Pedang Keadilan II Bab 33 : Pangeran Pedang

 
Bab 33. Pangeran Pedang

Belum sempat Lim Han-kim memutuskan gadis mana yang harus dibebaskan totokan jalan darahnya, musuh sudah menyerang tiba. Terpaksa pemuda itu menggerakkan pedangnya untuk menangkis,

Traaangg

Di tengah suara bentrokan nyaring yang diiringi percikan bunga api, golok panjang dari lelaki berbaju sutera itu tertangkis oleh serangan pedang pendek pemuda kita hingga miring dari sasaran-

Ternyata lelaki itu sangat pemberani dan nekat, meskipun goloknya ditangkis musuh, namun ia tidak berhenti sampai di situ saja, Dengan tameng di tangan kirinya untuk melindungi badan, ia lanjutkan terkamannya ke depan. Terpaksa Lim Han- kim memutar kembali pedangnya melepaskan sebuah bacokan.

Buru-buru lelaki berbaju sutera itu menangkis ancaman tersebut dengan tamengnya, begitu berhasil membendung serangan lawan ia lancarkan sebuah tendangan kilat

Tampak cahaya golok berkilat, senjata golok dari lelaki kedua telah meluncur datang menusuk pergelangan tangan kanan Lim Han- kim. sekilas pandang, kawanan lelaki berbaju sutera itu seakan-akan menyerang sendiri- sendiri dan masing-masing tiada kaitannya, padahal kenyataannya mereka menjalin kerja sama yang sangat erat.

Terdesak oleh keadaan, mau tak mau Lim Han- kim harus mundur dua langkah untuk menghindari bacokan serta tendangan lawan.

Tampak lelaki kedua itu mendesak maju selangkah hingga berdiri bersanding dengan lelaki pertama, Dua bilah golok panjang mereka secara berpisah menyerang datang dari sisi kiri dan kanan

Berbicara sebenarnya, posisi kawanan lelaki berbaju sutera itu jauh lebih menguntungkan ketimbang posisi Lim Han- kim. Mereka mempunyai tameng besar yang dapat dipakai untuk melindungi bagian tubuh yang mematikan, sebaliknya senjata yang dipakai Lim Han-kim amat pendek. Ruangan dalam perahu pun amat sempit. Posisi semacam ini amat merugikan keadaan anak muda itu.

Demikianlah, kedua lelaki tersebut dengan tamengnya membendung serangan pedang dari lawan, sepasang golok mereka mendesak dari kedua sisi yang memaksa Lim Han-kim selangkah demi selangkah mundur terus ke belakang. Kini Lim Han-kim sudah sadar akan keadaannya, ia mengerti hanya andalkan kekuatannya seorang mustahil bisa membendung seluruh serangan dari keempat lelaki berbaju sutera itu. Atau dengan perkataan lain, kecuali membebaskan totokan jalan darah dari ketiga orang gadis tersebut, ia sudah tak punya pilihan lain.

Dari ketiga orang gadis tersebut, Li Tiong-hui terhitung paling jinak dan mudah diatasi. Pada mulanya Lim Han-kim memang ingin membebaskan jalan darah Li Tiong-hui lebih dulu, tapi di bawah cecaran kedua orang lelaki tersebut, ternyata selangkah demi selangkah ia dipaksa untuk mundur ke sisi seebun Giok-hiong.

Dalam saat itu dua orang lelaki berbaju sutera lainnya juga sudah menyerbu masuk ke dalam ruang perahu.

Lim Han-kim betul-betul panik bercampur gelisah. sekuat tenaga ia menyerang lawannya dengan pedang pendek di tangan kanah, pukulan berantai di tangan kiri.

Begitu gempuran- gempuran dari kedua orang lelaki berbaju sutera itu berhasil ditangkis, ia manfaatkan peluang yang ada untuk membalikkan telapak tangannya dan menepuk bebas jalan darah seebun Giok-hiong yang tertotok

sesungguhnya pada waktu itu seebun Giok-hiong juga telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan. Sayangnya, berhubung pancingan ilmu sesat dari Pek si-hiang telah menyebabkan tersesatnya aliran hawa murni ke dalam urat nadi, maka pengerahan tenaga yang dilakukan tidak membuahkan hasil walaupun sudah membuang banyak waktu, totokan jalan darahnya belum berhasil juga dibebaskan. Begitu memperoleh bantuan tabokan dari Lim Han-kim, dengan cepat Seebun Giok-hiong telah melompat bangun.

Sementara itu, dua orang lelaki berbaju sutera yang lain sebenarnya sedang berjalan menghampiri Li Tiong- hui serta Pek si-hiang, begitu melihat seebun Giok-hiong melompat bangun secara tiba-tiba, serentak mereka menerkam ke arah gadis itu.

Seebun Giok-hiong pentang sepasang tangannya masing-masing melepaskan satu pukulan untuk membendung terjangan kedua orang lelaki tersebut, kemudian tegurnya: "Lim Han-kim, apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Tenaga pukulan gadis ini sangat kuat dan dahsyat. Sayang kedua orang lawannya kelewat memandang enteng kemampuan lawannya, mereka segan menggunakan tameng emasnya untuk membendung ancaman tersebut, malahan dengan telapak tangan kiri disambutnya ancaman mana dengan keras melawan keras.

