-->

Pedang Keadilan II Bab 34 : Terluka Parah

 
Bab 34. Terluka Parah

"Aku hanya tahu ia berasal dari daratan Tionggoan, sedang desa asalnya jarang sekali diketahui orang," jawab Li Tiong-hui. Kemudian setelah berhenti sejenak. ujarnya lebih jauh: "Konon mendiang ayahku kenal dengan-nya, bahkan hubungan mereka berdua sangat  baik, Kemudian entah apa sebabnya, ternyata hubungan mereka retak dan saling berpisah.

Dengan andalkan pedangnya si Raja pedang berhasil mengalahkan lima partai pedang ter-besar, kemudian mengalahkan pula kuil siau-lim-si. saat itu semua orang menaruh rasa jeri kepadanya, namun sampai hilang dari peredaran belum pernah dia usik keluarga kami di bukit Hong-san-"

Lim Han- kim ingin mengucapkan sesuatu, namun niat tersebut diurungkan kembali. sorot matanya segera dialihkan ke tengah arena di mana seebun Giok-hiong sedang terlibat pertempuran yang amat seru melawan pangeran pedang.

Tampak seebun Gok-hiong dengan permainan pedangnya yang ganas mendesak musuhnya habis- habisan. serangannya ibarat gulungan ombak di tengah samudra yang sambung menyambung, Kekuatannya luar biasa sekali.

sebaliknya pedang yang berada di tangan pangeran pedang ibarat sebuah pulau karang yang berdiri sendiri di tengah samudra luas. Betapa pun dahsyatnya gulungan ombak yang menerpanya, ia tetap tegar di tempat tanpa bergeming.

Melihat kehebatan lelaki itu, tak kuasa lagi Lim Han- kim berseru memuji: "Jurus pedang dari Raja pedang memang nyata kehebatannya, Aku rasa serangan gencar dari nona seebun belum akan mengungguli permainan pedang dari pangeran pedang dalam waktu singkat" 

Biarpun waktu itu seebun Giok-hiong sedang bertempur sengit melawan pangeran pedang, namun telinganya masih bisa mendengar suara di sekeliling tempat itu, Gerak-gerik Lim Han-kim serta Li Tiong-hui tak satu pun yang lolos dari pengamatannya, cuma saja lantaran ia sedang terlibat dalam pertempuran sengit maka tak ada waktu baginya untuk mengurusi mereka.

Hawa amarahnya kontak meluap setelah mendengar Lim Han-kim memuji kehebatan ilmu pedang pangeran pedang tersebut sambil tertawa dingin ia menukas: "Akan kusuruh kalian saksikan ilmu silat yang sesungguhnya dari seebun Giok-hiong"

Pedangnya segera dialihkan ke tangan kiri, sementara tangan kanannya menyentil ke depan melepaskan sebuah serangan jari. Waktu itu, seluruh perhatian pangeran pedang sedang tertuju pada permainan pedang lawannya, ia tak mengira akan datangnya sergapan ilmu jari lawan. "Duuuuk"

Dengan telak serangan tersebut bersarang di atas bahunya, membuat ia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan dan akhirnya berdiri bersandar pada dinding ruang perahu.

"Bagaimana pangeran pedang?" ejek seebun Giok- hiong sambil tertawa dingin, "Masih ingin melanjutkan pertarungan ini?"

"Tidak. aku sudah tak memiliki kemampuan untuk melanjutkan pertarungan ini," jawab Pangeran medang sambil menggeleng.

"Jadi kau sudah mengaku kalah?"

"Tidak. Aku bukan kalah oleh permainan ilmu pedangku" "Dalam pertaruhan kita tadi, tidak disinggung bahwa aku harus mengalahkan kau dengan ilmu pedangku"

"Menurut ayahku, hanya pedang yang merupakan senjata paling sah dalam dunia persilatan oleh sebab itu, selama bertahun-tahun aku hanya khusus mempelajari ilmu pedang, Aku tak mengerti kepandaian lainnya"

Mendengar perkataan tersebut, seebun Giok-hiong merasa jengkel sekaligus juga geli, tegurnya kemudian dengan ketus: "jadi kau hendak mengingkari janjimu tadi?"

Cepat- cepat pangeran pedang menggeleng: "Tidak. ucapan manusia lebih berharga daripada emas murni, apa yang telah diucapkan tak boleh diingkari kembali"

"Bila kau tak ingin ingkar janji, berarti sejak sekarang kau harus menjadi budakku"

"Kalau aku enggan menjadi budakmu, mau apa kau?" "Boleh saja kalau tak ingin menjadi budak-ku, ada

sebuah jalan lain yang bisa kau pilih"

"Apakah jalan itu?" "Mati"

Pangeran pedang segera tertawa terbahak bahak: "Ha ha ha... pada awal perjalananku ke daratan Tionggoan tempo hari, sebenarnya aku bercita-cita dapat mengalahkan lima partai pedang terbesar seperti apa yang dilakukan ayahku dulu, kemudian membentuk sebuah nama Raja pedang baru dalam dunia persilatan sungguh tak kusangka dalam pertarungan yang pertama aku sudah menderita kerugian besar. sekalipun aku tidak bertaruh dengan nona, rasanya aku pun sudah takpunya muka lagi untuk pulang menjumpai ayahku." selesai berkata, ia segera menggorokkan pedangnya ke arah leher sendiri

"Tahan" bentak Lim Han- kim keras-keras. "Ada apa?" tanya pangeran pedang sambil

menghentikan gerakannya.

