Pedang Keadilan II Bab 37 : Sembuh Dari Luka

 
Bab 37. Sembuh Dari Luka

Phang Thian-hua mendeham beberapa kali dan tidak menanggapi lagi, sementara di hati kecilnya dia berpikir "Dengan keteguhan iman nyonya Li, tidak seharusnya batinnya tergoncang hebat tatkala bertemu dengan Lim Han-kim tadi, sudah pasti di balik peristiwa ini masih ada latar belakangnya, mungkin juga suatu rahasia besar... kelihatannya Li Tiong-hui belum sampai menyadari akan hal tersebut Ehmmm... lebih baik aku tak campuri urusan ini."

Mendadak Li Tiong-hui menghentikan langkahnya dan berkata kepada Phang Thian-hua: "Bila Lim Han-kim sudah digotong keluar, para dayang pasti akan memberi kabar kepada Phang cengcu..."

"Bengcu tak usah kuatir, aku percaya dengan mudah dapat mendesak keluar gumpalan darah yang menyumbat dadanya." Li Tiong-hui manggut-manggut.

"Sehabis mengobati luka yang diderita kedua orang itu, Phang cengcu sendiri perlu istirahat secukupnya, Mungkin dalam tiga sampai lima hari kemudian, para jago dari seluruh pelosok dunia persilatan sudah berdatangan kemari, Phang cengcu masih diperlukan tenaganya untuk menyambut kedatangan mereka." "Masalah ini tak usah dikhawatirkan aku pasti akan bekerja dengan sebaik-baiknya."

"Saat ini, Siok-bwee dan Hiang-kiok tentu sedang risau dan gelisah memikirkan keselamatan nona Pek. tolong Phang cengcu sampaikan juga kabar baik ini kepada mereka." Selesai berkata, ia pun berialu dan situ.

Betul juga, Ketika Phang Thian-hua kembali ke kamarnya, siok-bwee dan Hiang-klok sudah menanti di dalam ruangan.

Begitu melihat Phang Thian-hua muncul di situ, serentak kedua orang dayang itu memberi hormat sambil bertanya: "bagaimana dengan luka nona kami?"

"Nyonya Li sudah bersedia memberikan pertolongan malam ini juga beliau akan turun tangan-"

"Besarkah harapannya?" tanya Siok-bwee sambil menghembuskan napas panjang.

Tidak tega Phang Thian-hua melihat kerisauan yang mencekam wajah kedua orang dayang itu, setelah menghela napas panjang sahutnya: "Kalau didengar dari nada pembicaraan nyonya Li sih, besar sekali harapannya."

Siok-bwee segera pejamkan matanya sambil berkemak-kemik: "Thian yang maha pengasih moga- moga Kau memberi kesembuhan untuk nona kami. Untuk menebus semua ini, biar umur hamba dipotong puluhan tahun pun hamba rela menerimanya." Sekali lagi Phang Thian-hua menghela napas panjang.

"Nona berdua tak usah khawatir kehebatan ilmu pertabiban yang dimiliki nyonya Li masih jauh di atas kemampuanku. Bila ia bersedia memberi pertolongan sudah pasti ia yakin dapat menyembuhkannya."

Dua orang dayang itu saling berpandangan sekejap. setelah memberi hormat kepada Phang Thian-hua, pelan- pelan mereka pun mengundurkan diri dari situ.

Memandang bayangan mereka berdua yang berlalu, kembali Phang Thian-hua menghela napas panjang, batinnya: "Tak disangka kesetiaan kedua orang dayang ini terhadap majikannya begitu tinggi dan tebal..."

Bila ia terbayang pula bagaimana usaha Pek si-hiang selamatkan para jago dari bencana besar, perasaan sedih bercampur haru menyelimuti pula seluruh perasaannya.

Tak lama sepeninggal siok-bwee berdua, seorang dayang berbaju hijau telah muncul dalam ruangan sambil melapor "Lim siangkong telah dikirim ke dalam kamar, silakan Phang Cengcu menyembuhkan lukanya."

"Tolong bawa aku ke sana"

Dayang itu menyahut dan berlalu lebih dulu. Mengikuti di belakang dayang tadi, Phang Thian-hua berjalan melewati sebuah halaman yang luas dan masuk ke sebuah bangunan yang sepi.

"Lim siangkong berada dalam kamar itu" ucap dayang tersebut kemudian sambil membuka pintu ruangan.

Ketika Phang Thian-hua melangkah masuk ke dalam ruangan, ia jumpai Li Tiong-hui sedang berdiri sedih di depan pembaringan dan memandang wajah Lim Han-kim dengan termangu-mangu. Hingga Phang Thian-hua tiba disisi pembaringanpun, Li Tiong-hui masih belum merasa, bahkan berpaling pun tidak.

Setelah mendeham pelan phang Thian-hua menegur: "Nona Li, bagaimana keadaan luka Lim siangkong?"

Pelan-pelan Li Tiong-hui berpaling, dengan mata yang berkaca-kaca karena air mata ia menyahut: "Dia memang pasangan yang serasi dengan Pek si-hiang"

Melihat kemasgulan yang begitu tebal menyelimuti wajah gadis tersebut, untuk sesaat Phang Thian-hua tak tahu bagaimana harus memberikan tanggapannya, Dia hanya menengok ke arah Lim Han-kim dan membungkam dalam seribu bahasa.

