-->

Pedang Keadilan II Bab 04 : Berduaan Dalam kamar

 
Bab 04. Berduaan Dalam kamar

"Kalau panggilanmu kelewat asing dan menjaga jarak, bagaimana mungkin kita bisa membohongi Seebun Giok- hiong?" ucap Li Tiong-hui. "Lantas apa yang harus kita lakukan untuk membohonginya?"

"Berapa usiamu tahun ini?" "Dua puluh satu tahun" "Ada kakak atau adik?"

"Tidak, tak ada kakak ataupun adik, aku adalah anak tunggal"

"Oooh... tak heran jika watakmu aneh, kaku dan suka menyendiri"

Lim Han-kim menghela napas panjang, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu diurungkan kembali,

Kembali Li Tiong-hui berkata: "Usiaku tiga tahun lebih muda daripada dirimu, boleh aku memanggil kakak kepadamu?"

"soal ini... soal ini..."

"Tak usah ini itu lagi, kalau tak mau memanggil aku adik, sebut saja namaku Aaaai... bila ingin bersandiwara, paling tidak kita harus membuat Seebun Giok-hiong percaya sepenuhnya bahwa kita memang sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta..." setelah tersenyum, lanjutnya: "Aku hendak menggunakan cara yang paling lembut dan hangat untuk membuktikan kepadamu bahwa wanita bukan makhluk yang menakutkan." Lim Han-kim merasa tak sanggup berdebat terus dengan gadis itu, maka dia tertawa hambar dan tidak berbicara lagi.

Tiba-tiba Li Tiong-hui bangkit dan berjalan menuju ke depan pintu, teriaknya keras-keras: "Siapa yang sedang bertugas?"

"Aku"jawab seseorang dari luar pintu, "Apakah kaucu ada perintah?"

"Masuklah, aku hendak bicara dcnganmu" Terlihat seorang lelaki kekar berbaju hijau dengan bahu kiri menggembol golok, bahu kanan membawa sebuah tabung hijau berbentuk bulat yang bentuknya tidak mirip senjata juga tidak mirip senjata rahasia, melangkah masuk ke dalam ruangan.

Menyaksikan bentuk rupa orang itu, diam-diam Lim Han-kim berpikir Tampaknya perkumpulan Hian- hong- kau memang tak bisa melepaskan diri dari dandanan yang aneh dan menyeramkan. "

Tampak orang itu memberi hormat kepada Li Tiong- hui sambil bertanya: "Kaucu, apa perintahmu?"

"sampaikan pesanku, semua kekuatan disini harap segera mengundurkan diri dan gedung ini"

Lelaki itu menyahut, membalikkan badan dan segera berlalu, Li Tiong-hui kembali menambahkan "Biarkan si Dewa buas, iblis jahat, setan penasaran dan sukma sedih tetap tinggal di sini"

Lelaki itu tidak banyak bertanya, ia meneruskan langkahnya meninggalkan tempat itu. sepeninggal orang itu, baru Lim Han-kim berbisik: "Tampaknya peraturan organisasi dari Hian- hong- kau sangat ketat."

"Kau cukup tahu bagaimana kejam dan buasnya watak empat manusia buas itu, nyatanya lambat laun mereka pun mulai tunduk di bawah perintahku."

"Kemampuan nona untuk menundukkan mereka sungguh membuat aku kagum dan hormat Aku lihat kecuali nona, di dunia ini susah untuk menemukan orang kedua yang mampu menundukkan empat manusia buas tersebut"

"Kau kelewat memuji, padahal kemampuan Seebun Giok-hiong serta Pek si-hiang sama sekali tidak berada di bawah kemampuanku Apa yang bisa kulakukan pasti mereka bisa lakukan juga."

Belum sempat Lim Han-kim memberikan tanggapannya, tampak lelaki kekar berbaju hijau itu telah muncul kembali dengan langkah cepat, sambil memberi hormat katanya: " Hamba telah meneruskan perintah kaucu, tiga puluh delapan orang jago kita telah ditarik keluar dari gedung ini."

"Bagus, kalian mundur ke kantor cabang kedua, sepuluh li dari sini dan menunggu perintahku berikut siapa pun dilarang meninggalkan tempat"

Lelaki berbaju hijau itu mengiakan dan segera beranjak pergi, selama berbicara ia selalu berdiri dengan sikap hormat

Menunggu sampai bayangan punggungnya lenyap dari pandangan, Li Tiong-hui baru menggandeng tangan Lim Han-kim balik ke dalam kamar, katanya sambil tertawa: "sekarang, di dalam gedung yang begitu luas dan lebar ini tinggal kau dan aku berduaan, Jika Seebun Giok-hiong betul-betul kemari, bukankah ia bisa masuk dengan leluasa?"

