-->

Pedang Keadilan I Bab 47 : memperebutkan Kotak Kemala

 
Bab 47. memperebutkan Kotak Kemala

Phang Thian-hua sendiri pantang menyerah, toyanya sebentar disodok sebentar ditarik, ia ciptakan berlapis- lapis bayangan toya untuk melindungi badan, dari arah mana pun keempat manusia buas itu menyerang dan betapa gencar serta dahsyatnya mereka mendesak, tak sebuah serangan pun berhasil mencederai dirinya Tak selang berapa saat kemudian kelima orang itu sudah bertarung empat lima puluh gebrakan lebih.

Tampak senjata martil perak berputar-putar seperti gangsingan, kencrengan tembaga menyambar seperti guntur, bayangan toya menderu-deru meninggalkan bayangan kabur, pertarungan berlangsung dengan sengitnya, tapi kedua belah pihak tidak menunjukkan tanda-tanda akan kalah.

kawanan jago yang mengikuti jalannya pertempuran itu rata-rata merasa terkejut bercampur ngeri, pikir mereka: "Pertempuran sengit semacam ini benar-benar belum pernah dijumpai sebelumnya "

Dalam pada itu delapan orang anak buah Phang Thian-hua telah meloloskan senjata masing-masing sambil mengikuti perubahan situasi dalam arena pertarungan dengan perasaan tegang, seingat mereka Phang Thian-hua belum pernah bertarung lebih dari lima puluh gebrakan melawan orang lain, biasanya asal dia turun tangan sendiri maka belum sampai sepuluh gebrakan musuhnya pasti telah dirobohkan tak berkutik,

Tapi kenyataannya sekarang, berpuluh-puluh gebrakan sudah lewat tanpa diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah, bahkan kalau dilihat dari situasinya posisi Phang Thian-hua semakin terdesak di bawah angin- kini dia malah cuma bisa menangkis tanpa mampu melancarkan serangan balasan.

Tiba-tiba terdengar Dewa buas berbaju merah membentak keras: "Lepas tangan"

Cahaya emas tiba-tiba saja berkilauan tajam dan langsung menyerang masuk ke balik bayangan toya yang diciptakan Phang Thian-hua.

"Belum tentu.,." hardik Phang Thian-hua pula dengan suara teramat gusar.

Di tengah bentakan nyaring itu mendadak tubuh kedua orang itu paling berpisah, Posisi kuda-kuda si Dewa buas berbaju merah tak bisa dipertahankan lagi, secara beruntun ia mundur sejauh enam tujuh langkah, Tapi akhirnya ia tak mampu mempertahankan diri, tubuhnya roboh terjungkal ke atas tanah, iblis jahat berbaju hijau, setan gusar berbaju kuning dan sukma murung berbaju putih serentak menarik kembali senjatanya sambil melompat ke sisi Dewa buas berbaju merah.

"Toako, kau terluka?" tanya mereka hampir serentak. sepasang mata Dewa buas berbaju merah terbelalak

lebar-lebar, mulutnya terbungkam rapat, wajahnya diliputi mimik muka yang menyeramkan Melihat keadaan saudaranya itu, iblis jahat berbaju hijau segera memukul punggung Dewa buas berbaju merah itu keras- keras

.begitu punggungnya dihantam, Dewa buas berbaju merah menghembuskan napas panjang, bisiknya: "Phang Thian-hua juga telah terluka"

Ketika para jago berpaling, terlihat Phang Thian-hua sedang berdiri tak bergerak dengan wajah termangu- mangu, tongkatnya digunakan untuk menopang badannya dan mulutnya terbungkam dalam seribu basa.

setan gusar berbaju kuning tertawa dingin, tiba-tiba dia mengayunkan pergelangan tangan kanannya, secepat petir senjata kencrengan tembaganya meluncur ke muka.

Kedelapan orang anak buah Phang Thian-hua serentak bergerak maju dan mengurung phang Thian-hua di tengah arena. Dua orang pemuda berbaju biru dengan menggetarkan pedang masing-masing menciptakan selapis jaring pedang yang amat kuat. "Traaang.„ traaaang..."

Di tengah serangkaian suara dentingan yang amat nyaring, sepasang kencrengan tembaga dari setan gusar berbaju kuning terpental keempat penjuru begitu membentur cahaya pedang yang sangat kuat itu.

Mendadak terdengar Phang Thian-hua mengangkat tinggi toyanya sambil berseru lantang:

"Menang kalah masih belum diputuskan, kalian cepat mundur dari sini" Delapan orang anak buahnya itu kelihatan agak tertegun, tapi serentak mereka segera mengundurkan diri

"Dewa buas berbaju merah" teriak Phang Thian-hua sambil memutar tongkatnya, "Kau masih punya kekuatan untuk melanjutkan pertarungan?"

"Kenapa Tidak?" jawab Dewa buas berbaju merah sambil maju ke depan dengan sempoyongan, sementara itu para jago yang berada di seputar arena dapat melihat bahwa kedua belah pihak sama-sama sudah terluka parah, apa bila pertarungan ini dilanjutkan maka salah satu di antara mereka tentu akan terluka parah atau bahkan tewas, kendati begitu tak seorang pun yang berusaha mencegah atau menghalangi. Hal ini disebabkan kedua orang itu sama-sama termasuk tokoh yang paling sukar dilayani dalam dunia persilatan, otomatis orang lain segan mencampuri urusan mereka hingga berakibat mendatangkan kesulitan buat diri sendiri

sebaliknya si iblis jahat berbaju hijau, setan gusar berbaju kuning, sukma murung berbaju putih maupun kedelapan orang anak buah Phang Thian-hua telah dapat melihat pula kalau kedua orang itu tak sanggup melanjutkan kembali pertarungan tersebut, namun mereka pun cukup memahami sifat mereka sehingga siapa pun tak berani mencegah.

