-->

Pedang Keadilan II Bab 21 : kekasih Bagaikan orang Asing

 
Bab 21. kekasih Bagaikan orang Asing

sadar kalau wajahnya yang berwarna-warni paling gampang menarik perhatian orang, maka ia berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah tergesa-gesa, ternyata para penjaga pintu pun tidak berniat menghalanginya.

Dengan langkah cepat ia menempuh perjalanan sejauh puluhan li sebelum memperlambat kembali langkahnya, sambil menghembuskan napas panjang, tiba-tiba saja ia merasa perutnya amat lapar. Rupanya

selama berada di rumah makan tadi ia hanya minum arak sambil melamun terus, jadi tak heran kalau ia mulai merasa lapar setelah menempuh perjalanan sekian jauh.

Lim Han-kim mencoba memeriksa keadaan di sekitarnya. Di antara bentangan ladang nan hijau, lebih kurang dua-tiga li ke arah Barat-laut, di bawah sebatang pohon besar ia jumpai ada sebuah warung arak.

Selama beberapa waktu belakangan ini Lim Han-kim betul-betul menjalani kehidupan sebagai seorang pengembara. ia tak pernah memilih tempat untuk menginap dan rumah makan untuk ber-santap. bahkan kalau kemalaman di tengah hutan ia tak segan-segan mengisi perutnya dengan hasil buruan dan tidur di alam ter-buka, ia seolah-olah sudah tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap kejadian apa pun di dunia ini. Dia pun tidak mempercayai siapa pun- satu-satunya orang yang tak pernah dilupakannya hanyalah Pek si-hiang yang lemah lembut.

Gaya dan sikap Li Tiong-hui sebagai seorang Bu-lim Bengcu meski memberikan sedikit rangsangan baginya, namun rangsangan itu ibarat sebutir kerikil yang dilempar ke dalam kolam, hanya terjadi sedikit riak yang kemudian pulih kembali dalam ketenangan kegagahan serta kehebatan seorang Bu-lim Bengcu sama sekali tidak membangkitkan semangat serta ambisinya untuk bersaing dengan orang lain-

Tampak sebuah rumah gubuk yang terbuat dari bambu berdiri di tepijalan, Gubuk itu dibangun persis menempel pada sebuah hutan- sebatang pohon Pek- yang berdiri tegar di depan rumah gubuk itu. Dua meja dengan delapan bangku bambu menciptakan sebuah warung makan kecil yang amat sederhana,

Pelan-pelan Lim Han-kim melangkah masuk dan mencari sebuah tempat duduk dekat jendela, lalu dengan suara keras teriaknya: "Ada orangkah di sini?"

walaupun hanya sebuah warung kecil yang sederhana, ternyata keadaannya amat bersih dan rapi, meja maupun bangku bambu semuanya bersih.

Terdengar seseorang menyahut dengan suara yang lembut: "Tunggu sebentar" Dari balik tirai muncullah seorang gadis berbaju biru.

Perasaan hati Lim Han-kim segera tergerak setelah memandang gadis itu sekejap. pikirnya: "Aneh, dari mana munculnya seorang gadis secantik ini di tengah hutan sepi begitu?"

Gadis itu mempunyai sebuah kuncir yang panjang sepinggang dengan sebuah pita merah menghiasi pangkalnya, Matanya bening, hidungnya mancung dan bibirnya kecil menarik dengan dua baris gigi yang putih bersih.

"Tuan, mau pesan apa?" tanyanya sambil tertawa. sebetulnya ia muncul dengan senyuman dikulum, tapi begitu melihat wajah Lim Han-kim yang aneh menyeramkan senyumannya kontan lenyap. sedang tubuhnya berdiri tak berkutik,

Agak tersipu-sipu Lim Han-kim tundukkan kepalanya rendah-rendah, sahutnya: "ToIong siapkan sepoci arak dengan empat macam hidangan"

sebetulnya dia masih ingin memesan nasi atau kueh sejenisnya, tapi mengingat gadis itu memandangnya dengan sikap muak. la pun tak berani banyak bicara lagi,

Begitu hidangan siap. ia segera menyantap dengan terburu-buru, lalu setelah meletakkan sekeping uang perak di meja, buru-buru ia beranjak dari tempat itu.

siapa sangka baru saja badannya bangkit bediri, tiba- tiba kepalanya terasa sangat berat, matanya berkunang- kunang dan tak tahan lagi tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Berbareng dengan robohnya ia ke lantai, gadis cantik berbaju biru itu muncul kembali dari balik ruangan dengan tangan kanan menggenggam sebilah pisau pendek, tangan kiri membawa seutas tali yang kuat.

Waktu itu kesadaran Lim Han-kim belum hilang meski badannya sudah roboh lemas di lantai, sambil berusaha merangkak bangun tegurnya: "Nona, kita tak punya ikatan dendam maupun sakit hati, kenapa kau campuri hidanganku dengan racun?"

Ia betul-betul bingung, ia tak tahu apa sebabnya gadis yang berdiam di warung terpencil ini meracuni dirinya, padahal seingatnya dia tak punya ikatan dendam apa- apa dengannya.

Terdengar gadis itu berseru sambil tertawa dingin- " orang tuaku, saudara-saudaraku..."