" Kenapa? Kau sangat merindukan dia?" tegur Li Tiong-hui sambil mencoba untuk menatap pemuda itu lekat-lekat.

Lim Han-kim nampak agak tertegun, tapi kemudian katanya seraya tersenyum: "Bukankah semua persiapan kita ditujukan agar ia bisa melihatnya secara jelas?"

Li Tiong-hui menghela napas panjang. "Aaaai... andaikata perkembangan selanjutnya sesuai dengan apa yang diramalkan Pek si-hiang, aku tak tahu bagaimana caraku untuk menghilangkan perasaan dengki, cemburu dan duka ini..." pelan-pelan dia melangkah masuk ke dalam ruangan

Dengan termangu-mangu Lim Han-kim mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh, ia dapat merasakan betapa sedih dan murungnya gadis itu, bahkan setiap langkah kakinya kelihatan sangat berat, seakan-akan sepasang kakinya diberi beban yang amat berat hingga membuat langkahnya lamban.

Entah berapa lama sudah lewat, kini langit sudah mulai gelap. semenjak masuk ke dalam kamar tidurnya Li Tiong-hui seakan-akan batu karang yang tenggelam dalam samudra luas, sama sekali tak terdengar suaranya lagi. Tiba-tiba Lim Han-kim merasa mulai lapar, tapi dia pun segan untuk berteriak, maka terpaksa perasaan tersebut hanya ditahannya.

RembuIan sudah muncul di tengah angkasa, malam hening bagaikan air kolam, kecuali hembusan angin malam yang menggeserkan rumput dan bunga, dalam bangunan gedung yang luas ini tak kedengaran suara lain, Di hati kecilnya Lim Han-kim mulai berpikir "Li Tiong-hui tentu sudah tertidur Waah... apa yang harus kulakukan jika Seebun Giok-hiong muncul pada saat ini...?"

Belum selesai ingatan tersebut melintas lewat, tiba- tiba terlihat cahaya api membelah kegelapan, Ketika berpaling ia melihat bahwa kamar tidur Li Tiong-hui telah diterangi dengan cahaya lentera.

"Kau sudah bangun?" Lim Han-kim segera menegur "Ya, sudah jam berapa sekarang?" suara Li Tiong-hui

muncul dari dalam kamar "Permulaan kentongan kedua."

"Kau keluarlah ke depan dan panggil Dewa buas berbaju merah agar segera menghadap."

Lim Han-kim berpikir sejenak lalu beranjak pergi, Tak lama kemudian ia sudah muncul disertai Dewa buas berbaju merah, serunya keras: "orangnya sudah ada di sini."

"Suruh dia masuk"

Lim Han-kim tertegun, pikirnya: "Suruh masuk ke dalam kamar tidurnya?" ia mengira salah dengar, maka kembali serunya: "Suruh dia masuk ke dalam kamarmu?"

"Yaa, suruh dia masuk seorang diri"

Lim Han-kim menyahut meski timbul rasa keheranan di hati kecilnya, kembali dia berpikir "Apa-apaan ini?

Masa dia harus masuk ke dalam kamar tidurnya?"

Sementara itu Dewa buas berbaju merah telah melirik Lim Han-kim sekejap. kemudian dengan langkah lebar masuk ke dalam kamar.

Pelan-pelan Lim Han-kim duduk di bangku, ia menunggu hampir sepenanakan nasi lamanya sebelum melihat Dewa buas berbaju merah muncul kembali dengan langkah lebar, Pada detik itu juga timbul berbagai pikiran dan kesimpulan dalam hati kecil Lim Han-kim, apalagi melihat Dewa buas berbaju merah beranjak pergi tanpa menengok sekejap pun ke arahnya.

Rasa gusar dan mendongkol yang tak terlukiskan dengan kata segera menyelimuti perasaannya, namun ia tak bisa mengumbar rasa jengkel itu hingga dia hanya bisa mengawasi kepergian orang itu dengan pandangan termangu.

Tiba-tiba terasa sebuah tangan memegang bahunya, disusul kemudian terdengar Li Tiong-hui menegurnya sambil tertawa: "Apa yang sedang kau pikirkan?"

Lim Han-kim segera merasakan munculnya perasaan muak dan sebal di hati kecilnya, buru-buru ia menepis tangan gadis itu sambil tukasnya: "Kau tak usah tahu."

"Tampaknya kau amat benci kepadaku?" kembali Li Tiong-hui bertanya sambil tertawa. "Betul, kenapa?"

Sambil menyulut lilin dalam ruangan itu Li Tiong-hui berkata lagi sambil tertawa: "Jangan lupa, malam ini kita masih perlu kerja sama untuk menghadapi Seebun Giok- hiong"

Ketika Lim Han-kim menyaksikan sepasang mata Li Tiong-hui merah membengkak seakan-akan baru saja menangis sedih, rasa gusar yang membara di dadanya kontan tersapu lenyap. sahutnya sambil tertawa jengah, "Benar juga perkataanmu."

