cepat. Kalau t idak, kita bakal menggagalkan pesan ayah."

Sudarawerti tertegun. Ia menjadi bingung dan dengan wajah penuh pertanyaan, ia menatap kakaknya, Belum pernah kakaknya menbentak dengan suara demikian. Hatinya yang lembut terhentak kaget. Dengan suara gugup ia minta penjelasan .

"Sebenarnya kakak mau apa?"

"Kakak mau apa?" bentak Umardanus dengan mata membelalak. Katanya menjelaskan: "Belum pernah aku berbicara dengan cara begini kepadamu, bukan ? Tapi sekarang lain! Siapa diantara kita kamu berdua tidak mau mendengarkan perkataan ini, tak kuakui sebagai saudaraku lagi: berdua mendengar? Nah, sekarang naiklah ke kudamu. Lingga, kau pergilah menuju jembatan Angin. Kesana terus! Lihat yang tenang!"

Dengan air mata bercucuran, Sudarawerti coba meyakinkan :

"Kakak, kau keliru! Pesan ayah sebenarnya dialamatkan kepadamu dan adik. Sebab kakak dan adik adalah laki-laki. Ayah mengharapkan keturunan untuk menyambung asal usul keluarga. Bukan aku! Aku seorang perempuan. Biarlah aku yang mau membantu ayah-bunda. Ingatlah, kak. Aku seorang perempuan. Tanggung jawab untuk melaksanakan pesan ayah sangat berat bagiku. Terus terang saja, aku tak sanggup! Aku seorang perempuan! Seumpama aku selamat, apakah yang harus kulakukan? Karena itu maafkan adikmu in i. Biarlah aku yang membantu ayah-bunda. Sebaliknya kakak dan adiklah yang harus memikul tugas berat untuk mencuci bersih nama keluarga kita dikemudian hari."

"Tutup mulutmu!" bentak Umardanus dengan mata berapi-api. "Kau hendak mathantu ayahbunda, apakah kepandaianmu melebihi aku?"

"Tentu saja kepandaian kakak berada d iatasku," sahut Sudarawerti dengan suaraberduka.

"Jika begitu, kau mengertimaksudku," kata Umardanus. "Belasan musuh yang mengejar kita kali in i, nampaknya seranbongan pendekar pilihan. Mereka tahu, jika lambat sedikit, ayahbunda dan kita semua berarti selamat. Karena sudah hampir mamasuki wilayah perguruan eyangguru. Itulah sebabnya, mereka mengerahkan jago-jagonya kelas satu Sekarang kau berlagak hendak melawan mereka. Walaupun tubuhmu bakal hancur, tiada gunanya sama sekali. Kau tak bisa menolong ayah-bunda. Maka itu, cepatlah engkau pergi membaw a adikmu mendahului kami! Percayalah, kami akan segera menyusul!"

Keras kata-kata Umardanus, sehingga suaranya agak menggeletar, sedang kedua matanya penuh air mata.

Teranglah, bahwa ia berbicara demikian untuk menghibur kedua adiknya.

Sudarawerti seorang gadis lembut perasaan dan cerdas. Ia tahu menebak maksud kakaknya itu. Lantas saja iamenangis sedih. Katanya mencoba:

"Kakak, tak dapatkah engkau berangkat bersama kami?"

"Tidak!" bentak Umardanus. "Kau mau mendengar perkataanku atau tidak?"

Sudarawerti mendengar suara bengis kakaknya, tapipun berbareng melihat kedua mata kakaknya yang bercucuran air mata. Ia lantas menjadi lemah hati. Perlahan-lahan ia melibatkan pedang emasnya kembali pada pinggangnya yang ramping.

"Baiklah        kak. Baiklah." katanya perlahan diantara

sedannya.

Umardanus tersenyum lebar. Akan tetapi mengandung suatu rasa sedih tak terhingga. Sahutnya serang. "Nah, begitulah baru seorang adik. Akh, adikku yang manis dan baik hati. Kau lindungilah adikku itu. Tak usah kau menunggu ayahbunda dan aku! Kau dengar perkataanku ini? Nah cepatlah kau larikan kudamu. Tuhan Yang Maha Adil melindungi kalian berdua dan akan memberkahi kita semua. Selamat jalan, adikku. kalian berdua bisa mencapai jembatan Jalan Angin yang dituju! "

Setelah berkata demikian, ia menghampiri Lingga Wisnu. Pedang pendek adiknya diambilnya dari tangannya. Ia sendiri lantas mengasurkan, pedangnya. Katanya :

"Adik! Pedang ini walau jelek pedang pusaka turun- temurun. sebuah pedang leluhur ibu. Dengan pedang ini, leluhur ibumu pernah membuat nama cemerlang. Kau tahu namanya? Pedang ini bernama: Pedang Gumbala Geni. Artinya penggebah jin setan dan iblis! sayang ayah bunda kena fitnah sehingga kita terpaksa hidup mengembara tak tentu tujuan selama tujuh tahun lebih. Kita bisa hidup sampai kini adalah karunia Tuhan dan berkat kegagahan ayah bunda. Beberapa hari yang lalu, ayah mewariskan Pedang Gumbala Geni kepadaku lantaran ayah telah merasa usianya makin tua. Beliau mengharapkan kepadaku, agar akulah yang berada didepan sebagai perisai dan penggebah musuh-musuh kita. Tetapi malam in i, pedang Gumbala Geni kuserahkan kepadamu, adik. Baik ayah bunda maupun aku mengha- rapkan agar engkau kelak dapat mengangkat dan menjunjung tinggi nama keluarga kita untuk selamanya."

Lingga Wisnu menerima pedang Gumbala Geni dengan tangan bergemetaran. "Kakak ........ kakak ........ aku ..." katanya tergagap. "Kau peganglah erat-erat!" potong Umardanus. "Lekas

kau lecut kudamu agar lari secepat-ce patnya. Percayalah pada saat ini engkau dilindungi kekeramatan pedang

Gumbala Geni. Kau akan selamat. Kau akan bisa menyeberangi lembatan itu. Kau akan menjadi seorang laki-laki sejati dikemudian hari. Percayalah, adikku. Me- mang aku sendiri masih meraba-raba peristiw a permusuhan besar ini. Tegasnya aku masih gelap, karena itu sebelum berhasil engkau menggenggam ilmu sakti yang tangguh lebih baik kau menyematkan nama samaran saja, adikku. Hal in i penting sekali demi tujuanmu yang besar dikemudian hari ..."

Tepat pada saat itu terdengarlah teriak Udayana mengandung kemarahan.

"Akh kalian keterlaluan. Mengapa kalian begini ganas? Baiklah aku Udayana malam in i kau paksa melakukan pembunuhan besar-besaran. Lihat saja!"

Boleh dikatakan belum berhenti ia berkata-kata atau disana terdengar suara jeritan menyayatkan hati. Memang Udayana terkenal sebagai seorang ahli pedang kenamaan. Selama menjadi perburuan tujuh tahun lebih belum pernah ia melakukan ilmu sakti simpanannya. Tapi malam itu merupakan malam pertaruhan hidup dan mati.

Apalagi ia merasa dipaksakan oleh keganasan lawan. Maka tanpa segan-segan ia menerjang dengan ilmu pedang simpanannya.

Akibat robohnya seorang musuh, rekan-rekan yang menjadi gusar. Lantas saja nampaklah berbagai senjata berkeredepan apabila kena kejapan kilat menyambar cakrawala. Dengan berteriak-teriak mereka meluruk suami-isteri Udayana bagaikan gugurnya gunung.

Tak usah diceritakan, Udayana sangat sibuk menghadapi lawan yang banyak sekali lumlahnya.

Menyaksikan hal itu, Umardanus mencium adiknya silih berganti. Lingga wisnu masih tertegun oleh perbaw a pedang sakti. Sebaliknya tidak demikianlah halnya Sudarawerti yang sudah berumur. Ia mengerti cium itu. Lantas ia menangis sedih.

"Berangkatlah adikku !" kata Umardanus.

Sudarawerti mengertak gigi menguatkan hati, rasa penasarannya jatuh kepada kuda Lingga Wisnu. Mengapa semuanya ini harus terjadi ? Dan dengan sekuat tenaga ia menghantarkan kuda Lingga Wisnu .

Kuda yang tak mengerti kesalahannya, kaget berjingkrak begitu kena hantamannya. Lantas saja melesat maju dengan berderap. Untung Lingga Wisnu sudah biasa naik kuda. Meskipun tubuh bergoyang tatkala kudanya melompat maju, tetari beberapa detik kemudian ia sudah bisa menguaai. Tatkala menoleh, kakaknya perempuan sudah berada dibelakangnya dengan menghunus pedang emasnya.

Umardanus mengikuti kepergian kedua adiknya dengan pandang matanya. Setelah mereka lenyap dibalik tikungan bukit, ia berputar tubuh. Berteriak keras:

"Ibu! Silahkan mengaso sebentar. Biarlah aku yang maju!"

Dalam pada itu Sudarawerti dan Lingga Wisnu terus melarikan kudanya secepat-cepatnya. Jalan yang ditempuhnya mendaki tegak. Belukar dan hutan raya diterjangnya dengan membabi buta. Setelah lari berkejar-kejaran belasan kilo meter jauhnya, tiba-tiba seperti saling berjanji kuda mereka meringik sedih dengan berbareng. 1a terjatuh bergulingan kehabisan napas.

Kejadian demikian sebenarnya wajar. Berhari-hari lamanya, kurang lebih seratus tujuh puluh ampat hari, kuda mereka berlari-larian kencang dari tempat ke tempat. Dan boleh dikatakan hampir tak pernah beristirahat cukup.

Meskipun termasuk kuda pilihan, namun bukan terbuat dari besi atau baja. Dan pada malam hari itu, keduanya roboh dan tewas seketika itu juga karena letih dan kehilangan napas.

Sudarawerti dan Lingga Wisnu melompat ke tanah dengan berjungkir-balik.

"Lingga! Bagaimana? Kau Terluka?" teriak Sudarawerti cemas.

"Tidak." sahut Lingga Wisnu sederhana sambil menggeribik pakaiannya.

Sudarawerti melemparkan pandang kearah depan. Ia melihat sebuah bukit bertebing tegak. Diam-diam ia menghela napas. Katanya didalam hati: 'Meskipun kuda- kuda ini mendadak bisa hidup kembali, rasanya tidak akan sanggup mendaki bukit itu." memperoleh pertimbangan demikian, segera ia menyambar tangan Lingga Wisnu dan di ajaknya lari mendaki bukit.

Ditengah jalan sekonyong-konyong Lingga Wisnu merandek. Berkata : "Kak! Bagaimana menurut pendapatmu? Apakah ayah dan ibu bisa selamat? Eh maksudku, bisa mengundurkan musuh?"

"Musuh sangat besar jumlahnya," sahut Su- darawerti."Merekapun nampaknya tangguh. Tetapi ayah seorang ahli pedang yang gagah. Ilmu kepandaian ibupun sudah mencapai kesempurnaan Kak Umardanus demikian pula. Dia sedang gagah-gagahnya. Maka aku yakin, mereka bisa menggebu musuh dengan mudah. Sebentar lagi mereka bertiga akan menyusul kita."

Tetapi kata-kata itu hanya dimulutnya. Sedangkan hatinya khawatir bukan main. Ia tahu, ayah-bundanya telah terluka. Kakaknyapun demikian pula. Sedang musuh-musuh yang meluruk sangat banyaknya dan semuanya tangguh.

Lingga Wisnu melamparkan pandang diudara guram gelap. Seorang diri ia berkata :

"Ayah nampaknya mempunyai kesulitannya sendiri yang tak dapat dikatakan dihadapan kita semua. T adi ia mau menbuka mulut, setelah mendapat izin ibu. Benarkah itu?"

Setelah berkata demikian seorang diri, ia menoleh kepada Sudarawerti. Ia percaya kakaknya perempuan itu, pasti mengetahui persoalannya yang benar.

Sudarawerti dapat menebak kejolak hati adiknya.

Cepat ia rengalihkan perhatian :

"Lihatlah kedepan! Menurut keterangan ayah dibalik bukit itulah terbentang jembatan Jala Angin, yang gaw at bukan main. Ribuan pendekar-pendekar gagah terpeleset masuk kedalam jurang. Tetapi dengan kehendak Tuhan engkau akan selamat t iba diseberangnya. Mari! Mari kita kesana!"

Berkata demikian, pandang mata Sudarawerti memandang kearah lain agar tidak kebentrok dengan pandang mata adiknya. Sebab didalam hati kecilnya sendiri, ia menyangsikan perkataannya tadi. Benarkah Tuhan Yang Memerint ah hidup, akan memberikan perhatian istimewa kepada adiknya?

Sekonyong-konyong    Lingga     Wisnu     merenggut

tangannya yang dipegang kakanya. Katanya nyaring :

"Janganlah enykau mencoba mengelabui aku, kak

! Kenapa kaupun tak sudi

menjelaskan persoalan yang masih geiap bagiku ini ? apakah ayah yang salah ? Kalau tidak salah masakan dimusuhi manusia diseluruh dunia. Kakak aku tahu kau mengerti persoalan sebenarnya. mengapa kau tak sudi menjelaskan kepadaku?

Apabila kau tetap membungkam, mulai saat ini tak sudi aku mengakuimu sebagai kakaku."

Hebat ancaman Lingga Wisnu dalam pendengaran Sudarawerti. Kalau saja ia tak mendengar sendiri, pastilah t idak akan percaya bahwa anak berumur delapan tahun bisa berkata demikian keras terhadapnya. Ia jadi berduka, bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti wanita diseluruh dunia, Sudarawerti lekas saja meneteskan air meta lantaran pepat..

"Adikku!" akhirnya ia berkata. "Aku bersumpah demi Tuhan bahwa akupun sesungguhnya tak mengerti dengan jelas. Akupun baru sebentar tadi mendengar penjelasan. Dan aku yakin. Ayah tidak bersalah. Beliau korban suatu fitnah! Entah bagaimana bentuk fitnah itu."

"Benarkah perkara sebatang tongkat mustika belaka?" potong Lingga Wisnu.

"Kita ini masih muda belia. Pengalaman hidup kita masih kosong. Seumpama kita berumur duapuluh tahun lagi, barangkali aku akan tahu betapa pentingnya memperoleh tongkat mustika tersebut, adikku."

"Jadi benar-benar perkara tongkat mustika?" Lingga Wisnu menegas..

"Kukira begitu."

"Katakan yang terang, kak! Jadi perkara tongkat mustika?" ke mbali lagi Lingga Wisnu menegas.

Sudarawerti menatap wajahnya. Kemudian berikan jawaban dengan menggeletar :

"Ayah seorang jujur. Beliau seorang kasatria sejati. Maka aku percaya kepada keterangannya. Ya perkara tongkat mustika! Hanya saja disamping itu masih ada sesuatu yang menyulitkan ayah. Beliau tadi mencoba membicarakan akan tetapi t idak jelas."

Lingga Wisnu terpekur. Kemudian mendongak keudara. Teringatlah dia tadi ibunya selalu mengucurkan air mata apabila ayah nampak sulit bicara. Maka bertanyalah dia dengan suara tegas . "Kakak! Apakah perkara ibu? Maksudku, apakah ibu yang salah?"

Sudarawerti berbimbang-bimbang. Menjaw ab:

"Samar-samar pernah aku mendengar hal itu. Akan tetapi, aku tak yakin. Ayah sendiri tadi, tidak yakin pula bahwa dalam hal ini ibu yang membuat bibit permusuhan ini. Ibu seorang suci. Ibu sangat mencintai ayah. Selama tujuh tahun mengikuti ayah menjadi perburuan, tak pernah is mengeluh. "

Lingga Wisnu menghela nafas. Lalu berkata:

"Kalau ibu atau ayah yang salah, wajib kita mohon maaf. Sebaliknya kalau ayah dan itu tidak salah, kita harus mencuci noda itu. Bukankah begitu pesan kakak Umardanus?"

Bukan main terharunya hati Sudarawerti. Adiknya baru berumur delapan tahun, namun kata-katanya benar- benar seperti seorang anak yang sudah menanjak dewasa. Inilah akibat penggodogan selama delapan tahun siang dan malam. Pertumbuhan rohaninya sangat cepat. Terlalu cepat, malah.

"Benar, Lingga Wisnu," akhirnya Sudarawerti menyahut dengan hati terharu. "Kata-katamu adalah ucapan seorang kasatria sejati. maka benarlah kata ayah tentang dirimu. Walaupun ilmu kepandaianmu paling lemah diantara kami, akan tetapi bakatmu berada diatas kita semua. Karena itu engkaulah yang kelak wajib membersihkan nama orang tua kita dan menuntut balas dendam!" Lingga Wisnu membungkam mulut. Ia nampak susah hati. Lama sekali ia berdiam diri. Lalu berkata perlahan seperti pada dirinya sendiri:

"Jadi merekalah yang bersalah. Tetapi, apakah maksud Ibu menyuruh kita mengingat-ingat names DARA PETAK ? Ibu berkata, bahwa tanda tandanya sudah diketemukan."

"Perkara itu masih gelap. Ayah sendiri masih berbimbang-bimbang. Biarlah kita menyelidiki saja dikemudian hari dengan perlahan-lahan. Sekarang kita berdua terlalu sulit untuk memahami. Yang paling penting kita berdua harus bisa menyeberangi jembatan Jala Angin dengan selamat.Terutama engkau, adikku. Baik ayah bunda maupun kakak dan aku mengharapkan dirimu. Engkaulah adikku yang bisa membersihkan noda keluargamu dikemudian hari."

Lingga Wisnu tertawa. Sahutnya:

"Ribuan orang menjadi musuh kita. Sanggupkah aku melawan mereka?"

"Kau berada dijalan yang benar. Tuhan akan memberkatimu dan melindungimu," Sudarawerti mengesankan.

Pada saat itu mendadak terdengarlah suara lapat-lapat dari jauh :

"Sudarawerti! Kenapa engkau masih berhenti disitu?

Cepat! Baw alah adikmu lari!"

Sudarawerti segera mengenal suara kakaknya. Gugup ia mengajak LinggaWisnu :

"Hayo!" Dengan tangan lembut sedingin es ia menggandeng tangan Lingga Wisnu dan dibaw anya mendaki bukit, setelah berjalan selint asan tiba-tiba Lingga Wisnu merendek lagi. Berkata kepada kakaknya :

"Aku lelah. Kita berhenti dahulu!"

Sudarawerti dapat menebak kata hati Lingga Wisnu sesungguhnya. Bocah itu pasti teringat keadaan ayah ibunya, juga terhadap keselamatan kakaknya. Umardanus. Dia sendiri sebenarnya demikian pula. Akan tetapi mengingat tugas yang harus dilaksanakan, tak dapat ia mengidzinkan adiknya berlalai-lalai. Segera ia menguatkan hati dan mengendalikan perasaannya sendiri.

Walaupun demikian, tak urung ia gagal juga. ia menoleh dan menembakkan pandangnya kearah per- tempuran.

Heran ia, apa sebab pertempuran itu tiba-tiba sudah mendekati tanjakan dibawahnya. Pada saat itu kilat mengejap beberapa kali. Puluhan senjata nampak berkelebat meluruk ayah bundanya dan kakaknya. maka tahulah dia kini, karena banyaknya lawan, ayah-ibu dan kakaknya membela diri sambil berlari mundur. Setelah berkelahi beberapa waktu lamanya, mereka telah tiba dibawah tanjakan bukit.

Samar-samar ayahnya mendampingi ibunya. Sedang kakaknya melesat kesana-kemari dengan maksud melindunginya. Mereka bertiga bekerja sama sangat rapih, berkat pengalamannya selama delapan tahun menjadi perburuan. Biasanya musuh berjumlah paling banyak sepuluh orang. Akan tetapi malam ini, musuh yang datang mengeroyok mencapai jumlah-ampat puluhan orang. Tak mengherankan mereka bertiga kena di desak mundur dari tempat ketempat.

Musuh yang berada disebelah kiri. mengenakan pakaian serba hitam dan jubah warna mutih. Dialah yang menyebut diri: Ruji Pinentang. Senjatanya sepasang golok. Gerakannya gesit dan ganas. Dan yang berada disebelah kanan, seorang jago lain berperaw akan pendek kecil. Tangan kirinya memegang perisai besi, sedang tangan kanannya menggenggam sepotong penggada bergigi tajam. Dialah lawan yang paling lincah cara per-lawanannya. Beberapa kali ia meloncat kesana kemari untuk menyerang atau mengelak.

Beda dengan Ruji Pinentang ia ternyata sangat licik. Serangannya selalu dilancarkan, manakala suami isteri Udayana sedang repot menghadapi keroyokan.

Yang berada ditengah, seorang pendekar berpakaian singsat. Umurnya belum mencapai lima puluh, tahun. Tampangnya bengis. Senjatanya pedang panjang.

Dan mereka bertiga ini merupakan pemimpin puluhan pengeroyok. Sambil bertenpur seringkali mereka menyerukan aba-aba pengepungan atau pengeroyokan.

"Kak Sudarawerti! Ketiga orang itu berasal dari mana?" Lingga Wisnu minta keterangan.

"Aku sendiri kurang terang." jaw ab Sudarawerti. "Hanya nama mereka pernah kudengar. Yang mengenakan jubah pendeta itu bernama Ruji Pinentang. Dan sikate ini bernama: Orang Aring. Dan yang bersenjata pedang panjang seorang ahli bernama: Lemah Ijo."

