-->

Pedang Keadilan II Bab 14 : Menelan pil Racun

 
Bab 14. Menelan pil Racun

Belum habis siok-bwee menyimpan kembali botol porselennya, bagaikan hembusan angin seebun Giok- hiong telah tiba di situ. sambil mengawasi wajah Lim Han-kim, tegurnya: "Hei, apa yang kau makan?"

" Racun sebutir pil beracun yang sangat jahat, dalam sekejap mata nyawaku bisa melayang"

Pelan-pelan seebun Giok-hiong berpaling kearah siok- bwee, sambil ulurkan tangannya ke muka, bujuknya lembut: "Racun apakah itu, coba berikan kepadaku"

"Tidak. Aku tak akan memperlihatkan padamU" siok- bwee menggeleng berulang kali sambil mundur dua langkah.

Dengan sorot matanya yang tajam seebun Giok-hiong memandang sekeliling tempat itu sekejap. kemudian katanya lagi: "Tanah daratan disini paling banter cuma selebar ratusan kaki persegi, biarpun kalian enggan memberitahu kepadaku, toh akhirnya aku akan berhasil, juga menemukan tempat persembunyiannya "

"Jadi kau benar-benar berani menjumpai nona kami?" tegur Hiang-kiok coba menggertak.

seebun Giok-hiong tertawa, "Ia sudah hampir mampus gara-gara penyakitnya, kenapa aku tak berani?" sahutnya.

"Hmmmm, jika aku berani mengganggu ketenangannya, hati- hati kalau sampai terbunuh olehnya."

sebetulnya sudah cukup lama dayang ini menahan diri, semua kekesalan dan rasa mendongkolnya tak terlampiaskan keluar, tapi setelah ia telan pil beracun dan siap menghadapi kematian, keberanian pun secara otomatis ikut meningkat pula.

Bilamana ia teringat akan kekejian seebun Giok-hiong serta perbuatan-perbuatannya yang menjengkelkan, ingin sekali gadis ini memakinya habis-habisan, tapi dia pun merasa bingung karena tak punya alasan untuk mengumpat orang, akhirnya dengan meminjam nama majikannya dia pun memaki beberapa patah kata untuk melenyapkan rasa dongkolnya itu.

Terdengar dayang itu berkata lebih jauh: "Hmmmm, jadi kau menyumpahi nona kami cepat mati hanya dikarenakan kondisi badan nona kami kurang sehat? Kau mesti tahu, tiada persoalan di dunia ini yang bisa menyulitkan dirinya. Memang betul sebenarnya ia sudah bosan hidup, tapi bila teringat akan kekejian dan kebusukanmu serta mengingat ke-beradaanmu di muka bumi hanya akan menyusahkan orang lain, maka ia sudah berubah pikiran sekarang, ia berniat untuk hidup berapa tahun lagi, ia baru akan mati dengan perasaan lega sesudah membinasakan dirimu"

Terdorong perasaan mendongkolnya yang meluap. ucapan ini sebetuinya hanya kata-kata karangan saja yang bersifat memanasi hati lawan, apa mau dikata seebun Giok-hiong yang cerdik justru menanggapinya secara lain, begitu selesai mendengar ucapan tersebut segera pikirnya dalam hati: "Bila ia berniat membohongi aku, ucapannya tentu akan dibuat amat menarik agar aku mempercayainya seratus persen, justru kata-kata polos macam kanak-kanak inilah yang bisa dipercaya." Sementara itu Siok-bwee cukup tahu akan sifat adiknya, Hiang-kiok. gadis itu polos, bersifat kekanak- kanakan dan sama sekali tak berencana, bila dibiarkan berbicara lebih jauh niscaya banyak titik kelemahan yang akan terlihat. Maka buru-buru ia menyela: "Adik Hiang- kiok. tak usah berbicara lagi dengannya, toh apa pun yang kau katakan tak akan dipercayai olehnya, buat apa memetik kecapi di depan kerbau?"

seebun Giok-hiong mengernyitkan alis matanya, katanya: "Nona kalian sengaja mengundangku datang kemari, Aku percaya ia tentu punya urusan yang hendak dibicarakan maka sebelum berjumpa dengan nona kalian, terpaksa aku harus tetap tinggal di sini untuk menantinya."

"Buat apa kau tinggal di sini?" tegur Hiang-kiok penasaran

"Buat apa? Tentu saja menunggu nona Pek" seebun Giok-hiong tertawa.

"Kau memang tamu bermuka tebak tidak diundang juga nekat akan menginap. Hmmm Pokoknya tak akan ada orang yang memberi makan untukmu"

Di luar dugaan ternyata watak seebun Giok-hiong berubah sama sekali, ia segera tersenyum

" Tidak apa- apa," sahutnya, "sudah seringkali aku duduk bersemedi, tiga sampai lima hari tidak makanpun bukan persoalan."

"Tapi kami tak punya tempat kosong untuk tempatmu menginap" "Juga tak apa-apa, sudah terbiasa aku duduk di udara terbuka, asal ada sebidang tanah kecil untuk aku duduk pun sudah lebih dari cukup,"

"Hmmm kelihatannya kau memang nekat ingin tinggal di sini."

