Pedang Keadilan II Bab 42 : Jari Lembut Penangkal Pedang Racun

 
Bab 42 Jari Lembut Penangkal Pedang Racun

Dalam waktu singkat suatu pertempuran yang dahsyat berlangsung di tempat itu, hawa pedang yang berlapis- lapis menyelimuti setiap sudut ruangan sementara bayangan toya menari di antara lapisan tersebut.

Siok-bwee dan Hiang-kiok buru-buru membopong Pek si-hiang bersembunyi di sudut ruangan, sebaliknya Gadis naga berbaju hitam hanya mengawasi jalannya pertarungan itu dengan wajah tertegun, ia tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Pada mulanya jurus serangan yang digunakan Pek siang meski ganas dan menakutkan, namun jurus tersebut bukan jurus serangan yang mematikan, tapi selewatnya berapa gebrakan, gerak serangannya makin ganas dan mematikan, bahkan semua ancaman tersebut tertuju ke titik-titik kematian di tubuh Phang Thian-hua.

Sesungguhnya bagi Phang Thian-hua pribadi sama sekali tak ada niat untuk bertarung melawan Pek siang, dia cuma bermaksud menghalanginya membunuh Pek si- hiang, tapi setelah berhadapan dengan serangan maut Pek siang yang mengancam keselamatan jiwanya, mau tak mau dia harus melancarkan serangan balik dengan sepenuh tenaga.

Di dalam ruangan yang sempit dan kecil, Pek siang meraih posisi yang lebih menguntungkan, dengan pedangnya yang ringan ia dapat bergerak lincah dan cekatan dalam ruang sempit itu, berbeda sekali dengan Phang Thian-hua, senjata toyanya panjang lagi berat, dalam ruang sempit pun kurang leluasa untuk dikembangkan akibatnya ia sangat dirugikan dalam posisi tersebut. Dalam pada itu serangan yang dilancarkan Pek siang makin lama makin bertambah ganas dan mematikan, lambat laun Phang Thian-hua mulai keteter dan tak sanggup mempertahankan diri.

Gadis naga berbaju hitam cukup mengenal watak suaminya, ia sadar hawa napsu membunuh telah menyelimuti perasaannya, jikalau Phang Thian-hua sampai terbunuh dalam peristiwa tersebut, dapat dipastikan urusan akan berkembang semakin runyam. Maka secara diam-diam ia loloskan pedangnya dan siap untuk melerai pertarungan ini.

"Berhenti" Mendadak terdengar suara bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan.

Begitu mendengar hardikan tersebut, buru-buru Phang Thian-hua menarik kembali senjatanya sambil melompat mundur

Berbeda dengan Pek siang, ia begitu bernapsu melancarkan serangan mematikan hingga tak sempat lagi baginya untuk mengendalikan diri, "sreeet" pedangnya langsung menusuk ke bahu kiri Phang Thian-hua.

Di antara kilatan cahaya tajam, darah segar segera bercucuran membasahi lantai.

Terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, segulung desingan angin tajam langsung menggembur pergelangan tangan kanan Pek siang.

Menyadari datangnya ancaman tersebut, Pek siang berusaha menghindarkan diri tapi sayang terlambat sudah, pergelangan tangannya terasa kaku, tahu-tahu pedangnya sudah terlepas dari genggaman. Cepat-cepat dia menoleh, tampak nyonya Li dengan wajah sebeku salju telah berdiri kaku di muka pintu.

"Nyonya Li?" bisik Pek siang dengan wajah membesi, pelan-pelan dia pungut pedangnya dari lantai.

"Yaa betul" jawab nyonya Li hambar

Pek siang merasa lengan kanannya masih kaku dan kesemutan, maka dia pungut pedangnya dengan tangan kiri, setelah itu ia baru berkata dengan suara dingin:

"Sentilan jari tangan nyonya Li sungguh hebat, hanya dalam satu sentilan saja dapat merontokkan pedangku, kau memang luar biasa."

Pelan-pelan nyonya Li melangkah masuk ke dalam ruangan, katanya:

"Bila Anda berkelahi dalam perkampungan keluarga Hong-san, sama artinya kau tidak pandang sebelah mata terhadap kami." Pedang racun Pek siang mendengus dingin:

"Hmmm, sudah lama kudengar nama besar perkampungan keluarga Hong-san, beruntung sekali bagiku bila nyonya bersedia memberi petunjuk beberapa gebrakan kepadaku."

Nyonya Li kelihatan agak tercengang, tapi hanya sebentar kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala, tanyanya pelan: "Kau ingin bertarung melawanku?"

"Yaa, aku ingin menjajal kehebatan nyonya." "Untuk sementara ini lengan kananmu belum bisa

digunakan untuk menggenggam pedang tiga hari

kemudian kondisimu baru akan sembuh seperti sedia kala, bagaimana kalau kita tunda sampai tiga hari kemudian?"

"Tidak usah, dengan menggunakan tangan kiri pun sama saja."

"Aku termasuk sahabat karib putri Anda, tidak pantas bila kita berdua berkelahi," kata nyonya Li dengan kening berkerut

"ltu masalah putriku sendiri, apa sangkut pautnya dengan aku?"

"Oooh, jadi kau memaksa aku untuk bertarung?" "Betul."

