Pedang Keadilan II Bab 49 : Rahasia Masa Lampau

 
Bab 49. Rahasia Masa Lampau

"Nak. kau harus mampu mengendalikan diri, kalau ingin membenci, bencilah ibumu. sudah kuduga kejadian hari ini pasti akan terjadi Aaai... dua puluh tahun berselang bila kau mati tenggelam di sungai, tak akan terjadi banyak urusan macam hari ini, seharusnya kubiarkan kau mati tenggelam dulu, aku tak seharusnya selamatkan jiwamu..."

"Ibu, ananda tak berani membenci ibu..." tukas Lim Han- kim sedih.

Dari sakunya nyonya Lim ambil keluar sebuah sapu tangan dan dipakai untuk menghapus air matanya, kemudian katanya:

"Dua puluhan tahun berselang, dalam dunia persilatan terdapat tiga orang gadis yang cantik dan pandai, mereka selalu luntang lantang bersama, hubungan mereka begitu akrab melebihi akrabnya saudara kandung, meski mereka bertiga bukan sedarah namun masing-masing saling hormat menghormati sayang menyayangi aku rasa hubungan dengan saudara sekandung sendiri pun belum tentu semesra itu..."

"lbu adalah salah satu di antaranya?" sela Lim Han- kim seraya menyeka air mata. Nyonya Lim manggut- manggut.

"Benar, orang persilatan menyebut kami tiga dewi, ibu menduduki urutan kedua, sedang urutan pertama adalah nyonya Li yang telah kau jumpai selama ini..." Bayangan manusia tampak berkelebat lewat, Li hujin muncul di depan pintu seraya menghardik ketus: "Tutup mulut"

Lim Han-kim berpaling cepat, ia terkesiap begitu melihat wajah Li hujin membeku bagaikan es dan hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya, hawa murni segera dihimpun dan ia bersiap sedia melindungi keselamatan ibunya.

Lim hujin angkat wajahnya dengan tenang, ditatapnya Li hujin sekejap lalu menegur. "Ada apa enci pertama?"

"Siapa yang kesudian jadi encimu?" tukas Li hujin ketus.

"Kau toh sudah tahu bahwa ilmu silatku telah punah, bila ingin membunuhku sekarang, kau cukup melakukannya secara gampang."

"Hmmm, bila aku berniat membunuhmu, tak nanti kubiarkan kau hidup hingga kini, kau anggap dengan bersembunyi di lembah Hong-yap-kok maka aku tak sanggup mencarimu? sejak belasan tahun berselang, jejakmu telah berhasil kulacak secara jelas, aku sudah bersikap cukup murah hati kepadamu."

Lim hujin menengok Lim Han- kim sekejap. lalu katanya:

"Selama dua puluh tahun ini, aku tak pernan ingkar janji, aku tak pernah melanggar sumpahku dengan menceritakan kisah lama kepada putraku ini. Tapi situasi saat ini berbeda, badai besar telah melanda seluruh dunia persilatan, budi dan dendam di antara kita tiga bersaudara pun sudah saatnya untuk diselesaikan aku rasa tak perlu rahasia ini kusimpan terus apalagi terhadap putra kandungku sendiri"

"Tidak bisa, kita sudah ada perjanjian, pokoknya selama kita masih hidup, rahasia ini tak boleh diungkap oleh siapa pun-"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan nada dingin dan menyeramkan lanjutnya: "Masih ingat tidak, siapa yang mengusulkan perjanjian ini?"

"Yaa, memang aku yang usulkan"

"Kau sendiri yang membuat perjanjian tersebut kenapa kau pula yang akan melanggarnya hari ini?"

"Aku hanya ingin beritahu kepada putra kandungku, bahkan mengungkap sejujurnya tanpa berusaha membela diriku sendiri, akan kubuat dia mengerti bahwa ibunya adalah seorang wanita yang sangat jahat, seorang wanita yang telah merebut pacar orang lain." Li hujin gelengkan kepalanya berulang kali:

"Sudahlah, yang lewat biarkan lewat, apa gunanya diungkit kembali..." Dia angkat wajahnya sambil menghembuskan napas panjang, terusnya:

"Sebetulnya aku telah berjanji tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi, kendatipun masalah ini menyangkut putri kandungku aku tak berminat mencampurinya. Tapi sekarang, rasanya aku harus berubah pikiran, aku tak tega menyaksikan generasi berikut terjerumus pula dalam lembah kehancuran penderitaan dan siksaan"

Mendadak Lim Han-kim menyela: "Aku adalah seorang lelaki sejati, aku tak punya muka bila tak mengetahui siapa ayah kandung sendiri"

"Nak, meski sudah kau ketahui apa pula yang bisa kau lakukan?" tukas Li hujin tiba-tiba, "Kecuali penderitaan dan siksaan batin, kau tak bisa berbuat apa-apa."