"Menang atau kalah merupakan kejadian yang lumrah dalam suatu pertarungan kenapa Anda harus bunuh diri hanya lantaran kalah dalam pertarungan ini?"

"Ayahku adalah Raja pedang yang terkenal. sebagai putranya, aku telah mewarisi semua kepandaian yang dimilikinya, tapi sekarang aku harus kalah di tangan orang lain, Aku tak boleh menodai nama baik ayahku. Kalau tidak menetesnya dengan kematian, apa lagi yang bisa kuperbuat?"

"Kendatipun ayahmu berhasil meraih predikat sebagai Raja pedang, bukan berarti sepanjang hidupnya ia tak pernah kalah di tangan orang lain"

"omong kosong" maki pangeran pedang gusar. "Coba katakan ayahku pernah kalah dari siapa?"

Lim Han- kim tertegun, ia jadi gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Li Tiong-hui yang menyaksikan hal ini, buru-buru menyambung: "Menurut apa yang kuketahui ayahmu pernah dua kali menderita kekalahan di tangan orang lain." "Dua kali? Dengan siapa?" desak pangeran pedang penasaran

"Pertama ketika terkurung dalam barisan Lo-han-tin partai siau-lim, kedua kalah dari Datuk sepuluh penjuru siang Lam-ciau."

"Benarkah perkataanmu itu?"

"Tentu saja benar. Buat apa aku membohongimu?" "Sekalipun semua yang dikatakan merupakan

kenyataan, hal tersebut tak ada hubungannya sama sekali dengan pertaruhan kita," jengek seebun Giok- hiong dingin.

"Kalau ayahku saja pernah dua kali menderita kekalahan, berarti kekalahanku hari ini di tanganmu bukan termasuk suatu kejadian yang luar biasa."

"ooooh, jadi kau hendak ingkar janji?"

"Nama besar ayahmu adalah Raja pedang," sambung Lim Han-kim pula, "Berarti ia cuma hebat dalam permainan pedang dan mempunyai kepandaian yang sempurna dalam masalah ini, bukan berarti selama hidupnya ia tak pernah menderita kekalahan."

"Apa urusannya dengan kau?" bentak seebun Giok- hiong gusar, "siapa suruh kau mencampuri urusanku?"

"Aku toh hanya membujuk dia agar tidak bunuh diri gara-gara kekalahan yang di-deritanya, apa salahku untuk berbuat demikian?"

"Mati hidupnya apa urusannya dengan kau?" kata seebun Giok-hiong lagi ketus. "Kenapa kau mesti cerewet dengan ikut menimbrung. Lagipula meski kau berhasil membujuknya agar tidak bunuh diri, bukan berarti kau mampu menyelamatkan dirinya"

"Bila ia enggan bunuh diri, mungkin nona seebun juga tak akan mampu membunuhnya."

"Baik, akan kubuktikan kepadamu"

Melihat kenekatan nona itu, dengan lantang Lim Han- kim segera berseru: "Bila nona bersikeras hendak membunuhnya mungkin aku dan nona Li terpaksa tak dapat berpangku tangan saja"

Dengan sorot mata yang tajam seebun Giok-hiong menyapu sekejap wajah Lim Han-kim serta Li Tiong-hui, kemudian ujarnya: "sekalipun kalian bertiga turun tangan bersama, belum tentu kalian mampu menandingi diriku"

"Gabungan nona Li serta Pangeran pedang paling tidak masih sanggup menahanmu sebanyak tiga gebrakan, Aku pun akan manfaatkan peluang ini untuk membebaskan totokan Pek si-hiang"

seebun Giok-hiong menoleh, ia saksikan posisi berdiri Lim Han-kim saat itu persis menghadang di depan tubuh Pek si-hiang, berarti dengan cara apa pun mustahil baginya dapat melukai Pek si- hiang hanya dalam sekali pukulan.

Kembali Lim Han-kim berkata dengan nada dingin: "Gempuran nona mungkin saja dapat melukai aku Lim Han-kim, tapi asalkan aku mampu menahan dua jurus seranganmu, maka Li Tiong-hui dapat membebaskan totokan jalan darah Pek si-hiang. Bila hal ini sampai terjadi, kau bakal menghadapi musuh tangguh dari mana-mana, kami semua akan bersama-sama memusuhimu"

"Lim Han-kim" teriak seebun Giok-hiong dengan gemas, "Tahu begini, semestinya kubunuh dirimu sejak dini Dalam urusan apa pun kau selalu ingin mencampurinya"

"Yaa, apa boleh buat, kenapa setiap terjadi peristiwa macam begini, secara kebetulan aku selalu hadir di situ," sahut Lim Han-kim setelah termangu sejenak, sementara dalam hati kecilnya ia berpikir:

"Benar juga apa yang ia katakan. Aku belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, tapi dalam waktu yang relatip singkat ini aku selalu hadir dalam setiap masalah besar yang sedang terjadi..." Membayangkan kembali kejadian yang sangat aneh ini, tak kuasa lagi ia tertawa geli.

"Apa yang kau tertawakan?" bentak seebun Giok- hiong semakin gusar.

"Betul juga apa yang nona katakan, aku Lim Han- kim dengan sedikit kepandaian yang kumiliki ternyata selalu terpaksa terlibat dalam pertikaian antara jago-jago lihai berotak cerdas macam kalian. Kalau dipikirkan kembali sungguh aneh."

