-->

Pedang Keadilan II Bab 24 : Mendapat obat Pemulih Wajah

 
Bab 24. Mendapat obat Pemulih Wajah

Dengan ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna, kecepatan gerak seebun Giok-hiong boleh dibilang bagaikan petir yang membelah bumi, apalagi Lim Han-kim berada dalam keadaan lengan kanannya terluka, otomatis gerakan tubuhnya sangat terpengaruh. Tak heran kalau dalam lompatan tersebut, gadis tersebut berhasil menyusul ke belakang tubuh Lim Han-kim seraya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Dengan adanya kejadian tersebut, maka posisi mereka berdua pun berada sangat dekat dengan pintu lapisan kedua, sementara itu Ciu Huang telah mempersiapkan diri menghadapi setiap ancaman yang datang, tatkala melihat Lim Han-kim segera akan terluka di tangan seebun Giok-hiong, ia pun membentak keras sambil melancarkan sebuah pukulan pula untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut. "Nona, jangan kau lukai orang ini"

Angin pukulan yang kuat dan disertai suara desingan tajam segera menumbuk ke depan.

Apabila seebun Giok-hiong mengesampingkan keselamatan dirinya dengan melanjutkan serangan terhadap Lim Han-kim, meski ia akan berhasil melukai pemuda tersebut namun dia sendiri juga akan terluka oleh tenaga pukulan ciu Huang yang maha dahsyat itu.

situasi yang kritis dan sangat berbahaya ini memaksa seebun Giok-hiong mau tak mau harus menyelamatkan diri terlebih dulu, Telapak tangan kanannya yang dipakai untuk menggempur Lim Han-kim mendadak diputar balik arahnya dan menyongsong datangnya ancaman dari ciu Huang. Rupanya Ciu Huang sudah menduga sampai di situ, maka sewaktu melancarkan serangannya ini dia telah mengerahkan kekuatan tubuhnya sampai delapan puluh persen-

Meski ilmu silat seebun Giok-hiong tinggi, namun pos isi tubuhnya yang masih bergelantungan di udara sangat tidak menguntungkan baginya. Terlebih lagi ia meski menyambut serangan itu secara tergopoh-gopoh, alhasil begitu pukulan baling beradu, tubuhnya segera berjumpalitan dua kali di udara sebelum berhasil meluncur turun ke bawah dengan selamat.

Memanfaatkan kesempatan di kala dua orang itu sedang beradu kekuatan, Lim Han- kim segera melejit ke udara naik ke atas atap rumah dan melarikan diri dari sana.

Pada saat itu Li Tiong-hui yang sudah keluar dari pintu lapis kedua segera mengajak Li Bun-yang balik kembali setelah mendengar suara ribut di belakang tubuhnya.

Dengan gemas seebun Giok-hiong melototi wajah ciu Huang, tegurnya ketus: "Mengapa kau melancarkan serangan untuk menolongnya? Kau tahu siapa dia itu?"

Mula-mula Ciu Huang tertegun, menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa hambar: "Ditinjau dari niat nona seebun hendak membunuhnya, jelas dia bukan anak buahmu, terlebih bukan anggota perguruan dari Cau- hua-bun."

"Jadi dia anak buahmu?" seru seebun Giok-hiong dengan alis mata berkernyit. Li Tiong-hui berpaling memandang sekejap para jago yang berada di sekitarnya, kemudian menggeleng: "Bukan, dia bukan anak buahku. Aku, Li Tiong-hui, datang secara terbuka dan blak-blakan, kenapa mesti berbuat munafik?"

"Hmmm, dalam posisi saling bermusuhan sekarang bisa muncul sebuah perguruan Cau-hua-bun, masa tak mungkin akan muncul pula perguruan lain yang ingin meraih keuntungan di air keruh?"

Li Tiong-hui mengangkat wajahnya memandang kedelapan malam yang membentang di mata, setelah yakin tak nampak lagi bayangan tubuh Lim Han- kim, ia menjawab sambil tertawa jengah: "Tapi sayang perguruan cau-hua-bun sudah berpihak pada cici."

setelah berhenti sejenak. la meneruskan: "Terlepas siapa gerangan dia sesungguhnya, toh orangnya sudah lenyap tak berbekas, buat apa kita persoalkan lagi?"

Dengan sorot mata yang tajam pelan-pelan seebun Giok-hiong menyapu sekejap wajah para jago yang diajak Li Tiong-hui, lalu katanya dengan suara dingin: "Li Tiong-hui, bersama terbitnya sinar fajar esok pagi, hubungan kita selama ini pun akan mengikuti kegelapan malam lenyap dari pandangan mata. sejak itu kita adalah musuh bebuyutan, kita menghalalkan segala cara untuk saling menjatuhkan pihak lawannya, permusuhan ini baru berakhir bila salah satu pihak telah punah, ingat baik- baik perkataanku ini, nah, sekarang kau boleh pergi"

Li Tiong-hui tidak menanggapi, ia segera memberi tanda kepada anak buahnya agar mundur dari tempat itu. Dalam waktu singkat di tempat tersebut hanya tinggal Li Tiong-hui serta seebun Giok-hiong berdua saja.

"Apa lagi yang hendak kau sampaikan?" tegur seebun Giok-hiong sambil pelan-pelan mengangkat tangan kanannya.

Dengan cepat Li Tiong-hui dapat melihat, kelima jari tangan seebun Giok-hiong yang ramping dan halus itu tiba-tiba membesar berapa kali lipat, hal tersebut segera mengejutkan hatinya.

