Pedang Keadilan II Bab 06 : perempuan Im-yang Pendekar jelek

 
Bab 06. perempuan Im-yang Pendekar jelek

"Apakah kau amat rindu dengan ketua Hian-hong- kau?" tegur Seebun Giok-hiong termangu.

"Yaa, sangat rindu Kenapa?"

"Kuanjurkan lebih baik jangan menaruh harapan yang kelewat besar kepadanya..."

"Kau tak usah kuatir" "Baiklah, mari kita buktikan bersama apakah sikap ketua Hian-hong-kau kepadamu masih tetap seperti sedia kala ..." Kepada siau-cui perintahnya: "siapkan kuda, kita bersama-sama menjumpai ketua Hian-hong- kau."

Siau-cui menyahut dan segera beranjak pergi, tak lama kemudian ia muncul kembali seraya berseru: "Kereta telah slap"

Seebun Giok-hiong segera berkata kepada Lim Han- kim: "Wajahmu sekarang aneh, lucu dan menyeramkan kalau dibiarkan berjalan biasa pasti akan menarik perhatian orang banyak, untuk menghindari semuanya ini lebih baik kita naik kereta saja."

"Terima kasih atas perhatian nona." Dengan langkah lebar ia beranjak keluar dan naik ke dalam kereta.

Seebun Giok-hiong mengikuti di belakang-nya, tak lama kemudian siau-cui telah melarikan kereta itu menelusuri jalan raya.

Tampaknya Seebun Giok-hiong dibuat bingung dan tidak habis mengerti oleh reaksi yang diberikan Lim Han- kim atas perubahan wajahnya, sebab reaksi pemuda itu ternyata sangat menyimpang dengan kejadian yang berlaku pada umumnya.

Ia berusaha keras menahan pelbagai kecurigaan yang memenuhi benaknya, selama duduk dalam kereta, secara diam-diam ia awasi terus setiap gerak-gerik dari Lim

Han-kim. Namun pemuda tersebut ternyata hanya duduk bersandar pada dinding kereta dengan mata terpejam, tidak bicara juga tidak tertawa. Sikap ini semakin menyulitkan Seebun Giok-hiong untuk menilai reaksinya.

Suasana hening mencekam ruang kereta itu, yang terdengar hanya bunyi guliran roda kereta yang melewati jalan, Lebih kurang setengah jam kemudian tiba-tiba saja larinya kereta kuda itu terhenti sama sekali, Menyusul kemudian terdengar suara Siau-cui berkata: "Lapor majikan, kita telah tiba di tempat kediaman ketua Hian- hong-kau"

"Ketuk pintu" perintah Seebun Giok-hiong.

Siau-cui menyahut dan segera melompat turun dari kereta, Tak selang berapa saat kemudian ia sudah kembali ke depan kereta seraya berseru: " Ketua Hian- hong-kau dengan memimpin para jagonya telah menyambut sendiri di depan pintu"

Seebun Giok-hiong berpaling kearah Lim Han- kim, katanya kemudian: "Ayo turun sebentar lagi kau akan bertemu dengan ketua Hian-hong-kau yang kau rindukan siang malam"

Lim Han-kim ragu-ragu sesaat, lalu seru-nya: "silakan nona turun lebih dulu"

Seebun Giok-hiong menyingkap tirai dan melompat turun disusul Lim Han-kim di belakangnya.

Saat itu Li Tiong-hui dengan mengajak siang Lam-ciau serta seorang gadis cantik telah menunggu di depan pintu gerbang, di belakang mereka berdiri berjajar delapan orang manusia berbaju hitam yang memakai ikat pinggang warna warni. Sambil menghela napas Lim Han-kim berpikir "Aaai, padahal baru berpisah tiga hari, tapi ia seakan-akan sudah tidak kenal lagi denganku..."

Sementara itu Seebun Giok-hiong telah berkata: "Terima kasih banyak atas sambutan kaucu"

"Sudah seharusnya, silakan masuk minum teh."

Tanpa sung kan Seebun Glok-hiong melangkah masuk dengan langkah lebar, sedang siau-cui dengan menarik Lim Han-kim mengikuti di belakangnya, Tampaknya semua orang yang hadir di situ tertarik oleh keanehan wajah Lim Han-kim yang penuh gambar tato itu, tak terasa semua orang memperhatikannya dengan seksama, setelah melewati pintu gerbang kedua dan melewati kebun, sampailah mereka di ruang belakang.

Seebun Giok-hiong segera mempercepat langkahnya seraya berbisik kepada Li Tiong-hui: "Kaucu, harap kau singkirkan semua orang, aku hendak membicarakan sesuatu denganmu"

Li Tiong-hui berpikir sejenak, kemudian sambil mengulapkan tangannya kepada siang Lam-ciau sekalian, serunya: "Kalian tak perlu ikut masuk"

Dengan menggandeng tangan Seebun Giok-hiong, ia langsung masuk ke dalam ruangan Waktu itu di ruang tengah telah disediakan makanan kecil, dua orang dayang segera maju menghidangkan air teh.