Tampaknya racun yang dibubuhkan ke dalam hidangan itu sangat keras dan kuat, walaupun Lim Han- kim sudah mencoba bertahan dengan mengandalkan ilmu silatnya, toh akhirnya ia tidak tahan juga, ia merasa racun itu mulai menyerang ke otaknya, seluruh kekuatan badannya hilang seketika dan tak ampun lagi ia terjerembab ke lantai dalam keadaan tak sadar, otomatis kata-kata berikut yang diucapkan gadis itu pun tak sempat terdengar olehnya.

Entah berapa lama sudah lewat... Tatkala tersadar kembali dari pingsannya, ia menjumpai dirinya terduduk dalam sebuah kerangkeng besi. pinggiran kerangkeng berupa tiang besi yang besar, sementara sepasang lengan dan kakinya diikat dengan otot kerbau yang diikatkan pula pada tirai besi kerangkeng itu.

Lamat-lamat dia cun mendengar suara roda kereta yang bergelinding disertai goncangan yang cukup keras, nampaknya ia berada dalam kereta yang sedang bergerak melintasi jalan pegunungan.

Setelah berhasil menenangkan pikirannya Lim Han-kim mencoba mengerahkan ketajaman matanya untuk memeriksa sekeliling tempat itu. ia menjumpai dirinya berada dalam sebuah kereta yang cukup lebar, tapi sekeliling ruang kereta itu ditutup dengan kain hitam yang tebal sehingga tak bisa nampak pemandangan di luar sana. Mendadak dari sisi kirinya kedengaran seseorang berteriak dengan suara nyaring:

" Kala u hendak dibunuh ayoh bunuhlah, kalau cuma mengurungku terus di sini, jangan salahkan bila aku mulai meng umpak"

seseorang dengan nada yang dingin menggidikkan sebera menjawab: "Hmmmm Bila Anda tak ingin disiksa hingga menderita, lebih baik sedikitlah tahu aturan. Kalau kau berani mengumpat lagi, jangan salahkan bila kusumbat mulutmu yang bau itu"

Mendengar tanya jawab itu, diam-diam Lim Han-kim berpikir: "Bagus, rupanya masih ada rekan lain yang menemani aku"

Ketika ia berpaling, tampaklah sebuah kerangkeng besi lain diletakkan berjajar dengan kerangkeng yang digunakan untuk membelenggu dirinya. Dalam kerangkeng tersebut duduklah seorang lelaki berbaju serba hitam.

Tampaknya lelaki berbaju hitam itu sudah tahu sedari tadi kalau Lim Han-kim terkurung di situ. Begitu melihat pemuda itu berpaling, ia segera menegur "Hei, sejak kapan kau telah mendusin?"

orang yang mengalami nasib sama seringkali gampang menimbulkan simpati rekan senasib lainnya, Begitu juga Lim Han-kim sekarang, walaupun kesannya terhadap orang itu tak terlalu mendalam, toh ada juga perasaan simpati di hatinya, maka dengan suara dasar sahutnya: "Aaaah, aku baru saja mendusin-"

"Apakah kau anggota perguruan bunga bwee?" Lim Han-kim tertegun seketika, pikirnya: "Waaah... jangan-jangan nona dari warung makan itu salah mengira aku adalah anggota perguruan bunga bwee hingga tak heran kalau dia meracuni hidanganku"

Berpikir demikian dia pun menjawab: "Bukan, aku bukan anggota perguruan bunga bwee"

"Kalau begitu sungguh aneh, Kalau kau bukan anggota perguruan bunga bwee, kenapa mereka menyekapmu di tempat ini?"

Lim Han-kim tertawa getir. "Mungkin saja hal ini disebabkan tampangku yang kelewat aneh dan jelek hingga gampang menimbulkan kecurigaan orang lain, lalu aku dianggap sebagai anggota perguruan bunga bwee,"

Tiba-tiba lelaki berbaju hitam itu merendahkan suaranya dan berbisik lagi: "Kau betul-betul bukan anggota perguruan bunga bwee?"

Suaranya begitu lirih sampai Lim Han-kim harus pasang telinga baik-baik untuk mendengarnya .

"Sungguh, aku bukan anggota perguruan bunga bwee" Lim Han-kim manggut-manggut,

Sambil tertawa dingin lelaki berbaju hitam itu melengos ke arah lain dan tidak menggubris anak muda itu lagi

Sesungguhnya banyak pertanyaan yang ingin diajukan Lim Han-kim kepada orang itu, namun sikap dingin dan kaku yang diperiihatkan lelaki berbaju hitam itu memaksanya harus menelan kembali niatnya ini. Untung saja selama berapa waktu belakangan ini ia sudah hambar mengurusi masalah lain, karena itu dia pun melengos ke arah lain dan tidak menggubris lelaki itu lagi.

Entah berapa lama sudah lewat... Mendadak kereta itu berhenti bergerak, Di susul kemudian tirai hitam yang menutupi ruang kereta itu disingkap. cahaya matahari pun mencorong masuk, seorang lelaki berpakaian ringkas munculkan diri dalam ruang kereta, Mula-mula dia membuka dulu kerangkeng yang mengurung Lim Han- kim. Dengan selembar saputangan ia tutup mata pemuda tersebut dan menuntunnya turun dari kereta itu.

