-->

Pedang Keadilan II Bab 44 : Perintah Palsu

 
Bab 44. Perintah Palsu

Walaupun ikat pinggang itu tersambar putus, namun Lim Han-kim segera manfaatkan tenaga tarikan yang masih tersisa untuk meluncur ke arah batang pohon, bersamaan waktunya ia sambar sebuah ranting pohon dengan tangan kirinya.

"Sreeeet, sreeeet..." Dua bilah pisau terbang diiringi desingan suara tajam menyambar lewat.

Lim Han-kim memutar pedang Jit-siang-kiamnya dengan cepat, "Traaaang" sebilah pisau terbang berhasil dipukulnya rontok. namun sebatang yang lain menyambar lewat dan langsung memotong ranting pohon dimana Lim Han-kim sedang berpegangan

Tak ampun lagi bersamaan dengan patah-nya ranting pohon itu, tubuh Lim Han-kim ikut terperosok pula ke tengah kerumunan ular beracun.

Bersamaan waktunya dengan meluncur jatuhnya tubuh Lim Han-kim, Li Tiong-hui ikut meluncur turun pula dari atas pohon, belum lagi kakinya menyentuh lantai, pedangnya sudah bergerak cepat.

Di tengah kilatan cahaya putih, percikan darah amis menyebar ke mana-mana, ular beracun yang berada tiga depa di seputar tempat itu terpapas kutung semua oleh sambaran pedangnya.

Pada saat itulah sepasang kaki Lim Han-kim persis melayang turun dan mencapai permukaan tanah.

"Saudara Lim" teriak Li Tiong-hui gelisah, "Cepat melompat naik ke atas pohon..." sembari berteriak dia melompat naik lebih dulu ke atas pohon besar itu.

Lim Han-kim segera menyusul dari belakang dan sama-sama melompat naik ke atas batang pohon.

"Lim siangkong." Terdengar suara Siau-cui bergema lagi, "Budak telah berusaha dengan sepenuh tenaga, salah sendiri Lim siangkong enggan menuruti nasehat budak. kalau sampai terjadi apa-apa, resikonya tanggung sendiri" Li Tiong-hui tertawa dingin:

"Hmmmm, siasat busuk apa lagi yang kau miliki, cepat keluarkan semuanya..."

"Hahahaha... nona Li," sela siau-cui sambil tertawa terkekeh-kekeh, "Nona kami pandai menggunakan aneka racun, tentunya kau sudah mengerti bukan?"

"Kalau sudah tahu mau apa?"

"Telah kami perhitungkan dengan matang, bila kalian terkurung oleh ular beracun itu maka satu-satunya jalan tinggal menghindar ke atas pohon besar itu, maka jauh sebelumnya kami telah lumuri pohon itu dengan racun jahat, aku yakin kalian berempat saat ini sudah terluka oleh racun jahat itu"

Li Tiong-hui coba meneliti keadaan di seputar pohon, benar juga, di antara rimbunnya dedaunan terlihat banyak sekali bubuk berwarna putih.

Buru-buru Tui-im merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan empat butir pil yang segera dibagikan seorang satu, setelah dirinya ikut menelan sebutir, budak itu baru berkata:

"Inilah pil anti racun yang diramu khusus oleh nyonya, cepat kalian telan pil itu." Dalam pada itu suara siau-cui kembali berkumandang:

"Bubuk racun yang ditebarkan di atas pohon itu meski dahsyat sekali daya perusaknya namun lambat sekali bekerjanya, tapi bila racun itu mulai bekerja kasiatnya, nasib kalian pasti akan habis, kecuali obat khusus ramuan nona kami sendiri, tak nanti ada obat lain yang bisa selamatkan jiwa kalian."

Po-hong yang jarang sekali berbicara, tiba-tiba menimbrung:

"Nona, budak itu mengira kita sudah keracunan, kenapa tidak kita gunakan siasat melawan siasat dengan pura-pura keracunan untuk memancing dia masuk perangkap?"

"Budak itu pintarnya bukan main, aku rasa tak gampang untuk memancingnya masuk perangkap."

"Sekalipun tidak masuk perangkap. toh kita tak boleh lepaskan kesempatan yang sangat baik ini untuk memperjuangkan kehidupan, siau-cui sudah menduga bahwa kita akan mengungsi ke atas pohon besar ini, berarti kecuali kawanan ular di seputar lembah Ban- siong-kok ini, dia pasti sudah siapkan juga jago-jago lihaynya di seputar sini, bila kita berani melakukan sesuatu tindakan, niscaya dia akan perintahkan anak buahnya untuk maju menyerang."

Dalam pada itu siau-cui kembali berteriak lantang setelah tidak mendengar suara jawaban dari lawannya:

"Kalau tidak percaya, kalian boleh mencoba atur pernapasan, segera akan kalian buktikan bahwa ucapanku bukan gertak sambal belaka." setelah berhenti sejenak, kembali terus-nya:

"Akan kuhitung sampai sepuluh kali kentongan bila kalian masih enggan menyerahkan diri, jangan salahkan siau-cui akan bertindak keji." Lim Han-kim gelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya tiba-tiba:

"Aneh... sungguh aneh." "Apanya yang aneh?"

