-->

Pedang Keadilan II Bab 39 : Persiapan Menghadapi pertempuran

 
Bab 39. Persiapan Menghadapi pertempuran

Buru-buru Phang Thian-hua mencegah seraya katanya: "Kita berada diperkampungan keluarga Hong- san sekarang, lebih baik kalau kita berdiam diri saja"

"Betul aku hanya seorang tetamu, tapi setelah berada di dalam perkampungan keluarga Hong-san, tak akan kuijinkan siapa pun datang mencari gara-gara diperkampungan ini. Apalagi nyonya Li sudah bantu menolong anakku, sudah sepantasnya bila aku manfaatkan kesempatan baik ini untuk membantu perkampungan keluarga Hong-san, paling tidak sanggup saja sebagai perasaan terima kasihku kepada mereka." selesai bicara, ia pun beranjak pergi meninggalkan ruangan.

Begitu cepat gerakan tubuhnya, belum sempat Phang Thian-hua menghalangi kepergiannya, tahu-tahu Pek siang sudah lenyap dari pandangan.

Pada saat itu Lim Han-kim berpikir dalam hatinya: "Baru setengah harian sudah dua kali muncul musuh tangguh yang bermaksud menyerang perkampungan keluarga Hong-san, entah tokoh silat dari mana yang begitu bernyali hingga berani mencari gara-gara? Kini Pek siang sudah tampilkan diri untuk membendung serangan musuh, masa aku Lim Han-kim begitu pengecut hingga keluar untuk menontonpun tak berani?"

Berpikir hegitu, ia pun turut melompat keluar dari ruangan, Phang Thian-hua berniat menghalangi, sayang terlambat sudah.

Keluar dari ruangan, Lim Han-kim segera periksa sekeliling tempat itu, namun bayangan si pedang racun Pek siang sudah lenyap tak berbekas, maka dia pun menjejakkan kakinya dan melayang ke atas atap rumah.

Dengan ketajaman mata yang dimiliki, ia mencoba periksa sekeliling tempat itu, namun suasana amat hening. Bukan saja jejak musuh tak kelihatan, bahkan jago-jago dari perkampungan keluarga Hong-san yang memapaki serangan lawanpun tak kelihatan batang hidungnya, apalagi jejak dari si pedang racun Pek siang.

Diam-diam Lim Han-kim berpikir lagi: "Kelihatannya setiap pembantu dan dayang yang berada dalam perkampungan Hong-san ini sudah dididik secara ketat hingga tidak gugup maupun panik dalam menghadapi serbuan musuh..."

Sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar teguran dari seorang gadis yang bernada dingin berkumandang datang:

"Urusan yang menyangkut keluarga Hong-san tak perlu dicampuri orang luar, lebih baik menyingkirlah dari situ dari pada terjadi kesalahan paham hingga melukai Anda."

Ketika Lim Han-kim menoleh, dia jumpai seorang dayang berbaju hijau yang menggenggam pedang di tangan kanannya dan sebuah benda berwarna putih keperak-perakan di tangan kirinya telah muncul di belakang tubuhnya.

Melihat semua itu, kembali pemuda kita berpikir "Benda keperak-perakan yang berada dalam genggaman dayang itu pasti sejenis pelontar senjata gelap yang dibubuhi racun... Waaah, kalau memang setiap dayang di perkampungan ini dilengkapi senjata pamungkas macam begitu, sudah tentu saja kehebatannya luar biasa..."

Ketika melihat Lim Han-kim masih saja berdiri mematung tanpa menggubris teguran-nya, dengan marah kembali dayang itu menghardik.

"Hey, sudah kau dengar belum teguranku? Cepat bersembunyi mau tunggu apa lagi di situ?"

Belum lagi Lim Han-kim melompat turun dari atap. terdengar ujung baju terhembus angin bergema tiba, bagai seekor burung Li Tiong-hui sudah muncul di samping anak muda tersebut.

Setelah menengok dayang itu sekejap. katanya: "Lim siangkong, ayo temani aku periksa posisi lawan."

Mendengar ucapan itu, tanpa banyak bicara dayang tadi mengundurkan diri dan bersembunyi di balik ruangan.

Sepintas lalu perkampungan keluarga Hong-san ini nampak kedodoran dalam soal penjagaan, padahal pengawasan mereka ketat sekali, Rupanya para penjaga menyembunyikan diri di tempat yang tersembunyi hingga tak gampang ketahuan jejaknya.

"Saudara Lim," bisik Li Tiong-hui. "Tempat ini merupakan gedung bagian belakang perkampungan kami, Bila ada musuh tangguh menyusup kemari, terpaksa kami akan hadapi mereka dengan senjata rahasia andalan kami, yaitu jarum lebah."

"Aku tebak, jarum lebah itu pasti ganas dan sangat beracun?" "Betul, kehebatan jarum lebah ini jauh di atas keganasan bwee-hoa-ciam.. ibuku sudah turunkan perintah, bila sipenyusup tidak melukai anggota perkampungan, mereka dilarang menyerangnya dengan menggunakan senjata itu sebab benda tersebut merupakan hasil rancangan ibuku sendiri yang selama ini belum pernah muncul dalam dunia persilatan, jadi tak banyak orang yang tahu."