"Kalau begitu lebih baik kalian berdua suami istri turun tangan bersama," ucap Nyonya Li setelah memandang Gadis naga berbaju hitam sekejap.

"Tidak usah, urusan ini adalah masalah aku Pek Siang pribadi, tak ada sangkut pautnya dengan istriku."

"Sesungguhnya sudah banyak tahun aku tak pernah bertarung melawan orang lain, baik ilmu pedang maupun tangan kosong, tapi kau memaksaku terus menerus, tampaknya apa boleh buat lagi, baiklah, kamu berdua boleh turun tangan berbareng, mungkin dengan kekuatan kalian berdua masih bisa menerima berapa jurus seranganku. jika kau turun tangan seorang diri, aku kuatir tak sampai sepuluh gebrakan pun kau sudah keok."

"Bila aku sampai mati di tangan nyonya, anggap saja hal ini karena kebodohanku sendiri yang tak rajin melatih diri, aku tak bakal menyalahkan siapa pun." Tidak banyak membuang waktu lagi ia getarkan pedangnya dan langsung menusuk ulu hati nyonya Li.

Dengan wajah serius Nyonya Li tetap berdiri tegak di posisi semula, dia menunggu sampai pedang tersebut hampir mengenai badannya sebelum tubuhnya miring ke samping kiri dan meloloskan diri dari ancaman tersebut secara cekatan-

Gagal dengan serangan pertama Pek Siang tidak segera menarik kembali senjatanya, tiba-tiba ia mengubah posisinya, dari tusukan kini ia lepaskan sebuah babatan miring.

Serangan ini sangat kejam dan jahat, pabila nyonya Li tak sanggup menghindarkan diri, niscaya ia akan terluka parah oleh serangan tersebut

Dalam pada itu Phang Thian-hua telah berusaha membubuhi obat pada luka luarnya, ia jadi amat gusar setelah menyaksikan serangan Pek siang yang begitu kejam, pikirnya:

"Orang ini memang kelewat keterlaluan, kalau tidak diberi pelajaran, ia tentu semakin sombong..."

Sementara dia masih berpikir, nyonya Li sudah menyentilkan jari tangannya ke depan.

Jurus serangan ini kendatipun dilancarkan belakangan ternyata sasarannya tercapai lebih duluan, secara tepat sekali sentilan jari tangan Nyonya Li itu membentur di atas gedang lawan.

Bagaikan terhajar suatu tenaga getaran yang maha dahsyat, tahu-tahu senjata Pek siang itu bergetar dan menggeliat ke arah lain. Tampaknya senjata itu seakan-akan hendak terlepas dari genggamannya, namun Pek siang menggenggamnya dengan sepenuh tenaga dan mempertahankannya mati- matian. Nyonya Li tertawa hambar, sekali lagi ia sentilkan jari tangannya ke depan.

Segulung desingan angin tajam menyambar lewat dan tepat menghajar pergelangan tangan kiri Pek siang.

Kali ini Pek siang merasa pergelangan tangannya menjadi kaku, seluruh kekuatan tubuhnya hilang tak berbekas, pedangnya tak sanggup digenggam lagi dan tak ampun segera terlepas dan jatuh ke tanah.

Dengan wajah sedingin salju nyonya Li memandang Pek siang sekejap. lalu tanyanya: "sudah mengaku kalah?"

Kini pedang racun Pek siang sudah sadar bahwa ilmu silatnya masih ketinggalan jauh bila dibandingkan kepandaian lawan, di samping itu rasa kaku dan kesemutan yang melanda sepasang pergelangan tangannya belum hilang sama sekali, ini menyebabkan ia tak mampu menggunakan pedang lagi untuk sesaat, kendatipun rasa tak puas masih melanda perasaan hatinya, namun mau tak mau dia harus mengakui juga kekalahannya. setelah melirik Gadis naga berbaju hitam sekejap. tegurnya dingin.

"Kau lebih butuh anakmu atau suamimu?"

Gadis naga berbaju hitam tertegun sesaat, lalu katanya: "Masa kau tak mengingat sedikitpun hubungan darah antara diri kalian dan meninggalkannya dengan begitu saja?"

Pek siang semakin sewot, tukasnya:

"Kalau anak lebih kau pentingkan, jangan harapkan suamimu lagi." selesai berkata dia putar badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu

Pelan-pelan nyonya Li melangkah masuk ke dalam ruangan, sambil tertawa hambar katanya kepada Gadis naga berbaju hitam: "Sepantasnya kau susul suamimu itu"

"Aaaai, yang satu anak yang lain suami, susah bagiku untuk mengambil keputusan"

"Biarkan saja dia pergi" sela Pek si-hiang tiba-tiba, "lbu tetap tinggal di sini saja menemani aku."

"Betul tabiat ayahmu kasar, berangasan dan gampang naik darah, padahal perhatian serta rasa sayangnya kepadamu sangat mendalam, demi kau, selama tahun- tahun terakhir ini dia telah menjelajahi seluruh jagad untuk mencari tabib kenamaan dan obat mestika bagimu, coba kau lihat, gara-gara menguatirkan keselamatanmu rambutnya sudah mulai beruban"

"Tapi ananda pun demi kebaikan ayah," ucap Pek si- hiang sedih,

"Yaa, aku cukup memahami rasa baktimu terhadap orang tua."

