Pedang Keadilan II Bab 12 : Membicarakan Urusan Dunia

 
Bab 12. Membicarakan Urusan Dunia

"Padamkan lilin di meja" titah si nona.

Lim Han- kim tertegun tapi ia menurut juga.

Tangannya segera dikebaskan, segulung desingan angin tajam memadamkan lilin di meja.

sambil tertawa cekikikan Pek si-hiang berseru kemudian: "Apa perasaanmu dengan situasi dan keadaan seperti sekarang ini?" "Tak ada bedanya dengan keadaan biasa" "Bagus sekali" seru Pek si-hiang, setelah berhenti

sejenak kembali lanjutnya: "Selama hidup belum pernah

aku tidur bersama lelaki, dalam satu ranjang, tapi sekarang, sedikit pun aku tak takut."

Lim Han-kim merasakan bau harum yang semerbak memabukkan berhembus lewat menerpa lubang hidungnya, tak tahan napsunya bergelora di dalam dadanya, Dengan rasa kaget buru-buru ia pejamkan mata sambil mengatur pernapasan, tak sepatah kata pun berani diucapkannya .

Terdengar Pek si-hiang berkata lebih jauh: " inilah kesempatan terbaik bagimu untuk mencoba diri, Bila kau yakin tak punya pikiran sesat atau jahat, aku akan mencoba mewariskan semacam ilmu silat kepadamu, aku percaya dalam satu malam saja kau sudah dapat menghapainya di luar kepala."

Lim Han-kim ingin sekali menjawab, tapi lantaran sedang mengatur pernapasan maka ia tak mengucapkan sepatah kata pun.

Pek si-hiang berkata terus:" Apa yang akan kuajarkan merupakan sebuah rahasia besar dalam ilmu silat.

Dengan bakat serta dasar yang aku miliki sekarang, aku percaya kemajuan yang bakal aku capai tentu amat pesat. Cuma bila kau merasa bahwa pikiranmu sulit dibuat setenang air, lebih baik tak usah mempelajari ilmu ini."

" Kenapa?" tanya Lim Han- kim tak tahan- "Sebab ketika mewariskan ilmu silat kepadamu nanti, tak bisa dihindari tubuh kita akan saling bersentuhan Bila pikiranmu tak tenang maka hawa murnimu sukar dikendalikan. Bila tersesat hingga mengalamijalan api menuju neraka, isi perutmu tentu akan terluka parah.

Lagipula ilmu silat jenis ini termasuk ilmu hitam dari golongan sesat, sedikit saja terjadi kesalahan, malam ini kita berdua bakal musnah di sini..."

Lim Han- kim berusaha menekan balik hawa murninya ke dalam Tan-tian, kemudian serunya: "Kalau memang sangat berbahaya, aku rasa lebih baik tak usah kita pelajari"

"Kenapa? Kau takut mati?"

"Kalau aku yang mati, hal ini lumrah dan tak perlu disesalkan Tapi kalau sampai nona ikut terbawa, aku pasti akan mati dengan perasaan amat menyesal"

"Perasaanku sudah mati sejak sekian tahun yang lalu, yang tertinggal sekarang hanya sebuah kerangka badan yang kosong, Mau mati mau hidup bagiku sudah sulit dibedakan, kenapa kau takut aku terseret dalam musibah ini?"

Dalam hati kecilnya Lim Han- kim segera berpikir: "sejak kecil ia sudah bergelut dengan penderitaan akibat gerogotan penyakit baginya kehadiran orang tua maupun sanak keluarga tidak banyak membantu, Untuk mengobati penyakitnya itu, entah sudah berapa banyak tabib kenamaan di seantero jagad yang sudah dikunjunginya,"

"Bayangkan saja bila sejak kecil ia tumbuh jadi dewasa karena minum obat setiap hari, tiap detik setiap saat harus menghadapi ancaman maut, boleh dibilang ia tak pernah mencicipi kehidupan yang gembira sebagai seorang bocah sehat. Tak heran bila ia putus asa dan memandang kematian seperti pulang kampung, Aaaai... kenapa Thian menghadiahkan penyakit yang begitu ganas untuk gadis yang cerdik, menarik dan cantik jelita ini?"

Ketika lama sekali tidak mendengar Lim Han-kim berbicara, sambil tertawa cekikikan kembali Pek si-hiang menegur: "Lim Han-kim, apa yang sedang kaupikirkan?"

"Aku sedang berpikir, kenapa di dunia ini banyak terdapat ketidak adilan? Kenapa gadis secantik dan sepintar kau justru diberikan tubuh yang lemah dan penuh penyakitan?"

"Cuaca dibedakan dengan hari terang dan hari hujan, rembulanpun ada kalanya bulat ada kalanya tinggal setengah Bila aku diberi tubuh yang sehat dan kuat, lalu apa bedaku dengan seebun Giok-hiong?"