"Oooh, rupanya begitu"

"Apakah saudara Lim ingin tahu siapa penyusup itu?" "Bila kutinjau dari suasana yang begini tenang di

seputar tempat ini, rasa-rasanya seperti tak ada penyusup ganas yang menyerang perkampungan ini." Li Tiong-hui segera tertawa.

"Lonceng peringatan tak bakal dibunyikan secara ngawur. Bila genta itu sudah berdentang, berarti pasti ada musuh tangguh yang menyusup masuk kemari, saudara Lim, jika kau punya minat, ayolah ikut diriku, mari kita periksa posisi lawan" setelah termenung berpikir sejenak. Lim Han-kim manggut-manggut. "Baiklah, harap nona berjalan duluan"

"Tidak usah sungkan-sungkan, aku akan menjadi penunjuk jalan yang baik bagimu" selesai bicara, ia pun bergerak lebih dulu menuju ke depan.

Dengan ketat Lim Han-kim mengikuti di belakang gadis itu, dengan cepat mereka menyeberangi atap rumah menuju ke halaman yang lain.

Gerak tubuh Li Tiong-hui cepat sekali, hanya dalam waktu singkat mereka telah melampaui beberapa buah halaman. Kini lamat-tamat sudah dapat didengar suara senjata tajam yang saling beradu.

"Aaaah, rupanya benar-benar ada musuh yang menyusup kemari," gumam Lim Han-kim seraya mempercepat langkahnya menuju ke sumber suara bentrokan senjata itu.

"Eeei, jangan sembarangan turun tangan..." seru Li Tiong-hui memperingatkan.

Setelah melewati sebuah dinding pekarangan yang tinggi, sampailah Lim Han-kim di depan sebuah tanah berumput.yang luas. saat itu tampak empat orang dayang berpedang sedang bertarung seru melawan seorang kakek berpakaian pendeta yang melakukan perlawanan dengan hanya andalkan tangan kosong.

Berapa kaki di belakang arena berdiri Ong popo dengan tongkat kepala naganya, di kedua sisi nenek tersebut berjajar enam orang dayang bersenjata terhunus.

Ilmu silat keluarga persilatan Hong-san memang sudah termashur akan kehebatannya, terutama aliran silatnya yang menyerap hampir semua intisari ilmu silat yang dimiliki pelbagai partai besar untuk digabung menjadi sebuah aliran baru, oleh sebab itu gerak serangan yang digunakan keempat orang dayang tersebut berbeda sekali dengan aliran yang ada pada umumnya.

Dalam pertarungan yang sedang berlangsung, keempat orang dayang itu masing-masing mengembangkan aliran silat yang berbeda-beda, hingga seolah-olah dalam arena perta rungan sekarang hadir empat tokoh silat dari empat partai besar, dapat dibayangkan betapa sulitnya menghadapi gempuran- gempuran dahsyat mereka.

Namun kepandaian silat yang dimiliki kakek berdandanan pendeta itu pun tak kalah hebatnya, Di antara kibaran ujUng bajUnya yang menari kian kemari bak kupu-kupu yang terbang di antara aneka bunga, kendatipun serangan keempat dayang itu amat dahsyat, ternyata semua ancaman yang datang bisa dihadapinya dengan mudah.

Lim Han-kim mencoba memperhatikan kakek berpakaian pendeta itu dengan lebih seksama, tapi ia segera dibuat terperanjat. Ternyata kakek berbaju pendeta yang sangat lihay itu tak lain adalah Thian-hok sangjin dari bukit Mao-san.

Dengan rasa tercengang bercampur tak habis mengerti pikirnya: "Bukankah Thian-hok sangjin disekap dalam istana panca racun? Kenapa bisa muncul di sini?"

Tanpa berpikir panjang lagi segera teriaknya: "Nona berempat, harap segera hentikan serangan kalian"

Dalam gelisah dan cemasnya, tak tahan pemuda tersebut berteriak dengan suara lantang.

Siapa sangka keempat dayang itu sama sekali tak menggubris, jangankan menghentikan serangan, menengok kearahnya sekejap pun tidak. bahkan mereka semakin meningkatkan daya gempurnya.

Dengan setengah berbisik buru-buru Li Tiong-hui berkata: "saudara Lim tak usah emosi, memang begitulah aturan pcrguruan kami, mereka tak bakal tunduk pada perintah orang lain."

"Kau kenal dengan kakek berbaju pendeta itu?" Lim Han-kim balik bertanya.

"Yaa, dia kan Thian-hok Sangjin dari bukit Mao-san." "Yaa, dia seorang pendeta jujur yang berhati lurus,

mustahil kedatangannya untuk mencari gara-gara. Harap

nona segera turunkan perintah kepada keempat dayangmu agar segera hentikan serangan"

Li Tiong-hui manggut-manggut, seraya berpaling ke arah Ong popo, serunya: "Ong popo, tolong suruh mereka hentikan dulu serangannya"

Dengan kening berkerut, Ong popo bepikir sejenak, tapi akhirnya ia menuruti juga maksud Li Tiong-hui, bentaknya: "Tahan"

Begitu hardikan bergema, keempat orang dayang itu segera menarik kembali senjatanya dan mundur dari arena.

Dengan langkah lebar Lim Han-kim, maju ke arena, tegurnya seraya memberi hormat: "Locianpwee"

Pelan-pelan Thian-hok Sangjin mengalihkan sorot matanya ke wajah Lim Han-kim, setelah mengamatinya beberapa saat, ia pun menegur: "Kaukah yang bernama Lim Han-kim?"

