Pedang Keadilan I Bab 32 : Bunga Bwee Putih

 
Bab 32. Bunga Bwee Putih

Dengan cepat pemuda itu memberi hormat, lalu ujarnya: "Aku merasa berterima kasih sekali dengan maksud baik nona, tapi aku benar benar tidak mempunyai persoalan yang menyusahkan diriku, Tentang pertolonganku atas diri nona, aku telah menerima balasannya dengan penyembuhan lukaku. Nah, aku mohon diri lebih dulu."

"Tolong tunggu sebentar" seru gadis berbaju putih itu sambil menghela napas. "Perkataanku belum selesai kuutarakan."

Sambil berhenti dan berpaling Lim Han kim bertanya: "Nona, apa yang hendak kau sampaikan? cepat katakan sebab aku harus secepatnya pergi dari sini."

"Kepandaian silat yang kau miliki jauh lebih tangguh daripada kepandaian kami, untuk melindungi keselamatan kami bertiga memang lebih dari cukup, Tapi kau belum sanggup menandingi kehebatan ilmu silat para jago yang sekarang berkumpul di rumah makan Kun eng lo..."

Setelah mengatur napasnya yang tersengal, kembali lanjutnya: "situasi pada saat ini sudah jelas sekali Kita sudah berada dalam posisi harus bersatu padu, dalam hal ini aku yakin kau tentu sudah mengerti bukan." Lim Han kim tertegun, serunya cepat: "Tolong dijelaskan Lebih jauh."

"Dengan mengandalkan kepandaianmu dan kecerdasanku tidak susah bagi kita berdua untuk melakukan suatu pekerjaan besar di kota si ciu. Kesempatan semacam ini jarang sekali dijumpai Aku harap kau berpikir tiga kali sebelum mengambil keputusan."

"Tujuanku kemari hanya ingin mencari orang, bukan berniat mencari nama besar dalam dunia persilatan"

"Beritahu kepadaku, siapa yang sedang kau cari?" "Adikku"

"Kalau kulihat dari alis matamu yang berkerut, rupanya kau sudah tak sabar lagi melayani pembicaraanku"

"Aku kuatir temanku menunggu lama, maka aku mesti secepatnya kembali ke tempat semula."

"Kalau kulihat dari niatmu yang begitu besar untuk pergi, tampaknya susah bagiku untuk menahanmu lagi. Aaai... Kita memang belum pernah berkenalan sebelumnya, tapi atas budi kebaikanmu yang telah selamatkan jiwa kami, baiklah, kuputuskan untuk menunggumu selama tiga hari di tanah kubur Liat hu bong ini. Dalam tiga hari ini, apabila kau menjumpai masalah yang sulit dipecahkan, atau mungkin rindu kepadaku, datanglah setiap saat kemari"

Ia berbatuk-batuk sejenak. kemudian setelah mengatur napas tambahnya: "Selewatnya tiga hari kau tak usah datang kemari lagi, sebab selama hidup mungkin kita tak ada kesempatan lagi untuk saling berjumpa."

Sesungguhnya dalam benak Lim Han kini terdapat banyak sekali persoalan rumit yang ingin ditanyakan kepadanya, hanya saja ia selalu didahului gadis tersebut yang menyebabkan dia merasa harga dirinya telah dilangkahi.

Dengan wataknya yang tinggi hati. tentu saja timbul kekuatan membangkang yang sangat kuat yang membuat pemuda ini segan banyak bertanya, Ditambah lagi ia menguatirkan keselamatan Han si kong, hal mana membuat niatnya untuk kembali ke kota si ciu semakin kuat, Dia segera memberi hormat sambil ujarnya:

"Akan kuingat baik- baik pesan nona ini,jika menjumpai masalah pelik, dalam tiga hari mendatang aku tentu datang lagi kemari untuk minta petunjuk." selesai bicara dia tinggalkan ruangan itu dan berlalu dengan langkah lebar.

Setelah keluar dari kompleks tanah pekuburan Liat hu bong sejauh dua tiga li, dari kejauhan ia saksikan dua orang lelaki bersenjata golok panjang yang aneh sekali bentuknya sedang mengerubuti seorang lelaki cebol bersenjata ruyung. pertarungan berlangsUng sengit sekali.

Di bawah keroyokan dua bilah golok panjang itu, si lelaki cebol tersebut benar-benar keteter hebat dan tak sanggup lagi melancarkan serangan balasan, posisinya berbahaya sekali.

Sambil memutar ruyungnya dengan sekuat tenaga untuk membendung serangan dua orang itu, si cebol berteriak tiada hentinya: "Hei, sudah gilakah kalian berdua? Masa akupun sudah tidak kau kenal lagi?"

Lim Han kim mencoba memperhatikan mereka dengan seksama. Betul juga ia menjumpai dua orang lelaki bersenjata golok aneh itu melototkan matanya tanpa berkedip. gerak geriknya macam orang yang kehilangan kesadaran. Agaknya mereka sudah terkena obat pemabuk atau kesurupan setan.

Sesungguhnya gerak gerik kedua orang lelaki itu tidak terlalu lincah, tapi berhubung serangan gabungan mereka begitu ketat dan hebat, kerjasama sepasang golok mereka pun amat rapat sehingga mendatangkan kekuatan yang maha dahysat, maka si cebol yang terkurung di tengah lapisan cahaya golok itu tak sanggup meloloskan diri. Lim Han kini mencoba memperhatikan situasi ia percaya tak sampai sepuluh gebrakanvlagi lelaki cebol ituvpasti akan terluka di tangan kedua orang lelaki kekar itu. Diam-diam ia pun berpikir: "Mimik muka dua orang lelaki kekar itu menunjukkan gelagat tidak beres, kalau kudengar dari teriakan si cebol itu, jelas kedua orang itu sangat dikenal, tapi tempat mereka menyerang terus secara membabi buta "

Berpikir sampai di sini, tubuhnya menerjang ke muka secara tiba-tiba, Sebuah pukulan langsung dilontarkan menghajar golok panjang di tangan lelaki kekar itu.

Kebasan yang amat kuat ini seketika memaksa gerak golok lelaki itu miring ke samping. Namun sebelum pemuda itu berhasil merontokkan senjata dari genggamannya,

Tiba-tiba dari sisi lain telah menyambar sebuah bacokan yang langsung membabat pergelangan tangannya.