Lingga Wisnu menarik napas. Berkata seorang diri : "Mereka sangat gesit dan ganas. Apakah ayah bisa

melawan mereka bertiga dengan sekaligus?"

"Ayah sendiri kena keroyok duapuluh orang. Walaupun demikian, ayah pasti sanggup merobohkan mereka bertiga. Kau lihat saja nanti." sahut Sudarawerti meyakinkan adiknya. Akan tetapi sesungguhnya, dia sendiri tidak yakin. Maka cepat-cepat mengalihkan pembicaraan;

"Mari kita daki bukit ini secepat mungkin. Diseberang bukit inilah jembatan Jala Angin. Moga-moga sa-ja eyang guru berada disitu."

Sudarawerti menarik lengan adiknya dan bawanya lari secepat-cepatnya. Tatkala itu, ia mendengar suara parau. Itulah suara yang dikenalnya dan yang membuat hatinya tergetar.

"Kami suami isteri Udayana dengan ketiga anak keturunan kami. Selamanya belum pernah berkenalan dengan kalian. Apa sebab kalian mengejar kami siang dan malam tanpa alasan tanpa perkara?" teriak Udayana. "Sudah delapan tahun kalian menyiksa kami dengan suatu teka-teki yana susah kami tebak. Apakah kalian benar-benar menghendaki jiwa kami berlima?"

Ruji Pinentang menggerendeng:

"Kamu membunuh guruku. Karena itu wajib aku menuntut dendam."

"Membunuh gurumu ? Yang mana ? " Udayana heran. Ruji Pinentang hendak membuka mulutnya. Tiba-tiba Orang-Aring mendahului:

"Buat apa engkau mengadu mulut dengan bangsat ini.

Renggut jiwanya! Habis perkara ..."

Udayana berbimbang-bimbang mendengar jawaban Ruji Pinentang tadi. Selama sekian tahun menjadi buruan, memang dia mengalami suatu pertempuran sengit beberapa kali. la hanya melukai. membunuh tak pernah dilakukan. Apakah kesalahan tangan ? .

Pada saat itu Lemah Ijo menimbrung:

"Jangan bunuh mereka! Kita harus menangkap mereka hidup-hidup. Kalau mereka mati, sia-sialah usaha kita ini untuk memperoleh tongkat itu"

"Huh!" dengus Orang-Aring. "Mereka hidup atau mati, tongkat itu akhirnya akan bisa kita rebut. Mengapa kau ribut tak keruan? Kalau mereka dibiarkan hidup, huh, sungguh enak!"

Tetapi seorang lain yang berada dibelakang mereka, menimbrung:

"Jangan! Jangan dibunuh! Biarkan mereka hidup. Kalau mereka mati, benar-benar kita jadi gelap. Teka-teki itu tidak dapatkita peoahkan."

Hebat suara itu. Kecuali nyaring, kerasnya seperti genta kena gebuk besi panjang. Itulah sebabnya, Lingga Wisnu ikut terkesiap pula. Ia berduka dan bergusar, sehingga tangannya yang kecil bergetar.

Sudarawerti tercekat hatinya begitu merasakan getaran tangan adiknya. Cepat-cepat ia menguatkan diri. Lalu menekap tangan adiknya, Cepat-cepat dibawanya lari makin cepat. Mula-mula ia lari asal lari saja. Lambat- laun merasa seperti diburu. Dan larilah kedua anak itu seperti kalap. Sebentar saja dua gundukan tanah tinggi yang merupakan bukit, sudah terlampaui.

Sekarang mereka berdua merasa diri agak aman. Mereka mengendorkan langkahnya. Peluhnya rnembasahi badan dan bercampur aduk dengan air hujan. Sambil mengatur napas, Sudarawerti memasang telinga. Tiada lagi terdengar beradunya pedang dan golok. Suara hiruk- piruk pertempuran lenyap teraling bukit.

Kemudian ia menatap wajah adiknya. Lingga Wisnu nampak muram. Sepasang alisnya berdiri tegak dengan bibir mengatup rapat. Itulah suatu tanda, hatinya bergolak hebat. Dia membungkam karena berusaha menguasai diri.

"Kau kenapa, Lingga?" Sudarawerti menegas dengan hati-hati. Gadis ini terkejut dan cemas.

"Aku ...... aku ...... sanggupkah aku membalaskan dendam ayah dan ibu yang kena keroyok musuh begini besarnya ? " .

Itulah suatu ucapan yang tepat sekali me ngenai sasaran. Sudarawerti sendiri sebenarnya lagi memikirkan soal itu pula. Tak terasa, air matanya meleleh. Katanya:

"Kata ayah dahulu, seorang laki-laki tidak boleh merendahkan kemampuannya sendiri. Engkau pasti bisa. Lihatlah keatas! Masakan Tuhan akan menutup matanya?"

Sudarawerti menudirg keudara, seolah-olah Tuhan bertahta dibalik langit yang guram kelam. Namun hal itu besar pengaruhnya didalam hati adiknya. Mendadak saja, bocah itu bisa melepaskan ucapan galak .

"Ya benar. Aku seorang laki-laki. Tak boleh aku menangis. Mari kita terus!"

Selagi ia hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba suatu bayangan menyambar lengannya. Ia kaget setengah mati.

"Siapa?" bentaknya.

Kilat mengejap. Dan ia melihat seorang lelaki bertubuh kekar berdiri tegak didepannya.

Laki-laki itu kedua pipinya bermandikan darah segar. Dialah ayahnya sendiri. Disampingnya berdiri kakaknya pula. Lengan dan kakinya terluka. Dan luka itu mengucurkan darah.

Melihat mereka berdua, bocah itu seperti kalap.

Memekik hebat:

"Kalau aku selamat, aku akan menuntut dendam. Ayah! Kakak! Jangan takut! Aku akan membalaskan dendammu ...!"

Dengan wajah terharu, Udayana meraih kepala putera bungsunya itu. Berkata sambil mengusap rambutnya :

"Anakku! Ayahmu bersyukur didalam hati mendengar dan melihat semangatmu. Akan tetapi ayahmu mengharapkan engkau menjadi seorang kasatria sejati dikemudian hari. Dan seorang kasatria sejati, tidak boleh hanya menuruti kata hatinya belaka. Engkau harus bisa menimbang-nimbang dengan baik. Harus bisa membe dakan antara budi dan penasaran. Kalau dikemudian hari engkau menjadi seorang pendekar yang tinggi ilmu mu, akan tetapi melakukan sembarang pembunuhan lantaran menuruti rasa penasaranmu belaka, akan membuat sengsara manusia yang tidak berdosa. Lihatlah, ayah dan ibumu adalah korban suatu dendam yang masih sangat gelap. Betapa sengsaranya, engkau mengalami sendiri. Karena itu, hendaklah dikemudian hari engkau hanya menuntut dendam kepada musuh kita yang benar. Bagaimana caramu bisa mengetahui musuh keluargamu yang bersembunyi ini, hendaklah kau bersabar hati dan tabah. Selidiki dahulu sampai jelas!"

Lingga Wisnu tertegun karena rasa kagum. Pikirnya di dalam hati:

"Akh, benarlah keterangan kak Sudaraw erti. Ayah tidak hanya gagah, tetapi jujur pula. Dia sedang luka parah. hatinya pasti panas bagaikan api. Walaupun demikian masih bisa bersabar hati untuk membedakan musuh yang hanya ikut-ikut an belaka."

Pe rtumbuhan jiw a Lingga wisnu memang tak dapat dipersamakan dengan anak-anak sebayanya. Dia mempunyai cara berpikir sendiri karena pengalaman hidupnya. Dia mempunyai pengucapan hati sendiri, karena penggodogan nasibnya. Ini semua merupakan sendi kekuatan baginya dikemudian hari. Pada saat itu, yang terasa didalam hatinya adalah suatu keyakinan, bahwa ayahnya sama sekali bersih dari suatu noda. Dan menga-lami nasib menjadi buruan oleh suatu fitnah yang masih gelap.

Dalam pada itu Udayana menghela napas dalam, begitu melihat putera bungsunya terbungkam mulutnya. Berkata lagi : "Anakku, malam in i ayahmu baru sadar. Tujuh tahun lebih, kalian kubawa merantau dari tempat ketempat. Kukira didalam dunia yang maha luas ini, masih ada suatu tempat untuk kita diami. Tak tahunya, kita terus dikejar musuh tersembunyi. Kalau tahu begini, semenjak dahulu lebih baik kalian kubawa kemari saja. Hm, kukira aku bisa dan sanggup melindungi rumah perguruan leluhurmu. Tak tahunya, akhirnya   aku   harus membaw amu kemari juga. Alangkah tololku!"

Mendengar suara ayahnya, hati Lingga Wisnu rusak bukan main. Tak tahu dia, harus berbuat bagaimana. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lantas berteriak kalap :

"Mana ibu?"

"Aku disini, anakku!" terdengar suatu jawaban lembut.

Kilat mengejap. Dan Lingga Wisnu melihat ibunya datang menghampiri ayahnya dengan langkah tertatih- tatih. Terang sekali, dia terluka pula. Kali in i sangat parah.

"Ibu! Kau terluka?" jerit Lingga Wisnu.

"Akh, hanya luka kulit saja." sahut ibunya dengan suara menghibur.

Udayana kemudian menimpali :

"Ibumu hanya menderita luka ringan. Kau tak perlu merisaukan, anakku. Mari kita meneruskan perjalanan. Jembatan Jala Angin sudah berada didepan hidung kita, ia berhenti sebentar. Kemudian berpaling kepada Umardanus: "Kau masih bisa berjalan?"

"Mengapa tidak ? " sahut Umardanus dengan suara gagah. Udayana tertawa perlahan. Katanya :

"Kita berhasil mengundurkan musuh. Akan tetapi aku yakin, sebentar lagi mereka bakal datang lagi dengan jumlah yang berlipat. Itulah sebabnya kita perlu berangkat dengan segera. Larasati, bukankah engkau hanya menderita luka ringan?"

Larasati menyahut dengan suara sedih : "Lukaku ini tak berarti. Mari kita berlalan terus!"

Mereka semua merupakan satu keluarga yang saling menghibur dan membesarkan hati. Baik Larasati maupun Umardanus sebenarnya menderita luka parah. Akan tetapi dengan menguatkan diri, ia berusaha membesarkan hati seluruh anggauta keluarganya. Dan malam gelap menolong menyembunyikan keadaan mereka masing-masing.

Dapat dimengerti bahwa perjalanan itu merupakan perjalanan yang penuh penderitaan dan siksa. Walaupun demikian, mereka semua tiada yang mengeluh. Setapak demi set apak, mereka maju terus. Dan aw an pegunungan mulai menyelimuti mereka. Setelah lew at larut malam, dua tikungan bukit telah dilint asi. Hanya sekarang, sesuatu yang menakutkan hati menghadang kedepan.

Tepat dipinggang bukit menghadanglah suatu lembah yang gelap sekali. Sebuah jurang bertebing curam nampak muncul diantara kejapan kilat. Penuh uap dan kabut hitam. Begitu mereka mendekati tempat itu, lenyaplah anggauta tubuh mereka sendiri dari penglihatan. Udayana berhenti melepaskan pandang. Dan Lingga Vlsnu yang berdiri disampingnya mengarahkan pandangnya kepada jurang. Lapat-lapat ia mendengar suara gemuruh seakan-akan suara napas raksasa sedang tidur bersenggur. Tak dikehendaki sendiri, tengkuknya meramang.

Selagi mereka tertegun dengan pikirannya masing- masing, tiba-tiba hujan berhenti. Angin keras menyapu kabut gunung mendaki udara. Dan lambat-laun ketebalan kabut itu kian menipis dan nenipis. Samar-samar bulan sisir menjenguk ditelahan tabir awan yang guram.

"Mari kita beristirahat!" kata Udayana dengan suara dalam.

Mereka sudah berpengalaman tidur ditengah alam terbuka dalam keadaan basah maupun kering. Maka begitu mendengar ucapan Udayana, masing-masing mencari tempatnya sendiri. Dan mereka terus berdiam diri sampai matahari muncul di udara.

Tak usah diceritakan lagi, satu malam penuh mereka diserang rasa dingin luar biasa. Masih untung, hujan berhenti dengan mendadak. Sekiranya tidak demikian, pastilah penderitaan mereka akan bertambah.

Oleh sinar matahari itu, penglihatan yang terbentang didepan mereka bertambah jelas. Kabut yang menyelimuti tebing jurang itu kini nampak bedanya dengan udara bersih. Dan dengan mambungkam mulut, mereka merenungi jurang itu.

"Apakah jurang itu yang dinamakan Jala Agin?" tiba- tiba Lingga Wisnu mulai membuka mulut. Udayana mengangguk membenarkan. Wajahnya guram, akan tetapi berw ibawa. Perlahan-lahan ia mengelanakan pandangnya. Tiba-tiba ia nampak kaget. Pandang matanya berhenti pada sebuah dinding .

"Eh! Benar-benarkah aku tak salah lihat?" serunya sambil mengucak-ucak kedua matanya. "Umardanus! Benarkah pada dinding itu terdapat sederet tulisan?"

Ia mendahului mendekat. Isterinya dan ketiga anaknya lantas menyusul dibelakangnya.Dinding itu lic in berlumut. Dua baris huruf kecil berw arna putih nampak menyolok.

sekiranya aku tak kembali

janganlah mencoba menyusul

Dengan berdiam diri, Udayana merenungi bentuk tulisan itu. Lama ia merenung-renung. Tiba t iba saja ia menekuk lutut. Katanya mengajak dengan suara menggeletar :

"Anak-anakku! Kalian berlut utlah! Inilah pesan eyang- gurumu. Benar-benar beliau sampai disini ..."

Mendengar ajakan Udayana, Larasati segera menjatuhkan diri. Ketiga anaknya lantas pula menekuk lutut. Kata Udayana sejenak kemudian:

"Aku sendiri belum pernah melihat jembatan Jala Angin. Tetapi pesan guruku ini merupakan suatu petunjuk. Kalau kita bisa menyusur Jalan tebing ini, sampailah kita kepada tujuan itu. Akan tetapi nampaknya sangat licin. Anakku, pernah aku mendengar keterangan eyang-gurumu. Jembatan itu sebenarnya adalah selonjor batu Pandang yang menghubungkan jurang dan jurang. Jurang itu entah berapa kaki dalamnya. Kabarnya angin datang dari bawah. Barang siapa tak dapat mempertahankan diri, akan kena dibawa kabur tinggi. Lalu dihempaskan kepada tebingnya. Itulah sebabnya tiada seorangpun yang berani mengadu untung. Walaupun demikian, agar anak ke turunan kita tidak terputus sampai d isini saja, maka salah seorang diantara kita harus bisa menyeberangi dengan selamat."

Setelah berkata demikian, Udayana berdiri. Isteri dan ketiga anaknya berdiri pula. Kata Udayana lagi :

"Eyang gurumu pernah nenginjak tempat ini. Mungkin pula telah menyelidiki kemungkinannya. Agaknya berbahaya sungguh. Beliau tak mengizinkan salah seorang muridnya main coba-coba disini untuk bisa memperoleh suatu mustika dunia yang sebenarnya mirip satu khayal belaka."

"Ayah!" sekonyong-konyong Sudarawerti memotong perkataannya. "Mangapa kita harus melin tasi jembatan maut itu?"

Udayana menarik napas dalam. Wajahnya nampak guram. Dengan suara pedih ia menjawab :

"Tak seorangpun didunia ini pernah berhasil melintasi jembatan Jala Angin. Mereka mati terbuang didalam jurang. Itulah sebabnya pula, tiada seorangpun yang tahu betapa caranya melint asi jembatan Jala Angin dengan selamat. Seumpama tiap orang bisa melintasi, tidak akan ayah membaw a kalian kemari."

"Mengapa begitu, ayah?" Lingga Wisnu belum mengerti. "Anak! Kalau tempat pengungsian kita masih bisa dicapai orang, apa perlu kita mengadu jiw a menyeberangi jembatan maut itu."

"Akh, mengerti aku sekarang." sahut Lingqa Wisnu. Salah seorang diantara kita harus selamat. Perlunya anak-keturunan leluhur kita, t idak akan punah. Benarkah begitu?"

Bukan main terharunya Udayana mendengar ucapan Lingga Wisnu. Berkata patah-patah:

"Benar, anakku. Benar ..... Salah seorang di antara kita harus bisa menyeberangi jembatan maut itu. Inilah kesempatan kita untuk bisa mempertahankan hidup ..."

"Kalau begitu, bukan perkara tongkat mustika yang kabarnya berada diseberang jurang. Bukankah begitu?" Linggu Wisnu menegas.

"Benar. Tongkat mustika itu hanya Tuhan, Malaikat dan setan-setan yang tahu." Udayana menjaw ab dengan suara sedih.

"Sebenarnya, apa sih tongkat mustika itu?"

"Anak! Justeru perkara tongkat itu, kita hidup berlarat- larat begini. Karena itu, tak usahlah kita membicarakan lagi." sahut ayahnya. "Akan tetapi, biarlah kusampaikan kabar tentang tongkat mustika itu."

"Bukankah berasal dari Majapahit?" potong Lingga Wisnu dengan bernapsu.

"Benar."

"Kalau berasal dari Majapahit, bagaimana bisa berada diseberang jembatan itu?" Udayana tersenyum. Ia meraih kepala Lingga Wisnu dan diusapnya dengan kasih-sayang. Katanya :

"Itulah sebuah dongeng belaka, anakku. Kata orang, Sabdapalon yang membaw anya menyeberang."

"Sabdapalon?" Lingga Wisnu berseru heran. "Siapakah dia?"

"Menurut sebuah cerita, dialah dewa penunggu kesajahteraan tanah Jaw a.. Dialah abdi raja Majapahit penghabisan. Tatkala istana terbakar, dia membawa tongkat mustika tersebut menyeberangi jembatan Jala Angin. Setelah disimpannya rapi, ia meneruskan perjalanannya ke barat. Kabarnya dia tidur di puncak Gunung Merapi selama limaratus tahun."

Lingga Wisnu tertarik hatinya.. Ia berkomat kamit menghitung dengan jarinya. Bisiknya perlahan :

"Sekarang tahun 1701. Majapahit runtuh t ahun Tahun berapa sih, kak?"

Selama merantau, Sudarawerti bertindak sebagai guru pengajar. Gadis ini seringkali mendongengkan beberapa kejadian yang bersejarah. Tentu saja sejarah yang diketahuinya dan didengarnya dari mulut kakak atau ibunya.

"Katakan saja sudah hampir tiga ratusi. tahun." sahut Sudarawerti.

"Akh, kalau begitu, duaratus tahun lagi, Sapdapalon baru bangun. Eh, masakan didunia in i ada mahluk yang betah tidur begitu lama!" seru Lingga Wisnu.

Menyedihkan keadaan mereka. Akan tetapi ,endengar kata-kata Lingga. Wisnu, mereka masih bisa bersenyum. "Mari!" Udayanamemutuskan.

Sebenarnya masih ingin Lingga Wisnu memperoleh keterangan lagi tentang Sabdapalon. Tetapi ayahnya sudah berjalan. Kemudian ibu dan kedua kakaknya menyusul dibelakangnya. Maka dengan hati-hati ia mengikuti.

"Ayah!" tiba-tiba Umardanus membuka mulutnya. "Semalam aku telah melepaskan panah berapi. Apa sebab salah seorang paman-guru kita belum muncul?"

Udayana menundukkan kepala. Menjawab:

"Semalam hujan badai. Siapa yang sudi menmbiarkan dirinya berada diluar dalam keadaan hujan demikian. moga-moga salah seorang melihat cahaya panah itu. Dalam hal in i, kita hanya bisa berdoa. Akh, marilah kita atasi semua kesulitan ini dengan tenaga dan kemampuan kita sendiri. Tuhan pasti rnemberkati."

Mereka menghampiri pinggiran dinding gunung yang tegak tinggi. Dan yang dikatakan jalan menuju ke jembatan Jala Angin itu sebenarnya lebih mirip suatu pengempangan sawah. Tegasnya lebarnya selebar sebuah pengempangan saw ah. Licin dan berlumut. Sedang diseberangnya jurang curam yang dalamnya entah berapa ribu kaki.

Panjang jalan sampai mencapai jembatan batu kurang lebih duapuluh meter saja. Akan tetapi menilik batu-batu dasar yang berlumut, teranglah sudah bahwa sudah puluhan tahun lamanya tak pernah terinjak kaki manusia.

Lingga Wisnu yang berada dibelakang, melepaskan pandang kepada batu putih yang merupakan jembatan penghubung itu. Tak dapat ia meyakinkan diri sendiri, siapakah yang membuat jembatan demikian. Entah manusia entah alam. Tapi pada saat itu, khayalnya dipenuhi tokoh Sabdapalon dewa penunggu kesejahteraan tanah Jaw a. Apakah dewa itulah yang membuat jembatan Jala Angin.

Panjang jembatan itu tak dapat tertembus ketajaman mata. Yang nampak hanya sepanjang sepuluh meter. Sisanya diselimuti kabut tebal hitam lekam. Bagaimana bentuk ujungnya atau berapa puluh meter jauhnya, tiada seorangpun yang bisa memberi keterangan. Selamanya belum pernah seorangpun yang berhasil mencapai seberang. Konon dikabarkan, putera Majapahit menyeberangi jembatan Jala Angin untuk menghindari pengejaran tentara Islam (Tentara Demak). Ia berhasil melintasi kabut tebal itu. Selanjutnya tiada ceritanya lagi. Entah dia berhasil mencapai seberang atau tidak. Mungkin pula dia berhasil. Tetapi untuk bisa balik dengan selamat, rasanya tak mungkin lagi.