"Yaa betul, ada urusan apa sih hingga secara tiba-tiba locianpwee datang menyatroni perkampungan keluarga Hong-san?"

"Kedatangan pinto (aku) hanya atas dasar perintah" "Perintah dari siapa?" "Pemilik istana panca racun"

Lim Han-kim kontan saja tertegun, serunya cepat: "Ada beberapa masalah yang selama ini mengganjal pikiranku, bersediakah locian-pwee memberi petunjuk kepadaku?"

"Kau ingin tahu hubungan budi dan dendam antara pinto dengan pemilik istana panca racun?"

"Yaa, betul"

Thian-hok sangjin menghela napas panjang.

"Aaaai... panjang sekali untuk menceritakan kisah ini, lagi pula saat ini bukan saat yang tepat untuk menyinggung kembali peristiwa tersebut. Bila ada kesempatan di kemudian hari, pinto tentu akan membeberkan-nya kepadamu."

"Thian-hok sangjin" Tiba-tiba terdengar Ong popo menimbrung dengan suara dingin, "Malam ini kau sengaja datang menyatroni perkampungan keluarga Hong-san, tindakanmu itu sama artinya dengan tidak pandang sebelah mata pun terhadap nyonya Li serta aku, dengan cara apa kau hendak selesaikan hutangmu ini?"

Thian-hok sangjin tertawa getir.

"Pinto terpaksa berbuat begini, semoga nyonya Li bersedia memaklumi tindakanku ini."

Ong popo termenung dan berpikir sejenak, kemudian ucapnya: "Baiklah, mengingat kau adalah sahabat lamaku, akupun tak ingin memperpanjang masalah ini lagi.. ." sembari ulapkan tangannya, ia menambahkan: "Kau boleh pergi sekarang"

"Kedatanganku ke perkampungan keluarga Hong-san bukannya tanpa sebab, sebelum tujuanku tercapai, masa aku harus mengundurkan diri dengan begitu saja?"

"Jadi apa tujuanmu?" Air muka Ong popo berubah hebat.

"Tolong sampaikan kepada nyonya Li, katakan bahwa pinto ada urusan dan ingin berjumpa dengannya"

"Sudah lama nyonya mengundurkan diri dari keramaian dunia, ia tak pernah terima tamu lagi jika kau ada persoalan, katakan saja kepadaku, nanti biar aku yang sampaikan kepada nyonya"

"Persoalan ini menyangkut sebuah masalah yang besar sekali, aku takut kau tak akan mampu ambil keputusan,jadi dibicarakanpun tak ada gunanya."

"Urusan apa sih? Katakan saja kepadaku" timbrung Li Tiong-hui tiba-tiba.

"Nona ini adalah nona Li..." Buru-buru Lim Han-kim memperkenaikan.

"Kalau begitu, tolong nona suka menyampaikan kepada ibumu bahwa Thian-hok sangjin dari bukit Mao- san ingin bertemu dengannya."

"Bukankah Ong popo sudah beritahu kepada totiang bahwa ibuku sudah lama tak bersedia terima tamu lagi? sudah lama aku yang muda mengagumi nama besar totiang, apabila totiang butuh bantuan dari perkampungan keluarga Hong-san kami, aku Li Tiong-hui pasti akan berusaha membantu dengan sepenuh tenaga"

"Maksud baik nona sangat mengharukan hati pinto, tak heran bila Anda mampu menduduki jabatan sebagai Bu-lim bengcu, tapi menurut pendapatku, dalam urusan ini bukan saja nona tak bakal mampu menanggulanginya, bahkan Anda tak bakal memahami maksudku."

Lama kelamaan habis sudah kesabaran Ong popo, ia naik darah, bentaknya dengan penuh amarah: "Hei, si hidung kerbau busuk yang tak tahu diri, kau jangan mendesak terus menerus seharusnya kau sudah puas karena aku tidak menuntut keadilan darimu gara-gara kehadiranmu di perkampungan kami secara lancang. Bila kau masih tak tahu diri dan cerewet melulu di tempat ini, hmmm Hmmmm jangan salahkan bila aku bertindak kasar kepadamu"

Thian-hok sangjin mengangkat kepalanya memandang sekejap cuaca dengan wajah gelisah bercampur cemas, katanya kemudian "Baiklah, kalau toh kalian berdua segan menyampaikan kehadiranku ke dalam, terpaksa aku akan menerobos masuk secara paksa"

"Hmmm, coba kau hadapi diriku lebih dulu" teriak Ong popo sambil menghentakkan tongkatnya ke tanah.

Sementara itu Lim Han-kim amati terus perubahan sikap Thian-hok sangjin dengan seksama, ia semakin keheranan sewaktu menjumpai kegelisahan yang mencekam wajah pendeta itu, pikirnya: "Heran, kenapa ia memaksa ingin bertemu dengan nyonya Li? Urusan apa gerangan yang sedang dihadapinya?" Tedengar Thian-hok sangjin berkata lagi setelah menjura dalam-dalam: "Batas waktu yang kumiliki amat sedikit, aku tak bisa menunda lebih jauh lagi. Bila perbuatanku menyinggung perasaan kalian semua, biarlah di kemudian hari aku mohon maaf"

Seusai berkata, tiba-tiba ia melejit ke udara dan ibarat seekor burung rajawali raksasa ia melesat ke udara, melewati atas kepala Lim Han-kim dan menerobos ke halaman dalam.

