-->

Pedang Keadilan I Bab 46 : Dewa Jinsom Melawan Empat iblis

 
Bab 46. Dewa Jinsom Melawan Empat iblis

Phang Thian hua mengalihkan perhatiannya ke wajah Coat pin taysu, tegurnya: "Kitab pusaka Tat mo ie cin keng merupakan pusaka andalan perguruan anda, bagaimana mungkin bisa sampai dicuri orang? Kau harus menerangkan hal ikhwal terjadinya peristiwa ini.,." 

Pemilik bunga bwee yang selama ini membungkam tiba-tiba menyela pula dengan nada dingini "sebenarnya kitab pusaka Tat mo ie cin keng sudah kusimpan dalam peti dan siap kukembalikan dalam keadaan utuh. Kalau ingin mencari dalang dari hancurnya kitab itu, kita harus mencari orang yang telah menghancurkan peti serta membakar kitab pusaka tersebut"

Phang Thian hua mendengus dingin- "Hmmm seandainya peti itu tidak diberi perangkap alat rahasia, sekali pun peti itu kuhajar berapa kali pun tak mungkin kitabnya bisa terbakar secara tiba-tiba "

"jangan mencari kambing hitam" bantah pemilik bunga bwee sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Andaikata kau tidak menghancurkan peti itu dengan tongkatmu, bukankah kitab pusaka itu tetap akan tersimpan baik-baik di dalam peti kayu itu?"

Mendadak Coat pin taysu memberi hormat kepada pemilik bunga bwee, lalu ujarnya: "Ada beberapa patah kata lolap ingin bertanya kepada lo sicu, bersediakah kau memberi petunjuk?"

"soal apa?"

"Tolong tanya apakah kitab pusaka Tat mo ie cin keng ini kau ambil dari dalam kuil siau lim si kami?"

Ia segan menggunakan istilah " mencuri" atau " merampok" maka dalam kata-katanya pun kedengaran sangat halus dan sopan.

"Bukan" sambil tertawa pemilik bunga bwee gelengkan kepalanya.

" Kalau memang bukan sicu yang mengambil dari kuil kami, lalu dari manakah kau dapatkan kitab itu? aku harap sicu mau memberi penjelasan" Pemilik bunga bwee tertawa jengah.

"Bagaimana pun juga kitab pusaka Tat mo ie cin keng toh sudah musnah, kalau kita harus membicarakan lagi sumber mula kudapatkan kitab itu... aku rasa beritanya sudah basi, Bagaimana kalau kita berganti acara dengan soal yang lain saja?"

" Kedatangan lolap untuk menghadiri pertemuan puncak para jago hari ini bukanlah bertujuan untuk merebut nama atau kedudukan terhormat dengan para jago lainnya. Kendati pun demikian, kitab pusaka Tat mo ie cin keng mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kuil kami, jika sicu enggan menerangkan masalah ini sejelasnya kepada- ku, bilamana keadaan terpaksa mau tak mau terpaksa aku harus mencampurkan diri dalam peristiwa hari ini. "

Pemilik bunga bwee tetap duduk dengan tenang, air mukanya tidak menunjukkan perubahan apa pun, seolah- olah ia sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap pendeta sakti dari siau limpay yang amat tersohor itu

"Jadi maksud taysu, kau hendak memaksa aku untuk mengembalikan sejilid kitab pusaka Tat mo ie cin keng yang asli untukmu...?" ujarnya pelan,

"Kami partai siau lim mempunyai peraturan perguruan yang amat ketat. Kami tak pernah memojokkan orang, kami pun tak pernah mengandalkan kekuatan untuk menindas kaum lemah. Andaikata kitab pusaka Tat mo ie cin keng itu memang bukan sicu yang curi, tolong sicu sebutkan saja siapa pencuri yang sebenarnya, tapi kalau sicu tak dapat menjawab siapa pencuri-nya... terpaksa aku akan memberanikan diri untuk mengundang sicu ikut kami berkunjung ke kuil siau lim si" Pemilik bunga bwee tertawa terbahak bahak.

"Ha ha ha..-. sudah lama aku dengar pemandangan alam di sekitar bukit siong san amat indah. Bila taysu sudi mengundangku untuk berkunjung ke kuil kalian, dengan senang hati aku akan memenuhi undangan itu, cuma kita baru bisa berangkat apabila urusan di sini telah rampung"

sekali pun ia tidak secara langsung menerangkan asal mula kitab Tat mo ie cin keng itu, tapi dari nada pembicaraanku samar-samar orang bisa mendengar bahwa dia belum pernah berkunjung ke bukit siong san, itu artinya kitab pusaka Tat mo ie cin keng bukan dia yang curi.

Phang Thian hua yang selama ini membungkam tiba- tiba berkata: "Musnahnya kitab pusaka Tat mo ie cin keng boleh disebut sebagai suatu peristiwa besar yang mengejutkan tapi selain masalah itu, aku tak bisa membayangkan masih adakah peristiwa lain yang jauh lebih besar dan mengejutkan daripada peristiwa itu..." Ia memandang sekejap para jago diseputar arena, kemudian terusnya: "Kalau memang tak ada urusan lain, aku hendak mohon diri lebih dulu."

"silahkan saja pergi" sahut pemilik bunga bwee sambil tertawa dingin, Kemudian sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Coat pin taysu, ujarnya pula: "Taysu, pengetahuan dan pengalamanmu sangat luas, tentunya kau dapat menduga bukan benda mustika apa lagi di dunia ini yang jauh lebih berharga dnripada kitab pusaka Tat mo in cin keng?"

Waktu itu Phang Thian hua sudah membalikkan badan siap neninggalkan tempat tersebut, tapi setelah mendengar perkataan itu tiba-tiba saja ia membatalkan niatnya untuk pergi.

Dari bawah bangkunya pelan-pelan pemilik bunga bwee mengeluarkan sebuah kotak kemala berwarna hijau, lanjutnya: "Kenalkah taysu dengan benda ini?" seraya berkata dia letakkan kotak kemala itu ke atas ujung meja,

oleh karena kemunculan kitab pusaka Tat mo ie cin keng tadi telah meninggalkan kesan yang amat mendalam serta daya rangsang yang luar biasa, maka setelah pemilik bunga bwee meletakkan kotak kemala itu di atas meja, kembali terjadi kegaduhan di antara kawanan jago itu, Berbondong-bondong mereka bergerak maju ke muka. Para pengikut Phang Thian hua tetap berjaga-jaga di sekeliling meja serta menghadang jalan maju kawanan jago itu

Dewa buas berbaju merah yang pertama-tama tak bisa mengendalikan diri, sambil membentak gusar ia lancarkan sebuah babatan keras ke muka. Petugas yang menjaga posisi selatan adalah seorang lelaki berbaju hitam yang menggenggam pasir beracun di tangannya.