"Jembatan didepan itu pastilah jembatan Jala Angin," kata Udayana dengan perlahan. Sebenarnya ia bersangsi sendiri mengenai jembatan tersebut. Sebab, belum pernah ia menginjakkan kakinya dilembah itu. Malah melihatpun baru untuk pertama kalinya.

"Anak-anak, mari ! Inilah satu-satunya jalan hidup kita," katanya. Ia segera mendahului mendekati jalan berdinding yang hendak membaw anya ke jembatan Jala Angin. T atkala tangannya meraba dinding, mendadak ia kaget.

"Apa artinya ini?" serunya setengah memekik.

Dengan pandang tegang ia mengaw asi dinding batu. Larasati dan ketiga anaknya buru-buru menghampiri. mereka menemukan dua baris huruf kecil-kecil lagi. Dan begitu membaca bunyinya, mereka kaget.

Udayana!

tongkat it u t idak mudah kuperoleh

karena itu pertahankan dengan jiwamu .

"Apa artinya ini?” Udayana mengulangi seruannya dengan suara setengah berbisik. Dengan jari-jarinya ia meraba-raba. Lalu berkata se-olah berkata dirinya sendiri: "Bukan! Bukan! Bukan guru. Siapa yang menulis ini? Apa maksudnya Pula?"

"Suamiku," tiba-tiba terdengar suara Larasati menggeletar. "Itulah karena aku ... Kau masih ragu- ragu?"

Baru saja Larasati menutup mulutnya, terdengarlah suara nyaring beberapa orang. Mereka menoleh dan diatas gundukan berdirilah duapuluh orang lebih memegang senjatanya masing-masing.

"Ih! Mereka bertiga lagi ..." Udayana mengeluh. "Mereka membaw a tenaga baru. Ah sampai kapan kita bisa hidup aman damai?"

"Jawabannya kini makin terang, suamiku." sahut Larasati. "Kita akan bisa hidup damai kembali, manakala penulis tulisan itu sudah lenyap dari percaturan hidup. Bukankah itu suatu fitnah?"

"Benar, suatu fitnah." ujar Udayana dengan napas memburu. "Kini tahulah aku, apa sebab mereka menuduh aku menyimpan tongkat. Ah benar-benar gila!"

Tak sempat lagi Udayana berbicara berkepanjangan. Beberapa orang datang meluruk kebawah. Cerak-gerik musuh baru in i, lebih mantap dan perkasa. Namun hati Udayana sama tak gentar. Dengan pandang tajam ia mengaw asi mereka. mendadak diatas ketinggian ia melihat seorang mengenakan jubah abu-abu. Siapa dia? tak dapat ia mengenalnya.

Selagi ia mencoba memperoleh penglihatan terang, Umardanus sudah melompat menerjang sambil berteriak

:

"Manusia-manusia serigala. Kalian ganas melebihi binatang. Hayo maju!"

Lingga Wisnu yang belum pandai beringuspun ikut tergetar hatinya oleh rasa kesal dan marah. Dengan menghunus pedang pendeknya, ia melompat maju. Udayana terperanjat.

"Umardanus! Lingga! Kembali!" teriaknya.

Mendengar seruan ayahnya, Umardanus merandek. Ia terkejut tatkala ayahnya menyebut nama Lingga. Cepat ia berputar kebelakang dan melihat Lingga Wisnu berada dibelakangnya dengan langkah kalap. Seperti burung alap-alap, ia menyambar lengan adiknya. Katanya nyaring :

"Lingga, tahan!" dan terus dibaw anya kembali kepada ayahnya.

Tatkala itu beberapa orang sudah berada sepuluh meter didepannya. Dengan senjata andalannya masing- masing, mereka mengurung. Sedang yang lain, datang berturut-turut bagaikan gugurnya bukit batu.

Udayana menggeser tubuhnya, mendampingi Larasati. Ia menghunus pedangnya. Wajahnya nampak tak tenteram. Setelah menoleh kepada Umardanus, ia berkata :

"Umardanus! Dan semua saja, dengarlah ! dengan susah-payah ayah-bundamu melindungi kamu sekalian sampai disini. Tadinya aku berharap akan dapat bertemu dengan eyang-gurumu. Sebaliknya aku menemukan suatu deret tulisan yang menbuat hatiku tak tenteram. Anak-anakku, kamu tidak boleh mengadu jiw a. kamu harus tetap hidup untuk bisa memecahkan teka-teki itu. Agar dikemudian hari kamu dapat menyambung anak keturunan keluarga Udayana. Bersama ibumu, aku akan mempertahankan serbuan mereka. Kamu sendiri, pergilah cepat-cepat menyeberang jembatan itu!"

"Ayah! Mengapa ayah tidak mencoba mengajak mereka berbicara?" teriak Sudarawerti.

"Tidak ada gunanva, anakku. Mereka semua ganas. Tujuan mereka hanya hendak menbunuh ayahmu sekeluarga. Nah, seberangilah jembatan itu. Cepat!" sahut Udayana dengan suara keras.

Sebelum Umardanus bertiga dapat menggerakkan kaki, terdengarlah seorang musuh berkata nyaring:

"Hai! Jangan biarkan mereka membunuh diri maju ! " Ucapan itu ternyata merupakan suatu aba-aba.

Belasan orang lantas saja bergerak mengepung. Akan tetapi sudah barang tentu Udayana tidak tinggal diam. Keputusannya sudah kokoh.Ia bersedia mengorbankan jiw a dalam pertarungan ini. Segera ia maju dan menghantamkan pedangnya .

Seperti semalam, Ruji Pinentang, Orang Aring dan Lemah Ijo, segera mengkerubutnya. mereka bertiga merupakan lawan yang tangguh dan gesit. Walaupun demikian, tak berani mereka semberono. Sekali Orang- Aring mendekat, senjatanya lantas saja terbang keudara.

Senjata Orang-Aring berbentuk sebuah penggada bergigi terbuat dari besi utuh. Tetapi dengan sekali sabet, Udayana dapat mementalkan. Maka bisa dibayangkan betapa dahsyat tenaga ahli pedang itu. Tak memalukan ia menjadi murid Kyahi Basaman yang namanya menggetarkan jagad.

o))oo-dw-oo((o

2. Lonceng Tanda Bahaya

Umardanus mengeluh. Sebenarnya enggan ia meninggalkan ayah-bundanya menghadapi bahaya yang menentukan. Akan tetapi pesan ayahnya sangat penting artinya. Terus saja ia menarik lengan lengan Lingga Berkata. kepada Sudaraw erti .

"Sudarawerti, adikku. Tak dapat kita sia siakan harapan ayah dan ibu. Jari kita maju membuka jalan untuk Lingga!"

Sudarawerti menyusut air matanya. Sahutnya dengan menghela napas:

"Baiklah, kak. Biarlah aku yang membuka jalan. "

Mereka bertiga memasuki jalan batu, yang berlumut dan Karena sangat sempitnya, tak dapat mereka berjalan berendeng. Umardanus segera menolak Lingga Wisnu agar berjalan didepan. "Jangan ! Biar aku yang didepan!' kata Sudarawerti. "Kalau aku menemukan suatu kesulitan Aku bisa segera mengkisiki Lingga."

"Benar," sahut Umardanus dengan terharu, Kemudian kepada Lingga : "Kau sendiri mendengar Lingga ! engkaulah harapan kita semua, semenjak detik ini, kau harus menyayangi tubuh dan jiw amu. Kalau kau gagal hancurlah harapan keluarga Udayana."

Lingga Wisnu sendiri kala itu telah merasa kehilangan diri. Dengan hati dan kepala kosong, ia melangkah maju. Setapak demi setapak. Jari-jari kakinya dicengkeramkan kepada dasar itu. Kalau t idak demikian ia akan terpeleset dan akan tergelincir kedalam jurang curam.

Umardanus yang berada dibelakang,rusak hatinya. Dengan muka berkeringat ia menoleh. Bukan main kagetnya. Ayahnya ternyata sudah rebah melint ang diatas tanah pegunungan yang lembab. Sedang ibunya berkelahi dengan pedang ditangan kanan dan belati ditangan kirinya.

Udayana sebenarnya sudah menderita luka parah. Hanya saja ia pandai menyembunyikan di hadapan keluarganya untuk menanamkan rasa kepercayaan terhadapnya. Tetapi begitu kena keroyok Ruji Pinentang bertiga, mendadak saja ia merasa kehilangan sebagian tenaganya. Dia berhasil melontarkan penggada Orang- Aring dari genggaman. Akan tetapi gerakannya sendiri sudah kurang gesit. Tatkala Lemah Ijo menusukkan pe- dangnya, tak dapat ia mengelakkan. Masih bisa pedangnya menangkis.

Diluar dugaan Orang-Aring melayangkan kakinya. Dak! Dan ia mundur terhuyung. Tepat pada saat itu, sepasang golok Ruji Pinentang menyambar dengan berbareng. Dan ia roboh terkulai menungkrapi tanah.

Ruji Pinentang melompat mengulangi serangannya. Udayana masih menggenggam belati. Dengan sisa tenaganya, ia menikam. Inilah suatu serangan balasan yang sangat mengejutkan. Hati Ruji Pinentang tercekat. Buru-buru ia mundur jumpalitan. Dan selamatlah d ia dari tikaman belati itu.

Melihat ayahnya roboh terguling, Umardanus nyaris tak dapat menguasai diri. Kakinya sudah bergerak, tatkala ia melihat suatu pemandangan ngeri lagi. Ibunya yang lagi repot melayani keroyokan musuh, kena tikam pedang Lemah Ijo dari belakang. Berbareng dengan itu pula, Orang-Aring yang licik sudah berhasil memungut senjatanya kembali. Dengan hati panas, ia melesat dan menghantamkan penggadanya. Larasati sudah tak dapat bergerak banyak. Ia melihat datangnya bahaya. Namun tak sudi ia menjerit. Dengan memejamkan matanya, ia menunggui Bres! Dan ia roboh tersungkur! .

Betapa keadaan hati Umardanus pada saat itu, tak dapat digambarkan lagi. Itulah suatu kejadian yang hebat sekali. Ia dipaksa menyàksikan gugurnya kedua orang-tuanya didepan matanya. Serentak ia mengertak gigi dan menggerakkan kakinya. Tiba-tiba ia menoleh kebelakang seperti ada yang mengingatkan.

Lingga Wisnu ternyata sudah berada dibelakangnya dengan pedang Gumbala Geni ditangan kanan. Melihat adiknya hendak menuruti kata hati untuk membuat suatu pembalasan, tersadarlah ia. Umardanus kini merasa bertanggung jaw ab penuh untuk mempertahankan jiw a  adiknya, demi pesan ayahnya. Segera ia menghadang dengan merentangkan tangannya.

"Lingga! Kau mau kemana!" bentaknya.

Pada saat itu terdengar Orang-Aring berteriak nyaring

:

"Hai bocah! Kamu mau kemana? Hayo, menyerah atau

tidak ? "

Panas hati Umardanus mendengar suara Orang Aring.

Serentak ia menjawab dengan mata menyala :

"Kami anak-keturunan Udayana tak dapat kalian hina. Kalian boleh mengutungi kepala kami atau menyiksa kami. Tetapi jangan harap, kami akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan."

Mendengar jaw aban itu, banyak diantara pengroyoknya menyatakan rasa kagum dan hormat. Berkatalah salah seorang diantara mereka :

"Benarlah kata orang, harimau tidak akan melahirkan anak anjing ..."

Sebaliknya Orang-Aring tak mau sudah. Dengan perisai dan penggada ditangan kiri kanan-nya, ia maju mendekati jalan. Katanya :

"Benar-benarkah kalian tak sudi menyerah? Benar- benarkah kalian segagah ayahmu? Baiklah,aku akan mengujimu."

Orang-Aring ternyata tidak hanya lic ik dan ganas tapipun berangasan pula. Setelah berkata demikian, penggadanya menyamber. Umardanus pandai membaw a diri. Kalau melompat kedarat, ia bakal kena keroyok. Maka perlahan-lahan ia mundur lalu membalas dengan menabaskan pedangnya. Trang ! mereka berdua lantas bergoyang-goyang.

Orang-Aring sudah terlanjur mengumbar mulut besar Tak dapat ia menarik diri. Melihat lawannya mundur, ia maju setapak demi setapak dengan melindungi diri dengan perisai bajanya. Dasar lebih berpengalaman, setelah terseret maju ia dapat memindahkan gelanggang. Setiap kali pedang Umardanus manghantam perisainya, ia memutar sambil undur sedikit. Gerakan mundur dan membaw a musuh ini ketepi, benar-benar berhasil. Tahu-tahu Umardanus sudah berada diluar jalan.

"Ha, bagus! Sekarang mampus kau ! " bentak Orang- Aring. Pendekar ini terus mencecar dengan perisai dan penggadanya.

Mendadak pada saat itu, sebatang pedang berkelebat disampingnya. Orang-Aring tahu maksud rekannya. serunya nyaring :

"Bagus! Lemah Ijo. lebih baik bocah itu kau ringkus saja."

Hati Umardanus terce kat. Berteriak gugup: "Lingga !

Awas!"

Sudarawerti yang berada dibelakang Lingga, tak memikirkan keselamatan jiw anya lagi. terus saja ia melompat sambil menangkis. Tentu saja tak dapat ia mengadu tenaga dengan Lemah Ijo. Tubuh dan pedangnya terpental tinggi diudara. Dan Lingga Wisnu tak terlindungi lagi .

Menyaksikan hal itu, Umardanus mengerahkan segenap kepandaiannya. Ia mendesak Orang-Aring yang hendak mendekati Adiknya. Akan tetapi pada saat itu, belasan orang datang mengeroyoknya. Umardanus tak gentar sedikitpun. masih ia berkesempatan berpaling mencari Sudarawerti. Adiknya itu tengah bertempur melawam seorang yang mengenakan jubah abu-abu. Orang itulah yang tadi membuat teka-teki ayah dan ibunya .

Sudarawerti walaupun belum sempurna, namun ilmu pedangnya tidak tercela. Itulah di sebabkan pengalamannya selama tujuh tahun lebih. Gerakannya gesit dan berbahaya. Setiap kali ada kesempatan ia menukam atau menabas. Akan tetapi musuhnya si jubah abu-abu,       terlalu       kuat       baginya.       Dengan

memperdengarkan suara tertaw anya serangan

Sudarawerti kena dipunahkan sangat mudah .

Dalam pada itu Umardanus tak berkesempatan lagi mengelanakan pedangnya. Yang di ingatnya hanya Lingga Wisnu yang masih bercokol di atas jalan maut. cepat ia berseru :

"Adik jangan perdulikan kami   berdua   !,   sebaliknya

ingatlah   keluarga   ayah   bundamu   kau   satu-satunya

anggauta keluarga yang kami harapkan. Lekas seberangilah jembatan Jala Angin ! jangan kau sia-siakan harapan Ayah dan Ibu ! Lekas ! Lekas ! Seberangi jembatan itu ! " Sudarawerti mendengar suara kakaknya. Ia menoleh sambil melayani pendekar berjubah abu ábu. Tatkala itu, Umardanus menaruh perhatiannya kembali kepada ketiga lawannya. Perlahan-lahan ia undur kembali kepada kearah pintu jalan. Maksudnya hendak menutup jalan, agar Lingga Wisnu bisa meneruskan perjalananya tanpa diganggu.

Lingga Wisnu sendiri cepat hatinya. Ia melihat ayah- ibunya tak berkutik lagi dengan berlumuran darah. Kemudian kakaknya perempuan yang kerepotan menghadapi musuh. Sedang kakaknya Umardanus terus terdesak oleh musuh yang luar biasa banyaknya. Walaupun masih belum cukup umur, akan tetapi dalam hidupnya sering ia melihat suatu pertempuran. Secara naluriah, tahulah dia bahwa kedua kakaknya tiada harapan bisa menang.

Kalau begitu benar kata kakak. Tak boleh aku mati. Kalau aku membuat ayah-bunda kecewa, matipun rasanya belum bisa menebus kesalahan in i. ‘Baiklah kak Umardanus, kau tutuplah jalannya. Aku akan mencoba melangkah maju’. katanya didalam hati.

Tepat selagi mengambil keputusan demikian, mendadak ia mendengar jerit kakaknya. Dengan hati mencelos ia menoleh. Dan ia masih berkesempatan menyaksikan kakaknya Umardanus kena t ikam dan roboh terjungkal kedalam jurang.

"Linggaaaaa terussss ... ! " teriak kakaknya. Dan itulah teriak yang penghabisan, yang selalu dikenangkan dan menggeridikkan bulu romanya, dikemudian hari. Suara teriakan itu mengaung panjarg dan makin tipis. Kemudian lenyap sama sekali. Hebat pemandangan itu. Dalam menghadapi maut, Umardanus masih teringat akan kewajibannya untuk. memperingatkan Lingga Wisnu, agar menyelamatkan diri. Dan teriakan peringatan penghabisan itu berpengaruh bukan main besarnya, sehingga Lingga Wisnu seperti lupa akan segalanya. Tanpa merasa. Ia melompat pula sambil berteriak

"Kak Mardanuuuusss ...!"

Tepat pada saat itu, tiba t iba suatu tenaga mahabesar menyambar padanya. Dan tubuhnya terangkat naik dan jatuh dengan bergulingan di tepi jurang. Tetapi begitu mukanya mencium tanah, tiba-tiba saja ia dapat berdiri tegak. Rasa kaget yang berkecamuk didalam diri Lingga Wisnu bukan main hebatnya.

Beberapa saat lamanya, belum dapat ia menemukan dirinya kembali. Namun secara naluriah ia menoleh mencari keterangan. Dan diantara kedua pipinya yang melepuh bengkak, ia melihat seorang berbaju panjang memancarkan pandang berapi kepada belasan lawan ayah-bundanya. Orang itu kira-kira berumur sebaya dengan ayahnya. Kesannya. agung dan berwibaw a. Baju panjang yang dikenakan berw arna hijau dan terbuat dari kain kasar.

Yang terkejut ternyata tidak hanya Lingga Wisnu saja. Baik Ruji Pinentang bertiga maupun yang lain saling pandang dengan wajah berubah.

Mereka tadi menumpahkan seluruh perhatiannya kepada Umardanus yang roboh terjungkal ke dalarn jurang dengan teriakan menyayatkan hati. Tahu-tahu orang itu muncul dengan tiba-tiba. Kapan ia berada didekat gelanggang pertempuran itu, tiada seorangpun yang dapat memberi keteranqan. Seumpama semenjak tadi, dia bersembunyi dibalik batu, pastilah pendekar- pendekar seperti Ruji Pinentang, Orang-Aring dan Lemah Ijo sudah mengetahui. Apalagi diatas bukit berdiri seorang berjubah abu-abu yang mempunyai kesempatan leluasa mengamat-amati semua yang berkutik ditengah gelanggang.

Satu lagi yang membuat hati mereka meringkas. Walaupun Lingga Wisnu masih kanak-kanak, namun berat badannya kurang-lebih duapuluh lima kilo. Dengan melompat kedalam jurang, pelontaraan tubuhnya mempu nyai daya tekanan sendiri. Namun dengan hanya mengebaskan tangannya, tubuh Lingga Wisnu terangkat naik dan dibawa ke tepi jurang. Jelaslah, bahwa orang itu menpuryai ilmu sakti yang susah diukur t ingginya.

Ruji Pinentang, Orang-Aring dan Lemah Ijo, menatap wajah orang itu seperti saling berjanji. Ternyata orang itu memiliki wajah cemerlang Sepasang alisnya tebal. Tepi mulutnya nampak beberapa jalur kerutan kulit. Itulah suatu bentuk wajah yang sudah melampaui masa remaja serta kenyang akan berbagai penderitaan hidup.

Orang itu membungkam. Sikapnya acuh tak acuh. Sama sekali tak bergerak dan pikirannya seperti melayang pada masa-masa lampau.

Ruji Pinentang mendehem. Ia bersikap hati-hati. Sebaliknya Orang-Aring yang berwatak berangasan, lantas saja menyapa dengan suara kasar.

"Siapa engkau? Kenapa begitu datang lalu ikut campur urusan kami?" Disapa demikian, orang itu tidak merasa tersinggung.

Ia membungkuk. hormat, lalu menjawab :

"Tempat ini termasuk wilayah kami. Kalau tidak boleh dikatakan begitu, setidak-tidaknya berdekatan dengan rumah-perguruan kami. Karena itu, sudah selayáknya kami harus menghaturkan selamat datang dan menyambut kedatangan tuan-tuan sekalian. Siapakah sebenarnya tuan-tuan ini? Kenapa tuan-tuan melakukan suatu pembunuhan disini?"

"Siapa kau?"

"Kami bemama: Podang Wills," jawab orang itu.

Begitu mendengar nama itu, baik mereka bertiga maupun Lingga Wisnu berseru berbareng. Hanya saja seruan Lingga Wisnu bernada kaget bercampur girang. Sebaliknya, Orang-Aring bertiga kaget berbareng gusar. Serentak mereka mundur selangkah dan memberi isyarat agar bersiaga.

