-->

Pedang Keadilan I Bab 38 : Mempermainkan Kaum Budak

 
Bab 38. Mempermainkan Kaum Budak

Kontan saja Han Si Kong merasa pipinya jadi panas lantaran jengah, dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun,

si nona berbaju putih yang melihat kejadian itu buru- buru menukas: "Tidak sopan sewaktu bicara dengan kaum tua, bersikap acuh terhadap orang lain, semuanya merupakan tindakan yang keliru, apa perlunya kalian minta ditunjukkan kesalahanmu berdua, ayo cepat mundur dari sini"

Dua orang dayang itu mengiakan dan segera mengundurkan diri ke belakang gadis berbaju putih itu.

Lim Han kim kuatir Han Si Kong kehilangan muka lantaran kejadian ini, buru-buru dia mengalihkan bahan pembicaraan ke masalah lain, ujarnya: "Nona, kita harus berusaha melepaskan diri dari sini, Kalau tidak. masakita harus menunggu dibakar oleh mereka di tempat ini?"

"Tak mungkin kita bisa keluar dari sini," ujar gadis berbaju putih itu setelah termenung sejenak. "Apabila kita paksakan diri untuk menyerbu keluar dengan kekerasan, maka korban yang berjatuhan tentu banyak dan sangat parah."

"Aku sudah hidup cukup tua, biar harus mati pun tak perlu disayangkan" kata Han Si Kong bersemangat "Tapi kalian semua masih muda belia, terlalu sayang kalau harus mengorbankan jiwa di sini, Dari pada duduk menunggu ajal kurasa lebih baik kita serbu keluar dari barisan ini dan beradu jiwa dengan mereka, paling tidak kita harus mencari balik modal disertai bunganya."

"Kita tak boleh bertindak gegabah, sekalipun tidak berusaha keluar dari barisan ini, kita juga tak akan duduk-duduk sambil menunggu datangnya ajal."

"Kalau kedua duanya tidak dicoba lalu apa yang harus kita lakukan? Aku benar-benar tidak mengerti?"

"Kita berusaha meloloskan diri dengan selamat dari sini."

Han Si Kong mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, kemudian sambil gelengkan kepalanya berulang kali ujarnya: "Kecuali kita punya sayap dan bisa terbang ke langit" Gadis berbaju putih itu tertawa, "Locianpwee hanya bisa teringat terbang ke langit, kenapa lupa kalau di bawah pun masih ada tanah?"

"Maksud nona kita menggali lorong bawah tanah untuk meloloskan diri dari sini? Menurut pendapatku, cara semacam ini tak mungkin bisa kita lakukan dengan selamat..."

"Kalau kita harus menggali lobang bawah tanah yang tembus hingga di luar tumpukan kayu bakar itu, tentu saja hal ini susah sekali."

Han Si Kong tertegun, dengan perasaan tak habis mengerti katanya: "Kecerdasan nona jauh melebihi orang biasa, sekarang situasi amat gawat aku harap nona sudi menerangkan secara gamblang Kalau aku disuruh main tebak... waaah... makin lama aku bisa semakin pikun-"

"Sebenarnya kalau sudah diterangkan sederhana sekali, dan bila kita mau berpikir sebentar, siapa pun dapat memikirkan cara itu, Ketika memilih tempat ini sebagai tempat barisanku aku sudah memperhitungkan apabila mereka menyerang kita dengan api.

oleh sebab itulah dalam barisan ini aku sengaja mencari tempat yang ada gundukan tanahnya yang agak tinggi, Kita tak perlu membuang tenaga untuk menggali liang, lekukan tanah gundukan tersebut sudah cukup bagi kita beberapa orang untuk menyembunyikan diri, kemudian di luar ling ka ran tempat persembunyian itu kita sulut api untuk membakar rerumputan itu lebih dulu.

Kobaran api pasti akan menyebar ke tempat yang lebih lebar. Nah, dengan cara begini kemungkinan besar kita dapat selamatkan juga barisan ini."

"Urusan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, mari kita segera turun tangan- seru Han si Kong.

"Tidak perlu tergesa-gesa, apabila mereka berniat membakar kita sampai mati maka hal ini sudah dilakukan sedari tadi, kenapa mesti menunggu sampai sekarang?" Di saat itu langit sudah mulai menjadi gelap. taburan bintang mulai menghiasi seluruh angkasa, Lim Han kim, Han Si Kong, siok bwee serta Hiang lan bekerja keras membuat sebuah liang besar di bawah gundukan bukit kecil itu yang cukup untuk memuat mereka berlima.

sementara itu kekuatan tubuh nona berbaju putih itu bertambah lemah dan sukar untuk dipertahankan lagi, mau tak mau terpaksa ia harus menggunakan tusukan jarum pada jalan darahnya untuk membantu menyegarkan kembali kekuatan tubuhnya.

Ketika dua batang jarum emas ditusukkan ke atas jalan darahnya, cahaya segar segera menyelimuti wajah nona itu, Waktu itu, rembulan sudah mulai muncul dari langit Timur, Dari balik suasana yang hening itu beberapa kali terdengar suara pekikan burung malam yang menambah seramnya suasana di tempat itu.

Gadis berbaju putih itu mendongakkan kepalanya memandang langit, kemudian bisiknya: "Waktunya sudah tiba, kita harus turun tangan lebih dulu. "

"Melepaskan api?" tanya Lim Han kim. Gadis itu mengangguk. "Ayo berangkat, kita pergi berdua saja."

"Kesehatan nona kurang baik, lebih baik beristirahat di tempat ini, biar aku bekerja seorang diri"

Gadis berbaju putih itu tersenyum, ujarnya: "Melepaskan api adalah cara paling akhir yang bisa kita lakukan, jadi kalau tidak terpaksa lebih baik tak usah digunakan- siapa tahu kita akan menemukan cara lain yang lebih baik? Ayo jalan, temani aku melihat keadaan"

setelah meloloskan pedang Jin siang kiamnya, Lim Han kim berbisik "Hati-hati nona, setelah keluar dari barisan harap kau mengintil ketat di belakangku siapa tahu mereka telah persiapkan jebakan yang akan menyerang secara tiba-tiba. Kalau terlalu jauh jaraknya, aku kuatir tak sempat memberi pertolongan-"

"Benarkah kau amat menguatirkan keselamatanku?" tanya gadis itu sambil tertawa. Lim Han kim tertegun, tapi segera jawabnya: "Aku merasa kagum dan menaruh hormat atas keberanian nona."