Namun di wajahnya ia tetap mempertahankan ketenangan hatinya, pelan-pelan ujarnya: "Sekarang fajar belum menyingsing, kita masih punya waktu satu jam lebih untuk bercakap-cakap sebagai sesama saudara."

Paras muka seebun Giok-hiong nampak amat keren dan serius, setelah mendengar perkataan mana, pelan- pelan ia turunkan kembali tangan kanannya seraya menegur "Apa yang hendak kau sampaikan?"

"sekalipun Pek si-hiang benar-benar sudah mati, belum tentu kau mampu memenangkan pertarungan ini," kata Li Tiong-hui.

"Kenapa? Apakah karena di dunia ini seorang manusia bernama Li Tiong-hui masih tetap hidup?"

"Berbicara dari tingkat ilmu silat yang kau miliki, bukan masalah sukar bila ingin membunuhku. Cuma seorang Li Tiong-hui berhasil kau bunuh, masih ada ratusan bahkan ribuan Li Tiong-hui lain yang akan muncul untuk menentangmu. selama ratusan tahun sejarah, pelbagai kekacauan dan keributan pernah melanda dunia persilatan tapi ratusan tahun kemudian keadaan dunia persilatan toh tetap sama seperti sedia kala, belum pernah ada seorang tokoh cerdik berilmu silat tinggi yang mampu mengubah situasi dunia ini hingga keadilan dan kebenaran musnah dari muka bumi.

Bagaimana pun kuat dan ampuhnya cici, aku tetap hanya seorang, sebaliknya, dihitung dari aku, Li Tiong- hui, selama ini sudah ada puluhan bahkan ratusan orang Bu-lim Bengcu yang telah mati, patah tumbuh hilang berganti.

Di dunia persilatan selamanya tetap ada seorang Bu- lim bengcu yang memimpin sebaliknya di dunia ini cuma ada seebun Giok-hiong seorang saja, Bila kau mati, segala sesuatunya pun akan turut musnah, lenyap tak berbekas"

"ooooh,jadi kau sedang memberi pelajaran kepadaku?" sela seebun Giok-hiong dingin-

"Aku hanya bermaksud membujukmu dengan setulus hati."

"Maksud baikmu tak berani kuterima."

"Kalau begitu anggap saja aku yang banyak bicara" seebun Giok-hiong mengangkat kepalanya

memandang sekejap kepada Li Tiong-hui, tiba-tiba tanyanya: "Apa yang kau kenakan pada sanggulmu itu?"

"Sebatang tusuk konde emas."

"Boleh kau pinjamkan sebentar kepadaku?"

Li Tiong-hui meloloskan tusuk konde itu dari sanggulnya dan menyodorkannya ke hadapan seebun Giok-hiong. "Biia cici suka, anggaplah tusuk konde itu sebagai tanda mata dariku," ucapnya.

seebun Giok-hiong menerima tusuk konde itu dengan tangan kirinya, kemudian meletakkannya di tangan kanan dan menggenggamnya kuat-kuat. setelah itu ujarnya dingin: " Kukembalikan padamu"

Kelima jari tangannya direntangkan dan tusuk konde itu diangkat tinggi-tinggi pada telapak tangannya.

Li Tiong-hui melihat tusuk konde itu masih tetap utuh seperti sediakala, maka setelah termenung berpikir sejenak, pelan-pelan dia ulurkan tangannya untuk menerima kembali tusuk konde tadi.

siapa tahu, begitu tusuk konde itu terangkat dari telapak tangan seebun Giok-hiong, tahu-tahu benda itu hancur lebur menjadi serbuk halus dan tersebar ke mana-mana.

Melihat itu sambil tertawa dan membungkukkan badan memberi hormat, Li Tiong-hui berseru: "Terima kasih cici, atas kebaikanmu yang tak sampai melukai aku."

"Bila fajar telah menyingsing esok pagi, kau harus berhati-hati"

"cici sendiri juga perlu menjaga diri baik-baik" selesai berkata ia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.

Dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimiliki Lim Han- kim berlarian kencang meninggalkan gedung bangunan tersebut, dalam waktu singkat ia sudah menempuh perjalanan sejauh belasan li sebelum menghentikan perjalanannya. Ketika melayangkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu, terlihat ia sudah berada di luar kota yang amat sepi, Dalam usahanya melarikan diri tadi, pemuda ini hanya berpikir bagaimana menyelamatkan diri secepatnya hingga lupa dengan luka pada lengannya. setelah berhenti sekarang, ia baru merasakan lengan kanannya sudah kaku dan mati rasa.

Lim Han- kim mencoba untuk menggerakkannya, ternyata lengan tersebut sudah tak mau menuruti perintahnya lagi, dengan perasaan terkesiap segera pikirnya: " Celaka, bila lengan kananku sampai menjadi cacad, aku benar-benar menjadi manusia yang tak berguna"

Pengembaraan selama berhari-hari membuat sifat angkuh dan tinggi hatinya dulu lenyap sebagian besar setelah termenung beberapa saat lamanya, ia berhasil memulihkan kembali ketenangan hatinya.

Waktu itu dalam hatinya hanya tersisa beberapa keinginan yang belum terkabul Rusaknya wajah dan cacadnya lengan membuat semangatnya hampir saja punah. Kini satu-satunya keinginan yang tersisa hanyalah bagaimana caranya menghubungi Yu siau-liong, membuatnya tersadar kembali dengan asal-usulnya serta membawanya pulang ke rumah.

