-->

Pedang Keadilan II Bab 46 : Tiga Manusia Aneh

 
Bab 46. Tiga Manusia Aneh

Pek si-hiang menggenggam tangan kiri Lim Han-kim erat-erat, lalu ujarnya lagi:

"Saudara Lim, aku tahu kau keberatan bila kubunuh seebun Giok-hiong, tapi situasi saat ini telah berubah menjadi amat kritis, bila kita mundur selangkah berarti memberi kesempatan kepadanya untuk maju selangkah, kita bisa saja mengampuni seorang seebun Giok-hiong, tapi sebagai gantinya banyak nyawa umat persilatan yang akan jadi korban di ta-ngannya, lagipula dia sendiri pun enggan lepaskan aku. sebagai seorang ksatria kita tak boleh berhati lemah, apalagi terperangkap oleh bibit- bibit cinta."

"Nona Pek, aku..."

Pek si-hiang gelengkan kepalanya berulang kali, tak memberi kesempatan kepadanya untuk melanjutkan pembicaraan, selanya kembali:

"Aku paham, baik seebun Giok-hiong, Li Tiong-hui maupun aku Pek si-hiang, kami sama-sama mempunyai bobot yang seimbang dalam hatimu, tentunya kau merasa kesulitan bukan untuk membagi kasih secara seimbang terhadap kami bertiga..."

"Kau jangan ngaco belo," tukas Lim Han- kim, "Nona Li jangan kau masukkan dalam hitungan, ia sudah menjadi istri orang."

"Aaaah, masa iya?" seru Pek si-hiang tertegun "Aku tak perlu berbohong, lagipula orang tersebut berada di perkampungan keluarga Hong-san saat ini dan aku pun sudah menyanggupi mereka untuk menjadi mak comblangnya serta mengumumkan perkawinan mereka di hadapan para jago silat seusai pertumpahan darah itu berlangsung."

Tampaknya Pek si-hiang, gadis serba tahu dan cerdas luar biasa ini dibuat termangu juga sehabis mendengar berita yang sama sekali tak terduga ini, setelah termenung beberapa saat tanyanya: "siapa yang beritahu soal ini kepadamu?"

"Li Tiong-hui beritahu sendiri soal ini kepadaku, bahkan aku pun sudah bertemu dengan calon suaminya, orang itu benar-benar tergila-gila dengannya, bila Li Tiong-hui bersedia menjadi istrinya, orang itu pasti akan mencurahkan segenap rasa cintanya untuk merawat serta menyayanginya."

"Aaai..." Pek si-hiang menghela napas panjang, "Kendatipun begitu, belum tentu kejadian ini merupakan suatu perkawinan yang bahagia."

"Kenapa?"

"Kau bukan wanita, tentu tak paham dengan perasaan seorang wanita, pada dasarnya wanita memang ditakdirkan untuk melayani kaum pria, bila kejadiannya terbalik, kaum pria yang mesti melayani istrinya, belum tentu dia akan merasa puas dan bahagia, karena apa yang terpikir olehnya adalah bagaimana merawat, melayani serta menyayangi sang suami."

"Benarkah begitu?" Lim Han- kim tertegun "Yaa, paling tidak aku serta Li Tiong-hui mempunyai pandangan serta pemikiran demikian..."

Setelah berhenti sejenak. lanjutnya:

"Bila Li Tiong-hui telah menentukan pilihannya, berarti tinggal seebun Giok-hiong seorang yang dapat menjadi istrimu, aaaai sayang sekali dia terlalu liar dan susah dikendalikan, napsu membunuh pun telah menutupi pikirannya, hal ini membuat aku jadi serba salah."

Hiang-kiok yang masih polos dan tak punya pikiran lain tiba-tiba menimbrung:

"Nona, bagaimana dengan kau sendiri? Mengapa bukan kau sendiri yang menikah dengan Lim siangkong?"

Merah padam selembar wajah Pek si-hiang, katanya sambil tertawa:

"Budak dungu, aku sudah hampir mampus, masa kau suruh dia menikahi setan sebagai bininya?"

"Bukankah nona telah disembuhkan oleh Nyonya Li?" tegur Lim Han- kim agak tertegun.

"Belum" Pek si-hiang menggeleng seraya menghela napas panjang.

"Kenapa? Apakah nyonya Li tak mampu mengobati penyakitmu itu?"

"Badai pembunuhan telah berada diambang pintu, mana aku punya waktu untuk mengobati penyakit itu?"

"Jadi maksud nona, semestinya kau mampu menyembuhkan penyakit itu, namun kau sengaja enggan mengobatinya?" "Ehmmm, boleh saja kau anggap begitu, bila kuobati penyakit tersebut hingga sembuh, lalu apa rencanamu terhadap diriku?" setelah termenung berpikir sebentar, sahut Lim Han- kim:

"Bila kau sembuhkan penyakit itu, maka bila badai pembunuhan ini bisa kita lampaui, kita bisa mencari sebuah tempat yang sepi dan terpencil untuk hidup dengan damai..."

"Apa gunanya mencari tempat yang sepi dan terpencil?"

Lim Han- kim tersenyum.

"Kita cari tempat yang sepi dan terpencil untuk tinggal, kemudian kita sembuhkan dulu penyakitmu, setelah itu aku baru akan temani kau untuk berpesiar mengunjungi semua tempat kenamaan di dunia ini."

"Hanya berpesiar mengunjungi tempat indah?" Dibimbing siok-bwee, Pek si-hiang maju ke depan sambil tersenyum.