Ternyata kerjasama permainan golok dua orang lelaki ini sangat ketat dan hebat, Mereka saling membantu dan saling menolong, Ketika serangan Lim Han kim mendesak permainan golok lelaki itu, lelaki yang, lain secara otomatis melancarkan sergapan untuk menolong rekannya. Lim Han kim segera merendahkan lengannya ke bawah untuk menghindari bacokan tersebut, kemudian sebuah tendang an dilontarkan-

Lelaki itu mengegos ke samping, sebuah bacokan kilat kembali dilepaskan ke tubuh lawan.

Walaupun beberapa jurus serang dari Lim Han kim ini belum berhasil merampas senjata dua orang itu, namun serangannya berhasil membuyarkan kerja sama kedua orang itu yang sangat ketat Menggunakan kesempatan inilah si cebol itu menarik kembali senjata ruyungnya dan mundur dari arena pertempuran.

Dengan mundurnya lelaki cebol itu, serangan dari dua orang lelaki kekar itu segera tertuju seluruhnya ke tubuh Lim Han kim, permainan golok mereka berdua memang tangguh sekali, terutama cara kerja-sama mereka, Ditambah lagi serangan dari Lim Han kim bukan bermaksud mencelakai lawan lawannya, hal ini justru membuat posisinya menjadi sangat tidak menguntungkan.

Dalam waktu singkat cahaya golok yang berkilauan seperti cahaya saiju itu telah membentuk selapis jaring golok yang mengurung Lim Han kim di tengah arena,

Dalam kesempatan itu si cebol yang berhasil meloloskan diri dari kepungan segera berdiri pada jarak dua tiga kaki dari sisi arena sambil mengatur pernapasan Ternyata ia tidak berniat turun tangan membantu Lim Han kim dalam menghadapi dua orang lelaki kekar itu.

Begitulah ketika serangkaian serangan gencar dari dua orang lelaki itu sudah ber-lalu, tiba-tiba saja Lim Han kim melancarkan serangan balas an secara beruntun dia la ncarkan tiga jurus ancaman yang segera merebut kembali posisinya.

Kini ia sudah cukup merasakan kelihaian ilmu golok dua orang lelaki itu, maka ia tak berani bertindak gegabah lagi. Jurus- jurus maut segera dilontarkan untuk mendesak lawan lawannya.

Setelah bertarung cukup lama, kondisi fisik dua orang lelaki itu sudah lemah sekali, tentu saja mereka tak sanggup membendung serangkaian serangan Lim Han kim yang maha dahsyat itu, Tak selang berapa saat kemudian jalan darah kedua orang itu sudah ditotok oleh anak muda kita dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Berhasil merobohkan kedua orang lawannya, Lim Han kim berpaling memandang si cebol itu sekejap. Tampak napasnya masih tersengal-sengal, Tampaknya sicebol itu belum berhasil memulihkan kembali tenaganya.

Melihat itu sambil mendengus dingin Lim Han kim menegur: "Lebih baik kau tak usah berlagak pilon" Merah jengah selembar wajah lelaki cebol itu, buru- buru katanya: "Saudara ada petunjuk apa?"

Rupanya lelaki cebol itu sudah berhasil mengatur pernapasannya semenjak tadi, tapi karena dia licik maka lelaki itu segan turun tangan untuk membantu, Maka ketika dilihatnya Lim Han kim berhasil merobohkan dua orang lelaki kekar itu lalu berpaling ke arahnya, karena takut Lim Han kim menegurnya lantaran tidak membantu, maka dia pura-pura berdiri dengan napas tersengal, maksUdnya agar pemuda itu mengira kondisi tubuhnya belum pulih kembali sehingga tak sanggup memberi bantuan

Dengan ketajaman mata Lim Han kim, sudah barang tentu ia mengetahui kelicikan orang ini, diam-diam umpatnya di dalam hati: "Sialan benar orang ini, tahu dia licik dan tak tahu aturan, tak nanti aku turun tangan membantunya "

Dasar masih muda dan kurang pengalaman tanpa sadar perasaan tak senangnya itu segera terlintas di wajahnya.

Sebaliknya si cebol itu meski licik, bagaimanapun antara mereka berdua tak pernah saling kenal sementara orang lain telah membantunya lolos dari bahaya maut Maka setelah rahasianya ketahuan, tak kuasa lagi wajahnya berubah jadi merah jengah. Bagaimana pun ia sudah cukup berpengalaman dia lam dunia persilatan- Untuk melenyapkan situasi yang serba rikuh itu, buru- buru dia mengalihkan pembicaraan ke masalah lain-

"Apakah kedua orang itu adalah sahabat-mu?" tanya Lim Han kim dengan nada ketus.

Si cebol tertawa paksa, sahutnya: "Aku bernama si tikus tanah ciu Sut, sedang dua orang ini adalah lo liok dan lo jit dari tujuh sesat Leng pat jit sat. Kami sudah lama saling berteman."

Lim Han kim segera berpikir lagi: "Entah kejadian besar apa yang tengah beriangsung di kota Si ciu, kenapa begitu banyak tokoh persilatan berkumpul di sini. " Di luar ia mendesak lagi dengan dingin:

"Kalau memang sahabat karib, kenapa kalian saling beradu jiwa?"

Sejak kepura-puraannya terbongkar tadi, si tikus tanah ciu Sut tak berani bicara bohong lagi, segera menjawab: "Mereka berdua sudah kena ilmu sesat dari siluman perempuan itu,sehingga tanpa perduli aku adalah sahabat karibnya, ingin membunuhku."

"Aaah, mungkin terkena obat pemabuk, mana mungkin di dunia ini ada ilmu sesat?" ciu Sut segera menggelengkan kepalanya berulang kali,

"Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri semua peristiwa itu, Ketika sorot mata mereka beradu bertemu dengan pandangan siluman perempuan itu, kesadaran mereka seketika kalut dan tidak terkontrol, bahkan menyerangku secara habis-habisan, Kalau bukan terkena ilmu sesat, lantas apa ?

Satu ingatan segera melintas dalam benak Lim Han kim, kembali tanyanya: "Lalu berada di manakah siluman perempuan itu sekarang?"

"ltu dia, dalam ruang batu di samping kuburan Liat hu bong."

"Aaaah, pasti nona berbaju putih itu yang dimaksudkan," pikir Lim Han kim dalam hati.

