-->

Pedang Keadilan II Bab 26 : Kuil Misterius

 
Bab 26. Kuil Misterius

siau-cui mendekati papan peringatan itu, menariknya hingga lepas lalu membawanya menuju ke bawah cahaya bintang dan memeriksanya beberapa saat, setelah itu baru dia berkata: " Kelihatannya papan peringatan ini sudah cukup lama tergantung di tempat ini."

"Yaa, rasanya bukan suatu kesengajaan untuk ajak kita bergurau," sambung gadis berbaju hitam itu.

"Kalau diamati dari gaya tulisan yang tertera di papan peringatan ini, aku duga tulisan ini dibuat seorang wanita."

"Kuil ini dinamakan kuil kaum wanita, otomatis kuil ini khusus untuk kaum perempuan orang lagi tak akan berani masuk ke sana secara sembarangan"

"Tapi dalam tulisan itu tidak dijelaskan bahwa hanya kaum pria yang dilarang masuk, ini berarti termasuk kita kaum wanita pun sesungguhnya tidak diperkenankan masuk kemari."

"Yaa, rasanya ucapan nona Cui memang benar"

" Kira- kira sudah berapa lama kita masuk ke dalam kuil ini?"

" Lebih kurang sepenanakan nasi lamanya." "seandainya peringatan tersebut benar-benar berlaku,

semestinya saat ini sudah terjadi suatu reaksi di tempat

ini."

Baru selesai perkataan tersebut diucapkan, mendadak terdengar dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati bergema datang, secepat kilat siau-cui melolos pedangnya dari punggung dan siap melompat masuk ke dalam, tapi sebelum ia bertindak tiba-tiba tampak sesosok bayangan hitam menerjang keluar dengan kecepatan tinggi.

sungguh cepat gerakan tubuh bayangan hitam itu, bahkan langsung menerkam ke tubuh Siau Cui. Dengan cekatan siau-cui berkelit ke samping untuk menghindarkan diri, Tampak bayangan hitam itu meluncur sejauh beberapa kaki ke belakang dan...

Blaaaammmm

siau-cui roboh terguling di tanah.

Lim Han-kim coba mengamati bayangan tersebut dengan lebih seksama, Ternyata dia adalah seorang gadis berbaju ringkas warna hitam, pedang dipunggungnya sudah lenyap. kini yang tersisa hanyalah sebuah sarung pedang yang kosong.

Tampaknya bantingan itu terjadi cukup keras, setelah terlempar ke tanah tidak nampak lagi gadis itu menggerakkan badannya, Menghadapi perubahan yang berlangsung sangat mendadak dan di luar dugaan ini, biarpun siau-cui cerdas dan bernyali pun tak urung dibuat gugup dan gelagapan juga, untuk sesaat dia cuma bisa berdiri termangu- mang u di tempat semula.

Blaaammmm

Diiringi suara benturan keras, kedua belah pintu gerbang itu menutup kembali dengan kerasnya, Lalu terdengar seseorang berseru dengan suara sedingin es: "Di depan pintu aku sudah meninggalkan papan peringatan, kini kalian nekat melanggarnya, maka jangan salahkan bila aku berlaku kejam kepada kalian semua". suara itu dingin menyeramkan ibarat angin dingin yang berhembus keluar dari neraka, membuat bulu kuduk semua orang berdiri

siau-cui segera memberi tanda kepada gadis berbaju hitam itu agar tidak bergerak sembarangan. pelahan ia berjalan menghampiri gadis berbaju hitam yang terkapar di atas tanah itu, memeriksa denyut nadinya kemudian secara beruntun menotok tiga buah jalan darah pentingnya.

Tampak gadis berbaju hitam itu menghembuskan napas panjang kemudian bangun terduduk, gumamnya: "sungguh hebat"

"Kau jangan takut, coba ceritakan kembali pengalaman yang barusan kau alami," kata siau-cui.

Gadis berbaju hitam itu mengeryitkan alis matanya sambil termenung, Tampaknya ia berusaha mengumpulkan kembali ingatannya, tapi sampai lama sekali ia tetap tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

"Kenapa kau diam saja?" tanya siau-cui cepat. "Hamba tidak tahu harus bercerita dari bagian yang

mana, aaaai... perubahan itu berlangsung terlalu cepat."