Tiba-tiba Hiang-kiok menghela napas panjang, selanya.

"Nona, nona... masa kau tak paham dengan maksud ucapannya? Bukankah Lim siangkong sudah menerangkan sejelas-jelasnya? "

"Kenapa tidak kau suruh dia berbicara lebih jelas lagi?" "Kau ingin aku berkata apa lagi?" tanya Lim Han- kim

sambil tersenyum jengah. Pek si-hiang ikut tertawa.

"Apa saja yang ingin kau utarakan harus diucapkan semua, tak boleh kau rahasiakan barang sepatah pun." "Baiklah, bila badai besar ini telah berlalu, akan kuajak dirimu berpesiar ke tempat-tempat indah, kemudian mengajakmu pergi menjumpai ibuku" Tiba-tiba wajah Pek si-hiang yang penuh senyuman itu berubah amat serius, tanyanya:

"Bila ibumu tak suka aku setelah melihat kondisi badanku yang begini lemah, lalu apa yang kau lakukan?"

"Nona amat cerdik dan berjiwa besar, kenapa sih kau menguatirkan masalah yang begitu sepele?"

Tiba-tiba Pek si-hiang tundukkan kepalanya dengan sedih.

"Kau suruh aku mengubah apa yang sebenarnya telah kuputuskan, tentu saja banyak hal yang perlu kurisaukan."

"Masalah apa sih yang sebetulnya telah kau putuskan?" Lim Han- kim bertanya dengan wajah bingung.

"Sekarang tak boleh kusampaikan kepadamu, biar lain kali saja baru dibicarakan lagi." Pelan-pelan ia menyandarkan diri di tubuh siok-bwee.

"Nona" seru Hiang-kiok cemas, "setelah terlanjur dibicarakan, kenapa sih tidak kau bicarakan hingga tuntas?"

"Hatiku sedih sekali, cepat bimbing aku pulang ke kamar" tukas Pek si- hiang tiba-tiba.

Ketika semua orang berpaling, terlihat butiran keringat sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Dengan rasa terperanjat Lim Han- kim maju menghampiri "Kenapa kau?"

Ketika tangan kirinya yang tergenggam terasa dingin bagaikan es, pemuda itu makin tertegun dibuatnya.

Sambil menghela napas siok-bwee segera menerangkan:

"Lim siangkong tak usah kuatir, setiap kali nona kami menghadapi masalah yang menjengkelkan mengejutkan atau mengerikan perasaan hatinya, ia selalu tunjukkan gejala seperti ini, dia akan baik kembali setelah beristirahat sejenak." Kemudian sambil menoleh ke arah Hiang- kiok, tambahnya: "Kita harus cepat-cepat menggotong nona untuk kembali ke kamarnya." Hiang- kiok menyahut dan segera membopong nonanya ke atas tandu.

"Kalian berdua berangkatlah duluan," kata Lim Han- kim cepat, "Aku akan menunggu nyonya Li di sini."

"Mungkin Nyonya Li sudah kembali ke lembah Ban- siong-kok duluan, apa tidak berbahaya bila kau berjumpa dengan seebun Giok-hiong nanti?"

"Tidak apa-apa, menurut nona Pek. seebun Giok-hiong sudah terluka parah bahkan jauh lebih parah ketimbang nyonya Li, aku rasa untuk sementara ini tak mungkin ia bisa pulih seperti sedia kala, kalian berdua pulanglah duluan, sebentar lagi aku baru pulang ke lembah Ban- siong-kok."

"Baiklah, cuma kau harus berhati-hati..." pesan siok- bwee, kemudian bersama Hiang-kiok menggotong majikannya dan berlalu. Lim Han- kim berjalan menuju ke belakang batu gunung, tapi di situ sudah tak nampak lagi bayangan tubuh nyonya Li, dengan rasa heran yang amat sangat segera pikirnya:

"Dengan jelas sekali kusaksikan nyonya Li menuju ke belakang batu besar ini, masa dengan kondisi terluka parah dia masih mampu mendaki ke atas tebing curam ini...?"

Dipenuhi rasa ingin tahu ia berjalan menelusuri jalan setapak yang ada menuju ke sebuah lembah yang sempit.

Tempat itu amat terpencil dan sepi, rumput ilalang tumbuh subur setinggi manusia, Lim Han- kim segera meloloskan pedangnya dan melanjutkan langkahnya memasuki rimbunnya ilalang itu.

Tanpa terasa ia sudah memasuki semak tebal itu sejauh lima puluhan kaki. Akhirnya sebuah batu karang yang tinggi besar menghadang jalan perginya.

Baru saja Lim Han- kim bermaksud melompat naik ke atas batu itu untuk memeriksa keadaan, mendadak terdengar desingan angin tajam menyambar lewat, sikut kanannya tahu-tahu jadi kaku dan pedang yang digenggamnya sudah terlepas dari pegangan.

Menyusul kejadian itu, dari sisi batu cadas itu berjalan ke luar seorang pemuda baju putih yang ceking tapi jangkung, berwajah pucat pias seperti mayat dan bersikap mengerikan

Dengan sorot matanya yang tajam dia awasi Lim Han- kim tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah berhasil menenangkan pikirannya dan menghimpun hawa murninya di Tan-tian, Lim Han- kim menegur: "siapa kau?"

Belum selesai teguran itu bergema, lagi-lagi sikut kirinya terasa kaku, hawa murni yang telah terhimpun di lengan kiri itu pun mendadak lenyap tak berbekas.