Sebelum mereka sadar akan gelagat yang tidak menguntungkan keadaan sudah terlambat Tubuh mereka berdua tergetar keras dan terpental sejauh dua langkah dari posisi semula, malahan isi perut mereka terluka parah hingga muntahkan darah segar.

"Tak sempat kujelaskan latar belakang peristiwa ini sekarang" jawab Lim Han-kim lantang, "Lebih baik nona pukul mundur serangan musuh tangguh terlebih dulu"

Kembali seebun Giok-hiong mengayunkan jari tangannya melancarkan serangan dengan ilmu jari Bintang Langit, segulung desingan angin tajam langsung mendesir ke depan.

seorang lelaki berbaju sutera yang siap menerjang ke arah Lim Han-kim seketika memapaki datangnya serangan jari tangan dari seebun Giok-hiong ini.

Dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, tiba-tiba lelaki itu roboh terkapar ke tanah.

Dengan terlukanya salah seorang lawan Lim Han-kim, daya tekanan yang menghimpit pemuda ini secara otomatis ikut berkurang juga. Kontan anak muda itu mengembangkan serangan balik, Dengan pedang di tangan kanan, pukulan tangan kosong di kiri ia desak lelaki berbaju sutera itu hingga cuma mampu menangkis saja.

Pada saat itulah kembali terdengar suara derap langkah manusia berkumandang tiba, Di depan pintu ruang perahu lagi-lagi menerjang tiba empat orang lelaki berbaju sutera.

"Bagus" teriak seebun Giok-hiong sambil tertawa riang. "Makin banyak memang semakin bagus" sepasang tangannya diayunkan berbareng, tenaga pukulan segera menggulung keluar bagaikan amukan ombak samudra.

Dua lelaki yang berada di paling depan seketika termakan oleh hajaran itu hingga terpental roboh ke samping dan terluka parah, Dengan cepat gadis itu menerobos ke samping dan menyongsong datangnya musuh lain, Tertegun juga keempat lelaki yang baru masuk ke dalam ruang perahu itu. Mereka tak mengira rekannya tak tahan menghadapi serbuan dari seorang gadis secantik itu. sementara mereka masih tertegun, tahu-tahu seebun Giok-hiong sudah menerjang tiba. Tangan kanannya diayun, lagi-lagi ilmu jari Bintang Langit dilontarkan ke depan.

Lelaki berbaju sutera yang berada di barisan paling depan segera mendengus tertahan dan roboh terjungkal ke tanah, Ketiga orang lainnya menjerit kaget, serentak mereka loloskan tameng untuk melindungi diri. Dengan golok panjang di tangan kanan mereka menyerbu dari tiga penjuru dan mengepung seebun Giok-hiong rapat- rapat.

Mendadak seebun Giok-hiong memutar kencang tangan kanannya. serentetan bunyi gemerincing bergema di udara, entah apa sebabnya tahu-tahu ketiga bilah golok panjang itu sudah terpental ke belakang.

Ketika mereka dapat mengamati dengan seksama, barulah terlihat tangan gadis tersebut kini sudah bertambah dengan sebuah lingkaran putih yang memancarkan cahaya perak.

Berhasil memukul mental ketiga bilah golok panjang itu, kembali seebun Giok-hiong mengayunkan tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan, segulung tenaga serangan yang dahsyat dan kuat langsung menerpa keluar menggempur lelaki yang berdiri di sebelah utara. 

Cepat-cepat lelaki itu melindungi badannya dengan tameng dan menyambut pukulan dahsyat tersebut dengan tamengnya, Kendatipun secara paksa ia berhasil juga menerima gempuran dahsyat dari seebun Giok- hiong ini, tak urung badannya tergetar juga hingga mundur dua langkah dengan sempoyongan. "Bagaimana kalau kau coba lagi sebuah pukulanku ini?" bentak seebun Giok-hiong nyaring. Di tengah bentakan, sebuah pukulan kembali dilontarkan ke depan-

setelah menerima gempuran yang pertama tadi, meski lelaki itu tak sampai menderita luka parah, namun sepasang pergelangan tangannya terasa linu, kaku dan sakit sekali. Tatkala melihat datangnya gempuran yang kedua, sebetulnya ia sudah tak berani menyambutnya. lagi.

Tapi sayang ruang dalam perahu itu terlampau kecil dan sempit, ia tak mampu lagi menghindarkan diri.

Terpaksa sambil keraskan kepala, disambutnya juga ancaman itu.

Dalam serangan seebun Giok-hiong kali ini ternyata tenaga pukulan yang disertakan jauh lebih dahsyat lagi, mana mungkin lelaki tersebut mampu mempertahankan diri? Diiringi teriakan keras, tahu-tahu senjata tamengnya sudah terlepas dan mencelat ke tanah.

sungguh hebat ilmu silat yang dimiliki seebun Giok- hiong. Kelihatannya saja tangan kirinya saat itu sedang menyerang seorang lawannya yang berada di utara, ternyata pada saat yang bersamaan tangan kanannya berhasil juga membendung serangan golok dari dua orang musuhnya yang lain.

Ketika lelaki tadi tergetar hingga roboh terjungkal ke tanah, dengan cepat seebun Giok-hiong memburu ke depan dan melepaskan sebuah sentilan jari lagi dengan ilmu jari Bintang Langit untuk menotok jalan darahnya.