Li Tiong-hui segera memberi tanda agar dua orang dayang itu keluar dari ruangan, setelah itu baru katanya: "Ada urusan apa nona, sekarang boleh kau katakan-" "Kaucu kenal dengan orang itu?" tanya Seebun Giok- hiong sambil menuding Lim Han-kim.

Dengan sorot mata tajam Li Tiong-hui memperhatikan Lim Han-kim sekejap. kemudian menggeleng, "Aku tidak kenal"

"Kaucu jangan pandang enteng orang itu" kata Seebun Giok-hiong sambil tertawa, "Meskipun wajahnya aneh, tapi ilmu silat yang dimilikinya sangat tangguh."

"Aku percaya tak ada anak buahmu yang tidak ahli dalam ilmu siiat, aku lihat saudara ini mungkln berasal dari suku Biau?"

Seebun Giok-hiong tertawa cekikikan "suku Han juga mempunyai kebiasaan mentato badan sendiri, jangan kau kira hanya suku Biau yang memiliki kebiasaan tersebut."

"Sekalipun suku Han juga mempunyai kegemaran mentato badan, tapi kebanyakan mentato dada atau punggungnya, belum pernah kudengar ada orang mentato wajah sendiri dengan aneka gambar Atau mungkin memang pengetahuanku amat picik hingga tidak mengetahui hal tersebut Nona Seebun, kau tak usah sok rahasia lagi"

Selama tanya jawab berlangsung, Lim Han-kim hanya berdiri membungkam dengan kepala tertunduk. meski hatinya amat pedih tapi berhubung wajahnya telah dipenuhi gambar tato sehingga sukar bagi orang lain untuk menyaksikan perubahan wajahnya, Mendadak Seebun Giok-hiong memberi tanda seraya berseru: "Kemari kau" Tampaknya semua kegagahan Lim Han-kim ketika datang tadi telah lenyap tak berbekas, dengan kepala tertunduk ia maju ke depan.

Sambil tertawa tergelak Seebun Giok-hiong segera berseru: "Bukankah siang malam kau selalu merindukan ketua Hian-hong-kau? setelah bertemu kenapa tidak bicara?"

Kemudian setelah berhenti sejenak. kepada Li Tiong- hui katanya lagi sambil tertawa terkekeh: "orang ini ibarat katak yang merindukan bulan, sudah tahu begitu jelek tampang sendiri, tapi ia masih merindukan kecantikan wajah kaucu, bahkan siang malam merindukannya "

"Aah... masa iya?" seru Li Tiong-hui sambil memainkan biji matanya.

"Jadi kaucu tidak percaya?" seru Seebun Giok-hiong tertawa.

"Aku percaya, dengan kedudukan nona, tak mungkin kau akan sembarangan berbohong."

"Memang paling baik jika kaucu percaya perkataanku ini."

Pelan-pelan Li Tiong-hui bangkit berdiri, dengan matanya yang bening ia tatap Lim Han-kim tajam-tajam, lalu tegurnya: "Kau benar-benar kenal aku?"

"Yaa" Lim Han-kim mengangguk "Walapun aku kenal kaucu, aku rasa kaucu sudah tidak kenali diriku lagi." Li Tiong-hui merasa suara itu amat dikenalnya tapi untuk sesaat tidak teringat siapa dia. setelah termangu sejenak, tegurnva: "siapa kau?"

Lim Han-kim menghela napas panjang, ia membungkam diri.

"Kenapa tidak berani menyebutkan namamu?" jengek Seebun Giok-hiong dingin-

Li Tiong-hui mengerutkan keningnya lalu tertawa hambar

"Sebut saja namamu" katanya, "ingatanku paling kuat terhadap sobat-sobat lama . "

Lim Han-kim menengadah memandang langit-langit rumah, setelah menghembuskan napas panjang- katanya: "Aku Lim Han-kim"

Berubah paras muka Li Tiong-hui, tapi hanya sejenak kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala, ia segera menggenggam tangan Lim Han-kim dan katanya lembut: "See-bun Giok-hiong mengira dengan merusak wajahmu lalu aku akan menampikmu serta tak mau mengenalimu lagi..."

Ia tertawa terkekeh-kekeh, lanjutnya: "Tapi sayang tebakannya keliru besar"

"Kau menaruh rasa iba, rasa kasihan kepadanya bukan?" ejek Seebun Giok-hiong sambil tertawa.

"Bagaimana aku harus berbuat agar membuktikan kepadamu bahwa aku tetap mencintainya sepanjang masa?" Seebun Giok-hiong berpikir sejenak. kemudian katanya: "Caranya sih ada satu, cuma aku kuatir kaucu keberatan sehingga diutarakanpun tak ada gunanya."

" Katakan saja, akan kupertimbangkan caramu itu."