Menyusul kemudian tampak pemuda jangkung itu menggapai tangan kanannya, entah bagaimana caranya tahu-tahu tubuh Lim Han- kim sudah berhasil dicengkeramnya secara mudah dan diseret menuju ke belakang batu cadas.

Lim Han- kim dapat merasakan betapa kuatnya cengkeraman kelima jari tangan orang itu pada bahunya, bahkan tulang pundak pun secara lamat-lamat terasa sakit, pikirnya dengan perasaan terkejut: " Hebat betul ilmu silat orang ini."

Jarak antara dinding tebing dengan batu karang itu paling banter hanya bisa dilalui satu orang saja, tapi pemuda ceking itu dengan mengempit tubuh Lim Han- kim tetap memaksakan diri menerobos lewat dari celah tersebut

Di balik lorong sempit itu tampak seorang kakek berambut putih sepanjang pinggang dengan memegang sebuah tongkat besar berdiri menyandar pada dinding tebing.

Pemuda ceking itu sebera membanting tubuh Lim Han- kim ke atas tanah, kemudian pelan-pelan mundur ke belakang kakek tersebut. Lim Han- kim mencoba mengawasi keadaan di sekelilingnya, lagi-lagi muncul seorang pemuda berbaju hitam yang tinggi kurus melangkah ke luar dari arah kiri dengan langkah lebar.

Kecuali warna pakaian yang berbeda, kedua orang itu mempunyai perawakan badan, bentuk serta gerak gerik yang mirip sekali, bahkan wajahnya sama-sama dingin dan menyeramkan.

Saat itu, biarpun beberapa jalan darah Lim Han-kim tertotok, namun kesadaran pikirannya tetap jernih, pikirnya:

"Dandanan ketiga orang ini sangat aneh, bahkan mirip tiga sosok mayat hidup, entah berasal dari mana mereka itu?"

Sementara ia masih berpikir, orang berambut putih yang berdiri bersandar pada dinding tebing itu telah menegur dengan suara dingin: "Kau anggota keluarga Hong-san?"

Biarpun pertanyaan itu dapat didengar amat jelas, Lim Han-kim berlagak pilon, ia cuma mengawasi kakek berambut putih itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun

Rupanya watak kakek berambut putih itu kasar dan sangat berangasan, dengan penuh rasa mendongkol ia hentakkan tongkatnya ke tanah...

"Blummmm" Batu dan pasir segera beterbangan mengikuti suara ledakan yang memekikkan telinga.

"Kurang ajar, dengar tidak dengan pertanyaanku barusan?" bentaknya penuh amarah. "Hebat betul tenaga orang ini," batin Lim Han-kim, "Tongkatnya pasti terbuat dari baja asli dan berani bertaruh beratnya tentu di atas ratusan kati." Namun ia tetap membungkam diri.

Kakek berambut putih itu segera berpaling ke arah pemuda berwajah pucat itu seraya menegur:

"Kalian totok jalan darahnya?"

"Benar" sahut dua orang pemuda itu dengan hormat "Bebaskan totokannya, aku hendak bertanya

kepadanya."

Pemuda berbaju putih itu mengiakan dan segera menepuk bebas jalan darah di iga dan dadanya yang tertotok. sekali lagi Lim Han-kim berpikir

"Biarpun ilmu silat yang dimiliki rombongan ini cukup bagus, sayang tidak didukung pikiran yang cerdik, aku tak boleh lawan mereka dengan kekerasan, lebih baik dilawan dengan akal saja..."

Terdengar kakek berambut putih itu berkata lagi: "Kini, aku telah bebaskan totokan jalan darahmu, bila

pertanyaanku enggan dijawab juga, hmmm . . . jangan salahkan bila kau segera kuhajar dengan toya ini."

Sambil mengendorkan ototnya yang kaku sahut Lim Han-kim: "Bila ingin bertanya sesuatu, katakan saja."

"Kau anggota perkampungan keluarga Hong-san?" "Meskipun aku bukan anggota perkampungan

keluarga Hong-san, tapi saat ini sedang menginap di situ." "Kau sudah bertemu dengan istrinya Li Tiong-yang?" "Tentu saja sudah"

"Kenon berkat latihannya yang tekun selama beberapa tahun belakangan ini, tenaga dalamnya sudah mengalami kemajuan pesat, apa benar berita itu?"

Sebenarnya Lim Han-kim ingin menjawab tak tahu, namun kata-kata tersebut segera ditelan kembali sebelum terlanjur diutarakan, katanya:

"Betul sekali, tenaga dalam nyonya Li memang mengalami kemajuan yang amat pesat selama berapa tahun terakhir ini, bahkan sudah mencapai puncak kesempurnaan" Kakek berambut putih itu segera mendengus dingin:

"Hmmmm sehebat-hebatnya seorang wanita, tak akan bisa mencapai puncak kesempurnaan yang paling hebat"

"Kelihatannya orang ini takut sekali dengan nyonya Li," pikir Lim Han-kim, "Tapi lagaknya saja seakan-akan tak terima kalah, aku mesti panasi dulu hatinya." Berpendapat begitu, dia pun berkata:

"Konon tenaga dalam yang dimiliki nyonya Li sudah mencapai tingkatan yang disebut melukai orang dengan timpukan daun, meski sudah lama ia tak muncul di dalam dunia persilatan, namun seluruh umat persilatan telah memandangnya sebagai jago nomor wahid di kolong langit."

Betul juga, begitu mendengar kata-kata tersebut kakek berambut putih itu langsung naik pitam, dihentaknya toya besi itu ke tanah hingga batu dan pasir beterbangan pekiknya: "Aku tak percaya, aku tak percaya..."