Belum sampai sepuluh gebrakan pertarungan itu berlangsung dari empat lelaki berbaju sutera itu, ada tiga di antaranya sudah terluka, Dengan demikian dari delapan orang lelaki yang menyerbu masuk ke ruang dalamperahu, enam orang sudah roboh ke lantai, seorang masih bertempur sengit melawan Lim Han-kim sedang yang seorang lagi hanya bisa berdiri dengan wajah termangu.

Rupanya kemampuan seebun Giok-hiong melukai ketiga orang rekannya dalam sekejap mata telah membuat orang ini sedemikian ketakutan hingga dia cuma bisa berdiri termangu sambil mengawasi lawannya tanpa berkedip.

Seebun Giok-hiong tetawa dingin: "Hei, kenapa cuma berdiam diri?" tegurnya, "Kau tak ingin melancarkan serangan?"

Lelaki itu gelengkan kepalanya berulang kali, jawabnya: "Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah kujumpai seorang nona dengan kepandaian silat sehebat ini. Aku mengerti bahwa kemampuanku bukan tandinganmu"

"Jadi kau takut mati?"

"Tidak, aku bukan manusia yang takut mati Aku bukan seorang lelaki pengecut" kata lelaki itu sambil melemparkan golok panjang dan tamengnya ke lantai.

"Kalau memang bukan ingin merengek minta ampun, kenapa kau buang senjatamu?" jengek Seebun Giok- hiong dingin,

"Menyerang atau tidak, toh hasilnya sama saja. Sulit bagiku untuk menahan gempuran- mu, jadi lebih baik tak usah bertarung." "Kalau begitu hati-hatilah, akan kutotok jalan darahmu" Seraya berkata ia mengayunkan jari tangannya melancarkan sebuah totokan

Ternyata lelaki itu tidak berkelit maupun menghindar, sambil pejamkan mata ia sambut datangnya totokan itu. Pada saat lelaki itu roboh ke tanah, lelaki yang bertarung melawan Lim Han-kim- juga terkena tusukan pada dada kirinya.

Sebuah tendangan susulan membuat badannya terjungkal ke tanah. Dengan begitu maka kedelapan orang lelaki penyerbu tersebut semuanya sudah roboh terluka di lantai ruang perahu itu.

Tiba-tiba Seebun Giok-hiong mengalihkan sorot matanya yang tajam ke wajah Pek si-hiang. selapis hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, selangkah demi selangkah ia berjalan langsung menghampiri gadis itu.

"seebun Giok-hiong" teriak Lim Han-kim terperanjat seebun Giok-hiong menghentikan langkahnya seraya

berpaling, "Ada apa?"

"Kau hendak menyerang Pek si-hiang?"

"Yaa, kenapa?" seebun Giok-hiong tertawa hambar. "Tindakan semacam itu bukan perbuatan seorang

jagoan"

"Lebih baik kubunuh Pek si-hiang lebih dulu sebelum kita berbicara lebih lanjut" Lim Han-kim gelisah sekali, pikirnya: "sepatutnya kutolong Li Tiong-hui lebih dulu, seebun Giok-hiong liar dan binal, rasanya sulit untuk mencegah kemauannya."

Sementara ia masih gelisah bercampur cemas, mendadak dari luar pintu ruang perahu bergema lagi suara seseorang yang berat dan dalam: "Ehmmm, benar- benar sebuah pertempuran yang sengit dan

mengerikan"-

Seebun Giok-hiong berpaling, ia saksikan di muka pintu telah berdiri seorang lelaki berkopiah emas yang memakai jubah berwarna ungu.

Dengan sepasang mata yang tajam lelaki berkopiah emas itu menyapu seebun Giok-hiong dan Lim Han-kim sekejap. kemudian menegur: "Siapa di antara kalian yang telah melukai mereka?"

"Aku" jawab Lim Han-kim dan seebun Giok-hiong hampir bersamaan-

"Ditinjau dari kemampuan kalian berdua yang berhasil melukai delapan orang peng awalku, terbukti bahwa kepandaian kamu berdua memang cukup hebat..."

sinar matanya dialihkan ke wajah Pek si-hiang dan Li Tiong-hui, kemudian tanyanya lagi: "Siapa pula kedua orang nona itu?"

seebun Giok-hiong tertawa dingin, "Tidakkah kau merasa bahwa pertanyaan yang kau ajukan kelewat banyak...?" tegurnya.

"Seingatku, belum pernah ada orang berani bicara sekurang ajar ini kepadaku" seru lelaki berkopiah emas itu marah. "Bagus Kalau begitu kau harus mendengar lebih banyak lagi hari ini, sekalian untuk menambah pengetahuanmu"

Dalam saat itu Lim Han-kim sedang berpikir " orang berkopiah emas berjubah ungu ini tidak mirip orang persilatan yang biasa malang melintang di dunia kangouw. Dandanan semacam ini lebih mirip sebagai seorang panglima perang, sebagai rakyat jelata, aku Lim Han-kim, tidak seharusnya bentrok dengan para pejabat pemerintah, lebih baik aku selidiki dulu asal-usulnya ..."

Berpikir demikian, dia pun segera menegur "jika kulihat dari dandanan Anda, rasanya tak mirip dengan orang persilatan, sebetulnya siapa kau dan apa kedudukanmu?"

