-->

Pedang Keadilan II Bab 22 : Bertemu Lagi Dengan sang Adik

 
Bab 22. Bertemu Lagi Dengan sang Adik

Menyaksikan orang itu makin gusar, Lim Han-kim segera berpikir "Perduli amat apa maksudnya, lebih baik kujawab dulu pertanyaannya itu." Maka ia pun menyahut seraya manggut: "Sudah berhasil"

Belum selesai dia menjawab, lelaki itu sudah menggerakkan tangan kanannya melancarkan sebuah cengkeraman dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, Kelima jari tangannya bagaikan senjata kaitan berusaha mencengkeram jalan darah kaku di pergelangan tangan kanan anak muda itu.

Lim Han-kim menarik mundur pergelangan tangan kanannya dan meloloskan diri dari ancaman tersebut

Gagal dengan cengkeramannya, kembali lelaki itu menegur dingin: "Siapa kau?"

Ternyata jawaban dari Lim Han-kim barusan telah menyadarkan lelaki tersebut bahwa logat suaranya jauh berbeda dengan rekannya, Dengan nada tenang Lim Han-kim menjawab: "Aku dari marga Lim, seharusnya kau mengerti sejak tadi bahwa aku bukan rekan sejawatmu"

"Kurang ajar, bedebah, kau berani mempermainkan aku?" teriak lelaki buta itu murka. Sepasang telapak tangannya kembali diayunkan bergantian melepaskan gempuran ke arah kereta.

Dahsyat benar tenaga pukulan orang itu...

BlaaamBlaaammrn Diiringi benturan nyaring yang memekikkan telinga, tiang kereta yang terbuat dari kayu itu terhajar hancur dan beterbangan ke mana-mana,

Diam-diam Lim Han-kim merasa terperanjat sekali setelah menerima dua buah pukulannya dan merasakan betapa kuatnya tenaga pukulan orang itu, pikirnya: "Bila ditinjau dari sasaran pukulannya yang melenceng, jelas ia buta, buat apa kulayani orang cacad macam dia?"

Dengan tangan kanannya ia sambut sebuah pukulannya dengan keras melawan keras, memanfaatkan peluang tersebut tubuhnya melejit ke udara dan meluncur turun di luar kereta.

Tampak bayangan manusia berkelebat kian kemari, tahu-tahu dari empat penjuru telah muncul tujuh- delapan orang lelaki bergolok yang mengepung Lim Han- kim rapat-rapat.

Terdengar kusir buta itu berteriak keras: "Bajingan tengik ini jahat sekali, jangan biarkan ia lolos"

Melihat jala n perginya sudah terkepung rapat sementara musuh berhamburan datang dari empat penjuru, Lim Han-kim sadar bahwa tanpa melalui suatu pertarungan yang sengit, mustahil baginya untuk meloloskan diri. Maka sambil meloloskan pedang Jin- siang-kiam dari balik bajunya, ia berkata dingin: "saudara sekalian, ketahuilah bahwa senjata tak bermata, jangan paksa aku turun tangan, kalau tidak . . .jangan salahkan jika terjadi banjir darah di tempat ini" Kecuali si kusir buta itu, di sekeliling tempat itu terdapat pula delapan orang lelaki yang menghadang di empatpenjuru, namun tak seorang pun di antara mereka yang bersuara, bahkan terhadap hardikan Lim Han-kim pun mereka bersikap tak acuh dan seolah-olah tidak mendengar.

Lim Han-kim mencoba mengamati situasi di seputarnya, ia menjumpai kedelapan lelaki itu mengambil posisi dengan kedudukan pat-kwa, ini berarti betapapun cepatnya gerakan tubuh Lim Han-kim dan bagaimana pun ia berusaha berkelit, sulit baginya untuk lolos dari kepungan tersebut.

Terdengar si kusir buta itu berteriak keras: "Gunakan posisi Pat-kwa untuk mengurungnya, hati-hati, bajingan cilik ini cukup tangguh" Delapan lelaki bergolok itu tetap membungkam, tak kedengaran sedikit suarapun.

Dengan perasaan keheranan Lim Han-kim berpikir: " Heran, kenapa mereka tetap membisu? Jangan-jangan mereka memang tak bisa berbicara? Kalau tidak. masa terhadap orang sendiri pun mereka tak ambil perduli?"

Belum habis ingatan tersebut melintas, mendadak terdengar seorang bocah lelaki menegur: Toako buta, apa yang kau ributkan?"

Lim Han-kim segera merasakan jantungnya berdebar keras. ia merasa suara itu sangat dikenalnya, Ketika berpaling, tampak seorang bocah lelaki yang memakai pakaian ringkas dengan sebilah pedang tersoren di punggungnya berjalan keluar dari balik pintu gedung.

Lelaki buta itu pun berteriak cepat: "Apakah saudara Liong yang datang?" "Bagus, rupanya nada suaraku juga tak kau kenal?" "Hari ini aku si buta betul-betul pecundang di tangan

orang, sampai seorang bajingan tengik yang ikut

nyelundup masuk pun kubawa pulang kemari..."