Berada dalam keadaan begini mereka hanya bisa menghimpun tenaga dalam sambil bersiap sedia, Dilamana perlu mereka baru akan turun tangan membantu.

Tiba-tiba Phang Thian-hua menghentakkan tongkatnya ke atas tanah, lalu dengan jurus "Bukit Thay-san menindih kepala" ia babat tubuh lawannya keras-keras.

Dewa buas berbaju merah buru-buru menangkis serangan itu dengan jurus "Mendekati awan menyanjung matahari" Tapi begitu senjata penggaris emasnya bentrok dengan senjata tongkat lawan, mendadak tubuh Dewa Buas Berbaju merah mundur sempoyongan, agaknya dia tak sanggup membendung datangnya ancaman tersebut, pada saat yang amat kritis inilah terlihat cahaya perak berkelebat lewat, senjata martil perak dari iblis jahat Berbaju hijau tahu-tahu sudah meluncur datang dari kejauhan sana untuk menangkis tongkat Phang Thian- hua yang sedang membabat ke bawah itu.

sambil miring kan tubuhnya ke samping mendadak Phang Thian-hua maju satu langkah ke depan, menggunakan kesempatan itu tangan kirinya diayunkan melepaskan satu pukulan menghantam dada Dewa buas berbaju merah, padahal ketika itu gerak gerik Dewa buas berbaju merah sudah tidak selincah tadi, melihat datangnya hantaman dari Phang Thian-hua itu ternyata ia tak sanggup menghindarkan diri

Terdengar bentakan gusar berkumandang tiba, sepasang kencrengan tembaga milik setan gusar berbaju kuning dengan menciptakan segulung cahaya kuning meluncur tiba secepat kilat Dalam keadaan demikian, seandainya Phang Thian-hua tidak segera menarik kembali serangan tersebut kendatipun ia berhasil menghajar dada Dewa buas berbaju merah secara telak. namun pergelangan tangan kirinya niscaya akan terbabat juga oleh sambaran senjata kencrengan tembaga yang dilepaskan setan gusar berbaju kuning.

Tapi sayang keadaan phang Thian-hua pada saat ini sudah tidak segesit dan selincah awal pertarungan tadi, baginya sudah amat sulit untuk menarik kembali serangan itu sambil menghindari serangan kencrengan tembaga dari setan gusar berbaju kuning.

Meskipun begitu, kesadarannya belum hilang sama sekali, sadar kalau tak mungkin lagi untuk menghindar, sambil menggertak gigi ia percepat serangannya untuk menghantam dada lawan-

Di tengah suara dengusan tertahan, tubuh si Dewa buas berbaju merah yang termakan hantaman keras Phang Thian-hua itu seketika mencelat ke belakang dan roboh terjungkal.

Akan tetapi serangan kencrengan tembaga dari setan gusar berbaju kuning pun segera tiba, di antara kilatan cahaya tajam, darah segar berhamburan keempat penjuru, seluruh lengan kiri Phang Thian-hua nampak terkulai lemas ke bawah, rupanya luka yang dideritanya cukup parah.

Di tengah robohnya tubuh Dewa buas berbaju merah dan terlukanya Phang Thian-hua, terdengar suara bentakan gusar, teriakan kaget bergema memecahkan kesepian, ke delapan anak buah Phang Thian-hua maupun iblis jahat Berbaju Merah dan sukma murung berbaju putih telah menerjang maju ke arena.

sambil memutar sepasang tongkat besinya yang membawa deruan angin kuat sukma murung berbaju putih menangkis semua serangan senjata dari anak buah Phang Thian-hua, kemudian secepat kilat ia terjang ke sisi Dewa jinsom itu dan menendang perutnya kuat-kuat.

Mendadak Phang Thian-hua membuka matanya lebar- lebar, di antara pancaran sinar tajam dari balik matanya, tongkat di tangan kanannya didorong ke muka dan melindungi perutnya yang ditendang itu

Mimpi pun sukma murung berbaju putih tidak mengira dalam keadaan dua kali terluka ternyata Phang Thian- hua masih memiliki sisa tenaga untuk menggunakan tongkatnya untuk membendung serangan tersebut.

Padahal ketika itu tendangan yang dilancarkan sudah telanjur setengah jalan, sementara sepasang tongkat besinya digunakan untuk membendung serangan senjata yang datang dari kiri dan kanan tubuhnya, dalam posisi demikian sulit baginya untuk menarik kembali tendangan itu meski ada keinginan dalam hati kecilnya.

Tak ampun lagi kaki kirinya dihajar keras- keras oleh sambaran tongkat dari Phang Thian-hua itu

Terdengar sukma murung berbaju putih mendengus dingin, mengikuti gerak kaki kirinya tubuhnya ikut berputar kencang, lalu dengan berdiri di satu kaki kanannya, sepasang tongkat besi di tangannya tetap menyambar ke kiri kanan untuk membendung datangnya serangan senjata dari kedua belah sisinya "Roboh" Terdengar iblis jahat berbaju hijau membentak gusar, seorang lelaki berbaju hitam mencelat ke udara dan roboh terjungkal lebih kurang satu kaki dari arena.