"sebetulnya bukan karena nyaliku besar maka aku berani berbuat begini," kata gadis berbaju putih itu sambil tertawa hambar, "Aku tahu umurku tak bakal panjang, mati sekarang atau mati besok tak ada perbedaannya sama sekali. "

Lim Han kim menghela napas panjang, ia membungkam dan tidak berkata apa-apa lagi.

Terdengar gadis itu berkata lagi: "sebenarnya aku masih bisa hidup enam bulan lagi, tapi setelah mengalami pertarungan adu kecerdasan kali ini, aku kehilangan banyak tenaga, Aku rasa umurku paling lama tinggal tiga bulan saja."

"Nona cerdik dan penguasa pelbagai ilmu sakti, masa di dunia initiada obat mujarab yang dapat menyembuhkan sakitmu itu?" Gadis berbaju putih itu tertawa.

"Gara-gara penyakit yang kuderita ini, ayah dan ibuku telah menjelajahi seluruh kolong langit untuk mencari obat mustika dan mengunjungi tabib kenamaan, tapi setiap tabib yang memeriksaku mempunyai pandangan yang berbeda sehingga obat yang digunakanpun berbeda satu dengan lainnya. Dalam jengkelnya ia telah mengundang dua belas orang tabib kenamaan untuk berkumpul dipondok Lian-im lu dengan Thian hok sangjin locianpwee sebagai ketuanya.

Tiga hari tiga malam mereka bekerja keras untuk menyelidiki penyakitku ini, tapi alhasil mereka tetap gagal untuk menemukan sistim pengobatan yang tepat."

"Masa dengan kemampuan yang dimiliki Thian hok locianpwee pun tidak berhasil mengobati penyakitmu?" sela Lim Han kim dengan kening berkerut.

Tiba-tiba nona berbaju putih itu menghentikan langkahnya dan duduk di atas tanah, sambil membetulkan rambutnya yang kusut, katanya lagi seraya tertawa: "setelah mereka berunding selama delapan hari delapan malam, akhirnya ditemukan satu kesimpulan-"

Waktu itu mereka sudah tiba di tepi barisan bambu, beberapa langkah lagi mereka sudah akan keluar dari barisan tersebut, Melihat gadis itu duduk saja ditempatnya, Lim Han kim tahu bahwa nona itu hendak berbicara dulu dengannya sebelum melanjutkan perjalanan, maka dia pun ikut duduk. "Bagaimana kesimpulan akhir itu?" tanyanya.

"Bukankah sudah kuberitahukan kepadamu tadi?" kata nona itu sambil tertawa, "setelah bersusah payah banyak hari untuk memeriksa serta mengira-ngira penyakitku akhirnya mereka berkesimpulan aku hanya bisa hidup setengah tahun, padahal tak usah mereka terangkan pun aku sendiri sudah mengetahui hal tersebut dengan lebih jelas lagi"

"Apakah yang nona ketahui hampir sama dengan hasil kesimpulan para tabib kenamaan itu?" sela Lim Han kim cemas.

"Garis besarnya sama, cuma mereka belum tahu kalau aku tak boleh terlalu lelah dalam setengah tahun ini, Apabila aku kelewat lelah dan banyak mengguna kan tenaga, maka umurku yang setengah tahun itu bakal terpotong separuhnya "

Lim Han kim segera menghela napas panjang: "Aaai...

kalau sejak dulu tahu begini, aku tak akan merepotkan nona dengan segala macam persoalan-"

senyuman nona berbaju putih itu semakin cerah, tiba- tiba tanyanya: "Apakah kau amat menguatirkan keselamatan jiwa ku? "

"soal ini... soal ini. " Untuk beberapa waktu la manya

ia tak sanggup melanjutkan perkataan itu.

"Kau tak usah terlalu bersedih hati," kata nona itu lebih lanjut sambil tertawa, "Meskipun aku sudah hidup belasan tahun, namun sejak tahu urusan hingga kini aku harus selalu bergelut dengan penyakitku dan berjuang melawan maut. orang bilang hidup seribu tahun pun akhirnya tetap mati, jadi aku tak pernah mempunyai perasaan ngeri atau takut menghadapi kematian, kau tak usah bersusah hati karena aku..."

"sekalipun begitu, tapi gara-gara urusanku, nona mesti kehilangan umur selama tiga bulan, kenyataan tersebut bagaimana pun juga merupakan ganjalan dalam hatiku."

Mendadak nona berbaju putih itu menarik kembali senyumnya di wajahnya, Alis matanya mulai berkenyit, rupanya ia mulai memutar otak memikirkan sesuatu, selama berbicara tentang mati hidupnya, gadis ini selalu tertawa dan santai, seakan-akan masalah mati hidup bukan masalah yang amat berat baginya, tapi kini setelah keningnya mulai berkerut, sikap maupun mimik mukanya berubah jadi amat serius.

Lim Han kim menghela napas panjang, katanya: "Nona, dalam keadaan seperti ini waktu adalah sangat berharga bagimu, tidak sepantasnya kau melibatkan diri dalam kancah persoalan yang membelenggu dunia persilatan sepantasnya kau nikmati sisa hidupmu itu dengan senang dan gembira.

Aaai.. jarang sekali di dunia ini ada orang yang bisa bersikap begini tenang seperti nona kendatipun kau sudah mengetahui saat ajalmu, Aku percaya diriku tak mampu berbuat seperti nona, kau benar-benar mengagumkan" "Aaai. " Gadis itu menghela napas, "Aku sedang

memiklrkan satu persoalan, aku tak tahu bagaimana baiknya "

"Gadis secerdas dia, mana mungkin ada masalah yang tak dapat diselesaikan. ?" pikir Lim Han kim dalam hati.

