Pedang Keadilan II Bab 30 : Menjadi kejam

 
Bab 30. Menjadi kejam

"Hmmm Mau apa kau memandangi aku terus?" tegur Pek si- hiang sambil tertawa dingin.

" Ingin kuamati wajahmu dengan lebih teliti, benarkah kau Pek si hiang yang pernah kukenali."

"omong kosong" hardik Pek si-hiang marah. "Kau anggap ada orang lain yang berani menyaru sebagai aku?"

"Bila kau benar-benar adalah enci Pek yang pernah kukenal dulu, aku benar-benar tak berani percaya."

Mendadak Pek si- hiang mendongakkan kepalanya dan tertawa terkekeh-kekeh: "Ha ha ha... ada apa? Bisa kau tunjukkan bagian mana ku yang tidak mirip dengan keadaan dulu?"

"Enci Pek si-hiang yang kukenal dulu."

"Tunggu dulu" sela Pek Si-hiang mendadak "siapa sih yang kesudian jadi enci- mu? Kau tak perlu memanggil enci, enci terus, muak rasanya perutku"

setelah dipermainkan berulang kali, habis sudah kesabaran Li Tiong-hui. Hawa amarahnya mulai berkobar, dengan wajah berubah jadi merah padam ia tertawa dingin, ia berseru: "Pek si- hiang yang kukenal dulu orangnya halus, sopan dan berjiwa ksatria. Dia tak segan-segan menolong kesulitan orang lain hingga setiap orang menaruh hormat kepadanya" "Bagaimana dengan Pek si-hiang yang sekarang?" tukas gadis itu.

"Kejam, berhati busuk tak punya perasaan dan sadis"

Pek si- hiang tidak banyak komentar lagi, berpaling ke arah siok-bwee, perintahnya: "Berikan pedang kepadanya, biar dia potong kaki sendiri"

Pada saat itu Lim Han-kim hanya menyaksikan semua adegan itu dari samping tanpa komentar, ia perhatikan juga sikap serta tindak-tanduk siok-bwee serta Hiang- kiok. Dia ingin tahu setelah sifat Pek si-hiang berubah jadi kejam dan tidak berperasaan, apakah sifat kedua orang dayangnya turut berubah juga.

Tampak siok-bwee mencabut keluar pedangnya dengan kening berkerut, perlahan bisiknya "Nona Li..."

Pek si- hiang menyambar pedang itu lalu... Traaaang Dilemparkannya pedang itu ke hadapan Li Tiong-hui sambil berseru: "Li Tiong-hui, bila kau turun tangan sendiri mengurungi sepasang kakimu itu, mungkin kau masih punya harapan untuk terus hidup, Bila aku mesti turun tangan sendiri, mungkin bukan hanya sepasang kakimu saja yang bakal kutung"

Li Tiong-hui membungkukkan badan memungut pedang itu dari lantai, setelah ditimang-timang sebentar, tiba-tiba ia tertawa tergelak, "Hei, apa yang lucu?" tegur Pek si-hiang gusar.

"Seandainya kau adalah Pek si-hiang yang sebenarnya, jangan lagi mesti mengurungi sepasang kaki ku, biar ditambah sepasang tanganpun aku, Li Tiong-hui, akan melaksanakan tanpa berkerut kemng. Betul aku hanya seorang wanita, tapi aku tak takut menghadapi rasa sakit. Aku bersedia mengorbankan diri demi kepentingan orang banyak"

Dengan pandangan mata yang sedih dipandangnya Lim Han-kim sekejap. kemudian lanjutnya: "Tapi sayang... saat ini aku tidak percaya bahwa kau adalah Pek si-hiang yang sesungguhnya, Pek si- hiang yang pernah kukenali"

selama ini Lim Han-kim hanya duduk melulu tanpa bertindak atau komentar sekecap pun, tapi kini secara tiba-tiba ia bangkit berdiri Dipandangnya Pek si- hiang dengan sorot mata tajam, lalu katanya: "Apa yang dikatakan nona Li tepat sekali. Terlepas kau adalah nona Pek yang sebenarnya atau bukan, tapi satu hal sudah jelas, semua perbuatan dan tingkah lakumu sekarang sudah bukan merupakan tingkah laku nona Pek yang dulu"

"Tutup mulut" hardik Pek si- hiang. "Siapa suruh kau ikut komentar?"

Lim Han-kim tertawa tergelak: "Ha ha ha aku sendiri yang ingin bicara, kenapa? siapa yang bisa melarang?"

"Hiang-kiok" bentak Pek si- hiang penuh amarah, "Tangkap dulu orang ini"

"Tapi nona... dia adalah Lim siangkong..." bantah Hiang-kiok agak tertegun.

"Aku tahu, totok dulu jalan darahnya sebelum berbicara lagi" Hiang-kiok menyahut dan segera mengayunkan tangannya untuk menotok jalan darah di ketiak Lim Han- kim.

Dengan cekatan Lim Han-kim berkelit ke samping, katanya kemudian- "Nona, walaupun kau turun tangan karena terpaksa, namun apabila kau mendesak terus menerus, terpaksa aku harus turun tangan untuk membela diri"

Hiang-kiok tidak banyak bicara, sepasang tangannya bekerja keras melancarkan serangkaian totokan. Dalam waktu singkat ia telah melancarkan belasan buah totokan-namun kesemuanya dapat dihindari Lim Han-kim dengan mudah.