Lim Han-kim mencoba melindungi wajahnya dari percikan batu danpasir dengan tangan kirinya, sementara perhatiannya mulai dialihkan ke sekeliling tempat itu, mencari jalan untuk melarikan diri

Pekikan kakek berambut putih itu berhenti secara tiba- tiba, lalu untuk berapa saat lamanya tak kedengaran sedikit suara pun

Dengan perasaan heran Lim Han-kim coba mengintip. ternyata kakek itu masih berdiri kaku bersandar pada dinding tebing, hanya air mata tampak jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Dengan perasaan keheranan ia berpikir:

"Kakek ini pasti mengidap penyakit syaraf, masa tak ada apa-apa ia menangis begitu sedih?"

Ketika mencoba memperhatikan sepasang pemuda ceking itu, ternyata mereka berdua pun berdiri bersandar pada dinding tebing sambil pejamkan mata, tampaknya sedang mengatur pernapasan.

"Waaah, ini dia kesempatan baik bagiku untuk melarikan diri," pekik Lim Han-kim di dalam hati.

Hawa murninya segera dihimpun, lalu secara tiba-tiba ia melejit ke tengah udara dan meluncur ke atas batu cadas.

"Kurang ajar," umpat kakek itu amat gusar, "Belum pernah ada orang berhasil menyambung nyawa dari cengkeramanku" Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba Lim Han-kim merasakan pinggangnya kesemutan, tahu- tahu tenaganya lenyap tak berbekas dan tubuhnya roboh terjungkal ke atas tanah.

Tatkala tubuhnya hampir mencapai permukaan tanah, tiba-tiba pinggangnya disambar orang dan tahu-tahu sudah diangkat seseorang.

Lim Han-kim coba melirik. ia jumpai kakek tersebut sedang melolohnya dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, terdengar ia berkata:

"Selama hidup belum pernah kubiarkan seorang pun lolos dari cengkeramanku dalam keadaan hidup, Hmmm Hari ini kau beruntung bisa melihat wajahku, meski harus mati, sepatutnya mati dengan mata meram."

Toya bajanya segera diangkat ke udara dan pelan- pelan diayunkan ke atas kepalanya.

"Habis sudah riwayatku," pekik Lim Han-kim dalam hati, "Percuma aku bicara soal kebenaran dengan tua bangka yang sinting dan tak waras otaknya ini..."

Di saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar seseorang berteriak lantang: "Jangan lukai dia"

Ketika itu, ujung toya baja tersebut sudah hampir menghantam batok kepala Lim Han-kim, kakek gila tersebut seketika menarik kembali ayunannya begitu mendengar teriakan tadi.

Cepat Lim Han-kim berpaling ke arah mana datangnya teriak tadi, terlihat seebun Giok-hiong dengan tangan kanannya memegangi dadanya sedang berjalan mendekat dengan langkah lambat. "Orang ini jelas anggota perkampungan keluarga Hong-san, kenapa aku tak boleh membunuhnya?" pekik kakek berambut putih itu marah.

Seebun Giok-hiong tarik napas panjang-panjang seraya turunkan kembali tangan kanannya yang memegangi dada, sahutnya lembut:

"Kalau kukatakan tak boleh dibunuh, lebih baik jangan kau bunuh,"

"Kurang ajar," umpat kakek itu semakin gusar, "sengaja aku kemari untuk membantumu masa aku harus turuti perintahmu?"

"Ular tanpa kepala tak akan bergerak, burung tanpa sayap tak akan terbang, di antara kita berdua mesti ada salah seorang di antaranya menjadi pimpinan."

"Lantas siapa yang menjadi pemimpin?"

"Aku yang mengundang kalian untuk membantuku tentu saja akulah pemimpin kalian." Tiba-tiba kakek berambut putih itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:

"Hahahaha... kau masih begitu muda, masa aku setua ini harus menghormatimu sebagai pemimpin serta menuruti semua perintahmu?"

"Tak pernah dunia persilatan bedakan siapa tua siapa muda, yang berhasil dialah pemimpinnya, betul usiamu sudah lanjut, tapi kau patut menuruti perintahku" Cepat kakek berambut putih itu menggeleng.

"Bila aku mesti turuti perintah mu, bukankah seluruh umat persilatan akan mentertawakan kebodohanku?" "Lantas apa yang kau inginkan hingga bersedia menuruti perintahku?"

"Asal dengan ilmu silat kau mampu membuatku takluk dan tunduk. tentu saja aku akan turuti semua perintahmu."

"ltu mah gampang, ayoh kita beradu berapa gebrakan, dengan cepat kau akan ketahui berhak tidak ilmu silatku memerintah kau."

Lim Han-kim yang mengikuti pembicaraan tersebut diam-diam berpikir.

"Akibat pertarungannya melawan nyonya Li, tak enteng luka dalam yang dideritanya, malahan untuk berjalan pun ia mesti pegangi dada sendiri untuk menahan sakit, kini dia sudah berani menantang orang untuk berduel kembali, aaaai... sungguh jarang menjumpai perempuan segarang dan seganas ini..."

Dalam pada itu si kakek berambut putih itu sudah menghentakkan toyanya ke tanah sambil berseru:

"Baik, kau anggap aku takut kepadamu?"

Sembari mengerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia, seebun Giok-hiong menantang:

"Bagus sekali, dengan cara apa kita akan bertanding?

Bertarung secara lisan atau kekerasan?"

