Pedang Keadilan II Bab 02 : sandiwara percintaan

 
Bab 02. sandiwara percintaan

"Baiklah" akhirnya Lim Han-kim mengangguk, "Kalau dalam lima hari usahaku tak berhasil menarik perhatian Seebun Giok-hiong, aku akan segera mohon diri"

"Kau hendak ke mana?" "Mencari seseorang" "siapa?"

"seorang adik seperguruanku."

"Beritahu kepadaku siapa namanya, bagaimana bentuk wajahnya, aku akan mencarikan untukmu."

"Ia bernama Yu siau-liong, berusia tiga belas tahun, bibirnya merah dan giginya putih." "Cukup Ciri lainnya aku bisa selidiki sendiri, nah kita pastikan begini saja, aku harus pergi dulu"

"Kau hendak ke mana?"

"Memulihkan kegadisanku, Bila kita bersua lagi, aku akan mencoba menggunakan segala rayuanku untuk mencoba memikatmu, Aku ingin tahu apakah rayuanku juga mampu memikat jaring-jaring cintamu."

"Jika nona tidak menggunakan ilmu silat, tidak memakai obat-obatan, aku yakin masih mampu mempertahankan diri"

"Bila aku hendak memakai cara-cara tersebut sekarang tak perlu aku banyak bicara denganmu" sahut Pek si-hiang. Habis berkata ia membalikkan badan dan pelan-pelan beranjak pergi.

sambil mengikuti di belakang gadis itu Lim Han-kim berbisik: "Nona, kau sangat lemah, tak baik banyak menggunakan pikiran dan tenaga untuk hal-hal yang tak berguna ..."

Tiba-tiba Pek si-hiang menghentikan Iang-kahnya, berpaling dan tertawa genit, "Kau betul-betul memperhatikan aku?" tanyanya.

"Aku bicara sejujurnya."

"Apa bagusku, apakah cukup berharga untuk kau kasihi?"

"Nona pintar dan banyak akal, berjiwa besar dan lagi penuh welas kasih, meski tubuh lemah namun masih berjuang demi kepentingan orang lain, apakah kesemuanya ini tidak berharga untuk kukagumi?" "Aku kurus tinggal kulit pembungkus tulang, mukaku pucat dan layu seperti mayat, kau tidak muak melihat aku?"

"Justru karena itulah aku merasa bahwa nona patut dihormati dan dikasihi."

Pek si-hiang menghela napas panjang. "Aaaai... ingatlah, aku hanya mampu hidup tiga bulan lagi, mengasihi aku bakal sia-sia belaka untukmu..."

setelah berhenti sejenak, terusnya: "Li Tiong-hui cantik, pintar dan lagi berasal dari keluarga kenamaan, Jika kau bisa menjadi pasangan yang sebenarnya dengan dia, maka kau pasti akan hidup bahagia."

"Aku hanya bersedia ..."

"Aku tak mau tahu apa niatmu sesungguhnya" tukas Pek si-hiang cepat, "Pokoknya setelah kau menyanggupi untuk melakukan tugas ini, maka kau harus berperan dengan sebaik-baiknya. sepeninggalku nanti kalian boleh merundingkan kembali persoalan ini, Nah, kau tak usah menghantar aku lagi." Pelan-pelan dia beranjak keluar dari ruangan

Lim Han-kim berdiri termangu-mangu di tengah ruangan sambil mengawasi bayangan punggung Pek si- hiang hingga lenyap dari pandangan ia lalu menghela napas sedih, tiba-tiba saja timbul perasaan kasihan dan iba di hati kecilnya, ia merasa pengorbanan gadis yang lemah dan tidak memperdulikan keselamatan sendiri itu patut dihormati dan disanjung tinggi. Mendadak terdengar suara helaan napas sedih bergema dari sisi tubuhnya, kemudian seseorang menyapa: "Baik-baikkah saudara Lim selama ini?"

Waktu itu Lim Han-kim sedang tenggelam oleh persoalan hatinya hingga tidak menyadari sejak kapan ada orang berdiri di sisinya, sewaktu berpaling, ia saksikan seorang perempuan berbaju serba hitam dan memakai cadar hitam telah berdiri di sampingnya. Buru- buru dia menjawab: "Aku sangat baik, kau adalah nona Li?"

orang itu memang Li Tiong-hui, sambil melepaskan kain cadar mukanya ia mengangguk "Yaa, aku adalah Li Tiong-hui."