"Lelaki atau perempuan orang itu? Bagaimana bentuk wajahnya?" tanya siau-cui lebih jauh sambil membetulkan rambutnya.

Dengan cepat gadis berbaju hitam itu gelengkan kepalanya berulang kali. "Entahlah, sebab sesungguhnya hamba tidak melihat apa pun," sahutnya pelan "Lantas kenapa kau bisa dilempar orang sampai kemari?" bentak siau-cui gusar.

"Sewaktu nona mengajak su-moay keluar tadi, aku serta kedua cici masih mengatakan bahwa nyali su-moay meski agak kecil, namun jadi orang amat teliti. Tak nyana ia sempat membaca isi papan peringatan itu dengan jelas."

"Cukup," sela siau-cui tak sabar. "Aku hanya ingin tahu kejadian yang kau alami, bukan masalah tetek bengek macam itu"

"Tatkala kami sedang berbincang-bincang dengan asyik, tiba-tiba terdengar dua kali jeritan ngeri yang menggidikkan hati bergema memecah keheningan..."

"Jeritan ngeri itu apakah berasal dari Toa-kiau dan Ji- kiau yang mengalami musibah?"

"Betul, jeritan tersebut memang berasal dari Toa-kiau serta Ji-kiau yang menjumpai musibah."

Waktu itu Lim Han-kim bersembunyi lebih kurang tiga depa saja dari kedua orang itu, Dalam keadaan begini dia tak berani bersuara apalagi bernapas keras-keras.

"Bagaimana selanjutnya?" tanya siau-cui lagi. "setelah menjerit keras, toa-kiau dan ji-kiau segera

roboh tertelungkup di tanah..." "Mati?" seru siau-cui terperanjat.

Dengan perasaan agak sangsi gadis berbaju hitam itu bergidik dan bersin beberapa kali, kemudian menggeleng. "Aku tak tahu, pada saat kedua cici menjerit kesakitan dan roboh ke tanah, aku sendiri pun secara mendadak disambar seseorang dan dilempar keluar dari ruangan"

"Ketika ditangkap orang, masa kau tak sempat menoleh untuk periksa manusia macam apa yang menangkap dirimu?"

"Aku tak sempat menoleh..."

"Budak tolol, masa begitu saja tak mampu, hmmm..." Gadis berbaju hitam kedua yang ada di belakang siau-

cui segera turut menimbrung: "sam-ci, kau tak usah takut, di sini kan ada nona Cui, coba dipikirkan kembali pelan-pelan.."

Rupanya keempat orang gadis berbaju hitam itu masing-masing bernama Toa-kiau, ji-kiau, sam-kiau dan su-kiau.

Terdengar sam-kiau berkata lagi: "saat itu aku dibuat tertegun oleh jeritan ngeri kedua orang cici yang terjadi amat mendadak itu, Pada saat aku masih tertegun inilah tubuhku ditangkap dan dilempar keluar oleh orang."

"Sekalipun tubuhmu sudah keburu ditangkap orang, bukan berarti kau tak ada waktu sama sekali untuk berpaling dan periksa wajah orang tersebut," tegur siau- cui lagi.

"Dia cengkeram persis di atas jalan darahku, membuat seluruh tenagaku lenyap. Dalam posisi begini aku tak mampu sama sekali untuk bergerak apalagi berpaling."

siau-cui termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, setelah itu baru ujarnya lagi: "orang itu turun tangan secara mendadak menotok jalan darah Toa-kiau serta ji-kau. ia memanfaatkan kesempatan ketika kau masih kaget dan tertegun untuk mencengkeram pula jalan darahmu hingga kau kehilangan sama sekali daya kekuatanmu, kemudian baru melemparmu keluar... tapi mungkinkah begini rentetan kejadiannya?"

Tiba-tiba su-kiau menyela: "Nona Cui, seandainya orang itu hanya menotok jalan darah Toa-ci danji-ci, mustahil mereka berdua mengeluarkan suara jeritan yang begitu memilukan hati."

siau-cui tertegun, kemudian manggut-manggut. "Yaa, benar juga perkataan ini. jelas mereka bukan

ditotok jalan darahnya tapi terluka oleh sejenis ilmu pukulan yang amat ganas, jahat dan mematikan"

"Bila ditinjau dari kemampuan orang itu melukai Toa-ci dan ji-ci bersamaan waktunya, kemudian melempar keluar sam-ci dari dalam ruangan, bisa disimpulkan ilmu silat yang dimiliki orang itu pasti luar biasa hebatnya."