"Tampaknya tempat ini punya arti yang sangat penting buat siau-cui." sementara mereka masih berbincang, suara kentongan yang pertama telah bergema.

Li Tiong-hui mengintip dari balik celah dedaunan, setelah perhatikan sekejap sekitar sana, ia membungkam diri

Mendadak Tui-im menarik ujung baju Po-hong seraya berbisik: "Adikku, tiba-tiba aku teringat satu cara untuk mengusir ular-ular tersebut"

"Bagaimana caramu?"

"Aku dengar ular paling takut dengan api, kenapa tidak kita gunakan api untuk menyerang ular-ular tersebut?"

"Caramu ini memang bagus, tapi bagaimana cara kita untuk turun tangan?" Tui-im tersenyum.

"Coba lihat tumpukan rumput kering yang berada dua kaki di depan sana, kita bisa turun bersama-sama, dengan kau melindungi diriku, aku menyerbu ke sana menyulut api, maka rumput tersebut tentu akan segera terbakar, hanya masalahnya punyakah keberanian dari cici untuk melakukan misi berbahaya ini?"

Po-hong turut tertawa. "Cici, kau kelewat pandang enteng diriku,"

Tanpa membuang waktu lagi ia segera melayang turun ke atas permukaan tanah.

"Nona," bisik Tui-im kemudian, "Budak akan berusaha pukul mundur kepungan kawanan ular itu lebih dulu, kemudian baru bertarung habis-habisan melawan budak itu."

Tanpa menunggu jawaban dari Li Tiong-hui, dia pun ikut meluncur turun dari atas pohon.

Begitu mencapai permukaan tanah, sepasang pedang kedua orang itu bergerak cepat, dimana cahaya tajam berkelebat lewat, percikan darah amis dan hancuran daging ular menyebar ke mana-mana. Lim Han-kim mencoba mengintip ke bawah. ia saksikan sepasang pedang kedua orang dayang itu telah membentuk selapis cahaya putih yang bergerak menuju ke arah tumpukan rumput kering, serbuan mereka yang begitu mantap seakan-akan menganggap di sana tak hadir begitu banyak ular. setengah berbisik Li Tiong-hui berkata:

"Ilmu pedang itu adalah ilmu pedang sapuan bawah hasil ciptaan ibuku, tak kusangka kemampuan mereka berdua telah mencapai tingkat kesempurnaan ilmu pedang ini memang cocok bila dipakai dalam kepungan musuh jumlah banyak."

"Kemampuan ibumu memang luar biasa sekali, bila dilihat dari begitu rapat dan ketatnya serangan yang khusus mengincar bagian bawah tubuh musuh, rasanya biar jago persilatan kelas satu pun belum tentu sanggup menghadapinya."

Dalam pada itu kedua orang dayang tadi sudah semakin mendekati tumpukan rumput kering itu, dengan cepat Tui-im mengeluarkan batu api, tapi sebelum ia sempat menyulut rumput kering itu mendadak terdengar beberapa kali desingan angin tajam meluncur datang.

Sudah cukup lama Tui-im dan Po-hong mengikuti nyonya Li, bukan saja ilmu pedang mereka amat sempurna, dalam ilmu senjata rahasia pun memiliki keberhasilan yang mengagumkan,

Begitu mendengar suara desingan itu, mereka segera tahu bahwa senjata rahasia sedang mengancam jiwanya, tanpa berpaling lagi mereka memutar sepasang pedangnya ke belakang. "Traaaang ... traaaang ,.." Diiringi suara dentingan nyaring, dua bilah pisau terbang itu mencelat tersambar pedang dan rontok ke tanah.

Sementara tangan kanannya pukul jatuh serangan senjata rahasia, tangan kiri Tui-im segera bekerja cepat menyulut api dan membakar rumput kering itu.

Tumpukan ranting kering yang berada di sana seketika berkobar menjadi lautan api begitu tersulut api, dalam waktu singkat api menyebar ke mana-mana dan asap hitam menyelimuti seluruh angkasa.

Gara-gara konsentrasinya lebih tercurah pada api, perhatian Tui-im bercabang, akibatnya seekor ular beracun melompat ke atas dan mematuk pergelangan tangan kirinya.

Buru-buru Tui-im memutar pedangnya sambil menyambar, percikan darah amis menyebar ke mana- mana, ular tersebut segera terpotong menjadi berapa bagian.

Lim Han- kim yang berada di tempat atas dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas, diam- diam timbul juga perasaan kagumnya atas keberanian Tui-im, pikirnya:

"Padahal Tui-im dan Po-hong hanya kaum wanita, tak nyana keberaniannya begitu mengagumkan sedang aku Lim Han- kim adalah seorang lelaki sejati, masa aku harus berpeluk tangan belaka?"