Belum sempat lelaki ini menyebarkan-pasir beracunnya, angin pukulan dari si Dewa buas berbaju merah telah meluncur tiba, angin pukulan yang sangat dahsyat itu muncul bagaikan gulungan ombak samudra di tengah badai. Lelaki berbaju hitam itu sadar apabila pasir beracunnya dilepaskan pada saat ini, maka pasir- pasir tersebut niscaya akan terpental balik oleh tenaga pukulan yang amat maha kuat itu hingga berakibat senjata makan tuan.

oleh sebab itulah mati-matian, dia tetap menggenggam pasir beracun itu agar jangan sampai terlepas, dengan bahu kirinya dia siap menerima gempuran musuh dengan keras melawan keras.

Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba si Dewa jinsom Phang Thian hua mengayunkan tangan kanannya melepaskan sebuah pukulan, Menyusul serangan yang dilancarkan tadi si Dewa buas berbaju merah ikut mendesak maju pula ke depan sambil mencengkeram badan lelaki berbaju hitam itu.

Ketika secara tiba-tiba ia merasakan datangnya serangan balik yang membendung balik tenaga pukulan yang dilancarkan itu, buru-buru ia mengubah gerakan- nya, badan yang sedang bergerak maju pun tiba-tiba bergeser tiga depa ke belakang, "Blaaammmm., . "

Di tengah suara benturan keras yang memekikkan telinga, terlihat pasir dan debu beterbangan di angkasa. segulung angin pusaran timbul sebagai akibat membentur-nya dua kekuatan dahsyat itu.

Phang Thian hua sendiri kendatipun berhasil menyelamatkan anak buahnya dengan serangan itu, namun ia pun mulai sadar bahwa kekuatan anak buahnya mustahil dapat membendung amukan massa, karena itu dengan suara rendah bentaknya: " kalian menyingkir semua"

Setelah lolos dari lubang jarum tadi sebetulnya lelaki berbaju hitam itu sudah siap menyebarkan pasir beracunnya, tapi begitu mendengar perintah dari Phang Thian hua, ia pun segera mengundurkan diri.

Begitu anak buah Phang Thian hua yang berjaga di empat penjuru menarik diri, para jago pun saling berebut maju ke depan serta mengurung pemilik bunga bwee rapat-rapat. Begitu sempitnya ruang kosong di bagian tengah sehingga orang-orang yang berada pada barisan terdepan dapat mengambil kotak kemala itu setiap saat.

Coat pin taysu maupun siBangau hijau Ui Yap cu sudah terkurung oleh kawanan jago sehingga terdesak ke tepi meja, sebaliknya Phang Thian hua sama sekali tidak bergeser dari posisinya semula.

Keanehan dan kekejian sifatnya sudah cukup diketahui umat persilatan, siapa pun enggan mencari gara-gara dengan dirinya, oleh sebab itu beramai-ramai mereka berusaha menghindar serta menjauhinya.

Dengan terjadinya keadaan tersebut, maka Phang Thian hua pun terdesak keluar dari kerumunan manusia dan kini berada pada barisan paling belakang, jarak antara dia dengan meja itu terhadang oleh kerumunan orang banyak.

Yang lebih aneh lagi, kendati pun para jago sudah berada sangat dekat dengan meja dan setiap saat mereka dapat merampas kotak kemala itu, namun tak seorang pun di antara mereka yang berusaha turun tangan lebih dulu.

Agak tergetar juga perasaan Coat pin taysu setelah menyaksikan situasi yang serba kalut ini, tak tahan ujarnya kepada Ui Yap cu: "To heng, coba kau lihat situasi kalut semacam ini, bagaimana mungkin bisa menenangkan mereka?" "Kawanan jago yang berkerumun di sekitar meja sekarang terdiri dari jago-jago golongan putih maupun golongan hitam.jangankan pinto gagal menemukan cara terbaik untuk mengatasi situasi ini, sekalipun ketua perguruan kami hadir sendiri di sini pun mungkin sukar baginya untuk menenangkan situasi ini"

"Orang-orang yang bisa hadir dalam pertemuan puncak ini sebagian besar adalah tokoh-tokoh silat yang punya kedudukan dan nama dalam dunia persilatan Bisa saja dia seorang pengembara, bisa juga seorang pentolan rimba hijau, Kalau di masa-masa biasa tak mungkin emosi mereka akan bergolak seperti saat ini, justru yang membuat situasi jadi kalut dan gaduh adalah daya pikat yang luar biasa dari kitab pusaka Tat mo ie cin keng tadi, sehingga akibatnya mereka sukar untuk mengendalikan diri..."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba pendeta itu merasakan pergelangan tangan kanannya kaku, urat nadinya tahu-tahu sudah dicengkeram orang, sisa kitab pusaka Tat mo ie cin keng yang berada dalam genggamannya pun ikut dirampas.

Ketika ia berpaling, tampak bayangan manusia berkelebat lewat ternyata orang itu sudah kabur dengan melewati atas kepala para jago, kehebatan ilmu meringankan tubuhnya sangat mengagumkan. Ui Yap cu segera menghardik keras: "Taysu, cepat kejar"

seraya berteriak pendeta ini pun ikut melakukan pengejaran dengan kecepatan tinggi, sebagai seseorang yang diberi julukan bangau hijau, tentu saja ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat hebat sekali melejit ia telah meluncur di atas kepala para jago lainnya dan mengejar di belakang perampas itu.

Dalam keadaan begini, banyak sekali orang yang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi ikut melakukan pengejaran pula dari belakang.