Setelah itu dia ingin membuktikan ucapan Seebun Giok-hiong, apa benar Pek Si-hiang telah mati, atau apakah ia jadi mempelajari ilmu sesat hingga sembuh dari penyakitnya. Dan terakhir dia ingin pulang ke dusun untuk menjenguk ibunya yang sudah tua. Bila semua keinginannya berhasil dipenuhi, dia berencana untuk mencari sebuah tempat yang terpencil danjauh dari keramaian manusia untuk hidup seorang diri hingga akhir hayat.

Ia mengangkat wajahnya memandang bintang yang bertaburan di angkasa dan meneruskan perjalanannya dengan pikiran kosong, pengalaman tragis yang dialaminya, pukulan batin yang dideritanya membuatnya benar-benar putus asa dan kecewa.

Dia tak ingin membayangkan kembali kejadian yang telah lewat, lebih-lebih tak ingin membayangkan apa yang bakal terjadi di kemudian hari.

Ia berjalan terus dengan pikiran kosong, tidak tahu arah tidak tahu tujuan, Mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang memanggilnya dengan suara yang merdu: "Lim Han-kim"

seolah-olah tak percaya kalau di dunia ini masih ada manusia yang mengenalinya Lim Han-kim menghentikan langkahnya, berpaling dan bertanya agak bimbang: "Kau memanggil aku?"

Helaan napas sedih bergema memecahkan keheningan: "Aaaai... ternyata memang betul kau"

Di bawah cahaya bintang yang redup pelan-pelan berjalan mendekat seebun Giok-hiong.

Begitu melihat jelas wajah si pendatang, pikiran Lim Han-kim yang bingung segera tersadar dan jernih kembali, dengan amarah yang meluap serunya ketus: "Kau sudah mencelakai aku, membuat aku menderita seperti ini, apakah kau belum puas untuk melepaskan aku dengan begitu saja?" Dengan penuh lemah lembut seebun Giok-hiong menggenggam lengan kanan LimHan-kim, lalu ujarnya halus: "Aku telah melukai lengan kananmu dengan ilmu pemisah nadi, jika tak diobati secepatnya, lenganmu akan lumpuh dan kau bakal cacad seumur hidup."

"Biar lenganku menjadi cacad juga tak mengapa, aku Lim Han- kim, sudah tidak perduli lagi" teriak Lim Han- kim sambil meronta melepaskan diri dari genggaman lawan.

Dengan mata yang bening dan lembut seebun Giok- hiong menatap wajah pemuda itu lekat-lekat, lalu katanya: "Ada satu hal, aku perlu minta maaf kepadamu."

"Tidak apa-apa, semua orang gagah di kolong langit adalah musuh besarmu. Bila kau baru puas setelah membunuh habis mereka semua, silakan kau lakukan sekehendak hatimu."

"Itu berbeda sekali, Mereka tak punya hubungan batin denganku Aku tak perlu bersimpati, menaruh belas kasihan atau rasa menyesal kepada mereka, tapi terhadap kau tidak."

"Biar aku, Lim Han-kim, mati terlantar di tengah jalan pun tak usah kau menaruh belas kasihan padaku, Aku tak butuh rasa simpatimu" tukas anak muda itu ketus.

"sikapku ini bukan sikap simpati atau menaruh belas kasihan padamu, tapi semacam rasa menyesal yang sukar diutarakan dengan perkataan." "Rasa menyesal? Aneh, sungguh aneh Manusia semacam kau pun bisa memiliki rasa menyesai, ini baru berita langka namanya"

"Kau berbeda sekali dengan orang lain, sebab kau adalah seorang lelaki sejati, seorang lelaki jantan..."

"Terima kasih banyak untuk pujianmu itu, maaf, aku tak kuat untuk menerimanya."

"Percayalah, Aku bicara sejujurnya. Kata-kataku muncul dari hati sanubariku yang paling dalam, tapi kalau kau tak percaya... yaaa sudahlah, aku toh tak bisa memaksamu untuk percaya "

Mendadak Lim Han-kim tertawa ter-bahak-bahak. "Ha ha ha... percaya atau tidak bukan masalah yang amat penting bagiku, Nah, nona, baik-baik menjaga diri" ia membalikkan tubuh dan meneruskan perjalanan dengan bertukar arah yang berbeda.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, di tengah hembusan angin harum yang semerbak seebun Giok-hiong telah menghadang kembali di hadapannya.

"Lim Han-kim" ujarnya, "Aku tak mau tahu kau setuju atau tidak. pokoknya aku harus sembuhkan luka pada lenganmu itu kemudian baru memberitahukan sesuatu hal kepadamu."

Lim Han-kim mengerti mustahil baginya untuk melawan kehendak gadis tersebut, sambil menjulurkan lengannya ke depan ia berkata: "Kurang hormat rasanya jika kutampik terus kemauanmu, Nah, silakan turun tangan" Dengan tangannya yang halus dan lembut seebun Giok-hiong mulai bekerja menguruti lengan kanan pemuda tersebut, sementara Lim Han-kim membuang pandangan matanya ke arah lain, memandang bintang yang bertaburan di angkasa.

Urutan sepasang tangan yang halus lembut tak bertulang dari gadis cantik jelita semestinya merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa bagi kaum pria, namun sikap Lim Han-kim sangat dingin, kaku dan ketus, berbeda sekali dengan penampilan pada umumnya.