Ketika ia membayangkan kembali ucapannya yang tajam dan setiap katanya yang menggetar sukma, tiba- tiba saja pemuda itu merasa agak percaya bahwa gadis itu betul-betul bisa meramal nasib. Tapi di luar ia bertanya seolah-olah tak percaya: "Aah, masa ada kejadian seperti itu?"

Waktu itu si Tikus tanah Ciu sut sudah dapat menilai keadaan Lim Han kim. Meskipun ilmu silat yang dimilikinya amat tangguh namun pengalamannya dalam dunia persilatan masih sangat minim, maka dia pun mengibul: "Kalau kulihat Cara yang dipergunakan siluman perempuan itu, rasa-rasanya mirip sekali dengan ilmu hipnotis atau ilmu pembetot sukma. Kepandaian semaCam ini bersumber dari Tibet dan tidak banyak yang menguasai kepandaian tersebut di daratan Tionggoan ini, Kebetulan sekali aku justru memiliki ilmu untuk memunahkan pengaruh ilmu iblis tersebut."

Dari Cerita gurunya, Lim Han kim pernah juga mendengar tentang ilmu pembetot sukma ini, tapi karena tak banyak orang persilatan yang menguasai kepandaian tersebut sehingga dunia persilatan jarang dijumpai jago silat yang menggunakan ilmu ini.

Gurunya tak pernah menjelaskan lebih dalam, maka ketika ia mendengar Cui sut mempunyai ilmu penangkalnya, tak kuasa lagi tanyanya: "Bagaimana Caranya me-nangkal ilmu itu?"

Ciu sut tidak langsung menjawab. Dalam hati ia berpikir "setelah totokan jalan darah kedua orang itu bebas nanti, aku tak tahu apakah kesadaran mereka akan pulih atau tidak. Lebih baik jawabanku agak ber- hati-hati. "

Karena berpikir begitu, maka sahutnya: "llmu penangkal ini sangat aneh dan sakti, tidak gampang untuk mempelajarinya.."

Melihat orang itu jual mahal, rasa ingin tahu Lim Han kim lenyap seketika, tak tahan lagi katanya: "Yaa sudahlah, aku hanya bertanya tanpa maksud apa-apa." Ciu sut memandang sekejap dua orang lelaki yang tergeletak di tanah itu, kemudian pintanya: "Coba kau bebaskan totokan jalan darah mereka, coba kita lihat apakah kesadarannya bisa pulih atau tidak."

Rupanya Ciu sut telah melihat cara totokan Lim Han kini yang sangat aneh, Karena kuatir totokannya gagal membebaskan totokan kedua orang itu, maka dia sengaja menghasut dengan ucapan sehingga dirinya tak perlu turun tangan sendiri

Tanpa banyak bicara Lim Han kim mengayunkan sepasang tangannya berulang kali menutuk bebas pengaruh totokan pada tubuh kedua orang lelaki kekar itu.

Ciu sut kuatir Lim Han kim mendesaknya lebih lanjut, buru-buru dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tegurnya: "saudara Long, saudara siang, apakah kalian berdua sudah merasa agak baikan?"

Dengan membelalakkan matanya dua orang lelaki kekar itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil menjura kepada Ciu sut, tanyanya: "Saudara Ciu, mana nona itu?"

Ciu sut tertawa dingin, "Hmmm.. hmmmm... masih bisa menanyakan nona itu? Tahukah kalian serangan gabungan kamu berdua nyaris membinasakan diriku, hingga kini aku masih bisa hidup dengan segar bugar, Hal ini sudah merupakan suatu keberuntungan besar."

Tampaknya dua orang lelaki kekar itu sama sekali tak memiliki ingatan terhadap peristiwa barusan, Mereka saling bertukar pandang sekejap. lalu lelaki yang ada di sebelah kanan berseru: "Aaaah, masa ada kejadian seperti itu? Aku benar-benar tidak habis mengerti, Tapi setelah saudara Ciu menyinggung kembali, aku jadi teringat pula tatkala kucabut golokku tadi. "

Mereka berdua sama-sama berusaha mengumpulkan kembali semua pikiran dan ingatannya untuk mengenang kembali apa yang telah terjadi satu demi satu.

Setelah menyaksikan tingkah laku kedua orang ini, kecurigaan dalam hati Lim Han kim lenyap seketika, pikirnya: "Kalau ditinjau dari kejadian ini, rasanya apa yang diucapkan si nona tadi bukan isapan jempol belaka, Kalau betul di dunia ini terdapat ilmu semacam itu, ada baiknya aku harus belajar ilmu penangkalnya, sehingga dengan begitu bila bertemu kejadian yang sama, aku bisa menggunakan untuk melindungi diri sendiri. "

Berpikir sampai di situ ia pun mendesak: "Hei, bukankah kau mengatakan tadi mengerti ilmu penangkal dari ilmu pembetot sukma itu? Bagaimana sih menangkalnya?" Setelah melihat kesadaran kedua orang rekannya pulih kembali, keberanian ciu sut ikut membesar pula .

"Oooh... soal itu?" katanya, "Kau anggap aku boleh mewariskannya kepada sembarang orang?"

Berubah paras muka Lim Han kim. ingin sekali dia mengumbar hawa amarahnya, namun tiba-tiba saja satu ingatan melintas, lewat, pikirnya: "Yaa, ilmu semacam itu biasanya ilmu rahasia, tentu saja aku tak boleh memaksa dia untuk mewariskan kepadaku"

Dia pun tidak bertanya lebih lanjut, Tanpa banyak cakap lagi ia berlalu meninggalkan tempat tersebut ia kuatir Han si kong menjadi panik karena lenyapnya dia, maka sepanjang jalan ia berlari cepat sekali menuju ke rumah makan Kun eng lo.

Benar juga, waktu itu Han si kong sedang panik sekali macam semut di kuali panas, begitu melihat Lim Han kim muncul kembali, ia segera menghembuskan napas lega sambil mengeluh: "saudara cilik, kau benar- benar membuat hatiku panik sekali, Ke mana sih kau pergi?"

Lim Han kim tertawa hambar

"Aku telah menjumpai sedikit kerepotan sehingga terbuang banyak waktu dengan percuma. Bagaimana hasil perjalananmu saudara Han, sudah berjumpa dengan si gelang emas panji sakti Chin Hui hau?" Ia segan menceritakan perbuatannya menolong gadis berbaju putih itu, tapi juga tak terbiasa berbohong, maka satu-satunya jalan adalah mengalihkan pembicaraan kesoal lain. Tampak Han si kong manggut-manggut dengan wajah serius: "Yaa,aku sudah bertemu. "

"Jadi kau berhasil mendapat berita tentang saudaraku itu?" desak Lim Han kim lebih jauh dengan gelisah.