Lim Han-kim jadi terbelalak dan melongo sesudah mendengar ungkapan itu, pikirnya: "Betul juga perkataan ini. sebagai gadis yang cantik dan sakti macam dia bila diberi tubuh yang sehat dan kuat, mana mau hidup sepi dan terpencil seorang diri? ia tentu akan muncul dalam dunia persilatan, merebut kursi terhormat dan melakukan bencana pembunuhan di mana-mana, bahkan bisa jadi kekejiannya melampaui seebun Giok-hiong ,.."

Terdengar Pek si-hiang berkata lebih lanjut: "Tahukah kau, apa sebabnya seebun Giok-hiong kelihatan tak mampu melebihi diriku?" "soal ini... soal ini... mungkin saja ia memang dilahirkan dengan kecerdikan jauh di bawah kemampuan nona."

"Di dunia ini amat jarang dijumpai perempuan secerdik dan sehebat dia. ia justru tak mampu menandingi kepintaranku lantaran rasa dengki, cemburu serta napsunya kelewat berlebihan. Kobaran api napsu membuat kepintarannya seolah-olah tersumbat. Lagi- pula buku yang sempat ia baca tidak sebanyak apa yang kubaca, otomatis dalam tindak-tanduk pun ia masih kalah setingkat dibandingkan aku..."

setelah tertawa cekikikan kembali terus- ny a: "Kelihatannya dunia persilatan generasi ini sudah diborong semua oleh jago-jago wanita. Li Tiong-hui, seebun Giok-hiong, semuanya terhitung gadis-gadis cerdik yang hebat."

"Kalau bicara soal ilmu silat serta kepintaran, aku lihat Li Tiong-hui masih kalah setingkat dibandingkan seebun Giok-hiong," tukas Lim Han-kim cepat Pek si-hiang tertawa.

"Betul kalau dibicarakan kondisinya saat ini, Tapi tiga bulan kemudian keadaannya pasti berubah sekali, kendatipun kemampuan Li Tiong-hui tak mampu jauh melampaui kehebatan seebun Giok-hiong. Paling tidak ia masih sanggup untuk mengimbangi Kini posisi seebun Giok-hiong sudah mapan, lagipula aliran ilmu silat yang dipelajarinya amat ruwet, aku lihat sulit bagi nona itu untuk meraih kemajuan lebih jauh. sebaliknya dasar ilmu silat yang dipelajari Li Tiong-hui adalah aliran lurus. Bila ia sudah mempelajari isi kitab pusaka pemberianku kemajuan yang bakal diraihnya pasti luar biasa, Kecerdasannya pun lumayan, ilmu silat pun hasil ajaranku, ia pasti bisa mengungguli lawannya secara mudah, Ehmm... aku percaya dalam dua puluh tahun mendatang, para jago wanita kita masih tetap akan merajalela dalam dunia persilatan."

"Jadi maksudmu tiga bulan lagi Li Tiong-hui sudah sanggup menghadapi seebun Giok-hiong dalam percaturan dunia persilatan?"

"Seharusnya sih begitu, cuma kalau dia enggan menuruti nasehatku, yaa . . . susah untuk dibicarakan"

"Menurut apa yang kuketahui, Li Tiong-hui menaruh sikap yang amat hormat terhadap nona. Aku percaya dia tak akan melanggar semua pesan dan nasehat yang nona berikan."

"Moga-moga saja begitu ..."

setelah berhenti agak lama, ia menambahkan "Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu, cuma aku minta kau menjawab sejujurnya, jangan mencoba membohongi aku."

"Aku tak pernah berniat berbohong ter-hadap nona, Apa yang bisa kujawab tentu akan kuucapkan sejujurnya. Urusan apa, nona? Tanyakan saja."

"sejak tumbuh dewasa hingga kini, pernahkah kau tidur dengan seorang wanita?"

"Belum pernah" "Malam ini kau tidur seranjang denganku, apakah pengalaman ini merupakan pengalamanmu yang pertama kali?"

"Rasanya masih ada sekali lagi," kata Lim Han- kim setelah berpikir sebentar "sewaktu melaksanakan siasat yang nona atur untuk memancing kedatangan seebun Giok-hiong, aku pernah satu ruangan dengan Li Tiong- hui".

"Seperti kita sekarang, tidur satu ranjang?" sambung Pek si-hiang.

"Tidak. waktu itu aku..."

"Aaaai..." Pek si-hiang menghela napas panjang, "Tidurlah, aku sudah lelah."

sesungguhnya Lim Han- kim belum mengantuk tapi ia takut mengganggu ketenangan Pek si-hiang. Dengan berhati-hati ia pejamkan matanya, bahkan badan pun tak berani sembarangan bergerak.

Entah berapa lama sudah lewat...

Mendadak terdengar suara isak tangis bergema di ruangan- entah dikarenakan apa, ternyata Pek si-hiang sedang menangis tersedu-sedu.

Lim Han-kim dapat merasakan bahwa gadis itu sedang berusaha memperlirih suara tangisannya, seolah-olah takut kalau sampai membangunkan tidurnya,

Dia ingin sekali menghiburnya dengan beberapa patah kata, tapi merasa kurang leluasa, akhirnya pikirnya dalam hati: "Kalau toh dia takut aku mengetahui tangisannya, kenapa aku mesti membuatnya tak tenang? Lebih baik aku pura-pura tak tahu saja..."

