-->

Pedang Keadilan I Bab 44 : Empat Manusia Buas Membuat onar

 
Bab 44. Empat Manusia Buas Membuat onar

"Ha ha ha.,." iblis buas tertawa keras, "Mumpung arak belum dihidangkan, bagaimana kalau kau temani kami berempat minum air teh dulu?"

Li Bun yang berpaling melirik Hongpo Lan sekejap, ketika melihat rekannya sedang melototi tingkah laku iblis buas dengan penuh amarah, buru-buru ia berbisik: "Biarkan saja orang jahat mempermainkan orang jahat jangan kau anggap nona-nona berbaju hijau itu halus dan lembut, sesungguhnya mereka pun tergolong manusia sesat, Biarkan saja Orang-orang itu berbuat onar, jika tingkah lakunya bisa menggusarkan pemilik bunga bwee, biarkan keempat manusia buas itu menjadi korban pertama jago-jago lihai perguruan bunga bwee yang misterius "

"Yaa, betul sekali, inilah yang disebut dengan racun melawan racun," sahut Hongpo Lan sambil manggut- manggut. Dalam saat itu si setan gusar yang berbaju kuning telah mengambil cawan air teh dari meja dan langsung disuguhkan ke mulut gadis berbaju hijau itu sambil katanya: "Coba kau habiskan air teh ini lebih dulu"

Berubah paras muka gadis berbaju hijau itu, bentaknya gusar: "Aku harap kalian bertindaklah lebih sopan" setan gusar tertawa terbahak-bahak:

"Ha ha ha... siapakah di kolong langit saat ini yang tidak tahu kalau kami empat bersaudara selalu berbuat menurut suara hati"

Baru saja nona berbaju hijau itu hendak membantah lagi, tiba-tiba terdengar Giok yan berseru: "Adik Giok sian, bersabarlah turuti saja semua permintaannya. sebagai budak yang bertugas melayani tamu kita wajib memuaskan para tetamu agung kita"

"Ha ha ha... bagus, bagus sekali Tampaknya kau si bocah perempuan lebih tahu urusan" seru sukma murung sambil tertawa tergelak "Bagaimana kalau kau pun bergabung kemari untuk menemani kami berempat?"

Meskipun ia bicara luwes, namun tubuhnya sudah menubruk kearah Giok yan dengan kecepatan luar biasa.

Hongpo Lan segera berpikir: "Ilmu silat yang dimiliki Giok yan cukup tangguh, masa dia rela dipermainkan orang? Aku yakin ia pasti akan melancarkan serangan balasan-..."

Tampak si sukma murung dengan kecepatan luar biasa telah meluncur turun di hadapan Giok yan lalu dengan cekatan mencengkeram pergelangan tangannya, begitu mangsanya tertangkap, dengan langkah lebar dia balik kembali ke tempatnya semula.

Di luar dugaan, Giok yan ternyata menurut sekali bagaikan anak domba yang penurut. Dengan bersandar pada bahu sukma murung, ia menunjukkan sikap yang amat manja.

Melihat itu Li Bun yang menghela napas panjang, kepada Hongpo Lan katanya: "Budak perempuan itu benar- benar licik dan berakal banyak, kita harus menaruh sikap yang sangat hati-hati terhadap dirinya."

Mendengar itu Hongpo Lan segera menjadi paham, pikirnya: "Rupanya dia memang sengaja berlagak apa boleh buat dan minta dikasihani sehingga memancing belas kasihan orang lain untuk datang menolongnya, sekali ada orang beriba hati dengannya serta memberi pertolongan maka pertarungan sengit dengan empat manusia buas pun segera akan terjadi, moga-moga saja tak ada orang yang termakan siasat adu dombanya ini."

Waktu itu sesungguhnya Giok sian sudah tak sanggup menahan emosinya, terutama setelah iblis buas serta setan gusar berulang kali mempermainkan dirinya dengan lagak mesum, Tapi sebelum ia sempat turun tang an, tiba-tiba dilihatnya Giok yan datang mengikuti disamping sukma murung dengan lagak patut dikasihani.

satu ingatan segera melintas dalam benaknya. seketika itu juga hawa amarahnya segera ditekan, sambil tertawa katanya kemudian- "Kalian memandang begitu berharga diriku, masa budak tak mau melayani keinginan kalian...?"

Dengan manja diambilnya cawan air teh itu dari tangan setan gusar lalu diminumnya satu tegukan.

Dengan sikap si nona yang menurut itu, setan gusar malah dibuat rikuh sendiri, ia segera letakkan kembali cawan di atas meja, kemudian katanya sambil tertawa: "Asal nona mau menuruti kemauan kami, jangan kuatir, kami empat bersaudara adalah lelaki yang mengerti memanjakan perempuan, kau pasti akan merasa senang bersama kami."

"silahkan duduk nona" kata iblis jahat pula sambil melepaskan tangan gadis tersebut.

sementara itu si sukma murung telah sampai pula di sisi meja sambil menggandeng tangan Giok yan- Dengan sikap yang manja dan halus Giok-yan segera mengambil tempat duduk pula disamping mereka. "saudara sekalian," ujar sukma murung sambil tertawa, "Coba kau lihat bocah perempuan ini, manja, cantik, sungguh jarang kujumpai gadis semacam ini. "

"Kalau sudah tahu gadis itu manja, cantik dan langka dijumpai, semestinya kau suguhkan dulu kepada toakomu," sambung iblis jahat dingin-

"Aaah. aku memang bermaksud begitu" sambil bicara

ia segera dorong tubuh Giok yan ke samping iblis jahat.

Walaupun sesungguhnya si Dewa buas sudah gatal hati sejak tadi, namun sebagai kakak tertua mau tak mau dia harus bersikap jaga diri, karena itu meski saudara- saudara lainnya sudah menubruki wanita, ia sendiri tetap duduk dengan wajah dingin.

Dengan lirikan genit Giok yan mengerling sukma murung sekejap, lalu sambil tertawa katanya: "Kalian empat bersaudara, sedang sekarang baru ada kami berdua yang menemani, bukankah dua orang rekanmu yang lain bakal menggigit jari?"