Seebun Giok-hiong segera melompat bangun, katanya dingini "Kau benar-benar keberatan meninggalkan dia?"

"Benar, jangankan baru wajahnya yang rusak. sekalipun kau kutungi keempat anggota badannya dan melumat panca indranyapun, aku tetap akan mencintainya sepanjang masa, Bukan tubuhnya yang kucintai, tapi hatinya."

"Aku tidak percaya"

"Lantas bagaimana baru mau percaya?" tanya Li Tiong-hui serius.

"Kecuali sekarang juga kau kawin dengannya" Jawaban ini kontan membuat Li Tiong-hui tertegun,

serunya kemudian: "Kau juga ingin mencampuri urusan

ini?"

Seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh, "Ha ha ha... kau sudah percaya dengan perkataanku bukan, Lim Han-kim? Kalau ketua Hian-hong-kau benar-benar mencintaimu, dia tak akan ragu-ragu memutuskan masalah ini"

Lim Han-kim segera maju sambil busungkan dada, serunya: "sebagai seorang lelaki sejati aku tak pernah mempersoalkan bagus jeleknya wajahku, meskipun kini wajah ku telah rusak di tanganmu, bukan berarti karena kejadian ini aku lantas putus asa dan segan hidup," "Aku hanya ingin kau mengetahui bahwa cinta kasih antara seseorang dengan seseorang sering dilandasi suatu syarat dan kondisi tertentu," ucap Seebun Giok- hiong sambil tersenyum. "Bila syarat dan kondisimu itu lenyap. maka apa yang dinamakan cinta pun ikut berubah kadarnya."

Setelah berhenti sejenak. kembali lanjutnya: "Tapi kau tak usah kuatir, walaupun wajahmu telah kurusak tapi aku akan selalu membawamu ke mana pun aku pergi, Hanya saja kau harus camkan hal ini dengan jelas, bahwa berubahnya rasa cinta kekasihmu kepadamu hanya lantaran berubahnya wajahmu dari ganteng menjadi jelek."

"Aku Lim Han-kim adalah seorang lelaki sejati, aku tak sudi menerima rasa iba dari orang lain" tukas anak muda itu lantang, kemudian dengan langkah lebar ia beranjak keluar dari situ.

"Jangan pergi" seru Li Tiong-hui sambil menghela napas sedih, ia melejit ke muka siap mengejar Seebun Giok-hiong segera ayunkan tangan kanannya melepaskan satu pukulan, segulung kekuatan yang maha dahsyat segera menghadang jalan pergi Li Tiong-hui.

Gara-gara terhadang inilah, Lim Han-kim telah keluar dari ruangan dan kabur meninggalkan tempat tersebut

Li Tiong-hui tidak menyangka kala Seebun Giok-hiong bakal melepaskan pukulan ke arahnya, termakan hadangan itu badannya tergetar mundur sejauh dua langkah, Menunggu dia siap melakukan pengejaran jejak Lim Han-kim sudah lenyap dari pandangan Sambil tersenyum Seebun Giok-hiong berkata: "Kau telah melukai hatinya, itu berarti semakin dalam rasa cintanya kepadamu dulu, semakin dalam pula rasa dendam dan sakit hatinya kepadamu, jadi lebih baik tak usah disusul lagi."

Li Tiong-hui menghela napas sedih, "Aaaai... kau pernah berjanji tak akan melukainya, bahkan janjimu itu serasa masih mendengung di sisi telingaku, tapi kenyataannya sekarang ... kau telah ingkar janji"

"Apa yang telah kusanggupi tak pernah kuingkari kembali, siapa yang ingkar janji?" sahut Seebun Giok- hiong tertawa.

Li Tiong-hui mendengus marah, bentak-nya: "Kau telah merusak wajahnya, apakah tindakan ini tidak kau anggap sebagai suatu perbuatan yang melanggar janji?"

Seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh, "Ha ha ha

. . . siapa suruh cinta mu kepadanya tidak murni? Kenapa setelah ada kejadian malah aku yang disalahkan?"

Li Tiong-hui termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia baru bergumam: "Mengerti aku, mengerti aku sekarang ..."

"ltu namanya satu langkah salah, seluruh permainan catur jadi berantakan," kata Seebun Giok-hiong tertawa, "Nona manis, sayang terlambat kau pahami semua ini sebelum janji tiga bulan lewat, aku akan suruh kau rasakan penderitaan karena menyesal" Kemudian setelah melirik siau-cui sekejap. terusnya: "Kita juga harus berangkat" Tanpa membuang waktu lagi ia beranjak keluar dari ruangan. "Mari kuantar" Li Tiong-hui berusaha membangkitkan kembali semangatnya

"Tidak usah."

Memandang hingga bayangan punggung Seebun Giok- hiong lenyap dari pandangan, tiba-tiba saja Li Tiong-hui merasa hatinya begitu kesal, sedih dan mendongkol tak kuasa lagi air matanya jatuh bercucuran.

