-->

Pedang Keadilan II Bab 47 : Menjelang pertempuran Besar

 
Bab 47. Menjelang pertempuran Besar

"Aku senang bila saudara Lim tak marah kepadaku," kata Li Tiong-hui agak lega, "Kini nona Pek sudah pindah ke loteng Teng-siong-lo, pergilah tengok dia, aku harus menyambut kedatangan tamu-tamu lain."

"Terima kasih nona." Lim Han-kim segera memberi hormat dan melangkah masuk ke dalam lembah dengan langkah lebar,

Dari balik sebatang pohon siong muncul seorang dayang berbaju hijau yang menghadang jalan perginya sambil menegur: "Lim siangkong hendak ke mana?"

Meski belum terlalu lama Lim Han-kim menetap di lembah Ban-siong-kok. namun sebagian besar dayang- dayang di situ mengenalinya.

"Oooh, tolong hantar aku ke loteng Teng-siong-lo," sambut Lim Han-kim cepat. Dayang itu mengiakan dan berjalan lebih dulu,

Loteng Teng-siong-lo terletak di bawah sebuah tebing terjal dalam lembah Ban-siong-kok. sekeliling bangunan itu tumbuh pepohonan siong yang tinggi dan lebat.

Dayang itu mengajak Lim Han-kim menelusuri jalan setapak yang beralas batu menuju ke balik pepohonan siong tersebut.

Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di depan sebuah pintu yang tertutup rapat

Belum sempat Lim Han-kim mengetuk pintu, pintu tersebut telah membuka dengan sendirinya disusul munculnya Hiang- kiok yang penuh senyuman di sisi pintu tadi. Belum sempat anak muda itu mengucapkan sesuatu, ia telah berkata duluan: "Cepat naik ke loteng, nona sudah tak sabar menanti kedatanganmu" Sambil melangkah masuk ke dalam gedung tanya Lim Han-kim: "Ada apa sih?"

"Entahlah, aku sendiri juga tak tahu."

Setelah mendaki sampai ke tingkat ketiga, Hiang- kiok mengajak pemuda itu memasuki sebuah ruangan yang sederhana tapi bersih.

Pek si- hiang sedang duduk sambil selimutan, rambutnya yang panjang dan kusut dibiarkan terurai di bahunya.

Lim Han-kim memandang ruangan itu sekejap. lalu menuju ke sudut ruangan dan duduk di bangku yang berada di sana.

"Duduk saja dekatku" seru Pek si- hiang cepat sembari menepuk sisi pembaringannya, "Aku tak punya tenaga untuk bicara keras."

Dengan langkah lebar Lim Han-kim menghampiri gadis itu dan duduk di sisinya: "Aku..."

"Ssttt" tukas Pek si- hiang sambil menggeleng, "Dengarkan dulu perkataanku"

Lim Han-kim mendeham pelan dan menelan kembali kata-katanya.

"Kau sudah bertemu dengan seebun Giok-hiong?" tanya Pek si- hiang kemudian, "Apakah kau dilukai olehnya? Tidak bukan? Tapi dia pasti menyindir dan mencemooh diriku habis-habisan bukan?"

"Darimana nona bisa tahu?" tanya Lim Han-kim sambil membelalakkan matanya keheranan. "Bukankah dia ingin meminjam mulutmu untuk menyampaikan isi hatinya kepadaku?"

"Salah besar," tukas Lim Han-kim, "Aku rasa dia telah mengambil keputusan bulat untuk menciptakan badai pembunuhan ini."

"Apakah dia menyinggung soal diriku?"

"Yaa, dia bilang pertempuran paling akbar sudah di depan mata, tak mungkin kau bisa mengubah situasi "

"Hmmm seebun Giok-hiong kelewat pandang enteng kemampuanku" dengus Pek si- hiang dingin.

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Lim siangkong, aku ingin memohon satu hal kepadamu."

"Asal dapat kulakukan, pasti akan kukabulkan" "Aku mohon kepadamu untuk bertindak sebagai

pelindung ku selama lima hari, dalam lima hari ini akan kumanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk melatih sejenis ilmu silat yang bisa dipakai untuk menghadapi seebun Giok-hiong, agar ia dapat saksikan sampai dimanakah kehebatan aku Pek si hiang."

"Hanya lima hari yang begitu singkat, ilmu silat macam apa yang dapat kau pelajari?" Pek si- hiang tersenyum

"Bukan cuma seebun Giok-hiong yang akan kubuat kaget, bahkan nyonya Lipun akan sangat terperanjat"

"Nona Pek. tampaknya kau sedang ber-gurau, masa kau serius?" Lim Han-kim tidak yakin. "Aku tidak bergurau, semua kata-kataku diucapkan dengan sejujur-jujurnya."

"Baiklah, bagaimana caraku bertindak sebagai pelindung mu?"

"Berjagalah di tingkat kedua sana, siapa pun harus dilarang untuk menaiki tingkat ketiga, termasuk nyonya Li atau Li Tiong-hui sekalipun"

"Baik, aku akan melindungi nona selama lima hari." "Dalam lima hari ini kau dilarang meninggalkan tingkat

kedua barang selangkah pun." "Akan kuturuti kehendak nona."

"Dalam lima hari ini, siok-bwee serta Hiang-kiok harus membantuku untuk berlatih ilmu, mereka tak bisa membantumu."

"Tak apa-apa, biar aku seorang sudah cukup," "Kalau begitu kita putuskan demikian saja. Nah,

pergilah"

Dengan pandangan ragu, tak habis mengerti dan tak yakin Lim-Han-kim memandang Pek si- hiang sekejap. kemudian pelan-pelan membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Hiang-kiok mengintil di belakang Lim Han-kim hingga tiba di loteng tingkat dua, bisiknya kemudian:

"Lim siangkong, kau bersedia melindungi nona kami?" "Tentu saja, bukankah kau sudah mendengarnya

sendiri tadi?" "Kenapa sih kau bersedia melakukan permintaannya?" omel Hiang-kiok dengan air mata bercucuran.

"Apa tindakanku keliru?" Lim Han-kim tidak habis mengerti

"Masa kau tidak tahu, bila ia berhasil mempelajari ilmu silat tersebut maka sebagai akibatnya jiwanya pasti melayang."

"Masa begitu?" Lim Han-kim semakin tertegun- "Kapan aku membohongimu? Aaaai... masa ucapanku

juga tak kau percayai?"

"Kalau memang begitu akan kutolak permintaannya tadi." sembari berkata anak muda itu balik badan naik kembali ke tingkat atas.

Buru-buru Hiang-kiok menarik tangan Lim Han-kim sambil serunya: "jangan kau tak boleh naik."

"Kenapa?"

"Bila kau tolak permintaannya sekarang, ia tentu tahu akulah si pelapornya, nanti aku yang bakal dihajar habis- habisan."

"Aaaah, masa begitu serius?"

"Kau tidak paham dengan sifat nona kami, kelihatannya saja dia lemah seolah-olah tak punya tenaga, padahal rasa ingin menangnya kuat sekali, bila kau menyinggung perasaan hatinya sekarang, sudah pasti nona tak bakal tahan"

"Lalu menurut nona bagaimana baiknya?" Belum sempat Hiang-kiok menjawab, kedengaran suara siok-bwee berteriak dari atas: "Adik Hiang-kiok. nona suruh kau cepat kembali."

Tak sempat lagi menjawab pertanyaan dari Lim Han- kim, Hiang-kiok segera balik badan dan berlalu dari situ.

Dengan termangu-mangu Lim Han-kim awasi bayangan punggung Hiang-kiok hingga lenyap dari pandangan, kemudian ia baru duduk pada anak tangga loteng itu.

Entah berapa lama sudah lewat... tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia bergema datang.

Cepat-cepat Lim Han-kim membuka matanya, ternyata saat itu malam telah menjelang, terlihat sesosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat.

Sambil melompat bangun pemuda itu menegur: "Siapa di situ?"

"Saudara Lim-kah di situ?" suara lembut seorang gadis menyahut, "Aku Li Tiong-hui"

Menyusu ljawaban tersebut, si nona telah berdiri di hadapannya.

Buru-buru Lim Han-kim rentangkan kedua tangannya menghalangi jalan pergi gadis itu, serunya:

"Nona Li hendak ke mana?" "Menemui Pek si- hiang."

"Tidak bisa," tolak Lim Han-kim seraya menggeleng, "saat ini nona Pek tak bisa menerima tamu." "Kenapa?" Li Tiong-hui tertegun, "Padahal aku ada urusan penting yang harus kurundingkan dengan dirinya."

"Tidak bisa, sekarang ia tak boleh bertemu dengan siapa pun."

"Ada apa sih?" tanya Li Tiong-hui dengan kening berkerut, "Apakah ada masalah yang sangat serius?"