Rupanya senjata martil perak milik iblis jahat berbaju hijau itu hanya cocok untuk pertarungan jarak jauh, maka sewaktu menerjang maju ke depan tadi ia telah menyimpan kembali senjatanya dan melepaskan serangan dengan tangan kosong.

seorang lelaki berbaju hitam anak buah Phang Thian- hua segera memapaki kedatangannya dengan sebuah sapuan golok, maksudnya hendak menghadang jalan maju iblis jahat berbaju hijau, siapa tahu goloknya terpental ke samping akibat serangan tangan kanan iblis jahat tersebut sementara tangan kirinya memanfaatkan peluang itu menghajar punggung lelaki tersebut, akibatnya lelaki itu terhajar telak dan mencelat keluar dari arena.

Dipihak lain, setan gusar berbaju kuning dengan mengandalkan permainan sepasang kencrengan tembaganya bertempur sengit melawan dua orang pemuda berbaju biru dan dua orang lelaki berbaju hitam, untuk sementara waktu mereka masih dapat mempertahankan posisi seimbang. sesudah berhasil melukai seorang lelaki berbaju hitam, iblis jahat berbaju hijau tidak berpeluk tangan saja, kembali ia menerjang ke arah Phang Thian-hua.

Terlihat cahaya pedang berkilauan, dua orang pemuda berbaju biru itu segera meninggalkan sukma murung berbaju putih untuk menghadang jalan maju iblis jahat berbaju hijau.

Waktu itu, Dewa jinsom Phang Thian-hua maupun Dewa buas berbaju merah telah duduk bersila sambil mengatur pernapasan, terhadap jalannya pertarungan yang sedang berlangsung di arena itu mereka tidak menggubrisnya sama sekali, bahkan melirik sekejap pun tidak. Ternyata kedua orang itu berusaha merebut waktu agar bisa menyelesaikan pernapasannya lebih awal.

Tiba-tiba Phang Thian-hua membuka matanya kembali, tongkatnya segera dihujamkan sedalam satu depa ke dalam tanah, lalu dari sakunya mengambil keluar sebutir pil yang segera ditelannya, kemudian setelah melirik Dewa buas berbaju merah sekejap. kembali ia mengeluarkan sebuah botol porselen dari sakunya dan menaburkan bubuk putih itu ke atas mulut lukanya sebagai seorang ahli pertabiban dan obat-obatan, pil dan bubuk obat ramuannya betul-betul manjur, begitu dibubuhi obat, darah yang mengucur keluar itu seketika berhenti. Cepat dia melangkah maju ke depan dan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Dewa buas berbaju merah, hardiknya kemudian dengan suara dingin: "Berhenti"

sekalipun anak buah yang dibawa Phang Thian-hua itu memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, sesungguhnya mereka bukan tandingan ketiga orang manusia buas itu,

Mereka dapat bertahan diri selama ini tak lain karena mereka sudah bertempur mati-matian dengan prinsip beradu jiwa demi menyelamatkan jiwa majikannya Meski- pun begitu tapi berhubung selisih ilmu silat di antara kedua belah pihak cukup banyak, kendatipun sistem pertarungan adu jiwa ini dapat bertahan untuk sementara waktu, namun lama kelamaan mereka keteter juga dibuatnya.

Untunglah di saat yang amat kritis ini Phang Thian-hua membentak keras, memanfaatkan kesempatan ini buru- buru mereka menarik kembali senjatanya dan mengundurkan diri. Dengan sinar mata yang menggidikkan hati Phang Thian-hua mengawasi ketiga manusia buas itu sekejap kemudian ujarnya:

"Walaupun hasil pertarungan ini tidak menunjukkan kemenangan mutlak bagiku, paling tidak aku tak sampai menderita kekalahan" "Hmmm, seandainya berapa orang anak buahmu tidak turun tangan, saat ini kau pasti sudah mampus" jengek iblis jahat berbaju hijau sambil tertawa dingin.

"Sekarang toh kalian bertiga boleh menyerang diriku lagi. " Melihat Dewa buas berbaju merah sudah terjatuh

ke tangan Phang Thian-hua, tentu saja ketiga orang manusia buas itu tak berani bertindak gegabah, terpaksa mereka hentikan pula serangannya .

"Lepaskan dulu toako kami. " seru Setan gusar

berbaju kuning dengan nada gusar, Phang Thian-hua tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha sekalipun lengan kiriku terluka, tapi dari

kalian berempat manusia buas sudah ada dua orang yang terluka juga, malah terluka di tanganku sendiri, siapa menang siapa kalah dalam pertarungan ini lebih baik kita serahkan saja keputusannya kepada para jago yang menonton jalannya pertempuran "

Tiga manusia buas dari Sin-ciu ini cukup mengerti posisi mereka dalam pandangan para jago, bahkan boleh dikata musuh mereka berada di mana-mana, jika para jago yang diminta untuk memberikan penilaiannya maka mereka yakin hal tersebut tentu tidak menguntungkan pihaknya.

oleh sebab itu dengan suara dingin iblis jahat berbaju hijau berkata: "Kami mempunyai hubungan yang kurang serasi dengan umat persilatan, kalau hasil pertarungan hari ini harus diputuskan orang lain, aku kuatir keputusan itu bakal kurang adil." Kembali Phang Thian-hua tertawa terbahak-bahak

"Hahahaha... setiap umat persilatan tahu bahwa aku pun amat jarang melakukan hubungan dengan umat persilatan, biarpun hubungan kalian empat manusia buas dengan para jago kurang baik, hubunganku dengan mereka pun tidak lebih baik daripada kalian berempat." 