" Tepat sekali, sebelum berjumpa dengan nona Pek. aku tak akan pergi dari sini"

Melihat sifat keras kepala lawannya, diam-diam siok- bwee jadi gelisah, pikirnya: "Jelas sudah ia bisa nekat ingin tetap tinggal di sini karena menduga penyakit yang diderita nona sudah teramat parah, Waaah... jelas gerak- gerikku jadi kurang bebas dengan kehadirannya di sini, Aku jadi tak dapat mengirim kabar untuk nona di ruang rahasia, apa baiknya? Apakah harus mengulur waktu terus?"

Lim Han-kim sendiri pun diam-diam sangat murung setelah menyaksikan situasi di depan mata, sekalipun seebun Giok-hiong sudah dapat memastikan kalau penyakit yang diderita Pek si- hiang sudah amat parah, namun ia tak akan berlega hati sebelum menyaksikan sendiri jenasah Pek si- hiang.

Padahal perempuan iblis itu pun tak rela mengundurkan diri dengan begitu saja, bila waktu berlarut-larut maka pada akhirnya duduk perkara yang sebenarnya pasti akan diketahui olehnya. Begitu dia yakin Pek si-hiang sudah mati atau sakit parahnya sudah tiada harapan lagi, secara mudah ia tentu akan mencabut nyawa mereka bertiga, itu berarti sebelum rasa curiganya betul- betul lenyap. ia harus berusaha keras untuk mengusirnya pergi dari pesanggrahan pengubur bunga. Masalahnya sekarang, ilmu silat yang dimiliki seebun Giok-hiong kelewat hebat, kecerdasan otaknya juga melebihi siapa pun, itu berarti susah bagi mereka untuk menipu gadis ini.

Pada saat itu seebun Giok-hiong sudah mengambil tempat duduk di tepi semak belukar, katanya: "Kalian bertiga boleh beristirahat tak usah mengurusi aku lagi." selesai berkata, ia pejamkan mata dan tidak menggubris mereka bertiga lagi.

Dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara Lim Han-kim segera berbisik: "Nona berdua, harap segera balik ke ruang dalam, kita harus membicarakan sebuah cara yang terbaik untuk menghadapinya."

siok-bwee sudah pernah merasakan kelihaian perempuan itu ia mengerti, dalam satu gebrakan saja seebun Giok-hiong mampu mencabut nyawanya, oleh sebab itu tanpa banyak bicara ia segera mengundurkan diri dari situ.

secara diam-diam Lim Han-kim memperhatikan terus gerak-gerik Seebun Giok-hiong. Ternyata ia tidak melakukan suatu gerakanpun ketika mereka bertiga meninggal-kan tempat itu, malahan kelopak matanya pun tidak berkedip. sekembalinya kedalam ruangan, Lim Han-kim bertiga mulai berunding sambil mencari jalan, namun setengah harian sudah dihabiskan, satu carapun belum berhasil mereka temukan, sambil menghela napas panjang siok-bwee berkata kemudian: "Kelihatannya sulit buat kita untuk menemukan cara terbaik, kita harus minta petunjuk nona." "salah satu di antara kalian berdua harus berusaha menyusup masuk ke dalam ruangan secara diam-diam, Beritahu kepada nona Pek situasi yang kita hadapi sekarang, siapa tahu ia punya cara untuk memukul mudur musuh kita ini," kata Lim Han-kim.

"Tidak bisa, aku dan adik Hiang-kiok tidak diperkenankan memasuki ruangan itu Kalau harus pergi, lebih baik Lim siangkong saja yang pergi ke sana"

"Aku tidak tahu cara membuka pintu rahasia itu, Bila aku yang mesti pergi, berarti salah satu di antara kalian berdua harus temani aku ke sana. Pergi sendirian saja sudah berbahaya sekali apalagi dua orang jalan berbareng, sulit bagi kita untuk meloloskan diri dari pengawasan seebun Giok-hiong." siok-bwee dan Hiang- kiok segera ter-bungkam.

Melihat kedua orang dayang itu sudah berhasil dibujuknya, buru-buru Lim Han-kim berkata lebih jauh: "sekarang waktu sudah amat mendesak. sekalipun pcraturan yang diterapkan nona kalian sangat ketat, situasi memaksa kita harus melanggarnya sekali ini saja, Tak usah kuatir, bila ia menyalahkan kalian di kemudian hari, biar aku yang memikul resikonya"

"Baik" seru Hiang-kiok kemudian sambil bangkit berdiri, "Biar aku yang berangkat"

"Sementara kau bersiap sedia, aku akan mengajak seebun Giok-hiong bicara, agar pendengarannya terganggu," ucap Lim Han-kim.

"Aku akan menyusup keluar lewat jendela loteng..." bisik Hiang-kiok, Tapi baru berjalan berapa langkah, mendadak ia berhenti lagi seraya bertanya: "Bagaimana seandainya nona sudah tertidur?"

siok-bwee tertegun, tiba-tiba air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. sedang Lim Han-kim menyahut sambil menghela napas: "Kalau begitu coba bangunkan dia."