"Apakah kau ketakutan?" ejek Siau-cui sambil tertawa dingin.

"Tidak, Kenapa mesti takut, toh di sini ada nona Cui, apa yang mesti kutakuti?"

"Bagus, sekarang rawatlah ketiga orang cicimu itu, aku akan masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan.."

"Nona, kau punya status dan kedudukan yang terhormat, tak boleh nyerempet bahaya, Lebih baik biar budak saja yang melakukan pemeriksaan" "Bagaimana ilmu silatmu jika dibandingkan ketiga orang cicimu?"

"Tentu saja masih ketinggalan jauh."

"Nah, itulah dia, Sam-kiau, bagaimana keadaan lukamu?"

Sam-kiau coba mengatur napas, lalu jawabnya: "Lukaku tidak terlalu parah."

"Bagus sekali setelah aku masuk ke dalam kuil nanti bila sampai sepeminuman teh belum keluar juga, kamu berdua harus segera pergi meninggalkan tempat ini dan melaporkan apa yang terjadi kepada nona Seebun."

Sambil bangkit berdiri, menghunus pedang beracunnya, dengan langkah lebar dia belaian masuk ke dalam kuil,

"Besar betul nyali budak ini," puji Lim Han-kim dalam hati.

Ketika tiba di depan pintu gerbang, Siau-cui melayangkan kakinya melancarkan sebuah tendangan keras.

Braaaakkkk... Diiringi suara keras, pintu kayu itu terpentang lebar.

Dengan pedang siap melancarkan serangan, Siau-cui berdiri sesaat di muka pintu sambil bersiap sedia. seperempat jam lamanya ia berdiri tanpa bergerak. akan tetapi tak kedengaran sedikit suara pun

Tampaknya kuil itu kosong, tak berpenghuni seorang manusia pun, Kalau dibilang tak berpenghuni, suara teguran dan pintu yang tertutup tadi berlangsung belum sampai sepenanakan nasi lamanya, mungkinkah orang itu sudah ngeloyor pergi setelah berhasil melukai Toa- kiau serta Ji-kiau dan melempar keluar sam-kiau?

Ketika ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, dengan prdang disilangkan di depan dada pelan-pelan ia melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam ruangan

sementara itu sam-kiu sudah melompat bangun dan berdiri bersanding dengan su-kiau, sedangkan su-kiau telah menghunus pedangnya bersiap siaga sambil mengawasi bayangan punggung siau-cui. Pelahan-lahan bayangan tubuh siau-cui lenyap di balik dinding ruangan yang menghalang pandangan

Angin malam berhembus lewat menggoncangkan rerumputan di luar pintu hingga menimbulkan suara yang gemerisik, Pintu kuil yang terpentang lebar turut tertutup pula oleh hembusan angin tersebut membuat suasana dalam kuil Thian-li-bio bertambah misterius, dan semakin menyeramkan

sambil menghela napas sam-kiau berbisik, "su-moay, aku rada takut."

"Apa yang kau takuti?"

"Bila sudah kuketahui apa yang terjadi, tak mungkin aku merasa takut."

"sam cici, percayakah kau bahwa di dunia ini ada setan?" tanya su-kiau tiba-tiba.

"Dulu aku tak percaya." "sekarang?" "sekarang... entahlah, bila manusia yang melempar aku keluar dari ruangan, aku yakin aku pasti dapat melihat wajahnya, tapi... apa pun tidak kulihat..."

"Aaaah... setelah mendengar perkataanmu ini, aku mulai mencemaskan keselamatan nona Cui, ayoh kita ikut masuk dan melihat keadaannya."

"Aku... aku tak berani..." tampik sam-kiau sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Baiklah, kalau begitu kau berjaga di luar kuil, biar aku periksa sendiri ke dalam," kata su-kiau.

seusai berkata, dia mulai melangkah masuk ke dalam ruang kuil, Baru saja kakinya melangkah kepintu gerbang, mendadak terdengar jeritan melengking bergema datang dari balik ruangan. Jerian itu bernada tinggi, tajam dan tak sedap didengar. "Aaaah, itu suara jeritan nona Cui" jerit sam-kiau kaget.