Tak lama kemudian kedengaran suara gemerisik, rupanya Pek si-hiang sudah turun dari pembaringan satu ingatan melintas dalam benak Lim Han-kim, pikirnya: "Mau apa dia?" Pelan-pelan dia menoleh dan mengikuti gerak tubuh gadis itu,

Dengan sangat berhati-hati Pek si-hiang mengenakan baju luarnya, lalu dengan berpegangan pada dinding ia berjalan menuju ke rak buku, Agaknya ia sudah lemah sekali, kondisi tubuhnya menurun drastis. Hal ini terlihat dari gerak langkahnya yang amat berat, malahan secara lamat-lamat kedengaran suara napasnya yang tersengal.

Kalau dilihat dari jarak antara rak buku dengan pembaringan padahal hanya terpaut enam-tujuh depa, tapi sepanjang perjalanannya ke situ Pek si-hiang harus berhenti dua kali untuk beristirahat.

Suatu dorongan perasaan iba, kasihan yang kuat meluap dalam benak Lim Han-kim. Kalau bisa, dia ingin melompat bangun serta membopongnya. Tapi ingatan tersebut segera ditewaskan kembali oleh dorongan perasaan ingin tahu yang lebih kuat,

Ketika tiba di depan rak buku itu, Pek Si-hiang memilih beberapa jilid di antaranya, membopongnya lalu pelan- pelan berjalan balik ke tepi pembaringan.

sewaktu berangkat dengan tangan kosong pun ia sudah kehabisan tenaga, apalagi ketika balik dengan membopong berapa jilid kitab, langkah kakinya kelihatan lebih berat dan susah. sambil berpegangan pada dinding ruangan dan napas tersengal-sengal ia berjalan kembali ke tepi ranjang, setumpuk buku itu diletakkannya di tepi pembaringan kemudian ia berdiri ngos-ngosan.

Diam-diam Lim Han- kim berpikir " KaLau dilihat dari kondisi tubuhnya yang begitu lemah, rasanya nona ini memang sulit untuk hidup lebih lanjut..." tanpa terasa timbul perasaan duka yang sangat mendalam di hati kecilnya.

setelah mengatur napas beberapa saat, Pek si-hiang kembali menggerakkan tubuhnya untuk naik ke atas pembaringan siapa tahu baru saja kaki kirinya diangkat, tiba-tiba kaki kanannya jadi lemas, tak sanggup menopang berat badannya, Tak ampun ia jatuh terjungkal ke atas tanah.

Lim Han- kim terkejut setengah mati, ia tak bisa menahan diri lagi, dengan cekatan dia melompat bangun dan memburu ke sisinya, Dalam keadaan panik dan cemas ia sudah tak ambil perduli lagi tentang batas-batas kesopanan antara pria dan wanita, dibopongnya gadis itu sambil serunva: "Nona Pek . .. Nona Pek.,."

Dengan suatu gerakan cepat ia totok tiga buah jalan darah penting di tubuhnya.

Pek si-hiang menghela napas panjang, bisiknya lirih: "Tak usah membuang tenaga, aku sudah..." Batuk yang keras dan beruntun memotong pembicaraannya yang belum selesai

"Kau tak boleh mati" ucap Lim Han- kim sedih. "sekalipun harus melatih ilmu sesat juga tak apa. Berlatihlah, yang penting jiwamu harus diselamatkan" sebagai seorang pemuda yang berjiwa terbuka, ia tak pernah menyimpan rahasia hatinya, apalagi dalam keadaan panik dan cemas sekarang, tanpa disadari semua rahasia hatinya ikut terungkap keluar

"Tidak apa-apa, untuk sesaat aku tak mungkin mati," jawab Pek si hiang lirih, "Boponglah aku naik ke ranjang, pasang lilin- aku hendak menyampaikan sesuatu kepadamu."

Dengan cepat Lim Han- kim membopong gadis itu ke atas ranjang, kemudian menyulut lilin di meja.

Pelan-pelan Pek si-hiang berpaking, sekulum senyuman menghiasi wajahnya yang pucat pias, tapi sebelum ia mengucapkan sesuatu mendadak wajahnya berubah hebat, teriaknya: "Darah Kau terluka . .."

Lim Han- kim menunduk, betul juga lutut kirinya sudah berdarah, Cucuran darah segar telah membasahi kakinya, mengotori seprei dan menggenangi pembaringan

Rupanya ketika melompat bangun dari atas ranjang tadi, lututnya telah membentur bagian atas pedang usus ikan, padahal pedang itu tajamnya bukan kepalang, sekalipun hanya bersentuhan, tak urung timbul juga mulut luka sepanjang tiga inci dan kedalaman setengah inci pada lutut kirinya itu.

Dengan penuh perhatian Pek si-hiang menegur lagi: "Parah tidak lukamu? sakit...?"

"Tak usah kuatir," jawab Lim Han- kim sambil tertawa, "Cuma darahku telah mengotori pembaringan nona, aku

... aku jadi tak tenteram." "Cepat balut lukamu itu" sambil berseru Pek si-hiang mengambil keluar secarik sapu tangan dari bawah ranjang.