Tapi di luar, ia tak tahan untuk bertanya juga: "Masalah pelik apa sih yang nona hadapi? Dapatkah kau memberitahukan kepadaku sehingga mungkin aku bisa memberikan sedikit saran atau pendapatku yang bodoh?"

Gadis berbaju putih itu mengalihkan pandangannya ke wajah Lim Han kim, sesudah memandangnya lama sekali, ia baru berkata: "Aku sedang berpikir, haruskah kuwariskan segenap ilmu silat yang tercatat dalam benakku ini kepadamu?"

Beg itu mendengar permasalahan tersebut menyangkut kepentingan pribadinya, Lim Han kim jadi terbungkam dalam seribu bahasa, untuk berapa saat dia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Terdengar gadis berbaju putih itu berkata lebih lanjut: "Apabila ilmu silat yang kuketahui tidak kuwariskan kepadamu, setelah kematianku semua ilmu maha sakti itu mungkin tak akan punah dari dunia ini dan ikut terkuburkan untuk selamanya bersamaku sebaliknya bila harus mewariskan kepadamu, bukankah sisa hidupku yang tinggal tiga bulan ini bakal habis digunakan untuk mewariskan ilmu silat untukmu, bukankah terlalu sayang?"

"Nona tak perlu merisaukan diri dengan persoalan itu.

Apabila benar-benar cuma tinggal tiga bulan masa hidupmu, sudah sepantasnya bila kau gunakan waktu yang amat singkat ini untuk bersenang-senang "

"Tapi kitab rahasia yang mencatat ilmu-ilmu silat itu sudah terbakar habis, Bila aku mati, maka semua rahasia sim hoat dan teori dari ilmu langka itu akan turut terkubur bersamaku, bukankah aku akan menjadi orang yang paling berdosa di dunia ini?"

"Nona mempunyai kecerdasan yang melebihi siapa pun, jangan lagi aku, di dunia ini susah rasanya untuk menemukan berapa orang yang mampu menandingi kepintaranmu itu, apalagi waktu yang tersisa tinggal tiga bulan, sekali pun nona hendak mewariskan semua ilmu itu kepadaku, belum tentu aku sanggup menghapal semuanya secara sempurna, kalau sampai begitu, bukankah aku hanya akan menyia-nyiakan harapan nona?"

"Sekalipun kau tak sanggup mempelajari seluruh kepandaian itu sampai selesai, tapi paling tidak kau mampu menghapal separuh di antaranya "

Mendadak ia bangkit berdiri, lanjutnya: "Aaaai.. persoalan semacam ini benar-benar sukar untuk diambilkan keputusan, biar kupikirkan lagi pelan-pelan sebelum mengambil keputusan,"

Bicara sampai di situ, dia melangkah keluar dari barisan bambu. Buru-buru Lim Han kim menyusul keluar dan berebut untuk berjalan di depan gadis itu, katanya: "Nona tak boleh menempuh bahaya, biar aku membukakan jalan untuk dirimu"

Dari balik tumpukan kayu bakar di luar barisan tiba- tiba terlihat cahaya api berkilat seorang manusia berbaju serba hitam munculkan diri bersamaan dengan munculnya cahaya api itu.

Begitu menghadang jalan lewat kedua orang itu, orang berbaju hitam tersebut membentak ketus: "Majikan kami telah datang berkunjung ke kuburan ini, ha rap kalian berdUa datang menghadapi dia"

Memandang obor api yang berada di tangan orang itu, Lim Han kim berseru keras: "Hati-hati dengan obor di tanganmu, bisa-bisa terbakar semua kayu bakar itu"

" orang ini goblok dan tak tahu sopan santun, setelah berjumpa dengan pemilik bunga bwee nanti, aku pasti akan minta dia untuk membunuh orang ini lebih dulu sebagai syarat," sambung nona berbaju putih itu cepat.

Manusia berbaju hitam itu tampak agak tertegun, kemudian sambil mengangkat obornya tinggi- tinggi, katanya: "Aku yang rendah mendapat perintah untuk menyambut kalian berdua pergi menjumpai majikan."

Tanpa membuang waktu Lim Han kim menggerakkan pedangnya menyingkirkan tumpukan kayu bakar yang menghadang jalan lewatnya, setelah terbuka sebuah jalan ia berkata dingin, "Ayo jalan di depan sebagai petunjuk jalan"

Agaknya manusia berbaju hitam itu tahu kalau ucapan gadis berbaju putih itu hanya gertak sambal belaka, meski begitu ia tak berani bersikap kurang sopan lagi terhadap mereka berdua, dengan mengangkat obornya tinggi-tinggi ia berjalan dulu di muka.

Lim Han kini mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu. Dengan bantuan cahaya rembulan yang redup, Iamat-lamat ia temukan ada banyak manusia berbaju hitam yang bersembunyi di balik rumput dan pepohonan yang mengepung sekeliling tempat itu rapat- rapat.

Gadis berbaju putih itu mempercepat langkahnya menyusul di belakang Lim Han kim, sambil berjalan bisiknya: "Setelah berjumpa dengan pemilik bunga bwee nanti, kau tak perlu takut dengannya"

"soal ini nona tak perlu kuatir" Dari balik ucapan tersebut terselip perasaan tak puas. "Kenapa? Marah karena ucapanku ini?" tegur nona itu sambil tersenyUm. "Aaai... kenapa sih kau mesti mengumbar hawa amarah...?"

Lim Han kim berpaling dan memandang gadis itu sekejap. sementara dalam hatinya berpikir: "Dia tak segan mengorbankan sisa hidupnya untuk membantu para jago dunia bertarung melawan pemilik bunga bwee.Aaai... sudah seharusnya aku pun bersikap lebih luwes dan mengalah kepadanya " Berpikir begitu

timbul rasa menyesal dihati kecilnya, namun dia pun tak tahu bagaimana harus menerangkan masalah ini.

sementara dia masih gelagapan, gadis berbaju putih itu telah berkata kembali: "Bila ditambah dengan usiaku selama tiga bulan, masa perkenalan kita tak terhitung pendek. kenapa kau tak pernah menanyakan namaku?"

sekali lagi Lim Han kim berpikir: "Rasanya kurang sopan bila seorang pemuda tanggung macam aku menanyakan nama seorang gadis, Aku, Lim Han kim tentu saja tak akan bertindak sekurang ajar itu. "

sambil tersenyum dia pun berkata: "Kalau begitu boleh kutahu siapa nona?"