"Titik terang sih ada sedikit cuma kurang begitu jelas, sekarang chin cong piautau telah mengutus orang untuk melacak jejaknya.,,."

Kemudian setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih jauh: "Saudara cilik, dewasa ini kota si ciu sudah menjadi tempat berkumpulnya para jago, Tokoh-tokoh tangguh dari pelbagai perguruan dan partai besar telah tiba semua di sini. Menurut berita dari Chin cong piautau, konon pihak istana panca racun serta Hian hong kau pun telah mengirim jagoannya kemari. Malahan si dewa jinsom Phang Thian hua yang jarang mencampuri urusan dunia persilatan pun telah hadir sendiri kemari, Menurut perhitungan mungkin malam ini sudah sampai di kota si ciu. Boleh dibilang keadaan si ciu sekarang merupakan sarang naga gua harimau. Hawa pembunuhan semerbak di mana-mana, terutama sekali rumah makan Kun eng lo. Di sinilah para jago dari pelbagai perguruan saling beradu akal dan tenaga. Untung sekali buat kita, Chin cong piautau telah mengundang kita untuk pindah saja ke dalam perusahaan sin bu piau-kioknya dan tinggal selama beberapa hari di-sana."

"Aku kurang begitu kenal dengan chin cong piautau, rasanya kurang leluasa jika kita harus menginap di perusahaan sin bu piaukiok itu."

"Chin Hui hau adalah sobatku selama banyak tahun, ia periang, terbuka dan suka bergaul. Untuk melacak jejak adikmu kita. masih dapat mengandalkan bantuannya.

Ada baiknya kau berkenalan dulu sehingga urusan di kemudian hari jauh lebih leluasa."

"Ehmm... betul juga perkataan ini," pikir Lim Han kim dalam hati, maka ujarnya kemudian. "Kalau saudara Han menganggap cara ini paling baik, mari, kita berangkat sekarang juga."

"Betul, urusan ini memang tak bisa ditunda lagi. Ayo, sekarang juga kita berangkat"

Ketika mereka berdua keluar dari halaman, tampak arus manusia yang berlalu lalang amat sesak. Mereka semua berdandan sebagai jago silat, bahkan tidak sedikit yang baru tiba sehingga suara manusia dan ringkikan kuda bercampur aduk tak karuan, suasana amat gaduh.

Lim Han kim berjalan mengikuti di belakang Han si kong. Baru saja keluar daripintu rumah makan, mendadak tubuhnya ditumbuk orang. Setelah berkelana sekian hari, pengalaman pemuda ini sudah bertambah banyak. dengan perasaan penuh waspada ia segera berpaling. Tampak orang itu adalah seorang lelaki berjubah sastrawan yang membawa sebuah kipas, waktu itu ia sedang berjalan dengan langkah sempoyongan

Dengan cepat pemuda itu memeriksa sa-kunya, pedang Jin siang kiam ternyata masih utuh disana, sedangkan benda lain pun tidak ia miliki, karena itu dengan lega pemuda tersebut melanjutkan langkahnya.

Perusahaan sin bu piau kiok berada dijalan raya sebelah barat kota si ciu, halaman depannya sangat luas, bangunannya jauh lebih megah ketimbang rumah makan Kun eng lo.

Baru saja Han si kong melangkah masuk ke dalam pintu gerbang, si gelang emas panji sakti Chin Hui hau telah mendapat laporan dan menyambut sendiri kedatangan mereka.

Orang ini benar-benar matang dalam pergaulan dan pengalaman dunia persilatan tidak sampai Han si kong memperkenalkan ia telah memberi hormat lebih dulu sambil menegur: "Aku rasa saudara tentunya saudara Lim bukan?"

Cepat-cepat Lim Han kim balas memberi hormat: "Aku yang muda Lim Han kim" Ketika mencoba mengamati lebih teliti, Lim Han kim melihat bahwa Chin Hui hau adalah seorang lelaki berperawakan tinggi besar, mukanya merah dan alis matanya sangat tebal, terutama sepasang sinar matanya yang begitu tajam, gagah di samping penuh wibawa. "Maaf, agaknya kami akan mengganggu saudara Chin. "

kata Han si kong.

"Aaaah, perkataan macam apa itu," tukas Chin i-Hui hau cepat, "Lebih baik saudara Han jangan bersikap sungkan kepadaku. Mari masuk. di ruang belakang telah tersedia arak dan hidangan- Mari kita bersantap dulu."

Sambil berkata ia menyingkir ke samping memberi jalan lewat. Tanpa sungkan lagi Han Si kong masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar.

Benar juga, di ruang belakang yang luas telah siap hidangan dan arak wangi, Dua orang lelaki berperawakan satu tinggi yang lain pendek telah siap menunggu di sisi ruangan.

Sambil menunjuk ke arah dua orang itu chin Hui hau segera memperkenalkan-

"Dua orang saudara ini adalah pembantu perusahaanku yang paling utama, si golok kilat Tong San dan si kaki baja Tan Kim." "Lama sudah kudengar nama besar suhu berdua," buru-buru Han si kong memberi hormat.

Cepat-cepat Tong san dan Tan Kim membalas hormat: "Kami pun sudah lama mengagumi nama besar si raja monyet, beruntung sekali kita dapat bersua muka hari ini."

"Kalian tak usah sungkan-sungkan lagi. Ayo, duduk dulu sebelum berbicara" seru Chin Hui hau.

Sambil berkata ia segera menarik Han si kong dan Lim Han kim untuk duduk di kursi utama, kemudian baru chin Hui hau duduk di samping mereka, sementara Tong San dan Tan Kim duduk pada deretan terakhir.

Sambil mengangkat cawan araknya Han si kong pun berseru: "sebagai rasa terima kasih ku kepada sambutan kalian semua, terimalah secawan arak ini sebagai penghormatanku"

Lim Han kim yang menyaksikan suasana itu, diam- diam berpikir: "Kawanan jago ini kebanyakan dari kawanan orang-orang bebas yang gemar minum arak, aku tak boleh menghilangkan kegembiraan mereka "

sambil mengangkat cawannya dia cun siap meneguk isinya. Tiba-tiba terlihat si golok kilat Tong San berkerut kening dengan wajah berubah hebat, cawan yang berada di tangannya tahu-tahu terjatuh ke atas tanah.