"Watak ayah berangasan dan kasar, hanya salah bicara saja sudah cabut pedang membunuh orang, padahal berapa hari lagi semua jago dari kolong langit akan berkumpul di sini, kalau berbicara dari watak ayah, tak bisa dipungkiri banyak perselisihan akan terjadi gara- gara ulahnya, terhadap diriku boleh saja dia mencaci maki semaunya, tapi apakah orang lain mau bersikap ramah kepadanya? Coba bayangkan, bukankah sampai waktunya justru dialah yang banyak membuat gara- gara?" Gadis naga berbaju hitam menghela napas sedih:

"Aaaai... bagaimana lagi, memang begitulah watak ayahmu, tapi selama belasan tahun aku berkumpul dengannya, aku tak begitu merasakan bagian mana dari ayahmu yang kurang berkenan di hati."

Tiba-tiba nyonya Li menyela:

"Kalau bukan memandang pada wajah putrimu, jangan harap Pek siang dapat tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."

Gadis naga berbaju hitam tidak memberi komentar, dengan mata kepala sendiri ia sudah melihat kehebatan ilmu silat Nyonya Li, ia mengerti ilmu silat Pek siang masih bukan apa-apanya perempuan ini, seandainya nyonya Li bermaksud mencabut nyawanya pun, hal tersebut bukan suatu pekerjaan yang kelewat susah.

Pek si-hiang segera meronta bangun dan menyembah kepada nyonya Li sambil katanya: "Biarlah boanpwee mewakili ayah untuk mohon maaf kepadamu nyonya Li." Dengan lembut nyonya Li membangunkan Pek si-hiang, ucapnya:

"Dalam dunia persilatan saat ini hanya kau seorang yang bisa cocok denganku, mulai detik ini kita adalah sahabat karib, jadi kau tak perlu bersungkan-sungkan lagi."

"Terima kasih banyak atas perhatian nyonya," "Beristirahatlah di sini dengan tenang, tengah malam

nanti akan kuutus orang untuk menjemputmu menuju

gedung Tay-sang-kek."

"Nyonya begitu sayang kepadaku, Pek si-hiang tak tahu bagaimana harus membalasnya kemudian hari."

"Kau sudah kelewat banyak membalas budi itu, jadi tak usah sungkan-sungkan lagi." Bicara sampai di sini, dia pun putar badan dan beranjak pergi.

Sepeninggal nyonya Li, Pek si-hiang baru berpaling ke arah Phang Thian-hua sambil bertanya:

"Parah tidak luka yang diderita locian-pwee?" Phang Thian-hua tertawa terbahak-bahak:

"Hahahaha... lukaku tak terhitung seberapa, aku Phang tua masih mampu menahannya."

"Aku mengerti, demi aku maka kau sengaja mengalah kepada ayahku, budi kebaikan ini pasti akan kubayar di kemudian hari."

"Nona Pek kelewat serius, semua umat persilatan di dunia saat ini merasa berhutang budi kepada nona Pek. jadi urusan sekecil itu tak perlu kau pikirkan.." sesudah melirik Gadis naga berbaju hitam sekejap. lanjutnya:

"Tentu kalian ibu dan anak sudah lama tak bertemu dan ingin bicara sepuasnya, aku tak akan mengganggu lagi." Seraya berkata ia beranjak pergi. Memandang hingga bayangan tubuh phang Thian-hua lenyap dari pandangan, gadis naga berbaju hitam baru menghela napas panjang:

"Aaaai... kalian anak dan ayah sungguh berbeda, ayahmu berwatak aneh dan susah bergaul dengan siapa pun, sebaliknya kau justru dihormati setiap orang."

"Aaaah, siapa bilang, justru mereka enggan mengusik diriku karena aku tak lebih hanya seorang gadis lemah."

"Nak, kau selalu pintar. tahukah kau kenapa ibu tidak pergi menyusul ayahmu?"

"Ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan kepadaku?" "Yaa benar, kau memang sangat pintar . . ." Gadis

naga berbaju hitam manggut-manggut, kepada siok-

bwee dan Hiang-kiok dia memberi tanda sambil terusnya:

"Berjaga-jagalah kamu berdua di muka pintu, siapa saja yang mendekat segera lapor kedalam."

Siok-bwee serta Hiang-kiok menyahut dan bersama- sama keluar dari ruangan.

"lbu" Pek si-hiang menghela napas, "Ada suatu urusan penting yang ingin kausampikan kepadaku?"

Gadis naga berbaju hitam mengangguk.

"Yaa, sudah lama kejadian ini mengganjal dalam hatiku, rasanya kurang leluasa bila tak kuutarakan keluar."

"Katakan saja ibu, akan kudengarkan dengan seksama." Gadis naga berbaju hitam termenung sejenak kemudian katanya:

"Tahukah kau nak bahwa ibumu sekarang bukan ibu kandungmu?"

Mula-mula Pek Si-hiang agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa hambar:

"Soal ini ananda tidak tahu, ibu selama ini sangat baik kepadaku, aku pun selamanya menganggap ibu sebagai ibu kandungku sendiri"

"Aku mengerti, tapi tahukah kau kenapa secara tiba- tiba ibu menceritakan rahasia ini kepadamu?"