Agaknya Li Tiong- hui sendiri pun tidak mengira kalau kemarahan anak muda itu bakal lenyap seketika, ia tertegun lalu tertunduk sedih, "Aku rasa Seebun Giok- hiong segera akan muncul, kita perlu membuat persiapan mulai sekarang," katanya pelan.

"Aku siap mendengarkan perintah"

Pelan-pelan Li Tiong-hui membalikkan badan masuk kembali ke dalam kamar tidurnya, sesaat kemudian terdengar ia berseru: "Tutup pintu kamar, padamkan lilin dan masuklah ke dalam kamar"

Lim Han-kim menurut dan segera padamkan lilin, tutup pintu kamar dan masuk ke dalam kamar tidur, Waktu itu Li Tiong-hui dengan mengenakan pakaian tidur sedang duduk di pembaringan ia segera menunjuk kearah bangku di samping pembaringan sambil katanya: "Mulai sekarang aku sudah menjadi orang yang sedang sakit, kau harus melayaniku dengan baik."

"Baiklah, sekarang kau minta apa?" "Ambilkan dulu secawan teh." Lim Han-kim mengambil Cawan dan mengisinya dengan air teh, ketika berpaling lagi tampak Li Tiong-hui sudah berbaring dengan selimut menutupi seluruh badannya, kini hanya nampak kepalanya saja dengan rambut yang terurai kusut dan wajah senyum tak senyum sedang mengawasi dirinya.

"Bawa kemari" ucapnya lembut Lim Han-kim mendekati pembaringan, meletakkan cawan teh di sisi pembaringan lalu baru ujarnya: "sekarang Seebun Giok- hiong belum datang, apakah kau tidak merasa perbuatan ini kelewat dini?"

"Kalau sampai waktunya sikapmu kurang luwes, bukankah rahasia penyamaran kita malah akan terbongkar?"

Lim Han-kim tidak banyak bicara lagi, ia duduk di bangkunya dan tidak bergerak lagi.

Bagaimana pun Li Tiong-hui adalah keturunan dari suatu keluarga persilatan yang amat termashur, selain cantik, dia pun pintar dan berkedudukan terhormat, hampir boleh dibilang setiap orang menaruh hormat kepadanya, selama hidup belum pernah dia alami sikap seperti yang dialaminya dengan Lim Han-kim sekarang, tak heran kalau semakin dipikir ia semakin malu dan tak tahan.

Akhirnya sambil tertawa dingin gadis itu melengos kearah lain. Agaknya Lim Han-kim mulai menyadari bahwa sikap maupun ucapannya sedikit kelewat batas, sebetulnya dia ingin mengucapkan beberapa kata permintaan maaf, tapi melihat gadis itu sudah melengos kearah lain, maka dia pun urungkan kembali niatnya, Waktupun berlalu dalam keheningan dan kesepian yang luar biasa, entah berapa lama sudah lewat.

Mendadak suara ketukan pintu menyadarkan kembali mereka berdua, meski ketukan itu pelan namun cukup menggetarkan keheningan yang mencekam ruangan itu

Dengan cepat Li Tiong-hui membalikkan badan, dengan wajah dingin bagaikan salju serunya ketus: "Cepat buka pintu"

Kata-kata itu kaku, dingin dan amat tak sedap didengar, bahkan menengok kearah Lim Han-kim sekejap pun tidak. Dengan suara rendah Lim Han-kim menyahut: "Tampaknya see-bun Giok-hiong telah datang, kita harus lebih mes ..."

Namun ketika melihat sikap Li Tiong-hui yang dingin dan kaku, kata-kata tersebut segera diurungkan

"Aku suruh kau buka pintu, sudah dengar tidak?" kembali Li Tiong-hiui menegur kasar.

Lim Han-kim tertegun, tapi ia segera beranjak pergi, Begitu pintu dibuka segera bergema suara tertawa merdu dari Seebun Giok-hiong seraya berseru: "Merepotkan kau saja"

Tidak menunggu Lim Han-kim mempersilakannya masuk, seperti hembusan angin sejuk tahu-tahu ia sudah menyelinap dari samping pemuda itu menerobos masuk ke dalam kamar tidur.

Lim Han-kim segera menyusul dari belakang, waktu itu Seebun Giok-hiong telah berdiri di samping pembaringan. Melihat itu dengan perasaan terkejut pikirnya: "Cepat betul gerakan tubuh orang ini" Dalam kesempatan itu Li Tiong-hui masih berbaring menghadap ke dinding, kehadiran Seebun Giok-hiong seolah-olah tidak dirasakannya sama sekali.