Berpikir sampai di situ, ia pun meluncur turun ke atas tanah, dengan pedang di tangan kanan, ranting pohon di tangan kiri, ia sapu dan babat habis kawanan ular di sekelilingnya.

Bersamaan waktunya Lim Han-kim meluncur ke bawah pohon, siau-cui dengan memimpin belasan- orang jagonya telah menyerbu datang dan mencegat Tui-im serta Po-hong, sementara siau-cui sendiri dengan membawa empat orang busu berbaju biru langsung menghampiri Lim Han-kim.

Kobaran api semakin membara, kawanan ular yang semula mengurung rapat sekitar tempat itu kontan saja bubar dan lari terbirit-birit.

Siau-cui dengan wajah penuh amarah langsung menerkam ke arah Lim Han-kim, bentaknya nyaring:

"Cepat buang senjatamu dan menyerahkan diri, apa kau benar-benar ingin bermusuhan dengan nona kami?"

Mula-mula Lim Han-kim agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa:

"Dengan kedua belah pihak aku Lim Han-kim tak punya budi maupun dendam, asaikan nona kalian bersedia mengurungkan ambisinya, aku..."

Siau-cui tidak banyak bicara, ia memberi kode dengan pedangnya, dua orang busu berbaju biru yang berada di belakangnya langsung menyerbu ke depan dan mengayunkan sen-jatanya.

Lim Han-kim tak mau kalah, dia putar juga pedangnya membendung datangnya serangan tersebut, dengan pedang pendek dia layani serangan dari kedua orang busu itu, sementara ranting di tangan kirinya digunakan untuk membunuh ular. Dalam pada itu siau- cui telah berteriak lantang: "Li Tiong-hui, berani kau bertarung mati-matian

melawan aku?"

"Lebih baik kalian bertiga maju bersama-sama" jengek Li Tiong-hui seraya menyapu sekejap siau-cui beserta kedua orang busunya.

Siau-cui membentak nyaring, pedangnya diputar langsung membacok ke atas kepala lawan.

Dengan gerakan "awan tebal dari angkasa" pedangnya menangkis pental senjata musuh, mengikuti gerakan itu dia balas membabat pinggang musuh, di balik pertahanan ia lancarkan pula sebuah serangan.

Tiba-tiba siau-cui seperti teringat akan suatu masalah yang penting sekali, mendadak ia tarik kembali senjatanya sambil melompat mundur, ujarnya:

"Nona Li, ada satu hal tidak kupahami, kau bersedia memberi petunjuk dan keterangan?" Agak lega juga perasaan Li Tiong-hui setelah melihat Tui-im, Po-hong serta Lim Han- kim mampu mengimbangi lawannya meski pertarungan berlangsung amat seru.

"Soal apa?" tegurnya ketus, "Bubuk racun ramuan nona kami sangat manjur dan lihay, jelas sudah kalian berempat telah keracunan tadi, kenapa racun itu belum juga bekerja dalam tubuh kalian?"

"Keluarga Hong-san merupakan gudang-nya obat- obatan, kau anggap racunnya seebun Giokshiong mampu mengapa- apakan kami?" "Jadi kalian telah menelan pil anti racun?" seru siau- cui dengan kening berkerut. Li Tiong-hui tertawa hambar.

"Benar, permainan busuk Seebun Giok-hiong masih belum seberapa hebat, kau anggap kemampuannya bisa dipamerkan di perkampungan keluarga Hong-san kami?"

"Kurang ajar" bentak Siau-cui gusar, "Kau berani menghina kemampuan nona kami?" Kembali ia menerjang ke muka sambil melancarkan sebuah bacokan kilat.

"Hey budak busuk," ejek Li Tiong-hui sambil tertawa dingin, "Kemampuanmu seorang masih bukan tandinganku, lebih baik kalian bertiga maju bersama- sama."

Meskipun sedang berbicara, permainan pedangnya tidak mengendor sedikit pun, bagaikan hembusan angin puyuh ia tangkis ancaman dari Siau-cui kemudian secara beruntun melepaskan tiga buah serangan balasan-

Ilmu silat dari keluarga Hong-san memang tersohor di seluruh dunia persilatan, inti sari dari kepandaian silatnya merupakan petilan dari inti sari ilmu silat pelbagai partai besar di dunia, tak heran bila permainan pedang dari Li Tiong-hui saat ini aneh sekali, termasuk perubahan jurus dari Bu-tong-pay, Kun-lun-pay maupun Go-bi-pay.

Termakan oleh ketiga serangan tersebut, siau-cui keteter hebat dan terdesak mundur beberapa langkah.

Semula kedua orang Busu berbaju biru itu hanya berdiri di sisi arena, tapi begitu melihat Siau-cui terdesak mundur, serentak mereka memutar senjatanya dan menyerang dari dua sisi.