Mendadak pemilik bunga bwee bangkit berdiri, ujarnya kepada Coat pin taysu dengan nada dingini "Taysu adalah seorang pendeta yang berkedudukan tinggi dalam kuil siau lim si, tapi buktinya sekarang sisa kitab yang berada dalam genggamanmu pun berhasil direbut orang, Kelihatannya ilmu silat aliran siau lim tidak sehebat apa yang digembar gemborkan selama ini"

Merah padam paras muka Coat pin taysu, segera pikirnya: "Meskipun kejadian ini di luar dugaan, tapi sesungguhnya bukan pekerjaan gampang untuk merampas sisa kitab itu dari genggamanku. nyatanya orang itu bisa bergerak demikian cepat bahkan membuat aku kehilangan daya, kehebatan ilmu silatnya benar- benar mengagumkan, entah siapakah dia?" Karena malu bercampur menyesal, pendeta itu hanya membungkam diri, sama sekali tak ada niat untuk membantah ejekan pemilik bunga bwee.

Waktu pun larut dalam keheningan yang sangat menegangkan. Meskipun kawanan jago itu tak ada yang bergeser d ari posisi, masing-masing, namun di hati kecil mereka sama-sama berharap agar Ui Yap cu dapat menawan balik orang yang menyerobot sisa kitab itu.

Mendadak terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan keheningan.

Ketika -para jago berpaling, tampak seorang lelaki tinggi besar telah berdiri kaku di tempat dengan mata terbelalak dan wajah amat mengerikan, tangan kanannya telah menempel di atas kotak kemala di atas meja itu. sebilah pisau terbang berwarna

kebiru-biruan telah menembus telapak tangannya itu dan memanteknya di atas meja.

Waktu itu perhatian para jago sedang teralih untuk memikirkan Ui Yap cu yang mengejar penyerobot sisa kitab itu, sehingga tak seorang pun yang menaruh perhatian jago dari mana yang telah menyambitkan pisau beracun tersebut.

T api semua orang mengerti bahwa racun yang dioleskan pada pisau tersebut tentulah sejenis racun keji yang mematikan Buktinya begitu pisau terbang itu menembus telapak tangan lelaki itu, belum sempat tangannya ditarik balik, nyawanya sudah keburu melayang. Kenyataan ini kontan saja mengejutkan para jago di samping menimbulkan rasa ngeri di hati kecil masing-masing.

Tiba-tiba Phang Thian hua menghentakkan tongkatnya ke atas tanah sambil berseru keras: "Tampaknya perjamuan hari ini tak mungkin bisa dinikmati lagi, Aku harap saudara sekalian mau menuruti anjuranku dengan mundur sejauh satu kaki dari meja itu. Berkerumun melulu ditempat itu tak akan bermanfaat bagi siapa pun.,."

Beberapa kali dia mengulangi teriakan tersebut, namun kawanan jago yang berkerumun di sana tak ada yang bergerak

Dengan terjadinya hal ini, Phang Thian hua merasa sangat kehilangan muka, tiba-tiba ia siapkan tongkatnya sambil membentak marah: "Jika kalian anggap mampu untuk menerima seranganku ini, silahkan untuk tetap berdiri di tempati"

Baru saja dia akan mengayunkan tongkatnya untuk memaksa mundur para jago yang berkerumun, mendadak terdengar suara bentakan nyaring bergema pula memecahkan keheningan: "Apa yang diucapkan Phang cengcu tepat sekali, Bila kalian bersedia mundur berapa langkah sehingga memberi ruang yang lebih lebar di arena tersebut, maka kesempatan untuk menerima bokongan bagi kalian pun akan jauh berkurang "

serentak para jago berpaling, ternyata orang yang barusan berbicara adalah seorang kakek berwajah hitam berkilat, berbaju hijau dan memelihara jenggot putih sepanjang dada.

suara gaduh pun segera terjadi di antara kawanan jago, terdengar seseorang berseru: "Aaah. rupanya si

Hakim sakti Ciu taihiap pun telah tiba"

sorak sorai dan helaan napas bergema silih berganti serentak kawanan jago itu mundur berapa langkah hingga terbukalah sebuah arena kosong seluas dua kaki.

Dari sekian banyak jago yang mundur secara teratur, ternyata ada juga yang enggan menuruti nasehat itu, diantaranya adalah empat manusia buas dari sin ciu, Phang Thian hua beserta anak buahnya serta Coat pin taysu diiringi para pendeta pelindung hukumnya. 

Hawa amarah telah menyelimuti paras muka Phang Thian hua saat itu, agak mendongkol jengeknya ketus: "Hmmmm, sungguh hebat, sungguh perkasa, rupanya nama besar ciu tayhiap bukan nama kosong belaka" "Phang cengcu terlalu memuji" sahut Ciu Huang sambil tertawa hambar.

Karena merasa kehilangan muka dan dipermainkan terpaksa Phang Thian hua menyampaikan tantangannya kepada Ciu Huang, serunya sambil tertawa dingini "Aku enggan menuruti perintahmu untuk mundur, boleh aku tahu apa yang hendak Ciu tayhiap lakukan?"

"Aku tak pernah memaksa orang untuk menuruti nasehatku, Bila Phang cengcu enggan mundur, tentu tindakan tersebut mempunyai alasannya sendiri, aku pun tak akan banyak bertanya lagi. "

Mendengar jawaban itu diam-diam Phang Thian hua berpikir: "Agaknya bukan tanpa alasan orang persilatan menganggap si Hakim berwajah besi ini sebagai pendekar nomor satu di kolong langit Contohnya beberapa patah katanya barusan, ia tidak memaksa juga tidak berdebat, tapi posisinya justru menyudutkan diriku. Bila aku tetap ngotot untuk membantah dan mengajaknya berdebat, orang persilatan pasti akan menertawakan kekerdilanku.

Begitu ingatan tersebut melintas lewat, sambil tertawa dan manggut-manggut dia pun berkata: "Kebesaran jiwa serta keluasan wawasan ciu taihiap sungguh mengagumkan hatiku, Benar, keempat pendeta siau lim si itu enggan mundur karena mereka telah kehilangan kitab pusakanya dan ingin menuntut ganti dari pemilik bunga bwee, sedang aku enggan mundur lantaran aku ingin mencoba kehebatan pemilik bunga bwee serta mewakili para jago untuk menyingkap rahasia di balik kotak kemala itu."

Pada saat itu, mayat lelaki tadi masih tetap berdiri kaku di tempat. Telapak tangannya yang ditembusi pisau beracun itu kini telah berubah jadi hijau membesi, dari sini bisa disimpulkan betapa ganasnya racun yang dioleskan pada pisau belati tersebut.

setelah tiba di tepi meja Phang Thian hua berseru lantang: "Adakah di antara saudara sekalian yang kenal dengan orang ini? silahkan tampil ke depan untuk mengurusi jenasahnya..."