"Mungkin lantaran sejak dilahirkan aku sudah penyakitan, maka oleh orang tuaku yang amat menyayangi diriku, aku diberi nama sisi." Lim Han kim tak berani mengendorkan kewaspadaannya, sepanjang jalan ia perhatikan terus sekeliling tempat itu, Terasa olehnya ada banyak sekali manusia berbaju hitam yang berlalu lalang di tengah tempat itu, agaknya mereka sedang amat sibuk.

sementara itu si nona telah berkata lebih lanjut: "Kemudian setelah aku tumbuh dewasa, aku merasa nama si-si kurang enak didengar, karenanya aku pun mengubah huruf yang terakhir "

"Mengubahnya jadi apa?"

"Aku berpendapat bagi seorang anak dara, entah dia cantik atau jelek pada akhirnya toh akan kawin dan menjadi bini orang, Tapi bagiku yang bertubuh lemah serta penyakitan siapa yang mau mengawini diriku? orang itu sepanjang hidupnya akan melayani aku seperti kerbau dan kuda, penderitaan yang dialaminya pasti amat berat, itulah sebabnya huruf terakhir namaku ku- ubah menjadi Hiang "

"Pek si hiang,.,."

"Benar, bukankah namaku ini lebih sedap didengar "

"Seperti namanya nona memang centil dan harum "

"sejak dahulu kala kebanyakan kaum pendekar menyayangi wanita lemah. Aku berganti nama jadi si hiang dengan harapan orang yang akan mengawiniku nanti menjadi waspada sebelum mengambil keputusan.

Dia mesti menaruh rasa sayang kepadaku dan siap melayaniku sepanjang masa, sehingga kalau sudah kawin nanti, calon suamiku tak akan menyesal karena salah memilih jodoh."

"Rupanya begitu. "

"Namaku ini selain hendak memperingatkan calon suamiku agar selalu sayang kepadaku, aku pun masih mempunyai maksud lain."

Walaupun berada dalam situasi yang amat berbahaya karena terkepung musuh tangguh, gadis itu mampu berbincang masalah pribadinya, seakan-akan di sekitar situ tak ada orang lain kecuali mereka.

Ketenangannya dalam menghadapi kematian ini kontan membangkitkan pula semangat Lim Han kim. sa mbii tertawa nyaring serunya: "Waah. aku ingin tahu

masih ada kegunaan apa lagi namamu itu?" "Coba kau sebut namaku itu beberapa kali. "

"Pek si hiang... Pek si hiang... si hiang " Tiba-tiba

paras mukanya berubah hebat, ia segera terbungkam dalam seribu basa. "sekarang kau sudah mengerti bukan?" kata Pek si hiang sambil tertawa, "Barang siapa menyayangi aku, kasihan kepadaku maka dia bakal sia-sia belaka, berusaha mati-matian namun akhirnya cuma kosong belaka, semua akan menjadi impian indah. "

"cinta tak mengenal semua itu. Apa bila orang itu benar-benar mencintai nona, sekalipun hanya bisa bersanding setengah atau satu haripun, kenangan tersebut tak akan terlupakan untuk selamanya, sekalipun nona sudah mati, namun senyummu, suaramu dan wajahmu akan selamanya hidup abadi dalam hatinya."

"Tapi. benarkah di dunia ini terdapat lelaki yang

begitu tulus dengan cintanya?" tanya Pek si hiang tersenyum.

"Waaah. kalau soal itu mah aku kurang begitu jelas."

sahut Lim Han kim sambil mendehem berulang kali.

"sejak dulu hingga sekarang, yang ada adalah lelaki yang menyia-nyiakan cinta kasih kaum wanita, mana ada pria yang mau berkorban demi kekasihnya "

Mendadak terlihat bayangan merah berkelebat lewat, dua orang manusia aneh berbaju serba merah dan mengenakan topi warna merah melompat keluar dari balik kegelapan dan menghadang jalan lewat kedua orang itu. Dandanan seaneh dan seseram ini cukup mengejutkan perasaan orang yang melihatnya, apalagi mereka muncul dari balik kegelapan malam. Kendatipun pada siang harinya tadi Lim Han kim pernah bertemu dengan manusia berdandan seperti ini, tak urung perasaan hatinya bergetar juga, apalagi dipandang di tengah kegelapan malam, dandanan mereka terasa jauh lebih mengerikan

Padahal dia tahu mereka berdua cuma orang yang berdandan begitu, namun rasa bergidik segera menyelimuti seluruh perasaan hatinya, Lim Han kim segera menggetarkan pedangnya membentuk selapis bianglala perak untuk menghadang kedua orang manusia aneh itu, tegurnya: "Apa maksud kalian berdua menghadang jalan lewatku?"

Manusia aneh berbaju merah yang berada di sebelah kiri menyahut dengan dingini "Kami mendapat perintah untuk menyambut kedatangan kalian berdua."

"Kalau memang begitu, terpaksa harus merepotkan kalian. "

Manusia aneh berbaju merah yang berada di sebelah kanan segera menambahkan: "setiap orang yang hendak berjumpa dengan majikan kami, senjata mereka harus dilucuti." Lim Han kim termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya: "Sebelum aku bertemu dengan pemilik bunga bwee, maaf permintaan kalian berdua tak dapat kupenuhi."

Manusia aneh berbaju merah yang ada disebelah kiri tertawa dingini "He he he,., saat ini kalian berdua sudah terjebak dalam kepungan kami. jika kami turunkan perintah maka kalian berdua segera akan tewas bermandikan darah.,."