Mendadak lelaki berkopiah itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, Dari balik jubah ungunya ia cabut keluar sebilah gedang yang bergagang batu giok dan bersarung dari emas murni, sambil letakkan pedang tersebut di tangannya ia balik bertanya: "Anda sekalian kenal dengan pedang ini?"

Lim Han-kim hanya merasa pedang itu, baik gagang maupun sarung pedangnya terbuat sangat indah dan mewah, selain itu tidak nampak keistimewaan apa pun. Mendadak terdengar seebun Giok-hiong berseru. "Pedang pusaka dari Raja pedang"

Walaupun lelaki berkopiah emas itu memiliki perawakan tubuh tinggi besar, namun usianya belum terlalu dewasa, suara tertawanya masih membawa nada kekanak-kanakan- "Benar" sahutnya lantang. "Pedang ini memang pedang pusaka dari Raja Pedang"

Seebun Giok-hiong mendengus dingin: "Hmmm Raja pedang sudah dua puluhan tahun lenyap dari muka bumi sekalipun dia masih hidup di dunia ini, paling tidak usianya sudah mencapai enam puluh tahunan, dari mana kau temukan pedang pusaka dari Raja pedang itu?"

"Ngaco belo" teriak lelaki berkopiah emas itu marah. "Pedang pusaka dari Raja pedang ini merupakan pemberian ayahku. Budak kurang ajar, kau berani menghina aku?"

"Jadi kau adalah si pangeran pedang?" "Tepat sekali dugaanmu"

seebun, Giok-hiong segera tertawa terkekeh-kekeh: "Hei, siapa yang mengakui dirimu sebagai pangeran? Huuuh, tak tahu malu, berani mengaku dirinya sebagai seorang pangeran, pangeran dari negeri mana kamu mi?"

sambil menuding kopiah emas yang dikenakan di kepalanya lalu menunjuk pula jubah ungu yang dikenakan, lelaki itu berkata: "Aku mengenakan kopiah emas, memakai jubah ungu, kenapa tak boleh menyebut diri sebagai pangeran?"

Dengan rasa heran Lim Han-kim berpikir "Kalau cuma mengenakan kopiah emas, memakai jubah ungu dan membawa pedang berdagang batu giok, bersarung emas murni lantas bisa menganggap diri sebagai pangeran, waaah... berapa banyak pangeran yang bakal muncul dalam dunia persilatan...?" sementara itu, si lelaki berkopiah emas tersebut telah berkata lebih lanjut: "Berkopiah emas dan berjubah ungu merupakan benda-benda terhormat yang diakui semua umat persilatan di dunia, Para ketua partai dan perkumpulan sama-sama telah menandatangani surat pengakuan tersebut kepada ayahku dan setiap orang persilatan pasti mengetahui akan peristiwa ini, maka kalian berdua tidak mengetahui?"

sejak kecil Lim Han-kim ikut ibunya berdiam di lembah Hong-yap- kok di wilayah Pak-gak. selain belajar silat, ibunya tak pernah menyinggung masalah dunia persilatan dengan dirinya, Kadangkala ia sempat bertanya tentang asal-usul dirinya, tapi selalu diumpat habis-habisan oleh ibunya, sehingga boleh dibilang ia buta sama sekali mengenai kejadian dalam dunia persilatan.

oleh sebab itulah ia cuma bisa berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo setelah mendengar perkataan lelaki itu. Dia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut.

Tampak seebun Giok-hiong tertawa hambar "Bila kami bukan anggota partai atau perguruan mana pun dalam dunia persilatan, otomatis kami pun tak perlu mengakui akan kehebatan si Raja pedang, atau dengan perkataan lain kami tak usah mengakui dirimu sebagai pangeran pedang"

Lelaki berkopiah emas yang mengaku diri sebagai pangeran pedang itu segera tertawa dingin, katanya: "Sebetulnya kedatanganku ke daratan Tionggoan kali ini pertama, ingin berjumpa dengan para jago dari dunia persilatan, kedua ingin menemukan kembali sedikit barang pusaka peninggalan ayahku di masa lampau. Mengingat usia kalian berdua masih begitu muda, aku percaya kalian pasti bukan manusia kenamaan, Terlampau sayang rasanya apabila kalian sampai tewas di ujung pedang aku, si pangeran pedang."

Mendengar ucapan itu, Lim Han-kim segera berpikir "Meskipun perkataan orang ini sedikit agak sombong dan takabur, tapi bisa disimpulkan bahwa hatinya baik dan berbudi."

"Sementara itu seebun Giok-hiong sudah menjengek sambil tertawa dingini "Kenapa? Kau punya keyakinan untuk bisa mengungguli kami berdua?"

"Pedang dari Raja pedang tak akan sembarangan diloloskan dari sarungnya," kata pangeran pedang dengan wajah serius, "Sekali dicabut keluar, pedang tersebut tak akan di-sarungkan kembali sebelum mencium darah, sekalipun kalian berdua telah melukai pengawal pribadiku, tapi aku enggan sembarangan mencabut keluar pedang emasku ini, apalagi membunuh dua manusia yang sama sekali tak bernama"

"Hmmm, aku malas untuk banyak bicara denganmu, Perduli amat kau seorang pangeran pedang atau bukan, yang pasti tak ada sangkut pautnya dengan diriku, Cepat cabut keluar pedangmu, kalau tidak jangan salahkan bila aku akan merampas pedangmu itu"

"Budak busuk, besar amat bicaramu" seru pangeran pedang dengan wajah berubah. "Bila kau bersikeras ingin kucabut keluar pedangku, laporkan dulu siapa namamu. Pedang pusaka dari Raja pedang tak pernah membunuh manusia tak bernama"

"He he he... darimana datangnya peraturan yang begitu banyak?" jengek seebun Giok-hiong sambil tertawa dingin

"Sebelum kau sebutkan namamu, aku si pangeran pedang sulit rasanya untuk meloloskan pedang."