Dengan perasaan ketakutan su-kiau menyusut mundur, lalu sambil menarik tangan sam-kiau, mereka kabur meninggalkan tempat tersebut.

sangat cepat gerakan tubuh kedua orang gadis itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyaksikan semua peristiwa ini, Lim Han- kim mulai berpikir: "Tempat di mana ketiga orang gadis itu disergap adalah halaman tengah di balik pintu gerbang, kenapa tidak kuperiksa keadaan di situ? selama aku tidak melompat turun ke bawah, kecuali si penyergap berputar ke belakang tubuhku, mustahil kami bisa saling bersua muka..." Betapa pun besar dan kuatnya perasaan ingin tahu pemuda ini, toh perasaan tersebut tak bisa menutupi rasa ngeri dan seram yang mencekam perasaannya kini. Peluh dingin mengucur keluar membasahi wajahnya, pemuda ini benar-benar tak berani melayang turun ke dalam halaman kuil.

Lebih kurang sepenanakan nasi kemudian, mendadak terdengar seseorang dengan suara yang kecil tapi dingin menyeramkan berseru: "Kau anggap dengan bersembunyi di atas atap rumah, maka aku tak melihat kehadiranmu? Hmmm Coba lihat, siapa yang berada di belakangmu?"

Meskipun suaranya kecil, tapi amat menusuk pendengaran Serta merta Lim Han-kim berpaling ke belakang untuk memeriksa, namun suasana amat hening, tak nampak sesosok bayangan manusia pun

Di saat dia berpaling inilah, tiba-tiba dari samping tubuhnya muncul segulung angin serangan yang amat kuat menggetarkan tubuhnya, Begitu kuat sergapan tersebut membuat tubuh anak muda ini terguling ke samping.

Baru saja badannya berguling ke samping, terdengar suara benturan yang amat keras bergema memecahkan keheningan Tempat di mana ia bersembunyi barusan, kini sudah hancur berantakan tak kelihatan wujudnya lagi.

Untung ia menghindar tepat pada waktunya, coba sedikit terlambat saja, niscaya dia akan tewas atau paling tidak menderita luka dalam yang sangat parah. Dengan cepat Lim Han-kim mengalihkan sorot matanya ke arah datangnya sergapan itu. ia melihat bayangan hitam berkelebat lewat, tampak sebuah benda macam sebuah tangan yang aneh dengan cepat meluncur masuk ke dalam ruang kuil.

Di kala ia sedang tertegun inilah kembali tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari sisi badan Lim Han-kim, bahkan dengan cepat orang itu mencengkeram tubuh pemuda ini, melewati atap rumah dan melayang turun di luar pagar kuil tersebut.

Diikuti kemudian dengan dua kali lompatan, orang itu sudah berada tujuh-delapan kaki dari tempat semula.

Gerakan tubuh orang itu cepatnya luar biasa, bahkan tempat di mana ia cengkeram tubuh Lim Han-kim tak lain adalah jalan darah pentingnya, Hal ini membuat pemuda tersebut tak sanggup membalikkan badannya, otomatis ia tak sempat pula melihat wajahnya.

Menanti orang itu sudah melepaskan cengkeramannya, Lim Han-kim baru sempat angkat kepala dan memandang orang itu sekejap. Dia adalah seorang gadis berbaju ringkas warna hitam dengan kain hitam membungkus rambutnya, sebilah pedang tersoren di punggungnya. orang itu tak lain adalah pemilik bunga bwee, seebun Giok-hong. sambil tersenyum seebun Giok- hiong menegur: "Baik- baikkah kau saudara Lim?"

"Masih agak lumayan"

"Maaf kalau aku terpaksa melepaskan sebuah pukulan untuk mendorong tubuhmu, tentunya pukulan tadi tidak sampai melukai saudara Lim bukan?" "Untung sekali aku tak sampai terluka, terima kasih juga atas pertolonganmu yang telah menyelamatkan nyawaku."

"Tak perlu berterima kasih."

"Nona, masih ada tiga orang anak buahmu yang terjebak dalam ruang kuil, perlu kita tolong mereka?"

"Tentu saja harus ditolong, cuma ada baiknya kita menunggu sampai fajar nanti."

"Nona, sudah kau saksikan tangan aneh yang menghajar atap rumah tadi?"

"Aaah, benda tersebut hanya sebuah senjata rahasia yang bentuknya mirip tangan."