Setelah menghela napas, kembali Li Tiong-hui berkata: "Ada satu permintaan ingin kusampaikan kepada Phang Cengcu, harap kau jangan menampik,"

"Selama persoalan tersebut dapat kuselesaikan dengan kemampuanku pasti akan kulakukan hingga tuntas."

"Bila kau berhasil menyembuhkan luka Lim Han-kim, ia pasti akan berterima kasih sekali kepadamu."

"Apakah Bengcu minta aku menuntut imbalan bagi pertolongan ini?"

"Phang Cengcu salah paham, aku hanya mohon Cengcu bersedia menjadi Mak comblang."

"Menjadi mak comblang untuk siapa?"

"Lim Han-kim dengan Pek si-hiang" Li Tiong-hui tertawa getir. "Selama hidup belum pernah kulakukan pekerjaan tersebut, aku tidak tahu bagaimana harus buka mulut dan bagaimana harus mengikatkan jodoh kedua orang itu."

"Asal Phang cengcu sudah bersedia, bagaimana cara berbicara dan bagaimana harus bertindak. aku akan mengatur semuanya untukmu."

Berkilat sepasang mata Phang Thian-hua, ditatapnya wajah Li Tiong-hui lekat-lekat kemudian katanya: "Bengcu, kenapa sih kau hanya memikirkan kepentingan orang melulu? Cobalah pikirkan untuk dirimu sendiri" Kembali Li Tiong-hui tertawa getir.

"Bila bencana besar ini berhasil kulewati dengan selamat, aku bermaksud serahkan kedudukan Bulim Bengcu ini kepada si Hakim sakti Ciu Huang, Aku berniat hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia, hidup memencilkan diri di tengah gunung yang sepi. Aaaai... kini, aku baru bisa menyelami perasaan ibuku, tak heran bila ia tak bisa mengulumkan senyumannya selama ini."

Diam-diam Phang Thian-hua gelengkan kepalanya, ia berpikir "Kalau masalahnya sudah menyangkut cinta muda-mudi, aku Phang Thian-hua harus angkat tangan, sebab sedikitpun aku tidak memahaminya."

Terdengar Li Tiong-hui berkata lebih lanjut: "Phang cengcu, aku harap kau bersedia memenuhi permintaanku ini."

Phang Thian-hua melirik Li Tiong-hui sekejap. pikirnya: "Apabila kuterima permintaannya hari ini maka keputusan tersebut akan berbobot lebih berat dari gunung baja. Andaikata ia menyesal di kemudian hari, mungkin keputusan tersebut tak bisa diubah lagi..."

Perlu diketahui. Phang Thian-hua adalah seorang jago yang tergila-gila pada ilmu silat dan ilmu pengobatan. selama hidupnya boleh dibilang ia tak pernah mencicipi rasanya bercinta, tapi pengalamannya berkecimpung dalam dunia persilatan selama puluhan tahun membuat orang tua ini pandai menilai keadaan orang, pengalamannya yang matang membuat ia berhasil menarik kesimpulan bahwa ucapan Li Tiong-hui itu meski diucapkan setulus hati, namun diutarakan oleh karena keadaan yang memaksa, Atau dengan perkataan lain, ia mengorbankan diri demi cintanya.

Sesudah termenung sejenak. Phang Thian-hua berkata kembali pada nona itu.

"Kini, nona Pek menderita luka yang amat parah, Masih merupakan tanda tanya besar, berhasilkah ia sembuh dari Iukanya, sedangkan Lim Han-kim juga belum sadar dari pingsan-nya. Aku rasa kelewat dini untuk membicarakan masalah tersebut. Bagaimana kalau persoalan ini ditunda beberapa hari lagi, agar aku pun bisa mempertimbangkan secara matang?"

"Baiklah silakan Phang cengcu berpikir dengan seksama, jangan kau anggap masalah ini sepele, sesungguhnya mempengaruhi sekali keselamatan umat persilatan di masa mendatang..."

"Waah, kalau begitu aku malah tak mengerti," tukas Phang Thian-hua.

"Setelah aku dipercayai dan diangkat menjadi seorang Bulim Bengcu, sudah merupakan kewajibanku untuk mengutamakan keselamatan umat persilatan di dunia ini. Kini pertarungan kita dengan seebun Giok-hiong belum dimulai, terlalu dini untuk membicarakan masalahnya,"

"Bengcu harap menjelaskan"

Li Tiong-hui menghela napas panjang.

"Saat ini, dalam dunia persilatan terdapat dua sumber bencana, Kesatu adalah seebun Giok-hiong sedang yang lain adalah Pek si-hiang. Kekuatan seebun Giok-hiong sudah terbentuk, keganasannya susah dikendalikan lagi kecuali memerangi dengan kekerasan dan andalkan kepandaian masing-masing untuk menentukan mati hidup, Bila seebun Giok-hiong berhasil unggul, sudah pasti dialah pemimpin dunia persilatan dan dunia persilatan niscaya akan berada di bawah kekuasaannya..."

"Tentang masalah ini, Bengcu tak usah banyak berpikir," sela Phang Thian-hua. "Kendatipun ilmu silat yang dimiliki seebun Giok-hiong terbukti unggul dan hebat, aku tak percaya kalau kemampuannya sanggup melawan tenaga gabungan dari segenap jago tangguh dari dunia persilatan. Betul akibat dari pertarungan ini kedua belah pihak akan kehilangan banyak tenaga dan jagoan, tapi pada akhimya seebun Giok-hiong merupakan pihak yang menderita kekalahan total." Li Tiong-hui tertawa getir.