Perkataan itu diutarakan sampai empat kali, suasana juga makin lama semakin keras, namun kawanan jago itu hanya saling berpandangan tanpa seorang pun tampilkan diri.

"Baiklah," kata Phang Thian hua kemudian "Kalau memang tak ada yang kenal, terpaksa aku harus berbuat lancang"

Dengan tongkatnya dia cungkil lepas telapak tangan mayat itu dari atas meja.

Sejak menghembuskan napasnya yang penghabisan tubuh orang itu bisa tetap berdiri tegak hal ini disebabkan tangannya ter-pantek pada meja oleh tusukan pisau terbang tersebut Dengan terlepasnya pantekan itu, otomatis mayatnya juga ikut roboh ke tanah.

Di bawah cahaya matahari terlihat kotak kemala hijau itu memantulkan selapis cahaya hijau yang menyilaukan mata.

Agak bergidik juga perasaan Phang Thian hua setelah menyaksikan kematian yang mengerikan dari lelaki tersebut. Kendati pun ia memiliki ilmu silat yang luar biasa, diam-diam hawa murninya dihimpun untuk slap melancarkan serangan, kemudian tangan kirinya bergerak mencengkeram kotak kemala itu, sepanjang tindakannya itu dilakukan sepasang matanya yang tajam mengawasi terus sekeliling arena.

Kali ini ternyata di luar dugaan Phang Thian hua, tak seorang manusia pun yang berusaha menghalanginya menyentuh kotak kemala itu. Setelah kotak kemala itu terjatuh ke tangan Phang Thian hua, kawanan jago itu baru seolah-olah teringat dengan ucapan pemilik bunga bwee tadi, bahwa benda yang ada dalam kotak kemala itu jauh lebih berharga daripada kitab pusaka Tat mo ie cin keng.

Mereka semua percaya kalau pemilik bunga bwee bukan cuma membual dengan kata-katanva tadi, Buktinya kitab Tat mo ie cin keng telah diakui keasliannya oleh Coat pin taysu sebagai pihak yang memilikinya.

Maka suasana gaduh pun kembali bergema di arena, tanpa sadar kawanan jago itu mulai bergerak maju lagi.

Terdengar seseorang berseru nyaring: "Ayo buka kotak kemala itu dan periksa isinya" suara teriakanpun bersahut-sahutan, semua orang berteriak agar kotak itu di-buka....

Terkesiap juga Phang Thian hua menyaksikan luapan emosi kawanan jago itu, kembali dia berpikir: "Kalau sampai membangkitkan kemarahan mereka, sekalipun ilmuku jauh lebih hebatpun sulit rasanya untuk menandingi mereka, "

Kepada pemilik bunga bwee, segera serunya pula: "sebenarnya apa isi kotak kemala ini? Dapat kau sebutkan?"

pemilik bunga bwee tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha kini kotak tersebut sudah berada di

tanganmu, kenapa tidak dibuka untuk diperiksa sendiri isinya?"

Membayangkan kembali peristiwa yang menimpa kitab Tat mo ie cin keng tadi, tiba-tiba muncul perasaan bimbang di hati kecil Phang Thian hua, kembali pikirnya: "Kalau isi kotak itu memang benar-benar lebih berharga dari pada kitab pusaka Tat mo ie cin keng, keadaan masih bisa diatasi, Bagaimana kalau isinya justru makhluk atau benda beracun lainnya? Bukankah aku yang akan menjadi korban pertama?"

sekalipun dia cerdas dan segala tindakannya diperhitungkan matang-matang, sayang beban "martabat" dan "harga diri" membuatnya sulit untuk mengembalikan kotak itu ke atas meja lagi. Terpaksa sambil menutup semua pernapasannya pelan-pelan ia buka kotak kemala itu.

Begitu kotak itu terbuka segera muncullah selapis cahaya berwarna merah darah, Di bawan sinar matahari cahaya merah itu nampak seperti bianglala tapi mirip juga dengan kabut hingga sukar untuk dibedakan apakah itu cahaya kabut atau cahaya bianglala.

sebagai pakar ilmu pertabiban dan obat-obatan Phang Thian hua segera dapat mengenali bahwa cahaya itu berasal dari pancaran sesuatu benda, mendadak timbul sifat serakahnya, Kotak kemala yang belum sempat terbuka sama sekali itu segera ditutup kembali rapat- rapat, lalu serunya sambil tertawa dingin:

"Tak kusangka kau mampu menyimpan kabut beracun bunga bwee ke dalam kotak kemala itu, aku benar-benar merasa kagum." Kabut beracun bunga bwee adalah sejenis racun yang tidak berwujud, sebagai jago silat yang biasa mengembara dalam dunia persilatan tentu saja semua orang mengenalinya, apalagi para jago pun dapat melihat munculnya cahaya merah setelah kotak kemala tadi terbuka, tak heran kalau perkataan Phang Thian hua sebagai Dewa jinsom ini segera dipercayai oleh kawanan jago tersebut.

sambil tertawa hambar pemilik bunga bwee berkata: "Nama besar Dewa jinsom ternyata bukan nama kosong belaka, Kalau toh Phang cengcu menganggap isi kotak kemala itu adalah kabut beracun bunga bwee, kenapa tidak diletakkan kembali kotak itu ke tempatnya semula..?"

Phang Thian hua mendengus dingin.

"Benda itu sangat jahat dan beracun, Betul isi dalam kotak kemala itu tidak banyak tapi cukup untuk mencelakai jiwa manusia, aku tak bisa membiarkan barang semacam itu tetap tertinggal di sini"

Kalau didengarkan perkataan itu bernada gagah, terbuka dan sangat memikirkan keselamatan orang banyak.

sikap pemilik bunga bwee tetap tenang, pelan-pelan ujarnya: "siapa menyimpan barang berharga, dia akan menjadi sumber bencana, Kalau Phang cengcu tidak kuatir berdosa dengan para jago di kolong langit, silahkan saja kotak kemala itu kau simpan" Phang Thian hua tertawa dingin.