Pertarungan sengit pun segera berkobar santara Li Tiong-hui melawan ketiga orang musuhnya, dalam waktu singkat seluruh arena telah diselimuti hawa pedang yang menggidikkan hati.

Kerja sama Tui-im dan Po-hong betul-betul hebat dan dahsyat, kendatipun mereka harus menghadapi empat orang Busu sekaligus, namun kedua dayang tersebut tetap berada di atas angin.

Justru karena lengan kiri Tui-im keburu terluka lebih dulu oleh patukan ular maka keempat orang lawannya masih bisa bertahan sementara waktu, coba tidak, mungkin mereka sudah keok semenjak tadi.

Di pihak lain, pertarungan antara Lim Han- kim melawan dua orang busu itu pun berjalan seimbang, dengan andaikan ketajaman senjatanya pemuda itu berhasil mengutungi senjata salah seorang lawannya, hal ini memaksa kedua musuhnya tak berani bentrok dengan senjata lawan, akibatnya posisi mereka pun tetap berimbang,

Pertarungan antara Li Tiong-hui melawan siau-cui berlangsung paling sengit, dengan kemampuan yang dimiliki siau-cui dimana ilmu silatnya jauh melebihi kedua orang busu tersebut, bukan saja jurus serangan yang digunakan rata-rata ganas dan keji, bahkan sasaran yang dituju pun merupakan bagian yang mematikan, hal ini memaksa Li Tiong-hui harus membagi perhatian yang lebih banyak untuk menghadapi sergapan tersebut. Sebaliknya kedua orang busu itu menjepit dari kedua sisi dengan memanfaatkan setiap peluang yang dijumpai, kendatipun jurus serangannya tidak seganas jurus siau- cui, namun kerja sama mereka bertiga sangat bagus dan sempurna.

Dalam pada itu kobaran api yang membakar ilalang membara semakin dahsyat, jilatan api yang membara boleh dibilang telah mengurung beberapa orang itu di tengah lautan api.

Tiba-tiba Tui-im membentak keras, secepat kilat ia lancarkan tiga buah tusukan berantai yang satu di antaranya segera melukai salah seorang Busu berbaju biru itu.

Sesungguhnya kepungan keempat orang Busu itu sudah makin kedodoran tadi, dengan terlukanya salah satu di antara mereka, maka pertahanan orang-orang itu pun semakin lemah.

Po-hong tak mau kalah, menyusul keberhasilan rekannya dia pun lepaskan dua serangan mematikan yang berhasil melukai kembali salah seorang musuhnya.

Tampaknya dua orang busu lainnya sadar bahwa mereka bukan tandingan lawan, tiba-tiba pedangnya ditarik ke belakang dan siap melarikan diri dari arena. Melihat hal itu Tui-im menjengek sambil tertawa dingin: "Hmmmm, keenakan betul kalian mau kabur.. ."

Sebuah tusukan kilat dilancarkan disusul Tui-im menerjang maju ke depan melakukan pengejaran, lagi- lagi ia berhasil menghadang jalan pergi musuhnya. Kedua orang dayang ini sadar bahwa situasi yang begitu gawat mengharuskan mereka selesaikan pertarungan ini makin cepat semakin baik, serangannya segera makin diperketat.

Tak sampai lima gebrakan kemudian kedua orang Busu itu sudah terluka pula oleh tusukan pedang lawan.

Luka yang diderita kedua orang Busu ini rata-rata terletak pada bagian tubuh yang mematikan, akibatnya mereka sudah tak mampu lagi untuk melanjutkan pertempuran.

"Adikku," bisik Po-hong kemudian, "Bagaimana keadaan lukamu?"

"Tidak apa-apa, cuma luka luar."

"Sekarang kobaran api sudah makin mengganas, kalau tidak cepat-cepat meloloskan diri, kita akan sulit melepaskan diri"

"Yaa betul." Tui-im membenarkan "Kau segera membantu nona, biar aku membantu Lim siang kong."

Po-hong menyahut dan langsung menerjang ke arah musuh-musuh yang sedang mengerubuti Li Tiong-hui.

Sedangkan Tui-im dengan dua kali lompatan saja telah mencapai sisi Lim Han- kim, serunya keras:

"Lim siang kong, biar kubantu dirimu."

Padahal ucapan tersebut tak ada artinya sebab pedangnya sudah bekerja cepat membabat lawannya,

Kemampuan dua orang Busu itu dalam melawan Lim Han- kim sebenarnya hanya berimbang saja, dengan kehadiran Tui-im sekarang, keadaannya otomatis berubah timpang.

Tak sampai enam-tujuh gebrakan ke-mudian, salah seorang busu berbaju biru itu sudah terluka oleh tusukan Tui-im.

Semangat Lim Han- kim segera bangkit kembali, dua serangan dadakan membuat busu yang kedua terluka pula oleh serangannya.

Ketika berpaling ke arena lain, tampak siau-cui masih bertarung sengit melawan kerubutan Li Tiong-hui serta Po-hong.