"Kalau hal ini benar-benar sampai terjadi mungkin kalian berdua yang akan mampus lebih dulu sebelum kematianku"

Pada saat itulah terdengar bunyi genta sebanyak lima kali berkumandang datang dari kejauhan, Dua orang manusia aneh berbaju merah itu saling bertukar pandang sekejap. lalu sambil membalikkan badan katanya: "Harap kalian berdua mengikuti dibelakang kami"

Tanpa membuang waktu mereka berlalu dari situ dengan langkah lebar Ketika Lim Han kim mencoba berpaling, ia saksikan Pek si hiang mengintil di belakangnya dengan senyuman yang cerah, seakan-akan ia sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap dua orang manusia berbaju merah itu.

sikap yang begitu tenang dari gadis tersebut makin mempertebal rasa kagumnya terhadap nona itu, pikirnya: "Walaupun dia tak mengerti ilmu silat, namun kebesaran nyalinya serta keberaniannya menghadapi kenyataan betul-betul jauh di atas kemampuanku. "

Bagaikan sukma yang bergentayangan di udara kedua orang manusia berbaju merah itu berputar mengitari kuburan Liat hu bong kemudian menelusuri sebuah jalan setapak yang sempit.

Waktu itu manusia berbaju hitam yang membawa obor itu sudah pergi entah ke mana, suasana di sekitar sana hanya kegelapan yang mencekam.

Mendadak Lim Han kim menghentikan langkahnya seraya menegur: " Kalian berdua hendak mengajak kami ke mana?"

"Menjumpai majikan kami"

"Bukankah dia sudah tiba di kuburan Liat hu bong?" "Pada saat yang terakhir majikan kami telah

mengubah alamat perjumpaan, beliau khusus mengutus kami untuk menyambut kedatangan kalian berdua," sambung orang berbaju merah di sebelah kiri Lim Han kim tertawa dingin.

"Dandanan kalian berdua begitu aneh, majikan kalianpun sok rahasia dan misterius. Hmmm.... hmmm...

kalau tingkah laku aneh semacam ini mungkin saja dapat me-nakut-nakuti orang awam, tapi untuk kami berdua....

Hmmm hra mm.,.,"

"Siapa itu, berani amat bicara takabur" teguran dingin yang menyeramkan tiba-tiba bergema dari kejauhan,

"Aku Lim Han kim, kenapa?" hardik pemuda itu gusar. "Hmmm, besar amat nyalimu, kalau tidak diberi sedikit

pelajaran, tentu kau tak akan tahu betapa tingginya

langit dan tebalnya bumi."

Baru saja Lim Han kim hendak menanggapi seruan itu, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan hitam meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, dengan perasaan terkesiap pikirnya: "Senjata rahasia apakah itu?"

" Kenapa membawa deruan suara yang aneh sekali." Pedangnya segera diputar membentuk berkuntum-

kuntum bunga pedang untuk melindungi dadanya, saat itu dia hanya berpikir bagaimana membendung serangan senjata rahasia yang datang dari depan, ia tidak mengira kalau ada segumpal bayangan hitam lainnya yang menyergap tiba dariarah samping, Lim Han kim menyadari akan datangnya ancaman tersebut, namun untuk menghindar sudah tak sempat lagi....

"Plaaaakkk.,."

Pipi kirinya persis terkena gempuran itu secara telak. sementara bayangan hitam itu segera meluncur balik dengan kecepatan luar biasa setelah gempurannya mengenai sasaran.

Gempuran itu berat dan cukup keras, seketika itu juga Lim Han kini merasakan pandangan matanya berkunang- kunang, pipinya terasa pedas, panas dan perih sekali.

Kebetulan sekali saat itu cahaya rembulan sedang tertutup oleh awan gelap sehingga suasana di tempat itu amat gelap sekali, Meskipun sudah terkena gempuran secara telak, ternyata Lim Han kim belum sempat melihat dengan jelas makhluk apakah yang menyerang dirinya tadi, hanya lamat-lamat ia merasa bahwa makhluk itu menyerupai binatang sebangsa burung atau unggas.

Dua orang manusia berbaju merah pembawa jalan itu sama sekali tidak berpaling, mereka tetap melangkah majU dengan tindakan lebar Ketika ia mencoba berpaling, Pek si hiang masih mengintil di belakangnya dengan senyUman dikulum, seolah-olah ia sama sekali tidak melihat kalau pipi kirinya terkena serangan.

Berada dalam situasi dan keadaan seperti ini, tentu saja Lim Han kim merasa rikuh untuk buka suara, namun secara diam-diam dia telah meningkatkan kewaspadaannya.

"Pemilik bunga bwee ini betul- betul seorang tokoh yang sukar dipegang ekornya, aku tak boleh memandangnya terlalu enteng," demikian ia berpikir dalam hati.

sementara itu kedua orang manusia aneh berbaju merah itu sudah berbelok menuju ke sebuah bangunan gedung yang berdiri megah, Gedung itu berdiri sendirian di tengah hutan belantara yang sepi, suasana gelap gulita, tidak tampak setitik cahaya lampupun dari balik bangunan itu.

Dua orang manusia berbaju merah itu langsung membuka lebar pintu halaman dan berdiri di kedua belah sisinya, setibanya di bangunan itu, seru mereka serentak: "silahkan kalian berdua masuk sendiri"

Di bawah sinar rembulan yang waktu itu sudah muncul kembali dari balik awan, Lim Han kim dapat melihat sebuah papan nama yang tergantung di atas pintu gerbang bangunan itu. "Rumah abu keluarga Go."

Pintu gerbang yang besar dan berwarna merah itu sudah terpentang lebar, namun suasana dalam ruang tengah dan ruang samcing bangunan itu tetap gelap gulita dan hening.

Melihat situasi ini, sekali lagi Lim Han kim berpikir: "seandainya mereka siapkan jago-jago tangguh di sekeliling rumah abu ini, kami pasti akan mati konyol..." sementara dia berpikir di hati, kakinya sudah mulai melangkah naik ke tangga batu ruang tengah.

Dari balik ruangan yang gelap itu tiba-tiba muncul sepercik cahaya api yang segera padam kembali, disusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan suaranya yang melengking: " Kenapa kalian berdua tidak masuk? sudah takut rupanya? Kalau ingin mundur dari sini, sekarang masih belum terlambat."