"Macam apa bajingan tengik itu? Biar kutengok" sambil berkata bocah lelaki itu berjalan menghampiri Lim Han-kim. Meskipun orang itu masih muda usia namun kedudukannya di sana nampaknya cukup tinggi, serentak kawanan lelaki bergolok itu menyingkir ke samping sambil memberi hormat.

Dengan ketajaman mata Lim Han-kim yang dapat menembusi kegelapan malam. dengan jelas ia kenali bocah lelaki tersebut sebagai Yu siau-liong, adiknya. Kontan pemuda itu merasa dadanya seperti dihantam dengan martil berat, nyaris ia menjerit tertahan-

sementara itu Yu siau-liong telah meloloskan pedangnya dari punggung sambil berseru: " Kalian mundur semua dari situ, akan kutangkap orang ini sendirian"

Lim Han-kim berusaha menenangkan kembali hatinya, lalu berpikir: "Kini, kesadarannya sudah dipengaruhi oleh obat pemabuk bikinan Cau-hua lojin, berarti ia telah masuk menjadi anggota perguruan Cau-hua. Berarti tak ada gunanya aku bertegur sapa dengannya sebab ia toh tak akan mengenali diriku lagi"

Untuk beberapa saat ia jadi sangsi dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya sementara itu Yu siau-liong sudah mendesak maju sembari memutar pedangnya, bahkan dengan suara ketus menegur "siapa kau?" Lim Han-kim tidak menjawab, dia hanya melototi wajah adik seperguruannya ini dengan sepasang mata melotot lebar.

Dipelototi seperti itu, Yu siau-liong segera naik darah, teriaknya penuh amarah: "Hei, kenapa kau pelototi aku terus?"

Tanpa banyak cingcong Yu siau-liong maju ke depan sambil melepaskan sebuah tusukan maut, Lim Han-kim mengegos ke samping dengan cekatan, ia belum mau melancarkan serangan balasan-

"Waaah, bagus amat pedang milikmu itu" teriak Yu siau-liong setelah memandang sekejap pedang di tangan Lim Han-kim. ia mendesak lebih ke depan...

sreeeet sreeeet sreeeet secara beruntun ia lancarkan kembali tiga tusukan yang semuanya mengarah jalan darah kematian ditubuh lawan.

Kembali Lim Han-kim berhasil melepaskan diri dari ketiga tusukan berantai itu tanpa berniat melepaskan serangan balasan, Lama kelamaan Yu siau-liong tercengang juga dibuatnya, sambil angkat bahu ia membentak: " Kenapa kau tidak mem-balas?"

"Aku ingin tahu sampai di mana kemajuan ilmu pedang yang berhasil kau capai," sahut Lim Han-kim sambil tersenyum.

"Jadi kau benar-benar ingin tahu kelihaianku?" Yu siau-liong semakin naik darah, permainan pedangnya diperkencang secara tiba-tiba, ia mencecar dan mendesak lebih ke depan- Jangan dilihat usianya masih muda, ternyata permainan pedangnya hebat dan ganas, Cahaya pedang seperti sambaran petir di angkasa menyambar kian kemari.

sesungguhnya dengan andalkan ketajaman pedangnya, Lim Han-kim dapat membendung semua serangan tersebut dengan kekerasan, bahkan mengutungi senjata lawan, tapi ia tidak berbuat begitu. Pemuda itu selalu menghindar dan tidak membiarkan pedangnya bentrok dengan senjata anak tersebut.

Ketika dilihatnya kemudian bahwa ilmu pedang yang dimiliki adik seperguruannya ini mengalami kemajuan yang luar biasa pesatnya, pemuda kita merasa amat gembira.

Begitulah, pertarungan berlangsung dengan sengitnya, namun kedua belah pihak mempunyai jalan pikiran serta perasaan yang berbeda. Kalau Lim Han-kim lebih mengutamakan perasaan persahabatan dan kasih persaudaraan di mana ia selalu berusaha menghindar dan mengalah, maka sebaliknya jurus pedang yang digunakan Yu siau-liong semuanya ganas, keji dan mematikan.

Dalam waktu singkat kedua orang itu telah bertarung hampir dua puluh jurus.

Di tengah pertarungan diam-diam Lim Han-kim memperhatikan keadaan di sekelilingnya, Hatinya tiba- tiba tergerak setelah menyaksikan orang yang menonton jalannya pertarungan di sekeliling arena makin lama makin bertambah banyak. segera pikirnya: " Kalau aku mesti melayani pertarungan tersebut dengan cara begini, lama kelamaan rahasiaku tentu akan ketahuan, berarti mustahil bagiku untuk membawanya pergi saat ini.

Tampaknya aku mesti mundur untuk sementara waktu sambil mencari kesempatan lagi untuk membeberkan keadaan sesungguhnya kepadanya.

Untung saja ia sehat dan selamat serta sudah menjadi anggota perguruan Cau-hua-bun, rasanya tidak sulit untuk melacak kembali jejaknya di kemudian hari."

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba ia mengubah taktik pertarungannya, dua serangan balasan segera dilancarkan Kedua jurus serangan yang digunakan ini merupakan gerak jurus dari Delapan pedang Naga sakti. sekalipun permainan jurusnya belum ia hapal betul, namun sudah lebih dari cukup untuk memaksa Yu siau- liong mundur berulang kali.