Dengan pedang bergemerlapan, Lemah Ijo me- lintangkan senjatanya didepan perut. Sebaliknya Ruji Pinentang memasang sepasang goloknya miring ketanah. Kedua gerakan itu merupakan inti ilmu saktinya masing- masing. Nampaknya seperti bertentangan. Tetapi apabila mulai digerakkan tikamannya sangat ganas. Dengan jurus itulah mereka bekerja-sama mengkeroyok Udayana.

Dan Orang-Aring yang licik, diam-diam sudah memilih kedudukannya sendiri. Ia melindungi dirinya dengan perisai bajanya. Dan penggada bergiginya disembunyikan dibalikya. Tetapi, walau diancam demikian, sama sekali Podang Wilis tidak gentar. Sikapnya masih saja acuh tak acuh. Perhatiannya malah kepada Lingga Wisnu yang tadi berseru kaget bercarrpur girang. Ia nampak heran dan menoleh dengan pandang menebak-nebak.

Tatkala itu seluruh muka Lingga Wisnu penuh lumpur. Meskipun demikian rasa girangnya tak lenyap dari kesan wajahnya yang tak keruan macamnya.

"Benarkah engkau paman Podang Wilis?" tanyanya. "Darimana kau mengenal namaku?" Podang heran.

"Bukankah paman ... eh, kakak perguruan ayahku?" Lingga Wisnu menegas.

Semenjak di lumbung desa, ia menghafal nama-nama semua paman gurunya. Itulah sebabnya begitu mendengar nama Podang Wills, serentak ia berseru girang.

"Eh, bocah! Kau siapa?"

"Aku bernarna Lingga Wisnu. Bukankah paman datang karena melihat sinar api semalam ? "

"Benar. Coba berkata yang terang! Siapakah ayahmu

?" kata Podang Wilis dengan suara.gemetar.

"Ayahku ...... ayahku ....... bernama Udayana " sahut Lingga Wisnu dengan tersekat-sekat.

"Udayana? Adinda Udayana?" Podang Wilis menegaskan.

Sebenarnya usia Udayana jauh lebih tua dari Podang Wilis. Tetapi dalam urutan rumah perguruan, Podang Wilis adalah kakak seperguruannya. Itulah sebabnya, meskipun usia Podang Wilis jauh lebih muda., ia berhak memanggil adik terhadap Udayana.

"Ayah          itu. Ayah dikeroyok dan akhirnya dibunuh

manusia-manusia ganas ini " teriak Lingga Wisnu. "Ibu juga ...... ibu juga "

Podang Wilis memutar pandangnya kearah dua mayat yang bergelimpang tak jauh dari padanya. Dan melihat mayat itu, wajahnya pucat.

"Jadi ...... jadi ........ ayahmu semalam yang melepaskan panah. berapi ? "

"Bukan ayah. Tetapi kakak. Diapun mati terjungkal ke dalam jurang ..." sahut Lingga Wisnu dengan suara parau.

"Ya, Allah ..." sera Podang Wills. "Akulah yang semberono. Panah api itu, tidak pernah kulihat. Aku hanya menerima laporan. Akh, adikku maafkan aku!"

Setelah berseru demikian, dengan sekali melompat ia melesat melewati mereka yang mengepung. Kemudian menghampiri adik seperguruannya Udayana. Dan begitu melihat mayat adik seperguruannya yang rusak seperti terajang, Podang Wills jatuh terkapar tak sadarkan diri.

Panah api tanda bahaya itu, memang tak pernah dilihatnya. Pada waktu itu, ia berada di dalam rumah. Tiba-tiba seorang datang berlari menyerbu rumahnya dan mengabarkan tentang panah api. Mula-mula dikiranya kejapan kilat. Akan tetapi masakan berwarna biru.? Podang Wilis berbimbang-bimbang, menerima laporan itu. "Panah api bercahaya biru, memang suatu isyarat bahaya katanya. masing-masing anak murid membekal beberapa batang. Akan tetapi selama tigapuluh tahun belum pernah salah seorang diantara kami melepaskan panah tersebut. Apakah kau tak salah lihat ? "

Orang yang memberi laporan itu murid kesayangannya dan dapat dipercaya. Maka setelah itu ia memutuskan hendak menyelidiki. Dan bertemulah dengan rombongan Ruji Pinentang. Sayang kasep. Udayana dan isterinya telah tewas kena keroyok. maka betapa hebat rasa sesalnya kepada diri sendiri tak dapat terlukiskan lagi.

Meskipun dia seorang pendekar yang sudah banyak makan garam, tak urung pingsan juga.

Tepat pada saat itu, sesosok bayangan menghantam Lingga Wisnu. Dan bocah itu lantas saja roboh tak berkutik. Tatkala menjenakkan mata, ia melihat Ruji Pinentang, Orang Aring dan Lemah Ijo datang merubung Podang Wilis. Kata Orang-aring:

"Mari berantas rumput harus sampai ke akarnya ! Dia mumpung tak berdaya. Kita kutungi saja lengan dan. kakinya. Akulah yang bertanggung jawab dikemudian hari."

"Benar." Ruji Pinentang menguatkan.

Lingga Wisnu kala itu seperti kehilangan tenaga. Kepalanya pening. Dan seluruh anggauta tubuhnya terasa nyeri. Entah siapa tadi yang memukulnya, ia tak tahu. Ia pingsan dan tersadar seorang diri saja. Tiada yang menaruh perhatian kepadanya. Mungkin sekali, mereka mengira bocah itu telah terbang nyawanya. Demikianlah, untuk kesekian kalinya, ia menyaksikan ancaman terhadap pihaknya. Karena terkejut, kecewa, gusar dan rasa ngeri, ia lupa kepada semua penderitaannya. Memang ia sama sekali tak dapat berkutik. Tetapi pikirannya jernih dan sadar penuh- penuh. Tanpa berpikir panjang lagi, ia terus menjerit sekuat-kuatnya.

Kalau manusia belum sampai pada ajalnya, terjadilah tiba-tiba suatu peristiw a diluar akal dan nalar. Oleh jeritan itu, Poding Wilis tersadar. Tapi tepat pada saat itu, ujung sebatang pedang terasa menempel dijidatnya.

Kemudian berkelebatlah sebatang golok menabas kelengan kirinya.

Dalam keadaan demikian, meskipun bermaksud menangkis, tidaklah keburu lagi. Apalagi ujung pedang Lemah Ijo telah mengancam jidatnya. Sedikit digerakkan, ia akan mati tertembus. Dalam keadaan tak berdaya sama sekali, satu-satunya jalan hanya menghimpun tenaga sakti yang segera disalurkan kelengan kiri untuk melindungi.

Brt! Golok Ruji Pinentang menabas lengan kiri Podang Wilis. Tapi begitu mengenai sasaran goloknya meleset kesamping seperti membentur suatu benda keras.

Ternyata kebal Podang Wilis dapat melindungi lengan kirinya. Meskipun demikian, darah segar tetap merembes keluar.

Dan pada saat itulah, sekonyong-konyong tubuh Podang Wilis yang terlentang diatas tanah, meluncur sejauh beberapa meter. Gerakan itu benar-benar aneh. Tubuhnya seakan-akan mirip sebuah botol yang terikat tali panjang, kemudian disentakkan seseorang dari luar gelanggang. Kecepatannya mengelakkan t ikaman pedang Lamah Ijo, benar-benar mentakjubkan.

Sebenarnya ujung pedang Lemah Ijo berada satu senti diatas jidat Podang Wilis. Dengan satu gerakan saja akan bisa menggores hidung, mulut dan dada. Dan tindakan Podang Wilis untuk membebaskan diri memerlukan suatu keberanian yang sangat berbahaya. Sebab apabila ujung pedang Lemah Ijo tertekan lagi satu senti saja, maka dada, perut dan muka Podang Wilis akan terobek menjadi dua.

Anehnya, begitu terlepas dari bahaya, Podang Wilis berdiri tegak kaku bagaikan mayat. Kedua gerakan ini tidaklah mungkin bisa terjadi apabila tidak ditolong oleh sesuatu yang gaib. Betapa tidak? Dalam gerakan membebaskan diri, ia menekuk lutut dengan pinggang tetap tegak lurus. Dan setelah lobos dari ujung pedang, mendadak berdiri tegak bagaikan berpegas. Kemudian dengan satu gerakan senapas, terdengarláh suara patahnya pedang Lemah Ijo dan golok Ruji Pinentang. Krak, krak! Inilah suatu kejadian yang berada diluar nalar manusia.

Sebenarnya, pedang Lemah Ijo maupun gclok Ruji Pinentang tidak mungkin dapat dipatahkan oleh Podang Wilis dalam satu gebrakan saja. Sekalipun andaikata Podang Wilis mempunyai ilmu sakti berlipat ganda.

Soalnya, karena gerakan dan datangnya serangan balasan itu, tidak mungkin dapat dilakukan manusia betapa tinggi ilmu kepandaiannya. Tatkala tangan Podang Wilis bergerak, Lemah Ijo dan Ruji Pinentang tak berke-sempatan lagi menarik senjatanya masing-masing. Begitu sadar akan akibatnya, pedang mereka kena dipatahkan dengan serentak.

Podang Wilis memang lebih tangguh daripada Udayana. Begitu berhasil mematahkan senjata lawan, dengan satu gerakan melintang ia melontarkan patahan senjata itu kepada majikannya masing masing. Keruan Lemah Ijo dan Ruji Pinentang kaget setengah mati. Buru- buru mereka melesat undur kesamping mengibaskan lengan untuk mengurangi daya lontaran.

Hebat pengaruh serangan balasan itu. Belasan orang yang berada dibelakang Lemah Ijo dan Ruji Pinentang ikut bergerak pula untuk menjaga diri. Dan kesempatan itu dipergunakan Podang Wilis untuk mentaksir-taksir kekuatan lawan. Pikimya didalam hati:

"Adinda Udayana tewas ditangan mereka. Dia dibantu anak dan isterinya. Namun tak dapat ia mengatasi. Aku sendiri mungkin pula bisa merobohkan beberapa orang diantara mereka. Akan tetapi untuk merebut kemenangan, rasanya t idak mudah. Baiklah kumengambil jalan lain, untuk menolong bocah itu "

Setelah meraperoleh pikiran demikian, ia berkata nyaring kepada mereka :

"Anak murid Kyahi Basaman, selamanya mengambil jalan terang-benderang Kamu semua telah membunuh salah seorang saudara seperguruan kami. Kenapa kamu lancang tangan ? Apakah kamu mengira kami akan berpeluk tangan ? Sayang sekali, sampai pada detik ini aku belum mengetahui perkaranya dengan jelas. Kalau kamu mempunyai keberanian, hayo ikuti aku ! " Dengan langkah perlahan, ia menghampiri mayat Udayana dan Larasati. Ia memanggulnya di atas kedua belah pundaknya. Lalu berkata kepada Lingga Wisnu :

"Anakku! Kau naiklah dipunggungku."

Tetapi Lingga Wisnu tak dapat bergerak sama sekali. Ia hanya bisa membuka mulutnya. Sebagai seorang pendekar yang kenyang makan garam, dengan sekali pandang tahulah Podang Wilis ара yang sedang diderita anak itu. Pikirnya di dalam hati:

"Aku harus mengambil tindakan cepat, sebelum keadaan mereka berubah."

Dengan sekali menggerakkan kakinya, tubuh Lingga Wisnu dilontarkan keudara. Berseru :

"Tangkap leherku!"

Pukulan yang diderita Lingga Wisnu, tidak melumpuhkan seluruh anggauta tubuhnya. Anak itu masih bisa menggerakkan kedua tangannya.

Mendengar seruan Podang Wilis dan sadar akan bahaya yang mengancam, kedua tangannya lantas saja merangkul leher penolongnya.

"Bagus, anak!" Podang Wilis berlega hati. Kemudian berputar kepada Ruji Pinentang dan kaw an-kawannya. Berkata garang:

"Tuan-tuan, aku akan pergi. Siapa yang bosan hidup, ikuti aku. Sebaliknya siapa yang tak sudi mengikuti aku, akan kucari sampai ketemu ..."

Berbareng dengan ucapannya, ia melesat bagaikan bayangan. Tiba-tiba Lingga Wisnu setengah memekik : "Eh, mana kak Sudarawerti?" "Siapa dia?"

"Kakak-perempuanku." sahut Lingga Wisnu.

Ia memutar pandangnya. Akan tetapi pada saat itu, ia telah terbaw a melint asi dua dinding bukit. Tatkala terpukul oleh berbagai tumpuan peristiw a yang mengejutkan, memedihkan dan menyakitkan hati, bocah itu lupa kepada segalanya. Akan tetapi setelah terlepas dari marabahaya, mendadak saja ingatannya sadar kembali. Yang teringat untuk pertama kalinya ialah Sudarawerti. Sebab dialah yang masih bergerak.

Dan mendengar ucapan Lingga Wisnu, Podang Wilis berhenti dengan mendadak.

"Selain engkau, tiada lain." kata Podang Wilis dengan suara cemas.

Tadi sewaktu melihat jenazah adiknya seperguruan, ia jatuh pingsan karena merasa kecewa kepada keteledorannya sendiri. Lingga Wisnu pun demikian pula. Karena itu, kedua-duanya t idak dapat mengikuti lagi ара yang telah terjadi sewaktu dalam keadaan tak sadar.

"Sebenarnya bagaimana semuanya ini bisa terjadi ? " Podang Wilis menegas.

Lingga Wisnu tak dapat menjawab dengan segera. Perutnya mendadak terasa melilit dan pandang matanya berkunang-kunang. Hati-hati ia merosot turun dari gendongan. Setelah berdiri tegak, ia segera memberi keterangan ара yang pernah dialami. Kemudian tentang latar   belakang   sebab-musabab   yang   didengarnya dari mulut ayah Katanya dengan menahan air mata : "Ayah berkata ... ayah berkata ... itulah perkara tongkat mustika "

Dan setelah berkata demikian, ia jatuh pingsan untuk yang kedua kalinya.

Podang Wilis mengira, bocah itu jatuh pingsan karena kecapaian dan rasa sedih. Мака segera ia melepaskan ikat pinggangnya yang terbuat dari pelangi. Setelah mengikat bocah itu pada dadanya, kembali ia bersiaga hendak lari sekencang-kencangnya.

"Akh, bagaimana mungkin malapetaka ini bisa menimpa adinda Udayana." katanya didalam hati.

Mendadak saja ia mendongak dan berteriak panjang. Begitu keras dan hebat tenaganya, sehingga bumi seakan-akan tergetar dan daun kering rontok berguguran. Lama dan ia baru berhenti berteriak. Lalu berkata :

"Baiklah, aku akan membaw anya menghadap guru. Entah bagaimana keputusan guru, tapi aku sendiri akan turun gunung. Disetujui atau tidak, aku akan membuat perhitungan. Hai adikku Udayana, kau tenteramlah! Dendammu pasti terbalas ! "

Setelah berkata demikian, ia lari sekencang- kencangnya bagaikan anak panah meluncur dari gendew a.

Dalam pada itu, Lingga Wisnu belum sadar juga dari pingsannya.

Tatkala menjenakkan mata, ia sudah berada disebuah pendapa sebuah rumah besar. Ia mendengar suatu kesibukan tak keruan. Bentakan-bentakan yang diseling dengan suatu suara membujuk. Oleh suara-suara itu, Lingga Wisnu tersadar benar- benar dari pingsannya. Ia tersentak bangun. Ара yang terlihat oleh matanya untuk yang pertama kalinya ialah jenazah ayah dan ibunya. Тak mengherankan, hati bocah itu tergetar lagi. Terus saja ia berteriak menyayatkan hati

:

"Ibu ! Ibu! Ayah! Ayah ...! " terus ia menubruk dan merangkul jenazah ayah-ibunya.

Sekarang barulah ia merasa sedih diantara berbagai perasaan yang saling menyerang dan mengedapkan. Karena sangat sedihnya, tak dapat ia menangis. Tiba-tiba tangannya menyentuh sebatang belati yang menancap pada punggung ayahnya. Ia kaget.

Lalu menoleh kepada ibunya. Pada dada ibunya nampak pula sebatang belati menancap dalam. Serentak ia mencabut dua batang belati itu dengan kedua tangannya. Begitu mencabut, mengucurlah darah segar yang segera membeku. Melihat hal itu, kalaplah dia. Dengan mata melotot, ia berputar mencari penglihatan.

Mendadak saja, ia melihat wajah-wajah bengis yang dikenalnya. ltulah musuh-musuh ayahnya yang selalu mengejar-ngejar sampai diketinggian Gunung Law u. Rupanya mereka mengejar Podang Wilis, setelah bersepakat. Mereka kini berada dirumah perguruan Udayana. Kata-kata penghabisan yang didengar oleh Lingga Wisnu adalah penuntutan tentang dimana beradanya tongkat mustika.

"Kamu semua ........ kamus semua        membunuh

ayah dan ibuku." teriaknya dengan terengah-engah. "Kamu mendesak kakakku pula, sehingga ia terpaksa terjun kedalam jurang. Mengapa ? Mengapa kamu begitu ganas dan kejam?"

Mereka senua tadi sudah bersepakat untuk bertekat menuntut tongkat mustika. Akan tetapi menyaksikan betapa duka bocah itu setelah melihat ayah ibunya mati terbunuh, tergoncanglah hati nurani mereka. Tak terasa mereka bergerak mundur seperti menghadapi binatang raksasa yang buas.

"Anakku!" tiba-tiba terdengar suatu suara berw ibawa dari samping. "Amat-amatilah mereka. Coba katakan padaku, siapakah yang menbunuh ayah-bundamu."

Lingga Wisnu menoleh. Ia melihat Podang Wilis berdiri tegak diantara enam orang yang mengenakan pakaian singsat berw arna putih. Sambil berbicara Podang Wilis menghampiri.

Kata paman gurunya itu lagi :

"Anakku! Maukah engkau berjanji padaku?"

Lingga Wisnu merasa dekat kepada penolongnya itu.

Ia memanggut.

"Bagus!" seru Podang Wilis. "Nah, kau amat-amati mereka seorang demi seorang. Kau jangan tergesa-gesa ingin menuntut dendam. Kau bersabarlah menunggu saatnya. Tak usah buru-buru, akan tetapi seorangpun jangan kau ampuni!"

Tergetar hati Lingga Wisnu mendengar suara pamannya itu. Air matanya lantas saja menggenangi kelopak matanya. Tetapi sedapat mungkin ia menahan turunnya air mata. Serunya : "Tidak! Aku takkan menangis! Aku takkan menangis dihadapan orang-orang jahat ini, paman. Hai! Bukankah engkau yang membunuh ayah-ibuku ? "

Pandang mata Lingga Wisnu mengarah kepada Ruji Pinentang. Entah ара sebabnya, begitu kena pandang sibocah, hati Ruji Pinentang tergetar. Tak dikehendaki sendiri, ia menjadi gugup. Sahutnya :

"Bukan ... bukan aku yang membunuh ayah dan ibumu "

Sambil membawa dua belati pada dua belah tangannya, Lingga Wisnu berjalan perlahan-lahan mengitari pendapa. Ia menatap wajah orang-orang yang memenuhi ruang pendapa.

Seorang demi seorang diingatnya baik-baik dalam perbendaharaan hatinya. Dan ucapan paman gurunya tadi mengiang dalam pendengarannya: ‘Tak usah buru buru akan tetapi seorangpun jangan kau ampuni '

Mereka yang datang kependapa rumah perguruan Kyahi Basaman, bukannya pendekar-pendekar picisan. Kalau bukan seorang jago kenamaan, tidakkan berani menginjak halaman rumah perguruan tersebut. Apalagi mereka datang dengan maksud hendak menuntut diserahkan tongkat mustika. Akan tetapi anehnya, setiap orang yang di pandang sorot mata Lingga Wisnu yang penuh benci, dendam dan penasaran, meremang bulu kuduknya dengan tak dikehendaki sendiri. Puluhan orang seperti kena terpukau oleh suatu kekuatan gaib.

Ruji Pinentang yang mengenakan jubah pendeta, mendadak saja merasa diri sangat segan. Setelah berdeham, lalu berkata : "Saudara Ugrasena dan ...... eh ...... semuanya saja. Sebenarnya tujuan kami kemari hendak bertemu dengan guru saudara Kyahi Basaman. Sayang, beliau tak dapat hadir disin i. Dengan begitu, kami tidak memperoleh keterangan yang kami kehendaki. Baiklah, perkara tongkat mustika ini kami sudahi saja sampai disini. Apa yang sudah terjadi, biarlah terpendam begitu saja. Kami tidak akan mengungkat-ungkat lagi. Dengan ini, perkenankan kami mohon diri saja."

"Hm ..." dengus Ugrasena. "Kau datang dengan tidak kehendak kami. Kamu semua berpamit atau tidak, bukan urusan kami. Tetapi.. perkara matinya adik kami seperguruan, terpaksa harus kami laporkan kepada guru kami. Silahkan!"

Murid Kyahi Basaman berjumlah tujuh orang. Murid tertua bernama Ugrasena. Didalam rumah perguruan, ia bertindak mewakili gurunya. Sifatnya tenang   dan berw ibawa. Jarang dia berbicara berkepanjangan. Akan tetapi tiap perkataannya, merupakan sikapnya yang bulat.