Biarpun matanya ditutup kain hitam, namun Lim Han- kim dapat merasakan angin kencang yang menghembus bajunya, ia perkirakan dirinya sedang diajak menelusuri jalan di lapangan yang luas.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba didengarnya seseorang berseru dengan suara dingin: "Ayoh duduk"

"suruh duduk yaa duduk." batin Lim Han-kim, tanpa banyak bicara ia jatuhkan diri untuk duduk. la merasa sekitar tempat ini tak ada hembusan angin, agaknya dia sudah dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan tertutup.

Tak lama kemudian terdengar seseorang dengan suara yang berat dan kasar menegur "Jika tak ingin mencicipi siksaan badan, lebih baik jawab semua pertanyaanku sejujurnya"

Dengan perasaan heran Lim Han-kim berpikir. "Disuruh menjawab? Apa yang harus kujawab?" Belum habis ingatan tersebut me- lintas, suara orang itu terdengar lagi bergema di situ. "Berapa orang rombonganmu?"

"Hanya aku seorang"

"omong kosong Kami berhasil menangkap empat orang, mana mungkin hanya kau seorang diri? Hmmm, nampak-nya.,."

Belum selesai perkataan itu disampaikan, mendadak terdengar dua kali jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan- disusul kemudian suasana berubah amat hening.

Lim Han-kim dapat merasakan bahwa suatu kejadian besar telah terjadi di situ, hanya sayang lengan dan kakinya masih dibelenggu otot kerbau yang kuat dan matanya ditutup dengan kain hitam hingga ia tak bisa melihat peristiwa itu, Dalam keadaan begini, terpaksa ia hanya duduk tenang sambil menanti terjadinya perubahan lain.

Betul juga, terasa ada sebuah tangan menyentuh sapu tangan yang menutupi matanya lalu membuka ikatan tersebut

Begitu sapu tangan itu terlepas, ia segera periksa keadaan di sekeliling-nya. Ternyata saat itu dia berada dalam sebuah kuil, dua sosok mayat tergeletak berjajar di depan meja sembah-yang. seorang lelaki berpakaian ringkas warna hijau dan seorang gadis berbaju hitam yang memakai kain cadar hitam sedang berbincang dengan suara amat lirih. selama waktu-waktu terakhir ini boleh dibilang Lim Han-kim tak pernah memikirkan urusan yang menyangkut dunia persilatan, tapi situasi dan keadaan yang dihadapinya sekarang mau tak mau memaksanya harus putar otak untuk menganalisa situasi itu.

secara samar ia dapat menyimpulkan bahwa dalam dunia persilatan saat ini sedang berlangsung suatu lomba pembantaian secara diam-diam, Masing-masing pihak telah mengirim jago-jago pembunuh gelapnya untuk menumpas mata-mata pihak lawan. Hal itu berarti pertarungan ini tentu akan menyeret pula banyak rekan persilatan yang tak terlibat ke dalam gejolak tersebut.

Tampak lelaki berbaju hijau itu pelan-pelan berpaling, lalu dengan sorot matanya yang tajam ia memandang Lim Han-kim sekejap. Tiba-tiba ia cabut keluar sebilah pisau belati dan dibacokkan ke atas otot kerbau yang membelenggu tangan dan kaki nya.

sambil mengendorkan anggota badannya yang kaku, Lim Han-kim kembali berpikir " Kejadian ini betul- betul suatu pengalaman yang unik, Mula-mula ditangkap orang tanpa sebab, dinaikkan ke dalam kereta berkerangkeng, sekarang aku dibebaskanpula tanpa alasan, betul-betul aneh...

Ketika ia berpaling lagi, tampak lelaki tersebut sedang melucuti pakaian yang dikenakan salah satu mayat itu lalu dikenakan ke tubuhnya dengan cepat.

Lim Han-kim hanya menyaksikan semua ulah lelaki itu tanpa komentar, sementara hati kecilnya benar-benar terkesiap. pikirnya: Ternyata kedua belah pihak telah melangsungkan pertarungan jarak dekat, bahkan masing-masing pihak menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-citanya

sementara dia masih melamun, terdengar gadis bercadar hitam itu sudah berkata lagi: "Kau telah hapal dengan nama serta riwayat hidupnya?"

"Yaa, sudah hapal"

"Kalau begitu coba ulangi di hadapanku"

"Aku dari marga Phoa bernama Kao, berasal dari bukit Bong-lay di propinsi shan-tung..."

Gadis itu sebera manggut-manggut dan menukas: "Nah, berangkatlah dengan hati-hati"

setelah membungkukkan badannya memberi hormat, lelaki berbaju hijau itu segera beranjak pergi dengan langkah lebar

Memandang bayangan punggung yang menjauh itu diam-diam Lim Han-kim berpikir. "orang ini menyamar sebagai Phoa Kao, aku mesti ingat baik-baik nama tersebut..."

Tiba-tiba terdengar suara nona itu bergema lagi: "Gotong kedua sosok mayat itu dan sembunyikan ke belakang arca"

Lim Han-kim menoleh memandang gadis berbaju hitam itu sekejap. kemudian tanyanya: "Nona sedang bicara dengan aku?"