"Nona Pek telah menjelaskan kepadaku." "Menjelaskan soal apa?" bisik Li Tiong-hui dengan

wajah tersipu-sipu karena malu.

"Ia suruh kita bekerja sama dalam menghadapi Seebun Giok-hiong, berusaha selamatkan umat persilatan dari kematian."

"Ehmmm, lalu bagaimana bentuk kerja sama itu?" "Lho . . . jadi kau belum tahu?" seru Lim Han-kim

tertegun.

"Apa yang kuketahui tidak terlalu lengkap. dapatkah kau jelaskan sekali lagi kepadaku?"

Lim Han-kim jadi kelabakan dan tak tahu apa yang mesti diucapkan, setelah termenung lama sekali ia baru berkata: "Ia suruh kita berperan sebagai sepasang kekasih yang sedang dibuai asmara, agar Seebun Giok- hiong mengalihkan perhatiannya kepada kita ..."

"Misalnya Seebun Giok-hiong bersikap acuh tak acuh, atau bahkan menengok kemari pun tak pernah, lantas apa yang harus kita lakukan?" tanya Li Tiong-hui sambil tertawa.

"Aku memang sudah merasakan banyak kesulitan dalam peranan tersebut contohnya saja nona Li sendiri Kau berasal dari keluarga persilatan yang kenamaan, nama baikmu sangat tinggi, apakah kau tidak kuatir pamormu bakal merosot gara-gara memainkan peranan seperti itu?"

"Aku melakukan hubungan denganmu atas nama kedudukanku sebagai ketua Hian-hong-kau, dengan Cara demikian umat persilatan bisa terkelabui,justru yang aku kuatirkan adalah bilamana kita tak bisa mengendalikan diri sehingga..." Tiba-tiba sepasang pipinya berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus, dengan tersipu-sipu ia tundukkan kepalanya dan tak berani mendongak kembali

Lim Han-kim semakin gelagapan: "waaah... kalau soal ini... kalau soal ini ..."

"Kau tak perlu ini itu lagi" tukas Li Tiong-hui tiba-tiba sambil mendongakkan kepalanya, "selama ratusan tahun terakhir, keluarga persilatan bukit Hong-san kami selalu disanjung dan dihormati umat persilatan Meski aku hanya seorang wanita, namun aku tak bakal memalukan nama keluargaku apa lagi menodai nama besar keluarga Li"

"Ucapan nona memang sangat tepat" Lim Han-kim manggut-manggut, Meski dalam hati kecilnya ia mempunyai banyak persoalan yang hendak diutarakan, namun tak sepatah kata pun sanggup diutarakan, dia tak tahu harus mulai dan mana.

sambil menghela napas panjang Li Tiong-hui bertanya: "Lim siangkong, apakah kau menjumpai kesulitan?"

"Aku masih mempunyai ibu. Untung saja apa yang bakal kulakukan hanya sebatas sandiwara dan bukan bersungguh-sungguh, hingga tidak perlu minta ijin dulu dari orang tuaku."

"Tampaknya kau punya rasa percaya diri yang sangat kuat?" seru Li Tiong-hui sambil tertawa.

Lim Han-kim tertegun, katanya kemudian: "Aku tidak paham maksud perkataan nona ini."

"Sekalipun kita sedang bermain sandiwara, namun kita mesti memerankan secara sungguh-sungguh hingga tak berbeda dengan kejadian sebenarnya. Apakah kau tidak akan khawatir benar-benar jatuh cinta kepadaku?"

"Aku percaya masih mampu mempertahankan sopan santun."

Berkilat sepasang mata Li Tiong-hui, ujarnya pelan: "Baiklah, kalau begitu mari kita coba..."

Pada saat itulah dari luar ruangan terdengar suara Ciu Huang sedang berseru: "Nona Pek, bolehkah kami ikut masuk?"

Li Tiong-hui segera menurunkan kembali kain cadar mukanya, setelah itu baru serunya: "silakan masuk"

Ketika Lim Han-kim mendongakkan kepalanya, ia menjumpai Ciu Huang melangkah masuk lebih dulu diikuti Hongpo Tiang-hong, Li Bun- yang serta Hongpo Lan sekalian, Sambil celingukan ke sekeliling tempat itu, Ciu Huang menegur "Ke mana perginya nona Pek?"

"Ia sudah pergi, bila ada urusan katakan saja kepadaku" ucap Li Tiong-hui cepat.