Berhasil dengan kedua serangannya, Lim Han-kim segera melejit ke udara, dengan dua-tiga kali lompatan ia sudah berada tiga tombak lebih dari arena semula.

sejak posisi Yu siau-liong sudah berada di atas angin tadi, pengawasan dan penjagaan para jago di sekeliling arena sudah makin mengendor, maka ketika Lim Han- kim melancarkan serangan balasan sambil menerobos keluar dari kepungan, tak seorang pun di antara para jago yang sempat mencegat atau menghalangi kepergiannya.

Dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuh anak muda tersebut sudah lenyap di balik kegelapan malam. Waktu itu Yu siau-liong sudah sama sekali terbelenggu oleh serangan balik yang dilancarkan Lim Han-kim. Menanti anak muda itu sudah pergi jauh, bocah ini baru teringat untuk melakukan pengejaran.

Pada saat itu Lim Han-kim melakukan perjalanan sejauh enam-tujuh li sebelum menghentikan larinya, setelah mengatur pernapasan, diam-diam ia menyusup balik dengan melalui jalanan semula.

Kali ini gerak-geriknya dilakukan dengan berhati-hati sekali. Ketika berada enam-tujuh kaki dari bangunan tersebut, ia segera menghentikan gerakan, sambil bersembunyi di tempat kegelapan, diam-diam ia periksa keadaan di sekeliling tempat itu dan mengingat- ingatnya di dalam hati, agar kedatangannya lagi di kemudian hari semakin leluasa.

Baru saja ia hendak beranjak meninggalkan tempat itu, mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergema datang disusul munculnya sebuah tandu kecil yang dikawal puluhan ekor kuda jempolan, rombongan tersebut langsung menuju ke arah bangunan.

Tergerak hati Lim Han-kim menyaksikan hal itu, pikirnya: "Kalau dilihat dari gaya orang ini, jelas ia punya kedudukan terhormat, kalau dibilang orang itu adalah Cau-hua lojin-.. rasanya kok aneh, Masa tua b angka itu menunggang tandu seperti perempuan saja?"

Belum lagi ingatan tersebut melintas lewat di benaknya, lagi-lagi terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang.

Kali ini rombongan yang datang berjumlah jauh lebih besar daripada rombongan pertama, paling tidak terdapat dua puluhan ekor kuda yang berdatangan dengan kecepatan luar biasa. Begitu tiba di dekat bangunan tersebut, rombongan penunggang kuda itu segera menghentikan kudanya dan dengan cepat menyebar keempat penjuru, Dalam remang-remangnya kegelapan malam, terlihat kawanan penunggang kuda yang telah menyebarkan diri itu segera berlompatan turun dari punggung kudanya.

Tiga orang di antaranya segera tampil mengurusi kedua puluhan ekor kuda itu sementara yang lain dengan cepat menyembunyikan diri di balik kegelapan.

Menyaksikan adegan ini, Lim Han-kim segera berpikir Jika ditinjau dari situasi ini, jelas kawanan berkuda ini memang sengaja datang untuk mencari gara-gara. tapi dari aliran manakah mereka? Berani amat menyatroni perguruan Cau-hua-bun?"

Dari situasi dan gerak-gerik kawanan manusia pendatang ini, Lim Han-kim segera paham bahwa suatu pertarungan sengit segera akan berlangsung dan tak mungkin terelakkan lagi.

Bila dilihat dari keberanian orang-orang itu datang membuat gara-gara, sudah jelas mereka bukan manusia sembarangan yang berilmu rendah, apalagi mengingat ilmu silat yang dimiliki Cau-hua lojin terhitung sangat tangguh, berarti juga pertarungan yang bakal berlangsung pasti keji, hebat dan sangat mengerikan

sebenarnya pemuda itu ingin segera beranjak pergi, tapi tiba-tiba ia teringat kembali akan Yu siau-liong.

Dapatkah bocah itu mempertahankan keselamatan jiwanya dalam menghadapi pertarungan sengit itu?

Rasa khawatir dan cemas yang amat mendalam dengan cepat menyelimuti perasaan hatinya, sambil menghela napas pelan pikirnya: "Aku tak boleh pergi dari sini, aku harus tinggal di sini untuk mencarikan akal guna membantu adik Liong, paling tidak membuatnya lolos dari pertarungan sengit ini."

Ketika berpaling kembali, ia saksikan bangunan gedung yang semula remang-remang dicekam kegelapan, kini sudah berubah jadi terang benderang bermandikan cahaya.

Lim Han-kim semakin tercengang pikirnya: "sungguh aneh kejadian di sini, masa pertarungan baru dilangsungkan setelah menyulut lentera?"

sepenanakan nasi sudah ia menunggu di situ, namun belum juga terdengar ada suara pertarungan sementara pemuda ini masih diliputi rasa cengang, mendadak dijumpainya ada empat orang bocah berbaju hijau yang membawa lampu lentera yang diangkat tinggi-tinggi, berjalan keluar dari balik gedung lalu berdiri di kedua belah sisi pintu utama.

Menyusul kemudian tampak belasan orang lelaki kekar, masing-masing menuntun seekor kuda jempolan, muncul pula dengan langkah lebar.

Di bawah cahaya lampu yang terang benderang, terlihat dengan jelas pakaian yang dikenakan kawanan lelaki tersebut terdiri dari aneka macam warna yang berlainan.