"Kalau namanya bertarung tentu saja harus bertarung dengan kekerasan, mana ada pertarungan secara lisan?"

"Padahal pertarungan secara lisan lebih sederhana dan singkat, cukup kita tentukan suatu sistim pertarungan yang berlaku kemudian masing-masing mentaati peraturan yang ada dan kita saling meng utarakan jurus serangan yang digunakan secara lisan, sebaliknya bila pertarungan dengan kekerasan, kita mesti gunakan segenap kemampuan yang dimiliki untuk saling diadukan, baik itu ilmu pukulan, ilmu senjata maupun ilmu senjata rahasia." Kakek berambut putih itu tertawa dingin.

"Hehehe... aku Thia sik-kong sudah hidup setua ini rasanya belum pernah kubuat segala peraturan dan tetek bengeknya sebelum melakukan pertarungan, lebih baik kita bertarung secara kekerasan saja."

"Bagus sekali Kalau begitu kau boleh menyerang duluan"

Thia sik-kong segera mengayunkan toya bajanya, dalam sekejap mata selapis bayangan toya yang membawa hawa dingin menyelimuti angkasa dan langsung membabat tubuh seebun Giok-hiong.

Dengan gesit dan cekatan seebun Giok-hiong mengelak ke samping meloloskan diri di kurungan bayang-bayang itu, ejeknya:

"Lama kudengar orang bercerita, katanya ilmu toya angin puyuhmu memiliki tenaga penghancur bak gulungan ombak di tengah samudra, tapi setelah kusaksikan sendiri saat ini... hmmm, ternyata kemampuannya cuma begitu-begitu saja, mana mungkin kepandaianmu itu bisa kau gunakan untuk menandingi nyonya Li?"

Gagal dengan serangannya yang pertama Thia Sik- kong telah siapkan serangan berikut-nya, namun ia segera hentikan serangan tersebut begitu mendengar ucapan dari seebun Giok-hiong, teriaknya: "Sementara waktu kita batalkan dulu pertarungan ini" "Kenapa?"

"Kehadiranku ke daratan Tionggoan kali ini bertujuan mengadu kepandaian dengan nyonya Li, kalau harus bertarung melawanmu, lebih baik kita lakukan setelah selesai pertarunganku melawan nyonya Li."

"Barusan aku telah bertarung satu gebrakan melawan nyonya Li." seebun Giok-hiong menerangkan.

"Kau berhasil melukainya?" desak Thia sik-kong agak gelisah. Nada suaranya penuh kecemasan dan kekuatiran.

Mula-mula seebun Giok-hiong agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa-tawa:

"Yaa, aku telah melukainya."

Tiba-tiba Thia sik-kong mengayunkan toya bajanya dan langsung dihantamkan ke depan. Dengan cekatan seebun Giok-hiong melejit ke samping menghindarkan diri, sambungnya: "Tapi luka yang kuderita jauh lebih parah ketimbang luka yang dideritanya."

Thia sik-kong menarik kembali toya bajanya dan amati seebun Giok-hiong beberapa kejap. tegasnya:

"Maksudmu luka yang diderita Nyonya Li jauh lebih ringan ketimbang lukamu?"

"Justru karena itulah aku baru berpendapat bahwa kau sulit untuk mengungguli Nyonya Li."

Lim Han-kim semakin kebingungan setelah mengikuti tanya jawab itu, pikirnya: "Siapa gerangan Thia sik-kong yang sinting dan tak waras itu? Kenapa dia pandang nyonya Li sebagai musuh besar yang begitu dibencinya? Anehnya, ketika mengetahui Nyonya Li terluka lantaran duelnya melawan seebun Giok-hiong, dia pun berniat adu jiwa dengan nona tersebut? sebenarnya dia itu teman atau musuhnya Nyonya Li? Aku tak habis mengerti dibuatnya..."

Sementara itu Thia sik-kong telah sandarkan diri ke atas batu tebing sembari bergumam:

"Bila aku keok lagi di tangannya, malu rasanya aku pulang ke negeri sayie ..."

"Hanya ada satu cara bila kau ingin mengungguli nyonya Li," teriak seebun Giok-hiong tiba-tiba.

"Apa caramu?"

"Turuti semua perintahku Aku pasti akan persiapkan sebuah rencana yang bagus agar kau dapat berduel melawan nyonya Li."

"Baiklah," kata Thia sik-kong kemudian sambil pejamkan matanya, "Kali ini kuturuti perintahmu"

Tanpa banyak bicara seebun Giok-hiong menarik tangan Lim Han-kim dan diajaknya pergi meninggalkan tempat itu.

Sikap dua pemuda berbaju hitam dan putih itu tetap kaku bagaikan patung, mereka seakan-akan tidak melihat kehadiran dua orang tersebut, jangan lagi menghadang, menegurpun tidak. Setelah melewati dua-tiga li dari tempat semula seebun Giok-hiong baru menghentikan perjalanannya sembari berkata:

"Makhluk tua itu agak edan dan tak waras otaknya, salah sedikit saja ia suka main membunuhi coba aku tak muncul tepat pada waktunya, mungkin kau sudah terluka parah oleh pukulan toya bajanya."

"Terima kasih banyak atas pertolongan nona."

Seebun Giok-hiong tarik napas panjang, dari sakunya ia mengeluarkan dua butir obat dan segera ditelannya, kemudian baru sambungnya:

"Kenapa kau tidak balik ke lembah Ban-siong-kok? Mau apa kau datang kemari? Apa sedang menjalankan perintah untuk memeriksa persiapanku di sini?"