"Aaaai..." Mendadak siok-bwee menghela napas panjang. "seandainya nona sudah tertidur untuk selamanya, kami pun sudah tak punya kenangan lagi disini, biar seebun Giok-hiong tidak membUnuh kami, kami berdua juga tak ingin hidup terus"

Lim Han-kim tertegun, baru sekarang ia memahami arti sebenarnya dari perkataan dua orang itu, Rupanya kedua orang dayang ini sudah mengetahui dengan jelas betapa parahnya penyakit yang diderita nonanya, masalah kematian hanya tinggal soal waktu saja, Meski demikian mereka berdua enggan menggunakan kata "Mati", karenanya sebagai gantinya mereka pergunakan istilah "tertidur selamanya",

Air mata jatuh berlinang membasahi pipi Hiang-kiok yang merah, katanya lirih: "seandainya nona sudah tertidur, aku akan tetap tinggal di sana untuk menemaninya."

"Baiklah." siok-bwee manggut-manggut. "Kami akan berusaha mengulur waktu hingga tak bisa diulur lagi.

Apabila seebun Giok-hiong sudah pergi meninggalkan tempat ini, aku akan segera menyusul ke ruangan untuk menjenguk kau serta nona."

sepertinya ucapan tersebut hanya ucapan biasa tanpa maksud apa-apa, tapi justru di situlah terlihat pancaran sifat tulusnya perasaan persaudaraan di antara mereka berdua, Lim Han-kim sendiri meski hanya membungkam diri, dalam hati kecilnya pun amat murung dan masgul, ia dapat merasakan betapa akrabnya hubungan persaudaraan di antara kedua orang dayang itu.

Dengan ujung bajunya Hiang-kiok menyeka air mata yang membasahi pipinya, sekulum senyuman yang sangat tenang tersungging di ujung bibirnya, ia tidak gentar juga tak ragu, senyuman itu sepantasnya merupakan senyuman terindah di dunia saat itu, senyum penuh kedamaian dan kepasrahan

"Enci Bwee, Lim siangkong, aku segera berangkat, kalian harus baik-baik jaga diri," bisiknya.

selangkah demi selangkah ia berjalan menaiki anak tangga.

Memandang hingga bayangan punggung saudaranya lenyap dari pandangan, siok-bwee hanya terbungkam diri, sepatah kata pun tak mampu diucapkannya, sesungguhnya banyak bicara pada saat seperti ini memang tak ada gunanya, perpisahan antara mati dan hidup memang cuma bisa dirasakan dalam lubuk hati yang paling dalam.

Lim Han-kim menghela napas sedih, katanya sambil bangkit berdiri: "Aku akan mengajak seebun Giok-hiong berbincang-bincang."

Ingin sekali ia menghibur siok-bwee dengan berapa patah kata, namun ia pun menjumpai kata-kata manapun di dunia ini sulit untuk mengutarakan perasaan hatinya yang benar, karena itu sambil menahan diri ia beranjak pergi dari situ. seebun Giok-hiong masih duduk di tepi gerombolan bunga, matanya terpejam rapat, Di bawah sinar matahari pagi terlihat pipinya yang merah dan paras mukanya yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Tampaknya ia sedang semedi, biarpun Lim Han-kim sudah tiba di sisi tubuhnya pun ia masih belum merasa.

Lim Han-kim menghentikan langkahnya, pelan-pelan ia duduk di hadapannya seraya menyapa lirih: "Nona seebun"

"Ehmmm, ada apa?" seebun Giok-hiong menggerakkan matanya dan tertawa.

"Kau bersikeras menjaga dipesanggrahan pengubur bunga ini tanpa niat pergi dari sini, apakah maksudmu hanya ingin melihat jenasah nona Pek?"

" Kenapa? Dia sudah mati?" seebun Giok-hiong membelalakkan matanya lebar- lebar.

Lim Han-kim sengaja tertawa ringan, sahutnya sambil menggeleng: "oooh... belum. ia sudah bilang mau hidup berapa tahun lagi."

"Aku percaya dia adalah Tokoh paling hebat dalam dunia persilatan dewasa ini, tapi aku tak percaya ia betul- betul bisa mengubah nasib dan takdirnya dari kematian menjadi kehidupan."

Lim Han-kim segera berpikir: "Baik ilmu silat maupun kecerdasannya wanita ini jauh melebihi kemampuanku. Bila aku berbicara tanpa dasar yang kuat, rahasia kebohonganku jelas akan segera terbongkar, Aku mesti selipkan juga kenyataan yang sesunggUhnya dalam pembicaraan nanti..." setelah berpikir begitu, dia pun berkata: "setelah kau merasa begitu yakin Pek si- hiang pasti akan mati, tahukah kau penyakit apa yang sebetuinya dia idap?"

"Entahlah," sahut seebun Giok-hiong agak tertegun "Tapi aku yakin penyakit itu pasti sejenis penyakit ganas yang sukar untuk diobati."

"Jawabanmu kelewat ceroboh dan menggelikan tapi bila nona ingin tahu, aku bersedia untuk menjelaskan."

"Baiklah, aku siap mendengarkan."