Kembali Lim Han-kim berpikir: " Kawanan manusia itu mirip sekali sebagai anak buah seebun Giok-hiong. Atau mungkin orang yang berada dalam tandu kecil tadi adalah seebun Giok-hiong pribadi?" sementara ia masih termenung, tampak seebun Giok- hiong muncul dengan langkah yang amat santai, Di belakangnya mengikuti seorang kakek berjubah pendeta dengan gambar Pat-kwa.

Pertemuan Lim Han-kim dengan cau-hua lojin pada malam itu hanya sekilas dan lagi dalam keadaan tergesa- gesa, kesan yang tertinggal dalam benak anak muda itu pun tidak terlalu mendalam, sehingga sulit baginya untuk memastikan apakah kakek tersebut adalah Cu-hua lojin atau bukan. Namun jika ditinjau dari dandanannya yang nyentrik. tampaknya dugaan tersebut tak bakal keliru.

Terlihat seebun Giok-hiong terlibat dalam pembicaraan yang serius di depan pintu gedung dengan kakek itu, tak lama kemudian terlihat gadis itu naik ke dalam tandunya.

si kakek membungkukkan badannya memberi hormat, menanti seebun Giok-hiong sudah lenyap dari pandangan mata, ia baru pelan-pelan membalikkan badan dan masuk ke dalam gedung.

Tak lama kemudian, semua cahaya lentera di dalam gedung dipadamkan, suasana pun dicekam dalam kegelapan, sementara itu kawanan jago yang bersembunyi di empat penjuru telah bermunculan dari tempat persembunyiannya, melompat naik ke kuda masing-masing lalu beranjak pergi menuju ke arah mana mereka datang, suatu pertarungan besar yang kelihatannya tadi sudah hampir meletus, kini turut lenyap tak berbekas.

Diam-diam Lim Han-kim menghela napas panjang, pikirnya: "seebun Giok hiong benar-benar hebat, Bila dilihat dari sikap tunduk dan hormat yang diperlihatkan cau-hua lojin- nampaknya tua bangka itu sudah berhasil ditaklukkan seebun Giok-hiong ..."

Tiba-tiba ia teringat pula pada Li Tiong-hui yang berhasil merebut kedudukan Bu- lim Bengcu, Tampaknya kedua belah pihak sudah saling berhadapan dan suatu pertempuran habis-habisan telah berada di ambang pintu.

Dalam keadaan begini, bayangan wajah seebun Giok- hiong maupun Li Tiong-hui serasa memenuhi benaknya secara bergantian, hampir boleh dibilang ia dibuat bimbang dan tak tahu ke pihak manakah ia harus berpaling.

setelah berpikir beberapa saat, ia pun berkesimpulan bahwa pertempuran yang akan terjadi ini selain dibebani dendam kesumat pribadi, juga bermakna perebutan nama, kedudukan serta kekuasaan segelintir manusia, atau dengan perkataan lain posisi perguruan cau-hua- bun dalam keadaan demikian merupakan posisi kunci yang akan menentukan pihak manakah yang lebih unggul dan kuat kekuatannya.

Bila ditinjau dari kehadiran seebun Giok-hiong tengah malam begini dengan disertai kawanan jago tangguh, jelas ia berniat menggunakan kekerasan apabila usahanya secara baik-baik gagal, Andaikata Cau-hua lojin tidak setuju mendukung pihaknya, ia pasti akan berusaha musnahkan segenap kekuatan perguruan ini sebelum terlanjur dimanfaatkan pihak Li Tiong-hui.

sementara Lim Han-kim masih berpikir, mendadak terdengar lagi suara derap kuda yang ramai bergema tiba, disusul kemudian tampak sebuah kereta kuda yang sangat indah dan mewah dengan diiringi lima lelaki kekar yang menunggang kuda jempolan bergerak mendekat.

Untung tempat persembunyian Lim Han-kim cukup rapat dan tertutup.

Belum habis ingatan kedua melintas dalam benak pemuda itu, rombongan tadi telah tiba di depan mata.

Kereta mewah itu berhenti persis di depan pintu gerbang bangunan itu.

Bersamaan dengan itu dari balik kereta muncullah sesosok bayangan cantik yang bertubuh semampai dan bergaun indah.

Lim Han-kim merasa kenal betul dengan bayangan indah itu. Dia memang tak lain adalah Li Tiong-hui, ketua Bu- lim saat ini. Dengan didampingi beberapa orang lelaki berbaju hitam, Li Tiong-hui langsung berjalan masuk ke dalam gedung, di luar pintu hanya tinggal dua orang saja yang berjaga-jaga.

setelah tertegun sejenak. anak muda itu segera paham apa sebenarnya yang telah terjadi. Jelas posisi perguruan cau-hua-bun sudah merupakan posisi kunci yang maha penting bagi dua pihak yang berseteru, dan kini kedua belah pihak sama-sama berusaha membujuk partai itu agar berpihak ke arahnya.

Berarti pula seebun Giok-hiong sudah bertindak lebih cepat daripada pihak Li Tiong-hui dalam usahanya menggaet pihak Cau-hua-bun. Hal ini juga menandakan bahwa posisi Li Tiong-hui saat ini berbahaya sekali.