Setelah termenung sejenak sahut Lim Han-kim: "Nona Pek telah berpesan, di dalam lima hari ini dia

tak ingin diganggu siapa pun, dan aku telah menyanggupinya untuk melaksanakan tugas ini, jadi aku... yaaa, terpaksa tak dapat penuhi keinginanmu"

Berkilat sepasang mata Li Tiong-hui setelah mendengar penjelasan itu Ditatapnya pemuda itu sekejap, kemudian katanya:

"Mungkin saja saudara Lim dapat menghalangi diriku, tapi... mampukah kau menghalangi ibuku?"

"Nona Pek telah berpesan, siapa pun tak dapat bertemu dengannya, berarti termasuk juga ibumu."

"Lantas dimana siok-bwee dan Hiang-kiok sekarang?" "Mereka berdua melayani Pek si-hiang, jadi tak bisa di

samakan dengan kita semua."

"Jadi aku tak mungkin bisa naik?"

" Kecuali nona Li berhasil membunuhku atau menotok jalan darahku hingga aku kehilangan sama sekali kekuatan untuk melakukan perlawanan."

"Aaah, saudara Lim tak usah kelewat serius." Sembari berkata gadis itu segera balik badan dan berlalu dari tempat tersebut

Malam itu lewat dengan aman- ternyata Li Tiong-hui tidak muncul lagi untuk mengganggu.

Lim Han-kim juga dengan setia melaksanakan tugas jaganya, semalaman ia berjaga terus di mulut tangga tanpa bergeser selangkah pun.

Ketika fajar baru menyingsing, muncul dua orang dayang berbaju hijau menghantar sarapan.

Lim Han-kim menghalangi kedua orang dayang tadi naik ke loteng dan memerintahkan mereka untuk meninggalkan sarapan di sana,

Ketika dayang-dayang itu meninggalkan sarapannya di sana dan mengundurkan diri, muncul masalah yang mengganggu perasaan Lim Han-kim, pikirnya:

"Pek si- hiang sedang berlatih ilmu silat, berarti dia pun butuh hidangan untuk mengisi perut, tapi bagaimana caraku menghantarnya ke atas loteng?" sementara dia masih termenung, mendadak terdengar suara siok-bwee bergema datang: "Lim siangkong, apa ada orang menghantar sarapan?"

"Yaa, sarapan telah kutahan di sini, tapi bagaimana caraku untuk menghantar ke atas?"

"Biar budak yang mengambilnya sendiri," sahut siok- bwee sambil turun dari loteng. sambil mengangsurkan sarapan ke tangan dayang itu, bisik Lim Han-kim lirih: "Konon nona Pek hendak melatih sejenis ilmu silat yang bisa menaklukkan seebun Giok-hiong hanya dalam lima hari, apa benar ada kejadian seperti ini?"

"Tentu saja ada, "jawab siok-bwee dengan wajah serius, "Kapan sih nona kami pernah membohongi orang?"

"Hanya dalam waktu lima hari dia hendak menguasai sejenis ilmu silat yang bisa menaklukkan seebun Giok- hiong, rasa-rasanya kejadian macam ini seperti dongeng saja, sulit dipercayai siapa pun"

"Kecerdasan serta kemampuan nona kami memang jauh melebihi siapa pun, tentu saja dia sanggup menciptakan prestasi yang mengagumkan" Lim Han-kim menghela napas panjang.

"Bagaimana keadaan nona Pek saat ini?" tanyanya kemudian

"Sulit untuk kubayangkan, ia duduk setenang pendeta tua yang sedang bersemedi, tapi rasa-rasanya juga tidak mirip begitu."

"Kenapa?"

"Sudah kukatakan tadi, sulit bagiku untuk melukiskan keadaannya saat ini, sebab di dalam ketenangannya bersemedi terlihat pula ada gejolak besar yang melanda tubuhnya."

"Aaaah, masa ada kejadian seaneh itu? sulit untuk dipercaya dengan nalar..."

"Pada mulanya budak mengira hanya aku seorang yang mempunyai perasaan demikian, kemudian ketika kutanyakan kepada adik Hiang-kiok. ternyata dia pun mempunyai perasaan yang sama, jadi kesimpulanku, perasaan tersebut bukan sengaja kubuat- buat" setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"sarapan sudah hampir dingin, budak harus mohon diri lebih dulu." selesai bicara ia sebera berlalu.

Empat hari berlalu dengan cepat, dalam empat hari ini Lim Han-kim berjaga-jaga terus di mulut tangga tanpa meninggalkan tempat tersebut barang selangkah pun-

Dalam waktu-waktu ini ternyata tak ada orang yang datang mengganggu lagi kecuali dua orang dayang yang datang mengirim hidangan pada saat-saat tertentu.

Menjelang tengah hari kelima, Lim Han-kim mulai agak lelah dan mengantuk. maka dia pun duduk bersila di tengah tangga untuk mengatur pernapasan-

Dalam keheningan yang mencekam itulah, tiba-tiba ia merasa ada langkah manusia sedang bergerak menaiki anak tangga.

Dengan sigap Lim Han-kim membuka matanya sembari berjaga-jaga, ternyata Nyonya dengan pakaian serba putih dan wajah sedingin es telah muncul di hadapannya. Buru-buru Lim Han-kim melompat bangun dan menghadang jalan pergi nyonya Li.

"Cepat menyingkir dan memberi-jalan lewati " hardik Nyonya Li dingin. Buru-buru Lim Han-kim menggeleng.

"Tidak bisa, aku sudah menyanggupi Pek si-hiang untuk bertindak sebagai pelindung-nya, aku akan melarang siapa pun menaiki tangga ini serta mengganggunya." "Kenapa menjadi pelindungnya?" tanya nyonya Li keheranan

"Nona Pek sedang berlatih sejenis ilmu silat, latihannya baru berakhir tengah malam ini, bila nyonya ingin bertemu dengannya, datang saja lewat tengah malam nanti."

"Bila ia betul-betul sedang berlatih sejenis ilmu silat, kehadiranku sekarang bukan saja tak merugikan dia, bahkan akan sangat bermanfaat baginya."

"Aku percaya Nyonya memiliki kemampuan tersebut, tapi sebelum peroleh persetujuan di nona Pek. aku tak bisa membiarkan nyonya melewati tempat ini."

"Hmmm, mungkin kau lupa dimana dirimu berada sekarang?"

"Keluarga Hong-san di lembah Ban-siong-kok." "Setiap jengkal tanah di tempat ini merupakan barang

milikku, berarti tak ada yang bisa melarang aku pergi ke

manapun, lebih baik kau segera menyingkir daripada mencari penyakit buat diri sendiri."

Lim Han-kim cukup sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki Nyona Li amat tinggi dan hebat, bahkan sebuah gempurannya sudah cukup membuat dirinya keok. karena itu katanya, "Aku sadar, kepandaianku masih ketinggalan jauh bila dibandingkan ilmu silat nyonya, tapi maaf, aku sedang menjalankan tugas, bila nyonya bersikeras ingin naik ke atas loteng, silakan robohkan diriku terlebih dulu."

Belum sempat Nyonya Li mengucapkan sesuatu, mendadak dari kejauhan sana bergema datang tiga kali suara bunyi lonceng yang berdentang nyaring, maka ia pun berkata:

"Beritahu siok-bwee dan Hiang-kiok. bagaimana pun juga aku harus berjumpa dengan Pek si-hiang, aku akan balik lagi sepenanak nasi kemudian."

Belum sempat Lim Han- kim menjawab, Nyonya Li sudah berlalu dengan gerakan amat cepat.

Tindak tanduknya kelihatan lemah gemulai, padahal kecepatannya tak terlukis dengan kata, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Memandang bayangan punggung Nyonya Li yang pergi jauh, dalam hati Lim Han-kim berpikir:

"Nyonya Li berbeda jauh dengan Li Tiong-hui, kalau dia mengatakan akan balik sepenanak nasi lagi, sampai waktunya dia pasti akan muncul lagi di sini, padahal ilmu silatku mustahil bisa menandingi dirinya, jika ia sudah muncul di sini, pasti perempuan itu akan bersikeras untuk naik ke loteng dan aku tak akan mampu membendungnya, waaah. harus kulaporkan kejadian ini kepada siok-bwee serta Hiang-kiok," Berpikir sampai di situ, dia pun berteriak keras:

"Nona siok-bwee, turunlah sejenak Ada urusan penting harus kulaporkan kepadamu." Baru saja ia berteriak,

siok-bwee sudah lari turun sambil berbisik,

"Ada apa sih? saat ini nona sedang mencapai puncak samadinya, bila kau berkaok-kaok macam begini, ia bisa terkejut hingga mengakibatkan luka dalam."

"Ada urusan penting harus kulaparkan kepada nona." "Soal apa? Apa sangat serius?" "Nyonya Li telah berkunjung kemari." "Dan dia memaksa untuk naik?"

"Benar, untung di saat kami berdebat sengit berdentang suara lonceng yang mengejutkan hatinya, tapi sebelum beranjak pergi, ia beritahu kepadaku katanya dia akan datang sepenanak nasi lagi, aku sadar bahwa kepandaianku bukan tandingannya, sekalipun kucoba menghalanginya dengan sepenuh tenaga akhirnya toh pertahananku bakal jebol juga, maka dari itu kejadian tersebut harus kulaporkan dulu kepada nona agar ia membuat persiapan."