Lim Han-kim tak tega menampik maksud baiknya. setelah menerima sapu tangan itu dibalutnya mulut luka yang menganga, kemudian diambilnya pedang usus ikan itu dari pembaringan dan meletakkannya di atas meja.

Setelah mulut luka itu terbungkus, Pek Si-hiang baru pejamkan matanya beristirahat sejenak, tegurnya kemudian: "Apa yang kulakukan tadi sudah kau lihat semua?"

"Yaa, sudah kulihat semua." Lim Han-kim menunduk "cuma aku tak berani mengusik nona, maka aku tak berbicara."

"Semula kupikir aku masih bisa hidup tiga hari lagi, tapi sekarang... nampaknya aku sudah tak sanggup melewati tengah hari esok. Aaaai... mungkin aku tak sempat menghadiri pesta perkawinanmu lagi."

Lim Han-kim sangat kaget, teriaknya: "Bukankah kau masih segar? Kenapa bisa mati secara tiba-tiba?"

"Aku sudah merasakan adanya perubahan dalam tubuhku, itulah pertanda datangnya kematian"

Tapi setelah tersenyum, ia kembali meneruskan "Meskipun waktu hidupku sangat pendek, tapi banyak hal sudah pernah kulihat Dendam kesumat, kesedihan, kegembiraan, kematian, kelahiran, perkawinan, tempat yang indah, marah, gembira, sedih, murung semua sudah kualami dan kurasakan. Satu-satunya harapanku yang belum terpenuhi hanyalah tidur dengan lelaki, Tapi malam ini keinginanku sudah terkabul. Aku sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi, biarpun harus mati, aku akan mati dengan mata meram, mati dengan perasaan puas ..."

Kembali Lim Han-kim berpikir "Bila dilihat dari kondisi badannya yang begitu cepat menyusut mundur, tampaknya apa yang ia katakan memang betul. Namun karena ia tidak berniat sama sekali untuk mempertahankan hidupnya, akibatnya kondisi kesehatannya semakin cepat mengalami kemunduran, Aku harus berusaha untuk membangkitkan kembali semangat hidupnya. Dengan pengetahuannya yang begitu luas, mungkin saja ia masih mampu menyelamatkan hidupnya . . ."

sambil menghela napas Lim Han-kim berkata: "Bila nona mati, pernahkah kau bayangkan betapa sedih dan hancurnya perasaan kedua orang tuamu?"

"Tidak apa apa. sudah lama mereka mengetahui kondisi penyakitku yang tanpa obat, Kalau bilang sedih dan hancur perasaannya, mereka telah mengalaminya sejak belasan tahun berselang, jadi kematianku sesungguhnya sudah ada dalam dugaan mereka."

"Beribu-ribu lembar jiwa umat persilatan tergantung pada tindakan nona dalam menghadapi seebun Giok- hiong, apakah kau sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan mereka?"

"Dalam masalah ini aku sudah membuat persiapan yang masak, Beberapa kitab yang kutaruh di atas pembaringanku ini memuat keterangan tentang beberapa macam ilmu silat. setiap bagian sudah kusertakan catatan serta kupasan yang perlu dan penting, Bila kau selesai membaca beberapa kitab tersebut kemudian melatihnya sesuai dengan ajaranku, lima tahun kemudian kau pasti mampu mengalahkan seebun Giok-hiong.

Waktu itu bila ia masih melanjutkan perbuatannya menteror dunia persilatan, maka kau sanggup membunuhnya untuk menebus kematian umat persilatan, Kau pun tak perlu bersusah payah berkelana dalam dunia persilatan untuk mendirikan suatu kekuatan sendiri

Aku yakin umat persilatan pada waktu itu pasti akan memuja kau sebagai manusia sakti kedua setelah Tat-mo cousu pendiri siau-Iim-pai."

"Aaaai... kau anggap aku Lim Han-kim sengaja membujuk nona lantaran aku pingin ternama?" ucap Lim Han-kim sambil menghela napas.

Pek si-hiang tertawa, "sekalipun kau tak bermaksud begitu, namun aku telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk membawa kau kearah situ, Apa lagi malam ini kita sudah tidur bersama seranjang, Meskipun aku bukan istrimu, tapi aku telah mendahului bakal istrimu di kemudian hari, Betul aku berbuat begini demi kepentingan perasaan pribadiku, tapi juga memikirkan keselamatan umat persilatan di dunia..."

setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya: "Sebelum ilmu silatmu berhasil dipelajari, dunia persilatan tetap akan dipelopori dua orang jago wanita, seebun Giok-hiong dan Li Tiong-hui akan membagi dunia persilatan menjadi dua bagian yang saling berhadapan- Betul kemampuan Li Tiong-hui masih setingkat lebih lemah, tapi dengan dukungan orang tuanya, Ciu Huang, phang Thian-hua, ditambah pula kekuatan dari siau-lim- pai dan Bu-tong-pai, aku yakin kemampuannya masih bisa mengimbangi kehebatan lawan.

sedang aku, mengingat malam ini kita pernah tidur seranjang, aku akan membantumu menjadi seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan Tidakkah pembagianku ini adil bagi kalian semua?"