"Sesungguhnya nona Pek mengidap penyakit Sam-im- coat-meh"

"sam-im-coat-meh?" seebun Giok-hiong membelalakkan matanya, "Penyakit ganas itu merupakan penyakit bawaan sejak lahir, sekalipun tabib Hoa Tuo hidup kembali pun mustahil bisa menyembuhkan penyakit tersebut..." setelah tersenyum lanjutnya: "Tempo hari, ketika aku mencoba mengamati air mukanya, sudah kulihat cahaya hitam menyelimuti keningnya, itulah pertanda kalau usianya sudah hampir berakhir"

"Hmmmm, nona seebun, tidakkah kau merasa pengetahuanmu ini kelewat cetek?" tukas Lim Han-kim dingin.

"Waaah... waaah... nyalimu makin hari makin bertambah besar Kau tidak kuatir menggusarkan aku?" seru seebun Giok-hiong tertawa.

"Aku bicara sejujurnya dengan dasar yang kuat. Biar nona marah, aku hanya bisa bicara seadanya." "Tak disangka baru berpisah berapa hari, kau sudah berubah makin hebat. Baiklah, akan kudengar penjelasanmu itu."

" Ucapan nona memang betul, dalam semua kitab pertabiban maupun ilmu pengobatan memang dikatakan bahwa penyakit sam-im-coat-meh tak mungkin dapat disembuhkan, tapi nona telah lupa dengan satu hal besar."

"Hal apa?"

" Kenapa nona tidak mencoba menelusuri sistim penyembuhan melalui ilmu silat?"

"Ilmu silat apa itu?"

"Ada sejilid kitab pusaka ilmu silat yang luar biasa sekali, aku tidak tahu nona pernah membacanya atau tidak."

"sudah, tak usah jual mahal lagi Cepat katakan apa nama kitab ilmu silat itu"

Lim Han-kim memang sengaja hendak memancing kemarahan, kegugupan, rasa terkejut dan rasa panik perempuan itu sehingga pikiran dan perhatiannya terpecahkan Tapi dia pun cukup mengetahui akan kecerdasan gadis itu, bila terlalu menunda-nunda waktu, bisa jadi akan menimbulkan kecurigaannya, Maka dari itu segera jawabnya: "Pernah nona tahu tentang kitab pusaka ilmu sembilan iblis?"

Dengan kening berkerut seebun Giok-hiong berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia menggeleng, "Rasanya belum pernah kudengar." "Ha ha ha... kalau begitu pengetahuan nona boleh dibilang terlalu picik dan cetek."

Berubah paras muka seebun Giok-hiong. tampaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi tiba-tiba saja ia menahan diri sahutnya kemudian sambil tertawa hambar: "Anggap saja pengetahuanku memang picik dan cetek. bagaimana kalau kumohon petunjuk dari siangkong?"

"Terima kasih, terima kasih sesuai dengan namanya, semestinya nona bisa menduga bahwa kitab pusaka sembilan iblis itu merupakan hasil karya sembilan orang jago yang tergabung menjadi satu. Kesembilan orang itu masing-masing mencatatkan sejenis ilmu silatnya yang paling tangguh ke dalam kitab tersebut yang kemudian dikombinasikan serta dikaitkan antara satu ilmu dengan ilmu yang lain menjadi satu rangkaian ilmu silat baru.

Hanya saja ilmu silat ini kelewat ganas, hebat dan jahat Nona Pek yang menyadari akan kekejian ilmu tadi sebetulnya enggan melatihnya, ia lebih rela mati karena penyakitnya dari pada mempelajari ilmu jahat itu, tapi sekarang, dia telah berubah pikiran ..."

"Kenapa berubah pikiran?"

"Gara-gara kau Dia tak ingin membiarkan kau menciptakan badai pembunuhan dalam dunia persilatan oleh sebab itulah dia putuskan untuk mempelajari ilmu sesat tersebut guna mengobati penyakitnya, Dia ingin hidup berapa tahun lagi sambil mengamati gerak- gerikmu, jika kau berani menciptakan badai pembunuhan berdarah dalam dunia persilatan maka dia tak segan- segan akan menampilkan diri untuk membinasakan diri- mu"

Dari rangkaian perkataan tersebut ada sebagian yang kenyataan tapi sebagian lain cuma gertak sambal, tapi ketika muncul dari mulut Lim Han-kim justru kedengarannya seperti sungguh-sungguh.

sepanjang mendengarkan penuturan tersebut, seebun Giok-hiong pun berusaha mengamati terus mimik muka Lim Han-kim, tapi dengan cepat ia dibuat percaya penuh dengan perkataan itu, sekalipun dalam hati kecilnya ia merasa terkejut bercampur ngeri, di luar ia tetap menjaga ketenangan wajahnya, sambil tertawa hambar katanya: "Sepandai-pandainya tupai melompati akhirnya akan terjatuh juga. Begitu juga dengan nona Pek. sehebat-hebatnya dia merancang segala sesuatu, sekali aku berhasil menguasai kesempatan yang terbaik, maka semua rancangannya yang hebat akan buyar dan hancur berantakan-"

Lim Han-kim terperanjat pikirnya: "Sialan, di mana aku telah salah bicara tadi sehingga ia menemukan titik kelemahanku ... nyata sekali iblis wanita ini memang susah untuk dihadapi."