Mendadak terdengar Pek si- hiang membentak marah: "Budak yang tak berguna, ayoh cepat mundur dari situ"

Hiang-kiok menyahut dan segera mengundurkan diri. Ketika Lim Han-kim berpaling, ia saksikan Pek si-

hiang sudah bangkit berdiri dan pelan-pelan berjalan

mendekatinya.

Tiba-tiba Li Tiong-hui melangkah ke depan, serunya: "saudara Lim, cepat mundur dari perahu ini, biar aku yang menghadapi Pek si-hiang"

" Kedudukanmu sekarang adalah Bu-lim Bengcu, harapan serta mati hidup beribu-ribu orang rekan dunia persilatan sudah berada di atas bahumu. Kau tak boleh sembarangan menyerempet bahaya, lebih baik nona saja yang segera mengundurkan diri dari sini"

"Persoalan ini timbul gara-gara aku. Aku tak ingin membiarkan kau menderita lantaran kejadian ini" Belum sempat Lim Han-kim berbicara, Pek si- hiang sudah berada di hadapan mereka sambil berkata: "Lim Han-kim, dengan andalkan sedikit kepandaianmu itu, kau masih ingin membela orang lain?"

"Aku siap menanti petunjukmu" tukas Li Tiong-hui dingin-

Lim Han-kim melintangkan lengan kanannya menghalangi jalan maju Pek si- hiang sambil berseru: "siapa yang telah menetapkan peraturan memotong sepasang kaki ini?"

"Aku . . . Pek si-hiang Kenapa? Ada yang salah?" "Aku yang tiba di atas perahumu lebih dulu, Apabila

nona bersikeras hendak menerapkan peraturan ini, sepantasnya bila kau kutungi lebih dulu sepasang kakiku"

"Kau anggap aku tak berani melakukan-nya?" "Meskipun nona berani, namun belum tentu aku akan

menyerahkan diri dengan begitu saja"

Berkedip sepasang mata Pek si- hiang, tiba-tiba selapis hawa membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan nada dingin ia mengejek: "Kau ingin bertarung melawanku?"

Membayangkan kembali sikap mesra yang pernah dialaminya bersama gadis tersebut di masa lalu, tak kuasa Lim Han-kim menghela napas sedih. "Bebaskan Li Tiong-hui, aku akan merelakan sepasang kakiku untuk kau potong"

Tiba-tiba Pek si-hiang tertawa terkekeh-kekeh. sepasang pipinya berubah jadi semu merah, ujarnya lembut: "Lim Han-kim, apakah kau amat menyukai Li Tiong-hui?" setelah mengucapkan perkataan tersebut, wajahnya kembali berubah jadi dingin, ketus dan serius,

selisih jarak antara kedua orang itu teramat dekat sehingga Lim Han-kim dapat menyaksikan semua gerak- geriknya dengan amat jelas, Melihat gadis tersebut hanya dalam satu kerdipan mata saja dapat menampilkan dua mimik muka yang berbeda dan berlawanan, tak kuasa lagi ia menghela napas sedih, pikirnya: "Jika ditinjau dari sikapnya sekarang, jelas sifat aslinya sudah terpengaruh oleh ilmu sesat yang dipelajarinya, setengah tahun berselang dia masih merupakan seorang tokoh lemah lembut yang menjadi harapan umat persilatan. semua orang berharap ia bisa menaklukkan seebun Giok-hiong, tapi sekarang... aaaai, ia mau berkorban demi orang banyak. masa sekarang aku Lim Han-kim juga tak bisa berkorban demi dia, Pek si-hiang...?"

Terdengar Pek si- hiang menegur dengan suara dingin: " Kenapa kau tidak berbicara? seorang lelaki sejati berani berbuat, berani tanggung jawab. Kenapa sih kau begitu tak bersemangat?"

Setelah mengambil keputusan dalam hatinya sikap Lim Han-kim segera berubah jadi lembut dan ramah kembali, sahutnya sambil tertawa hambar "Kalau senang kenapa, kalau tidak senang kenapa pula?"

"Kalau kau benar-benar mencintainya, aku akan segera mengutungi sepasang tangan dan sepasang kakinya agar sepanjang hari kau bisa merawat dan memenuhi kebutuhannya, agar kau tak pernah bisa meninggalkan dirinya lagi. Harapanmu juga akan segera terkabul"

"ooh ... begitu? Masih ada yang lain? "Lim Han-kim tertawa.

"Bila kau tidak mencintainya, biar kukutungi sepasang kakinya lalu membuang tubuhnya ke dalam sungai, biar dia sendiri yang menentukan mati hidupnya"

Lim Han-kim menggelengkan kepalanya berulang kali, "Aku tidak setuju dengan kedua usul nona itu."

"Lantas apa maumu?"