"Mirip betul sandiwara yang kau perankan"jengek Seebun Giok-hiong sambil tertawa dingin

"Sttt, jangan berisik," buru-buru Lim Han-kim menegur "Kalau ada persoalan bicarakan saja denganku."

"Apa hubunganmu dengannya?" mendadak Seebun Giok-hiong berpaling.

Lim Han-kim merasa pertanyaan ini susah untuk dijawab, setelah termenung lama sekali dia baru menyahut: "Teman"

"Kenapa kalian tidak datang memenuhi undanganku?" kembali Seebun Giok-hiong tertawa dingin

"Dia sakit, tak bisa bergerak"

"Siang tadi saja masih sehat, masa malam harinya sudah sakit? Dia toh bukan orang-orangan yang terbuat dari kertas, Hmmm Hmmm... orang lain bisa kau tipu, tapi jangan harap bisa membohongi Seebun Giok-hiong"

"Sebenarnya apa keinginanmu, sekarang boleh kau utarakan"

Seebun Giok-hiong tidak menjawab, mendadak ia menggerakkan tangannya mencengkeram tangan Li Tiong-hul.

"Jangan sentuh dia," bentak Lim Han-kim dengan perasaan cemas, sebuah pukulan segera dilontarkan.

Tanpa berpaling atau menengok ke belakang Seebun Giok-hiong berkelit ke samping untuk menghindari sergapan itu, kemudian katanya dingin: "Jika kau berani sembarangan bergerak lagi, segera kupatahkan lengan kanannya, Meskipun aku berjanji dengan Pek Si-hiang tak akan membunuh orang, namun aku tak pernah berjanji tak akan melukai orang lain."

Lim Han-kim benar-benar tak berani bergerak lagi, ia mundur sejauh tiga depa, kemudian serunya: "Melukai seorang penderita sakit yang tak bertenaga untuk melawan, terhitung orang gagah macam apa kau?"

"ia sehat sekali, siapa bilang berpenyakitan?" Pelan-pelan Li Tiong-hui membalikkan badannya,

bisiknya: "Aku terkena racunmu"

Seebun Giok-hiong berkerut kening, tiba-tiba ia lepaskan cekalannya atas lengan gadis itu, kemudian sambil tertawa terkekeh-kekeh serunya: "Ha ha ha... tampaknya kau percaya penuh dengan perkataanku? "

"Dengan kedudukan pemilik bunga bwee dalam dunia persilatan, aku percaya ucapanmu bukan bohong belaka"

Merah padam selembar wajah Seebun Giok-hiong, ia tertawa hambar . "Bila aku hendak mencelakaimu tak akan kugunakan cara meracunimu secara diam-diam."

"Jadi kau membohongi aku?" seru Li Tiong-hui sambil melompat bangun dari tidurnya.

Seebun Giok-hiong menarik kembali senyumannya, dengan dingin katanya: "Menyalurkan racun dari balik benda merupakan ilmu penyebaran racun tingkat tinggi dalam dunia persilatan, Bukan aku Seebun Giok-hiong sengaja mengibul atau omong besar selain aku rasanya sulit untuk menemukan orang kedua yang mampu berbuat begitu dalam dunia persilatan saat ini. siapa pun orang tersebut, asal ia bertemu sekali saja denganku maka ia bisa terkena racun yang kulepaskan" .

"Bagaimana jika dibandingkan Pek si-hiang?"

Seebun Giok-hiong tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir sesaat kemudian baru ujarnya: "Kemampuannya susah diukur, tapi aku percaya ia belum pernah mempelajari ilmu menyalurkan racun dari balik benda."

"Kalau begitu kemungkinan besar kami berdua bisa keracunan saat ini?"

"Itu tergantung apakah aku berniat turun tangan terhadap kalian atau tidak"

Pelan-pelan Li Tiong-hui bangkit berdiri, katanya kemudian: "Aku sudah kedatangan tamu agung, aku tak bisa mengesampingkan kewajibanku sebagai tuan rumah yang baik."

Saat ini dia mengenakan pakaian tidur yang amat tipis, di bawah sinar lilin lamat-lamat orang dapat melihat bentuk tubuhnya yang ramping dan montok serta kulit badannya yang putih halus.

"Ehmmm, bentuk tubuh yang sangat indah" puji Seebun Giok-hiong sambil tersenyum. "Pinggang yang ramping, payudara yang montok dan kulit tubuh yang putih halus..."

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Lim Han- kim, kemudian tambahnya: "Beruntung sekali kau punya teman secantik ini" "Dibandingkan kau, Seebun Giok-hiong, aku masih kalah jauh" seru Li Tiong-hui sambil pelan-pelan melangkah keluar dari ruang tidur.