"Aku tak tahu, mohon ibu memberi petunjuk." "Aaaai... sebetulnya ayahmu telah berpesan,

bagaimana pun kejadiannya rahasia ini tak boleh

kusampaikan kepadamu."

"Kelewat banyak masalah yang dikuatirkan ayah, aku bisa memaklumi pabila ayah bersikap demikian.."

Ditatapnya gadis naga berbaju hitam sekejap. lalu membungkam dan tak bicara lagi.

Mereka berdua saling berpandangan sampai lama sekali tanpa berkata-kata, akhirnya Gadis naga berbaju hitam yang bicara lebih dulu: "Nak, kenapa kau tak bertanya kepadaku?"

"Bertanya apa?"

"Berita tentang ibu kandungmu?"

"lbu begitu sayang dan perhatikan diriku, aku merasa terharu dan berterima kasih sekali." "Hari ini aku putuskan untuk membuka rahasia ini tak lain karena aku ingin menyampaikan berita tentang jejak ibu kandungmu itu."

Seteguh apa pun hati Pek Si-hiang, tergetar juga hatinya sekarang, ia tertegun sesaat sambil bergumam:

"Maksud ibu . . , ibu kandungku masih hidup?" "Betul, ia masih hidup segar bugar." setelah angkat

wajahnya sambil menarik napas panjang, Gadis naga

berbaju hitam kembali melanjutkan.

"Bila ayahmu tahu kalau aku sudah bocorkan rahasia ini kepadamu, mungkin dia segera akan menghabisi nyawaku" Pek si-hiang menghela napas sedih, selanya: "Ibu, kau tahu ibu kandungku berada dimana sekarang?"

"Nak. kau harus menyanggupi sebuah permintaanku lebih dulu sebelum ibu membuka rahasia besar ini."

"Jangankan seribu, sejuta pun pasti kusanggupi, cepat katakan ibu"

"Sanggupi dulu permintaanku, jangan kelewat emosi, jangan mendendam lagi dengan ayahmu."

"Baik, aku kabulkan semua permintaan itu, sekarang katakanlah ibu"

"lbu kandungmu ada di perkampungan bukit Hong- san"

Bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi, Pek si- hiang tersentak sampai berdiri dari pembaringan, serunya tertahan:

"Apa? ibu kandungku berada di perkampungan keluarga Hong-san?" "Cukup, hanya sebatas ini yang bisa kujelaskan pada mu sekarang, terserah ibu kandungmu mau mengenali dirimu atau tidak. bila dia bersedia mengakui pasti semua kejadian masa lampau akan dia beberkan kepadamu, sebaliknya bila dia enggan mengenali dirimu lagi, biar kau berlutut sampai matipun juga tak ada gunanya. Nah kau harus baik-baik menjaga diri nak. aku harus pergi sekarang."

"lbu, tunggu sebentar..." teriak Pek si-hiang gelisah.

Sambil berteriak ia melompat bangun dan berusaha menubruk ke arah ibunya.

Sebagaimana diketahui, kondisi tubuhnya saat ini sangat lemah, tak lama ia melompat bangun, tubuhnya segera roboh terkulai kembali dengan lemas. Tergopoh- gopoh Gadis naga berbaju hitam menyambar tubuhnya sambil menggerutu. "Nak. kenapa kondisi tubuhmu makin lama makin bertambah buruk?"

"lbu, kabulkan sebuah permintaanku..." bisik Pek si- hiang dengan napas tersengal-sengal.

"Maaf nak, aku tak dapat menyebut nama secara terang-terangan, sebab hal ini menyangkut nama baik serta reputasi seseorang, bila ibu berterus terang, bukan cuma terhadap kau dan aku. terhadap orang lain pun tak baik, jadi kau pasti dapat memaklumi kesulitan ibumu sekarang, sebagai gadis yang cerdik kau tentu paham bukan dengan maksudku?"

Air mata pelan-pelan jatuh bercucuran membasahi wajah Pek si-hiang, agak sesenggukan bisiknya lirih:

"Nyonya Li kah ibu kandungku itu?" "Sudah kuduga, kau tentu bertanya begini padaku, tapi sekali lagi minta maaf, ibu tak dapat mengatakannya."

Pelan-pelan Pek si-hiang merebahkan diri, kembali ujarnya sambil menghela napas:

"Aku mengerti, ibu punya kesulitan yang tak bisa diutarakan, tak baik aku mendesaknya lagi, tapi kumohon ibu bersedia mengabulkan satu permintaanku."

"Katakan"

"Tinggallah di sini dan temani aku berapa hari."

Setelah termenung sejenak Gadis naga berbaju hitam menggeleng:

"Seharusnya aku tinggal di sini selama berapa hari untuk menemanimu, tapi bila teringat ayahmu... aaaai, aku takut bila tak didampingi ibu..."

"Yaa, betul juga perkataan ibu." Pek si-hiang menyela, "Kau memang lebih pantas mendampingi ayah, dengan watak ayah yang aneh dan berangasan, beliau memang jarang teman, tanpa ibu dia pasti kesepian."