Menyaksikan tindak-tanduk orang tersebut kembali Lim Han-kim berpikir: "Bila ditinjau dari ucapannya, jelas dia belum punya pengalaman dalam dunia persilatan..."

Pada saat itu dengan kening berkerut seebun Giok- hiong telah menjawab: "seebun Giok-hiong namaku, cukup bukan?"

"seebun Giok-hiong... seebun Giok-hiong..." gumam pangeran pedang pelahan.

seebun Giok-hiong benar-benar amat gusar, teriaknya: "Belum pernah kujumpai seorang lelaki yang begitu cerewet dan banyak omong macam kau"

"Tatkala pangeran hendak berkunjung ke daratan Tionggoan, ayahku pernah menjelaskan tentang jago- jago kenamaan yang berdiam di sini, Konon keluarga persilatan dari bukit Hong-san merupakan jagoan paling tangguh di tanah daratan, tapi... rasanya belum pernah kudengar nama seebun Giok-hiong disebut-sebut..."

"Kalau memang belum pernah mendengar, hari ini akan kusuruh kau mengenali diriku lebih dalam" Tiba-tiba ia lancarkan sebuah totokan kilat ke depan. Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, pangeran Pedang segera mencabut keluar pedangnya. selapis cahaya tajam segera melindungi perawakan tubuhnya yang tinggi besar.

seebun Giok-hiong terkejut juga melihat betapa kuatnya pertahanan hawa pedang yang melapisi tubuh lelaki itu. Bagaimana pun ia berusaha, ternyata serangannya tidak membuahkan hasil, terpaksa ia harus tarik kembali ancamannya sambil melompat mundur.

Ketika berpaling, ia saksikan Lim Han-kim sedang berjalan menuju ke arah Pek si-hiang, maka bentaknya nyaring: "Berhenti"

"Ada apa?" tanya Lim Han-kim ketus.

"Kau hendak membebaskan Pek si-hiang dari pengaruh totokan?"

"Benar, setelah membebaskan kau dari totokan, aku wajib membebaskan pula mereka berdua, masa aku harus membiarkan kau membantai mereka berdua dengan begitu saja?"

"Bagus Kalau begitu akan kubunuh Pek si- hiang lebih dulu sebelum menghadapi pangeran pedang"

sambil mengancam gadis itu melejit ke udara dan langsung menerjang ke hadapan Pek si-hiang. Lim Han- kim terkejut sekali, buru-buru ia melompat ke depan menghadang jalan pergi seebun Giok-hiong.

Ia sadar, baik dalam tenaga dalam maupun dalam ilmu silat dirinya masih bukan tandingan seebun Giok- hiong. jika serangannya disambut dengan kekerasan, maka meski tak sampai tewas paling tidak isi perutnya akan terluka parah.

siapa tahu seebun Giok-hiong tidak melanjutkan terjangannya, Tiba-tiba ia menarik kembali tubuhnya dan melayang turun kembali ke lantai, hanya bentaknya dengan nada dingin: "Lim Han-kim, apakah kau ingin cari mampus?"

"Bila nona bersikeras hendak membunuh Pek si-hiang, terpaksa kau harus menghabisi nyawaku terlebih dulu"

Tiba-tiba terdengar pangeran pedang membentak keras: "Hei, kalian berdua apa-apaan? Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Apa urusannya dengan kau?" sahut see-bun Giok- hiong seraya berpaling.

"Apakah kalian suami istri?"

"suami istri atau bukan, apa urusannya dengan dirimu?"

"Jika kalian adalah suami istri, lebih baik turun tanganlah bersama-sama, dengan begitu mungkin kalian masih punya sedikit harapan untuk tetap hidup,"

"Besar amat bacotmu" bentak seebun Giok-hiong penuh amarah, "Kau anggap aku betul-betul takut kepadamu?"

sambil memeluk pedangnya si pangeran pedang berdiri dengan wajah serius, katanya dingin: "sekalipun kalian bukan suami istri, aku tetap ijinkan kalian untuk turun tangan bersama..." Seebun Giok-hiong membentak nyaring, tiba-tiba ia menerjang ke depan, telapak tangannya diayun ke muka melancarkan sebuah pukulan

Pangeran pedang pun segera mengayunkan pedangnya membentuk selapis bianglala berwarna keperak-perakan untuk membendung datangnya gempuran tersebut, kembali serunya: "Kenapa kau tidak meloloskan senjatamu"

Seebun Giok-hiong dapat merasakan munculnya segulung hawa pedang yang dingin menggidikkan dari ujung pedang lawannya itu, tanpa terasa pikirnya: "Tampaknya ilmu pedang yang dimiliki orang ini sudah mencapai puncak kesempurnaan aku tak boleh pandang enteng kemampuannya..." setelah menarik napas panjang, ia pun berkata lagi dengan dingin: "Kelihatannya kau seperti begitu yakin dapat mengungguli diriku?"