Berpikir sampai di situ, tak tertahan lagi tanyanya: "Apa yang telah diperhitungkan nona Pek selama ini tak pernah meleset ia pun pernah bilang, sebelum kau dapat membuktikan kematiannya, tak nanti kau berani mencelakai kami bertiga, betul bukan ucapan ini?"

seebun Giok-hiong tertawa hambar "sekalipun kau turun tangan bersama kedua orang budak itu, paling banter kalian hanya bisa menahan sepuluh jurus seranganku. Buat apa aku mesti bersusah payah melenyapkan orang yang sama sekali tidak membahayakan diriku? Jadi soal bunuh atau tidak. aku tak usah banyak berpikir."

Sebenarnya Lim Han-kim ingin menghindarkan Pek Si- hiang dari salah perhitungan, namun ia pun tak sanggup menahan diri, maka kembali ujarnya: "Terserah apa pun yang kau pikirkan, yang jelas dan merupakan kenyataan adalah kau tak berani turun tangan mencelakai kami, apakah hal ini merupakan salah hitung nona Pek?"

"sudahlah, kita tak perlu berdebat soal ini." Mendadak seebun Giok-hiong bangkit berdiri, "Sebelum ilmu iblisnya berhasil dikuasai, aku harus menemukan dia serta membunuhnya "

"Nona Pek sudah membuat persiapan dan menyembunyikan diri, dari mana kau bisa menemukan tempat tinggalnya?"

"Luas pesanggrahan pengubur bunga cuma sejengkal aku tak percaya kalau tak mampu menemukannya . "

"Kalau tak percaya silakan saja dicoba, toh aku bersama siok-bwee dan Hiang-kiok bukan tandinganmu dan kini sudah siap menelan pil racun yang setiap saat bisa mematikan kami, Bila kau berniat memaksa kami untuk bicara, lebih baik urungkan saja niatmu itu" 

Paras muka seebun Giok-hiong berubah amat serius, sepasang matanya yang tajam mulai mencari keempat penjuru. Lim Han-kim khawatir sekali, pikirnya: " Habis sudah bila ia berhasil menyaksikan bayangan tubuh Hiang-kiok yang sedang kabur"

sesaat setelah memperhatikan sekeliling tempat itu dengan seksama, tiba-tiba seebun Giok-hiong tersenyum, katanya lembut: "Lim siangkong, inginkah kau memulihkan kembali wajah gantengmu seperti sedia kala?"

Lim Han-kim mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak: "Ha ha ha... kenapa? Nona anggap jalan kekerasan tak bisa ditembus sekarang ganti menggunakan jalan lunak? sayang sekali aku Lim Han- kim adalah seorang lelaki sejati yang tak doyan keras maupun lunak"

"Aku akan mengajak kau pergi bersama tinggalkan tempat ini," sambung Seebun Giok-hiong.

"Kenapa?"

"Akan kuangkut berton-ton kayu bakar untuk ditumpukkan ke seluruh daratan pesanggrahan pengubur bunga ini, kemudian akan kubakar selama tiga hari tiga malam, Akan kulihat apakah Pek si- hiang masih sanggup mempertahankan diri."

Terkesiap tak terkirakan perasaan Lim Han-kim sesudah mendengar ancaman itu, pikirnya: "Cara semacam ini betul- betul teramat keji dan jahat, bila mana asap tebal menyusup masuk ke dalam ruang rahasia lewat cerobong udara, niscaya Pek si- hiang yang lemah akan mati kehabisan napas." seebun Giok-hiong sama sekali tak menyangka tindakannya merusak wajah Lim Han-kim justru mendatangkan masalah yang teramat pelik baginya, sebab ia gagal memonitor perubahan mimik muka Lim Han-kim lewat ungkapan perasaannya, dan hal ini belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Bagaimana cun ia terhitung seorang gadis yang luar biasa cerdiknya. Begitu tak mendengar suara jawaban dari Lim Han-kim dalam waktu cukup lama, sambil tertawa dingin segera jengeknya: "Bagaimana? Bagus bukan caraku ini?"

"Apanya yang bagus? Biarpun kau bakar sampai hangus batu karang di daratan pesanggrahan pengubur bunga ini,jangan harap nona Pek bisa turut terbakar."

"Ha ha ha... kalau begitu kau sudah tahu tepat persembunyian Pek si-hiang?" seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh.

Lim Han-kim tahu ia sudah salah bicara dan mustahil diubah lagi, maka jawabnya tegas: "Yaa, tentu saja aku tahu"

"Aku tak percaya tak bisa membakarnya sampai mati, masa ia bersembunyi di dasar air telaga?"

"Kau..." mendadak Lim Han-kim menyadari sesuatu.

Cepat- cepat dia membungkam.

"Kenapa?" kembali Seebun Giok-hiong mengejek sambil tertawa, "Tidak salah bukan dugaanku?"

Lim Han-kim sadar, dalam posisi begini lebih banyak bicara berarti kemungkinan rahasianya akan terbongkar maka ia tak meladeni perkataan gadis itu lagi, mulutnya ditutup rapat-rapat.