"Kami hanya ingin bertanya kepada nona Pek. adakah perintah untuk kami semua?"

"Nona Pek telah berpesan kepadaku, ia minta kalian segera berangkat untuk melacak dan menyelidiki jejak Seebun Giok-hiong, Besok sebelum tengah hari harus sudah balik kemari untuk memberi laporan-"

"Baik,.. kami segera berangkat" sambil berkata Ciu Huang beranjak keluar dari sana,

Li Bun- yang berpaling memandang ketua Hian- hong- kau sekejap. ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan dengan cepat ia pun menyusul rekan lain-nya.

Terlihat bayangan beberapa manusia berkelebat lewat, dalam sekejap mata para jago telah pergi dari situ, Dalam ruangan kini tinggal Lim Han-kim dan Li Tiong-hui berdua. sambil memandang bayangan punggung para jago yang menjauh, tak tahan Lim Han-kim berbisik: "Apa benar nona Pek minta mereka untuk pergi menyelidiki jejak Seebun Giok-hiong?"

"Kenapa? jadi kau menganggap aku sedang bohong?" "Nona Li jangan salah paham, aku hanya bertanya

sambil lalu, sama sekali tak ada niat lain" "Pek si-hiang memberitahu kepadaku, bukan saja Seebun Giok-hiong memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, lagi pula ia pandai sekali mengubah raut mukanya, ini berarti setiap saat ia bisa menyamar menjadi manusia yang berwajah beda untuk menyusup masuk ke dalam lingkungan kita."

"Kalau begitu setiap saat kita harus selalu waspada" "Tapi setiap saat kita pun wajib memberi kesempatan

kepadanya..." lanjut Li Tiong-hui sambil tertawa.

"Betul" sahut Lim Han-kim seperti memahami sesuatu, setelah termenung sesaat, katanya lagi: "Tampaknya kau dan nona Pek telah menyusun suatu rencana yang amat sempurna?"

"Ehmmm"

"Boleh dijelaskan latar belakangnya kepadaku?" "Tidak. Bila lebih banyak yang kau ketahui, berarti

akan menambah kecurigaan Seebun Giok-hiong terhadap

dirimu..." Kemudian sambil menjulurkan tangannya yang halus ke depan, sambungnya: "sekarang gandenglah tanganku dengan mesra"

"Kita akan ke mana?" dengan terperanjat Lim Han-kim menarik mundur tangannya.

Tidak tampak keseriusan pada raut muka Li Tiong-hui karena tersekat kain cadar hitam, namun nada suaranya amat tegas, katanya lagi: "Mulai detik ini kau adalah kekasih hatiku... calon suamiku ..." Lim Han-kim segera menggandeng tangan Li Tiong-hui, kembali bisiknya: "Nona Li, apa mulai sekarang?" "Yaa, mulai sekarang hingga kau diculik Seebun Giok- hiong, dalam waktu-waktu ini kau harus selalu mendampingi aku, kalau malam harus mendampingiku di kamar, kau menjadi lelaki di bawah lutut Li Tiong-hui."

"Aku telah mengatakan kepada nona Pek bahwa aku hanya bersedia melakukan peranan ini selama lima hari. Jika lima hari kemudian Seebun Giok-hiong belum juga melakukan sesuatu, maka aku akan segera berpamitan

..."

sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba di luar tenda. si Dewa buas, iblis jahat, setan gusar dan sukma murung masih menunggu di luar tenda dengan sikap penuh siaga, Mereka berempat serentak memandang Lim Han-kim sekejap. kemudian sambil memberi hormat kepada Li Tiong-hui tanyanya: "Apakah kaucu ada sesuatu perintah?"

Lim Han-kim tertegun, ia hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan, pikirnya: "Heran, empat manusia buas yang liar dan susah ditaklukkan ini, kenapa bisa bergabung dengan partai Hian-hong-kau?"

sementara itu terdengar Li Tiong-hui telah bertanya: "Apakah kereta kuda sudah disiap-kan?"

" Kereta telah disiapkan sejak tadi, siap menunggu perintah kaucu seterusnya," sahut Dewa buas berbaju merah dtngan sikap hormat

"Kalian lindungi kereta kuda itu sebaik-baiknya, jangan biarkan siapa pun mendekati kereta ini"

Dewa buas, iblis jahat, setan gusar dan sukma murung serentak menyahut dan menyebarkan diri di sekeliling kereta, Dengan ilmu menyampaikan suara Li Tiong-hui segera berbisik kepada Lim Han-kim: "Bersikaplah lebih mesra kepadaku, jangan biarkan keempat manusia ini menemukan titik kelemahan."