"Hubungan seorang anak dengan ayah kandungnya adalah suatu hubungan yang genting dan alami, biar dia seorang perampok atau bajingan tengik, aku toh tetap harus mengakuinya sebagai ayahku sendiri" Kembali Li hujin menggeleng.

"Nak, kau sudah dewasa kini, lebih baik budi dan dendam yang dilakukan generasi lalu tak usah dicampuri generasi berikut:"

"Orang kuno berkata, hutang ayah harus dibayar anak, sebagai putra dari ayahku, apakah aku harus berpeluk tangan?"

"Apakah kau sanggup mengurusinya? Bicara soal ilmu silat maupun kepintaran generasi kalian masih belum mampu menandingi kehebatan generasi lampau." setelah berhenti sejenak, kembali lanjut-nya: Tapi ada dua orang yang tidak terlibat dalam peristiwa ini."

"Hujin maksudkan Pek si-hiang dan see-bun Giok- hiong?"

"Benar, memang kedua orang itu yang kumaksud, bayangkan saja bagaimana kemampuanmu bila dibandingkan mereka berdua?"

"Walaupun dalam hal ilmu silat serta kecerdikan aku masih belum mampu menandingi nona Pek serta seebun Giok-hiong, namun sebagai seorang lelaki sejati, aku segan mengaku kalah terhadap mereka,"

Li hujin segera alihkan pandangan matanya ke wajah Lim hujin, ujarnya cepat: "Putramu memang kelewat keras kepala, rasanya harus kau yang membujuknya..."

"Aku toh cuma ingin tahu siapa ayah kandungku masa

..."

"Cukup nak, tak usah dilanjutkan," teriak Lim hujin keras.

Melihat wajah ibunya telah berubah merah membara dan air mata bercucuran makin deras, Lim Han-kim tak berani bicara lagi, ia segera tutup mulutnya rapat-rapat.

"Lebih baik suruh dia keluar dulu," perintah Li hujin dingin.

Tampaknya Lim hujin merasa amat ngeri dan takut terhadap Li hujin, katanya setelah menengok Lim Han- kim sekejap:

"Keluarlah dulu nak Aku harus berbincang-bincang dulu dengan bibi Li-mu ini..."

"Kau terlalu serius, aku tak berani menerima panggilan itu," tukas Li hujin ketus. Mendadak Lim Han-kim menatap wajah Li hujin lekat-lekat, kemudian ujarnya pelan:

"Ibuku tak pandai bersilat, kendatipun beliau telah menyalahi hujin, harap hujin mau menahan diri dan periakukan beliau secara baik-baik, bila hujin bersikeras ingin menuntut balas, aku bersedia mewakili orang tuaku untuk menerima sebuah tanggung jawab itu." "Hmmmm, berapa lembar nyawa sih yang kau miliki? sebentar ingin menanggung bebannya ayah, sebentar akan menanggung bebannya ibu, bila aku berniat menghabisi nyawa kalian berdua, buat apa mesti kutunggu hingga hari ini?"

"Bila Li hujin sampai mencederai ibuku, selama hidup akan kucatat kejadian ini di dalam hatiku."

"Sudah, cepat keluar Tak usah bersilat lidah lagi di sini."

Sementara itu Lim hujin turut menghardik "Tampaknya kau anggap dirimu sudah dewasa hingga perkataan ibu pun tak perlu lagi kau gubris..."

"Ananda tak berani..." Buru-buru anak muda itu balik badan dan beranjak pergi dari situ.

Dengan perasaan gundah, sedih, masgul dan ingin tahu pemuda itu meninggalkan pintu ruangan menuju ke ruang Tay-sang-kek.

Bau harum bunga yang semerbak menyadarkan anak muda itu bahwa dia telah meninggalkan ruang bawah tanah.

Lim Han-kim mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas panjang, pikirannya kembali tersadar dan jernih.

Suara langkah kaki manusia bergema tiba menyusul tampak Li Tiong-hui muncul dengan langkah tergesa- gesa. Begitu bertemu Lim Han-kim, segera serunya: "saudara Lim, seebun Giok-hiong telah mengundurkan diri..."

"Mengundurkan diri.." gumam Lim Han-kim, mendadak sambungnya dengan lantang: "seberapa banyak masalah yang menyangkut ibumu yang kau ketahui?"

"Masalah yang menyangkut ibuku?" Li Tiong-hui tertegun,

Karena tak ada tempat pelampiasan, Lim Han-kim segera melampiaskan semua perasaan jengkel, mendongkol dan geramnya kepada Li Tiong-hui. sahutnya ketus:

"Betul, masalah yang menyangkut ibumu, berapa banyak yang kau ketahui? Cepat katakan padaku."

"Tidak banyak yang kuketahui tentang masalah ibuku," ucap Li Tiong-hui bimbang, ditatapnya pemuda itu dengan pandangan keheranan.

"Berapa banyak yang kau ketahui, beritahukan saja kepadaku semuanya." Li Tiong-hui tertawa hambar.

"Apakah ibuku telah menyinggung perasaan saudara Lim?" tegurnya.