Murid kedua bernama: Dew abrata. Perawakan Dewabrata sedang, langsing dan gesit. Dan murid ketiga bernama: Taw angalun. Ia berperaw akan tinggi besar, berjenggot tebal. Matanya tajam bulat. Karena itu kesan wajahnya kasar. Ia pandai berdebat pula. ltulah sebabnya, seringkali ia mewakili gurunya dalam pertemuan perdebatan atau manakala menghadapi tetamu yang bermulut jahil.

Murid keempat adalah Podang Wilis. Kemudian Udayana. Dan murid ke-enam dan ketujuh bernama: Panjalu dan Samtanus. Kedua adik seperguruan Udayana ini berusia tigapuluhan tahun.

Waktu Podang Wilis tiba dirumah perguruan, lonceng tanda bahaya segera dibunyikan. Kebetulan sekali, hari itu menjelang ulang tahun Kyahi Basaman yang ke 90 tahun. Semua murid-murid hadir dalam rumah-perguruan menunggu kehadiran gurunya.

Dan begitu mendengar lonceng tanda bahaya, mereka senua lari kepaseban. Betapa terkejut dan rasa gusar mereka, tak perlu dikatakan lagi, begitu melihat jenazah saudara seperguruannya, Udayana. Selagi mereka sibuk memperoleh keterangan dari mulut Podang Wilis, datanglah para pengroyok Udayana berturut-turut.

Mereka semua berjumlah enam puluh orang lebih. Semuanya menyandang senjata. Walaupun паmрак garang, akan tetapi mereka sadar, meskipun jumlah rekannya berlipat ganda, belum tentu bisa melawan anak murid Kyahi Basaman yang tentu saja akan mendapat bantuan badal-badalnya.

Sekarang ke-enam Saudara-seperguruan Udaуana tahu pokok persoalannya. ltulah mengenai tongkat mustika yang dikatakan berada dalam tangan Udayana. Hanya apa sebab Udayana menjadi buronan selama tujuh tahun lebih, mereka kurang jelas.

Mereka yang datang tak dapat dimint a keterangannya. Pembicaraan mereka hanya berkisar kepada tongkat mustika. Apa latar belakangnya sesungguhnya, sama sekali tak disentuhnya. Demikianlah, setelah Ruji Pirentang memohon diri, yang lain segera ikut bergerak pula. Mendadak Panjalu membentak :

"Hai ! Kalian ... kalian membunuh kakakku seperguruan Udayana. Apa alasannya, kalian tak dapat memberi penjelasan. Baik, untuk sementara kalian boleh menyimpan jiw a kalian masing-masing. Tapi aku .......

aku   "

Panjalu tak dapat melanjutkan perkataannya. Diantara ketujuh murid Kyahi Basaman, memang dialah yang paling halus perasaannya. menyaksikan kakak seperguruan mati bergelimpang berlumuran darah, tak dapat lagi ia menguasai diri.

Untunglah, Kyahi Basaman belum hadir. Apabila gurunya hadir, apalagi merestui mengadakan pembalasan, entah bagaimana jadinya. Tapi justeru demikian, ia merasa diri terkekang. Rasa penasarannya meluap tinggi, setinggi kepalanya.

Karena tak dapat melampiaskan rasa penasarannya itu, akhirnya ia menelungkupi jenazah kakaknya seperguruan dan menangis menggerung-gerung.

Tentu saja mereka semua menjadi tak enak hati. Segera mereka meninggalkan ruang paseban seperti lagi berlomba. Dalam hati mereka masing masing timbullah suatu prarasa bahwa anak murid Kyahi Basaman tidak mungkin tinggal diam saja.

Dengan memaksa diri, Dewabrata mengantar mereka sampai kepintu pagar. Tatkala balik kembali, tak dapat lagi ia menahan air matanya. Dan dalam paseban itu terdengarlah suara tangis para badal dan orang-orang yang mengenal Udayana sewaktu masih berada dalam rumah perguruan.

Dipojok paseban masih terdapat serombongan tetamu yang belum bergerak dari tempatnya. Mereka rombongan yang datang dari Kartasura.

Dengan mata basah kuyup, Panjalu berdiri tegak.

Kemudian berkata dengan suara tersekat- sekat :

"Antara guru kami dan guru kalian Adipati Parangwedani, belum pernah timbul suatu perselisihan. Ара sebab kalian ikut datang pula mengeroyok kakakku seperguruan Udayana?"

"Bukan, bukan begitu." jawab Yudanata.

Dia adalah pemimpin rcmbongan anak murid Mipati Parangwedani.

"Guruku hanya ingin mohon keterangan kepada gurumu Kyai Basaman tentang beradanya tongkat mustika itu. Bukankah gurumu sudah berhasil membawa pulang tongkat mustika itu dari seberang jembatan Jala Angin?"

"Mengapa engkau tak menanyakan kepada orang yang meniupkan berita bahwa ayahkulah yang menyimpan tongkat mustika itu?" tiba-tiba Lingga Wisnu menimbrung.

Bocah itu sangat berduka. Akan tetapi ia seorang anak yang cerdik dan berbakat. Мака ia membalikkan pertanyaan Yudanata dengan suatu jawaban diluar dugaan. Tentu saja Yudanata tak sudi berdebat dengan bocah yang belum pandai beringus itu. Segera ia menyimpangkan pcmbicaraan. Katanya:

"Anakku yang baik, dibawah asuhan sekalian paman gurumu, engkau bakal menjadi seorang pendekar ulung dikemudian hari."

Dengan kata-kata itu ia hendak berkata bahwa dikemudian hari dia bisa menyelidiki sendiri siapa yang meniup-niupkan berita tentang beradanya tongkat mustika didalam tangan ayahnya.

Setelah berkata demikian Yudanata melepaskan ikat pinggangnya yang berteretes berlian. Ia maju mengangsurkan ikat pinggang itu. Katanya :

"Anakku, perkenankan pamanmu memberi suatu permainan kepadamu. Dikemudian hari, mungkin besar sekali faedahnya "

Ikat pinggang itu terbuat dari emas murni yang lemas. Dipinggirnya berteretes berlian sebagai garis. Pastilah ikat pinggang demikian berasal dari istana, karenanya harganya melebihi sebuah kota. Sekarang ikat pinggang itu di berikan kepada sibocah dengan ikhlas dan rela. Tetapi diluar dugaan siapa saja, bocah itu mendadak melompat mundur sambil berteriak dengan suara benci :

"Tidak! Tidak sudi aku menerima benda milik musuh!"

Karuan saja, wajah Yudanata menjadi merah. Ia jadi serba salah. Tangannya yang mengangsurkan ikat pinggang itu berhenti ditengah jalan.

Sebelum dapat menentukan sikapnya, bocah itu berteriak lagi : "SudahlahI Kalian pergi saja. Aku akan menangis!"

Yudanata ternyata seorang yang halus perasa. Ia tahu, bocah itu terlalu berduka menyaksikan kedua orang tuanya mati bergelimpang berlumuran darah didepannya. Dan siapa saja merasakan pukulan hebat itu. ltulah sebabnya, mereka yang tadinya datang hendak merecoki tongkat mustika mundur bubar dengan sikap mengalah. Yudanata dalam hal ini bersedia mengalah pula dengan ikhlas. Katanya setengah merrbujuk :

"Kami bukan musuhmu. Kami memang ikut datang, akan tetapi sama sekali kami tidak ikut mengkerubuti ayah-bundamu."

Lingga Wisnu menahan rasa marahnya, sehingga giginya bercaterukan. Sejenak kemudian meledak :

“Makin halus kata-kata seorang, makin pandai ia menipu orang ! "

Inilah ucapan yang merupakan halilintar meledak di siang hari terang benderang. Sebab ucapan itu tercetus dari mulut seorang bocah seusia Lingga Wisnu. Tak terasa Yudanata undur setindak. Sekarang orang tua itu merasa malu benar-benar. Ia menebarkan pandang kepada sekalian anakmurid Kyahi Basaman yang bersikap diam. Dan sikap itu kian tak mengenakkan hatinya.

Sekonyong-konyong seorang gadis berumur duapuluhan tahun maju menyambar lengan Yudanata. Kata gadis itu:

"Marilah kita mundur. Ара faedahnya bercekcok dengan seorang anak." Gadis itu bernama Damayanti. Dialah adik seperguruan Yudanata, putera Mipati Perangwedani. Dengan Panjalu, ia mempunyai hubungan agak rapat. Rupanya ia menaruh hati terhadap pendekar itu. Setelah berkata kepada Yudanata, ia berpaling kepada Panjalu. Lalu minta diri Katanya lembut :

"Panjalu! Perkenankan kami mengundurkan diri."

"Akh ! Kaupun ... kenapa ikut pula kemari." sahut Panjalu dengan suara kecewa.

Tatkala itu, Lingga Wisnu berdiri terpaku. Kedua belah pipinya bergerak-gerak menahan tangisnya yang terasa melonjak lonjak didalam dadanya. Dan begitu rombongan Yudanata meninggalkan pendapa rumah perguruan, ia melepaskan semua yang terasa bergolak didalam dadanya. Akan tetapi selagi ia hendak menangis sekeras kerasnya, mendadak napasnya berhenti ditengah jalan.

Dan ia terguling diatas lantai dengan tangan terkapar.

Panjalu dan Samtanus melompat berbareng Berbareng dengan itu terdengarlah suara halus dari belakang pintu.

"Bocah itu keras tabiatnya. Tetapi ia seorang anak yang besar pula perasaannya."

"Guru!" kata Ugrasena dan ketiga adiknya seperguruan dengan berbareng.

Yang datang dengan tiba-tiba itu, memang guru Ugrasena. Dialah Kyahi Basaman, yang namanya disegani orang seumpama   menggetarkan   bumi. Peraw akan Kyahi Basaman sedang, agak tipis dan lembut. Wajahnya bercahaya terang, bersemu merah. Suatu tanda, bahwa keadaan tubuhnya sehat kuat. Rambut, kumis, dan jenggotnya memutih perak. Pandangnya lemah-lembut, penuh kemanusiaan.

Seperti keterangan Udayana, Kyahi Basaman jarang sekali muncul dirumah perguruan. Ia hadir satu tahun satu kali, yakni tepat pada hari ulang tahunnya. Pada hari itu, ia tiba dirumah perguruan untuk menyambut ucapan selamat murid-muridnya.

Sama sekali tak diketahui, bahwa rumah- perguruannya baru saja dimusuhi puluhan orang yang datang dengan maksud minta keterangan tentang tongkat mustika yang dikabarkan berada ditangannya.

Tatkala memasuki pendapa, mayat Udayana dan isterinya teraling ke-enam muridnya.

Tetapi begitu mereka bergerak menyambut kedatangannya, mayat Udayana dan Larasati nampak jelas didepan matanya. Seketika itu juga, berubahlah wajahnya.

Dengan langkah penuh pertanyaan ia menghanpiri. Begitu melihat wajah muridnya yang ke-lima itu, tergetarlah hatinya. Dia adalah seorang pertapa yang telah berusaha melepaskan diri dari ikatan keduniawian.

Walaupun demikian hubungan antara murid dan guru sudah meresap dalam bagian dari hidupnya sendiri. Тak dikehendaki sendiri, gemetarlah seluruh tubuhnya.

Namun ia bisa membawa diri. Dengan tenang, ia membungkuki. Kemudian meraihnya. Setelah mengetahui bahwa muridnya yang kelima sudah tak bernafas lagi, mulailah ia memeriksa lukanya. "Apakah ini isterinya?" tanyanya perlahan. "Benar." sahut Ugrasena mendekat.

Kyahi Basaman lalu berpaling kepada Lingga Wisnu.

Bertanya :

"Dan bocah itu?"

"Dialah putera satu-satunya yang masih hidup ..."

Kyahi Basaman berhenti sejenak. Berkata dengan suara perlahan :

"Panjalu! Kau tolonglah anak itu. Pastilah dia ingin menangis "

Semua orang mengira, bocah itu pingsan karena menahan luapan tangis dan rasa dukanya. Мака cepat- cepat Panjalu meraihnya dan dipijat-pijatnya. Urat dadanya diurut perlahan-lahan.

"Anakku!    Nah,     kau     menangislah     sekarang!

Menangislah! Menangislah ! "

Tetapi Lingga Wisnu t etap tak bergerak. Menyaksikan hal itu, Ugrasena dengan sekalian saudara-saudara seperguruannya terkejut. Seperti berjanji mereka berpaling kepada gurunya minta pertimbangan.

"Anak itu keras w ataknya." kata Kyahi Basaman dengan menghela nafas. "Coba bawa kemari!"

Dimulutnya Kyahi Basaman memberi perint ah agar Lingga Wisnu dibawanya mendekat, akan tetapi dia sendiri lantas berdiri untuk menghampiri sebelum bocah itu terangkat Panjalu.

Orang tua itu segera mengulurkan tangannya kepunggung Lingga Wisnu, pusat urat syarafnya. Segera ia mengerahkan tenaga saktinya untuk menyadarkan. Tenaga sakti Kyahi Basaman tak dapat diukur betapa t ingginya. Murid-muridnya saja sudah bisa mengagumkan pendekar-pendekar kelas utama. Seperti Udayana, misalnya. Tujuh tahun lamanya dikejar-kejar, namun tak gampang-gampang bisa dirobohkan.

Podang Wilis yang datang kemudian, memperlihatkan kecekatannya melebihi mereka yang mengeroyok. ltulah suatu bukti betapa t inggi ilmu kepandaian mereka berkat dasar tenaga sakti yang diberikan gurunya. Мака luka tak peduli betapa beratpun, asal kena tersalur tenaga sakti Kyahi Basaman, pasti akan pulih sebagian. Dan yang pingsan akan segera siuman kembali.

Sama sekali tak terduga, setelah tenaga sakti Kyahi Basaman menyusup kedalam urat syaraf, wajah Lingga Wisnu mendadak berubah warna. Kini tidak hanya pucat saja, tapipun kehijau-hijauan dan menjadi ungu gelap.

Bocah itu terus menggigil. Seluruh tubuhnya terasa dingin luar biasa.

Kyahi Basaman mengerutkan dahinya. Ia meraba jidat Lingga Wisnu. Mendadak tangannya terasa dingin seperti kena sentuh sebongkah es. Dalam terkejutnya, Kyahi Basaman dengan cepat menggerayangi punggung sibocah. Tetapi ditengah punggung terdapat sebagian daging yang panas seperti terbakar.

Anehnya sekitar rasa panas itu diselimuti hawa dingin luar biasa sampai meresapi tulang. Kalau bukan Kyahi Basaman yang sudah memiliki ilmu sakti tak dapat diukur lagi betapa tingginya, pastilah akan ikut menggigil kedinginan begitu kena sentuh hawa yang bertentangan itu. "Podang Wilis ! Waktu kau bertemu dengan bocah ini, dia dalam keadaan bagaimana?" kata Kyahi Basaman.

Podang Wilis nampak menjadi bingung. Sulit ia menjawab .

"Sewaktu mula-mula kami memasuki pertempuran, bocah itu dalam keadaan sehat. Walaupun ia kehabisan tenaga. Kemudian kami tak sadarkan diri, sewaktu melihat jenazah adinda Udayana. Begitu aku bangun, kami melihat bocah itu sedang berseru-seru memanggil kami..."

"Apakah engkau уakin, bocah itu bebas dari suatu siksa, sewaktu engkau dalam keadaan tak sadar ? " Kyahi Basaman minta keterangan dengan sabar.

Podang Wilis ragu-ragu. Setelah menimbang-nimbang sebentar, ia menjawab:

"Seumpama demikian, mereka yang mengeroyok adinda Udayana, sebentar tadi berada disini. Kami kira, mereka takkan menganiaya bocah itu. Sekiranya demikian, masakan mereka begitu tebal muka sehingga masih bisa berhadapan-hadapan dengan pandang bocah itu. Eh, nanti dulu ..."

Tiba-tiba Podang Wilis terperanjat. Ia memberi keterangan menurut ukuran pribadinya. Baginya, memukul apalagi sampai menganiaya seorang bocah, adalah suatu perbuatan yang memalukan.

Disaat itu teringatlah dia, bahwa muka Lingga Wisnu matang biru, seperti kena pukulan. Seketika itu juga, ia mengerahkan ingatannya kembali kepada daerah pertempuran. Lantas berkata setengah berseru : "Benar, guru. Muka bocah itu matang biru. Walaupun demikian, benarkah dia kena aniaya orang-orang yang menyebut diri mereka golongan pendekar? Kami rasa ... kami rasa ... Eh, nanti dulu ... Guru, sewaktu kami datang memasuki gelanggang pertempuran, kami

melihat seorang yang mengenakan pakaian juba abu-abu sedang bertempur melawan seorang gadis. Menurut bocah itu, dialah kakaknya. Tapi benarkah dia sempat menganiaya bocah itu?"

"Apakah orang itu datang kemari?" Kyahi Basaman menegas.

"Benar ... benar ... Таk kami lihat dia datang kemari."

"Kalau begitu, carilah dia ! Lebih cepat lebih baik ! " potong Kyahi Basaman dengan suara agak keras.

Makin teringat gerak-gerik orang berjubah abu-abu itu, hati Podang Wilis kian merasa curiga. Lantas saja ia bergerak hendak melakukan perintah gurunya.

"Biarlah aku ikut pula!" kata Panjalu.

Mereka berdua kemudian melesat keluar pendapa.

Perint ah Kyahi Basaman mempunyai alasan yang kuat. Selagi mendengarkan keterangan Podang Wilis, ia merobek lengan baju Lingga Wisnu dan tampaklah tapak lima jari berwarna hijau merekam pada kulit daging anak itu. Jelas sekali tapak lima jari itu. Warnanya mengkilap seperti kena minyak.

Tatkala Kyahi Basaman merabanya, orang tua itu merasakan suatu hawa yang panas luar biasa. Sedang sekitarnya dingin, sedingin es. Hati orang tua itu merasa tak enak, apalagi bocah yang sedang terluka. Betapa rasa deritanya, tak dapat dibayangkan lagi.

Beberapa waktu lamanya Podang Wilis dan Panjalu datang kembali menghadap gurunya.

"Diatas gunung tiada nampak tanda-tandanya lagi," kata Podang Wilis. "Kami kira dia pergi pula, setelah melihat para tetamu pulang. Barangkali ...... dia sudah meninggalkan daerah ini setelah dapat membaw a gadis kakak bocah itu."

Mendadak ia berhenti berbicara, begitu melihat tapak lima jari h ijau mengkilat.

Tatkala itu Kyahi Basaman diam termenung. Dahinya berkeringat. Lalu berkata perlahan, seperti pada dirinya sendiri :

"Aku kirа, Bantar Angin sudah meninggal tigapuluh tahun yang lalu, dan ilmunya Pacarkeling dibawanya masuk kedalam liang kubur. Siapa mengira bahwa dijagat in i ilmu sakti yang hebat itu ternyata masih ada yang mewarisi. Pacarkeling! Pacarkeling ... !"

"Hai ! Bocah ini kena pukulan Pacarkeling yang beracun?" ke-enam murid Kyahi Basaman berseru berbareng lantaran terperanjat.

"Guru! Benarkah bocah itu kena pukulan Pacarkeling?" Ugrasena menegas. Ugrasena adalah murid yang tertua. Usianya limapuluh lima tahun. Diantara saudara-saudara seperguruannya, dialah yang pernah melihat hebatnya pukulan Pacarkeling yang bersifat dingin serta berbisa. Sedang yang lain hanyalah mendengar namanya.

"Benar." sahut gurunya. "Warna hijau gelap dengan disertai tapak lima jari merupakan tanda khas Pacarkeling yang mudah dikenal."

"Bagaimana cara mengobati, guru? Kami bersedia melakukan," sambung Samtanus dengan suara khawatir.

Tetapi Kyai Basaman tidak menjawab. Ia menghela napas sedih. Tiba-tiba air matanya mengalir keluar. Sambil mendukung Lingga Wisnu,ia menghampiri mayat Udayana dan isterinya :

"Oh, Udayana, anakku. Belumlah jelas sebab musabab kematianmu ini, gurumu sudah menghadapi masalah baru lagi. Engkau telah mengangkat aku sebagai gurumu. Ternyata aku tak pandai menjaga keselamatan jiw a anakmu. Bukankah bocah ini anakmu satu-satunya yang masih hidup? Oh, Udayana! Tiada gunanya aku hidup seratus tahun. Nama perguruanmu termashur diseluruh persada bumi. Akan tetapi, ternyata orang- orang tak menghargai rumah perguruanmu dengan segenap hati. Ternyata engkau mati berselimut nama rumah perguruanmu. Bukankah mereka yang membunuhmu tahu juga, bahwa engkau salah seorang muridku? Akh, Udayana. Ара perlu aku hidup lebih lama lagi ? "

Sungguh tak kepalang rasa terkejutnya sekalian muridnya mendengar ucapan guru mereka. Selama berguru padanya, belum pernah mereka mendengar ucapan Kyahi Basaman yang menyatakan suatu rasa kecewa, marah, dendam. benci, penasaran dan berduka. Tapi kali in i dengan satu napas, Kyahi Basaman merangkum seluruh perasaan demikian. Inilah suatu tanda bahwa guru besar itu dalam putus asa dan sedih tak terhingga.

"Guru! Apakah bocah ini benar-benar tak dapat tertolong lagi?" Panjalu memberanikan diri untuk mohon ketegasan.

"Kecuali ... kecuali kasatria yang berada diseberang jembatan maut Jala Angin tiba-tiba datang kemari untuk menurunkan ilmu sakti pelengkapku." jawab Kyahi Basaman tak lancar. Dan seraya berkata demikian, ia ber jalan kesana ke mari meraba lantai pendapa dengan mendukuhg tubuh Lingga Wisnu yang pucat dingin serta kehijau-hijauan.