"Sejenis senjata rahasia?" Lim Han-kim merasa keheranan

"Benar, sejenis senjata rahasia pencakar terbang yang di bagian belakangnya diberi tali tipis. Apabila seseorang telah melatih penggunaan senjata tersebut secara sempurna, maka ia dapat menyerang sekehendak hatinya. Kebetulan ilmu yang dimiliki orang tersebut telah mencapai tingkatan yang amat sempurna,"

"Nona sudah bertemu sam-kiau dan su-kiau?" "sudah, Bila belum bertemu, mana mungkin aku bisa

sampai di tempat ini tepat pada waktunya?"

"Jadi kau pun sudah mendengar semua penuturannya dengan jelas dan terperinci?"

"sudah"

"Kalau begitu keliru besar" "Apanya yang keliru?"

"Ketika bersembunyi di atas rumah tadi, aku sempat pula mendengarkan semua laporan sam-kiau kepada siau-cui. Menurut dia, Toa-kiau dan Ji-kiau disergap hampir bersamaan waktunya sedang sam-kiau dilempar keluar dari ruangan. Bila senjata rahasia yang digunakan orang itu sejenis senjata pencakar terbang, mana mungkin ia bisa melakukan kesemuanya dengan kecepatan begitu tinggi? sekalipun ia bisa menggunakan dua senjata pada saat yang bersamaan, lalu siapa pula yang melemparkan tubuh sam-kiau keluar dari ruangan?"

seebun Giok-hiong termenung berpikir sejenak. kemudian sahutnya: "Bila dugaanku tak salah, penghuni dalam kuil Than-li-bio itu bukan cuma seorang."

"Kalau dia benar manusia, apalagi memiliki ilmu silat begitu lihai, kenapa ia sudi berdiam dalam kuil Thian-li- bio yang begini terpencil dan jauh dari keramaian manusia?"

seebun Giok-hiong angkat wajahnya memandang bintang yang bertaburan di angkasa, lalu menjawab: "Di sinilah letak teka-teki yang belum terjawab, sekarang, kita harus mencari akal dan jalan untuk membuka teka- teki tersebut"

"Maksud nona, kau berniat menyerbu masuk ke dalam kuil dan melakukan penyelidikan?"

"Benar, tapi hal ini baru bisa kuputuskan setelah terang tanah nanti." "Menurut pendapatku, lebih baik nona mencari dulu beberapa orang anak buahmu yang berilmu tinggi untuk masuk bersama-sama."

seebun Giok-hiong segera tersenyum. "soal itu tak perlu kau kuatirkan, sebab aku sudah mempunyai rencana yang matang," katanya.

Lim Han-kim segera bangkit berdiri, memberi hormat dan katanya: "sekali lagi kuucapkan banyak terima kasih atas pertolongan nona yang telah menyelamatkan jiwaku."

"Kau tak perlu banyak adat."

"Baik- baiklah nona menjaga diri, aku mohon diri lebih dulu." selesai berkata ia beranjak pergi dengan langkah lebar.

"Berhenti" bentak seebun Giok-hiong tiba-tiba.

Tanpa berpaling, tegur Lim Han-kim: "Nona masih ada petunjuk apa lagi?"

"Aku percaya di balik kuil ini tersimpan sebuah rahasia dunia persilatan yang amat besar, apakah kau tidak tertarik sama sekali untuk menyingkap rahasia besar itu?"

"seandainya nona tidak muncul di sini, biar harus pertarungan nyawa pun aku akan menyerbu masuk ke dalam ruang kuil dan melakukan penyelidikan hingga tuntas."

"Kenapa kau malah pergi setelah kemunculanku?"

"llmu silat maupun kecerdasan nona jauh melebihi kemampuanku Setelah kau hadir di sini, tentu saja aku tak perlu mencampuri urusan ini lagi... toh kemampuanku tidak banyak membantu."

seebun Giok-hiong segera tertawa. "Kau keliru besar, saudara Lim. justru dalam saat dan keadaan seperti ini, aku sangat membutuhkan bantuanmu"

"Baik ilmu silat maupun kecerdasan yang kumiliki belum berarti apa-apa bila dibandingkan kemampuan nona, apa lagi yang bisa kubantu?"