Terpaksa Lim Han-kim merangkul tubuh Li Tiong-hui dan mendekapnya lebih erat, pelan-pelan mereka menuju ke depan kereta. Buru-buru Dewa buas berbaju merah menyingkap tirai kereta sambil serunya: "Silakan naik ke dalam kereta kaucu" Li Tiong-hui mengangguk, kepada Lim Han-kim bisiknya: "Bimbinglah aku naik."

Terpaksa Lim Han-kim menurut dan menggendong tubuh Li Tiong-hui naik ke dalam kereta, Baru saja dia akan menuju ke belakang kereta, tiba-tiba terdengar Li Tiong-hui berseru lagi: "Ayo naiklah ke dalam kereta"

Lim Han-kim tertegun, pikirnya: "Rupanya ia suruh aku naik ke dalam kereta ..."

Tanpa banyak bicara lagi ia melompat masuk ke dalam ruang kereta, setelah menurunkan kembali tirai kereta, sambil tertawa Li Tiong-hui berbisik: "Kau tidak tampak seperti pacarku, tapi lebih mirip kacungku"

Lim Han-kim tertawa jengah, "Agaknya aku belum terbiasa, lama kelamaan kan luwes sendiri, "jawabnya .

"Kalau begitu cepatlah menyesuaikan diri, kalau tidak kau bisa mendapat malu di hadapan umum."

Dalam saat itu dari luar kereta terdengar suara Dewa buas berbaju merah sedang bersemi "Hamba sekalian menunggu perintah, kereta ini akan dipacu ke mana?"

"sepuluh li kearah timur terdapat sebuah kuil tempat abu keluarga Go, kita menuju ke sana" Dewa buas berbaju merah mengiakan, kereta pun pelan-pelan bergerak menuju ketimur.

Lim Han-kim tak kuasa menahan rasa ingin tahunya, dengan suara lirih bisiknya: "Keempat manusia buas ini liar dan susah dijinakkan, setiap saat kemungkinan besar mereka bakal menghianatimu, kenapa kau pandang mereka sebagai orang kepercayaan?"

sambil bersandar pada dinding kereta Li Tiong-hui tersenyum, "Aku sengaja berbuat begini untuk mengukur sampai di mana takaran keberanianmu."

"Tapi urusan ini menyangkut keselamatanmu apa sangkut pautnya dengan diriku?"

Kembali Li Tiong-hui tertawa, "Selain buas, ganas dan liar, keempat manusia ini termasuk setan-setan perempuan yang menjijikkan, Keberadaanmu di sisiku segera akan mereka anggap sebagai duri dalam kelopak mata, setiap saat kemungkinan besar mereka akan mencoba membunuhmu."

"oooh, rupanya ini yang kau maksud" Lim Han-kim manggut-manggut.

"Cuma," sambung Li Tiong-hui lebih lanjut "saat ini mereka masih sangat patuh dan taat kepadaku, Bila suatu hari mereka akan menghianatimu orang pertama yang bakal dibunuhnya lebih dulu pastilah kau."

"Aku tidak takut menghadapinya" sahut Lim Han-kim sambil tertawa hambar.

Tiba-tiba Li Tiong-hui menggerakkan tangannya memegang bahu anak muda itu, lalu dengan suara lembut katanya: "Aku ingin bicara sejujurnya denganmu. Empat manusia buas dari sin- ciu sudah terbiasa ganas, kejam dan buas, sedikit-dikit mereka bisa turun tangan menghabisi nyawa manusia, Dalam pandangan mereka tiada sesuatu yang patut ditakuti, Kau harus lebih hati- hati terhadap mereka, bisa jadi setiap saat mereka akan membokong mu"

Mendengar penjelasan tersebut, di hati kecilnya Lim Han-kim berpikir " Kalau sudah tahu begitu, kenapa kau sengaja membawa serta keempat manusia buas itu?

Bukankah sama artinya dengan mencari kesulitan buat diri sendiri?"

Melihat pemuda itu membungkam, sambil berpaling Li Tiong-hui berkata lagi: "Kenapa tidak bicara? Apa mulai merasa takut?"

" Kalau aku betul- betul sampai mati dibokong mereka, mungkin nona Li sendiri pun akan memperoleh akhir yang tidak lebih baik daripadaku."