"sedikit pun tidak aneh," suara seseorang yang lembut dan halus ikut menimbrung, "Hal ini bukan kehadiranmu yang sangat kebetulan, melainkan karena di hati kecil mereka sama-sama merindukan dirimu hingga sengaja atau tak sengaja kau menjadi pusatnya semua perkara, pertikaian dan perselisihan pun selalu timbul di depanmu, otomatis kau selalu terlibat dalam kejadian-kejadian ini" Ketika semua orang berpaling, tampak Pek si-hiang sedang pelan-pelan bangkit berdiri dan mengawasi setiap orang yang hadir di dalam ruang perahu itu.

"siapa yang membebaskan kau dari totokan?" tegur Lim Han- kim setelah tertegun sejenak.

Pek si-hiang tersenyum, "Tatkala menotok jalan darahku tadi, kau menggunakan tenaga kelewat ringan, otomatis aku bisa membebaskannya dengan gampang."

"Aaaai, semestinya aku dapat menduga kalau kau mampu membebaskan diri dari pengaruh totokan, Tahu begini, sepantasnya bila kutotok lebih banyak lagi jalan darahmu"

"Percuma, asal aku dapat menghimpun hawa murniku untuk menembusi nadi-nadi penting, satu jalan darah atau sepuluh buah jalan darah adalah sama saja bagiku"

Entah kenapa, seebun Giok-hiong yang garang dan ganas begitu berjumpa dengan Pek si-hiang, dalam hatinya segera timbul perasaan ngeri dan takut yang luar biasa, Begitu melihat gadis itu sudah sadar kembali, kegarangannya kontan surut sebagian besar.

Pek si-hiang angkat kepalanya memandang Pangeran pedang sekejap. lalu serunya: " Cepat perintahkan anak buahmu untuk membebaskan kedua orang dayangku"

Pangeran pedang segera merasa bahwa kecantikan wajah gadis ini tidak berada di bawah kecantikan seebun Giok-hiong, bahkan bila dibandingkan, ia memiliki gaya kelembutan yang menawan hati. Tak kuasa lagi hatinya tergerak. pikirnya: "Tak kusangka gadis daratan Tionggoan begitu cantik bak bidadari dari kahyangan. seandainya aku dapat membawa pulang kedua orang ini ke Lam-hay dan kujadikan selirku, tidak sia-sia perjalananku kali ini.."

Baru selesai dia berpikir, sambil tertawa dingin Pek si- hiang telah menegur "HHmmmm Kematian sudah di depan mata, kau masih berani membayangkan hal yang bukan-bukan."

Dengan perasaan terkejut pangeran pedang bertanya: "Ada apa?"

Rupanya ia begitu kesemsem membayangkan bagaimana dirinya membawa kedua orang gadis itu pulang ke Lam-hay dan dijadikan selirnya sehingga ia hampir tak mendengar apa yang sedang diucapkan Pek si-hiang.

Dengan nada ketus kembali Pek si-hiang berseru: "suruh anak buahmu membebaskan kedua orang dayangku"

Pangeran pedang termenung berpikir se-jenak, kemudian sahutnya: "Baiklah..." setelah berhenti sejenak. sambil menengok keluar ruang perahu, ia berseru lagi sambil memberi tanda: "Bebaskan kedua orang nona itu"

Rupanya geladak perahu itu sudah dipenuhi kawanan lelaki berbaju sutera, Hanya saja, sebelum mendapat perintah dari pangeran pedang, mereka tak berani menyerbu masuk.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat di depan pintu ruang perahu, siok-bwee dan Hiang-kiok telah masuk secara beruntun, sekujur badan dua orang dayang itu sudah dipenuhi dengan luka, darah segar masih bercucuran membasahi bajunya.

Pek si-hiang melirik dua orang dayangnya itu sekejap, lalu menegur: "Parah tidak luka kalian?"

"Luka kami tidak parah, nona tak perlu cemas "jawab dua orang dayang itu serentak.

"Kemarilah kamu berdua"

Dua orang dayang itu saling bertukar pandang sekejap. lalu bersama-sama menghampiri Pek si-hiang. "Ada perintah apa nona?"

Dengan kecepatan luar biasa Pek si-hiang menotok jalan darah di tubuh kedua orang dayang itu, kemudian baru katanya: "Sekarang kamu berdua boleh duduk bersemedi dulu."

Tertotok jalan darahnya, kedua orang dayang itu tak banyak bicara lagi, Dengan langkah lamban mereka menuju ke sudut ruangan di belakang Pek si-hiang dan duduk bersemedi di situ.

Pelan-pelan Pek si-hiang menyapu sekejap orang- orang yang berada dalam ruang perahu, lalu katanya: "Li Tiong-hui, seebun Giok-hiong, sudah kalian ulangi sepuluh kali?"

"Belum" Li Tiong-hui menggeleng. "Kenapa?"

"Bukan kesalahan mereka untuk tidak menepati janji, akulah yang telah menotok jalan darah mereka," timbrung Lim Han-kim tiba-tiba. Pek si-hiang segera berkerut kening, omelnya: "Kau memang lelaki bawel, selalu gemar mencampuri urusan orang lain"

"Dan aku sudah mencampurinya sekarang..."

"Mulai saat ini kuanjurkan kepadamu agar keluar dari lingkaran ini, jangan campuri urusan ini lagi," tukas Pek si-hiang ketus.

"sayang sekali ucapan nona tersebut sudah sangat terlambat saat ini," jengek Lim Han-kim cepat.

"Jadi kau ngotot ingin mencampurinya juga?" "Benar, setelah mencampurinya, terpaksa aku harus

mencampuri hingga akhir"

sambil menghela napas panjang Pek si-hiang gelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya: "Lim Han-kim, wahai Lim Han-kim, kau betul-betul manusia tak tahu diri" Lim Han-kim mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha... asal aku merasa tindakanku ini benar, biarpun harus mati, aku tak pernah memikirkannya dalam hati..."