Sambil tersenyum Seebun Giok-hiong berkata lagi: "Akan kudatangkan seratus bahkan seribu buah perahu yang penuh bermuatan pasir gamping, Akan kubuat air telaga di sekeliling pesanggrahan pengubur bunga ini jadi mendidih. Hmm... Akan kulihat apa dia masih bisa meloloskan diri lagi."

Dalam hati kecilnya Lim Han-kim berpikir: "Dinding ruangan ini tebal lagi kokoh, sekalipun air telaga dibuat mendidih pun tak nanti bisa membakar mati Pek Si- hiang."

Sesungguhnya Seebun Giok-hiong sendiri pun amat panik ketika tidak mendengar tanggapan dari Lim Han- kim, sambil tertawa dingin katanya lebih lanjut: "Selain kubakar daratan ini dan kubuat air telaga menjadi mendidih, aku tak percaya dalam tiga-lima hari ia mampu menguasai ilmu sesat itu dalam taraf yang lumayan kendatipun ia bisa bersembunyi di tempat teraman. sebaliknya waktu selama tiga-lima hari sudah lebih dari cukup bagiku untuk mengobrak-abrik seluruh tempat ini"

Lim Han-kim menghela napas panjang, katanya pelan: "Padahal nona Pek bersikap amat penyabar dan baik kepadamu, kenapa sih kau begitu benci dan dendam kepadanya sehingga baru merasa puas setelah membunuhnya?"

"Keliru, kata-katamu harus diubah sedikit agar lebih tepat"

"Apanya yang diubah?" " Harus dibilang aku baru merasa tenang setelah dia mati, bukan puas"

"ooooh, kau takut sekali pada nona Pek?" " Kenapa kau bertanya begitu kepadaku?"

Lim Han-kim mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, begitu keras suaranya hingga bergema di seluruh udara.

"Apa yang kau tertawakan?" tegur seebun Giok-hiong sambil membelalakkan matanya.

"Perhitungan nona Pek sungguh luar biasa, ternyata sampai reaksimupun sudah termasuk dalam perhitungannya. "

"soal apa?"

Lim Han-kim menjengek dingin, katanya. "Ia beritahu kepadaku, semakin menaruh hormat sikapmu kepadanya berarti semakin berkobar napsu membunuhmu terhadapnya. Waktu itu aku malah sempat mewakili nona seebun untuk memberi penjelasan. Aaaai... sungguh tak nyana saat ini aku harus mendengar dengan telinga sendiri bahwa nona memang berniat hendak membunuhnya "

seebun Giok-hiong melonjak-lonjak saking gusarnya, dengan amarah yang meluap bentaknya: "Besar amat nyalimu, kau berani menipu aku..."

sambil berseru dia melompat bangun dan memburu kearah bangunan loteng itu Padahal menurut perhitungan waktu yang dilakukan Lim Han-kim, ia tahu Hiang- kiok semestinya sudah masuk ke dalam ruang rahasia, maka apabila ia menyusul dari belakang, rahasianya malah akan terbongkar.

Karena berpendapat demikian, dia pun duduk tak bergerak di tempat semula sambil secara diam-diam mengamati gerak-gerik dalam bangunan loteng itu

Tiba-tiba di ruang dalam, seebun Giok-hiong menjumpai hanya siok-bwee seorang duduk disitu dengan pedang terhunus, tak bisa dicegah lagi hawa amarahnya langsung meluap. serunya sambil tertawa dingini "Ke mana perginya budak itu?"

"Pergi menjumpai nona kami"jawab siok-bwee sambil menurunkan kembali pedangnya.

"Di mana Pek si- hiang sekarang?"

"Nunjauh di ujung langit, tapi tetap dalam bumi." "Kau tak usah berlagak pilon terus, kau anggap aku

tak berani membunuhmu?"

"Kau tak perlu repot- repot, setiap saat aku dapat menelan pil beracun itu"

sikap siok-bwce, Hiang- kiok serta Lim Han-kim yang tidak takut menghadapi kematian ini betul-betul membuat seebun Giok-hiong yang cerdik dan banyak akalnya ini mati kutu. Diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya dan siap turun tangan secara tiba-tiba, ia tahu, kesempatan yang tersedia baginya hanyaamat singkat, ia mesti berhasil menotok jalan darah siok-bwee dalam sekali serangan, dengan demikian dayang itu barutak punya kesempatan untuk menelan pil beracunnya. siok-bwee sendiri pun bukan orang bodoh, tampaknya dia pun sudah memahami niat seebun Giok-hiong ini, mendadak ia melompat bangun dan melompat mundur sejauh lima depa lebih dari posisi semula, ucapnya ketus: "Bila kau berani turun tangan, aku segera akan telan pil beracun itu untuk bunuh diri, aku tak ingin hidup terus di dunia ini hanya untuk kau siksa"

Tiba-tiba seebun Giok-hiong mengubah taktiknya, sambil menghela napas panjang tanyanya: "Baikkah sikap Pek si-hiang terhadap kalian?"

"Hubungan kami lebih akrab daripada saudara sekandung"

"Lantaran itu maka kau bertekad hendak setia kepadanya hingga mati?"