Kini tubuh siau-cui telah penuh dengan luka dan noda darah, namun ia tetap melakukan perlawanan sengit, tampaknya dia bermaksud memberi perlawanan hingga titik darah penghabisan.

Rupanya kehadiran Po-hong tadi dengan cepat berhasil melukai dua orang Busu berbaju biru itu.

Sambil memburu ke sisi arena Lim Han-kim berseru keras:

"Nona siau-cui, anak buahmu sudah terluka semua, kini tinggal kau seorang, daripada melawan terus lebih baik menyerah kalah saja"

"Hmmm, keluarga Hong-san segera akan tumpas," tukas siau-cui marah, "Biarpun hari ini aku bakal gugur, nonaku pasti akan membalaskan dendam kematianku ini."

"Kau si budak jelek liar betul," umpat Tui-im jengkel, "Lim siangkong, kau tak perlu membujuknya lagi, kalau dia memang pingin mampus, biar kami penuhi keinginannya itu." Dengan kecepatan bagaikan kilat ia lepaskan sebuah tusukan.

Siau-cui putar pedangnya membendung datangnya tusukan dari Tui-im, tak disangka saat itulah Po-hong melancarkan sergapan kilat dari samping arena.

Di bawah bimbingan nyonya Li sendiri, ilmu silat yang dimiliki Tui-im serta Po-hong boleh dibilang sangat tangguh, benar ilmu silat dari siau-cui sangat lihay, namun mana mungkin ia bisa membendung sergapan kedua orang lawannya? Di antara cahaya putih yang berkelebat lewat, bahu kirinya tertusuk telak.

Siau-cui membentak nyaring, sekuat tenaga ia lancarkan dua serangan untuk mendesak mundur Li Tiong-hui serta Tui-im, kemudian sambil mundur sejauh tiga depa, ia angkat kepalanya menghela napas panjang sambil mengeluh: "Wahai nonaku, aku telah berusaha dengan sekuat tenaga."

Tanpa banyak bicara dia gorok leher sendiri dengan pedangnya,

Untung Lim Han- kim bertindak cepat, ia maju ke muka sambil putar pedang Jin-siang-kiamnya untuk menangkis pedang siau-cui, menyusul kemudian ia cengkeram pergelangan tangan kanan lawan dan merampas senjatanya.

"Siapa suruh kau menolong aku?" bentak siau-cui sangat gusar. "Menang kalah sudah lumrah dalam pelbagai pertarungan kenapa nona harus mengambil jalan pendek?"

"Enyah... enyah kau dari sini..." teriak siau-cui sambil meronta-ronta, namun belum selesai ucapannya ia sudah sempoyongan dan roboh terjungkal ke tanah.

"Saudara Lim." Terdengar Li-Tiong-hui menegur dengan hambar, "Kau benar-benar berniat menolongnya?"

"Aaaaai... meskipun dia adalah dayangnya seebun Giok-hiong, toh dalangnya bukan dia, coba kau saksikan kesetiaannya terhadap majikan, sikap seperti ini sangat mengagumkan lagipula kematiannya tidak akan mengubah situasi pada umumnya, nona, ampunilah jiwanya" Li Tiong-hui menghela napas panjang.

"Saudara Lim, kau sungguh bijaksana dan berhati luhur, kedudukan Bengcu sudah sepantasnya menjadi milikmu.."

"Nona terlalu serius," sahut Lim Han- kim tertawa. "Kini kobaran apa telah membongkar semua

permukaan, jika kau ingin selamatkan jiwanya, cepat

bawa dia tinggalkan tempat ini."

Lim Han- kim berpikir sejenak. kemudian sambil membopong siau-cui dia tinggalkan tempat itu lebih dulu.

Dalam waktu singkat mereka telah meninggalkan daerah kebakaran itu. Mendadak Li Tiong-hui berhenti berjalan sambil katanya: "Saudara Lim, aku lihat urusan ini agak aneh, coba kau tanyakan kepadanya, dimana orang-orang yang dibawanya?"

Lim Han-kim menundukkan kepalanya, ia jumpai siau- cui pejamkan matanya rapat-rapat, mungkin sudah jatuh tak sadarkan diri, karena itu sahutnya seraya menggeleng "Lukanya cukup parah, mungkin ia sudah tak mampu memberikan jawabannya." Termangu- mangu Li Tiong-hui mengawasi lautan api di hadapannya sambil bergumam:

"Heran, padahal dia seharusnya bisa melarikan diri, kenapa perempuan itu justru ngotot bertarung mati- matian? Ketika saudara Lim selamatkan jiwanya, dia bukan berterima kasih malahan menunjukkan penderitaan batin yang luar biasa, seakan-akan hanya kematian yang bisa bebaskan dia dari penderitaan tersebut... apa yang sebenarnya telah terjadi dan menimpa dirinya?"