"Rupanya maksud anda mengundang seluruh jago untuk berkumpul di sini selain karena kitab pusaka Tat mo ie cin keng, aku lihat sudah tiada lagi hal lain yang lebih hebat lagi, Maaf, aku tak bisa berdiam lebih lama di sini dan selamat tinggal"

Ia takut pemilik bunga bwee menyinggung lagi masalah kotak kemala itu, maka ia sengaja mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain agar perhatian para jago tercabang.

Pemilik bunga bwee berpaling memandang Coatpin taysu sekejap. lalu katanya sambil tertawa: "Bukan aku sengaja mengibul sesungguhnya barang yang kusimpan dalam kotak kemala itujauh lebih berharga daripada kitab pusaka Tat mo ie cin keng dari siau lim pai. Kini aku dengan senang hati hendak menghadiahkan benda itu kepadamu, agar kalau aku berkunjung lagi ke bukit siong san lain waktu, paling tidak aku akan mendapat pelayanan yang sesuai. "

"sebenarnya apa sih isi kotak kemala itu?"

"Mulai detik ini kotak kemala tersebut sudah menjadi milik taysu, kenapa kau tidak memintanya dari Phang Thian hua untuk diperiksa sendiri isinya ?" sebagai jago yang berpengalaman coat pin taysu tahu kalau pemilik bunga bwee sengaja mengadu domba mereka agar saling bentrok sendiri, Tapi berhubung ia sedang sedih karena hilangnya barang pusaka milik partainya, selain itu dia pun berhasrat mencari penggantinya, maka tergerak juga hatinya setelah mendengar perkataan itu. Kepada Phang Thian hua iapun berseru: "Tentunya Phang cengcu sudah mendengar perkataan dari pemilik bunga bwee bukan?"

"sebagai seorang pendeta agung, masa taysu begitu gampang masuk perangkap orang? pemilik bunga bwee itu berniat mengadu domba kita. Aku percaya seorang bocah berusia tiga tahunpun akan mengetahui maksudnya itu, kenapa taysu mempercayai obrolannya itu?"

"Betul, pemilik bunga bwee memang bermaksud mengadu domba kita"jawab Coat pin taysu pelan, "Tapi pinceng sendiri pun berhasrat untuk menengok apa gerangan isi kotak kemala tersebut, jikalau terbukti nanti bahwasanya benda itu tiada hubungan dengan kitab pusaka Tat mo cin keng, aku pasti akan mengembalikan lagi kotak tersebut kepada Phang cengcu."

"isi kotak kemala ini hanya kabut bunga bwee yang amat jahat dan mengerikan Tadi taysu toh sudah melihat sendiri bahwa racun itu tak berwujud dan tak berbau, ia bisa melayang mengikuti gerakan udara dan membunuh korbannya tanpa disadari oleh sang korban sendiri, Menurut pendapatku lebin baik taysu tak usah melihatnya lagi"

"Kalau isinya benar-benar adalah kabut beracun bunga bwee, apakah Phang cengcu tidak takut?"

Tiba-tiba pemilik bunga bwee menimbrung: "Kalau isi kotak kemala itu benar-benar adalah kabut beracun bunga bwee, sewaktu diintip isinya tadi pasti sudah merobos keluar dan meracuni seluruh udara, Buktinya hingga saat ini belum ada seorang manusia pun yang keracunan"

"Orang ini amat jahat dan keji" seru Phang Thian hua sambil tertawa dingin, "Ia berniat menjaring semua jago persilatan Serta membunuhnya, apakah taysu belum sadar bila kau sedang diperalat olehnya untuk memusuhi aku?"

coat pin taysu termenung dan berpikir berapa saat lamanya, kemudian berkata: "Aku tahu tujuan pemilik bunga bwee memang jahat dan bersifat adu domba, tapi apa yang dikatakan olehnya masuk di akal juga, Semisalnya isi kotak tersebut benar-benar adalah kabut beracun bunga bwee, mungkin pada saat ini sudah ada di antara kita yang keracunan-"

"Kalau begitu taysu ngotot hendak melihat isinya?" "Sebelum menengok sendiri isi kotak itu, aku memang merasa tak tenang dan tetap menaruh curigai"

"Keputusan taysu itu sangat menyulitkan diriku." "Tempat di mana kitab pusaka Tat mo cin keng

disimpan dalam kuil kami, terdapat pula tujuh puluh dua jilid kitab ilmu silat lainnya. Kalau benar orang itu bisa melarikan kitab Tat mo ie cin keng milik kami, ada kemungkinan dia pun bisa melarikan beberapa jilid kitab dari ketujuh puluh dua macam ilmu silat itu"

Kening Phang Thian hua kontan saja berkerenyit, ujarnya ketus: "Bila taysu bersikeras hendak melihat, silahkan ikut aku pulang ke perkampungan Pit tim san ceng, Betul kalau selama ini kami tidak menerima tamu, tapi bagi Coat pin taysu boleh berlaku suatu keistimewaan. sepulangku keperkampungan pasti akan kunantikan kehadiranmu sebagai tamu agung, Nah, sampai jumpa lagi"

Kepada anak buahnya ia memberi tanda sambil tambahnya: "Ayo kita pergi"

Keempat orang pemuda berbaju biru itu serentak mencabut keluar pedangnya dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Dewa buas berbaju merah yang selama ini membungkam diri, tiba-tiba saja mengulapkan tangannya memberi tanda, Empat manusia buas itu serentak berjajar di tengah jalan dan menghadang jalan pergi rombongan Dewa jinsom Phang Thian hua.

"Cepat mundur" hardik Phang Thian hua. Keempat pemuda berbaju biru yang sudah siap turun tangan itu serentak menarik kembali senjatanya dan mengundurkan diri begitu mendengar bentakan dari pemimpin-nya.

"Ada urusan apa kalian berempat menghalangi perjalananku?" tegur Dewa Jinsom sambil tampil ke depan.

"Kami empat bersaudara tidak takut kabut beracun bunga bwee, serahkan saja kotak itu kepada kami" seru Dewa buas berbaju merah garang.