"Ehmmm, ayahmu memang tak punya teman"

"Masih ada satu hal lagi ingin kutanyakan pada ibu..." "Katakan"

"Demi sakitku, ayah telah jelajahi seluruh pelosok dunia untuk mencari tabib kenamaan dan obat mestika, andai ibu bersedia melahirkan berapa orang adik lagi niscaya ayah tak perlu terlalu menguatirkan diriku seorang." "Setiap orang menuduh ayahmu sebagai seorang manusia kejam yang tak berperikemanusiaan, buas dan jahat, padahal siapa sih di antara mereka yang tahu bahwa hatinya sesungguhnya telah dipenuhi luka tusukan yang mengerikan, penderitaan yang pernah dialaminya mungkin tak bisa ditahan oleh siapa pun."

"Aku tahu." Pek Si-hiang mengangguk. "lbu maupun ayah memang manusia luar biasa, perasaan tersiksa, tertekan yang kalian alami tak akan diluapkan ke luar, tak siapa pun yang bakal mengerti keadaan kalian berdua." Gadis naga berbaju hitam tersenyum.

"Kepedihan yang ibu tanggung selama ini sedikit pun tidak berada di bawah penderitaan ayahmu..."

"Aku mengerti." Pek si-hiang pelan-pelan pejamkan matanya, "lbu boleh pergi sekarang, maaf aku tak bisa menghantar"

Gadis naga berbaju hitam menghela napas: "Baik- baiklah jaga dirimu nak, bila aku berhasil membujuk ayahmu agar berputar haluan, mungkin kami akan berkunjung lagi ke perkampungan keluarga Hong-san untuk menengok dirimu."

"Moga-moga ibu berhasil membujuk ayah "

Gadis naga berbaju hitam menghela napas panjang, ia seperti ingin mengatakan sesuatu lagi namun akhirnya diurungkan, tanpa berbicara lagi ia beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Memandang hingga bayangan tubuh ibunya lenyap dari pandangan, Pek si-hiang baru pejamkan matanya beristirahat. Dalam pada itu Lim Han-kim yang dihina habis- habisan oleh Pek siang segera balik ke kamar tidurnya, setelah menutup pintu kamar ia pun berbaring sambil melamun.

"Orang bilang keluarga perkampungan bukit Hong-san amat termashur sepanjang ratusan tahun lamanya, aku lihat di balik kesemuanya ini seperti menyembunyikan suatu rahasia besar... rasanya aku perlu bergaul lebih erat dengan anggota perkampungan ini, siapa tahu dari mereka aku bisa mengetahui lebih banyak rahasia lagi."

Ia tak berhasil menemukan sumber dari segala permasalahan ini, tapi secara lamat-lamat ia bisa merasakan bahwa semua pertikaian yang sedang berlangsung dalam dunia persilatan saat ini, agaknya tak terlepas karenanya dengan keluarga persilatan ini...

Entah berapa waktu lewat sudah... mendadak ketukan pintu memecahkan keheningan.

Buru-buru Lim Han-kim melompat bangun sambil membuka pintu, tampak Li Tiong-hui melangkah masuk dengan wajah amat.serius.

Ia angkat sedikit wajahnya menengok sekejap seluruh ruangan, lalu katanya sambil tertawa paksa:

"Rupanya aku mengganggu ketenangan saudara Lim?" "Aaah, tak apa-apa. urusan apa yang membuat nona

tegang."

Pelan-pelan Li Tiong-hui ambil tempat duduk. setelah itu baru tanyanya:

"Erat tidak hubunganmu dengan Thian-hok sangjin?" "Kami hanya sempat bertemu berapa kali jadi tak bisa dibilang erat hubungannya, tapi selama ini aku menaruh hormat dan kagum terhadap sikap maupun ilmu silatnya."

"Kau pernah bersua dengannya?"

Dari nada pembicaraan tersebut Lim Han-kim segera menilai ada yang tak beres, tak tahan tanyanya:

"Ada apa? Apakah Thian-hok Sangjin telah menemui ancaman bahaya?" Li Tiong-hui manggut-manggut.

"Lukanya cukup parah..." "Berada dimana dia sekarang?" "Di luar gedung Tay-sang-kek." "Terluka di tangan ibumu?"

"Benar, dia menerjang masuk ke gedung Tay sang-kek secara paksa, bahkan sempat melukai dua orang dayang yang bertugas di situ, itulah sebabnya terpaksa ibu melukainya." Lim Han-kim termenung sesaat sambil berpikir setelah itu baru katanya:

"Rasanya dalam kolong langot dewasa ini, kecuali ibumu sudah takada orang kedua yang mampu melukainya." setelah berhenti sejenak kembali terusnya:

"Apakah Thian-hok sangjin yang ingin bertemu denganku? Atau hal ini atas prakarsa nona sendiri?"

"Tentu saja atas kemauan Thian-hok sangjin, Lukanya cukup parah, dengan andalkan sisa kekuatannya ia mempertahankan diri, aku rasa tentu ada masalah amat penting yang hendak disampaikan kepadamu." "Kalau begitu tolong nona hantar aku ke sana," "Rasanya waktu sudah tak banyak lagi, cepat ikuti

diriku." Sambil berkata ia beranjak meninggalkan

ruangan.

Dengan ketat Lim Han-kim mengikuti di belakang Li Tiong-hui langsung menuju ke gedung Tay-sang kek.