Dengan sedih Lim Han-kim menghela napas sambil menundukkan kepalanya, untuk sesaat suasana dalam ruangan itupun berubah jadi sepi, hening, tak kedengaran sedikit suara pun.

Lewat sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba Pek si- hiang menggenggam tangan Lim Han-kim erat-erat, lalu katanya lembut: "Ayo temani aku tidur sebentar lagi, Berilah kesempatan bagiku sebelum menghembuskan napas yang terakhir untuk menikmati hangat dan mesranya cinta."

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Lim Han-kim, ia teringat kembali pada pesan dari siok-bwee, maka dengan wajah serius ditatapnya wajah Pek si-hiang Iekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah katanya lagi: "Kau telah mengatur segala sesuatunya tentang dirimu, tapi pernahkah kau pikirkan masalahku?"

"Bukankah aku sudah mengaturkan yang terbaik untukmu? Tapi sayang persoalan ini bukannya tanpa perubahan ..."

"Perubahan apa?" desak pemuda itu gelisah "seandainya besok siang seebun Giok-hiong setuju untuk kawin denganmu, maka semua yang sudah kuaturkan bagimu akan menjadi sia-sia belaka, sebab mustahil bisa dilaksanakan ..."

"Dia tak bakal mau kawin denganku."

"Mau atau tidak posisinya adalah separuh lawan separuh," tukas Pek si-hiang cepat "Bila aku harus berbicara secara jujur, maka aku berpendapat kesempatannya untuk mengatakan setuju jauh lebih besar ketimbang mengatakan tidak." Bicara sampai di situ ia pejamkan matanya dengan sedih.

Lama sekali Lim Han-kim termenung sambil memutar otak. akhirnya dengan tegas ia berkata: "sekalipun ia menyatakan setuju, aku tetap tak akan kawin dengan perempuan itu"

"Kenapa?" dengan keheranan Pek si-hiang mengerdipkan matanya berulang kali. "Apakah seebun Giok-hiong kurang cantik?"

Lim Han-kim tertawa hambar, "Betul, ia memang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tapi bukan berarti aku Lim Han-kim memilih jodohku atas dasar kecantikan wajah seseorang."

"Masa kau tak akan kawin selama hidup?"

"Harus kawin, keluarga Lim hanya ada satu keturunan yakni aku"

"Aaaai... aku mengerti maksudmu Kau hendak memilih seorang gadis yang sederhana untuk melewati kehidupan yang lebih tenang bukan? perempuan yang kurang pintar biasanya setia, kau pasti hendak mencari seorang gadis yang mau menuruti semua perkataanmu bukan?"

"Keliru besar" Lim Han-kim gelengkan kepalanya berulang kali, "Asal aku cinta dirinya, aku tak perduli dia mau pintar atau tidak."

"oooh .. . kalau begitu tentu Li Tiong-hui yang kau maksudkan"

"Bukan" sekali lagi Lim Han-kim gelengkan kepalanya. " Kalau begitu sampai sekarang kau masih belum

menjumpai calon istri yang ideal untukmu" seru Pek si- hiang seraya tertawa.

"Ada sih sudah ada, cuma aku tak tahu apakah gadis itu bersedia kawin denganku atau tidak."

"Beritahu padaku, nona yang mana sih begitu bernasib baik bisa dicintai olehmu."

"Kau" jawab Lim Han-kim sambil menatap wajah gadis itu tanpa berkedip.

Bagaikan dipagut ular berbisa, mendadak seluruh tubuh Pek si-hiang gemetar keras, sorot matanya yang sudah memudar kini bercahaya kembali, wajah pun ikut berseri-seri, serunya hampir tak percaya: "sungguhkah perkataanmu itu?"

"Setiap patah kata kuucapkan sejujurnya."

Titik air mata jatuh berlinang dari balik mata Pek si- hiang yang terbelalak lebar, katanya sedih: "Aku sudah hampir mati, buat apa kau mengajakku bergurau?"

sebenarnya Lim Han-kim tak punya niat kesitu, tapi dalam keadaan dan situasi seperti ini tergelora juga perasaan hatinya. Tanpa terasa ia genggam tangan gadis itu kencang-kencang dan berbisik: "setiap patah kata kuucapkan dari lubuk hatiku yang paling dalam, asal kau bersedia untuk hidup terus ..."

"Tapi aku tak bisa melahirkan keturunan untukmu," tukas Pek si-hiang sedih, "Bila kau betul- betul mengawini aku, bukankah keturunan keluarga Lim akan putus sampai di sini?"

"Dengan kecerdasan nona, soal mati hidup pun tidak menyusahkan hatimu, apa lagi hanya masalah melahirkan keturunan..."

Pek si-hiang tertawa cekikikan "Masalah seperti ini tak bisa diputuskan dengan tenaga manusia, tapi juga bukan berarti tak bisa diselesaikan. Asal kubawa serta siok- bwee dan Hiang- kiok, meski aku tak bisa melahirkan, tapi siok-bwee berdua punya rejeki punya keturunan, tidak sulit bagi mereka berdua untuk melahirkan satu lusin keturunan untukmu."