Gadis berbaju hitam itu mendengus marah, teriaknya: "Kalau bukan bicara denganmu, lalu kau anggap aku sedang berbicara dengan kedua sosok mayat itu? Kau anak buah siapa? Benar-benar berotak bebal dan tak ada gunanya"

sedih juga Lim Han-kim kena disemprot gadis tersebut, pikirnya: "Jelek-jelek begini aku Lim Han-kim masih seorang lelaki tulen, masa aku mesti diumpat habis-habisan oleh seorang gadis macam dia?"

suatu niat untuk melawan yang sangat kuat segera muncul dari lubuk hatinya dan mencekam perasaannya, kembali ia berpikir. "Kelihatannya susah juga bagi seorang manusia untuk melepaskan diri dari kelompok manusia, apalagi tidak mencampuri urusan orang lain, kecuali aku hidup memencil seorang diri di puncak gunung atau tengah hutan-.."

Gadis berbaju hitam itu makin gusar ketika dilihatnya Lim Han-kim masih berdiri tak berkutik dari tempat semula, telapak tangannya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan.

Lim Han-kim sama sekali tak menduga dirinya bakal ditabok orang, Untuk menghindar jelas sudah tak sempat lagi, tak ampun dadanya kena dihajar telak hingga badannya terjerumus maju dua langkah dan menumbuk di atas dinding ruangan.

sesungguhnya pada saat itu sudah timbul niatnya untuk melawan, maka begitu termakan hantaman tersebut, hawa amarahnya makin meledak, Baru saja dia akan melancarkan serangan balasan, mendadak jalan darah Mia-bun-hiatnya terasa kaku dan tahu-tahu sudah dicengkeram oleh gadis bercadar hitam itu.

Mia-bun-hiat merupakan jalan darah kematian di tubuh manusia, Apabila lawan menghentakkan tenaga dalamnya, niscaya urat nadi dalam tubuh Lim Han-kim akan tergetar putus.

Dalam situasi kritis antara hidup dan mati inilah pelbagai ingatan melintas dalam benak pemuda itu, pikirnya: "Dalam keadaan begini, bila aku salah menjawab sepatah kata saja niscaya dia akan membinasakan aku. Kalau mesti mati dalam keadaan begini, rasanya kematianku kelewat konyol..."

Sementara dia masih termenung, gadis berbaju hitam itu telah menegur lagi dengan suara ketus: "Avoh jawab, kau anak buah siapa?"

Dalam paniknya tanpa berpikir panjang lagi Lim Han- kim menyahut: "Aku bekerja di bawah perintah nona Siau-cui"

Ia tak berani memastikan identitas gadis berbaju hitam itu, tapi menurut pengamatan serta analisanya, besar kemungkinan dia adalah anak buah pemilik bunga bwee oleh sebab itulah dia pun sadar bahwa jawaban yang diberikan sekarang merupakan keputusan final bagi-nya.

Apabila menjawab dengan benar, maka dia bakal selamat tapi kalau salah menjawab, jiwanya tentu akan melayang, Tiba-tiba tekanan pada jalan darah Mia-bun- hiatnya mengendor, disusul kemudian terdengar gadis berbaiu hitam itu berkata sambil tertawa merdu: "Ternyata kau anak buah nona Cui, kalau begitu harap dimaafkan atas kekasaranku barusan"

Ketika Lim Han-kim berpaling kembali, ia menjumpai nona berbaju hitam itu sudah menanggalkan kain cadar mukanya hingga kelihatan wajahnya yang cantik, sedikit jalang, dengan bibir yang kecil serta dua baris gigi yang putih bersih.

Kalau dibilang cantik sebetulnya gadis ini masih termasuk golongan kelas dua. Namun ia justru memiliki daya tarik. daya rangsangan yang luar biasa bagi setiap lelaki yang memandangnya, tidak terkecuali Lim Han- kimsaat ini, ia merasa hatinya bergetar keras dan tiba- tiba napsu birahinya timbul.

Dalam keadaan begini buru-buru anak muda itu melengos ke arah lain sambil sahutnya: "Yang tidak tahu tidak salah ..."

Kembali gadis berbaju hitam itu ter-senyum. "siapa sih namamu?"

Dengan perasaan kaget Lim Han-kim berpikir " Kenapa ia menanyakan namaku? Jangan-jangan sudah menaruh curiga padaku ...?" Cepat-cepat ia menyahut: "Aku dari marga Pek"

Karena selama ini yang dipikirkan siang malam hanya Pek si-hiang seorang, tanpa disadari ia menjawab dengan menggunakan nama marga gadis itu.

"oooh, rupanya saudara Pek" seru si nona sambil tertawa, "sudah lama bekerja di bawah pimpinan nona Cui?"

Kembali Lim Han-kim putar otak sambil berpikir: "Kelihatannya dia sudah mulai curiga, kalau sikapku ragu dan tidak tegas, jelas rasa curiganya akan semakin bertambah." Berpikir begitu, ia pun menyahut dengan suara dingin "Sudah hampir dua tahun aku bekerja di bawah perintah nona siau-cui"

senyum genit yang semula menghiasi wajah gadis berbaju nitam itu mendadak sirna, Dengan matanya yang jeli dia mencoba awasi wajah Lim Han-kim tanpa berkedip. tegasnya: "Masa sudah selama itu? Kenapa aku belum pernah bersua denganmu? semestinya aku kenali saudara Pek"

"Celaka . . ." batin Lim Han-kim. "Bila interogasi ini dilanjutkan, niscaya kebohonganku bakal terbongkar semua. Nampaknya aku mesti sedikit menggertaknya" sambil menarik wajahnya ia balik menegur dengan suara dingin "Kau bekerja di bawah perintah siapa?" 