iblis jahat berbaju hijau segera mengalihkan pandangan matanya menyapu para jago sekejap setelah itu tegurnya:

"Adakah di antara kalian yang bersedia tampil ke muka untuk memberikan keputusan atas pertarungan yang barusan kami langsungkan?"

suasana amat hening, tak seorang jago silatpun memberikan komentarnya apalagi tampilkan diri

Melihat tak ada yang menjawab, Phang Thian-hua segera berkata pula:

" Kalian telah menyaksikan sendiri jalannya pertarungan itu, kuharap kalian bersedia memberikan keputusan yang adil siapa di antara kami yang berhak disebut sebagai pemenang." Kedua belah pihak sama-sama termasuk manusia yang susah dihadapi, sudah barang tentu tak seorang pun mau memberikan komentarnya, sebab mereka mengerti sedikit salah bicara bisa berakibat terlibatnya tali permusuhan di antara mereka.

Itulah sebabnya meski iblis jahat berbaju hijau dan Phang Thian-hua sudah mengulangi perkataan itu beberapa kali pun belum ada seorang manusia pun memberikan tanggapannya. Mendadak terdengar seseorang berseru keras:

"Hanya satu orang yang dapat memberikan pandangannya secara adil "

"siapa?" tanya Phang Thian-hua. "Ketua Hian-hong-kau"

Phang Thian-hua berkerut kening, belum sempat ia menjawab para jago yang berada di sekeliling arena telah berseru keras: "Betul, ketua Hian-hong-kau, ketua Hian-hong-kau..."

suasana segera berubahjadi gaduh dan rikuh, suara yang terdengar pun hampir semuanya mendukung ketua Hian-hong-kau sebagai juri yang paling pantas. Maka dengan suara keras Phang Thian-hua berseru: " Kalian semua telah mendukung ketua Hian-hong-kau sebagai juri, entah bagaimana pandangan ketua Hian- hong-kau sendiri? beranikah kau menjadi juri?"

"Kenapa tidak berani. " jawaban yang merdu

bergema di udara menyusul munculnya seorang manusia berbaju hitam dan berkerudung muka hitam berjalan ke tengah arena.

Di belakang manusia berbaju hitam itu mengikuti seorang kakek bertubuh ceking yang bermata tunggal.

sambil tertawa dingin iblis jahat berbaju hijau berkata: "Bila keputusan kaucu tidak adil, itu berarti kau

mencari kesulitan bagi diri sendiri"

Ketua Hian-hong-kau tertawa dingin, tukasnya: "Hehehe aku berani tampil ke muka untuk menjadi

juri, tentu saja aku tak pernah pandang sebelah mata pun terhadap kalian empat manusia buas dari sin-ciu."

"Bagus sekali" teriak sukma murung berbaju putih penasaran, "Rupanya kau ingin mencari gara-gara "

sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke depan.

"Mundur kamu" hardik kakek bermata satu itu sambil menggerakkan tangan kanannya . Kali ini sukma murung berbaju putih menurut sekali, tahu-tahu tubuhnya sudah terpental mundur sejauh dua langkah.

seorang kakek bermata tunggal yang tidak dikenal ternyata mampu mementaikan salah satu dari empat manusia buas dalam sekali gebrakan saja, kenyataan ini kontan saja menggemparkan seluruh jago, beratus-ratus pasang mata serentak dialihkan ke wajahnya. Terdengar ketua Hian-hong-kau berkata lagi dengan suara dingin:

"semua jago yang hadir di sini telah mengangkat diriku sebagai juri, bila kalian tak mau tunduk keputusanku berarti kau akan menjadi musuh umum seluruh jago dari kolong langit."

Mendengar perkataan itu Phang Thian-hua segera berpikir.

"Lihay betul keputusan orang ini, nampaknya ketua Hian-hong-kau memang bukan manusia bernama kosong belaka "

sekarang baik Phang Thian-hua maupun keempat manusia buas dari sin-ciu itu sama-sama mulai kuatir, Ketua Hian-hong-kau muncul sebagai juri atas desakan para jago, ini berarti keputusannya berbobot dan diakui seluruh umat persilatan di dunia ini, bila ia memutuskan pihaknya yang kalah, maka nama besarnya selama inipun pasti akan hancur berantakan- setelah mendehem berapa kali Phang Thian-hua pun berseru:

"sudah lama aku hidup diperkampungan pit-tim-san- ceng dan jarang sekali mengadakan hubungan kontak dengan para jago persilatan, meski begitu sudah lama aku mendengar nama besar kaucu"

"Aku tak akan berat sebelah di dalam mengambil keputusan nanti, jangankan antara kalian dengan aku tak pernah punya hubungan apa-apa, sekali pun kalian adalah anggota perkumpulan Hian-hong-kau pun aku tetap akan memberi penilaian secara adil."

Keadaan Phang Thian-hua dan empat manusia buas dari sin-ciu ini ibarat si bisu makan empedu, biarpun kepahitan namun tak mampu mengutarakan keluar, padahal berbicara dari kedudukan keempat orang tersebut, mereka tak akan berdiam bila diri dicemooh ketua Hian-hong-kau dengan kata-kata seperti itu.

Tapi situasi saat ini sangat berbeda, baik empat manusia buas dari sin-ciu maupun si Dewa jinsom Phang Thian-hua tak ingin menyalahi ketua dari Hian-hong-kau ini.

Dengan sorot mata yang tajam ketua Hian-hong-kau mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya dingin: "sepintas lalu hasil pertarungan kalian ini nampaknya seimbang dan memang kalah sukar ditentukan, padahal. "

"Keputusanmu amat menyangkut nama baik kami, harap kaucu memberi keputusan yang adil," tukas Phang Thian-hua sambil mendehem.