Lebih kurang sepeminum teh kemudian Seebun Giok- hiong baru menarik kembali lengannya sambil berbisik, "Nah, beres sudah Peredaran darahmu sudah lancar kembali"

"Terima kasih banyak untuk pertolongan nona" tukas Lim Han- kim ketus, selesai berkata ia segera beranjak pergi dari situ.

"Berhenti" bentak seebun Giok-hiong dengan kening berkerut.

Lim Han- kim menghentikan langkahnya, membalikkan badan dan menegur dengan nada tak senang: "Masih ada urusan apa lagi nona?"

Dari sakunya seebun Giok-hiong mengeluarkan sebuah botol porselen lalu sambil menyodorkannya ke hadapan pemuda itu ia berkata: "Dengan cairan obat dalam botol ini, kau bisa menghapus semua warna-warni yang menghiasi wajahmu dan kau akan memperoleh kembali wajahmu seperti sedia kala." "Terima kasih untuk pemberian obat- mu," kata Lim Han- kim sambil menerima botol porselen itu

"Masih ada satu persoalan lagi perlu kusampaikan kepadamu, aku berharap kau tidak bersedih hati setelah mendengar nanti."

Lim Han- kim segera merasakan jantungnya berdebar keras, sambil menahan gejolak perasaan hatinya ia berseru: "Apakah Pek si-hiang sudah wafat?"

"Benar, penyakitnya sudah merasuk ke dalam tulang sumsumnya, jangankan manusia biasa, biar Tabib Hoa Tho menitis kembali pun belum tentu mampu untuk menyembuhkan penyakit tersebut,"

Tiba-tiba Lim Han- kim membalikkan tubuhnya, Dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah seebun Giok-hiong tanpa berkedip. lalu sepatah demi sepatah ia berkata: "Kau telah membunuhnya? "

seebun Giok-hiong tertunduk lesu: "Aaaai..." bisiknya, "Meskipun aku berniat untuk melakukan hal tersebut..."

"Kau telah berjanji kepadaku untuk tidak mencelakainya, kenapa kau ingkari janjimu itu?" tukas Lim Han-kim penuh amarah.

"satu hari Pek si-hiang tidak mati, sehari pula aku makan tak enak tidur tak nyenyak. Tapi kau jangan kuatir, aku tidak mencelakainya, bahkan menyentuh badannya pun tidak. Tatkala aku tiba di pesanggrahan pengubur bunga, saat itu Hiang-kiok dan siok- bwee sedang mengebumikan jenasahnya . "

"Sungguh?" Lim Han-kim termangu "sungguh Malah aku sempat membuka sendiri penutup peti matinya, aku melihat sendiri jenasahnya berbaring kaku dalam peti mati. Aku baru berlalu setelah bersembahyang di depan pusaranya."

"Jadi kau yang mendesaknya hingga mati?" sela Lim Han-kim dengan rasa geram.

seebun Giok-hiong gelengkan kepalanya berulang kali, sambil membetulkan rambutnya yang kusut ia melanjutkan kata-katanya: "sebenarnya maksud kedatanganku ke situ memang berniat menghabisi nyawanya, tapi kedatanganku terlambat, aku sudah tak punya kesempatan lagi untuk turun tangan-.."

setelah menghela napas panjang, seebun Giok-hiong meneruskan: "Kendatipun bukan aku yang membunuhnya,tapi terhadap kau, aku tetap mempunyai rasa menyesal yang sangat dalam."

Lim Han- kim merasa darah yang mengalir dalam rongga dadanya menggelora keras, Kalau bisa, dia ingin membacok tubuh seebun Giok-hiong hingga terbelah menjadi dua bagian, Tapi dia pun sadar bahwa selisih ilmu silat mereka terlalu jauh. Bagaimana pun ampuhnya dia, akhirnya tetap bukan tandingan gadis tersebut, maka sambil berusaha menahan emosi katanya dingin: "Betul kau tidak langsung membunuhnya, tapi ia baru nekat bunuh diri setelah kau mendesaknya terus hingga terpojok dan tak punya jalan mundur lagi."

"Kau keliru, aku tak pernah mendesaknya. ia mati karena penyakit menahun yang dideritanya Aaaai... sungguh ganas penyakit itu sampai-sampai manusia tangguh macam Pek si-hiang pun tak sanggup meloloskan diri dari cengkeraman elmaut" "Kalau memang kau tak pernah mengusiknya barang seujung rambut pun, kenapa pula kau menaruh rasa menyesal yang dalam terhadapku?"

"Walaupun aku belum sempat turun tangan untuk membunuhnya, paling tidak pikiran hendak membunuhnya pernah melintas dalam benakku, Aku telah ingkar janji dengan mendatangi pesanggrahan pengubur bunga, misalnya waktu itu dia belum mati. Aku tak akan melepaskannya dengan begitu saja, tapi kenyataannya ia telah mati..."

"Hmmm, kau boleh tidur dengan nyenyak sekarang," sindir Lim Han- kim dingin, "Dalam kolong langit yang luas ini, kau sudah tak akan menjumpai orang yang mampu mengalahkan dirimu lagi."

"Pikiranku justru terbalik dengan jalan pikiranmu itu. sekarang, timbul rasa menyesal dalam hati kecilku..."