"Aku pingin tahu urusan masa silamnya, bila nona bersedia menerangkan, aku akan berhutang budi kepadamu."

"Bila aku tak bersedia menerangkan?"

"Aku yakin bisa peroleh jawaban itu dengan cara lain," sahut Lim Han-kim setelah tertegun sejenak, ia balik badan dan segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Sesudah berjalan sekian lama, gejolak emosi dalam dadanya pun makin mereda, ia pun mulai berpikir: "Kenapa ibuku harus memusnahkan sendiri ilmu silatnya? Kenapa ia begitu takut kepada Li hujin? Di balik semuanya ini tentu ada sebab-sebab tertentu..."

Suara teriakan ibunya serasa masih mendengung di sisi telinganya: "Harus kukatakan pada putraku, ibunya adalah seorang wanita jahat, wanita yang merebut kekasih orang..."

Keraguan, rasa curiga dan tak habis mengerti sekali lagi melintas dalam pikiran Lim Han-kim, pikirnya:

"Apa mungkin ibu telah merebut kekasihnya Li hujin hingga hubungan tiga dewi yang lebih akrab dari saudara kandung itu berubah jadi musuh bebuyutan? Tapi siapa pula orang ketiga dari tiga dewi itu selain ibu dan Li hujin? Berada dimana ia sekarang?"

Ia merasa berbagai masalah yang mencurigakan dan diliputi tabir rahasia ini berkecamuk dalam benaknya, ia coba peras otak untuk memikirkan namun gagal peroleh jawabannya, ia merasa bagaikan tersesat di sebuah jalan buntu, tersesat dalam hutan belukar yang lebat.

Lama sekali ia berdiri termangu sambil peras otak, tapi tak setitik jawaban pun berhasil diraihnya, saat itulah ia baru teringat akan Pek si-hiang.

Dewasa ini rasanya hanya Pek si-hiang seorang yang dapat membantunya untuk menyelesaikan masalah tersebut, hanya gadis itu yang dapat menyingkap teka teki itu.

Berpikir sampai di situ, buru-buru ia lari menuju ke gedung Teng-siong-lo.

Tampak Hiang-kiok dengan pedang terhunus sedang berdiri menghadang di mulut tangga, sepasang matanya menyembur hawa amarah yang membara, seolah-olah ada kobaran api yang sedang membara di sana.

Melihat kemarahan Hiang-kiok, Lim Han-kim malah tersadar kembali dari masalah yang membelenggunya, serunya: "Nona Hiang-kiok"

Hiang-kiok alihkan sinar matanya yang penuh amarah itu ke wajah Lim Han-kim, sampai lama kemudian ia baru bertanya: "Lim siangkong?"

"Yaa benar, aku"

"Ke mana saja kau selama int?"

"Oooh, aku sedang mengurusi sedikit masalah gawat, bagaimana keadaan nona Pek?"

"Justru gara-gara kepergianmu, hampir saja nona mengalami jalan api menuju neraka,"

"Nona Pek mengalami jalan api menuju neraka?" Lim Han-kim sangat terkejut Tiba-tiba Hiang-kiok tertawa cekikikan.

"Bagaimana sih kamu ini? Dengarkan baik-baik perkataanku sebelum memberi komentar, aku bilang, hampir saja nona mengalami jalan api menuju neraka, bukan berarti nona sudah mengalaminya . " "Kalau begitu tolong sampaikan kepada nona, katakan ada urusan penting hendak kubicarakan dengannya."

Hiang-kiok termenung dan berpikir sebentar kemudian katanya:

"Kalau orang lain yang mengajukan permintaan ini pasti sudah kutolak mentah-mentah, tapi berhubung Lim siangkong yang menghendakinya, budak jadi serba salah. Begini saja, tolong kau gantikan posisiku dengan berjaga di mulut tangga, biar aku masuk untuk sampaikan permintaanmu ini, coba lihat apakah nona bisa menjumpaimu atau tidak."

"Terima kasih atas pertolonganmu"

Hiang-kiok menghela napas panjang, "Aaaai... tak usah sungkan-sungkan, asal kau bersikap lebih baik terhadap nona kami, itu sudah cukup,"

Lim Han-klm hanya berdiri termangu, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus meniawab ucapan tersebut

Untung Hiang-kiok tidak ada maksud menunggu jawabannya, ia balik badan dan segera berlalu.

Tak selang berapa saat kemudian, ia sudah muncul dengan wajah penuh rasa menyesal, katanya:

"Maaf Lim siangkong, saat ini nona belum bisa menerimamu harus ditunggu sampai tengah malam nanti."