"Menurut pendapatku, kita bebaskan nona Li, kemudian hukuman sekejam apa pun yang hendak nona limpahkan kepadaku, akan kuterima dan tanggung seorang diri"

"Tidak bisa" tukas Li Tiong-hui sambil tertawa hambar "Aku, Li Tiong-hui, yang telah melanggar peraturan nona Pek, jadi sudah sepantasnya bila aku sendiri yang menerima hukumannya. saudara Lim, maksud baikmu biar kuterima dalam hati saja"

Pelan-pelan Lim Han-kim berpaling, ditatapnya wajah Li Tiong-hui lekat-lekat kemudian bujuknya dengan lembut: "Harapan semua jago silat di dunia ini terletak di atas bahumu, Kau tak boleh menuruti emosi sehingga mengorbankan masalah besar yang lebih penting, pergilah nona, biar aku yang membereskan keadaan di tempat ini"

Pek si-hiang tertawa terkekeh-kekeh. "He he he... wahai Lim Han-kim, kau ini apaku? Berani amat kau mengambil keputusan mewakili diriku" serunya.

Lim Han-kim maju selangkah menghadang di depan Pek si-hiang, lalu berseru: "Nona Li, harap segera keluar dari ruangan ini"

Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak Pek si-hiang mengayunkan tangan kanannya dan secepat kilat mencengkeram Li Tiong-hui yang berada di belakang Lim Han-kim.

Buru-buru Lim Han-kim mementangkan kelima jari tangannya balas mengancam ketiak kanan Pek si-hiang.

"Kurang ajar" umpat Pek si-hiang marah, "Kau benar- benar berani menentang aku?" Tangan kanannya ditarik balik sementara tangan kirinya disodok ke depan.

Lim Han-kim tahu bahwa gadis ini tak pandai silat, sekalipun selama berapa waktu belakangan ini dia mempelajari ilmu sesat untuk mengobati penyakitnya, oleh karena itulah dalam melancarkan serangan balasan, ia enggan menggunakan tenaga penuh. Dia pun segan menyerang dengan kecepatan tinggi karena kuatir melukai gadis tersebut.

Siapa yang mengira Pek si-hiang yang dihadapinya sekarang sudah bukan Pek si-hiang dulu yang lemah, penyakitan dan tak pandai silat. Gerak serangan tangan kirinya dilancarkan dengan keCepatan yang luar biasa hebatnya, sebelum Lim Han-kim sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan, ia sudah tak sempat lagi untuk menangkis datangnya serangan tersebut Duuuuk serangan tersebut dengan telak menghajar di atas dadanya.

Lim Han-kim segera merasakan pandangan matanya berkunang-kunang, tubuhnya mundur sempoyongan.

Untung di belakang tubuhnya ada dinding hingga ia tak sampai roboh terjengkang.

Buru-buru Li Tiong-hui berpaling, ia saksikan paras muka anak muda tersebut pucat pias bagaikan mayat, jelas gempuran tersebut telah membuat isi perutnya terluka cukup parah.

Berhasil merobohkan Lim Han-kim dalam sekali gempuran, Pek si-hiang mendesak maju ke hadapan Li Tiong-hui, ejeknya: "Kau hendak paksa aku untuk turun tangan?"

Dengan penuh amarah Li Tiong-hui membentak: "Enci Pek yang kuhormati dan kusanjung itu bukan manusia kejam dan tidak berperasaan seperti kau. Aku yakin kau adalah enci Pek gadungan, kau pasti sedang menyaru sebagai dirinya"

Kendatipun dengan jelas dan pasti ia tahu bahwa orang yang berada di hadapannya sekarang adalah Pek si-hiang yang tulen, namun dalam keadaan dan situasi seperti ini mau tak mau dia harus bersikeras mengatakan bahwa dia adalah Pek si-hiang gadungan.

Pek si-hiang tertawa dingin. "Tidak perduli aku adalah asli atau gadungan, pokoknya hari ini kau jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat" Weesss... kembali sebuah gempuran dahsyat dilontarkan. Dengan cekatan Li Tiong-hui mengegos ke samping dan berteriak: "Kau jangan terlalu memojokkan posisiku"

"Hmmm, aku dengar ilmu silat dari keluarga Hong-san mencakup pelbagai aliran ilmu silat di dunia. Malam ini aku harus menyaksikan sendiri sampai di manakah kehebatan ilmu silatmu itu. Bila kau berpendapat bahwa ilmu pukulanmu yang terhebat, akan kusuruh kau terluka di bawah pukulan ilmu telapakku, Bila kau anggap ilmu jarimu lebih hebat, maka akan kusuruh kau terluka oleh ilmu jariku"

Baru selesai perkataan itu diucapkan, dari kejauhan tiba-tiba terdengar seseorang tertawa merdu sambil berseru: "Siapa sih kamu itu? Besar amat perkataanmu"

"Seebun Giok-hiong, rupanya kau pun khusus kemari untuk mengantar kematianmu" bentak Pek si-hiang ketus.

Pintu ruangan terpentang lebar, seebun Giok-hiong dengan mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau tahu-tahu sudah berjalan masuk sambil menyahut: "siapa bakal menang siapa bakal mampus, terlalu dini untuk dikatakan sekarang"

setelah menatap tajam wajah Pek si-hiang, dengan agak tertegun serunya: "Ternyata benar-benar kau"

"Yaa, kita baru berpisah berapa bulan, masa kau sudah tidak kenal lagi dengan diriku?" jawab Pek si-hiang sinis.

seebun Giok-hiong menarik kembali senyuman dari wajahnya, ia melirik sekejap Lim Han-kim yang berada di sisi arena, lalu dengan kening berkerut memandang pula wajah Li Tiong-hui.

sambil tertawa dingin ia berujar kepada Pek si-hiang: "Kau sanggup pura-pura mampus dengan berbaring dalam peti mati untuk membohongi aku, hal ini membuktikan kau memang seorang yang hebat"

Pelan-pelan Pek si-hiang mundur tiga langkah, kemudian jengeknya: "Beruntung sekali kalian berkumpul semua di sini malam ini, Dengan begitu aku pun tak usah repot- repot mengumpulkan kalian lagi"

Lim Han-kim yang bersandar pada dinding ruangan sambil pejamkan mata itu mendadak membuka matanya kembali seraya berkata: "Nona seebun, nona Li, selama ini aku Lim Han-kim belum pernah merepotkan kalian dengan masalah apa pun. Malam ini aku ingin kalian berdua mau memenuhi satu permintaanku, entah bersediakah kalian berdua untuk memenuhi permitaanku ini?"