Tiba di depan gedung Tay-sang-kek, mendadak Li Tiong-hui menghentikan langkahnya sambil menuniuk ke satu arah: "Itu dia, ia berada di sana"

Ketika Lim Han-kim angkat kepala, betul juga, di bawah gerombolan pepohonan yang rindang duduklah Thian- hok sangjin.

Buru-buru Lim Han-kim memburu ke hadapannya, tampak Thian- hok sangjin duduk bersandar pada batang pohon dengan mata terpejam rapat, jubahnya dipenuhi dengan noda darah yang mulai mengering.

Dengan perasaan iba pemuda itu berbisik: "Locianpwee"

Thian-hok sangjin membuka matanya pelan-pelan, setelah memandang Lim Han-kim sekejap bisiknya: "Kau telah datang..."

"Yaa, begitu tahu locianpwee terluka parah, aku segera menyusul kemari."

"Duduklah dulu aku hendak menyampaikan sesuatu kepadamu..."

Semburan darah segar yang meluncur ke luar dari mulutnya memotong perkataannya yang belum selesai. "Luka dalam yang locianpwee derita sangat parah, tak baik berbicara pada keadaan begini, rawatlah dulu lukamu itu,"

"Luka yang kuderita sangat parah, sekalipun bisa lolos dari kematian namun ilmu silatku bakal punah sama sekali, mulai hari ini keadaanku ibaratnya seorang manusia cacad."

"Tenaga dalam yang locianpwee miliki amat sempurna, asal mau merawat luka itu dengan baik. niscaya kekuatan saktimu bakal pulih kembali." Thian- hok sangjin tertawa getir.

"Aku bukan merasa sayang dengan ilmu silatku, justru bila aku tak mengerti ilmu silat, tak nanti nasibku akan berakhir setragis ini." setelah tarik napas panjang, kembail lanjutnya:

"Aku tak menyesal seandainya harus mati di sini, namun ada dua keinginanku yang belum sempat terkabul, aku harus menitipkan kedua keinginanku ini kepada seseorang, setelah kupikirkan berulang kali, rasanya di dalam perkampungan keluarga Hong-san ini hanya kau seorang yang bisa kutitipi pesan tersebut, itulah sebabnya aku harus mengganggu dirimu."

"Bila totiang ingin menyampaikan sesuatu, katakan saja segera, asal dapat kulakukan, pasti akan kuselesaikan hingga tuntas."

"Aku tahu, titipanku ini tak akan kuserahkan kepadamu tanpa imbalan... aku tak akan melupakan budimu iiu." "Aku hanya berniat membantu. tidak membayangkan peroleh imbalan apapun dari totiang."

Dari dalam sakunya Thian-hok sangjin mengeluarkan sebuah bungkusan kantung yang terbuat dari sutra, katanya sambil menyodorkan benda tersebut ke tangan Lim Han-kim:

"Di dalam kantung sutra ini tersimpan semua catatan rahasiaku selama puluhan tahun mengarungi lautan dunia persilatan, kau harus menyimpannya baik-baik."

Setelah menyimpan kantung itu ke dalam saku, pemuda kita baru bertanya: "Harus kuserahkan kepada siapa kantung sutra ini?"

"Kantung itu sudah menjadi barang milikmu, di dalamnya tercatat semua kejadian penting yang kebanyakan kusaksikan dengan mata kepala sendiri, meskipun ada di antaranya tidak kusaksikan sendiri, namun sudah melalui pembuktian yang seratus persen bisa dipercayai"

Setelah mengatur napasnya yang tersengal, bisiknya lirih:

"Meskipun benda itu bukan benda mestika macam buku ilmu silat, namun sifatnya jauh lebih berharga dari benda apa pun, kau tak boleh membocorkannya ke luar, sebab kalau tidak, bisa mengundang dagangnya bencana kematian."

"Akan kuingat selalu di dalam hati."

"Demi membalaskan dendam bagi kematian ayahnya, seebun Giok-hiong tak segan-segan melakukan pembantaian secara besar-besaran, namun..." Tiba-tiba ia menghentikan pembicaraan-nya.

Setelah mengalami berbagai kejadian belakangan ini, pengalaman Lim Han-kim sudah banyak mengalami kemajuan, ia segera sadar akan sesuatu dan cepat-cepat berpaling.

Betul juga, tampak nyonya Li dengan mengenakan pakaian serba biru sedang menghampiri mereka dengan langkah pelan.

La berjalan amat santai, seolah-olah sedang menikmati keindahan alam dan aneka bunga, namun ketika sudah berada dua-tiga depa di hadapan kedua orang itu ia baru menghentikan langkahnya, dengan sorot mata yang lebih tajam dari sembilu ditatapnya wajah Lim Han-kim sekejap. kemudian menegur: "Mau apa kau datang kemari?"

Ketika dilihatnya Thian-hok sangjin bersandar pada batang pohon dengan mata terpejam rapat, seolah-olah sudah tertidur nyenyak. terpaksa sahutnya: "Aku adalah sobat karib Thian-hok totiang..."

"Dia mengirim orang untuk mengundangmu kemari?" "Betul"

"Siapa yang dikirim...?" Lim Han-kim berpikir:

"Bagaimana pun Li Tiong-hui toh anaknya, masa dia akan berbuat sesuatu terhadapnya?" Berpikir begitu, jawabnya: "Nona Li..."