"Lebih baik Phang ceng cu jangan menyela ucapanku daripada menghalangi hasil keputusanku"

Berubah paras muka Phang Thian-hua mendengar perkataan itu, sebenarnya dia hendak mengumbar amarahnya, tapi kata-kata yang sudah sampai di ujung bibir tiba-tiba ditelan kembali, katanya pelan: "Benar juga perkataan kaucu."

Pelan-pelan ketua Hian-hong-kau menyambung kembali ucapannya:

"Dalam pertempuran ini Phang cengcu seharusnya menang tapi tidak menang, dia malah terdesak di bawah angin. "

"Benar, benar sekali, keputusan kaucu betul- betul adil tanpa mempertimbangkan hubungan pribadi." seru iblis jahat berbaju hijau cepat.

sebaliknya paras muka Phang Thian-hua berubah jadi hijau membesi, untuk sesaat dia malah tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ketua Hian-hong-kau berkata lebih jauh:

"Kalau Phang cengcu seharusnya menang tapi tidak menang, maka kalian empat manusia buas dari sin-ciu justru seharusnya kalah tapi tidak sampai kalah..."

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah iblis jahat berbaju hijau, kemudian terusnya:

"Aku hanya mengatakan Phang cengcu berada dibawah angin tapi tidak mengatakan dia kalah, sebelum pertarungan ini mencapai pada akhirnya, Phang cengcu masih tetap memegang kesempatan untuk meraih kemenangan sebaliknya kalian empat manusia buas seharusnya sudah keok, sayang sekali kalian tidak mengetahui dimana letak kunci untuk meraih kemenangan dan kunci untuk menghindarkan diri dari kekalahan-"

"Maksud kaucu. " seru Phang Thian-hua.

"sebenarnya kalian belum berhasil menentukan siapa menang siapa kalah, bagaimana mungkin aku bisa memberikan keputusannya? Tapi dalam sepuluh gebrakan kemudian kalian pasti dapat menentukan siapa yang unggul dan siapa yang kalah."

"Dari mana kaucu bisa mengetahui hal ini?" tanya iblis jahat berbaju hijau. "Apa kau tidak percaya?"

iblis jahat berbaju hijau agak tertegun, kemudian ujarnya:

"Kalau berbicara dalam hal ilmu silat, aku benar-benar tak habis mengerti bagaimana mungkin menang kalah bisa ditentukan dalam sepuluh gebrakan saja, tapi kaucu bisa mengatakan demikian tentunya kau sudah punya gambaran yang lebih jelas bukan?" Ketua Hian-hong-kau tertawa dingin.

"Aku sanggup mengalahkan kalian berempat hanya dalam lima gebrakan saja, percayakah kalian dengan perkataanku ini?"

"Aku tidak percaya..." seru setan gusar berbaju kuning.

"Bagus, kalau begitu kita boleh mencobanya." "Nanti dulu, kita harus bicarakan dulu masalah ini

sejelasnya," sela iblis jahat berbaju hijau cemas. "Apa lagi pendapatmu?"

"Maksud kaucu, dalam lima gebrakan Phang Thian-hua sanggup mengungguli kami berempat?"

"Benar" "Jika dalam lima gebrakan Phang Thian-hua gagal mengungguli kami berempat, apa yang hendak kaucu perbuat?"

"Jika dalam lima jurus Phang Thian-hua gagal mengungguli kalian berempat, anggap saja aku pun sudah kalah di tangan kalian berempat."

"Hahahaha..." setan gusar berbaju kuning tertawa tergelak, "Suatu janji yang sangat enteng, kaucu anggap setelah mengaku kalah kepada kami maka urusan jadi beres?"

"Menurut pendapatmu?" Dalam hati iblis jahat berbaju hijau berpikir, sekali pun ketua Hian-hong-kau turun tangan bersama Phang Thian-hua pun belum tentu mereka sangg mengungguli dirinya berempat dalam lima gebrakan saja, maka dengan penuh semangat serunya:

"Menurut pendapat kami, seharusnya kaucu pun mengajukan taruhannya."

"Kau ingin aku bertaruh apa?"

"Kami ada dua syarat, entah bersediakah kaucu untuk memenuhinya?"

"Jangankan dua syarat sekalipun dua puluh, dua ratus pun aku tetap berani bertaruh, katakan saja" "Jika dalam lima jurus Phang Thian-hua gagal mengungguli kami berempat, kaucu harus memberi jaminan bahwa Phang Thian-hua bersedia menyerahkan kotak kemala dari pemilik bunga bwee itu kepada kami. "

"syarat kedua? lebih gampang lagi, aku minta Kaucu melepaskan kerudung mukamu di hadapan para jago agar semua orang dapat menikmati kecantikan wajah kaucu."