"Kabut beracun dapat dipakai untuk mencelakai orang tapi dapat pula digunakan untuk menolong orang, Aku menguasai ilmu pengobatan dan setiap orang tahu akan kemahiranku ini, Bila kubawa kabut tersebut pulang keperkampungan pit tim san ceng lalu dicampur dengan beberapa macam obat, maka akan terbentuklah pil anti kabut beracun yang bisa kupakai untuk menolong umat manusia"

"Selama hidup kami Dewa, Iblis, Setan dan Sukma hanya tahu memikirkan kepentingan sendiri, kami tak perduli mati hidup orang lain" seru Dewa buas berbaju merah dingin. Iblis jahat berbaju hijau menyambung pula: "Apa yang telah diucapkan toako kami selamanya tak bisa diganggu gugat lagi, sekali dia mengatakan menginginkan kotak itu maka kotak tersebut tetap akan kami dapatkan"

"Agar di antara kita jangan sampai terjadi salah pengertian, lebih baik jangan main ngotot dengan kami" sambung Setan gusar berbaju kuning pula sambil tertawa seram.

"Apa lagi kotak itu adalah hadiah pemilik bunga bwee untuk Coat pin taysu" kata sukma murung berbaju putih tak mau kalah. "sekalipun si penerima hadiah menampik, tidak seharusnya Phang cengcu berusaha untuk mengangkangi sendiri"

Phang Thian hua mendengus dingin "Hmmm Mungkin saja orang lain takut kepada kalian empat manusia buas dari sin ciu, tapi aku Phang Thian hua tidak memandang sebelah mata pun terhadap kalian, Apabila kamu, berempat nekad hendak menjajal kepandaianku, dengan senang hati aku akan melayaninya"

"sudah menjadi tradisi kami empat bersaudara untuk turun tangan bersama dalam setiap pertempuran baik dalam menghadapi satu orang atau seribu orang, karena itu kami empat bersaudara siap menghadapimu.,."

"Betul" sambung iblis jahat berbaju hijau sambil melirik Phang Thian hua sekejap. "Phang cengcu ditambah delapan orang anak buahnya total berjumlah sembilan orang, kalau dihitung kau masih lebih banyak lima pembantu daripada kami berempat

Phang Thian hua tertawa dingin, tukasnya: "Aku tidak butuh pembantu, akan kuhadapi kalian empat manusia buas seorang diri"

Setan gusar berbaju kuning mendengus dingin, jengeknya pula: "Bila seseorang sudah berada dijalan kematian, biar ada sebuah tembok benteng sebagai penghalang pun perjalanan tetap dilanjutkan phang cengcu, apabila kau sanggup mengalahkan kami empat bersaudara dengan kekuatan seorang diri, mulai hari ini kami empat bersaudara dari sin ciu tak akan menginjakkan kaki dalam dunia persilatan lagi"

Phang Thian hua mendongakkan kepalanya tertawa tergelak. suaranya amat keras hingga membumbung tinggi ke angkasa, membuat pendengaran para jago mendengung dan terasa amat sakit,

Gelak tertawa itu berlangsung kurang lebih sepeminuman teh lamanya sebelum berhenti, tapi gema suaranya tetap mendengung di udara sampai lama sekali.

Diam-diam empat manusia buas dari sin ciu itu terkesiap juga meski tak sampai diutarakan keluar, pikir mereka: "Ternyata nama besar, si Dewa jinsom bukan nama kosong. Terbukti dari gelak tertawanya itu, jelas tenaga dalam yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan."

Mendadak terdengar Dewa buas berbaju merah mendengus dingin, serentak iblis jahat berbaju hijau, Setan gusar berbaju kuning dan sukma murung berbaju putih menyebarkan diri membentuk sebuah formasi yang siap tempur.

Perlu diketahui, hubungan batin yang sangat erat di antara empat manusia buas itu telah menjalin hubungan yang akrab pula di antara mereka. setiap gerak gerik seseorang dapat diterima pihak lain sebagai suatu pemberitahuan. oleh sebab itulah meski si Dewa buas berbaju merah cuma mendengus saja, tapi ketiga saudaranya dapat menangkap arti sebenarnya dari suara dengusan itu.

Mendadak Phang Thian hua memutar tongkatnya kuat-kuat, deruan angin yang tajam dan luar biasa mendesak empat manusia buas dari sin ciu itu harus mundur selangkah dari posisi semula.

"Hati-hati Phang cengcu, kami empat bersaudara akan segera melancarkan serangan" seru Dewa buas Derbaju merah dingin.

Phang Thian hua menyilangkan tongkatnya sejajar dada, wajahnya yang semula serius tiba-tiba menyungging senyuman, sahutnya: "Silahkan Harl ini kebetulan pikiranku sedang lega, aku akan mengalah satu jurus lagi untuk kalian berempat "

Hanya di dalam waktu singkat si Dewa jinsom ini mampu menenangkan kembali pikirannya dari kobaran emosi dan amarah, Para jago yang menyaksikan hal ini diam-diam merasa kagum juga, puji mereka dalam hati: "Selain tenaga dalamnya amat sempuma, kemampuan Phang Thian hua dalam menguasai emosi betul-betuI mengagumkan. "

sementara itu Dewa buas berbaju merah telah berkata: "Banyak orang persilatan berbicara tentang aturan dan adat kebiasaan tapi kami berempat tidak mengerti sama sekali tentang tetek bengek itu. Kalau toh Phang cengcu bersedia mengalah empat jurus, kami pun tidak akan sungkan-sungkan lagi"

Begitu selesai berbicara, sebuah pukulan yang amat dahsyat telah dilontarkan ke depan-

Betul juga, ternyata Phang Thian hua enggan membalas, ia miring kan badannya ke samping, dengan lincah menghindarkan diri dari gempuran tersebut.

sementara melepaskan sebuah pukulan tadi, tangan kiri si Dewa buas berbaju merah telah merogoh ke dalam sakunya untuk mengeluarkan sebuah senjata penggaris yang terbuat dari emas dengan panjang satu depa delapan inci.

Iblis jahat berbaju hijau tertawa terbahak-bahak. dari kejauhan ia lepaskan sebuah pukulan pula sementara tangan kirinya merogoh keluar sebuah senjata martil perak berantai. Phang Thian hua bergerak maju selangkah, di antara jenggot putihnya yang berkibar tahu-tahu dia sudah menghindar sejauh lima depa, meloloskan diri dari gempuran iblis jahat berbaju hijau.

"Phang cengcu" seru setan gusar berbaju kuning dingin. "Sekarang tiba giliranmu untuk mencicipi ilmu jari panca setanku"

Ketika tangan kanannya dicakarkan ke depan, lima gulung desingan angin dingin yang menggidikkan segera memancar keluar.