"Katakan saja" sahut seebun Giok-hiong cepat "Asal mampu kulakukan, aku berjanji tak akan membuat kau kecewa,"

"sesungguhnya Pek si-hiang telah terpaksa mempelajari sejenis ilmu sesat yang pada awalnya bermaksud untuk mengobati penyakit yang dideritanya. siapa tahu setelah ilmu sesat itu mendatangkan hasil, sifat serta tindak tanduknya turut berubah pula..."

Akibat berbicara dengan luka dalam yang cukup parah, pemuda tersebut terengah-engah dibuatnya, setelah berbicara sampai di situ ia berhenti sejenak dan kembali melanjutkan "sekalipun aku tidak mengetahui keadaannya secara mendetil, tapi aku percaya ilmu tersebut merupakan sejenis ilmu silat yang sangat jahat dan kejam, aku berharap kalian berdua..."

sambil tertawa terkekeh-kekeh Pek si-hiang menyela: "Ha ha ha... Lim Han-kim, apakah kau berniat minta kepada mereka berdua agar bergabung menjadi satu kekuatan untuk bersama-sama menghadapi aku Pek si- hiang?"

"Perubahan yang kau alami kelewat banyak, Aaaai... tahu begini, aku pasti tak setuju kau mempelajari ilmu sembilan iblis tersebut..."

Mendadak ia terbatuk-batuk lalu roboh terjungkal ke atas tanah. Buru-buru seebun Giok-hiong dan Li Tiong- hui memburu ke depan dan mengulurkan tangannya hendak merangkul pemuda itu. Mereka berdua turun tangan bersama, menjulurkan tangan bersama, tapi pada akhirnya sama-sama menarik kembali tangannya.

Blaaammmm

Diiringi suara benturan keras, tubuh Lim Han-kim roboh terjengkang ke atas tanah.

Rupanya kedua orang gadis itu sama-sama punya pikiran untuk mengalah kepada lawannya hingga sama- sama menarik kembali uluran tangannya, akibat perasaan tersebut Lim Han-kim yang menjadi korban.

Pek si-hiang kembali tertawa terkekeh: "Ha ha ha... itulah akibatnya jika saling mengalah, kalian sama-sama sungkan, akibatnya dialah yang menjadi korban"

setelah berhenti sejenak. dengan wajah berubah menjadi dingin dan serius terusnya: "Sesungguhnya situasi yang kalian berdua hadapi hari ini adalah sama. Dari kalian berdua, yang satu adalah Bu-lim Bengcu yang bertanggung jawab atas keselamatan umat persilatan, sedang yang lain adalah gembong iblis yang siap menciptakan badai pembunuhan besar-besaran dalam dunia persilatan. semestinya kalian berdua harus saling berhadapan sebagai musuh besar yang tak mungkin bisa diakurkan satu sama lainnya. Tak nyana pada malam ini kalian harus saling bertemu dalam situasi begini..."

"Hmmmm" dengus seebun Giok-hiong dingin, "Bila ditambah dengan kau, nona Pek. maka kita akan membentuk tiga kekuatan yang saling berhadapan. pihak manapun jangan harap bisa menjadi nelayan beruntung yang tinggal menunggu hasil panenan tanpa bersusah payah"

Pek si-hiang tertawa.

"Aku rasa justru salah satu di antara kita bertiga harus dimusnahkan lebih dulu, dengan demikian kedua pihak yang terakhir baru bisa saling beradu kekuatan dengan perasaan lega"

seebun Giok-hiong melirik Li Tiong-hui sekejap. kemudian ujarnya: "Lebih baik kita bertiga melempar undian lebih dulu, yang menang boleh berpangku tangan lebih dulu menyaksikan dua orang pihak yang kalah bertarung duluan, Entah bagaimana menurut pendapat kalian berdua?"

Pek si-hiang mengalihkan pandangan matanya ke wajah Hiang-kiok dan siok-bwee, mendadak perintahnya: "jalankan perahu" Kedua orang dayang itu menyahut dan beranjak keluar dari ruangan.

"Hei, mau apa kau?" tegur Li Tiong-hui.

"Akan kujalankan perahu dengan mengikuti arus sungai, jadi seandainya kita semua bakal mati dalam pertarungan nanti, perahu ini bisa membawa kita sampai kesamudra luas, Kita bisa mati dengan perasaan bebas tanpa gangguan dari siapa pun"

"Pek si-hiang" seebun Giok-hiong tertawa dingin. "Kau tak usah berlagak di hadapan kami. Katakan saja bahwa kau takut bala bantuan kami segera akan tiba di sini, maka kau sengaja menyingkir"

"oooh, jadi kalian berdua sudah membuat persiapan sampai ke situ?" tegur Pek si-hiang tertegun.