"Aku masih ada syarat ketiga" sambung setan gusar berbaju kuning cepat, "Bila kaucu memiliki wajah yang cantik hingga kami berempat tertarik, maka kaucu harus menyerahkan diri kepada kami untuk memenuhi semua keinginan kami. "

Begitu perkataan itu diutarakan semua jago yang hadir di situ menjadi gempar, setiap orang tahu kalau ketua Hian-hong-kau ini masih seorang gadis, bisa dipastikan la tentu akan sangat gusar setelah dipermainkan seperti ini.

siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan siapa pun, bukan saja ketua Hian-hong- kau itu tidak gusar, ia malah berkata:

"Baiklah, aku setuju dengan ketiga syaratmu itu, tapi bila kalian keok di tangan Phang Thian-nua dalam lima gebrakan, apapula yang hendak kalian perbuat?" sikapnya yang terbuka dan langsung ini kontan mengejutkan keempat manusia buas itu, pikirnya tanpa sadar:

"Ia berani menerima syarat kami tanpa dipikir lagi, kalau tidak yakin pasti menang tak mungkin dia akan berbuat demikian. " Keempat manusia buas itu saling

bertukar pandangan sekejap. kemudian iblis jahat berbaju hijau berkata:

"Bila kami berempat menderita kekalahan, sejak hari ini kami akan mengundurkan diri dari dunia persilatan"

"Waaah, kalian memang hebat, terhadap orang lain mengajukan syarat yang berat tapi terhadap diri sendiri justru kelewat ringan-"

"Menurut pendapat kaucu, apa yang harus kami perbuat?" tanya sukma murung berbaju putih.

" Kalian empat manusia buas dari sin-ciu selalu liar dan sukar dikendalikan tingkah laku serta sepak terjang kalian menyalahi aturan dunia persilatan mungkinkah kalian bersedia mentaati syarat yang kuajukan kepada kamu berempat itu?" Dengan gusar iblis jahat berbaju hijau berseru:

"sekalipun sepak terjang kami tak pakai aturan dan menyalahi kebiasaan dunia persilatan masa terhadap ucapan yang kami katakan sendiripun akan mengingkari?"

"Kau jangan naik darah dulu" ujar ketua Hian-hong- kau pelan, "coba kau tanyakan kepada para jago yang hadir di sini, adakah di antara mereka yang berani memberikan jaminan untuk kalian berempat?"

"Bila kau punya syarat katakan saja blak-blakan, kami pasti akan menerima semuanya."

"Kalau cuma bicara sih gampang, baik-lah, kalau kalian kalah di tangan Phang Thian-hua dalam lima gebrakan maka kamu berempat harus masuk menjadi anggota perkumpulan Hian-hong-kau dan selama hidup menjalankan semua perintahku."

iblis jahat berbaju hijau termenung sambil berpikir berapa saat lamanya, kemudian dia baru mengangguk.

"Baiklah, kita tetapkan begitu, sekarang suruhlah Phang Thian-hua bebaskan toako kami."

Ketua Hian-hong-kau tidak menanggapi permintaan itu, dengan sorot matanya yang tajam dia awasi setan gusar berbaju kuning dan sukma murung berbaju putih, kemudian tegurnya: "Bagaimana pendapat kalian berdua?" "Kami akan mentaati perintah kakak kami" sahut kedua orang manusia buas itu serentak. " Kalau bicara tanpa bukti percuma "

"Lantas apa yang mesti kulakukan?" teriak iblis jahat berbaju hijau gusar.

"Beranikah kau bertepuk tangan denganku sebagai sumpah?"

"Sekalipun Datuk sepuluh penjuru siang Lam-ciau muncul kembali di dalam dunia persilatan, aku tak percaya dia mampu mengalahkan kami berempat hanya dalam lima gebrakan, dalam taruhan ini kau pasti kalah. "

Kakek bermata tunggal yang berdiri di belakang ketua Hian-hong-kau segera mencorongkan sinar tajam dan mata tunggalnya, tapi sebentar kemudian ia sudah pejamkan kembali matanya.

Dari balik bajunya ketua Hian-hong-kau mengeluarkan telapak tangannya yang putih halus, kemudian katanya lagi:

"Baik, sekarang kita bertepuk tangan sebagai tanda sumpah, siapa mengingkari janji dia bakal dipermalui seluruh umat persilatan." Di bawah aoiar matahari terlihat jari tangannya yang putih bersemu merah, sangat menawan hati siapa pun yang melihat.

iblis jahat berbaju hijau mengeluarkan pula telapak tangannya yang kurus kuning dan langsung ditabokkan ke atas telapak tangan ketua Hian-hong kau yang putih mulus itu.

orang ini punya tujuan lain dengan tindakannya itu, ia ingin menggunakan kesempatan sewaktu bertepuk tangan nanti mencoba kehebatan tenaga dalam yang dimiliki ketua Hian-hong-kau tersebut

Begitu sepasang tangan saling beradu, terjadilah suara benturan yang lembut, tubuh ketua Hian-hong-kau kelihatan tergetar hingga mundur satu langkah dari posisi semula. Sambil tertawa dingin iblis jahat berbaju hijau segera menjengek: "Hmm, ternyata ketua Hian-hong-kau yang amat tersohor itu hanya begitu saja "

Ketua Hian-hong-kau sama sekali tak menggubris ejekan iblis jahat berbaju hijau, ia berpaling ke arah setan gusar berbaju kuning dan Sukma murung berbaju putih kemudian masing-masing bertepuk tangan dengannya, terakhir dia baru mendekati Dewa buas berbaju merah sambil ujarnya dingin:

"Kau adalah orang terakhir, juga ketua empat manusia buas, jadi tepukan ini harus kau lakukan-" Dengan langkah yang lemah gemulai dia berjalan menghampiri si manusia buar terakhir ini, langkahnya yang indah mempesona membuat para jago memandangnya dengan mata terbelalak.

Sekali pun Dewa buas berbaju merah merasa keadaan kurang beres, namun untuk sesaat dia tak tahu di mana letak ketidak beresan itu, melihat telapak tangan ketua Hian-hong-kau yang putih mulus itu didorong ke hadapannya, terpaksa ia sambut dengan telapak tangan kirinya.