Meskipun secara mudah Phang Thian hua berhasil meloloskan diri dari gempuran Dewa buas berbaju merah dan iblis jahat berbaju hijau, namun di hati kecilnya dia tahu bahwa kepandaian kedua orang tersebut bukan cuma begitu saja, Betul mereka berkoar-koar mengatakan tak kenal aturan dunia persilatan, akan tetapi bagaimana pun juga mereka terhitung orang kenamaan dalam jajaran persilatan, sudah barang tentu mereka tak ingin kehilangan harga diri lantaran mencari keuntungan di antara sikap mengalah lawannya. Berbeda dengan si setan gusar berbaju kuning ini, dia tak gubris masalah gengsi atau harga diri, begitu melepaskan serangan, maka ilmu Ngo kui imhong ci andalannya segera digunakan, itu pun didahului dengan peringatan lebih dahulu.

Diam-diam Phang Thian hua menghimpun tenaga dalamnya guna membuat sekujur tubuh lebih keras dari baja. Menunggu sampai desingan angin dingin itu menghampiri badannya, baru ia berjumpalitan untuk meloloskan diri

sekalipun ia sudah membuat persiapan tak urung terasa juga desingan angin dingin yang lewat dari sisi badannya itu mendatangkan perasaan tak sedap ditubuhnya, Coba kalau gempuran itu disambut dengan kekerasan, betul badannya dilindungi tenaga dalam, tapi ia sadar belum mampu untuk menghadapinya.

Bersamaan dengan dilepaskannya pukulan Ngo kui im hong ci tadi, si setan gusar sukma murung berbaju putih memutar pula sepasang tongkat besinya untuk membendung ancaman lawan dengan keras melawan keras. Traaanggg.,.

Benturan keras yang disertai percikan api bergema di udara, akibatnya tubuh si-sukma murung berbaju putih tergetar mundur sejauh dua langkah oleh kesempurnaan tenaga dalam Phang Thian hua. iblis jahat berbaju hijau tak mau berdiam diri saja, cambuk lemasnya segera diputar, dengan jurus "mengusir bintang mengejar rembulan" ia lancarkan satu serangan dari kejauhan.

Biarpun di mulut Phang Thian bicara sombong, sesungguhnya ia sudah menganggap keempat manusia buas ini sebagai musuh tangguh, tentu saja ia tak berani bersikap gegabah.

Tongkatnya segera digerakkan mendorong ke depan, secara melintang dia hajar ruyung lemas palu perak dari iblis jahat berbaju hijau, Buru-buru Iblis jahat berbaju hijau menekan pergelangan tangannya ke bawah, senjatanya yang sedang menyodok lurus ke muka itu tahu-tahu meluncur ke bawah, begitu lolos dari babatan tongkat musuh, ia sapu tubuh bagian bawah lawan.

Dengan menyalurkan tenaga dalamnya membuat sebuah ruyung lemas menjadi kaku seperti tongkat besi bukan suatu kejadian aneh dalam dunia persilatan, tapi dari kaku tiba-tiba berubah jadi serangan melintang ke bawah betul-betul termasuk suatu kejadian yang langka sekali, kontan saja para jago yang berada di sekitar arena bersorak memuji, pikir mereka bersama: "Agaknya kemampuan empat manusia buas dari sin-cui untuk malang melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan, bukan diperoleh secara kebetulan... ilmu silat mereka benar-benar sangat tangguh." Phang Thian- hua segera menekan toyanya ke bawah memapaki datangnya serangan itu. "B la a a mmmm. .

. "

Diiringi suara benturan yang sangat keras, senjata palu perak lawan pun berhasil dipentalkan ke samping.

Mendadak terlihat cahaya kuning berkilauan sepasang kencrengan tembaga meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Phang Thian- hua kembali menyodokkan tongkat besinya ke atas sambil menyontek ke samping, sekali lagi terdengar suara benturan nyaring yang memekikkan telinga, kencrengan tembaga itu seketika terpental ke samping arena.

Buru-buru setan gusar berbaju kuning menarik pergelangan tangan kanannya ke belakang, tahu-tahu kencrengan tembaga itu terbang berubah arah dan meluncur balik ke tangannya, di saat tangan kanannya menyambut kencrengan tembaga yang meluncur balik inilah, kencrengan yang berada di tangan kirinya disambit ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Sukma murung berbaju putih tidak tinggal diam, SepaSang toya besinya bagaikan ular berbisa yang keluar dari Sarang menyergap punggung phang Thian-hua. Ruyung lemas iblis jahat berbaju hijau tidak tinggal diam, dengan jurus "Tiarap di tanah mengejar angin" menyapu tubuh bagian lawan musuh. Kali ini iblis jahat, setan gusar dan sukma murung melancarkan serangan bersama-sama, tubuh bagian muka, belakang, atas dan bawah Phang Thian-hua boleh dibilang telah terkurung dalam ancaman senjata martil perak, kencrengan tembaga serta toya besi lawan-

Di antara empat manusia buas, tinggal Dewa buas berbaju merah dengan senjata penggaris emasnya belum melancarkan serangan.

Para jago yang menonton jalannya pertarungan itu diam- diam mengucurkan peluh dingin, mereka kuatir Phang Thian-hua yang terkepung dalam kurungan ketiga orang jago lihay itu tak sanggup menahan sepuluh gebrakan lagi.

Phang Thian-hua tertawa terbahak-bahak^ di tengah gelak tertawa yang keras permainan toyanya tiba-tiba berubah, ia ciptakan berlapis-Iapis bayangan toya untuk melindungi tubuh sendiri,

"Traaang... traaang... traaang.,."

Ditengah serangkaian suara dentingan nyaring, senjata martilperak, kencrengan tembaga dan toya besi lawan tahu-tahu sudah terpental ke mana-mana oleh sambaran bayangan toya lawan. "suatu jurus "Gulungan ombak seribu lapis" yang sangat hebat" seru Dewa buas berbaju merah sambil tertawa dingin.

Di tengah bentakan keras tiba-tiba ia mendesak ke depan, dengan senjata penggaris emasnya melindungi badan ia desak ke sisi tubuh Phang Thian-hua. Rupanya senjata penggaris emas miliknya itu hanya sepanjang satu depa delapan inci, paling cocok untuk pertarungan jarak dekat. Phang Thian-hua terkejut, toyanya segera diputar melakukan tangkisan, di antara gerak serangannya itu terbesit desingan angin kuat yang memekikkan telinga.