Gadis berbaju hitam itu termenung sejenak. lalu jawabnya: "Aku bekerja di bawah perintah Delapan gadis genit"

"Tak heran dia begitu jalang dan liar," pikir Lim Han- kim. "Rasanya cuma seebun Giok-hiong yang bisa menciptakan nama julukan seaneh itu."

sambil mendeham pelahan, ia berkata kemudian: "Rupanya nona adalah orangnya Delapan gadis genit, tak heran ilmu silatmu begitu tangguh."

"saudara Pek terlalu memuji."

"Terima kasih banyak atas pertolongan nona hari ini, bila aku bersua dengan nona Cui nanti, kejadian ini pasti akan kulaporkan secara terperinci" Gadis berbaju hitam itu tertawa, buru-buru serunya: "Aku menempati urutan keenam dalam Delapan gadis genit, bila saudara Pek bersua dengan nona Cui nanti, ia pasti akan segera tahu bila kau menyinggung soal ini."

"Maaf, aku tak dapat berhenti lama di sini, Karena masih ada tugas penting, aku ingin mohon diri lebih dulu." selesai beri hormat dia pun beranjak pergi dengan langkah lebar.

Memandang bayangan punggung Lim Han-kim yang menjauh, nona berbaju hitam itu seperti ingin mengucapkan sesuatu namun niat itu ia urungkan kemudian

Keluar dari pintu kuil, buru-buru Lim Han-kim lari masuk ke balik semak belukar dan menyembunyikan diri di situ.

Betul juga, tak lama kemudian gadis berbaju hitam itu sudah mengejar keluar dengan langkah cepat, setelah memeriksa sekeliling tempat itu sekejap. ia segera berangkat ke arah utara.

Hingga gadis itu lenyap dari pandangan Lim Han-kim baru menghembuskan napas panjang, pikirnya: "Pergolakan dalam dunia persilatan memang penuh menyimpan hawa pembunuhan yang mengerikan Meski kau tidak mengganggu orang lain, tidak dijamin kau tak bakal diganggu orang lain, Rasanya memang tidak gampang bagiku untuk melepaskan diri dari urusan dunia persilatan. Kalau toh susah melepaskan diri, kenapa aku tidak sekalian terjun kembali ke dalam kancah pergolakan itu..?" Berpikir demikian, tanpa terasa semangatnya bangkit kembali, sebagaimana diketahui, selama beberapa waktu belakangan ini semangat Lim Han-kim selalu tenggelam dan meredup, ia berusaha menghindari perselisihan dengan orang lain dan tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi.

Ia telah berhasil mempelajari cara menahan diri yang mungkin tak bisa dilakukan orang lain, memandang hambar semua perselisihan dan bentrokan yang terjadi dalam dunia persilatan. Dia ingin menjauhkan diri dari semuanya itu dan bersikap acuh tak acuh, Namun sayang apa yang diharapkan sukar terpenuhi, perselisihan yang semakin berkembang meluas dalam dunia persilatan memaksanya untuk terlibat kembali, seakan-akan tak seorang manusia pun bisa melepaskan diri dalam kancah pergolakan dan perubahan besar yang sedang berlangsung dalam dunia persilatan ini.

pengalaman serta kejadian yang dialaminya berulang kali memaksa semangatnya yang sudah tenggelam dan meredup itu untuk bangkit dan berkobar kembali, Ketika ingatan tersebut melintas cepat di dalam benaknya, semangatnya segera berkobar-kobar kembali, sambil busungkan dada ia melanjutkan perjalanannya dengan langkah lebar.

ia mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, namun suasana amat hening, jangan lagi bayangan manusia, bahkan kereta tahanan yang berisi kerangkeng besipun sudah pergi entah ke mana.

suasana di sekeliling tempat itu amat hening, sepi, bagaikan di tengah tanah pekuburan, Lim Han-kim merasakan semangatnya bergolak keras, sambil berpekik nyaring ia menerobos kegelapan bergerak maju ke depan.

Kalau di masa lalu ia berusaha menghindari masalah, tapi setiap kali justru harus menghadapi banyak kejadian, maka sekarang ia berharap bisa menjumpai sedikit masalah tapi nyatanya tak satu kejadian pun dijumpainya...

Tak selang berapa saat kemudian, tibalah dia di tengah sebuah dusun, Dari kejauhan ia saksikan ada sebuah kereta yang cukup mewah nampak diparkir di depan sebuah bangunan yang amat besar, sebuah bangunan besar dibangun di tengah dusun yang sepi dan terpencil, keberadaan bangunan tersebut boleh dibilang sangat menyolok mata.

Menyaksikan bangunan megah serta kereta kuda yang mewah itu tiba-tiba rasa curiga menyelimuti benak Lim Han-kim, pikirnya: "Aku toh tidak khawatir menghadapi masalah, kenapa tidak langsung kuserbu masuk ke dalam halaman bangunan itu?"

Berpikir begitu, dia ipun melangkah menuju ke arah bangunan tersebut, Pintu gerbang berwarna hitam berada dalam keadaan setengah terbuka, ketika Lim Han-kim menolaknya, pintu itu segera terpentang lebar.

Di balik pintu terdapat sebuah halaman yang sangat luas dengan aneka macam bunga yang tumbuh dalam pot-pot bunga, anehnya ternyata tak nampak sesosok bayangan manusia pun. Lim Han-kim termenung sebentar, lalu ia terobos halaman yang penuh bunga itu menuju ke pintu kedua. Ternyata pintu kedua pun tidak dalam keadaan terkunci.