Li Tiong-hui tersenyum. "sekarang kita senasib sependeritaan kita sudah menjadi suami istri yang berat sama dijinjing ringan sama dipikul."

"Kelihatannya kau sangat mencemaskan persoalan ini?" tegur Lim Han-kim dengan kening berkerut

"Tentu saja ..."

Mendadak dari luar kereta berkumandang suara bentakan keras, disusul bergemanya suara jeritan ngeri yang memilukan hati, Lim Han-kim menyingkap ujung tirai sambil melongok ke muka, tampak mayat seorang petani yang membawa pacuI tergeletak di tepi jalan. Dewa buas berbaju merah berjalan dipaling depan, jelas petani itu terbunuh di tangannya, namun manusia buas itu sama sekali tidak berpaling bahkan menengok mayat itu sekejap pun tidak.

Sambil menurunkan kembali tirainya, Lim Han-kim menghela napas sedih, ujarnya: "Nama besar empat manusia buas ternyata bukan nama kosong belaka, Kekejaman serta kebuasan beberapa orang ini sungguh belum pernah kudengar apa lagi kusaksikan sebelumnya."

"Ada apa sih?"

"Mungkin seorang petani yang sedang berangkat ke sawah agak lambat menyingkir dari jalan raya. ia tewas terhajar oleh pukulan Dewa buas berbaju merah, mayatnya teronggok di pinggir jalan."

Walaupun dia berusaha menahan diri, membiarkan suaranya tetap tenang namun tak tertutup gejolak perasaan hatinya yang membara sehingga nada suaranya kedengaran agak gemetar.

Berkilat sepasang mata Li Tiong-hui, tampaknya dia dibuat gusar juga atas kekejaman Dewa buas bebaju merah, sambil menurunkan cadar mukanya ia menyingkap tirai kereta lalu membentak keras: "Berhenti"

Kereta kuda yang sedang melaju cepat seketika terhenti secara mendadak. Pelan-pelan Li Tiong-hui menggeser tubuhnya melongok keluar dari ruangan kereta, kemudian dengan wajah serius menegur "siapa yang telah membunuh orang?" "Hamba yang melakukan" jawab Dewa buas berbaju merah sambil memberi hormat.

"Meskipun partai Hian- hong- kau tidak sama seperti partai lain, namun partai kita pun mempunyai peraturan yang ketat setelah kalian bergabung, dengan Hian- hong- kau berarti terikat juga dengan semua peraturan serta larangannya, kalian tak boleh mengumbar napsu semaunya sendiri"

"Oooh, jadi anggota Hian-hong-kau tidak boleh membunuh orang?"

"Tidak boleh membunuh semaunya sendiri, apa lagi membunuh orang yang sama sekali tak mengerti ilmu silat"

Dasar watak dewa buas berbaju merah amat buas, beringas, liar dan sukar dikendalikan ia segera membantah: "Orang itu tak mau cepat-cepat menyingkir ketika melihat kereta kaucu hendak lewat, apa salahnya jika manusia seperti ini dihabisi?"

"Kau berani bersikap kurang ajar dengan ketuamu?" hardik Li Tiong-hui penuh amarah.

Berkilat sepasang mata Dewa buas berbaju merah, tampaknya dia hendak membantah lagi tapi akhirnya niat itu diurungkan, pelan-pelan dia tundukkan kepalanya seraya berkata: "Hamba siap menerima hukuman."

"Dengan tangan apa kau membunuh petani itu?" "Tangan kiri"

"Baik, kutungi sebuah jari tangan kirimu" Lim Han-kim amat terkejut, diam-diam ia himpun tenaga dalamnya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak dlinginkan, pikirnya: "Jangan-jangan ia enggan menerima hukuman seberat itu dan melakukan pemberontakan?"

Beberapa kali sepasang mata Dewa buas berbaju merah memancarkan cahaya buas, dari sakunya ia keluarkan sebilah pisau belati, lalu serunya: "Apakah kaucu tidak merasa hukuman pengutungan jari tangan ini kelewat berat?"

"Baiklah, kalau kau enggan mengutungi jari tanganmu, silakan memilih jalan yang lain"

"Apakah itu?"

"Segera tinggalkan partai Hian-hong-kau dan tidak usah bergabung dengan aku"

Dewa buas berbaju merah tertawa ter-bahak-bahak.

Tanpa banyak bicara lagi pisaunya ditebaskan kejari kelingking tangan kiri-nya. Di antaranya percikan darah segar yang memancar ke mana- mana, jari itu terpapas kutung dan jatuh ke tanah.