Berpikir begitu, Lim Han-kim segera membatin: "Aku mesti mengabarkan keadaan ini kepada Li Tiong-hui, agar ia mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan"

Buru-buru ia kerahkan ilmu menyampaikan suaranya berseru kepada dua orang penjaga di depan pintu itu: "saudara berdua, harap kabarkan kepada Bengcu secepatnya agar berhati-hati di dalam gedung"

Dari arah datangnya suara peringatan tersebut, kedua orang penjaga itu segera mengetahui arah sumber suara tersebut, namun mereka tidak menegur ataupun melakukan pencarian.

Melihat itu, Lim Han-kim berpikir lagi: "Li Tiong-hui betul-betul seorang pemimpin yang berbakat. Cukup dilihat dari ketenangan dan kemantapan yang diperlihatkan dua orang penjaga keretanya, sudah bisa disimpulkan bahwa ia memang luar biasa..."

Karena itu ia pun berkata lebih jauh dengan ilmu menyampaikan suaranya: "saudara berdua tak usah sangsi, aku bermaksud mulia dan jujur hanya kurang leluasa bagiku untuk munculkan diri saat ini. Tolong kabar ini sampaikan kepada Bengcu secepatnya,"

Lelaki yang ada di sebelah kiri segera menanggapi dengan mengerahkan pula ilmu menyampaikan suara: "Boleh kutahu siapa nama sobat, agar kami bisa memberikan pertanggungan jawab kepada bengcu? "

"Maaf, aku tak bisa mengatakan siapa namaku, katakan saja seorang sobat karibnya dari kuil awan hijau, ia pasti akan segera paham" Lelaki di sebelah kiri itu pun manggut-manggut. "Kalau begitu akan segera kusampaikan kepada Bengcu, maaf aku tak bisa mengantar kepergian Anda"

Lim Han-kim segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melesat menuju ke arah timur. Dalam waktu singkat ia sudah menempuh perjalanan sejauh empat- lima li. saat itulah tiba-tiba ia teringat kembali akan Yu siau-liong. seandainya betul-betul terjadi pertempuran, niscaya Yu siau-liong akan terlibat juga di dalamnya.

LiBun-yang hanya beberapa kali berjumpa dengan bocah itu, lagi pula waktunya sudah terpaut cukup lama, apakah ia masih mengenalinya?

"Aku harus berusaha menyelundup masuk ke dalam gedung cauhua lojin untuk melihat keadaan," demikian ia berpikir "Andaikata terjadi pertarungan, aku punya kesempatan untuk selamatkan Yu Siau-liong dari ancaman bahaya."

Tapi ia segera teringat kembali dengan paras mukanya yang berwarna-warni, bukan Cuma sangat menyolok bahkan sukar dilupakan siapa pun yang pernah bersua dengannya, berarti bukan saja sulit mengelabui Li Tiong- hui, mungkin cau-hua lojin pun akan segera mengenali identitasnya.

Sementara dia masih berpikir, lagi-lagi terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang tiba, Dengan keCepatan bagaikan petir Lim Han-kim menyelinap ke balik sebatang pohon yang cukup besar untuk menyembunyikan diri.

Pada saat itulah teriihat ada dua ekor kuda bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi, orang pertama adalah seorang kakek berwajah hitam pekat seperti pantat kuali, dia tak lain adalah si Hakim hidup ciu Huang, pendekar tua yang cukup disegani umat persilatan Sedang orang kedua tak lain adalah pemilik perkampungan Pit-tim sanceng yang terkenal itu, si Dewa jinsom Phang Thian-hua.

Dua tokoh utama dunia persilatan ternyata bisa muncul bersamaan waktunya di tempat terpencil semacam ini, jelas hal tersebut merupakan bagian dari taktik yang diatur Li Tiong-hui.

Ciu Huang termashur dalam dunia persilatan karena tangan besinya yang tegas lagi ganas. Kaum kurcaci dalam dunia kangouw kebanyakan menjadi keder dan kabur jauh-jauh begitu mendengar namanya.

sebaliknya Phang Thian-hua dipuji orang sebagai Dewa jinsom karena ilmu pertabiban serta obat- obatannya luar biasa, bahkan iapun pandai menggunakan benda berbisa, banyak orang copot nyali menjumpainya.

sekarang, kedua tokoh besar ini muncul bersamaan waktunya. Hal ini membuktikan bahwa keCermatan serta kehebatan berpikir Li Tiong-hui masih jauh berada setingkat di atas seebun Giok-hiong.

Terlihat dua ekor kuda itu melesat lewat dengan keCepatan bagaikan hembusan angin, dalam waktu singkat bayangan mereka sudah lenyap di balik kegelapan malam.

Lim Han-kim menghembuskan napas panjang. Baru saja ia akan menampakkan diri, mendadak terdengar lagi suara ujung baju yang membelah udara bergema tiba. Ketika berpaling, ia saksikan empat orang gadis berbaju hitam yang menggembol pedang meluncur lewat dengan keCepatan tinggi dan bergerak menuju ke arah barat.