"Yaa, betul sekali ucapanmu itu," sambung Lim Han- kim pula, "Aku pun sangat keheranan atas peristiwa ini."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, mendadak dari tengah kobaran api itu bergema suara ledakan yang maha dahsyat, begitu dahsyatnya ledakan itu hingga seluruh bumi terasa bergetar keras, asap tebal pun segera menyelimuti seluruh angkasa.

Berubah hebat paras muka Li Tiong-hui setelah melihat kejadian ini, serunya tanpa terasa:

"Benar-benar sebuah perangkap yang keji dan jahat, untung Tui-im melepaskan api untuk membakar tempat ini." Tampaknya suara ledakan yang maha dahsyat itu menyadarkan juga siau-cui dari pingsannya, sembari membuka matanya lebar-lebar dia mengeluh:

"Oooh nona... habis sudah, habis sudah, siau-cui merasa berdosa padamu, aku malu bertemu dengan kau... oooh, biar mati pun aku tak bisa tenteram..."

Dalam pada itu Li Tiong-hui telah menggertak giginya menahan gejolak emosi yang membara, umpatnya tak terasa:

"Seebun Giok-hiong, kau memang perempuan bedebah, tak kusangka sama sekali bila hatimu begitu licik, keji dan buas, sedikitpun tak berperikemanusiaan." Mendadak terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin:

"Li Bengcu, menjelek-jelekkan nama orang di belakang yang bersangkutan merupakan perbuatan yang memalukan, kau tak kuatir menurunkan wibawamu sebagai seorang ketua dunia persilatan?"

Ketika Li Tiong-hui berpaling, terlihatlah seebun Giok- hiong dengan pakaian serba hitam dan membawa sebuah topi bambu telah berdiri kaku di hadapannya, jelas ia baru datang dari tempat yang jauh.

Begitu melihat kemunculan seebun Giok-hiong, Lim Han- kim segera membaringkan siau-cui ke tanah seraya berseru:

"Nona, kedatanganmu kebetulan sekali, budak kesayanganmu sudah terluka parah, kau harus menolongnya segera, kalau tidak. mungkin selembar jiwanya tak bakal ketolongan lagi." Dengan langkah lebar seebun Giok-hiong berjalan mendekat setelah menengok keadaan siau-cui sekejap. tegurnya: "siapa yang melukai dia?"

"Aku" sahut Tui-im dan Po-hong hampir bersamaan Setajam sembilu sorot mata seebun Giok-hiong

menyapu dua orang dayang itu sekejap. lalu katanya: "Kalian berdua pasti akan kuberi bagian"

Li Tiong-hui mendengus dingin, selanya: "Waktu dan tempat petarungan telah kita sepakati bersama, kita pun telah berjanji pada saat yang telah ditentukan kita akan bertarung habis-habisan, hmmmm sungguh tak kusangka kau gunakan kesempatan ini untuk membokong orang, bahkan gunakan siasat licik ini untuk memusnahkan kami. Untung saja siasat busukmu ketahuan lebih awal, coba kalau tidak... bukankah seluruh jago dan orang gagah di dunia akan celaka oleh pikiran licikmu itu?"

Seebun Giok-hiong berkerut kening, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia bungkukkan badan dan menepuk dada siau-cui satu kali.

Waktu itu sebenarnya siau-cui sudah tak sadarkan diri, tapi begitu dadanya ditabok seebun Giok-hiong, ia segera tersadar kembali.

Tidak memberi kesempatan kepada siau-cui bicara duluan, seebun Giok-hiong menghardik marah:

"Siapa yang perintahkan kau untuk menanam bahan peledak di sini?"

"Bukankah nona mengirim perintah dengan tusuk konde emas?" sahut siau-cui. "Dimana tusuk konde emas itu sekarang?" "Dalam saku hamba"

Seebun Giok-hiong segera merobek pakaian siau-cui dan mengambil tusuk konde emas yang dimaksud dari saku gadis itu. sambil tertawa dingin Li Tiong-hui segera menyindir. "Barang bukti sudah di depan mata, nona mau membantah apa lagi?"

Seebun Giok-hiong sama sekali tidak menanggapi sindiran Li Tiong-hui itu, diamatinya tusuk konde emas itu dengan seksama, kemudian dari sakunya dia mengeluarkan sebuah botol porselen, menuang dua butir pil dan dicekokkan ke mulut siau-cui seraya berkata:

"Cepat telan pil itu, kau harus pertahankan nyawamu untuk mencuci bersih nama baikku dari fitnahan ini."

Mendadak terdengar suara ujung baju terhembus angin bergema datang, ketika semua orang berpaling, tampak seorang perempuan setengah umur berwajah cantik dan mengenakan baju serba putih telah muncul di tempat itu.

"ibu..." pekik Li Tiong-hui seraya berlutut. si pendatang memang tak lain adalah nyonya Li.