"Kau kelewat percaya diri, seandainya kukatakan bukan, belum tentu kau mau percaya, baiklah, terserah apa tuduhanmu, akupun segan memberi penjelasan" seebun Giok-hiong menghela napas panjang.

"Lim Han-kim," katanya lembut, "Aku ingin beritahu kau akan beberapa masalah, harap kau bersedia mengingatnya selalu."

"Soal apa?" tanya Lim Han-kim tersenyum. "Sebenarnya ada sedikit perbedaan sikap bila aku

dibandingkan Li Tiong-hui maupun Pek si-hiang..."

"Tentang hal ini aku sudah lama mengerti." seebun Giok-hiong tertawa hambar "Sekalipun sudah lama paham, tentunya kurang menguasai bukan? Lebih baik aku terangkan sendiri kepadamu."

"Ehmmm, memang ada baiknya bila kau terangkan sendiri"

"Terus terang kuakui, sebenarnya akupun sangat menyukaimu, tapi perasaan sukaku agak berbeda jika dibandingkan rasa suka Pek si-hiang maupun Li Tiong-hui terhadapmu"

"Aku kurang mengerti."

"Cinta mereka kepadamu mungkin merupakan cinta dengan sepenuh hati, sebaliknya aku menyukaimu karena ada suatu prasyarat yang pasti."

Mendengar sampai di sini, Lim Han-kim tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha, kalau cinta kasih muda mudi harus didasari suatu syarat lantas apa jadinya dengan dunia percintaan remaja di dunia ini?"

"Oooh,jadi kau bandingkan aku sama dengan perempuan-perempuan pelacur yang menjajakan cinta karena mengharapkan imbalan?"

Lim Han-kim hanya tertawa dingin tanpa memberi komentar.

Setelah menghela napas sedih, seebun Giok-hiong berkata lebih jauh:

"Tiap kali aku sedang duduk melamun seorang diri, atau terjaga dari tidurku di tengah malam buta,aku pun selalu merindukan kau bahkan rasa rinduku amat mendalam dan menggebu-gebu, aku yakin perasaanku saat itu tidak kalah dengan Pek si-hiang ataupun Li Tiong-hui. Tapi begitu aku mulai bekerja, semua belenggu cinta muda mudi akan kutinggal jauh-jauh, aku

tak ingin dibuat repot oleh masalah cinta, kendatipun kau sesungguhnya merupakan satu-satunya pria yang paling kucintai di dunia ini..."

Tiba-tiba paras mukanya berubah amat serius, sepasang alis matanya melejit, sorot matanya setajam sembilu, sepatah demi sepatah lanjutnya:

"Tapi, jika kau berniat menghalang-halangi pekerjaanku... HHmmm, aku tetap tega untuk membinasakan dirimu."

"Bila nona berniat membunuhku, lakukan saja saat ini, tak perlu berputar-putar sampai ke ujung langit..."

"Sekarang, napsu membunuhku belum timbul, jadi lebih baik secepatnya kau pulang ke lembah Ban-siong- kok"

Pelan-pelan Lim Han-kim bangkit berdiri, katanya: "Kau tak menyesal melepaskan aku dari sini?" "Kenapa mesti menyesal?"

"Apa jadinya bila aku membantu Li Tiong-hui?"

"Sekalipun kau membantu Li Tiong-hui juga tak akan mempengaruhi situasi secara keseluruhan.."

Mula-mula Lim Han-kim agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa tergelak. Gelak tertawa yang tak terduga ini sebera mencengangkan seebun Giok-hiong yang cerdik, ia tak habis mengerti dibuatnya.

Sesudah termangu sesaat, tegurnya: "Apa yang kau tertawakan?"

"Nona kelewat pandang enteng kemampuan Lim Han- kim, sekalipun aku memang bukan tandingan nona, paling tidak aku sanggup membakar perasaan Pek si- hiang agar mengambil sikap memusuhi dirimu."

"Ooh, rupanya begitu..." seebun Giok-hiong tertawa. sesudah berhenti sejenak untuk tarik napas, lanjutnya:

"Seandainya pertarungan ini bakal berlangsung tiga bulan kemudian, aku percaya Pek si-hiang mempunyai kemampuan untuk selamatkan dunia persilatan dari ancaman badai pembunuhan ini. Tapi peristiwa besar tersebut sudah di ambang pintu sekarang, paling lama sepuluh hari, paling cepat tujuh hari kemudian badai pembunuhan secara besar-besaran akan segera digelar di lembah Ban-siong-kok ini. Aku tak percaya Pek si- hiang punya kehebatan sedahsyat itu hingga mampu mengubah situasi ini dalam sepuluh hari saja."

"Jadi maksud nona, kau pasti dapat menangkan pertarungan besar kali ini?"

"Kau sudah berjumpa dengan Thia Sik-kong bukan?

Dialah salah seorang dari dua tokoh tangguh yang kuundang untuk menghadapi nyonya Li, jangan lagi jago- jago biasa, bahkan aku sendiri pun belum tentu mampu menerima kedelapan puluh delapan jurus ilmu toya angin puyuhnya secara utuh, Betul ilmu silat Nyonya Li sangat hebat, tapi di saat ia berhasil mengungguli Thia Sik-kong, saat itu kekuatan tubuhnya pasti sudah terkuras banyak. Asal Nyonya Li sudah tersingkirkan, siapa lagi di dunia persilatan saat ini yang mampu menandingi aku, Seebun Giok-hiong?" Dengan kening berkerut Lim Han-kim berpikir.