Peristiwa yang terjadi jauh diluar dugaan ini kontan saja mengejutkan semua yang hadir. Sorot mata mereka serentak dialihkan ke wajah si golok kilat Tong San, terutama sekali cong piautau dari perusahaan sin bu piau kiok ini, chin Hui hau yang kelihatan terkejut bukan kepalang.

Kalau sorot mata semua orang tertuju ke wajah si golok kilat Tong San yang sedang ketakutan, maka Tong San sendiri justru sedang mengawasi tubuh Lim Han-kim dengan wajah tertegun bercampur ngeri.

Selang berapa saat kemudian chin Hui hau baru bisa menenangkan pikirannya, ia segera menghardik: "Tong piausu, apa yang telah terjadi?"

Si golok kllat Tong San kelih atan tergagap, ia seperti ingin mengucapkan sesuatu namun tak sepatah kata pun mampu diutarakan hanya jari tangannya yang gemetar kelihatan menuding ke arah kearah baiu Lim Han kim.

Ternyata di atas kerah baju yang dikenakan Lim Han kim itu telah terselip sekuntum bunga bwee putih.

Begitu menyaksikan bunga bwee putih itu, paras mUka chin Hui hau seketika berubah sangat hebat, sekujur tubuhnya gemetar keras, serunya tersendat- sendat: "Bun... bunga... Bwee... putih... dia... kenapa,., kenapa dia bisa mencari kalian...?"

Pada saat itu si golok kilat Tong San dan si kaki baja Tan Kim sudah terduduk lemas di bangku masing- masing, siapa pun diantara mereka tak ada yang mampu bergerak.

Sambil menggebrak meja keras-keras Han Si kong berseru dingin: "Sebagai anggota dunia persilatan yang saban hari hidup di bawah ujung golok, kenapa kita mesti takut menghadapi kematian? potong kepala pun paling banter meninggalkan codetan besar pada tengkuk kita. Kenapa kamu berdua malah ketakutan seperti itu? Hmmm... jlka nyali kalian memang begitu kecil, lebih baik cepat-cepat pulang ke rumah saja, tak perlu membuka pintu piaukiok ini lagi..."

Sedang Lim Han kim segera menyambung: "orang itu menyelipkan kuntum bunga bwee putih ini di atas kerah bajuku, berarti akulah yang sedang dicarinya. urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan kalian, kenapa kamu berdua..."

Sebenarnya dia hendak bilang kenapa kenapa kamu berdua begitu ketakutan, tapi sebelum ucapan tersebut sempat diutarakan, si golok kilat Tong san telah menjelaskan: "Yaa, hal ini disebabkan kami telah menyaksikan bunga bwee putih ini. siapa yang melihat bunga itu harus mencukil keluar biji mata sendiri, sedang barang siapa menyentuhnya maka tangannya harus dikutungi. siapa yang membicarakan harus dipotong lidahnya, siapa yang mendengarkan harus ditulikan sepasang telinganya "

"Hmmm, siapa yang membuat peraturan ini?" tukas Lim Han kim dingin.

"Pemilik bunga bwee putih itu.,,." "Siapa itu pemilik bunga bwee putih. "

Si golok kilat Tong san menggerakkan bibirnya namun tak sepatah kata pun sempat diutarakan, Dari mimik wajahnya jelas dapat diketahui bahwa perasaan hatinya saat ini gelisah bercampur panik,

Sambil menghela napas panjang Lim Han kim berkata kembali: "Agaknya kau takut lidahmu dipotong? Baiklah, tak usah kau jelaskan lagi. "

Si Golok kilat Tong san benar-benar memejamkan matanya dan tak berani berbicara lagi.

"Saudara cilik," tiba-tiba Han si kong bertanya, "Apakah kau melihat dengan jelas orang yang menumbukmu tadi?"

"Yaa, dia adalah seorang sastrawan berbaju panjang yang membawa kipas di tangannya." "Seorang sastrawan?" seru chin Hui hau agak tercengang.

"Yaa, betul, apakah tidak benar?"

Chin Hui hau tutup mulutnya rapat-rapat dan tidak berani berbicara lagi, walau hanya sepatah kata pun.

Menyaksikan suasana yang serba kikuk dan runyam itu, Lim Han kim segera berpaling ke arah Han si kong sambil serunya: "Lebih baik kita pergi saja dari sini"

Han si kong benar-benar sedih bercampur kecewa. selama beberapa hari belakangan ini banyak sudah sahabat, karib atau kenalan lama yang dijumpainya, namun seorang demi seorang telah berubah wajah.

Seperti misalnya si peluru berantai Chee Tay tong dari benteng Tay peng poo. Bukan saja orang itu telah memancing dia masuk perangkap. bahkan nyaris dia bersama Lim Han kimsekalian menjadi korban nya.

Kemudian sekarang si gelang emas panji sakti chin Hui hau. Dia punya nama besar yang begitu termashur, perusahaan sin bu piaukiok yang dikelolanya termasuk perusahaan ekspedisi nomor satu dalam dunia persilatan saat ini, bukan saja wilayah jangkauannya meliputi utara maupun selatan sungai besar, chin Hui hau pribadi dengan panji sakti serta dua belas gelang emas nya malang melintang di dunia kangouw tanpa tandingan. Tapi kini, sahabat yang sudah dikenalnya puluhan tahun, punya pergaulan yang luas dan kenalan yang begini banyak itu dibuat ketakutan setengah mati oleh sekuntum bunga bwee putih yang begini kecil.

Kejadian tersebut membuat orang tua ini semakin gusar memikirkannya. Akhirnya tak tahan lagi ia bangkit berdiri dan berseru sambil mendengus dingin: "sungguh tak nyana cong piautau dari perusahaan sin bu piaukiok yang begini termashur, ternyata tak lebih cuma seorang manusia pengecut yang takut menghadapi kematian HHmmm Anggap saja aku orang she Han sudah buta matanya sehingga tak jelas mengenal orang, Hubungan persahabatan kita selama puluhan tahunpun lebih baik putus sampai di sini saja. sejak detik ini kita tidak saling mengenal"

Dengan penuh rasa mendongkol ia sambar cawan dan mangkuk di atas meja lalu dibanting nya ke atas tanah hingga menimbulkan suara hiruk pikuk yang amat memekikkan telinga.