Dengan suara lirih Pek si hiang berbisik: "Ayo kita masuk, tak usah takut "

"Baik"

Dengan pedang disilangkan di depan dada, pemuda itu masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar.

"Jangan terlalu cepat, tunggu aku. " pinta Pek si

hiang sambil merangkul lengan pemuda itu.

Lim Han kim agak tertegun, tapi dengan cepat dia telah balas merangkul lengan kanan Pek si hiang.

"Berjalanlah pelan-pelan, makin lambat makin baik," pesan Pek si hiang, kemudian pelan-pelan ia sandarkan kepalanya di atas bahu anak muda tersebut.

Bau harum semerbak yang aneh segera menyusup ke dalam hidungnya, sekalipun mereka berada dalam situasi yang berbahaya dan penuh ancaman maut, namun sikap gadis tersebut mendatangkan juga perasaan hangat dan mesra di hati kecil Lim Han kim.

Dengan nada yang amat serius Peksi-hiang berbisik: "Jarak dari pintu gerbang sampai di rumah utama itu kurang lebih tiga tombak. Kau harus mencapai tempat tersebut dalam dua ratusan langkah, sementara berjalan aku akan membisikkan sesuatu kepadamu. "

"Apa yang hendak kau sampaikan?" sela Lim Han- kim.

"Ko-koat (teori) dari delapan jurus ilmu pedang naga sakti beserta cara penggunaannya . "

Lim Han- kim merasa sangat tegang, pikirnya: "Mana mungkin aku bisa menghapalkan jurus pedang yang begitu rumit dalam waktu sesingkat ini?"

Tapi ia tak punya kesempatan lagi untuk berbicara karena Pek si- hiang sudah mulai mewariskan ilmu pedang tersebut kepadanya

Ketika si hakim sakti Ciu Huang mewariskan jurus pedang naga sakti kepadanya di belakang kuil awan hijau tempo hari, ia hanya diajarkan jurusnya tanpa diterangkan cara penggUnaan serta bagaimana perubahannya dalam menghadapi serangan musuh. walaupun begitu ia sudah mempunyai landasan yang cukup kuat dalam ilmu pedang tersebut, karenanya setelah diterangkan Pek si- hiang secara terperinci sekarang, ia dapat menangkap serta memahaminya dalam waktu singkat.

saat-saat seperti ini membuat pemuda tersebut mau tak mau harus pusatkan segenap perhatiannya pada pelajaran itu la jadi lupa kalau dirinya sedang berada dalam posisi bahaya dan musuh tangguh mengepung di sekelilingnya. suara tertawa dingin bergema dari balik kegelapan, sementara bayangan manusia berkelebat kian ke mari, pelan-pelan Pek si-hiang pejamkan matanya, dia seakan-akan sedang mabuk kepayang dalam pelukan Lim Han-kim. sebaliknya anak muda itu seakan-akan menaruh perasaan yang amat sayang kepada sang nona sehingga tak punya minat memperhatikan tempat lain, segenap perhatiannya tercurahkan pada kekasihnya.

siapa pula yang mengira di balik sikap mesra muda mudi itu sesungguhnya ada sisi lain yang begitu serius, yang lelaki mendengarkan pelajaran dengan seksama sedang yang wanita mewariskan rahasia ilmu pedang ting kat tinggi kepada rekannya.

Tiba-tiba terlihat canaya api berkelebat dua batang lilin telah disulut dalam ruang pertemuan yang lebar itu waktu itu Lim Han- kim hanya merasakan pandangan matanya silau, namun ia tak sempat cabang-kan pikiran untuk memperhatikan. suara bentakan yang amat keras bergema memecahkan keheningan: "Benar-benar seorang laki perempuan yang tak tahu malu, Di depan umum dan pandangan banyak orang, kalian berani menunjukkan sikap yang begitu memuakkan"

Bentakan itu sangat nyaring dan keras apalagi diteriakkan di tengah keheningan malam, suaranya bergema sampai jauh sekali, namun Lim Han- kim dan Pek si- hiang yang berada di hadapannya ternyata tidak menggubris, seolah-olah sama sekali tidak mendengar hardikan tersebut

Tampak cahaya api kembali berkelebatan secara beruntun di dalam ruangan itu telah disulut dua belas batang lilin besar, Dalam waktu singkat seluruh ruangan pertemuan itu telah bermandikan cahaya, begitu terang benderang sampai jarum di lantaipun dapat terlihat dengan jelas.

Ketika Pek si- hiang sudah selesai menerangkan jurus yang terakhir, tiba-tiba ia melompat bangun dan meninggalkan pelukan Lim Han- kim.

suara tertawa yang amat dingin dan menyeramkan sekali lagi berkumandang membelah angkasa: "sudah banyak pasangan kekasih yang kutemui dan kujumpai, tapi belum pernah kusaksikan ada orang yang begitu berani macam kalian berdua, menganggap manusia di sekitarnya sebagai tonggak kayu.." "Paling tidak kau telah menyaksikan pada malam ini bukan?" sambung Pek si-hiang

sambil tertawa dan membetulkan rambutnya yang kusut. Diiringi suara tertawa yang merdu, dia melangkah masuk ke dalam ruang pertemuan itu.

Dengan langkah lebar Lim Han- kim segera menyerobot masuk lebih dulu ke dalam ruangan dan menghadang di depan Pek si-hiang. Di hadapannya kini telan berdiri seorang kakek berbaju kuning yang mempunyai perawakan tinggi besar,jenggotnya yang panjang berwarna putih terurai di depan dadanya.

Kakek itu berwajah dingin dan serius, pada lengannya terdapat sebuah rak besi, di atas rak itu bertengger dua ekor burung aneh berwarna abu-abu tua.