"Jadi Seebun Giok-hiong bermaksud melakukan pertarungan secara bergilir untuk menghadapi nyonya Li? Betul-betul sebuah siasat yang keji dan memalukan"

Terdengar Seebun Giok-hiong berkata lebih lanjut sambil tertawa dingin:

"Aku berani beritahu soal ini kepadamu berarti tidak kuatir kau laporkan hal tersebut kepada nyonya Li, sekalipun kau bocorkan rahasia ini, belum tentu ia mampu untuk mencegahnya."

Lim Han-kim tidak banyak bicara iagi, ia putar badan dan segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Memandang bayangan punggung Lim Han-kim hingga lenyap dari pandangan, Seebun Giok-hiong menghela napas sedih, tak kuasa dua titik air mata jatuh beriinang membasahi pipinya.

Dengan langkah cepat Lim Han-kim menelusuri jalan setapak meninggalkan tempat tadi, sekejap kemudian tibalah dia di lembah Ban-siong-kok.

Tatkala mencapai mulut lembah, ia saksikan ada serombongan pendeta berjubah abu-abu dengan mengiringi seorang pendeta tua berjubah kuning sedang berjalan memasuki lembah.

Li Tiong-hui dengan pakaian serba hijaunya dan sebilah pedang tersoren di punggungnya sedang sibuk menyambut kedatangan rombongan itu Memandang pendeta tua berjubah kuning itu, dalam hati Lim Han-kim berpikir:

"Sudah pasti rombongan pendeta itu berasal dari kuil siau-lim-si, konon perguruan siau-lim-pay merupakan tonggaknya dunia persilatan, kalau ditinjau dari gaya mereka, rasanya memang jauh berbeda dengan rombongan lain."

Sementara ia masih termenung, mendadak terdengar seseorang berseru lantang: "Ketua Bu-tong-pay diiringi delapan murid utamanya tiba"

Lim Han-kim berpaling, ia saksikan ada sembilan orang tosu berusia pertengahan sedang bergerak mendekat,

Pendeta yang berdiri di paling depan adalah seorang tosu bercambang lima yang berwajah keren dan bertubuh gagah. Kembali Lim Han-kim berpikir

"Bu-tong-pay serta siau-lim-pay sama-sama disebut sebagai tonggaknya dunia persilatan, nama besar mereka amat termashur dalam dunia kangouw, entah siapakah tosu gagah ini?"

Sementara itu Li Tiong-hui telah membalikkan badan untuk menyambut kedatangan rombongan itu.

Tosu yang berjalan di paling muka itu segera menghentikan langkahnya seraya menjura, tanyanya:

"Apakah nona adalah Li Bengcu?"

"Yaa, aku Li Tiong-hui," jawab si nona sambil tersenyum, "Totiang adalah..." "Pinto adalah Thian Ceng-cu dari Bu-tong-pay." "Oooh, rupanya ketua Bu-tong-pay Li Tiong-hui

merasa amat bersyukur dan terharu atas kerelaan totiang

datang kemari demi keadilan dunia persilatan-.."

"Sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi panggilan Bengcu."

"Silakan ciangbunjin (ketua) masuk ke dalam lembah" Thian Ceng-cu tersenyum,

"Aku pun sudah lama mendengar akan nama besar lembah Ban-siong-kok. sungguh sangat beruntung aku dapat mengunjunginya hari ini."

"Ciangbunjin adalah seorang ketua partai, sudah barang tentu sangat jarang melakukan perjalanan dalam d unta persilatan.

"Ucapan Bengcu kelewat serius..." setelah berhenti sejenak, kembali katanya:

"Bagaimana situasi saat ini? Begitu menerima panggilan Bengcu, aku telah mengutus sebagian anak muridku untuk hadir lebih awal agar bisa membantu di sini, apakah mereka telah hadir?"

"Sudah, malah seebun Giok-hiong pun telah mengirim sebagian anak buahnya untuk mengacau di sini, kemungkinan besar dalam dua-tiga hari mendatang pertarungan bakal meledak."

"Berarti pertempuran sudah di depan mata?"

"Benar, untung saja tootiang serta jago-jago dari siau- lim-pay telah tiba di sini." "Bukankah pendeta berjubah kuning tadi adalah ketua dari siau-lim-pay..."

"Benar, memang Po-hong taysu."

"Luar biasa, luar biasa, seingatku dalam tiga puluh tahun terakir ini Po-hong taysu tak pernah tinggalkan kuilnya barang selangkah pun, tak disangka ia bersedia hadir di sini, hal ini membuktikan bahwa Beng cu punya pamor yang besar"

"Atas kesediaan totiang sekalian mau menghargai diriku, aku merasa amat berterima kasih ..."

Ketika ia menyaksikan Lim Han-kim muncul di situ, segera sambungnya:

"Setelah menempuh perjalanan jauh tentunya lotiang semua merasa lelah, silakan beristirahat dulu, besok tengah hari kita baru mulai berunding membicarakan langkah kita menghadapi musuh."

"Ada satu hal, boleh aku bertanya kepada Bengcu?" "Silakan saja bertanya."

"Selain jago-jago dari siau-lim-pay, kawanan jago dari perguruan mana saja yang akan hadir di sini?"

"Tentu saja sembilan partai besar. Hanya saat ini baru pihak siau-lim-pay serta perguruan Anda yang tiba duluan"

"Kecuali sembilan partai besar?"