"Aaah, betul juga perkataan ini" seru setan gusar sambil menggebrak meja. "Lo su, mari kita juga memilih dua orang gadis manis untuk menemani kita berempat."

sebenarnya si sukma murung sedang mendongkol karena harus menyerahkan Giok yan kepada si Dewa buas, maka begitu mendapat ajakan dari saudaranya, ia segera melompat bangun seraya berseru: "Betul, kita pilih lagi dua gadis manis untuk menemani kita minum arak.."

Menyaksikan tingkah laku keempat manusia buas itu, Li Bun yang geleng-geleng kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, katanya pelan- "Keempat orang ini kelewat tekebur dan kurang ajar, . Tanpa mereka sadari sebenarnya orang-orang itu sudah terkena siasat berantai dari Giok yan-

Moga-moga saja gadis pelayan yang mereka pilih adalah pelayan-pelayan yang melayani kelompok jago yang sudah keburu keder oleh nama besar empat manusia buas ini, kalau tidak pasti akan terjadi keributan yang bisa diakhiri dengan pertumpahan darah "

Perlu diketahui, di arena perjamuan itu seluruhnya tersedia tiga puluh enam buah meja perjamuan yang dilayani tiga puluh enam orang gadis cantik, kini sudah ada dua puluh meja yang ditempati tamu. sebagai jago persilatan kebanyakan jago-jago itu terlalu memandang tinggi masalah gengsi dan harga diri, Bagi mereka gengsi jauh lebih berharga dari pada nyawa sendiri, seandainya dua manusia buas itu memilih gadis cantik yang melayani meja mereka, hal ini sama artinya dengan tidak memandang sebelah mata terhadap jago-jago yang dilayani gadis tersebut. Mereka tentu akan tersinggung merasa harga dirinya diinjak-injak. Andaikan mereka tak tahan hingga bentrok dengan kedua manusia buas itu, otomatis tanpa disadari merekapun terjebak oleh siasat adu domba Giok yan-

Pada saat itu si setan gusar dan sukma murung telah berjalan menelusuri meja-meja perjamuan itu sambil celingukan memperhatikan gadis-gadis berbaju hijau yang berdiri di sisi meja perjamuan-

Kejumawaan dan kesombongan dua orang ini betul- betul luar biasa. Dengan angkuhnya mereka berkeliaran di antara meja-meja perjamuan itu tanpa memperdulikan para jago yang duduk di sekelilingnya.

Hongpo Lan yang menyaksikan kejadian itu segera berpikir: "semisalnya di antara para jago itu ada satu saja yang bernyali dan secara tiba-tiba membokong mereka atau menyerang dengan senjata rahasia beracun, betapa pun hebatnya ilmu silat yang mereka berdua miliki, aku yakin mereka pasti akan terluka parah. "

Tapi sayang kawanan jago itu sudah keburu keder dan ngeri terhadap keempat manusia buas ini, tak seorang pun di antara mereka berani melakukan serangan gelap.

sementara itu si setan gusar dan sukma murung sudah melewati empat lima buah meja perjamuan, tiba- tiba mereka berhenti, lalu sambil tertawa tergelak si setan gusar berseru: "Losu, coba kau lihat perempuan itu, cantik tidak?" sukma murung memandang sekejap gadis itu, kemudian sahutnya seraya tertawa: "Ehmm. cantik benar, saudara ke-tiga. Ketajaman matamu memang mengagumkan"

Tanpa banyak bicara si Setan gusar menjejakkan kakinya ke atas tanah lalu menerjang ke hadapan gadis berbaju hijau itu, Tangannya bergerak cepat mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan gadis itu, serunya sambil tertawa: "Ayoh temani samya-mu minum teh"

Nona berbaju hijau itu bertugas melayani meja perjamuan yang ditempati delapan orang lelaki kekar, tapi saat ini tak seorang pun di antara kedelapan orang itu berani bicara ataupun melakukan sesuatu tindakan. Bahkan sewaktu gadis berbaju hijau itu diseret pergi, tak ada seorang pun berani menghadang,

setelah menarik nona itu si setan gusar segera berteriak keras: "Losu, cepat kau pi-lih seorang nona, sebentar lagi sayur dan arak akan dihidangkan?"

Dengan mata yang liar sukma murung menyapu sekejap sekeliling tempat itu. Tiba-tiba ia melejit dan melayang di udara melewati tiga empat buah meja, kemudian bagaikan burung alap-alap yang menyambar anak ayam ia sambar seorang nona berbaju hijau yang berada di hadapannya. Waktu itu si nona sedang membawa poci untuk memenuhi cawan tetamu dengan air teh, Karena kedatangan sukma murung sangat mendadak, gadis itu segera menjerit kaget, tak kuasa lagi pocinya terjatuh dan cawan pun berantakan ke mana-mana.

Pada meja perjamuan yang dilayani gadis itu duduk lima orang tamu, dua orang kakek berusia enam puluh tahunan dan tiga orang lelaki setengah timur yang bertubuh kekar, di antaranya ada dua orang lelaki sedang menerima cawan itu, tak ampun air teh yang tumpah membasahi seluruh tubuh mereka,.

begitu berhasil mencekal urat nadi gadis berbaju hijau itn, tanpa menoleh lagi sukma murung menyeret korbannya meninggalkan tempat tersebut.

"Hei bangsat Berhenti" bentakan keras bergema memecahkan keheningan-

seorang lelaki kekar yang duduk menghadap kearah selatan telah melompat bangun sambil menggebrak meja.

sukma murung segera menghentikan langkahnya sambil pelan-pelan membalikkan tubuhnya, hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya.