"Bukan hanya aku seorang, setiap anak buah nona kami bahkan sampai sahabatnya sekali pun rela mengorbankan diri demi dirinya"

"Bagaimana dengan Lim Han-kim?" tanya seebun Giok-hiong dengan kening berkerut

"Aku rasa dia pun berpendapat sama."

seebun Giok-hiong mengerti, ia sudah tak punya kesempatan lagi untuk turun tangan, maka tanpa banyak bicara dia membalikkan badandan meluncur keluar dari ruangan, Rupanya ia mendapat ide untuk menotok jalan darah Lim Han-kim secara mendadak, kemudian menyiksanya agar pemuda itu mau menunjukkan tempat persembunyian Pek si- hiang.

Ia mempunyai keyakinan dan rasa percaya diri yang kuat, dia yakin begitu mereka kehilangan kesempatan untuk menghabisi nyawa sendiri, maka dengan menggunakan sistim penyiksaan yang paling keji, dla pasti akan berhasil memperoleh pengakuannya.

Namun ia pun mengerti bahwa mereka semua telah membekali diri dengan pil beracun, ia tak boleh bertindak ceroboh apalagi nyerempet bahaya, sebab membunuh ketiga orang itu tak ada manfaatnya, malah sebaliknya akan mengikat tali permusuhan dengan Pek si- hiang.

Sementara berpikir, ia sudah berjalan menghampiri Lim Han-kim. ia berusaha mengubah dirinya menjadi begitu tenang, seolah-olah tak ada kejadian apa pun, bahkan sampai berjarak berapa kaki di hadapan Lim Han-kim pun wajahnya masih dihiasi senyuman kedamaian.

Pada saat itulah mendadak dari kejauhan sana terdengar siok-bwee berteriak keras: "Hati-hati Lim siangkong ..."

Dengan sigap Lim Han-kim melompat bangun, hardiknya ketus: "Berhenti jika kau berani melangkah maju setindak lagi, segera kutelan pil beracun itu."

seebun Giok-hiong menghentikan langkahnya, sambil tertawa ia mengejek: "Jika kau mati, siapa pula yang akan mencintai nona Pek?"

Di tengah suara tertawanya yang merdu, hawa murninya disalurkan ke ujung jari lalu secara tiba-tiba melepaskan satu serangan ke depan, Waktu itu Lim Han- kim sudah membuat persiapan, begitu seebun Giok-hiong mengayunkan lengannya, ia pun mengegos ke samping. sekalipunjalan darah pentingnya berhasil dihindari, namun lengan kanannya terhajar juga oleh tenaga totokan seebun Giok-hiong, tubuhnya berputar dengan sempoyongan.

Dengan tangan kirinya seCepat kilat ia lepaskan sebuah pukulan, lalu teriaknya keras- keras: "Nona siok- bwee, baik-baik menjaga diri. Beritahu nona Pek. suruh dia membalaskan dendamku"

selesai berteriak ia gigit hancur pil beracun itu dan ditelan ke dalam perut sungguh cepat gerakan tubuh seebun Giok-hiong, bersamaan dengan dilepaskannya totokan itu, dia ikut menerjang maju ke depan.

Tapi tubuhnya segera terhadang oleh tenaga pukulan yang dilepaskan Lim Han-kim, Menanti ia berhasil memunahkan tenaga serangan itu, Lim Han-kim sudah terlanjur menggigit hancur pil beracun itu dan menelannya ke dalam perut

Dengan gerakan paling cepat seebun Giok-hiong menerjang kesamping tubuh Lim Han-kim, menyambar lengan kanan pemuda itu dan serunya lirih: "Kau sudah telan pil beracun itu?"

Lim Han-kim tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha... kau banyak akal dan pintar, tapi kehadiranmu tetap selangkah terlambat. Betul, aku sudah menelanpil beracun itu"

"Cepat tumpahkan keluar" seebun Giok-hiong berseru penuh gelisah.

"Pil itu sudah masuk ke dalam perut, percuma, terlambat sudah, Ha ha ha ... daya kerja racun ini amat cepat, sebentar lagi aku akan mati dengan perasaan tenang"

Dengan gerakan cepat seebun Gio-hiong menotok beberapa jalan darah penting di tubuh pemuda itu, kemudian bujuknya lagi: "Turuti perkataanku cepat tutup semua jalan darahmu, aku akan berusaha menyelamatkan jiwamu.

Lim Han-kim tertawa hambar "Kau telah merusak wajahku, mencabut nyawaku, hutang ini biar ditagih nona Pek di kemudian hari..."

Mendadak matanya terasa berkunang-kunang, kepalanya jadi berat dan sakit sekali, ia tahu racun dalam tubuhnya sudah mulai bekerja, sambil pejamkan mata katanya lagi: "Lepaskan aku, sebentar lagi aku akan mati."

"Buat apa kau bertindak setolol ini?" seebun Giok- hiong mengendorkan cekalannya. "Padahal aku tak bermaksud mencelakaimu Kalau hendak membunuhmu, hal ini sudah kulakukan sejak semula, buat apa menunggu sampai sekarang...?"