"Benar" sahut Li Tiong-hui, "sepuluh li di seputar sungai ini telah kupersiapkan bala bantuan yang sangat tangguh. Kendatipun kau menyingkir ke arah hilir, jangan harap jejakmu bisa lolos dari pengejaran mereka semua"

"seandainya nona seebun juga telah persiapkan bala bantuan, waaah... bakal ada tontonan menarik nanti," kata Pek si-hiang sambil tertawa, "Sementara kita bertiga bertarung mati-matian di atas perahu, anak buah kalian berdua akan saling gempur-gempuran pula di atas sungai dan di daratan.. pertempuran itu pasti hebat dan seru"

seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh: "Ha ha ha... seandainya peristiwa semacam itu sungguh terjadi, pada malam Tiong-ciu esok malam, kita semua bakal mengetahui siapakah yang akhirnya paling berhak untuk menguasai seluruh dunia persilatan" Pek si-hiang mundur dua langkah, lalu katanya: "Nona Li, barusan nona seebun mengusulkan untuk buang undian guna menentukan dua orang yang kalah untuk bertarung duluan, entah bagaimana pula dengan pendapatmu?"

"Dengan senang hati kulayani keinginan tersebut" "Bagus sekali Kalau begitu kalian berdua boleh buang

undian lebih dahulu"

Dengan tangannya yang halus pelan-pelan seebun Giok-hiong membenahi rambutnya yang kusut, katanya mendadak: "Bagaimana jika kutantang nona Pek lebih dulu untuk berduel?"

Baru saja Pek si-hiang hendak menjawab, mendadak dari luar geladak terdengar suara siok-bwee berteriak: "Lapor nona, dari arah timur muncul empat buah sampan yang bergerak mendekati"

sambil tersenyum Li Tiong-hui menyambung: "Apakah di atas sampan-sampan tersebut tergantung sebuah lentera berwarna merah?"

siok-bwee yang lebih pintar dan pengalaman segera membungkam dan tidak berkata apa-apa lagi sesudah mendengar ucapan Li Tiong-hui itu, sebaliknya Hiang- kiok segera berseru keras: "Yaa, betul, di atas setiap sampan cepat itu tergantung sebuah lentera merah"

Li Tiong-hui tertawa hambar dan tidak bicara apa-apa lagi.

Dengan nada ketus Pek si-hiang berseru: "Putar haluan kearah selatan, jalankan perahu dengan sepenuh tenaga" seebun Giok-hiong yang menyaksikan kejadian ini, dalam hati kecilnya segera berpikir "Kini bala bantuan Li Tiong-hui telah tiba, bila aku mesti bertarung lebih dulu melawan Pek si-hiang, baik menang atau kalah, pasti aku sudah kehilangan banyak tenaga dan pikiran. Kejadian semacam ini justru akan membuat Li Tiong-hui menjadi si nelayan yang beruntung, HHmmm . . . Terlalu enak baginya"

sebaliknya paras muka Pek si-hiang dingin dan kaku. ia tidak bicara juga tidak tertawa, sulit bagi orang lain untuk menduga apa gerangan yang sedang dipikirkannya sekarang?

sementara Li Tiong-hui sendiri, karena ia sudah mempunyai rencana yang matang, maka gadis ini hanya menyandarkan diri pada dinding perahu dengan wajah tenang dan penuh senyuman.

seebun Giok-hiong mulai memutar biji matanya melirik ke sana kemari, tampaknya dia mulai peras otak untuk mencari akal guna menghadapi situasi yang pelik ini.

seebun Giok-hiong yang tinggi hati dan percaya diri sesungguhnya merupakan seorang tokoh yang tidak takut langit tidak takut bumi, tapi terhadap Pek si-hiang dia justru menaruh suatu perasaan takut yang sangat aneh, suatu perasaan yang membelenggu dirinya, ia berusaha keras untuk melepaskan diri dari belenggu yang tak berwujud ini sehingga tak segan-segan untuk menantang Pek si-hiang berduel.

Dalam anggapannya asal Pek si-hiang berhasil dikalahkan, Li Tiong-hui sudah bukan tandingannya lagi. Kini kehadiran keempat buah sampan itu telah menggeser posisi dan kekuatan mereka bertiga yang menjerumuskan dirinya dalam suatu keadaan yangamat pelik.

semenjak pertempuran di telaga Tay-oh tempo hari, seebun Giok-hiong mulai sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki sekawanan jago persilatan yang sudah lama tersohor di dunia kangouw itu tak boleh dianggap enteng, seandainya jago-jago itu turun tangan bersama mengerubuti dirinya, siapa menang siapa kalah akan semakin sulit untuk diramalkan.

Perubahan yang terjadi di luar dugaan ini mau tak mau memaksa seebun Giok-hiong mengubah rencananya, Dia tak ingin tergesa-gesa menantang Pek si-hiang untuk berduel. Dalam keadaan begini dia perlu

mempertahankan kekuatannya hingga dapat menghadapi setiap perubahan yang tak diinginkan.