Urat nadi pada tangan kanannya masih dicengkeram oleh Phang Thian-hua, berada dalam keadaan begini sekalipun dia ingin mengerahkan tenaga pun tak akan berhasil, sepasang tangan pun segera bersentuhan secara pelan sekali.

sambil menarik, kembali tangannya ketua Hian-hong- kau berkata kemudian: "Phang cengcu, sekarang kau boleh bebaskan dia."

Phang Thian-hua termangu-mangu, ia tetap menggenggam pergelangan tangan kanan Dewa buas berbaju merah erat-erat.

Agaknya ia mengerti bahwa taruhan menangkan keempat manusia buas dalam lima gebrakan mustahil bisa diraih olehnya, maka ia berniat mencengkeram jalan darah Dewa buas berbaju merah selama mungkin, sebab selama ketua dari empat manusia buas ini masih berada di tangannya, ketiga orang rekannya tak akan berani bertindak gegabah, sebaliknya kalau dia lepaskan Dewa buas berbaju merah, maka taruhan tersebut harus dilaksanakan Terdengar ketua Hian-hong-kau menjengek sambil tertawa dingin:

"Phang Thian-hua, tanpa sebab musabab aku pun berani terjun ke dalam taruhan kalian dengan memegang kau sebagai pihak pemenang, masa kau pribadi tak berani menerima taruhan itu?"

Phang Thian-hua merasakan pipinya jadi panas lantaran malu, pelan-pelan ia lepaskan cengkeramannya atas pergelangan tangan Dewa buas berbaju merah, kemudian sahutnya:

"Aku yakin dapat mengungguli keempat manusia buas dari sin-ciu ini tapi harus bertarung di atas seribu jurus, kalau suruh mengalahkan mereka berempat hanya dalam lima gebrakan... maaf aku Phang Thian-hua merasa tidak berkemampuan untuk melaksanakannya, aku percaya di kolong langit dewasa ini belum ada tokoh seperti ini."

"Berbicara dari kemampuan tenaga dalammu sekarang, dalam satu gebrakan kau masih mampu untuk mengalahkan salah satu di antara mereka, empat orang dalam lima gebrakan berarti kau masih punya sisa satu gebrakan lagi sebagai cadangan. " sambil tertawa getir Phang Thian-hua gelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Terima kasih banyak atas kepercayaan kaucu kepadaku, tapi aku benar-benar tidak mempunyai kemampuan tersebut"

Bukan hanya Phang Thian-hua tidak memiliki kepercayaan atas kemampuan sendiri, bahkan para jago yang berada disekeliling tempat itu pun semua berpendapat bahwa ketua Hian-hong-kau bakal kalah kali ini.

Hongpo Lan yang berbaur dalam kerumunan para jago segera berbisik kepada Li Bun-yang:

"saudara Li mempunyai pengetahuan yang luar biasa, menurut pendapatmu siapa yang bakal unggul dalam pertarungan kali ini?"

sambil menyeka keringat dingin yang membasahi jidatnya sahut Li Bun-yang pelahan : "Menurut pendapatku taruhan kali ini bakal dimenangkan oleh ketua Hian-hong-kau."

"Atas dasar apa kau berpendapat demikian?"

"Bila ketua Hian-hong-kau tidak mempunyai keyakinan yang pasti untuk mengungguli keempat manusia buas dari sin-ciu, tak nanti ia berani bertaruh dengan keempat orang itu" "Aku selalu kagum dengan pandangan serta pendapat saudara Li, tapi kali ini berbeda sekali keadaannya "

Dalam pada itu ketua Hian-hong-kau telah berkata lagi:

"Kau tidak yakin bisa mengungguli mereka dalam satu gebrakan, hal ini lantaran kau belum tahu rahasianya, asal kau bersedia mengikuti petunjukku maka kemenangan pasti berada dipihakmu."

Phang Thian-hua mendehem berulang kali "sekarang urusan telah berkembangjadi begini,

kendatipun aku segan menuruti kata-katamupun sudah tak mungkin, boleh aku tahu apa pandangan kaucu?"

"Rahasia ini tak boleh didengar pihak ketiga, silahkan cengcu datang mendekati aku." Phang Thian-hua mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, sedangkan ketua Hian-hong-kau kecil mungil, ketika mereka berdiri bersama, tinggi badan ketua Hian-hong- kau tidak lebih tinggi dari bahu Phang Thian-hua, hal ini memaksa Dewa jinsom itu harus membungkukkan badannya Tampak ketua Hian-hong-kau membisikkan sesuatu dengan suara lirih sementara Phang Thian-hua manggut berulang kali sambil tertawa getir, meskipun para jago tidak mengetahui apa yang mereka bicara-kan, namun ditinjau dari mimik muka : Phang Thian-hua bisa dilihat bahwa Dewa jinsom itu tidak seberapa setuju dengan ucapan dari ketua Hian-hong-kau itu.

Dalam pada itu keempat manusia buas dari sin-ciu telah berdiri berjajar sambil siap siaga, delapan buah mata mereka dengan sinar mata yang tajam mengawasi gerak gerik Phang Thian-hua serta ketua Hian-hong-kau tanpa berkedip. Tiba-tiba ketua Hian-hong-kau memperkeras suaranya seraya berseru:

"Phang cengcu, sekarang kau harus turun ke gelanggang, tindakan ragu-ragu macam begitu bukanperbuatan seorang lelaki sejati."