"Kurang ajar, besar benar nyali anak Hui sekarang..." umpat nyonya Li. setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya: "Dia sengaja mengundangmu kemari tentu disebabkan Suatu urusan yang amat penting, apa yang hendak ia rundingkan denganmu?" kembali Lim Han-kim berpikir.

"Nyonya Li amat cerdik, rasanya sulit untuk membohonginya, dan lagi membohongi dia sama artinya mencari kesulitan bagi diri sendiri, lebih baik aku berterus terang saja..." Karena itu sahutnya: "Rasanya memang ada sesuatu yang penting..." Nyonya Li tertawa dingin, tukasnya:

"Kelihatannya kau polos dan jujur, ternyata hatimu licik busuk dan tak bisa dipercaya, kalau pingin main gila di hadapanku sama artinya dengan mencari penyakit buat dirimu sendiri"

"Tapi aku telah menjawab dengan sejujurnya."

"Kalau begitu bawa kemari" perintah nyonya Li sambil ulurkan tangannya ke depan. Dalam hati kecilnya Lim Han-kim merasa terkejut, tapi ia pura-pura berteriak: "Apanya yang bawa kemari?"

"Barang yang diserahkan Thian-hok sangjin kepadamu, semua perbuatanmu sudah kulihat dengan jelas, buat apa kau berbohong?" Kembali Lim Han-kim berpikir.

"Tampaknya isi kantung sutra yang dititipkan Thian- hok sangjin kepadaku amat penting artinya, aku tak boleh menyia-nyiakan harapannya."

Berpikir sampai di sini, dia pun buang jauh-jauh rasa takutnya terhadap kematian, sambil tertawa hambar ia balik bertanya: "Apa yang telah locianpwee ketahui?" Berubah hebat paras muka nyonya Li. hardiknya:

"Kendatipun kau adalah sahabat putriku, jangan dianggap aku tak berani membunuhmu bila membuat aku marah."

"Yaa, apa boleh buat meski locianpwee ingin membunuhku, aku juga tak bisa berkata apa-apa..."

"Hmmm, maksudmu biar kubunuh dirimu juga tak akan menemukan apa pun..?" jengek nyonya Li sambil tertawa dingin.

"Kenyataannya aku memang tidak menyimpan apa- apa"

"Kalau begitu biar aku geledah..."

"Silakan nyonya, bila tak percaya, geledah saja sakuku"

Tiba-tiba nyonya Li berpekik keras: "Tui-im, Po-hong, dimana kalian berdua?" Dari balik kerumunan bunga segera melompat ke luar dua orang dayang berbaju hijau yang segera berlarian mendekat Kembali nyonya Li berkata hambar "Bila kau mengaku sekarang mungkin masih ada harapan untuk hidup, tapijika barang bukti tergeledah... Hmmmm Menyesal nanti tak ada gunanya..."

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam pikiran Lim Han-kim, tapi akhirnya dia mengambil keputusan, katanya:

"Yaa apa boleh buat lagi jika locianpwee bersikeras hendak menyuruh mereka lakukan penggeledahan.." "Periksa seluruh isi sakunya" perintah nyonya Li kemudian sambil menoleh ke arah dayangnya.

Kedua orang dayang itu menyahut, salah seorang di antara mereka segera menotok jalan darah cian-cing-hiat di bahu kiri anak muda tersebut.

Dengan cepat Lim Han-kim mengelak ke samping untuk menghindar, tegurnya:

"Nyonya..." "Ada apa?"

"Boleh-boleh saja bila kau ingin menggeledah isi sakuku, masa jalan darahku harus ditotok lebih dulu?"

"Memang itulah keinginanku"

"Bagi seorang lelaki, kepala boleh dipenggal, darah boleh mengalir tapi jangan harap boleh dihina, aku tak bisa menerima penghinaan semacam ini."

Sementara itu Tui-im dan Po-hong sudah menghentikan tindakannya untuk sementara dan berdiri menanti di sisi arena.

"Kenapa?" jengek Nyonya Li sambil tertawa dingin, "Kau berniat melakukan perlawanan?"

"Lebih baik darahku berceceran membasahi lantai daripada harus menerima penghinaan semacam ini," ucap Lim Han-kim sesudah menghembuskan napas panjang.

"Bagus Kau sangat pemberani, asal kau mampu mengungguli Tui-im dan Po-hong, akan kubatalkan niatku untuk menggeledah" "Senjata tak bermata, andai aku yang terluka masih tak mengapa, sebaliknya bila aku yang berhasil melukai mereka berdua, urusan kan menjadi lebih tak enak..."

"Tak usah kuatir, bila kau berhasil melukai mereka, anggap saja kesalahan mereka sendiri mengapa tak rajin berlatih silat, bahkan seandainya kau berhasil membunuh mereka pun tak menjadi masalah, akan kuanggap memang nasib mereka yang jelek."

"Baiklah, kalau nyonya tak menyalahkan diriku, terpaksa aku akan bertindak kasar." Kembali Nyonya Li berpaling ke arah kedua orang dayangnya seraya berpesan:

"llmu silat yang dimiliki siangkong ini sangat hebat, mati hidup kalian tergantung kemampuan kamu sendiri, maka kalian mesti berhati-hati."