"oooh, jadi kau benar-benar ingin mati?" bentak Pek si-hiang nyaring, Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya melancarkan sebuah pukulan.

serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, ibarat sambaran petir di tengah udara, segulung angin pukulan yang dahsyat langsung menghantam dada Lim Han-kim. Tahu akan datangnya ancaman tesebut, Lim Han-kim berusaha untuk menghindarkan diri, sayang terlambat...

Duuuuk serangan tersebut bersarang telak di dadanya.

Gempuran ini bukan saja dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, lagipula amat berat dan dahsyat...

sekujur badan Lim Han- kim kelihatan bergoncang keras, sambil mundur sempoyongan ia muntahkan darah segar dan kemudian-.. badannya roboh terjungkal ke tanah.

Li Tiong-hui segera merasa meluapnya hawa amarah dalam dadanya, dengan amarah yang meledak-ledak bentaknya keras: "Kau benar-benar ingin membunuhnya?" sambil menerjang ke muka, sebuah pukulan dilontarkan.

Dengan cekatan Pek si-hiang miringkan badannya menghindar dari gempuran itu, mendadak terasa segulung tenaga pukulan yang kuat kembali mendesak tiba.

Gagal dengan serangan pertama, tanpa mengubah gerak jurusnya, Li Tiong-hui memutar badan sambil menubruk kembali. semua jurus dan gerakan yang digunakan merupakan jurus-jurus adu nyawa.

Diam-diam Pek si-hiang menggeretak gigi sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyambut serangan tersebut dengan keras melawan keras, Tangan kanannya diayunkan, kembali ia lepaskan sebuah pukulan untuk menghantam Li Tiong-hui.

Ketika dua gulung tenaga saling bertemu, terjadilah benturan keras yang memekakkan telinga. Gerak maju Li Tiong-hui segera terbendung oleh tenaga benturan itu hingga bergetar keras dan mundur dua langkah.

sebaliknya, Pek si-hiang tetap berdiri tenang di tempat semula. Rupanya ia telah memanfaatkan siasat "pinjam tenaga memukul lawan" untuk memanfaatkan kekuatan musuh yang menerjang tiba guna dikembalikan menghantam diri sendiri.

Melihat keampuhan gadis itu, seebun Giok-hiong berseru keras: "Baru berpisah berapa hari tak nyana kemajuan yang berhasil kau capai telah mencapai tingkatan yang begitu hebat."

sembari berkata, ia turut menerjang ke muka. Di antara kilatan cahaya pedang yang membias di angkasa, dia langsung membacok tubuh Pek si-hiang.

Pada saat itu Li Tiong-hui telah memungut sebilah golok panjang dan menerjang lagi ke arah Pek si-hiang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat datangnya ancaman dari dua arah, dengan cepat pula Pek si- hiang merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam.

Ia berkelit ke samping dengan cekatan untuk menghindarkan diri dari serangan golok Li Tiong-hui, kemudian pedangnya diayun ke samping menyapu pedang seebun Giok-hiong.

"Hati- hati nona seebun" teriak Li Tiong-hui cepat "Pedang yang dipergunakan amat tajam dan luar biasa"

"Terima kasih atas petunjukmu" sahut seebun Giok- hiong. Dengan cepat ia menarik kembali kutungan pedangnya dan berkata lebih lanjut: "Nona Li, bila kau berniat membalaskan dendam bagi Lim siangkong, untuk sementara waktu kita dapat kesampingkan dulu permusuhan di antara kita berdua"

"Memang itulah yang kuharapkan" seru Li Tiong-hui. Golok di tangannya segera diayunkan kembali ke muka dan secara beruntun melancarkan enam kali bacokan.

Pedang pendek di tangan Pek si-hiang memang tajam luar biasa dan sanggup mengutungi senjata jenis apa pun, tapi sayang Li Tiong-hui sudah memperhatikan hal tersebut ia lantas bertindak lebih berhati-hati dan selalu berusaha menghindari bentrokan dengan senjata lawan.

Terdengar seebun Giok-hiong membentak nyaring, sambil memutar kutungan pedangnya ia menyerbu maju lagi ke depan.

Menghadapi serangan gencar dua tokoh sakti ini, Pek si-hiang mulai kewalahan dan keteter hebat kendati senjata yang diandalkan adalah sebilah pedang mestika.

Dengan berkobarnya pertarungan sengit antara ketiga orang gadis tersebut, untuk sementara waktu kehadiran Pangeran pedang pun terkesampingkan-

Pangeran pedang hanya berdiri termangu sambil mempermainkan pedang di tangannya, untuk sesaat dia tak tahu harus membantu pihak yang mana. Pek si-hiang belum lama berlatih ilmu silat, kendatipun ilmu sesat sembilan iblis membuatnya memperoleh kemajuan yang amat pesat, namun waktu latihan yang relatif singkat membuat pondasinya kurang kokoh. otomatis, dalam pertarungan sungguhan, banyak gerakan yang tak sesuai dengan kehendak hatinya. Di tengah pertarungan, mendadak terdengar suara bentakan-bentakan nyaring bergema tiba, agaknya di luar geladak telah meletus pula suatu pertarungan sengit.

Buru-buru seebun Giok-hiong melancarkan dua serangan gencar untuk mendesak mundur Pek si-hiang, kemudian serunya: "Apa yang terjadi?"