"Baiklah, biar aku menunggunya di sini" setengah harian dalam penantian merupakan saat yang paling menyiksa bagi Lim Han-kim, dalam ingatan pemuda tersebut, waktu seakan-akan merangkak sangat lambat Dengan susah payah akhirnya waktu tengah malam pun menjelang tiba. Tampaknya selama ini Hiang-kiok selalu perhatikan gerak gerik Lim Han-kim, baru saja tengah malam lewat ia sudah naik kembali ke loteng untuk melongok keadaan Pek Si-hiang. Tak lama kemudian ia sudah muncul kembali sambil berseru:

"Nona telah sadar kembali kini, silakan siangkong naik ke loteng untuk menjenguknya "

Lim Han-kim menyahut dan mengikuti di belakang Hiang-kiok naik ke ruang Teng-siong-lo.

Waktu itu Pek si-hiang dengan pakaian serba putih sudah duduk di belakang meja dengan wajah cerah dan berseri.

Cahaya lilin di meja membuat seluruh ruangan terang benderang bagaikan bermandi cahaya, sambil memberi hormat seru Lim Han- kim:

"Selamat nona, tampaknya semedimu telah mencapai puncak kesempurnaan."

"Menurut Hiang-kiok. kau sudah lama menunggu..." ucap Pek si-hiang sambil ter-senyum, "Dalam lima hari belakangan ini, tentu sudah banyak kejadian yang kau alami, masalah sulit apa yang kau hadapi sekarang?"

"Panjang untuk diceritakan..." Lim Han- kim menghela napas panjang.

"Kehidupan manusia memang penuh dihiasi kejadian yang kurang berkenan di hati, seringkali delapan puluh persen masalah yang dijumpai manusia adalah kejadian yang tak menyenangkan kau tak perlu kelewat sedih atau emosi, coba terangkan satu persatu kepadaku." Nada pembicaraannya lembut penuh kasih sayang, tapi memiliki daya pengaruh yang besar.

Lim Han- kim angkat wajahnya memandang Pek si- hiang sekejap. lalu katanya:

"Nona Pek. aku telah menjumpai suatu peristiwa yang amat pelik, harap nona bersedia memberi petunjuk. "

"Apakah menyangkut masalah asal usulmu?" tanya Pek si-hiang sambil tersenyum.

"Darimana nona bisa tahu?" tanya Lim Han- kim dengan wajah tertegun bercampur keheranan.

"Padahal bukan suatu kejadian aneh bila sudah tahu masalahnya, Li hujin pernah membicarakan masalah ini denganku, walau secara garis besar dan tidak terlalu terperinci nah, bila kau ingin menanyakan sesuatu. katakanlah sekarang..."

Secara singkat Lim Han- kim pun menceritakan semua masalah yang sedang dihadapinya sekarang...

Selesai mendengar penuturan tersebut Pek si-hiang menghembuskan napas panjang, katanya:

"Jadi kau hanya ingin tahu siapa ayah kandungmu?" "Aku pingin tahu semua budi dendam yang

menyangkut masalah ini," sahut Lim Han- kim setelah

termenung sejenak.

"Padahal urusan ini menyangkut angkatan tuamu sendiri, apa pula yang bisa kau perbuat setelah mengetahui semua peristiwa ini secara jelas? semisalnya semua kesalahan besar ini terletak di bahu ibumu, apa pula yang hendak kau lakukan?" "Soal ini... soal ini..." Lim Han- kim tertegun. sambil tersenyum Pek si-hiang melanjutkan:

"Tidak usah ini itu lagi, sebenarnya semua bencana dan badai yang melanda dunia persilatan saat ini ada sangkut pautnya dengan budi dendam dari keluarga kalian, secara kebetulan pula LiTiong-hui berhasil merebut kursi Bengcu hingga tanpa ia sadari masalah yang terjadi dalam dunia persilatan telah ia gabung menjadi satu dengan masalah pelik yang menyangkut keluargamu."

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya: "Cuma, hal ini pun bukan suatu kebetulan, semua

perselisihan yang diperbuat generasi tua kalian memang sudah sewajarnya bila dipikul oleh generasi berikutnya, apalagi baik generasi lalu maupun generasi sekarang semuanya merupakan tokoh-tokoh silat kenamaan dalam dunia persilatan dengan titik sentral terletak di perkampungan keluarga Hong-san ini, maka sudah sewajarnya bila sengketa ini diselesaikan pada saat ini hingga tuntas, sebab bila tertunda lagi mungkin akan menjerumuskan generasi berikut ke dalam pertikaian berdarah."

"Nona, tampaknya kau seperti sudah paham betul dengan peristiwa ini...?" seru Lim Han- kim tertes un.

"Kendatipun aku tidak mengetahui secara terperinci, tapi bisa kupahami secara garis besarnya, Yang dimaksudkan sebagai pertikaian dunia persilatan agaknya sebagian besar terpusat pada kalian beberapa orang, perlu kau ketahui, nama besar keluarga Hong-san bisa berkibar seratus tahun lamanya dalam dunia persilatan, hal ini bukanlah suatu kejadian yang gampang.