Bersamaan waktunya dengan tindakan Thian-hok sangjin itu, Ong popo turut melejit pula ke udara, tongkatnya dengan jurus memotong putus awan di bukit membabat pinggang pendeta tersebut.

Berada di tengah udara, tiba-tiba Thian-hok sangjin menarik napas dalam-dalam, tahu-tahu badannya melejit tiga depa lagi ke tengah udara dan terhindar dari sergapan maut itu. Tatkala ia melayang turun kembali ke permukaan tanah, badannya sudah berada tiga kaki dari posisinya semula.

Dengan penuh amarah Ong popo membentak "Thian- hok sangjin, beranikan kau bertarung tiga ratus jurus melawan tongkatku?"

"Pinto tak punya banyak waktu, kalau ingin bertarung lebih baik tunda dulu sampai di kemudian hari" sembari berteriak. ia lanjutkan gerakan tubuhnya melesat masuk ke dalam perkampungan.

Baru saja Ong popo hendak melakukan pengejaran, terdengar Li Tiong-hui mencegah: "Tak perlu dikejar, biarkan ia rasakan sedikit penderitaan lebih dulu..." Mendengar ucapan tersebut, secara tiba-tiba Lim Han- kim teringat kembali pada tabung jarum Hui-hong-ciam yang digenggam kawanan dayang dalam gedung.

Kendatipun ilmu silat yang dimiliki Thian-hok sangjin amat lihay, namun sergapan jarum Hui-hong-ciam tersebut bukanlah serangan yang mudah dihadapi, tak kuasa lagi timbul perasaan khawatir dalam hati kecil anak muda tersebut.

Dengan rasa gemas bercampur gusar, Ong popo mengawasi bayangan punggung Thian-hok sangjin yang menjauh seraya bergumam: "Jika dia berani melukai orang, aku bersumpah tak akan membiarkan dia keluar dari lembah Ban-siong-kok dalam keadaan selamat"

Mendengar ucapan tersebut, dalam hati kecilnya Lim Han-kim berpikir: "Kalau dilihat dari rambut Ong popo yang sudah beruban, semestinya ia sudah berusia lanjut, heran, kenapa wataknya masih begitu berangasan dan berapi-api...?"

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terlihat dua sosok bayangan manusia bagaikan burung rajawali meluncur datang dari arah selatan.

Melihat kehadiran kedua orang itu, Ong popo semakin naik darah, Dengan badan gemetar karena gejolak emosinya, ia berteriak seraya menggeretak gigi: "Bagus, bagus sekali selama puluhan tahun terakhir belum pernah ada orang berani menyatroni perkampungan keluarga Hong-san. Tak nyana, hanya dalam beberapa hari saja musuh tangguh berulang kali datang mencari gara-gara... Hmmm, jika tidak kutahan beberapa lembar nyawa mereka sebagai peringatan, orang persilatan tentu tak anggap sebelah mata lagi kepada perkampungan keluarga Hong-san kita."

Jelas beberapa patah katanya itu sengaja ditujukan untuk menyindir Li Tiong-hui, sekalian menilai reaksi yang bakal ditunjukkan gadis tersebut.

Biarpun tabiat Ong popo kasar dan berangasan, namun tindak-tanduknya amat berhati-hati dan cara berpikirnya pun amat teliti.

Li Tiong-hui hanya tersenyum tanpa menanggapi sindiran tersebut, ditariknya lengan Lim Han-kim sambil bisiknya: "Saudara Lim, kita tak repot-repot turun tangan sendiri" Dengan cepat ia mundur lima langkah dari posisi semula.

Sungguh cepat gerakan tubuh kedua sosok bayangan manusia itu, hanya dalam waktu singkat mereka telah sampai di hadapan beberapa orang itu. Tatkala Lim Han- kim mencoba mengamati wajah para pendatang tersebut, dengan cepat ia dibuat tertegun.

Si pendatang adalah seorang pendeta dan seorang awam, yang pendeta tak lain adalah Ci Mia-cu, pemilik kuil Cing-im-koan di bukit Ciong-san, sedangkan si awam adalah pencuri sakti Nyoo cing-hong.

Ci Mia-cu memperhatikan Lim Han-kim sekejap. kemudian serunya: "Bagus, bagus sekali, rupanya saudara Lim juga berada di sini, kalau begitu pinto tak usah susah-susah pergi mencarimu lagi"

"Koancu, baik-baikkah selama ini" Buru-buru Lim Han- kim menjura memberi hormat. Tidak memberi kesempatan kepada Lim Han-kim menyelesaikan perkataannya, kembali Ci Mia-cu meneruskan "Untuk melacak jejak saudara Lim, ibumu serta gurumu telah datang ke kuil Cing-im-koan dan memaksa pinto untuk serahkan dirimu kepada mereka, ketika pinto sedang dibuat kelabakan dan kalang kabut, untung muncul si pencuri tua yang kebetulan berkunjung ke kuil kami. Menurut si pencuri tua, kemungkinan besar saudara Lim berada di perkampungan keluarga Hong- san, ia bahkan bersedia menemani pinto untuk berkunjung kemari. Eeeh... ternyata tebakannya sangat tepat"