Sambil tersenyum kata siok-bwee:

"Tuan Lim, kenapa sih kau bersikap begitu sungkan kepada kami? panggil saja aku siok-bwee, panggilan nona, nona, membuat perasaanku sangat tersiksa."

"Maksudku aku pingin tahu bagaimana cara kita untuk menghadapi Nyonya Li nanti," kata Lim Han-kim sambil tertawa pula,

"Semedi nona lagi mencapai puncaknya yang paling berbahaya, meski kita tahu maksud kedatangan nyonya Li tidak bermaksud jelek. namun kita tak boleh membiarkannya naik." setelah memandang siok-bwee sekejap. kata Lim Han-kim lirih:

"Apabila kekuatan kita berdua digabung, aku rasa kemampuan kita hanya cukup untuk membendung tiga jurus serangannya." "Tidak mengapa, aku akan menemanimu untuk menanti kedatangannya di sini."

"Tidak usah," tampik Lim Han-kim seraya menggeleng, "Aku rasa nyonya Li sudah mulai naik darah, bila amarahnya sampai meledak, suatu pertarungan tak akan bisa dihindari lagi, lebih baik kita laporkan kejadian ini kepada nona"

"Tidak bisa, saat ini dia tak boleh pecah perhatian, bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan kita?"

"Lalu bagaimana baiknya?"

"Siang kong tak usah kuatir, budak percaya masih mampu untuk mencegah niat Nyonya Li."

Betul juga, lebih kurang sepenanak nasi kemudian Nyonya Li benar-benar muncul kembali di situ.

Dengan pandangan marah nyonya Li menyapu sekejap Lim Han-kim serta siok-bwee, kemudian tegurnya:

"Oooh, rupanya kalian berdua mau bergabung?"

"Nyonya..." Buru-buru siok-bwee memberi hormat, "Pek si- hiang lagi bermain setan apaan, masaaku pun

segan ditemuinya?" kata Nyonya Li lagi dingin.

"Nona sedang berlatih sejenis ilmu silat, saat ini samadinya sedang mencapai puncak yang paling berbahaya, ia tak bisa memecahkan perhatian untuk terima tamu."

"Ilmu apaan sih yang sedang dilatihnya?" "Budak kurang tahu ilmu silat apa yang sedang

dipelajarinya, budak hanya tahu nona sedang berlatih sejenis ilmu silat yang akan digunakannya untuk menghadapi seebun Giok-hiong."

"Mana mungkin di dalam waktu yang relatip singkat ia berhasil mempelajari sejenis ilmu silat untuk menghadapi Seebun Giok-hiong?" Nyonya Li mengerutkan dahi.

"Soal itu budak kurang paham, sebelum mulai berlatih ilmu tersebut nona telah beritahu kepada budak bahwa dalam lima hari ini dia tak bisa diganggu oleh siapa pun, sebab bila terganggu bukan saja semua hasil latihan sebelumnya akan terbengkalai keselamatan jiwa nona pun sangat terancam, oleh sebab itulah budak ingin memohon kepada Nyonya agar datang menjenguk nona selewatnya tengah malam nanti."

Nyonya Li berdiri membungkam sambil peras otak memikirkan sesuatu, dia seolah-olah tidak mendengar sama sekali apa yang sedang dibicarakan Siok-bwee. Beberapa saat kemudian ia baru bergumam:

"Apa benar Pek Si-hiang memiliki kemampuan yang berlipat ganda lebih hebat dariku serta memiliki pengetahuan yang jauh melebihi pengetahuanku?"

Lim Han-kim hanya berdiri kaku dengan perasaan kebat kebit, sebab ia tak bisa menduga apa yang sedang dipikirkan Nyonya Li saat itu dan apa tindakan berikutnya?

Pelan-pelan Nyonya Li menarik kembali pandangan kosongnya untuk menengok Siok-bwee sekejap, lalu tanyanya:

"Selama beberapa hari ini apakah kau selalu berjaga di sisinya?" "Benar."

"Menurut pandanganmu apakah ia telah peroleh sesuatu hasil?"

"Yaa, menurut analisa budak, tampaknya nona telah berhasil mencapai suatu prestasi."

"Bagus sekali, beritahu kepadanya, selewat tengah malam nanti aku akan datang menjenguknya lagi"

"Terima kasih nyonya" seru siok-bwee kegirangan Pelan-pelan nyonya Li mengalihkan sorot matanya ke

wajah Lim Han-kim, tanyanya: "Kau kenal dengan nyonya Kim?"

"Nyonya Kim yang mana?" Lim Han-kim kebingungan. "Seorang sahabat karibku, semua orang persilatan

memanggilnya nona Kim." Tergerak perasaan Lim Han-

kim setelah mendengar penjelasan itu, jawabnya:

"Yaa, dalam dunia persilatan aku pernah bertemu dengan nona Kim, dimana dia sekarang?"

"Gedung Tay-sang-kek. Aku tidak mengira ia bisa pergunakan sebuah perahu layar untuk mengarungi lautan kehidupannya selama puluhan tahun, dibandingkan dirinya, aaaai . . . aku masih kalah jauh." setelah berhenti sejenak, kembali terus-nya:

"Sebelum senja menjelang tiba nanti, ketua lembah Hong-yap- kok dari bukit utara, Tan Ceng-poo bersama ibumu akan tiba di Lembah Ban-siong-kok."

Tiba-tiba Lim Han-kim merasakan dadanya bagaikan dihantam orang keras-keras? teriaknya tertahan-"ibuku ikut datang?" "Benar, ibumu akan menjadi tamu agungku di gedung Tay-sang-kek."

Lim Han-kim merasa emosinya bergolak keras, ibarat gelombang samudra yang diamuk topan, tapi ia berusaha meredam gejolak tersebut dan mencoba menentramkan hatinya, kemudian baru katanya:

"Harap nyonya sudi mewakili aku yang muda untuk sampaikan kepada ibu bahwa aku telah menyanggupi permintaan nona Pek untuk melindunginya selama lima hari, sebelum lewat tengah malam nanti aku tak bisa menyambut kehadiran beliau."

Nyonya Li tarik napas panjang-panjang, katanya: "Tindakan anak Hui kali ini memang ada baiknya juga,

agar semua budi dan dendam yang terjalin dalam dunia

persilatan selama ini bisa dibuatkan perhitungan yang jelas dalam pertemuan besar ini."

Baru berjalan beberapa langkah, mendadak ia berpaling dan katanya lagi:

"Nak, ada satu hal perlu kusampaikan kepadamu, aku telah berubah pikiran untuk membunuh Thian-Hok sangjin, malah kugunakan semua kekuatanku untuk menolongnya, dalam tiga sampai lima hari mendatang kesehatan tubuhnya akan pulih kembali bahkan ilmu silatnya masih bisa dipertahankan seperti sedia kala."

"Terima kasih banyak kuucapkan atas baik budi nyonya," seru Lim Han-kim seraya menjura dalam-dalam.

Ketika ia selesai menjura dan angkat kembali kepalanya, nyonya Li sudah lenyap dari hadapannya. "Huuuh, sungguh berbahaya" keluh siok-bwee sambil membesut keringat dingin, "Coba kalau budak gagal membujuknya hingga dia nekat menerjang masuk juga, bukan saja keselamatan jiwa kita berdua terancam, bahkan nona pun bisa mengalami jalan api menuju neraka,"

"Bila nona Pek memang sedang mencapai puncak samadinya, lebih baik kau segera balik ke atas untuk membantunya, serahkan saja tempat ini kepadaku seorang."

Baru beberapa langkah siok-bwee berjalan, mendadak ia berhenti, berpaling dan katanya lagi:

"Lim siangkong, ada berapa patah kata entah pantas tidak kusampaikan kepadamu?"

"Tidak mengapa, katakan saja"

"Bila aku salah bertanya harap siangkong jangan marah."

"Apa ada hubungannya dengan nona kalian?" "Tentu saja ada hubungan yang erat dengan nona

kami. . ."

Tiba-tiba suara langkah yang ramai memotong ucapannya yang belum selesai, Li Tiong-hui dengan wajah gelisah bercampur cemas muncul di mulut tangga sembari ber-seru: "Apakah ibuku ada di atas?"

"Baru saja pergi dari sini."

Li Tiong-hui tidak banyak bertanya lagi, ia balik badan dan berlalu, tapi ketika sampai di mulut pintu mendadak ia berhenti seraya berseru: "saudara Lim, maukah kau turun sebentar?"

"Ada apa?" tanya pemuda itu sambil berkerut kening, "Bisa kau membantu aku sekejap?"

"Lim siangkong, pergilah sebentar," bisik siok-bwee, "Serahkan tempat ini kepadaku."

Buru-buru Lim Han-kim lari turun ke bawah, setibanya di depan Li Tiong-hui, tanyanya:

"Ada apa? Kenapa kau nampak gelisah?"