Di bawah cahaya lilin yang redup, dalam ruangan itu sekarang tinggal Lim Han-kim dan Seebun Giok-hiong saja, Tampaknya Seebun Giok-hiongpun sudah berdandan rapi sebelum datang, Dengan wajahnya yang cantik dan bentuk tubuh yang indah, ia betul- betul seorang wanita yang luar biasa menariknya.

"Betul- betul seorang gadis yang rupawan" puji Lim Han-kim dalam hati, ia tak berani banyak memandang, buru-buru wajahnya dialihkan ke arah lain.

Dengan sepasang matanya yang genit menggiurkan Seebun Giok-hiong mengawasi wajah pemuda itu lekat- lekat, kemudian setelah tertawa dingin katanya: "Apa maksudnya meninggalkan kau seorang diri bersamaku dalam kamar tidurnya?"

"Mana aku tahu?" sahut Lim Han-kim seraya melayangkan pandangan matanya ke atap rumah.

"Hmmmm jangan dianggap aku mudah terperangkap. akan kusuruh dia kecewa berat akhirnya ..."

"Ternyata perempuan ini lihay juga," pikir Lim Han-kim segera, "Kalau sampai rahasia ini betul- betul terbongkar, usahaku selama ini betul- betul akan sia-sia belaka..." Berpikir sampai di situ, tak tahan lagi tegurnya: "Perangkap apa maksudmU?"

Seebun Giok-hiong tersenyum manis, "ia berniat membunuh aku dengan memasang jago-jago lihaynya di sekitar bangunan ini, tapi nyatanya dia tak bernyali untuk berbuat demikian."

Diam-diam Lim Han-kim menghembuskan napas lega, katanya kemudian: "Kecuali Dewa buas, iblis jahat, setan penasaran dan sukma murung, dalam gedung bangunan ini tak ada jago lainnya, apa maksudmu berkata demikian?"

"Aku hanya mengatakan bahwa dia tak bernyali setelah rencana disusun rapi, di tengah jalan ia berubah pikiran dengan membubarkan kawanan jago lihaynya." kata Seebun Giok-hiong tertawa.

Sekali lagi Lim Han-kim berpikir: "Orang ini betul- betul terbukti lihay, bahkan ketajaman pendengarannya juga luar biasa..."

Ketika tidak mendengar suara Lim Han-kim, kembali Seebun Giok-hiong bertanya: "Kemana dia pergi?"

"Mungkin persiapkan hidangan dan arak untuk menjamu kau si tamu agung"

Seebun Giok-hiong mendengus dingin, "HHmmmm, sebagai seorang ketua dari partai Hian-hong-kau, masa kemampuan untuk pelihara dayangpun tak mampu?"

"Tentu saja dayang tersedia lengkap. hanya saja pada saat ini tidak berada di sini."

"Kenapa? Apa dia sudah menduga kalau aku bakal kemari malam ini?"

"Bukan, bukan begitu maksudnya ..."

Seebun Giok-hiong segera tertawa terkekeh-kekeh. "Ha ha ha ... mengerti aku sekarang. Dia sengaja menyingkirkan semua dayangnya agar dia bisa berduaan saja denganmu malam ini?"

"Kalau nona sudah mengatakan begitu, yaa sudahlah, aku tak perlu memberi penjelasan lagi."

Dengan biji matanya yang jeli Seebun Giok-hiong mengawasi seluruh tubuh Lim Han-kim dari atas hingga ke bawah, lalu tegurnya: "Dia sangat baik kepadamu?"

"Bukan baik lagi..."

"Lalu bagaimana sikapmu kepadanya?"

"Cinta kasihku kepadanya lebih dalam dari samudra..." jawab Lim Han-kim setelah termenung sejenak.

"Hmmmm, apa sih kehebatanmu, kenapa ia bersikap begitu baik kepadamu?"

Lim Han-kim agak tertegun, sahutnya kemudian: "cinta dikarenakan jodoh, apa kepentinganmu untuk mencampuri urusan kami berdua?"

"Ha ha ha... kalau aku ngotot hendak mencampuri, mau apa kamu?"

"Aku tak habis mengerti dengan cara apa kau hendak mencampuri urusan kami berdua?"

"Cara sih banyak sekali aku akan membuat kau terpisah selamanya dengan dia, agar ia tak bisa berjumpa denganmu, biar ia rasakan bagaimana deritanya penyakit rindu, kalau aku berhasil bukankah hal ini sangat menyenangkan?" "Batin kami berdua telah saling berhubungan biar delapan sampai sepuluh tahun tak bertemupun, cinta kasih kami tak pernah akan berubah"

Berubah hebat paras muka Seebun Giok-hiong, serunya dingin, "Aku tak percaya batin manusia di dunia ini bisa saling berhubungan"

"Perasaan dan pikiranmu diliputi perasaan benci dan dendam, membunuh sudah menjadi kegemaranmu, tentu saja keadaan seperti kami berdua tak bakal kau alami..."