"Kau tak usah kelewat rendah diri," kata seebun Giok- hiong sambil tertawa. "llmu silat yang kau miliki saat ini pantas menduduki urutan atas dalam jajaran jago-jago lihai dunia persilatan"

"Nona tak perlu mengenakan topi kebesaran di atas kepalaku, Bila kau memerlukan bantuanku, katakan saja terus terang, Asal mampu kulaksanakan pasti akan kukerjakan"-

"Bagaimana kalau kita berdua bersama-sama menyerbu ke dalam kuil Thian-li-bio dan membongkar rahasia besar dunia persilatan ini?"

"Hanya kita berdua?"

"Yaa, kau merasa tak cukup?"

"Baiklah Aku akan mengikuti nona dan melaksanakan tugas sesuai dengan permintaanmu."

"Kau tak perlu sungkan-sungkan, aku tak berani menerimanya."

Lim Han-kim angkat kepalanya, dengan sepasang mata yang tajam diawasinya wajah seebun Giok-hiong tanpa berkedip. Tiba-tiba paras muka seebun Giok-hiong berubah jadi merah lantaran jengah, serunya manja: "Kenapa sih kau amati terus wabahku? wajahku yang jelek tak berharga untuk kau awasi terus"

"Aku merasa kau rada berubah," kata Lim Han-kim. "Berubah? Bagian mana yang berubah?" senyum

seebun Giok-hiong.

"Kau berubah jadi amat sungkan, lugu dan lebih jujur, tidak sombong, dingin dan kaku seperti dulu."

seebun Giok-hiong gelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "ltu tergantung kepada siapa aku sedang berhadapan seebun Giok-hiong tetap seebun Giok-hiong, keangkuhan dan keketusanku tetap seperti dulu, tapi terhadap kau... Lim Han-kim, aku memang punya pengecualian..."

Mendengar sampai di situ, buru-buru Lim Han-kim mengalihkan pokok pembicaraan ke masalah lain, katanya: "Kini, ketiga orang anak buahmu sudah terjebak dalam kuil Thian-li-bio, bila kita mesti menunggu sampai terang tanah, aku takut..."

"Tak perlu kau takuti. seandainya mereka harus mati, biarlah mereka mati. Bila cuma tertotok jalan darahnya, sampai terang tanah pun tak ada bedanya."

"Aku benar-benar tak habis mengerti." "Bagian mana yang tidak mengerti?"

"Kenapa kita harus menunggu sampai terang tanah baru bertindak?"

"Pertanyaan yang bagus" kata seebun Giok-hiong sambil manggut-manggut pelan, "Berbicara dari ketajaman mata yang kita miliki sekarang, sekalipun berada dalam suasana yang lebih gelap pun tetap bisa melihat keadaan dengan lebih jelas, apalagi bila kita pasang beberapa buah obor di dalam, keadaan pasti lebih jelas.

Cuma, menurut dugaanku, ada kemungkinan mereka telah mempersiapkan alat jebakan di dalam kuil ini, ditambah lagi kita masih asing dengan suasana di sini, Bila kurang berhati-hati, bisa jadi kita malah dibokong orang.

Jadi aku rasa, lebih baik kita bersabar sebentar menunggu sampai terang tanah nanti, selain daripada itu, aku pun mempunyai suatu pemikiran yang aneh..."

"Pemikiran apa?"

"Aku percaya kedua orang penghuni kuil Thian-li-bio itu lebih terlatih untuk menghadapi pertarungan malam hari ketimbang bertempur di siang hari."

Lim Han-kim berpikir sejenak, lalu mengangguk "Ehmmm, mungkin dugaan nona ada benarnya juga."

seebun Giok-hiong tertawa.

"Li Tiong-hui telah mempersiapkan jebakan yang berlapis-lapis di sepanjang jalan ingin menghabisi nyawaku. Mimpi pun dia tak mengira bahwa pada malam ini aku, seebun Giok-hiong, justru menemani kekasih hatinya bergadang di tengah hutan yang sepi dan terpencil ini tanpa diganggu olehnya..."

Setelah tertawa terkekeh-kekeh, lanjutnya: "Tapi aku pun tak perlu kuatir Li Tiong-hui marah kepadaku bila tahu kejadian ini di kemudian hari, sebab aku bergadang denganmu toh sedang merundingkan masalah yang serius."

"Aku hanya tahu melaksanakan perintahmu," tambah Lim Han-kim. Kembali seebun Giok-hiong tersenyum.