"Seebun Giok-hiong telah menyerbu masuk ke dalam lembah Ban-siong-kok"

"Selama berapa hari ini jago-jago dari mana saja yang telah tiba di sini?"

"Selain Bu-tong-pay dan siau-lim-pay, pihak cing-shia- pay, Kun-lun-pay juga telah hadir."

"Lantas berapa banyak jago yang dibawa seebun Giok- hiong?" tukas Lim Han-kim.

"Anehnya dia hanya datang didampingi seorang kakek berbaju kuning yang membawa burung, rasa-rasanya sih bukan datang untuk bertarung, aku sadar bila harus menghadapinya satu lawan satu, kecuali ibuku sendiri sulit ada orang yang bisa menandinginya. Aku kuatir ia menantang pertarungan satu lawan satu dengan keluarga Hong-san kami di hadapan para jago dunia, aku tak tahu bagaimana harus menghadapnya?" Mendengar ucapan tersebut, Lim Han-kim berpikir

"Di dalam lembah saat ini telah berkumpul begitu banyak jago lihay, kalau mereka saja tak sanggup menghadapi seebun Giok-hiong, apalagi aku Lim Han- kim." Tidak menunggu anak muda itu menjawab, Li Tiong-hui telah berkata lebih lanjut:

"Harap saudara Lim jangan salah paham, aku bukan bermaksud memintamu menghadapi seebun Giok-hiong secara kekerasan, aku hanya berniat memintamu mewakili aku untuk menanyakan maksud kedatangannya, sebab aku sebagai seorang Bu-lim Bengcu bila mesti berhadapan langsung dengannya, pasti akibatnya suasana akan membeku dan pembicaraan menemui jalan buntu.

Bukan berarti aku pengecut atau takut mati, tapi mengingat masalah ini menyangkut keselamatan umat banyak. aku tak ingin memporak-porandakan urusan besar gara-gara masalah sepele. Hingga saat ini, kekuatan pihak kita belum terhimpun semua, lebih baik bila pertarungan bisa ditunda beberapa hari lagi.

Aaaaai... tahu jadi Bengcu ternyata punya beban mental yang begini berat, dari dulu kutolak saja jabatan tersebut..." Lim Han-kim tidak langsung menjawab, pikirnya:

"Walaupun Li Tiong-hui hanya seorang wanita, tapi ia selalu berjiwa gagah dan berani, sungguh tak disangka setelah terpilih menjadi Bu-lim Bengcu sikap serta tindak tanduknya jadi terlalu hati-hati dan penuh perhitungan. Berpikir sampai di situ, ujarnya:

"Jadi maksud nona, aku mewakili nona untuk berunding dengan seebun Giok-hiong kapan baiknya pertarungan dimulai?" "Maksud kehadiran seebun Giok-hiong saat ini masih sukar diduga, lebih baik tanyakan dulu maksud kedatangannya sebelum mengambil keputusan."

"Lebih baik nona memberikan sedikit gambaran kepadaku bagaimana mesti ambil keputusan, kalau tidak masa setelah bertemu dengannya nanti, aku harus minta petunjuk lagi kepada nona sebelum memberikan jawaban kepada mereka?" Li Tiong-hui termenung berpikir sebentar, kemudian ujarnya:

"Menurut perkiraanku dalam setengah bulan mendatang sebagian besar jago persilatan sudah pada berkumpul di perkampungan keluarga Hong-san ini, jadi lebih baik janji dengannya untuk bertarung setengah bulan kemudian"

"Baiklah, akan kucoba"

"Pergilah Menurut pendapatku, kedatangan Seebun Giok-hiong kali ini masih membawa maksud lain, jadi apa pun yang dia tanyakan kepadamu, putuskan sendiri menurut keadaan." Lim Han-kim manggut-manggut dan sebera berlalu.

Keluar dari loteng Teng-siong-lo, pemuda ini dapat merasakan suasana yang serius dan menyeramkan

Ia dapat merasakan berdirinya banyak sekali dayang bersenjata di belakang pepohonan dan bunga, bahkan para dayang itu sama-sama menyiapkan tabung jarum emas yang siap dipancarkan, jelas semua tempat strategis dalam perkampungan keluarga Hong-san saat ini telah terjaga secara ketat. Dengan langkah lebar Lim Han-kim menelusuri jalan setapak menuju ke gedung utama.

Keluar dari gedung tersebut menuju ke luar lembah, Lim Han-kim menyaksikan banyak sekali jago persilatan dengan senjata terselip di badan bersiaga di sana-sini.

Setelah melewati pepohonan yang lebat dikiri-kanan jalan,akhirnya ia saksikan seebun Giok-hiong dengan pakaian serba hijau dan rambut terikat sapu tangan putih sedang berjalan mendekat dengan langkah santai.

Mengikuti di belakang seebun Giok-hiong adalah kakek berperawakan tinggi besar yang mengenakan jubah kuning, jenggot putihnya sepanjang dada, wajahnya dingin menyeramkan dan di bahunya bertengger dua ekor burung aneh berwarna abu-abu tua. sambil mendeham Lim Han-kim menghadang jalan pergi seebun Giok-hiong seraya menyapa:

"Nona, selamat berjumpa kembali." Dengan pandangan dingin seebun Giok-hiong memandang Lim Han-kim sekejap. kemudian sahutnya sambil tertawa hambar.

"Mana Li Tiong-hui?"

"Nona Li sangat sibuk. oleh sebab itu aku diminta mewakilinya menjumpai nona."

"Apakah kau dapat membuat keputusan?"

"Aku diminta untuk mewakilinya, otomatis aku telah diberi wewenang untuk mengambil keputusan"

"Beritahu kepada Li Tiong-hui, kentongan pertama malam nanti orang-orangku akan menyerbu masuk ke dalam lembah Ban-siong-kok dari empat penjuru, bila ia menganggap tak sanggup menandingiku sebelum matahari terbenam sore nanti suruh dia datang ke luar lembah Ban-siong-kok dan menyerah kalah kepadaku"

"Jadi kedatangan nona hanya disebabkan persoalan ini?" tanya Lim Han-kim setelah berhasil menenangkan pikirannya.

"Sekalipun masih ada urusan lain, tak ada gunanya kuberitahukan padamu."

"Keberanian nona benar-benar mengagumkan” kata Lim Han-kim setelah memandang sekeliling tempat itu sekejap." seandainya nyonya Li muncul saat ini, mungkin sulit buat nona untuk meninggalkan lembah ini dalam keadaan selamat."

"Aku sendiri pun merasa heran, lembah Ban-siong-kok dengan penjagaan yang begitu ketat kenapa bisa membebaskan aku Seebun Giok-hiong memasukinya dengan leluasa."

"Keluarga persilatan bukit Hong-san dapat termashur dalam dunia kangouw bukan lantaran ilmu silat mereka yang hebat dan luar biasa..." seebun Giok-hiong tertawa dingin, tukas-nya:

"Aku rasa kau sudah ditaklukkan seratus persen oleh Li Tiong-hui hingga sepenuh hati memihak perkampungan bukit Hong-san. Kini nyonya Li maupun Li Tiong-hui tak berani munculkan diri untuk berhadapan denganku, itu berarti mereka sadar bahwa kesempatan untuk meraih kemenangan bagi mereka amat minim.

Hmmm, dia anggap oleh karena di antara kita berdua punya hubungan pribadi yang intim maka kau disuruh ke luar untuk menahan aku, jangan mimpi"

Lim Han-kim tidak langsung menjawab, pikirnya: "Seebun Giok-hiong datang tanpa senjata dan cuma

didampingi seorang pengawal, mustahil dia bisa meraih

kemenangan apa bila sungguh terjadi pertempuran di lembah Ban-siong-kok ini, lalu apa sebabnya Li Tiong-hui enggan tampilkan diri untuk berjumpa dengannya?"

Ketika tak mendengar jawaban dari Lim Han-kim, kembali seebun Giok-hiong berkata sambil tertawa dingin:

"Jangan-jangan Li Tiong-hui sudah dapat menebak isi hatiku sehingga lantaran ia tak tega untuk turun tangan sendiri membunuhmu, maka... hhhehhh... heheh..."

Lim Han-kim tambah gelisah sesudah menangkap hawa napsu membunuh memancar ke luar dari balik mata perempuan itu, dia tahu perempuan itu segera akan turun tangan melancarkan serangan, maka pikirnya dengan cepat:

"Apa yang diminta Li Tiong-hui untuk kusampaikan kepadanya belum sempat kuutarakan secuwilpun, bila aku keburu terbunuh, bisa menyesal hidupku ini..." Maka dengan suara lantang teriaknya:

"Apa pun yang nona utarakan, aku bisa mengambil keputusan dengan segera."