"Siapa yang kau maki?" tegurnya. "Kau..." "Hmmm Tampaknya kau sudah bosan hidup, Kalau ingin mampus, cepat tampil ke depan"

Lelaki itu segera meloloskan goloknya dan tampil ke muka dengan langkah lebar, sukma murung melepaskan cengkeramannya pada lengan gadis berbaju hijau itu, kemudian tangan kanannya diayunkan ke muka dari kejauhan, arahnya adalah lelaki bergolok itu.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan lelaki bergolok yang sedang menerjang maju itu tahu-tahu membuang senjatanya dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Begitu berhasil memukul roboh lelaki bergolok itu, si sukma murung kembali menggandeng si nona tadi dan pelan-pelan meninggalkan arena, sikapnya amat santai seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu pun.

Melihat kehebatan si sukma murung dalam merobohkan rekannya, kelima orang rekan semejanya tak ada yang berani berkutik lagi. Rata-rata mereka hanya bisa duduk di tempat dengan mata terbelalak, saking kaget dan takutnya mereka hanya bisa melongo.

sampai si sukma murung sudah pergi jauh, kedua orang kakek itu baru berani bangkit berdiri dan mendekati lelaki itu. Ketika diperiksa denyut nadinya ternyata orang itu sudah tewas.

orang yang di sebelah kiri segera berbisik "Tampaknya ilmu yang digunakan tidak mirip ilmu pukulan tenaga kosong, juga tidak mirip pukulan sakti seratus langkah, kepandaian silat apa yang telah digunakannya?"

"Coba kita buka pakaian bagian dadanya dan diperiksa," sahut orang yang di sebelah kanan.

Dengan cepat mereka robek pakaian bagian depan mayat itu. Di atas dadanya yang merah tertera jelas lima buah bekas jari tangan yang amat nyata.

Melihat itu dengan perasaan tertegun orang itu berseru: "jangan-jangan dia terkena ilmu cakar pencabut sukma"

Kakek di sebelah kiri itu menghela napas panjang: "Hampir saja aku lupa, empat manusia buas dari sin ciu rata- rata memiliki ilmu andalan yang luar biasa, sesuai dengan urutan namanya Dewa, iblis, setan dan sukma, aku pikir orang berbaju putih itu pastilah si sukma murung. Ketika mereka berempat masih mengembara dalam dunia persilatan dulu, ilmu cakar pencabut nyawanya sudah termasyur, setelah lewat banyak tahun kepandaian andalannya itu tentu jauh lebih maju lagi. " "sudah lama kudengar nama ilmu cakar pencabut nyawa, baru hari ini aku dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

"Kita sadar kemampuan kita amat terbatas," kata kakek di sebelah kiri sambil menutup kembali baju mayat itu. "Rasanya amat sulit untuk jelaskan dendam atas kematiannya, apa boleh buat, terpaksa kita harus berdiam diri saja "

sambil berkata pelan-pelan dia berjalan kembali ke tempat duduknya. pada saat itu si sukma murung berbaju putih telah menggandeng gadis berbaju hijau itu kembali ke tempat duduknya, sambil tertawa terbahak- bahak serunya: "Ha ha ha saudaraku bertiga, coba 

kalian lihat bagaimana dengan nona cilik yang kubawa kemari ini?"

"Aku lihat semua murid perguruan bunga bwee rata- rata berwajah cantik jelita, Aku yakin kecantikan pemilik bunga bwee pasti ibarat bidadari dari kahyangan-.." kata si iblis jahat berbaju hijau,

si setan gusar berbaju kuning tak mau kalah, ia menimbrung:"jika kecantikan pemilik bunga bwee betul- betul seperti apa yang jiko katakan, bagaimana kalau kita menangkapnya hidup, hidup lalu kita persembahkan untuk toako..?" Giok yan tertawa cekikikan, selanya: " Lebih baik kalian berempat minum teh dulu untuk membasahi kerongkongan dengan begitu nanti kalian bisa makan dan minum arak lebih banyak." Dewa buas berbaju merah mendengus dingin, sambil mengangkat cawan ujar nya: "sekalipun air teh ini beracun, kami berempat tak akan memandang sebelah matapun-"

sekali teguk ia habiskan isinya, iblis jahat berbaju hijau, setan gusar berbaju kuning dan sukma murung berbaju putih serentak mengambil cawan masing-masing dan meneguk habis isinya,

Sambil tertawa Giok yan segera berseru: "Aku percaya ilmu silat yang kalian berempat miliki sangat hebat, tenaga dalam pun amat sempurna, kendatipun dalam air teh ini betul-betul dicampuri racun, mana mungkin bisa menewaskan kalian semua?"

"Toako kami selama hidup paling suka binatang beracun, malah semakin beracun semakin bagus," kata Sukma murung berbaju putih, "Sekalipun kemampuan kami bertiga sukar menandingi lotoa, tapi kalau cuma makan dua tiga ekor ular beracun atau kelabang, itu mah urusan biasa, lumrah "

"Waaah. jadi kalian berempat benar-benar memiliki

kemampuan seperti ini" seru Giok yan tertawa, "Baru pertama kali ini kudengar ada kemampuan semacam ini. Sayang di sini tak ada ular beracun atau kelabang, kalau tidak tentu akan menambah pengetahuan kami." Sukma murung berbaju putih tertawa terbahak-bahak: "Ha ha ha... kalau nona ingin menyaksikan adegan ini, lebih baik ikutlah kami berempat pulang gunung, Ha ha ha... bukan saja kau dapat menyaksikan kami empat bersaudara makan binatang beracun, bahkan "

Mendadak terdengar seseorang menierit lengking: "Ular.."

Giok yan berpaling, tapi ia segera menjerit kaget dan menubruk ke dalam pelukan si Dewa buas berbaiu merah.

Tampak seekor ular kecil berwarna merah darah sedang bergerak mendekat dengan lidah apinya yang menjilat-jilat, bentuknya sangat mengerikan.