Mendadak angin berhembus kencang, rembulan yang semula bersinar terang tiba-tiba redup, cuaca pun ikut berubah drastis, Buru-buru Pek si-hiang lari ke sisi jendela dan berusaha menutup daun jendela tersebut.

sayang tindakannya terlambat selangkah, cahaya lilin dalam ruang perahu itu segera padam suasana pun berubah jadi gelap gulita, sedemikian gelapnya sampai untuk melihat kelima jari tangan sendiripun susah.

Perahu pesiar yang diubah sesuai dari perahu nelayan ini mulai bergoncang hebat Tubuh perahu terombang ambing naik turun mengikuti gempuran ombak yang semakin menggila.

sekilas cahaya halilintar membelah bumi diikuti suara gemuruh yang memekikkan te-linga, Angin puyuh mulai berhembus kencang menimbulkan gelombang dahsyat, guntur yang menggelegar menambah seramnya suasana.

Dari geladak perahu kedengaran suara Hiang-kiok berteriak: "Nona, terjadi perubahan cuaca, Hujan deras mulai mengguyur, ombak makin mengganas, tampaknya kemudi perahu makin sukar dikendalikan"

"Bagaimana dengan keempat sampan kecil itu?" tanya Pek si-hiang.

"sudah semakin mendekati perahu layar kita, gempuran ombak membuat kehadiran mereka makin sulit diikuti, tapi hamba duga masih berjarak tiga kaki"

"Kurang ajar" maki Pek si-hiang, "Kenapa sampan- sampan kecil itu tak khawatir menghadapi gempuran ombak. justru kalian berdua budak dungu tak sanggup menahan kemudi perahu?"

"Kau tak bisa salahkan mereka" tukas Li Tiong-hui ketus "Pendayung keempat sampanku itu rata-rata merupakan jagoan air yang sepanjang tahun hidup di atas air, Bukan saja ilmu mendayung mereka sukar ditandingi, sekalipun tercebur ke dalam air selama tiga hari dua malampun tak nanti membinasakan mereka"

"seandainya mereka terluka parah, tentu keadaannya akan berbeda," sambung seebun Giok-hiong.

"Kalian berdua tak usah panik" jengek Li Tiong-hui dingin. "Kendatipun mereka berhasil mendekati perahu ini, tanpa perintah dariku, tak nanti mereka akan menyerbu masuk ke sini" "Sekalipun mereka berhasil menaiki perahuku paling banter hanya akan menambah berapa lembar nyawa yang mati penasaran" dengus Pek si-hiang sinis.

"Hmm, aku rasa belum tentu."

"Bila kau tak percaya, kenapa tidak suruh mereka naik kemari untuk menjajal sendiri?"

"Yang pasti, hingga sekarang kita semua masih hidup segar bugar," sela seebun Giok-hiong, Jadi siapa pun jangan harap bisa meramalkan nasib lawannya.

Pek si-hiang serta Li Tiong-hui sama-sama tidak berbicara lagi, suasana dalam perahu pun tiba-tiba dicekam keheningan Dalam keheningan tersebut Li Tiong-hui pasang telinga baik-baik untuk memeriksa keadaan di seputarnya. Di tengah hujan badai yang sedang berlangsung, lamat-lamat ia seperti mendengar suara napas orang yang lirih.

Gadis ini segera sadar bahwa situasi kembali telah terjadi perubahan jelas siapa pun tak ingin bertahan terus dalam keadaan seperti ini. ia mencoba mengawasi suara tersebut dengan lebih teliti. ia merasa ada orang yang secara diam-diam mulai menggeserkan tubuhnya, tapi berhubung perahu besar itu tergoncang hebat oleh gempuran ombak maka geseran badan yang tak seimbang itu beberapa kali menimbulkan suara.

suasana tenang yang luar biasa mulai mencekam kegelapan. Rasa tegang itu makin lama berkembang makin besar, membuat orang mulai merasa sesak napas dan tak mampu mempertahankan diri Li Tiong-hui menghimpun hawa murninya siap bergeser dari posisi semula, tapi tiba-tiba ia teringat akan diri Lim Han-kim, pikirnya:

"Bila aku pergi dari sini, siapa yang akan melindungi keselamatan jiwanya? Padahal dua musuh tangguh hadir di sini sekarang, Mereka berdua tak segan-segan turun tangan. hanya gara-gara urusan sekecil apa pun. Aaai... kenapa aku tidak manfaatkan kesempatan ini untuk membawanya pergi dari sini. Lagi pula bala bantuan telah tiba, sekalipun tercebur ke dalam sungai juga tidak mengapa.." Berpikir sampai di situ, pelan-pelan ia mulai berjongkok.

Tapi... ada saat dia membungkukkan badan itulah segulung desingan angin serangan yang tajam menyambar lewat, nyaris menghajar telak batok kepalanya.

Li Tiong-hui tidak tahu siapa di antara kedua orang itu yang membokong dirinya, Meski hatinya sangat gusar namun ia berusaha untuk mengendalikan diri tanpa menimbulkan sedikit suara pun, pikirnya: "Mereka berdua sama-sama mengerti bahwa siapa pun telah menggeser posisinya sekarang, Tapi siapa yang tahu di antara mereka berdua bahwa aku belum berpindah posisi?"