Suatu keluarga persilatan berbeda sekali keadaannya dengan suatu partai atau perguruan besar, Bila suatu partai atau perguruan besar maka mereka secara bebas dapat menerima umum yang berbakat untuk dilatih menjadi jagoan yang meneruskan cita-cita partainya, sedangkan suatu keluarga persilatan hanya bisa mewariskan kepandaiannya kepada anak keturunan sendiri, padahal belum tentu setiap generasi berikutnya memiliki keturunan yang berbakat.

Bayangkan saja, untuk menjaga nama harum keluarga Hong-san dalam dunia persilatan selama seratus tahun, berapa banyak pikiran dan tenaga yang harus dikorbankan keluarga tersebut selama ini..." sesudah termenung sejenak, lanjutnya:

"Li hujin adalah seorang wanita berbakat yang memiliki kepandaian luar biasa, sayang kehidupannya penuh penderitaan dan kesedihan, ia tak pernah mengenyam kehidupan yang gembira apalagi bahagia..."

"Sebab apa pula ia mengalami hal tersebut?" sela Lim Han- kim.

"Akan kuberitahukan padamu, cuma jangan kau sebar luaskan di luaran."

"Pasti akan kuingat pesan nona."

"Untuk melindungi reputasi dan pamor dari keluarga Hong-san agar tidak memudar, hanya ada satu cara yang bisa mereka tempuh, yaitu memilih seorang menantu yang cantik, pintar dan memiliki ilmu silat tangguh. Dalam situasi dan kebutuhan yang mendesak bagi keluarga Hong-san macam itulah, dia kawin dengan Li Tong- yang dan menjadi istri dari tokoh tersebut. Tapi dengan pilihan ini, akhirnya dia pun harus mempertaruhkan kebahagiaan dari seluruh hidupnya." Lim Han- kim termenung sambil berpikir sejenak. kemudian ujarnya:

"Jadi maksud nona, Li hujin bisa kawin dengan Li Tong-yang karena hal ini terpaksa oleh keadaan dan bukan atas kemauannya sendiri?"

"Bagaimana kisah sesungguhnya aku sendiri pun tak tahu, tapi yang pasti mereka adalah sepasang suami istri yang tidak pernah bahagia."

Lim Han- kim mengerutkan dahinya rapat-rapat, termenung dan tidak bicara lagi.

Setelah membetulkan rambutnya yang kusut, Pek Si- hiang ikut menghela napas panjang, lanjutnya:

"Kautak mungkin bisa membayangkan penderitaan dan siksaan batin yang dialami Li hujin selama ini, oleh sebab itulah sikapnya dingin dan hambar, dia lewatkan hidupnya dalam kesepian dan kesendirian, bahkan terhadap anak kandung sendiri pun sama sekali tidak menaruh perhatian apalagi kasih sayang."

"Kalau begitu penderitaan yang dialami ibuku pasti jauh lebih tragis dan menderita?" Pek si-hiang tersenyum.

"Itu sih menurut pandanganmu, siapa tahu ibumu justru merasa puas dan bahagia?" "Sepanjang hidup ibuku selalu menderita dan tersiksa, seingatku, belum pernah ibu tersenyum riang apalagi tertawa gembira."

"Aaaai... bila ibumu tak pernah merasakan gembira dan bahagia, mengapa ia bersedia membayar mahal kebahagiaannya dengan memusnahkan seluruh ilmu silat sendiri? Hanya saja, kebahagian yang dinikmati ibumu berlangsung kelewat singkat"

Lim Han- kim hanya berdiri melongo, untuk berapa saat lamanya dia tak tahu bagaimana harus memberikan komentarnya.

Setelah menghela napas panjang, Pek si-hiang berkata lebih lanjut.

"Tak usah kelewat sedih, ibumu adalah seorang tokoh yang patut dihormati dan dikagumi, untuk meraih kebahagiaan yang berlangsung singkat dia rela mengorbankan kesunyian dalam sepanjang hidupnya, hal ini membuktikan betapa tingginya ia menilai arti dari sebuah cinta.

Dengan susah payah ia memeliharamu, mendidikmu hingga dewasa, kesemuanya ini tak lain mencerminkan betapa sucinya rasa cinta yang telah ia berikan selama ini kepada kekasihnya.

Baik Li hujin maupun ibumu, mereka berdua sama- sama merupakan wanita cantik yang berbakat hebat, kau tak boleh memandang dan menilai mereka dengan sudut pandangan orang awam, apabila kisah tragis yang mereka alami harus diluapkan ke luar, tak nanti mereka berdua akan mengalami kehidupan seperti ini..." Lim Han- kim menghela napas panjang, selanya: "Nona, aku Lim Han- kim adalah seorang pria sejati..."

"Apa gunanya seorang pria sejati?" tukas Pek si-hiang sambil menggeleng, "Tak ada orang tua yang salah di dunia ini, sebagai putra mereka, masa kau ingin bermusuhan dengan orang tua sendiri?"

"Nona jangan salah paham, maksudku..."