Tui-im serta Po-hong serentak jatuhkan diri berlutut pula di hadapan majikannya, Nyonya Li ulapkan tangan kanannya sambil menukas: "Tidak usah banyak adat" Kemudian sambil berpaling ke arah seebun Giok-hong, terusnya: "Kau yang bernama seebun Giok-hiong?" 

"Betul" Nona itu mengangguk. "Selama ini aku jarang mencampuri urusan putriku, tapi cara yang nona pergunakan sekarang bukan hanya ditujukan untuk putriku saja, sebaliknya justru ingin memusnahkan seluruh perkampungan keluarga Hong-san kami"

Dengan sikap yang amat tenang seebun Giok-hiong membenahi rambutnya yang kusut, kemudian baru sahutnya:

"Siang malam menempuh perjalanan jauh baru saja boanpwee tiba di tempat ini, jadi aku tidak tahu sama sekali atas peristiwa yang baru terjadi di sini, lebih baik locianpwee jangan panik dulu, biar kuperiksa dayangku, siapa tahu dari mulutnya bisa kita ungkap latar belakang yang sebenarnya."

Nyonya Li menengok siau-cui yang berbaring di tanah itu sekejap. lalu menegur: "Lukanya cukup parah?"

"Tak menjadi masalah, ia telah menelan pil mujarabku, rasanya untuk tetap hidup sih bukan soal berat."

"Bagus, kalau begitu tanyalah"

Sementara itu melihat situasi bertambah tegang dan pertarungan setiap saat bisa berlangsung diam-diam Lim Han-kim berpikir

"Pihak nyonya Li selain ada Li Tiong-hui juga ada Tui- im dan Po-hong, kelompok mereka berjumlah empat terhitung sangat tangguh,sebaliknya seebun Giok-hiong hanya seorang diri, sehebat apa pun, ilmu silatnya sulit rasanya bagi dia untuk menangkan pertarungan ini." Sementara pemuda itu masih berpikir, seebun Giok- hiong telah berkata dengan suara dingin:

"Siau-cui, sudah sadarkan pikiranmu?" "Saat ini pikiran budak sudah amat jernih"

"Bagus, apa yang kutanyakan kepadamu berikut ini, jawablah dengan sejujurnya aku tidak takut dengan siapa pun atau sengaja, ingin mencuci bersih namaku dari peristiwa ini, aku hanya ingin buktikan kepada mereka bahwa untuk membasmi keluarga Hong-san tak perlu kugunakan cara serendah dan sehina ini."

"Ajukan saja semua pertanyaan nona, budak akan menjawab secara jujur danjelas."

"Masih ingatkah kau manusia macam apa yang telah menyampaikan perintah palsu ini kepadamu?"

"Seseorang berbaju serba hitam yang menggembel pedang di punggungnya."

"Maksudku bagaimana macam bentuk wajahnya" "Dia mengenakan kain kerudung berwarna hitam

hingga budak kesulitan melihat raut muka aslinya."

"Darimana datangnya begitu banyak bahan peledak ini?"

"Pemberian dari manusia berbaju hitam itu, dengan tunjukkan tusuk konde emas itu ia mengatakan bahwa dia diperintah nona untuk menghantar kemari bahan peledak tersebut, budak pun diperintahkan untuk membuat perangkap bahan peledak di daerah sini, katanya nona berniat menghadang datang seluruh jago persilatan dari perkampungan keluarga Hong-san ini, kemudian sampai saatnya bahan peledak ini akan disulut agar semua yang hadir di sini mati semua."

"Bagaimana pula bentuk manusia yang membawa bahan peledak itu sampai disini?" tanya seebun Giok- hiong lebih jauh.

"Semua mengenakan pakaian warna warni, persis seperti pasukan pengawal panca warna milik nona."

Mendengar sampai-di sini seebun- Giok-hiong pun menghela napas panjang, katanya pelan:

"Mereka dapat selidiki segala sesuatunya secara begitu jelas, ini membuktikan bahwa mereka sudah mempunyai persiapan serta perencanaan yang matang..." setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Siau-cui, sudah banyak tahun kau ikuti diriku, masa tak bisa kau bedakan kalau tusuk konde emas ini palsu?"

"Begitu melihat tanda perintah tusuk konde emas, budak hanya tahu taat dan mendengarkan perintah dengan seksama, karena menguatirkan budak tak sanggup menyelesaikan tugas berat dari nona secara sempurna, maka budak pun tak punya perhatian lagi untuk membedakan apakah tanda perintah itu asli atau palsu." seebun Giok-hiong segera berpaling ke arah Nyonya Li ucapnya:

"Nah, begitulah jalan ceritanya, begitu sederhana dan singkat, ada orang lain yang begitu benci dengan keluarga Hong-san kalian tapi tak berani tampil sendiri untuk membalas dendang maka ia pun sengaja mencatut namaku. Bagaimana? percaya tidak?" "Ehmmm, nampaknya sih tidak lagi bohong." Nyonya Li mengangguk. seebun Giok-hiong segera bungkukkan badan membopong siau-cui, katanya lagi:

"Aku hanya ingin mengutarakan kejadian yang sesungguhnya, sedang mengenai apa nyonya Li mau percaya atau tidak dengan kisah tersebut, itu tak ada sangkut pautnya lagi dengan aku."