Tidak diketahui dari mana asalnya ular kecil berwarna merah darah itu, tapi dengan arah yang pasti binatang melata itu bergerak menuju ke meja yang ditempati empat manusia

saat itu Giok yan sudah bersembunyi di dalam pelukan Dewa buas berbaju merah, Giok sian bersembunyi dalam pelukan iblis jahat berbaju hijau, sedang dua orang ber- baju hijau lainnya pun seakan-akan merasa amat ketakutan masing-masing bersembunyi dalam pelukan setan gusar berbaju kuning dan sukma murung berbaju putih, Kalau pada mulanya keempat manusia buas ini jumawa, tekebur dan tinggi hati seakan-akan tak ada yang mereka takuti, tapi setelah melihat ular kecil berwarna merah tua itu, serentak mereka melompat bangun.

Giok yan melirik sekejap wajah sukma murung berbaju putih, lalu serunya dengan nada manja: "Bukankah suya pandai menaklukkan binatang beracun? Cepat kau tangkap ular itu. hiih.,. Menjijik-kan"

"Losu" seru Dewa buas berbaju merah pula dingin, "Yakinkah kau dapat menaklukkan ular itu?"

"siaute bersedia mencoba" sahut sukma murung berbaju putih sambil mendorong tubuh nona berbaju hijau itu dari pelukan-nya.

"Losu, biar aku membantumu" sambung iblis jahat berbaju hijau tiba-tiba, jari tangannya segera diayunkan melepaskan serangan.

Sebenarnya ular kecil berwwarna merah itu sedang bergerak pelan ke depan, tapi begitu diserang oleh iblis jahat berbaju hijau, tiba-tiba saja kepalanya diangkat dan celingukan ke sana kemari, tampaknya ular itu sedang mencari siapa pembokongnya. Dengan suara lirih Hongpo Lan segera berbisik: "Ular kecil itu pasti dilepas orang secara diam-diam untuk menyusahkan ke-empat manusia buas dari Sin ciu."

"Benar," Li Bun yang mengangguk "Dan si pelepas ular itu tentu sudah dibuat jengkel oleh ulah keempat manusia buas itu, dan sekarang hendak menggunakan ular tersebut untuk mempermalukan mereka."

"Tapi ular kecil itu. "

Hongpo Lan segera membatalkan ucapannya begitu melihat jidat Sukma murung berbaju putih telah basah oleh keringat, satu ingatan melintas dalam benaknya, pikirnya: "Kalau cuma ular biasa, mana mungkin salah satu dari keempat manusia buas ini bisa dibuat ketakutan? Tentu ular kecil itu memiliki keistimewaan khusus "

Mendadak ia saksikan Sukma murung berbaju putih mengayunkan tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan, sementara tangan kanannya segera melakukan cengkeraman. "B la aammmmmm. . "

Di tengah benturan keras, pasir dan debu beterbangan ke udara. Menanti suasana menjadi terang kembali, tampaklah si Sukma murung berbaju putih telah menjepit leher ular kecil itu dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengahnya. sebaliknya tubuh ular itu pun melilit pergelangan tangan kanan Sukma murung berbaju putih itu kencang-kencang.

Sekali lagi Hongpo merasa keheranan, pikirnya: "Kalau sudah berhasil mencengkeram leher ular itu, kenapa tidak segera mencengkeramnya sampai hancur dan patah? Kenapa ia biarkan pergelangan tangannya dililit tubuh ular itu...?"

Terdengar iblis jahat berbaju hijau telah berteriak dengan suara keras: "Ayo mengaku, siapa yang telah melepaskan ular itu? sekarang ularmu sudah kami tangkap "

Bentakan itu diutarakan berulang kali, namun tak seorang pun yang mengakui sementara itu ular kecil berwarna merah tua yang melilit pergelangan tangan sukma murung berbaju putih itu makin lama semakin kencang. Agaknya tubuh ular tersebut telah menembusi daging tangannya hingga tersangkut pada tulang.

Hongpo Lan yang menyaksikan hal itu jadi amat terkesiap, bisiknya: "saudara Li, coba kau lihat tubuh ular itu, makin melilit semakin kecil tampaknya?"

"Ular ini termasyur sebagai ular benang baja hitam, Konon dalam seratus tahun sisiknya akan berubah jadi hitam lalu seratus tahun kemudian sisik hitamnya akan berubah jadi merah, Walaupun dongeng semacam ini belum tentu bisa dipercaya, tapi perubahan sisik hitam menjadi merah patut dipercayai.

Ular semacam benang besi, ular bisa semuanya bersumber dari jenis yang sama, hanya saja ular baja mempunyai kulit yang amat berharga karena kebal terhadap bacokan dan tusukan, orang persilatan amat menghargai kulit ular ini.

Bersamaan dengan bertambahnya usia ular itu, sisik- nya yang hitam biasanya akan berubah jadi merah, konon semburan beracunnya mampu membunuh korbannya."

"Ular benang besi termasuk jenis ular yang lebih beracun ketimbang ular baja, tapi panjang seluruh badannya hanya satu depa dua inci, Bersamaan dengan bertambahnya umur ular itu, sisik tubuhnya akan berubah jadi keras, Konon bila sisiknya telah jadi hitam maka bacokan golok tak akan mempan melukainya.

Apalagi kalau warnanya sudah jadi merah, bukan cuma amat kokoh dan keras, bahkan sisiknya menjadi lebih tajam dari pada pisau mestika. sekarang pergelangan tangan kanan sukma murung berbaju putih telah terlilit oleh badannya yang tajam, bisa dibayangkan penderitaannya sekarang luar biasa sekali"

"Mendengar uraianmu barusan rasanya jauh lebih unggul ketimbang membaca buku sepuluh tanun, luasnya pengetahuan saudara Li betul-betul membuat aku merasa amat kagum."

"Aaah aku hanya mengetahui sedikit saja " Li Bun

yang tetap merendah.

Tiba-tiba terdengar Dewa buas berbaju merah berteriak sambil tertawa dingin: "Losu, kau masih sanggup menahan diri?"

dalam saat itu ular kecil berwarna merah itu sudah menyusut semakin kecil, jelas sebagian besar badannya telah terbenam di dalam daging lengan si sukma murung berbaju putih.