Tergerak hati Lim Han-kim melihat itu, pikirnya: "Ditinjau dari keCepatan gerak keempat gadis ini terang kalau mereka punya ilmu silat yang hebat, kenapa mereka bukan kemari dengan menunggang kuda? jelas maksud kehadiran mereka adalah untuk menguntil Ciu Huang serta Phang Thian-hua."

Perubahan situasi makin lama berubah makin pelik,Belalang menubruk comberet, burung nuri mengincar dari belakang, sampai di sini bisa disimpulkan bahwa kemahiran seebun Giok-hiong ternyata jauh melebihi kemampuan Li Tiong-hui.

Peliknya situasi juga semakin merangsang rasa ingin tahu Lim Han-kim untuk menyingkap tabir rahasia ini, pikirnya:

"Kalau dilihat situasi saat ini, jelas sudah posisi Li Tiong-hui terjepit dan amat kritis, sekalipun nona dari bukit Hong-san ini agak egois, paling tidak ia berdiri pada pihak penegak keadilan bagi umat persilatan sebaliknya seebun Giok-hiong meski tidak terlalu jahat, namun sayang sepak terbangnya justru menciptakan kekacauan dan marabahaya bagi dunia persilatan.

Gara-gara dendam pribadi, semua anggota persilatan kena getahnya,jadi bila kedua orang ini dibandingkan, sepantasnya aku membantu pihak Li Tiong-hui."

sudah beberapa bulan persoalan ini berkecamuk di dalam benaknya tanpa memperoleh jawaban yang tepat, baru kini ia memperoleh jawaban yang sesuai dengan perasaan hatinya. begitu keputusan diambil, dengan cepat ia menyelinap kearah gedung yang didiami Cau- hua lojin.

Karena perasaan dan pikirannya makin enteng, otomatis gerak-geriknya juga makin berhati-hati. Dengan menyusup di antara semak belukar, ia mendekati bangunan kokoh itu, jarak beberapa li hanya ditempUhnya dalam waktu sepeminuman teh saja. saat itulah mendadak dilihatnya gedung yang gelap gulita itu kembali bermandikan cahaya,

Lim Han-kim menghentikan gerak langkahnya lebih kurang tujuh-delapan kaki dari kaki bangunan, sementara sorot matanya yang tajam mulai celingukan keempat penjuru berusaha mencari tempat persembunyian keempat gadis berbaju hitam tadi.

Sementara ia masih gelisah karena belum berhasil menemukan jejak keempat gadis tadi, mendadak dari atas sebatang pohon besar, lima kaki dari posisinya berkelebat lewat sesosok bayangan manusia, Gerak tubuh orang itu enteng bagaikan daun kering, ketika melayang turun ke tanah ternyata tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Jarak yang cukup jauh membuat Lim Han-kim tak berhasil melihat jelas raut wajah orang itu, tapi ditinjau dari bentuk badannya yang kecil ramping, delapan puluh persen dugaan dia adalah satu di antara keempat gadis berbaju hitam itu.

Kembali hati Lim Han-kim tergerak. pikirnya: "sekalipun orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, rasanya tidak gampang bagi mereka untuk berhasil menyusup ke dalam gedung itu tanpa diketahui jejaknya, Mumpung situasi dalam gedung saat ini amat pelik dan kacau, asal langkahku berhati-hati, mungkin dengan mud ah aku berhasil menyusup masuk kedalam .. ."

Berpikir sampai di situ, ia segera melompat bangun, berjalan kejalan utama dan mengayunkan langkah menuju kearah pintu gerbang dengan langkah santai.

Waktu itu di depan pintu gerbang berdiri empat orang, dua orang anak buah Li Tiong-hui dan dua orang anggota perguruan cau-hua-bun. sambil berjalan menuju kearah pintu, Lim Han-kim mengayunkan tangan kirinya memberi hormat pada dua orang disebelah kanan, sementara tangan kanannya memberi tanda kepada dua orang di sebelah kiri

Anak buah perguruan cau-hua-bun mengira dia adalah pengikut Li Tiong-hui. sebaliknya dua orang anak buah Li Tiong-hui mengira dia adalah anggota perguruan cau- hua-bun karena wajahnya yang antik, karena itu kedua belah pihak sama-sama membungkam dan tidak mencoba menghalangi jalan lewatnya, dengan begitu Lim Han-kim pun berhasil menyusup masuk ke dalam gedung tersebut secara mudah.

Di balik pintu gerbang merupakan sebuah halaman yang luas, disudut halaman itu didirikan istal darurat yang terbuat dari bambu, sambil berjalan masuk. Lim Han-kim kembali berpikir: "Wajahku yang aneh ini tak akan mampu mengelabui Li Tiong-hui, Li Bun- yang maupun Hongpo Lan, aku mesti menyembunyikan diri lebih dulu." Berpendapat begitu, dengan langkah santai ia berjalan mendekati istal darurat itu, di sana ada dua lelaki sedang memberi makan kuda-kuda yang tertambat di situ, Pada sudut halaman terdapat tungku dengan sebuah kuali besi yang membara, tidak diketahui apa yang sedang dimasak dalam kuali itu?

sambil mengerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia, Lim Han-kim mendekati kuali itu, diambilnya sedikit jelaga lalu diusapkan ke wajah sendiri, setelah itu baru dia berjalan menuju ke pintu lapis kedua.