"Aku tahu, kau merasa hal yang menyesakkan dadamu selama ini tak tersalurkan keluar, padahal bila kau mau memikirkan lebih dalam, maka perasaanmu akan menjadi tenang dengan sendirinya, Tentang urusan ibumu, aku sendiri pun kurang begitu jelas, tapi aku dapat memberitahukan sedikit tentang urusan yang menyangkut Li hujin..." setelah membetulkan rambutnya yang kusut, ia melanjutkan.

"Tatkala Li hujin kawin dengan Li Tong-yang, ia pernah mengucapkan beberapa patah kata dan sejak itu sepanjang hidupnya ia memegang teguh janjinya itu. puluhan tahun bagaikan sehari, ternyata hingga kini ia tidak mengubahnya sama sekali."

"Apa yang pernah dia ucapkan?"

"la berjanji kepada Li Tong-yang untuk memberinya satu putra dan satu putri sebagai garis keturunannya, kemudian akan hidup mengasingkan diri dalam perkampungan keluarga Hong-san dan sepanjang hidup tidak meninggalkan perkampungan itu lagi barang selangkah pun, ternyata selama puluhan tahun terakhir dia pegang janjinya erat-erat." Agaknya Lim Han- kim belum memahami maksud perkataan itu, lama sekali ia termenung sebelum akhirnya menyadari apa makna dari ucapan tersebut, serunya kemudian:

"Jadi maksud nona, sebetulnya Li hujin tidak cinta Li Tong-yang dan pekawinannya dilangsungkan karena terpaksa?"

"Benar, ia memang dipaksa oleh keadaan. Dalam suatu situasi yang pelik Li hujin terpaksa dan mau tak mau harus kawin dengan Li Tong- yang, meski dia menyerah oleh tuntutan keadaan namun tak rela menjalani kehidupan seterusnya dalam suasana begitu, maka dia pun berubah, berubah jadi dingin, kaku dan sama sekali tak punya perasaan."

"Aaaai, cerita ini sulit dipercaya bila tidak diceritakan oleh nona Pek sendiri.."

"Akan kusinggung lagi satu masalah, kau pasti akan percaya setelah mendengarnya."

"Coba nona sebutkan"

"Jangan lagi Li Tong-Yang sudah lama mati, biarpun dia masih hidup segar bugarpun belum tentu perkampungan keluarga Hong-san bisa dipertahankan hingga kini. Tapi kenyataannya keluarga Hong-san masih tetap berdiri tegak. bukan saja tidak melemah bahkan semakin tangguh, tahukah kau semuanya ini berkat kekuatan siapa?"

"Nyonya Li?"

"Benar, memang berkat nyonya Li, hal ini membuktikan bahwa keluarga Hong-san memang tak salah memilih menantu..." setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya:

"Sebaliknya kejadian ini justru makin menyiksa batin Li hujin, meskipun ia tak berminat untuk melindungi nama besar perkampungan keluarga Hong-san, namun mau tak mau dia harus melindungi juga reputasi serta pamor perkampungannya."

"Nona, aku tak paham akan satu hal." "Soal apa?"

"Boleh saja Li hujin tidak mencintai suami-nya, masa terhadap anak kandung sendiri pun ia tak menaruh cinta kasih?"

"Titik kelemahan inilah yang berhasil di ketahui Li Tong- yang sebelum ajalnya, dia tahu di saat perkampungan keluarga Hong-san menghadapi kesulitan apalagi berada di ambang kehancuran, secara otomatis dan mau tak mau Li hujin pasti akan tampil ke depan untuk membela, sebab bagaimana pun juga putra putrinya adalah anak kandung yang dilahirkan lewat rahimnya."

"Aaaai... sungguh tak kusangka di antara suami istri pun saling menggunakan taktik dan akal muslihat"

Tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang suara seruan dari Li hujin: "Nona Pek, sudah selesaikah latihanmu?"

"Berkat lindungan Thian, aku berhasil lolos dari momok jalan api menuju neraka, silakan masuk hujin" Belum habis perkataan itu diucapkan, Li hujin sudah muncul dalam ruangan. Pek si-hiang segera bangkit berdiri untuk menyambut, hormatnya: "Menjumpai hujin"

"Tak usah banyak adat..." tampik Li hujin sambil mengulapkan tangannya. Kemudian sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Lim Han- kim, lanjutnya: "sudah kutebak kau pasti berada di sini, ternyata tebakanku memang tepat"

"Memang ada beberapa masalah yang tidak begitu kupahami, maka sengaja aku kemari untuk mohon petunjuknya."

Dengan sorot mata yang tajam Li hujin menatap wajah Pek si-hiang, kemudian tegurnya: "Nak, apakah sudah kau sampaikan semua pembicaraanku denganmu tempo hari?"

"Hanya sebagian," sahut Pek si-hiang tersenyum, "Tapi aku yakin ia akan mengetahui latar belakangnya dalam waktu singkat, oleh sebab itu tak ada salahnya bila kita beberkan semuanya kepada dia."