"Seandainya nasib kita baik dan berhasil memenangkan pertarungan ini, berarti dalam dunia persilatan tinggal bibit bencana yang berasal dari Pek si- hiang. Berbicara dari kecerdasan dan kelicikan yang dimiliki kedua orang ini, kemampuan Pek si-hiang masih  sepuluh kali lebih hebat daripada seebun Giok-hiong, jika kita beri kesempatan tiga tahun kepadanya, ia pasti dapat menghimpun suatu kekuatan yang maha dahsyat. Bila ini sampai terjadi... aku takut tak seorang pun manusia di dunia saat ini yang sanggup menghadapinya. Tak sampai satu tahun, seluruh dunia persilatan pasti sudah berada dalam cengkeramannya."

Phang Thian-hua berpikir sejenak. kemudian manggut- manggut,

"Benar juga perkataan ini, bila Pek si-hiang yang melakukan tindak kejahatan, kedahsyatan dan kebrutalannya pasti jauh di atas kemampuan seebun Giok-hiong."

"Untuk mencegah ia berbuat onar, kini hanya ada dua cara, Kesatu, kita bunuh dia beserta kedua pelayannya mumpung kesadarannya belum pulih kembali atau kedua, terpaksa kita jodohkan dia kepada Lim Han-kim."

"Sekalipun kita jodohkan dia dengan Lim Han-kim, toh ia tetap mampu melakukan keonaran dalam dunia persilatan?" bantah Phang Thian-hua tidak habis mengerti. Li Tiong-hui gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku rasa tak mungkin, Bila seorang gadis sudah kawin dengan kekasih hatinya, maka keadaannya ibarat kuda liar yang sudah diberi pelana, Dia tak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang kasar lagi, Memang betul cara pertama lebih menuntaskan masalah, sebab bibit bencana dapat ditumpas seakar-akarnya, tapi cara semacam ini kelewat keji, lagi pula kita semua berhutang budi kepada Pek si-hiang. oleh sebab itulah, setelah kupikir bolak-balik, akhirnya dapat kusimpulkan bahwa cara kedua yang lebih pantas..."

"Betul juga perkataan Bengcu"

"Nah, obatilah lukanya, aku tak akan mengganggu lagi." selesai berkata, gadis itu beranjak pergi dari situ.

Mengawasi bayangan punggung Li Tiong-hui yang berlalu dengan langkah berat dan gontai, satu ingatan segera melintas dalam benak Phang Thian-hua, pikirnya: "seandainya dia bukan seorang Bulim Bengcu, tentu saja ia tak perlu memikirkan keselamatan umat persilatan.

Aaaai... justru gara-gara memangku jabatan seorang Bengcu, mau tak mau dia mesti mengorbankan kepentingan pribadi..."

Berpikir sampai di sini, tak kuasa lagi dia turut menghela napas sedih. Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara Li Tiong-hui bergema lagi: "Aku harap Phang cengcu mempertimbangkan masalah ini baik-baik"

Phang Thian-hua mengiakan. setelah menutup pintu kamar, ia tanggalkan pakaian yang dikenakan Lim Han- kim, memeriksa luka di dadanya lalu mengerahkan tenaga dalamnya lewat jalan darah Mia-bun-hiat untuk mendesak keluar gumpalan darah yang menyumbat anak muda itu.

Sekalipun ia memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, namun pengobatan semacam ini paling boros menggunakan energi, Tak sampai setengah jam, sekujur tubuh Phang Thian-hua sudah basah kuyup oleh keringat. Tapi dalam saat-saat yang genting ini, ia tak bisa berhenti untuk beristirahat sejenak. terpaksa sambil menggeretak gigi ia bertahan terus.

Di saat tenaga dalamnya makin menipis dan hampir terputus inilah, mendadak ia merasa ada sebuah tangan menempel pada punggungnya dan aliran hawa panas segera menyusup masuk ke dalam badannya.

Terdengar Ong popo berbisik dari belakang: "Aku mendapat perintah dari nona untuk membantumu."

Merasakan begitu kuat dan dahsyatnya aliran hawa panas yang menyusup ke dalam tubuh-nya, Phang Thian-hua pun berpikir "Tak kusangka nenek ini memiliki tenaga dalam yang begitu dahsyat, kuat dan sempurna..."

Setengah jam kembali sudah lewat, kini peredaran darah dalam tubuh Lim Han-kim telah lancar kembali. Gumpalan darah yang mengganjal dadanya terdesak keluar dan menyembur keluar melalui mulutnya berupa gumpalan-gumpalan hitam yang besar.

Sambil menarik kembali tangannya yang menempel dipunggung Lim Han-kim, kata Phang Thian-hua: " Lim siangkong, kau belum boleh berbicara sekarang, lebih baik pejamkan mata sambil mengatur pernapasan"

Bersamaan waktunya Phang Thian-hua menarik kembali tangannya yang menempel di punggung Lim Han-kim, tangan yang menempel dipunggung phang Thian-hua turut ditarik pula.

Belum sempat si Dewa jinsom ini berpaling untuk mengucapkan sesuatu, terdengar desingan angin berhembus lewat, sesosok bayangan manusia sudah menerobos keluar lewat pintu dengan kecepatan tinggi.