Di bawah sinar matahari tampak peluh yang membasahi jidat si sukma murung berbaju putih sebesar kacang kedele dan bercucuran dengan amat derasnya, tapi ia tetap menggigit bibir menahan sakit sambil sahutnya: "Aku percaya masih mampu bertahan sepenanakan nasi lagi"

Bau harum arak dan daging tiba-tiba tersebar di udara, Dari balik tenda kini telah bermunculan serombongan bocah lelaki berbaju putih yang segera menghidangkan daging serta arak ke meja-meja perjamuan.

Mendadak Dewa buas berbaju merah mengeluarkan sebilah belati dari sakunya, lalu sambil ditancapkan ke atas meja katanya: "Losu, jika kau menganggap tak sanggup bertahan lagi, kutungi lengan kananmu, jangan biarkan tubuhmu tergigit"

"Akan... akan kuingat" sahut sukma murung berbaju cutih sambil menggertak gigi.

sekarang ia sudah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk melawan ular merah itu, karena itu ketika cabangkan pikiran untuk bicara perkataannya jadi terputus-putus .

sinar marah dan penasaran kini telah mencorong keluar dari mata iblis jahat berbaju hijau, ia pelototi sekeliling tempat itu tajam-tajam, agaknya dia berharap bisa menemukan orang yang melepaskan ular tersebut secara diam-diam.

Mendadak terdengar Dewa buas berbaju merah menghardik dengan penuh amarah: "singkirkan semua sayur dan arak itu, sebelum pelepas ular itu tertangkap. Siapa pun dilarang makan nasi"

Bocah-bocah lelaki berbaju putih yang sedang menghidangkan sayur serta arak itu tampak agak tertegun, tapi sebentar kemudian mereka telah melanjutkan langkahnya kembali, seakan-akan perkataan dari Dewa buas berbaju merah itu tak digubrisnya sama sekali. Melihat ucapannya tidak diacuhkan, Dewa buas berbaju merah semakin berang, dia melompat bangun lalu hardik-nya: "Hei, sudah kalian dengar perkataan toayamu?"

sebuah pukulan dahysat langsung dilontarkan ke depan. suara dengusan tertahan bergema di angkasa, tubuh si bocah berbaju putih yang berada tepat di hadapannya itu mendadak mencelat ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, sayur dan arak yang berada dibakipun kontan tersebar keempat penjuru dan mengotori daerah seluas dua kaki persegi.

Para jago yang kebetulan duduk di sekitar tempat itu buru-buru berlompatan bangun untuk menghindar, mereka kuatir kecipratan sayur dan arak yang sedang berhamburan itu, suasana jadi kacau balau.

Mendadak terdengar iblis jahat berbaju hijau membentak marah, tubuhnya melejit ke udara dan menerjang ke arah utara, Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, tangan kanannya mencengkeram tubuh seorang kakek ceking berpakaian compang camping, bersepatu butut yang sedang duduk di tempat itu.

Dengan cekatan dan lincah kakek itu menyusup masuk ke dalam kerumunan orang banyak. Dengan cara amat manis ia berhasil meloloskan diri dari gempuran iblis jahat berbaju hijau itu. Dengan suara lirih Li Bun yang segera menerangkan " Kakek ceking berpakaian compang camping itu adalah si Dewa ular Lu Khong, ilmU menangkap ularnya terhitung nomor wahid di kolong langit. Konon di dalam sakunya selalu tersimpan tiga ekor ular beracun yang amat berharga, sudah pasti dialah yang telah melepaskan ular benang baja itu "

Belum habis perkataan itu diucapkan, tampak bayangan manusia berkelebat lewat. si Dewa ular Lu Khong tahu-tahu sudah menyelinap datang dan bersembunyi di belakang tubuh ketua Hiang hong kau.

Agaknya si setan gusar berbaju kuning juga telah mengetahui keadaan yang sesungguhnya, sambil membentak ia melompat maju memutar ke belakang tubuh ketua Hian liong kau, secepat kilat tangan kanannya mencengkeram bahu kanan Lu Khong,

Tampak si Dewa ular Lu Khong memutar badannya dengan cekatan, begitu lolos dari cengkeraman lima jari lawan, kembali dia menyelinap kesamping Li Bun yang, sementara itu keempat lelaki yang berdiri di belakang ketua Hian hong kau telah sama-sama mencabut senjatanya dan melindungi di seputar tubuh ketuanya.

si kakek bermata satu tetap duduk tenang sambil menikmati air teh yang diminumnya sampai habis. iblis jahat berbaju hijau tertawa dingin, ia melompat ke muka dan menghadang persis di depan Lu Khong. si setan gusar berbaju kuning yang menyusul dari belakang dengan cepat menghadang jalan mundur-nya, dengan demikian posisi Lu Khong jadi terjepit

Waktu itu posisi si Dewa ular Lu Khong dengan Li Bun yang serta Hongpo Lan hanya selisih empat lima langkah, seandainya terjadi pertarungan dua orang pemuda itu pasti akan terkena pengaruhnya.

sambil menghimpun hawa murninya bersiap sedia, Hongpo Lan berseru kepada Li Bun yang dengan ilmu menyampaikan suara: "saudara Li, kalau mereka sampai bertarung dekat kita, apa yang harus kita lakukan?"

"Kepandaian yang paling diandalkan Dewa ular Lu Khong hanya memelihara ular, dalam soal ilmu silat dia tak akan mampu menandingi keempat manusia buas itu, tapi orang ini licik, banyak akal dan lagi dilindungi ular- ular mustika. Kita tak perlu menguatirkan keselamatan jiwa-nya, cUma jarak kita dengan mereka memang terlampaU dekat, jika pertarungan benar-benar terjadi, kita akan terkena juga akibatnya." sreeet...

Si iblis jahat berbaju hijau telah mengayunkan jari tangannya melepaskan sebuah serangan tajam. Dewa ular Lu Khong segera mengegos ke samping menghindarkan diri, sementara badannya menubruk ke muka semakin mendekati Li Bun yang ber-dua. segulung desingan angin tajam menyambar lewat dari atas kepala Hongpo Lan-Lamat-lamat pemuda itu dapat merasakan betapa tajam dan kuatnya serangan tersebut

Mendadak setan gusar berbaju kuning menggerakkan tubuhnya mendesak lebih ke depan, tangan kanannya secepat petir mencengkeram pergelangantangan kiri Lu Khong, Kali ini Dewa ular Lu Khong tidak menghindar lagi, ia sambut datangnya serangan tersebut dengan tangan kanannya.