Terhadap tingkah polah Lim Han-kim itu ternyata kedua lelaki tersebut tidak menegur maupun menyapa, mereka tetap asyik memberi makan kuda-kuda tersebut

Berjalan mendekati ruang tamu, Lim Han-kim saksikan ada delapan buah lilin merah sebesar lengan bocah berdiri di delapan penjuru menerangi seluruh ruangan tersebut Dengan membopong bend era Bengcu-nya Li Tiong-hui duduk di sebuah kursi kebesaran, Li Bun-yang serta Hongpo Lan masing-masing berdiri di kedua sisi gadis tersebut. Delapan orang busu berbaju hitam berdiri berbanjar lebih kurang tiga depa di belakang bangku Li Tiong-hui.

Ketika semakin mendekati ruang ter-sebut, Lim Han- kim dapat melihat keadaan dalam ruangan itu makin jelas, Ternyata empat di antara kedelapan busu berbaju hitam itu tak lain adalah Dewa buas, iblis Jahat, setan Gusar serta sukma murung,

saat itu, keempat gembong iblis tersebut berdiri di belakang dengan sikap serius dan patuh, jauh berbeda dengan sikap liar dan garangnya di masa lampau. Diam-diam Lim Han-kim memuji juga setelah melihat hal ini, pikirnya: "Tak nyana Li Tiong-hui memiliki kemampuan untuk menaklukkan orang, siapa sangka empat manusia buas yang dulu begitu liar dan ganas, kini berubah jadi penurut dan sopan-"

saat itulah terdengar seseorang berkata dengan suara yang dingin tapi tenang: "Maksud baik Li Bengcu biar kuterima dalam hati saja, cuma sayang aliran ilmu silat dari perguruan cau-hua-bun berbeda sekali dengan aliran partai lain dalam daratan Tionggoan. sekalipun aku tak berniat mencari nama dan kedudukan dalam dunia persilatan, namun aku juga enggan tunduk di bawah perintah orang lain"

"jadi, bagaimana maksud Anda?" tukas Li Tiong-hui dingin.

"Maksudku, perguruan cau-hua-bun hanya ingin tancapkan kaki dalam dunia persilatan, Mengtnai masalah perselisihan antara Li Bengcu melawan perguruan bunga bwee, aku tak ingin terlibat ataupun turut campur. prinsipku, selama orang lain tidak mengusikku, aku pun tak akan mengganggu orang lain, Asal Li Bengcu maupun perguruan bunga bwee tidak mengusik keberadaanku, aku juga tak bakal memihak salah satu di antara kalian"

"Locianpwee, pendapatmu itu sama sekali tidak sesuai" terdengar seseorang berseru nyaring, "Kau harus tahu, kedudukan Bu- lim bengcu bukanlah kedudukan sembarangan, ia berkuasa untuk memerintah semua umat persilatan di dunia ini, tidak terkecuali perguruan Cau-hua-bun" Lim Han-kim merasa amat kenal dengan suara ini, ia segera mengenalinya sebagai suara dari Li Bun- yang, buru-buru ia maju beberapa langkah untuk melihat lebih jelas.

Tampak seorang kakek berbaju pendeta duduk di kursi kebesaran ditengah ruang tamu, sambil tertawa hambar ia berkata: "Boleh aku tanya, kalau perguruan bunga bwee boleh berdiri sendiri tanpa menuruti perintah kalian, kenapa aku mesti turuti perintah kalian?"

"Justru karena perguruan bunga bwee tidak mentaati perintah Bengcu, maka perselisihan ini terjadi, Bila kalian mau berkomplot dengan mereka, terpaksa semua perguruan dan partai di dunia persilatan akan bersatu padu untuk membasminya"

Cau-hua lojin segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak: "Ha ha ha... siapa kau, berani amat bicara tak sopan di hadapanku?"

"Locianpwee tak usah susah-susah menyelidiki asal- usul serta namaku, selama ada Bu-lim Bengcu hadir di arena, maka setiap pembicaraanku bisa kau anggap sebagai ucapan dari Bengcu pribadi"

"seandainya aku tak bersedia menuruti kemauan kalian, apakah tindakan ini bisa disebut penghianatan terhadap Li Beng-cu?"

"Apabila perguruan cau-hua-bun enggan mentaati perintahku, terpaksa hanya tersedia dua jalan untuk kau pilih" tukas Li Tiong-hui dengan suara sedingin es.

"Dua jalan yang mana?" "Kau umumkan kepada seluruh umat persilatan bahwa mulai hari ini perguruan Cau-hua-bun telah membubarkan diri"

"Boleh tahu jalan kedua?"

"Jika kau enggan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan serta membubarkan diri, terpaksa aku harus turunkan perintah untuk membasmi perguruan cau-hua-bun dari muka bumi"

"Apakah mungkin masih ada jalan ketiga?" "Tak akan ada jalan ketiga Nah, bagaimana

keputusanmu? Harap kau segera memberikan jawaban" ucap Li Tiong-hui teg as.