Ong popo yang selama ini hanya berdiam diri di sisi arena, tiba-tiba ikut nimbrung: "Koancu, meski kau termasuk tamu yang sering berkunjung ke perkampungan keluarga Hong-san, namun kau tak boleh bertindak semaumu sendiri tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku di sini jangan lagi mengetuk pintu, mengucapkan kata permisi pun tidak, hmmm jangan kau pandang enteng reputasi keluarga Hong-san kami"

Buru-buru ci Mia-cu memberi hormat seraya tertawa. "Sesungguhnya pinto sudah masuk lewat lembah Ban-

siong-kok. tapi berhubung lembah itu sudah ditutup

rapat oleh kepungan musuh tangguh, terpaksa kugunakan seutas tali untuk merambat kemari lewat dinding tebing... Maksudku sekalian memberi kabar tentang kepungan tadi."

Berubah paras muka Ong popo setelah mendengar laporan ini, serunya tak tahan lagi: "Kurang ajar, siapa yang begitu bernyali berani menutup jalan masuk ke perkampungan keluarga Hong-san kami?"

"Waaah, kalau soal itu, pinto kurang jelas."

"Kalau dilihat dari dandanan mereka sih, nampaknya sangat aneh," sambung si pencuri sakti Nyoo Cing-hong. "Pakaian mereka berwarna-warni dan tingkah lakunya nyentrik"

"Huuuh, cepat betul kehadiran mereka," bisik Li Tiong- hui sambil melirik Lim Han-kim sekejap.

Agak gelagapan Lim Ham-kim balik bertanya: "siapa yang kau maksud?"

"Anak buah seebun Giok-hiong"

"Aaaah... betul Anak buah seebun Giok-hiong memang mengenakan pakaian berwarna- warni. . . "

Sambil menghentakkan tongkatnya ke tanah, Ong popo berseru: "Nona, tolong ajaklah koancu untuk duduk dalam ruangan, biar aku segera pergi menghadapi mereka,"

Sambil memberi tanda pada kedelapan dayang berbaju hijau itu, ia putar badan dan beranjak pergi dari situ

"Tunggu sebentar, Ong popo" teriak Li Tiong-hui. "Ada urusan apa, nona?" Ong popo menghentikan

langkahnya.

"Mereka hanya berhenti di luar lembah Ban-siong-kok dan enggan menyerbu kemari, ini menandakan bahwa mereka belum berniat menyerbu ke dalam lembah kita dalam waktu singkat. . . " "Masa kita harus menunggu sampai mereka menyerbu kemari baru melakukan perlawanan?"

"Ong popo, masalah ini menyangkut suatu persoalan yang amat besar, apa tidak lebih baik kau rundingkan dulu masalah ini dengan ibu sebelum keluar dari lembah untuk bertarung melawan mereka?"

Ong popo berpikir sejenak. lalu mengangguk "Baiklah..."

Kepada empat dayang berbaju hijau yang berada di sisi kirinya, ia berkata lebih jauh: "Dengan mengacungkan tabung jarum hui-hong-ciam, kalian berjaga-jaga di mulut lembah, barang siapa berani mencoba menerjang masuk, bunuh semua tanpa pandang bulu"

Keempat orang dayang itu mengiakan dan beranjak pergi dari sana. Melihat semua ini Lim Han-kim berpikir " Kelihatannya kedudukan ong popo dalam perkampungan keluarga Hong-san amat tinggi dan punya kekuasaan besar. Agaknya kecuali nyonya Li, dialah orang kedua yang pegang kekuasaan, sehingga selama nyonya Li menutup diri, dialah yang memegang semua keputusan final."

Mendadak teringat olehnya akan si pedang racun Pek siang, kenapa selama ini tak nampak bayangan tubuhnya?" Kalau dibilang ia sampai terluka oleh jarum lebah terbang, peristiwa ini pasti merupakan suatu kejadian yang patut disesalkan.

Baru saja dia hendak menanyakan soal ini kepada Li Tiong-hui, mendadak terdengar dua pekikan nyaring bergema tiba. Pekikan tersebut panjang, tinggi dan melengking, jelas bukan berasal dari suara manusia.

"Tampaknya pekikan tersebut berasal dari suara pekikan monyet-monyet penjaga kampung..." pikir Lim Han-kim.

Tampak rambut Ong popo yang telah beruban itu bergetar keras meski tak dihembus angin, ia menengadah ke atas dan tertawa nyaring:

"Ha ha ha ha... bagus, bagus sekali Tampaknya dari empat arah delapan penjuru musuh telah menyerbu masuk. rupanya mereka memang punya maksud menyusahkan aku si nenek..."

Mendadak ia melejit ke udara dan bagaikan segulung asap ringan, badannya melesat ke arah berasalnya suara pekikan itu dengan kecepatan luar biasa.

Memandang bayangan punggung Ong popo yang menjauh, sambil gelengkan kepalanya berulang kali Ci Mia-cu bergumam: "Haai... meski umurnya bertambah, sifat berangasan nya masih tetap seperti sediakala."

Terlihat bayangan manusia bergerak cepat, kawanan dayang berpedang itu pun turut bergerak menyusul di belakang Ong popo.