"Ha ha ha..." Lim Han- kim tertawa keras, "Pek si- hiang sudah menjadi almarhum sekarang, lebih baik nona seebun tak usah berpura-pura lagi... macam kucing menangisi tikus saja..."

seebun Giok-hiong menghela napas sedih, "Aku berbicara dengan sejujurnya, Kalau kau tetap tak percaya, yaa sudahlah, toh aku tak mungkin bisa memaksamu untuk percaya, Kini aku telah satu kali ingkar janji, sebagai gantinya aku bersedia mengabulkan tiga buah permintaanmu. Kau boleh ajukan permintaanmu itu kapan saja dandi mana saja, asal permintaan itu sudah kau ucapkan, aku pasti akan berusaha untuk melaksanakannya" "Kini nona Pek sudah mati," sela Lim Han- kim pedih, "Sekalipun kau bersedia melakukan tiga ratus bahkan tiga ribu permintaanku juga tak ada gunanya"

"Jadi kau benar-benar mencintainya?" seru seebun Giok-hiong dengan wajah tertegun.

"Benar, dalam hatiku hanya ada nona Pek seorang" Dua baris air mata jatuh berderai membasahi pipinya, belum selesai kata-kata itu diucapkan, ia sudah putar badan dan berlalu dari situ.

"Hey Lim Han- kim" teriak seebun Giok-hiong keras- keras, "Tunggu dulu, aku masih ingin bicara"

walaupun Lim Han- kim mendengar suara teriakan tersebut namun ia tidak menggubris, larinya justru dipercepat.

Dengan wajah termangu-mangu seebun Giok-hiong mengawasi bayangan punggung Lim Han- kim hingga lenyap dari pandangan, setelah itu dia baru menghela napas sedih dan berjalan balik ke arah semula.

Lim Han- kim tidak tahu berapa lama ia sudah berlari.

Dia juga tak tahu berapa jauh perjalanan sudah ditempuh. Tatkala fajar sudah mulai menyingsing dan cahaya sang surya mulai menerangi jagad, baru ia memperlambat langkahnya.

semasa Pek si-hiang masih hidup, ia belum merasakan apa-apa, tapi begitu mendengar berita duka tentang kematian gadis tersebut, ia baru sadar bahwa gadis lemah penuh penyakitan yang cantik dan lembut itu ternyata mempunyai kedudukan yang begitu penting dalam hatinya, perasaan sedih yang luar biasa segera menyelimuti benaknya.

Nada bicara seebun Giok-hiong yang begitu meyakinkan membuat Lim Han-kim mau tak mau harus mempercayai berita tersebut. Kalau tadinya dia masih menaruh sedikit harapan, maka kini harapannya sirna sudah. Dikebasnya embun yang membasahi bajunya lalu meneruskan kembali perjalanannya ke depan. pengalaman serta derita yang dialaminya selama ini telah mengubah pemuda ini menjadi lebih tabah dan kokoh, meskipun pukulan batin yang diterimanya akibat kematian Pek si-hiang teramat berat, akan tetapi ia masih sanggup untuk menahan diri

Mula-mula dia berniat pulang ke pesanggrahan pengubur bunga, Namun ia segera ingat bahwa kepergiannya ke pesanggrahan tersebut, apalagi bila menyaksikan pusara Pek si-hiang, dirinya pasti tak sanggup mengendalikan diri, maka niat itu segera diurungkan.

Dia pun berharap andaikata gadis itu belum mati, tapi sedang melatih ilmu sesatnya, kedatangan yang tak terduga itu tentu akan mengusik ketenangannya.

Karena pikiran itu dia ambil keputusan untuk manfaatkan peluang yang ada guna menyelesaikan dulu masalahnya yang belum selesai, kemudian baru berangkat ke pesanggrahan pengubur bunga.

Saat itu apabila Pek Si-hiang masih hidup, ilmu sesatnya pasti sudah berhasil dikuasai, berarti mereka pasti dapat bertemu kembali. sebaliknya jika gadis itu sudah mati, dia pun bisa gunakan kesempatan itu untuk sembahyang di depan pusaranya.

Berpikir sampai di situ, semangatnya segera bangkit kembali. sambil meraba botol porselen dalam sakunya, ia berpikir "Kata seebun Giok-hiong, obat pemberiannya bisa menghilangkan warna-warni yang melekat di wajahku, perduli amat dia bohong atau tidak, kenapa tak kucoba lebih dulu?"

Buru-buru ia menempuh perjalanan menuju ke tepi sebuah selokan Diambilnya botol porselen itu dan dibuka penutupnya, sebelum obat tadi dipoleskan ke wajahnya untuk menghilangkan warna-warni yang melekat di situ, satu ingatan kembali melintas dalam benaknya.

"Kalau Pek si-hiang betul-betul sudah mati, buat apa kupulihkan kembali wajahku? Kalau kaum wanita mementingkan soal wajah, kenapa aku Lim Han- kim tidak menyimpan wajah jelekku ini sebagai kenangan baginya?"

Berpikir begitu, ia simpan kembali botol obat itu dan melanjutkan kembali perjalanannya dengan langkah lebar. setelah ada pengalaman beberapa kali, ia mengerti bahwa pertentangan antara seebun Giok-hiong dengan Li Tiong-hui telah berkembang sampai ke dalam rumah makan maupun penginapan, berarti dalam tiap langkahnya ia harus lebih berhati-hati lagi.