"Tentu saja, kau hanya seorang gadis muda, mana mungkin bisa menandingi kepandaianku sebagai pangeran pedang?"

Seebun Giok-hiong menarik napas berusaha menenangkan pikiran dan perasaan hatinya, setelah itu baru tanyanya: "Bagaimana jika kau tak mampu mengungguli diriku?"

"Sebenarnya tujuan kedatanganku ke daratan Tionggoan kali ini adalah untuk mengunjungi Thian-hok Sangjin di atas puncak bukit Mao san. Sayang ia tak ada di pesanggrahannya, hal ini membuat hatiku sangat kecewa, Oleh sebab itulah aku berencana mengunjungi kuil Siau-lim-si di bukit Siong-san. Kudengar Siau-lim-si adalah tulang punggung dari ilmu silat dunia persilatan, aku ingin mengalahkan siau-lim-pay lebih dulu sebelum menjelajahi daratan lainnya..."

"Aku tak ingin tahu urusanmu" tukas seebun Giok- hiong cepat. "Aku hanya ingin tahu apa yang hendak kau lakukan jika dalam pertarungan melawanku kali ini kau menderita kekalahan?"

"Kemampuanku dalam menguasai ilmu pedang sudah mencapai delapan puluh persen dari kemampuan ayahku, jadi aku yakin pasti dapat mengalahkan kau"

"seandainya kau tetap kalah?"

"saat ini juga aku akan segera kembali ke Lam-hay" "Hmmmm... enak amat taruhan ini," ejek seebun Giok-

hiong sambil tertawa dingin.

"Apa salahnya?"

"Bila kau kalah di tanganku, jangan harap dirimu bisa kabur dari sini dengan seenaknya"

"Jadi menurut pendapatmu? "

"Bila kau kalah di tanganku, kau harus bersedia menjadi budakku untuk selamanya"

"Bagaimana kalau aku yang menang?" tanya pangeran pedang setelah tertegun sejenak.

"Akupun bersedia menjadi pelayanmu dan menuruti semua perintahmu selama hidup,"

"Aaaai... sayang" bisik pangeran pedang setelah mengamati beberapa saat wajah seebun Giok-hiong dengan sorot mata yang tajam. "Apanya yang sayang?"-

"Masa gadis secantik kau harus menjadi pelayanku, apa tidak terlalu sayang?"

"Lantas apa maumu?"

Mendadak pangeran pedang tertawa tergelak "Ha ha ha... bila aku berhasil mengungguli dirimu, maka kau harus menjadi istriku sebagai istri seorang pangeran, kau tentu boleh berbangga hati"

Berubah hebat paras muka seebun Giok-hiong, nampaknya dia hendak meradang, tapi kemudian ujarnya sambil tertawa hambar: "Baiklah, bila aku kalah di tanganmu, terserah apa maumu nanti, mau dijadikan bini atau pelayan terserah kau sendiri yang putuskan"

"Bagus" seru pangeran pedang tertawa lantang. "Kalau dilihat dari keberanianmu untuk bertaruh melawanku, aku percaya kepandaian silatmu pasti hebat sekali, cabut pedangmu"

Kini, seebun Giok-hiong sudah tak berani memandang enteng kemampuan Pangeran pedang lagi, Tenaga dalamnya segera dikerahkan seraya menggapai ke arah pedang milik Li Tiong-hui yang berada di lantai, tahu- tahu pedang tersebut melayang ke udara dan jatuh ke tangan seebun Giok-hiong.

Tertegun pangeran pedang menyaksikan demonstrasi ini, pekiknya tanpa sadar: "sempurna benar tenaga dalam mu"

"Hmmm" seebun Giok-hiong mendengus dingin, " Kau paksa aku menggunakan senjata, kini aku sudah menggenggam pedang, berarti kau boleh segera turun tangan"

"Aku sebagai seorang pangeran adalah lelaki sejati, mana ada lelaki melancarkan serangan duluan, lebih baik kau saja yang menyerang terlebih dulu"

"Huuuuh, malas aku banyak bicara denganmu, hati- hati"

Pedangnya digetarkan langsung melepaskan sebuah tusukan ke depan, pangeran pedang segera memutar pedangnya menyapu pula miring ke arah samping.

Traaaang

Ketika sepasang pedang itu saling beradu, terdengarlah suara dentingan yang amat memekikkan telinga diiringi percikan bunga api. seebun Giok-hiong merasakan lengannya jadi kaku dan kesemutan, tak kuasa tubuhnya mundur satu langkah.

Pangeran pedang sendiri pun tergetar keras hingga mundur dua langkah, ia tarik napas panjang-panjang lalu pujinya: "Tak kusangka nona sebagai seorang wanita ternyata memiliki tenaga dalam begitu sempurna..."

seebun Giok-hiong mendengus dingin, ia mendesak maju lebih ke depan, Di antara getaran senjatanya ia lepaskan sebuah tusukan lagi ke depan, Tampak cahaya tajam berkilauan di seluruh angkasa, Dalam waktu singkat selapis kabut pedang telah menyelimuti seluruh angkasa.