Dengan perasaan penuh dendam, malu dan penasaran Lim Han-kim berlarian menelusuri jalan setapak dalam gedung itu. Meskipun sekeliling gedung itu dipenuhi kawanan jago lihai dari Hian-hong-kau, tapi karena belum ada perintah dari ketuanya, maka tak seorang pun berusaha turun tangan menghadang.

Lim Han-kim berlari sampai puluhan li jauhnya, ia baru berhenti setelah tiba di sebuah tempat sepi yang jauh dari keramaian manusia, Di hadapannya kini terlihat sebatang pohon yang amat besar, pohon besar itu berdiri menyendiri di tengah semak belukar, di bawah pohon besar itu terlihat sebuah kuil kecil yang sudah bobrok, di belakang kuil tampak sebuah batu besar yang halus.

Pelan-pelan Lim Han-kim berjalan ke muka dan duduk di atas batu itu. Membayangkan kembali wajahnya yang berubah aneh, ia merasa amat pedih. seandainya ia berjumpa dengan ibu kandungnya sekalipun saat ini, ia yakin ibunya tak akan mengenalinya lagi.

Akhirnya tak kuasa lagi ia menengadah sambil menghela napas panjang, gumamnya: "Aaai... tak disangka aku Lim Han-kim baru terjun ke dalam dunia persilatan, asat-usul belum sempat dilacak, kini wajahku telah berubah jadi begini jelek, apa yang harus kuperbuat selanjutnya?"

Mendadak dari belakang tubuhnya bergema suara tertawa dingin, disusul kemudian seseorang mengejek: "He he he... sebagai seorang lelaki sejati, apa artinya jelek dan tampannya wajah seseorang? Tidak seperti aku, seorang perempuan yang sejak lahir sudah di- karuniai wajah sedemikian jelek, Nasibku baru pantas dikatakan sebagai nasib yang jelek dan memilukan hati."

Dengan perasaan terkejut Lim Han-kim bangkit berdiri seraya berpaling, pada jarak beberapa kaki di belakangnya, Di tengah rumput ilalang setinggi lutut telah muncul seorang wanita yang berwajah jelek sekali, perempuan itu mengenakan pakaian berwarna hitam, wajahnya separuh berwarna merah, separuhnya lagi pucat pasi. Rambutnya yang panjang amat kusut dan berwarna putih bercampur hitam, cuma suaranya saja kedengaran sangat merdu. setelah mengamati orang itu beberapa saat, Lim Han-kim menegur

"Siapa kau?"

"Aku tak punya nama." "Tak punya nama?"

"Sejak dilahirkan wajahku sudah jelek. apa mau dibilang orang tuaku justru memberi sebuah nama yang indah dan manis untukku, karenanya aku malu untuk menyebutkan"

Setelah berhenti sejenak. kembali lanjutnya: "Tapi umatpersilatan menghadiahkan sebuah julukan untukku, aku rasa julukan itu justru amat cocok dan sesuai dengan keadaanku"

Perasaan senasib sependeritaan membuat Lim Han- kim tanpa sadar menaruh simpati kepadanya, tak tahan tanyanya: "Apa julukanmu?"

"Mereka panggil aku iblis wanita Im-yang"

"Dengan tampangnya yang begitu aneh dan jelek. ia memang sesuai sekali dengan julukan iblis wanita Im- yang . . ." pikir Lim Han-kim diam-diam. sementara itu perempuan Im- yang itu sudah mengayunkan langkahnya berjalan mendekat

Jika peristiwa ini berlangsung di masa lalu, Lim Han- kim pasti akan ngeri bercampur seram bila bertemu dengan manusia seaneh ini, tapi sekarang perasaannya justru berbeda, ia merasa simpati dan menaruh kesan baik kepadanya.

Dalam saat itu iblis wanita Im-yang menghentikan langkahnya dua depa di hadapan Lim Han-kim setelah melihat pemuda itu sedikitpun tidak takut kepadanya, kembali ujarnya: "Mereka memberi julukan iblis wanita Im-yang kepadaku di samping karena wajahku memang jelek menyeramkan watakkupun berangasan, aku gampang naik pitam."

"Oooh,jadi kau gampang naik pitam?"

"Bukan cuma gampang naik darah, bahkan akupun suka membunuh lawanku, terutama muda-mudi yang berwajah tampan dan berparas cantik. pokoknya kalau ada di antara dua jenis manusia ini terjatuh ke tanganku, mereka kerap kali tak mudah lolos dengan selamat" "Hal ini aku tak bisa salahkan kau. Aku percaya kawanan muda-mudi itu tentu pada mengejek atau menyindir setelah menyaksikan keanehan wajahmu, sindiran semacam ini akan menyakitkan hati yang berakibat timbulnya rasa dendam, jadi lumrah kalau kau tak mampu menahan diri"

Im-yang Losat (iblis wanita Im-yang) tertawa hingga kelihatan sebaris giginya yang putih dan rata. ujarnya: "Betul, ejekan dan pandangan sinis mereka betul-betul membangkitkan hawa napsu membunuh ku, aku rasa kau tentu berperasaan sama seperti aku bukan?" 