Di saat tangan kanannya diayunkan ke muka itulah, tiba-tiba dari balik ujung bajunya meluncur keluar seekor ular berwarna hijau yang langsung mematuk jari tangan setan gusar berbaju kuning.

Belum sempat serangannya mencapai sasaran, dengan terkesiap dan ngeri setan gusar berbaju kuning menarik kembali tangannya sambil melompat mundur sejauh delapan depa.

Agaknya orang ini tidak puas karena terdesak mundur oleh lawannya, begitu lolos dari ancaman, tangan kanannya kembali diayunkan ke muka, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung membentur badan si Dewa ular Lu Khong.

Tampaknya si Dewa ular Lu Khong pun sadar bahwa kepandaiannya tak sanggup menerima serangan lawan yang amat dahsyat itu dengan kekerasan, ia tak sudi melayani pertarungan keras lawan keras, sambil memutar tubuhnya kembali dia menghindarkan diri

Empat manusia buas dari sin ciu selamanya sombong, jumawa, tinggi hati dan tak pernah mau memperdulikan keselamatan orang lain, begitu Lu Khong menghindar, tenaga pukulan yang amat dahsyat membawa deruan tajam itu pun langsung menerjang Li Bun yang serta Hongpo Lan-

sebenarnya bukan pekerjaan yang sulit bagi Li Bun yang maupun Hongpo Lan untuk menghindari angin pukulan tersebut Tapi bila mereka berkelit angin serangan yang kuat itu pasti akan menggempur meja, akibatnya meja itu beserta poci dan cawan air teh akan berantakan tak karuan-

dalam keadaan terdesak dua orang itu tak sempat berpikir panjang lagi, serentak mereka ayunkan pula tangannya melepaskan pukulan untuk menyambut datangnya ancaman dari setan gusar berbaju kuning.

Blaaammmmm. . .

Ketika angin pukulan itu saling berbenturan dengan serangan yang dilepaskan dua orang pemuda ini, terjadilah ledakan dahsyat yang menimbulkan pusaran angin kencang, pasir debu beterbangan mengaburkan pandangan. Hongpo Lan merasakan hatinya bergetar keras, hawa darahnya menggelora. Buru-buru dia tarik napas panjang untuk mengendalikan pergolakan hawa darahnya itu.

Ketika berpaling kearah Li Bun yang, dijumpainya paras muka pemuda itu hanya berubah jadi sedikit merah, Hal ini membuatnya terperanjat bisiknya kemudian- "Hebat benar tenaga pukulan dari empat manusia buas ini."

Dalam saat itu si iblis jahat berbaju hijau telah membentak penuh amarah: "orang she Lu, kalau hari ini aku tak bisa mencincang tubuhmu hingga hancur berkeping-keping, percuma kami empat manusia buas berkelana dalam dunia persilatan-..."

"Tahan" Mendadak bentakan keras memotong ucapan si iblis jahat berbaju hijau yang belum selesai.

Ketika semua orang berpaling, tampaklah seorang kakek tinggi besar berbaju kuning telah berdiri angker di sana, jenggot putihnya panjang sedada, sedang sebuah sangkar besi dengan dua ekor burung aneh berbulu abu- abu bertengger di antara lekukan lengannya.

iblis jahat berbaju hijau segera tertawa dingin: "IHmmm, apakah kau ingin mencampuri urusanku dengan menggantikan kedudukan bangsat she Lu ini?" "Saat ini semua jago dari segenap penjuru telah berkumpul di sini, pertemuan puncak juga belum dimulai. Aku tak ingin suasana dibuat kalut oleh ulah kalian se- mua. Apabila benar-benar ingin bertarung, tunggu saja setelah perjamuan selesai nanti, saat itu dendam pasti dibalas dan hutang harus dibayar, mau bertempur sampai habis-habisan pun dipersilahkan"

Jawaban dari kakek berbaju kuning itu diucapkan dengan suara dingin dan menggidikkan hati.

"Kalau kudengar dari pembicaraanmu barusan, agaknya kau berasal dari perguruan bunga bwee?"

"Benar, Tujuan majikan kami menyelenggarakan perjamuan ini dengan mengumpulkan seluruh jago dari segala penjuru, antara lain juga ingin menikmati kehebatan ilmu silat dari pelbagai perguruan Kami tak akan melarang bilamana ada di antara kalian yang bertarung, cuma sekarang waktunya belum sampai, jadi aku berharap kalian sudi menahan diri sejenak serta menunda pertarungan ini."

iblis jahat berbaju hijau tertawa dingin: "Pengemis ini telah mengandaikan ularnya mencelakai adikku. " ia

melirik sukma murung berbaju putih sekejap. kemudian melanjutkan: "Kecuali ia segera menarik kembali ular beracunnya yang melilit di pergelangan tangan saudaraku, kalau tidak maaf aku tak bisa menuruti kemauanmu itu." Dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau belati kakek berbaju kuning itu memandangi wajah si Dewa ular Lu Khong, kemudian tegurnya: "Bersediakah anda memberi muka kepadaku?"

Dewa ular Lu Khong tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha... sebagai orang yang sering berkelana

dalam dunia persilatan, masa aku tidak mengerti peraturan dunia persilatan pada umumnya? Kalau tuan rumah sudah tampilkan diri, tentu saja aku mesti menuruti kemauannya." Kakek berbaju kuning itu tersenyum.

"Tak nyana saudara ini begitu sudi memberi muka kepadaku, selanjutnya kita harus berkenalan lebih dekat lagi, boleh ku-tahu nama anda?"