Seebun Giok-hiong berkerut kening, belum sempat mengutarakan sesuatu, kembali Lim Han-kim berkata: "Saat pertarungan yang diputuskan kau dengan Li Bengcu masih ada setengah bulan lagi, sebagai seorang Bengcu, nona Li enggan menjilat kembali ludah yang telah dikeluarkan oleh sebab itu terhitung mulai hari ini hingga lima belas hari kemudian nona Li enggan untuk bentrok lagi denganmu, sampai waktunya nanti Li Bengcu pasti akan menyambut sendiri kedatanganmu di mulut lembah Ban-siong-kok, dan bila sampai saatnya terserah nona hendak memilih cara pertarungan macam apa untuk menyelesaikan semua pertikaian yang ada."

Ia tahu, apa yang telah diucapkan seebun Giok-hiong dapat pula dilakukan olehnya tanpa ragu, terasa rugi besar bila ia keburu mati terbunuh sebelum pesan-pesan dari Li Tiong-hui disampaikan, andaikata setelah pesan disampaikan ia tetap terbunuh, hal ini akan diterimanya dengan perasaan lebih rela.

Tampak napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah seebun Giok-hiong, jengeknya:

"Sudah selesai perkataanmu?" "Sudah"

Secepat sambaran petir Seebun Giok-hiong menggerakkan lengannya mencengkeram pergelangan tangan Lim Han-kim, tegurnya sambil tertawa dingin: "Cepat jawab, apa sebabnya Li Tiong-hui enggan bertemu aku?"

"la terlalu sibuk. tak ada waktu bertemu dengan mu." "Hmmm, karena ia tahu kemampuan yang dimilikinya

hari ini belum mampu menandingi aku, satu jam lagi seluruh perkampungan keluarga Hong-san akan tenggelam tersapu air."

"Kau telah menggali sumber mata air bukit Hong- san..." tukas Lim Han-kim dengan wajah berubah.

"Hmmm, aku seebun Giok-hiong belum sehina itu untuk melakukan perbuatan terkutuk..." seebun Giok- hiong tertawa dingin.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan suara lantang:

"Tempo haria ku sudah mengirim surat untukmu, aku rasa hal ini telah kau laporkan kepada Nyonya Li bukan?"

"Benar, telah kusampaikan kepada nyonya Li maupun nona Li."

"Aku dengar Pek si-hiang sedang melatih semacam ilmu guna menghadapi aku..."

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara parau:

"Anak Kim, minggirlah, biar guru yang hadapi perempuan ini."

Lim Han-kim menoleh, ia jumpai seorang kakek berbaju hijau sedang berjalan mendekat dengan langkah lambat, dia adalah gurunya semasa di lembah Hong-yap- kok, Tan ceng-po. Maka teriaknya dengan rasa girang: "Suhu ..."

Buru-buru ia jatuhkan diri berlutut

"Tidak usah banyak adat," tampik Tan Ceng-po sambil kebaskan ujung bajunya, segulung tenaga besar sebera menahan tubuh anak muda itu hingga tak sampai berlutut. Kedengaran seseorang berseru pula dengan suara merdu:

"Tan tua, lebih baik kita urusi teman sendiri tanpa perdulikan tingkatan yang berbeda..."

Buru-buru Lim Han-kim berpaling, tampak seorang perempuan setengah umur yang cantik dan mengenakan pakaian berwarna kuning sedang berjalan mendekat, dia tak lain adalah Kim Nio-Nio yang pernah ditemui di tengah sungai tempo hari.

"Saudara Lim, baik- baikkah kau?" sapa Kim Nio-Nio sambil tertawa.

"cici, baik- baikkah kau..." sahut Lim Han-kim pula sambil memberi hormat. Sementara itu Seebun Giok- hiang telah menegur:

"Jadi kau adalah ketua lembah Hong- yap- kok yang termashur itu, Tan ceng-po?"

"Benar, aku adalah Tan ceng-po."

"Tatkala terjadi tragedi berdarah di perguruan bunga Bwee, dimana orang tuaku mati terbunuh, bukankah Anda turut hadir pula dalam pertemuan tersebut?"

"Benar." Tan ceng-po manggut-manggut, "Nona ingin buktikan terjadinya peristiwa tersebut atau pingin membalas dendam untuk kematian orang tuamu?"

"Aku hanya ingin membalas dendam."

"Bila nona ingin membalas dendam tanpa menanyakan dulu duduknya perkara, silakan untuk turun tangan sekarang juga." Ketika Lim Han-kim melihat sepasang tangan Seebun Giok-hiong dirapatkan terus satu sama lainnya, segera timbul perasaan was-was, teriaknya lantang: "Suhu, hati- hati, Seebun Giok-hiong sangat licik dan banyak akal muslihatnya."

Dalam pada itu terdengar Kim Nio-Nio berseru pula: "Seebun Giok-hiong, ketika orang tuamu mati

dikerubuti, aku pun ikut hadir di sana, bila aku tidak

membeberkan kepadamu, mungkin tak akan kau ketahui latar belakangnya yang pasti."

"Menurut penyelidikanku, ada delapan belas orang yang ikut mengerubuti orang tuaku dulu."

"Berapa orang yang kau ketahui sekarang?" "12 orang"

"Kalau begitu aku adalah satu di antara 6 orang lainnya." Kim Nio-Nio menegaskan

"Boleh kau jelaskan siapa saja 5 orang yang lain?"

Tiba-tiba Kim Nio-Nio angkat wajahnya sembari tarik napas panjang, ujarnya:

"Sebutkan dulu siapa saja ke-12 orang yang telah kau ketahui itu, agar dendam ini tak sampai salah alamat,"

"Boleh saja kusebutkan, cuma aku pun ada satu syarat, sehabis kusebutkan nama ke-12 orang itu, kau pun harus sebutkan juga nama-nama dari ke-5 orang lainnya," Kim Nio-Nio tertawa tawa, diliriknya Tan ceng- po sekejap kemudian katanya:

"Hidup kami selama ini terbelenggu dalam masalah hutang piutang, dendam mendendam, aku berharap dalam pertemuan di bukit Hong-san kali ini semua dendam dan hutang yang dibuat selama belasan tahun ini dapat diperhitungkan sampai tuntas, oleh sebab itu setiap orang yang terlibat dalam peristiwa pengeroyokan tempo hari harus turut bertanggung jawab pula hari ini, entah bagaimana menurut pendapat saudara Tan?"

"Memang begitulah niat kedatanganku kali ini." Tan ceng-po tersenyum hambar, "Sebab bila sudah diputuskan demikian, mau kabur pun tak ada gunanya." Kim Nio-Nio mengangguk.

"Sudah hampir 20 tahun aku melarikan diri dari kenyataan dengan hidup terlunta-lunta di atas kapal, sudah 20 tahun pula aku memikirkan persoalan ini, akhirnya kuputuskan untuk hadir di perkampungan bukit Hong-san kali ini..."

Dia angkat wajahnya memandang Seebun Giok-hiong, kemudian tambahnya: "Nah, sebutkan siapa saja yang telah kau ketahui?"

"Jadi kau telah menyetujui syaratku?"

"Sekarang hanya bisa kusanggupi setengahnya, tapi periu kuberitahukan kepadamu, sebagian besar orang- orang tersebut tentu akan hadir pula dalam pertemuan puncak ini."

"Sebenarnya aku bisa saja melacak kalian satu persatu kemudian membalaskan dendam kematian orang tuaku, tapi sekarang aku telah memberi peluang bagi kamu semua agar berkumpul di sini serta menyelesaikan masalah ini, berarti aku telah memberi kesempatan kepada kalian semua..." "Yaaa, peristiwa berdarah tempo dulu bukan terjadi lantaran satu sebab saja, salju yang membeku setebal tiga inci tak akan terbentuk dalam hujan salju satu malam saja. Tentunya kau paham bukan dengan maksud ucapanku ini, selama hidup jangan harap kau dapat temukan kami berdelapan belas sekaligus, kecuali orang tuamu hidup kembali."

"Asal kutangkap salah seorang di antara kalian kemudian menyiksanya, masa tak bakal kuperoleh nama ke-6 orang lainnya?"

"Aaaai, lebih baik jangan kelewat percaya diri." Kim Nio-Nio menghela napas, "Tapi... yaaa, urusan toh sudah menjadi berita besar dalam dunia persilatan, aku rasa siapa pun pasti berkeinginan ikut hadir dalam pertemuan kali ini. Coba kau sebutkan dulu nama dari kedua belas orang itu, akan kudengarkan apa benar atau tidak."

"Ciat-pin dan Po-tok taysu dari siau-limpay"

"Ehmmm, kedua orang hweesio ini memang terlibat." "Li Tong-yang dari keluarga Hong-san, Ciu Heng si

hakim sakti, Thian-hok sangjin, Hian-hok cengcu yang kini menjadi ketua Bu-tong-pay, si pedang racun Pek siang, Kim-hud totiang dari Kun-lun-pay, gadis naga berbaju hitam..." Pelan-pelan dia berpaling ke arah Tan ceng-po dan melanjutkan: "Kemudian kau, Tan ceng-po dari lembah Hong-yap- kok."