Wajah Li hujin berubah sedingin salju, tapi nada suaranya masih ramah dan tenang, katanya:

"Nak, kau tak boleh membeberkan kelewat banyak rahasia pribadiku"

"Bagaimana dengan masalah yang menyangkut ibu kandungnya? Apakah aku pun tak boleh memberitahukan kepadanya?"

Setelah tertegun sesaat sahutnya: "Berapa banyak yang kau ketahui tentang masalah pribadi Lim hujin?" "Biarpun latar belakangnya tidak kuketahui, paling tidak bisa kujelaskan secara garis besarnya."

Li hujin termenung sejenak. mendadak tanyanya: "llmu silat apa sih yang sedang kau pelajari?"

Lenyap seketika senyuman yang menghiasi bibir Pek si-hiang, ia terbungkam dalam seribu basa.

Suasana dalam ruanganpun berubah jadi hening, begitu sepinya hingga napas setiap orang kedengaran jelas.

Dengan perasaan keheranan Lim Han-kim berpikir. "Aneh, kenapa mereka berdua sama-sama membungkam?" sampai lama kemudian Li hujin baru berkata lagi:

"Cepat beritahu padaku, ilmu silat apa yang sedang kau latih dan seberapa hebat daya hancurnya?"

Pek si-hiang menghela napas panjang.

"Hujin, sudah lama kau hidup mengasingkan diri dan jauh dari keramaian keduniawian buat apa sih kau masih memiliki sifat ingin menang yang begitu kuat? Maaf hujin, bukan aku bermaksud melukai hatimu, tapi kata- kata tersebut memang muncul dari lubuk hatiku."

"Belum pernah kudengar ada ilmu silat yang bisa dipelajari hanya dalam waktu lima hari, hal inilah yang mendorong rasa ingin tahuku," kata Li hujin hambar.

"Sebenarnya aku sudah memiliki dasar yang kuat dalam ilmu tersebut, waktu selama lima hari hanya kupakai untuk mengulang kembali hasil latihanku dulu."

"Jadi ilmu itu adalah ilmu sesat sembilan iblis?" "Bukan, yang kulatih adalah sim-hoat dari aliran lurus."

"Bisa kau perlihatkan padaku?" "Tidak."

"Kenapa?"

"Tenaga dalamku belum memiliki dasar yang kuat hingga penggunaan tenaga tidak terkendali sama sekali, aku hanya bisa memakai bukan mengendalikan takutnya, bila kugunakan maka semua tenagaku akan tersalur keluar tanpa bisa dicegah lagi."

"Nak. mengakulah dengan jujur, dengan melatih ilmu silat macam itu, sebenarnya siapa yang hendak kau hadapi? Aku? Atau seebun Giok-hiong?"

Pek si-hiang angkat wajahnya, menatap muka Li hujin tajam-tajam, sampai lama kemudian ia baru berkata: "Selama ini kau bersikap baik kepadaku."

"Tapi kejadian yang melukai hati di masa lampau membuat hatiku selalu was-was, karenaaku pun telah melakukan beberapa tindakan yang menimbulkan kepedihan hati orang lain"

Dalam pada itu Lim Han- kim yang tak paham dengan maksud pembicaraan kedua orang itu hanya bisa memandangi mereka dengan termangu. Pelan-pelan Pek si-hiang pejamkan mata-nya, ia berkata:

"Mungkin kau masih sanggup melukai diriku bila ingin kau lakukan sekarang." Li hujin tertawa hambar.

"Bila aku ingin mencabut nyawamu nak. tak perlu kubiarkan kau hidup hingga hari ini" katanya. "Hal ini dikarenakan kau tak menyangka bila aku sanggup mempelajari ilmu sakti hanya dalam waktu 5 hari yang singkat."

"Sampai detik ini, aku masih belum terlalu percaya." Pek Si-hiang tertawa getir.

"Percayalah padaku, aku berbicara sejujurnya, tiada orang yang mampu membendung ilmu silat yang sedang kulatih ini, termasuk hujin maupun Seebun Giok-hiong."

"Nak. di kala aku masih seusiamu dulu, seperti halnya dirimu, aku diliputi bayangan khayal, bayangan mukjijat, tapi kenyataannya aku harus hidup menderita selama puluhan tahun di dalam kehidupan yang amat sederhana dan bersahaja."

"Aku tahu, sayang kita berbeda, kau tidak memiliki kesempatan macam aku, mempelajari rahasia ilmu silat yang luar biasa dan tak pernah ada selama ribuan tahun terakhir, tak ada sejenis ilmu silat pun di dunia ini yang bisa lolos dari pengetahuan yang kumiliki. Benar aku tak pandai bersilat, tapi aku tahu dimana letak keampuhannya suatu ilmu dan bagaimana cara menangkalnya, Aku tahu dan bisa menggunakan suatu cara yang gampang dan sederhana untuk menyalurkan segenap kekuatan tersembunyi yang kumiliki untuk mencapai tujuanku, sedang kau, kau tak bisa dan tak mampu."