Watak orang tua ini benar-benar berangasan. Begitu tak cocok dengan perasaan hatinya, ia langsung memutuskan hubungan persahabatan dan pergi dari situ.

Lim Han kim merasa kurang berkenan dengan sikap rekannya ini, bisiknya pelan: "Saudara Han, buat apa kau bersikap begitu? Mungkin saja chin cong piautau punya kesulitan yang susah diutarakan Kita harus memaklumi perasaan hatinya,"

Han si kong mendengus dingin, ditariknya lengan Lim Han kim sambil berseru: "saudara cilik, mari kita pergi Aku tak percaya di dalam kota si ciu yang begini luas selain perusahaan sin bu piaukiok sudah tiada tempat aman lain untuk tempat tinggal kita berdua."

Paras muka Chin Hui hau beberapa kali berubah hebat. Tiba-tiba ia bangkit berdiri, Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah senjata garpu yang segera dipegang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merogoh keluar lima biji gelang emas, setelah itu serunya: "saudara Han, tunggu sebentar"

Han si kong berpaling memandang Chin Hui hau sekejap. Ketika melihat perasaan sedih yang menghias wajahnya, tiba-tiba timbul perasaan tak tega di dalam hatinya, Dia pun berpikir: "Aai... agaknya sikapku memang agak kelewat batas, Dengan mengumpatnya habis-habisan, aku sama sekali tidak memberi muka kepadanya "

Berpikir begitu dia pun segera memberi hormat sambil bertanya: "saudara Chin ada urusan apa? Katakan saja terus terang, bagaimana pun kita pernah bersahabat Asal aku mampu melaksanakan pasti akan kulakukan demi kau. " Mendadak ia merasa perkataannya kelewat berlebihan maka cepat-cepat orang tua ini tutup mulutnya kembali,

Chin Hui hau menghela napas panjang: "Aaai... saudara Han tak perlu menegur diri sendiri, sesungguhnya umpatanmu tadi memang tepat, paling banter kita hanya menghadapi kematian"

Tiba-tiba terdengar si golok kilat Tong san menjerit keras: "Bunga bwee.."

"Di mana...?" tanya Lim Han kim dengan kening berkerut, sorot matanya segera dialihkan ke sekeliling ruangan, Benar juga. Di atas meja perjamuan kini telah muncul kembali sekuntum bunga bwee putih, Bunga bwee itu muncul tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Meskipun didalam ruangan hadir begitu banyak jago tangguh, ternyata tak seorangpun di antara mereka yang tahu sejak kapan bunga bwee putih itu ditengah meja perjamuan dan siapa yang meletakkan bunga tersebut di tempat itu.

Chin Hui hau yang telah bangkit berdiri, kini terduduk kembali dengan wajah pucat pasi.

Keadaan si golok kilat Tong san lebih parah lagi, sekujur badannya menjadi lemas secara tiba-tiba dan sempoyongan hampir roboh. Untung saja si kaki baja Tan Kim yang berada di sampingnya segera memayang tubuhnya yang gontai itu sambil bujuknya:

"Tenanglah sedikit saudara Tong. Paling banter kita harus mati. Mana ada kejadian yang lebih menakutkan lagi di dunia ini dari pada menghadapi kematian?"

Dengan napas tersengal-sengal dan ter-batuk-batuk. si golok kilat Tong san berusaha mengatur kembali napas nya, ia mengangguk berulang kali.

"Betul... ucapan saudara Tan memang betul. Paling banter kita harus menghadapi kematian. "

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang datang. suara itu bergema dari kejauhan sana tapi sewaktu didengar justru seakan-akan berasal dari sisi telinga mereka.

Lim Han kim merasa sangat terkesiap. Pikirnya: "Hebat betul ilmu silat orang ini. Tampaknya dia telah mengandalkan tenaga dalamnya yang amat sempurna untuk mengirim tertawa dinginnya dengan ilmu menyampaikan suara. Ditinjau dari kemampuannya ini, bisa disimpulkan bahwa kehebatan ilmu silat orang ini tak boleh dipandang enteng,., aku harus lebih waspada."

Sgolok kilat Tong san yang baru pulih ketenangannya seketika dibikin rontok lagi nyalinya, Tiba-tiba saja pikirannya berubah jadi kalut, setelah meronta lepas dari genggaman tangan Tan Kim, dia kabur keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat.

Lim Han kim segera bertindak dengan mengayunkan tangan kirinya menghadang jalan pergi Tong san, hardiknya: "saudara Tong, kau hendak ke mana?"

Paras muka si golok kilat Tong san telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan napas tersengal- sengal jeritnya: "Lepaskan aku... lepaskan aku. "

Mendadak kepalan kanannya disodok ke depan meninju dada Lim Han kim. Menghadapi tinjuan keras ini, Lim Han kim segera memutar pergelangan tangannya, dengan jurus "serat emas menjerat lengan" dia cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Tong san, kemudian satu serangan berhasil menotok jalan darahnya.

Setelah itu sambil memandang kearah Chin Hui hau, serunya lantang: "Saudara Chin, maafkan tindakanku yang kurang sopan ini"

Dengan langkah lebar ia pun berjalan keluar dari ruang perjamuan waktu itu kegelapan malam telah menyelimuti seluruh jagad, bintang bertaburan di angkasa memantulkan cahaya yang redup, suasana di luar ruangan amat hening, sepi dan tak tampak sesuatu yang mencurigakan. Dengan langkah lebar Han si kong menyusul kemudian, tanyanya pelan: "Bagaimana saudara cilik? Melihat sesuatu?"

"Tidak. rupanya suara tertawa dingin itu dia kirim masuk ke dalam ruangan perjamuan dengan ilmu menyampaikan suara sehingga susah bagi kita untuk menemukan jejak bayangannya, Aku rasa meski ilmu silat yang dimiliki orang itu cukup hebat, namun tujuannya justru kelewat licik dan memalukan "

Tiba-tiba terdengar chin Hui hau berseru dengan suara keras: "Maafkan aku orang dari keluarga Chin yang tak tahu diri sehingga telah melakukan kesalahan Kami bersedia menghukum diri sesuai dengan peraturan yang tuan buat, mencukil keluar sepasang biji mata lebih dulu kemudian baru mengutungi lengan dan mencongkel lidah."