Buru-buru Pangeran pedang memutar kencang pedangnya membentuk selapis bianglala berwarna perak untuk melindungi perawakan tubuhnya yang tinggi besar. Di antara dentingan nyaring yang berlangsung beruntun, dengan cepat seebun Giok-hiong melompat mundur dari arena, Rupanya dalam waktu sekejap mata, mereka berdua telah bertarung sebanyak delapan gebrakan. sebilah pedang yang berada dalam genggaman seebun Giok-hiong juga tersisa setengahnya,

Ternyata pedang yang digunakan pangeran pedang tersebut kendatipun bukan terhitung benda mestika yang tajam, namun besinya terbuat dari campuran baja dengan emas putih, maka tak heran kalau senjata yang digunakan seebun Giok-hiong untuk membendung serangan pangeran pedang itu tergetar patah .

Mengawasi kutungan pedang yang berada dalam genggamannya seebun Giok-hiong menjengek dingin, "Ternyata ilmu pedang yang dimiliki pangeran pedang hanya begitu-begitu saja"

"Menang kalah masih belum ditentukan dalam pertarungan ini, lebih baik kau tukar dengan pedang lain sebelum melanjutkan pertempuran"

"Tidak usah Dengan andalkan kutungan pedang ini pun aku masih mampu untuk mengunggulimu, Nah, berhati-hatilah"

Tiba-tiba ia menggerakkan kutungan pedangnya dan melancarkan serangan ke depan, Kali ini ia sudah tak mau beradu kekerasan lagi dengan pedang milik pangeran pedang. jurus serangan yang diandalkan adalah "ringan" dan "gesit" dengan perubahan yang tak terhingga.

Ternyata pangeran pedang memiliki kesempurnaan yang luar biasa dalam ilmu pedangnya, Di antara putaran senjatanya, selapis hawa pedang yang tebal dan menggidikkan menyelimuti sekujur badannya, Betapapun banyaknya perubahan jurus yang digunakan seebun Giok-hiong, ia tetap tak mampu melukai musuhnya ini.

sementara itu Lim Han- kim mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama, ia melihat jurus pedang yang diandalkan seebun Giok-hiong merupakan jurus dengan perubahan yang amat rumit, sebaliknya pangeran pedang bertahan dengan sistem pertahanan yang luar biasa kokohnya.

Ditinjau dari keadaan mereka berdua, tampaknya pertarungan belum dapat berakhir dalam waktu singkat, karenanya pelan-pelan ia berjalan ke samping Pek si- hiang dan siap menepuk bebas totokannya. Tapi sebelum tindakan itu dilakukan, mendadak ia urungkan kembali niatnya sambil berpikir: "Bila kubebaskan totokan Pek si- hiang sekarang juga, situasi pada hari ini pasti akan berkembang makin rumit dan kalut..."

Karena pendapat ini, untuk beberapa saat ia jadi termangu dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Mendadak terdengar seebun Giok-hiong membentak nyaring: "Lepas" Menyusul kemudian terdengar suara getaran senjata yang amat memekikkan telinga.

Ketika pemuda ini menengok kembali ke arena, tampak seebun Giok-hiong sudah mulai menguasai keadaan, permainan pedang pangeran pedang sudah tidak setegar dan sehebat tadi, ia keteter hebat oleh permainan pedang seebun Giok-hiong hingga tak punya kekuatan lagi untuk melancarkan serangan balasan, Menyaksikan kejadian ini, dengan cepat Lim Han- kim berpikir "seandainya seebun Giok-hiong berhasil mengungguli Pangeran pedang, mungkin sulit bagi Pek si-hiang dan Li Tiong-hui untuk lolos dari ancamannya."

situasi yang mendesak membuat pemuda ini tak bisa mengulur waktu lagi, Dengan langkah lebar ia menerjang ke sisi Li Tiong-hui dan menepuk bebas totokan jalan darahnya, Ternyata di saat yang kritis ia teringat bahwa di antara ketiga orang itu, Li Tiong-hui terhitung paling lembut dan halus budi, oleh sebab itu dia membebaskan totokan jalan darahnya terlebih dulu.

Tampak Li Tiong-hui menggeliat kemudian melompat bangun, setelah memandang sekejap suasana dalam ruang perahu itu, tanyanya: "siapa orang itu?"

"Pangeran pedang "

Mendadak Li Tiong-hui mengerutkan kening, setelah mundur dua langkah katanya: "Pangeran pedang? Dua puluh tahun berselang dalam dunia persilatan terdapat seorang pendekar yang mahir dalam ilmu pedang, Mula- mula ia menaklukkan lima partai pedang terlebih dulu kemudian menyerbu kuil siau-lim-si. setelah bertempur sehari semalam tanpa berhenti, ia berhasil menaklukkan kuil tersebut hingga akhirnya diberi gelar Raja pedang oleh umat persilatan Apakah pangeran pedang ini adalah putranya?"

"soal ini... mungkin saja benar" sahut Lim Han- kim setelah ragu sejenak.

"Raja pedang itu masih terhitung satu ..." "Terhitung apa?" "Terhitung masih satu marga dengan diri- mu, dia juga bermarga Lim"

"Di dunia ini orang yang bermarga Lim tak terhingga jumlahnya, apalagi dia berdiam jauh di Lam-hay, mana mungkin ada sangkut pautnya dengan aku?" sedang di hati kecilnya ia berpikir "Padahal sampai sekarang pun asal-usulku belum jelas, Benarkah aku bermarga Lim masih merupakan tanda tanya besar..."

sementara itu Li Tiong-hui telah bergumam sendiri setelah memandang sekejap pertarungan yang berlangsung antara seebun Giok-hiong melawan Pangeran pedang: " Lebih baik biarkan mereka bertarung dulu sampai salah satu pihak meraih kemenangan..." Mendadak ia mengerutkan kening, tak kuasa badannya mundur lagi sejauh dua langkah.