Lama sekali Li hujin termenung, nampaknya ia tersudut, tapi kemudian ujarnya:

"Mungkin saja banyak pengetahuan tentang ilmu silat yang kau ketahui, tapi tahukah kau akan rahasia asal usulmu?" "Aku tahu, ibu kandungku masih berada dalam perkampungan keluarga Hong-san saat ini."

"Thian- hok sangjin yang memberitahukan rahasia ini kepadamu?" tanya Li hujin agak terkejut.

Pek si-hiang menggeleng, "Bukan, bukan dia, ibu yang memelihara aku yang memberitahukan rahasia ini padaku."

"Gadis naga berbaju hitam?" "Benar, memang dia."

"Aneh, darimana ia bisa mengetahui latar belakang rahasia ini?"

"Kalau soal ini mah aku sendiri tak jelas." setelah berhenti sejenak, tiba-tiba serunya dengan suara dalam: "Ada satu hal ingin kutanyakan kepada hujin."

"Tentang jejak ibu kandungmu?"

"Aku hanya ingin tahu dia masih hidup atau sudah mati?"

"Masih hidup segar bugar di dunia ini, bahkan semalam aku masih pergi menjenguknya."

"Apakah ia sudah tahu kalau putri kandung nya kini juga hadir di perkampungan keluarga Hong-san?"

"Telah kuberitahukan hal ini kepadanya."

"Ibu pasti gembira setelah mendengar kabar itu?" "Tidak, ia bersikap dingin dan hambar." Pek si-hiang pun berpaling dan memandang Lim Han- kim sekejap. bisiknya: "Menantilah dengan sabar, peristiwa ini pasti akan terungkap dengan jelas."

"Sifat ibumu persis seperti watakmu sekarang," kata Li hujin kembali dengan wajah dingin, "Lemah lembut kelihatannya tapi keras kepala sebenarnya, yang berbeda adalah dia tidak memiliki kecerdasan seperti kau, sedang kau tidak memiliki kehebatan ilmu silat seperti dia."

Lim Han- kim yang mengikuti jalannya pembicaraan tersebut diam-diam berpikir.

"Tadinya ibuku yang menjadi pokok pembicaraan, kenapa sekarang masalah ibunya nona Pek yang menjadi bahan pembicaraan? Apa mungkin ibunya nona Pek juga berada dalam perkampungan keluarga Hong-san."

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh:

"Aaaah benar, bukankah tiga dewi terdiri dari tiga bersaudara? Li hujin adalah dewi pertama, ibuku kedua, berarti ibunya Pek si-hiang adalah si Dewi terakhir..." Berpikir begitu, dia pun pasang telinga baik-baik untuk mendengarkan lebih lanjut. sementara itu Pek si-hiang telah bertanya setelah menghela napas panjang: "Apakah ilmu silat yang dimiliki ibuku sangat hebat?"

"Bila dibandingkan kepandaianku tentu saja ia masih bukan tandinganku"

"Bila kepandaian silatnya jauh di atas kemampuanmu, mustahil kau bisa mengurungnya dalam perkampungan keluarga Hong-san-" "Benar, aku memang menyekapnya selama belasan tahun dalam perkampungan keluarga Hong-san, tapi dia dapat melewati hidupnya dalam keadaan baik dan gembira, semenjak aku kawin, selama ini aku tak pernah tinggalkan perkampungan ini barang selangkah pun, dia sendiri yang datang kemari mencariku." setelah berhenti sejenak. lanjutnya:

"Kau jangan salah paham nak. aku hanya bermaksud memberi penjelasan padamu, hingga detik ini aku masih belum percaya kalau kau hendak menentang aku."

"Aku mengerti, kau memiliki alasan yang sangat prima, semua kesalahan kau jatuhkan ke pundak ibuku."

"Aaaaai... kau memang berbeda dengan orang lain nak. selewatnya badai besar ini, pasti akan kupertemukan kau dengan ibu kandungmu agar semua pertikaian yang dialami generasi lampau bisa diselesaikan hingga tuntas dan kau pun bisa mengetahui kejadian sebenarnya secara jelas dan gamblang."

Lalu diliriknya Lim Han- kim sekejap dan melanjutkan. "Tentu saja termasuk pertikaianku dengan ibumu."

Setelah berhenti sejenak untuk tukar napas, Li hujin berkata kembali:

"sekarang kalian tak perlu pecahkan perhatian untuk memikirkan persoalan ini, manfaatkan sebaik-baiknya sisa waktu yang tinggal belasan hari ini untuk menghimpun tenaga, Bila badai besar ini dapat kita lewatkan dengan selamat, maka semuanya pun akan kubeberkan secara gamblang, dan sampai waktunya kalian bakal tahu kejadian apa yang sebenarnya dilakukan generasi tua kalian." "Tak usah kuatir nyonya, aku jamin kemenangan pasti berada di pihak kita..."