"Jangan bicara kelewat mengenaskan bagaimana pun kau mesti tunjukkan sifat kelaki-lakianmu. "

Setelah memeriksa sejenak keadaan cuaca, ia duduk di atas tanah sambil berkata lagi: "saat ini masih kelewat pagi untuk bertindak, Lebih baik kita berbincang-bincang masalah pribadi lebih dulu sebelum beralih ke masalah serius... bagaimana pendapatmu?"

"Bicara soal strategi, aku sama sekali tak mengerti, sedang masalah pribadi pun tak ada yang perlu diperbincangkan Aku rasa nona bakal kecewa dengan kehadiranku ini."

Kembali seebun Giok-hiong tersenyum, sambil menepuk ke sisi tubuhnya dia berkata: "Hingga datangnya fajar nanti masih ada waktu yang cukup lama, masa kau akan berdiri terus sampai terang tanah? Mari, duduklah di sini, bagaimana kalau kita berbincang- bincang? "

Pelan-pelan Lim Han-kim duduk ke atas tanah, matanya dipejamkan dan mulai mengatur pernapasan ia mengerti bicara soal ilmu silat maupun kepintaran kemampuannya masih belum bisa menandingi kemampuan seebun Giok-hiong, jadi ia memilih lebih baik tutup mulut  Terdengar seebun Giok-hiong berkata lagi: "saudara Lim, aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, bersediakah kau untuk menjawab?"

"soal apa?" tanya Lim Han-tem sambil membuka kembali matanya.

"soal Pek si-hiang"

Begitu mendengar nama Pek si-hiang di-sebut, tanpa terasa semangat Lim Han kim berkobar kembali, serunya: "Ada apa dengan Pek si-hiang?"

Dengan sepasang matanya yang bening dan jeli, seebun Giok-hiong mengawasi wajah Lim Han-kim. sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, katanya: "Malam masih panjang, paling tidak masih ada dua kentongan sebelum fajar menyingsing, Berarti masih banyak waktu buat kita untuk berbincang-bincang. saudara Lim, kau tak perlu kelewat tegang."

Lim Han-kim segera merasakan pipinya jadi panas, ia tertawa jengah dan tak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan tersebut.

Kembali seebun Giok-hiong berkata: "Aku sudah terbiasa menyindir dan bicara tajam, harap saudara Lim jangan tersinggung ataupun marah."

"Nona terlalu serius."

"Kini nona Pek sudah menjadi almarhumah, entah apa rencana saudara Lim selanjutnya?"

Setelah termenung berpikir sebentar, juwab Lim Han- kim: "Kata rencana kurang tepat untuk masalah ini, aku hanya ingin berziarah di depan pusara nona Pek, kemudian.."

"Kemudian bagaimana?" sela seebun Giok-hiong. "Kemudian pulang ke desa kelahiranku dan hidup

mengasingkan diri dari keramaian dunia,"

"saudara Lim, punya rencana kapan hendak berziarah ke pusara nona Pek...?" desak seebun Giok-hiong lagi.

"Mungkin pada hari Tiong-yang." "saudara Lim hendak pergi seorang diri?" "Yaa"

"Menempuh perjalanan jauh untuk berziarah di depan pusara kekasih hatinya. Meski hal ini mencerminkan betapa mendalamnya rasa cintamu kepada almarhumah, namun rasanya kelewat tragis bagi yang memandang.

Terlebih lagi keadaan pesanggrahan pengubur bunga saat ini sudah beda dengan suasana di masa lalu. Tidak mudah bagi saudara Lim seorang diri untuk menemukan pusara nona Pek. Apabila kau tak keberatan, bagaimana jika kutemani perjalananmu itu?"

Mendadak Lim Han-kim mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak: "Ha ha ha... terlalu banyak yang kita bicarakan dan terlalu jauh yang kita pikirkan"

"Apanya yang terlalu banyak?"

"seandainya kita terbunuh setelah masuk ke dalam kuil Thian-Ii-bio esok pagi, pembicaraan yang bertele-tele saat ini terasa akan mubazir bukan...?" seru pemuda itu.

"Kenapa sih kau tak pernah mau percaya kepadaku? seandainya kedudukanku sekarang diganti oleh Pek si- hiang, apakah kau tetap tak percaya kepada kemampuannya?"