Kedua orang dayang itu mengiakan dan serentak mencabut ke luar senjata masing-masing. Diam-diam Lim Han-kim menghela napas panjang, pikirnya:

"Tak nyana kehadiranku di perkampungan keluarga Hong-san justru mendatangkan banyak keruwetan."

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang amat lirih bergema di sisi telinganya:

"Kau harus bertindak hati-hati sebab kedua orang dayang ini merupakan dua orang dayang kesayangannya yang pernah mendapat didikan langsung dari nyonya Li, ilmu pedang yang mereka miliki luar biasa hebatnya, tadi aku pun sempat bertarung melawan mereka..." 

Lim Han-kim tahu, Thian-hok sangjin dengan menahan rasa sakitnya telah mengirim pesanan tersebut lewat ilmu menyampaikan suara, karenanya ia bersikap lebih serius, perasaan memandang rendah musuhnya segera dilenyapkan.

Begitu pedangJ in-sang-kiam sudah dicabut ke luar, ujarnya kepada kedua orang dayang itu:

"Apakah nona berdua akan maju bersama-sama?" "Lim siangkong seorang diri, kami berdua akan maju

bersama, Lim siangkong sepuluh orang pun kami tetap

akan maju berduaan."

"Bagus, silakan nona berdua mulai menyerang"

Dayang di sebelah kiri segera menggerakkan pedangnya menciptakan tiga kuntum bunga pedang dengan jurus "Burung hong manggut tiga kali" dan menusuk dada musuhnya. Lim Han-kim memutar senjatanya membendung datangnya tusukan itu.

Di saat ia menggerakkan senjatanya itulah dayang di sebelah kanan melepaskan tusukan juga dengan jurus "bangau putih pentang sayap".

"Hebat juga kerja sama dua orang dayang ini..." pikir Lim Han-kim dalam hati. Cepat-cepat dia mundur tiga langkah meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Setelah berhasil lolos dari sergapan lawan, sadarlah pemuda itu bahwa ia sudah bertemu musuh amat tangguh, kecuali berhasil mengungguli kedua orang lawannya, mustahil dia punya kesempatan lain untuk meloloskan diri dari situ.

Berpendapat begitu, secepat petir ia maju menerkam kembali sambil lepaskan serangan. Kedua orang dayang itu tidak gentar, mereka pencarkan diri dan balas menyerang dari dua sisi yang berlawanan.

Dalam waktu singkat bunga pedang meyelimuti seluruh angkasa, terjadilah pertarungan yang amat sengit di tempat itu.

Begitu pertarungan dimulai, Lim Han-kim sudah mengerti bahwa kesempatan menang baginya amat tipis, maka di samping menghadapi serangan musuhnya secara hati-hati, ia berusaha mengingat kembali jurus- jurus pedang ilmu pedang naga langitnya dan digunakan untuk membendung ancaman yang datang.

Walaupun kedelapan jurus ilmu pedang naga langit tersebut belum begitu hapal, namun daya kemampuan dari gerak serangan tersebut sungguh luar biasa, setiap kali ia terjerumus dalam keadaan bahaya, jurus pedang itu selalu berhasil menyelamatkan jiwanya. Puluhan gebrakan sudah lewat, namun posisi kedua belah pihak tetap berimbang.

Nyonya Li mulai jengkel dan habis kesabarannya setelah melihat kedua orang dayangnya gagal mengalahkan lawan, dengan amarah yang mulai berkobar ia menghardik sambil tertawa dingini

"Keluarkan semua jurus simpanan kalian. cukup asal tidak menghabisi nyawanya"

Dua orang dayang itu menyahut, permainan pedangnya segera berubah, serangan yang dilancarkan juga makin gencar dan dahsyat Lim Han-kim kerahkan seluruh daya kemampuan yang dimilikinya untuk melawan dan bertahan, namun ia mulai keteter dan terdesak hebat, tak sampai lima gebrakan kemudian pemuda tersebut sudah dibuat kelabakan dan terancam bahaya maut.

Rupanya sebelum mendapat perintah dari nyonya Li, kedua orang dayang itu tak berani menggunakan jurus yang mematikan, mereka hanya berharap bisa memaksa Lim Han-kim melepaskan senjatanya atau menotok jalan darahnya.

Justru tindakan mereka ini sangat menguntungkan bagi Lim Han-kim, itulah sebabnya ia mampu mempertahankan diri sekian waktu.

Tapi begitu Nyonya Li turunkan perintah-nya, dua orang dayang itu mulai menyerang habis-habisan, akibatnya Lim Han-kim keteter hebat.

Tampaknya pemuda itu segera akan terluka di tangan kedua orang dayang tersebut...

Pada saat yang amat kritis inilah tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara lirih:

"Nyonya Li, ampuni jiwanya"

Ketika Nyonya Li berpaling, tampak siok-bwee dan Hiang-kiok sedang memapah Pek si-hiang jalan mendekat.

Kondisi tubuh gadis tersebut makin lama nampak semakin parah, tampaknya tanpa dipapah mustahil baginya untuk berjalan. Dengan kening berkerut Nyonya Li berseru: "Kalian cepat berhenti"

Tui-im dan Po-hong seketika menarik kembali senjatanya dan mundur dari arena.