Pelan-pelan Lim Han-kim membuka mata-nya, memandang Phang Thian-hua sekejap. lalu seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi niat itu diurungkan kemudian.

Phang Thian-hua membantu pemuda itu untuk membaringkan diri, kemudian katanya: "Gara-gara ingin selamatkan jiwamu, nona Li sudah mengorbankan banyak pikiran dan tenaga." Kemudian setelah berhenti sejenak. tambahnya: "Meski lukamu cukup parah, untung tidak sampai merusak kondisi badanmu. Asal kau beristirahat dengan baik, dalam tiga sampai lima hari kesehatanmu bakal pulih kembali seperti sediakala, ingat baik-baik, sebelum mendapat persetujuanku,jangan bicara sembarangan sekarang istirahatlah dengan tenang, dua jam lagi akan kuberi obat." selesai berkata, ia balik badan dan berlalu.

Begitulah, di bawah perawatan yang seksama dari Phang Thian-hua, dengan cepat kesehatan tubuh Lim Han-kim pulih kembali seperti sediakala, Dua hari kemudian tenaganya sudah pulih kembali, badannya juga terasa lebih segar, Namun pelbagai persoalan yang mencurigakan ikut pula timbul dalam hati kecilnya, hanya saja semua kecurigaan tersebut tak bisa terjawab berhubung Phang Thian-hua melarangnya berbicara apalagi meninggalkan ruangan.

Tengah hari ketiga, Lim Han- Kim sudah tak mampu mengendalikan diri lagi, diam-diam ia menghimpun tenaga dalamnya dan secara tiba-tiba dihantamkan ke tubuh Phang Thian-hua. Dengan perasaan amat terkejut buru-buru Phang Thian-hua memutar tangan kanannya untuk menyambut sera ngan tersebut, kemudian tegurnya dengan penuh kegusaran: "Hey, apa-apaan kamu ini?"

"Locianpwee jangan marah." Lim Han-kim tersenyum, "Aku hanya ingin menjajal apakah kekuatan tenagaku telah pulih kembali atau belum."

"Hmmm, paling tidak pukulanmu itu mengandung kekuatan seberat tiga ratus kati" seru Phang Thian-hua ketus. "Lagi pula sasaran yang kau tuju adalah bagian mematikan di dadaku, coba kalau reaksiku kurang cepat, apa aku tidak terluka di tanganmu sedari tadi?"

"Jadi kekuatan tubuhku sudah pulih kembali?" "Masa kau tak bisa merasakan sendiri dan harus

dicobakan langsung kepadaku?"

Kembali Lim Han-kim tertawa.

"Sesungguhnya sedari kemarin aku sudah merasa bahwa kekuatan badanku telah pulih kembali seperti sediakala, tapi heran, kenapa locianpwee masih melarang aku berbicara dan sepanjang hari memaksaku untuk beristirahat?"

Mula-mula Phang Thian-hua agak tertegun, kemudian teriaknya: "oooh, jadi kau sudah mencurigai aku?"

Buru-buru Lim Han-kim bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam, ujarnya lembut: "Banyak masalah mencurigakan yang mengganjal dadaku selama ini. Aku gagal menemukan jawabannya, sedang locianpwee membatasi ruang gerak dan kebebasanku secara ketat, melarangku berbicara sepatah pun. Dalam keadaan terpaksa, mau tak mau kugunakan siasat tersebut, untuk itu harap locianpwee jangan marah."

Phang Thian-hua menghela napas panjang.

"Tahukah kau apa sebabnya kularang kau berbicara?" tanyanya.

"Aku tidak mengerti."

"Sesungguhnya akupun mengerti bahwa banyak masalah mengganggu pikiranmu selama ini, tapi aku sendiri pun khawatir bila sampai kau ajukan pertanyaan itu kepadaku, sebab aku tak sanggup memberikan jawabannya,"

"Kalau begitu beritahukan saja apa yang locianpwee ketahui, sedang yang tidak kau ketahui, aku tak berani mendesak."

"Kalau begitu tanyalah"

"Apakah kita berada diperkampungan pit-tim-san- ceng, tempat tinggal locianpwee?"

"Bukan, bukan, tempat ini bukan rumah kediamanku" Phang Thian-hua menggeleng. "Kita sedang berada di lembah Ban-siong-kok, rumah tinggal keluarga Hong- san"

"Tempat tinggal keluarga Hong-san? Kenapa aku bisa berada di sini?"

"Kau dan Pek si-hiang terluka sangat parah. Aku tak sanggup menolong kamu berdua, maka nona Li membawa kalian pulang ke rumahnya dan minta tolong ibunya untuk mengobati luka kamu berdua." "Ooooh, rupanya begitu, lantas bagaimana keadaan luka nona Pek?" tanya Lim Han-kim sambil menghela napas.

Baru saja Phang Thian-hua hendak menjawab, tiba- tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, kata-kata yang siap meluncur keluar seketika ditelan kembali, dengan sepasang matanya yang tajam diawasinya wajah Lim Han-kim tanpa berkedip.

Berubah wajah Lim Han-kim, kontan teriaknya: "Ada apa? Apakah nona Pek sudah mengalami musibah yang tidak diharapkan?"