Dengan bersalin rupa dan melakukan pengamatan secara diam-diam, ia temukan bahwa suasana tegang benar-benar menyelimuti setiap sudut dunia persilatan. Banyak sekali orang-orang persilatan yang menggembol senjata hilir mudik dengan langkah cepat, satu demi satu rombongan saling menyusul tiada habisnya.

Yang aneh, kawanan manusia itu tidak menuju ke arah yang sama, Kalau hari ini ada satu rombongan menuju ke arah timur, maka besoknya akan muncul rombongan lain menuju ke barat. satu hal yang jelas, mereka adalah kawanan jago berilmu tinggi.

Menarik kesimpulan dari kejadian ini bisa diketahui bahwa perselisihan antara Li Tiong-hui dengan Seebun Glok-hiong telah mencapai puncaknya dan kedua belah pihak sudah mulai saling menggempur dan membunuh, pengalaman yang diperoleh bertubi-tubi membuat penyamaran Lim Han-kim mendekati kesempurnaan-

Sikap maupun tingkah lakunya sangat mendukung penyaruan itu, tak heran kalau penyamarannya sama sekali tak dicurigai orang kendatipun amat sering ia berjumpa dengan kawanan jago dari dunia persilatan-

Tengah hari ini, Lim Han-kim yang menyamar sebagai seorang kakek penjual buah, dengan membawa sepikul buah-buahan tiba di sebuah persimpangan jalan-

Tampak noda darah berceceran sepanjang jalan, di tepi sawah tergeletak empat sosok mayat lelaki berpakaian ringkas serta seekor kuda yang terluka parah, pemandangan semacam ini rasanya amat memilukan hati, membuat Lim Han-kim tertegun dan gelengkan kepalanya berulang kali.

Sambil menurunkan barang dagangannya, ia menghela napas panjang sambil berpikir "Di depan mataku sekarang terbentang suatu badai pembunuhan yang amat mengerikan- Sebagai seorang lelaki sejati, haruskah aku cuci tangan dan tidak mencampuri urusan ini? Apakah harus kubiarkan tragedi demi tragedi berlangsung di dunia ini?"

Sementara ia masih termenung, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang kencang bergema menuju ke arahnya.

Ketika berpaling, ia saksikan seseorang dengan bermandikan darah segar tertelungkup di atas punggung kuda yang berlari kencang. Di belakang kuda itu mengikuti dua orang lelaki bergolok besar yang sedang mengejar dengan ketatnya.

"Kejam amat para pengejar itu," pikir Lim Han-kim kemudian "Padahal orang itu sudah terluka parah, tapi mereka belum mau juga melepaskan korbannya, Masa mereka baru puas setelah korbannya terbunuh?"

Perasaan mendongkol dan tak puas segera muncul dalam benaknya, Mendadak ia sambar pikulannya lalu dengan membentak keras ia lepaskan sebuah sapuan maut ke arah dua orang pengejar itu dengan jurus Menghadang Gulungan ombak Besar.

Mimpi pun kedua orang pengejar itu tak mengira kalau seorang kakek penjual buah yang amat bersahaja ternyata berani mencampuri urusan dunia persilatan yang penuh keruwetan dan pembunuhan ini, terlebih serangan yang dilepaskan ternyata luar biasa hebatnya. 

Untuk sesaat mereka jadi gugup dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya, Terdengar jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan. Lelaki di sebelah kanan yang berada paling depan termakan pinggangnya oleh babatan pikulan buah itu. Tubuhnya segera mencelat ke udara dan terlempar lebih kurang satu tombak dari posisi semula.

Di saat Lim Han-kim berhasil menghajar lelaki di sebelah kanan itulah, lelaki bergolok di sebelah kiri itu sudah melintas lewat dari sisi tubuh Lim Han-kim.

Dalam sekilas pandangan Lim Han-kim dapat melihat di pelana kuda tunggangan orang itu ternyata tergantung empat butir batok kepala manusia yang masih berpelepotan darah,

kejadian ini kontan saja mengobarkan hawa amarahnya, pikirnya: "Betul- betul keterlaluan ia sudah berhasil membunuh orang, tapi tak rela melepaskan seseorang yang sudah terluka begitu parah. Manusia semacam ini tak boleh diampuni lagi"

Tongkat pikulannya segera disambit ke muka. Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, benda itu meluncur ke muka dan langsung menghantam punggung orang tersebut.

Waktu itu, lelaki tersebut sedang pusatkan semua perhatiannya untuk memenggal batok kepala lawannya yang terluka parah tanpa perdulikan keselamatan teman sendiri Tubuhnya sudah tiba di belakang korbannya dan senjata yang diayunkan sudah siap memotong batok kepalanya.

siapa tahu pada saat itulah sambitan pikulan Lim Han- kim telah meluncur sampai dan menghajar telak punggungnya, Tak ampun ia menjerit ngeri dan tubuhnya roboh terjungkal ke atas tanah. serangan yang dilancarkan Lim Han-kim kali ini berat dan kuat sekalipun tak sampai merenggut nyawa kedua orang itu, paling tidak cukup membuat mereka berdua terluka parah.

Lelaki terluka parah yang baru saja lolos dari cengkeraman maut itu tampaknya sama sekali tidak menyadari apa yang terjadipada dirinya, Kuda tunggangannya tetap dilarikan kencang-kencang, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Lim Han-kim berpaling memandang sekejap dua lelaki yang baru dihantamnya sampai terluka parah itu, kemudian mengangkat kembali keranjang buahnya dan melanjutkan perjalanan.