"Kau mengerti apa?" teriak Seebun Giok-hiong gusar. "aku justru ingin membuktikan apa benar antara lelaki dan perempuan betul-betul ada jalinan cinta kasih sejati"

Lim Han-kim berpaling, Tiba-tiba ia melihat Li Tiong- hui dengan membawa sebuah baki sedang berdiri di depan pintu, sorot matanya yang penuh dengan pancaran rasa cinta sedang diarahkan ke wajahnya tanpa berkedip. Mendadak pemuda itu merasa pipinya jadi merah padam lantaran jengah, tanpa menggubris Seebun Giok-hiong lagi, ia percepat langkahnya menyongsong kedatangan Li Tiong-hui dan menerima baki tersebut.

Di atas baki kayu itu selain tersedia empat macam hidangan, juga tersedia sepoci arak hangat pelan-pelan Li Tiong-hui melangkah masuk ke dalam kamar, katanya: "Aku tidak tahu kalau nona Seebun akan berkunjung kemari, sedikit hidangan yang tak seberapa harap membuat nona Seebun kerasan di sini."

Sebetulnya waktu itu Seebun Giok-hiong sudah dicekam rasa gusar yang entah darimana munculnya, ditambah lagi dengan kata-kata Lim Han-kim, rasa gusar, mendongkol dan penasarannya semakin menjadi sebagai seorang gadis tinggi hati yang sangat kuat rasa ingin menang sendirinya, dalam keadaan berkobar hawa amarahnya itu, ia bisa saja melakukan tindakan apa pun.

Sebenarnya ia sudah bersiap-siap mempermainkan kedua orang muda-mudi itu atau bahkan merusak sekalian paras muka Li Tiong-hui yang cantik, Tapi setelah menyaksikan sikap Li Tiong-hui yang amat sungkan, meski hawa gusar belum sirap. ia jadi rikuh untuk mengobarkannya keluar.

Maka setelah menghembuskan napas panjang ujarnya: "Aku jadi amat sungkan karena kaucu turun tangan sendiri mempersiapkan hidangan untukku"

"Tak usah dipikirkan ayo silakan dicicipi," kata Li Tiong-hui sambil tertawa.

Sejak awal ia sudah diperingatkan Pek si-hiang agar bersikap lebih luwes dalam menghadapi Seebun Giok- hiong, dengan demikian lawan jadi tak punya alasan untuk mengumbar amarahnya, sebaliknya bila dihadapi terlalu kaku dan keras, besar kemungkinan akan mendatangkan bencana kematian yang tak diharapkan.

Pelan-pelan Seebun Giok-hiong mengambil tempat duduk. kemudian katanya: "Bagaimanapun juga kita masih saling berhadapan sebagai musuh, kau tidak merasa berlebihan dengan bersikap macam begini kepadaku?"

"Kau telah berjanji kepada Pek si-hiang untuk tidak melukai siapa pun dalam tiga bulan mendatang, jadi selama tiga bulan ini kita tetap adalah sahabat." "Kau tak usah mengingatkan aku masih teringat dengan jelas"

Dengan wajah berubah serius Li Tiong-hui berkata lagi: "Tiga bulan kemudian kita akan berusaha dan berbuat sesuai dengan kepentingan masing-masing, besar kemungkinan suatu pertarungan sengit di antara kita akan berkobar"

Seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh. "Ha ha ha... kalau aku tak salah melihat, usia Pek Si-hiang tinggal tiga bulan. seandainya dia betul-betul mati, kaulah satu-satu-nya orang yang mampu menandingiku"

"Kenapa aku tak pernah mendengar kalau Pek Si- hiang sedang menghadapi kematian?" seru Li Tiong-hui terkesiap.

Kembali Seebun Giok-hiong tertawa dingin "Mungkin saja ia tak berani bicara, tapi aku yakin umurnya tak akan melampaui tiga bulan, Jika kau kurang percaya, tanyakan sendiri bila bertemu dengannya nanti"

"Jejak nona Pek ibarat naga sakti yang tampak kepalanya tak tampak ekornya, sekalipun aku pingin bertemu dengannya, sayang aku tak tahu harus menemukannya di mana."

Mendadak Seebun Giok-hiong menyambar sumpit di depannya dan mencicipi setiap hidangan yang ada di hadapannya, kemudian setelah meneguk habis arak di depannya baru. ia berkata seraya tertawa: "Percaya tidak kaucu bahwa aku kebal terhadap segala macam racun?"

Li Tiong-hui ikut meneguk secawan arak dan mencicipi setiap hidangan yang ada, sahutnya: "Sayang sekali aku tidak memiliki kemampuan seperti apa yang nona Seebun miliki, racun dari jenis apa pun cukup ampuh untuk mencabut nyawaku."