Ia sudah terbiasa pergi ke sana kemari dengan membawa anak buah dalam jumlah banyak setelah pertanyaan itu diajukan, ia baru sadar bahwa dirinya hanya seorang diri, berarti pertanyaan tersebut sesungguhnya tak ada gunanya.

Terdengar Pangeran pedang menyahut dengan lantang "Entah dari mana datangnya begitu banyak jago dunia persilatan, mereka telah menyerbu naik ke atas perahu "

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, mendadak suara bentakan keras dari Ciu Huang bergema tiba, menyusul kemudian dua orang lelaki berbaju sutera yang berdiri di muka pintu roboh terjungkal.

sambil tertawa dingin seebun Giok-hiong segera berseru: "Li Tiong-hui, bala bantuanmu telah tiba."

sementara itu Ciu Huang telah menyerbu masuk ke dalam ruang perahu, setelah memandang sekejap situasi di sana, ia segera menegur dengan suara keras. "Bengcu, baik-baikkah kau?"

"Aku sangat baik" jawab Li Tiong-hui cepat Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Kau hanya datang seorang diri?" "Selain aku, masih ada si Dewa jinsom Phang Thian- hua, Hongpo Tiang- hong serta Kim-hud totiang"

Li Tiong-hui segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Pangeran pedang, serunya lagi: "Perintahkan anak buahmu agar segera berhenti, meskipun para pengawal elitmu terdiri dari jago-jago pilihan, mereka masih bukan tandingan para jago kelas satu dari daratan Tionggoan"

Pangeran pedang mencoba menengok ke luar, betul juga hampir separuh dari pasukan pengawal elitnya sudah roboh terkapar di atas geladak, melihat itu segera bentaknya keras: "Berhenti"

Tampaknya pasukan pengawal elit itu sangat menaruh hormat terhadap Pangeran pedang, Begitu perintah diturunkan, serentak mereka menghentikan serangannya.

Di pihak lain, pertarungan antara Pek si-hiang melawan seebun Giok-hiong berdua pun ikut berhenti juga.

Terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, Phang Thian-hua sambil memutar tongkatnya, Hongpo Tiang- hong sambil menghunus pedang dan Kim-hud lotiang dengan senjata kebutannya telah menyerbu masuk ke dalam ruang perahu.

Kawanan jago ini rata-rata pada menaruh hormat terhadap Pek si-hiang, serentak mereka anggukkan kepala memberi hormat.

sambil tersenyum Pek si- hiang menarik kembali pedang pendeknya seraya menyapa: "Baik-baikkah saudara sekalian?" "Terima kasih atas doa restu nona." jawab Phang Thian-hua dan Ciu Huang sekalian serentak.

sambil tertawa hambar tiba-tiba seebun Giok-hiong menyela: "Li Tiong-hui, aku takut kau sudah tak mampu mengendalikan kawanan jago lihay yang menjadi anak buahmu itu"

"Aaaai... mereka memang menaruh sikap yang sangat menghormat terhadap nona Pek, tak disangka wataknya kini telah berubah seratus delapan puluh derajat" Li Tiong-hui menghela napas panjang.

Agak termangu ciu Huang berpaling memandang Li Tiong-hui sekejap. tegasnya: " Watak siapa yang telah berubah?"

"Pek Si-hiang Pek Si-hiang yang kau jumpai saat ini sudah bukan nona Pek yang kita jumpai dulu."

"Kenapa?" tanya Phang Thian-hua keheranan

"Gara-gara ingin selamatkan jiwanya dari kematian, ia telah berlatih semacam ilmu sesat yang membuat watak serta perangainya mengalami perubahan drastis, nyaris ia sudah berubah menjadi seseorang yang lain."

"Berubah jadi apa?"

"Berubah jadi egois, kejam dan tidak berperikemanusiaan. ia seakan-akan seseorang yang lain."

"Aaaah, masa ada kejadian macam begini di dunia ini?" seru Ciu Huang agak tak percaya.

"Yaa, masa betul? yang kuketahui selama ini, ilmu silat memang bisa mengubah seseorang dari lemah menjadi kuat, tapi belum pernah kudengar kalau ilmu silat dapat mengubah perangai seseorang," sambung Hongpo Tiang- hong.

Dengan langkah lebar ciu Huang menghampiri Pek si- hiang, tiba di hadapannya ia segera menegur "Nona Pek, masih ingat dengan aku, Ciu Huang si tua bangka?"

"Kalian mesti ekstra hati-hati" teriak Li Tiong-hui dengan suara tinggi, "jangan biarkan tubuh kalian tertusuk oleh serangan pedangnya yang tiba-tiba"

walaupun dalam hati kecilnya Ciu Huang belum percaya, tapi setelah diperingatkan Li Tiong-hui, mau tak mau ia tingkatkan juga kewaspadaannya, Diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam tangan untuk bersiap sedia, sementara di hati kecilnya ia berpikir

"Masa betul nona Pek sekejam itu hingga kenalan sendiri pun diserang secara membabi buta?"

Dalam saat itu Pek si-hiang telah menegur "Kau bernama Ciu Huang?"

"Benar"

"Kalau begitu, bekuklah Li Tiong-hui dan bawa menghadap ke depanku" Agak tertegun Ciu Huang, ia lalu berusaha membantah.

"Tapi... nona Li adalah Bulim Bengcu, pemimpin masyarakat persilatan dewasa ini, setiap anggota persilatan menaruh hormat padanya, mana boleh kutangkap dia untuk diserahkan kepadamu?"