Sementara itu paras muka Li Tiong-hui telah berubah amat serius, agaknya dia pun sudah merasakan bahwa gelagat tidak beres. setelah termenung beberapa saat, ujarnya: "Mari kita duduk dulu di ruang tamu"

Tanpa menanti jawaban, ia bergerak lebih dulu meninggalkan tempat tersebut. sambil tersenyum, Nyoo Cing- hong berbisik: " Koancu, kelihatannya kita belum terlambat"

"Aaaai, bila dilihat situasinya kini, nampaknya pinto tak bisa cuma berpangku tangan saja."

"Tapi nona Li sudah menjadi Bu-lim bengcu, kau toh bukan anak buahnya, Bila kau enggan turun tangan melawan musuh, ia pasti akan menganggapmu sebagai lawannya." Ci Mia-cu menghela napas panjang.

"Aaaai, kau tak usah memaksa aku untuk mengucapkan janji harus membantunya. Kau tahu bukan, meski sifatku malas dan segan berkelahi dengan orang, tapi situasi yang kita hadapi sekarang telah memaksaku tak bisa berpeluk tangan belaka."

Waktu itu pikiran Li Tiong-hui sedang dipenuhi pelbagi masalah hingga meski ia mendengar semua tanya jawab yang sedang berlangsung, namun enggan untuk menimbrung atau menanggapi.

Tiba-tiba di ruang tamu, empat orang dayang telah menyediakan air teh untuk tamu-tamunya .

Diam-diam Lim Han-kim mencoba mengawasi paras muka kawanan dayang tersebut, dilihatnya wajah mereka nampak tenang dan sedikit pun tidak menunjukkan rasa gugup atau takut.

Tak kuasa lagi ia memuji di dalam hati, pikirnya: "Anak buah perkampungan keluarga Hong-san memang dididik secara ketat dan penuh disiplin, meski menghadapi situasi gawat, mereka tak kelihatan panik apalagi gugup,.." Dalam saat itu Li Tiong-hui telah membisikkan sesuatu ke telinga seorang dayang yang berada di-sisinya, nampak dayang tersebut segera berlalu dari situ dengan langkah cepat.

Selang berapa saat kemudian tampak delapan orang dayang bersenjata lengkap muncul dalam ruang tamu itu.

Setelah munculnya kedelapan dayang bersenjata itu, Li Tiong-hui baru bangkit berdiri sambil katanya: "Silakan saudara sekalian duduk sejenak di sini, sedang aku hendak menengok sekejap keluar lembah, ingin tahu jagoan dari mana yang berani mengacau di sini"

"Aku bersedia menemanimu" sambung Lim Han-kim cepat

"Kalau begitu, silakan"

"Bagaimana kalau aku juga menemani Bengcu untuk periksa keadaan di luar lembah?" Nyoo Cing-hong ikut menawarkan diri seraya bangkit berdiri.

"Jangan, kalian baru saja datang dari tempat jauh dan badan tentu sudah lelah, lebih baik istirahat dulu di sini"

"Biarpun harus korbankan jiwa, aku bersedia melakukannya," desak Nyoo Cing- hong.

Ketika coba berpaling, dilihatnya Ci Mia-cu sedang menikmati air teh dengan santai, terhadap pembicaraan kedua orang tersebut dia seakan-akan tidak mendengarnya sama sekali.

Nyoo Cing-hong tahu, ilmu silat yang dimiliki pendeta itu sangat hebat. Apabila ia bersedia menemani perjalanan ini, sudah dapat dipastikan kehadirannya akan merupakan seorang pembantu yang bisa diandalkan oleh sebab itu, tak tahan serunya lagi: "Totiang"

"Ada apa?" tanya Ci Mla-cu sambil tertawa hambar. "Sialan si hidung kerbau busuk ini" umpat Nyoo Cing-

hong dalam hati kecilnya. Tadi masih berkata mau turun tangan membantu, setelah diajak. malah pura-pura berlagak bisu tuli, sialan amat dia.

Meski berpikir begitu, katanya juga: "Nona Li mau periksa keadaan musuh di luar lembah "

"Bagus" kata Ci Mia-cu sambil manggut-manggut "Cepatlah berangkat, hingga cepat pula kembali"

"Bagus" Kembali Nyoo Cing-hong mengumpat "Kau ajak aku si pencuri tua main gila... harus kuberi pelajaran yang setimpal untukmu"

Maka dia pun berkata lagi: "Apa totiang tak berminat untuk ikut menengok situasi?"

"Aku rasa menunggu di sini juga sama saja..." sahut Ci Mla-cu sembari menghirup air tehnya.

Li Tiong-hui mengerdipkan matanya yang bulat besar berulang kali, tiba-tiba katanya: "Giok-cian memang kelewat nakal, sekarang ia sedang disekap ibuku, Bila bertemu ibu, nanti tolong totiang mohonkan pengampunan baginya."

"Soal ini pinto tentu akan mengingatnya"

"Kalau begitu, mari kita berangkat" kata Li Tiong-hui kepada Lim Han-kim, dengan cepat ia beranjak pergi dari situ. Tak terlukiskan rasa dongkol Nyoo Cing-hong melihat kejadian itu, sambil berjalan umpatnya: "Hidung kerbau busuk. lihat saja nanti, kalau aku si pencuri tua tidak mencuri habis semua hartamu, percuma aku dijuluki orang sebagai si pencuri sakti"

Li Tiong-hui mempercepat langkahnya, bagaikan terbang ia meluncur ke depan, dalam waktu singkat tibalah mereka di mulut lembah.