Lelaki bergolok yang kena hantam belakangan menderita luka agak enteng, setelah istirahat beberapa saat ia sudah dapat bangkit serta duduk kembali, namun sejauh mata memandang di sana tak lagi nampak sesosok bayangan manusia pun, suasana amat hening.

Akhirnya dia atur pernapasan beberapa saat untuk memulihkan kembali kekuatan badannya, kemudian baru bangkit berdiri, menghampiri rekannya serta membimbingnya bangun.

Namun begitu badannya digerakkan, orang itu segera berkaok-kaok kesakitan. Tampaknya hantaman tongkat pemikul dari Lim Han-kim tadi telah mematahkan lima kerat tulang iganya.

Dalam saat itu Lim Han-kim dengan memikul keranjang buah- buahannya telah menempuh perjalanan sejauh enam-tujuh li sebelum memperlambat langkah kakinya. Dari hadapan mukanya kedengaran suara ringkikan kuda yang amat ramai, disusul muncul belasan ekor kuda yang berlarian secepat angin.

Menyaksikan adegan ini diam-diam anak muda itui menghela napas panjang, pikirnya: "Aaaai... betul-betul sebuah tragedi yang memedihkan hati. sebuah badai pembunuhan yang mengerikan dalam dunia persilatan-"

Lambat laun langit pun mulai diselimuti warna hitam karena malam semakin kelam, saat itu Lim Han-kim sudah tiba di tengah sebuah dusun yang amat kecil.

Dusun tersebut hanya terdiri dari lima- enam buah rumah, bangunan gubuknya amat sederhana tapi suasana amat bersih dan rapi.

Lim Han-kim memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian pikirnya: "Kalau dilihat begitu bersih dan rapinya dusun ini, rasa-rasanya penghuni tempat ini bukan keluarga sembarangan"

Berpikir sampai di sini, ia turunkan keranjang buahnya ke tanah lalu pelan-pelan berjalan mendekati sebuah bangunan rumah.

Melihat pintu halaman tertutup rapat, pemuda itu segera mendorongnya, Kedua belah pintu kayu itu segera terpentang lebar, nampaknya memang tak dikunci.

Belum sempat anak muda itu melangkah masuk. tiba- tiba dari balik pintu muncul sebuah lengan yang secepat sambaran kilat langsung mencengkeram pergelangan tangan kanan Lim Han-kim. Baru saja pemuda itu hendak melawan, mendadak satu ingatan melintas lewat ia batalkan niatnya untuk melawan dan membiarkan kelima jari tangan orang tersebut menggenggam pergelangan tangan kanannya.

segulung tenaga kekuatan yang amat besar segera membetotnya ke depan hingga tak bisa dicegah badannya terbetot masuk ke dalam ruangan bangunan itu Lim Han-kim tetap berlagak seolah-olah tak mengerti ilmu silat, sambil membiarkan dirinya diatur orang tersebut serunya: "Maafkan aku si tua bangka, aku tak tahu kalau para hohan dan enghiong sedang berkumpul di sini"

Kedengaran seseorang dengan suara yang kasar dan keras menegur: "Apa pekerjaanmu?"

"Aku penjaja buah-buahan."

"Mana ada penjual buah-buahan di tengah malam buta begini? Hmmm, jelas kau adalah mata-mata bunga bwee"

"Aku bukan mata-mata, aku kemalaman karena di tengah jalan menjumpai suatu peristiwa."

"Peristiwa apa?" hardik suara kasar itu lagi.

"Aku terjepit oleh dua golongan yang sedang terlibat dalam pertempuran"

"Buat apa kita urusi siapa orang ini, lebih baik dibunuh saja" Mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara dingin.

Mendengar ancaman tersebut Lim Han-kim jadi terkejut, pikirnya: " Kalau mereka berniat mencabut nyawaku sekarang, tampaknya terpaksa aku harus melakukan perlawanan"

Belum habis ingatan tersebut melintas, terdengar seseorang telah menyela: "Lebih baik totok dulu jalan darahnya"

Lim Han-kim segera merasakan pinggangnya jadi kaku, tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok.

Tampaknya orang itu sudah termakan oleh ucapan Lim Han-kim dan mempercayainya sebagai penjaja buah yang tak mengerti ilmu silat. oleh sebab itu, totokan yang dilakukannya cukup ringan.

Memanfaatkan kesempatan itu Lim Han-kim pura-pura tertotok jalan darahnya dan roboh terjengkang ke samping, ia merasa badannya dibopong orang dan diletakkan ke sudut ruangan.

Lim Han-kim segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, kemudian mengalihkan pandangan matanya memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Ternyata ruang tamu gubuk itu sudah dipenuhi aneka macam manusia bersenjata lengkap. ada yang tinggi ada yang pendek dan jumlahnya mencapai belasan orang.

"sungguh aneh," dengan perasaan heran ia berpikir "Kenapa ada begitu banyak jago persilatan yang berkumpul dalam rumah gubuk ini? Rasanya dalam dua gubuk yang lain pun penuh berisi jago-jago tangguh, tapi... apa maksud mereka untuk berkumpul dalam sebuah dusun sekecil ini? Apa yang menjadi tujuan mereka?" Pada saat itu dari luar ruangan sudah kedengaran seseorang berkata dengan suara rendah dan berat: " Kereta kuda pihak perguruan bunga bwee telah tiba, harap Anda sekalian bersiap sedia"

Lim Han-kim kembali berpikir "Hanya seebun Giok- hiong yang bepergian dengan menunggang kereta kuda, apa mungkin ia sendiri yang muncul?"

sementara itu para jago yang berhimpun dalam ruangan telah sama-sama meloloskan senjata dan membagi diri menjadi dua bagian, Dua orang lelaki bergolok yang membawa busur dan anak panah bergerak mendekati daun jendela.