"Tidak, ia baik sekali," jawab Phang Thian-hua dengan kening berkerut "Cuma luka yang dideritanya jauh lebih parah daripada lukamu, Meski nyonya Li sudah berusaha menolongnya siang malam, kondisi badannya belum pulih seutuhnya."

Mendengar jawaban tersebut Lim Han-kim menghembuskan napas lega, ujarnya kemudian: "llmu sesat sembilan iblis memang sejenis ilmu silat yang paling jahat di dunia ini."

"Apa maksudmu?" tanya Phang Thian-hua tidak habis mengerti.

"Sebenarnya nona Pek adalah seorang gadis yang baik sekali. Gara-gara mempelajari ilmu sesat sembilan iblis wataknya jadi ikut berubah, tingkah lakunya liar dan ganas, perbuatannya keluar dari rel kebenaran... bahkan kejahatan macam apa pun dapat ia lakukan."

"Masa di kolong langit betul-betul terdapat ilmu silat begitu aneh dan dahsyatnya?" "Dengan mata kepalaku sendiri pernah kubaca catatan rahasia ilmu sesat sembilan iblis tersebut. Bahkan aku pun pernah menyaksikan perubahan mimik wajah Li Tiong-hui serta Seebun Giok-hiong yang dipaksa Pek Si- hiang mempelajari ilmu tersebut"

Timbul perasaan ingin tahu Phang Thian-hua setelah mendengar uraian ini, tak tahan tanyanya: "Kalau begitu Li Bengcu dan Seebun Giok-hiong pernah juga mempelajari ilmu sesat sembilan iblis?"

"Yaa Untung segera kuketahui gelagat yang tidak menguntungkan sehingga jalan darah mereka kutotok secepatnya, Coba kalau tidak, mereka akan terperosok makin dalam oleh pengaruh iblis tersebut dan susah melepaskan diri lagi, mereka akan kecanduan hebat."

"Masa ada kejadian semacam ini? Berpuluh-puluh tahun aku hidup mengembara dalam dunia persilatan, rasanya belum pernah kudengar tentang kejadian semacam ini..."

Setelah berhenti sejenak. kembali terusnya: "Bila luka nona Pek sudah sembuh nanti, aku harus minta petunjuk darinya mengenai ilmu sesat sembilan iblis tersebut"

"Jangan...jangan. Lebih baik jangan kau pelajari

ilmu jahat itu" cegah Lim Han-kim sambil goyangkan tangannya berulang kali.

"Aku sudah cukup lama hidup di dunia ini, kalau bisa hidup terus pun paling banter tinggal berapa tahun lagi. Apa salahnya bila kupelajari ilmu aneh tersebut untuk menambah pengetahuan. Aku bukan bermaksud mempelajarinya sebagai ilmu pegangan, aku cuma ingin tahu saja." "Aaaaai..." Lim Han-kim menghela napas panjang, "sekalipun pek si-hiang dapat sembuh dari luka yang dideritanya, bukan berarti pengaruh ilmu iblisnya turut musnah, ia tetap akan melakukan perbuatan dan sepak terjang yang tak benar."

Mendadak terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, Li Tiong-hui tahu-tahu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan seraya menyapa: "saudara Lim, kau sudah sembuh?"

Buru-buru Lim Han-kim memberi hormat. "Terima kasih banyak atas pertolongan Bengcu"

"Ketika berlangsung pemilihan Bengcu, saudara Lim toh tidak ikut hadir, aku rasa kau tak perlu memanggilku sebagai Bengcu..." Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali terusnya: "sebenarnya aku harus menjenguk saudara Lim lebih awal lagi, tapi berhubung kondisi badan nona Pek belum pulih kembali, Aku kuatir tak dapat memberikan pertanggungan jawab bila berjumpa dengan saudara Lim, karenanya aku tak berani berkunjung kemari."

"Lantas bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lim Han-kim cemas.

Sekilas senyuman pedih tersungging di ujung bibir Li Tiong-hui, sahutnya pelan: "Sekarang keadaannya sudah membaik. Gara-gara ingin selamatkan nona Pek, ibuku telah berjuang tiga hari tiga malam lamanya, syukur pada akhirnya beliau berhasil membetot balik sukma nona Pek dari pintu neraka."

"Sekarang ia sudah sadar?" desak pemuda itu lagi. Li Tiong-hui tak dapat membendung rasa sedih yang mencekam perasaan hatinya lagi, buru-buru ia melengos kearah lain sambil berseru: "siau-cing, kau ada di mana?"

Seorang dayang berbaju hijau segera munculkan diri sambil menyahut: "Hamba berada di sini"

"Ajak Lim siangkong pergi menjenguk nona Pek" perintah Li Tiong-hui cepat, kemudian buru-buru ia beranjak pergi dari situ.

Memandang bayangan punggung si nona yang berlalu, Phang Thian-hua menghela napas panjang, bisiknya tiba- tiba: "Saudara Lim, kau telah melukai hatinya"

Lim Han-kim tertegun.

"Sebenarnya aku berniat memberitahukan satu hal kepadanya..."

Belum selesai ucapan tersebut, terdengar dayang berbaju hijau itu sudah berseru: "Siang-kong, harap ikuti hamba"

Lim Han-kim tertawa getir, katanya lagi: "Sebenarnya aku hendak beritahu kepadanya, untuk menjaga segala kemungkinan yang tak diharapkan, kita tak boleh membiarkan nona Pek sadar kembali seutuhnya."