"Pek si-hiang sudah menjadi almarhumah, tak usah disebut-sebut lagi..." tukas Lim Han-kim cepat, setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Kepandaian silatku masih ketinggalan jauh bila dibandingkan kemampuan nona, Aku butuh waktu untuk mengatur pernapasan lebih dulu sebagai persiapan untuk menghadapi pertempuran esok, Maaf, aku tak bisa melayanimu lebih lama."

"Kalau memang begitu, aku tak akan mengganggumu lagi."

Lim Han-kim tidak banyak bicara lagi, ia pejamkan mata dan mulai mengatur pernapasan- selama berapa hari belakangan ini ia terlalu lelah menempuh perjalanan hingga tak punya waktu cukup untuk beristirahat dengan baik, sekarang begitu selesai mengatur pernapasan dia pun terlena hingga fajar menyingsing baru mendusin kembali.

Ketika membuka matanya kembali, ia menjumpai Seebun Giok-hiong sedang berdiri mengawasi kuil Thian- li-bio itu dengan wajah termangu. Sambil mendeham pelan Lim Han-kim mendekatinya seraya menyapa: "Nona, kau sudah lama bangun?"

"Ehmm..." sahut Seebun Gok-hiong sambil tertawa dan berpaling, "Aku lihat kuil ini memang rada aneh."

Lim Han- kim mencoba mengamati kuil tersebut dengan seksama. Terlihat pintu gerbang masih terbentang lebar hingga sekali pandang orang dapat melihat hingga ke patung arca di depan altar, Saat itu asap dupa mengepul memenuhi ruangan, jelas sudah ada orang yang bersembahyang di tempat itu. Kecuali asap dupa, tak kelihatan ada sesuatu yang aneh.

Setelah mendeham pelan Lim Han- kim berkata: "Apakah nona maksudkan asap hio yang memenuhi ruang dalam?"

"Asap dupa hanya salah satu keanehan yang terjadi di sana, coba kau amati area tersebut, bukankah nampak agak aneh?"

"Sialan.." umpat Lim Han-kim dalam hati, " seharusnya hal ini sudah kuamati sejak awal, kenapa sih aku melulu kalah darinya?"

Ketika diamati kembali, teriihat sebuah patung tinggi besar terletak di depan altar. Patung itu berwarna emas dan sangat megah, amat tak sesuai dengan suasana dan kebobrokan kuil Thian-li-bio itu.

Patung emas itu merupakan patung seorang wanita dengan pakaian yang amat mewah. sebuah tangan memegang seikat bunga dengan tangan lain diletakkan di depan dada, sekulum senyuman menghiasi patung tersebut.

sudah sekian lama Lim Han- kim mengamati patung tersebut, kecuali ia merasa patung dewi itu agak baru, ia tak berhasil menemukan kecurigaan lainnya. Terdengar seebun Giok-hiong berbisik: "sudah kau temukan hal yang mencurigakan?"

"Pakaian yang dikenakan patung dewi itu sangat mewah, berwarna kuning emas, sangat anggun dan megah, sama sekali tak sesuai dengan bangunan kuil yang bobrok ini." "selain itu?"

"selain itu... aku tak melihatnya."

"Coba kau perhatikan tangan yang diletakkan di depan dada itu..."

"Ada apa dengan tangan itu?"

"Mirip sekali dengan tangan aneh yang menghajarmu semalam."

"Maksudmu patung dewi itu hidup?"

"Aku tak percaya kalau patung itu hidup. tapi tangan tersebut jelas dapat digunakan sebagai senjata Jadi, sewaktu kita masuk ke dalam kuil nanti, kau harus waspada terhadap patung dewi itu."

"Terima kasih banyak atas petunjuk nona." seebun Giok-hiong tersenyum, katanya lagi: "Kau

harus bersiap sedia, kita segera akan menyerbu masuk ke dalam kuil itu."

"Baik Aku akan berjalan di depan dan nona mengikuti dari belakang, dengan begitu kau bisa menolongku setiap saat."

"Bagaimana kalau kita masuk bersama-sama?" kata seebun Giok-hiong sambil tertawa.

"Kalau begitu baiklah, kuturuti kemauan nona" "Nah, begitu baru benar" seru seebun Giok-hiong

sambil kembali tertawa, "Lebih baik kita masuk bersama-

sama, satu tingkat satu derajat. Andai kata apa yang kuucapkan kau anggap salah, silakan kau bantah atau kritik".