"Dari belasan jago yang dipersiapkan ternyata dilengkapi juga dua orang pemanah, persiapan semacam ini bukan persiapan sembarangan, agaknya ada jago pandai yang mempersiapkan segala sesuatunya di sini," batin Lim Han-kim. ia mencoba mengawasi wajah para jago tersebut, namun tak seorang pun di antara mereka yang dikenalnya.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, di tengah keheningan malam yang mencekam ternyata benar- benar terdengar suara roda kereta yang berkumandang mendekat. suara roda kereta itu makin lama semakin mendekat, jelas sudah kereta itu sudah mulai memasuki dusun-

Diam-diam Lim Han-kim menghela napas panjang, pikirnya: Tampaknya kedua belah pihak sudah terperosok dalam jurang permusuhan yang luar biasa sehingga masing-masing pihak tak segan memasang perangkap dan jebakan untuk musnahkan pihak lawannya."

Mendadak terdengar suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan- "Anda sudah terjerumus ke dalam kepungan kami, di empat penjuru telah siap pemanah-pemanah ulung yang mengarahkan sasaran bidikannya kepada Anda. Bila kuturunkan perintah, segera akan muncul beribu-ribu batang anak panah yang menghabisi kalian"

Bersama dengan munculnya ancaman tersebut kereta kuda itu benar-benar turut perintah dengan menghentikan perjalanannya.

Dalam keadaan begini, Lim Han-kim merasakan munculnya suatu dorongan besar dalam hati kecilnya yang membuat dia hampir saja menerjang keluar dari ruangan untuk menyaksikan adegan berikut dengan lebih jelas.

Tapi ia sadar, bila ia menunjukkan suatu gerakan yang mencurigakan maka berpuluh orang lelaki bersenjata lengkap yang ada di dalam ruangan itu bakal menyerbu dan mengeroyoknya habis-habisan-

Dalam posisi yang terjepit dan berbahaya, mau tak mau dia harus menahan diri, Dengan menundukkan kepalanya diam-diam dia atur hawa murninya sambil bersiap sedia.

setelah suasana dicekam keheningan yang cukup singkat, kembali terdengar seeorang berseru dengan lantang: "siapa yang tahu situasi dia adalah orang bijaksana, Anda bersedia menuruti perkataan kami dengan menghentikan kereta, ini menandakan bahwa Anda cukup bijaksana, sekarang harap kau buka tirai keretamu"

Lim Han-kim mencoba pasang telinga namun tak kedengaran ada orang yang menjawab, dengan rasa tercengang segera dikirnya: "Dengan keangkuhan dan kesombongan seebun Giok-hiong, mustahil dia mau tunduk di bawah perintah orang, atau mungkin bukan seebun Giok-hiong yang datang?"

Kembali terdengar suara nyaring itu bergema: "Akan kuhitung sampai angka lima, jika Anda tetap enggan menyerahkan diri. Hmmm jangan salahkan kalau segera kuturunkan perintah untuk melepaskan anak panah"

Tampaknya penghuni kereta itu memiliki ketenangan yang luar biasa, bagaimana keras dan nyaringnya suara bentakan tersebut, ia tetap tenang, tidak menjawab maupun meng- gubris.

Benar juga, suara nyaring tadi sudah mulai menghitung: "Satu... dua... tiga... empat... lima"

Hingga angka lima disebutkan, orang dalam kereta itu belum juga memberikan jawaban-’Sreeett’

Desingan angin tajam bergema membelah angkasa, Entah siapa yang melepaskan panah lebih dulu, menyusul anak panah pertama, terdengarlah suara desingan tajam yang beruntun.

Lim Han-kim duduk tenang sambil pusatkan perhatiannya keluar ruangan, namun kecuali suara ringkikan kuda yang kesakitan dan sekarat, tak terdengar suara yang lain. Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, suara desingan anak panah baru mereda diikuti terbukanya pintu gubuk, Belasan jago bersenjata lengkap serentak menyerbu keluar dari balik ruangan.

Lim Han-kim mencoba memperhatikan situasi seputar ruangan. Ternyata semua jago telah berlalu dari situ, maka dia pun bangkit berdiri, pelan-pelan ia berjalan menghampiri jendela dan melongok keluar. Ternyata puluhan orang jago berbaju hitam dengan senjata terhunus tadi sedang mengepung kereta kuda itu rapat- rapat.

Di bawah sinar bintang yang redup, lamat-lamat dapat terlihat ruang kereta yang penuh ditancapi anak panah dengan kuda yang sudah tewas bagaikan seekor landak.

Tapi anehnya, suasana dalam kereta itu tetap hening, sepi, tak kedengaran sedikit suara pun, seolah-olah kereta tersebut memang sama sekali tak ada penghuninya.

Lim Han-kim segera berpikir: "Kalau kereta yang diserang ternyata hanya sebuah kereta kosong, percuma saja Li Tiong-hui kerahkan begitu banyak jagonya untuk membuat jebakan di tempat ini. seebun Giok-hiong tentu akan mentertawakan ketololan nya."