Delapan orang dayang bersenjata lengkap menempel ketat di belakang Li Tiong-hui, sedang Lim Han-kim serta Nyoo Cing-hong menyusul di barisan paling belakang.

Tiba di mulut lembah. tiba-tiba Li Tiong-hui memperlambat langkahnya, sembabi membereskan rambutnya yang kusut, pelan-pelan ia maju ke depan lembah.

Lebih kurang lima kaki di depan mulut lembah, berdiri berjajar serombongan manusia yang mengenakan pakaian warna-warni, tingkah laku mereka sangat aneh dan kelihatan nyentrik.

Warna pakaian mereka terbagi menjadi empat jenis, setiap warna terdiri dari lima orang, orang yang mengenakan warna kuning emas menyoren pedang, yang mengenakan baju putih menggembol golok. yang berbaju abu-abu membawa ruyung lemas, sedang yang mengenakan warna biru langit membawa senjata trisula, Kedua puluh orang tersebut masing-masing berdiri pada empat penjuru yang berbeda.

Dengan pandangan mata tajam Li Tiong-hui menyapu sekejap seluruh jagoan itu, kemudian katanya: "saudara- saudara sekalian, siapa yang bertindak sebagai komandan? silakan tampil keluar untuk berbicara"

"Li bengcu, ada petunjuk apa kau?" suara merdu seseorang segera menanggapi.

Dari belakang kawanan jago bertubuh kekar itu pelan- pelan berjalan ke luar seorang gadis muda berbaju hijau yang meng gembol pedang.

"Siapa kau?" tegur Li Tiong-hui dengan kening berkerut.

"Budak adalah siau-cui, kehadiranku atas perintah nona seebun," jawab gadis itu lembut.

"Di mana seebun Giok-hiong kini? suruh dia datang kemari menjumpai aku."

"Majikan kami masih ada urusan lain, karenanya budak diperintahkan untuk datang kemari lebih dulu."

"Apa maksud seebun Giok-hiong mengutus kau datang kemari?" seru Li Tiong-hui sambil tertawa dingin. Kembali siau- cui tersenyum.

"Nona menitahkan budak agar menjaga di mulut lembah Ban-siong-kok sambil menanti petunjuknya lebih jauh."

"Aku telah mengadakan perjanjian dengan seebun Giok-hiong untuk menyelesaikan perselisihan kami, Kini waktu yang dijanjikan belum tiba, kenapa dia ingkar janji dengan mendahului mengutus kalian datang ke tempat ini?"

"Budak hanya tahu melaksanakan perintah, urusan lain tak berani bertanya, Mengenai janji nona kami dengan Li bengcu, budak lebih-lebih tak mengerti, jadi tak ada gunanya nona menegur budak"

Kembali Li Tiong-hui tertawa dingin.

"Tahukah kau, apa akibatnya apabila perjanjian tersebut rusak terlebih dulu?"

"Soal itu sih budak kurang paham."

"Kalau tidak tahu, biar kujelaskan kepadamu sekarang juga, semua pertarungan berdarah segera akan digelar di tempat ini"

"Sewaktu budak hendak berangkat kemari, nona telah menyertakan dua puluh orang jagoannya yang paling tangguh untuk menyertai perjalanan ini. Nona pun berulang kali berpesan kepadaku, bila orang tidak mengganggu kita, kita tak boleh mengusik orang lain, tapi bila ada orang yang memaksa, kami dilarang untuk mengundurkan diri dari kejadian tersebut, apalagi sampai merusak dan mencoreng reputasi perguruan bunga bwee"

"Bila seketika ini juga kuperintahkan untuk membantai kalian, seebun Giok-hiong tentu akan menggunakan kejadian itu sebagai alasan untuk membuat gara-gara, tapi kalian pun harus tahu, tindakan kamu semua dengan menutup mulut lembah Ban-seng-kok kami merupakan tindakan pemaksaan yang tak bisa diterima oleh pihak perkampungan keluarga Hong-san..."

"Jadi maksud Bengcu?" siau-cui tertawa hambar. "Segera tarik diri dari sini, ketimbang banjir darah

keburu digelarkan di tempat ini sebelum waktu yang dijanjikan tiba" Siau-cui menghembuskan napas panjang, ucapnya: "Terima kasih banyak atas kebaikan hati Li bengcu, namun sebelum menerima perintah dari nona kami, budak betul-betul tak berani meninggalkan tempat ini, jadi harap nona maklum"

"Kalian benar-benar enggan angkat kaki?" Berubah hebat paras muka LiTiong-hui.

"Sampai detik ini kami semua belum pernah menginjakkan kaki di dalam lembah Ban-siong-kok yang merupakan wilayah kekuasaan kalian, jadi sesungguhnya kami pun belum pernah melanggar batas daerah dari keluarga persilatan Hong-san, jikalau Li bengcu tetap bersikeras hendak mempergunakan kekerasan, yaa apa boleh buat lagi... tapi budak telah mendapat petunjuk dari nona kami, sikap budak terhadap Li bengcu harus sopan dan tahu hormat. Budak dilarang mengusik dirimu, namun jika nona mendesak dan memojokkan terus posisi budak. yaaa... apa boleh buat, terpaksa akan kupertaruhkan selembar jiwaku ini untuk berusaha melindungi diri"

Li Tiong-hui tertawa dingin.