Melihat gadis itu menunjukkan sikap sakit dan amat menderita, tak tahan Lim Han- kim menegur "Kenapa kau?"

Li Tiong-hui tertawa getir, "Tampaknya ilmu silat yang diajarkan Pek si-hiang kepadaku telah meninggalkan bibit bencana..." sesudah berhenti sejenak. Li Tiong-hui melanjutkan "sebenarnya raja pedang berasal dari daratan Tionggoan, ia masih terhitung satu bangsa dengan kita semua, Konon bukan saja ilmu pedang yang dimilikinya sangat hebat, wajahnya pun amat tampan sehingga banyak skandal cinta yang dibuatnya sepanjang masa petualangannya dalam dunia persilatan."

Kembali gadis itu berkerut kening menahan rasa sakit yang amat sangat, kemudian sambil tertawa hambar ia meneruskan "Padahal kejadian semacam ini bukan terhitung kejadian yang luar biasa pada zaman sekarang."

Entah kenapa, tiba-tiba saja muncul suatu perasaan aneh dalam hati kecil Lim Han-kim, tak tahan pemuda ini berkata: "ooooh,jadi raja pedang berasal dari daratan Tionggoan dan selama petualangannya ia banyak membuat skandal dengan gadis-gadis sini...?"

"Benar, Untuk menceritakan segala sepak terjangnya mungkin sehari semalam pun tak ada habisnya, Ringkasnya, yaa begitulah, tentu kau sudah paham bukan?"

"Kalau begitu tolong nona ceritakan yang ringkasnya saja, aku ingin tahu cerita tentang ayah orang itu."

"Pada puluhan tahun berselang, si Raja pedang dari marga Lim ini bukan saja tersohor dalam dunia persilatan, dia pun merupakan pemuda idaman setiap gadis cantik pada zaman tersebut Banyak skandal cinta dilakukannya sebelum akhirnya dia ditawan ke Lam-hay."

"Kalau memang ilmu silatnya sangat hebat, mana mungkin dia bisa ditawan orang?"

"Hanya kelembutan yang bisa mengalahkan kekerasan. Memang betul ilmu pedangnya sangat hebat dan tiada tandingan, tapi ia toh tak bisa lolos dari jaring cinta putri Lam-hay yang penuh kelembutan."

"Putri Lam-hay?"

"Yaa, ia menyebut dirinya sebagai tuan putri dari Lam- hay, tentang siapa yang memberi gelar tuan putri kepadanya, tak seorang pun yang tahu. Pokoknya ia berhasil menawan si Raja pedang ini dan memboyongnya ke Lam-hay, semenjak saat itulah di daratan Tionggoan sudah tak ditemukan lagi jejak dari si Raja pedang ini."

"Oooh, rupanya begitu."

"Bukankan ceritanya amat ringkas? Aaaaai sejak kepergian Raja pedang ke Lam-hay, entah berapa banyak gadis Tionggoan yang melelehkan air mata kerinduannya gara-gara kepergian itu."

Tiba-tiba muncul kembali suatu perasaan yang sangat aneh dalam lubuk hati Lim Han- kim. ia tak bisa melukiskan bagaimana macam perasaannya sekarang, Dengan pandangan termangu ditatapnya Pangeran pedang yang sedang bertarung melawan seebun Giok- hiong itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun-

Dalam saat itu pos isi pangeran pedang sudah makin kritis dan terdesak hebat, Menghadapi serangan gencar dari seebun Giok-hiong yang begitu dahsyat, ia dipaksa tak mampu melancarkan serangan balasan. Kendatipun posisinya sangat tak menguntungkan ternyata permainan pedang si Pangeran pedang ini tak sampai kacau, ia tetap bertarung dengan gagah berani.

Diam-diam Li Tiong-hui mengerahkan tenaga murninya untuk meredakan gejolak yang terjadi dalam dadanya, kemudian pelan-pelan la menghampiri Lim Han- kim seraya berbisik

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang memikirkan satu masalah." "Masalah apa?"

"Tentang si Raja pedang itu..." "Aaaah, peristiwa ini sudah lewat belasan tahun, buat apa kau memikirkannya kembali?" kata Li Tiong-hui sambil tertawa.

"Bukankan kau mengatakan bahwa Raja pedang itu berasal dari marga Lim . . .?" Lim Han- kim menegaskan.

"Benar, Raja pedang memang bermarga Lim." "Raja pedang itu... raja pedang itu..." Tiba-tiba

pemuda itu merasa tenggorokannya seperti tersumbat

oleh sesuatu, sampai lama sekali ia tak mampu melanjutkan kata-katanya .

"Ada apa dengan Raja pedang itu?"

"Berapa lama si Raja pedang itu bercokol di daratan Tionggoan?"

Li Tiong-hui termenung dan berpikir sejenak. kemudian sahutnya: "sesungguhnya dia berasal dari daratan Tionggoan juga. sejak kecil hingga dewasa ia hidup di daratan besar, jadi kalau mau dihitung mestinya dihitung dari sejak ia terjun ke dalam dunia persilatan-"

"Tahukah nona, raja pedang ini berasal dari daerah mana?"