Lim Han-kim menolak pintu kedua itu, ia saksikan sebuah jalan yang beralas batu putih terbentang ke dalam langsung berhubungan dengan sebuah ruangan besar. Kedua sisi jalan beralas batu itu pun dalam keadaan bersih dan terawat, namun anehnya tidak nampak juga bayangan manusia di situ.

Keheningan yang mengerikan dan menggidikkan hati benar-benar menyelimuti seluruh bangunan tersebut, membuat Lim Han-kim tanpa terasa bergidik dan jantungnya berdebar keras.

Agak ragu ia berdiri sejenak di pintu lapis kedua ini, tapi kemudian setelah mengerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia, kembali ia melanjutkan perjalanannya ke dalam, pengalaman yang dialaminya berulang kali selama waktu belakangan ini membuat kewaspadaan anak muda ini semakin meningkat, sikapnya pun makin tenang dan mantap.

selesai menelusuri jalan setapak beralas batu putih itu, ia menaiki anak tangga sebanyak lima tingkat dan sampailah di depan pintu ruangan yang tertutup rapat, Dalam perkiraan Lim Han-kim, pintu ruangan ini pun pasti tidak dalam keadaan terkunci karena sepanjang jalan pintu-pintu yang dilalui terbuka semua, Kali ini dia pun menolak pintu itu ke dalam.

siapa sangka apa yang terjadi ternyata sama sekali di luar dugaannya, Pintu ruangan ini ternyata dikunci dari dalam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa di dalam ruangan itu ada penghuninya.

setelah berpikir sebentar, Lim Han-kim menegur dengan suara lantang: "Ada orangkah di sana?"

sampai berapa kali ia mencoba memanggil, namun tak kedengaran suara jawaban dari balik ruangan itu.

Kejadian ini kembali di luar dugaannya, mendatangkan rasa bimbang dan curiga yang makin tebal di dalam benak pemuda itu. Dengan perasaan sangsi segera pikirnya: "Bagaimana pun aku toh sudah sampai di sini, kenapa tidak kuselidiki hingga tuntas?" Tenaga dalamnya segera dihimpun ke dalam telapak tangan nya dan pintu ruangan itu ditolak keras-keras,

Agaknya pintu ruangan dibangun sangat kokoh dan kuat, Dengan dorongan Lim Han-kim yangpaiing tidak mengandung kekuatan di atas lima ratus kati pun, kenyataannya pintu tersebut tidak bergeming sedikit pun.

Dengan rasa tercengang Lim Han-kim berpikir: "seandainya dalam ruangan ini ada penghuninya, teriakanku tadi tentu akan menimbulkan reaksi, Tapi kalau dibilang tak ada orangnya, kenapa pintu ruangan ini dikunci dari dalam?"

Makin dipikir ia semakin keheranan, rasa ingin tahunya juga makin tebal, dengan tekad yang makin bulat ia berteriak: "saudara yang berada dalam ruangan, kalian betul-betul tak tahu sopan santun, masa kedatangan tamu pun tidak disambut? Baiklah, terpaksa aku harus masuk sendiri" setelah mundur dua langkah, dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya ia menumbuk pintu ruangan itu keras-keras, Blaaammm

Diiringi suara benturan yang memekikkan telinga, pintu ruangan itu segera terpentang lebar

Dengan pengalamannya yang semakin bertambah, Lim Han-kim tak berani menerjang masuk ke dalam ruangan itu secara gegabah kendatipun pintu ruangan sudah terbuka lebar, Bukannya maju, dia malah mundur sejauh dua langkah sambil menunggu terjadinya suatu perubahan

Ketika itu malam sudah semakin kelam, suasana dalam ruangan itu lebih-lebih lagi gelap gulita susah untuk melihat jelas pemandangan di dalam ruangan itu.

Lim Han-kim menunggu beberapa saat lagi. Melihat belum juga ada sesuatu gerakan, maka pelan-pelan ia berjalan menuju ke dalam ruangan. sambil mengayunkan langkahnya, pemuda itu berpikir: "sekarang aku baru sadar, ternyata untuk melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, kini harus mempersiapkan segala kebutuhan macam korek api dan sebagai-nya. Coba kalau aku dapat membuat obor sekarang, niscaya pemandangan dalam ruangan ini akan terlihat jelas."

Mendadak ia melompat mundur dengan perasaan terperanjat, segera tegurnya dengan keras: "siapa di situ?"

Rupanya secara tiba-tiba ia menjumpai di dalam ruangan itu, di sekeliling sebuah meja empat persegi, duduk banyak sekali manusia, Dalam keadaan seperti ini, bagaimana pun besarnya nyali Lim Han-kim, ia dibuat terperanjat juga,

Terdengar seseorang dengan suara yang lemah menjawab: "Kau tak usah takut, di atas meja ada lilin dan korek api. sulutlah sendiri"

Lim Han-kim dapat mendengar bahwa suara orang itu terputus-putus dan lemah sekali, jelas ia sudah menderita luka dalam yang sangat parah. setelah berhasil menenangkan hatinya pelan-pelan, ia berjalan menghampiri meja yang dimaksud. Betul juga, di atas meja terletak sebuah lilin. empat lelaki dengan busungkan dada dan kepala terangkat duduk kaku di sekeliling meja itu.