"Betul, semua yang kau sebut memang ikut hadir waktu itu, tapi jumlah mereka baru sepuluh, siapa kedua orang lainnya?" "Dua manusia aneh dari Thian-lam, si naga botak siang Kin dan nenek naga berambut putih."

"Jejak kedua orang ini paling susah dilacak. mereka tidak memiliki tempat pemondokan yang tetap..."

"Itu mah tak perlu kau kuatirkan, kini kedua manusia aneh dari Thian-lam sudah kusekap di suatu tempat yang sangat rahasia."

"Nona, tampaknya namamu benar-benar bukan nama kosong"

"Selain dirimu, masih ada lima orang lagi yang terlibat, nyonya, tolong kau sebutkan..." Kim Nio-Nio tertawa.

"Nona tak perlu kuatir, sampai waktunya mereka pasti akan menampakkan diri dengan sendirinya, tapi aku perlu menasehati nona, di kala beberapa orang itu telah berkumpul semua di sini, maka kendatipun ada jagoan yang paling jempolan sekali pun di tempat ini, jangan harap ia dapat menghadapi mereka semua sekaligus, jadi saranku, carilah beberapa orang pembantu andalan bila ingin menghadapi mereka sekaligus."

"Pihak siau-lim maupun Bu-tong sudah banyak mendidik jagoan tangguh bagi diriku, dan kini, sebagian besar hasil didikan mereka telah menjadi anak buah andalanku." Mendadak ia memperlantang nadanya seraya melanjutkan.

"Maksud kedatanganku kali ini tak lain ingin memaksa Li hujin untuk menyingkap keenam nama sisanya."

"Kau punya keyakinan untuk mengungguli Li hujin?" sela Kim Nio-Nio sambil tertawa hambar. "Meskipun dalam pertarungan satu lawan satu belum tentu aku dapat mengunggulinya, bukan berarti aku mesti mengalami kekalahan secara drastis,"

"Sekalipun seperti apa yang nona katakan, tapi dengan cara apa kau bisa memaksa Li hujin untuk menyebutkan sisa dari keenam nama itu?"

"Kecuali Li hujin sudah siap meninggaikan perkampungannya, dalam dua jam aku sanggup menenggelamkan seluruh lembah Ban-siong-kok dalam gulungan air bah."

"Kenapa?"

"Di dasar lembah Ban-siong-kok mengalir sebuah sungai bawah tanah dengan jumlah air yang sangat besar, nadi yang menghubungkan tempat ini dengan sungai bawah tanah tersebut telah kukuasai, cukup memberi satu perintah dari sini, seluruh lembah Ban- siong-kok akan tenggelam dilanda air bah."

Kim Nio-Nio agak tertegun, ia berpaling dan memandang Lim Han- kim sekejap kemudian tanyanya:

"Benarkah apa yang dia ucapkan?"

"Yaa, memang begitu" Lim Han- kim mengangguk Kim Nio-Nio memandang Tan Ceng-po se-kejap.

kemudian pelan-pelan katanya:

"Waktu itu Li hujin tidak terlibat dalam peristiwa tersebut, dia pun tidak hadir di sana, darimana ia bisa tahu nama-nama lainnya?" "Hmmm, kalau sekarang mah aku tak butuh Li hujin lagi," jengek seebun Giok-hiong sambil tertawa dingin. Kim Nio-Nio tertawa tawa.

"Jadi kau hendak mencariku?" balik tanyanya "Betul, sekarang aku memang hendak mencarimu."

Kim Nio-Nio segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Tepat sekali bila kau mencariku, dibandingkan Li hujin, ilmu silatku memang ketinggalan jauh, cuma... kau harus melayani aku untuk bertarung dulu beberapa jurus."

"Sayang aku tak punya waktu untuk melayani pertarunganmu, aku ingin kau menyebutkan sisa kelima nama itu."

Kim Nio-Nio mencoba memeriksa sekeliling tempat itu sekejap. ketika tak dijumpai seebun Giok-hiong membawa anak buah, dia pun tersenyum.

"Bila kami menahanmu di sini, dengan cara apa pula kau memberi komando kepada anak buahmu untuk meledakkan nadi air tersebut?"

"Bagus, biar kutunjukkan kebolehan kami."

Perkataan tersebut diucapkan seolah-olah sedang bergumam, bahkan menoleh pun tidak. Tampak kakek berbaju kuning itu menggerakkan tangan kanannya sambil menuding ke langit, burung abu-abu yang semula bertengger di pundaknya itu seketika melesat ke udara dengan kecepatan luar biasa.

Tampaknya Kim Nio-Nio telah membuat persiapan, di kala burung abu-abu itu merentangkan sayapnya untuk terbang, secepat kilat pula Kim Nio-Nio melepaskan sebuah pukulan ke atas.

Namun gerakan burung abu-abu itu kelewat cepat, di saat Kim Nio-Nio melepaskan pukulannya, burung abu- abu tesebut telah lolos dari jangkauan tenaga pukulan Kim Nio-Nio bahkan melesat setinggi puluhan kaki ke tengah udara. Menyaksikan adegan tersebut, Tan ceng- po berkerut kening sambil berpikir. "Luar biasa cepatnya terbang burung ini, amat jarang kujumpai peristiwa semacam ini." sementara itu Kim Nio-Nio telah berkata sambil tersenyum:

"Satu di antara kelima orang itu mempunyai nama dan pamor yang luar biasa tingginya, hanya sayang ia sudah menetap jauh di laut selatan sana..."

"Siapa dia?"

"Pernah mendengar nama Raja pedang yang amat tersohor pada dua puluhan tahun berselang?"

"Yaa, rasanya pernah kudengar"

"APabila nona menganggap semua orang yang ikut mengerubuti ayah dan ibumu dulu adalah pembunuh, si raja pedang harus kau tuduh sebagai salah satu pembunuhnya."

"Raja pedang ditambah kau berarti sudah ada empat belas orang, siapa pula keempat nama lainnya?"

Kim Nio-Nio tidak langsung menjawab, ia melirik Tan Ceng-po sekejap kemudian baru katanya:

"Lebih baik beritahu kepadanya, toh bila mereka bersedia ikut hadir dalam pertemuan puncak ini, meski tidak kita sebutkan, mereka akan mengaku juga dengan sendirinya, apalagi jika ada di antara mereka yang enggan hadir di sini, kita lebih wajib lagi untuk membongkar identitas sebenarnya"

"Betul." Tan Ceng-po manggut-manggut, "sudah saatnya budi dan dendam diselesaikan hingga impas, peristiwa ini sudah tertunda hampir satu generasi, kenapa tidak kita singkat semua tabir rahasianya?"

"Tatkala terjadi pengeroyokan terhadap seebun suami istri, siapa pun tak ada yang menduga bahwa dua puluh tahun kemudian putrinya akan membalaskan dendam bagi mereka, waktu itu pun tak ada perjanjian yang melarang kita untuk bicara, hanya masalahnya sekarang..."

Kim Nio-Nio berhenti sejenak sambil menatap tajam wajah seebun Giok-hiong, lalu tambahnya:

"Nona, kau punya saudara?"

"Kalian tak usah takut," jengek seebun Giok-hiong dingin, "Dari keluarga seebun, tinggal aku seebun Giok- hiong seorang yang masih hidup, bila kalian sanggup menghabisi nyawaku saat ini, tak akan ada orang lain lagi yang datang mencari balas terhadap kalian"

"Bagus sekali, inilah masa akhir dari pertikaian yang terjadi puluhan tahun terakhir ini dimana melibatkan hampir semua jago tangguh yang pernah hidup dalam lima puluh tahun terakhir, ditinjau dari hal ini sudah cukup bagi kita untuk mati dengan sepasang mata meram."

Setelah berhenti sejenak, kembali terus-nya: "Nona seebun, aku pun punya satu syarat apalah nona bersedia untuk mengabulkan?"

"Apa syaratmu?"

"Apa yang hendak kau lakukan setelah kusebutkan nama dari beberapa orang terakhir itu?"

"Soal ini... sulit bagiku untuk menjawab pada saat ini," sahut seebun Giok-hiong setelah termenung dan berpikir sejenak.

Sebelum Kim Nio-Nio memberikan jawabannya, mendadak terdengar seseorang berseru dengan nada dingin: "Tidak perlu dijawab"

Ketika semua orang berpaling, tampak Li hujin dengan pakaian serba biru pelan-pelan sedang berjalan mendekat

Sekilas pandang ia nampak berjalan amat santai, tapi dalam waktu singkat ia telah tiba di hadapan beberapa orang itu. sambil tersenyum Kim Nio-Nio segera berseru:

"Nadi air di bawah lembah ini telah mereka kuasai, kelihatannya terpaksa kita harus turuti perintahnya, "

"Hmmm, tak bakal semudah itu..." dengus Li hujin dingin

Sambil mengalihkan pandangannya ke wajah seebun Giok-hiong, lanjutnya:

"Keempat anak buah nona yang bertugas menjaga pintu air itu sudah mati terbunuh di ujung jariku."