Mendangar jaw aban gurunya yang mengandung rasa putus asa, sekalian murid terpukul hatinya. Kasatria yang berada diseberang jembatan Jala Angin, sebenarnya lebih merupakan suatu dongeng belaka. Dengan demikian luka Lingga Wisnu berarti tak dapat disembuhkan lagi.

Tiba-tiba Panjalu yang berperasaan halus, memberanikan diri lagi untuk minta keterangan kepada Kyahi Basaman. Katanya :

"Guru! Menurut keterangan kakang Podang Wilis dan mendengar kata-kata mereka yang datang kerumah perguruan setelah mengkeroyok kang Udaуапа, tongkat itu ... tongkat mustika milik kasatria yang berada diseberang jembatan Jala Angin, ditimpakan pada pundak kakang Udayana. Mereka menuduh, seolah-olah kakang Udayana menyimpan atau mengetahui beradanya tongkat mustika itu. Sebenarnya bagaimana? Apakah di seberang jembatan Jala Angin, benar-benar ada makhluk yang hidup ? "

Kyahi Basaman menghela napas. Tatkala hendak membuka rrrulut, tiba-tiba Lingga Wisnu berteriak :

"Ayah! Ayah! Kau tak boleh mati! Kau tak boleh mati !

Kasihanilah Ibu kasihanilah ibu! Addduuuuh ... !"

Begitu mengerang, Lingga Wisnu memeluk Kyahi Basaman kencang-kencang. Kemudian menyesapkan kepalanya kedalam pelukan orang tua itu.

Tergoncang hati Kyahi Basaman kena rangkul dan mendengar teriakan Lingga Wisnu. Ia menjadi iba sekali. Dengan memusatkan seluruh semangatnya, ia berkata :

"Mari lah kita berusaha dengan sepenuh tenaga untuk merebut hidup bocah ini. Berapa lama dia bisa hidup, terserahlah kepada Yang Maha Kuasa." Lalu ia menoleh kepada mayat Udayana. Dengan air mata bercucuran, ia berkata setengah isak: "Oh anakku Udayana, malang benar nasibmu !

Dengan tertatih-tatih, Kyahi Basaman membawa Lingga Wisnu kedalam kamarnya sendiri, segera ia memijat delapan belas urat nadi untuk mengurangi kepekaan. Dan kena pijat itu Lingga wajahnya kian menjadi gelap.

Kyahi Basaman tahu, bilamana warna hijau gelap itu berubah menjadi hitam, bocah itu tak dapat ditolong lagi. Kesadaran itu membuat ia segera bertindak. Baju Lingga Wisnu ditanggalkan. Kemudian iapun menanggalkan jubahnya sendiri. Dan dengan mengadu dada ia mendekap punggung sibocah.

Tatkala itu Ugrasena dan Panjalu sibuk mengurus penguburan mayat Udayana dan Larasati. Yang ikut serta memasuki kamar Kyahi Basaman adalah Dewa Brata, Taw angalun, Podang Wilis dan Samtanus. Mereka tahu ара yang sedang dilakukan gurunya untuk menolong Lingga Wisnu. ltulah ilmu sakti Dasa Sila atau ilmu sakti murni sejati yang tinggi untuk menarik dan menghisap hawa berbisa yang mengeram dalam tubuh Lingga Wisnu.

Selarna hidupnya, Kyahi Basaman tak pernah bersentuhan dengan seorang w anita. Kini sudah berumur 90 tahun. Pada hakekatnya ia masih seorang jejaka, oleh karena itu ia bisa melihat ilmu sakti Dasa-Sila dengan murni. Kurang lebih tujuhpuluh tahun ia menghimpun tenaga itu. Maka ia sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Dewabrata berampat berdiri tegak disamping gurunya. Hati mereka tegang luar biasa. Sebab pengobatan dengan cara demikian, besar sekali bahayanya. Kalau kurang tepat, tidak hanya Lingga Wisnu gagal memperoleh kesehatannya kembali. tetapipun yang berusaha menyembuhkan akan tertimpa malapetaka .

Pikir mereka, tenaga sakti guru yang murni memang dijagat ini tiada tandingannya. Meskipun demikian, dia sudah berusia lanjut. Betapa pun juga tenaga jasmaninya sudah mundur. Jangan-jangan malah terjadi hal-hal yang mengerikan.

Tak mengherankan, bahwa hati mereka kini malah menjadi kebat-kebit tak keruan. Setengah jam lamanya mereka berdiri tegak bagaikan patung. Akhirnya Kyahi Basaman nampak bergerak. Wajahnya samar-samar bersemu hijau dan sepuluh jari-jarinya bergemetar. Setelah membuka mata, ia berkata perlahan :

"Dewabrata! Kau majulah menggantikan aku. Apabila merasa tak tahan, cepat-cepat kau harus mundur. Kemudian Taw angalun yang mengganti. Jangan sekali- kali engkau memaksa diri!"

Cepat Dewabrata membuka bajunya dan memeluk Lingga Wisnu kedalam pangkuannya. Begitu tubuhnya tersentuhan ia terperanjat. Bukan main dinginnya. Ia merasa diri seolah-olah sedang memeluk satu balok es.

Maka cepat-cepat ia berseru :

"Samtanus! Perint ahkan beberapa orang membuat unggun api! Маkin garang mакin baik! "

Anak-murid Kyahi Basaman bermukim diatas Gunung Lawu yang berhaw a dingin. Seringkali mereka mendaki gunung untuk melatih diri dalam hawa yang sangat dingin. Walaupun demikian, begitu memeluk tubuh Lingga Wisnu, Dewabrata kaget sampai berteriak. Маkа dapat dibayangkan, betapa dingin hawa yang meruap dari dalam tubuh bocah itu. Seumpama dia bukan anak gunung, pastilah akan terancam bahaya lebih besar.

Tidak lama kemudian api unggun segera dinyalakan dalam kamar itu. Sekalipun demikian, Dew abrata masih nampak kedinginan. Kadangkala ia menggigil dengan gigi berceratukan. Sadar акan ancaman malapetaka, cepat- cepat ia menghimpun tenaga murninya. Namun setiap kali akan terhimpun mendadak bubar buyar. Sekarang barulah dia mengenal betapa hebat ilmu sakti Pacarkeling yang ditakuti orang semenjak puluhan tahun yang lalu.

"Guru sudah berusia lanjut. Walaupun demikian masih bisa tahan setengah jam. Sebaliknya aku baru saja memeluk tubuh bocah ini, tapi sudah menggigil tak keruan. Akh, tenaga murni guru benar-benar sudah mencapai kesempurnaan." katanya didalam hati. Ia jadi malu sendiri, ара sebab tadi ia menyangsikan tenaga gurunya yang sudah berusia lanjut. Ternyata dia yang merasa diri lebih muda dan mungkin pula lebih bertenaga, kalah sangat jauh.

Dalam pada itu Kyahi Basaman sudah terbenam dalam semadinya. Ia tak menghiraukan segalanya, seumpama tiada melihat dan tiada mendengar sesuatu. Perhatiannya dipusatkan untuk menghapus haw a berbisa yang tersedot oleh tenaga murninya kedalam jasmaninya. Apabila hawa berbisa terkuras habis dari jasmaninya, waktu itu, Samtanus sudah menggantikan kedudukan    Podang    Wilis.    Sedang    Dewabrata, Taw angalun dan Podang Wilis duduk bersemadi disarrpingnya dengan dibantu panas perdiangan.

Tak lama kemudian Samtanus berteriak memanggil beberapa pembantu rumah tangga. Ia sudah tak tahan lagi dan cepat-cepat menyuruh memanggil Ugrasena dan Panjalu.

Ugrasena segera menggantikan kedudukannya. Ia mencontoh cara penyembuhan terhadap Lingga Wisnu. Ia memeluk kedalam pangkuannya. Kemudian tubuhnya yang bidang ditampelkan. Dan segera terjadilah suatu perjuangan mengadu ketahanan tenaga sakti. Memang, secara tak langsung mereka sama seperti lagi diuji himpunan tenaga saktinya. Siapa yang dangkal segera tak tahan kena serangan hawa berbisa Pacarkeling yang dingin luar biasa. Rata-rata mereka semua hanya tahan duapuluh menit. Tetapi Ugrasena tahan hampir satu jam. Sedang Panjalu yang berperasaan halus, menjerit begitu tubuhnya bersintuhan. Ia menggigil dengan gigi berceratukan.

"Serahkan kepadaku!" Perintah Kyahi Basaman dengan terkejut. "Duduklah kau disampingku. Pusatkan pemapasanmu dan jangan sekali-kali pikiranmu berpencaran ! "

Rupanya karena sangat berduka menyaksikan kematian Udayana yang begitu menyayatkan, pikiгaп Panjalu menjadi gelap dan kabur. Tetapi setelah dapat menguasai ketenangannya kembali, barulah dia sanggup memeluk tubuh Lingga Wisnu hampir setengah jam lamanya.

Dengan cara bergilir mereka berenam berjuang mengusir hawa beracun yang mengeram dalam tubuh Lingga Wisnu selama tiga hari tiga malam. Cara mereka berkutat seperti lagi berjuang dalam menghadapi ancaman maut yang menyerang rumah perguruan.

Sama sekali mereka tak kenal lelah. Dan oleh ketekunan mereka, hawa beracun yang mengeram dalam tubuh Lingga Wisnu lambat-laun makin tipis dan tipis. Dengan demikian daya tahan mereka kini bisa mencapai waktu dua jam. ltulah sebabnya, pada hari ke-empat mereka bisa tidur dengan bergiliran. Dan seminggu kemudian, mereka sudah bisa membagi waktu. Masing masing sudah bisa menanggulangi sisa hawa dingin dengan seorang diri. Dengan demikian yang lain dapat beristirahat, untuk mengembalikan tenaga sakti yang sudah terhambur keluar.

Pada hari keduapuluh, berangsur-angsur kesehatan Lingga Wisnu memperoleh kemajuan. Suhu dingin yang menyerang badannya makin berkurang. Pikiran bocah itu nampak menjadi jernih pula. Ia mulai makan sedikit demi sedikit. Hal itu menggembirakan semua penghuni rumah- perguruan. Mereka mengira, bahwa beberapa hari lagi kesehatan Lingga Wisnu akan pulih kembali seperti sediakala.

Mendadak pada hari ke-40 sewaktu tiba pada giliran Panjalu, terjadilah suatu hal yang mengejutkan. Panjalu menemukan suatu bintik dingin yang membeku dalam pusar Lingga Wisnu Ia mencoba mendorong keluar dan membuyarkan. Akan tetapi betapapun ia mengerahkan tenaga, hawa dingin yang membeku itu tidak dapat didesaknya. Bahkan bocah itu kembali menjadi hijau gelap. Penjalu mengira, bahwa kegagalan itu disebabkan lantaran tenaga saktinya kurang kuat. Мака ia melaporkan kepada gurunya.

Tatkala Kyahi Basaman mencoba mendorong hawa dingin yang beku itu, ia gagal pula. Lalu dicobanya untuk menghancurkan. Usaha itupun gagal. Ugrasena lantas menggantikan. Murid tertua inipun tak berdaya. Dan selama lima malam, mereka semua gagal melenyapkan dingin hawa yang mengeram.

Segera mereka berunding dan bertukar pikir. Akhirnya diputuskan untuk mengambil jalan lain dengan menelankan butiran-butiran ramuan obat penghancur serta pelawan hawa dingin. Juga percobaan ini tak berhasil.

"Anakku ! Bagaimana perasaanmu?" pada suatu hari Panjalu menegas.

Lingga Wisnu sudah bisa berbicara. Selama itu, sedlkit-sedikit ia bisa menceritakan kembali pengalaman orang tuanya semenjak tujuh tahun yang lalu. Dengan demikian, siapa namanya. Dan samar-samar sudah bisa menebak - nebak latar belakang peristiw a yang menghantui keluarga Udayana. Hanya saja keenam saudara seperguruannya, belum berani mint a keterangan yang meyakinkan tentang tongkat mustika kepada gurunya.

Demikianlah, tatkala mendengar pertanyaan Panjalu yang dikeluarkan dari lubuk hati yang tulus iklas ia memberi keterangan :

"Kaki dan tanganku hangat tetapi ubun-ubunku, dada dan perut rasanya makin lama makin menjadi dingin."

Kyahi Basaman yang hadlir pada saat itu, diam-diam tercekat hatinya. Cepat-cepat ia mencoba menghibur :

"Cucuku, angger. Lukamu kini sudah sembuh. Aku tak perlu lagi mendukungmu pada setiap hari. Kau boleh rebahan diatas tempat tidurku."

Lingga Wisnu mengangguk. Perlahan lahan ia turun dari tempat tidur dan merangkak menghampiri Kyahi Basaman dan sekalian paman gurunya. Ia membuat sembah dengan mencium lantai. Katanya halus :

"Eyang dan sekalian paman, Lingga takkan melupakan budi eyang dan paman merebut jiw aku ini. Kini Lingga mohon kepada eyang dan paman, agar mengajari ilmu kepandaian yang tinggi dan sakti benar, agar dikemudian hari Lingga dapat menuntut balas sakit hati ayah bunda dan kedua saudaraku."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, mereka semua terharu bukan main. Bocah seumur dia, mengapa sudah dapat berbicara begini fasih? Mereka lupa, bahwa selama tujuh tahun Lingga Wisnu digodok dan digembleng oleh pengalamannya yang dahsyat sehingga memtangkan cara berpikir dan pernyataan perasaannya.

Dengan berdiam diri, Kyahi Basaman meninggalkan kamar. Dan ke-enam muridnya mengikuti dari belakang.

Di pendapa Kyahi Basaman menghela napas berkata : "Racun Pacarkeling sudah meresap kedalam ubun-

ubun, dada dan perutnya. Artinya suatu tenaga lagi yang

bisa mengusir dari luar. Tampaknya jerih-payah kalian selama ampatpuluh hari ampatpuluh malam adalah sia- sia belaka. Hanya saja yang tiada kumengerti, ара sebab terjadi perubahan begini?"

"Guru!" kata Podang Wilis setelah berpikir sejenak. "Kami mendengar kabar bahwa mertua adinda Udayana, seorang pendekar kenamaan. Apakah tidak mungkin Lingga menerima warisan himpunan tenaga sakti eyangnya lewat ibunya? mungkin dalam usahanya mempertaharkan diri dari rasa sakit, Lingga melawan serangan hawa berbisa itu dengan himpunan tenaga sakti warisan eyangnya. Karena kurang pengalaman, dia mungkin salah pengetrapannya. Dia tidak mengusir tetapi malahan menyedot sehingga kini melengket dengan himpunan tenaga saktinya sampai meresap kedalam urat-urat syaraf." Kyahi Basaman mendengarken alasan itu. namun ia menggelengkan kepalanya. Sahutnya:

"Seumpama ampat atau lima tahun lebih usia nya, kemungkinan itu ada. Tetapi masakan sekecil dia mempunyai tenaga yang berarti untuk mengadakan perlawanan?"

"Menurut keterangannya, dia dibawa bertempur semenjak masih berumur satu tahun. Seumpama tidak memiliki daya tahan ..."

"Pannembahan Larasmaja adalah seorang pendekar yang maha luas pengetahuannya." potong Kyahi Basaman. "Ilmu saktinya t iada mudah dapat diwarisi atau dimengerti. Apakah karena dalam keadaan terdesak terus-menerus, ibunya menurunкaп ilmu warisan ayahnya secara darurat? Akh ya mungkin begitu!"

Kyahi Basaman menepuk pahanya karena tersadar.

Lalu berkata setengah berseru :

"Benar, benar: Kiranya ilmu sakti warisan Panembahan Larasmaja berada pula didalam dirinya. Sebab kalau hanya warisan Udayana, himpunan tenaga saktinya adalah sejalan dengan kita. Pastilah bantuan kita dari luar tidak akan mengakibatkan sesuatu. Tapi bagaimana corak himpunan tenaga sakti aliran Panembahan Larasmaja itu, aku tak mengerti. Biarlah kucobanya."

Berkata demikian, Kyahi Basaman kembali kedalam kamarnya. Lalu berkata kepada Lingga Wisnu :

"Angger ! Coba pukullah eyangmu tiga kali berturut- turut, dengan sungguh-sungguh!" "Bagaimana aku berani memukul eyang?" sahut Lingga Wisnu.

Kyahi Basaman tertaw a. Jawabnya :

"Angger! Bukankah engkau ingin aku mengajari ilmu kepandaian? Kalau belum kuketahui sampai dimana dangkal dan dalamnya himpunan tenagamu, bagaimana aku bisa mengajarimu?"

Lingga Wisnu menimbang-nimbang. Alasan Kyahi Basaman masuk akal. Lalu berkata patuh:

"Baiklah kalau begitu. Hanya saja, eyang jangan memukul aku keras-keras!"

"Tentu saja. Masakan aku akan memukulmu kambali? Aku hanya ingin menguji himpunan tenagamu." sahut Kyahi Basaman dengan tertaw a.

Memang, secara darurat Larasati pernah menurunkan ilmu warisan ayahnya kepada Lingga Wisnu. Ilmu sakti itu bernama Gumbala Hagni sejalan dengan nama pedangnya. Larasati sendiri belum memahami seluruhnya. Dia hanya bisa menguasai tiga jurus saja. Hal itu dikatakan dengan terus terang pula kepada anaknya yang bungsu itu.

Gerakan Lingga Wisnu yang kini diperlihatkan kepada Kyahi Basaman adalah jurus ketujuh. Larasati ajurus itu 'T ritunggaldew a'. Jurus ketujuh dari himpunan jurus dari Ilmu Sakti Gumbala Hagni yang semuanya berjumlah 72 jurus.

Bres !

Dengan tangan kiri Kyahi Basaman menyambut pukulan yang dahsyat itu. Dan tenaga pukulannya yang dahsyat kena dihisapnya hilang. Dan Lingga Wisnu merasa diri seolah-olah lagi memukul udara kosong yang lembek. Diam-diam ia terkejut.

"Bagus juga!" puji Kyahi Basaman seraya mengangguk-angguk.

"Menurut ibu, pukulan in i bisa merobohkan gunung. Akan tetapi didepan eyang, mengapa habis dayanya ? Eyang ...! Eyang hebat sekali. Tolong ajari aku ilmu sakti itu, agar aku bisa membalaskan dendam musuh-musuh orang tuaku."

"Kau pusatkan perhatianmu dahulu pada pukulanmu yang kedua dan yang ketiga, angger." kata Kyahi Basaman membelokkan perhatian.

Lingga Wisnu tiba-tiba berputar, terus mambalikkan tubuh. Kemudian menggablok. Inilah salah satu tipu- pukulan Ilmu Sakti Gumbala Hagni yang ditakuti orang.

Melihat berkelebatnya tangan, Kyahi Basaman menyambut dengan tangan kanannya. Dan daya pukulan itu amblas sirna. Yang mengherankan sama sekali Lingga Wisnu tidak merasa kena pukulan pantulan tenaga sakti Kyahi Basaman yang membalik.

Selagi heran dan kagum, orang tua itu memuji lagi : "Lingga! Bagus sekali, engkau angger. Anak seusia

engkau sudah bisa mencapai himpunan tenaga sebesar ini. Benar-benar patut mendapatkan pujian."

"Eyang, sudahlah. Tiada guna lagi aku melepaskan pukulanku yang ketiga. Kurasa tiada berarti apa-apa bagi eyang." kata Lingga Wisnu. "Kedua pukulanmu tadi sangat hebat. Kau pukullah aku dengan pukulanmu yang ketiga!" sahut Kyahi Basaman.

Dengan memaksa diri, Lingga Wisnu menghimpun tenaga sakti Gumbala Hagni pada telapak tangannya. Ia perlu melingkar dahulu sebelum tangannya bergerak. Dan apabila tenaga saktinya sudah merasa terhimpun, tiba-tiba ia menyodok dengan keras. Inilah tipu muslihat jurus ke sembilan. Barang siapa kena pukulan ini, meskipun kebal dari sekalian senjata tajam, akan roboh terjengkang dengan luka dalam.

Diam-diam Kyahi Basaman terperanjat. Pikirnya didalam hati :

'Benar-benar dia bisa melakukan pukulan hebat ini ?'

Terus saja ia bersiaga. Akan tetapi pukulan yang ketiga. ini ternyata tiada bertenaga.

Perbaw anya memang hebat. Angin seolah-olah kena gulung dan dilontarkan dengan suara menderu. Akan tetapi begitu tiba pada sasaran, hebatnya pukulan itu tidak seperti pukulan yang pertama dan yang ketiga. Kyahi Basaman jadi kecewa. Sebab mestinya pukulan ini dahsyat tak terkira. Мака dengan menggelengkan kepalanya ia berkata menasehati :

"Angger ! Seranganmu kali in i kurang kuat. Мungkin sekali engkau belum memahaminya. "

"Bukan begitu," potong Lingga Wisnu dengan bernapsu. "Soalnya ibu sendiri belum mahir. Begitulah kata ibu kepadaku. Ibu Kata, bahwa ilmu sakti Gumbala Hagni in i, merupakan salah satu cabang ilmu sakti yang hebat. Ilmu ini termasuk salah satu ilmu sakti tertinggi di

dunia. Benarkah itu, eyang

? "

"Benar," jaw ab Kyahi Basaman dengan mengangguk.