Agak tercengang juga Lim Han-kim setelah melihat rasa gembira dan berseri yang menghiasi wajah gadis itu, pikirnya: "Apa betul ia sungguh-sungguh mencintai aku?" Berpikir begitu, sambil tersenyum katanya kemudian:

"Itulah sebabnya kau harus melanjutkan hidupmu" senyuman yang menghiasi wajah Pek si-hiang hilang

lenyap seketika, lama sekali ia termenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tiba-tiba dari balik dinding berkumandang datang suara ketukan yang pelahan. Dengan seksama Lim Han-kim memperhatikan suara ketukan itu, lalu tanyanya: "Apa pula yang dia katakan?"

"Ia bilang di luar pesanggrahan pengubur bunga telah kedatangan sebuah perahu yang mencurigakan dan mondar-mandir diseputar perairan kita."

"Apa perlu aku keluar untuk melakukan perondaan?^ "Tidak usah, aku telah mempersiapkan beberapa

macam alat rahasia di balik jalan air menuju

kepesanggrahan pengubur bunga ini. Bila mereka berani menerobos masuk secara paksa, berarti mencari penyakit buat diri sendiri.."

"Bila yang datang adalah seebun Giok-hiong, apakah alat rahasia yang kau persiapkan itu mampu menahan serbuannya?"

"Aku rasa seebun Giok-hiong tak akan nyerempet bahaya dengan melakukan penyerbuan di malam hari..."

Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali terusnya: "Malam ini, bila kau lihat mataku terpejam rapat, tidak mampu bicara, napas amat lemah persis seperti orang yang mati, tolong totoklah jalan darah penting dipunggungku. Bila totokan tersebut tidak berhasil juga menyadarkan aku, berarti aku akan segera putus nyawa."

"Bukankah kau sudah berjanji tak akan mati?" seru Lim Han-kim dengan perasaan cemas.

"saat ini, mati hidupku sudah tidak berada dalam kendali diriku lagi, Dalam keadaan dan kondisiku sekarang, setiap saat ada kemungkinan jiwaku akan melayang." " Kalau begitu kau batalkan janjimu untuk kawin denganku?" sela Lim Han-kim sedih. Pksi-hiang gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku belum pernah berjanji ..."

setelah menghela napas panjang, sambung-nya: "Meskipun kita belum resmi menjadi sua mi istri, tapi sudah berpengalaman tidur bersama satu ranjang, Walau kegadisanku belum ternoda, tapi nama baikku sesungguhnya telah tercemar, jadi sesungguhnya dalam hati kecil aku sudah menganggap kau sebagai suamiku, Bila aku bisa hidup terus, dan aku bisa kawin, maka akupasti akan kawin menjadi istrimu ..."

suara napas yang tersengal-sengal memotong ucapannya yang belum selesai, Buru-buru gadis itu pejamkan matanya dan tidak berbicara lagi, Buru-buru Lim Han-kim memeriksa dengusan napasnya, terlihat olehnya napas gadis itu sudah teramat lemah, Dengan perasaan hati bergetar keras segera pikirnya: "Apa betul dia akan mati pada malam ini?"

sebetulnya dia ingin segera menggoyang badannya, tapi ia juga takut getaran yang kelewat keras akan menyebabkan gadis itu mati lebih cepat Akhirnya pemuda itu ragu-ragu untuk turun tangan-

Hanya sepercik cahaya lilin yang menerangi ruangan itu, suasana sedih, hening, duka dan murung yang luar biasa mencekam seluruh tempat itu... Lim Han-kim betul- betul dibuat gelagapan dan tak tahu apa yang harus diperbuat, pikirannya kalut, dia tak tahu harus memikirkan apa, ditatapnya cahaya lentera di atas meja dengan termangu. Entah sudah berapa lama ia duduk ter-menung... Tiba- tiba dari balik dinding kembali terdengar suara ketukan berirama yang amat lirih.

Ketukan itu segera menyadarkan kembali Lim Han-kim yang sedang melamun, otomatis menjernihkan pula pikirannya yang kusut dan kalut ia coba mendengarkan suara ketukan itu dengan seksama, dirasakannya irama ketukan makin lama makin cepat dan terputus-putus, jauh berbeda dengan irama sebelumnya.

Meskipun Lim Han-kim tak bisa membedakan apa arti dari irama ketukan yang cepat dan terputus-putus itu, namun dari iramanya yang begitu gencar ia dapat menduga bahwa siok-bwee berdua sedang menghadapi masalah gawat yang amat serius.

Dengan cepat dia bangkit berdiri tapi tak tahu bagaimana harus mengatasinya, saking gelisahnya anak muda itu mondar mandir ke sana kemari tak tahu apa yang mesti dilakukan

irama ketukan pada dinding itu tiba-tiba terhenti sama sekali, tapi lewat sepeminuman teh kemudian suara tersebut kembali bergema, Kali ini irama ketukannya bertambah cepat dan kencang, seakan-akan ada masalah besar yang teramat gawat

Dengan gugup Lim Han-kim menoleh kearah Pek si- hiang, tapi gadis itu pejamkan matanya rapat-rapat seperti tertidur nyenyak sekali, Bisa jadi semalaman tadi ia kecapaian dan tak punya waktu untuk beristirahat, maka kini ia tidur dengan nyenyak sekali.