Lim Han-kim mendeham pelan, baru saja ia hendak menegur tiba-tiba orang tadi berkata lagi dengan suara lemah: "Jalan darah kematian mereka sudah tertotok. sudah tewas sejak tadi... kau... kau tak usah ta... takut..."

Rasa curiga dan ragu menyelimuti benak Lim Han-kim. setelah sangsi sejenak. Ia meraba juga ke atas meja di hadapannya, Betul juga ia temukan korek api di situ, Tak lama kemudian secercah cahaya pun menerangi ruangan tersebut

Dengan meminjam cahaya lilin yang redup itu ia mulai periksa keempat orang yang duduk kaku itu, Mereka tewas dengan mimik yang berbeda, ada yang mulutnya terbuka lebar, ada pula yang matanya mendelik hingga kelihatan mengerikan sekali Bila dilihat dari mimik wajah keempat sosok mayat itu, jelas mereka tak mungkin bisa berbicara lagi. Terdengar suara yang lemah itu kembali bergema: "Aku berada di sini"

Mengikuti arah datangnya suara tersebut Lim Han-kim berpaling, ia segera menjumpai seorang kakek berbaju kuning duduk di atas bangku dengan bersandar pada dinding ruangan, sebilah pisau pendek jelas sekali menancap telak di atas dada kakek berbaju kuning itu.

Buru-buru Lim Han-kim berjalan mendekat dan mencekal gagang pisau tersebut sambil katanya: "Biar kubantu mencabut keluar pisau ini..."

"Jaa ...jangan ..," tampik kakek itu.

"Kenapa?" sambil bertanya Lim Han-kim menarik tangannya kembali.

"Kini aku hanya tinggal memiliki sehembusan napas yang masih kupertahankan dengan andalkan tenaga dalam yang kulatih puluhan tahun lamanya, jika pisau itu kau cabut, napasku seketika akan terhenti."

"Aku mengerti soal ini."

"sesungguhnya tusukan pisau ini telah mengenai titik kelemahanku, Aku justru bertahan terus sampai sekarang karena ingin menunggu ada orang datang kemari.

Ternyata orang yang kutunggu akhirnya datang juga."

Dari gagang pisau yang gemetar keras ketika kakek itu berbicara, Lim Han-kim dapat membayangkan betapa tersiksa dan menderitanya kakek tersebut. sambil menghela napas panjang ia berseru: "saudara, lebih baik jangan bicara dulu, coba atur pernapasan" "Tak ada waktu lagi, sudah dua jam lamanya aku bergelut melawan datangnya maut. Aku tak berani bergerak. juga tak berani mencabut pisau ini. Aku berharap masih bisa mengulur sedikit waktu lagi..."

Mendadak ia membelalakkan sepasang matanya yang sudah memudar itu sambil lanjutnya: "Apakah kau adalah anak buah pemilik bunga bwee?"

Perasaan hati Lim Han-kim segera tergerak pikirnya dengan rasa keheranan: "Lucu benar, si nona di warung menganggap aku sebagai anak buahnya pemilik bunga bwee sekarang kakek ini pun menganggap aku sebagai anggota perguruan bunga bwee sebenarnya apa yang telah terjadi?" .

Belum sempat ia mengajukan sesuatu pertanyaan, kakek berbaju kuning itu sudah melanjutkan kembali perkataannya: "Aku tak perduli siapa kau dan berasal dari mana, rasanya aku sudah tak punya pilihan lagi..."

"Aku bukan anggota partai bunga bwee, bila Anda ingin menyampaikan sesuatu, katakan saja"

Kakek berbaju kuning itu menarik napas panjang, kulit wajahnya berkerut kencang menahan rasa sakit yang luar biasa, ucapnya: "Aku tahu... kau... kau adalah anggota partai bunga bwee, cuma itu tak penting, asalkan kau bersedia..."

Mendadak ia terbatuk-batuk. dari lubang hidung dan mulutnya darah segar menyembur keluar seperti pancuran, kepalanya pelan-pelan terkulai lemas dan badannya mengejang keras. jelas ia sudah tak mampu mempertahankan diri lagi. Cepat-cepat Lim Han-kim memburu ke sisinya, dengan menghimpun hawa murninya ia tepuk punggung kakek itu keras-keras.

Memperoleh saluran tenaga dalam dari Lim Han-kim ini, peredaran darah di dalam tubuh si kakek yang mulai berhenti itu segera mengalir dan berdetak kembali.

sambil menghela napas panjang Lim Han-kim berbisik, "Bila locianpwee ingin menyampaikan sesuatu, katakanlah Aku pasti akan berusaha memenuhi permintaanmu itu sebisa mungkin"

Kakek berbaju kuning itu mengangkat kepalanya memandang Lim Han-kim sekejap. lalu bisiknya: "si... si penjual bakmi di... di rumah makan Hong-hoksio..."

Dengan susah payah dia mengucapkan beberapa patah kata itu. Belum selesai ucapannya disampaikan, ia sudah pejamkan mata dan menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Dengan tak segan-segan mengerahkan tenaga dalamnya, Lim Han-kim beberapa kali mencoba membantu kakek tersebut untuk mendetakkan kembali denyut jantungnya yang telah berhenti, namun usaha itu gagal.