Tampak tubuh Lim Han-kim bergoncang keras, tiba- tiba ia roboh terjengkang ke atas tanah. Buru-buru seebun Giok-hiong menyambar tubuhnya dan pelan- pelan dibaringkan ke atas tanah, ujarnya lagi sambil menghela napas: "Aku bilang mau membunuhmu padahal itu cuma gertak sambal saja, padahal aku tak betul-betul ingin mencelakaimu, bahkan tak pernah merusak wajahmu..." "Hmmm Kau tak usah berpura-pura lagi, mana ada kucing menangisi tikus..." seseorang menegurnya secara tiba-tiba dari arah belakang, nadanya dingin,

Ketika seebun Giok-hiong berpaling, dilihatnya siok- bwee dengan pedang terhunus telah berdiri enam depa di belakangnya, Dengan nada gelisah segera teriaknya: "Eeeei nona, cepat serahkan obat penawarnya, aku harus selamatkan jiwanya lebih dulu kemudian baru kita bicara."

"Kau takut nona kami akan mencarimu untuk menuntut balas?"

"Bukan" seebun Giok-hiong menggeleng, " Cepat serahkan obat penawarnya kepadaku, yang penting selamatkan jiwanya lebih dulu."

"obat penawarnya sudah kubuang, barang siapa yang menelan pil beracun itu, dia harus mati"

seebun Giok-hiong berkerut kening, hawa napsu membunuh mulai menyelimuti wajahnya, hardiknya: "Ngaco belo, kau kira aku tak berani membunuhmu? Hmmm, kalau sampai membangkitkan amarahku, akan kubunuh kalian berdua"

"Aku tahu, meski nona mempunyai niat untuk membunuh, juga mempunyai kemampuan untuk melakukannya, namun kami memiliki semangat dan keberanian untuk menghadapi kematian itu"

seebun Giok-hiong tertegun, serunya kemudian: "Jadi dia betul-betul sudah tak tertolong?"

"Tidak" Lama sekali seebun Giok-hiong termenung tanpa mengucapkan sepatah katapun, jelas wanita cerdas yang banyak akal dan muslihat ini terbelenggu rasa masgul oleh situasi yang dihadapinya. ia gagal menemukan tindakan terbaik untuk mengatasi masalah ini. Terdengar siok-bwee berkata dengan ketus: "Pergilah dari sini, urusan penguburan tubuh Lim siangkong tak perlu kau risaukan lagi"

seebun Giok-hiong memandang ke arah siok-bwee sekejap, pelan-pelan ia berjongkok dan mencoba meraba dengusan napas Lim Han kim. Didengarnya napas pemuda itu sudah sangat lemah, setiap saat ada kemungkinan terputus, perasaan sedih yang mendalam tiba-tiba menyelimuti wajahnya, ia menghela napas panjang.

"Aaaai... Apabila nona Pek berhasil meloloskan diri dari musibah ini danperoleh kembali kesempatan untuk hidup, sampaikaniah ucapan selamatku ini kepadanya. sebaliknya bila ia bernasib malang dan mati, tolong cantumkanjuga namaku seebun Giok-hiong di atas batu nisannya"

Perubahan sikap yang terjadi saat ini terlalu tiba-tiba, ini membuat siok-bwee jadi sangsi dan hampirsaja tak percaya dengan apa yang didengarnya kendatipun setiap patah kata perempuan tersebut dapat didengarnya dengan jelas.

"Perempuan ini licik dan banyak akal muslihatnya, jangan-jangan ia hendak menjebakku? Ehmm... aku tak boleh tertipu," demikian ia berpikir dalam hati. Sementara itu Seebun Giok-hiong sudah membungkukkan badannya untuk membopong Lim Han- kim dan pelan-pelan beranjakpergi dari situ.

"Berhenti" dengan perasaan terkejut siok-bwee menghardik

Tiba-tiba saja sikap seebun Giok-hiong berubah jadi lembut sekali, sambil menghentikan langkahnya ia bertanya: "Ada apa?"

"Hendak kau bawa ke mana jenasah Lim siangkong?"

"Aku akan mengunjungi seorang tabib kenamaan dan mencoba menyembuhkan luka racun yang dideritanya."

"Kau percaya bahwa di dunia ini betul-betuI ada obat mujarab yang bisa menghidupkan kembali orang mati?"

"sekalipun tak ada obat mustajab yang bisa menghidupkan kembali orang mati, tapi kalau cuma obatpemunah racun sih ada"

"Nona kami adalah tabib paling hebat zaman ini.Biarkan dia disini, mungkin ia masih ada harapan untuk hidup"

"Nonamu sedang berusaha menyelamatkan nyawa sendiri dengan melatih ilmu sesat. Dalam tiga-lima hari mustahil ia bisa muncul dari pertapaannya, aku rasa tak perlu menunggu dia lagi."

Mendengar sampai disini, siok-bwee pun berpikir: "Apabila aku bersikeras hendak menahan Lim siangkong di sini, maka rasa curiganya tentu akan muncul lagi.

Kelihatannya aku harus biarkan ia membawa pergi Lim siangkong untuk sementara waktu, soal belakangan biar menunggu nona saja ..."

Karena berpikir demikian, maka dia pun tidak berbicara lagi. Pelan-pelan Seebun Giok-hiong membalikkan badan dan beranjak pergi dengan langkah lamban, langkahnya kelih atan berat sekali