Pemuda itu pun tahu tidur yang cukup berpengaruh baik bagi kondisi badannya yang lemah, Hal ini berarti apa pun yang terjadi, gadis itu tak boleh dibangunkan dari tidurnya, tapi masalah yang dihadapinya di depan mata sekarang membuat pikiran pemuda itu bertambah kalut dan bingung. ia sudah berusaha menggunakan seluruh kecerdasan dan pengetahuan yang dimilikinya untuk mengartikan apa makna dari irama ketukan yang begitu gencar itu, namun hasilnya tetap nihil.

Lim Han-kim menarik napas panjang-panjang untuk menenteramkan pikirannya yang gugup dan kalut, sementara otaknya mulai diperas untuk mencari pemecahan masalah di depan mata. Akhirnya setelah dipertimbangkan bolak-balik, ia temukan dua kemungkinan yang bisa ditempuh.

Kesatu, berusaha mencari alat rahasia pembuka pintu rahasia ini agar dia bisa keluar dari kamar rahasia serta memeriksa sendiri apa yang sesungguhnya terjadi,

Kedua, ia harus berusaha melakukan suatu tindakan agar si pengirim berita ketukan di luar ruang rahasia itu menjumpai gejala yang mencurigakan dalam ruang rahasia tersebut, Kalau bisa, agar mereka mengerti bahwa si penerima berita dalam ruang rahasia tidak memahami apa yang dimaksudkan dengan berita kiriman itu.

Ia sadar, Siok-bwee maupun Hiang-kiok adalah gadis- gadis berotak encer yang amat cerdik, Asal mereka temukan gejala yang mencurigakan itu, niscaya mereka pun bisa menduga keadaan dalam ruang rahasia tersebut.

Lim Han-kim mulai bertindak, ia mulai memeriksa seluruh dinding ruangan itu guna menemukan tombol rahasia pembuka pintu ruangan tersebut, Dia mencoba untuk mengingat-ingat posisi Pek Si-hiang sewaktu masuk dalam ruangan itu, tapi hasilnya tetap nihil meski sudah dilakukan pencarian sekian lama.

Dengan perasaan mendongkol bercampur jengkel pikirnya kemudian: "Jalan pertama menemui kegagalan, tampaknya aku harus menggunakan cara kedua. siapa tahu siok-bwee dan Hiang-kiok bisa membukakan pintu rahasia ini untukku."

Berpikir sampai di situ, ia pun menghentikan usaha pencariannya atas tombol rahasia pintu ruangan itu, dengan menghimpun tenaga dalamnya sebuah pukulan keras segera dilontarkan ke atas dinding, Dia yakin, suara pukulannya yang keras itu dapat bergema sampai di luar ruang rahasia itu, apalagi dengan andalkan kesempUrnaan tenaga dalamnya, suara itu seharusnya bisa bergema sampai jauh sekali.

Betul juga, suara ketukan di dinding itu seketika terhenti, suasana dalam ruang rahasia pun dicekam dalam keheningan yang luar biasa, Lebih kurang sepenanakan nasi kemudian, mendadak dari atas dinding bergema suara gemerincingan yang amat keras, disusul terbukanya sebuah pintu rahasia.

Dari luar ruang rahasia bergema pula suara siok-bwee yang menegur dengan suara keras: "Lim siangkong, bagaimana keadaan nona, apakah ia tertidur?"

Melihat caranya membuahkan hasil, buru-buru Lim Han-kim lari keluar dari ruangan itu, sahutnya: "Yaa, nona Pek sudah tertidur, Aaai ia sudah sibuk setengah malaman, kini pasti kelelahan setengah mati, Ayolah masuk. nona"

"Tidak bisa, nona telah memberi perintah bahwa budak berdua dilarang memasuki ruang rahasia ini, lebih baik siangkong saja yang keluar dari situ"

Dengan langkah cepat Lim Han-kim melompat keluar dari tempat tersebut Hatinya segera tergerak setelah menyaksikan siok-bwee mengenakan pakaian ketat dengan sebilah pedang tersoren dipunggungnya.

"Apa yang terjadi?" tegurnya cepat "Apakah sudah terjadi sesuatu dipesanggrahan pengubur bunga?"

Bukan menjawab, siok-bwee malah balik bertanya: "Bagaimana dengan keadaan nona kami?"

"Ia tertidur nyenyak sekali"

"Huuuh... terima kasih langit terima kasih bumi..." siok-bwee menghembuskan napas panjang, sambil merangkap tangannya di depan dada, kembali terusnya: "semoga Thian maha pengasih dengan memberikan rahmat dan perlindungan-Nya kepada nona kami. semoga nona kami diberi umur yang panjang dan tubuh yang sehat. Untuk itu siok-bwee bersedia dikurangi usiaku untuk ditambahkan buat nona ..."