Gagal menolong kakek berbaju kuning itu, Lim Han kim mencoba memeriksa keempat lelaki lainnya, namun tubuh keempat orang itu sudah kaku dan di-ngin, jelas mereka sudah mati cukup lama.

Mengawasi tubuh si kakek berbaju kuning yang mulai mendingin, ia menghela napas sedih sambil pikirnya: "Dengan mengorbankan tenaga dalamnya yang dilatih selama puluhan tahun, dia hanya mampu memperpanjang usianya selama dua jam saja. sayang apa yang diharapkan dengan mengemukakan isi hatinya pada orang yang dijumpai tidak terpenuhi seutuhnya, sungguh kasihan orang ini"

Dengan demikian, dia pun tak berhasil mengetahui identitas kelima orang itu, Dia juga tak tahu apakah mereka adalah tuan rumah pemilik gedung itu atau bukan.

Dengan termangu- mangu diawasinya lilin yang tinggal separuh batang itu, ia tak tahu bagaimana harus membereskan kelima sosok mayat itu, akhirnya sambil menghela napas dan memberi hormat katanya: "Maafkanlah saya, saudaara-saudara berlima yang telah di alam baka, Berhubung di sini tak tersedia peti mati, aku tak bisa membantu kalian untuk membereskan jenasah kalian semua ... "

selesai berdoa, dia membalikkan badan meninggalkan ruangan itu dengan langkah lebar,

Terlihat olehnya kereta kuda yang mewah itu masih diparkir di tepi pintu gerbang, sayang tirainya tertutup hingga tidak nampak jelas apa isi dalam ruang kereta itu,

Tergerak hati Lim Han- kim, segera pikirnya: "seandainya kereta ini milik kelima orang yang telah tewas itu, berarti aku bisa menemukan tanda-tanda yang menyangkut asal usul serta identitas mereka di dalam ruang kereta ini. sebaliknya kalau bukan milik kelima korban, kehadiran kereta mewah ini sangat mencurigakan" Terdorong rasa curiga dan ingin tahunya, tanpa terasa dia mengayunkan langkahnya menuju ke arah mana kereta itu parkir, Tampak dua ekor keledai yang kekar dan angker berdiri gagah di sana, namun anehnya kedua ekor binatang ini hanya berdiri tanpa bergerak sedikit pun.

Pelan-pelan Lim Han-kim menyingkap tirai kereta, Terlihat seorang lelaki yang berdandan sebagai kusir kereta sedang duduk menanti di situ. Dengan perasaan heran pemuda itu siap menegur serta menanyakan asal usulnya.

Tapi sebelum ia sempat bersuara, kusir kereta itu sudah menegur lebih dulu: "Berangkat?"

Kembali hati Lim Han-kim ter-gerak. la segera melangkah naik ke dalam ruang kereta seraya mengangguk: "Yaa, berangkat."

Lelaki kusir kereta itu segera menerobos keluar dari ruang kereta. Tali les ditarik dan kedua ekor keledai itu segera bergerak meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.

Lim Han-kim hanya duduk membungkam di dalam kereta, Hingga kini ia masih belum tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi Dalam suasana semangat yang berkobar-kobar, rasa ingin tahunya membuat pemuda ini tidak banyak melawan, ia biarkan dirinya dibawa kereta tersebut melakukan perjalanan

Ia merasa kereta itu dilarikan kencang sekali, Rasanya biar menunggang kuda jempolan macam apa pun sulit untuk menandingi kecepatan lari kereta ini, boleh dibilang baru pertama kali ini dia menunggang kereta secepat ini.

Entah berapa lama kereta itu menempuh perjalanan... suatu ketika, mendadak kereta itu berhenti Ketika Lim Han-kim mengintip dari balik tirai, ia saksikan kereta tersebut sudah berhenti di muka sebuah gedung bangunan yang tinggi besar sambil melompat turun dari kudanya, kusir itu berpesan: "Harap kau menanti sebentar di situ, aku akan memberi laporan lebih dulu."

"silakan"

sebenarnya lelaki itu sudah balikkan badan berjalan beberapa langkah, mendadak ia balik kembali ke depan kereta sembari berbisik, "Apakah kau telah berhasil?"

Membayangkan kembali peristiwa tragis yang ia saksikan dalam ruang besar tadi, Lim Han-kim merasa amat masgul, pikirnya: "Tampaknya kehadiran kereta ini memang berhubungan erat dengan peristiwa berdarah di gedung itu. Tapi aneh, cukup lama aku berada dalam gedung tersebut tanpa menyaksikan sesuatu, mana mungkin si pembunuh yang datang menunggang kereta, setelah berhasil melaksanakan tugasnya malah kabur dengan meninggalkan keretanya?"

ia tak habis mengerti, untuk beberapa saat dia tak mengerti di mana letak alasannya. Terdengar lelaki kusir kereta itu kembali menegur: "Apakah kau telah berhasil?"

Melihat gelagat tidak menguntungkan, buru-buru Lim Han-kim mengerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia. sekarang ia baru tahu bahwa lelaki itu berdiri di hadapannya dengan wajah terpejam dan mimik wajah kaku. satu ingatan segera melintas dalam benaknya: "Jangan-jangan orang ini buta..."

Terdengar lelaki itu menegur lagi dtngan nada gusar: "Hei, aku bertanya padamu, sudahkah berhasil?"