"Keadanku tidak separah nona, aku belum pernah bunuh orang lantaran masalah ini."

"Kalau begitu saudara benar-benar seorang manusia terbaik di dunia ini..."

Tanpa terasa Lim Han-kim membayangkan kembali sikap sinis dari Seebun Giok-hiong dan tertawa yang dipaksakan dari Li Tiong-hui, jelas mereka merasa muak terhadap wajahnya dan hanya pura-pura bersikap baik kepadanya.

Tak kuasa lagi hawa amarahnya bergelora, "itu pun tidak tepat" katanya, "Mungkin saja sejak hari ini aku akan mulai membunuh secara besar-besaran"

"Bagus sekali" Im-yang Losat girang. "Akhirnya aku bertemu dengan rekan satu pikiran"

Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya lagi: "Boleh aku tahu siapa namamu?"

"Aku Lim Han-kim ..." tiba-tiba ia teringat sesuatu, mulutnya segera membungkam kembali Agaknya Im-yang Losat tidak terlalu memperhatikan perubahan sikap anak mudaitu, dengan wajah berseri kembali katanya: "Lim Han-kim... Lim Han-kim ... tidak bagus, tidak bagus, Nama ini terlalu halus bagimu"

"Aaah, nama hanya sebuah lambang bagi manusia dalam perjalanan hidupnya, aku rasa tidak perlu terlalu dianggap serius."

"Bila saudara Lim tidak keberatan aku banyak mulut, bagaimana kalau kuhadiahkan sebuah julukan yang sangat baik untukmu?"

"Julukan apa?"

"Lantaran wajahku separuh merah separuh putih maka orang menyebutku Im-yang Losat, sebaliknya wajah saudara Lim penuh dengan lukisan tato yang aneh tapi indah, oleh sebab itu bagaimana kalau kusebut saudara Lim sebagai ... iblis berwajah tato ..."

"lblis berwajah tato?" gumam Lim Han-kim, "Ha ha ha ...julukan yang sangat tepat"

"Sejak dilahirkan, kecuali dengan orang tua yang melahirkan diriku, boleh dibilang aku tak pernah berhubungan dengan orang lain, Tapi setelah bertemu saudara Lim hari ini, aku merasa cocok sekali, Aaaai... atau mungkin akulah yang terlalu romantis . .."

Lim Han-kim tidak menjawab, hanya pikirnya: "Kalau seseorang senasib sependeritaan, biasanya mereka gampang bergaul dan berkumpul, kejadian ini sangat lumrah ..." Terdengar im-yang Losat melanjutkan sesudah menghela napas panjang: "Aku tidak tahu apakah saudara Lim bersedia untuk berkawan atau tidak?"

Kembali Lim Han-kim berpikir "Jika didengar dari nada pembicaraannya, ia penuh dengan perasaan dendam dan benci, Bila aku berkawan dengannya, sedikit banyak aku tentu akan terpengaruh oleh watak serta pembawaannya

..."

Kembali terdengar im-yang Losat berkata: "Aaaai... oleh sebab wajahku jelek susah dipandang, orang awam memencilkan aku selama hidup boleh dibilang aku belum pernah berkawan dengan siapa saja. Tapi setelah berjumpa saudara Lim hari ini, timbul perasaan senasib sependeritaan di hati kecilku. itulah sebabnya aku ajukan tawaran untuk bersahabat denganmu. Apabila saudara Lim tidak sudi untuk berteman, baiklah, anggap saja aku tak pernah bicara apa-apa denganmu, selamat tinggal" Pelan-pelan ia membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

"Tunggu sebentar, nona" teriak Lim Han-kim tiba-tiba.

Im-yang Losat membalikkan badannya seraya menghembuskan napas panjang, ucapnya: "selama dua puluhan tahun aku hidup di dunia ini, baru pertama kali ini ada orang memanggil nona kepadaku."

"Orang ini patut dikasihani," Lim Han-kim segera berpikir "Aaai... apa bedanya dengan nasibku sejak hari ini? Mungkin aku pun akan dikucilkan dari masyarakat..." Terdengar Im-yang Losat berkata lagi:

"Apabila saudara Lim bersedia untuk ber-kawan denganku, aku pun bersedia membagi kenikmatan dari suatu rahasia besar dunia persilatan dengan saudara Lim."