Ketika berbicara sampai di situ, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Menyaksikan kesetiaan budak ini terhadap majikannya, Lim Han-kim segera berpikir: "Kini, pesanggrahan pengubur bunga sedang menghadapi musibah besar, Bila aku beritahu kepada mereka bahwa jiwa Pek si-hiang amat kritis dan berbahaya, pikiran serta perasaan siok-bwee dan Hiang-kiok tentu hancur lebur. Dalam keadaan demikian mereka tak akan berminat untuk menghadapi serbuan musuh lagi, Eh mm, lebih baik aku bohongi mereka untuk sementara waktu..."

Berpikir begitu, sambil tertawa paksa katanya: "Nona Pek telah berbincang semalaman denganku, kini ia kecapaian dan tertidur nyenyak."

"Terima kasih banyak siangkong atas perhatianmu," kata Siok-bwee sambil menyeka air matanya dan tertawa, "Bila kau dapat membujuk nona kami agar keinginan hidupnya tumbuh, ia pasti akan temukan cara pertolongan bagi dirinya, Untuk membalas budi kebaikan ini, biar budak mesti jadi kuda atau kerbaupun, budak rela berbakti selamanya untukmu ..."

Mendadak ia melihat kaki pemuda itu penuh berlumuran darah, sambil menjerit kaget serunya: "Lim siangkong, kau berdarah.."

"Tidak apa-apa, hanya tergores pedang usus ikan," sahut Lim Han-kim tersenyum.

"Parah tidak lukamu?"

"Aaah, cuma luka luar, tidak usah nona kuatirkan-.." setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya: "Kau sudah berseragam tempur, seakan-akan sedang menghadapi serbuan musuh tangguh, sebetulnya apa yang telah terjadi dipesanggrahan pengubur bunga ini...?"

"sebuah perahu mendar mandir terus di luar pesanggrahan pengubur bunga, kini adik Hiang-kiok sedang berjaga-jaga di pintu masuk sedang budak kemari untuk mengirim berita buat nona, Aaaai... tak nyana nona sedang tidur nyenyak"

"Ia sangat lelah dan butuh tidur yang cukup setelah berbincang-bincang semalaman denganku Tak usah membangunkannya, Ayo ajak aku, biar kuperiksa keadaannya"

"siangkong, lebih baik kau tetap tinggal di sini menemani nona," sela siok-bwee dengan mata berkedip. "Budak percaya, dengan kemampuanku serta adik Hiang- kiok. ditambah dengan alat rahasia yang tertanam sepanjang jalan masuk. kami masih mampu membendung serbuan lawan."

"Ia sedang tidur nyenyak sekali, jadi tak ada gunanya aku tetap tinggal di sini, dari pada mengganggu tidurnya lebih baik biar kutengok sendiri keadaan di situ."

"Kalau begitu baiklah" siok-bwee segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Lim Han-kim berjalan mengikuti di belakang siok-bwee menelusuri jalan setapak menuju ke depan, mereka berhenti di sebuah sudut bukit yang amat terjal

Ketika mendongakkan kepalanya terlihat, sinar merah sudah mulai muncul di langit timur, rupanya fajar sudah mulai menyingsing, Blaaammmmm ...

suara benturan keras bergema dari arah belakang. sebuah batu cadas yang amat besar tahu-tahu sudah bergeser menutup jalan masuk menuju ke ruang rahasia tadi.

Rupanya disaat pikirannya sedang bercabang itulah siok-bwee telah menggerakkan alat rahasia untuk menutup kembali lorong tersebut, dengan begitu Lim Han-kim tidak sempat melihat dengan jelas di mana letak alat rahasia itu.

setelah menutup pintu rahasia, buru-buru siok-bwee berseru: "Kini adik Hiang-kiok menjaga pintu masuk seorang diri, aku sangat mencemaskan keselamatannya. Ayo kita ke sana secepatnya"

Tak selang beberapa saat kemudian sampailah Lim Han-kim berdua di depan pintu masuk. Waktu itu Hiang- kiok dengan pedang terhunus sedang bersembunyi di belakang sebuah batu besar sambil mengawasi gerak- gerik di luar jalur air.

Betul juga, Di antara gulungan ombak dan percikan air tampak sebuah sampan bergerak hilir mudik mengitari perairan itu.

Lim Han-kim menghampiri ke sisi Hiang-kiok. lalu bisiknya: "Sudah kau lihat siapa yang datang?"

Hiang-kiok berpaling dan memandang sekejap wajah Lim Han-kim yang jelek lagi aneh itu, lalu sambil menahan rasa gelinya ia menyahut: "Belum terlihat dengan jelas, mereka sembunyi di dalam ruang perahu, yang tampak hanya dua lelaki mendayung itu."

"Lalu siapakah mereka?" dengan rasa tercengang Lim Han-kim berpikir "Selain seebun Giok-hiong, siapa pula yang tahu letak pesanggeahan pengubur bunga?"

Mendadak sampan itu memperlambat gerakannya, kemudian pclan-pelan berlayar menuju ke jalur pintu masuk.