"Oooh, rupanya begitu, bagaimana kalau kutemani dirimu?"

"Locianpwee sangat pandai dalam ilmu pengobatan, memang paling baik bila kau bersedia mendampingiku."

Sementara itu si dayang sudah menanti di luar pintu, maka berangkatlah Lim Han-kim dan Phang Thian-hua mengikuti di belakangnya. Setelah melewati sebuah kebun dengan halaman yang luas, dayang berbaju hijau itu menuding ke arah sebuah bangunan loteng di depan sana seraya menjelaskan "Nona Pek berada dalam bangunan loteng itu, silakan siangkong pergi sendiri"

"Terima kasih, nona."

Ketika tiba di depan pintu, tampak Hiang-kiok berdiri menanti di sana, Begitu bertemu dengan Lim Han-kim, ia segera memberi hormat seraya berkata: "Selamat Lim siangkong atas kesembuhanmu dari luka parah."

"Terima kasih juga atas perhatianmu bagaimana keadaan nona Pek?"

"Berkat pengobatan nyonya Li yang seksama, kondisi badannya sudah banyak membaik."

"Apakah ia sudah sadar kembali?" tanya Lim Han-kim cemas.

"Penyakitnya sih sudah sembuh, tapi ia belum sadar kembali."

Lim Han-kim menghembuskan napas lega setelah mendengar perkataan ini, katanya kemudian "Boleh aku masuk untuk menjenguk-nya?"

"Silakan"

Masuk ke dalam ruangan, terlihat Pek si- hiang tergeletak di atas pembaringan sambil menengok ke langit-langit ruangan Tubuhnya yang lemah dan kurus kini nampak lebih kurus kering, matanya terpejam dan wajahnya pucat pias seperti mayat. siok-bwee berdiri ditepi pembaringan dengan wajah murung bercampur masgul.

"Dia sudah minum obat?" tanya Lim Han-kim kemudian.

"Sudah."

"Ada satu hal yang sebenarnya ingin kurundingkan dengan nona berdua."

"Urusan apa Lim siangkong? Katakan saja, budak pasti akan melaksanakan segera."

"Pernahkah nona bayangkan, bagaimana keadaan nona Pek bila sudah sadar kembali nanti?"

Siok-bwee tertegun, lalu jawabnya ragu: "soal ini budak tak bisa ramalkan"

"Kini, kondisi tubuhnya belum pulih kembali padahal ilmu sesat masih bercokol dalam tubuhnya. Bila setelah mendusin nanti ia melakukan keonaran... aku tak bisa menebak apa jadinya, apa lagi kita masih berada dalam gedung milik keluarga Hong-san."

"Budak belum pernah berpikir sampai ke situ." "Berhubung masalah ini menyangkut mati hidup nona

Pek, aku harap nona berdua mau memikirkannya kembali

dengan seksama." siok-bwee menghela napas panjang.

"Aaaai... sesungguhnya pikiran budak saat ini sedang amat kalut berhubung nona belum juga sadarkan diri.

Bila siangkong punya sesuatu pendapat, lebih baik pikirkanlah untuk kami."

"Menurut pendapatku, begitu nona Pek sadar nanti, kau harus segera menotok jalan darahnya." Mendadak Pek si- hiang membuka matanya lebar- lebar, memandang Lim Han-kim sekejap lalu dipejamkan kembali ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi sayang tak berkekuatan untuk berbicara.

Walau begitu, kejadian tersebut sangat menggembirakan siok-bwee, buru-buru teriaknya: "Non, kau telah sadar, kau telah sadar."

Tiba-tiba dari belakang tubuh mereka bergema suara seseorang yang dingin membeku bagaikan es: "Saat ini ia belum boleh berbicara, jangan kalian usik dirinya"

Ketika Lim Han-kim berpaling, tampak seorang nyonya setengah umur yang cantik bagaikan dewi telah berdiri di muka pintu,

Dengan cepat siok-bwee jatuhkan diri berlutut sambil berseru: "Budak menjumpai nyonya besar."

Dari seruan siok-bwee, Lim Han-kim segera tahu bahwa perempuan cantik ini tak lain adalah nyonya Li, buru-buru ia menjura pula, seraya berkata dengan hormat: "Aku yang muda Lim Han-kim menjumpai nyonya."

Dengan wajah serius nyonya Li ulapkan tangannya "Tidak usah banyak adat."

Pelan-pelan dia menghampiri pembaringan lalu tempelkan telapak tangannya di atas dada Pek si- hiang. Kurang lebih sepeminuman teh kemudian baru ia menghela napas dan berpaling seraya berseru: "Ambilkan jarum emasku"

Seorang dayang kecil berbaju hijau menyahut dan menyembahkan sebuah kotak porselen. Nyonya Li membuka kotak itu, mengeluarkan sebatang jarum emas dan setelah berpikir sejenak langsung ditusukkan ke dada Pek si-hiang.

Dalam suasana hening yang mencekam seluruh ruangan itulah, tiba-tiba terdengar suara genta yang dibunyikan tiga kali bergema tiba.

Dengan kening berkerut nyonya Li berpaling sekejap ke arah dayang berbaju hijau itu sambil perintahnya: "Coba tengok, apa yang terjadi."

Meskipun Lim Han- kim tidak tahu perlambang apakah suara genta itu, namun ia mengerti bahwa suara genta itu mengartikan suatu pentingatan yang gawat.