"Rahasia besar apa itu?" Lim Han-kim mulai tertarik,

"Orang awam menganggap aku sebagai siluman atau iblis setelah menyaksikan raut wajahku yang sangat aneh ini. oleh sebab itu, meski dunia sangat luas tapi tiada tempat yang cocok bagiku untuk berdiam diri, Terpaksa aku menyingkir dari keramaian dunia dengan memilih tempat yang sepi dan terpencil untuk meneruskan hidup, suatu ketika dalam petualanganku di tengah hutan rimba, aku telah menemukan tempat tinggal seorang tokoh persilatan dari zaman dulu, Dalam istananya tertinggal pula seluruh jerih payah serta buah pikirannya..." Berbicara sampai di sini, tiba-tiba ia hentikan perkataannya .

Pembicaraan itu tampaknya menarik perhatian serta rasa ingin tahu Lim Han-kim, tak tahan ia bertanya: "Boleh aku tahu benda apa yang ditinggalkan tokoh persilatan dari zaman dulu itu?"

"Sejilid kitab ilmu silat penuh berisi catatan pelbagai ilmu sakti dalam dunia persilatan serta sebelas buah kitab keterangan serta kupasannya, Aku butuhkan waktu tiga hari tiga malam untuk membaca habis seluruh isi kitab itu, Bukan aku sengaja mengibul atau sombong, Bila seseorang mampu mempelajari semua ilmu silat yang tercatat dalam kitab ini, maka tiada orang yang sanggup menandingi kehebatannya lagi..."

Lim Han-kim semakin tertarik, pikirnya: "Aku membawa dendam kesumat sedalam lautan serta teka- teki seputar asal-usulku, untuk membuka tabir rahasia asal-usulku maupun untuk membalas dendam atas sakit hatiku, aku butuh serangkaian ilmu silat yang tangguh sebagai modal kerja ..."

Belum selesai ia berpikir, Im-yang Losat telah berkata lebih jauh: "Aku tahu, sulit bagi saudara Lim untuk ambil keputusan dalam waktu singkat Aku pun tak ingin terlalu memaksa. Gunakanlah sehari ini penuh untuk berpikir dan memutuskan, besok sore kita berjumpa lagi di tempat ini, semoga sampai waktunya saudara Lim telah membuat keputusan."

"Tak usah dipertimbangkan lagi, sekarang juga aku telah membuat keputusan"

Dari balik mata Im-yang Losat yang bening, terpancar keluar sinar harapan yang luar biasa. Ia menatap wajah pemuda itu lekat-lekat

Kembali Lim Han-kim berkata: "Kau berwajah aneh sejak dilahirkan, sedang wajahku jelek karena dirusak orang, Meski berbeda ke-adaan namun apa yang kita alami mirip satu sama Iainnya. Aku tahu, orang di dunia ini memang menilai seseorang dari wajahnya. Hanya lantaran kita berwajah jelek. maka tanpa alasan dan sebab yang jelas umat manusia mengucilkan kita.

Memang betul, kita harus belajar suatu ilmu silat yang hebat dan luar biasa, agar kita bisa melampiaskan rasa tertekan orang-orang berwajah jelek di dunia ini."

"Ehmrn, betul, aku pun berpendapat begitu." "Bila nona tak keberatan, mari kita bersumpah di

depan matahari untuk selanjutnya kita hidup sebagai

kakak beradik." Im-yang Losat tersenyum. "Dari sekarang hingga tengah hari esok masih ada setengah hari ditambah satu malam, kau hendak pergi ke mana untuk melewatkan malam yang sepi ini?"

"Terus terang kukatakan, sekarang aku tak punya rumah tanpa tujuan, Jika cici masih ada urusan yang harus diselesaikan silakan kau bereskan dulu. Aku akan mencari sebuah tempat yang sepi dan terpencil untuk melewatkan malam ini, tengah hari esok kita bertemu lagi di sini, sebenarnya aku pingin ajak kau ikut denganku, tapi karena perjalanan yang harus kutempuh sangat jauh, aku kuatir kau jadi kecapaian nanti..."

Sekalipun Lim Han-kim tetap membungkam namun di hati kecilnya ia merasa sangat tidak puas, pikirnya: "Aku tak percaya ilmu meringankan tubuhmu jauh lebih ampuh daripada kepandaianku. "

Agaknya Im-yang Losat dapat membaca suara hati Lim Han-kim itu, ia tersenyum tanpa komentar, hanya secara tiba-tiba ia berpekik rendah. suara ringkikan kuda diikuti derap langkah yang kuat segera berkumandang dari kejauhan, menyusul kemudian muncul seekor kuda berbulu hitam pekat menghampiri perempuan itu

Kuda ini memiliki bulu yang luar biasa panjangnya, sekilas pandang tidak mirip kuda, tapi juga tak bisa dilukiskan makhluk apakah itu, pada punggungnya sudah dipasang pelana berwarna putih.

Kuda hitam dengan pelana putih, suatu perpaduan warna yang amat kontras, sambil melompat naik ke atas pelana kuda, Im-yang Losat berseru: "saudaraku, bila kau ingin menunggang kuda bersama cici, ayohlah cepat melompat naik" Lim Han-kim melihat panjang pelana itu hanya dua depa, itu berarti bila mereka berdua duduk di atas pelana yang sama, maka mereka harus duduk saling berangkulan, padahal sekarang langit sudah terang. apa jadinya bila laki perempuan saling berangkulan di atas kuda?