"Baiklah" Cau-hua lojin segera bangkit berdiri. "Berilah kesempatan kepadaku untuk mempertimbangkan masalah ini. Besok sebelum tengah hari aku akan menjawab pertanyaan Li Bengcu ini"

"Aku rasa terlalu lama untuk menunggu hingga tengah hari esok. Aku rasa bukan hal yang sulit untuk kemukakan pendapatmu sekarang juga, jadi tak perlu mengulur waktu lagi."

cau-hua lojin menjadi naik pitam, teriaknya penuh amarah: "Ketika dilakukan pemilihan untuk mengangkat Bu- lim Bengcu, perguruan cau-hua-bun toh tidak mengirim wakil untuk ikut dalam pemilihan tersebut, atas dasar apa kalian hendak mengurusi perguruan kami?"

"Aku tak ingin memberi pelajaran kepada orang yang tak tahu urusan, jadi sebelum pertarungan terjadi, aku wajib menerangkan dulu hal ikhwal ini padamu." "Ha ha ha... kalau begitu aku akan pasang telinga baik-baik untuk mendengarkan penjelasanmu"

"Kini, sekeliling bangunanmu sudah dikepung oleh jago-jago pilihan kami. begitu pertarungan terjadi, jangan harap anak buahmu berhasil meloloskan diri dengan selamat"

"Soal itu sudah berada dalam dugaanku."

"Jadi kau terima tantangan bertempur daripada takluk?" potong Li Tiong-hui tiba-tiba sambil bangkit berdiri.

Berubah paras muka Cau-hua lojin, serunya: "Aku paling tak suka digertak, apalagi diancam orang lain."

Li Tiong-hui tidak banyak bicara lagi. ia kebaskan panji Bengcu ditangannya memberi tanda, Empat di antara delapan orang Busu berbaju hitam yang berdiri di belakangnya segera melesat maju ke depan dan melakukan pengepungan. Mereka tak lain adalah Dewa buas, iblis jahat, Setan gusar dan Sukma murung.

"Kurang ajar" umpat Dewa buas garang. " Hanya perguruan kecil macam Cau-hua-bun- juga berani membangkang perintah Bengcu?"

Cau-hua lojin tertawa hambar "Siapa kau?" tegurnya.

Dewa buas tertawa dingin, "Kami adalah pengawal pribadi yang melindungi keselamatan Bengcu"

"Mungkin kau belum mengenali kami berempat," sambung iblis jahat cepat "Tapi nama besar kami, Dewa buas, iblis jahat, setan gusar dan Sukma murung tentu kau pernah mendengarnya bukan? " Cau-hua lojin tertawa terbahak-bahak: "Ha ha ha... sungguh tak disangka, sungguh tak disangka..."

"Apanya yang tak kau sangka?" hardik setan gusar keras-keras,

" Empat manusia buas yang begitu tersohor dalam dunia persilatan ternyata rela menjadi budak orang dengan mengangkat diri sebagai pengawal pribadi, kejadian ini benar-benar di luar dugaan-"

"Tua bangka celaka, rupanya kau sudah bosan hidup?" teriak sukma murung geram.

Belum sempat Cau-hua lojin menanggapi bentakan itu, mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu di tengah arena sudah muncul seorang bocah berpedang yang langsung membentak penuh amarah: "Kau berani mengumpat guruku?" sreeett sebuah tusukan kilat langsung dilepaskan

Dengan Cekatan sukma murung menggerakkan tubuhnya berkelit ke samping, kemudian sebuah pukulan balasan di-lepaskannya, Deruan angin serangan yang memekikkan telinga segera bergema memenuhi arena.

Lim Han-kim segera mengenali bocah itu sebagai Yu siau-Iiong, adik seperguruannya, diam-diam ia mengeluh, pikirnya: " Keempat manusia buas itu tersohor karena ilmu silatnya yang tinggi dan hebat, mana mungkin Yu Siau-liong bisa menandingi-nya?"

Dalam cemas dan paniknya, tanpa terasa ia geserkan kembali tubuhnya langsung menuju ke depan gedung, Dalam saat itu Yu siau-liong telah memutar pedangnya sedemikian kencang hingga dalam waktu singkat ia telah lepaskan delapan buah tusukan berantai.

Lim Han-kim mendapati jurus pedang yang dipergunakan adik seperguruannya ini telah mengalami perubahan yang amat besar, pelik, aneh, ganas dan jauh lebih buas ketimbang dulu, tanpa terasa kembali ia berpikir "Tampaknya ia sudah mempelajari ilmu silat aliran Cau-hua-bun, tak aneh jika jurus serangannya begitu ganas dan buas."

Melihat kemajuan pesat yang dicapai Yu siau-liong ini, Lim Han-kim tak bisa mengatakan apakah dia girang atau murung karenanya.

sementara itu, dalam perkiraan sukma murung bocah kecil yang dihadapinya saat itu dapat diringkus hanya dalam dua-tiga gebrakan saja, siapa nyana apa yang kemudian terjadi sama sekali di luar dugaannya, jangan dilihat bocah itu masih muda usia, namun permainan jurus pedangnya benar-benar buas dan garang, walaupun sudah delapan gebrakan mereka bertarung, bukan saja sukma murung tak berhasil merebut senjata lawan, malahan ia sempat dipaksa mundur dua langkah oleh teteranpedang lawan.

Kejadian ini kontan saja membangkitkan sifat buas sukma murung, sambil membentak nyaring ia lancarkan pukulan-pukulan yang maha dahsyat.