"Kenapa?Jadi kau enggan membekuknya untukku?" tegur Pek si-hiang dingin. "Benar"

Mendadak Pek si-hiang menggetarkan tangannya, Diiringi hiasan cahaya tajam, pedang usus ikannya yang tajam langsung menusuk ke dada jago tua ini.

Untung ciu Huang sudah membuat persiapan buru- buru ia mengegos ke samping menghindarkan diri dari sergapan itu

Tak terlukiskan kecepatan gerak Pek si-hiang dalam serangannya ini, kendatipun ciu Huang sudah membuat persiapan hingga jalan darah kematiannya bisa terhindar dari sergapan maut, namun ia tetap gagal menghindarkan diri dari buruan cahaya tajam pedang usus ikan tersebut sreeeeet

Diiringi desingan angin tajam, pedang itu menyambar lewat dari atas lengan sekalian merobek ujung baju yang dikenakannya.

Dengan perasaan terkesiap ciu Huang berpikir "Masih untung Li Tiong-hui memberi peringatan agar aku bersiap sedia, Coba kalau tidak. sekalipun tusukan tersebut belum tentu sanggup menewaskan aku, paling tidak sebuah lengan kananku bakal menjadi Korban sia- sia"

Belum habis ingatan tersebut melintas, kembali cahaya tajam berkelebat lewat, serangan berikut telah menyusul tiba.

Kali ini Ciu Huang tak berani gegabah lagi, hawa murninya segera dihimpun ia lalu menjejakkan kakinya ke tanah dan meluncur mundur sejauh tiga depa dengan gerakan cepat Ketika dua kali serangannya gagal mengenai sasaran, ternyata Pek Si-hiang tidak mengedar lebih jauh.

"Saudara ciu." Phang Thian-hua segera berbisik "Apa yang telah terjadi denganmu?"

"Aku sendiri pun heran, Saudara Phang, kau hebat dalam ilmu pertabiban dan obat-obatan, coba pikirlah, adakah penyakit aneh seperti yang dialami nona Pek...?"

Mendadak ia saksikan Lim Han-kim yang terkapar luka, buru-buru dihampirinya pemuda itu. Seraya membopongnya, ia lalu menegur: "Siapa yang telah melukainya?"

"Pek Si-hiang..."

"Waaah, kalau begitu Pek Si-hiang betul-betul sudah gila"

"Benar, Li Tiong-hui membenarkan "Aaaai... andaikata Lim Han-kim tidak turun tangan menolong, mungkin aku serta Seebun Glok-hiong tak mampu berdiri lagi di sini bertemu dengan saudara sekalian-"

"Aaaah, masa begitu?" Phang Thian-hua keheranan "Dapatkah Bengcu menerangkan lebih jelas?"

"Aaaai... panjang untuk diceritakan-" Li Tiong-hui menghela napas panjang. "Lebih baik kita periksa dulu luka yang diderita Lim Han-kim."

Dengan langkah lebar Phang Thian-hua menghampiri ciu Huang dan periksa denyut nadi pada pergelangan tangan kirinya, kemudian ia berbisik: "Luka yang dideritanya cukup parah"

"Dia terluka oleh pukulan tenaga dalam Pek si-hiang" 0oo0

Jilid:21

"Masih ada harapan untuk ditolong?" sela seebun Giok-hiong dingin

"Bila ditolong dan diobati sekarang juga, mungkin jiwanya masih bisa ditolong, tapi kalau sampai tertunda dua-tiga jam kemudian, aku tak yakin dapat mengobati lukanya."

"separah itu?" Berubah hebat wajah Li Tiong-hui. "Aku berbicara sesuai dengan kenyataan."

"Baik Kalau begitu kumohon kepadamu agar mengobati lukanya sekarang juga,"

"Di dalam ruang perahu ini?" phang Thian-hua berpaling memandang sekejap sekeliling tempat itu.

"Yaa, ada apa? Biarpun situasi di sini agak gawat, aku rasa kita sudah tak perlu memperdulikan masalah tersebut lagi."

Phang Thian-hua menyahut bersama Ciu Huang mereka mengundurkan diri ke sudut ruangan dan berjongkok di sana.

Kepada Kim-hud totiang dan Hongpo Tiang- hong, Li Tiong-hui segera berbisik lirih:

"Sementara waktu kalian tak usah turun tangan, awasi saja gerak-gerik si pangeran pedang beserta anak buahnya..." Lalu sambil berpaling kembali ke arah see-bun Giok- hiong, lanjutnya: "Nona seebun"

"Ada apa?" seebun Giok-hiong tertawa dingin

"saat ini kita berhadapan sebagai teman atau musuh?" "Bila kau beranggapan bahwa inilah saat baik bagimu

untuk menaklukkan aku setelah tibanya bala bantuanmu, lebih baik aku berhadapan denganmu sebagai musuh saja."

"Yaa, betul Bagaimana pun, toh pada akhirnya kalian berdua harus berduel dan bertarung habis-habisan" sambung Pek si-hiang tiba-tiba.

seebun Giok-hiong tertawa tergelak. "sayang sekali, sebelum pertarungan antara kami berdua berlangsung, kami akan menghadapi kau Pek si-hiang, terlebih dulu"

Pek si-hiang tertawa terkekeh-kekeh: "Ha ha ha... bagaimana? Apakah kau berpendapat bahwa kemenangan sudah pasti berada dalam genggamanmu hari ini?"

"Pek si-hiang" Tiba-tiba seebun Giok-hiong berbicara serius, "Kini kau sudah pandai bersilat, berarti aku dapat membunuhmu sekarang tanpa khawatir dicemooh orang karena melukai seorang gadis lemah."