Kemudian sambil membalikkan badan, tambahnya: "Sekarang minggirlah, aku harus pergi dari sini" .

"Tunggu dulu" bentak Li Tiong-hui.

Setajam sembilu sebun Giok-hiong melototi wajah Li Tiong-hui. "Masih ingin bicara apa lagi nona?" jengeknya.

"Untuk sementara ini biar aku percayai omonganmu tadi bahwa bahan peledak tersebut bukan nona yang utus orang untuk menanamnya di sini, tapi satu hal sudah jelas telah dilakukan budak kesayanganmu itu, sebelum tiba saatnya budakmu telah menghadang orang- orang yang hendak hadir di perkampungan keluarga Hong-san, apa tugas ini juga bukan atas perintah dari nona?"

"Memang aku yang mengutus siau-cui datang kemari." "Apa maksudmu mengutus siau-cui datang kemari?"

Sambil berpaling ke arah Lim Han- kim dan menatap sekejap pemuda tersebut, sahut sebun Giok-hiong:

"Aku suruh dia mengirim sepucuk surat yang ditujukan buat saudara Lim itu, tentunya dia telah menunjukkan surat tersebut kepada nona Li bukan?" "Kalau cuma bermaksud kirim surat untuk orang kesayanganmu, cukuplah kirim satu orang saja, kenapa kau suruh Siau-cui membawa serta begitu banyak jago tangguh?"

"Siau-cui pernah menyerang masuk ke dalam perkampungan keluarga Hong-san kalian?"

"Sekalipun belum pernah menyerang lembah Ban- siong-kok, dia telah melukai beberapa orang rekan persilatan yang ingin hadir dalam pertemuan ini."

Pelan-pelan Seebun Giok-hiong membaringkan kembali Siau-cui ke atas tanah, katanya:

"Li Tiong-hui, kau tak usah mencari gara-gara, bila kau anggap saat ini merupakan kesempatan terbaik bagimu untuk membunuh Seebun Giok-hiong, cari saja alasan yang lebih sederhana untuk turun tangan"

Li Tiong-hui berpaling memandang ibunya sekejap, namun wajah perempuan setengah umur itu diliputi warna dingin dan hambar yang sukar ditebak apa makna yang sebenarnya dari sikap tersebut.

Sementara ia sedang serba salah, mendadak terlihat Tui-im dan Po-hong telah maju bersama seraya meloloskan senjata mereka.

"Sudah lama budak berdua mendengar akan kehebatan ilmu silat nona Seebun, bersediakah nona memberi petunjuk kepada kami?" katanya.

"Kalian bukan tandinganku lebih baik suruh orang lain saja" Jelas maksudnya menantang nyonya-Li. "Seandainya budak mati ditangan nona, anggap saja sebagai ketidak becusanku sendiri, biar harus mati pun tak perlu disesali" desak Tui-im lebih jauh.

"Baiklah, bila kalian bersikeras ingin merasakan kehebatanku, tak kan kukecewakan harapan kalian berdua, ayoh... majulah bersama"

Sikapnya begitu tenang, santai dan acuh tak acuh, seakan-akan kemampuan kedua orang musuhnya sama sekali-tak dipandang sebelah mata pun.

Tui-im dan- Po-hong saling bertukar pandangan sekejap, kemudian serentak mereka getarkan pedangnya dan siap melancarkan serangan

Tampaknya kedua orang dayang ini tahu bahwa musuh yang mereka hadapi sekarang adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpainya selama ini, karena itu mereka tak berani bertindak secara gegabah.

Seebun Giok-hiong berdiri tak bergerak. dia menunggu sampai sepasang pedang tersebut hampir mengenai badannya sebelum tiba-tiba maju selangkah dan secara lincah melepaskan diri dari ancaman tersebut.

Gagal mengenai sasarannya kedua orang dayang itu segera menarik senjatanya melindungi diri

"Tak perlu tegang," ejek seebun Giok-hiong dingin, "Aku akan mengalah tiga jurus untuk kalian."

Baru saja kedua orang dayang itu siap melancarkan serangan kembali, mendadak terdengar seseorang membentak nyaring: "Tunggu dulu" Ternyata Pek Si-hiang dibopong oleh Siok-bwee dan Hiang- kiok sedang bergerak mendekat dengan cepatnya.

Nyonya Li segera berkerut kening, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan.

Setibanya di sisi arena, siok-bwee dan Hiang- kiok pelan-pelan turunkan Pek si-hiang ke tanah.

Sambil tersenyum lembut Pek si-hiang bangkit berdiri dan maju ke depan arena, sapanya:

"Enci seebun, baik- baikkah Anda selama ini?"