"Ibu hanya mewarisi tiga jurus saja, karena menurut eyang, ibu kekurangan himpunan tenaga sakti yang dibutuhkan. Itulah sebabnya, ibu belum bisa menyelami    int isarinya.

Gerak tipu pukulan ketiga

yang bernama: Gora-antariksa ini menurut ibu dahsyat luar biasa. Ibu tahu, aku belum bertenaga sama sekali. Akan tetapi aku boleh menghafal dan mempelajari kulitnya dahulu. Dikemudian hari aku masih menpunyai kesempatan untuk menyelami. Dengan jalan demikian mungkin sekali aku dapat mencapai int isarinya."

"Akh, begitulah maksud ibumu?" kata Kyahi Basaman dengan suara terharu. "Tapi mulai saat ini, dalam suatu pertempuran sungguh-sungguh - jangan sekali-kali engkau menggunakan t ipu jurus ini. Sebab selain engkau belum bertenaga seperti yang dikehendaki, engkaupun bakal kena akibatnya sendiri. Terbentur tenaga lontaranmu sendiri."

"Kalau begitu, ajarilah aku, eyang," Lingga Wisnu memohon. "Tidak ! Bukan aku tak mau, tapi lantaran aku sendiri tiada dapat menggunakan pukulan itu yang dahsyat luar biasa." jawab Kyahi Basaman.

Kemudian dengan mengurut-urut jenggotnya, ia berkata: "Eyangmu Larasmaja benar-benar hebat luar biasa. Didunia in i, kukira hanya dia seorang yang mewarisi ilmu sakti tersebut dari para leluhur dijaman purba. Sayang, dia belum menemukan seorang ahliwarisnya. Apakah engkau pernah bertemu dengan eyangmu?"

"Tidak. Menurut ibu eyang sudah wafat sebelum aku lahir," sahut Lingga Wisnu.

Kyahi Basaman menarik napas dalam. Kemudian minta keterangan tentang ragam ilmu sakti yang pernah dipelajarinya. Dengan lancarnya Lingga Wisnu mengucapkan kalimat kalimat hafalannya. Ternyata ia hanya menerima ajaran patah -patah dari ibunya.

Meskipun demikian mendengar kalimat hafalannya, Kyah: Basaman kagum luar biasa. Ia seorang guru-besar yang sudah banyak makan garam. Berbagai cabang ilmu sakti sudah hampir semua diketahuinya. Akan tetapi dengan terus-terang ia mengakui, bahwa ada beberapa hafalan yang sama sekali asing baginya. Pikirnya didalam hati :

'Benar-benar luas ilmu pengetahuan rekan Larasmaja. Sedang ibu bocah mi, tak dapat mewarisi. Rupanya hanya bisa menghafal kalimat-kalimat rahasianya. Akan tetapi belum memperoleh kunci int ipatinya.'

Pendekar Larasmaja hidup pada jaman tiga puluh tahun yang lalu. Namanya menggetarkan jagad. Dengan ilmu tunggalnya, ia malang melintang tanpa tandingan. Kiranya dia tidak hanya memiliki ilmu Gumbala Hagni saja, tapi ternyata sangat luas ilmu pengetahuannya. Pantaslah kalau dahulu ia menguasai bumi Priangan sampai kehampir Wilayah Jawa Tengah bagian pantai utara.

"Angger! Coba perlihatkan kepadaku cara melakukan kalimat-kaliirat hafalanmu itu," kata Kyahi Basaman.

Segera Lingga Wisnu melakukan perint ah Kyahi Basaman. Akan tetapi ternyata ia hanya bisa melakukan seperlima bagian dari semua kalimat hafalannya. Memang ibunya dahulu mengajarkan kepadanya semata- mata terdorong oleh rasa cinta kasih semata. ltulah disebabkan karena diuber-uber lawan selama tujuh tahun lebih.

Dan ibu itu secara naluriah ingin mempertahankan anak keturunannya. Ia berharap dengan modal ilmu kepandaian leluhurnya yang luar biasa banyaknya, Lingga Wisnu akan dapat melindungi diri sendiri. Tentu saja harapan penuh dengan doa daripada kenyataannya. Seumpama Podang Wilis tidak tepat tibanya digelanggang pertempuran, Lingga Wisnu sudah tidak ada di alam cerah ini.

"Bagus, angaer, bagus sekali." berkalikali Kyahi Basanan memuji. "Aku tahu maksud ibumu. Engkau berbakat baik. Dengan bakatmu itu ibumu уakin, bahwa engkau akan dapat memahirkan semua ragam ilmu sakti warisan eyangmu dengan perlahan-lahan."

Menyenangkan bunyi ucapan orang tua itu. Akan tetapi didalam hatinya sesungguhnya ia sangat terharu. Setelah mencoba tiga pukulan tadi, tahulah Kyahi Basaman bahwa himpunan tenaga sakti yang dipelajari Lingga Wisnu, kecuali belum mahir, ruwet pula. Hinpunan tenaga sakti demikian, memang hebat perbaw anya dalam menghadapi lawan jangka pendek.

Akan tetapi apabila harus menghadapi suatu pertarungan jangka lama, ia akan termakan oleh himpunan tenaganya yang belum dapat dikuasai. Hal ini ternyata, setelah dipergunakan untuk menahan merembesnya hawa berbisa Pacarkeling. Hawa berbisa itu kini lebih susah untuk ditarik keluar. Satu-satunya jalan untuk merenggutnya keluar, apabila napas Lingga Wisnu berhenti calam waktu satu atau dua jam. Akan tetapi apabila manusia kehilangan napas selama satu atau dua jam, bukankah dia akan mati?

Setelah bermenung-menimg sekian lamanya, akhirnya Kyahi Basaman mengambil keputusan darurat. Katanya didalam hati :

'Kalau hendak memusnakan hawa berbisa Pacarkeling yang sudah melekat rapat dalam sungsumnya, Lingga Wisnu harus berusaha sendiri. Ia harus mempunyai tenaga himpunan yang bisa mengatasi tenaga hawa berbisa. Dengan mendorong dari dalam, barulah hawa berbisa itu bisa dilenyapkan. Soalnya kini, dapatkah dia memiliki tenaga yang dahsyat yang dibutuhkan? Aku hanya memiliki seperti ilmu sakti Brahmandaprana. Ah, seunpama aku mewarisi ilmu sakti tersebut secara keseluruhan, hawa berbisa itu bukan lagi merupakan satu persoalan. Tetapi jalan lain, kurasa t iada lagi kecuali menurunkan ilmu himpunan tenaga Brahmandaprana yang hanya kumiliki sepertiga bagian. Biarlah dia melatih diri. Usianya bisa diulur satu hari, bukankah lebih baik dari pada mati sekarang. Oh, Udayana, semoga arw ahmu ikut membantu memanjangkan umur anakmu sehari demi sehari ...!

Setelah memperoleh keputusan demikian, keesokan harinya ia mulai menurunkan ilmu sakti Brahmandaprana yang dikuasainya sepertiga bagian. Ia berharap dengan tenaga murni itu, menjalarnya hawa berbisa Pacarkeling dapat dibendungnya. Syukur, apabila terjadi suatu peristiw a yang ajaib diluar nalar manusia, sehingga dengan tiba-tiba haw a berbisa itu dapat terusir sirna.

Ilmu sakti himpunan tenaga Brahmandaprana tanpaknya sederhana saja. Akan tetapi sesungguhnya didalamnya banyak keruwetan-keruw etan gawat. Dasarnya harus bersih dan murni. ltulah sebabnya, maka mula-mula Lingga Wisnu diberi pelajaran berlatih menghimpun tenaga murni yang kemudian disalurkan keperut, pusat dan terus menanjak keubun.

Dari sana hawa yang hangat dan bersih itu menyusuri urat-urat seluruh tubuh. Dalam diri Lingga Wisnu lantas saja terjadi suatu ketegaran. Rongga perutnya seperti terisi suatu gunpalan awan yang selalu bergerak dan terapung-apung. Setiap kali berputar semua urat yang diambahnya terasa menjadi segar sekali.

Kyahi Basaman berharap, setelah Lingga Wisnu mencapai tingkat ketujuh, hawa dingin yang berkumpul didalam perut akan bisa terusir bagaikan embun kena cerah surya.

Dengan tekun Lingga Wisnu berlatih diri, kurang lebih dua tahun lamanya. Lambat-laun dalam perutnya mulai berkumpul suatu gumpalan awan yang hangat nikmat. Walaupun demikian, bisa Pacarkeling yang bersarang di dalamnya masih saja melengket kuat-kuat. Malahan hawa berbisa itu seperti mengejek himpunan tenaga murni Beberapa bulan kemudian, wajah Lingga Wisnu nampak makin hijau dan gelap. Pada saat-saat tertentu penyakitnya kumat. Dan derita yang berkecamuk didalam dirinya serasa tak tertanggungkan lagi.

Selama dua tahun itu, Kyahi Basaman benar-benar mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk menurunkan ilmu warisan Brahmanaprana kepada Lingga Wisnu. Dia selalu berada dirumah pertapaan dan tidak lagi bepergian seperti yang dilakukan belasan tahun yang lalu. 

Dan Ugrasena beserta segenap adik-adiknya seperguruan sibuk mencarikan obat pemunah racun yang mengeram dalam badan Lingga Wisnu. Semua orang pandai didatangi dan semua obat-obat mujarab dibelinya. Setiap kali tiba dirumah perguruan, obat yang dibawanya segera diminumkan kepada anak keturunan Udayana satu-satunya. Akan tetapi hasilnya, nihil belaka. Tetap saja bisa Pacarkeling tak tergoyahkan.

Tidak lah mengherankan, bahwa mereka sama menjadi perihatin melihat keadaan tubuh Lingga Wisnu makin lama makin kurus kering. Akan tetapi dihadapan bocah itu, tentu saja mereka bersikap lain. Selalu mereka menyatakan syukur bahwa bisa yang mengeram didalam tubuh sibocah makin menjadi tipis dan tipis. Dan setelah mereka berada sendirian diluar kamar, hati mereka sangat berduka. Benar-benarkah darah daging Udayana satu-satunya itu tak dapat dipertahankan lagi ? .

Karena terlalu berduka dan sibuk memikirkan obat ара yang mungkin bisa menanggulangi, tak sempat lagi mereka mengusut siapakah musuh ayah Lingga Wisnu sesungguhnya. Dan selama dua tahun itu, rumah perguruan Kyahi Basaman tiada lagi yang menginjaknya. Mereka yang dahulu ikut-serta mengeroyok Udayana benar-benar berniat hendak menghapuskan saja permusuhan itu.

Akan tetapi tentu saja sekalian murid Kyai Basaman tak mau sudah. Meskipun tidak rerncih terucapkan atau berunding atau bermusyawarah, akan tetapi mereka berjanji pada diri sendiri, bahwa pada suatu kali mereka akan membuat perhitungan terhadap yang pernah mengeroyok Udayana, manakala jiwa Lingga Wisnu sudah berhasil direbutnya kembali.

Hari itu adalah hari ulang tahun ke 93. Seperti biasanya, murid-murid Kyahi Basaman berkumpul dipaseban untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada gurunya. Mendadak saja, sebelum pesta ulang tahun dimulai, Lingga Wisnu kumat lagi. Tetapi anak itu mengerti diri. Dengan menggigit bibirnya, ia mencoba bertahan serta menyembunyikan rasa sakitnya. Sudah barang tentu sekalian paman-gurunya tak dapat di kelabui. Sebab wajah bocah itu nampak hijau gelap. Dan tubuhnya menggigil sampai giginya berceratukan.

Cepat-cepat Panjalu membaw a Lingga Wisnu masuk kedalam kamar. Hati-hati ia merebahkannya diatas tempat tidur, kemudian menyelimuti dengan selimut tebal. Setelah itu, ia membuat api unggun sebesar- besarnya diatas tungku dan didorongnya di bawah ranjang agar badan Lingga Wisnu menjadi hangat.

Kyahi Basaman menatap wajah Lingga Wisnu dengan berduka. Akhirnya setelah menghela napas, ia berkata memutuskan : "Biarlah esok pagi aku membawanya menghadap Anung Danudibrata."

Sekalian murid Kyahi Basaman terperanjat. Selamanya, belum pernah gurunya turun gunung. Benar gurunya hanya nampak satu kali pada setiap tahun. Akan tetapi mereka tahu, bahwa gurunya itu tetap berada diatas gunung untuk bersemedi atau menyelami suatu ilmu sakti untuk bisa diwariskan kepada angkatan mendatang.

"Anak-anakku," katanya lagi. "Kalian semua tahu bahwa gurumu ini hanya memiliki sepertiga ilmu sakti Brahmandaprana. Sekalipun hanya sepertiga, akan tetapi cukuplah sudah untuk bisa menancapkan kedua kaki kita diatas bumi dengan kokoh. Akan tetapi, apabila pada suatu kali ada seorang yang bisa mewarisi ilmu Brahmandaprana dengan menyeluruh, maka ilmu warisanku in i t idak berarti sedikitpun. Ugrasana, bawalah adik-adikmu kedepan!"

Sebagai murid, mereka semua tahu sejarah pecahnya ilmu sakti Brahmandaprana menjadi tiga bagian. Akan tetapi mereka belum tahu perinciannya. Itulah sebabnya, segera mereka keluar paseban, untuk dapat mendengarkan keterangan gurunya lebih lengkap lagi.

Ilmu sakti Brahmandaprana konon dikabarkan adalah ciptaan Dewa Brahma yang dibawa turun kedunia oleh Parikenan. Dan Parikenan kemudian mewariskan kepada salah seorang cucunya bernama Romaharsana.

Kemudian hari Romaharsana mempunyai tiga murid. Murid tertua bernama Ugrasawa. Yang tengah seorang wanita bernama Parwati. Dan murid termuda seorang pendekar berparas cakap bernama Aristi. Masing-masing murid itu mempunyai keistimewaannya sendiri. Yang pertama pukulannya sangat berbahaya. Yang kedua, kegesitannya. Dan yang ketiga ilmu pedangnya. Romaharsana tidak membeda-bedakan atau pilihkasih. Masing-masing keistimewaannya diberi dasar yang kokoh agar mencapai kesempurnaan. Sayang, setelah mereka menanjak dewasa penuh, terjadilah suatu kisah asmara segi-tiga. Mula-mula saling bersaing, kemudian bermusuhan.

Parwati diam-diam mencintai Aristi. Sebaliknya Ugrasawa yang sint ing melihat kecantikan serta kejelitaan Parwati tidak sudi membiarkan jatuh dalam pelukan Aristi. Hal ini, tentu saja membuat hati Parwati jengkel.

Sebaliknya Ugrasawa yang merasa cinta kasihnya bertepuk sebelah tangan lantaran hadirnya Aristi, menaruh dendam kepada adik seperguruannya yang ganteng itu. Aristi pun merasa demikian pula. Ia merasa dirinya tak aman, karena dirintangi Ugrasawa.

Romaharsana jadi kecewa. Menurut kata hati, ingin ia mengusir ketiga muridnya itu. Namun ia tak sudi pula membiarkan ketiga muridnya itu saling bent rok dan bunuh membunuh. Мака semenjak itu, ia membagi kesaktian ilmu Brahmandaprana menjadi tiga bagian. Apabila sudah tamat, mereka diperintahkan turun gunung.

Dan tidak diperkenankan saling bertemu. Siapa yang melanggar larangannya ini, dikemudian hari akan bisa menemui suatu malapetaka. Anehnya, Apabila mereka toh saling bertemu dan akhirnya saling hantam, masing- masing tidak akan bisa malukai. Sebab Romaharsana membagi ilmu saktinya demikian rupa, sehingga masing- masing tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Demikianlah, Ugrasawa berangkat ke Jaw a Barat dan menetap disana. Dikemudian hari, ia mendirikan suatu perguruan. Anak muridnya ribuan orang jumlahnya dan makin lama makin menjadi subur sampai kini. Rumah perguruannya berada diatas Gunung Cakrabuwana. Dan ia menyebut dirinya golongan Parahiangan.

Parwati menetap dipinggang Gunung Merapi-Merbabu. Pengaruhnya meluas keseluruh Jaw a Tengah. Golongannya menyebut diri anak keturunan Mataram. Ilmu saktinya kini diwarisi pendekar Perangwedani yang berkedudukan di Kartasura.

Dan Aristi berada di Gunung Lawu. Dialah Kyahi Basaman. Pengaruh ilmu sakti Aristi melingkupi wilayah Jawa Timur. Golongannya menyebut dirinya kaum Aristi pula.

Mengingat keadaan yang mendesak, pernah Kyahi Basaman berkirim surat kepada pendekar Perangwedani untuk mohon bantuan. Akan tetapi Surat itu tak pernah sampai kepada Perangwedani. Ditengah jalan sudah kena robek anak-anak muridnya. Panjalu yang mempunyai hubungan istimewa dengan Damayanti, pernah pula mencoba menyampaikan surat gurunya lewat gadis itu. Damayanti berhasil membawa surat itu menghadap gurunya berbareng ayah kandungnya sendiri. Tetapi setelah mendengar bunyi surat Kyahi Basaman, Perang wedani menolak memberi bantuan. Takut melanggar pantang leluhurnya. Karena itu harapan Kyahi Basaman kini beralih kepada murid-murid Ugrasawa yang bermukim di Jawa Barat.

Sekalian murid mengerti maksud hati Kyahi Basaman itu. Dalam keadaan terpaksa dan demi mempertahankan anak-keturunan Udayana satu-satunya, gurunya rela turun gunung. Orang tua itu berharap Anung Danudibrata mau menambahi kelengkapan ilmu sakti Brahmandaprana yang berada dirumah perguruannya sepertiga bagian.

Kalau hal itu terjadi, gurunya akan mengantongi ilmu sakti Brahmandaprana duapertiga bagian. Dan dengan modal itu ia berharap akan dapat menolong jiw a Lingga Wisnu. Alangkah besar pengorbanan orang tua itu untuk menyelamatkan anak keturunan Udayana satu-satunya. Betapa tidak?

Semenjak terjadi perpecahan antara ketiga murid Resi Romaharsana, masing-masing plhak tidak pernah berhubungan demi mempertahankan kehormatan diri. Malahan masing-masing saling bersaing. Мака tak mengherankan setelah Kyahi Basaman berhasil mengangkat diri menjadi seorang guru besar aliran Aristi, hubungan masing masing pihak kian menjadi renggang.

Pihak Ugrasawa dan pihak Parw ati memandang dengan hati curiga terhadap kecemerlangan nama Kyahi Basaman yang merupakan bintang cerah dipagi hari.

Kini terjadilah suatu peristiw a pengeroyokan terhadap Udayana. Dalam hal ini anak murid Ugrasawa dan Parwati ikut campur pula, walaupun mereka tidak melakukan pembunuhan secara langsung. Hubungan ketiga aliran itu lantas saja terasa retak. Tidak lagi bersaing, tetapi benar-benar sudah mendendam suatu permusuhan.

Kyahi Basaman tahu akan hal itu. Inilah pokok sengkata ара sebab Udayana dituduh yang bukan-bukan, seolah-olah ia menyembunyikan sebatang tongkat mustika dunia yang membuat rumah perguruan aliran Aristi menanjak sangat tinggi.

Walaupun demikian, Kyahi Basaman kini mau juga merendahkan diri dan bersikap mengalah dengan memohon - mohon bantuan kepada aliran Perwati dan Ugrasawa. Tegasnya ia rela mengorbankan kedudukannya yang tinggi, demi anak keturunan Udayana. Ia sadar pula, apabila kelak Anung Danudibrata yang kini menduduki ketua aliran Ugrasawa mau merberi petunjuk-petunjuk dan pelengkap ajaran ilmu sakti Brahmandaprana, aliran Aristi semenjak itu berada dibawah kewibawaan aliran Ugrasawa.

Kyahi Basaman tidak mempedulikan. Apakah artinya belaka? Yang penting baginya adalah menolong jiw a. Jiwa jauh lebih berharga dari pada ketenaran nama kosong.

Pada saat ia menghadapi keenam muridnya di paseban, timbullah suatu gagasan. Bukankah lebih baik apabila Ugrasena saja yang menghadap Anung Danubrata ? Dengan demikian kehormatan serta kedudukan kaum Aristi akan lebih bagus dari pada dia sendiri yang datang menghadap.

Tetapi ia kenal siapakah Anung Danudibrata. Ia seorang pendekar yang meletakkan panji-panji kehormatan diatas segalanya. Dan orang semacam dia sudikah menurunkan rahasia pelengkap ajaran ilmu sakti Brahman daprana kepada seorang utusan yang tingkatannya berada dibawahnya ? Pastilah tidak mungkin! oleh pertimbangan itu ia segera memberi keputusan. Katanya dengan suara pasti :

"Anak-anakku! Aku tahu, kalian masgul dan prihatin mendengar keputusanku hendak berangkat sendirian menghadap rekan Anung Danudibrata. Pasal masgul dan prihatian kalian itu lantaran mengingat nama besar aliran leluhur kita Resi Aristi yang tersohor selama puluhan tahun yang lalu. Dan sekarang aku yang mewakili menjujung tinggi kehormatan leluhur kalian, mendadak rela tunduk dan membungkuk kepada aliran Ugrasawa. Bukankah demikian? Ара sebab aku tidak memerint ahkan salah seorang diantara kalian yang berangkat menunaikan tugas ini? Tidak, anakku! Manakala tidak aku sendiri yang berangkat, akan terjadilah suatu kesulitan. Sebab, tidak mungkin rekan Anung Danudibrata menyerahkan sepertiga bagian ilmu sakti Brahmandaprana yang berada dirumah perguruannya, tanpa suatu upah jasa. Paling tidak, dia akan minta saling menukar. Dapatkah kalian berbuat demikian? Kecuali sangat sulit, rekan Anung Danudibrata akan bercuriga terhadapmu. Dia akan menuduh aku curang dalam hal ini. Karena itu tiada jalan lain, kecuali aku sendiri yang datang ..."