"Ada empat puluh delapan orang jago dari pelbagai daerah telah hadir lebih duluan, kini mereka sedang beristirahat dalam lembah Ban-siong-kok." "Terima kasih banyak untuk penjelasan Bengcu," kata Thian Ceng-cu kemudian sambil memberi hormat, kemudian dengan langkah lebar melanjutkan perjalanannya,

Dari balik lembah segera muncul dua orang dayang berbaju hijau yang menghantar tamunya ke tempat istirahat.

Dalam pada itu Lim Tiong-hui telah berjalan menghampiri Lim Han-kim sambil menegur: "Kau sudah kembali?"

Lim Han-kim dapat merasa bahwa hubungannya dengan gadis itu seakan-akan bertambah asing dan terhalang jarak yang amat jauh, setelah tertegun sesaat dia mengangguk. "Yaa, aku sudah kembali."

"Telah bertemu lagi dengan seebun Giok-hiong?" "Benar, Dari mana nona bisa tahu?" Li Tiong-hui

tertawa hambar.

"itu sih gampang untuk ditebak, seandainya tidak bertemu seebun Giok-hiong, seharusnya kau sudah pulang sedari tadi."

"Oooh, rupanya begitu." Li Tiong-hui menghela napas panjang:

"Apakah dia kembali membujukmu agar meninggalkan lembah Ban-siong-kok untuk mencari tempat yang aman dan menjauhi urusan dunia persilatan?"

"Seebun Giok-hiong sangat percaya diri bahkan omongannya amat besar, seakan-akan pertarungan ini pasti dimenangkan olehnya, aku rasa tak mungkin lagi diajak damai."

"Ilmu silat banyak tergantung pada perhitungan jadi kemenangan atau kekalahan tak mungkin bisa ditentukan oleh ucapan saja."

"Yaaa... apa yang ingin seebun Giok-hiong sampaikan kepadamu kini telah kusampaikan kepada nona, soal mau percaya atau tidak. akupun tak bisa berbuat apa- apa."

"Apakah semua perkataan itu disampaikan sendiri oleh seebun Giok-hiong?"

"Selain seebun Giok-hiong, akupun telah bertemu dengan seseorang."

"Siapa dia?"

"Orang yang diundang seebun Giok-hiong untuk membantu pihaknya."

"Tahu siapa namanya?"

"Yaa, dia bernama Thia sik-kong, rambutnya sudah memutih, panjangnya malah sepinggul, senjata toya bajanya berbobot kurang lebih seratus kati, bukan cuma kasar, sifatnya berangasan dan kejam, sedikit-dikit membunuh orang."

"Thia sik-kong...? Thia sik-kong...? Rasanya kenal betul dengan nama ini... tapi kenapa tak teringat olehku siapa dia dan pernah bertemu dimana?" gumam Li Tiong- hui.

"Mungkin nona hanya pernah mendengar namanya tapi belum pernah bertemu dengan orangnya..." "Setiap umat persilatan pasti tahu bahwa perkampungan keluarga Hong-san punya pergaulan yang amat luas dan kenalan yang tak terhitung jumlahnya, dari mana kau bisa tahu kalau aku tak pernah bersua dengan Thia sik-kong itu?"

"Menurut apa yang kuketahui, rasanya sudah hampir dua puluhan tahun Thia Sik-kong tak pernah datang ke daratan Tionggoan, padahal umur nona belum sampai dua puluh tahun, dari mana kau bisa bertemu muka dengannya?"

"Berarti ibuku pasti kenal dengannya."

"Benar, kedatangannya memang disebabkan ibumu, agaknya pada masa silam dia pernah bertarung melawan ibumu tapi nasibnya malang, dalam pertarungan tersebut ia menderita kekalahan total, oleh sebab itu timbul perasaan benci yang sangat mendalam terhadap ibumu, Maksud kehadirannya ke daratan Tionggoan kali ini tak lain ingin membalas dendam sakit hatinya dulu, rupanya seebun Giok-hiong mengetahui hal ini dan memanfaatkan peluang tersebut untuk membantu pihaknya."

Sambil pejamkan mata Li Tiong-hui termenung beberapa saat, kemudian ujarnya:

"Alangkah baiknya bila kau bersedia bertemu dengan ibuku dan menceritakan kejadian tadi secara jelas kepadanya."

"Aku memang bermaksud begitu..." setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya: "Tampaknya Seebun Giok-hiong sudah bertekad hendak menciptakan badai pembunuhan di sini, meski aku telah berusaha membujuknya agar urungkan niat itu, namun yang kuperoleh malah sindiran dan cemoohan belaka..."

"Oleh karena itu kau amat mendendam-nya?" sambung Li Tiong-hui.

"Gara-gara ulah Seebun Giok-hiong yang membuat keonaran, dunia persilatan terlanda badai pembunuhan yang mengerikan, jangankan aku, setiap umat persilatan di dunia ini pasti akan menaruh rasa benci yang mendalam terhadapnya." Sementara itu terdengar lagi suara teriakan nyaring berkumandang datang: "Ketua dari Gobi-pay tiba"

Sambil menghela napas panjang Li Tiong-hui berkata: "Harap saudara Lim memaklumi keadaanku, selama

berapa hari belakangan ini pikiran dan perasaanku

memang agak risau dan murung, sehingga tanpa disadari ucapanku agak kasar dan tak enak didengar, bila ada kata-kata yang menyinggung perasaanmu, harap saudara Lim sudi memaklumi dan memaafkan."

"Nona sedang memangku jabatan tinggi dengan tugas yang berat di atas pundakmu, Lim Han-kim tak boleh berkecil hati..."