Li Tiong-hui menarik kembali tubuhnya seraya menurunkan tirai kereta, Dalam saat itu Dewa buas berbaju merah telah memungut kutungan jari kelingkingnya dari tanah kemudian ditelan ke dalam perut, setelah itu baru dia berseru: "Lapor kaucu, dapatkah perjalanan di-lanjutkan?"

"Langsung menuju ke tujuan semula"

Dewa buas berbaju merah mengiakan, kereta pun pelan-pelan bergerak kembali Dengan suara setengah berbisik Lim Han-kim bertanya: "Dengan menjatuhkan hukuman memotong jari tangan kepada mereka, bukankah hal ini akan menambah rasa benci dan dendam mereka terhadapmu?"

" Kalau kita tidak menjatuhkan hukuman yang berat terhadap manusia- manusia buas macam mereka, bagaimana mungkin kita bisa menundukkan mereka serta membuat mereka takluk?" jawab Li Tiong-hui.

"sebenarnya kita memberi bimbingan dan penyuluhan kepada mereka, agar tidak mengulangi perbuatannya lagi."

"Hal itu tergantung pada siapa kita berhadapan Kalau terhadap manusia- manusia bengis macam mereka kita gunakan cara pendekatan serta penyuluhan, ibarat memetik gitar di depan kerbau, usaha kita akan sia-sia belaka. Kita wajib menggunakan cara hukuman yang berat dan keji, dengan begitu baru bisa menimbulkan perasaan jeri di hati kecil mereka."

Lim Han-kim tidak banyak bicara lagi, sementara di hati kecilnya dia berpikir: "Padahal dalam hati kecilmu sudah tahu akan besarnya resiko dengan membawa serta keempat manusia buas itu, tapi kau justru sengaja membawa mereka sebagai pelindung, apa itu bukan namanya mencari penyakit untuk diri sendiri?"

Untuk beberapa saat suasana dalam kereta itu diliputi keheningan yang luar biasa, kedua orang itu sama-sama tidak berbicara lagi.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, mendadak kereta itu berhenti dan dari luar kereta kedengaran suara Dewa buas berbaju merah sedang berseru: "Lapor kaucu, kereta telah tiba di kuil keluarga Go"

Li Tiong-hui segera mengenakan kembali kain cadar mukanya, lalu sambil turun dari kereta ujarnya: "Dua orang tinggal di sini menjaga kereta, dua yang lain ikut aku masuk ke dalam kuil"

Dewa buas berbaju merah memandang tiga saudaranya sekejap. kemudian perintahnya: "Loji, losam, kalian ikut kaucu masuk ke dalam kuil, losu tinggal di sini bersama aku menjaga kereta"

iblis jahat berbaju hijau dan setan gusar berbaju kuning segera mengiakan dan berjalan di belakang Li Tiong-hui menuju ke dalam kuil.

Lim Han-kim me mperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu pikirnya: "Ketika aku dan Pek si-hiang terpancing datang malam itu, bukankah tempat yang kudatangi adalah rumah abu keluarga Go ini? Kenapa Li Tiong-hui juga datang kemari? Apa maksudnya?"

Meskipun aneka ragam pertanyaan menyelimuti benaknya, namun anak muda tersebut sgan untuk banyak bertanya, setelah masuk ke dalam ruangan rumah abu, Li Tiong-hui berpaling ke arah iblis jahat berbaju hijau sambil perintahnya: "Kau berjalan di muka untuk membuka jalan"

iblis jahat berbaju hijau menyahut, dengan langkah lebar ia masuk ke dalam ruangan, Li Tiong-hui mengintil di belakang iblis jahat berbaju hijau pada jarak lima enam depa, Lim Han-kim berada di samping gadis tersebut sedangkan setan gusar berbaju kuning berjalan paling belakang. Rumah abu keluarga Go sangat luas, terpencil dan sepi, walaupun mereka berempat sudah jauh masuk ke ruang dalam, namun tak nampak manusia lain.

Diam-diam Lim Han-kim ikut memperhatikan sekeliling tempat itu, dia berharap dapat menemukan pula jejak yang ditinggalkan see- bun Giok-hiong. setelah melalui beberapa lapis anak tangga, tibalah mereka di depan pintu lapisan kedUa.