Dengan keputusan Kyahi Basaman, maka suasana pesta ulang tahun yang ke 93 menjadi muram. Sekalian anak murid tiada dapat menyanagah keputusan gurunya, karena beralasan sangat kuat. Namun dalam hati, tahulah mereka banwa lonceng tanda bahaya sudah mulai menggema dalam perasaan mereka masing- masing. "Kalau begitu, biarlah kami dan adinda Podang Wilis mengantarkan guru sampai ke rumah perguruan paman Anung Danudivrata," kata Ugrasena dengan suara mantap.

"Jangan, anakku." Sanggah Kyahi Basaman dengan tersenyum. "Maksudmu memang baik sekali. Tetapi justeru akan menimbulkan kecurigaan mereka. Lebih baik biar kami berdua, yang satu seorang tua bangka dan yang lain seorang anak muda belia, berangkat berbareng mengadu untung dengan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa."

Hebat keputusan itu. Walaupun terdengar kuat, akan tetapi didalamnya terasa terjadi percikan tangis hati, penuh prihatin.

o))0oo-dw-oo((o

3. Orang yang bersembunyi di balik dinding.

Pada esok harinya, Kyahi Basaman membawa Lingga Wisnu berangkat ke Jaw a Barat.

Bagi Lingga Wisnu, itulah suatu perjalanan pulang ke kandang sendiri. Ia nampak terharu, karena kini berjalan dengan seorang diri tanpa ayah-bunda dan kedua kakaknya yang dahulu selalu mendampinginya.

Ugrasena dengan kelima adiknya seperguruan mengantar sanpai dikaki Gunung. Dan sekali lagi Kyahi Basaman menguatkan keputusannya kemarin kepada mereka. Katanya : "Kalian tahu, bukan. Apakah sebab aku hanya membaw a Lingga Wisnu  saja. Sebab kalau kalian ikut

serta, akan menimbulkan rasa curiga mereka,"

Dengan menunggang seekor kuda, Kyahi Basaman dan Lingga Wisnu melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka mengarah Barat laut. Beberapa hari kemudian sampailah mereka dibumi Priangan.  Sekarang mulailah mereka memasuki daerah pegunungan yang berhutan lebat. Menghirup udara segar, tergetarlah hati Lingga Wisnu.

Teringatlah dia, tatkala ayah-bundanya membawa lari dari tempat ketempat sambil menggebu musuh. Kerap- kali ia dibawa mendaki gunung dan menuruni jurang. Kadangkala menyeberangi sungai-sungai yang berarus besar dan memasuki hutan lebat penuh binatang- binatang berbisa.

Sepuluh hari kemudian, Gunung Cakrabuwana nampak tegak didepan. Kyahi Basaman menambatkan kudanya pada sebatang pohon. Kemudian dengan menggandeng tangan Lingga Wisnu, mulailah dia mendaki pinggang gunung. Dibalik bukit yang berada didepan, tergelarlah suatu lembah yang sangat indah. Hijau daun bersemarak memenuhi persada bumi. Angin meniup lenbut dan segar. "Dibalik bukit itulah, kita nanti melihat rumah perguruan leluhur Anung Danudibrata." kata Kyahi Basaman.

"Kau nanti harus belajar dengan sungguh-sungguh, agar bisa menolong dirimu sendiri."

Lingga Wisnu mengangguk.

"Kau berjanji, bukan?" Kyahi Basaman menegas. Kembali lagi Lingga Wisnu mengangguk.

" Bagus ! " seru Kyahi Basaman bersyukur. " Dengan begitu, engkau tidak akan sia-siakan harapan orang tuamu "

"Benar, Тарi ....... diantara musuh-musuh ayah kabarnya ada diantaranya yang terdiri anak murid pendekar Anung Danudibrata."

"Akh, angger! Untuk tujuan besar, kau harus belajar mengkesampingkan hal-hal kecil. Ingatlah, kerapkali tujuan besar bisa tergelincir oleh sebuah kerikil belaka. Aku mengharapkan agar engkau kelak tumbuh menjadi manusia yang berlapang hati."

Lingga Wisnu mengangguk lagi untuk yang ketiga kalinya. Dan dalam pada itu, bukit yang berada didepan tadi sudah terlampaui. Dan di depannya tergelar suatu pemandangan yang menggairahkan. Tetapi didepan penglihatan, berjajarlah tiga bukit yang sedang tingginya. Lapat-lapat nampaklah sebuah gedung agung yang berpagar dinding batu pegunungan. Bentuk gedungnya mirip sebuah candi yang terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Itulah biara Anung Danudibrata, peninggalan leluhur Ugrasawa yang bemukim diatas gunung ini." kata Kyahi Basaman. "Padepokan itu disebut orang Argapura. Indah, agung dan damai. Dan disebelah kanan itu adalah gardu penjagaan. Sebelum kita menginjak halaman padepokan Argapura, harus melew ati gardu penjagaan itu dahulu. Mari kita mencoba memberi keterangan maksud kedatangan kita ini kepada para penjaga. "

Kyahi Basaman adalah seorang guru besar. Ia Kedudukannya sama tingginya dengan Anung Danudibrata yang menjadi ketua aliran Ugrasawa. Walaupun demikian, ia mau bersikap merendahkan diri. Dengan membimbing Kira-kira menjelang tengah hari sampailah dia ketempat itu.

Gardu penjagaan itu mirip sebuah biara kecil. Diatas atap terpancang suatu papan dengan tulisan huruf daerah Kuno. Kyahi Basaman mendongak. Lantas mambaca:

'Yananghel rahadyan sanghulun mararyana'.

Artinya: 'Kalau tuan jemu, hendaklah beristirahat sebentar.'

Inilah suatu kata-kata anjuran yang halus sekali. Setiap tamu dikehendaki agar mendaftarkan diri digardu penjagaan dengan istilah ' istirahatlah' sebentar. Dan menperoleh pengertian demikian, Kyahi Basaman bergeleng kepala dengan rasa kagum.

Didalam gardu penjagaan, Kyahi Basaman bertemu dengan sebelas orang penjaga yang memakai pakaian seragam putih. Melihat pakaian yang dikenakan Kyahi Basaman dan Lingga Wisnu sangat kasar, dekil dan kotor, mereka lantas bersikap tawar. Dengan bersikap perkataan, mereka mempersilahkan duduk diatas lantai dan menyodorkan dua potong juadah yang keras sekali.

Kyahi Basaman adalah seorang petapa yang sudah bisa melonggarkan diri dari semua bentuk ikatan dunia. Ia tak mempedulikan sikap dan pandang mereka. Dengan duduk bersila diatas lantai, ia menggerumiti juadah pemberian penjaga. Sebaliknya Lingga Wisnu yang berkesan buruk terhadap segala anak murid Anung Danudibrata, mendongkol bukan main. Seumpama tidak berada disamping Kyahi Basaman, pastilah juadah itu sudah dilemparkan kepada yang memberinya. Так mengherankan dia jadi muak melihat tampang mereka .

Segera ia membuang pandang. Matanya beralih kepada pemandangan alam yang memang indah luar biasa. Apalagi waktu itu matahari bersinar cerah. Selagi melayangkan pandangnya, t iba-tiba ia melihat beberapa deret kalimat pada tembok biara. Ia meraba lengan Kyahi Basaman dan dengan pandang matanya ia memberi kabar.

Kyahi Basaman menoleh. Rupanya orang tua itu tertarik pula hatinya. Cepat ia berdiri dan menghampiri. Gardu yang berada dipojok kanan, agaknya merupakan sebuah penginapan darurat bagi tetamu yang kemalaman.

Pada pintu masuknya terdapat sederet kalimat bahasa Parwa, yang di susun semacam sajak. Sebagai seorang guru besar Kyahi Basaman faham bahasa Parwa itu. Ia lantas membaca dan menterjemahkan kepada Lingga Wisnu. Bunyi sajak itu : 'Sang Hyang Agni maka saksi hana irikang kala samangkana Nahan ing ling akasawakya Parwati Aristi kaparnah wetan

tan madoh dahat saka ngke Nihan tang laras

Nihan tang tinuju

Syapa ngkana wegi lengku?

Yan nghulun mangjanma irikang dlaha Taku males amatyani kita.

Alih bahasa:

'Dewa Agni menyaksikan pada waktu itu Beginilah kata suara dari angkasa

Parwati Aristi berada di timur

Так jauh dari sini Inilah Busur

Sasaran ltulah yang kau tuju

Kepada siapakah minta perlindungan ? Manakala aku kelak lahir kembali

Aku akan membalas membunuhmu.'

Terperanjat Kyahi Basaman membaca bunyi sajak itu, sehingga sesaat ia lupa menggerumiti juadahnya. Setelah bermenung sesaat, ia melanjutkan menikmati juadah. Meskipun sudah berusia tua, namun gigi Kyahi Basaman masih tetap utuh karena kesehatannya. Selain itu ilmunya tinggi pula. Jangan lagi juadah keras, kalau perlu, sebongkah batu bisa digigitnya hancur !

"Eyang!" kata Lingga Wisnu. "Sajak ini tertulis pada tembok pintu masuk. Pastilah maksudnya agar diketahui orang sebelum memasuki pintu. Apakah tujuan penulis ini ? " Senang Kyahi Easaman mendengar pertanyaan Lingga Wisnu. ltulah suatu tanda, bahwa otak Lingga Wisnu cukup cerdas. Маkа dengan senang hati pula ia menjawab :

"Barangkali, inilah tulisan almarhum Ugrasawa setelah terusir dari rumah perguruan. Dia menaruh dendam kepada leluhur Aristi dan Parwati. Мака ia mengancam hendak membunuh kedua-duanya. Karena pada waktu itu gurunya masih hidup, tak dapat ia melaksanakan niatnya. Tapi ia bersumpah bahwa apabila lahir kembali di dunia, dia akan datang untuk membalaskan rasa penasarannya. Bagus dan kuat peribadinya Ugrasawa. Hanya saja terlalu sempit ..."

Kyahi Basaman menghampiri dan meraba-raba bentuk tulisan yang terukir halus. Dengan penuh perasaan ia mengusap-usapnya. Entah apa sebabnya, hatinya jadi terhibur .

"Eyang ! Terang sekali leluhur paman Anung Danudibrata bermusuhan dengan leluhur kita. Kalau begitu, anak keturunannyalah yang membunuh ayah dan ibu " kata Lingga Wisnu.

Kyahi Basaman menahan napas. Mendadak tangannya menepuk tulisan berukir itu. Kena tenaga saktinya, tembok itu lantas rontok berguguran. Ia jadi terkejut kembali. Pada saat itu, ia mendengar langkah ringan. Tatkala menoleh, ia melihat dua orang berpakaian jubah pendeta. Usia dua pendeta itu sebaya dengan usia Podang Wilis dan T aw angalun. Kira-kira hampir mencapai umur limapuluh tahun. Dengan pandang tajam mereka mengaw askan rontoknya tembok yang berukir. Sejenak kemudian, mereka berputarbadan dan berjalan dengan cepat. Melihat gerakannya yang gesit, tahulah Kyahi Basaman bahwa mereka telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Segera Kyahi Basaman menduga bahwa mereka berdua mungkin pula dua utusan dari Argapura yang diperint ahkan menyambut kedatangannya turun gunung.

Pada jaman mudanya, pernah sekali ia diajak gurunya mengunjungi pertapaan Argapura dan padepokan Parwati. Maksud kunjungan itu untuk memperkenalkan asal-usul ilmu sakti Brahmandaprana yang terpecah menjadi tiga aliran. Sekarang ia berada di Gunung Cakrabuwana untuk yang kedua kalinya dengan ditemani seorang anak kecil. Sudah barang tentu, sekalian anak murid Anung Danudibrata tidak mengenalnya. Begitu pula Kyahi Basaman. Itulah sebabnya, begitu melihat munculnya dua orang pendekar yang mengenakan pakaian pendeta, segera Kyahi Basaman tergerak hatinya untuk menemui.

Dengan membimbing tangan Lingga Wisnu, ia mengejar. Tetapi dua orang pendeta itu sudah berada duapuluh langkah didepannya dengan berlari kencang.

'Saudara ! Berhenti dahulu! Ingin aku berbicara denganmu." teriak Kyahi Basaman.

Hebat suara orang tua itu. Sama sekali tiada nampak urat-urat lehernya. Namun suaranya keras bagaikan genta seolah-olah menggetarkan pinggang gunung.

Kedua pendeta itu kaget. Mereka berhenti dengan mendadak. Lalu berputar mengamat-amati Kyahi Basaman yang berperawakan sedang, berambut dan berjenggot putih serta berwajah segar-bugar. Dia selalu bersenyum ramah. Akan tetapi melihat pakaiannya yang kotor dan terbuat dari bahan kasar, mereka jadi berbimbang-bimbang dan akhirnya yang berdiri disebelah kiri membuka mulutnya :

"Sebenarnya siapakah tuan?"

"Tolong sampaikan kepada rekan Anung Danubrata, bahwa aku Kyahi Basaman anak keturunan Resi Aristi, datang hendak menghadap."

Mendengar kata-kata Kyahi Basaman kеmbаli lagi mereka terkejut. Benarkah orang tua itu ahliwaris kaum Aristi yang kabamya bermukim di atas Gunung Law u? Mengapa orangnya begini kotor dan datang tanpa pengawal ?

Peribadi Kyahi Basaman manang terlalu sederhana. Kecuali itu, ia seorang petapa. Ia tak begitu senang pada semua tata-cara yang berlebih-lebihan. Ia memandangnya tak lebih seperti badut-badut.

Itulah sebabnya, pakaian yang di kenakan terlalu sederhana bagi seorang yang berkedudukan seperti dia. Alangkah jauh bedanya dengan pendekar Anung Danudibrata yang memegang tata-cara lahiriah sangat keras. Boleh dikatakan ia melangkah sejengkal, dibelakang dan di sampingnya berdiri para pengiringnya. Sedangkan Kyahi Basaman yang melakukan perjalanan begitu jauh, hanya disertai seorang anak kecil. Lantaran demikian, watak sederhana serta pekertinya yang mengarah-arah seorang pertapa, membuat mereka menjuluki dengan sebutan Kyahi. "Kyahi Basaman adalah seorang yang memegang panji-panji kebesaran Resi Aristi." kata pendeta itu. "Apakah tuan benar-benar Kyahi Basaman?"

"Benar," sahut Kyahi Basaman dengan w ajah gembira. "Akulah orangnya. Benar-benar tulen, tanggung tidak palsu ..."

Jenaka jawaban Kyahi Basaman. Justeru demikian, membuat hati dua pendeta itu makin curiga. Masakan seorang pemimpin aliran Aristi begitu bercanda sehingga mengurangi kewibawaannya ? Menimbang demikian, mereka menegas:

"Apakah tuan tidak... tidak bermain gila dihadapanku?"

"Ah! Saudara t idak percaya? Apanya sih kehebatannya Kyahi Basaman, sehingga kemungkinan besar ada seorang yang memalsu dirinya?" sahut Kyahi Basaman, dengan tertaw a.

Kedua pendeta itu saling pandang. Pikir mereka, seumpama dia memang benar Kyahi Basaman, apakah maksud kedatangannya? Hubungan antara aliran Ugrasawa dan Aristi semenjak dahulu renggang bagaikan bermusuhan. Kemudian terjadilah peristiwa Udayana salah seorang anak murid orang tua ini. Apakah tidak mungkin kedatangannya hendak membuat perhitungan?

Berpikir demikian, mereka berdua lantas memberi isyarat. Segera mereka berputar dan memanjangkan langkahnya. Dan menyaksikan hal itu Kyahi Basaman terheran-heran.

"Eh, kenapa mereka lari ? Apakah mereka meragukan diriku ? " Memikir demikian, ia segera mengejar dengan membimbing tangan Lingga Wisnu. Dalam sekejab mata saja, mereka berdua sudah terlampaui.

"Saudara ! Mengapa kalian menjauhi aku? ''

Kedua pendeta itu mati kutu. Melihat gerakan orang tua itu yang gesit luar biasa, hati mereka bercekat. Sekarang mereka уakin benar-benar, bahwa orang itu adalah Kyahi Basaman. Cepat mereka melompat kesamping sambil membentak :

"Kau kemari mau ара?"

"Apakah kalian anak murid rekan Anung Danudibrata?" tanya Kyahi Basaman dengan suara manis sekali.

"Kalau benar, apakah kehendakmu?!" sahut yang berdiri disebelah kanan dengan suara tawar.

"Aku adalah sahabat rekan Anung Danudibrata. Nah, bawalah aku menghadap . "

"Hm ..." dengus mereka. "Kalau kau mempunyai keberanian, menghadaplah sendiri ! "

Berbareng dengan perkataan itu, mereka lalu menggerakkan tangannya seperti saling berjanji. Terpaksalah Kyahi Basaman mengelak sedikit. Diluar dugaan, begitu pukulan mereka kena terelak, tiba-tiba berbalik menggencet dari samping. Hebat daya pukulan mereka, Lingga Wisnu yang berada tak jauh dari mereka, kena dipentalkan mundur beberapa langkah.

Kyahi Basaman menyesal menyaksikan pekerti mereka. Ара sebab mereka melepaskan pukulan begitu jahat, sedangkan pakaian yang dikenakan adalah pakaian pendeta. Benar-benar tidak sesuai dan seirama. Mereka agak masgul, Kyahi Basaman tak sudi berkelit lagi. Ia mengangkat kedua tangannya. Dan suatu benturan keras tak dapat dielakkan lag i.

Dan kedua pendeta itu berteriak kesakitan. Mereka terhajar tenaga pukulannya sendiri yang membalik. Pergelangan tangannya lantas saja men jadi bengkak.

Kedua pendeta itu sudah berlatih menghimpun tenaga sakti ilmu Brahmandaprana selama tigapuluh tahun lebih. Meskipun demikian, dalam satu gebrakan saja mereka terluka. Keruan saja mereka kaget bukan kepalang. Pikir mereka: 'Ah, Benar-benar Kyahi Basaman dia. Kalau bukan, mustahil dia bisa menangkis pukulanku dengan berbareng."

Justeru berpikir demikian, mendadak saja timbullah rasa bersaing didalam dirinya.

"Coba, bagus mana bagian yang diwarisi Resi Ugrasawa dan bagian yang berada di tangan Resi Aristi." katanya didalam hati mereka. Setelah berkeputusan demikian, sambil berseru mereka menendang dada Kyahi Basaman.

Ilmu sakti Brahmandaprana yang berada ditangan Ugrasawa terkenal ilmu pukulannya. Karena itu, anak- anak muridnya mahir benar dalam mengolah tendangan kaki dan pukulan tangan. Sebaliknya Kyahi Basaman yang sama sekali t idak berniat jahat, heran menyaksikan sepak terjang mereka.

Ia kenal sejarah Resi Ugrasawa, cikal bakal aliran yang bermukim diatas gunung Cakrabuwana. Dia bukan seorang penjahat atau seorang murid yang murtad. Perpecahan itu terjadi karena soal asmara semata-mata.

Karena prihatin Resi Ugrasawa itu justru bertapa pada akhir hidupnya. Dia berharap dapat lahir kembali untuk bisa memperisteri titisan Parwati. Itulah sebabnya pula, maka anak muridnya rata-rata beribadah pula. Maka ia heran, mengapa dua pendeta itu justru berangasan dan mudah sekali meluap hawa amarahnya.

Melihat gerakan tendangan mereka, Kyahi Basaman tetap berbesar hati. Kembali ia mengerahkan tenaga saktinya. Dan kembali lagi, dua pendeta itu mengerang kesakitan apabila kedua kakinya mendarat pada sasarannya.

"Apakah orang ini keturunan lblis? Mengapa tubuhnya tak mempan kena tendanganku ? " teriak mereka di dalam hati .

Menyaksikan betapa eyang gurunya kena gebuk dan tendang namun tidak mau membalas, Lingga Wisnu jadi naik darah. Terus saja ia maju beberapa langkah. Kemudian membentak :

"Hai pendeta keparat ! Kenapa kalian memukuli eyangku?"

"Lingga! Tutuplah mulutmu!" kata Kyahi Basaman. "Hayo, bersembahlah pada paman pamanmu itu!"

Tercengang Lingga Wisnu mendengar perint ah eyangnya. Alangkah sabarnya. Bocah itu jadi terlongong- longong. Namun ia patuh juga, meskipun kepalanya penuh dengan teka teki. Segeraia memperbaiki diri dan hendak membungkuk memberi hormat. Sekonyong-konyong dua pendeta itu mencabut pedangnya yang tersimpan dibalik jubahnya. Lalu menikam dada Kyahi Basaman. Diluar dugaan yang satu menyabetkan pedangnya kearah kaki Lingga Wisnu yang sedang bergerak hendak berlutut. Benar-benar mengejutkan!

o))0ooodwooo0((o