"Sebuah alasan yang betul-betul licik dan jahat, tak ada bedanya sedikit pun dengan ulah seebun Giok-hiong. sudah membawa jagoan untuk menutup lembah Ban- siong-kok kami, sekarang berdalih pula macam- macam..."

"Bagaimana pun juga perkampungan keluarga Hong- san toh punya pintu gerbang, sampai detik ini kami semua belum pernah melangkah masuk ke dalam pintu gerbangmu, Dalam hal ini Li bengcu harus mengakui kebenarannya, bukan?"

Li Tiong-hui mengalihkan sorot matanya memperhatikan sekejap kawanan jago yang dipimpin siau-cui itu, memang benar, tak seorang pun di antara mereka yang melanggar batas wilayah keluarga Hong- san.

Melihat hal ini, diam-diam pikirnya: "Budak ini selain licik dan pandai berdebat, lagi pula teliti dan cermat, ia terhitung manusia yang tak gampang dihadapi..."

Berpikir sampai di sini, ucapnya dengan nada dingin "Apa maksud seebun Giok-hiong menitahkan kau dengan membawa kawanan jago hadir di bukit Hong-san sebelum batas waktu yang dijanjikan?"

"Budak hanya dititahkan untuk menyambut para tamu yang diundang nona kami untuk hadir di sini."

Li Tiong-hui menarik napas panjang dan segera terbungkam.

Lim Han-kim tak dapat menahan diri lagi, selanya tiba- tiba: "Masa seebun Giok-hiong perlu mengundang bantuan untuk membantunya bertempur?"

Siau-cui mengerling genit ke arah Lim Han-kim, lalu sahutnya: "Bila daya ingatku tak keliru, bukankah kau adalah Lim Han-kim, Lim siangkong?"

"Yaa, memang aku"

Dari dalam sakunya siau-cui ambil keluar sepucuk surat yang bersampul rapat, kemudian katanya lebih jauh: "Menurut nona, kongcu adalah orang yang berada di luar garis dalam perselisihan ini. Kau tidak termasuk anggota perguruan bunga bwee, juga bukan anak buah Li bengcu, kendatipun berada di perkampungan keluarga Hong-san namun statusmu cuma tamu, betul tidak pendapat ini?"

Lim Han-kim termenung dan berpikir sejenak. kemudian katanya: "Ada urusan apa kau, katakan saja berterus terang"

"Bila ucapan budak betul, nona titip sepucuk surat rahasia yang harus disampikan kepada siangkong, Bila Lim siangkong sudah berpihak kepada keluarga Hong- san, lebih baik surat ini tak usah dibaca lagi"

"Kenapa?"

"Menurut nona, bila Lim siangkong sudah menjadi anak buah Li bengcu, tapi masih menerima surat rahasia ini, maka siangkong akan memperoleh predikat sebagai penghianat yang berhubungan dengan musuh"

"Betul, dia hanya berstatus tamu di sini" sela Li Tiong- hui cepat.

Siau-cui segera menyodorkan surat rahasia itu sambil berkata: "Setelah Li bengcu sendiri menegaskan status siangkong sebagai tamu, rasanya pernyataan ini tak bakal salah lagi"

Setelah menerima surat rahasia itu, Lim Han- kim dapat membaca tulisan pada sampul surat itu berbunyi: " Khusus untuk Lim Han- kim."

Lim Han- kim memandang Li Tiong-hui sekejap. kemudian dengan suara dalam, katanya kepada siau-cui: "Surat ini boleh segera kurobek untuk dibaca isinya?" "Menurut nona kami, meski Lim siangkong membuka surat itu secara sembunyi pun akhirnya pasti siangkong akan beritahu isi surat tersebut kepada Li bengcu, oleh sebab itu kau tak perlu membukanya secara sembunyi, kapan saja Lim siangkong ingin membaca isi surat tersebut, setiap saat pula dapat kau lakukan."

Dengan wajah serius, Lim Han- kim membuka sampul surat itu serta membaca isinya, tapi paras mukanya seketika berubah hebat.

Sementara itu siau-cui dengan sepasang matanya yang jeli mengamati terus wajah Lim Han- kim tanpa berkedip. agaknya dia ingin membaca suara hati pemuda tersebut dari perubahan mimik mukanya.

"Apa isi surat itu?" tanya Li Tlong-hui setengah berbisik,

Setelah melihat kembali surat itu ke dalam sampul, sahut Lim Han- kim pelan: "Lebih baik kita pulang dulu sebelum nona membaca sendiri isi surat ini"

Li Tiong-hui terhitung seorang gadis yang amat cerdik, seketika ia sadar akan kecerobohan dirinya, Bisa jadi isi surat rahasia itu merupakan siasat busuk seebun Giok- hiong, bisa juga di balik surat itu masih tersembunyi rencana lainnya, karena itu ia berkata kepada siau-cui.

"Sebelum matahari tenggelam hari ini, kau harus angkat kaki dari tempat ini. Kalau sampai malam nanti kalian masih di sini, hmmm jangan salahkan bila aku bertindak keji"

"Akan budak ingat baik-baik nasehat ini" sahut siau-cui seraya tertawa.