Dengan satu tendangan keras iblis jahat berbaju hijau menghajar pintu itu hingga terpentang lebar dengan menimbulkan suara keras. Mendadak Li Tiong-hui memperlambat langkahnya sambil berbisik, "Bersikaplah lebih mesra kepadaku."

Lim Han-kim mengerutkan dahinya tapi ia menurut juga, dengan tangan kanannya ia rangkul pinggang Li Tiong-hui yang ramming itu serta mendekapnya dengan mesra.

Dengan gemas bercampur mendongkol iblis jahat berbaju hijau melotot sekejap ke arah Lim Han-kim, kemudian baru katanya: "Lapor kaucu, apakah kita akan menuju ke belakang?"

"Ehmmm, kita tengok ruang belakang"

setelah berjalan beberapa langkah, iblis jahat berbaju hijau berpaling lagi sambil bertanya: "Di tempat yang terpencil dan menyeramkan ini, boleh kah aku turun tangan membunuh orang?"

"Tergantung siapa yang sedang kau hadapi"

"Masa di tempat sepi dan terpencil macam ini masih ada orang baik-baik?" "Baiklah, kuijinkan kau untuk turun tangan, tapi kularang membunuh orang semaunya sendiri"

iblis jahat berbaju hijau segera tertawa dingin. "Baik, akan kubikin dia cacad berat" selesai berkata dia membalikkan badan dan meneruskan langkahnya menuju ke ruang belakang.

Dengan ilmu menyampaikan suara Li Tiong-hui segera berbisik kepada Lim Han-kim: "sekarang kita berada di tempat yang berbahaya, Di sisi kita pun ada pembantu bengis yang setiap saat bisa memagut kita, ini namanya bahaya yang datang dari luar dalam, Kau mesti pertahankan ketenanganmu dan setiap saat siap menghadapi segala kemungkinan."

Tiba-tiba saja Lim Han-kim merasa pada bahunya seolah-olah diberi pikulan yang ribuan kati beratnya, sepertinya mati hidup Li Tiong-hui sudah diserahkan kepadanya, tak kuasa lagi hatinya bergetar keras, pikirnya: "sudah jelas kau sendiri yang ingin kemari, tak ada urusan sengaja mencari gara-gara. setelah urusan di ujung tanduk kau serahkan beban ini pada pundakku ..."

Tapi mengingat dia hanya seorang gadis, terpaksa beban itu harus diterimanya juga, katanya: "Apabila kita benar-benar menjumpai bahaya maut, kau pasti akan mati di belakangku."

Li Tiong-hui tertawa, "sekarang kita adalah sepasang kekasih yang senasib sepenanggulangan, bila kau benar- benar mati di rumah abu keluarga Go ini, aku pun tak ingin hiduc seorang diri"

sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba di ruang belakang, pintu gedung kelihatan tertutup rapat, empat penjuru sekeliling tempat itu tak tampak sesosok manusia pun.

iblis jahat berbaju hijau langsung menuju ke depan pintu ruangan sebelum menghentikan langkahnya, seraya berpaling tanyanya: "Lapor Kaucu, perlukah kita membuka pintu ruangan ini?"

"Tentu saja harus dibuka pintunya."

iblis jahat berbaju hijau tertawa dingin, "Peraturan yang berlaku dalam partai Hian- hong- kau kelewat keras dan ketat, sebelum memperoleh petunjuk dari kaucu, aku tak berani ambil keputusan sendiri"

sekali tendang ia hajar pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Tenaga dalam yang dimiliki orang ini sungguh hebat, pintu ruangan yang tebal lagi berat itu kontan terpentang lebar setelah termakan oleh tendangannya itu.

Dalam ruangan itu terlihat sebuah meja panjang, di tengah meja itu berdiri sebuah papan nama berhuruf emas yang bertuliskan: "Tempat abu leluhur keluarga Go."

Di sisinya berderet papan nama kecil yang banyak sekali jumlahnya, di atas setiap papan nama itu tertera nama serta tanggal kematian, Kecuali meja abu itu, tidak nampak benda lainnya.

"Hmmm, banyak amat papan nama di sini" seru setan gusar berbaju kuning sambil mendengus.

Li Tiong-hui memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu dengan suara dalam katanya kepada iblis jahat berbaju hijau dan setan gusar berbaju kuning: "Kalian berjaga-jaga di luar pintu"

"Kalau ada orang hendak memasuki ruangan, apakah dibiarkan masuk?" tanya setan gusar berbaju kuning.

"Laporkan dulu kepadaku."