"Aku Lu Khong"

Pelan-pelan kakek berbaju kuning itu berpaling, ditatapnya iblis jahat berbaju hijau sekejap dengan pandangan dingin, lalu katanya: "Dalam suatu pertarungan antar jago-jago persilatan, tak pernah ada batasan yang melarang seseorang menggunakan keahliannya. saudara Lu ini kebetulan saja mempunyai keahlian dalam memelihara ular beracun, kepandaian semacam ini terhitung juga semacam ilmu andalan, jadi sah saja bila ia menghadapi musuhnya dengan ular beracunnya. Nah, andaikata majikanku tidak keburu akan muncul dalam perjamuan ini sehingga terpaksa aku harus menengahi, tak nanti aku akan mencampuri urusan kalian"

iblis jahat berbaju hijau berpaling sekejap, ia saksikan si sukma murung berbaju putih sudah siap mencabut pisau belati yang tertancap di atas meja,jelas saudaranya ini sudah mulai tak mampu menahan diri hingga siap mengutungi lengan kanannya itu.

Maka sembari menahan gelora amarah di dalam dadanya, ia berteriak keras-keras: "Losu, tunggu sebentar"

Lalu kepada kakek berbaju kuning itu serunya pula: " Kalau toh seusai perjamuan masih ada kesempatan untuk meneruskan pertarungan kami empat bersaudara pun tak ingin mengaCau aCara selanjutnya. Baiklah, suruh si Dewa ular Lu Khong bebaskan dulu lilitan ular beracunnya atas pergelangan tangan saudaraku itu, kami pun sementara waktu tak akan berbuat apa-apa,"

Kakek berbaju kuning itu segera memberi hormat kepada Lu Khong, pintanya: "saudara Lu, bagaimana kalau kau panggil balik ular beracunmu?"

Dewa ular Lu Khong segera menggenggam sepasang tangannya sambil ditempelkanpada mulutnya, suatu pekikan lengking yang amat tajam pun bergema di udara. Kalau diceritakan memang aneh sekali. Begitu pekikan tajam itu berkumandang, ular kecil berwarna merah yang melilit di lengan sukma murung berbaju putih itu segera mengendorkan lilitannya dan meluncur turun ke atas tanah. .

Mengikuti mengendornya lilitan ular tersebut darah segar segera menyembur keluar dari mulut luka di pergelangan tangan sukma murung berbaju putih .Begitu deras cucuran darahnya hingga membasahi seluruh permukaan tanah dan pakaian-nya. sementara itu si ular kecil berwarna merah itu telah meluncur balik ke sisi tubuh Dewa ular Lu Khong dengan kecepatan luar biasa.

Kehebatan ular tersebut seketika meningkatkan kewaspadaan para jago terhadap binatang itu. Di mana ular itu bergerak. semua orang beramai-ramai menghindarkan diri. "Losu, apa tanganmu sudah cacad?" tegur Dewa buas berbaju merah kemudian dingin-

"oooh, hanya terluka ringan-"

Dari dalam sakunya Dewa buas berbaju merah mengeluarkan dua butir pil dan dilemparkan ke muka, katanya lagi: "Hancurkan sebutir lalu bubuhkan pada mulut luka, sebutir yang lain segera ditelan"

Kini kebuasan si sukma murung berbaju putih telah lenyap tak berbekas, setelah menerima pil itu katanya sedih: "Aku benar-benar tak becus sehingga memalukan toako.. aku. " "Menang atau kalah sudah lumrah dalam suatu pertarungan," tukas si Dewa buas berbaju merah sambil tertawa dingin, "Apa lagi sute bukan dikalahkan oleh manusia."

Giok yan yang duduk di sisinya segera bangkit dan menghampiri sukma murung, katanya pula sambil menghela napas: "Tahu begini, aku tak akan suruh kau menangkap ular itu "

Dirobeknya ujung bajunya lalu membalut mulut luka itu. sementara itu ular merah tadi telah tiba di sisi Lu Khong dan menyusup masuk ke balik ujung bajunya.

iblis jahat berbaju hijau yang menyaksikan hal ini segera berseru sambil tertawa dingin: "ingat baik-baik bangsat she Lu. Kalau ada dendam, empat manusia buas dari sin ciu pasti akan menagihnya, Bila kau masih bisa hidup sampai matahari tenggelam hari ini, kami empat bersaudara percuma disebut orang empat manusia aneh dari sin ciu.,."

Lu Khong tertawa hambar.

"sekalipun aku betul-betul bakal mati, namun aku pun akan suruh kalian berempat makan tak enak tidurpun tak nyenyak"

Pada saat itulah kakek berbaju kuning itu berseru lantang: "Hidangkan sayur dan arak" Dalam pada itu kawanan bocah berbaju putih yang bertugas membawa sayur dan arak sudah berdiri disekitar meja perjamuan begitu perintah diberikan, mereka pun segera bekerja cepat.

Tampaknya jalur yang mereka lalui sudah diatur sangat rapi. Tampak bayangan putih berkelebat kian ke mari, Dalam waktu singkat semua hidangan telah siap. Tapi para jago tetap duduk tak bergerak. tak seorang pun di antara mereka berani menggerakkan sumpitnya untuk makan hidangan tersebut.

Dengan sorot mata yang tajam kakek berbaju kuning itu menyapu sekejap kawanan jago itu, kemudian dengan suara keras katanya: "Karena masih ada sedikit urusan, majikan akan datang sedikit terlambat. oleh sebab itu aku sengaja diutus untuk mengabarkan kepada saudara sekalian sambil menunggu silahkan saudara sekalian menikmati dulu sayur dan arak yang telah disiapkan.,."