Berubah hebat paras muka seebun Giok-hiong setelah mendengar perkataan itu, katanya tanpa sadar: "Sejak tidak menjumpai kau dan Li Tiong-hui, seharusnya hal ini sudah terpikir olehku."

"Yang agak terlambat kau menyadari hal ini."

Seebun Giok-hiong segera berpaling ke arah manusia berbaju kuning itu sambil memberi aba-aba:

"Siap untuk mengundurkan diri"

Kakek berbaju kuning itu menyahut sambil menepuk pergelangan tangan kirinya, burung abu-abu yang bertengger di situ segera terbang melesat ke udara dan langsung menukik ke arah timur.

"Hmmm" dengus Li hujin, "Apa maumu memasuki lembah Ban-siong-kok seorang diri? ingin berduel melawanku sekali lagi?"

"Tak perlu aku seebun Giok-hiong mesti bersusah payah sendiri, toh ada orang lain yang bakal membuat perhitungan denganmu."

"Kau maksudkan Thia sik-kong?"

"Meskipun dia pernah keok di tanganmu, kekalahan tersebut dianggap sebagai penghinaan terbesar baginya, berulang kali dia telah memohon kepadaku untuk mendapat kesempatan bertarung habis-habisan melawan dirimu"

"Katakan kepadanya, setiap saat kunantikan kehadirannya."

"Aku mengerti, meski ilmutoya angin puyuh yang ditekuni Thia sik-kong cukup lihay, belum tentu ia sanggup menandingi kehebatanmu," Li hujin hanya tertawa dingin tanpa memberi komentar. Sambil tertawa seebun Giok-hiong berkata lebih lanjut, hanya kali ini dia pertinggi nada suaranya:

"Tapi masih ada seorang lagi yang bakal beradu jiwa denganmu, dan dia bukan termasuk manusia biasa,"

"Siapa dia?"

"Nyonya pedang patah hati..."

Agak berubah paras muka Li hujin, ia membungkam tanpa memberi komentar apa pun.

"Bagaimana, takut kepadanya?" ejek seebun Giok- hiong sambil tertawa dingin.

Li hujin mendelik gusar, setajam sembilu sorot matanya mengawasi wajah musuhnya, ia berseru:

"Seebun Giok-hiong, bila dalam waktu sepeminum teh kau belum keluar dari lembah Ban-siong-kok. jangan harap kau bisa tinggalkan perkampungan Hong-san ini dalam keadaan selamat"

"Gara-gara salah perhitungan lagi-agi kau berhasil memenangkan babak pertarungan ini dengan merebut kembali pintu air tersebut" setelah berhenti sejenak lanjutnya:

"Beritahu anak kesayanganmu, dalam tiga hari mendatang, setiap saat aku bakal menyerbu masuk ke dalam lembah Ban-siong-kok ini,sampai waktunya tak akan kuloloskan setiap orang yang kujumpai dalam lembah ini termasuk ayam dan anjing."

Pelan-pelan paras muka Li hujin pulih kembali dalam ketenangan yang luar biasa, dengusnya hambar "Jika kupikirkan kepentingan putriku, saat ini tak akan kubiarkan kau tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."

"Jadi kalian berniat mengerubuti aku?"

Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, terdengar seseorang berseru lantang dari kejauhan

"Ketua Cing-shia-pay dan Go-bi-pay tiba" Kim Nio-Nio pun ikut menimbrung:

"Nona Seebun, kelengahanmu kali ini membuat kau kalah total, bahkan kekalahanmu hari ini mengenaskan sekali, kecuali kau yakin dapat loloskan diri dari kepungan dalam keadaan selamat, lebih baik kau dengarkan dulu berapa syarat kami."

"Katakan"

"Bukankah kau ingin membalaskan dendam ayahmu?" "Juga ibuku"

"Sekalipun ditambah sepuluh orang lagi juga tak ada gunanya, sebab dalam pertaruhan kali ini, kau hanya pegang dua hingga tiga puluh persen kesempatan saja untuk menang."

"Bila kalian yakin bisa mengungguliku hari ini, kenapa tidak segera dibuktikan?"

"Bila kau setuju, setengah bulan kemudian mari kita selesaikan semua pertikaian ini dalam suatu duel yang jujur di lembah Ban-hoa-kok. kalau tidak, kita boleh gunakan pelbagai cara untuk menahan nona pada hari ini juga," Seebun Giok-hiong segera menyingkap bajunya memperlihatkan sebuah sabuk kulit dengan dua belas pedang kecil sepanjang delapan yang melilit di pinggangnya, kemudian berkata:

"Aku setuju untuk menunda pertarungan ini sampai setengah bulan kemudian, tapi jangan kalian anggap aku takut dengan ancaman tadi." Kemudian sambil meloloskan dua belas pedang kecilnya itu ia melanjutkan "Aku pingin tahu, siapa yang sanggup menahan diriku di sini."

Dengan suatu gerakan cepat ia tancapkan kedua belas pedang kecil itu pada dua belas buah jalan darah penting di sekujur badannya, pedang-pedang itu terbenam dalam tubuhnya hingga tinggal nampak gagangnya, kemudian pelan-pelan dia balik badan dan berlalu dari situ.

Baik Tan Ceng-po maupun Kim Nio-Nio dan Lim Han- kim sekalian sama-sama berubah wajahnya setelah menyaksikan peristiwa itu, tubuh mereka sampai gemetar menahan gejolak emosi.

Hanya nyonya Li seorang tetap tenang dan bersikap dingin, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apa pun.

Menurut aturan dunia persilatan, bila ada orang berani menghalangi kepergian seebun Giok-hiong, orang itu mesti mampu mencabut ke luar lebih dulu kedua belas batang pedang kecil itu dari tubuh si nona kemudian ditancapkan pada tubuh sendiri seperti apa yang dilakukan lawannya, kemudian pertarungan yang jujur baru bisa dilangsungkan. sambil menghela napas Tan Ceng-po berbisik "Seebun Giok-hiong terbukti memang ampuh, lihay dan cerdik, jangankan melakukan pertarungan, untuk meniru caranya dengan membenamkan kedua belas bilah pedang pada tubuh sendiri pun, aku mengakui sejujurnya bahwa diriku tak sanggup,"

"Yang aneh adalah tidak nampak darah yang mengalir ke luar dari kedua belas tempat bekas tusukannya." Kim Nio-Nio menyambung. "Padahal pedang-pedang itu terbenam sampai delapan inci dalam tubuhnya, semua ujung langit pernah kujelajahi tapi belum pernah kusaksikan kepandaian sehebat itu."

"Padahal kemampuannya itu bukan barang aneh." Li hujin menjelaskan "Dia cuma lagi mempraktekkan ilmu yoga dari negeri Thian-tok. Yang mengagumkan justru kemampuannya melatih ilmu tersebut hingga mencapai tingkat kesempurnaan macam begini, tak heran jika ia sombong dan tekebur, seakan-akan tiada tandingan lagi di kolong langit."

Kim Nio-Nio melayangkan kembali pandangannya ke muka, tapi bayangan tubuh seebun Giok-hiong sudah lenyap dari pandangan, tak terasa ia menghela napas panjang: "Aaaaai... kau sudah siap untuk menghadapi pertarungan ini?"

"Sekarang, aku belum memutuskan ..." jawab Nyonya Li singkat, sorot matanya dialihkan ke wajah Lim Han- kim, kemudian tambah-nya: "Kau ingin bertemu dengan ibumu?"

"Yaa, aku memang ingin bertemu beliau, cuma dimana beliau sekarang?"

"Dalam gedung Tay-sang-kek" "Kalau begitu biar kusambangi guruku lebih dulu," ucap Lim Han- kim sambil menghampiri Tan ceng-po dengan langkah lebar, seraya berlutut, hormatnya: "Tecu menjumpai suhu"

"Tak usah banyak adat, ayoh cepat berdiri," tampik Tan ceng-po sambil tersenyum.

Dalam pada itu Nyonya Li sudah berpaling ke arah Kim Nio-Nio seraya bertanya: "Kau kenal dengan nyonya pedang patah hati?"

"Yaa, masa ia masih teringat dengan dendamnya tempo dulu?" Kim Nio-Nio mengangguk.

Nyonya Li seperti mau mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan, tanpa berbicara lagi ia beranjak pergi dari situ.

Lim Han- kim pun berbisik: "suhu, tecu ingin menjumpai ibu."

"Kalau begitu pergilah, cuma jangan kelewat banyak bertanya," pesan Tan ceng-po. Lim Han- kim mengiakan dan segera menyusul di belakang nyonya Li.

Sepanjang perjalanan, walaupun nyonya Li tahu kalau Lim Han- kim mengikutinya dari belakang, namun ia tak pernah berpaling, apalagi melihat pemuda itu.

Setibanya di luar gedung Tay-sang-kek. Nyonya Li baru menghentikan langkahnya seraya berpaling dan katanya:

"Langsung masuk ke ruang utama lalu belok ke kiri, masuklah sendiri." Lim Han- kim menyahut dan mendorong pintu gerbang, ternyata pintu itu tidak terkunci.