"Hanya mengandalkan kekuatanmu seorang?" ejek Pek si-hiang.

"Benar, beranikah kau berduel habis-habisan denganku dengan mengandalkan kepandaian masing- masing? " "Kenapa kau tidak bergabung saja dengan Li Tiong- hui?"

"Barusan kami sudah sempat bertarung berapa gebrakan, siapa menang siapa kalah di hati kecil masing- masing sudah peroleh jawaban yang tepat. Aku rasa tidak usah orang lain membantuku lagi."

"Hmmm, melihat sikapmu yang begitu optimis, seakan-akan aku pasti keok di tanganmu saja.

Tampaknya bila kesempatan mencoba tidak kuberikan, kau benar-benar beranggapan bahwa kepandaian silatmu sudah tiada tandingannya di kolong langit..." Pelan-pelan dia maju dua langkah, kemudian terusnya: "silakan mulai menyerang"

sementara itu dalam hati kecilnya seebun Giok-hiong sudah membuat perhitungan, ia yakin bukan masalah yang terlampau sulit baginya untuk membunuh Pek si- hiang dengan andalkan kepandaian yang dimilikinya.

Akan tetapi rasa kedernya tetap tak dapat hilang, ia merasa kecerdasan gadis tersebut sukar untuk diraba, maka ketika melihat Pek si-hiang menghampirinya, tiba- tiba saja ia merasa bergidik dan amat takut.

sembari menyilangkan pedangnya di depan dada, Pek si-hiang berkata sambil tertawa: "seebun Giok-hiong, kenapa tidak mulai menyerang?"

"Hmmm, sekalipun ilmu sembilan iblismu sudah peroleh kemajuan yang luar biasa, kau tetap masih bukan tandinganku" kata seebun Giok-hiong dengan kening berkerut. Ucapan yang membangkitkan kembali keberaniannya ini membuat gadis itu maju selangkah ke muka, senjatanya segera dipersiapkan.

Pek si-hiang tersenyum, ucapnya: "Apabila kemajuan yang dicapai dalam mempelajari ilmu sembilan iblis hanya kecil sekali, buat apa kupelajari ilmu tersebut?"

Tiba-tiba Hongpo Tiang-hong menimbrung sambil menggetarkan gedang dalam genggamannya: "Nona telah pelajari ilmu sesat sembilan iblis?"

Pelan-pelan Pek si-hiang berpaling, ditatapnya Hongpo Tiang-hong sambil tersenyum manis, kemudian sahutnya: "Yaa, kenapa?

Li Tiong-hui segera merasakan betapa memikatnya senyuman gadis tersebut, tak kuasa jantungnya berdebar keras.

Hongpo Tiang-hong pejamkan matanya rapat-rapat seraya berteriak keras: " Hati- hati, senyuman tersebut adalah "senyuman maut pencabut nyawa" dari ilmu sesat sembilan iblis"

Pek si- hiang tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, mendadak pedangnya bergetar melepaskan sebuah tusukan

Tampak peluh sebesar kacang kedele bercucuran membasahi wajah Hongpo Tiang-hong, ia kelihatan masih pejamkan mata rapat-rapat, terhadap datangnya serangan ternyata ia tidak menghindar

Melihat ancaman maut tersebut Kim-hud totiang segera membentak keras. senjata kebutan emasnya disodokkan ke depan sementara telapak tangan kirinya secepat kilat melepaskan satu pukulan.

Termakan pukulan dari Kim-hud lotiang yang mendorong bahunya, tubuh Hongpo Tiang-hong segera terlempar ke samping. Pada saat itulah tusukan kilat Pek si-hiang menyambar lewat, lengan kiri Hongpo Tiang- hong kontan tersambar robek hingga bercucuran darah segar.

Gagal membinasakan musuhnya, Pek si-hiang melanjutkan serangan mautnya, Kali ini dia sambut datangnya serangan kebutan emas dari Kim-hud totiang.

Buru-buru tosu kebutan emas ini menarik ke belakang senjatanya, dia segan beradu senjata dengan pedang mestika lawan,

secepat kilat pula Pek si- hiang menarik kembali senjatanya, lalu sambil mengawasi tosu itu tajam-tajam, tegurnya: "Totiang, sungguh hebat jurus serangan ilmu kebutanmu, aku merasa sangat kagum."

"Terima kasih atas pujianmu ..."

sambil berkata dia angkat wajahnya, tapi tosu itu segera tertegun, Ternyata Pek si-hiang sedang menatapnya dengan air mata bercucuran wajahnya sangat memelas.

"Aneh betul gadis ini," pikirnya, "Tidak ada persoalan apa-apa, kenapa ia malah menangis?"

Pada saat itulah mendadak Pek si-hiang mengayunkan tangan kanannya, secepat petir pedang mestikanya berbalik menusuk dada Kim-hud totiang. Waktu itu Kim-hud totiang sedang termangu lantaran isak tangis gadis tersebut, mimpi pun ia tak mengira gadis itu bakal menyerangnya secara tiba-tiba. Dalam posisi tak siap ini terpaksa ia salurkan seluruh hawa murninya untuk melompat mundur dari situ.

Betapa pun cepatnya reaksi yang dilakukan, tapi sayang semuanya sudah terlambat Bahu-nya tertusuk telak oleh senjata lawan hingga darah segar mengucur dengan deras.

sambil tertawa terkekeh-kekeh jengek Pek si-hiang: "Ha ha ha... hati-hati, pedangku sudah dipolesi racun jahat"

"Nona Pek. kau betul-betul sangat keji" umpat Li Tiong-hui penuh amarah, golok panjangnya segera diayun ke depan melepaskan sebuah tusukan kilat.