Dengan perasaan tertegun Lim Han-kim segera berpikir. 'Jangan-jangan yang meng-gampar pipi kiriku barusan adalah satu di antara dua ekor burung itu'

sementara dia masih termenung, kakek berbaju kuning itu telah mengumpat dengan suara dingin: "Benar-benar seorang budak yang tak tahu malu"

"Kalau belum tahu duduk persoalan yang sebenarnya, lebih baik hati-hati kalau berbicara" tegur Lim Han-kim penuh kegusaran Kemudian sinar matanya mulai memeriksa sekeliling tempat itu, pada dua sisi ruangan itu berdiri berjajar dua baris manusia berbaju hitam yang semuanya berjumlah dua puluh empat orang.

Kawanan manusia itu rata- rata mengerudungi wajah masing-masing dengan kain hitam sehingga yang terlihat hanyalah sepasang mata mereka yang bersinar.

Kakek berbaju kuning itu merupakan satu-satunya orang yang tidak mengenakan kain kerudung muka. Kendatipun air muka itu dingin dan kaku namun rasanya jauh lebih sedap dipandang ketimbang yang lain.

Terdengar ia berkata lagi dengan suara dingin: "Walaupun aku merasa kurang berkenan menyaksikan urusan pribadi kalian berdua, tapi aku malas untuk mencampurinya."

"Hmmm, mampukah kau mencampurinya?" jengek Pek si- hiang sambil tertawa mengejek.

"siapa bilang aku tak mampu mencampurinya?" teriak kakek berbaju kuning itu gusar. "Berani lancang sekali lagi, jangan salahkan kalau kucukil mata kalian untuk makan burung- burungku. Hmmm Akan kulihat mampukah kalian bermesraan lagi." Pek si- hiang tertawa.

"Wajahnya, suaranya serta perawakan tubuhnya sudah tertera sangat mendalam di lubuk hatiku, tanpa memandangnya secara langsung pun aku tetap bisa membayangkan dirinya, Kami masih punya mulut untuk saling meluapkan perasaan hati, kami pun masih punya tangan untuk berpelukan-"

"Akan kupotong sepasang lenganmu dan memotong lidahmu" teriak kakek berbaju kuning itu semakin gusar.

"ltupun tak menjadi soal, perasaan kami telah saling berhubungan satu dengan lain-nya, biar dipisahkan sejauh selaksa lipun kami merasa seakan-akan tetap bersatu."

saking gusarnya kakek berjUbah kuning itu berkaok- kaok keras: "Aku akan mencincang tubuhmu sehingga hancur menjadi bubur daging Akan kulihat apa yang bisa kau perbuat?"

"sekalipun kau berhasil mencincang tubuhku hingga hancur berkeping-keping, tapi apa gunanya? cinta kami tak akan putus lantaran kematian, tidak seperti kau, sudah hidup setua ini tapi tetap hidup sebatang kara.

Aku yakin selama hidup tak akan ada seorang wanita pun yang menyukaimu. Kalau hidup tanpa kegembiraan apa bedanya dengan mati?"

Kakek berbaju kuning itu tertegun, tiba-tiba nada pembicaraannya berubah jadi lembut sekali, katanya: "Tak kusangka nyalimu begitu besar, berani amat bermusuhan dengan diriku?" Pek si- hiang tertawa pula, sambil membenahi rambutnya ia berkata: "Ehmmm... selama ini aku belum mengumpatmu, hal ini sudah termasuk amat sungkan kepadamu."

"Yaa sudahlah, aku tak akan menyalahkan dirimu lagi. "

setelah berhenti sejenak. kembali kakek itu menambahkan: "Kau kah yang mengatur barisan anti Ngo-heng di seputar kuburan Liat hu-bong ini?"

"Kalau benar lantas kenapa?"

"Kau benar-benar hebat Tapi antara aku dengan dirimu ibarat air sumur yang tidak melanggar air sungai, kenapa kau mesti bermusuhan dengan kami?"

"Apa pula salahnya para jago dari kolong langit?" seru Pek si-hiang. "Kenapa kalian tega membiarkan mereka saling membunuh?"

" Kalau didengar dari nada pembicaraan-mu, rupanya kaulah Pemilik bunga bwee?" sambung Lim Han-kim.

"Dia bukan tokoh tersebut" tukas Pek si- hiang tertawa, "cukup dilihat gaya berbicara serta gerak geriknya, kita bisa menyimpulkan bahwa orang ini tak lebih dari seorang budak" Dalam perkiraan Lim Han-kim, ucapan Pek si- hiang ini pasti akan membangkitkan hawa amarah kakek berbaju kuning itu Kalau dilihat dari sinar matanya yang tajam, jelas tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, itu artinya serangan yang dilepaskan dalam keadaan gusar pasti mempunyai daya perusak yang luar biasa hebatnya.

Padahal Pek si- hiang begitu lemah, bagaimana mungkin ia sanggup membendung serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini? Berpendapat begitu, diam-diam tenaga dalamnya segera dihimpun dan siap sedia melakukan perlawanan.

siapa sangka apa yang terjadi sama sekali di luar dugaannya, Bukan saja kakek berbaju kuning itu tidak gusar, dia malah tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha... kau si bocah perempuan benar-benar cerdik sekali. siapa pun yang bisa menjadi budaknya majikan kami, ia pasti akan merasa amat bangga sebab kemampuannya berarti mampu menjagoi seluruh dunia persilatan"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Lim Han-kim mengumpat: "Dasar jiwa budak. bukan merasa jengah malahan bangga dengan makian itu, benar-benar tak punya harga diri,."

sementara itu Pek si- hiang telah berkata lagi sambil tertawa: "Bila dilihat dari gaya serta gerak gerikmu, meski jadi budak orang, paling tidak kau tentu menjadi pentolannya kaum budak. "

"Aku adalah pelindung majikan kami" tukas kakek berbaju kuning itu cepat. "Lebih baik nona bicara dengan bahasa yang lebih enak didengar, budak. budak melulu,

sungguh taksedap didengar"

"Apabila Pemilik bunga bwee yang memanggilmu sebagai budak. beranikah kau menegurnya sebagai kata- kata yang tak sedap didengar?" ejek Pek si-hiang tertawa.

Kakek berbaju kuning itu mendengus dingin: "Hmmmm jika majikan kami yang memanggil, tentu saja lain ceritanya."