Seebun Giok-hiong tersenyum. "Pepatah kuno mengatakan sesama jago saling mengasihi ternyata apa yang dikatakan orang dulu memang terbukti kebenarannya."

"Sayang kita harus berhadapan sebagai musuh, ibarat api dan air, tiga bulan kemudian kalau bukan kau yang tewas, tentu akulah yang mati."

"Cukup dipandang dari pelayananmu yang ramah terhadapku malam ini, di kemudian hari antara kau dan aku tak bakal ada yang mati”

"Aku percaya kemampuanku masih bukan tandinganmu, kekalahan pasti berada dipihakku ..."

"Meski kekalahan sudah pasti kau alami, kematian sih belum tentu," tukas Seebun Giok-hiong, " Kau tak mampu membunuhku, sedang aku pun segan membunuhmu, bukankah kita berdua sama-sama tak bakal mati?"

Mendadak Lim Han-kim yang selama ini membungkam menimbrung dari samping: "Para jago yang menghadapi pertemuan puncak di depan kuburan Liat-hu-bong tempo hari mencakup separuh bagian kekuatan dunia persilatan seandainya waktu itu setiap orang bersatu dan mau berjuang sepenuh tenaga untuk adu jiwa denganmu, belum tentu kau punya kesempatan untuk mengalahkan mereka semua." "Hmmm Andai kata Pek si-hiang tidak campur tangan di tengah jalan, niscaya mereka tak akan lolos dari cengkeraman mautku," kata Seebun Giok-hiong dingin, "Tatkala kita menikmati arak saat ini, tubuh mereka mungkin sudah hancur menjadi abu."

"Di kolong langit bisa muncul seorang Pek si-hiang, apa tak mungkin bisa muncul Pek si-hiang kedua ... ketiga ... dan seterusnya?" seru Lim Han-kim tak puas.

"Jadi kau tak percaya dengan perkataan-ku?" hawa amarah Seebun Giok-hiong mulai berkobar.

"Ungkapan nona kelewat berlebihan, aku khawatir dalam pelaksanaannya nanti tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan"

Seebun Giok-hiong segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Li Tiong-hui, tegurnya serius: "Apa kedudukan orang ini dalam perkumpulan Hian-hong-kau?"

"Dia bukan anggota perkumpulan Hian-hong-kau, peraturan perkumpulan kami sangat ketat dan keras, di hadapanku tak ada seorang anggota pun berani banyak bicara"

"Kalau begitu dia sama sekali tak ada sangkut paut dengan perkumpulan Hian-hong-kau milikmu itu?"

"Sekalipun tak ada hubungan dengan Hian-hong-kau, namun ia baik sekali denganku..."

Setelah menghela napas panjang, pelan-pelan lanjutnya: "Nona Seebun, kita sama-sama adalah perempuan yang pada akhirnya toh harus melayani orang lain, menjadi istri yang setia, melahirkan anak dan mengurus keluarga, apa gunanya kita mesti bersikap keras dan terlalu mengobarkan ambisi pribadi..."

"Kenapa kau mesti kawin?" tukas Seebun Giok-hiong dingin, "Aku tak percaya seorang wanita harus kawin dengan pria serta menuruti perkataannya."

"Belasan tahun berselang aku pun berpendapat demikian..." kata Li Tiong-hui pelan, setelah memandang Lim Han-kim sekejap. terusnya: "Waktu itu aku menganggap pria di dunia ini sebagai parasit yang sama sekali tak ada nilainya, tapi semenjak bertemu dengannya .. . aku .. . aaai, tanpa kusadari aku telah terjerat oleh jaring-jaring cintanya"

"Aaah, masa begitu?" seru Seebun Giok-hiong setelah meneguk habis isi cawan di hadapannya,

"Aaaai... aku tidak khawatir kau tertawa kan sesungguhnya ambisiku kini telah padam. Aku mulai jenuh dengan masalah dunia persilatan, jenuh dengan permasalahan dalam dunia kangouw yang penuh darah ini, bahkan kalau bisa, aku ingin melepaskan kedudukanku sebagai ketua Hian-hong-kau ini agar bisa hidup bahagia dengannya di suatu tempat yang sepi, terpencil dan jauh dari keramaian manusia. Aaaai... betapa bebas dan bahagianya kehidupan seperti itu bersama pujaan hatiku..."

Pada dasarnya dia memang pandai bicara, kata-kata tersebut diutarakan amat halus, begitu halus seolah-olah semua yang diutarakan betul-betul merupakan isi hatinya, Tanpa terasa Seebun Giok-hiong memandang Lim Han-kim sekejap. setelah menghela napas katanya: "Aku betul-betul tak mengerti, di mana sih letak kelebihannya sehingga patut kau cintai"

"Nona belum bisa melepaskan ambisimu sehingga tidak bisa mengenali perasaan manusia yang paiing dalam, biar kujelaskan kau juga tak bakal mengerti..."