Di balik pintu adalah sebuah ruang pertemuan yang maha luas, dinding di seputar ruangan berwarna putih bersih bak salju, tak nampak meja kursi, apalagi bayangan manusia.

Seperti petunjuk yang didapatkan, Lim Han- kim berbelok ke sebelah kiri, tapi hingga mencapai ujung dinding ruangan itu ia belum juga melihat bayangan ibunya, dalam keadaan panik bercampur gelisah tanpa terasa teriak-nya: "lbu, anak Kim pingin bertemu denganmu."

Ia berteriak beberapa kali, namun tiada jawaban yang diperoleh Dia coba menoleh ke luar, tapi pintu gerbang gedung Tay-sang-kek sudah tertutup rapat, dalam ruang pertemuan yang begitu luas dan lebar, tak nampak sesosok bayangan manusia pun-sambil berusaha menenangkan pikirannya Lim Han- kim berpikir:

"Bicara dari status nyonya Li saat ini dalam dunia persilatan, mustahil ia bermaksud membohongiku tapi dimana ibuku berada sekarang? Masa dalam gedung Tay-sang-kek juga dilengkapi alat rahasia atau kamar rahasia?"

Berpikir sampai di situ, tak kuasa lagi dia coba mendorong dinding ruangan di hadapannya.

Betul juga, dengan adanya dorongan itu, mendadak dinding ruangan di hadapannya itu mulai berdenyit dan terbukalah sebuah pintu rahasia. Lim Han- kim kuatir pintu rahasia itu keburu menutup kembali, maka cepat-cepat dia menerobos masuk ke dalam.

Dalam lorong sempit di balik pintu rahasia berdiri seorang dayang berbaju putih yang segera menyongsong kedatangannya seraya memberi hormat, katanya:

"Baru saja budak peroleh pemberitahuan dari nyonya untuk menyambut kedatangan siangkong."

"Di mana ibuku sekarang?"

"Nyonya tua lagi beristirahat di ruang dalam, silakan siangkong mengikuti budak" sembari berkata ia beranjak meninggalkan tempat itu,

Mengikuti di belakang dayang tersebut Lim Han- kim menelusuri jalan lorong sejauh beberapa puluh kaki sebelum membelok ke kiri secara tiba-tiba, di hadapannya kini terbentang sebuah ruang tidur yang amat indah.

Lim Han- kim coba mengamati isi ruangan itu, terlihat seorang nyonya setengah umur yang mengenakan baju warna biru sedang duduk bersila di atas pembaringan.

Dalam sekilas pandangan Lim Han- kim sudah mengenali perempuan setengah umur itu sebagai ibunya, buru-buru dia maju ke depan, berlutut di hadapannya seraya berseru: "Putramu yang tak becus Lim Han- kim menjumpai ibu."

"Duduklah di sini nak." kata nyonya Lim sambil membangunkan putranya, "Mari duduk dulu, ada persoalan ingin kutanyakan kepadamu" Lim Han- kim dapat merasakan keanehan yang diperlihatkan ibunya dalam ketenangan yang di luar kebiasaan itu, buru-buru tanyanya: "Ada petunjuk apa ibu?"

Sementara itu dayang berbaju putih tadi telah mengundurkan diri selepas merapatkan kembali pintu kamar.

"Kau telah bertemu dengan nyonya Li?" tanya nyonya Lim.

"Yaa, sudah."

"Bagaimana kalau dibandingkan ibu?:"

Lim Han- kim agak tertegun, dia tak menyangka akan dihadapkan dengan pertanyaan semacam ini, balik tanyanya kemudian: "Bagian mana yang ibu maksudkan?" Nyonya Lim tertawa hambar.

"Berbicara soal kepintaran dan ilmu silat, jelas ibu bukan tandingannya, tentu yang kumaksud adalah usianya, coba kau perhatikan, siapa yang lebih tua antara aku dengan nyonya Li."

"Kalau ananda harus bicara sejujurnya, nyonya Li memang kelihatan jauh lebih muda ketimbang ibu, tapi hal ini bisa dimaklumi sebab tenaga dalam yang dimiliki nyonya Li sudah mencapai puncak kesempurnaan, apalagi dia pun memiliki kepandaian untuk menjaga keawetan tubuhnya, jadi tak dapat diambil sebagai perbandingan..."

"Sesungguhnya ibu dua tahun lebih muda ketimbang nyonya Li," tukas Nyonya Lim tiba-tiba, "Andaikata ibu tidak memusnahkan ilmu silat yang ibu miliki, sebaliknya berlatih tekun seperti dia, maka bukan saja pada saat ini wajahku kelihatan lebih muda, mungkin taraf ilmu silat yang kumiliki pun hampir seimbang dengan kemampuannya,"

"Yaa, ibu bukan saja sudah memusnahkan ilmu silat sendiri.." Nyonya Lim alihkan pandangan matanya ke wajah Lim Han- kim,

"Bahkan telah kubuat putraku turut menderita akibat ulah ibunya coba kalau tidak. saat ini mungkin kau sudah punya kedudukan yang bagus dalam dunia persilatan"

"lbu, semakin kudengar penuturanmu makin bingung rasanya, bersediakah ibu menerangkan lebih terperinci?"

"Apakah kau bersikeras ingin tahu latar belakang sebenarnya?" tanya Nyonya Ltm sambil tertawa hambar.

"Sebagai putra ibu aku wajib mengetahui siapa ayah kandungku kalau tidak. harus ku-taruh ke mana wajahku ini?" Nyonya Lim tarik napas panjang-panjang.

"Tujuan utamaku memusnahkan ilmu silat yang kumiliki tak lain adalah ingin melepaskan diri dari pertikaian dunia persilatan dan mencari suatu tempat yang terpencil untuk hidup secara tenang dan damai, tapi nyatanya perhitungan manusia tak bisa melawan kehendak Thian, walaupun aku telah memusnahkan ilmu silatku, namun hidupku tak pernah tenang, bahkan nyaris aku tewas oleh beberapa orang bandit kecil, untung gurumu muncul tepat pada waktunya hingga jiwa kita berdua dapat diselamatkan”

"lbu, kau telah bercerita panjang lebar, tapi belum kau sebutkan siapa nama ayah kandungku?" Paras muka nyonya Lim tiba-tiba berubah jadi semu merah bercampur pucat, tampaknya ia sedang mengalami pertempuran batin yang berat.

Lim Han- kim coba melirik. melihat ibunya sedang berlinang air mata, ia jadi ciut hatinya dan tak berani banyak bertanya lagi.

Lebih kurang sepeminum teh kemudian nyonya Lim baru menghela napas panjang, sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya ia bertanya lirih: "Jadi kau ingin tahu?"

"Selama belasan tahun, masalah inilah yang selalu mengganjal perasaan ananda."

"Sebetulnya aku segan memberitahu rahasia ini kepadamu, tapi situasi kini telah ber-ubah, meski ingin kurahasiakan pun rasanya tak akan terlalu lama lagi."

"Ooh ibu... biar macam apa pun ayah kandungku itu, ia tetap adalah ayah yang membuat kehadiranku di dunia ini menjadi kenyataan, sudah menjadi hakku untuk mengetahui rahasia ini."

Nyonya Lim tak dapat membendung rasa harunya lagi, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, pelan-pelan ia berkata:

"Nak. meski kuberitahu siapa ayahmu, belum tentu orang yang bersangkutan mau mengakui dirimu sebagai darah dagingnya."

Lim Han- kim tertegun, pikirnya: "Sebetulnya apa yang telah terjadi?" Karena heran bercampur penasaran, ditatapnya wajah ibunya tanpa berkedip. sampai lama sekali ia tak mengucapkan sepatah katapun.

"Baiklah nak" kata nyonya Lim kemudian, "setelah kubeberkan rahasia ini, terserah bagaimana penilaianmu terhadapku, mau benci boleh, mau sinis juga tak mengapa, sesungguhnya meski kau memiliki ayah kandung, namun tak punya hak untuk menyandang keluarganya,"

Tiba-tiba saja Lim Han- kim merasa dadanya seperti dijotos orang keras-keras hingga napasnya jadi sesak dan nyaris jatuh tak sadarkan diri, sampai lama kemudian ia baru mampu bertanya: "siapa orang itu?"

Mendadak nyonya Lim menatap tajam wajah putranya dengan sorot mata yang lebih tajam dari sembilu, tegurnya: "Kau membencinya?"

"Dia telah menipu ibu kemudian menelantarkan kita berdua, aku wajib membencinya."

"Aaaai... padahal kau tak boleh salahkan dia." Nyonya Lim menggeleng berulang kali.

"Kalau bukan dia yang disalahkan, masa aku harus salahkan ibu?"

"Benar, memang ibu yang harus disalahkan"

Lim Han- kim tak bisa membendung rasa sedihnya lagi air mata bercucuran membasahi pipinya, dengan suara dalam serunya:

"Ooh ibu... cepat beritahu padaku, siapa gerangan dia? Ananda sudah hampir gila..."