Mendadak terdengar seebun Giok-hiong menegur: "Nona Li, baik-baikkah kau?"

sementara itu Li Tiong-hui telah berjongkok. pikirnya: "Jelas seebun Giok-hiong yang telah menyergapku barusan, karena tak mendengar reaksi apa-apa setelah melepaskan gempurannya, ia sengaja menegurku untuk mengetahui reaksinya..." Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, terdengar Pek si-hiang telah menyindir: "Nona seebun, tampaknya gempuranmu barusan gagal menyergap diri Li Tiong-hui. Waaah... sayang, sungguh patut disayangkan seandainya bokonganmu berhasil mengenai sasaran, saat ini tinggal kita berdua yang saiing berhadapan"

"Kurang ajar" umpat seebun Giok-hiong gusar, "siasatmu memfitnah orang lain sungguh menggelikan hati, Kalau berani menyerang sepantasnya berani mengakui perbuatannya, Aku tak percaya Li Tiong-hui akan termakan oleh siasatmu"

Waktu itu Li Tiong-hui telah berjongkok di samping Lim Han-kim, pikirnya: "Perduli amat kalian mau bermain siasat untuk menjebakku, asal tidak kugubris, kalian juga tak bisa apa-apa"

Tatkala seebun Giok-hiong dan Pek si-hiang tidak mendengar jawaban dari Li Tiong-hui, mereka jadi amat keheranan. Namun hal ini juga membuktikan bahwa gempuran tadi sudah meleset sebab Li Tiong-hui telah menggeser kedudukannya.

Terdengar seebun Giok-hiong berkata lagi: "Nampaknya ilmu silat yang dimiliki nona Li kembali mengalami kemajuan yang pesat, Nama besar keluarga persilatan bukit Hong-san nyata memang bukan nama kosong belaka"

"Kau telah merebut kekasih hatinya, sakit hati ini membuat rasa bencinya padamu merasuk ke tulang sumsum. Mana mungkin dia mau kau bohongi lagi?" sindir Pek si-hiang dingin "Ucapanmu kelewat serius, padahal orang yang merebut kekasihnya mungkin bukan cuma aku, seebun Giok-hiong, seorang diri"

"Kalau bukan kau, memangnya aku ikut memperebutkannya?"

"Nah, nona Pek sudah mengakui sendiri rasanya akupun tidak usah banyak bicara lagi."

Pada saat itu Li Tiong-hui sedang membuat perhitungan dalam hati kecilnya, ia berpikir "Bisa jadi perhatian mereka berdua kini tertuju kepintu keluar ruangan perahu ini. seandainya aku melakukan sedikit gerakan, mungkin mereka berdua akan menggunakan gempuran yang tercepat dan terhebat untuk menghabisi nyawaku, Agar dapat lolos dari sini, aku mesti memecahkan perhatian mereka berdua lebih dulu..."

Dalam hati ia paham, pada mulanya seebun Giok- hiong maupun Pek si-hiang tidak menganggapnya sebagai musuh utama, sebab dalam pandangan mereka, kemampuan yang dimilikinya hanya menduduki posisi nomor dua.

Tapi kehadiran anak buahnya pada saat tersebut membuat kedua orang lawannya membuat pandangan yang berubah, otomatis tindakan mereka pun ikut mengalami perubahan. Kini, mereka saiing berdiri dalam posisi segi tiga, Pihak mana pun segan untuk turun tangan lebih dulu, sebab kehilangan kekuatan yang mereka miliki akan menguntungkan pihak yang lain

Dalam keheningan yang mencekam terdengar seebun Giok-hiong berkata lagi: "Nona Pek. menurut dugaanku, Li Tiong-hui pasti sudah bersembunyi disamping Lim Han-kim. Kalau tak percaya, kau boleh mencoba dengan lepaskan sebuah pukulan."

"Tidak mungkin" bantah Pek si-hiang, "Dia pasti bersembunyi di sekitar pintu ruangan" Li Tiong-hui mengerti dengan jelas, kedua orang itu saling menghasut dan beradu otak dengan harapan pihak lain melancarkan serangan terlebih dulu. Tiba-tiba satu ingatan melintas lewat dalam benaknya, Diam-diam tangannya merogoh ke dalam saku mengeluarkan sebuah mata uang. sambil menghimpun hawa murninya, disentilnya mata uang itu ke depan.

saat itu hujan angin berlangsung makin kencang dan hebat membuat bangku dan meja dalam ruang perahu itu bertumbangan suara cawan yang hancur membuat suasana riuh dan ramai, otomatis suara desingan yang ditimbulkan mata uang yang dilepaskan Li Tiong-hui pun ikut tertutup, Dengan membawa angin desingan yang amat tajam mata uang itu meluncur kearah seebun Giok- hiong.

Perlu diketahui, saat itu tubuh perahu mengalami goncangan yang sangat keras, sedemikian hebat goncangan itu membuat seebun Giok-hiong serta Pek si- hiang tak sanggup berdiri tegak. sebaliknya Li Tiong-hui yang tiarap di lantai justru memperoleh keseimbangan tubuhnya.