Berulang kali dia persilahkan tamunya untuk bersantap. namun tak seorang pun di antara para jago yang menggerakkan sumpit setelah mendengus dingin kakek berbaju kuning itu berkata: "Apabila kalian kuatir sayur dan arak itu sudah dicampur racun, aku akan memakannya lebih dulu untuk membuktikan kepada kalian- Dengan langkah lebar dia mendekati sebuah meja perjamuan, mengambil sumpit dan mencicipi setiap hidangan yang disiapkan di meja, setelah itu dia pun memenuni cawan dengan arak serta meneguk sampai tiga cawan, selesai semuanya itu dia baru berseru sambil tertawa tergelak: "sekarang tentunya kalian bisamakan dengan hati lega bukan"

Mendadak terdengar seseorang dengan suara yang dingin ketus berkata: "Aku tak perduli apakah sayur dan arak itu beracun atau tidak, ketika mengundang kami datang pemilik bunga bwee mengatakan hendak mengumumkan beberapa persoalan yang luar biasa, sekarang aku sudah datang memenuhi undangan, kenapa pemilik bunga bwee masih jual lagak?"

Ucapan tersebut tidak terlalu keras tapi setiap patah kata dapat terdengar dengan jelas sekali.

Tanpa terasa semua jago bersama-sama mengalihkan perhatiannya kearah mana datangnya suara itu, ternyata orang yang berbicara adalah si Dewa jinsom Phang Thian hua, seorang tokoh silat yang disegani banyak jago persilatan-

Kakek berbaju kuning itu tertawa terbahak-bahak. suaranya keras bagai guntur yang menggelegar disiang hari bolong, membuat telinga para jago mendengung dan sakit sekali rasanya. sesaat kemudian baru ia menjawab: " Kalian sudah meluangkan waktu untuk jauh-jauh datang ke mari, masa untuk menunggu sejenak lagi pun kalian sudah tak sabar?"

"Saudara Li," Hongpo Lan berbisik. "Siapa sih kakek berbaju kuning itu? sempurna amat tenaga dalamnya."

Dengan sinar mata yang tajam Li Bun yang mencoba memperhatikan kakek itu, sahutnya kemudian- "Agaknya orang ini jarang sekali munculkan diri didalam dunia persilatan sehingga aku tidak mengenalinya. Tapi jika dilihat dari kedua ekor burung aneh yang bertengger di lengannya, ia mirip sekali dengan seorang jago yang disebut orang sebagai si Raja burung Tan Ke.."

Belum selesai dia berkata, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang halus telah bergema datangi "ooh... benar-benar sebuah tempat yang sepi dan terpencil Aku tak habis mengerti kenapa pemilik bunga bwee memilih tempat semacam ini untuk menyelenggarakan perjamuan?"

Ketika semua orang berpaling, terlihatlah dua orang perempuan setengah umur yang bertubuh kekar dengan menggotong sebuah tandu berjalan masuk ke dalam arena perjamuan. Di atas tandu itu duduk seorang gadis berwajah cantik yang memakai pakaian aneh, sepasang lengannya yang putih bersih dibiarkan telanjang.

Tanpa terasa perhatian para jagopun tersedot oleh kehadiran perempuan aneh itu, serentak pandangan mereka pun tertuju ke arahnya.

Meskipun dipandang orang banyak seperti ini, perempuan itu tetap duduk dengan santainya sambil celingukan ke sana kemari, sama sekali tak ada rasa malu barang sedikit pun.

"saudara Li, siapa sih perempuan ini?" tanya Hongpo Lan lagi.

"Seandainya dia sering muncul dalam dunia persilatan, sekalipun aku belum pernah bertemu dengannya paling tidak pasti pernah kudengar, tapi orang ini sama sekali tidak kukenal, mendengarpun belum pernah."

"Aaaai... Cukup dilihat dari pakaiannya yang aneh pun kita sudah dapat menduga kalau dia bukan manusia sembarangan-..."

Mendadak terdengar lagi suara teriakan yang keras berkumandang datang: "Majikan tiba.."

Kakek berbaju kuning itu segera berlarian menuju ke depan jalan masuk dan berdiri dengan sikap hormat begitu mendengar teriakan itu berkumandang. Gadis berdandan aneh itu segera tertawa terkekeh- kekeh, jengeknya: "Waah... besar amat lagaknya, betul- betul luar biasa..."

sambil menjengek tubuhnya melejit meninggalkan tandunya, Di antara gaunnya yang berkibar terhembus angin tampak sepasang pahanya yang putih mulus, ia berputar beberapa kali di udara sebelum melayang turun kembali ke atas tanah. Gerakan tubuhnya itu sangat indah dan membetot sukma, kontan saja para jago bersorak memuji.

setelah melayang turun ke tanah, ia membenahi sebentar rambutnya yang kusut sambil memperhatikan sekitar tempat itu. Akhirnya ia berjalan menuju ke meja perjamuan di mana Li Bun yang sekalian berada.

Dari sikapnya yang genit serta pahanya yang sengaja dipamerkan, Hongpo Lan sudah menaruh kesan yang kurang baik terhadap perempuan itu. Melihat ia berjalan menuju ke meja perjamuannya, dengan suara lirih segera bisiknya kepada Li Bun yang: "Waaah celaka saudara Li, ia berjalan menuju ke tempat kita.

Bagaimana baiknya?"

Belum sempat Li Bun yang menjawab, gadis itu sudah tiba di depan meja sambil berseru genit: "Apakah meja ini masih cukup menampung aku seorang...?" setelah mendehem Hongpo Lan segera menyahut: "Di tempat lain masih banyak tempat kosong, lebih baik nona pindah ke tempat lain saja, di sini sudah terlalu penuh."

"Nona, mari duduk di tempat kami..." teriakan keras segera bergema dari meja perjamuan lain.

Dengan genit gadis itu mengerling sekejap sekitar tempat itu, kemudian sambil duduk di sisi Hongpo Lan katanya seraya tertawa: "Mengajak kalian bcrunding hanya ungkapan basa basi saja, kalau aku tetap mau duduk di sini, masa ada orang berani mengusirku?"

Hongpo Lan tertegun dan kontan tak mampu mengucapkan sepatah katapun, mimpipun dia tak mengira kalau di hadapan begitu banyak orang gadis tersebut ternyata punya muka yang begitu tebal untuk nekad duduk di situ. Untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya, wajahnya jadi amat kikuk.

seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa pun gadis itu mengangkat cawan arak di hadapannya dan segera diteguk habis isinya, "Ayo minum.,." serunya.