Terdengar Hongpo Tiang-hong berteriak keras: "llmu sesat sembilan iblis mempunyai banyak perubahan yang unik selama bertarung jangan sekali-kali kau pandang dirinya, juga tak usah melayani tanya jawabnya."

Pek si- hiang menyodokkan pedang pendeknya cepat ke depan, langsung menyongsong golok dari Li Tiong- hui.

sejak awal Li Tiong-hui sudah waspada, Buru-buru ia tekuk pergelangan tangannya sambil menarik kembali senjata goloknya, lalu sambil merendah secepat petir dia tusuk perut musuh.

Ilmu silat keluarga Hong-san memang tersohor sebagai ilmu silat gado- gado. Kalau dalam serangan pertamanya tadi ia menggunakan jurus pedang dari partai Bu-tong, maka dalam serangannya yang terakhir ia gunakan jurus "burung hong pentang sayap" dari aliran Kun-lun-pay.

Kembali Pek si-hiang merendahkan senjatanya menyongsong tubuh golok Li Tiong-hui, tegurnya sambil tersenyum: "Bagaimana keadaan luka Lim Han-kim?"

Begitu perhatian Li Tiong-hui agak bercabang goloknya segera terhajar oleh senjata Pek si-hiang. Traaaang senjatanya patah jadi dua.

Memanfaatkan peluang ini, Pek si-hiang mengubah gerak serangannya, secepat petir ia sodok pedangnya kc atas menusuk dada Li Tiong-hui.

Tergopoh-gopoh Li Tiong-hui melompat ke belakang untuk meloloskan diri dari ancaman maut itu.

Tiba-tiba Seebun Giok-hiong maju selangkah, tegurnya dengan suara dingin: "Pek si-hiang, apa yang pernah kita janjikan bisa diwujudkan saat ini bukan?"

"Aku tahu, selama aku belum mati, kau tak akan berani bertindak sewenang-wenang dengan melakukan pembantaian dalam dunia persilatan Nah, silakan turun tangan"

Dua-tiga patah kata ini amat sederhana pengungkapannya, tapi seketika membuat Li Tiong-hui dan Hongpo Tiang-hong sekalian tertegun.

Rupanya dalam hati kecil ketiga orang ini sudah membekas kesan yang mendalam terhadap Pek si-hiang, namun setelah mendengar kata-katanya itu, tak urung mereka manggut-manggut juga seraya berpikir. "Betul juga perkataan Pek si-hiang, satu-satunya orang yang paling ditakuti seebun Giok-hiong cuma Pek si-hiang. seandainya ia sampai terbunuh hari ini, siapa lagi yang mampu mengontrol kebuasan seebun Giok- hiong..?"

Tanpa terasa niat mereka untuk membunuh Pek si- hiang pun sirna seketika itu juga. Tatkala mereka alihkan kembali perhatiannya ke tengah arena, kelihatan seebun Giok-hiong telah bertarung sengit melawan Pek si-hiang.

Biarpun seebun Giok-hiong cuma menggunakan kutungan pedang, namun kedahsyatan serangannya ibarat gulungan ombak di tengah samudra luas, Hawa pedang yang ber-lapis-lapis membungkus sekujur badan Pek si-hiang dalam jala cahaya pedang yang menyilaukan mata.

sebaliknya, meski Pek si-hiang mengandalkan pedang mestika yang tajamnya luar biasa, namun di bawah cecaran serangan pedang seebun Giok-hiong yang begitu gencar, ia benar-benar kewalahan dan tak berdaya melakukan serangan balasan-

Dalam saat itu Hongpo Tiang-hong serta Kim-hud totiang telah usai membalut luka masing-masing, Dengan senjata terhunus mereka ikut menyaksikan jalannya pertarungan di tengah arena.

Tiba-tiba Li Tiong-hui menghela napas panjang, bisiknya kepada Hongpo Tiang-hong: "Biarpun Pek si- hiang patut dibunuh, namun ia tak boleh mati dalam keadaan begini"

"Ucapan Bengcu tepat sekali" "Awasi dari sisi arena, jangan beri kesempatan kepada seebun Giok-hiong untuk membunuh Pek si-hiang." Kemudian ia membalikkan badan menghampiri ke sudut ruang perahu, bisiknya lirih: "Bagaimana keadaan lukanya?"

saat itu Phang Thian-hua sedang menguruti dada Lim Han-kim, ia segera angkat kepala setelah mendapat pertanyaan itu, sahutnya: "Parah sekali lukanya..."

"Masih bisa ditolong?"

"Akan kuusahakan dengan sepenuh tenaga, tertolong atau tidak akan kita ketahui sepeminuman teh kemudian."

"Aaaai... tampaknya Phang cengcu mesti bersusah payah," bisik Li Tiong-hui sambil menghela napas.

"Ucapan Bengcu terlalu serius."

Kembali ia menguruti dada Lim Han-kim serta mencoba memompa denyut jantungnya.

Dalam keadaan begini, Li Tiong-hui sudah tak menaruh perhatian sama sekali atas situasi dalam arena pertarungan seluruh pikiran dan perhatiannya tercurahkan pada Lim Han-kim yang sedang ditolong Phang Thian-hua.

sepeminuman teh kemudian tampak Phang Thian-hua angkat wajahnya dengan muka berseri, Katanya sembari membesut keringat yang membasahi jidatnya: "Ia tertolong"

"Terima kasih Phang cengcu atas jerih payahmu," sambut Li Tiong-hui girang.