Terdengar seebun Giok-hiong menjengek sambil tertawa dingini "Nona Pek. kau belajar ilmu silat belum genap setengah tahun. Kendatipun dengan kecerdasan otakmu kau berhasil memperoleh kemajuan, tapi sayang tenaga sentilanmu untuk melepaskan mata uang masih amat terbatas"

Pek si-hiang balas tertawa dingini "He he he ... rupanya kau ingin mencoba sekali lagi"

"Bila kau merasa tak puas, apa salahnya untuk dicoba sekali lagi" tantang Seebun Giok-hiong sambil tertawa,

"Baik Kau berhati-hatilah"

"silakan turun tangan nona Pek" Diam-diam Li Tiong- hui merasa girang, pikirnya: "Apabila Pek si-hiang berhasil melukai seebun Giok-hiong, dapat dipastikan seebun Giok-hiong tidak terima dan tentu berusaha membalas dendam. sebaliknya bila Pek si-hiang gagal melukai musuhnya, demi gengsi dan muka, ia tak akan berdiam diri sampai di situ. Jika mereka berdua sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit, aku pun akan peroleh kesempatan baik untuk melarikan diri"

Berpikir sampai di situ, diam-diam ia menghimpun hawa murninya dan menggeser badannya sejauh berapa depa sambil pasang telinga baik-baik.

"Hati- hati" seru Pek si-hiang.

Di tengah kegelapan yang mencekam ruang perahu itu, mendadak terlintas dua titik cahaya terang, segulung tenaga pukulan yang kuat muncul dari sudut ruang perahu itu, dalam waktu singkat seluruh ruangan telah dipenuhi oleh deruan angin yang memekikkan telinga.

Menyusul gemuruhnya angin pukulan itu, kedengaran seebun Giok-hiong berkata sambil tertawa: "Nona Pek. kedua batang piau perakmu sungguh mungil dan menawan hati" Mendadak cahaya api berkilauan, suasana dalam ruang perahu itupun seketika berubah jadi terang benderang.

selama ini Li Tiong-hui memperhatikan terus gerak- gerik kedua orang itu, begitu melihat berkelebatnya cahaya api, ia segera melompat bangun dan menempelkan tubuhnya keatas dinding ruangan.

Terdengar seebun Giok-hiong mengejek sambil tertawa tergelak: "Ha ha ha... ternyata dugaanku benar, nona Li memang bersembunyi di belakang tubuh Lim Han-kim"

orang yang menyulut batu api tak lain adalah Pek si- hiang. Di tangan kirinya dia pegang batu api sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pedang pendek, katanya dingin

"seebun Giok-hiong, cepat atau lambat toh akhirnya antara kita berdua harus melangsungkan suatu pertarungan habis-habisan. Mumpung malam ini hujan badai sedang berhembus, kenapa kita tidak tentukan siapa di antara kita berdua yang lebih berhak untuk hidup? Ayoh cepat loloskan senjata andalanmu"

Pelan-pelan seebun Giok-hiong maju dua langkah ke depan, sahutnya: "Nona Pek memandang begitu serius atas kehadiranku, tentu saja seebun Giok-hiong harus pertaruhkan nyawa untuk melayani keinginanmu."

Ia berpaling memandang Li Tiong-hui sekejap, kemudian melanjutkan "Bila kita berdua harus bertempur lebih dulu, sekalipun akhirnya ada satu pihak tampil sebagai pemenang, saat itu dia tentu kelelahan dan kehabisan tenaga, apa kau tidak kuatir bakal ada nelayan beruntung yang siap memungut hasil?"

"Nona seebun, sebetulnya apa sih maksudmu? Kenapa kau selalu menyindir aku?" tegur Li Tiong-hui.

"Ada satu persoalan yangamat gampang, nampaknya aku harus minta bantuan kepada Li Bengcu untuk melakukannya."

"Tergantung apa persoalannya, aku mesti pertimbangkan lebih dulu sebelum menyanggupi. "

"Padahal seharusnya kau sendiri pun dapat berpikir sampai ke situ"

Li Tiong-hui melirik Lim Han-kim sekejap. kemudian katanya: "Maksudmu, kau suruh aku menyingkirkan Lim Han-kim dari sini, agar tidak mengganggu konsentrasi kalian dalam pertarungan nanti?"

"Tampaknya Li bengcu memang sangat pintar."

"Aku rasa utusan ini memang bermanfaat bagi kedua belah pihak, Baiklah, kusanggupi permintaanmu itu" ia membungkukkan badan dan membopong tubuh Lim Han-kim.

Mendadak Pek si-hiang berseru sambil tertawa dingini "Li Tiong-hui, kau adalah orang pintar. Lebih baik letakkan saja dia di sudut ruangan lalu bersiap siagalah penuh, daripada sampai waktunya kau gelagapan hingga melukai dirinya."

Li Tiong-hui tersenyum, "Bala bantuanku segera akan tiba, sekalipun aku seorang diri masih bukan tandingan kamu berdua, rasanya kalau cuma untuk melarikan diri sih masih lebih dari cukup"

"Hmmmm" seebun Giok-hiong mendengus, "saat ini gelombang di sungai amat deras dan besar. Apabila kekuatan Hiang-kiok dan siok-bwee telah habis nanti, perahu ini pasti akan terbawa arus. Dalam situasi seburuk ini mustahil sampan-sampan bantuanmu sanggup mempertahankan diri. Waktu itu jangan harap ada di antara kita yang masih bisa hidup. siapa pun yang bakal muncul sebagai pemenang akhirnya bakal terkubur juga di dasar sungai"

"Kebetulan sekali di saat kecil dulu aku gemar bermain di air, sekalipun perahu ini terbalik, paling tidak aku masih punya kesempatan untuk mempertahankan hidup," ucap Li Tiong-hui sambil tertawa.