Berpikir begitu seraya mengulapkan tangannya ia menyahut seraya tertawa: "Aku tidak ikut, Besok tengah hari akan kutunggu kehadiran cici di tempat ini"

Im-yang Losat berpikir sejenak. lalu katanya: "Mengikat diri sebagai kakak beradik akan sangat mengganggu kebebasan masing-masing, Aku lihat selanjutnya kita bisa berjuang bersama bagaikan kakak beradik, saling membantu dan saling mengisi, tapi tidak perlu harus mengikat diri sebagai kakak beradik yang sesungguhnya." setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya: "Berapa usiamu tahun ini?"

"Tahun ini aku berusia dua puluh satu tahun" "Sangat kebetuan, tahun ini aku juga berusia dua

puluh satu tahun, tapi saudara Lim dilahirkan pada bulan berapa?"

"Aku bulan empat tanggal tiga."

"Adduh... sungguh patut disayangkan aku dilahirkan pada bulan dua tanggal empat, berarti lebih tua satu bulan lebih,"

"Kalau memang nona dua bulan lebih tua, berarti urutanku berada di bawahmu, dengan kata lain aku adalah si adik." Im-yang Losat tertawa. "Hei... kau jangan salah sangka, Aku sih tak ada niat mencari keuntungan darimu, apa mau dikata jika kenyataannya begitu, Aku rasa kita tak perlu mempersoalkan usia lagi, Baiklah, biar aku memanggil kakak padamu"

"Tidak apa-apa, biar aku saja yang memanggil cici kepadamu"

"Baiklah, kalau begitu aku memanggilmu adik,"

"Cici tak perlu sungkan-sungkan, kalau ada persoalan silakan diutarakan"

Im-yang Losat menengadah memandang cuaca, lalu katanya: "Saudaraku, cici harus segera pergi untuk selesaikan satu masalah pribadi Kita berjumpa lagi esok siang di sini, akan ku ajak kau mengunjungi tempat tinggal tokoh persilatan itu."

"Bila cici ada urusan, silakan saja berangkat." "Baik, kalau begitu klta berpisah sementara waktu."

Dengan menarik tali les kudanya, bagaikan hembusan

angin puyuh kuda itu beriarian meninggaikan tempat tersebut, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan

Memandang bayangan punggung Im-yang Losat yang menjauh, diam-diam Lim Han-kim memuji: "Benar-benar seekor kuda jempolan"

Tanah lapang yang luas kembali pulih dalam keheningan yang semua, sinar matahari senja yang memancarkan cahaya kemerah-merahan membiaskan bayangan tubuh Lim Han-kim yang memanjang. Berdiri seorang diri di tengah tanah lapang yang hening, tiba-tiba saja pemuda itu merasa kesepian Tanpa terasa ia meraba lukisan tato di wajahnya, rasa pedih, dendam dan murung seketika menyelimuti seluruh pikiran dan perasaannya, Dengan pikiran kosong Lim Han-kim berjalan tanpa tujuan, ia tak dapat membedakan lagi mana timur, mana selatan, mana barat dan mana utara, sikap ragu-ragu dari Li Tiong-hui membuat ia beranggapan bahwa dirinya telah dikucilkan dari keramaian dunia, tapi perkenalannya dengan Im- yang Losat telah membangkitkan pula semangat hidupnya.

Dia ingin melatih diri secara tekun, memilikl ilmu silat yang tangguh kemudian kalau bisa mengubah pandangan orang lain terhadap bagus jeleknya wajah seseorang.

Matahari telah tenggelam di kaki langit kegelapan malam mulai menyelimuti angkasa, Pekikan burung malam tiba-tiba menyadarkan kembali Lim Han-kim dari pikirannya yang kalut, ia coba menengadah dan menghembuskan napas panjang, saat itulah ia baru merasa perutnya amat lapar, tampaknya sudah seharian penuh ia tidak mengisi perut.

Pemuda itu mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, dari balik kegelapan yang menyelimuti angkasa, Di kejauhan sana lamat-lamat ia saksikan setitik cahaya api.

Sambil menghela napas Lim Han-kim bergumam: "Aku harus menyayangi tubuhku menjaga kesehatan serta kondisi tubuhku, Biarpun orang di dunia ini telah mengucilkanku, tapi aku tak boleh meremehkan diriku sendiri, Aku harus melatih diri dengan ilmu silat yang tangguh, membuka tabir asal-usulku, Aku tak boleh menyia-nyiakan harapan ibu yang dengan susah payah telah memelihara serta mendidikku hampir dua puluh tahun lamanya, Biar wajahku kini jelek dan aneh, semangatku tak boleh padam, aku tak boleh melukai perasaan hati ibu"

Ketika ingatan tersebut melintas lewat, segala kemurungan segera terusir lenyap. setelah menentukan arah perjalanannya, ia mulai mengayunkan langkah menuju ke sumber cahaya api itu,

Ternyata tempat itu merupakan sebuah rumah gubuk yang dikelilingi pagar bambu, sebuah bangunan kecil yang berdiri sendirian di tengah padang rumput yang sepi dan terpencil ia mencoba memeriksa sekeliling bangunan itu, namun suasana gelap gulita, Tak dijumpainya sumber cahaya lain di seputar tempat itu.