Lim Han kim sangat terkesiap. dengan cepat dia melompat masuk kembali ke dalam ruang perjamuan. waktu itu Chin Hui hau sedang duduk bersandar pada sebUah bangku dengan sepasang tangan dikepal di depan dada, Air mukanya pucat keabu-abuan, rupanya dia sedang minta ampun kepada si pendatang.

Ketika Lim Han kim mencoba menengok ke hadapannya, tampaklah seorang manusia berbaju hitam sedang berdiri serius di sudut ruangan menempel dengan dinding, jubah nya amat panjang hingga mencapai tanah, waktu itu dia berdiri tak berbicara ataupun bergerak.

Berhubung orang itu berdiri di sudut ruangan di mana cahaya tak sampai ketempat itu, andaikata tidak diperhatikan dengan seksama, memang sulit bagi orang lain untuk mengetahui kehadirannya.

Setelah mendehem beberapa kali, Lim Han kim menegur: "Anda bisa mengirim suara tertawa dinginmu masuk ke dalam ruangan ini dengan ilmu menyampaikan suara, hal ini menunjukkan bahwa kepandalan silat yang kau miliki memang hebat,"

Orang berbaju hitam itu tetap berdiri tak berkutik di tempat semula, dia seolah-olah tidak mendengar sama sekali teguran tersebut.

Mendadak Chin Hui hau melangkah maju ke depan, tubuhnya kelihatan gontai, langkah nya tidak mantap dan sedikit gemetar Hal ini menunjukkan ia sedang dicekam perasaan terkejut dari takut yang luar biasa sehingga kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya.

Menyaksikan hal ini diam-diam Lim Han kim menghela napas panjang, pikirnya: "Entah manusia macam apakah pemilik bunga bwee putih itu. Tak disangka Chin Hui hau bisa dibuat sedemikian ketakutan sehingga kehilangan semangat " Setelah melewati Lim Han kim sejauh dua tiga langkah, tiba-tiba Chin Hui hau merasakan sepasang kakinya jadi lemas hingga jatuh terduduk di atas lantai, katanya kemudian: "Aku telah berbuat kesalahan kepada anda sehingga pantaslah bila menerima kematian, Mencongkel biji mata, mencabut lidah dan memotong lengan akan segera kulaksanakan tanpa membantah, namun aku berharap tuan sudi mengampuni jiwa sekeluarga kami dan lepaskan mereka dari hukuman ini. Meski aku Chin Hui hau harus matipun, sukmaku dialam baka tetap akan merasa berterima kasih sekali."

Dengan langkah lebar Lim Han kim memburu ke depan, setelah menarik bangun chin Hui hau, tegurnya dingin: "Jadi kaukah si pemilik bunga bwee putih itu?" orang berbaju hitam itu tetap membungkam.

Lim Han kim jadi sangat gusar, Umpatnya: "Kurang ajar Rupanya kau berlagak bisu dan tuli, Hmmm jangan salahkan kalau aku bersikap kasar kepadamu"

Tanpa banyak bicara dia segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan.

Tak terlukiskan rasa kaget Chin Hui hau melihat perbuatan anak muda itu. sebenarnya dia ingin mencegah namun sayang keadaan sudah terlambat.

Dalam perkiraan Lim Han kim, dengan tenaga pukulannya yang kuat dan dahsyat ini, bila orang itu tidak berusaha menghindar paling tidak tentu akan mengayunkan tangannya untuk menangkis, siapa tahu meskipun angin pukulan yang sangat hebat itu sudah tiba di depan tubuh, ternyata orang itu tetap tak bergerak dari posisi semula, seakan-akan dia tak tahu kalau dirinya sedang disergap dengan pukulan yang dahsyat.

Tatkala serangan itu hampir mengenai tubuh lawan, mendadak satu ingatan melintas dalam benak Lim Han kim. ia merasa perbuatannya membokong orang bukan perbuatan yang jantan, maka sambil menarik kembali hawa murninya secara tiba-tiba ia batalkan serangan tersebut.

Terdengar suara yang dingin menyeramkan itu kembali berkumandang: "Majikan kami ada satu persoalan, ingin minta tolong chin cong piautau untuk melaksanakannya."

Dari ucapan tersebut jelas lah sudah bahwa orang ini bukan pemilik bunga bwee putih sendiri.

Chin Hui hau pun merasa keberaniannya muncul kembali setelah mengetahui bahwa si pendatang bukan pemilik bunga bwee putih, segera jawabnya: "Asalkan aku orang dari marga Chin bisa melakukan, pasti akan kulaksanakan perintah tersebut," Sebetuinya Lim Han kim ingin memaksa orang itu agar membalikkan badan sehingga raut wajahnya kelihatan, tapi setelah melihat Chin Hui hau telah mengadakan kontak pembicaraan dengan orang itu, terpaksa niat tersebut pun diurungkannya.

Terdengar orang berbaju hitam itu berkata lagi: "Kali ini majikan kami telah menyebarkan undangan bunga bwee yang mengundang semua jago dikolong langit untuk berkumpul di kota si ciu guna menyelesaikan suatu keinginannya yang telah lama terpendam, Untuk itu majikan kami minta kepada Chin cong piautau agar menyiapkan lima puluh meja perjamuan terbaik guna menjamu para orang gagah dari seluruh kolong langit... sanggupkan kau melaksanakan nya?"

"Kalau hanya urusan sekecil ini tak perlu dirisaukan, cuma kapan hendak digunakan perjamuan itu?"

"Waktunya sudah ditentukan, yakni tengah hari persis tiga hari kemudian, harap kelima puluh buah meja perjamuan itu dipersiapkan di depan kuburan Liat hu bong."

"Akan kuingat semua pesan itu, Tolong sampaikan kepada majikan anda, katakan bahwa aku merasa bangga sekali dapat berbakti kepadanya."

"Semua meja perjamuan itu jangan di kirim terlalu awal, tapi jangan pula terlalu lambat, mengerti?" "Terima perintah Tak nanti aku akan mengacaUkan perintah dari majikan anda."

"Ingat, sebelum mendapat ijin kalian dilarang membicarakan semua perbuatan dan tindak tanduk majikan di masa lalu, mengerti?"

"Akan kuingat selalu di dalam hati."