Ia sadar, bila Dewa buas berbaju merah dibiarkan mengembangkan serangan jarak dekat terhadapnya maka dengan mengisi kelemahan dari serangan jarak jauh ketiga manusia buas lainnya, dengan cepat dirinya akan terjerumus ke dalam situasi yang sangat berbahaya dan sukar dihadapi

oleh sebab itu dalam serangannya kali ini dia telah sertakan tenaga dalamnya sebanyak tujuh bagian untuk membendung gempuran Dewa buas berbaju merah, dia berharap musuhnya tahu lihay dan segera mengundurkan diri

siapa tahu Dewa buas berbaju merah justru menggerakkan senjata penggaris emasnya dan menyongsong datangnya serangan toya Phang Thian-hua yang disertai desingan angin kuat itu.

"Braaaak..."

Benturan keras segera terjadi, tubuh si Dewa buas berbaju merah tergetar mundur satu langkah, akan tetapi toya Phang Thian-hua terpental juga sejauh beberapa depa.

Di saat senjata toya dan penggaris emas saling membentur itulah, senjata martil perak dari iblis jahat berbaju hijau dan Kencrengan tembaga dari setan gusar berbaju kuning telah menyeruduk tiba.

setelah merasakan kerja sama dari keempat manusia buas itu, Phang Thian-hua sudah sadar atas kelihayan lawan-lawannya, ia segera mengubah taktik pertarungan dengan mengikuti perubahan situasi, ia mengutamakan pertarungan seimbang lebih dulu sebelum berusaha merobohkan lawan, Kali ini toyanya ditarik kembali untuk melindungi seluruh badannya, dengan berkelit sejauh lima depa, ia berusaha meng hindari benturan kekerasan dengan senjata martilperakserta kencrengan tembaga itu

setelah bentakannya dengan Dewa buas berbaju merah barusan, phang Thian-hua telah menyadari bahwa kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki lawannya itu hampir seimbang dengan kemampuan miliknya, itu berarti jika dia tangkis serangan martil perak dan kencrengan tembaga itu dengan kekeras an, maka akan terbukalah kesempatan bagi Dewa buas berbaju merah untuk mendesak ke depan, bila sekali saja ia berhasil dipaksa untuk melayani pertarungan jarak dekat, kesempatan untuk meraih kemenangan baginya hari ini akan punah.

Apa yang diduga ternyata benar juga, ada saat serangan dari martil perak dan kencrengan tembaga itu meluncur tiba, mendadak Dewa buas berbaju merah me- rundukkan badannya sambil menerjang ke sisi badan Phang Thian-hua dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

sebaliknya Phang Thian-hua sendiri pun tidak mengira si Dewa buas berbaju merah tetap melanjutkan terjangannya meski sudah melihat kalau dia telah membuat persiapan, dalam kaget dan gusarnya ia membentak keras, dengan mengerahkan tenaga dalamnya sampai sepuluh bagian toyanya disodokkan ke muka kuat-kuat.

Mengikuti datangnya dorongan toya yang sangat kuat ini tiba-tiba Dewa buas berbaju merah melejit ke udara dan melambung setinggi dua kaki lebih. Menyaksikan adegan pertarungan ini kawanan jago di seputar arena sama-sama merasa terkesiap. pikirnya:

"Tak nyana ilmu silat yang dimiliki Phang Thian-hua betul-betul luar biasa hebatnya " Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba terlihat tubuh si Dewa buas berbaju merah yang mencelat ke udara itu berjumpalitan beberapa kali, kemudian sekali lagi menubruk ke arah Phang Thian-hua.

Ternyata Dewa buas berbaju merah segera sadar bahwa sulit baginya untuk bertarung keras melawan keras dengan lawannya begitu senjata penggaris emasnya menyentuh toya lawan dan merasakan datangnya serangan yang maha dahsyat, buru-buru dia himpun hawa murninya untuk menahan gerak maju badannya, lalu sambil menutul toya musuh dengan senjata penggaris emasnya dia meminjam kekuatan yang maha dahsyat itu untuk mencelat ke udara serta berjumpalitan beberapa kali, kemudian dengan memanfaatkan kesempatan yang ada ia menubruk kembali ke arah Phang Thian-hua.

sekali lagi para jago yang berada di seputar arena memuji kehebatan Dewa buas berbaju merah yang pandai memanfaatkan peluang, sukma murung berbaju putih berpekik nyaring, sepasang tongkat besinya dengan jurus "sepasang naga keluar air" menyergap belakang tubuh Phang Thian-hua dengan kecepatan tinggi.

Phang Thian-hua mengayunkan toyanya ke belakang mementalkan sepasang tongkat besi itu, tapi serangan martil perak dari iblis jahat berbaju hijau telah menyodok tiba. Bersamaan waktunya Dewa buas berbaju merah pun memanfaatkan peluang ketika toya musuh mementalkan sepasang tongkat besi itu untuk meluncur turun ke bawah dengan ilmu bobot seribu, begitu berada dekat dengan sisi badan phang Thian-hua, senjata penggaris emasnya memakai jurus "Menampik harimau diluar pintu" ia bendung serangan toya musuh, sementara jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menyodokjalan darah Hian-ki-hiat di tubuh Dewa jinsom itu.

sungguh luar biasa Phang Thian-hua, biar terancam bahaya pikirannya tak sampai panik, menggunakan sisa kekuatan toyanya yang menyapu pental senjata tongkat besi lawan, badannya ikut berputar pula menghindari serangan martil perak serta sodokan jari dari Dewa buas berbaju merah, pergelangan tangan kanannya segera diputar, toyanya diputar kencang-kencang membentuk berlapis-lapis bayangan senjata yang melindungi seluruh badannya, kini ia tidak cabangkan pikiran untuk menyerang musuh lagi, dia lebih utamakan pertahanan diri.

Pertarungan ini merupakan suatu pertempuran sengit yang jarang terjadi dalam dunia persilatan, Dewa buas berbaju merah dan sukma murung berbaju putih tidak berpeluk tangan saja, dengan mengandalkan senjata masing-masing mereka memukul musuhnya dari muka dan belakang, sebaliknya iblis jahat berbaju hijau dan setan gusar berbaju kuning dengan senjata martil perak serta kencrengan tembaganya menyerang bagian atas dan bawah musuh.