Lim Han-kim mencoba berjalan mengitari pagar bambu itu, tapi rasa lapar yang makin menjadi membuatnya tak mampu menahan diri lagi, tak tahan tegurnya keras-keras: "Adakah orang di dalam?"

"Siapa?" dari balik gubuk kedengaran seseorang menyahut dengan suara tua yang parau.

"Seorang yang kemalaman sedang kelaparan bolehkah aku menumpang semalam sambil mengisi perut? "

"Maafkan aku sudah tua dan sedang sakit hingga tak dapat menyambut, silakan masuk sendiri"

"Besar amat nyali orang tua ini," pikir Lim Han-kim. "Seorang diri ia berani tinggal di tempat yang sepi, terpencil dan gelap seperti ini." sambil berpikir ia dorong pintu dan melangkah masuk ke dalam ruang rumah.

Di dalam ruangan disaksikannya seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang berwajah luyu karena sakit sedang berbaring di atas pembaringan, di sisinya terdapat meja dan lilin yang menyala di atasnya.

Mendadak terdengar kakek itu menjerit kaget, tubuhnya yang sudah bangkit untuk duduk terkulai kembali ke atas pembaringan

Lim Han-kim tertegun melihat sikap kakek itu, Tiba- tiba ia teringat dengan wajah sendiri yang jelek dan aneh, tanpa terasa katanya seraya menghela napas sedih: "Kakek, kau tak usah takut..."

"Siapa kau?" tegur kakek itu agak takut

"Aku adalah manusia, hanya wajahku memang aneh serta jelek. Kalau sampai mengejutkan kakek, mohon dimaafkan."

Lambat laun keberanian kakek itu muncul kembali, ia berusaha untuk bangkit lalu katanya: "Sayang di tempat terpencil ini tiada hidangan untuk menjamumu, lagi pula putriku tak ada di rumah, Bila tuan merasa lapar, buatlah sendiri di dapur sana."

"Aaaah, kakek bersedia menampungku sudah membuatku bersyukur Aku tak berani merepotkan dirimu."

"Letak dapur ada di sisi kiri ruangan" "Terima kasih kakek" Lim Han-kim segera keluar dari ruang tengah menuju ke sisi kiri yang dimaksud. Ruangan di sebelah kiri amat gelap. sedemikian gelapnya sampai melihat lima jari sendiri pun susah, Lim Han-kim segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk memeriksa.

Di hadapannya terlihat sebuah meja, di atas meja terdapat sebuah tudung saji yang terbuat dari bambu, tanpa terasa pikirnya: "Di bawah tudung saji bambu ini tentu diletakkan hidangan Biasanya orang yang hidup di tempat terpencil susah dalam hal ekonomi, baiklah setelah bersantap nanti kutinggaikan berapa tahil perak sebagai imbalan."

Ketika tudung saji itu dibuka, betul juga, segera terendus bau harum daging yang menusuk hidung, Untung pemuda ini memiliki ketajaman mata yang melebihi orang lain, Kendatipun berada dalam kegelapan, namun ia dapat melihat hidangan yang tersedia di bawah tudung saji bambu itu sangat mewah, Ada ikan laut, ada daging, bahkan tersedia pula sepoci arak wangi.

Saat itu Lim Han-kim merasa lapar sekali, begitu mengendus bau harumnya daging dan arak, ia sudah tak mampu mengendalikan diri lagi, Tanpa pikir panjang ia mulai bersantap dengan lahapnya,

Ketika perutnya mulai kenyang, satu ingatan baru melintas di dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir: "Aneh, tempat ini terpencil, sepi dari manusia dan lagi rumah ini sebuah gubuk reyot yang jelas menunjukkan milik orang miskin. Dari mana datangnya hidangan daging, ikan dan arak wangi yang begitu mewah ini?" Berpikir sampai di situ ia segera menghentikan makannya dan bermaksud keluar dari ruangan itu. Pada saat itulah terdengar kakek itu menegur dari luar ruangan: "sudah kenyang, tuan?"

Pelan-pelan Lim Han-kim melangkah keluar dari dapur dan balik ke ruang depan, ia menjumpai kakek itu sudah duduk ditepi pembaringan dan memandang ke arahnya dengan senyum, Begitu melihat anak muda itu munculkan diri, ia segera menegur lagi: "Berapa banyak hidangan yang telah kau makan?"