" Kalau ia ngotot hendak menerjang masuk. apa yang harus kuperbuat?"

"Apa kegunaan sepasang tanganmu? Kenapa tidak menggunakan tanganmu untuk meng-halangi?"

"Aku takut jari tanganku dikutungi gara-gara salah membunuh orang, hingga meski memiliki ilmu silat, aku tak berani menggunakannya."

"Totok saja jalan darahnya dan tangkap hidup,hidup, asal tidak kau bunuh korbanmu sudah cukup,"

"Kami empat manusia buas sudah terbiasa membunuh orang, serangan kami selalu berat Aku takut tidak pas dalam penggunaan tenaga sehingga bukannya terluka malah mampus lebih cepat."

" Kalau kau tidak khawatir mendapat hukuman dikutungi jari tanganmu, silakan kau bunuh korbanmu"

setan gusar berbaju kuning tertawa ter-bahak-bahak, "Ha ha ha ... untung aku punya sepuluh buah jari tangan, kalau membunuh satu orang dikutungi satu jari tanganku, berarti aku punya kesempatan untuk membunuh sepuluh orang"

Di tengah gelak tertawa yang keras bersama iblis jahat berbaju hijau mereka bersama-sama beranjak keluar dari ruangan. Memandang hingga kedua manusia buas itu meninggalkan ruangan, Lim Han-kim baru berkata: "Apa maksudmu mengusir mereka berdua keluar dari ruangan ini?"

"Menunggu seseorang" "Siapa?"

"Seebun Giok-hiong"

"Seebun Giok-hiong?" seru Lim Han-kim terkejut "Jadi kau sudah berjanji dengannya untuk bertemu di sini?"

"Kau telah merusak rencana busuknya sehingga memaksanya menelan kekalahan yang tragis, bahkan dipaksa untuk berjanji tidak berbuat semena-mena terhadap umat persilatan selama tiga bulan mendatang, Aku yakin rasa bencinya kepadamu jauh melebihi rasa bencinya terhadap Pek si-hiang." Lim Han-kim tertawa hambar.

"Kau sudah dianggap salah satu musuh besarnya, Bila ia peroleh kesempatan untuk membunuhmu, aku percaya dia pun tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."

sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba terdengar setan gusar berbaju kuning membentak nyaring: "Berhenti, siapa yang kau cari?"

Li Tiong-hui segera berbisik, "Seebun Giok-hiong telah datang, kau harus berhati-hati"

Terdengar iblis jahat berbaju hijau berteriak pula penuh amarah: "Bocah keparat, kau ingin mampus? jangan salahkan aku bersikap keji kepadamu." Terdengar suara deruan angin pukulan membelah angkasa, disusul kemudian bergema suara dengusan tertahan Tampaknya ada orang di luar ruangan yang terlibat pertarungan tapi salah satu di antaranya menderita kerugian besar.

Buru-buru Lim Han-kim meloloskan pedang Jin-siang- kiamnya seraya berseru: "Biar, kutengok keluar."

"Jangan mencampuri urusan itu" cegah Li Tiong-hui sambil menarik lengan anak muda itu. "lblis jahat dan setan gusar tak bakal mampu menghalangi serbuan Seebun Giok-hiong."

Kembali terdengar suara setan gusar berbaju kuning membentak keras: "Lapor kaucu, ada orang menerobos masuk"

Belum habis teriakan itu bergema, tiba-tiba muncul seorang manusia berbaju hijau di pintu ruangan, orang itu mengenakan topeng berwarna merah darah, hanya sepasang matanya yang bersinar saja yang tampak di balik topeng itu.

Diam-diam Lim Han-kim menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia, pedang pendeknya disilangkan di depan dada. "Lepaskan topeng mu itu" hardik Li Tiong-hui ketus.

" Kenapa kau tidak lepaskan kain cadar mukamu terlebih dulu?" jawab orang berbaju hijau itu.

"Aku tak perlu melakukan itu" " Kenapa?" "sebab tanpa melepaskan kain cadar mukakupun kau sudah tahu siapa aku."

"Kau tebak siapa pula aku ini?" "Seebun Giok-hiong"

"Majikanku punya kedudukan yang sangat terhormat, ia tak akan kemari semaunya"

"Ia toh sudah janji denganku, kenapa tidak berani datang sendiri? Hmmm Benar-benar tidak bisa dipercaya"

"Tanpa datang kemari sendiri pun ia dapat mengetahui semua gerak-gerikmu secara tepat"