"Baiklah, jangan lupa dengan meja perjamuan tiga hari mendatang, sekarang aku harus mohon diri lebih dulu."

"Biar kuantar kepergian kau sebagai utusan khusus pemilik bunga bwee putih."

"Tidak usah" Tampak orang berbaju hitam itu sambil mengulapkan tangannya, Pelan-pelan dia menggeserkan badannya dan berjalan keluar dengan menelusuri dinding ruangan.

Walaupun banyak yang telah dibicarakan dengan chin Hui hau, namun selama ini manusia berbaju hitam itu selalu berdiri dengan menghadap ke arah dinding, Bukan saja badannya tak bergeser, kepala pun tak pernah menoleh, ia hanya berdiri kaku di sana bagaikan sebuah patung tanah liat.

Dalam perkiraan Lim Han kim, sewaktu akan meninggalkan ruangan tersebut orang itu tentu akan membalikkan badannya, maka ia sudah pasang mata untuk memperhatikan ia berharap bisa mengingat-ingat raut mukanya, Siapa sangka ternyata orang itu hanya menggeserkan badannya tanpa berniat menoleh, melihat hal tersebut anak muda ini tak sanggup menahan diri lagi, segera hardiknya: "Tunggu sebentar"

Sepasang kakinya segera menjejak tanah kuat-kuat, tubuh nya segera melambung delapan depa ke udara dan menghadang tepat di depan pintu ruangan tersebut

Orang berbaju hitam itu segera menghentikan langkahnya sambil menegur: "Siapa kau?" Di balik nada suaranya yang dingin kaku terasa hawa amarah yang me-luap.

"Antara aku dengan perusahaan Sin bu piaukiok ini sama sekali tak ada hubungan apa-apa, dengan Chin cong piautau juga baru saja berkenalan, bila kau hendak mencatat hutang karena hadanganku ini tak usah kau kaitkan dengan pihak Sin bu piaukiok, langsung saja mencari perhitungan denganku..."

Kemudian setelah berhenti sejenak kembali lanjutnya: "Di antara kita tak pernah berkenalan, juga tiada dendam permusuhan kenapa majikanmu menyisipkan sekuntum bunga bwee di tubuhku?" sambil berkata ia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan bunga bwee putih itu.

Waktu itu selisih jarak antara dua orang ini tinggal tiga empat depa, tiba-tiba saja orang berbaju hitam itu mengayunkan lengan kirinya, Di antara ujung baju yang berterbangan tahu-tahu bunga bwee putih di tangan Lim Han kini telah digulungnya, Ketika menyodorkan bunga bwee tadi sesungguhnya Lim Han kim telah membuat persiapan yang matang, sama sekali tak diduga olehnya gerakan tangan manusia berbaju hitam itu ternyata jauh lebih cepat.

Dalam sekali kebasan saja tahu-tahu tenaga pukulan telah bergetar keluar, sementara bunga bwee itu telah mencelat ke udara dan tergulung oleh ujung bajunya yang panjang. Lim Han kim segera mendengus dingin.

"Hmmm.. Dari seranganmu barusan aku bisa mengetahui bahwa kepandaianmu memang betul-betul hebat, sekarang aku ingin menjajal beberapa jurus seranganmu."

Tampak manusia berbaju hitam itu menggerakkan lengan kirinya bunga bwee putih yang telah tergulung tadi mendadak meluncur balik lagi dengan kecepatan luar biasa,

Lim Han kim segera menggerakkan tangan kirinya untuk menyambut bunga bwee putih itu, dalam sekejap mata itulah angin lembut terasa berdesir lewat, manusia berbaju hitam itu tahu-tahu sudah menerjang ke luar dari ruangan. Belum sampai tangan kiri Lim Han kim mencengkeram bunga bwee tersebut, tangan kanannya telah disodokkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat

Sekarang ia sudah tahu kalau manusia berbaju hitam itu memiliki ilmu silat yang sangat hebat, oleh sebab itu dalam serangannya kali ini dia telah menggunakan tenaga dalam sebesar tujuh bagian.

Waktu itu manusia berbaju hitam tersebut sudah melewati Lim Han kim, tampak ujung bajunya dikebaskan ke belakang menyongsong datangnya serangan tangan kanan Lim Han kim itu dengan keras lawan keras. "Blaaammmm. . . "

Suatu benturan yang amat keras segera bergema memecahkan keheningan Tiba-tiba saja Lim Han kim merasakan sekujur badannya bergetar keras, sebaliknya manusia berbaju hitam itu pun tak kuasa untuk mundur selangkah dari posisi semula.

Memanfaatkan kesempatan inilah tiba-tiba orang itu membalikkan tubuh dan menyusup keluar dari tempat tersebut. Dalam waktu singkat bayangan tubuh nya telah lenyap di balik kegelapan

Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang ini berjalan cepat bagaikan kilat. Ketika orang berbaju hitam itu menerjang keluar dari ruangan tadi ia gunakan ujung baju sebelah kirinya untuk menutupi muka, oleh sebab itulah Lim Han kim tetap gagal untuk melihat dengan jelas raut wajah orang tersebut.

Tampaknya orang itu memang sengaja melempar balik bunga bwee putih itu terlebih dulu untuk memecahkan perhatian Lim Han kim. Coba kalau tidak begitu rasanya bukan pekerjaan yang mudah baginya untuk menerjang keluar dari pintu ruangan tersebut

Sambil memegang bunga bwee putih itu dan mengawasi bintang yang bertaburan diangkasa gelap. Lim Han kim menghembuskan napas panjang, Meski mulutnya tetap membungkam namun perasaan hatinya bergelora keras, sementara itu para jago dalam ruangan yang menyaksikan jalannya pertarungan kilat itu telah dibuat berkunang-kunang pandangannya, meski bentrokan hanya berlangsung satu dua gebrakan, namun sudah cukup bagi mereka untuk berdiri melongo.

Han si kong sangat tidak tenang perasaan hatinya ketika melihat Lim Han kim hanya berdiri memandang termangu-mangu, ia segera berjalan menghampirinya seraya menegur " Kenapa saudara cilik?"

"Aku baik sekali. " jawab Lim Han kim sambil tertawa

hambar, lalu sambil berpaling ke arah Chin Hui hau, katanya pula: "Setelah saudara Chin berjanji tak akan membicarakan masa lalu pemilik bunga bwee putih, aku rasa kita pun tak usah bertanya lagi."