Setelah mengutus dayangnya pergi, paras muka Nyonya Li kembali kelihatan dingin dan kaku, tidak kelihatan panik, risau maupun gelisah. suasana hening kembali mencekam seluruh ruangan, sedemikian sepinya sampai suara jarum yang terjatuh ke lantaipun dapat kedengaran dengan jelas sekali.

Sepenanakan nasi kembali lewat tanpa terasa, Dayang berbaju hijau yang diutus keluar tadi kini muncul kembali dengan langkah tergesa-gesa. sesudah membisikkan beberapa patah kata ke sisi telinga Nyonya Li, kembali ia berlalu dengan langkah tergopoh-gopoh. 

Paras muka nyonya Li tetap dingin dan kaku, pelan- pelan dia cabut keluar jarum emas yang berada di dada Pek si-hiang, lalu sambil berpaling ke arah Lim Han-kim dan siok-bwee, ujarnya seraya mengeluarkan sebuah botol porselen: "Dalam botol ini berisi tiga butir pil, Berikan kepadanya setiap tiga jam satu kali, besok dia boleh bersantap apa saja." Selesai berkata ia pun membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ

"Budak menghantar kepergian nyonya" seru siok- bwee sambil menyembah berulang kali.

"Tidak usah" tampik nyonya Li tanpa berpaling lagi.

Sepeninggal nyonya Li, siok-bwee baru bangkit berdiri dan bisiknya kepada Lim Han-kim: "siangkong, tampaknya nona dapat diselamatkan."

Baru selesai ucapan tersebut, dari kejauhan terdengar dua suara pekikan nyaring berkumandang datang.

Ketika Lim Han-kim memburu keluar ruangan, bayangan tubuh nyonya Li sudah tidak nampak lagi, sementara Phang Thian-hua sedang berbisik-bisik dengan Hiang-kiok di luar halaman.

Melihat kemunculan Lim Han-kim, Hiang-kiok pun berbisik: "Kelihatannya keluarga Hong-san telah kedatangan musuh tangguh."

"Tampaknya pihak pendatang sudah menerjang masuk..." bisik Phang Thian-hua.

"Bagaimana kalau kita bersama-sama menengok ke sana?"

"Jangan" Phang Thian-hua buru-buru gelengkan kepalanya, "Sebelum peroleh ijin dari nona Li serta Nyonya Li, lebih baik kita jangan pergi secara sembarangan lagi pula lebih baik kau berada di sini untuk melindungi keselamatan nona Pek."

Belum sempat Lim Han-kim memberikan tanggapannya, mendadak terlihat seorang dayang berbaju hijau dengan pedang terhunus berlarian mendekat, semua dayang yang bekerja dalam keluarga Hong-san rata-rata mengenakan pakaian dengan model serta warna yang sama, oleh sebab itu tidak sulit untuk mengenalinya dalam sekilas pandangan.

Dayang itu langsung menghampiri Phang Thian-hua dan berbisik: "Ada musuh yang menyerang ke dalam keluarga Hong-san, suatu pertarungan seru mungkin tak bisa dihindari lagi. Kami berharap Anda semua masuk ke dalam ruangan, tutup pintu dan jendela rapat-rapat agar tak sampai menimbulkan kesalahanpaham."

"Seandainya musuh benar-benar tangguh, sepantasnya bila kami turut menyumbangkan tenaga, masa malah disuruh bersembunyi?" bantah Lim Han-kim.

"Membantu sih tidak perlu, lebih baik kalian masuk saja ke dalam kamar dan tutup pintu rapat-rapat,"

"Saudara Lim," Phang Thian-hua segera menimpali "Kita adalah tamu yang tidak tahu akan peraturan keluarga Hong-san, lebih baik masuk ke dalam kamar." selesai bicara, ia masuk lebih dulu ke dalam kamar.

Dengan perasaan terpaksa, Lim Han-kim dan Hiang- kiok masuk juga ke dalam kamar menyusul di belakang Phang Thian-hua.

"Jangan lupa tutup pintu dan jendela rapat-rapat" Kembali dayang berbaju hijau itu berpesan. "walau mendengar suara apa pun, lebih baik jangan mengintip ke luar" Hiang-kiok menyahut dan segera tutup pintu rapat-rapat. Setelah berada dalam ruangan, Lim Han-kim menengok Phang Thian-hua sekejap lalu bisiknya: "Aku rasa kejadian ini rada mencurigakan"

"Soal apa?"

"Kenapa kita dilarang untuk mengintip ke luar?"

"Mungkin keluarga Hong-san mempunyai sistem pertahanan yang tidak ingin diketahui orang luar."

Berbicara tentang sifat Phang Thian-hua, sebenarnya dia adalah seorang yang tinggi hati dan segan tunduk kepada siapa pun. Berhubung ia sudah dibuat kagum oleh kehebatan ilmu pertabiban yang dimiliki Nyonya Li, ditambah pula dengan sikap dingin dan kaku yang dipancarkan perempuan tersebut, tanpa sadar dalam hati kecilnya timbul perasaan kagum dan hormat yang tinggi. itulah sebab-nya, kendatipun rasa heran dan curiga sempat menyelimuti perasaan hatinya, namun ia berusaha untuk tetap menahannya.