"Baiklah, kita tak usah membicarakan soal ini lagi, Majikan kalian telah mengutus orang untuk mengundang kami ke mari, sebenarnya apa kehendaknya? Gaya sambutan semacam ini sudah lebih dari cukup bagiku, jadi tak usah bergaya lebih lanjut "

"seandainya majikan kami tidak bermaksud menjumpai kalian berdua, dengan sikap jumawa dan takabur kalian berdua sekarang, sudah lebih dari cukup alasan bagi kalian berdua untuk mampus"

Pek si- hiang tertawa, "Majikanmu sengaja mengundang kami datang ke mari, ini berarti kami terhitung tamu agungnya, siapa tahu ia bisa cocok dengan kami dalam pembicaraan nanti, sebelum posisi kami jelas sebagai musuh atau teman, lebih baik bersikaplah lebih sopan dan sungkan terhadap kami, daripada setelah kami menjadi sahabat karib majikan kalian, kau akan menyesal sepanjang masa"

Kakek berbaju kuning itu tertegun, tiba-tiba ia membungkukkan badan memberi hormat seraya berkata: "silahkan duduk" Pek si- hiang menyapu sekejap sekeliling tempat itu Ketika tidak melihat meja dan bangku, segera serunya seraya tertawa: "Tampaknya kau sudah pikun saking kaget-nya, kau suruh kami duduk di mana...?"

"Aku benar-benar bingung dibuatnya, seingatku belum pernah majikan kami terima tamu."

Ia memandang sekejap dua baris manusia berbaju hitam yang berdiri berjajar di kedua belah sisi ruangan itu, lalu serunya: "Sediakan bangku"

Terdengar suara langkah kaki bergema tiba, dua orang bocah berbaju serba merah muncul membawa bangku, Kedua orang bocah itu tidak mengenakan topeng sehingga wajahnya yang tampan kelihatan jelas, usianya antara empat lima belas tahunan, hanya pada jidat

mereka tertera lambang bunga bwee yang amat jelas. Bergidik juga perasaan Lim Han-kim menyaksikan kejadian tersebut, pikirnya: "Pemilik bunga bwee betul- betul seorang tokoh yang kejam dan berhati buas.

Dengan menerakan cap bunga bwee pada jidat anak buahnya, maka seandainya anak buah itu menghianatinya dan melarikan diri, tak mungkin orang itu berhasil menghapus lambang tadi dari wajahnya kecuali kalau kulit wajahnya disayat sama sekali. Bagi

orang awam, daging wajah yang disayat pasti mendatangkan penderitaan yang luar biasa, belum lagi cacad seumur hidup yang harus ditanggungnya "

sementara ia masih termenung, kakek berbaju kuning itu telah berkata lagi: "silahkan duduk. masih harus menunggu sesaat lagi sebelum majikan kami bisa tampil menyambut kalian."

"Benar-benar besar gaya orang ini. " umpat Lim Han-

kim dalam hati, Meskipun merasa tidak puas, namun ia tetap menahan diri untuk tidak diutarakan keluar, sedangkan Pek si- hiang telah menyahut sambil tertawa hambar: " Lebih lambat ia berjumpa dengan kami, berarti satu bagian kemungkinan bagi kami untuk meraih kemenangan Tak jadi soal, kami bisa menunggunya dengan sabar sekali."

Tergerak hati si kakek berbaju kuning itu setelah mendengar perkataan gadis ini, serunya: "Bolehkah aku menanyakan satu persoalan?" "Katakan"

"Kau bilang makin lambat bertemu dengan majikan kami, maka kalian semakin ada harapan meraih kemenangan Aku tidak , mengerti dengan maksud ucapanmu itu, Boleh aku tahu arti yang sesungguhnya?"

"oooh... rahasia di balik ucapan itu sebenarnya sederhana sekali kalau sudah diungkapkan, lebih baik tak usah kujelaskan" Berbeda dengan kakek berbaju kuning itu, Lim Han-kim memahami dengan jelas maksud ucapan Pek si- hiang itu, jelas gadis itu minta kepadanya memanfaatkan kesempatan yang ada untuk makin memperdalam pengetahuan tentang delapan jurus ilmu pedang naga sakti itu beserta cara penggunaannya dalam menghadapi lawan. Maka ia pun pejamkan matanya tanpa bergerak lagi.

sepintas lalu orang mengira dia sedang mengatur napas, padahal yang benar otaknya sedang diperas untuk mengingat-ingat semua perubahan jurus pedang yang baru dipelajarinya itu.

Tiba-tiba terdengar bunyi musik bergema tiba, Dua baris manusia berbaju hitam yang berdiri berbanjar itu segera mundur dari ruangan tersebut secara teratur, disusul kemudian kedua belas batang lilin yang memancarkan sinar terang itu padam semuaseketika. suasana di dalam ruangan pertemuan itu pun kembali berubahjadi gelap gulita. Dengan suara rendah kakek berbaju kuning itu segera berbisik: "sebentar lagi majikan kami akan muncul di sini, lebih baik nona menyambut kedatangannya dengan sikap hormat "

"Tak usah kau pikirkan, lebih baik cepatlah mundur dari sini"

"Hmmm Benar-benar budak yang tak tahu diri.." umpat kakek berbaju kuning itu sambil mendengus dingin- Mengikuti di belakang dua baris manusia berbaju hitam itu, dia mengundurkan diri pula dari ruangan itu.

Menunggu kakek berbaju kuning itu sudah keluar dari pintu ruangan, dua orang bocah berbaju merah itu segera mengeluarkan selembar kain hitam dari sakunya dan digantungkan di depan pintu, suasana dalam ruanganpun berubah jadi makin gelap.

Pelan-pelan Lim Han-kim berjalan mendekati Pek si- hiang, lalu bisiknya: "Nona Pek, permainan setan apa yang sedang mereka siapkan?"

"Entahlah, meskipun mereka termasuk anak buah Pemilik bunga bwee, aku duga tak seorang pun di antara mereka yang pernah berjumpa dengan majikan Pemilik bunga bwee itu"