Seebun Giok-hiong semakin membelalakkan matanya yang besar, dengan wajah bingung dan tidak habis mengerti serunya: "Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu"

"Katakan saja, asal aku tahu pasti akan kukatakan" "Di antara anak buahku, selain beberapa orang

dayang, sebagian besar adalah kaum pria, malah di antara mereka banyak yang tampan dan gagah..." ia memandang Lim Han-kim sekejap. lalu terusnya: "Aku rasa kegantengan mereka jauh melebihi dirinya, tapi kenapa aku tidak merasakan apa-apa terhadap mereka?" 

"Mungkin sifatmu kelewat dingin dan kaku, mungkin juga aliran ilmu silat yang kau pelajari berbeda sehingga semua perasaan dan emosi-mu telah terkendali," kata Li Tiong-hui sambil tertawa.

Seebun Giok-hiong ikut tertawa cekikikan "Mengingat kau begitu menghargai aku, biar kupikirkan sebuah cara penyelesaian yang paiing cocok untukmu"

Li Tiong-hui termenung sejenak. lalu katanya: "Aku tidak berhasil menemukan cara penyelesaian yang terbaik untukku, bila nona Seebun punya pendapat, mohon berilah petunjuk" "Cari saja kesalahannya, lalu gunakan kesempatan itu untuk membunuhnya, dengan begitu semua kemasgulanmu akan lenyap dengan sendirinya."

Li Tiong-hui agak tertegun, kemudian serunya sambil tertawa: "Apa bila aku tega membunuhnya, aku rasa tak perlu dibunuh pun persoalanku sudah dapat diatasi."

"Aaaai..." Seebun Giok-hiong menghela napas panjang, "Aku betul- betul tidak paham dengan persoalan ini, lebih baik tak usah dibicarakan lagi."

"Bila suatu hari kau bertemu dengan orang yang kau sukai, maka kau tentu akan teringat pada ucapanku malam ini..."

"Aku rasa, selama hidup aku tak akan menjumpai kejadian semacam ini," tukas Seebun Giok-hiong dingin, "llmu yoga yang kulatih sudah memberikan hasil yang lumayan, selama hidup aku tak bakal digaduhkan oleh masalah cinta."

"Hmmm, ilmu hipnotis yang kau pelajari hanya ilmu sesat yang menjijikkan, mana bisa dibandingkan dengan kehebatan ilmu silat sejati," ejek Lim Han-kim sambil tertawa dingin.

Seebun Giok-hiong segera melompat bangun, teriaknya penuh marah: "Aku sedang berbicara dengan ketua Hian-hong-kau, siapa suruh kau ikut menimbrung?"

Tiba-tiba saja Lim Han-kim merasa amat jengah, rasa malu yang segera membangkitkan hawa amarahnya, ia pun berpikir "sebagai seorang lelaki sejati aku lebih suka dibunuh daripada dihina, biarpun ilmu silatmu hebat, paiing banter aku terbunuh di tanganmu... kenapa aku mesti mengalah?" Makin dipikir ia merasa makin gusar dan mendongkol akhirnya sambil menggebrak meja teriaknya: "Nona, apa maksudmu memaki aku ...?"

"Kenapa? Kalau aku sengaja mau memaki, mau apa kamu?" tantang Seebun Giok-hiong.

"Sebagai tuan rumah aku tak senang punya tamu seperti kamu, lebih baik segera enyah dari sini"

Seebun Giok-hiong tertegun, hawa napsu membunuh seketika menyelimuti wajahnya, "Siapa yang kau maki..

.?" teriaknya, setelah memandang Li Tiong-hui sekejap. lanjutnya: "Kaucu, maafkan kekasaranku, malam ini aku harus memberi pelajaran yang setimpal kepada lelaki bau ini" Tangan kanannya segera diayun ke depan melancarkan sebuah sapuan.

"Tunggu sebentar nona Seebun" buru-buru Li Tiong- hui mencegah, "Harap kau sudi memandang atas wajahku dengan tidak ribut dengannya"

Dalam kenyataan, ucapan tersebut tak ada gunanya sama sekali sebab pukulan yang dilancarkan Seebun Giok-hiong telah dilontarkan keluar.

Dengan cekatan Lim Han-kim berkelit lima depa ke belakang untuk meloloskan diri dari serangan itu.

"Akan kulihat berapa banyak kesempatan yang bisa kau hindari" ejek Seebun Giok-hiong dingin. Dengan melejit ke udara melewati meja, sebuah pukulan dahsyat kembali dilontarkan dengan tangan kirinya memaksa Lim Han-kim tersudut, sementara tangan kanannya menyusulkan dengan sebuah pukulan lagi.