Hiang-kiok yang masih muda, sifat kekanak- kanakannya belum hilang, segera mengusulkan:

"Kalau mereka larang kita untuk mengintip ke luar, bagaimana kalau kita buat lubang di daun jendela untuk mengintip ke luar? Toh, mereka tak akan tahu?"

"Jangan" cegah Phang Thian-hua seraya menggeleng, "Kalau sampai ketahuan, mereka pasti akan memandang hina perbuatan kita"

Baru selesai perkataan tersebut diucapkan, mendadak terdengar suara dengungan yang sangat aneh berkumandang datang. Dengan kening berkerut Lim Han-kim ber-bisik: "Kelihatannya memang rada aneh dan mencurigakan coba dengar, suara aneh apa itu?"

Phang Thian-hua pasang telinga untuk memperhatikan dengan seksama, sesaat kemudian ia gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang, jelas dia sendiri pun tak bisa membedakan suara apakah itu. Mendadak Hiang-kiok berseru tertahan: "Aaaah, tahu aku, suara itu"

"Suara apa?"

"Suara tawon dalam jumlah yang besar"

Lim Han-kim pasang telinga baik- baik dan mendengarkan dengan seksama, Benar juga, yang terdengar memang suara rombongan tawon yang terbang melintas, Kenyataan ini membuat hatinya makin tercengang, pikirnya: "Masa keluarga Hong-san benar- benar menggunakan rombongan tawon untuk memukul mundur serangan musuh? Kalau benar merupakan kenyataan, kejadian ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang langka, Aku bakal menyesal seumur hidup jika tak bisa melihatnya."

Perasaan ingin tahu yang sangat kuat segera berkecamuk dalam benaknya, tanpa sadar ia bergerak hendak membuka daun jendela.

"Saudara Lim, jangan gegabah" Buru-buru Phang Thian-hua mencegah.

Mendengar teguran itu, Lim Han-kim menarik kembali tangannya dan menghela napas panjang.

"Aaaai... belum pernah kudengar ada orang memukul mundur musuhnya dengan rombongan tawon, Kalau tidak melihat sendiri, aku bakal menyesal sepanjang hidup,.."

"Sedikit pun tidak aneh" Tiba-tiba suara seseorang yang terdengar lemah menyambung. suara itu terputus- putus, jelas berasal dari Pek si-hiang. serentak Lim Han- kim, Hiang-kiok dan siok-bwee memburu ke depan, tampak Pek si-hiang sudah duduk bersandar di pembaringan.

Rupanya perhatian beberapa orang itu tercurah ke luar ruangan sehingga tak seorang pun tahu sejak kapan gadis itu sadarkan diri.

"Nona," bisik siok-bwee, "Lukamu belum sembuh total, lebih baik jangan sembarangan bergerak. Kalau toh nona ingin bicara, lebih baik sambil berbaring saja" Pek si- hiang menggeleng.

"Asalkan kesadaranku pulih kembali, maka dengan cepat luka dalamku akan ikut pulih juga," ucapnya lemah.

"Nona hendak andalkan ilmu sesat sembilan iblis lagi?" tanya Lim Han-kim ragu.

"Di kolong langit ini hanya ilmu sesat sembilan iblis yang dapat mengubah seorang awam menjadi seorang yang hebat dalam tiga-lima bulan saja, dan cuma ilmu sesat sembilan iblis yang dapat mengubahku dari seorang gadis penyakitan yang lemah menjadi seorang yang sehat dan segar"

"Aturan belajar silat yang benar adalah berurutan dari dasar menuju ke atas, selangkah demi selangkah maju terus ke atas, sebaliknya ilmu sesat sembilan iblis yang nona pelajari hanya bertujuan mencapai hasil dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, meskipun memberikan hasil yang luar biasa, namun kau tidak memiliki dasar yang kokoh" Tiba-tiba Hiang-kiok menimbrung:

"Nona, maafkan budak banyak mulut, ada satu hal perlu hamba laporkan kepada nona"

"Soal apa?"

"Ketika masih di perahu tempo hari, nona telah menghajar Lim siangkong hingga luka parah, untung ada nona Li yang segera membawa nona serta Lim siangkong pulang ke bukit Hong-san, coba kalau tidak, mungkin Lim siangkong sudah tewas"

Mendadak Pek si-hiang mencengkeram selimutnya kuat-kuat, peluh sebesar kacang kedele bercucuran amat deras, mulutnya terbuka dan napasnya tersengal-sengal, tampaknya ia menderita sekali.

Hiang-kiok paling muda di antara yang hadir di sana, ia paling tak mampu menahan diri. Dengan rasa gelisah bercampur takut teriaknya keras-keras: "Nona, kenapa kau?"

"Cepat ambilkan jarum emasku" seru Pek si-hiang dengan napas tersengal-sengal. Mendengar ucapan tersebut, siok-bwee menghela napas panjang.

"Nona, berhubung sudah lama nona tidak memakai jarum emas, budak tidak membawanya."

Tiba-tiba Pek Si-hiang ambruk ke atas selimut, sekujur tubuhnya gemetar keras, giginya menggigit ujung selimut kuat- kuat, namun ia tetap berusaha untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu agar tak sampai merintih atau mengaduh, penderitaan yang luar biasa ini membuat Hiang-kiok maupun siok-bwee hanya bisa berdiri tertegun, sementara air mata mereka bercucuran keluar dengan derasnya,