Meskipun Phang Thian-hua sudah menderita luka parah, tapi sebagai seorang ahli obat-obatan yang disebut orang Dewa jinsom, obat-obatan yang dimilikinya betul-betul manjur, setelah minum obat tadi keadaan lukanya kini sudah jauh membaik,

Dengan langkah lebar dia pun berjalan menghampiri Dewa buas berbaju merah sambil serunya:

"Kau sambut dulu pukulanku yang pertama"

Ia mengerti, kemampuan yang dimilikinya tak mungkin bisa mengalahkan empat manusia buas dari sin-ciu itu dalam lima gebrakan, berarti dalam taruhan ini pihaknya yang bakal kalah, oleh sebab itu begitu selesai bicara ia segera lancarkan sebuah pukulan. Bagi Dewa buas berbaju merah sendiri, sesungguhnya dalam kondisi terluka ia merasa tak mampu menerima serangan itu dengan kekerasan, tapi bila teringat apabila ia terima serangan tersebut dengan kekerasan maka hal ini dapat melenyapkan banyak kekuatan yang dimiliki Phang Thian hua, berarti juga sangat menguntungkan bagi ketiga orang rekan lainnya, maka sambil menggertak gigi ia sambut datangnya serangan tersebut dengan tangan kanan-nya.

Begitu sepasang telapak tangan saling beradu, mendadak tubun Dewa buas berbaju merah mundur dua langkah dengan sempoyongan lalu roboh terjungkal ke atas tanah.

Kenyataan itu seketika membuat Phang Thian-hua tertegun, untuk sesaat ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Rupanya dia berpendapat bahwa serangan tersebut tiada harapan untuk meraih kemenangan maka ia cuma menggunakan tenaganya sebesar empat lima bagian, siapa tahu si Dewa buas berbaju merah tetap tak sanggup menerima pukulan itu dan roboh terjengkang, kenyataan ini kontan saja mengobarkan kembali semangatnya,

Sambil membalikkan badan dia hampiri iblis jahat berbaju hijau dengan langkah lebar, serunya kemudian:

"Kau berani menyambut pukulanku ini?" sebuah pukulan segera dilontarkan ke depan, sekalipun iblis jahat berbaju hijau merasa ngeri bercampur kaget setelah menyaksikan Dewa buas berbaju merah roboh terjengkang hanya dalam sekali gebrakan saja, tapi dia mengira hal tersebut disebabkan luka dalam yang diderita saudaranya belum sembuh....

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, serangan dari Phang Thian-hua telah menyambar tiba,

Tanpa sadar iblis jahat berbaju hijau mengayunkan tangan kanannya pula untuk menyambut datangnya serangan tersebut setelah ada pengalaman dalam serangan pertama tadi, kali ini phang Thian-hua menggunakan tenaga dalamnya sampai delapan bagian. Terdengar iblis jahat berbaju hijau mendengus tertahan, tubuhnya tahu-tahu roboh terjungkal ke atas tanah.

Kenyataan ini bukan saja membuat Phang Thian-hua tertegun, bahkan para jago yang mengikuti jalannya pertarungan itu pun dibuat terbelalak saking herannya, mereka tak habis mengerti kenapa hal semacam ini bisa terjadi.

Kalau Dewa Buas Berbaju merah tak sanggup menerima pukulan itu semua orang dapat memaklumi karena ia masih terluka parah, tapi iblis jahat berbaju hijau juga tak sanggup menerima pukulan dari phang Thian-hua, kejadian ini betul-betul diluar dugaan siapa pun. Berhasil merobohkan iblis jahat berbaju hijau dengan serangan keduanya, Phang Thian-hua segera membalikkan badan berjalan menghampiri setan gusar berbaju kuning, sebuah pukulan kembali dilontarkan ke depan.

si setan gusar berbaju kuning amat kaget bercampur ngeri, apalagi setelah melihat lotoa dan lojinya yang memiliki ilmu silat lebih tangguh daripada dirinya pun tak mampu menerima serangan dari Phang Thian-hua, Tapi kejadian tersebut terlalu luar biasa, untuk sesaat dia pun tak bisa mengupas dimana letak sebab musababnya, maka sewaktu menyaksikan serangan dari Phang Thian- hua telah meluncur datang, tanpa sadar dia pun mengayunkan tangannya untuk menyambut. "Blaaammm..."

Benturan dua belah telapak tangan itu menimbulkan suara getaran yang amat keras.

Kali ini phang Thian-hua telah menggunakan tenaganya mencapai sembilan bagian, setan gusar berbaju kuning segera menjerit ngeri, sambil muntah darah segar tubuhnya roboh terkapar ke atas tanah. Dalam tiga pukulan beruntun Phang Thian-hua berhasil merobohkan Dewa buas berbaju merah, iblis jahat berbaju hijau dan setan gusar berbaju kuning, kenyataan ini kontan meningkatkan rasa percaya dirinya, Dengan cepat dia membalikkan tubuh dan menghampiri sukma murung berbaju putih, dengan jurus "Mendorong Bukit mengurut samudra" ia lepaskan satu pukulan sejajar dengan dada.

Tak terlukiskan rasa kaget dan takut sukma murung berbaju putih setelah menyaksikan ketiga orang saudaranya tak sanggup menerima pukulan dari Phang Thian-hua, melihat datangnya serangan tersebut tentu saja ia tak berani menerima dengan kekerasan, buru- buru tubuhnya mengegos ke samping untuk menghindarkan diri. "Phang cengcu" dengan suara dingin ketua Hian-hong-kau berseru, "Kita janji lima jurus dan sekarang kau sudah lepaskan empat pukulan, jurus yang terakhir jangan kau lepaskan secara sembarangan"